Budaya Organisasi


Menurut Edy Sutrisno (2010: 2) mendefinisikan budaya organisasi sebagai:
“Perangkat sistem nilai-nilai (value), keyakinan-keyakinan (beliefs), asumsiasumsi (assumptions), atau norma-norma yang telah lama berlaku, disepakati dan
diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan
pemecahan masalah-masalah organisasinya.”
Dalam budaya organisasi terjadi sosialisasi nilai-nilai dan menginternalisasi
dalam diri para anggota, menjiwai orang per orang di dalam organisasi. Klimann
dkk dalam buku Edy Sutrisno (2010: 2) , menjelaskan bahwa: “Budaya organisasi
merupakan jiwa organisasi dan jiwa para anggota organisasi.”
Budaya organisasi yang kuat mendukung tujuan-tujuan perusahaan,
sebaliknya yang lemah atau negatif menghambat atau bertentangan dengan tujuan
tujuan perusahaan. Dalam suatu perusahaan yang budaya organisasinya kuat,
nilai-nilai bersama dipahami secara mendalam, dianut, dan diperjuangkan oleh
sebagian besar para anggota organisasi . Budaya yang kuat dan positif sangat
berpengaruh terhadap perilaku dan efektivitas kinerja Organisasi.
Hal yang sama didefenisikan Barry Cushway dan Derek Lodge dalam buku
Hadari Nawawi (2006: 283) , bahwa Budaya organisasi adalah suatu kepercayaan
dan nilai nilai yang menjadi filsafah utama yang dipegang teguh oleh anggota
organisasi dalam menjalankan atau mengoperasikan kegiatan organisasi.
Sedangkan menurut Schermerh n, Hurn dan Osborn dalam buku Hadari Nawawi
(2006: 283) mendefinisikan bahwa Budaya organisasi adalah suatu sistem
penyebaran keyakinan dan nilai-nilai yang dikembangkan di dalam sebuah
organisasi sebagai pedoman perilaku anggotanya.
Jones R. Gureth dalam buku Hadari Nawawi (2006: 284) , mendefinisikan
bahwa Budaya organisasi adalah sekumpulan nilai-nilai yang mengendalikan
interaksi antar anggota organisasi dan interaksi dengan sistem dan lingkungan
organisasi lainnya.
Budaya organisasi dibentuk oleh semua orang yang terlibat dengan organisasi
yang mengacu pada etika organisasi, peraturan kerja dan tipe struktur organisasi.
Budaya organisasi melalui struktur organisasi membentuk dan mengendalikan
perilaku organisasi dan anggota organisasi.
Budaya organisasi dijadikan alat strategis dalam menghadapi perubahan dan
diharapkan sebagai salah satu pilar bagi organisasi, yang kemudian akan
mengantarkan organisasi memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Dalam
konteks budaya organisasi sebagai alat manajemen, budaya organisasi dapat
dianggap sebagian bagian dari strategi organisasi dalam meraih tujuan.
Salah satu faktor yang membedakan suatu organisasi dari organisasi yang
lainnya ialah budayanya. Hal-hal tersebut penting, dan karena itu perlu dipahami
serta dikenali. Akan tetapi hal-hal yang bersifat universal itu harus diterapkan oleh
manajemen dengan pendekatan yang memperhitungkan secara matang faktorfaktor situasi, kondisi, waktu, dan ruang. Dengan kata lain, terapkan sesuai
dengan budaya yang berlaku dan dianut dalam organisasi yang bersangkutan.
Robbins dalam buku Edy Sutrisno (2010: 10) menjelaskan budaya organisasi
mempunyai beberapa fungsi, yaitu:

  1. Budaya mempunyai suatu peran pembeda. Hal itu berarti bahwa budaya
    kerja menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dengan
    yang lain.
  2. Budaya organisasi membawa suatu rasa indentitas bagi anggota-anggota
    organisasi.
  3. Budaya organisasi mempermudah timbul pertumbuhan komitmen pada
    sesuatu yang lebih luas, daripada kepentingan diri individual.
  4. Budaya organisasi itu meningkatkan kemantapan sistem sosial.