Konsep dari workplace well-being dibangun berdasarkan nilai intrinsik
dan ekstrinsik dari pekerjaan. Nilai-nilai tersebut berasal dari teori dualitas
motivasi. Nilai-nilai tersebut berasal dari teori dualitas motivasi. Motivasi
intrinsik merujuk pada dorongan untuk bekerja yang disebabkan oleh
penghargaan bersifat psikologis yang diasosiasikan dengan pekerjaan itu
sendiri, seperti prestasi dan tanggung jawab. Sedangkan motivasi ekstrinsik
lebih disebabkan oleh keinginan untuk mendapatkan hal yang berhubungan
dengan faktor eksternal, seperti upah (Page, 2005).
Dalam menjelaskan teori dualitas motivasi yang mendasari konstruk
workplace well-being, Page (2005) merujuk pada referensi yang
dikemukakan oleh Herzberg (dalam Page, 2005) yakni mengenai hygiene
and motivator factors respectively. Dalam teori tersebut, Herzberg (dalam
Page, 2005) mengkategorikan kebijakan perusahaan, upah, hubungan
interpersonal, kondisi kerja dan atasan sebagai faktor-faktor ekstrinsik dari
pekerjaan. Sedangkan, motivasi intrinsik berasal dari faktor dalam pekerjaan
seperti penghargaan terhadap prestasi, tanggung jawab dan kemajuan yang
dihasilkan. Menurut Hezberg (dalam Page, 2005) cara yang paling baik
meningkatkan motivasi karyawan adalah dengan meningkatkan faktor
intrinsik tersebut. Radolph (dalam Page, 2005) juga menemukan bahwa
faktor intrinsik seperti pertumbuhan profesi, adanya keseimbangan antara
lingkungan kerja dan nilai personal, signifikan dalam memprediksi kepuasan
kerja dan keinginan untuk tetap mempertahankan pekerjaan dibandingkan
dengan faktor ekstrinsik. Berdasarkan teori di atas, maka teori dualitas
motivasi menjadi dasar dalam menyusun konstruk workplace well-being
menjadi dua dimensi besar, yaitu intrinsik dan ekstrinsik.
Selanjutnya Page menyusun domain-domain dalam setiap dimensi
dengan merujuk referensi yang dikemukakan oleh Knoop (dalam Page, 2005)
mengenai nilai-nilai pekerjaan. Nilai-nilai pekerjaan didefinisikan sebagai
derajat keberhargaan, kepentingan dan keterikatan pada hal-hal yang terjadi
di tempat kerja (Knoop, dalam Page, 2005). Oleh karena itu pekerjaan
menunjukkan aspek-aspek yang penting bagi individu dan merupakan hal-hal
yang membuat mereka menikmati pekerjaan, maka hal ini penting untuk
menentukan workplace well-being dari karyawan. Nilai-nilai pekerjaan seperti
melakukan pekerjaan yang memiliki makna tertentu (meaningfulness of
work), penggunaan kemampuan dan pengetahuan (use abilities and
knowledge) dan perasaan mengenai tanggung jawab (amount of
responsibility at work) secara intrinsik dapat memuaskan dan memotivasi
karyawan (Knoop, dalam Page, 2005). Selain itu, terdapat pula domain yang
berhubungan dengan variabel dalam organisasi seperti kondisi kerja,
interaksi dengan atasan dan keamanan kerja yang merupakan perwujudan
dari faktor-faktor yang membangun dimensi ekstrinsik dalam konstruk
workplaces well-being (Page, 2005).
Pendapat Knoop (dalam Page, 2005) mengenai work values dan teori
dualitas motivasi Herzberg dengan hygiene dan motivator factors menjadi
dasar bagi Page (2005) untuk membangun dimensi dan domain dari
workplace well-being. Maka dari itu, berdasarkan teori-teori yang
dikemukakan oleh Hezberg dan Knoop, Page (2005) menyusun dua dimensi
besar dari workplace well-being yaitu dimensi intrinsik dan ekstrinsik beserta
dengan domain-domainnya untuk menggambarkan kesejahteraan seseorang
di lingkungan kerja (Page, 2005)
