Faktor-Faktor Turnover Intention Karyawan


Menurut Mobley et al (1978) menyebutkan beberapa faktor yang menjadi penyebab
keinginan pindah kerja (Turnover Intention) adalah sebagai berikut:

  1. Karakteristik Individu
    Organisasi adalah wadah yang memiliki tujuan yang ditentukan secara bersama
    oleh orang-orang yang terlibat didalamnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka
    diperlukan adanya interaksi yang berkesinambungan dari unsur- unsur organisasi.
    Karakter individu yang mempengaruhi keinginan pindah kerja antara lain seperti
    umur, pendidikan, status perkawinan.
  2. Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja dapat meliputi lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan
    fisik meliputi keadaan suhu, cuaca, kontruksi, bangunan, dan lokasi pekerjaan.
    Sedangkan lingkungan sosial meliputi sosial budaya di lingkungan kerjanya, dan
    kualitas kehidupan kerjanya.
  3. Kepuasan Kerja
    Pada tingkat individual, kepuasan merupakan variabel psikologi yang paling
    sering diteliti dalam suatu model intention to leave. Aspek kepuasan yang ditemukan
    berhubungan dengan keinginan individu untuk meninggalkan organisasi meliputi
    kepuasan akan gaji dan promosi, kepuasan atas supervisor yang diterima, kepuasan
    dengan rekan kerja dan kepuasan akan pekerjaan dan isi kerja.
  4. Komitmen organisasi
    Perkembangan selanjutnya dalam studi intention to leave memasukkan konstruk
    komitmen organisasional sebagai konsep yang turut menjelaskan proses tersebut
    sebagai bentuk perilaku, komitmen organisasional dapat dibedakan dari kepuasan
    kerja. Komitmen mengacu pada respon emosional (affective) individu kepada
    keseluruhan organisasi, sedangkan kepuasan mengarah pada respon emosional atas
    aspek khusus dari pekerjaan.
    Menurut Siagian (Nabilla, 2016) berbagai faktor yang mempengaruhi keinginan
    karyawan untuk meninggalkan organisasi (turnover intention) antara lain adalah
    tingginya stres kerja dalam perusahaan, rendahnya kepuasan yang dirasakan
    karyawan serta kurangnya komitmen pada diri karyawan untuk memberikan semua
    kemampuannya bagi kemajuan perusahaan

Pengertian Turnover Intention


Siregar (2006:214) Turnover Intention adalah kecenderungan atau niat karyawan
untuk berhenti bekerja dari pekerjaanya secara sukarela menurut pilihannya sendiri.
Ronald dan Milkha (2014:5) mengemukakan “Turnover Intention (keinginan berpindah
kerja) merupakan kecenderungan atau intensitas individu untuk meninggalkan organisasi
dengan berbagai alasan dan diantaranya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik”.
Abdillah (2012) Turnover intention merupakan suatu keadaan dimana karyawan
memiliki niat untuk mencari pekerjaan lain sebagai alternatif di organisasi yang berbeda.
Astiko et al (2012) Turnover dapat berupa pengunduran diri, perpindahan keluar unit
organisasi, pemberhentian atau kematian anggota organisasi. Menurut Zeffane (Taufan,
2014), arti intention niat atau keinginan yaitu timbul pada individu untuk melakukan
sesuatu. Sementara turnover adalah berhentinya seseorang karyawan dari tempatnya
bekerja secara sukarela, dapat didefinisikan bahwa turnover intention adalah
kecenderungan atau niat karyawan untuk berhenti bekerja dari pekerjaannya secara
sukarela menurut pilihannya sendiri.
Selanjutnya dalam penelitian Risambessy (2009), turnover dapat dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Voluntary turnover adalah karyawan yang meninggalkan perusahaan karena alasan
    sukarela. Voluntary turnover dapat dibedakan menjadi dua, yaitu avoidable turnover
    (yang dapat dihindari) dan unavoidable turnover (yang tidak dapat dihindari).
    Avoidable turnover disebabkan oleh upah yang lebih baik di tempat lain, kondisi kerja
    yang lebih baik di organisasi lain, masalah dengan kepemimpinan/administrasi yang
    ada, serta adanya organisasi lain yang lebih baik. Sedangkan unavoidable turnover
    disebabkan oleh pindah kerja ke daerah lain karena mengikuti pasangan, perubahan
    arah karir individu, harus tinggal di rumah untuk menjaga pasangan atau anak, dan
    kehamilan.
  2. Involuntary turnover adalah karyawan yang meninggalkan perusahaan karena
    terpaksa. Involuntary turnover diakibatkan oleh tindakan pendisiplinan yang
    dilakukan oleh perusahaan atau karena lay off.

Faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja


Faktor-faktor yang memberikan kepuasan menurut Blum (1956)
dalam As’ad (1999) adalah:,yaitu :

  1. Faktor individual, meliputi umur, kesehatan, watak, dan harapan;
  2. Faktor sosial, meliputi hubungan kekeluargaan, pandangan
    masyarakat, kesempatan bereaksi, kegiatan perserikatan pekerja,
    kebebasan berpolitik, dan hubungan kemasyarakatan;
  3. Faktor utama dalam pekerjaan, meliputi upah, pengawasan,
    ketentraman kerja, kondisi kerja, dan kesempatan untuk maju.
    Ada dua faktor yang mempengaruhui kepuasan kerja, yaitu faktor
    yang ada pada diri pegawai dan faktor pekerjaannya (Mangkunegara,
    2009:120).
  4. Faktor pegawai, yaitu kecerdasan (IQ), kecerdasan khusus, umur,
    jenis kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa
    kerja, kepribadian, emosi, cara berfikir, persepsi, dan sikap kerja.
  5. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat
    (golongan), kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial,
    kesempatan promosi jabatan, interaksi sosial, dan hubungan kerja.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah (Sutrisno, 2009:
    82-84):
  6. Kesempatan untuk maju. Dalam hal ini, ada tidaknya kesempatan
    untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama
    kerja.
  7. Keamanan kerja. Faktor ini disebut sebagai penunjang kepuasan
    kerja, baik bagi karyawan. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi
    perasaan karyawan selama kerja.
  8. Gaji. Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang
    orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang
    yang diperolehnya.
  9. Perusahaan dan manajemen. Perusahaan dan manajemen yang baik
    adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil.
  10. Pengawasan. Sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat
    berakibat absensi dan turnover.
  11. Faktor Intrinsik dari pekerjaan. Atribut yang ada dalam pekerjaan
    mensyaratkan keterampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta
    kebanggaan akan tugas dapat meningkatkan atau mengurangi
    kepuasan.
  12. Kondisi kerja. Termasuk di sini kondisi kerja tempat, ventilasi,
    penyiaran, kantin dan tempat parkir.
  13. Aspek sosial dalam pekerjaan. Merupakan salah satu sikap yang sulit
    digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas
    atau tidak puas dalam bekerja.
  14. Komunikasi. Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak
    manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam
    hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar,
    memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya
    sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.
  15. Fasilitas. Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan
    merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan
    menimbulkan rasa puas

Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan
atau tidak menyenangkan para karyawan dalam memandang pekerjaan
mereka. Kepuasan kerja didefinisikan sebagai perasaan senang atau
emosi positif yang didapat seseorang dari pengalaman kerja yang
berkenaan dengan individu, bukan kelompok (Andini, 2006 dalam
Dwihana & Ardhana, 2017). Kepuasan kerja dapat ditunjukkan melalui
kenyamanan lingkungan kerja, dukungan rekan kerja, system kompensasi
yang adil berdasarkan kesesuaian beban kerja, kualitas supervise dan
kesempatan promosi. Kepuasan kerja yang tinggi mengimplikasikan
bahwa karyawan senang dan nyaman kepada lingkungan organisasi serta
jerih payah yang sesuai dari hasil kerjanya (Aziri, 2011).
Karyawan dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi cenderung
memiliki kesehatan fisik yang lebih baik, lebih cepat mempelajari tugas
yang berhubungan dengan pekerjaan baru, sedikit memiliki catatan
kecelakaan kerja, sedikit keluhan dan mampu mengelola tingkat stress
kerja dengan baik (Luthans, 2006)

Indikator pengukuran Turnover Intention


Indikator pengukuran menurut (Mobley, Honer, & Hollingsworth,
1978) terdiri atas :
a. Pemikiran untuk keluar (Thinking of quiting) :
Mencerminkan individu untuk berpikir keluar dari pekerjaan atau
tetap berada di lingkungan pekerjaaan. Diawali dengan ketidak puasan
kerja yang dirasakan oleh karyawan, kemudian karyawan berpikir
untuk keluar dari tempat bekerjanya saat ini.
b. Pencarian alternatif pekerjaan (Intention to search for alternative) :
Mencerminkan individu berkeinginan untuk mencari pekerjaan untuk
organisasi lain. Jika karyawan sudah mulai sering berfikir untuk keluar
dari pekerjaannya, karyawan tersebut akan mencoba mencari pekerjaan
diluar perusahaannya yang dirasa lebih baik.
c. Niat untuk keluar (Intention to Quit):
Mencerminkan individu yang berniat keluar. Karyawan berniat keluar
apabila telah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan nantinya
akan diakhiri dengan keputusan karyawan tersebut untuk tetap
tinggal atau keluar dari pekerjaannya

Faktor – faktor penyebab Turnover Intention


Menurut Mobley (2000), keinginan untuk mengakhiri tugas atau
meninggalkan organisasi berhubungan dengan kepuasan kerja. Kepuasan
kerja yang dirasakan dapat mempengaruhi pemikiran seseorang untuk
keluar. Job stressors dan kurangnya kepuasan kerja merupakan salah satu
faktor yang dapat menimbulkan keinginan seseorang untuk meninggalkan
pekerjaan mereka. Oleh karena itu, menurut (Maertz dan Campion 1998),
proses identifikasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi niat untuk
pindah (turnover intention) menjadi suatu hal yang penting untuk
dipertimbangkan dan menjadi sesuatu yang efektif untuk menurunkan
angka turnover yang sebenarnya. Menurut (Harnoto, 2002), Turnover
Intention ditandai oleh berbagai hal yang menyangkut perilaku karyawan.
Indikasi-indikasi tersebut meliputi :

Tingginya Tingkat Absensi
Karyawan yang memiliki turnover intention biasanya cenderung
meningkatkan absensinya, hal itu terjadi karena dalam fase tersebut
tingkat tanggung jawab karyawan sudah sangat berkurang
dibandingkan sebelumnya.

  1. Malas Bekerja
    Karyawan yang memiliki turnover intention akan lebih malas bekerja
    karena orientasi karyawan ini adalah bekerja di tempat lain yang
    dipandang mampu memenuhi keinginan karyawan tersebut.
  2. Pelanggaran Tata Tertib Kerja
    Berbagai pelanggaran tata tertib dalam lingkungan kerja sering
    dilakukan karyawan yang memiliki turnover intention. Karyawan lebih
    sering meninggalkan tempat kerja ketika jam kerja berlangsung,
    maupun berbagai bentuk pelanggalan lainnya.
  3. Peningkatan Protes Terhadap Atasan
    Karyawan yang memiliki turnover intention, lebih sering melakukan
    protes terhadap kebijakan-kebijakan perusahaan kepada atasan. Materi
    protes yang ditekankan biasanya berhubungan dengan balas jasa atau
    aturan lain yang tidak sependapat dengan keinginan karyawan.
  4. Perilaku Yang Berubah
    Biasanya hal ini berlaku untuk pegawai yang mempunyai karakteristik
    positif. Pegawai ini mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap
    tugas yang dibebankan, dan jika perilaku positif pegawai ini meningkat
    jauh dan berbeda dari biasanya justru menunjukkan pegawai ini akan
    melakukan turnover

Pengertian Turnover Intention


(Siregar, 2006) Mendefinisikan turnover intention adalah
kecenderungan atau niat karyawan untuk berhenti bekerja dari
pekerjaanya secara sukarela menurut pilihannya sendiri. Menurut
(Harninda & Harnoto, 2009), turnover intentions pada dasarnya adalah
sama dengan keinginan berpindah karyawan dari satu tempat kerja ke
tempat kerja lainnya. Menurut (Harnoto, 2002),, Turnover Intention
adalah kadar atau intensitas dari keinginan untuk keluar dari perusahaan,
banyak alasan yang menyebabkan timbulnya Turnover Intention ini dan
diantaranya adalah keinginan untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik.
Susiani (2014) mengungkapkan bahwa tingkat turnover intention
yang terjadi dalam organisasi mengarah pada kenyataan akhir yang
berupa keluarnya karyawan pada saat tertentu

Indikator Stress Kerja


Adapun indikator stress kerja yaitu sebagai berikut (8):
a) Fisiologis
Aspek ini mencakup reaksi tubuh terhadap stres seperti
gangguan metabolisme, peningkatan tekanan darah, sakit kepala,
dan kelelahan fisik karena banyaknya tugas yang harus diselesaikan
dengan cepat.
b) Psikologis
Hal ini berkaitan dengan tekanan mental dan emosional,
misalnya perasaan tegang, cemas, mudah marah, bosan, dan
penundaan pekerjaan yang membuat individu sulit mengembangkan
kemampuan diri.
c) Perilaku
Tekanan ini meliputi perubahan perilaku seperti penurunan
dalam produktivitas, ketidakhadiran, kesulitan berkonsentrasi, dan
bisa muncul perilaku negatif seperti meningkatnya merokok dan
konsumsi alkohol.

Faktor-faktor yang mempengaruhi stress kerja


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi stress kerja
yaitu :
a) Faktor Pekerjaan
Berbagai faktor seperti beban kerja yang berlebihan dalam
waktu yang terbatas, ketidakjelasan mengenai peran dan tanggung
jawab, adanya konflik peran yang tidak sesuai dengan kemampuan
individu, serta kurangnya kendali atas pekerjaan yang dijalankan
dapat menyebabkan tekanan yang signifikan bagi karyawan. Selain
itu, hubungan yang kurang harmonis dengan rekan kerja atau atasan,
lingkungan kerja yang tidak kondusif, dan ketidakpastian terkait
jalur karir juga turut berkontribusi dalam meningkatnya tingkat
stres. Kondisi-kondisi tersebut tidak hanya mempengaruhi
kesejahteraan mental karyawan, tetapi juga dapat menghambat
produktivitas dan kualitas hasil kerja secara keseluruhan.
b) Faktor Individu
Masalah pribadi maupun keluarga yang mengalihkan
perhatian dan mengganggu fokus saat bekerja, ditambah dengan
kesulitan dalam mengelola emosi secara efektif, dapat memicu stres
yang berdampak negatif pada kinerja serta kesejahteraan mental
karyawan di tempat kerja. Hal ini tidak hanya menurunkan
produktivitas, tetapi juga dapat menghambat kemampuan karyawan
untuk beradaptasi dan mempertahankan keterlibatan dalam tugas-
tugas mereka.
c) Faktor Lingkungan Hidup
Kurangnya dukungan yang memadai dari atasan, rekan
kerja, maupun organisasi, ditambah dengan adanya persaingan yang
tidak sehat antar sesama karyawan, dapat menciptakan lingkungan
kerja yang kurang kondusif dan menimbulkan tekanan psikologis.
Situasi seperti ini sering kali menyebabkan karyawan merasa
terisolasi, kurang termotivasi, serta mengalami stres yang
berdampak negatif pada produktivitas dan kesejahteraan mereka
secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk
membangun budaya kerja yang suportif dan kompetitif secara sehat
guna menjaga kenyamanan dan semangat kerja karyawan

Stress Kerja


Stress adalah reaksi yang muncul ketika seseorang mengalami
tekanan yang berlebihan akibat tuntutan, hambatan, atau peluang yang
terlalu banyak (8). Para ahli juga menyatakan bahwa stres kerja merupakan
kondisi emosional yang timbul karena ketidaksesuaian antara beban kerja
dan kemampuan individu dalam menghadapinya. Stres ini dipengaruhi oleh
perbedaan pribadi serta proses psikologis yang terjadi akibat situasi atau
peristiwa yang memberikan tekanan psikologis atau fisik secara berlebihan
(16).
Hubungan antara stres kerja dan kinerja karyawan mengikuti pola
kurva U terbalik, di mana tingkat stres moderat justru bersifat adaptif. Pada
level tersebut, stres dapat memperkuat konsentrasi, dorongan kerja,
vitalitas, serta keterlibatan karyawan (work engagement). Sebaliknya, stres
rendah sering kali menimbulkan kebosanan yang menurunkan motivasi,
sedangkan stres ekstrem memicu beban psikologis, kelelahan emosional,
dan penurunan keterlibatan (8). Teori kurva U terbalik ini menyoroti bahwa
stres optimal berpotensi memacu keterlibatan kerja secara efektif. Oleh
karena itu, organisasi disarankan untuk mengatur beban tugas dan tuntutan
kerja agar karyawan berada pada zona tantangan yang seimbang, sehingga
memaksimalkan tingkat keterlibatan kerja. Kesimpulannya, stres kerja
dapat dipahami sebagai kondisi ketegangan atau tekanan yang dialami
seseorang akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan
kemampuan atau sumber daya yang dimiliki, hingga berdampak pada
emosi, proses berpikir, kesehatan fisik, serta kinerja karyawan di lingkungan
kerja.

