Pengertian Promosi Jabatan


Menurut Badriyah (2015:218) Promosi adalah penghargaan dengan kenaikan
jabatan dalam organisasi atau instansi, baik dalam pemerintahan maupun non
pemerintahan (swasta). Sedangkan menurut Salidi dalam Yusuf (2015:196)
promosi adalah perpindahan dari suatu jabatan ke jabatan lain yang mempunyai
status dan tanggung jawab yang lebih tinggi.
Menurut Firmansyah (2019:79) Promosi jabatan adalah pembagian
wewenang dan tanggung jawab pemegang jabatan lebih tinggi di dalam suatu
organisasi yang menuntut hak, status dan pembaharuan semakin besar.
Promosi adalah apabila seseorang dipindahkan dari satu pekerjaan ke
pekerjaan lain yang tanggung jawabnya lebih besar, tingkatan hierarki jabatan lebih
tinggi, dan penghasilannya pun lebih besar (Siagian 2015:169).
Menurut Pandi Afandi (2016:33) promosi jabatan adalah pimpinan menaikan
jabatan pegawai atau karyawan satu tingkat lebih tinggi dari jabatan semulanya dan
menerima kekuasaan serta tanggung jawab lebih besar dari tanggung jawab
sebelumnya, setelah pegawai atau penilaian dan dinyatakan layak dipromosikan
naik jabatan ke level yang lebih tinggi

Indikator Rotasi Kerja


Adapun indikator yang digunakan untuk mengukur rotasi kerja menurut
Pandi Afandi (2016:33) yaitu sebagai berikut:

  1. Kemampuan karyawan
    Kemampuan didefinisikan sebagai kapasitas seseorang di dalam
    mengerjakan berbagai macam tugas dalam pekerjaannya.
  2. Pengetahuan karyawan
    Pengetahuan adalah suatu jenis kemampuan yang dimiliki karyawan yang
    didapatkan dari proses belajar serta bisa juga dari pengalaman.
  3. Kejenuah karyawan
    Kejenuhan kerja merupakan suatu bentuk kelelahan yang disebabkan karena
    seseorang bekerja terlalu intens, berdedikasi dan berkomitmen, bekerja
    terlalu banyak dan terlalu lama, serta memandang kebutuhan dan keinginan
    mereka sebagai hal yang kedua.

Manfaat Rotasi Kerja


Manfaat rotasi kerja lainnya yang dikemukakan oleh Bangun (2012: 214)
antara lain:

  1. Menambah keterampilan dalam organisasi yang akan dapat memberi
    masukan yang diperoleh pada organisasi.
  2. Mengetahui sisi-sisi kelebihan dan kelemahan peserta pelatihan,
    sehingga memudahkan untuk ditempatkan pada bidang yang tepat.
  3. Menambah pengalaman dan pengetahuan pada berbagai bidang
    pekerjaan untuk menambah wawasan.

Pengertian Rotasi Kerja


Menurut Bangun (2012:97) rotasi kerja adalah menggerakkan para karyawan
untuk mengerjakan lebih dari satu pekerjaan guna meningkatkan keterampilan dan
kemampuan pada berbagai bidang,mengurangi kebosanan, meningkatkan motivasi,
menambah pengetahuan serta pengalaman tenaga kerja.
Menurut Pandi Afandi (2016:27) rotasi kerja merupakan suatu pergerakan
dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain yang biasanya tanpa mengakibatkan
perubahaan dalam hal gaji atau pangkat. Ada beberpa penyebab terjadinya rotasi
kerja, karena para karwan ingin pindah untuk mengembangkan kinerjan.
Menginginkan pekerjaan yang lebih menyenakan.
Menurut Pandi Afandi (2016:26) rotasi kerja adalah pergantian periodik
seorang karyawan dari satu tugas ke tugas lain. Perusahaan menggunakan rotasi
kerja sebagi sarana untuk mewujudkan high performance atau kinerja yang tinggi

Indikator Lingkungan Kerja


Menurut Nitisemito (2012:159) indikator lingkungan kerja adalah sebagai
berikut:

  1. Suasana kerja
    Suasana kerja adalah kondisi disekitar karyawan yang sedang dilakukannya
    pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan itu sendiri.
  2. Hubungan antar rekan kerja
    Hubungan antar rekan kerja yaitu hubungan dengan rekan kerja harmonis
    dan tanpa ada saling intrik diantara sesame rekan kerja.Salah satu faktor
    yang dapat mempengaruhi karyawan tetap tinggal dalam suatu organisai
    adalah adanya hubungan yang harmonis diantara rekan kerja.
  3. Hubungan antara bawahan dengan pimpinan
    Hubungan antara bawahan dengan pimpinana yaitu hubungan dengan
    karyawan yang baik dan harmonis dengan pimpinan tempat kerja.
    Hubungan yang baik dan harmonis dengan pimpinan tempat kerja
    merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan.
  4. Tersedianya fasilitas kerja
    Hal ini dimaksukan bahwa peralatan yang digunakan untuk mendukung
    kelancaran kerja lengkap atau sesuai. Tersedianya fasilitas kerja yang
    lengkap, walaupun tidak baru mendapatkan salah satu penunjang proses
    dalam bekerja

Manfaat Lingkungan Kerja


Menurut Pandi Afandi (2016:57) manfaat lingkungan kerja adalah
menciptakan gairah kerja, sehingga meningkatkan produktifitas kerja meninngkat.
Artinya, pekerjaan dapat diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam skala
waktu yang ditentukan.
Menurut Mahmudah Enny (2019:57) manfaat lingkungan kerja adalah
menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas dan prestasi kerja meningkat.
Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang
termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Yang artinya
pekerjaan diselesaikan sesuai standart yang benar dan dalam skala waktu yang
ditentukan. Prestasi kerjanya akan dipantau oleh individu yang bersangkutan, dan
tidak akan menimbulkan terlalu banyak pengawasan serta semangat juangnya akan
tinggi.

Jenis-Jenis Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja yang ada didalam sebuah perusahaan sangat penting untuk
mendapatkan perhatian oleh para pimpinan perusahaan karena lingkungan kerja
yang kondusif dan nyaman akan memberikan pengaruh terhadap efektivitas dan
produktivitas karyawan yang ada di perusahaan tersebut. Menurut Sedarmayanti (2012: 21) lingkungan kerja terbagi menjadi dua
bagian, yaitu:

  1. Lingkungan Kerja Fisik
    Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan yang berbentuk fisik yang
    terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik
    secara langsung maupun tidak langsung., lingkungan kerja fisik dibagi
    menjadi dua kategori, yaitu:
    a. Lingkungan yang langsung berhubungan dengan karyawan, seperti: pusat
    kerja, kursi, meja, dan sebagainya.
    b. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut
    lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya:
    temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan,
    getaran mekanis, bau tidak sedap, warna dan lain-lain.
    Faktor–faktor lingkungan kerja fisik yang dapat mempengaruhi lingkungan
    kerja adalah sebagai berikut:
    a. Penerangan
    Penerangan sangat besar manfaatnya bagi karyawan guna mendapat
    keselamatan dan kelancaran bekerja. Oleh sebab itu perlu
    diperhatikan adanya penerangan (cahaya) yangyang baik. Tidak
    terlalu terang karena akan menyilaukan mata para karyawan,
    ataupun cahaya yang kurang jelas (redup), sehingga pekerjaan akan
    lambat, banyak mengalami kesalahan, dan pada akhirnya
    menyebabkan kurang efisien dalam melaksanakan pekerjaan.
    b. Pewarnaan
    Masalah pewarnaan dalam ruang kerja terkadang sering dianggap
    remeh oleh sebagian orang. Padahal sebenarnya pewarnaan ruangan
    dapat mempengaruhi suasana hati seseorang sehingga berdampak
    pula terhadap kinerja kerjanya. Untuk ruangan kerja sebaiknya
    diberikan warna-warna yang lembut sehingga dapat memberikan
    efek tenang dan nyaman bagi karyawan dalam bekerja.
    12
    c. Suhu Udara
    Oksigen merupakan gas yang dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk
    menjaga kelangsungan hidup, yaitu untuk proses metabolisme.
    Udara di sekitar dikatakan kotor apabila kadar oksigen, dalam udara
    tersebut telah berkurang dan telah bercampur dengan gas atau bau –
    bauan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Rasa sejuk dan segar
    dalam bekerja akan membantu mempercepat pemulihan tubuh akibat
    lelah setelah bekerja.
    d. Suara Bising
    Suara bising merupakan suara yang bunyinya sangat mengganggu
    karyawan dalam bekerja. Suara bising tersebut dapat merusak
    konsentrasi kerja karyawan, sehingga kinerja karyawan menjadi
    tidak optimal. Oleh karena itu, setiap organisasi harus dapat
    meminimalisasikan suara bising tersebut didalam lingkungan kerja.
    Hal ini diharapkan dapat membantu karyawan dalam meningkatkan
    kinerja kerjanya.
    e. Keamanan Kerja
    Rasa aman bagi karyawan sangat berpengaruh terhadap semangat
    kerja dan kinerja kerjanya. Dalam hal ini, yang dimaksud keamanan
    yaitu keamanan yang dapat dikategorikan kedalam lingkungan kerja
    fisik. Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap
    dalam keadaan aman maka perlu diperhatikan adanya
    keberadaannya. Salah satu upaya untuk menjaga keamanan di
    tempat kerja adalah memanfaatkan tenaga Satuan Petugas
    Keamanan. Jika suatu organisasi dapat mempertahankan tingkat
    keamanan di lingkungan mereka, maka karyawan pun pasti akan
    merasa aman, nyaman dan semangat dalam melakukan pekerjaan
    nya. Sehingga diharapkan berdampak baik pula terhadap kinerja
    kerja mereka.
    f. Kebersihan
    Lingkungan kerja yang bersih akan menciptakan keadaan
    hendaknya selalu memperhatikan dan menjaga kebersihan di
    lingkungan kerja mereka. Dengan adanya lingkungan kerja yang
    bersih, karyawan akan merasa senang dan nyaman berada di tempat
    kerjanya.
    g. Ruang Gerak
    Sebaiknya karyawan yang bekerja mendapatkan tempat yang cukup
    untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas nya. Karyawan tidak
    mungkin bekerja secara tenang dan maksimal apabila tempat kerja
    yang tersedia tidak dapat memberikan kenyamanan. Dengan
    demikian, ruang kerja bagi karyawan seharusnya direncanakan
    terlebih dahulu agar karyawan dapat bekerja dengan baik.
  2. Lingkungan Kerja Non Fisik
    Lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang
    berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun
    hubungan dengan sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan
    bawahan. Lingkungan non fisik ini juga merupakan kelompok
    lingkungan kerja yang tidak bisa diabaikan

Pengertian Lingkungan Kerja


Nitisemito (2015: 109) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan
lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja dan yang dapat
mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Misalnya
adalah kebersihan, music dan lain-lain. Karena hal itu dapat berpengaruh terhadap
pekerjaan yang dilakukan, setiap perusahaan haruslah mengusahakan sedemikian
rupa sehingga mempunyai pengaruh yang positif terhadap karyawan. Sedangkan
menurut Ahyari (2015: 124) menjelaskan bahwa lingkungan kerja merupakan suatu
lingkungan di mana para karyawan tersebut bekerja yang di dalamnya terdapat unsu
kondisi di mana karyawan tersebut bekerja.
Menurut Pandi Afandi (2016:51) lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada
di lingkungan para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan
tugas seperti temperature, kelembapan, ventilasi, penerangan, kegaduhan,
kebersihan tempat kerja dan memadai tidaknya alat-alat perlengkapan kerja.
Menurut Sedarmayanti (2017:25) menyebutkan bahwa Lingkungan kerja
adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya
dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai
perseorangan maupun sebagai kelompok. Lingkungan kerja dapat dibedakan
menjadi dua yaitu lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Dessler (2015: 4) ada beberapa fungsi manajemen proses
sumberdaya manusia meliputi:

  1. Perencanaan, menciptakan sasaran dan standar; mengembangkan
    aturan dan prosedur; mengembangkan rencana dan peramalan.
  2. Pengorganisasian, memberikan tugas spesifik kepada setiap
    bawahan; membentuk departemen; mendelegasikan otoritas kepada
    bawahan; menetapkan saluran otoritas dan komunikasi;
    mengordinasikan pekerjaan bawahan.
  3. Penyusunan staf, menentukan tipe orang yang harus anda
    pekerjakan; merekrut karyawan prospektif; memilih karyawan;
    melatih dan mengembangkan karyawan; menetapkan standar
    kinerja; mengevaluasi kinerja; menasihati karyawan; memberikan
    kompensasi kepada karyawan.
  4. Kepemimpinan, meminta orang lain menyelesaikan pekerjaan;
    menegakkan moral; memotivasi bawahan.
  5. Pengendalian, menetapkan standar seperti kuota penjualan, standar
    mutu, atau tingkat produksi; memeriksa bagaimana kinerja akutual
    dibandingkan dengan standar-standar ini; mengambil Tindakan
    koreatif, sesuai kebutuhan.
    Menurut Hasibuan (2016:21-23) ada beberapa fungsi manajerial dan
    operasional manajemen sumber daya manusia yang meliputi:
  6. Perencanaan, yaitu proses merencanakan karyawan secara efektif
    dan efisien.
  7. Pengorganisasian, yaitu proses untuk mengatur semua karyawan
    yang berkaitan dengan pembagian kerja dan tugas.
  8. Pengarahan, yaitu proses untuk mengarahkan semua karyawan agar
    dapat bekerja secara maksimal.
  9. Pengendalian, yaitu merupakan proses mengendalikan semua
    karyawan agar mengikuti semua peraturan perusahaan.
  10. Pengadaan, merupakan proses perekrutan dan seleksi karyawan
    yang sesuai kebutuhan perusahaan.
  11. Pengembangan, yaitu proses meningkatkan keterampilan karyawan
    melalui program pelatihan.
  12. Kompensasi, yaitu proses memberikan balas jasa kepada karyawan
    yang telah menyelesaikan pekerjaannya.
  13. Pengintegrasian, merupakan proses untuk mempersatukan semua
    kepentingan yang ada didalam perusahaan agar dapat saling
    bersinergi satu sama lain.
  14. Pemeliharaan, merupakan proses memelihara kondisi dari karyawan
    agar loyal kepada pekerjaan dan perusahaan.
  15. Kedisiplinan, merupakan proses untuk meningkatkan kedisiplinan
    dari karyawan terhadap pekerjaannya.
  16. Pemberhentian, yaitu proses memberhentikan karyawan dari suatu
    perusahaan

Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia merupakan salah satu komponen penting dan vital yang
mempunyai peranan sebagai faktor penggerak seluruh aktivitas dan kegiatan yang
ada didalam sebuah organisasi. Manajemen sumber daya manusia merupakan
bagian dari manajemen umum yang memfokuskan diri pada pemanfaatan Sumber
Daya Manusia yang ada didalam sebuah organisasi. Manajemen sumber daya
manusia merupakan ilmu seni yang mengatur hubungan dan tugas dari tenaga kerja
untuk dapat bekerja menjadi lebih efektif dan efisien dalam membantu untuk
mewujudkan tujuan perusahaan, tujuan karyawan dan tujuan masyarakat
(Hasibuan, 2016:9).
Menurut Dessler (2015:117) manajemen sumber daya manusia merupakan
suatu praktik serta kebijakan yang dibutuhkan oleh orang untuk menjalankan
sebuah aspek manajemen sumber daya manusia meliputi sebuah perekrutan,
penyaringan, pelatihan pengembangan serta penilaian. yang terdiri dari beberapa
aspek:

  1. Perencanaan, yaitu sebuah proses pondasi awal menentukan suatu
    tujuan serta standar serta nantinya dapat mengembangkan peraturan
    serta prosedur suatu perencanaan yang nantinya dapat mengatasi
    kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa yang akan datang.
  2. Pengorganisasian, yaitu sebuah proses atau langkah awal dalam
    mengkoordinasikan suatu pekerjaan dengan membangun hubungan
    baik dengan karyawan di perusahaan.
  3. Penempatan karyawan, yaitu sebuah proses cara menetapkan
    sumber daya manusia yang akan bekerja di perusahaan melalui cara:
    merekrut pegawai, menyeleksi pegawai, menyusun standar kerja,
    memberikan kompensasi mengevaluasi, pelatihan serta
    pengembangan karyawan.
  4. Pemimpin, yaitu memberikan suatu pekerjaan kepada orang lain,
    memberikan keputusan dan motivasi kepada karyawan.
  5. Pengawasan, menyusun setandar seperti pengawasan kualitas,
    produksi, memeriksa kinerja dan membandingkannya dengan
    standar yang telah di tentukan.
    Menurut Mangkunegara (2016:7), bahwa MSDM merupakan suatu
    perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan terhadap pengadaan,
    pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan, dan
    pemisahan tenaga kerja dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
    Menurut Arif Yusuf Hamali (2018: 2) menyatakan bahwa Manajemen SDM
    merupakan suatu pendekatan yang strategis terhadap keterampilan, motivasi,
    pengembangan, dan manajemen pengorganisasian sumber daya

Pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan


Motivasi didefinisikan sebagai atribut yang luas oleh gredler dkk,
dimana motivasi mampu menggerakkan individu untuk melakukan atau
tidak melakukan sesuatu (amalia dan fakhri, 2017). Kondisi motivasi
merupakan suatu konsep diri dimana seorang akan berusaha bekerja
sedemikian rupa untuk pemenuhan suatu tujuan hidup. Seorang karyawan
yang memiliki tujuan hidup maka karyawan tersebut akan mau untuk
bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan hidupnya.
Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian dari syatrio bimo saputra
(2020) yang menyatakan bahwa motivasi berpengaruh positef terhadap
kinerja, dan edy raharja (2020) menyatakan motivasi kerja berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kinerja.

Pengaruh reward terhadap motivasi


Penghargaan dan kompensasi adalah semua pendapatan yang
berupa, baik berupa barang langsung maupun tidak langsung yang diterima
oleh karyawan sebagai imbalan balas jasa yang diberikan kepada
perusahaan. Reward dapat meningkatkan motivasi kerja karena dengan
memberikan rewaed akan mendorong karyawan untuk bekerja lebih kuat
dan giat. Sehingga merangsang karyawan untuk terus bekerja pada
perusahaan. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian dari syatrio bimo
saputra, (2020) yang menyatakan bahwa ada pengaruh positif reward
terhadap motivasi kerja, artinya semakin baik reward, semakin besar
motivasi.

Pengaruh lingkungan kerja terhadap motivasi


Lingkungan kerja merupakan tempat dimana seseorang melakukan
aktivitas fisik maupun non fisik, sedangkan motivasi merupakan dorongan
bagi individu dalam melakukan suatu aktivitas. ligkungan kerja dapat
memicu motivasi kerja karyawan untuk bekerja lebih baik sehigga
pekerjaan akan dicapai secara maksimal sehingga tujuan perusahaan akan
tercapai. Hal tersebut dinyatakan pada hasil peneliti terdahulu Menurut
satrio bimo syahputro (2020), bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif
terhadap motivasi dengan hasil koefisien beta (0,572) yang mana semakin
baik kondisi lingkungan kerja karyawan, maka akan semakin tinggi
motivasi kerja karyawan, dan begitu juga sebaliknya jika semakin buruk
lingkungan kerja maka semakin rendah motivasinya.

Pengaruh reward terhadap kinerja karyawan


Reward merupakan penghargaan atau sebuah apresiasi yang
diberikan oleh perusahaan kepada seseorang atas prestasi atau hal positif
yang sudah dilakukan. Penghargaan (reward) tidak hanya dibeikan
diberikan dalam bentuk finansial namun juga dapat diberikan dalam bentuk
non finansial seperti pujian atau pengakuan atas pekerjaannya. Menurut
penelitian satrio bimo syahputro (2019) menyatakan bahwa reward
berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan karena penghargaan yang
lebih baik dapat meningkatkan motivasi kerja dan pada akhirnya kinerja
karyawan juga akan ikut meningkat, kemudian hasil analisis oleh edy
raharja (2020) bahwa kinerja karyawan perlu di stimulasi dengan pemberian
reward tambahan yang digunakan untuk memacu agar karyawa tetap
memiliki moral kerja yang tinggi sehingga tidak ada fikiran lain selain
bekerja dengan baik untuk perusahaan.

Pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan


Lingkungan kerja mempunyai pengaruh ang erat dengan kinerja karyawan
karena karyawan akan bekerja secara maksimal jika kondisi lingkungan
kerjanya nyaman dan aman.
Sesuai penelitian terdahulu yang dilakukan kiki ansawi (2020)
bahwa secara langsung lingkungan kerja berpengaruh terhadap kinerja
karyawan yang diperoleh dari analisis jalur 2 yang menunjukkan bahwa
lingkungan kerja yang baik dan kondusif dapat mempengaruhi karyawan
dalam menjalankan tugas pekerjaan yang dibebankan sehingga kinerja
karyawan akan ikut meningkat, yang artinya setiap terjadi kenaikan
lingkungan kerja, maka akan diikuti oleh kenaikan kinerja karyawan

Kinerja karyawan


Kinerja adalah suatu prestasi kerja atau hasil kerja seseorang berdasarkan
kuantitas dan kualitas yang dicapai karyawan dalam melaksanakan suatu fungsi dan
tanggung jawab yang diterima saat seseorang bekerja pada suatu perusahaan.
Kinerja menurut sedarmayanti (2018:174), menyatakan bahwa kinerja untuk
memenuhi atau menjalankan kewajiban suatu nazar, hasil para pekerja, proses
organisasi yang terbukti secara konkrit dan menyempurnakan tanggung jawab,
dapat diukur, dan dapat dibandingkan dengan standar yang sudah ditentukan.
Menurut sembiring (2020:15) kinerja adalah efek kerja yang berkualitas
serta kapasitas yang dicapai oleh individu dalam perushaan untuk menjalankan
pekerjaannya berdasarkan tekanan atau tugas yang dibebankan dari pihak
perusahaan. Kinerja adlaah pencapaian pekerjaan ataupun nilai keberhasilan
karyawan saat melaksanakan tugasnya yang dihitung dalam jangka waktu yang
sudah ditentukan menurut esthi & marwah (2020:133). Kinerja karyawan
merupakan pekerjaan seseorang dalam mencapai sebuah keberhasilan yang
diharapkan dari perusahaan tersebut dan meminimlakan kerugian pada perusahaan.
Berdasarkan beberapa hasil pengertian yang disimpulkan para ahli tersebut, maka
kinerja adalah hasil dalam meningkatkan suatu peusahaan dalam mencapai sebuah
tujuan organisasi serta memberikan keuntungan untuk perusahaan.

