Menurut Fadila, et al (2022), karakteristik individu menawarkan kapasitas
subjektif yang merupakan kecerdasan setiap individu dalam menghadirkan
kemampuan berbeda dalam memahami secara mendalam semua informasi
yang tersedia berdasarkan latar belakang pengetahuan dimiliki oleh
individu tersebut. Secara umum, seorang individu menciptakan latar
belakang pengetahuan yang mencerminkan lingkungan budaya dan
institusional di mana dia tinggal serta kerangka pikir pribadi untuk
memahami juga menentukan kebutuhannya. Ketika kebutuhan dan
keinginan ditetapkan untuk jangka waktu tertentu, keputusan harus diambil
dan tindakan harus dilakukan, yang bertujuan untuk kepuasan mereka.
Menurut Robbins & Judge (2008), terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi terbentuknya karakteristik individu dalam organisasi yaitu :
- Umur
Hubungan kinerja dengan umur sangat erat kaitannya, karena adanya
keyakinan bahwa kinerja merosot dengan meningkatnya usia.
Karyawan yang berumur tua juga dianggap kurang luwes dan menolak
teknologi baru. Namun karyawan yang lebih tua, memiliki beberapa
hal positif meliputi pengalaman, pertimbangan, etika kerja yang kuat,
dan komitmen terhadap mutu. Karyawan yang lebih muda cenderung
mempunyai fisik yang kuat, sehingga dapat bekerja keras dan pada
umumnya belum berkeluarga atau bila sudah berkeluarga anaknya
relatif masih sedikit. Karyawan lebih tua kecil kemungkinan akan
berhenti karena masa kerja lebih panjang, upah lebih tinggi, upah
lebih panjang, dan tunjangan pensiun lebih menarik. - Jenis Kelamin
Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam kemampuan
memecahkan masalah, keterampilan analisis, dorongan kompetitif,
motivasi, sosiabilitas, atau kemampuan belajar. Namun studi psikologi
menemukan bahwa wanita lebih bersedia untuk mematuhi wewenang,
dan pria lebih agresif dan lebih besar kemungkinannya dalam
memiliki pengharapan untuk sukses. Wanita juga mempunyai tingkat
kemangkiran yang lebih tinggi daripada pria. - Masa Kerja
Masa kerja dan kepuasan saling berkaitan positif. Masa kerja yang
lama akan cenderung membuat seorang karyawan lebih merasa betah
dalam suatu organisasi, hal ini disebabkan diantaranya karena telah
beradaptasi dengan lingkungannya yang cukup lama sehingga seorang
karyawan akan merasa nyaman dengan pekerjaannya. Penyebab lain
juga dikarenakan adanya kebijakan dari instansi atau perusahaan
mengenai jaminan hidup dihari tua. - Tingkat Pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan
mempengaruhi pola pikir yang nantinya berdampak pada tingkat
kepuasan kerja. Pendapat lain juga menyebutkan bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikan maka tuntutan terhadap aspek kepuasan
kerja di tempat kerjanya akan semakin meningkat. - Status Perkawinan
Status perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan YME.
Salah satu riset menunjukkan bahwa karyawan yang telah menikah
lebih sedikit absensinya, mengalami pergantian yang lebih rendah,
dan lebih puas dengan pekerjaan mereka daripada rekan sekerjanya
yang bujangan. Pernikahan memaksakan peningkatan tanggung jawab
atas suatu pekerjaan yang tetap menjadi lebih berharga dan penting
