Gaya Kepemimpinan


Menurut Mifta Thoha (2010: 49) gaya kepemimpinan merupakan
norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut
mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Macammacam gaya kepemimpinan antara lain :
a. Gaya Kepemimpinan Otokratik
Menurut Sudarwan Danim (2004: 75) kata otokratik diartikan
sebagai tindakan menurut kemauan sendiri, setiap produk pemikiran
dipandang benar, keras kepala, atau rasa aku yang keberterimaannya
pada khalayak bersifat dipaksakan. Kepemimpinan otokratik disebut
juga kepemimpinan otoriter.
Mifta Thoha (2010: 49) mengartikan kepemimpinan otokratis
sebagai gaya yang didasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan
otoritas. Jadi kepemimpinan otokratik adalah kepemimpinan yang
dilakukan oleh seorang pemimpin dengan sikapnya yang menang
sendiri, tertutup terhadap saran dari orang lain dan memiliki idealisme
tinggi.
Menurut Sudarwan Danim (2004: 75) pemimpin otokratik
memiliki ciri-ciri antara lain:
1) Beban kerja organisasi pada umumnya ditanggung oleh
pemimpin.
2) Bawahan, oleh pemimpin hanya dianggap sebagai pelaksana dan
mereka tidak boleh memberikan ide-ide baru.
3) Bekerja dengan disiplin tinggi, belajar keras, dan tidak kenal
lelah.
4) Menentukan kebijakan sendiri dan kalaupun bermusyawarah
sifatnya hanya penawar saja.
5) Memiliki kepercayaan yang rendah terhadap bawahan dan
kalaupun kepercayaan diberikan, didalam dirinya penuh ketidak
percayaan.
6) Komunikasi dilakukan secara tertutup dan satu arah.
7) Korektif dan minta penyelesaian tugas pada waktu sekarang.
b. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Menurut Sudarwan Danim (2004: 75) kepemimpinan demokratis
bertolak dari asumsi bahwa hanya dengan kekuatan kelompok, tujuantujuan yang bermutu tercapai. Mifta Thoha (2010: 50) mengatakan gaya
kepemimpinan demokratis dikaitkan dengan kekuatan personal dan
keikut sertaan para pengikut dalam proses pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan.
Menurut Sudarwan Danim (2004: 76) pemimpin demokratis
memiliki ciri-ciri antara lain:
1) Beban kerja organisasi menjadi tanggung jawab bersama
personalia organisasi itu.
2) Bawahan, oleh pemimpin dianggap sebagai komponen
pelaksana secara integral harus diberi tugas dan tanggung jawab.
3) Disiplin akan tetapi tidak kaku dan memecahkan masalah secara
bersama.
4) Kepercayaan tinggi terhadap bawahan dengan tidak melepaskan
tanggung jawab pengawasan
5) Komunikasi dengan bawahan bersifat terbuka dan dua arah.
c. Gaya Kepemimpinan Permisif
Menurut Sudarwan Danim (2004: 76) pemimpin permisif
merupakan pemimpin yang tidak mempunyai pendirian yang kuat,
sikapnya serba boleh. Pemimpin memberikan kebebasan kepada
bawahannya, sehingga bawahan tidak mempunyai pegangan yang kuat
terhadap suatu permasalahan. Pemimpin yang permisif cenderung tidak
konsisten terhadap apa yang dilakukan.
Menurut Sudarwan Danim (2004: 77) pemimpin permisif memiliki
ciri-ciri antara lain:
1) Tidak ada pegangan yang kuat dan kepercayaan rendah pada diri
sendiri.
2) Mengiyakan semua saran.
3) Lambat dalam membuat keputusan.
4) Banyak “mengambil muka” kepada bawahan.
5) Ramah dan tidak menyakiti bawahan

Perbedaan Kepemimpinan dengan Menejemen


Pada hakekatnya kepemimpinan mempunyai pengertian yang agak
luas dibandingkan dengan menejemen. Menejemen merupakan jenis
pemikiran yang khusus dari kepemimpinan di dalam usahanya untuk
mencapai tujuan organisasi. Sedangkan kepemimpinan bisa saja karena
berusaha mencapai tujuan organisasi atau kelompok, dan bisa saja sama
atau selaras atau tidak selaras dengan tujuan organisasi.
Menurut Miftah Thoha (2010: 8) menejemen adalah sebuah proses
pencapaian organisasi lewat usaha orang-orang lain. Dalam menejemen
terdapat suatu aturan dan tata krama tertentu, sehingga kepemimpinan
dalam menejemen akan diatur sesuai ketentuan yang berlaku. Seseorang
yang mengatur menejemen biasa disebut menejer. Menejer menduduki
jabatan sruktural melalui seleksi dan periode masa jabatan yang sudah
diatur dalam organisasi.
Menurut Sudarwan Danim (2004: 56) kepemimpinan adalah setiap
perbuatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk
mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok yang
tergabung di dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Dalam kepemimpinan tidak dibatasi oleh aturanaturan dan tata krama dalam suatu organisasi. Kepemimpinan bisa terjadi
dimana saja, asalkan orang tersebut dapat menunjukkan kemampuannya
dalam mempengaruhi orang lain atau kelompok tertentu untuk mencapai
tujuan tertentu. Seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain untuk
mencapai tujuan tertentu bisa di sebut dengan pemimpin.

Pengertian Kepemimpinan


Kepemimpinan secara harfian berasal dari kata pimpin. Kata pimpin
mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun
dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai
tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan
aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak
mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam
menjalankan ke-pemimpinannya.
Menurut Wahjosumidjo (2005: 17) kepemimpinan di terjemahkan
kedalam istilah sifat- sifat, perilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain,
pola- pola, interaksi, hubungan kerja sama antarperan, kedudukan dari satu
jabatan administratif, dan persuasif, dan persepsi dari lain- lain tentang
legitimasi pengaruh. Miftah Thoha (2010: 9) kepemimpinan adalah
kegiatan untuk memengaruhi perilaku orang lain, atau seni memengaruhi
perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok.
Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam suatu organisai karena sebagian besar keberhasilan dan kegagalan
suatu
organisasi ditentukan oleh kepemimpinan dalam organisasi tersebut.
Menurut C. Turney (1992) dalam Martinis Yamin dan Maisah (2010: 74)
mandefinisikan kepemimpinan sebagai suatu group proses yang dilakukan
oleh seseorang dalam mengelola dan menginspirasikan sejumlah pekerjaan
untuk mencapai tujuan organisasi melalui aplikasi teknik- teknik
manajemen.
George R. Terry (Miftah Thoha, 2010: 5) mengartikan bahwa
Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi orang-orang supaya
diarahkan mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan meliputi proses
mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku
pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki
kelompok dan budayanya.
A. Dale Timple (2000: 58) mengartikan Kepemimpinan adalah
proses pengaruh sosial di dalam mana manajer mencari keikutsertaan
sukarela dari bawahan dalam usaha mencapai tujuan organisasi. Dengan
kepemimpinan yang dilakukan seorang pemimpin juga menggambarkan
arah dan tujuan yang akan dicapai dari sebuah organisasi. Sehingga dapat
dikatakan kepemimpinan sangat berpengaruh bagi nama besar organisasi.
Menurut Sudarwan Danim (2004: 56) kepemimpinan adalah setiap
perbuatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk
mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok yang
tergabung di dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya

Indikator”Kinerja”Karyawan


Indikator”kinerja” karyawan menurut (Mangkunegara, 2014:97)
adalah :

  1. Kuantitas, yaitu” jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran
    kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari proses atau pelaksanaan.
  2. Kualitas, yaitu”mutu yang dihasilkan (baik atau tidaknya). Pengukuran
    kualitatif”keluaran mencerminkan pengukuran “tingkat kepuasan” yaitu
    seberapa”baik penyelesainnya ini berkaitan dengan bentuk keluaran.
  3. Ketepatan”waktu, yaitu sesuai”tidaknya dengan waktu yang direncanakan.
    Pengukuran ketepatan waktu”merupakan jenis khusus dari pengukuran
    kuantitas yang menentukan ketepatan waktu penyelesaian suatu kegiatan.
  4. Efektifitas”tingkat penggunaan sumber daya manusia, yaitu organisasi
    dimaksimalkan dengan maksud meningkatkan keuntungan dan
    mengurangi kerugian dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya.
    Dalam kinerja”karyawan, terdapat beberapa unsur yang harus menjadi
    perhatian. Bernandin dan Russel (dalam Sapitri, 2016:5) mengemukakan
    bahwa terdapat 7 indikator”yang terdapat dalam kinerja karyawan, yaitu:
    1) Kuantitas (Quantity of work)
    Kuantitas”yaitu jumlah dari hasil kinerja karyawan atas periode waktu yang
    telah ditentukan. Dalam jangka waktu tertentu dilihat apakah hasil kinerja
    sudah mampu untuk mencapai target. Sebagai marketing misalnya, apabila dia
    mampu untuk melebihi target yang telah ditetapkan kepadanya maka itu lebih
    bagus.
    2) Kualitas” (Quality of work)
    Kualitas kerja ini dinilai berdasarkan hasil kinerja dari karyawan, apakah
    kinerja tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Ketika kinerja
    dari karyawan mampu mencapai kriteria syarat yang ditentukan maka qualitas
    dari kinerjanya sudah dinilai baik. Terlebih lagi apabila hasil kinerjanya lebih
    bagus daripada syarat yang ditetapkan.
    3) Pengetahuan”kerja (Job knowledge)
    Pengetahuan”kerja meliputi”seberapa besar pengetahuan karyawan terhadap
    kerja yang dilakukan. Juga seberapa besar keterampilan dari karyawan untuk
    menyelesaikan dan mengembangkan kerja yang harus dilakukan.
    4) Kerja”sama (Coorperation)
    Kerja”sama yang dimaksud”disini yaitu kesediaan dari karyawan untuk
    melakukan koordinasi dengan sesama karyawan. Selain itu tingkat komunikasi
    yang baik juga menunjukkan bahwakerja sama yang telah dijalin oleh setiap
    karyawan dalam perusahaan berjalan dengan baik.
    5) Dapat”diandalkan (Dependability)
    Setiap karyawan mampu untuk menyelesaikan pekerjaan yang menjadi
    tanggung jawabnya sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Hasil”dari
    kinerjanya yang sesuai target juga merupakan ciri dari dapat diandalkan.
    6) Inisiatif (Inisiative)
    Inisiatif”yaitu semangat yang terdapat dalam diri karyawan untuk
    mengerjakan setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dengan
    mengusahakan untuk tepat waktu. Karyawan mampu”untuk menemukan
    solusi bagi pekerjaan yang sulit untuk diselesaikan. Selain itu mampu untuk
    menemukan strategi baru agar pekerjaan lebih mudah diselesaikan.
    7) Sikap (Personal qualities)
    Sikap dalam”penilaian”kinerja meliputi kepribadian, kepemimpinan, keramah
    tamahan, dan integritas pribadi. Kemampuan”karyawan dalam menghadapi
    setiap masalah yang terjadi dalam perusahaan, baik itu masalah yang terjadi
    antar karyawan atau masalah pribadi. Dalam berinteraksi dengan sesama
    karyawan karyawan mampu untuk mengondisikan diri dengan setiap karakter
    karyawan lain yang berbeda-beda.

Faktor-Faktor”Yang”Mempengaruhi”Kinerja”Karyawan


Menurut (Aditya, 2014) terdapat tiga faktor”utama yang akan
mempengaruhi kinerja dari karyawan. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi
tinggi dan rendahnya kinerja yang akan dihasilkan oleh seorang”karyawan
dalam sebuah perusahaan. Adapun ketiga faktor tersebut yaitu:
1) Effort (usaha individu)
Individu yang normal adalah individu yang memiliki integritas antara
fungsi psikis dan fisik. Dengan keseimbangan keduanya maka individu
tersebut akan mampu untuk mengelola dan mendayagunakan potensi yang
terdapat dalam dirinya secara optimal. Individu tersebut juga akan mempunyai
tingkat usaha yang besar untuk mencapai target yang harus dicapainya.
2) Faktor” kemampuan
Kemampuan”seorang karyawan dalam mengerjakan sesuatu merupakan
salah satu kunci untuk hasil atas kinerjanya. Kemampuan ini meliputi
kemampuan untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan kriteria yang
diharapkan dan kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat
waktu yang diberikan. Apabila”karyawan tersebut belum mempunyai keahlian
atas apa yang harus dikerjakan maka hasil yang akan didapatkan tidak akan
maksimal.
3) Situasi”lingkungan
Situasi”lingkungan”kerja merupakan salah satu faktor yang akan
menunjang kinerja karyawan. Situasi lingkungan tersebut yaitu jabatan kerja
yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja, pola komunikasi efektif,
iklim kerja yang dinamis, peluang untuk meningkatkan karier, dan fasilitas
kerja yang memadai.

Kegunaan” Penilaian”Kinerja”Karyawan


Dalam bukunya, Said (2011:168) menuturkan terdapat 10 kegunaan dari
dilakukanya penilaian”kinerja. Kesepuluh fungsi tersebut seperti yang
disebutkan di bawah ini, yaitu:
1) Sebagai”alat untuk memperbaiki kinerja para karyawan.
2) Sebagai”instrumen dalam melakukan penyesuaian imbalan yang diberikan
oleh organisasi kepada para karyawanya.
3) Membantu”manajemen sumber daya manusia untuk mengambil keputusan
dalam mutasi karyawan.
4) Sebagai”salah satu sumber informasi untuk perencanaan dan
penyelenggaraan kegiatan pelatihan.
5) Sebagai”bahan untuk untuk membantu para karyawan melakukan
perencanaan dan pengembangan karir.
6) Sebagai”alat untuk mengkaji kegiatan pengadaan tenaga kerja, terutama
yang diarahkan pada kemungkinan terjadinya kelemahan di dalamnya.
7) Mempelajari,”apakah terdapat ketidaktepatan dalam sistem informasi
sumber daya manusia.
8) Mempersiapkan”organisasi dan seluruh komponenya menghadapi berbagai
tantangan yang mungkin akan dihadapi di masa depan.
9) Untuk melihat” apakah terdapat kesalahan dalam rancang bangun
pekerjaan.
10) Sebagai bahan”umpan balik bagi manajemen sumber daya manusia, bagi
para atasan langsung, dan bagi para karyawan itu sendiri

Dimensi-Dimensi”Penilaian”Kinerja”Karyawan


Dalam penilaian”kinerja”karyawan, terdapat beberapa unsur yang harus
menjadi perhatian. Bernandin dan Russel (dalam Sapitri, 2016:5)
mengemukakan bahwa”terdapat 7 dimensi yang terdapat dalam penilaian
kinerja”karyawan. Dimensi-dimensi tersebut yaitu:
1) Kuantitas (Quantity of work)
Kuantitas”yaitu jumlah dari hasil kinerja karyawan atas periode waktu
yang telah ditentukan. Dalam jangka waktu tertentu dilihat apakah hasil
kinerja sudah mampu untuk mencapai target. Sebagai marketing misalnya,
apabila dia mampu untuk melebihi target yang telah ditetapkan kepadanya
maka itu lebih bagus.
2) Kualitas (Quality of work)
Kualitas”kerja ini dinilai berdasarkan hasil kinerja dari karyawan, apakah
kinerja tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Ketika kinerja
dari karyawan mampu mencapai kriteria syarat yang ditentukan maka qualitas
dari kinerjanya sudah dinilai baik. Terlebih lagi apabila hasil kinerjanya lebih
bagus daripada syarat yang ditetapkan.
3) Pengetahuan”kerja (Job knowledge)
Pengetahuan”kerja meliputi seberapa besar pengetahuan”karyawan
terhadap kerja yang dilakukan. Juga seberapa besar keterampilan dari
karyawan untuk menyelesaikan dan mengembangkan kerja yang harus
dilakukan.
4) Kerja”sama (Coorperation)
Kerja”sama yang dimaksud disini yaitu kesediaan dari karyawan untuk
melakukan koordinasi dengan sesama karyawan. Selain itu tingkat komunikasi
yang baik juga menunjukkan bahwakerja sama yang telah dijalin oleh setiap
karyawan dalam perusahaan berjalan dengan baik.
5) Dapat”diandalkan (Dependability)
Setiap karyawan mampu untuk menyelesaikan pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Hasil dari
kinerjanya yang sesuai target juga merupakan ciri dari dapat diandalkan.
6) Inisiatif (Inisiative)
Inisiatif”yaitu semangat yang terdapat dalam diri karyawan untuk
mengerjakan setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dengan
mengusahakan untuk tepat waktu. Karyawan mampu untuk menemukan solusi
bagi pekerjaan yang sulit untuk diselesaikan. Selain itu mampu untuk
menemukan strategi baru agar pekerjaan lebih mudah diselesaikan.
7) Sikap” (Personal qualities)
Sikap dalam penilaian”kinerja meliputi kepribadian, kepemimpinan,
keramah tamahan, dan integritas pribadi. Kemampuan”karyawan dalam
menghadapi setiap masalah yang terjadi dalam perusahaan, baik itu masalah
yang terjadi antar karyawan atau masalah pribadi. Dalam berinteraksi dengan
sesama karyawan karyawan mampu untuk mengondisikan diri dengan setiap
karakter karyawan lain yang berbeda-beda.

Indikator” Disiplin” Kerja


Kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua” peraturan
organisasi dan norma-norma yang berlaku diukur melalui pengukuran
menggunakan skala” ordinal (Hasibuan, 2012:194-198) :

  1. Mematuhi” semua” peraturan, yaitu” kebutuhan dasar setiap karyawan
    untuk mulai berkembang pada organisasi, sehingga mendapat pengakuan.
  2. Penggunaan” waktu secara” efektif, yaitu” penggunaan waktu secara
    efektif merupakan merencanakan dan mengorganisir pekerjaan sesuai dengan
    kuantitas pekerjaan.
  3. Tanggung” jawab dalam” pekerjaan dan” tugas, yaitu” merealisasikan
    tugas dengan sebaik-baiknya.
  4. Tingkat absensi, yaitu tingkat absensi merupakan tingkat kehadiran
    karyawan sesuai ketetapan organisasi.
    Sedangakan”menurut”Sutrisno (2015:89), terdapat lima indikator
    disiplin ”kerja, yaitu :
  5. Taat terhadap” aturan waktu
    Dilihat dari jam masuk kerja, jam pulang, dan jam istirahat yang tepat waktu
    sesuai dengan aturan yang berlaku di perusahaan.
  6. Taat terhadap” peraturan perusahaan
    Peraturan dasar tentang cara berpakaian dan bertingkah laku dalam pekerjaan.
  7. Taat terhadap ”aturan perilaku dalam pekerjaan
    Ditunjukkan dengan cara-cara melakukan pekerjaan-pekerjaan sesuai dengan
    jabatan, tugas, dan tanggung jawab serta cara berhubungan dengan unit kerja
    lain.
  8. Taat terhadap” peraturan lainnya di perusahaan
    Aturan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh para
    pegawai dalam perusahaan.
  9. Izin pada saat ”tidak masuk kerja
    Menyampaikan pesan melalui surat maupun media yang disampaikan kepada
    pihak terkait

Pelaksanaan” Disiplin


Organisasi atau perusahaan yang baik harus” berupaya menciptakan
peraturan atau tata tertib yang akan menjadi rambu-rambu yang harus
dipenuhi oleh seluruh karyawan dalam organisasi.
Menurut” Edy Sutrisno (2015:94) peraturan-peraturan yang akan berkaitan
dengan disiplin” antara lain :

  1. Peraturan” jam masuk, pulang, dan jam istrahat.
  2. Peraturan” dasar tentang berpakaian, dan bertingkah laku dalam pekerjaan
  3. Peraturan” cara-cara melakukan pekerjaan dan berhubungan dengan unit
    kerja lain.
  4. Peraturan” tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh
    para pegawai selama dalam organisasi dan sebagainya.
    Disiplin” perlu untuk mengatur tindakan kelompok, dimana setiap
    anggotanya harus mengendalikan dorongan hatinya dan bekerja sama demi
    kebaikan bersama. Dengan kata lain, mereka” harus secara sadar tunduk pada
    aturan perilaku yang diadakan oleh kepemimpinan organisasi, yang ditujukan
    pada tujuan yang hendak dicapai. Dalam” pelaksanaan disiplin kerja,
    peraturan dan ketetapan perusahaan hendaknya masuk akal dan bersifat adil
    bagi seluruh karyawan. Selain itu, hendaknya” peraturan tersebut juga
    dikomunikasikan sehingga para pegawai tahu apa yang menjadi larangan dan
    apa yang tidak” (Edy Sutrisno, 2015:94)

Bentuk-Bentuk” Disiplin


Menurut” Anwar Prabu Mangkunegara (2014:129) mengemukakan”
bahwa bentuk disiplin kerja yaitu :

  1. Disiplin” preventif
    Merupakan suatu upaya untuk menggerakan pegawai untuk mengikuti
    dan mematuhi pedoman kerja, aturan aturan yang telah digariskan oleh
    perusahaan.
  2. Disiplin” korektif
    Merupakan suatu” upaya untuk menggerakan pegawai dalam suatu
    peraturan dan mengarahkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan
    pedoman yang berlaku pada perusahaan.
  3. Disiplin” progresif
    Merupakan kegiatan” yang memberikan hukuman-hukuman yang
    lebih berat terhadap pelanggaran-pelanggaran yang berulang.

Definisi” Disiplin” Kerja


Karyawan di dalam perusahaan akan mampu mencapai tujuan yang
telah ditetapkan dengan adanya disiplin kerja sehingga disiplin kerja berperan
penting dalam tercapainya sebuah tujuan perusahaan. Menurut” Sumaki dkk,
(2015) kedisiplinan adalah” kemauan dan kesadaran seseorang menaati
peraturan yang berlaku dan telah ditetapkan di dalam suatu organisasi.
Menurut Hasibuan” (2015:193) kedisiplinan merupakan” suatu fungsi
operatif manajemen sumber daya manusia (SDM) yang sangat penting, karena
dengan semakin baiknya disiplin yang telah diterapkan” oleh perusahaan maka
semakin baik hasil kerja atau prestasi yang dihasilkan.
Awalnya definisi disiplin” kerja adalah” suatu sikap dan tingkah laku
yang menunjukkan ketaatan karyawan terhadap peraturan perusahaan. Namun
dalam perkembangannya, menurut” Sutrisno (2015:94), bahwa disiplin kerja
banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menjadikan karakteristik pribadi
seseorang mengalami perubahan dalam bekerja. Disiplin” kerja” adalah
kesadaran seseorang menaati semua aturan dan norma sosial yang berlaku
(Hasibuan, 2012:195).

