Jenis-Jenis Persediaan


Untuk memenuhi fungsi persediaan, Heizer dan Render (2015)
membedakan jenis persediaan menjadi 4 yaitu :

  1. Persediaan bahan baku (Raw Material)
    Merupakan material yang telah dibeli namun belum diproses. Jenis
    persediaan ini dapat digunakan untuk memisahkan pemasok dari
    proses produksi dengan mengeliminasi variasi pemasok dalam
    kualitas, kuantitas dan waktu pengiriman.
  2. Persediaan barang dalam proses (Work in Proces Inventory)
    Merupakan komponen atau bahan baku mentah yang telah diproses
    namun belum selesai. Jenis persediaan ini ada dikarenakan sebuah
    produk membutuhkan waktu untuk dibuat.
  3. Pemeliharaan, Perbaikan dan Pengoperasian (Maintenance/ Repair
    / Operating (MRO))
    Merupakan jenis persedian yang diperlukan untuk pemeliharaan,
    perbaikan dan pengoperasian agar proses produksi tetap berjalan.
    Persediaan ini butuh rencanakan karena waktu untuk pemeliharaan
    dan perbaikan tidak diketahui.
  4. Persediaan Barang Jadi (Finished Good Inventory)
    Merupakan persediaan yang diperoleh dari hasil produksi yang
    sudah selesai dan masih disimpan di gudang perusahaan. Barang
    jadi dimasukkan ke dalam persediaan, karena fluktuasi permintaan
    konsumen untuk jangka waktu tertentu mungkin tidak diketahu

Fungsi Persediaan


Menurut Heizer & Render (2015) Tujuan manajemen persediaan
adalah menentukan keseimbangan antara investasi persediaan dengan
kepuasan konsumen. Persediaan dapat memiliki berbagai fungsi yang
diharapkan dapat menambah fleksibilitas operasi perusahaan, berikut
merupakan fungsi persediaan menurut Heizer & Render :

  1. Memberikan lebih banyak pilihan barang yang dimaksudkan
    mengantisipasi permintaan pelanggan dan membantu
    perusahaan dalam menghindari ketidaktetapan permintaan.
  2. Memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi. Jika
    persediaan perusahaan sedang mengalami ketidakpastian,
    persediaan tambahan mungkin diperlukan agar bisa
    memisahkan produksi dari pemasok.
  3. Mengambil keuntungan dari potongan jumlah, karena
    pembelian dalam jumlah besar dapat menurunkan biaya
    pengiriman barang.
  4. Menghindari tingkat inflasi yang tinggi serta adanya kenaikan
    harga.

Pengertian Persediaan


Menurut Jacobs dan Chase (2016) Persediaan (inventory) adalah
stok barang maupun sumber daya yang digunakan dalam perusahaan untuk
melakukan kegiatan produksi maupun operasional. Biasanya pada saat
tertentu persediaan merupakan aset terbesar dalam laporan posisi
keuangan yang sulit untuk diuangkan maupun dicairkan, oleh karena itu
biasanya perusahaan sebisa mungkin menjaga tingkat persediaan tetap
rendah.
Menurut Herjanto (2015) persediaan adalah bahan atau barang
yang disimpan dan akan digunakan oleh perusahaan untuk memenuhi
tujuan lain sebagai contoh digunakan dalam proses produksi, sebagai suku
cadang dari peralatan atau mesin maupun dijual kembali.
Menurut Handoko (2008) istilah persediaan (inventory) adalah
suatu istilah yang menunjukkan sumber daya organisasi yang disimpan
dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan

Dimensi Kepuasan Konsumen


Untuk mengukur sebuah variabel diperlukan dimensi dari variabel yang akan
di teliti. Berikut peneliti sajikan dimensi dari kepuasan konsumen menurut Kotler
et al (2022:448). Dimensi tersebut diantaranya ada pada halaman selanjutnya.

  1. Kinerja (Performance)
    Kinerja tinggi yang dihasilkan oleh karyawan akan membantu perusahaan
    dalam proses pencapaian tujuannya. kinerja karyawan adalah hasil kerja
    secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam
    melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
    kepadanya. Dengan kinerja yang lebih dapat memberikan kepuasan bagi
    konsumen.
  2. Harapan (Expectation)
    Harapan pelangganlah yang melatarbelakangi mengapa dua organisasi pada
    bisnis yang sama dapat dinilai berbeda oleh pelanggannya. Dalam konteks
    kepuasan konsumen, umumnya definisi harapan adalah adanya suatu
    perkiraan atau keyakinan dari pelanggan tentang apa yang akan diterimanya

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen


Untuk mencapai sebuah kepuasan kosumen, perusahaan harus mengetahui
faktor yang mempengaruhi kepuasan. Menurut Lupiyoadi (2018:58) terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen, yaitu:

  1. Product (Produk) yaitu produk seperti apa yang hendak ditawarkan. Yang
    sangat penting disini adalah kualitas dari produk itu sendiri. Konsumen tidak
    hanya membeli fisik dari produk tetapi juga manfaat dan nilai dari suatu produk.
  2. Price (Harga) yaitu bagaimana strategi penentuan harga yang dipakai untuk
    suatu produk, hal ini sangat signifikan dalam pemberian value kepada
    konsumen dan mempengaruhi image (citra) produk serta keputusan konsumen
    untuk membeli.
  3. Place (Lokasi) yaitu bagaimana sistem penghantaran (delivery) yang akan
    diterapkan, ini merupakan gabungan antara lokasi dan keputusan atas saluran
    distribusi (cara penyampaian kepada konsumen dan dimana lokasi yang
    strategis).
  4. Promotion (Promosi) yaitu bagaimana promosi yang harus dilakukan (proses
    pemilihan bauran promosi). Promosi yang baik tentunya akan berdampak pada
    kepuasan konsumen.
  5. People (Orang) yaitu mengenai kualitas orang yang terlibat dalam
    pemberianpelayanan, berhubungan dengan seleksi, training, motivasi dan
    manajemen sumber daya manusia. Untuk mencapai kualitas terbaik, pegawai
    harus dilatih untuk menyadari bahwa hal terpenting adalah memberi kepuasan
    kepada konsumen.
  6. Process (Proses) yaitu bagaimana proses dalam operasi pelayanan tersebut,
    adalah gabungan semua aktifitas yang umumnya terdiri dari prosedur, jadwal
    pekerjaan, mekanisme, aktivitas dan hal-hal rutin, dimana pelayanan dihasilkan
    dan disampaikan kepada konsumen.
  7. Physical evidence (Bukti fisik), yaitu penampilan fasilitas fisik, peralatan,
    personel, dan alat-alat komunikasi

Kepuasan Konsumen


Kepuasan konsumen adalah dampak dari proses konsumsi dari suatu produk
ataupun jasa yang dilakukan oleh konsumen. membeli sebuah produk atau jasa
kemudian konsumen baru akan menyadari apakah produk tersebut sesuai dengan
yang diinginkan maupun kebutuhannya atau tidak. Apabila konsumen merasa
senang dengan produk atau jasa yang sudah dibeli maka konsumen telah merasakan
puas dan terpenuhi keinginan atau kebutuhannya, dan sebaliknya apabila konsumen
tidak merasa senang dengan produk atau jasa yang sudah dibeli maka konsumen
tidak merasa puas.
Menurut Kotler et al (2022:448) “Satisfaction is a person’s feelings of
pleasure or disappointment that result from comparing a product or service’s
perceived performance (or outcome) to expectations”
Kotler dan Armstrong (2018:39) yang menyatakan bahwa “Customer
satisfaction depends on the product’s perceived performance relative to a buyer’s
expectation”

Perilaku Konsumen


Perilaku konsumen sangat penting untuk suatu perusahaan karena
mempengaruhi kesuksesan dan kelangsungan hidup perusahaan. Dengan
memahami perilaku konsumen, perusahaan dapat mengembangkan strategi
pemasaran yang efektif dan dapat menyesusaikan produk atau jasa mereka untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Perilaku konsumen dapat
didefinisikan sebagai tindakan atau keputusan yang diambil oleh individu dalam
memilih, membeli, menggunakan, dan membuang produk atau jasa untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.
Menurut John C. Mowen (2019:15) menjelaskan bahwa “consumer
behavior is an activity when a person obtains, consumes, or disposes of goods or
services during the buying process”. Hal ini diperkuat oleh pendapat dari Kotler et
al (2022:79) yang mendefinisikan consumer behavior as the actions and decisions
that consumers make when purchasing, using, and disposing of products and
services

Dimensi Kualitas Produk


Suatu perusahaan apabila ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya
dalam pasar, perusahaan harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan
oleh konsumen untuk mencari ciri khas produk yang dijual perusahaan tersebut
dengan produk pesaing. Maka dari itu berikut ini adalah dimensi kualitas produk
menurut Kotler et al (2022:188) adalah sebagai berikut:

  1. Kinerja (Performance Quality): sebagian besar produk ditetapkan pada suatu
    kualitas yang berkaitan dengan karakteristik utama yang dimiliki.
  2. Fitur (Feature): sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan
    memvariasikan fitur yang melengkapi fungsi dasar mereka.
  3. Kehandalan (Reliability): dimensi kualitas yang berhubungan dengan
    kemungkinan sebuah produk dapat bekerja secara memuaskan pada waktu dan
    kondisi tertentu.
  4. Kualitas Kesesuaian (Conformance Quality): pembeli mengharapkan produk
    mempunyai kualitas kesesuaian yang tinggi yaitu tingkat dimana semua unit
    yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi yang dijanjikan.
  5. Ketahanan (Durability): ukuran umur operasi harapan produk dalam kondisi
    biasa atau penuh tekanan, merupakan atribut berharga untuk produk-produk
    tertentu.
  6. Kemampuan Pelayanan (Serviceability): meliputi kecepatan, kompetensi,
    kenyamanan, kemudahan, serta penanganan keluhan secara memuaskan.
  7. Estetika (Aesthetics): dimensi kualitas yang berkaitan dengan tampilan, bunyi,
    rasa maupun bau suatu produk.
  8. Kesan Kualitas (Perceived Quality): persepsi kualitas pasca pembelian terhadap
    kualitas sebuah produk ataupun merek

Perpektif Kualitas Produk


Kualitas mengandung banyak definisi karena setiap individu pasti memiliki
cara pandang dan pendapat yang berbeda-beda. Perspektif kualitas merupakan
persepsi seorang konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu
produk atau jasa yang diharapkan.
Menurut Davin Garvin yang dikutip dalam buku Tjiptono dan Chandra
(2018:117), perspektif kualitas produk dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok
yaitu:

  1. Transcedantal Approach
    Kualitas dalam pendekatan ini dipandang sebagai innate excellence, yaitu
    sesuatu yang bisa dirasakan atau diketahui, namun sukar didefinisikan,
    dirumuskan, atau diopersionalisasikan. Perspektif ini menegaskan bahwa
    seseorang hanya bisa belajar memahami kualitas melalui pengalaman yang
    didapatkan dari eksposur berulang kali (repeated exposure). Sudut pandang ini
    biasanya diterapkan dalam dunia seni, misalnya seni musik, seni drama, seni
    tari, dan seni rupa.
  2. Product Based Approach
    Ancangan ini mengasumsikan bahwa kualitas merupakan karakteristik atau
    atribut objektif yang dapat dikuantitatifkan dan dapat diukur. Perbedaan dalam
    kualitas mencerminkan perbedaan dalam jumlah beberapa unsur atau atribut
    yang dimiliki produk. Contoh spesifik untuk sebuah sepeda motor misalnya
    harga, konsumsi BBM, kecepatan, ketersediaan fitur spesifiknya (contohnya
    remcakram, knalpot racing, dan lain-lain), ketersediaan pilihan warna sepeda
    motor, dan seterusnya. Karena perspektif ini sangat objektif maka
    kelemahannya adalahtidak bisa menjelaskan perbedaan dalam selera,
    kebutuhan, dan preferensi individual (atau bahkan segmen pasar tertentu).
  3. User Based Approach
    Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
    orangyang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang paling
    memuaskan preferensi orang (maximum satisfaction) merupakan produk yang
    berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat subyektif dan demand-
    oriented ini juga menyatakan bahwa setiap pelanggan memiliki kebutuhan dan
    keinginan masing-masing yang berbeda satu sama lain, sehingga kualitas bagi
    seseorang adalah sama dengan kepuasan maksimum yang dirasakannya. Produk
    yang dinilai berkualitas baik oleh individu tertetnu belum tentu dinilai sama
    oleh orang lain.
  4. Manufacturing Based Approach
    Perspektif ini bersifat supply-based dan lebih berfokus pada praktik-praktik
    perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas sebagai
    kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance torequirements).
    Dalam konteks bisnis jasa, kualitas berdasarkan perspektif inicenderung bersifat
    operations-driven. Ancangan semacam ini menekankan penyesuaian
    spesifikasiproduksi dan operasi yang disusun secara internal, yang seringkali
    dipicu oleh keinginan untuk meningkatkan produktivitas danmenekankan biaya.
  5. Value Based Approach
    Pendekatan ini memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga(price).
    Dengan mempertimbangkan trade-off antara kinerja dan harga, kualitas,
    didefinisikan sebagai “affordable excellence”. Kualitas dalam perspektif ini
    bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas palingtinggi belum tentu
    produk yang paling bernilai. Akan tetapi yang paling bernilai adalah produk
    atau jasa yang paling tepat dibeli (best buy)

Pengertian Kualitas Produk


Kualitas produk merupakan kunci persaingan antar perusahaan dalam
memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Karena pada dasarnya dalam
membeli suatu produk, seorang konsumen tidak hanya membeli produk saja, akan
tetapi konsumen juga membeli manfaat serta keunggulan yang dapat diperoleh dari
produk yang dibelinya maka dengan demikian perusahaan memberikan keunggulan
dalam produknya yang membedakan dengan pesaing lainnya sehingga membuat
konsumen lebih tertarik dan mendapatkan kepuasan ketika melakukan pembelian.
Menurut Kotler dan Armstong (2018:249), “The characteristics of a product
or service that bear on its ability to satisfy stated or implied customer needs”.
Sedangkan menurut Kotler et al (2022:448) pengertian kualitas produk adalah,
“Quality is the totality of features and characteristics of a product or service that
bear on its ability to satisfy stated or implied needs”.

Bauran Produk


Dalam sebuah usaha, suatu perusahaan perlu memikirkan bagaimana cara
mengambil keputusan mengenai bauran produk yang akan dihasilkan pada saat ini
maupun dimasa yang akan datang. Dengan penentuan bauran produk yang baik,
maka perusahaan akan mampu menarik konsumen dalam melakukan pembelian.
Menurut Kotler & Keller (2018:402) bauran produk terdiri dari lebar, panjang,
kedalaman dan konsistensi tertentu, sebagai berikut:

  1. Width
    “The width of the product mix, namely the availability of complementary
    products to the main product offered. For example, in a bakery, besides
    providing bread, it also provides various kinds of drinks”.
  2. Length
    “The length of the product mix is closely related to efforts to adjust the type of
    product and the types of products sold to the target market”.
  3. Depth
    “Product mix depth is a kind of characteristic of a product”.
  4. Consistency
    “The consistency of the product mix is related to how close the relationship
    between various product lines with end users, production terms, distribution
    channels or in other ways”.

Klasifikasi Produk


Suatu produk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok yaitu
berdasarkan wujudnya (tangibility), berdasarkan aspek daya tahan produk
(durability), dan berdasarkan kegunaannya (pelanggan atau industri). Menurut
Kotler & Armstrong (2018:392) klasifikasi produk yaitu pada halaman selanjutnya.

  1. Barang Tidak Tahan Lama (Nondurable Goods)
    Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis
    dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Contohnya adalah sabun
    mandi, minuman dan makanan ringan, kapur tulis, gula, garam, serta merica.
  2. Barang Tahan Lama (Durable Goods)
    Barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian
    (umur ekonomis pemakaian normal adalah satu tahun lebih). Contoh kulkas,
    mesin, dan pakaian. Umunya, jenis barang ini membutuhkan personal selling
    dan pelayanan yang lebih banyak daripada barang tidak tahan lama,
    memberikan keuntungan yang lebih besar, dan membutuhkan jaminan

Tingkatan Produk


Dalam merencanakan penawaran pasarnya, seorang pemasar perlu
mengetahui lima tingkatan produk. Tingkatan produk tersebut menurut Kotler &
Keller (2018:225) adalah sebagai berikut:

  1. Manfaat inti (Core benefit)
    Layanan atau manfaat yang sebenarnya dibutuhkan dan dikonsumsi oleh
    pelanggan, atau manfaat yang benar-benar dibeli oleh pelanggan. Contoh,
    seorang tamu hotel membutuhkan istirahat dan tidur. Sehingga seorang pemasar
    harus dapat melihat diri mereka sendiri sebagai penyedia manfaat.
  2. Produk Dasar (Basic product)
    Pemasar harus dapat mengubah manfaat inti (core benefit) menjadi produk
    dasar (basic product). Contoh, dalam sebuah kamar hotel menyediakan tempat
    tidur, kamar mandi, handuk, meja, lemari dan kamar mandi.
  3. Produk yang diharapkan (Expected product)
    Sekelompok atribut dan kondisi yang biasanya diharapkan pembeli ketika
    membeli suatu produk. Contoh, tamu hotel mengharapkan tempat yang bersih,
    handuk yang bersih, maupun suasana yang tenang.
  4. Produk Pelengkap (Augmented product)
    Pemasar menyiapkan tingkatan tambahan yang melebihi harapan konsumen.
    Produk pelengkap adalah sebagai atribut produk yang dilengkapi atau
    ditambahkan dengan berbagai manfaat dan layanan, sehingga dapat
    memberikan kepuasan tambahan bagi konsumen.
  5. Produk Potensial (Potential product)
    Segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin dikembangkan untuk
    suatu produk dimasa mendatang atau semua argumentasi dan perubahan bentuk
    yang dialami oleh suatu produk dimasa mendatang.

Pengertian Produk


Produk merupakan elemen dasar penting dari bauran pemasaran karena
dengan produk perusaahan dapat menetapkan harga yang sesuai, dengan
mendistribusikan produk mereka dan menentukan komunikasi yang tepat untuk
pasar sasaran. Produk diciptakan dengan maksud agar memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Banyak orang yang beranggapan produk adalah suatu
penawaran yang nyata, tetapi sebenarnya produk bisa lebih dari itu.
Menurut Kotler dan Armstrong (2018:244) “product is anything that can be
offered to a market for attention, acquisition, use, or consumption that might satisfy
a want or need”. Pengertian produk menurut Kotler et al (2022:62) “product is a
marketable commodity that aims to create value for target customers”.
Sedangkan berbeda menurut Anang Firmansyah (2019:2) bahwa produk
adalah sesuatu yang dipakai, diperhatikan, dikonsumsi atau dimiliki dengan tujuan
untuk memuaskan kebutuhan maupun keinginan konsumen.

