Kepuasan atau ketidakpuasan adalah perasaan senang atau kecewa
seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap
kinerja produk yang rill/actual dengan kinerja produk yang diharapkan.
Menurut Kotler dan Keller (2009:138-139) mengungkapkan
kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal
dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu
produk dan harapan harapannya.
Tse dan Wilton dalam (Tjiptono, 2011, p. 24) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi
ketidaksesuaian yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja
actual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya.
Sedangkan menurut (Supranto, 2011, p. 224) mengatakan bahwa
kepuasan pelanggan adalah perbedaan antara harapan dan kinerja yang
dirasakan. Jadi, kinerja suatu perusahaan jasa setidaknya harus sama
dengan yang diekspektasikan dan diinginkan oleh pelanggan.
Kepuasan pelanggan diukur dengan seberapa besar harapan
pelanggan tentang produk dan pelayanan sesuai dengan kinerja produk
dan pelayanan yang actual. Kepuasan akan mendorong pelanggan untuk
membeli ulang produk. Ada lima tahap pasca pembelian produk yang
akan dilalui pelanggan yaitu (1) konsumsi poduk, (2) perasaan puas atau
tidak puas (3) perilaku keuhan pelanggan (4) disposisi barang, dan (5)
pembentukan kesetiaan merek.
a. Metode untuk mengukur Kepuasan Pelanggan
Pengukuran Kepuasan Pelanggan perlu dilakukan oleh
perusahaan untuk mengetahui kinerja perusahaan menurut sudut
pandang pelanggan. Menurut Tjiptono (2012:453) meskipun
belum ada cara mengukur Kepuasan Pelanggan, sejumlah studi
menunjukan bahwa ada tiga aspek penting yang perlu ditelaah
dalam kerangka pengukuran Kepuasan Pelanggan, yaitu:
1) Kepuasan general atau keseluruhan (Overall Satisfaction).
2) Konfirmasi harapan (confirmation of expectation), yakni
tingkat kesesuaian antara kinerja dan ekspektasi.
3) Perbandingan dengan situasi ideal (comparison to ideal),
yaitu kinerja produk dibandingkan dengan produk ideal
menurut persepsi pelanggan.
Paling tidak ada empat metode yang banyak dipergunakan dalam
mengukur kepuasan pelanggan (Kotler & Keller, 2012)
1) Sistem keluhan dan saran
Setiap organisasi jasa yang berorientasi pada pelanggan
wajib memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para
pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan
mereka. Media yang digunakan bisa berupa kotak saran yang
diletakan di tempat-tempat strategis (yang mudah diakses atau
sering dilalui pelanggan), saluran telephone khusus bebas pulsa,
website, facebook, twitter dll. Informasi-informasi yang
diperoleh melalui metode ini dapat memberikan ide-ide baru dan
masukan yang berharga kepada perusahaan, sehingga
memungkinkannya untuk bereaksi dengan tanggap dan cepat
untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul.
Akan tetapi, karena metode ini bersifat pasif, maka sulit
mendapatkan gambaran lengkap mengenai kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan. Tidak semua pelanggan yang tidak
puas akan menyampaikan keluhannya. Sangat mungkin mereka
langsung berganti pemasok dan tidak akan membeli produk/jasa
perusahaan yang bersangkutan lagi.
2) Ghost/Mystery Shopping
Salah satu metode untuk memperoleh gambaran mengenai
kepuasan peanggan adalah dengan memperkerjakan beberapa
orang ghost shopper untuk berperan sebagai pelanggan potensial
jasa perusahaan dan pesaing. Mereka diminta melaporkan
berbagai temuan penting bedasarkan pengalamannya mengenai
kekuatan dan kelemahan jasa perusahaan dibandingkan para
pesaing. Selain itu, para ghost shopper juga dapat mengobservasi
cara perusahaan dan pesaingnya melayani permintaan spesifik
pelanggan, menjawab pertanyaan pelanggan, dan menangani
setiap masalah/keluhan pelanggan. Ada baiknya para manajer
perusahaan terjun langsung sebagai ghost shoppers untuk
mengetahui secara langsung bagaimana karyawannya
berinteraksi dan memperlakukan para pelanggan.
3) Lost customer Analysis
Perusahaan seyogyanya menghubungi para pelanggan yang
telah berhenti membeli atau yang telah beralih pemasok, agar
dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan supaya dapat
mengambil kebijakan perbaikan/penyempurnaan selanjutnya.
