Fungsi Gaya Kepemimpinan


Menurut Rahmawati et al (2021), tugas utama kepemimpinan dapat
dijabarkan secara operasional ke dalam beberapa kategori, seperti berikut:

  1. Peran instruksi. Untuk menjamin bahwa pilihan dilaksanakan secara efektif,
    pemimpin menggunakan komunikasi satu arah untuk memutuskan apa yang
    harus dilakukan, Di mana, bagaimana, dan kapan arahan akan diikuti.
    Kepemimpinan yang efektif membutuhkan kemampuan untuk memotivasi dan
    menginspirasi orang lain agar mengikuti pedoman ini.
  2. Fungsi konsultatif: Fungsi ini melibatkan komunikasi dua arah. Pemimpin
    mengumpulkan masukan dari bawahannya untuk membantu dalam
    pengambilan keputusan. Setelah keputusan diimplementasikan, pemimpin
    melakukan konsultasi untuk mendapatkan umpan balik guna memperbaiki dan
    menyempurnakan keputusan tersebut. Pendekatan konsultatif ini membantu
    memastikan dukungan luas terhadap keputusan pemimpin dan mempermudah
    implementasinya, sehingga kepemimpinan berjalan efektif.
  3. Fungsi Partisipasi: Dalam peran ini, para pemimpin berupaya mendorong
    pengikutnya untuk berpartisipasi dalam perumusan dan pelaksanaan keputusan.
    Keterlibatan ini dilakukan secara terarah dan teratur, sebagai bentuk kolaborasi
    tanpa melampaui batas atau mengambil alih tanggung jawab utama orang lain.
    Posisi pemimpin tetap berada dalam fungsi kepemimpinan, bukan sebagai
    pelaksana tugas operasional.
  4. Fungsi Delegasi: Fungsi ini dijalankan dengan menyerahkan wewenang
    pengambilan keputusan kepada orang lain tanpa persetujuan tegas dari
    pemimpin. Delegasi hanyalah pemberian kepercayaan. Penerima delegasi ini
    perlu dipercaya sebagai asisten pemimpin yang memiliki keyakinan, sudut
    pandang, dan tujuan yang sama.
  5. Fungsi pengendalian: Tujuan fungsi pengendalian adalah memastikan bahwa
    kepemimpinan yang efektif dapat merencanakan tindakan anggota secara
    metodis dan efektif untuk memaksimalkan pencapaian tujuan bersama.
    Kegiatan-kegiatan seperti supervisi, koordinasi, bimbingan, dan pengarahan
    digunakan untuk memenuhi peran ini.

Pengertian Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan, menurut Saputra et al (2021), adalah pendekatan
yang diambil seorang pemimpin untuk membimbing organisasi dengan
memanfaatkan sumber dayanya guna mencapai tujuan organisasi. Cara pemimpin
menginspirasi pengikutnya disebut sebagai gaya kepemimpinan. Menurut
Sulaiman et al (2021), Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan sifat yang
digunakan pemimpin untuk membujuk pengikutnya agar mencapai tujuan
perusahaan. Definisi lain dari gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan
aktivitas yang disukai dan sering digunakan.
Di sisi lain, Kartono (2020) menggolongkan gaya kepemimpinan sebagai
ciri, kepribadian, kebiasaan, kecenderungan, dan karakteristik yang membedakan
seorang pemimpin dalam interaksi sosial. Gunawan (2019) mendefinisikan gaya
kepemimpinan sebagai pola perilaku yang bertujuan untuk mencapai tujuan
tertentu dengan memadukan ambisi perusahaan dan pribadi.
Efendi et al (2019) mendefinisikan gaya kepemimpinan sebagai
kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain atau memberikan dampak
positif kepada mereka untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan di semua
tingkatan manajemen mencakup pengarahan karyawan dengan memanfaatkan
sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dan
mencapai kinerja puncak

Hubungan antara Iklim Organisasi dengan Perilaku Kerja Inovatif


Perilaku kerja inovatif adalah semua perilaku individu untuk mencapai
inisiasi dan pengenalan serta penerapan ide baru, barang baru, pelayanan baru dan
cara-cara baru yang bermanfaat bagi pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan
diberbagai level organisasi. Sedangkan iklim organisasi merupakan persepsi
anggota organisasi baik individu maupun kelompok terhadap organisasinya yang
berasal dari pengalamannya berinteraksi di lingkungan organisasi yang
berpengaruh terhadap munculnya motivasi sehingga memengaruhi perilaku
anggota organisasi dan kinerja organisasi.

Hubungan antara Kepemimpinan Inklusif terhadap Perilaku Kerja Inovatif


Sebelumnya telah disimpulkan bahwa perilaku kerja inovatif adalah semua
perilaku individu untuk mencapai inisiasi dan pengenalan serta penerapan ide baru,
barang baru, pelayanan baru dan cara-cara baru yang bermanfaat bagi pelaksanaan
dan penyelesaian pekerjaan diberbagai level organisasi. Sedangkan Kepemimpinan
inklusif adalah pemimpin yang memposisikan dirinya ke dalam posisi yang sama
dengan orang lain atau kelompok lain sehingga membuat orang tersebut berusaha
untuk memahami perspektif orang lain atau kelompok lain dalam menyelesaikan
sebuah permasalahan (Arasli et al., 2020).
Keterkaitan kepemimpinan inklusif dan perilaku inovatif dapat terbentuk
dari saling menghargai keunikan dan keberagaman, yang mana terbuka akan hal
baru dan mendukung perkembangan yang terjadi, cenderung lebih menerima ide
dan hal baru, dengan karakteristik kepemimpinan yang seperti itu, pekerja
cenderung memiliki perilaku inovatif, dengan demikian pekerja yang menunjukkan
perilaku kerja yang inovatif lebih memungkinkan untuk mengambil risiko,
tantangan, dan melampaui target (Javed, Khan, dan Quratulain, 2018). Pemimpin
juga menjaga bawahan mereka dengan melakukan tanggung jawab kegagalan,
dimana pemimpin yang menanggung kegagalan yang kemungkinan terjadi. Karena
itu, bawahan akan merasa bahwa sedikit ancaman tentang konsekuensi kegagalan
dalam proses inovasi (Mansoor et al., 2021).

Indikator Perilaku Kerja Inovatif


Menurut Kanter yang dikutip oleh De Jong & Den Hartog (2010)
mengungkapkan bahwa terdapat tiga indikator perilaku kerja inovatif yaitu :

  1. Pembentukan Ide
    Untuk dapat berinovasi, selain mengetahui atau menemukan peluang,
    kemampuan untuk menciptakan cara-cara baru dalam memanfaatkan
    peluang tersebut juga penting. Dalam hal ini karyawan dituntut mampu
    untuk mengembangkan ide inovasi melalui proses menciptakan dan
    menyarankan ide untuk produk, jasa maupun proses baru serta mencoba
    memikirkan alternatif lainnya.
  2. Pembentukan Koalisi
    Pembentukan koalisi merupakan usaha untuk meyakinkan adanya nilai
    tambah dari inovasi atas ide yang diusulkan. Ide tersebut akan menjadi
    relevan ketika ide berhasil diciptakan, karena dalam tahap ini karyawan
    diharapkan terdorong untuk mencari dukungan dalam mewujudkan inovasi
    baru yang telah diciptakannya. Termasuk mencari koalisi agar ide baru bisa
    diimplementasikan dan percaya dengan keberhasilan ide tersebut.
  3. Implementasi Ide
    Implementasi ide dapat berarti merealisasikan ide dalam upaya
    meningkatkan produk, jasa maupun prosedur yang telah ada atau membuat
    sesuatu yang baru. Pada tahap ini karyawan dihadapkan pada usaha-usaha
    berorientasi hasil dengan keberanian untuk menerapkan ide baru kedalam
    praktik nyata.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Kerja Inovatif


Menurut (Robbins, 2002) perilaku kerja yang terjadi di perusahaan dapat
dipengaruhi beberapa faktor, yaitu ;

  1. Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan harus benar-benar dapat
    memberikan rasa aman bagi para pekerja. Para pekerja atau karyawan tentu
    saja akan menaruh perhatian terhadap lingkungan kerja mereka, baik dari
    segi kenyamanan pribadi maupun kemudahan dalam melakukan pekerjaan
    dengan baik.
  2. Konflik
    Konflik dapat berupa konflik konstruktif atau destruktif terhadap fungsi dari
    suatu kelompok atau unit. Tetapi sebagian besar konflik dapat merusak
    perilaku kerja yang baik, karena konflik cenderung bersifat menghambat
    tujuan dari suatu pekerjaan.
  3. Komunikasi
    Dalam memahami perilaku kerja, komunikasi memegang faktor terpenting
    yang berperan sebagai penyampaian dan pemahaman akan arti dari sebuah
    informasi.
    West dan Farr yang dikutip oleh Monaco and Guimarães (2007), menyatakan
    terdapat tiga faktor yang memengaruhi inovasi, yaitu:
  4. Faktor Internal
    Faktor internal terdiri dari individual differences, kepribadian individu dan
    motivasi.
  5. Faktor Pekerjaan
    Faktor pekerjaan terdiri dari kompleksitas pekerjaan, karakteristik
    pekerjaan dan time pressure.
  6. Faktor Konstektual
    Faktor kontekstual terdiri dari dukungan, iklim organisasi, ketersediaan
    sumber daya, leader-member exchange,relationship at work, kelompok dan
    organisasi.
    Sedangkan menurut (Ancok, 2012) terdapat tiga faktor yang memengaruhi
    perilaku inovatif yakni :
  7. Faktor Manusia
    Faktor manusia dalam hal ini berperan sebagai penunjang dan pelaku dalam
    proses inovasi.
  8. Faktor Kepemimpinan
    Kepemimpinan disini berkontribusi dalam kemajuan inovasi anggota
    organisasi dengan jalan pemimpin mampu mengapresiasi setiap gagasan
    dan ide yang diberikan.
  9. Faktor Struktur
    Struktur organisasi berperan sebagai penghubung antara manusia dan
    organisasi, berfungsi dalam menyediakan sarana dan prasarana bagi
    anggotanya untuk berinovasi.
    Menurut Etikariena dan Muluk (2014), terdapat beberapa faktor yang
    memengaruhi munculnya perilaku kerja inovatif :
  10. Faktor Internal
    a. Tipe kepribadian
    Orang yang mempunyai tipe kepribadian tertentu akan cenderung
    berani mengambil resiko terhadap perilaku inovatif yang dibuat.
    b. Gaya individu dalam memecahkan masalah
    Orang dengan gaya pemecahan masalah intuitif lebih mudah untuk
    menghasilkan ide-ide baru dalam menghasilkan solusi baru.
  11. Faktor Eksternal
    a. Kepemimpinan
    Kepemimpinan dapat meningkatkan perilaku inovatif pada
    karyawan melalui dorongan langsung atau penetapan tujuan,
    memahami informasi emosional bawahan, dan melakukan evaluasi
    serta pemberian penghargaan (baik berupa materiil maupun
    penghargaan secara psikologis) untuk menunjukkan dukungan dan
    kekaguman terhadap inovasi yang telah dilakukan oleh karyawan.
    Terjaganya hubungan antara pimpinan dan bawahan adalah hal yang
    sangat penting. Jika hubungan bawahan dan pimpinan kurang baik,
    maka dapat membuat perilaku inovatif tidak terlihat. Sedangkan
    bawahan yang mempunyai hubungan baik dengan pimpinan,
    cenderung memicu munculnya perilaku inovatif pada bawahan.
    b. Dukungan untuk berinovasi
    Dukungan dari orang-orang disekitar individu akan sangat
    membantu dalam menciptakan suatu perilaku inovatif. Interaksi
    yang baik antar anggota organisasi mendorong hubungan timbal
    balik secara emosional dan kepercayaan yang tidak hanya
    menciptakan kondisi yang kondusif bagi karyawan untuk berbagi
    pengalaman dan pengetahuan, tetapi juga membantu dalam
    memperluas wawasan, mempromosikan gagasan baru, dan
    menghasilkan gagasan baru.
    c. Tuntutan dalam pekerjaan
    Tuntutan dari organisasi akan menjadi dorongan bagi karyawan
    yang kemudian cenderung meningkatkan semangat karyawan untuk
    berperilaku inovatif. Karyawan yang terbiasa dengan tugas atau
    pekerjaan yang kompleks, cenderung akan lebih mudah menemukan
    cara yang lebih variatif untuk menyelesaikan pekerjaannya,
    mengatasi rasa takut akan kegagalan berinovasi dan mempunyai
    kepercayaan diri dalam berinovasi.
    d. Iklim organisasi
    Iklim organisasi menggambarkan lingkungan organisasi
    dipersiapkan dan diinterpretasikan oleh karyawan. Hal ini
    menggambarkan persepsi individu tentang ketersediaan lingkungan
    yang kondusif untuk belajar dan berinovasi dalam organisasi.

Pengertian Perilaku Kerja inovatif


Farr & James L., (1990) berpendapat bahwa perilaku kerja inovatif adalah
perilaku untuk mencapai inisiasi dan pengenalan secara sengaja (dalam workrole,
kelompok atau organisasi) dari ide, proses, produk atau prosedur baru dan berguna.
Sedangkan West dan Farr yang dikutip oleh Monaco dan Guimarães (2007),
berpendapat bahwa perilaku kerja inovatif adalah semua perilaku individu yang
diarahkan untuk menghasilkan, memperkenalkan dan mengaplikasikan hal-hal baru
yang bermanfaat dalam berbagai level organisasi.
Menurut Gaynor yang dikutip oleh Prayudhayanti (2014), perilaku kerja
inovatif adalah sebuah tindakan yang dilakukan untuk menciptakan dan mengambil
ide-ide, pemikiran atau cara-cara baru untuk diterapkan dalam pelaksanaan dan
penyelesaian pekerjaan.

Indikator Iklim Organisasi


Menurut (Stinger, 2002), terdapat enam dimensi dalam iklim organisai,
yaitu:

  1. Struktur (structure)
    Kondisi dimana karyawan dalam melaksanakan tugasnya bertumpu
    pada aturan-aturan yang dikenakan terhadap anggota organisasi,
    sehingga karyawan dapat bekerja sesuai prosedur serta struktur
    organisasi.
  2. Standar-standar (standards)
    Adalah perasaan tekanan untuk meningkatkan kinerja dan tingkat atau
    derajat kebanggaan pegawai ketika melakukan pekerjaannya dengan
    baik dalam organisasi.
  3. Tanggung Jawab (responsibility)
    Setiap anggota dalam organisasi atau karyawan memiliki tanggung
    jawab masing-masing untuk mewujudkan tujuan perusahaan.
  4. Penghargaan (reward)
    Imbalan yang diterima oleh karyawan harus sesuai serta pemberian
    hadiah maupun penghargaan yang sepantasnya diterima oleh karyawan.
  5. Dukungan (support)
    Dukungan mengindikasikan perasaan percaya dan saling mendukung
    yang terus berlangsung diantara anggota kelompok kerja. Dukungan
    tinggi jika anggota organisasi merasa bahwa mereka bagian dari tim
    yang berfungsi dengan baik dan merasa memperoleh bantuan dari
    atasannya jika mengalami kesulitan dalam menjalani tugas. Jika
    dukungan yang diberikan rendah, anggota organisasi cenderung merasa
    terisolasi atau merasa bukan merupakan bagian dari organisasi tersebut.
  6. Komitmen (commitment)
    Komitmen merupakan gambaran atas rasa bangga anggota organisasi
    terhadap organisasinya dan derajat keloyalannya pada pencapaian
    tujuan organisasi. Perasaan komitmen kuat berasosiasi dengan loyalitas
    personal. Komitmen rendah berarti anggota organisasi merasa apatis
    terhadap organisasi dan tujuannya.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Iklim Organisasi


Iklim organisasi secara objektif selalu terjadi pada setiap organisasi dan
bersifat memengaruhi perilaku anggota organisasi. Namun iklim organisasi hanya
dapat diukur secara tidak langsung melalui persepsi anggota organisasi. Oleh
karenanya untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan iklim organisasi,
maka diperlukan pendapat dari anggota organisasi misalnya dengan menggunakan
kuesioner, observasi atau wawancara.
Menurut Zul, Zulheri (2014) terdapat lima faktor yang berpengaruh terhadap
iklim organisasi yakni :

  1. Penempatan Personalia
    Penempatan merupakan hal yang sangat penting, karena jika terjadi
    kesalahan dalam penempatan dapat menjadikan perilaku karyawan tidak
    nyaman, terganggu dan akhirnya bersifat merusak iklim organisasi.
    Sebelum dilakukan penempatan, akan lebih baik jika memerhatikan
    berbagai aspek atau kondisi seperti spesialisasi yang dimiliki,
    kegemaran, keterampilan dan pengalaman.
  2. Pembinaan Hubungan Komunikasi
    Dalam lingkungan organisasi, komunikasi mempunyai peran yang sangat
    penting karena komunikasi yang dilakukan baik bersifat formal atau non
    formal akan memengaruhi hubungan antar anggota organisasi dan iklim
    organisasi juga tercipta karena adanya komunikasi.
  3. Pendinasan dan Penyelesaian Konflik
    Setiap organisasi akan mengalami perubahan dalam setiap aspeknya
    seiring dengan adanya perubahan lingkungan. Proses perubahan ini
    sangat penting untuk mengantisipasi adanya stagnasi atau bahkan
    kemunduran dalam organisasi. Untuk itu dibutuhkan suatu kondisi yang
    dinamis dengan cara memberi kebebasan pada karyawan untuk
    mengembangkan kreativitasnya dan merealisasikan ide-idenya.
  4. Pengumpulan dan Pemanfaatan Informasi
    Informasi memegang peranan penting dalam sebuah organisasi sebagai
    penghubung antar berbagai bagian organisasi sehingga tercipta keutuhan
    organisasi.
  5. Kondisi Lingkungan
    Kondisi lingkungan kerja mencakup keadaan fasilitas atau sarana yang
    ada, seperti ruang rapat, lobi, ruang kerja, dan lain sebagainya. Kondisi
    lingkungan ini sebenarnya tidak langsung memengaruhi sehat atau
    tidaknya iklim organisasi tapi memberikan efek terhadap suasana hati
    karyawan yang ada didalamnya.
    Menurut (Stinger, 2002) yang dikutip oleh juga mengemukakan bahwa ada
    lima faktor yang menyebabkan terjadinya iklim organisasi, yaitu :
  6. Lingkungan Eksternal
    Industri atau bisnis yang sama mempunyai iklim organisasi yang
    cenderung sama. Faktor umum yang sama tersebut disebabkan oleh
    adanya pengaruh lingkungan eksternal organisasi. Lingkungan eksternal
    yang dimaksud antara lain kecepatan perubahan dalam suatu jenis
    industri, level konsolidasi dan regulasi yang tinggi pada industri tanpa
    adanya persaingan, serta ekonomi yang kuat dan pasar kerja yang baik.
  7. Strategi Organisasi
    Kinerja organisasi bergantung pada strategi organisasi, energi yang
    dimiliki oleh karyawan untuk melaksanakan pekerjaan dan faktor-faktor
    lingkungan penentu dari level energi tersebut. Strategi yang berbeda akan
    menimbulkan iklim organisasi yang berbeda pula. Meskipun dalam
    beberapa kasus, strategi organisasi tidak secara langsung memengaruhi
    iklim organisasi, tetapi pada kasus-kasus tertentu strategi organisasi
    dapat mempunyai pengaruh langsung terhadap iklim organisasi.
  8. Pengaturan Organisasi
    Pengaturan organisasi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap iklim
    organisasi.
  9. Kekuatan Sejarah
    Semakin tua umur suatu organisasi, semakin kuat juga pengaruh
    sejarahnya. Pengaruh tersebut berupa tradisi dan ingatan yang
    membentuk harapan anggota organisasi dan berpengaruh terhadap iklim
    organisasinya.
  10. Pemimpin
    Pemimpin bertugas sebagai pendorong utama untuk menciptakan
    peningkatan kinerja organisasi. Perilaku dari pemimpin dapat
    memengaruhi motivasi karyawan yang selanjutnya akan berpengaruh
    pada iklim organisasi.

Pengertian Iklim Organisasi


Menurut Wirawan yang dikutip oleh Sunarsih & Helmiatin, (2017) iklim
organisasi adalah persepsi anggota organisasi (individu dan kelompok) dan mereka
yang secara tetap berhubungan dengan organisasi mengenai apa yang ada dan
terjadi di lingkungan internal organisasi secara rutin, yang memengaruhi sikap dan
perilaku organisasi dan kinerja anggota organisasi yang kemudian menentukan
kinerja organisasi.
Menurut Susanty, (2013) iklim organisasi adalah studi persepsi individu
mengenai berbagai aspek lingkungan organisasinya.
Sedangkan menurut (Stinger, 2002) iklim organisasi adalah sebuah koleksi
dan pola lingkungan yang menentukan motivasi. Stringer kembali mengungkapkan
bahwa iklim organisasi berfokus pada persepsi-persepsi masuk akal atau dapat
dinilai, terutama yang dapat memunculkan motivasi sehingga mempunyai pengaruh
langsung terhadap kinerja organisasi.

Indikator Kepemimpinan Inklusif


Menurut (Purnamaningtyas dan Rahardja 2021), ada beberapa indikator
kepemimpinan inklusif, yakni :
1) Keterbukaan
Memiliki sikap terbuka dan respek terhadap kesalahan.
2) Keadilan Dalam Pemberian Kesempatan
Pemimpin harus peduli secara personal dan empati terhadap semua anggota
tim.
3) Kepedulian Pemenuhan Kebutuhan
Dimana seorang pemimpin harus menyadari bahwa sistem dan anggota tim
pasti memiliki kelemahan, namun harus tetap mengedepankan meritrokasi
dimana penghargaan dan pemberian insentif didasarkan pada kinerja setiap
karyawan atau auditor internal.
4) Keterlibatan Pegawai Dalam Pengambilan Keputusan
Komitmen untuk menghormati diversity atau keberagaman yang ada di
dalam tim/ organisasi.
5) Menghargai Keberagaman Pegawai.
Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan kultural atau mengerti dan
menghormati latar belakang budaya setiap anggota tim

Faktor-Faktor Kepemimpinan Inklusif


Menurut (Lorilla, 2021) terdapat beberapa faktor yang terkait dengan
kepemimpinan inklusi antara lain :
a. Usia
Keterlibatan antara kepemimpinan yang tidak membeda-bedakan
umur dalam suatu organisasi.
b. jenis kelamin
keterlibatan antara kepemimpinan yang tidak membeda-bedakan
gender.
c. Etnis
Keterlibatan kepemimpinan dalam menghormati identitas atau
kebudayaan orang lain.
d. Agama
Keterlibatan kepemimpinan dalam saling menghargai antar penganut
agama.
e. Pendidikan
Keterlibatan kepemiminan untuk saling berpikir bersama tanpa
membedakan status pendidikan terakhir.
f. keragaman kognitif
Keterlibatan kepemimpinan dalam menghubungkan perilaku
kemampuan untuk berpikir.

Pengertian Kepemimpinan Inklusif


Kepemimpinan inklusif (inclusive leadership) digambarkan sebagai
pemimpin yang menunjukkan keterbukaan (openness), mudah diakses (accessible),
dan ketersediaan (availability) dalam interaksi dengan anggota (Carmeli, ReiterPalmon, & Ziv, 2010) dan merupakan kepemimpinan yang menekankan perilaku
pemimpin partisipatif dan terbuka. Inclusive leadership barangkali terlihat mirip
dengan konsep gaya kepemimpinan lainnya yang juga memfasilitasi openness dan
empowerment, namun penelitian Randel et al., (2018) menunjukkan tinjauan rinci
tentang hubungan inclusive leadership dan gaya kepemimpinan terkait
menyimpulkan bahwa, inclusive leadership merupakan bentuk kepemimpinan yang
berbeda karena berfokus pada memfasilitasi keunikan dan juga rasa memiliki.
Lebih jauh Randel et al., (2018) mengatakan kepemimpinan inklusif
(inclusive leadership) sebagai seperangkat perilaku pemimpin yang positif dan
memfasilitasi anggota tim untuk dapat merasakan rasa memiliki, sambil
mempertahankan keunikan mereka dalam tim karena mereka berkontribusi penuh
pada proses dan hasil kerja tim. Pemimpin yang rendah hati (humility) dan memiliki
kepercayaan atas keberagaman (diversity beliefs) akan meningkatkan
kecenderungan perilaku pemimpin inklusif (Randel et al., 2018)

Pengertian Kepemimpinan


Hartanto, (2016) mendefinisikan kepemimpinan sebagai usaha untuk
memengaruhi anggota kelompok agar mereka bersedia menyumbangkan
kemampuannya lebih banyak dalam mencapai tujuan kelompok yang telah
disepakati.
Menurut Wahyuniardi dan Nababan, (2018) kepemimpinan merupakan
kemampuan untuk memengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk
mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan juga merupakan
masalah sosial yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin
dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara
memengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengoordinasikan. Veiithzal, dkk juga
berpendapat bahwa ada beberapa unsur pokok dalam pengertian kepemimpinan,
antara lain :

  1. Kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau
    organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi;
  2. Dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuasaan dan proses
    memengaruhi bawahan oleh pemimpin;
  3. Adanya tujuan bersama yang harus dicapai.
    Menurut Kurniawan dan Yani, (2019) kepemimpinan adalah proses dalam
    memengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui apa yang dibutuhkan
    dalam melaksanakan tugas dan bagaimana melakukan tugas itu, serta proses yang
    memfasilitasi upaya individu dan kolektif guna mencapai tujuan bersama.
    Coronel, Robbins, & Judge, (2012) mendefinisikan kepemimpinan sebagai
    kemampuan untuk memengaruhi suatu kelompok menuju pencapaian sebuah visi
    atau tujuan yang ditetapkan. Sumber dari pengaruh tersebut dapat secara formal,
    seperti yang dilakukan dalam peringkat manajerial organisasi. Tetapi tidak semua
    pemimpin adalah para manajer, demikian pula tidak semua manajer adalah para
    pemimpin. Hanya karena organisasi memberikan manajer hak-hak formal tertentu,
    tidak menjadi jaminan bahwa mereka akan memimpin secara efektif. Organisasi
    membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan manajemen yang kuat untuk
    efektivitas yang optimal.