Indikator Resiliensi


Adapun indikator resiliensi yaitu sebagai berikut (17) :
a) Efisikasi Diri (self-efficacy)
Efikasi diri merupakan kepercayaan yang dimiliki seseorang
terhadap kemampuannya sendiri dalam mengelola dan
melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk
menyelesaikan suatu tugas secara efektif. Keyakinan ini mencakup
rasa percaya bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan,
mengatasi hambatan, serta mencapai hasil melalui usaha dan
keterampilan yang dimilikinya. Tingkat efikasi diri yang tinggi,
individu cenderung lebih termotivasi, gigih, dan percaya diri dalam
menghadapi berbagai situasi, sehingga peluang keberhasilan dalam
mencapai tujuan pun semakin besar. Sebaliknya, rendahnya efikasi
diri dapat menghambat seseorang untuk berusaha maksimal dan
menghadapi kesulitan dengan rasa takut atau ragu. Membangun
efikasi diri menjadi aspek penting dalam pengembangan potensi diri
dan pencapaian prestasi.
b) Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu
untuk mengenali dan memahami perasaan diri sendiri serta orang
lain di sekitarnya. Hal ini mencakup kesadaran akan berbagai jenis
emosi yang muncul dalam berbagai situasi, baik positif maupun
negatif. Kecerdasan emosional seseorang dapat mengelola dan
mengarahkan emosinya secara efektif sehingga mampu membuat
keputusan yang bijaksana dan bertindak secara tepat sesuai konteks.
Selain itu, kemampuan ini juga membantu dalam membangun
hubungan interpersonal yang harmonis, meningkatkan empati, serta
mengatasi tekanan atau konflik dengan cara yang konstruktif. Secara
keseluruhan, kecerdasan emosional menjadi modal penting bagi
seseorang untuk menjalani kehidupan sosial dan profesional dengan
lebih sukses dan seimbang.
c) Optimisme
Optimisme merupakan keyakinan seseorang bahwa segala
hal akan berkembang ke arah yang lebih baik. Sikap ini membuat
individu cenderung memandang segala situasi dari sudut pandang
positif, meskipun sedang menghadapi hambatan atau kesulitan.
Sikap optimis seseorang dapat mempertahankan harapan dan
semangatnya, sehingga tetap terdorong untuk meraih tujuan yang
diinginkan. Selain itu, optimisme memudahkan seseorang untuk
bangkit dari kegagalan, karena ia percaya bahwa setiap tantangan
pasti ada jalan keluarnya dan masa depan yang lebih cerah akan
datang. Sikap optimis tidak hanya memberi manfaat bagi diri
sendiri, tetapi juga mampu menyebarkan aura positif kepada orang-
orang di sekitarnya.
d) Dukungan sosial
Dukungan sosial merupakan kehadiran, kesediaan, dan
perhatian dari orang lain yang dapat dipercaya, menghormati, serta
menyayangi seseorang. Bentuk dukungan ini bisa datang dari
keluarga, sahabat, rekan kerja, atau lingkungan sekitar yang
memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi individu. Adanya
dukungan sosial seseorang tidak merasa sendiri saat menghadapi
berbagai masalah dalam hidup, sehingga dapat meningkatkan rasa
percaya diri serta kesejahteraan emosionalnya. Selain itu, dukungan
sosial memiliki peran penting dalam membantu individu mengelola
stres, mempercepat proses pemulihan dari kesulitan, dan
memberikan dorongan untuk terus maju. Kehadiran orang-orang
yang peduli dan siap memberikan bantuan saat dibutuhkan menjadi
sumber kekuatan yang sangat berharga dalam kehidupan setiap
orang

Resiliensi


Resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan
bangkit kembali setelah mengalami kesulitan, tekanan, atau perubahan yang
tidak terduga. Secara umum, resiliensi mencakup kemampuan individu atau
organisasi dalam menghadapi tantangan, mengelola risiko, dan
menggunakan situasi sulit sebagai kesempatan untuk berkembang (16).
Resiliensi merupakan salah satu dari komponen dalam Psycological Capital
(PsyCap) dengan komponen lainnya yakni hope, efficacy, dan optimism.
Teori ini menekankan bahwa resiliensi bersifat state-like, yang artinya hal
tersebut dapat dikembangkan melalui pengalaman, pelatihan, dan dukungan
lingkungan, sehingga bukan hanya sekedar sifat bawaan individu,
melainkan juga merupkan kapasitas psikologis yang bisa ditingkatkan untuk
mendukung kinerja dan kesejahteraan individu tersebu

Indikator Work Engagement


Terdapat beberapa indikator work engagement diantaranya (1):
a) Vigor (semangat)
Merupakan tenaga dan ketahanan mental yang kuat saat
bekerja, termasuk keberanian untuk berusaha maksimal dalam
menyelesaikan tugas, ketekunan menghadapi tantangan, serta
kemauan untuk memberikan usaha terbaik. Dengan kombinasi
tersebut, seseorang mampu terus maju meskipun menghadapi
kesulitan, sehingga hasil kerja yang optimal dapat tercapai secara
berkelanjutan.
b) Dedication (dedikasi)
Merupakan keterlibatan yang kuat dalam pekerjaan, dengan
perasaan bahwa pekerjaan itu berarti, penuh semangat, bangga,
terinspirasi, dan siap menghadapi tantangan. Hal ini membuat
karyawan merasa pekerjaannya penting dan merasa bangga terhadap
pekerjaannya, sehingga mampu memberikan kontribusi terbaik
dengan penuh dedikasi.
c) Absorption (penyerapan)
Kondisi di mana karyawan sangat fokus pada pekerjaannya
hingga waktu terasa berjalan cepat dan mereka sulit untuk berhenti
atau melepaskan diri dari pekerjaan tersebut. Tingkat keterlibatan
yang tinggi ini membuat seseorang merasa sangat terhubung dengan
pekerjaannya, sehingga batas antara waktu kerja dan waktu istirahat
menjadi kabur

Work Engagement


Work engagement atau keterlibatan kerja adalah kondisi psikologis
di mana karyawan merasa bersemangat, berdedikasi, dan terlibat
sepenuhnya dalam pekerjaannya (8). Work engagement adalah kondisi saat
karyawan merasa pekerjaannya adalah bagian dari dirinya, dan ia
menganggap hasil kerjanya penting, baik untuk dirinya sendiri maupun
untuk organisasi (14), (15). Work engagement adalah kondisi ketika
karyawan terikat dan terlibat dalam pekerjaannya secara fisik, emosional,
dan pikiran. Hal ini ditunjukkan melalui semangat, dedikasi, dan
keterlibatan penuh, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang optimal

Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Kepuasan Kerja


Menurut (Darmadi, 2017) mengemukakan kecerdasan emosional yaitu
skill umum yang dimiliki seseorang dalam hal problem solving(pemecahan
masalah) di hidupnya sehari-hari. Penerapan kecerdasan emosional yang baik
merupakan kunci yang membuat seseorang menjadi pandai dalam
menggunakan emosinya. Kecerdasan emosional yang dapat diaplikasikan
dengan baik maka dapat menyebabkan seseorang bisa meraih tingkat
kepuasan kerja yang maksimal.
(Fonna Mahdani, 2017) menyatakan Kecerdasan emosional sangat
diperlukan dalam suatu organisasi perusahaan. Karena kecerdasan emosional
seseorang dapat menyumbang kepada tingkat kepuasan kerja seseorang
karyawan dan diperkirakan dapat menjadi pemicu kinerja karyawan. Virk
(2011) dalam Ni Luh Putu Nurrangsih (2015) dalam penelitiannya
menunjukkan hasil bahwa emosi memainkan peran penting dalam kepuasan
kerja, manajer yang memilki kecerdasan emosional tinggi lebih puas dengan
pekerjaan mereka daripada manajer yang memiliki kecerdasan emosional
yang rendah

Pengaruh Resiliensi terhadap Kepuasan Kerja


Luthans et al. (2007) menyatakan bahwa strategi peningkatan resiliensi secara
proaktif dan reaktif di tempat kerja dapat berkontribusi terhadap kepuasan
hidup sehingga resiliensi karyawan memengaruhi kebahagiaan individu di
tempat kerja. Memerluas argumen tersebut, Prayag et al. (2019),
mengungkapkan resiliensi pada diri seseorang dapat memberikan pengaruh
positif terhadap kepuasan hidup pemilik atau manajer bisnis. Sejalan dengan
itu resiliensi juga ditemukan untuk memprediksi kepuasan hidup karena dapat
bekerja sebagai perisai seseorang dalam menghadapi berbagai kesulitan
(Langer, 2004)
Resiliensi karyawan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. (Athota,
V. S., Budhwar, P., & Malik, A., 2020) dalam penelitiannya pada karyawan
di Australia dan India terdapat pengaruh positif dan signifikan antara
resiliensi dengan kinerja karyawan. Diperkuat oleh penelitian ( (Walpita, Y.
N, 2020)) bahwa jika resiliensi tinggi, maka kinerja karyawan cenderung
semakin tinggi. Karena tingginya tingkat resiliensi bisa menurunkan dampak
negative di dalam pekerjaan. (Li, P. P, 2020) menemukan bahwa resiliensi
berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja

Indikator Kecerdasan Emosional


Indikator Kecerdasan Emosional menurut (Goleman, 2019) antara lain :

  1. Mengenali emosi diri
    Mengenali emosi diri merupakan mengenali perasaan sewaktu perasaan itu
    terjadi dan merupakan dasar kecerdasan emosional. Kemampuan
    memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi
    wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan mencermati
    perasaan kita yang sesungguhnya membuat kita berada dalam kekuasaan
    perasaan (Goleman, 2019)
  2. Mengelola emosi
    Mengelola emosi merupakan menangani perasaan agar perasaan dapat
    terungkap dengan pas adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran
    diri. Orang-orang yang buruk dalam ketrampilan ini akan terus-menerus
    bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat
    bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan
    dalam kehidupan (Goleman, 2019)
  3. Memotivasi diri
    Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat
    penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri
    sendiri dan menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Kendali diri
    emosional dapat menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan
    dorongan hati yang menjadi landasan dalam berbagai bidang (Goleman,
    2019)
  4. Mengenali emosi orang lain
    Empati merupakan kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri
    emosional, merupakan ketrampilan bergaul. Orang yang berempatik lebih
    mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang
    mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki oleh orang lain
    (Goleman, 2019)
  5. Membina hubungan
    Seni membina hubungan, sebagian besar merupakan kertampilan
    mengelola emosi orang lain. Membina hubungan merupakan ketrampilan
    yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar
    pribadi. Orang-orang yang hebat dalam ketrampilan ini akan sukses dalam
    bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang
    lain (Goleman, 2019)

Faktor-faktor Yang mempengaruhi Kecerdasan Emosional


Kecerdasan emosi tidak didapatkan begitu saja, tetapi diperoleh melalui
proses pembelajaran. Terdapat beberapa faktor yang dapat membentuk kecerdasan
emosi seseorang, yakni (Goleman, 2019):

  1. Lingkungan Keluarga
    Lingkungan keluarga merupakan sekolah pertama untuk mempelajari
    emosi. Pembelajaran emosi dimulai saat bayi dan terus berlanjut
    sepanjang kehidupan. Keluarga adalah subjek pertama kali yang
    diamati anak, bagaimana cara berinteraksi dengan anak dan
    menyalurkan emosi kepada anak. Kecerdasan emosi dapat diajarkan
    kepada anak saat masih bayi dengan cara memberikan contoh-contoh
    ekspresi, karena anak sangat peka terhadap transmisi emosi yang paling
    halus sekalipun. Kehidupan emosi yang dipupuk sejak dini oleh
    keluarga sangat berdampak bagi anak di kemudian hari, sebagai contoh:
    anak dapat mengenali, mengelola dan memanfaatkan perasaan-
    perasaan, berempati, tanggung jawab, dan lain sebagainya. Kemampuan
    tersebut dapat membantu anak lebih mudah menangani dan menghadapi
    permasalahan. Sehingga anak tidak memiliki banyak masalah tingkah
    laku yang negative (Goleman, 2015)
  2. Lingkungan Sosial
    Penyesuaian dengan tuntutan orang lain membutuhkan sedikit
    ketenangan dalam diri seseorang. Tanda kemampuan mengelola emosi
    muncul kira-kira pada periode anak-anak dalam aktivitas bermain
    peran. Bermain peran memunculkan rasa empati, contohnya: anak dapat
    menghibur temannya yang menangis. Permainan peran dapat membuat
    anak memerankan dirinya sebagai individu lain dengan emosi yang
    menyertainya sehingga anak akan mulai belajar mengerti keadaan orang
    lain. Jadi, menangani emosi orang lain termasuk seni yang mantap
    untuk menjalin hubungan sehingga membutuhkan keterampilan emosi.
    Dengan landasan ini keterampilan berhubungan dengan orang lain
    menjadi lebih matang (Goleman, 2015)

Pengertian Kecerdasan Emosional


Menurut (Goleman, 2019) emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk
bertindak dan rencana seketika untuk mengatasi suatu masalah. Akar kata emosi
adalah movere yang artinya menggerakkan, bergerak, menyiratkan bahwa
kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. (Goleman, 2015:
410) mengelompokkan emosi dalam golongan-golongan besar yaitu:

  1. Amarah: beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa
    pahit, berang, tersinggung, bermusuhan dan barang kali yang paling
    hebat, tindak kekerasan dan kebencian patologis
  2. Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri,
    kesepian, ditolak, putus asa, dan kalau menjadi patologis, depresi berat
  3. Rasa takut: cemas, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali,
    waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, sebagio patologi fobia dan panik.
  4. Kenikmatan: bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur,
    bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa
    terpenuhi, kegirangan luar biasa senang sekali dan batas ujungnya.
  5. Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat,
    bakti, hormat, kemesraan, kasih
  6. Terkejut: terkesiap, terkejut, takjub, terpana
  7. Jengkel: hina, jijik, muak, mual, tidak suka, mau muntah
  8. Malu: malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib dan hati hancur lebur
    Kecerdasan emosi merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan sendiri
    dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan
    mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang
    lain (Goleman, 2015)
    Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan
    emosi adalah kemampuan individu dalam mengelola emosi meliputi kemampuan
    mengendalikan dorongan diri dan keinginan, mengontrol sikap dan perilaku.
    Sehingga individu dapat diterima di lingkungan sosial dan dapat mengenali
    perasaan orang lain

