Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli Ulang


Menurut Kotler & Armstrong (2011:135-150) dalam Puspitasari (2016)
faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang untuk melakukan pembelian
ulang, yaitu sebagai berikut ini :

  1. Faktor Kultur
    Kultur dan kelas sosial seseorang dapat mempengaruhi minat seseorang
    dalam melakukan pembelian. Konsumen memiliki persepsi, keinginan dan
    tingkah laku yang dipelajari sedari kecil, sehingga pada akhirnya akan
    membentuk persepsi yang berbeda-beda pada masing-masing konsumen. Faktor
    nasionalitas, agama, kelompok ras dan wilayah geografis juga berpengaruh pada
    masing-masing individu.
  2. Faktor Psikologis
    Meliputi pengalaman belajar individu tentang kejadian di masa lalu, serta
    pengaruh sikap dan keyakinan individu. Pengalaman belajar dapat didefinisikan
    sebagai suatu perubahan perilaku akibat pengalaman sebelumnya. Timbulnya
    minat konsumen untuk melakukan pembelian ulang sangat dipengaruhi oleh
    pengalaman belajar individu dan pengalaman belajar konsumen yang akan
    menentukan tindakan dan pengambilan keputusan membeli.
  3. Faktor Pribadi
    Kepribadian, umur, pekerjaan, situasi ekonomi dan juga lifestyle dari
    konsumen itu sendiri akan mempengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan
    dalam membeli. Oleh karena itu, peranan restoran penting dalam memberikan
    pelayanan yang baik kepada konsumennya. Faktor pribadi ini termasuk di
    dalamnya konsep diri. Konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara kita melihat
    diri sendiri dan dalam waktu tertentu sebagai gambaran tentang upah yang kita
    pikirkan. Dalam hubungan dengan minat beli ulang, restoran perlu menciptakan
    situasi yang diharapkan konsumen. Begitu pula menyediakan dan melayani
    konsumen dengan produk yang sesuai dengan yang diharapkan konsumen.
  4. Faktor Sosial
    Mencakup faktor kelompok anutan (small reference group). Kelompok
    panutan didefinisikan sebagai suatu kelompok orang yang mempengaruhi sikap,
    pendapat, norma dan perilaku konsumen. Kelompok panutan ini merupakan
    kumpulan keluarga, kelompok atau orang tertentu. Dalam menganalisis minat beli
    ulang, faktor keluarga berperan sebagai pengambil keputusan, pengambil inisiatif,
    pemberi pengaruh dalam keputusan pembelian, penentu apa yang dibeli, siapa
    yang melakukan pembelian dan siapa yang menjadi pengguna. Pengaruh
    kelompok acuan terhadap minat beli ulang antara lain dalam menentukan produk
    dan merek yang mereka gunakan yang sesuai dengan aspirasi kelompoknya. Ke
    efektifan pengaruh niat beli ulang dari kelompok anutan sangat tergantung pada
    kualitas produksi dan informasi yang tersedia pada konsumen

Repurchase Intention (Minat Beli Ulang)


Minat beli ulang menunjukkan keinginan pembeli untuk melakukan
kunjungan ulang di masa yang akan datang. Perilaku pembelian ulang seringkali
dikaitkan dengan loyalitas. Namun keduanya berbeda. Perilaku pembelian ulang
hanya menyangkut pembelian ulang merek tertentu yang sama secara berulang-
ulang, sedangkan loyalitas merek mencerminkan komitmen psikologis terhadap
merek tertentu.
Pengertian minat beli ulang menurut Peter dan Olson (2014:289) adalah
kegiatan pembelian yang dilakukan lebih dari satu kali atau beberapa kali.
Kepuasan yang diperoleh seorang pelanggan, dapat mendorong seseorang untuk
melakukan pembelian ulang, menjadi loyal terhadap produk tersebut ataupun
loyal terhadap toko tempat dia membeli barang tersebut sehingga konsumen dapat
menceritakan hal-hal yang baik kepada orang lain.
Menurut Keller dalam Sulistyari (2012:20), minat beli ulang adalah
seberapa besar kemungkinan pelanggan membeli suatu merek atau seberapa besar
kemungkinan pelanggan untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya. Bila
manfaat yang dirasakan lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk
mendapatkannya, maka dorongan untuk membelinya semakin tinggi

Pemasaran


AMA (American Marketing Association) dalam Kotler dan Keller
(2017:124-135) menjelaskan bahwa “Marketing is the activity, set of institutions,
and processes for creating, communicating, delivering, and exchanging offerings
that have value for customers, client, partners, and society large” yang artinya
bahwa pemasaran merupakan suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses
untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan memberikan nilai kepada
pelanggan, klien, rekan, dan cakupan sosial yang lebih luas dan untuk mengelola
hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku
kepentingan.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2017:124-135) sebagai berikut :
“Marketing is a societal process by which individuals and groups obtain what
they need and want through creating, offering, and freely exchanging products
and services of value with others”. Artinya pemasaran adalah sebuah proses
kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka
butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan secara bebas saling
bertukar produk dan jasa yang bernilai satu sama lainnya.
Menurut Kotler dan Armstrong (2017:124-135) Pemasaran adalah sebagai
berikut : “Marketing as the process by which companies create value from
customers and build strong customers relationship in order to capture value from
customers in return”. Artinya pemasaran sebagai proses dimana perusahaan
menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan
pelanggan untuk mendapat nilai dari pelanggan sebagai imbalan.
Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya
pemasaran bukan hanya kegiatan menjual barang maupun jasa tetapi juga meliputi
kegiatan untuk memenuhi keingian dan kebutuhan dengan berusaha
mempengaruhi konsumen untuk bersedia membeli barang dan jasa perusahaan
melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk yang bernilai. Hal ini
sangat penting bagi manajer pemasaran untuk memahami tingkah laku konsumen
tersebut. Sehingga perusahaan dapat mengembangkan, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan prduk secara lebih baik.

Hubungan antara Brand Trust, Kepuasan Pelanggan dan MinatBeli Ulang


Semakin meningkatnya pengaruh kepercayaan merek terhadap minat
beli ulang yang disebabkan oleh kepuasan konsumen yang tinggi.
Pelanggan yang percaya kepada suatu produk atau jasa tentu saja
akan melakukan transaksi secara berulang secara konsisten dimasa yang
akan datang (Rifa’i et al., 2020). Haron et al., (2020) Terciptanya rasa
kepuasan terhadap produk atau jasa yang digunakan oleh pelanggan
akhirnya tumbuh menjadi kepercayaan merek karena apa yang
diharapkan oleh konsumen sudah terpenuhi sehingga minat beli ulang
tentu saja akan terjadi secara berulang. Hal ini sejalan dengan
meningkatnya kepercayaan pelanggan maka pelanggan akan terus
menerus menggunakan jasa atau produk tersebut secara konsisten.
Japarianto & Agatha (2020) brand trust memiliki pengaruh positif
terhadap kepuasan konsumen karena konsumen memiliki kepercayaan
terhadap suatu produk, maka produsen harus konsisten membangun
kepercayaan konsumen.

Hubungan Social Media Marketing, Kepuasan Pelanggan danMinat Beli Ulang


Peranan media sosial untuk meningkatkan minat beli ulang konsumen
dapat dipengaruhi oleh hubungan kerja sama yang baik antara
produsen dan konsumen dalam berkomunikasi melalui media sosial
sehingga mampu meningkatkan minat beli ulang konsumen, dimana hal
ini berdampak terhadap kepuasan konsumen yang dirasakan oleh
konsumen saat berbelanja melalui media sosial. Kepuasan konsumen
dirasakan saat tidak adanya keluhan atas produk yang dibelinya sehingga
akan mempengaruhi minat beli konsumen untuk menggunakan kembali
produk tersebut (Lestari & Iswati, 2021). Menurut oliver dalam jurnal
Dwipayana & Sulistyawati (2018) kepuasan secara positif berkaitan
dengan niat beli ulang baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada tahap akhir dalam proses pembentukan kepuasan, kepuasan akan
menentukan seberapa niat konsumen untuk menggunakan kembali
produk tersebut disebabkan oleh pengaruh pemasaran di media sosial.
Dilanjutkan menurut Tong & Subagio (2020) terdapat pengaruh
positif antara pemasaran media sosial yang menjadi faktor penting
dalam meningkatkan minat beli ulang dengan bantuan media
promosi dimedia sosial. Adanya pengaruh kepercayaan dari
promosi yang dilakukan terhadap minat beli ulang, karena
dengan semakin meningkatnya kepercayaan maka minat beli ulang juga
akan meningkat (Nur et al., 2021).

Kepuasan Pelanggan terhadap Minat Beli Ulang


Kepuasan pembeli meliputi seberapa dekat harapan pembeli atas
suatu produk dengan kinerja yang dirasakan pembeli atas produk tersebut.
Kepuasan konsumen memegang peran penting dalam menentukan antara
harapan konsumen dan kemampuan produk dalam memuaskan konsumen.
Pengaruh yang signifikan antara kepuasan pelanggan dengan minat beli
ulang, dimana semakin tinggi tingkat kepuasan suatu pelanggan maka
akan semakin tinggi pula minat beli ulang yang dilakukan oleh pelanggan
tersebut (Maulana & Sukresna, 2022). Tingkat kepuasan pelanggan akan
menentukan seberapa niat konsumen untuk menggunakan kembali ulang
produk atau membeli ulang produk.
Jadi semakin tinggi konsumen merasa puas terhadap produk maka
semakin banyak konsumen yang melakukan pembelian ulang pada produk.
Kepuasan pelanggan berpengaruh secara parsial terhadap minat beli
pelanggan. Kepuasan pelanggan nantinya dapat menanamkan kepercayaan
bagi konsumen. Kepercayaan yang terbentuk dapat memicu keinginan
pelanggan untuk melakukan pembelian secara berulang (Dwipayana &
Sulistyawati, 2018).

Brand trust terhadap minat beli ulang


Terdapat pengaruh langsung antara kepercayaan merek terhadap
minat beli ulang, karena dengan semakin meningkatnya kepercayaan
terhadap merek maka minat beli ulang juga akan meningkat. Membangun
dan menjaga kepercayaan merek merupakan hal yang sangat penting,
karena berdampak langsung terhadap minat pembelian ulang. Brand trust
menjadi aspek nilai yang mengikat konsumen dengan merek dan sebagai
suatu perasaan aman yang ditimbulkan berdasarkan interaksi mereka
terhadap suatu merek dan merek tersebut dapat dipercayai serta
bertanggung jawab (Fandiyanto & Endriyasari, 2019). Brand trust
merupakan sebuah kemampuan merek untuk meyakinan pelanggannya
bahwa suatu produk mampu memberikan nilai dan ide yang dijanjikan.
Memiliki kepercayaan pada produk didapatkan ketika menerima respon
baik dari konsumen. Jadi jika produk mendapat kepercayaan,
kemungkinan untuk terjadi niat beli ulang akan besar (Nur et al., 2021).
Minat beli ulang pada dasarnya tentang perilaku pelanggan ketika
pelanggan bereaksi positif terhadap kualitas layanan perusahaan dan
berniat untuk kembali atau mengkonsumsi produk perusahaan lagi.
Sehingga minat membeli ulang akan terjadi jika ada rasa puas dari seorang
konsumen

Social Media Marketing terhadap Minat Beli Ulang


Media sosial sebagai platform komunikasi dengan konsumen untuk
memberitahu suatu brand sehingga menjadi faktor penting dalam
meningkatkan minat beli ulang serta membuat konsumen mengingat
kembali suatu merek atau produk dengan bantuan media promosi di media
sosial (Tong & Subagio, 2020). Media sosial sebagai media pemasaran
dapat mempengaruhi niat beli ulang konsumen dengan terus meningkatkan
kegiatan promosi yang menarik di media sosial, karena dengan terus
mengoptimalkan penggunaan media sosial yang tepat dapat meningkatkan
keuntungan melalui pembelian secara berulang. Sebab media teknologi
menurut teori ekologi media menyatakan bahwa kehidupan manusia tidak
dapat dilepaskan dari pengaruh teknologi (Rohani et al., 2020)

Brand Trust Terhadap Kepuasan Pelanggan


Kepercayaan merek memiliki pengaruh terhadap kepuasan
pelanggan karena ketika konsumen memiliki kepercayaan terhadap suatu
produk maka konsumen akan merasa puas bahkan akan
merekomendasikan kepada orang lain. Untuk membentuk suatu brand
trust, penjual produk perlu untuk secara konsisten membangun
kepercayaan konsumen. brand trust yang telah terbentuk akan
menimbulkan rasa nyaman dalam diri konsumen, Konsumen akan
cenderung merasa lebih nyaman dengan satu brand yang telah dipercaya
daripada memilih produk atau jasa dari brand lain (Japarianto & Agatha,
2020). Pelanggan akan percaya pada suatu merek walaupun adanya risiko
yang akan dihadapi. Faktor yang mempengaruhi kepercayaan meliputi tipe
suatu merek, tipe perusahaan dan hubungan pelanggan – merek. Terdapat
pengaruh yang baik antara kepercayaan merek dengan kepuasan pelanggan
dengan menandakan apabila tingkat kepuasan pelanggan tinggi maka
sudah dipastikan pelanggan sangat mempercayai merek tersebut.
(Anggraeni & Syuhada Sofyan., 2017). Kepercayaan merek yang telah
menjadi patokan dalam membangun dan menjalin hubungan bisnis
terutama yang berkaitan dengan unsur resiko sehingga dapat merasakan
kepuasan yang diinginkan (Ihsan & Sutedjo, 2022).

Social Media Marketing terhadap Kepuasan Pelanggan


Pemasaran yang efektif di media sosial sangat memungkinkan
perusahaan menciptakan hubungan yang menguntungkan dengan
konsumen untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Kinerja media sosial
dalam memasarkan produk dapat mempengaruhi tingkat kepuasaan
konsumen terhadap produk yang mereka beli. konsumen yang
menggunakan media sosial tentunya ingin mendapat kepuasan sehingga
terdapat hubungan yang positif antar keduanya (Agustini et al., 2022).
(Agustini et al., 2022) Kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh pemasaran
media sosial, dimulai dari mencari informasi melalui media sosial,
menggunakan media sosial, tertarik karena postingan dan merasa senang
melihat media sosial Tiktok Zoya (Agustini et al., 2022). implementasi
program pemasaran yang efektif di media sosial dapat memungkinkan
perusahaan untuk menciptakan hubungan yang menguntungkan terhadap
konsumen dengan meningkatkan kepuasan (Fajri & Ma’ruf, 2018)

Indikator Kepuasan Pelanggan


Indikator kepuasan pelanggan yang digunakan dalam penelitian,
sebagaimana dikemukakan oleh (Kotler dan Keller 2016:120) pada
meliputi:

  1. Pengalaman: Ini merujuk pada pengalaman atau aktivitas
    yang telah dialami atau dilakukan oleh pelanggan dengan
    produk atau layanan yang mereka gunakan. Kepuasan
    pelanggan dapat muncul sebagai hasil dari pengalaman
    positif yang mereka alami dalam berinteraksi dengan
    perusahaan atau merek.
  2. Harapan Pelanggan: Harapan pelanggan mencakup sejauh
    mana harapan mereka terhadap produk atau layanan tertentu
    cocok dengan kinerja aktual yang mereka terima dari
    perusahaan. Jika kinerja produk atau layanan memenuhi atau
    bahkan melebihi harapan pelanggan, maka hal ini dapat
    berkontribusi positif terhadap kepuasan pelanggan.
    3) Kebutuhan: Indikator ini mengacu pada kesesuaian antara
    kebutuhan atau keperluan pelanggan dengan produk atau
    layanan yang ditawarkan oleh perusahaan. Ketika produk
    atau layanan secara efektif memenuhi kebutuhan pelanggan,
    maka pelanggan cenderung merasa puas.
    Ketiga indikator ini membantu dalam memahami faktor-faktor
    yang mempengaruhi kepuasan pelanggan. Menganalisis dan
    memahami hubungan antara pengalaman, harapan pelanggan,
    dan pemenuhan kebutuhan dengan kepuasan pelanggan dapat
    membantu perusahaan dalam merancang strategi pemasaran yang
    lebih efektif, meningkatkan kualitas produk atau layanan, dan
    mempertahankan hubungan yang kuat dengan pelanggan.

Definisi Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan (customer satisfaction) adalah suatu tingkatan
dimana perkiraan kinerja produk sesuai dengan harapan pembeli
(Kotler and Keller, 2013:150). Kepuasan pelanggan bergantung
pada perkiraan kinerja produk dalam memberikan nilai, relatif
terhadap harapan pembeli. Kepuasan pelanggan merupakan kunci
dalam menciptakan loyalitas pelanggan. Banyak manfaat yang
diterima oleh perusahaan dengan tercapainya tingkat kepuasan
pelanggan yang tinggi yaitu selain dapat meningkatkan loyalitas
pelanggan tapi juga dapat mencegah terjadinya perputaran
pelanggan, mengurangi sensitivitas pelanggan terhadap harga,
mengurangi biaya kegagalan pemasaran, mengurangi biaya operasi
yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah pelanggan,
meningkatkan efektivitas iklan dan meningkatkan reputasi bisnis
(Aryani dan Rosinta, 2010)

Indikator Brand Trust


Menurut Lau dan Lee (1999) dalam jurnal penelitiannya yang
berjudul “Consumers’ Trust in a Brand and Link to Brand Loyalty”
mengemukakan bahwa terdapat tiga indikator yang dapat digunakan
untuk mengukur Brand Trust, yaitu:

  1. Brand Characteristic (Karakteristik Merek)
    Karakteristik merek berperan penting dalam menentukan seorang
    konsumen memutuskan untuk mempercayainya. Karakteristik
    sebuah merek terdiri dari reputasi merek yang baik yang dapat
    terwujud dari iklan dan hubungan masyarakat yang baik pula.
    Namun, hal ini juga dapat dilihat dari kualitas dan performa dari
    sebuah produk. Reputasi merek juga terwujud dari brand
    predictability yang berdampak pada harapan positif konsumen
    terhadap merek, dan brand competence, yaitu seberapa kompeten
    merek tersebut dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan
    pelanggan.
  2. Company Characteristic (Karakteristik Perusahaan)
    Tingkat kepercayaan pelanggan terhadap suatu brand juga
    dipengaruhi oleh atribut perusahaan tersebut. Nilai suatu merek bisa
    dipengaruhi oleh pengetahuan konsumen tentang perusahaan di balik
    merek tersebut. Saat sebuah perusahaan mendapatkan kepercayaan
    dari konsumennya, maka sebuah merek produk yang muncul dari
    perusahaan tersebut juga akan mendapatkan kepercayaan dari
    konsumen. Karakteristik perusahaan ini terdiri dari reputasi
    perusahaan dan integritas perusahaan.
  3. Consumer-Brand Characteristic (Karakteristik Konsumen-Merek)
    Atribut merek bisa berdampak pada kepercayaan pelanggan terhadap
    merek tersebut. Ciri-ciri ini terdiri dari pengalaman merek, kesukaan,
    kepuasan, dan dampak merek dari konsumen lain (word of mouth),
    serta kesamaan antara konsep diri konsumen dan citra merek.

Definisi Brand Trust


Kepercayaan Merek (Brand Trust) diartikan sebagai konsumen yang
mempercayai suatu produk dengan segala resikonya karena adanya
harapan atau ekspektasi tinggi terhadap merek tersebut akan
memberikan hasil yang positif sehingga konsumen akan memberikan
rasa kesetiaan dan kepercayaan terhadap suatu merek (Hidayah &
Apriliani, 2019). Kepercayaan Merek (Brand Trust) didefinisikan
suatu perasaan aman yang ditimbulkan berdasarkan interaksi mereka
terhadap suatu merek dan merek tersebut dapat dipercayai serta
bertanggung jawab (Tong & Subagio, 2020). Kepercayaan
melibatkan kesediaan seseorang untuk bertingkah laku tertentu
karena keyakinan bahwa mitranya akan memberikan apa yang ia
harapkan (Rodiques & Rahanatha, 2018).

Indikator social media marketing


Variabel social media marketing dalam penelitian ini diukur
dengan mengacu pada indikator-indikator yang telah ditentukan
oleh Oktriyanto, dkk. (2021). Indikator-indikator tersebut
mencakup:
1) Entertainment (Hiburan): Mencerminkan sejauh mana
pemasaran melalui media sosial memberikan aspek hiburan
yang menarik bagi konsumen.
2) Interaction (Interaksi): Mengukur tingkat interaksi dan
keterlibatan konsumen dengan konten yang dipromosikan
melalui media sosial.
3) Trendiness (Keterkinian): Menggambarkan sejauh mana
pemasaran melalui media sosial mengikuti tren dan
perkembangan terkini dalam industri atau pasar.
4) Customization (Penyesuaian): Mencerminkan tingkat
penyesuaian konten pemasaran dengan preferensi dan
kebutuhan individu konsumen
5) Advertisement (Iklan): Mengukur efektivitas iklan yang
disebarkan melalui media sosial sebagai bagian dari strategi
pemasaran.

