Pengawasan yang tidak adil atau pengawasan yang kasar dapat
menyebabkan karyawan lelah emosional dan menurunkan kinerja mereka. yang
sangat tidak menyenangkan dan tidak memuaskan. Oleh karena itu, menurut
penelitian (Susanto & Azwar, 2020), kelelahan emosional yang signifikan dapat
menyebabkan perasaan frustasi dan gangguan fisik atau emosional (Kim (2019),
Perilaku kepemimpinan yang dianggap menciptakan lingkungan kerja yang tidak
nyaman termasuk pengawasan yang kasar.
Pengaruh perilaku abusive supervision terhadap work performance
Perilaku buruk sering terjadi dalam organisasi. Para pemimpin
menyalagunakan bawahannya. Pemimpin yang menyalahgunakan orang lain dapat
menyebabkan stres, kelelahan emosional, kurangnya kepuasan kerja, dan bahkan
keinginan untuk keluar dari pekerjaan. Penelitian ini dilakukan oleh Raden Teja
Yokanan (2020). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana
variabel pengawasan kasar berdampak pada tingkah laku menyimpang pegawai
yang bekerja di industri. Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan meneliti ini
terdiri dari pemimpin dan karyawan
Pengaruh emotional exhaustion terhadap work performance
Karyawan yang mengalami kelelahan emosional dapat mengalami efek
negatif pada pekerjaan mereka. Tanda-tanda kelelahan emosional termasuk
perasaan marah dan dendam, perasaan gagal, kecil hati dan masa bodoh,
ketidakmampuan untuk fokus atau mendengarkan apa yang dikatakan atasan, sinis
terhadap rekan kerja, bersikap menyalahkan, dan tidak mau berangkat untuk
menyelesaikan tuntutan pekerjaan (Cherniss, 2001)
Pengaruh abusive supervision terhadap emotional exhaustion
Kelelahan emosional adalah hasil dari pengawasan yang tidak adil dari
suatu organisasi. Ini adalah istilah yang mengacu pada perasaan emosional yang
terkuras oleh kontak dengan orang lain (Leiter & Maslach, 1998). Menurut
Whitman et al. (2014), pengawasan yang kasar berkorelasi positif dengan
kelelahan emosional. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konflik
pengawasan yang kasar dengan orang lain menyebabkan kelelahan emosional
(Whitman et al., 2014)
Pengertian Retensi Karyawan
Gunawan (2011) berpendapat bahwa retensi karyawan adalah
kemampuan perusahaan untuk mempertahankan karyawan yang
potensial. Sedangkan menurut Das dan Baruah (2013) mengatakan
bahwa retensi karyawan adalah kebijakan yang telah ditentukan untuk
membuat karyawan menetap dalam jangka panjang dan mencegah
terjadinya perputaran karyawan.
Kemampuan perusahaan dalam mempetahankan karyawan yang
potensial agar memiliki loyalitas tinggi terhadap perusahaan adalah
definisi lain dari retensi karyawan (Kumar etal., 2012). Melakukan
turnover karyawan adalah salah satu bentuk cara untuk mempertahankan
karyawan, turnover sendiri adalah jumlah karyawan yang meninggalkan
perusahaan karena mengundurkan diri, (Fatimah: 2011)
Faktor yang mempengaruhi Work Performance
Faktor-faktor yang berdampak pada work performance karyawan di
perusahaan, seperti dijelaskan (Wibowo, 2010), yakni:
a) Tingkat pendidikan, keterampilan kerja, kompetensi, motivasi,
pengalaman kerja, dan komitmen adalah faktor individu.
b) Faktor kepimpinan, yang ditunjukkan oleh dorongan, bimbingan,
pembinaan, dan dukungan yang diberikan oleh manajer dan tim
pemimpin tim.
c) Faktor tim, yang ditunjukkan oleh tingkat dukungan rekan kerja
d) Faktor sistem, yang ditunjukkan oleh keberadaan sistem kerja dan
fasilitas yang disediakan oleh perusahaan.
e) Faktor situasional dan konteks, yang ditunjukkan oleh tingkat stres,
tekanan, dan perubahan iklim internal dan eksternal. Selain itu,
penilaian kinerja membutuhkan ukuran kinerja yang dapat diandalkan
untuk menilai kinerja.
Agar penilaian kritis dalam untuk mengukur kinerja, ukuran yang dapat
diandalkan harus dibandingkan dengan ukuran lain yang memenuhi standar yang
sama. Ini akan membantu meningkatkan reliabilitas sistem penilaian.
Indikator emotional exhaustion
Menurut penelitian yang dilakukan Aronson (1989) dalam (Churiyah,
2011:146), tanda-tanda emotional exhaustion adalah sebagai berikut:
a. Kelelahan perasaan pribadi
Suatu gejala yang umum adalah kecemasan yang muncul pada orang yang
ingin memulai pekerjaan ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan
mereka. Akibatnya, karyawan menjadi lelah dan frustasi karena tidak
dapat mencapai harapan mereka.
b. Terkurasnya sumber-sumber emosional
Suatu gejala umum, yaitu timbulnya rasa cemas setiap kali ingin memulai
pekerjaan, selalu didahului oleh habisnya tenaga dan sumber daya emosi
seseorang. Kebiasaan buruk ini menyebabkan seseorang menjadi frustasi
atau marah pada diri sendiri.
Faktor yang mempengaruhi Emotional Exhaustion
Emotional exhaustion, yaitu emotional exhaustion yang dikaitkan dengan
perasaan pribadi yang ditandai dengan depresi dan rasa tidak berdaya (Churiyah,
2011:146). Berdasarkan beberapa definisi di atas, elemen kelelahan emosi
diidentifikasi, di antaranya adalah:
- Kelelahan perasaan pribadi Kelelahan perasaan pribadi ini ditandai
dengan rasa tidak berdaya dan depresi. - Terkurasnya sumber-sumber emosional 20 Kepribadian memberi
kecenderungan kepada orang untuk mengalami suasana hati dan emosi
tertentu
Pengertian Emotional Exhaustion
Seseorang dapat mengalami ketegangan emotional exhaustion sebagai
akibat dari hubungan yang tidak seimbang antara pekerjaan dan diri sendiri.
Gejala ini dapat dimulai dengan gejala umum seperti rasa cemas saat seseorang
ingin memulai bekerja, yang kemudian menyebabkan perasaan tidak berdaya
menghadapi tuntutan pekerjaan (Churiyah, 2011)
Indikator Abusive Supervision
Berikut indikator abusive supervision oleh (Tepper, 2000):
- Pengawasan yang melecehkan termasuk memalukan karyawan di pubis
- Mengejek karyawan
- Meremehkan karyawan
- Kekasaran terhadap karyawan
- Melanggar janji kepada karyawan
- Mengambil beberapa hak karyawan
Pengaruh Job Satisfaction terhadap Employee Retention
Job satisfaction digunakan untuk menggambarkan apakah karyawan
senang dan memenuhi keinginan serta kebutuhannya, job satisfaction
dapat membantu membangun komitmen karyawan terhadap organisasi
(Arif & Farooqi, 2014). Karyawan yang tidak mendapatkan kepuasan
kerja tidak akan pernah mencapai kepuasan psikologis dan akhirnya
menunjukkan sikap atau perilaku negative di tempat kerja yang pada
akhirnya dapat menimbulkan frustasi (Silaban & Margaretha, 2021).
Beberapa kajian terdahulu menunjukkan dampak positif dan signifikan
Job Saticfaction terhadap employee retention (Lisdiyanti, 2015;
Rachmawati, 2018; Rajathi dan Pavithra, 2018; Irabor dan Okolie, 2019;
Wirayudha & Adayani, 2020; Adil et al., 2020; Winoto Tj et al.,
2021)(Lisdayanti dkk., 2015; Winoto Tj. dkk., 2021).
Pengaruh Work Life Balance terhadap Job Satisfaction
Pekerjaan dan keluarga merupakan prioritas seseorang dalam hidup,
dalam merencanakan waktu pribadi sama pentingnya dengan komitmen
kerja. Ketika seorang pekerja menjalankan kedua tanggung jawab antara
pekerjaan dan keluarga, maka akan tercipta kepuasan kerja (Silaban &
Margaretha, 2021). Menurut (Fisher dkk., 2009) work life balance
merupakan sesuatu yang dilakukan untuk menyeimbangkan pembagian
waktu antara pekerjaan dan di luar pekerjaan. Ketika seorang pekerja
menjalankan tanggung jawab antara pekerjaan dan kebutuhan keluarga,
maka akan tercipta kepuasan kerja karena dengan bekerja pada
perusahaan maka seorang karyawan tidak akan merasa terbebani dengan
masalah diluar pekerjaan. (Cegarra-Leiva dkk., 2012) dalam
penelitiannya work life balance berpengaruh positif dan signifikan
terhadap job satisfaction. Semakin bahagia karyawan dalam menjalani
kehidupan maka semakin tinggi semangat dalam menjalankan pekerjaan
sehingga memiliki niat yang lebih rendah untuk pindah (Osorio et al.,
2014)
Pengaruh Work Life Balance terhadap Employee Retention
Konflik yang muncul dari pekerjaan dan kehidupan pribadi
menjadikan retensi karyawan sebagai peranan dalam menjaga
keseimbangannya (Deery & Jago, 2015). Keterkaitan work life balance
dengan employee retention dapat dilihat bahwa keseimbangan
kehidupan kerja yang sehat dapat mendukung lingkungan kerja yang
positif dan produktif serta memberi karyawan kesempatan untuk
bertanggung jawab pada pekerjaan mereka sehingga tercapainya
loyalitas karyawan untuk tetap bertahan di suatu perusahaan (Akinyele
et al., 2016). Work life balance berpengaruh positif dengan retensi
karena karyawan beranggapan bahwa perusahaan peduli dalam
mengatasi konflik atas tuntutan kerja dengan kehidupan. (Garg &
Yajurvedi, 2016) menyatakan bahwa work life balance berpengaruh
positif terhadap employee retention.
Indikator Kepuasan Kerja
Menurut Afandi, (2018:82) adapun indikator-indikator kepuasan kerja
menurut meliputi antara lain:
- Pekerjaan
Isi pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah memiliki elemen yang
memuaskan. - Upah
Jumlah bayaran yang diterima seseorang sebagai akibat dari pelaksanaan
kerja apakah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan adil. - Promosi
Kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan jabatan. - Pengawas
Seseorang yang senantiasa memberikan perintah atau petunjuk dalam
pelaksanaan kerja. - Rekan kerja
Teman- teman kepada siapa seseorang senantiasa ber interaksi dalam
pelaksanaan pekerjaan. Seseorang dapat merasakan rekan kerjanya sangat
menyenangkan atau tidak menyenangkan
Faktor yang mempengaruhi Job Satisfaction
Faktor yang mempengaruhi job satisfaction menurut Sutrisno
(2017), antara lain:
- Kesempatan Untuk Maju
Pemberian kesempatan untuk maju dapat memberikan
kepuasan kepada karyawan. Karyawan yang mendapatkan
kesempatan untuk mengembangkan pengalaman dan skill akan
memiliki kepuasan tersendiri dalam bekerja. - Keamanan kerja
Di dalam pekerjaan, perlu adanya keamanan dalam bekerja.
Keamanan karyawan merupakan kepentingan nomor satu karena
dengan sedikitnya dampak buruk pekerjaan, maka karyawan
akan merasa aman yang mempengaruhi perasaan karyawan saat
bekerja. - Gaji
Gaji merupakan faktor penentu ketidakpuasan seorang
karyawana. Gaji/upah dalam bekerja merupakan hal yang
sensitif karena kepuasan kerja dan kinerja karyawan dapat
diukur dari sedikit banyaknya gaji yang diberikan. - Perusahaan dan Manajemen
Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu
memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil. Lingkungan
kerja dapat mempengaruhi kepuasan karyawan dalam bekerja. - Pengawasan
Dalam pekerjaan perlu adanya pengawasan demi
keberhasilan pekerjaan. Dalam pengawasannya, supervisi perlu
memperhatikan bagaimana mereka mengawasi pekerjaan dari
karyawan. Supervisi yang buruk dapat menciptakan turnover,
sehingga perlunya supervise yang baik untuk meningkatkan
kepuasan karyawan. - Kondisi Kerja
Kondisi kerja yang diciptakan dapat mempengaruhi
kepuasan karyawan. Dengan adanya tempat yang nyaman,
ventilasi, kantin, tempat parkir, maupun fasilitas lainnya, maka
karyawan akan merasa nyaman dalam bekerja sehingga
terciptanya kepuasan kerja. - Aspek Sosial dalam Pekerjaan
Merupakan salah satu sikap yang harus dimiliki karyawan.
Jiwa sosial yang baik dapat menunjang puas atau tidak puasnya
karyawan lain dalam bekerja. Sehingga sesama karyawan harus
memiliki jiwa sosial yang baik agar menciptakan kepuasan kerja
karyawan. - Komunikasi
Komunikasi yang baik antara karyawan dengan atasan dapat
menciptakan kepuasan kerja. Adanya kesediaan pihak atasan
untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat
maupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam
menimbulkan rasa kepuasan terhadap pekerjaan. - Fasilitas
Fasilitas seperti rumah sakit, cuti, dana pension, atau
perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat
dipenuhi akan menimbulkan rasa kepuasan karyawan
Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Kepuasan Kerja
Banyak faktor yang mempengaruhi kepuasaan kerja karyawan, faktor-
faktor itu sendiri dalam peranannya memberikan kepuasan kerja karyawan
bergantung pada pribadi masing-masing karyawan. Menurut Wibowo, (2017:417),
terdapat 5 faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya kepuasaan kerja, yaitu
sebagai berikut:
- Pemenuhan Kebutuhan (Need Fulfillment)
Model ini dimaksudkan bahwa kepuasaan kerja ditentukan oleh tingkatan
karakteristik pekerjaan memberikan kesempatan pada individu untuk memenuhi
kebutuhannya. - Perbedaan (Discrepancies)
Model ini menyatakan bahwa kepuasaan merupakan suatu hasil memenuhi
harapan. Pemenuhan harapan mencerminkan perbedaan antara apa yang diharapkan
dan yang diperoleh individu dari pekerjaan apabila harapan lebih besar daripada
apa yang diterima, orang akan tidak puas sebaliknya diperkirakan individu akan
puas apabila mereka menerima manfaat di atas harapan. - Pencapaian Nilai (Value Attainment)
Gagasan value attainment merupakan bahwa kepuasaan merupakan hasil
dari persepsi pekerjaan memberikan pemenuhan nilai kerja individual yang penting. - Keadilan (Equity)
Dalam model ini dimaksudkan bahwa kepuasaan merupakan fungsi dari
seberapa adil individu diperlakukandi tempat kerja. Kepuasan merupakan hasil dari
persepsi orang bahwa perbandingan antara hasil kerja dan inputnya relatif lebih
meguntungkan dibandingkan dengan perbandingan antara keluaran dan masukan
pekerjaan lainnya. - Komponen Genetik (Dispositional atau Genetic Components)
Beberapa rekan kerja atau teman tampak puas terhadap variasi lingkungan
kerja sedangkan lainnya kelihatan tidak puas. Model ini didasarkan pada keyakinan
bahwa kepuasaan kerja sebagian merupakan fungsi sifat pribadi dan faktor genetic.
Model ini menyiratkan perbedaan individu hanya mempunyai arti penting untuk
menjelaskan kepuasaan kerja sepert halnya karakteristik lingkungan pekerjaan
Definisi Job Satisfaction
Job satisfaction adalah sikap positif atau negative yang
dilakukan individu terhadap pekerjaannya dan merupakan reaksi
emosional yang kompleks atas hasil penilaian seseorang terhadap
pekerjaannya. Job satisfaction merupakan penilaian atas suatu
pekerjaan apakah menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk
dikerjakan. Pekerjaan yang menyenangkan untuk dikerjakan dapat
dikatakan bahwa pekerjaan itu memberi kepuasan bagi karyawan.
Dapat disimpulkan bahwa job satisfaction merupakan suatu
perasaan bahagia dan lega dimana karyawan merasa apa yang
dilakukan sesuai dengan prasangka karyawan
Kepuasan Kerja
Menurut Robbins (2015:49). “Kepuasan kerja adalah sebuah perasaan positif
terhadap pekerjaan yang dihasilkan dan dievaluasi atas karakteristik-
karakteristiknya”. Adapun menurut Sutrisno (2016:74), “kepuasan kerja adalah
suatu sikap sikap karyawan terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan situasi
kerja, Kerjasama antar karyawan, imbalan yang diterima dalam kerja, dan hal-hal
yang menyangkut faktor fisik dan psikologis”. Sementara itu menurut
Mangkunegara (2015:117), “kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang
menyokong atau tidak menyokong diri karyawan yang berhubungan dengan
pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya”
Berdasarkan Kesimpulan para ahli diatas bahwa Kepuasan kerja karyawan
dapat dikatakan sebagai penentu utama Organizational Citizenship Behavior
(OCB). Karyawan yang puas terhadap kerjanya bisa lebih mungkin membicarakan
yang positif tentang organisasinya, membantu orang lain dengan senang, dan jauh
melebihi harapan yang normal dalam pekerjaan, kemudian karyawan akan merasa
lebih bangga melebihi tuntutan tugas karena karyawan ingin membalas pengalaman
positif mereka (Robbins & Judge, 2017). Semakin puas karyawan maka semakin
meningkat perilaku kewargaan yang ada di diri karyawan karena merasa senang
Indikator dari Work Life Balance
Work life balance menggambarkan hubungan antara
pekerjaan dan komitmen sisa hidup serta bagaimana dampaknya
satu sama lain. Menurut (Parkes & Langford, 2008) Keseimbangan
kehidupan kerja merupakan kemampuan individu untuk memenuhi
komitmen pekerjaan dan keluarga, serta tanggung jawab terhadap
kedua aktivitas diluar pekerjaan. Sedangkan menurut (Lockwood,
2003) work life balance adalah suatu keadaan seimbang antara dua
tuntutan dimana pekerjaan dan kehidupan individu adalah sama.
