Penyebab Turn Over Karyawan


Berikut adalah beberapa faktor penyebab turn over karyawan, diantaranya :

  1. Kompensasi
    Adalah bayaran atau remunerasi yang diberikan oleh perusahaan kepada
    karyawan atas hasil kerja berupa uang atau barang baik secara langsung atau
    tidak langsung.
  2. Stres kerja
    Stres kerja adalah kondisi dimana karyawan mengalami rintangan yang
    dapat merubah perilaku.
  3. Pengembangan karir
    Adalah kegiatan pegawai yang bertujuan untuk mempersiapkan karir di
    masa yang akan datang melalui pendidikan atau pelatihan di perusahaan tempat
    mereka bekerja, pengembangan karir ini sangat menguntungkan bagi
    karyawan karena dapat menggali potensi baru yang ada.
  4. Beban kerja
    Beban kerja yaitu tugas atau aktivitas yang mesti dituntaskan oleh suatu
    departemen perusahaan tertentu atau kepala divisi dalam satuan waktu yang
    sudah ditentukan.
    Dikatakan bahwa suatu proses untuk menetapkan satuan waktu untuk
    mencapai target tersebut adalah dengan cara observasi kegiatan yang dilakukan
    karyawan secara berkelanjutan atau terus menerus dan mengambil sampel
    waktu yang paling cepat, oleh kerena itu dapat dirangkum bahwa target dan
    beban kerja saling berkesinambungan satu dengan lainnya. Artinya beban kerja
    meliputi pengerahan sumber daya dan penetapan durasi waktu, tidak hanya
    soal tugas dan pekerjaan.
    Jika target kerja yang sudah diberikan mampu diselesaikan oleh seorang
    karyawan, maka perihal tersebut tidak lagi menjadi beban kerja, bahwa
    kapasitas kerja karyawan tersebut bisa sama dari jangka waktu yang sudah
    ditentukan atau bahkan lebih. Namun sebaliknya jika karyawan tidak bisa
    menyelesaikan target maka kewajiban dan kegiatan tersebut menjadi suatu
    beban kerja. Oleh karena itu, harus dilakukan juga analisa mengapa karyawan
    tersebut tidak bisa mencapai target.
    5
    Analisis beban kerja menjadi suatu tolak ukur penting yang wajib diamati
    pada setiap perusahaan dikarenakan berimpresi pada karyawan dalam
    menumbuhkan produktivitas dalam bekerja

Pengertian Turn Over Karyawan


Berikut adalah pengertian turnover karyawan menurut para ahli.

  1. Mobley
    Mobley mengemukakan bahwa turnover adalah kecenderungan atau niat
    karyawan untuk berhenti bekerja dari pekerjaannya secara sukarela atau pindah
    dari satu tempat kerja ke tempat kerja lain menurut kemauannya sendiri.
  2. Ronald dan Milkha
    Ronald dan Milkha menerangkan bahwa turnover merupakan kecenderungan atau
    intensitas orang untuk meninggalkan suatu perusahaan karena berbagai alasan dan
    diantaranya keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
  3. Rivai
    Menurut Rivai, turnover merupakan keinginan karyawan secara sukarela untuk
    berhenti kerja dan meninggalkan perusahaan atau pindah dari satu tempat ke
    tempat kerja yang lain menurut pilihannya sendiri.
  4. Jewell dan Siegall
    Jewell dan Siegall menjelaskan bahwa turnover karyawan terjadi karena adanya
    ketertarikan yang kuat dari seseorang terhadap berbagai alternatif pekerjaan di
    luar perusahaan atau karena adanya rasa tidak puas akan penarikan diri dari
    pekerjaannya saat ini.
  5. Simamora
    Sedangkan menurut Simamora, turnover yaitu pemisahan diri secara sukarela oleh
    seorang pegawai dari perusahaan

Net Profit Margin (NPM)


Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
bersih dari penjualan yang dilakukan perusahaan. Rasio ini mencerminkan
efesiensi seluruh bagian, yaitu produksi, personalia, pemasaran, dan
keuangan yang ada dalam perusahaan (Sudana, 2011:23). Rumusan untuk
mencarai profit margin adalah sebagai berikut :
𝑁𝑃𝑀 = πΏπ‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘’π‘™π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘›π‘”π‘Ž π‘π‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜
π‘ƒπ‘’π‘›π‘—π‘’π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› π΅π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–β„Ž Γ— 100%

Return On Assets (ROA)


Hasil pengembalian atas aset merupakan rasio yang menujukkan seberapa
besar kontribusi aset dalam menciptakan laba bersih. Dengan kata lain, rasio
ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan
dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset. Rasio ini
dihitung dengan membagi laba bersih terhadap total aset. Semakin tinggi
hasil pengembalian atas aset berarti semakin tinggi pula jumlah laba bersih
yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset.
Rumusan untuk mencari Return On Aset adalah sebagai berikut :
𝑅𝑂𝐴 = πΏπ‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘’π‘™π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘›π‘”π‘Ž π‘π‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜
π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑒𝑑 Γ— 100%
Rasio ini juga menunjukan produktivitas dari seluruh dana perusahaan, baik
modal pinjaman maupun modal sendiri. Semakin kecil rasio ini semakin
tidak baik, demikian pula sebaliknya. Artinya rasio ini digunakan untuk
mengukur efektifitas dari keseluruhan operasi perusahaan

Profitabilitas


Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama
periode tertentu (Munawir, 2014:33). Profitabilitas suatu perusahaan diukur dengan
kesuksesan perusahaan dan kemampuan menggunakan aktivanya secara produktif,
dengan profitabilitas suatu perusahaan dapat diketahui dengan membandingkan
antara laba yang diperoleh dalam satu periode dengan jumlah aktiva atau jumlah
modal perusahaan tersebut. Dengan demikian analisis profitabilitas penting untuk
digunakan oleh investor jangka panjang dalam rangka mengukur tingkat
keuntungan suatu perusahaan dengan menghubungkan antara laba yang diperoleh
dari kegiatan pokok perusahaan dengan kekayaan atau aset yang dimiliki untuk
menghasilkan keuntungan perusahaan (operating asset). Serta profitabilitas
merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting karena untuk dapat
melangsungkan hidupnya, suatu perusahaan harus berada dalam keadaan yang
menguntungkan.
Profitabilitas suatu perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rasio
profitabilitas. Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan
perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu
(Kasmir, 2015:114). Menurut Irawati, 2006 yang dikutip oleh Nisran, Jonathan dan
Suyatin (2016), rasio keuntungan atau profitability ratios adalah rasio yang
digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan aktiva perusahaan atau
merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode
tertentu (biasanya semesteran, triwulanan dan lain-lain) untuk melihat kemampuan
perusahaan dalam beroperasi secara efisien. Rasio profitabilitas dapat dihitung
dengan menggunakan perbandingan natara komponen yang ada di dalam laporan
keuangan seperti laporan neraca dan laporan laba rugi. Semakin tinggi rasio
profitabilitas maka semakin efektif juga perusahaan dalam memanfaatkan aktiva
untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak

Perputaran Piutang


Menurut Kasmir (2015:176), perputaran piutang merupakan rasio yang
digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode
atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode.
Hal yang jelas adalah rasio perputaran piutang menunjukkan kualitas dan
kesuksesan penagihan piutang. Perputaran piutang merupakan rasio yang
mengukur berapa kali rata-rata piutang dapat tertagih selama satu periode. Kinerja
pengelolaan piutang suatu perusahaan dapat dilihat dari tingkat perputaran
piutangnya, dimana tingkat perputaran piutang merupakan periode terikatnya
modal kerja dalam piutang. Semakin tinggi rasio menunjukkan bahwa modal kerja
yang ditanamkan dalam piutang semakin rendah (dibandingkan dengan rasio tahun
sebelumnya) dan tentunya kondisi ini bagi perusahaan semakin baik. Sebaliknya
jika rasio semakin rendah ada over investment dalam piutang. Menurut Sartono
(2008:44) yang dikutip oleh Lestari (2017) mengatakan bahwa kecepatan
penerimaan hasil piutang dalam satu periode (perputaran piutang) akan dapat
mempengaruhi likuiditas perusahaan karena pertukaran piutang lebih cepat dari
yang diharapkan dan seberapa jauh piutang perusahaan bisa dipakai untuk
memenuhi jangka pendeknya. Tingkat likuiditas perusahaan yang baik tentunya
akan memberikan pengaruh baik terhadap aktiva lancar perusahaan yang
disebabkan dari adanya piutang. Dengan membaiknya aktiva lancar perusahaan
maka akan memberikan pengaruh yang besar dalam seluruh ataupun sebagian
aktivitas perusahaan. Aktivitas perusahaan yang berjalan dengan baik tentu akan
membantu perusahaan dalam meningkatkan profitabilitasnya (Lestari, 2017).
Rumus untuk mencari rasio perputaran piutang (Account Receivable Turnover)
adalah sebagai berikut:
π΄π‘π‘π‘œπ‘’π‘›π‘‘ π‘…π‘’π‘π‘’π‘–π‘£π‘Žπ‘π‘™π‘’ π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘›π‘œπ‘£π‘’π‘Ÿ = π‘ƒπ‘’π‘›π‘—π‘’π‘Žπ‘™π‘Žπ‘›
π‘ƒπ‘–π‘’π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘…π‘Žπ‘‘π‘Ž βˆ’ π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž
Tingkat perputaran piutang dapat membantu perusahaan dalam mengukur
kelancaran penerimaan piutang dan pengukuran baik tidaknya investasi piutang.
Perputaran piutang akan menunjukkan berapa kali dan rentang waktu piutang yang
timbul sampai pada piutang tertagih kembali menjadi kas perusahaan. Jadi dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat perputaran piutang maka semakin cepat
piutang dapat diubah menjadi kas serta menunjukkan penjualan kredit yang efektif
dan efisien sehingga perusahaan memiliki peluang besar untuk memperoleh laba

Piutang


Piutang timbul dari penjualan kredit barang dan jasa, posisi piutang dalam
neraca yang merupakan bagian dari aktiva lancar sangat mempengaruhi posisi
aktiva, piutang yang jatuh tempo akan ditagih untuk mendapatkan kas. Menurut
Satria (2016:33) piutang merupakan aktiva lancar yang diharapkan dapat dikonversi
menjadi kas dalam waktu satu tahun dalam satu periode akuntansi. Sedangkan
menurut Subramanyan dan Wild (2014:274), piutang (receivables) merupakan nilai
jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa, atau dari pemberian
pinjaman uang. Piutang mencakup nilai jatuh tempo yang berasal dari aktivitas
seperti sewa dan bunga yaitu dengan membagi total penjualan kredit (neto) dengan
piutang rata-rata. Rata-rata piutang kalau memungkinkan dapat dihitung secara
bulanan (saldo tiap-tiap akhir bulan dibagi dua belas) atau tahunan yaitu saldo awal
tahun ditambah saldo akhir tahun dibagi dua.
Piutang merupakan tagihan perusahaan kepada pelanggan atau pembeli atau
pihak lain yang menjual produk perusahaan. Penjualan kredit akan memberikan
jeda waktu bagi perusahaan sebelum menerima pemasukan (arus kas masuk) dari
hasil pengumpulan piutang. Hal ini akan membebani perusahaan dengan biaya-
biaya piutang, yaitu biaya administrasi piutang, biaya modal atas dana yang
tertanam dalam piutang, biaya penagihan dan biaya piutang yang mungkin tidak
tertagih. Tetapi biaya-biaya tersebut dapat diimbangi dengan penjualan perusahaan
yang meningkat.
Menurut bukti pendukungnya piutang dapat dikelompokkan menjadi (Satria,
2016:37-38):
a. Piutang Wesel/Notes Receivable atau Wesel Tagih, yaitu tagihan yang
didukung oleh instrumen kredit resmi seperti Promes. Promes adalah janji
tertulis untuk membayar uang pada tanggal tertentu tanpa syarat.
b. Piutang Usaha Biasa yaitu tagihan yang didukung oleh bukti usaha biasa
seperti faktur atau bukti bahwa perusahaan telah menjual barang/jasa ke
pihak yang berhutang (debitur).
Piutang merupakan aktiva yang paling penting dalam perusahaan dan dapat
menjadi bagian yang besar dari likuiditas perusahaan. Besar kecilnya piutang
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah seperti
yang dikemukakan oleh Riyanto (Satria, 2016:34-35) sebagai berikut:
a. Volume penjualan kredit
Besar kecilnya volume penjualn kredit yang ditetapkan oleh perusahaan
akan berpengaruh terhadap jumlah piutang yang terdapat dalam perusahaan,
semakin besar volume penjualn kredit maka semakin besar pula investasi
dalam piutang perusahaan akan semain besar. Sebaliknya, semakin kecil
volume penjualan kredit yang ditetapkan perusahaan maka jumlah piutang
akan semakin kecil.
b. Syarat pembayaran penjualan kredit
Syarat atas penjualan kredit yang ditetapkan pihak perusahaan dapat bersifat
ketat atau lunak. Semakin ketat syarat pembayaran yang ditetapkan, maka
semakin cepat pengembalian piutang. Sehingga jumlah piutangnya
perusahaan akan semakin kecil. Sebaliknya semakin lunak syarat
pembayaran yang ditetapkan, maka pengembalian piutang akan lebih lama
dan jumlah piutang akan lebih besar.
c. Ketentuan tentang pembatasan kredit
Dalam penjualan kredit, perusahaan dapat menetapkan batas pemberian
kredit kepada pelanggan. Semakin tinggi batas yang ditetapkan, maka
semakin besar pelanggan membeli secara kredit, sehingga jumlah piutang
akan lebih besar.
d. Kebijaksanaan dalam mengumpulkan piutang
Kebijaksanaan dalam mengumpulkan piutang dapat dilakukan secara aktif
maupun pasif. Bila digunakan secara aktif, maka perusahaan harus
mengeluarkan biaya tambahan untuk mendanai usaha ini. Dengan
menggunakan cara ini piutang yang ada akan cepat tertagih, sehingga akan
memperkecil jumlah piutang perusahaan. Namun, bila perusahaan
menerapkan cara pasif, maka pengumpulan piutang akan lebih lama
sehingga jumlah piutang perusahaan akan lebih besar.
e. Kebiasaan membayar dari para pelanggan
Kebiasaan para pelanggan untuk membayar dalam periode cash discount
akan mengakibatkan jumlah piutang lebih kecil, sedangkan jika pelanggan
membayar pada periode sesudah cash discount akan mengakibatkan jumlah
piutang lebih besar, karena jumlah dana yang tertanam dalam piutang lebih
lama untuk terealisasi menjadi kas

Perputaran Persediaan


Menurut Kasmir (2012:180) perputaran persediaan merupakan rasio yang
digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam sediaan
(inventory) ini berputar dalam satu periode. Rasio ini dikenal dengan nama rasio
perputaran sediaan (inventory turn over). Atau dapat diartikan dengan perputaran
sediaan merupakan rasio yang menunjukkan berapa kali jumlah barang sediaan
diganti dalam satu periode. Menurut Putra (2009:139), semakin tinggi tingkat
perputaran persediaan, kemungkinan semakin besar perusahaan akan memperoleh
keuntungan. Begitu pula sebaliknya, jika tingkat perputaran persediaannya rendah
maka kemungkinan semakin kecil perusahaan akan memperoleh keuntungan.
Munawir (Lestari, 2017) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat perputaran
persediaan akan memperkecil risiko terhadap kerugian yang disebabkan karena
penurunan harga atau karena perubahan selera konsumen, disamping itu akan
menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan tersebut.
Perputaran persediaan menunjukkan berapa kali persediaan diganti (dijual)
dalam waktu satu tahun. Dengan demikian, tingkat perputaran persediaan yang
tinggi mengindikasikan bahwa tingkat penjualan yang tinggi pada perusahaan.
Dengan tingkat perputaran persediaan yang tinggi berarti risiko kerugian dan biaya
terhadap persediaan dapat diminimalkan. Rasio perputaran persediaan dapat
dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘‘π‘–π‘Žπ‘Žπ‘› = π»π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘Ž π‘ƒπ‘œπ‘˜π‘œπ‘˜ π‘ƒπ‘’π‘›π‘—π‘’π‘Žπ‘™π‘Žπ‘›
π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘‘π‘–π‘Žπ‘Žπ‘› π‘…π‘Žπ‘‘π‘Ž βˆ’ π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž
Nilai rata-rata persediaan dihitung dari nilai saldo awal persediaan (saldo tahun
sebelumnya) ditambah dengan saldo akhir persediaan (saldo tahun saat ini) lalu
dibagi dua (Santoso, 2018:18). Variabel ini diukur dengan menggunakan satuan
β€œkali” dalam satu tahun. Berikut rumusnya:
π‘…π‘Žπ‘‘π‘Ž βˆ’ π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘‘π‘–π‘Žπ‘Žπ‘› = π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘‘π‘–π‘Žπ‘› π΄π‘€π‘Žπ‘™ + π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘‘π‘–π‘Žπ‘Žπ‘› π΄π‘˜β„Žπ‘–π‘Ÿ
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rasio perputaran persediaan dapat
mengukur efisiensi perusahaan dalam mengelola dan menjual persediaan serta
mengukur likuiditas persediaan perusahaan. Semakin tinggi tingkat perpuataran
persediaan maka semakin tinggi kesempatan perusahaan untuk memperoleh laba

Persediaan


Persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik
perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu atau
persediaan barang-barang yang masih dalam proses pengerjaan ataupun proses
produksi bahkan persediaan bahan baku yang telah menunggu pemakaiannya
didalam proses produksi (Alexandri, 2009: 135). Menurut Baridwan (2014:149),
persediaan adalah barang dipakai untuk menunjukkan barang-barang yang dimiliki
untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan
dijual. Secara umum, persediaan merupakan sejumlah barang yang disediakan
untuk proses produksi dalam perusahaan serta barang-barang atau produk jadi
untuk memenuhi permintaan konsumen atau pelanggan dan termasuk dalam
golongan aset lancar perusahaan yang memiliki peran penting dalam menghasilkan
laba perusahaan.
Unsur persediaan penting dalam perusahaan karena jumlah persediaan dapat
menentukan kelancaran produksi serta efektifitas dan efisiensi perusahaan. Pada
beberapa perusahaan, ada kebijakan untuk menjaga jumlah persediaan pada jumlah
tertentu. Dalam banyak kasus, jumlah persediaan yang sedikit akan mengurangi
kesempatan untuk mendapatkan optimum penjualan. Jumlah persediaan yang
berlebihan akan menambah biaya, seperti biaya gudang dan asuransi (Santoso,
2014:47). Oleh karena itu manajemen harus mengelola persediaan perusahaan
dengan sebaik-baiknya sehingga kegiatan penjualan perusahaan dapat berjalan
dengan baik.
Berikut adalah jenis-jenis persediaan di dalam perusahaan dagang, perusahaan
industri, dan perusahaan jasa yang dikemukakan oleh La Midjan dan Susanto
(2011:150).
a. Persediaan bahan baku
b. Persediaan barang dalam proses
c. Persediaan hasil jadi
d. Persediaan suku cadang
e. Persediaan bahan bakar
f. Persediaan barang cetakan dan alat tulis
g. Persediaan barang dagangan
Untuk mempertahankan tingkat persediaan, perusahaan dagang harus selalu
menyelenggarakan pencatatan persediaan secara sistematis untuk mengetahui
berapa besarnya barang dagangan yang tersedia untuk dijual dan juga berapa yang
telah laku terjual. Terdapat dua metode akuntansi yang lazim dipakai dalam
mencatat persediaan barang dagangan (Satria, 2016:59) yaitu:
a. Sistem Pencatatan Perpetual
Dalam metode perpetual, baik jumlah penjualan maupun harga pokok
penjualan dan dicatat pada setiap saat barang dijual. Dengan cara ini catatan
akuntansi akan secara terus menerus mengungkapkan besarnya persediaan
yang ada.
b. Sistem Pencatatan Periodik
Dalam metode periodik, adanya transaksi pembelian tidak didebet pada
rekening persediaan tapi didebet pada rekening pembelian begitu juga
dengan transaksi penjualan tidak dikredit pada rekening persediaan tapi
pada rekening penjualan. Informasi mengenai persediaan yang ada pada
suatu saat tertentu, tidak didapat dari rekening persediaan tapi melalui
perhitungan fisik atas persediaan yang ada digudang. Perhitungan fisik biasa
dilakukan pada saat perusahaan akan menyusun laporan keuangan. Dalam
metode ini perhitungan fisik mempunyai peranan penting, karena tanpa
perhitungan fisik laporan keuangan tidak dapat disusun

Perputaran Kas


Kas memiliki hubungan yang erat dengan penjualan. Kas dapat dihubungkan
dengan penjualan melalui perbandingan antara jumlah penjualan bersih dengan
jumlah rata-rata kas yang mana menggambarkan tingkat perputaran kas (cash
turnover). Perputaran kas menggambarkan kemampuan kas dalam menghasilkan
pendapatan sehingga dapat dilihat berapa kali uang kas berputar dalam satu periode
tertentu. Rasio ini digunakan untuk megukur tingkat ketersediaan kas untuk
membayar utang dan biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan (Kasmir,
2012:140). Menghitung perputaran kas dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘› πΎπ‘Žπ‘  = π‘ƒπ‘’π‘›π‘—π‘’π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–β„Ž
πΎπ‘Žπ‘  π‘…π‘Žπ‘‘π‘Ž βˆ’ π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž
Rata – rata kas dapat dihitung dengan kas tahun sebelumnya ditambah dengan
kas tahun ini dibagi dua. Variabel ini diukur dengan menggunakan satuan β€œkali”
dalam satu tahun. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kas sangat
berperan dalam menentukan kelancaran kegiatan perusahaan. Oleh karena itu, kas
harus direncanakan dan diawasi dengan baik dari segi penerimaan dan
pengeluarannya. Menurut Riyanto (2008:254) semakin tinggi perputaran kas akan
semakin baik, karena ini berarti semakin tinggi efisiensi penggunaan kasnya dan
keuntungan yang diperoleh akan semakin besa