Indikator Lingkungan Kerja


Berikut ini beberapa indikator (Sedarmayanti, 2012:46) :

  1. Penerangan/cahaya di tempat kerja, yaitu cahaya atau penerangan sangat
    besar manfaatnya bagi karyawan guna mendapatkan keselamatan dan
    kelancaran kerja, oleh sebab itu perlu diperhatikan adanya penerangan yang
    terang.
  2. Sirkulasi udara di tempat kerja, yaitu udara di sekitar dikatakan kotor
    apabila kadar oksigen dalam udara tersebut telah berkurang dan telah
    bercampur dengan gas atau bau-bauan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.
    Sumber utama adanya udara segar adalah adanya tanaman di sekitar tempat
    kerja. Tanaman merupakan penghasil oksigen yang di butuhkan manusia.
  3. Kebisingan di tempat kerja, yaitu salah satu polusi yang cukup
    menyibukkan para pakar untuk mengatasinya. Kebisingan merupakan bunyi
    yang tidak dikehendaki oleh telinga.
  4. Ruang gerak, yaitu agar karyawan leluasa bergerak dengan baik, terlalu
    sempitnya ruang gerak yang tersedia mengakibatkan karyawan tidak dapat
    bekerja dengan baik.
  5. Keamanan di tempat kerja, yaitu keamanan dalam bekerja perlu
    diperhatikan guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dala
    keadaan aman

Jenis-Jenis Lingkungan Kerja


Sedarmayanti (2012:21) menyatakan bahwa lingkungan kerja terdiri
dari dua jenis yaitu:
1) Lingkungan Kerja Fisik Nitisemito (2014:108) menyatakan “Lingkungan
kerja fisik adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang
dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang
dibebankan, misalnya penerangan, suhu udara, ruang gerak, keamanan,
kebersihan, musik dan lain-lain”. Selanjutnya, Manullang (2012:12)
menyatakan bahwa, Lingkungan kerja fisik adalah kondisi- kondisi
pekerjaan yang menyenangkan terlebih lagi semasa jam kerja akan
memperbaiki moral pegawai dan kesungguhan dalam bekerja. Peralatanperalatan yang baik dan perlindungan terhadap marabahaya, ventilasi yang
baik, penerangan yang cukup dan kebersihan bukan saja menambah
kegairahan kerja tetapi juga akan meningkatkan disiplin kerja karyawan.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
lingkungan kerja fisik merupakan sarana penunjang karyawan dalam
melakukan pekerjaannya, demi tercapainya hasil yang maksimal.
2) Lingkungan Kerja Non-Fisik Wursanto (2010:269) mendefinisikan
lingkungan kerja non fisik sebagai “sesuatu yang menyangkut segi psikis
dari lingkungan kerja”. Kemudian menurut Robbins tentang lingkungan
kerja non fisik (2016:4) upah dan tunjangan tambahan bukanlah alasan
utama individu menyukai pekerjaan mereka atau tetaap bersama seorang
pemberi kerja, yang jauh lebih penting adalah kualitas pekerjaan karyawan
dan kesuportifan lingkungan kerja. Jadi memiliki manajer dengan keahlian
antarpersonal yang bagus cenderung menjadikan tempat kerja lebih
menyenangkan, membuat lebih mudah untuk memperkerjakan dan
mempertahankan individu yang berkualitas.

Definisi Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja yang nyaman, aman, dan menyenangkan akan dapat
membuat karyawan merasa betah dan tentunya akan meningkatkan kinerja
karyawan yang baik. Menurut Sedarmayanti (2012:21), mengenai lingkungan
kerja, manusia akan mampu melakukan kegiatannya dengan baik, sehingga
dicapai suatu hasil yang optimal. Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan
merupakan semua keadaan yang terdapat disekitar tempat kerja, yang akan
mempengaruhi karyawan baik langsung atau tidak langsung (Sri Widodo,
2016:95).
Pendapat lain dari Logahan (2014) menyatakan bahwa lingkungan
kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan yang dapat
mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang sudah
diembankan padanya. Lingkungan kerja adalah kondisi lingkungan yang
ditinjau secara menyeluruh. Lingkungan kerja merupakan suatu tempat
dimana para karyawan dapat membuktikan kemampuannya dalam
menjalankan tugas disebuah perusahaan. Lingkungan kerja mempunyai
pengaruh terhadap kinerja karyawan kepadanya yang akhirnya berpengaruh
terhadap produktivitas kinerja karyawan, lingkungan yang baik akan
meningkatkan kerja, begitu pulasebaliknya apabila lingkungan kerja kurang
tenang, akan dapat mempertinggi tingkat kesalahan yang mereka lakukan.
Maka dapat disimpulkan lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang
ada di sekitar karyawan yangmampu menunjang kegiatannya dengan baik,
sehingga dicapai suatu hasil yang optimal. Keseluruhan alat perkakas dan
bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di mana seseorang bekerja,
metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai peseorangan maupun
kelompok.

Indikator Komunikasi


Adapun indikator komunikasi menurut (Handoko, 2015:272) :

  1. Pemahaman, yaitu kemampuan memahami pesan secara cermat
    sebagaimana dimaksudkan oleh komunikator.
  2. Kesenangan, yaitu apabila proses komunikasi itu selain berhasil
    menyampaikan informasi, juga dapat berlangsung dalam suasana yang
    menyenagkan kedua belah pihak.
  3. Pengaruh pada sikap, yaitu untuk mempengaruhi sikap jika dengan
    berkomunikasi kemudian terjadi perubahan pada perilakunya.
  4. Hubungan yang makin baik, yaitu proses komunikasi yang efektif secara
    tidak sengaja meningkatkan kadar hubungan interpersonal. Seringkali jika
    orang telah memiliki persepsi yang sama, kemiripan karakter, dengan
    sendirinya hubungan akan terjadi dengan baik.
  5. Tindakan, yaitu jika kedua belah pihak setelah berkomunikasi terdapat
    adanya sebuah tindakan.
    Menurut Sumaki, dkk (2015:542) beberapa indikator yang dapat
    digunakan untuk mengukur tingkat komunikasi yaitu:
    1) Pemahaman
    Pemahaman yaitu kemampuan bagi receiver (penerima informasi) dalam
    mengolah informasi yang dia terima dari sender (pengirim informasi) dengan
    cermat dan dapat mengerti maksud dari informasi tersebut.
    2) Kesenangan
    Selain tingkat kemampuan untuk mengolah informasi, komunikasi dikatakan
    berhasil jika ketika berkomunikasi dapat membuat perasaan kedua belah pihak
    merasa nyaman. Karena selain untuk menyampaikan informasi komunikasi
    juga bisa menjadi sarana untuk menjalian sebuah hubungan baik itu interaksi
    ataupun pengenalan satu sama lain.
    3) Pengaruh pada sikap
    Komunikasi bisa dikatakan mempengaruhi sikap ketika seseorang yang telah
    menerima informasi dan mengerti akan maksud dari informasi mampu untuk
    mengubah sikapnya sesuai dengan yang dimaksud dalam informasi. Hal ini
    bertujuan untuk mengubah sikap seorang anggota organisasi yang dinilai
    kurang bagus. Sebagai misalnya yaitu seorang atasan yang memberikan
    arahan atau nasihat kepada bawahanya.
    4) Hubungan yang semakin baik
    Dalam sebuah komunikasi yang terjadi bisa menjadi salah satu faktor penguat
    hubungan antar anggota. Komunikasi tidak hanya bertujuan untuk
    memberikan informasi atau arahan saja, tapi dengan komunikasi yang baik
    akan tercipta suatu hubungan antar kedua belah pihak. Ketika terjadi
    komunikasi yang baik, maka hubungan interpersonal dalam anggota juga akan
    baik. Hubungan ini akan menguntungkan organisasi karna setiap anggota
    organisasi merasakan akan kepemilikan organisasi.
    5) Tindakan
    Dalam komunikasi mengandung informasi yang bertujuan bagi seseorang
    untuk melakukanya. Biasanya komunikasi ini bersifat arahan atau pemberian
    instruksi. Jika komunikasi berjalan dengan baik maka seseorang yang menjadi
    penerima akan melakukan sebuah tindakan sesuai dengan seperti yang
    dimaksudkan dalam informasi. Namun apabila komunikasi tidak berjalan
    dengan bagus maka terkadang tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan
    informasi yang diberikan. Hal ini tentunya akan merugikan organisasi itu
    sendiri.

Unsur-Unsur Komunikasi


Unsur – unsur komunikasi menurut Sri Urip Haryati (2014:5), meliputi :
a. Unsur sumber, sumber ini dapat berupa perorangan seperti dalam
komunikasi individual seseorang dengan seseorang atau seorang dengan
beberapa orang.
b. Unsur pesan, meliputi semua materi atau isi yang dikomunikasikan antara
peserta–peserta dalam komunikasi, baik linguistic language maupun non
linguistic language (verbal symbols ataupun non verbal symbols).
c. Unsur penerima, merupakan sasaran komunikasi, bisa terdiri dari satu orang
atau beberapa orang atau lembaga / organisasi.
d. Unsur saluran, merupakan sarana dimana pesan–pesan disampaikan
sehingga pesan – pesan itu bisa kita indera.
e. Unsur efek, merupakan hasil dari suatu kegiatan komunikasi, merupakan
tujuan dari peserta–peserta di dalam proses komunikasi (baik sumber maupun
penerima).

Bentuk-Bentuk Komunikasi


Adapun bentuk-bentuk komunikasi yaitu :

  1. Komunikasi Verbal
    Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan simbul
    simbul yang mempunyai makna yang berlaku umum dalam proses
    komunikasi. Simbol-simbol yang dapat digunakan dalam komunikasi verbal
    yaitu suara, tulisan atau gambar.
    Tipe – Tipe Komunikasi Verbal :
    a) Berbicara dan menulis. Berbicara atau komunikasi lisan merupakan suatu
    jenis komunikasi di mana seseorang mengucapkan pesan untuk diterima
    kepada orang yang dituju. Komunikasi ini biasanya diikuti dengan tatap muka,
    tetapi dapat pula tidak diikutidengan tatap muka misalnya komunikasi lisan
    atau melalui telpon.
    b) Mendengar dan membaca. Dalam proses komunikasi, mendengarkan dan
    membaca dengan berbicara dan menulis merupakan mata uang bermata ganda.
    Apabila komunikator berbicara maka audience menangkap pesan dengan
    mendengarkan, sedang apabila komunikator menulis maka audience
    menangkap pesan dengan membaca.
  2. Komunikasi Non Verbal
    Komunikasi Non Verbal adalah kumpulan isyarat, gerak tubuh,
    intonasi suara, sikap dan sebagainya yang memungkinkan seseorang untuk
    berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata.

Definisi Komunikasi


Keseharian proses komunikasi pasti selalu terjadi baik komunikasi antar
individu maupun dalam kelompok atau organisasi. Dalam perusahaan atau
organisasi jika melakukan suatu proses komunikasi juga akan dipikirkan
mengenai dampak maupun efek yang akan terjadi nantinya. Adapun dampak
yang berhubungan dengan organisasi adalah dampak behavioral, yakni
dampak yang timbul pada komunikasi dalam bentuk perilaku, tindakan,
maupun kinerja seseorang.
Menurut Sumaki, dkk (2015:542) menyatakan bahwa komunikasi
merupakan pertukaran informasi antar pengirim dan penerima, dan
kesimpulan makna antara individu-individu yang terlibat. Menurut Handoko
(2015:193) komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dan bentuk
gagasan, informasi dari seseorang ke orang lain.
Komunikasi sebagai penghidupan sebuah organisasi, karena komunikasi
diperlukan untuk saling bertukar informasi, bertukar pendapat, membuat
rencana dan proposal, mencapai kesepakatan, melaksanakan keputusan,
mengirim dan memenuhi perintah dan melakukan penjualan.

Indikator Kepemimpinan


Adapun indikator”kepemimpinan menurut (Hasibuan, 2012:170)
adalah :

  1. Kemampuan”analisis, yaitu pimpinan mampu menganalisa dalam
    menentukan langkah-langkah pencapaian” tujuan.
  2. Keteladanan, yaitu pimpinan hendaknya mampu memberikan”contoh atau
    teladan dengan kesederhanaan terhadap para”pegawai agar tidak terlalu
    royal.
  3. Rasionalitas dan objektivitas, yaitu pimpinan dalam menentukan tujuan
    haruslah bersifat rasional dan dala menilai para”bawahannya hendak
    bersifat objektif.
  4. Instruksi”kerja, yaitu pimpinan dalam menyusun langkah-langkah dalam
    proses pencapaian tujuan harus terprogram, tersusun dan terkonsep.
  5. Kemampuan”mendengar saran, pimpinan yang demokratis harus mau
    mendengarkan bawahannya agar terhindar dari sifat otoriter.
  6. Ketrampilan”berkomunikasi, yaitu memiliki kemampuan berkomunikasi
    yang baik dalam penyampaian”perintah kepada karyawan.
  7. Pembagian”tugas, yaitu pimpinan harus bias beradaptasi dengan
    lingkungannya agar mampu menciptakan lingkungan”kerja yang kondusif
    dalam pembagian tugas.
  8. Ketegasan”dalam bertindak, yaitu pimpinan dalam pengambilan keputusan
    harus bersikap”tegas tanpa kompromi agar disegani oleh bawahannya

Pengertian Kepemimpinan


Dalam suatu kelompok kerja, baik yang tergolong kecil, sedang dan besar,
sangat dibutuhkan seorang pemimpin. Selain kelompok kerja, kelompok
masyarakat yang melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan, juga memerlukan
pemimpin.dengan hadirnya pemimpin suatu kelompok kerja dapat dikendalikan
secara positif yang tujuan dan misi utamanya adalah merealisir tujuan yang telah
digariskan.
Bagi seorang pemimpin dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya,
harus diprioritaskan dalam menerapkan segala potensi, kekuatan, bakat, ilmu dan
pengetahuannya untuk dikerjakan secara tepat, benar, efektif, dan efisien.
Keadaan ini akan lebih baik jika didukung oleh faktor-faktor pelaksanaan tugas –
tugas kepemimpinan yang lebih baik, seperti adanya sifat-sifat, gaya- gaya,
fungsi- fungsi dan tipe-tipe kepemimpinan.
Menurut G.R. Terry dalam buku Iwan Purwanto (2007: 63) mendefenisikan
kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar
mau bekerjasama untuk mencapai tujuan.
Menurut Robbins dalam buku Harbani Pasolong (2008: 4) menyatakan
kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju
pencapaian sasaran.

Budaya Organisasi


Menurut Edy Sutrisno (2010: 2) mendefinisikan budaya organisasi sebagai:
“Perangkat sistem nilai-nilai (value), keyakinan-keyakinan (beliefs), asumsiasumsi (assumptions), atau norma-norma yang telah lama berlaku, disepakati dan
diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan
pemecahan masalah-masalah organisasinya.”
Dalam budaya organisasi terjadi sosialisasi nilai-nilai dan menginternalisasi
dalam diri para anggota, menjiwai orang per orang di dalam organisasi. Klimann
dkk dalam buku Edy Sutrisno (2010: 2) , menjelaskan bahwa: “Budaya organisasi
merupakan jiwa organisasi dan jiwa para anggota organisasi.”
Budaya organisasi yang kuat mendukung tujuan-tujuan perusahaan,
sebaliknya yang lemah atau negatif menghambat atau bertentangan dengan tujuan
tujuan perusahaan. Dalam suatu perusahaan yang budaya organisasinya kuat,
nilai-nilai bersama dipahami secara mendalam, dianut, dan diperjuangkan oleh
sebagian besar para anggota organisasi . Budaya yang kuat dan positif sangat
berpengaruh terhadap perilaku dan efektivitas kinerja Organisasi.
Hal yang sama didefenisikan Barry Cushway dan Derek Lodge dalam buku
Hadari Nawawi (2006: 283) , bahwa Budaya organisasi adalah suatu kepercayaan
dan nilai nilai yang menjadi filsafah utama yang dipegang teguh oleh anggota
organisasi dalam menjalankan atau mengoperasikan kegiatan organisasi.
Sedangkan menurut Schermerh n, Hurn dan Osborn dalam buku Hadari Nawawi
(2006: 283) mendefinisikan bahwa Budaya organisasi adalah suatu sistem
penyebaran keyakinan dan nilai-nilai yang dikembangkan di dalam sebuah
organisasi sebagai pedoman perilaku anggotanya.
Jones R. Gureth dalam buku Hadari Nawawi (2006: 284) , mendefinisikan
bahwa Budaya organisasi adalah sekumpulan nilai-nilai yang mengendalikan
interaksi antar anggota organisasi dan interaksi dengan sistem dan lingkungan
organisasi lainnya.
Budaya organisasi dibentuk oleh semua orang yang terlibat dengan organisasi
yang mengacu pada etika organisasi, peraturan kerja dan tipe struktur organisasi.
Budaya organisasi melalui struktur organisasi membentuk dan mengendalikan
perilaku organisasi dan anggota organisasi.
Budaya organisasi dijadikan alat strategis dalam menghadapi perubahan dan
diharapkan sebagai salah satu pilar bagi organisasi, yang kemudian akan
mengantarkan organisasi memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Dalam
konteks budaya organisasi sebagai alat manajemen, budaya organisasi dapat
dianggap sebagian bagian dari strategi organisasi dalam meraih tujuan.
Salah satu faktor yang membedakan suatu organisasi dari organisasi yang
lainnya ialah budayanya. Hal-hal tersebut penting, dan karena itu perlu dipahami
serta dikenali. Akan tetapi hal-hal yang bersifat universal itu harus diterapkan oleh
manajemen dengan pendekatan yang memperhitungkan secara matang faktorfaktor situasi, kondisi, waktu, dan ruang. Dengan kata lain, terapkan sesuai
dengan budaya yang berlaku dan dianut dalam organisasi yang bersangkutan.
Robbins dalam buku Edy Sutrisno (2010: 10) menjelaskan budaya organisasi
mempunyai beberapa fungsi, yaitu:

  1. Budaya mempunyai suatu peran pembeda. Hal itu berarti bahwa budaya
    kerja menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dengan
    yang lain.
  2. Budaya organisasi membawa suatu rasa indentitas bagi anggota-anggota
    organisasi.
  3. Budaya organisasi mempermudah timbul pertumbuhan komitmen pada
    sesuatu yang lebih luas, daripada kepentingan diri individual.
  4. Budaya organisasi itu meningkatkan kemantapan sistem sosial.

Pengertian Organisasi


Stephen (1994: 4) mendefinikan bahwa Organisasi adalah “Kesatuan (entity)
sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif
diidentifikasikan terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau
sekelompok tertentu.” Sedangkan menurut David Cherrington dalam buku
Achmad Sobirin (2007: 4) mendefinisikan bahwa Organisasi adalah sistem sosial
yang mempunyai pola kerja yang teratur yang didirikan oleh manusia dan
beranggotakan sekelompok manusia dalam rangka untuk mencapai satu set tujuan
tertentu.
Sebuah organisasi mempunyai batasan yang relatif dapat diidentifikasi. Batas
dapat berubah dalam kurun waktu tertentu dan tidak selalu jelas, namun sebuah
batasan yang nyata harus ada agar kita dapat membedakan antara fungsionaris
dan bukan fungsionaris. Batasan cenderung dicapai melalui perjanjian yang
eksplisit maupun implisitantara para anggota dan organisasinya. Pada kebanyakan
hubungan kepegawaian terdapat sebuah perjanjian yang implisit di mana
pekerjaan itu ditukar dengan pembayaran upah. Pada organisasi sosial atau
sukarela, para anggota memberikan kontribusi dengan imbalan prestise, interkasi
sosial, atau kepuasan dalam membantu orang lain.
Weber dalam buku Miftah Thoha (2008: 113) mengemukakan bahwa suatu
organisasi atau kelompok kerja sama ini mempunyai unsur kekayaan sebagai
berikut:

  1. Organisasi merupakan tata hubungan sosial, dalam hal ini seorang individu
    melakukan proses interaksi sesamanya di dalam organisasi tersebut.
  2. Organisasi mempunyai batasan-batasan tertentu (boundaries), dengan
    demikian seseorang yang melakukan hubungan interaksi dengan lainnya
    tidak atas kemauan sendiri. Mereka dibatasi oleh aturan-aturan tertentu.
  3. Organisasi merupakan suatu kumpulan tata aturan, yang bisa membedakan
    suatu organisasi dengan kumpulan-kumpulan kemasyarakatan. Tata aturan
    ini menyusun proses interaksi diantaraorang-orang yang bekerja sama di
    dalamnya. Sehingga interaksi tersebut tidak muncul begitu saja.
  4. Organisasi merupakan suatu kerangka hubungan yang berstruktur
    didalamnya berisi wewenang, tanggung jawab dan pembagian kerja untuk
    menjalankan sesuatu fungsi tertentu. Istilah lain dari unsur ini ialah
    terdapatnya hierarki (hierarchy). Konsekuensi dari adanya hierarki ini
    bahwa di dalam organisasi ada pimpinan atau kepala dan bawahan atau
    staf.

Pengertian Budaya


Budaya yang kuat dicirikan oleh nilai-nilai dari organisasi yang dianutdengan
kuat, diatur dengan baik, dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak
anggota yang menerima nilai-nilai inti, menyetujui jajaran tingkat
kepentingannya, dan merasa sangat terikat kepadanya, maka semakin kuat budaya
tersebut.
Robbins (1994: 148) mendefisikan bahwa Budaya adalah sarana yang kuat
untuk mengontrol dan dapat bertindak sebagai sebuah substitusi bagi formalisasi.
Sedangkan menurut Edward B. Tylor dalam buku Achmad Sobirin (2007: 52)
Budaya adalah hasil karya manusia dalam kedudukannya sebagai anggota
masyarakat.
Achmad Sobirin (2007: 60) menjelaskan bahwa:
“Budaya merupakan fenomena kolekif maka hak kepemilikan budaya tidakberada
pada individu per individu melainkan berada pada masyarakat. Eksistensi dan
kelestarian budaya dengan demikian sangat bergantung pada sharing
(pemahaman, pengakuan, penjiwaan dan praktik bersama) anggota masyarakat
dan social conscience (kesadaran sosial) mereka akan pentingnya memelihara dan
mempertahankan budaya..