Dimensi Harga


Harga menjadi salah satu pertimbangan yang sangat krusial bagi konsumen
untuk melakukan suatu keputusan pembelian. Konsumen akan membandingkan
harga lalu kemudian melakukan evaluasi apakah terdapat kesesuaian antara harga
nilai produk dengan jumlah uang yang di keluarkan. Dimensi harga menurut Kotler
& Keller yang diterjemahkan oleh Sabran (2018:254) adalah sebagai berikut:

  1. Keterjangkauan Harga
    Keterjangkauan harga yaitu konsumen bisa menjangkau harga yang telah di
    tetapkan oleh perusahaan. Biasanya ada beberapa jeni produk dalam satu merek,
    harganya juga berbeda dari yang termurah sampai termahal. Dengan harga yang
    telah ditetapkan, banyak konsumen yang membeli produk tersebut. Indikator
    dari keterjangkauan harga yaitu
    a. Harga yang ditawarkan terjangkau
    b. Kemampuan konsumen dalam membeli produk.
  2. Kesesuaian Harga Dengan Kualitas Produk
    Kesesuaian harga dengan kualitas produk yaitu harga sering dijadikan sebagai
    indikator kualitas bagi konsumen. Biasanya orang memilih harga yang lebih
    tinggi diantara dua barang karena mereka melihat adanya perbedaaan kualitas,
    apabila harga lebih tinggi orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga
    lebih baik. Indikator dari kesesuaian harga dengan kualitas produk yaitu pada
    halaman selanjutnya.
    a. harga yang ditawarkan sesuai dengan kualitas produk yang didapatkan
    b. Harga yang sesuai dengan hasil yang diinginkan konsumen.
  3. Kesesuaian Harga Dengan Manfaat
    Kesesuaian harga dengan manfaat yaitu konsumen memutuskan membeli suatu
    produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah di
    keluarkan untuk mendapatkannya, jika konsumen merasakan manfaat produk
    lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan
    bahwa produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk
    melakukan pembelian ulang. Indikator dari dimensi ini adalah:
    a. Kesesuaian memiliki manfaat yang dirasakan
    b. Harga yang ditawarkan memiliki manfaat sesuai dengan kebutuhan.
  4. Harga Sesuai Kemampuan atau Daya Saing Harga
    Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga yaitu konsumen sering
    membandingkan harga suatu produk dengan produk lainnya. Dalam hal ini
    mahal atau murahnya suatu produk sangat dipertimbangkan oleh konsumen
    pada saat akan membeli produk tersebut. Indikator dari harga sesuai
    kemampuan atau daya saing harga adalah:
    a. Adanya pemberian potongan harga
    b. Harga yang terjangkau dibandingkan pesaing.

Metode Penetapan Harga


Menurut Tjiptono dalam Octarinie dan Rasjid (2021:291) secara garis besar
metode penetapan harga dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama yaitu
pada halaman selanjutnya.

  1. Metode Penetapan Harga Berbasis Permintaan
    Metode ini lebih menekankan faktor-faktor yang mempengaruhi selera dan
    preferensi pelanggan daripada faktor-faktor seperti biaya, laba dan persaingan.
    Ada tujuh metode penetapan harga yang termasuk dalam metode penetapan
    harga berbasis permintaan, yaitu sebagai berikut:
    a. Skimming Pricing (Peluncuran Harga)
    b. Penetration Pricing (Penetrasi Harga)
    c. Prestige Pricing (Prestisi Harga)
    d. Price Lining (Lapisan Harga)
    e. Odd-Even Pricing (Harga Ganjil-Genap)
    f. Demand-Backward Pricing (Permintaan Mundur Harga)
    g. Product Bundle Pricing (Harga Produk Bundel)
  2. Metode Penetapan Harga Berbasis Biaya
    Penetapan strategi harga ditentukan berdasarkan biaya produksi dan pemasaran
    yang ditamahkan dengan sejumlah biaya tertentu agar dapat menutupi biaya –
    biaya lansung, biaya overhead, dan laba.
    a. Standard Mark-up Pricing (Menaikan Standar Harga)
    b. Cost Plus Percentage of Cost Pricing (Harga Ditambah Persentase Biaya)
    c. Cost Plus Fixed Fee Pricing (Biaya Ditambah Harga Tetap)
    d. Experience Curve Pricing (Pengalaman Harga Melengkung)
  3. Metode Harga Berbasis Laba
    Metode ini berusaha menyeimbangkan pendapatan dan biaya dalam penetapan
    harganya. Upaya ini dapat dilakukan atas dasar target volume laba spesifik atau
    dinyatakan dalam bentuk persentase terhadap penjualan. Ada tiga metode untuk
    mengetahui penetapan harga yang termasuk dalam penetapan harga berbasis
    laba yaitu:
    a. Target Profit Pricing (Harga Keuntungan yang ditargetkan)
    b. Target Return on Sales Pricing (Target Pengembalian Harga Penjualan)
    c. Target Return on Investment (ROI) Pricing (Target Pengembalian Investasi)
  4. Metode Harga Berbasis Persaingan
    Selain berdasarkan pertimbangan biaya, permintaan atau laba, harga juga dapat
    ditetapkan atas dasar persaingan, yaitu apa yang dilakukan pesaing. Adapun
    empat metode penetapan harga yang termasuk dalam penetapan harga berbasis
    pesaing yang peneliti sajikan yaitu sebagai berikut:
    a. Customary Pricing (Penetapan Harga Lazim)
    b. Above, At, or Below Market Pricing (Diatas atau Dibawah Harga Pasar)
    c. Loss Leader Pricing (Penetapan Kerugian Harga)
    d. Sealed Bid Pricing (Penetapan Harga Tertutup)

Tujuan Penetapan Harga


Harga merupakan salah satu elemen bauran pemasaran yang memiliki
pengaruh terhadap kelanagsungan perusahaan. Harga merupakan elemen yang
fleksibel, atau dalam artian lain dapat diubah sewaktu-waktu. Secara umum,
penetapan harga bertujuan untuk mendapatkan laba bagi perusahaan. Namun,
semakin ketatnya persaingan dunia usaha kuliner tujuan mendapatkan laba yang
maksimal akan semakin sulit untuk dicapai. Tujuan pencapaian harga merupakan
hal utama yang harus diperhatikan dalam menentukan harga suatu produk.
Perusahaan harus memutuskan apa yang ingin dicapainya dengan menawarkan
produk tertentu. Tujuan-tujuan ini mungkin berbeda-beda untuk setiap perusahaan.
Adapun tujuan penetapan harga menurut Fandy Tjiptono (2019:292) yaitu:

  1. Tujuan Berorientasi Pada Laba
    Tujuan berorientasi pada laba dirancang untuk memaksimumkan harga
    dibandingkan harga-harga pesaing, persepsi terhadap nilai produk, struktur
    biaya perusahaan, dan efisiensi produksi. Tujuan pada laba biasanya didasarkan
    pada target return dan bukan sekedar maksimalisasi laba.
  2. Tujuan Berorientasi Pada Volume
    Menetapkan harga untuk memaksimalkan volume penjualan dapat berupa unit
    maupun rupiah. Tujuan ini mengorbankan margin laba demi perputaran produk.
  3. Tujuan Berorientasi Pada Citra
    Citra atau image pada sebuah perusahaan dapat dibentuk melalui strategi
    penetapan harga. Perusahaan dapat menetapkan harga mahal untuk membantu
    atau mempertahankan citra, sedangkan harga murah dapat digunakan untuk
    membentuk nilai citra tersebut.
  4. Tujuan Stabilitas Harga
    Tujuan stabilisasi dilakukan dengan jalan menetapkan harga untuk
    mempertahankan hubungan yang stabil antara harga sebuah perusahaan dan
    harga pemimpin industri (industry leader).

Pengertian Harga


Harga merupakan unsur bauran pemasaran yang mempengaruhi pemasukan
atau pendapatan bagi perusahaan atau organisasi. Harga merupakan salah satu
faktor penting yang mempengaruhi pemasaran suatu produk. Tinggi rendahnya
harga selalu menjadi perhatian utama para konsumen saat mereka mencari suatu
produk. Definisi harga menurut Kotler et al (2022:265) yang menyatakan bahwa
price is what you pay for goods and service perform many functions and come in
many form: rent, tuition, fares, fees, rates, tolls, retainers, wages and commissions.
Beda halnya dengan menurut Kotler dan Amstrong (2018:308) “Price is the amount
of money charged for a product or a service. More broadly, price is the sum of all
the values that customers give up to gain the benefits of having or using a product
or service”.
Beda halnya dengan yang dinyatakan oleh Fandy Tjiptono (2019:210) yang
menyatakan bahwa harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk
barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau
penggunaan suatu barang atau jasa

Pengertian Bauran Pemasaran


Bauran pemasaran bukanlah istilah yang asing dalam manajemen pemasaran.
Marketing mix atau bauran pemasaran merupakan suatu strategi pemasaran yang
memiliki peran penting dalam mempengaruhi konsumen agar dapat membeli suatu
produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Perusahaan khususnya para
pemasar harus menggunakan suatu pendekatan ataupun strategi pemasaran yang
baik dan tepat yakni bauran pemasaran dalam memasarkan suatu produk atau jasa
mengingat banyaknya persaingan bisnis pada saat ini.
Kotler dan Armstrong (2018:77) mengemukakan bahwa “the marketing mix
is the set of tactical marketing tools product, price, place, and promotion- that the
firm blends to produce the reponse it wants in the target market”.
Berbeda halnya dengan pendapat Purboyo (2021:156) bahwa bauran
pemasaran adalah kombinasi dari berbagai variabel keputusan pemasaran yang
digunakan oleh perusahaan untuk memasarkan barang dan jasanya.
Berdasarkan definisi bauran pemasaran yang telah dipaparkan oleh para ahli
diatas, maka peneliti sampai pada pemahaman bahwa bauran pemasaran
(Marketing mix) merupakan seperangkat alat atau suatu strategi perusahaan untuk
mempengaruhi permintaan terhadap produknya dan seperangkat alat tersebut akan
menentukan tingkat keberhasilan pemasaran bagi perusahaan dan juga memenuhi
keinginan pasar sasaran. Berikut adalah elemen-elemen bauran pemasaran atau
marketing mix menurut Kotler and Amstrong (2018:77) ada empat variabel yaitu:

  1. Product (Produk)
    Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan
    keinginan dan kebutuhan. Produk-produk yang dipasarkan meliputi barang
    fisik, jasa, pengalaman, acara-acara, orang, tempat, properti, organisasi, dan
    gagasan. Produk ada dua jenis, yaitu intangible (tidak berwujud) dan tangible
    (berwujud). Atribut-atribut produk meliputi jenis, kualitas, disain, fitur, merek,
    kemasan, ukuran, pelayanan, garansi, dan imbalan.
  2. Price (Harga)
    Harga adalah salah satu elemen bauran pemasaran yang menghasilkan
    pendapatan dan yang lain menghasilkan biaya (cost). Atribut harga meliputi
    daftar harga, diskon, potongan harga khusus, periode pembayaran, dan syarat
    kredit. Harga berpengaruh langsung terhadap laba perusahaan. Karena harga
    salah satu faktor penting dalam bauran pemasaran.
  3. Place (Lokasi)
    Lokasi didefinisikan sebagai aktivitas perusahaan agar produk mudah
    didapatkan pelanggan sasarannya. Artinya, variabel saluran distribusi atau place
    tidak hanya menekankan pada lokasi perusahaan, melainkan juga mengenai
    masalah penentuan lokasi dan perusahaan, mudah atau tidaknya lokasi tersebut
    dicapai. Lokasi perusahaan yang strategis merupakan kunci dari kemampuan
    perusahaan untuk menarik konsumen. Saluran distribusi meliputi cakupan
    layanan, pengelompokan, lokasi, persediaan, dan transportasi. Dan ini
    merupakan salah satu hal penting dalam bauran pemasaran.
  4. Promotion (Promosi)
    Promosi merupakan kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mendorong
    konsumen agar melakukan pembelian produk. Promosi merupakan aktivitas
    yang mengkomunikasikan keunggulan produk serta membujuk pasar sasaran
    untuk membelinya

Pengertian Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran menjadi pedoman dalam menjalankan kelangsungan
hidup perusahaan dan menjadi peran yang tidak dapat dipisahkan sejak dimulainya
proses produksi hingga tahap barang sampai pada konsumen. Tugas dari
manajemen pemasaran adalah melakukan perencanaan, mencari peluang
melakukan pertukaran barang dan jasa konsumen, kemudian manajemen pemasaran
mengimplementasikan rencana tersebut untuk mencapai dan mempertahankan
pertukaran yang menguntungkan dengan konsumen demi tercapainya tujuan
perusahaan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2018:34) Marketing management as the art
and science of choosing target markets and building profitable relationships with
them. Hal tersebut selaras dengan menurut Kotler et al (2022:29) yang menyatakan
marketing management is the art and science of choosing target markets and
getting, keeping, and growing customers through creating, delivering, and
communicating superior customer value

Pengertian Pemasaran


Pemasaran bisa di katakan sebagai suatu kegiatan inti dari sebuah bisnis
perusahaan. Kegiatan Pemasaran sering kali diartikan sebagai kegiatan yang
bertujuan untuk menjual dan menawarkan produk kepada calon konsumen, tetapi
pada kenyataannya tidak sesederhana itu, pemasaran memiliki cakupan yang cukup
luas dan tidak hanya sekedar menawarkan produk kepada konsumen, tetapi
pemasaran juga suatu kegiatan menganalisa keinginan dan kebutuhan para
konsumen
Menurut Leon G. Schiffman dan Joe Wisenblit (2019:2) menyatakan bahwa
Marketing is the activity, set of institutions, and process for creating,
communicating, and delivering offerings that have value for customers, clients,
partners, and society. Hal ini berbeda dengan teori dari Kotler et al (2022:29)
Marketing is about indentifying human and meeting human and social needs in a
way that harmoniez with the goals of the organization. Hal ini selaras dengan yang
dikemukakan oleh Kotler dan Armstrong (2018:9) Marketing as the process by
which companies engage customers, build strong customer relationships, and
create customer value in order to capture value from customers in return.

Fungsi-Fungsi Manajemen


Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan
melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam
melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Menurut George R. Terry dalam R.
Supomo (2018:27) menyebutkan bahwa terdapat 4 (empat) fungsi dalammanajemen
dikenal dengan (POAC) yaitu sebagai berikut:

  1. Fungsi Perencanaan (Planning)
    Perencanaan merupakan proses yang mendefinisikan tujuan dari organisasi,
    membuat strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dari organisasi,
    serta mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.
  2. Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
    Pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan atau
    alokasi sumber daya organisasi dalam bentuk struktur organisasi sesuai dengan
    tujuan perusahaan yang tertuang di dalam visi dan misi perusahaan dan sumber
    daya organisasi.
  3. Fungsi Pelaksanaan (Actuating)
    Pelaksanaan merupakan proses implementasi dari segala bentuk rencana,
    konsep, ide dan gagasan yang telah disusun sebelumnya dalam rangka mencapai
    tujuan, yaitu visi dan misi perusahaan.
  4. Fungsi Pengawasan (Controlling)
    Pengendalian merupakan salah satu fungsi manajemen untuk melakukan
    pengendalian terhadap kinerja perusahaan. Dalam hal ini memastikan bahwa
    apa yang sudah direncanakan, disusun, dan dijalankan berjalan sesuai dengan
    prosedur yang telah dibuat atau tidak. Fungsi pengendalian ini akan memonitor
    kemungkinan ditemukannya penyimpangan dalam pelaksanaan, sehingga bisa
    segera terdeteksi lebih dini untuk dapat dilakukan upaya pencegahan dan
    perbaikan.
    Manajemen memiliki tahapan atau proses yang dijalankan untuk pencapaian
    tujuan organisasi. Dengan adanya manajemen, kemudahan dan kelancaran dapat
    diperoleh perusahaan karena perusahaan akan berjalan secara efektif dan efisien.
    Pada perusahaan untuk menjalankan suatu manajemen maka manajemen
    dibagi menjadi empat fungsional atau bagian yaitu manajemen sumber daya
    manusia, manajemen operasional, manajemen pemasaran, dan manajemen
    keuangan. Berikut selanjutnya adalah penjelasan dari empat fungsional manajemen
    yaitu:
  5. Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)
    Menurut Prasadja Ricardianto (2018:15) manajemen sumber daya manusia
    adalah suatu ilmu atau cara bagaimana mengatur hubungan dan peranan sumber
    daya (tenaga kerja) yang dimiliki oleh individu secara efisien dan efektif serta
    dapat digunakan secara maksimal sehingga tujuan bersama perusahaan,
    karyawan dan masyarakat maksimal.
  6. Manajemen Pemasaran
    Manajemen pemasaran menurut Sudarsono (2020:2) adalah proses perencanaan
    dan pelaksanaa yang meliputi pengorganisasian, pengarahan dan koordinasi
    operasi pemasaran di dalam perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan atau
    organisasi secara efisien dan efektif.
  7. Manajemen Keuangan
    Menurut Irfani (2020:11) manajemen keuangan dapat didefinisikan sebagai
    aktivitas pengelolaan keuangan perusahaan yang berhubungan dengan upaya
    mencari dan menggunakan dana secara efisien untuk mewujudkan tujuan
    perusahaan.
  8. Manajemen Operasi
    Martono (2018) mengemukakan bahwa manajemen operasi adalah komponen
    strategi pendukung visi dan misi perusahaan atau organisasi yang mencakup
    pengolahan input menjadi output yang dapat berupa barang atau jasa

Unsur-Unsur Manajemen


Manajemen pelaksanaannya membutuhkan sejumlah sarana yang disebut
dengan unsur-unsur manajemen atau biasa dikenal sebagai Tools of Management
atau 6M yang terdiri dari man (manusia), money (uang), materials (bahan-bahan),
machine (mesin), method (metode), dan market (pasar). Penjelasan ini selaras
dengan yang dikemukakan oleh R. Supomo (2018:4) yaitu sebagai berikut:

  1. Man (Manusia)
    Man yaitu tenaga kerja atau sumber daya manusia yang melakukan kegiatan
    manajemen dan produksi baik di level pimpinan maupun tenaga kerja di level
    operasional atau pelaksanaan.
  2. Money (Uang)
    Money yaitu faktor pendanaan atau keuangan. Hal keuangan ini berhubungan
    dengan masalah anggaran (budget), upah karyawan (gaji) dan pendapatan
    perusahaan atau organisasi, tanpa adanya uang maka kegiatan operasional
    perusahaan akan terhambat dan tak akan jalan sebagaimana mestinya.
  3. Materials (Bahan-Bahan)
    Materials yaitu barang-barang yang diperlukan perusahaan, contohnya
    berhubungan dengan barang mentah yang akan diolah menjadi barang jadi yang
    bernilai sehingga mendatangkan keuntungan.
  4. Machine (Mesin)
    Machine yaitu mesin-mesin atau alat-alat yang diperlukan atau mencapai tujuan
    Mesin disini membantu proses pengolahan barang mentah menjadi barang jadi
    yang bernilai.
  5. Methods (Metode)
    Method yaitu cara-cara yang dipergunakan dalam menjalankan organisasi atau
    perusahaan untuk mencapai suatu tujuan.
  6. Market (Pasar)
    Market yaitu tempat untuk menjual barang atau jasa yang dihasilkan ileh
    organisasi atau perusahaan

Pengertian Manajemen


Manajemen mempunyai arti yang sangat luas, dapat berarti proses, seni
maupun ilmu. Dikatakan proses karena dalam manajemen terdapat beberapa
tahapan untuk mencapai tujuan, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
dan pengawasan. Dikatakan seni karena manajemen merupakan suatu cara atau alat
untuk seorang manajer dalam mencapai tujuan, dimana penerapan serta
penggunaannya tergantung pada masing-masing manajer dengan cara ataupun gaya
tersendiri yang sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi pada pembawaan manajer
dan suasana perusahaan. Dikatakan ilmu karena manajemen dapat dipelajari dan
dikaji kebenarannya.
Pengertian manajemen menurut Hitt el al (2021:16) menyatakan bahwa
management is a skill in coordinating people and organizational resources with
expertise in decision-making, communication, leadership, and innovation to
achieve set goals. Lain halnya manajemen menurut Koontz dan Weinrich (2021:15)
mengemukakan bahwa “management is a proses if designing and maintaing an
evironment in which individuals work together, in groups, efficienly to achieve their
chosen goals.”

Indikator Loyalitas Konsumen


Menurut Kotler dalam Dewi, Andri dan Yonaldi (2012:19), terdapat
lima indikator konsumen yang loyal yaitu :
(1) Konsumen cenderung membeli lebih banyak dan setia lebih lama.
(2) Konsumen cenderung melakukan cross selling atau add-on-selling.
(3) Konsumen tidak sensitif terhadap harga.
(4) Konsumen akan melakukan word of mouth yang positif.
(5) Menawarkan gagasan barang atau jasa kepada perusahaan.
d. Berdasarkan indikator loyalitas konsumen dari para ahli, maka peneliti
menggunakan beberapa dimensi untuk melakukan penelitian, yaitu :
(1) Melakukan pembelian berulang secara teratur
(2) Membeli antarlini produk atau jasa
(3) Mereferensikan kepada orang lain
(4) Menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing-pesaing

Karakteristik Loyalitas Konsumen


Menurut Griffin dalam Yusfita dan Yulianto (2018), loyalitas berbeda
dari kepuasan, yang merupakan sikap, loyalitas dapat didefinisikan
berdasarkan perilaku membeli. Pelanggan loyal adalah orang yang:
(1) Melakukan pembelian berulang secara teratur
(2) Membeli antarlini produk atau jasa
(3) Mereferensikan kepada orang lain
(4) Menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing

Definisi Loyalitas Konsumen


Menurut Kotler dan Keller (2016:154), Loyalitas konsumen adalah
komitmen yang dipegang teguh untuk melakukan pembelian ulang atau
berlangganan terhadap produk atau jasa yang disukai meskipun adanya
perubahan situasi dan upaya pemasaran yang memiliki potensi untuk
menyebabkan adanya peralihan perilaku.
Menurut Tjiptono dan Chandra (2017:95), loyalitas pelanggan
mencerminkan komitmen psikologis terhadap merek tertentu, sedangkan
perilaku pembelian ulang semata-mata menyangkut pembelian merek tertentu
yang sama secara berulang kali. Dengan kata lain, konsumen yang
kelihatannya membeli merek spesifik berulang kali belum tentu loyal
terhadap merek bersangkutan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2014:49), pelanggan yang puas akan
tetap setia dan berbicara positif tentang perusahaan dan produk-produknya
kepada orang lain

Strategi Penyesuaian Harga


Menurut Julius dan Limakrisna (2016:80-81), terdapat 5 strategi
penyesuaian harga :
(1) Diskon dan potongan harga
Mengurangi harga melalui penggunaan kupon diskon, tarif borongan,
rabat dan lainnya.
(2) Segmentasi harga
Menyesuaikan harga berdasarkan perbedaan pelanggan, produk atau
lokasi.
(3) Harga Psikologis
Menyesuaikan harga agar memberikan dampak psikologis.
(4) Harga Promosi
Mengurang harga untuk menaikkan penjualan jangka pendek.
(5) Harga Geografis
Menyesuaikan harga berdasarkan lokasi geografis pelanggan.
d. Berdasarkan dimensi harga dari para ahli, maka peneliti menggunakan
beberapa dimensi untuk melakukan penelitian, yaitu :
(1) Kesesuaian harga manfaat
(2) Kesesuaian harga dengan kualitas produk
(3) Daya saing harga
(4) Keterjangkauan Harga

Dimensi Harga


Menurut Kotler dalam Amilia dan Asmara (2017), ada empat dimensi
harga yaitu sebagai berikut :
(1) Keterjangkauan harga
Harga yang terjangkau adalah harapan konsumen sebelum mereka
melakukan pembelian. Konsumen akan mencari produk-produk yang
harganya dapat mereka jangkau.
(2) Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Untuk produk tertentu, biasanya konsumen tidak keberatan apabila
harus membeli dengan harga relatif mahal asalkan kualitas produk baik.
Namun konsumen lebih menginginkan produk dengan harga murah dan
kualitasnya baik.
(3) Daya saing harga
Perusahaan menetapkan harga jual suatu produk dengan
mempertimbangkan harga produk yang dijual oleh pesaingnya agar
produknya dapat bersaing di pasar.
(4) Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen terkadang mengabaikan harga suatu produk namun lebih
mementingkan manfaat dari produk tersebut

Definisi Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2014:294), harga adalah sejumlah
uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, sejumlah nilai-nilai yang
dipertukarkan pelanggan untuk mendapatkan manfaat atau memiliki atau
menggunakan suatu produk atau jasa.
Menurut Tjiptono (2017:370), harga adalah jumlah uang (satuan
moneter) dan atau aspek lain (non-moneter) yang mengandung utilitas atau
kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan sebuah produk.

Elemen-elemen Store Atmosphere


Menurut Berman dan Evans (2018), store atmosphere memiliki elemen-
elemen yang berpengaruh terhadap suasana toko yang ingin diciptakan, yaitu:
(1) Exterior
Exterior sebuah toko mempunyai pengaruh yang kuat terhadap image
toko dan harus direncanakan secara matang. Konsumen terkadang
menilai sebuah toko dari bagian depannya. Bagian depan sebuah toko
merupakan keseluruhan physical exterior dari sebuah toko. Yang
termasuk dalam exterior adalah pintu masuk, etalase, teras, papan nama
toko, dan konstruksi material lainnya.
(2) General Interior
General Interior adalah berbagai motif konsumen memasuki toko,
hendaknya memperoleh kesan yang menyenangkan. Kesan ini dapat
diciptakan misalnya dengan warna dinding toko yang menarik, musik
yang diperdengarkan, serta aroma atau bau dan udara di dalam toko.
(3) Store Layout
Perencanaan store layout meliputi penataan penempatan ruang untuk
mengisi luas lantai yang tersedia, mengklasifikasikan produk yang akan
ditawarkan, pengaturan lalu lintas di dalam toko, pengaturan lebar
ruang yang dibutuhkan, pemetaan ruangan toko, dan menyusun produk
yang ditawarkan secara individu.
(4) Interior Display
Interior display sangat penting bagi suasana toko karena memberikan
informasi kepada konsumen. Tujuan utamanya adalah untuk
meningkatkan penjualan dan laba bagi toko.
c. Berdasarkan elemen-elemen store atmosphere dari para ahli, maka peneliti
menggunakan beberapa dimensi untuk melakukan penelitian, yaitu :
(1) Exterior
(2) General Interior
(3) Store Layout

Definisi Store Atmosphere


Menurut Utami dalam Prasetyo, Yulianto dan Kumandji (2016), store
atmosphere adalah penciptaan suasana lingkungan melalui komunikasi visual,
pencahayan, warna, musik, dan aroma untuk merancang respon emosional
dan perseptual pelanggan dan untuk mempengaruhi pelanggan dalam
membeli.
Menurut Peter dan Olson dalam Prasetyo, Yulianto dan Kumandji
(2016) menyatakan bahwa suasana toko terutama melibatkan afeksi dalam
bentuk status emosi dalam toko yang mungkin tidak disadari sepenuhnya oleh
konsumen ketika sedang berbelanja.
Menurut Kartika dan Syahputra dalam Isnandari dan Sunarti (2018),
store atmosphere adalah suatu kombinasi karakteristik fisik toko seperti
arsitektur, tata ruang, papan tanda dan pajangan, pewarnaan, pencahayaan,
suhu udara, suara dan aroma, yang mana karakteristik tersebut saling bekerja
sama untuk menciptakan citra perusahaan di dalam benak pelanggan

Dimensi Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Keller (2016:394), dimensi kualitas produk terbagi
menjadi sembilan dimensi, yaitu :
(1) Fitur (Features)
Berbagai produk yang beredar ditawarkan dengan bermacam-macam
fitur yang melengkapi fungsi dasarnya. Perusahaan dapat mengidentifikasi
dan memilih fitur baru yang sesuai dengan pembeli baru dan kemudian
menghitung nilai pelanggan dibandingkan dengan biaya perusahaan untuk
setiap fitur potensial.
(2) Kualitas Kinerja (Performance Quality)
Berbagai produk yang beredar berada di salah satu dari 4 tingkat
kinerja yaitu : rendah, rata-rata, tinggi atau unggul. Kualitas kinerja
adalah sebuah tingkatan dimana karakteristik utama dari produk
beroperasi. Kualitas semakin penting untuk menjadi pembeda karena
perusahaan mengadopsi model nilai dan memberikan kualitas yang lebih
tinggi dengan biaya yang lebih sedikit.
(3) Bentuk (Form)
Banyak produk dapat dibedakan dalam bentuk, ukuran atau struktur
fisik suatu produk. Meskipun pada dasarnya merupakan komoditas
namun dibedakan berdasarkan ukuran, dosis, warna, bentuk, pelapisan
atau waktu tindakan.
(4) Daya Tahan (Durability)
Ukuran dari masa pakai produk yang diharapkan dalam kondisi
alami atau penuh tekanan, sebuah atribut yang dihargai untuk kendaraan,
peralatan dapur, dan barang tahan lama lainnya. Namun, harga ekstra
untuk daya tahan tidak boleh berlebihan dan produk juga tidak boleh
kadaluwarsa dengan teknologi yang cepat seperti komputer pribadi,
televisi dan ponsel.
(5) Kesesuaian Kualitas (Conformance Quality)
Pembeli mengharapkan kesuaian kualitas yang tinggi, sejauh mana
semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi yang telah
dijanjikan.
(6) Gaya (Style)
Gaya menggambarkan tampilan dan nuansa produk kepada pembeli
dan menciptakan khas tersendiri yang tidak mudah untuk ditiru oleh
pesaing dari produk tersebut.
(7) Keandalan (Reliability)
Pembeli biasanya akan membayar harga untuk produk yang lebih
andal. Keandalan adalah ukuran probabilitas bahwa suatu produk tidak
akan mengalami kegagalan fungsi atau gagal dalam periode waktu
tertentu.
(8) Penyesuaian (Customization)
Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan setiap
pelanggan, serta menyiapkan produk, jasa, program dan komunikasi yang
berbasis manual yang dirancang secara individual.
(9) Kemudahan dalam Perbaikan (Repairability)
Merupakan kemudahan produk untuk diperbaiki apabila produk
mengalami kegagalan fungsi. Idealnya ketika suatu produk mengalami
kegagalan fungsi, pembeli produk tersebut tidak mengalami kesulitan
ketika hendak melakukan perbaikan pada produk tersebut.
d. Berdasarkan dimensi kualitas produk dari para ahli, makan peneliti
menggunakan beberapa dimensi untuk melakukan penelitian, yaitu :
(1) Bentuk (Form) berupa ukuran produk.
(2) Kualitas Kinerja (Performance Quality) berupa rasa, tekstur dan aroma
dari produk tersebut.
(3) Kesesuaian Kualitas (Conformance Quality), dimana produk yang
digambarkan di papan dan buku menu dengan produk nyata sama atau
tidak, dilihat dari warna dan bentuk.
(4) Gaya (Style) berupa penampilan dari produk tersebut seperti warna dan
motif

Klasifikasi Produk


Menurut Kotler dan Keller (2016:392), pemasar mengklasifikasikan
produk berdasarkan daya tahan, tangibilitas, dan penggunaan (konsumen atau
industri). Berikut ini klasifikasi produk menurut Kotler dan Keller.
(1) Daya tahan dan tangibilitas (Durability and Tangibility)
Produk terbagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan daya tahan
dan tangibilitas, yaitu :
(a) Barang tidak bertahan lama (Nondurable goods)
Barang berwujud yang biasanya dikonsumsi dalam satu atau
beberapa kegunaan seperti bir dan sampo. Strategi yang tepat
adalah membuat produk tersebut tersedia dalam kuantitas yang
banyak.
(b) Barang yang bertahan lama (Durable goods)
Barang berwujud yang biasanya bertahan adalah lemari es,
peralatan mesin, dan pakaian. Biasanya membutuhkan lebih
banyak penjualan pribadi dan layanan, serta memberikan margin
yang lebih tinggi dan membutuhkan lebih banyak jaminan
penjual.
(c) Layanan (Services)
Produk tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan, variabel, dan
mudah rusak, biasanya membutuhkan banyak quality control,
kredibilitas pemasok, dan kemampuan dalam beradaptasi.
Contohnya seperti : jasa memotong rambut, nasihat hukum dan
perbaikan mesin atau alat.
(2) Klasifikasi barang konsumen (Consumer Goods Classfication)
Saat mengklasifikasikan berbagai barang konsumen berdasarkan
kebiasaan berbelanja, dibedakan dengan kenyamanan belanja, spesialisasi,
dan barang yang tidak terpikirkan.
(a) Convenience Goods
Biasanya konsumen melakukan pembelian convenience goods itu
sering, langsung, dan dengan usaha yang sedikit. Contohnya
adalah minuman bersoda, sabun, dan koran.
(b) Barang belanjaan (Shopping Goods)
Konsumen yang secara khas membandingkan karakteristiknya
pada basis kesesuaian, kualitas, harga dan gaya.
(c) Speciality Product
Memiliki karakteristik unik atau identifikasi merek yang cukup
banyak pembeli bersedia melakukan upaya pembelian khusus.
(d) Barang tidak terduga (Unsought Goods)
Merupakan konsumen yang tidak mengetahui atau biasanya
berpikir untuk membeli. Contoh nya adalah detektor asap.
(3) Produk Industri
Mengklasifikasikan barang industri dalam hal biaya relatif dan cara
mereka memasuki proses produksi: bahan dan bagian, barang modal, dan
persediaan dan layanan bisnis.
(a) Bahan dan Bagian (Material and Parts)
Merupakan barang yang sepenuhnya masuk ke produk pabrikan.
Bahan dan bagian terbagi dalam dua kelas yaitu bahan baku dan bahan
manufaktur bagian.
(b) Barang Modal (Capital Item)
Barang tahan lama yang memfasilitasi pengembangan atau
pengelolaan produk jadi. Barang modal terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:
Instalasi dan Peralatan.
(c) Persediaan dan layanan bisnis (Supplies and business services)
Merupakan barang dan jasa yang berjangka pendek yang
memfasilitasi pengembangan atau pengelolaan produk jadi.
Persediaan terdiri dari 2 jenis, yaitu : Item Perawaran dan Perbaikan
(cat, kuku dan sapu) dan perlengkapan operasi (Pelumas, batu bara,
kertas tulis, dan pensil)

Definisi Produk & Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Armstrong (2014:259), produk adalah segala
sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk menarik perhatian, perolehan,
penggunaan, atau konsumsi yang mungkin dapat memuaskan pelanggan. Jika
didefinisikan secara luas, produk juga termasuk servis, acara, orang, tempat
atau campuran dari variabel diatas.
Menurut Kotler pada Pusparani dan Rastini (2015), semakin tinggi
tingkat kualitas, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan
oleh konsumen, dengan tingginya kepuasan yang dirasakan konsumen maka
konsumen akan merekomendasikan produk kepada orang lain.

Pengertian Pemasaran


Menurut Indrasari (2019:11), menyatakan bahwa pemasaran adalah
salah satu kegiatan yang sangat penting dalam dunia usaha. Pada kondisi
usaha seperti sekarang ini, pemasaran menjadi pendorong untuk
meningkatkan penjualan sehingga tujuan dari perusahaan dapat tercapai.
Memiliki pengetahuan mengenai pemasaran merupakan hal penting bagi
sebuah perusahaan pada saat dihadapkan pada permasalahan, seperti
menurunnya pendapatan perusahaan yang disebabkan oleh menurunnya daya
beli konsumen terhadap suatu produk sehingga memberikan dampak
melambatnya pertumbuhan pada perusahan.
Secara sederhana, definisi pemasaran lebih diidentikan dengan
proses pengenalan produk atau servis kepada konsumen yang potensial.
Aspek-aspek untuk pemasaran ini meliputi periklanan, public relation,
promosi dan penjualan.

Dimensi Keputusan Pembelian


Wardana dalam Nanda & Talumantak (2017), keputusan pembelian
perilaku konsumen yang menentukkan proses mengikuti pengambilan
keputusan pembelian atas pilihan produk lebih untuk memenuhi kebutuhan
konsumen. Dimensi keputusan pembelian adalah:

  1. Pemilihan produk merek merupakan keputusan yang dilakukan
    konsumen setelah mempertimbangkan berbagai informasi yang
    mendukung pengambilan keputusan.
  2. Pilihan penyaluran setiap pembelian mempunyai pertimbangan yang
    berbeda-beda dalam hal menentukan penyaluran.
  3. Waktu pembelian keputusan konsumen dalam pemilihan waktu
    pembelian bisa berbeda-beda
  4. Pembelian keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibeli
    pada suatu saat pembelian yang akan lebih dari satu.
  5. Pembayaran dalam berbelanja memiliki cara transaksi yang berbeda-
    beda

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Kotler Philip dalam Maryati & Khoiri.M (2021), terdapat
beberapa indikator dalam keputusan pembelian sebagai berikut:

  1. Adanya kemantapan produk, sebuah keputusan pembelian dapat
    juga dilakukan oleh konsumen dengan mencari sebuah informasi
    tersebut.
  2. Terdapat kebiasaan membeli, mendapatkan rekomendasi dari
    supplier yang informasi penting, bahwa sebuah indikator
    keputusan pembelian sangat menarik.
  3. Rekomendasi dari orang lain, dapat menyampaikan sebuah
    informasi dari orang lain agar dapat tertarik melakukan pembelian
    ini.
  4. Adanya pembelian ulang, ini sangat penting dalam bisnis anda maka
    adanya sebuah sebab kemudian konsumen juga melakukan
    pembelian ulang pada suatu produk

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Sari dalam Widayanto et al., (2020), keputusan pembelian
mengharuskan pembeli untuk memilih dari banyak penawaran, sehingga
mereka harus tegas dan berpengetahuan luas. Setelah prosedur selesai,
pembeli harus memutuskan apakah akan melakukan pembelian. Konsumen
membuat pilihan pembelian ketika mereka harus memutuskan antara
memuaskan berbagai keinginan dan kebutuhan (Yuliani et al., 2021).
Menurut Bafadhal dalam Maryati & Khoiri.M (2020), keputusan
pembelian merupakan sebuah keputusan konsumen tentang apa yang akan
dibeli, berapa banyak yang akan dibeli dan bagaimana cara melakukan
pembelian yang akan dilakukan. Meurut Mangkunegara (2017), keputusan
pembelian merupakan di dalam proses perilaku konsumen, kerangka atau
kinerja yang dapat mewakili apa yang diyakini oleh konsumen atau pelanggan
dalam mengambil keputusan pembelian untuk membeli produk

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penetapan Harga


Bagi setiap perusahaan tentu memiliki strategi untuk menetapkan
harga yang mampu menjadi kekuatan suatu perusahaan. Segala sesuatunya
tentu memiliki faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga. Faktor-
faktor tersebut mempengaruhi para konsumen untuk membeli suatu produk
yang dipasarkan.
Menurut Meitriani & Suwendara dalam Satdiah et al., (2019), faktor-
faktor yang mempengaruhi penetapan harga yaitu:

  1. Keadaan perekonomian.
  2. Permintaan beserta penawaran.
  3. Biaya dan persaingan

Tujuan Penetapan Harga


Menurut M. Amri Nasution dalam Issn (2019), berikut tujuan
penetapan harga sebagai berikut:

  1. Tujuan Berorientasi Pada Laba
    Pada laba asuransi teori ekonomi klasik menyatakan bahwa setiap
    perusahaan selalu memilih harga yang dapat menghasilkan laba paling
    tinggi.
  2. Tujuan Berorientasi Pada Volume
    Pada volume salain tujuan berorientasi pada laba, ada pula perusahaan
    yang menetapkan harganya berdasarkan tujuan yang berorientasi pada
    volume tertentu atau yang biasanya dikenal dengan istilah volume
    pricxing objectives.
  3. Tujuan Berorientasi Pada Citra
    Citra (image) sebuah perusahaan dapat dibentuk melalui strategi
    penetapan harga. Perusahaan dapat menetapkan harga mahal untuk
    membantu atau mempertahankan citra tertentu (image of value). Pada
    hakikatnya, baik penetapan harga mahal maupun murah bertujuan
    untuk meningkatkan persepsi konsumen terhadap keseluruhan baruan
    produk yang ditawarkan perusahaan.
  4. Tujuan Stabilitas Harga
    Tujuan stabilitas dilakukan dengan jalan menetapkan harga untuk
    mempertahankan hubungan yang stabil antara harga sebuah perusahaan
    dan harga pemimpin industry (industry leader).
  5. Tujuan Lainnya
    Termasuk mencegah pesaing memasuki pasar, mempertahankan
    loyalitas klien, mempromosikan penjualan kembali dan menghindari
    intervensi pemerintah

Indikator Harga


Menurut Kolter dalam Aprileny et al., (2016:52), indikator yang
digunakan untuk mengukur harga, yaitu:

  1. Keterjangkauan harga produk.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
  3. Daya saing harga produk.
  4. Kesesuaian harga dengan manfaat produk.