Kas


Kas adalah aktiva perusahaan yang berupa uang tunai dan segala sesuatu yang
dapat disifati sebagai uang tunai dan aktiva perusahaan yang tidak produktif dan
sangat rentan terhadap perubahan nilai atau perubahan daya beli dan
penyalahgunaan. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah manajemen kas yang baik
(Satria, 2016:24).
Menurut Rudianto (2012:188), pengertian kas adalah suatu alat pertukaran
yang dimiliki oleh perusahaan dan siap untuk digunakan dalam transaksi
perusahaan setiap kali diperlukan. Karena itu kas mencakup semua alat pembayaran
yang dimiliki perusahaan yang disimpan di dalam perusahaan maupun di bank dan
siap dipergunakan. Sedangkan menurut Munawir (2014:158), kas merupakan
aktiva yang paling likuid atau merupakan salah satu unsur modal kerja yang paling
tinggi likuiditasnya, berarti bahwa semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh
suatu perusahaan akan semakin tinggi pula likuiditasnya. Jika likuiditas perusahaan
tinggi karena adanya jumlah kas yang besar maka tingkat perputaran kas tersebut
rendah. Oleh karena itu, perusahaan dalam menjalankan usahanya membutuhkan
uang tunai ataupun dalam bentuk investasi aktiva tetap untuk operasional
perusahaan sehari-hari. Jumlah kas yang ada dalam perusahaan hendaknya tidak
kurang dari 5% sampai 10% dari jumlah aktiva lancar (Riyanto, 2008:95). Jadi kas
harus siap sedia untuk digunakan membiayai operasi atau membayar kewajiban
jangka pendek perusahaan.
Keynes menyatakan bahwa ada tiga motif untuk memiliki kas yang dikutip oleh
Widiarti (2020:7), yaitu:
a. Motif Transaksi
Motif Transaksi berarti perusahaan menyediakan kas untuk membayar
berbagai transaksi bisnisnya. Baik transaksi yang regular maupun yang tidak
regular.
b. Motif Berjaga-jaga
Motif berjaga-jaga dimaksudkan untuk mempertahankan saldo kas guna
memenuhi permintaan kas yang sifatnya tidak terduga. Seandainya semua
pengeluaran dan pemasukan kas bisa diprediksi dengan sangat akurat, maka
saldo kas untuk maksud berjaga-jaga akan sangat rendah. Selain akurasi
prediksi kas, apabila perusahaan mempunyai akses kuat ke sumber dana
eksternal, saldo kas ini juga akan rendah. Motif berjaga-jaga ini nampak
dalam kebijakan penentuan saldo kas minimal dalam penyusunan anggaran
kas.
c. Motif Spekulatif
Motif spekulatif dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari memiliki
atau menginvestasikan kas dalam bentuk investasi yang sangat likuid.
Biasanya jenis investasi yang dipilih adalah investasi pada sekuritas.
Apabila tingkat bunga diperkirakan turun, maka perusahaan akan merubah
kas yang dimiliki menjadi saham, dengan harapan saham akan naik apabila
memang semua pemodal berpendapat bahwa suku bunga akan (dan
mungkin telah) turun”.
Menurut Munawir (2014:159), sumber kas pada dasarnya dapat berasal dari:
a. Hasil penjualan investasi jangka panjang dan aktiva tetap yang diikuti
dengan penambahan kas.
b. Pengeluaran surat tanda bukti hutang, baik jangka pendek maupun jangka
panjang serta bertambahnya hutang yang diimbangi dengan adanya
penerimaan kas.
c. Penjualan atau adanya emisi saham maupun adanya penambahan modal
oleh pemilik perusahaan dalam bentuk kas.
d. Adanya penurunan atau berkurangnya aktiva lancer selain kas uang
diimbangi dengan adanya penerimaan kas.
e. Adanya penerimaan kas karena sewa, bunga atau deviden dari investasinya.
Sedangkan pengeluaran kas dapat disebabkan adanya transaksi-transaksi
sebagai berikut:
a. Pembelian saham atau obligasi sebagai investasi jangka pendek maupun
jangka panjang serta adanya pembelian aktiva tetap lainnya.
b. Penarikan kembali saham yang beredar maupun pengembalian oleh pemilik
perushaan.
c. Pelunasan atau pembayaran angsuran hutang jangka pendek atau jangka
Panjang.
d. Pembelian barang dagangan secara tunai, adanya pembayaran biaya operasi
yang meliputi upah dan gaji, pembelian perlengkapan kantor, pembayaran
bunga dan premi asuransi serta adanya persekot biaya maupun persekot
pembelian.
e. Pengeluaran kas untuk membayar deviden, pembayaran pajak, denda-denda
lainnya

Dampak Negatif Labour Turnover
Akibat-akibat negatif labour turnover bagi perusahaan antara lain adalah
(Mobley, 2011;20):

  1. Biaya Pergantian Karyawan Mahal
    Akibat dari suatu pergantian karyawan terhadap organisasi yang paling sering
    ditelaah adalah biaya moneternya meskipun sudah bertahun-tahun di
    tekankan pentingnya pengukuran biaya pergantian karyawan, sangat
    mengherankan bahwa tidak banyak organisasi yang secara sistematis
    berikhtiar untuk mengevaluasi biaya-biaya pergantian karyawan yang
    langsung dan tidak langsung. Flamholtz dalam Mobley (2011;22) menyajikan
    model-model pemerkiraan biaya biaya sumber daya manusia yang masuk dan
    biaya-biaya pergantian.Masalah pola komunikasi dan sosial
  2. Pola-pola komunikasi dan sosial yang formal dan yang tidak formal merupakan ciri khas dari setiap organisasi. Apabila mereka yang pergi itu merupakan kerabat-kerabat kerja yang berharga, apabila mereka merupakan pusat dari suatu jaringan komunikasi, dan apabila mereka merupakan kerja yang terpadu, pergantian mereka dapat menimbulkan efek-efek negatif terhadap mereka yang tinggal, yang akan merupakan beban tambahan dan kemungkinan menurunkan prestais pula.
  3. Merosotnya semangat kerja
    Berhubung erat kaitanya dengan masalah prestasi dan pola-pola sosial
    komunikasi, maka pergantian karyawan dapat memberikan pengaruh yang
    negatif pada mereka yang tinggal. Pergantian karyawan itu sendiri dapat
    mendorong pada bertambahnya pergantian akibat dari terciptanya sikap-sikap
    yang kurang baik dan kemungkinan adanya pekerjaan-pekerjaan lai. Dengan
    demikian para karyawan yang sebelum itu tidak mencari pekerjaan lain akan
    mulai mencarinya, sebagaimana akan nampak bagian mengenai akibat-akibat
    terhadap individu, efek-efek pergantian karyawan terhadap sikap dan perilaku
    mereka yang tinggal, sebagian menjadi alasan untuk perg, dan ini ada sangkut
    pautnya dengan prestasi, dukungan sosial, dan mobilitas intern bagi mereka
    yang tinggal.
  4. Strategi-strategi pengendalian yang kaku
    Suatu kemungkinan akibat negatif lain bagi organisasi adalah bahwa akan
    dilaksanakan strategi-strategi pergantian karyawan yang kaku. Meskipun
    pergantian karyawan merupakan perilaku yang dapat di lihat, tetapi karena
    informasi yang cukup tentang sebab akibatnya sering kali tidak di dapat,
    maka manajemen kerap kali menghadapinya dengan tanggapan-tanggapan
    yang kurang tepat, kurang efektif, atau kurang produktif.
  5. Biaya-biaya peluang strategik
    Pergantian karyawan dapat menimbulkan efek negatif yang parah bagi
    organisasi, misalnya dengan membuat organisasi itu menunda atau
    membatalkan usaha-usaha yang mempunyai kemampulabaan cukup besar.
    Sebagai contoh, kami penah bekerja pada suatu perusahaan sumber energi
    yang memiliki potensi besar. Kami menyaksikan manajemenya sedang
    menilai perlunya pembatalan beberapa usaha baru sebagai akibat langsung
    dari kendala sumber daya manusia yang disebabkan oleh pergantian
    karyawan senior bagian teknik dan manajemen. Sebuah rumah sakit tempat
    penulis pernah bekerja terpaksa menunda pembukaan suatu bagian baru
    karena tidak dapat menarik dan mempertahankan perawat-perawat yang ada

Pengendalian Labour Turnover


Menurut Mobley (2011;73) Pengendalian labour turnover adalah memanajemeni
pergantian karyawan secara efektif, mendorong terjadinya pergantian bila
pengendalian itu memberikan akibat-akibat akhir yang positif, dan mencarai jalan
untuk sebanyak mungkin mengurangi pergantian bila pergantian itu akan
mempunyai akibat-akibat akhir yang negatif. Hal-hal yang harus di manage dalam
proses manajemen adalah perekrutan serta seleksi karyawan, sosialisasi awal,
bobot/beban pekerjaan, praktik kompensasi, kepemimpinan dan penyeliaan,
perencanaan dan pengembangan karir, jadwal pekerjaan alternativ, dan peluang
atau kesempatan lain untuk memanajemeni pergantian karyawan secara efektif

  1. Perekrutan serta seleksi karyawan dan sosialisasi awal
    Wanous dalam Mobley (2012;74) berpendapat bahwa proses memasuki
    organisasi adalah proses menyesuaikan individu dan organisasi. Penyesuain
    ini di dasarkan atas bakat dan kemampuan individu yang memenuhi kriteria
    pekerjaan dan nilai-nilai, preferensi-preferensi, serta harapan-harapan
    individu yang sesuai dengan norma, kebijakan, praktik, sistem penggajian,
    serta syarat-syarat keorganisasian. Pada proses penyesuaian terdapat
    ancangan tradisonal yang di dasarkan atas pemerkiraan organisasi terhadap
    individunya yang berkaitan dengan syarat-syarat organisasi dan pekerjaan,
    salah satunya seperti ujian-ujian yang telah di bakukan, comtoh-contoh
    pekerjaan, wawancara, formulir-formulir pelamaran yang berbobot, catatan-
    catatan biodata. Bila di benarkandapat berupa teknik-teknik yang bermanfaat
    (Arvey dalam Mobley, 2012;75).
    Menurut Mobley (2012;77) Setelah memasuki organisasi sangat penting
    untuk membentuk sikap dan perilaku karyawan dengan cara :
    a. Di beri harapan-harapan yang tepat tentang apa yang di perlukan dalam
    pekerjaanya dan apa yang di harapkan oleh organisasi.
    b. Di beri suatu pengertian yang jelas mengenai kemungkinan-kemungkinan
    imbalan atau kompensasi
    c. Di beri bantuan menegakkan suatu sistem jaminan sosial di antara
    sesamanya, penyelia, dan orang lain.
  2. Beban atau bobot pekerjaan
    Mobley (2012;80) menggunakan analogi antara pekerjaan dan permainan golf
    untuk menggambarkan beberapa hal mengenai rancangan pekerjaan. Sejauh
    tujuan-tujuanya tidak jelas, umpan-baliknya tidak langsung atau tertunda-
    tunda, variasi kerja kecil akibat spesialisasi dan rutinitas, tanggung gugat,
    kebijakan dan pengendalian diri sudah sangat berkurang, maka permainan
    seperti golf, dan pekerjaan lainnya, akan menjemukan dan menekan jiwa bagi
    para individu yang mencari makna dan identitas. Tidak semua individu
    mengahrgai β€œpemerkayaan” pekerjaan dan rancang ulang setiap pekerjaan tidak
    selalu tepat. Masalahnya adalah bagaimana menyesuaikan kemampuan, minat,
    dan nilai-nilai individual secara efektif kepada kebutuhan tugas dan organisasi.
  3. Praktik Kompensasi
    Perbedaan penentuan gaji antar perusahaan memiliki hubungan dengan laju
    pergantian karyawan. Meskipun hubungan ini jauh dari menentukan dan tidak
    menunjukkan ramalan pergantian karyawan pada tingkat individual, jelaslah
    bahwa organisasi harus meneruskan pemerkiraan daya saing upah dan
    maslahat-maslahat organisasi itu di pasar tenaga kerja yang bersangkutan.
    Pemerikasaan manajerial untuk mengantisipasi dampak upah akan
    memungkinkan evaluasi yang tepat waktu terhadap strategi-strategi baru
    (Mobley, 2012;83).
  4. Kepemimpinan dan penyeliaan
    Penyelia adalah sumber utama informasi peran, harapan-harapan terhadap
    peran, umpan balik dan tunjagan sosial bagi karyawan baru dan kegiatan
    Penyelia adalah sumber utama informasi peran, harapan-harapan terhadap
    peran, umpan balik dan tunjagan sosial bagi karyawan baru dan kegiatan
    kegiatan penting penyeliaan yang menyangkut karyawan baru mencakup :
    a. membantu karyawan baru dengan memperkecik ketaksaan keadaanya yang
    baru, mengajar cara-car, norma-norma, dan jaringan komunikasi yang
    formal dan informal.
    b. Menjelaskan dan merundingkan tujuan dan imbalan baru sedikit demi
    sedikit mengukuhkan perkiraan-perkiraan yang makin dekat pada perilaku
    peran yang di harapkan.
  5. Perencanaan dan Pengembangan Karir
    Pergantian karyawan berhubungan dengan kepuasan yang sekarang dan
    harapan-harapan di masa depan, serta penilaian pekerjaan-pekerjaan dan peran-
    peran di dalam atau di luar organisasi. Bagi karyawan-karyawan yang
    menghargai pelatihan atau mengasah keterampilan dan kemampuan untuk
    meningkatkan prestasi mereka, pelatihan dan pengembangan yang di dukung
    organisasi dapat menambah kepuasan bagi karyawan terhadap pekerjaan.
    Meskipun para karyawan merasa puas dengan pekerjaannya yang
    sekarang, mereka mungkin keluar karena tidak mempunyai harapan akan
    mendapatkan peran yang memuaskan di masa yang akan datang. Penting untuk
    mengetahui bahwa suatu proses perencanaan dan pengembangan karir yang
    dapat bertahan, yang mencakup pemerkiraan bersama antara karyawan dan
    organisasi yang berkesinambungan mengenai kemungkinan-kemungkinan
    keberhasilan sepanjang berbagai jalan karir, dalam beberapa hal akan
    menggairahkan pergantian karyawan.
  6. Jadwal-jadwal kerja alternatif
    Regu-regu yang bergilir, regu-regu yang ridak di dasarkan pada hari-hari
    tertentu dan atau kebiasaan untuk bekerja sehari penuh mungkin menyebabkan
    beberapa individu mencari pekerjaan-pekerjaan lain, atau tidak melamar.
    Menurut nollen dalam Mobley (2012;98) Jam-jam kerja yang luwes dan pilihan
    di luar delapan jam kerja, lima hari kerja dalam seminggu, juga dapat berguna
    bagi perekrutan dan usaha menahan karyawan. Keluwesan dalam jam kerja dan
    kerja beregu itu sama sekali bukan merupakan kecenderungan yang lebih
    bersifat nasional, bagian terbesar organisasi-organisasi yang mengikuti
    organisasi organisai itu menyatakan kepuasan mereka.
  7. Peluang atau kesempatan lain untuk memanajemeni pergantian karyawan
    secara efektif
    a. Jaminan
    Organisasi-organisasi yang memperhatikan fluktuasi dalam tingkat-tingkat
    kekaryawanan mungkin mendapatkan kesulitan dalam mempertahankan
    karyawan-karyawan mereka karena mengakhawatirkan pemecatan. Dana
    jaminan atau patungan kerja dapat digunakan untuk menyangga beberapa
    dari dampak kecenderungan merosotnya keaadaan ekonomi, dan demikian
    membantu mengurangi kontribusi pergantian karyawan terhadap jaminan
    pekerjaan. Dengan demikian diperlukan penelaahan yang hati-hati
    terhadap implikasi ekonomi dari strategi seperti itu sebelum dilaksanakan.
    b. kondisi-kondisi kerja
    Keadaan fisik lingkungan kerja tidak dapat di abaikan. Peraturan,
    publisitas, dan kesadaran umum akan kondisi-kondisi keselamatan dan
    lingkungan yang bertambah, bersamaan dengan sarana pabrik di negara ini
    yang bertambah tua, membawa pada hipotesis bahwa kondisi kerja akan
    menjadi faktor yang makin penting dalam hal perekrutan dan usaha
    mempertahankan karyawan.
    c. Pembentukan tim
    Bobot pekerjaan, penyelia, tujuan organisasi dan lain-lain dapat menjadi
    sumber keikatan pada organisasi, demikian juga halnyadengan kelompok
    kerja karyawan dan kelompok kerja yang di perluas dengan siapa tiap-tiap
    karyawan berinteraksi.
    d. Sentralisasi
    Peninjauan yang di lakukan oleh Price dalam Mobley (2012;102)
    mengambil kesimpulan bahwa organisasi-organisasi yang sangat
    tersentralisasi lebih banyak mengalami pergantian karyawan. Hubunganya
    mungkin ada pada faktor-faktor seperti kurangnya autonomi, kurangnya
    keterlibatan dalam pengambilan keputusan, kurangnya waktu dalam
    menanggapai kebutuhan unit dan individu dan kurangnya pengendalian
    yangt tercapai.
    e. Komunikasi
    Price dalam Mobley (2012;102) mengemukakan bahwa komunikasi
    organisasi secara formal dan komunikasi yang di dasarkan atas penentuan
    tugas adalah faktor-faktor penentu pergantian karyawan. Mengembangkan
    umpan balik yang didasarkan atas penentuan tugas dan dijalankan secara
    langsung dan berulang-ulang serta saluran komunikasi formal yang
    bersifat ganda, berulang dan terpercaya adalah sasaran yang berharga.
    f. Keikatan Keorganisasian
    Kepercayaan individu dan tunjang terimanya terhadap tujuan dan nilai-
    nilai organisasi merupakan bagian terbesar dari keikatan organisasi.
    Pengenalan terhadap suatu tujuan dan nilai nilai seperti itu merupakan
    suatu pemustaan lain pada kelengkapan lain pada organisasi. Pengenalan
    ini dapat ditingkatkan melalui suatu perincian mengenai dasar pemikiran
    dari tujuan-tujuan dan niali-nilai organisasi, dan keterlibatan proses

Faktor Penyebab Terjadinya Labour Turnover

Ekonomi Extern
a. Tingkat-tingkat pemekerjaan pengangguran
Terdapat hubungan ang jelas antara laju labour turnover dan keadaan
ekonomi. March dan Simon mengemukakan bahwa β€œdalam hampir setiap
keadaan, satu-satunya peramal labour turnover yang paling tepat yakni
keadaan ekonomi” , price dalam meninjau pustaka tentang tingkatan-
tingkatan pemekerjaan dan laju labour turnover, tidak menemukan bukti-
bukti yang menyanggah hubungan ini.
b. Komposisi dan bauran angkatan kerja
Sisa dari abad ke duapuluh akan ditandai oleh suatu komposisi dan
bauran angkatan kerja yang berbeda sekali dengan dasawarsa
sebelumnya. Dewasa ini kita berada pada abad β€œkekurangan bayi” bukan
β€œkebanyakan bayi”, dan kependudukan mulai tua sebagai akibat ledakan
bayi sebelumnya. Sementara para ahli ekonomi secara aktif menganalisis
implikasi dari perubahan-perubahan ini. Menejemen dan kepustakaan
mengenai sumber daya manusia tidak memusatkan perhatiannya pada
jangkauan dan implikasi-implikasi perubahan itu. Drucker dalam Mobley
(2011;117) mengemukakan bahwa suatu perubahan penting yang akan
terjadi pada dasawarsa yang akan datang adalah struktur dan dinamika
angkatan kerja yang berubah-ubah. labour turnover pasti merupakan satu
implikasi penting dari komposisi dan bauran angkatan kerja yang
berubah-ubah.
c. Inflasi
Inflasi dapat mempengaruhi pergantian karyawan dan variabel-variabel
lainnya yang berkaitan dengan pergantian tersebut dengan banyak cara,
termasuk:
1) Mendorong penerima-penerima upah sekunder untuk memasuki pasar
tenaga kerja guna melengkapi penghasilan keluarga.
1) Mendorong pergantian karyawan sebagai suatu cara untuk melindungi
penghasilan.
2) Meniadakan keinginan akan pergantian karyawan yang melibatkan
mobilitas geografis karena biaya-biaya pindah
d. Tipe industri
Terdapat tanda-tanda variasi antar industri dalam hal laju labour
turnover. Namun karena laju industri tidak begitu sering di tabulasi
silangkan dengan jabatan, besar kecilnya sacara geografs atau variabel-
variabel relevan yang potensial lainnya, maka tidak dapat di berikan
perumusan umum yang tegas.