Indikator Kinerja Karyawan


Kasmir (Kasmir, 2016, hal. 208) menyatakan ada beberapa faktor yang
dapat dijadikan acuan untuk mengukur kinerja karyawan, diantaranya:

  1. Kuantitas Pekerjaan
    Menunjukkan jumlah pekerjaan yang dihasilkan sebagai syarat yang
    menjadi standar pekerjaan, dan dinyatakan dalam istilah: jumlah unit atau jumlah
    siklus aktivitas yang telah diselesaikan.
  2. Kualitas Pekerjaan
    Kualitas yang dimaksud ialah terpenuhinya persyaratan suatu pekerjaan atas
    kualitas yang sudah ditentukan oleh perusahaan, serta persepsi karyawan
    terhadap kualitas dan kesempurnaan tugas terhadap kemampuan karyawan.
  3. Ketepatan Waktu
    Ketepatan waktu ialah suatu pekerjaan yang diselesaikan dengan
    memaksimalkan waktu yang sudah ditetapkan diawal, dengan melihat hasil yang
    diperoleh dalam waktu yang disediakan.
  4. Penekanan Biaya
    Biaya yang dikeluarkan untuk setiap aktivitas perusahaan sudah
    dianggarkan sebelum aktivitas dijalankan. Artinya dengan biaya yang sudah
    dianggarkan tersebut merupakan acuan agar tidak melebihi dari yang sudah
    dianggarkan. Jika pengeluaran biaya melebihi anggaran yang telah ditetapkan
    maka akan terjadi pemborosan, sehingga kinerjanya dianggap kurang baik
    demikian pula jika pengeluaran biaya sesuai dengan anggaran maka tidak akan
    terjadi pemborosan, dan sehingga kinerjanya dianggap baik.
  5. Pengawasan
    Hampir seluruh jenis pekerjaan perlu melakukan pengawasan terhadap
    pekerjaan yang sedang berjalan. Pada dasarnya situasi dan kondisi selalu
    berubah dari keadaan yang baik menjadi tidak baik atau sebaliknya. Oleh karena
    itu, setiap aktivitas pekerjaan memerlukan pengawasan sehingga tidak
    melenceng dari yang telah ditetapkan. Dengan adanya pengawasan maka setiap
    pekerjaan akan menghasilkan kinerja yang baik. Dengan melakukan pengawasan
    karyawan akan lebih bertanggung jawab atas pekerjaannya dan jika terjadi
    penyimpangan akan memudahkan untuk melakukan koreksi dan melakukan
    perbaikan secepatnya. Artinya pengawasan sangat diperlukan dalam rangka
    mengendalikan aktivitas karyawan agar tidak meleset dari yang sudah
    direncanakan atau ditetapkan.
  6. Hubungan antar Karyawan
    Penilaian kinerja sering kali dikaitkan dengan kerja sama atau kerukunan
    antar karyawan dan antar pimpinan. Hubungan ini sering kali juga dikaitkan
    sebagai hubungan antar perseorangan. Dalam hubungan ini diukur apakah
    seorang karyawan mampu untuk mengembangkan perasaan saling menghargai,
    niat baik, dan kerja sama antar karyawan satu dengan karyawan yang lainnya.
    Hubungan antar perseorangan akan menciptakan suasana yang nyaman dan kerja
    sama yang memungkinkan satu sama lain saling mendukung untuk
    menghasilkan aktivitas pekerjaan yang lebih baik.

Faktor yang memengaruhi Kinerja Karyawan


Keith Davis dalam Mangkunegara (Mangkunegara, 2014, hal. 67)
mengatakan bahwa pencapaian kinerja dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu
faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (Motivation). Sebagaimana
dijelaskan sebagai berikut:

  1. Faktor Kemampuan
    Secara psikologis kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan
    potensi (IQ) dan kemampuan realita (knowledge dan skill). Yang berarti pegawai
    yang IQ nya diatas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang cukup untuk
    jabatannya dan terampil dalam menjalankan tugas sehari-hari, maka akan lebih
    mudah dalam mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu, pegawai harus
    ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man on
    the right place, the right man on the right job).
  2. Faktor Motivasi
    Sikap seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja akan membentuk
    motivasi. Motivasi merupakan kondisi yang mampu menggerakkan diri seorang
    karyawan untuk mengarah pada pencapaian tujuan kerja. Sikap mental yang
    mendorong seseorang untuk berusaha mencapai potensi kerja secara maksimal.
    Yang berarti seorang karyawan sudah paham betul apa yang menjadi target dan
    tujuan utama yang harus dicapai dengan situasi kerja.

Tujuan Penilaian Kinerja Karyawan


Adapun tujuan penilaian kinerja menurut Dharma (Dharma, 2001, hal. 150)
adalah sebagai berikut :

  1. Pertanggung jawaban, apabila standar dan sasaran digunakan sebagai alat
    pengukuran pertanggung jawaban, maka dasar untuk pengambilan keputusan
    kenaikan gaji atau upah, promosi, penugasan khusus, dan sebagainya adalah
    kualitas hasil pekerjaan karyawan yang bersangkutan..
  2. Pengembangan, jika standar dan sasaran digunakan maka sebagai alat keperluan
    pengembangan, hal itu mengacu pada dukungan yang diperlukan karyawan
    dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Dukungan itu dapat berupa pelatihan,
    bimbingan atau bantuan lainnya.

Penilaian Kinerja Karyawan


Penilaian kerja amat penting bagi suatu perusahaan atau organisasi.Dengan
penilaian kinerja tersebut, suatu organisasi dapat melihat sampai sejauh mana faktor
manusia dapat menunjang tujuan suatu perusahaan atau organisasi. Penilaian
terhadap kinerja dapat memotivasi karyawan agar terdorong untuk bekerja lebih
baik. Oleh karena itu, diperlukan penilaian kerja yang tepat dan konsisten. Proses
penilaian kinerja ini ditunjukkan untuk memahami kinerja seseorang, dimana
kegiatan ini terdiri dari identifikasi, observasi, pengukuran, dan pengembangan
hasil kerja karyawan dalam sebuah organisasi. (Panggabean, 2012, hal. 124).
Tahapan pada proses penilaian meliputi :

  1. Identifikasi
    Identifikasi merupakan tahapan awal dari proses yang terdiri atas penentuan
    unsur-unsur yang akan diamati. Kegiatan ini diawali dengan melakukan analisis
    pekerjaan agar dapat mengenali unsur-unsur yang akan dinilai dan dapat
    mengembangkan skala penilaian. Apa yang dinilai adalah yang berkaitan dengan
    pekerjaan, bukan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.
  2. Observasi
    Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan secara seksama dan
    periodik. Semua unsur yang dinilai harus diamati secara seksama agar dapat
    dibuat penilaian yang wajar dan tepat. Observasi yang jarang dilakukan dan tidak
    berkaitan dengan kinerja akan menghasilkan penilaian sesaat dan tidak akurat.
  3. Pengukuran
    Dalam pengukuran, para penilai akan memberikan penilaian terhadap
    tingkat kinerja karyawan yang didasarkan pada hasil pengamatan pada tahap
    observasi.
  4. pengembangan
    Pihak penilai selain memberikan penilaian terhadap kinerja pegawai juga
    melakukan pengembangan apabila ternyata terdapat perbedaan antara yang
    diharapkan oleh pimpinan dengan hasil kerja karyawan.

Pengertian Kinerja Karyawan


Menurut Bernardin dan Russel (Russel, 1998), Kinerja didefinisikan
sebagai catatan hasil yang diperoleh dari suatu pekerjaan atau aktivitas tertentu
dalam jangka waktu tertentu.
Menurut Dessler (Dessler, 2015, hal. 41), kinerja merupakan prestasi kerja,
yaitu perbandingan antara hasil kerja dengan standar yang ditetapkan.
Menurut Mathis dan Jackson (Mathis, 2012, hal. 78), Kinerja pada dasarnya
adalah apa yang dikerjakan atau tidak dikerjakan oleh karyawan. Kinerja karyawan
mempengaruhi seberapa banyak mereka memberikan kontribusi kepada organisasi.
Menurut Rivai dan Basri (Rivai V. d., 2005, hal. 65), kinerja adalah hasil
atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu
dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti
standar hasil kerja, target atau sasaran atau kinerja yang telah ditentukan terlebih
dahulu dan telah disepakati bersama.
Menurut Mangkunegara (Prabu, 2009, hal. 67), Kinerja merupakan hasil
kerja secara kualitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Kinerja Karyawan


Suatu perusahaan didirikan karena mempunyai tujuan yang ingin dan harus
dicapai. Kinerja merupakan landasan bagi pencapaian tujuan tersebut. Setiap
perusahaan akan berusaha untuk selalu meningkatkan kinerja karyawannya demi
tercapainya tujuan yang telah ditetapkan perusahaan. Karena untuk mencapai
tujuan perusahaan, memerlukan karyawan yang mempunyai kinerja kerja yang
baik.
Kinerja seorang karyawan pada perusahaan bersifat individual, karena
setiap karyawan mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda dalam
mengerjakan tugasnya. Pihak manajemen dapat mengukur karyawan atas unjuk
kerjanya berdasarkan kinerja dari masing-masing karyawan. Kinerja merupakan
suatu hasil yang dicapai oleh karyawan dalam pekerjaannya menurut kriteria
tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan (Robbins S. , 2008)

Indikator Disiplin Kerja


Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua
peraturan dan norma-norma sosial yang berlaku. Untuk mengetahui disiplin kerja
seseorang, maka terlebih dahulu harus mengetahui indikator-indikatornya. Adapun
indikator disiplin menurut Singodimejo dalam Sutrisno (Sutrisno, 2011, hal. 94)
adalah sebagai berikut :

  1. Taat Terhadap Aturan Waktu
    Dilihat dari jam masuk kerja, jam pulang, dan jam istirahat yang tepat waktu
    sesuai dengan aturan yang berlaku diperusahaan.
  2. Taat Terhadap Peraturan Perusahaan
    Peraturan dasar tentang cara berpakaian, dan bertingkah laku dalam
    pekerjaan.
  3. Taat Terhadap Aturan Perilaku dalam Pekerjaan
    Ditunjukkan dengan cara-cara melakukan pekerjaan-pekerjaan sesuai
    dengan jabatan, tugas, dan tanggung jawab serta cara berhubungan dengan unit
    kerja lain.
  4. Taat Terhadap Peraturan lainnya di perusahaan
    Aturan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh para
    pegawai dalam perusahaan.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Disiplin Kerja


Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan
suatu organisasi. Hasibuan (Hasibuan, 2010., hal. 194) menyebutkan faktor-faktor
yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan kerja karyawan, diantaranya :

  1. Tujuan dan Kemampuan
    Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan.
    Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup
    menantang bagi kemampuan karyawannya. Hal ini berarti bahwa tujuan
    (pekerjaan) yang dibebankan kepada karyawan harus sesuai dengan kemampuan
    karyawan bersangkutan, agar dia bekerja sungguh-sungguh dan disiplin dalam
    mengerjakannya. Akan tetapi, jika pekerjaan itu diluar kemampuan atau bahkan
    jauh di bawah kemampuannya maka kesungguhan dan kedisiplinan karyawan
    rendah. Disinilah pentingnya asas the right man on the right place and the right
    man on the right job.
  2. Teladan Pimpinan
    Teladan pimpinan sangat berperan dalam menentukan kedisiplinan
    karyawan karena pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para
    bawahannya. Pimpinan harus memberi contoh yang baik, berdisiplin baik, jujur,
    adil, serta sesuai kata dengan perbuatan. Dengan teladan pimpinan yang baik,
    kedisiplinan bawahan pun akan ikut baik. Jika teladan pimpinan kurang baik
    (kurang berdisiplin), para bawahan pun akan kurang disiplin. Pimpinan jangan
    mengharapkan kedisiplinan karyawannya baik jika dia sendiri kurang disiplin.
    Pimpinan harus menyadari bahwa perilakunya akan dicontoh dan diteladani oleh
    bawahannya. Hal inilah yang mengharuskan pimpinan mempunyai kedisiplinan
    yang baik agar para bawahannya mempunyai disiplin yang baik pula.
  3. Balas Jasa
    Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi kedisiplinan
    karyawan karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan karyawan
    terhadap perusahaan atau pekerjaannya. Jika kecintaan karyawan semakin baik
    terhadap pekerjaannya, kedisiplinan mereka semakin baik pula. Balas jasa
    berperan penting untuk menciptakan kedisiplinan karyawan. Artinya semakin
    besar balas jasa semakin baik kedisiplinan karyawan begitupun sebaliknya,
    apabila balas jasa kecil kedisiplinan semakin rendah. Karyawan sulit untuk
    berdisiplin baik selama kebutuhan-kebutuhan primernya tidak terpenuhi dengan
    baik.
  4. Keadilan
    Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan karyawan, karena ego
    dan sifat yang selalu merasa dirinya penting dan minta diperlakukan sama
    dengan karyawan lainnya. Keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam
    pemberian balas jasa (pengakuan) atau hukuman akan merangsang terciptanya
    kedisiplinan karyawan yang baik. Manajer yang cakap dalam memimpin selalu
    berusaha bersikap adil terhadap semua bawahannya. Dengan adilan yang baik,
    akan menciptakan kedisiplinan yang baik pula. Jadi, keadilan harus diterapkan
    dengan baik pada setiap perusahaan agar kedisiplinan karyawan meningkat.
  5. Waskat
    Waskat (pengawasan melekat) adalah tindakan nyata dan paling efektif
    dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan perusahaan. Dengan waskat berarti
    atasan harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah kerja,
    dan prestasi kerja bawahannya. Hal ini berarti atasan harus selalu ada atau hadir
    di tempat kerja agar dapat mengawasi dan memberikan petunjuk, jika ada
    bawahannya yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya.
    Waskat efektif merangsang kedisiplinan dan moral kerja karyawan. Karyawan
    merasa mendapat perhatian, bimbingan, petunjuk, pengarahan, dan pengawasan
    dari atasannya. Jadi, waskat menuntut adanya kebersamaan aktif antara atasan
    dan bawahan dalam mencapai tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
    Dengan kebersamaan aktif itulah maka dapat terwujud kerjasama yang baik dan
    harmonis dalam perusahaan yang mendukung terbinanya kedisiplinan karyawan
    yang baik.
  6. Sanksi Hukuman
    Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan
    karyawan. Berat ringannya sanksi hukuman yang akan diterapkan akan
    mempengaruhi bak buruknya kedisiplinan karyawan. Sanksi hukuman
    seharusnya tidak terlalu ringan atau terlalu berat supaya hukuman itu tetap
    mendidik karyawan untuk mengubah perilakunya. Sanksi hukuman hendaknya
    cukup wajar untuk setiap tingkatan indisipliner, bersifat mendidik, dan menjadi
    alat motivasi untuk membina kedisiplinan dalam perusahaan. Dengan sanksi
    hukuman yang semakin ketat, karyawan akan semakin takut melanggar
    peraturan-peraturan perusahaan, sikap, dan perilaku indisipliner karyawan akan
    berkurang.
  7. Ketegasan
    Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi
    kedisiplinan karyawan perusahaan. Pimpinan harus berani dan tegas, bertindak
    untuk menghukum setiap karyawan yang indisipliner sesuai dengan sanksi
    hukuman yang telah diterapkan. Pimpinan yang berani bertindak tegas
    menerapkan hukuman bagi karyawan yang indisipliner akan di segani dan diakui
    kepemimpinannya oleh bawahan.
  8. Hubungan Kemanusiaan
    Hubungan kemanusiaan yang harmonis di antara sesama karyawan ikut
    menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu perusahaan. Hubunganhubungan baik bersifat vertikat naupun horizontal yang terdiri dari direct single
    relationship, direct group relationship, dan cross relationship hendaknya
    harmonis. Manajer harus berusaha menciptakan suasana hubungan kemanusiaan
    yang serasi serta mengikat, vertical maupun horizontal di antara sesama
    karyawannya. Terciptanya human relationship yang serasi akan mewujudkan
    lingkungan dan suasana kerja yang nyaman. Hal ini akan memotivasi
    kedisiplinan karyawan akan tercipta apabila hubungan kemanusiaan dalam
    organisasi tersebut baik.

Tujuan Disiplin Kerja


Menurut Siswanto (Siswanto, 2011, hal. 292) menyatakan bahwa Tujuan
dari disiplin kerja secara umum ialah demi kelancaran dan kelangsungan
perusahaan sesuai dengan motif perusahaan yang bersangkutan baik hari ini
maupun hari esok.
Selain tujuan umum, adapun tujuan khusus disiplin kerja antara lain :

  1. Agar para tenaga kerja menepati segala peraturan dan kebijakan
    ketenagakerjaan maupun peraturan dan kebijakan perusahaan yang berlaku,
    baik yang tertulis maupun tidak tertulis, serta melaksanakan perintah
    manajemen.
  2. Dapat melaksanakan pekerjaan sebaik-baiknya serta mampu memberikan
    servis yang maksimum kepada pihak tertentu yang berkepentingan dengan
    perusahaan sesuai dengan bidang pekerjaan yang diberikan kepadanya.
  3. Dapat menggunakan dan memelihara sarana dan prasarana barang dan jasa
    perusahaan dengan sebaik-baiknya.
  4. Dapat bertindak dan berperilaku sesuai norma-norma yang berlaku pada
    perusahaan.
  5. Tenaga kerja mampu memperoleh tingkat produktivitas yang tinggi sesuai
    dengan harapan perusahaan, baik dalam jangka pendek maupun jangka
    panjang.

Pengertian Disiplin Kerja


Menurut Rivai (Rivai, 2004, hal. 444) Disiplin Kerja adalah suatu alat yang
digunakan para manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka
bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai upaya untuk meningkatkan
kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku.
Menurut Siswanto (Siswanto, 2002, hal. 201) Disiplin kerja dapat
didefinisikan sebagai sesuatu sikap menghargai, menghormati, patuh dan taat
terhadap peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun tidak tertulis
serta sanggup menjalankannya apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang
diberikan kepadanya.
Menurut Siagian (Siagian, 2002, hal. 305) Disiplin Kerja adalah tindakan
manajemen untuk mendorong para anggota organisasi memenuhi tuntuan berbagi
ketentuan tersebut. Dengan kata lain, pendisiplinan karyawan adalah suatu bentuk
pelatihan yang berusaha memperbaiki dan membentuk pengetahuan, sikap dan
perilaku karyawan sehingga para karyawan tersebut secara sukarela berusaha
bekerja secara kooperatif dengan para karyawan lain serta meningkatkan prestasi
kerjanya.
Menurut Mangkunegara (Prabu, 2009, hal. 239) Disiplin adalah sikap
kesediaan seseorang untuk memenuhi dan menaati segala norma peraturan yang
berlaku di sekitarnya.
Menurut Hasibuan (Hasibuan, 2003, hal. 193) Disiplin adalah kesadaran
dan kesediaan seseorang menaati peraturan perusahaan dan norma-norma sosial
yang berlaku. Dimana kesadaran adalah sikap seseorang yang secara sukarela
menaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya, sedangkan
kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan seseorang yang sesuai
dengan peraturan baik tertulis maupun tidak

Disiplin Kerja


Usaha meningkatkan kinerja karyawan dapat dilakukan dengan
memperhatikan disiplin kerja. Disiplin sangat penting untuk pertumbuhan
organisasi, terutama digunakan untuk memotivasi pegawai agar mendisiplinkan diri
dalam melaksanakan pekerjaan baik secara perorangan maupun secara kelompok.
Di samping itu, disiplin juga bermanfaat untuk mendidik pegawai dalam mematuhi
dan menyenangi peraturan, prosedur, serta kebijakan yang ada sehingga
menghasilkan kinerja yang baik. Kedisiplinan merupakan fungsi operatif
Manajemen sumber daya manusia yang terpenting karena semakin baik disiplin
pegawai maka semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapainya.
Disiplin merupakan sesuatu yang sangat besar manfaatnya bagi perusahaan
maupun setiap individunya. Bagi perusahaan disiplin akan menjamin terpeliharanya
tata tertib dan keberlangsungan perusahaan, yang menghasilkan sesuatu yang
optimal, dan untuk individu karyawan akan membuat suasana kerja menjadi lebih
nyaman, menyenangkan, memberikan semangat lebih hingga karyawan bisa
melakukan pekerjaanya dengan sangat baik. Disiplin merupakan proses melatih
pengontrolan diri agar dapat menjadi lebih efektif dalam bekerja

Indikator Komunikasi


Dimensi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori dan
pendapat dari para ahli. Dimensi yang dimaksud merupakan teori dari Effendy
(2017:122) sebagai berikut:

  1. Komunikasi Internal
    Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara
    anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti
    komunikasi antar pimpinan dan bawahan, antara sesame bawahan, dan
    sebagainya. Proses komunikasi internal ini bisa berwujud komunikasi antar
    pribadi ataupun komunikasi antar kelompok. Juga komunikasi bisa merupakan
    proses komunikasi primer maupun sekunder (menggunakan media manusia).
    Indikatornya meliputi:
    a. Komunikasi vertikal
    Komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Komunikasi
    dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan. Dalam
    komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjukpetunjuk, informasi- informasi kepada bawahannya. Sedangkan bawahan
    memberi laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan, dan
    sebagainya kepada pimpinan.
    b. Komunikasi horizontal atau lateral
    Komunikasi antara sesama, seperti dari karyawan kepada karyawan,
    manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini mengalir di bagian
    yang sama di dalam organisasi atau mengalir antar bagian. Komunikasi lateral
    ini memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode dan masalah.
    Hal ini membantu untuk menghindari beberapa masalah dan memecahkan
    yang lainnya, serta membangun semangat kerja dan kepuasan kerja.
  2. Komunikasi Eksternal
    Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan
    organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar, komunikasi
    ini lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat daripada pimpinan
    sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah tertera pada hal-hal
    dianggap sangat penting saja. Indikatornya meliputi:
    a. Komunikasi dari organisasi kepada khalayak
    Komunikasi ini dilaksanakan umumnya, bersifat informatif, yang
    dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan,
    setidaknya ada hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui berbagai
    bentuk seperti: majalah organisasi; press release, artikel, surat kabar atau
    majalah; pidato radio; film dokumenter; brosur; leaflet; poster; konferensi
    pers.
    b. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi
    Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik
    sebagai efek dari kegiatan dan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi.