Indikator Motivasi

Indikator motivasi menurut (P Afandi., 2018). adalah sebagai berikut :

  1. Balas jasa
    Segala sesuatu yang berbentuk barang, jasa dan uang yang merupakan
    kompensasi yang diterima oleh pegawai karena jasa yang sudah dilibatkan
    dalam meningkatkan produktivitas perusahaan
  2. Kondisi kerja
    Sesuatu kondisi atau keadaan dimana lingkungan keja pada sebuah
    perusahaan menjadi tempat bekerja dari para pegawai yang bekerja dalam lingkungan tersebut. Kondisi kerja yang baik adalah nyaman dan
    mendukung para pekerja untuk bisa menjalankan aktivitasnya dengan baik.
  3. Fasilitas kerja
    Fasilitas kerja merupakan segala sesuatu yang terdapat dalam sebuah
    organisasi yang ditempati pegawai dan dinikmati oleg pegawai, baik dalam
    hubungan langsung dengan pekerjaan maupun untuk kelancaran dalam
    bekerja pegawai.
  4. Prestasi kerja
    Prestasi kerja merupakan hasil yang dicapai pegawai atau yang diinginkan
    oleh semua orang dalam melakukan pekerjaan. Untuk setiap orang tidaklah
    sama karena manusia memiliki perbedaam satu sama lain.
  5. Pengakuan
    Pengakuan kempuan dan keahlian bagi karyawan dalam sesuatu pekerjaan
    merupakan sebuah kewajiban oleh perusahaan. Karena pengakuan itu
    merupakan salah satu dari kempensasi yang harus diberikan oleh
    perusahaan bagi karyawan yang memiliki suatu keahlian tertentu dan
    mampu melaksanakan pekerjaan yang baik. Hal tersebut yang akan
    mendorong karyawan yang memiliki kelebihan dibidangnya untuk lebih
    baik dalam hal prestasi.
  6. Pekerjaan itu sendiri
    Sudah berulang-ulang ditekankan bahwa tanggung jawab dalam
    pengembangan karir terdapat pada masing-masing pekerja. Semua pihak
    seperti seorang pemimpin,atasan langsung dan kenalan para spesialis di
    kepegawaian, hanya memiliki peran memberikan bantuan. Yang artinya
    tergantung kepada diri seorang karyawan, apakah akan memanfaatkan
    kesempatan tersebut untuk mengembangkan diri sendiri atau tidak.

Tujuan motivasi kerja


Menurut hasibuan dalam (kurniasari, 2018) beberapa tujuan motivasi
adalah sebagai berikut :

  1. Mendorong gairah dan semangat kerja
  2. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja
  3. Meningkatkan produktifitas bekerja
  4. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan
  5. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas –tugas.
  6. Meningktkan disiplin diri karyawan
  7. Meningkatkan kesejahteraan karyawan
  8. Meningkatkan efesiensii alat dan bahan baku
  9. Meningkatkan kinerja karyawan

Motivasi


Motivasi adalah suatu proses dalam menunjukkan kemampuan individu,
ketekunan dalam upaya menuju pencapaian tujuan menurut. Ekhsan, (2019). Tanpa
adanya motivasi, seorang karyawan tidak dapat mencapai standar atau mampu
melampui standar karena apa yang menjadi motif dan motivasinya tidak terpenuhi.
Motivasi menurut rukmana,(2020). juga menjadi factor penting yang harus dimiliki
oleh tiap karyawan. Setiap karyawan memiliki jenis minat dalam bekerja, inovasi
yang dapat menjadi pendorong bagi sorang untuk menyelesaikan tugas dan
tanggung jawab di tempat mereka bekerja dan seseorang akan dengan senang hati
melakukan pekerjaan dengan baik.
Menurut havidz aima (2020) Untuk memotivasi seseorang, perlu diketahui
bagaimana cara kerja motivasi. Kinerja yang tinggi dicapai dengan motivasi yang
tinggi bagi orang-orang yang siap mengambil peluang dengan usaha yang
bijaksana. Bagi karyawan, motivasi adalah alasan bagi karyawan untuk melakukan
sesuatu. Menurut rivai (Syahputro, 2019). Motivasi adalah seperangkat sikap dan
nilai yang mampu mempegaruhi individu dalam mencapai tujuan tertentu . Motivasi
merupakan kekuatan pendorong yang mengarahkan individu untuk maubertindak,
melakukan, dan melakukan sesuatu tanpa adanya tekanan atau manipulasi menurut
smith et al, (Syahputro, 2019). Dari beberapa motivasi kerja dapat disimpulkan
bahwa keadaan pribadi seorang yang mendorong keinginan individu untuk
melakukan kegiatan tertentu untuk mendorong individu dalam menyebabkan suatu
tindakan untuk mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada tujuan untuk
mencapai sasaran kepuasan

Indikator reward


Reward merupakan sesuatu yang diberikan kepada seseorang karena
karyawan melakukan sesuatu. menurut kadarisman (2012:122) dalam (Saputra
et al., 2017) meliputi :

  1. gaji
    pemberian gaji berbeda dengan pemberian upah yangmana jumplah gaji
    dibayarkan relatih berubah-ubah
  2. upah
    pemberian upah merupakan balas jasa kepada karyawan atas apa yang sudah
    dikerjakan karyawan untuk perusahaan
  3. insentif
    pemberian insentif adalah merupakan tambahan penghasilan berupa barang,
    uang dan lainnya, yang diberikan kepada karyawan untuk meningkatkan
    gairah dalam bekerja.
  4. tunjangan
    pemberian tunjangan adalah pemberian tambahan benefit yang ditawarkan
    untuk pekerja. Missal makan gratis, jasa kesehatan, pemakaian kendaran
    dan lain sebagainnya.
  5. Penghargaan interpersonal
    Dalam penghargaan interpersonal perusahaan memberikan penghargaan
    yang berasal dari luar penilaian terhadap kondisi dari personal karyawan,
    sebagai contoh : pujian yang diberikan oleh atasan dan pemberian
    penghargaan karyawan terbaik.
  6. promosi
    Promosi bisa diberikan jika karyawan yang memiliki loyalitas yang tinggi
    mampu untuk diberikan kesempatan promosi kenaikan jabatan. Pemberian
    kesempatan untuk promosi jabatan mampu meningkatkan semangat bekerja
    di kantor. Dengan adanya tanggung jawab yang lebih, maka karyawan akan
    termotivasi untuk ikut dalam mengembangkan perusahaan

Tujuan pemberian reward


Tujuan pemberian reward untuk lebih mengembangkan dan
mengoptimalkan motivasi yang bersifat intrinsic dan ekstrinsik yang artinya
karyawan melakukan suatu perbuatan. Maka perbuatan itu timbul dari
kesadaran karyawan tersbut dan dengan reward juga diharapkan mampu
membangun suatu hubungan yang positif antara pemimpin dan karyawan,
karena reward adalah bagian dari rasa peduli seorang pemimpin kepada
karyawan. Jadi maksud dari reward yang terpenting bukan hasil yang dicapai
seorang karyawan, tetapi bertujuan untuk membentuk kata hati dan kemauan
yang lebih baik dan lebih keras pada karyawan. Kemudian, reward juga dapat
menjadi pendorong atau motivasi bagi karyawan bekerja lebih baik lagi
nugroho (muqoyyaroh,2018)

Reward


Reward didefinisikan sebagai ganjaran yang diberikan untuk memotivasi
karyawan agar menjadi lebih produktif. Penghargaan menurut tohardi
(suhermin,2020) merupakan insentif yang mengkaitkan bayaran atas dasar
meningkatkan produktivitas karyawan guna mencapai keunggulan yang
kompetitif. Penghargaan juga dapat didefinisikan sebagai reward dalam bentuk
uang yang diberikan kepada mereka yang mampu atau dapat bekerja melampaui
standar yang sudah di tetapkan oleh perusahaan menurut mahmudi
(suhermin,2020). Pengertian reward juga dikemukakan bahwa reward adalah
smeua pendapatan yang berbentuk uang , barang langsung atau tidak langsung
yang diterima pegawai sebagai imbalan atau jasa yang diberikan kepada
perusahaan. Hasibuan (suhermin,2020). Menurut dessler (muqoyyaroh,2018).
Reward dapat berupa pembayaran uang secara langsung
(upah,gaji,insentif,bonus) dan dapat juga berbentuk pembayaran tidak langsung
(liburan atas biaya perusahaan, asuransi) juga dapat berupa ganjaran bukan uang
(kantor yang bergaransi,jam kerja yang luwes,pekerjaan yang menantang).
Program penghargaan penting bagi organisasi karena bisa mencerminkan
upaya organisasi dalam mempertahankan sumber daya manusia sebagai
komponen utama dan merupakan komponen biaya yang paling penting.
Disamping hal tersebut, reward juga merupakan dalah satu aspek yang sangat
berarti bagi karyawan/pegawai, karena bagi karyawan besarnya penghargaan
mencerminkan ukuran nilai karya mereka diantara para karyawanitu
sendiri,keluarga, dan masyarakat. Sulistiyani dan rosidah (muqoyyaroh,2018).

Hubungan Karakteristik Individu & Person Job Fit terhadap Kepuasan Kerja


Menurut Davidescu et al., (2020), person job fit memiliki hubungan yang
signifikan dengan job satisfaction, bahwa adanya kesesuaian karyawan
dengan pekerjaannya dapat memberikan kepuasan yang lebih dalam
bekerja, karena karyawan yang merasa dalam keahlian dan kemampuan
mereka dalam pekerjaan dapat memberikan kepuasan yang lebih sehingga
menurunkan turnover karyawan, dengan demikian ketika adanya
kecocokan pekerjaan maka menimbulkan kepuasan kerja.
Wardana et al., (2017), menyatakan kepuasan kerja menunjukkan
kesesuaian antara seseorang yang timbul dan imbalan yang disediakan
pekerjaan dan kepuasan kerja karyawan dipercaya dapat menumbuhkan
motivasi para karyawan, untuk tetap tinggal dalam sebuah organisasi
Sebuah organisasi harus bisa mendorong SDM yang dimiliki agar tetap
produktif dalam mengerjakan tugasnya masing-masing. Salah satu caranya
yaitu dengan meningkatkan kepuasan kerja pada tiap individu yang
terlibat, sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh positif terhadap
kinerja karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh
organisasi dengan lebih bertanggung jawab.

Hubungan Person Job Fit terhadap Kepuasan Kerja


Menurut Kristof et al (2005), bahwa Person- job fit yang merupakan
kesesuaian antara kebutuhan seseorang yang tinggi dan karakteristik
pekerjaan atau keterampilan individu, kepribadian dan tuntutan pekerjaan
juga memiliki keterkaitan dengan kepuasan kerja. Saat inidvidu merasa
bahwa kemampuannya dapat memenuhi tuntutan pekerjaan maka akan
merasa lebih puas dalam berkinerja, sehingga tercapailah kepuasan kerja.
Menurut Cable & DeRue (2002), dalam mengukur person-job fit
menggunakan dua indikator, yaitu demand-abilities fit, yang artinya
pengetahuan, kemampuan yang dimiliki oleh pekerja cocok dengan apa yang
diperlukan oleh bidang tersebut. Indikator ini meliputi pengetahuan,
keterampilan, pendidikan, pengalaman dan bakat individu. Sedangkan
indikator need-supplies fit, keadaan dimana kebutuhan dari pekerja dan apa
yang mereka harapkan tercapai pada saat mereka bekerja. Indikator ini
mencakup pencapaian tujuan, kebutuhan psikologis, kepentingan,
karakteristik pekerjaan dan gaji.

Hubungan Karakteristik Individu Terhadap Kepuasan Kerja


Menurut Subyantoro (2009), setiap orang mempunyai pandangan, tujuan,
kebutuhan dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan
individu dari sisi kemampuan (ability), nilai (value), sikap (attitude) dan
minat (interest) yang merupakan sikap yang membuat orang senang akan
objek situasi atau ide-ide tertentu akan meningkatkan kepuasan individu
tersebut dalam bekerja. Adanya keragaman dari setiap individu baik dari
sisi kemampuan, nilai yang didapat dari pekerjaan, sikap dan minat dapat
mendorong rasa puas dari setiap individu terhadap pekerjaannya.
Hasil penelitian Habibah & Onan (2023), memperlihatkan bahwa
karakteristik individu berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kepuasan kerja. Hal yang sama ditemukan pada penelitian Pratama et al.,
(2022), dimana karakteristik individu berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kepuasan kerja. Serta penelitian Tamaka (2017), menemukan
bahwa karakteristik individu baik secara simultan maupun parsial
memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja

Indikator Person-Job Fit


Menurut Kristof et al (2005), dalam mengukur person-job fit
menggunakan dua indikator, yaitu :

  1. Demand-abilities fit, yang artinya pengetahuan, kemampuan yang
    dimiliki oleh pekerja cocok dengan apa yang diperlukan oleh bidang
    tersebut. Indikator demand-abilities fit meliputi tuntutan pekerjaan
    yang dibutuhkan cocok dengan kemampuan individu dalam
    menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan persyaratan kerja yang
    ditawarkan. Tuntutan pekerjaan meliputi pengetahuan, keterampilan
    dan kemampuan (knowledge, skills, and abilities). Kemampuan
    (abilities) meliputi pendidikan, pengalaman, dan bakat dari individu
    atau pengetahuan, keterampilan dan kemampuan.
  2. Need-supplies fit, keadaan dimana kebutuhan dari pekerja dan apa
    yang mereka harapkan tercapai pada saat mereka bekerja. Indikator
    need-supllies fit merupakan keinginan individu cocok dengan
    karakteristik serta atribut pekerjaan sehingga mampu memenuhi
    keinginan individu. Keinginan individu mencakup pencapaian tujuan,
    kebutuhan psikologis, kepentingan dan nilai-nilai. Job Supplies
    meliputi karakteristik pekerjaan, gaji dan atribut pekerjaan lainya

Manfaat Person Job Fit


Menurut Holloway (dalam situs http://library.binus.ac.id/, 2013) person
job fit sangat baik dan penting bagi keberhasilan perusahaan, alasannya :

  1. Retensi dan turn over : dimana jika pekerja merasa senang dan puas
    dengan pekerjaan, maka mereka akan tetap tinggal di perusahaan.
  2. Brain drain : dimana person job fit membantu perusahaan
    menentukan orang yang tepat dalam perusahaan
  3. Menarik pelamar berbakat : dimana perusahaan akan komit dan
    menyediakan pekerjaan bermakna agar menarik pelamar baru.
  4. Recruiting dan staffing : dimana ini akan membantu perusahaan
    menyaring pekerja sehingga hanya fokus kepada yang sesuai.
  5. Kinerja : dimana ketika seseorang sesuai dengan pekerjaannya, maka
    produktivitas akan meningkat.
  6. Efektif : dimana pekerja memiliki kesempatan yang jauh lebih besar
    untuk bisa mengambil pekerjaan tambahan jika pekerjaan utama
    sesuai dengan keterampilan mereka mereka
    Telah diakui bahwa persyaratan dari pekerjaanlah yang memperlunak
    hubungan antara karakteristik pribadi yang dimiliki seseorang dengan
    kinerja pekerjaan. Menurut Holland seperti dikutip oleh Robbins & Judge
    (2008), menyatakan bahwa teori kesesuaian individu dengan pekerjaan
    didasarkan pada gagasan kesesuaian antara karakteristik seorang individu
    dengan lingkungan kerjanya. Holland menyajikan enam tipe karakteristik
    individu dan mengemukakan bahwa kepuasan dan kecenderungan untuk
    meninggalkan suatu pekerjaan bergantung pada suatu lingkungan
    pekerjaan. Enam tipe karakteristik person-job fit yaitu:
  7. Realistik : lebih memilih kegiatan fisik yang memerlukan
    keterampilan, kekuatan dan koordinasi. Karakteristik tipe ini: pemalu,
    gigih, praktis.
  8. Investigasi : lebih memilih aktivitas yang cenderung berfikir dan
    mengorganisir. Karakteristik tipe ini: suka bergaul, ramah, kooperatif.
  9. Sosial : lebih memilih kegiatan yang membantu dan membantu orang
    lain. Karakteristik tipe ini: mudah menyesuikan diri, efisien, praktikal,
    fleksibel.
  10. Konvensional : lebih suka aturan dan tertib. Karakteristik tipe ini:
    percaya diri, ambisius, energik, dominan.
  11. Enterprising : lebih memilih kegiatan verbal dimana ada kesempatan
    untuk mempengaruhi orang lain dan memperoleh kekuasaan.
    Karakteristik tipe ini : imajinatif, idealis, emosional, tidak praktis.
  12. Artistic : lebih memilih kegiatan verbal dimana ada kesempatan untuk
    memengaruhi orang lain dan memperoleh kekuasaan. Karakteristik
    tipe ini : pelukis, pemusik, penulis, dekorator

Pengertian Person Job Fit


Menurut Meyer & Allen (1997), person job fit adalah kesesuaian antara
karakteristik tugas atau pekerjaan dengan kemampuan individu untuk
melaksanakan tugas tersebut, akan memperkuat ikatan karyawan terhadap
pekerjaannya, yaitu karyawan akan lebih komitmen terhadap pekerjaan.
Menurut Kristof et al (2005), person job fit diartikan sebagai kesesuaian
antara individu dengan pekerjaan atau tugas-tugas yang dilakukan di
tempat kerja. Definisi ini mencakup kesesuaian berdasarkan kebutuhan
karyawan dan perlengkapan kerja yang tersedia untuk memenuhi
kebutuhan tersebut, serta tuntutan pekerjaan dan keterampilan karyawan
untuk memenuhi permintaan tersebut.
Menurut Rosari (2009), teori person job fit didasari dari kepribadian
karyawan dengan pekerjaannya. Ketika kepribadian karyawan dengan
pekerjaan sejalan maka kepuasan dari karyawan akan meningkat dengan
sendirinya. Artinya seseorang akan lebih memahami makna dari
pekerjaannya sehingga dapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya
di dalam dunia kerja.
Menurut Cable & DeRue (2002), person-job fit adalah keadaan yang
menggambarkan adanya kesesuaian atau kemampuan karyawan dengan
tuntutan pekerjaan, kebutuhan individu dan apa yang dapat diberikan oleh
pekerjaan itu terhadap karyawan.
Menurut Sulistiowati et al., (2018), bahwa person job fit adalah kesesuaian
antara pengetahuan, keahlian, dan keterampilan karyawan dengan
pekerjaan atau tugas tertentu. Kesesuaian ini akan memperkuat ikatan
karyawan terhadap pekerjaannya, yaitu karyawan akan lebih berkomitmen
terhadap pekerjaan tersebut.
Dari pendapat para ahli diatas, maka dapat ditarik garis besar bahwa
person job fit adalah kesesuaian antara pengetahuan, keahlian dan
keterampilan seseorang dengan pekerjaan tertentu. Kesesuaian ini
diharapkan agar orang tersebut dapat melaksanakan dan menyelesaikan
pekerjaan dengan baik tanpa menghadapi kendala yang berarti. Kendala
yang muncul akan menghambat aktivitas oranisasi, karenanya organisasi
perlu menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat

Indikator Karakteristik Individu


Manusia merupakan elemen pokok dan menjadi faktor kunci dalam
mewujudkan tujuan organisasi. Kesalahan besar jika pengembangan
MSDM tidak mempertimbangkan karakteristik unik dari tiap individu
yang ada. SDM dalam organisasi memiliki karakteristik berbeda, sehingga
diperlukan pendekatan beragam agar seluruh potensi dapat dioptimalkan.
Menurut Subyantoro (2009), menyebutkan indikator yang mempengaruhi
karakteristik individu meliputi hal-hal berikut :

  1. Kemampuan (ability)
    Kemampuan adalah kapasitas seseorang individu untuk mengerjakan
    berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Dengan kata lain kemampuan
    (ability) merupakan fungsi dari pengetahuan (knowledge) dan
    keterampilan (skill).
  2. Nilai (value)
    Nilai seseorang didasarkan pada pekerjaan uang memuaskan, dapat
    dinikmati, hubungan dengan orang-orang, pengembangan intelektual
    dan waktu untuk keluarga
  3. Sikap (attitude)
    Sikap adalah pernyataan evaluatif baik yang menguntungkan atau tidak
    menguntungkan-mengenai objek, orang, atau peristiwa. Dalam
    penelitian ini sikap akan difokuskan bagaimana seseorang merasakan
    atas pekerjaan, kelompok kerja, dan organisasi.
  4. Minat (interest)
    Adalah sikap yang membuat orang senang akan objek
    situasi atau ide-ide tertentu. Hal ini diikuti oleh perasaan senang dan
    kecenderungan untuk mencari objek yang disenangi itu. Pola-pola
    minat seseorang merupakan salah satu faktor yang menentukan
    kesesuaian orang dengan pekerjaannya. Minat orang terhadap jenis
    pekerjaanpun berbeda-beda

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Karakteristik Individu


Menurut Fadila, et al (2022), karakteristik individu menawarkan kapasitas
subjektif yang merupakan kecerdasan setiap individu dalam menghadirkan
kemampuan berbeda dalam memahami secara mendalam semua informasi
yang tersedia berdasarkan latar belakang pengetahuan dimiliki oleh
individu tersebut. Secara umum, seorang individu menciptakan latar
belakang pengetahuan yang mencerminkan lingkungan budaya dan
institusional di mana dia tinggal serta kerangka pikir pribadi untuk
memahami juga menentukan kebutuhannya. Ketika kebutuhan dan
keinginan ditetapkan untuk jangka waktu tertentu, keputusan harus diambil
dan tindakan harus dilakukan, yang bertujuan untuk kepuasan mereka.
Menurut Robbins & Judge (2008), terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi terbentuknya karakteristik individu dalam organisasi yaitu :