Pengertian Harga


Harga merupakan nilai yang dinyatakan dalam rupiah. Keadaan
yang lain harga di definisikan sebagai jumlah yang dibayarkan oleh pembeli.
Harga merupakan suatu cara bagi seorang penjual untuk membedakan
penawarannya dari para pesaing.
Menurut Zulkarnaen dalam Satdiah et al., (2023), harga merupakan
nilai uang yang harus dibayarkan atas pelanggan terhadap penjual dan
pembeli barang yang dibelinya.

Dimensi Kualitas Produk


Beberapa orang berpendapat bahwa yang dimaksud dimensi kualitas
produk adalah aspek ciri karakteristik untuk melihat kualitas sebuah produk.
Produk disini dapat berupa makanan. Dari perspektif itu, ciri karakteristik
kualitas produk dari sebuah produk, khususnya produk yang berupa makanan.
Dimensi kualitas produk menurut Mullins, Orville, Larreche dan
Body (2005) dalam Firmansyah (2019), mengemukakan bahwa kualitas
produk memiliki beberapa dimensi antara lain:

  1. Performance (kinerja), merupakan karakteristik operaasi pokok dari
    produk inti (core product) yang dibeli. Misalnya kecepatan, kemudahan
    dan keenyamanan dalam penggunaan.
  2. Features (fitur atau ciri-ciri tambahan), yaitu karakteritik sekunder atau
    fitur produk yang melengkapi fungsi dasar suatu produk tersebut.
  3. Reability (kehandalan), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
    kerusakan atau gagal dipakai.
  4. Confermance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu
    sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-
    standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya standar
    karakteristik operasional.
  5. Durability (daya tahan), yaitu berkaitan dengan berapa lama produk
    tersebut dapat digunakan. Dimensi ini mencakup teknis maupun umur
    ekonomis.
  6. Serviceability, meliputi kecepatan, kompetisi, kenyamanan,
    kemudahan diperasi seta penggunaan keluhan secara memuaskan.
    Pelayanan yang diberikan tidak terbatas hanya sebelum penjualan
    hingga purna jual, yang juga mencakup pelayanan reparsi dan
    ketersediaan komponen yang dibutuhkan.
  7. Esthetics (estetika), yaitu daya Tarik produk terhadap panca indera.
    Misalnya keindahan desain produk, keunikan model produk dan
    kombinasi.
  8. Perceived quality (kualitas yang dipersepsikan), yaitu citra dan reputasi
    produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya. Biasanya karena
    kuragnya pengetahuan pembeli akan atribut atau ciri-ciri produk yang
    akan dibeli, maka pembeli mempersepsikan kualitasnya dari aspek
    harga, ikan, reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya

Pengertian Kualitas Produk


Menurut Assauri dalam Dwi Tamara et al., (2018), menyatakan
bahwa kualitas produk sebagai hal paling utama yang harus diperhatikan
dalam suatu produsen atau perusahaan, hal ini dikarenakan kualitas produk
mempunyai keterkaitan dengan tujuan pemasaran dari perusahaan pada
konsumen yakni kepuasan konsumen. Berlandaskan pada persepsi tersebut,
kualitas yang didefiniskan pada hal ini di batasi pada penjelasan mengenai
kualitas sebuah produk dan produk itu memiliki sifat yang berhubungan
dengan mutu, Jadi saat sebelum membuat keputusan untuk membeli maka
calon pembeli hendaknya mengamati terlebih dahulu kualitas produk yang
diadakan tersebut dalam kondisi baik ataupun tidak baik (Yulianthini, 2021).
Menurut Ernawati dalam Maulina (2021), kualitas produk adalah
suatu faktor penting yang mempengaruhi keputusan setiap pelanggan dalam
membeli sebuah produk. Semakin baik kualitas produk tersebut, maka akan
semakin meningkat minat konsumen yang ingin membeli produk tersebut

Pengaruh Lokasi Terhadap Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen dapat disebabkan karena adanya
faktor lokasi. Semakin berkembangnya pola hidup masyarakat maka semakin banyak faktor yang mempengaruhi dalam keputusan pembelian konsumen. Adanya keterkaitan antara lokasi dan keputusan pembelian konsumen diungkapkan oleh Ujang Suwarman (2011:280),
“Lokasi merupakan tempat usaha yang sangat mempengaruhi keinginan seseorang
konsumen untuk datang dan berbelanja”.

Pengaruh Harga Terhadap Keputusan Pembelian


Harga sebagai variabel independen yang digunakan mempengaruhi proses keputusan
pembelian konsumen ada 4 dimensi yaitu keterjangkaun harga, kesesuaian harga dengan
kualitas produk, daya saing harga, kesesuaian harga dengan manfaat. Variabel proses
keputusan pembelian konsumen dibentuk oleh 5 indikator yaitu pengenalan masalah,
pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, perilaku paska pembelian.
Hal ini diperkuat oleh pendapat Fandy Tjiptono dalam Purwari (2012:204), menyatakan
harga merupakan salah satu faktor penentu pembeli menentukan suatu keputusan pembelian
terhadap suatu produk maupun jasa

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Kualitas produk erat kaitannya dengan keputusan pembelian, dimana kualitas produk
menjadi salah satu aspek pertimbangan konsumen dalam memutuskan pembelian. Kualitas
yang baik akan berujung pada kepuasan konsumen yang selanjutnya akan membuat
konsumen tersebut menjadi loyal terhadap produk tersebut. Perusahaan harus dapat
memberikan kualitas yang sesuai keinginan dan kebutuhan konsumen dengan
memperhatikan standar-standar kualitas pasar yang ada.
Hal ini memberikan alasan agar kualitas yang diberikan perusahaan tersebut tidak kalah
saing dibandingkan perusahaan kompetitornya. Produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan untuk memuaskan suatu kebutuhan dan keinginan (Kotler, 2012:49)

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan salah satu cara konsumen melakukan pembelian
terhadap barang atau jasa. Untuk memahami karakter pada konsumen perlu mempelajari
tentang perilaku konsumen agar bisa mengetahui aktivitas yang diinginkan konsumen.
Menurut Peter-Olson dalam Mulyadi Nitisusastro (2012:195) menjelaskan bahwa
keputusan pembelian merupakan proses interaksi antara sikap afektif, sikap kognitif, sikap
behavioral dengan faktor lingkungan dengan mana manusia melakukan pertukaran dalam
semua aspek kehidupannya. Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2014:21) keputusan
pembelian adalah sebuah proses dimana konsumen mengenal masalahnya, mencari
informasi mengenai produk atau merek tertentu dan mengevaluasi seberapa baik masing-
masing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian mengarah kepada
keputusan pembelian.
Menurut Kotler dan Keller (2012:227) adalah proses keputusan pembelian merupakan
proses dimana konsumen melewati lima tahap yaitu, pengenalan masalah, pencarian
informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan perilaku pasca pembelian yang
dimulai jauh sebelum pembelian aktual dilakukan dan memiliki dampak yang lama setelah
itu.
Proses keputusan pembelian konsumen menurut Kotler dan Amstrong (2015:176), ada
lima langkah-langkah dalam proses keputusan pembelian:

  1. Pengenalan Masalah
    Proses dimulai saat pembelian menyadari adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli
    merasakan adanya perbedaan antara keadaan aktual dan sejumlah keadaan rangsangan
    internal maupun eksternal. Para pemasar perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu
    kebutuhan tertentu. Dengan mengumpulkan informasi dari senjumlah konsumen, para
    pemasar dapat mengidentifikasi rangsangan yang paling sering membangkitkan minat
    akan kategori produk tertentu. Para pemasar kemudian dapat menyusun strategi
    pemasaran yang mampu memicu minat konsumen.
  2. Pencarian Informasi
    Konsumen yang ingin memenuhi kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi
    produk. Pencarian informasi terdiri dari dua jenis menurut tingkatannya. Pertama adalah
    perhatian yang meningkatkan, yang ditandai dengan pencarian informasi yang sedang –
    sedang saja . kedua, pencarian informasi secara aktif dilakukan dengan mencari informasi
    dari segala sumber.
  3. Penilaian Alternatif
    Terdapat beberapa proses evaluasi konsumen adalah oriental kognitif , yakni memandang
    konsumen sebagai pembuat pertimbangan mengenai produk terutama berlandasan pada
    pertimbangan yang sadar dan rasional.
  4. Keputusan Membeli
    Jika keputusan yang diambil adalah membeli, maka pembeli akan menjumpai
    serangkaian keputusan yang menyangkut jenis pembelian, waktu pembelian, dan cara
    pembelian. Pada tahap ini konsumen benarbenar membeli produk.
  5. Prilaku setelah Membeli
    Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami beberapa tingkatan kepuasan
    atau ketidakpuasan yang dirasakan, ada kemungkinan bahwa pembeli memiliki
    ketidakpuasan setelah melakukan pembelian karena tidak sesuai dengan keinginan atau
    gambaran sebelumnya, dan lain sebagainya

Harga


Definisi harga adalah sesuatu yan memiliki nilai dalam mengambil keputusan pembelian
yang akan ditawarkan pada suatu produk. Dalam proses jual beli, harga menjadi salah satu
bagian terpenting, karena harga adalah alat tukar dalam transaksi. Namun harga akan
mempengaruhi keuntungan bagi perusahaan dalam melakukan penjualan produk. Harga
merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang sifatnya fleksibel dimana setiap saat
dapat berubah-ubah. Maka dari itu perusahaan harus mampu menyesuaikan harga dari
produk dengan kualitas yang terbaik.
Menurut Fandy Tjiptono (2016:218) menyebutkan bahwa harga merupakan satu-satunya
unsur bauran pemasaran yang mendatangkan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan.
Sedangkan menurut Buchari Alma (2015:169) mengemukakan bahwa harga adalah nilai
suatu barang yang dinyatakan dengan uang.
Ada tujuh faktor yang mempengaruhi harga menurut Basu Swastha dan Irawan
(2014:242), antara lain:

  1. Keadaan perekonomian
    Keadaan perekonomian sangat mempengaruhi tingkat harga yang berlaku. Pada periode
    resesi misalnya, merupakan suatu periode dimana harga berada pada suatu tingkat yang
    lebih rendah.
  2. Penawaran dan permintaan
    Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli oleh pembeli pada tingkat harga tertentu.
    Pada umumnya tingkat harga yang lebih rendah akan mengakibatkan jumlah yang
    diminta lebih besar. Sedangkan penawaran merupakan kebalikan dari permintaan, yaitu
    suatu jumlah yang ditawarkan oleh penjual pada suatu tingkat harga tertentu. Pada
    umumya, harga yang lebih tinggi mendorong jumlah yang ditawarkan lebih besar.
  3. Elastisitas permintaan
    Sifat permintaan pasar tidak hanya mempengaruhi penentuan harganya tetapi juga
    mempengaruhi volume yang dapat dijual. Untuk beberapa barang, harga dan volume
    penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika kenaikan harga maka penjualan akan
    menurun dan sebaliknya.
  4. Persaingan
    Harga jual beberapa macam barang serig dipengaruhi oleh keadaan persaingan yang ada.
    Dalam persaingan, penjual yang berjumlah banyak aktif menghadapi pembeli yang
    banyak pula.
  5. Biaya
    Biaya merupakan dasar dalam penentuan harga, sebab suatu tingkat harga yang tidak
    dapat menutup akan mengakibatkan kerugian. Sebaliknya, apabila suatu tingkat harga
    melebihi semua biaya akan menghasilkan keuntungan.
  6. Tujuan manajer
    Penetapan harga suatu barang sering dikaitkan dngan tujuan yang akan dicapai. Setiap
    perusahaan tidak selalu mempunyai tujuan yang sama dengan perusahaan lainnya.
  7. Pengawasan pemerintah
    Pengawasan pemerintah juga merupakan faktor penting dalam penentuan harga.
    Pengawasan pemerintah tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penentuan harga
    maksimum dan minimum, diskriminasi harga, serta praktek-praktek lain yang
    mendorong atau mencegah usaha kearah monopoli

Kualitas Produk


Definisi kualitas menurut Kotler dan Amstrong (2010:79) karakteristik dari produk dalam
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan dan bersifat paten.
Kualitas dalam pandangan konsumen adalah hal yang mempunyai ruang lingkup tersendiri
yang berbeda dengan kualitas dalam pandangan produsen saat mengeluarkan suatu produk
yang biasa dikenal kualitas sebenarnya.
Menurut Tjiptono (2012:14) kualitas produk adalah suatu kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau
melebihi harapan. Kualitas produk merupakan hal yang perlu mendapat perhatian utama dari
perusahaan/ produsen, mengingat kualitas produk berkaitan erat dengan keputusan pembelian
konsumen yang merupakan tujuan dari kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan.
Kualitas produk akan dinilai oleh konsumen. Perusahaan hendaknya menentukan suatu
tolak ukur dari tiap kualitasnya. Menurut David Garvin dalam buku Fandy Tjiptono
(2016:134) ada indikator yang mempengaruhi kualitas produk, sebagai berikut:

  1. Kinerja (performance)
    Tingkat dimana kualitas produk menjadi dimensi yang semakin penting untuk diferensiasi
    ketika perusahaan menerapkan sebuah model nilai dan memberikan kualitas yang lebih
    tinggi dengan uang yang lebih rendah.
  2. Fitur (features)
    Sebagian besar produk dengan memvariasikan fitur yang melengkapi fungsi dasar mereka
    atau karakteristik pelengkap atau tambahan.
  3. Kehandalan (reability)
    Ukuran profitabilitas bahwa produk tidak akan mengalami malfungsi atau kegagalan dalam
    periode waktu tertentu.
  4. Kesesuaian (conformance)
    Pembeli mengharapkan produk mempunyai kualitas kesesuaian yang tinggi, yaitu tingkat
    dimana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi yang dijanjikan.
  5. Daya tahan (durability)
    Ukuran umur operasi harapan produk dalam kondisi biasa atau penuh tekanan, merupakan
    atribut berharga untuk produk-produk tertentu. Berkaitan dengan berapa lama produk dapat
    terus digunakan.
  6. Kemampuan pelayanan (serviceability)
    Meliputi penanganan keluhan secara memuaskan. Layanan yang diberikan tidak hanya
    sebatas sebelum penjualan, tetapi juga selama proses penjualan dan purnajual.
  7. Estetika (aesthetics)
    Daya tarik produk terhadap pancaindra, misalnya: bentuk, fisik, model, desain yang
    artistik, corak, rasa dan daya tarik produk.
  8. Kualitas yang di persepsikan (perceived quality)
    Ukuran produk yang diproduksi sesuai dengan spesifikasi yang dijanjikan, menyangkut
    citra dan reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya

Aspek-Aspek Minat Beli.


Chandra Dewi (2014: 56) menjelaskan bahwa aspek-aspek yang
terdapat dalam minat beli antara lain :
a. Perhatian Adanya perhatian yang besar dari konsumen terhadap suatu
produk (barang atau jasa)
b. Ketertarikan
Setelah adanya perhatian maka akan timbul rasa tertarik pada konsumen
c. Keinginan
Berlanjut pada perasaan untuk mengingini atau memiliki suatu produk
tersebut
d. Keyakinan
Kemudian timbul keyakinan pada diri individu terhadap produk tersebut
sehingga menimbulkan keputusan (proses akhir) untuk memperolehnya
dengan tindakan yang disebut membeli.
e. Keputusan
Dari lima aspek tersebut dapat disimpulkan menjadi tiga aspek dalam
minat beli antara lain:
1) Ketertarikan(interest)
Yang menunjukkan adanya pemusatan perhatian dan perasaan
senang
2) Keinginan (desire)
Ditujukan dengan adanya dorongan untuk memiliki.
3) Keyakinan (Convicition)
Ditunjukkan dengan adanya perasaan percaya diri individu terhadap
kualitas, daya guna dan keuntungan dari produk yang akan dibeli. Aspek
perhatian tidak digunakan karena masih berupa perhatian belum bisa
dikatakan sebagai minat, karena tidak adanya dorongan untuk memilih

Ciri-ciri Minat Beli


Kecendrungan seseorang menunjukkan minat terhadap suatu produk atau
jasa dapat dilihat berdasarkan ciri- ciri:

  1. Kemauan mencari informasi terhadap suatu produk atau jasa. Konsumen
    yang memiliki minat, memiliki suatu kecendrungan untuk mencari informasi
    lebih detail tentang produk atau jasa tersebut, dengan tujuan untuk
    mengetahui secara pasti bagaimana spesifikasi produk atau jasa yang
    digunakan, sebelum menggunakan produk atau jasa tersebut.
  2. Kesediaan untuk membayar barang atau jasa. Konsumen yang memiliki
    minat terhadap suatu produk barang atau jasa dilihat dari bentuk
    pengorbanan yang dilakukan terhadap suatu barang atau jasa, konsumen
    yang cenderung memiliki minat lebih terhadap suatu barang atau jasa
    tersebut dengan tujuan konsumen yang berminat tersebut dapat
    menggunakan barang atau jasa tersebut.
  3. Menceritakan hal yang positif. Konsumen yang memiliki minat besar
    terhadap suatu produk atau jasa jika ditanya konsumen lain, maka secara
    otomatis konsumen tersebut akan mencritakan hal yang positif terhadap
    konsumen lain, karena konsumen yang memiliki suatu minat secara eksplisit
    memiliki suatu keinginan dan kepercayaan terhadap suatu barang atau jasa
    yang digunakan.
  4. Kecendrungan untuk merekomendasikan konsumen yang memiliki minat
    yang besar terhadap suatu barang, selain akan menceritakan hal yang positif,
    konsumen tersebut juga akan merekomendasikan kepada orang lain untuk
    juga menggunakan barang atau jasa tersebut, karena seseorang yang
    memiliki minat yang besar terhadap suatu barang akan cenderung memiliki
    pemikiran yang positif terhadap barang atau jasa tersebut. sehingga jika
    ditanya konsumen lain, maka konsumen tersebut akan cenderung
    merekomendasikan kepada konsumen lain.
    Ada 3 hal mendasar mengapa konsumen ingin membeli produk atau
    jasa yang ditawarkan:
  5. Faktor minat beli primer (kebutuhan barang pokok) kebutuhan utama
    yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup oleh calon pelanggan.
  6. Faktor minat beli sekunder (kebutuhan pelengkap) kebutuhan pelengkap
    dan hanya digunakan sesekali oleh calon pelanggan.
  7. Faktor minat beli tersier (kebutuhan spesifik).
  8. Kebutuhan yang dianggap tidak terlalu penting oleh calon pelanggan,
    produk ini mempunyai spesifikasi khusus dengan pangsa pasar khusus

Indikator minat beli.