Hambatan Komunikasi


Menurut Wursanto (Wursanto, 2005, hal. 171) Komunikasi dalam
organisasi tidak selamanya berjalan dengan mulus dan lancar seperti yang
diharapkan. Seringkali dijumpai dalam suatu organisasi terjadi salah pengertian
antara satu anggota dengan anggota lainnya atau antara atasan dengan bawahannya
mengenai pesan yang mereka sampaikan dalam berkomunikasi. Wursanto
(Wursanto, 2005, hal. 171) meringkas hambatan komunikasi terdiri dari tiga
macam, yaitu :

  1. Hambatan yang bersifat teknis
    Hambatan yang bersifat teknis adalah hambatan yang disebabkan oleh
    berbagai faktor, seperti :
    a. Kurangnya sarana dan prasarana yang diperlukan dalam proses komunikasi
    b. Penguasaan teknik dan metode berkomunikasi yang tidak sesuai
    c. Kondisi fisik yang tidak memungkinkan terjadinya proses komunikasiyang
    dibagi menjadi kondisi fisik manusia, kondisi fisik yang berhubungan dengan
    waktu atau situasi/ keadaan, dan kondisi peralatan
  2. Hambatan semantic
    Hambatan yang disebabkan kesalahan dalam menafsirkan, kesalahan
    dalam memberikan pengertian terhadap bahasa (kata-kata, kalimat, kode-kode)
    yang dipergunakan dalam proses komunikasi.
  3. Hambatan perilaku
    Hambatan perilaku disebut juga hambatan kemanusiaan. Hambatan yang
    disebabkan berbagai bentuk sikap atau perilaku, baik dari komunikator maupun
    komunikan. Hambatan perilaku tampak dalam berbagai bentuk, seperti :
    a. Pandangan yang sifatnya apriori
    b. Prasangka yang didasarkan pada emosi
    c. Suasana otoriter
    d. Ketidakmauan untuk berubah
    e. Sifat yang egosentris

Fungsi Komunikasi dan Pentingnya Komunikasi


Terdapat empat fungsi utama komunikasi menurut Robbins dan Coulter
(Robbins S. d., 2007) yaitu :

  1. Kontrol
    Komunikasi bertindak sebagai kontrol perilaku anggota dalam berbagai
    cara.
  2. Motivasi
    Komunikasi mendorong motivasi dengan menjelaskan pada karyawan
    apa yang harus diselesaikan, seberapa baik mereka melakukannya, dan apa yang
    dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja jika tidak sejajar. Ketika karyawan
    menetapkan tujuan tertentu, bekerja untuk tujuan itu, dan menerima umpan balik
    dariperkembangan tujuan itu, maka komunikasi diperlukan.
  3. Ekspresi emosional
    Komunikasi yang terjadi di dalam kelompok adalah mekanisme
    fundamental dimana anggotanya berbagi rasa frustasi dan perasaan puas.
    Komunikasi memberikan penyaluran perasaan bagi ekspresi emosional dan
    untuk memenuhi kebutuhan sosial.
  4. Informasi
    Individu dan kelompok memerlukan informasi untuk menyelesaikan
    sesuatu dalam organisasi. Komunikasi menyediakan informasi tersebut.
    Pentingnya komunikasi dalam organisasi Menurut Wursanto (Wursanto,
    2005, hal. 159) secara rinci dapat dilihat dalam hal berikut:
  5. Menimbulkan rasa kesetiakawanan dan loyalitas antara
    a. Para bawahan dengan atasan atau pimpinan
    b. Bawahan dengan bawahan
    c. Atasan dengan atasan
  6. Pegawai dengan organisasi atau lembaga yang bersangkutan
    a. Meningkatkan kegairahan kerja para pegawai
    b. Meningkatkan moral dan disiplin para pegawai
    c. Semua jajaran pimpinan dapat mengetahui keadaan bidang yang menjadi
    tugasnya sehingga akan berlangsung pengendalian operasional yang efisien.
    d. Semua pegawai dapat mengetahui kebijaksanaan, peraturan-peraturan,
    ketentuan-ketentuan, yang telah ditetapkan oleh pimpinan organisasi.
    e. Semua informasi, keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh para
    pegawai dapat dengan cepat dan tepat diperoleh.
    f. Meningkatkan rasa tanggung jawab semua pegawai.
    g. Menimbulkan saling pengertian diantara pegawai.
    h. Meningkatkan kerja sama (team work) diantara para pegawai.
    i. Meningkatkan semangat korp atau esprit de corp dikalangan para.

Pengertian Komunikasi


Mangkunegara (Mangkunegara, 2014, hal. 145) menyatakan bahwa
komunikasi adalah suatu proses pemindahan suatu informasi, ide, pengertian dari
seseorang kepada orang lain dengan harapan orang lain tersebut dapat
menginterprestasikannya sesuai dengan tujuan yang dimaksud. Pentingnya
komunikasi bagi manusia tidaklah dapat dipungkiri begitu juga halnya bagi suatu
organisasi.
Menurut Wursanto (Wursanto, 2005, hal. 31) komunikasi adalah proses
kegiatan pengoperan atau penyampaian warta atau berita atau informasi yang
mengandung arti dari satu pihak (seseorang atau tempat) kepada pihak (seseorang
atau tempat) lain dalam usaha mendapatkan saling pengertian. Menurut Siagian
(Siagian, 2002) komunikasi yang baik merupakan kunci untuk memelihara
hubungan kerja. Komunikasi yang baik merupakan kunci untuk memelihara
hubungan kerja.
Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang terbuka antar karyawan,
termasuk dari atasan kepada bawahan. Hardjana (Hardjana, 2003) menyatakan
bahwa dengan komunikasi, karyawan dapat menjalin hubungan baik dengan rekan
kerja, membangun kerja sama dan sinergi dengan rekan kerja, menyampaikan tugas
dan mengarahkan kinerja agar sesuai dengan tujuan, serta mengatasi perbedaan
pendapat, ketegangan, dan konflik. Dapat disimpulkan bahwa komunikasi
merupakan proses penyampaian pesan dari seseorang komunikator kepada
komunikan atau pengirim pesan dari satu pihak kepada pihak lain untuk
mendapatkan saling pengertian.
Menurut Sunarto (Sunarto, 2003, hal. 16) terdapat tiga unsur penting dalam
proses komunikasi yang dilakukan dalam komunikasi, yaitu :

  1. Sumber (source), disini sumber atau komunikator adalah bagian pelayanan
    santunan.
  2. Pesan (massage), dapat berupa ucapan atau pesan-pesan atau lambang- lambang.
  3. Sasaran (Destination), adalah korban atau ahli waris korban (klaimen).

Komunikasi


Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam berorganisasi.
Karena tanpa adanya suatu komunikasi, maka pekerjaan tidak akan terselesaikan
secara maksimal dan dapat berpengaruh terhadap prestasi perusahaan tersebut. Oleh
sebab itu, komunikasi sangat membantu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Baik pimpinan ataupun bawahan akan merasa puas dengan hasil kerja mereka yang
optimal.
Komunikasi merupakan Faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai. Hal
ini di karenakan komunikasi berfungsi untuk menjelaskan kepada para pegawai
mengenai apa yang harus mereka lakukan, seberapa baik mereka melakukannya,
dan bagaimana mereka dapat meningkatkan kinerja mereka (Judge, 2015, hal. 244).

Indikator Budaya Organisasi


Dalam mengukur variabel budaya organisasi, dimana suatu perusahaan pasti
memiliki suatu budaya perusahaan untuk menjalankan kegiatan pekerjaan. Untuk
itu, budaya tidak hanya tentang visi misi perusahaan saja melainkan terdapat
beberapa dimensi untuk mengukurnya. Maka untuk itu peneliti menggunakan
indikator Budaya Organisasi menurut Robbins (Judge, 2015, hal. 355) sebagai
berikut:

  1. Inovasi dan pengambilan risiko
    Tingkat para pekerja didorong untuk menjadi inovatif dan mengambil
    risiko. Indikatornya adalah kreativitas dan Pengambilan risiko
  2. Memperhatikan detail
    Tingkat para pekerja diharapkan untuk menunjukkan presisi, analisis, dan
    memperhatikan detail. Indikatornya adalah Akurat dan Teliti
  3. Orientasi pada hasil
    Tingkat manajemen menitikberatkan pada perolehan atau hasil dan bukan
    pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapainya. Indikatornya
    adalah Tujuan perusahaan
  4. Orientasi pada orang
    Tingkat pengambilan keputusan oleh manajemen dengan
    mempertimbangkan efek dari hasil terhadap orang-orang di dalam organisasi.
    Indikatornya adalah Pengaruhdan Hasil kerja
  5. Orientasi pada tim
    Tingkat aktivitas kerja diorganisir dalam tim daripada individu.
    Indikatornya adalah Kerjasama
  6. Keagresifan
    Tingkat orang-orang akan menjadi agresif dan kompetitif dan bukannya
    santai. Indikatornya adalah Persaingan
  7. Stabilitas
    Tingkat aktivitas organisasional menekankan pada mempertahankan
    status quo yang kontras dengan pertumbuhan. Indikatornya adalah
    Keseimbangan

Peran Budaya Organisasi


Budaya organisasi atau perusahaan memiliki peran yang sangat penting bagi
organisasi, anggota organisasi, dan mereka yang berhubungan dengan organisasi.
Menurut Wirawan dalam Kaswan (Kaswan, 2018., hal. 166) peran budaya
organisasi adalah sebagai berikut:

  1. Identitas organisasi.
    Budaya organisasi berisi satu set karakteristik yang melukiskan organisasi
    dan membedakannya dengan organisasi yang lain. Budaya organisasi
    menunjukkan identitas organisasi kepada orang di luar organisasi.
  2. Menyatukan organisasi.
    Budaya organisasi merupakan lem normatif yang merekatkan unsur-unsur
    organisasi menjadi satu. Norma, nilai- nilai, dan kode etik budaya organisasi
    menyatukan dan mengkoordinasi anggota organisasi. Ketika akan masuk
    menjadi anggota organisasi, para calon anggota organisasi mempunyai latar
    belakang budaya dan karakteristik yang berbeda. Agar dapat diterima sebagai
    anggota organisasi, mereka wajib menerima dan menerapkan budaya
    organisasi.
  3. Reduksi konflik.
    Budaya organisasi sering dilukiskan sebagai semen atau lem yang
    menyatukan organisasi. Isi budaya mengembangkan kohesi sosial anggota
    organisasi yang mempunyai latar belakang berbeda. Pola pikir, asumsi, dan
    filsafat organisasi yang sama memperkecil perbedaan dan terjadinya konflik di
    antara anggota organisasi.
  4. Komitmen kepada organisasi dan kelompok.
    Budaya organisasi tidak hanya menyatukan, tetapi juga memfasilitasi
    komitmen anggota organisasi pada organisasi dan kelompok kerjanya. Budaya
    organisasi yang kondusif mengembangkan rasa memiliki dan komitmen tinggi
    terhadap organisasi dan kelompok kerjanya.
  5. Reduksi ketidakpastian.
    Budaya organisasi mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan
    kepastian. Budaya organisasi menentukan arah, tujuan yang akan dicapai, dan
    cara mencapainya. Budaya organisasi juga mengembangkan pembelajaran bagi
    anggota baru.
  6. Menciptakan konsistensi.
    Budaya organisasi menciptakan konsistensi berpikir, berperilaku, dan
    merespons lingkungan organisasi. Budaya organisasi memberikan peraturan,
    panduan, prosedur, serta pola beroperasi dan melayani konsumen, atau
    pelanggan organisasi.
  7. Motivasi.
    Budaya organisasi merupakan kekuatan tidak terlihat di belakang faktor-
    faktor organisasi yang terlihat dan dapat diobservasi. Budaya merupakan
    energi sosial yang membuat anggota organisasi untuk bertindak. Budaya
    organisasi memotivasi anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
  8. Kinerja organisasi.
    Budaya organisasi yang kondusif menciptakan, meningkatkan, dan
    mempertahankan kinerja tinggi. Budaya organisasi yang kondusif menciptakan
    kepuasan kerja, etos kerja, dan motivasi kerja karyawan. Semua faktor tersebut
    merupakan indikator kinerja tinggi dari karyawan yang akan menghasilkan
    kinerja organisasi yang juga tinggi.
  9. Keselamatan kerja.
    Budaya organisasi mempunyai pengaruh terhadap keselamatan kerja.
    Berdasarkan penelitian Richard L.Gardner, faktor-faktor penyebab kecelakaan
    industri adalah budaya organisasi perusahaan.
  10. Sumber keunggulan kompetitif.
    Budaya organisasi merupakan salah satu sumber keunggulan kompetitif.
    Budaya organisasi yang kuat mendorong motivasi kerja, konsistensi,
    efektivitas dan efisiensi, serta menurunkan ketidakpastian yang
    memungkinkan kesuksesan organisasi dalam pasar dan persaingan. Organisasi
    yang mapan mempunyai semboyan high ethcis profit dan no pain and no gain

Manfaat Budaya Organisasi


Manfaat budaya organisasi bagi perusahaan atau organisasi yang
mengimplementasikannya menurut Ismail Nawawi dalam Sudaryono (Sudaryono,
2014, hal. 46) adalah sebagai berikut:

  1. Budaya organisasi membantu mengarahkan sumber daya manusia pada
    pencapaian visi, misi, dan tujuan organisasi.
  2. Meningkatkan kekompakan tim antar berbagai departemen, divisi atau unit
    dalam organisasi sehingga mampu menjadi perekat yang mengikat orang dalam
    organisasi bersama-sama.
  3. Budaya organisasi membentuk perilaku staff dengan mendorong percampuran
    core values dan perilaku yang diinginkan, sehingga memungkinkan organisasi
    bekerja dengan lebih efisien dan efektif meningkatkan organisasi bekerja dengan
    lebih efisien dan efektif meningkatkan konsisten, menyelesaikan konflik dan
    memfasilitasi koordinasi dan control.
  4. Budaya organisasi akan meningkatkan motivasi staff dengan memberi mereka
    perasaan memiliki, loyalitas, kepercayaan, dan nilai-nilai, dan mendorong
    mereka berpikir positif tentang mereka dan organisasi. Dengan demikian,
    orgnisasi dapat memaksimalkan potensi staffnya dan memenangkan kompetisi.

Fungsi Budaya Organisasi


Berikut adalah fungsi budaya organisasi menurut Robbins (Judge, 2015, hal.
359) :

  1. Budaya menciptakan Iklim
    Iklim organisasional (organizational climate) adalah persepsi yang
    tersebar yang dimiliki para anggota organisasi mengenai organisasi dan
    lingkungan kerja mereka. Aspek budaya ini seperti semangat tim pada level
    organisasional. Ketika setiap orang memiliki perasaan umum yang sama
    mengenai apa yang terpenting atau seberapa baik bekerjanya suatu hal, maka
    efek dari tingkah laku ini akan menjadi semakin besar daripada jumlah dari
    bagian individu. Puluhan dimensi iklim telah dipelajari, meliputi inovasi,
    kreativitas, komunikasi, kehangatan, dan dukungan, keterlibatan, keselamatan,
    keadilan, keanekaragaman, serta layanan konsumen. Iklim juga mempengaruhi
    tingkah laku orang dalam beradaptasi.Jika iklim bagi keselamatan adalah positif,
    maka setiap orang akan mengenakan peralatan keselamatan dan mengikuti
    prosedur keselamatan.
  2. Budaya yang Etis
    Iklim kerja yang beretika (etchical work climate) merupakan konsep yang
    tersebar mengenai perilaku yang benar dan salah di tempat kerja yang
    mencerminkan nilai dari organisasi yang sebenarnya dan membentuk
    pengambilan keputusan yang etis bagi para anggotanya. Para peneliti telah
    mengembangkan teori iklim yang beretika. Untuk mengukur dimensi dari budaya
    yang beretika terdapat lima kategori yaitu instrumental, kepedulian,
    11
    independensi, hukum dan kode, serta aturan. Masing-masing menjelaskan pola
    pikir yang umum, ekspektasi, serta nilai dari para manajer dan para pekerja
    dalam hubungannya dengan organisasi mereka. Sebagai contoh dalam sebuah
    iklim instrumental yang beretika, maka para manajer akan membingkai
    pengambilan keputusan mereka disekitar asumsi bahwa para pekerja dan
    perusahaan termotivasi oleh kepentingan diri sendiri (egoistik). Dalam sebuah
    iklim kepedulian, sebaliknya, para manajer akan beroperasional di bawah
    ekspektasi bahwa keputusan mereka akan memengaruhi secara positif terhadap
    sejumlah besar kemungkinan bagi para pemangku kepentingan (pekerja,
    konsumen, pemasok). Iklim etis independensi bergantung pada gagasan modal
    pribadi masing-masing individu untuk menentukan perilaku di tempat kerjanya.
    Iklim hukum dan kode mensyaratkan bagi para manajer dan pekerja untuk
    menggunakan moral yang terstandarisasi secara eksternal yang melingkupi
    seperti misalnya kode etik profesional bagi norma, sedangkan iklim aturan
    cenderung untuk mengopersionalkan dengan ekspektasi yang terstandarisasi
    secara internal.
  3. Budaya dan Inovasi
    Sebagian besar perusahaan yang inovatif, sering kali ditandai dengan
    keterbukaan mereka tidak konvensional, kolaboratif, berbasis visi, budaya.
    Perusahaan perintis sering kali memiliki budaya yang inovatif karena mereka
    biasanya kecil, gesit, dan menitikberatkan pada pemecahan permasalahan agar
    dapat bertahan hidup dan berkembang.
  4. Budaya sebagai suatu Aset
    Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa budaya organisasi dapat
    menyediakan lingkungan positif yang beretika dan membantu perkembangan
    inovasi. Budaya dapat juga secara signifikan memberikan kontribusi pada dasar
    dari organisasi.
  5. Budaya sebagai sebuah kewajiban
    Budaya dapat mendorong komitmen organisasional dan meningkatkan
    konsistensi perilaku pekerja, serta memberikan manfaat bagi organisasi. Budaya
    juga berharga bagi para pekerja, karena menguraikan bagaimana hal-hal
    dilakukan dan mana yang penting. Untuk itu, budaya adalah hal yang wajib bagi
    suatu lingkungan organisasi.

Pengertian Budaya Organisasi


Budaya organisasi adalah suatu sistem berbagi arti yang dilakukan oleh para
anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi lainnya. (Judge, 2015,
hal. 355).
Pendapat Sedarmayanti dalam Samsuddin (Samsuddin, 2018, hal. 56)
bahwa budaya organisasi adalah sebuah keyakinan, sikap dan nilai yang umumnya
dimiliki, yang timbul dalam organisasi.
Menurut Edgar Schein dalam Wilson (Wilson, 2012) bahwa budaya
organisasi adalah suatu pola dari asumsi dasar yang diciptakan, ditemukan, atau
dikembangkan oleh kelompok tertentu saat belajar menghadapi masalah adaptasi
eksternal dan integrasi internal yang telah berjalan cukup baik untuk dianggap valid.
Sedangkan menurut Miller dalam Fauziah dkk. (Fauziah, 2018)
organizational culture is a group of values practiced by company management in
managing and organizing their companies in order to achieve their goals dengan
arti bahwa budaya organisasi adalah sekelompok nilai yang dipraktikkan oleh
manajemen perusahaan dalam mengelola dan mengatur perusahaan mereka untuk
mencapai tujuan mereka.
Sesuai dengan definisi dari para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
budaya organisasi merupakan suatu nilai, norma, sikap, dan peraturan yang menjadi
pembeda dari organisasi yang lain untuk membatasi kegiatan kerja dalam mencapai
tujuan organisasi.

Budaya Organisasi


Budaya organisasi di sebuah perusahaan dapat mempengaruhi kinerja
karyawan. Para karyawan harus mempelajari budaya organisasi dengan cara
bersosialisasi dengan budaya organisasi yang ada, dengan melakukan sosialisasi
diharapkan agar karyawan mengenal semua komponen budaya organisasi, seperti
nilai-nilai yang diterapkan dalam organisasi. Nilai-nilai dan keyakinan organisasi
merupakan dasar budaya organisasi. (Ernawan, 2011, hal. 88)
Budaya organisasi mempunyai peran penting dalam sistem organisasi. Secara
mendalam budaya organisasi akan ditentukan pada kondisi kerja team, pemimpin
dan ciri-ciri organisasi serta proses administrasi yang berlaku. budaya organisasi
penting, karena merupakan kebiasaan yang terdapat dalam struktur organisasi yang
mewakili aturan-aturan perilaku bisa dijalankan oleh anggota organisasi.
Budaya yang produktif pada perusahaan adalah budaya yang dapat
menjadikan organisasi menjadi kuat dan tujuan perusahaan dapat terakomodasi
(Robbins, 2008, hal. 528). Keberhasilan kinerja perusahaan berakar pada nilai-nilai
yang dimiliki dan perilaku yang menjadi kebiasaan. Budaya organisasi berpengaruh
positif terhadap kinerja karyawan. Apa yang dirasakan karyawan dan bagaimana
persepsi ini menciptakan suatu pola teladan kepercayaan, nilai-nilai, dan harapan
adalah budaya organisasi (Hanif, 2012).

Kinerja Pegawai


Menurut Jackson, 2001 (dalam Rande, 2016) kinerja merupakan hasil kerja yang
dicapai oleh pegawai dalam melakukan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya.
Untuk mencapai hal tersebut, maka harus didukung oleh kompetensi yang memadai.
Menurut Robbins, 2006 (dalam Cahyo, dkk, 2018) menyatakan bahwa untuk
mengukur kinerja karyawan secara indivu ada enam indikator, yaitu:

  1. Kualitas, kualitas kerja dapat diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas
    pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan
    kemampuan karyawan.
  2. Kuantitas, merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti
    jumlah unit,jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
  3. Efektivitas, mrupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga, uang,
    teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikan hasil dari
    setiap unit dalam penggunaan sumber daya.
  4. Komitmen kerja, merupakan suatu tingkat dimana karyawan mempunyai
    komitmen kerja dengan instansi dan tanggung jawab karyawan terhadap kantor.