  1. Umur
    Hubungan kinerja dengan umur sangat erat kaitannya, karena adanya
    keyakinan bahwa kinerja merosot dengan meningkatnya usia.
    Karyawan yang berumur tua juga dianggap kurang luwes dan menolak
    teknologi baru. Namun karyawan yang lebih tua, memiliki beberapa
    hal positif meliputi pengalaman, pertimbangan, etika kerja yang kuat,
    dan komitmen terhadap mutu. Karyawan yang lebih muda cenderung
    mempunyai fisik yang kuat, sehingga dapat bekerja keras dan pada
    umumnya belum berkeluarga atau bila sudah berkeluarga anaknya
    relatif masih sedikit. Karyawan lebih tua kecil kemungkinan akan
    berhenti karena masa kerja lebih panjang, upah lebih tinggi, upah
    lebih panjang, dan tunjangan pensiun lebih menarik.
  2. Jenis Kelamin
    Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam kemampuan
    memecahkan masalah, keterampilan analisis, dorongan kompetitif,
    motivasi, sosiabilitas, atau kemampuan belajar. Namun studi psikologi
    menemukan bahwa wanita lebih bersedia untuk mematuhi wewenang,
    dan pria lebih agresif dan lebih besar kemungkinannya dalam
    memiliki pengharapan untuk sukses. Wanita juga mempunyai tingkat
    kemangkiran yang lebih tinggi daripada pria.
  3. Masa Kerja
    Masa kerja dan kepuasan saling berkaitan positif. Masa kerja yang
    lama akan cenderung membuat seorang karyawan lebih merasa betah
    dalam suatu organisasi, hal ini disebabkan diantaranya karena telah
    beradaptasi dengan lingkungannya yang cukup lama sehingga seorang
    karyawan akan merasa nyaman dengan pekerjaannya. Penyebab lain
    juga dikarenakan adanya kebijakan dari instansi atau perusahaan
    mengenai jaminan hidup dihari tua.
  4. Tingkat Pendidikan
    Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan
    mempengaruhi pola pikir yang nantinya berdampak pada tingkat
    kepuasan kerja. Pendapat lain juga menyebutkan bahwa semakin
    tinggi tingkat pendidikan maka tuntutan terhadap aspek kepuasan
    kerja di tempat kerjanya akan semakin meningkat.
  5. Status Perkawinan
    Status perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan
    seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga
    yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan YME.
    Salah satu riset menunjukkan bahwa karyawan yang telah menikah
    lebih sedikit absensinya, mengalami pergantian yang lebih rendah,
    dan lebih puas dengan pekerjaan mereka daripada rekan sekerjanya
    yang bujangan. Pernikahan memaksakan peningkatan tanggung jawab
    atas suatu pekerjaan yang tetap menjadi lebih berharga dan penting

Pengertian Karakteristik Individu


Pada organisasi sangat penting untuk dapat memahami perilaku individu
lain misalnya saja rekan kerja, atasan dan bawahan. Hal itu untuk
menghasilkan komunikasi yang efektif dan efisien sehingga mendukung
pencapaian tujuan organisasi. Karena setiap orang memiliki karakteristik
individu yang unik, perbedaan ini harus diakui dan dipahami untuk
menciptakan lingkungan kerja yang harmonis.
Menurut Ardana et al., (2012), karakteristik individu adalah minat, sikap
terhadap diri sendiri, pekerjaan, dan situasi pekerjaan, kebutuhan
individual, kemampuan atau kompentensi, pengetahuan tentang pekerjaan
dan emosi, suasana hati, perasaan keyakinan dan nilai-nilai.
Menurut Sariningtyas (2016), karakteristik individu adalah karakteristik
dari masing-masing individu (personal) yang meliputi : ciri biografis (usia,
jenis kelamin, status perkawinan dan masa kerja), ciri kepribadian, nilai,
sikap, persepsi dan tingkat kemampuan dasar yang akan mempengaruhi
perilaku mereka ditempat kerja
Menurut Sujak (dalam Aingra, 2019) mengemukakan bahwa karakteristik
individu yang berbeda-beda, meliputi kebutuhan, nilai sikap, dan minat.
Perbedaan tersebut akan dibawa oleh individu ke dalam dunia kerja
sehingga motivasi setiap individu akan bervariasi dan dalam karakteristik
ini, dan oleh karena itu motivasi mereka akan berbeda. Seorang individu
mungkin akan menginginkan prestise dan dengan demikian orang tersebut
dimotivasi oleh sebuah pekerjaan yang mengesankan.Individu yang lain
mungkin menginginkan uang, dengan demikian dimotivasi untuk
mendapatkan gaji tinggi.
Menurut Subyantoro (2009), setiap orang mempunyai pandangan, tujuan,
kebutuhan dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini
akan terbawa dalam dunia kerja, yang akan menyebabkan kepuasan satu
orang dengan yang lain berbeda pula, meskipun bekerja ditempat yang
sama

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Luthans (2006), indikator kepuasan kerja meliputi 6 (enam) hal
yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Gaji
    Berkaitan dengan kompensasi yang diperoleh atas pekerjaan yang
    dilakukan. Uang yang diperoleh tidak hanya untuk memenuhi
    kebutuhan dasar namun untuk kebutuhan yang lebih tinggi. Karenanya
    gaji yang diterima haruslah memenuhi kebutuhan nominal, bersifat
    mengikat, menimbulkan semangat, diberikan adil dan bersifat dinamis
  2. Pekerjaan itu sendiri
    Pekerjaan harus menarik bagi pegawai, memberikan kesempatan
    belajar, dan kesempatan menerima tanggung jawab. Pekerjaan yang
    terlalu mudah memberikan rasa jenuh, akan tetapi pekerjaan terlalu
    berat membuat pegawai tertekan.
  3. Promosi
    Merupakan proses pemindahan dari satu jabatan ke jabatan lainnya
    yang lebih tinggi di dalam organisasi. Promosi diikuti oleh tugas,
    tanggungjawab, dan wewenang yang baru yang lebih tinggi dari
    jabatan sebelumnya. Kesempatan promosi ini memberikan pengaruh
    yang bervariasi terhadap kepuasan kerja pegawai dalam organisasi.
  4. Kelompok kerja
    Teman kerja yang ramah dan mudah diajak kerjasama memberikan
    kepuasan kerja bagi pegawai lainnya. Teman kerja seperti ini jika
    terjadi secara merata diantara kelompok kerja akan membuat
    pekerjaan menjadi mudah dilakukan dan akibatnya pegawai mendapat
    kepuasan kerja.
  5. Pengawasan
    Gaya atasan dalam menjalankan pengawasan terhadap pegawai dapat
    berupa memberikan perhatian dan partisipasi pegawai. Pengawasan
    yang memberikan perhatian terhadap kepentingan pegawai dan
    mengajak pegawai berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
    terhadap pekerjaan pegawai sendiri akan sulit dilupakan pegawai.
  6. Kelompok Kerja
    Di dalam organisasi pegawai masuk ke dalam kelompok kerja.
    Kelompok kerja yang kondusif akan memberikan kemudahan pegawai
    bekerja dan pada akhimya memberikan kepuasan pegawai.
    Kepuasan kerja dapat diukur melalui beberapa indikator. Smith et al
    (2000), menyatakan terdapat 5 (lima) indikator kepuasan kerja yakni:
  7. Kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri
    Pekerjaan memberikan kesempatan karyawan belajar sesuai dengan
    minat serta kesempatan untuk bertanggungjawab. Pekerjaan merupakan
    faktor yang akan menggerakkan tingkat motivasi kerja yang kuat
    sehingga dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik.
  8. Kepuasan terhadap gaji
    Kepuasan kerja karyawan akan terbentuk apabila besar uang yang
    diterima sesuai beban kerja dan seimbang dengan karyawan lainnya.
  9. Kepuasan terhadap promosi
    Promosi adalah bentuk penghargaan yang diterima karyawan dalam
    organisasi. Kepuasan kerja karyawan akan tinggi apabila dipromosikan
    atas dasar prestasi kerja yang dicapai karyawan tersebut.
  10. Kepuasan terhadap supervisi
    Hal ini ditunjukkan oleh atasan dalam bentuk memperhatikan seberapa
    baik pekerjaan yang dilakukan karyawan, menasehati dan membantu
    karyawan serta komunikasi yang baik dalam pengawasan. Kepuasan
    kerja karyawan akan tinggi apabila pengawasan yang dilakukan
    supervisor bersifat memotivasi karyawan.
  11. Kepuasan terhadap rekan kerja
    Jika terdapat hubungan antara karyawan yang harmonis, bersahabat,
    dan saling membantu akan menciptakan suasana kelompok kerja yang
    kondusif, sehingga akan menciptakan kepuasan kerja karyawan

Dampak Kepuasan dan Ketidakpuasan Kerja


Menurut Nurwidiawati & Mieke (2024), tidak adanya kejelasan tugas dan
fungsi karyawan mempunyai implikasi menurunnya kepuasan kerja
sehingga secara tidak langsung mempengaruhi kinerja organisasi tersebut
dalam menangani kewajibannya. Banyaknya karyawan yang bekerja dan
juga beragam latar belakang individu dan perbedaan kepentingan atau
kepuasan kerja yang dihadapkan dengan tuntutan profesionalitas demi
terus menjaga komitmen manajemen untuk selalu memberikan pelayanan
terbaik, maka kepuasan kerja karyawan perlu lebih diperhatikan menjaga
kepuasan kerja tiap individu dalam organisasi.
Menurut Sirota, Mischkind & Meltzer (dalam Indrasari, 2017) pekerja
yang puas termotivasi oleh hal-hal berikut:

  1. Perlakuan yang adil (fair treatment)
    Pekerja yang mendapatkan perlakuan yang adil dan tidak berat
    sebelah, antara lain dalam bidang keamanan kerja, kompensasi dan
    respek akan merasa puas dengan pekerjaannya.
  2. Pencapaian (achievement)
    Pekerja yang mendapat kesempatan untuk melakukan pencapaian
    kerja yang maksimal seperti mendapatkan kesempatan promosi,
    merasa bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan
    tersebut akan merasa puas/tidak puas akan pekerjaannya.
  3. Pertemanan (camaraderie)
    Pertemanan yang erat antara karyawan dengan rekan kerja dan
    atasannya dalam melakukan kerja sama (team work) akan mendukung
    terciptanya kepuasan kerja
    Menurut Adamy (2016), kepuasan kerja tidak hanya dapat dipahami dari
    aspek fisik pekerjaannya itu sendiri, akan tetapi dari sisi non fisik.
    Kepuasan kerja berkaitan dengan fisik dalam melaksanakan tugas-tugas
    pekerjaannya, kondisi lingkungan pekerjaannya, serta interaksi dengan
    sesama rekan kerja dan sistem hubungan diantara mereka.

Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Menurut Adamy (2016), faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
seseorang meliputi :

  1. Faktor intrinsik, yang berasal dari dalam diri seseorang dan dibawa
    sejak mulai kerja, misalnya umur, kondisi kesehatan, jenis kelamin,
    pendidikan, pengetahuan, kemampuan, ketrampilan, pengalaman
    kerja, cara berpikir, sikap kerja dan sebagainya.
  2. Faktor ekstrinsik, menyangkut hal -hal yang berasal dari luar diri
    seseorang dan berkaitan dengan pekerjaanya seperti sifat dan jenis
    pekerjaan, pengawasan, sistem penggajian, kesempatan untuk
    mengembangkan karir, penempatan karyawan, hubungan dengan
    rekan sekerja, struktur organisasi perusahaan.
    Harold E. Burt & Weitz (dalam Anoraga, 2005), mengemukakan faktor-
    faktor yang menentukan kepuasan kerja, yaitu:
  3. Faktor hubungan antar karyawan, antara lain: Hubungan manager
    dengan karyawan, faktor psikis dan kondisi kerja, hubungan sosial
    antar karyawan, sugesti dari teman sekerja, emosi dan situasi kerja.
  4. Faktor-faktor individual: sikap, umur, jenis kelamin, tingkat kepuasan
    dan ketidakpuasan kerja akan lebih berarti bila ditempatkan dalam
    konteks kecenderungan khas individu (disposisi individu) untuk
    menjadi puas secara umum.
  5. Faktor-faktor luar, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan: keadaan
    keluarga karyawan, rekreasi, pendidikan.
    Menurut As’ad (2004), faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
    sesorang antara lain :
  6. Faktor psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan
    kejiwaan karyawan yang meliputi minat, ketentraman kerja, sikap
    terhadap kerja, perasaan kerja.
  7. Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan fisik
    lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan,
    pengaturan waktu kerja, perlengkapan kerja, sirkulasi udara,
    kesehatan karyawan.
  8. Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan
    serta kesejahteraan karyawan, yang meliputi sistem penggajian,
    jaminan sosial, besarnya tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi
    dan lain-lain.
  9. Faktor Sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi
    sosial baik antara sesama karyawan, dengan atasannya, maupun
    karywan yang berbeda jenis pekerjaannya

Teori Kepuasan Kerja


Menurut Wexley dan Yulk (dalam As’ad, 2004), teori kepuasan kerja ada
tiga macam, yaitu:

  1. Equity Theory (Teori Keadilan)
    Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Zaleznik (1958), kemudian
    dikembangkan oleh Adams (1963), teori ini didasarkan pada asumsi
    bahwa orang dimotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan secara adil
    dalam pekerjaan. Ada empat ukuran dalam teori ini. Pertama, orang
    yaitu individu yang merasakan diperlakukan adil atau tidak adil.
    Kedua, perbandingan dengan orang lain, yang digunakan oleh sebagai
    pembandin. Ketiga, masukan (input), yaitu karakteristik individual
    yang dibawa kepekerjaan seperti keahlian, pengalaman atau
    karakteristik bawaan seperti umur, jenis kelamin dan ras. Keempat,
    perolehan (outcome), yaitu apa yang diterima seseorang dari
    pekerjaannya, seperti penghargaan, tunjangan dan upah.
    Keadilan dikatakan ada jika karyawan menganggap bahwa rasio
    antara masukan (usaha) dengan perolehan (imbalan) sepadan dengan
    rasio karyawan lainnya. Ketidakadilan dikatakan ada, jika rasio
    tersebut tidak sepadan, rasio antara masukan dengan perolehan
    seseorang mungkin terlalu besar atau kurang dibanding rasio lainnya.
    Apabila keadilan terjadi, karyawan tersebut merasa mendapat
    kepuasan dan sebaliknya, apabila terjadi ketidakadilan antara input
    dan outcome, maka terjadi ketidakpuasan.
    Yukl, G.A. (1998) menjelaskan bahwa perbandingan tersebut
    merupakan perbandingan antar hasil kerja dengan rasio hasil model
    orang lain. Pengertian model dapat berupa pendidikan, pengalaman
    keahlian, usaha-usaha, jam kerja, peralatan dan persediaan lainnya.
    Sedangkan pengertian hasil dapat berupan upah, status simbol
    penghargaan, kesempatan untuk maju dan fasilitas lainnya.
    Berdasarkan teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa orang akan
    merasa puas sepanjang mereka merasa ada keadilan (equity). Perasaan
    equity dan inequity diperoleh orang dengan cara membandingkan
    dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor, atau di tempat lain.
  2. Discrepancy Theory (Teori Ketidaksesuaian)
    Teori ini pertama kali dipelopori oleh Proter. Ia berpendapat bahwa
    mengukur kepuasan kerja dapat dilakukan dengan cara menghitung
    selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan
    karyawan. Seseorang akan merasa puas apabila tidak ada perbedaan
    antara apa yang diinginkan dengan persepsinya terhadap kenyataan
    yang ada, karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi.
    19
    Apabila didapat ternyata lebih besar daripada yang diinginkan, maka
    orang akan menjadi lebih puas lagi walaupun terdapat discrepancy
    (ketidaksesuain), tetapi merupakan discrepancy yang positif.
    Sebaliknya, makin jauh dari kenyataan yang dirasakan di bawah
    standar minimum sehingga menjadi negatif discrepancy, maka makin
    besar pula ketidakpuasan seseorang terhadap pekerjaannya.
    Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa menurut
    teori ini, kepuasan kerja seseorang tergantung pada selisih antara
    sesuatu yang dianggap akan didapatkan dengan apa yang dicapai.
    Dengan demikian, orang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan
    antara yang diinginkan dengan persepsinya atas kenyataan karena
    batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi.
  3. Two Factor Theory (Teori Dua Faktor)
    Herzberg yang dikenal sebagai pengembang teori kepuasan kerja yang
    disebut teori dua faktor. Menurut Herzberg ada dua kondisi yang
    mempengaruhi kepuasan seseorang. Pertama, ada serangkaian kondisi
    ekstrinsik, keadaan pekerjaan (job context), yang menghasilkan
    ketidakpuasan di kalangan karyawan jika kondisi tersebut tidak ada.
    Kedua, berupa serangkaian kondisi intrinsik, isi pekerjaan (job
    context) yang akan menggerakkan tingkat motivasi yang kuat
    sehingga dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik. Jika kondisi
    tersebut tidak ada, maka akan timbul rasa ketidakpuasan yang
    berlebihan.
    Faktor-faktor yang membuat orang tidak puas (dissatisfiers) atau juga
    faktor iklim baik (hygiene factor) yang tercakup dalam kondisi
    pertama meliputi upah, jaminan pekerjaan, kondisi kerja, status,
    prosedur perusahaan, mutu supervisi, mutu hubungan antar pribadi di
    antara rekan kerja, dengan atasan dan dengan bawahan.
    Faktor dari rangkaian pemuas atau motivator ini meliputi prestasi
    (achievement), pengakuan (recognition), tanggung jawab
    (responsibility), kemajuan (advancement), pekerjaan itu sendiri (the
    work itself) dan kemungkinan berkembang (the posibility of growth).
    Model teori Herzberg pada dasarnya mengasumsikan bahwa kepuasan
    kerja bukanlah suatu konsep berindikator satu. Penelitiannya
    menyimpulkan bahwa diperlukan dua kontinum untuk menafsirkan
    kepuasan kerja secara tepat. Apabila kepuasan kerja tinggi
    ditempatkan di satu ujung kontinum, maka ujung kontinum yang lain
    adalah rendahnya kepuasan kerja

Pengertian Kepuasan Kerja


Menurut Smith et al (2000), kepuasan kerja sebagai serangkaian perasaan
senang atau tidak senang dan emosi seseorang yang berkenaan dengan
pekerjaannya sehingga merupakan penilaian karyawan terhadap perasaan
menyenangkan atau tidak terhadap pekerjaan
Menurut Handoko (2001), kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana para karyawan
memandang pekerjaan mereka.
Menurut Dole & Schoeder (2001), menyatakan bahwa kepuasan kerja
intrinsik ditentukan dari penghargaan yang berasal dari internal seperti
pekerjaan itu sendiri, peluang untuk berkembang, sedangkan kepuasan
ekstrinsik berasal dari faktor ekstemal seperti pembayaran, dukungan dan
kebijakan perusahaan, supervisi, rekan sekerja dan kesempatan promosi.
Menurut Robbins & Judge (2011), kepuasan kerja sebagai perasaan positif
tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari sebuah evaluasi
karakteristiknya. Seseorang yang memiliki tingkat kepuasan kerja tinggi,
akan memiliki perasaan positif terhadap pekerjaan. Sebaliknya seseorang
yang memiliki kepuasan kerja yang rendah akan memiliki perasaan negatif
terhadap pekerjaan.
Menurut Hasibuan (2020), kepuasan kerja adalah sikap emosional yang
menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh
moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati
dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan kombinasi antara keduanya

Tujuan-tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Adamy (2016), secara singkat tujuan MSDM antara lain:

  1. Tujuan Organisasional ditujukan untuk dapat mengenali keberadaan
    MSDM dalam memberikan kontribusi pada pencapaian efektivitas
    organisasi.
  2. Tujuan Fungsional ditujukan untuk mempertahankan kontribusi
    departemen pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
    Sumber daya manusia menjadi tidak berharga jika MSDM memiliki
    kriteria yang lebih rendah dari tingkat kebutuhan organisasi.
  3. Tujuan Sosial ditujukan untuk secara etis dan sosial merespon
    terhadap kebutuhan-kebutuhan dan tantangan tantangan masyarakat
    melalui tindakan meminimasi dampak negatif terhadap organisasi.
    Kegagalan organisasi dalam menggunakan sumber dayanya bagi
    keuntungan masyarakat dapat menyebabkan hambatan-hambatan.
  4. Tujuan Personal ditujukan untuk membantu karyawan dalam
    pencapaian tujuannya, yang dapat mempertinggi kontribusi individual
    terhadap organisasi. Tujuan personal dipertimbangkan jika karyawan
    harus dipertahankan, dipensiunkan, atau dimotivasi. Jika tujuan
    personal tidak dipertimbangkan, kinerja dan kepuasan karyawan dapat
    menurun dan karyawan dapat meninggalkan organisasi

Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


MSDM merupakan bagian dari fungsi manajemen, maka sebelum
mengemukakan pendapat-pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan
manajemen sumber daya manusia, perlu dijelaskan mengenai arti
manajemen itu sendiri. Menurut Hasibuan (2020), menjelaskan secara
singkat fungsi -fungsi manajemen sebagai berikut :