(Hudson, 2005) mengusulkan bahwa ada tiga indikator pada work
life balance, antara lain:
- Time balance (Keseimbangan Waktu)
Keseimbangan antara waktu karyawan yang digunakan untuk
pekerjaan dan waktu yang digunakan di luar pekerjaan. - Involvement balance (Keseimbangan Keterlibatan)
Keseimbangan antara keterlibatan peran karyawan dalam
pekerjaan dan kehidupan pribadi. - Satisfaction balance (Keseimbangan Kepuasan)
Keseimbangan antara kepuasan karyawan dalam pekerjaan dan
kehidupan pribadi
Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi
Menurut Steers dan Porter (dalam Adiftiya, 2014) mengemukakan ada sejumlah
faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:
- Faktor personal yang meliputi job expextations, psychological
contact, job choice factor, karakteristik personal. Keseluruhan
faktor ini akan membentuk komitmen awal. - Faktor organisasi, meliputi initial works experiences, job scope
suoervision, goal consistency organizational. Semua faktor itu akan
membentuk atau memunculkan tanggung jawab. - Faktor yang bukan berasal dalam organisasi atau Non-
organizational factors, yang meliputi availability of alternative
jobs, misalnya ada tidaknya alternatif pekerjaan lain. Jika ada dan
lebih baik, tentu karyawan akan meninggalkannya.
Komitmen Organisasi
Menurut Setiadi & Lutfi (2021) mendefinisikan komitmen organisasi
sebagai kekuatan yang bersifat relatif dalam mengidentifikasikan keterlibatan
dirinya ke dalam bagian organisasi. Menurut Muhammad Raditio et al., (2023)
komitmen organisasi adalah keputusan karyawan untuk melanjutkan
keanggotaanya dalam berorganisasi dengan sepenuh hati menerima tujuan
organisasi dan memberikan kontribusi yang terbaik bagi kemajuan organisasinya.
Sedangkan Moorhead dan Griffin (2013:73) mengatakan bahwa Komitmen
organisasi (organizational commitment) adalah sikap yang mencerminkan sejauh
mana seseorang individu mengenal dan terikat pada organisasinya. Kreitner dan
Kinicki (2013:165) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai tingkatan dimana
seseorang mengenali sebuah organisasi dan terikat pada tujuan-tujuannya
Indikator Organizational Citizenship Behavior (OCB)
menurut Organ (1998) mengemukakan bahwa terdapat beberapa indikator dari
OCB yaitu:
- Altruism
Perilaku membantu karyawan lain tanpa ada paksaan pada tugas-
tugas yang berkaitan erat dengan kegiatan organisasional.
Atau yang dimaksud yaitu memberi pertolongan yang bukan
merupakan kewajiban yang ditanggungnya.
a) membantu rekan kerja saat kesulitan,
b) meluangkan waktu untuk membantu rekan kerja terkait masalah
pekerjaan, dan membantu rekan kerja baru - Civic Virtue
Perilaku yang menunjukkan partisipasi sukarela dan dukungan
terhadap fungsifungsi organisasi baik secara profesional maupun
sosial alamiah.
a) mengikuti perubahan dalam organisasi, menunjukkan rasa
kepedulian terhadap organisasi
b) menjaga nama baik organisasi. - Conscientousness
Berisi tentang kinerja dari prasyarat peran yang melebihi standart
minimum yang diharapkan organisasi.
a) mematuhi peraturan-peraturan di organisasi,
b) tidak membuang waktu. - Courtesy
Perilaku yang menunjukkan adanya penghargaan terhadap hak-hak
orang lain yang bertujuan untuk mencegah munculnya masalah-
masalah pekerjaan yang berkaitan dengan karyawan lain.
a) menghargai orang lain, mencegah timbulya masalah dalam
organsisasi
b) menjaga tindakan. - Sportmanship
Perilaku yang mengindikasikan adanya keinginan untuk mentolerir
keadaan yang kurang ideal dengan tidak membuat isu-isu yang
merusak meskipun merasa kurang berkenan.
a) menunjukkan sportifitas pada rekan kerja atau organisasi,
b) menciptakan situasi yang baik, dan menunjukkan toleransi.
Definisi Work Life Balance
Work life balance adalah sebuah konsep yang luas yang
melibatkan peraturan prioritas yang tepa tantara pekerjaan (karir dan
ambisi) di satu sisi dan kehidupan seperti kebahagiaan, waktu luang,
keluarga, dan pengembangan spiritual (Singh & Khanna, 2011).
menurut (Parkes & Langford, 2008) work life balance merupakan
suatu kondisi dimana individu mampu berkomitmen terhadap
pekerjaan dan keluarga, serta bertanggung jawab terhadap kedua
aktivitas di luar pekerjaan. Dapat disimpulkan bahwa work life
balance merupakan suatu keadaan yang dapat memberikan
kesempatan bagi karyawan untuk menyeimbangkan kehidupan kerja
dan kehidupan pribadi secara efektif tanpa mengganggu salah
satunya.
Faktor -Faktor yang mempengaruhi Organizational CitizenshipBehavior (OCB)
Banyak kajian yang membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
timbulnya Organizational Citizenship Behavior (OCB). Menurut Titisari (2014:15)
faktor yang mempengaruhi Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah:
1) Kepribadian
Kepribadian berpengaruh terhadap timbulnya OCB secara individual
maupun kelompok. Merefleksikan ciri karyawan yang kooperatif, suka menolong,
perhatian dan bersungguh-sungguh merupakan dasar kepribadian seseorang.
2) Budaya Organisasi
Budaya organisasi dapat menjadi penyebab kuat atas berkembangnya
organizational citizenship behavior dalam sebuah organisasi karena dengan nilai-
nilai yang ada pada organisasi dan nilai-nilai itu memiliki makna yang kuat bagi
seorang karyawan maka perilaku OCB akan ada di diri karyawan. Sehingga secara
tidak langsung berpengaruh kepada kualitas pelayanan yang diberikan oleh pegawai
3) Iklim Organisasi
Selain Budaya organisasi, iklim organisasi juga bisa memunculkan perilaku
OCB. Seseorang dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan
prosedur yang ditetapkan ataukah tidak tergantung baik tidaknya iklim organisasi
saat itu. Individu sebagai anggota organisasi akan sukarela melaksanakan
15
pekerjaannya dalam organisasi melebihi apa yang diharapkan perusahaan, jika
iklim organisasi dipersepsikan secara positif,
4) Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja juga menjadi salah satu faktor timbulnya OCB. Apabila
seorang karyawan merasa puas maka dia akan membalas kenyamanan bekerja yang
dirasakannya kepada organisasi yang telah memperlakukan dirinya dengan baik dan
memenuhi kebutuhannya dengan cara melaksanakan tugasnya melebihi standar
yang ada.
5) Komitmen Organisasi
Pengaruh paling besar yang melatarbelakangi munculnya perilaku OCB
adalah komitmen organisasi. Karyawan akan mengerjakan hal-hal yang dapat
digolongkan extra effort secara sukarela, jika memiliki komitmen yang tinggi
terhadap organisasi.
6) Kepemimpinan Transformasional dan Servant Leadership
Kepemimpinan transformasional dan servant leadership adalah gaya
kepemimpinan yang berpotensi untuk memunculkan OCB dengan cara mengubah
struktur tugas karyawan guna mengembangkan kemampuannya. Seorang bawahan
akan merasakan bahwa atasannya banyak memberikan dukungan dan motivasi, jika
interaksi mereka dengan atasan cukup baik. Karyawan akan termotivasi untuk
melakukan lebih dari yang diharapkan oleh atasannya, karena mereka merasa
dipercaya oleh atasan sehingga rasa hormatnya kepada atasan juga semakin
meningkat.
7) Tanggung Jawab Sosial Pegawai
Tanggung jawab sosial pegawai adalah suatu kewajiban yang dimiliki
pegawai dalam perusahaan untuk melindungi dan memajukan organisasi dimana ia
bekerja. Sehingga ketika tanggung jawab sosial itu ada pada diri pegawai maka
akan menimbulkan semangat kerja lebih untuk memajukan organisasinya.
8) Umur Pegawai
Umur atau usia bisa menjadi salah satu faktor terbentuknya OCB. Di dalam
organisasi usia di bagi dua yaitu usia dengan pekerja muda dan usia dengan pekerja
tua. Energi dan semangat yang tinggi untuk melakukan berbagai kegiatan dalam
berorganisasi merupakan pemicu bagi pekerja muda untuk melakukan OCB.
Sedangkan bagi pekerja tua, mereka melakukan OCB karena di luar tempat kerja
kegiatan mereka lebih sedikit daripada pekerja muda yang aktif dalam berbagai
organisasi lainnya.
9) Keterlibatan Kerja
OCB akan terbentuk pada individu yang sudah berada pada posisi pekerjaan
yang sama dalam jangka waktu lama, karena mereka memiliki keterlibatan kerja
yang tinggi dan lebih memahami tugas yang seharusnya dikerjakan berdasarkan
tuntutan jabatannya.
10) Kolektivisme
Kolektivisme sangat dibutuhkan dalam lingkungan kerja. Tugas yang saling
terkait antar anggota dalam kelompok kerja mengharuskan anggotanya untuk saling
bekerjasama dengan tujuan memajukan organisasinya, sehingga kolektivisme bisa
memunculkan perilaku OCB pada karyawan
Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Menurut (Muhammad Raditio et al., 2023) Organizational Citezenship
Behavior (OCB) mengacu pada perilaku peran ekstra secara sukarela yang
dikerjakan oleh karyawan, termasuk membantu orang lain dalam organisasi di luar
kewajiban tugas. Dapat diartikan bahwa perilaku Organizational Citizenship
Behavior bukan merupakan persyaratan dari peran atau deskripsi pekerjaan,
kontrak kerja dengan organisasi namun sebagai perilaku sosial yang secara pribadi
sukarela dilakukan terhadap sesama karyawan maupun organisasi sehingga jika
tidak dilakukan pun tidak diberikan hukuman.
Menurut Permatasari (2017:38) mengemukakan bahwa Organizational
Citizenship Behavior merupakan perilaku individual yang bersifat bebas
(discretionary), yang tidak secara langsung mendapatkan penghargaan dari sistem
imbalan formal, dan yang secara keseluruhan (agregat) akan meningkatkan efisiensi
dan efektifitas fungsi pada organisasi, dan Menurut Muhdar (2015:14),
Organizational Citizenship Behavior (OCB) merupakan model kegiatan yang
membuat organisasi secara intrinsik dapat bekerjasama dan berhubungan dalam
konteks sistem terbuka. Agar organisasi efektif, individu harus masuk ke dalam
sistem tersebut, mau menunjukkan peran dengan kriteria minimal untuk mencapai
kinerjanya, dan melaksanakan perilaku yang inovatif dan spontan untuk
menjalankan fungsi organisasi.
Hubungan Job Demands dan Workplace Well-Being
Karyawan yang memiliki tuntutan pekerjaan dari suatu perusahaan
maka akan berpengaruh terhadap pencapaian kesejahteraan di tempat kerja.
Penelitian mengenai hubungan antara job demands dan workplace well-
being, sampai saat ini masih jarang yang mengembangkan penelitian
tersebut. Namun, ada beberapa penelitian yang sekiranya dapat mendukung
kedua variabel tersebut memiliki hubungan. Wood, Stride, Threapleton,
Wearn, Nolan, Osborn, Paul dan Johnson (2010) menjelaskan bahwa
rendahnya level tuntutan pekerjaan (job demands) seseorang yang
dikombinasikan dengan tingginya kontrol akan pekerjaan (job control) dan
hubungan yang suportif di tempat kerja meningkatkan kesejahteraan pekerja
(staff well-being). Jadi bagaimana tingkatan tuntutan pekerjaan seseorang
yang didukung dengan kontrol pekerjaan serta bagaimana lingkungan kerja
dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan.
Penelitian yang dilakukan pada karyawan shift oleh Arwansyah (2010)
menjelaskan bahwa individu yang merasa tuntutan pekerjaannya rendah
akan merasakan kesejahteraan di lingkungan kerja yang tinggi karena
mendapatkan pengalaman yang positif sehingga ia akan merasa kebutuhan
dasarnya terpenuhi dan sebaliknya. Berdasarkan hasil dari penelitian
Arwansyah (2010), terdapat hubungan negatif yang signifikan antara job
demands dengan workplace well-being. Hal ini menunjukkan bahwa ketika
pekerja memiliki tingkat quantitative job demands yang rendah, pekerja juga
memiliki tingkat workplace well-being yang tinggi. Begitu pula ketika pekerja
memiliki tingkat quantitative job demands yang tinggi, maka pekerja tersebut
memiliki tingkat workplace well-being yang rendah.
Penelitian lain dari Love, Irani, Standing, dan Themistocleous (2007)
menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan (job demands) dan variabel lainnya
yang dijelaskan dalam model Karasek, yakni Job-Strain Model (JSM),
menjadi prediktor yang signifikan untuk kesejahteraan psikologis pekerja
(employee’s psychological well-being) pada pekerja kesehatan. Dari
penelitian-penelitian tersebut, job demands diketahui memiliki pengaruh
dengan well-being pada karyawan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk
melihat apakah terdapat pengaruh antara job demands dengan workplace
well-being.
Faktor-faktor Job Demands
Menurut Sauter, Murphy dan Hurrel (dalam Putra dan Mulyadi, 2010)
menyatakan terdapat beberapa faktor dari job demands yang mempengaruhi
perilaku karyawan dalam perusahaan, antara lain :
- Work Schedulling
Work schedulling merupakan waktu yang ditetapkan oleh
perusahaan bagi karyawan untuk menyelesaikan tuntutan
tugasnya. Pada jenis pekerjaan tertentu work schedulling juga
berkaitan dengan rotasi karyawan pada jadwal shift kerjanya. - Work load dan work pace
Work load dan work pace adalah jumlah absolut dari beban kerja
dan kecepatan atau waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
pekerjaan (Day dan Jreige, 2002). Day dan Jreige juga
mengungkapkan bahwa work load dan work pace merupakan hal
yang mempengaruhi perilaku karyawan dan kesehatan mental
karyawan. - Job Content
Sauter (1990) mengungkapkan bahwa job content adalah
intensitas, muatan dan siklus pekerjaan yang membutuhkan skill
dan kreativitas karyawan. Lebih lanjut Sauter menyatakan bahwa
job content yang terlalu ringan dan berat akan mempengaruhi
perilaku karyawan. - Job Control
Job control adalah otoritas yang dimiliki oleh karyawan untuk
mengendalikan dan melakukan pengambilan keputusan dalam
pekerjaannya dengan menggunakan skill yang dimiliki (Love et al,
2007). Fox et al (1993) menyatakan bahwa job control bagi
karyawan dapat meliputi: kebebasan untuk melakukan
pekerjaannya sesuai dengan job description, menentukan waktu
istirahat dan melakukan pengambilan keputusan. Lebih lanjut Fox
et al (1993) mengungkapkan bahwa job control memiliki pengaruh
terhadap kesehatan psikologis karyawan, karena karyawan yang
memiliki job control yang tinggi dapat menurunkan tingkat tekanan
pekerjaan yang tinggi.
Definisi Employee Retention
Employee retention didefinisikan sebagai kemampuan
organisasi untuk mempertahankan karyawannya. menurut
(Chaminade, 2007) retensi merupakan langkah sukarela yang
dilakukan perusahaan untuk menciptakan lingkungan yang
melibatkan karyawan dalam jangka panjang. Retensi merupakan
Langkah inisiatif yang diambil manajemen untuk mencegah
karyawan meninggalkan organisasi. Disimpulkan bahwa employee
retention merupakan tantangan bagi perusahaan yang berupaya
untuk mempertahankan karyawan dan menja di perhatian serta
tujuan bagi perusahaan
Definisi Job Demands
Secara singkat, tuntutan adalah suatu hal yang harus diselesaikan.
Individu yang bekerja akan dihadapkan dengan berbagai macam tuntutan
pekerjaan yang harus diselesaikan. Tuntutan pekerjaan (job demands)
didefinisikan sebagai tuntutan yang menjadi pemicu terjadinya kelelahan
secara psikologis (psychological stressor), misalnya bekerja secara non stop
dalam jam kerja yang lama, beban pekerjaan yang terlalu banyak dan
terbatasnya waktu yang diberikan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Hal ini juga dapat menimbulkan konflik personal yang berkaitan dengan
tuntutan pekerjaan (Love, Irani & Standing, 2007).
Menurut Kristensen (2004) job demands adalah tuntutan pekerjaan
yang harus diselesaikan dengan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan
sejumlah pekerjaan tersebut, dimana di dalamnya terdapat aspek waktu kerja
dan kecepatan kerja yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Karasek (dalam Peterson, 2009) menjelaskan bahwa job demands mengacu
pada pengalaman kerja yang dapat menimbulkan stres atau beban kerja.
Secara khusus, konsep job demands terdiri dari kecepatan dan kesulitan
pekerjaan, waktu yang tersedia untuk melakukan pekerjaan, beban kerja dan
tuntutan yang saling bertentangan (Karasek 1998, dalam Peterson 2009).
Pada tahun 1990, Karasek menulis sebuah buku bersama Tores Thorell
berjudul “Healthy Work: Stress, Productivity, and The Reconstruction of
Working Life”. Dalam buku tersebut, menjelaskan bahwa job demands atau
psychological demands merupakan gambaran dari seberapa keras
seseorang bekerja (how hard you work). Dalam jurnal yang ditulis oleh
Preston pada tahun 2007 “Job demands pertain to perceived work load,
unexpected tasks, and job-related interpersonal conflict”.
