Pemimpin yang efektif digerakkan oleh tujuan-tujuan jangka panjang dan
ia memiliki cita-cita yang tinggi jika dibandingkan dengan orang-orang disekitarnya. Kepemimpinan banyak berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang dalam
pemimpin dan mempengaruhi perilaku pengikut-pengikutnya (karyawan). Begitu
juga dengan kepemimpinan saat ini di perusahaan akan sangat berperan penting
baik terhadap lingkungan maupun kinerja karyawannya.
Menurut Mangkunegara (2013) yang dikemukakan dalam teori sifat bahwa
seseorang telah memiliki sifat kepemimpinan akan tetapi tergantung bagaimana
seseorang tersebut dapat mengelolanya. Adapun sifat-sifat tersebut dapat tumbuh
dengan adanya tingkat pencapaian melalui pendidikan dan pelatihan. Beberapa
sifat yang dimiliki seseorang pimpinan antara lain taqwa, sehat, cakap, jujur,
sabar, tegas, setia, cerdik, berani, disiplin, berwawasan luas, komunikatif,
berkemauan keras, tanggung jawab dan sifat positif lainnya.
Menurut Tjihardjadi (2007) bakat kepemimpinan adalah seorang pemimpin harus memiliki sifat kerendahan hati dan integritas. Dalam kepemimpinan, diri sendiri itulah yang akan terlihat bagaimana seseorang dianggap
mampu memimpin orang lain. Intropeksi merupakan jalan yang tepat untuk
mengetahui apakah seseorang tersebut memiiliki bakat kepemimpinan dan bisa
memimpin orang lain. Dengan instropeksi, seseorang tidak akan mudah menyalahkan orang lain, dan bakat itulah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan bakat kerendahan hati seorang pemimpin diharapkan para pengikutnya menyadari bahwa mereka memang bertugas sebagai suruhan pemimpin
tersebut tanpa harus menggunakan paksaan untuk menggerakkan mereka.
Menurut Karim (2010) pemimpin yang berkomitmen tinggi adalah
pemimpin yang banyak berkorban untuk terwujudnya sebuah visi misi.
Pengorbanan itu dilakukan karena para pemimpin itu mencintai visi dan misi
organisasi. Selain dua perilaku di atas, terdapat juga perilaku yang lain seperti
bervisi jelas, tekun, pekerja keras, konsisten dalam ucapannya, menanamkan rasa
hormat kepada karyawannya, membangkitkan kebanggaan, serta menumbuhkan
kepercayaan pada para pengikutnya. Selain itu pola pikir seorang pemimpin seharusnya lebih memiliki sifat keterbukaan atau transparan, terutama dalam memandang posisi sumber daya manusia yang ada
Teori-teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan membicarakan bagaimana seseorang menjadi pemimpin, atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin. Teori-teori kepemimpinan
menurut Thoha (2003):
- Teori sifat (trait theory).
Teori ini menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada korelasi sebab
akibat antara sifat dan keberhasilan manajer, pendapatnya itu merujuk pada
hasil penelitian Keith Davis yang menyimpulkan ada empat sifat umum yang
berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, yaitu :
a) Kecerdasan, pada umumnya membuktikan bahwa pemimpin mempunyai
tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin.
Namun demikian pemimpin tidak bisa melampaui terlalu banyak dari
kecerdasan pengikutnya.
b) Kedewasaan dan keleluasaan hubungan sosial, para pemimpin cenderung
menjadi matang dan mempunyai emosi yang stabil, serta mempunyai
perhatian yang luas terhadap aktivitas-aktivitas sosial. Dia mempunyai
keinginan menghargai dan dihargai.
c) Motivasi dan dorongan prestasi, para pemimpin secara relatif mempunyai
dorongan motivasi yang kuat untuk berprestasi. Mereka berusaha
mendapatkan penghargaan yang instrinsik dibandingkan dari yang
ekstrinsik.
d) Sikap-sikap hubungan kemanusiaan, para pemimpin yang berhasil mau
mengakui harga diri dan kehormatan para pengikutnya dan mampu berpihak
kepadanya, dalam istilah penelitian Universitas Ohio, pemimpin itu
mempunyai perhatian, dan kalau mengikuti istilah penemuan Michigan,
pemimpin itu berorientasi pada karyawan bukan berorientasi pada produksi.
Menurut Mangkunegara (2013) seseorang yang dilahirkan sebagai
pimpinan karena memiliki sifat-sifat sebagai pimpinan. Namun pada dalam
teori ini juga tidak memungkiri bahwa sifat-sifat sebagai pimpinan tidak
seluruhnya dilahirkan, tetapi ada yang dicapai melalui pendidikan dan
pelatihan. Peran penganut teori sifat ini berusaha menggeneralisasikan sifatsifat umum yang dimiliki oleh pemimpinnya, seperti sifat fisik, mental dan
kepribadian. Dengan asumsi pemikiran, bahwa keberhasilan seseorang sebagai
pemimpin ditentukan oleh kualitas sifat atau karakteristik tertentu yang
dimiliki dalam diri pimpinan tersebut, baik berhubungan dengan fisik, mental,
psikologis, personalitas, dan intelektual. Beberapa sifat yang dimiliki seseorang
pimpinan antara lain taqwa, sehat, cakap, jujur, tegas, setia, cerdik, berani,
disiplin, berwawasan luas, komunikatif, berkemauan keras, tanggung jawab
dan sifat positif lainnya. - Teori kelompok.
Teori ini beranggapan bahwa, supaya kelompok bisa mencapai tujuannya, maka harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara pemimpin dan
pengikut-pengikutnya. Teori kelompok ini dasar perkembangannya pada
psikologi sosial. Menurut Mangkunegara (2013) sering disebut dengan teori
perilaku dimana teori ini dilandasi pemikiran, bahwa kepemimpinan merupakan interaksi antar pemimpin dengan pengikut, dan dalam interkasi
tersebut pengikutlah yang melakukan menganalisis dan mempersepsikan
apakah menerima atau menolak kepemimpinannya. Pendekatan perilaku
menghasilkan dua orientasi yaitu perilaku pimpinan yang berorientasi pada
tugas atau yang mengutamakan penyelesaian tugas dan perilaku pemimpin
yang berorientas pada orang yang mengutamakan penciptaan hubunganhubungan manusiawi. - Teori situasional
Teori ini menyatakan bahwa beberapa variabel situasional mempunyai
pengaruh terhadap peranan kepemimpinan, kecakapan, dan pelakunya
termasuk pelaksanaan kerja dan kepuasan para pengikutnya. Beberapa variabel
situasional diidentifikasikan, tetapi tidak semua ditarik oleh situasional ini.
Menurut Rivai, Veithzal, Darmansyah, Ramly (2014) suatu pendekatan
terhadap kepemimpinan yang menyatakan bahwa pemimpin memahami
perilakunya, sifat-sifat bawahannya, dan situasi sebelum menggunakan suatu
gaya kepemimpinan tertentu. Pendekatan ini mensyaratkan pemimpin untuk
memiliki ketrampilan diagnostik dalam perilaku manusia. - Teori kepemimpinan kontijensi
Model kepemimpinan yang dikemukakan oleh Fielder sebagai hasil
pengujian hipotesa yang telah dirumuskan dari penelitiannya terdahulu. Model
ini berisi tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang
menyenangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi empiris berikut
ini:
a) Hubungan pimpinan anggota, variable ini sebagai hal yang paling menentukan dalam menciptakan situasi yang menyenangkan.
b) Derajat dari struktur tugas. Dimensi ini merupakan urutan kedua dalam
menciptakan situasi yang menyenangkan.
c) Posisi kekuasaan pemimpin yang dicapai lewat otoritas formal. Dimensi ini
merupakan urutan ketiga dalam menciptakan situasi yang menyenangkan. - Teori jalan tujuan (Path-Goal theory).
Teori ini mula-mula dikembangkan oleh Geogepoulos dan kawankawannya di Universitas Michigan. Pengembangan teori ini selanjutnya
dilakukan oleh Martin Evans dan Robert House. Secara pokok, teori path-goal
dipergunakan untuk menganalisis dan menjelaskan pengaruh perilaku pemimpin terhadap motivasi, kepuasan, dan pelaksanaan kerja bawahan. Ada dua
factor situasional yang telah diidentifikasikan yaitu sifat personal para
bawahan, dan tekanan lingkungan dengan tuntutan-tuntutan yang dihadapi oleh
para bawahan. Untuk situasi pertama teori path-goal memberikan penilaian
bahwa perilaku pemimpin akan bisa diterima oleh bawahan jika para bawahan
melihat perilaku tersebut merupakan sumber yang segera bisa memberikan
kepuasan, atau sebagai suatu instrument bagi kepuasan masa depan. Adapun
faktor situasional kedua, path-goal, menyatakan bahwa perilaku pemimpin
akan bisa menjadi factor motivasi terhadap para bawahan, yang diperlukan
untuk mengefektifkan pelaksanaan kerja.
Gaya kepemimpinan
Menurut Priansa dan Suwatno (2011), gaya kepemimpinan dibagi menjadi
empat jenis yaitu:
1) Gaya Kepemimpinan Transaksional. Kepemimpinan ini berfokus pada transaksi antar pribadi, antara manajemen dan karyawan, dua karakteristik yang
melandasi kepemimpinan transaksional yaitu :
a) Para pemimpin menggunakan penghargaan kontigensi untuk motivasi para
karyawan.
b) Para pemimpin melaksanakan tindakan korektif hanya ketika para bawahan
gagal mencapai tujuan kinerja.
2) Kepemimpinan Kharismatik. Kepemimpinan ini menekankan perilaku pemimpin yang simbolis, pesan-pesan mengenai visi dan memberikan inspirasi,
komunikasi non verbal, daya tarik terhadap nilai-nilai ideologis, stimulasi
intelektual terhadap para pengikut oleh pimpinan, penampilan kepercayaan diri
sendiri dan untuk kinerja yang melampaui panggilan tugas.
3) Kepemimpinan Visioner. Kepemimpinan ini merupakan kemampuan untuk
menciptakan dan mengartikulasikan suatu visi yang realitas, dapat dipercaya,
atraktif dengan masa depan suatu organisasi atau unit organisasi yang terus
tumbuh dan mengikat.
4) Kepemimpinan Tim. Menjadi pemimpin efektif harus mempelajari keterampilan seperti kesabaran untuk membagi informasi, percaya pada orang
lain, menghentikan otoritas dan memahami kapan harus melakukan intervensi.
Hubungan antar Variabel Komunikasi dengan Kinerja Karyawan
Komunikasi merupakan jalannya proses dimana seseorang maupun kelompok
orang menciptakan serta menggunakan sejumlah informasi agar saling terhubung
dengan lingkungan sekitar. Komunikasi bisa dilakukan dengan adanya pola
komunikasi dalam penyampaian informasi dari atasan ke karyawan dan sebaliknya
dari karyawan ke atasan ataupun dari karyawan ke karyawan. Kelancaran
komunikasi akan membentuk seorang karyawan mampu memahami pekerjaannya,
sehingga akan membuatnya mudah menyelesaikan pekerjaan dengan hasil akhir
yang baik yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kinerja karyawan tersebut.
Hubungan antara Variabel Kepemimpinan dengan Kinerja Karyawan
Kepemimpinan merupakan sebuah kemampuan yang terletak di dalam diri
seseorang untuk bisa mempengaruhi orang lain atau memandu pihak tertentu untuk
mencapai tujuan. Sedangkan kinerja karyawan adalah hasil dari serangkaian
pekerjaan yang telah dilakukan oleh karyawan sehingga menghasilkan sebuah
kualitas kerja dimana menjadi tolak ukur untuk menentukan bagaimana sebuah
peusahaan mampu menciptakan atau membentuk kinerja karyawannya dengan
baik. Fungsi kepemimpinan disini ialah sebagai dasar penentuan untuk
mengarahkan setiap hal yang berhubungan dengan karyawan. Entah dari cara
berpikir, berperilaku maupun bersikap dengan atasan atau rekan kerja sehingga
diharapkan untuk bisa memiliki kinerja yang baik.
Indikator Kinerja
Indikator dari kinerja karyawan menurut (Robbins, 2006) adalah:
- Kualitas
Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas pekerjaan yang
dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampulan dan kemampuan
karyawan. - Kuantitas
Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti jumlah unit,
jumlah siklus aktivitas yang diselsaikan. - Ketepatan Waktu
Merupakan tingkat aktivitas diselsaikan pada awal waktu yang dinyatakan, dilihat
dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang
tersedia untuk aktivitas lain. - Kemandirian dalam bekerja
Merupakan tingkat kerja yang bersumber dari faktor kesadaran akan peran dan
tanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Mangkunegara (2012 : 14) mengatkan bahwa kinerja pada
umumnya dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu :
- Faktor individual yang terdiri dari :
(1) Kemampuan dan keahlian
(2) Latar belakang
(3) Demografi - Faktor psikologi yang terdiri dari :
(1) Persepsi
(2) Atitude
(3) Personality
(4) Pelatihan
(5) Motivasi - Faktor organisasi yang terdiri dari :
(1) Sumber daya
(2) Kepemimpinan
(3) Penghargaan
(4) Struktur
(5) Job Design
Sedangkan menurut Siagian (2002) menyatakan bahwa kinerja karyawan
dipengaruhi beberapa fakt - Lingkungan kerja
- Budaya organisasi
- Kepemimpinan
- Motivasi kerja
- Disiplin kerja
- Kepuasan kerja
- Komunikasi dan faktor faktor lainnya.
Kinerja
Menurut Mangkunegara (2000) mengatakan kinerja adalah hasil kerja baik
secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan
tugasnya yang sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.
Menurut Wibowo (2007) kinerja merupakan hasil pekerjaan yang
mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi. Lingkungan
tersebutmeliputi banyak faktor globalisasi berkembang, perubahan teknologi yang
cepat, dan kebutuhan yang berkembang untuk karyawan dan sekaligus sebagai
peningkatan kinerja.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja seorang
karyawan yang memiliki hubungan dengan tujuan perusahaan dimana
mengedepankan kualitas dan kuantias yang dihasilkan.
Indikator Komunikasi
Menurut Mangkunegara (2000) yang di kutip dari Rensius, indikatorindikator komunikasi antara lain adalah :
- Kemudahan dalam memperoleh informasi,
Kinerja yang baik dari seseorang dapat tercipta apabila terdapat kemudahan
dalam memperoleh informasi dalam suatu proses komunikasi maka terwujud
kelancaran dalam pemindahan ide, gagasan maupun pengertian dari seseorang ke
orang lain. - Intensitas komunikasi
Apabila banyaknya terjadi percakapan yang baik, maka proses komunikasi
menjadi semakin lancar. Intensitas komunikasi sangat diperlukan guna kelancaran
dalam proses komunikasi dalam suatu organisasi. - Efektivitas komunikasi
Efektivitas komunikasi mengandung pengertian bahwa komunikasi yang
bersifat arus langsung, Artinya proses komunikasi yang dilakukan secara langsung
dengan adanya frekuensi tatap muka untuk memudahkan orang lain mengetahui apa
yang disampaikan komunikator. - Tingkat pemahaman pesan
Seseorang dapat memahami apa yang ingin disampaikan oleh seorang
komunikator kepada penerima juga tergantung pada tingkat pemahaman seseorang.
Adanya komunikasi yang baik dan lancar dapat lebih memudahkan seseorang atau
penerima mengerti dan memahami pesan yang akan disampaikan.
Unsur Komunikasi
Dalam berkomunikasi memiliki unsur-unsur yang sangat penting.
Berdasarkan dari definisi komunikasi diatas, dalam Mulyana (2010) untuk terjadi
proses komunikasi, minimal terdiri dari tiga unsur utama menurut Model
Aristoteles, yaitu:
- Komunikator
Merupakan pihak yang bertindak sebagai pengirim pesan kepada komunikan dalam
sebuah proses komunikasi. Dengan kata lain, komunikator merupakan seseorang
atau sekelompok orang yang berinisiatif untuk menjadi sumber dalam sebuah
hubungan. - Komunikan
Merupakan pihak yang menerima pesan dari komunikator. Komunikan dapat
bertindak sebagai komunikasi individu ataupun komunikasi kelompok. - Pesan
Pesan berupa inti atau berita yang mengandung arti. Oleh karena itu, pesan yang
disampaikan komunikator harus diranxang sedemikian rupa sehingga pesan
tersebut dapat menarik perhatian komunikan. Komunikator perlu memilih dan
merancang pesan menarik sehingga akan memperoleh pespons yang baik dari
komunikan.
Namun tidak hanya digolongkan dalam 3 unsur diatas, masih ada beberapa
hal atau secara umum unsur-unsur ini digunakan dalam proses komunikasi. Unsur
tersebut meliputi :
1) Umpan balik
Umpan balik adalah keluaran yang dihasilkan, yang dapat berupa tanggapan atau
respon dari pesan (massage) yang disampaikan oleh komunikator kepada
komunikan. Umpan balik dalam komunikasi antara lain :
a) Umpan balik kosong
Umpan yang diterima komunikator dari komunikan tidak dapat dimengerti
sehingga tujuan yang ingin disampaikan oleh komunikan tidak mampu dipahami
dengan baik
b) Umpan balik positif
Umpan balik positif artinya pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada
komunikan mampu dipahami dengan baik.
c) Umpan balik netral
Umpan balik netral artinya umpan balik tidak memihak. Bisa diartikan sebagai
pesan yang dikembalikan oleh komunikan kepada komunikator tidaklah relevan
atau tidak ada hubungannya dengan masalah yang disampaikan oleh komunikator
kepada komunikan.
d) Umpan balik negatif
Umpan balik negatif adalah pesan yang dikembalikan oleh komunikan kepada
komunikator tidaklah mendukung atau menentang. Yang artinya terjadi kritikan
atau kemarahan dari komunikan kepada komunikator.
2) Transmit
Transmit artinya menyampaikan, mengirimkan, atau menyebarkan pesan.
Pengiriman pesan bisa dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.
Pengiriman pesan secara langsung akan lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan
pengiriman secara tidak langsung karena penyampaian pesan secara tidak langsung
membutuhkan media atau sarana yang khusus untuk melakukan penyampaian pesan
tersebut.
3) Media komunikasi
Pemilihan media komunikasi membutuhkan keterampilan dan kejelian dari
komunikator. Media komunikasi yang dipilih dapat berwujud media tertulis, lisan,
dan sebagainya, atau dapat pula kombinasi dari keseluruhan media sesuai dengan
tujuan dan kepentingan dalam pesannya kepada komunikan. Komunikator perlu
memiliki kemampuan memilih media komunikasi yang tepat.
Komunikasi
Komunikasi merupakan bentuk interaksi manusia yang saling memengaruhi
satu dengan lainnya, sengaja atau tidak sengaja, dan tidak terbatas dalam bentuk
komunikasi verbal tetapi dalam hal ekspresi muka maupun tingkah laku. Menurut
Eugene (2001), komunikasi adalah proses dalam pengaturan organisasi untuk
memelihara agar manajemen dan para karyawan tetap tahu tentang bermacammacam hal yang relevan. Sedangkan menurut Haryani (2010) komunikasi
merupakan proses dimana seseorang (komunikator) mengirimkan stimuli (biasanya
dengan simbol-simbol verbal) untuk mengubah perilaku dari orang lain
(komunikan).
Dengan demikian dapat dipahami bahwa komunikasi adalah proses
penyampaian informasi dengan menggunakan berbagai media yang efektif
sehingga pesan tersebut dapat dengan jelas dan mudah dipahami oleh penerima
pesan tersebut. Pada hakikatnya, proses komunikasi adalah proses penyampaian
pikiran bisa berupa gagasan, informasi, opini, dan sebagainya yang muncul dari
benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan,
kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari
lubuk hati.
Indikator Kepemimpinan
Menurut Wahjosumidjo, (2005:83) Kepemimpinan dapat dirumuskan
sebagai suatu kepribadian (personality) seseorang yang mendatangkan keinginan
pada kelompok orang-orang untuk mencontohnya atau mengikutinya, atau yang
memancarkan suatu pengaruh yang tertentu, suatu kekuatan atau wibawa, yang
demikian rupa sehingga membuat sekelompok orang mau melakukan apa yang
dikehendakinya, dan semua itu dapat ditunjukkan oleh beberapa indikator yaitu:
- Bersikap adil
Rasa kebersamaan diantara para anggota adalah mutlak, sebab rasa kebersamaan
pada hakikatnya merupakan pencerminan daripada kesepakatan antara para
bawahan maupun antara pemimpin dengan bawahan dalam mencapai tujuan
organisasi. - Memberi sugesti
Sugesti merupakan pengaruh dan sebagainya, yang mampu menggerakkan hati
orang lain dan sugesti mempunyai peranan yang sangat penting di dalam
memelihara dan membina harga diri serta rasa pengabdian, partisipasi, dan rasa
kebersamaan diantara para bawahan. - Memotivasi
Setiap pemimpin memberikan suatu motivasi untuk memungkinkan karyawan
merasa dianggap dan memunculkan rasa semangat untuk melakukan pekerjaan. - Menciptakan rasa aman
Setiap pemimpin berkewajiban menciptakan rasa aman bagi para bawahannya. Dan
ini hanya dapat dilaksanakan apabila setiap pemimpin mampu memelihara hal-hal
yang positif.