  1. Perencanaan (planning)
    Merencanakan tenaga kerja secara efektif dan efisien agar sesuai
    dengan kebutuhan perusahaan dalam mewujudkan tujuan.
  2. Pengorganisasian (organizing)
    Menyusun suatu organisasi dengan mendesain struktur dan hubungan
    antara tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh tenaga kerja yang
    dipersiapkan.
  3. Pengarahan (directing)
    Kegiatan mengarahkan semua karyawan agar mau bekerjasama dan
    bekerja secara efektif dan efisien dalam membantu tercapainya tujuan
    perusahaan , karyawan, dan masyarakat.
  4. Pengendalian (controlling)
    Kegiatan mengendalikan semua karyawan agar mentaati peraturan-
    peraturan perusahaan dan bekerja sesuai dengan rencana.
  5. Pengadaan Tenaga Kerja (procurement)
    Proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan induksi untuk
    mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  6. Pengembangan (development)
    Proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis, konseptual, dan
    moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
  7. Kompensasi (compensation)
    Pemberian balas jasa langsung (direct), dan tidak langsung (indirect),
    uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang
    diberikan kepada perusahaan.
  8. Pengintegrasian (integration)
    Kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan
    kebutuhan karyawan, agar tercipta kerjasama yang serasi dan saling
    menguntungkan.
  9. Pemeliharaan (maintenance)
    Kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental,
    dan loyalitas karyawan agar mereka mau bekerja sama sampai
    pensiun. Pemeliharaan yang baik dilakukan dengan program
    kesejahteraan yang berdasarkan sebagian besar kebutuhan
    karyawannya.
  10. Kedisiplinan (discipline)
    Keinginan dan kesadaran untuk mentaati peraturan – peraturan
    perusahaan dan norma – norma sosial.
  11. Pemutusan Hubungan Tenaga Kerja (separation)
    Putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu perusahaan. Pemutusan
    hubungan kerja ini dapat disebabkan oleh keinginan karyawan,
    keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun dan sebab-
    sebab lainnya

Manajemen Sumber Daya Manusia

Menurut Yohanson, et al (2021), sumber daya manusia (SDM) merupakan
faktor sentral dalam suatu organisasi. Apapun bentuk dan tujuanya,
Organisasi didirikan berdasarkan visi untuk kepentingan bersama, dan
dalam pelaksanaan misinya dikelolah dan diurus oleh manusia. Tenaga
kerja atau karyawan merupakan sumber daya yang paling berharga dalam
organisasi. Tanpa adanya tenaga kerja atau karyawan yang berkualitas
mustahil tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik. Suasana persaingan
yang ketat akan menuntut perusahaan untuk lebih efektif dan efisien dalam
mengelola sumber daya khususnya sumber daya manusia yang
dimilikinya. Akan tetapi memiliki karyawan yang berkinerja tinggi bukan
pekerjaan mudah, tetapi merupakan suatu proses yang sinergis antara
karyawan dan manajemen perusahaan.
Menurut Adamy (2016), manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses
pemanfaatan SDM dan sumber daya lainya secara efektif dan efesien
untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Manajemen ini terdiri dari enam
unsur yaitu: men, money, methode, materials, machines, dan market.
Unsur men (manusia) ini berkembang menjadi suatu bidang ilmu
manajemen yang disebut manajemen sumber daya manusia atau disingkat
MSDM yang merupakan terjemahan dari man power management. Unsur
MSDM adalah manusia yang merupakan tenaga kerja pada perusahaan.
Manusia selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan
organisasi, karena manusia menjadi perencana, pelaku, dan penentu
terwujudnya tujuan organisasi. Tujuan tidak mungkin terwujud tanpa
peran aktif karyawan meskipun alat-alat yang dimiliki perusahaan begitu
canggihnya.
Menurut Edwin B. Flippo (dalam Hasibuan, 2020), MSDM adalah
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan kegiatan,
pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian,
pemeliharaan dan pelepasan SDM agar tercapai berbagai tujuan individu,
organisasi dan masyarakat.
Menurut Schuler, Dowling, Smart & Huber (dalam Setiono & Enni, 2020),
MSDM merupakan pengakuan tentang pentingnya tenaga kerja organisasi
sebagai sumber daya manusia yang sangat penting dalam memberi
kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi, dan penggunaan beberapa fungsi
dan kegiatan untuk memastikan bahwa SDM tersebut digunakan secara
efektif dan adil bagi kepentingan individu, organisasi dan masyarakat
Menurut Hasibuan (2020), MSDM adalah ilmu dan seni mengatur
hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efesien membantu
terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Fungsi-fungsi
MSDM terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengadaan, pengembangan kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan,
kedisiplinan, dan pemberhentian. Tujuannya ialah agar perusahaan
mendapatkan rentabilitas laba yang lebih besar, karyawan mendapatkan
kepusan dari pekerjaannya, masyarakat memperoleh barang atau jasa yang
baik dengan harga yang wajar dan selalu tersedia di pasar, sedang
pemerintah selalu berharap mendapatkan pajak.
Menurut Magdalena, et al (2023), manajemen sumber daya manusia
adalah rangkaian aktivitas organisasi yang diarahkan untuk menarik,
mengembangkan, dan mempertahankan tenaga kerja yang efektif. Manajer
memiliki peran besar dalam mengarahkan orang-orang yang berada di
organisasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan, termasuk memikirkan
bagaimana memiliki manajemen sumber daya manusia (MSDM) yang
mampu bekerja secara efektif dan efisien.
14
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa MSDM
adalah suatu disiplin manajemen yang secara khusus memfokuskan pada
studi mengenai keterkaitan dan peran manusia dalam struktur organisasi
perusahaan. MSDM menekankan bahwa unsur utama dalam lingkupnya
adalah manusia yang menjadi anggota tenaga kerja di perusahaan tersebut.
Dengan demikian, MSDM mengkaji aspek-aspek yang berkaitan dengan
tenaga kerja manusia semata

Indikator Kualitas Sumber Daya Manusia


Hutapea dan Nurianna (2012:62), kualitas sumber daya manusia merupakan
pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan seseorang yang dapat digunakan untuk
menghasilkan layanan professional. Adapun Indikator Kualitas Sumber Daya Manusia
menurut Hutapea dan Nurianna (2012: 62) yaitu:
1) Memahami bidangnya masing-masing
2) Pengetahuan
3) Kemampuan
4) Semangat kerja
5) Kemampuan perencanaan/pengorganisasian

Kualitas Sumber Daya Manusia


Menurut Hutapea dan Nurianna (2012: 62), kualitas sumber daya manusia
merupakan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan seseorang yang dapat
digunakan untuk menghasilkan layanan professional. Menurut Wirawan (2015: 18)
menjelaskan bahwa: “Sumber daya Manusia adalah orang yang disebut sebagai manajer,
pegawai, karyawan, buruh atau tenaga kerja yang bekerja untuk organisasi”. Hal senada
disampaikan oleh Eddy Soeryanto Soegoto (2014: 306) memberi pengertian yaitu:
”Sumber Daya Manusia adalah individu-individu dalam organisasi yang memberikan
sumbangan berharga pada pencapaian tujuan organisasi”.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Sumber Daya Manusia
Perusahaan atau organisasi dalam bidang sumber daya manusia tentunya
menginginkan agar setiap saat memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dalam
arti memenuhi persyaratan kompetensi untuk didayagunakan dalam usaha
merealisasikan visi dan mencapai tujuan jangka menengah dan jangka pendek. Hal ini
mengisyaratkan kepada manajemen sumber daya manusia agar menjalankan fungsinya
secara tepat dan efektif guna mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam suatu
perusahaan. Fungsi manajemen sumber daya manusia dimaksud adalah (Edy Sutrisno,
2016):
1) Perencanaan
Perencanaan adalah kegiatan memperkirakan tenatang keadaan tenaga kerja,
agar sesuai dengan kebutuhan organisasi secara efektif dan efisien dalam membantu
terwujudnya tujuan.
2) Pengorganisasian
Yaitu kegiatan untuk mengatur pegawai dengan menetapkan pembagian kerja,
hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi dan koordinasi dalam bentuk bagan
organisasi. Organisasi hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan.
3) Pengarahan dan pengadaan
Pengarahan adalah kegiatan memberi petunjuk kepada pegawai, agar mau
bekerja sama dan bekerja efektif serta efisien dalam membantu tercapainya tujuan
organisasi. Sedangkan pengadaan merupakan proses penarikan, seleksi,
penempatan, orientasi dan induksi untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan
kebutuhan organisasi.
4) Pengendalian
Yaitu kegiatan mengendalikan pegawai agar menaati peraturan organisasi dan
bekerja sesuai dengan rencana. Bila terdapat penyimpangan diadakan tindakan
perbaikan atau penyempurnaan.
5) Pengembangan
Pengembangan merupakan proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis,
konseptual dan moral pegawai melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan
pelatihan yang diberikan hendaknya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini
maupun masa yang akan datang.
6) Kompensasi
Yaitu pemberian balas jasa langsung berupa uang atau barang kepada pegawai
sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada organisasi. Prinsip kompensasi adalah
adil dan layak.
7) Pengintegrasian
Yaitu kegiatan untuk mempersatukan kepentingan organisasi dan kebutuhan
pegawai, agar tercipta kerja sama yang serasi dan saling menguntungkan.
8) Pemeliharaan
Yaitu kegiatan pemeliharaan atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan
loyalitas, agar mereka tetap mau bekerja sama sampai pensiun.
9) Kedisiplinan
Yaitu salah satu fungsi manajemen sumber daya manusia yang penting dan
merupakan kunci terwujudnya tujuan organisasi, karena tanpa adanya kedisiplinan,
maka sulit mewujudkan tujuan yang maksimal.
10) Pemberhentian
Merupakan putusnya hubungan kerja seorang pegawai dari suatu organisas

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya suatu kondisi Lingkungan
baikfisik maupun non fisik. .Mmenurut Nitisemito (2012: 159), Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi lingkungan fisik adalah sebagai berikut:
1) Pewarnaan
Masalah warna dapat berpengaruh terhadap karyawan didalam melaksanakan
pekerjaan, akan tetapi banyak perusahaan yang kurang memperhatikan masalah
warna.

  1. Penerangan
    Penerangan dalam ruang kerja karyawan memegang peranan yang sangat
    penting dalam meningkatkan semangat karyawan sehingga mereka akan dapat
    menunjukkan hasil kerja yang baik, yang berarti bahwa penerangan tempat kerja
    yang cukup sangat membantu berhasilnya kegiatan-kegiatan operasional organisasi.
  2. Udara
    Di dalam ruangan kerja karyawan dibutuhkan udara yang cukup, dimana
    dengan adanya pertukaran udara yang cukup, akan
    menyebabkan kesegaran fisik dari karyawan tersebut. Suhu udara yang terlalu panas
    akan menurunkan semangat kerja karyawan di
    dalam melaksanakan pekerjaan.
    4) Suara Bising
    Suara yang bunyi bisa sangat menganggu para karyawan dalam
    bekerja. Suara bising tersebut dapat merusak konsentrasi kerja
    karyawan sehingga kinerja karyawan bisa menjadi tidak optimal.
    5) Ruang Gerak
    Pada suatu organisasi sebaiknya karyawan yang bekerja mendapat
    tempat yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas.
    Karyawan tidak mungkin dapat bekerja dengan tenang dan maksimal
    jika tempat yang tersedia tidak dapat memberikan kenyamanan.
    6) Keamanan
    Rasa aman bagi karyawan sangat berpengaruh terhadap semangat kerja dan
    kinerja karyawan. Jika di tempat kerja tidak aman karyawan tersebut akan menjadi
    gelisah, tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya serta semangat kerja
    karyawan tersebut akan mengalami penurunan.
    7) Kebersihan
    Lingkungan yang bersih akan menciptakan keadaan disekitarnya menjadi
    sehat. Oleh karena itu setiap organisasi hendaknya selalu menjaga kebersihan
    lingkungan. Dengan adanya lingkungan yang bersih karyawan akan merasa senang
    sehingga kinerja karyawan akan meningkat.
    Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi lingkungan non fisik adalah
    sebagai berikut (Nitisemito (2012: 1162):
    1) Struktur kerja, yaitu sejauh mana bahwa pekerjaan yang diberikan kepadanya
    memiliki struktur kerja dan organisasi yang baik.
    2) Tanggung jawab kerja, yaitu sejauh mana pekerja merasakan bahwa pekerjaan
    mengerti tanggung jawab mereka serta bertanggung jawab atas tindakan mereka.
    3) Perhatian dan dukungan pemimpin, yaitu sejauh mana pegawai merasakan bahwa
    pimpinan sering memberikan pengarahan, keyakinan, perhatian serta menghargai
    mereka.
    4) Kerja sama antar kelompok, yaitu sejauh mana pegawai merasakan ada kerjasama
    yang baik diantara kelompok kerja atau rekan kerja yang ada.
    5) Kelancaran komunikasi, yaitu sejauh mana pegawai merasakan adanya komunikasi
    yang baik, terbuka, dan lancar, baik antara rekan kerja ataupun dengan pimpinan.
    c. Indikator Lingkungan
    Alex S. Nitiseminto (2012: 183) mendefinisikan lingkungan sebagai berikut:
    “Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat
    mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas – tugas yang dibebankan. Indikator-
    indikator lingkungan menurut Nitisemito (2012:164) terdiri dari:
    1) Sarana/fisik (gedung, ruanga kerja)
    2) Prasarana/fisik (Meja, Komputer, Kertas)
    3) Tersedianya fasilitas untuk karyawan/fisik (Musholla, Toilet)
    4) Suasana kerja/non fisik
    5) Hubungan dengan rekan kerja/non fisik

Lingkungan


Menurut Manner dalam Hasibuan (2012) bahwa lingkungan di desain sedemikian
rupa agar dapat tercipta hubungan kerja yang mengikat pekerja dengan lingkungannya).
Lingkungan yang baik yaitu apabila karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara
optimal, aman dan nyaman. Lingkungan yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja
serta waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sitem
kerja yang efisien.
Alex S. Nitiseminto (2012: 183) mendefinisikan lingkungan sebagai berikut:
“Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat
mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas – tugas yang dibebankan”
Menurut Gomez dalam Ngakan (2013: 6) menyatakan bahwa Lingkungan
merupakan keadaan sekitar tempat kerja baik secara fisik maupun non fisik yang dapat
memberikan kesan yang menyenangkan, mengamankan, mententramkan, dan betah
dalam bekerja).
b. Jenis Lingkungan
Sedarmayanti (2015) menyatakan bahwa secara garis besar, jenis lingkungan
terbagi menjadi 2 yakni: Lingkungan Fisik dan lingkungan non fisik
1) Lingkungan Fisik
Menurut Sedarmayani (2015) yang dimaksud adalah dengan Lingkungan yaitu
semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja dimana dapat
mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan
dapat dibagi dalam dua kategori, yakni:
2) Lingkungan Non fisik
Sedarmayanti (2015) menyatakan lingkungan non fisik adalah semua keadaan
yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik dengan atasan maupun
dengan sesama rekan kerja, ataupun dengan bawahan. Lingkungan non fisik ini juga
merupakan kelompok lingkungan yang tidak bisa diabaika

Indikator Gaya Kepemimpinan


Menurut Simamora (2014: 16), kepemimpinan yang baik adalah kepimpinan
yang mengikut sertakan karyawan dalam mengambil keputusan, sehingga karyawan
memiliki peluang untuk mengeluarkan ide, pendapat dan gagasan demi keberhasilan
perusahaan dan dengan adanya kerja sama pihak perusahaan bisa membina dan
menanamkan hubungan kekeluargaan antar karyawan sehingga memungkinkan
karyawan untuk bekerja sama dalam lingkugan perusahaan.
Indikator Gaya Kepemimpinan yang digunakan dalam penelitian ini bertolak dari
pendapat Simamora (2014: 16) dengan fokus pada:
1) Pemimpin yang memiliki tujuan
2) Pemimpin yang mampu menciptakan suasana kondunsif
3) Pemimpin yang memiliki pemimpin yang toleran
4) Pemimpin yang memberi petunjuk dan mengarahkan
5) Pemimpin yang memberi dukungan pada karyawan untuk maju
6) Pemimpin yang demokratis
7) Pemimpin yang membantu mengatasi permasalahan karyawan
8) Pemimpin memberi penghargaan pada karyawan berprestasi

Macam-Macam Gaya Kepemimpinan


Menurut Robbins (2011: 46), gaya kepemimpinan terbagi menjadi dua kategori,
yaitu:
1) Pemimpin Transaksional
Pemimpin jenis ini memandu atau memotivasi pengikut mereka menuju ke
sasaran yang ditetapkan dengan memperjalas persyaratan peran dan tugas. Tipe
pemimpin transaksional dibagi menjadi empat karakteristik pemimpin, yaitu:
a) Imbalan kontingen.
Kontrak pertukaran imbalan atas upaya, menjanjikan imbalan atas kinerja
baik, mengakui pencapaian.
b) Manajemen berdasar pengecualian (aktif).
Melihat dan mencari penyimpangan dari aturan dan standar, menempuh
tindakan perbaikan.
c) Manajemen berdasar pengecualian (pasif).
Mengintervensi hanya jika standar tidak terpenuhi.
d) Laissez-faire
Melepas tanggung jawab, menghindari pembuatan keputusan.
2) Pemimpin Transformasional
Pemimpin yang menginspirasi para pengikut untuk melampaui
kepentinganpribadi mereka dan yang mampu dampak mendalam dan luar biasa pada
para pengikut. Tipe pemimpin transformasional dibagi menjadi empat karakteristik
pemimpin, yaitu:
a) Kharisma.
Memberikan visi dan rasa atas misi, menanamkan kebanggaan, meraih
penghormatan dan kepercayaan.
b) Inspirasi.
Mengerjakan harapan tinggi, menggunakan simbol untuk memfokuskan
pada usaha, menggambarkan maksud penting secara sederhana.
c) Stimulasi intelektual.
Mendorong intelegensia, rasionalitas, dan pemecahan masalah secara hati-
hati.
d) Pertimbangan individual.
Memberikan perhatian pribadi, melayani karyawan secara pribadi,
melatih, menasehati.

Pengertian Gaya Kepemimpinan


Menurut Robbins (2011: 39), kepemimpinan adalah kemampuan untuk
mempengaruhi suatu kelompok kearah tercapainya tujuan. Mintzberg dalam Luthans
(2012: 76), mengemukakan bahwa peran kepemimpinan dalam organisasi adalah
sebagai pengatur visi, motivator, penganalis, dan penguasaan pekerjaan.
Menurut Simamora (2014: 16), kepemimpinan yang baik adalah kepimpinan
yang mengikut sertakan karyawan dalam mengambil keputusan, sehingga karyawan
memiliki peluang untuk mengeluarkan ide, pendapat dan gagasan demi keberhasilan
perusahaan dan dengan adanya kerja sama pihak perusahaan bisa membina dan
menanamkan hubungan kekeluargaan antar karyawan sehingga memungkinkan
karyawan untuk bekerja sama dalam lingkugan perusahaan

Indikator Kinerja


Menurut Simamora (2017: 16), kinerja karyawan adalah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang karyawan dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Dalam penelitian ini sebagai indikator kinerja karyawan berdasarkan pendapat
dari Simamora (2017: 16), yaitu:
1) Loyalitas
2) Semangat kerja
3) Kepemimpinan
4) Kerja sama
5) Tanggung jawab

Karakter Individu dengan Kinerja Tinggi


Ciri karakter individu dengan kinerja tinggi menurut Mangkunegara (dalam
Widiarko, 2017: 15) adalah:
1) Individu senang bekerja dan menghadapi tantangan yang moderat
2) Individu memperoleh sedikit kepuasan jika pekerjaannya sangat mudah dan jika
terlalu sulit cenderung kecewa
3) Individu senang memperoleh umpan balik yang kongkret mengenai keberhasilan
pekerjaannya
4) Individu cenderung tidak menyenangi tugas jika tidak mencapai prestasi sesuai
dengan yang diinginkan
5) Individu lebih senang bertanggung jawab secara personal atas tugas yang
dikerjakan
6) Individu puas dengan hasil bila pekerjaan dilakukan sendiri
7) Individu kurang istirahat, cenderung inovatif dan banyak bepergian.
8) Individu selalu mencari kemungkinan pekerjaan yang lebih menantang,
meninggalkan sesuatu yang lama dan menjadi rutinitas serta berusaha
menemukan sesuatu yang baru.

faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Menurut Mangkuprawira dan Hubeis (2013: 155), faktor-faktor
tersebut sebagai berikut:
1) Faktor Personal
Faktor personal meliputi unsur pengetahuan, keterampilan, kemampuan,
kepercayaan diri, Lingkungan dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu
2) Faktor Kepemimpinan
Faktor Kepemimpinan meliputi aspek kualitas manajer dan dan team
leader dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan kerja
kepada karyawan
3) Faktor Tim
Faktor Tim meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan
oleh rekan dalam satu team, kepercayaan terhadap sesama anggota team,
kekompakan, dan keeratan anggota team
4) Faktor Sistem
Faktor Sistem meliputi system kerja, fasilitas kerja dan infrakstruktur
yang diberikan oleh organisasi, kompensasi dan proses organisasi dan kultur
kinerja dalam organisasi

Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen Sumber Daya Manusia atau MSDM adalah suatu manajemen yang
khusus mempelajari hubungan dan peranan manusia dalam organisasi perusahaan. Unsur
MSDM adalah manusia yang merupakan karyawan pada perusahaan, fokus yang dipelajari
MSDM ini hanya masalah yang berhubungan dengan karyawan manusia saja.
Manner dalam Hasibuan (2011: 10) mengemukakan bahwa manajemen sumber daya
manusia adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan karyawan agar efektif dan
efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat). Gomes
(dalam Mathis, 2012: 4) mengemukakan bahwa (Manajemen sumber daya manusia adalah
pengembangan dan pemanfaatan personil (pegawai) bagi pencapaian yang efektif
mengenai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan individual, organisasi, masyarakat, nasional
dan internasional).

Pengertian Kinerja


Menurut Simamora (2017: 16) kinerja SDM adalah prestasi kerja atau hasil kerja
baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai SDM persatuan periode waktu dalam
melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Suatu perusahaan membutuhkan karyawan sebagai tenaga kerjanya guna
meningkatkan produk yang berkualitas. Mengingat karyawan menjadi aset penting
bagi perusahaanm, banyak hal yang perlu diperhatikan terkait peningkatkan
kinerjanya.