Sale dan Kerr (2001) menyatakan job demands merupakan
unidimensional construct, yang artinya hanya memiliki satu dimensi, yaitu job
demands itu sendiri. Job demands berkaitan dengan persepsi seseorang
mengenai seberapa keras ia bekerja. Dalam bukunya, Karasek dan Theorell
(1990) menjelaskan bahwa job demands dipengaruhi oleh beban kerja, yaitu
berat atau tidaknya pekerjaan yang dilakukan seseorang dan apakah
pekerjaan yang dilakukan berlebih, atau lebih banyak dari deskripsi kerja
yang diberikan. Selain itu, job demands juga berkaitan dengan tekanan
dalam waktu, yaitu adanya batas waktu yang diberikan kepada pekerja dalam
menyelesikan pekerjaan, kemudian job demands juga berkaitan dengan
konflik personal yang dialami pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Pada kenyataannya, teori ini terus berkembang, Kristensen (dalam
Anwarsyah, 2012) mengembangkan job demands menjadi berbagai bentuk,
yaitu quantitative demands, cognitive demands, emotional demands,
demands for hiding emotions, dan sensory demands. Namun dalam teori ini,
hanya quantitative demands yang dapat diterapkan pada seluruh jenis
pekerjaan. Kristensen (2004) mendefinisikan quantitative demands
merupakan suatu hal yang berhubungan secara langsung dengan jumlah
pekerjaan yang harus dikerjakan dan sumber utama stres adalah tidak
cocoknya jumlah pekerjaan dan waktu yang tersedia untuk mengerjakan
pekerjaan tersebut. Konsep quantitative demands ini sama dengan job
demands yang dikembangkan Karasek dan Theorell pada tahun 1990
Hal-hal yang Mempengaruhi Job Demands
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori job demands
menurut Karasek dan Theorell (1990). Karasek dan Theorell menjelaskan job
demands dipengaruhi oleh beban kerja (workload), tekanan dalam waktu
(time pressure) dan konflik personal (personal conflict). Berikut adalah
penjelasan dari masing-masing, sebagai berikut :
- Beban kerja (workload)
Karasek dan Theorell (1990) menjelaskan workload adalah “task
requirements or mental tasks per unit of time” (h.63). Dari penjelasan
tersebut dapat diartikan sebagai berat atau tidaknya pekerjaan
yang dilakukan seseorang dan apakah pekerjaan yang dilakukan
berlebih atau lebih banyak dari deskripsi kerja yang diberikan. - Tekanan dalam waktu (time pressure)
Karasek dan Theorell (1990) menjelaskan time pressure merupakan
batas waktu yang diberikan kepada pekerja dalam menyelesaikan
pekerjaan dan seberapa cepat seseorang harus menyelesaikan
pekerjaannya. - Konflik personal (personal conflict)
Karasek dan Theorell (1990) menjelaskan personal conflict merupakan
“conflict with another person that may have begun because of task
pressure” (h.63). Dari penjelasan tersebut dapat diartikan job
demands berkaitan dengan konflik personal yang dialami pekerja
karena tekanan dalam menyelesaikan pekerjaannya
Dimensi Workplace Well-Being
Menurut Page (2005), workplace well-being memiliki 13 domain yang
terbagi atas dimensi intrinsik dan ekstrinsik. Di bawah ini akan dibahas
mengenai masing-masing dimensi workplace well-being berdasarkan definisi
yang diungkapkan oleh Page (2005), sebagai berikut :
A. Dimensi Intrinsik
Dimensi intrinsik terdiri dari domain-domain yang mengacu pada
perasaan karyawan terkait dengan tugas yang dimiliki dalam ranah kerja
mereka. Dimensi ini terdiri dari 5 domain, yaitu :
- Tanggung Jawab dalam Pekerjaan (Amount of Responsibility at Work)
Page (2005) mendefinisikan tanggung jawab dalam pekerjaan adalah
perasaan individu terhadap tanggung jawab dan kepercayaan yang
diberikan organisasi untuk melakukan pekerjaan dengan baik. - Makna Kerja (Meaningfulness of Work)
Page (2005) mendefinisikan makna kerja adalah perasaan individu
mengenai makna dan tujuan dari pekerjaannya, baik secara personal
maupun dalam tingkatan yang lebih tinggi. - Kemandirian dalam Bekerja (Independence at Work)
Page (2005) mendefinisikan kemandirian dalam bekerja adalah
perasaan bahwa individu dipercaya untuk melakukan pekerjaannya
secara mandiri tanpa perlu diberikan pengarahan dari manajemen. - Penggunaan Kemampuan dan Pengetahuan dalam Bekerja (Use of
Abilities and Knowledge at Work)
Page (2005) mendefinisikan penggunaan kemampuan dan
pengetahuan dalam bekerja adalah perasaan bahwa pekerjaan yang
diberikan memungkinkan individu untuk menggunakan pengetahuan,
keahlian dan kemampuan yang dimiliki. - Perasaan Berprestasi dalam Bekerja (Sense of Achievement from
Work)
Page (2005) mendefinisikan perasaan berprestasi dalam bekerja
adalah perasaan individu bahwa pekerjaannya memberikan perasaan
berprestasi karena berhasil mencapai tujuan yang berhubungan
dengan pekerjaan.
B. Dimensi Ekstrinsik
Dimensi ekstrinsik terdiri dari domain-domain yang mengacu kepada
hal-hal di lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi karyawan dalam
bekerja. Dimensi ini terdiri dari 8 domain, yaitu : - Penggunaan waktu sebaik-baiknya (Convenience of Work Hours)
Page (2005) menjelaskan penggunaan waktu yang sebaik-baiknya
adalah perasaan individu mengenai waktu sebagai hal penting karena
memungkinkan individu untuk mendapatkan keseimbangan antara
pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance)
16 - Kondisi kerja (Work Condition)
Page (2005) menjelaskan kondisi kerja adalah kepuasan individu
terhadap lingkungan kerja, seperti ruang kerja dan budaya organisasi. - Surpervisi (Supervisor)
Page (2005) menjelaskan domain ini sebagai perasaan individu bahwa
atasan memberikan perlakuan baik, seperti memberikan dukungan,
memberikan bantuan ketika dibutuhkan, memberikan umpan balik dan
penghargaan atas apa yang dilakukan. - Peluang promosi (Promotional Opportunities)
Page (2005) menjelaskan domain ini sebagai perasaan individu bahwa
lingkungan kerja memberikan ruang untuk mengembangkan profesi
dan karir mereka - Pengakuan terhadap kinerja yang baik (Recognition for Good Work)
Page (2005) menjelaskan domain ini sebagai perasaan individu bahwa
lingkungan kerja memberikan perlakuan yang berbeda bagi pekerja
dengan kinerja yang baik dan yang tidak baik. - Penghargaan sebagai individu di tempat kerja (Valued as a Person at
Work)
Page (2005) menjelaskan domain ini sebagai perasaaan individu
bahwa atasan dan rekan kerja menghargai dan menerima dirinya
sebaga individu yang baik. - Upah (Pay)
Page (2005) menjelaskan domain ini sebagai kepuasan individu
terhadap upah dan penghargaan berupa uang yang didapatkan dari
lingkungan kerja. - Keamanan kerja (Job Security)
Page (2005) menjelaskan domain ini sebagai kepuasan kerja individu
terhadap rasa aman dalam posisi mereka.
Teori Workplace Well-Being
Konsep dari workplace well-being dibangun berdasarkan nilai intrinsik
dan ekstrinsik dari pekerjaan. Nilai-nilai tersebut berasal dari teori dualitas
motivasi. Nilai-nilai tersebut berasal dari teori dualitas motivasi. Motivasi
intrinsik merujuk pada dorongan untuk bekerja yang disebabkan oleh
penghargaan bersifat psikologis yang diasosiasikan dengan pekerjaan itu
sendiri, seperti prestasi dan tanggung jawab. Sedangkan motivasi ekstrinsik
lebih disebabkan oleh keinginan untuk mendapatkan hal yang berhubungan
dengan faktor eksternal, seperti upah (Page, 2005).
Dalam menjelaskan teori dualitas motivasi yang mendasari konstruk
workplace well-being, Page (2005) merujuk pada referensi yang
dikemukakan oleh Herzberg (dalam Page, 2005) yakni mengenai hygiene
and motivator factors respectively. Dalam teori tersebut, Herzberg (dalam
Page, 2005) mengkategorikan kebijakan perusahaan, upah, hubungan
interpersonal, kondisi kerja dan atasan sebagai faktor-faktor ekstrinsik dari
pekerjaan. Sedangkan, motivasi intrinsik berasal dari faktor dalam pekerjaan
seperti penghargaan terhadap prestasi, tanggung jawab dan kemajuan yang
dihasilkan. Menurut Hezberg (dalam Page, 2005) cara yang paling baik
meningkatkan motivasi karyawan adalah dengan meningkatkan faktor
intrinsik tersebut. Radolph (dalam Page, 2005) juga menemukan bahwa
faktor intrinsik seperti pertumbuhan profesi, adanya keseimbangan antara
lingkungan kerja dan nilai personal, signifikan dalam memprediksi kepuasan
kerja dan keinginan untuk tetap mempertahankan pekerjaan dibandingkan
dengan faktor ekstrinsik. Berdasarkan teori di atas, maka teori dualitas
motivasi menjadi dasar dalam menyusun konstruk workplace well-being
menjadi dua dimensi besar, yaitu intrinsik dan ekstrinsik.
Selanjutnya Page menyusun domain-domain dalam setiap dimensi
dengan merujuk referensi yang dikemukakan oleh Knoop (dalam Page, 2005)
mengenai nilai-nilai pekerjaan. Nilai-nilai pekerjaan didefinisikan sebagai
derajat keberhargaan, kepentingan dan keterikatan pada hal-hal yang terjadi
di tempat kerja (Knoop, dalam Page, 2005). Oleh karena itu pekerjaan
menunjukkan aspek-aspek yang penting bagi individu dan merupakan hal-hal
yang membuat mereka menikmati pekerjaan, maka hal ini penting untuk
menentukan workplace well-being dari karyawan. Nilai-nilai pekerjaan seperti
melakukan pekerjaan yang memiliki makna tertentu (meaningfulness of
work), penggunaan kemampuan dan pengetahuan (use abilities and
knowledge) dan perasaan mengenai tanggung jawab (amount of
responsibility at work) secara intrinsik dapat memuaskan dan memotivasi
karyawan (Knoop, dalam Page, 2005). Selain itu, terdapat pula domain yang
berhubungan dengan variabel dalam organisasi seperti kondisi kerja,
interaksi dengan atasan dan keamanan kerja yang merupakan perwujudan
dari faktor-faktor yang membangun dimensi ekstrinsik dalam konstruk
workplaces well-being (Page, 2005).
Pendapat Knoop (dalam Page, 2005) mengenai work values dan teori
dualitas motivasi Herzberg dengan hygiene dan motivator factors menjadi
dasar bagi Page (2005) untuk membangun dimensi dan domain dari
workplace well-being. Maka dari itu, berdasarkan teori-teori yang
dikemukakan oleh Hezberg dan Knoop, Page (2005) menyusun dua dimensi
besar dari workplace well-being yaitu dimensi intrinsik dan ekstrinsik beserta
dengan domain-domainnya untuk menggambarkan kesejahteraan seseorang
di lingkungan kerja (Page, 2005)
Definisi Workplace Well-Being
Dalam dunia psikologi, khususnya dalam ranah industri dan organisasi
teori mengenai well-being memiliki banyak variasi. Page (2005) menjelaskan
bahwa workplace well-being merupakan suatu konstruk yang paralel dan
saling berhubungan dengan subjective well-being. Diener dalam Page (2005)
mendefinisikan subjective well-being merupakan suatu keadaan positif yang
meliputi keseluruhan pengalaman hidup seseorang. Pavot dan Diener (dalam
Russell, 2008) mendefinisikan subjective well-being dalam pekerjaan
berhubungan dengan kesuksesan di tempat kerja. Selain itu, Sivanathan,
Arnold, Turner dan Barling (dalam Russell, 2008) mendefinisikan well-being
sebagai peningkatan kesehatan fisik dan psikologis di dalam pekerjaan.
Lebih lanjut, Pavot dan Diener (dalam Russell, 2008) menambahkan bahwa
kesehatan fisik dan psikologis di dalam pekerjaan, keduanya berhubungan
dengan kepuasan hidup secara umum dan keseluruhan.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Danna dan Griffin (1999),
menggunakan istilah health and well-being untuk melihat workplace well-
being karyawan. Danna dan Griffin (1999) menyatakan bahwa workplace
well-being meliputi health, yakni mencakup gejala-gejala fisiologis dan
psikologis yang berkenaan dengan medis, dan well-being itu sendiri, yakni
mencakup pengukuran terhadap kesejahteraan berdasarkan pengalaman
hidup dan pengalaman yang berkenaan dengan pekerjaan. Page (2005)
mendefinisikan workplace well-being sebagai perasaan sejahtera atau
perasaan-perasaan positif yang diperoleh karyawan dari pekerjaan mereka yang terkait dengan perasaan karyawan secara umum (core affect) dan nilai
intrinsik maupun ekstrinsik dari pekerjaan (work values). Secara umum,
perasaan sejahtera yang mereka miliki disertai dengan adanya kepuasan
terhadap faktor intrinsik dan ekstrinsik dari pekerjaan mereka
Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan terhadap Retensi Karyawan.
Program pelatihan dan pengembangan yang berkelanjutan diyakini dapat
meningkatkan retensi karyawan Gen Z dengan memenuhi kebutuhan mereka akan
pertumbuhan karir dan pembelajaran berkelanjutan. (Yamin, 2019) menegaskan
bahwa pelatihan yang efektif menciptakan jalur karier yang jelas dan mendukung,
sehingga sangat dihargai oleh karyawan Gen Z yang berorientasi pada kemajuan
profesional. (Xuecheng et al., 2022) juga menemukan bahwa investasi dalam
pengembangan karyawan tidak hanya meningkatkan kompetensi tetapi juga
menumbuhkan loyalitas melalui peningkatan kepercayaan diri. Penelitian yang
dilakukan oleh (Ali et al., 2024) mendukung pandangan ini dengan menunjukkan
bahwa program pelatihan dan pengembangan berpengaruh positif pada retensi.
Namun, efektivitas pelatihan ini tidak selalu bersifat mutlak.(Ghosh, Satyawadi,
Joshi, & Shadman, 2013) berpendapat bahwa efektivitas pelatihan hanya optimal
ketika disertai dengan sistem reward yang jelas, sehingga dampaknya terhadap
retensi mungkin tidak sepenuhnya independen. Berdasarkan Social Exchange
Theory (SET), kesempatan pelatihan dan pengembangan adalah investasi yang
diberikan perusahaan kepada karyawan. Investasi ini memberi sinyal bahwa
perusahaan peduli pada pertumbuhan karir mereka. Sebagai timbal baliknya,
karyawan akan merasa dihargai dan lebih terikat pada organisasi, sehingga
meningkatkan niat mereka untuk bertahan
Pengaruh Gaji terhadap Retensi Karyawan.
Kompensasi finansial yang kompetitif dan manfaat tambahan seperti
asuransi kesehatan dianggap sebagai faktor dominan dalam mempertahankan
karyawan Gen Z, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil.
(Acheampong, 2021) menekankan pentingnya gaji yang tinggi dan tunjangan yang
adil untuk menarik dan mempertahankan karyawan Gen Z yang sangat menghargai
stabilitas finansial. Selain itu, (Bharath, 2021) menyatakan bahwa sinergi antara
kompensasi finansial dan non-finansial, seperti peluang pengembangan karir,
semakin memperkuat retensi karyawan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Ali
et al., 2024) mendukung pandangan ini, terutama dengan menunjukkan bahwa
aspek kompensasi memiliki pengaruh yang lebih besar pada retensi karyawan.
Namun, (Pichler, Kohli, & Granitz, 2021) berargumen bahwa Gen Z mungkin lebih
termotivasi oleh makna kerja dan pencapaian pribadi daripada kompensasi semata,
sehingga pengaruh kompensasi saja mungkin memiliki batasan dalam
meningkatkan retensi. Sesuai dengan prinsip Social Exchange Theory (SET), gaji
yang kompetitif merupakan sumber daya material yang paling mendasar dalam
pertukaran antara karyawan dan perusahaan. Ketika perusahaan memberikan
kompensasi yang adil dan memuaskan, karyawan akan merasa berkewajiban untuk
memberikan kontribusi terbaiknya dan menunjukkan loyalitas dalam bentuk
retensi.
Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Retensi Karyawan
Lingkungan kerja yang mendukung secara fisik, sosial, dan manajerial
diyakini dapat meningkatkan retensi karyawan Gen Z melalui peningkatan
kepercayaan organisasi dan keterlibatan kerja. (Xuecheng et al., 2022) menyatakan
bahwa adanya lingkungan kerja yang kondusif meningkatkan kepercayaan
karyawan terhadap organisasi, yang pada gilirannya berkontribusi pada loyalitas
mereka. Selain itu, (Halim et al., 2020) menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang
baik, khususnya yang mengedepankan kolaborasi dan komunikasi terbuka, sangat
berperan dalam menjaga retensi karyawan, terutama Gen Z yang cenderung
mencari lingkungan kerja yang suportif. Temuan penelitian oleh (Ali et al., 2024)
juga mengungkapkan bahwa keberadaan lingkungan kerja yang mendukung
berpengaruh signifikan terhadap retensi karyawan. Di sisi lain, (Naz et al., 2020)
mengemukakan bahwa pengaruh lingkungan kerja terhadap retensi karyawan akan
optimal jika didukung oleh faktor-faktor pendukung lainnya, seperti kepemimpinan
transformasional, sehingga efeknya tidak selalu langsung. Sesuai dengan Social
Exchange Theory (SET), lingkungan kerja yang positif merupakan bentuk sumber
daya non-materi yang diberikan perusahaan. Sebagai balasannya, karyawan Gen Z
akan merespons dengan loyalitas dan niat untuk bertahan, memperkuat hubungan
timbal balik yang positif.
Dampak Gender
Perbedaan gender diyakini memoderasi hubungan antara praktik
manajemen sumber daya manusia (HRM) dan retensi karyawan. (Zhou, Jin, &
Fang, 2014) mengungkapkan bahwa perempuan cenderung lebih menghargai
manfaat sosial dan utilitarian, sedangkan laki-laki lebih responsif terhadap insentif
finansial. Selain itu, (Acheampong, 2021) menemukan bahwa prioritas nilai kerja
berbeda antara gender, di mana perempuan lebih mementingkan lingkungan kerja
yang inklusif dan dukungan pelatihan, sedangkan laki-laki lebih menekankan aspek
kompensasi dan kejelasan peran
Definisi Gender
Gender merupakan konsep yang kompleks dan multidimensi, terutama
terkait dengan peran sosial-budaya, perilaku, aktivitas, serta karakteristik yang
dianggap sesuai untuk laki-laki dan perempuan oleh suatu masyarakat. Konsep ini
berbeda dengan jenis kelamin (sex), yang merujuk pada perbedaan biologis antara
laki-laki dan perempuan, seperti organ reproduksi dan susunan kromosom (Baltzell
& Cote, 2017)
Dampak Pelatihan dan Pengembangan
Menurut (Delery & Doty, 1996)Pelatihan dan pengembangan memiliki
pengaruh signifikan terhadap variabel dependen dalam konteks organisasi, seperti:
- Meningkatkan Kinerja Organisasi
Pelatihan memperkuat keterampilan karyawan sehingga mereka dapat
bekerja lebih efektif, yang berdampak langsung pada produktivitas dan
kinerja organisasi. - Mendukung Pengembangan Sistem Internal
Pelatihan membantu membangun jalur karier internal dan meningkatkan
loyalitas dengan mengembangkan keterampilan yang spesifik untuk
perusahaan. - Menciptakan Kesesuaian Strategi dan SDM
Pelatihan menyelaraskan kemampuan karyawan dengan kebutuhan strategi
bisnis, memastikan kontribusi mereka sesuai arah organisasi. - Mengurangi Turnover dan Meningkatkan Komitmen
Karyawan yang mendapatkan pelatihan merasa dihargai dan cenderung
lebih setia, sehingga menurunkan niat untuk keluar
Faktor Pelatihan dan Pengembangan
Faktor-faktor yang mendorong pelatihan dan pengembangan meliputi:
- Kebutuhan Strategis Organisasi: Align pelatihan dengan tujuan bisnis,
seperti adaptasi teknologi baru atau ekspansi pasar. - Perubahan Lingkungan Kerja: Tuntutan kompetensi baru akibat inovasi
teknologi, regulasi, atau persaingan industri. - Kesenjangan Kompetensi: Identifikasi ketidaksesuaian antara kemampuan
karyawan dan kebutuhan pekerjaan melalui analisis kinerja. - Retensi Karyawan: Upaya mempertahankan karyawan berkinerja tinggi
dengan menawarkan kesempatan pengembangan karier. - Budaya Organisasi: Organisasi yang berfokus pada pembelajaran
berkelanjutan cenderung menginvestasikan lebih banyak sumber daya
untuk pelatihan
Definisi Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan dan pengembangan (training and development) didefinisikan
sebagai upaya sistematis organisasi untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan kompetensi karyawan melalui program terstruktur (Delery &
Doty, 1996). Menurut (R. Sudhakar & Basariya, 2017), pelatihan dan
pengembangan juga mencakup proses mempersiapkan karyawan untuk
menghadapi tuntutan pekerjaan saat ini (pelatihan) dan mengantisipasi kebutuhan
kompetensi masa depan (pengembangan). Sementara itu, (Aguinis & Kraiger,
2009) menekankan bahwa pelatihan dan pengembangan bertujuan untuk menutup
kesenjangan antara kemampuan karyawan dan kebutuhan organisasi. Dalam
penelitian ini, definisi pelatihan dan pengembangan mengacu pada (Delery & Doty,
1996), dengan fokus pada ketersediaan program pelatihan yang dirancang untuk
meningkatkan kapabilitas karyawan
Dampak Gaji
Dampak gaji atau kompensasi menurut (Frye et al., 2020) terhadap
karyawan serta perusahaan antara lain.
- Meningkatkan Kepuasan Kerja
Kompensasi yang kompetitif, terutama dalam bentuk insentif berbasis
kinerja (seperti bonus atau tunjangan), secara langsung mendorong
kepuasan kerja. - Meningkatkan Retensi Karyawan
Gaji yang memadai membuat karyawan merasa dihargai, sehingga
mengurangi keinginan untuk mencari pekerjaan lain. Kompensasi juga
berfungsi sebagai alat motivasi untuk mempertahankan talenta berkinerja
tinggi
Dimensi Gaji
Dimensi gaji menurut (Frye et al., 2020) dapat diurai menjadi tiga dimensi
utama:
- Kepuasan terhadap Jumlah Gaji (Pay Level Satisfaction)
Dimensi ini menggambarkan sejauh mana karyawan merasa puas dengan
jumlah gaji yang diterima atas pekerjaan yang mereka lakukan. Karyawan
yang merasa gajinya sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawabnya
akan memiliki persepsi bahwa mereka dihargai secara finansial oleh
perusahaan. Tingkat kepuasan ini sangat memengaruhi motivasi kerja dan
loyalitas terhadap organisasi. - Keadilan Gaji Eksternal (External Pay Equity)
Dimensi ini mencerminkan pandangan karyawan mengenai kewajaran gaji
yang diterima dibandingkan dengan rekan seprofesi di perusahaan lain.
Ketika karyawan menilai bahwa gaji mereka kompetitif dan setara dengan
standar industri, maka rasa puas dan keadilan akan meningkat. Hal ini
penting untuk mencegah turnover akibat perbandingan gaji eksternal yang
lebih menarik. - Kenaikan dan Penghargaan Finansial (Pay Raise & Recognition
Satisfaction)
Dimensi ini berkaitan dengan kepuasan karyawan terhadap sistem kenaikan
gaji dan bagaimana gaji mencerminkan penghargaan dari perusahaan.
Karyawan yang merasa mendapatkan kenaikan gaji yang adil dan sesuai
prestasi akan merasa lebih dihargai. Pengakuan dalam bentuk finansial ini
memperkuat persepsi bahwa perusahaan menghargai kontribusi mereka
Definisi Gaji atau Kompensasi
Gaji adalah segala bentuk kompensasi finansial, baik langsung maupun
tidak langsung, yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan sebagai imbalan
atas pekerjaannya. Kompensasi ini mencakup gaji pokok, tunjangan, serta insentif
lain yang berkontribusi pada kepuasan kerja dan keputusan karyawan untuk
bertahan di perusahaan (Csiszárik-Kocsír & Garia-Fodor, 2018).
Dampak Kejelasan Peran
Dampak Kejelasan Peran menurut (Hassan, 2013) dapat diurai menjadi
empat, antara lain:
- Meningkatkan Kepuasan Kerja
Karyawan yang memahami perannya merasa lebih puas karena dapat
bekerja dengan jelas, minim stres, dan percaya diri. - Menurunkan Turnover
Kejelasan peran mengurangi kebingungan dan frustrasi, sehingga karyawan
cenderung bertahan lebih lama di organisasi. - Meningkatkan Kinerja Tim
Peran yang jelas mendukung koordinasi dan kontribusi efektif dalam tim,
sehingga meningkatkan hasil kerja bersama. - Mengurangi Stres dan Ketidakpastian
Kejelasan peran membantu menciptakan lingkungan kerja yang stabil dan
psikologis lebih nyaman, terutama dalam tugas kompleks
Faktor Kejelasan Peran
Beberapa faktor utama yang memengaruhi kejelasan peran meliputi:
- Komunikasi Organisasi: Transparansi informasi dari atasan tentang
deskripsi pekerjaan, tujuan, dan perubahan kebijakan. - Deskripsi Pekerjaan Terstruktur: Dokumen resmi yang mendetail tugas,
tanggung jawab, dan hubungan pelaporan. - Umpan Balik Berkala: Evaluasi kinerja rutin yang membantu karyawan
memahami kesenjangan antara ekspektasi dan realitas. - Kepemimpinan Partisipatif: Gaya manajer yang melibatkan karyawan
dalam pengambilan keputusan dan menjelaskan visi tim. - Pelatihan dan Pengembangan: Program yang memperkuat pemahaman
karyawan tentang peran mereka melalui simulasi atau mentoring
Dimensi Kejelasan Peran
Dimensi Kejelasan Peran menurut (Hassan, 2013) dapat diurai menjadi dua
dimensi utama:
- Kejelasan Tugas dan Tanggung Jawab
Dimensi ini merujuk pada pemahaman karyawan mengenai tugas spesifik
yang harus mereka lakukan serta batasan wewenang dalam peran mereka.
Kejelasan ini juga membantu mengurangi kesalahan operasional dan
meningkatkan akuntabilitas, karena setiap individu memahami kontribusi
mereka terhadap tujuan organisasi. - Kejelasan Prioritas Tugas
Dimensi ini berfokus pada pemahaman karyawan tentang hierarki
kepentingan dari berbagai tugas yang menjadi tanggung jawab mereka.
Karyawan tidak hanya mengetahui daftar pekerjaan yang harus
diselesaikan, tetapi juga mampu mengidentifikasi mana tugas yang bersifat
urgensi tinggi. Hal ini membantu karyawan menyelaraskan usaha mereka
dengan tujuan organisasi, sehingga pekerjaan tidak sekadar “sibuk”, tetapi
benar-benar bermakna dan terarah
Definisi Kejelasan Peran
Kejelasan peran (role clarity) merujuk pada tingkat pemahaman individu
terhadap tugas, tanggung jawab, kewajiban, dan ekspektasi yang terkait dengan
posisi pekerjaan mereka (Mukherjee & Malhotra, 2006b). Menurut(Schuler, Aldag,
& Brief, 1977), kejelasan peran juga mencakup keyakinan karyawan tentang
batasan wewenang, prosedur kerja, dan kriteria keberhasilan dalam peran mereka.
Sementara itu, (Jackson & Schuler, 1985) menambahkan bahwa kejelasan peran
melibatkan ketiadaan ambiguitas dalam memahami bagaimana kontribusi individu
berkaitan dengan tujuan organisasi. Dalam penelitian ini, definisi kejelasan peran
mengacu pada (Mukherjee & Malhotra, 2006b)dengan penekanan pada
pemahaman tugas, tanggung jawab, dan ekspektasi yang terstruktur.
Dampak Lingkungan Kerja
Terdapat beberapa dampak dari lingkungan kerja pada organisasi
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Andarsari & Setiadi, 2023):
- Meningkatkan Kepuasan Kerja
Lingkungan kerja yang baik (fisik, psikologis, dan psikososial)
meningkatkan kepuasan kerja. Fasilitas fisik ergonomis mengurangi
ketidaknyamanan, sementara dukungan psikologis (apresiasi, manajemen
stres) dan hubungan sosial harmonis menciptakan rasa aman. Kepuasan ini
menjadi fondasi untuk motivasi dan loyalitas karyawan. - Memperkuat Loyalitas Karyawan
Karyawan yang puas cenderung lebih loyal. Lingkungan kerja positif
mendorong komitmen emosional (affective loyalty) dan rasa berhutang budi
(normative loyalty). Misalnya, evaluasi kerja adil dan hubungan baik
dengan rekan meningkatkan kepercayaan terhadap perusahaan, mengurangi
keinginan pindah kerja. - Menurunkan Turnover dan Absensi
Lingkungan buruk memicu ketidakpuasan, yang berujung pada resignasi
atau absensi tinggi. Sebaliknya, lingkungan kerja yang baik meningkatkan
retensi dan mengurangi ketidakhadiran. - Meningkatkan Produktivitas
Lingkungan kerja optimal mendukung kinerja. Fasilitas modern
mempercepat pekerjaan, kolaborasi tim harmonis memudahkan
penyelesaian tugas, dan sistem penghargaan memotivasi inovasi. Studi
menunjukkan korelasi positif antara lingkungan baik dengan produktivitas. - Membentuk Budaya Organisasi Positif
Lingkungan inklusif (menghargai keragaman, transparansi) membangun
budaya perusahaan yang sehat. Karyawan merasa dihargai sehingga lebih
berkontribusi aktif. Budaya ini juga menarik talenta dan memperkuat
reputasi organisasi
Dimensi Lingkungan Kerja
Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Frye, Kang, Huh, & Lee, 2020)
lingkungan kerja dapat diklasifikasikan ke dalam tiga dimensi utama:
- Kepuasan terhadap Kondisi dan Kebijakan Kerja (Work Conditions &
Policies Satisfaction)
Dimensi ini mencerminkan tingkat kepuasan karyawan terhadap kondisi
kerja secara umum dan kebijakan perusahaan yang berlaku. Karyawan yang
merasa puas dengan aturan, sistem, serta praktik manajemen sumber daya
manusia akan cenderung lebih loyal dan termotivasi dalam bekerja. - Kenyamanan Fisik Lingkungan Kerja (Physical Work Environment
Comfort)
Dimensi ini menggambarkan persepsi karyawan terhadap kenyamanan dan
kesesuaian fasilitas fisik di tempat kerja. Hal ini mencakup tata letak ruang,
peralatan kerja, suhu, pencahayaan, dan kebersihan. Ketika kondisi kerja
fisik sesuai dengan harapan, risiko stres kerja dapat diminimalkan. - Iklim Sosial dan Psikologis di Tempat Kerja (Social & Psychological
Climate)
Dimensi ini berkaitan dengan hubungan interpersonal, rasa aman, serta
iklim komunikasi di lingkungan kerja. Karyawan yang merasa dihargai,
diterima, dan mampu mengungkapkan pendapat tanpa takut dinilai negatif
akan memiliki keterikatan emosional yang lebih kuat terhadap organisasi
dan meningkatkan kepuasan serta retensi
Definisi Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja didefinisikan sebagai suatu konsep menyeluruh yang
mencakup faktor fisik, sosial, organisasional, dan psikologis yang dapat
memengaruhi produktivitas, kesehatan, dan kepuasan kerja karyawan (Mohamad
Suleiman, 2023). Penelitian yang dilakukan (Kadhar Lal, 2019) menyatakan
lingkungan kerja mencakup lokasi fisik tempat karyawan bekerja, peralatan yang
digunakan, iklim organisasi, serta aktivitas yang dilakukan selama menjalankan
tugasnya. Lingkungan kerja tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga
mencakup elemen-elemen penting lainnya seperti cara komunikasi di tempat kerja,
peluang untuk berkembang, hubungan antar rekan kerja, keadilan dalam perlakuan,
serta sistem penghargaan yang diterapkan. Semua aspek ini bersama-sama
membentuk pengalaman kerja karyawan dan sangat memengaruhi tingkat
kenyamanan, motivasi, dan kinerja mereka
Dampak Retensi Karyawan
Menurut (Gulzar, Advani, & Rauf, 2016) tingkat retensi karyawan yang
tinggi memberikan dampak positif terhadap kinerja organisasi secara keseluruhan,
antara lain:
- Karyawan yang bertahan lebih lama memiliki pemahaman yang lebih baik
terhadap proses kerja, budaya organisasi, dan tanggung jawabnya.
Pemahaman tersebut memungkinkan mereka untuk bekerja secara lebih
produktif dan efisien. - Organisasi dengan tingkat retensi yang baik memiliki keunggulan
kompetitif, karena mampu mempertahankan tenaga kerja yang terampil dan
berpengalaman. - Retensi yang tinggi membantu organisasi menghemat biaya rekrutmen,
pelatihan, dan orientasi karyawan baru. Hal ini menjadi sangat penting di
tengah persaingan yang ketat dalam memperoleh talenta terbaik
Faktor Retensi Karyawan
Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi retensi karyawan menurut (Ali et
al., 2024) antara lain:
- Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang mendukung adalah kombinasi kondisi fisik, sosial,
dan manajerial yang menciptakan suasana positif melalui komunikasi yang
baik, budaya inklusif, dan kebijakan yang adil. Hal ini meningkatkan
kepercayaan karyawan terhadap organisasi dan mengurangi stres, yang
sangat relevan bagi Gen Z yang mengutamakan fleksibilitas seperti kerja
hybrid dan teknologi modern untuk mendukung keseimbangan kerja-hidup. - Kompensasi
Kompensasi mencakup gaji kompetitif, tunjangan, serta insentif finansial
dan non-finansial. Kompensasi yang adil dan transparan meningkatkan
kepuasan dan loyalitas, sementara Gen Z juga mengharapkan manfaat
tambahan seperti dukungan kesehatan mental dan pelatihan yang
mendukung pertumbuhan pribadi. - Kejelasan Peran
Kejelasan peran berarti penjelasan eksplisit mengenai tanggung jawab dan
ekspektasi kerja. Dengan struktur kerja yang jelas dan umpan balik rutin,
kebingungan dapat diminimalkan sehingga meningkatkan motivasi
karyawan. Bagi Gen Z, peran yang jelas membantu mengurangi kecemasan
dan meningkatkan kinerja di era informasi instan. - Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan dan pengembangan menyediakan kesempatan bagi karyawan
untuk meningkatkan keterampilan dan meraih kemajuan karier melalui
program formal maupun informal. Bagi Gen Z, pembelajaran berkelanjutan
terutama melalui platform digital serta teknologi terbaru merupakan nilai
tambah yang meningkatkan keterikatan mereka dengan organisasi
Dimensi Retensi karyawan
Menurut (Armstrong-Stassen & Schlosser, 2008) dimensi retensi karyawan
ada tiga antara lain:
- Niat untuk Bertahan (Intention to Stay)
Dimensi ini menggambarkan komitmen karyawan untuk tetap berada dalam
perusahaan dalam jangka panjang. Karyawan dengan niat bertahan biasanya
merasa memiliki keterikatan yang kuat terhadap organisasi dan tidak
memiliki keinginan untuk mencari peluang di tempat lain, kecuali jika
terjadi kondisi yang benar-benar memaksa. - Preferensi Pribadi (Personal Preference)
Dimensi ini mencerminkan keinginan pribadi karyawan untuk terus bekerja
di perusahaan secara sukarela. Ini menunjukkan bahwa keputusan untuk
bertahan tidak didasarkan pada keterpaksaan, tetapi karena adanya rasa
nyaman, kecocokan nilai, dan keyakinan bahwa perusahaan adalah tempat
yang tepat untuk berkembang. - Harapan Jangka Panjang (Long-Term Expectation)
Dimensi ini menunjukkan aspirasi karyawan untuk membangun karier
dalam jangka waktu yang panjang di dalam organisasi. Karyawan yang
memiliki harapan jangka panjang biasanya melihat potensi pertumbuhan,
kestabilan, dan peluang pengembangan diri di perusahaan
Definisi Retensi karyawan
Retensi karyawan adalah keputusan individu untuk tetap bekerja dalam
suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu, yang dipengaruhi oleh berbagai
faktor seperti lingkungan kerja, gaji, kejelasan peran, serta program pelatihan dan
pengembangan. (Xuecheng et al., 2022)mendefinisikan retensi karyawan sebagai
sejauh mana seorang karyawan memilih untuk bertahan di suatu perusahaan
berdasarkan berbagai faktor internal dan eksternal yang memengaruhi keputusan
mereka. Dalam penelitian ini, definisi yang digunakan adalah definisi dari
(Xuecheng et al., 2022)
Hubungan Kepuasan Kerja terhadap Retensi Karyawan
Kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan menentukan mereka untuk
keluar atau tetap bertahan di dalam perusahaan. Kepuasan kerja dan retensi
karyawan mempunyai hubungan yang tidak bisa terpisahkan. Hubungan kepuasan
kerja dengan retensi karyawan sebagai berikut: individu yang merasa terpuaskan
dengan pekerjaannya cenderung untuk bertahan dalam organisasi. Sedangkan
individu yang merasa kurang terpuaskan dengan pekerjaannya akan memilih
untuk keluar dari organisasi. Kepuasan kerja yang dirasakan bisa berpengaruh
terhadap pemikiran individu untuk tetap bertahan atau keluar dari perusahaan
(Mathis & Jackson, 2006). Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang
merupakan hasil dari evaluasi pengalaman kerja seseorang (Mathis & Jackson,
2006).
Berdasarkan hasil penelitian Ripaldi (2017) dan Lisdayanti et al. (2015)
kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan tehadap retensi karyawan
sedangkan berdasarkan penelitian Prasetya & Suryono (2014) kepuasan kerja
berpengaruh positif tidak signifikan terhadap retensi karyawan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kepuasan kerja seorang karyawan dapat menentukan
karyawan tersebut bertahan atau keluar di perusahaan
Hubungan Pengembangan Karir terhadap Retensi Karyawan
Menurut Mangkunegara (2011) mengemukakan bahwa pengembangan
karir adalah aktivitas kepegawaian yang membantu pegawai-pegawai
merencanakan karir masa depan mereka di perusahaan agar perusahaan dan
pegawai yang bersangkutan dapat mengembangkan diri secara maksimum.
Pengembangan karir memberikan kesempatan untuk pelatihan, promosi jabatan
dan pengembangan keterampilan guna meningkatkan kerja karyawan dalam suatu
organisasi (Meyer & Smith, 2000). Dengan karir dari seseorang karyawan yang
mengalami peningkatkan maka perusahaan dapat menjamin karyawan untuk tetap
bertahan di perusahaan.
Berdasarkan hasil penelitian Dewi & Riana (2018) dan Pratiwi & Sriathi
(2017) Pengembangan Karir berpengaruh positif dan signifikan terhadap Retensi
Karyawan sedangkan berdarkan penelitian dari Lapian & Warouw (2015).
Pengembangan Karir berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Retensi
Karyawan. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin berkembangnya karir
seseorang maka dapat mempengaruhi retensi karyawan
Hubungan Kompensasi terhadap Retensi Karyawan
Menurut Mathis dan John (2006), mengatakan bahwa pengaruh
kompensasi terhadap retensi karyawan adalah sebagai berikut: banyak survei dan
pengalaman para professional SDM menunjukkan bahwa satu hal yang penting
terhadap retensi karyawan adalah mempunyai praktek kompensasi kompetitif.
Banyak manajer yakin bahwa uang merupakan faktor retensi karyawan yang
utama. Kompensasi masih memiliki efek yang tinggi terhadap retensi karyawan di
dalam suatu perusahaan karena dengan kompensasi yang cukup memuaskan,
karyawan akan merasa bahwa perusahaan memperhatikan karyawan (Vicky,
2012).
Penelitian dari Putra & Rahyuda (2016) dan Butarbutar & Inrawan (2015)
menyatakan bahwa kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
retensi karyawan. Hasil tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh
Msengeti & Obwogi (2014) yang menyatakan bahwa kompensasi berpengaruh
positif tidak signifikan terhadap retensi karyawan. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa kompensasi seorang akan dapat mempengaruhi retensi karyawan
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan menurut
Hasibuan (2014) adalah sebagai berikut :
- Balas jasa yang adil dan layak
Dalam hal ini pihak perusahaan memberikan balas jasa yang sesuai dengan
beban kerja yang dikerjakan oleh karyawan. - Penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian
Dalam hal ini karyawan akan mendapatkan penempatan jabatan sesuai dengan
bidang karyawan tersebut. - Berat ringannya pekerjaan
Dalam hal ini karyawan akan mendapatkan kepuasan kerja yaitu dengan
pembagian kerja yang sesuai dengan bidang kerja karyawan tersebut. - Suasana dan lingkungan pekerjaan
Dalam hal ini karyawan merasakan suasana dan lingkungan kerja yang
nyaman. - Peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan
Dalam hal ini karyawan mendapatkan fasilitas kerja yang memadai. - Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya
Dalam hal ini sikap dan gaya kepemimpinan pada perusahaan mampu
menciptakan kepuasan kerja. - Sifat pekerjaan yang monoton atau tidak
Dalam hal ini karyawan mendapatkan pekerjaan yang dapat memberikan
pengalaman kerja yang menarik
Indikator Kepuasan Kerja
Menurut Luthans (2006) kepuasan kerja dapat diukur melalui lima
indikator sebagai berikut :
- Pekerjaan itu sendiri
Dalam hal dimana pekerjaan diberikan tugas yang menarik, kesempatan untuk
belajar, dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab. Para pekerja lebih
suka dengan pekerjaan yang memberi mereka peluang untuk mengasah
ketrampilan dan kemampuan mereka serta menawarkan tugas yang bervariasi,
kebebasan dan umpan balik mengenai betapa baik mereka dalam bekerja,
karena pekerjaan yang kurang menantang menciptakan kejenuhan sedangkan
pekerjaan yang terlalu banyak menantang akan menciptakan frustasi dan
perasaan gagal. - Supervisi
Atasan merupakan seseorang yang senantiasa memberi perintah atau petunjuk
dalam pelaksanan pekerjaan. Adanya perhatian dan hubungan yang baik
antara atasan kepada bawahan, sehingga akan merasa bahwa dirinya
merupakan bagian yang penting dari perusahaan sehingga akan meningkatkan
kepuasan kerja karyawan. - Kesempatan untuk maju
Kesempatan untuk maju dan berkembang dalam perushaan. Karyawan akan
dapat berkembang melalui promosi jabatan. Seseorang akan dapat merasakan
adanya peluang yang besar untuk naik jabatan atau tidak, proses promosi
jabatan kurang terbuka atau terbuka. Ini juga dapat mempengaruhi tingkat
kepuasan karyawan. - Gaji
Sejumlah upah yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa dipandang
sebagai hal yang dianggap layak dibandingkan dengan orang lain. Para
karyawan menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka
persepsikan secara adil, tidak meragukan dan selaras dengan pengharapan
mereka. Bila upah dlihat adil yang didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat
ketrampilan indvidu, dan standar pengupahan, besar peluang akan
mengahasilkan kepuasan. - Rekan kerja
Karyawan mendapat lebih dari sekedar uang atau prestasi yang berwujud dari
mereka dan kebanyakan merupakan kerja yang membutuhkan interaksi sosial.
Definisi Kepuasan Kerja
Karyawan bisa menilai seberapa puas atau tidak puas individu dengan
pekerjaannya. Kepuasan kerja juga bisa digambarkan mempunyai sikap positif
terhadap pekerjaan pada diri karyawan. Apabila kepuasan kerja lebih
merefleksikan respon seorang pekerja terhadap pekerjaan atau beberapa aspek
dalam pekerjaannya dimana aktivitas harian mungkin akan mempengaruhi tingkat
kepuasan kerja, maka komitmen organisasi bersifat lebih luas, yaitu
mencerminkan respon afektif seorang pekerja kepada organisasi secara
keseluruhan (Martoyo, 2007). Menurut Luthans (2006) kepuasan kerja adalah
keadaan emosional yang positif dari seseorang yang ditimbulkan dari penghargaan
atas sesuatu pekerjaan yang telah dilakukannya.
Menurut Mathis dan John (2006) kepuasan kerja adalah keadaan
emosional yang merupakan hasil dari evaluasi pengalaman kerja seseorang.
Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan gabungan dalam
dan luar pekerjaan. Kepuasan kerja dalam pekerjaan adalah kepuasan kerja yang
dirasakan dalam pekerjaan ketika mendaptatkan pujian hasil kerja, penempatan,
perlakuan, peralatan, dan suasana lingkungan kerja yang baik. Karyawan yang
lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan cenderung
memprioritaskan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun balas jasa itu
penting. Kepuasan di luar pekerjaan adalah kepuasan kerja karyawan yang
dinikmati di luar pekerjaan dengan jumlah balas jasa yang akan diterima dari hasil
kerjanya, agar dia dapat memenuhi kebutuhan. Karyawan yang lebih suka
menikmati kepuasannya di luar pekerjaan cenderung mempersoalkan balas jasa
daripada pelaksanaan tugas-tugasnya.
Menurut Hasibuan (2014) kepuasan kerja adalah sikap emosional yang
menyenangkan dan mencintai pekerjaanya. Sikap ini dicerminkan oleh moral
kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja pada hakikatnya merupakan
sesuatu yang bersifat individual. Setiap individu pasti memiliki tingkat kepuasan
yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang ada dalam dirinya. Semakin
tinggi penilaian terhadap kegiatan yang dirasakan telah sesuai dengan keinginan
individu tersebut, maka makin tinggi tingkat kepuasan terhadap kegiatan tersebut.
Menurut Rivai (2004) kepuasan kerja adalah evaluasi yang
menggambarkan individu atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang, puas
atau tidak puas dalam bekerja. Banyak faktor yang perlu mendapat perhatian
dalam menganalisis kepuasan kerja seseorang. Apabila dalam pekerjannya
seseorang mempunyai otonomi atau bertindak, terdapat variasi, memberikan
sumbangsih penting dalam keberhasilan perusahaan dan karyawan, memperoleh
feedback tentang hasil pekerjaan yang dilakukannya, maka yang bersangkutan
akan merasa puas.
Tujuan Pengembangan Karir
Terdapat 6 (enam) tujuan pengembangan karir yaitu Membantu dalam
pencapaian tujuan individu dan perusahaan menurut Mangkunegara (2013) :
- Membantu dalam pencapaian tujuan individu dan perusahaan
- Menunjukkan hubungan kesejahteraan pegawai
- Membantu pegawai menyadari kemampuan potensi mereka
- Memperkuat hubungan antara pegawai dan perusahaan
- Mengurangi turnover dan biaya kepegawaian
- Mengurangi keuasangan profesi dan manajerial
Jenis-Jenis Pengembangan Karir
Menurut Hasibuan (2014) menyatakan bahwa jenis -jenis pengembangan
karir adalah sebagai berikut :
- Bersifat sementara
Seorang karyawan promosi jabatan untuk sementara karena adanya jabatan
yang ditinggalkan dan harus segera diisi, seperti pejabat dekan. - Bersifat tetap
Seorang karyawan dipromosikan dari suatu jabatan ke jabatan yang lebih
tinggi karena karyawan tersebut telah memenuhi syarat untuk dipromosikan. - Bersifat kecil
Menaikkan jabatan seorang karyawan dari jabatan yang mudah dipindahkan
ke jabatan yang sulit yang meminta keterlambatan tertentu, serta adanya
peningkatan wewenang, dan tanggung jawab dan gaji. - Bersifat kering
Seorang karyawan dinaikkan jabatannya ke jabatan yang lebih tinggi disertai
dengan peningkatan pangkat, wewenang, dan tanggung jawab akan tetapi
tidak disertai dengan kenaikan gaji dan upah
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Karir
Ada tujuh faktor menurut Siagian (2006) yang dapat mempengaruhi
perkembangan karir seorang karyawan, antara lain :
- Prestasi kerja yang memuaskan
Dasar tolak pengembangan karir seseorang adalah prestasi kerjanya dalam
melakukan tugas yang diserahkan kepadanya. Tanpa prestasi kerja yang
memuaskan, sulit bagi seorang pekerja untuk diusulkan oleh atasan agar
dipertimbangkan untuk dipromosikan ke pekerjaan atau jabatan yang lebih
tinggi dimasa mendatang. - Pengenalan oleh pihak lain
Yang dimaksud disini adalah berbagai pihak yang mempunyai hak
memutuskan layak atau tidaknya seseorang dipromosikan seperti atasan
langsung dan pimpinan departemen kepegawaian yang mengetahui
kemampuan dan prestasi kerjanya. - Kesetiaan pada organisasi
Merupakan dedikasi seorang karyawan yang ingin terus bekerja dalam
organisasi tempatnya bekerja untuk jangka waktu yang tidak sebentar. - Pembimbing dan sponsor
Pembimbing adalah orang yang memberikan nasehat atau saran masukan
kepada karyawan dalam upaya mengembangkan karirnya. Sedangkan sponsor
adalah seseorang di dalam perusahaan yang bisa menciptakan peluang bagi
karyawan untuk mengembangkan karirnya. - Dukungan para bawahan
Merupakan dukungan yang diberikan para bawahannya dalam bentuk
mensukseskan tugas manajer yang berkaitan. - Kesempatan untuk bertumbuh
Merupakan kesempatan yang diberikan kepada karyawan untuk meningkatkan
kemampuannya, baik melalui pelatihan-pelatihan, kursus dan juga
melanjutkan jenjang pendidikan. - Berhenti atas kemauan sendiri
Merupakan keputusan seorang karyawan untuk berhenti bekerja dan berpindah
ke perusahaan lain yang memberikan kesempatan lebih besar untuk
mengembangkan karir.
Indikator Pengembangan Karir
Menurut Hasibuan (2012), indikator pengembangan karir terdiri atas:
- Pendidikan
Proses pembelajaran yang dilakukan karyawan untuk mengembangkan potensi
dirinya selama dia bekerja. - Pelatihan
Peningkatan penguasaan keahlian karyawan atas pekerjaan tertentu dan yang
dia lakukan saat ini. - Mutasi
Perpindahan pekerjaan seseorang dalam suatu perusahaan yang memiliki
tingkat level yang sama dari posisi perkerjaan sebelumnya. - Promosi jabatan
Perpindahan pekerjaan seseorang dalam suatu perusahaan yang memiliki
tingkat level lebih tinggi dari posisi perkerjaan sebelumnya. - Masa kerja
Jangka waktu atau lamanya seseorang bekerja suatu perusahaan
Definisi Pengembangan Karir
Pengembangan karir adalah suatu usaha untuk meningkatkan
kemampuan teknis, teoritis, konseptual dan moral karyawan sesuai dengan
kebutuhan pekerjaan/jabatan melalui pendidikan dan pelatihan. Individu yang
ingin karirnya berkembang harus bekerja semaksimal mungkin, yaitu dengan
menunjukkan kinerja yang baik (Hasibuan, 2012). Sementara itu manajer sebagai
pihak yang memfasilitasi pengembangan karir pegawai seharusnya bisa
memberikan jalur pengembangan karir yang guna mencapai tujuan organisasi dan
kegiatan pengembangan karir pegawai.
Menurut Handoko (2008) pengembangan karir adalah peningkatan-
peningkatan individu yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu rencana
karir. Pengembangan karir mempunyai eksistensi di masa yang akan dating,
tergantung pada kualitas dan kinerja sumber daya manusianya, karenanya
organisasi harus melakukan pembinaan karir pada pekerja yang dilaksanakan
secara berencana dan berkelanjutan.
Menurut Mangkunegara (2011) mengemukakan bahwa pengembangan
karir adalah aktivitas kepegawaian yang membantu pegawai-pegawai
merencanakan karir masa depan mereka di perusahaan agar perusahaan dan
pegawai yang bersangkutan dapat mengembangkan diri secara maksimum.
Seberapa baiknya suatu rencana karir yang telah direncanakan oleh seorang
karyawan disertai oleh suatu tujuan karier yang wajar dan realistik, rencana
tersebut tidak akan menjadi kenyataan tanpa adanya pengembangan karir yang
sistematis dan terprogram (Siagian, 2008).
Rivai (2003) berpendapat bahwa pengembangan karir ialah serangkaian
proses peningkatan kemampuan kerja individu yang dicapai guna mencapai karir
yang diinginkan yang bertujuan menyesuaikan antara kebutuhan dan tujuan
karyawan dengan kesempatan karir yang tersedia di perusahaan saat ini dan di
masa depan. Setiap karyawan menginginkan adanya pengembangan karir dalam
organisasi tempat kerjanya. Pengembangan karir pada dasarnya sangat diperlukan
bagi perusahaan swasta maupun pemerintahan dikarenakan pengembangan karir
berorientasi pada tantangan bisnis di masa yang akan datang dalam menghadapi
pesaing.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Kompensasi
Faktor-Faktor yang mempengaruhi besarnya kompensasi menurut
Hasibuan (2012) , antara lain :
- Penawaran dan permintaan tenaga kerja
Jika pencari kerja lebih tinggi daripada lowongan pekerjaan yang ada maka
kompensasi relatif kecil. - Kemampuan dan kesediaan perusahaan
Apabila kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar semakin
bagus maka tingkat kompensasi akan semakin tinggi. - Serikat buruh
Apabila serikat buruhnya kuat dan memiliki pengaruh maka tingkat
kompensasi semakin tinggi. - Produktifitas kerja karyawan
Jika produktivitas kerja karyawan baik maka jumlah kompensasi akan
semakin besar. - Pemerintah dengan undang undang & keppres
Pemerintah dengan undang-undang dan keppres menetapkan besarnya batas
upah atau balas jasa minimum. Pemerintah berkewajiban melindungi rakyat
dari tindakan otoriter perusahaan dalam menetapkan besar kecilnya
kompensasi. - Biaya hidup
Apabila biaya hidup di daerah itu tergolong mahal maka tingkat kompensasi
akan mengikuti. - Posisi jabatan karyawan
Karyawan yang menjabat jabatan lebih tinggi akan menerima gaji atau
kompensasi lebih besar. Hal ini wajar karena karyawan yang mendapat
kewenangan dan tanggung jawab lebih besar harus mendapatkan gaji atau
kompensasi yang lebih besar pula. - Pendidikan dan pengalaman kerja
Jika tingkat pendidikan karyawan tinggi dan pengalaman kerjanya lama maka
gaji atau kompensasi juga semakin tinggi, karena kecakapan dan
keterampilannya lebih baik. - Kondisi perekonomian nasional
Apabila kondisi perekonomian nasional sedang maju maka tingkat
kompensasi akan semakin besar, karena akan mendekati kondisi full
employment. - Jenis dan sifat pekerjaan
Jika jenis dan sifat pekerjaan yang sulit dan memiliki risiko yang tinggi maka
tingkat kompensasi semakin tinggi, karena membutuhkan kecakapan dan
ketelitian dalam pengerjaannya
Tujuan Pemberian Kompensasi
Menurut Rachmawati (2008) tujuan perusahaan memberikan kompensasi
pada karyawannya:
- Mendapat karyawan yang berkualitas
Perusahaan berkompetisi untuk mendapatkan karyawan yang berkualitas dan
memenuhi standar yang diminta perusahaan. - Mempertahankan karyawan yang sudah ada
Dengan adanya persaingan kompensasi, perusahaan bisa mempertahankan
karyawan yang memiliki potensi dan berkualitas agar tetap bekerja pada
perusahaan. Hal ini untuk mencegah turnover karyawan yang tinggi dan kasus
pembajakan karyawan oleh perusahaan lain dengan iming-iming gaji yang
lebih tinggi. - Adanya keadilan
Perusahaan harus mempertimbangkan pemberian kompensasi yang adil.