Indikator resiliensi


Menurut Bernad (2014), indikator resiliensi yaitu sebagai berikut.:

  1. Kemampuan sosial, individu memiliki rasa humor, adanya perasaan
    peduli, memiliki kemampuan komunikasi, dan fleksibilitas serta
    perilaku yang positif.
  2. Kemampuan memecahkan masalah, didalamnya mencangkup
    kemampuan individu berfikir secara abstrak dan reflektif, mampu
    menemukan solusi alternatif yang melibatkan aspek kognitif dan sosial.
  3. Kemandirian yang meliputi kesehatan yang baik, sejahtera dan bebas
    melakukan tindakan yang dianggap benar.
  4. Memahami tujuan, yaitu individu memiliki usaha untuk mencapai
    kesuksesan, adanya motivasi untuk berprestasi, dan memiliki antisipasi
    terhadap kemungkinan terburuk yang terjadi di kemudian hari.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Resiliensi


Menurut (Resnick B, 2021), terdapat empat faktor yang mempengaruhi
resiliensi dalam individu :

  1. Self-Esteem
    Self esteem adalah suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang
    diungkapkan dalam sikap positif dan negatif. Self esteem berkaitan
    dengan bagaimana orang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi
    perilaku dalam kehidupan sehari-hari (Tambunan, 2001). Memiliki self
    esteem yang baik pada masa individu dapat membantu myang
    enghadapi kesengsaraan hidup karena dapat menilai sesuatu hal dari sisi
    yang lebih positif.
  2. Dukungan Sosial (social support)
    (Poegoeh, D. P., & Hamidah, 2018) mengungkapkan bahwa dukungan
    sosial adalah pertolongan yang diperoleh seseorang dari interaksinya
    dengan orang lain dimana bantuan tersebut dapat menaikkan perasaan
    positif sehingga akan berdampak pada kesejahteraan individu secara
    umum. Seseorang yang mengalami kesulitan dan kesengsaraan akan
    meningkatkan resiliensi dalam dirinya ketika pelaku sosial yang ada di
    sekelilingnya memberikan dukungan terhadap penyelesaian masalah
    atau proses bangkit kembali yang dilakukan oleh individu tersebut
    karena adanya pertolongan dan bantuan dari orang lain.
  3. Spiritualitas
    Salah satu faktor yang dapat meningkatkan resiliensi pada individu
    adalah ketabahan atau ketangguhan dan keberagaman serta spiritualitas.
    Dalam hal ini pandangan spiritual pada individu percaya bahwa Tuhan
    adalah penolong dalam setiap kesengsaraan yang tengah dialaminya,
    tidak hanya manusia yang mampu menyelesaikan segala kesengsaraan
    yang ada, dan dalam proses ini individu percaya bahwa Tuhan adalah
    penolong setiap hambanya..
  4. Emosi Positif
    Emosi positif juga merupakan faktor penting dalam pembentukan
    resiliensi individu. Emosi positif sangat dibutuhkan ketika menghadapi
    suatu situasi yang krisis dan dengan emosi positif dapat mengurangi
    stres secara lebih efektif. Individu yang memiliki rasa syukur mampu
    mengendalikan emosi negatif dalam menghadapi segala permasalahan
    di dalam kehidupan

Pengertian Resieliensi


Menurut (Herman, 2019)resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk
pulih atau menyusaikan diri dari kemalangan. Resiliensi menurut (Helmi,
A., & Utami, C, 2017) merupakan kapasitas manusia untuk menghadapi
dan mengatasi kesulitan dalam kehidupan. Menurut (Unggar, 2018)), juga
mengartikan bahwa resiliensi sebagai kemampuan individu untuk
mengatasi kesulitan dan melanjutkan tugas perkembangan seperti semula.
Hal tersebut berarti bahwa individu yang resilien mampu secara cepat
kembali pada kondisi sebelum terjadi trauma, stres atau kejadian yang
menekan..
(Cutuli, J. J., & Masten, A. S, 2019) menjelaskan bahwa resiliensi tidak
dapat dilihat sebagai sifat tunggal karena banyak interaksi yang terlibat
didalamnya. Resiliensi muncul dari banyak sumber dan proses yang
akhirnya membentuk hidup positif. (Herbert, HS., Manjula, M., & Philip,
M., 2019) mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan untuk bertahan
dengan sukses dalam menghadapi situasi yang mengancam dan
menantang.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa resiliensi
adalah kemampuan yang ada di dalam diri karyawan PT.FIF Jombang
untuk mengatasi kesulitan dan tantangan dalam kehidupannya dan mampu
untuk beradaptasi dari kondisi tersebut

Resiliensi


Secara etimologis, kata “resiliensi” berasal dari bahasa latin “re-silere”
yang berarti sebuah kapasitas untuk pulih atau bangkit kembali ( ( Masten,
A.S., & Gewirtz, 2019). Menurut (Bonanno, 2018) resiliensi merupakan
kapasitas manusia untuk tetap memelihara fungsi psikologis dan fisik agar
tetap seimbang dan normal dalam menghadapi segala sesuatu yang tidak
seimbang dan normal dalam menghadapi segala sesuatu yang tidak
menguntungkan dan mengancam jiwa. Resiliensi juga sebagai kemampuan
individu untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap kejadian yang berat
atau masalah yang terjadi dalam kehidupan ( (Reivich, 2019)

Indikator Kepuasan Kerja


Beberapa indikator dari kepuasan kerja menurut Beberapa indikator dari
kepuasan kerja menurut (Luthans, 2019), menyatakan ada 5 indikator
kepuasan kerja yaitu :

  1. Pekerjaan Itu Sendiri
    Kepuasan ini tercapai bilamana pekerjaan seorang karyawan sesuai
    dengan minat dan kemampuan karyawan itu sendiri.
  2. Gaji
    Di mana karyawan merasa gaji atau upah yang diterimanya sesuai
    dengan beban kerjanya dan seimbang dengan karyawan lain yang
    bekerja di organisasi itu.
  3. Kesempatan Promosi.
    Kesempatan untuk meningkatkan posisi jabatan pada struktur
    organisasi.
  4. Supervisi
    Aktivitas yang dilakukan untuk menjelaskan dan memastikan
    karyawan bahwa hasil standar kerja sesuai dengan perusahaan.
  5. Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja dengan kondisi bersih karyawan bersemangat untuk
    melakukan pekerjaan dan lingkungan kerja yang kotor karyawan lebih
    sulit menyelesaiakan pekerjaannya

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan kerja


Menurut Umam, (2010: 56) adalah sebagai berikut:

  1. Gaji, jika gaji dipersepsikan adil, maka akan timbul suatu kepuasan
    dalam bekerja
  2. Kondisi kerja yang menunjang, meliputi resiliansi, kondisi di mana
    karyawan dapat bekerja dengan nyaman, jika kebutuhan-kebutuhan
    fisik dapat terpenuhi maka akan memuaskan para karyawan
  3. Hubungan kerja (rekan kerja dan atasan), kondisi di mana antar
    individu merasakan hubungan yang baik dengan rekan kerja maupun
    atasan, dalam kondisi tersebut maka karyawan akan termotivasi dan
    akan mengarah kepada kepuasan kerja
    Menurut Mangkunegara (2019) ada dua faktor yang bisa mempengaruhi
    kepuasan kerja, yaitu:
  4. Faktor Karyawan Meliputi kecerdasan (IQ) kecerdasan Emosional,
    umur, jenis kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa
    kerja, kepribadian, emosi, cara berfikir, persepsi, resiliensi dan sikap
    kerja
  5. Faktor Pekerjaan Meliputi jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat
    atau golongan, kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial,
    kesempatan promosi jabatan, interaksi sosial dan hubungan kerja.

Pengertian kepuasan kerja


Kepuasan kinerja karyawan merupakan salah satu bagian penting yang
harus diperhatikan demi menjaga komitmen organisasional. Kepuasan
kerja dapat diartikan dengan perasaan atas senang atau tidak senang pada
pekerjaan yang dilakukan. Kepuasan kerja dipercaya berhubungan kuat
dengan kinerja karyawan, dimana kepuasan kerja dapat mendorong
perbaikan kinerja di segala aspek. Kepuasan kerja sendiri diartikan
sebagai sikap emosional yang menyenangkan terkait kecintaan seseorang
terhadap profesinya (Hasibuan, 2020)
Menurut Larasati, (2021) Kepuasan kerja adalah bagaimana sikap
karyawan dalam menilai pekerjaannya sendiri. Jika karyawan memiliki
rasa puas akan pekerjaan yang tinggi, maka akan memberikan energi yang
positif terhadap pekerjaannya, dan jika merasa tidak puas, maka akan
memberikan respon yang negatif terhadap pekerjaan tersebut. Menurut
(Mangkunegara, 2022), kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang
menyokong atau tidak menyokong pegawai yang berhubungan dengan
pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya. Sedangkan Menurut (Judge,
2019), kepuasan kerja adalah kumpulan perasaan terhadap pekerjaan yang
dimiliki oleh seorang karyawan.
Menurut Larasati, (2021) Definisi kepuasan kerja adalah sekumpulan
perasaan yang ada dalam diri karyawan dalam menyikapi sebuah
pekerjaan. Dalam perasaan tersebut karyawan akan memikirkan hal-hal
yang berhubungan dengan perusahaan tentang kompensasi yang mereka
terima, promosi jabatan, pengembangan karir, penempatan kerja,
hubungan antar karyawan dan sistem yang ada di perusahaan. Selain
itu, karyawan juga memikirkan hal-hal tentang dirinya sendiri seperti
usia, kesehatan, kompetensi, dan pendidikan.
Bedasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja
adalah perasaan karyawan tentang pekerjaan selama bekerja,baik yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan

Pengaruh perceived organizational support terhadap kinerja karyawan


Perceived organizational support merupakan tingkat di mana
karyawan merasa kesejahteraan mereka diperhatikan dengan baik oleh
perusahaan dan perusahaan menghargai kontribusi yang sudah
dilakukan karyawan untuk perusahaan.
Kinerja adalah hasil mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan
suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan tujuan dan
misi perusahaan melalui perencanaan strategis.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa karyawan
yang merasa diperhatikan dan dihargai kontribusinya oleh perusahaan,
karyawan akan menunjukkan kinerja terbaiknya dengan cara bekerja
keras demi mewujudkan tujuan dan misi perusahaannya

Pengaruh employee engagement terhadap kinerja karyawan


Employee engagement adalah tingkat kemauan karyawan untuk
menyatukan diri dengan pekerjaan, menunjukkan kemampuan dan
tenaga yang dimiliki untuk bekerja di perusahaan.
Kinerja adalah hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat
dengan ukuran, kuantitas dan kualitas dalam pencapaian tujuan
perusahaan.
Karyawan yang memiliki ikatan kuat, antusias dan bangga dengan
pekerjaan di perusahaan akan meningkatkan peran kerjanya untuk
keberhasilan perusahaan yang ditunjukkan dengan kualitas dan
kuantitas yang dihasilkan. Karyawan yang sudah terikat dengan
pekerjaan dan perusahaan akan menunjukkan kinerja terbaiknya demi
keberhasilan perusahaan, karena kinerja karyawan yang baik akan
mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Semakin tinggi
employee engagement, maka kinerja karyawan juga semakin tinggi

Pengaruh perceived organizational support terhadap employeeengagement


Perceived organizational support merupakan sikap positif
karyawan mengenai sejauh mana organisasi menghargai kontribusinya
dan mempedulikan kesejahteraan karyawan.
Employee engagement merupakan keterikatan karyawan yang
menunjukkan sikap positif individu terhadap pekerjaan, perusahaan
dan nilai-nilai perusahaan yang ditandai dengan kesungguhan,
dedikasi, penghayatan ketika melakukan pekerjaan.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa jika
perusahaan menghargai dan peduli dengan kesejahteraan karyawan
dengan cara memperlakukan karyawan yang satu dengan yang lainnya
itu sama (keadilan), perusahaan memberikan penghargaan atas
pencapaian kerja karyawan dan perusahaan memperhatikan
kemampuan yang dimiliki karyawan. Maka, karyawan akan merasa
berhutang budi terhadap perusahaan sehingga karyawan berkewajiban
untuk membalasnya. Balasan tersebut dapat berupa keterikatan
karyawan (employee engagement). Employee engagement yang
ditunjukkan yaitu dengan cara karyawan bersedia mengarahkan
seluruh tenaga dan pikirannya untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan, karyawan merasa pekerjaan yang dilakukannya bermakna,
dan karyawan serius dalam mengerjakan setiap pekerjaan yang
diberikan.
Dengan demikian, karyawan yang memiliki tingkat perceived
organizational support yang tinggi maka tingkat employee engagement
juga tinggi. Sehingga karyawan dengan persepsi yang tinggi terhadap
perusahaan memiliki kecenderungan terikat dengan pekerjaannya

Faktor Akibat atau Dampak Kinerja Karyawan


Faktor akibat atau dampak kinerja karyawan yaitu
memudahkan pimpinan dalam memimpin perusahaan ke tingkat
selanjutnya, mempercepat dalam memajukan perusahaan,
mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan, berjalannya
strategi perusahaan serta visi dan misi perusahaan (Glints, 2018).

Faktor Penyebab Kinerja Karyawan


Menurut (Edison, Anwar, & Khomariyah, 2016), faktor
penyebab kinerja, yaitu:

  1. Motivasi merupakan keinginan yang ada dalam diri seseorang
    untuk melakukan pekerjaan.
  2. Kompensasi merupakan balas jasa yang diberikan perusahaan
    untuk karyawan atas pekerjaan yang dilakukan.
  3. Kepemimpinan merupakan kemampuan dalam diri seseorang
    untuk memengaruhi tiap individu untuk bekerja sehingga dapat
    mencapai tujuan.
  4. Budaya perusahaan mengacu ke dalam sebuah sistem
    karakteristik yang dianut anggota yang membedakan
    perusahaan tersebut dari perusahaan lain.
    Adapun faktor penyebab kinerja menurut (Umam, 2012), yaitu:
  5. Faktor individu yang meliputi kemampuan, keterampilan,
    latar belakang keluarga, pengalaman kerja, tingkat sosial dan
    demografi seseorang.
  6. Faktor psikologi yang meliputi persepsi, peran, sikap,
    kepribadian, motivasi dan kepuasan kerja.
  7. Faktor organisasi yang meliputi struktur organisasi, desain
    pekerjaan, kepemimpinan dan sistem penghargaan

Pengukuran Kinerja Karyawan


Variabel kinerja karyawan diukur melalui beberapa indikator
oleh (Viswesvaran & Ones, 2000), yaitu:

  1. Effort yang meliputi giat dan berinisatif.
  2. Job knowledge yang meliputi pengetahuan dan ketrampilan,
    pemahaman tugas.
  3. Quality yang meliputi teliti dan akurat.
  4. Quantity yang meliputi pencapaian target.
  5. Compliance with rules yang meliputi paham dan taat dengan
    aturan.
  6. Interpersonal Competence yang meliputi kerjasama dan
    hubungan baik antar karyawan.
    Adapun indikator kinerja karyawan menurut (Mathis & Jackson,
    2006), yaitu:
  7. Kuantitas terdiri dari kemampuan mengerjakan pekerjaan
    sesuai dengan target perusahaan, penetapan target dalam
    pekerjaan, pemenuhan target pekerjaan.
  8. Kualitas terdiri dari kemampuan melakukan pekerjaan yang
    dikerjakan, pemahaman tentang pekerjaan yang dikerjakan,
    menyelesaikan pekerjaan dengan teliti dan rapi.
  9. Keandalan terdiri dari pekerjaan yang dilakukan tidak pernah
    disalahkan oleh atasan, menyelesaikan pekerjaan sesuai apa
    yang telah ditentukan.
  10. Kehadiran terdiri dari datang tepat waktu, izin ketika
    meninggalkan tempat kerja, tingkat absensi.
  11. Kerja sama terdiri dari kemampuan bekerja sama dengan
    rekan kerja, terbuka dengan pendapat orang lain, berusaha
    menjadi orang yang dapat diandalkan.
    Sedangkan menurut (Edison, Anwar, & Khomariyah, 2016)
    variabel kinerja karyawan dapat diukur dengan beberapa indikator,
    yaitu:
  12. Terget yang meliputi fokus pada target, memantang dan
    realistis, memenuhi kuantitas, pelanggan (internal dan
    eksternal) puas atas kuantitas yang dihasilkan.
  13. Kualitas yang meliputi kualitas sesuai dengan standar yang
    sudah ditetapkan, anggota memiliki komitmen tentang
    kualitas, memiliki prosedur tentang pencapaian kualitas,
    pelanggan (internal dan eksternal) puas atas kualitas yang
    dihasilkan.
  14. Waktu yang meliputi pekerjaan selesai tepat waktu, tingkat
    ketidakhadiran, keterlambatan, waktu kerja efektif atau jam
    kerja hilang.
  15. Tata asas yang meliputi dilakukan dengan cara yang benar,
    transfaran dan dapat dipertanggungjawabkan

Dimensi Kinerja Karyawan


Menurut (Viswesvaran & Ones, 2000) dimensi kinerja
karyawan, antara lain:

  1. Effort adalah jumlah usaha yang diperlihatkan karyawan guna
    melakukan pekerjaan dengan baik.
  2. Job Knowladge adalah tingkat pengetahuan yang berkaitan
    dengan pekerjaan dan ketrampilan yang dimiliki karyawan
    untuk menyelesaikan pekerjaan.
  3. Quality adalah sejauh mana karyawan dalam menyelesaikan
    pekerjaan dengan baik.
  4. Quantity adalah seberapa banyak hasil pekerjaan yang telah
    dilakukan karyawan.
  5. Compliance with rules adalah sebuah ketaatan karyawan dalam
    menjalankan aturan yang ditentukan perusahaan.
  6. Interpersonal Competence adalah kemampuan karyawan dalam
    berinteraksi dan kemampuan dalam bekerja sama dengan teman
    kerja.
    Adapun dimensi kinerja karyawan menurut (Mathis & Jackson,
    2006), antara lain:
  7. Kuantitas merupakan jumlah pemenuhan pekerjaan yang
    dihasilkan.
  8. Kualitas merupakan elemen penting, karena kualitas yang
    dihasilkan menjadi kekuatan dalam mempertahankan loyalitas
    pelanggan.
  9. Keandalan merupakan kemampuan untuk melaksanakan
    pekerjaan yang ditentukan.
  10. Kehadiran merupakan tingkat dimana karyawan hadir atau
    masuk untuk bekerja.
  11. Kemampuan bekerjasama merupakan sejauh mana karyawan
    dapat saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan.
    Sedangkan menurut (Edison, Anwar, & Khomariyah, 2016),
    dimensi kinerja dibagi menjadi empat, yaitu:
  12. Target merupakan indikator terhadap pemenuhan pekerjaan
    yang dihasilkan.
  13. Kualitas merupakan elemen penting, karena kualitas yang
    dihasilkan menjadi kekuatan dalam mempertahankan loyalitas
    pelanggan.
  14. Ketepatan waktu merupakan di mana kegiatan tersebut dapat
    diselesaikan, atau suatu hasil produksi dapat dicapai,
    memaksimalkan waktu yang tersedia untuk kegiatan-kegiatan
    lain.
  15. Taat asas adalah suatu hal yang dilakukan dengan cara yang
    benar, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan

Arti Penting atau Manfaat Kinerja Karyawan


Menurut (Umam, 2012), kinerja sangat penting dalam
perusahaan karena dapat menjadi pendorong keberhasilan
perusahaan. Ada 3 komponen besar dari kinerja, yaitu:

  1. Kinerja tugas merupakan penyelesaian tugas-tugas dan
    tanggung jawab yang diberikan.
  2. Kinerja keanggotaan dapat menjadikan seseorang dalam
    kehidupan perusahaan dan mempromosikan citra perusahaan
    yang positif dan menyenangkan. Kinerja keanggotaan
    memberikan sumbangan bagi tercapainya tujuan-tujuan
    organisasi dalam bentuk mengusahakan lingkungan sosial
    yang menyenangkan.

Definisi Kinerja Karyawan


Menurut (Viswesvaran & Ones, 2000), kinerja karyawan
merupakan suatu tindakan, perilaku, dan hasil yang bisa diukur
sesuai dengan apa yang telah dikerjakan karyawan untuk mencapai
tujuan perusahaan. Kinerja dapat pula diartikan sebagai kesuksesan
individu dalam melakukan pekerjaannya. Ukuran kesuksesan
masing-masing karyawan bergantung pada fungsi dari
pekerjaannya yang spesifik dalam bentuk aktivitas selama kurun
waktu tertentu. Dengan kata lain, ukuran kesuksesan kinerja
tersebut didasarkan pada ukuran yang berlaku dan disesuaikan
dengan jenis pekerjaannya (Umam, 2012).
Menurut (Edison, Anwar, & Khomariyah, 2016), kinerja
adalah hasil dari suatu proses yang mengacu dan diukur selama
periode waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan
yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika ada kinerja yang tidak
efektif pada setiap tingkatan harus dipandang sebagai suatu isyarat
bagi manajemen untuk melakukan koreksi terhadap setiap elemen
perusahaan.
Menurut (Mathis & Jackson, 2006), kinerja merupakan
suatu hal yang sudah dilaksanakan ataupun yang tidak
dilaksanakan oleh karyawan.
Berdasarkan paparan dari pendapat-pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa kinerja adalah perilaku nyata yang ditunjukkan
individu sebagai hasil dari kerja keras sesuai dengan perannya
dalam perusahaan

Faktor Akibat atau Dampak Keterikatan Karyawan (EmployeeEngagement)


Menurut (Saks, 2006) mengemukakan konsekuensi dari
keterikatan karyawan sebagai berikut:

  1. Kinerja
    Karyawan yang memiliki ikatan kuat dengan perusahaan,
    merasa nyaman dan senang dengan kondisi lingkungan kerja
    akan meningkatkan kinerja karyawan sehingga keberhasilan
    perusahaan dapat tercapai.
  2. Kepuasan kerja
    Ketika karyawan terikat dengan pekerjaan dan organisasi,
    karyawan akan menunjukkan seluruh kemampuannya dalam
    pekerjaan sehingga karyawan puas dengan apa yang mereka
    kerjakan.
  3. Komitmen organisasi
    Sering kali karyawan yang merasa senang dengan pekerjaan
    dan organisasinya, karyawan akan tetap bertahan meskipun
    banyak tawaran kerja ditempat lain.
  4. Turnover
    Employee engagement mengakibatkan tingkat turnover
    rendah

Faktor Penyebab Keterikatan Karyawan (Employee Engagement)


Faktor penyebab employee engagement menurut (Saks, 2006),
antara lain:

  1. Karakteristik Pekerjaan
    Ada lima karakteristik yang membentuk karyawan menjadi
    lebih terikat yaitu karateristik pekerjaan yang menantang,
    bervariasi, perlu keterampilan, bebas dalam mengambil
    keputusan pribadi dan kesempatan untuk membuat kontribusi
    yang penting.
  2. Perceived Organizational Support
    Persepsi dukungan organisasi merupakan variabel yang
    penting dalam dukungan sosial. Faktor ini dapat
    menumbuhkan persepsi karyawan bahwa organisasi
    menghargai konstribusi karyawan dan peduli dengan
    kesejahteraan mereka. Karyawan yang terikat dengan
    pekerjaan dan organisasi mereka didasari adanya norma timbal
    balik demi mencapai tujuan organisasi.
  3. Pengakuan dan Penghargaan
    Karyawan akan lebih terikat dengan pekerjaannya saat
    karyawan mempresepsikan nilai yang lebih besar dari
    penghargaan dan pengakuan atas kinerja yang dilakukan
    karyawan.
  4. Keadilan Prosedural
    Keadilan prosedural berhubungan dengan hal-hal yang
    digunakan organisasi guna mendistribusikan hasil dan sumber
    daya organisasi kepada karyawannya.
  5. Keadilan Distributif
    Keadilan distributif yaitu persepsi yang ditandai dengan
    jumlah dan pemberian penghargaan diantara individu.
    Jika karyawan merasa dirinya diperlakukan secara adil,
    karyawan akan berusaha bekerja keras dengan meningkatkan
    keterikatan yang lebih tinggi. Namun, jika karyawan merasa
    dirinya tidak diperlakukan secara adil maka karyawan akan
    cenderung untuk menarik diri dan disengaged dari pekerjaannya.
    Dengan adanya keadilan prosedural dan keadilan distributif mampu
    membentuk perilaku terikat pada karyawan

Pengukuran Keterikatan Karyawan (Employee Engagement)


Ada sebuah alat ukur untuk mengukur dimensi dari vigor,
dedication dan absorbtion yang disebut Utrecht Work
Engagement Scale (UWES). Terdapat 9 item pernyataan (UWES-
9) yang dikembangkan oleh (Schaufeli & Bakker, 2006).
Variabel employee engagement diukur melalui beberapa
indikator yang terdiri dari vigor dinilai dari 3 item pertanyaan,
dedication dinilai dari 3 item pertanyaan, absorbtion diukur dari 3
item pertanyaan yang dikembangkan oleh (Schaufeli & Bakker,
2006), yakni

  1. Vigor
    1) Penuh energi.
    2) Kuat dan bersemangat.
    3) Merasa seperti akan bekerja.
  2. Dedication
    1) Antusias dengan pekerjaannya.
    2) Pekerjaan menginspirasi.
    3) Bangga dengan pekerjaan.
    21
  3. Absorption
    1) Bahagia ketika bekerja.
    2) Menikmati pekerjaannya.
    3) Enjoy ketika sedang bekerja

Dimensi Keterikatan Karyawan (Employee Engagement)


Menurut (Schaufeli & Bakker, 2006) dimensi employee
engagement terdiri dari 3 dimensi, yaitu:

  1. Vigor meliputi tingkat energi yang tinggi dan kekuatan mental
    saat bekerja. Vigor diperlihatkan melalui tingkat semangat
    karyawan untuk melakukan peran pekerjaannya yang
    ditunjukkan melalui stamina dan energi yang tinggi ketika
    bekerja, keinginan berusaha secara sungguh-sungguh ketika
    melakukan pekerjaan, serta gigih dan tekun dalam
    menghadapi kesulitan saat bekerja (Schaufeli & Bakker,
    2006).
  2. Dedication keterikatan emosional, antusiasme, dan
    kebanggaan yang ditandai dengan rasa tertarik terhadap
    pekerjaan yang dilakukan (Schaufeli & Bakker, 2006).
  3. Absorption ditandai dengan konsentrasi dan keseriusan penuh
    dalam bekerja, dan menikmati peran pekerjaannya sehingga
    tidak dapat terlepas dari pekerjaannya (Schaufeli & Bakker,
    2006).

Definisi Keterikatan Karyawan (Employee Engagement)


Menurut (Pringgabayu & Keizer, 2017) menjelaskan bahwa
keterikatan karyawan (employee engagement) mengacu pada
keadaan perasaan, dan pemikiran yang sungguh-sungguh serta
konsisten terhadap pekerjaan yang dilakukan karyawan di dalam
perusahaan. Karyawan yang mempunyai tingkat engagement
tinggi akan memiliki keterikatan emosi yang tinggi terhadap
organisasi sehingga akan berpengaruh dalam menyelesaikan
pekerjaan dan cenderung memiliki kualitas kerja sesuai dengan
harapan (Cendani & Tjahjaningsih, 2015).
Employee engagement menurut (Siswono & Sim, 2016)
didefinisikan sebagai penghayatan seorang karyawan terhadap
tujuan dan pemusatan energi, yang muncul dalam bentuk
ketrampilan, usaha, dan kegigihan yang mengarah pada tujuan
organisasi.
Menurut Robbins dan Judge, 2015 (dalam Ariarni &
Afrianty, 2017) employee engagement adalah keterikatan
karyawan, kepuasan dan antusiasme terhadap pekerjaan yang
dilakukan. Karyawan yang mempunyai ikatan kuat dengan
perusahaan serta merasa nyaman dan senang dengan hal-hal yang
ada di lingkungan kerjanya maupun tanggung jawab tugas yang
dimiliki maka karyawan bisa meningkatkan kinerja guna
mendukung keberhasilan perusahaan.
Menurut (Schaufeli & Bakker, 2006) mendefinisikan
employee engagement sebagai pikiran baik dalam menyelesaikan
pekerjaan yang dicirikan dengan kekuatan energi dan mental
ketika bekerja (vigor), berpartisipasi saat bekerja (dedication),
serta fokus dan senang dalam bekerja (absorption).
Berdasarkan paparan dari pendapat-pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa employee engagement merupakan keterikatan
karyawan yang menunjukkan sikap positif seorang karyawan
terhadap pekerjaan, perusahaan dan nilai-nilai perusahaan yang
ditandai oleh kesungguhan, dedikasi, penghayatan ketika
melakukan pekerjaan

Faktor Akibat atau Dampak Persepsi Dukungan Organisasi(Perceived Organizational Support)


Menurut (Rhoades & Eisenberger, 2002) persepsi dukungan
organisasi memiliki beberapa dampak yang meliputi:

  1. Komitmen organisasi.
    Atas dasar norma timbal balik, persepsi dukungan
    organisasi akan menciptakan kewajiban untuk memperhatikan
    kesejahteraan organisasi. Kewajiban tersebut akan
    meningkatkan komitmen afektif karyawan terhadap organisasi.
    (Rhoades & Eisenberger, 2002).
  2. Efek terkait pekerjaan
    Persepsi dukungan organisasi mempengaruhi reaksi afektif
    karyawan terhadap pekerjaannya, termasuk kepuasan kerja
    dan suasana hati yang positif. Kepuasan kerja mengacu pada
    sikap keseluruhan karyawan terhadap pekerjaannya. Persepsi
    dukungan organisasi berkontribusi terhadap kepuasan kerja
    dengan meningkatkan harapan penghargaan atas kinerja, dan
    memperlihatkan ketersediaan bantuan bila dibutuhkan.
    Suasana hati positif berbeda dengan kepuasan kerja karena
    melibatkan keadaan emosi seseorang tanpa objek tertentu.
    Persepsi dukungan organisasi dapat berkontribusi terhadap
    perasaan hati, kompetensi dan kelayakan karyawan sehingga
    meningkatkan suasana hati yang positif (Rhoades &
    Eisenberger, 2002).
  3. Job Involvment (Keterlibatan Kerja)
    Keterlibatan kerja mengarah pada identifikasi dan minat
    pekerjaan tertentu yang seseorang lakukan. Kompetensi yang
    dirasakan karyawan berhubungan dengan minat. Dengan
    memaksimalkan kompetensi karyawan, persepsi dukungan
    organisasi dapat meningkatkan minat karyawan dalam
    pekerjaan mereka (Rhoades & Eisenberger, 2002).
  4. Kinerja
    Persepsi dukungan organisasi dapat meningkatkan standar
    kinerja karyawan dengan tindakan yang melampaui tanggung
    jawab yang sudah ditentukan sehingga dapat memberi
    keuntungan organisasi. Tindakan tersebut berupa saling
    membantu sesama teman kerja, melakukan tindakan yang
    dapat melindungi organisasi dari berbagai resiko, berbagi ilmu
    dan ketrampilan yang memiliki manfaat bagi organisasi.
    (Rhoades & Eisenberger, 2002).

Pengukuran Persepsi Dukungan Organisasi (PerceivedOrganizational Support)


Pengukuran persepsi dukungan organisasi (perceived
organization support) menggunakan kuesioner menurut
(Eisenberger & Huntington, 1986) ada 36 item pernyataan yang
mengacu pada faktor-faktor survei persepsi dukungan organisasi
(SPOS).
Variabel persepsi dukungan organisasi (perceived
organizational support) diukur melalui beberapa indikator oleh
(Eisenberger, Huntington, Hutchison, & Sowa, 1986), yaitu:

  1. Penghargaan: perusahaan memberikan penghargaan atas tugas
    yang dilakukan karyawan.
  2. Pengembangan: perusahaan menghargai kemampuan dan
    memberikan kesempatan promosi untuk karyawan.
  3. Kondisi kerja: perusahaan memperhatikan lingkungan tempat
    karyawan bekerja secara fisik ataupun non fisik.
  4. Kesejahteraan karyawan: perusahaan mempedulikan
    kesejahteraan karyawan.
    e. Faktor penyebab Persepsi Dukungan Organisasi (Perceived
    Organizational Support)
    Faktor penyebab persepsi dukungan organisasi menurut
    (Rhoades & Eisenberger, 2002) yaitu:
  5. Keadilan
    Keadilan procedural meliputi bagaimana menentukan
    strategi untuk mendistribusikan sumber daya diantara karyawan
    (Rhoades & Eisenberger, 2002).
  6. Dukungan Atasan
    Dukungan atasan sangat mempengaruhi kontribusi
    karyawan. Karena jika atasan meberikan arahan dan melakukan
    penilaian kinerja bawahan, maka karyawan akan memiliki
    pesepsi bahwa atasan memberikan dukungan organisai.
  7. Penghargaan Organisasi dan Kondisi Pekerjaan
    Bentuk dari penghargaan organisasi dan kondisi pekerjaan
    ini adalah sebagai berikut:
    a) Gaji, pengakuan, dan promosi. Hal tersebut dapat
    meningkatkan persepsi dukungan organisasi yang dirasakan
    karyawan sehingga dapat meningkatkan kontribusi
    karyawan.
    b) Keamanan dalam bekerja. Salah satu cara untuk
    memperkuat persepsi organisasi yaitu dengan adanya
    kejelasan masa depan karyawan di organisasi tersebut.
    c) Kemandirian. Cara meningkatkan persepsi dukungan
    organisasi yaitu organisasi memberikan kepercayaan
    kepada karyawan untuk melakukan kemandirian dalam
    melaksanakan pekerjaan.
    d) Peran stressor. Stress berhubungan negatif dengan persepsi
    dukungan organisasi. Stress mengacu pada
    ketidakmampuan setiap individu dalam mengatasi tuntutan
    dari lingkungan.
    e) Pelatihan. Pelatihan yang dilakukan pada setiap organisasi
    merupakan bekal karyawan dalam bekerja yang akhirnya
    dapat meningkatkan persepsi dukungan organisasi

Dimensi Persepsi Dukungan Organisasi (Perceived OrganizationalSupport)


Menurut (Eisenberger, Huntington, Hutchison, & Sowa,
1986), persepsi dukungan organisasi terdiri dari dimensi yang
berasal dari definisinya, yakni:

  1. Penghargaan
    Penghargaan yang diberikan organisasi terhadap usaha yang
    telah dilakukan karyawan berupa perhatian, gaji, promosi dan
    akses informasi atau bentuk lainnya yang dibutuhkan untuk
    meningkatkan kinerja secara maksimal.
  2. Pengembangan
    Pengembangan merupakan suatu hal yang diberikan kepada
    karyawan berupa kesempatan promosi.
  3. Kondisi kerja
    Kondisi kerja merupakan keadaan mengenai lingkungan kerja.
  4. Peduli dengan kesejahteraan karyawan
    Perhatian dengan kesejahteraan karyawan, mendengarkan
    masukan atau keluhan karyawan serta tertarik dengan
    pekerjaan yang karyawan lakukan merupakan kepedulian yang
    ditunjukkan oleh organisasi untuk karyawan

Arti Penting atau Manfaat Persepsi Dukungan Organisasi(Perceived Organizational Support)


Pada dasarnya, dukungan organisasi yang diberikan kepada
karyawan menunjukkan komitmen organisasi kepada karyawan.
Dukungan tersebut dibalas oleh karyawan dalam bentuk
meningkatkan kinerjanya ketika melakukan pekerjaan. Dukungan
organisasi yang berupa pemberian kompensasi, promosi, pelatihan,
keamanan dalam bekerja akan dipersepsikan karyawan sebagai
tanda kepedulian organisasi terhadap kesejahteraan karyawan.
Dengan demikian, karyawan membalas dukungan organisasi dalam
bentuk kepercayaan dan mengembangkan perilaku positif terhadap
organisasi.
Jika karyawan memiliki persepsi bahwa organisasi benar-
benar memperhatikan kesejahteraan karyawan dan memiliki
keinginan untuk berbagi advantage maka akan muncul
kepercayaan karyawan terhadap organisasi. Karyawan juga akan
meningkatkan kinerja dengan bekerja keras karena karyawan
mengharapkan organisasi untuk sukses. Persepsi dukungan
organisasi pada saat-saat krisis dapat sangat bermanfaat dalam hal
mengembangkan serta meningkatkan hasil kerja perorangan
ataupun hasil kerja organisasi

Definisi Persepsi Dukungan Organisasi (Perceived OrganizationalSupport)


Persepsi dukungan organisasi (perceived organizational
support) adalah semua tentang persepsi karyawan bahwa organisasi
menghargai kontribusi mereka dan peduli tentang kesejahteraan
mereka (Neves & Eisenberger, 2014). Ketika karyawan memegang
persepsi bahwa pekerjaan mereka dihargai dan dipedulikan oleh
organisasi akan mendorong karyawan untuk menyatukan
keanggotaan sebagai anggota organisasi ke dalam identitas diri
mereka.
Menurut (Eisenberger, Huntington, Hutchison, & Sowa,
1986), persepsi dukungan organisasi (perceived organizational
support) adalah keyakinan karyawan terhadap organisasi tempat
kerja karyawan yang dapat mendorong persepsi karyawan
mengenai sejauh mana organisasi menghargai kontribusi karyawan
dan peduli terhadap kesejahteraan dirinya.
Persepsi dukungan organisasi (perceived organizational
support) menurut (Rhoades & Eisenberger, 2002) adalah
kepercayaan bahwa organisasi menghargai kontribusi karyawannya
melalui pekerjaan mereka dan menunjukkan kepedulian terhadap
kesejahteraan mereka.
Berdasarkan paparan dari pendapat-pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa persepsi dukungan organisasi (perceived
organizational support) merupakan semua tentang persepsi
karyawan yang ditandai dengan sikap positif karyawan mengenai
sejauh mana organisasi menghargai kontribusinya dan
mempedulikan kesejahteraan karyawan

Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Perilaku kewarganegaraanorganisasi (OCB)


Hasil penelitian yang dilakukan Fauziridwan, Adawiyah, Ahmad(2018)
menunjukkan terdapat pengaruh yang positif antara variabel kepuasan kerja
terhadap OCB staff pemasaran bank BUMN di Purwokerto. Nilai path coefficient
antara kepuasan kerja terhadap OCB merupakan nilai terbesar dibandingkan dengan
path coefficient yang lain yaitu sebesar 0,505 dan juga dengan signifikansi tertinggi
dengan t-statistik 4,854 dan lebih besar dari 1,66.
Apabila melihat hasil deskripsi responden tentang variabel kepuasan kerja,
nilai tertinggi terdapat pada indikator rekan kerja, dimana staff pemasaran bank
BUMN ini sering memberikan dukungan satu sama lain. Hal ini dikarenakan
kesadaran masingmasing bahwa pekerjaan yang sedang dilaksanakan itu
merupakan kerja tim, tentunya membutuhkan support dari orang-orang yang berada
di dalam tim tersebut untuk mencapai target dan membantu pertumbuhan unit
tersebut dan umumnya untuk perusahaan

Pengaruh Persepsi Dukungan Organisasi terhadap Perilakukewarganegaraan organisasi (OCB)


Banyak faktor yang dapat mempengaruhi Perilaku kewarganegaraan
organisasi atau Organizational Citizenship Behavior salah satunya persepsi
dukungan organisasi. Kepuasan kerja akan memengaruhi perilaku
kewarganegaraan organisasi dimana hal tersebut dibuktikan dari berbagai
penelitian sebelumnya. Penelitian yang dilakukan Sudarmo dan Wibowo (2018)
menyatakan jelas terlihat adanya pengaruh pada perusahaan milik negara yang
mereka teliti. Dengan kepuasan kerja yang tinggi, maka akan timbul sikap positif
dalam pekerjaan yang perlu dilakukan, demikian pula sebaliknya, sehingga
perasaan sebagai bagian dari organisasi pun tercipta. Konsekuensinya yakni
terciptanya Perilaku kewarganegaraan organisasi yang dapat dirasakan langsung
oleh organisasi

Indikator Perilaku kewarganegaraan Organisasi


Indikator Perilaku kewarganegaraan Organisasi atau Organizational
Citizenship Behaviour (OCB) menurut Organ (2013) dalam Styowidodo (2020)
yakni:
1) Courtesy
Courtesy merupakan perilaku menjaga hubungan baik dengan
pegawai lain supaya perselisihan tidak terjadi di organisasi.

  1. Civic Virtue
    Civic Virtue merupakan rasa tanggung jawab pegawai dalam
    berbagai kegiatan organisasi.
  2. Sportifitas
    Sportifitas merupakan kesediaan individu untuk menerima
    kebijakam yang sudah ditetapkan oleh organisasi
  3. Conscientiousness
    Conscientiousness yakni pengabdian terhadap pekerjaan,
    conscientiousness memiliki ciri-ciri sebagai seorang pun yang
    mengawasi.
  4. Altruisme
    Altruisme merupakan perilaku sukarela untuk membantu rekan
    kerja dalam meyelesaikan pekerjaan.
    Sedangkan Podsakoff et all. (2000) membagi Perilaku Kewarganegaraan
    Organisasi menjadi tujuh indikator:
    a. Perilaku membantu dimana pegawai membantu teman satu
    pekerjaannya secara sukarela serta mencegah terjadinya masalah yang
    berhubungan dengan pekerjaan.
    b. Kepatuhan terhadap organisasi dimana pegawai memiliki perilaku yang
    patuh dengan prosedur serta kebijakan organisasi melebihi harapan
    minimum perusahaan.
    c. Sportmanship, merupakan sikap pegawai yang tidak mengeluh dengan
    ketidaknyamanan bekerja, serta mempertahankan sikap positif ketika
    tidak dapat memenuhi keinginan pribadi, mengizinkan seseorang untuk
    mengambil tindakan demi kebaikan kelompok.
    d. Loyalitas terhadap organisasi dimana adanya kesetiaan pegawai untuk
    mencegah dan menjaga organisasi dari ancaman eksternal serta
    mempromosikan reputasi organisasi.
    e. Inisiatif individual dimana hal ini merupakan derajat antusiasme serta
    komitmen ekstra pada kinerja melebihi kinerja maksimal dan yang
    diharapkan.
    f. Kualitas sosial dimana hal ini dijelaskan sebagai tindakan keterlibatan
    yang bertanggung jawab dan konstruktif dalam proses pekerjaan
    organisasi.
    g. Perkembangan diri dimana hal ini meliputi keterlibatan pegawai dalam
    aktivitas untuk meningkatkan kemampuan dan pengalamannya dalam
    organisasi

Faktor- faktor yang Mempengaruhi Perilaku kewarganegaraanOrganisasi


Shweta dan Srirang dalam Pramudianti (2019) menyatakan faktor-faktor
yang mempengaruhi perilaku kewarganegaraan organisasi diantaranya adalah:
a. Disposisi individu dan motif individu
Disposisi individu ditunjukkan melalui beberapa aspek seperti positive
affectivity, negative affectivity, conscientiousness, agreeableness, dan juga locus of
control yang dapat memberi pengaruh terhadap tingkat OCB. Konovsky dan Organ
(1996) yang menyatakan bahwa individu dengan agreeableness memiliki hubungan
dengan altruism, courtesy, dan sportsmanship yang dapat menentukan tingkat
OCB. Selain itu, locus of control memainkan peran penting dalam menentukan
tingkat OCB karyawan. Individu dengan locus of control internal cenderung lebih
memiliki perilaku OCB daripada mereka yang memiliki locus of control exsternal
(Blakely, Srivastava, & Moorman, 2005). Dengan kata lain individu dengan locus
of controlinternal akan lebih antusias jika diukur dengan mereka yang memiliki
locus of control external. Selain disposisi individu, karyawan didorong oleh motif
intrinsik atau ekstrinsik yang mereka miliki untuk melakukan OCB. Karyawan yang
memiliki motivasi intrinsik, mereka akan melakukan perilaku peran ekstra untuk
kepentingan rekan kerja. Namun, karyawan dengan motivasi ekstrinsik yang lebih
tinggi akan melakukan OCB untuk menumbuhkan citra yang baik untuk diri mereka
sendiri.
b. Kohesivisitas individu
Kohesivitas individu umumnya berhubungan langsung dengan kohesivitas
dalam kelompok kerja dalam suatu organisasi. Dalam kelompok kerja, kohesivitas
individu perlu dikembangkan diantara sesama anggota. Dengan terciptanya
kohesivitas individu dalam kelompok kerja tersebut, maka individu-individu dalam
kelompok kerja tersebut dapat saling membantu satu sama lain. Sehingga
kohesivitas kelompok akan mendorong munculnya OCB.
c. Sikap karyawan
Sikap positif yang dimiliki karyawan terhadap pekerjaan mereka yang
meliputi komitmen organisasi dan kepuasan kerja perlu ditingkatkan, sehingga
dapat memengaruhi tingkat OCB dalam organisasi tersebut.
d. Kepemimpinan transformasional
Karyawan cenderung memiliki Perilaku Kewarganegaraan Organisasi saat
pemimpin mereka menampilkan gaya kepemimpinan transformasional seperti
pemimpin yang memiliki visi kedepan, dapat berperan sebagai role model,
merangsang bawahan secara intelektual dan mengkomunikasikan harapan kinerja
yang lebih tinggi (Podsakoff MacKenzie, Moorman, & Fetter, 1990). Dengan kata
lain munculnya Perilaku Kewarganegaraan Organisasi pada karyawan bergantung
pada gaya kepemimpinan dalam organisasi (Podsakoff dkk., 2000).
e. Keadilan organisasi
Jika terjadi adanya keadilan dalam organisasi, maka akan memberikan
kontribusi yang sangat penting dalam membentuk Perilaku Kewarganegaraan
Organisasi karyawan dalam organisasi