Menurut Tjiptono (2010:19) minat beli dapat diidentifikasi melalui
indikator-indikator sebagai berikut :

  1. Minat transaksional, yaitu kecendrungan seseorang untuk membeli produk.
  2. Minat refrensial, yaitu kecendrungan seseorang untuk merefrensikan produk
    kepada orang lain.
  3. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang
    yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya
    dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan prefrensinya.
  4. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu
    mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi
    untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut

Pengertian Minat Beli


Minat beli merupakan keinginan yang muncul dalam diri konsumen
terhadap suatu produk sebagai sebagai dampak dari suatu proses pengamatan
dan pembelajaran konsumen atau individu tersebut terhadap suatu produk.
Menurut Durianto (2013:58) Minat beli adalah keinginan untuk memiliki
produk, minat beli akan timbul apabila seseorang konsumen sudah terpengaruh
terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk, informasi seputar produk.
Misalnya, harga, cara membeli dan kelemahan serta keunggulan produk
disbanding dengan merek lain.
Sedangkan menurut Simamora (2011:106) bahwa minat beli (niat beli)
terhadap suatu produk timbul karena adanya dasar kepercayaan terhadap produk
yang diiringi dengan kemampuan untuk membeli produk. Selain itu, niat beli
terhadap produk juga dapat terjadi dengan adanya pengaruh dari orang lain yang
dipercaya oleh calon konsumen. Minat beli juga dapat timbul apabila seseorang
konsumen merasa sangat suka terhadap berbagai informasi seputar produk yang
diperoleh melalui iklan, pengalaman, orang yang telah menggunakannya, dan
kebutuhan yang mendesak terhadap suatu produk

Indikator Variasi Produk


Menurut kotler (2015:358) indikator variasi produk yaitu :

  1. Variasi merek produk
    Variasi merek produk merupakan banyaknya jenis merek yang
    ditawarkan.
  2. Variasi kelengkapan produk
    Variasi kelengkapan produk adalah sejumlah kategori barang yang
    berbeda didalamtoko atau department store. Toko dengan banyak
    jenis atau tipe produk barang yang dijual dapat dikatakan
    mempunyai banyak ragam kategori produk yang ditawarkan
  3. Variasi merek produk
    Variasi ukuran produk atau keberagaman (assormen) merupakan
    sejumlah standar kualitas umum dalam kategori toko dengan
    keberagaman yang luas dapat dikatakan mempunyai kedalam yang
    baik.
  4. Variasi kulitas produk
    Kualitas produk merupakan standar kualitas umum dalam kategori
    barang berkaitan dengan kemasan, label, ketahanan suatu produk,
    jaminan, bagaimana produk dapat memberikan manfaat

Keberagaman produk (Variasi Produk)


Menurut Mikell P. Groover (2010:6) mengatakan bahwa variasi produk
dapat diartikan sebagai produk yang memiliki desain atau jenis yang berbeda
dan diproduksi oleh perusahaan. Variasi produk merupakan yang membedakan
produk antara perusahaan dengan perusahaan lain dalam kategori produk yang
sama.
Selain itu, Menurut Jasniko (2013:4), variasi produk cocok dipilih
apabila perusahaan bermaksud memanfaatkan fleksibilitas produk sebagai
strategi bersaing dengan para produsen misal produk-produk standar. Hubungan
antara keragaman produk dan perilaku konsumen dalam melakukan keputusan
pembelian sangat erat kaitannya pada kelangsungan penjualan suatu perusahaan.
Perusahaan yang tidak mampu menciptakan produk baru akan menghadapi
resiko penurunan volume penjualan, karena munculnya pesaing yang lebih
kreatif, adanya perubahan selera konsumen, munculnya teknologi baru dalam
proses produksi. Pengembangan produk dapat dilakukan oleh perusahaan dengan
cara mengembangkan produk yang sudah ada, dapat pula menyewa para peneliti
guna menciptakan produk baru dengan model-model yang sesuai.

Indikator Harga


Menurut Kotler (2009:6) indikator yang mencirikan harga yaitu:

  1. Keterjangkauan harga
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
  3. Daya saing harga
  4. Kesesuaian harga dengan manfaat produksi
  5. Harga mempengaruhi daya beli konsumen
  6. Harga dapat mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan

Hubungan Harga dengan Keputusan Pembelian


Harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang
(Alma, 2011). Penentuan harga ini merupakan salah satu keputusan
yang penting bagi manajemen. Harga yang ditetapkan harus dapat
menutup semua ongkos, atau bahkan lebih dari itu, yaitu untuk
mendapatkan laba. Harga ditentukan terlalu tinggi akan berakibat
kurang menguntungkan. Dalam hal ini pembeli akan berkurang, volume
penjualan berkurang, semua biaya mungkin tidak dapat ditutup dan
akhirnya perusahaan akan menderita rugi. Salah satu prinsip bagi
manajemen dalam penentuan harga ini adalah menitikberatkan pada
kemauan pembeli untuk harga yang telah ditentukan dengan jumlah
yang cukup untuk menutup ongkos – ongkos dan menghasilkan laba
(Swastha dan Sukotjo, 2007). Harga dapat mempengaruhi keputusan
pembelian. Hasil penelitian Oetama (2011), menyatakan bahwa harga
berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Penelitian Widha (2016)
membuktikan bahwa pengujian secara parsial harga berpengaruh secara
parsial terhadap keputusan pembelian

Hubungan Kualitas Produk dengan Keputusan Pembelian


Kualitas Produk yang diterima oleh para konsumen adalah
produk yang kualitasnya dapat memuaskan para konsumen, kualitas
produk sangat berpengaruh untuk meyakinkan para konsumen
melakukan keputusan pembelian. Bila kualitas suatu produk bagus dan
dapat memuaskan konsumen, maka dapat ditafsirkan akan menaikan
kepuasan pembelian atas produk tersebut.
Dalam konsep produk menegaskan bahwa konsumen akan
menyukai produk-produk yang menawarkan ciri-ciri paling berkualitas,
berkinerja atau inofatif. Para manajer dalam organisasi memutuskan
perhatian untuk menghasilkan produk yang unggul dan meningkatkan
kualitasnya sepanjang waktu. Mereka berasumsi bahwa para pembeli
mengagumi produk-produk yang dibuat dengan baik serta dapat
menghargai mutu dan kinerja (Kotler, 2012).
Salah satu tujuan dari pelaksanaan kualitas produk adalah untuk
mempengaruhi konsumen dalam menentukan pilihanya untuk
menggunakan produk buatannya sehingga memudahkan konsumen
dalam pengambilan keputusan pembelian. Pemahaman perilaku
konsumen tentang kualitas produk dapat dijadikan dasar terhadap
proses keputusan pembelian konsumen (Sutisna, 2009)

Keputusan Pembelian


Menurut Kotler (2012) Keputusan pembelian yaitu beberapa proses
yang di lakukan konsumen sebelum melakukan keputusan pembelian suatu
produk. Menurut Kotler (2012) yang dimaksud dengan keputusan pembelian
adalah suatu proses penyelesaian masalah yang terdiri dari menganalisa atau
pengenalan kebutuhan dan keinginan, pencarian informasi, penilaian sumber-
sumber seleksi terhadap alternatif pembelian, keputusan pembelian, dan
perilaku setelah pembelian.

Harga (Price)


Menurut Kotler & Amstrong (2012), harga (price) adalah jumlah
yang ditagihkan atas nama suatu produk atau jasa. Lebih luas lagi, harga
adalah jumlah semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunakan suatu produk
atau jasa. Sepanjang sejarahnya, harga telah menjadi faktor utama untuk
mempengaruhi plihan para pembeli. Dalam beberapa dekade terakhir,
beberapa faktor diluar harga menjadi semakin penting. Harga tetap menjadi
salah satu elemen yang paling penting dalam menentukan pangsa pasar dan
keuntungan suatu perusahaan.
Harga adalah satu-satunya elemen dalam bauran pemasaran yang
menghasilkan pendapatan; semua elemen lainnya melambangkan biaya.
Harga juga merupakan satu dari elemen bauran pemasaran yang paling
fleksibel. Tidak seperti fitur produk dan komitmen penyalur, harga dapat
berubah dengan cepat. Pada saat bersamaan, penetapan harga adalah
permasalahan nomor satu yang dihadapi banyak eksekutif pemasaran, dan
banyak perusahaan tidak menangani penetapan harga dengan baik. Salah
satu masalah yang sering timbul adalah perusahaan yang terlalu cepat
menurunkan untuk mendapatkan pejualan daripada meyakinkan pembeli
bahwa produknya yang bernilai lebih layak dihargai tinggi. Kesalahan
umum lainnya termasuk penetapan harga yang terlalu berorientasi pada
biaya daripada berorientasi pada nilai bagi pelanggan, dan penetapan harga
tidak memasukkan bagian lain dalam bauran pemasaran kedalam
perhitungannya.
Menurut Kotler dan Amstrong, (2012), indikator harga sebagai
berikut :

  1. Keterjangkauan harga, harga yang terjangkau konsumen
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, harga yang ditawarkan
    sesuai dengan kualitas produk
  3. Daya saing harga, harga yang ditawarkan lebih bersaing dari harga
    produk yang sejenis

Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Armstrong (2012) kualitas produk adalah :
Kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsiya, hal ini
termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan
pengoperasian, dan reparasi produk, juga atribut produk lainnya Salah satu
nilai utama yang diharapkan oleh pelanggan dari produsen adalah kualitas
produk dan jasa yang tertinggi. Menurut Kotler (2012), kualitas adalah
keseluruhan ciri serta sifat suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh
pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau
tersirat. Untuk menentukan kualitas produk, menurut Kotler (2012) kualitas
produk dapat dimasukkan ke dalam 9 dimensi, yaitu :

  1. Kinerja (performance)
    Dimensi ini menunjukkan tingkat operasi produk atau kegunaan dasar
    dari suatu produk. Dalam implementasinya, kinerja diartikan sebagai
    persepsi pelanggan terhadap manfaat dasar dari produk yang
    dikonsumsinya misalnya kemudahan, dan kenyamanan dalam berbisnis
    dan sebagainya.
  2. Keistimewaan tambahan (features)
    Yaitu sifat yang menunjang fungsi dasar produk
  3. Keandalan (reliability)
    Yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai.
    Dalam implementasinya, keandalan diartikan sebagai persepsi pelanggan
    terhadap keandalan produk yang dinyatakan dengan waktu garansi atau
    jaminan produk tidak rusak sebelum masa kadaluwarsa ditetapkan
  4. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications)
    Yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-
    standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
  5. Daya tahan (durability)
    Ketahanan mencerminkan suatu ukuran usia operasi produk yang
    diharapkan dalam kondisi normal. Dimensi ini mencakup umur teknis
    maupun umur ekonomis penggunaan toko, struktur pembesian ruko yang
    kuat.
  6. Estetika (asthethic)
    Keindahan menunjukkan bagaimana penampilan atau daya tarik produk
    terhadap pembeli.
  7. Bentuk (Form)
    Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan
    bentuk, ukuran, atau struktur fisik produk.
  8. Ciri-ciri produk (Features)
    Karakteristik sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah
    fungsi dasar yang berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan
    pengembangannya.
  9. Gaya (Style)
    Penampilan produk dan kesan konsumen terhadap produk

Indikator Loyalitas Pelanggan


Sedangkan menurut Tjiptono yang dikutip oleh (Sangadji &
Sopiah, 2013) mengemukakan ada enam indikator yang dapat
digunakan untuk mengukur Loyalitas Pelanggan, Adapun enam
indikator tersebut adalah:
1) Pembelian ulang.
Merupakan suatu sikap perilaku pelanggan yang hanya
membeli sebuah produk/jasa secara berulang-ulang tanpa
menyertakan aspek kesukaan didalamnya, sehingga tercipta
loyalitas pelanggan yang merupakan suatu komitmen terhadap
suatu merek atau produk tertentu.
2) Kebiasaan mengkonsumsi merek.
Merupakan pelanggan yang puas dengan merek produk
yang dikonsumsi dan tidak ada alasan yang cukup
menciptakan keinginan untuk membeli merek produk lain atau
berpindah merek, terutama jika peralihan tersebut memerlukan
usaha, biaya maupun pengorbanan lain.
3) Rasa suka yang besar pada merek.
Pelanggan sungguh-sungguh menyukai merek tersebut,
rasa suka ini bisa saja didasari oleh asosiasi yang terkait
dengan symbol, rangkaian pengalaman dalam penggunaan
sebelumnya, baik yang dialami pribadi maupun kerabat, atau
dapat juga disebabkan oleh kesan kualitas yang tinggi, meski
demikian seringkli suatu perasaan yang sulit didefinisikan dan
ditelusuri dengan cermat untuk dikatgorikan dalam suatu yang
spesifik.
4) Ketetapan pada merek.
Meyakini bahwa merek tersebut layak dikonsumsi
sehingga menetapkan penggunaan pada satu merek tersebut.
5) Keyakinan bahwa merek tertentu adalah merek terbaik.
Pelanggan merupakan yang pelanggan yang setia dan
memiliki kebanggaan sebagai pengguna suatu produk merek
dan bahkan merek tersebut menjadi sangat penting bagi
mereka dipandang dari segi fungsi maupun sebagai ekspresi
mengenai siapa sebenarnya mereka.
6) Perekomendasian merek pada orang lain.
Pelanggan yang loyal akan dengan senang hati
memberikan informasi yang positif berkenaan dengan jasa
yang sudah menjadi langganannya sehingga mengajak orang
lain untuk ikut memakainya

Karakteristik Loyalitas Pelanggan


Pelanggan yang loyal merupakan asset yang penting bagi suatu
perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari karakteristik yang dimilikinya.
Seperti yang dikemukakan oleh Griffin dalam (Sangadji & Sopiah,
2013), bahwa pelanggan yang loyal terhadap perusahaan
mempunyai beberapa karakteristik. Adapun karakteristik pelanggan
yang loyal terhadap perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Melakukan pembelian secara teratur (makes regular repeat
purchase)
2) Melakukan pembelian disemua lini produk atau jasa
(purchase across product and service lines).
3) Merekomendasikan produk lain (Refers other)
4) Menunjukan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari
pesaing (Demonstrates on immunity to the full of the
competition).

Loyalitas Pelanggan


Menurut Kotler dan Keller (2016:153) definisi dari Loyalitas
Pelanggan adalah sebagai berikut
“a deeply held commitment to rebury or repatronize a preffered a
product or service in the future despite situational influences and
marketing efforts having the potential to cause switching
behavior”.
Seorang pelanggan mungkin akan loyal terhadap suatu merek
dikarenakan tingginya kendala beralih merek disebabkan faktor-faktor
teknis, ekonomi dan psikologi. Disisi lain mungkin pelanggan loyal
terhadap sebuah merek karena puas terhadap penyedia produk atau
merek dan ingin melanjutkan hubungan dengan penyedia produk atau
layanan tersebut. Pelanggan yang loyal adalah mereka yang membeli
ulang merek yang sama, hanya mempertimbangkan merek yang sama
dan sama sekali tidak mencari informasi-informasi tentang merek yang
lain.
Menurut Tjiptono (2012:482) Loyalitas pelanggan adalah
komitmen pelanggan terhadap suatu merek, berdasarkan sikap yang
sangat positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten.
Menurut (Irawan & Japarianto, 2013) Loyalitas Pelanggan adalah
komitmen terhadap perusahaan, merek ataupun pemasok yang
didasarkan atas sikap positif yang tercermin dalam bentuk pembelian
berulang secara konsisten. Pelanggan yang benar-benar loyal bukan saja
sangat potential menjadi word-of-mouth-advertissers, namun
kemungkinan besar juga loyal pada produk dan jasa perusahaan selama
bertahun-tahun

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan atau ketidakpuasan adalah perasaan senang atau kecewa
seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap
kinerja produk yang rill/actual dengan kinerja produk yang diharapkan.
Menurut Kotler dan Keller (2009:138-139) mengungkapkan
kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal
dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu
produk dan harapan harapannya.
Tse dan Wilton dalam (Tjiptono, 2011, p. 24) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi
ketidaksesuaian yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja
actual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya.
Sedangkan menurut (Supranto, 2011, p. 224) mengatakan bahwa
kepuasan pelanggan adalah perbedaan antara harapan dan kinerja yang
dirasakan. Jadi, kinerja suatu perusahaan jasa setidaknya harus sama
dengan yang diekspektasikan dan diinginkan oleh pelanggan.
Kepuasan pelanggan diukur dengan seberapa besar harapan
pelanggan tentang produk dan pelayanan sesuai dengan kinerja produk
dan pelayanan yang actual. Kepuasan akan mendorong pelanggan untuk
membeli ulang produk. Ada lima tahap pasca pembelian produk yang
akan dilalui pelanggan yaitu (1) konsumsi poduk, (2) perasaan puas atau
tidak puas (3) perilaku keuhan pelanggan (4) disposisi barang, dan (5)
pembentukan kesetiaan merek.
a. Metode untuk mengukur Kepuasan Pelanggan
Pengukuran Kepuasan Pelanggan perlu dilakukan oleh
perusahaan untuk mengetahui kinerja perusahaan menurut sudut
pandang pelanggan. Menurut Tjiptono (2012:453) meskipun
belum ada cara mengukur Kepuasan Pelanggan, sejumlah studi
menunjukan bahwa ada tiga aspek penting yang perlu ditelaah
dalam kerangka pengukuran Kepuasan Pelanggan, yaitu:
1) Kepuasan general atau keseluruhan (Overall Satisfaction).
2) Konfirmasi harapan (confirmation of expectation), yakni
tingkat kesesuaian antara kinerja dan ekspektasi.
3) Perbandingan dengan situasi ideal (comparison to ideal),
yaitu kinerja produk dibandingkan dengan produk ideal
menurut persepsi pelanggan.
Paling tidak ada empat metode yang banyak dipergunakan dalam
mengukur kepuasan pelanggan (Kotler & Keller, 2012)
1) Sistem keluhan dan saran
Setiap organisasi jasa yang berorientasi pada pelanggan
wajib memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para
pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan
mereka. Media yang digunakan bisa berupa kotak saran yang
diletakan di tempat-tempat strategis (yang mudah diakses atau
sering dilalui pelanggan), saluran telephone khusus bebas pulsa,
website, facebook, twitter dll. Informasi-informasi yang
diperoleh melalui metode ini dapat memberikan ide-ide baru dan
masukan yang berharga kepada perusahaan, sehingga
memungkinkannya untuk bereaksi dengan tanggap dan cepat
untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul.
Akan tetapi, karena metode ini bersifat pasif, maka sulit
mendapatkan gambaran lengkap mengenai kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan. Tidak semua pelanggan yang tidak
puas akan menyampaikan keluhannya. Sangat mungkin mereka
langsung berganti pemasok dan tidak akan membeli produk/jasa
perusahaan yang bersangkutan lagi.
2) Ghost/Mystery Shopping
Salah satu metode untuk memperoleh gambaran mengenai
kepuasan peanggan adalah dengan memperkerjakan beberapa
orang ghost shopper untuk berperan sebagai pelanggan potensial
jasa perusahaan dan pesaing. Mereka diminta melaporkan
berbagai temuan penting bedasarkan pengalamannya mengenai
kekuatan dan kelemahan jasa perusahaan dibandingkan para
pesaing. Selain itu, para ghost shopper juga dapat mengobservasi
cara perusahaan dan pesaingnya melayani permintaan spesifik
pelanggan, menjawab pertanyaan pelanggan, dan menangani
setiap masalah/keluhan pelanggan. Ada baiknya para manajer
perusahaan terjun langsung sebagai ghost shoppers untuk
mengetahui secara langsung bagaimana karyawannya
berinteraksi dan memperlakukan para pelanggan.
3) Lost customer Analysis
Perusahaan seyogyanya menghubungi para pelanggan yang
telah berhenti membeli atau yang telah beralih pemasok, agar
dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan supaya dapat
mengambil kebijakan perbaikan/penyempurnaan selanjutnya.
Bukan hanya exit interview saja yang perlu, tetapi pemantauan
pelanggan loss rate juga penting, di mana peningkatan pelanggan
loss rate menunjukan kegagalan perusahaan dalam memuaskan
pelanggannya. Hanya saja kesulitan menerapkan metode ini
adalah pada mengidentifikasikan dan mengkontak mantan
pelanggan yang bersedia memberian masukan dan evaluasi
terhadap kinerja perusahaan.
4) Survey Kepuasan Pelanggan
Umumnya sebagian besar penelitian mengenai kepuasan
pelanggan menggunakan metode survei, baik via pos, telpon, e-
mail, maupun wawancara langsung. Melalui survey, perusahaan
akan memperoleh tanggapan dan umpan balik langsung dari
pelanggan dan juga memberikan sinyal positif bahwa perusahaan
menaruh perhatian terhadap mereka.
b. Indikator Kepuasan Pelanggan
Irwan dalam Putranto (2016:18-19) ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan, yaitu sebagai
berikut:
1) Kualitas produk, pelanggan akan puas apabila produk yang
digunakan memiliki kualitas yang baik.
2) Harga, dengan harga yang terjangkau menjadikan
pelanggan merasakan kepuasan maka dari itu harga murah
merupakan sumber dari kepuasan pelanggan, karena
pelanggan sangat sensitive terhadap harga jual suatu
produk.
3) Service Quality, kualitas pelayanan yang baik merupakan
kepuasan bagi pelanggan maka dari itu kualitas pelayanan
merupakan sesuatu yang sulit untuk ditiru.
4) Biaya dan kemudahan, apabila pelanggan dapat dengan
mudah, nyaman dan efisien menggunakan suatu jasa maka
pelanggan akan semakin puas.
5) Emotional factor. Pelanggan akan merasa puas (bangga)
karena adanya emotional value yang diberikan oleh brand
suatu produk.
Didalam lingkungan yang kompetitif, indikator yang dapat
menunjukan kepuasan pelanggan adalah apakah pelanggan tersebut
akan membeli kembali dan menggunakan produk atau jasa tersebut
diwaktu yang akan datang. Menurut (Damayanti & Wahyono, 2015, p.
240) indikator Kepuasan Pelanggan antara lain dapat dilihat dari:
1) Kesesuaian antara kinerja dan harapan.
2) Biaya yang memadai
3) Memberikan rekomendasi positif tentang produk atau perusahaan
pada pihak lain yang dikenalnya.
4) Melakukan pertimbangan utama dalam memilih perusahaan yang
sama.
5) Keterjangkauan akses lokasi yang dituju.
Menurut Rondonuwu dan Komalik dalam jurnal (Setyo, 2017)
menjelaskan indikator kepuasan pelanggan sebagai berikut:
1) Terpenuhinya harapan pelanggan
Pelanggan merasakan kepuasan akan terpenuhinya keinginan dan
kebutuhan dari suatu produk barang atau jasa.
2) Sikap atau keinginan menggunakan produk
Sikap merupakan kecenderungaan yang dipelajari, ini berarti
bahawa sikap yang berkaitan dengan perilaku membeli terbentuk
sebagai hasil dari pengalaman langsung mengenai produk,
informasi secara lisan yang diperoleh dari orang lain atau terpapar
iklan di media masa, internet dan berbagai bentuk pemasaran
langsung.
3) Merekomendasikan kepada pihak lain
Pelanggan akan selalu merekomendasikan hasil pengalamannya
kepada orang lain atas apa yang diperoleh dari suatu kualitas
produk yang ditawarkan oleh suatu perusahaan.
4) Kualitas Layanan
Kualitas layanan dapat diwujudkan melalui pemenuhan dan
keinginan pelanggan serta ketepatan menyampaikan untuk
mengimbangi harapan pelanggan.
5) Loyal
Pelanggan memiliki berbagai alasan untuk tidak mengembangkan
loyalitas terhadap produk atau jasa tertentu, yang mampu
memberikan manfaat harapan mereka terpenuhi.
6) Reputasi yang baik
Upaya bagi suatu perusahaan dimana produk utama yang
dihasilkan adalah suatu jasa, maka reputasi dan nama baik sangat
menentukan adanya anggapan bahwa reputasi yang berupa citra
merek (Brand Image), citra perusahaan (company image), nama
yang terbaik (the best name), pelayanan prima (service excellent)
dan semua yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan
mendapatkan prioritas.
7) Lokasi
Yang dimaksud dengan lokasi adalah tempat dimana perusahaan
memperjual belikannya produk/jasa yang ditawarkan kepada
pelanggan