Macam-Macam Gaya Kepemimpinan


Dalam teori full range model of leadership ada tiga gaya
kepemimpinan yaitu kepemimpinan transformasional, transaksional dan
laissez faire. Kepemimpinan yang efektif adalah komponen yang paling
penting yang mengarah organisasi untuk hasil yang efektif (Wong, 2008).
Keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku
bawahan banyak dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Beberapa ahli
mengemukakan pendapat tentang macam-macam gaya kepemimpinan,
adalah sebagai berikut :

  1. Gaya kepemimpinan menurut pendapat (Hasibuan, 2009, p. 170) gaya
    kepemimpinan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
    a) Kepemimpinan Otoriter
    Kepemimpinan Otoriter adalah jika kekuasaan atau
    wewenang, sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau
    kalau pimpinan itu menganut sistem sentralisasi wewenang.
    Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya ditetapkan sendiri
    oleh pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan untuk memberikan
    saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
    Orientasi kepemimpinannya difokuskan hanya untuk peningkatan
    produktivitas kerja karyawan dengan kurang memperhatikan
    perasaan dan kesejahteraan bawahan.
    (Siagian, 2014) berpendapat tentang gaya kepemimpinan
    otoriter sebagai berikut, seorang pemimpin yang tergolong sebagai
    orang yang otoriter memiliki ciri-ciri yang umumnya negatif. Ciriciri yang menonjol adalah:
    a) Penonjolan diri yang berlebihan sebagai simbol keberadaan
    organisasi
    b) Kegemaran menonjolkan diri sebagai penguasa tunggal
    c) Biasanya dihinggapi penyakit megalomaniac, dalam arti gila
    hormat
    d) Tujuan pribadinya identik dengan tujuan organisasi
    e) Loyalitas para bawahan merupakan tuntutan yang sangat kuat.
    Demikian kuatnya sehingga mengalahkan kinerja, kejujuran,
    serta penerapan norma-norma moral dan etika
    f) Menerapkan disiplin organisasi yang kuat
    g) Menerapkan pengendalian dan pengawasan yang ketat
    b) Kepemimpinan Partisipatif
    Kepemimpinan Partisipatif adalah apabila dalam
    kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan
    kerja sama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi
    para bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar merasa ikut
    memiliki perusahaan. Bawahan harus berpartisipasi memberikan
    saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
    Pemimpin dengan gaya partisipatif akan mendorong kemampuan
    bawahan mengambil keputusan. Dengan demikian, pimpinan akan
    selalu membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang
    lebih besar.
    Kepemimpinan partisipatif termasuk model kepemimpinan
    situasi yang muncul karena model kepemimpinan dalam
    pembahasan sebelumnya tidak mampu memberikan jawaban
    terhadap persoalan-persoalan yang muncul dalam kepemimpinan
    saat ini. Perilaku kepemimpinan tersebut dapat ditunjukkan dengan
    tanda-tanda, sebagai berikut:
    1) Pendekatan akan berbagai persoalan dengan pikiran terbuka.
    2) Mau atau bersedia memperbaiki posisi-posisi yang telah
    terbentuk.
    3) Mencari masukan dan nasehat yang menentukan.
    4) Membantu perkembangan kepemimpinan yang posisional dan
    kepemimpinan yang sedang tumbuh.
    5) Bekerja secara aktif dengan perseorangan atau kelompok.
    6) Melibatkan orang lain secara tepat dalam pengambilan
    keputusan. (Wahjosumidjo, 2001, pp. 28-29)
    Sedangkan menurut H. Hadari Nawawi dalam bukunya
    kepemimpinan mengefektifkan organisasi menuliskan bahwa
    kepemimpinan partisipatif sama pemahamannya dengan
    kepemimpinan kompromi (compromiser) yang menunjukkan
    karakteristik, sebagai berikut:
    a. Seorang pemimpin dalam gaya ini untuk mempertahankan
    kekuasaanya tidak berorientasi pada anggota organisasi, tetapi
    pada pimpinan atasanya yang berpengaruh dan menentukan
    jabatan kepemimpinannya.
    b. Mengikutsertakan bawahan dalam mengambil keputusan, bukan
    untuk kesempatan menyampaikan gagasan, kreativitas dan lainlain.
    c. Dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaan pekerjaan,
    pemimpin selalu memperhitungkan untung rugi bagi dirinya
    bukan bagi bawahan atau organisasinya.
    d. Tidak tertarik pada pengembangan pekerjaan dan organisasi
    melainkan untuk menjalankan tugas guna mempertahankan
    kepemimpinannya.
    e. Mampu bekerja sama dengan bawahan dalam melaksanakan
    pekerjaan.
    13
    f. Memberikan dorongan (motivasi) secara selektif pada anggota
    organisasi atau bawahan. (Nawawi, 2006, pp. 131-133)
    Dari beberapa pendapat diatas penulis simpulkan, ada
    beberapa ciri (karakteristik) dari model kepemimpinan partisipatif,
    ialah:
    a. Bekerja secara aktif dengan bawahan baik perseorangan maupun
    kelompok.
    b. Mengikutsertakan bawahan secara tepat dalam pengambilan
    keputusan.
    c. Mementingkan menjalankan tugas guna untuk mempertahankan
    kepemimpinan dan kekuasaanya.
    d. Menerima masukan dan nasehat yang bersifat membangun demi
    perkembangan organisasi.
    e. Memberikan motifasi secara penuh pada anggota organisasi.
    c) Kepemimpinan Delegatif
    Kepemimpinan Delegatif apabila seorang pemimpin
    mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan dengan agak
    lengkap. Dengan demikian, bawahan dapat mengambil keputusan
    dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa dalam melaksanakan
    pekerjaannya. Pemimpin tidak peduli cara bawahan mengambil
    keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan
    kepada bawahan. Pada prinsipnya pemimpin bersikap menyerahkan
    dan mengatakan kepada bawahan inilah pekerjaan yang harus
    saudara kerjakan, saya tidak peduli, terserah saudara bagaimana
    mengerjakannya asal pekerjaan tersebut bisa diselesaikan dengan
    baik. Dalam hal ini bawahan dituntut memiliki kematangan dalam
    pekerjan (kemampuan) dan kematangan psikologis (kemauan).
    Kematangan pekerjaan dikaitkan dengan kemampuan untuk
    melakukan sesuatu yang berdasarkan pengetahuan dan
    keterampilan. Kematangan psikologis dikaitkan dengan kemauan
    atau motivasi untuk melakukan sesuatu yang erat kaitannya dengan
    rasa yakin dan keterikatan
  2. Gaya kepemimpinan menurut (Sutikno, 2014, p. 35) mengatakan gaya
    kepemimpinan atau perilaku kepemimpinan atau sering disebut Tipe
    Kepemimpinan. Tipe kepemimpinan yang luas dikenal dan diakui
    keberadaanya adalah sebagai berikut :
    a) Tipe Otokratik
    Tipe kepemimpinan ini menganggap bahwa
    kepemimpinan adalah hak pribadinya (pemimpin), sehingga ia
    tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain dan tidak boleh ada
    orang lain yang turut campur. Seorang pemimpin yang tergolong
    otokratik memiliki serangkaian karateristik yang biasanya
    dipandang sebagai karakteristik yang negatif. Seorang pemimpin
    otokratik adalah seorang yang egois. Seorang pemimpin otokratik
    akan menunjukan sikap yang menonjolakan keakuannya, dan
    selalu mengabaikan peranan bawahan dalam proses pengambilan
    keputusan, tidak mau menerima saran dan pandangan
    bawahannya.
    b) Tipe Kendali Bebas atau Masa Bodo (Laisez Faire)
    Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe
    kepemimpinan otokratik. Dalam kepemimpinan tipe ini sang
    pemimpin biasanya menunjukkan perilaku yang pasif dan
    seringkali menghindar diri dari tanggung jawab. Seorang
    pemimpin yang kendali bebas cenderung memilih peran yang
    pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya
    sendiri. Disini seorang pemimpin mempunyai keyakinan bebas
    dengan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya terhadap
    bawahan maka semua usahanya akan cepat berhasil.
    c) Tipe Paternalistik
    Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang
    peranannya dalam kehidupan organisasi dapat dikatakan diwarnai
    oleh harapan bawahan kepadanya. Harapan bawahan berwujud
    keinginan agar pemimpin mampu berperan sebagai bapak yang
    bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya
    dan untuk memperoleh petunjuk, memberikan perhatian terhadap
    kepentingan dan kesejahteraan bawahannya. Pemimpin yang
    paternalistik mengharapkan agar legitimasi kepemimpinannya
    merupakan penerimaan atas peranannya yang dominan dalam
    kehidupan organisasi.
    d) Tipe Kharismatik
    Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki
    karakteristik khusus yaitu daya tariknya yang sangat memikat,
    sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat besar dan
    para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkrit
    mengapa orang tersebut itu dikagumi. Hingga sekarang, para ahli
    belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seorang
    pemimpinmemiliki kharisma. Yang diketahui ialah bahwa
    pemimpin yang demikian mempunyai daya penarik yang amat
    besar.
    e) Tipe Militeristik
    Pemimpin tipe militeristik berbeda dengan seorang
    pemimpin organisasi militer. Pemimpin yang bertipe militeristik
    ialah pemimpin dalam menggerakan bawahannya lebih sering
    mempergunakan sistem perintah, senang bergantung kepada
    pangkat dan jabatannya, dan senang kepada formalitas yang
    berlebih-lebihan. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari
    bawahannya, dan sukar menerima kritikan dari bawahannya.

Definisi Gaya Kepemimpinan


Untuk memahami gaya kepemimpinan terlebih dahulu kita ketahui
definisi kepemimpinan menurut para ahli. Adalah sebagai berikut :
Menurut House dalam (Yukl, 2009, p. 4) mengatakan bahwa :
Kepemimpinan adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi,
memotivasi, dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya
demi efektivitas dan keberhasilan organisasi. Jadi dari pendapat House
dapat dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan cara mempengaruhi
dan memotivasi orang lain agar orang tersebut mau berkontribusi untuk
keberhasilan organisasi.
Selanjutnya menurut Stogdill dalam (Stoner, 2003, p. 161)
“Kepemimpinan adalah suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi
aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dan anggota kelompok” dari
pendapat Stogdill dapat ditarik suatu pendapat bahwa kepemimpinan itu
merupakan upaya dalam mempengaruhi dan mengarahkan suatu
kelompok.
Kepemimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi
orang-orang yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan
ataupun diarahkan oleh orang lain yang memimpinnya. (Sutikno, 2014, p.
16).
Setelah menguraikan pengertian tentang kepemimpinan, selanjutnya
menjelaskan definisi gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan merupakan
aspek penting untuk mencapai dan meningkatkan keberhasilan
kepemimpinan seseorang dalam suatu organisasi.
Sedangkan (Rivai, 2014, p. 42) menyatakan Gaya Kepemimpinan
adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi
bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa
gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan
sering diterapkan oleh seorang pemimpin.Gaya kepemimpinan yang
menunjukkan, secara langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan
seorang pimpinan terhadap kemampuan bawahannya.Artinya gaya
kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari
falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang
pemimpin ketika ia mencoba memengaruhi kinerja bawahannya.
Selanjutnya menurut (Stoner, 2003, p. 165) menyatakan bahwa gaya
kepemimpinan adalah berbagai pola tingkah laku yang disukai oleh
pemimpin dalam proses mengarahkan dan mempengaruhi pekerja.
Gaya kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan
dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan
perilaku para anggota organisasi bawahannya (Nawawi, 2003). Seorang
pemimpin harus menerapkan gaya kepemimpinan untuk mengelola
bawahannya, karena seorang pemimpin akan sangat mempengaruhi
keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya (Guritno & Waridin,
2005).

Pengaruh Sarana Prasarana terhadap Kinerja


Sarana dan prasana kerja yang kurang mendukung pelaksanaan
pekerjaan seperti kurangnya alat-alat kerja, ruangan yang pengap, ventilasi
yang kurang, rusaknya peralatan, dan penerangan yang kurang dapat
menyebabkan kinerja menjadi buruk. Alat-alat yang kurang memadai
sementara tuntutan pekerjaan yang memerlukan percepatan pekerjaan dapat
menjadi masalah, yang pada akhirnya akan menjadi penyebab menurunnya
produktifitas kerja. Dalam keadaan demikian, seorang pemimpin tidak bisa
menyalahkan pegawai yang menjadi bawahannya untuk bekerja dengan cepat
karena ketiadaan alat.
Handoko (1985:193), mengatakan bahwa faktor linkungan terdiri
penerangan/cahaya, suhu udara ditempat kerja, kenyamanan, kelembaban,
sirkulasi udara, kebisingan, bau, warna dekorasi, musik, dan keamanan.
Dekorasi yang sesuai dengan ruangan dan kebisingan suara yang dihindari
mampu membuat pegawai nyaman bekerja tanpa lelah. Udara yang segar dan
sejuk sangat dibutuhkan manusia sebab udara yang kotor dapat merusak
pernapasan. Begitu pula dengan cahaya dan penerangan ruangan kerja, sangat
besar pengaruhnya terhadap kondisi kerja. Penerangan yang kurang dapat
menyebabkan kesalahan dalam bekerja serta terganggunya penglihatan. Cahaya
bisa berasal dari matahari melalui ventilasi ataupun listrik.
Fasilitas kerja seperti ruang kerja yang cukup akan memungkinkan
pegawai untuk dapat bergerak dengan leluasa dan akan membangkitkan
semangat dalam bekerja. Tempat kerja yang baik dapat merangsang pegawai
untuk bekerja lebih giat dan lebih bersemangat sehingga pada akhirnya
menimbulkan kinerja yang baik. Peralatan kerja yang cukup tidak membuat
pegawai malas dalm bekrja karena segala alat yang diperlukan tersedia dalam
jumlah dan mutu.Oleh karena itu harus diupayakan sarana prasarana yang
memadai agar diperoleh suasana kerja yang sehat dan pegawai mampu bekerja
secara efektif dan produktif.

Pengaruh Kompensasi terhadap Kinerja


Pengaruh kompensasi dengan kinerja menurut Simamora (1997:557),
para karyawan mendambakan kinerja mereka akan berkorelasi dengan
imbalan-imbalan yang diperoleh dari organisasi. Para karyawan menetukan
pengharapan-pengharapan mengenai imbalan-imbalan dan kompensasi yang
diterima jika tingkat kinerja tertentu tercapai. Jika karyawan melihat bahwa
kinerja yang unggul diakui dan diberikan imbalan oleh organisasi, mereka akan
mengharapkan hubungan yang terus berlanjut dimasa depan. Oleh karena itu,
mereka akan menentukan tingkat kinerja yang lebih tinggi yang mengharapkan
kompensasi yang lebih tinggi. Sebaiknya, jika karyawan memperkirakan
hubungan yang lemah antara kinerja dan kompensasi, maka mereka mungkin
akan menentukan tujuan-tujuan minimal guna mempertahankan pekerjaan
mereka. Oleh sebab itu, penggunaan sistem kompensasi untuk memotivasi
kinerja yang efektif membutuhkan kaitan yang jelas dan terlihat antara kinerja
dan kompensasi serta iklim kepercayaan antara orang-orang yang bekerja
dengan orang-orang yang memberikan kompensasi.
Menurut Notoatmodjo (2009:142), kompensasi sangat penting bagi
karyawan itu sendiri sebagai individu, karena besarnya kompensasi merupakan
pencerminan atau ukuran nilai pekerjaan karyawan tersebut. Besar kecilnya
kompensasi akan berpengaruh terhadap prestasi kerja, motivasi, dan kepuasan
kerja karyawan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerjanya.
Sedangkan menurut Umar (2008:16), salah satu cara manajemen untuk
meningkatkan prestasi kerja, motivasi, dan kepuasan kerja para karyawan
adalah melalui kompensasi.
Simanjuntak (2005:14), mengatakan bahwa kinerja individu
dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kompensasi sebagai
bentuk dukungan organisasi terhadap upaya peningkatan kinerja pegawai.
Pendapat ini semakin menguatkan pandangan bahwa, pengelolaan kompensasi
yang tepat mampu mendongkrak upaya peningkatan kinerja pegawai yang
sudah barang tentu berimplikasi terhadap peningkatan kinerja organisasi.
Kompensasi yang diterima seorang pegawai akan memotivasi pegawai
tersebut untuk melakukan usaha yang lebih giat lagi dalam bekerja. Namun
kompensasi yang yang diberikan harus mencerminkan nilai atau hasil
pekerjaan baik secara kuantitas maupun kualitas. Oleh sebab itu, kompensasi
yang diberikan harus mencerminkan pula azas keadilan. Dengan kata lain,
kompensasi yang diberikan dengan adil dan merujuk pada nilai/hasil pekerjaan
akan mempengaruhi pegawai untuk saling berkompetisi meningkatkan
kinerjanya

Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kinerja


Keberhasilan suatu organisasi sangat dipengarui oleh manajemen
kepemimpinan sebagaimana Katini Kartono (2008:170), mengatakan bahwa
kepemimpin berkaitan erat dengan usaha manajemen bahkan menjadi unsur
inti dari organisasi , manajemen, dan administrasi. Pada umumnya, pengertian
manajemen itu lebih diperjelas dengan macam-macam fungsi manajemen,
seperti perencanaan, pengorganisasian, aktualisasi/pengarahan, dan
pengawasan yang harus dikuasai oleh setiap pemimpin. Dengan kata lain,
seorang pemimpin yang efektif dituntut kompetensinya dalam mejalankan
berbagai fungsi manajerial, termasuk di dalamnya bagaimana seorang
pemimpin menerapkan dan mengembangkan sistem manajemen kinerja,
manajemen karir, manajemen kompensasi pada organisasi yang dipimpinnya
secara adil.

Penilaian Kinerja


Salah satu fungsi manajemen adalah pengarahan, yaitu meliputi bagaimana
meningkatkan dan menilai kinerja pegawai. Penilaian secara luas dapat diartikan
sebagai evaluasi dari sebuah organisasi, dan secara sempit berupa penilaian
terhadap kinerja pegawai. Penilaian kinerja pegawai merupakan kegiatan untuk
menilai keberhasilan atau kegagalan seorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya. Oleh karena itu, penilaian ini harus berpedoman pada ukuran-ukuran
yang telah disepakati bersama dalam standar kerja.
Menurut Nawawi (2008:236-237), mendefinisikan arti penilaian kinerja
sebagai berikut:
a. Penilaian kinerja adalah pendadaran (deskripsi) secara sistematik (teratur)
tentang relevansi antara tugas-tugas yang diberikan dengan pelaksanaannya
oleh seorang pekrja;
b. Penilaian kinerja adalah usaha mengidentifikasi, mengukur (menilai) dan
mengelola (manajemen) pekerjaan yang dilaksanakan oleh para pekerja (SDM)
di lingkungan organisasi;
c. Penilaian kinerja adalah kegiatan mengidentifikasi pelaksanaan pekerjaan
dengan menilai aspek-aspeknya, yang difokuskan pada pekerjaan yang
berpengaruh pada kesuksesan organisasi;
d. Penilaian kinerja adalah kegiatan pengukuran sebagai usaha menetapkan
keputusan tentang kesuksesan atau gagal dalam melaksanakan pekerjaan oleh
seorang pekerja.
Simamora (1997:416) mengemukakan bahwa penilaian kinerja adalah
proses organisasi mengevaluasi kerja individu. Dalam penilaian kinerja dinilai
kontribusi karyawan kepada organisasi selama kurun waktu tertentu. Umpan balik
kinerja memungkinkan karyawan mengetahui seberapa baik bekerja dibandingkan
dengan standar organisasi.
Hasibuan (2000:96) mendefinisikan penilaian kinerj sebagai kegiatan
manajer untuk mengevaluasi kerja karyawan serta menetapkan kebijaksanaan
selanjutnya. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa penilaian kinerja adalah menilai
rasio hasil kerja nyata dengan standat kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan
setiap karyawan.

Pengertian Kinerja


Untuk mencapai kepada pemahaman yang meyakinkan tentang
kinerja, perlu diuraikan bahasan mengenai kinerja. Kinerja merupakan hasil
atau output dari suatu proses, jika output itu dan atau sebagai hasil kerja
pegawai, maka hal itu dinamakan kinerja pegawai. Nawawi (2006:62)
mengemukakan, kinerja adalah kemampuan kerja atau prestasi yang dicapai
dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
Menurut Usman (2008:456), kinerja adalah usaha yang dilakukan dari
hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam
suatu organisasi sesuai wewenang dan tanggungjawab masing-masing dalam
rangka mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak
melanggar hukum dan sesuai moral maupun etika. Sedangkan menurut
Mangkuprawira (2009:218), kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan
seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan
tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja,
target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan
telah disepakati bersama.
Menurut Ilyas (2001:66), kinerja adalah penampilan hasil karya
personel, baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Kinerja
dapat merupakan penampilan individu maupun kelompok kerja personel
dalam suatu organisasi.
Prawirosentono (1999:2) yang menyatakan bahwa:
Kinerja dalah hasil kinerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang
dan tanggungjawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai
tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak meanggar hukum
dan sesuai dengan moral maupun etika.
Sedangkan Bernardin (2001:143) menyatakan bahwa kenerja
merupakan catatan hasil yang diproduksi (dihasilkan) atas fungsi pekerjaan
tertentu atau aktivitas-aktivitas kegiatan pelayanan publik.
Kinerja pemerintah sangat ditentukan oleh kinerja sumber daya
manusia yang dimilikinya. Sebagaimana dikemukakan Ma’arif (2002:70-71),
pemerintah harus mampu mengembangkan berbagai faktor keberhasilan
pelaksanaan pemerintah yang dikontribusikan oleh keadaan sumber daya
manusia (pegawai). Tercapai tujuan lembaga yang ditetapkan harus memiliki
hanya dimungkinkan karena upaya para pelaku yang terdapat pada organisasi
lembaga tersebut.
Mangkuprawira (2009:222-224), mengatakan bahwa berdasarkan
kenyataan empris dan praktis menunjukkan, perilaku seseorang, misalnya
dalam pekerjaan yakni produktivitas kerja, dipengaruhi oleh faktor-faktor
intrinsik dan ekstrinsik. Adapun yang termasuk dalam unsur intrinsik (Xi)
antara lain:
a. Tingkat pendidikan, dilihat dari penguasaan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan dalam penguasaan bidang;
b. Tingkat pengetahuan, terkait dengan penguasaan penerapan ilmu dan
pengetahuan dan teknologi yang dimiliki seseorang terhadap pelaksanaan
pekerjaannya, semakin tinggi kinerjanya;
c. Tingkat pengalaman, merupakan akulasi dari keberhasilan dan kegagalan
serta gabungan dari kekuatan dan kelemahan di dalam melaksanakan
pekerjaannya.
Sedangkan yang termasuk dalam unsur ekstrinsik (Xe) antara lain:
a. Lingkungan keluarga, yang dimaksud di sini adalah sikap dan motivasi
anggota suatu keluarga di dalam memandang makna suatu pekerjaan.
Ineraksi dalam bentuk sosialisasi keluarga yang intensif terhadap makna
pekerjaan akan membantu setiap anggota keluarga untuk
mengoptimumkan kinerjanya;
b. Lingkungan sosial-budaya, seperti aspek kedisiplinan sosial, tanggung
jawab sosial dan sistem nilai tentang pekerjaan akan mendorong seseorang
terlibat aktif dalam meningkatkan kinerjanya
c. Lingkungan ekonomi, antara lain dicirikan oleh pertumbuhan ekonomi,
dan pendapatan perkapita. Jika seseorang memiliki persoalan dalam hal
pendapatan, tentu hal ini akan mempengaruhi kinerjanya;
d. Lingkungan belajar, dapat dilihat dari perilaku masyarakat dalam hal
mengikuti pendidikan dan pelatihan. Lingkungan belajar yang semakin
baik, mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas belajarnya,
sehingga akan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan serta
produktivitas dalam bekerja;
e. Lingkungan kerja termasuk budaya kerja, suasana kerja dirikan oleh
aspek-aspek budaya produktif, kepemimpinan, hubungan karyawan
dengan sesama rekan dan atasan, manajemen kompensasi. Beragam aspek
lingkungan tersebut mempengaruhi motivasi, dan kinerja para karyawan;
f. Teknologi, semakin tinggi kualitas atau efisiensi teknologi yang
digunakan, semakin tinggi pula produktivitas kerja karyawan.
Apa yang telah dikemukakan oleh Mangkuprawira, dapat ditarik
kesimpulan bahwa untuk mengembangkan kompetensi pegawai berdasrkan
unsur intrinsik dapat diupayakan melalui proses pendidikan dan pelatihan,
sedangkan lingkungan keluarga, sosial, dan ekonomi yang termasuk dalam
unsur ekstrinsik adalah sesuatu yang sulit disentuh sebagai bentuk upaya
peningkatan kinerja pegawai. Hanya lingkungan kerja yang dapat dikemas
sedemikian rupa oleh organisasi melalui unsur kepemimpinan guna
meningkatkan kinerja pegawainya.

Kriteria Pemberian Kompensasi


Pemberian kompensas oleh suatu organisasi bukan merupakan sesuatu
yang bersifat statis melainkan dinamis. Artinya, pemberian kompensasi
sewaktu-waktu dapat berubah. Menurut Notoatmodjo (2009:147-148), faktorfaktor yang dapat mempengaruhi perubahan ketentuan pemberian kompensasi
antara lain: keadaan perekonomian, kebijakan pemerintah, tuntutan organisasi
pegawai, perkembangan ilmu dan teknologi, dan lain sebagainya. Namun
demikian, agar perubahan yang terjadi tidak terlalu menimbulkan goncangan,
ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam penentuan kebijakan
pemberian kompensasi seperti dijelaskan sebagai berikut:
a. Biaya hidup
Kriteria ini sebenarnya berorientasi kepada karyawan, atau lebih
mementingkan kebutuhan karyawan, dengan tujuan jika karyawan
memperoleh kompensasi sebesar biaya hidup saat ini, maka diharapkan
produktivitas lebih optimal.
b. Produktivitas
Produktivitas karyawan tentu berpengaruh terhadap peningkatan pencapaian
tujun organisasi atau penghasilan organisasi. Artinya, karyawan memiliki
andil cukup besar dalam pencapaian tujuan organisasi. Oleh sebab itu, wajar
apabila hal ini dijadikan kriteria untuk pemberian kompensasi kepada
karyawan.
c. Skala upah atau gaji yang umum berlaku
Memang sulit untuk mengambil skala pemberian kompensasi yang umum
berlaku, karena variasi jenis organisasi, baik dilihat dari sifat maupun besar
kecilnya organisasi yang bersangkutan dapat mengacu kepada organisasi
yang sederajat dan sejeniis sebagai kriteria pemberian kompensasi bagi
karyawan.
d. Kemampuan membayar
Setiap organisasi tentu selalu memperhitungkan besarnya biaya yang harus
dikeluarkan untuk kompensasi bagi pegawainya dikaitkan dengan biaya
keseluruhan organisasi. Begitu pula biaya-biaya operasional lainnya, harus
diperhitungkan pula. Oleh sebab itu, dalam membuat kriteria pemberian
kompensasi ini, kemampuan membayar dari suatu organisasi perlu
diperhitungkan.
e. Upah atau gaji sebagai alat untuk mempertahankan, dan memberikan
motivasi kepada karyawan.
Organisasi yang baik akan selalu menarik calon karyawan untuk bekerja di
dalamnya, serta mempertahankan karyawan yang sudah bekerja. Di samping
itu, kompensasi seharusnya mampu untuk memeotivasi karyawan apabila
diberikan secara tepat.