Aspek-aspek Perilaku kewarganegaraan organisasi


Aspek-aspek Perilaku kewarganegaraan oleh Organ, Podsakoff, &
MacKenzie (2006) dibagi menjadi lima aspek yakni:
a. Altruism (Menolong Orang Lain)
Perilaku menolong muncul bukan karena adanya tekanan atau kewajiban
pada pekerjaan organisasional, melainkan bersifat sukarela dan tidak berdasar
norma-norma tertentu. Seperti menolong pegawai lain baik yang berhubungan
dengan pekerjaannya ataupun masalah pribadi orang lain. Hal ini dilakukan tanpa
mengharapkan imbalan apapun.
b. Constiousness (Perilaku Melebihi Standar Minimum)
Perilaku melebihi standar persyaratan minimun organisasi yang diharapkan
organisasi. Individu yang sadar akan tanggung jawabnya akan disiplin terhadap
waktu, disiplin dalam kehadiran, melakukan sesuatu melebihi kebutuhan dan
harapan normal, bijaksana dalam mengikuti peraturan-peraturan organisasi.
C. Courtesy (Menghormati Orang Lain)
Perilaku ini berkaitan dengan hubungan pegawai dengan pegawai lainnya
agar terhindar dari masalah interpersonal. Memberikan perilaku yang baik serta
hormat kepada orang lain dalam mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan
pekerjaan, termasuk perilaku seperti membantu orang lain, membantu
meminimalisir keributan, atau membuat langkah-langkah untuk meredakan atau
mengurangi berkembangnya suatu masalah di organisasi. Individu yang memiliki
dimensi ini tinggi adalah orang yang menghormati, menghargai, dan
memperhatikan orang lain. Pegawai dengan perilaku courtesy lebih peka dan
berpikiran terbukan dengan hak-hak orang lain.
d. Sportmanship (Bersikap Toleran)
Perilaku bertoleransi dan sportifitas tinggi pada organisasi tanpa mengeluh
akan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan atau masalah bahkan jika
individu tidak setuju atau setuju dangan perubahan yang yang terjadi dalam
organisasi. Pegawai dapat memberikan toleransi pada keadaan yang kurang ideal
dalam organisasi tanpa mengajukan keberan-keberatan.
e. Civic Virtue (Menjadi Warga yang Bijak)
Perilaku yang menunjukkan keinginan untuk tanggung jawab dan perannya
dalam aktivitas organisasi, memiliki kepedulian terhadap kelangsungan organisasi.
Dimensi ini mengarah pada tanggung jawab yang diberikan organisasi kepada
karyawan untuk meningkatkan kualitas kerjanya. Perilaku ini ditunjukkan dengan
keinginan untuk berpartisipasi aktif dalam organisasi. Civic virtue dapat berupa
kesediaan karyawan untuk terlibat dalam hal-hal yang rutin maupun tidak rutin
dalam organisasi untuk menciptakan kesan baik dari organisas

Pengertian Perilaku kewarganegaraan Organisasi atau OrganizationalCitizenship Behavior (OCB)


Berbagai macam definisi dikemukakan oleh para ilmuwan. Menurut Sri
Widodo (2015) definisi Organizational Citizenship Behavior (OCB) dimana
merupakan sikap yang melebihi kewajiban formal (ekstra role) yang berkaitan
dengan kompensasi secara langsung. Artinya, seorang yang memiliki Perilaku
kewarganegaraan organisasi tinggi tidak akan mengharapkan imbalam, namun
Perilaku kewarganegaraan organisasi lebih kepada perilaku social pada diri tiap-
tiap individu untuk bekerja melebihi dari apa yang dijerjakan, seperti membantu
rekan di saat jam istirahat dengan sukarela adalah salah satu contohnya.
Sejalan dengan itu, menurut Styowidodo (2020) mendefinisikan Perilaku
kewarganegaraan organisasi adalah perilaku sukarela anggota organisasi bukan
tindakan yang diberikan atau dipaksakan oleh organisasi. Perilaku
kewarganegaraan organisasi ini berkarakter yang ditandai dengan bantuan yang
diberikan tetapi bukan berupa bagian dari tugas, dilakukan secara spondan, dan
tidak di minta serta dengan membantu rekan kerja tanpa memperoleh imbalan. OCB
ini merupakan sikap dan perilaku pegawai dalam bekerja dengan sukarela serta
adanya rasa sebagai pegawai yang merasa puas apabila dapat berkontribusi lebih
pada organisasi sehingga jika apabila ditampilkan pun tidak diberi hukuman. Hal
tersebut bukan sebagai akibat dari adanya sistem penghargaan yang diberikan
perusahaan secara formal hanya pekerja yang sukarela untuk meningkatkan kinerja
organisasi.
24
Menurut Robbins dalam Lubis (2016) mengemukakan bahwa Perilaku
Kewarganegaraan Organisasi (OCB) merupakan perilaku pilihan_yang tidak
menjadi bagian dari kewajiban kerja formal seorang karyawan, namun mendukung
berfungsinya_organisasi tersebut secara efektif

Indikator Kepuasan Kerja


Penggunaan indikator kepuasan kerja yakni menggunakan indikator
menurut Luthans (2006) dalam Styowidodo (2020):
a.Perasaan puas terhadap gaji,
b.Puas dengan promosi,
c.Perasaan puas dengan rekan kerja,
d.Perasaan puas terhadap pengawasan,
e.Perasaan puas terhadap pekerjaan itu sendiri
Selain itu, indikator kepuasan kerja menurut Afandi (2018:82) adalah
sebagai berikut:
a. Pekerjaan, ini termasuk dari pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah
memiliki elemen yang memuaskan.
b. Upah, dimana insentif yang diterima seseorang sebagai akibat dari
pelaksanaan keja apakah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan adil.
c. Promosi, dimana terjadinya kemungkinan seseorang dapat naik jabatan.
Ini berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh
peningkatan karir selama bekerja.
d. Pengawas, dimana seseorang yang senantiasa memberikan perintah atau
petunjuk dalam pelaksanaan kerja.
e. Rekan kerja, dimana seseorang senantiasa berinteraksi dalam pelaksanaan
pekerjaan. Seseorang dapat merasakan rekan kerjanya sangat
menyenangkan atau tidak menyenangkan

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Anwar Prabu Mangkunegara dalam Hamali (2016:205-206) menyatakan
adanya dua faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu:

  1. Faktor karyawan, yaitu kecakapan khusus, kecerdasan (IQ), pendidikan, umur,
    pengalaman kerja, jenis kelamin, kondisi fisik, masa kerja, kepribadian, emosi,
    cara berfikir, persepsi, sikap kerja.
  2. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, strukturnorganisasi, kedudukan,
    pangkat (golongan), mutu pengawasan, jaminan finansial, kesempatan promosi
    jabatan, interaksi sosial, hubungan kerja.
    Sedangkan Sopiah dalam Hamali (2016:206) menyatakan aspek-aspek kerja
    yang berpengaruh pada kepuasan kerja atau disebut juga sebagai dimensi dari
    kepuasan kerja adalah:
    a. promosi,
    b. gaji
    c. pekerjaan itu sendiri,
    d. supervisi,
    e. teman kerja,
    f. keamanan kerja,
    g. kondisi kerja,
    h. administrasi/kebijakan perusahaan,
    i. komunikasi,
    j. tanggung jawab,
    k. pengakuan,
    l. prestasi kerja,
    m. kesempatan untuk berkembang

Pengertian Kepuasan Kerja


Kenyamanan dan tingginya loyalitas pegawai pada perusahaan dapat
tumbuh apabila seorang pegawai memperoleh kepuasan kerja mereka. Kepuasan
kerja sendiri memang mempengaruhi seberapa baik produktivitas kerja mereka.
Oleh karena itu, pimpinan perlu memahami segala hal yang bisa menciptakan
kepuasan kerja pegawainya.
Menurut Green dan Baron dalam Hamali (2016:200) mendeskripsikan
bahwa kepuasan kerja dikatakan sebagai sikap positif atau negatif pegawai terhadap
pekerjaanya.
Menurut Afandi (2018) kepuasan kerja termasuk sikap (positif) tenaga kerja
pada pekerjaannya, dimana hal tersebut timbul berdasarkan penilaiannya pada
situasi kerja. Penilaian tersebut juga dilakukan terhadap salah satu pekerjaannya,
penilaian dilakukan sebagai rasa menghargai dalam mencapai salah satu nilai-nilai
penting dalam pekerjaan.
Sedangkan menurut Edison (2016) kepuasan kerja merupakan sebuah
perasaan yang muncul pada diri pegawai mengenai hal-hal yang menyenangkan
atau tidak pada suatu pekerjaan yang mereka kerjakan. Kepuasan kerja yang tinggi
menjadi ciri organisasi dikelola dengan baik serta merupakan hasil kepemimpinan
yang efektif

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Dukungan Organisasi


Faktor-faktor berpengaruh kepada persepsi terhadap dukungan organisasi
yang dikemukakan oleh Ghani dan Hussin dalam Meiwintar (2016) yakni:
a) Kepercayaan (Trust)
b) Akses Mendapatkan Informasi
c) Akses mendapatkan pembelajaran dan pengembangan
Selain itu, Farasat & Ziaaddini dalam Hadiyanti dan Prasetio (2020: 2448)
menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dukungan organisasi
yaitu:
a. Memberikan penghargaan kepada karyawan
b. Memperhatikan kesejahteraan
c. Peduli terhadap karyawan, dan
d. Kondisi kerja

Aspek-Aspek Persepsi Dukungan Organisasi


Rhodes dan Eisenberger dalam Sholeh (2018) mengemukakan bahwa
persepsi terhadap dukungan organisasi memiliki aspek-aspek, sebagai berikut:
a. Keadilan
Cropanzo & Greenberg telah menjelaskan dua keadilan yakni keadilan
dalam aspek struktural dimana hal tersebut mencakup aturan-aturan formal serta
keputusan yang menyangkut pegawai. Serta keadilan dalam aspek sosial dimana
dapat dikatakan sebagai keadilan interaksional yang meliputi pelakuan organisasi
terhadap pegawai pada penghargaan martabat serta penghormatan, (Rhoades &
Eisenberger dalam Sholeh, 2018).
b. Dukungan Supervisor
Kottke & Sharafinski dalam Sholeh (2018), mengemukakan bahwa pegawai
menelaah dengan pandangannya secara umum mengenai sejauh mana atasan
menilai kontribusinya serta bagaimana kepedulian atasan terhadap
kesejahteraannya. Hal tersebut dikarenakan atasan memiliki peran sebagai orang
yang memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengevaluasi kinerja
pegawainya dalam organisasi tersebut dengan mengacu kepada penilaian tersendiri.
Begitupun dengan pegawai yang akan melihat ada atau tidaknya dukungan dari
organisasi tempat ia bekerja.
c. Penghargaan Organisasi dan Kondisi Pekerjaan
Bentuk dari penghargaan organisasi serta kondisi pekerjaan ini yakni gaji,
pengakuan, promosi, keamanan dalam bekerja, kemandirian, peran stressor, dan
pelatihan.
Sedangkan Allen & Brady dalam Prasetyo (2016) mengemukakan aspek
persepsi dukungan organisasi yakni:
a. Sikap organisasi terhadap ide-ide karyawan.
18
Hal ini menjadikan persepsi yang positif ketika organisasi mendengarkan
dan menggunakan ide pegawai. Begitupun sebaliknya, bila perusahaan tidak
menerima ide pegawai dan melakukan segala sesuatu sendiri persepsi akan menjadi
negatif.
b. Sikap pada masalah yang dihadapi karyawan
Pegawai akan merasa tidak mendapat dukungan dari organisasi apabula
perusahaan tidak menunjukkan sikap dalam membantu mereka dalam menghadapi
masalah.
c. Sikap pada kesejahteraan dan kesehatan karyawan
Pegawai akan melihat bagaimana organisasi memberikan dukungannya agar
mereka dapat bekerja secara optimal untuk mencapai tujuan dari organisasi
tersebut.
Selanjutnya Robbins dan Judge dalam Sari (2019) mengemukakan aspek
persepsi dukungan organisasi yaitu:
a. Penghargaan
Ada penghargaan berbentuk finansial seperti gaji, upah, insentif, atau
tunjangan. Tetapi, ada juga penghargaan diluar finansial seperti pujian, penerimaan,
pengakuan atau yang lainnya yang tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan
kinerja pegawai.
b. Kepedulian
Rasa peduli merupakan bentuk pimpinan terhadap pegawainya untuk
memberikan penghargaan baik salam bentuk waktu, gagasan, perhatian, maupun
yang lainnya.
19
c. Kesejahteraan
Kesejahteraan (well-being) yang seding juga dikenal sebagai kesejahteraan
subjektif, emosi, atau kebahagiaan. Pengertian lain kesejahteraan dikaitan dengan
tujuan hidup yang bermakna

Indikator Persepsi Dukungan Organisasi


Rhoades dan Eisenberger dalam Putra dan Sriathi (2017) mengemukakan
indikator untuk mengukur persepsi dukungan organisasi antara lain:

  1. Adanya penghargaan dari organisasi dengan segala pekerjaan yang
    dilakukan oleh karyawan;
  2. Adanya penghargaan dari organisasi dengan segala usaha yang telah
    karyawan berikan terhadap perusahaan;
  3. Adanya perhatian dari organisasi untuk berbagai keluhan dari karywan
    mengenai pekerjaan maupun kehidupan pribadinya;
  4. Adanya kepedulian dari organisasi tentang bagaimana kesejahteraan
    karyawan;
  5. Organisasi akan memberitahu karyawan pada saat mereka melakukan
    kesalahan dalam bekerja;
  6. Adanya kepedulian dari organisasi tentang kepuasan karyawan dalam
    pekerjaannya;
  7. Adanya perhatian dari organisasi; dan
  8. Organisasi bangga atas segala pencapaian karyawan dalam bekerja.
    Allen dan Brady dalam Prasetyo (2016) mengemukakan indikator persepsi
    dukungan organisasi yakni:
  9. Sikap organisasi terhadap ide-ide karyawan dengan menerima pendapat
    atau masukan yang karyawan sampaikan serta memasukkan ide dari
    pegawai untuk kebaikan kemajuan organisasi.
  10. Sikap pada masalah yang dihadapi karyawan dimana supervisor mau
    mendengarkan keluhan karyawan dan mau membantu karyawan agar
    merasa dipedulikan.
  11. Sikap pada kesejahteraan dan kesehatan karyawan dimana organisasi
    memberikan penghargaan terhadap karyawan berupa reward dan
    memberikan perhatian bagi kesehatan karyawan seperti memberikan
    jaminan kesehatan.
    Sedangkan Robbins dan Judge dalam Sari (2019) mengemukakan
    indikator persepsi dukungan organisasi yaitu:
  12. Penghargaan, dimana organisasi memberikan reward terhadap
    karyawan baik berupa gaji maupun kenaikan pangkat serta adanya
    penghargaan berupa motivasi dari supervisor.
  13. Kepedulian, adanya bentuk rasa simpati supervisor terhadap karyawan
    dalam bentuk pertolongan atau perhatian.
  14. Kesejahteraan, karyawan dapat merasa sejahtera apabila mereka
    mendapatkan perlindungan baik berupa jaminan kesehatan maupun
    berbentuk salary atau bonus

Pengertian Persepsi Dukungan Organisasi


Pada sebuah perusahaan tentu pegawai membutuhkan dukungan dari
perusahaan tersebut di luar dari timbal balik yang wajib diberikan oleh perusahaan.
Dukungan dari perusahaan akan berpengaruh kepada psikologis Pegawai dalam
bekerja. Dengan kondisi psikologi yang positif maka pegawai akan dapat
mengkontribusikan kemampuan terbaik yang bisa mereka berikan pada perusahaan.
Untuk itu, perlu adanya suatu dukungan dari organisasi atau tempat pegawai
bekerja. Namun, penilaian akan dukungan tersebut akan berbeda pada setiap
karyawan.
Menurut Hendry Setiyawan, Siti Nur Azizah (2019) Persepsi dukungan
organisasional yakni merupakan suatu keyakinan secara global yang dikembangkan
oleh pegawai tentang sejauh mana terjalinnya komitmen organisasi pada mereka
(pegawai) dilihat adanya penghargaan organisasi terhadap kontribusi mereka dan
perhatian organisasi terhadap kehidupan mereka.
Menurut Robbins & Judge dalam Sari (2019) persepsi dukungan organisasi
didefinisikan sebagai sejauh mana pegawai percaya bahwa organisasi menghargai
kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan mereka. Sedangkan menurut
Ismainar (2018:162) tentang persepsi dukungan organisasi menjelaskan bahwa
“persepsi dukungan organisasi berpacu kepada pandangan pegawai mengenai
sejauh mana orgnisasi menilai penting bagi kebutuhan sosioemosional mereka
seperti penghargaan, kepedulian dan benefit seperti gaji dan tunjangan kesehatan”.
Menurut Eisenberger, et al. Dalam Wijaya dan Yuniawan (2017) persepsi
dukungan organisasi adalah keadaan dimana karyawan merasa yakin atas
besarnya kepedulian organisasi atas kontribusi yang telah diberikan oleh para
karyawannya dengan begitu mengusahakan kesejahteraan mereka.
Sedangkan menurut Rhoades, dkk dalam Sholeh (2018) bahwa persepsi
dukungan organisasi itu mengacu kepada keyakinan seorang karyawan kepada
tempat ia bekerja dengan bagaimana organisasi tersebut menghargai kontribusinya
serta kepedulian organisasi terhadap kesejahteraannya.

