Teori Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan pada dasarnya dapat dilihat dari bermacam-macam
sudut pandang. Bila dilihat dari sudut perilaku pemimpin, apa yang
dikemukakan oleh Tannebaum dan Schmidt (1994), perilaku pemimpin
membentuk suatu kontinum dari sifat otokratik sampai demokratik. Menurut
beliau, sifat penggunaan kebebasan oleh pengikut. Kombinasi dari kedua faktor
inilah yang menentukan pada tingkat mana seorang pemimpin mempraktikkan
perilaku kepemimpinan.
Ada beberapa pendapat tentang gaya kepemimpinan yang diajukan oleh
pakar yang semuanya dapat ditelusuri dalam beberapa literatur kepemimpinan,
organisasi, dan manajemen. Studi dari Ohio State University misalnya,
mengemukakan dua orientasi utama pemimpin di dalam menerapkan
kepemimpinan, yaitu orientasi pada hubungan kemanusiaan dan orientasi pada
struktur tugas.
Menurut Sutarto dalam (Tohardi,2002) pendekatan perilaku
berlandaskan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin
ditentukan oleh gaya bersikap dan betindak seorang pemimpin yang
bersangkutan. Gaya bersikap dan bertindak akan tampak dari :

  1. Cara memberi perintah.
  2. Cara memberikan tugas.
  3. Cara berkomunikasi.
  4. Cara membuat keputusan.
  5. Cara mendorong semangat bawahan.
  6. Cara memberikan bimbingan.
  7. Cara menegakkan disiplin.
  8. Cara mengawasi pekerjaan bawahan.
  9. Cara meminta laporan dari bawahan.
  10. Cara memimpin rapat.
  11. Cara menegur kesalahan bawahan, dan lain-lain.
    Menurut Tohardi (2012), adapun gaya kepemimpinan yang ada, yaitu :
    a) Gaya persuasif, yaitu gaya memimpin dengan menggunakan pendekatan yang
    mengunggah perasaan, pikiran, atau dengan kata lain dengan melakukan ajakan
    atau bujukan.
    b) Gaya represif, yaitu gaya kepemimpinan dengan cara memberikan tekanan-
    tekanan, ancaman-ancaman, sehingga bawahan merasa ketakutan.
    c) Gaya partisipatif, yaitu gaya kepemimpinan di mana memberikan kesempatan
    kepada bawahan untuk itu secara aktif baik mental, spiritual, fisik, maupun
    materil dalam kiprahnya di organisasi.
    d) Gaya inovatif, yaitu pemimpin yang selalu berusaha dengan keras untuk
    mewujudkan usaha-usaha pembaruan di dalam segala bidang, baik bidang
    politik, ekonomi, sosial, budaya, atau setiap produk terkait dengan kebutuhan
    manusia.
    e) Gaya investigatif, yaitu gaya pemimpin yang selalu melakukan penelitian yang
    disertai dengan rasa penuh kecurigaan terhadap sehingga menimbulkan yang
    menyebabkan kreativitas, inovasi, serta inisiatif dari bawahan kurang
    berkembang, karena bawahan takut melakukan kesalahan-kesalahan.
    f) Gaya inspektif, yaitu pemimpin yang suka melakukan acara-acara yang bersifat
    protokoler, kepemimpinan dengan gaya inspektif menuntut penghormatan
    bawahan, atau pemimpin yang senang apabila dihormati.
    g) Gaya motivatif, yaitu pemimpin yang dapat menyampaikan informasi
    mengenai ide-idenya, program-program, dan kebijakan-kebijakan kepada
    bawahan dengan baik. Komunikasi tersebut membuat segala ide, program dan
    kebijakan dapat dipahami oleh bawahan sehingga bawahan mau merealisasikan
    semua ide, program, dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpin.
    h) Gaya naratif, yaitu pemimpin yang bergaya naratif merupakan pemimpin yang
    banyak bicara namun tidak disesuaikan dengan apa yang ia kerjakan, atau
    dengan kata lain pemimpin yang banyak bicara sedikit kerja.
    i) Gaya edukatif, yaitu pemimpin yang suka melakukan pengembangan bawahan
    dengan cara memberikan pendidikan dan keterampilan kepada bawahan,
    sehingga bawahan menjadi memiliki wawasan dan pengalaman yang lebih baik
    dari hari ke hari. Sehingga seorang pemimpin yang bergaya edukatif takkan
    pernah menghalangi bawahan yang ingin mengembangkan pendidikan dan
    keterampilan.
    j) Gaya retrogresif, yaitu pemimpin tidak suka melihat maju, apalagi melebihi
    dirinya. Untuk itu pemimpin yang bergaya retrogresif selalu menghalangi
    bawahannya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Sehingga
    dengan kata lain, pemimpin yang bergaya retrogresif sangat senang melihat
    bawahanya selalu terbelakang, bodoh dan sebagainya