Dalam teori full range model of leadership ada tiga gaya
kepemimpinan yaitu kepemimpinan transformasional, transaksional dan
laissez faire. Kepemimpinan yang efektif adalah komponen yang paling
penting yang mengarah organisasi untuk hasil yang efektif (Wong, 2008).
Keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku
bawahan banyak dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Beberapa ahli
mengemukakan pendapat tentang macam-macam gaya kepemimpinan,
adalah sebagai berikut :
- Gaya kepemimpinan menurut pendapat (Hasibuan, 2009, p. 170) gaya
kepemimpinan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
a) Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan Otoriter adalah jika kekuasaan atau
wewenang, sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau
kalau pimpinan itu menganut sistem sentralisasi wewenang.
Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya ditetapkan sendiri
oleh pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan untuk memberikan
saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
Orientasi kepemimpinannya difokuskan hanya untuk peningkatan
produktivitas kerja karyawan dengan kurang memperhatikan
perasaan dan kesejahteraan bawahan.
(Siagian, 2014) berpendapat tentang gaya kepemimpinan
otoriter sebagai berikut, seorang pemimpin yang tergolong sebagai
orang yang otoriter memiliki ciri-ciri yang umumnya negatif. Ciriciri yang menonjol adalah:
a) Penonjolan diri yang berlebihan sebagai simbol keberadaan
organisasi
b) Kegemaran menonjolkan diri sebagai penguasa tunggal
c) Biasanya dihinggapi penyakit megalomaniac, dalam arti gila
hormat
d) Tujuan pribadinya identik dengan tujuan organisasi
e) Loyalitas para bawahan merupakan tuntutan yang sangat kuat.
Demikian kuatnya sehingga mengalahkan kinerja, kejujuran,
serta penerapan norma-norma moral dan etika
f) Menerapkan disiplin organisasi yang kuat
g) Menerapkan pengendalian dan pengawasan yang ketat
b) Kepemimpinan Partisipatif
Kepemimpinan Partisipatif adalah apabila dalam
kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan
kerja sama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi
para bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar merasa ikut
memiliki perusahaan. Bawahan harus berpartisipasi memberikan
saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
Pemimpin dengan gaya partisipatif akan mendorong kemampuan
bawahan mengambil keputusan. Dengan demikian, pimpinan akan
selalu membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang
lebih besar.
Kepemimpinan partisipatif termasuk model kepemimpinan
situasi yang muncul karena model kepemimpinan dalam
pembahasan sebelumnya tidak mampu memberikan jawaban
terhadap persoalan-persoalan yang muncul dalam kepemimpinan
saat ini. Perilaku kepemimpinan tersebut dapat ditunjukkan dengan
tanda-tanda, sebagai berikut:
1) Pendekatan akan berbagai persoalan dengan pikiran terbuka.
2) Mau atau bersedia memperbaiki posisi-posisi yang telah
terbentuk.
3) Mencari masukan dan nasehat yang menentukan.
4) Membantu perkembangan kepemimpinan yang posisional dan
kepemimpinan yang sedang tumbuh.
5) Bekerja secara aktif dengan perseorangan atau kelompok.
6) Melibatkan orang lain secara tepat dalam pengambilan
keputusan. (Wahjosumidjo, 2001, pp. 28-29)
Sedangkan menurut H. Hadari Nawawi dalam bukunya
kepemimpinan mengefektifkan organisasi menuliskan bahwa
kepemimpinan partisipatif sama pemahamannya dengan
kepemimpinan kompromi (compromiser) yang menunjukkan
karakteristik, sebagai berikut:
a. Seorang pemimpin dalam gaya ini untuk mempertahankan
kekuasaanya tidak berorientasi pada anggota organisasi, tetapi
pada pimpinan atasanya yang berpengaruh dan menentukan
jabatan kepemimpinannya.
b. Mengikutsertakan bawahan dalam mengambil keputusan, bukan
untuk kesempatan menyampaikan gagasan, kreativitas dan lainlain.
c. Dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaan pekerjaan,
pemimpin selalu memperhitungkan untung rugi bagi dirinya
bukan bagi bawahan atau organisasinya.
d. Tidak tertarik pada pengembangan pekerjaan dan organisasi
melainkan untuk menjalankan tugas guna mempertahankan
kepemimpinannya.
e. Mampu bekerja sama dengan bawahan dalam melaksanakan
pekerjaan.