Loyalitas kerja


Menurut Hasibuan, 2005 (dalam Sujiyanto, 2017) mengemukakan bahwa
loyalitas atau kesetiaan merupakan salah satu unsur yang di gunakan dalam penilaian
karyawan yang mencangkup kesetiaan terhadap pekerjaannya, jabatannya dan
organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan karyawan menjaga dan
membela organisasi didalam maupun diluar pekerjaan dari rongrongan orang yang
tidak bertanggung jawab.
Menurut Drever, 2006 (dalam Astuti, 2016) loyalitas kerja berarti kesediaan
karyawan dengan seluruh kemampuan, keterampilan, pikiran dan waktu untuk ikut
serta mencapai tujuan perusahaan dan menyimpan rahasian perusahaan serta tidak
melakukan tindakan-tindakan yang merugikan perusahaan selama orang itu masih
berstatus sebagai karyawan. Kecuali menyimpan rahasia, hal-hal itu hanya dapat
dilakukan ketika karyawan masih terikat hubungan kerja dengan perusahaan.
Menurut Sudimin, 2003 (dalam Astuti, 2016) merumuskan loyalitas sebgai
kestian kepada seseorang dan tidak meninggalkan serta menghianati yang lain pada
waktu yang di perlukan. Loyalitas kerja para pegawai terhadap organisasi akan dapat
menimbulkan rasa tanggung jawab serta menciptakan gairah dan semangat kerja.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Disiplin Kerja


Menurut Wahyudi, 2002 (dalam Cleopatra, dkk, 2015), banyak faktor yang dapat
mempengaruhi tegak tidaknya suatu disiplin dalam organisasi atau perusahaan.
Faktorfaktor tersebut antara lain :
a. Besar kecilnya pemberian kompensasi Besar kecilnya kompensasi dapat
mempengaruhi tegaknya disiplin. Para karyawan akan dapat mematuhi segala
peraturan yang berlaku, bila ia merasa mendapat jaminan balas jasa yang
setimpal dengan jerih payahnya yang telah disumbangkan bagi perusahaan.
b. Ada tidaknya keteladanan pimpinan Keteladanan pimpinan maksudnya bahwa
dalam lingkungan perusahaan, semua karyawan akan selalu memperhatikan
bagaimana pimpinan dapat menegakkan disipilin diri dari ucapannya, perbuatan
dan sikap yang dapat merugikan aturan disiplin dirinya dari ucapannya,
perbuatan dan sikap yang dapat merugikan aturan disiplin yang sudah diterapkan.
c. Pembinaan disiplin tidak akan dapat terlaksana dalam perusahaan, bila tidak ada
aturan tertulis yang pasti untuk dapat dijadikan pegangan bersama. Para
karyawan mau melakukan disiplin bila ada aturan yang jelas dan diinformasikan
kepada mereka.
d. Keberanian pimpinan mengambil tindakan Suatu disiplin akan dapat ditegakkan,
bila disamping aturan tertulis yang dijadikan acuan oleh pegawai, juga perlu
adanya sanksi. Bila ada seorang karyawan yang melanggar disiplin, maka perlu
ada keberanian pimpinan untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan tingkat
pelanggaran yang dibuatnya. Dengan adanya tindakan terhadap pelanggar
disiplin, sesuai dengan sanksi yang ada, maka semua karyawan akan merasa
takut untuk melakukan pelanggaran, dan kepada karyawan yang telah diberikan
sanksi akan berjanji tidak akan berbuat hal yang serupa lagi.
e. Ada tidaknya pengawasan pimpinan Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh
perusahaan perlu ada pengawasan, yang mengarahkan para karyawan agar dapat
melaksakan pekerjaan dengan tepat dan sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Dengan adanya pengawasan, maka karyawan akan terbiasa melaksanakan
disiplin kerja.
f. Ada tidaknya perhatian kepada para karyawan Pimpinan yang berhasil
memberikan perhatian yang besar kepada para karyawan akan dapat menciptakan
disiplin kerja yang baik. Karena ia, bukan hanya dekat dalam arti fisik tetapi juga
dekat dalam jarak batin. Pimpinan demikian akan selalu dihormati dan dihargai
oleh para karyawannya, sehingga akan berpengaruh besar kepada prestasi,
semangat kerja dan moral kerja karyawan.

Disiplin Kerja


Menurut Siagian, 2008 (dalam Cleopatra, 2015) mengemukakan bahwa
Disiplin merupakan tindakan manajemen unutk mendorong para anggota organisasi
dalam memenuhi tuntutan berbagai ketentuan tersebut.bahkan dengan optimal dan
efektifnya disiplin kerja bila diimplementasikan secara tepat dan konsiaten akan dapat
mendorong peningkatan kinerja pegawai secara menyeluruh berkaitan dengan
tercapainya sasaran kerja dengan tepat sesuai dengan waktu dan target yang telah
ditetapkan.
Menurut Sastro, 2003 (dalam Cleopatra, 2015) disiplin kerja adalah suatu sikap
menghormati, menghargai, patuh, dan taat terhadap peraturan–peraturan yang
berlaku, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya
dan tidak mengelak untuk menerima sanksi–sanksinya apabila ia melanggar tugas dan
wewenang yang diberikan kepadanya.

Konsep komitmen organisasi


Menurut Jones, 2012 (dalam Sumiyati dan Fauzan, 2014) komitmen organisasi
berhubungan dengan perasaan dan keyakinan karyawan tentang organisasi tempat dia
bekerja secara keseluruhan. Ada dua dimensi komitmen organisasi yaitu:

  1. komitmen afektif, yaitu komitmen pada saat karyawan tersebut masuk menjadi
    anggota suatu organisasi, senang, percaya, dan merasa baik berada di organisasi
    terebut dan akan melakukan yang terbaik unutk organisasi.
  2. Komitmen continuance, ketika karyawan sudah tidak memiliki komitmen dan
    keinginan yang besar untuk berada di suatu organisasi tetapi mereka memikirkan
    penghasilan yang ditinggalkan terlalu besar seperti (kehilangan senioritas,
    keamanan kerja, pensiun, tunjangan kesehatan, dan sebagainya)

Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi


Menurut David, 2008 (dalam Agustini, 2011) faktor yang mempengaruhi
komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:

  1. Faktor personal: usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman kerja,
    kepribadian.
  2. Karakteristik pekerjaan: lingkup jabatan, tantangan dalam pekerjaan, konflik peran
    dalam pekerjaan, tingkat kesulitan dalam pekerjaan.
  3. Karakteristik struktur: besar atau kecilnya organisasi, bentuk organisasi, kehadiran
    serikat pekerja, tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi.
  4. Pengalaman kerja : karyawan yang memiliki pengalaman kerja lebih lama
    dibandingkan dengan pengalaman kerja yang belum lama mempunyai tingkat
    komitmen yang berbeda.

Aspek-aspek yang terkandung dalam komitmen organisasi


Menurut Sutanto, 1999 (dalam Ratna dan Sutanto, 2015) Komitmen Organisasi
merupakan aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian dari perusahaan karena
mempunyai hubungan dengan kinerja karyawan. Seorang karyawan yang mempunyai
komitmen organisasi yang tinggi akan menganggap bahwa tujuan pribadi dan tujuan
perusahaan merupakan hal pribadi, sehingga perlu untuk di perjuangkan. Karyawan
yang memiliki komitmen akan berupaya sebaik mungkin demi tercapainya tujuan
perusahaan sehingga berdampak pada hasil kerja yang baik secara kualitas ataupun
kuantitas.
Menurut Tobing, 2009 (dalam Ratna dan Sutanto, 2015) mengajukan tiga bentuk
komitmen organisasi yaitu:

  1. Komitmen Afektif, yaitu: keterikatan emosional, identifikasi dan keterlibatan
    dalam suatu organisasi. Dalam hal ini individu menetap dalam suatu organisasi
    karena keinginannya sendiri.
  2. Komitmen Kontinuan, yaitu: komitmen individu yang didasarkan pada
    pertimbangan tentang apa yang harus dikorbankan bila akan meninggalkan
    organisasi. Dalam hal ini individu memutuskan menetap pada suatu organisasi
    karena menganggapnya sebagai suatu pemenuhan kebutuhan.
  3. Komitmen Normatif, yaitu: keyakinan individu tentang tanggung jawab terhadap
    organisasi. Individu tetap tinggal pada suatu organisasi karena merasa wajib untuk
    loyal pada organisasi tersebut.

Karakteristik Budaya Organisasi


Menurut Robbins, 1998 (dalam Soedjono, 2005) karakteristik budaya organisasi
sebagai berikut:

  1. Inovasi dan berani mengambil resiko adalah sejauh mana organisasi
    mendorong para karyawan bersikap inovatif dan berani mengambil resiko.
  2. Perhatian terhadap detil adalah sejauh mana organisasi mengharapkan
    karyawanmemperlihatkan kecermatan, analisis dan perhatian kepada rincian.
  3. Berorientasi kepada hasil adalah sejauh mana manajemen memusatkan
    perhatian pada hasil di bandingkan perhatian pada teknik dan proses yang
    digunakan untuk meraih hasil tersebut.
  4. Berorientasi kepada manusia adalah sejauh mana keputusan manajemen
    memperhitungkan efek hasil-hasil pada orang-orang di dalam organisasi.
  5. Berorientasi tim adalah sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar
    tim-tim tidak hanya pada individu-individu untuk mendukung kerjasama.
  6. Agresifitas adalah sejauh mana orang-orang dalam organisasi itu agresif dan
    kompetitif untuk menjalankan budaya.
  7. Stabilitas adalah sejauh mana kegiatan organisasi menekankan status quo
    sebagai kontras dari pertumbuhan.

Karakteristik Budaya Organisasi


Menurut Lako, 2004 (dalam Novziransyah, 2017) Budaya Organisasi
merupakan sebagai suatu pola dari asumsi-asumsi dasar yang ditemukan, diciptakan
atau dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu dengan maksud agar organisasi bias
mengatasi, menanggulangi permasalahan yang timbul akibat adaptasi eksternal dan
diterapkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang benar untuk, memahami,
memikirkan dan merasakan berteman dengan mereka-mereka tersebut. Peran strategis
budaya organisasi kurang disadari dan dipahami oleh kebanyakan orang pelaku
organisasi di Indonesia, terutama principal yaitu pemilik agent dan di percaya untuk
mengelola organisasi. Banyaknya masalah yang berhubungan dengan
ketenagakerjaan akhir-akhir ini menunjukan bahwa kesadaran manajemen terhadap
peran strategis dan implementasi budaya organisasi dalam instansi pemerintahan
masih lemah dan mengkhawatirkan,sehingga dapat berpengarub terhadap kinerja
organisasi.

Budaya Organisasi


Menurut Robbins, 2006 (dalam Jusmin, 2016) menyatakan bahwa budaya
organisasi merupakan suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota
organisasi yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi yang lain.
Budaya organisasi suatu sistem nilai yang diperoleh dan di kembangkan pola
kebiasaannya.
Menurut moeljono, 2005 (dalam Sagita, dkk, 2018) budaya yang kuat akan
mempunyai pengaruh yang besar pada perilaku anggota-anggotanya karena tingginya
tingkat kebersamaan dan intensitas menciptakan suatu iklim internal dari kendali
perilaku yang tinggi. Budaya merupakan akan dalam tradisi, maka budaya
mencerminkan apa yang dilakukan, dan bukan apa yang akan berlaku Pasti.
Menurut Tika, 2006 (dalam Sagita, dkk, 2018) menyatakan bahwa budaya
organisasi membantu kinerja karena menciptakan suatu tingkat motivasi yang luar
biasa bagi karyawan. Menurut Sutanto, 2003 (dalam Sagita , dkk, 2018) pegawai
atau karyawan sebagai penggerak operasi organisasi, jika kinerja pegawai baik, maka
kinerja organisasi juga akan meningkat. Banyak variabel yang mempengaruhi kinerja
pegawai salah satunya budaya organisasi. Budaya organisasi sebagai persepsi umum
yang dimiliki oleh seluruh anggota organisasi, sehingga setiap pegawai yang menjadi
anggota organisasi akan mempunyai nilai, keyakinan dan perilaku sesuai dengan
organisasi

Pengaruh Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Kinerja


Budaya organisasi menurut. George dan Jones (2005. 535) adalah “the set of
shared values, beliefs, and norms that influence the way employees think, feel, and
behave toward each other and toward people out side the organization”
(seperangkat nilai, kepercayaan dan norma yang dianut bersama yang
mempengaruhi cara pekerja atau pegawai berfikir, merasakan, dan berperilaku
terhadap sesama anggota organisasi dan pihak luar organisasi). Budaya organisasi
pada dasarnya berupa norma-norma baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang
dijadikan pedoman perilaku bagi seluruh anggota organisasi. Budaya organisasi
yang ada pada masing-masing pegawai akan tercermin dalam sikap dan perilaku
pegawai pada saat melaksanakan pekerjaan. Pelaksanaan pekerjaan yang
berlangsung secara terus menerus, lambat laun akan menjadi suatu kebiasaan yang
pada gilirannya akan membentuk karakter seseorang pegawai dalam menangani
setiap pekerjaannya. Dalam proses pembudayaan ini, individu menerima transver
nilai-nilai budaya (moral, agama, sosial, keteladanan) sehingga yang bersangkutan
berperilaku sopan, bermoral dan beretika menyadari tanggung jawabnya untuk
tercapainya tujuan organisasi Dengan demikian budaya organisasi ini diharapkan
tidak terhenti sebagai wacana, melainkan benar-benar dapat terwujud sebagai
“standard operating procedure” dalam bekerja.Oleh sebab itu, budaya organisasi
menjadi sangat penting bagi sebuah organisasi, karena dianggap mampu
mempengaruhi sikap dan perilaku pegawainya.Selain itu, budaya organisasi juga
dianggap mampu mempengaruhi hubungan dan suasana kerja ke arah yang lebih
baik, serta mampu mempengaruhi hasil kerja dan kinerja pegawai.

Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Kinerja


Berkenaan dengan kepemimpinan, menurut Ndraha (2003, 126) adalah
kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain melalui dirinya sendiri
dengan cara tertentu sehingga perilaku orang lain itu berubah atau tetap , menjadi
integratife. Jadi kepemimpinan merupakan gejala sosial dan hasil kegiatan
memimpin suatu unit kerja (organisasi) disebut pimpinan. Harold Koontz dan
Heinz Weihrich (1990, 344) menyatakan “ leadership is defined as influence,
that is, the art or process of influencing people so that they will strive willingly
and enthusiastically toward the achievement of group goals”. Dalam hal ini
kepemimpinan diartikan sebagai pengaruh, dimana tahap-tahap atau proses
mempengaruhi orang agar orang tersebut akan bersedia melakukannya dan secara
sukarela pula berusaha dengan keras untuk mencapai tujuan-tujuan kelompoknya.
Suatu organisasi akan berhasil mencapai tujuan bila orang-orang yang bekerja
dalam organisasi itu dapat melakukan tugasnya dengan baik sesuai bidang tugas
dan tanggung jawabnya masing-masing. Hal ini membawa konsekuensi bahwa
setiap pimpinan berkewajiban memberikan perhatian yang sungguh-sungguh
untuk membina, menggerakkan, mengarahkan semua potensi karyawan
dilingkungannya agar terwujud volume dan beban kerja yang terarah pada tujuan
(M. Thoha, 2001:74).
Menurut Bass dan Avolio dalam Darwito (2008), peran kepemimpinan atasan
dalam memberikan kontribusi pada karyawan untuk pencapaian kinerja yang
optimal dilakukan melalui lima cara yaitu: (1) pemimpin mengklarifikasi apa yang
diharapkan dari karyawan, secara khusus tujuan dan sasaran dari kinerja mereka,
(2) pemimpin menjelaskan bagaimana memenuhi harapan tersebut, (3) pemimpin
mengemukakan kriteria dalam melakukan evaluasi dari kinerja secara efektif, (4)
pemimpin memberikan umpan balik ketika karyawan telah mencapai sasaran, dan
(5) pemimpin mengalokasikan imbalan berdasarkan hasil yang telah mereka
capai.
Kepemimpinan merupakan sebuah proses dalam mempengaruhi dan memberikan
dukungan kepada orang lain atau bawahan untuk bekerja dengan baik dalam
rangka pencapaian tujuan organisasi. Dengan demikian kepemimpinan dapat
dipahami sebagai kemampuan mempengaruhi bawahan agar terbentuk kerjasama
di dalam kelompok untuk mencapai tujuan. Apabila orang-orang yang menjadi
pengikut atau bawahan dapat dipengaruhi oleh kekuatan kepemimpinan yang
dimiliki oleh atasan maka mereka akan termotivasi mau mengikuti kehendak
pimpinannya dengan sadar, rela, dan sepenuh hati. Upaya mempengaruhi dan
memotivasi bawahan dapat dilakukan dengan memberikan pengarahan kepada
bawahan (Telling), memberikan dukungan kepada bawahan (Selling),
mengikutsertakan bawahan dalam pengambilan kebijakan (Participating),
memberikan wewenang dan pendelegasian tugas kepada bawahan (Delegating).
(Hersey-Blanchard dalam Safaria, 2004: 70)

Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja


Budaya organisasi merupakan keyakinan dan nilai-nilai yang dituangkan dalam
bentuk norma-norma atau pedoman bagi anggota organisasi dalam berperilaku
dan beraktifitas dilingkungan organisasi. Nilai-nilai yang dijadikan pedoman
tersebut merupakan hasil seleksi yang telah dirumuskan untuk diberlakukan sesuai
dengan tujuan dan perubahan organisasi yang diinginkan seperti :
1) Perilaku, dapat dilihat dari proses interaksi yang terjadi diantara para
anggota organisasi
2) Norma, merupakan sejumlah standar perilaku yang menjadi batasan,
dan harus dipatuhi oleh para anggota organisasi
3) Nilai-nilai dominan, ini merupakan ciri dari organisasi yang
membedakannya dengan organisasi lainnya, dan organisasi
melembagakan nilai-nilai ini dan mengharapkan anggota untuk
menjiwainya.
4) Filosofi. Merupakan seperangkat keyakinan dasar dan kepercayaan
yang dipegang kuat oleh organisasi
5) Peraturan. Merupakan pedoman yang ketat yang tercantum secara
tertulis di dalam kebijakan organisasi.
6) Iklim organisasi. Merupakan suasana umum yang dirasakan oleh
anggota organisasi, melalui bangunan fisik, setting ruang kerja, proses
komunikasi dan lain sebagainya.
( Luthans dalam Safaria, 2004: 138-139)

Kinerja Pegawai


Mangkunegara (2007:9) mendefinisikan kinerja karyawan (prestasi kerja) adalah
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan
dalam melaksakan tugasnya sesuai tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kemudian Gomes (1995:195) mengemukakan definisi kinerja karyawan sebagai
ungkapan seperti out put, efisiensi serta efektivitas sering dihubungkan dengan
produktivitas.
Sedang Faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang menurut Gibson dalam
Nawawi (2013:213) ditentukan oleh kemampuan dan motivasinya untuk
melaksanakan pekerjaan, Selanjutnya dikatakan pelaksanaan pekerjaan ditentukan
oleh interaksi kemampuan dan motivasi. Pendapat lain tentang faktor–faktor yang
mempengaruhi prestasi kerja karyawan/pegawai dikemukakan oleh
Mangkunegara (2002 :67) bahwa :
Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan
(ability) dan faktor motivasi (motivation). Hal ini sesuai dengan pendapat
Keith Davis yang merumuskan bahwa :
-Human Performen = Ability + Motivation,
-Motivation = Attitude + Situation,

  • Ability = Knowledge +Skill.
    Penjelasan :
    1) Faktor kemampuan (ability), secara psikologis, kemampuan (ability)
    terdiri dari kempuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge
    +skill). Artinya pimpinan dan karyawan yang memiliki IQ (110 – 120) di
    atas rata-rata apalagi superior dan genius dengan pendidikan yang
    memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan,
    maka akan lebih mudah mencapai kinerja maksimal.
    2) Faktor motivasi (Motivation), motivasi diartikan suatu sikap(attitude)
    pimpinan dan karyawan terhadap situasi kerja (situation) dilingkungan
    organisasinya. Mereka yang bersikap positive (pro) terhadap situasi
    kerjanya, akan menunjukkan motivasi kerja yang tinggi demikian
    sebaliknya, jika mereka bersikap negatife (kontra) terhadap situasi
    kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja
    yang dimaksud antara lain mencakup hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim
    kerja, kebijakan pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja.