Definisi Social Media Marketing


Social media adalah platform online di mana orang-orang dengan
minat yang sama mendukung satu sama lain dengan berbagi,
memberi komentar, dan memberikan dukungan (Weber, 2007).
Penggunaan platform komunikasi online yang didasarkan pada
penggunaan internet dan teknologi berbasis seluler dalam strategi
pemasaran oleh bisnis sangat penting karena mempengaruhi
bagaimana konsumen merespons produk dan merek mereka, serta
bagaimana produk dan merek tersebut disajikan kepada konsumen
lain (Sigala & Marinidis, 2009; Chen et al., 2011) (Fahmi et al.,
2019).
Menurut Santoso, Baihaqi, & Persada (2017), pemasaran media
sosial adalah bentuk pemasaran yang digunakan untuk menciptakan
kesadaran, pengakuan, ingatan, dan tindakan terhadap suatu merek,
produk, bisnis, individu, atau kelompok, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dengan menggunakan alat dari web sosial
seperti blogging, microblogging, dan jejaring sosial. Menurut
Ariadi & Saino (2014), pemasaran media sosial adalah upaya untuk
membujuk konsumen agar memilih suatu perusahaan, produk, atau
jasa yang ditawarkan. Pemasaran media sosial melibatkan
penggunaan jaringan sosial, blog pemasaran, dan berbagai platform
lainnya. Qurniawati (2018) menyatakan bahwa pemasaran media
sosial dilakukan untuk melibatkan pelanggan di platform online di
mana mereka secara alami menghabiskan waktu (Arif, 2021).
Social media marketing (SMM) melibatkan metode yang terkait
dengan pemasaran langsung dan tidak langsung untuk menciptakan
kesadaran, pengakuan, dan minat ulang terhadap suatu produk,
orang, atau merek. Ini dilakukan melalui alat-alat seperti jejaring
sosial, penyebaran konten, dan microblogging (Gunelius, 2011).
Dalam istilah yang lebih sederhana, SMM dapat dijelaskan sebagai
praktik periklanan yang dilakukan secara online, memanfaatkan
karakteristik etnis suatu masyarakat melalui jejaring sosial (seperti
Facebook dan YouTube), jejaring virtual (seperti Second Life), dan
situs yang berfokus pada pendapat (seperti Eopinions) untuk
mencapai tujuan pemasaran strategis (Tuten, 2008) (Fahmi et al.,
2019).

Indikator Minat Beli Ulang


Ferdinand dalam (Bahar & Sjaharuddin,2015) mengatakan bahwa
Indikator yang dapat diidentifikasikan dalam minat beli ulang
yaitu:

  1. Minat transaksional, yang merupakan kecenderungan
    seseorang untuk membeli ulang produk yang telah
    dikonsumsinya.
  2. Minat referensial, merupakan kecenderungan seseorang
    untuk mereferensikan produk yang sudah dibeli, agar dibeli
    juga oleh orang lain, dengan referensi pengalaman
    konsumsinya;
  3. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan
    perilaku seseorang yang selalu memiliki preferensi utama
    pada produk yang telah dikonsumsi.
  4. Minat eksploratif, yaitu menggambarkan perilaku seseorang
    yang selalu mencari informasi mengenai produk yang
    diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-
    sifat positif dari produk yang dilanggananinya

Definisi Minat Beli Ulang


Menurut Kotler (2016) minat beli ulang yakni sebagaimana
perilaku individu yang termotivas untuk menukarkan uangnya
untuk menikmati atas barang yang yang telah dialami oleh
individu. Sedangkan konsep minat beli ulang menurut Belopa
(2015) faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang untuk
melakukan pembelian ulang yaitu psikologis, pribadi, dan sosial.
Minat beli ulang (Repurchase Intention) adalah niat atau keinginan
seorang pelanggan untuk kembali melakukan pembelian produk
atau layanan dari suatu perusahaan atau merek yang telah dia beli
sebelumnya. Ini mencerminkan tingkat kepuasan pelanggan
terhadap pengalaman sebelumnya dengan produk atau layanan
tersebut dan sejauh mana mereka memiliki niat untuk
mempertahankan hubungan bisnis dengan perusahaan atau merek
yang sama. Minat beli ulang adalah indikator penting dalam
mengukur kesetiaan pelanggan dan dapat menjadi petunjuk bagi
perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan
dengan pelanggan yang sudah ada. Menurut Ferdinand (2014)
perilaku pembeli condong membeli produk, kecendurangan orang
merenferensikan produk kepada orang lain, tingkah laku seseorang
yang memiliki preferensi utama pada produk, dan mencar nformasi
untuk mendukung sifat – sifat baik produk tersebut

Pengaruh Promosi Terhadap Minat Beli


Promosi merupakan salah satu kegiatan pemasaran yang penting
bagi perusahaan dalam mempertahankan kontinuitas serta
meningkatkan kualitas penjualan, dan untuk meningkatkan kegiatan
pemasaran terhadap barang atau jasa dari suatu perusahaan. Menurut
Tjiptono (2010) Promosi merupakan suatu ungkapan dalam arti luas
tentang kegiatan-kegiatan yang secara efektif dilakukan perusahaan
untuk mendorong konsumen menggunakan produk atau jasa yang
ditawarkan.Perusahaan yang mampu mempromosikan suatu produk
dengan baik maka akan meningkatkan minat beli. Hasil penelitian ini
didukung dengan adanya penelitian dari Martono dan Iriani (2014)
yang berhasil membuktikan bahwa promosi berpengaruh signifikan
terhadap minat beli

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Minat Beli


Kualitas produk merupakan segala sesuatu yang ditawarkan ke
pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan atau dikonsumsi
yang dapat memuaskan keinginan konsumen. Pemasar yang tidak
memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan akan menanggung
tidak loyalnya konsumen sehingga penjualan produknya pun cenderung
menurun. Menurut Kotler dan Amstrong dalam Nurdiansyah (2017),
menyatakan bahwa pemasar harus memperhatikan kualitas, bahkan
diperkuat dengan periklanan dengan harga yang wajar maka konsumen
tidak akan berfikir panjang untuk melakukan pembelian terhadap
produk. Minat beli konsumen adalah tahap dimana konsumen
membentuk pilihan mereka diantara beberapa merk yang tergabung
dalam perangkat pilihan, kemudian pada akhirnya melakukan suatu
pembelian pada suatu alternatif yang paling disukainya atau proses
yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang
didasari oleh bermacam pertimbangan. Hasil penelitian Martono dan
Iriani (2014) berhasil membuktikan bahwa kualitas produk berpengaruh
signifikan terhadap minat beli.

Pengaruh Harga Terhadap Minat Beli


Harga sering kali dikaitkan dengan kualitas, konsumen cenderung
untuk menggunakan harga sebagai indikator kualitas atau kepuasan
potensial dari suatu produk. Menurut Umar dalam Widyaningrum
(2011), menyatakan bahwa produk dengan harga yang lebih murah,
fasilitas yang mudah didapatkan dan murah akan lebih diminati
masyarakat. Perusahaan yang mampu meluncurkan produk dengan
kualitas yang baik maka akan meningkatkan minat beli. Dalam
menentukan minat beli, informasi tentang harga sangatlah dibutuhkan
dimana informasi ini akan diperhatikan, dipahami dan makna yang
dihasilkan dari informasi harga ini dapat mempengaruhi perilaku
konsumen.

Tujuan promosi


Menurut Tjiptono (2015) Setiap perusahaan yang melakukan
kegiatan promosi tentu tujuan utamanya adalah untuk mencari laba
(keuntungan), pada umumnya kegiatan promosi harus mendasarkan
kepada tujuan sebagai berikut :

  1. Menginformasikan
    Kegiatan promosi yang bertujuan untuk berusaha
    menginformasikan konsumen akan merek atau produk tertentu
    baik itu produk maupun merek baru atau produk dan merek
    yang sudah lama tetapi belum luas terdengar oleh konsumen.
  2. Membujuk
    Kegiatan promosi yang bersifat membujuk dan mendorong
    konsumen untuk melakukan pembelian atas produk yang
    ditawarkan. Perusahaan lebih mengutamakan penciptaan kesan
    positif kepada konsumen agar promosi dapat berpengaruh
    terhadap perilaku pembeli dalam waktu lama.
  3. Mengingatkan
    Kegiatan promosi yang bersifat mengingatkan ini dilakukan
    untuk mempertahankan merek produk dihati masyarakat, dan
    mempertahankan pembeli yang akan melakukan transaksi
    pembelian.

Indikator-indikator promosi


Menurut Kotler (2012) indikator promosi adalah sebagai berikut :

  1. Advertising (periklanan)
    Semua yang bentuk presentasi dan promosi nonpersonal yang
    dibayar oleh sponsor untuk mempersentasikan gagasan, dan
    barang atau jasa. Periklanan di anggap sebagai manajemen citra
    yang bertujuan menciptakan dan memelihara cipta dan makna
    dalam benak konsumen. Bentuk promosi yang digunakan
    mencakup broadcast, print, internet, outdoor, dan dalam
    bentuk lainnya.
  2. Sales promotion (promosi penjualan)
    Intensif-intensif jangka pendek untuk mendorong pembelian
    atau penjualan suatu produk atau jasa. Bentuk promosi yang
    digunakan mencakup discounts, coupons, displays,
    demonstrations, contests, sweepstake, dan event.
  3. Personal selling (penjualan perseorangan)
    Persentasi personal oleh tenaga penjualan dengan tujuan
    menghasilkan penjualan dan membangun hubungan dengan
    konsumen. Bentuk promosi yang digunakan mencakup
    presentations, trade shows, dan incentive programs.
  4. Public relations (hubungan masyarakat)
    Membangun hubungan yang baik dengan berbagai publik
    perusahaan supaya memperoleh publisitas yang
    menggantungkan, membangun citra perusahaan yang bagus,
    dan menangani atau meluruskan rumor, cerita, serta event yang
    tidak menguntungkan. Bentuk promosi yang digunakan
    mencakup press releases, ponsorships, special event, dan web
    pages.
  5. Direct marketing (penjualan langsung)
    Hubungan langsung dengan sasran konsumen dengan tujuan
    untuk memperoleh tanggapan segera dan membina hubungan
    yang abadi dengan konsumen. Bentuk promosi yang digunakan
    mencakup catalogs, telephone marketing, kiosks, internet,
    mobile marketing, dan lainnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi promosi


Kotler (2012:13) mengungkapkan faktor-faktor yang
mempengaruhi promosi, yaitu :

  1. Pemasar
    Dalam hal ini bisa digunakan push strategy dan pull strategy.
    Kegiatan push adalah mendorong penjualan yang dapat terjadi
    karena produsen mendorong pedagang besar kemudian
    pedagang besar mendorong konsumen agar mau membeli suatu
    produk. Dalam hal ini produsen langsung mengarahkan
    promosi ke konsumen akhir dan nanti konsumenlah yang
    meminta produk tersebut.
  2. Target pasar
    Penentuan target pasar mengenai lokasi, usia, jenis kelamin,
    status ekonomi, status pendidikan, dan lokasi pasar sebagai
    target yang akan dituju karena akan mempengaruhi bauran
    pemasaran yang akan digunakan sehingga akan berjalan efektif
    dan efisien.
  3. Produk
    Maksudnya melihat posisi produk dalam tingkat siklus
    kehidupan, pada tahap introduksi produk, promosi diarahkan
    untuk memperkenal produk dengan cara memberi sampel. Pada
    tahap growth promosi diarahkan untuk memantapkan
    kepercayaan masyarakat.
  4. Situasi
    Ini tergantung pada berbagai situasi lingkungan perusahaan,
    seperti persaingan, ekonomi, politik, dan sebagainya

Pengertian Promosi


Promosi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan
mengkomunikasikan produk kepada konsumennya, sehingga
konsumen tersebut ikut merasakan kegunaan produk yang
dihasilkan sertan kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
Oleh karena itu, betapa pun tingginya kualitas produk yang
dihasilkan bila tanpa produk promosi yang optimal atau proses
menginformasikan yang baik kepada konsumen maka aktivitas
pemasaran tidak akan pernah efektif dan efisien. Menurut Kotler
(2012:10) promosi adalah usaha yang dilakukan oleh marketer,
berkomunikasi dengan calon audiens, komunikasi adalah proses
membagi ide, informasi atau perasaan audiens.
Menurut Alma (2014:179) promosi adalah suatu bentuk
komunikasipemasaran, yang merupakan aktivitas pemasaran yang
berusahamenyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan
atau mengingatkanpasar sasaran atas perusahaan dan produknya
agar bersedia menerima,membeli, dan loyal pada produk yang
ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Dalam usaha
menunjangpenjualan suatu produk dan memperkenalkannya kepada
orang lain ataukonsumen, serta menarik konsumen untuk membeli
produk maka diperlukansuatu usaha untuk mempromosikan produk
tersebut.Selain mempunyai mamfaat dalam memperkenalkan
produk baru, promosi juga penting sekali dalam hal
mempertahankan selera konsumen untuktetap mengkonsumsi
produk yang sudah ada. Namun betapun gencarannyakegiatan
promosi yang dilakukan perusahaan, perlu pula didukung oleh
hargadan kualitas dari produk yang dipromosikan.
Lalu Buchari Alma (2012) juga mengatakan promosi adalah
sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang menyakinkan
calon konsumen tentang barang dan jasa. Menurut Kotler dan
Keller (2016) promosi adalah aktifitas yang mengkomunikasikan
keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk
membelinya. Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa promosi adalah suatu kegiatan komunikasi
antara pembeli dan penjual mengenai keberadaan produk dan jasa,
menyakinkan, membujuk, dan meningkatkan kembali akan produk
dan jasa tersebut sehingga mempengaruhi sikap perilaku yang
mendorong kepada pertukaran dalam pemasaran

Tingkatan kualitas produk


Menurut Arif (2012), terdapat lima tingkatan didalam kualitas
produk, yaitu :

  1. Manfaat inti (core benefit), yaitu jasa atau manfaat inti
    sesungguhnya yang dibeli dan diperoleh oleh konsumen.
  2. Manfaat dasar tambahan (basic product), tingkat selanjutnya
    seorang pemasar harus mampu merubah manfaat inti menjadi
    produk dasar.
  3. Harapan produk (expected product), adalah serangkaian kondisi
    yang diharapkan dan disenangi, dimiliki atribut produk
    tersebut.
  4. Kelebihan yang dimiliki produk (augmented product), yaitu
    salah satu manfaat dan pelayanan yang dapat membedakan
    produk tersebut dengan pesaing.
  5. Potensi masa depan produk (potensial product), artinya
    bagaimana harapan masa depan produk tersebut apabila terjadi
    perubahan dan perkembangan teknologi serta selera konsumen.

Indikator dari kualitas produk


Menurut Kotler dan Keller (2012) kualitas produk memiliki
indikator sebagai berikut :

  1. Bentuk (form), bentuk sebuah produk dapat meliputi ukuran,
    bentuk, atau struktur fisik produk.
  2. Fitur (feature), fitur produk yang melengkapi fungsi dasar suatu
    produk.
  3. Penyesuaian (customization), pemasar dapat
    mendiferensiasikan produk dengan menyesuaikan produk
    tersebut dengan keinginan perorangan.
  4. Kualitas kinerja (performance quality), tingkat dimana
    karakteristik utama produk beroperasi.
  5. Kualitas kesesuaian (conformance quality), tingkat dimana
    semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi
    yang dijanjikan.
  6. Ketahanan (durability), merupakan ukuran umur operasi
    harapan produk dalam kondisibisa atau penuh tekanan.
  7. Keandalan (reliability),ukuran profitabilitas bahwa produk akan
    bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu
    tertentu.
  8. Kemudahan perbaikan (repairability), ukuran kemudahan
    perbaikan produk ketika produk itu tidak berfungsi atau gagal.
  9. Gaya (style), menggambarkan penampilan dan rasa produk
    kepada pembeli.
  10. Desain (design), totalitas fitur yang mempengaruhi tampilan,
    rasa, dan fungsi produk berdasarkan kebutuhan pelanggan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk


Menurut Menurut Kotler dan Keller (2012) faktor-faktor
kualitas produk adalah sebagai berikut :

  1. Pasar (market), jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan
    dipasar terus bertambah pada laju yang eksplosif.
  2. Uang (money), meningkatnya persaingan dalam banyak bidang
    bersamaan dengan fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan
    batas (margin) laba.
  3. Manajemen (management), tanggung jawab kualitas telah
    didistribusikan antara beberapa kelompok khusus.
  4. Manusia (man), pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan
    teknis dan penciptaan seluruh bidang baru seperti elektonika
    komputer menciptakan suatu permintaan yang besar akan
    pekerja dengan pengetahuan khusus.
  5. Motivasi (motivation), penelitian tentang motvasi manusia
    menunjukkan bahwa sebagai hadiah tambahan uang.
  6. Bahan (material), disebabkan oleh biaya produksi dan
    persyaratan kualitas.
  7. Mesin dan mekanis (machine and mecanization), kualitas yang
    baik menjadi faktor yang kritis dalam memelihara waktu kerja
    mesin agar fasilitasnya dapat digunakan sepenuhnya.
  8. Metode informasi modern (modern information method),
    evolusi teknologi komputer membuka kemungkinan untuk
    mengumpulkan, menyimpan, mengambil kembali,
    memanipulasi informasi pada skala yang tidak terbayangkan
    sebelumnya.
  9. Persyaratan proses produksi (morning product requirement),
    kemajuan yang pesat dalam perancangan produk, memerlukan
    pengendalian yang lebih ketat pada seluruh proses pembuatan
    produk

Pengertian Kualitas Produk


Produk merupakan inti dari sebuah kegiatan pemasaran karena
produk merupakan output atau hasil dari salah satu kegiatan atau
aktivitas perusahaan yang dapat ditawarkan kepasar sasaran untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Pada dasarnya
dalam membeli suatu produk, seorang konsumen tidak hanya
membeli produk, akan tetapi konsumen juga membeli manfaat atau
keunggulan yang dapat diperoleh dari produk yang dibelinya. Oleh
karna itu suatu produk harus harus memiliki keunggulan dari
produk-produk yang lain, salah satunya dari segi kualitas produk
yang ditawarkan. Menurut Kotler dan Keller (2012) kualitas
produk adalah kemampuan sebuah produk dalam mempergerakan
fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas,
ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk juga
atribut produk lainnya. Sedangkan menurut Garvin (2010) kualitas
adalah keunggulan yang dimiliki produk tersebut. Kualitas dalam
pendangan konsumen adalah hal yang mempunyai ruang lingkup
tersendiri yang berbeda dengan kualitas dalam pandangan produsen
saat mengeluarkan suatu produk yang biasa dikenal sebagai
kualitas sebenarnya.
Menurut Fandy Tjiptono (2015:231), dari sudut pandang
pemasar, kualitas produk merupakan segala sesuatu yang dapat
ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan, dan dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan
atau keinginan pasar bersangkutan. Dan jika dari perspektif
konsumen, produk adalah segala sesuatu yang diterima konsumen
dari sebuah pertukaran dengan pemasar. Sedangkan menurut
Mowen (2012) kualitas produk adalah proses evaluasi secara
keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu produk.
Kualitas produk memiliki suatu ketertarikan bagi konsumen dalam
mengelola hubungan yang baik dengan perusahaan penyedia
produk. Berdasrkan beberapa definisi diatas dapat disimpukan
bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu produk dalam
memenuhi keinginan konsumen. Keinginan konsumen tersebut
diantaranya daya tahan produk, keandalan produk, kemudahan
pemakaian, serta atribut bernilai lainnya yang bebas dari
kekurangan dan kerusakan

Tujuan dalam menetapkan harga


Menurut Fandy Tjiptono dalam Hadiyuda (2014) menyatakan
bahwa terdapat empat (4) macam tujuan dalam menetapkan harga,
yaitu:

  1. Tujuan mengacu terhadap laba, perusahaan memilih harga
    untuk dapat mengasilkan laba yang tinggi.
  2. Tujuan mengacu pada citra, perusahaan dapat menetapkan
    harga tinggi dalam membentuk citra prestisius dan harga
    tertentu citra nilai tertentu.
  3. Tujuan mengacu pada volume penjualan, menetapkan harga
    agar bisa mencapai target volume penjualan.
  4. Tujuan mengacu pada stabilitas harga, perusahaan
    mempertahankan untuk hubungan yang stabil antara harga dari
    perusahaan dengan harga pemimpin

Indikator dari harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2012) indikator yang dimiliki
harga adalah sebagai berikut:
1) Keterjangkauan harga, konsumen bisa menjangkau harga yang
telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya ada beberapa
jenis dalam satu merk dan harganya juga berbeda dari termurah
sampai termahal.
2) Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga, konsumen
sering membandingkan harga suatu produk dengan produk
lainnya. Dalam hal ini mahal murahnya harga suatu produk
sangat dipertimbangkan oleh konsumen pada saat membeli
produk tersebut.
3) Kesesuaian harga dengan kualitas produk, harga sering kali
dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang sering
memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, konsumen memutuskan
membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar
atau sama dengan yag telah dikeluarkan untuk mendapatkannya.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) didalam variabel harga
ada beberapa unsur kegiatan utama yaitu, meliputi imbalan, diskon,
dan bonus. Teori nilai ini kemudian berkembang melahirkan teori
imbalan yang dikemukakan oleh Lorenzo (2016:37) bahwa setiap
aktivitas transaksi produk dan jasa selalu menyertakan harga
imbalan sebagai kesepakatan. Imbalan adalah balas jasa atas
kegiatan transaksi produk yang saling menguntungkan oleh pihak
produsen dan konsumen atau dengan kata lain provider dan
pelanggan. Pada berbagai kegiatan pemasaran produk dan jasa,
aktivitas penentuan harga menjadi penting dan krusial. Umumnya
pelanggan atau konsumen menghendaki harga yang lebih murah.
Teori potong harga atau diskon merupakan konsepsi tentang
penghargaan dan kejadian transaksi. Muller (2013:25)
mengemukakan bahwa teori potong harga (discount) merupakan
sebuah tindakan dan perilaku yang mengapresiasikan pentingnya
harga untuk menarik keuntungan. Artinya, pemberian diskon
merupakan sebuah daya tarik untuk mendapatkan keuntungan
dengan memberikan penghargaan dan manfaat atas produk dan jasa
yang dibeli. Pemberian bonus menjadi nilai keuntungan yang
dirasakan oleh pelanggan dan menjadi keuntungan bagi pemberi
bonus. Bonus merupakan dua sisiyang saling menguntungkan baik
dari pihak produsen dan konsumen atau dari provider dan
pelanggan