Fungsi Pemimpin Kepemimpinan
Menurut Adair (2008) fungsi pemimpin dan kepemimpinan berkenaan
dengan perencanaan, pemrakarsaan, pengendalian, pendukung, penginformasi, dan
pengevaluasian. Masing-masing fungsi tersebut dijelaskan sebagai berikut:
- Perencanaan
Perencanaan berkenaan dengan aspek sebagai berikut :
a. Mencari semua informasi yang tersedia.
b. Mendefinisikan tugas, maksud, dan tujuan kelompok.
c. Membuat rencana yang dapat terlaksana. - Pemrakarsaan
Pemrakarsaan berkenaan dengan aspek sebagai berikut :
a. Memberikan pengarahan kepada kelompok mengenai sasaran dan rencana.
b. Menjelaskan mengapa menetapkan sasaran atau rencana merupakan hal yang
penting.
c. Membagi tugas kepada anggota kelompok.
d. Menetapkan standar kelompok. - Pengendalian
Pengendalian berkenaan dengan aspek berikut :
a. Memelihara anggota kelompok.
b. Memastikan semua tindakan diambil dalam upaya meraih tujuan.
c. Menjaga relevasi diskusi.
d. Mendorong kelompok mengambil tindakan/keputusan. - Pendukung
Pendukung berkenaan dengan aspek berikut :
a. Memberikan semangat kepada kelompok/individu.
b. Menciptakan tim kerja yang solid. - Penginformasian
Penginformasian berkenaan dengan aspek berikut :
a. Memperjelas tugas rencana.
b. Memberi informasi baru bagi kelompok.
c. Menerima informasi dari kelompok.
d. Membuat ringkasan atas usul dan gagasan yang masuk akal. - Pengevaluasian
Pengevaluasian berkenaan dengan aspek berikut :
a. Mengevaluasi kelayakan gagasan.
b. Menguji konsekuensi solusi yang diusulkan.
c. Mengevaluasi prestasi kelompok.
Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memberikan pengaruh yang
monstruktif kepada orang lain untuk melakukan suatu usaha kooperatif mencapai
tujuan yang sudah direncanakan, Kartono (2013). Menurut Kreitner dan Kinicki
(2005) menyatakan, bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses pengaruh sosial
dimana pemimpin menguasakan partisipasi sukarela dari karyawan dalam suatu
usaha untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan menurut Terry dan Leslie
(2010) Kepemimpinan merupakan aktivitas untuk mempengaruhi orang – orang
supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan meliputi proses
mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut
untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan
budayanya.
Kinerja
Kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan seseorang
dalam prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan
peranannya dalam perusahaan untuk mencapai persyaratan-persyaratan
pekerjaan. Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara
keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas
dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja,
target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu telah
disepakati bersama (Rivai dan Basri, 2008 dalam Putera, 2017). Menurut
Mangkunegara (2002) dalam Lusiani (2019) kinerja pegawai adalah hasil
kerja secara kuantitas, yaitu jumlah atau banyaknya pekerjaan yang
dihasilkan pegawai dan mutu, yaitu mutu pekerjaan yang dicapai oleh
seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan waktu
menyelesaikan tugas dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Hasil
kerja, atau prestasi itu merupakan gabungan dari tiga faktor berikut yaitu
minat dalam bekerja, penerimaan delegasi tugas, peran dan tingkat motivasi
seorang pekerja.
Menurut Tika (2006) dalam Hastutik (2015) kinerja sebagai hasilhasil fungsi pekerjaan atau kegiatan seseorang atau kelompok dalam suatu
organisasi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor untuk mencapai tujuan
organisasi dalam periode waktu tertentu.
Tipe-tipe Gaya Kepemimpinan
Teori ini dikembangkan oleh House (2005) sebagaimana dikutip
oleh Wirjana dan Supardo (2005) dalam Khairizah et al., (2016)
mengungkapkan seorang pemimpin menggunakan suatu gaya
kepemimpinan yang tergantung dari situasi:
a. Kepemimpinan Direktif
Pemimpin memberikan nasihat spesifik kepada kelompok dan
memantapkan peraturan-peraturan pokok.
b. Kepemimpinan Suportif
Adanya hubungan yang baik antara pemimpin dengan kelompok dan
memperlihatkan kepekaan terhadap kebutuhan anggota.
c. Kepemimpinan Partisipatif
Pemimpin mengambil keputusan berdasarkan konsultasi dengan
kelompok, dan berbagi informasi dengan kelompok.
d. Kepemimpinan Orientasi
Prestasi pemimpin menghadapkan anggota-anggota pada tujuan yang
menantang, dan mendorong kinerja yang tinggi, sambil menunjukkan
kepercayaan pada kemampuan kelompok.
Gaya Kepemimpinan
Menurut Wijana dan Supardo (2006) dalam Lestiyowati (2018) gaya
kepemimpinan adalah suatu cara dan proses kompleks dimana seseorang
mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu misi, tugas atau suatu
sasaran dan mengarahkan organisasi dengan cara yang lebih masuk akal.
Pemimpin memiliki karakteristik dan upaya untuk menciptakan hal yang
baru (selalu berinovasi). Gagasan-gagasan yang dimiliki pemimpin
merupakan gagasan sendiri tidak meniru ataupun menjiplak. Pemimpin
selalu berupaya untuk mengembangkan apa yang dilakukan. Pemimpin
percaya pada bawahan, dan selalu menyalakan api kepercayaan pada
anggota organisasi (Salam, 2017).
Kepemimpinan juga mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwaperistiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas untuk
mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok,
perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang di luar kelompok atau
organisasi (Rivai, 2004 dalam Asary, 2016). Demikian halnya Locander et
al (2002) dalam Asary (2016) menjelaskan kepemimpinan mengandung
makna pemimpin mempengarui yang dipimpin tapi hubungan antara
pemimpin dengan yang dipimpin bersifat saling menguntungkan kedua
belah pihak.
Terdapat enam gaya kepemimpinan yang dikutip oleh Goleman
(2009) dalam Rusmana (2017) adalah sebagai berikut:
- Kepemimpinan Koersif (Coersive Style)
Yaitu pemimpin yang menuntut perintahnya dipenuhi tanpa adanya
fleksibilitas kepada bawahan. Gaya kepemimpinan kohesif akan
mendatangkan hasil yang maksimal ketika organisasi dalam situasi
kritis dan menuntut perbaikan secepatnya. Adapun ciri-ciri gaya
kepemimpinan koersif yaitu :
a. Kebijakan selalu ditentukan oleh pemimpin.
b. Tidak ada inisiatif atau ide-ide kreatif dari bawahan.
c. Pemimpin menetapkan kontrol yang ketat dan standar yang tinggi. - Kepemimpinan Otoritatif (Authoritative Style)
Yaitu pemimpin yang menggerakkan orang menuju satu visi, pemimpin
yang menggunakan gaya otoritatif akan memberikan motivasi kepada
bawahannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Gaya
kepemimpinan otoritatif akan mendatangkan hasil yang maksimal
ketika sebuah organisasi tidak memiliki tujuan yang jelas atau target
yang pasti baik untuk jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka
panjang. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan otoritatif yaitu:
a. Pemimpin hanya memberikan tujuan akhir yang harus dicapai.
b. Memberikan kebebasan kepada bawahan untuk berinisiatif dan
memberikan ide-ide baru.
c. Memiliki visi yang jelas dan keberanian untuk bertindak.
d. Memiliki kharisma dan percaya diri yang tinggi.
e. Pandai memberi motivasi kepada bawahan. - Kepemimpinan Afiliatif (Afiliative Style)
Yaitu kepemimpinan yang menilai individu dan emosi bawahan sebagai
hal yang lebih penting dari pada tugas dan tujuan. Pemimpin afiliatif
berusaha menciptakan keharmonisan antara pemimpin dan bawahan
serta mengukur organisasi dengan membangun ikatan emosional yang
kuat sehingga mendapatkan kesetiaan yang tinggi dari bawahan. Gaya
kepemimpinan afiliatif akan mendatangkan hasil yang maksimal pada
sebuah perusahaan yang baru berdiri dimana pemimpin sedang
berusaha untuk membangun kerjasama tim. Adapun ciri-ciri gaya
kepemimpinan afiliatif yaitu:
a. Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.
b. Fleksibel dan meningkatkan inovasi.
c. Jarang memberikan arahan kepada bawahan.
d. Memungkinkan kinerja buruk tidak terkoreksi.
e. Cenderung memberikan toleransi yang berlebihan. - Kepemimpinan Demokratis (Democratice Leadership)
Yaitu pemimpin yang membangun rasa hormat dan tanggung jawab
dengan mendengarkan pendapat orang lain. Pemimpin demokratis
menetapkan kebijakan melalui konsensus dengan mengikutsertakan
partisipasi bawahan. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis
yaitu:
a. Menghargai pendapat bawahan.
b. Fleksibel dan memberi kebebasan kepada bawahan berinisiatif dan
memberikan ide baru.
c. Tujuan yang dicapai realistis dan berdasarkan kesepakatan bersama.
d. Memungkinkan terjadinya pertemuan-pertemuan secara terusmenerus.
e. Melakukan pemungutan suara sebagai jalan akhir untuk
mendapatkan keputusan. - Kepemimpinan Pacesetting (Pacesetting Leadership)
Yaitu pemimpin ambisius yang menuntut keberhasilan dan
kesempurnaan dari tugas yang diberikan kepada bawahannya.
Pemimpin dengan gaya ini memiliki tujuan yang jelas dan memberikan
arahan yang jelas mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh
dilakukan. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan pacesetting yaitu:
a. Pemimpin menetapkan standar kinerja yang tinggi.
b. Memberi contoh dan melakukan perbaikan terus-menerus.
c. Tegar terhadap bawahan yang memiliki kinerja yang tidak baik.
d. Memberikan arahan secara terperinci dan tidak fleksibel.
e. Tidak ada inisiatif dari bawahan. - Kepemimpinan Coaching (Coaching Leadership)
Yaitu pemimpin yang bertindak sebagai seorang penasihat bagi
bawahan. Pemimpin coaching membantu para bawahannya untuk
menemukan kekuatan dan kelemahan bawahan serta membantu
bawahan untuk membuat konsep dari aspirasi pribadi dan karier
bawahan. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan coaching yaitu:
a. Pemimpin menghargai gagasan bawahan.
b. Pemimpin memberikan nasihat kepada bawahan mengenai tugas
yang harus dilaksanakan.
c. Bersedia untuk mentolerir kegagalan jangka pendek jika kegagalan
itu dapat meningkatkan cara kerja bawahan dalam jangka panjang.
d. Terbuka terhadap aspirasi atau kritik dari bawahan.
e. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memberikan
pelatihan secara pribadi kepada bawahan.
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan faktor yang menentukan dalam suatu
perusahaan. Berhasil atau gagal perusahaan dalam mencapai suatu tujuan dipengaruhi oleh cara seorang pimpinan. Sosok pemimpin dalam perusahaan dapat
menjadi efektif apabila pemimpin tersebut mampu mengelola perusahaannya dan
mempengaruhi perilaku bawahan agar mau bekerja sama dalam mencapai tujuan
perusahaan. Adapun pengertian kepemimpinan menurut Hasibuan (2009) kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku para
bawahan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai
tujuan perusahaan. Menurut Siagian yang dikutip Sutrisno (2009) kepemimpinan
adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, dalam hal ini para
bawahannya sedemikian rupa sehingga para bawahannya mau melakukan kehendak pimpinan meskipun secara pribadi hal itu tidak disenanginya.
Menurut Rivai, Darmasyah, Mansyur dan Ramly (2014) kepemimpinan
secara luas meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi,
memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk
memperbaiki kelompok dan budayanya. Kepemimpinan terkadang dipahami sebagai kekuatan untuk menggerakan dan mempengaruhi orang. Kepemimpinan sebagai sebuah alat, sarana atau proses untuk membujuk orang agar bersedia
melakukan sesuatu secara sukarela. Terdapat tiga implikasi penting yang terkandung dalam kepemimpinan adalah:
a) Kepemimpinan melibatkan orang lain baik itu dari bawahan maupun pengikut.
b) Kepemimpinan melibatkan pendistribusian kekuasaan antara pemimpin dan
anggota kelompok secara seimbang, karena anggota kelompoknya bukanlah
tanpa daya.
c) Adanya kemampuan untuk menggunakan bentuk kekuasaan yang berbeda
untuk mempengaruhi tingkah laku pengikutnya melakukan berbagai cara.
Kinerja Karyawan
Kinerja (perfomance) mengacu pada sebuah pencapaian tugas-tugas
yang membentuk sebuah pekerjaan karyawan. Kinerja adalah hasil kerja
secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya (Mangkunegara, 2013). Istilah kinerja berasal dari kata Job
Performance atau Actual Performance (prestasi kerja atau prestasi
sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Robbins (2008)
mendefinisikan kinerja yaitu suatu hasil yang dicapai oleh karyawan dalam
pekerjaanya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan.
Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan
karyawan sehingga mereka mempengaruhi seberapa banyak mereka
memberi kontribusi kepada instansi atau organisasi termasuk kualitas
pelayanan yang disajikan. Berhasil tidaknya kinerja yang dicapai
organisasi tersebut dipengaruhi kinerja karyawan secara individual
maupun kelompok. Dengan asumsi semakin baik kinerja karyawan maka
semakin baik kinerja organisasi.
Indikator Kinerja Karyawan:
Menurut Mangkunegara (2013) mengemukakan ada beberapa indikator
dari kinerja yang meliputi :
a. Kualitas kerja yaitu seberapa baik karyawan melakukan pekerjaannya.
b. Kuantitas kerja yaitu seberapa lama karyawan melakukan
pekerjaannya dalam satu harinya.
c. Pelaksanaan tugas yaitu seberapa jauh karyawan dapat menyelesaikan
pekerjaannya dengan akurat atau tanpa kesalahan.
d. Tanggung jawab atas pekerjaan yaitu kesadaran akan pekerjaan yang
diberikan kepada karyawan dalam melaksanakan pekerjaan.
Adapun menurut Bernardin (2001) dalam Sudarmanto (2015)
menyampaikan ada 6 kriteria dasar atau dimensi untuk mengukur kinerja
yaitu :
a. Quality, berkaitan dengan hasil mendekati sempurna.
b. Quantity, terkait dengan satuan jumlah yang atau kuantitas yang
dihasilkan.
c. Timeliness, terkait dengan waktu yang diperlukan dalam
menyelesaikan aktivitas atau menghasilkan produk.
d. Cost-effectiveness, terkait dengan tingkat penggunaan sumber-sumber
organisasi (uang,orang,material,teknologi) dalam mendapatkan atau
memperoleh hasil atau pengurangan pemborosan dalam penggunaan
sumber-sumber organisasi.
e. Need for supervision, terkait dengan kemampuan individu dapat
menyelesaikan pekerjaan atau fungsi-fungsi pekerjaan tanpa asistensi
pimpinan atau intervensi pengawasan pimpinan.
f. Interpersonal impact, terkait dengan keinginan individu dalam
meningkatkan kerjasama diantara sesama pekerja dan anak buah.
Motivasi
Dalam kehidupan berorganisasi, pemberian dorongan sebagai
bentuk motivasi kerja kepada bawahan penting dilakukan untuk
meningkatkan kinerja karyawan. Robbins dalam Hasibuan (1999)
mengemukakan motivasi sebagai suatu kerelaan berusaha seoptimal
mungkin dalam pencapaian tujuan organisasi yang dipengaruhi oleh
kemampuan usaha memuaskan beberapa kebutuhan. Motivasi seringkali
disamakan dengan dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan
gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat, sehingga motivasi tersebut
merupakan driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah
laku dan perbuatan itu mempunyai tujuan tertentu.
Teori-Teori Motivasi
a) Teori Abraham Maslow
Teori motivasi Abraham maslow (Robins,2015) mengatakan
bahwa di dalam diri semua manusia bersemayam lima jenjang
kebutuhan, yaitu sebagai berikut:
- Fisiologis: antara lain rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian
dan perumahan), seks, dan kebutuhan jasmani lain. - Keamanan: antaranya keselamatan dan perlindungan atas kerugian
fisik dan emosional. - Sosial: mencakup kasih saying, rasa memiliki, diterima -baik, dan
persahabatan. - Penghargaan: mencakup faktor penghormatan diri seperti harga
diri, otonomi, dan prestasi; serta faktor dari luar misalnya status,
pengakuan, dan perhatian. - Aktualisasi diri: dorongan untuk menjadi seseorang/sesuatu
sesuai ambisinya yang mencakup pertumbuhan, pencapaian
potensi, dan pemenuhan kebutuhan diri.
b) Teori David McClelland
Teori McClelland (Robins,2015) mengatakan 3 poin, yaitu: - Kebutuhan akan prestasi: Dorongan untuk mengungguli,
berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat
untuk sukses. - Kebutuhan akan kekuasaan: kebutuhan untuk membuat orang lain
berperilaku dalam suatu cara yang orang-orang itu [tanpa dipaksa]
tidak akan berperilaku demikian. - Kebutuhan akan afiliasi: hasrat untuk hubungan antar-pribadi yang
ramah dan akrab.
c) Teori X dan Y
a. Teori X berasumsi bahwa para pekerja tidak suka bekerja, malas,
tidak menyukai tanggung jawab, dan harus dipaksa untuk
mengerjakan.
b. Teori Y berasumsi bahwa para pekerja suka bekerja, kreatif,
mencari tanggung jawab, dan dapat menyodorkan diri sendiri
dalam melakukan pekerjaannya.
d) Teori Dua Faktor dari Herzberg
Teori dua factor adalah suatu teori yang mengaitkan faktor-faktor
intrinsik dengan kepuasan kerja dan menghubungkan factor ekstrinsik
dengan ketidakpuasan kerja. Menurut Hertzberg, factor-faktor yang
mengarahkan pada kepuasan pekerjaan adalah terpisah dan berbeda
dari factor-faktor yang mengarahkan pada ketidakpuasan pekerjaan.
e) Teori ERG Alderfer
Alderfer mengidentifikasi tiga kelompok kebutuhan : - Kebutuhan eksistensi : berhubungan dengan kelangsungan hidup
(kesejahteraan fisiologis). - Kebutuhan hubungan : menekankan pentingnya hubungan sosial
atau hubungan antar pribadi. - Kebutuhan perkembangan : berhubungan dengan keinginan
intrinsik individu terhadap perkembangan pribadi.
Gaya kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan
dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap
dan perilaku para anggota organisasi bawahannya (Nawawi, 2003).
Seorang pemimpin harus menerapkan gaya kepemimpinan untuk
mengelola bawahannya, karena seorang pemimpin akan sangat
mempengaruhi keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya
(Waridin dan Bambang Guritno, 2005).
a. Teori Kontigensi Kepemimpinan
Model kontigensi Fielder (Robbins 2015) mengidentifikasi bahwa
Gaya Kepemimpinan mempunyai faktor kunci dalam keberhasilan
kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan dasar individu. Filder
mengasumsikan jika sebuah situasi mensyaratkan seorang pemimpin
untuk berorientasi pada tugas dan orang yang ada dalam posisi
kepemimpinan tersebut adalah yang berorientasi pada hubungan, salah
satu situasi harus dimodifikasi atau pemimpin harus digantikan untuk
mencapai efektivitas yang optimal.
Fielder (Robbins 2015) mengidentifikasi tiga dimensi kontigensi
atau situasional yang meliputi :
- Hubungan pemimpin-anggota adalah derajat kepercayaan diri,
kepercayaan dan menghormati yang mana para anggota miliki
dalam diri pemimpinin mereka. - Struktur tugas adalah keadaan yang mana penugasan pekerjaan
dibuatkan prosedur ( yaitu, terstruktur atau tidak terstrktur). - Kekuatan posisi adalah derajat dari pengaruh seorang pemimpin
yang memiliki variabel kekuatan yang lebih seperti merekrut,
memecat, disiplin, mempromosikan dan menaikan gaji.
Dalam tiga variable ini Filder menyatakan bahwa semakin baik
hubungan pemimpin dan anggota maka semakin tinggi pula pekerjaan
menjadi terstruktur, dan semakin kuat kekuatan posisi maka semakin
tinggi kendali yang dimiliki oleh pemimpin.
b. Teori Kepemimpinan Path Goal
Teori ini dikembangkan oleh Robert House dalam Robbins (2015),
yang menyatakan bahwa tugas dari pemimpin untuk membantu para
pengikut dalam memperoleh tujuan mereka dan untuk menyediakan
pengarahan atau dukungan untuk memastikan bahwa tujuan mereka
sesuai dengan keseluruhan tujuan dari kelompok atau organisasi.
Robert House dalam Robbins (2015) menggabungkan empat tipe atau
gaya kepemimpinan yang utama, yaitu : - Kepemimpinan direktif. Gaya ini serupa dengan gaya pemimpin
otoriter lippit dan white. Bawahan mengetahui dengan pasti apa
yang diharapkan dari mereka dan pemimpin memberikan
pengarahan yang spesifik. Tidak ada partisipasi dari bawahan. - Kepemimpina suportif. Gaya kepemimpinan ini memiliki sikap
ramah, mudah didekati dan menunjukkan perhatian tulus untuk
bawahan. - Kepemimpinan partisipatif. Pemimpin meminta dan menggunakan
saran dari bawahan, tetapi masih membuat keputusan. - Kepemimpinan berorientasi pada prestasi. Pemimpin mengatur
tujuan yang menantang bawahan untuk menunjukkan kepercayaan
diri mereka bahwa mereka akan mencapai tujuan dan memiliki
kinerja yang lebih baik.
c. Teori Pertukaran Pemimpin- Anggota ( Leader Member Exchange)
Suatu teori yang mendukung penciptaan para pemimpin didalam
kelompok dan diluar kelompok dan diluar kelompok; para bawahan
dengan status didalam kelompok yang akan memiliki peringkat kinerja
yang lebih tinggi, tingkat perputaran pekerja yang rendah dan
kepuasan kerja yang lebih tinggi.