Jenis-jenis Kompensasi


Menurut Nawawi (2008:316-317), kompensasi dapat dibedakan
menurut jenisnya, yaitu:
a. Kompensasi langsung (direct compensation)
Kompensasi langsung adalah penghargaan/ganjaran yang disebut gaji atau
upah, yang dibayar secara tetap berdasarkan tenggang waktu yang tetap.
b. Kompensasi tidak langsung (indirect compensastion)
Kompensasi tidak langsung adalah pemberian bagian keuntungan/manfaat
lainnya bagi para pekerja di luar gaji atau upah tetap, dapat berupa uang
atau barang. Dengan kata lain, kompensasi tidak langsung adalah program
pemberian penghargaan/ganjaran dengan variasi yang luas.
c. Insentif
Insentif adalah penghargaan/ganjaran yang diberikan untuk memotivasi para
pekerja agar produktivitas kerjanya tinggi, sifatnya tidak tetap atau sewaktuwaktu. Program insentif diberikan kepada pekerja yang bekerja sacara baik
atau yang berprestasi, misalnya dalam bentuk pemberian bonus, dan dapat
juga dalam bentuk berupa barang.
Kompensasi sebagai imbalan jasa berdasrkan kemampuan nilai tukarnya
yang memenuhi kebutuhan hidup tingkat yang rendah

Pengertian Kompensasi dan Tujuan Kompensasi


Dalam manajemen Sumber Data Manusia (SDM), kompensasi menjadi
bagian yang sangat penting, karena kompensasi merupakan upaya organisasi
mempertahankan SDM. Kompensasi yang tidak baik dapat menurunkan
motivasi pegawai, prestasi kerja menurun sehingga berpotensi menurunkan
kinerja organisasi. Dalam usaha mendukung pencapaian tenaga kerja yang
memiliki motivasi dan bekerja tinggi, yaitu dengan cara memenuhi kebutuhankebutuhannya. Sistem kompensasi juga berpotensi sebagai salah satu saran
terpenting dalam membentuk perilaku dan mempengaruhi kinerja. Dalam
Peraturan Menteri Keuangan Tahun 2010 tentang Pemberian dan Tata Cara
Pembayaran Uang Makan Bagi Pegawai Negeri Sipil bertujuan dalam rangka
meningkatkan kinerja Pegawai Negeri Sipil.
Menurut Sedarmayanti (2008:239), kompensasi adalah segala sesuatu
yang diterima oleh pegawai sebagai balas jasa kerja mereka. Sedangkan
menurut Simamora (1997:541), kompensasi merupakan istilah luas yang yang
berkaitan dengan imbalan-imbalan (finance reward) yang diterima oleh orangorang melalui kepegawaian mereka dalam sebuah organisasi.
Menurut Nawawi (2008:315), kompensasi bagi organisasi berarti
penghargaan/ganjara pada para pekrja yang telah memberikan kontri busi
dalam mewujudkan tujuannya, melalui kegiatan yang disebut bekerja.
Sedangkan menurut Notoatmodjo (2009:142), kompensasi adalah segala
sesuatu yang diterima oleh karyawan sebagai balas jasa kerja atau pengabdian
mereka. Dalam suatu organisasi masalah kompensasi merupakan hal yang
sangat kompleks, namun paling penting bagi karyawan maupun organisasi itu
sendiri.
Adapun tujuan sistem kompensasi menurut Sedarmayanti (2008:239)
adalah: a) menghargai kinerja; b) menjamin keadilan; c) mempertahankan
karyawan; d) memperoleh karyawan yang bermutu; e) mengendalikan biaya; f)
memenuhi peraturan. Sedangkan tujuan pemberian kompensasi menurut
Simamora (1997:548), adalah dalam rangka menahan karyawan dan memikat
karyawan yang cakap, dan memberikan motivasi kepada karyawan.
Menurut Notoatmodjo (2009:143), kompensasi dalam suatu organisasi
harus diatur sedemikian rupa sehingga merupakan sistem yang baik dalam
organisasi, karena sistem kompensasi memiliki tujuan yaitu:
a. Menghargai prestasi
Kompensasi yang memadai adalah suatu penghargaan organisasi terhadap
prestasi kerja para karyawan, selanjutnya akan mendorong perilaku-perilaku
atau performance karyawan sesuai dengan keinginan orhanisasi.
b. Menjamin keadilan
Dengan kompensasi yang baik menjamin terjadinya keadilan diantara
karyawan dalam organisasi, dimana setiap karyawan akan memperoleh
imbalan sesuai dengan tugas, fungsi, jabatan, dan prestasi kerjanya.
c. Mempertahankan karyawan
Kompensasi yang baik mampu mempertahankan karyawan, dengan kata
lain, karyawan akan betah bekerja pada organisasi tersebut.
d. Memperoleh karyawan yang bermutu
Sistem kompensasi yang baik akan menarik lebih banyak calon karyawan,
dengan banyaknya calon karyawan tentu memberikan peluang untuk
memilih karyawan yang berkualitas.
e. Pengendalian biaya
Sistem kompensasi yang baik, akan mengurangi seringnya melakukan
rekrutmen, sebagai akibat seringnya karyawan keluar mencari pekerjaan
yang lebih baik. Hal ini tentu terjadi penghematan biaya untuk rekrutmen
dan seleksi calon karyawan baru.
Sistem penghargaan berkenaan dengan seluruh aspek kompensasi,
bahkan termasuk juga di luar organisasi. Penghargaan pada dasarnya berarti
menumbuhkan perasaan diterima/diakui di lingkungan kerja, yang
menyentuh aspek kompensasi dan aspek hubungan antara pegawai yang satu
dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, pemberian kompensasi dalam suatu
organisasi harus adil dan mampu menjadi motivator bagi pegawainya dalam
bekerja. Terkait dengan hal itu, maka sistem pemberian kompensasi
dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Faktor-faktor ini merupakan tantangan setiap organisasi untuk
menentukan kebijakan kompensasi. Menurut Notoatmodjo (2009:144),
faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Produktivitas
Organisasi tentu selalu berkeinginan untuk memperoleh
keuntungan baik material maupun non material. Oleh sebab itu,
organisasi harus mempertimbangkan produktivitas pegawainya dalam
kontribusinya terhadap keuntungan organisasi.
b. Kemampuan untuk membayar
Pemberian kompensasi akan bergantung pada kemampuan
organisasi itu untuk membayar (abality to pay). Oleh sebab itu,
organisasi tidak akan membayar karyawannya sebagai kompensasi
melebihi kemampuannya.
c. Kesediaan untuk mebayar
Kesediaan untuk membayar (willingness to pay) akan berpengaruh
terhadap kebijaksanaan pemberian kompensasi yang tinggi, namun
belum tentu mereka mau membayar kompensasi yang memadai.
d. Suplai dan permintaan tenaga kerja
Banyak sedikitnya tenaga kerja di pasaran kerja akan
mempengaruhi sistem pemberian kompensasi. Karyawan yang
kemampuannya sangat banyak terdapat di pasaran kerja, mereka akan
diberikan kompensasi lebih rendah daripa karyawan yang
kemampuannya langka di pasaran kerja.
e. Organisasi karyawan
Dengan adanya organisasi-organisasi karyawan (serikat kerja)
akan mempengaruhi kebijakan pemberian kompensasi. Organisasi
karyawan ini biasanya akan memperjuangkan anggotanya untuk
memperoleh kompensasi yang sepadan.
f. Berbagai peraturan dan perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan jelas mempengaruhi sistem
pemberian kompensasi karyawan oleh setiap organisasi, baik pemerintah
maupun swasta.
Sedangkan Sedarmayanti (2008:239) mengatakan, secara umum,
tujuan pengelolaan kompensasi adalah membantu organisasi mencapai
keberhasilan strategis dan menjamin hak internal dan eksternal secara adil.
Keadilan internal menjamin bahwa posisi yang lebih banyak persyaratannya
atau orang yang lebih cakap/mampu di dalam organisasi diberi kompensasi
lebih tinggi. Sedangkan keadilan eksternal, menjamin bahwa pekerja diberi
imbalan yang wajar, sebanding dengan pekerjaan serupa di pasar kerja.
Berdasarkan berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa
tujuan utama organisasi merancang sistem kompensasi adalah untuk
memotivasi pegawi dalam rangka meningkatkan kinerja serta sebagai usaha
untuk mempertahankan pegawai yang kompeten. Program kompensasi bagi
suatu organisasi merupakan hal yang penting karena mencerminkan upaya
organisasi untuk mempertahankan sumber daya manusianya. Disamping itu,
kompensasi (dalam bentuk pengupahan dan balas jasa lainnya) sering
merupakan komponen-komponen biaya yang paling besar dan penting.

Gaya Kepemimpinan


Selanjutnya untuk memahami lebih luas mengenai kepemimpinan,
terlebih dahulu kita akan mengenali gaya-gaya seorang pemimpin dalam
memimpin organisasinya. Gaya kepemimpinan yang harus diterapkan pada
individu atau kelompok tergantung pada tingkat kematangan dari orang-orang
yang akan dipengaruhi pemimpin. Menurut Siagian (2003:16), terdapat dua
pandangan mengenai konsistensi gaya kepemimpinan, yaitu:
a. Pendapat yang mengatakan bahwa gaya kepemimpinan seseorang tidak
berubah menghadapi situasi yang bagaimanapun; sedangkan
b. Pendapat lain mengatakan bahwa gaya kepemimpinan seseorang sangat
bersifat situasional.
Pandangan yang mengatakan bahwa kepemimpinan seseorang bersifat
situasional memiliki makna bahwa tidak ada pemimpin yang secara konsisten
menggunakan satu gaya kepemimpinan tertentu dalam memimpin organisasi.
Artinya, efektivitas kepemimpinan sangat tergantung pada kemampuannya
dengan situasi tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, Siagian pun mengatakan
(2003:17), bahwa teori yang sangat dominan tentang kepemimpinan yang
situasinal, yang dikenal juga dengan istilah “contingency theory”.
Kepemimpinan yang situasional berarti sekaligus memperhitungkan faktor
kondisi, waktu dan ruang yang turut berperan dalam penentuan pemilihan gaya
kepemimpinan yang paling tepat.
Menurut Wahjosumidjo (1987:99-100), teori kepemimpinan model
kontingensi yang dikembangkan oleh Fiedler, dan dikembengkan lebih lanjut
oleh Paul Hersey dan Kenneth Blanchard, bahwa gaya kepemimpinan yang
paling efektif adalah kepemimpinan yang disesuaikan dengan tingkat
kemantapan usia atau emosi (age or emotional stability). Oleh sebab itu, dalam
kepemimpinan situasional penting bagi setiap pemimpin untuk mendioknosa
dengan baik tentang situasi. Sehingga, pemimpin yang baik menurut teori ini,
harus mampu mengubah-ubah perilakunya sesuai dengan situasinya, dan
mampu memperlakukan bawahan sesuai dengan kebutuhan dan motif yang
berbeda-beda.
Jadi, berdasarkan teori kepemimpinan situasional, semua variabel
situasi (waktu, tuntutan tugas, iklim organisasi, harapan dan kemampuan
atasan, teman sejawat,dan bawahan) adalah sangat penting yaitu tingkah laku
pemimpin dalam hubungannya dengan para bawahan:
a. Gaya otokratis, pemimpin otokrasi merasa mengetahui apa yang diinginkan
dan cenderung mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan itu sebagai perintah
langsung kepada para karyawannya;
b. Gaya partisipatif atau demokrasi, pemimpin denan gaya ini cenderung
mengasumsikan bahwa para anggota individu dari suatu kelompok yang
ambil bagian secara pribadi dalam proses pengambilan keputusan lebih
mungkinkan, sehingga mempunyai komitmen yang lebih besar pada sasaran
dan tujuan organisasi;
c. Gaya kendali bebas, pendekatan kendali bebas atau laissez faire, tidak berarti
tidk ada sama sekali pemimpin, ini hanya berarti tidak adanya pimpinan
langsung, pemimpin kendali bebas harus bekerja melalui tujuan organisasi.
Dengan pendekatan ini, tugas-tugas yang diberikan kepada para anggota yang
biasanya menetukan teknik-teknik mereka sendiri guna mencapai apa yang
menjadi tujuan organisasi.
Setelah kita memahami gaya kepemimpinan sebagaiman diuraikan di
atas, perlu diketahui pula tipe-tipe pemimpin. Gaya kepemimpinan seseorang
akan identik dengan tipe kepemimpinannya. Artinya, tipe dan gaya dapat
dipandang sebagai sinonim seperti pendapat Siagian (2003:31) yang membagi
beberapa tipe kepemimpinan sebagai berikut:
a. Tipe yang Otokratik, yaitu pemimpin yang bersifat egois yang cenderung
memberlakukan bawahan seperti peralatan atau mesin, mengabaikan peran
bawahan dalam mengambil suatu keputusan, dan memiliki orientasi
terhadap pelaksanaan/penyelesaian tugas tanpa memperhatikan kebutuhan
para bawahannya;
b. Tipe yang Paternalistik, yaitu kepemimpinan yang mengutamakan
kebersamaan dengan sikap kebapakan yang menyebabkan hubungan dengan
bawahan lebih bersifat informal;
c. Tipe yang Kharismatik, yaitu pemimpin yang memiliki daya tarik yang
sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya
sangat besar;
d. Tipe yang Laissez Faire, yaitu pemimpin yang cenderung memilih peranan
yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan dengan temponya sendiri
tanpa banyak mencampuri bagaimana organisasi harus berjalan dan
bergerak;
e. Tipe yang Demokraktik, yaitu pemimpin yang memposisikan dirinya
sebagai koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen
organisasi, dan sangat menghargai bawahannya.

Fungsi Kepemimpinan


Interaksi anatara pemimpin dan bawahannya dapat dilakukan dengan
cara partisifatif dan intruksi, dan cara berinteraksi yang dilakukan pimpinan
sangat tergantung pada cara pandang seseorang pemimpin terhadap
bawahannya. Dalam peranan kepemimpinan bagi peningkatan kinerja pegawai
maka fungsi kepemimpinan mempunyai peran yang sangat pentinga. Fungsi
tersebut menurut Nawawi (2003:46) adalah sebagai berikut:
a. Fungsi Instruksi
Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin
sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaannya
pada orang-orang yang dipimpin. Pemimpin sebagai komunikator
merupakan pihak yang menentukan ada (isi perintah), bagaimana (cara
mengerjakan perintah), bilamana (waktu mulai, melaksanakan dan
melaporkan hasilnya) dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar
keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Fungsi orang yang dipimpin
hanya sebagai melaksanakan perintah. Inisiatif tentang segala sesuatu yang
ada kaitannya dengan perintah itu sepenuhnya merupakan fungsi pimpinan.
Fungsi ini berarti juga keputusan yang ditetapkan pimpinan tidak
akan ada artinya tanpa kemampuan mewujudkan atau menterjemahkannya
menjadi instruksi atau erintah. Selanjutnya perintah tidak akan ada artinya
jika tidak dilaksanakan. Oleh karena itu sejalan dengan pengertian
kepemimpinan, intinya adalah kemampuan pimpinan menggerakkan orang
lain agar melaksanakan perintah, yang bersumber dari keputusan yang telah
ditetapkan.
b. Fungsi Konsultatif
Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi dua arah, meskipun
pelaksanaan sangat tergantung pada pihak pimpinan. Konsultasi itu dapat
dilakukannya secara terbatas hanya dengan orang-orang tertentu saja, yang
dinilainya mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukannya dalam
menetapkan keputusan.
Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusankeputusan pimpinan, akan mendapat dukungan dan lebih mudah
menginstruksikannya sehingga kepemimpinan berlangsung efektif. Fungsi
konsultatii ini mengharuskan pemimpin belajar menjadi pendengar yang
baik, yang biasanya tidak mudah melaksanakannya, mengingat pemimpin
libih banyak menjalankan peran sebagai pihak yang didengarkan.
c. Fungsi Partisipatif
Fungsi ini tidak sekedar berlangsung dan bersifat dua arah, tetapi
juga berwujud pelaksanaan hubungan manusia yang efektif, antara
pemimpin dengan dan sesama orang yang dipimpin. Dalam menjalankan
fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya,
baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam
melaksanaknnya. Setiap anggota kelompoknya memperoleh kesempatan
yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang
dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi dan jabatan masingmasing. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan
secara terkendal dan terarah berupa kerja sama dengan tidak mencampuri
atau mengambil tugas pokok orang lain.
d. Fungsi Delegatif
Fungsi ini dilakukan dengan memberikan pelimpahan wewenang
membuat atau menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun
tanpa persetujuan pimpinan. Fungsi ini mengharuskan pemimpin memilahmilah tugas pokok organisasinya mengevaluasi yang dapat dan tidak dapat
dilimpahkan pada orang-orang yang dipercayainya. Fungsi delegasi pada
dasarnya berarti keprcayaan. Pemimpin harus bersedia dan dapat
mempercayai orang-orang lain, sesuai dengan posisi/jabatannya, apabila
diberi/mendapat pelimpahan wewenang. Sedangkan penerima delegasi
harus mampu memelihara kepercayaan itu, dengan melaksanakannya secara
bertanggung jawab.
Fungsi pendelegasian harus diwujudkan seorang pemimpin karena
kemajuan dan perkembangan kelompok atau organisasinya tidak mungkin
diwujudkannya sendiri. Oleh karena itu sebagian wewenangnya perlu
didelegasikan pada para pembantunya, agar dapat dilaksanakan secara
efektif dan efisien.
e. Fungsi Pengendalian
Fungsi ini cenderung bersifat komunikasi satu arah, meskipun tidak
mustahil untuk dilakukan dengan cara komunikasi dua arah. Fungsi
pengendalian yang dimaksud bahwa pemimpin yang sukses/efektif mampu
mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang
efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara
maksimal. Dalam keiatan tersebut pemimpin harus aktif, namun tidak
mustahil untuk dilakukan dengan mengikutsertakan anggota
kelompok/organisasi. Fungsi pengendalian selanjutnya dapat dilaksanakan
melalui kegiatan pengawasan terhadap pelaksanaan volume dan beban kerja
atau perintah pimpinan.

Pengertian Kepemimpinan


Kepemimpinan merupakan faktor utama dalam kehidupan suatu
organisasi, karena diharapkan mampu memecahkan permasalahan yang
timbul. Pemimpin merupakan unsur esensial dari kepemimpinan, tanpa
pemimpin tidak ada kepemimpinan. Peranan pemimpin yang dominan itu
tampak lebih jelas lagi apabila dikaitkan dengan keharusan berintekrasi
dengan lingkungannya yang selalu berubah dan berkembang, antara lain
karena kemajuan peast yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Kartini Kartono (2008:14)
Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang ingin diraih
bergantung kepada kepemimpinannya, yaitu apakah kepemimpinan itu
mampu menggerakkan semua sumber daya manusia, sumber daya
alam, sarana, dana, dan waktu secara efekti-efisien serta dalam proses
manajemen. Karena itu, kepemimpinan merupakan inti dari
organisasi, manajemen, dan administrasi.
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi aktifitas
seseorang atau sekelompok orong untuk mencapai tujuan dalam situasi
tertentu. (Hersey & Blanchard, 1995:99). Sejalan dengan hal tersebut, Terry
dalam Hersey & Blanchard (1997:98) menyatakan kepemimpinan sebagai
aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk berusaha mencapai tujuan
kelompok secara sukarela.
Sementara Siagian (1995:24), mengartikan kepemimpinan sebagai
kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai
pemimpin satuan kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain terutama
bawahannya, untuk berfikir ia memberikan sumbangsih nyata dalam
pencapaian tujuan organisasi.
Pemimpin pada hakekatnya adalah seseorang yang mempunyai
kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, artinya kepemimpinan
terjadi jika ada pemimpin mempengaruhi pengikutnya. Sedangkan
kepemimpinan adalah suatu proses interaksi sosial diantara sosok yang
berperan sebagai pemimpin yang mampu mempengaruhi orang lain yang
berkedudukan sebagai pengikut atau pihak yang dipimpin untuk melakukan
sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan didefinisikan
sebagai kemauan untuk mempengaruhi sesuatu kelompok ke arah pencapaian
tujuan.
Menurut Yulk (1987) seperti dikutip oleh Usman (2008:273), beberapa
definisi yang dianggap cukup mewakili selama seperampat abad adalah
sebagai berikut:

Para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten meberikan
kontribusi yang afektif terhadap orde sosial, serta yang diharapkan dan
dipersiapkan melakukannya.

Kepemimpinan adalah perilaku dari seseorang individu yang memimpin
aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai
bersama (shared goald);

Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu
situasi sistem tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi kearah
pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu;

Kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur
dalam harapan dan intekrasi;

Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit, pada
dan beberapa di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan
rutin organisasi;

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah
kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan;

Kepemimpinan adalah sebuah proses memberikan arti (pengarahan yang
berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk
melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran;

Indikator Kinerja


Menurut (Afandi, 2018:89) indikator-indikator kinerja pegawai adalah sebagai berikut :
a) Kuantitas hasil kerja
Segala macam bentuk satuan ukuran yang berhubungan dengan jumlah hasil kerja
yang bisa dinyatakan dalam ukuran angka atau padanan angka lainnya.
b) Kualitas hasil kerja
Segala macam bentuk satuan ukuran yang berhubungan dengan kualitas atau mutu
hasil kerja yang dapat dinyatakan dalam ukuran angka atau padanan angka lainnya.
c) Efesiensi dalam melaksanakan tugas
Berbagai sumber daya secara bijaksana dan dengan cara yang hemat biaya.
d) Inisiatif
Kemampuan untuk memutuskan dan melakukan sesuatu yang benar tanpa harus
diberi tahu, mampu menemukan apa yang seharusnya dikerjakan terhadap sesuatu
yang ada di sekitar, berusaha untuk terus bergerak untuk melakukan beberapa hal
walau keadaan terasa semakin sulit.
e) Ketelitian
Tingkat kesesuaian hasil pengukuran kerja apakah kerja itu udah mencapai tujuan
apa belum.

Faktor-Faktor Penilaian Kinerja


Menurut (Mangkunegara, 2015:67) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah :
a. Faktor kemampuan Secara psikologis kemampuan dan kemampuan reality artinya
pegawai dengan IQ di atas rata-rata (110-120) dengan pendidikan yang memadai
untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka akan
lebih mudah mencapai kinerja diharapkan. Oleh karena itu pegawai perlu
ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
b. Faktor motivasi Motivasi berbentuk sikap seorang pegawai dalam menghadapi
situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai terarah
untuk mencapai tujuan kerja

Pengertian Kinerja Karyawan


Menurut (Afandi, 2018:83) Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang
atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab
masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan organisasi secara illegal, tidak melanggar
hukum dan tidak bertentangan dengan moral dan etika. Sedangkan menurut (Kasmir,
2016:182) menyebutkan: “Kinerja merupakan hasil kerja dan perilaku kerja yang telah
dicapai dalam menyelesaikan tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam suatu
periode tertentu. Kinerja merupakan gambaran prestasi yang dicapai perusahaan dalam
kegiatan operasionalnya baik menyangkut aspek pemasaran, aspek penghimpunan dana dan
penyaluran dana, aspek teknologi, maupun aspek sumber daya manusianya (Jumingan,
2016:239).

Jenis-jenis Komitmen Organisasi


Adapun Beberapa jenis Komitmen Organisasional (Robbins Dan Judge, 2008), Yaitu:
a. Komitmen Afektif
Komitmen afektif memiliki perasaan emosional untuk organisasi dan
keyakinan dalam nilai-nilainya. Seseorang yang memiliki komitmen afektif
menunjukkan tingkat dimana tujuan individu dan nilai menyatu dengan organisasi
yang diperkirakan secara langsung mempengaruhi keinginan individu untuk tetap
tinggal dalam organisasi, sehingga karyawan yang masih bergabung dengan
organisasi karena memiliki keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi
dapat dikatakan memiliki afektif yang tinggi. Komitmen afektif berkaitan dengan:

  1. Emosional Komitmen afektif menyatakan bahwa organisasi akan membuat
    karyawan memiliki keyakinan yang kuat untuk mengikuti segala nilai-nilai
    organisasi, dan berusaha unutk mewujudkan tujuan organisasi sebagai
    prioritas utama.
  2. Identifikasi Komitmen afektif muncul karena kebutuhan, dan memandang
    bahwa komitmen terjadi karena adanya ketergantungan terhadap aktivitasaktivitas yang telah dilakukan dalam organisasi pada masa lalu dan hal ini
    tidak dapat ditinggalkan karena akan merugikan.
  3. Keterlibatan karyawan dalam organisasional
    b. Komitmen Continuance
    Seseorang yang memiliki komitmen continuance akan bertahan apabila merasa
    adanya nilai ekonomi ketika bertahan di organisasi bila dibandingkan dengan
    meninggalkan organisasi tersebut. Sehingga, seorang karyawan akan
    berkomitmen pada organisasi apabila adanya kompensasi yang tinggi dan
    apabila mengundurkan diri akan menghancurkan keluarganya. Karyawan
    dengan dasar organisasional tersebut disebabkan karena karyawan tersebut
    membutuhkan organisasi.
  4. Kerugian bila meninggalkan organisasi Komitmen berkelanjutan merujuk pada
    kekuatan kecenderungan seseorang untuk tetap bekerja di suatu organisasi
    karena tidak ada alternatif lain. Komitmen berkelanjutan yang tinggi meliputi
    waktu dan usaha yang dilakukan dalam mendapatkan keterampilan yang tidak
    dapat ditransfer dan hilangnya manfaat yang menarik atau hak-hak istimewa
    sebagai senior.
  5. Karyawan membutuhkan organisasi karyawan yang tetap bekerja dalam
    organisasi karena karyawan mengakumulasikan manfaat yang lebih yang akan
    mencegah karyawan mencari pekerjaan lain.
    c. Komitmen Normatif
    Seseorang yang memiliki komitmen normatif merasa mempunyai
    kewajiban untuk bertahan dalam organisasi karena alasan moral atau etis.
    omponen normatif berkembang sebagai hasil dari pengalaman sosialisasi,
    tergantung dari sejauh apa perasaan kewajiban yang dimiliki karyawan.
  6. Kesetiaan yang harus diberikan karena pengaruh orang lain Komitmen yang
    terjadi apabila karyawan terus bekerja untuk organisasi disebabkan oleh
    tekanan dari pihak lain untuk terus bekerja dalam organisasi tersebut.
    Karyawan yang mempunyai tahap komitmen normatif yang tinggi sangat
    mementingkan pandangan orang lain terhadap dirinya jika karyawan
    meninggalkan organisasi
  7. Kewajiban yang harus diberikan kepada organisasi
    komitmen ini mengacu kepada refleksi perasaan akan kewajibanya untuk
    menjadi karyawan perusahaan. Karyawan dengan komitmen normatif yang
    tinggi merasa bahwa karyawan tersebut memang seharusnya tetap bekerja pada
    organisasi tempat bekerja sekarang. Dengan kata lain komitmen yang ada dalam
    diri karyawan desebabkan oleh kewajiban-kewajiban pekerjaan karyawan
    terhadap organisasi. (Dwiarta, 2010, p.27)

Indikator Komitmen Organisasi


(Kaswan, 2015:127), ada empat indikator perilaku umum dari komitmen organisasi,
yaitu:
1.Ada kerelaan untuk membantu kolega menyelesaikan tugas-tugas organisasi.