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menetapkan harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2012) penetapan harga yaitu
merupakan keputusan tentang harga yang akan diikuti dalam
jangkawaktu tertentu untuk membuat konsumen agar menjadi
tertarik melakukan pembelian. Harga ditetapkan dengan
mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Elastisitas dengan harga permintaan
    Efektivitas program penetapan harga tergantung pada dampak
    perubahan harga terhadap permintaan, karena perubahan unit
    penjualan sebgai akibat perubahanharga perlu diketahui.
    Namun, perubahan harga memiliki damapak ganda terhadap
    penerimaan penjualan perusahaan, yakni perubahan unit
    penjualan dan perubahan penerimaan per-unit.
  2. Faktor persaingan
    Reaksi persaing terhadap perubahan harga merupakan salah
    satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan setiap
    perusahaan. Jika perubahan harga disamai oleh semua pesaing,
    maka sebenarnya tidak akan ada perubahan pangsa pasar.
    Dalam hal ini pengurangan harga tidak akan berdampak pada
    permintaan selektif.
  3. Faktor biaya
    Struktur biaya perusahaan (biaya tetap dan biaya variabel)
    merupakan faktor pokok yang menentukan batas bawah harga.
    Artinya tingkat harga minimal harus bisa menutup biaya
    (setidaknya biaya variabel).
  4. Faktok lini produk
    Perusahaan bisa menambah lini produknya dalam rangka
    memperluas served market dengan cara perluasan ini dalam
    bentuk perluasan vertikal dan perluasan horizontal.
  5. Faktor pertimbangan lain dalam penetapan harga
    Faktor-faktor lain yang harus juga dipertimbangkan dalam
    rangka merancang program penetapan harga antara lain,
    lingkungan politik dan hukum, lingkungan internasional, dan
    unsur harga dalam program pemasaran lain

Pengertian Harga


Perusahaan mampu bertahan ditengah persaingan yang ketat
apabila perusahaan tersebut berhasil dalam memadukan keempat
varial bauran pemasaran, yaitu harga, produk, promosi, dan saluran
distribusi dengan tepat. Harga memiliki peranan yang sangat
penting dalam mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli
produk atau jasa, sehingga sangat menentukan keberhasilan
pemasaran suatu produk dan jasa. Disamping itu harga merupakan
unsur dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, yang artinya
dapat diubah dengan cepat. Definisi harga menurut Kotler dan
Amstrong (2012) dalam artian sempit harga dapat didefiniskan
sebagai jumlah uang yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa,
atau dapat didefiniskan secara luas harga adalah sebagai jumlah
nilai yang ditukarkan konsumen untuk keuntungan memiliki dan
menggunakan produk atau jasa yang memungkinkan perusahaan
mendapatkan laba yang wajar dengan cara dibayar untuk nilai
pelanggan yang diciptakannya.
Definisi harga menurut Buchari Alma (2015) harga adalah
nilai suatu produk untuk ditukarkan dengan produk lain. Nilai ini
dapat dilihat dalam situasi barter yaitu pertukaran barang dengan
barang. Sekarang ini ekonomi kita tidak melakukan barter lagi,
akan tetapi menggunakan uang sebagai ukuran yang disebut harga.
Lalu Kotler (2014) juga menjelaskan bahwa harga adalah
penetapan balas jasa sesuai dengan nilai produk.Harga sangat
penting dalam menentukan nilai suatu produk nilai produk
tergantung pada harganya, nilai produk ditentukan berdasarkan
harganya. Pernyataan ini biasa dikenal dengan teori nilai. Semakin
mahal harga produk, maka semakin tinggi nilainya.
Menurut Philip Kotler (2012) harga adalah jumlah uang yang
harus dibayar pelanggan untuk produk yang akan dibelinya.
Menurut kebijakan mengenai harga sifat hanya sementara, itu
berarti produsen harus mengikuti perkembangan harga dipasar dan
harus mengetahui posisi perusahaan dalam situasi pasar secara
keseluruhan. Dari beberapa definisi menurut para ahli diatas dapat
disimpulkan harga adalah nilai uang yang harus dibayarkan oleh
konsumen kepada penjual atas barang atau jasa yang dibelinya,
dengan kata lain harga adalah nilai suatu barang yang ditentukan
oleh penjual

Indikator minat beli


Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) ada beberapa
indikator yang menentukan minat beli, yaitu :
a) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang dalam
membeli produk.
b) Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang
mereferensikan produk kepada orang lain.
c) Minat preferensial, yaitu menunjukkan perilaku seseorang yang
memiliki preferensial utama pada produk tersebut.
d) Minat eksploratif, yaitu menunjukkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminati dan
mencari produk lain yang akan mendukung sifat-sifat positif
dari produk tersebut.
d. Aspek-aspek minat beli
Menurut Lucas dan Britt dalam Wisnu (2016) aspek-aspek
yang terdapat dalam minat beli adalah :
1) Aspek ketertarikan adalah perilaku konsumen yang
menunjukkan adanya pemusatan perhatian yang disertai rasa
senang terhadap suatu produk.
2) Aspek keinginan adalah perilaku konsumen yang menunjukkan
adanya dorongan untuk berkeinginan memiliki suatu produk.
3) Aspek keyakinan, adalah perilaku konsumen yang menunjukkan
adanya rasa percaya diri terhadap kualitas, daya guna dan
manfaat dari membeli suatu produk

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli


Faktor-faktor yang membentuk minat beli menurut Kotler
dalam Abzari, et al (2014), yaitu :
a) Faktor kualitas produk, merupakan atribut produk yang
dipertimbangkan dari segi manfaat fisiknya.
b) Faktor brand / merek, merupakan atribut yang memberikan
manfaat non material, yaitu kepuasan emosional.
c) Faktor kemasan, atribut produk berupa pembungkus dari pada
produk utamanya.
d) Faktor harga, pengorbanan riel dan material yang diberikan oleh
konsumen untuk memproleh atau memiliki produk.
e) Faktor ketersediaan barang, merupakan sejauh mana sikap
konsumen terhadap ketersediaan produk yang ada.
f) Faktor promosi, merupakan pengaruh dari luar yang ikut
memberikan rangsangan bagi konsumen dalam memilih produk

Pengertian Minat Beli


Banyak pakar yang mendefinisikan tentang minat beli
berdasarkan perspektifnya masing-masing meskipun tidak terdapat
satu definisi tunggal yang menjadi rujukan bersama mengenai
minat beli, namun pada intinya mereka menyatakan subtansi yang
sama tentang minat beli. Salah satu bentuk dari perilaku konsumen
yaitu minart atau keinginan membeli suatu produk atau layanan
jasa. Bentuk dari konsumen minat beli adalah konsumen potensial
yaitu konsumen yang belum melakukan tindakan pembelian pada
masa sekarang dan kemungkinan akan melakukan tindakan
pembelian pada masa yang akan datang atau bisa disebut sebagai
calon pembeli.Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) minat
beli adalah perilaku konsumen dimana konsumen memiliki
keinginan dalam memilih dan mengkonsumsi suatu produk. Minat
beli akan timbul apabila seseorang konsumen sudah berpengaruh
terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk dan informasi suatu
produk. Menurut Engel dalam Nih Luh Julianti (2014) berpendapat
bahwa minat beli sebagai kekuatan pendorong atau sebagai motif
yang bersifat instristik yang mampu mendorong seseorang untuk
menaruh perhatian secara spontan, wajar, mudah, tanpa paksaan
dan selektif pada suatu produk untuk kemudian mengambil
keputusan membeli. Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesesuaian
dengan kepentingan individu yang bersangkutan serta memberi
kesenangan dan kepuasan pada dirinya. Jadi sangatlah jelas bahwa
minat beli diartikan sebagai suatu sikap menyukai yang ditunjukan
dengan kecenderungan untuk selalu membeli yang sesuai dengan
kesenangan dan kepentingannya. Sedangkan Menurut Durianto
(2013) minat beli adalah keinginan untuk membeli produk.
Menurut Assael Sukmawati dan Suyono dalam Pramono
(2012) minat beli adalah tahap dimana konsumen membentuk
pilihan mereka diantara beberapa merek yang tergabung dalam
perangkat pilihan. Kemudian pada akhirnya melakukan suatu
pembelian pada suatu alternatif yang paling disukainya atau proses
yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang
didasari oleh bermacam pertimbangan. Kemudian Kotler, Bowen,
dan Makens (2014) menyatakan bahwa minat beli timbul setelah
adanya proses evaluasi alternatif. Dalam proses evaluasi seseorang
akan membuat suatu rangkaian pilihan mengenai produk yang
hendak dibeli atas dasar merek maupun niat. Menurut Ferdinand
(2016) minat beli konsumen dapat diartikan sebagai minat beli
yang mencerminkan hasrat dan keinginan konsumen untuk
membeli suatu produk. Berdasarkan dari beberapa definisi diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa minat beli adalah perilaku
konsumen dimana konsumen memiliki keinginan dalam memilih
dan mengkonsumsi suatu produk dengan merk yang berbeda,
kemudian melakukan suatu pilihan yang disukainya dengan cara
membayar uang atau dengan pengorbanan

Hubungan Citra Merek terhadap Minat Beli Ulang


Citra merek diartikan sebagai ingatan akan suatu merek atau produk yang
terbentuk di benak konsumen. Sehingga konsumen akan lebih bersedia untuk
memilih produk yang sudah dikenal memiliki citra merek yang positif. Oleh karena
itu, sangat penting bagi produsen untuk menjaga citra merek yang baik dari
produknya di benak konsumen. Munculnya niat beli kembali suatu produk pada
konsumen disebabkan oleh pengaruh dari produk itu sendiri
Brand image juga merupakan pondasi penting untuk menarik minat beli
ulang konsumen. Ketika konsumen mengukur suatu merek melalui kualitas,
keandalan, dan nilai tambah, minat beli ulang cenderung akan meningkat. Sebuah
brand image yang kuat akan membangun kepercayaan dan loyalitas, dapat
menimbulkan minat beli ulang yang kuat, serta pengaruh positif terhadap
pertumbuhan dan kesuksesan merek dalam pasar.
Citra merek memiliki keterkaitan terhdap minat beli ulang, karena dengan
adanya citra merek yang positif dapat menarik dan juga meningkatkan minat
konsumen untuk membeli kembali produk atau layanan yang ditawarkan. Dengan
adanya keyakinan oleh konsumen terhdap suatu merek maka citra merek dianggap
memiliki hubungan yang signifikan terhadap minat beli ulang

Hubungan Kredibilitas Selebrity Endorser terhadap Minat Beli Ulang


Kredibilitas celebrity endorser di artikan sebagai sebuah kepercayaan
kepada seorang celebrity endorser, dengan adanya kepercayaan yang dibangun
oleh celebrity endorser maka akan mempengaruhi kepercayaan para pengikutnya
melalui segala informasi yang di sampaikan, dengan kepercayaan yang telah di
bangun dengan baik maka seorang celebrity endorser akan sangat mudah
mempengaruhi minat beli ulang jika melakukan promosi kepada para konsumen.
Kredibilitas selebrity endorser memiliki peran penting dalam
mempengaruhi minat beli ulang calon konsumen terhadap produk atau jasa yang
iklankan. Apabila seorang selebriti mempunyai reputasi yang baik dan dihormati
dalam bidangnya, pengikutnya cenderung untuk mengaitkan reputasi positif
tersebut dengan produk yang diiklankan.
Selain itu pemilihan selebrity sebagai endorser suatu produk harus
disesuaikan menurut sikap maupun karakteristik agar sesuai dengan produk yang
akan ditawarkan sehingga calon konsumen akan lebih mudah menerima pesan yang
di sampaikan dan berminat untuk membeli kembali.

Citra Merek


Menurut (Intan & Hardjanti, 2020) Citra terhadap sebuah merek
bersangkutan dengan sikap yang berupa kepercayaan dan preferensi terhadap
sebuah merek, Merek bisa dideskripsikan dengan karakteristik-karaktetristik
terentu. Semakin baik pemaparan dari karakteristik merek, maka semakin kuat citra
merek dan semakin besar kesempatan untuk pertumbuhan citra itu. Selain itu, citra
merek didefinisikan juga sebagai salah satu peran penting dalam membedakan
penyedia layanan dengan para pesaing lainnya (Novriani, 2022)
Citra merek adalah pemikiran setiap konsumen terhadap suatu produk
berdasarkan pemikiran, perasaan, dan visualisasi yang diterima pengunjung,
keduanya dirasakan secara langsung, serta informasi dari media (Nimas Bidari &
Kurniawan, 2023). Citra merek merupakan ciri khas, nama, istilah, desain, atau
kombinasi yang menampilkan identitas produk baik barang atau jasa, serta dapat
dijadikan pembeda suatu produk dengan produk pesaing lainnya (Iswara & Santika,
2019). Citra merek (Brand Image) adalah pengamatan dan kepercayaan yang
digenggam konsumen, seperti yang dicerminkan di asosiasi atau diingatan
konsumen (Rachmawati et al., 2024).
Brand image diartikan sebagai suatu gambaran atau kesan yang ditunjukkan
oleh suatu merek didalam benak pelanggan (I Gusti Ayu Elsa Permata Sari, dkk,
2022). Citra merek merupakan sebuah jati diri dari produk yang berada di dalam
benak konsumen. Citra merek sendiri dapat berupa logo, nama merek, semboyan
ataupun slogan dari suatu perusahaan, pemasar produk atau jasa (Amalia & Riva’i,
2022). Brand Image merupakan ingatan pada suatu merek yang dibentuk serta
29
ditanamkan pada seorang individu dalam pikiran mereka. Konsumen yang sudah
terbiasa dengan suatu merek tertentu mampu membangun citra merek yang
konsisten (Putri et al., 2022)
Merek atau brand, dalam suatu perusahaan merupakan suatu pengenal.
Lebih dari sekedar lambang ataupun nama (Suardhita & Rafik, 2019). Brand Image
adalah wujud dari keseluruhan persepsi terhadap sebuah merek dan dibentuk dari
informasi dan pengalaman masa lalu terhadap sebuah merek (Prihartini et al.,
2022). Brand image juga merupakan sebuah persepsi atau suatu keyakinan terhada
brand atau merek yang melekat pada produk sehingga memungkinkan konsumen
untuk melakukan pembelian (Prisca, dkk, 2020). Citra merek dalam penelitian ini
melambangkan keseluruhan persepsi konsumen terhadap merek yang muncul
karena informasi dan pengalaman konsumen pada suatu merek.
Adapun komponen-komponen yang terkandung dalam citra merek atau
brand image (Joseph, 2020) diantara lain yaitu sebagai berikut:

  1. Attributes (atribut)
    Atribut merupakan penjelasan secara deskriptif terhadap fitur-fitur yang
    melekat pada sebuah produk atau jasa. Berikut hal-hal yang ada di dalam
    komponen atribut yakni:
    a. Product related attributes (atribut produk). Merupakan berbagai hal
    yang diperlukan agar fungsi produk yang ditawarkan kepada kondumen
    dapat berfungsi dengan baik. Hal tersebut berhubungan dengan
    komposisi fisik atau persyaratan dari suatu jasa yang ditawarkan.
    b. Non-product related attributes (atribut non-produk). Merupakan aspek
    eksternal dari sebuah produk yang berhubungan dengan pembelian dan
    konsumsi suatu produk atau jasa. beruapa informasi tentang harga,
    kemasan dan desain produk, orang, per group atau selebriti yang
    menggunakan produk atau jasa tersebut, bagaimana dan dimana produk
    atau jasa itu digunakan.
  2. Benefits (keuntungan)
    Benefits atau keuntungan adalah nilai personal yang konsumen kaitkan pada
    atribut-atribut produk atau jasa tersebut. Adapun hal-hal yang perlu ada
    dalam komponen benefits adalah:
    a. Functional benefits, digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dasar
    seperti kebutuhan fisik dan keamanan atau pemecahan masalah.
    b. Experiental benefits, dihubungkan dengan perasaan yang muncul
    dengan menggunakan suatu produk atau jasa. Benefit ini dimaksudkan
    untuk memenuhi kebutuhan bereksperimen seperti kepuasan sensori.
    c. Symbolic benefits, dihubungkan dengan kebutuhan akan persetujuan
    sosial atau ekspresi personal dan self-esteem seseorang. Konsumen
    akan menghargai nilai-nilai prestise, eksklusivitas dan gaya fashion
    karena hal tersebut berhubungan dengan konsep diri mereka.
  3. Brand Attitude (sikap merek)
    Brand attitude atau sikap merek merupakan penilaian keseluruhan atas
    suatu merek, seperti apa saja yang dipercayai oleh konsumen mengenai
    merek-merek tertentu , serta sejauh apa konsumen percaya bahwa produk
    atau jasa tersebut memiliki atribut atau keuntungan tertentu, dan penilaian
    evaluatif terhadap kepercayaan tersebut bagaimana baik atau buruknya
    suatu produk jika memiliki atribut atau keuntungan tersebut.
    (Schiffman, Leon G. Kanuk, 2021) menyebutkan faktor-faktor pembentuk citra
    merek yaitu:
  4. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang yang
    ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.
  5. Dipercaya atau diandalkan. Berkaitan dengan pendapat atau kesepakatan
    yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk yang dikonsumsi.
  6. Kegunaan atau manfaat yang terkait dengan fungsi dari suatu produk barang
    yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
  7. Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
    sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi
    suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka panjang.
  8. Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan,
    kesepakatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk
    tertentu.
    Menurut (Kotler & Keller, 2021) Citra merek adalah proses dimana seseorang
    memilih, mengorganisasikan, dan mengartikan masukan informasi untuk
    menciptakan suatu gambaran yang berarti. Citra merek diperlukan sebagai sebuah
    identitas atau daya tarik tersendiri untuk menarik minat konsumen berdasarkan
    persepsi konsumen terhadap sebuah merek. Terdapat 3 indikator brand image (citra
    merek) menurut (Kotler & Keller, 2021) diantaranya adalah:
  9. Keunggulan, merupakan kinerja suatu merek untuk mudah dikenal oleh
    pembeli serta mempunyai kelebihan dalam persaingan.
  10. Kekuatan, merupakan ukuran seberapa kuat interaksi yang bisa dibuat oleh
    merek dengan pembeli.
  11. Keunikan, merupakan kesanggupan untuk membedakan sebuah merek
    diantara merek-merek yang lainnya.