Robbins (2015) mengidentifikasi ada beberapa jenis gaya
kepemimpinan, antara lain: - Gaya kepemimpinan kharismatik
Teori menurut Robbins (2015) mengemukakan bahwa para
pengikut terpacu kemampuan kepemimpinan yang heroik atau yang
luar biasa ketika mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu
pemimpin mereka. Terdapat lima karakteristik pokok pemimpin
kharismatik:
a. Visi dan artikulasi. memiliki visi ditujukan dengan sasaran ideal
yang berharap masa depan lebih baik dari pada status quo, dan
mampu mengklarifikasi pentingnya visi yang dapat dipahami
orang lain.
b. Riskio personal. Pemimpin kharismatik bersedia menempuh
risiko personal tinggi, menanggung biaya besar, dan terlibat ke
dalam pengorbanan diri untuk meraih visi.
c. Peka terhadap lingkungan. Mereka mampu menilai secara
realistis kendala lingkungan dan sumber daya yang dibutuhkan
untuk membuat perubahan.
d. Kepekaan terhadap kebutuhan pengikut. Pemimpin kharismatik
perseptif (sangat pengertian) terhadap kemampuan orang lain dan
responsive terhadap kebutuhan dan perasaan mereka.
e. Perilaku tidak konvensional. Pemimpin kharismatik terlibat
dalam perilaku yang dianggap baru dan berlawanan dengan
norma. - Gaya Kepemimpinan Transformasional
Model Gaya Kepemimpinan Transformasional dalam Robbins
(2015) mengidentifikasi bahwa para pemimpin yang menginspirasi
para pengikutnya untuk melampaui kepentingan diri mereka sendiri
dan yang berkemampuan untuk memiliki pengaruh secara
mendalam dan luar biasa terhadap para pengikutnya. Ada empat
karakteristik pemimpin transformasional :
a. Kharisma: memberikan visi dan rasa atas misi, menanamkan
kebanggaan, meraih penghormatan dan kepercayaan.
b. Inspirasi: mengkomunikasikan harapan tinggi, menggunakan
symbol untuk memfokuskan pada usaha, menggambarkan
maksud penting secara sederhana.
c. Stimulasi intelektual: mendorong intelegensia, rasionalitas dan
pemecahan masalah secara hati-hati.
d. Pertimbangan individual: memberikan perhatian pribadi,
melayani karyawan secara pribadi, melatih dan menasehati. - Gaya Kepemimpinan Transaksional
Para pemimpin yang membimbing dan memotivasi para
pengikut mereka yang diarahkan menuju tujuan yang ditetapkan
dengan menjelaskan peranan dan tugas yang dibutuhkan. Ada
empat karakteristik pimpinan transaksional yang meliputi :
a. Penghargaan kontingen : kontrak pertukaran penghargaan
dengan usaha yang dikeluarkan, menjanjikan penghargaan
untuk jinerja baik, mengakui pencapaian/prestasi.
b. Manajemen berdasarkan kekecualian (aktif) : mengawasi dan
mencari pelanggaran terhadap aturan dan standar, mengambil
tindakan korektif.
c. Manajemen berdasarkan kekecualian (pasif) : intervensi hanya
jika standar tidak dipenuhi.
d. Sesuka hati : menghindari tanggung jawab, menghindari
pengambilan keputusan. - Gaya Kepemimpinan Autentik
Para pemimpin yang mengetahui siapakah mereka, mengetahui
apa yang mereka yakini dan nilai, serta bertindak dengan nilai
tersebut dan meyakini secara terbuka dan berterus terang. Para
pengikut mereka akan mempertimbangkan mereka menjadi orangorang yang memiliki etika. Kepemimpinan yang autentik adalah
suatu cara yang menjanjikan untuk berpikir mengenai etika dan
kepercayaan didalam kepemimpinan karena menitikberatkan pada
aspek moral yang dimiliki oleh seorang pemimpin. - Gaya Kepemimpinan Melayani
Suatu gaya kepemimpinan yang ditandai dengan melampaui
kepentingan pemimpin sendiri dan akan menitik beratkan pada
kesempatan untuk membantu para pengikutnya agar bertumbuh
dan berkembang. Karakteristik dari pimpinan melayani :
mendengarkan, berempati, membujuk, menerima pelayanan, dan
secara aktif mengembangkan potensial dari para pengikutnya.
Tipe-tipe Kepemimpinan
Tiga tipe dasar sebagai bentuk-bentuk proses pemecahan masalah dan
mengambil keputusan, adalah sebagai berikut:
a) P e m i m p i n O t o k r a t i s / O t o r i t e r
Pemimpin yang bersifat otokratis memperlihatkan ciri-ciri
sebagai berikut:
Memberikan perintah-perintah yang selalu diikuti, menentukan
kebijaksanaan bawahan tanpa sepengetahuan mereka. Tidak
memberikan penjelasan secara terperinci tentang rencana yang akan
datang, tetapi sekedar mengatakan kepada anggotanya tentang langkahlangkah yang mereka lakukan dengan segera dijalankan. Memberikan
pujian kepada mereka yang selalu mengikuti kehendaknya. Selalu jauh
dengan anggota sepanjang masa.
b ) P e m i m p i n D e m o k r a t i s
Pemimpin demokratis hanya memberikan perintah setelah mengadakan
musyawarah dahulu dengan para anggotanya dan mengetahui bahwa
kebijaksanaannya hanya dapat dilakukan setelah dibicarakan dan
diterima oleh anggotanya. Pemimpin tidak akan meminta anggotanya
mengerjakan sesuatu tanpa terlebih dahulu memberitahukan rencana
yang akan mereka lakukan. Baik atau buruk, benar atau salah adalah
persoalan anggotanya dimana masing-masing ikut serta dalam
bertanggung jawab sebagai anggotanya.
c ). P emim pin Li b era l ata u La i s se z -Fa ir
Pemimpin liberal yaitu kebebasan tanpa pengendalian. Pemimpin tidak
memimpin atau mengendalikan sepenuhnya dan tidak pernah ikut serta
dengan bawahannya. Pemimpin tipe ini menyerahkan segala sesuatunya
kepada bawahan. Pemimpin dalam hal ini bersifat pasif, tidak ikut
terlibat langsung dalam komunikasi kelompok, tidak mengambil
keputusan apapun.
d). Pemimpin Paternalistik
Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan
yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut:
- Mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum
dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan. - Mereka bersikap terlalu melindungi.
- Mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk
mengambil keputusan sendiri. - Mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada
bawahan untuk berinisiatif. - Mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan
kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan
imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri. - Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
Gaya-gaya kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang dipergunakan oleh seorang
pemimpin dalam mempengaruhi perilaku orang lain. Masing-masing
pemimpin mempunyai gaya yang ingin memancarkan kepemimpinannya.
Menurut Susilo Martoyo (1996:146) gaya kepemimpinan diantaranya:
a. Gaya kepemimpinan Direktif Otokratif
Gaya kepemimpinan ini memberikan peluang yang sangat luas kepada
pemimpin untuk melaksanakan otoritasnya, sedangkan kebebasan
bawahan untuk mengemukakan pendapat sangat terbatas.
Pemimpin merupakan pusat komando, pusat perintah terhadap
bawahan.
b . G a y a K e p e m i m p i n a n P e r s u a s i f
Pemimpin melaksanakan otoritas dan kontrol terutama dalam
proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Pemimpin
memperhatikan masukan-masukan dari bawahan, bawahan mendapat
kebebasan terbatas untuk mengemukakan pendapatnya, mereka diikut
sertakan dalam pengambilan keputusan. Dalam hal ini, putusan pimpinan
merupakan keputusan bersama meskipun jumlah/persentase masukan
dari bawahan masih terhitung minim.
c. Gaya Kepemimpinan Konsultatif
Pemimpin memberikan kesempatan yang luas kepada bawahan untuk
ikut serta dalam pengambilan keputusan. Cara yang ditempuh adalah
menyajikan rancangan yang bersifat sementara. Rancangan
tersebut ditawarkan kepada bawahan, yang masih terbuka
kemungkinan adanya perubahan. Dengan cara ini pemimpin
berkesempatan menguji gagasannya kepada bawahannya melalui
proseskonsultasi. Cara ini juga memberikan peluang yang luas bagi
bawahan untuk mengemukakan pendapatnya secara bebas dalam
membuat suatu keputusan manajemen.
d. Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Pemimpin memberikan kesempatan dan kebebasan yang
seluas-luasnya kepada bawahan untuk mengemukakan pendapatnya.
Pemimpin dan bawahan bekerjasama secara penuh dalam team. Cara
lain, pemimpin dan bawahan bekerja dalam team tetapi pemimpin tidak
berperan langsung melainkan mendelegasikan kepada staff senior.
Pendelegasian pembuatan keputusan menunjukan adanya
kebebasan bertindak dalam batas tertentu, meskipun bawahan
sangat dominan tetapi tetap tanggung jawab berada pada pimpinan.
e. Ga ya Ke p emim pina n Mu s ya wa rah
Ke p emim pina n be rda sa rk an tata nilai kebe r samaa n
ya n g d i wuj ud kan dala m bentuk kekeluargaan dan gotong
royang,
tindakan pemimpin ditandai oleh rasa tolong menolong, saling
membantu dan berkerja sama berdasarkan kasih sayang, serta tetap
berpegang pada efisiensi dan efektif. Tindakan yang dilakukan
oleh pemimpin dalam pengambilan keputusan mengikuti prosedur
penentuan masalah, pengumpulan data, analisa data dan pengambilan
kesimpulan
f . Ga ya d en gan o rie nta si tu ga s (ta sk o rie nte d)
KKM berorientasi tugas mengarahkan dan mengatasi bawahan secara
tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang
diinginkannya.
KKM dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan
pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan
anggota awak kapal itu sendiri.
g. Gaya dengan orientasi karyawan (employee oriented)
KKM berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi
bawahan dibanding mengawasi mereka. Mereka mendorong para
anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan
memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam
pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan serta
hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para
anggota kelompok
Fungsi-fungsi kepemimpinan
Agar kelompok berjalan dengan efektif, seseorang harus
melaksanakan dua fungsi utama yaitu:
- Fungsi-fungsi yang berhubungan dengan tugas (task related) atau
pemecahan masalah.
Ini menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi dan pendapat. - Fungsi-fungsi pemeliharaan kelompok (group maintenance) atau sosial.
Fungsi ini mencakup segala sesuatu yang dapat membantu kelompok
berjalan lebih lancar, penengahan perbedaan pendapat, dan sebagainya
Sifat-sifat Kepemimpinan
Berbagai studi perbandingan sifat-sifat pemimpin cenderung lebih
tinggi, mempunyai tingkat kecerdasan lebih tinggi, lebih ramah, dan lebih
percaya diri dari pada yang lain dan mempunyai kebutuhan akan kekuasaan
lebih besar. Tetapi kombinasi sifat-sifat tertentu yang akan membedakan
antara pemimpin atau calon pemimpin dari pengikut, belum pernah
ditemukan. Sehingga timbul anggapan para peneliti sifat-sifat
kepemimpinan bahwa pemimpin dilahirkan, bukan dibuat, atau seseorang
itu dilahirkan membawa atau tidak membawa sifat-sifat yang
diperlukan bagi seorang pemimpin.
Pendekatan-Pendekatan Studi Kepemimpinan
Pendekatan pertama memandang kepemimpinan sebagai suatu
kombinasi sifat-sifat (traits) yang tampak.
Pendekatan kedua bermaksud mengidentifikasi perilaku-perilaku
(behaviors) pribadi dengan kepemimpinan efektif. Kedua pendekatan ini
mempunyai aggapan bahwa seorang individu yang memiliki sifat-sifat
tertentu atau memperagakan perilaku-perilaku tertentu, akan muncul sebagai
pemimpin dalam situasi kelompok apapun dimana ia berada. Pemikiran dan
penelitian sekarang mendasarkan pada pendekatan ketiga, yaitu pandangan
situasional tentang kepemimpinan. Pandangan ini menganggap bahwa
kondisi yang menentukan efektifitas kepemimpinan bervariasi dengan
situasi tugas-tugas yang dilakukan.
Definisi Kepemimpinan
Menurut arti secara harfiah, pimpin berarti bimbing. Memimpin
berarti membimbing atau menuntun. Pemimpin merupakan orang yang
memimpin ataupun seorang yang menggunakan wewenang serta
mengarahkan bawahannya guna mengerjakan pekerjaan mereka untuk
mencapai tujuan tertentu dari organisasi. Seperti manajemen,
Kepemimpinan (leadership) telah didefinisikan dengan berbagai cara yang
berbeda oleh berbagai orang yang berbeda pula. Beberapa definisi
Kepemimpinan menurut para ahli yaitu :
a) Menurut Stoner, (1996 : 161) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah
proses mengarahkan dan mempengaruhi aktifitas yang berkaitan dengan
pekerjaan dari anggota kelompok.
b) Menurut Wahjosumidjo (1999: 79) bahwa seorang pemimpin memiliki
kecerdasan, pertanggung jawaban, sehat dan memiliki sifat sifat antara
lain Dewasa, keleluasaan hubungan sosial, motivasi diri dan dorongan
prestasi serta sikap hubungan kerja kemanusiaan. Sebaliknya dalam
realitas sosial modern, juga dikenal pemimpin karismatik, terutama
dalam lingkungan sosial dan politik.
c) Menurut Tead;Terry;Hoyt didalam Kartono,2003. Definisi
kepemimpinan menurutnya adalah sebuah kegiatan ataupun sebuah seni
untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama yang
didasarkan kepada kemampuan yang dimiliki oleh orang itu guna
membimbing orang lain didalam usaha mencapai berbagai tujuan yang
ingin dicapai oleh kelompok.
d) Menurut Salusu (1988,80) bahwa Kepemimpinan ditafsirkan sebagai
kekuatan yang menyeleksi mimpimimpi seseorang dan kemudiannya
menetapkan tujuan hidup seseorang. Kepemimpinan dalam
pandangannya berarti sesuatu daya yang mampu menggerakkan
seseorang dari dalam dirinya dan mengarahkan seseorang kepada
sukses pencapaian misi (organisasi).
e) Menurut sudut pandang Young, kepemimpinan itu sebuah bentuk
dominasi yang didasari oleh kemampuan pribadi yang mampu untuk
mengajak ataupun mendorong orang lain untuk melakukan sesuatu
yang berdasarkan kepada penerimaan oleh organisasinya, dan
mempunyai keahlian yang khusus yang sesuai dengan situasi yang
khusus pula. Selain dapat memberikan pengarahan kepada para
bawahan atau pengikut, pemimpin dapat juga mempergunakan
pengaruh. Dengan kata lain, para pemimpin tidak hanya dapat
memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat
mempengaruhi bawahan dalam menentukan cara bagaimana tugas itu
dilaksanakan dengan tepat.
f) Menurut Geneen (1984: 80), bahwa kepemimpinan sebagai
seperangkat kemampuan individual yang sangat subyektif dan sulit
diukur secara kualitatif dengan angka. Kemampuan seseorang
mempengaruhi orang lain adalah bersumber dari hati nurani yang
sangat subyektif tersebut. Oleh karena tidak punya ukuran obyektif,
kepemimpinan tidak dapat diajarkan, apalagi ditiru oleh seseorang sejak
dilahirkan. Mantan Presiden Amerika, mengatakan bahwa Pengaruh
Kepemimpinan dan Team Work terhadap Kinerja Karyawan di
Koperasi Sekjen Kemdikbud Senayan Jakarta kepemimpinan adalah
sebuah seni yang sangat special dimiliki seseorang. Untuk
melaksanakannya diperlukan visi yang besar dari seseorang yang
menjadi pemimpin. Potensi kepemimpinan visioner seorang pemimpin
dapat bersumber dari potensi mengembangkan seni dan kepemimpinan.
Kepemimpinan tidak dapat terlepas dari konsep pemimpin yang
komprehensif.
Kualitas dari pemimpin seringkali dianggap sebagai faktor terpenting dalam
keberhasilan atau kegagalan organisasi (Bass, 1990, dalam Menon, 2002)
demikian juga keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi baik yang
berorientasi bisnis maupun publik, biasanya dipersepsikan sebagai
keberhasilan atau kegagalan pemimpin. Begitu pentingnya peran pemimpin
sehingga isu mengenai pemimpin menjadi fokus yang menarik perhatian
para peneliti bidang perilaku keorganisasian. Schein (1992),
Nahavandi&Malekzadeh (1993), dan Kouzes&Posner (1987;1993)
menyatakan pemimpin mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap
keberhasilan organisasi. Pemimpin memegang peran kunci dalam
memformulasikan dan mengimplementasikan strategi organisasi. (dalam
Su’ud, 2000).
Jadi dapat disimpulkan bahwa Kepemimpinan adalah kemampuan
yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang-orang lain, kelompok
dan bawahan, kemampuan untuk mengarahkan tingkah laku orang lain,
mempunyai kemampuan ataupun keahlian khusus didalam bidang yang
diharapkan oleh kelompoknya guna mencapai tujuan dan sasaran.
Menyadari akan pentingnya peran seorang pemimpin dari beberapa definisi
diatas, didalam sebuah usaha untuk mencapai tujuan sebuah organisasi
sehingga dapat dikatakan bahwa, keberhasilan ataupun kegagalan yang
dialami oleh sebagian besar organisasi ditentukan oleh bagaimana kualitas
kepemimpinan yang dipunyai oleh pihak yang memimpin organisasi
tersebut.
Berhasil atau tidaknya organisasi dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan, tergantung kepada berbagai cara yang dilakukan oleh pemimpin
untuk memimpin organisasi itu.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Atmosoeprapto (2001: 58), Kinerja adalah perbandingan
antara keluaran (ouput) yang dicapai dengan masukan (input) yang diberikan.
Selain itu,kinerja juga merupakan hasil dari efisiensi pengelolaan masukan
dan efektivitaspencapaian sasaran. Oleh karena itu, efektivitas dan efisiensi
pekerjaan yang tinggiakan menghasilkan kinerja yang tinggi pula. Untuk
memperoleh kinerja yang tinggi dibutuhkan sikap mental yang memiliki
pandangan jauh ke depan. Seseorang harusmempunyai sikap optimis, bahwa
kualitas hidup dan kehidupan hari esok lebih baik dari hari ini.
Sedangkan menurut menurut Sulistiyani dan Rosidah (2003:
223),penilaian kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan,
usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya.
Pendapat lainnya dikemukakan oleh Ilyas (2001) yang
mengemukakan bahwa untuk meningkatkan kinerja pegawai, maka organisasi
perlu melakukan perbaikan kinerja.Adapun perbaikan kinerja yang perlu
diperhatikan oleh organisasi adalah faktor kecepatan, kualitas, layanan, dan
nilai.
Selain keempat faktor tersebut, juga terdapat faktor lainnya yang turut
mempengaruhi kinerja pegawai, yaitu ketrampilan interpersonal, mental
untuk sukses, terbuka untuk berubah, kreativitas, trampil berkomunikasi,
inisiatif, sertakemampuan dalam merencanakan dan mengorganisir kegiatan
yang menjadi tugasnya. Faktor-faktor tersebut memang tidak langsung
berhubungan dengan pekerjaan, namun memiliki bobot pengaruh yang sama.
Sedangkan Mangkunegara (2005) mengindentifikasi adanya beberapa
variabel yang berkaitan eratdengan kinerja, yaitu mutu pekerjaan, kejujuran
pegawai, inisiatif, kehadiran, sikap, kerjasama, kehandalan, pengetahuan
tentang pekerjaan, tanggung jawab dan pemanfaatan waktu.
Menurut Rivai (2005: 324), dalam menilai kinerja seorang pegawai,
maka diperlukan berbagai aspek penilaian antara lain pengetahuan tentang
pekerjaan, kepemimpinan inisiatif, kualitas pekerjaan, kerjasama,
pengambilan keputusankreativitas, dapat diandalkan, perencanaan,
komunikasi, inteligensi (kecerdasan), pemecahan masalah, pendelegasian,
sikap, usaha, motivasi, dan organisasi.
Selanjutnya, dari aspek-aspek penilaian kinerja yang dinilai tersebut
selanjutnyadikelompokkan menjadi :
- Kemampuan teknis, yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan,
metode, teknik, dan peralatan yang digunakan untuk melaksanakan tugas
serta pengalaman dan pelatihan yang diperolehnya. - Kemampuan konseptual, yaitu kemampuan untuk memahami kompleksitas
perusahaan dan penyesuaian bidang gerak dari unit masing-masing ke
bidangoperasional perusahaan secara menyeluruh. Pada intinya setiap
individu atau karyawan pada setiap perusahaan memahami tugas, fungsi
serta tanggungjwabnya sebagai seorang karyawan. - Kemampuan hubungan interpersonal, yaitu antara lain kemapuan untuk
bekerja sama dengan orang lain, memotivasikaryawan, melakukan
negosiasi, dan lain-lain.
Menurut Bernardin and Russel (1993: 382) terdapat 6 kriteria untuk
menilai kinerja karyawan, yaitu: - Quality yaitu
Tingkatan dimana proses atau penyesuaian pada cara yang ideal di
dalam melakukan aktifitas atau memenuhi aktifitas yang sesuai harapan. - Quantity
Yaitu Jumlah yang dihasilkan diwujudkan melalui nilai mata uang,
jumlah unit, atau jumlah dari siklus aktifitas yang telah diselesaika. - Timeliness yaitu
Tingkatan di mana aktifitas telah diselesaikan dengan waktu yang
lebih cepatdari yang ditentukan dan memaksimalkan waktu yang ada
untuk aktifitas lain. - Cost effectiveness yaitu
Tingkatan dimana penggunaan sumber daya perusahaan berupa
manusia, keuangan, dan teknologi dimaksimalkan untuk mendapatkan
hasil yang tertinggi atau pengurangan kerugian dari tiap unit. - Need for supervision yaitu
Tingkatan dimana seorang karyawan dapat melakukan
pekerjaannya tanpa perlu meminta pertolongan atau bimbingan dari
atasannya
Kinerja
Secara etimologi, kinerja berasal dari kata prestasi kerja
(performance).Sebagaimana dikemukakan oleh Mangkunegara (2002) bahwa
istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance
(prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang) yaitu hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.