Konsep Kinerja


Mangkunegara (2002:67) mengemukakan bahwa istilah kinerja berasal dari kata
job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi
sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Pengertian kinerja (prestasi kerja)
adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Menurut Gomes (2005:135) bahwa performance adalah catatan yang
dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama periode waktu
tertentu. Sedangkan menurut Soeprihanto (2001:7) kinerja adalah pelaksanaan
pekerjaan oleh karyawan atau anggota organisasi baik secara individual atau
kelompok. Pekerjaan ini bukan berarti hanya dilihat atau dinilai pisiknya, tetapi
meliputi berbagai hal seperti kemampuan kerja, disiplin, hubungan kerja,
prakarsa, kepemimpinan dan hal-hal khusus sesuai dengan bidang dan level
pekerjaan yang dijabatnya.
Pendapat senada dikemukakan oleh Prawirosentono (1999:2) bahwa kinerja
adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam
suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing,
dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak
melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.
Bacal (2005:117) mengemukakan pengertian kinerja adalah penyelesaian
pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, kreativitas, dan inisiatif sesuai
dengan target yang telah ditetapkan”. Hal ini berarti suatu hasil kerja bukan
semata-mata dilihat dari prestasi kerja yang telah dicapai, tetapi dilihat juga waktu
yang diperlukan dalam menyelesaikan pekerjaan, keselarasan keahlian dan
kemampuan yang dimiliki dengan pekerjaan yang dilakukan, penggunaan caracara yang inovatif dalam menyelesaikan pekerjaan dan gagasan atau ide yang
dikeluarkan untuk menyelesaikan pekerjaan dan mencapai hasil pekerjaan
maksimal. Dengan demikian efektifitas kinerja merupakan kemampuan untuk
memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan. Dengan kata lain, seorang pegawai yang efektif adalah seorang
yang dapat memilih pekerjaan yang harus dilakukan dengan metode (cara) yang
tepat untuk mencapai tujuan.
Menurut Timple (dalam Mangkunegara, 2002:15), faktor-faktor kinerja terdiri
dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal (disposisional) yaitu
faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang. Misalnya kinerja seseorang
baik disebabkan karena mempunyai kemampuan tinggi dan seseorang itu tipe
pekerja keras, sedangkan seseorang mempunyai kinerja jelek disebabkan orang
tersebut mempunyai kemampuan rendah dan orang tersebut tidak memiliki upayaupaya untuk memperbaiki kemampuannya. Faktor eksternal yaitu faktor-faktor
yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan. Seperti
perilaku, sikap, dan tindakan-tindakan rekan kerja, bawahan atau pimpinan,
fasilitas kerja, dan iklim organisasi.
Berkaitan dengan indikator kinerja, Sudirman dan Teguh Wijinarko (2000:39)
mengemukakan bahwa indikator kinerja tidak hanya menunjukkan apa yang
hendak dicapai oleh kegiatan, tetapi sejauh mana sumber-sumber daya yang
digunakan secara effisien, efektif dan ekonomis bagi pelaksanaan kegiatan
dimaksud. Indikator kinerja ini mempunyai peranan antara lain: 1) sebagai ukuran
yang digunakan untuk pencapaian kinerja, 2) sebagai sarana untuk memonitor
sejauh mana upaya telah dilakukan, 3) sebagai sarana untuk mengevaluasi
pencapaian kinerja yang telah ditetapkan, 4) sebagai alat komunikasi antara
bawahan dengan pimpinan dalam rangka memperbaiki kinerja organisasi.
Selanjutnya menurut Sedarmayanti (2007:198) indikator kinerja merupakan
sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk
menilai atau melihat tingkat kinerja, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan,
maupun setelah kegiatan selesai. Indikator kinerja digunakan untuk meyakinkan
bahwa kinerja organisasi/unit kerja yang bersangkutan menunjukkan peningkatan
kemampuan dalam rangka menuju tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Secara umum, indikator kinerja memiliki fungsi sebagai berikut: memperjelas
tentang apa, berapa dan kapan kegiatan dilaksanakan. Menciptakan konsensus
yang dibangun oleh berbagai pihak terkait untuk menghindari kesalahan
interpretasi selama pelaksanaan kebijakan program/kegiatan dan dalam menilai
kinerjanya. Membangun dasar bagi pengukuran, analisis, dan evaluasi kineja
organisasi/unit kerja.

Konsep Kepemimpinan


Masalah kepemimpinan sebenarnya telah muncul bersamaan dengan dimulainya
sejarah peradaban manusia, yaitu sejak manusia menyadari pentingnya hidup
berkelompok untuk mencapai tujuan bersama. Mereka membutuhkan seseorang
atau beberapa orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan dari pada yang lain.
Terlepas dengan tujuan apa kelompok manusia tersebut dibentuk. Hal ini tidak
dapat dipungkiri karena manusia memiliki keterbatasan dan kelebihan-kelebihan
tertentu. Dalam kehidupan organisasi , pimpinan tidak mungkin bekerja sendiri,
ia memerlukan sekelompok orang lain yang populer dikenal sebagai bawahan.
Bawahan tersebut digerakkan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan
sumbangsihnya kepada organisasi, terutama dalam bekerja.
Berkenaan dengan kepemimpinan, menurut Ndraha (2003:126) kepemimpinan
atau leadership dari kata pimpin (leader) adalah kemampuan seseorang untuk
mempengaruhi orang lain melalui dirinya sendiri dengan cara tertentu sehingga
perilaku orang lain itu berubah atau tetap , menjadi integratife. Jadi kepemimpinan
merupakan gejala sosial dan hasil kegiatan memimpin suatu unit kerja (organisasi)
disebut pimpinan.
Koontz dan Weihrich (1990:344) menyatakan “ leadership is defined as
influence, that is, the art or process of influencing people so that they will strive
willingly and enthusiastically toward the achievement of group goals”. Dalam hal
ini kepemimpinan diartikan sebagai pengaruh, dimana tahap-tahap atau proses
mempengaruhi orang agar orang tersebut akan bersedia melakukannya dan secara
sukarela pula berusaha dengan keras untuk mencapai tujuan-tujuan kelompoknya.
Burns dalam Suryanto (2009:288) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah
hubungan antara pemimpin dan pengikutnya yang membawa perubahan pada
keduanya (pemimpin dan pengikut) tersebut. Lebih lanjut, kepemimpinan akan
muncul jika seorang atau lebih bersama-sama dengan orang lain berada dalam
satu upaya dimana pemimpin dan pengikut secara bersama-sama mengusahakan
dan mengupayakan motivasi dan moralitas dalam organisasi mereka kepada
tingkat yang lebih tinggi..
Menurut Uchyana (2002:133) pengertian kepemimpinan pada dasarnya memiliki
unsur tertentu yang sama yaitu kepengikutan, tujuan dan kegiatan mempengaruhi.
Keberadaan kepemimpinan disebabkan kepengikutan, adanya pemimpin karena
adanya pengikut. Seseorang menjadi atau dijadikan pemimpin, karena adanya
pengikut.Tanpa pengikut/ bawahan semua kualitas kepemimpinan seorang atasan
akan menjadi tidak relevan. Terkandung makna bahwa para pemimpin yang
efektif harus mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan menjalin relasi
dengan pengikut/bawahan mereka.
Kepemimpinan timbul dan tumbuh sebagai hasil dari interaksi otomatis diantara
pemimpin dan individu-individu yang dipimpin. Kepemimpinan ini dapat
berfungsi atas dasar kekuasaan pemimpin untuk mengajak, mempengaruhi, dan
menggerakan orang-orang lain(bawahan/pengikut) untuk melakukan sesuatu, guna
pencapaian satu tujuan tertentu. Karena itu, kepemimpinan dapat dipahami
sebagai kemampuan mempengaruhi bawahan agar terbentuk kerjasama di dalam
kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Apabila orang-orang yang menjadi
pengikut atau bawahan dapat dipengaruhi oleh kekuatan kepemimpinan yang
dimiliki oleh atasan maka mereka akan mau mengikuti kehendak pimpinannya
dengan sadar, rela, dan sepenuh hati, bukannya takut karena adanya sanksi yang
dapat dijatuhkan oleh pimpinan.
Dalam upaya mempengaruhi tersebut, seorang pemimpin menerapkan gaya yang
tidak sama dalam setiap situasi. Gaya kepemimpinan atau leadership style
menurut Thoha (2003:49) adalah “norma perilaku yang digunakan seseorang pada
saat mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat”.

Konsep Budaya Organisasi


Secara parsial penggertian budaya, dan organisasi mempunyai pengertian yang
berbeda, dan budaya organisasipun mempunyai pengertian yang berbeda pula.
Kata budaya itu sendiri adalah sebagai suatu perkembangan dari bahasa
Sansekerta „budhayah‟ yaitu bentuk jamak dari buddhi atau akal, dan kata
majemuk budi-daya, yang berarti daya dari budi, dengan kata lain ”budaya adalah
daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa. Sedangkan kebudayaan
merupakan pengembangan dari budaya yaitu hasil dari cipta, karsa dan rasa
tersebut”. ( Widagdho, 2004:20). Pendapat lain dikemukakan oleh G.Owen dalam
Nawawi (2013:5) bahwa budaya adalah suatu sistem pembagian nilai dan
kepercayaan yang berinteraksi dengan orang dalam suatu organisasi, struktur
organisasi, dan sistem kontrol yang menghasilkan norma perilaku.
Istilah organisasi menurut Ndraha (2003:235) berasal dari bahasa Inggris
organization (latin, organizare, berarti membentuk suatu kebulatan dari bagianbagian yang berkaitan satu dengan yang lain). Jadi organisasi dapat dipandang
sebagai produk organizing. Sedangkan Robbin, dalam Akdon, (2009:45)
berpendapat bahwa organisasi adalah satuan (entity) sosial yang dikoordinasikan
secara sadar dengan sebuah batasan yang relative dapat diidentifikasi, yang
bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama
atau sekelompok tujuan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa organisasi itu ada sebagai wahana untuk
mencapai tujuan, dan tujuan tersebut biasanya tidak dapat dicapai oleh individuindividu yang bekerja sendiri, atau dimungkinkan hal tersebut dapat dicapai secara
lebih efisien melalui usaha kelompok. Organisasi dikatakan berhubungan dengan
aspek sosial, karena memang subyek dan obyek nya adalah manusia yang diikat
oleh nilai-nilai tertentu. Nilai adalah hakekat moralitas kehendak untuk memenuhi
kewajiban manusia, baik dalam organisasi formal maupun organisasi informal (
Nawawi, 2013:3).
Budaya organisasi menurut Jennifer M. George dan Gareth R. Jones ( 2005.535)
adalah “the set of shared values, beliefs, and norms that influence the way
employees think, feel, and behave toward each other and toward people out side
the organization” (seperangkat nilai, kepercayaan dan norma yang dianut bersama
yang mempengaruhi cara pekerja atau pegawai berfikir, merasakan, dan
berperilaku terhadap sesama anggota organisasi dan pihak luar organisasi).
Sedangkan Sedarmayanti (2007:75) menyatakan bahwa budaya organisasi adalah
sebuah keyakinan, sikap dan nilai yang umumnya dimiliki, yang timbul dalam
organisasi, dikemukakan lebih sederhana budaya adalah cara kita melakukan
sesuatu, disini pola nilai, norma keyakinan, sikap dan asumsi ini mungkin tidak
diungkapkan, tetapi akan membentuk cara orang berperilaku dan melakukan
sesuatu.
Apabila dilihat dari bentuknya, menurut Daft dalam Nawawi, (2013:6-7) budaya
organisasi terdiri atas dua lapisan, yaitu:
(1) lapisan yang mudah dilihat dan dipandang mewakili budaya organisasi
secara menyeluruh yang disebut visibele artifacts; dan (2) lapisan yang tidak
kasat mata. Visibele artifacts terdiri atas cara orang berperilaku, berbicara,
dan berbandan. Simbul-simbul yang dipakai, kegiatan protokoler dan
cerita/informasi yang sering dibicarakan oleh para anggota organisasi.
Lapisan ke dua terdiri atas nilai-nilai pokok, filosofi, asumsi, kepercayaan,
dan proses berfikir dalam organisasi. Lapisan inilah yang sesungguhnya
oleh Daft disebut budaya organisasi

Indikator Budaya Organisasi


Di dalam organisasi kesuksesan sebuah organisasi dapat dilihat dari
beberapa indikator budaya organisasinya bagaimana sikap yang diambil dapat
dipakai sebagai acuan esensial dalam memahami serta mengukur keberadaan
budaya organisasi.
Dalam hal ini Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kabanjahe memiliki
indikator yang telah ditetapkan pada program Internalisasi Corporate Value
(ICV) sebagai berikut :

  1. Nilai Integritas
  2. Nilai Profesionalisme
  3. Nilai Sinergi
  4. Nilai Pelayanan
  5. Nilai Kesempurnaan

Fungsi Budaya Organisasi


Fungsi budaya organisasi menunjukkan peranan atau kegunaan dari
budaya organisasi. Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi juga oleh seberapa
besar peranan budaya bagi suatu organisasi.
Menurut Robert Kreitner dan Angelo Kinicki, dalam Wibowo (2016:45)
fungsi budaya organisasi dibagi menjadi 4, yaitu adalah :

  1. “Memberi anggota identitas orgasisaonal
  2. Memfasilitasi komitmen kolektif
  3. Meningkatkan stabilitas sistem sosial
  4. Membentuk perilaku”

Komponen Budaya Organisasi


Dalam budaya organisasi terdapat juga komponen budaya. Namun peneliti
hanya akan mengambil komponen budaya organisasi yang dikemukakan oleh
seorang ahli.
Pendapat Jason A. Colquitt, dalam Wibowo (2016:42) terdapat tiga
komponen utama dalam budaya organisasi. Model-model tersebut adalah :

  1. “Observable Artifacts
  2. Espoused Values
  3. Basic Understanding Assumptions”

Tipe Budaya Organisasi


Luasnya pengertian budaya organisasi membuka peluang timbulnya
berbagai pandangan tentang tipe-tipe budaya organisasi. Tipe yang dikembangkan
beragam dengan sudut pandang masing-masing.
Pendapat dari Jeff Cartwright dalam Wibowo (2016:19) ada empat
tipologi budaya yang dapat pula dipandang sebagai siklus hidup budaya, yaitu
sebagai berikut :

  1. “The monoculture
  2. The superordinate culture
  3. The divisive culture
  4. The disjunctive culture”

Karakteristik Budaya Organisasi


Budaya organisasi dalam suatu organisasi yang satu dapat berbeda dengan
yang ada dalam organisasi lain yang dapat dilihat melalui karakteristik budaya
yang dianut oleh organisasi itu sendiri. Namun, budaya organisasi menunjukkan
ciri, sifat, dan elemen yang terdapat dalam budaya organisasi.
Menurut pendapat lain, Stephen P. Robbins dalam Wibowo (2016:33)
terdapat tujuh dimensi karakteristik budaya, yaitu :

  1. Innovation and risk taking
  2. Attention to detail
  3. Outcome orientation
  4. People orientation
  5. Team orientation
  6. Aggressiveness
  7. Stability

Pengertian Budaya Organisasi


Budaya organisasi didefinisikan sebagai “nilai-nilai yang menjadi
pegangan sumber daya manusia dalam menjalankan kewajibannya dan juga
perilakunya didalam organisasi.” Nilai-nilai inilah yang akan memberi jawaban
apakah suatu tindakan benar atau salah dan apakah suatu perilaku dianjurkan atau
tidak. Menurut Fahmi (2017:117) “Budaya organisasi merupakan hasil proses
melebur gaya budaya dan perilaku tiap individu yang dibawa sebelumnya ke
dalam sebuah norma-norma dan filosofi yang baru, yang memiliki energi serta
kebanggaan kelompok dalam menghadapi sesuatu dan tujuan tertentu”. Menurut
Torang (2014:106) “Budaya organisasi dapat juga dikatakan sebagai kebiasaan
yang terus berulang-ulang dan menjadi nilai dan gaya hidup oleh sekelompok
individu dalam organisasi yang diikuti oleh individu berikutnya.”
Sementara itu menurut Effendy (2015:8) “Budaya organisasi didefenisikan
sebagai norma, nilai-nilai, asumsi, kepercayaan, filsafat, kebiasaan organisasi, dan
sebagainya yang dikembangkan dalam waktu yang lama oleh pendiri, pemimpin,
dan anggota organsasi yang disosialisasikan dan diajarkan kepada anggota baru
serta diterapkan dalam aktivitas organisasi dalam memproduksi produk, melayani
para konsumen, dan mencapai tujuan organisasi.”

Aspek-aspek yang terkandung dalam komitmen organisasi


Menurut Sutanto, 1999 (dalam Ratna dan Sutanto, 2015) Komitmen Organisasi
merupakan aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian dari perusahaan karena
mempunyai hubungan dengan kinerja karyawan. Seorang karyawan yang mempunyai
komitmen organisasi yang tinggi akan menganggap bahwa tujuan pribadi dan tujuan
perusahaan merupakan hal pribadi, sehingga perlu untuk di perjuangkan. Karyawan
yang memiliki komitmen akan berupaya sebaik mungkin demi tercapainya tujuan
perusahaan sehingga berdampak pada hasil kerja yang baik secara kualitas ataupun
kuantitas.
Menurut Tobing, 2009 (dalam Ratna dan Sutanto, 2015) mengajukan tiga bentuk
komitmen organisasi yaitu:

  1. Komitmen Afektif, yaitu: keterikatan emosional, identifikasi dan keterlibatan
    dalam suatu organisasi. Dalam hal ini individu menetap dalam suatu organisasi
    karena keinginannya sendiri.
  2. Komitmen Kontinuan, yaitu: komitmen individu yang didasarkan pada
    pertimbangan tentang apa yang harus dikorbankan bila akan meninggalkan
    organisasi. Dalam hal ini individu memutuskan menetap pada suatu organisasi
    karena menganggapnya sebagai suatu pemenuhan kebutuhan.
  3. Komitmen Normatif, yaitu: keyakinan individu tentang tanggung jawab terhadap
    organisasi. Individu tetap tinggal pada suatu organisasi karena merasa wajib untuk
    loyal pada organisasi tersebut

Karakteristik Budaya Organisasi


Menurut Robbins, 1998 (dalam Soedjono, 2005) karakteristik budaya organisasi
sebagai berikut:

  1. Inovasi dan berani mengambil resiko adalah sejauh mana organisasi
    mendorong para karyawan bersikap inovatif dan berani mengambil resiko.
  2. Perhatian terhadap detil adalah sejauh mana organisasi mengharapkan
    karyawanmemperlihatkan kecermatan, analisis dan perhatian kepada rincian.
  3. Berorientasi kepada hasil adalah sejauh mana manajemen memusatkan
    perhatian pada hasil di bandingkan perhatian pada teknik dan proses yang
    digunakan untuk meraih hasil tersebut.
  4. Berorientasi kepada manusia adalah sejauh mana keputusan manajemen
    memperhitungkan efek hasil-hasil pada orang-orang di dalam organisasi.
  5. Berorientasi tim adalah sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar
    tim-tim tidak hanya pada individu-individu untuk mendukung kerjasama.
  6. Agresifitas adalah sejauh mana orang-orang dalam organisasi itu agresif dan
    kompetitif untuk menjalankan budaya.
  7. Stabilitas adalah sejauh mana kegiatan organisasi menekankan status quo
    sebagai kontras dari pertumbuhan.

Karakteristik Budaya Organisasi


Menurut Lako, 2004 (dalam Novziransyah, 2017) Budaya Organisasi
merupakan sebagai suatu pola dari asumsi-asumsi dasar yang ditemukan, diciptakan
atau dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu dengan maksud agar organisasi bias
mengatasi, menanggulangi permasalahan yang timbul akibat adaptasi eksternal dan
diterapkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang benar untuk, memahami,
memikirkan dan merasakan berteman dengan mereka-mereka tersebut. Peran strategis
budaya organisasi kurang disadari dan dipahami oleh kebanyakan orang pelaku
organisasi di Indonesia, terutama principal yaitu pemilik agent dan di percaya untuk
mengelola organisasi. Banyaknya masalah yang berhubungan dengan
ketenagakerjaan akhir-akhir ini menunjukan bahwa kesadaran manajemen terhadap
peran strategis dan implementasi budaya organisasi dalam instansi pemerintahan
masih lemah dan mengkhawatirkan,sehingga dapat berpengarub terhadap kinerja
organisasi

Budaya Organisasi


Menurut Robbins, 2006 (dalam Jusmin, 2016) menyatakan bahwa budaya
organisasi merupakan suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota
organisasi yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi yang lain.
Budaya organisasi suatu sistem nilai yang diperoleh dan di kembangkan pola
kebiasaannya.
Menurut moeljono, 2005 (dalam Sagita, dkk, 2018) budaya yang kuat akan
mempunyai pengaruh yang besar pada perilaku anggota-anggotanya karena tingginya
tingkat kebersamaan dan intensitas menciptakan suatu iklim internal dari kendali
perilaku yang tinggi. Budaya merupakan akan dalam tradisi, maka budaya
mencerminkan apa yang dilakukan, dan bukan apa yang akan berlaku Pasti.
Menurut Tika, 2006 (dalam Sagita, dkk, 2018) menyatakan bahwa budaya
organisasi membantu kinerja karena menciptakan suatu tingkat motivasi yang luar
biasa bagi karyawan. Menurut Sutanto, 2003 (dalam Sagita , dkk, 2018) pegawai
atau karyawan sebagai penggerak operasi organisasi, jika kinerja pegawai baik, maka
kinerja organisasi juga akan meningkat. Banyak variabel yang mempengaruhi kinerja
pegawai salah satunya budaya organisasi. Budaya organisasi sebagai persepsi umum
yang dimiliki oleh seluruh anggota organisasi, sehingga setiap pegawai yang menjadi
anggota organisasi akan mempunyai nilai, keyakinan dan perilaku sesuai dengan
organisasi.

Pengaruh Budaya Organisasi dan Lingkungan Kerja TerhadapKinerja Karyawan


Kinerja bukan merupakan karakteristik individu, seperti bakat atau
kemampuan, namun perwujudan dari bakat atau kemampuan itu sendiri.
Kinerja merupakan perwujudan kemampuan dalam bentuk karya nyata.
Kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai karyawan dalam
mengemban tugas dan pekerjaan yang berasal dari perusahan. Menurut
Rivai dan Mulyadi (2012, p.374) menyatakan bahwa budaya organisasi
adalah suatu kerangka kerja yang menjadi pedoman tingkah laku sehari hari dan membuat keputusan untuk karyawan dan mengarahkan
tindakan mereka untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan menurut
Danang (2012, p.43) lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada
di sekitar karyawan dan dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas – tugas yang dibebankan.

Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


Masalah lingkungan kerja dalam suatu organisasi sangatlah penting,
dalam hal ini diperlukan adanya pengaturan maupun penataan faktor –
faktor lingkungan kerja dalam pencapaian kinerja karyawan. Menurut
Sedarmayanti (2011, p.26) lingkungan kerja merupakan keseluruhan
alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitar dimana
seseorang bekerja, metode kerja, serta pengaturan kerjanya baik secara
perorangan maupun kelompok.

Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan


Budaya organisasi dijadikan sebagai pengendali dan arah dalam
membentuk sikap dan perilaku manusia yang ada dalam organisasi.
Budaya organisasi diharapkan akan memberikan pengaruh yang positif
terhadap pribadi anggota organisasi dalam mencapai kinerja karyawan.
Menurut Wahab (2008, p.212), budaya organisasi merupakan pola
keyakinan dan nilai – nilai (Values) organisasi yang dipahami, dijiwai,
dan dipraktikkan oleh organisasi, sehingga pola tersebut memberikan
arti tersendiri dan menjadi dasar aturan berperilaku dalam organisasi.