Kredibilitas Selebrity Endorser


Kredibilitas merupakan keadaan atau kondisi dapat dipercaya dan bisa
dipertanggung jawabkan. Kredibilitas celebrity endorser bisa diartikan tingkat
kepercayaan dari seorang tokoh endorser dimata perusahaan, pelangan, dan
masyarakat (Seti, 2022). Selebriti digunakan untuk menarik perhatian khalayak
dan meningkatkan citra produk. Penggunaan selebriti menimbulkan kesan bahwa
konsumen selektif dalam memilih dan meningkatkan status dengan memiliki apa
yang digunakan oleh selebriti (Indah et al, 2023)
Dalam prosesnya Celebrity Endorser dapat memperlihatkan dukungannya
dengan cara memberikan kesaksian, dorongan, dan penguatan secara individu
kepada konsumen atau dengan cara bersikap sebagai seorang aktor maupun aktris
di dalam sebuah iklan serta menjadi pembicara yang mampu mewakili perusahaan.
Celebrity Endorser juga memiliki manfaat serta fungsi yang positif ataupun
signifikan dikarenakan memiliki popularitas, bakat, kharisma, dan kredibilitas. Dari
keempat unsur tersebut kredibilitas merupakan unsur terpenting bagi konsumen.
25
Karena dengan kredibilitas yang tinggi menggambarkan persepsi konsumen
terhadap keahlian, dan pengetahuan selebriti mengenai produk yang di iklankan dan
kepercayaan selebriti mengenai produk tersebut (Anas & Ahmad Aulia, 2020)
Selebrity yang baik digunakan dalam iklan adalah selebrity yang sudah
dikenal banyak masyarakat karena dianggap memiliki kemampuan, kualitas, dan
kekuatan yang dapat menciptakan rasa kepercayaan konsumen serta mendorong
minat beli konsumen terhadap produk yang dipromosikannya (Siti Barokah,.dkk
2021). Celebrity endorser sudah lama digunakan seperti pada media televisi.
Promosi melalui televisi memiliki sifat umum sehingga pada saat ditampilkan iklan
mengakibatkan terpecahnya perhatian penonton disebabkan banyaknya pilhan
program lain. Sedangkan celebrity endorser melalui media sosial memiliki sifat
pribadi. Disaat seseorang telah menjadikan selebriti tersebut sebagai trendsetter
maka calon konsumen akan mengunjungi media sosial selebriti tersebut dan
mengikutinya. Suatu iklan dengan menggunakan celebrity endorser melalui media
sosial dapat dibilang praktis dan efektif karena tidak butuh banyak biaya dan
peraturan, namun hasilnya sangat berpengaruh terhadap penjualan. (Riva’i & Intan,
2022)
Penggunaan selebriti dalam suatu iklan biasa digunakan untuk mendukung
penjualan dari suatu produk, salah satunya produk kosmetik kecantikan yang sangat
erat kaitannya dengan model cantik & tampan dan sering dijadikan brand
ambassador produk tersebut. Produk kosmetik kecantikan sudah begitu marak
dipasaran dan semakin banyak persaingan, oleh karenanya pentingnya suatu
perusahaan tersebut untuk menginformasikan produknya kepasaran harus semakin
kreatif, menarik dan mudah diingat untuk menarik hati para calon konsumen
(Aditya,.dkk 2020)
Endorser adalah salah satu metode yang paling diminat, dengan
menggunakan selebriti yang menarik, mempunyai popularitas yang tinggi serta
dapat dipercaya oleh publik yang dituju dapat membuat produk yang dipromosikan
menjadi dikenal, diketahui dan diminati (Riani et al., 2023) Kredibilitas endorser
mengacu pada tokoh terkenal atau selebriti yang dipekerjakan untuk
mempromosikan brandnya (Trissetianto & Wibowo, 2024). Sedangkan (Angelica
& Loisa, 2023) mengatakan Seorang celebrity endorser diharapkan dapat menjadi
juru bicara merek, mampu menciptakan citra yang baik untuk merek itu sendiri dan
mampu menarik perhatian konsumen.
Celebrity Endorser adalah individu yang secara aktif mendukung
promosi atau pengiklanan suatu produk, seringkali dengan cara yang meyakinkan.
Para celebrity endorser ini biasanya tokoh terkenal, selebritis tingkat atas, atau
bahkan influencer yang memiliki popularitas di kalangan masyarakat, celebrity
endorser tersebut berfungsi untuk dapat menarik perhatian calon konsumen (Lisa
et al, 2024)
Celebrity atau Celebrity Endorser adalah Seorang celebrity endorser
adalah seseorang yang dikenal oleh publik karena prestasinya selain dari produk
yang mereka promosikan (Nugraha & Dirgantara, 2024). Endorser adalah seorang
selebritis atau non-selebriti yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan
membawa minat terhadap strategi pemasaran suatu perusahaan sehingga
masyarakat atau konsumen dapat terpengaruh oleh kegiatan promosi yang
dipasarkan oleh Endorser (D. N. Oktaviani & Narsih, 2023).
Seseorang yang sudah terkenal dapat dijadikan sebagai Celebrity Endorser
untuk menarik minat beli karena banyak orang yang memiliki sifat meniru apa yang
digunakan atau apa yang dimiliki selebrity yang disukai (Ningsih & Muzdalifah,
2024). Celebrity Endorser merupakan orang yang telah dipilih untuk mewakili
citra suatu produk, karena seorang yang dikenal di masyarakat pasti mempunyai
karakter yang kuat dan suatu daya tarik tertentu (F. Putri & Hendratmi, 2022)
Kredibilitas selebrity adalah sekelompok publik figur yang memiliki talenta
serta memiliki hubungan sosial yang baik atau dikenal oleh masyarakat menjadi
daya tarik tersendiri bagi konsumen (Nurdiyanto & Malik, 2019). Menurut
(Nurdiyanto & Malik, 2019) mengatakan bahwa ada beberapa indikator Celebrity
Endorser, Indikator ini dapat digunakan oleh perusahaan sebagai acuan dalam
memilih Celebrity Endorser agar iklan yang di bintanginya bisa efektif dalam
mempengaruhi respon konsumen, Indikator di antaranya :

  1. Dapat dipercaya mengacu pada kejujuran, integritas dan dapat
    dipercayainya seorang endorser.
  2. Keahlian mengacu pada pengetahuan, pengalaman dan keahlian yang
    dimiliki oleh seorang endorser.
  3. Daya tarik fisik mengacu pada diri yang dianggap sebagai hal yang menarik
    untuk dilihat

Minat Beli Ulang


Menurut Natalia et al (2022) berpendapat bahwa minat pembelian ulang
yaitu minat pembelian ulang mеnunjukаn perilaku pеmbеliаnselanjutnya tеrhаdаp
brand produk serta jаsа yаng sаmа, dikarenakan konsumеn tidаk mеmpunyai
perilaku kеtеrtаrikаn еmosionаl pada produk dаn jаsа yang lаinnya. Menurut
(Permatasari & Ali Hapzi, et al., 2022) minat pembelian ulang adalah seseorang
yang telah melakukan pembelian, dan berencana melakukan pembelian lagi
dikatakan mempunyai niat membeli kembali.
Menurut (Mehta, 2018) mendefinisikan minat beli ulang sebagai
kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan
yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan
konsumen melakukan pembelian. Minat membeli ulang yang tinggi mencerminkan
tingkat kepuasan yang tinggi dari konsumen ketika memutuskan untuk
mengkonsumsi produk yang diberikan setelah mencoba produk tersebut dan
kemudian timbul rasa suka atau tidak suka terhadap (Firni et al., 2024).
Minat beli ulang merupakan perangsang yang berasal dari produk yang
terlihat dengan tujuan untuk menarik konsumen agar membeli produk tersebut
dengan cara membuat mereka ingin membeli produk tersebut (Axana et al., 2024).
minat beli ulang adalah keinginan dan tindakan konsumen untuk melakukan
pembelian ulang suatu produk karena adanya kepuasan sesuai dengan yang
diinginkan dari produk tersebut (Putri et al., 2024). Minat pembelian ulang
merupakan efek dari kepuasan konsumen yang tercipta dari penanganan yang tepat
terhadap keluhan konsumen (Hermawan, 2023).
Menurut (Kotler & Keller, 2021) Minat beli ulang yakni sebagaimana
perilaku individu yang termotivasi untuk menukarkan uangnya untuk menikmati
atas barang yang yang telah dialami oleh individu. Menurut (Teressa et al., 2024),
mendefinisikan minat beli ulang sebagai niat konsumen untuk membeli produk atau
layanantertentu di masa depan. minat beli ulang merupakan suatu dorongan yang
terjadi dari sebuah aktivitas konsumen yang diharapkan akan melakukan suatu
pembelian kembali sebagai hasil dari adnya penilaian terhadap produk dan jasa
yang telah digunakan untuk dikonsumsi (Wahyuningsih et al., 2022)

Perilaku Konsumen


Perilaku konsumen pada hakikatnya untuk memahami “Mengapa konsumen
melakukan dan apa yang mereka lakukan” (Schiffman, 2020) mengemukakan
bahwa studi perilaku konsumen adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang
individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia
(waktu, uang, usaha dan energi). Konsumen memiliki keragaman yang menarik
untuk dipelajari karena meliputi seluruh individu dari berbagai usia, latar belakang
budaya, pendidikan, dan keadaan sosial ekonomi. Menurut (Kotler & Keller, 2021)
Perilaku konsumen adalah studi bagaimana individu, kelompok dan organisasi
memilih, membeli, menggunakan dan menempatkan barang, jasa, ide atau
pengalaman untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka.
Perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh keadaan dan situasi lapisan
masyarakat di mana perilaku dilahirkan dan berkembang. Ini berarti konsumen
berasal dari lapisan masyarakat atau lingkungan yang berbeda akan mempunyai
penilaian, kebutuhan, pendapat, sikap dan selera yang berbeda-beda, sehingga
pengambilan keputusan dalam tahap pembelian akan dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut (Kotler & Keller,
2021) terdiri dari :

  1. Faktor Kebudayaan : Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan
    mendalam terhadap perilaku konsumen. Faktor kebudayaan terdiri dari:
    budaya, sub budaya, kelas sosial .
  2. Faktor Sosial : Selain faktor budaya, perilaku konsumen dipengaruhi
    oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga serta status
    sosial.
  3. Faktor Pribadi : Faktor pribadi yang memberikan kontribusi terhadap
    perilaku konsumen terdiri dari; usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan
    dan lingkungan ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri.
  4. Faktor Psikologis : Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat
    faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, seta
    keyakinan dan pendirian

Pengaruh Citra Ekonomi terhadap Niat Pembelian


Citra negara atau country image merujuk pada sebuah tingkatan
ekonomi sebuah negara (macro) atau produksi produk dalam negara
(micro) (Keller, 1993, dalam. Pappu, Quester, dan Cooksey, 2007).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, macro country image yang
memuat gambaran dari economic image atau citra ekonomi sebuah negara
sebagai salah satu aspek dari citra negara mempengaruhi niat beli
konsumen (Pappu et al., 2007)

Economic Image


Citra ekonomi dalam country image merupakan gambaran kondisi
ekonomi sebuah negara. Dalam beberapa penelitian yang pernah
dilakukan, citra ekonomi sebuah negara menjadi salah satu dimensi dari
citra negara asal atau country of origin image. Setiap negara tentunya
memiliki kondisi ekonomi yang berbeda-beda. Kondisi ekonomi yang
berbeda tersebut memberi pengaruh bagi konsumen dalam melakukan
keputusan pembelian terhadap produk dari negara asing. Banyak faktor
yang dapat mempengaruhi citra ekonomi sebuah negara. Citra ekonomi
sebuah negara dapat dilihat melalui beberapa faktor, seperti standar
kehidupan masyarakat, kestabilan ekonomi, kualitas produk, eksistensi
sistem welfare, dan biaya tenaga kerja (Ingrid M. Martin & Sevgin Eroglu,
1993). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lala, Allred, dan
Chakraborty (2008), kemajuan teknologi sebuah negara, sektor ekonomi
negara (negara agrikultur atau negara industri), dan moderenisasi ekonomi
sebuah negara merupakan faktor-faktor yang membentuk citra ekonomi.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Qingji Fan (2019) citra ekonomi
dinilai dari faktor pertumbuhan ekonomi suatu negara, pengaruh ekonomi
negara terhadap perekonomian dunia, dan kekayaan sebuah negara.
Sementara itu, dalam penelitiannya Bulibuli, Maitiniyazi, dan Karimov

Product Image


Product image atau citra produk didefinisikan sebgai persepsi
konsumen mengenai kualitas sebuah produk yang dibuat pada negara
tertentu (Han, 1989). Citra produk juga diartikan sebagai persepsi
konsumen mengenai produk secara keseluruhan dari negara tertentu.
Perepsi tersebut didasari oleh pendapat konsumen mengenai kelebihan
dan kelemahan dalam proses produksi dan pemasaran sebuah negara
(Bulibuli et al., 2022). Sebuah penelitian lain mendefinisikan citra produk
sebagai pendapat konsumen tentang kualitas barang maupun jasa yang
diproduksi di berbagai negara (Bilkey, 1993, dalam Roth &
Diamantopoulos, 2009).
Reputasi sebuah negara dapat terbentuk atas dasar impresi dari
berbagai aspek produk seperti kemajuan teknologi, keandalan, desain, dan
nilainya. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Niffenegger dan
White (1982), product image diklasifikasikan menjadi 4 dimensi yaitu :

  1. Persepsi Harga dan Nilai
    Penetapan harga seringkali digunakan sebagai gambaran kualitas
    dari sebuah produk. Semakin tinggi harga produk menggambarkan
    semakin tinggi nilai produk tersebut, begitu juga sebaliknya. Dalam
    penelitian terkait, konsumen di Inggris dan Prancis merasa bahwa
    produk Amerika Serikat memiliki kualitas yang dapat dipercaya
    karena harganya yang relatif mahal. Berdasarkan hasil penelitian
    tersebut, penulis menyimpulkan bahwa penetapan harga yang
    dilakukan oleh merek-merek asal Amerika Serikat mampu memberi
    kesan eksklusif pada produknya.
  2. Persepsi dalam Iklan dan Reputasi
    Iklan merupakan salah satu aspek penting dalam pemasaran. Iklan
    berfungsi untuk menyalurkan informasi tertentu mengenai sebuah
    produk dan merek. Sebagian besar merek-merek asal Amerika Serikat
    melakukan iklan yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan
    kompetitornya. Hal tersebut mengakibatkan merek dapat dikenal
    secara luas di pasar internasional. Selain itu, nama dari merek-merek
    tersebut lebih mudah untuk diingat konsumen karena menggunakan
    bahasa inggris dibandingkan kompetitornya yang menggunakan
    bahasa Prancis sebagai nama merek.
  3. Jangkauan Produk
    Kemudahan dalam menjangkau sebuah produk menjadi salah satu
    alasan konsumen dalam melakukan pembelian produk. Mudahnya
    melakukan restock untuk produk-produk asal Amerika Serikat menjadi
    alasan bagi banyak toko retail di Prancis untuk menjual produk
    tersebut. Akibatnya, di Prancis produk-produk Amerika Serikat
    memiliki volume penjualan yang tinggi sehingga produk tersebuat
    menjadi populer dan familiar bagi masyarakat Prancis. Banyaknya
    kuantitas produk-produk dari merek asal Amerika Serikat karena
    produk tersebut rata-rata diproduksi secara masal atau dalam skala
    yang besar.
  4. Desain
    Dalam proses produksi, umumnya pelaku bisnis akan membatasi
    variasi produk untuk menekan biaya produksi. Namun, rata-rata
    produk asal Amerika Serikat tidak melakukan batasan sehingga
    konsumen memiliki banyak pilihan seperti model dan warna saat akan
    melakukan pembelian produk. Hal terebut menjadi salah satu
    keunggulan produk asal Amerika Serikat.
    Sebuah penelitian lain yang dilakaukan oleh Bulibuli, Maitiniyazi,
    dan Karimov (2022) menggunakan variabel citra produk atau product
    image sebagai dimensi dari country of origin image. Penelitian tersebut
    mengukur citra produk dari berbagai macam faktor seperti kualitas
    produk, detail produk, material produk, reputasi produk, iklan produk,
    branding, after-sale, desain produk, inovasi, dan kepuasan konsumen
    terhadap produk terkait

Country of Origin Image


Saeed (1994) mendefinisikan country of origin sebagai negara yang
membuat atau menghasilkan sebuah produk maupun merek. Dalam penelitian
lain, country of origin didefinisikan sebagai sebuah negara yang pertama kali
membuat atau memproduksi sebuah merek atau produk. Dengan begitu, ketika
sebuah merek disebutkan maka konsumen akan dengan mudah mengenali negar
asal merek tersebut. Sebagai contoh, Honda dan Toyota dikenal konsumen sebagai
merek asal Jepang (JinKyo et al., n.d.). Beradasarkan uraian tersebut tersebut,
penulis mendefinisikan country of origin sebagai negara asal sebuah merek
maupun produk tertentu.
Sejak tahun 1960-an, tidak sedikit peneliti dan akademisi mencoba
memahami bagaimana negara asal dapat mempengaruhi keputusan pembelian
konsumen. Hal tersebut terjadi sejak sebuah penelitian yang dilakukan Schooler
pada tahun 1965 menyoroti country of origin sebagai variabel kunci yang
berpengaruh dalam perdagangan internasional (Karagiannis, Hatzithomas,
Fotiadis, Gasteratos. 2022). Dalam konteks pemasaran, banyak peneliti telah
mengungkapkan bahwa country of origin image dari sebuah merek dapat menjadi
keuntungan maupun kerugian bagi merek tersebut dalam persaingan global.
Country of origin image juga dapat mempengaruhi penjualan pada sebuah merek
tertentu dalam pasar asing (Curina, Hegner, Cioppi, Pencarelli. 2022). Hal yang
melatarbelakangi country of origin menjadi sebuah subjek yang menarik adalah
perannya untuk meningkatkan kompetisi global antar perusahaan asing yang
beroperasi di berbagai belahan dunia. Country of origin telah menjadi salah satu
sinyal informasi ekstrinsik yang digunakan konsumen dalam evaluasi sebuah
produk. Negara asal sebuah merek maupun produk memberikan gambaran
kualitas dari produk tersebut sehingga mempengaruhi persepsi konsumen tentang
nilai dan resiko yang selanjutnya berdampak pada keputusan pembelian.
Sebuah penelitian mendefinisikan citra negara atau country image sebagai
gambaran keseluruhan dari sebuah negara yang tercipta dari sejumlah variabel
seperti politik dan ekonomi, tingkat kemajuan teknologi, representatif produk,
sejarah, budaya, adat tradisional, dan pembangunan industri (Bannister & Saunders,
1978). Dalam penelitian lain, country image atau citra sebuah negara didefinisikan
sebagai keseluruhan persepsi konsumen mengenai sebuah negara dan produknya
(Li, 2008). Country image didefinisikan sebagai sebuah gambaran, reputasi, dan
steriotip yang secara khusus merujuk pada sebuah produk di sebuah negara
tertentu (Nagashima. 1970). Menurut Roth dan Romeo (1992) konsumen
membentuk persepsinya terhadap negara tertentu atas dasar kelebihan dan
kekurangan produk yang diproduksi oleh negara tersebut dimasa lalu (Bulibuli et
al., 2022). Country image atau citra negara merupakan sebuah teori yang
dipelajari dalam konsep multidimensional. Dalam sebuah penelitian, citra negara
asal atau country of origin image diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu citra
negara dan citra produk. Aspek ekonomi, politik, manusia, dan hubungan
internasional sebuah negara merupakan cakupan dari citra negara sementara citra
produk mencakup aspek yang mencerminkan konsistensi, kualitas, kinerja, fitur,
harga, merek, dan proses sebuah produk yang berasal dari negara tertentu (Cui &
Lee, 2017). Beberapa akademisi mengklasifikasikan citra negara kedalam dua
aspek berbeda yang dinamakan sebagai “macro country image” atau “country
aspect” dan “micro country image” atau”product aspect”. Konsep dari “macro
country image” merujuk pada semua hal yang terasosiasi dengan negara itu
sendiri, seperti identitas budaya, politik, sejarah, masyarakat, ekonomi, dan
perkembangan teknologi (Hamzaoui dan Merunka. 2006). “Micro country image”
atau “product aspect” mengacu pada persepsi dari kategori produk secara spesifik
yang dibuat pada negara tertentu (Ahmed dan d’Astuos. 2004).

Country of Origin Effect


Konesp country of origin effect telah menjadi isu yang cukup penting
dalam penelitian pada pasar internasional selama 50 tahun terakhir. Dalam
membuat keputusan pembelian, seorang konsumen didasari oleh proses sistematis
dari evaluasi dan integrasi dari informasi atau isyarat sebuah produk. Isyarat yang
dimaksud merupakan keseluruhan informasi yang tersedia bagi konsumen
sebelum melakukan pembelian (Shirin, Kambiz. 2011). Country of origin effect
didefinisikan sebagai situasi dimana penilaian konsumen berubah mengikuti
asosiasi antara produk, layanan, merek dan tempat (Andehn, Nordin, Nilsson.
2016). Dalam melakukan penilaian pada suatu kategori produk tertentu, pada
umumnya konsumen terpengaruh dengan suatu tempat atau negara tertentu.
Sebagai contoh, konsumen menganggap mobil yang diproduksi oleh Jerman
memiliki fitur dan nilai yang tidak perlu dipertanyakan, kopi yang berasal dari
Colombia memiliki kualitas yang baik, parfum dari Prancis memiliki wangi yang
mewah, dan lain sebagainya. Country of origin dapat mempengaruhi penilaian
konsumen melalui proses kognitif, afektif, dan konatif. Dalam proses kognitif,
country of origin dapat mendistraksi dan menggiring konsumen pada sebuah
informasi untuk menciptakan persepsi tertentu akan sebuah produk maupun
merek. Dalam proses afektif, country of origin dapat berperan sebagai salah satu
faktor yang membangkitkan perasaaan emosional konsumen terhadap suatu
produk mupun merek tertentu. Selanjutnya, proses konatif merupakan langkah
yang diambil oleh konsumen untuk melakukan pembelian pada sebuah produk
maupun merek tertentu setelah mendapat pengaruh dari country of origin pada
kedua proses sebelumnya (Bloemer, Brijs, Kasper. 2007)

Purchase Intention


Purchase intention atau minat beli pada konsumen merupakan tujuan
utama bagi pelaku bisnis dalam menjual sebuah produk maupun jasa. Minat
pembelian konsumen merupakan hal penting dalam menciptakan pembelian yang
berkelanjutan. Menurut Shah (2012), minat pembelian merupakan proses
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh konsumen dalam membeli sebuah
produk atau jasa dari merek secara spesifik yang didasari oleh beberapa alasan
tertentu. Menurut Lin dan Chen (2006), minat beli pada konsumen tercipta dari
berbagai macam perspektif dan dimensi yang luas. Dikutip dari sebuah literatur
yang ditulis oleh Waston (2018) minat pembelian dapat terbentuk dari
keseluruhan emosi positif, seperti kepuasan, kenikmatan, dan perasaan positif.
Luasnya variabel yang dapat mempengaruhi minat beli konsumen menjadi
keuntungan tertentu bagi sebuah perusahaan untuk meningkatkan berbagai
macam aspek dalam produk maupun merek. Salah satu hal yang sekarang menjadi
pertimbangan konsumen dalam melakukan pembelian adalah negara asal (country
of origin) produk maupun merek tertentu.
Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Arachchi dan Samarasinghe
(2022) minat pembelian konsumen diukur dari ketersediaan konsumen untuk
membeli produk dari sebuah merek tartentu, merekomendasikan produk tertentu
pada orang lain, dan sikap konsumen dalam merencanakan pembelian sebuah
produk dari suatu merek. Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Qingji Fan
(2019), minat pembelian konsumen diukur melalui faktor pembelian dimasa
depan, ketersediaan konsumen untuk merekomendasikan sebuah produk, dan
ketersediaan konsumen untuk memprioritaskan pembelian produk. Sementara itu,
Bulibuli, Maitiniyazi, dan Karimov (2022) mengukur minat pembelian konsumen
(consumer purchase intention) melalui ketersediaan konsumen untuk
mempertimbangkan pembelian produk, keinginan konsumen, dan rencana
konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk maupun jasa.