Lebih lanjut Mangkunegara menyatakan bahwa pada umumnya
kinerja dibedakan menjadi dua, yaitu kinerja individu dan kinerja organisasi.
Kinerja individu adalah hasil kerja karyawan baik dari segi kualitas maupun
kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan, sedangkan kinerja
organisasi adalah gabungan dari kinerja individu dengan kinerja kelompok.
Menurut Atmosoeprapto (2000), kinerja atau prestasi kerja adalah
hasil kerja kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Sedangkan menurut Anwar (2005) kinerja karyawan merupakan
suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menetapkan perbandingan hasil
pelaksanaan tugas, tanggung jawab yang diberikan oleh organisasi pada
periode tertentu dan relatif dapat digunakan untuk mengukur prestasi kerja
atau kinerja organisasi.
Menurut Rivai (2005:14), kata kinerja merupakan terjemahan dari
kata performance yang berasal dari kata to perform dengan beberapa entries
yaitu :
- Melakukan, menjalankan, melaksanakan(to do or carry out, execute)
- Memenuhi atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar (to
discharge of fulfil; as vow) - Melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab (to execute or
complete an understanding) - Melakukan sesuatu yang diharapkan oleh orang atau mesin (to do what is
expected of a person machine).
Nurmianto dan Nurhadi (2006) menyatakan bahwa kinerja adalah
terjemahan dari kata performance. Pengertian kinerja atau performance
sebagai output seorang pekerja, sebuah output proses manajemen, atau suatu
organisasi secara keseluruhan, dimana output tersebut harus dapat
ditunjukkan buktinya secara konkret dan dapat diukur (dibandingkan dengan
standar yang telah ditentukan).
Menurut Husein (2005) kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai
oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam upaya mencapai
tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan
sesuai denganmoral maupun etika. Kinerja yang tinggi dapat diwujudkan,
apabila dikelola dengan baik.Itulah sebabnya setiap organisasi perlu
menerapkan manajemen kinerja.
Tipologi Kepemimpinan
Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut
berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian
berikut :
- Tipe Otokratis
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang
memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut:
a. Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi;
b. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi;
menganggap bawahan sebagai alat semata-mata;
c. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat;
d. Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya;
e. Dalam tindakan penggerakkannya sering mempergunakan
pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat
menghukum. - Tipe Militeristis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari
seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang
pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe
militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifatberikut:
a. Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering
dipergunakan.
b. Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada
pangkat dan jabatannya;
c. Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan;
d. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan;
e. Sukar menerima kritikan dari bawahannya;
f. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan. - Tipe Paternalistis
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang
paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut :
a. Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa;
bersikap terlalu melindungi (overly protective);
b. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil keputusan
c. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil inisiatif;
d. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengembangkan daya kreasi dan fantasinya;
e. Sering bersikap maha tahu. - Tipe Karismatik
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan
sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki
karisma.Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian
mempunyaidaya tarik yang amat besar dan karenanya pada
umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar,
meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan
mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu.Karena kurangnya
pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin
yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin
yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural
powers).Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan
sebagai kriteria untuk karisma. - Tipe Demokratis
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan
bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk
organisasi modern.Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini
memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari
pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di
dunia;
b. Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan
organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada
bawahannya;
c. Senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari
bawahannya;
d. Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam
usaha mencapai tujuan;
e. Iklas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada
bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki
agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi
lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain;
f. Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannyalebih sukses
daripadanya;
g. Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai
pemimpin.
Teori Kepemimpinan
Kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat
diterangkan melalui tiga aliran teori sebagai berikut :
- Teori Genetis
(Keturunan)Inti dari teori ini menyatakan bahwa “leader
are born and notmade”(pemimpin itu dilahirkan sebagai bakat dan
bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini berpendapatbahwa
seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah
dilahirkan dengan bakat kepemimpinannya. Dalam keadaan yang
bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan
menjadi pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai
pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan
ini tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis. - Teori Sosial
Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada
satu sisi, maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya.
Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “leader are made and not
born” (pemimpin itu dibuat atau dididik dan bukannya kodrati).
Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika.
Parapenganut teori ini mengetengahkan pendapat yang
mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila
diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup. - Teori Ekologis
Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya
mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori
tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut teori
ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya
akanberhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki
bakat kepemimpinan.
Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan
yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan
lebih lanjut.Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori
terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling
mendekati kebenaran.
Selain teori-teori dan pendapat-pendapat yang menyatakan
tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut, Hersey dan Blanchard
(1992) mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya
merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri,
bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut
diwujudkan. Bertolak dari pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard
(1992) mengajukan proposisi bahwa gaya kepemimpinan (k)
merupakan suatu fungsi dari pemimpin(p), bawahan (b) dan situasi
tertentu (s), yang dapat dinotasikan sebagai : k = f (p, b, s). Menurut
Hersey dan Blanchard, pemimpin(p) adalah seseorang yang dapat
mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja
maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi.
Organisasi akan berjalan dengan baik jika pemimpinmempunyai
kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pemimpinmempunyai
keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan
konseptual. Sedangkan bawahan adalah seorang atausekelompok orang
yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang
setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati
bersama guna mencapai tujuan.
Dalam suatu organisasi, bawahan mempunyai peranan yang
sangat strategis, karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung
kepada para pengikutnya ini.Oleh sebab itu, seorang pemimpindituntut
untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin.
Adapun situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu
keadaan yang kondusif, di mana seorang pemimpinberusaha pada saatsaat tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti
kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam satu
situasi misalnya, tindakan pemimpinpada beberapa tahun yang lalu
tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena
memang situasinya telah berlainan.
Kepemimpinan
Kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dalam
manajemenorganisasi.Kepemimpinan dibutuhkan manusia karena
adanya keterbatasan-keterbatasan tertentu pada diri manusia.Dari
sinilah timbul kebutuhan untuk memimpin dan dipimpin.
Kepemimpinan didefinisikan ke dalam ciri-ciri individual, kebiasan,
cara mempengaruhi orang lain, interaksi, kedudukan dalam oragnisasi
dan persepsi mengenai pengaruh yang sah.Kepemimpinan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan
dengan antusias .
Menurut Utomo (2002;34-52), kepemimpinan adalah proses
mempengaruhi atau memberi contoh kepada pengikut-pengikutnya
lewat proses komunikasi dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Menurut Achmad Suyuti (2001) yang dimaksud dengan kepemimpinan
adalah proses mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi pikiran,
perasaan, tindakan dan tingkah laku orang lain untuk digerakkan ke
arah tujuan tertentu.
Kepemimpinan pada dasarnya mengandung pengertian sebagai
suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin yang
menyangkut kemampuannya dalam memimpin.Perwujudan tersebut
biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu.
Pengertian kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan
pendapat yang disampaikanoleh Setiawan (2008) yangmenyatakan
bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang
dipersepsikan atau diacu oleh bawahan.
Kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang dirancang untuk
mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk
mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Trianingsih (2007) Kepemimpinan adalah
suatu cara yang digunakan pemimpin dalam berinteraksi dengan
bawahannya.
Pengaruh Kepuasan kerja dan Kinerja Karyawan
Penelitian mengenai kepuasan kerja biasanya berfokus pada pengaruhnya terhadap kinerja. Hubungan antara kepuasan kerja dan
kinerja sebenarnya berbeda dengan pernyataan Robbins yang menyatakan bahwa “karyawan yang puas adalah karyawan yang
produktif.” Hal ini karena karyawan yang puas biasanya memiliki motivasi untuk lebih terlibat dalam pekerjaan mereka agar
lebih produktif (Robbins, 2018:52).Terjadi hubungan timbal balik antara kinerja dan kepuasan kerja. Artinya, kepuasan kerja
dapat meningkatkan kinerja sehingga karyawan yang puas cenderung lebih produktif. P
Penilaian Kinerja Karyawan
Menurut Noe (2022), pelatihan dan pengembangan karyawan memiliki peran penting dalam meningkatkan
keterampilan dan pengetahuan karyawan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja mereka. Selain itu, keterlibatan
karyawan juga menjadi faktor yang memengaruhi kinerja mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Macey & Schneider (2022),
keterlibatan karyawan adalah tingkat keterikatan atau kepedulian karyawan terhadap pekerjaan dan organisasi tempat mereka
bekerja. Karyawan yang merasa terlibat dengan organisasi cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan
karyawan yang tidak merasa terlibat..
Berdasarkan penelitian oleh Pratama & Sukarno (2021), melalui penilaian kinerja, karyawan merasa diakui dan
kontribusi mereka dihargai, yang akhirnya mendorong mereka untuk meningkatkan kinerja mereka. Bilgah (2018:2014)
menyatakan bahwa penilaian kinerja adalah suatu proses yang digunakan perusahaan untuk mengevaluasi kinerja karyawan,
memberikan manfaat yang signifikan bagi karyawan, manajer, SDM, dan perusahaan. Penilaian kinerja juga berfungsi sebagai
alat motivasi bagi karyawan melalui komunikasi, yang bertujuan mencapai efisiensi maksimal.
Menurut Sukamto et al., (2021), sistem penilaian kinerja karyawan adalah hal yang penting untuk diterapkan dalam
perusahaan atau organisasi guna mengevaluasi perkembangan perusahaan. Evaluasi kinerja karyawan mencakup kriteria-kriteria
yang ditetapkan oleh perusahaan, seperti kedisiplinan, sikap, dan lainnya. Penilaian kinerja karyawan merupakan kegiatan yang
bertujuan untuk memahami bagaimana kinerja karyawan berlangsung di dalam perusahaan. Melalui penilaian kinerja, perusahaan
dapat mengambil tindakan seperti memberikan peringatan, pelatihan, kenaikan gaji, promosi, dan sebagainya. Organisasi
memiliki berbagai metode yang dapat digunakan untuk merencanakan, menilai, dan mengevaluasi kinerja karyawan.
Pertumbuhan organisasi sangat tergantung pada efektivitas penilaian kinerja ini. penilaian kinerja (Ayah, 2019). Penilaian kinerja
memberikan informasi yang akurat tentang perilaku dan kinerja karyawan. Penilaian kinerja adalah evaluasi berkala terhadap
kinerja organisasi, bagian-bagiannya, dan personel berdasarkan visi, tujuan, dan standarnya. Manajemen kinerja membutuhkan
sistem evaluasi kinerja yang baik untuk mengukur output perusahaan.
Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Faktor-Faktor Menurut Sutrisno (2018), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai adalah:
- Efisiensi dan efektivitas
Dikatakan efektif jika tercapai suatu tujuan, dikatakan efektif jika menjadi pendorong yang memuaskan untuk mencapai
tujuan, baik efektif maupun tidak. - Wewenang dan tanggung jawab
Setiap karyawan mengetahui hak dan tanggung jawabnya. Kinerja karyawan terwujud ketika karyawan berkomitmen
untuk bekerja. - Disiplin
Disiplin meliputi kepatuhan dan kepatuhan terhadap kesepakatan antara perusahaan dan karyawan. - Inisiatif
Inisiatif seseorang merujuk pada daya pikir, kreativitas berupa gagasan untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan
dengan tujuan organisasi.
Pengertian Kinerja Karyawan
Menurut Moeheriono (2019), tindakan adalah contoh realisasi program tindakan atau kebijakan dalam implementasi
tujuan, sasaran, visi dan misi organisasi melalui perencanaan strategis organisasi. Menurut Sutrisno (2018), kinerja adalah
hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan batas
wewenang dan tanggung jawabnya sehubungan dengan pencapaian tujuan organisasi yang bersangkutan, secara sah,
tanpa melanggar hukum dan sesuai dengan prinsip moral dan etika.
Menurut Mangkuprawira (2019), kinerja adalah kemauan seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan suatu
kegiatan dan menyelesaikannya dengan hasil yang diharapkan sesuai dengan tanggung jawabnya. Menurut Siagian
(2018), kinerja karyawan disebabkan karena karyawan telah bekerja selama periode waktu tertentu, dan fokusnya adalah
pada pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan selama periode waktu tertentu.
Indikator Kepuasan Kerja
- Menurut Afandi (2018:82), indikator kepuasan kerja adalah sebagai berikut:
- Pekerjaan Apakah isi pekerjaan yang dilakukan oleh orang tersebut memiliki unsur kepuasan? 2.
Remunerasi Besarnya remunerasi yang diterima atas pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan kebutuhan yang
dianggap wajar. - Promosi Kesempatan seseorang untuk berkembang melalui promosi. Ini ada hubungannya dengan apakah
ada peluang karir di tempat kerja. - Supervisor Seseorang yang selalu memberi perintah atau petunjuk saat melakukan pekerjaan.
Faktor-Faktor Kepuasan Kerja
Menurut Glimer dalam Sutrisno (2018: 77-78), faktor-faktor berikut mempengaruhi kepuasan kerja:
- Kemungkinan kemajuan. Dalam hal ini, kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan meningkatkan
keterampilan selama bekerja. - Keamanan kerja. Faktor ini disebut dukungan kepuasan kerja dan bagi karyawan. Kondisi aman sangat
mempengaruhi emosi karyawan selama bekerja. - Gaji. Lebih banyak melahirkan ketidakpuasan, dan orang jarang mengungkapkan kepuasan mereka dengan
uang yang mereka peroleh - Perusahaan dan manajemen. Perusahaan dan manajemen yang baik dapat menyediakan situasi dan kondisi
kerja yang stabil. Faktor ini menentukan kepuasan kerja karyawan. - Pengawasan dan pengawas. Pengawasan yang buruk dapat menyebabkan absensi dan turnover.
- Faktor internal di tempat kerja.
Atribut yang ada dalam pekerjaan mensyaratkan keterampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggan
akan tugas dapat meningkatkan atau mengurangi kepuasan. - Kondisi kerja.
Termasuk di sini kondisi tempat, ventilasi, penyiaran, kantin, dan tempat parker. - Aspek sosial dalam pekerjaan.
Salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas
dalam kerja.Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak dipakai alas an untuk
menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami, dan
mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap
kerja. - Fasilitas.
Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat
dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.
Teori Kepuasan Kerja
Menentukan ukuran kepuasan kerja melibatkan penggunaan teori yang dapat menjelaskan perilaku
individu terkait kepuasan kerja. Teori-teori ini berguna untuk mengevaluasi perilaku karyawan dalam hal
kepuasan dan ketidakpuasan. Menurut Mangkunegara (2018:120), terdapat enam teori tentang kepuasan
kerja yang meliputi:
- Teori Keseimbangan (Equity Theory)
- Teori Perbedaan (Discrepancy Theory)
- Teori Pemenuhan Kebutuhan (Need Fulfillment Theory)
- Teori Pandangan Kelompok (Social Reference Group Theory)
- Teori Dua Faktor dari Herzberg (Two Factor Theory)
- Teori Pengharapan (Expectancy Theory)
Teori-teori ini memberikan wawasan dan perspektif yang berbeda mengenai kepuasan kerja dan dapat
digunakan sebagai landasan dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan karyawan
dalam lingkungan kerja.
Pengertian Kepuasan Kerja
Adiwantari et al., (2019) Sumber daya manusia dalam sebuah organisasi memiliki nilai yang sangat penting.
Karyawan merupakan pihak yang berperan dalam mencapai tujuan organisasi. Sebagai makhluk sosial yang memiliki
pikiran, perasaan, dan keinginan yang dapat berubah dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, karyawan memiliki
tugas untuk mencapai prestasi kerja yang diharapkan. Sebaliknya, organisasi juga bertanggung jawab untuk menyediakan
tempat kerja yang aman, nyaman, serta sarana prasarana yang sesuai agar karyawan dapat mencapai tujuan organisasi
dengan baik.
Kepuasan kerja karyawan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan kerja. Tingkat kepuasan kerja
karyawan mencerminkan sejauh mana mereka menyukai pekerjaan yang mereka lakukan. Perilaku karyawan terhadap
pekerjaan mereka dapat dilihat dari respons dan reaksi emosional yang ditunjukkan. Kepuasan kerja merupakan hasil dari
berbagai faktor yang mempengaruhi persepsi karyawan terhadap pekerjaannya.
Organisasi mempertimbangkan banyak hal untuk menjawab pertanyaan mengenai kepuasan kerja karyawan.
Upaya untuk mencapai kepuasan kerja merupakan insentif bagi peningkatan kinerja dan produktivitas dalam
organisasi.Sasongko et al., (2021) Kepuasan kerja pada dasarnya bersifat individual, dengan setiap orang memiliki
tingkat kepuasan yang berbeda berdasarkan nilai-nilai sendiri. Seorang karyawan merasa nyaman dan sangat loyal
terhadap perusahaan ketika mendapatkan kepuasan kerja yang diinginkan. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan
kepuasan kerja karyawan tersebut dibandingkan dengan karyawan lainnya. Kepuasan kerja adalah keadaan emosional
yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana karyawan mengalami pekerjaannya. Seorang karyawan yang
mencintai pekerjaannya pasti akan memberikan hasil yang terbaik bagi organisasinya. Sebaliknya, jika seorang karyawan
tidak mencintai pekerjaannya, tentu akan menghasilkan hasil yang kurang optimal.
Mangkunegara (2018:117) Kepuasan kerja dapat diartikan sebagai perasaan yang mendukung atau tidak
mendukung seorang karyawan terhadap pekerjaannya atau kondisinya. Keselarasan antara kebutuhan pribadi karyawan
dan tuntutan pekerjaan memainkan peran penting dalam mencapai kepuasan kerja. Menurut Wijono (2018:120), kepuasan
kerja merupakan hasil dari evaluasi karyawan terhadap pengalaman kerja yang positif dan menyenangkan. Dalam
evaluasi ini, karyawan menilai apakah mereka merasa senang atau tidak puas dengan pekerjaannya.
Sutrisno (2019:74) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai sikap karyawan terhadap pekerjaannya, termasuk
situasi kerja, kerjasama dengan rekan kerja, imbalan yang diterima di tempat kerja, serta faktor fisik dan psikologis.
Semakin puas kebutuhan karyawan dalam organisasi, semakin optimal tingkat kinerja dan produktivitas mereka, yang
pada akhirnya akan mendukung pencapaian tujuan organisasi.
Indikator-Indikator Kepemimpinan
Bass, B. M., & Riggio, R. E. (2019)menyebutkan indikator-indikator kepemimpinan adalah
- Inspirasi dan Visi
Pemimpin perubahan memiliki visi yang jelas dan kompeten menginspirasi pengikut dengan tujuan
yang menantang. Mereka mampu mengkomunikasikan visi tersebut dengan cara yang memotivasi dan
menggerakkan hati dan pikiran pengikut. - Pengaruh Individual
Pemimpin transformasional mampu menginspirasi pengikut secara individual. Mereka memberikan
perhatian individual, mendengarkan dengan empati, dan membantu pengikut merasa dihargai dan
diperhatikan. - Stimulasi Intelektual
Pemimpin perubahan mendorong pengikutnya untuk berpikir kritis, menantang status quo, dan
mengembangkan ide-ide baru. Mereka menciptakan lingkungan yang mendukung eksplorasi intelektual,
inovasi, dan kreativitas. - Perhatian Terhadap Pengembangan Individu
Pemimpin transformasional peduli terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu di bawah
kepemimpinannya. Mereka memberikan dukungan, pelatihan, dan peluang untuk pengembangan
keterampilan dan peningkatan karier. - Pemberdayaan
Pemimpin transformasional memberikan otonomi dan wewenang kepada pengikut untuk membuat
keputusan dan bertanggung jawab atas tugas dan proyek mereka. Mereka memberikan rasa kepercayaan
dan memungkinkan pengikut untuk merasa memiliki terhadap pekerjaan mereka.
Fungsi kepemimpinan
Menurut Kalsoom, Khan, dan Zubair (2018) Manajemen yang efektif hanya dapat terwujud bila dilakukan
sesuai dengan misinya. Peran utama kepemimpinan dalam menyediakan, mengelompokkan, mengarahkan, melatih,
mengarahkan, dll, singkatnya mentransfer 6 M kepada bawahan untuk mengikuti langkah-langkah pemimpin untuk
mencapai tujuan organisasi, kepemimpinan hanya dapat efektif bila diterapkan sesuai dengan misinya. . Tugas utama
manajemen: menyampaikan, mengelompokkan, mengajar, melatih, memimpin, dll. Secara fungsional, dapat dibagi
menjadi lima tugas utama manajemen: yaitu:
- Fungsi Instruksi
Prasetiyo et al., (2020) Fitur ini menunjukkan bahwa komunikasi yang terjadi adalah satu arah.
Sebagai seorang komunikator, pemimpin memiliki peran dalam menentukan apa yang harus dilakukan,
bagaimana melakukannya, kapan harus melakukannya, dan di mana pekerjaan harus dilaksanakan, sehingga
keputusan tersebut dapat benar-benar diimplementasikan. Kepemimpinan yang efektif memerlukan
kemampuan untuk memotivasi dan menginspirasi orang lain agar mau mengikuti arahan yang diberikan.
Fungsi konsultasi
Syahputra et al.,(2020) Fitur ini menunjukkan bahwa komunikasi yang terjadi adalah dua arah. Pada
tahap awal pengambilan keputusan, pemimpin seringkali membutuhkan penilaian, yang mendorongnya untuk
melakukan negosiasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Mereka dianggap memiliki informasi yang
berbeda dan penting untuk pengambilan keputusan.
