Berikut adalah fungsi budaya organisasi menurut Robbins (Judge, 2015, hal.
359) :
- Budaya menciptakan Iklim
Iklim organisasional (organizational climate) adalah persepsi yang
tersebar yang dimiliki para anggota organisasi mengenai organisasi dan
lingkungan kerja mereka. Aspek budaya ini seperti semangat tim pada level
organisasional. Ketika setiap orang memiliki perasaan umum yang sama
mengenai apa yang terpenting atau seberapa baik bekerjanya suatu hal, maka
efek dari tingkah laku ini akan menjadi semakin besar daripada jumlah dari
bagian individu. Puluhan dimensi iklim telah dipelajari, meliputi inovasi,
kreativitas, komunikasi, kehangatan, dan dukungan, keterlibatan, keselamatan,
keadilan, keanekaragaman, serta layanan konsumen. Iklim juga mempengaruhi
tingkah laku orang dalam beradaptasi.Jika iklim bagi keselamatan adalah positif,
maka setiap orang akan mengenakan peralatan keselamatan dan mengikuti
prosedur keselamatan. - Budaya yang Etis
Iklim kerja yang beretika (etchical work climate) merupakan konsep yang
tersebar mengenai perilaku yang benar dan salah di tempat kerja yang
mencerminkan nilai dari organisasi yang sebenarnya dan membentuk
pengambilan keputusan yang etis bagi para anggotanya. Para peneliti telah
mengembangkan teori iklim yang beretika. Untuk mengukur dimensi dari budaya
yang beretika terdapat lima kategori yaitu instrumental, kepedulian,
11
independensi, hukum dan kode, serta aturan. Masing-masing menjelaskan pola
pikir yang umum, ekspektasi, serta nilai dari para manajer dan para pekerja
dalam hubungannya dengan organisasi mereka. Sebagai contoh dalam sebuah
iklim instrumental yang beretika, maka para manajer akan membingkai
pengambilan keputusan mereka disekitar asumsi bahwa para pekerja dan
perusahaan termotivasi oleh kepentingan diri sendiri (egoistik). Dalam sebuah
iklim kepedulian, sebaliknya, para manajer akan beroperasional di bawah
ekspektasi bahwa keputusan mereka akan memengaruhi secara positif terhadap
sejumlah besar kemungkinan bagi para pemangku kepentingan (pekerja,
konsumen, pemasok). Iklim etis independensi bergantung pada gagasan modal
pribadi masing-masing individu untuk menentukan perilaku di tempat kerjanya.
Iklim hukum dan kode mensyaratkan bagi para manajer dan pekerja untuk
menggunakan moral yang terstandarisasi secara eksternal yang melingkupi
seperti misalnya kode etik profesional bagi norma, sedangkan iklim aturan
cenderung untuk mengopersionalkan dengan ekspektasi yang terstandarisasi
secara internal. - Budaya dan Inovasi
Sebagian besar perusahaan yang inovatif, sering kali ditandai dengan
keterbukaan mereka tidak konvensional, kolaboratif, berbasis visi, budaya.
Perusahaan perintis sering kali memiliki budaya yang inovatif karena mereka
biasanya kecil, gesit, dan menitikberatkan pada pemecahan permasalahan agar
dapat bertahan hidup dan berkembang. - Budaya sebagai suatu Aset
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa budaya organisasi dapat
menyediakan lingkungan positif yang beretika dan membantu perkembangan
inovasi. Budaya dapat juga secara signifikan memberikan kontribusi pada dasar
dari organisasi. - Budaya sebagai sebuah kewajiban
Budaya dapat mendorong komitmen organisasional dan meningkatkan
konsistensi perilaku pekerja, serta memberikan manfaat bagi organisasi. Budaya
juga berharga bagi para pekerja, karena menguraikan bagaimana hal-hal
dilakukan dan mana yang penting. Untuk itu, budaya adalah hal yang wajib bagi
suatu lingkungan organisasi.
