Menurut Nurwidiawati & Mieke (2024), tidak adanya kejelasan tugas dan
fungsi karyawan mempunyai implikasi menurunnya kepuasan kerja
sehingga secara tidak langsung mempengaruhi kinerja organisasi tersebut
dalam menangani kewajibannya. Banyaknya karyawan yang bekerja dan
juga beragam latar belakang individu dan perbedaan kepentingan atau
kepuasan kerja yang dihadapkan dengan tuntutan profesionalitas demi
terus menjaga komitmen manajemen untuk selalu memberikan pelayanan
terbaik, maka kepuasan kerja karyawan perlu lebih diperhatikan menjaga
kepuasan kerja tiap individu dalam organisasi.
Menurut Sirota, Mischkind & Meltzer (dalam Indrasari, 2017) pekerja
yang puas termotivasi oleh hal-hal berikut:
- Perlakuan yang adil (fair treatment)
Pekerja yang mendapatkan perlakuan yang adil dan tidak berat
sebelah, antara lain dalam bidang keamanan kerja, kompensasi dan
respek akan merasa puas dengan pekerjaannya. - Pencapaian (achievement)
Pekerja yang mendapat kesempatan untuk melakukan pencapaian
kerja yang maksimal seperti mendapatkan kesempatan promosi,
merasa bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan
tersebut akan merasa puas/tidak puas akan pekerjaannya. - Pertemanan (camaraderie)
Pertemanan yang erat antara karyawan dengan rekan kerja dan
atasannya dalam melakukan kerja sama (team work) akan mendukung
terciptanya kepuasan kerja
Menurut Adamy (2016), kepuasan kerja tidak hanya dapat dipahami dari
aspek fisik pekerjaannya itu sendiri, akan tetapi dari sisi non fisik.
Kepuasan kerja berkaitan dengan fisik dalam melaksanakan tugas-tugas
pekerjaannya, kondisi lingkungan pekerjaannya, serta interaksi dengan
sesama rekan kerja dan sistem hubungan diantara mereka.