Tingkat negosiasi berikutnya dari manajemen ke orang yang dikelola dapat terjadi Setelah keputusan
diambil dan saat ini sedang dijalankan. Tujuan dari konsultasi. adalah untuk mendapatkan Umpan balik untuk
melakukan perbaikan dan pengembangan. menyelesaikan keputusan yang dibuat dan dilaksanakan. Dengan
melakukan kegiatan konsultasi, pengambilan keputusan manajemen akan lebih mudah didukung dan diarahkan,
sehingga manajemen dapat bekerja secara efektif. - Fungsi partisipasi
Dalam menjalankan tugas tersebut, pemimpin berusaha untuk mengaktifkan orang-orang yang berada di bawah
kepemimpinannya, baik dalam partisipasi dalam pengambilan keputusan maupun dalam pelaksanaannya.
Partisipasi tidak berarti memberikan kebebasan untuk bertindak sesukanya, tetapi terjadi dalam bentuk
kerjasama yang terkendali dan tetap menghormati tanggung jawab utama orang lain. Meskipun ada partisipasi,
tanggung jawab utama tetap harus dipertahankan oleh Direktur, dan bukan Eksekutif. - Fungsi delegasi
Fungsi ini dilakukan dengan memberikan wewenang untuk mengambil atau mengarahkan keputusan,
baik dengan persetujuan manajemen atau tanpa persetujuan. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti memberikan
kepercayaan. Orang-orang yang menerima delegasi harus meyakini bahwa mereka adalah asisten eksekutif
yang memiliki prinsip, persepsi, dan aspirasi yang sejalan… - Fungsi pengendalian
Fungsi kontrol dalam kepemimpinan yang berhasil berarti kemampuan untuk mengkoordinasikan kegiatan para
anggota dengan tujuan mencapai hasil yang optimal. Fungsi kontrol dapat dijalankan melalui berbagai aspek, seperti
pengendalian, kepemimpinan, koordinasi, dan pengawasan. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa semua
fungsi manajemen harus terpenuhi sepenuhnya dalam kegiatan administrasi. Manajer harus mampu merumuskan program
kerja dengan jelas, memberikan instruksi yang tepat, mendorong kebebasan berpikir dan berekspresi, mengembangkan
kerjasama yang harmonis, serta mengatasi masalah dan mengambil keputusan sesuai tanggung jawabnya. Selain itu,
manajer juga harus mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan mengadopsi metode yang sesuai dalam
pengembangan organisasi.
Pengertian Kepemimpinan Transformasional
Sulistyawati et al., (2022) Kepemimpinan transformasional merupakan model kepemimpinan yang diyakini
efektif dalam meningkatkan kinerja karyawan dan kepuasan kerja. Bab ini membahas penelitian teoritis tentang gaya
kepemimpinan transformasional dan dampak gaya kepemimpinan ini terhadap kepuasan kerja dan kinerja karyawan.
Prasetiyo et al., (2020) Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai gaya kepemimpinan yang mengutamakan
pengembangan visi, perubahan budaya dan perubahan organisasi. Kepemimpinan transformasional juga mencakup empat
dimensi utama, yaitu Pengaruh yang dianggap ideal, motivasi yang memberikan inspirasi, stimulasi intelektual, dan
pertimbangan individual..
Putra Widyatmika & Riana (2020)Idealized influence mengacu pada karakteristik kepemimpinan yang positif
dan kharismatik, seperti integritas, kepercayaan, dan moralitas. Inspirational motivation adalah kemampuan pemimpin
untuk memotivasi dan mempengaruhi karyawan melalui komunikasi yang efektif dan visi yang jelas. Intellectual
stimulation melibatkan pemimpin dalam merangsang pemikiran dan kreativitas karyawan, dan individualized
consideration mengacu pada kemampuan pemimpin untuk memperhatikan kebutuhan individual karyawan dan
memberikan dukungan.
Fransisco et al., (2023Gaya Kepemimpinan adalah serangkaian karakteristik yang digunakan oleh manajer
untuk mempengaruhi orang-orang dalam organisasi. bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.
Dapat juga dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi yang disukai dan sering digunakan oleh
pemimpin. Manajer dituntut untuk memiliki kemampuan memimpin, membimbing, mengarahkan, mempengaruhi dan
memotivasi karyawan untuk bekerja sama guna mencapai tujuan perusahaan. Manajer dapat menciptakan kepuasan pada
karyawan yang dipimpinnya dan selalu memperhatikan semangat dan semangat kerja bawahannya. Manajer juga
memiliki peran dalam menciptakan interaksi kerja yang baik antara manajer dan bawahan, sehingga terbentuk hubungan
kerja yang harmonis dan saling mendukung. Ketika karyawan dibimbing dengan kepemimpinan transformasional,
mereka akan termotivasi untuk mencapai tujuan organisasi dan memenuhi kebutuhan mereka dengan tingkat yang lebih
tinggi. Sebagai hasilnya, penggunaan gaya kepemimpinan transformasional oleh manajer berdampak pada tingkat
kepuasan kerja karyawan. Karyawan akan meningkatkan motivasi mereka dan merasa puas dengan pekerjaan yang
mereka lakukan. (Adiwantari et al., 2019).
Supardi & Aulia Anshari (2022) Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi kelompok agar
mencapai tujuan bersama.. Kepemimpinan transformasional ini sebenarnya didefinisikan sebagai kepemimpinan sejati
karena kepemimpinan tersebut benar-benar bekerja menuju tujuan dengan memimpin organisasi menuju tujuan yang
belum pernah tercapai. Pemimpin sejati harus mampu mengarahkan organisasi ke arah yang baru Yukl (2010). Barao et
al., (2022) Kepemimpinan juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap cara dan urutan pengambilan keputusan.
Pemimpin yang baik adalah yang tahu bagaimana membuat keputusan yang bijak tanpa merugikan anggotanya, sekaligus
memberikan dampak positif bagi kelangsungan organisasi yang dipimpinnya. Apalagi di era digitalisasi saat ini, dasar
pengambilan keputusan tentunya harus berdasarkan informasi yang konkrit dan terpercaya. Lapisan keputusan dalam
pengambilan keputusan berbasis data tentu lebih efektif dan berdampak besar pada pengambilan keputusan itu
sendiri.Pengambilan keputusan berbasis data mengacu pada pendekatan kewirausahaan, dan manajer menyambut
keputusan berdasarkan informasi yang dapat diverifikasi (Rejikumar, Aswathy Asokan, dan Sreedharan, 2020).
Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan
Menurut Mangkunegara (2014), motivasi adalah energi atau kondisi
yang menggerakkan diri karyawan dengan terarah untuk mencapai tujuan
suatu organisasi. Karyawan yang memiliki motivasi tinggi terhadap
pekerjaannya dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan penuh tanggung
jawab.
Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan
Menurut Rivai dalam Apandi (2018) menyatakan gaya
kepemimpinan merupakan kumpulan ciri yang digunakan oleh seorang
pimpinan guna mempengaruhi bawahan supaya sasaran perusahaan atau
organisasi dapat tercapai selain itu dikatakan bahwa gaya kepemimpinan
merupakan pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan
oleh seorang pemimpin. Penggunaan gaya kepemimpinan yang sesuai
dengan kondisi bawahan dapat lebih mempengaruhi mereka dalam
mengikuti instruksi pimpinan dengan baik. Semakin terpengaruhnya
bawahan terhadap instruksi pimpinan dalam melaksanakan suatu pekerjaan,
maka semakin tuntas pekerjaan tersebut.
Indikator Kinerja Karyawan
Menurut Dharma dalam Razman (2017) kinerja dapat diukur melalui
tiga faktor:
a. Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran
kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari proses atau pelaksanaan
kegiatan. Ini berkaitan dengan jumlah keluaran yang dihasilkan.
b. Kualitas, yaitu mutu yang harus dihasilkan (baik tidaknya). Pengukuran
kualitatif keluaran mencerminkan pengukuran “tingkat kepuasan”, yaitu
seberapa baik penyelesaiannya. Ini berkaitan dengan bentuk keluaran.
c. Ketepatan waktu, yaitu sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan.
Pengukuran ketepatan waktu merupakan jenis khusus dari pengukuran
kuantitatif yang menentukan ketepatan waktu penyelesaian suatu kegiatan.
Pengertian Kinerja Karyawan
Suatu organisasi atau perusahaan jika ingin maju atau berkembang
maka dituntut supaya memiliki pegawai yang berkualitas. Pegawai yang
berkualitas adalah pegawai yang kinerjanya dapat memenuhi target atau
sasaran yang ditetapkan oleh perusahaan. Supaya memperoleh pegawai
yang memiliki kinerja baik maka diperlukan penerapan kinerja.
Ukuran kinerja dapat dilihat dari sisi jumlah dan mutu tertentu sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan oleh organisasi atau perusahaan
bentuknya dapat bersifat tangible (dapat ditetapkan alat ukurnya atau
standarnya) atau intangible (tak dapat ditetapkan alat ukurnya atau
standarnya), tergantung pada bentuk dan proses pelaksanaan pekerjaan itu.
Kinerja yang dihasilkan oleh pegawai dalam suatu perusahaan ditentukan
oleh beberapa faktor dan kondisi yang baik itu yang berasal dari dalam diri
pegawai ataupun yang berasal dari luar individu pegawai.
Kinerja karyawan perlu adanya penilaian dengan maksud supaya
memberikan satu peluang yang baik kepada karyawan atas rencana karier
mereka dilihat dari kekuatan dan kelemahan, sehingga perusahaan dapat
menetapkan pemberian gaji, memberikan promosi, dan dapat melihat
perilaku karyawan. Penilaian kinerja dikenal dengan istilah “performance
rating” atau “performance appraisal”. Penilaian kinerja merupakan proses
penilaian ciri-ciri kepribadian, perilaku kerja, dan hasil kerja seseorang
tenaga kerja atau karyawan (pekerja dan manajer), yang dianggap
menunjang unjuk kerjanya, yang digunakan sebagai bahan pertimbangan
supaya pengambilan keputusan tentang tindakan-tindakan terhadap bidang
ketenagakerjaan (Munandar, 2008).
Pengertian Motivasi Kerja
Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong
seseorang supaya melakukan sesuatu. Berawal dari kata “motif” itu, maka
motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.
Motif menjadi aktif pada saat–saat tertentu, terutama bila kebutuhan supaya
mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak. Menurut Winardi (2015)
istilah motivasi (motivation) berasal dari bahasa latin, yakni movere, yang
berarti “menggerakkan” to move.
Menurut Samsudin (2010), motivasi adalah proses mempengaruhi
atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau sekelompok kerja agar
mereka mau melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan. Menurut
Mangkunegara (2017), motivasi adalah kondisi atau energi yang
menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju supaya mencapai
tujuan organisasi perusahaan. Menurut Wukir (2013), motivasi adalah
proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seseorang dalam
berusaha mencapai tujuannya.
Indikator Gaya Kepemimpinan
Menurut Kartini Kartono dalam Nuralita dan Nugraha (2018), gaya
kepemimpinan merupakan sifat, kebiasaan, temperamen, watak, dan
kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalam berinteraksi
dengan orang lain.
Indikator tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Sifat
Sifat seorang pemimpin sangat berpengaruh dalam gaya kepemimpinan
untuk menentukan keberhasilannya menjadi seorang pemimpin yang
berhasil, serta ditentukan kemampuan pribadi pemimpin. Kemampuan
pribadi yang dimaksud yaitu kualitas seseorang dengan berbagai sifat,
perangai atau ciri-ciri di dalamnya.
b. Kebiasaan
Kebiasaan memegang peranan utama dalam gaya kepemimpinan
sebagai penentu pergerakan perilaku seorang pemimpin yang
menggambarkan segala tindakan yang dilakukan sebagai pemimpin yang
baik.
c. Temperamen
Temperamen merupakan gaya perilaku seorang pemimpin dan cara
khasnya dalam memberi tanggapan gaya perilaku seorang pemimpin dan
cara khasnya dalam memberi tanggapan, dalam berinteraksi dengan orang
lain. Beberapa pemimpin bertemperamen aktif, sedangkan yang lainnya
tenang. Deskripsi ini menunjukkan adanya variasi temperamen.
d. Watak
Watak seorang pemimpin yang lebih subjektif dapat menjadi penentu
bagi keunggulan seorang pemimpin dalam mempengaruhi keyakinan
(determination), ketekunan (persistance), daya tahan (endurance), dan
keberanian (courage).
e. Kepribadian
Kepribadian seorang pemimpin menentukan keberhasilannya, yang
ditentukan oleh sifat-sifat/karakteristik kepribadian yang dimilikinya.
Jenis – Jenis Gaya Kepemimpinan
Menurut Mifta Thoha dalam Agustin, Suharso, dan Sukidin (2019)
gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh
seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang
lain seperti yang ia lihat. Jenis – jenis gaya kepemimpinan antara lain:
a. Gaya Kepemimpinan Otokratik
Merupakan tipe seorang pemimpin yang tergolong sebagai orang yang
otoriter memiliki ciri-ciri yang pada umumnya negatif. Menurut Sudarwan
Danim dalam Maharati (2021) pemimpin otokratik memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
1) Beban kerja organisasi pada umumnya ditanggung oleh pemimpin.
2) Bawahan, oleh pemimpin hanya dianggap sebagai pelaksana dan mereka
tidak boleh memberikan ide-ide baru.
3) Bekerja dengan disiplin tinggi, belajar keras, dan tidak kenal lelah.
4) Menentukan kebijakan sendiri dan kalaupun bermusyawarah sifatnya hanya
penawar saja.
5) Memiliki kepercayaan yang rendah terhadap bawahan dan kalaupun
kepercayaan diberikan, di dalam dirinya penuh ketidakpercayaan.
6) Komunikasi dilakukan secara tertutup dan satu arah.
7) Korektif dan minta penyelesaian tugas pada waktu sekarang.
b. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Tidak sedikit orang yang mendambakan atasan yang tergolong sebagai
pemimpin yang demokratik. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa
tipe inilah yang ideal. Menurut Sudarwan Danim dalam Maharati (2021)
pemimpin demokratis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Beban kerja organisasi menjadi tanggung jawab bersama personalia
organisasi itu.
2) Bawahan, oleh pemimpin dianggap sebagai komponen pelaksana secara
integral harus diberi tugas dan tanggung jawab.
3) Disiplin akan tetapi tidak kaku dan memecahkan masalah secara bersama.
4) Kepercayaan tinggi terhadap bawahan dengan tidak melepaskan tanggung
jawab pengawasan.
5) Komunikasi dengan bawahan bersifat terbuka dan dua arah.
c. Gaya Kepemimpinan Permisif
Merupakan pemimpin yang tidak mempunyai pendirian yang kuat,
sikapnya serba boleh. Pemimpin memberikan kebebasan kepada
bawahannya, sehingga bawahan tidak mempunyai pegangan yang kuat
terhadap suatu permasalahan. Menurut Sudarwan Danim dalam Maharati
(2021) pemimpin permisif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Tidak ada pegangan yang kuat dan kepercayaan rendah pada diri sendiri.
2) Mengiyakan semua saran.
3) Lambat dalam membuat keputusan.
4) Banyak “mengambil muka” kepada bawahan.
5) Ramah dan tidak menyakiti bawahan.
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang mengandung
pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga
menunjukkan serta mempengaruhi. Pemimpin memiliki tanggung jawab
secara fisik dan spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang
dipimpin. Oleh karena itu menjadi pemimpin itu tidak mudah dan setiap
orang pasti akan berbeda cara memimpinnya.
Menurut Wukir dalam Kamal, Winarso, dan Sulistio (2019)
kepemimpinan adalah suatu seni memotivasi dan mempengaruhi
sekelompok orang supaya bertindak mencapai tujuan bersama. Sedangkan
menurut Samsudin dalam Rifai (2017) kepemimpinan berarti kemampuan
meyakinkan dan menggerakkan orang lain agar mau bekerja sama di bawah
kepemimpinannya sebagai suatu tim supaya mencapai suatu tujuan tertentu.
Pemimpin merupakan mereka yang menggunakan wewenang formal
supaya mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang
bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi
mencapai tujuan perusahaan. Pemimpin pertama-tama harus seorang yang
mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri
para bawahannya. Secara sederhana pemimpin yang baik adalah seorang
yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka
tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
Pengertian Inovasi
Rogers (1961) dalam Mulyana S. (2009) mendefinisikan Inovasi sebagai,
suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaran
pesan-pesan yang berupa gagasan baru.Selanjutnya, definisi difusi
menyangkut “which is the spread of a new idea from its source of invention
or creation to its ultimate users or adopters.”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, inovasi adalah pemasukan atau
pengenalan hal-hal yang baru, pembaharuan, penemuan baru yang berbeda
dari yang sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya. Sesuatu yang baru ini
dapat berupa gagasan, metode atau alat.
Rogers dan Shoemaker (1971) mengartikan inovasi sebagai: ide-ide baru,
praktek-praktek baru, atau obyek-obyek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu
yang baru oleh individu atau masyarakat sasaran penyuluhan. Sedangkan
Lionberger dan Gwin (1982) mengartikan inovasi tidak sekadar sebagai
sesuatu yang baru, tetapi lebih luas dari itu, yakni sesuatu yang dinilai baru
atau dapat mendorong terjadinya pembaharuan dalam masyarakat.
Oleh karena itu dari pengertian inovasi yang sudah diberikan oleh para ahli di
atas, dapat kita tarik pernyataan secara umum bahwa inovasi adalah suatu ide,
gagasan, barang, kejadian, metode, yang diyakini sebagai sesuatu yang baru
bagi seseorang atau sekelompok orang, baik berupa hasil penemuan maupun
pembaharuan guna mencapai tujuan. Sesuatu yang baru disini mengandung
ketidaktentuan (uncertainty), artinya sesuatu yang mengandung berbagai
alternatif kemungkinan, sesuatu yang tidak tentu, bagi seseorang yang
mengamati, baik mengenai arti, bentuk, manfaat, dan sebagainya
Peran-peran e-Leadeship
Menurut Burke (2008), peran-peran yang harus dijalankan oleh e-Leadership
sebagai berikut:
a. Visionary: memiliki kemampuan untuk melihat gambaran yang besar dan
menterjemahkannya kepada anggota organisasinya.
b. Convener: memiliki kemampuan untuk mengelola perbedaan anggota dan
membawa organisasinya ke arah tujuan yang jelas dan pemecahan
masalah.
c. Team sponsor: memiliki kemampuan untuk membentuk dan mengarahkan
kelompok kerja nyata dan kelompok virtual.
d. Manager: memiliki kemampuan untuk mengupayakan dan
mengalokasikan sumber-sumber organisasi dengan penuh tanggungjawab,
dan kemampuan untuk mengelola organisasi nyata dan virtual.
e. Innovator: memiliki kemampuan untuk menemukan cara-cara baru untuk
pekerjaan-pekerjaan di luar tugas pokok dan fungsinya.
f. Mentor: memiliki kemampuan untuk membimbing dan mengarahkan
calon-calon pemimpin baru di lingkungan organisasinya.
Konsep dan Penerapan Cara Kerja e-Leadership
Perencanaan merupakan fungsi dan tugas pertama seorang pemimpin dalam
hal ini kepala sekolah. Perencanaan merupakan suatu arah tindakan yang
telah ditetapkan terlebih dahulu. Karena itu, Edhy Sutana (2003: 43-44)
mendefinisikan rencana sebagai penggabungan antara tujuan yang hendak
dicapai dan kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan untuk mencapai tujuan
tersebut. Membuat perencanaan yang baik dapat dilakukan dengan cara
memahami dan menerapkan konsep dan cara kerja e-Leadership. Konsep dan
penerapan cara kerja e-Leadership dalam kegiatan perencanaan adalah suatu
konsep pembuatan dan penggunaan teknologi informasi yang dapat
mendukung perumusan dan pembuatan perencanaan seorang kepala sekolah.
Pengorganisasiaan merupakan salah tugas dan fungsi e-Leadership kepala
sekolah. Kegiatan ini memegang peranan yang penting dalam menentukan
keberhasilan pelaksanaan e-Leadership kepala sekolah dan tingkat prestasi
kinerja yang telah ditetapkan pada tahap perencanaan. Melalui kegiatan
pengorganisasian seorang kepala sekolah dituntut untuk bisa mengatur setiap
kegiatan dan pengalokasian semua sumber daya yang dibutuhkan sehingga
tingkat prestasi kinerja yang telah ditetapkan dapat dicapai. Konsep dan cara
kerja e-Leadership dapat diterapkan pada kegiatan pengorganisasian dengan
cara menciptakan sumber daya manusia yang mengerti teknologi.
Pengarahan dan Pendelegasian untuk dapat mencapai target prestasi kinerja
yang sudah direncanakan dan ditetapkan, seorang kepala sekolah harus bisa
memberikan pengarahan dan melakukan pendelegasian kepada bawahannya
dengan baik. Dengan menerapkan konsep dan cara kerjae-Leadership, maka
kepala sekolah dapat memberikan pengarahan dan pendelegasian tugas
kepada bawahan dengan menggunakan berbagai media teknologi informasi
misalnya e-mail, yahoo messenger dan software lainnya.
e-Leadership
Leadership atau kepemimpinan tidak terbatas hanya pada suatu kedudukan
atau pekerjaan; kepemimpinan mencakup wawasan yang lebih luas. Untuk
menjadi seorang pemimpin seseorang perlu memiliki visi dan imajinasi.
Burke (2008) mendefinisikan kepemimpinan sebagai “….. the ability to bring
people, tools and resources together to solve problems and achieve results”.