Adanya administrasi kompensasi menjamin tercapainya rasa keadilan pada
hubungan antara manajemen dan pekerja. - Perubahan sikap dan perilaku
Kompensasi yang layak serta adil untuk karyawan hendaknya bisa
memperbaiki sikap dan perilaku yang merugikan serta mempengaruhi
produktivitas kerja. - Efisiensi biaya
Program kompensasi yang rasional membantu perusahaan untuk mendapatkan
dan mempertahankan sumber daya manusia pada tingkat biaya yang
diinginkan. Sehingga dengan upah yang kompetitif, perusahaan dapat
mendapatkan keseimbangan dari retensi karyawan karyawan yang meningkat. - Administrasi legalitas
Pemberian kompensasi harus mengikuti peraturan pemerintah yang diatur
dalam undang-undang. Sehingga pemberian kompensasi di setiap perusahaan
merata, sesuai dengan peraturan pemerintah
Indikator Kompensasi
Ada empat indikator untuk menilai kompensasi menurut Simamora
(2004) :
- Gaji dan upah yang adil
Gaji umumnya berlaku untuk tarif mingguan, bulanan dan tahunan.
Sedangkan upah biasanya berlaku untuk tarif per jam. - Insentif yang sesuai dengan pengorbanan
Insentif adalah tambahan kompensasi di atas atau di luar gaji atau upah yang
diberikan oleh organisasi. - Tunjangan yang sesuai harapan
20
Pembayaran-pembayaran dan jasa-jasa yang memprotect serta melengkapi gaji
pokok dan perusahaan bisa membayar semua atau sebagian dari tunjangan
tersebut. - Fasilitas yang memadai
Sarana penunjang bagi karyawan guna melakukan pekerjaan yang diberikan
kepadanya
Definisi Kompensasi
Kompensasi penting bagi karyawan sebagai individu karena jumlah
kompensasi memperlihatkan ukuran nilai karya mereka di antara karyawan itu
sendiri, keluarga dan masyarakat. Kemudian program kompensasi juga penting
bagi perusahaan, karena hal itu mencerminkan upaya perusahaan untuk
mempertahankan sdm terbaik. Hasibuan (2011), menyatakan bahwa kompensasi
adalah suatu pendapatan dimana pemberiannya yang berupa barang, uang atau
lain sebagainya yang akan didapat oleh karyawan sebagai suatu imbalan.
Mudayen (2010) mendefinisikan kompensasi sebagai imbalan atau balas
jasa yang diberikan secara teratur oleh perusahaan baik berupa uang (financial)
maupun bukan uang (non financial) kepada karyawan atas bantuan tenaga yang
telah mereka berikan dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan. Kompensasi
yang diberikan kepada karyawan perlu mendapatkan perhatian lebih oleh
perusahaan. Kompensasi harus mempunyai dasar yang kuat, benar dan adil.
Apabila kompensasi dirasa tidak adil maka akan memicu rasa kecewa kepada
karyawan, sehingga karyawan yang bagus akan meninggalkan perusahaan. Oleh
karenanya untuk bisa mempertahankan sdm terbaik, maka program kompensasi
didesain sedemikian rupa, sehingga karyawan yang potensial akan merasa
dihargai dan siap untuk bertahan di perusahaan (Muljani, 2002)
Simamora (2004) menyatakan kompensasi merupakan apa yang diterima
oleh para pegawai sebagai ganti kontribusinya kepada organisasi. Kompensasi
juga dapat meningkatkan ataupun menurunkan retensi karyawan. Oleh karena itu,
perusahaan perlu untuk memberikan apresiasi kepada karyawan seperti
memberikan kompensasi dan fasilitas yang memadai. Kebutuhan hidup karyawan
merupakan salah satu alasan yang menyebabkan mengapa mereka bekerja.
Apabila kebutuhan karyawan terpenuhi, maka mereka akan tetap bertahan di
perusahaan.
Pendapat lain menurut Husein Umar (2009) kompensasi ialah semua
yang diterima oleh pegawai, yakni berupa gaji, upah, insentif, bonus, premi,
pengobatan, asuransi dan lain-lain, dan sejenisnya yang dibayar langsung
perusahaan. Bila kompensasi dikelola dengan baik, maka akan bisa membantu
perusahaan dalam rangka mencapai tujuan, bila tidak dikelola dengan baik, maka
akan mengganggu jalannya usaha.
Manajemen Retensi Karyawan
Agar dapat mengatur retensi karyawan dengan baik, penting bagi
perusahaan untuk mengatur retensi para karyawan. Apabila kurang diperhatikan,
retensi karyawan kemungkinan besar tidak berjalan optimal. Menurut Mathis &
Jackson (2006), proses manajemen retensi karyawan terdiri atas:
a. Pengukuran dan Penilaian Retensi Karyawan
Untuk memastikan bahwa tindakan yang tepat diambil untuk meningkatkan
retensi karyawan dan mengurangi turnover, keputusan manajemen lebih
membutuhkan data dan analsis daripada kesan subjektif dari kondisi seseorang
yang dipilih, atau reaksi terhadap hilangnya beberapa karyawan penting. Oleh
karena itu penting untuk mempunyai beberapa jenis ukuran dan analisis yang
berbeda. Data yang bisa diukur serta dinilai, yakni:
- Analisis Pengukuran Perputaran
- Biaya Turnover
- Survei Karyawan
- Wawancara Keluar Kerja
b. Intervensi Retensi Karyawan
Berbagai intervensi Sumber Daya Manusia (SDM) bisa dilaksanakan guna
meningkatkan retensi karyawan. Turnover dapat dikontrol dan ditekan dengan
beberapa cara, yaitu: - Proses perekrutan dan seleksi
- Orientasi dan pelatihan
- Kompensasi dan tunjangan
- Perencanaan dan pengembangan karir
- Hubungan karyawan
c. Evaluasi dan Tindak Lanjut
Setelah intervensi dilakukan, selanjutnya langkah evaluasi dan tindak lanjut
dapat dilakukan dengan cara: - Menelaah data perputaran secara tetap
- Memeriksa hasil intervensi
- Menyesuaikan usaha intervensi
Indikator Retensi Karyawan
Menurut Mathis & Jackson (2006) menyatakan terdapat tiga indikator di
dalam retensi karyawan, dimana diharapkan karyawan akan bertahan di tempat
kerja jika ketiga unsur ini dipenuhi. Ketiga indikator ini digunakan untuk
mengukur tingkat retensi karyawan, antara lain:
- Peluang Karir Organisasi
Dimana organisasi menyediakan peluang karir yang sama bagi setiap
karyawan yang nantinya akan dapat meningkatkan perkembangan masa depan
para karyawan. - Penghargaan Yang Diberikan
Dimana perusahaan selalu memberikan reward atas kinerja karyawan. - Hubungan Karyawan
Dimana rekan kerja tidak pernah bertindak diskriminatif dan saling
menghargai satu sama lain
Definisi Retensi Karyawan
Banyak perusahaan saat ini mengkhawatirkan pasar tenaga kerja yang
kompetitif dan merupakan sebuah tantangan bagi perusahaan untuk menemukan
serta mempertahankan karyawan yang memiliki kinerja yang baik. Agar karyawan
tetap mempunyai kinerja yang maksimal dan tetap bertahan di perusahaan,
bukanlah suatu hal gampang, mengingat karyawan mempunyai dinamika dan
kebutuhan yang bervariasi. Mathis & Jackson (2006) mendefenisikan retensi
karyawan merupakan upaya untuk mempertahankan karyawan di dalam
organisasi. Retensi karyawan mengacu pada berbagai kebijakan dan praktik yang
mengarahkan karyawan agar bertahan di perusahaan untuk jangka waktu yang
cukup lama. Oleh karena itu segala bentuk sikap, keadaan, dan kondisi
kerjakaryawan harus terjaga dengan harapan kinerja karyawan dapat bertahan
dengan baik bahkan meningkat. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk
memperhatikan segala sesuatu yang berhubungan dengan hak karyawan.
Menurut Jennifer (2005) retensi karyawan adalah suatu cara yang
dipakai olah manajemen untuk mempertahankan karyawan yang kompeten agar
tetap bertahan dalam perusahaan dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Jika
ingin memaksimalkan retensi, seharusnya perusahaan harus memaksimalkan
jumlah karyawan yang tetap dalam perusahaan karena memang karyawan tersebut
ingin tetap dalam perusahaan, bukan karena paksaan dari perusahaan. Retensi juga
melibatkan meminimalisasi karyawan yang berkinerja rendah untuk meningkatkan
ruang lapang dan sumber daya lebih bagi karyawan yang berkinerja baik.
Menurut Ragupathi (2014) retensi karyawan adalah proses dimana
karyawan didorong untuk tetap berada dalam suatu organisasi sampai proyeknya
selesai atau dalam periode maksimum. Apabila program retensi berjalan dengan
baik dalam memperhatikan pendekatan yang efektif untuk memotivasi karyawan
melalui pendekatan penghargaan yang inovatif, maka akan memicu gairah dan
semangat kerja karyawan, serta meningkatnya moral dan kepuasan kerja
karyawan, meningkatkan produktivitas kerja karyawan, mempertahankan retensi
dan kestabilan karyawan perusahaan, meningkatkan kedisiplinan serta
mengurangi tingkat karyawan yang absen, mengefektifkan pengadaan karyawan,
menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik, meningkatkan kreativitas,
dan partisipasi karyawan dalam kegiatan (Hasibuan, 2014).
Menurut Karthi (2012) retensi karyawan adalah suatu proses dimana
karyawan didorong untuk tetap berada dalam suatu perusahaan sampai proyeknya
telah berakhir atau periode maksimum. Jika retensi karyawan dapat dilaksanakan
dengan baik oleh perusahaan maka pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan akan
efektif dan efisien. Retensi karyawan dapat membantu meminimalisasi
pemborosan dalam hal tenaga, waktu dan biaya yang dikeluarkan perusahaan
untuk mempekerjakan dan melatih karyawan baru.
Heathfield, (2008) mendefinisikan retensi karyawan sebagai segala
sesuatu yang dilakukan pemberi kerja untuk mendorong karyawan yang
memenuhi syarat dan produktif untuk terus bekerja untuk organisasi. Jadi, sangat
penting bagi perusahaan agar tidak kehilangan karyawan, yang dapat
mengakibatkan kerugian dalam pekerjaan perushaan. Sehingga perlu langkah
antisipasi agar perusahaan dapat mempertahankan aset sumber daya manusianya
Hubungan Perceived Organizational Support terhadap RetensiKaryawan
Menurut Rhoades & Eisenberger (2002) Perceived Organizational
Support adalah keyakinan umum karyawan mengenai sejauh mana organisasi
memberikan penghargaan kontribusi dan peduli atas kesejahteraan mereka. Ketika
karyawan mempunyai keyakinan bahwa perusahaan mereka tempat ia bekerja
memberikan reward dan peduli atas kesejahteraannya maka ia akan merasa ia
adalah bagian dari perushaan tersebut (Patriota, 2009).
Berdasarkan hasil penelitian Darmika & Sriathi (2019) Perceived
Organizational Support berpengaruh positif dan signifikan tehadap retensi
karyawan, kemudian penelitian Wijayanti & Nurtjahjanti (2015) menyatakan
Perceived Organizational Support berpengaruh signifikan terhadap retensi
karyawan. Sedangkan berdasarkan penelitian Alias et al. (2019) Perceived
Organizational Support tidak berpengaruh signifikan terhadap retensi karyawan.
Hubungan Motivasi terhadap Retensi Karyawan
Menurut George et al (2005) Motivasi adalah suatu kekuatan psikologis di
dalam diri seseorang yang menentukan arah perilaku seseorang di dalam
organisasi, tingkat usaha, dan kegigihan di dalam menghadapi rintangan.
Karyawan yang memiliki motivasi yang tinggi akan berusaha menggapai apa yang
dijadikan motivasi dalam dirinya. Apabila motivasi karyawan adalah perusahaan
dimana ia bekerja maka ia akan tetap bekerja di perusahaan tersebut (Harder et al.,
2014).
Berdasarkan hasil penelitian Salman et al. (2014) motivasi berpengaruh
positif terhadap retensi karyawan, kemudian penelitian oleh Kaliyamoorthy et al
(2018) Motivasi berpengaruh signifikan terhadap retensi karyawan. Sedangkan
berdasarkan penelitian dari Suwaji & Sabella (2019) motivasi berpengaruh negatif
tidak signifikan terhadap retensi karyawan.
Hubungan Kompensasi terhadap Retensi Karyawan
Menurut Simamora (2004) Kompensasi merupakan apa yang diterima oleh
para pegawai sebagai ganti kontribusinya kepada organisasi. Kompensasi juga
dapat meningkatkan ataupun menurunkan retensi karyawan, oleh karena itu
perusahaan perlu untuk memberikan apresiasi kepada karyawan seperti
memberikan kompensasi dan fasilitas yang memadai. Kebutuhan hidup karyawan
merupakan salah satu alasan yang menyebabkan mengapa mereka bekerja.
Apabila kebutuhan karyawan terpenuhi, maka mereka akan tetap bertahan di
perusahaan (Arnold, 2005).
Hasil Penelitian dari Putra & Rahyuda (2016) menyatakan bahwa
kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap retensi karyawan.
Kemudian penelitian Sido et al (2011) menyatakan kompensasi berpengaruh
signifikan terhadap retensi karyawan. Hasil tersebut berbeda dengan penelitian
yang dilakukan oleh Fauzi et al. (2013) yang menyatakan bahwa kompensasi
berpengaruh tidak signifikan terhadap retensi karyawan
Indikator Perceived Organizational Support
Berikut adalah 8 indikator yang dapat digunakan untuk mengukur
tingkat perceived organizational support (POS) menurut Rhoades & Eisenberger
(2002), yaitu:
- Organisasi menghargai kontribusi karyawan
Tingkat dimana organisasi menghargai kontribusi yang diberikan oleh para
karyawannya. - Organisasi menghargai usaha ekstra yang telah karyawan berikan.
Tingkat dimana organisasi menghargai usaha lebih yang telah karyawannya
berikan. - Organisasi akan memperhatikan segala keluhan dari karyawan.
Seberapa besar organisasi memperhatikan apa yang menjadi keluhan
karyawan. - Organisasi sangat peduli tentang kesejahteraan karyawan.
Organisasi sangat mempedulikan apa yang menjadi kesejahteraan karyawan. - Organisasi akan memberitahu karyawan apabila tidak melakukan pekerjaan
dengan baik.
Organisasi akan selalu memberitahu karyawan apabila bekerja kurang
maksimal . - Organisasi peduli dengan kepuasan secara umum terhadap pekerjaan
karyawan.
Organisasi peduli dengan kepuasan terhadap apa yang menjadi pekerjaan
karyawan - Organisasi menunjukan perhatian yang besar terhadap karyawan.
Organisasi memperlihatkan perhatian yang besar kepada para karyawannya. - Organisasi merasa bangga atas keberhasilan karyawan dalam bekerja.
Kebanggaan organisasi atas keberhasilan karyawan dalam bekerja
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perceived OrganizationalSupport
Ada tiga faktor yang mempengaruhi perceived organizational support
menurut Eisenberger et al (1986) yaitu :
- Sikap Organisasi Terhadap Ide-Ide Pegawai
Organizational support dipengaruhi oleh sikap organisasi terhadap ide-ide
yang dikemukakan oleh karyawan. Bila organisasi melihat ide dari pegawai
sebagai sumbangan yang konstruktif, yang mungkin saja dapat direalisasikan
melalui perencanaan yang matang, maka individu yang bekerja ditempat
tersebut memiliki persepsi yang positif akan dukungan organisasi terhadap diri
mereka. Sebaliknya, dukungan organisasi akan menjadi negatif bila
perusahaan selalu menolak ide dari pegawai dan segala sesuatu merupakan
keputusan dari pimpinan puncak. - Respon Terhadap Pegawai Yang Menghadapi Masalah
Organizational support juga dipengaruhi oleh respon terhadap pegawai yang
mempunyai masalah. Bila organisasi cenderung untuk cuek dan tidak
memperlihatkan usaha untuk membantu individu yang terlibat masalah, maka
pegawai akan melihat bahwa tidak ada dukungan yang diberikan organisasi
kepadanya. - Respon Terhadap Kesejahteraan dan Kesehatan Pegawai
Perhatian organisasi akan kesejahteraan pegawai juga mempengaruhi tingkat
organizational support pegawai. Pegawai yang melihat bahwa organisasi
bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan individu yang bekerja di
dalamnya, akan melihat hal ini sebagai suatu hal yang positif. Pegawai melihat
bahwa organisasi memberikan dukungan agar setiap orang bisa bekerja secara
optimal demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan
Anteseden Perceived Organizational Support
Menurut Eisenberger et al. (2002) ada tiga anteseden yang membentuk
perceived organizational support yaitu :
- Keadilan
Faktor keadilan di sini adalah keadilan prosedural yang menyangkut masalah
keadilan mengenai cara yang semestinya digunakan untuk mendistribusikan
sumber-sumber daya yang ada dalam organisasi. Terjadinya keadilan yang
berulang-ulang dalam membuat keputusan mengenai distribusi sumber daya
akan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap dukungan organisasi yang
dirasakan karyawan yang diperlihatkan dengan adanya perhatian pada
kesejahteraan karyawan. - Dukungan atasan
Tindakan atasan sebagai wakil organisasi yang bertanggung jawab untuk
mengatur dan menentukan kinerja bawahan, maka para karyawan memandang
tindakan- tindakan atasan yang bersifat menyenangkan atau tidak
menyenangkan bagi karyawan sebagai perwujudan dari dukungan organisasi. - Penghargaan dan kondisi kerja
Imbalan-imbalan berupa penghargaan, gaji, dan promosi, membantu
mengkomunikasikan suatu penilaian positif dari kontribusi karyawan yang
selanjutnya juga akan berkontribus ipada peningkatan dukungan organisasi
yang dirasakan karyawan. Selain itu, adanya keamanan kerja yang mempunyai
arti dapat memberikan kepastian bahwa organisasi akan tetap
mempertahankan keanggotaan karyawan di masa yang akan datang dan
diharapkan akan menyebabkan semakin tinggi dukungan organisasi yang
dirasakan karyawan.
