Menurut Meyer & Allen (1997), person job fit adalah kesesuaian antara
karakteristik tugas atau pekerjaan dengan kemampuan individu untuk
melaksanakan tugas tersebut, akan memperkuat ikatan karyawan terhadap
pekerjaannya, yaitu karyawan akan lebih komitmen terhadap pekerjaan.
Menurut Kristof et al (2005), person job fit diartikan sebagai kesesuaian
antara individu dengan pekerjaan atau tugas-tugas yang dilakukan di
tempat kerja. Definisi ini mencakup kesesuaian berdasarkan kebutuhan
karyawan dan perlengkapan kerja yang tersedia untuk memenuhi
kebutuhan tersebut, serta tuntutan pekerjaan dan keterampilan karyawan
untuk memenuhi permintaan tersebut.
Menurut Rosari (2009), teori person job fit didasari dari kepribadian
karyawan dengan pekerjaannya. Ketika kepribadian karyawan dengan
pekerjaan sejalan maka kepuasan dari karyawan akan meningkat dengan
sendirinya. Artinya seseorang akan lebih memahami makna dari
pekerjaannya sehingga dapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya
di dalam dunia kerja.
Menurut Cable & DeRue (2002), person-job fit adalah keadaan yang
menggambarkan adanya kesesuaian atau kemampuan karyawan dengan
tuntutan pekerjaan, kebutuhan individu dan apa yang dapat diberikan oleh
pekerjaan itu terhadap karyawan.
Menurut Sulistiowati et al., (2018), bahwa person job fit adalah kesesuaian
antara pengetahuan, keahlian, dan keterampilan karyawan dengan
pekerjaan atau tugas tertentu. Kesesuaian ini akan memperkuat ikatan
karyawan terhadap pekerjaannya, yaitu karyawan akan lebih berkomitmen
terhadap pekerjaan tersebut.
Dari pendapat para ahli diatas, maka dapat ditarik garis besar bahwa
person job fit adalah kesesuaian antara pengetahuan, keahlian dan
keterampilan seseorang dengan pekerjaan tertentu. Kesesuaian ini
diharapkan agar orang tersebut dapat melaksanakan dan menyelesaikan
pekerjaan dengan baik tanpa menghadapi kendala yang berarti. Kendala
yang muncul akan menghambat aktivitas oranisasi, karenanya organisasi
perlu menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat
