Gaya kepemimpinan


Gaya kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan
dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap
dan perilaku para anggota organisasi bawahannya (Nawawi, 2003).
Seorang pemimpin harus menerapkan gaya kepemimpinan untuk
mengelola bawahannya, karena seorang pemimpin akan sangat
mempengaruhi keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya
(Waridin dan Bambang Guritno, 2005).
a. Teori Kontigensi Kepemimpinan
Model kontigensi Fielder (Robbins 2015) mengidentifikasi bahwa
Gaya Kepemimpinan mempunyai faktor kunci dalam keberhasilan
kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan dasar individu. Filder
mengasumsikan jika sebuah situasi mensyaratkan seorang pemimpin
untuk berorientasi pada tugas dan orang yang ada dalam posisi
kepemimpinan tersebut adalah yang berorientasi pada hubungan, salah
satu situasi harus dimodifikasi atau pemimpin harus digantikan untuk
mencapai efektivitas yang optimal.
Fielder (Robbins 2015) mengidentifikasi tiga dimensi kontigensi
atau situasional yang meliputi :

  1. Hubungan pemimpin-anggota adalah derajat kepercayaan diri,
    kepercayaan dan menghormati yang mana para anggota miliki
    dalam diri pemimpinin mereka.
  2. Struktur tugas adalah keadaan yang mana penugasan pekerjaan
    dibuatkan prosedur ( yaitu, terstruktur atau tidak terstrktur).
  3. Kekuatan posisi adalah derajat dari pengaruh seorang pemimpin
    yang memiliki variabel kekuatan yang lebih seperti merekrut,
    memecat, disiplin, mempromosikan dan menaikan gaji.
    Dalam tiga variable ini Filder menyatakan bahwa semakin baik
    hubungan pemimpin dan anggota maka semakin tinggi pula pekerjaan
    menjadi terstruktur, dan semakin kuat kekuatan posisi maka semakin
    tinggi kendali yang dimiliki oleh pemimpin.
    b. Teori Kepemimpinan Path Goal
    Teori ini dikembangkan oleh Robert House dalam Robbins (2015),
    yang menyatakan bahwa tugas dari pemimpin untuk membantu para
    pengikut dalam memperoleh tujuan mereka dan untuk menyediakan
    pengarahan atau dukungan untuk memastikan bahwa tujuan mereka
    sesuai dengan keseluruhan tujuan dari kelompok atau organisasi.
    Robert House dalam Robbins (2015) menggabungkan empat tipe atau
    gaya kepemimpinan yang utama, yaitu :
  4. Kepemimpinan direktif. Gaya ini serupa dengan gaya pemimpin
    otoriter lippit dan white. Bawahan mengetahui dengan pasti apa
    yang diharapkan dari mereka dan pemimpin memberikan
    pengarahan yang spesifik. Tidak ada partisipasi dari bawahan.
  5. Kepemimpina suportif. Gaya kepemimpinan ini memiliki sikap
    ramah, mudah didekati dan menunjukkan perhatian tulus untuk
    bawahan.
  6. Kepemimpinan partisipatif. Pemimpin meminta dan menggunakan
    saran dari bawahan, tetapi masih membuat keputusan.
  7. Kepemimpinan berorientasi pada prestasi. Pemimpin mengatur
    tujuan yang menantang bawahan untuk menunjukkan kepercayaan
    diri mereka bahwa mereka akan mencapai tujuan dan memiliki
    kinerja yang lebih baik.
    c. Teori Pertukaran Pemimpin- Anggota ( Leader Member Exchange)
    Suatu teori yang mendukung penciptaan para pemimpin didalam
    kelompok dan diluar kelompok dan diluar kelompok; para bawahan
    dengan status didalam kelompok yang akan memiliki peringkat kinerja
    yang lebih tinggi, tingkat perputaran pekerja yang rendah dan
    kepuasan kerja yang lebih tinggi.
    Robbins (2015) mengidentifikasi ada beberapa jenis gaya
    kepemimpinan, antara lain:
  8. Gaya kepemimpinan kharismatik
    Teori menurut Robbins (2015) mengemukakan bahwa para
    pengikut terpacu kemampuan kepemimpinan yang heroik atau yang
    luar biasa ketika mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu
    pemimpin mereka. Terdapat lima karakteristik pokok pemimpin
    kharismatik:
    a. Visi dan artikulasi. memiliki visi ditujukan dengan sasaran ideal
    yang berharap masa depan lebih baik dari pada status quo, dan
    mampu mengklarifikasi pentingnya visi yang dapat dipahami
    orang lain.
    b. Riskio personal. Pemimpin kharismatik bersedia menempuh
    risiko personal tinggi, menanggung biaya besar, dan terlibat ke
    dalam pengorbanan diri untuk meraih visi.
    c. Peka terhadap lingkungan. Mereka mampu menilai secara
    realistis kendala lingkungan dan sumber daya yang dibutuhkan
    untuk membuat perubahan.
    d. Kepekaan terhadap kebutuhan pengikut. Pemimpin kharismatik
    perseptif (sangat pengertian) terhadap kemampuan orang lain dan
    responsive terhadap kebutuhan dan perasaan mereka.
    e. Perilaku tidak konvensional. Pemimpin kharismatik terlibat
    dalam perilaku yang dianggap baru dan berlawanan dengan
    norma.
  9. Gaya Kepemimpinan Transformasional
    Model Gaya Kepemimpinan Transformasional dalam Robbins
    (2015) mengidentifikasi bahwa para pemimpin yang menginspirasi
    para pengikutnya untuk melampaui kepentingan diri mereka sendiri
    dan yang berkemampuan untuk memiliki pengaruh secara
    mendalam dan luar biasa terhadap para pengikutnya. Ada empat
    karakteristik pemimpin transformasional :
    a. Kharisma: memberikan visi dan rasa atas misi, menanamkan
    kebanggaan, meraih penghormatan dan kepercayaan.
    b. Inspirasi: mengkomunikasikan harapan tinggi, menggunakan
    symbol untuk memfokuskan pada usaha, menggambarkan
    maksud penting secara sederhana.
    c. Stimulasi intelektual: mendorong intelegensia, rasionalitas dan
    pemecahan masalah secara hati-hati.
    d. Pertimbangan individual: memberikan perhatian pribadi,
    melayani karyawan secara pribadi, melatih dan menasehati.
  10. Gaya Kepemimpinan Transaksional
    Para pemimpin yang membimbing dan memotivasi para
    pengikut mereka yang diarahkan menuju tujuan yang ditetapkan
    dengan menjelaskan peranan dan tugas yang dibutuhkan. Ada
    empat karakteristik pimpinan transaksional yang meliputi :
    a. Penghargaan kontingen : kontrak pertukaran penghargaan
    dengan usaha yang dikeluarkan, menjanjikan penghargaan
    untuk jinerja baik, mengakui pencapaian/prestasi.
    b. Manajemen berdasarkan kekecualian (aktif) : mengawasi dan
    mencari pelanggaran terhadap aturan dan standar, mengambil
    tindakan korektif.
    c. Manajemen berdasarkan kekecualian (pasif) : intervensi hanya
    jika standar tidak dipenuhi.
    d. Sesuka hati : menghindari tanggung jawab, menghindari
    pengambilan keputusan.
  11. Gaya Kepemimpinan Autentik
    Para pemimpin yang mengetahui siapakah mereka, mengetahui
    apa yang mereka yakini dan nilai, serta bertindak dengan nilai
    tersebut dan meyakini secara terbuka dan berterus terang. Para
    pengikut mereka akan mempertimbangkan mereka menjadi orangorang yang memiliki etika. Kepemimpinan yang autentik adalah
    suatu cara yang menjanjikan untuk berpikir mengenai etika dan
    kepercayaan didalam kepemimpinan karena menitikberatkan pada
    aspek moral yang dimiliki oleh seorang pemimpin.
  12. Gaya Kepemimpinan Melayani
    Suatu gaya kepemimpinan yang ditandai dengan melampaui
    kepentingan pemimpin sendiri dan akan menitik beratkan pada
    kesempatan untuk membantu para pengikutnya agar bertumbuh
    dan berkembang. Karakteristik dari pimpinan melayani :
    mendengarkan, berempati, membujuk, menerima pelayanan, dan
    secara aktif mengembangkan potensial dari para pengikutnya.