Definisi Perceived Organizational Support
Menurut Grace (2013), bahwa perceived organizational support
didefinisikan sebagai kepercayaan karyawan bahwa organisasi menghargai
kontribusi dan kesejahteraan mereka. Persepsi karyawan yang baik akibat adanya
dukungan organisasi akan menimbulkan rasa “hutang budi” dalam diri karyawan
terhadap organisasi sehingga merasa memiliki kewajiban untuk membayarnya
(Kambu, 2011).
Rhoades & Eisenberger (2002) mendeskripsikan bahwa persepsi
dukungan organisasi merupakan keyakinan umum karyawan mengenai sejauh
mana organisasi memberikan penghargaan kontribusi dan peduli atas
kesejahteraan mereka. Dukungan organisasi yang dirasakan karyawan ini dinilai
sebagai kepastian akan tersedianya bantuan dari organisasi ketika bantuan tersebut
dibutuhkan guna mendukung pelaksanaan tugas karyawan agar bisa berjalan
secara efektif serta untuk menghadapi situasi-situasi yang mengandung tekanan
(Eisenberger et al., 1986).
Robbins (2005), persepsi dukungan organisasi adalah tingkat sampai
mana karyawan yakin organisasi menghargai kontribusi mereka dan peduli
dengan kesejahteraan mereka. Dukungan dari atasan juga sangat mempengaruhi
persepsi karyawan untuk dapat meningkatkan kinerja mereka. Suatu organisasi
harus memberikan dukungan agar bisa mempertahankan karyawan sehingga
karyawan loyal pada organisasinya, karena jika tidak, organisasi akan terus
berganti-ganti pekerja, sehingga akan menyebabkan kurangnya kepercayaan
pekerja terhadap organisasi. Maka dari itu, dukungan organisasi yang dirasakan
oleh pekerja berpengaruh terhadap kepercayaan (Ristig, 2009).
Menurut Wayne (1997), persepsi dukungan organisasional adalah
keyakinan global yang dikembangkan oleh karyawan mengenai sejauh mana
komitmen organisasi pada mereka (pegawai) dilihat dari penghargaan organisasi
terhadap kontribusi mereka dan perhatian organisasi terhadap kehidupan mereka.
Jika karyawan menganggap bahwa dukungan organisasi yang diterimanya tinggi,
maka karyawan tersebut akan menyatukan keanggotaan sebagai anggota
organisasi ke dalam identitas diri mereka dan kemudian mengembangkan
pengaruh dan persepsi yang lebih baik terhadap organisasi tersebut.
Indikator Motivasi
Beberapa indikator motivasi menurut George et al (2005) yakni:
- Perilaku Karyawan
Kemampuan karyawan memilih perilaku bekerja yang akan mereka pilih.
Perilaku karyawan yang baik dalam bekerja menandakan bahwa karyawan
termotivasi dalam bekerja. - Usaha Karyawan
Hal ini berkaitan dengan usaha keras yang dilakukan karyawan dalam bekerja.
Usaha keras yang dilakukan karyawan mengindikasikan bahwa karyawan
termotivasi dalam bekerja. - Kegigihan Karyawan
Kegigihan karyawan mengacu pada perilaku seseorang yang tetap ingin
bekerja walaupun adanya rintangan, masalah, dan halangan. Kegigihan
karyawan yang tinggi menunjukkan bahwa karyawan memiliki motivasi yang
tinggi
Jenis-Jenis Motivasi
Jenis-jenis motivasi dapat dikelompokkan menjadi dua jenis menurut
Hasibuan (2006), yaitu :
- Motivasi Positif (Insentif Positif)
Motivasi positif maksudnya pemimpin memotivasi (merangsang) bawahan
dengan memberikan hadiah kepada mereka yang memiliki prestasi di atas
prestasi standar. Dengan motivasi positif, semangat kerja bawahan akan
23
meningkat karena secara umum manusia senang menerima yang baik-baik
saja. - Motivasi Negatif (Insentif Negatif)
Manajer memotivasi bawahan dengan memberikan hukuman kepada mereka
yang pekerjannya kurang baik (prestasi rendah). Dengan memotivasi negatif
ini semangat kerja bawahan dalam waktu pendek akan meningkat, karena
takut dihukum
Teori Motivasi
Psikolog perilaku mengembangkan berbagai teori tentang motivasi untuk
memahami reaksi seseorang dan bagaimana motivasi mengendalikan perilaku
manusia. Tiga teori motivasi paling atas menggambarkan kita memahami dan
membedakan praktek dan penerapan motivasi di lingkungan kerja :
- Teori Manajemen Ilmiah Taylor
Frederick Taylor mengajukan teori motivasi yang menjelaskan bagaimana
kebanyakan orang dapat termotivasi secara eksklusif melalui pembayaran
dengan mengacu pada pekerjaan yang mereka lakukan. Taylor beranggapan
bahwa kebanyakan orang tidak merasa kepuasan selama bekerja kecuali
imbalan langsung tidak diberikan dalam bentuk tunjangan moneter. Banyak
pengusaha yang menyatakan membayar pekerja / karyawan pabrik sesuai
dengan kinerja masing-masing dan jumlah total item yang mereka hasilkan
telah mengeksekusi pikirannya. - Teori Hubungan Manusia Mayo
Elton Mayo mengajukan teori motivasi, yang mempelajari kebutuhan sosial
setiap anggota staf. Menurut Mayo, hanya gaji yang tidak bisa memotivasi
masyarakat untuk melakukan upaya terbaik mereka dalam tugas dan tugasnya
tanggung jawab. Kebutuhan sosial menurut keyakinannya harus menjadi
pertimbangan bagi para pekerja. Sampai dan kecuali jika pemberi kerja tidak
memenuhi kebutuhan sosial karyawan, mereka tidak akan termotivasi
sepenuhnya dan disana akan kekurangan output. - Teori Kebutuhan Manusia Maslow & Herzberg
Abraham Maslow mengusulkan dalam teorinya bahwa orang termotivasi
dengan lima kebutuhan dasar. sebuah piramida diusulkan olehnya yang
mewakili kebutuhan tersebut dan menamakannya ‘hierarki kebutuhan’. Ini
studi piramida dari bawah ke atas seperti kebutuhan dasar dan fisik, kebutuhan
keamanan, kebutuhan sosial, harga diri dan pemenuhan diri. Dia berpendapat
bahwa tanpa kebutuhan ini seorang karyawan tidak akan termotivasi
sepenuhnya.
Teori motivasi dua faktor dikenalkan oleh Frederick Herzberg dan dilakukan
penelitian kemudian ditemukan beberapa faktor positif yang merupakan motivator
/ pemuas sejati sedangkan faktor kebersihan mengembangkan ketidakpuasan jika
ini faktor tidak memadai dan tidak ada. Perbaikan faktor kebersihan mengubah
ketidakpuasan menjadi kepuasan (Silver, 2003)
Definisi Motivasi
Menurut Hasibuan (2009), motivasi berasal dari kata latin movere yang
berarti dorongan atau pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan
kerja seseorang agar mereka mau bekerjasama, bekerja efektif, dan terintegrasi
dengan segala daya dan upayanya untuk mencapai kepuasan. Makin termotivasi
seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan maka kinerjanya akan meningkat,
demikian pula sebaliknya makin tidak termotivasi seseorang untuk melakukan
pekerjaannya, maka kinerjanya akan turun (Kasmir, 2016).
Menurut Siagian (2009) menyatakan bahwa motivasi merupakan daya
dorong bagi seseorang untuk memberikan kontribusi yang sebesar mungkin demi
keberhasilan organisasi mencapai tujuannya. Semakin besar karyawan termotivasi
maka akan besar pula daya dorong untuk memberikan kontribusi bagi organisasi.
Flippo (2012) motivasi adalah suatu keahlian, dalam mengarahkan
pegawai dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga keinginan para
pegawai dan tujuan organisasi sekaligus tercapai. Karyawan yang termotivasi
akan merasa lebih bersemangat sehingga ia akan bekerja dengan lebih baik.
Kurangnya motivasi pada karyawan dapat membawa dampak yang buruk bagi
perusahaan karena dapat menurunkan kinerjanya bagi organisasi.
Motivasi adalah suatu kekuatan psikologis di dalam diri seseorang yang
menentukan arah perilaku seseorang di dalam organisasi, tingkat usaha, dan
kegigihan di dalam menghadapi rintangan (George et al., 2005)
Indikator Kompensasi
Ada empat indikator untuk menilai kompensasi menurut Simamora
(2004) :
- Gaji dan upah yang adil
Gaji umumnya berlaku untuk tarif mingguan, bulanan dan tahunan.
Sedangkan upah biasanya berlaku untuk tarif per jam. - Insentif yang sesuai dengan pengorbanan
Insentif adalah tambahan kompensasi di atas atau di luar gaji atau upah yang
diberikan oleh organisasi. - Tunjangan yang sesuai harapan
Pembayaran-pembayaran dan jasa-jasa yang melindungi dan melengkapi gaji
pokok dan organisasi dapat membayar semua atau sebagian dari tunjangan
tersebut. - Fasilitas yang memadai
Sarana penunjang bagi pegawai untuk melakukan pekerjaan yang diberikan
kepadanya.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Kompensasi
Faktor-Faktor yang mempengaruhi besarnya kompensasi menurut
Hasibuan (2012) antara lain :
- Penawaran dan permintaan tenaga kerja
Jika pencari kerja lebih banyak daripada lowongan pekerjaan yang tersedia
maka kompensasi relatif kecil. - Kemampuan dan kesediaan perusahaan
Apabila kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar semakin baik
maka tingkat kompensasi akan semakin besar. - Serikat buruh
Apabila serikat buruhnya kuat dan berpengaruh maka tingkat kompensasi
semakin besar. - Produktifitas kerja karyawan
Jika produktivitas kerja karyawan baik maka jumlah kompensasi akan
semakin besar. - Pemerintah dengan undang undang & keppres
Pemerintah dengan undang-undang dan keppres menetapkan besarnya batas
upah atau balas jasa minimum. Pemerintah berkewajiban melindungi rakyat
dari tindakan otoriter perusahaan dalam menetapkan besar kecilnya
kompensasi. - Biaya hidup
Apabila biaya hidup di daerah itu tinggi maka tingkat kompensasi akan
mengikuti. - Posisi jabatan karyawan
Karyawan yang menjabat jabatan lebih tinggi akan menerima gaji atau
kompensasi lebih besar. Hal ini wajar karena karyawan yang mendapat
kewenangan dan tanggung jawab lebih besar harus mendapatkan gaji atau
kompensasi yang lebih besar pula. - Pendidikan dan pengalaman kerja
Jika tingkat pendidikan karyawan tinggi dan pengalaman kerjanya lama maka
gaji atau kompensasi juga semakin tinggi, karena kecakapan dan
keterampilannya lebih baik. - Kondisi perekonomian nasional
Apabila kondisi perekonomian nasional sedang maju maka tingkat
kompensasi akan semakin besar, karena akan mendekati kondisi full
employment. - Jenis dan sifat pekerjaan
Jika jenis dan sifat pekerjaan yang sulit dan mempunyai risiko yang tinggi
maka tingkat kompensasi semakin tinggi, karena membutuhkan kecakapan
dan ketelitian untuk mengerjakannya
Tujuan Pemberian Kompensasi
Menurut Rachmawati (2008) tujuan perusahaan memberikan
kompensasi pada karyawannya:
- Mendapat karyawan yang berkualitas
Perusahaan berkompetisi untuk mendapatkan karyawan yang berkualitas dan
memenuhi standar yang diminta perusahaan. - Mempertahankan karyawan yang sudah ada
Dengan adanya persaingan kompensasi, perusahaan dapat mempertahankan
karyawan yang berpotensial dan berkualitas untuk tetap bekerja pada
perusahaan. Hal ini untuk mencegah turnover karyawan yang tinggi dan kasus
pembajakan karyawan oleh perusahaan lain dengan iming-iming gaji yang
lebih tinggi. - Adanya keadilan
Perusahaan harus mempertimbangkan pemberian kompensasi yang adil.
Adanya administrasi kompensasi menjamin tercapainya rasa keadilan pada
hubungan antara manajemen dan karyawan. - Perubahan sikap dan perilaku
Kompensasi yang layak dan adil bagi karyawan hendaknya dapat
memperbaiki sikap dan perilaku yang merugikan serta mempengaruhi
produktivitas kerja. - Efisiensi biaya
Program kompensasi yang rasional membantu perusahaan untuk mendapatkan
dan mempertahankan sumber daya manusia pada tingkat biaya yang
diinginkan, sehingga dengan upah yang kompetitif, perusahaan dapat
mendapatkan keseimbangan dari etos kerja karyawan yang meningkat. - Administrasi legalitas
Pemberian kompensasi harus mengikuti peraturan pemerintah yang diatur
dalam undang-undang, sehingga pemberian kompensasi di setiap perusahaan
merata, sesuai dengan peraturan pemerintah
Definisi Kompensasi
Kompensasi penting bagi karyawan sebagai individu karena jumlah
kompensasi memperlihatkan ukuran nilai karya mereka di antara karyawan itu
sendiri, keluarga dan masyarakat. Kemudian program kompensasi juga penting
bagi perusahaan, karena hal itu mencerminkan upaya perusahaan untuk
mempertahankan sdm terbaik. Hasibuan (2011), menyatakan bahwa kompensasi
adalah suatu pendapatan dimana pemberiannya yang berupa barang, uang atau
lain sebagainya yang akan didapat oleh karyawan sebagai suatu imbalan.
Mudayen (2010) mendefinisikan kompensasi sebagai imbalan atau balas
jasa yang diberikan secara teratur oleh perusahaan baik berupa uang (financial)
maupun bukan uang (non financial) kepada karyawan atas bantuan tenaga yang
telah mereka berikan dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan. Pemberian
kompensasi kepada karyawan perlu mendapatkan perhatian lebih oleh perusahaan.
Kompensasi harus mempunyai dasar yang kuat, benar dan adil. Apabila
kompensasi dirasakan tidak adil maka akan menimbulkan rasa kecewa kepada
karyawan, sehingga karyawan yang baik akan meninggalkan perusahaan. Oleh
karena itu agar dapat mempertahankan sdm terbaik, maka program kompensasi
dibuat sedemikian rupa, sehingga karyawan yang berpotensi akan merasa dihargai
dan bersedia untuk bertahan di perusahaan (Muljani, 2002)
Simamora (2004) menyatakan kompensasi merupakan apa yang diterima
oleh para pegawai sebagai ganti kontribusinya kepada organisasi. Kompensasi
juga dapat meningkatkan ataupun menurunkan retensi karyawan. Oleh karena itu,
perusahaan perlu untuk memberikan apresiasi kepada karyawan seperti
memberikan kompensasi dan fasilitas yang memadai. Kebutuhan hidup karyawan
merupakan salah satu alasan yang menyebabkan mengapa mereka bekerja.
Apabila kebutuhan karyawan terpenuhi, maka mereka akan tetap bertahan di
perusahaan (Arnold, 2005).
Pendapat lain menurut Rivai (2008) kompensasi adalah sesuatu yang
diterima karyawan sebagai pengganti kontribusi jasa mereka pada perusahaan.
Bila kompensasi dikelola dengan baik, maka akan dapat membantu perusahaan
dalam mencapai tujuan, bila tidak dikelola dengan baik, maka akan mengganggu
jalannya usaha
Indikator Retensi Karyawan
Menurut Mathis & Jackson (2006) menyatakan terdapat tiga indikator di
dalam retensi karyawan, dimana diharapkan karyawan akan bertahan di tempat
kerja jika ketiga unsur ini dipenuhi. Ketiga indikator ini digunakan untuk
mengukur tingkat retensi karyawan, antara lain:
a. Peluang Karir Organisasi
Dimana organisasi menyediakan peluang karir yang sama bagi setiap
karyawan yang nantinya akan dapat meningkatkan perkembangan masa depan
para karyawan.
b. Penghargaan Yang Diberikan
Dimana perusahaan selalu memberikan penghargaan atas kinerja yang telah
dilakukan oleh karyawan.
c. Hubungan Karyawan
Dimana rekan kerja tidak pernah melakukan diskriminasi dan saling
menghargai satu dengan yang lain
Strategi Retensi Karyawan
Ada 5 macam strategi retensi karyawan, yaitu kompensasi, pemenuhan
harapan, induksi, praktik SDM yang memperhatikan keluarga karyawan, serta
pelatihan dan pengembangan. Kelima hal itu tidak semata-mata bisa
meningkatkan retensi karyawan. Ada sejumlah hal lain yang perlu diperhatikan,
terkait dengan strategi retensi karyawan (Torrington, 2003).
- Strategi Retensi Kompensasi
Kompensasi dimasukkan sebagai strategi retensi pertama, karena hal ini sering
kali dianggap sebagai pemicu utama ketidakpuasan karyawan yang pada
akhirnya menyebabkan ketiadaan retensi. Bila mereka merasa tidak puas,
mereka mungkin tidak bekerja seperti seharusnya, dan pada akhirnya,
perusahaan sulit mengharapkan retensi mereka. Tetapi bila kompensasi yang
diterima sudah sesuai dengan kebutuhan karyawan, maka yang terjadi
hanyalah pemeliharaan tingkat kepuasan, bukan kepuasan yang meningkat
pesat. - Strategi Retensi Pemenuhan Harapan
Karyawan masuk ke dalam perusahaan dengan sejumlah harapan, antara lain
harapan untuk mendapat promosi, harapan untuk bekerja dengan tenang,
harapan untuk mendapat kesesuaian imbalan dengan tenaga yang telah
dicurahkan. Pemenuhan harapan karyawan sebenarnya termasuk di dalam
kontrak psikologis. - Strategi Induksi
Induksi terkait dengan masa orientasi karyawan baru. Ada sejumlah tujuan
induksi, yaitu membantu karyawan baru untuk menyesuaikan emosinya
dengan tempat kerja baru, menjadi wadah untuk menyampaikan informasi
dasar tentang organisasi, dan menyampaikan aspek budaya yang dimiliki
perusahaan, seperti kebiasaan yang ada di perusahaan itu. - Strategi Retensi Praktik SDM
Praktik SDM dengan memerhatikan keluarga karyawan. Contoh, bila seorang
karyawan yang sudah berkeluarga akan dimutasi, pihak perusahaan harus
mempertimbangkan nasib keluarga inti karyawan tersebut. Satu solusi yang
baik adalah, saat menugaskan karyawan yang sudah berkeluarga ke luar kota,
pihak perusahaan harus memperhatikan akomodasi bagi keluarga karyawan
tersebut, setidaknya membantu mencarikan akomodasi bagi keluarga
karyawan itu. - Strategi Retensi Bidang Pelatihan Dan Pengembangan Karyawan
Penugasan untuk mengikuti pelatihan dan pengembangan yang tidak adil pun
bisa mengurangi retensi karyawan. Perusahaan harus menyampaikan alasan
yang masuk akal dan transparan saat akan mengirim karyawan mengikuti
pelatihan dan pengembangan. Tanpa transparansi, akan timbul kecurigaan.