Indikator – Indikator Kinerja Karyawan


Menurut Bangun (2012, p.234), indikator kinerja karyawan dibagi
menjadi lima macam yaitu ; Jumlah Pekerjaan, Kualitas Pekerjaan,
Ketepatan Waktu, Kehadiran, dan Kemampuan Kerja Sama. Sedangkan
menurut Mondy, Noe, Premeaux dalam Donni Juni Priansa (2014,
p.271) menyatakan indikator dalam pengukuran kinerja karyawan
adalah :

  1. Kuantitas Pekerjaan (Quantity Of Work)
    Kuantitas pekerjaan berhubungan dengan volume pekerjaan dan
    produktivitas kerja yang dihasilkan oleh pegawai dalam waktu
    tertentu.
  2. Kualitas Pekerjaan (Quality Of Work)
    Kualitas pekerjaan berhubungan dengan pertimbangan ketelitian,
    presisi, kerapian, dan kelengkapan didalam menangani tugas tugas
    yang ada di dalam organisasi.
  3. Kemandirian (Dependability)
    Kemandirian berkenaan dengan pertimbangan derajat kemampuan
    pegawai untuk bekerja dan mengemban tugas secara mandiri dengan
    meminimalisir bantuan orang lain. Kemandirian juga
    menggambarkan kedalaman komitmen yang dimiliki oleh pegawai.
  4. Inisiatif (Initiative)
    Inisiatif berkenaan dengan pertimbangan kemandirian, flesksibilitas
    berfikir, dan kesediaan untuk menerima tanggung jawab.
  5. Adaptabilitas (Adaptability)
    Adaptabilitas berkenaan dengan kemampuan untuk beradaptasi,
    mempertimbangan kemampuan untuk bereaksi terhadap mengubah
    kebutuhan dan kondisi kondisi.
  6. Kerjasama (Coorporation)
    Kerjasama berkaitan dengan pertimbangan kemampuan untuk
    bekerjasama, dengan orang lain. Apakah assignement, mencangkup
    lembur dengan sepenuh hati.

Tujuan Penilaian Kinerja


Menurut Werther dan Davis dalam Donni Juni Priansa (2014, p.272)
tujuan dari penilaian kinerja adalah :

  1. Peningkatan Kinerja (Performance Improvement)
    Hasil penilaian kinerja memungkinkan manajer dan pagawai untuk
    mengambil tindakan yang berhubungan dengan peningkatan kinerja.
  2. Penyesuaian kompensasi (Compensation Adjustment)
    Hasil penilaian kinerja membantu para pengambil keputusan untuk
    menentukan siapa saja yang berhak menerima kenaikan gaji atau
    sebaliknya.
  3. Keputusan Penempatan (Placement Decision)
    Hasil penilaian kinerja memberikan masukan tentang promosi,
    transfer dan demosi bagi pegawai.
  4. Pengembangan dan Pelatihan (Training and Development Needs)
    Hasil penelitian kinerja membatu untuk mengevaluasi kebutuhan
    pelatihan dan pengembangan bagi pegawai agar kinerja mereka lebih
    optimal.
  5. Perencanaan dan Pengembangan Karir (Career Planning and
    Development)
    Hasil penelitian kinerja memandu untuk menentukan jenis karir dan
    potensi karir yang dapat dicapai.
  6. Prosedur Perekrutan (Process Deficiencies)
    Hasil penelitian kinerja mempengaruhi prosedur perekrutan pegawai
    yang berlaku didalam organisasi.
  7. Kesalahan Desain Pekerjaan dan Ketidak Akuratan Informasi
    (Information Inacuracies and Job-Design Errors)
    Hasil penilaian kinerja membantu dalam menjelaskan apa saja
    kesalahan yang telah terjadi dalam manajemen SDM terutama
    dibidang informasi kepegawaian, desain jabatan derta informasi
    SDM lainnya.
  8. Kesempatan Yang Sama (Equal Employment Oppurtunity)
    Hasil penilaian kinerja menunjukkan keputusan penempatan tidak
    diskriminatif karna setiap pegawai memiliki kesempatan yang sama.
  9. Tantangan Eksternal (External Challenges)
    Hasil penilaian kinerja dapat menggambarkan sejauh mana faktor
    eksternal seperti keluarga, keuangan pribadi, kesehatan dan lainnya
    mempengaruhi pegawai dalam mengemban tugas dan pekerjaan.
  10. Umpan Balik (Feedback)
    Hasil penilaian kinerja memberikan umpan balik bagi kepentingan
    kepegawaian terutama departemen SDM serta terkait dengan
    kepentingan pegawai itu sendiri.

Langkah Peningkatan Kinerja


Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2013, p.22) menyatakan ada dua
langkah dalam peningkatan kinerja yaitu :

  1. Mengetahui adanya kekurangan dalam bekerja. Dapat dilakukan
    melalui tiga cara :
    a. Mengidentifikasikan masalah melalui data dan informasi yang
    dikumpulkan terus – menerus mengenai fungsi – fungsi bisnis.
    b. Mengidentifikasikan masalah melaui karyawan.
    c. Memperhatikan masalah yang ada.
  2. Mengenai kekurangan dan tingkat keseriusan. Untuk memperbaiki
    keadaan tersebut, diperlukan beberapa informasi antara lain :
    a. Mengidentifikasikan masalah setepat mungkin.
    b. Menentukan tingkat keseriusan masalah.
    c. Mengidentifikasikan hal – hal yang mungkin menjadi penyebab
    kekurangan, baik yang berhubungan dengan pegawai itu sendiri.
    d. Mengembangkan perencanaan tindakan untuk menanggulangi
    penyebab kekurangan.
    e. Melakukan rencana tindakan.
    f. Melakukan evaluasi apakah masalah sudah teratasi atau belum.
    g. Mulai dari awal apabila perlu.

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Menurut Amstrong dan Baron dalam Wibowo (2016, p.84) kinerja
dipengaruhi oleh :

  1. Personal Factors, ditunjukan oleh tingkat keterampilan, komponen
    yang dimiliki, motivasi dan komitmen individu.
  2. Leadership Factors, ditentukan oeh kualitas dorongan, bimbingan
    dan dukungan yang dilakukan oleh manajer dan team Leader.
  3. Team Factors, ditunjukan oleh kualitas dukungan yang diberikan
    oleh rekan sekerja.
  4. System Factors, ditunujkan oleh adanya sistem kerja dan fasilitas
    yang diberikan organisasi.
  5. Contextual / Situational Factors, ditunjukan oleh tingginya tingkat
    tekanan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal.

Pengertian Kinerja Karyawan


Menurut Bangun (2012, p.231), “Kinerja” adalah “Hasil pekerjaan yang
dicapai karyawan berdasarkan persyaratan – persyaratan pekerjaan”.
Kinerja dalam Bahasa Inggris disebut dengan Performance, yang juga
memiliki arti prestasi. Maka jika dilihat secara harfiah arti dari kinerja
adalah hasil / prestasi kerja / usaha seseorang. Dalam organisasi, kinerja
dapat diartikan sebagai pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam
organisasi (Soekidjo Notoatmodjo 2009, p.124). According to Ilgen and
Schneider in Sanusi (2015), performance is what the person or the
system does. From this view, it appears that the per-formance is seen as
a process of how something is done. Therefore, a good performance
measurement views whether or not a particular activity can get the
expected results. (Menurut Ilgen dan Schneider dalam Sanusi (2015),
Kinerja adalah apa yang dilakukan orang atau sistem. Dari pandangan
ini, tampak bahwa kinerja dipandang sebagai proses bagaimana sesuatu
dilakukan. Oleh karena itu, pengukuran kinerja yang baik dilihat apakah
suatu kegiatan tertentu dapat memperoleh hasil yang diharapkan).
Sedangkan menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2013, p.9) Kinerja
merupakan istilah yang berasal dari dari kata Job Performance atau
Aktual Performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang
dicapai seseorang)

Indikator Lingkungan Kerja


Dalam mengukur ataupun meningkatkan knerja karyawan perusahaan
perlu menentukan indikator – indikator. Menurut Nitisemito dalam
Nuraini (2013, p.102), indikator – indikator lingkungan kerja yaitu
sebagai berikut :

  1. Suasana Kerja
    Suasana kerja adalah kondisi yang ada disekitar karyawan yang
    sedang melakukan pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan
    pekerjaan itu sendiri. Suasana kerja ini akan meliputi tempat kerja,
    fasilitas dan alat bantu pekerjaan, kebersihan, pencahayaan,
    ketenangan termasuk juga hubungan kerja antara orang – orang yang
    ada di tempat tersebut.
  2. Hubungan Dengan Rekan Kerja
    Hubungan dengan rekan kerja yaitu hubungan dengan rekan kerja
    harmonis dan tanpa ada saling intrik diantara sesama rekan sekerja.
    Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi karyawan tetap tinggal
    dalam satu organisasi adalah adanya hubungan yang harmonis dan
    kekeluargaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
    kinerja karyawan.
  3. Tersedianya Fasilitas Kerja
    Hal ini dimaksudkan fasilitas – fasilitas kerja karyawan bahwa
    peralatan yang digunakan untuk mendukung kelancaran kerja
    lengkap atau mutakhir. Tersedianya fasilitas kerja yang lengkap,
    walaupun tidak baru merupakan salah satu penunjang proses dalam
    bekerja.
    Sedangkan menurut pendapat Sedarmayanti (2011, p.28) indikator –
    indikator lingkungan kerja yaitu sebagai berikut :
  4. Penerangan atau Cahaya di Tempat Kerja
    Cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi pegawai guna
    mendapat keselamatan dan kelancaran kerja, oleh sebab itu perlu
    diperhatikan adanya penerangan (Cahaya) yang terang tetapi tidak
    menyilaukan. Cahaya di tempat kerja yang kurang jelas (Kurang
    Cukup) mengakibatkan penglihatan menjadi kurang jelas, sehingga
    pekerjaanakan lambat, banyak mengalami kesalahan, dan pada
    akhirnya menyebabkan kurang efisien dalam melaksanakan
    pekerjaan, sehingga tujuan organisasi sulit tercapai.
  5. Sirkulasi Udara di Tempat Kerja
    Oksigen merupakan gas yang dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk
    menjaga kelangsungan hidup, yaitu untuk proses metabolisme.
    Udara di sekitar dikatakan kotor apabila kadar oksigen dalam udara
    tersebut telah berkurang dan telah bercampur dengan gas atau baubauan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Sumber utama adanya
    udara segar adalah adanya tanaman disekitar tempat kerja. Tanaman
    merupakan penghasil oksigen yang dibutuhkan oleh manusia.
  6. Kebisingan di Tempat Kerja
    Salah satu polusi yang cukup menyibukkan para pakar untuk
    mengatasinya adalah kebisingan, yaitu bunyi yang tidak dikehendaki
    oleh telinga. Tidak dikehendaki, karena terutama dalam jangka
    panjang bunyi tersebut dapat mengganggu ketenangan bekerja,
    merusak pendengaran, dan menimbulkan kesalahan komunikasi,
    bahkan, kebisingan yang serius dapat menyebabkan kematian.
  7. Bau Tidak Sedap di Tempat Kerja
    Adanya bau – bauan disekitar tempat kerja dapat dianggap sebagai
    pencemaran, karena dapat mengganggu konsentrasi bekerja, dan
    bau – bauan yang terjadi terus – menerus dapat mempengaruhi
    kepekaan penciuman. Pemakaian “Air Condition” yang tepat
    merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk
    menghilangkan bau – bauan yang mengganggu disekitar tempat
    kerja.
  8. Keamanan di Tempat Kerja
    Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam
    keadaan aman maka perlu diperhatikan adanya keamanan dalam
    bekerja. Oleh karena itu faktor keamanan perlu diwujudkan
    keberadaannya. Salah satu upaya untuk menjaga keamanan di tempat
    kerja, dapat memanfaatkan tenaga Satuan Petugas Pengaman
    (SATPAM)

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja


Menurut Robbins & Coulter dalam Sedarmayanti (2009, p.93)
lingkungan dirumuskan menjadi dua, meliputi lingkungan umum dan
lingkungan khusus.

  1. Lingkungan Umum
    Segala sesuatu diluar organisasi yang memiliki potensi untuk
    mempengaruhi organisasi. Lingkungan ini berupa kondisi sosial dan
    kondisi teknologi yang meliputi :
    a. Fasilitas Kerja
    Fasilitas kerja adalah segala sesuatu yang digunakan, dipakai,
    ditempati, dan dinikmati oleh karyawan, baik dalam hubungan
    langsung dengan pekerjaan maupun kelancaran pekerjaan
    sehingga dapat meningkatkan produktivitas atau prestasi kerja.
  2. Fasilitas Alat Kerja
    Seseorang karyawan atau pekerja tidak akan dapat melakukan
    pekerjaan tanpa disertai alat kerja.
  3. Fasilitas Perlengkapan Kerja
    Semua benda yang digunakan dalam pekerjaan tetapi tidak
    langsung berproduksi, melainkan sebagai pelancar dan
    penyegar dalam pekerjaan.
  4. Fasilitas Sosial
    Fasilitas yang digunakan oleh karyawan yang berfungsi sosial
    meliputi, penyediaan kendaraan bermotor, musholla dan
    fasilitas pengobatan.
    b. Teknologi
    Teknologi adalah alat kerja operasional yaitu semua benda atau
    barang yang berfungsi sebagai alat canggih yang langsung
    digunakan dalam produksi seperti komputer, mesin pengganda,
    mesin hitung.
  5. Lingkungan Khusus
    Lingkungan khusus adalah bagian lingkungan yang secara langsung
    berkaitan dengan pencapaian sasaran-sasaran yang ada didalam
    organisasi / perusahaan.

Jenis – Jenis Lingkungan Kerja


Menurut Sedarmayanti (2011, p.26) menyatakan bahwa jenis – jenis
lingkungan kerja terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :

  1. Lingkungan kerja fisik merupakan suatu keadaan berbentuk fisik
    yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi
    karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan
    kerja fisik juga dapat di bagi dalam 2 kategori, yaitu :
    a. Lingkungan yang langsung berhubungan dengan karyawan seperti
    pusat kerja, kursi, meja dan lainya.
    b. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut
    lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya
    temperature, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan,
    kebisingan getaran mekanik, bau tidak sedap, warna dan lainya.
    Untuk dapat memperkecil pengaruh lingkungan fisik terhadap
    karyawan, maka langkah pertama adalah harus mempelajari
    seseorang karyawan, baik mengenai fisik dan tingkah lakunya,
    kemudian digunakan sebagai dasar memikirkan dan menciptakan
    lingkungan secara fisik yang sesuai didalam perusahaan.
  2. Lingkungan non fisik merupakan semua keadaan yang terjadi
    berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan
    maupun dengan sesama rekan kerja, ataupun dengan bawahan.

Pengertian Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja menurut pendapat Nitisemito dalam penelitian Deni
Sulistiawan, Sukisno S. Riadi, dan Siti Maria (2017), mendefinisikan
lingkungan kerja adalah suatu keadaan yang terdapat dalam struktur dan
proses kegiatan perusahaan yang mencerminkan rasa kepuasan pada
para pelaksana atau pegawai yang bersifat menunjang kearah
pencapaian kinerja karyawan yang diinginkan oleh perusahaan secara
keseluruhan maupun pelaksana.
Menurut Danang (2012, p.43) lingkungan kerja adalah segala sesuatu
yang ada di sekitar karyawan dan dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas – tugas yang dibebankan. Sedangkan menurut
Nitisemito dalam Nuraini (2013, p.97) lingkungan kerja adalah segala
sesuatu yang ada di sekitar karyawan dan dapat mempengaruhi dalam
menjalankan tugas yang di embankan kepadanya.
Menurut Sedarmayanti (2011, p.26) lingkungan kerja merupakan
keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitar
dimana seseorang bekerja, metode kerja, serta pengaturan kerjanya baik
secara perorangan maupun kelompok. Masalah lingkungan kerja
dalamsuatu organisasi sangatlah penting, dalam hal ini diperlukan
adanya pengaturan maupun penataan faktor – faktor lingkungan kerja
dalam penyelenggaraan aktivitas organisasi.
Menurut Fachreza, Said Musnadi, dan M. Shabri Abd Majid (2018).
Salah satu aspek dalam meningkatkan kinerja karyawan adalah
terciptanya lingkungan kerja yang kondusif. Lingkungan kerja adalah
faktor – faktor di luar manusia baik fisik maupun non fisik dalam suatu
organisasi. Menurut Fieldman (2010, p.197), antara lingkungan kerja
dengan kepuasan kerja terdapat hubungan yang positif, dan lingkungan
kerja mempengaruhi kinerja suatu organisasi.

Indikator Budaya Organisasi


Menurut Robbins dalam Sudarmanto (2014, p.171) mengatakan,
penelitian menunjukkan ada tujuh karakteristik utama yang secara
keseluruhan menunjukkan hakikat budaya sebuah organisasi, yaitu :

  1. Inovasi dan Keberanian Mengambil Resiko, yaitu sejauh mana
    karyawan didorong untuk bersikap inovatif dan berani mengambil
    resiko.
  2. Perhatian Pada Hal – Hal Rinci, yaitu sejauh mana karyawan
    menjalankan presisi, analistis, dan perhatian pada hal – hal detail.
  3. Orientasi Hasil, yaitu sejauh mana manajemen berfokus lebih pada
    hasil ketimbang pada teknik dan proses yang digunakan untuk
    mencapai hasil tersebut.
  4. Orientasi Orang, yaitu sejauh mana keputusan manajemen dalam
    mempertimbangkan efek dari hasil karyawan dalam organisasi.
  5. Orientasi Tim, yaitu sejauh mana kegiatan – kegiatan karyawan
    dalam organisasi pada tim ketimbang pada individu – individu.
  6. Keagresifan, yaitu sejauh mana orang bersikap inovatif, agresif dan
    kompetitif ketimbang santai.
  7. Stabilitas, sejauh mana kegiatan – kegiatan organisasi dengan
    menekankan, dipertahankannya status quo perbandingan dengan
    pertumbuhan perusahaan.

Fungsi Budaya Organisasi


Menurut Robbins dalam bukunya yang berjudul “Organizational
Behavior” (2011, p.512), fungsi utama dari budaya organisasi adalah :

  1. Budaya organisasi berfungsi sebagai pembeda yang jelas terhadap
    satu organisasi dengan organisasi yang lain.
  2. Budaya organisasi membawa suatu rasa identitas bagi anggota –
    anggota organisasi.
  3. Budaya organisasi mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu
    yang lebih luas daripada kepentingan individual seseorang.
  4. Budaya organisasi merupakan perekat sosial yang membantu
    mempersatukan organisasi dengan membentuk sikap serta perilaku
    karyawan.
  5. Budaya organisasi berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna
    dan kendali yang membentuk sikap serta perilaku karyawan.
    Sedangkan menurut Panbundu (2012, p.14) budaya organisasi sebuah
    perusahaan memiliki beberapa fungsi, yaitu :
  6. Budaya organisasi sebagai pembeda suatu organisasi terhadap
    lingkungan kerja organisasi maupun kelompok lainnya. Budaya
    organisasi menciptakan suatu identitas atau ciri yang membedakan
    satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.
  7. Sebagai perekat karyawan dimana budaya organisasi akan
    membentuk Sense Of Belonging dan rasa kesetiaan atau loyalitas
    terhadap sesama karyawan. Pemahaman yang baik akan kebudayaan
    organisasi akan membuat karyawan lebih dekat karena persamaan
    visi, misi, dan tujuan bersama yang akan dicapai.
  8. Budaya organisasi berfungsi sebagai alat untuk mempromosikan
    sistem sosial didalam lingkungan kerja yang positif dan kondusif,
    dari konflik serta perubahan dilakukan dengan efektif.
  9. Budaya organisasi berfungsi sebagai mekanisme kontrol. Budaya
    organisasi mengendalikan dan mengarahkan karyawan ke arah yang
    sama untuk mencapai visi, misi, dan tujuan perusahaan. Seluruh
    kegiatan di perusahaan akan berjalan apabila perusahaan mampu
    mengendalikan dan mengatur karyawan atau pekerjanya dengan
    efektif dan efesien.
  10. Sebagai integrator atau alat pemersatu sub-budaya dalam organisasi
    dan perbedaan latar belakang budaya karyawan.
  11. Budaya organisasi membentuk perilaku karyawan. Tujuan dari
    fungsi ini, agar karyawan memahami cara untuk mencapai tujuan
    organisasi sehingga karyawan akan bekerja lebih terarah.
  12. Budaya organisasi juga berfungsi sebagai sarana atau cara untuk
    memecahkan masalah perusahaan seperti adaptasi lingkungan.
  13. Budaya organisasi berfungsi sebagai acuan dalam menyusun
    perencanaan seperti perencanaan pemasaran, segmentasi pasar, dan
    penentuan positioning.
  14. Budaya organisasi dapat berfungsi sebagai alat komunikasi antar
    anggota perusahaan atau organisasi, misalnya antara karyawan
    dengan pimpinan dan sesama anggota perusahaan.
  15. Penghambat inovasi, budaya organisasi tidak selalu memberikan
    unsur positif bagi perusahaan.

Tingkatan Budaya Organisasi


Menurut Schein dalam Panbundu (2012, p.22) membagi budaya
organisasi kedalam beberapa level atau tingkatan, yaitu :

  1. Artifak (Artifact)
    Tingkat pertama budaya organisasi yang tampak (Visible) atau
    permukaan (Surface). Tingkatan atau level ini merupakan dimensi
    yang dapat dilihat, didengar, dirasakan ketika seseorang memasuki
    suatu organisasi dengan budaya yang kurang dikenal (Unfamiliar)
    seperti produk, sejarah organisasi, arsitektur, bahasa, teknologi,
    mitos, cerita, ritual, dan cara berpakaian.
  2. Nilai – Nilai (Espoused Values)
    Tingkat kedua budaya organisasi yang tidak tampak (Invisible) yaitu
    nilai – nilai yang diekspresikan oleh atasan dan rekan – rekan kerja
    seperti. Tingkat atau level budaya ini dapat terlihat setiap penentuan
    tujuan organisasi, dan cara – cara penyelesaian sehubung dengan
    permasalahan internal dan eksternal dalam perusahaan.
  3. Asumsi Dasar (Basic Underlying Assumptions)
    Tingkat yang paling mendalam yang mendasari nilai – nilai, yaitu
    keyakinan (Beliefs), yang terdiri dari berbagai asumsi dasar. Asumsi
    dasar mencakup hubungan dengan lingkungan, hakikat mengenai
    sifat manusia, hakikat mengenai aktivitas manusia dan hakikat
    mengenai hubungan manusia. Sedangkan menurut Sopiah (2008,
    p.132) asumsi dasar menunjukan apa yang diyakini oleh anggota
    sebagai suatu kenyataan dan mempengaruhi apa yang mereka alami,
    apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka rasakan.