Manfaat Kepuasan Pelanggan


Pada prinsipnya, kualitas jasa berpotensi menciptakan kepuasan pelanggan yang
pada gilirannya akan memberikan sejumlah manfaat seperti :

  1. Hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya menjadi harmonis.
  2. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang.
  3. Mendorong terciptanya loyalitas pelanggan.
  4. Membentuk suatu rekomendasi informal dari mulut ke mulut yang
    menguntungkan bagi perusahaan
  5. Reputasi perusahaan menjadi baik dimata pelanggan
  6. Laba yang diperoleh dapat meningkat.

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan menurut Lupiyoadi
dalam Indrasari (2019 : 91 – 92) :

  1. Kualitas Produk
    Pelanggan akan puas apabila produk yang digunakan kualitasnya bagus
  2. Kualitas Pelayanan
    Kepuasan terhadap kualitas pelayanan biasanya sulit ditiru. Kualitas pelayanan
    merupalan driver yang mempunyai banyak dimensi, salah satunya yang sangat
    populer adalah servqual
  3. Biaya dan Kemudahan
    Pelangan akan semakin puas apabila relatif mudah, nyaman dan efesiensi dalam
    mendapatkan produk dan pelayan
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetap menetapkan harga yang relatif
    murah akan memberikan nilai yang tinggi
  5. Emosional
    Konsumen merasa puas ketika memuji dia karena menggunakan merek yang
    maha

Kepuasan Pelanggan


Fitria Halim mengumukakan bahwa kata “kepuasan“ atau satsisfaction berasal dari
bahasa latin “satis” (artinya cukup baik, mamadai) dan ‘Facio’ (melakukan atau
membuat), secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu. Kemudian
Fatihudin dan Firmansyah dalam Fitria Halim,at all (2021 : 157-158) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan juga dipandang sebagai salah satu indikator terbaik untuk laba masa
depan, faktanya bahwa menarik pelanggan baru jauh lebih mahal dari pada
mempertahankan pelanggan, namun saat ini juga menjadi salah satu pemicu
meningkatnya perhatian pada kepuasan pelanggan perusahaan, berkurangnya elastisitas
harga, berkurangnya biaya transaksi masa depan, dan meningkatnya efisiensidan
produktivitas keryawan. Wilkie dalam Tjiptono (2019 : 378) mengumukakan bahwa
kepuasan pelanggan sebagai tanggapan emosional pada evaluasi tentang pengalaman
konsumsi suatu produk atau jasa.
Menurut Tjiptono dan Diana (2019:123) menyampaikan bahwa kepuasan
konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang didapatkan setelah
membandingkan kinerja suatu produk yang dipikirkan terhadap kinerja produk yang
diharapkan. Memperhatikan dan meningkatkan kepuasan pelanggan sangat berguna di
dunia persaingan bisnis. Perusahaan yang memiliki level kepuasan pelanggan yang tinggi
cenderung lebih unggul dibandingkan pesaing lainnya. Volume kepuasan pelanggan yang
tinggi akan menjaga stabilitas penjualan produk atau jasa sehingga arus kas perusahaan
menjadi meningkat.
Menurut Yazid (2012 dalam Lesmana dan Ratnasari, 2019:118) kepuasan
pelanggan adalah ketiadaan perbedaan antara harapan yang dimiliki dan unjuk kerja yang
senyatanya diterima. Apabila harapan tinggi, sementara unjuk kerjanya biasa-biasa saja,
kepuasan tidak akan tercapai (sangat mungkin pelanggan akan merasa kecewa).
Sebaliknya, apabila unjuk kerja melebihi dari yang diharapkan, kepuasan meningkat.
Menurut Indrasari (2019:92) ada beberapa indikator yang mempengaruhi
kepuasan konsumen terdiri dari :

  1. Kesesuaian Harapan, yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi
    disimpulkan berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan
    pelanggan dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya.
  2. Minat berkunjung kembali, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan
    apakah pelanggan ingin membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan.
  3. Kesediaan merekomendasikan, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
    menanyakan apakah pelanggan akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut
    kepada orang lain seperti, keluarga, teman dan lainnya.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Lupiyoadi dan Hamdani dalam Indrasari (2019 : 63-64) Indikator kualitas
pelayanan sebagai berikut :

  1. Tangibels, kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya
    kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik
    perusahaan yang dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan
    bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa.
  2. Reliability, kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan
    yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Keinerja harus sesuai dengan
    harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk
    semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang
    tinggi
  3. Responsiveness, suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan
    yang cepat (responsive) dan teapat kepada pelanggan, dengan penyampaian
    informasi yang jelas.
  4. Assurance, pengetahuan, kesopan santunan dan kemampuan para pegawai
    perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada
    perusahaan.
  5. Emphaty, memberikan perhatian yamg tulus dan bersifat individual atau pribadi
    yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan
    konsumen. Dimana suatu perushaan diharapkan memiliki pengertian dan
    pengetahuan tentang pelanggan.

Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dalam Indrasari (2019 : 61) kualitas pelayanan adalah suatu
keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan produk, jasa, sumber daya manusia, serta
proses dan lingkungan yang setidaknya dapat memenuhi atau malah dapat melebihi
kualitas pelayanan yang diharapkan. Menurut Tjiptono, definisi kualitas pelayanan ini
adalah upaya pemenuhan kebutuhan yang dibarengi dengan keinginan konsumen serta
ketepatan cara penyampaiannya agar dapat memenuhi harapan dan kepuasan pelanggan
tersebut, dikatakan bahwa service quality atau kualitas layanan adalah pemenuhan
kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi
harapan pelanggan.
Menurut Rambat dan Lupiyoadi dalam Indrasari (2019:62) Service quality adalah
seberapa jatuh perbedaan antara harapan dan kenyataan para pelanggan atas pelayanan
yang mereka terima. Service quality dapat diketahui dengan cara membandingkan
persepsi pelanggan atas pelayanan yang benar-benar mereka terima dengan layanan
sesungguhnya yang mereka harapkan. Kualitas Pelayanan yang menjadi hal pertama yang
diperhatikan serius oleh perusahaan, yang melibatkan seluruh sumber daya yang dimiliki
perusahaan.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Indrasari (2019 : 61-62 ) kualitas pelayanan
merupakan keseluruhan dari keistimewaan dan karakteristik dari produk atau jasa yang
menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan secara lansgung maupun tidak
langsung. Produk jasa yang berkualitas mempunyai peranan penting untuk membentuk
kepuasan pelanggan.Kepuasan pelayanan adalah sesuatu yang harus di berikan dan di
upayakan oleh penyedia jasa dengan baik kepada konsumen. Kualitas pelayanan seperti
yang dirasakan oleh para konsumen, berasal dari suatu perbandingan antara apa yang di
harapkan konsumen dengan apa yang di berikan oleh perusahaan.
Kualitas pelayanan atau customer service ini dapat dibedakan kedalam dua kriteria
yaitu jenis kualitas pelayanan yang baik atau kualitas pelayanan yang buruk. Kualitas
pelayanan ini bukanlah suatu hal yang permanen atau kaku, melainkan fleksibel dan dapat
dirubah. Dalam proses perubahan kualitas pelayanan diperlukan beberapa hal untuk
menunjang prosesnya. Misalnya survei atau observasi kepada pelanggan, termasuk
didalam nya berupa masukan, pendapat maupun feedback tentang pelayanan yang telah
diberikan. kualitas pelayanan (service quality) berdasarkan persepsi pelanggan , sebagai
tingkat kesenjangan antara harapan- harapan atau keinginan pelanggan selaras dengan
kenyataan yang mereka alami

Pengaruh Persepsi Harga dan Minat Beli


Minat membeli secara online dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain yaitu harga, keleluasaan waktu, tingkat kepercayaan dan produk yang bervariasi.
Harga merupakan faktor utama yang dapat memengaruhi pembelian secara online.
Semakin terjangkau suatu harga maka semakin banyak konsumen yang mempunyai
minat beli. Terkadang harga sebuah produk yang ditawarkan secara online cenderung
lebih rendah atau lebih murah daripada offline, karena penjualan secara online tidak
memerlukan biaya untuk sewa tempat, biaya gaji pegawai dan biaya fasilitas (seperti
air dan listrik) (Dyah & Sifudin, 2020:3).
Alasan utama saat seorang konsumen berbelanja melalui toko online karena
kenyamanan. Seorang konsumen juga mengakui bahwa alasan utama sebelum
melakukan belanja melalui online adalah harga. Seorang konsumen akan
mempertimbangkan beberapa harga dalam minat membeli pada sebuah toko online,
di mana persepsi harga seseorang akan mempengaruhi niat belanja konsumen (Dyah
& Sifudin, 2020:5).

Pengaruh Electronic Word Of Mouth dan Minat Beli


Minat beli merupakan perilaku dari seorang konsumen sebelum melakukan
sebuah keputusan pembelian yang diawali dengan keinginan dan ketertarikan
terhadap suatu produk atau barang. Minat beli seorang konusmen muncul dari
berbagai stimulus baik dari dalam diri konsumen itu sendiri seperti rasa ketertarikan,
keinginan dan keingintahuan maupun faktor dari luar seperti rekomendasi dari orang
lain (Desyani et al., 2020:234)
Minat beli juga merupakan sikap seorang konsumen dalam melakukan
pembelian terhadap suatu produk. Hal ini dikarenakan adannya komuniksi electronic
word of mouth (e-wom) yang telah dilakukan antara perushaan dan konsumen dalam
sosial media terhadap sebuah produk. Pesan yang diterima lewat electronic word of
mouth (e-wom) mampu menaikkan minat beli seorang konsumen ketika keterangan
yang diberikan bernilai positif Sebaliknya, ulasan seorang konsumen juga dapat
memberikan dampak negatif apabila menunjukkan kekurangan atau kelemahan pada
sebuah produk. Maka akan berdampak menjadi persepsi negatif dari seorang
konsumen sehingga dapat mempengaruhi konsumen lainnya (Beno wati & Purba,
2020:359)
electronic word of mouth (e-wom) dapat mempengaruhi perilaku konsumen
salah satunya adalah minat beli seorang konsumen terhadap sebuah produk. Minat
beli seorang konsumen muncul ketika pengguna internet membaca komentar positif
dan menarik. Hal ini dibuktikan dengan adanya forum diskusi online mengenai
aplikasi shopee. Dengan adanya kolom komentar pada media elektronik ataupun
media sosial, para konsumen aplikasi shopee dapat berinteraksi dengan konsumen
lainnya serta dapat berbagi pengalamannya mengenai aplikasi shopee pada kolom
komentar yang dapat dibaca oleh konsumen lain (Sarah & Rubiyanti, 2016:208)

Faktor Persepsi Harga


Menurut Monroe (2003:161), persepsi harga sering kali dikaitkan dengan
persepsi kualitas dan persepsi biaya yang dikeluarkan seorang konsumen untuk
memperoleh sebuah produk. Persepsi harga dibentukolehdua faktor utama

  1. Perceived Quality (persepsi kualitas)
    Seorang konsumen cenderung lebih suka dengan sebuah produk yang
    harganya lebih mahal ketika konsumen hanya mendapatkan informasi yang
    didapat hanya harga sebuah produk. Persepsi konsumen terhadap sebuah
    kualitas produk secara otomatis akan dipengaruhi oleh persepsi mereka
    terhadap nama merk,nama toko, sebuah garansi yang telah diberikan (after
    sale services), dan negara yang menghasilkan produk tersebut
  2. Perceived Monetary Sacrifice (persepsi biaya yang dikeluarkan)
    Secara umum seorang konsumen telah menganggap bahwa sebuah harga
    merupakan biaya yang akan dikeluarkan atau dikorbankan untuk
    mendapatkan sebuah produk yang telah diinginkan. Akan tetapi seoarang
    konsumen memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap biaya yang akan
    dikeluarkan meskipun untuk produk yang sama. Hal ini tergantung dari
    situasi dan kondisi yang dialami oleh seorang konsumen, dalam masalah ini
    terdapat tiga kondisi yang mempengaruhi persepsi seorang konsumen
    terhadap biaya yang akan dikeluarkan, yaitu persepsi terhadap sebuah
    persepsi terhadap kewajaran terhadap harga dan efekekuitas merek dan
    pajak

Aspek Persepsi Harga


Aspek persepsi harga menurut Lichstentein et,al, (1993) terdapat enam ciri
yang menjadi ukuran dari persepsi harga yaitu:

  1. Price Quality Association (Asosiasi Kualitas dengan harga)
    Pandangan seorang konsumen terhadap harga suatu produk yang
    berhubungan dengan tingkat kualitas sebuah produk. Seorang konsumen
    dengan pandangan seperti ini akan melihat harga yang tinggi sebagai
    bentuk yang positif dan seorang konsumen dengan pandangan seperti ini
    lebih senang mencari harga dari suatu produk yang cenderung memiiki
    harga tinggi
  2. Prestige Sensitivity (Sensitivitas prestise)
    Pandangan seorang konsumen terkait dengan sensitivitas terhadap sebuah
    perasaan yang menonjol, gengsi dan berstatus yang tinggi dimana harga
    yang tinggi menunjukan status sosial tertentu bagi para pembelinya.
    (membeli harga yang tinggi untuk mendapatkan kesan dan melihat harga
    berdasarkan gengsi)
  3. Price Consciousness ( Kesadaran Harga )
    Pandangan seorang konsumen yang lebih berfokus untuk membayar sebuah
    produk dengan harga yang lebih rendah
  4. Value Consciousness (Kesadaran Nilai)
    Pandangan seorang konsumen terhadap suatu produk dengan harga yang
    rendah dan memiliki beberapa persyaratan mengenai nilai, kualitas sebuah
    produk dan manfaat produk untuk seorang konsumen
  5. Price Mavenism (Sumber Informasi Harga)
    Pandangan seorang konsumen mengenai sejauh mana seseorang menjadi
    sumber informasi terkait dengan harga dan tempat berbelanja, melalui
    bentuk diskusi dengan konsumen yang laiinya
  6. Sale Proneness (Kecenderungan terhadap sebuah diskon )
    pandangan seorang konsumen untuk lebih tertarik dengan suatu harga
    terhadap sebuah produk yang ditampilkan dengan cara membandingkan
    harga suatu produk ( harga asli dan harga diskon )

Definisi Persepsi Harga


Menurut Lichtenstein et.al (1993) harga sudah tidak diragukan lagi oleh
seorang konsumen karena harga sudah menjadi salah satu isyarat pasar yang paling
penting. Pengaruh terhadap sebuah harga sebagian besar berkaitan dengan isyarat
harga (mahal/murah dan tinggi/rendah) pada semua situasi pembelian dan paling
tidak menunjukkan kepada konsumen bahwa jumlah pengeluaran yang harus
dikorbankan untuk terlibat dalam suatu transaksi pembelian.
Menurut Lee dan Lawson Body (2011:532) persepsi harga merupakan sebuah
penilaian seorang konsumen dan bentuk emosional konsumen yang terasosiasi
mengenai sebuah harga apakah harga yang ditawarkan oleh seorang penjual dan
sebuah harga yang dibandingkan dengan pihak lain masuk diakal dan dapat diterima
oleh setiap konsumen atau dapat dijustifikasi. Oleh karena itu hal pertama yang
menjadi minat atau hal yang menarik konsumen adalah berapa nilai yang dikeluarkan
konsumen untuk mendapatkan sebuah produk ditawarkan.
Menurut Hapsawati (2017:30-31) persepsi harga (Price Perceptions) juga
berkaitan dengan bagaimana sebuah informasi harga dapat dipakai seluruhnya oleh
konsumen. Dalam melakukan pemprosesan informasi harga secara kognitif, seorang
konsumen dapat membuat sebuah perbandingan antara suatu harga yang sudah
ditetapkan dengan sebuah harga atau rentang harga yang telah terbentuk dalam benak
setiap konsumen untuk produk tersebut . harga yang ada di dalam benak konsumen
akan digunakan untuk melakukan sebuah perbandingan harga hal ini disebut harga
referensi internal (internal reference price). Referensi harga internal mungkin
merupakan harga yang telah dianggap oleh seorang konsumen sebagai harga yang
pantas dan harga yang selama ini memang ditetapkan untuk suatu produk

Perbedaan Word Of Mouth dan Electronic Word Of Mouth


Menurut Jeong dan Jang (2011:357) terdapat beberapa perbedaan antara word
of mouth (wom) dengan electronic word of mouth (e-wom) antara lain :

  1. Word of mouth dilakukan secara langsung dengan cara bertatap muka,
    sedangkan electronic word of mouth hanya dapat dilakukan secara online.
    Adanya kemajuan teknologi yang dapat merubah jenis komunikasi
    langsung dengan cara tatap muka menjadi sebuah komunikasi yang dapat
    dilakukan pada dunia maya
  2. Word of mouth dapat dilakukan secara terbatas sedangkan electronic word
    of mouth aksesbilitasnya yang tinggi. electronic word of mouth dapat
    menjangkau semua orang atau seorang konsumen yang mengakses sebuah
    internet
  3. electronic word of mouth memungkinkan para konsumen untuk
    mengembangkan hubungan secara virtual dengan konsumen atau yang
    kelompok lain.
  4. electronic word of mouth dilakukan dengan cara di posting atau diakses
    oleh orang yang tidak dikenal, sedangkan word of mouth memiliki tingkat
    kepercayaan yang tinggi karena percakapan dilakukan secara langsung atau
    bertatap muka dengan orang yang sudah mereka kenal.
  5. Word of mouth memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi karena
    didukung dengan intonasi suara dan bahasa tubuh, sedangankan untuk
    electronic word of mouth tidak bisa didukung dengan intonasi suara

Aspek Electronic Word Of Mouth (e-wom)


Menurut Goyette, Ricard, Bergeron, dan Marticotte (2010), terdapat empat
aspek yang menjadi ukuran dari electronic word of mouth (e-wom) :

  1. E-Wom Intensity
    Intensitas percakapan mengenai suatu produk. Ketika calon konsumen
    sering membicarakan suatu produk tertentu dengan konsumen lain. maka
    konsumen yang bersangkutan akan medapatkan informasi mengenai produk
    yang dibicarakan lebih banyak dibandingkan konsumen yang jarang
    membicarakan produk tertentu dengan konsumen lain. dengan seringnnya
    konsumen membicarakan suatu hal. Maka hal itu akan menjadi penguat
    (reinforcement) ingatan sehingga yang bersangkutan akan memiliki
    keyakinan untuk membeli sebuah produk.
  2. Valence Positif
    Penilaian positif sebagai efek dari kepuasan yang didapatkan konsumen
    yang dituangkan dalam percakapan seperti pemberian rekomendasi atau
    ajakan untuk membeli suatu produk. Ketika orang lain sebagai pemberi
    informasi untuk menyampaikan kebaikan atau kelebihan dari suatu produk,
    dan menyarankan kepada calon konsumen untuk melakukan pembelian
    pada produk yang tengah dibicarakannya. Maka hal tersebut juga dapat
    meningkatkan atau memperkuat keyakinan individu atau calon konsumen
    untuk melakukan pembelian.
  3. Valence Negatif
    Penilaian negatif sebagai efek dari ketidakpuasan yang didapatkan
    konsumen yang dituangkan dalam percakapan atau ulasan
  4. E-Wom Content
    Isi percakapan atau konten pembahasan yang diberikan kepada calon
    konsumen berkaitan dengan jenis produk yang dijual, harga, kualitas,
    kemudahan bertransaksi dan lain-lain, karena pada umumnya calon
    konsumen terlebih dahulu memerlukan informasi-informasi tersebut
    sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan suatu pembelian

Faktor Electronic Word Of Mouth


Menurut pendapat Sernovitz (2009:20), terdapat tiga motivasi dasar yang
mendorong pembicaraan electronic word of mouth, yaitu :

  1. Mereka menyukai produk anda
    Seorang konsumen membicarakan karena perusahaan telah melakukan atau
    menjual sesuatu yang konsumen ingin bicarakan. Seorang konsumen
    menyukai produk dan konsumen menyukai bagaimana perusahaan
    memperlakukan mereka, apakah perusahaan telat melakukan sesuatu hal
    yang menarik.
  2. Ulasan membuat mereka merasa baik.
    Lebih sering mengarah ke emosi atau perasaan seorang konsumen terhadap
    sebuah produk atau fitur produk. konsumen terdorong untuk berbagi
    perasaan dimana konsumen sebagai individu dari pada apa yang dilakukan
    bisnis.
  3. Mereka merasa terhubung dalam suatu kelompok
    Keinginan seorang konsumen untuk menjadi bagian dari suatu kelompok
    adalah perasaan manusia yang paling kuat. Membicarakan suatu produk
    merupakan salah satu cara konsumen untuk mendapat hubungan tersebut.
    Kita merasa senang secara emosional ketika kita membagikan kesenangan
    dengan suatu kelompok yang memiliki kesenangan yang sama (Joesyiana,
    2018:74

