Masalah kepemimpinan sebenarnya telah muncul bersamaan dengan dimulainya
sejarah peradaban manusia, yaitu sejak manusia menyadari pentingnya hidup
berkelompok untuk mencapai tujuan bersama. Mereka membutuhkan seseorang
atau beberapa orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan dari pada yang lain.
Terlepas dengan tujuan apa kelompok manusia tersebut dibentuk. Hal ini tidak
dapat dipungkiri karena manusia memiliki keterbatasan dan kelebihan-kelebihan
tertentu. Dalam kehidupan organisasi , pimpinan tidak mungkin bekerja sendiri,
ia memerlukan sekelompok orang lain yang populer dikenal sebagai bawahan.
Bawahan tersebut digerakkan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan
sumbangsihnya kepada organisasi, terutama dalam bekerja.
Berkenaan dengan kepemimpinan, menurut Ndraha (2003:126) kepemimpinan
atau leadership dari kata pimpin (leader) adalah kemampuan seseorang untuk
mempengaruhi orang lain melalui dirinya sendiri dengan cara tertentu sehingga
perilaku orang lain itu berubah atau tetap , menjadi integratife. Jadi kepemimpinan
merupakan gejala sosial dan hasil kegiatan memimpin suatu unit kerja (organisasi)
disebut pimpinan.
Koontz dan Weihrich (1990:344) menyatakan “ leadership is defined as
influence, that is, the art or process of influencing people so that they will strive
willingly and enthusiastically toward the achievement of group goals”. Dalam hal
ini kepemimpinan diartikan sebagai pengaruh, dimana tahap-tahap atau proses
mempengaruhi orang agar orang tersebut akan bersedia melakukannya dan secara
sukarela pula berusaha dengan keras untuk mencapai tujuan-tujuan kelompoknya.
Burns dalam Suryanto (2009:288) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah
hubungan antara pemimpin dan pengikutnya yang membawa perubahan pada
keduanya (pemimpin dan pengikut) tersebut. Lebih lanjut, kepemimpinan akan
muncul jika seorang atau lebih bersama-sama dengan orang lain berada dalam
satu upaya dimana pemimpin dan pengikut secara bersama-sama mengusahakan
dan mengupayakan motivasi dan moralitas dalam organisasi mereka kepada
tingkat yang lebih tinggi..
Menurut Uchyana (2002:133) pengertian kepemimpinan pada dasarnya memiliki
unsur tertentu yang sama yaitu kepengikutan, tujuan dan kegiatan mempengaruhi.
Keberadaan kepemimpinan disebabkan kepengikutan, adanya pemimpin karena
adanya pengikut. Seseorang menjadi atau dijadikan pemimpin, karena adanya
pengikut.Tanpa pengikut/ bawahan semua kualitas kepemimpinan seorang atasan
akan menjadi tidak relevan. Terkandung makna bahwa para pemimpin yang
efektif harus mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan menjalin relasi
dengan pengikut/bawahan mereka.
Kepemimpinan timbul dan tumbuh sebagai hasil dari interaksi otomatis diantara
pemimpin dan individu-individu yang dipimpin. Kepemimpinan ini dapat
berfungsi atas dasar kekuasaan pemimpin untuk mengajak, mempengaruhi, dan
menggerakan orang-orang lain(bawahan/pengikut) untuk melakukan sesuatu, guna
pencapaian satu tujuan tertentu. Karena itu, kepemimpinan dapat dipahami
sebagai kemampuan mempengaruhi bawahan agar terbentuk kerjasama di dalam
kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Apabila orang-orang yang menjadi
pengikut atau bawahan dapat dipengaruhi oleh kekuatan kepemimpinan yang
dimiliki oleh atasan maka mereka akan mau mengikuti kehendak pimpinannya
dengan sadar, rela, dan sepenuh hati, bukannya takut karena adanya sanksi yang
dapat dijatuhkan oleh pimpinan.
Dalam upaya mempengaruhi tersebut, seorang pemimpin menerapkan gaya yang
tidak sama dalam setiap situasi. Gaya kepemimpinan atau leadership style
menurut Thoha (2003:49) adalah “norma perilaku yang digunakan seseorang pada
saat mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat”.