Indikator Citra Merek atau Brand Image


Indikator dari Citra Merek atau Brand Image (Brand
Image) menurut pendapat Harrison (2014:71) bahwa citra
perusahaan merupakan informasi lengkap mengenai perusahaan
dibenak kosumen yang merpakan personality (kepribadian),
reputation (reputasi), value (nilai), dan corporate identity
(identitas perusahaan). Keempat indikator tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1) Personality (Kepribadian)
Keseluruan karakteristik perusahaan yang dipahami
publik sasaran perusahaan seperti, perusahaan yang dapat
dipercaya dan perusahaan yang mempunyai tanggungjawab
sosial.
2) Reputation (Reputasi)
Hal yang telah dilakukan perusahaan yang telah
diyakini publik sasaran berdasarkan pengalaman sendiri
maupun pihak lain seperti kinerja perusahaan.
3) Value (Nilai)
Nilai-nilai yang dimiliki suatu perusahaan dengan
kata lain seperti sikap manajemen yang peduli terhadap
pelanggan, karyawan yang cepat tanggap terhadap
permintaan maupun keluhan pelanggan.
4) Corporate identity (Identitas Perusahaan)
Komponen-komponen yang mempermudah
pengenalan publik sasaran terhadap perusahaan seperti
logo, warna dan slogan.
Schiffman Kanuk dalam (Putri & Ratnawati, 2011, p. 41)
menyebutkan indikator dari Citra Merek atau Brand Image
adalah sebagai berikut:
1) Kualitas atau mutu
Hal ini sangat berkaitan erat dengan kualitas jasa
yang ditawarkan oleh perusahaan yang berkaitan dengan
kualitas pelayanan yang diberikan oleh perusahaan jasa
tersebut.
2) Dapat dipercaya atau dapat diandalkan
Berkaitan dengan kesepakatan ataupun pendapat
yang telah dibuat oleh masyarakat atas jasa yang
digunakan.
3) Manfaat
Hal ini berkaitan dengan suatu fungsi dari jasa yang
dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh pelanggan untuk
memenuhi kebutuhannya.
4) Pelayanan
Yang berkaitan dengan tugas perusahaan jasa dalam
melayani pelanggan.
5) Resiko
Berkaitan dengan kerugian maupun keuntungan yang
dialami oleh pelanggan setelah menggunakan jasa dari
perusahaan tersebut.
6) Harga
Yaitu berkaitan dengan banyak sedikitnya ataupun
rendah tingginya dengan jumlah biaya yang dapat
dikeluarkan pelanggan untuk membayar mendapatkan
suatu produk pada suatu perusahaan.
7) Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri
Merupakan sesuatu yang berupa pandangan,
kesepakatan, dan informasi yang berhubungan dengan
suatu merek tertentu.

Faktor dan pembentuk Citra Merek atau Brand Image


(Keller, 2013, p. 78) menyatakan bahwa pengukur Citra
Merek atau Brand Image dapat dilakukan berdasarkan pada
aspek sebuah merek yaitu:
1) Kekuatan (Strengthness)
Kekuatan dalam hal ini berkaitan dengan seberapa
kuat hubungan yang dapat diciptakan oleh merek dengan
pelanggan. Biasanya pengukuran kekuatan ini bisa
didapatkan melalui pengalaman secara langsung yang
berkaitan dengan harga, kualitas dari produk, rekomendasi,
perorangan, iklan/promosi dan lain sebagainya. Yang
terdapat didalam kelompok kekuatan (Strength) ini adalah
penampilan fisik suatu produk, kegunaan/fungsi dari
produk itu sendiri, harga produk, maupun penampilan
fasillitas pendukung dari produk tersebut.
2) Keunikan (Uniqueness)
Keunikan adalah kemampuan untuk membedakan
satu merek dengan merek yang lain. Kesan untuk ini
muncul dari atribut suatu produk, yang berarti ada
perbedaan antara suatu produk dengan produk
kompetitornya. Perusahaan harus dapat membuat produk
mereka unik dan beda dengan produk pesaing. Yang masuk
kedalam kelompok unik ini adalah dari hal yang sangat
berbeda dari produk lain yaitu yang berbeda secara
dominan dari produk pesaingnya yaitu berbagai variasi
dalam pelayanan, dengan berbagai tingkatan harga,
penampilan dari produk itu sendiri seperti fitur produk dan
produk yang tersedia.
3) Kesukaan (Favorable)
Favorable mengarah pada kemampuan merek
tersebut untuk mudah diingat oleh pelanggan. Yang
termasuk kedalam kelompok favorable ini antara lain:
bagaimana suatu nama atau merek itu dapat atau dengan
mudah diucapkan oleh pelanggan, dan bagaimana merek
tersebut dapat sesuai seperti kesan yang ada pada benak
pelanggan dengan citra yang diharapkan perusahaan
terhadap merek tersebut

Makna dan Tipe Merek.


Penjelasan makna dan tipe merek akan dijelaskan oleh
(Mehmood & Shafiq, 2015, p. 179) dalam suatu merek memiliki
6 tingkatan pengertian, sebagai berikut :
1) Atribut
Atribut merupakan ciri-ciri atau berbagai aspek dari
merek yang diiklankan. Atribut juga dibagi menjadi dua
bagian, yaitu hal -hal yang tidak berhubungan dengan
produk (contoh: harga, kemasan, pemakai, citra
penggunaan), dan hal -hal yang berhubungan dengan
produk (contoh: warna, ukuran dan desain)
Merek mengingatkan pada atribut tertentu dari
sebuah produk, baik dari program purna jual, pelayanan,
maupun kelebihannya dan perusahaan menggunakan
atribut tersebut sebagai materi iklan.
2) Manfaat
Merek bukanlah sekedar sekumpulan atribut, karena
yang dibeli pelanggan adalah manfaat, bukan atribut.
3) Nilai
Merek juga menatakan nilai-nilai produsennya.
4) Budaya
Merek juga mungkin mencerminkan budaya tertentu.
5) Kepribadian
Merek juga dapat memproyeksikan kepribadian
tertentu terhadap suatu produk.
6) Pemakaian
Merek memberikan kesan mengenai jenis pelanggan
yang membeli atau menggunakan produknya

Brand Image


Tjiptono (2012:112) Brand Image yakni deskripsi tentang asosiasi
dan keyakinan Pelanggan terhadap merek tertentu. Sejumlah Teknik
kuantitatif dan kualitatif telah dikembangkan untuk membentuk,
mengungkapkan persepsi dan asosiasi Pelanggan terhadap sebuah merek
tertentu, diantaranya multidimensional scaling, projection tehniques, dan
sebagainya.
Kotler dan Armstrong (Kotler & Armstrong, 2014, p. 233)
menyatakan bahwa brand image adalah “The set of belief held about a
particular brand is known as brand image” yang artinya adalah
sekumpulan keyakinan terhadap suatu merek disebut Citra Merek atau
Brand Image.
Sunyoto, dalam (Wijaya, 2013, p. 107) menyatakan bahwa brand
image adalah “nilai tambah yang diberikan pada sebuah produk dan jasa”
Brand Image berdasarkan perspektif Pelanggan adalah pengenalan
Pelanggan atas merek tersebut dan menyimpannya dalam memori merek
yang mendukung, kuat, dan unik.
Darmadi Durianto (2004:4) dalam (Djan & Burhanudin, 2018)
mengatakan merek merupakan suatu nama, istilah, tanda, symbol, warna,
gerak dan atau kombinasinya yang menjad identitas suatu produk serta
memiliki makna teretentu sehingga dapat membedakan suatu produk satu
dengan produk yang lainnya. Selain itu merek merupakan segala kesan
yang muncul pada benak seseorang yang terkait dengan ingatannya
mengenai suatu merek

Dimensi dan Indikator Kualitas Produk


Kualitas produk memiliki dimensi yang dapat digunakan untuk
menganalisis karakteristik dari suatu produk. Menurut David Garvin
dalam buku (Tjiptono, 2016, p. 134)kualitas produk memiliki delapan
dimensi sebagai berikut:
1) Kinerja (Performance)
Yaitu karakteristik operasi pokok dari produk inti dan dapat
didifinisikan sebagai tampilan dari sebuah produk sesungguhnya.
Performance sebuah produk merupakan pencerminan bagaimana
sebuah produk itu disajikan atau ditampilkan kepada pelanggan.
Tingkat pengukuran performance pada dasarnya mengacu pada
tingkat karakteristik dasar produk itu beroperasi. Sebuah produk
dikatakan memiliki performance yang baik bilamana dapat
memenuhi harapan. Bagi setiap produk/jasa, dimensi
performance bisa berlainan, tergantung pada functional value
yang dijanjikan oleh perusahaan.
2) Ciri-ciri produk (Features)
Merupakan karakteristik sekunder atau pelengkap dan dapat
didefinisikan sebagai tingkat kelengkapan atribut-atribut yang
ada pada sebuah produk. Pada inti tertentu, performance dari
setiap merek hampir sama tetapi justru perbedaannya terletak
pada fiturnya. Ini juga mengakibatkan harapan pelanggan
terhadap dimensi performance relative homogen dan hadapan
terhadap fitur relative heterogen.
3) Kehandalan (Reliability)
Yaitu tingkat kehandalan suatu produk atau konsistensi
kehandalan sebuah produk didalam proses operasionalnya dimata
pelanggan. Reliability sebuah produk juga merupakan ukuran
kemungkinan suatu produk tidak akan rusak atau agal dalam
suatu periode tertentu. Sebuah produk dikatakan memiliki
reliability yang tinggi bilamana dapat menarik kepercayaan dari
pelanggan terkait kualitas keandalan sebuah produk. Dimensi
performance dan reliability sekilas hampir sama tetapi memiliki
perbedaan yang jelas. Reliability lebih menunjukan probabilitas
produk menjalankan fungsinya.
4) Ketepatan/kesesuaian (Conformance)
Yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi
memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya dan
dapat didefinisikan sebagai tingkat dimana semua unit yang
diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi sasaran yang
dijanjikan. Definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa tingkat
conformance sebuah produk dikatakan telah akurat bilamana
produk-produk yang dipasarkan oleh produsen telah sesuai
perencanaan perusahaan yang berarati merupakan produk-produk
yang mayoritas diinginkan pelanggan.
5) Ketahanan (Durability)
Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus
digunakan dan dapat didefiniskan sebagai ukuran usia operasi
produk yang diharapkan dalam kondisi normal dan atau berat.
6) Pelayanan (Serviceability)
Meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, kemudahan,
direparasi serta penanganan keluhan yang memuaskan dan dapat
didefinisikan sebagai suatu ukuran kemudahan memperbaiki
suatu produk yang rusak atau gagal. Disini artinya bilamana
sebuah produk rusak atau gagal maka kesiapan perbaikan produk
tersebut dapat dihandalkan, sehingga pelanggan tidak merasa
dirugikan.
7) Estetika (Aesthetics)
Yaitu keindahan produk terhadap panca indera dan dapat
didefinisikan sebagai atribut-atribut yang melekat pada sebuah
produk, seperti warna, model atau desain, bentuk dan lain-lain.
Pada dasarnya aesthetics merupakan elemen yang melengkapi
fungsi dasar suatu produk sehingga performance sebuah produk
akan menjadi lebih baik dihadapan pelanggan.
8) Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality)
Yaitu citra dan reputasi produk serta tanggung jawab
perusahaan terhadapnya

Kualitas Produk


Perusahaan dalam menjalankan bisnisnya harus dapat
mempertahankan keberlangusungan hidup perusahaan dan dapat
mencapai tujuan dari perusahaan tersebut. Perusahaan sendiri
memerlukan cara untuk dapat mengatur kegiatan pamasarannya agar
sesuai dengan tujuan perusahaan yang telah ditetapkan, untuk itu
perusahaan memerlukan manajemen pemasaran agar dapat mencapai hal
tersebut. Manajemen perusahaan sendiri merupakan seni dan ilmu dalam
memilih pasar sasaran yang dirancang untuk menciptakan, membangun
dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan untuk mencapai
tujuan-tuuan perusahaan.
Salah satu keunggulan dalam sebuah persaingan antar perusahaan
adalah salah satunya kualitas produk yang dapat memenuhi keinginan
Pelanggan. Bila tidak sesuai dengan spesifikasi maka produk akan
ditolak. Sekalipun produk tersebut masih dalam batas toleransi yang telah
ditentukan maka produk tersebut sebaiknya perlu menjadi catatan untuk
menghindari terjadinya kesalahan yang lebih besar diwaktu yang akan
datang.

Keputusan Pembelian


Menurut Loudan dan Bitta (1993:165) menjelaskan bahwa faktor yang
mempengaruhi pembelian dibedakan menjadi dua faktor yaitu faktor eksternal
yang terdiri dari faktor budaya, subbudaya, kelas sosial, kelompok sosial, family,
personality, serta kelompok lain. Sedangkan lingkungan internal meliputi faktor
prossesing informasi, belajar dan ingatan, kepribadian, sikap, motivasi serta faktor
keterlibatan.
Tahap-tahap keputusan pembelian (Swasta dan Irawan, 1999:120) adalah:

  1. Pengenalan masalah
    Tahap ini terjadi bila mana konsumen menyadari perbedaan antara situasi
    yang ada dengan situasi yang diinginkan atau diharapkan, yaitu timbulnya
    rangsangan dari dalam diri konsumen. Kebutuhan dapat digerakkan oleh
    rangsangan dari luar maupun dari dalam yaitu adanya faktor ekstern dan
    intern.
  2. Pencarian Informasi
    Seorang yang mulai tergugah minatnya mungkin akan mencari informasi
    yang lebih banyak lagi. Jika dorongan konsumen adalah kuat dan obyek yang
    dapat memuaskan kebutuhan itu tersedia maka konsumen akan membeli
    obyek itu. Jika tidak terbeli kebutuhan konsumen itu akan semakin
    mengendap dalam ingatannya. Konsumen mungkin tidak berusaha untuk
    mencari informasi lebih lanjut sehubungan dengan kebutuhan tersebut.
  3. Evaluasi Alternatif
    Pada tahap ini konsumen dihadapkan pada penilaian beberapa alternative
    suatu merek produk, dalam proses pemilihan ini ada beberapa konsep dasar
    untuk membantu memperjelas proses penilaian konsumen antara lain: sifat –
    sifat produk, peningkatan ciri – ciri produk, kemanfaatannya, adanya
    prosedur penilaian oleh konsumen dalam penilaian alternatif.
  4. Keputusan Membeli
    Setelah tahap – tahap di atas dilakukan maka pembeli tiba pada sikap
    menentukan sikap dalam pengambilan keputusan apakah akan membeli atau
    tidak. Jika dianggap membeli maka pembeli akan menjumpai serangkaian
    keputusan mengenai produk, merek, penjual, kualitas, waktu pembelian dan
    cara pembayaran.
  5. Perilaku Setelah Membeli
    Setelah membeli suatu produk konsumen akan mengalami beberapa tingkatan
    kepuasan atau ketidakpuasan. Kepuasan terhadap produk yang dibelinya
    merupakan fungsi dari dekatnya antara harapan dari pembeli tentang produk
    yang dibelinya dengan kemampuan dari produk itu sendiri. Hal ini
    mempengaruhi perilaku konsumen berikutnya. Konsumen yang merasa puas,
    kemungkinan untuk membeli produk tersebut sangat besar. Sedangkan
    konsumen yang merasa tidak puas akan member tanggapan yang sebaliknya.

Analisis Perilaku Konsumen


Bagi seorang manajer pemasaran yang dimaksud dengan pasar adalah semua
individu dan organisasi yang menjadi pembeli actual dan potensial dari suatu
barang dan jasa. Analisis perilaku konsumen dibutuhkan oleh seorang manajer
pemasaran dalam memahami mengapa dan bagaimana perilaku konsumen
sehingga perusahaan dapat mengembangkan, menentukan harga, mempromosikan
dan mendistribusikan barang secara baik.
Inti permasalahan adalah bagaimana konsumen memberikan tanggapan
terhadap rangsangan yang dilakukan perusahaan. Perusahaan yang benar – benar
memperhatikan konsumen memberikan tanggapan terhadap ciri – ciri produk yang
berbeda, harga, daya tarik periklanan dan lain – lain akan meraih keuntungan yang
lebih banyak daripada pesaingnya.