Faktor-Faktor Minat Beli


Menurut Kotler dan Keller (2016) Perilaku membeli seorang konsumen dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan faktor internal :

  1. Faktor Internal
    Faktor internal adalah faktor yang dipicu oleh kondisi dalam diri seorang
    konsumen, seperti :
    a. Pekerjaan
    Pekerjaan merupakan sebuah gambaran dari pencerminan konsumen
    terhadap setiap tugas-tugas, kewajiban, serta sebuah tanggung jawab pada
    diri masing masing anggota karyawan terhadap pekerjaannya. Semakin
    tinggi tingkat pekerjaan seseorang, maka akan semakin tinggi pula tingkat
    pendapatan seseorang yang secara otomatis akan meningkatkan daya beli
    seseorang terhadap suatu produk. perbedaan pendapatan setiap orang juga
    akan mempengaruhi tingkat kebutuhan seseorang.
    b. Gaya Hidup
    Gaya hidup adalah pola hidup setiap individu terkait kegiatan
    kesehariannya yang digambarkan dalam aktivitas, minat, dan opini. Gaya
    hidup dipengaruhi berdasarkan lapisan masyarakat yang berbeda-beda,
    dimana kelompok lapisan kelas atas akan jelas jauh berbeda dengan gaya
    hidup kelompok lapisan menengah dan kelompok lapisan bawah
    c. Motivasi
    Motivasi merupakan dorongan yang akan timbul dalam diri setiap
    individu yang melatar belakangi terpicunya hasrat mewujudkan tujuan
    tertentu. Biasanya didasari oleh kebutuhan dan keinginan dari pribadi
    seseorang. Dorongan tersebut timbut akibat ada suatu tekanan dari
    kebutuhan yang belum terpenuhi. Dengan adanya kebutuhan dan
    keinginan konsumen tersebut, maka seseorang akan melakukan kegiatan
    pembelian
  2. Faktor Eksternal
    Faktor eksternal yakni faktor yang bersumber dari luar diri individu atau
    konsumen, yaitu :
    a. Sosial
    Pengaruh dari lingkungan sekitar, pada dasarnya seseorang akan
    cenderung meniru suatu perilaku atau gaya hidup yang dimiliki oleh orang
    terdekat mereka. Kemungkinan besar, lingkungan sosial seseorang akan
    mempengaruhi minat beli seseorang dalam mengkonsumsi sebuah produk
    b. Harga
    Harga merupakan sejumlah uang yang akan konsumen berikan demi
    mendapatkan keuntungan atas kepemilikan maupun digunakannya suatu
    barang atau jasa. Harga sejak dahulu telah menjadi aspek utama yang
    paling utama dalam mempengaruhi setiap konsumen dalam memutuskan
    pembeliannya terhadap suatu produk

Indikator Minat Beli


Minat Beli dalam penelitian ini merupakan sebuah keinginan atau rencana
seorang konsumen untuk melakukan pembelian suatu produk dalam jumlah dan
waktu tertentu. Menurut Kotler dan keller (2016) indikator minat beli ada 4 yaitu:

  1. Minat Transaksional, merupakan minat yang menggambarkan kencenderungan
    seorang konsumen dalam membeli suatu produk.
  2. Minat Refrensial, merupakan minat yang menggambarkan kecenderungan
    seorang konsumen untuk mereferensikan sebuah produk kepada orang lain.
  3. Minat Preferensial, merupakan minat yang menggambarkan perilaku seorang
    konsumen yang telah mempunyai prefrensi (pilihan) utama terhadap sebuah
    produk. Kemudian pilihan ini hanya dapat digantikan jika terjadi sesuatu dengan
    produk pilihannya.
  4. Minat Eksploratif, merupakan minat yang menggambarkan sebuah perilaku
    seorang konsumen yang selalu mencari sebuah informasi mengenai suatu produk
    yang akan diminatinya dan konsumen juga akan mencari informasi untuk
    mendukung sifat positif dari sebuah produk.

Definisi Minat Beli


Menurut Kotler dan Keller (2016:137) minat beli merupakan perilaku seorang
konsumen yang akan muncul sebagai sebuah respon terhadap suatu objek yang
menunjukan rasa keinginan seorang konsumen untuk melakukan sebuah pembelian.
Menurut Sciffman dan Kanuk (2015:228) minat beli merupakan sikap seorang
konsumen terhadap sebuah objek atau barang yang cocok dalam mengukur sikap
konsumen terhadap golongan jasa , produk atau merk tertentu. Minat beli seorang
konsumen akan muncul ketika konsumen telah mendapatkan sebuah informasi yang
sudah cukup tentang suatu produk yang diinginkannya.
Minat beli merupakan perilaku seorang konsumen yang telah memiliki rasa
ketertarikan terhadap suatu produk (barang/jasa) sebelum melakukan tindakan
keputusan pembelian yang timbul setelah menerima stimulus atau rangsangan yang
diberikan oleh pemasar sebagai cara untuk meyakinkan calon konsumen. Seorang
konsumen ketika memiliki minat untuk membeli suatu produk (barang/jasa) akan
melakukan pencarian informasi yang lebih mendalam mengenai produk-produk yang
telah diminatinya (Makna & Setiadi, 2022:201)

Peran Pembeli


Seorang pemasar perlu mengetahui siapa yang berperan dalam
kegiatan pembelian, karena semua itu mengandung implikasi yang akan
digunakan untuk merancang produk yang akan diproduksi, penentu pesanan
dan penentu anggaran biaya produksi. Beberapa peranan dalam keputusan
pembelian menurut Philip Kotler (2007 :225)

  1. Initiator
  2. Influencer
  3. Decider
  4. Buyer
  5. User

Pengertian Keputusan Pembelian


Untuk mendapat gambaran mengenai keputusan pembelian, berikut
ini akan dikemukakan definisi mengenai keputusan pembelian menurut para
ahli.Menurut Philip Kotler (2007; 223). Keputusan Pembelian yaitu: beberapa
tahapan yang dilakukan oleh konsumen sebelum melakukan keputusan
produk.

Perilaku Konsumen


Karena perilaku konsumen sangat heterogen maka mereka perlu
disegmentasikan yang relative mempunyai kebutuhan dan keinginan yang
sama. Hal ini dimaksudkan untuk menghemat biaya, waktu dan energi.
Selanjutnya diharapkan program pemasaran yang dirancang akan mengenai
sasaran hingga tujuan pemasaran dapat tercapai berupa meningkatkan volume
penjualan pangsa pasar dan laba penjualan. Hingga segmentasi pasar dapat
didefinisikan sebagai berikut:
Segmentasi pasar membagi pasar menjadi segmen-segmen pasar
tertentu yang dijadikan sasaran penjualan yang akan dicapai dengan
marketing mix tertentu. (Swastha dan Handoko, 192; 118-119)
Jadi latarbelakang dan alasan dilakukannya segmentasi pasar adalah:
1) Konsumen selalu bersifat heterogen, perlu diketahui keinginan dan
kebutuhan guna memenuhi keinginan dan kebutuhan dengan baik.
2) Pemilihan target seluruh pasar setelah akan diadakan segmentasi pasar
akan berpengaruh sangat kuat terdapat potensi penjualan dan laba penjuala
3) Pemilihan target pasar yang akan berpengaruh langsung terhadap berat
tidaknya pesaing yang harus dihadapi di dalam segmen yang terpilih.
4) Strategi perusahaan yang berusaha untuk memenuhi semua keinginan
dan kebutuhan masyarakat, justru akan berakibat kegagalan pemasaran.
Seorang pemasar harus mencoba membedakan variabel segmentasi
secara tunggal dan secara kombinasi dengan harapan untuk mendapatkan
cara yang bermanfaat guna melihat struktur pasar.
Pembagian pasar dalam segmen-segmen pasar sangat dipengaruhi
oleh tipe produk, sifat permintaan, cara penjualan dan motivasi pembelian
konsumen. Banyak variabel-variabel yangdapat dijadikan dasar untuk
segmentasi pasar.
Adapun dasar-dasar yang dapat dipakai untuk segmentasi pasar adalah,
Dalam buku Philip kotler (2009, hal 301)
1) Segmentasi geografis
Segmentasi geografis dilakukan dengan cara membagi pasar menjadi
unit-unit geografis, misalnya negara, propinsi, kabupaten, kota dan
sebagainya.
2) Segmentasi demografis
Segmentasi ini memisahkan pasar ke dalam kelompok-kelompok yang
berdasarkan pada variabel demografis,seperti umur, jenis kelamin,
besarnya keluarga, siklus, pendapatan, pendidikan, agama, ras, dan lain-
lain.
3) Segmentasi psikologis
Pada jenis segmentasi psikologis, konsumen dibagi dalam beberapa
kelompok yang berlainan menurut kelas, gaya hidup atau berbagai cirri
kepribadian.
4) Segmentasi perilaku
Bilaperilaku dipakai sebagai variabel utama dalam segmentasi pasar
dalam konsumen, maka para konsumen dibagi menjadi beberapa
kelompok menurut tingkat pengetahuan, sikap, penggunaan atau
tanggapan terhadap produk tertentu

Harga


Harga adalah sesuatu diberikan atau dikorbankan untuk
memperoleh suatu produk.Harga merupakan salah satu variabel
penting dalam pemasaran, di mana harga dapat mempengaruhi
konsumen dalammengambil keputusan untuk membeli suatu produk,
karena berbagai alasan. Alasan ekonomis akan menunjukkan bahwa
harga yang rendah atau harga yang selalu berkompetisi merupakan
salah satu pemicu penting untuk meningkatkan kinerja pemasaran,
tetapi alasan psikologis dapat menunjukkan bahwa harga justru
merupakan indicator kualitas dan karena itu dirancang sebagai salah
satu instrumen penjualan sekaligus sebagai instrument kompetisi yang
menentukan. Konsumen mempunyai anggapan adanya hubungan yang
positif antara harga dankualitas suatu produk, maka merekaakan
membandingkan antara produk yang satu dengan yang lainnya dan
barulah konsumen mengambil keputusan untuk membeli suatu produk.
Menurut William J. harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk
atau jasa yang lainnya ditetapkan oleh pembeli atau penjual untuk satu
harga yang sama terhadap semua pembeli. Sedangkan menurut kotler
dan amstrong (2008; 345) adalah sejumlah uang yang ditagihkan untuk
sebuah produk atau jasa jumlah dari nilai yang ditukarkan para
pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan
suatu produk atau jasa. Lebih jauh lagi, harga adalah adalah jumlah
dari seluruh nilai yang konsumen tukarkan untuk jumlah manfaat
dengan memiliki atau menggunakan suatu barang dan jasa.
Harga juga merupakan salah satu elemen bauran pemasaran
yang paling fleksibel; harga dapat diubah dengan cepat, tidak seperti fitur
produk dan perjanjian distribusi mengatakan bahwa, harga memiliki dua
peranan utama dalam mempengaruhi keputusan beli, yaitu :

  1. Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam membantu
    para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh manfaat atau
    utilitas tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya belinya. Dengan
    demikian, adanya harga dapat membantu para pembeli untuk
    memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis
    barang dan jasa.Pembeli membandingkan harga dari beberapa
    alternative yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang
    dikehendaki.
  2. Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam
    mendidik konsumen mengenai faktor-faktor produk, seperti kualitas.
    Hal initerutama bermanfaat dalam situasi dimana pembeli
    mengalami kesulitan untuk menilai faktor produk atau manfaatnya
    secara obyektif Harga ( price) dari sudut pandang pemasaran
    merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan
    jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperolehhak kepemilikan atau
    penggunaan suatu barang dan jasa

Kualitas Produk


Produk yang mempunyai kualitas yang sama dengan produk lain
tetapi ditetapkan pada harga yang lebih murah akan memberikan nilai yang
lebih tinggi kepada pelanggannya.
Produk didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat ditawarkan ke
dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, dipakai, atau dikonsumsi
sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan (Kotler, 2002).
Konsumen akan menyukai produk yang menawarkan kualitas,
kinerja, dan pelengkap inovatif yang terbaik (Simamora, 2004). Produk
yang berkualitas adalah produk yang mampu memberikan hasil yang
lebih dari yang diharapkan.
Fandy Tjiptono mengartikan produk sebagai: “segala sesuatu
yang ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan/dikonsumsi pasar sebagai pemenuh kebutuhan/keinginan
pasar yang bersangkutan” (1999:95). Produk yang ditawarkan tersebut
meliputi: barang fisik, jasa, orang/pribadi, organisasi, dan ide. Secara
lebih rinci, konsep produk meliputi: barang, kemasan, merk, warna,
label, harga, kualitas, pelayanan dan jaminan.
Konsep-konsep yang bersaing yang telah digunakan oleh
organisasi pada kegiatan pemasaran mencakup: konsep produksi,
konsep produk, dan kosnep penjualan. Dalam buku Philip Kotler
(2009, hal 18).
a. Konsep Produksi
Konsep produksi adalah salah satu dari konsep tertua dalam bisnis.
Konsep itu menegaskan bahwa konsumen akan memilih produk
yang tersedia dimana-mana dan murah.
b. Konsep Produk
Konsep produk menyatakan bahwa konsumen akan lebih menyukai
produk-produk yang menawarkan fitur-fitur paling bermutu,
berprestasi, atau inovatif. Para manajer dalam organisasi ini
berfokus pada membuat produk yang superior dan meningkatkan
nya sepanjang waktu.
c. Konsep Penjualan
Konsep penjualan menyatakan bahwa konsumen dan bisnis, jika
ditinggalkan sendiri biasanya tidak akan membeli cukup banyak
produk-produk organisasi. Oleh karena itu, organisasi harus
melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif.

Mengukur Minat Beli Konsumen


Minat beli pelanggan dapatdilihat dari hasil (Outcome) yang
dirasakan atas penggunaan produk dan jasa, sama atau melebihi harapan yang
diinginkan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa metode yang digunakan untuk
mengukur minat beli konsumen.
Kotler dalam Tjiptono dan Diana (2005: 104-105) mengemukakan
beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur minat beli
konsumen, metode tersebut antara lain :
1) Sistem keluhan dan saran
2) Ghost Shopping
3) Lost CustomerAnalysis
Menurut (Christina Whidya Utami, 2006) faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan berbelanja. Keputusan belanja dipengaruhi oleh
kepercayaan, sikap dan nilai-nilai pelanggan, serta berbagai faktor dalam
lingkungan sosial pelanggan.

Pengertian Minat Konsumen


Minat merupakan suatu kecendrungan untuk melakukan tindakan
terhadap obyek. Minat terkait dengan sikap dan perilaku, minat dianggap
sebagai suatu penangkap atau perantara antara faktor-faktor motivasional
yang mempengaruhi perilaku, perilaku minat juga mengindinfikasikan
seberapa keras seseorang mempunyai kemauan untuk mencoba. Minat
menunjukkan seberapa banyak upaya yang direncanakan seseorang untuk
melakukan sesuatu dan minat berhubungan dengan perilaku.
Galaksi (2009:1), Konsep AIDA+S terdiri atas lima komponen yaitu
sebagai berikut:

  1. Attention, yaitu Pertama kali kosumen dihubungi atau ditawari oleh
    perusahaan tertentu sehingga muncul perhatian (attention) pada
    dirikonsumen.
  2. Interest, yaitu timbulnya minat konsumen terhadap barang yang sudah dia
    perhatikan.
  3. Desire, yaitu Adanya ketertarikan tersebut akan menimbulkan hasrat,
    keinginan (desire) konsumen untuk membeli dan menggunakan produk
    yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.
  4. Action, yaitu Pada tahap tindakan (action) perusahaan harus dapat
    mewujudkan kebutuhan dan harapan konsumendan memberikan keyakinan
    bahwa barang, jasa, dan ide yang dibeli merupakan langkah yang tepat
    yang dapat memberikan keuntungan bagi konsumen.
  5. Satisfaction, yaitu Pada tahap kepuasan (satisfaction) perusahaan harus
    dapat memastikan bahwa kualitas barang, jasa dan ide yang dibeli
    sesuai denganharapan konsumen.
    Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa
    yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri,
    keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk
    diperdagangkan. Konsumsi dari bahasa belanda consumpite, ialah suatu
    kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu
    benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan
    kepuasan secara langsung. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia
    lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena
    itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya
    memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.

Pengaruh Kualitas Produk dan Promosi terhadap Minat Belimelalui Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan adalah target setiap perusahaan karena
dengan meningkatnya kepuasan pelanggan dapat menjamin
kelangsungan hidup suatu perusahaan. Jika pelanggan merasa puas
pada suatu produk akan menimbulkan kurangnya keinginan untuk
melihat produk merek lain. Semakin bagus produk yang ditawarkan
akan meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap suatu produk.
Produk yang memiliki kualitas tinggi adalah produk yang
mempunyai banyak manfaat. Selain kualitas produk, kemampuan
perusahaan dalam aktivitas promosi juga merupakan hal yang utama
dilakukan untuk menciptakan kepuasan pelanggan. Pelanggan akan
melakukan pembelian dengan mempertimbangkan harga, promosi
dan produk (Indah Sari & Raymond, 2019)

Pengaruh Kepuasan Pelanggan terhadap Minat Beli Konsumen


Imran (2018) kepuasan pelanggan adalah faktor penting yang
harus diperhatikan oleh perusahaan apabila ingin mendapatkan minat
beli dari konsumen. Setiap perusahaan dituntut untuk membuat
kepuasan pada pelanggan dengan memberikan penawarna dan juga
pelayanan yang baik, karena suatu perusahaan harus mampu
bersaing dan mempertahankan posisi pasar yang semakin ketat.
Kepuasan konsumen, dapat mendorong untuk melakukan pembelian
ulang (repeat purchase), dengan begitu konsumen akan loyal
terhadap suatu produk maupun loyal terhadap toko tempat membeli
produk tersebut.

Pengaruh Promosi Penjualan terhadap Minat Beli Konsumen


Silaningsih & Utami, (2018) strategi pemasaran banyak
kaitannya dengan komunikasi. Promosi adalah salah satu bentuk
khusus dari komunikasi untuk memenuhi fungsi dari pemasaran.
Dalam menjalankan fungsi pemasaran harus dilakukan kegiatan
promosi untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Promosi
harus dapat membujuk konsumen agar tertarik terhadap suatu produk
yang ditawarkan yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan dan
keuntungan. Suatu promosi akan mengarahkan konsumen untuk
membeli produk-produk yang ditawarkan, guna memenuhi
kebutuhan konsumen dan memberikan tingkat kepuasan pada
konsumen. Melalui promosi inilah dapat menarik perhatian para
konsumen untuk membeli suatu produk dan juga memberikan respon
timbal balik yang kuat dan meningkatkan penjualan dalam jangka
pendek

Pengaruh Kualitas Produk terhadap Minat Beli Konsumen


Pada dasarnya, seseorang membeli produk untuk memenuhi
kebutuhan atau keinginan. Silaningsih & Utami, (2018) produk yang
berkualitas mempunyai kaitan erat dengan sikap konsumen, dimana
produk berkualitas akan memberikan dorongan minat kepada
konsumen untuk membeli suatu produk. Dikarenakan produk yang
ditawarkan akan menggambarkan kondisi suatu perusahaan, jika
perusahaan melakukan kesalahan dalam kegiatan pemasaran kepada
konsumen maka tingkat minat beli konsumen akan turun, bahkan
dapat berakibat pada image yang kurang bai

Pengaruh Promosi Penjualan terhadap Kepuasan Pelanggan


Promosi penjualan adalah salah satu kegiatan terpenting
bagi sebuah perusahaan, karena tujuan promosi itu sendiri agar
konsumen mengetahui produk yang diciptakan oleh suatu
perusahaan. Sebaik apapun kualitas produk yang ditawarkan jika
perusahaan tidak cermat dalam promosi maka konsumen tidak
mengetahui adanya produk tersebut, maka tidak ada kegiatan
pembelian dan target penjualan tidak akan tercapai. Maka suatu
perusahaan butuh kejelian dalam melihat promosi seperti apa yang
cocok digunakan. (Revyola et al., 2019). Promosi yang digunakan
perusahaan juga dapat mempengaruhi apakah banyak konsumen
akan membeli produk yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.
Memilih promosi yang tepat akan membuat konsumen ingin
mencoba produk yang ditawarkan suatu perusahaan, promosi perlu
membangun hubungan yang baik dengan konsumen tentang seberapa
puas mereka dengan produk yang di tawarkan

Pengaruh Kualitas Produk terhadap Kepuasan Pelanggan


Kualitas sangat penting karena merupakan salah satu faktor
keunggulan yang kompetitif. Kedudukan kualitas menjadi penting
sejak persaingan pasar dunia semakin ketat. Persaingan yang ketat
tersebut antara lain dipicu oleh kondisi globalisasi yang semakin
cepat kemajuannya (Afnina & Hastuti, 2018). Salah satu faktor
utama yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah kualitas
produk. Pelanggan akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
Faktor harga produk juga berperan penting, dimana produk yang
memiliki kualitas sama tetapi menetapkan harga yang relatif
terjangkau akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada
pelanggannya. Menurut Roselina & Niati, (2019) kualitas adalah
sesuatu yang diputuskan oleh konsumen,artinya kualitas didasarkan
pada pengalaman aktual konsumen terhadap produk atau jasa. Maka
dapat disimpulkan bahwa ukuran kepuasan pelanggan merupakan
hasil evaluasi setelah melakukan pembelian.