  1. Variabel-variabel keorganisasian
    Satu-satunya perumusan umum yang kuat dapat dibuat perihal kumpulan
    analisis mengenai variabel-variabel organissi adalah bahwa laju labour
    turnover itu lebih tinggi pada industri-industri yang membayar lebih kecil.
    Namun adapun yang dihubungkan dengan laju labour turnover yang lebih
    tinggi yaitu kelompok kerja yang lebih besar dan tingkat-tingkat keterampilan
    yang lebih rendah dikalangan tenaga kerja halus. Dan bahwa rutinitas atau
    pengulangan tugas, pertimbangan penyeliaan yang kurang banyak, banyaknya
    sentralisasi kurangnya keterpaduan, dan kurangnya komunikasi di hubungkan
    dengan laju labour turnover yang lebih tinggi.
  2. Variabel-variabel individu yang menyangkut pekerjaan
    a. Faktor-faktor demografik dan pribadi
    Satu-satunya kesimpualan kuat yang dapat kita tarik dari seperangkat
    variabel-variabel ini ialah bahwa usia dan masa jabatan mempunyai
    hubungan negatif yang taat asas dengan labour turnover. Ada bukti
    bahwa informasi biografis yang berbobot dapat bermanfaat tetapi harus
    dinilai silang. Selanjutnya terbatasnya jumlah penelitian mengenaisumber
    penyerahan tenaga kerja memberi kesan adanya hubungan yang
    bermanfaat, dengan sumber-sumber informal yang memperagakan
    labour turnover yang lebih kecil. Minat, bakat, dan kemampuan telah
    dihubungkan dengan labour turnover, tetapi jumlah, mutu, dan hasil-
    hasil penelitian seperti itu tidak cukup untuk membenarkan hubungan ini.
    Alhasil bukti-bukti mengenai labour turnover dan kepribadian, jenis
    kelamin, pendidikan, profesionalismne prestasi kerja, dan kemangkiran
    tetap tidak meyakinkan.
    b. Variabel-variabel terpadu
    Telah disarankan sejumlah variabel yang mencoba untuk memadukan
    perbedaan-perbedaan individual, cerapan berbagai segi keorganisasian,
    dan lingkungan ekstern. Variabel-veriabel ini mencankup kepuasan
    terhadap pekerjaan, aspirasi-aspirasi dan harapan karir, keikatan pada
    organisasi, tekanan jiwa, harapan-harapan yang menyangkut pekerjaan.
  3. Variabel-variabel individu yang tidak menyangkut pekerjaan
    Secara naluriah, keputusan individu untuk meninggalkan pekerjaan-pekerjaan
    kelihatannya bukan hanya melibatkan penilaian mengenai pekerjaannya yang
    sekarang dan mungkin juga yang akan datang baik di dalam maupun diluar
    organisasinya, tetapi juga penenilainnya mengenai variabel-variabel yang
    tidak berkenaan dengan pekerjaan seperti keluarga, pilihan-pilihan mengenai
    hal-hal yang santai, gaya hidup dan sebagainya.
    Hingga sekarang, sebagian besar dari penelitian-penelitian mengenai
    labour turnover telah memusatkan perhatin pada hal-hal yang umumnya
    disebut β€œtanggung jawab keluarga”. Ini merupakan suatu faktor yang
    kompleks yang diukur dengan berbagai cara, termasuk jumlah dan usia anak-
    anak, status perkawinan, dan sebagainya. Meskipun perumusan umum yang
    sederhana itu tidak mungkin, Mucinsky dan Tuttle mengemukakan bahwa ada
    satu hubungan yang positif antara tanggung jawab keluarga dan labour
    turnover, tetapi ini menjadi sederhana bila ditentukan apakah karyawan itu
    menjadi pencari nafkah utama atau hanya sebagai penunjang

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Hasibuan (2018;21) Fungsi manajemen sumber daya manusia antara
lain:

  1. Perencanaan
    Perencanaan adalah merencanakan tenaga jerja secara efektif serta efisien
    agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam membantu terwujudnya
    tujuan perusahaan.
  2. Pengorganisasian
    Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua karyawan
    dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang,
    itregasi dan koordinasi falam bagan organisasi (organization chart).
  3. Pengarahan
    Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan setiap karyawan agar mau bekerja
    sama dan mau bekerja efektif serta efisien dalam membantu tercapainya
    tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Pengarahan dilakukan
    pimpinan dengan menugaskan bawahan agar mengerjakan semua tugasnya
    dengan baik.
  4. Pengendalian
    Pengendalian merupakan kegiatan mengendalikan karyawan agar mentaati
    peraturan perusahaan dan bekerja sesuai rencana. Apablia terdapat
    penyimpangan atau kesalahan, diadakan tindakan perbaikan dan
    penyempurnaan rencana.
  5. Pengadaan
    Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan
    induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan
    perusahaan. Pengadaan yang baik akan membantu terwujudnya tujuan.
  6. Pengembangan
    Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknis, teoretis,
    konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan yang
    sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini dan masa mendatang.
  7. Kompensasi
    Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung (direct) dan tidak
    langsung (indirect) berupa uang atau barang kepada karyawan sebagai
    imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan. Prinsip kompensasi adalah
    adil dan layak. Adil diartikan sesuai dengan prestasi kerja, sedangkan layak
    diartikan dapat memenuhi kebutuhan primer serta berpedoman pada batas
    upah minimum pemerintah dan berdasarkan internal dan eksternal
    konsistensi.
  8. Pengintegrasian
    Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
    perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang serasi dan
    saling menguntungkan. Perusahaan memperoleh keberhasilan/ keuntungan,
    sedangkan di lain pihak karyawan dapat memenuhi kebutuhan dari hasil
    pekerjaannya. Pengintegrasian merupakan hal yang penting dalam msdm,
    karena mempersatukan dua kepentingan yang bertolak belakang.
  9. Pemeliharaan
    Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi
    fisik, mental dan loyalitas karyawan, agar mereka mau tetap bekerja sama
    sampai pensiun. Pemeliharaan yang baik dilakukan dengan program
    kesejahteraan yang berdasarkan kebutuhan sebagian besar karyawan, serta
    berpedoman kepada internal dan eksternal konsistensi.
  10. Kedisiplinan
    Kedisiplinan adalah salah satu fungsi manajemen sumber daya manusia yang
    terpenting dan merupakan kunci terwujudnya tujuan organisasi, karena tanpa
    adanya kedisiplinan maka sulit mewujudkan tujuan yang maksimal.
    Kedisiplinan merupakan keinginan dan kesadaran untuk mentaati peraturan
    perusahaan dan norma sosial.
  11. Pemberhentian
    Pemberhentian adalah putusnya hubungan kerja seorang karyawan dari suatu
    perusahaan. Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan karyawan,
    keinginan organisasi, berakhirnya kontrak kerja, pensiun dan sebab lainnya

Pengertian Manajemen Sumberdaya Manusia


Manajemen berasal dari kata β€œto manage” yang artinya mengatur. Pengaturan
dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi
manajemen tersebut. Menurut Hasibuan (2018;1) manajemen adalah ilmu dan seni
mengatur manusia dan sumber-sumber lainya secara efektif dan efisien untuk
mencapai suatu tujuan tertentu. Sedangkan menurut Appley dan Oey Ling Lee
(2010;16) Manajemen adalah seni dan ilmu, dalam manajemen terdapat stragtegi
memanfaatkan tenaga dan pikiran orang lain untuk melaksanakan suatu aktifitas
yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Manajemen sumber daya manusia menurut Hasibuan (2018;10) adalah
ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan
efisien membantu terwujudanya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
Sementara Mangkunegara (2011;2) menyatakan bahwa Manajemen sumber daya
manusia dapat didefinisikan sebagai suatu pengelolaan dan pendayagunaan
dan brainstorming)
sumber daya yang ada pada individu (karyawan). Pengelolaan dan pendayagunaan
tersebut dikembangkan secara maksimal di dalam dunia kerja untuk mencapai
tujuan organisasi dan pengembangan individu karyawan.
Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa,
manajemen sumber daya manusia merupakan ilmu yang mengatur hubungan dan
peranan tenaga kerja dengan memastikan penggunaan sumber daya manusia
secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan

Pengaruh Kompensasi terhadap Turnover intention


Kompensasi merupakan bentuk imbalan jasa atas pekerjaan yang
dilakukan oleh seseorang yang berupa gaji, tunjangan, bonus dan lainnya. Selain
itu kompensasi juga merupakan salah satu hal yang paling penting untuk seseorang
dalam mencari pekerjaanya karena ketika seseorang tidak puas terhadap
kompensasi yang diterima maka tidak sedikit kemungkinan seseorang untuk
mempunyai niat keluar dari pekerjaan tersebut Ardan & Jaelani, (2021). Turnover
intention ialah kecenderungan atau hasrat karyawan untuk secara sukarela
mengakhiri hubungan kerjanya sebagai hasil dari preferensi dan keputusan pribadi
mereka sendiri. Maka dari itu selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh
Saputra et al., (2022), Angga Praditya & Irbayuni, (2022) dan Yolanda & Abrian,
(2021) menunjukkan bahwa adanya pengaruh negatif dan signifikan antara
kompensasi terhadap turnover intention yang artinya semakin rendah kompensasi
yang diberikan maka akan semakin meningkat niat karyawan untuk
mengundurkan diri dari pekerjaannya

Pengaruh Work life balance terhadap Turnover intention


Work life balance merupakan keadaan ketika karyawan merasakan adanya
keseimbangan antara kehidupan karir atau pekerjaannya dengan kehidupan
pribadi maupun keluarga. Karyawan yang mencapai work life balance akan
membuat dirinyamerasa lebih nyaman dan fokus terhadap pekerjannya, hal ini
akan mengarah pada perilaku kerja yang positif. Maka ketika karyawan mencapai
titik keseimbangan yang tinggi atau work life balance karyawan akan cenderung
memiliki keinginan yang rendah untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya, hal
ini sejalan dengan pendapat (Barage & Sudarusman, 2022) dalam penelitiannya.
Sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Maudul & Medina
Nilasari, (2022) dan Novianto, (2023) mengungkapkan bahwa work life balance
berpengaruh negatif terhadap turnover intention.

Faktor – faktor yang memengaruhi kompensasi


(Hasibuan, 2018) Menyatakan bahwa faktor- faktor yang
memengaruhi kompensasi yaitu :

  1. Penawaran dan Permintaan tenaga kerja
    Kompensasi umumnya lebih rendah ketika jumlah pencari kerja
    melebihi jumlah lowongan pekerjaan, dan sebaliknya, kompensasi
    cenderung lebih besar saat jumlah lowongan pekerjaan melebihi
    jumlah pencari kerja.
  2. Kemampuan dan kesediaan perusahaan
    Ketika perusahaan memiliki kemampuan dan kesiapan untuk
    memberi kompensasi yang lebih tinggi, tingkat kompensasi pun
    meningkat, sebaliknya jika kemampuan dan kesediaan perusahaan
    untuk memberikan kompensasi berkurang, maka tingkat kompensasi
    akan lebih rendah
  3. Produktivitas kerja karyawan
    Kompensasi meningkat sejalan dengan peningkatan produktivitas
    kerja karyawan, begitupun sebaliknya kompensasi akan berkurang
    Ketika produktivitas karyawan menurun atau rendah.
  4. Peraturan pemerintah
    Pemerintah menetapkan standar upah minimum sebagai Langkah
    penting untuk mencegah pengusaha melakukan penetapan upah bagi
    karyawan secara sewenang-wenang. Penetapan standar tersebut
    biasanya disebut juga dengan upah minimum regional (UMR).
  5. Biaya hidup
    Kompensasi atau upah akan lebih besar didaerah dengan biaya hidup
    yang tinggi, sementara di daerah dengan biaya hidup rendah
    kompensasi juga akan lebih rendah

Indikator kompensasi


Indikator merupakan sesuatu yang dapat diukur dan diamati seperti
kompensasi, indikator kompensasi menurut (Noor et al., 2023) tediri dari :

  1. Gaji
    Gaji adalah jumlah uang tetap yang dibayarkan oleh perusahaan
    kepada karyawannya atas pekerjaan ruitn yang mereka lakukan.
  2. Insentif
    Insentif merupakan komponen kompensasi yang berupa tambahan
    yang diberikan kepada karyawan atas pencapaian yang diraih oleh
    karyawan seperti pencapaian target dan lain sebagainya.
  3. Tunjangan
    Tunjangan merupakan suatu biaya yang dapat membantu karyawan
    dalam mengatasi biaya khusus yang berhubungan dengan pekerjaan
    mereka yang bertujuan untuk mengurangi beban mereka serta
    menjunjung kesejahteraan karyawan

Pengertian Kompensasi


Kompensasi merujuk pada segala bentuk balas jasa, baik berupa
uang, barang, atau keuntungan lainnya yang diberikan kepada karyawan
atas kontribusinya kepada perusahaan dengan tujuan untuk
mempertahankan karyawan yang ada (Mujanah, 2019).Kompensasi juga
merupakan kewajiban yang harus diberikan oleh perusahaan kepada
karyawan sehingga karyawan mempunyai hak untuk menerima
kompensasi atas hasil kerjanya. Balas jasa yang diberikan perusahaan
kepada karyawan secara merata antar satu sama lain akan meningkatkan
produktivitas dan motivasi yang tinggi (Sarmijan et al., 2022).
Menurut penulis kompensasi merupakan segala sesuatu imbalan
yang diberikan kepada karyawan sebagai balas jasa yang memiliki nilai
uang berupa gaji atau bonus yang berperan penting untuk menjaga
hubungan perusahaan dan karyawannya

Indikator work life balance


Berdasarkan jurnal yang diteliti oleh (Widyaningrum et al., 2023)
terdapat 3 indikator work life balance yaitu manajemen waktu yang
seimbang, tingkat keterlibatan yang seimbang, tingkat kepuasan yang
seimbang dengan penjelasan sebagai berikut :

  1. Manajemen waktu yang seimbang
    Manajemen waktu yang seimbang mengacu pada kemampuan
    individu untuk mengatur dan mengelola waktu mereka dengan cara
    yang memungkinkan untuk mencapai keseimbangan antara tugas
    pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi dan keluarga
  2. Tingkat keterlibatan yang seimbang
    Tingkat keterlibatan yang seimbang dimana seseorang terlibat dalam
    pekerjaan mereka dengan intensitas yang tepat dan aspek – aspek
    penting dalam kehidupan diluar pekerjaan
  3. Tingkat kepuasan yang seimbang
    Hal ini mengacu pada rasa puas seseorang terhadap pekerjaan
    mereka sekaligus merasa puas dengan kehidupan mereka diluar
    pekerjaan, dan harus saling seimbang antara keduanya

Faktor yang memengaruhi work life balance


Haid & Prasetio, (2017) memaparkan bahwa terdapat 4 yang
memengaruhi work life balance diantaranya :

  1. Faktor Individu
    Faktor individu dalam work life balance merupakan tingkat
    ketertarikan individu terhadap pekerjannya dan kepuasan yang
    dirasakan selama melaksanakan pekerjaannya.
  2. Faktor organisasi
    Fakktor organisasi melibatkan kebijakan yang diterapkan
    ditempat kerja seperti jam kerja, beban yang diberikan kepada
    karyawan dan lain sebagainya.
  3. Faktor lingkungan
    Faktor lingkungan mencakup aspek-aspek diluar individu seperti
    budaya kerja antar individu dalam suatu organisasi. Hal ini berupa
    dukungan keluarga terhadap pekerjaan yang sedang dijalankan.
  4. Faktor lainnya
    Faktor lainnya yang dimaksud yaitu seperti usia, jenis kelamin,
    serta status perkawinan

Pengertian work life balance


Work life balance mengacu pada keseimbangan yang sehat antara
tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab kehidupan pribadi dan keluarga
(Nurdin & Rohaeni, 2020). Elfira et al., (2021) work life balance adalah
situasi Ketika seseorang dapat mengemban peran peran mereka dengan
memuaskan dan menghindari konflik antara kehidupan dan keluarga,
terutama ketika tuntutan dari pekerjaan mengganggu kemampuan mereka
memenuhi tuntutan keluarga. Sedangkan Widyaningrum et al., (2023)
mengungkapkan bahwa work life balance merupakan kemampuan
seseorang untuk menjalankan tugas pekerjaan dengan komitmen pada
keluarga, dan tetap bertanggung jawab pada aktivitas di luar pekerjaan.
Menurut penulis work life balance adalah keadaan dimana seorang
individu merasa bahwa pekerjaan yang mereka tekuni saat ini seimbang
dengan kehidupan pribadi maupun keluarganya dan juga sesuai dengan
harapan atau ekspektasi mereka dalam bekerja

Indikator turnover intention


Indikator turnover intention disini digunakan untuk mengukur
sejauh mana karyawan memiliki niat atau keinginan untuk meninggalkan
pekerjaan mereka, sedangkan terdapat 3 indikator turnover intention
menurut (Ikhsan & Hati, 2020) :

  1. Niat untuk meninggalkan (intention to quit) adalah fase awal dari
    munculnya keinginan untuk berpindah pekerjaan yang ditandai oleh
    peningkatan pelanggaran kebijakan perusahaan dan absensi yang
    lebih sering.
  2. Pencarian pekerjaan (job search) merupakan tahap berikutnya dari
    munculnya keinginan untuk berpindah pekerjaan, di mana karyawan
    mulai aktif mencari peluang pekerjaan di luar perusahaan dan secara
    aktif mengumpulkan informasi tentang peluang tersebut.
  3. Memikirkan untuk berhenti (thinking of quitting) adalah tahap
    lanjutan dalam munculnya keinginan untuk berpindah pekerjaan, di
    mana karyawan mulai merenungkan apakah mereka akan tetap
    bekerja di perusahaan saat ini atau mencari kesempatan baru di tempat
    lain

Faktor – faktor turnover intention


Turnover intention tidak akan terjadi begitu saja, pasti ada hal yang
mempengaruhi terjadinya kejadian tersebut maka dari itu menurut
(Supriadi et al., 2021) faktor turnover intention yaitu :

  1. Faktor Internal
    Faktor internal merujuk pada elemen-elemen yang berasal dari dalam
    organisasi atau perusahaan itu sendiri seperti gaji, tunjangan, insentif.
  2. Faktor Eksternal
    Faktor eksternal adalah faktor yang berkaitan dengan aspek
    situasional dan suasana lingkungan seperti work life balance, peluang
    kerja yang lebih menguntungkan, maupun rekan kerja.
  3. Faktor Personal
    Faktor personal berkaitan dengan sifat-sifat individu, termasuk cara
    pandang individu tersebut terhadap suatu pekerjaan, interpretasi
    terhadap pengalaman, karakteristik seperti usia, jenis kelamin, tingkat
    Pendidikan

Pengertian turnover intention


Turnover intention ialah niat seorang karyawan untuk
meninggalkan pekerjannya, baik atas keinginan pribadi atau kurangnya
daya tarik terhadap pekerjaannya saat ini (Ikhsan & Hati, 2020).
Sedangkan, Ratnawati & Putranti, (2022) mengungkapkan bahwa
turnover intention merupakan kecenderungan atau hasrat karyawan untuk
secara sukarela mengakhiri hubungan kerjanya sebagai hasil dari
preferensi dan keputusan pribadi mereka sendiri,

Faktor Loyalitas Karyawan


Steers dan Porter (2003) mengemukakan bahwa terdapat empat faktor yang
memengaruhi timbulnya loyalitas karyawan, diantaranya adalah

  1. Karakteristik pribadi, loyalitas karyawan dapat dipengaruhi oleh karakter
    pribadi yang meliputi usia, jenis kelamin, ras, sifat dan kepribadian,
    tingkat pendidikan, prestasi yang telah dicapai, dan masa kerja.
  2. Karakteristik pekerjaan, yang meliputi tantangan kerja, kesempatan
    berinteraksi sosial, identifikasi tugas, umpan balik terhadap tugas yang
    diberikan, stress kerja, job enrichment, dan kecocokan tugas. Karyawan
    yang merasa cocok dengan pekerjaannya cenderung lebih loyal dengan
    perusahaan karena pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan
    kemampuannya.
  3. Karakteristik desain perusahaan, dapat dilihat dari internal perusahaan itu
    sendiri. Internal dari perusahaan meliputi tingkat formalisasi,
    desentralisasi, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan keputusan, yang
    dapat ditunjukan melalui
  4. Pengalaman yang diperoleh dari pekerjaan, yang dapat beruba rasa
    percaya terhadap perusahaan, sikap positif terhadap perusahaan, dan
    merasa aman.

Aspek Loyalitas Karyawan


Menurut Siswanto (2002), aspek-aspek loyalitas kerja yang terdapat pada
individu dititikberatkan pada pelaksanaan kerja yang dilakukan karyawan, antara
lain:

  1. Taat pada peraturan. Perusahaan menerapkan kebijakan untuk
    memperlancar dan mengatur jalannya pelaksanaan tugas oleh manajemen
    perusahaan agar ditaati dan dilaksanakan dengan baik. Kebijakan ini
    dilakukan untuk membentuk rasa kedisiplinan yang dapat menguntungkan
    organisasi.
  2. Tanggung jawab pada perusahaan. Karyawan memiliki konsekuensi yang
    berupa karakteristik pekerjaan dan pelaksanaan tugas dari pekerjaan
    tersebut. Kesediaan karyawan dalam melaksanakan tugasnya dengan baik
    akan membentuk kesadaran bertanggungjawab dan keberanian karyawan
    terhadap risiko atas apa yang telah dilakukan.
  3. Kemauan untuk bekerja sama. Dengan melakukan kerja sama, tujuan dari
    perusahaan dapat lebih mudah dicapai apabila dilakukan secara kelompok
    daripada secara individual.
  4. Rasa memiliki, Karyawan yang mempunyai rasa memiliki terhadap
    perusahaan membuat karyawan menjadi memiliki sikap untuk
    bertanggungjawab terhadap perusahaan. Karyawan juga secara sukarela
    akan menjaga perusahaan, sehingga akan terbentuk rasa loyalitas dalam
    mencapai tujuan perusahaan.
  5. Hubungan antar pribadi. Loyalitas kerja yang tinggi membuat karyawan
    memiliki sikap yang fleksibel mengenai hubungan antar pribadi,
    diantaranya hubungan sosial antar karyawan, hubungan harmonis diantara
    karyawan dan atasan, kemudian situasi kerja dan sugesti dari rekan kerja.
  6. Kesukaan terhadap pekerjaan. Perusahaan harus dapat menyadari bahwa
    karyawan yang bekerja untuk perusahaan juga manusia seutuhnya.
    Karyawan yang melakukan pekerjaannya dengan senang hari dapat dilihat
    dari indikator keunggulan karyawan dalam bekerja dan karyawan yang
    tidak pernah menuntut apa yang diterima di luar upah pokok.

Definisi Loyalitas Karyawan


Robbins dan Judge (2021) berpendapat bahwa loyalitas merupakan suatu
kemauan oleh individu dalam organisasi untuk menjaga dan mengamankan
organisasinya. Hasibuan (2011) menyatakan bahwa loyalitas adalah salah satu
unsur yang dapat digunakan perusahaan dalam melakukan penilaian karyawan,
yang diantaranya mencakup kesetiaan terhadap pekerjaan dan jabatan dalam
perusahaan. Loyalitas karyawan dapat dilihat dari kesediaan karyawan dalam
membela dan menjaga organisasi dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab,
baik di dalam maupun di luar organisasi.
Menurut Reichheld dalam Utomo (2002), kemudahan organisasi dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan pemilik organisasi dipengaruhi oleh
tingginya loyalitas karyawan di organisasi tersebut. Sebaliknya, organisasi yang
tingkat loyalitas karyawannya rendah akan mengalami kesulitan dalam mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan oleh pemilik organisasi.
Jadi, elemen utama dari loyalitas adalah kepercayaan karyawan terhadap
nilai-nilai organisasi dan karenanya, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk
bersama organisasi. Seorang karyawan yang loyal terhadap organisasi bekerja lebih
giat di tempat kerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.
Hal ini merupakan faktor penting yang mempertahankan karyawan dalam
organisasi (Farrukh et. al, 2019)

Indikator Dukungan Pemimpin


Karyawan mengharapkan pimpinan memberikan dukungan agar setiap
orang dapat bekerja secara maksimal untuk mencapai tujuan bersama. Dukungan
pemimpin merupakan persepsi karyawan bahwa dia dihargai dan diperhatikan oleh
organisasi atau perusahaan tempat dia bekerja. Ketika pemimpin memperhatikan
dan menghargai upaya yang dilakukan individu untuk mencapai tujuan perusahaan,
individu akan merasa bahwa pemimpin memberikan dukungan kepada mereka.
Robbins dan Judge (2021) menyatakan bahwa indikator dukungan
pemimpin adalah: (1) memberikan nasehat dan dorongan untuk mengikuti
pelatihan; (2) mendorong partisipasi dalam pelatihan, inovasi, dan peningkatan
pengetahuan; (3) memberikan pengakuan kepada karyawan yang terlibat dalam
kegiatan. Hasil penelitian Ismail, Alam, & Roshanti (2017) menunjukkan bahwa
dukungan dari pimpinan dan pemimpin terhadap penerapan keterampilan dan
pengetahuan baru akan mendorong individu untuk menerapkannya dalam
pekerjaannya. Penelitian yang dilakukan oleh Menurut Hendri & Ramadhania
(2010) dalam banyak penelitian juga ditemukan bahwa keberhasilan tahapan dalam
proses peningkatan kinerja dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan kerja
(dukungan organisasi) seperti dukungan kepemimpinan, dukungan karyawan
lainnya, teknologi dukungan, dan pengembangan keahliannya.