Bukan hanya exit interview saja yang perlu, tetapi pemantauan
pelanggan loss rate juga penting, di mana peningkatan pelanggan
loss rate menunjukan kegagalan perusahaan dalam memuaskan
pelanggannya. Hanya saja kesulitan menerapkan metode ini
adalah pada mengidentifikasikan dan mengkontak mantan
pelanggan yang bersedia memberian masukan dan evaluasi
terhadap kinerja perusahaan.
4) Survey Kepuasan Pelanggan
Umumnya sebagian besar penelitian mengenai kepuasan
pelanggan menggunakan metode survei, baik via pos, telpon, e-
mail, maupun wawancara langsung. Melalui survey, perusahaan
akan memperoleh tanggapan dan umpan balik langsung dari
pelanggan dan juga memberikan sinyal positif bahwa perusahaan
menaruh perhatian terhadap mereka.
b. Indikator Kepuasan Pelanggan
Irwan dalam Putranto (2016:18-19) ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan, yaitu sebagai
berikut:
1) Kualitas produk, pelanggan akan puas apabila produk yang
digunakan memiliki kualitas yang baik.
2) Harga, dengan harga yang terjangkau menjadikan
pelanggan merasakan kepuasan maka dari itu harga murah
merupakan sumber dari kepuasan pelanggan, karena
pelanggan sangat sensitive terhadap harga jual suatu
produk.
3) Service Quality, kualitas pelayanan yang baik merupakan
kepuasan bagi pelanggan maka dari itu kualitas pelayanan
merupakan sesuatu yang sulit untuk ditiru.
4) Biaya dan kemudahan, apabila pelanggan dapat dengan
mudah, nyaman dan efisien menggunakan suatu jasa maka
pelanggan akan semakin puas.
5) Emotional factor. Pelanggan akan merasa puas (bangga)
karena adanya emotional value yang diberikan oleh brand
suatu produk.
Didalam lingkungan yang kompetitif, indikator yang dapat
menunjukan kepuasan pelanggan adalah apakah pelanggan tersebut
akan membeli kembali dan menggunakan produk atau jasa tersebut
diwaktu yang akan datang. Menurut (Damayanti & Wahyono, 2015, p.
240) indikator Kepuasan Pelanggan antara lain dapat dilihat dari:
1) Kesesuaian antara kinerja dan harapan.
2) Biaya yang memadai
3) Memberikan rekomendasi positif tentang produk atau perusahaan
pada pihak lain yang dikenalnya.
4) Melakukan pertimbangan utama dalam memilih perusahaan yang
sama.
5) Keterjangkauan akses lokasi yang dituju.
Menurut Rondonuwu dan Komalik dalam jurnal (Setyo, 2017)
menjelaskan indikator kepuasan pelanggan sebagai berikut:
1) Terpenuhinya harapan pelanggan
Pelanggan merasakan kepuasan akan terpenuhinya keinginan dan
kebutuhan dari suatu produk barang atau jasa.
2) Sikap atau keinginan menggunakan produk
Sikap merupakan kecenderungaan yang dipelajari, ini berarti
bahawa sikap yang berkaitan dengan perilaku membeli terbentuk
sebagai hasil dari pengalaman langsung mengenai produk,
informasi secara lisan yang diperoleh dari orang lain atau terpapar
iklan di media masa, internet dan berbagai bentuk pemasaran
langsung.
3) Merekomendasikan kepada pihak lain
Pelanggan akan selalu merekomendasikan hasil pengalamannya
kepada orang lain atas apa yang diperoleh dari suatu kualitas
produk yang ditawarkan oleh suatu perusahaan.
4) Kualitas Layanan
Kualitas layanan dapat diwujudkan melalui pemenuhan dan
keinginan pelanggan serta ketepatan menyampaikan untuk
mengimbangi harapan pelanggan.
5) Loyal
Pelanggan memiliki berbagai alasan untuk tidak mengembangkan
loyalitas terhadap produk atau jasa tertentu, yang mampu
memberikan manfaat harapan mereka terpenuhi.
6) Reputasi yang baik
Upaya bagi suatu perusahaan dimana produk utama yang
dihasilkan adalah suatu jasa, maka reputasi dan nama baik sangat
menentukan adanya anggapan bahwa reputasi yang berupa citra
merek (Brand Image), citra perusahaan (company image), nama
yang terbaik (the best name), pelayanan prima (service excellent)
dan semua yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan
mendapatkan prioritas.
7) Lokasi
Yang dimaksud dengan lokasi adalah tempat dimana perusahaan
memperjual belikannya produk/jasa yang ditawarkan kepada
pelanggan