Indikator Motivasi Kerja


Afandi (2016) mengungkapkan bahwa dalam Motivasi Kerja terdapat dua
dimensi dan enam indikator, yakni:

  1. Dimensi ketentraman, yaitu bahagia, semangat, dan nyaman karena
    terpenuhinya kebutuhan.
    Indikator:
    a. Kondisi kerja
    b. Balas Jasa
    c. Fasilitas kerja
  2. Dimensi dorongan, yaitu sebaik mungkin dalam melakukan suatu pekerjaan.
    Indikator:
    a. Pekerjaan itu sendiri
    b. Prestasi kerja
    c. Pengakuan dari atasan

Teori Frederick Herzerberg (Teori Dua Faktor)


Ansory dan Indrasari (2018) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor
yang berperan sebagai pendorong karyawan untuk mampu termotivasi dan
memuaskan untuk bekerja dengan baik terjadi dari:

  1. Keberhasilan pelaksanaan (Achievement)
    Pemimpin harus mempelajari bawahannya dan pekerjaannya untuk memberikan
    peluang kepada karyawan agar berhasil dalam mencapai pekerjaan yang
    maksimal. Selain itu, pemimpin harus menyatakan keberhasilan kepada
    karyawan yang telah berhasil mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya dengan
    memberikan semangat.
  2. Pengakuan (recognition)
    Pengakuan atas berhasilnya karaywan dalam melakukan pekerjaanya dapat
    dilakukan dengan berbagai cara diantaranya:
    a. Memberikan kenaikan gaji dan promosi
    b. Memberikan surat penghargaan
    c. Memberi uang tunai ataupun medali.
  3. Pekerjaan itu sendiri (the work it-self)
    Pemimpin menyakinkan atau membuat usaha-usaha yang sesungguhnya
    sehingga karyawan mengerti dengan pekerjaan yang dikerjakannya dan
    mengusahakan agar karyawan dalam mengerjakan pekerjaannya sudah tepat
    serta menghindari bosan dalam melakukan pekerjaan.
  4. Tanggung jawab (responsibilities)
    Pemimpin harus menghindari pengawasan ketat terhadap karyawan agar
    tanggung jawab menjadi motivator bagi karyawan dan menerapkan prinsip
    partisipasi dengan memberikan karyawan bekerja sendiri sepanjang pekerjaan
    yang diembannya.
  5. Pengembangan (advancement)
    Pemimpin bisa memulai untuk melatih bawahannya dengan pekerjaan yang
    lebih bertanggung jawab, agar pemimpin bisa menjadi motivator bagi
    karyawannya. Selain itu, pemimpin melakukan pengembangan kepada
    karyawan yang direkomendasikan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan
    lanjutan

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow


Ansory dan Indrasari (2018) mengungkapkan bahwa seorang individu akan
merasa termotivasi dalam memenuhi segala kebutuhan yang paling dominan atau
paling penting bagi dirinya pada waktu tertentu. Abraham Maslow mengamati
kebutuhan manusia tersusun dalam lima macam hierarki, yaitu:

  1. Kebutuhan Fisiologis
    Kebutuhan fisiologis dalam Hierarki Maslow mempunyai tingkatan tertinggi.
    Kebutuhan fisiologis adalah suatu hal yang harus manusia penuhi untuk dapat
    bertahan dalam kehidupan. Manusia mempunyai berbagai macam kebutuhan,
    yaitu:
    a. Kebutuhan istirahat atau tidur dan aktivitas: Untuk menjaga badan agar tetap
    sehat dan memenuhi kegiatan dalam keseharian.
    b. Kebutuhan seksual dan kebutuhan kesehatan temperatur tubuh: Untuk
    memperbanyak keturunan dan memenuhi kebutuhan fisiologis.
    c. Kebutuhan pertukaran gas dan oksigen: Kebutuhan manusia yang mendasar
    untuk aktivitas organ atau sel, metabolisme tubuh dan pertahanan hidup.
    d. Kebutuhan eliminasi urine: kebutuhan fisiologis dengan tujuan untuk
    mengeluarkan bahan sisa makanan dari dalam tubuh.
    e. Kebutuhan cairan (elektrolit) dan makanan: Pemenuhan kebutuhan dasar
    manusia yang paling penting didalam tubuh hampir 90% dari total berat
    badan tubuh manusia.
    Kebutuhan fisiologis, kebutuhan makan dan kebutuhan minum, kebutuhan
    seksual, kebutuhan perlindungan fisik sebagai pemenuhan kebutuhan terendah.
  2. Kebutuhan Rasa Aman dan Perlindungan
    Atau disebut juga safety and security yang merupakan kebutuhan fisiologi
    diantaranya yaitu:
    a. kebutuhan akan rasa aman bebas dari rasa cemas dan takut.
    b. kebutuhan bebas dari perasaan terancam karena hal baru atau asing.
    c. kebutuhan perlindungan diri dari udara panas atau dingin, perlindungan dari
    infeksi dan kecelakaan.
    Kebutuhan rasa aman dan perlindungan dari bahaya atau ancaman, lingkungan
    hidup dan pertentangan.
  3. Kebutuhan Sosial
    Kebutuhan sosial adalah termasuk kebutuhan fisiologis diantaranya adalah:
    a. Mendapatkan tempat disuatu lingkungan sosial dan diakui dalam keluarga.
    b. Memberikan ataupun menerima kasih sayang.
    c. Kebutuhan akan merasa dimiliki dalam hubungan spesial dengan orang lain.
    Kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan, berinteraksi, berafiliasi,
    kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, kebutuhan untuk merasa memiliki.
  4. Kebutuhan Harga Diri
    Kebutuhan Harga Diri merupakan kebutuhan fisiologis diantaranya yaitu:
    a. Penghargaan atas diri sendiri dan juga kepada orang lain.
    b. Perasaan untuk tidak bergantung dengan yang lain.
    c. Kompeten.
    Kebutuhan dihargai dan dihormati serta kebutuhan harga diri.
  5. Kebutuhan Aktualisasi Diri atau disebut juga self-actualization sebagai
    kebutuhan fisiologis diantaranya adalah:
    a. Tidak emosional
    b. Belajar untuk dapat memenuhi kebutuhan sendiri
    c. Berdedikasi tinggi, kepercayaan diri yang tinggi dan kreatif
    d. Mengenal potensi di dalam diri sendiri dengan baik.
    Kebutuhan menggunakan potensi, kebutuhan untuk menggunakan skill,
    kebutuhan untuk mengemukakan ide dan pendapat serta memberikan kritikan
    dan penilaian terhadap suatu hal

Asas-Asas Motivasi Kerja


Afandi (2016) mengungkapkan bahwa terdapat asas-asas dalam motivasi
kerja, yaitu:

  1. Asas mengikutsertakan, maksudnya untuk melibatkan bawahan dan
    memberikan kesempatan untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan
    dan mengajukan pendapat.
  2. Asas komunikasi, maksudnya untuk menjelaskan secara rinci cara-cara
    pengerjaan tugas, kendala yang dihadapi, dan tujuan yang ingin dicapai
    perusahaan.
  3. Asas pengakuan, maksudnya memberikan reward kepada karyawan yang
    memiliki prestasi kerja atas apa yang dicapainya.
  4. Asas wewenang yang didelegasikan, maksudnya memberikan kepercayaan diri
    dan wewenang kepada karyawan, bahwa kompetensi dan keterampilannya
    mampu mengerjakan tugas dengan optimal.
  5. Asas adil dan layak, maksudnya memberikan alat dan jenis motivasi kepada
    seluruh karyawan harus sesuai dengan asas keadilan dan kelayakan. Contohnya
    memberikan penghargaan dan hukuman harus adil dan layak bila terdapat
    masalah yang sama.
  6. Asas perhatian timbal balik, pemimpin harus memberikan alat dan jenis motivasi
    bagi karyawan yang berhasil mencapai tujuannya dengan baik. Tegasnya
    kerjasama antara kedua belah pihak yang saling menguntungkan

Motivasi Kerja


Sedarmayanti (2017) mengungkapkan bahwa motivasi merupakan suatu
dorongan yang kuat dari tiap individu untuk melakukan atau tidaknya suatu
tindakan secara internal dan eksternal baik positif atau negatif serta ketangguhan
pemimpin sangat bergantung untuk mengarahkannya. Motivasi kerja merupakan
suatu hal yang memberikan dorongan ataupun pendorong untuk semangat bekerja.
Karma et al., (2017) mengungkapkan bahwa motivasi merupakan salah satu hal
yang mendorong seseorang dalam memenuhi keinginan, kesiapan dalam kerja dan
mengeluarkan semua kemampuan yang dimiliki untuk mengerjakan pekerjaan
dengan semangat.
Tannady (2017) mengungkapkan bahwa motivasi merupakan suatu
kemauan yang sumbernya dari dalam diri tiap individu dan menyebabkan seseorang
bersemangat serta berperilaku positif dalam berkontribusi untuk mengerjakan tugas
dan tanggung jawab tertentu. Dengan hal itu, motivasi menjelaskan mengapa
sumber daya manusia dalam perusahaan berperilaku sedemikian rupa dalam
bekerja. Manajer yang baik mampu memberikan pengaruh pada perilaku karyawan
dan memahami perilaku setiap sumber daya manusia yang menjadi karyawan
diperusahaan yang dipimpinnya untuk membuat karyawan konsisten dalam target
dan pencapaian kerja perusahaan karena produktivitas hasil akhir dari perilaku tiap
karyawan. Dengan hal tersebut, memotivasi karyawan dalam perusahaan
merupakan faktor penting untuk mencapai tujuan perusahaan

Indikator Stres Kerja


Amalia (2016) Susilo dan Wahyudin (2020) mengungkapkan bahwa
indikator stres kerja terbagi menjadi lima, yakni:

  1. Tuntutan tugas, yaitu kondisi kerja dan tata letak kerja yang merupakan faktor
    yang berhubungan dengan pekerjaan seseorang.
  2. Tuntutan peran, yaitu fungsi yang dimainkan oleh organisasi dalam peran
    tertentu yang berhubungan dengan tekanan yang diberikan oleh seseorang.
  3. Tuntutan antar pribadi, yaitu tuntutan yang dibuat oleh karyawan lain
  4. Struktur organisasi, yaitu ketidakjelasan jabatan, tanggung jawab, peran dan
    wewenang yang ada dalam perusahaan/organisasi.
  5. Kepemimpinan organisasi, yaitu gaya manajemen pada organisasi ditentukan
    oleh kepemimpinan organisasi yang didalamnya ada berbagai pihak yang
    membuat kondisi organisasi menjadi ketakutan, kecemasan dan ketegangan

Cara Mengatasi Stres Kerja


Sinambela (2016) mengungkapkan bahwa stres dan bentuk reaksinya dapat
diatasi melalui tiga pola, yakni:

  1. Pola sehat adalah kemampuan mengelola perilaku dan tindakan yaitu pola
    terbaik untuk menghadapi stres, sehingga tidak menimbulkan gangguan bahkan
    menjadi lebih sehat dan berkembang. Seseorang yang mampu mengelola waktu
    dan kesibukannya dengan cara yang baik dan teratur, maka individu tersebut
    tidak merasa tertekan akan suatu hal meskipun tantangan dan tekanan cukup
    banyak.
  2. Pola harmonis, yaitu kemampuan mengelola waktu dan kegiatan untuk
    menghadapi stres secara harmonis dan tidak menimbulkan berbagai gangguan.
    Dalam pola ini, berbagai tantangan dan kesibukan seseorang dapat
    mengendalikannya dengan cara mengatur waktu dengan baik dan mengerjakan
    tugas secara tepat, dan bila perlu mempercayakan dengan penuh tugas-tugas
    kepada orang lain. Dengan hal tersebut, keseimbangan dan keharmonisan dapat
    terjadi antara tekanan yang diterima dan reaksi yang diberikan.
  3. Pola patalogis, yaitu pola menghadapi stres dengan dampak berbagai gangguan
    fisik maupun sosial-psikologis. Dalam pola ini, seseorang akan menghadapi
    tantangan tanpa memiliki kemampuan dan keseimbangan dalam mengatur
    waktu dan tugas. Cara ini dapat membuat reaksi-reaksi yang berbahaya karena
    dapat menimbulkan berbagai masalah yang buruk

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Stres Kerja


Umam (2012) Asih et al., (2018) faktor yang memengaruhi stres kerja
diantaranya:

  1. Stressor kondisi pekerjaan
    Meliputi jadwal pekerjaan, bahaya fisik, beban kerja yang berlebihan, keputusan
    yang dibuat tiap individu.
  2. Stressor stres peran
    Seperti adanya bias dalam membedakan gender dan stereotip peran gender;
    pelecehan seksual, tidak adanya kejelasan dalam peran.
  3. Stressor perkembangan karir
    Meliputi frustasi akibat berlebihan dalam mencapai sesuatu, keamanan dalam
    pekerjaan, melakukan promosi jabatan lebih rendah dari kemampuan tiap
    individu dan begitu pula melakukan promosi jabatan yang lebih tinggi dari
    kemampuan tiap individu.
  4. Stressor struktur organisasi
    Seperti ketidakseimbangan antara pengawasan dan pelatihan, struktur organisasi
    yang tidak bersahabat dan kaku, pertarungan politik, tidak adanya keterlibatan
    dalam melakukan keputusan.
  5. Stressor tampilan rumah pekerjaan
    Meliputi stres akibat memiliki dua pekerjaan, mencampuri urusan pekerjaan
    dengan masalah pribadi, permasalahan dalam rumah tangga, kurangnya support
    dari pasangan hidup

Gejala – Gejala Stres Kerja


Asih et al., (2018) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa gejala stres,
diantaranya:

  1. Gejala Fisiologis
    Gejala stress yang membuat metabolisme seseorang mengalami perubahan, sakit
    kepala, meningkatnya pernapasan, fungsi jantung dan meningkatnya tekanan
    darah serta menimbulkan serangan jantung.
  2. Gejala Psikologis
    Stres muncul dari dirinya sendiri, misalnya kecemasan, ketegangan, bosan,
    perilaku setelah marah dan penundaan.
  3. Gejala Perilaku
    Gejala stres yang berkaitan dengan perilaku seseorang, seperti menurunnya
    produktivitas, tingkat perputaran karyawan dan menurunnya ketidakhadiran,
    serta perubahan pada kebiasaan makan, peningkatan konsumsi alkohol atau
    merokok, gangguan tidur, pidato yang cepat dan gelisah

Jenis – Jenis Stres


Dewi (2012) Asih et al., (2018) mengungkapkan bahwa terdapat empat jenis
stres, yaitu:

  1. Eustress (good stres)
    Merupakan stres yang menimbulkan semangat sehingga memiliki manfaat bagi
    seseorang yang mengalaminya, misalnya tanggung jawab dan tugas-tugas yang
    meningkat serta tekanan waktu.
  2. Distress
    Yaitu stres yang menimbulkan bahaya bagi seseorang yang mengalaminya,
    misalnya tuntutan yang berlebihan atau tidak menyenangkan sehingga dapat
    menguras energi seseorang dan mudah jatuh sakit.
  3. Hyperstress
    Merupakan stres yang dapat bersifat positif atau negatif dan membuat seseorang
    dalam kemampuan adaptasinya menjadi terbatas, serta berdampak luar biasa
    bagi yang merasakannya, misalnya stres karena serangan teroris
  4. Hypostress
    Yaitu stres yang terbentuk akibat kurangnya stimulasi, misalnya stres karena
    bosan dan pekerjaan yang dilakukan setiap hari

Stres Kerja


Sinambela (2016) mengungkapkan bahwa stres kerja merupakan keadaan
dimana seorang karyawan mengalami tekanan dalam mengerjakan pekerjaan. Stres
kerja terlihat dari penampilan seseorang, diantaranya emosi yang tidak stabil, sikap
yang suka menyendiri, perasaan cemas, panik, gelisah, merokok yang berlebihan,
tekanan darah meninggi, bermasalahnya pencernaan. Penyebab stres kerja yaitu
beban kerja yang berlebihan, lingkungan kerja yang tidak sehat, waktu kerja yang
mendesak, rendahnya kualitas pengawasan kerja, kualitas pengawasan kerja yang
rendah, tidak memadainya otoritas kerja yang berkaitan dengan konflik, tanggung
jawab dan karyawan dan pemimpin yang frustasi karena perbedaan.
Asih et al., (2018) mengungkapkan bahwa stres terjadi karena tidak
seimbangnya tuntutan dan sumber daya yang dimiliki seseorang, semakin tinggi
ketidakseimbangan maka semakin meningkat stres yang dialami seseorang. Stres
kerja merupakan keadaan seseorang yang berhubungan dengan pekerjaan dengan
mengalami suatu kondisi berupa ketegangan sehingga menimbulkan
ketidakseimbangan fisik dan psikis yang mempengaruhi emosi, kondisi dan proses
berpikir karyawan

Strategi untuk Menciptakan Keseimbangan Kehidupan Kerja (WorkLife Balance) Bagi Karyawan


Singh dan Khanna (2011) Riadi (2017) mengungkapkan bahwa untuk
menciptakan work-life balance bagi karyawan terdapat sepuluh strategi yang
dilakukan perusahaan, yakni sebagai berikut:
1 Menyediakan susunan waktu yang fleksibel dan dikonsultasikan kepada seluruh
karyawan.
2 Menyediakan lebih banyak kerja paruh waktu dengan shift yang lebih sedikit.
3 Mengurangi waktu kerja yang karyawan yang berlebihan.
4 Meningkatkan akses fasilitas pengasuhan anak di kantor untuk yang
membutuhkan fasilitas tersebut.
5 Menyediakan fleksibilitas yang lebih baik untuk menyesuaikan kondisi
karyawan dalam susunan pekerjaan, termasuk dalam penyediaan waktu penuh
bagi anggota keluarga tiap karyawan.
6 Mengizinkan karyawan untuk mengambil cuti dalam waktu harian.
7 Menyediakan mobilitas yang lebih baik agar karyawan berpindah dari rumah
sakit, tempat kerja dan layanan kesehatan untuk menemukan susunan pekerjaan
yang lebih tepat.
8 Meninggikan keamanan, kesejahteraan serta rasa hormat untuk karyawan di
tempat kerja.
9 Memastikan karyawan mendapat akses telepon, menghubungi dan menerima
telepon atau pesan mendesak dari keluarga selama jam kerja

Peran Serta Individu dan Organisasi dalam Menerapkan Work LifeBalance


Nurhabiba (2020) mengungkapkan bahwa work life balance penting untuk
diterapkan dan hal tersebut tentunya tidak lepas dari peran serta individu dan
organisasi. Peran serta individu dalam menerapkan work life balance diantaranya
yaitu:

  1. Kemampuan dalam mengelola manajemen waktu
  2. Kemampuan untuk mengelola stres
  3. Kemampuan karyawan untuk relaksasi.
    Sedangkan peran serta organisasi dalam mendukung work life balance dapat
    dilakukan dengan cara:
  4. Melibatkan para pekerja dalam kegiatan yang menyenangkan
  5. Penerapan waktu yang ketat mengenai pulang kantor
  6. Menghadirkan motivator agar para karyawan bisa semangat kembali dalam
    bekerja

Manfaat Program Work Life Balance


Nurhabiba (2020) mengungkapkan bahwa dalam program work life balance,
terdapat beberapa manfaat bagi perusahaan menurut para ahli yakni sebagai berikut:

  1. Adanya loyalitas dan komitmen karyawan
    Seorang karyawan akan merasa diperhatikan dan merasa nyaman sehingga
    timbulnya loyalitas serta komitmen untuk berusaha yang terbaik demi
    kepentingan perusahaan.
  2. Meningkatkan produktivitas karyawan
    Dengan adanya work life balance, karyawan menjadi lebih bahagia sehingga
    karyawan menjadi lebih produktif serta dapat melakukan tugas, tanggung jawab
    yang lebih baik.
  3. Mengurangi tingkat keterlambatan dan ketidakhadiran
    Beban kerja dan waktu kerja yang tidak berlebihan membuat karyawan tidak
    terlalu lelah, kesehatan fisik dan mental yang baik dan waktu yang diperlukan
    untuk beristirahat cukup. Sehingga terhindarnya keterlambatan dan
    ketidakhadiran.
  4. Berkurangnya turnover karyawan.
    Karyawan akan lebih bersemangat dan bertahan dengan pekerjaannya karena
    merasa puas dalam bekerja, beban pekerjaan yang tidak terlalu berat, waktu kerja
    yang efisien dan perusahaan peduli dengan kesehatan karyawannya.
    Sedangkan bagi karyawan, manfaat program work-life balance yaitu sebagai
    berikut:
  5. Meningginya keamanan kerja (jobsecurity)
    Karyawan akan mempertahankan pekerjaanya karena program work life balance
    membuat karyawan merasa aman dengan pekerjaannya, sehingga karyawan
    akan lebih produktif dan menguntungkan perusahaan.
  6. Meningkatnya kepuasan kerja karyawan
    Karyawan akan mendapatkan kualitas kehidupan yang baik karena program
    work life balance menciptakan fisik dan mental yang sehat, menikmati hidup,
    serta karyawan tidak menghabiskan waktu untuk pekerjaannya saja, tetapi
    mempunyai waktu luang diluar pekerjaannya (Rondonuwu et al., 2018).
  7. Berkurangnya tingkat stres kerja karyawan
    Mengorganisir waktu kerja yang tepat serta beban pekerjaan yang tidak
    berlebihan membuat karyawan lebih rileks menjalani aktivitas didalam
    pekerjaan maupun luar pekerjaannya.
  8. Meningkatkan kontrol terhadap work-life environment
    Work environment yang baik dapat tercipta dengan menerapkan work life
    balance. Perusahaan harus menerapkan lingkungan yang sehat sehingga
    karyawan nyaman dan produktifitas juga akan meningkat (LinovHR, 2021).
  9. Semakin meningkatnya kesehatan fisik dan mental
    Karyawan mempunyai waktu luang untuk beristirahat, berolahraga, bersantai
    maupun berkumpul bersama teman dan keluarga

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Work Life Balance


Populix (2021) mengungkapkan bahwa terdapat 4 faktor yang
mempengaruhi work life balance, yaitu sebagai berikut:

  1. Sikap
    Sikap yaitu bentuk evaluasi di berbagai aspek dalam dunia sosial. Tiap individu
    memiliki sifat yang berbeda seperti perasaaan, kecenderungan bertindak dan
    pengetahuan.
  2. Karakteristik kepribadian
    Karakteristik kepribadian dapat berpengaruh terhadap aktivitas karir. Seseorang
    yang memiliki semangat tinggi dalam bekerja dapat memberikan dampak positif
    daripada seseorang yang selalu melihat dirinya tidak mampu dan merasa rendah
    diri.
  3. Karakteristik keluarga
    Latar belakang keluarga juga dapat berpengaruh terhadap keseimbangan hidup
    seseorang. Ada atau tidaknya konflik menjadi faktor yang berdampak terhadap
    karir seseorang.
  4. Karakteristik pekerjaan
    Karakteristik pekerjaan tiap individu menjadi faktor yang mempengaruhi work
    life balance, seperti pola kerja, beban kerja dan waktu yang dipakai untuk
    bekerja. Ketiga faktor tersebut menjadi penyebab adanya konflik

Work Life Balance


Hutcheson (2012) mengungkapkan bahwa work life balance atau
keseimbangan kehidupan kerja adalah keadaan kendali, pencapaian, dan kepuasan
dalam hidup seseorang. Dalam hal ini berarti setiap individu memiliki perasaan
untuk mampu membuat pilihan yang sesuai dengan dirinya, mengingat situasi dan
tujuannya. Setiap individu menyelaraskan pilihannya dengan hal-hal yang penting
bagi kehidupannya, sehingga dapat menikmati rasa puas dari pilihan yang telah
dibuat. Keseimbangan kehidupan kerja mencakup lebih dari waktu. Ini termasuk
perasaan senang tentang tingkat keterlibatan seseorang dalam peran pekerjaan dan
non pekerjaan.
Mardiani dan Widiyanto (2021) mengungkapkan bahwa work life balance
adalah suatu keseimbangan antara kehidupan pekerjaan atau karir, keluarga, dan
tanggung jawab lainnya yang dimana tiap individu harus membagi dan mengatur
hal tersebut, sehingga tidak adanya konflik antara kehidupan pribadi dalam
pekerjaan maupun kehidupan keluarga. Fleksibilitas, waktu kerja, keluarga, waktu
luang, demografi, kesejahteraan, migrasi secara luas memiliki keterkaitan dengan
work life balance. Rendahnya kebahagiaan, kepuasan kerja, burnout, dan konflik
kehidupan kerja pada karyawan merupakan akibat dari tidak tercapainya work life
balance

Karakteristik Profesionalisme


Martin (dalam Kurniawan:2005) mengatakan bahwa karakteristik
profesionalisme aparatur sesuai dengan tuntuntan good governance, yaitu
diantaranya :

  1. Equality
    Equality atau kesamaan dan kesetaraan merupakan suatu perlakuan yang sama
    atas pelayanan yang diberikan dan secara konsisten memberikan pelayanan
    yang berkualitas kepada semua pihak.
  2. Equity
    Equity yaitu bersikap adil kepada seluruh pihak.
  3. Loyality
    Merupakan sebuah kesetiaan yang diberikan kepada konstitusi hukum,
    pimpinan, bawahan, dan sesama rekan kerja.
  4. Accountability
    Setiap aparat pemerintah harus siap menerima tanggung jawab atas apa yang
    dikerjakan. Setiap pegawai harus memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip
    yang ditetapkan institusi.

Istilah Yang Berkaitan Dengan Profesi


Sanusi (dalam Saud 2017) menjelaskan lima konsep yang berhubungan
dengan profesi sebagai berikut:

  1. Profesi
    Merupakan sebuah jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para
    anggotanya. Keahlian yang diperoleh melalui proses profesionalisasi yang
    dilakukan baik sebelum seseorang menjalani profesi maupun setelah menjalani
    profesi.
  2. Profesional
    Profesional menunjuk pada dua hal yaitu sebagai seseorang yang menyandang
    suatu profesi atau seseorang yang melakukan pekerjaan yang sesuai dengan
    profesinya.
  3. Profesionalisme
    Profesionalisme menunjuk kepada komitmen para anggota suatu profesi untuk
    meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan
    strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai
    dengan profesinya.
  4. Profesionalitas
    Profesionalitas mengacu kepada sikap para anggota profesi terhadap profesinya
    serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam rangka
    melakukan pekerjaanya.
  5. Profesionalisasi
    Profesionalisasi menunjuk pada sebuah proses peningkatan kualifikasi maupun
    kemampuan para anggota profesi dalam mencapai kriteria yang standar dalam
    penampilannya sebagai anggota suatu profesi. Profesionalisasi merupakan
    sebuah serangkaian proses pengembangan professional baik dilakukan melalui
    pendidikan atau pelatihan prajabatan maupun dalam jabatan yang bersifat lifelong dan never ending secepat seseorang telah menyatakan diri sebagai suatu
    profesi.
    Begitu pula dengan Saud (2017) menjelaskan tiga istilah mengenai profesi
    sebagai berikut:
  6. Profesi
    Profesi merupakan sebuah pekerjaan tertentu yang menuntut persyaratan
    khusus dan istimewa sehingga meyakinkan dan memperoleh kepercayaan pihak
    yang memerlukan.
  7. Profesional
    Profesional menunjuk pada proses seseorang sebagai professional melalui
    pendidikan. Proses pendidikan dan latihan untuk menjadi seorang professional
    biasanya bersifat lama dan intensif.
  8. Profesionalisme
    Meunjuk pada derajat penampilan seseorang sebagai professional atau
    penampilan suatu pekerjaan sebagai profesi. Profesional juga mengacu kepada
    sikap dan komitmen para anggota profesi untuk bekerja sesuai standar yang
    tinggi dank ode etik profesinya

Pengertian Profesional


Profesional berasal dari kata profesi merupakan suatu bidang pekerjaan
yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang (Kunandar:2007) sesuai dengan
keahliannya (Firdaus:2018). Saud (2017) mengungkapkan hal yang sama bahwa
profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut sebuah
keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan terhadap profesi.
Sedangkan Keraf (1998) merumuskan profesi sebagai pekerjaan yang
dilakukan sebagai nafkah hidup dengan mengandalkan keahlian dan keterampilan
yang tinggi dan dengan melibatkan komitmen pribadi (moral) yang mendalam
sehinggal dapat diartikan orang yang professional adalah seseorang yang
melakukan suatu pekerjaan karena ahli di bidang tersebut dan meluangkan seluruh
waktu, tenaga, dan perhatiannya untuk pekerjaan tersebut.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) profesi merupakan bidang
pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian seperti keterampilan dan kejuruan
tertentu. Sedangkan profesional memiliki arti harus bersangkutan dengan profesi,
memerlukan kepandaian khusus untuk mengerjakannya, dan mengharuskan adanya
pembayaran untuk melakukannya.
Nana Sudjana (1988) menjelaskan bahwa pekerjaan yang bersifat
professional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang
khusus dipersiapkan untuk pekerjaan tersebut dan bukan pekerjaan yang dilakukan
oleh orang-orang yang melakukan pekerjaan karena tidak mendapatkan pekerjaan
lain (dalam Usman,2005)

Mengukur Employee Engagement


Bakker dan Schaufeli (2004) menjelaskan mengenai tiga dimensi yang
digunakan dalam pengukuran Etrecht Work Engagement Scale (UWES), yaitu
vigor, dedication, dan absorption:

  1. Vigor
    Vigor merupakan karakteristik yang ditandai oleh tingginya tingkat energi dan
    ketangguhan mental saat bekerja, serta adanya keinginan untuk berusaha keras
    dalam pekerjaan, tidak mudah lelah, dan selalu tekun bahkan saat dalam
    menghadapi kesulitan.
  2. Dedication
    Dedication merupakan sebuah karakteristik yang didasarkan pada rasa
    signifikansi atas sebuah tugas dengan merasakan antusias dan bangga terhadap
    sebuah pekerjaan dan merasa terinspirasi dan ditantang oleh pekerjaan tersebut.
  3. Absoption
    Absorption merupakan karakteristik yang ditandai dengan secara total dan
    dengan senang hati terlibat secara mendalam pada suatu pekerjaan.

Mengukur Employee Engagement


Bakker dan Schaufeli (2004) menjelaskan mengenai tiga dimensi yang
digunakan dalam pengukuran Etrecht Work Engagement Scale (UWES), yaitu
vigor, dedication, dan absorption:

  1. Vigor
    Vigor merupakan karakteristik yang ditandai oleh tingginya tingkat energi dan
    ketangguhan mental saat bekerja, serta adanya keinginan untuk berusaha keras
    dalam pekerjaan, tidak mudah lelah, dan selalu tekun bahkan saat dalam
    menghadapi kesulitan.
  2. Dedication
    Dedication merupakan sebuah karakteristik yang didasarkan pada rasa
    signifikansi atas sebuah tugas dengan merasakan antusias dan bangga terhadap
    sebuah pekerjaan dan merasa terinspirasi dan ditantang oleh pekerjaan tersebut.
  3. Absoption
    Absorption merupakan karakteristik yang ditandai dengan secara total dan
    dengan senang hati terlibat secara mendalam pada suatu pekerjaan.

Cara Meningkatkan Employee Engagement
Baumruk (2006) menjelaskan lima cara untuk mendapatkan karyawan yang
memiliki tingkat employee engagement, yaitu dengan memberikan pelatihan dan
dan dukungan karir kepada karyawan, pengakuan, akuntabilitas, keterlibatan, dan
komunikasi yang baik antar karyawan dan atasan.
Markos dan Sridevi (2010) menjelaskan beberapa strategi yang dapat
dilakukan oleh perusahaan untuk meningkatkan employee engagement diantaranya:

  1. Mulailah dari hari pertama
    Dalam orientasi kerja setiap karyawan baru harus dikenalkan dengan
    perusahaan secara umum termasuk untuk mengenal visi, misi, kebijakan, dan
    prosedur serta gambaran kerja seperti tugas, tanggung jawab, tujuan, dan
    prioritas departemen tempat karyawan baru bekerja.
  2. Mulailah dari atas
    Komitmen pimpinan untuk membuat visi, misi, dan nilai perusahaan yang jelas
    sangatlah diperlukan untuk meningkatkan employee engagement.tanpa adanya
    komitmen pimpinan maka employee engagement tidak akan tercapai.
  3. Komunikasi dua arah
    Komunikasi harus terjalin antara atasan dan bawahan sehingga bawahan juga
    memiliki peluang untuk berpendapat. Komunikasi harus terjalin secara jelas dan
    konsisten. Melibatkan bawahan dan pengambilan keputusan akan
    meningkatkan rasa memiliki perusahaan dan meningkatkan employee
    engagement.
  4. Memberikan peluang yang memuaskan untuk pengembangan dan kemajuan
    Memberikan otonami pekerjaan yang lebih baik bagi karyawan membuat
    karyawan memiliki kebebasan untuk memilih cara sendiri untuk melakukan
    pekerjaan yang diharapkan oleh perusahaan.
  5. Memenuhi apa yang dibutuhkan karyawan dalam pekerjaan
    Pemenuhan kebutuhan karyawan berupa sumber daya seperti sumber daya fisik
    maupun material, finansial, dan informasi agar dapat melakukan pekerjaan
    secara efektif dan efisien.
  6. Memberikan pelatihan yang memadai
    Memberikan pelatihan guna untuk meningkatkan pengetahuan serta keahlian
    karyawan. Kepercayaan diri karyawan akan meningkat ketika karyawan tidak
    harus dipandu dalam mengerjakan pekerjannya sehingga dapat meningkatkan
    komitmen.
  7. Memberikan masukan yang kuat
    Melakukan penelitian secara berkala mengenai employee engagement untuk
    mencari tahu faktor apa saja yang membuat employee engagement pada
    perusahaan. Setelah itu mengelompokan faktor tersebut sehingg diketahui
    faktor pendorong maupun faktor yang sulit diraih dan kemudian di kembangkan
    secara spesifik, dapat diukur, dan dapat dipertanggung jawabkan.
  8. Memberikan intensif
    Pemberian gaji yang lebih baik, pengakuan, serta penghargaan atas pekerjaan
    yang dilakukan akan membuat karyawan semakin memberikan upaya lebih
    dalam menyelesaikan pekerjaanya.
  9. Membangun perusahaan yang baik dan kuat
    Membangun budaya yang kuat pada karyawan tidak hanya akan meningkatkan
    employee engagement tetapi juga membuat karyawan baru paham akan
    semangat budaya organisasi yang terus dipelihara.
  10. Fokus pada karyawan yang memiliki kinerja terbaik
    Organisasi dengan kinerja yang baik fokus pada karyawan yang juga memiliki
    kinerja terbaik. Hal ini akan mengurangi presentase pengunduran diri karyawan
    yang memiliki kinerja terbaik

Faktor Pendorong Employee Engagement


Banyak pendapat ahli mencoba mengidentifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan employee engagement. Dalam penelitian yang dilakukan oleh DDI
(2005), mengatakan ada tiga faktor yang harus diperhatikan untuk membuat
employee engagement yaitu the right man on the right place, exeptional leadership,
dan organizational system and strategis. Dalam upaya membangun karyawan yang
engagement, perusahaan atau organisasi harus selektif dan mempekerjakan
karyawan yang sesuai dengan persyaratan kerja, mengembangkan karyawan
dengan keterampilan yang tepat, dan memberikan dukungan system dan strategi
yang kuat. Selain itu faktor lingkungan kerja juga dapat menyebabkan engagement
sehingga menimbulkan kepuasan yang tinggi pula kepada karyawan, faktor-faktor
tersebut diantaranya adalah :

  1. Align Effort With Strategy
    Align effort with strategy atau menyelaraskan pengembangan dengan strategi
    dapat dimulai dengan memberikan pemahaman yang jelas kepada karyawan
    tentang apa yang dikerjakan. Karyawan membutuhkan deskripsi pekerjaan yang
    jelas dan yang lebih penting karyawan harus memiliki pemahaman mengenai
    tujuan pribadi yang berhubungan langsung dengan tujuan perusahaan.
    Membangun usaha dengan pengembangan strategi membutuhkan komunikasi
    yang baik antar karyawan dan atasan. Serta karyawan harus terus mengikuti
    informasi agar karyawan tidak keluar jalur dan sejalan dengan perusahaan.
  2. Empowerment
    Empowerment atau pemberdayaan merupakan perasaan dimana karyawan
    diberikan kebebasan untuk menentukan atau mengambil keputusan dalam
    menyelesaikan pekerjaanya. Pemberdayaan karyawan yang dilakukan oleh
    pimpinan yaitu dengan memberikan kepercayaan kepada karyawan dan
    memberikan kesempatan untuk membuat keputusan untuk menyelesaikan tugas
    yang dilakukan.
  3. Teamwork and Collaboration
    Kerjasama merupakan hal terpenting dalam suatu organisasi. Kerjasama ini
    dapat meliputi kerjasama tim atau kerjasama antar tim. Dengan kerjasama dan
    kolaborasi, penyelesaian pekerjaan akan menjadi lebih mudah dan menjadi
    lebih efektif. Kerjasama membutuhkan hubungan yang baik dari semua pihak
    dan berkolaborasi untuk menyatukan upaya dan tujuan bersama (tujuan atau visi
    dan misi perusahaan).
  4. Growth and Development
    Growth and Development atau pertumbuhan dan pengembangan organisasi
    dapat membuat engagement pada lingkungan kerja dengan mempelajari budaya
    dan memberikan perencanaan karir yang lebih jelas kepada setiap individu.
    Organisasi harus memilih karyawan yang memiliki kemauan belajar, kesediaan
    untuk berkembang dan mempromosikan karyawan yang berprestasi.
    Selanjutnya pemimpin harus mengerti mengenai manajemen kebutuhan,
    memberikan kesempatan untuk membangun keterampilan dan pengetahuan,
    dan juga memberikan perencanaan dan peluang pengembangan seperti
    pelatihan-pelatihan kepada karyawan.
  5. Support and Recognition
    Support and recognition atau dukungan dan pengakuan dapat dirasakan ketika
    ide dan karyawan dihargai atau didengarkan oleh sesame karyawan atau atasan.
    Dukungan dan pengakuan atas kontribusi yang telah dilakukan juga dapat
    mempengaruhi tingkat engagement. Dukungan serta pengakuan dapat
    menciptakan lingkungan yang semakin menarik.
    Menurut Gallup, Tower Perrin, Blessing White, dan The Corporate
    Leadership Council (dalam Asian Journal of Management Research:2010)
    menyebutkan delapan kunci employee engagement, yaitu:
  6. Kepercayaan dan integrasi. Manajer harus berkomunikasi dengan baik dan
    dengan menggunakan kata-kata mereka.
  7. Sifat pekerjaan. Karyawan harus mencari pekerjaan yang cukup menantang
    untuk mereka agar dapat memotivasi diri sendiri.
  8. Meninjau hubungan antara kinerja karyawan dan kinerja perusahaan. Karyawan
    harus memiliki pemahaman yang jelas tentang bagaimana mereka berkontribusi
    pada kinerja perusahaan.
  9. Peluang pertumbuhan karir. Karyawan harus memiliki jalur karir yang jelas
    untuk tumbuh.
  10. Kebanggaan tentang perusahaan. Karyawan harus merasa dihargai oleh
    keterikatan dengan organisasi.
  11. Rekan kerja atau anggota tim. Hubungan dengan rekan kerja secara signifikan
    meningkatkan tingkat employee engagement.
  12. Pembangunan karyawan. Organisasi harus mengambil langkah yang diperlukan
    untuk mengembangkan pengetahuan dan keterimpalan dan sikap karyawan.
  13. Hubungan dengan atasan. Karyawan harus nyaman dengan atasan dan nilai
    hubungan.
    Berikut adalah penggerak utama employee engagement yang dikemukakan
    oleh Schiemann (2011) ke dalam tiga dimensi, yaitu:
  14. Kepuasan
    Hal-hal yang mendorong adanya kepuasan untuk menggerakkan adanya
    employee engagement diantaranya adalah:
    ď‚· Jaminan pekerjaan, misalnya keamanan kerja atau jarring keamanan
    finansial berbentuk benefit atau kompensasi terhadap karyawan, karena
    permasalahan jaminan pekerjaan merupakan hal yang sering dikhawatirkan.
    ď‚· Masalah keadilan, perlakuan yang adil berdasarkan literature keadilan
    organisasi dan prosedur, mencakup masalah persamaan gaji ataupromosi.
    ď‚· Kompensasi yang cukup, berbentuk gaji, benefit atau penghasilan tambahan
    lainnya yang memungkinkan karyawan memenuhi standar hidup yang
    diinginkan
    ď‚· Perlakuan hormat dan martabat, merupakan salah satu elemen kepuasan
    terkuat terhadap supervisior dan perusahaan, dan biasanya merupakan
    predictor kuat atas hasil-hasil lainnya seperti pergantian karyawan.
    ď‚· Faktor-faktor yang berhubungan dengan stres, seperti permasalahan
    menyeimbangkan pekerjaan dengan tuntutan keluarga, pekerjaan yang
    berlebihan, standar yang tidak realistis, dan konflik kerja yang jelas
    menyebabkan kepuasan yang rendah. Pada sisi lain stress dapat menjadi
    terlalu rendah.
  15. Komitmen
    Komitmen merupakan hal yang sering kali mendorong adanya keterikatan,
    adapun hal-hal yang mendorong terciptanya komitmen untuk menggerakkan
    adanya employee engagement antara lain sebagai berikut:
    ď‚· Masalah timbal balik, hal ini mencakup tidak hanya hal-hal mendasar
    seperti gaji atau benefit yang menarik tetapi juga pengembangan
    keterampilan terhadap karyawan, budaya inovatif, atau sumber daya
    tertentu yang memungkinkan karyawan untuk berkembang.
    ď‚· Pekerjaan yang menarik, ada banyak jenis pekerjaan yang menghubungkan
    rancangan kerja dan komitmen perusahaan. Pekerjaan-pekerjaan dengan
    tugas intens cenderung meningkatkan komitmen, akan tetapi berdasarkan
    sejumlah studi, beberapa individu tidak menginginkan pekerjaan dengan
    individu bisa jadi lebih penting untuk mendapatkan komitmen karyawan.
    ď‚· Mengenal misi dan nilai perusahaan, karyawan cenderung lebih termotivasi
    ketika mereka berkomitmen terhadap misi dan tujuan organisasi
    keseluruhan. Seringkali itulah sebabnya mengapa organisasi nirlaba bisa
    mendapatkan orang-orang yang sangat tinggi keterikatannya dengan
    kompensasi yang relative kecil. Mereka disemangati oleh misi itu sendiri,
    mereka mungkin juga mengenal atasan atau rekan kerja mereka.
    ď‚· Komitmen kepada rekan kerja, perusahaan Gallup dan yang lainnya telah
    menggambarkan pentingnya memiliki teman di tempat kerja. Menjalin
    hubungan akrab di tempat kerja dapat memperkuat pengaruh terhadap
    keputusan yang berhubungan dengan perilaku yang dianjurkan atau
    dilarang.
    ď‚· Kepemimpinan yang menginspirasi, kebanyakan para karyawan ingin
    berkomitmen terharap sesuatu yang muliah terhormat dan percaya bahwa
    pemimpin mereka dapat membawa kea rah itu.
  16. Advokasi dan usaha ekstra
    ď‚· Perkembangan dan pertumbuhan pribadi, menyediakan kesempatan untuk
    tumbuh dan berkembang kepada karyawan dapat membuat perbedaan besar
    dalam memelihara talenta terbaik.
    ď‚· Pengakuan, pengakuan merupakan salah satu hal yang dinilai penting oleh
    karyawan, karena pengakuan dapat menjadi penggerak motivasi dan
    pemberi semangat karyawan beberapa karyawan termotivasi oleh
    pengakuan tim, sedangkan yang lainnya mencari dan berjuang bagi
    pengakuan individu.
    ď‚· Keterlibatan dan peran identifikasi yang jelas, banyak penelitian yang
    menemukan bahwa orang lebih berkomitmen terhadap sesuatu yang mereka
    terlibat di dalamnya.
    ď‚· Supervisior, para supervisior dapat menjadi inspirasi kuat yang
    menimbulkan advokasi oleh karyawan. Mereka memainkan peranan
    penting dalam banyak wilayah keterikatan. Ketika menanyakan kepada
    karyawan mengenai keteladanan kepemimpinan, banyak yang berbicara
    tentang bagaimana mereka diperlakukan secara individual. Perlakuan
    individual adalah ketika manajer mampu berhubungan dengan karyawan
    secara personal, memahami kebutuhan, harapan, dan ketakutan karyawan
    serta mampu membantu karyawan menuju jalan kesuksesan.
    ď‚· Pengalaman sukses, memiliki pengalaman sukses dengan pelanggan, teman
    kerja, pemangku internal, atau pengalaman tonggak perjalanan tim dapat
    menciptakan pembela atau pemberi rekomendasi yang lebih kuat, puncak
    dari piramida