Pengaruh Keterlibatan Kerja terhadap Keterikatan Karyawan


Keterlibatan kerjapada prakteknya berkaitan dengan tingkat absensi, dan
berkeinginan berpartisipasi dalam tim atau kelompok kerja. Apabilatingkat
keterlibatan kerja tidak diperhatikan maka dapat menyebabkan terjadinya
karyawan merasa tidak semangat dalam bekerja, serta karyawan merasa tidak
diperhatikan oleh perusahaan.
Lodahl dan Kejner (dalam Cohen, 2003) mmendifinisikan keterlibatan
kerja (Job Involvement) sebagai internalisasi nilai-nilai tentang kebaikan
pekerjaan atau pentingnya pekerjaan bagi keberhargaan seseorang.Keterlibatan
kerja sebagai tingkat sampai sejauh mana performansi kerja seseorang
mempengaruhi harga dirinya dan tingkat sampai sejauh mana seseorang secara
psikologis mengidentifikasikan diri terhadap pekerjannya atau pentingnya
pekerjaan dalam gambaran diri totalnya.Individu yang memiliki keterlibatan
yang tingggi lebih mengidentifikasikan dirinya pada pekerjaanya dan
menganggap pekerjaan sebagai hal yang sangat penting dalam kehidupannya.
Menurut Vazirani (2007) sebagai tingkat komitmen dan keterlibatan yang
karyawan miliki terhadap organisasinya dan nilai-nilai yang ada di dalamnya
yang terlihat dalam sikap positif karyawan terhadap organisasi dan nilai-nilai
yang ada di dalamnya.
Adapun didukung oleh peneliti terdahulu Putra F, dkk(2018)
dalampenelitiannya menunjukkan keterlibatan kerjaberpengaruh positif dan
signifikan terhadap keterikatan kerja karyawan

Pengaruh Persepsi Dukungan Organisasi terhadap KeterikatanKaryawan


Jika karyawan menganggapbahwa dukungan organisasi yang diterimanya
tinggi, maka karyawan tersebut akanmenyatukan keanggotaan sebagai anggota
organisasi ke dalam identitas diri merekadan kemudian mengembangkan
hubungan dan persepsi yang lebih positif terhadaporganisasi tersebut. Dengan
menyatunya keanggotaan dalam organisasi denganidentitas karyawan, maka
karyawan tersebut merasa menjadi bagian dari organisasidan merasa
bertanggung jawab untuk berkontribusi dan memberikan kinerjaterbaiknya pada
organisasi (Rhoades dan Eisenberger, 2002).
Persepsi dukungan organisasi mengacu pada persepsi karyawan
mengenaisejauh mana organisasi menilai kontribusi, memberi dukungan, dan
peduli pada kesejahteraan mereka (Rhoades dan Eisenberger, 2002).
Adapun didukung oleh peneliti terdahulu Putra F Dkk(2018) dalam
penelitiannya menunjukkan persepsi dukungan organisasi berpengaruh positif
dan signifikan terhadap keterikatan karyawan

Indikator Keterlibatan Kerja


Berikut ini penjelasan mengenai unsur-unsur keterlibatan kerjamenurut
Istijanto (2005) sebagai berikut :

  1. Aktif berpartisipasi dalam pekerjaannya.
    Karyawan terlibat dalam pekerjaannya (job involvement), aktif
    berpartisipasi adalah perhatian yang dicurahkan seseorang terhadap
    sesuatu.
  2. Menunjukkan pekerjaannya adalah yang utama.
    Karyawan berusaha memberi serta melakukan yang terbaik untuk
    pekerjaannya dan mengganggap pantas untuk diutamakan.
  3. Melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang penting untuk harga diri
    Keterlibatan kerja dapat dilihat dari sikap karyawan dalam pikiran
    mengenai pekerjaannya, dimana karyawan menganggap pekerjaan itu
    penting bagi harga dirinya sendiri

Pengertian Keterlibatan Kerja


Keterlibatan kerja merupakan tingkat di mana seseorang
mengaitkandirinya ke pekerjaannya, secara aktif berpartisipasi di dalamnya
dan menganggapkinerjanya penting bagi nilai dirinya (Robbins, 2003).
Hiriyappa (2009) mendefinisikan keterlibatan kerja (Job
Involvement) sebagai tingkat sampai sejauh mana individu
mengidentifikasikan dirinya dengan pekerjaannya, secara aktif berpartisipasi
didalamnya, dan menganggap performansi yang dilakukannya penting untuk
keberhargaan dirinya. Tingkat keterlibatan kerja yang tinggi akan menurunkan
tingkat ketidakhadiran dan pengunduran diri karyawan dalam suatu organisasi.
Sedangkan tingkat keterlibatan kerja yang rendah akan meningkatkan
ketidakhadiran dan angka pengunduran diri yang lebih tinggi dalam suatu
organisasi.
Karyawan dengan tingkat keterlibatan kerja yang tinggi dengan kuat
aktifmengaitkan dirinya ke jenis pekerjaan yang dilakukannya dan benar-
benarantusias dalam pengerjaannya.Karyawan yang aktif berpartisipasi
dalampekerjaannya menunjukkan kemauan dan keinginan karyawan untuk ikut
terlibatlangsung dalam pekerjaan. Menjelaskan ketika karyawan mempunyai
keterlibatan kerja yang rendahmaka dia akan menjadi seseorang yang hadir
secara fisik tapi mental absen. (Mustika dan Raharjo, 2017)
Ketika seorang karyawan sepenuhnya terlibat dalam karyanya, energi
dan fokus yang ditujukan langsung pada keterlibatannya. Karyawan menjadi
aset organisasidan tidak akan mungkin berpikir meninggalkan organisasi
ketika mempunyaiketerlibatan kerja yang tinggi sedangkan keterlibatan kerja
yang rendahmenambah perasaan karyawan dari keterasingan dalam organisasi
atau perasaanadanya pemisahan antara apa yang dilihat karyawan sebagai
kehidupan danpekerjaan yang mereka lakukan (Hafer dan Martin, 2006).
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa keterlibatan
kerja adalah tingkat sejauh mana karyawan ikut serta berpartisipasi dan aktif
dalam pekerjaanya dan tidak akan mungkin berfikir meninggalkan pekerjaanya
saat mempunyai keterlibatan kerja yang tinggi saat bekerja

Indikator Persepsi Dukungan Organisasi


Menurut Rhoades dan Eisenberger (2002) terdapat indikator persepsi
dukungan organisasi sebagai berikut:

  1. Keadilan
    Keadilan prosedural menyangkut cara yang digunakan untuk
    menentukan bagaimana mendistribusikan sumber daya di antara
    karyawan.
  2. Dukungan atasan
    Karyawan mengembangkan pandangan umum tentang sejauh mana
    atasan menilai kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan
    karyawan.
  3. Penghargaan organisasi
    Sebuah pengakuan perusahan terhadap kontribusi karyawannya

Pengertian Persepsi Dukungan Organisasi


Robbins dan Judge (2008), mendefinisikan persepsi dukungan organisasi
adalah tingkat sampai mana karyawan yakin organisasi menghargai kontribusi
mereka dan peduli dengan kesejahteraan mereka. Robbins dan Judge juga
menambahkan bahwa dari penelitian yang ada menunjukkan bahwa individu
akan merasaorganisasi mereka bersikap suportif ketika penghargaan
dipertimbangkan dengan adil, karyawan mempunyaisuara dalam pengambilan
keputusan, dan pengawas mereka dianggap suportif.
Persepsi terhadap dukungan organisasi juga dianggap sebagai sebuah
keyakinan global yang dibentuk oleh tiap karyawan mengenai penilaian
mereka terhadap organisasi yang dibentuk berdasarkan pada pengalaman
mereka terhadap kebijakan dan prosedur organisasi, penerimaan sumber daya,
interaksi dengan agen organisasi (misalnya supervisor) dan persepsi mereka
mengenai kepedulian organisasi terhadap kesejahteraan mereka (Rhoades dan
Eisenberger, 2002).
Persepsi dukungan organisasional difokuskan pada perlakuan yang
menguntungkan dan tingkat karyawan yang terilibat dalam hubungan timbal
balik yang positif (Darmawan, 2013).Karyawan dalam suatu perusahaan tentu
membutuhkan dukungan dari perusahaan di luar dari timbal balik yang wajib
diberikan kepada perusahaan. Dukungan dari perusahaan akan mempengaruhi
psikologis karyawan dalam bekerja. Dengan kondisi psikologi yang positif
maka karyawan akan dapat memberikan kemampuan terbaik yang bisa mereka
berikan kepada perusahaan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Shore dan Tetrik (1990, dalam
Cristian 2013) bahwa dukungan organisasi adalah persepsi seseorang terhadap
komitmen mereka pada organisasi tersebut dan kepedulian organisasi terhadap
kesejahteraan mereka, yang dapat meninbulkan komitmen karyawan untuk
tetap setia bekerja pada organisasi tersebut

Indikator Keterikatan Karyawan

  1. Kemauan karyawan dalam suatupekerjaan Karyawan berkemauan
    atau rasa ingin melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh.
  2. Semangat dalam bekerja Keinginan diri bekerja dengan sungguh
    untuk mencapai hasil yang diharapkan.
  3. Bangga terhadap pekerjaan merasa senang dan puas terhadap yang
    diraih atas usaha yang dilakukan untuk mencapai hasil yang
    diinginkan.
  4. Perasaan antusias perasaan senang dan semangat dalam menanggapi
    suatu pekerjaan.
  5. Karyawan berkonsentrasi penuh karyawan bekerja dengan fokus dan
    penuh hati-hati dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
  6. Merasa terpikat dengan pekerjaan karyawan menyukai pekerjaannya
    yang dilakukan dengan sepenuh hati tanpa adanya keterpaksaan.
  7. Sulit melepaskan diri dari pekerjaan karyawan tidak bisa melepaskan
    pekerjaanya karena karyawan merasa nyaman dengan kondisi kerja
    yang ada di lingkungan.

Dimensi Keterikatan Karyawan


Berikut ini penjelasan mengenai dimensiketerikatan karyawan
Schaufeli dan Bakker (2010)) sebagai berikut:

  1. Vigor ( Semangat )
    Kekuatan dikarakteristikkan dengan energy dan resiliensi mental yang
    tinggi ketika sedang bekerja, kemauan berusaha sungguh-sungguh dalam
    pekerjaan dan gigih dalam menghadapi kesulitan.Individu dengan skor
    tinggi pada aspek kekuatan biasanya memiliki energy dan stamina tinggi
    serta bersemangat ketika berkerja.Sedangkan individu dengan skor rendah
    pada aspek kekuatan memiliki tingkat energy semangat dan stamina yang
    rendah saat bekerja.
  2. Dedication( Dedikasi )
    Dedikasi mengacu pada perasaan yang penuh makna, antusias,
    inspirasi, kebanggaan dan tantangan.Individu yang memiliki skor tinggi
    pada aspek dedikasi secara kuat mengidentifikasi diri dengan pekerjaan
    karena adanya pengalaman bermakna, menginspirasi dan menantang.Selain
    itu, mereka selalu antusias dan bangga dengan pekerjaannya.Sedangkan
    individu dengan skor rendah tidak mengidentifikasi diri dengan
    pekerjaannya karena tidak memiliki pengalaman yang bermakna,
    menginspirasi dan menantang.
  3. Absorption (Keasyikan)
    Absorpsi atau keasyikan dikarakteristikkan dengan konsentrasi penuh,
    minat terhadap pekerjaan dan sulit melepaskan diri dari pekerjaan.Individu
    yang memiliki skor tinggi pada aspek absorpsi biasanya merasa tertarik
    dengan pekerjaan dan sulit untuk melepaskan diri dari pekerjaannya,
    begitupun sebaliknya

Pengertian Keterikatan Karyawan


Albrecht (2010) menyatakan bahwa keterikatan karyawan adalah
suatu kondisi psikologis dimana seseorang memiliki hubungan yang positif
dengan pekerjaannya (yang digambarkan dalam bentuk antusiasme,energi,
keinginan yang tinggi, dan kekuatan) yang memotivasi seseorang untuk
mendayagunakan seluruh usahadan kekuatan demi tercapainya tujuan dan
kesuksesan organisasi.
Menurut Schaufeli dan Bakker (2004), employee engagement
(keterikatan karyawan) adalah pemikiran positif, yaitu pemikiran untuk
menyelesaikan hal yang berhubungan dengan pekerjaan dan dikarakteristikkan
dengan vigor (resiliensi energi dan mental ketika bekerja), dedication
(berpartisipasi dalam pekerjaan mengalami rasa antusiasme dan tantangan),
dan absorption (konsenterasi dan senang dalam bekerja).
Robinson et al. (dalam Saks 2006) mendifinisikan keterikatan
karyawan sebagai sikap positif individu karyawan terhadap organisasi dan nilai
organisasi. Seorang karyawan yang memiliki tingkat keterikatan tinggi pada
organisasi memiliki pemahaman dan kepedulian terhadap lingkungan
operasional organisasi, mampu bekerja sama antara individu karyawan dengan
manajemen.
Scaufeli (dalam Indriati 2012), menyatakan bahwa terdapat beberapa
karakteristik karyawan yang memiliki keterikatan dengan pekerjaanya, seperti
memiliki keyakinan terhadap kemampuannya sendiri serta memiliki anggapan
bahwa “work is fun”. Sejalan dengan Scaufeli et al. (Saks 2006)
mendefinisikan keterikatan karyawan sebagai sesuatu hal yang positif,
memuaskan, sikap pandang yang berkaitan dengan pekerjaan yang ditandai
oleh kesungguhan (Vigor), dedikasi (dedication), dan penghayatan
(absorption).Keterikatan karyawan mengacu pada kondisi perasaan, dan
pemikiran yang sungguh- sungguh dan konsisten yang tidak hanya berfokus
pada objek, peristiwa individu atau perilaku tertentu.
Berdasarkan pengertian keterikatan karyawan dari beberapa pendapat
diatas, keterikatan karyawan merupakan seseorang memiliki hubungan yang
positif dengan pekerjaanya yang digambarkan dalam bentuk antusias dan
keinginan yang tinggi dan kekuatan yang memotivasi seseorang demi tercapai
tujuan dan kesuksesan organisasi.