Definisi Dukungan Pemimpin


Dukungan pemimpin adalah situasi di mana individu mendapat perhatian
khusus dari manajer atau pemimpinnya. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan
yang mendapat pelatihan dari pimpinan berarti telah mendapat dukungan dari
pimpinan (Anang, 2016). Dapat disimpulkan bahwa dukungan pemimpin adalah
sejauh mana pemimpin memberikan dorongan dan motivasi kepada karyawannya
dalam meningkatkan potensi diri dan menerapkan kemampuan karyawan di tempat
kerja. Dukungan pemimpin juga didefinisikan sebagai sejauh mana pemimpin
mendorong partisipasi dalam pelatihan, inovasi, dan perolehan pengetahuan serta
memberikan pengakuan kepada karyawan yang terlibat dalam kegiatan (Prabu,
2016).

Faktor Yang Memengaruhi Kepuasan Kerja


Terdapat tiga faktor utama menurut Akhyadi (2015) yang dapat
memengaruhi kepuasan kerja, adalah sebagai berikut:

  1. Faktor yang berkaitan dengan pegawai
    a. Usia. Karyawan yang berusia lebih tua atau senior merasa lebih puas bila
    dibandingkan dengan karyawan yang lebih muda. Hal ini dikarenakan
    kehidupan karyawan senior cenderung lebih mapan dan mereka telah
    memperoleh apa yang diinginkan.
    b. Jenis kelamin. Karyawan perempuan umumnya memiliki tuntutan dan
    harapan yang lebih rendah daripada karyawan laki-laki. Oleh karena itu,
    karyawan perempuan lebih mudah puas dengan pekerjanya. Salah satu
    alasan kepuasan ini adalah karena beban ekonomi karyawan perempuan
    dinilai tidak seberat laki-laki.
    c. Lamanya Pengabdian. Karyawan pada awal memulai karier merasa puas
    dengan pekerjaannya, akan tetapi pada usia 45-55 rasa puas mereka
    dengan pekerjaannya cenderung menurun dan akan menjadi meningkat
    lagi setelah itu melalui fase itu.
    d. Kepribadian. Karyawan yang dapat berinteraksi dengan atasan, rekan
    kerja, keluarga, atasan, atau manajemen mereka dan membangun
    hubungan yang baik merasa lebih bahagia daripada mereka yang tidak.
    e. Ketergantungan. Karyawan yang memiliki tanggungan keluarga yang
    sedikit cenderung lebih puas dengan pekerjaan mereka daripada karyawan
    dengan tanggungan keluarga yang besar.
    f. Ambisius. Jika kinerja dan aspirasi karyawan tidak sesuai dengan
    pekerjaan yang ada, maka akan menimbulkan ketidakpuasan.
    g. Kemampuan psikis. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpuasan jika
    karyawan tersebut memiliki tingkat disabilitas intelektual yang tinggi
    dibandingkan dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan
    tertentu.
  2. Faktor yang berkaitan dengan perusahaan
    a. Gaji. Upah atau gaji yang diberikan oleh perusahaan harus sesuai dengan
    usaha yang dikeluarkan oleh karyawan
    b. Rasa aman. Apabila karyawan merasa aman secara ekonomi, sosial, dan
    psikologis dari pekerjaannya, maka hal itu dapat menghasilkan tingkat
    kepuasan yang tinggi di antara karyawan.
    c. Kesempatan promosi. Apabila karyawan telah mengeluarkan kinerja dan
    kemampuannya secara maksimal tetapi perusahaan tidak memberikan
    promosi atas usahanya tesebut, maka hal ini dapat menyebabkan
    ketidakpuasan di antara karyawan.
    d. Pemimpin. Karyawan merasa puas dan loyal kepada pemimpin apabila
    seorang pemimpin memiliki sikap yang suportif, adil, dan berwawasan
    luas, karena sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya dapat berubah
    sesuai dengan sikap pemimpinnya.
  3. Faktor yang berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri
    a. Kondisi kerja. Karyawan menyukai pekerjaan mereka dan memberikan
    energi maksimal ketika kondisi kerjanya tepat. Cahaya, ventilasi,
    kelembaban udara, suhu, kebersihan, lokasi, dan hal lain yang
    berhubungan positif dengan kepuasan kerja.
    b. Keterampilan. Pekerjaan yang membutuhkan keterampilan menciptakan
    rasa kepuasan yang kuat di antara karyawan. Makna pekerjaan, status dan
    tanggung jawab dipengaruhi oleh keterampilan kerja. Semakin banyak
    pekerja terampil yang ada, semakin puas karyawan tersebut.
    c. Relasi dengan rekan kerja. Semakin banyak karyawan terhubung dengan
    rekan kerja, semakin banyak hubungan pribadi dan sosial yang mereka
    bangun, yang dapat berkontribusi pada kepuasan kerja.
    d. Tempat Kerja. Karyawan dapat merasa puas dengan pekerjaannya apabila
    tempat kerjanya dekat dengan fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan,
    fasilitas media, fasilitas hiburan, fasilitas transportasi dan berbagai fasilitas
    lain yang mudah dijangkau.
    e. Pekerjaan itu sendiri. Ketika perusahaan melakukan rotasi pekerjaan,
    karyawan dapat mencoba pekerjaan lain dan menambah kemampuan baru.
    Karyawan dapat merasa puas karena mereka tidak hanya melakukan
    pekerjaan yang sama secara terus-menerus.

Aspek Kepuasan Kerja


Menurut pendapat Prestawan (2010), ada beberapa aspek yang berhubungan
dengan kepuasan kerja, diantaranya adalah:

  1. Aspek psikologis, yang berkaitan dengan psikologi karyawan meliputi
    minat, keselamatan kerja, sikap terhadap pekerjaan, bakat dan
    keterampilan.
  2. Aspek fisik mengacu pada kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik
    pekerja, termasuk jenis pekerjaan, pengaturan jam kerja, pengaturan
    istirahat, kondisi ruangan, suhu, pencahayaan, pertukaran udara, kondisi
    kesehatan, termasuk. pekerja dan usia.
  3. Aspek sosial mengacu pada interaksi sosial antara karyawan dan atasan
    mereka, dan antara karyawan yang memiliki berbagai bentuk pekerjaan
    atau hubungan keluarga.
  4. Aspek ekonomi berkaitan dengan keselamatan dan kesejahteraan
    karyawan, meliputi gaji, jaminan sosial, tunjangan, fasilitas, sistem dan
    jenjang promosi.

Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi


Menurut David dalam Sopiah (2008 : 163) empat faktor yang mempengaruhi
komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:

  1. Faktor personal, misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
    pengalaman kerja, kepribadian.
  2. Karakteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, tantangan, konflik, peran,
    tingkat kesulitan dalam pekerjaan
  3. Karekteristik struktur, misalnya besar atau kecilnya organisasi, bentuk
    organisasi (sentralisasi/desentralisasi), kehadiran serikat pekerja.
  4. Pengalaman kerja, Pengalaman kerja karyawan sangat berpengaruh terhadap
    tingkat komitmen karyawan pada organisasi.

Indikator Komitmen Organisasi


Menurut Umam (2010;262) indikator komitmen organisasi sebagai berikut :

  1. Affective Commitment, individu yang memiliki affective commitment yang
    tinggi memiliki kedekatan emosional yang erat terhadap organisasi.
  2. Continuance Commitment, individu dengan continuance commitment yang
    tinggi akan bertahan dalam organisasi, tetapi karena adanya kesadaran
    individu tersebut, ia akan mengalami kerugian besar jika meninggalkan
    organisasi.
  3. Normative Commitment, individu dengan normative commitment yang tinggi
    akan tetap bertahan dalam organisasi karena merasa adanya suatu kewajiban
    atau tugas

Pengertian Komitmen Organisasi


Komitmen organisasi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi perilaku
karyawan dalam berorganisasi. Komitmen yang dimiliki karyawan terhadap
organisasi dapat dikatakan sebagai komitmen organisasi. Karyawan yang
memiliki komitmen organisasi akan memilih untuk selalau melibatkan dirinya
dalam kegiatan perusahaan guna memajukan perusahaan. Karyawan akan memilih
untuk bertahan diperusahaan dan melanjutkan keanggotaannya sebagai bentuk
komitmen yang dimiliki karyawan. Menurut Mathis dan Jackson dalam (Sopiah,
2008-155) β€œOrganizational Commitment is the degree to which employess believe
in and accept organizational goals and desire to remain with the organization”
yaitu komitmen organisasi adalah derajat yang mana karyawan percaya dan
menerima tujuan-tujuan organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak akan
meninggalkan organisasi. Menurut Baron dan Greenberg dalam Umam
(2010:259) menyatakan bahwa komitmen memiliki arti penerimaan yang kuat
dalam diri individu terhadap tujuan dan nilai-nilai perusahaan, sehingga individu
tersebut akan berusaha dan berkarya serta memiliki hasrat yang kuat untuk tetap
bertahan di dalam perusahaan. Selanjutnya, Meyer dan Allen dalam Umam
(2010;258) komitmen organisasi diartikan sebagai suatu konstruk psikologis yang
merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya dan
memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan
keanggotaannya dalam berorganisasi

Aspek-Aspek Loyalitas Kerja Karyawan


Loyalitas kerja karyawan tidak terbentuk begitu saja dalam organisasi, tetapi ada
aspek-aspek yang terdapat didalamnya yang mewujudkan loyalitas kerja
karyawan. Masing-masing aspek merupakan bagian dari manajemen organisasi
yang berkaitan dengan karyawan maupun organisasi. Aspek-aspek loyalitas kerja
yang terdapat pada individu dikemukakan oleh Siswanto (dalam Soegandhi dkk.
2013;3), yang menitik beratkan pada pelaksanaan kerja yang dilakukan karyawan
antara lain. :

  1. Taat pada peraturan, setiap kebijakan yang diterapkan dalam perusahaan
    untuk memperlancar dan mengatur jalannya pelaksanaan tugas oleh
    manajemen perusahaan ditaati dan dilaksanakan dengan baik. Keadaan ini
    akan menimbulkan kedisiplinan yang menguntungkan organisasi baik intern
    maupun ekstern.
  2. Tanggung jawab pada perusahaan/organisasi, karakteristik pekerjaan dan
    pelaksanaan tugasnya mempunyai konsekuensi yang dibebankan oleh
    karyawan. Kesanggupan karyawan untuk melaksanakan tugas sebaik baiknya
    dan kesadaran akan setiap resiko pelaksanaan tugasnya akan memberikan
    pengertian tentang keberanian dan kesadaran bertanggung jawab terhadap
    resiko atas apa yang telah dilaksanakan.
  3. Kemauan untuk bekerjasama, bekerja sama dengan orang orang dalam suatu
    kelompok akan memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuan yang tidak
    mungkin dicapai oleh orang-orang secara individual.
  4. Rasa memiliki, adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan
    akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung
    jawab terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan
    loyalitas demi tercapainya tujuan perusahaan.
  5. Hubungan antar pribadi, karyawan yang memiliki loyalitas tinggi mereka
    akan mempunyai sikap fleksibel kearah tata hubungan antar pribadi.
    Hubungan antar pribadi ini meliputi : hubungan sosial diantara karyawan,
    hubungan yang harmonis antara atasan dan karyawan, situasi kerja dan
    sugesti dari teman kerja.
  6. Kesukaan terhadap pekerjaan, perusahaan harus dapat menghadapi kenyataan
    bahwa karyawannya tiap hari datang untuk bekerjasama sebagai manusia
    seutuhnya dalam hal melakukan pekerjaan yang akan dilakukan dengan
    senang hari sebagai indikatornya bisa dilihat dari, keunggulan karyawan
    dalam bekerja, karyawan tidak pernah menuntut apa yang diterimanya di luar
    gaji pokok

Indikator Loyalitas Kerja Karyawan


Loyalitas adalah tekad dan kesanggupan menaati, melaksanakan dan
mengamalkan sesuatu yang dipatuhi dengan penuh kesadaran dan tanggung
jawab, tekad serta kesanggupan yang harus dibuktikan dalam sikap dan tingkah
laku sehari-hari serta dalam perbuatan melaksanakan tugas, Saydam, (2008;485).
Indikator loyalitas menurut Saydam, (2008;485) antara lain:

  1. Ketaatan atau kepatuhan, karyawan mempunyai tekat dan kesanggupan untuk
    menaati segala peraturan, perintah dari perusahaan dan tidak melanggar
    larangan yang telah ditentukan baik secara tertulis maupun tidak tertulis.
  2. Bertanggung jawab, adalah karakteristik pekerjaan dan prioritas tugasnya
    mempunyai konsekuensi yang dibebankan karyawan. Kesanggupan karyawan
    dalam melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya dan kesadaran setiap
    resiko melaksanakan tugas akan memberikan pengertian tentang keberanian
    dan kesediaan menanggung rasa tanggung jawab ini akan melahirkan loyalitas
    kerja.
  3. Pengabdian, adalah kesediaan untuk mengabdi dan membangun hubungan
    komitmen dengan perusahaan
  4. Kejujuran adalah sikap yang mencerminkan perilaku yang dapat memegang
    tanggung jawab dan kepercayaan.

Konsep Loyalitas


Menurut Steers & Porter, 1983 (dalam Soegandhi dkk, 2013) ada beberapa konsep
loyalitas, antara lain:

  1. Loyal Kepada Perusahaan
    Loyal kepada perusahaan ini merupakan konsep loyal yang sangat popular.
    Loyalitas seperti ini menuntut karyawan untuk terus bekerja di perusahaan
    dalam kondisi apapun. Oleh karena itu, orang yang pindah kerja sering di
    anggap tidak loyal terhadap perusahaan.
  2. Loyal Kepada Pekerjaan
    Di sini seorang karyawan tidak loyal terhadap perusahaan, tapi loyal terhadap
    pekerjaan yang ia kerjakan. ia akan bekerja dengan gigih demi pekerjaannya.
    Karyawan seperti ini di anggap sebagai asset perusahaan yang berharga karena
    ia akan mengerjakan pekerjaan yang menjadi job desc-nya dengan sebaik-
    baiknya.
  3. Loyal Kepada Visi, Misi Dan Tujuan Perusahaan
    Dalam bekerja kita harus tahu visi, misi dan tujuan perusahaan serta loyal
    terhadapnya. Bukan hanya job desc-nya saja. Konsep loyalitas seperti ini
    membutuhkan pemahaman sepenuhnya bahwa yang kita kerjakan bukan saja
    harus selesai dengan baik, tapi juga harus sejalan dengan tujuan perusahaan

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja


Menurut Steers dan Porter, 1983 (dalam Soegandhi dkk, 2013;30), loyalitas di
pengaruhi empat faktor, yaitu:

  1. Karakteristik pribadi, meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat
    pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras dan sifat kepribadian.
  2. Karakteristik Pekerjaan, meliputi tantangan kerja, job stress, kesempatan
    berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi tugas, umpan balik tugas dan
    kecocokan tugas.
  3. Karakteristik desain perusahaan atau organisasi, yang dapat dilihat dari
    desentralisasi, tingkat formalisasi, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan
    keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai tingkat asosiasi dengan
    tanggung jawab perusahaan, ketergantungan fungsional maupun fungsi
    kontrol perusahaan.
  4. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan atau organisasi, meliputi sikap
    positif terhadap perusahaan, rasa percaya pada sikap positif terhadap
    perusahaan, rasa aman

Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Fungsi manajemen sumber daya manusia menurut Sunyoto, (2015;4) yaitu:

  1. Fungsi Manajerial
    a. Perencanaan
    b. Pengorganisasian
    c. Pengarahan
    d. Pengendalian
  2. Fungsi Operasional
    a. Pengadaan
    b. Pengembangan
    c. Kompensasi
    d. Pengintegrasian
    e. Pemeliharaan
    f. Pemutusan hubungan kerja

Indikator Loyalitas Karyawan


Ada 16 indikator yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi loyalitas
karyawan sebagaimana dipaparkan oleh Powers (2000), yaitu:

  1. Tetap bertahan dalam perusahaan
  2. Bersedia bekerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan jika diperlukan
  3. Menjaga rahasia bisnis perusahaan
  4. Mempromosikan perusahaan tempat dia bekerja kepada masyarakat umum
  5. Menaati peraturan tanpa perlu pengawasan yang ketat
  6. Mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan perusahaan
  7. Tidak bergosip, berbohong atau mencuri
  8. Membeli dan menggunakan produk perusahaan
  9. Ikut berkontribusi dalam kegiatan sosial perusahaan
  10. Menawarkan saran-saran untuk perbaikan
  11. Mau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan aksidental perusahaan
  12. Mau mengikuti arahan atau instruksi
  13. Merawat properti perusahaan dan atau tidak memboroskannya
  14. Bekerja secara aman
  15. Tidak mengakali aturan organisasitermasuk ijin sakit
  16. Mau bekerja sama dan membantu rekan kerja

Aspek-aspek Loyalitas


Aspek loyalitas ini terhubung dengan sikap dan tingkah aku karyawan,
sehingga membentuk etos kerja dan loyalitas karyawan di perusahaan.Masing-masing
aspek merupakan bagian dari manajemen perusahaan yang berkaitan dengan
karyawan maupun perusahaan. Berikut ini adalah aspek loyalitas menurut Agustini,
(2019), aspek-aspek yang mempengaruhi loyalitas karyawan adalah:

  1. Adanya motivasi atau didorong karyawan untuk tetap menjadi anggota di
    perusahaan. Aspek ini dipengaruhi oleh bagaimana keadaan dari masing – masing
    individu, misalnya pemenuhan kebutuhan, tujuan maupun kesesuaian individu dalam
    perusahaan.
  2. Adanya keinginan yang kuat dari dalam diri karyawan untuk berusaha semaksimal
    mungkin demi memajukan perusahaan. Hal ini dapat dicapai apabila adanya
    kesamaan persepsi dan tujuan dari masing – masing individu dengan perusahaan.
  3. Ada kepercayaan penuh dan penerimaan terhadap nilai perusahaan.Kepercayaan
    yang dipercayakan oleh karyawan kepada perusahaan tidak terlepas dari kepercayaan
    perusahaan kepada karyawan dalam hal pekerjaan mereka.
    Menurut Steers dan Porter (1983) menitik beratkan aspek loyalitas antara lain:
  4. Dorongan yang kuat untuk tetap menjadi anggota perusahaan
  5. Keinginan untukberusaha semaksimal mungkin bagi perusahaan
  6. Memiliki kepercayaan yangpasti dan penerimaan yang penuh atas nilai-nilai
    perusahaan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas


Faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan menurut Jusuf (2010)
adalah sebagai berikut :

  1. Faktor Rasional
    Menyangkut hal-hal yang bisa dijelaskan secara logis, seperti: gaji, bonus, jenjang
    karirdan fasilitas-fasilitas lain yang diberikan perusahaan kepada karyawan.
  2. Faktor Emosional
    Menyangkut perasaan atau ekspresi diri, seperti: pekerjaan yang menyenangkan
    karena sesuai bidang keahlian, lingkungan kerja yang mendukung, perasaan aman di
    dalam perusahaan karena perusahaan adalah tempat bekerja dalam jangka panjang,
    pemimpin yang memiliki kharisma tersendiri, pekerjaan yang membanggakan,
    penghargaan-penghargaan yang diberikan perusahaan, budaya kerja, dan lain
    sebagainya.
  3. Faktor Kepribadian
    Menyangkut sifat, karakter, danjati diri yang dimiliki oleh karyawan
    tersebut.Sedangkan menurut Menurut Steers dan Porter (1983)loyalitas dipengaruhi
    empat faktor, yaitu:
  4. Karakteristik pribadi, meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat
    pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras dan sifat kepribadian.
  5. Karakteristik Pekerjaan, meliputi tantangan kerja, stress kerja, kesempatan
    berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi tugas, umpan balik tugas dan
    kecocokan tugas.
  6. Karakteristik desain perusahaan, yang dapat dilihat dari desentralisasi, tingkat
    formalisasi, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan keputusan, paling tidak telah
    menunjukkan berbagai tingkat asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan,
    ketergantungan fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan.
  7. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan atau perusahaan, meliputi sikap
    positif terhadap perusahaan, rasa percaya pada terhadap perusahaan, rasa aman

Loyalitas Karyawan


Menurut Poerwadarminta (2002), loyalitas dapat diartikan dengan kesetiaan,
pengabdian dan kepercayaan yang diberikan atau ditujukan kepada seseorang atau
lembaga, yang di dalamnya terdapat rasa cinta dan tanggung jawab untuk berusaha
memberikan pelayanan dan perilaku yang terbaik. Dengan demikian, loyalitas sebagai
kecenderungan karyawan untuk tidak pindah ke perusahaan lain yang disebabkan
adanya kesesuaian situasi dan kondisi perusahaan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Menurut Nitisemito (2002) bahwa loyalitas merupakan suatu sikap mental
karyawan yang ditunjukkan kepada keberadaan perusahaan sehingga karyawan
akan tetap bertahan dalam perusahaan, meskipun perusahaan tersebut maju atau
mundur.
Menurut Siagian (2010), loyalitas adalah suatu kecenderungan karyawanuntuk
tidak pindah keperusahaan lain sebab loyalitas dapat mempengaruhi pada
kenyamanan karyawan untuk bekerja pada suatu perusahaan.
Menurut Jusuf (2010), loyalitas karyawan adalah suatu sikap yang timbul
sebagai akibat keinginan untuk setia dan berbakti baik pada pekerjaannya.Hal ini
sejalan dengan Desseler (2000), bahwa loyalitas karyawan adalah sikap emosional
yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya.