13
f. Memberikan dorongan (motivasi) secara selektif pada anggota
organisasi atau bawahan. (Nawawi, 2006, pp. 131-133)
Dari beberapa pendapat diatas penulis simpulkan, ada
beberapa ciri (karakteristik) dari model kepemimpinan partisipatif,
ialah:
a. Bekerja secara aktif dengan bawahan baik perseorangan maupun
kelompok.
b. Mengikutsertakan bawahan secara tepat dalam pengambilan
keputusan.
c. Mementingkan menjalankan tugas guna untuk mempertahankan
kepemimpinan dan kekuasaanya.
d. Menerima masukan dan nasehat yang bersifat membangun demi
perkembangan organisasi.
e. Memberikan motifasi secara penuh pada anggota organisasi.
c) Kepemimpinan Delegatif
Kepemimpinan Delegatif apabila seorang pemimpin
mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan dengan agak
lengkap. Dengan demikian, bawahan dapat mengambil keputusan
dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa dalam melaksanakan
pekerjaannya. Pemimpin tidak peduli cara bawahan mengambil
keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan
kepada bawahan. Pada prinsipnya pemimpin bersikap menyerahkan
dan mengatakan kepada bawahan inilah pekerjaan yang harus
saudara kerjakan, saya tidak peduli, terserah saudara bagaimana
mengerjakannya asal pekerjaan tersebut bisa diselesaikan dengan
baik. Dalam hal ini bawahan dituntut memiliki kematangan dalam
pekerjan (kemampuan) dan kematangan psikologis (kemauan).
Kematangan pekerjaan dikaitkan dengan kemampuan untuk
melakukan sesuatu yang berdasarkan pengetahuan dan
keterampilan. Kematangan psikologis dikaitkan dengan kemauan
atau motivasi untuk melakukan sesuatu yang erat kaitannya dengan
rasa yakin dan keterikatan - Gaya kepemimpinan menurut (Sutikno, 2014, p. 35) mengatakan gaya
kepemimpinan atau perilaku kepemimpinan atau sering disebut Tipe
Kepemimpinan. Tipe kepemimpinan yang luas dikenal dan diakui
keberadaanya adalah sebagai berikut :
a) Tipe Otokratik
Tipe kepemimpinan ini menganggap bahwa
kepemimpinan adalah hak pribadinya (pemimpin), sehingga ia
tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain dan tidak boleh ada
orang lain yang turut campur. Seorang pemimpin yang tergolong
otokratik memiliki serangkaian karateristik yang biasanya
dipandang sebagai karakteristik yang negatif. Seorang pemimpin
otokratik adalah seorang yang egois. Seorang pemimpin otokratik
akan menunjukan sikap yang menonjolakan keakuannya, dan
selalu mengabaikan peranan bawahan dalam proses pengambilan
keputusan, tidak mau menerima saran dan pandangan
bawahannya.
b) Tipe Kendali Bebas atau Masa Bodo (Laisez Faire)
Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe
kepemimpinan otokratik. Dalam kepemimpinan tipe ini sang
pemimpin biasanya menunjukkan perilaku yang pasif dan
seringkali menghindar diri dari tanggung jawab. Seorang
pemimpin yang kendali bebas cenderung memilih peran yang
pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya
sendiri. Disini seorang pemimpin mempunyai keyakinan bebas
dengan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya terhadap
bawahan maka semua usahanya akan cepat berhasil.
c) Tipe Paternalistik
Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang
peranannya dalam kehidupan organisasi dapat dikatakan diwarnai
oleh harapan bawahan kepadanya. Harapan bawahan berwujud
keinginan agar pemimpin mampu berperan sebagai bapak yang
bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya
dan untuk memperoleh petunjuk, memberikan perhatian terhadap
kepentingan dan kesejahteraan bawahannya. Pemimpin yang
paternalistik mengharapkan agar legitimasi kepemimpinannya
merupakan penerimaan atas peranannya yang dominan dalam
kehidupan organisasi.
d) Tipe Kharismatik
Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki
karakteristik khusus yaitu daya tariknya yang sangat memikat,
sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat besar dan
para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkrit
mengapa orang tersebut itu dikagumi. Hingga sekarang, para ahli
belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seorang
pemimpinmemiliki kharisma. Yang diketahui ialah bahwa
pemimpin yang demikian mempunyai daya penarik yang amat
besar.
e) Tipe Militeristik
Pemimpin tipe militeristik berbeda dengan seorang
pemimpin organisasi militer. Pemimpin yang bertipe militeristik
ialah pemimpin dalam menggerakan bawahannya lebih sering
mempergunakan sistem perintah, senang bergantung kepada
pangkat dan jabatannya, dan senang kepada formalitas yang
berlebih-lebihan. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari
bawahannya, dan sukar menerima kritikan dari bawahannya.