Rasa curiga dapat menimbulkan konflik, menghasilkan situasi kerja yang tidak
sehat, dan pada akhirnya mengurangi retensi karyawan
Manajemen Retensi Karyawan
Agar dapat mengelola retensi karyawan dengan baik, penting bagi
perusahaan untuk mengatur retensi para karyawan. Apabila kurang diperhatikan,
retensi karyawan kemungkinan besar tidak berjalan optimal. Menurut Mathis &
Jackson (2006), proses manajemen retensi karyawan terdiri atas:
- Pengukuran dan Penilaian Retensi Karyawan
Untuk memastikan bahwa tindakan yang tepat diambil untuk meningkatkan
retensi karyawan dan mengurangi turnover, keputusan manajemen lebih
membutuhkan data dan analsis daripada kesan subjektif dari kondisi
individual yang dipilih, atau reaksi terhadap hilangnya beberapa karyawan
penting. Oleh karena itu penting untuk mempunyai beberapa jenis ukuran dan
analisis yang berbeda. Data yang dapat diukur dan dinilai, terdiri dari: - Analisis Pengukuran Perputaran
- Biaya Turnover
- Survei Karyawan
- Wawancara Keluar Kerja
Definisi Retensi Karyawan
Mathis & Jackson (2006) mendefenisikan retensi karyawan merupakan
upaya untuk mempertahankan karyawan di dalam organisasi. Retensi karyawan
mengacu pada berbagai kebijakan dan praktik yang mengarahkkan karyawan agar
bertahan di perusahaan untuk jangka waktu yang lebih lama. Jika retensi
karyawan dapat dijalankan dengan baik oleh perusahaan, maka pekerjaan yang
dilakukan karyawan akan maksimal dan tujuan dari perusahaan dapat dicapai.
Retensi karyawan membantu mengurangi pemborosan dalam hal waktu, tenaga
dan uang yang dihabiskan dalam mempekerjakan dan melatih karyawan baru.
Mencegah keluarnya karyawan yang memiliki keahlian dari organisasi merupakan
tujuan utama dari retensi karyawan.
Menurut Carsen (2005) retensi karyawan adalah suatu cara yang dipakai
olah manajemen untuk mempertahankan karyawan yang kompeten agar tetap
bertahan dalam perusahaan dengan jangka waktu tertentu. Jika ingin
memaksimalkan retensi, seharusnya perusahaan harus memaksimalkan jumlah
karyawan yang tetap dalam perusahaan karena memang karyawan tersebut ingin
tetap dalam perusahaan, bukan karena paksaan dari perusahaan. Retensi juga
melibatkan meminimalisasi karyawan yang berkinerja rendah untuk
meningkatkan ruang lapang dan sumber daya lebih bagi karyawan yang berkinerja
baik.
Menurut Ragupathi (2014) retensi karyawan adalah proses dimana
karyawan didorong untuk tetap berada dalam suatu organisasi sampai proyeknya
selesai atau dalam periode maksimum. Apabila program retensi memiliki kualitas
yang baik dalam memperhatikan pendekatan yang efektif untuk memotivasi
karyawan melalui pendekatan penghargaan yang inovatif, maka akan mendorong
gairah dan semangat kerja karyawan, meningkatkan moral serta meningkatkan
produktivitas kerja karyawan, mempertahankan retensi dan kestabilan karyawan
perusahaan, meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi dari
karyawan, mengefektifkan pengadaan karyawan, menciptakan suasana dan
hubungan kerja yang baik, meningkatkan kreativitas, dan partisipasi karyawan
dalam kegiatan (Hasibuan, 2014).
Ahlrichs (2000) mendifinisikan retensi karyawan adalah kemampuan
perusahaan untuk mempertahankan karyawan potensial yang dimiliki perusahaan
untuk tetap loyal terhadap perusahaan Jika retensi karyawan dapat dilaksanakan
dengan baik oleh perusahaan maka pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan akan
efektif dan efisien, sehingga perlu langkah antisipasi agar perusahaan dapat
mempertahankan aset sumber daya manusianya.
Heathfield, (2008) mendefinisikan retensi karyawan sebagai segala
sesuatu yang dilakukan pemberi kerja untuk mendorong karyawan yang
memenuhi syarat dan produktif untuk terus bekerja untuk organisasi. Jadi, sangat
penting bagi perusahaan agar tidak kehilangan karyawan, yang dapat
mengakibatkan kerugian dalam pekerjaan perushaan. Oleh karena itu, perusahaan
dituntut untuk memperhatikan segala sesuatu yang berhubungan dengan hak
karyawan
Hubungan antara Kepuasan Kerja dengan Retensi Karyawan
Menurut penelitian Biason menyatakan bahwa tingkat kepuasan kerja
yang tinggi berkontribusi pada keputusan karyawan untuk tetap bertahan di
organisasi. Karyawan yang merasa puas dengan pekerjaan mereka cenderung
lebih berkomitmen dan loyal terhadap perusahaan, sedangkan karyawan yang
tidak puas lebih mungkin untuk mencari pekerjaan di tempat lain (39). Menurut
Sousa, karyawan yang merasa puas dengan pekerjaan mereka cenderung
memiliki niat yang lebih tinggi untuk tetap bekerja di organisasi, kepuasan kerja
mendorong motivasi karena adanya peluang pengembangan karir dan gaji yang
kompetitif
Hubungan antara Lingkungan Kerja dengan Kepuasan Kerja
Lingkungan kerja juga memiliki pengaruh pada kepuasan kerja,
berdasarkan hasil penelitian Sivagma menekankan bahwa kondisi kerja yang
baik sangat penting untuk memungkinkan karyawan menunjukkan kemampuan
mereka dan mencapai potensi penuh mereka sehingga dapat meningkatkan
kepuasan kerja (35). Penelitian Raaziq dan Maulabakhsh juga membahas
hubungan antara work environment terhadap job satisfaction Berdasarkan
penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa kepuasan kerja sangat dipengaruhi
oleh kondisi fisik, sosial, dan keamanan di tempat kerja lingkungan kerja yang
baik tidak hanya mencakup fasilitas fisik yang memadai, tetapi juga hubungan
sosial yang positif antara rekan kerja dan atasan, serta keamanan pekerjaan
Hubungan antara Lingkungan Kerja dengan Retensi Karyawan
Penelitian Leelavathy menunjukkan bahwa work environment
mempengaruhi retensi pada industri print, lingkungan kerja yang positif dapat
meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Ketika karyawan merasa nyaman dan
senang di tempat kerja, mereka cenderung lebih loyal dan enggan untuk mencari
pekerjaan di tempat lain (12). Hal ini sejalan dengan Andari yang menyatakan
bahwa Secara keseluruhan, lingkungan kerja yang positif dan mendukung dapat
menciptakan suasana yang membuat karyawan merasa dihargai dan terikat,
sehingga meningkatkan retensi mereka di perusahaan, hal ini karena adanya
kenyamanan fisik, hubungan interpersonal yang baik dan motivasi yang tingg
Indikator Lingkungan Kerja
Dimensi dan Indikator lingkungan kerja menurut Sedarmayanti
yang dapat mempengaruhi terbentuknya kondisi lingkungan kerja
dikaitkan dengan kemampuan karyawan mencakup (32):
- Lingkungan kerja fisik
a. Penerangan, penerangan yang nyaman jika ada sinar yang cukup di
ruang kerja. Karyawan membutuhkan pencahayaan yang memadai
saat menjalankan tugas, terutama jika pekerjaan tersebut
memerlukan ketelitian. Pencahayaan yang kurang mengakibatkan
penglihatan menjadi kurang jelas dan mempengaruhi kualitas hasil
kerja. Penerangan yang tidak menyilaukan dan tidak samar- samar
akan membuat pengelihatan karyawan baik.
b. Pertukaran udara, sirkulasi udara yang memadai akan meningkatkan
kebugaran fisik karyawan, karena dengan ventilasi yang cukup,
kesehatan mereka akan terjaga. Udara dikatakan kotor apabila udara
telah bercampur dengan bau- bauan yang berbahaya.
c. Ruang gerak, posisi kerja antara satu karyawan dengan karyawan
dengan tingkat keleluasaan bergerak yang baik termasuk alat bantu
kerja atau barang- barang yang ada ditempatkan dengan baik agar
tidak mengganggu proses kerja.
d. Kebisingan, kebisingan merupakan gangguan bagi seseorang karena
dapat mengurangi konsentrasi saat bekerja. Akibatnya, pekerjaan
yang dilakukan menjadi lebih rentan terhadap kesalahan atau
kerusakan, yang pada akhirnya bisa menyebabkan kerugian.
Kebisingan yang berlangsung terus-menerus juga berpotensi
menimbulkan rasa bosan.
e. Fasilitas, fasilitas perusahaan sangat dibutuhkan oleh karyawan
sebagai pendukung dalam menyelesaikan pekerjaan yang ada di
perusahaan. Peralatan kerja yang tersedia dapat menunjang kinerja
karyawan dengan maskimal. Tersedianya fasilitas kerja yang
lengkap, walaupun tidak baru merupakan salah satu penunjang
proses kelancaran dalam bekerja - Lingkungan kerja non fisik
a. Hubungan atasan dengan bawahan, interaksi antara atasan dan
bawahan harus di jaga dengan baik dan harus saling menghargai
akan menimbulkan rasa hormat antara atasan dengan bawahan.
Komunikasi yang baik perlu untuk memberikan arahan pada
bawahannya.
b. Hubungan antar rekan kerja, hubungan harmonis tanpa saling intrik
menciptakan suasana kerja yang kondusif yang mempengaruhi
kenyamanan dan produktivitas dalam bekerja. Dan antar karyawan
yang saling mendukung sehingga karyawan merasakan adanya
hubungan harmonis dan kekeluargaan dalam lingkungan kerjanya
Definisi Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja menurut Robbins adalah keseluruhan kondisi
dan suasana kerja dimana karyawan menjalankan tugas dan tanggung
jawab mereka, ini mencakup beberapa aspek seperti kondisi fisik di
tempat kerja dan elemen sosial yang melibatkan interaksi antar
karyawan dan manajemen, lingkungan kerja yang positif dan
mendukung dapat meningkatkan keterlibatan karyawan. Karyawan
yang merasa terlibat cenderung memiliki komitmen yang lebih tinggi
terhadap organisasi, yang pada gilirannya mengurangi tingkat turnover
Robbins juga merujuk pada kebutuhan hirarki maslow (maslow’s
Hierarchy of needs theory) tahun 1954 pada bukunya Maslow (31) di
mana lingkungan kerja dipahami dalam konteks elemen diluar individu
atau faktor eksternal mempengaruhi motivasi dan perkembangan
individu, maslow menekankan bahwa lingkungan kerja tidak hanya
terdiri dari lingkungan fisik tetapi juga mencakup elemen sosial dan
psikologis yang berkontribusi pada pemenuhan dasar dan aktualisasi
diri. Kebutuhan dasar seperti keamanan dan kenyamanan di tempat
kerja harus dipenuhi sebelum karyawan dapat mencapai kepuasan yang
lebih tinggi. Lingkungan kerja yang aman dan nyaman berkontribusi
pada retensi karyawan. Lingkungan kerja yang baik berkontribusi pada
kepuasan kerja yang lebih tinggi.
Menurut Sedarmayanti (32) menyatakan bahwa lingkungan kerja
suatu area dimana sekelompok individu bekerja bersama, dilengkapi
dengan berbagai fasilitas penunjang, untuk mencapai tujuan perusahaan
yang sejalan dengan visi dan misi yang telah ditetapkan sehingga
kondisi lingkungan dikatakan baik apabila manusia dapat
melaksanakan kegiatannya secara optimal, sehat, aman dan nyaman
sehingga tenaga kerja tidak merasa dituntut.Lingkungan kerja terbagi
menjadi lingkungan fisik dan non fisik, lingkungan fisik yang terdapat
di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik secara
langsung maupun tidak langsung dan lingkungan kerja non fisik
keadaan yang berkaitan dengan sesama rekan kerja baik hubungan
antara atasan dan bawahan atau sesama rekan kerja yang terkait dengan
susana kerja dan kondisi kerja sehari- hari
Indikator Kepuasan Kerja
Indikator kepuasan kerja menurut Robbins sebagai berikut (30):
- Pekerjaan yang menantang, karyawan menyukai pekerjaan yang
memberikan mereka kesempatan untuk menggunakan
keterampilan dan kemampuan yang dimiliki dan menawarkan
beragam tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai betapa baik
mereka bekerja. Pekerjaan yang terlalu sedikit tantangan akan
menimbulkan kebosanan, sedangkan pekerjaan yang terlalu
menantang dapat menyebabkan frustasi dan rasa gagal. Namun
dengan tingkat tantangan yang seimbang, sebagian karyawan
akan merasakan kepuasan dan kesenangan dalam bekerja. - Gaji atau Upah, karyawan menginginkan sistem upah yang adil,
tidak meragukan dan sesuai dengan harapannya. Upah yang adil
didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan
individu, dan standar pengupahan komunitas, kemungkinan besar
akan dihasilkan kepuasan. Karyawan yang merasakan bahwa
bayaran yang diterimanya sesuai dengan apa yang diharapkan
dan dikerjakan maka akan menciptakan kepuasan dalam bekerja. - Promosi, promosi memberikan kesempatan untuk pertumbuhan
pribadi, tanggung jawab yang meningkat, dan meningkatkan
status sosial. kesempatan karyawan untuk di promosikan ke
jenjang yang lebih tinggi membuat karyawan merasakan
kesempatan berkarir untuk berkembang dalam pekerjaannya.
Tempat kerja memberikan peluang kepada seluruh karyawannya
untuk berada pada jabatan yang lebih tinggi. - Kesesuaian kepribadian, kecocokan yang tinggi antara
kepribadian karyawan dan jenis pekerjaan akan menghasilkan
individu yang puas. Adanya kesamaan kepribadian dengan
pekerjaan meningkatkan kemampuan untuk memenuhi tuntutan
pekerjaan sehingga peluang mendapat kepuasan lebih tinggi
Faktor- Faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja
Faktor kepuasan kerja menurut Luthans mencakup beberapa hal
sebagai berikut (29):
- Lingkungan kerja, lingkungan kerja yang positif dan mendukung
dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan yang berkontribusi
pada peningkatan produktivitas. - Kompensasi dan tunjangan, gaji yang kompetitif dan adanya
asuransi kesehatan dan pensiun membuat karyawan cenderung
lebih puas karena imbalan yang adil sesuai kerja keras. - Peluang untuk berkembang, adanya kesempatan untuk
pengembangan karir, pelatihan, dan promosi yang dapat
meningkatkan motivasi dan kepuasan. - Hubungan dengan rekan kerja, kualitas interaksi dan hubungan
sosial dengan rekan kerja, yang dapat menciptakan suasana kerja
yang positif sehingga karyawan lebih bahagia dan puas. - Kepemimpinan, pemimpin yang adil, suportif, dan komunikatif
menciptakan atmosfer yang lebih positif bagi karyawan sehingga
mereka semakin puas dalam bekerja
Definisi Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja menurut Armstrong yaitu perasaan positif yang
dirasakan karyawan terhadap pekerjaannya, kepuasan kerja mencakup
perasaan puas dan bahagia yang muncul dari pekerjaan itu sendiri serta
lingkungan di sekitarnya. Perlakuan yang baik dari manajer dan rekan
kerja, serta dukungan dalam mencapai keseimbangan antara pekerjaan
dan kehidupan pribadi, turut berkontribusi pada tingkat kepuasan
kerja. organisasi memiliki tanggung jawab untuk menciptakan
lingkungan yang mendukung kepuasan (18).
Kepuasan kerja menurut Hasibuan adalah sikap emosional yang
menyenangkan dan mencintai pekerjaanya. Perilaku tersebut
dicerminkan dengan kedisiplinan, moral kerja, dan prestasi kerja.
Karyawan yang merasa puas dengan pekerjaannya cenderung lebih
disiplin, memiliki moral kerja yang lebih baik, serta menghasilkan
pekerjaan dengan kuantitas dan kualitas yang lebih tinggi. Kepuasan
kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan kombinasi dalam
dan luar pekerjaan. Sikap emosional yang menyenangkan akan
membuat pegawai bekerja dengan senang hati. Karyawan yang lebih
suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih
mengutamakan pekerjaan daripada balas jasa walaupun balas jasa itu
penting (28).
Menurut Luthans kepuasan kerja merupakan emosi yang berasal
dari respon terhadap situasi kerja, emosi menunjukkan sikap
menyenangkan terhadap pekerjaan mereka mengenai seberapa baik
pekerjaan memberikan hal yang dinilai penting. Sehingga kepuasan
kerja tidak dapat dilihat namun dirasakan dan mencerminkan sikap
loyal terhadap perusahaan. Karyawan dapat menilai pekerjaan mereka
sesuai dengan yang mereka sukai dan desain pekerjaan menarik dan
tidak monoton yang seringkali mempengaruhi kepuasan. Kepuasan
kerja melibatkan dua komponen utama, yaitu kognitif dan afektif.
Komponen kognitif berkaitan dengan penilaian individu terhadap
pekerjaan mereka seperti menilai gaji dan kondisi kerja. Komponen
afektif berhubungan dengan perasaan emosional yang dialami
karyawan terhadap pekerjaan mereka seperti perasaan positif dan
negatif