Indikator Loyalitas Karyawan


Loyalitas karyawan dapat terlihat melalui sikap dan perilaku karyawan saat bekerja
dalam organisasi. Sikap dan perilaku karyawan yang mencerminkan loyalitas
karyawan terkandung dalam setiap indikator loyalitas karyawan yang digunakan
untuk mengukur loyalitas karyawan. Saydam dalam Sutanto dan Perdana (2016)
menyatakan terdapat empat indikator loyalitas karyawan, antara lain:

  1. Kepatuhan
    Kepatuhan adalah kemampuan karyawan untuk menaati seluruh peraturan yang
    berlaku, untuk melaksanakan segala tugas yang diberikan oleh atasan yang
    bertanggung jawab dan tidak melanggar larangan yang telah ditentukan.
    Semakin tinggi kepatuhan karyawan kepada organisasi maka semakin tinggi
    loyalitas karyawan.
  2. Tanggung Jawab
    Tanggung jawab adalah kemampuan karyawan dalam menyelesaikan tugas
    dengan benar, tepat waktu dan berani menanggung konsekuensi dari keputusan
    atau tindakan yang telah diambil oleh karyawan. Semakin tinggi tanggung jawab
    karyawan kepada organisasi maka semakin tinggi loyalitas karyawan.
  3. Dedikasi
    Dedikasi adalah kontribusi gagasan dan tenaga yang diberikan oleh karyawan
    dengan tulus kepada organisasi. Semakin tinggi dedikasi karyawan kepada
    organisasi maka semakin tinggi loyalitas karyawan.
  4. Integritas
    Integritas adalah kemampuan karyawan untuk mengakui, berbicara atau
    memberikan informasi yang tepat sesuai dengan realita dan kebenaran. Semakin
    tinggi integritas karyawan maka semakin tinggi loyalitas karyawan

Bentuk Loyalitas Karyawan


Loyalitas karyawan memiliki dua sisi dimensi yaitu sikap karyawan terhadap
organisasi dan perilaku karyawan terhadap organisasi (Wan, 2012). Guillon dan
Cezanne (2014) menyatakan terdapat dua sisi dalam melihat loyalitas karyawan,
dengan melihat sikap karyawan dan perilaku karyawan. Sikap karyawan terhadap
organisasi melihat perasaan dan kesediaan karyawan terhadap organisasi,
sedangkan perilaku karyawan terhadap organisasi melihat karyawan bertindak
terhadap organisasi (Wan, 2012).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan


Loyalitas kerja karyawan akan tercipta apabila kebutuhan dan keinginan karyawan
tercukupi, sehingga para karyawan betah bekerja pada organisasi tempat mereka
bekerja. Kusumo dalam Soegandhi et al (2013:3) menyatakan bahwa timbulnya
loyalitas kerja dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu:

  1. Karakteristik pribadi yang meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat
    pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras dan beberapa sifat kepribadian.
  2. Karakteristik pekerjaan yang berupa tantangan kerja, job stress, kesempatan
    berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi tugas, umpan balik tugas dan
    kecocokan tugas.
  3. Karakteristik desain organisasi, menyangkut intern organisasi itu yang dapat
    dilihat dari desentralisasi, tingkat formalisasi, tingkat keikutsertaan dalam
    pengambilan keputusan, paling tidak menunjukkan berbagai tingkat asosiasi
    dengan tanggung jawab organisasi, ketergantungan fungsional maupun fungsi
    kontrol organisasi.
  4. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan, meliputi sikap positif terhadap
    organisasi, rasa percaya pada sikap positif terhadap organisasi dan rasa aman

Pengaruh Stres Kerja Terhadap Turnover intention


Menurut Mangkunegara (2021) terdapat hubungan positif antara
tingkat stres kerja dan turnover intention. Artinya, semakin tinggi tingkat
stres kerja yang dialami seseorang, semakin tinggi kemungkinan dia
memiliki niat untuk meninggalkan pekerjaannya, stres kerja berperan
sebagai faktor signifikan yang mempengaruhi turnover intention
karyawan. Beberapa ahli telah meneliti dan mengidentifikasi hubungan
antara stres kerja dan niat untuk berpindah kerja dengan berbagai
pendekatan. Menurut Lewin (2022), stres kerja dapat mempengaruhi
sikap karyawan terhadap pekerjaan mereka. Robinson & Judge (2021)
menunjukkan bahwa stres dapat menyebabkan burnout yang
meningkatkan turnover intention. Jex & Beehr (2022) mengemukakan
bahwa stresor kerja seperti beban kerja dan konflik peran berdampak
langsung pada niat berpindah. Tett, Jackson, & Rothstein (2022)
menghubungkan stres kerja dengan kepuasan kerja yang mempengaruhi
niat untuk meninggalkan pekerjaan. Kahn et al. (2022) juga meneliti
bagaimana stres yang berlebihan dapat mengarah pada masalah
kesehatan mental yang meningkatkan turnover intention.
Berdasarkan hasil penelitian (Lestari& Mujiati, 2021) dan
(Budiyono, 2021) bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap turnover intention.

Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Turnover intention


Menurut Robbins dan Judge (2019), kepuasan kerja adalah sikap
umum yang dimiliki oleh seorang karyawan tentang pekerjaannya,
mencakup berbagai dimensi seperti kepuasan terhadap tugas, kondisi
kerja, hubungan dengan rekan kerja dan atasan, serta kompensasi yang
diterima. Mereka menjelaskan bahwa kepuasan kerja yang tinggi
berhubungan dengan rendahnya tingkat turnover intention karena
karyawan yang puas dengan pekerjaannya cenderung menunjukkan
komitmen yang lebih tinggi terhadap organisasi dan memiliki niat yang
lebih rendah untuk meninggalkan perusahaan.
Dalam konteks tertentu, kepuasan kerja dapat berpengaruh positif
terhadap turnover intention. Menurut Adams (2019), karyawan yang
merasa overqualified atau mendapatkan lebih banyak daripada yang
mereka butuhkan mungkin mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan
tingkat keterampilan dan ekspektasi mereka. Victor (2019) menyatakan
bahwa karyawan yang sangat puas dengan pekerjaannya mungkin
memiliki ekspektasi tinggi bahwa keterampilan mereka dapat membawa
mereka ke peluang yang lebih baik di tempat lain. Selain itu, teori
mobilitas karir menunjukkan bahwa kepuasan kerja dapat memberikan
rasa percaya diri yang memungkinkan karyawan untuk mengeksplorasi
opsi lain tanpa rasa takut akan ketidakpastian (Arthur & Rousseau,
2019). Deci dan Ryan (2019) menyatakan bahwa karyawan yang merasa
sangat kompeten dan memiliki otonomi yang tinggi mungkin terdorong
untuk mencari tantangan baru di luar organisasi mereka saat ini. Semua
teori ini menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, kepuasan kerja yang
tinggi dapat mendorong karyawan untuk mencari peluang karir yang
lebih baik di tempat lain, sehingga meningkatkan turnover intention

Dimensi dan Indikator Stres kerja


Berikut merupakan dimensi dari stres kerja menurut Kusnadi
(2021) adalah:

  1. Beban tugas yang terlalu berat
    Setiap orang memiliki porsi dan kemampuan kerja yang
    terbatas, jika seorang karyawan dibebani dengan tanggungan yang
    lebih besar dari kemampuan dan keahliannya maka karyawan
    tersebut akan merasakan kesulitan dan menganggap pekerjaanya
    sebagai suatu hal yang tidak menyenangkan. Jika seseorang tidak
    merasa nyaman dengan pekerjaanya maka orang tersebut
    cenderung mudah untuk mengalami stres kerja.
  2. Desakan waktu
    Untuk sebuah hasil kerja yang maksimal dibutuhkan juga
    waktu yang sepadan untuk menyelesaikannya. Pekerjaan dengan
    waktu yang terbatas akan membuat karyawan merasakan tertekan
    dan menimbulkan kegelisahan yang berupa perasaan takut tidak
    dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu yang telah di
    tetapkan. Kecemasan tersebut akan mendorong terjadinya stres
    kerja.
  3. Penyelia yang kurang baik
    Penyelia seharusnya mampu merangkul dan membimbing
    karyawannya dalam menyelesaikan setiap tugasnya, penyelia yang
    tidak baik akan membuat karyawan merasakan bekerja di bawah
    tekanan yang secara tidak langsung membuatnya tegang dan tidak
    merasa nyaman dalam bekerja. Hal tersebut dapat mengganggu
    kondisi psikologis seorang karyawan yang bila terus terjadi dapat
    menyebabkan terjadinya stres kerja.
  4. Iklim kerja yang menyebabkan tidak aman
    Iklim kerja yang tidak aman akan menyebabkan keresahan
    bagi para karyawan dalam sebuah perusahaan. Pikiran mereka akan
    terganggu dengan berbagai macam ketakutan. Pikiran yang
    seharusnya fokus untuk bekerja menjadi terbagi karena adanya rasa
    ketidak amanan tersebut. Apabila karyawan merasakan ketidak
    amanan maka hal tersebut akan meningkatkan stres kerja yang
    dialami oleh karyawan.
  5. Kurangnya informasi dari umpan balik tentang prestasi kerja
    seseorang
    Setiap orang menginginkan perjalanan karir dan prestasi
    kerja yang mampu memberikan keuntungan di masa yang akan
    mendatang. Dalam berkarir, seseorang membutuhkan pengakuan,
    apresiasi dan timbal balik atas usaha yang telah dilakukanya. Jika
    seseorang tidak mendapatkan hal tersebut dalam pekerjaanya maka
    hal tersebut mampu membuatnya kehilangan arah dan merasakan
    kebingungan mengenai kinerjanya. Hal tersebut dapat membuat
    karyawan resah dan memikirkannya secara berlebihan yangdapat
    memicu terjadinya stres kerja.
    Menurut (Septiari & Ardana, 2021) mengemukakan ada lima
    indikator stres kerja, yaitu:
  6. Beban kerja yang berlebihan
    Merupakan beban kerja yang diberikan kepada karyawan yang
    melebihi batas kemampuannya dan melebihi tanggung jawab
    pekerjaan tersebut.
  7. Tekanan atau desakan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan
    merupakan tekanan atau desakan terhadap karyawan terkait
    waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.
  8. Umpan balik tentang pelaksanaan pekerjaan yang tidak
    memadai merupakan respon dari atasan langsung terhadap
    pekerjaan yang dibutuhkan oleh karyawan.
  9. Tidak ada wewenang yang cukup untuk melaksanakan
    tanggung jawab merupakan keterbatasan wewenang yang
    dimiliki karyawan dalam melaksanakan tanggung jawab
    pekerjaannya.
  10. Berbagai bentuk perubahan dalam organisasi
    Merupakan dinamika yang terjadi pada organisasi tempat
    karyawan berada

Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) mengacu pada kebijakan-kebijakan,
praktik-praktik, serta sistem-sistem yang memperngaruhi perilaku, sikap, dan
kinerja pegawai. MSDM adalah kombinasi kebijakan, praktik, dan sistem yang
mempengaruhi kebiasaan, tingkah laku dan performa pegawai dalam aktivitas
berorganisasi (Noe dan Hollenbeck, 2011:2). Menurut Dessler (2010:4)
menyatakan bahwa: MSDM sebagai kebijakan dan latihan untuk memenuhi
kebutuhan karyawan atau aspek-aspek yang terdapat dalam sumber daya manusia
seperti posisi manajemen, pengadaan pegawai atau rekrutmen, penyaringan,
pelatihan, kompensasi dan penilaian prestasi kerja pegawai.
MSDM merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian,
penyusunan, penggerakan dan pengawasan, terhadap pengadaan, pengembangan
pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pemisahan pegawai
untuk mencapai tujuan organisasi (Bangun, 2012:6). Pembahasan mengenai
MSDM adalah bahwa manusia merupakan unsur terpenting dalam setiap dan semua
organisasi, keberhasilan organisasi mencapai tujuan dan berbagai sasarannya serta
kemampuannya menghadapi berbagai tentangan, baik yang bersikap eksternal
maupun internal, sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya
manusia dengan setepat-tepatnya. Masalah-masalah pengembangan diri, keadilan,
kewajaran, harapan dan kecocokan pekerjaan dengan karakteristik seseorang,
masalah-masalah perilaku organisasi merupakan bagian pengelolaan sumber daya
manusia yang penting (Siagian, 2014:40)

Faktor-faktor stres kerja


Menurut Hidayati & Trisnawati, (2021) ada beberapa penyebab
stres dalam pekerjaan, yaitu:

  1. Faktor Lingkungan (Ketidakpastian ini meliputi ketidakpastian
    ekonomi, ketidakpastian politis, ketidakpastian teknologis).
  2. Faktor Organisasi (tuntutan tugas, tuntutan peran dan tuntutan
    antar pribadi, struktur organisasi, kepemimpinan organisasi dan
    17
    tingkat hidup organisasi).
  3. Faktor Individual (isu keluarga, masalah ekonomi pribadi dan
    karakteristik kepribadian yang intern)

Indikator Produktivitas Kerja


Produktivitas merupakan hal yang sangat penting bagi para karyawan yang
ada di perusahaan. Dengan adanya produktivitas kerja diharapkan pekerjaan akan
terlaksana secara efisien dan efektif, sehingga ini semua akhirnya sangat
diperlukan dalam pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan. Untuk mengukur
produktivitas kerja, diperlukan suatu indikator sebagai beriku: a. Kemampuan
Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tugas. Kemampuan seorang
karyawan sangat bergantung pada keterampilan yang dimiliki serta
profesionalisme mereka dalam bekerja. Ini memberikan daya untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang diemban kepada mereka. b. Meningkatkan hasil
yang dicapai Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil merupakan
salah satu yang dapat dirasakan baik oleh yang mengerjakan maupun yang
menikmati hasil pekerjaan tersebut. Jadi, upaya untuk memanfaatkan
produktivitas kerja bagi masing-masing yang terlibat dalam suatu pekerjaan. c.
Semangat kerja Ini merupakan usaha untuk lebih baik dari hari kemarin. Indikator
ini dapat dilihat dari etos kerja dan hasil yang dicapai dalam satu hari kemudian
dibandingkan dengan hari sebelumnya
Menurut Sedarmayanti (2018:211), diperlukan suatu indikator untuk
mengukur produktivitas kerja, antara lain:

  1. Kemampuan.
    Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tugas.
  2. Meningkatkan hasil yang dicapai.
    Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil
    merupakan salah satu yang dapat dirasakan baik oleh yang
    mengerjakan maupun yang menikmati hasil pekerjaan tersebut.
  3. Semangat kerja
    Merupakan usaha untuk lebih baik dari hari kemarin.
  4. Pengembangan diri.
    Senantiasa mengembangkan diri untuk meningkatkan
    kemampuan kerja

Pengertian stres


Stres kerja adalah suatu kondisi dimana terdapat satu atau
beberapa faktor di tempat kerja yang berinteraksi dengan pekerja
sehingga mengganggu kondisi fisiologis, dan perilaku (Dessler, 2020).
Menurut (Lestari & Mujiati, 2021) stres adalah konsekuensi setiap
tindakan dan situasi lingkungan yang menimbulkan tuntunan
psikologis dan fisik yang berlebihan pada seseorang. Menurut (Monica
& Putra, 2021) stres kerja merupakan suatu keadaan yang
mempengaruhi turnover intention, dimana kondisi kerja menyimpang
dengan kondisi psikologis individu. Maslach (2019) menyoroti bahwa
tingkat stres kerja yang tinggi, khususnya terkait dengan beban kerja
yang berlebihan, konflik peran, dan kurangnya dukungan sosial di
lingkungan kerja, dapat menyebabkan tingkat kelelahan emosional dan
kebakaran yang tinggi pada karyawan. Dalam kondisi ini, karyawan
cenderung merasa terbakar dan tidak puas dengan pekerjaan mereka.
Dapat disimpulkan bahwa stres kerja memiliki dampak signifikan
terhadap kesejahteraan psikologis karyawan dan niat mereka untuk
berpindah kerja. Tingkat stres kerja yang tinggi dapat menyebabkan
ketidakpuasan kerja dan burnout, yang pada akhirnya meningkatkan
turnover intention karyawan. Oleh karena itu, penting bagi organisasi
untuk mengelola dan mengurangi faktor-faktor penyebab stres di
tempat kerja guna meningkatkan kesejahteraan dan retensi karyawan

Penilaian kinerja


Perusahaan dalam mengamati karyawan perlu menggunakan
penilaian, penilaian berguna untuk mencatat setiap tingkah laku
untuk mengetahui seberapa baik karyawan itu bekerja, penilaian
kinerja menurut chusminah SM, R.Ati Haryati (2019)
mengemukakan bahwa ada beberapa tujuan penilaian kinerja:

  1. Untuk mengetahui tingkat prestasi karyawan
    selama bekerja
  2. Pemberian imbalan gaji berkala, gaji pokok dan
    intensif
  3. Meningkatkan motivasi kerja dan etos kerja
  4. Sebagai salah satu sumber informasi untuk
    perencanaan SDM, karir dan keputusan
    perencanaan sukses
  5. Sebagai alat untuk menjaga tingkat kinerja serta
    membantu dan mendorong karyawan untuk
    mengambil inisiatif dalam rangka memperbaiki
    kinerja karyawan

Indikator kinerja


Dalam bekerja pasti setiap karyawan selalu mempunyai
penilaiannya masing-masing, penilaian ini mampu membuat
karyawan untuk terus introspeksi diri dan berkembang, menurut
Mangkunegara (2015:68) mengemukakan bahwa ada dimensi dan
indikator dari kinerja karyawan:

  1. Kualitas kerja :
    a. Ketetapan hasil kerja
    Ketetapan kerja merupakan tingkat aktivitas yang
    diselesaikan oleh hasil kerja karyawan
    b. Ketelitian hasil kerja
    Ketelitian diperlukan untuk melihat kinerja
    karyawan apakah mengerjakan pekerjaan dengan
    teliti, dan aktivitas ini dapat dilihat dari hasil
    kinerja karyawan itu sendiri
    c. Kerapian
    Kerapian diperlukan untuk mengukur karyawan
    untuk tetap rapi dalam bekerja.
  2. Dimensi kuantitas kerja
    a. Hasil kerja
    Hasil kerja bertujuan untuk dapat melihat hasil
    kerja karyawan selama bekerja di perusahaan,
    hasil ini akan membantu karyawan untuk terus
    berkembang.
  3. Dimensi kedisiplinan
    a. Kehadiran
    Kehadiran dapat digunakan untuk melihat
    karyawan rajin bekerja atau sering cuti kerja
    b. Peraturan
    Peraturan bertujuan untuk membuat karyawan
    untuk tetap seragam.
  4. Dimensi ketepatan waktu
    a. Waktu
    Waktu berguna untuk melihat seberapa on-time
    dan rajin karyawan untuk mau bekerja dalam
    perusahaan

Faktor-faktor kinerja


Dalam kinerja tak lepas dari pemicu adanya dorongan karyawan
dalam bekerja, hal ini yang membuat peneliti untuk meneliti tentang
faktor-daktor dalam kinerja, menurut Wibowo (2016:74)
mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang perlu
diperhatikan untuk suatu organisasi yang memiliki kinerja yang baik:

  1. Pertanyaan mengenai maksud dan nilai-nilai
    Pertanyaan mengenai apa hal dan keinginan yang harus
    dicapai, dan sistem nilai yang menyangkut tentang perilaku
    yang diharapkan dalam mencapai maksud tersebut.
  2. Manajemen strategis
    Mengidentifikasi manajemen strategis merupakan serangkaian
    keputusan dan tindakan yang dapat berakibat dalam formulasi
    atau implementasi strategi yang digunakan untuk mencapai
    tujuan bersama.
  3. Manajemen sumber daya manusia
    Sumber daya manusia digunakan untuk mengembangkan
    organisasi pembelajaran, menggunakan sepenuhnya
    kemampuan dan ketrampilan, dan dapat melakukan penilaian
    terhadap seluruh staf, dengan melakukan harmonis kriteria,
    peraturan bagi semua staf, menggunakan tes dan seleksi staf.
  4. Kerja sama
    Pengembangan yang paling penting yaitu adalah inisiatif yang
    berguna untuk kebutuhan atas kerja sama yang lebih baik
    dengan menggunakan tim multi fungsional, multi disiplin, dan
    yang paling penting untuk membentuk organisasi lainnya
    Menurut Armstrong dan Baron (2016:84) mengemukakan
    bahwa pendapat lain tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
    kinerja antara lain:
  5. Personal factors: ditunjukkan dari kualitas dorongan,
    kompetensi, motivasi, ketrampilan, dan komitmen individu
  6. Leadership factor: ditentukan oleh kualitas dorongan
    ,dukungan dan bimbingan yang diberikan manajer dam team
    leader
  7. Team factor: ditunjukkan oleh kualitas dan dukungan yang
    diberikan oleh rekan kerja
  8. System factor: ditunjukkan untuk mengenal sistem kerja dan
    fasilitas yang diberikan oleh organisasi
  9. Contextual/situasional: ditunjukkan oleh tingginya tingkat
    tekanan yang diberikan oleh organisasi

Pengertian Kinerja


Kinerja adalah tindakan dari hasil kerja karyawan. Dalam organisasi
tidak lepas dari kinerja karyawan, kinerja yang baik sangat
berpengaruh terhadap organisasi dan berdampak terhadap perusahaan,
kinerja menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan oleh setiap
karyawan, dengan kinerja yang baik, maka karyawan tersebut dapat
menyelesaikan berbagai tugas dengan baik juga, dan dengan kinerja
yang baik dapat membantu karyawan dalam mencapai peningkatan
jabatan, mendapat bonus dari hasil kerja, dan masih banyak lagi.
Kinerja menurut Sutrisno (2016:151) mengemukakan bahwa kinerja
adalah sebagai hasil yang telah di capai seseorang dari kerjanya dalam
melaksanakan aktivitas kerja yang telah diselesaikan dengan sebaik-
baiknya. Karyawan dapat bekerja dengan baik apabila memiliki
kinerja yang tinggi, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang baik
pula.
Kinerja menurut Susanti dan Palupi (2016) mengemukakan bahwa
keberhasilan suatu perusahaan untuk dapat mencapai tujuan tidak
hanya bergantung dari sarana dan prasarana yang ada, tetapi dengan
bantuan kinerja karyawan yang dapat mencapai keberhasilan.
Penelitian terdahulu menurut Lydia dan Eddy (2017)
mengemukakan bahwa pekerjaan akan berjalan dengan baik ketika
perusahaan memberikan intensif untuk karyawan, dengan intensif
akan membuat karyawan termotivasi dan lebih semangat untuk
mengerjakan tugas yang diberikan

Jenis-jenis Motivasi


Motivasi tak selamanya berupa positif terkadang ada motivasi yang
bertujuan negatif, hal ini yang dilakukan oleh peneliti untuk meneliti
jenis-jenis motivasi yang terdapat diri seseorang terutama dalam diri
karyawan. Menurut Winardi (2016:5) mengemukakan bahwa
motivasi memiliki 2 jenis yang bersifat positif dan negatif, yakni:

  1. Motivasi Positif
    Motivasi positif sering digunakan orang untuk mengurangi
    rasa cemas dan motivasi positif dapat diartikan sebagai
    pendekatan wortel (the carrot approach) yaitu di mana
    seseorang ketika ditawari sesuatu yang memiliki nilai seperti
    bonus berupa uang, pujian, atau jabatan jika kinerjanya
    memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan
    atau organisasi.
  2. Motivasi Negatif
    Motivasi negatif biasanya disebut sebagai pendekatan
    tongkat pemukul (the stick Approach) di mana karyawan
    yang memiliki kinerja yang tidak memenuhi standar akan
    mendapatkan hukuman seperti di PHK, dapat teguran,
    ancaman diturunkan dari pangkatnya, dengan tujuan untuk
    membuka pemikiran karyawan dalam membangun semangat
    kinerja.
    Menurut Malayu S.P hasibuhan (2016:152) mengemukakan bahwa
    ada 2 jenis motivasi yang ada dalam jenis-jenis motivasi:
  3. Motivasi Positif (intensif positif)
    Motivasi positif pimpinan memotivasi (merangsang)
    bawahan dengan memberikan hadiah kepada karyawan yang
    berprestasi di atas prestasi standar, dengan adanya hadiah
    akan membantu meningkatkan semangat kerja karyawan
  4. Motivasi Negatif
    Motivasi negatif seperti pimpinan memotivasi dengan
    memberikan hukuman untuk karyawan jika prestasinya di
    bawah standar yang telah ditentukan, dengan motivasi
    negatif akan membuat semangat kepada karyawan dalam
    jangka waktu pendek karena takut dihukum.

