Jenis-jenis Komitmen Organisasi


Adapun Beberapa jenis Komitmen Organisasional (Robbins Dan Judge, 2008), Yaitu:
a. Komitmen Afektif
Komitmen afektif memiliki perasaan emosional untuk organisasi dan
keyakinan dalam nilai-nilainya. Seseorang yang memiliki komitmen afektif
menunjukkan tingkat dimana tujuan individu dan nilai menyatu dengan organisasi
yang diperkirakan secara langsung mempengaruhi keinginan individu untuk tetap
tinggal dalam organisasi, sehingga karyawan yang masih bergabung dengan
organisasi karena memiliki keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi
dapat dikatakan memiliki afektif yang tinggi. Komitmen afektif berkaitan dengan:

  1. Emosional Komitmen afektif menyatakan bahwa organisasi akan membuat
    karyawan memiliki keyakinan yang kuat untuk mengikuti segala nilai-nilai
    organisasi, dan berusaha unutk mewujudkan tujuan organisasi sebagai
    prioritas utama.
  2. Identifikasi Komitmen afektif muncul karena kebutuhan, dan memandang
    bahwa komitmen terjadi karena adanya ketergantungan terhadap aktivitasaktivitas yang telah dilakukan dalam organisasi pada masa lalu dan hal ini
    tidak dapat ditinggalkan karena akan merugikan.
  3. Keterlibatan karyawan dalam organisasional
    b. Komitmen Continuance
    Seseorang yang memiliki komitmen continuance akan bertahan apabila merasa
    adanya nilai ekonomi ketika bertahan di organisasi bila dibandingkan dengan
    meninggalkan organisasi tersebut. Sehingga, seorang karyawan akan
    berkomitmen pada organisasi apabila adanya kompensasi yang tinggi dan
    apabila mengundurkan diri akan menghancurkan keluarganya. Karyawan
    dengan dasar organisasional tersebut disebabkan karena karyawan tersebut
    membutuhkan organisasi.
  4. Kerugian bila meninggalkan organisasi Komitmen berkelanjutan merujuk pada
    kekuatan kecenderungan seseorang untuk tetap bekerja di suatu organisasi
    karena tidak ada alternatif lain. Komitmen berkelanjutan yang tinggi meliputi
    waktu dan usaha yang dilakukan dalam mendapatkan keterampilan yang tidak
    dapat ditransfer dan hilangnya manfaat yang menarik atau hak-hak istimewa
    sebagai senior.
  5. Karyawan membutuhkan organisasi karyawan yang tetap bekerja dalam
    organisasi karena karyawan mengakumulasikan manfaat yang lebih yang akan
    mencegah karyawan mencari pekerjaan lain.
    c. Komitmen Normatif
    Seseorang yang memiliki komitmen normatif merasa mempunyai
    kewajiban untuk bertahan dalam organisasi karena alasan moral atau etis.
    omponen normatif berkembang sebagai hasil dari pengalaman sosialisasi,
    tergantung dari sejauh apa perasaan kewajiban yang dimiliki karyawan.
  6. Kesetiaan yang harus diberikan karena pengaruh orang lain Komitmen yang
    terjadi apabila karyawan terus bekerja untuk organisasi disebabkan oleh
    tekanan dari pihak lain untuk terus bekerja dalam organisasi tersebut.
    Karyawan yang mempunyai tahap komitmen normatif yang tinggi sangat
    mementingkan pandangan orang lain terhadap dirinya jika karyawan
    meninggalkan organisasi
  7. Kewajiban yang harus diberikan kepada organisasi
    komitmen ini mengacu kepada refleksi perasaan akan kewajibanya untuk
    menjadi karyawan perusahaan. Karyawan dengan komitmen normatif yang
    tinggi merasa bahwa karyawan tersebut memang seharusnya tetap bekerja pada
    organisasi tempat bekerja sekarang. Dengan kata lain komitmen yang ada dalam
    diri karyawan desebabkan oleh kewajiban-kewajiban pekerjaan karyawan
    terhadap organisasi. (Dwiarta, 2010, p.27)