Kepuasan Pelanggan


Sulistyani & Umi, (2021) kepuasan pelanggan adalah faktor
penting untuk menentukan keberhasilan suatu perusahaan.
Perusahaan harus memenuhi kebutuhan serta keinginan konsumen
sehingga dapat mencapai kepuasan konsumen. Apabila konsumen
puas dengan produk atau jasa yang didapatkan, kemungkinan besar
konsumen akan melakukan pembelian ulang atas apa yang
didapatkan dan mungkin akan menambah jumlah dari pembelian
sebelumnya.
Kepuasan pelanggan sebagai “sejauh mana kinerja yang
dirasakan dari suatu produk atau layanan memenuhi harapan
pembeli”. Pelanggan tidak puas ketika kinerja produk jauh dari
harapan mereka tetapi pelanggan akan puas ketika kinerja produk
melebihi harapan pelanggan (Indah Lestari, 2021).
Menurut Rahadi menunjukkan bahwa perusahaan yang
memberikan layanan berkualitas benar-benar dapat memenuhi
beragam kebutuhan pelanggan dan kepuasan pelanggan adalah suatu
evaluasi keseluruhan produk dan layanan berdasarkan pengalaman
masa lalu pelanggan. Sedangkan menurut Tjahjaningsih menjelaskan
bahwa kepuasan pelanggan dianggap sebagai evaluasi keseluruhan
dari produk nyata dan produk tidak berwujud (Indah Lestari, 2021).
Mempertahankan pelanggan berarti mengharapkan mereka
untuk melakukan pembelian ulang atas produk atau jasa pada saat
kebutuhan yang sama muncul sewaktu-waktu. Menurut Kotler
kepuasan pelanggan yaitu perasaan senang atau kecewa yang muncul
ketika seseorang membandingkan antara harapan dengan kenyataan
yang dicapai. Tingkat kepuasan atau rasa senang yang tinggi
menciptakan ikatan emosional dengan merek atau perusahaan yang
bersangkutan (Roselina & Niati, 2019)
Kepuasan pelanggan (Sholihah et al., 2022) merupakan hasil
dari penelitian konsumen bahwa produk atau pelayanan telah
memberikan tingkat kenikmatan dimana pemenuhan ini bisa lebih
atau kurang. Dari definisi tersebut dapat disimpulakan bahwa
kepuasan pelanggan merupakan tingkat persepsi,harapan dan
perilaku konsumen terhadap pembelian suatu produk atau jasa yang
dirasakan setelah melakukan pembelian.
(Sholihah et al., 2022) pengukuran kepuasan pelanggan
sangat penting untuk dilakukan karens memberikan informasi
bermanfaat bagi perusahaan, industri, investor, pemerintah dan
konsumen. Terdapat enam indikator kepuasan pelanggan sebagai
berikut:
a. Kepuasan pelanggan keseluruhan, ialah kepuasan pelanggan
diukur berdasarkan produk dan membandingkan produk
pesaing;
b. Penilaian pelanggan ialah pelanggan memberikan nilai
terhadap produk dan produk pesaing;
c. Konfirmasi harapan ialah kesesuaian/ketidaksesuaian
pelanggan antara harapan dan kinerja aktual produk;
d. Minat pembelian ulang, ialah perilaku pelanggan dalam
berbelanja dan menggunakan produk kembali;
e. Kesediaan untuk merekomendasikan, ialah keinginan
pelanggan untuk memberikan rekomendasi produk kepada
teman atau keluarga; dan
f. Ketidakpuasan pelanggan meliputi komplain, retur, dan
konsumen beralih ke pesaing lain.

Minat Beli


Minat beli konsumen adalah faktor pendorong dalam
pengambilan keputusan pembelian terhadap suatu produk (A. S.
Akbar, 2021). Menurut Wijaya & Oktavianti (2019) minat beli
konsumen adalah evaluasi purna beli atau hasil evaluasi setelah
membandingkan apa yang dirasakan dengan harapannya. Minat beli
merupakan perilaku yang muncul sebagai respon terhadap objek
yang menunjukan keinginan seseorang untuk melakukan pembelian
(Kurniawan & Krismonita, 2020).
Minat beli merupakan keinginan untuk membeli produk,
minat beli akan muncul apabila seseorang konsumen sudah
terpengaruh terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk, informasi
seputar produk, contoh seperti harga, cara membeli dan kelemahan
serta keunggulan produk dari merek lain (Maino et al., 2022)
Minat beli pelanggan menurut Nursadiah & Maharani,
(2018) adalah sebuah perilaku konsumen yang ingin membeli atau
memillih suatu produk, berdasarkan pengalaman dalam hal memilih,
menggunakan, dan mengkonsumsi atau menginginkan suatu produk.
Menurut Setiawan minat beli mempunyai indikator-
indikator sebagai berikut (A. S. Akbar, 2021):
a. Minat transaksional adalah kecenderungan seseorang untuk
membeli suatu produk setelah dikonsumsi
b. Minat referensial adalah kecenderungan individu untuk
merekomendasikan produk yang sudah dibelinya, agar orang
lain juga membelinya, berdasarkan pengalaman konsumsi
mereka
c. Minat preferensial adalah minat yang menggambarkan
perilaku seseorang yang memiliki preferensi utama terhadap
produk tersebut. Preferensi ini hanya dapat diubah jika terjadi
sesuatu pada produk pilihannya
d. Minat eksploratif adalah minat ini menggambarkan perilaku
seseorang yang selalu mencari informasi tentang produk yang
diminati dan mencari informasi untuk mendukung kualitas
positif dari produk yang menjadi langganannya

Promosi Penjualan


Promosi adalah proses komunikasi pemasaran untuk
menginformasikan, membujuk, mengingatkan dan mempengaruhi
konsumen atau pengguna dalam mendukung produk atau jasa
(Kurnianingsih & Sugiyanto, 2020). Promosi merupakan
serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk
mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya kepada
sasaran pasarnya. Singkatnya promosi adalah tindakan
menginformasikan kepada masyarakat tentang suatu produk,
dilakukan secara efektif dan praktis, dengan tujuan menciptakan
transaksi jual beli. Pemberian informasi harus didasarkan pada
kejujuran dan kebenaran yang nyata sesuai dengan produk yang
diinformasikan. Meskipun promosi dimaksudkan untuk
mempengaruhi selera dan keinginan, keputusan akhir tetap di tangan
konsumen yang bersangkutan (Kurnianingsih & Sugiyanto, 2020).
Desi & Sri, (2018) promosi merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh perusahaan untuk mendorong suatu permintaan.
Promosi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan
pembelian. Karena promosi dipandang sebagai sarana untuk
menunjang penjualan. Dengan promosi perusahaan dapat
menunjukkan keunggulan produknya agar konsumen tertarik untuk
membeli produk tersebut.
Menurut Kotler dan Amstrong terdapat lima indikator
promosi yaitu periklanan (Advertising), promosi penjualan (sales
promotion), penjualan perseorangan (personal selling), hubungan
masyarakat (public relations), penjualan langsung (direct marketing)
(Krisna Marpaung et al., 2021).

Kualitas Produk


Kualitas adalah isu yang dominan di banyak perusahaan,
bersamaan dengan waktu yang pesat, fleksibilitas untuk memenuhi
permintaan konsumen (produk selalu dibuat untuk memenuhi
permintaan konsumen) dan harga jual yang rendah, kualitas
merupakan pilihan yang penting dan strategis (Afnina & Hastuti,
2018).
Nurhayati (2011) kualitas produk adalah kesesuaian produk
dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Menurut Assauri dalam
Arumsari (2012:45) kualitas produk digambarkan sebagai faktor-
faktor yang terkandung dalam suatu barang atau hasil yang membuat
barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan yang dimaksudkan
(Kurnianingsih & Sugiyanto, 2020).
Kualitas produk merupakan suatu usaha untuk memenuhi
harapan konsumen, dimana suatu produk tersebut memiliki kualitas
yang sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan, dan
kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah karena selera
maupun harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah
(Krisna Marpaung et al., 2021).
Menurut Gito Sudarma (2018) indikator yang dapat
digunakan untuk mengukur kualitas produk sebagai berikut:
a. Berbagai macam variasi produk
b. Daya tahan produk
c. Kualitas produk sesuai spesifikasi dari konsumen
d. Penampilan kemasan produk (estetika)
e. Kualitas produk terbaik dibandingkan dengan merek
lain

Pengaruh Promosi dari mulut ke mulut Terhadap KeputusanPembelian


Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu usaha
yang digunakan dalam program pemasaran. Promosi ini merupakan cara
memperkenalkan dan menarik konsumen. Promosi merupakan salah satu variabel
dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam
memasarkan produk jasa. dan juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen
dalam kegiatan pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan keinginan dan
kebutuhannya, dengan promosi konsumen dapat mengetahui suatu produk dan
spesifikasi yang diwarkan oleh perusahaan dan bisa menjadi salah satu alat untuk
menarik konsumen agar melakukan keputusan pembelian. Berdasarkan (Wibi
Anindra Lukito & Aswin Fahmi D, 2020), Hasil penelitian yang dilakukan
menunjukkan bahwa variabel promosi masih cukup signifikan pengaruhnya
terhadap keputusan pembelian, variabel promosi ini masih memberikan kontribusi
terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Minat Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian


Minat pembeli terhadap keputusan pembelian bisa dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Salah satunya adalah nilai tambah atau keuntungan yang
diperoleh dari produk atau layanan yang ditawarkan. Jika produk atau layanan
dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan pembeli dengan baik, kemungkinan
besar mereka akan lebih tertarik untuk melakukan pembelian.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Pembelian


Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Pembelian merujuk pada sejauh mana
tingkat kualitas suatu produk dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk
melakukan pembelian. Kualitas produk mencakup berbagai atribut seperti
keandalan, kinerja, fitur, desain, dan daya tahan, yang bersama-sama membentuk
persepsi konsumen tentang nilai produk. Dalam konteks ini, “pengaruh”
mencerminkan daya tarik atau kekuatan kualitas produk dalam memotivasi atau
mempengaruhi konsumen untuk memilih dan membeli produk tersebut. Jika
konsumen percaya bahwa suatu produk memiliki kualitas yang baik, mereka
cenderung lebih mungkin untuk membeli produk tersebut.
Menurut, (Wanda Intan Aghitsni & Nur Busyra, (2022). Kualitas produk
merupakan sesuatu yang bisa memuaskan keinginan dan kebutuhan yang
ditawarkan kepasar agar dapat dimiliki, diperhatikan, digunakan, ataupun
dikonsumsi Kualitas produk juga merupakan salah satu hal penting yang ditelaah
oleh calon pembeli saat akan membeli sesuatu, baik berupa barang maupun
berupa jasa

Word of Mouth


Word of Mouth, atau komunikasi dari mulut ke mulut, adalah suatu bentuk
proses komunikasi di mana individu atau kelompok memberikan rekomendasi
terhadap suatu produk secara personal, baik kepada individu maupun kelompok
lainnya. Kotler & Keller (2016) menekankan bahwa tujuan dari Word of Mouth
ini adalah untuk memberikan informasi pribadi mengenai produk tersebut.
Sweeney, Soutar, dan Mazzarol (2012) mengidentifikasi tiga dimensi Word of
Mouth yang berasal dari pemberi pesan (sender) dan penerima pesan (receiver).
Ini mencerminkan kompleksitas dalam proses komunikasi ini yang melibatkan
berbagai aspek dari kedua belah pihak. Faktor keberhasilan word of mouth
marketing yaitu :

  1. Kepercayaan dan Kredibilitas
    Kepercayaan dan kredibilitas adalah pondasi utama dalam menciptakan
    word of mouth yang positif. Kepercayaan pelanggan adalah kunci,
    Dengan melihat pelanggan merasa bahwa sebuah merek dapat
    dipercaya dan kredibel, mereka lebih cenderung merekomendasikannya
    kepada orang lain.
  2. Inovasi dan Unikasi
    Di dalam produk atau layanan yang mempunyai ciri khas tersendiri
    serperti rasa, bentuk, dan tampilan dapat menjadi pendorong kuat agar
    terciptanya word of mouth yang positif. Hal ini dapat membuat
    perbedaan antara produk pesaing dan produk yang dimiliki agar para
    konsumen dapat melihat perbedaan dan dapat menjadi daya tarik besar.
  3. Insentif untuk direkomendasikan
    Memberikan insentif atau reward kepada pelanggan dapat menjadi daya
    tarik pemikat untuk calon konsumen baru. Membuat program
    penghargaan atau loyalitas dapat memberikan keuntungan kepada
    pelanggan guna untuk di rekomendasikan ke teman maupun kerabat

Promosi Penjualan


Promosi penjualan, seperti diskon, hadiah, atau penawaran khusus, dapat
menjadi pendorong utama dalam membuat konsumen mengambil keputusan untuk
melakukan pembelian. Konsumen cenderung merespon positif terhadap insentif
ekstra yang diberikan melalui promosi penjualan. Konsumen yang mendapatkan
keuntungan tambahan melalui promosi penjualan cenderung merasa bahwa
mereka mendapatkan nilai lebih dari investasi mereka, yang dapat memotivasi
minat beli ulang. Program promosi penjualan yang memberikan penghargaan atau
keuntungan khusus kepada pelanggan setia dapat memperkuat minat beli ulang.
Konsumen yang merasa dihargai cenderung mempertahankan hubungan dengan
merek atau perusahaan tersebut

Minat Konsumen


Minat konsumen adalah aspek penting dalam perilaku konsumen dan telah
menjadi fokus penelitian oleh berbagai ahli pemasaran. Beberapa ahli yang
mengkaji minat konsumen melibatkan faktor-faktor psikologis, sosial, dan
ekonomi yang mempengaruhi keinginan dan preferensi konsumen. Niat untuk
kembali membeli merupakan respons terhadap suatu produk yang menunjukkan
keinginan pembeli untuk melakukan pembelian lagi. Menurut Kotler & Keller
(2009), minat beli ulang adalah fase di mana konsumen memiliki kecenderungan
untuk bertindak sebelum keputusan pembelian sebenarnya diambil. Kotler
menekankan bahwa minat konsumen dipengaruhi oleh faktor seperti kebutuhan,
keinginan, dan persepsi terhadap produk atau layanan. Faktor psikologis, seperti
motivasi dan persepsi, berperan dalam membentuk minat konsumen. Beberapa
faktor kunci termasuk kebutuhan, keinginan, dan persepsi terhadap produk
tersebut.

  1. Kebutuhan: Konsumen cenderung memiliki minat terhadap produk yang
    dapat memenuhi kebutuhan mereka.
  2. Keinginan: Selain kebutuhan, keinginan juga memainkan peran penting
    dalam membentuk minat konsumen. Keinginan mencerminkan preferensi
    pribadi dan selera konsumen terhadap fitur atau atribut tertentu dari suatu
    produk.
  3. Persepsi terhadap Produk: Cara konsumen melihat dan memahami
    produk juga mempengaruhi minat mereka. Persepsi ini mencakup citra
    merek, kualitas produk, dan pengalaman sebelumnya yang dapat
    membentuk minat positif atau negatif

Kualitas Produk


Menurut Lupiyoadi (2014) kualitas produk adalah sejauh mana produk
memenuhi spesifikasi spesifikasinya. Nilai yang diberikan oleh pelanggan diukur
berdasarkan kepercayaan (reliability), ketahanan (durability), dan kinerja
(performance) terhadap bentuk fisik dan citra
produk. Kualitas produk menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam
pembelian suatu produk karena mengetahui bagaimana kualitas atau kondisi
produk yang akan dibeli tersebut.
Kualitas produk adalah bagaimana produk tersebut memiliki nilai yang
dapat memuaskan konsumen baik secara fisik maupun secara psikologis yang
menunjukkan pada atribut atau sifat-sifat yang terdapat dalam suatu barang atau
hasil (Kotler dan Amstrong (2015:224).
Philip Kotler mendefinisikan produk sebagai sesuatu yang dapat disajikan
kepada pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi guna
memuaskan keinginan atau kebutuhan. Klasifikasi produk melibatkan beberapa
kelompok, antara lain:
a. Produk Berdasarkan Ketahanan Dan Keberwujudannya:

  1. Barang tidak tahan lama merupakan barang berwujud yang umumnya
    digunakan dalam satu atau beberapa kali penggunaan, seperti sabun,
    pasta gigi, makanan, dan minuman ringan.
  2. Barang tahan lama adalah barang berwujud yang dapat digunakan untuk
    jangka waktu lama, contohnya lemari pendingin, mesin fotokopi, dan
    pakaian.
  3. Jasa adalah produk yang tidak berwujud, tak terpisahkan, bervariasi, dan
    dapat musnah, seperti salon, nasihat hukum, dan perbaikan peralatan.
    b. Produk Industri
  4. Bahan dan suku cadang adalah barang yang menjadi bagian dari produk
    produsen, seperti kapas, gandum, dan beras.
  5. Barang modal adalah barang tahan lama yang memfasilitasi
    pengembangan atau pengelolaan produk jadi, misalnya bangunan pabrik,
    mesin produksi, dan kantor.
  6. Layanan bisnis dan pasokan melibatkan barang dan jasa jangka pendek
    yang mendukung pengembangan atau pengelolaan produk jadi,
    contohnya pelumas mesin, bahan bakar, dan alat tulis.
    c. Produk konsumen:
  7. Barang sehari-hari, seperti makanan dan minuman, sering dibeli
    konsumen dengan segera dan usaha minimum.
  8. Barang belanja adalah barang yang dibandingkan oleh konsumen
    berdasarkan kecocokan, kualitas, harga, dan gaya, misalnya pakaian,
    sepatu, dan kosmetik.
  9. Barang yang tidak dicari adalah barang yang tidak dikenal atau biasanya
    tidak terpikirkan untuk dibel

A 98% Win Rate Awaits—Navigate Peril & Claim Golden Rewards in the Chicken Road game, with Difficult

A 98% Win Rate Awaits—Navigate Peril & Claim Golden Rewards in the Chicken Road game, with Difficulty Levels for Every Player.

The digital world of casino games is constantly evolving, offering players new and exciting experiences. Among the rising stars in this realm is a delightful and surprisingly engaging title: the chicken road game, developed by InOut Games. This isn’t your typical fowl play; it’s a single-player adventure boasting an impressive 98% Return to Player (RTP) rate, making it a compelling choice for those seeking a blend of luck, skill, and adorable poultry. Whether you’re a seasoned casino enthusiast or a newcomer looking for a fun and accessible game, the chicken road game provides a unique and potentially rewarding experience.

A Unique Gameplay Experience

The core mechanic of the chicken road game is elegantly simple yet surprisingly addictive. Players guide a determined chicken across a path fraught with obstacles, aiming to reach a golden egg at the end. The journey isn’t easy, however. Various hazards stand in the chicken’s way, demanding careful timing and strategic decision-making. Throughout the road, players can collect bonus items that enhance their chances of success or provide temporary advantages. The game’s charm lies in its perfect balance between light-hearted visuals and challenging gameplay.

Difficulty Levels: Catering to Every Player

One of the most appealing aspects of the chicken road game is its scalability to different skill levels. InOut Games has implemented four distinct difficulty settings: Easy, Medium, Hard, and Hardcore. Each level introduces new challenges and increases the potential rewards, as well as the inherent risks. The Easy mode serves as a gentle introduction, perfect for beginners who want to grasp the basic mechanics. Progressing to Medium and Hard demands quick reflexes and a more strategic approach, while the Hardcore mode is reserved for experienced players who crave a truly demanding test of skill.

Difficulty
Risk Level
Potential Payout
Easy Low Moderate
Medium Medium Higher
Hard High Significantly Higher
Hardcore Very High Maximum Payout

Understanding the 98% RTP

In the world of casino games, the Return to Player (RTP) percentage is a crucial metric. It represents the average amount of money a game will pay back to players over time. The chicken road game stands out with its imposing 98% RTP. This means that, on average, for every $100 wagered, the game will return $98 to players. While RTP doesn’t guarantee winning on any individual game, it offers a better chance of recouping funds over the long run compared to games with lower RTPs. It is a compelling factor for pragmatic players who seek value for their money.

The Significance of High RTP

A high RTP, like the 98% offered in the chicken road game, directly correlates with a lower house edge. The house edge is the statistical advantage the casino holds over the player. A smaller house edge translates to a fairer and more player-friendly experience. It’s worth remembering that RTP is calculated over millions of spins, so short-term results may vary. The chicken road game’s high RTP is a clear indication of InOut Games’ commitment to providing a transparent and rewarding experience.

Long-Term Strategy and RTP

While luck plays a role in any casino game, understanding the RTP can influence your overall strategy. In the chicken road game, knowing that the game is designed to return a large percentage of wagers can encourage responsible gameplay and a long-term perspective. It’s important to set a budget and stick to it, regardless of the RTP. The chicken road game offers a pleasant distraction, yet responsible gaming remains paramount. Understanding the statistical advantage of a high RTP value increases the appeal of the game.