Faktor-faktor Motivasi


Motivasi adalah serangkaian usaha yang membuat karyawan itu mau
untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuannya, dengan adanya
motivasi dapat membentuk pola pikir karyawan, Menurut Saydam dan
Kadarisman dalam (Erri dan Fajrin, 2018) mengemukakan bahwa ada
2 faktor yang terdapat dalam motivasi:

  1. Faktor intern: yaitu terdapat dalam diri karyawan itu sendiri,
    dengan contoh karyawan dapat terlihat sering resah dalam
    bekerja
  2. Faktor ekstern: yaitu berasal dari luar karyawan yang dapat
    mempengaruhi motivsai, faktor lingkungan dalam bekerja
    adalah keseluruhan sarana dan prasarana kerja yang ada
    disekitar pegawai yang sedang bekerja dapat mempengaruhi
    pelaksanaan pekerjaan itu sendiri.

Indikator Motivasi


Motivasi sering kali digunakan untuk membantu karyawan
untuk tetap semangat dalam mencapai tujuan bersama, menurut
George dan Jones (dalam Dharmayanti 2015) mengemukakan
bahwa ada 3 indikator motivasi kerja:

  1. Arah perilaku
    Yaitu kemampuan karyawan yang memilih untuk paham
    akan pilihannya dalam mengambil pekerjaan yang dipilih,
    dengan perilaku yang baik akan menunjukkan bahwa
    karyawan tersebut termotivasi dalam bekerja
  2. Tingkat usaha
    Yaitu melihat seberapa besar usaha karyawan dalam bekerja
    di bidang yang dipilihnya, motivasi dapat membantu
    karyawan untuk mau bekerja keras untuk perusahaan dengan
    senang hati.
  3. Tingkat kegigihan
    Yaitu mengacu pada perilaku karyawan yang tetap ingin
    bekerja walaupun dalam bekerja memiliki yang namanya
    masalah, rintangan, dan halangan, kegigihan yang tinggi
    menunjukkan bahwa karyawan memiliki motivasi yang
    tinggi juga.
    Menurut Mc Clelland dalam Hasibuan (2016:95) mengemukakan
    bahwa motivasi kerja karyawan tercipta karena adanya tindakan akan
    perilaku seseorang untuk mencapai tujuan tertentu, dari faktor di atas
    dapat terciptanya indikator untuk mengetahui tingkat motivasi kerja :
  4. Kebutuhan untuk berprestasi
    a. Adanya tanggung jawab pribadi dalam pengambilan
    keputusan
    b. Antusias perprestasi tinggi
    c. Konsisten untuk mengerjakan tugas dengan
    keputusan yang telah disepakati
  5. Kebutuhan untuk berafiliasi
    a. Adanya keinginan untuk bekerja dengan rang lain
    b. Keinginan megambil risiko
    c. Keinginan bekerja lebih baik dari orang lain
  6. Kebutuhan untuk berkuasa
    a. Komunikasi kepada sesama karyawan
    b. Menjadi pemimpin terhadap bawahannya
    c. Memiliki kerja sama antar karyawan

Fungsi motivasi


Motivasi sangat penting dalam sebuah organisasi khususnya
terhadap kinerja karyawan, di mana motivasi merupakan
pendorong bagi karyawan untuk terus memiliki tujuan untuk
mencapai dan mewujudkan tujuan tersebut. Menurut Wahab
(2015:131) mengemukakan bahwa ada beberapa fungsi motivasi:

  1. Motivasi sebagai pendorong perbuatan
  2. Motivasi sebagai penggerak perbuatan
  3. Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Pengertian Motivasi


Motivasi merupakan keinginan yang muncul dalam diri karyawan
yang menimbulkan semangat atau dorongan guna mencapai tujuan.
Dalam organisasi sering terjadi kurangnya semangat dalam bekerja,
masalah yang terjadi di luar kerja yang terbawa dalam kerja, hal ini
yang membuat turunnya kinerja karyawan dalam organisasi. Motivasi
dapat menjadi semangat bagi karyawan dan dapat membantu
karyawan dalam mencapai tujuan.
Motivasi menurut DuBrin (2015) mengemukakan bahwa motivasi
kerja adalah usaha yang dikeluarkan seseorang untuk membantu orang
lain dalam mencapai tujuan dan aktivitas yang dilakukan untuk
mendorong seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan. Motivasi dapat
membantu seseorang dalam menyelesaikan masalah dalam kinerjanya,
dengan motivasi yang baik dan positif juga akan membangun sebuah
semangat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, dengan
motivasi yang positif juga dapat menularkan motivasi positif lain
kepada karyawan lainnya.
Kemudian menurut Afandi (2018 : 23) mengemukakan bahwa
motivasi adalah keinginan yang timbul dari dalam diri seseorang atau
individu karena terinspirasi, memiliki semangat, dan mempunyai
dorongan untuk melakukan aktivitas dengan keikhlasan, senang hati,
dan sungguh-sungguh sehingga hasil dari kinerja yang dia lakukan
mendapat hasil yang baik dan berkualitas.

Indikator Attitude


Attitude tidak lepas dari kehidupan sehari-hari terutama
dalam bekerja, dari attitude ini membantu karyawan untuk
menerapkan pemikirannya melalui tindakannya, menurut
Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge (2015:43)
mengemukakan bahwa ada 3 indikator dalam attitude:

  1. Sikap diri sendiri
    Sikap ini yang selalu ada dalam diri karyawan di mana
    karyawan memiliki pandangan atas diri sendiri mengenai
    pandangan positif dan negatif terhadap diri sendiri.
  2. Sikap pemimpin
    Sikap pemimpin harus ada dalam diri karyawan, karena sikap
    ini dapat menjadi contoh untuk karyawan, pemimpin yang
    baik akan memiliki etika yang baik dan dapat menopang
    orang lain menjadi pribadi yang lebih baik.
  3. Sikap rekan kerja
    Sikap ini yang akan membantu karyawan untuk tetap
    kompak dan mampu meningkatkan kualitas kerja secara baik
    dan optimal. Sikap rekan kerja yang baik terbentuk dari
    komunikasi yang baik antar sesama rekan kerja.
    Menurut Sukma dan Ilham (2019) mengemukakan bahwa
    attitude akan berfokus kepada bagaimana seseorang merasakan
    atas pekerjaan, kelompok kerja, penyedia dan organisasi, maka
    dari itu ada 2 indikator attitude yaitu:
  4. Perasaan atas pekerjaan
    Perasaan atas pekerjaan di mana karyawan memiliki
    perasaan tanggung jawab atau pekerjaan yang telah
    diberikan.
  5. Perasaan atas kelompok pekerjaan dan perusahaan
    Perasaan atas kelompok ketika karyawan memiliki tanggung
    jawab untuk menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama
    dengan rekan lainnya

Indikator Loyalitas


Dalam bekerja tak lepas dari loyalitas, loyalitas dapat membuat
karyawan memiliki semangat untuk bekerja, Indikator loyalitas
Menurut Saydan dikutip dalam Riyanti (2015:7) mengemukakan bahwa
ada beberapa faktor dalam indikator loyalitas:

  1. Ketaatan atau kepatuhan
    Ketaatan dan kepatuhan yaitu seorang pegawai untuk selalu
    menaati peraturan yang berlaku dan menaati perintah dari atasan
    yang berwenang, serta tidak melanggar peraturan tersebut
    Adapun ciri-cirinya:
    a. Menaati peraturan perundang-undangan yang telah
    ditentukan
    b. Menaati perintah yang diberikan atasan atau yang
    berwenang
    c. Selalu menaati jam kerja yang telah ditentukan
  2. Tanggung jawab
    Tanggung jawab yaitu karyawan dapat menyelesaikan
    pekerjaan yang diberikan dengan baik, tepat pada waktunya,
    serta berani mengambil risiko untuk keputusan yang telah
    dibuat dan tindakan yang telah dilakukan. Adapun ciri-cirinya:
    a. Dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu
    b. Menyimpan dan memelihara barang-barang kantor
    dengan baik
    c. Tidak melemparkan kesalahan sendiri kepada orang lain
  3. Pengabdian
    Pengabdian yaitu sumbangan pemikiran ide dan kreativitas dan
    tenaga secara ikhlas
  4. Kejujuran
    Kejujuran yaitu keselarasan antara yang dikatakan dengan
    perbuatan itu sama. Adapun ciri-cirinya:
    a. Melakukan tugas dengan ikhlas
    b. Tidak menyalahgunakan wewenang yang ada
    c. Melaporkan hasil pekerjaan kepada atasannya.
    Menurut Sangadji dan Sopiah (2017:115) mengemukakan bahwa
    untuk mengukur loyalitas diperlukan beberapa atribut, yaitu:
  5. Mengatakan hal-hal yang positif tentang perusahaan kepada
    kerang lain
  6. Memberi rekomendasi perusahaan kepada orang lain yang
    meminta saran
  7. Mempertimbangkan bahwa perusahaan yang dipilih adalah
    merupakan pilihan utama
  8. Melakukan banyak kegiatan yang menyangkut perusahaan
    dalam beberapa tahun mendatang

Faktor yang mempengaruhi loyalitas


Perusahaan selalu memberikan yang terbaik untuk karyawannya
agar tetap nyaman dan tetap setia terhadap perusahaan, maka dari itu
perusahaan memerlukan strategi untuk membuat karyawan tetap loyal
kepada perusahaan, Menurut Murali, Poddar dan Seema (2017)
mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi
loyalitas:

  1. Faktor rasional
    Faktor rasional sering dikaitkan dengan hal-hal yang bisa
    dijelaskan secara logis, contoh: bonus, gaji, fasilitas-fasilitas
    yang di berikan oleh perusahaan karyawan
  2. Faktor emosional
    Faktor emosional sering dikaitkan dengan perasaan atau
    ekspresi diri seperti pekerjaan yang menantang, lingkungan
    kerja yang mendukung satu sama lain, perasaan aman karena
    perusahaan merupakan tempat pekerja berjangka panjang,
    pemimpin yang memiliki kharisma, pekerjaan yang
    membanggakan, dan mendapatkan penghargaan-penghargaan
    yang diberikan oleh perusahaan dan budaya bekerja
  3. Faktor kepribadian
    Faktor kepribadian berkaitan dengan sifat, karakter,
    temperamen yang dimiliki oleh karyawan.
    Menurut Kotler dan Keller dalam jurnal Chintya Damayanti dan
    Wahyono (2015:240) mengemukakan bahwa ada 3 indikator
    Loyalitas karyawan:
  4. Adanya kesetiaan
  5. Ketahanan terhadap pengaruh yang negatif mengenai
    perusahaan
  6. Merefrensikan secara total esistensi perusahaan

Pengertian loyalitas


Loyalitas merupakan sikap dan tindakan karyawan yang bekerja
tanpa paksaan. Dalam organisasi sifat loyalitas sangat berpengaruh
terhadap kinerja karyawan, dengan loyal kepada organisasi dan perusahaan
akan dapat membantu perusahaan untuk mencapai tujuan bersama. Dalam
kehidupan bekerja tak lepas dari yang namanya kesetiaan karyawan
terhadap perusahaan, di mana karyawan akan menyerahkan seluruh
kehidupannya termasuk mengesampingkan kehidupan pribadi terhadap
perusahaan, hal ini yang menjadi salah satu hal penting dalam perusahaan
untuk mencapai tujuan bersama dengan karyawan yang sangat loyal dan
setia terhadap perusahaan.
Menurut Saydam dikutip dari Riyanti (2015:6) mengemukakan
bahwa loyalitas kerja adalah tekat, ketaatan dalam menaati dan
melaksanakan peraturan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab,
tekat dibuktikan dengan tingkah laku dan sikap sehari-hari dalam
melaksanakan tugas yang diberikan, dengan ini dapat disimpulkan bahwa
loyalitas karyawan muncul karena adanya tekat untuk menyelesaikan tugas
dan mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap tugas yang diberikan
yang mengakibatkan karyawan memiliki rasa setia kepada perusahaan.
Menurut Robbins dan Judge (2016:47) mengemukakan bahwa
β€œseorang pekerja mengidentifikasi sebuah organisasi, tujuan serta
harapannya untuk tetap menjadi anggota.” Dari kutipan di atas dapat
disimpulkan bahwa loyalitas dapat tercipta karena karyawan memiliki
tujuan yang sama dengan organisasi tersebut yang membuat karyawan itu
memiliki kesetiaan.
Menurut penelitian terdahulu oleh Allen ayu dan Mohammad Igbal
(2018) mengemukakan bahwa loyalitas karyawan akan lebih efektif
apabila seorang manajer memiliki kualitas hubungan yang baik dengan
karyawan, hubungan yang dekat antara manajer dengan karyawan dapat
membantu karyawan termotivasi dalam bekerja untuk mencapai hasil yang
maksimal, sehingga karyawan merasa royal terhadap perusahaan

Hubungan antara Kompensasi Finansial dan Loyalitas Karyawan


Kompensasi finansial mempunyai pengaruh signifikan terhadap
loyalitas karyawan. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin tinggi
kompensasi finansial karyawan maka semakin tinggi pula tingkat
loyalitas karyawan.
Kompensasi merupakan balas jasa atas suatu pekerjaan di sebuah
perusahaan atau organisasi yang berupa pendapatan secara langsung
maupun tidak langsung yang diterima karyawan. Hasil peneliti (Ang &
Edalmen, 2021) β€œkompensasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap loyalitas karyawan.” Kompensasi yang semakin baik akan
meningkatkan loyalitas karyawan terhadap perusahaan Dengan
pemberian kompensasi yang baik dan adil kepada karyawan dapat
meningkatkan loyalitas karyawan dan rasa setia dan bahkan bisa
meningkatkan motivasi kerja karyawan. Ini diperkuat dengan peneliti
(Septyarini et al., 2024) yakni β€œadanya pengaruh positif dan signifikan
antara kompensasi dengan loyalitas karyawan.”

Hubungan antara Gaya Kepemimpinan Transformasional danLoyalitas Karyawan


Gaya kepemimpinan transformasional yang diterapkan dengan
maksimal akan meningkatkan loyalitas karyawan, karena pemimpin
dengan gaya kepemimpian transformasional ini akan memotivasi dan
mendengarkan aspirasi – aspirasi karyawan sehingga dapat memberikan
perhatian khusus sehingga dapat meningkatkan loyalitas karyawan.
Menurut (Marzuki, 2018) β€œGaya Kepemimpinan
Transformasional sangat efektif untuk membuat karyawan bersemangat
agar berkomitmen untuk menciptakan visi misi perusahaan. Gaya
kepemimpinan merupakan Tindakan yang dilakukan oleh pemimpin
dalam menjalankan tugasnya auntuk menjadi panutan bagi karyawan.
Dalam peneliti yang sama, menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan
transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas
karyawan.” Penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian (Septyarini et
al., 2024) yakni memperoleh hasil bahwa β€œgaya kepemimpinan
transformasional berpengaruh postif dan signifikan terhadap loyalitas
karyawan.”

Indikator Kompensasi Finansial


Menurut (Afandi, 2018) indikator Kompensasi meliputi :

  1. Gaji
    Imbalan atas jasa yang dinyatakan dalam bentuk uang oleh atasan
    kepada karyawan atau pekerja, yang dibayarkan sesuai dengan
    perjanjian kerja, kesepakatan dan peraturan perundang-undangan.
  2. Insentif
    Kompensasi diluar gaji atau upah yang diberikan oleh perusahaan,
    yang dilihat berdasarkan hasil kerja.
  3. Bonus
    Bonus merupakan kompensasi tambahan yang dilaksanakan
    ketika melebihi target atau pada waktu-waktu tertentu sesuai
    dengan kebijakan perusahaan.Bonus bisa digunakan sebagai
    penghargaan terhadap pencapaian tujuan-tujuan spesifik yang
    ditetapkan oleh perusahaan, atau untuk dedikasinya kepada
    perusahaan

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kompensasi Finansial


Mrnurut (Harjono, 2019) beberapa faktor yang mempengaruhi
kompensasi yakni :

  1. Tingkat Pendidikan dan pengalaman kerja
    Pendidikan dan pengalaman berperan dalam menentukan
    besarnya kompensasi bagi karyawan. Semakin tinggi pendidikan
    karyawan dan semakin banyak pengalaman kerja, maka semakin
    tinggi pula kompensasinya.
  2. Penawaran bersama antara perusahaan dan karyawan
    Permintaan tenaga kerja adalah pihak perusahaan sangat
    membutuhkan tenaga kerja, maka secara otomatis kompensasi
    relatif tinggi. Sedangkan penawaran tenaga kerja pihak individu
    yang membutuhkan pekerjaan, maka tingkat kompensasi relatif
    lebih rendah
  3. Standar hidup dan biaya hidup karyawan
    Tingkat biaya hidup di suatu daerah akan menentukan besarnya
    kompensasi. Sebagai contoh tingkat upah di daerah atau kota
    terpencil akan lebih kecil dibandingkan dengan tingkat upah di
    kota-kota besar.
  4. Kemampuan dan kesediaan perusahaan membayar
    Bahwa ukuran besar-kecilnya kompensasi yang akan diberikan
    kepada karyawan akan sangat tergantung kepada kemampuan
    finansial yang dimiliki perusahaan, dan juga seberapa besar
    kesediaan dan kesanggupan perusahaan menentukan besarnya
    kompensasi untuk karyawannya.
  5. Produktivitas kerja / prestasi kerja karyawan
    Kemampuan karyawan dalam menghasilkan prestasi kerja akan
    sangat mempengaruhi besarnya kompensasi yang akan diterima
    karyawan
  6. Serikat buruh
    Pentingnya eksistensi karyawan dalam perusahaan, maka
    karyawannya akan membentuk suatu ikatan dalam rangka
    proteksi atas kesemena-menaan pimpinan dalam
    memberdayakan karyawan. Dalam hal ini muncul rasa yang
    menyatakan bahwa perusahaan tidak akan bisa mencapai
    tujuannya tanpa ada karyawan. Dengan demikian, maka akan
    mempengaruhi besarnya kompensasi.
  7. Sektor pemerintah
    Pemerintah sebagai pelindung masyarakat berkewajiban untuk
    menertibkan sistem kompensasi yang ditetapkan
    perusahaan/organisasi, serta instansi-instansi lainnya, agar
    karyawan mendapatkan kompensasi yang adil dan layak, seperti
    dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah dalam hal
    pemberian upah minimum bagi para karyawan

Pengertian Kompensasi Finansial


Menurut Hasibuan dalam (Ang & Edalmen, 2021) β€œkompensasi
merupakan pendapatan berupa barang langsung maupun tidak langsung
yang diberikan kepada karyawan sebagai imbalan yang mereka berikan
kepada perusahaan.” (Hasibuan, 2017) β€œkompensasi merupakan seluruh
pendapatan berupa uang dan barang (langsung dan tidak langsung) yang
diterima karyawan yang merupakan imbal jasa yang telah dikeluarkan.”
Peneliti (Wildan Azizi, 2023) β€œkompensasi ialah bentuk balas jasa yang
telah diberikan untuk perusahaan dari karyawan atas keterlibatan yang
telah dilakukan dalam pekerjaan pada perusahaan.”