Di era global sekarang ini, seorang pemimpin perlu melangkah lebih jauh,
mampu membawa SDM yang dipimpinnya bersama-sama melintas bangsa,
geografis, budaya dan batasan-batasan lainnya, dengan memanfaatkan
teknologi informasi untuk mencapai tujuan lembaga seolah. Kepemimpinan
semacam inilah yang disebut e-Leadership.
e-Leadership adalah suatu istilah yang menyandingkan “e” sebagai simbol
bagi hal-hal yang berkaitan dengan elektronik, internet, atau dunia digital
dengan “leadership” (kepemimpinan) yang bermakna kemampuan seseorang
untuk menggerakkan atau mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya
dalam rangka mencapai tujuan organisasi (Kasali, 2008).e-Leadership adalah
kepemimpinan yang menggabungkan konsep yang telah ada pada saat ini
yaitu kepemimpinan dengan perkembangan teknologi. Menurut Budvytyte
(2006) menyatakan bahwa e-Leadership terdiri dari 2 elemen dasar: teknologi
dan kepemimpinan.
Kepemimpinan Yang Efektif
Kepemimpinan yang efektif sangat penting untuk kelangsungan hidup dan
keberhasilan sebuah organisasi dan lembaga sekolah. Tak seorangpun yang
berpendapat sama mengenai definisi terbaik untuk kepemimpinan, tapi dari
definisi-definisi yang ada, setidak-tidaknya dapat disimpulkan bahwa
kepemimpinan mengandung arti bahwa seorang pemimpin mempengaruhi
orang lain (bawahannya) supaya lebih bekerja keras dalam tugasnya, atau
merubah kelakuan mereka.
Sangatlah penting untuk dibedakan “kepemimpinan” dengan kepemimpnan
yang efektif. Untuk melihat efektif tidaknya suatu kepemimpinan, kita harus
melihat hasil kepemipinan itu. Yang biasa dijadikan kriteria kepemimpnan
yang efektif yaitu hasil kerjasama atau prestasi kelompok yang dipimpin.
Seorang pimpinan yang efektif tidak hanya bisa mempengaruhi bawahanbawahannya, tapi juga bisa menjamin bahwa para bawahannya tersebut
bekerja dengan seluruh kemampuan mereka.
Kepemimpinan yang efektif adalah dimana pemimpinan harus mempunyai
semangat tinggi yang melebihi semangat dari bawahannya sehingga rasa
percaya sangat kuat untuk menjalankan kepemimpinan dan mempunyai
tujuan jelas untuk menyongsong kearah yang lebih maju. Tidak mudah untuk
menjalankan kepemipinan yang efektif, apalagi berkembangan zaman sudah
modern jadi pemimpin harus mengikuti zaman yang modern, contohnya:
dizaman modern ini teknologi sudah berkembang pesat. Siapapun kita semua
harus tahu teknologi karena itu salah satu tuntutan untuk kita semua agar kita
bisa mengikuti perkembangan zaman. Di zaman yang modern seorang leader
harus tahu teknologi informasi dan komunikasi agar bisa mengaplikasikan ke
pada
Unsur Yang Harus Dipenuhi Dalam Kepemimpinan
a. Pengikut/ followership
Adanya kepemimpinan ini disebabkan adanya followership. Seseorang
menjadi pemimpin karena ada beberapa orang yang berkendak untuk
mengikuti yaitu bertindak sesuai dengan keinginan pemimpinnya. Pada
umunya followeship ini dapat di klasifikasikan menjadi 5 golongan yaitu:
- Followership yang berdasarkan naluri.
Terjadi beberapa pengikut dalam hal ini dikarenakan adanya dorongan
pada mereka untuk menaruh kepercayaan pada seseorang sehingga mereka
bersedia untuk bertindak tertentu yang dikendalikan oleh orang yang
mendapat kepercayaan. Orang yang menerima kepercayaan ini dianggap
sebagai pemimpin karena dia dianggap mampu melindungi kepentingan
atas orang-orang yang menaruh kepercayaan tadi. Kepemiminan dengan
kepengikutan jenis ini disebut dengan kepemimpinan karismatis yang
berarti kepatuhan karena percaya. - Followership yang berdasarkan agama.
Ini ditimbulkan karena beberapa orang memandang bahwa ada orang lain
mempunyai kelebihan dalam bidang keagamaan. Kita ketahui bersama
agama merupakan kepercayaan tingkat tinggi. - Followership yang berdasakan tradisi.
Ini timbul pada sejumlah orang. Karena kebiasaan secara turun menurun. - Followership berdasakan rasio.
Timbul dikalangan orang-orang cendikiawan/pelajar yang terlihat adanya
demokratis didalam mengambil keputusan. - Followership berdasarkan peraturan.
Ini terlihat pada organisasi dan lembaga sekolah dimana hubungan antara
orang yang satu dengan orang yang lain ditata menurut aturan-aturan yang
sudah ada atau di setujukan secara bersama-sama. - Tujuan
Kepemimpinan timbul karena adanya kepengikutan yang melakukan kerja
sama dalam rangkai mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama.
Dengan adanya tujuan-tujuan tertentu timbul kerja sama dan timbul pula
pemimpin untuk mengaturnya. - Kegiatan mempengaruhi
Ini berarti bahwa seorang pimpinan dalam aktifitasnya membimbing.
Mengontrol dan mengarahkan tindakan orang lain untuk menuju suatu
sasaran tertentu.
Pengertian Leadership
Leadership merupakan terjemahan dari kepemimpinan dan untuk memberikan
definisi terhadap kepemimpinan ini tidaklah mudah. Sebab untuk
memberikan pengertian tentang kepemimpinan ini tergantung dari segi mana
kita memandangnya. Ada beberapa pengertian tentang kepemimpinan yang
tergambarkan sebagai berikut:
- Kepemimpinan sebagai suatu fokus dari beberapa proses dalam rangka
mencapai tujuan. Dalam hal ini kita dapat melihat dengan realita bahwa
seorang pemimpin merupakan berbagai sumber kebijaksaan. - Kepemimpinan sebagai kepribadian dengan segala efeknya
menggambarkan bahwa seorang pimpinan pribadinya menggambarkan
pribadi organisasi yang dipimpinnya. - Kepemimpinan sebagai seni di dalam mengupayakan tercapainya pemenuh
kebutuhan. - Kepemimpinan merupakan sumber aktifitas untuk mempengaruhi orang
lain agar bertindak dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan
sekolah. - Kepemimpinan sebagai pemrakarsa dan sebagai pencetus inovasi baru,
untuk lebih efesien dan efektifnya mencapai tujuan organisasi dan sekolah. - Kepemimpinan sebagai kumpulan kekuasaan.
Hal ini terlihat seseorang yang menduduki jabatan tinggi atau pemimpin
mempunyai berbagai wewenang dan tanggung jawab. Menurut Prof. Dr. Mr.
Prajudi Atmosudirjo dalam bukunya yang berjudul beberapa pandangan
umum tentang pengambilan keputusan, menulis kepemimpinan sebagai
berikut :
“Kepemimpinan adalah kepribadian seseorang yang menyebabkan
sekelompok orang lain mencontoh atau mengikutinya. Kepemimpinan
adalah kepribadian yang memancarkan pengaruh wibawa, sedemikian
rupa sehingga sekelompok orang mau melakukan apa yang
dikehendakinya”.
Upaya Peningkatan Disiplin Kerja
Menurut Emil H. Tambunan (2001:140) mengemukakan beberapa
upaya peningkatan disiplin kerja pegawai, diantaranya:
- Pendekatan Negatif
Dalam pendekatan negatif ini, hukuman dijatuhkan kepada sipelanggar
dengan tujuan supaya tidak melakukan kesalahan. Jika ternyata ia
membuat kesalahan lagi, ia akan dihukum lebih berat lagi. Tujuan dari
penjatuhan hukuman adalah untuk memberi peringatan kepada orang
lain supaya jera tidak melanggar peraturan dan si pelanggar tentu akan
menerima ganjaran hukuman yang lebih berat. Hal ini dijalankan
sesuai pelanggaran dan seiringnya pelanggaran dilakukan. - Pendekatan Positif
Pendekatan positif ini berada di bawah satu falsafah yang menggaris
bahwa tujuan disiplin adalah untuk memperbaiki lebih dari pada hanya
menjatuhkan hukuman. Pendekatan sifat negatifpun menjadi positif
juka benar-benar hal itu dijalankan dibawah falsafah yang bertujuan
untuk memperbaiki. Inilah tugas pimpinan dalam satu organisasi untuk
memperkembangkan sikap para pekerja/karyawan mendorong mereka
taat pada peraturan. Salah satu untuk menjalankan pendekatan disiplin
yang positif adalah dengan menjelaskan tuntukan kerja, peraturanperaturan organisasi kepada semua anggota. Kemudian pimpinan harus
lebih sering berkomunikasi dengan bawahan mereka, dan menjelaskan
tindakan-tindakan positif mana yang diharapkan dari mereka. Adapun
cara pimpinan dalam memberikan pendekatan positif adalah:
a. Memberi nasehat
b. Mengurangi jam kerja, atau menyusun jadwal kerja yang tidak
terlalu ketat
c. Membuat peraturan/disiplin masa percobaan, bukan pemecatan
d. Melaksanakan program latihan dan melatih kembali
e. Mengurangi tindakan disipliner
f. Mengadakan orientasi formal dengan para karyawan secara
bergilir
g. Meminta partisipasi dalam menyusun peraturan dan penerapannya - Mendisiplin Diri Sendiri
Displin yang terbaik harus dapat membuat seseorang sanggup
mendisiplinkan diri sendiri ini didasarkan atas kecenderungan manusia
untuk melaksanakan hal yang benar dan mengikuti pola displin kerja.
Indikator-indikator yang Mempengaruhi Kedisiplinan
Hasibuan (2009:194) mengemukakan beberapa indikator yang
mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan suatu organisasi,
diantaranya:
- Tujuan dan Kemampuan
Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat disiplin kerja
karyawan. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara
ideal serta cukup menantang bagi kemampuan karyawan. Hal ini berarti
tujuan (pekerjaan) yang dibebankan pada karyawan harus sesuai dengan
kemampuan karyawan tersebut, agar dapat bersungguh-sungguh dan
berdisiplin baik untuk mengerjakannya. - Teladan Pemimpin
Teladan pemimpin sangat berperan dalam menentukan disiplin kerja
karyawan karena pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para
bawahannya. Dan keteladanan pimpinan yang baik maka disiplin kerja
karyawan akan ikut baik. Sebagai seorang pimpinan harus menyadari
bahwa dirinya menjadi contoh dan diteladani oleh bawahannya, untuk
itu pimpinan harus mempunyai kedisiplinan yang baik agar bawahan
juga dapat melaksanakan disiplin yang baik. - Balas Jasa
Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi disiplin kerja
karyawan karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan
karyawan terhadap pekerjaannya maka disiplina kanterlaksana. Balas
jasa berperan penting dalam menciptakan disiplin kerja karyawan. - Keadilan
Keadilan akan ikut mendorong terwujudnya disiplin kerja karyawan,
karena sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting dan ingin
diperlakukan sama. - Waskat
Waskat (pengawasan melekat) adalah tindakan nyata yang paling
efektif dalam mewujudkan disiplin kerja. Secara efektif merangsang
disiplin dan moral kerja karyawan, karena karyawan dapat perhatian,
bimbingan, petunjuk dan pengarahan dari atasannya langsung. Dengan
waskat ini pimpinan akan dapat mengetahui secara langsung
kedisiplinan karyawan sehingga pimpinan dapat menilai kondisi setiap
karyawan. Selain mengawasi disiplin kerja karyawan, waskat juga
mencari system kerja yang efektif untuk mewujudkan tujuan organisasi
dan karyawan. - Ketegasan
Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi
disiplin kerja karyawan. Pimpinan harus berani dan bertindak tegas
untuk menghukum setiap karyawan yang indisipliner sesuai dengan
sanksi. - Sanksi hukum/ Punishment
Sanksi hokum berperan penting dalam memelihara disiplin kerja
karyawan, karena dengan sanksi hukum yang berat karyawan akan
semakin takut untuk melanggar peraturan-peraturan organisasi sehingga
perilaku yang indisipliner akan berkurang. Berat atau ringan sanksi
yang diterapkan tersebut juga mempengaruhi baik atau buruknya
disiplin kerja karyawan. Hendaknya sanksi hokum tersabut tidak terlalu
berat supaya sanksi tersebut dapat dijadikan pelajaran untuk mendidik
karyawan agar mengubah perilakunya. Sanksi hukum yang wajar dan
bersifat mendidik akan menjadi motivasi untuk memelihara disiplin. - Hubungan Kemanusiaan
Menciptakan hubungan yang baik dan harmoni ssesama karyawan baik
hubungan keatas maupun kepada bawahannya yang terdiri dari direct
single relationship, direct grouprelationshipdan cross relationship akan
ikut menciptakan disiplin kerja karyawan yang baik. Dengan
menciptakan human relationship yang serasi akan terwujudnya
lingkungan kerja yang nyaman.
Jenis-Jenis Displin
Jenis-jenis disiplin menurut T. Hani Handoko (2010:208) adalah
sebagai berikut:
- Disiplin Preventif
Disiplin prenventif adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk
mendorong para karyawan agar mengikuti berbagai standar dan
aturan, sehingga penyelewengan-penyelewangan dapat
dicegah. Sasaran pokoknya adalah untuk mendorong disiplin
diri diantara para karyawan. Dengan cara ini menjaga disiplin
diri mereka bukan semata-mata bukan karena dipaksakan
manajemen. - Disiplin Korektif
Adalah kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran
terhadap aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari
pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut. Kegiatan korektif sering
berupa suatu bentuk hukuman dan disebut tindakan
pendisiplinan (disciplinary action). Sebagai contoh tindakan
pendisplinan bisa berupa peringatan atau skorsing. Sasaran
tindakan pendisiplinan menurut T. Hani Handoko dalam
bukunya Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia,
secara singkat adalah sebagai berikut: - Untuk memperbaiki pelanggaran
- Untuk mengahapi para karyawan lain melakukan kegiatankegiatan serupa
- Untuk menjaga berbagai standar kolompok tetap konsisten
dan efektif - Disiplin Progresif
Yaitu pemberian hukuman yang lebih berat terhadap
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi secara berulang,
tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada karyawan
untuk mengambil tindakan korektif sebelum hukumanhukuman yang lebih serius dilaksanakan. Adapun hukuman
dalam sistem disiplin progresif ini secara ringkas adalah adalah
sebagai berikut: - Teguran secara lisan
- Teguran / peringatan secara tertulis
- Skorsing dari pekerjaan satu sampai tiga hari
- Skorsing satu minggu atau lebih
- Diturunkan pangkatnya (demosi)
- Dipecat
Bentuk-bentuk Disiplin Kerja
Menurut Siagian (2011:230) bentuk disiplin yang baik akan
tercermin pada suasana yaitu:
- Tingginya rasa kepedulian karyawan terhadap pencapaian
tujuan perusahaan. - Tingginya semangat dan gairah kerja dan inisiatif para
karyawan dalam melakukan pekerjaan. - Besarnya rasa tanggung jawab para karyawan untuk
melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. - Berkembangnya rasa memiliki dan rasa solidaritas yang
tinggi dikalangan karyawan - Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja para
karyawan.
Pengertian Disiplin Kerja
Setiap perusahaan pada umumnya menginginkan agar para
karyawan yang bekerja dapat mematuhi tata tertib atau peraturan
yang telah ditetapkan. Dengan ditetapkannya peraturan baik tertulis
maupun tidak tertulis, diharapkan agar para karyawan dapat
melaksanakan sikap disiplin dalam bekerja sehingga
produktivitasnya pun meningkat.
Menegakkan kedisiplinan itu penting bagi suatu perusahaan
dimana dengan kedisiplinan diharapkan pekerjaan akan dilakukan
secara efektif dan seefisien mungkin. Oleh sebab itu bilamana
disiplin tidak dapat ditegakkan maka kemungkinan tujuan yang telah
ditetapkan tidak dapat tercapai. Untuk menegakkan kedisiplinan
maka kita tidak hanya cukup dengan ancaman-ancaman sedikit saja
tetapi juga melalui tingkat kesejahteraan yang cukup dimana para
karyawan akan lebih tenang dalam melaksanakan tugasnya dan
dengan ketenangan tersebut para bawahan akan lebih berdisiplin.
Adapun pengertian disiplin menurut Sastrohadiwiryo
(2005:291) mengatakan bahwa “Disiplin Kerja adalah suatu sikap
menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap peraturanperaturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun tidak tertulis serta
sanggup menjalankannya dan tidak mengelak untuk menerima
sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas atau wewenang yang
diberikan kepadanya.
Menurut Rivai (2011:825) mengatakan bahwa “Disiplin Kerja
adalah suatu alat yang digunakan para manajer untuk berkomunikasi
dengan karyawan agar mereka bersedia untuk mengubah suatu
perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran
dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku. Sedangkan menurut Handoko
(2010:208), mengatakan bahwa disiplin adalah “kegiatan manajemen
untuk menjalankan standar-standar organisasional.”
Macam-macam Gaya Kepemimpinan
Keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku
bawahan banyak dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Beberapa ahli
mengemukakan pendapat tentang macam-macam gaya kepemimpinan
adalah sebagai berikut:
Gaya kepemimpinan menurut Thoha (2013:49) mengatakan bahwa
gaya kepemimpinan terbagi menjadi dua kategori gaya yang ekstern yaitu:
- Gaya kepemimpinan otokratis, gaya ini dipandang sebagai gaya yang di
dasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan otoritas. - Gaya kepemimpinan demokratis, gaya ini dengan kekuatan personal
dan keikutsertaan para pengikut dalam proses pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan menurut pendapat Sutikno (2014:35)
mengatakan gaya kepemimpinan atau perilaku kepemimpinan atau sering
disebut Tipe Kepemimpinan. Tipe Kepemimpinan yang luas dikenal dan
diakui keberadaanya adalah sebagai berikut: - Tipe Otokratik
Tipe Kepemimpinan ini menganggap bahwa kepemimpinan adalah hak
pribadinya (pemimpin), sehingga ia tidak perlu berkonsultasi dengan
orang lain dan tidak boleh ada orang lain yang turut campur. Seorang
pemimpin yang tergolong otokratik memiliki serangkaian karakteristik
yang bisanya dipandang sebagai karakteristik yang negatif. Seorang
pemimpin otokratik adalah seorang yang egois. Seorang pemimpin
otokratik akan menunjukan sikap yang menonjolkan keakuannya, dan
selalu mengabaikan peranan bawahan dalam proses pengambilan
keputusan, tidak mau menerima saran dan pandangan bawahannya. - Tipe Kendali Bebas atau Masa Bodo (Laisez Faire)
Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe kepemimpinan
otokratik. Dalam kepemimpinan tipe ini sang pemimpin biasanya
menunjukkan perilaku yang pasif dan seringkali menghindar diri dari
tanggung jawab. Seorang pemimpin yang kendali bebas cenderung
memilih peran yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut
temponya sendiri. Disini seorang pemimpin mempunyai keyakinan
bebas dengan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya terhadap
bawahan maka semua usahanya akan cepat berhasil. - Tipe Paternalistik
Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang perannya dalam
kehidupan organisasi dapat dikatakan diwarnai oleh harapan bawahan
kepadanya. Harapan bawahan berwujud keinginan agar pemimpin
mampu berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan layak
dijadikan sebagai tempat bertanya dan untuk memperoleh petunjuk,
meberikan perhatian terhadap kepentingan dan kesejahteraan
bawahannya. Pemimpin yang paternalistik mengharapkan agar
legitimasi kepemimpinannya merupakan penerima atas peranannya
yang dominan dalam kehidupan organisasi. - Tipe Kharismastik
Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik khusus
yaitu daya tariknya yang sangat memikat, sehingga mampu
memperoleh pengikut yang sangat besar dan para pengikutnya tidak
selalu dapat menjelaskan secara konkrit mengapa orang tersebut itu
dikagumi. Hingga sekarang, para ahli belum berhasil menemukan
sebab-sebab mengapa seorang pemimpin memiliki kharisma. Yang
diketahui ialah bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya
penarik yang amat besar. - Tipe Militeristik
Pemimpin tipe militeristik berbeda dengan seorang pemimpin
organisasi militer. Pemimpin yang bertipe militeristik ialah pemimpin
dalam menggerakan bawahannya lebih sering mempergunakan sistem
perintah, senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, dan
senang kepada formalitas yang berlebih-lebihan. Menuntut disiplin
yang tinggi dan kaku dari bawahannya dan sukar menerima kritikan
dari bawahannya. - Tipe Pseudo-demokratik
Tipe ini disebut juga kepemimpinan manipulatif atau semi demokratik.
Tipe kepemimpinan ini ditandai oleh adanya sikap seorang pemimpin
yang berusaha mengemukkan keinginan-keinginannya dan setelah itu
membuat sebuah panitia, dengan berpura-pura untuk berunding tetapi
yang sebenarnya tiada lain untuk mengesahkan saran-sarannya.
Pemimpin seperti ini menjadikan demokrasi sebagai selubung untuk
memperoleh kemenangan tertentu. Pemimpin yang bertipe pseudodemokratik hanya tampaknya saja bersikap demokratik padahal
sebenarnya dia bersikap otokratis. Pemimpin ini menganut demokrasi
semu dan lebih mengarah keapda kegiatan pemimpin yang otoriter
dalam bentuk yang halus, samar-samar. - Tipe Demokratik
Tipe Demikratik adalah tipe pemimpin yang demokratis, dan bukan
karena dipilihnya pemimpin secara demokratis. Tipe kepemimpinan
dimana pemimpin selalu bersedia menerima dan menghargai saransaran, pendapat dan nasehat dari stag dan bawahan, melalui forum
musyawarah untuk mencapai kata sepakat. Kepemimpinan demokratik
adalah kepemimpinan yang aktif, dinamis, dan terarah. Kegiatankegiatan pengendalian dilaksanakan secara tertib dan bertanggung
jawab. Pembagian tugas disertai pelimpahan wewenang dan tanggung
jawab yang jelas, memungkinkan setiap anggota berpartisipasi secara
aktif
Pengertian Pimpinan
Dalam organisasi, pimpinan memiliki peran yang sangat penting demi
kemajuan organisasi dimana pimpinan memegang kekuasaan penting dalam
setiap pengambilan keputusan, membuat rencana dasar dan dalam
menentukan tujuan organisasi. Keberhasilan dari suatu organisasi sangatlah
ditentukan oleh pimpinan dalam menerapkan teori kepimpinan dalam
menerapkan teori kepemimpinan dalam organisasi. Menurut Hasibuan
(2011:157) pemimpin adalah seorang yang mempergunakan wewenang dan
kepemimpinannya untuk mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab
atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai suatu tujuan, sedangkan
Menurut Kartono (2010:18) pimpinan adalah seorang pribadi yang memiliki
kecakapan dan kelebihan, khususnya kecapakan dan kelebihan di satu
bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa
tujuan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja seorang karyawan ada dua,
yaitu (Adamy, 2016) :
1) Faktor intrinsik, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri, yang dibawa
karyawan sejak mulai kerja, seperti umur, kondisi kesehatan, jenis kelamin,
pendidikan, pengetahuan, kemampuan, keterampilan, pengalaman kerja, cara
berfikir, sikap kerja dan sebagainya.