Bonus Features and Gameplay Enhancements

The chicken road game isn’t just about navigating obstacles. Scattered throughout the path are a variety of bonus features designed to enhance gameplay and increase winning opportunities. These bonuses can range from speed boosts and invincibility shields to multipliers that amplify potential payouts. Mastering the timing of collecting these bonuses is crucial for progressing through the more difficult levels. It’s a testament to InOut Games’ dedication to keeping the gameplay dynamic and engaging.

  • Speed Boosts: Temporarily increase the chicken’s moving speed, allowing for quicker navigation of challenging sections.
  • Invincibility Shields: Protect the chicken from immediate danger, preventing a ‘fried’ outcome.
  • Payout Multipliers: Increase the reward received upon reaching the Golden Egg, significantly boosting winnings.
  • Extra Lives: Provides another opportunity if the player fails to avoid an obstacle.

Strategic Bonus Usage

The real skill in the chicken road game lies in strategically utilizing the bonus features. For instance, save an invincibility shield for a particularly tricky section filled with hazards. Likewise, coordinating a speed boost with a long straightaway can cut down on travel time and reduce the risk of collisions. Effective bonus management is key to consistently reaching the Golden Egg and maximizing potential earnings. It transforms the experience from relying purely on luck, to a game of strategy and timing.

The Visual Appeal of the Bonuses

The bonus features aren’t just functional; they’re also visually engaging. Each bonus is accompanied by unique animations and sound effects, adding to the game’s whimsical charm. Whether it’s the chicken donning a sparkling shield or leaving a trail of sparks with a speed boost, the visual feedback keeps players invested and entertained. This powerful blend of engaging gameplay and attractive aesthetics is a large part of what sets the chicken road game apart from other casino offerings.

Mobile Accessibility and User Interface

InOut Games has prioritized accessibility, ensuring the chicken road game is readily available on a variety of platforms, including mobile devices. This means players can enjoy the game on the go, without compromising on quality or gameplay. But better than mobile availability is the game’s user-friendly interface, which is incredibly intuitive and easy to navigate. The controls are simple and responsive, even on smaller screens, and the game loads quickly and seamlessly.

  1. Responsive Design: Seamlessly adjusts to different screen sizes.
  2. Intuitive Controls: Easy-to-learn controls that enhance gameplay.
  3. Fast Loading Times: Minimal wait times, allowing players to jump straight into the action.
  4. Clear Visuals: Eye-catching graphics that look great on any device.

Importance of User-Centered Design

The attention to detail within the user interface is truly impressive. Every element, from the menu buttons to the in-game feedback, has been carefully designed to enhance the player experience. It removes any frustration and ensures immediate access. This demonstrates InOut Games’ focus on providing a polished and enjoyable gaming experience.

Optimization for Mobile Gaming

Mobile gameplay presents unique challenges, such as limited screen space and potential input lag. The developers have addressed these concerns effectively by optimizing the game for quick response times and streamlined performance. This ensures that players can enjoy a fluid and uninterrupted gaming session regardless of their chosen device. This game feels as rewarding on a small smartphone screen as on a computer monitor.

In conclusion, the chicken road game from InOut Games delivers a unique and rewarding experience that stands out in a crowded casino landscape. Its high RTP, engaging gameplay, and adaptable difficulty levels make it accessible and entertaining for players of all skill levels. The presence of strategically deployable bonus features adds layers of complexity while its accessibility on various devices ensure that players can indulge in a fun and potentially profitable gaming experience anytime, anywhere.

Manfaat Kepuasan Pelanggan


Pada prinsipnya, kualitas jasa berpotensi menciptakan kepuasan pelanggan yang
pada gilirannya akan memberikan sejumlah manfaat seperti :

  1. Hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya menjadi harmonis.
  2. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang.
  3. Mendorong terciptanya loyalitas pelanggan.
  4. Membentuk suatu rekomendasi informal dari mulut ke mulut yang
    menguntungkan bagi perusahaan
  5. Reputasi perusahaan menjadi baik dimata pelanggan
  6. Laba yang diperoleh dapat meningkat.

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan menurut Lupiyoadi
dalam Indrasari (2019 : 91 – 92) :

  1. Kualitas Produk
    Pelanggan akan puas apabila produk yang digunakan kualitasnya bagus
  2. Kualitas Pelayanan
    Kepuasan terhadap kualitas pelayanan biasanya sulit ditiru. Kualitas pelayanan
    merupalan driver yang mempunyai banyak dimensi, salah satunya yang sangat
    populer adalah servqual
  3. Biaya dan Kemudahan
    Pelangan akan semakin puas apabila relatif mudah, nyaman dan efesiensi dalam
    mendapatkan produk dan pelayan
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetap menetapkan harga yang relatif
    murah akan memberikan nilai yang tinggi
  5. Emosional
    Konsumen merasa puas ketika memuji dia karena menggunakan merek yang
    maha

Kepuasan Pelanggan


Fitria Halim mengumukakan bahwa kata “kepuasan“ atau satsisfaction berasal dari
bahasa latin “satis” (artinya cukup baik, mamadai) dan ‘Facio’ (melakukan atau
membuat), secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu. Kemudian
Fatihudin dan Firmansyah dalam Fitria Halim,at all (2021 : 157-158) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan juga dipandang sebagai salah satu indikator terbaik untuk laba masa
depan, faktanya bahwa menarik pelanggan baru jauh lebih mahal dari pada
mempertahankan pelanggan, namun saat ini juga menjadi salah satu pemicu
meningkatnya perhatian pada kepuasan pelanggan perusahaan, berkurangnya elastisitas
harga, berkurangnya biaya transaksi masa depan, dan meningkatnya efisiensidan
produktivitas keryawan. Wilkie dalam Tjiptono (2019 : 378) mengumukakan bahwa
kepuasan pelanggan sebagai tanggapan emosional pada evaluasi tentang pengalaman
konsumsi suatu produk atau jasa.
Menurut Tjiptono dan Diana (2019:123) menyampaikan bahwa kepuasan
konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang didapatkan setelah
membandingkan kinerja suatu produk yang dipikirkan terhadap kinerja produk yang
diharapkan. Memperhatikan dan meningkatkan kepuasan pelanggan sangat berguna di
dunia persaingan bisnis. Perusahaan yang memiliki level kepuasan pelanggan yang tinggi
cenderung lebih unggul dibandingkan pesaing lainnya. Volume kepuasan pelanggan yang
tinggi akan menjaga stabilitas penjualan produk atau jasa sehingga arus kas perusahaan
menjadi meningkat.
Menurut Yazid (2012 dalam Lesmana dan Ratnasari, 2019:118) kepuasan
pelanggan adalah ketiadaan perbedaan antara harapan yang dimiliki dan unjuk kerja yang
senyatanya diterima. Apabila harapan tinggi, sementara unjuk kerjanya biasa-biasa saja,
kepuasan tidak akan tercapai (sangat mungkin pelanggan akan merasa kecewa).
Sebaliknya, apabila unjuk kerja melebihi dari yang diharapkan, kepuasan meningkat.
Menurut Indrasari (2019:92) ada beberapa indikator yang mempengaruhi
kepuasan konsumen terdiri dari :

  1. Kesesuaian Harapan, yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi
    disimpulkan berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan
    pelanggan dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya.
  2. Minat berkunjung kembali, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan
    apakah pelanggan ingin membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan.
  3. Kesediaan merekomendasikan, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
    menanyakan apakah pelanggan akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut
    kepada orang lain seperti, keluarga, teman dan lainnya.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Lupiyoadi dan Hamdani dalam Indrasari (2019 : 63-64) Indikator kualitas
pelayanan sebagai berikut :

  1. Tangibels, kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya
    kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik
    perusahaan yang dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan
    bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa.
  2. Reliability, kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan
    yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Keinerja harus sesuai dengan
    harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk
    semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang
    tinggi
  3. Responsiveness, suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan
    yang cepat (responsive) dan teapat kepada pelanggan, dengan penyampaian
    informasi yang jelas.
  4. Assurance, pengetahuan, kesopan santunan dan kemampuan para pegawai
    perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada
    perusahaan.
  5. Emphaty, memberikan perhatian yamg tulus dan bersifat individual atau pribadi
    yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan
    konsumen. Dimana suatu perushaan diharapkan memiliki pengertian dan
    pengetahuan tentang pelanggan.

Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dalam Indrasari (2019 : 61) kualitas pelayanan adalah suatu
keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan produk, jasa, sumber daya manusia, serta
proses dan lingkungan yang setidaknya dapat memenuhi atau malah dapat melebihi
kualitas pelayanan yang diharapkan. Menurut Tjiptono, definisi kualitas pelayanan ini
adalah upaya pemenuhan kebutuhan yang dibarengi dengan keinginan konsumen serta
ketepatan cara penyampaiannya agar dapat memenuhi harapan dan kepuasan pelanggan
tersebut, dikatakan bahwa service quality atau kualitas layanan adalah pemenuhan
kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi
harapan pelanggan.
Menurut Rambat dan Lupiyoadi dalam Indrasari (2019:62) Service quality adalah
seberapa jatuh perbedaan antara harapan dan kenyataan para pelanggan atas pelayanan
yang mereka terima. Service quality dapat diketahui dengan cara membandingkan
persepsi pelanggan atas pelayanan yang benar-benar mereka terima dengan layanan
sesungguhnya yang mereka harapkan. Kualitas Pelayanan yang menjadi hal pertama yang
diperhatikan serius oleh perusahaan, yang melibatkan seluruh sumber daya yang dimiliki
perusahaan.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Indrasari (2019 : 61-62 ) kualitas pelayanan
merupakan keseluruhan dari keistimewaan dan karakteristik dari produk atau jasa yang
menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan secara lansgung maupun tidak
langsung. Produk jasa yang berkualitas mempunyai peranan penting untuk membentuk
kepuasan pelanggan.Kepuasan pelayanan adalah sesuatu yang harus di berikan dan di
upayakan oleh penyedia jasa dengan baik kepada konsumen. Kualitas pelayanan seperti
yang dirasakan oleh para konsumen, berasal dari suatu perbandingan antara apa yang di
harapkan konsumen dengan apa yang di berikan oleh perusahaan.
Kualitas pelayanan atau customer service ini dapat dibedakan kedalam dua kriteria
yaitu jenis kualitas pelayanan yang baik atau kualitas pelayanan yang buruk. Kualitas
pelayanan ini bukanlah suatu hal yang permanen atau kaku, melainkan fleksibel dan dapat
dirubah. Dalam proses perubahan kualitas pelayanan diperlukan beberapa hal untuk
menunjang prosesnya. Misalnya survei atau observasi kepada pelanggan, termasuk
didalam nya berupa masukan, pendapat maupun feedback tentang pelayanan yang telah
diberikan. kualitas pelayanan (service quality) berdasarkan persepsi pelanggan , sebagai
tingkat kesenjangan antara harapan- harapan atau keinginan pelanggan selaras dengan
kenyataan yang mereka alami.
Kualitas menurut ISO 9001 merupakan perpaduan antara sifat dan karakteristik
yang menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi persyaratan kebutuhan
pelanggan. Pelanggan yang menentukan dan menilai sampai seberapa jauh sifat dan
karakteristik itu memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan definisi tersebut, kualitas adalah
suatu keseluruhan ciri dan karakteristik yang dimiliki suatu produk atau jasa yang dapat
memberikan kepuasan konsumen. Pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang
dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud
dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Pelayanan adalah perilaku produsen dalam
rangka memenuhi kebutuhan dan keingian konsumen demi tercapainya kepuasan terhadap
konsumen itu sendiri

Pemasaran Jasa


Rangkuti (2002) menyebutkan bahwa jasa merupakan pemberian suatu
kinerja atau tindakan tak kasat mata dari suatu pihak ke pihak lain. Sedangkan
menurut Kotler (2002), mendefinisikan jasa sebagai setiap tindakan atau kegiatan
yang ditawarkan oleh satu pihak ke pihak lain, pada dasarnya bersifat intangible
(tidak berwujud) dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Jadi dapat
disimpulkan bahwa jasa bukanlah barang, tetapi suatu aktifitas yang tidak dapat
dirasakan secara fisik dan membutuhkan interaksi antara satu pihak ke pihak lain.
Kotler (2000) mengemukakan bahwa terdapat empat karakteristik jasa, antara
lain:

  1. Intangibility (tidak berwujud)
    Jasa tidak berwujud, tidak dapat dilihat, dicicipi, dirasakan, dan didengar
    sebelum membeli.
  2. Inseparability (tidak dipisahkan)
    Jasa tidak dapat dipisahkan dari pengguna jasa itu, baik pengguna jasa itu
    adalah orang maupun mesin. Jasa tidak dapat dijejerkan pada rak-rak
    penjualan dan dapat dibeli oleh konsumen kapan saja dibutuhkan.
  3. Variability (keanekarupaan)
    Jasa sangat beraneka rupa karena tergantung siapa yang menyediakannya dan
    kapan serta dimana disediakan. Seringkali pengguna jasa menyadari akan
    keanekarupaan yang besar ini, sehingga pengguna jasa akan membicarakan
    dengan pengguna yang lain sebelum memilih satu penyedia jasa.
  4. Perishability (tidak tahan lama)
    Jasa tidak dapat tahan lama, karenanya tidak dapat disimpan untuk penjualan
    atau penggunaan di kemudian hari. Sifat jasa yang tidak tahan lama tidak akan
    bermasalah apabila permintaan tetap atau teratur, karena jasa-jasa sebelumnya
    dapat dengan mudah disusun terlebih dahulu, apabila permintaan berfluktuasi,
    permintaan jasa akan dihadapkan pada berbagai masalah sulit. Pemasaran jasa
    tidak sama dengan pemasaran produk. Pertama, pemasaran jasa lebih bersifat
    intangible dan immaterial karena produknya tidak kasat mata dan tidak dapat
    diraba. Kedua, produksi jasa dilakukan saat konsumen berhadapan dengan
    penyedia jasa sehingga pengawasan kualitasnya dilakukan dengan segera. Hal
    ini lebih sulit daripada pengawasan produk fisik. Ketiga, interaksi antara
    konsumen dan penyedia jasa adalah penting untuk mewujudkan produk
    9
    (Rangkuti, 2002). Berdasarkan klasifikasi Organisasi Perdagangan Dunia
    (World Trade Organization-WTO), ruang lingkup klasifikasi bisnis jasa
    meliputi (Rambat Lupiyoadi, 2006):
    a. Jasa bisnis,
    b. Jasa komunikasi,
    c. Jasa konstruksi dan jasa teknik,
    d. Jasa distribusi,
    e. Jasa pendidikan,
    f. Jasa lingkungan hidup,
    g. Jasa keuangan,
    h. Jasa kesehatan dan jasa sosial,
    i. Jasa kepariwisataan dan jasa perjalanan,
    j. Jasa rekreasi, budaya dan olahraga,
    k. Jasa transportasi,
    l. Jasa lain-lain

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Produk atau jasa berkualitas mempunyai peranan penting untuk
membentuk kepuasan pelanggan (Kotler dan Armstrong, 2001). Semakin
berkualitas produk dan jasa yang diberikan, maka kepuasan yang dirasakan oleh
pelanggan semakin tinggi. Bila kepuasan pelanggan semakin tinggi, maka dapat
menimbulkan keuntungan bagi badan usaha tersebut. Pelanggan yang puas akan
terus melakukan pembelian pada badan usaha tersebut. Demikian pula sebaliknya
jika tanpa ada kepuasan, dapat mengakibatkan pelanggan pindah pada produk atau
jasa lain. Tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang
dirasakan dengan harapan (Kotler, 2005). Dengan demikian, harapan pelanggan
melatarbelakangi mengapa dua organisasi pada jenis bisnis yang sama dapat
dinilai berbeda oleh pelanggannya. Dalam konteks kepuasan pelanggan,
umumnya harapan merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa
yang akan diterimanya. Harapan mereka dibentuk oleh pengalaman pembelian
dahulu, komentar teman dan janji dari perusahaan tersebut. Harapan-harapan
pelanggan ini dari waktu ke waktu berkembang seiring dengan semakin
bertambahnya pengalaman pelanggan. Menurut Tjiptono (2006) kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evolusi
ketidaksesuaian (disinformation) yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan
kinerja aktual jasa yang dirasakan bahwa pada persaingan yang semakin ketat ini,
semakin banyak penyedia jasa konstruksi yang terlibat dalam pemenuhan
kebutuhan dan keinginan konsumen sehingga hal ini menyebabkan setiap badan
usaha harus menempatkan orientasi pada kepuasan pelanggan sebagai tujuan
utama. Badan usaha dapat mengetahui kepuasan dari para konsumennya melalui
umpan balik yang diberikan oleh konsumen kepada badan usaha tersebut sehingga
dapat menjadi masukan bagi keperluan pengembangan dan implementasi serta
peningkatan kepuasan pelanggan. Sehingga dapat diketahui pada saat pelanggan
komplain. Hal ini merupakan peluang bagi badan usaha untuk dapat mengetahui
kinerja dari badan usaha tersebut

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan menurut Laksana (2008:9) adalah harapan sama dengan
kenyataan. Kemudian menurut kotler dalam Laksana (2008:9) kepuasan
pelanggan yaitu: “Customer satisfaction is the outcome felt by buyer who have
experienced a company performance that has fulfilled expectations”.
Maksudnya yaitu menyangkut komponen harapan dan kinerja/hasil yang
dirasakan. Pada umumnya harapan pelanggan merupakan perkiraan atau
keyakinan pelanggan tentang apa yang akan diterima apabila ia membeli atau
mengkonsumsi suatu produk baik bartang maupun jasa, sedangkan kinerja atau
hasil yang dirasakan merupakan persepsi pelanggan terhadap apa yang ia terima
setelah mengkonsumsi produk yang ia beli. Untuk itu manajemen harus
memiliki persepsi yang sama dengan pelanggan agar supaya diperoleh hasil
yang melebihi atau paling tidak sama dengan harapan pelanggan. Keadaan ini
sama seperti yang dikemukanan Gasperz dalam Laksana (2008:10) “Kepuasan
pelanggan dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu keadaan dimana
kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan dapat terpenuhi melalui produk
yang dikonsumsi”.
Day (dalam Tjiptono, 2004: 146), menyatakan bahwa “kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi
ketidaksesuaian (disconfirmation) yang dirasakan antara harapan sebelumnya
(atau norma kinerja lainnya) dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah
pemakaiannya”.
Engel, et al., 1990 (dalam Tjiptono, 2004: 146), menyatakan bahwa
“kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang
dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan,
sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil (outcome) tidak memenuhi
harapan”.
Kotler, et al., 1996 (dalam Tjiptono, 2004: 146), menyatakan bahwa
“kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaaan seseorang setelah
membandingkan kinerja (atau hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan
harapannya”

Kualitas Jasa


Sebenarnya tidaklah mudah mendefinisikan kualitas dengan tepat.
Menurut Goetsh dan Davis dalam Tjiptono (2004:51) yaitu “bahwa kualitas
merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,
manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.
Sedangkan definisi kualitas jasa berpusat pada upaya pemenuhan
kebutuhan dan kinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan pelanggan

Karakteristik Jasa


Menurut Griffin dalam Lupiyoadi (2011:6) karakteristik jasa terdiri dari:

  1. Intangibility (tidak berwujud). Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba,
    didengar, atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Nilai penting dari hal ini
    adalah nilai tak berwujud yang dialami pelanggan dalam bentuk
    kenikmatan, kepuasan, atau kenyamanan.
  2. Unstorability (tidak dapat disimpan). Jasa tidak mengenal persediaan atau
    penympanan dari produk yang telah dihasilkan. Karakteristik ini disebut
    juga inseparability (tidak dapat dipisahkan), mengingat pada umumnya jasa
    dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan.
  3. Customization (kustomisasi). Jasa sering kali didesain khusus untuk
    memenuhi kebutuhan pelanggan.
    Sedangkan menurut Gasperz dalam Laksana (2008:86) Karakteristik jasa
    terdiri dari 12 karakteristik, yaitu:
    a. Pelayanan merupakan output tak berbentuk (intangible output).
    b. Pelayanan merupakan output variable, tidak standar
    c. Pelayanan tidak dapat disimpan dalam inventori, tetapi dapat dikonsumsi
    dalam produksi.
    d. Terdapat hubungan langsung yang erat dengan pelanggan melalui proses
    pelayanan.
    e. Pelanggan berpartisipasi dalam proses memberikan pelayanan.
    f. keterampilan personil diserahkan atau diberikan secara langsung kepada
    pelanggan.
    g. Pelayanan tidak dapat diproduksi secara masal.
    h. Membutuhkan pertimbangan pribadi yang tinggi dari individu yang
    memberikan pelayanan.
    i. Perusahaan jasa pada umumnya bersifat padat karya.
    j. Fasilitas pelayanan berada dekat lokasi pelanggan.
    k. Pengukuran efektivitas pelayanan bersifat subyektif.
    l. Option penetapan harga lebih rumit

Definisi Jasa


Menurut Kotler dalam Yazid (2008:2) jasa dirumuskan sebagai “setiap
tindakan atau unjuk kerja yang ditawarkan oleh salah satu pihak ke pihak lain
yang secara prinsip intangible dan tidak menyebabkan perpindahan
kepemilikan apa pun. Produksinya bisa terkait dan bisa juga tidak terikat pada
suatu produk fisik”.
Sedangkan menurut Berry, dalam Yazid (2008:2) mendefinisikan “jasa
sebagai deeds (tindakan, prosedur, aktivitas); proses-proses, dan unjuk kerja
yang intangible”