Indikator Gaya Kepemimpinan Transformasional


Menurt (S. P. Robbins & Timothy A. Judge, 2015) indikator
Gaya Kepemimpinan Transformasional adalah sebagai berikut :

  1. Idealized Influence (Pengaruh Ideal)
    Yakni perilaku pemimpin yang mampu menyampaikan visi dan
    misi organisasi secara jelas, serta menumbuhkan rasa bangga
    dan kepercayaan pada bawahan.
  2. Inspirational Motivation (Motivasi Inspirasional)
    Yakni perilaku pemimpin yang mampu mengkomunikasikan
    harapan yang tinggi secara jelas dan menarik, membangkitkan
    semangat kerja, serta menginspirasi bawahan untuk selalu
    antusias dan optimis dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi.
  3. Intellectual Stimulation (Stimulasi Intelektual)
    Yakni perilaku pemimpin yang mampu merangsang kreativitas
    dan inovasi bawahan, menghargai ide-ide bawahan, dan
    mengarahkan bawahan untuk memecahkan masalah secara
    cermat.
  4. Individualized Consideration (Pertimbangan Individual)
    Yakni perilaku pemimpin yang memberikan perhatian pada
    kebutuhan bawahan, menghargai perbedaan individual serta
    melatih dan memberi pengarahan kepada bawahan

Faktor-faktor yang mempengaruhi Gaya KepemimpinanTransformasional


Menurut (Ancok, 2015) Faktor-faktor yang mempengaruhi
Gaya Kepemimpinan Transformasional meliputi :

  1. Pengaruh yang diidealkan (idealized influence)
    Pemimpin yang memiliki kharisma untuk menunjukkan
    pendirian, menekankan kepercayaan, menunjukkan nilai yang
    paling penting, komitmen, konsekuen etika dari keputusan serta
    memiliki visi.
  2. Stimulasi Intelektual (intellectual stimulation)
    Pemimpin dapat mengembangkan kompetensi
    pengikutnya dengan cara memberikan tantangan dan pertanyaan
    agar pengikutnya selalu berusaha mencari cara – cara baru dalam
    melakukan pekerjaan.
  3. Kepedulian secara perorangan (individual consideration)
    Pemimpin mampu memperlakukan orang lain sebagai
    individu, mempertimbangkan kebutuhan individual dan
    mendengarkan aspirasi – aspirasi sehingga dapat memberikan
    perhatian khusus agar dapat mengembangkan pengikutnya
    dalam mecapai kinerja yang bagus.
  4. Motivasi yang inspirasi (inspirational motivation)
    Sifat pemimpin memberikan inspirasi dalam bekerja
    dapat mewujudkan sebuah cita – cita bersama. Pemimpin tentu
    mempunyai visi yang menarik, dapat menetapkan standar yang
    tinggi bagi pengikutnya dan dapat memberikan dorongan
    terhadap apa yang sedang dilakukan

Gaya Kepemimpinan Transformasional


Menurut Khuntia dan Suar (2004) dalam bukunya
menekankan bahwa β€œKepemimpinan transformasional ialah gaya
pemimpin yang bisa merubah kepercayaan dan nilai serta perilaku
para bawahan sehingga sejalan dengan visi organisasi.” (Marzuki,
2018). Pemimpin transformasional ialah β€œpemimpin yang
karismatik serta punya peran penting dan juga strategis dalam
membawa organisasi mencapai tujuan” Northouse (Mahayuni &
Dewi, 2020). Robbins (2015) mengatakan bahwa β€œpemimpin
transformasional adalah pemimpin yang menginspirasi para
pengikutnya untuk melampaui kepentingan diri mereka sendiri dan
yang mampu memiliki pengaruh yang mendalam dan luar biasa
terhadap para pengikutnya.”

Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan merupakan upaya menggerakkan dan
memotivasi para pengikutnya agar melakukan tindakan yang mengarah
untuk mencapai tujuan suatu perusahaan atau organisasi dengan tipe
atau gaya yang dimiliki seorang pemimpin. Beberapa tipe gaya
kepemimpinan meliputi :

  1. Gaya Kepemimpinan Otoriter
    Kepemimpinan otoriter merupakan Pimpinan yang
    memnginginkan semua keinginan dan perintahnya harus dipenuhi
    tanpa harus memahami kepentingan orang yang dipimpin
    (Hutahaean, 2021).
  2. Gaya Kepemimpinan Demokratis
    Kepemimpinan yang dapat mewadahi semua kepentingan
    orang yang dipimpin sehingga mereka merasa keinginannya dapat
    terwadahi oleh pemimpinnya (Hutahaean, 2021).
  3. Gaya Kepemimpinan Delegatif
    Hasibuan (2015:172) mengungkapkan bahwa gaya
    kepemimpinan delegatif merupakan gaya kemimpinan yang
    tidak peduli cara bawahan mengambil keputusan dan
    mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan kepada
    bawahan. Hal tersebut diperkuat oleh gaya kepemimpinannya
    yang cenderung kurang peduli terhadap proses yang dilakukan
    bawahan dalam mendelegasikan tugas dan tanggung jawab yang
    telah diberikan.
  4. Gaya Kepemimpinan Transformasional
    (S. P. Robbins & Timothy A. Judge, 2015) mengatakan
    bahwa β€œpemimpin transformasional adalah pemimpin yang
    menginspirasi para pengikutnya untuk melampaui kepentingan diri
    mereka sendiri dan yang mampu memiliki pengaruh yang mendalam
    dan luar biasa terhadap para pengikutnya.”
  5. Gaya Kepemimpinan Transaksional.
    Menurut (Bass & Avolio, 1994) β€œGaya kepemimpinan
    transaksional merupakan gaya kepemimpinan dimana pemimpin
    diharapkan mampu menyesuaikan dirinya sesuai dengan harapan
    dari karyawan agar karyawan merasa dibutuhkan karena adanya
    hubungan yang kooperatif antara keduanya.”

Indikator Loyalitas Karyawan


(Soegandhi, 2015) memaparkan indikator loyalitas karyawan
sebagai berikut :

  1. Keberadaan Karyawan
    a. masa kerja karyawan di perusahaan
    b. ingin menghabiskan karirnya di perusahaan dan merasa
    enggan untuk meninggalkan perusahaan
  2. Keterlibatan Karyawan
    a. Karyawan berusaha untuk tetap menjaga citra perusahaan
    b. Karyawan berusaha untuk mendapatkan hasil terbaik dari
    pekerjaan mereka demi kemajuan perusahaan
    c. Karyawan juga menyarankan atasan untuk meningkatkan
    divisi mereka
  3. Kebanggan Karyawan
    a. Karyawan gemar berbagi cerita mengenai jobdesk mereka
    dengan orang lain.
    b. Karyawan menggambarkan perusahaan sebagai perusahaan
    yang ideal.
    c. Karyawan percaya bahwa bekerja di perusahaan merupakan
    pillihan terbaik dalam hidup mereka.

Dimensi dan Indikator Kepuasan Kerja


Dimensi dan Indikator kepuasan kerja menurut Mangkunegara (2021)
meliput:

  1. Pekerjaan itu sendiri
    Pekerjaan menjadi sumber kepuasan di dalam bekerja, dimana
    sebuah pekerjaan memberikan tugas yang menarik, menyediakan
    kesempatan untuk belajar, tugas yang sesuai dengan keahlian
    pegawai, kesempatan untuk menerima tanggung jawab dan
    kemajuan untuk pegawai. Kebebasan tersebut membuat
    kesenangan dan kepuasan kerja pegawai dapat tercipta. Pada
    dimensi ini indikator berupa
    a) Pekerjaan yang menarik
    b) Kesempatan untuk belajar
  2. Imbalan/gaji
    Imbalan yang diterima oleh pegawai merupakan faktor
    penentu yang paling penting bagi kepuasan pegawai. Sejumlah
    uang yang diterima pegawai menjadi penilaian kepuasan, dimana
    hal ini dipandang sebagai hal yang dianggap layak dan pantas.
    15
    Pada dimensi ini indikator berupa rasa keadilan yang diberikan
    instansi sesuai beban pekerjaan.
  3. Kesempatan/Promosi
    Terbukanya memperoleh kenaikan jabatan membuat pegawai
    mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dan
    memperluas keahlian menjadi dasar penting untuk kemajuan dalam
    instansi sehingga menciptakan kepuasan. Pada dimensi ini
    indikator berupa
    a) Mempunyai peluang untuk mendapatkan promosi
    b) Adanya rasa keadilan guna memperoleh promosi
    c) Memiliki peluang untuk memperluas keahliannya.
  4. Pengawas
    Dilihat dari kemampuan atasan guna memberikan dukungan
    dan bantuan teknis, atasan yang mempunyai hubungan baik dengan
    bawahan serta bisa memahami kepentingan bawahannya dan
    memberikan dampak positif terhadap bawahan maka akan
    menimbulkan kepuasan kerja para pegawai. Pada dimensi ini
    indikator
    a) Berupa atasan mampu memberikan keadilan di dalam
    penugasan.
    b) Atasan dapat memberikan penugasan berdasarkan kompetensi.
    c) Atasan mampu memberi keadilan dalam pengambilan
    keputusan mengenai pekerjaan.
  5. Rekan kerja
    Rekan kerja yang mendukung merupakan sumber kepuasan
    kerja tersendiri bagi seorang pegawai. Bagi seorang pegawai
    bekerja juga merupakan mengisi akan kebutuhan interaksi sosial.
    Selain itu kelompok kerja, terutama tim yang kompak bertindak
    sebagai sumber dukungan, nasihat, kenyamanan, dan bantuan pada
    individu akan memberikan kepuasan yang meningkat bagi
    pegawai, pada dimensi ini indikator berupa :
    a) Rekan kerja yang menyenangkan
    16
    b) Rekan kerja yang kompeten

Faktor-faktor yang mempengaruhi Loyalitas Karyawan


Menurut (Seema et al., 2017) faktor-faktor yang
mempengaruhi loyalitas sebagi berikut :

  1. Faktor Rasional,
    Meliputi gaji, bonus, jenjang karir, dan fasilitas-fasilitas
    yang diberikan perusahaan kepada karyawan.
  2. Faktor Emosional,
    Berkaitan dengan perasaan atau ekspresi diri seperti
    pekerjaan yang menantang, lingkungan kerja yang
    mendukung, perasaan aman karena perusahaan merupakan
    tempat bekerja dalam jangka panjang, pekerjaan yang
    membanggakan, penghargaan-penghargaan yang
    diberikan perusahaan dan budaya kerja.
  3. Faktor Kepribadian,
    Berkaitan dengan sifat, karakterdan tempramen yang
    dimiliki oleh karyawan.

Faktor-Faktor kepuasan kerja
Menurut Hidayati & Trisnawati (2022) ada beberapa faktor kepuasan
kerja yaitu:

  1. Faktor Motivasi: prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri,
    tanggung jawab, kemajuan dan pertumbuhan
  2. Faktor Higienis: kebijakan administrasi perusahaan, penyeliaan,
    hubungan dengan penyelia, kondisi kerja, gaji, hubungan dengan
    rekan kerja, hubungan dengan bawahan, status dan keamanan

Pengertian Loyalitas Karyawan


(Purnamasari & Sintaasih, 2019) memaparkan bahwa
β€œloyalitas karyawan merupakan kesetiaan yang ditandai dengan
kesediaan karyawan dalam menjaga dan membela perusahaan dengan
kesadaran dan kesanggupan yang dibuktikan dengan sikap dan
tingkah laku dalam melaksanakan tugas untuk mewujudkan tujuan
organisasi.” Nitisemo mengungkapkan β€œloyalitas karyawan
merupakan sikap mental seorang karyawan yang dapat ditunjukkan
dengan tetap bertahannya karyawan di perusahaan tersebut meski
perusahaan berkembang atau tidak.” (Fitriyani, 2018). (Valentino &
Haryadi, 2016) mengungkapkan bahwa β€œloyalitas karyawan adalah
kesetiaan karyawan kepada perusahaan, sebagaimana ditunjukkan
oleh komitmen terbaik mereka terhadap perusahaan.

Aspek-aspek Kepuasan Kerja


Menurut Locke (dalam Sari, 2019:123) mengungkapkan bahwa terdapat
beberapa aspek kepuasan kerja yaitu :
a. Isi pekerjaan, mencakup yang melibatkan keterampilan, dan kemampuan
yang sesuai kualifikasi pekerjaan, variasi pekerjaan, kuantitas dan kualitas
pekerjaan, tingkat kesulitan, serta tanggung jawab individu dalam
mengerjakan pekerjaan tersebut.
b. Imbalan, mencakup sejauh mana imbalan yang diterima karyawan sesuai
dengan usaha yang telah dilakukan dalam bekerja. Imbalan yang dimaksud
dapat berupa gaji, insentif, dan tunjangan. Karyawan menghendaki sistem
imbalan yang adil.
c. Promosi jabatan, mencakup kesempatan memperoleh promosi jabatan yang
lebih tinggi. Selain memperoleh kesempatan promosi, aspek ini juga
mencakup keadilan dalam promosi jabatan.
d. Kondisi kerja, mencakup kepuasan terhadap kondisi lingkungan pekerjaan
seperti, tempat kerja, ruangan kerja, dan fasilitas perusahaan.
e. Rekan kerja, mencakup kepuasan hubungan atau interaksi karyawan
dengan karyawan lain baik yang setara tingkatannya, bawahan, atau
atasannya. Hubungan atau interaksi yang hangat atau harmonis akan bisa
menciptakan kepuasan kerja karyawan.
f. Pengawas, mencakup kepuasan terhadap pengawasan yang dilakukan oleh
atasannya.
Menurut Hariandja (dalam Paendong, Sentosa & Sarpan, 2019:39),
mengungkapkan bahwa terdapat beberapa aspek yang mampu mempengaruhi
kepuasan kerja yaitu :
a. Gaji, yaitu mencakup kesesuaian dan keadilan dari bayaran yang diterima
oleh seseorang atas pekerjaannya.
b. Pekerjaan itu sendiri, yaitu mencakup kepuasan terhadap pekerjaan yang
dijalani.
c. Rekan kerja, yaitu teman interaksi dalam bekerja.
d. Atasan, yaitu orang yang memberikan perintah/petunjuk mengenai
pelaksanaan kerja.
e. Promosi, yaitu mencakup probabilitas seseorang untuk berkembang melalui
kenaikan tingkat jabatan.
f. Lingkungan kerja, yaitu meliputi lingkungan fisik dan psikologis

Pengertian Kepuasan Kerja


Menurut Robbins dan Judge (dalam Sukma & Puspitadewi, 2022:36)
menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan positif seseorang terhadap
pekerjaan yang merupakan hasil dari evaluasi dari karakteristik pekerjaan tersebut.
Pendapat lain mendefinisikan mengenai kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi
karyawan tentang seberapa baik pekerjaan menyediakan hal yang dinilai sebagai
sesuatu yang penting. (dalam Sukma & Puspitadewi, 2022:36).
Menurut Kuswadi (dalam Sari, 2019:121), kepuasan karyawan dapat
membantu dalam memaksimalkan keuntungan perusahaan melalui empat cara yaitu
karyawan yang puas cenderung bekerja dengan kualitas yang lebih tinggi, karyawan
yang puas cenderung bekerja dengan lebih produktif, karyawan yang puas
cenderung bekerja bertahan lebih lama dalam perusahaan, karyawan yang puas
cenderung bekerja dapat menciptakan pelanggan yang puas.
Menurut Robbins (dalam Paendong, Sentosa & Sarpan, 2019:38)
mendefinisikan kepuasan kerja adalah suatu sikap umum seorang individu terhadap
pekerjaannya, selisih antara banyaknya ganjaran yang diterima seorang pekerja dan
banyaknya yang mereka yakini dibandingkan yang seharusnya mereka terima

Faktor-faktor Loyalitas Kerja


Menurut Steers & Porter (dalam Sunyianto, 2019:5) menyatakan bahwa
timbulnya loyalitas kerja dipengaruhi oleh :
a. Karakteristik Pribadi, meliputi : usia, masa kerja, prestasi kerja, tingkat
pendidikan, jenis kelamin, ras dan sifat kepribadian.
b. Karakteristik pekerjaan, meliputi : tantangan kerja, stres kerja, kepuasan
kerja, kesempatan untuk berinteraksi sosial, identifikasi tugas, umpan balik
tugas dan kecocokan tugas.
c. Karakteristik bentuk perusahaan/organisasi, yang dapat dilihat dari
sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan
keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai tingkat asosiasi dengan
tanggung jawab perusahaan, ketergantungan fungsional maupun fungsi
kontrol perusahaan.
d. Pengalaman yang diperoleh dalam perusahaan/organisasi,yaitu internalisasi
individu terhadap perusahaan setelah melaksanakan pekerjaan meliputi
sikap positif terhadap perusahaan, rasa percaya terhadap perusahaan
sehingga menimbulkan rasa aman, merasakan adanya kepuasan pribadi.
Menurut Anzani (dalam Melvani & Sakarina, 2022:22) mengungkapkan
bahwa faktor loyalitas dipengaruhi oleh :
a. Karakteristik pribadi meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, prestasi, ras dan sifat kepribadian.
b. Karakteristik pekerjaan, meliputi tantangan kerja, stres kerja, berinteraksi
sosial, identifikasi tugas, umpan balik

Aspek-aspek Loyalitas Kerja


Menurut Hasibuan (dalam Safitri & Hanifuddin, 2022:91) menyatakan
bahwa aspek loyalitas kerja diantaranya yaitu :
a. Ketaatan atau kepatuhan yaitu kesanggupan individu karyawan untuk
mentaati semua peraturan, menjalakan segala perintah yang telah di
diberikan oleh pemimpin, serta kesanggupan karyawan untuk tidak
melanggar peraturan yang telah ditetapkan.
b. Pengabdian yaitu kontribusi pemikiran dan tenaga dari karyawan secara
sukarela kepada perusahaan.
c. Kejujuran yaitu keselarasan antara yang terucap atau perbuatan dengan
kenyataan oleh karyawan.
d. Bertanggung jawab yaitu kesanggupan karyawan untuk menyelesaikan
pekerjaan dengan baik, tepat waktu serta berani mengambil resiko
keputusan yang dibuat.
Menurut Soegandhi dkk (dalam Akila, 2020:228-229) mengungkapkan
terdapat enam aspek dalam loyalitas kerja yaitu :
a. Taat pada peraturan yaitu peraturan yang diterapkan untuk memperlancar
dan harus ditaati dengan baik, serta kedisiplinan yang menguntungkan
instansi, baik secara intern maupun ekstern.
b. Tanggung jawab pada perusahaan yaitu kesanggupan pegawai untuk
melaksanakan tugasnya akan memberikan keberanian dan kesadaran
bertanggung jawab terhadap resiko atas tugas yang telah dilaksanakan.
c. Kemauan untuk bekerja sama yaitu bekerjasama dengan rekan kerja akan
memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuan bersama.
d. Rasa memiliki yaitu rasa ingin memiliki terhadap perusahaan akan membuat
pegawai memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab
terhadap perusahaan, sehingga akan menimbulkan loyalitas untuk mencapai
tujuan perusahaan.
e. Hubungan antar pribadi yaitu pegawai yang mempunyai loyalitas kerja
tinggi akan mempunyai sikap fleksibel ke arah hubungan antara pribadi.
f. Kesukaan terhadap pekerjaan yaitu kesukaan terhadap pekerjaan dari diri
individu dapat dilihat dari keunggulan pegawai dalam bekerja dan pegawai
tidak pernah menuntut apa yang di terimanya di luar gaji pokok

Pengertian Loyalitas Kerja


Menurut Poerwopoespito (dalam Qasanah, 2020:129) mengemukakan
bahwa loyalitas kepada pekerjaan tercermin pada sikap karyawan yang
mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, melaksanakan tugas dengan
tanggung jawab, jujur dalam bekerja, hubungan kerja yang baik dengan atasan,
kerja sama yang baik dengan rekan kerja, disiplin, menjaga citra perusahaan dan
adanya kesetiaan untuk bekerja dalam waktu yang lebih panjang. Kemudian
menurut Robbins (dalam Husni, Musnadi & Faisal, 2018:91) loyalitas merupakan
proses yang timbul sebagai akibat keinginan untuk setia dan berbakti baik itu pada
pekerjaannya, kelompok, atasan maupun pada perusahaannya, hal ini menyebabkan
seseorang rela berkorban demi memuaskan pihak lain atau masyarakat.
Menurut Saydam (dalam Ma’ruf, 2021:111) Loyalitas adalah tekad dan
kesanggupan seorang karyawan kepada perusahaan atau instansi untuk mentaati,
melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang dipatuhi dengan penuh kesadaran
dan tanggung jawab dalam bekerja. Mercer (dalam Letsoin & Ratnasari, 2020:18)
Keterlibatan karyawan merupakan keadaan psikologis dimana karyawan merasa
berkepentingan dalam keberhasilan perusahaan dan termotivasi untuk
meningkatkan kinerja ke tingkat yang melebihi job requirement yang diminta. Dan
menurut Newstrom (dalam Sukma & Puspitadewi, 2022: 34) loyalitas kerja adalah
suatu tahap dimana karyawan mengidentifikasi dirinya kedalam suatu organisasi
dan mendedikasikan dirinya untuk berpatisipasi dalam organisasi tersebut.