  1. Menyatukan aktivitas dan prioritas yang dimiliki untuk mencapai tujuan-tujuan
    organisasi yang lebih besar.
  2. Memahami kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang lebih besar.
  3. Memilih kebutuhan-kebutuhan organisasi yang pantas daripada mengikuti beberapa
    minat profesional.
  4. keinginan untuk bekerja keras

Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi


Faktor Faktor yang mempengaruhi Komitmen Organisasi (Steers dan Porters, 2015)
berpendapat bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi komitmen
karyawan pada organisasi. Faktor- faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat
kategori, yaitu:
1) Karakteristik pribadi yang berkaitan dengan usia dan masa kerja, tingkat pendidikan,
status perkawinan, dan jenis kelamin.
2) Karakteristik pekerjaan yang berkaitan dengan peran, self employment, otonomi, jam
kerja, tantangan dalam pekerjaan, serta tingkat kesulitan dalam pekerjaan.
3) Pengalaman kerja dipandang sebagai suatu kekuatan sosialisasi utama yang
mempunyai pengaruh penting dalam pembentukan ikatan psikologi dengan
organisasi.
4) Karakteristik struktural yang meliputi kemajuan karier dan peluang promosi, besar
atau kecilnya organisasi, dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi
terhadap karyawan.

Pengertian Komitmen Organisasi


Menurut (Luthans, 2012:249), komitmen organisasi ialah kemauan karyawan untuk tetap
menjadi anggota atau bagian dalam organisasi perusahaan itu sendiri, dan keinginan berkarir
dalam mengeksplorisasi kemampuan untuk mencapai tujuan perusahaan. (Robbins dan
Judge, 2011) mendefinisikan Komitmen Organisasi sebagai suatu keadaan karyawan
memihak kepada perusahaan tertentu dan tujuan tujuannya, serta berniat memelihara
keanggotaannya dalam perusahaan itu. Dengan kata lain, komitmen organisasional
berkaitan dengan keinginan karyawan yang tinggi untuk berbagi dan berkorban bagi
perusahaan.Komitmen organisasi adalah hal yang berharga untuk seluruh organisasi, dan
bukan hanya untuk pekerjaan, maupun kelompok kerja. Komitmen karyawan sendiri
bersifat relatif dari individu dalam mengidentifikasikan keterlibatan dirinya ke dalam bagian
organisasi itu sendiri (Lambert, 2015)

Teori-teori Motivasi

  1. Teori Hierarki Kebutuhan Manusia Menurut Maslow
    Maslow menganggap bahwa kebutuhan yang paling rendah harus dipenuhi dahulu
    baru kemudian kebutuhan menengah hingga yang paling tinggi. Teori motivasi
    menurut abraham maslow motivasi perkembangan ini berdasarkan pada kapasitas
    manusia untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan motivasi kekurangan bertujuan
    untuk mengatasi kekurangan kebutuhan manusia. Berikut hierarki kebutuhan manusia
    menurut Maslow.
    a. Kebutuhan Fisioligis
    Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling dasar bagi manusia dan
    berhubungan dengan kebutuhan fisik. Contohnya, kebutuhan makan, minum, bernapas,
    tidur dan yang berkaitan dengan kebutuhan fisik lainnya. Kebutuhan fisiologis harus
    terpenuhi terlebih dahulu. Jika sudah terpenuhi maka akan melakukan pemenuhan
    kebutuhan selanjutnya. Jika manusia lapar dan kemudian makan dan setelah kenyang
    barulah manusia bisa melakukan aktivitas lainnya.
    b. Kebutuhan Rasa Aman dan Perlindungan
    Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi maka selanjutnya pemenuhan kebutuhan rasa
    aman dan terlindungi. Rasa aman dari teror, penyakit, cemas, takut, bencana alam.
    Menurut Maslow orang-orang yang tidak merasa aman memiliki tingkah laku berbeda.
    Mereka akan bertingkah laku seperti ketakutan yang berlebihan atau seolah-olah ada
    ancaman besar yang menghantuinya.
    c. Kebutuhan Sosialisasi
    Kebutuhan sosial merupakan kebutuhan yang menempati posisi ketiga dari hierarki
    Maslow. Kebutuhan sosial ini meliputi kebutuhan kasih sayang, rasa memiliki,
    bersosialisasi, penerimaan dan persahabatan. Manusia sejati artinya mahkluk sosial,
    tidak mengherankan jika manusia membutuhkan sosialisasi dalam menjalani hidupnya.
    d. Kebutuhan Akan Harga Diri atau Penghargaan
    Menurut Maslow kebutuhan akan penghargaan ini terbagi menjadi dua tingkatan.
    Pertama tingkatan rendah yaitu kebutuhan untuk menghormati orang lain, kebutuhan
    akan ketenaran, status, reputasi, apresiasi, martabat. Kedua yaitu kebutuhan tingkat
    tinggi, seperti kebutuhan harga diri seperti keyakinan, kompetensi, prestasi, perasaan,
    kemandirian dan kebebasan. Apabila kebutuhan ini sudah terpenuhi maka kemudian
    akan memenuhi kebutuhan tingkat selanjutnya.
    e. Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri
    Kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan tingkatan kebutuhan paling tinggi.
    Kebutuhan ini yaitu adanya keinginan terus menerus untuk mencapai keterampilan atau
    potensi diri. Menurut Maslow manusia akan melibatkan diri untuk mengasah dan
    mengembangkan potensinya sesuai dengan minatnya.

Indikator Motivasi Kerja


Menurut (Siagian 2008:138), terdapat 5 indikator motivasi kerja yang terdiri dari :
a) Daya Pendorong
Daya pendorong adalah semacam naluri, yang berupa suatu dorongan kekuatan untuk
menggerakkan seseorang dalam berperilaku guna mencapai tujuan. Namun, cara-cara
yang digunakan berbeda-beda dari tiap-tiap individu menurut latar belakang
kebudayaannya masing-masing.
b) Kemauan
Kemauan adalahdorongan untuk melakukan sesuatu karena terstimulasi/terpengaruh dari
luar (orang lain atau lingkungan). Kemauan mengindikasikan adanya reaksi tertentu
sebagai akibat adanya tawaran dari orang lain.
c) Kerelaan
Kerelaan adalah suatu bentuk persetujuan atas permintaan orang lain agar dirinya
mengabulkan permintaan tersebut tanpa merasa adanya keterpaksaan (ikhlas).
d) Membentuk Keahlian
Membentuk keahlian adalah proses penciptaan atau pembetukkan, proses mengubah
kemahiran seseorang dalam suatu bidang ilmu tertentu.
e) Membentuk Keterampilan
Keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam melakukan pola-pola tingkah laku
yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk
mencapai hasil/prestasi tertentu. Membentuk keterampilan bukan hanya mencakup
gerakan motoriknya saja, melainkan juga pada penguasaan fungsi mental yang bersifat
kognitif

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi


Menurut (Siagian 2010:294) terdapat dua faktor yang mempengaruhi motivasi sebagai
berikut:
a) Faktor di dalam diri individu

  1. Persepsi seseorang mengenai diri sendiri
  2. Harga diri
  3. Harapan pribadi
  4. Kebutuhan
  5. Keinginan
  6. Kepuasan kerja
  7. Prestasi kerja yang dihasilkan
    b) Faktor di luar diri individu
  8. Jenis dan sifat pekerjaan
  9. Kelompok kerja dimana seseorang bergabung
  10. Organisasi tempat orang bekerja
  11. Situasi lingkungan kerja

Tujuan Motivasi


Menurut (Hasibuan, 2010:97) motivasi memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan
  2. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
  3. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
  4. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan
  5. Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan
  6. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
  7. Meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan
  8. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
  9. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya
  10. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku
  11. Meningkatkan kinerja karyawan.

Pengertian Motivasi


(Rivai dan Sagala, 2010:837) motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai-nilai yang
mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu.
(Mangkunegara, 2005:61) menyatakan bahwa motivasi terbentuk dari sikap karyawan dalam
menghadapi situasi kerja di perusahaan. Motivasi merupakan kondisi atau energi yang
menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi
perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positif terhadap situasi kerja itulah yang
memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja maksimal. (Robbins, 2006:241)
mengemukakan bahwa motivasi adalah keinginan untuk melakukan sebagai kesediaan untuk
mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan-tujuan organisasi, yang dikondisikan
oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan individual.

Indikator Gaya Kepemimpinan


Indikator Gaya Kepemimpinan menurut (Irwanto, 2012) ada beberapa indikator Gaya
kepemimpinan yaitu :

Hubungan yang bersifat formal dan informal terhadap karyawan

karyawan untuk mematuhi prosedur dan standar kerja.

Melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan.

Dapat menerima kritik dan saran.

Peduli terhadap kehidupan pribadi karyawan.

Fungsi-fungsi Gaya Kepemimpinan


Menurut (Baharuddin dan Umiarso, 2012), terdapat lima fungsi pokok gaya
kepemimpinan, sebagai berikut:
a. Fungsi Instruktif
Pemimpin sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaannya
pada orang-orang yang dipimpin. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak
yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), kapan
(waktu memulai, melaksanakan, dan melaporkan hasilnya), dan di mana (tempat
mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif.
b. Fungsi Konsultatif
Pemimpin kerap kali memerlukan bahan pertimbangan yang mengharuskannya
berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Konsultasi dapat pula
dilakukan melalui arus sebaliknya, yakni dari orang-orang yang dipimpin kepada
pemimpin yang menetapkan keputusan dan memerintahkan pelaksanaannya. Hal ini
berarti fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi dua arah, meskipun
pelaksanaannya sangat tergantung pada pihak pemimpin.
c. Fungsi Partisipatif
Fungsi ini berarti kesediaan pemimpin untuk tidak berpangku tangan pada saat-saat
orang yang dipimpin melaksanakan keputusannya. Pemimpin tidak boleh sekedar
mampu membuat keputusan dan memerintahkan pelaksanaannya, tetapi juga ikut
dalam proses pelaksanaannya, dalam batas-batas tidak menggeser dan mengganti
petugas yang bertanggung jawab melaksanakannya.
d. Fungsi Delegatif
Fungsi ini mengharuskan pemimpin memilah-milah tugas pokok organisasinya dan
mengevaluasi yang dapat dan tidak dapat dilimpahkan kepada orang-orang yang
dipercayainya. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan. Pemimpin harus
bersedia dan dapat mempercayai orang lain sesuai dengan posisi/jabatannya.
e. Fungsi Pengendalian
Pemimpin mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam
koordinasi

Unsur-unsur Gaya Kepemimpinan


Menurut (Vietzal, 2013), terdapat unsur gaya kepemimpinan sebagai berikut:

  1. Pengaruh. Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang yang
    mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pimpinan. Pengaruh itu
    menjadikan sang pemimpin diikuti dan membuat orang ain tunduk pada apa yang
    dikatakan sang pemimpin.
  2. Kekuasaan/power. Seorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain karena ia
    memiliki kekuasaan yang membuat orang lain menghargai keberadaannya. Tanpa
    kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki sang pemimpin tentunya tidak ada orang yang
    mau menjadi pendukungnya. Kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki seorang pemimpin
    ini menjadikan orang lain akan tergantung pada apa yang dimiliki seorang pemimpin,
    tanpa itu ia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Hubungan ini menjadikan hubungan yang
    bersifat simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak merasa saling diuntungkan.
  3. Wewenang. Wewenang adalah hak yang diberikan kepada pemimpin untuk
    menetapkan sebuah keputusan dalam melaksanakan suatu hal/kebijakan. Wewenang
    disini juga dapat dialihkan kepada karyawan oleh pimpinan apabila pemimpin percaya
    bahwa karyawan tersebut mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan
    baik, sehingga karyawan diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanpa perlu campur
    tangan dari segi sang pemimpin.
    Pengikut. Seorang pemimpin yang memiliki pengaruh, kekuasaan dan wewenang tidak
    dapat dikatakan sebagai pemimpin apabila dia tidak memiliki pengikut yang berada di
    belakangnya yang memberi dukungan mengikuti apa yang dikatakan pemimpin.

Pengertian Gaya Kepemimpinan


(Baharudin dan Umiarso, 2012) mengemukakan gaya kepemimpinan adalah suatu
kegiatan mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerja sama (mengolaborasi dan
mengolaborasikan potensinya) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Gaya
kepemimpinan adalah perilaku di mana seseorang dapat memberikan motivasi kepada orang
lain agar mau bekerja keras untuk mencapai tujuan sebuah perusahaan atau organisasi.
Kepemimpinan merupakan jenis kemampuan yang dimiliki seseorang untuk dapat
mempengaruhi orang lain agar mau bekerja keras untuk mencapai tujuan tertentu.
Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang
lain agar mau bekerja mencapai tujuan dan saran (Hasibuan dan Sudjiman, 2009).
Berhasil ataupun tidaknya seorang pemimpin memberikan motivasi kepada sumber
daya manusia (SDM) untuk meningkatkan efektivitas kinerja yang dicapai perusahaan
bergantung pada besar kecilnya perhatian yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan yang memberikan semangat dan doronganya bagi bawahan agar menjadi lebih bergairah dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh perusahaan
(Sudarmayanti,2007; Fuad et al., 2017).

Gaya Kepemimpinan


Kepemimpinan merupakan tulang punggung bagi pengembangan organisasi. Hal
ini dikarenakan bahwa tanpa ada kepemimpinan yang baik, maka akan sulit mencapai
tujuan perusahaan yang telah ditetapkan. Jika seorang pemimpin berusaha untuk
mempengaruhi perilaku orang lain, maka orang tersebut perlu memikirkan gaya
kepemimpinan yang akan digunakannya. Menurut Pawirosumarto dalam Pranogyo &
Hendro (2023:173) Gaya kepemimpinan yakni kode etik yang dipergunakan seorang
ketika mencoba menghipnotis sikap orang lain, dengan seluruh pemimpin memiliki pola
stimulus yang tidak sinkron dan mengarahkan pengikutnya. Gaya manajemen dapat
mencoba buat mengarahkan atau menghipnotis orang lain menggunakan secara efektif
dan efisien memobilisasi sumber daya yang tersedia pada semua cara manajemen buat
mencapai sasaran yang diinginkan. Menurut Effendy dalam Pranogyo & Hendro
(2023:173) gaya kepemimpinan adalah kemampuan untuk menyampaikan dampak
konstruktif pada orang lain, atau kemampuan bekerjasama untuk mencapai tujuan yang
direncanakan.
Menurut Rakhma, dkk (2022:43) gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku
yang dirancang sedemikian rupa untuk mempengaruhi bawahannya agar dapat
memaksimalkan kinerja yang dimiliki bawahannya sehingga kinerja organisasi dan
tujuan organisasi dapat dimaksimalkan serta memotivasi karyawan sehingga diharapkan
akan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Gaya kepemimpinan (leadership style)
seorang pemimpin akan sangat berpengaruh pada kinerja karyawan atau bawahan.
Pemimpin harus dapat memilih gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang ada, jika
gaya kepemimpinan yang diterapkan benar dan tepat maka akan dapat mengarahkan
pencapaian tujuan organisasi maupun perorangan. Sebaliknya jika gaya kepemimpinan
yang dipilih salah dan tidak sesuai dengan situasi yang ada maka akan dapat
mengakibatkan sulitnya pencapaian tujuan organisasi
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan pada
dasarnya adalah gaya untuk mempengaruhi, membujuk seseorang atau bawahannya
untuk mencapai suatu tujuan bersama dalam suatu organisasi. Menurut Feriyanto &
Triana dalam Erri (2021:42) jenis-jenis gaya kepemimpinan tersebut adalah sebagai
berikut :
1) Gaya kepemimpinan otoriter
Gaya kepemimpinan ini menghimpun sejumlah perilaku atau gaya kepemimpinan
yang bersifat terpusat pada pemimpin sebagai satu-satunya penentu, penguasa dan
pengendali anggota organisasi dan kegiatannya dalam usaha mencapai tujuan
organisasi.
2) Gaya kepemimpinan demokratis
Gaya kepemimpinan yang menempatkan manusia sebagai faktor pendukung
terpenting dalam kepemimpinan yang dilakukan berdasarkan dan mengutamakan
orientasi pada hubungan dengan anggota organisasi
3) Gaya kepemimpinan bebas
Gaya kepemimpinan ini pada dasarnya berpandangan bahwa anggota organisasi
mampu mandiri dalam membuat keputusan atau mampu mengurus dirinya masingmasing, dengan sedikit mungkin pengarahan atau pemberian petunjuk dalam
merealisasikan tugas pokok masing-masing sebagai bagian dari tugas pokok
organisasi.
Menurut Robbins dalam Herawati & Ranteallo (2020:5) Terdapat empat macam gaya
kepemimpinan, sebagai berikut :
1) Gaya kepemimpinan Kharismatik
Para Pengikut terpacu kemampuan kepemimpinan yang heroik atau yang luar biasa
ketika mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu pimpinan mereka
2) Gaya kepemimpinan Transaksional
Pemimpin transaksional merupakan pemimpin yang memandu atau memotivasi para
pengikut mereka menuju sasaran yang ditetapkan dengan memperjelas persyaratan
peran dan tugas. Gaya kepemimpinan transaksional lebih berfokus pada hubungan
pemimpin-bawahan tanpa adanya usaha untuk menciptakan perubahan bagi
bawahannya.
3) Gaya Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin transformasional mencurahkan perhatian pada hal-hal dan kebutuhan
pengembangan masing-masing pengikut.Pemimpin transformasional mengubah
kesadaran para pengikut akan persoalan-persoalan dengan membantu mereka
memandang masalah lama dengan cara-cara baru, dan mereka mampu
menggairahkan, membangkitkan, dan mengilhami para pengikut untuk mengeluarkan
upaya ekstra demi mencapai sasaran kelompok.
4) Gaya Kepemimpinan Visioner
Kemampuan menciptakan dan mengartikulasikan visi yang realistis, kredibel dan
menarik mengenai masa depan perusahaan yang tengah tumbuh dan membaik. Visi
ini jika diseleksi dan diimplementasikan secara tepat mempunyai kekuatan besar yang
bisa membangkitkan keterampilan, bakat, dan sumberdaya untuk mewujudkan tujuan
perusahaan

Pengertian Kepemimpinan


Kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dalam manajemen
organisasi. Kepemimpinan dibutuhkan manusia karena adanya keterbatasan- keterbatasan
tertentu pada diri manusia. Faktor kepemimpinan memegang peranan yang penting karena
pemimpin itulah yang menggerakan dan mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan.
Kepemimpinan didefinisikan ke dalam ciri-ciri individual, kebiasaan, cara
mempengaruhi orang lain, interaksi, kedudukan dalam organisasi dan persepsi mengenai
pengaruh yang sah. Menurut Daft dalam Zahratulfarhah, dkk (2022:120) kepemimpinan
dan pengaruh adalah hubungan antara pemimpin dan pengikut yang menginginkan
perubahan nyata dan hasil yang mencerminkan tujuan bersama mereka. Artinya,
kepemimpinan adalah upaya untuk mempengaruhi hubungan antara pemimpin dan
pengikut yang menginginkan perubahan dan hasil nyata yang mencerminkan tujuan
bersama mereka. Yulk dalam Zahratulfarhah, dkk (2022:120) menyatakan bahwa
kepemimpinan adalah proses di mana orang lain memahami dan menyetujui apa yang
perlu dilakukan dan bagaimana melakukan tugas secara efektif, serta proses yang
memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut George R. Terry dalam Nadila (2022) menjelaskan “kepemimpinan
adalah keseluruhan aktivitas atau kegiatan orang lain untuk mempengaruhi kemauan
orang lain untuk mencapai tujuan bersama”. Definisi kepemimpinan secara luas adalah
meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku
pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa peristiwa
para pengikutnya, memelihara hubungan kerjasama dan kerja kelompok, perolehan
dukungan dan kerjasama dari orang-orang di luar kelompok atau organisasi. Dari definisidefinisi di atas, terlihat bahwa kepemimpinan adalah bagian penting dari manajemen,
dimana seorang pemimpin harus dapat menciptakan integrasi yang serasi dengan para
bawahannya juga termasuk dalam membina kerjasama, mengarahkan dan mendorong
gairah kerja para bawahan, mempengaruhi, dan memberikan sikap serta perilaku individu
dan kelompok, sehingga membentuk gaya kepemimpinan yang pimpinan tetapkan

Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia (MSDM) adalah proses menangani berbagai
masalah pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya
untuk dapat menunjang aktivitas organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan yang
telah ditentukan. Oleh karena itu, Manajer harus menjamin bahwa perusahaan atau suatu
organisasi memiliki tenaga kerja yang tepat di tempat yang tepat dan pada saat yang tepat,
yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang akan menolong
perusahaan tersebut mencapai sasaran sasaran secara keseluruhan secara efektif dan
efisien (Nadila, 2022:8 ).
Menurut Sunyoto dalam Neneng (2022:17) menyatakan bahwa sumber daya
manusia adalah potensi manusiawi yang melekat keberadaannya pada seseorang yang
meliputi potensi fisik dan non-fisik. Potensi fisik adalah kemampuan fisik yang
terakumulasi pada seorang pegawai, sedangkan potensi non-fisik adalah kemampuan
seorang pegawai yang terakumulasi baik dari latar belakang pengetahuan, intelegensia,
keahlian, keterampilan, human relation. Terry & Leslie dalam Wiguna (2022) kegiatan
pengelolaan sumber daya manusia di dalam suatu organisasi dapat diklasifikasikan ke
dalam beberapa fungsi, yaitu:
1) Fungsi Perencanaan (Planning)
Merupakan fungsi penetapan program-program pengelolaan sumber daya manusia
yang akan membantu pencapaian tujuan perusahaan.
2) Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
Merupakan fungsi penyusunan dan pembentukan suatu organisasi dengan mendesain
struktur dan hubungan antar para pekerja dan tugas – tugas yang harus dikerjakan,
termasuk menetapkan pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab.
3) Fungsi Pengarahan (Directing)
Merupakan fungsi pemberian dorongan pada para pekerja agar dapat dan mampu
bekerja secara efektif dan efisien sesuai tujuan yang telah direncanakan.
10
4) Fungsi Pengendalian (Controlling)
Merupakan fungsi pengukuran, pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatankegiatan yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana rencana yang telah
ditetapkan, khususnya di bidang tenaga kerja telah dicapai.

Aspek Motivasi Kerja


Terdapat beberapa aspek motivasi kerja yaitu sebagai berikut (Adha
et al., 2019):
a. Kebutuhan fisik
Kebutuhan fisik merupakan kebutuhan terkait dengan fasilitas penunjang
yang bisa diperoleh selama di tempat kerja, contohnya yaitu fasilitas
terkait dengan penyelesaian tugas dikantor.
b. Kebutuhan rasa aman
Kebutuhan rasa aman merupakan kebutuhan yang terkait dengan rasa
aman fisik, ketergantungan, perlindungan serta kebebasan dari hal-hal
yang mengancam sehingga beresiko munculnya rasa takut, cemas dan
bahaya.
c. Kebutuhan sosial
Kebutuhan sosial merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi
berdasarkan kepentingan bersama didalam masyarakat, yang mana harus
terpenuhi bersama-sama, contohnya interaksi yang baik antar sesama.
d. Kebutuhan akan penghargaan
Kebutuhan akan penghargaan merupakan kebutuhan atas apa yang sudah
dicapai oleh seseorang, contohnya kebutuhan akan status, perhatian dan
reputasi.
e. Kebutuhan dorongan mencapai tujuan (aktualisasi diri)
Kebutuhan ini terkait dengan hal-hal yang diinginkan, misalnya motivasi
dari pimpinan.

Faktor Motivasi Kerja


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi seberapa baik motivasi
bekerja, khususnya faktor intrinsik seperti usia, minat, jenis kelamin, dan
sikap positif. Sedangkan faktor ekstrinsik adalah hal-hal seperti gaji dan
tunjangan, stabilitas kerja, kehormatan dan pengakuan, keadilan dalam
perlakuan, gaya kepemimpinan, pendidikan, masa kerja, dan lingkungan
kerja (Pitasari & Prihandhani, 2017). Selain itu juga, terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi motivasi kerja diantaranya sebagai berikut
(Andjarwati, 2015):
a. Hygiene factors, diantaranya faktor gaji, kondisi kerja, jaminan kerja,
kehidupan pribadi, kualitas supervisi, hubungan personal, kebijaksanaan
dan administrasi perusahaan.
b. Motivation factors, meliputi isi pekerjaan mencakup keberhasilan,
pekerjaan yang menantang, pengakuan, peningkatan dan pertumbuhan
dalam pekerjaan.