Tipe Karyawan Berdasarkan Employee Engagement


Seseorang yang memiliki rasa employee engagement akan merasa loyal dan
peduli dengan masa depan organisasi dan akan melakukan usaha yang lebih untuk
mencapai usahanya tersebut (Schiemann:2011). Employee engagement dapat
dicirikan oleh kehadiran karyawan di tempat kerja, penuh dengan rasa tanggung
jawab, hubungan antara pimpinan dengan karyawan dan konsentrasi pimpinan
kepada karyawan fokus untuk meningkatkan performa organisasi (Kazimoto:2016).
Menurut Finney (2010) karyawan yang memiliki rasa engagement memiliki ciriciri sebagai berikut :

  1. Karyawan yang memiliki keterikatan mempercayai misi organisasi mereka
  2. Menyenangi pekerjaan mereka dan memahami kontribusi pekerjaan mereka
    pada tujuan yang lebih besar.
  3. Tidak memerlukan pendisiplinan, mereka hanya memerlukan kejelasan,
    komunikasi, dan konsistensi.
  4. Selalu meningkatkan kebenaran keterampilan mereka dengan sikap positif,
    focus, keinginan, antusiasme, kreativitas, dan daya tahan.
  5. Dapat dipercaya dan mempercayai karyawan lain, menghormati manajer, dan
    mengetahui bahwa manajer juga menghormati mereka.
  6. Selalu memberikan ide-ide baru dan hebat kepada perusahaan dan selalu
    memberikan usaha terbaik.
    Sedangkan Gallup (2004) dalam penelitiannya mengelompokan karyawan
    menjadi tiga bagian :
  7. Engaged
    Karyawan yang terikat adalah seoarang pembangun (builder). Mereka selalu
    menunjukan kinerja dengan level yang tinggi. Karyawan ini akan bersedia
    menggunakan bakat kekuatan mereka dalam bekerja setiap hari serta selalu
    bekerja dengan gairah dan selalu mengembangkan inovasi agar perusahaan
    berkembang.
  8. Not Engaged
    Karyawan dalam tipe ini cenderung fokus terhadap tugas dibandingkan untuk
    mencapai tujuan dari pekerjaan itu. Mereka selalu menunggu perintah dan
    cenderung merasa kontribusi mereka diabaikan.
  9. Actively Disangaged
    Karyawan tipe ini adalah penunggu gua “cave dweller”. Mereka semua
    konsisten dalam menunjukan perlawanan pada semua aspek. Mereka hanya
    melihat sisi negatif pada berbagai kesempatan dan setiap harinya. Tipe ini
    melemahkan apa yang dilakukan oleh pekerja yang terikat.
    Pada penelitian yang lain, Robinson (2004) menjelaskan ciri-ciri karyawan
    yang sudah memiliki rasa employee engagement, yaitu :
  10. Adanya rasa kepercayaan terhadap organisasi
  11. Adanya keinginan bekerja untuk membuat hal-hal yang lebih baik
  12. Memahami konteks bisnis dan gambaran yang lebih besar
  13. Menghormati dan membantu rekan kerja
  14. Kesediaan untuk bekerja ekstra dan dapat diandalkan
  15. Tetap mengikuti informasi perkembangan yang terjadi pada organisasi.
    Employee engagement memberikan motivasi yang baik untuk para
    karyawan kepada pekerjaan yang mereka lakukan dan meningkatkan komitmen
    kepada perusahaan. Namun hasil penelitian mengidentifikasi bahwa karyawan yang
    tidak terikat (disengaged) akan bersikap skeptis dan tidak adanya sikap inisiatif
    pada organisasi atau komunikasi bahkan akan bergerak kearah yang lebih negatif
    dan bisa mempengaruhi karyawan yang lain (Markos dan Sridevi:2008)

Definisi Employee Engagement


Employee engagement merupakan sebuah konsep pengembangan dari
teknik manajemen lama seperti Organizational Citizenship Behavior (OCB)
(Markos dan Sridevi :2010). Konsep ini dikenalkan pertama kali oleh Khan (1990)
yang mendifinisikan sebagai upaya dari anggota organisasi untuk mengikatkan diri
mereka dengan perannya di pekerjaan. Dalam kondisi seperti ini orang akan
melibatkan dan mengekspresikan dirinya secara fisik, kognitif, dan emosional.
Employee engagement atau rasa mengikat diri terhadap pekerjaan atau
organisasinya adalah hal yang sangat penting bagi organisasi dan menjadi faktor
penentu dibalik tinggi rendahnya kinerja bisnis suatu perusahaan yang merupakan
salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas dari talenta-talenta pada
organisasi (Baumruk:2006).
Development Dimention International (DDI:2005) mendefinisikan
employee engagement sebagai sejauh mana orang menikmati dan percaya dengan
apa yang mereka lakukan dan merasa dihargai untuk apa yang mereka lakukan.
Namun DDI juga mendefinisikan lain mengenai employee engagement, yaitu :

  1. Sejauh mana karyawan berkomitmen untuk sesuatu atau seseorang dalam
    organisasi, dan berapa lama mereka akan tetap tinggal dari hasil komitmen
    mereka.
  2. Karyawan yang loyal akan tetap melakukan pekerjaan melampaui tugas yang
    diberikan untuk memajukan kepentingan perusahan mereka.
  3. Employee engagement adalah dimana individu-individu secara emosional dan
    intelektual berkomitmen untuk organisasi seperti say, stay, dan strive
  4. Sejauh mana karyawan berusaha atau kesediaan karyawan untuk mengorbankan
    lebih untuk perusahaan seperti brain power, extra time, dan juga energi.
    Menurut Schiemann (2011), engagement merupakan kontributor penting
    dalam upaya mempertahankan karyawan, kinerja karyawan, dan kepuasan
    pelanggan. Ketika karyawan sudah merasa terikat, maka karyawan akan berusaha
    lebih untuk mewujudkan tujuan perusahaan dan salah satu bentuk tertinggi dari
    21
    employee engagement adalah berupa kerelaan karyawan untuk melakukan advokasi
    atas nama perusahaan yaitu kerelaan untuk mempromosikan perusahaan sebagai
    tempat bekerja, membeli, bahkan berinvestasi. Para karyawan yang memiliki
    tingkat employee engagement akan ikut berkontribusi lebih di dalam pekerjaan
    melebihi apa yang seharusnya mereka kerjakan (Jeske et.al:2017)
    Gallup (2004) menyebutkan bahwa karyawan yang terikat atau employee
    engagement sebagai orang-orang yang bekerja dengan penuh gairah dan merasakan
    hubungan yang mendalam dengan perusahaan. Begitu pula dengan Macey dan
    Schnieder (2008) yang mengatakan rasa employee engagement meliputi rasa
    antusiasme atau gairah dan komitmen yang membuat seseorang mampu
    menginvestasikan dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan sehingga
    dapat mendorong kesuksesan perusahaan. Hal ini sama dengan apa yang di
    ungkapkan oleh Robin dan Judge (2010) yang mendefinisikan bahwa employee
    engagement sebagai keterlibatan individu dengan kepuasan dan antusias atas
    pekerjaan yang mereka lakukan.
    Sedangkan Jeske et.al (2017) menyimpulkan bahwa emoloyee engagement
    memiliki beberapa tingkatan, yaitu individu, pekerjaan, dan organisasi.
    Dalam tingkatan yang paling rendah, keterlibatan karyawan mencerminkan
    sejauh mana karyawan dapat mengekspresikan diri dan memilih cara
    menyelesaikan pekerjaan mereka (Kahn:1990). Kemudian employee engagement
    mencerminkan keterlibatan dan kepuasan pada pekerjaan, khususnya pekerjaan
    yang mereka selesaikan (Harter et al:2002). Perasaan bermakna, keamanan, dan
    ketersediaan merupakan hal penting untuk mengerti mengapa seseorang akan
    terlibat pada pekerjaannya (Kahn:1990).
    Jeske et.al (2017) menjelaskan employee engagement menggambarkan
    keterikatan dengan pekerjaan, sehingga keterikatan tidak hanya dilihat dari
    pengalaman karyawan tetapi dilihat kaitannya dengan pekerjaan yang dimiliki oleh
    individu dan pada akhirnya pada tingkat organisasi engagement dapat ditafsirkan
    dalam kaitannya dengan keterlibatan karyawan dalam urusan dan prioritas dalam
    organisasi.
    Walaupun banyak pendapat mengenai employee engagement, berdasarkan
    uraian yang telah dipapatkan pada dasarnya employee engagement merupakan hasil
    dari emosional positif karyawan yang membuat karyawan memiliki rasa
    antusiasme dalam bekerja dan meningkatkan rasa keinginan untuk berkontribusi
    lebih dalam upaya memajukan organisasi perusahaan.

Cara Meningkatkan Worklife Balance


Meenakshi et.al (2013) menjelaskan bagaimana strategi untuk
meningkatkan worklife balance dan apa yang harus dilakukan oleh organisasi dan
karyawan, yaitu:
ď‚· Organisasi

  1. Memfasilitasi program pelatihan untuk meningkatkan skill supervisor untuk
    memanajemen masalah worklife balance. Program ini termasuk memberikan
    informasi mengenai keuntungan worklife balance dan kerja yang fleksibel,
    melakukan manajemen terhadap performa dan output karyawan yang memiliki
    pekerjaan fleksibel, membangun kepercaraan antara karyawan dan manajer, dan
    komunikasi yang baik antara karyawan dan manajer.
  2. Menyediakan pelatihan utnuk para manajer untuk merespon permintaan untuk
    pekerjaan yang fleksibel.
  3. Memiliki kebijakan dan prosedur yang terdefinisi dengan jelas untuk mengatur
    pekerjaan yang fleksibel
  4. Melakukan komunikasi dan berbagi pengalaman dan kisah sukses dalam
    organisasi untuk meningkatkan kepercayaan karyawan dan menumbuhkan
    sikap proaktif dalam mengelola worklife balance karyawan.
    ď‚· Karyawan
    a. Dalam aspek pekerjaan
  5. Menetapkan prioritas pekerjaan dan kehidupan pribadi agar dapat
    memanajemen waktu dengan baik.
  6. Segera menyelesaikan pekerjaan agar pekerjaan tidak menumpuk dan
    tidak menjadi beban yang berat untuk masa depan.
  7. Mengorganisir pekerjaan dengan baik.
  8. Tenang dalam menyelesaikan masalah agar mendapatkan solusi yang
    baik.
  9. Berhubungan baik dengan rekan kerja.
    b. Dalam kehidupan
  10. Memberi waktu untuk diri dan minat untuk memberikan penyegaran
    terhadap fisik dan mental.
  11. Karyawan yang bekerja di luar ruangan sebaiknya melakukan aktivitas
    di dalam ruangan seperti membaca buku atau permainan di dalam
    ruangan.
  12. Melakukan aktifitas olahraga ringan seperti jalan pagi atau sore hari.
  13. Memberikan waktu kepada keluarga dan teman serta bergabung
    kedalam komunitas.
  14. Melakukan beberapa kegiatan dengan keluarga
  15. Meningkatkan spiritualitas diri

Dampak Worklife Balance


Naithani (2010) menyebutkan beberapa keuntungan dari worklife balance
baik bagi perusahaan maupun karyawan diantaranya :

  1. Perusahaan
    Manfaat yang didapat dari worklife balance yaitu dapat mempertahankan
    karyawan yang berharga, memiliki motivasi dan karyawan yang produktif
    dengan memaksimalkan karyawan yang dimiliki. Selain itu worklife balance
    juga dapat mengurangi tingkat absensi karyawan. Dampak lain yang dirasakan
    yaitu dapat mengurangi beberapa biaya seperti biaya perekrutan karyawan baru
    dan biaya perawatan kesehatan.
  2. Karyawan
    Worklife balance memiliki dampak yang sangat besar untuk karyawan.
    Karyawan yang memiliki worklife balance yang tinggi akan memiliki
    kehidupan yang bahagia baik di tempat kerja maupun di rumah. Selain itu
    hubungan di tempat kerja akan menjadi lebih baik dan menjadi bagian dari
    tempat kerja yang mendukung serta adanya nilai dan kepercayaan diantara para
    staff. Memiliki waktu yang lebih banyak untuk kehidupan di luar pekerjaan
    karena memiliki control kehidupan yang baik serta peningkatan konsentrasi.
    Susi dan Jawaharrani (2011) mengatakan, hasil survey terhadap responden
    mengatakan bahwa worklife balance memiliki dua dampak yaitu:
  3. Dampak positif
    Dampak positif yang bisa di dapatkan dengan adanya worklife balance yaitu
    dapat memupuk hubungan karyawan yang baik, dapat lebih membantu
    karyawan wanita untuk bertahan dalam suatu organisasi, membantu
    mengurangi tingkat absesni, meningkatkan motivasi dan komitmen para
    karyawan, membantu mengurangi tingkat turnover, membantu meningkatkan
    produktifitas, dan dapat mengurangi tingkat rekrutmen.
  4. Dampak Negatif
    Sedangkan dampak negatif yang di dapatkan adalah meningkatkan beban kerja
    manajerial, meningkatkan biaya keseluruhan, menyebabkan kekurangan
    karyawan.
    Poulose dan Sudarsan (2014) menyebutkan dampak dari worklife balance
    terhadap pekerjaan dan juga diluar pekerjaan, diantaranya:
  5. Dampak pada pekerjaan
    Dampak dari worklife balance yang dirasakan pada pekerjaan yaitu kepuasan
    karyawan, kepuasan kerja, komitmen kepada organisasi, perputaran karyawan,
    tingkat kehadiran, performa karyawan, dan ritensi karyawan.
  6. Dampak di luar pekerjaan
    Dampak yang dirasakan di luar pekerjaan adalah meningkatnya kepuasan
    seperti kepuasan hidup, status perkawinan, keluarga, kelelahan, kesehatan, dan
    performa keluarga

Faktor-faktor Worklife Balance


Poulose dan Sudarsan (2014) menyimpulkan faktor-faktor yang
mempengaruhi worklife balance terdiri dari empat yaitu faktor individu, faktor
organisasi, faktor lingkungan social, dan faktor-faktor lainnya. Keempat faktor
tersebut terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya:

  1. Faktor Individu
    a. Kepribadian
    Allport mendefinisikan kepribadian sebagai organisme psikofisiologis yang
    dapat dipergunakan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan
    lingkungan sosial. Kepribadian terdiri dari extraversion yaitu sebuah sifat
    yang berkaitan dengan karakter, Agreeableness yang berkaitan dengan
    altruisme, conscientiousness yaitu kemampuan untuk fokus pada tujuan dan
    meraih tujuan, neuroticism merupakan sebuah pengaruh dan pengendalian
    emosi, openness yaitu bersifat kreatif.
    b. Psychological well-being
    Psychological well-being mengacu kepada ciri-ciri psikologi yang positif
    seperti penerimaan diri, kepuasan, harapan dan juga optimis. Wilkinson
    (dalam Poulose dan Sudarsan:2014) menemukan bahwa adanya hubungan
    positif antara worklife balance dan psychological well-being.
    c. Kecerdasan Emosional
    Kecerdasan emosional merupakan sebuah kemampuan untuk beradaptasi
    mengenali emosi, mengekspresikan emosi, meregulasi emosi, dan
    mengelola emosi. Kecerdasan emosional memiliki hubungan yang positif
    terhadap worklife balance. Karyawan yang memiliki kecerdasan emosional
    yang tinggi akan memiliki tingkat worklife balance yang tinggi.
  2. Faktor Organisasi
    a. Pekerjaan
    Pekerjaan yang memiliki waktu yang fleksibel dapat membantu karyawan
    untuk memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan di luar
    pekerjaan. Selain itu waktu yang fleksibel akan dapat membantu organisasi
    dalam perekrutan karyawan, mempertahankan, dan memotivasi karyawan.
    b. Worklife balance policies
    Worklife balance policies merupakan sebuah kebijakan-kebijakan yang di
    tetapkan oleh perusahaan yang dapat membantu worklife balance.
    Kebijakan-kebijakan yang dimaksud disini adalah libur,cuti, jam kerja, dan
    fleksibilitas kerja.
    c. Dukungan
    Dukungan dari tempat kerja berdampak positif terhadap worklife balance.
    Dukungan dari atasan secara signifikan dapat menekan tingkat stress kerja.
    Dukungan kepada karyawan sangat penting di dalam pekerjaan untuk
    menyeimbangkan antara pekerjaan dan konflik keluarga.
    d. Stress Kerja
    Worklife balance berhubungan dengan tingkatan stress kerja karyawan
    dalam kedudukan karyawan.Tingkat stress kerja berhubungan secara positif
    dapat meningkatkan konflik keluarga dan ketidaksejahteraan, dan secara
    negatif berkorelasi terhadap worklife balance dan kesejahteraan karyawan.
    e. Peran
    Peran ganda, waktu bekerja, dan tidak fleksibelnya waktu bekerja
    merupakan peran vital yang dapat membangun konflik keluarga.
    Ketidakseimbangan worklife balance dalam organisasidan keluarga
    mempengaruhi performa karyawan.
    f. Teknologi
    Teknologi dapat berdampak positif dan negatif serta dapat mempengaruhi
    worklife balance dimana dengan adanya teknologi budaya dalam bekerja
    akan berubah dan sehingga karyawan akan dapat bekerja dimanapun dan
    dimanapun

Dimensi Worklife Balance


Menurut Mani (2013) dan Banu (2014), dimensi worklife balance terbagi
menjadi, yaitu :

  1. Work Interference With Personal (WIPL)
    Dimensi ini mengacu kepada sejauh mana pekerjaan dapat mengganggu
    kehidupan pribadi.
  2. Personal Life Interferences With Work (PLIW)
    Dimensi ini mengacu kepada bagaimana pekerjaan mengganggu kehidupan
    pekerjaan.
  3. Work Personal Life Enchancement (WPLE)
    Dimensi ini mengacu pada sejauh mana pekerjaan dapat meningkatkan
    kualitas kehidupan pribadi individu.
  4. Personal Life Enhancement with Work (PLEW)
    Dimensi ini mengacu kepada sejauh mana kehidupan pribadi seseorang dapat
    meningkatkan performa individu dalam dunia kerj

Aspek-aspek Worklife Balance


Worklife balance memiliki aspek yang di ungkapkan oleh para ahli.
Greenhause (2003) dan Hudson (2005) memberikan gambaran yang sama bahwa
worklife balance memiliki tiga aspek, diantaranya yaitu :

  1. Keseimbangan waktu (time balance)
    Aspek ini menyangkut keseimbangan waktu yang diberikan untuk melakukan
    peran antara bekerja dan peran di luar pekerjaan.
  2. Keterlibatan
    Aspek keterlibatan memiliki arti bagaimana tingkat keterlibatan psikologi
    seseorang di dalam atau komitmen untuk melakukan sebuah peran ketika
    bekerja dan di luar pekerjaan.
  3. Kepuasan
    Aspek ini merupakan sebuah tingkatkan dari kepuasan individu dalam
    melakukan peran dalam pekerjaan dan di luar pekerjaan

Definisi Worklife Balance


Worklife balance adalah sebuah keseimbangan hidup yang memiliki arti
luas yang didefinisikan sebagai tingkat kepuasan dari sebuah keterlibatan atau
kecocokan antara peran ganda seseorang di dalam kehidupan seseorang
(Hudson:2005). Meskipun definisi memiliki banyak variasi, worklife balance pada
umumnya dikaitkan dengan keseimbangan, atau mempertahankan keharmonisan
dalam hidup yang melibatkan bagaimana bagaimana orang-orang dapat mengelola
tuntutan dalam hidup secara bersamaan (Hudson:2005)
Mani (2013) mengatakan bahwa worklife balance adalah sebuah
keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi di luar pekerjaan
adalah sama atau seimbang. Meenakshi et.al (2013) mengemukakan hal yang sama
mengenai worklife balance yaitu sebagai keseimbangan antara kehidupan dan kerja
serta bagaimana menciptakan dan memelihara lingkungan kerja yang sehat dan juga
mendukung yang akan memungkinkan karyawan untuk memiliki keseimbangan
antara pekerjaan dan tanggung jawab pribadi dan dengan demikian memperkuat
loyalitas dan produktivitas karyawan.
Jika dilihat dari beberapa pendapat yang di kemukakan oleh para ahli maka
dapat disimpulkan bahwa worklife balance merupakan sebuah keseimbangan hidup
antara bekerja dan kehidupan diluar pekerjaan seperti keluarga dan kehidupan yang
seimbang

Faktor yang Memengaruhi


Menurut Emmons et al., (2002) terdapat tiga faktor yang memengaruhi gratitude, yaitu:
a. Sifat Prososial (Prosocial Traits)
Sifat prososial dalam gratitude menunjukkan kepekaan dan kepedulian terhadap orang
lain. Gratitude muncul melalui empati dan memperhatikan hal di sekitarnya, sehingga
timbul rasa syukur dalam diri.
b. Afek Positif dan Kesejahteraan (Possitive Affective Trait and Well-Being)
Individu yang memiliki rasa syukur cenderung memiliki emosi yang positif atas
kehidupannya, yaitu bagaimana seseorang menghargai setiap hal atau kejadian yang terjadi
dalam bentuk emosi positif sehingga memperoleh kesejahteraan dalam dirinya.
c. Agama atau Spiritual (Religion/Spirituality)
Agama atau spiritual menjadi faktor ketiga dalam gratitude. Individu yang bersyukur
memiliki keyakinan terhadap non human forces yang turut berkontribusi dalam
kehidupannya atas kesejahteraan dan apa yang mereka miliki seperti kepada tuhan, adanya
kesempatan, keberuntungan dan sebagainya