Pengertian Perilaku Konsumen


Tujuan kegiatan pemasaran adalah untuk menimbulkan permintaan, maka para
pemasar berusaha untuk memotivasi perilaku pembelian oleh konsumen. Dengan
demikian perilaku konsumen perlu mendapat perhatian dan muncul teori – teori
yang mempelajari teori perilaku konsumen. Devinisi perilaku konsumen adalah
sebagai perilaku yang ditunjukkan oleh orang – orang dalam hal merencanakan,
membeli, dan menggunakan barang – barang ekonomi dan jasa. (Winardi, 1991:
80).
Ilmu-ilmu sosial kadang mengartikan kata “behavior“ hanyalah
menyangkut kegiatan–kegiatan yang tampak jelas atau mudah diamati. Tetapi
perkembangan sekarang mengakui bahwa kegiatan yang jelas terlihat hanyalah
merupakan satu kegiatan dari proses pengambilan keputusan. Sehingga analisis
perilaku konsumen yang realistik hendaknya menganalisis juga proses – proses
yang tidak dapat atau sulit diamati yang selalu menyertai setiap pembelian.
Mempelajari perilaku konsumen tidak hanya mempelajari apa (what), yang dibeli
atau yang dikonsumsi, tetapi juga dimana (Where), bagaimana kebiasaannya (How
often) dan dalam kondisi macam apa (Under what condition) barang dan jasa
dikonsumsi.
Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1994:3) mendefinisikan “Perilaku
konsumen sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan,
mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan
yang mendahului dan menyusuli tindakan”.
Menurut Loudan dan Bitta (1993:5) menjelaskan bahwa “Perilaku
konsumen sebagai proses pengambilan keputusan dan aktivitas individu untuk
mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau mengatur barang dan
jasa”.Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen
merupakan tindakan yang dilakukan individu, kelompok / organisasi untuk
memperoleh atau mempergunakan barang dan jasa yang berkaitan dengan proses
pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang–barang atau
jasa yang dapat dipengaruhi oleh konsumen.
Usaha untuk mempengaruhi perilaku konsumen merupakan hal yang
sangat penting dalam aktifitas pemasaran, dimana setiap pihak yang bersaing di
pasar mengharapkan untuk dapat mempengaruhi sebanyak mungkin pembeli agar
produknya disukai dan mereka mengkonsumsinya oleh karena itu perusahaan
harus memahami benar tentang perilaku konsumen

Merek


Merek (Brand) ialah nama, istilah, tanda, lambang, desain/kombinasi
darinya yang digunakan sebagai tanda pengenal barang atau jasa seorang atau
sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari barang atau jasa saingan.
(Philip Kotler, 1999:194). Suatu Merek merupakan janji penjual untuk secara
tetap menyampaikan ciri – ciri, manfaat, dan jasa kepada pembeli. Merek yang
baik juga menyampaikan layanan pelengkap tambahan berupa layanan
pelengkap kualitas. Menurut Tjiptono ( 2002:104 ), Merek digunakan untuk
beberapa tujuan yaitu :
1) Sebagai identitas, yang bermanfaat dalam membedakan produk suatu
perusahaan dengan produk pesaingnya. Hal ini akan memudahkan untuk
mengenali saat berbelanja dan saat melakukan pembelian utang.
2) Alat promosi, yaitu sebagai daya tarik produk.
3) Untuk membina citra, yaitu dengan memberikan keyakinan, layanan
pelengkap kualitas, serta prestise tertentu kepada konsumen.
4) Untuk mengendalikan pasar.
Ada empat makna yang bisa disampaikan melalui suatu Merek (Kotler
dan Amstrong, 1999:199) yaitu :
1) Atribut, Merek akan mengingatkan konsumen pada atribut – atribut
produk tertentu.
2) Manfaat, Merek bukanlah sekedar sekumpulan atribut, karena yang dibeli
konsumen adalah manfaat bukanlah atribut.
3) Nilai, Merek juga menyatakan nilai – nilai pembelinya.
4) Kepribadian, Merek juga dapat menggambarkan kepribadian tertentu.

Atribut Produk


Atribut produk adalah sesuatu produk yang dapat ditawarkan ke pasar untuk
mendapatkan perhatian, digunakan atau dibutuhkan sehingga dapat diterima oleh
konsumen dalam pengambilan sikap konsumen (Kotler, 1999:189). Atribut
produk adalah sekumpulan atribut yang nyata (tangible) dan tidak nyata
(intangible) di dalamnya sudah tercakup warna, harga, kemasan, prestise pabrik,
prestise pengecer, dan pelayanan dari pabrik yang mungkin diterima oleh pembeli
sebagai sesuatu yang bisa memuaskan keinginannya. (Angipora, 1990:128).
Atribut produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh
konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Atribut produk
meliputi Merek, kemasan, layanan, pelengkap (garansi) pelayanan, dan
sebagainya (Tjiptono, 1997:103).Atribut produk adalah suatu yang berwujud
seperti desain produk, merek, pembungkus, label dan sebagainya (Gitosudarmo,
1999:189)

Kualitas Produk


Menurut Garvin (1987) telah mengungkapkan adanya delapan dimensi kualitas
produk yang bisa dimainkan oleh pemasar. Performance, feature, reliability,
conformance, durability, serviceability, aesthetics, dan perceived quality
merupakan kedelapan dimensi tersebut.

  1. Dimensi performence atau kinerja produk
    Kinerja merupakan karakteristik atau fungsi utama suatu produk. Ini
    merupakan manfaat atau khasiat utama produk yang kita beli. Biasanya ini
    menjadi pertimbangan pertama kita membeli produk.
  2. Dimensi reliability atau keterandalan produk
    Dimensi kedua adalah keterandalan, yaitu peluang suatu produk benas dari
    kegagalan saat menjalankan fungsinya.
  3. Dimensi feature atau fitur produk
    Dimensi feature merupakan karakteristik atau ciri-ciri tambahan yang
    melengkapi manfaat dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan atau option bagi
    konsumen. Kalau manfaat utama sudah standar, fitur seringkali ditambahkan.
    Idenya, fitur bisa meningkatkan kualitas produk kalau pesaing tidak memiliki.
  4. Dimensi durebility atau daya tahan
    Daya tahan menunjukkan usia produk, yaitu jumlah pemakaian suatu produk
    sebelum produk itu digantikan atau rusak. Semakin lama daya tahannya tentu
    semakin awet. Produk yang awet akan dipresepsikan lebih berkualitas
    dibandingkan produk yang cepet habis atau cepat diganti.
  5. Dimensi conformance atau kesesuaian
    Conformance adalah kesesuaian kinerja produk dengan standar yang
    dinyatakan suatu produk. Ini semacam janji yang harus dipenuhi oleh produk.
    Produk yang memiliki kualitas dari dimensi ini berarti sesuai dengan
    standarnya.
  6. Dimensi serviceability atau kemampuan diperbaiki
    Sesuai dengan maknanya, disini kualitas produk ditentukan atas dasar
    kemampuan diperbaiki : mudah, cepat, dan kompeten.Produk yang mampu
    diperbaiki tentu kualitasnya lebih tinggi dibanding produk yang tidak atau
    sulit diperbaiki.
  7. Dimensi aesthetic atau keindahan tampilan produk
    Aesthetic atau keindahan menyangkut tampilan produk yang membuat
    konsumen suka. Ini seringkali dilakukan dalam bentuk desai produk atau
    kemasannya. Beberapa merek memperbaharui wajahnya supaya lebih cantik
    dimata konsumen.
  8. Dimensi perceived quality atau kualitas yang dirasakan
    Dimensi terakhir adalah kualitas yang dirasakan. Ini menyangkut penilaian
    konsumen terhadap citra, merek, atau iklan. Produk-produk yang bermerek
    terkenal biasanya dipresepsikan lebih berkualitas dibanding merek-merek
    yang tidak terdengar. Itulah sebabnya produk selalu berupaya membangun
    mereknya sehingga memiliki brand equity yang tinggi. Tentu saja ini tidak
    dapa dibangun semalam karena menyangkut banyak aspek termasuk dimensi
    kualitas dari kinerja, fitur, daya tahan, dan sebagainya

Konsep Dasar Produk


Menurut Tjiptono ( 2002:96 ), dalam merencanakan penawaran atau produk,
pemasar perlu memahami lima tingkatan produk, yaitu:

  1. Produk utama / inti ( core benefit ), yaitu manfaat yang sebenarnya dibutuhkan
    dan akan dikonsumsi oleh pelanggan dari setiap produk. Dalam bisnis
    perhotelan, manfaat utama yang dibeli para tamu adalah „istirahat dan tidur‟.
    Untuk bioskop, para penonton sesungguhnya membeli „hiburan‟.
  2. Produk generik, yaitu produk dasar yang mampu memenuhi fungsi produk
    yang paling dasar (rancangan produk minimal agar dapat berfungsi).
    Contohnya, hotel merupakan suatu bangunan yang memiliki banyak ruangan
    untuk disewakan.
  3. Produk harapan (expected product), yaitu produk formal yang ditawarkan
    dengan berbagai atribut dan kondisinya secara normal (layak) diharapkan dan
    disepakati untuk dibeli. Sebagai contoh, tamu hotel mengharapkan tempat
    tidur yang bersih, sabun dan handuk, air ledeng, telepon, lemari pakaian dan
    ketenangan.
  4. Produk pelengkap (augmented product), yakni berbagai atribut produk yang
    dilengkapi atau ditambahi berbagai manfaat dan layanan, sehingga dapat
    memberikan tambahan kepuasan dan bisa dibedakan dengan produk pesaing.
    Misalnya, hotel bisa menambahkan fisilitas TV, shampo, bunga-bunga segar,
    check-in yang cepat, check-out yang cepat, pelayanan kamar yang baik, dan
    lain-lain.
  5. Produk potensial, yaitu segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin
    dikembangkan untuk suatu produk di masa mendatang. Misalnya, hotel
    menambahkan fasilitas layanan internet, perekaman video dengan kaset
    videonya, sepiring buah-buahan segar, dan sebagainya

Pengertian Produk


Sebelum uraian lebih lanjut terlebih dahulu penulis uraikan tentang pengertian
dari produk agar mengetahui seluk beluk dari pengertian produk tersebut. Definisi
produk yang dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut.Pengertian
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan
perhatian, diteliti, dipergunakan, dikonsumsi dan yang dapatn memuaskan
keinginan atau kebutuhan (Kotler, 1999:189).
Sedangkan menurut Tjiptono (2002:95): Secara konseptual produk adalah
pemahaman subyektif dari produsen atas „sesuatu‟ yang ditawarkan sebagai usaha
untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan
konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli
pasar.

Pengertian Keputusan Pembelian


Mendefinisikan keputusan pembelian konsumen merupakan
sebuah proses dimana konsumen mengenal masalahnya, mencari
informasi mengenai produk atau merek tertentu (Menurut Tjiptono
2015:21).
Keputusan pembelian adalah seleksi terhadap dua pilihan
alternatif atau lebih konsumen dlaam pembelian (Menurut Peter dan
Olson 2013: 163).

Dimensi Brand Image


Menurut Keller dalam Randi (2016:3), brand image dapat
diukur menggunakan 3 (tiga) dimensi yaitu:
a. Kekuatan Asosiasi Merek (Strength of Brand Association)
Kekuatan asosiasi merek merupakan gambaran tentang
bagaimana informasi masuk dalam ingatan konsumen.
b. Keunggulan Asosiasi Merek (Favorability of Brand
Association)
Keunggulan asosiasi merek merupakan gambaran tentang
bagaimana atribut dan manfaat yang diberikan oleh perusahaan,
yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen,
sehingga menciptakan sikap yang positif terhadap merek produk
yang dihasilkan oleh perusahaan.
c. Keunikan Asosiasi Merek (Uniqueness of Brand Association)
Keunikan asosiasi merek adalah gambaran tentang keunikan
atau ciri khas yang dimiliki, sehingga sulit ditiru oleh para
pesaing.

Manfaat Brand Image


Menurut Hasan (2013:215), manfaat brand image terbagi dua, yaitu:

  1. Manfaat bagi pelanggan
    Ada tiga alasan sekaligus manfaat penting bagi pelanggan dari
    sebuah merek yang memiliki citra positif:
    a. Sebuah merek yang kuat akan memudahkan konsumen untuk
    mengevaluasi, menimbang dan membuat keputusan membeli
    dari semua rincian nilai-nilai yang terkait dengan kinerja
    produk, harga, pengiriman, garansi dan lain-lain.
    b. Sebuah merek yang kuat membuat pelanggan merasa oercaya
    diri dalam pilihan mereka, meyederhanakan pilihan sehari-
    hari (untuk kebutuhan dasar).
    c. Sebuah merek yang kuat membuat pelanggan merasi lebih
    puas dengan pembelian mereka, memberikan manfaat dan
    ikatanemosional (untuk produk perawatan pribadi).
  2. Manfaat bagi produsen atau perusahaan
    a. Harga premium, sebuah merek dengan citra positif akan
    menciptakan margin yang lebih besar dan walaupun ada
    tekananuntuk menjual dengan harga rendah atau menawarkan
    diskon, akan tetapi relatif tidak atau kurang rentan terhadap
    kekuatan kompetitif.
    b. Klaim produk, sebuah merek dengan citra yang kuat akan
    menciptakan orang-orang melakukan permintaan secara
    khusus, orang akan mencari merek yang mereka inginkan.
    c. Kompetitif partier, sebuah merek yang kuat mampu bertindak
    sebagai penghalang untuk beralih ke produk lain.
    d. Komunikasi pemasaran lebih diterima, perasaan positif
    tentang suatu merek akan mengakibatkan orang mampu
    menerima baru terhadap kinerja produk dan mereka akan
    welcome, sehingga lebih mudah dibujuk untuk membeli lebih
    banyak.
    e. Pengembangan merek, sebuah merek yang terkenal menjadi
    platform untuk pengembangan/menambah produk baru
    karena beberapa aspek dari citra positif yang berpengaruh dan
    membatudalam peluncuran produk baru.
    f. Kepuasan pelanggan, sebuah citra positif akan memberikan
    tingkat kepuasan pelanggan ketika mereka menggunakan
    produk. Mereka akan merasa lebih yakin membelinya.
    Pelanggan tidak menemukan alasan untuk membeli merek
    lain atau dari pemasok lain.
    g. Jaringan distribusi, sebuah merek yang kuat lebih mudak
    dijual ke pedagang grosir dan distributor yangg ssangat
    reoinsif terhadap apa yang diinginkan oleh pelanggan
    mereka.
    h. Perizinan dan peluang, sebuah merek yang kuat dapat
    mendukung transaksi usaha patungan atau mengizinkan
    merek dilisensikan untuk digunakan dalam aplikasi baru atau
    di negara lain (tebuka bagi semua orang atau negara
    manapun).
    i. Nilai harga jual yang lebih tinggi, sebuah perusahaan dengan
    nama merek good will yang baik akan mendapatkan premi
    yang lebih tinggi jika akan dijual

Pengertian Brand Image (Citra Merek)


Citra merek (brand image) adalah seperangkat keyakinan
konsumen mengenai merek tertentu (Menurut Kotller dan Amstrong
dalam Firmansyah 2019:61).
Citra merek (brand image) adalah penilaian konsumen terhadap
merek tersebut dalam sebuah pasar (Menurut Aeker dan Biel dalam
Firmansyah 2019:79). Penciptaan tersebut dapat tercipta berdasarkan
pengalaman probadi maupun mendengar reputasinya dari orang lain
atau media.
Citra merek (brand image) adalah sekumpulan asosiasi
mengenai suatu merek yang tersimpan dalam benak atau ingatan
konsumen (Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Firmansyah
2019:79).

Pengertian Brand (Merek)


Merek adalah suatu tanda atau simbol yang memberikan
indentitas suatu barang/jasa tertentu yang dapat berupa kata-kata,
gambar atau kombinasi keduanya (Menurut Alma 2018: 148).
Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol atau desain atau
kombinasi dari mereka, yang dimaksudkan, untuk mengindetifikasi
barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk
membedakan mereka dari pesaing (Menurut American Marketing
Association dalam Alma 2018:149).
Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat diambil
kesimpulan bahwa merek adalah nama, istilah, tanda atau simbol
yang memberikan indentitas pada suatu barang atau jasa yang dapat
berupa kata-kata, gambar atau kombinasi keduanya untuk
membedakan barang atau jasa dari pesaing

Dimensi Kualitas Produk


Menurut Mullins, dkk dalam Firmansyah (2019:15), dimensi
kualitas produk terdiri dari:
a. Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi
dasar dari sebuah produk.
b. Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk
yang bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti.
c. Conformance to specification (kesesuaian dengan spesifikasi),
yaitu sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk
memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukan
cacat pada produk.
d. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk atau menambah katertarikan
konsumen terhadap produk.
e. Relibility (reabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan
bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu.
Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk
tersebut dapat diandalkan.
f. Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan
produk bisa dilihat dari tampak, rasa, bau dan bentuk dari produk.
g. Perceived quality (kesan kualitas), merupakan hasil dari
penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung
karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau
kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. Jadi
presepsi konsumen terhadap produk didapat dari harga, merek,
periklanan, reputasi dan negara asal

Pengertian Kualitas Produk


Kualitas produk adalah kemampuan produk untuk memuaskan
kebutuhan atau keinginan pelanggan (Cannon, di dalam Valianti dan
Damayanti 2016:7). Sedangkan menurut Abdullah dan Tantri
(2013:159), Kualitas produk adalah kemampuan produk untuk
melaksanakan fungsinya

Pengertian Produk


Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan di pasar,
untuk memuaskan kebutuhan dan keinginankonsumen. Produk terdiri
atas barang, jasa, pengalaman, orang, tempat, kepemilikan, organisasi,
informasi dan ide (Kotler dalam Alma 2018:140).
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar
untuk diperhatikan, dipakai, dimiliki, atau dikonsumsikan sehingga
dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan (Firmansyah 2019:2).

Tujuan dan Ruang Lingkup Audit Internal


Ada beberapa tujuan audit internal menurut Hiro Tugiman (2008:11)
adalah untuk membantu para anggota organisasi agar dapat melaksanakan
tanggung jawabnya secara efektif, serta mencakup pengembangan pengawasan
yang efektif dengan biaya yang wajar. Sedangkan tujuan audit internal menurut
Guy et. al diterjemahkan Paul A. Rajoe, dkk (2007:410) tujuan audit internal
adalah tujuan audit internal meliputi juga meningkatkan pengendalian yang efektif
pada biaya yang wajar.
Adapun menurut Sukrisno Agoes (2012:222) tujuan pemeriksaan yang
dilakukan oleh auditor internal adalah membantu semua pimpinan perusahaan
(managemen) dalam melaksanakan tanggungjawab dengan memberikan analisa,
penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya. Untuk
mencapai tujuan tersebut, audit internal harus melakukan kegiatan-kegiatan
berikut:

  1. Menelaah dan menilai penerapan pengendalian internal dan pengendalian
    operasioanal memadai atau tidak serta mengembangkan pengendalian yang
    efektif dengan biaya yang tidak terlalu mahal.
  2. Memastikan ketaatan terhadap rencana-rencana dan prosedur-prosedur yang
    telah ditetapkan manajemen.
  3. Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan
    dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk kecurangan, pencurian,
    dan penyalahgunaan yang dapat merugikan perusahaan.
  4. Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi
    dapat dipercaya.
  5. Menilai suatu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas-tugas yang
    diberikan manajemen.
  6. Memberikan saran perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka efisiensi
    dan efektivitas.
    Ruang lingkup audit internal menurut Boynton diterjemahkan Paul A.
    Rajoe dan Ichsan Setyo (2006) bahwa:
    Ruang lingkup audit internal menilai keefektifan sistem pengendalian
    internal serta pengevaluasian terhadap kelengkapan dan keefektifan sistem
    pengendaliann internal yang dimiliki organisasi, serta kualitas pelaksanaan
    tanggung jawab yang diberikan.
    Audit internal harus mengimplementasikan hal-hal berikut:
  7. Mereview keandalan (reabilitas dan integritas) informasi finansial dan
    operasional serta cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur,
    mengklasifikasi, dan melaporkan hal tersebut.
  8. Mereview berbagai sistem yang telah ditetapkan untuk memastikan
    kesesuaiannya dengan berbagai kebijaksanaan, rencana, prosedur hukum, dan
    peraturan yang dapat berakibat penting terhadap kegiatan organisasi serta
    harus menentukan apakahorganisasi telah mencapai kesesuaian dengan hal-hal
    tersebut.
  9. Mereview berbagai cara yang dipergunakan untuk melindungi harta dan bila
    dipandang perlu, memverifikasi keberadaan harta-harta tersebut.
  10. Menilai keekonomisan dan keefisienan penggunaan berbagai sumber.
  11. Mereview berbagai operasi atau program untuk menilai apakah hasilnya akan
    konsisten dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan apakah
    kegiatan atau program tersebut dilaksanakan sesuai dengan yang
    direncanakan.