Gaya Kepemimpinan


Beberapa gaya kepemimpinan dalam sebuah organisasi yaitu sebagai
berikut :
a. Transformasional
Kepemimpinan transformasional (transformational leadership)
berdasarkan prinsip pengembangan bawahan (follower development).
gaya kepemimpinan transformasional mampu menyatukan seluruh
bawahannya dan mampu mengubah keyakinan (beliefs), sikap, dan
tujuan pribadi masing-masing bawahan demi mencapai tujuan, bahkan
melampaui tujuan yang ditetapkan oleh organisasi. Dimensi gaya
kepemimpinan transformasional meliputi karisma / pengaruh ideal,
motivasi inspirasi, pengembangan intelektual, dan perhatian pribadi.
Seorang pemimpin transformasional akan mengevaluasi kemampuan dan
potensi masing-masing bawahan untuk menjalankan suatu tugas atau
pekerjaan, sekaligus melihat kemungkinan untuk memperluas tanggung
jawab dan kewenangan bawahan di masa yang akan dating (Arif et al.,
2024).
b. Transaksional
Kepemimpinan transaksional mendasarkan diri pada prinsip pertukaran.
Gaya kepemimpinan transaksional akan menciptakan hubungan
mutualisme dan kontribusi kedua belah pihak akan memperoleh imbalan
(reward). Praktik gaya kepemimpinan transaksional sangat banyak
ditemui dalam kehidupan sehari-hari, sehingga berkembang menjadi
suatu paradigma praktek kepemimpinan dalam organisasi. Dimensi gaya
kepemimpinan transaksional meliputi contingent reward dan
management by exception. Seorang pemimpin transaksional akan
memusatkan pada pencapaian tujuan atau sasaran, namun tidak berupaya
mengembangkan tanggung jawab, wewenang dan kemajuan bawahan
(Arif et al., 2024).
c. Bebas tindak atau Laissez Faire
Gaya kepemimpinan ini dicirakan dengan bawahan yang memutuskan
aktivitasnya sendiri di bawah kepemimpinan atasan tanpa pengawasan
atau koordinasi. Pekerjaan dinilai oleh bawahan dengan caranya masing-
masing. Pemimpin hanya sebagai sumber informasi dan minim kontrol
Gaya kepemimpinan ini menggambarkan bawahan diberikan kebebasan
dan wewenang untuk menetapkan tujuan mereka sendiri, dengan sedikit
atau tanpa arahan dari pemimpin (Otieno & Njoroge, 2019)

Pengertian Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah kumpulan sifat-sifat yang mereka
gunakan untuk membujuk pengikutnya agar mencapai tujuan organisasi.
Dengan kata lain, perilaku dan metode yang disukai dan sering digunakan
seorang pemimpin disebut sebagai gaya kepemimpinannya (Alimudin &
Sukoco, 2017). Gaya kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai pola
perilaku dan strategi pilihan yang digunakan pemimpin untuk membujuk
bawahan agar mencapai tujuan perusahaan (Rivai, 2014). Gaya
kepemimpinan merupakan cara pemimpin mempengaruhi bawahan agar
mau bekerja sama dan produktif untuk mencapai tujuan organisasi
(Hasibuan, 2014).
Kemampuan seorang pemimpin dalam membujuk bawahannya untuk
secara sukarela melaksanakan berbagai tindakan bersama yang diminta
tanpa membuat mereka merasa tertekan disebut dengan gaya
kepemimpinannya (Busro, 2018). Gaya kepemimpinan seorang pemimpin
terdiri dari berbagai sifat, perilaku, dan karakteristik yang mereka gunakan
untuk berkomunikasi dengan anggota timnya. Gaya kepemimpinan
dipandang sebagai pola perilaku manajerial yang memadukan kepentingan
pribadi dan organisasi untuk mencapai tujuan tertentu (Al Khajeh, 2018)

Pengaruh Disiplin Kerja terhadap Kinerja Pegawai


Hasil penelitian menunjukkan bahwa disiplin kerja berpengaruh secara
signifikan terhadap kinerja pegawai. Menurut Eko Santoso (2006) meneliti
tentang hubungan antara disiplin kerja pada pegawai di Bank Central Asia Kudus,
berpengaruh positif dan ignifikan terhadap kinerja pegawai. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa disiplin kerja berpengaruh signifikan yang terbukti dengan
nilai ßê= 0,296 yang dapat diartikan bahwa jika disiplin meningkat maka kinerja
karyawan meningkat positif. Disiplin kerja yang diukur dengan menggunakan
Perlengkapan kerja yang memadai, tersedianya sarana tempat ibadah, Kondisi
kerja yang mendukung dan kerjasama antar pegawai. Beberapa teori menjelaskan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan diantara variabel disiplin dan kinerja,
semakin tinggi disiplin kerja seseorang maka akan semakin tinggi pula kinerja
orang tersebut. Kedisiplinan harus ditegakkan dalam suatu organisasi perusahaan.
Tanpa dukungan disiplin karyawan yang baik, sulit bagi perusahaan untuk
mewujudkan tujuannya. Jadi kedisiplinan adalah kunci keberhasilan suatu
perusahaan dalam mencapai tujuannya, (Hasibuan, 2012). Begitu pula dengan
pegawai di Kantor Kecamatan Balong, semakin tinggi tingkat disiplin kerja yang
diterapkan maka semakin tinggi pula kinerja pegawai yang dihasilkan

Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Pegawai


Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi kerja berpengaruh
terhadap kinerja pegawai. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Afni Can,
Yasri (2013) meneliti tentang hubungan antara motivasi kerja pada Bank Nagari,
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Hal ini bermakna
bahwa jika motivasi kerja pegawai meningkat maka kinerjanya juga akan semakin
baik dan meningkat pula, namun sebaliknya jika motivasi kerjanya menurun maka
hasil kinerjanya juga kurang baik. Pembahasan mengenai motivasi kerja tidak bisa
dilepaskan dari pembahasan mengenai kinerja. Hal ini disebabkan karena motivasi
merupakan bagian terpenting dari kinerja tersebut. Motivasi kerja adalah hasil dari
kumpulan kekuatan internal dan eksternal yang menyebabkan seseorang memilih
jalan bertindak yang sesuai dan menggunakan perilaku tertentu. Idealnya perilaku
ini akan diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi, (Newstrom, 2001 dalam
Wibowo, 2013) dalam hal ini diukur dari kinerja pegawai tersebut. Dari
pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai di Kantor Kecamatan Balong

Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kinerja Pegawai


Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan berpengaruh secara
positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Seperti hasil penelitian dari Yanti
Komala Sari (2014) yang meneliti tentang hubungan kepemimpinan terhadap
kinerja pegawai pada PT. Patra Komala di Dumai. Hasil penelitian membuktikan
aspek kepemimpinan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
pegawai PT. Patra Komala. Hal ini dibuktikan dengan persamaan regresi uji t-
hitung kepemimpinan lebih besar dari t-tabel, jadi semakin baik kepemimpinan
suatu perusahaan semakin baik pula kinerja pegawainya. Hasil penelitian
didukung oleh Alwi Suddin (2010), Hasil temuan dalam penelitian ini,
mengindikasikan bahwa baik dan buruknya kinerja sangat dipengaruhi oleh
tepatnya gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh camat selaku pimpinan. Camat
sebagai pimpinan hendaknya lebih memperhatikan bawahan dan tidak bertindak
sesuka hati. Apabila gaya kepemimpinan yang diterapkan baik, maka kinerja
pegawai juga akan semakin meningkat.Dari hasil penelitian tersebut dapat
disimpulkan bahwa kepemimpinan dapat berpengaruh terhadap kinerja pegawai.
Semakin baik kepemimpinannya maka semakin meningkat pula kinerja pegawai
dan begitu pula sebaliknya

Kinerja Pegawai


Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen
Pendidikan Nasional (2008 : 700) menerangkan bahwa kinerja mengandung arti
sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, dan kemampuan kerja. Menurut
Mangkunegara (2000 : 67) menyebutkan bahwa kinerja (prestasi kerja) adalah
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kinerja disebutkan sebagai catatan out-come yang dihasilkan dari pegawai
tertentu atau kegiatan yang dilakukan selama periode waktu tertentu. Atau kinerja
adalah sejauh mana sesorang telah memainkan bagiannya dalam melaksanakan
strategi organisasi, (Riniwati, 2010). Perbedaan kinerja orang yang satu dengan
yang lainnya didalam suatu situasi kerja adalah karena perbedaan karakteristik
dari individu. Disamping itu, orang yang sama dapat menghasilkan kinerja
berbeda di dalam situasi yang berbeda, jadi kinerja dipengaruhi oleh dua hal yaitu
faktor individu dan faktor situasi.
Sedarmayanti (2008 : 259-260) mengutip definisi kinerja atau performance dari
beberapa pendapat yakni :

  1. Perbuatan, pelaksanaan pekerjaan, prestasi kerja, pelaksanaan pekerjaan yang
    berdaya guna.
  2. Pencapaian atau prestasi seseorang berkenaan dengan tugas yang diberikan
    kepadanya.
  3. Hasil kerja seorang pekerja, sebuah proses manajemen atau organisasi secara
    keseluruhan, dimana hasil kerja tersebut harus dapat ditunjukkan buktinya
    secara konkrit dan dapat diukur (dibandingkan dengan standart yang telah
    ditentukan).
  4. Hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam
    suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-
    masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara
    legal, tidak melanggar hukum dan sesuai moral maupun etika.
    Simanjutak dalam Widodo (2015 : 131) kinerja merupakan tingkatan
    pencapain hasil atas tugas tertentu yang dilaksanakan. Simanjutak juga
    mengartikan kinerja individu sebagai tingkat pencapaian atau hasil kerja
    seseorang dari sasaran yang harus dicapai atau tugas yang harus dilaksanakan
    dalam kurun waktu tertentu.
    Indikator untuk mengukur kinerja pegawai secara individu ada lima yaitu
    (Robbins,2006 : 260) :
  5. Kualitas . Kualitas kerja diukur dari persepsi pegawai terhadap kualitas
    pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan
    kemampuan pegawai.
  6. Kuantitas . Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti
    jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
  7. Ketepatan waktu . Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu
    yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta
    memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.
  8. Efektivitas. Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga,
    uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan hasil
    dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya.
  9. Kemandirian . Merupakan tingkat seorang pegawai yang nantinya akan dapat
    menjalankan fungsi kerjanya. Komitmen kerja merupakan suatu tingkat dimana
    pegawai mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan tanggung jawab
    pegawai terhadap perusahaan

Disiplin Kerja


Disiplin kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja.
Hasibuan (2011 : 139) mengemukakan kedisiplinan dan kesadaran dan kesediaan
seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang
berlaku. Sementara Aritonang (2005) mengemukakan disiplin kerja merupakan
kemampuan seseorang untuk secara teratur, tekun secara terus-menerus dan
bekerja sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dengan tidak melanggar semua
aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian disiplin adalah sikap untuk
mematuhi dan mentaati semua peraturan organisasi dalam melakukan pekerjaan
untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Disiplin berkaitan dengan adanya aturan
dan tata tertib. Sehingga seluruh pegawai maupun pimpinan wajib untuk
mematuhi semua aturan yang telah dibuat dan disepakati. Disiplin yang baik
mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas
yang diberikan kepadanya. Dengan disiplin dapat mendorong gairah kerja,
semangat kerja, dan mendukung terwujudnya tujuan yang telah direncanakan.
Simamora (1997) disiplin adalah prosedur yang mengoreksi atau
menghukum bawahan karena melanggar peraturan dan prosedur. Disiplin kerja
adalah suatu alat yang digunakan atasan untuk berkomunikasi dengan pegawainya
agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya
untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan
perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku, Rivai (2004).
G.R. Terry (1993), disiplin kerja dapat timbul dari diri sendiri dan dari
perintah, yang terdiri dari :
a. Self Inposed Discipline
yaitu disiplin yang timbul dari diri sendiri atas dasar kerelaan, kesadaran dan
bukan timbul atas dasar paksaan. Disiplin ini timbul karena seseorang merasa
terpenuhi kebutuhannya dan merasa telah menjadi bagian dari organisasi
sehingga orang akan tergugah hatinya untuk sadar dan secara sukarela
memenuhi segala peraturan yang berlaku.
b. Command Discipline
yaitu disiplin yang timbul karena paksaan, perintah dan hukuman serta
kekuasaan. Jadi disiplin ini bukan timbul karena perasaan ikhlas dan kesadaran
akan tetapi timbul karena adanya paksan/ancaman dari orang lain.
Dalam setiap organisasi atau perusahaan yang diinginkan adalah jenis
disiplin yang timbul dari dalam diri sendiri atas dasar kerelaan atau kesadaran.
Akan tetapi dalam kenyataannya disiplin itu lebih banyak disebabkan adanya
paksaan dari luar. Fahmi (20016 : 75) disiplin yaitu tingkat kepatuhan dan
ketaatan kepada aturan yang berlaku serta bersedia menerima sanksi atau
hukuman jika melanggar aturan yang ditetapkan dalam disiplin tersebut.
Berdasarkan kesimpulan diatas bahwa disiplin merupakan suatu kewajiban yang
harus disadari oleh pegawai sebagai wujud peraturan yang harus ditaati dan
kesediaan untuk menerima sanksi apabila melanggar ketentuan maupun peraturan
yang telah ditetapkan.
Indikator-indikator yang mempengaruhi disiplin kerja menurut Simamora dalam
Sari (2013 : 746) adalah sebagai berikut :

  1. Kepatuhan pada peraturan
    Kepatuhan pada peraturan ini sangat mempengaruhi disiplin kerja pegawai.
    Peraturan secara tertulis maupun tidak tertulis dibuat oleh perusahaan untuk
    mencapai tujuan dengan baik. Untuk itu diperlukan sikap kesetiaan dari
    pegawai untuk mematuhi peraturan perusahaan yang telah ditetapkan.
  2. Efektif dalam bekerja
    Efektif kerja dalam organisasi merupakan usaha untuk mencapai prestasi yang
    maksimal dengan menggunakan sumber daya yang tersedia dalam waktu yang
    relatif singkat tanpa menunggu keseimbangan tujuan alat dan tenaga serta
    waktu. Penyelesaian pekerjaan tepat pada waktu yang ditentukan, artinya
    apabila pelaksanaan tugas dinilai baik atau tidak adalah sangat tergantung pada
    tugas tersebut diselesaikan.
  3. Tindakan korektif
    Disiplin korektif adalah suatu tindakan yang dilakukan setelah terjadinya
    pelanggaran peraturan. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah timbulnya
    pelanggaran lebih lanjut sehingga tindakan dimasa yang akan datag sesuai
    dengan standart. Tindakan korektif dapat juga dikatakan, suatu upaya
    menggerakkan pegawai menyatukan suatu peraturan dan mengarahkan agar
    tetap mematuhi peraturan sesuai pedoman organisasi yang berlaku. Kepada
    pegawai yang melanggar peraturan akan dikenakan tindakan disipliner
    (disiplinary action).
  4. Kehadiran tepat waktu
    Kehadiran menjadi indikator yang paling mendasar untuk mengukur
    kedisiplinan. Biasanya pegawai yang mempunyai disiplin rendah terbiasa
    datang terlambat dan begitu pula sebaliknya. Bentuk kedisiplinan dari
    kehadiran dalam organisasi dapat diukur melalui ketepatan waktu hadir,
    pemanfaatan waktu istirahat dengan tepat, tidak mengulur-ngulur waktu kerja,
    dan jumlah absen dalam waktu tertentu.
  5. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
    Penyelesaian pekerjaan tepat waktu adalah suatu hal yang diharapkan dari
    semua pegawai, yang hanya dapat dicapai jika waktu dikelola secara efisien.
    Hal ini perlu diterapkan oleh semua pegawai agar tujuan perusahaan dapat
    tercapai.

Motivasi Kerja


Winardi (2002 : 1) mengemukakan bahwa “istilah motivasi (motivation)
berasal dari kata latin yakni movere yang berarti menggerakkan (to move)”.
Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja
seseorang agar mereka mau bekerja dengan segala daya upaya untuk mencapai
kepuasan, Hasibuan (2007 : 95). Ishak dan Hendri (2003 : 12) mengemukaan
bahwa “motivasi sebagai suatu hal pokok yang menjadi dorongan setiap motif
untuk bekerja”. Motivasi sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong
perilaku seseorang.
Motivasi merupakan serangkaian nilai-nilai yang dapat mempengaruhi
individu untuk mencapai hal spesifik yang sesuai dengan tujuan individu tersebut.
Sikap dan nilai itu adalah suatu kekuatan untuk mendorong individu agar bertekad
dalam mencapai tujuannya. Dorongan tersebut terdiri dari dua komponen, yaitu
arah perilaku kerja (kerja untuk mencapai tujuan), dan kekuatan perilaku
(kekuatan usaha individu dalam bekerja). Motivasi adalah cara memuaskan
dengan memenuhi kebutuhan seorang karyawan, yang berarti bahwa ketika
kebutuhan seseorang dipenuhi oleh faktor-faktor tertentu, orang tersebut akan
mengerahkan upaya terbaik untuk mencapai tujuan organisasi, Robbins (2007).
Menurut Robbins (2008 : 222) motivasi sebagai proses yang menjelaskan
intensitas, arah, dan ketekunan seseorang individu untuk mencapai tujuan.
Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan dan
memelihara perilaku manusia. Motivasi ini merupakan subjek yang penting bagi
pimpinan, karena pimpinan harus bekerja dengan dan melalui orang lain.
Pimpinan perlu memahami orang-orang yang berperilaku secara tertentu agar
dapat mempengaruhi untuk bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan,
(Handoko, 2005).
Maslow yang dikutip oleh Hasibuan (2008 : 157) bahwa motivasi kerja
pegawai dipengaruhi oleh kebutuhan fisik, kebutuhan akan keamanan dan
keselamatan, kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan diri, dan kebutuhan
akan perwujudan diri. Kemudian dari faktor-faktor tersebut turunlah indikator-
indikator untuk mengetahui tingkat motivasi pada pegawai, yaitu :

  1. Kebutuhan fisik
    Ditunjukkan dengan pemberian gaji, pemberian bonus, uang makan, uang
    transport, fasilitas perumahan dan sebagainnya.
  2. Kebutuhan rasa aman dan keselamatan
    Ditunjukkan dengan fasilitas keamanan dan keselamatan kerja yang
    diantaranya jaminan sosial tenaga kerja, dana pensiun, asuransi kesehatan,
    asuransi kecelakaan, dan perlengkapan keselamatan kerja.
  3. Kebutuhan sosial
    Ditunjukkan dengan melakukan interaksi dengan orang lain yang diantaranya
    untuk diterima dikelompok dan kebutuhan untuk dicintai dan mencintai.
  4. Kebutuhan akan penghargaan
    Ditunjukkan berdasarkan kemampuannya yaitu kebutuhan untuk dihormati dan
    dihargai oleh pegawai lain dan pimpinan terhadap prestasi kerja.
  5. Kebutuhan perwujudan diri
    Ditunjukkan dengan sifat pekerjaan yang menarik dan menantang, dimana
    pegawai tersebut mengerahkan kemampuan, kecakapan, keterampilan, dan
    potensinya. Dalam pemenuhan kebutuhan ini dapat dilakukan oleh perusahaan
    dengan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan

Kepemimpinan


Pemimpin pada suatu perusahaan atau organisasi merupakan salah satu unsur
yang paling penting karena memiliki kemampuan yang dapat mempengaruhi dan
menggerakkan manusia lainnya untuk bekerja guna mencapai suatu tujuan.
Kepemimpinan merupakan suatu proses dimana seorang pemimpin dapat
mempengaruhi sikap dan perilaku anggotanya untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Suatu perusahaan atau organisasi yang berhasil dalam mencapai tujuan
serta mampu memenuhi tanggung jawab sosialnya akan sangat tergantung pada
pimpinannya. Menurut Ordway Tead dalam buku Kartini Kartono (2010),
kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja
sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Robbins (dalam Suwatno dan Juni Priansa, 2013:140) kepemimpinan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran. Menurut
Kartono (dalam Suwatno dan Juni Priansa, 2013:140) kepemimpinan adalah
kemampuan untuk memberikan pengaruh yang konstruktif kepada orang lain
untuk melakukan suatu usaha kooperatif mencapai tujuan yang sudah
direncanakan. Kepemimpinan adalah cara mengajak karyawan agar bertindak
benar, mencapai komitmen dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan
bersama (Sudarmanto, 2009:113).
Kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi banyak orang melalui
komunikasi untuk mencapai tujuan, cara mempengaruhi orang dengan petunjuk
atau perintah, tindakan yang menyebabkan orang lain bertindak atau merespon
dan menimbulkan perubahan positif, kekuatan dinamis penting yang dapat
memotivasi dan mengkoordinasikan dalam rangka mencapai tujuan, kemampuan
untuk menciptakan rasa percaya diri dan dukungan diantara bawahan agar tujuan
organisasional dapat tercapai.
Dalam teori sifat mengemukakan bahwa seseorang telah memiliki sifat
kepimpinannya akan tetapi tergantung bagaimana seseorang tersebut dapat
mengelolanya, Mangkunegara (2013). adapun sifat – sifat tersebut dapat tumbuh
dengan adanya pelatihan dan pendidikan. Seorang pemimpin harus mampu
berkomitmen tinggi, pemimpin yang berkomitmen tinggi yaitu pemimpin yang
banyak berkorban untuk terwujudnya sebuah visi misi perusahaan.
Berdasarkan penjelasan diatas menurut Mangkunegara (2013) dan Karim
(2010) mengenai sifat – sifat kepemimpinan, maka indikator kepemimpinan yang
disesuaikan dengan kepemimpinan sebenarnya adalah :
a) Kerendahan hati
b) Kejujuran, keadilan, dan dapat dipercaya
c) Berkomitmen
d) Kesabaran
e) Transparant

Indikator Kinerja Pegawai


Kinerja dapat diukur menggunakan sejumlah metrik yang
berbeda, termasuk sebagaimana diungkapkan oleh (Rialmi &
Gunawan, 2020) berikut ini.

  1. Standar
    Signifikansi standar terletak pada kenyataan bahwa
    standar menunjukkan kapan tujuan yang disepakati dan ditetapkan
    secara kolektif dapat dipenuhi, hal-hal yang memungkinkan untuk
    menentukan tingkat keberhasilan.
  2. Kompetensi
    Faktor terpenting dalam kinerja adalah kompetensi yaitu
    kemampuan manajemen diri yang efektif dalam menyelesaikan
    pekerjaaan yang menjadi tanggung jawabnya.
  3. Sarana
    Sebagai elemen pendukung yang wujudnya berupa
    sumber daya untuk mencapai hasil yang direncanakan.
  4. Motif
    Berhubungan dengan tanggung jawab manajer dan
    supervisor untuk membantu memotivasi karyawan melalui
    penggunaan insentif keuangan, penguatan positif, dan penetapan
    tujuan yang menuntut.
  5. Umpan Balik
    Terdapat hubungan antara banyak komponen proses,
    seperti tujuan, standar, dan umpan balik. Pencapaian tujuan dan
    kriteria kinerja dapat diukur melalui penggunaan umpan balik
    yang memberikan informasi tentang kualitas dan kuantitas
    pencapaian

Aspek Kinerja Pegawai


Berikut ini adalah beberapa indikator kinerja karyawan
secara keseluruhan:
a) Hasil atau cara seseorang menerima apa yang telah
dikerjakan dengan susah payah.
b) Kedisiplinan berhubungan dengan tenggat waktu suatu
pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik oleh seseorang.
c) Kemampuan untuk bertanggung jawab atas beban kerja
yang diberikan dengan kerja sama yang solid terlepas dari apakah
diawasi atau tidak.
Pemaparan tersebut sesuai dengan menurut Prabu
Mangkunegara (2010: 67) bahwa kinerja seorang pekerja
didasarkan pada kualitas dan jumlah pekerjaan yang diselesaikan
dalam memenuhi tanggung jawabnya

Definisi Kinerja Pegawai


Definisi kinerja oleh Rozalia et al. (2015) diartikan
sebagai hasil dari upaya untuk menyelesaikan tugas pekerjaan
yang dibebankan.
Menurut Alfani & Hamzah (2019) kinerja adalah
parameter utama untuk mengevaluasi kerja karyawan.

  1. Kuantitas output
    Dalam hal mengevaluasi staf di departemen produksi atau
    teknis, standar keluaran adalah metode yang paling umum
    digunakan.
  2. Kualitas output
    Kualitas produksi sebagai tolok ukur prestasi kerja karyawan.
  3. Jadwal produksi
  4. Kecepatan produk yang dihasilkan sering digunakan untuk
    mengukur kualitas pekerjaan seorang pekerja.
  5. Kehadiran
    Keterlambatan setengah hari kerja mencerminkan
    ketidakoptimalan kinerja dan kontribusi terhadap pimpinan.
  6. Pemenuhan tanggung jawab secara efisien
    Produktivitas organisasi seluruhnya ditujukan untuk mencapai
    hasil yang diinginkan dengan sedikit usaha namun tetap
    memenuhi kriteria yang ditetapkan.
  7. Penyelesaian pekerjaan secara efektif
    Apabila proyek selesai tepat waktu dan sesuai dengan rencana
    semula, maka proyek tersebut dianggap efektif.
    Suryadewi et al. (2014) menyatakan bahwa kinerja adalah
    proses yang melibatkan pendekatan strategis dan terintegrasi
    untuk menghasilkan kesuksesan jangka panjang di dalam
    perusahaan dengan meningkatkan bakat tim dan kontributor
    secara individu. Seperti yang dinyatakan Suyuthi (2017), kinerja
    adalah aspek yang tidak berwujud. Dalam menilai kinerja
    diperlukan parameter normal dengan keberterimaan terhadap
    ketentuan hasil pengukuran. Hal ini dimaksudkan untuk melihat
    kinerja karyawa yang berbeda sehingga penyusunan parameter
    yang terukur harus ditetapkan

Indikator Disiplin Kerja


Hasibuan (2016, p.194) menyebutkan bahwa dalam
oraganisasi kedisiplinan harus ditegakkan. Adapun dalam
implementasinya, kedisiplinan karyawan ditentukan oleh
beberapa indikator berikut ini.

  1. Kompetensi dan tujuan, sikap terhadap disiplin di antara
    karyawan juga dipengaruhi oleh tujuan dan kemampuannya.
    Sangat penting bahwa tujuan yang ditetapkan untuk karyawan
    dinyatakan dengan jelas dan cukup mengikat untuk
    mencapainya. Jadi, jika menginginkan seorang karyawan bekerja
    keras dan disiplin, perlu dipastikan tujuan (tugas) yang diberikan
    sesuai dengan kemampuan karyawan. Kejujuran dan
    pengendalian diri seorang karyawan disesuaikan jika tugas yang
    dihadapi berada di luar kemampuannya atau jauh di bawahnya.
  2. Keteladanan kepemimpinan yang unggul. Disiplin
    karyawan sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang
    pemimpin sebagai figur yang harus diteladani oleh timnya.
    Sebagai seorang pemimpin, wajib untuk memiliki tanggung
    jawab memimpin dengan memberi contoh. Hal ini berarti
    menjaga kode etik dan bertindak sesuai dengan kata-kata dan
    tindakan pemimpin. Bawahan menjadi kurang disiplin ketika
    dipimpin oleh pemimpin yang tidak taat aturan. Para pemimpin
    tidak dapat mengharapkan karyawan untuk disiplin jika dirinya
    tidak disiplin. Bawahan akan meniru tindakan atasannya,
    sehingga penting bagi pemimpin untuk menjadi teladan yang
    baik. Oleh karena itu, pemimpin perlu memiliki kedisiplinan
    yang baik agar tercipta kedisiplinan yang baik pula di antara
    bawahannya.
  3. Keadilan, berkaitan dengan sifat alamiah manusia yang
    memiliki ego. Pada dasarnya, ego membuat manusia ingin
    disetarakan dengan manusia lainnya. Dalam hal ini, rasa adil
    bermuara pada penerapan disiplin pegawai. Dalam upaya
    mendorong kedisiplinan karyawan yang unggul, penting untuk
    memastikan bahwa hukuman atau balas jasa diberikan
    berdasarkan kebijaksanaan.
  4. Pengawasan terpadu (waskat), cara paling efektif untuk
    menegur pegawai instansi adalah dengan menggunakan
    pengawasan terpadu. Dalam menjalankan kebijaksanaan atasan
    diharuskan mengambil peran aktif dalam memantau dan
    mengawasi perilaku pribadi serta kebiasaan kerja karyawan.
    Atasan harus selalu ada untuk mengawasi dan memberikan
    arahan kepada bawahannya jika mengalami kesulitan dalam
    memenuhi tugas yang diberikan. Di mata karyawan, atasan
    memberikan perhatian, bimbingan, instruksi, arahan, dan
    pengawasan.
  5. Sanksi, biasanya berupa hukuman bagi yang melakukan
    pelanggaran. Semakin berat sanksi, rasa takut di benak karyawan
    akan tercipta dengan sendirinya. Rasa takut inilah yang
    kemudian akan melahirkan peningkatan rasa disiplin dalam diri
    karyawan. Beratnya hukuman yang dijatuhkan kepada karyawan,
    baik berat atau ringan, berdampak pada tingkat kedisiplinan
    karyawan. Berdasarkan alasan yang logis, tepat, dan
    dikomunikasikan dengan jelas kepada seluruh karyawan,
    tindakan hukuman harus dirumuskan dan ditegakkan. Peraturan
    mengenai hukuman seyogiyanya dalam batas wajar (tidak terlalu
    ringan atau berat). Dengan demikian, hukuman akan
    memberikan pengalaman berharga bagi karyawan yang pernah
    melakukan pelanggaran. Hukuman harus bersifat disiplin,
    instruksional, dan berfungsi sebagai alat motivasi bagi lembaga.
  6. Ketegasan, perilaku pegawai akan dipengaruhi oleh
    kemauan pimpinan untuk mengambil tindakan tegas. Pemimpin
    harus memiliki keberanian dan tekad untuk mendisiplinkan
    setiap pegawai sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.
    Bawahan akan menghormati pemimpin yang tidak takut untuk
    mengambil tindakan tegas dalam hal menegakkan tindakan
    disipliner terhadap karyawan. Ketegasan seorang pemimpin
    harus dibuktikan dengan kepatuhannya dalam menindaklanjuti
    karyawan yang melanggar aturan. Jika tidak ditindaklanjuti
    dengan disiplin, maka akan kesulitan menegakkan aturan dan
    hukuman pada stafnya. Hal ini akan mengarah pada penurunan
    moral dan produktivitas. Tidak perlu ada aturan atau regulasi di
    instansi jika pimpinan tidak menindaklanjuti atau mendisiplinkan
    pegawai yang melanggar aturan.
  7. Hubungan antar orang, disiplin lembaga dapat
    ditingkatkan jika pegawai memiliki hubungan interpersonal yang
    solid. Baik interaksi vertikal maupun horizontal, termasuk
    hubungan langsung satu lawan satu dan kelompok, serta
    hubungan lintas tingkat harus selaras.

Bentuk Disiplin Kerja


Seiring bertambahnya usia seseorang atau kelompok,
semakin paham pula bagaimana belajar mematuhi aturan, norma,
dan hukum untuk melaksanakan cita-cita dan aspirasi menuju
tujuan bersama. Hal ini bergantung pada bentuk disiplin. Di antara
beberapa pilihan, terdapat dua jenis disiplin kerja yang telah
diidentifikasi oleh (Waskito & Aliyah, 2020) yaitu:

  1. Disiplin Preventif, tujuan ini untuk membuat instruktur
    mematuhi dan menaati standar yang ditetapkan oleh sekolah
    dalam hal jadwal kerja. Disiplin diri terutama ditujukan di
    kalangan pendidik. Guru dapat melindungi diri dari aturan yang
    berlaku di tempat kerjanya. Guru yang menerapkan dan
    menegakkan disiplin preventif akan lebih efektif dan
    pekerjaannya akan lebih baik.
  2. Disiplin Korektif bertujuan agar semua guru di sekolah
    mengikuti seperangkat aturan yang sama. Guru yang
    melanggar aturan perilaku dikenakan konsekuensi yang
    berlaku. Tujuan dari sanksi ini untuk mendisiplinkan
    pelanggar, menjaga undang-undang yang berlaku, dan
    memberi pelajaran kepada siapa pun yang melanggar hukum

Faktor yang Mempengaruhi Disiplin Kerja
Kemampuan seseorang untuk mendisiplinkan diri
dipengaruhi oleh beberapa aspek di bawah ini (Illanisa et al.,
2019).
a. Kemampuan dan Tujuan. Tujuan yang perlu dicapai
harus didefinisikan dengan baik dan menantang untuk dicapai
oleh setiap personel.
Kemampuan seorang karyawan harus dipertimbangkan
ketika menetapkan tujuan atau tugas yang dibebankan.
Sebaliknya, kesungguhan dan kedisiplinan karyawan akan buruk
jika pekerjaan yang dilakukan berada di luar kemampuannya atau
jauh di bawah kapasitasnya. Hal ini berkaitan dengan prinsip
penempatan orang-orang pada tempat dan pekerjaan yang tepat.
b. Kepemimpinan, karyawan menjadikan pemimpin untuk
membimbing dan mengarahkannya dengan cara mempertahankan
standar perilaku kerja yang tinggi.
Seorang pemimpin tidak hanya sebagai pemimpin saja
melainkan juga harus bisa menjadi contoh kepada bawahannya.
Hal ini berarti pula denganmenjaga kode etik dan bertindak sesuai
dengan kata-kata dan tindakan Anda. Pemimpin tidak bisa
mengharapkan karyawannya untuk disiplin jika pemimpinnya
sendiri tidak disiplin dan karyawan akan meniru tindakan
atasannya. Oleh karena itu, diperlukan pemimpin yang kuat agar
karyawan tetap disiplin.
c. Faktor pendorong (Tunjangan dan Kesejahteraan)
Tunjangan dan kesejahteraan yang berupa gaji merupakan
bentuk balas jasa perusahaan kepada karyawan atas kinerja dan
loyalitasnya. Balas jasa ini tidak hanya memberikan rasa puas dan
bangga dalam pekerjaan, tetapi lebih sebagai alat untuk
mendisiplinkan karyawan. Perusahaan memiliki tanggung jawab
untuk membayar gaji karyawannya dengan adil. Disiplin dapat
merugikan kesejahteraan karyawan jika dia tidak menerima gaji
yang cukup untuk menutupi biaya hidup. Menjaga karyawan tetap
terkendali sulit dilakukan jika kebutuhan dasarnya tidak
terpenuhi.
d. Keadilan, manusia dalam hidupnya memiliki keinginan
untuk dipentingkan dan disetarakan dengan manusia lainnya.
Hasrat alami ini terbentuk karena manusia dibekali ego dan kodrat
untuk memiliki sifat demikian. Disiplin memunculkan rasa
keadilan karena harus dilaksanakan oleh orang-orang yang
berhubungan di dalam sebuah organisasi. Menggunakan keadilan
sebagai dasar kebijaksanaan ketika memberi penghargaan atau
menghukum karyawan akan mengarah pada disiplin karyawan
yang lebih baik. Seorang pemimpin atau manajer yang baik akan
memperlakukan bawahannya dengan adil. Sebagaimana diketahui
bahwa kedisiplinan yang diterapkan dengan baik akan melahirkan
rasa keadilan.
e. Pemantauan ketat untuk disiplin personel perusahaan,
pengawasan ketat harus dilakukan sebagai tindakan nyata.
Pemimpin harus menunjukkan keaktifan dengan melakukan
pemantauan terhadap sikap, moral, produktivitas, dan pencapaian
bawahan secara langsung.
f. Sanksi memiliki urgensi terhadap karyawan terkait
pengelolaan perilaku. Adanya sanksi menjadikan siapa pun yang
melanggar peraturan perusahaan menjadi lebih berat. Akibatnya,
sikap dan perilaku disiplin karyawan akan berubah. Disiplin
karyawan yang baik dan buruk tergantung pada seberapa berat
hukumannya.
g. Ketegasan pimpinan dibuktikan dengan tindakan tegas
terhadap setiap karyawan yang melakukan tindakan disipliner
sesuai dengan konsekuensi yang telah ditetapkan. Setiap orang
akan menghormati para pemimpin yang tidak takut untuk
mengambil tindakan tegas dalam hal menegakkan tindakan
disipliner terhadap karyawan.
h. Disiplin yang baik dalam suatu perusahaan dapat
dicapai melalui hubungan yang harmonis di antara personelnya.
Hubungan ini bersifat vertikal dan horizontal secara seimbang.
Suasana saling menguntungkan (vertikal-horizontal) dalam
kepemimpinan atau manajemen harus senantiasa diterapkan
kepada bawahan, terlepas dari posisinya baik sebagai pemimpin
ataupun bawahan

Aspek Disiplin Kerja


Menurut Yunimas & Putro (2016) pengukuran tingkat
disiplin kerja karyawan dilakukan dengan
a) Kehadiran, meliputi kedatangan karyawan di tempat
kerja, ketepatan waktu, dan kemampuannya untuk melakukan
tugas yang diberikan.
b) Kepatuhan terhadap peraturan kerja mengacu pada
seberapa baik karyawan memahami dan mematuhi pedoman kerja
perusahaan.
c) Ketaatan dalam mematuhi standar kerja. Sikap ini
tercermin dari beban tanggung jawab yang diemban terhadap
karyawan yang dipimpinnya, serta fungsionalitas karyawan atas
peran yang dijalankannya dalam perusahaan.
d) Karyawan yang selalui mewaspadai hal-hal yang
mungkin terjadi akan selalu berhati-hati, metodis, dan teliti dalam
pekerjaan, serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia dengan
sangat baik.
e) Bekerja secara etis adalah memperlakukan rekan kerja
dengan hormat dan bersikap sopan dan jujur di tempat kerja

Definisi Disiplin Kerja


Lastriani (2014) berpendapat bahwa manajer dalam
mengadakan interaksi dengan karyawan salah satunya
menggunakan disiplin kerja sebagai medianya. Disiplin kerja
membantu manajer untuk mengetahui ada tidaknya perilaku yang
berubah dari karyawan. Di samping itu, disiplin kerja difungsikan
untuk membentuk kepatuhan karyawan akan nilai, norma, dan
standar organisasi dengan cara menanamkan pengetahuan dan
kemauan untuk selalui mengikuti aturan yang ada. Disiplin juga
dihubungkan dengan penghormatan atas standar dan norma sosial
yang berlaku di lingkungan kerja yang berasal dari keinginan dan
pemahaman seseorang (Safitri, 2013). Adapun Catio & Sunarsi
(2020) mengemukakan pendapatnya bahwa disiplin tidak terlepas
dari kepercayaan berupa tanggung jawab yang dibebankan pada
masing-masing baik individu ataupun beban tanggung jawab
kepada kelompok. Dengan demikian, rangsangan semangat dalam
bekerja, moral, serta ketercapaian hal-hal yang diinginkan akan
menjadi lebih baik. Seseorang akan rela menaati segala peraturan
dan melaksanakan instruksi dengan sendirinya ataupun terpaksa
karena sudah menjadi kewajiban yang harus dituntaskan.
Kedisiplinan dapat ditandai dengan displin dalam jam kerja,
pelaksanaan tugas tepat waktu, dan tingkat kepatuhan terhadap
aturan yang ada. Safitri (2013) menyoroti tanda-tanda disiplin
karyawan dalam bisnis, yaitu konsekuensi hukuman, tujuan dan
keterampilan, balas jasa, pengawasan, ketegasan, keadilan,
hubungan manusia, dan kepemimpinan yang luar biasa.

Indikator Pelatihan


Sugiarti et al. (2016) menggambarkan indikator pelatihan
sebagai berikut.

  1. Metode Pelatihan. Setelah evaluasi menyeluruh dari analisis
    kebutuhan program pelatihan, telah ditentukan bahwa pelatihan
    diperlukan untuk meningkatkan kinerja dan etos kerja karyawan
    di tingkat bawah dan menengah organisasi.
  2. Tujuan pelatihan harus fokus pada peningkatan keterampilan
    kerja agar peserta dapat tampil sebaik mungkin dan lebih
    memahami etos kerja yang harus diterapkan agar dapat berfungsi
    dengan baik.
  3. Materi pelatihan, mencakup manajemen, psikologi kerja, tata
    naskah, komunikasi kerja, disiplin dan etika, kepemimpinan, serta
    pelaporan.
  4. Metode pelatihan, meliputi metode diskusi kelompok, bermain
    (demonstrasi), simulasi, konferensi, dan permainan seperti tes,
    proyek kelompok, dan kunjungan lapangan (studi banding).
  5. Informasi kualifikasi peserta. Guna memenuhi syarat sebagai
    peserta, seorang pekerja harus merupakan pegawai tetap atau staf
    yang telah diusulkan oleh pimpinan perusahaan.
  6. Keahlian instruktur. Instruktur bertugas menyampaikan hal-hal
    yang berhubungan dengan materi pelatihan. Dalam hal ini,
    instruktur harus memenuhi beberapa kualifikasi, di antaranya
    kompeten di bidangnya, memiliki daya untuk memotivasi peserta,
    serta senantiasi berpartisipasi secara aktif dengan peserta
    pelatihan.
  7. Sesi waktu. Pelatihan mencakup jenis materi pelatihan yang
    berbeda pada setiap sesi

Manfaat Pelatihan


Berikut beberapa keuntungan yang didapat dari program
pelatihan menurut (Supriatna & Sutisna, 2017).

  1. Meningkatkan produksi (kuantitas dan kualitas).
  2. Karyawan dipermudah dalam belajar dan bekerja pada
    tingkat yang sesuai.
  3. Meneguhkan kerja sama dengan menumbuhkan sikap
    loyalitas yang lebih baik sehingga menghasilkan lebih
    banyak keuntungan.
  4. Merencanakan SDM yang berkualitas dan sesuai dengan
    kriteria yang dipersyaratkan perusahaan.
  5. Menekan angka kecelakaan kerja.
  6. Karyawan diberi kemudahan untuk membangun merek
    pribadi.

Tujuan Pelatihan


Menurut Sugiarti et al., (2016) tujuan pelatihan dijabarkan
dalam beberapa poin di bawah ini.

  1. Meningkatkan produktivitas yang selama ini terhambat oleh
    kurangnya keterampilan di kalangan karyawan.
  2. Mengikuti kemajuan teknologi melalui pelatihan ulang
    pekerja.
  3. Memudahkan karyawan baru untuk mendapatkan kecepatan
    secara efektif.
  4. Membantu menyelesaikan masalah operasional.
  5. Mempromosikan karyawan dengan mempersiapkan menuju
    langkah selanjutnya di dalam perusahaan.
  6. Membantu orientasi karyawan baru di perusahaan.
  7. Membantu terpenuhinya kebutuhan pribadi.

Jenis Pelatihan


Pelatihan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Menurut
Pratami et al., (2016) terdapat lima bentuk pelatihan:

  1. Mempelajari Keterampilan Baru
    Pelatihan keterampilan adalah jenis pelatihan umum di
    tempat kerja. Program pelatihan mudah dipahami, dimulai dengan
    pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan persyaratan atau
    kelemahan pelatihan. Selain itu, tujuan yang ditetapkan selama
    fase penilaian berfungsi sebagai dasar kriteria yang digunakan
    untuk menentukan apakah pelatihan tersebut efektif atau tidak.
  2. Pelatihan Ulang.
    terdapat banyak jenis pelatihan ulang. Guna membantu
    karyawan beradaptasi dengan tuntutan perubahan pekerjaan,
    perusahaan menawarkan pelatihan ulang. Pekerja di lembaga
    pendidikan misalnya, pelatihan ulang dapat berupa belajar
    bagaimana menggunakan komputer atau internet.
  3. Latihan Lintas Fungsional
    Kegiatan kerja yang tidak terkait langsung dengan
    pekerjaan yang ditetapkan kepada karyawan dapat diajarkan
    melalui pelatihan lintas fungsi (Cros Fungtional Training/CFT).
  4. Latihan Membangun Tim
    Istilah tim dihubungkan dengan sekelompok orang yang
    berkumpul dalam suatu wadah untuk mengerjakan suatu
    pekerjaan dengan kepentingan yang sama.
  5. Pengembangan Kreativitas
    Pelatihan kreativitas dimaksudkan untuk meningkatkan
    kreativitas seseorang. Dalam hal ini, tenaga kerja memiliki
    kebebasan untuk mengajukan ide berdasarkan evaluasi logis
    ditinjau dari aspek biaya dan kepraktisan

Definisi Pelatihan


Kapasitas karyawan untuk melakukan pekerjaannya dapat
ditingkatkan melalui pelatihan (Alfani & Hamzah, 2019).
Pelatihan menurut Yusuf (2020) adalah pembelajaran
secara temporal dengan metode sistematis serta terorganisasi
untuk mengajarkan pengetahuan dan kemampuan teknis kepada
staf non-manajerial dengan alasan tertentu.
Keadaan sumber daya manusia suatu perusahaan dapat
membuat atau menghancurkan kesuksesan atau kegagalannya di
masa depan. SDM kompeten diperlukan untuk memaksimalkan
pencapaian perusahaan. Dunia industri menuntut SDM dengan
kompetensi yang baik menjadi modal untuk mendukung tujuan
perusahaan. Manajemen sumber daya manusia harus
mempertimbangkan sejumlah faktor yang memastikan bahwa
tujuan perusahaan tercapai, termasuk pelatihan kerja dan kinerja
karyawan.
Dermawan & Aseanty (2015) menyatakan bahwa setiap
upaya dilakukan untuk meningkatkan kinerja personel yang
ditugaskan pada pekerjaan tertentu. Seperti yang tampak, istilah
pelatihan biasanya digunakan secara bergantian dengan istilah
pengembangan, tetapi terdapat perbedaan di antara keduanya.
Pelatihan secara langsung terkait dengan kinerja pekerjaan
seseorang saat ini, sedangkan istilah pengembangan tidak selalu
demikian (pengembangan memiliki cakupan yang lebih luas
daripada pelatihan).
Tidak hanya mengajarkan keterampilan dan pengetahuan
yang dibutuhkan untuk posisi atau fungsi yang menjadi tanggung
jawab peserta, pelatihan juga bertujuan untuk meningkatkan
sumber daya manusia perusahaan secara keseluruhan
(berorientasi pada pekerjaan saat ini). Meningkatkan efektivitas
seseorang dalam peran atau fungsi yang ada adalah tujuan akhir
dari pelatihan

Indikator Kepemimpinan


Menurut Hertanudin & Sumantri (2020), efektivitas
seorang pemimpin ditentukan oleh beberapa aspek yang dapat
dinilai, di antaranya

  1. Stabilitas dalam respons emosional dan fisik dapat
    didefinisikan sebagai respons individu yang dapat diprediksi dan
    tidak terduga. Sebagai pemimpin, seseorang tidak boleh
    berprasangka buruk terhadap bawahan serta tidak saling
    menyerang. Seorang pemimpin harus memiliki cukup rasa
    kepercayadirian untuk berhasil.
  2. Pentingnya kemampuan menjalin komunikasi dengan orang
    lain. Ketika berinteraksi, orang melakukannya melalui
    komunikasi persuasif yang didasarkan pada emosi, psikologi, dan
    pola pemikiran.
  3. Motif dalam diri sebagai pemimpin. Dedikasi, cerdas, kekuatan
    keinginan, amanah, rasa tanggung jawab, dan mampu memotivasi
    diri sendiri adalah beberapa aspek yang wajib dimiliki oleh
    seseorang yang menginginkan menjadi pemimpin.
  4. Kemampuan berkomunikasi. Mampu menyampaikan pikiran,
    ide, perasaan, dan keinginan kepada rekan kerja secara jelas dan
    ringkas

Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan dapat dibagi menjadi empat kategori
menurut pendapat Bans-Akutey (2021):

  1. Kepemimpinan orientasi prestasi
    Kepemimpinan berorientasi prestasi mengedepankan
    pemimpin yang menetapkan tujuan untuk bawahannya dengan
    maksud menarik dan memberi energi kepada bawahan untuk
    mencapainya
  2. Kepemimpinan direktif/otokratis
    Seorang otokrat adalah pemimpin yang membuat semua
    keputusan tanpa berkonsultasi dengan orang lain.
  3. Kepemimpinan partisipatif
    Disebut pemimpin partisipatif ketika pemimpin menerima
    dan mengusulkan sarana yang melibatkan partisipasi bawahan.
    Dalam konteks ini segala hal yang diputuskan terakhir kali tetap
    berada di bawah kendali pemimpin. Bawahan juga dilibatkan
    secara aktif namun tidak menentukan keputusan akhir.
  4. Kepemimpinan suportif
    Kepemimpinan dengan sikap empati terhadap tegaknya
    demokrasi. Dalam kepemimpinan ini penting untuk memiliki
    pemimpin dengan pikiran terbuka dan mudah didekati yang
    memperlakukan bawahannya sebagai teman

Wewenang Kepemimpinan


Harus ada otoritas bagi seorang pemimpin agar dapat mencapai
tujuan secara efektif. Otoritas yang dimaksud mengacu pada
ketika seorang pemimpin memiliki kekuasaan atas bawahannya.
Kewenangan dalam posisi kepemimpinan dapat
dikonseptualisasikan dalam dua cara berikut ini.

  1. Top Down Authory(kekuasaan puncak bawah). Sebagai
    contoh, direktur utama perusahaan dapat menugaskan
    seseorang yang mampu memimpin departemen penjualan ke
    posisi tersebut dan kemudian memberikan wewenang yang
    diperlukan kepada individu tersebut untuk melaksanakan
    tugasnya. Hal itulah yang mendasari pentingnya untuk
    memiliki pemimpin yang memiliki otoritas dalam
    memerintah.
  2. Bottom Up Authority (kekuasaan bawah puncak) yaitu teori
    penerimaan di mana dasar dalam konsep ini meyakini para
    bawahanlah yang memilih dan menerima pemimpin di dalam
    organisasi. Bawahan akan menghormati otoritas seorang
    pemimpin jika memiliki rasa hormat pribadi terhadap orang
    tersebut atau jika orang tersebut merupakan perwakilan dari
    prinsip yang dianggap penting. Menurut pandangan ini,
    bawahan memahami bahwa kepemimpinan dapat
    memberikan instruksi dan dorongan

Pendekatan – pendekatan Studi Kepemimpinan


Studi kepemimpinan dapat diklasifikasikan menjadi tiga
pendekatan:
Mengenai studi kepemimpinan, berikut ini dibedakan
dalam tiga klasifikasi.

  1. Pendekatan sifat (Traits). Pendekatan ini didasarkan
    pada apa yang dapat dilihat. Di antara contoh-contoh lain, atribut
    kepemimpinan ini dapat ditelusuri kembali ke tahun-tahun awal
    seseorang.
  2. Pendekatan perilaku (Behavior). Ketika berbicara
    tentang kepemimpinan, jenis pendekatan ini mengasumsikan
    bahwa seseorang yang memiliki kualitas dan perilaku tertentu
    lebih mungkin untuk menjadi seorang pemimpin. Adapun
    pengalaman dan pendidikan adalah dua faktor paling umum dalam
    menentukan hal ini.
  3. Pendekatan Situasional (Contingency). Pendekatan ini
    didasarkan pada kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan seorang
    pemimpin ditentukan oleh konteks di mana dia berada

Definisi Kepemimpinan


Berikut ini definisi kepemimpinan menurut Yukl (2018)
cukup merepresentasikan.
a. Kepemimpinan adalah tindakan seseorang yang
mengarahkan kegiatan kelompok menuju tujuan bersama.
b. Kepemimpinan adalah seseorang yang memberikan
pengaruh atas orang lain untuk mencapai tujuan tertentu dan
pengaruh ini difasilitasi melalui proses komunikasi.
c. Kepemimpinan adalah langkah pertama dalam
membangun dan memelihara kerangka kerja untuk suatu harapan
dan hubungan.
d. Kepemimpinan berarti secara bertahap meningkatkan
pengaruh seseorang melebihi rasa patuhnya terhadap aturan
organisasi.
e. Kepemimpinan berarti memengaruhi aktivitas tim untuk
mencapai tujuan.
f. Kepemimpinan berkaitan dengan pencapaian tujuan di
mana seorang pemimpin harus mampu memotivasi dan
menginspirasi pengikutnya untuk melakukan upaya yang
diperlukan dalam menyelesaikan tugas yang ada.
Kepemimpinan diartikan sebagai upaya memengaruhi
sekelompok orang untuk bekerja sama demi pencapaian tujuan
organisasi (Andang, 2014)
Pandangan lain mengenai kepemimpinan dihubungkan
dengan pencapaian tujuan organisasi dengan cara membujuk
orang lain De Jong & Den Hartog (2007). Kepemimpinan dapat
dikatakan memengaruhi hasil capaian organisasi, baik capaian
secara personal maupun gabungan (Imelda et al., 2021).
Kemampuan seorang individu untuk memengaruhi dan
menentukan arah organisasi dalam lingkup individu maupun
kelompok termasuk dalam definisi kepemimpinan yang luas. Hal
ini berarti bahwa setiap pemimpin memiliki pendekatan atau gaya
unik yang disesuaikan dengan kualitas unik organisasinya dan
kebutuhan para pengikutnya.
Kepemimpinan ditentukan oleh dampaknya terhadap
orang-orang yang ingin dipengaruhi. Salah satu tanggung jawab
yang paling signifikan dari seorang pemimpin adalah memberikan
pengaruh atas perilaku orang-orang di sekitarnya menuju tujuan
yang dicita-citakan bersama

Metode dan kriteria penilaian kinerja


Metode penilaian kinerja yang dipergunakan di berbagai organisasi
secara umum ada empat (4), yaitu sebagai berikut:
1) Metode penilaian kategori
Metode penilaian kinerja yang paling sederhana adalah metode
penilaian kategori, dimana metode ini lebih meminta seorang pemimpin
untuk memberi penilaian tingkat kinerja pegawai dalam suatu formulir
khusus yang dibagi dalam beberapa kategori kinerja. Penilaian kinerja
dengan metode ini mempergunakan skala penilaian secara grafik dan
selanjutnya diikuti checklist, tujuan checklist adalah agar penilaian menjadi
lebih akurat dan terukur. Sedangkan penilaian grafik memberikan
kemudahan dalam melihat yang mana dari grafik tersebut memiliki tingkat
pergerakan tertinggi, sedang dan terendah.
2) Metode perbandingan
Metode perbandingan menuntut para pemimpin untuk secara langsung
membandingkan kinerja pegawai mereka satu sama lain. Metode
perbandingan ini bertujuan untuk melihat perbandingan dari satu pegawai
dengan pegawai lainnya.
3) Metode naratif
Dalam metode ini para pemimpin bagian SDM diharuskan untuk
membuat dan memberikan berbagai bentuk informasi yang bersifat tertulis
tentang kondisi dan situasi dari berbagai kejadian dan tindakan yang
dilakukan oleh para pegawai.
4) Metode tujuan/perilaku
Pada metode penilaian perilaku ini melihat pada berbagai bentuk
perilaku yang terjadi dan terlihat disetiap diri individu (pegawai), seperti
bagaimana melayani masyarakat (konsumen), bagaimana reaksi emosional
individu dalam menghadapi berbagai permasalahan yang timbul,
bagaimana perilakunya jika berhadapan dengan pimpinan, bagaimana
perilakunya dengan sesama teman sekerja dan berbagai bentuk perilaku
yang lainnya.
Dalam suatu organisasi, masing-masing anggota (pegawai) mempunyai
kemampuan dan kompetensi yang berbeda di dalam menjalankan tugasnya,
namun demikian setiap pegawai tetap dituntut untuk memberikan kinerja
mereka yang terbaik. Menurut Hasibuan dalam Pratiwi (2006:10), kinerja
pegawai dapat dikatakan baik atau dapat dinilai dari beberapa hal, yaitu :
a) Kesetiaan
Kinerja dapat diukur dari kesetiaan pegawai terhadap tugas dan
tanggungjawabnya dalam organisasi. Menurut Syuhadhak (1994) dan
Pratiwi (2012) kesetiaan adalah tekad dan kesanggupan menaati
melaksakan dan mengamalkan suatu yang ditaati dengan penuh kesadaran
dan tanggung jawab.
b) Prestasi kerja
Pada umumnya prestasi kerja seorang pegawai dipengaruhi oleh
kecakapan, keterampilan, pengalaman dan kesanggupan pegawai dalam
melaksanakan tugas fungsinya.
c) Kedisiplinan
Tolak ukur sejauh mana pegawai dapat mematuhi peraturan-peraturan yang
ada dan melakukan intruksi yang diberikan kepadanya.
d) Kreativitas
Merupakan kemampuan pegawai dalam mengembangkan kreativitas
dan mengeluarkan potensi yang dimiliki dalam menyelesaikan
pekerjaannya sehingga bekerja lebih berdaya guna dan berhasil guna.
e) Kerjasama
Kerjasama diukur dari kemampuan pegawai untuk bekerjasama dengan
pegawai lain dalam menyelesaikan suatu tugas yang ditentukan sehingga
hasil pekerjaannya semakin baik.
f) Kecakapan
Kecakapan seorang pegawai dapat diukur dari tingkat pendidikan pegawai
yang disesuaikan dengan pekerjaan yang menjadi tugasnya.
g) Tanggungjawab
Tanggungjawab adalah kesanggupan seorang pegawai menyelesaikan
pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat
pada waktunya serta berani memikul resiko pekerjaan yang dilakukan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja


Dalam praktiknya tidak selamanya bahwa kinerja karyawan dalam
seperti yang diinginkan baik oleh karyawan itu sendiri ataupun organisasi.
Banyak kendala yang mempengaruhi kinerja baik kinerja organisasi maupun
individu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja baik hasil maupun
perilaku kerja adalah sebagai berikut :
1) Kemampuan dan keahlian
Merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam melakukan
suatu pekerjaan. Selain memiliki kemampuan dan keahlian maka akan dapat
menyelesaikan pekerjaannya secara benar. Artinya karyawan yang memiliki
kemampuan dan keahlian yang lebih baik maka akan memberikan kinerja baik,
demikian pula sebaliknya.
2) Pengetahuan
Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang pekerjaan secara baik
akan memberikan hasil pekerjaan yang baik. Artinya dengan mengetahui
tentang pekerjaan akan memudahkan seseorang untuk melakukan pekerjaanya,
demikian pula sebaliknya jika karyawan kurang memiliki pengetahuan tentang
pekerjaan, maka pasti akan mengurangi hasil atau kualitas pekerjaanya.
3) Rancangan kerja
Artinya jika suatu pekerjaan memiliki rancangan yang baik, maka akan
memudahkan untuk menjalankan pekerjaan tersebut secara tepat dan benar.
4) Kepribadian
Yaitu kepribadian seseorang atau karakter yang dimiliki seseorang
setiap orang memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda satu sam lain.
Seseorang yang memliki karakter baik maka akan melakukan pekerjaan dengan
sungguh-sungguh begitu juga sebaliknya. Artinya bahwa kepribadian atau
karakter akan mempengaruhi kinerja.
5) Motivasi kerja
Motivasi kerja merupakan dorongan bagi seseorang untuk melakukan
pekerjaan. Jika karyawan memiliki dorongan yang kuat dari dalam dirinya atau
dorongan dari luar dirinya (misalnya pihak perusahaan), maka karyawan akan
terangsang atau terdorong untuk melakukan sesuatu dengan baik. Pada
akhirnya dorongan atau rangsangan baik dari dalam maupun luar diri seseorang
akan menghasilkan kinerja yang baik, begitu juga sebaliknya.
6) Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan perilaku seorang pemimpin dalam
mengatur, mengelola dan memerintah bawahannya untuk mengerjakan sesuatu
tugas dan tanggung jawab yang diberikannya.
7) Budaya organisasi
Merupakan kebiasaan atau norma yang berlaku dan dimiliki oleh suatu
organisasi atau perusahaan.
8) Kepuasan
Merupakan perasaan seseorang atau gembira, atau perasaan sebelum dan
setelah melakukan suatu pekerjaan.
9) Komitmen
Merupakan kepatuhan karyawan untuk menjalankan kebijakan atau
peraturan perusahaan dalam bekerja.
10) Disiplin kerja
Disiplin kerja dalam hal ini dapat berupa waktu, misalnya masuk kerja
selalu tepat waktu. Kemudian disiplin dalam mengerjakan apa yang
diperintahkan kepadanya sesuai dengan perintah yang harus dikerjakan.
c. Evaluasi kinerja
Wirawan (2012:64), mendefinisikan evaluasi kinerja sebagai proses
penilai (pejabat yang melakukan penilaian) mengumpulkan informasi
mengenai kinerja ternilai yang dibandingkan dengan standar kinerja secara
periodik. Perlu mendapat penjelasan dalam definisi evaluasi kinerja diatas yaitu:
1) Penilai adalah karyawan yang mempunyai hak dan kewajiban untuk menilai
kinerja karyawan. Karyawan menilai umunya ditentukan oleh peraturan
perusahaan, deskripsi kerja, dan UU ketenagakerjaaan.
2) Mengumpulkan informasi merupakan proses mengenai kinerja ternilai.
Oleh karena itu proses pengumpulan kinerja harus dilakukan dengan
menggunakan kaidah ilmu pengetahuan.
3) Kinerja adalah keluaran kerja ternilai yang disyaratkan oleh organisasi
tempat kerja ternilai yang dapat terdiri dari hasil kerja, perilaku, dan sifat
pribadi yang berkaitan dengan pekerjaan.
4) Ternilai adalah karyawan yang dinilai oleh penilai.
5) Dokumentasi kinerja adalah apa saja yang ditulis para manager dalam
menilai bawahannya yang melukiskan, mengevaluasi dan mengomentari
bawahan dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya.
6) Dilakukan secara periodic merupakan waktu pelaksanan penilaian kinerja
bergantung pada jenis pekerjaan. Contohnya dilaksanakan secara rutin
dalam waktu pendek (target bulanan, enam bulanan, dan tahunan)

Indikator kinerja


Indikator kinerja kadang-kadang dipergunakan secara bergantian
dengan ukuran kinerja, tetapi banyak pula yang membedakannya. Pengukuran
kinerja berkaitan dengan hasil yang didapat dikuantitatifkan dan mengusahakan
data setelah kejadian. Sementara indikator kinerja dipakai untuk aktivitas yang
hanya dapat ditetapkan secara kualitatif atas dasar perilaku yang dapat diamati.
Indikator kinerja juga menganjurkan sudut pandang prospektif daripada
retrosppektif.
Indikator untuk mengukur kinerja karyawan secara individu ada
indikator, menurut Robbins (2016:260) yaitu :
1) Kualitas. Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap
kualitas pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas
terhadap keterampilan dan kemampuan karyawan.
2) Kuantitas. Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam
istilah seperti jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
3) Ketepatan waktu. merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada
awal waktu yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan
hasil output serta maksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas
lain.
4) Efektivitas. Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi
(tenaga, uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan
maksud menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber
daya.
5) Kemandirian. Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya
akan dapat menjalankan fungsi kerjanya komitmen kerja.
Merupakan suatu tingkat dimana karyawan mempunyai komitmen
kerja dengan instansi dan tanggung jawab karyawan terhadap
kantor

Tujuan Kinerja

Tujuan dasar pengukuran kinerja adalah memberikan informasi tentang
kinerja pegawai. Penilaian kinerja pegawai diperoleh dari kinerja masa lalu
pegawai, yang bertujuan :
1) Sebagai dasar atau pedoman dalam rangka pemberian penghargaan.
2) Sebagai dasar untuk promosi, mutasi, PHK, dan sebagainya.
3) Mengidentifikasi potensi pegawai yang berkinerja tinggi.
4) Validasi prosedur seleksi.
5) Evaluasi program pelatihan sebelumnya

Pengertian Kinerja


Istilah kinerja atau prestasi kerja berasal dari kata inggris
“performance”. Menurut ivancevich, Konopaske (2008), dan matteson,
performance the desired result of behavior (kinerja adalah hasil yang
diinginkan dari pelaku). Maksudnya adalah bahwa kinerja
pegawai/karyawan merupakan hasil untuk kerja dalam melaksanakan suatu
pekerjaan.
Kinerja pegawai menurut Cascio dan Aguinis, as observable things
people do that are relevant for the goals of the organization. (sebagai orang
yang dapat diamati hal-hal yang relevan untuk tujuan organisasi). Menurut
Ainsworth, Smith dan Millership (2014: 12) bahwa kinerja berarti suatu
hasil akhir. Kinerja adalah titik akhir orang, sumber daya, dan lingkungan
tertentu yang dikumpulkan bersama sama dengan maksud untuk
menghasilkan hal-hal tertentu, apakah produk yang kasatmata atau jasa
yang kurang terlihat langsung. Sejauh interaksi ini memberikan hasil dalam
tingkat dan mutu yang dikehendaki, pada level biaya yang disepakati,
kinerja akan dinilai memuaskan, baik, atau mungkin luar biasa. Sebaliknya,
apabila hasil itu mengecewakan, apapun alasannya, kinerja akan dinilai
buruk atau merosot.
Pendapat diatas menitikberatkan bahwa kinerja seorang pegawai/
karyawan adalah hasil atau keluaran (outcomes) dari sebuah pekerjaan yang
ditugaskan dalam suatu organisasi/institusi.
Kinerja menurut Aguinis adalah tentang perilaku atau apa yang
dilakukan oleh karyawan, bukan tentang apa yang diproduksi atau yang
dihasilkan dari pekerjaan mereka. Selanjutnya, Aguinis (2017),
menjelaskan tentang perilaku karyawan yaitu karyawan bekerja dengan
orang lain di dalam dan di luar unit dengan maksud akan meningkatkan
efektivitas kerja karyawan, berbagi informasi dan sumber daya,
mengembangkan hubungan kerja efektif, membangun consensus,
mengelola konflik secara konstruktif. Keberhasilan dalam melakukan suatu
pekerjaan sangat ditentukan oleh kinerja. Dalam kaitannya dengan
keberhasilan organisasi, variabel kinerja perlu mendapatkan perhatian oleh
pengelola organisasi untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal.
Seorang anggota organisasi mengemban suatu tanggung jawab tertentu,
yang harus dilakukan dengan tepat dan jelas. Bila tanggung jawabnya tidak
jelas, maka kinerja seseorang tidak dapat diukur dengan tepat. Di samping
itu, anggota organisasi tersebut harus juga memahami tanggungjawab yang
dibebankan kepadanya agar dapat mengembangkan tanggungjawabnya
dengan baik. Dengan kata lain, kinerja seseorang dapat diukur bila orang
tersebut memiliki tanggung jawab.
Untuk mengetahui hasil kinerja karyawan, atasan dalam organisasi
tersebut perlu melakukan penilaian kinerja (evaluasi kinerja). Bahwa
penilaian kinerja (performance appraisal) terdiri atas langkah-langkah dari
peninjauan dan penilaian kinerja karyawan, merekam penilaian dan
menyediakan unpan balik kepada karyawan. Selama penilaian kinerja,
atasan yang terampil memberikan umpan balik dan pujian berkenaan
dengan elemen-elemen yang pantas dari kinerja pegawai/karyawan. Atasan
juga menggambarkan area-area kinerja yang membutuhkan peningkatan.
Pegawai/karyawan dapat menggunakan informasi ini untuk mengubah
kinerjanya.
Penilaian (evaluasi) kinerja seyogyanya berfokus menerjemahkan
tanggungjawab pekerjaan ditentukan atas dasar suatu analisis pekerjaan
yang menyeluruh. Penilaian kerja seharusnya membantu karyawan
memahami tanggungjawab pekerjaan tersebut, tujuan kerja yang
dihubungkan dengan tanggungjawab tersebut, dan tingkatan di mana tujuan
telah tercapai.
Organisasi pada umumnya menggunakan penilaian kinerja dalam dua
peran yang memiliki potensi konflik. Pertama, penggunaan administrasi
(administrative) untuk mengukur kinerja dalam memberikan dokumentasi
keputusan-keputusan administratif mengenai pegawai, untuk menentukan
promosi jabatan pegawai, menentukan mutasi dan tugas. Penggunaan
administrasi juga untuk mengidentifikasi kinerja yang buruk berguna untuk
mempertahankan atau memberhentikan pegawai, menentukan kriteria
seleksi untuk pelatihan kemudian mengevaluasi kemajuannnya untuk
keperluan perencanaan. Peran penilaian kinerja ini sering menjadi
penghubung antara penghargaan atau kompensasi (gaji) dengan hasil kerja.
Kedua, penggunaan pengembangan (developmental), penggunaan
peran ini berfokus pada pengembangan individu. Dalam peran ini atasan
(manajer) berperan lebih sebagai seorang penasihat dibandingkan seorang
hakim, yang akan mengubah atmosfir hubungan. Peran ini menekankan
dalam mengidentifikasi potensi dan merencanakan kesempatan
pengembangan pegawai.
Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Moorhead dan Griffin
(2013:87), yang mengatakan bahwa pengukuran kinerja atau penilaian
kinerja adalah proses orang dalam : (1) mengevaluasi sebuah perilaku kerja
karyawan dengan pengukuran dan perbandingan dengan standar yang telah
ditetapkan sebelumnya, (2) mendokumentasikan hasil, dan (3)
mengkomunikasikan hasilnya kepada karyawan. Selanjutnya, Moorhead
dan Griffin mengemukakan bahwa dasar tujuan pengukuran kinerja
memberikan informasi tentang kinerja pekerjaan yaitu penilaian kinerja
masa lalu dan pengembangan kinerja yang akan datang

Pengukuran efektivitas


Tercapainya tingkat efektivitas yang tinggi perlu memperhatikan
kriteriakriteria efektivitas sebagaimana yang dikemukakan oleh Richard M
Steers (2011) adalah produktivitas, kemampuan dan kesejahteraan pegawai.
Proses pengukuran kriteria efektivitas organisasi dalam kaitannya dengan
organisasi biasanya sering menggunakan sasaran produk atau yang dikenal
sebagai produktivitas. Secara umum produktivias diartikan sebagai hubungan
hasil yang nyata maupun fisik (barang/jasa) dengan masukan sebenarnya.
Sumber daya masukan (input) terdiri dari faktor-faktor produksi seperti tanah,
gedung, mesin, peralatan, bahan mentah merupakan sasaran strategis karena
peningkatan produktivitas faktor-faktor lainnya tergantung pada kemampuan
tenaga manusia memanfaatkannya.
Menurut Gibson (1990) produktivitas adalah kemampuan organisasi
untuk memperoduksi jumlah dan mutu output yang sesuai dengan permintaan
lingkungan. Ukuran mengenai produksi meliputi laba, penjualan, bagian pasar,
mahasiswa yang lulus, pasien yang sembuh, mengenai dokumen yang diproses
pelanggan yang dilayani dan sebagainya.

emudian, empat faktor yang mempengaruhi efektivitas, yang dikemukakan
oleh Richard M Steers (1995:86) sebagai berikut :
a) Karakteristik Organisasi adalah hubungan yang sifatnya relatif tetap
seperti susunan sumber daya manusia yang terdapat dalam organisasi.
Struktur merupakan cara yang unik menempatkan manusia dalam
rangka menciptakan sebuah organisasi. Dalam struktur, manusia
ditempatkan sebagai bagian dari suatu hubungan yang relatif tetap yang
akan menentukan pola interaksi dan tingkah laku yang berorientasi pada
tugas.
b) Karakteristik Lingkungan mencakup dua aspek. Aspek pertama adalah
lingkungan ekstern yaitu lingkungan yang berada di luar batas
organisasi dan sangat berpengaruh terhadap organisasi, terutama dalam
pembuatan keputusan dan pengambilan tindakan. Aspek kedua adalah
lingkungan intern yang dikenal sebagai iklim organisasi yaitu
lingkungan yang secara keseluruhan dalam lingkungan organisasi.
c) Karakteristik Pekerja merupakan faktor yang paling berpengaruh
terhadap efektivitas. Di dalam diri setiap individu akan ditemukan
banyak perbedaan, akan tetapi kesadaran individu akan perbedaan itu
sangat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Jadi apabila
suatu organisasi menginginkan keberhasilan, organisasi tersebut harus
dapat mengintegrasikan tujuan individu dengan tujuan organisasi.
d) Karakteristik Manajemen adalah strategi dan mekanisme kerja yang
dirancang untuk mengkondisikan semua hal yang ada di dalam
organisasi sehingga efektivitas tercapai. Kebijakan dan praktek
manajemen merupakan alat bagi pimpinan untuk mengarahkan setiap
kegiatan guna mencapai tujuan organisasi. Dalam melaksanakan
kebijakan dan praktek manajemen harus memperhatikan manusia, tidak
hanya mementingkan strategi dan mekanisme kerja saja. Mekanisme ini
meliputi penyusunan tujuan strategis, pencarian dan pemanfaatan atas
sumber daya, penciptaan lingkungan prestasi, proses komunikasi,
kepemimpinan dan pengambilan keputusan, serta adaptasi terhadap
perubahan lingkungan inovasi organisasi

Karakteristik Efektifitas

Menurut Gibson dikutip dari Wicaksono (2011), hubungan antara sifat
pimpinan,perilaku pimpinan, variabel situasional, dan efektivitas organisasi dalam
sebuah model, efektivitas diukur dengan beberapa indikator:

  1. Kepuasan kerja
  2. Produktivitas,
  3. Kualitas.
  4. Efisiensi,
  5. Fleksibilitas
  6. Daya saing,
  7. Pengembangan

Model efektifitas

Menurut Richard M Steers (1995:3-5) efektivitas digolongkan dalam 3 (tiga)
model, yaitu:
1) Model optimasi tujuan, penggunaan model optimasi bertujuan
terhadap efektivitas organisasi memungkinkan diakuinya bahwa
organisasi yang berbeda mengejar tujuan yang berbeda pula.
Dengan demikian nilai keberhasilan atau kegagalan relatif dari
organisasi tertentu harus ditentukan dengan membandingkan hasil-
hasil dengan tujuan organisasi.
2) Prespektif sistem, memusatkan perhatiannya pada hubungan antara
komponen-komponen baik yang berbeda didalam maupun yang
berada diluar organisasi. Sementara komponen ini secara bersama-
sama mempengaruhi keberhasilan atau keberhasilan organisasi. Jadi
model ini memusatkan perhatiannya pada hubungan sosial
organisasi lingkungan.
3) Tekanan pada perilaku, dalam model ini, efektivitas organisasi
dilihat dari hubungan antara apa yang diinginkan organisasi. Jika
keduanya relatif homogen, kemungkinan untuk meningkatkan
prestasi keseluruhan organisasi sangat besar

Pengertian Efektivitas


Efektivitas adalah kemampuan untuk menentukan pekerjaan yang benar
guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Efektivitas tidak hanya
memberikan pengaruh atau kesan, akan tetapi berkaitan juga dengan metode
atau cara, sarana atau fasilitas dan juga dapat menimbulkan pengaruh. Menurut
Syafaruddin di kutip oleh Muhibuddin (2010), efektivitas adalah suatu keadaan
yang menunjukkan keberhasilan (atau kegagalan) kegiatan kepemimpinan
dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Chester Barnard
dikutip oleh Yvete (2012), efektif selalu dikaitkan dengan kepemimpinan yang
menentukan hal-hal apa yang harus dilakukan, sedangkan efisien dikaitkan
dengan manajemen, yang mengukur bagaimana sesuatu dapat dilakukan
sebaik-baiknya. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa efektivitas kerja
berarti penyelesaian pekerjaan tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Dengan
melihat berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa efektivitas lebih
melihat pada hasil akhir atau output yang dicapai sehingga saat hasil akhir tidak
sesuai dengan tujuan dan tidak pula memberi efek atau pengaruh terhadap
sasaran yang dituju, maka tidak bisa dinamakan efektif

Indikator Gaya Kepemimpinan


Indikator gaya kepemimpinan menurut Kartono (2008:32) sebagai berikut :

  1. Kemampuan mengambil keputusan
    Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis
    terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang
    menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
  2. Kemampuan memotivasi
    Kemampuan memotivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan
    seorang anggota organisasi mau dan rela untuk menggerakan
    kemampuanya (dalam bentuk keahlian atau keterampilan) tenaga dan
    waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi
    tanggungjawabnya dan menunaikan kewajibanya, dalam rangka
    pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah
    ditentukan sebelumnya.
  3. Kemampuan komunikasi
    Kemampuan komunikasi adalah kecakapan atau kesanggupan
    penyampaian pesan,gagasan atau pikiran kepada orang lain dengan
    tujuan orang lain tersebut memahami apa yang dimaksudkan dengan
    baik, secara langsung lisan atau tidak langsung.
  4. Kemampuan mengendalikan bawahan
    Seorang pemimpin harus memiliki keinginan untuk membuat orang lain
    mengikuti keinginannya dengan menggunakan kekuatan pribadi atau
    kekuasaan jabatan secara efektif dan pada tempatnya demi kepentingan
    jangka panjang perusahaan. Termasuk di dalamnya memberitahukan
    orang lain apa yang harus dilakukan dengan nada yang bervariasi mulai
    dari nada tegas sampai meminta atau bahkan mengancam. Tujuannya
    agar tugas-tugas dapat terselesaikan dengan baik.
  5. Tanggungjawab
    Seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab kepada
    bawahannya. Tanggung jawab bisa diartikan sebagai kewajiban yang
    wajib menanggung, memikul jawaban, segala sesuatunya atau
    memberikan jawaban dan menaggung akibatnya.
  6. Kemampuan mengendalikan emosional
    Kemampuan mengendalikan emosional adalah hal yang sangat penting
    bagi keberhasilan hidup kita. Semakin baik kemampuan kita
    mengendalikan emosi semakin mudah kita akan meraih kebahagiaan

Teori Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan pada dasarnya dapat dilihat dari bermacam-macam
sudut pandang. Bila dilihat dari sudut perilaku pemimpin, apa yang
dikemukakan oleh Tannebaum dan Schmidt (1994), perilaku pemimpin
membentuk suatu kontinum dari sifat otokratik sampai demokratik. Menurut
beliau, sifat penggunaan kebebasan oleh pengikut. Kombinasi dari kedua faktor
inilah yang menentukan pada tingkat mana seorang pemimpin mempraktikkan
perilaku kepemimpinan.
Ada beberapa pendapat tentang gaya kepemimpinan yang diajukan oleh
pakar yang semuanya dapat ditelusuri dalam beberapa literatur kepemimpinan,
organisasi, dan manajemen. Studi dari Ohio State University misalnya,
mengemukakan dua orientasi utama pemimpin di dalam menerapkan
kepemimpinan, yaitu orientasi pada hubungan kemanusiaan dan orientasi pada
struktur tugas.
Menurut Sutarto dalam (Tohardi,2002) pendekatan perilaku
berlandaskan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin
ditentukan oleh gaya bersikap dan betindak seorang pemimpin yang
bersangkutan. Gaya bersikap dan bertindak akan tampak dari :

  1. Cara memberi perintah.
  2. Cara memberikan tugas.
  3. Cara berkomunikasi.
  4. Cara membuat keputusan.
  5. Cara mendorong semangat bawahan.
  6. Cara memberikan bimbingan.
  7. Cara menegakkan disiplin.
  8. Cara mengawasi pekerjaan bawahan.
  9. Cara meminta laporan dari bawahan.
  10. Cara memimpin rapat.
  11. Cara menegur kesalahan bawahan, dan lain-lain.
    Menurut Tohardi (2012), adapun gaya kepemimpinan yang ada, yaitu :
    a) Gaya persuasif, yaitu gaya memimpin dengan menggunakan pendekatan yang
    mengunggah perasaan, pikiran, atau dengan kata lain dengan melakukan ajakan
    atau bujukan.
    b) Gaya represif, yaitu gaya kepemimpinan dengan cara memberikan tekanan-
    tekanan, ancaman-ancaman, sehingga bawahan merasa ketakutan.
    c) Gaya partisipatif, yaitu gaya kepemimpinan di mana memberikan kesempatan
    kepada bawahan untuk itu secara aktif baik mental, spiritual, fisik, maupun
    materil dalam kiprahnya di organisasi.
    d) Gaya inovatif, yaitu pemimpin yang selalu berusaha dengan keras untuk
    mewujudkan usaha-usaha pembaruan di dalam segala bidang, baik bidang
    politik, ekonomi, sosial, budaya, atau setiap produk terkait dengan kebutuhan
    manusia.
    e) Gaya investigatif, yaitu gaya pemimpin yang selalu melakukan penelitian yang
    disertai dengan rasa penuh kecurigaan terhadap sehingga menimbulkan yang
    menyebabkan kreativitas, inovasi, serta inisiatif dari bawahan kurang
    berkembang, karena bawahan takut melakukan kesalahan-kesalahan.
    f) Gaya inspektif, yaitu pemimpin yang suka melakukan acara-acara yang bersifat
    protokoler, kepemimpinan dengan gaya inspektif menuntut penghormatan
    bawahan, atau pemimpin yang senang apabila dihormati.
    g) Gaya motivatif, yaitu pemimpin yang dapat menyampaikan informasi
    mengenai ide-idenya, program-program, dan kebijakan-kebijakan kepada
    bawahan dengan baik. Komunikasi tersebut membuat segala ide, program dan
    kebijakan dapat dipahami oleh bawahan sehingga bawahan mau merealisasikan
    semua ide, program, dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpin.
    h) Gaya naratif, yaitu pemimpin yang bergaya naratif merupakan pemimpin yang
    banyak bicara namun tidak disesuaikan dengan apa yang ia kerjakan, atau
    dengan kata lain pemimpin yang banyak bicara sedikit kerja.
    i) Gaya edukatif, yaitu pemimpin yang suka melakukan pengembangan bawahan
    dengan cara memberikan pendidikan dan keterampilan kepada bawahan,
    sehingga bawahan menjadi memiliki wawasan dan pengalaman yang lebih baik
    dari hari ke hari. Sehingga seorang pemimpin yang bergaya edukatif takkan
    pernah menghalangi bawahan yang ingin mengembangkan pendidikan dan
    keterampilan.
    j) Gaya retrogresif, yaitu pemimpin tidak suka melihat maju, apalagi melebihi
    dirinya. Untuk itu pemimpin yang bergaya retrogresif selalu menghalangi
    bawahannya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Sehingga
    dengan kata lain, pemimpin yang bergaya retrogresif sangat senang melihat
    bawahanya selalu terbelakang, bodoh dan sebagainya