2) Faktor ekstrinsik, yaitu menyangkut hal -hal yang berasaldari luar diri
karyawan dan yang mengenai pekerjaanya yaitukondisi fisik pekerjaannya
seperti sifat dan jenis pekerjaan,pengawasan, sistem penggajian, kesempatan
untukmengembangkan karir, penempatan karyawan, hubungandengan rekan
sekerja, struktur organisasi perusahaan.
Indikator Kepuasan Kerja
Terdapat lima dimensi pekerjaan yang dapat mempengaruhi dan dapat
dijadikan sebagai indikator untuk mengukur kepuasan kerja (Luthans, 2006).
Indikator tersebut terdiri dari :
1) Pekerjaan itu sendiri
Pekerjaan itu sendiri dalam hal ini dimana pekerjaan memberikan tugas yang
menarik, kesempatan untuk belajar, dan kesempatan untuk menerima tanggung
jawab.
2) Gaji
Gaji yaitu sejumlah upah yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa
dipandang sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain
dalam organisasi. Gaji yang sesuai akan memberikan kepuasan pada setiap
karyawan
3) Kesempatan promosi
Kesempatan promosi yaitu kesempatan untuk maju dalam organisasi dengan di
harapkan dapat memberikan hasil yang tinggi.
4) Pengawasan
Pengawasan atau kualitas supervisi yaitu kemampuan penyelia untuk
memberikanbantuan teknis dan dukungan perilaku.
5) Rekan kerja
Rekan kerja atau hubungan dengan rekan kerja adalah tingkat di mana rekan
kerja pandai secara teknis dan mendukung secara sosial.
Ada beberarapa dimensi mengenai kepuasan kerja yaitu sebagai berikut
(Koesmono, 2005) :
1) Situasi kerja, indikator ini diukur dari persepsi responden mengenai bekerja di
tempat kerja saat ini sangat menyenangkan
2) Pekerjaan itu sendiri, ndikator ini diukur dari persepsi responden mengenai
pekerjaan yang sudahsesuai dengan kemampuan dan bidang yang dikuasai,
karir berjalan sesuai dengankemampuan
3) Supervisi, indikator ini diukur dari persepsi responden mengenaipengawasan
mutu kerja dari atasan sangat baik, pimpinan dalam perusahaan adalahorang
yang bijaksana dan perhatian
4) Gaji, indikator ini diukur dari persepsiresponden mengenai gaji atau upah yang
diterima saat ini sesuai dengan tingkatketerampilan dan pekerjaan
5) Promosi, indikator ini diukur dari persepsi respondenmengenai dengan bekerja
di tempat sekarang saya mempunyai masa depan dan kesempatan promosi
untuk lebih maju lagi.
Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan sasaran penting dalam manajemen sumber daya
manusia karena akan mempengaruhi kinerja dan produktivitas kerja. Sumber daya
manusia akan merasa puas dalam bekerja apabila aspek pekerjaan dan individunya
saling menunjang sehingga dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja berkenaan
dengan perasaan seseorang tentang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan
karyawan (Rini & Adelia, 2016). Sedangkan menurut Mangkunegara (2009)
menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan dari seseorang yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan yang berhubungan denganpekerjaannya
atau dirinya sendiri.
Macam-Macam Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan ada beberapa macam antara lain yaitu (O’Leary, 2001):
- Gaya kepemimpinan diktator
Pemimpin jenis ini melakukan segala sesuatu berdasarkan paksaan atau secara
kekuasaan mutlak. Tegasnya pemimpin menentukan segala-galanya baik
mengenai aktivitas, kebijakan,keputusan, sedangkan orang yang dipimpinnya
hanya menerima instruksi, pemberitahuan, tugas serta perintah yang harus
dikerjakan, tanpa boleh membantah. Gaya kepemimpinan diktator sering juga
disebut otoriter, totaliter, dan tirani. Ciri-ciri kepemimpinan diktator adalah:
a. Tidak diperkenankan bertanya
Diktator menetapkan hukum di dalam kelompoknya dan mengharapkansetiap
orang melakukannya tanpa mempertanyakan kewenangannya.
b. Pengetahuan adalah kekuatan
Diktator dengan tepat mempercayai pengetahuan adalah salah satu kunci
kekuasaan.Karena alasan ini, diktator seringkali menyimpan sendiri
pengetahuan yang sangat penting dari suatu unit atau organisasi dan
menyebarkan bagian-bagian informasi hanya pada basis yang perlu diketahui.
c. Tidak boleh ada kesalahan
Diktator selalu mengharapkan kualitas kerja yang paling tinggi. Kesalahan
tidak akan ditoleransi. Kesalahan biasanya berakhir dengan penghentian atau
suatu bentuk hukuman lain terhadap pribadi pelaku.
Kelemahan gaya kepemimpinan diktrator :
a. Gaya kepemimpinan diktator dapat menyulitkan pemimpin maupun para
anggota tim. Diktator tidak biasa menciptakan lingkungan kerja yang kreatif
dan pasti. Diktator juga terbuka terhadap risiko yang sangat tinggi dibenci oleh
unitnya.
b. Diktator juga tidak akan mengenyam manfaat kreativitas timnya. Jika seorang
pengawas tidak tahu apa-apa tentang status dan sasaran-sasaran tim, para
anggota tim tidak akan mampu memperlihatkan kemampuan terbaik mereka. - Gaya kepemimpinan demokratis
Pemimpin berusaha memastikan bahwa kelompoknya mendapatkan informasi
memadai dan berpartisipasi dalam tujuan tim sebagai satu kesatuan. Artinya, sang
pemimpin melakukan suatu kebijakan tidak cukup hanya berbicara, tetapi
berdasarkan konstitusi atau peraturan yang telah disepakati bersama bukan
berdasarkan kemauan sendiri atau kekuatan sendiri (kekerasan).
Ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut :
a. Partisipasi
Pemimpin melibatkan tim di dalam sebagian besar aspek bisnis, memastikan
bahwa setiap anggota tim sama-sama menyadari apa yang sedang terjadi di
seluruh unit.
b. Mendorong perdebatan
Pemimpin mengakui nilai perdebatan dan kompetisi dan mendorong para
anggota tim untuk berperan serta dalam menyusun arah baru untuk unit
mereka.
c. Kekuasaan memveto
Kekuasaan mutlak sang pemimpin yang mempunyai gaya kepemimpinan ini
mendapatkan tambahan sebutan “relatif”. Meskipun pemimpin mendorong
adanya partisipasi, pada akhirnya dirinyalah yang membuat keputusan akhir
atas. - Gaya kepemimpinan kemitraan
Ciri-ciri gaya kepemimpinan kemitraan adaalah :
a. Kesejahteraan
Pemimpin tidak lebih daripada anggota kelompok yang lain, seseorang yang
mungkin memiliki pengalaman lebih, tentu saja, tetapi jugaseorang yang tidak
menarik bobot yang lebih besar dibandingkan pribadi-pribadi lain dalam
kelompok.
b. Visi kelompok
Semua anggota kelompok berpartisipasi dalam pembuatan keputusan dan
dalam menetapkan arah untuk unit.
c. Berbagi tanggung jawab
Semua anggota kelompok berpartisipasi dalam pembuatan keputusan dan
dalam menetapkan arah untuk unit. - Gaya kepemimpinan transformasional
Gaya kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang
digunakan oleh seseorang manajer bila ia ingin suatu kelompok melebarkan
batas dan memiliki kinerja melampaui status quo atau mencapai serangkaian
sasaran organisasi yang sepenuhnya baru.
Kelebihan gaya kepemimpinan transformasional :
1) Pemimpin transformasional tidak menyukai kekuasaan secara penuh,
sehingga mendelegasikan kekuasaan kepada pengikutnya dengan cara
mengembangkan kemampuan dan rasa percaya diri bawahan, menciptakan
tim- tim kerja yang bisa mengatur diri sendiri, dan meghilangkan pengawasan
yang tidak perlu
2) Pemimpin transformasional sering melatih bawahannya sehingga
meningkatkan kinerja dan komitmen bawahan
3) Pemimpin transformasional berpegang pada “tanggung jawab moral” yang
memotivasi perubahan terhadap keinginan memenuhi kebutuhan pribadi
menjadi keinginan untuk mencapai tujuan tim dan organisasi.
4) Kepemimpinan transformasional sering ditemukan dan diterapkan pada
berbagai tingkat pada orgnanisasi dan relevan untuk berbagai situasi serta
cocok digunakan pada organisasi yang melakukan perubahan secara besarbesaran
Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh
seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain
seperti ia lihat (Thoha, 2013). Setiap gaya kepemimpinan memiliki keunggulan dan
kelemahan. Setiap pemimpin menggunakan gaya kepemimpinannya sesuai
kemampuan, kepribadian dan situasi dalam pekerjaan. Pemimpin juga harus
mampu menjadi panutanyang lebih baik bagi bawahannya dalam organisasi
(Heidjrachman & Husnan, 2002). Berbagai persoalan yang timbul pada perusahaan
pemimpin diharapkan mampu menghadapinya dengan baik, baik itu persoalan
tentang perusahaan atau karyawan, agar terciptanya hubungan yang baik antara
karyawan dan pemimpinnya (Tampubolon, 2007). Gaya kepemimpinan adalah cara
bekerja dan bertingkah laku pemimpin dalam membimbing para bawahannya untuk
berbuat sesuatu, jadi gaya kepemimpinan merupakan sifat dan perilaku pemimpin
yang diterapkan kepada bawahannya untuk membimbing bawahannya dalam
melaksanakan pekerjaan (Kartono, 2006).
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah usaha seseorang untuk mengubah perilaku pihak lain,
apalagi anggota-anggota tersebut secara nyata nampak berubah kearah yang baik
maka kepemimpinannya dinyatakan berhasil. Sedangkan menurut Kreitner &
Kinicki (2005) Kepemimpinan adalah mempengaruhi karyawan untuk secara
sukarela mengejar tujuan organisasi. Dari definisi di atas, kepemimpinan secara
jelas melibatkan lebih dari sekedar menggunakan kekuasaan dan menjalankan
wewenang, serta ditampilkan pada tingkatan yang berbeda. Pada tingkat individu,
misalnya kepemimpinan melibatkan pemberian nasihat, bimbingan, inspirasi, dan
motivasi. Pemimpin memberikan insiprasi, dukungan emosional, dan mencoba
untuk membuat para karyawan bergerak ke arah tujuan umum. Para pemain juga
memainkan suatu peranan kunci dalam menciptakan suatu visi dan rencana strategis
untuk suatu organisasi.
Efektifitas seorang pemimpin ditentukan oleh kepiawaiannya
mempengaruhi dan mengarahkan para anggotanya. Para pemimpin juga
memainkan peranan penting dalam membantu kelompok, individu untuk mencapai
tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan,
khususnya kecakapan/kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi
orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi
pencapaian satu atau beberapa tujuan (James L. Gibson, 2005)
Hubungan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan
Motivasi merupakan variabel penting, yang dimana motivasi perlu mendapat
perhatian yang besar bagi organisasi dalam peningkatan kinerja karyawannya.
Motivasi kerja adalah dorongan atau semangat yang timbul dalam diri seseorang atau
karyawan untuk melakukan sesuatu atau bekerja, karena adanya rangsangan dari luar
baik itu dari atasan dan lingkungan kerja, serta adanya dasar untuk memenuhi
kebutuhan dan rasa puas, serta memenuhi tanggung jawab atas tugas-tugas yang
diberikan dan dilakukan dalam organisasi.
Hubungan Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan
Kepemimpinan pemimpin yang diperlihatkan dan diterapkan kedalam suatu
gaya kepemimpinan merupakan salah satu faktor dalam peningkatan kinerja karyawan,
karena pada dasarnya sebagai tulang punggung pengembangan organisasi dalam
mendorong, dan mempengaruhi semangat kerja yang baik kepada bawahan. Untuk itu
pemimpin perlu memikirkan dan memperlihatkan gaya kepemimpinan yang tepat
dalam penerapannya.
Gaya kepemimpinan ialah suatu cara yang dimilki seorang pemimpin yang
menunjukkan suatu sikap yang menjadi ciri khas tertentu untuk mempengaruhi
karyawannya dalam mencapai tujuan organisasi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Manajemen perusahaan harus membuat strategi untuk meningkatkan kinerja
karyawan demi tujuan dari perusahaan itu sendiri dapat tercapai sebagaimana
seharusnya. Oleh karena itu, manajer harus harus selalu menimbulkan motivasi kerja
yang tinggi kepada karyawannya guna melaksanakan tugas-tugasnya. Sekalipun harus
diakui bahwa motivasi bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi tingkat kinerja
karyawan.
Selanjutnya menurut Masram (2017:147) faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja karyawan terdiri dari:
a. Efektivitas dan efisiensi
Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh mengatakan bahwa
kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-akibat yang tidak dicari kegiatan
menilai yang penting dari hasil yang dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan
walaupun efektif dinamakan tidak efisien.
b. Otoritas (wewenang)
Otoritas adalah sifat dari suatu komunikasi atau pemerintah dalam suatu organisasi
formal yang dimiliki oleh seorang anggota organisasi kepada anggota lain untuk
melakukan suatu kegiatan kerja dengan kontribusinya.
c. Disiplin
Disiplin adalah taat kepada hokum dan peraturan yang berlaku
d. Inisiatif
Yaitu yang berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk ide
untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan organisasi.
Indikator Kinerja Karyawan
Kinerja karyawan perlu dinilai untuk memberikan gambaran atas pencapaian
mengenai prestasi ataupun dedikasi yang sudah diberikan karyawan kepada
perusahaan. Hal tersebut dapat dinilai melalui beberapa hal seperti sebagaimana berikut
disampaikan oleh beberapa ahli: Menurut Simamora dalam Masram (2017:142)
menyatakan “meskipun mustahil mengidentifikasi setiap kriteria kerja yang universal
yang dapat diterapkan pada semua pekerjaan, adalah mungkin menentukan beberapa
karakteristik yang harus dimiliki dan diharapkan bermanfaat bagi penilaian kinerja
karyawan yaitu:
a. Stabilitas dan Konsistensi
Kriteria yang baik harus mampu diukur dengan cara-cara yang dapat dipercaya.
b. Evaluasi Kinerja Anggota Organisasi
Kriteria yang baik harus mampu membedakan individu-individu sesuai dengan
kinerja mereka.
c. Efektivitas Individu Anggota Organisasi
Kriteria yang baik haruslah sensitive terhadap masukan dan tindakan pemegang
jabatan.
d. Dapat diukur
Kriteria yang baik harus dapat diterima oleh individu yang mengetahui kinerjanya
sedang dinilai.
Pengertian Kinerja Karyawan
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan
selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran maupun kriteria yang telah
ditentukan terlebih dahulu telah disepakati Bersama (Rivai & Basri dalam Masram
2017:138).
Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pegawai.
Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan
kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan
kelompok kerja di perusahaan tersebut (Mathis dan Jackson dalam Masram 2017:138).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
Winardi (2011) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
motivasi kerja seorang karyawan berasal dari 2 faktor, yaitu internal dan faktor
eksternal.
a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seorang karyawan.
Faktor internal terdiri dari persepsi mengenai diri sendiri, harga diri, prestasi,
harapan, kebutuhan, pembawaan individu, tingkat pendidikan, dan pengalaman
masa lalu.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri karyawan. Faktor ini
terdiri dari lingkungan kerja, pemimpin dan gaya kepemimpinannya, tuntutan
perkembangan organisasi, dan dorongan atasan.
Pengertian Motivasi Kerja
Hasibuan (2015) menyatakan bahwa motivasi kerja merupakan kondisi atau
energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai
tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positif terhadap
situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja
maksimal.
Menurut Herzberg (dalam Robbins & Judge, 2013) motivasi kerja adalah sikap
seseorang terhadap pekerjaannya agar memunculkan rasa puas pada kinerjanya. Teori
yang dikembangkan oleh Herzberg dikenal dengan teori dua faktor, yaitu Faktor
motivasional dan faktor hygiene atau pemeliharaan. Faktor motivasional adalah
dorongan-dorongan untuk berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber
dari dalam diri seseorang, sedangkan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktorfaktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri seseorang
Macam-Macam Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan dalam lima tipe menurut pendapat (Siagian dalam Busro,
2018:229), sebagai berikut :
a. Gaya kepemimpinan Otokratis
Yakni kepemimpinan yang cenderung memiliki ciri-ciri pemimpin yang berkuasa
sepenuhnya dalam orgnanisasi dan tidak memperhatikan kebutuhan pegawainya
karena mengidentifikasi tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
b. Gaya kepemimpinan milisteristis
Kepemimpinan dalam menggerakkan pegawainya dengan menggunakan perintah
bergantung pada jabatannya, serta menuntut disiplin yang tinggi dan kaku kepada
pegawainya.
c. Gaya kepemimpinan paternalistis
Gaya kepemimpinan yang mengayomi karena menganggap pegawainya tidak bisa
mengambil keputusan sendiri selalu bergantung kepada pimpinan dan selalu
melindungi.
d. Gaya kepemimpinan karismatis
Memiliki daya penarik yang sangat besar karean umumnya memiliki pengikut
yang anggotanya dalam skala besar dan keikutsertaan anggota bersifat buta serta
sangat setia kepada pimpinannya.
e. Gaya kepemimpinan demokratis
Yakni kepemimpinan yang mengutamakan diskusi dan berusaha mengutamakan
kerja sama dalam mencapai tujuan organisasi, pemimpin yang memiliki karakter
untuk menerima saran dan kritik serta mengerti kebutuhan pegawainya.
Pengertian Gaya Kepemimpinan
Dari penjelasan kepemimpinan diatas bisa dijelaskan bahwa gaya
kepemimpinan merupakan suatu cara yang dimilki seorang pemimpin yang
menunjukkan suatu sikap yang menjadi ciri khas tertentu untuk mempengaruhi
karyawannya dalam mencapai tujuan organisasi (Mulyadi, 2015:150). Menurut
penjelasan yang lain bahwa gaya kepemimpinan merupakan suatu cara bagaimana
seorang pemimpin mampu mempengaruhi karyawannya agar dapat suka rela mau
melakukan berbagai Tindakan Bersama yang diperintahkan oleh pimpinan tanpa
merasa bahwa dirinya ditekan guna mencapai tujuan organisasi (Busro, 2018:226).
Hubungan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan
Motivasi merupakan variabel penting, yang dimana motivasi perlu mendapat
perhatian yang besar bagi organisasi dalam peningkatan kinerja karyawannya.
Motivasi kerja adalah dorongan atau semangat yang timbul dalam diri seseorang atau
karyawan untuk melakukan sesuatu atau bekerja, karena adanya rangsangan dari luar
baik itu dari atasan dan lingkungan kerja, serta adanya dasar untuk memenuhi
kebutuhan dan rasa puas, serta memenuhi tanggung jawab atas tugas-tugas yang
diberikan dan dilakukan dalam organisasi.
Hubungan Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan
Kepemimpinan pemimpin yang diperlihatkan dan diterapkan kedalam suatu
gaya kepemimpinan merupakan salah satu faktor dalam peningkatan kinerja karyawan,
karena pada dasarnya sebagai tulang punggung pengembangan organisasi dalam
mendorong, dan mempengaruhi semangat kerja yang baik kepada bawahan. Untuk itu
pemimpin perlu memikirkan dan memperlihatkan gaya kepemimpinan yang tepat
dalam penerapannya.
Gaya kepemimpinan ialah suatu cara yang dimilki seorang pemimpin yang
menunjukkan suatu sikap yang menjadi ciri khas tertentu untuk mempengaruhi
karyawannya dalam mencapai tujuan organisasi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Manajemen perusahaan harus membuat strategi untuk meningkatkan kinerja
karyawan demi tujuan dari perusahaan itu sendiri dapat tercapai sebagaimana
seharusnya. Oleh karena itu, manajer harus harus selalu menimbulkan motivasi kerja
yang tinggi kepada karyawannya guna melaksanakan tugas-tugasnya. Sekalipun harus
diakui bahwa motivasi bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi tingkat kinerja
karyawan.
Selanjutnya menurut Masram (2017:147) faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja karyawan terdiri dari:
a. Efektivitas dan efisiensi
Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh mengatakan bahwa
kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-akibat yang tidak dicari kegiatan
menilai yang penting dari hasil yang dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan
walaupun efektif dinamakan tidak efisien.
b. Otoritas (wewenang)
Otoritas adalah sifat dari suatu komunikasi atau pemerintah dalam suatu organisasi
formal yang dimiliki oleh seorang anggota organisasi kepada anggota lain untuk
melakukan suatu kegiatan kerja dengan kontribusinya.
c. Disiplin
Disiplin adalah taat kepada hokum dan peraturan yang berlaku
d. Inisiatif
Yaitu yang berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk ide
untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan organisasi.
