Dalam dunia psikologi, khususnya dalam ranah industri dan organisasi
teori mengenai well-being memiliki banyak variasi. Page (2005) menjelaskan
bahwa workplace well-being merupakan suatu konstruk yang paralel dan
saling berhubungan dengan subjective well-being. Diener dalam Page (2005)
mendefinisikan subjective well-being merupakan suatu keadaan positif yang
meliputi keseluruhan pengalaman hidup seseorang. Pavot dan Diener (dalam
Russell, 2008) mendefinisikan subjective well-being dalam pekerjaan
berhubungan dengan kesuksesan di tempat kerja. Selain itu, Sivanathan,
Arnold, Turner dan Barling (dalam Russell, 2008) mendefinisikan well-being
sebagai peningkatan kesehatan fisik dan psikologis di dalam pekerjaan.
Lebih lanjut, Pavot dan Diener (dalam Russell, 2008) menambahkan bahwa
kesehatan fisik dan psikologis di dalam pekerjaan, keduanya berhubungan
dengan kepuasan hidup secara umum dan keseluruhan.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Danna dan Griffin (1999),
menggunakan istilah health and well-being untuk melihat workplace well-
being karyawan. Danna dan Griffin (1999) menyatakan bahwa workplace
well-being meliputi health, yakni mencakup gejala-gejala fisiologis dan
psikologis yang berkenaan dengan medis, dan well-being itu sendiri, yakni
mencakup pengukuran terhadap kesejahteraan berdasarkan pengalaman
hidup dan pengalaman yang berkenaan dengan pekerjaan. Page (2005)
mendefinisikan workplace well-being sebagai perasaan sejahtera atau
perasaan-perasaan positif yang diperoleh karyawan dari pekerjaan mereka yang terkait dengan perasaan karyawan secara umum (core affect) dan nilai
intrinsik maupun ekstrinsik dari pekerjaan (work values). Secara umum,
perasaan sejahtera yang mereka miliki disertai dengan adanya kepuasan
terhadap faktor intrinsik dan ekstrinsik dari pekerjaan mereka