Karakteristik Budaya Organisasi


Menurut Priansadan Garnida (2013, p.77) berpendapat bahwa budaya
organisasi merupakan sistem nilai yang dikembangkan dan berlaku
dalam suatu organisasi, yang menjadikan ciri khas sebagai sebuah
organisasi. Sebagai sarana untuk mempersatukan kegiatan para anggota
organisasi, budaya organisasi memiliki karakteristik sebagai berikut
inisiatif individual, toleransi terhadap tindakan resiko, pengarahan,
integrasi, dukungan manajemen, kontrol, identitas, sistem imbalan,
toleransi, dan pola komunikasi (Tika 2006, p.10). Karakteristik budaya
organisasi ini menjadikan organisasi berfokus kepada hasil bukan hanya
pada proses, lalu sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan
efek hasil pada individu di dalam organisasi itu. Budaya organisasi ini
juga mengenai sejauh mana karyawan mencermati pekerjaan lebih
presisi dan memfokuskan pada hal – hal yang rinci. Dikutip dalam
jurnal Enno Aldea Amanda, Satrijo Budiwibowo, dan Nik Amah
(2017).
Menurut Robbins dan Judge (2012, p.512) memberikan tujuh
karakteristik budaya organisasi sebagai berikut :

  1. Inovasi dan Keberanian Mengambil Resiko (Innovation and Risk
    Taking), yaitu sejauh mana para anggota organisasi didorong untuk
    bersikap inovatif dan berani mengambil resiko.
  2. Perhatian Terhadap Detail (Attention To Detail), yaitu sejauh mana
    anggota organisasi diharapkan untuk memperlihatkan kecermatan,
    analisis dan perhatian terhadap detail.
  3. Berorientasi Pada Hasil (Outcome Orientation), yaitu sejauh mana
    manajemen berfokus kepada hasil dibandingkan dengan perhatian
    terhadap proses yang digunakan untuk meraih hasil tersebut.
  4. Berorientasi Kepada Manusia (People Orientation), yaitu sejauh
    mana keputusan yang dibuat oleh manajemen memperhitungkan
    efek terhadap anggota – anggota organisasi.
  5. Berorientasi Kepada Kelompok (Team Orientation), yaitu sejauh
    mana pekerjaan secara kelompok lebih ditekankan dibandingkan
    dengan pekerjaan secara individu.
  6. Agresivitas (Aggressiveness), yaitu sejauh mana anggota – anggota
    organisasi berperilaku secara agresif dan kompetitif dibandingkan
    dengan berperilaku secara tenang.
  7. Stabilitas (Stability), yaitu sejauh mana organisasi menekankan
    status sebagai kontras dari pertumbuhan.

Elemen Budaya Organisasi


Menurut Denison dalam Mangkunegara (2009, p.115) elemen budaya
organisasi, antara lain: Nilai – nilai, keyakinan dan prinsip – prinsip
dasar, dan praktek – praktek manajemen serta perilaku. Serta Schein
dalam Mangkunegara (2009, p.115) yaitu : pola asumsi dasar bersama,
nilai dan cara untuk melihat, berfikir dan merasakan, dan artefak.
Terlepas dari adanya perbedaan seberapa banyak elemen budaya
organisasi dari setiap ahli, secara umum elemen budaya organisasi
terdiri dari dua elemen pokok, yaitu elemen yang bersifat idealistik dan
elemen yang bersifat perilaku :

  1. Elemen Idealistik
    Elemen idealistik umumnya tidak tertulis, bagi organisasi yang
    masih kecil melekat pada diri pemilik dalam bentuk doktrin,
    falsafah hidup, atau nilai – nilai individual pendiri atau pemilik
    organisasi dan menjadi pedoman untuk menentukan arah tujuan
    menjalankan kehidupan sehari – hari organisasi. Elemen idealistik
    ini biasanya dinyatakan secara formal dalam bentuk pernyataan visi
    atau misi organisasi, tujuannya tidak lain agar ideologi organisasi
    tetap lestari. Sedangkan menurut Schein dalam Mangkungara
    (2009, p.115), elemen idealistik tidak hanya terdiri dari nilai – nilai
    organisasi tetapi masih ada komponen yang lebih esensial yakni
    asumsi dasar yang bersifat diterima apa adanya dan dilakukan diluar
    kesadaran, asumsi dasar tidak pernah dipersoalkan atau
    diperdebatkan keabsahanya.
  2. Elemen Behavioural
    Elemen behavioral adalah elemen yang kasat mata, muncul
    kepermukaan dalam bentuk perilaku sehari – sehari para
    anggotanya, logo atau jargon, cara berkomunikasi, cara berpakaian,
    atau cara bertindak yang bisa dipahami oleh orang luar organisasi
    dan bentuk – bentuk lain seperti desain dan arsitektur instansi. Bagi
    orang luar organisasi, elemen ini sering dianggap sebagai
    representasi dari budaya sebuah organisasi sebab elemen ini mudah
    diamati, dipahami dan diinterpretasikan, meski interpretasinya
    kadang – kadang tidak sama dengan interpretasi orang – orang yang
    terlibat langsung dalam organisasi.

Pengertian Budaya Organisasi


Menurut Trice dan Bayer dalam Fachreza, Said Musnadi, dan M. Shabri
Abd Majid (2018), budaya organisasi ternyata semakin marak
berkembang sejalan dengan meningkatnya dinamika iklim dalam
organisasi. Dengan demikian konsep budaya organisasi dikembangkan
dengan berbagai versi mengingat istilah budaya dipinjam dari disiplin
ilmuan tropologi dan sosiologi, sesuai dengan makna budaya yang
mengandung konotasi kebangsaan, ditambahkan lagi implikasinya
begitu luas sehingga dapat dilihat beragam sudut pandang. Namun
dalam proses adaptasi, kebanyakan berpendapat bahwa inti budaya
adalah sistem nilai yang dianut secara bersama – sama.
Menurut Geert Hofstede dalam Wibowo (2010, p.15), menyatakan
bahwa budaya terdiri dari mental program bersama yang mensyaratkan
respon individual pada lingkungannya. Definisi tersebut mengandung
makna bahwa kita melihat budaya dalam perilaku sehari – hari, tetapi
dikontrol oleh mental program yang ditanamkan sangat dalam.
Sedangakan menurut Edgar Schein dalam Wibowo (2010, p.16), yang
mengemukakan bahwa budaya organisasi adalah sebagai filosofi yang
mendasari kebijakan organisasi, aturan main untuk bergaul, dan
perasaan atau iklim yang dibawa oleh persiapan fisik organisasi.
Budaya organisasi menurut Stephen Robbins dalam Wibowo (2010,
p.17), adalah sebuah persepsi umum yang dipegang oleh anggota
organisasi, suatu sistem tentang keberartian bersama. Sedangkan
menurut Mangkunegara (2009, p.114) yang menyatakan bahwa budaya
organisasi adalah seperangkat asumsi atau sistem keyakinan, nilai –
nilai, dan norma yang dikembangkan dalam organisasi yang dijadikan
pedoman tingkah laku bagi anggota – anggotanya untuk mengatasi
masalah adaptasi eksternal dan internal.
Menurut Rivai dan Mulyadi (2012, p.374) menyatakan bahwa budaya
organisasi adalah suatu kerangka kerja yang menjadi pedoman tingkah
laku sehari-hari dan membuat keputusan untuk karyawan dan
mengarahkan tindakan mereka untuk mencapai tujuan organisasi.
Budaya organisasi merupakan pola keyakinan dan nilai – nilai (Values)
organisasi yang dipahami, dijiwai, dan dipraktikkan oleh organisasi,
sehingga pola tersebut memberikan arti tersendiri dan menjadi dasar
aturan berperilaku dalam organisasi. Oleh karena itu, budaya organisasi
dijadikan sebagai pengendali dan arah dalam membentuk sikap dan
perilaku manusia yang ada dalam organisasi. Budaya organisasi
diharapkan akan memberikan pengaruh yang positif terhadap pribadi
anggota organisasi maupun terhadap organisasi dalam hal mencapai visi
dan misi serta tujuan organisasi.

Stres kerja


Stres kerja merupakan situasi yang mungkin dialami manusia pada
umumnya dan khususnya pada karyawan dalam sebuah organisasi atau
perusahaan. Robbins (2018: 45) mengemukakan bahwa stres merupakan
kondisi dinamis yang dihadapi seseorang ketika terpaksa menghadapi
peluang, kendala, atau tuntutan yang terkait dengan apa yang dikehendakinya
yang pada saat bersamaan hasilnya tidak pasti tetapi sangat penting. Stres
menjadi masalah yang penting karena situasi itu dapat mempengaruhi kinerja
karyawan, stres bisa berdampak baik dalam kinerja jika tidak secara berlebihan
dan bisa membangun kinerja yang baik. Tapi jika stres tersebut berlebihan maka
akan berdampak buruk dan menjadi hambatan-hambatan untuk karyawan dalam
bekerja sehingga menimbulkan kinerja yang tidak optimal.

Pengaruh Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan


Komitmen adalah derajat dimana karyawan percaya serta menerima nilainilai organisasi dan tujuan organisasi, dan keinginan untuk tetap bekerja
diperusahaan atau organisasi (Sopiah, 2016 : 67). Dengan adanya komitmen
organisasi terhadap perusahaan dimana karyawan bekerja, akan menghasilkan
kinerja yang tinggi dari karyawan yang dapat dijadikan dorongan bagi
karyawan dalam menyelesaikan kewajiban dan tugas yang diberikan sehingga
dapat terciptanya kinerja yang baik. Apabila kerja sama antar rekan kerja dan
ditunjang dengan komitmen terhadap organisasi diterapkan dengan baik maka
pelaksanaan pekerjaan akan berjalan dengan lancar, tetapi bila kerja sama
antar rekan kerja serta komitmen organisasi kurang, maka akan menjadi
sebaliknya. Luthas (dalam Triana Fitriastuti, 2016) mengartikan komitmen
organisasional merupakan sikap yang menunjukkan loyalitas karyawan dan
merupakan proses berkelanjutan seseorang dalam mengekspresikan perhatiannya
untuk kesuksesan organisasi. Rendahnya komitmen menimbulkan persoalan bagi
pihak organisasi, karena komitmen adalah “komoditas” mahal yang menentukan
keberhasilan organisasi tersebut. Komitmen yang rendah mencerminkan
kurangnya tanggung jawab seseorang dalam menjalankan tugasnya.
Menurut hasil dari penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh
Kardinah dan Cahyadi dalam jurnal riset manajemen dan bisnis pada Februari
(2019) dan telah dipublikasikan (www.sinta.ristekbrin.go.id) menjelaskan bahwa
komitmen organisasi sangat penting dan dapat mempengaruhi kinerja karyawan
yang baik, Komitmen tinggi yang dimiliki karyawan akan terikat secara
emosional (afektif), rasional (normatif), dan memiliki keinginan karir jangka
panjang (kontinuan), sehingga faktor-faktor tersebut yang dapat
meningkatkan kinerja karyawan secara optimal.

Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan


Budaya organisasi adalah nilai-nilai yang diyakini oleh semua anggota
organisasi yang membedakan organisasi tersebut dengan organisasi lain dan
menjadi dasar karyawan untuk berperilaku dan sikap karyawan ketika bekerja
(Robins, 2017 : 33). Dengan kata lain, budaya akan mempengaruhi sejauh
mana anggota organisasi dalam mencapai tujuan, oleh karena itu budaya
organisasi menjadi faktor yang berpengaruh dalam membentuk dan memberi arti
kepada anggota organisasi untuk bertindak dan berperilaku. Budaya yang baik
akan mempengaruhi kinerja karyawan dalam menjalankan dan mengerjakan
tugas-tugasnya lebih baik.
Menurut hasil dari penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Ervin,
Lisa, dan Rona dalam jurnal dimensi pada Maret (2020) dan telah dipublikasikan
(www.sinta.ristekbrin.go.id) menjelaskan bahwa budaya organisasi berpengaruh
secara positif adalah faktor penting yang dapat menjelaskan variasi kinerja
karyawan. Nilai-nilai budaya yang diyakini bersama dapat menjadi pengikat
organisasi dengan karyawan.

Indikator kinerja karyawan


Ada beberapa indikator yang dapat digunakan dalam melakukan
penilaian individu terhadap kinerja karyawan di suatu organisasi (Bintoro dan
Daryanto, 2017: 159), antara lain:

  1. Kualitas, kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas
    pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampilan
    dan kemampuan karyawan, Misalnya :
    a. Tanggap dalam tugas baru
    b. Ketelitian dalam mengerjakan tugas
  2. Kuantitas yaitu banyaknya jumlah pekerjaan yang telah dilakukan serta waktu
    yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Misalnya,
    a. Kecepatan waktu dalam dalam bekerja
    b. Kemampuan dalam mengerjakan tugas
  3. Tanggung jawab yaitu menunjukan seberapa besar karyawan dalam
    menjalankan tugas serta mempertanggung jawabkan hasil kerja, pengunaan
    sarana dan prasarana, Misalnya:
    a. Hasil kerja sesuai dengan standar yang ada di perusahaan
    b. Ketepatan waktu dalam bekerja sesuai dengan yang ditetapkan oleh
    perusahaan
  4. Inisiatif yaitu mempunyai kesadaran diri untuk melakukan sesuatu dalam
    melaksanakan tugas dan tanggung jawab, misalnya:
    a. Semangat mengerjakan tugas dan menjalankan tanggung jawab
    b. Memperbaiki kesalahan kerja.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan


Menurut Sedarmayanti (dalam Sulaksono Hari 2015: 103) ada beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan diantaranya :

  1. Sikap mental
    yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan seperti displin kerja, motivasi
    kerja, dan etika yang dimiliki oleh seorang karyawan.
  2. Pendidikan
    Semakin tinggi pendidikan seorang karyawan maka memungkinkan
    kinerjanya juga akan semakin tinggi,
  3. Keterampilan
    Karyawan yang mempunyai keteramplilan akan lebih baik kerjanya dari
    pada karyawan yang tidak mempunyai keterampilan.
  4. Kepemimpinan
    Kepemimpinan seorang manajer berpengaruh pada kinerja karyawan,
    semakin baik dan bagus kepeminpinan manajer maka akan meningkatkan kinerja
    karyawan.
  5. Tingkat penghasilan
    Karyawan akan termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya apabila
    mempunyai penghasilan yang sesuai.
  6. Kedisiplinan
    Kedisplinan yang kondusif dan nyaman akan meningkatkan kinerja
    karyawan.
  7. Komunikasi
    Para karyawan antara bawahan dan atasan atau sesama karyawan harus
    mampu menciptakan komunikasi yang harmonis dan baik, dengan adanya
    komunikasi yang baik maka akan mempermudah dalam menjalankan tugas yang
    diberikan oleh perusahaan.
  8. Sarana Prasarana
    Perusahaan harus memberikan fasilitas yang dapat mendukung kinerja
    karyawan.
  9. Kesempatan berprestasi
    Adanya kesempatan berprestasi dalam perusahaan dapat memberikan
    motivasi kepada karyawan untuk selalu mningkatkan kinerja.

Pengertian Kinerja


Kinerja seorang karyawan pada dasarnya adalah hasil kerja seorang
karyawan selama periode tertentu. Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya yang
didasarkan atas pengalaman, kecakapan, kesungguhan serta waktu (Alwi, 2012 :
66). Konsep kinerja pada dasarnya dapat dilihat dari dua segi, yaitu kinerja
pegawai (per-individu) dan kinerja organisasi. Kinerja dikatakan sebagai
sebuah hasil (output) dari suatu proses tertentu yang dilakukan oleh
seluruh komponen organisasi terhadap sumber-sumber tertentu yang digunakan
(input).
Dessler (dalam Bintoro dan Daryanto, 2017 : 106) menyatakan kinerja
merupakan prestasi kerja yaitu perbandingan antara hasil kerja dengan standar
yang diterapkan. Kinerja sebagai ungkapan seperti output, efektivitas, dan
efesiensi yang sering dihungkan dengan produktivitas (Faustino Cardosa Gomos
dalam Sulaksono Hari, 2015: 91).
Kinerja merupakan hasil kerja secara kuantitas dan kualitas yang dicapai
oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya (Sulaksono Hari, 2015: 91).
Kinerja adalah kemampuan individu atau kelompok untuk memberikan hasil
yang memuaskan ditempatnya bekerja dalam bagian pekerjaan tertentu (Duha,
2018: 43)

Indikator-Indikator Stres kerja


Menurut Mangkunegara (2013: 157) Indikator-indikator untuk mengukur
stres kerja sebagai berikut :

  1. Faktor lingkungan kerja adalah sesuatu dari lingkungan pekerjaan yang
    memudahkan atau menyulitkan pekerjaan, misalnya :
    a. Intimidasi dari rekan kerja sehingga menjadi suasana dalam bekerja tidak
    nyaman dan menimbulkan stres.
    b. Tekanan dari pemimpin, mengenai pekerjaan yang diberikan atasan atau
    tuntutan mengenai pekerjaan dari atasan sehingga menimbulkan stres.
  2. Ketidak cocokan dengan pekerjaan, misalnya :
    a. Tidak menyukai pekerjaan yang diberikan
    b. Pekerjaan yang ditugaskan tidak sesuai keahlian yang dimiliki oleh
    karyawan.
  3. Pekerjakan yang diberikan oleh perusahaan atau atasan berbahaya sehingga
    menimbulkan stres, misalnya:
    a. Pekerjaan tersebut membutuhkan tingkat keamanan kerja yang tinggi
    b. Pekerjaan yang diberikan mempunyai tingkat kecelakaan kerja yang tinggi
  4. Beban lebih, Pekerjaan yang diberikan terlalu berat misalnya penambahan jam
    kerja atau jam kerja yang lebih banyak sehingga membuat karyawan stres.

Aspek-Aspek Stres Kerja


Menurut Luthans (dalam Setiyana, V. Y., 2013 : 385) seseorang yang
mengalami stres dalam pekerjaan akan menimbulkan gejala-gejala yang meliputi
3 aspek yaitu :

  1. Fisiologi (Physiologi)
    Masalah kesehatan fisik mencakup masalah sistem kekebalan tubuh seperti
    terdapat pengurangan kemanpuan untuk melawan rasa sakit dan infeksi, masalah
    kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi dan penyakit jantung, masalah sistem
    muskulosketal (otot dan rangka) seperti sakit kepala dan sakit punggung, masalah
    perut seperti diare, dan sembelit.
  2. Psikologikal (Psychology)
    Ditandai dengan ketidak puasan hubungan kerja, tegang, gelisah, cemas,
    depresi, kebosanan, mudah marah, hingga sampai pda tindakan agresif seperti
    sabotase, agresi antar pribadi, pemusuhan dan keluhan.
  3. Tingkah laku (Behavior)
    Terdapat perubahan pada produktivitas, ketidak hadiran dalam jadwal kerja,
    Perubahan selera makan meningkatnya konsumsi rokok, alkohol, obat-obatan, dan
    susah tidur.
    Menurut Surya (dalam Triatna, 2015: 143) dampak dari stres kerja dapat
    dikelompokan menjadi 4 kategori yaitu :
    a. Aspek psikologis, kecenderungan gampang marah, frustasi, agresif cemas,
    panik, gugup, kebosanan, depresi tidak bergairah, hilang percaya diri.
    b. Aspek Jasmaniah, mencakup perubahan dalam kebiasaan hidup, gelisah,
    merokok, nafsu makan berlebihan, dan gangguan tidur.
    c. Aspek perilaku, kurang mampu membuat keputusan, mudah lupa, pasif,
    sensitif, kurang bertanggung jawab.
    d. Aspek lingkungan, lingkungan pekerjaan yang kurang produktif, masyarakat
    yang kurang tentram.
    Menurut Cox (dalam Fauji. H, 2013 : 19) efek dari stres kerja ada 5 yaitu :
  4. Subyektif, berupa kekhawatiran atau ketakutan, agresi, apatis, rasa bosan,
    depresi , frustasi, kelelahan, emosi dan kehilangan kendali, penghargaan diri yang
    rendah dan gugup, kesepian.
  5. Perilaku, berupa mudah mendapatkan kecelakaan, kecanduan alkohol,
    penyalahgunaan obat-obatan, lupaan emosional, makan atau merokokberlebihan,
    prilaku implusif, tertawa gugup.
  6. Kognitif, berupa ketidak mampuan membuat keputusan yang masuk akal, daya
    konsentrasi rendah, kurang perhatian, sangat sensitive terhadap kritik, hambatan
    mental.
  7. Fisikologis berupa kandungan glukosa dara meningkat, denyut jantung dan
    tekana darah meningkat, mulut kering, berkeringat, bola mata melebar, panas dan
    dingin.
  8. Organisasi, berupa angka absensi, omset, produktivitas rendah, terasing dari
    mitra kerja, serta komitmen organisasi dan loyalitas berkurang.

Faktor Penyebab Stres Kerja


Menurut Handoko (dalam Triatna, 2015 : 139) menyatakan ada 2 kategori
penyebab stres diantaranya :

  1. Stres on the job
    Beban kerja yang berlebih, tekanan waktu, kualitas suvervisi yang jelek,
    komfilik antar peibadi, feed back yang tidak memadai, wewenang yang tdak
    mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab, konflik antar pribadi dan
    kelompok, perbedaan nilai perusahaan dan karyawan, serta berbagai konflik
    perubahan,
  2. Stres off the job
    Kekhawatiran finansial, masalah-masalah fisik, perubahan yang terjadi
    ditempat tinggal dan masalah-masalah pribadi lainnya.