Pengertian Kepuasan Kerja


Menurut Yuda & Ardana (2021) kepuasan kerja didefinisikan
sebagai perasaan senang atau emosi positif yang didapat seorang dari
pengalaman kerja yang berkenaan dengan individu bukan kelompok.
Menurut Feizal (2021) suatu sikap karyawan yang berhubungan dengan
situasi kerja, kerjasama antar karyawan, imbalan yang diterima dalam
kerja, dan hal-hal yang menyangkut fisik dan psikologis. Menurut
Yulianti & Mesta (2021) kepuasan kerja merupakan evaluasi yang
menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak
senang, puas atau tidak puas dalam bekerja. Menurut Monica & Putra
(2021) mengidentifikasi bahwa kepuasan kerja adalah suatu respon
yang efektif oleh individu-individu, yang dihasilkan dari penilaian
pekerjaan mereka saat ini. Menurut Putri & Prasetio (2021) kepuasan
kerja adalah suatu perasaan positif tentang pekerjaan, yang dihasilkan
dari suatu evaluasi pada karakteristik-karakteristiknya. Menurut
(Arnanta & Utama, 2021). Dalam penelitiannya, Judge (2019) telah
menyoroti pentingnya kepuasan kerja sebagai prediktor penting dari
niat berpindah karyawan. Studi-studinya telah menunjukkan bahwa
kepuasan kerja yang tinggi secara konsisten terkait dengan tingkat
turnover intention yang lebih rendah, sedangkan kepuasan kerja yang
rendah sering kali memicu keinginan untuk meninggalkan pekerjaan
atau organisasi tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
kepuasan kerja merupakan faktor kunci dalam menentukan niat
berpindah karyawan. Kepuasan kerja yang tinggi dapat mengurangi
turnover intention, sedangkan kepuasan kerja yang rendah dapat
meningkatkan keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaannya

Dimensi dan Indikator Turnover intention


Menurut Fathoni (2019) Menjelaskan mengenai dimensi yang
mempengaruhi beban kerja, antara lain yaitu:

  1. Dimensi eksternal yang terbagi atas tugas yang diberikan,
    kompleksitas pekerjaan, waktu kerja dan istirahat
  2. Dimensi internal yang terbagi atas motivasi, persepsi, keinginan
    dan kepuasan
    Sedangkan Indikator turnover intention menurut Fathoni (2019)
    diantaranya adalah:
  3. Pikiran untuk keluar
  4. Keinginan untuk mencari pekerjaan lain
  5. Adanya keinginan untuk meninggalkan organisasi

Faktor-faktor Turnover intention


Berbagai faktor turnover intention antara lain adalah tingginya stres
kerja dalam perusahaan, rendahnya kepuasan yang dirasakan
karyawan serta kurangnya komitmen pada diri karyawan untuk
memberikan semua kemampuannya bagi kemajuan perusahaan
Arnanta & Utama (2021). Menurut Husein (2019) keinginan untuk
keluar dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:

  1. Organisasi
    Faktor organisasi yang dapat menyebabkan keinginan
    karyawan untuk keluar antara lain berupa upah atau gaji,
    lingkungan kerja, beban kerja, stres kerja, promosi jabatan, dan jam
    kerja yang tidak fleksibel.
    2.Individu
    Faktor individu yang dapat menyebabkan keinginan karyawan
    untuk keluar antara lain berupa pendidikan, umur, kepuasan Kerja
    dan status perkawinan.
    c. Indikasi Terjadinya Turnover intention
    Menurut Husein (2019) turnover intention ditandai oleh berbagai
    hal yang menyangkut perilaku karyawan. Indikasi-indikasi tersebut
    meliputi:
  2. Tingginya Tingkat Absensi
    Karyawan yang memiliki turnover intention biasanya
    cenderung meningkatkan absensinya, hal itu terjadi karena dalam
    fase tersebut tingkat tanggung jawab karyawan sudah sangat
    berkurang dibandingkan sebelumnya.
  3. Malas Bekerja
    Karyawan yang memiliki turnover intention akan lebih malas
    bekerja karena orientasi karyawan ini adalah bekerja di tempat lain
    yang dipandang mampu memenuhi keinginan karyawan tersebut.
  4. Peningkatan terhadap Pelanggaran Tata Tertib Kerja
    Berbagai pelanggaran tata tertib dalam lingkungan kerja sering
    dilakukan karyawan yang memiliki turnover intention. Karyawan
    lebih sering meninggalkan tempat kerja ketika jam kerja
    berlangsung, maupun berbagai bentuk pelanggaran lainnya.
  5. Peningkatan Protes terhadap Atasan
    Karyawan yang memiliki turnover intention lebih sering
    melakukan protes terhadap kebijakan-kebijakan perusahaan kepada
    atasan

Pengertian Turnover intention


Turnover intention adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan keinginan atau niat seorang karyawan untuk
meninggalkan pekerjaannya saat ini dan mencari pekerjaan di tempat
lain. Turnover intention sering diukur dalam penelitian manajemen
sumber daya manusia karena dapat menjadi indikator penting dari
perilaku karyawan yang sebenarnya, yaitu pengunduran diri atau
berpindah pekerjaan. Turnover intention yang tinggi mengindikasikan
bahwa karyawan tidak betah bekerja di perusahaan tersebut. Jika
dilihat dari segi ekonomi tentu perusahaan akan mengeluarkan cost
yang cukup besar karena perusahaan sering melakukan recruitment,
pelatihan yang memerlukan biaya yang sangat tinggi. Menurut
Handoyo (2021), turnover intention adalah proses dimana karyawan
meninggalkan organisasi dan harus digantikan. Menurut Rivai (2019)
turnover intention merupakan keinginan karyawan untuk berhenti kerja
dari perusahaan secara sukarela atau pindah dari satu tempat ke tempat
kerja yang lain menurut pilihannya sendiri. Siregar (2021)
mendefinisikan turnover intention adalah kecenderungan atau niat
karyawan untuk berhenti bekerja dari pekerjaanya secara sukarela
menurut pilihannya sendiri. Ronald dan Milkha (2021) mengemukakan
turnover intention (keinginan berpindah kerja) merupakan
kecenderungan atau intensitas individu untuk meninggalkan organisasi
dengan berbagai alasan dan diantaranya untuk mendapatkan pekerjaan
yang lebih baik. Menurut Arnanta & Utama (2021). turnover intention
adalah kadar atau intensitas dari keinginan untuk keluar dari
perusahaan, banyak alasan yang menyebabkan timbulnya turnover

Pengaruh Kepuasan Kerja Karyawan terhadap Komitmen Organisasi


Robbins & Judge (2012) mengatakan bahwa kepuasan kerja adalah suatu sikap umum
terhadap pekerjaan seseorang sebagai perbedaan antara banyaknya ganjaran yang diterima
pekerja dan banyaknya yang diyakini yang seharusnya diterima
Kreitner and Kinicki (2003) menyatakan bahwa terdapat hubungan kuat dan signifikan
antara kepuasan kerja dan komitmen organisasi. Komitmen merupakan suatu kondisi
dimana anggota organisasi memberikan kemampuan dan kesetiaanya pada organisasi
dalam mencapai tujuannya sebagai imbalan atas kepuasan yang diperolehnyaa. karyawan
yang puas lebih berkomitmen dan setia karena secara psikis mereka merasa lebih
diperhatikan oleh perusahaan

Pengaruh Kepuasan Kerja Karyawan terhadap Turnover Intention


Kepuasan kerja adalah menyenangkan atau tidaknya pekerjaan orang tersebut.
Karyawan yang merasa terpuaskan dengan pekerjaannya cenderung untuk bertahan dalam
perusahaan. Sedangkan individu yang merasa kurang terpuaskan dengan pekerjaannya
akan memilih keluar dari organisasi. Kepuasan kerja yang dirasakan dapat mempengaruhi
pemikiran seseorang untuk keluar. Evaluasi terhadap berbagai alternatif pekerjaan, pada
akhirnya akan mewujudkan terjadinya turnover karena individu yang memilih keluar
organisasi akan mengharapkan hasil yang lebih memuaskan di tempat lain. Pekerja yang
tidak terpuaskan dengan pekerjaannya cenderung untuk melakukan cara yang dapat
mengganggu kinerja organisasi: turnover yang tinggi, tingkat absensi yang tinggi,
kelambanan dalam bekerja, keluhan atau bahkan mogok kerja

Indikator Kepuasan Kerja


Luthans (dalam Novita dkk 2016) mengungkapkan terdapat sejumlah indikator
kepuasan kerja, yaitu:

  1. Kepuasan Terhadap Pekerjaannya Sendiri
    Setiap jenis pekerjaan yang dilaksanakan oleh seorang karyawan tentunya
    akan menghasilkan motivasi dan prestasi kerja yang merupakan bagian dari
    kepuasan kerja karyawan. Seorang karyawan akan merasa puas akan pekerjaan
    yang dijalaninya apabila memenuhi hal berikut:
  • Pekerjaan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang penting dan memiliki
    manfaat
  • Karyawan menyadari betul tugas dan tanggung jawabnya atas hasil dari
    pekerjaan yang telah dilakukan.
  • Karyawan mampu memastikan bahwa hasil kerjanya tersebut mampu
    mencapai nilai kepuasan.
  1. Kepuasan Terhadap Pemberian Gaji
    Kepuasan terhadap pemberian gaji ini tidak hanya mencakup nominal
    gaji yang didapatkan akan tetapi lebih kepada kepuasan seorang karyawan
    pada kebijakan administrasi penggajian, adanya berbagagai macam tunjangan,
    serta kepuasan terhadap tingkat kenaikan gaji.
  2. Kepuasan Terhadap Promosi
    Promosi merupakan salah satu jenis penghargaan yang mampu
    memberikan kepuasan kerja pada karyawan. Promosi bisa dianggap sebagai
    bentuk imbalan yang diberikan oleh perusahaan terhadap prestasi kerja yang
    dihasilkan oleh karyawan tersebut.
  3. Kepuasan Terhadap Atasan
    Indikator lain yang memengaruhi kepuasan kerja karyawan adalah
    kepuasan terhadap atasan. Kepuasan terhadap gaya kepemimpinan atasan ini
    ternyata memberikan pengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan. Terdapat
    berbagai macam tipe gaya kepemimpinan atasan yang memengaruhi kepuasan
    kerja diantaranya atasan yang berorientasi terhadap kinerja karyawan dan
    atasan yang mengutamakan partisipasi karyawannya.
  4. Kepuasan Terhadap Rekan Kerja
    Rekan kerja merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kepuasan
    kerja karyawan. Komunikasi yang berjalan dengan baik antar sesama
    karyawan mampu meningkatkan kepuasan kerja dalam diri seorang karyawan,
    apalagi jika rekan kerjanya tersebut memiliki kesamaan dalam bersikap
    sehingga akan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan
    membentuk tali persahabatan antar karyawan. Perasaan senang dan rasa
    persahabatan yang timbul tersebut sangat berkaitan dengan kepuasan kerja
    karyawan.
    Menurut Gibson (dalam Marshellino, 2015) kepuasan kerja adalah sikap yang
    dimiliki para karyawan mengenai berbagai aspek pekerjaannya. Kepuasan kerja dapat
    diukur melalui lima dimensi penting, di antaranya :
  5. Upah: upah yang diterima wakar/sesuai
  6. Pekerjaan : pekerjaan dianggap menantang, memberikan kesempatan untuk
    berkembang
  7. Promosi : adanya kesempatan untuk maju
  8. Penyelia : atasannya yang perhatian terhadap karyawannya.
  9. Rekan kerja : rekan kerja yang bersahabat dan dapat memberikan dukungan

Faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja


Menurut pendapat Gilmer (1966) dalam Moch. As’ad (2004: 114 ) faktor – faktor
yang mempengaruhi kepuasan kerja sebagai berikut :

  1. Kesempatan untuk maju. Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk
    memperoleh kesempatan peningkatan pengalaman dan kemampuan kerja selama
    bekerja.
  2. Keamanan kerja. Faktor ini sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik
    karyawan pria maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengarugi perasaan
    kerja karyawan selama bekerja.
  3. Gaji. Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang yang
    mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang di perolehnya.
  4. Manajemen kerja. Manajemen kerja yang baik adalah yang memberikan situasi dan
    kondisi kerja yang stabil, sehingga karyawan dapat bekerja dengan nyaman.
  5. Kondisi kerja. Dalam hal ini adalah tempat kerja, ventilasi, penyinaran, kantin, dan
    tempat parkir.
  6. Pengawasan (Supervisi). Bagi Karyawan, Supervisor dianggap sebagai figur ayah
    dan sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan
    turntover.
  7. Faktor intrinsik dari pekerjaan. Atribut yang ada pada pekerjaan mensyaratkan
    ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas akan
    meningkatkan atau mengurangi kepuasan.
  8. Komunikasi. Komunikasi yang lancar antara karyawan dengan pimpinan banyak
    dipakai untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak
    pimpinan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat atau prestasi
    karyawannya sangat berperan dalam menimbukan kepuasan kerja.
  9. Aspek sosial dalam pekerjaan. Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan
    tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja.
  10. Fasilitas. Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan
    standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.
    Ada dua faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu faktor yang ada pada diri
    karyawan dan faktor pekerjaannya. (Mangkunegara, dalam Nova 2018).
    a. Faktor Karyawan. Kecerdasan (IQ), kecakapan khusus, umur, jenis kelamin,
    kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa kerja, kepribadian,
    emosi, cara berpikir, persepsi dan sikap kerja. Setiap pekerja yang
    berkembang dalam lingkungan yang memberikan tantangan konstan, perlu
    adanya sesuatu yang membuat karyawan terus menerus berpikir dan
    menggunakan kekuatan pikiran, keterampilan, pendidikan dan keahliannya
    untuk mencapai solusi. Sebuah pekerjaan yang tidak monoton dan
    memberikan lingkungan yang menantang, memungkinkan karyawan untuk
    membuktikan dirinya mengarah pada kepuasan kerja yang lebih besar.
    b. Faktor Pekerjaan. Jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat (golongan),
    kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial, kesempatan promosi
    jabatan, interaksi sosial dan hubungan
    kerja. Banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan

Pengertian Kepuasan Kerja


Mangkunegara (2004) menyatakan bahwa kepuasan akan timbul bila kebutuhan
terpenuhi. Kebutuhan tersebut bertingkat mulai dari tingkatan terendah sampai teritnggi.
Handoko (2016) menyebutkan bahwa kepuasan kerja merupakan keadaan
emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana para karyawan
memandang pekerjaan mereka.
Sutanto dan Carin (2013:76), mendefinisikan bahwa kepuasan kerja adalah sebagai
apa yang membuat orang-orang menginginkan dan menyenangi pekerjaan karena mereka
merasa bahagia dalam melakukan pekerjaannya.
Robbins and Judge (2011:110) menyatakan bahwa β€œKepuasan kerja adalah sikap
positif pegawai terhadap pekerjaannya”. Berdasarkan teori di atas kepuasan kerja
karyawan adalah suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Dimana
para karyawan merasa senang, nyaman, puas atas pekerjaan nya dan merasa kebutuhan
nya terpenuhi oleh perusahaan seperti upah, pujian, promosi jabatan. Seseorang dengan
kepuasan kerja yang tinggi menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaan itu, sebaliknya
seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap yang negatif
terhadap pekerjaan itu.
Teori kepuasan kerja mencoba mengungkapkan apa yang membuat sebagian orang
lebih puas terhadap suatu pekerjaan daripada beberapa lainnya. Teori ini juga mencari
landasan tentang proses perasaan orang terhadap kepuasan kerja. Teori tentang kepuasan
kerja menurut Rivai (2011: 475) adalah:
a. Teori ketidaksesuaian (discrepancy theory)
Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara
susuatu yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan. Sehingga apabila
kepuasannya diperoleh melebihi dari yang diinginkan, maka orang akan menjadi
lebih puas lagi, sehingga terdapat discrepancy, tetapi merupakan discrepancy yang
positif. Kepuasan kerja seseorang tergantung pada selisih antara sesuatu yang
dianggap akan didapatkan dengan apa yang dicapai.
b. Teori keadilan (equity theory)
Teori ini mengemukakan bahwa orang akan merasa puas atau tidak puas,
tergantung pada ada atau tidaknya keadilan dalam suatu situasi, khususnya situasi
kerja. Menurut teori ini komponen utama dalam teori keadilan adalah input, hasil,
keadilan dan ketidakadilan. Input adalah faktor bernilai bagi karyawan yang
dianggap mendukung pekerjaannya, seperti pendidikan, pengalaman, kecakapan,
jumlah tugas dan peralatan atau perlengkapan yang dipergunakan untuk
melaksanakan pekerjaannya. Hasilnya adalah sesuatu yang dianggap bernilai oleh
seorang karyawan yang diperoleh dari pekerjaannya, seperti: upah/gaji, keuntungan
sampingan, simbol, status, penghargaan dan kesempatan untuk berhasil atau
aktualisasi diri. Sedangkan orang selalu membandingkan dapat berupa seseorang di
perusahaan yang sama, atau ditempat lain atau bisa pula dengan dirinya di masa lalu.
c. Teori dua faktor (two factor theory)
Kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja itu merupakan hal yang berbeda.
Kepuasan dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan itu bukan suatu variabel yang
kontinu. Teori ini merumuskan karakteristik pekerjaan menjadi dua kelompok yaitu
satisfiers atau dissatisfiers. Satisfiers ialah faktor-faktor atau situasi yang dibutuhkan
sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari: pekerjaan yang menarik, penuh
tantangan, ada kesempatan untuk berprestasi, kesempatan memperoleh penghargaan
dan promosi. Terpenuhinya faktor tersebut akan menimbulkan kepuasan, namun
tidak terpenuhinya faktor ini tidak selalu mengakibatkan ketidakpuasan.
Dissatisfiers (hygiene factors) adalah faktor-faktor yang menjadi sumber
ketidakpuasan, yang terdiri dari: gaji/upah, pengawasan, hubungan antar pribadi,
kondisi kerja dan status. Faktor ini diperlukan untuk memenuhi dorongan biologis
serta kebutuhan dasar karyawan. Jika tidak terpenuhi faktor ini, karyawan tidak akan
puas. Namun, jika besarnya faktor ini memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut,
karyawan tidak akan kecewa meskipun belum terpuaskan. Dalam suatu pekerjaan
karyawan cenderung lebih menyukai pekerjaan- pekerjaan yang memberi mereka
kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dalam
menawarkan beragam tugas, kebebasan, dan umpan balik mengenai betapa baik
mereka bekerja

Indikator Komitmen Organisasi


Adapun indikator komitmen organisasi pada penelitian ini diambil menurut
pandangan Setiyanto and Selvi (2018) yaitu:
1) Affective commitment (Komitmen efektif), merupakan perasaan emosional untuk
organisasi dan keyakinan dalam nilai-nilainya. Berkaitan dengan hubungan
emosional anggota terhadap organisasinya, identifikasi dengan organisasi, dan
keterlibatan anggota dengan kegiatan di organisasi. Ketika seorang karyawan
memiliki affective commitment yang tinggi, maka akan tetap bertahan dalam
sebuhan organisasi karena ia memang menginginkan itu.
2) Continuance commitment (Komitmen kelanjutan), adalah nilai ekonomi yang dirasa
dari bertahan dalam suatu organisasi bila dibandingkan dengan meninggalkan
organisasi tersebut. Pada indikator ini anggota organisasi memiliki kesadaran
bahwa ia akan mengalami kerugikan jika meninggalkan organisasi. Seorang
karyawan dengan continuance commitment yang tnggi akan terus bertahan dalam
organisasi karena karyawan tersebut memiliki kebutuhan untuk menjadi anggota
organisasi.
3) Normative commitment (Komitmen normatif), yakni kewajiban untuk bertahan
dalam organisasi untuk alasan-alasan moral atau etis. Karyawan dengan normative
commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota organisasi karena merasa
dirinya harus berada dalam organisasi tersebut. Individu dengan normative
commitment yang tinggi akan tetap bertahan dalam organisasi karena merasa
adanya suatu kewajiban atau tugas

Pengertian Komitmen Organisasi


Komitmen organisasi Robbins& Judge (2015) Menyatakan bahwa komitmen
organisasi adalah suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak terhadap tujuan-
tujuan organisasi serta memiliki keinginan untuk mempertahankan keanggotaanya
dalam organisasi tersebut. Kemudian menurut Sunuharjo et al.,(2016) Sebagai sikap,
Komitmen organisasi paling sering didefinisikan sebagai keinginan kuat untuk tetap
sebagai anggota tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi. Dengan kata lain,
ini merupakan sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses
berkelanjutan dimana anggota organisasi mengekspesikan perhatianya terhadap
organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan

Indikator Turnover Intention


Menurut Hartono (2017) berikut merupakan indikator ataupun indikasi-indikasi
terjadinya turnover intention :

  1. Absensi yang meningkat
    Karyawan yang berkeinginan untuk melakukan pindah kerja, biasanya ditandai
    dengan absensi yang semakin meningkat. Tingkat tanggung jawab karyawan dalam
    fase ini sangat kurang dibandingkan dengan sebelumnya.
  2. Mulai malas bekerja
    Karyawan yang berkeinginan untuk melakukan pindah kerja, akan lebih malas bekerja
    karena orientasi karyawan ini adalah bekerja di tempat lainnya yang dipandang lebih
    mampu memebuhi semua keinginan karyawan yang bersangkutan.
  3. Peningkatan terhadap pelanggaran tata tertib kerja
    Berbagai pelanggaran terhadap tata tertib dalam lingkungan pekerjaan sering
    dilakukan karyawan yang akan melakukan turnover. Karyawan lebih sering
    meninggalkan tempat kerja Ketika jam-jam kerja berlangsung maupun berbagai
    bentuk pelanggaran lainnya.
  4. Peningkatan protes terhadap atasan
    Karyawan yang berkeinginan untuk melakukan pindah kerja, lebih sering melakukan
    protes terhadap kebijakan-kebijakan Perusahaan kepada atasan. Materi protes yang
    ditekankan biasanya berhubungan dengan balas jasa atau aturan yang tidak sependapat
    dengan keinginan karyawan.
    Niat karyawan untuk meninggalkan organisasi (Turnover Intention) Oleh Harnoto
    (2016) dapat diukur dengan lima indikator:
  5. Absensi Meningkat
    Tingkat absensi karyawan yang memiliki niat untuk melakukan pindah kerja
    ditadai dengan tingkat absensi yang meningkat.
  6. Mulai malas dalam bekerja.
    Karyawan mulai malas melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab dan
    mulai membandingkan dengan dengan pekerjaan lain.
  7. Peningkatan terhadap pelanggaran tata tertib kerja.
    Terjadi pelanggaran Peraturan perusahaan yang telah menjadi standart
    opretional prosedure perusahaan.
  8. Peningkatan protes terhadap atasan.
    Karyawan yang memiliki niat untuk pindah menjadi sestif terhadap kebijakan
    pimpinan, apa lagi hal ini berkaitan dengan balas jasa yang diberikan oleh
    perusahaan.
  9. Perilaku positif yang sangat berbeda dari biasanya.
    Indikasi terjadinya turnover intention dapat juga dipediksi melalui prilaku
    positif karyawan. Karyawan menjadi giat dalam menjalankan pekerjaannya justru
    menujukan karyawan akan melakukan turnover.
    Indikator yang dipergunakan untuk mengetahui intensi turnover dikembangkan dari
    hasil penelitian Chen & Francesco (Yuliana, 2017) yang meliputi:
  10. Pikiran untuk keluar
  11. Keinginan untuk mencari lowongan pekerjaan lain
  12. Adanya keinginan untuk meninggalkan organisasi dalam beberapa bulan
    mendatang