Hasibuan (2016, p.194) menyebutkan bahwa dalam
oraganisasi kedisiplinan harus ditegakkan. Adapun dalam
implementasinya, kedisiplinan karyawan ditentukan oleh
beberapa indikator berikut ini.
- Kompetensi dan tujuan, sikap terhadap disiplin di antara
karyawan juga dipengaruhi oleh tujuan dan kemampuannya.
Sangat penting bahwa tujuan yang ditetapkan untuk karyawan
dinyatakan dengan jelas dan cukup mengikat untuk
mencapainya. Jadi, jika menginginkan seorang karyawan bekerja
keras dan disiplin, perlu dipastikan tujuan (tugas) yang diberikan
sesuai dengan kemampuan karyawan. Kejujuran dan
pengendalian diri seorang karyawan disesuaikan jika tugas yang
dihadapi berada di luar kemampuannya atau jauh di bawahnya. - Keteladanan kepemimpinan yang unggul. Disiplin
karyawan sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang
pemimpin sebagai figur yang harus diteladani oleh timnya.
Sebagai seorang pemimpin, wajib untuk memiliki tanggung
jawab memimpin dengan memberi contoh. Hal ini berarti
menjaga kode etik dan bertindak sesuai dengan kata-kata dan
tindakan pemimpin. Bawahan menjadi kurang disiplin ketika
dipimpin oleh pemimpin yang tidak taat aturan. Para pemimpin
tidak dapat mengharapkan karyawan untuk disiplin jika dirinya
tidak disiplin. Bawahan akan meniru tindakan atasannya,
sehingga penting bagi pemimpin untuk menjadi teladan yang
baik. Oleh karena itu, pemimpin perlu memiliki kedisiplinan
yang baik agar tercipta kedisiplinan yang baik pula di antara
bawahannya. - Keadilan, berkaitan dengan sifat alamiah manusia yang
memiliki ego. Pada dasarnya, ego membuat manusia ingin
disetarakan dengan manusia lainnya. Dalam hal ini, rasa adil
bermuara pada penerapan disiplin pegawai. Dalam upaya
mendorong kedisiplinan karyawan yang unggul, penting untuk
memastikan bahwa hukuman atau balas jasa diberikan
berdasarkan kebijaksanaan. - Pengawasan terpadu (waskat), cara paling efektif untuk
menegur pegawai instansi adalah dengan menggunakan
pengawasan terpadu. Dalam menjalankan kebijaksanaan atasan
diharuskan mengambil peran aktif dalam memantau dan
mengawasi perilaku pribadi serta kebiasaan kerja karyawan.
Atasan harus selalu ada untuk mengawasi dan memberikan
arahan kepada bawahannya jika mengalami kesulitan dalam
memenuhi tugas yang diberikan. Di mata karyawan, atasan
memberikan perhatian, bimbingan, instruksi, arahan, dan
pengawasan. - Sanksi, biasanya berupa hukuman bagi yang melakukan
pelanggaran. Semakin berat sanksi, rasa takut di benak karyawan
akan tercipta dengan sendirinya. Rasa takut inilah yang
kemudian akan melahirkan peningkatan rasa disiplin dalam diri
karyawan. Beratnya hukuman yang dijatuhkan kepada karyawan,
baik berat atau ringan, berdampak pada tingkat kedisiplinan
karyawan. Berdasarkan alasan yang logis, tepat, dan
dikomunikasikan dengan jelas kepada seluruh karyawan,
tindakan hukuman harus dirumuskan dan ditegakkan. Peraturan
mengenai hukuman seyogiyanya dalam batas wajar (tidak terlalu
ringan atau berat). Dengan demikian, hukuman akan
memberikan pengalaman berharga bagi karyawan yang pernah
melakukan pelanggaran. Hukuman harus bersifat disiplin,
instruksional, dan berfungsi sebagai alat motivasi bagi lembaga. - Ketegasan, perilaku pegawai akan dipengaruhi oleh
kemauan pimpinan untuk mengambil tindakan tegas. Pemimpin
harus memiliki keberanian dan tekad untuk mendisiplinkan
setiap pegawai sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.
Bawahan akan menghormati pemimpin yang tidak takut untuk
mengambil tindakan tegas dalam hal menegakkan tindakan
disipliner terhadap karyawan. Ketegasan seorang pemimpin
harus dibuktikan dengan kepatuhannya dalam menindaklanjuti
karyawan yang melanggar aturan. Jika tidak ditindaklanjuti
dengan disiplin, maka akan kesulitan menegakkan aturan dan
hukuman pada stafnya. Hal ini akan mengarah pada penurunan
moral dan produktivitas. Tidak perlu ada aturan atau regulasi di
instansi jika pimpinan tidak menindaklanjuti atau mendisiplinkan
pegawai yang melanggar aturan. - Hubungan antar orang, disiplin lembaga dapat
ditingkatkan jika pegawai memiliki hubungan interpersonal yang
solid. Baik interaksi vertikal maupun horizontal, termasuk
hubungan langsung satu lawan satu dan kelompok, serta
hubungan lintas tingkat harus selaras.