Gaya Kepemimpinan Transformasional


Kepemimpinan transformasional yaitu kepemimpinan dimana
pemimpin menyediakan perhatian individu, rangsangan intelektual serta
pemimpin tersebut memiliki kharisma, indikatornya adalah :
a) Charisma; memberikan visi dan misi meraih respek dan kepercayaan.
b) Inspiration; mengkomunikasikan harapan yang tinggi,
mengekspresikan pentingnya tujuan dengan cara yang sederhana.
c) Intelectual stimulation; mendorong intelegensia, rasionalitas dan
berhati-hati dalam menyelesaikan masalah.
d) Individualized consideration; memberikan perhatian personal, melatih
dan memberikan saran

Gaya Kepemimpinan Transaksional


Suwatno dan Priansa (2011:157) berpendapat bahwa kepemimpinan
transaksional ini adalah kepemimpinan yang berfokus pada transaksi antar
pribadi, antara manajemen dan karyawan, dua karakteristik yang melandasi
kepemimpinan transaksional yaitu : para pemimpin menggunakan penghargaan
kontingensi untuk memotivasi para karyawan dan para pemimpin
melaksanakan tindakan korektif hanya ketika para bawahan gagal mencapai
tujuan kinerja. Indikatornya adalah :
a) Continent reward; melakukan kontrak pertukaran penghargaan dan
upaya, menjanjikan penghargaan atas kinerja yang baik
b) Management by exception (aktif); melihat dan mencari deviasi
berdasarkan aturan dan standar, serta melakukan tindakan korektif,
c) Management by exception (pasif); mengintervensi bila tidak sesuai
standar.
d) Laisezz faire; melepaskan tanggung jawab, menghindari pembuatan
keputusan

Gaya Kepemimpinan Situasional


Para ahli persoalan kepemimpinan menyimpulkan bahwa perilaku
pemimpin ketika mempengaruhi anggotanya terhadap pelaksanaan kerjanya
dan kriteria-kriteria lain sangat dipengaruhi oleh situasi yang tidak pernah tetap.
Pentingnya situasi telah banyak diakui oleh para ahli sangat memberikan
pengaruh yang berarti terhadap gaya kepemimpinan yang ditampilkan seorang
pemimpin pada saat mempengaruhi anggotanya. Jumlah tipe perilaku
kepemimpinan tertentu diperlukan untuk pelaksanaan kerja kelompok yang
efektif, tidak ada gaya kepemimpinan yang tepat untuk setiap pemimpin dengan
kondisi yang berbeda-beda.
Salah satu faktor yang menunjukkan adanya perbedaan situasi
organisasi adalah tingkat kematangan dan perilaku kelompok atau bawahan.
Demikianlah betapa banyak faktor yang dapat menimbulkan adanya
perbedaan-perbedaan situasi tiap organisasi atau lembaga, yang selanjutnya
dapat mempengaruhi perilaku kepemimpinan indikatornya adalah :
a) Tuntutan tugas
b) Harapan dan perilaku rekan kerja, karakteristik, budaya dan kebijakan
organisasi

Gaya Kepemimpinan Kharismatis


Kharismatis merupakan keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan
kemampuan luar biasa dalam hal kepemimpinan. Kharisma mampu
membangkitkan daya tarik istimewa yang pada gilirannya pengikut bangkit
melakukan pemujaan dan menjadikan rasa kekagumannya kepada pemimpin.
Tidak hanya pengikut yang kagum. Bahkan pemimpin lain dan masyarakat pun
terpengaruh kepada sang pemimpin berkharisma itu. Atribut kepemimpinan
seorang pemimpin umumnya didasarkan kepada kepribadian, keluhuran budi
pekerti seorang pemimpin, dan perilaku praktik memimpin.
Pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan kharismatis memiliki ciri
perilaku sebagai berikut :
a) Para pengikut terpengaruh karena kepribadian pemimpin.
b) Para pengikut dengan patuh atas ucapan dan ajarannya kadang-kadang tanpa
alasan.
c) Pemimpin dicintai dan dihormati serta disegani dalam keadaan apapun.
d) Pemimpin dinggap memiliki gaya gaib menakjubkan.
Oleh karena itu, bisa dipahami pemimpin memang seharusnya memiliki
kharisma, sebab jika pemimpin tidak memiliki kharisma maka bawahan banyak
yang tidak memiliki perhatian yang serius untuk menunjukkan dan
mengembangkan lembaga/organisasi yaang dipimpinnya. Oleh karena itu
kharisma biasa akan terlihat dari cara bersikap kepada bawahan. Bertutur kata
yang sopan serta dengan ilmu pengetahuan dan pemahamannya

Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan merupakan pola tingkah laku yang digunakan
pemimpin untuk mempengaruhi dan mengarahkan para karyawan untuk
mencapai suatu organisasi atau kelompok. Menurut Nawawi, gaya
kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan dipergunakan
pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku para
anggota organisasi atau karyawannya. Menurut Kartono (2008:34) menyatakan
sebagai berikut. “Gaya kepemimpinan adalah sifat, kebiasaan, tempramen,
watak, dan kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalam
berinteraksi dengan orang lain”.
Sundriamunawar (2006:25) menyampaikan bahwa pandangan para
pemimpin menyatakan ada tiga gaya memimpin.

  1. Gaya otokratis. Pemimpin otokratis biasanya merasa bahwa mereka
    mengetahui apa yang mereka inginkan dan cenderung mengekspresikan
    kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam bentuk perintah-perintah langsung kepada
    bawahannya. Dengan ciri-ciri antara lain : mengambil keputusan sendiri,
    memutuskan kekuasaan dan pengambilan keputusan pada dirinya, bawahan
    melakukan apa yang diperintahkan, menggunakan wewenang dan tanggung
    jawab sepenuhnya, dan biasanya berorientasi pada kekuasaan.
  2. Gaya partisipatif. Gaya kepemimpinan partisipatif disebut juga gaya
    demokratis, gaya ini berasumsi bahwa para anggota organisasi yang ambil
    bagian secara pribadi dalam proses pengambilan keputusan akan lebih
    memungkinkan sebagai suatu akibat yang mempunyai komitmen yang jauh
    lebih besar pada sasaran dan tujuan organisasi. Yang ciri-cirinya antara lain :
    membagi tanggung jawab pengambilan keputusan dengan kelompok,
    mengembangkan tanggung jawab kelompok untuk menyelesaikan tugas,
    memakai pujian dan kritik, meski pengambilan keputusan dilimpahkan, namun
    tanggung jawab tetap pada pemimpin.
  3. Gaya kendali bebas. Gaya ini merupakan nama lain dari “Laissez Faire”
    menurut pendekatan ini suatu tugas disajikan kepada kelompok yang biasanya
    menentukan teknik-teknik mereka sendiri guna mencapai tujuan tersebut dalam
    rangka mencapai sasaran-sasaran kebijaksanaan organisasi. Dengan ciri-ciri:
    menghindari penumpukan kekuasaan dengan jalan mendelegasikan kepada
    bawahan, tergantung pada kelompok dalam menentukan tujuan dan
    penyelesaian masalah, efektif bila di lingkungan profesional yang bermotivasi
    tinggi.
    Dalam kenyataannya sulit menemukan penerapan perilaku dalam gaya
    kepemimpinan itu yang mumi, tetapi selalu terlihat kombinasi perilaku antara
    yang satu dengan yang lain. Berdasarkan kombinasi perilaku yang dominan,
    dapat dibedakan tiga gaya kepemimpinan utama, dan beberapa gaya
    kepemimpinan pelengkap. ketiga gaya kepemimpinan utama yang terdiri dari
    gaya kepemimpinan otoriter, gaya kemimpinan bebas (LaissezFaire) dan gaya
    kemimpinan demokratis

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kepemimpinan


Melihat fakta riil yang terjadi, ada banyak faktor yang mempengaruhi
alur proses kepemimpinan selebihnya fakta atau dinamika keorganisasian yang
terjadi. Artinya pemimpin ketika mengaplikasikan gaya atau aktivitas
kepemimpinnya sangat tergantung pada pola organisasi yang melingkupinya.
Dinamika ini yang dalam melaksanakan aktivitas kepemimpinan memiliki
pengaruh yang sangat beragam dikarenakan berbagai macam faktor yang
melatar belakangi penerapan gaya kepemimpinan. Terlebih lagi dinamika
keorganisasian antara satu dengan lainnya sangat beragam sehingga ada banyak
hal yang memengaruhi gerak dari kepemimpinan.
Pada kerangka tersebut bukan hanya konsep tentang kepemimpinan
yang digunakan mempunyai pengaruh besar, akan tetapi keterampilan spontan
dan teknis banyak menetukan keberhasilan dari proses kepemimpinan. Di sisi
lain, juga ada beberapa faktor yang mempunyai relevansi atau pengaruh positif
terhadap proses kepemimpinan dalam organisasi antara lain :
1) Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal
ini mencakup nilai-nilai latar belakang dan pengalamanya akan mempengaruhi
pilihan akan gaya kepemimpinanya.
2) Harapan dan perilaku atasan.
3) Karakteristik, perilaku dan harapan bawahan akan memengaruhi gaya
pemimpin.
4) Kebutuhan tugas setiap tugas bawahan juga akan memengaruhi gaya
pemimpin.
5) Iklim dan kebijakan organisasi memengaruhi harapan dan perilaku bawahan.
6) Harapan dan perilaku rekan.
Menurut Terry (2009), bahwa syarat-syarat yang harus di punyai oleh
seorang pemimpin adalah :

  1. Kekuatan, pemimpin harus mempunyai kekuatan jasmani dan rohani.
  2. Keseimbangan emosi, pemimpin harus dapat menguasai perasaannya dalam
    keadaan apapun yang dihadapinya.
  3. Pengetahuan tentang hubungan kemanusiaan, pemimpin harus mempunyai
    keterampilan untuk mengetahui sifat serta tingkah laku dalam pergaulan.
  4. Motivasi pribadi, keinginan menjadi pemimpin harus datang dari jati diri dan
    berakibat pada timbulnya kegairahan dalam bekerja.
  5. Kecakapan berkomunikasi, pemimpin harus pandai menyampaikan informasi
    dan maksud-maksudnya kepada pihak lain sehingga timbal kerja sama yang
    harmonis dengan orang lain.
  6. Kecakapan mengajar, pemimpin adalah guru yang baik. Oleh karena itu,
    dibutuhkan kecakapan untuk mengajar, baik dengan keteladanan maupun
    dengan petunjuk-petunjuk yang disampaikan kepada bawahan.
  7. Kecakapan bergaul, pemimpin harus mau bekerja sama dengan yang dipimpin
    serta dapat menyesuaikan diri dengan mereka sehingga memperoleh
    kepercayaan dan kesetiaan serta dengan sukarela mau bekerja. Pemimpin juga
    harus dapat mengembangkan rasa saling menghargai dengan bawahan.
  8. Keterampilan teknis adalah kecakapan-kecakapan pemimpin dalam hal
    merencanakan, mengorganisir, mengawasi, dan bekerja sama.
    Dengan demikian dipahami bahwa, seorang pemimpin hendaklah
    memiliki kemampuan, kemauan, pengetahuan dan keterampilan dalam
    mengelola organisasi yang dipimpinnya, sebab seorang pemimpin memiliki
    peranan penting dalam menggerakkan organisasi ke arah yang lebih baik

Fungsi Kepemimpinan


Fungsi kepemimpinan berarti pekerjaan yang harus dilakukan oleh
pemimpin sesuai dengan kedudukannya sebagai pemimpin. Dengan demikian,
fungsi kepemimpinan itu terkait pada kemampuan memimpin pengikut atau
yang dipimpin, kemampuan memimpin berarti kemampuan mempengaruhi
pengikut untuk melakukan unjuk kerja sebagai akibat pemimpin memimpin.
Unjuk kerja itu berakibat pemimpin memperoleh tanggapan dari bawahan.
Secara operasional.
Fungsi kepemimpinan dapat dibedakan dalam lima fungsi pokok yaitu:
1) Fungsi intruksi, Fungsi ini bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai
komunikator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, bilamana,
dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara
efektif.
2) Fungsi konsultasi, Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama
dalam usaha menetapkan keputusan. Pemimpin kerap kali memerlukan bahan
pertimbangan yang mengharuskan berkonsultasi dengan orang-orang yang
dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan informasi yang
diperlukan dalam menetapkan keputusan.
3) Fungsi partisipasi, Dalam menjalankan fungsi ini, pemimpin berusaha
mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan
mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak
berarti bebas melakukan semuanya, tetapi dilakukan secara terkendali dan
terarah berupa kerjasama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas
pokok orang lain. Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai
pemimpin dan bukan pelaksana.
4) Fungsi delegasi, Fungsi delegasi dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan
wewenang membuat/menetapkan keputusan. Baik melalui persetujuan maupun
tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti
kepercayaan. Orang-orang penerima delegasi itu harus diyakini merupakan
pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip, persepsi dan aspirasi.
5) Fungsi pengendalian. Fungsi ini bermaksud bahwa kepemimpinan yang
sukses (efektif) mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan
dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan
bersama secara maksimal

Pengertian Kepemimpinan


Kepemimpinan merupakan suatu ilmu yang mengkaji secara
komprehensif tentang bagaimana mengarahkan, mempengaruhi dan
mengawasi orang lain untuk mengerjakan tugas sesuai dengan perintah yang
direncanakan. Ilmu kepemimpinan telah semakin berkembang seiring dengan
dinamika perkembangan hidup manusia.
Untuk lebih memahami definisi kepemimpinan yang dikemukakan oleh
para ahli yaitu :
1) Stephen P. Robbins (2003:40) mengatakan, kepemimpinan
adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke
arah tercapainya tujuan.
2) Richard L. Daft (2003:50) mengatakan, kepemimpinan
(leadership) adalah kemampuan mempengaruhi orang yang
mengarah kepada pencapaian tujuan.
3) Ricky W. Griffin (2003:68) mengatakan, pemimpin adalah
individu yaang mampu mempengaruhi perilaku orang lain tanpa
harus mengandalkan kekerasan. Pemimpin adalah individu yang
diterima oleh orang lain sebagai pemimpin.
Untuk mendefinisikan istilah kepemimpinan
(leadership) secara tepat bukanlah hal yang mudah. Begitu
sulitnya menentukan definisi yang tepat tentang kepemimpinan,
Greenberg dan baron (1997), memandang kepemimpinan serupa
dengan cinta, dalam artian banyak orang yang meyakini bahwa
ia bisa memahami tentang kepemimpinan tetapi menemukan
kesulitan dalam mendeskripsikannya. Disamping itu, digunakan
istilah lain seperti kekuasaan, wewenang, manajemen,
administrasi, pengendalian dan supervisi yang juga menjelaskan
hal yang sama dengan kepemimpinan semakin menambah
kebingungan tersebut. sehingga tidak mengherankan jika kita
menemukan banyak definisi tentang kepemimpinan, bahkan
Stodgill (1989), setelah melakukan kajian mendalam terhadap
literatur kepemimpinan berkesimpulan bahwa terdapat hampir
sama banyaknya definisi tentang kepemimpinan dengan jumlah
orang yang telah mendefinisikan konsep tersebut

Pengertian Kepemimpinan


Kepemimpinan merupakan suatu ilmu yang mengkaji secara
komprehensif tentang bagaimana mengarahkan, mempengaruhi dan
mengawasi orang lain untuk mengerjakan tugas sesuai dengan perintah yang
direncanakan. Ilmu kepemimpinan telah semakin berkembang seiring dengan
dinamika perkembangan hidup manusia.
Untuk lebih memahami definisi kepemimpinan yang dikemukakan oleh
para ahli yaitu :
1) Stephen P. Robbins (2003:40) mengatakan, kepemimpinan
adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke
arah tercapainya tujuan.
2) Richard L. Daft (2003:50) mengatakan, kepemimpinan
(leadership) adalah kemampuan mempengaruhi orang yang
mengarah kepada pencapaian tujuan.
3) Ricky W. Griffin (2003:68) mengatakan, pemimpin adalah
individu yaang mampu mempengaruhi perilaku orang lain tanpa
harus mengandalkan kekerasan. Pemimpin adalah individu yang
diterima oleh orang lain sebagai pemimpin.
Untuk mendefinisikan istilah kepemimpinan
(leadership) secara tepat bukanlah hal yang mudah. Begitu
sulitnya menentukan definisi yang tepat tentang kepemimpinan,
Greenberg dan baron (1997), memandang kepemimpinan serupa
dengan cinta, dalam artian banyak orang yang meyakini bahwa
ia bisa memahami tentang kepemimpinan tetapi menemukan
kesulitan dalam mendeskripsikannya. Disamping itu, digunakan
istilah lain seperti kekuasaan, wewenang, manajemen,
administrasi, pengendalian dan supervisi yang juga menjelaskan
hal yang sama dengan kepemimpinan semakin menambah
kebingungan tersebut. sehingga tidak mengherankan jika kita
menemukan banyak definisi tentang kepemimpinan, bahkan
Stodgill (1989), setelah melakukan kajian mendalam terhadap
literatur kepemimpinan berkesimpulan bahwa terdapat hampir
sama banyaknya definisi tentang kepemimpinan dengan jumlah
orang yang telah mendefinisikan konsep tersebut

Hubungan antara Iklim Organisasi dengan Perilaku Kerja Inovatif


Perilaku kerja inovatif adalah semua perilaku individu untuk mencapai
inisiasi dan pengenalan serta penerapan ide baru, barang baru, pelayanan baru dan
cara-cara baru yang bermanfaat bagi pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan
diberbagai level organisasi. Sedangkan iklim organisasi merupakan persepsi
anggota organisasi baik individu maupun kelompok terhadap organisasinya yang
berasal dari pengalamannya berinteraksi di lingkungan organisasi yang
berpengaruh terhadap munculnya motivasi sehingga memengaruhi perilaku
anggota organisasi dan kinerja organisasi.
Hasil penelitian sebelumnya seperti pada penelitian yang dilakukan (Dewa
Nyoman Reza Aditya, 2016) PT. Serasi Autoraya Cabang Denpasar menghasilkan
hubungan positif antara iklim organisasi dengan perilaku inovatif. Penelitian lain
yang mendukung hasil dari penelitian ini adalah penelitian (Noor, H. M., &
Dzulkifli, 2013) pada scientist di tujuh agensi yakni kehutanan, lembaga veteriner,
kakao, minyak sawit, litbang institusi pertanian, nuklir, dan perikanan. Penelitian
tersebut menunjukkan hubungan yang positif signifikan antaraiklim organisasi dan
perilaku inovatif.

Hubungan antara Kepemimpinan Inklusif terhadap Perilaku Kerja Inovatif


Sebelumnya telah disimpulkan bahwa perilaku kerja inovatif adalah semua
perilaku individu untuk mencapai inisiasi dan pengenalan serta penerapan ide baru,
barang baru, pelayanan baru dan cara-cara baru yang bermanfaat bagi pelaksanaan
dan penyelesaian pekerjaan diberbagai level organisasi. Sedangkan Kepemimpinan
inklusif adalah pemimpin yang memposisikan dirinya ke dalam posisi yang sama
dengan orang lain atau kelompok lain sehingga membuat orang tersebut berusaha
untuk memahami perspektif orang lain atau kelompok lain dalam menyelesaikan
sebuah permasalahan (Arasli et al., 2020).
Keterkaitan kepemimpinan inklusif dan perilaku inovatif dapat terbentuk
dari saling menghargai keunikan dan keberagaman, yang mana terbuka akan hal
baru dan mendukung perkembangan yang terjadi, cenderung lebih menerima ide
dan hal baru, dengan karakteristik kepemimpinan yang seperti itu, pekerja
cenderung memiliki perilaku inovatif, dengan demikian pekerja yang menunjukkan
perilaku kerja yang inovatif lebih memungkinkan untuk mengambil risiko,
tantangan, dan melampaui target (Javed, Khan, dan Quratulain, 2018). Pemimpin
juga menjaga bawahan mereka dengan melakukan tanggung jawab kegagalan,
dimana pemimpin yang menanggung kegagalan yang kemungkinan terjadi. Karena
itu, bawahan akan merasa bahwa sedikit ancaman tentang konsekuensi kegagalan
dalam proses inovasi (Mansoor et al., 2021

Indikator Perilaku Kerja Inovatif


Menurut Kanter yang dikutip oleh De Jong & Den Hartog (2010)
mengungkapkan bahwa terdapat tiga indikator perilaku kerja inovatif yaitu :

  1. Pembentukan Ide
    Untuk dapat berinovasi, selain mengetahui atau menemukan peluang,
    kemampuan untuk menciptakan cara-cara baru dalam memanfaatkan
    peluang tersebut juga penting. Dalam hal ini karyawan dituntut mampu
    untuk mengembangkan ide inovasi melalui proses menciptakan dan
    menyarankan ide untuk produk, jasa maupun proses baru serta mencoba
    memikirkan alternatif lainnya.
  2. Pembentukan Koalisi
    Pembentukan koalisi merupakan usaha untuk meyakinkan adanya nilai
    tambah dari inovasi atas ide yang diusulkan. Ide tersebut akan menjadi
    relevan ketika ide berhasil diciptakan, karena dalam tahap ini karyawan
    diharapkan terdorong untuk mencari dukungan dalam mewujudkan inovasi
    baru yang telah diciptakannya. Termasuk mencari koalisi agar ide baru bisa
    diimplementasikan dan percaya dengan keberhasilan ide tersebut.
  3. Implementasi Ide
    Implementasi ide dapat berarti merealisasikan ide dalam upaya
    meningkatkan produk, jasa maupun prosedur yang telah ada atau membuat
    sesuatu yang baru. Pada tahap ini karyawan dihadapkan pada usaha-usaha
    berorientasi hasil dengan keberanian untuk menerapkan ide baru kedalam
    praktik nyata

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Kerja Inovatif


Menurut (Robbins, 2002) perilaku kerja yang terjadi di perusahaan dapat
dipengaruhi beberapa faktor, yaitu ;

  1. Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan harus benar-benar dapat
    memberikan rasa aman bagi para pekerja. Para pekerja atau karyawan tentu
    saja akan menaruh perhatian terhadap lingkungan kerja mereka, baik dari
    segi kenyamanan pribadi maupun kemudahan dalam melakukan pekerjaan
    dengan baik.
  2. Konflik
    Konflik dapat berupa konflik konstruktif atau destruktif terhadap fungsi dari
    suatu kelompok atau unit. Tetapi sebagian besar konflik dapat merusak
    perilaku kerja yang baik, karena konflik cenderung bersifat menghambat
    tujuan dari suatu pekerjaan.
  3. Komunikasi
    Dalam memahami perilaku kerja, komunikasi memegang faktor terpenting
    yang berperan sebagai penyampaian dan pemahaman akan arti dari sebuah
    informasi.
    West dan Farr yang dikutip oleh Monaco and Guimarães (2007), menyatakan
    terdapat tiga faktor yang memengaruhi inovasi, yaitu:
  4. Faktor Internal
    Faktor internal terdiri dari individual differences, kepribadian individu dan
    motivasi.
  5. Faktor Pekerjaan
    Faktor pekerjaan terdiri dari kompleksitas pekerjaan, karakteristik
    pekerjaan dan time pressure.
    22
  6. Faktor Konstektual
    Faktor kontekstual terdiri dari dukungan, iklim organisasi, ketersediaan
    sumber daya, leader-member exchange, relationship at work, kelompok dan
    organisasi.
    Sedangkan menurut (Ancok, 2012) terdapat tiga faktor yang memengaruhi
    perilaku inovatif yakni :
  7. Faktor Manusia
    Faktor manusia dalam hal ini berperan sebagai penunjang dan pelaku dalam
    proses inovasi.
  8. Faktor Kepemimpinan
    Kepemimpinan disini berkontribusi dalam kemajuan inovasi anggota
    organisasi dengan jalan pemimpin mampu mengapresiasi setiap gagasan
    dan ide yang diberikan.
  9. Faktor Struktur
    Struktur organisasi berperan sebagai penghubung antara manusia dan
    organisasi, berfungsi dalam menyediakan sarana dan prasarana bagi
    anggotanya untuk berinovasi.
    Menurut Etikariena dan Muluk (2014), terdapat beberapa faktor yang
    memengaruhi munculnya perilaku kerja inovatif :
  10. Faktor Internal
    a. Tipe kepribadian
    Orang yang mempunyai tipe kepribadian tertentu akan cenderung
    berani mengambil resiko terhadap perilaku inovatif yang dibuat.
    b. Gaya individu dalam memecahkan masalah
    Orang dengan gaya pemecahan masalah intuitif lebih mudah untuk
    menghasilkan ide-ide baru dalam menghasilkan solusi baru.
  11. Faktor Eksternal
    a. Kepemimpinan
    Kepemimpinan dapat meningkatkan perilaku inovatif pada
    karyawan melalui dorongan langsung atau penetapan tujuan,
    memahami informasi emosional bawahan, dan melakukan evaluasi
    serta pemberian penghargaan (baik berupa materiil maupun
    penghargaan secara psikologis) untuk menunjukkan dukungan dan
    kekaguman terhadap inovasi yang telah dilakukan oleh karyawan.
    Terjaganya hubungan antara pimpinan dan bawahan adalah hal yang
    sangat penting. Jika hubungan bawahan dan pimpinan kurang baik,
    maka dapat membuat perilaku inovatif tidak terlihat. Sedangkan
    bawahan yang mempunyai hubungan baik dengan pimpinan,
    cenderung memicu munculnya perilaku inovatif pada bawahan.
    b. Dukungan untuk berinovasi
    Dukungan dari orang-orang disekitar individu akan sangat
    membantu dalam menciptakan suatu perilaku inovatif. Interaksi
    yang baik antar anggota organisasi mendorong hubungan timbal
    balik secara emosional dan kepercayaan yang tidak hanya
    menciptakan kondisi yang kondusif bagi karyawan untuk berbagi
    pengalaman dan pengetahuan, tetapi juga membantu dalam
    memperluas wawasan, mempromosikan gagasan baru, dan
    menghasilkan gagasan baru.
    c. Tuntutan dalam pekerjaan
    Tuntutan dari organisasi akan menjadi dorongan bagi karyawan
    yang kemudian cenderung meningkatkan semangat karyawan untuk
    berperilaku inovatif. Karyawan yang terbiasa dengan tugas atau
    pekerjaan yang kompleks, cenderung akan lebih mudah menemukan
    cara yang lebih variatif untuk menyelesaikan pekerjaannya,
    mengatasi rasa takut akan kegagalan berinovasi dan mempunyai
    kepercayaan diri dalam berinovasi.
    d. Iklim organisasi
    Iklim organisasi menggambarkan lingkungan organisasi
    dipersiapkan dan diinterpretasikan oleh karyawan. Hal ini
    menggambarkan persepsi individu tentang ketersediaan lingkungan
    yang kondusif untuk belajar dan berinovasi dalam organisasi.