Facet Gratitude


Emmons et al., (2002) menjelaskan empat facet dalam gratitude. Digunakannya kata
Facet dalam gratitude dikarenakan seluruh hal ini saling berkaitan dan tidak terpisahkan antara
satu dan yang lainnya (Emmons et al., 2002). Facet yang terdapat dalam gratitude sebagai
berikut:
a. Intensity
Rasa syukur ketika seseorang mengalami pengalaman yang positif sehingga
Gratitude yang dimiliki semakin meningkat (Emmons et al., 2002). Seseorang dengan
rasa syukur yang tinggi akan memiliki emosi dan suasana hati yang lebih baik (Watkins,
2014).
b. Frequency
Rasa syukur yang terus memengaruhi perilaku dan tindakan sederhana sehingga
selalu terbiasa untuk merasa bersyukur dalam kehidupan sehari-hari (Emmons et al.,
2002). Individu yang memiliki rasa syukur yang tinggi berkemungkinan besar untuk
merasa bersyukur dengan hal-hal yang terjadi kepadanya setiap hari, bahkan diperoleh
dari hal kecil dan sederhana (Watkins, 2014).
c. Span
Timbulnya rasa syukur akibat pengalaman yang terjadi pada waktu tertentu
(Emmons et al., 2002). Seseorang yang memiliki rasa syukur (gratitude) cenderung lebih
merasa bersyukur atas keluarga, pekerjaan, kesehatan dan kehidupan yang ia miliki
(Watkins, 2014).
d. Density
Rasa syukur yang berkaitan dengan jumlah orang-orang yang hadir dan memberikan
dampak positif dalam kehidupan (Emmons et al., 2002). Individu yang memiliki rasa
syukur (gratitude) rendah cenderung untuk merasa berterima kasih kepada lebih sedikit
orang dibandingkan mereka yang memiliki rasa syukur lebih tinggi (Watkins, 2014)

Definisi Gratitude


Peterson dan Seligman (2004) mendefinisikan rasa syukur (gratitude) sebagai rasa
terima kasih atau rasa syukur dalam merespon suatu pemberian. Pemberian ini bisa diberikan
secara sengaja oleh orang tertentu ataupun secara kebetulan dari hal-hal yang tidak diduga.
Rasa syukur ditandai oleh respon psikologis yang muncul atas suatu hadiah atau pemberian,
apapun sifatnya, dari pengalaman apapun bahkan sesingkat apapun. Menurut Watkins (2014)
rasa syukur adalah perasaan yang timbul ketika mengalami suatu hal yang baik. Perasaan cukup
pada hal yang dimliki dengan tidak merasa kekurangan pada kehidupannya.
Roberts dan Telech (2019) mengatakan bahwa rasa syukur (gratitude) adalah suatu
tanggapan atau respon atas kebaikan orang lain. Salah satunya adalah dengan berterima kasih
kepada orang lain untuk hal baik yang diterima. Rasa syukur (gratitude) menurut Emmons et
al., (2002) adalah kecenderungan seseorang untuk memiliki rasa syukur dalam merespon suatu
pengalaman serta peran individu lain dalam kehidupannya.. Gratitude mencakup suasana hati
ataupun emosi yang muncul sebagai bentuk respon atas suatu hal dalam bentuk rasa syukur.
Teori yang dikemukakan oleh dua tokoh lainnya berfokus pada rasa syukur yang
didapatkan ketika memperoleh sesuatu dari orang lain. Teori milik Emmons membantu peneliti
dalam menjelaskan bagaimana gratitude dapat timbul dari diri sendiri dan tidak hanya
diperoleh dari pihak lain. Selain itu, teori ini merupakan pengembangan pertama dari gratitude
dan masih digunakan dalam penelitian terbaru. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan
oleh (Herawati, 2020) kepada 135 ibu (ibu bekerja dan ibu rumah tangga) di Pekanbaru

Faktor Yang Memengaruhi Work-Life Balance


Poulose dan Susdarsan (2014) mengacu pada definisi milik Fisher et al. (2003)
sehingga peneliti menggunakan Poulose dan Susdarsan (2014) sebagai referensi dalam
menuliskan faktor work-life balance. Terdapat empat faktor yang memengaruhi work-life
balance, adalah:
a. Individual Factor
Individual factor merupakan hal-hal yang berkaitan dengan kecerdasan
emosional dan kepribadian seseorang. Kecerdasan emosi menyebabkan individu bisa
mengendalikan emosi, persepsi dan hal yang berhubungan dengan dirinya sendiri.
Persepsi yang positif akan membantu individu dalam mengenali, mengatur dan
mengelola emosinya secara lebih baik. Jika individu mampu memahami emosinya
dengan baik, memiliki emosi yang positif maka hal ini akan memengaruhi sikap dan
perilaku yang timbul dalam menciptakan work-life balance yang baik.
b. Organizational Factor
Organizational factor merupakan hal yang berkaitan dengan dukungan dari
organisasi (tempat kerja), pengaturan kerja stres di tempat kerja, teknologi hingga
peran yang dimiliki dalam kehidupan pekerjaan. Ketika situasi atau budaya dalam
organisasi, khususnya tempat kerja mendukung, maka individu tersebut cenderung
tidak merasa tertekan (stress kerja rendah) dan lebih baik dalam menciptakan
keseimbangan dalam kehidupannya.
c. Social Factor
Social factor merupakan hal yang berkaitan dengan dukungan dari pasangan,
mendidik serta merawat anak, dukungan dari keluarga, sosial hingga tuntutan yang
berasal dari dalam diri atau keluarga. Bagaimana hubungan yang dimliki dengan
orang sekitar akan turut memengaruhi. Ketika memiliki hubungan baik dengan anak,
mendapat dukungan dari keluarga, maka individu akan lebih terbantu dalam menjalani
peran baik di rumah ataupun di tempat kerja.
d. Other Factor
Other factor merupakan faktor lain yang turut memengaruhi seperti usia, jenis
kelamin, pengalaman, status perkawinan, tipe pekerjaan yang dimiliki, status orang
tua dan penghasilan juga turut memengaruhi work-life balance individu. Salah
satunya, usia yang dimiliki seseorang akan berkaitan dengan kesiapan dan
kematangan pada diri individu.

Dimensi Work-Life Balance


Fisher et al., (2003) mengemukakan tiga dimensi work-life balance yang kemudian
di kembangkan kembali oleh Fisher et al. (2009) menjadi empat dimensi, yaitu sebagai berikut:
a. Work Interference with Personal Life (WIPL)
WIPL mengacu pada seberapa besar pengaruh pekerjaan yang dilakukan individu
bisa mengganggu kehidupan pribadi. Hal ini mencakup stres pekerjaan.
b. Personal Life with Interference Work (PLIW)
PLIW mengacu pada seberapa besar pengaruh kehidupan personal individu bisa
mengganggu pekerjaan. Termasuk permasalahan dalam kehidupan pribadi yang
memengaruhi performa di tempat kerja.
c. Work Enhancement of Personal Life (WEPL)
WEPL mengacu pada seberapa besar pengaruh dari kehidupan pribadi yang
dimiliki individu dalam meningkatkan prestasi di tempat kerja.
d. Personal Life Enhancement of Work (PLEW)
PLEW mengacu pada seberapa besar pekerjaan seseorang mampu
menoptimalkan kualitas kehidupan pribadi yang dimiliki. Dimensi ini memiliki
hubungan positif dengan Life Satisfaction

Definisi Work-Life Balance


Hudson (2005) menjelaskan work-life balance sebagai suatu keadaan yang
memuaskan atau kesesuaian dalam menjalankan berbagai peran yang ada dalam kehidupan
seseorang. Menurut Lockwood (2003) work-life balance merupakan keadaan seimbang atau
sama (equal) antara dua peran yang ada, yaitu sebagai pekerja dan dalam kehidupan pribadi.
Fisher et al., (2003) menjelaskan work-life balance sebagai suatu keadaan seimbang antara
kehidupan pribadi dan pekerjaan sehingga mampu menjalankan seluruh peran termasuk untuk
diri sendiri, anak ataupun pasangan. Keseimbangan peran dan tanggung jawab antara
kehidupan pribadi dengan pekerjaan menjadi kunci utama dari Work-life Balance yang
keduanya mampu dikerjakan secara beriringan tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Peneliti menggunakan teori milik Fisher et al., (2003) dalam penelitian ini karena teori
milik Fisher merupakan teori yang sesuai dengan konteks penelitian yang akan dilakukan, yaitu
membantu peneliti dalam melihat aspek individual pada individu dalam menciptakan work-life
balance, sedangkan pada teori lainnya tidak membahas secara terperinci dari sisi individual.
Teori Fisher juga masih digunakan hingga saat ini sehingga teori ini masih relevan untuk
digunakan dalam penelitian. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Apriani et al.
(2021) kepada 100 ibu bekerja di Indonesia

Pengaruh Stres Kerja terhadap Turnover Intention


Stres kerja yang dialami karyawan dapat memicu ketegangan,
kebingungan, dan ketidakpastian dalam melaksanakan tugas dan
kewajiban mereka. Sebagai akibatnya, hal tersebut dapat mendorong
karyawan untuk mempertimbangkan pengunduran diri dari posisi
mereka. (Ferzanita, 2023).
Penelitian yang dilakukan Ferzanita, (2023) stres kerja
memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intention.
Artinya, kian besarnya tingkat stres kerja, kian besar pula niat
karyawan untuk meninggalkan posisinya saat ini. Pernyataan ini
berkesinambungan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyani &
Haziroh, (2024); Nurhidayati & Dini, (2023); Yanto et al., (2024) yang
menyebutkan bahwa tingkat stres kerja memiliki pengaruh positif
terhadap turnover intention karyawan

Pengaruh Kompensasi terhadap Turnover Intention


Pemberian kompensasi yang memadai oleh perusahaan
dianggap sebagai strategi efektif untuk meningkatkan loyalitas
karyawan. Ini dapat menekan keinginan karyawan untuk berpindah
kerja (turnover intention), sehingga jumlah turnover bisa ditekan dan
biaya perekrutan karyawan pun berkurang. Sebaliknya, jika
kompensasi yang diberikan tidak memuaskan, baik dari segi finansial
maupun non-finansial, dan perusahaan tidak dapat memenuhi tuntutan
karyawan, maka karyawan lebih cenderung memilih untuk resign dan
mencari peluang pekerjaan lain yang menawarkan kompensasi lebih
baik (Rukhviyanti & Susanti, 2020). Pernyataan ini
berkesinambungan dengan penelitian yang dilakukan Atmoko &
Santoso, (2024); Triningsih & Darma, (2024); Wijayanti & Anisa,
(2022) yang menyebutkan bahwa kompensasi secara individual
memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap turnover
intention. Pengaruh negatif ini memperlihatkan bahwa karyawan
mungkin melihat kompensasi yang kurang memadai sebagai salah
satu elemen yang mendorong mereka untuk meninggalkan organisas

Pengaruh Work-Life Balance terhadap Turnover Intention


Penelitian Karolina & Agung Saryatmo (2024) menyatakan
bahwa jika Generasi Z mampu mencapai work-life balance yang baik
rencana mereka untuk berpindah kerja akan cenderung menurun, dan
sebaliknya. Pernyataan ini berkesinambungan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Karolina & Saryatmo, (2024); Pantouw et al., (2022);
Sinaga & Parapat, (2024) yang menunjukkan bahwa work-life balance
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap turnover intention

Pengertian Turnover Intention


Turnover intention adalah keinginan karyawan untuk
meninggalkan posisi di pekerjaan saat ini dan mencari peluang baru
dalam waktu tertentu. Tingginya niat ini dapat mengindikasikan
adanya masalah dalam organisasi, seperti ketidakpuasan kerja atau
manajemen yang kurang efektif. Turnover intention mencerminkan
pemikiran dan rencana individu untuk berpindah kerja, yang menjadi
faktor penting dalam memprediksi kemungkinan terjadinya turnover
di dalam perusahaan (Exacta et al., 2022). Turnover intention bisa
dipengaruhi oleh elemen situasional dan individu. Faktor situasional
berhubungan dengan budaya perusahaan, sedangkan faktor individu
dalam turnover intention meliputi demografi karyawan, seperti usia,
jenis kelamin, status, dan pendidikan (Karolina & Saryatmo, 2024).
Apabila tingkat turnover intention di sebuah perusahaan tinggi,
berbagai konsekuensi negatif akan muncul. Konsekuensi tersebut
meliputi gangguan pada operasional perusahaan akibat harus
beradaptasi dengan karyawan baru, penurunan kualitas layanan
kepada pelanggan, serta peningkatan biaya untuk merekrut,
menyeleksi, dan melatih karyawan baru (Yuliani & Ekhsan, 2024).

Indikator Stres Kerja


Menurut Pratiwi, (2020), indikator untuk menilai stres kerja
mencakup.:
1) Ketidakjelasan dalam tanggung jawab pekerjaan
2) Konflik saat melaksanakan tugas
3) Waktu yang terbatas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada
4) Ruang kerja yang kurang memadai

Pengertian Stres Kerja


Bagi karyawan, pekerjaan dianggap sebagai titik penting
dalam kehidupan yang dapat memberikan kepuasan dan tantangan.
Namun, di sisi lain, pekerjaan juga bisa menjadi gangguan, beban, dan
tanggung jawab yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup. Setiap
aspek dalam pekerjaan dapat menjadi penyebab stres. Karyawan
memiliki peran dalam menentukan seberapa stres atau tidaknya situasi
yang mereka hadapi. Selain itu, interaksi di tempat kerja juga
dipengaruhi oleh pengalaman yang mereka dapatkan di lingkungan
lain, seperti di rumah, sekolah, atau dalam komunitas sosial lainnya.
(Pantouw et al., 2022).
Menurut Damayanti & Kurniawati (2024) stres kerja adalah
tekanan emosional, fisik, dan mental yang dialami individu akibat
tugas yang diberikan tidak sebanding dengan keterampilan atau
kebutuhan individu tersebut. Ganapathi & Aithal (2024)
mendefinisikan stress kerja sebagai suatu keadaan yang melibatkan
respons emosional dan fisik yang kompleks, yang timbul sebagai
akibat dari tuntutan pekerjaan dan tekanan yang berkaitan dengan
lingkungan kerja. Stres ini muncul ketika individu merasa tertekan
oleh beban pekerjaan yang tidak sesuai dengan kapasitas mereka,
memicu reaksi fisik dan psikologis yang beragam. Sedangkan
Ramlawati et al. (2021) menegaskan bahwa stres kerja merupakan
reaksi yang muncul sebagai akibat dari kondisi di atmosfer kerja yang
berdampak negatif bagi karyawan, menekan kehidupan mereka, dan
menyebabkan transformasi yang terjadi pada karyawan, baik dari segi
fisik, mental, maupun tingkah laku

Indikator Kompensasi


Menurut Azhar & Khan, (2024) berikut adalah indikator yang
dipakai untuk menilai kompensasi:
1) Gaji/Upah: Penghargaan finansial yang diterima karyawan
sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam pencapaian sasaran
organisasi.
2) Insentif: Penghargaan finansial yang diterima karyawan yang
berhasil mendapatkan hasil yang melebihi kriteria yang telah
ditentukan.
3) Fasilitas: Semua sarana yang disediakan oleh perusahaan untuk
mendukung kelancaran pekerjaan karyawan.
4) Tunjangan: Keuntungan finansial dan layanan tambahan yang
mendukung gaji pokok, dimana perusahaan menanggung seluruh
atau sebagian biaya untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan

Pengertian Kompensasi


Aisha & Juhaeti (2022) mengemukakan bahwa kompensasi
mencakup semua jenis imbalan, baik dalam bentuk materi maupun
non-materi, yang disalurkan oleh perusahaan kepada stafnya sebagai
bentuk penghargaan atas kontribusi mereka. Kompensasi bisa bersifat
langsung, seperti gaji, atau tidak langsung, seperti tunjangan, dan
harus diberikan secara adil sebagai konsekuensi dari hubungan kerja
antara perusahaan dan pegawai. Atmoko & Santoso (2024)
menyatakan kompensasi merupakan bentuk balasan yang diberikan
kepada karyawan berupa finansial, jasa nyata, dan tunjangan sebagai
bagian dari hubungan kepegawaian. Kompensasi yang kompetitif dan
adil sangat penting untuk mempertahankan karyawan dalam jangka
panjang. Menurut Triningsih & Darma (2024) kompensasi merujuk
pada penghargaan yang diberikan kepada karyawan sebagai balasan
atas sumbangsih mereka, waktu, tenaga, dan kompetensi yang
diberikan dalam pekerjaan mereka. Kompensasi mencakup elemen
finansial dan non-finansial yang bertujuan untuk menghargai jasa
karyawan secara adil. Sementara itu, Wijayanti & Anisa (2022)
mengindikasikan kompensasi sebagai penghasilan yang diperoleh
oleh pekerja sebagai penghargaan atas peran yang diberikan kepada
organisasi, yang bisa berupa uang, barang, atau bentuk lainnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung

Indikator Work-Life Balance


Penelitian (Sinaga & Parapat, 2024) menyebutkan bahwa ada
4 indikator untuk mengukur variabel work-life balance yaitu:
1) Work Interference with Personal Life (WIPL) menggambarkan
tuntutan pekerjaan dapat mengacaukan aspek diri, yang
berdampak pada kesejahteraan individu. Hal ini mencakup situasi
seperti lembur yang mengurangi waktu keluarga, stres yang
mengganggu aktivitas pribadi, dan kesulitan dalam menjalani
hobi, sehingga menunjukkan pengaruh negatif pekerjaan terhadap
kehidupan di luar kerja.
2) Personal Life Interference with Work (PLIW) menjelaskan faktor-
faktor dari aspek individu dapat mengacaukan kinerja karyawan
di tempat kerja. Situasi seperti masalah keluarga atau tanggung
jawab sosial dapat menghambat fokus dan produktivitas,
berdampak negatif pada kesejahteraan karyawan dalam
lingkungan kerja.
3) Work/Personal Enhancement of Personal Life (WEPL)
menggambarkan bagaimana pengalaman dan keterampilan yang
didapat dari pekerjaan dapat memperbaiki kualitas kehidupan
pribadi seseorang.
4) Personal Life Enhancement of Work (PLEW) bagaimana aspek-
aspek kehidupan pribadi dapat meningkatkan produktivitas dan
kepuasan di tempat kerja, yaitu dukungan dari keluarga, hobi, dan
kegiatan sosial yang positif memberikan energi dan motivasi
tambahan, sehingga memperkuat kemampuan karyawan dalam
menghadapi tantangan di tempat kerja

Faktor yang Mempengaruhi WLB


Fisher et al., (2009) menyatakan empat faktor yang dapat memengaruhi WLB,
yaitu:
a. Waktu. Waktu ketika bekerja lebih dominan daripada waktu yang
diperuntukkan untuk kegiatan lain di luar pekerjaan, sehingga individu
memiliki keterbatasan atau bahkan tidak memiliki waktu untuk melibatkan
diri dalam aktivitas lain.
b. Ketegangan. Perasaan cemas, stres, hilangnya aktivitas pribadi, hingga sulit
mempertahankan konsentrasi.
c. Energi. Energi digunakan untuk dapat menggapai tujuan. Energi adalah
sumber terbatas yang ada didalam diri manusia, jika individu tidak memiliki
cukup energi untuk beraktivitas dampak yang ditimbulkan adalah stres.
d. Perilaku. Tindakan untuk mencapai hal yang diinginkan. Hal tersebut berdasar
dari kepercayaan individu bahwa dirinya mampu menggapai keinginannya
baik dalam pekerjaan ataupun kehidupan pribadinya

Dimensi WLB


Terdapat empat dimensi WLB yang dikembangkan oleh Fisher et al., (2009)
sebagai berikut:
a. Work Interference with Personal Life (WIPL)
Menunjukkan sampai mana pekerjaan dapat menghambat kehidupan
pribadi. Berkaitan dengan tingkat stres pekerjaan yang dirasakan, seperti
kesulitan dalam membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
b. Personal Life Interference with Work (PLIW)
Menunjukkan sampai mana kehidupan pribadi individu dapat
mengganggu pekerjaan. Contohnya, saat individu menghadapi masalah dalam
kehidupan pribadinya, hal tersebut dapat mempengaruhi produtivitasnya saat
bekerja.
c. Work Enchancement of Personal Life (WEPL)
Menunjukkan sampai mana pekerjaan dapat meningkatkan kualitas
kehidupan pribadi individu. Contohnya, individu yang memiliki beban kerja
yang sesuai dan jam kerja wajar memiliki suasana hati yang baik ketika
pulang kerja.
d. Personal Life Enchancement of Work (PLEW)
Menunjukkan sampai mana kehidupan pribadi mampu meningkatkan
kinerja dalam pekerjaan. Contohnya, kebahagiaan individu dalam kehidupan
pribadinya dapat berdampak positif pada suasana hati dan kinerjanya saat
bekerja

Faktor Yang Mempengaruhi Burnout


Burnout bisa terjadi karena beberapa faktor. Maslach, Schfauli & Leiter
(2001) menjelaskan faktor yang bisa menyebabkan kelelahan kerja dibagi
menjadi dua, yaitu:
a. Faktor situasional (situational factor), faktor ini dibagi menjadi
karakteristik kerja (job characteristic), jenis pekerjaan (occupational
characteristic), dan karakter organisasi (organizazional
characteristic).
b. Faktor individual, terdiri dari demografi (demographic characteristic)
yang meliputi usia, jenis kelamin, dan masa kerja. Karakteristik
kepribadian (personality characteristic) dan sikap terhadap pekerjaan
(job attitudes)