Indikator Kinerja Karyawan
Kinerja karyawan perlu dinilai untuk memberikan gambaran atas pencapaian
mengenai prestasi ataupun dedikasi yang sudah diberikan karyawan kepada
perusahaan. Hal tersebut dapat dinilai melalui beberapa hal seperti sebagaimana berikut
disampaikan oleh beberapa ahli: Menurut Simamora dalam Masram (2017:142)
menyatakan “meskipun mustahil mengidentifikasi setiap kriteria kerja yang universal
yang dapat diterapkan pada semua pekerjaan, adalah mungkin menentukan beberapa
karakteristik yang harus dimiliki dan diharapkan bermanfaat bagi penilaian kinerja
karyawan yaitu:
a. Stabilitas dan Konsistensi
Kriteria yang baik harus mampu diukur dengan cara-cara yang dapat dipercaya.
b. Evaluasi Kinerja Anggota Organisasi
Kriteria yang baik harus mampu membedakan individu-individu sesuai dengan
kinerja mereka.
c. Efektivitas Individu Anggota Organisasi
Kriteria yang baik haruslah sensitive terhadap masukan dan tindakan pemegang
jabatan.
d. Dapat diukur
Kriteria yang baik harus dapat diterima oleh individu yang mengetahui kinerjanya
sedang dinilai.
Pengertian Kinerja Karyawan
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan
selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran maupun kriteria yang telah
ditentukan terlebih dahulu telah disepakati Bersama (Rivai & Basri dalam Masram
2017:138).
Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pegawai.
Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan
kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan
kelompok kerja di perusahaan tersebut (Mathis dan Jackson dalam Masram 2017:138).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
Winardi (2011) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
motivasi kerja seorang karyawan berasal dari 2 faktor, yaitu internal dan faktor
eksternal.
a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seorang karyawan.
Faktor internal terdiri dari persepsi mengenai diri sendiri, harga diri, prestasi,
harapan, kebutuhan, pembawaan individu, tingkat pendidikan, dan pengalaman
masa lalu.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri karyawan. Faktor ini
terdiri dari lingkungan kerja, pemimpin dan gaya kepemimpinannya, tuntutan
perkembangan organisasi, dan dorongan atasan.
Pengertian Motivasi Kerja
Hasibuan (2015) menyatakan bahwa motivasi kerja merupakan kondisi atau
energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai
tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positif terhadap
situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja
maksimal.
Menurut Herzberg (dalam Robbins & Judge, 2013) motivasi kerja adalah sikap
seseorang terhadap pekerjaannya agar memunculkan rasa puas pada kinerjanya. Teori
yang dikembangkan oleh Herzberg dikenal dengan teori dua faktor, yaitu Faktor
motivasional dan faktor hygiene atau pemeliharaan. Faktor motivasional adalah
dorongan-dorongan untuk berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber
dari dalam diri seseorang, sedangkan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktorfaktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri seseorang.
Macam-Macam Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan dalam lima tipe menurut pendapat (Siagian dalam Busro,
2018:229), sebagai berikut :
a. Gaya kepemimpinan Otokratis
Yakni kepemimpinan yang cenderung memiliki ciri-ciri pemimpin yang berkuasa
sepenuhnya dalam orgnanisasi dan tidak memperhatikan kebutuhan pegawainya
karena mengidentifikasi tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
b. Gaya kepemimpinan milisteristis
Kepemimpinan dalam menggerakkan pegawainya dengan menggunakan perintah
bergantung pada jabatannya, serta menuntut disiplin yang tinggi dan kaku kepada
pegawainya.
c. Gaya kepemimpinan paternalistis
Gaya kepemimpinan yang mengayomi karena menganggap pegawainya tidak bisa
mengambil keputusan sendiri selalu bergantung kepada pimpinan dan selalu
melindungi.
d. Gaya kepemimpinan karismatis
Memiliki daya penarik yang sangat besar karean umumnya memiliki pengikut
yang anggotanya dalam skala besar dan keikutsertaan anggota bersifat buta serta
sangat setia kepada pimpinannya.
e. Gaya kepemimpinan demokratis
Yakni kepemimpinan yang mengutamakan diskusi dan berusaha mengutamakan
kerja sama dalam mencapai tujuan organisasi, pemimpin yang memiliki karakter
untuk menerima saran dan kritik serta mengerti kebutuhan pegawainya.
Pengertian Gaya Kepemimpinan
Dari penjelasan kepemimpinan diatas bisa dijelaskan bahwa gaya
kepemimpinan merupakan suatu cara yang dimilki seorang pemimpin yang
menunjukkan suatu sikap yang menjadi ciri khas tertentu untuk mempengaruhi
karyawannya dalam mencapai tujuan organisasi (Mulyadi, 2015:150). Menurut
penjelasan yang lain bahwa gaya kepemimpinan merupakan suatu cara bagaimana
seorang pemimpin mampu mempengaruhi karyawannya agar dapat suka rela mau
melakukan berbagai Tindakan Bersama yang diperintahkan oleh pimpinan tanpa
merasa bahwa dirinya ditekan guna mencapai tujuan organisasi (Busro, 2018:226).
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam organisasi tak lepas dari peran seorang pemimpin. Setiap
pemimpin memiliki gaya masing-masing dalam kepemimpinannya. Berikut
merupakan definisi kepemimpinan menurut para ahli, sebagai berikut :
Kepemimpinan merupakan kemampuan, proses dan seni mempengaruhi orang
lain maupun sekelompok orang agar mempunyai kemauan untuk mencapai tujuan
organisasi (Badeni, 2014:126). Berbeda dengan pengertian lainnya kepemimpinan
dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggerakkan, mengarahkan
sekaligus mempengaruhi pola pikir, cara kerja setiap anggota agar bersikap mandiri
dalam bekerja terutama dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan percepatan
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Wahyudi, 2017:119).
Motivasi Kerja
Motivasi adalah proses psikologis yang mendasar dan merupakan salah satu
unsur yang dapat menjelaskan perilaku seseorang. Motivasi berasal dari kata
“movere” dalam bahasa latin yang berarti “bergerak” atau “menggerakkan”. Pada
dasarnya perusahaan bukan saja mengharapkan karyawan yang mampu, cakap,
dan terampil tetapi yang terpenting mereka mau bekerja giat dan berkeinginan
untuk mencapai hasil kerja yang optimal.Motivasi penting karena dengan adanya
motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias
untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.Motivasi hanya dapat diberikan
kepada orang-orang yang mampu untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Menurut
beberapa ahli, motivasi didefinisikan sebagai berikut :
“Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan
kegairahan kerja sseorang, agar mereka mau berkerjasama, bekerja efektif dan
terintregasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.”
Menurut Lau dan Shani (2010) dalam Zuhdi (2013), terdapat dua
pendekatan umum dalam mempelajari motivasi, yaitu teori isi dan teori proses.
Teori isi adalah teori yang menjelaskan mengenai profil kebutuhan yang
dimiliki seseorang.Teori ini berusaha mengidentifikasikan faktor-faktor yang
dapat meningkatkan motivasi kerja.
Teori proses adalah menjelaskan proses melalui dimana munculnya hasrat
seseorang untuk menampilkan tingkah laku tertentu.
Motivasi Kerja
Motivasi adalah proses psikologis yang mendasar dan merupakan salah satu
unsur yang dapat menjelaskan perilaku seseorang. Motivasi berasal dari kata
“movere” dalam bahasa latin yang berarti “bergerak” atau “menggerakkan”. Pada
dasarnya perusahaan bukan saja mengharapkan karyawan yang mampu, cakap,
dan terampil tetapi yang terpenting mereka mau bekerja giat dan berkeinginan
untuk mencapai hasil kerja yang optimal.Motivasi penting karena dengan adanya
motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias
untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.Motivasi hanya dapat diberikan
kepada orang-orang yang mampu untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Menurut
beberapa ahli, motivasi didefinisikan sebagai berikut :
“Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan
kegairahan kerja sseorang, agar mereka mau berkerjasama, bekerja efektif dan
terintregasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.”
Menurut Lau dan Shani (2010) dalam Zuhdi (2013), terdapat dua
pendekatan umum dalam mempelajari motivasi, yaitu teori isi dan teori proses.
Teori isi adalah teori yang menjelaskan mengenai profil kebutuhan yang
dimiliki seseorang.Teori ini berusaha mengidentifikasikan faktor-faktor yang
dapat meningkatkan motivasi kerja.
Teori proses adalah menjelaskan proses melalui dimana munculnya hasrat
seseorang untuk menampilkan tingkah laku tertentu.
Fungsi-fungsi Kepemimpinan
Menurut siagian (2012) , fungsi – fungsi kepemimpinan yang bersifat hakiki
adalah penentuan arah yang hendak ditempuh oleh organisasi dalam usaha
pencapaian tujuan dan berbagai sasarannya.
fungsi kepemimpinan secara operasional dibedakan dalam 5 fungsi pokok
yaitu (Vheitzal Rivai) :
a. Fungsi instruksi
Fungsi ini bersifat komunikasi 1 arah. Pemimpin sebagai komunikator
merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan di mana
perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif.
Kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan untuk menggerakan
dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.
b. Fungsi konsultasi
Fungsi ini bersifat komunikasi 2 arah . Pada tahap pertama dalam usaha
menetapkan keputusan , pemimpin kerapkali memerlukan bahan
pertimbangan yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang
yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan informasi yang
diperlukan dalam menetapkan keputusan.
b. Fungsi partisipatif
Dalam menjalankan fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orangorang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan
maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat
semaunya , tetapi dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerjasama
dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain.
Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin bukan
pelaksana.
c. Fungsi delegasi
Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang
membuat atau menetapkan keputusan baik melalui persetujuan atau tanpa
persetujuan dari pimpinan.Fungsi delegasi pada dasarnya berarti
kepercayaan.Orang-orang penerima delegasi itu harus diyakini merupakan
pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip, persepsi dan aspirasi.
d. Fungsi pengendalian
Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses atau
efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam
koordinasi yang efektif.Sehingga memungkinkan tercapainya tujuan
bersama secara maksimal .Fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui
kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi dan pengarahan.
Karakteristik Pemimpin
Karakteristik pemimpin merupakan ciri-ciri atau sifat yang dimiliki oleh
setiap pemimpin dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya.
Gheselli yang dikutip dari Manning dan Curtis (2005) mengidentifikasikan sifat
kepemimpinan yang efektif :
a. Need for achievement
Seorang pemimpin harus bertanggung jawab dan bekerja keras agar
berhasil.
b. Intellegence
Pemimpin harus memiliki pertimbangan, alasan, dan pemikiran yang baik.
c. Self Confidence
Seorang pemimpin harus memiliki kesan positif sebagai seorang yang
memiliki kemampuan.
Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan menurut Yayat M. Herujito adalah leadership styles,
maksudnya, cara yang diambil seseorang dalam rangka mempraktekkan
kepemimpinannya.
Wahjosumidjo (2012) mengatakan bahwa perilaku pemimpin dalam proses
pengambilan keputusan dan pemecahan masalah sesuai dengan gaya
kepemimpinan seseorang. Gaya tersebut adalah sebagai berikut:
- Gaya kepemimpinan Konsultatif adalah kemampuan mempengaruhi orang
lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan oleh
pemimpin setelah mendengarkan masukan/saran dari bawahan. - Gaya kepemimpinan Direktif adalah kemampuan mempengaruhi orang lain
agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
dengan cara segala kegiatan yang akan dilakukan diputuskan oleh pimpinan
semata-mata. - Gaya kepemimpinan Partisipatif adalah kemampuan mempengaruhi orang
lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan
bersama antara pimpinan dan bawahan. - Gaya kepemimpinan Delegatifadalah kemampuan mempengaruhi orang lain
agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan lebih banyak diserahkan
kepada bawahan
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan menurut Kartono (2006) merupakan kekuatan aspirasional,
kekuatan semangat, dan kekuatan moral yang kreatif, yang mampu mempengaruhi
para anggota untuk mengubah sikap, sehingga mereka menjadi conform dengan
keinginan pemimpin.
Kepemimpinan dan Motivasi
Menurut Sudarwan Danim (2004: 18) keterkaitan kepemimpinan dengan
motivasi dapat dianalisis sebagai berikut:
a. Tanpa kepemimpinan organisasi tidak lain adalah sekelompok
manusia yang kacau. Manusia organisasional, baik dalam kapasitas
masing-masing dan terutama sebagai anggota kelompok, dituntut
dapat memicu upaya pencapaian tujuan organisasi yang sekaligus
bagian dari tujuan dirinya. Kehadiran pemimpin memungkinkan
manusia organisasional dimotivasi untuk dapat bekerja secara
efektif dan efisien. Kelompok dengan sistem yang kurang padu
dapat menurunkan produktivitas organisasi. Atas dasar itu manusia
organisasi perlu diarahkan dan dimotivasi oleh pemimpinnya agar
dapat bekerja secara efektif dan efisien, dengan akuntabilitas
tertentu.
b. Kepemimpinan berkaitan dengan kepengikutan. Kepengikutan
(followersip) adalah bagian yang paling penting dalam usaha
melahirkan perilaku organisasi yang sesungguhnya. Bahkan ada
yang mengatakan bahwa pada hakekatnya kepemimpinan adalah
kepengikutan (lidership is followership). Istilah ini adakalanya
diberi makna luas, bahwa pemimpin yang baik dihasilkan dari
pengikutan yang baik. Manusia pengikut disini tidak dapat
dipersepsi sebagai robot, melainkan mereka adalah manusia biasa
yang memiliki perasaan, kebutuhan, harapan, dan aspek manusiawi
lainnya. Tanpa pemahaman terhadap aspek-aspek manusiawi yang
dipimpin, kepemimpinan akan gagal.
c. Kepemimpinan mengandung arti kemampuan memotivasi.
Kompetensi bawahan antara lain tercermin dari motivasi kerjanya.
Dia bekerja disebabkan oleh dua kemungkinan yaitu benar-benar
terpanggil untuk berbuat atau karena diharuskan untuk melakukan
tugas-tugas itu. Banyak faktor yang mempengaruhi motivasi
manusia dalam bekerja, antara lain bahwa manusia mempunyai
seperangkat kebutuhan, mulai dari kebutuhan yang paling tinggi,
aktualisasi diri. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi
kerja seseorang adalah gaya kepemimpinan. Dengan demikian,
kepemimpinan dapat pula berarti kemampuan memberi motivasi
kepada bawahan.
Fungsi Motivasi
Motivasi merupakan suatu proses perubahan energi dalam diri
seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk
mencapai tujuan tertentu. Sebagai proses motivasi mempunyai fungsi antara
lain:
a. Memberi semangat dan mengaktifkan guru agar tetap berminat dan siaga.
Jika dalam kepemimpinan kepala sekolah maka kepala sekolah tidak
pernah berhenti memberi motivasi kepada tenaga kependidikan agar
selalu semangat dalam mendidik peserta didik.
b. Memusatkan kerja seseorang atas tanggung jawabnya yang sedang
diemban. Dengan selalu fokus dalam bekerja diharapkan akan
menghasilkan kinerja yang maksimal sesuai dengan tujuan yang
diharapkan. Jika dalam lingkup sekolah dengan adanya motivasi dari
Kepala Sekolah terhadap guru diharapkan para guru dapat fokus bekerja
sebagai guru yang professional.
c. Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil
jangka panjang. Dengan motivasi seseorang akan terpacu untuk
memenuhi target kerja yang direncanakan baik prestasi kerja dalam
waktu dekat maupun prestasi kerja yang jangka panjang.
d. Membangkitkan semangat juang dalam melakukan sesuatu yang tentunya
sangat baik untuk kebutuhan kerja di era globalisasi. Untuk itu dengan
motivasi yang berkala dari pimpinan diharapkan para pekerja terutama
dalam bidang pendidikan dapat semangat berkerja, cepat dan tepat sesuai
dengan yang diharapkan
Tipe-Tipe Motivasi
Tipe-tipe motivasi yang mempengaruhi manusia organisasional dalam
bekerja atau mungkin menjauhi pekerjaan antara lain:
a. Motivasi Positif
Menurut Sudarwan Danim (2004: 17) motivasi positif merupakan
proses pemberian motivasi atau usaha untuk membangkitkan motif, di
mana hal itu diarahkan pada usaha untuk mempengaruhi orang lain agar
bekerja secara baik dan antusias dengan cara memberikan keuntungan
tertentu kepadanya. Contoh motivasi positif antara lain: imbalan gaji
yang besar, kedudukan, pemberian kesempatan untuk mengembangkan
kemampuan diri, suasa kerja yang nyaman, dan lain sebagainya.
b. Motivasi Negatif
Menurut Sudarwan Danim (2004: 17) motivasi negatif sering
dikatakan sebagai motivasi yang bersumber pada dari rasa takut,
misalnya jika dia tidak bekerja akan muncul rasa takut dikeluarkan,
takut tidak diberi gaji, takut dijauhi oleh rekan sekerja. Motivasi negatif
yang berlebihan akan membentuk rasa takut yang berlebihan dari para
pekerja sehingga tujuan yang diharapkan tidak maksimal.
c. Motivasi dari Dalam
Menurut Sudarwan Danim (2004: 18) motivasi dari dalam timbul
pada diri pekerja waktu dia menjalankan tugas-tugas atau pekerjaan dan
bersumber dari dalam diri pekerja tersebut. Motivasi datang dari dalam
diri tanpa ada paksaan dari luar, sehingga orang yang memiliki motivasi
dari dalam akan menjalankan tugasnya sepenuh hati tanpa mengharap
penghargaan maupun pujian.
d. Motivasi dari Luar
Menurut Sudarwan Danim (2004: 18) motivasi dari luar adalah
motivasi yang muncul sebagai akibat adanya pengaruh yang ada diluar
pekerjaan dan di luar dari pekerja itu sendiri. Motivasi ini bisa
berbentuk penghargaan atau imbalan atas suatu pekerjaan tertentu.
Contohnya: tunjangan sertifikasi, gaji ketiga belas atau tunjangan
pensiun. Jika dikaitkan dengan sekolah, Kepala Sekolah dapat memberi
motivasi terhadap.guru agar memiliki motivasi dalam bekerja
Pengertian Motivasi
Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu. Berawal dari kata “motif” itu, maka motivasi
dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif
menjadi aktif pada saat–saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk
mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak. Menurut Winardi (2001: 1)
istilah motivasi (motivation) berasal dari bahasa latin, yakni movere,yang
berarti “menggerakkan” to move.
Menurut Mitchell (1982: 81) dalam Winardi (2001: 1), motivasi
mewakili proses-proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya,
diarahkannya, dan terjadinya presistensi kegiatan-kegiatan sukarela
(volunter) yang diarahkan kearah tujuan tertentu. Motivasi dapat juga
dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu
sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila tidak suka
maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak
suka itu.
Hamzah B. Uno (2007: 1) mengungkapkan bahwa motivasi adalah
dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan
ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu
yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Lebih lanjut, motivasi adalah
kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang
untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya
Sugihartono, dkk (2007: 20) motivasi diartikan sebagai suatu kondisi
yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi
arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut. Motivasi pada dasarnya
merupakan sebuah proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar
melakukan yang kita inginkan. Dengan kata lain adalah dorongan dari luar
terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan
(driving force) disini dimaksudkan desakan yang alami untuk memuaskan
kebutuhan-kebutuhan hidup, dan kecendrungan untuk mempertahankan
hidup. Kunci yang terpenting untuk itu tak lain adalah pengertian yang
mendalam tentang manusia.
Motivasi merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan situasi
tertentu yang dihadapi. Motivasi memberikan daya juang baru terhadap
orang yang diberi motivasi sehingga orang tersebut melakukan sesuatu
kegiatan maksimal sesuai yang ingin diharapkan. Jadi dengan motivasi
upaya yang dilakukan menjadi lebih maksimal karena dorongan tersebut.
Martinis Yamin dan Maisah (2010: 84) menjelaskan motivasi dimulai
dari adanya perubahan energi dalam pribadi perubahan tersebut terjadi
disebabkan tertentu pada sistem neorofisiologis dalam organisme manusia.
Dengan adanya motivasi pada diri manusia akan terbentuk suatu keadaan
seperti motif yang timbul dalam diri untuk mengerjakan sesuatu secara
maksimal. Munculnya motif yang membentuk semangat pada diri akan
membantu manusia untuk menyelesaikan kinerja secara maksimal.
Menurut Sudarwan Danim (2004: 15) motivasi merupakan setiap
kekuatan yang muncul dari dalam diri individu untuk mencapai tujuan atau
keuntungan tertentu di lingkungan kerja atau di pelataran kehidupan pada
umumnya. Sehingga motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk
menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseorang mau dan ingin
melakukan sesuatu, dan bila tidak suka maka akan berusaha untuk
meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.
Ngalim Purwanto (2006: 71) menjelaskan motivasi adalah
“pendorongan” suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku
seseorang agar ia tergerak hatinya untuk betindak melakukan sesuatu
sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Motivasi adalah daya
pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela
untuk menggerakkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau ketrampilan,
tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang
menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka
pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan
sebelumnya.
Winardi (2001: 2) seseorang yang sangat termotivasi, yaitu orang
yang melaksanakan upaya substansial guna menunjang tujuan-tujuan
produksi kesatuan kerjanya dan organisasi di mana ia bekerja. Motivasi
tentunya akan berpengaruh kepada orang yang tidak termotivasi dengan
orang tersebut hanya memberikan upaya yang tidak maksimal dalam
melakukan pekerjaannya. Dengan kata lain, motivasi sangat penting dalam
meningkatkan upaya kerja terhadap seseorang yang termotivasi.