Pengertian Audit Internal


Definisi internal audit menurut Sukrisno Agoes (2012: 204) adalah:
Internal audit (pemeriksaan intern) adalah pemeriksaan yang dilakukan
oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan
catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan
manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan
pemerintah dan ketentuan ketentuan dari profesi yang berlaku. Peraturan
pemerintah misalnya peraturan dibidang perpajakan, pasar modal,
lingkungan hidup, perbankan, perindustrian, investasi, dan lain-lain.
Sedangkan menurut Hiro Tugiman (2008:11) pengertian audit internal
adalah”Internal audit atau pemeriksaan internal adalah suatu fungsi penilaian
yang independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi
kegiatan organisasi yang dilaksanakan”.
Adapun pengertian Internal Audit menurut Sawyer diterjemahkan
olehDesi Adhariani(2009: 10) adalah:
Sebuah penilaian yang sistematis dan obyektif yangdilakukan auditor
internal terhadap operasi dan kontrol yang berbeda-beda dalam organisasi
untuk menentukan apakah (1) informasi keuangan dan operasi telahakurat
dan dapat diandalkan; (2) risiko yang dihadapi perusahaan telah
diidentifikasi dan diminimalis; (3) peraturan eksternal serta kebijakan dan
prosedur internal yang bisa diterima telah diikuti; (4) kriteria operasi yang
memuaskan telah dipenuhi; (5) sumber daya telah digunakan secara efisien
danekonomis; dan (6) tujuan organisasi telah dicapai secara efektif-semua
dilakukan dengan tujuan untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan
membantu anggota organisasi dalam menjalankan tanggung jawabnya
secara efektif.
Menurut Institute of Internal Audit (IIA) sebagai ikatan internal auditor di
Amerika yang dibentuk pada tahun 1941 dalam Boynton (2006), merumuskan
definisi internal audit, yaitu:
Internal Auditing is an independent, objective assurance and consulting
activity designed to add value and improve an organization’s operations.
It helps an organization accomplish its objectives by bringing a
systematic, disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness
of risk management, control, and governance processes.
Dari beberapa definisi tentang Audit Internal di atas, dapat disimpulkan
beberapa poin penting yaitu:

  1. Audit internal adalah aktivitas pemeriksaan dan pemberian jasa konsultasi
    yang dikelola secara independen dan efektif sehingga dapat membantu
    memberikan nilai tambah untuk aktivitas operasional perusahaan dan
    membantu dalam pencapaian tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.
  2. Audit Internal merupakan suatu fungsi penilaian independen dalam suatu
    organisasi. Hal Ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan penilaian
    tersebut adalah anggota dari organisasi tersebut.
  3. Dalam pengukuran yang dilakukan auditor internal, independensi dan
    objektivitas harus dipegang. Memberikan suatu pendekatan disiplin yang
    sistematis untuk mengevaluasidan meningkatkan efektivitas manajemen risiko
    pengendalian dan proses pengelolaan organisasi.
  4. Auditor internal memeriksa dan mengevaluasi seluruh kegiatan baik finansial
    maupun nonfinansial. Menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang telah
    ditetapkan dijalankan sesuai target dalam mencapai tujuan organisasi

Indikator-Indikator Konflik Peran


Menurut Wexley terjemahan Shobaruddin (2003:171) indikator konflik
peran antara lain:

  1. Peran
    Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang yang
    menduduki posisi tertentu dalam organisasi atau kolompok.
  2. Harapan Peran
    Harapan peran berasal dari tuntutan dari tugas atau pekerjaan itu sendiri dan
    uraian tugas, peratutan-peraturan dan standar.
  3. Peran Sosial
    Kondisi situasi masyarakat yang berada di lingkungan sekitar yang memiliki
    dampak besar terhadap kondisi lingkungan.
    Sedangkan menurut Rizzo et al. Dalam Winardi (2007:198-201)
    mengklasifikasikan konflik peran sebagai berikut:
  4. Intrasender role conflict, yang dapat terjadi jika terdapat incompatible pesan-
    pesan dan perintah-perintah yang berbeda yang bersumber dari seorang
    anggota role-set.
  5. Intersender role conflict, yang dapat terjadi jika pesan-pesan atau perintah-
    perintah yang berasal dari seorang role senders bertentangan dengan pesan-
    pesan atau perintah-perintah yang berasal dari role sender lainnya.
  6. Interrole conflict, yang terjadi jika perintah-perintah yang berkaitan dengan
    keanggotaan seseorang pada suatu kelompok incompatible dengan perintah-
    perintah yang berasal dari keanggotaannya pada kelompok yang lain.
  7. Person-role conflict, yang dapat terjadi jika tuntutan peran tidak sesuai dengan
    nilai-nilai, sikap, atau pandangan-pandangan focal person.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konflik Peran


Menurut Sedarmayanti (2013:255) faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi konflik peran sebagai berikut :

  1. Masalah Komunikasi
    Hal ini diakibatkan salahnya pengertian yang berkenaan dengan kalimat,
    bahasa yang kurang atau sulit dimengerti atau informasi yang mendua dan
    tidak lengkap serta gaya individu yang tidak konsisten.
  2. Masalah Struktur Organisasi
    Hal ini disebabkan karena adanya pertarungan kekuasaan antar departemen
    dengan kepentingan-kepentingan atau sistem penilaian yang bertentangan,
    persaingan untuk memperebutkan sumber daya-sumber daya yang terbatas
    atau saling ketergantungan dua atau lebih kelompok-kelompok kegiatan kerja
    untuk mencapai tujuan mereka.
  3. Masalah Pribadi
    Hal ini disebabkan, karena tidak sesuai dengan tujuan atau nilai-nilai sosial
    pribadi karyawan dengan perilaku yang diperankan pada jabatan mereka, dan
    perbedaan dalam nilai-nilai persepsi

Upaya-upaya Menghindari Konflik Peran


Menurut para ahli, individu yang mengalami konflik antara peran yang
berkepanjangan akan bersaing mencari metode untuk mengurangi konflik atau
mengurangi ketegangan dirasakan antara peran. Bruening and Dixon dalam Lubis
(2014:17) mengemukakan bahwa metode tersebut mencakup:

  1. Penyesuaian waktu atau usaha yang terlibat dalam peran sehingga mereka
    yang berada dalam konflik langsung kurang antara konflik satu dengan konflik
    lainnya. Sebagai contoh, seseorang mungkin berhenti bekerja untuk
    mencurahkan lebih banyak waktu untuk keluarga dan dapat mengurangi
    ketegangan.
  2. Metode lain yaitu mengubah sikap seseorang terhadap konflik dari pada
    mengurangi konflik itu sendiri. Misalnya, memutuskan untuk merasa kurang
    bersalah dengan kurangnya waktu yang dihabiskan untuk anak-anak.
  3. Mencari dan mengandalkan dukungan organisasi juga merupakan metode
    untuk mengatasi dan mengurangi konflik peran. Misalnya, organisasi
    memberikan tunjangan keluarga seperti cuti keluarga.
    Menurut Horton dan Hunt dalam Liliweri (2011:289), resolusi konflik
    adalah sekumpulan teori dan penyelidikan yang bersifat eksperimental dalam
    memahami sifat-sifat konflik, meneliti strategi tejadinya konflik, kemudian
    membuat penyelesaian terhadap konflik. Resolusi konflik yang dapat diartikan
    sebagai penyelesaian konflik (Conflict Resolution) adalah usaha yang dilakukan
    untuk menyelesaikan konflik dengan cara mencari kesepakatan antara pihak-pihak
    yang terlibat di dalam konflik. Resolusi konflik memiliki tujuan agar kita
    mengetahui bahwa konfik itu ada dan diarahkan pada keterlibatan berbagai pihak
    dalam isu-isu mendasar sehingga dapat diselesaikan secara efektif. Selain itu, agar
    kita memahami gaya dari resolusi konflik dan mendefinisikan kembali jalan pintas
    kearah pembaharuan penyelesaian konflik.
    Menurut Horton dan Hunt dalam Liliweri (2011:291), seseorang mungkin
    tidak memandang suatu peran dengan cara yang sama sebagaimana orang lain
    memandangnya. Sifat kepribadian seseorang mempengaruhi bagaimana orang itu
    merasakan peran tersebut. Tidak semua orang yang mengisi suatu peran merasa
    sama terikatnya kepada peran tersebut, karena hal ini dapat bertentangan dengan
    peran lainnya. Semua faktor ini terpadu sedemikian rupa, sehingga tidak ada dua
    individu yang memerankan satu peran tertentu dengan cara yang benar-benar
    sama. Ada beberapa proses yang umum untuk penyelesaian konflik peran, yaitu
    antara lain:
  4. Rasionalisasi
    Rasionalisasi yakni suatu proses defensif untuk mendefinisikan kembali suatu
    situasi yang menyakitkan dengan istilah-istilah yang secara sosial dan pribadi
    dapat diterima. Rasionalisasi menutupi kenyataan konflik peran, yang
    mencegah kesadaran bahwa ada konflik. Misalnya, orang yang percaya
    bahwa”semua manusia sederajat” tapi tetap merasa tidak berdosa memiliki
    budak, dengan dalih bahwa budak bukanlah”manusia” tetapi”benda milik.”
  5. Pengkotakan (Compartmentalization)
    Pengkotakan (Compartmentalization) yakni memperkecil ketegangan peran
    dengan memagari peran seseorang dalam kotak-kotak kehidupan yang
    terpisah, sehingga seseorang hanya menanggapi seperangkat tuntutan peran
    pada satu waktu tertentu. Misalnya, seorang politisi yang di acara seminar
    bicara berapi-api tentang pembelaan kepentingan rakyat, tapi di kantornya
    sendiri ia terus melakukan korupsi dan merugikan kepentingan rakyat.
  6. Ajudikasi (Adjudication)
    Ajudikasi yakni prosedur yang resmi untuk mengalihkan penyelesaian konflik
    peran yang sulit kepada pihak ketiga, sehingga seseorang merasa bebas dari
    tanggung jawab dan dosa.
  7. Kedirian (Self)
    Kadang-kadang orang membuat pemisahan secara sadar antara peranan
    dan”kedirian” (self), sehingga konflik antara peran dan kedirian dapat muncul
    sebagai satu bentuk dari konflik peran. Bila orang menampilkan peran yang
    tidak disukai, mereka kadang-kadang mengatakan bahwa mereka hanya
    menjalankan apa yang harus mereka perbuat. Sehingga secara tak langsung
    mereka mengatakan, karakter mereka yang sesungguhnya tidak dapat
    disamakan dengan tindakan-tindakan mereka itu. Konflik-konflik nyata antara
    peran dan kedirian itu dapat dianalisis dengan konsep jarak peran (role
    distance) yang dikembangkan Erving Goffman.”Jarak peran” diartikan
    sebagai suatu kesan yang ditonjolkan oleh individu bahwa ia tidak terlibat
    sepenuhnya atau tidak menerima definisi situasi yang tercermin dalam
    penampilan perannya. Ia melakukan komunikasi-komunikasi yang tidak sesuai
    dengan sifat dari peranannya untuk menunjukkan bahwa ia lebih dari sekadar
    peran yang dimainkannya. Seperti, pelayan toko yang mengusulkan pembeli
    untuk pergi ke toko lain karena mungkin bisa mendapatkan harga yang lebih
    murah. Ini merupakan tindakan mengambil jarak dari peran yang mereka
    lakukan dalam suatu situasi. Penampilan”jarak peran” menunjukkan adanya
    perasaan kurang terikat terhadap peranan. Pada sisi lain,”penyatuan diri”
    dengan peranan secara total merupakan kebalikan dari”jarak peran.”
    Penyatuan diri terhadap peran tidak dilihat dari sikap seseorang terhadap
    perannya, tetapi dari tindakan nyata yang dilakukannya. Seorang individu
    menyatu dengan perannya bila ia menunjukkan semua kemampuan yang
    diperlukan dan secara penuh melibatkan diri dalam penampilan peran tersebut

Pengertian Konflik Peran


Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang yang
menduduki posisi tertentu dalam organisasi atau kelompok. Harapan peran berasal
dari tuntutan dari tugas atau pekerjaan itu sendiri dan uraian tugas, peraturan-
peraturan dan standar. Jika keseluruhan harapan peran tidak dengan jelas
menunjukkan tugas-tugas apa yang seharusnya dilaksanakan seseorang dan
bagaimana individu seharusnya berprilaku, maka akan terjadi kekacauan peran.
Kekacauan peran dapat disebabkan baik oleh harapan-harapan peran yang tidak
memadai maupun harapan-harapan peran yang tidak bersesuaian. Harapan-
harapan peran yang tidak konsisten menciptakan konflik peran bagi seseorang.
Menurut Robbins and Judge yang diterjemahkan oleh Saraswati dan Sirait
(2015:183) konflik peran adalah suatu situasi yang mana individu dihadapkan
oleh ekspektasi peran yang berbeda-beda. Menurut Kreitner and Kinicki yang
diterjemahkan oleh Biro Bahasa Alkemis (2014:15), konflik peran terjadi ketika
anggota tatanan peran yang berbeda mengharapkan hal yang berbeda dari
penerima peran.
Handoko (2012:349) mengatakan bahwa konflik peran dalam diri individu
yaitu sesuatu yang terjadi bila seorang individu menghadapi ketidakpastian
tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya, bila berbagai
permintaan pekerjaan saling bertentangan atau bila individu diharapkan untuk
melakukan lebih dari kemampuannya

Pengertian Konflik


Menurut Setiadi dan Kolip (2011:345) istilah”konflik” secara etimologis
berasal dari bahasa Latin”con”yang berarti bersama dan”fligere” yang berarti
benturan atau tabrakan. Pada umumnyaistilah konflik sosial mengandung suatu
rangkaian fenomena pertentangan dan pertikaian antar pribadi melalui dari konflik
kelas sampai pada pertentangan dan peperangan internasional.
Gordon, Mondy, Sharplin, dan Premeaux (2004:532) mendefinisikan
konflik sebagai berikut:
Conflict refers to antagonism or opposition between or among persons.
Conflict is the result of incongruent or incompatible relationships between
members of a group or dyad. It’s a process that begins when one party
perceives that the others has frustrated or is about to frustrate some
concern of his (or hers)
Sementara itu Greenberg dan Baron (2004:426), menyatakan bahwa
konflik merupakan suatu proses:”Conflict is a process in which one party
perceives that another party has taken some action that will exert negative effects
on its major interest or is about to take such action”.
Pendapat lain muncul dari Mangkunegara (2011:21) yang berpendapat
bahwa konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan
oleh seseorang terhadap dirinya, orang lain, organisasi dengan kenyataan apa yang
diharapkannya

Faktor-faktor Penyebab Ketidakjelasan Peran


Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya ketidakjelasaan peran
menurut Everly dan Giordano dalam Munandar (2010:392) antara lain :

  1. Ketidakjelasan dari sasaran-sasaran (tujuan-tujuan)
  2. Kesamaran tentang tanggungjawab.
  3. Ketidakjelasan tentang prosedur kerja.
  4. Kesamaran tentang apa yang diharapkan oleh orang lain.
  5. Kurang adanya ketidakpastian tentang unjuk kerja pekerjaan

Indikator Ketidakjelasan Peran


Menurut Rizzo, House dan Lirtzman dalam Pratina (2013), ketidakjelasan
peran diukur menggunakan indikator-indikator sebagai berikut:

  1. Wewenang
  2. Tanggung Jawab
  3. Kejelasan Tujuan
  4. Cakupan Pekerjaan
    Dari indikator di atas, berikut ini akan dijelaskan kembali pengertian dari
    masing-masing penyebab indikator ketidakjelasan peran tersebut :
  5. Wewenang
    Merasa pasti dengan seberapa besar wewenang yang dimiliki dan mempunyai
    rencana yang jelas untuk pekerjaan.
  6. Tanggung Jawab
    Mempunyai tujuan yang jelas untuk pekerjaan dan mengetahui bahwa
    perlunya membagi waktu dengan tepat.
  7. Kejelasan Tujuan
    Mengetahui apa yang menjadi tanggung jawab dan penjelasan tentang apa
    yang harus dikerjakan adalah jelas.
  8. Cakupan Pekerjaan
    Mengetahui cakupan dari pekerjaan dan bagaimana kinerjanya dievaluasi

Upaya-upaya Menghindari Ketidakjelasan Peran


Menurut Zeithaml, V. A. , Parasuraman, A. and Berry, L. L. , dalam Idris
(2012) manajemen dapat menggunakan empat alat kunci untuk memberikan
kejelasan peran untuk karyawan: komunikasi, umpan balik, kepercayaan diri, dan
kompetensi. Pertama, karyawan memerlukan informasi yang akurat tentang peran
mereka dalam organisasi. Mereka membutuhkan komunikasi tertentu dan sering
dari supervisor dan manajer tentang apa yang mereka diharapkan untuk
melakukan. Mereka juga perlu mengetahui tujuan, strategi, tujuan, dan filosofi
perusahaan dan departemen mereka sendiri. Mereka membutuhkan informasi
terkini dan lengkap tentang produk dan jasa perusahaan menawarkan, dan mereka
perlu tahu pelanggan perusahaan, siapa mereka, apa yang mereka harapkan, dan
jenis masalah yang mereka hadapi dalam menggunakan layanan.
Selanjutnya, karyawan perlu mengetahui seberapa baik mereka melayani
dibandingkan dengan standar pelayanan yang ditetapkan untuk mereka. Harus ada
umpan balik ketika karyawan melakukan pekerjaan dengan baik agar memberi
spirit kepada mereka dan memberi kesempatan untuk koreksi diri ketika mereka
berkinerja buruk.
Akhirnya, karyawan perlu merasa percaya diri dan kompeten dalam
pekerjaan mereka. Perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan karyawan dengan
pelatihan yang dibutuhkan untuk memuaskan pelanggan. Pelatihan yang
berhubungan dengan jasa yang diberikan oleh perusahaan membuat contact
person menjadi dan merasa mampu ketika berhadapan dengan pelanggan,
pelatihan keterampilan komunikasi terutama dalam mendengarkan pelanggan dan
memahami apa yang pelanggan harapkan, dan memberikan karyawan rasa
penguasaan atas masalah yang tak terelakkan yang muncul dalam pertemuan
layanan. Program pelatihan harus dirancang untuk meningkatkan kepercayaan dan
kompetensi karyawan yang menghasilkan kejelasan peran yang lebih besar dan
membantu dekat
Hal di atas dapat diterapkan pada karyawan melalui program pendidikan
dan pelatihan seperti yang dilakukan oleh British Airways memberikan pelatihan
yang intensif kepada costumer servicenya sebelum menghadapi pelanggan.
Perusahaan melatih tak kurang 3.700 orang costumer service dalam Program
Menempatkan Orang Pertama yang membantu karyawan belajar bagaimana
berkomunikasi secara efektif di bawah tekanan. Atau seperti yang dilakukan oleh
Perusahaan Stew Leonard dairy store yang mengikutkan setengah dari 450
karyawannya dalam the Dale Carnigie Program berupa latihan kepemimpinan
bagi karyawan

Ciri-ciri Ketidakjelasan Peran


Nimran (2009:89) menggambarkan ciri-ciri mereka yang berada dalam
ketidakjelasan peransebagai berikut :

  1. Tidak mengetahui dengan jelas apa tujuan peran yang dimainkannya.
  2. Tidak jelas kepada siapa ia bertanggung jawab dan siapa yang melapor
    kepadanya.
  3. Tidak cukup wewenang untuk melaksanakan tanggung jawabnya.
  4. Tidak sepenuhnya mengerti apa yang diharapkan darinya.
  5. Tidak memahami dengan benar peranan pekerjaannya dalam rangka mencapai
    tujuan secara keseluruhan.
    Menurut Agung Budilaksono (2004:9), seseorang dapat dikatakan berada
    dalam ketidakjelasan peran apabila ia menunjukkan ciri-ciri antara lain sebagai
    berikut:
  6. Tidak jelas benar apa tujuan peran yang diinginkannya
  7. Tidak jelas kepada siapa ia bertanggung jawab dan siapa yang melapor
    kepadanya
  8. Tidak sepenuhnya mengerti apa yang diharapkan dari padanya
  9. Tidak memahami benar peranan daripada pekerjaannya dalam rangka
    pencapaian tujuan secara keseluruhan.
    Sementara itu Keitner and Kinicki yang diterjemahkan oleh Biro Bahasa
    Alkemis (2014:17) mengatakan bahwa orang yang mengalami ambiguitas peran
    ketika mereka tidak mengetahui apa yang diharapkan dari mereka