Hubungan Variabel Lingkungan Kerja terhadap Motivasi Kerja


Mulyadi, (2015) mengemukakan lingkungan kerja organisasi adalah segala
sesuatu yang dapat memengaruhi kelangsungan, eksistensi, keberadaan, dan lain-lain
yang menyangkut organisasi baik dari dalam maupun dari luar. Sedangkan Manullang
dalam Agustina ika (2008), motivasi merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh
seorang manajer memberikan inspirasi, semangat dan dorongan kepada orang lain.
Lingkungan kerja dan motivasi kerja sangat berhubungan erat. Lingkungan kerja
yang baik dapat memberikan dampak positif pada motivasi karyawan, sementara
lingkungan kerja yang buruk dapat menyebabkan penurunan motivasi dan kinerja
karyawan. Hal tersebut dapat terjadi sebab adanya lingkungan kerja yang memberikan
dukungan, penguatan positif, dan dorongan kepada karyawan akan meningkatkan
motivasi mereka. Lingkungan kerja yang memperhatikan keseimbangan kehidupan
kerja dan kepuasan pekerjaan dapat meningkatkan motivasi karyawan. Ketika
karyawan merasa puas dengan pekerjaan mereka dan merasa bahwa pekerjaan mereka
memiliki arti dan nilai, motivasi mereka untuk bekerja keras dan berkinerja tinggi
meningkat. Lingkungan kerja yang memberikan pengakuan dan penghargaan atas
prestasi dan kontribusi karyawan akan meningkatkan motivasi mereka. Lingkungan
kerja yang mendukung kolaborasi, komunikasi terbuka, dan dukungan tim dapat
memperkuat semangat dan motivasi kerja. Dengan begitu apabila lingkungan kerja
semakin baik, maka motivasi kerja karyawan akan semakin baik. Sebaliknya apabila
lingkungan kerja semakin buruk maka motivasi kerja akan semakin turun.
Penelitian Purnama, dkk (2020), & Sukaisih, dkk. (2022) yang dalam
penelitiannya mendapatkan hasil bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap motivasi kerja karyawan

Hubungan Variabel Dukungan Organisasi terhadap Motivasi Kerja


Hasibuan (2017) dukungan organisasi dapat diartikan sebagai upaya yang
dilakukan oleh organisasi untuk memenuhi kebutuhan karyawan dan memberikan
sumber daya yang diperlukan agar karyawan dapat mencapai tujuan organisasi dan
meningkatkan kesejahteraan mereka. Sedangkan Manullang dalam Agustina ika
(2008), motivasi merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manajer
memberikan inspirasi, semangat dan dorongan kepada orang lain.
Salah satu penyebab selanjutnya yaitu dukungan organisasi terhadap motivasi
karyawan. Yang di mana, karyawan akan termotivasi apabila diberikan dukungan lebih
oleh pihak perusahaan. Sebab, karyawan dengan adanya dukungan, akan mempunyai
rasa senang. Seperti pemberian dukungan akan kinerja, penghargaan, fasilitas, serta
dukungan lain yang mempunyai dampak positif untuk karyawan. Dukungan organisasi
mencakup berbagai faktor yang ditawarkan oleh perusahaan atau organisasi kepada
karyawan untuk membantu mereka meraih keberhasilan, kesejahteraan, dan
memotivasi mereka untuk berkinerja tinggi. Organisasi yang menyediakan sumber
daya yang cukup bagi karyawan, seperti alat kerja, teknologi, pelatihan, dan bahan yang
diperlukan untuk menyelesaikan tugas, akan membantu meningkatkan motivasi.
ukungan organisasi melalui komunikasi yang jelas tentang harapan dan tujuan
pekerjaan membantu karyawan memahami apa yang diharapkan dari mereka. Ini
memungkinkan karyawan untuk memiliki pandangan yang jelas tentang bagaimana
kontribusi mereka berdampak pada kesuksesan organisasi secara keseluruhan, dan hal
ini dapat meningkatkan motivasi mereka. Maka dari itu, dukungan organisasi dapat
berpengaruh terhadap motivasi kerja. Jadi, apabila dukungan organisasi semakin baik,
maka motivasi kerja akan meningkat dan sebaliknya

Indikator Lingkungan Kerja



Sunyoto (2015), indikator dalam pengukuran lingkungan kerja adalah:

  1. Hubungan karyawan: dalam hubungan karyawan ini terdapat dua hubungan
    yaitu hubungan sebagai individu dan hubungan sebagai kelompok. Hubungan
    sebagai individu, motivasi yang diperoleh seorang karyawan datangnya dari
    rekan-rekan sekerja maupun atasan. Menjadi sebuah motivasi, jika hubungan
    karyawan dengan rekan sekerja maupun atasannya berlangsung harmonis.
  2. Tingkat kebersihan lingkungan: ingkungan kerja yang tidak tenang atau bising
    akan dapat menimbulkan pengaruh yang kurang baik yaitu adanya
    ketidaktenangan dalam bekerja. Bagi para karyawan tentu saja ketenangan
    lingkungan kerja sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan dan ini
    dapat meningkatkan produktivitas kerja.
  3. Peraturan kerja: peraturan kerja yang baik dan jelas dapat memberikan
    pengaruh yang baik terhadap kepuasan dan kinerja para karyawan untuk
    pengembangan karier di perusahaan tersebut. Dengan perangkat peraturan
    tersebut karyawan akan dituntut untuk menjalankan aktivitasnya guna
    mencapai tujuan perusahaan maupun tujuan individu dengan pasti. Di
    samping itu karyawan akan lebih termotivasi untuk bekerja lebih baik.
  4. Penerangan: penerangan dalam hal ini bukanlah terbatas pada penerangan
    listrik tetapi termasuk juga penerangan matahari. Hal ini sering kali karyawan
    memerlukan penerangan yang cukup, apalagi jika pekerjaan yang diperlukan
    menuntut ketelitian. Untuk melaksanakan penghematan biaya maka dalam
    usaha penerangan hendaknya diusahakan dengan sinar matahari.
  5. Sirkulasi udara, sirkulasi atau pertukaran udara yang cukup maka pertama
    yang harus dilakukan pengadaan ventilasi. Ventilasi harus cukup lebar
    terutama pada ruangan-ruangan yang dianggap terlalu panas.
  6. Keamanan lingkungan kerja dengan rasa aman akan menimbulkan ketenangan
    dan kenyamanan, di mana hal ini akan dapat memberikan dorongan semangat
    untuk bekerja. Keamanan yang dimasukkan ke dalam lingkungan kerja adalah
    keamanan terhadap milik pribadi karyawan

Faktor-Faktor Lingkungan Kerja


Berikut ini beberapa faktor yang di uraikan Sedarmayanti (2017) yang dapat
memengaruhi terbentuknya kondisi lingkungan kerja diantaranya adalah:

  1. Penerangan/Cahaya di Tempat Kerja: Penerangan atau cahaya di tempat kerja
    merujuk pada tingkat kecerahan atau intensitas cahaya yang ada di area kerja.
    Tingkat penerangan yang memadai sangat penting untuk kesehatan mata
    karyawan dan untuk menjalankan tugas dengan efisien. Cahaya yang baik juga
    dapat meningkatkan produktivitas dan konsentrasi.
  2. Temperatur di Tempat Kerja: Temperatur di tempat kerja mencakup suhu
    lingkungan di area kerja. Suhu yang nyaman dan sesuai dapat memengaruhi
    kenyamanan karyawan dan mencegah masalah kesehatan yang disebabkan
    oleh suhu yang ekstrem, seperti dehidrasi atau kedinginan.
  3. Kelembapan di Tempat Kerja: Kelembapan mengacu pada kadar air atau
    kelembaban udara di area kerja. Kelembapan yang tepat dapat membantu
    mencegah masalah pernapasan dan kulit serta meningkatkan kenyamanan dan
    kesejahteraan karyawan.
  4. Sirkulasi Udara di Tempat Bekerja: Sirkulasi udara merujuk pada aliran udara
    di area kerja. Sistem ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi
    konsentrasi polusi dalam udara dan menjaga udara tetap segar. Sirkulasi udara
    yang buruk dapat menyebabkan masalah kualitas udara dalam ruangan dan
    mengganggu kesehatan karyawan.
  5. Kebisingan di Tempat Kerja: Kebisingan di tempat kerja adalah tingkat suara
    atau kebisingan yang ada di lingkungan kerja. Paparan kebisingan yang tinggi
    secara terus-menerus dapat menyebabkan stres, gangguan tidur, dan masalah
    kesehatan lainnya. Oleh karena itu, pengendalian kebisingan penting untuk
    melindungi kesehatan dan produktivitas karyawan.
  6. Tata Warna di Tempat Kerja: Tata warna di tempat kerja mencakup pemilihan
    warna untuk dinding, lantai, dan elemen dekoratif lainnya. Warna dapat
    memengaruhi suasana hati dan mood karyawan. Pemilihan warna yang tepat
    dapat menciptakan lingkungan kerja yang menenangkan, energetik, atau
    kreatif, tergantung pada kebutuhan dan karakteristik pekerjaan.
  7. Dekorasi di Tempat Kerja: Dekorasi mencakup elemen-elemen seperti
    furnitur, gambar, tanaman hias, dan aksesori lainnya di tempat kerja. Dekorasi
    yang menyenangkan dan fungsional dapat meningkatkan suasana kerja dan
    memberikan nuansa yang positif bagi karyawan.
  8. Keamanan di Tempat Kerja: Keamanan di tempat kerja mencakup segala
    upaya untuk melindungi karyawan dari potensi bahaya dan cedera. Ini
    melibatkan implementasi peraturan keselamatan, pelatihan keselamatan,
    penggunaan peralatan pelindung diri, serta pemeliharaan peralatan dan
    fasilitas untuk mencegah kecelakaan dan insiden yang tidak diinginkan

Faktor-Faktor Lingkungan Kerja


Berikut ini beberapa faktor yang di uraikan Sedarmayanti (2017) yang dapat
memengaruhi terbentuknya kondisi lingkungan kerja diantaranya adalah:

  1. Penerangan/Cahaya di Tempat Kerja: Penerangan atau cahaya di tempat kerja
    merujuk pada tingkat kecerahan atau intensitas cahaya yang ada di area kerja.
    Tingkat penerangan yang memadai sangat penting untuk kesehatan mata
    karyawan dan untuk menjalankan tugas dengan efisien. Cahaya yang baik juga
    dapat meningkatkan produktivitas dan konsentrasi.
  2. Temperatur di Tempat Kerja: Temperatur di tempat kerja mencakup suhu
    lingkungan di area kerja. Suhu yang nyaman dan sesuai dapat memengaruhi
    kenyamanan karyawan dan mencegah masalah kesehatan yang disebabkan
    oleh suhu yang ekstrem, seperti dehidrasi atau kedinginan.
  3. Kelembapan di Tempat Kerja: Kelembapan mengacu pada kadar air atau
    kelembaban udara di area kerja. Kelembapan yang tepat dapat membantu
    mencegah masalah pernapasan dan kulit serta meningkatkan kenyamanan dan
    kesejahteraan karyawan.
  4. Sirkulasi Udara di Tempat Bekerja: Sirkulasi udara merujuk pada aliran udara
    di area kerja. Sistem ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi
    konsentrasi polusi dalam udara dan menjaga udara tetap segar. Sirkulasi udara
    yang buruk dapat menyebabkan masalah kualitas udara dalam ruangan dan
    mengganggu kesehatan karyawan.
  5. Kebisingan di Tempat Kerja: Kebisingan di tempat kerja adalah tingkat suara
    atau kebisingan yang ada di lingkungan kerja. Paparan kebisingan yang tinggi
    secara terus-menerus dapat menyebabkan stres, gangguan tidur, dan masalah
    kesehatan lainnya. Oleh karena itu, pengendalian kebisingan penting untuk
    melindungi kesehatan dan produktivitas karyawan.
  6. Tata Warna di Tempat Kerja: Tata warna di tempat kerja mencakup pemilihan
    warna untuk dinding, lantai, dan elemen dekoratif lainnya. Warna dapat
    memengaruhi suasana hati dan mood karyawan. Pemilihan warna yang tepat
    dapat menciptakan lingkungan kerja yang menenangkan, energetik, atau
    kreatif, tergantung pada kebutuhan dan karakteristik pekerjaan.
  7. Dekorasi di Tempat Kerja: Dekorasi mencakup elemen-elemen seperti
    furnitur, gambar, tanaman hias, dan aksesori lainnya di tempat kerja. Dekorasi
    yang menyenangkan dan fungsional dapat meningkatkan suasana kerja dan
    memberikan nuansa yang positif bagi karyawan.
  8. Keamanan di Tempat Kerja: Keamanan di tempat kerja mencakup segala
    upaya untuk melindungi karyawan dari potensi bahaya dan cedera. Ini
    melibatkan implementasi peraturan keselamatan, pelatihan keselamatan,
    penggunaan peralatan pelindung diri, serta pemeliharaan peralatan dan
    fasilitas untuk mencegah kecelakaan dan insiden yang tidak diinginkan

Fungsi Lingkungan Kerja


Safaria dalam Sunyoto (2015), lingkungan kerja memiliki dua fungsi utama
yaitu:

  1. Sebagai proses integrasi internal, di mana para anggota organisasi dapat bersatu,
    sehingga mereka akan mengerti bagaimana berinteraksi satu dengan yang lain.
    Fungsi integrasi internal ini akan memberikan seseorang dan rekan kerja lainnya
    identitas kolektif serta memberikan pedoman bagaimana seseorang dapat bekerja
    sama secara efektif.
  2. Sebagai proses adaptasi eksternal, di mana lingkungan kerja akan menentukan
    bagaimana organisasi memenuhi berbagai tujuannya dan berhubungan dengan pihak
    luar. Fungsi ini akan memberikan tingkat adaptasi organisasi dalam merespons
    perubahan zaman, persaingan, inovasi, dan pelayanan terhadap konsumen.
    Fungsi lingkungan kerja adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas
    dan prestasi kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja
    dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat
    yang artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam waktu yang
    ditentukan. (Suwandi, 2017)

Indikator Dukungan Organisasi
Beberapa indikator dukungan organisasi menurut Hasibuan (2017) yaitu sebagai
berikut:

  1. Dukungan emosional: Indikator ini mencakup adanya dukungan sosial dan
    emosional yang diberikan oleh atasan dan rekan kerja kepada karyawan.
    Dukungan emosional dapat ditunjukkan melalui perhatian, penghargaan,
    dukungan moral, dan empati yang diberikan kepada karyawan dalam
    menghadapi masalah atau tantangan.
  2. Dukungan instrumental: Indikator ini mencakup adanya dukungan dalam
    bentuk sumber daya dan bantuan praktis yang diberikan oleh organisasi kepada
    karyawan. Dukungan instrumental dapat berupa fasilitas, peralatan kerja yang
    memadai, akses ke pelatihan dan pengembangan, serta bantuan dalam
    menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan.
  3. Dukungan informasional: Indikator ini mencakup adanya dukungan dalam
    bentuk informasi yang relevan dan berguna yang diberikan oleh organisasi
    kepada karyawan. Dukungan informasional mencakup akses yang mudah
    terhadap informasi terkait pekerjaan, kebijakan dan prosedur organisasi, serta
    umpan balik yang konstruktif untuk membantu karyawan meningkatkan kinerja
    mereka.
  4. Dukungan karir: Indikator ini mencakup adanya dukungan dari organisasi
    dalam pengembangan karir dan pertumbuhan profesional karyawan. Dukungan
    karir dapat berupa kesempatan pelatihan dan pengembangan, jenjang karir yang
    jelas, mentoring atau pembimbingan, serta dukungan dalam mencapai tujuan
    karir yang diinginkan.
  5. Dukungan keseimbangan kerja-kehidupan: Indikator ini mencakup adanya
    dukungan dari organisasi dalam menciptakan keseimbangan antara kehidupan
    kerja dan kehidupan pribadi karyawan. Dukungan ini dapat berupa kebijakan
    fleksibilitas kerja, program kesejahteraan karyawan, cuti yang memadai, dan
    upaya untuk mengurangi beban kerja yang berlebihan

Faktor-faktor yang memengaruhi Dukungan Organisasi


Hasibuan (2017) mengidentifikasi beberapa faktor yang memengaruhi dukungan
organisasi. Berikut adalah beberapa faktor-faktor berikut:

  1. Kebijakan dan praktik manajemen sumber daya manusia (SDM): Kebijakan
    dan praktik SDM yang adil, transparan, dan konsisten dapat menciptakan iklim
    organisasi yang mendukung. Misalnya, kebijakan yang mengakui dan
    memberikan penghargaan pada prestasi kerja, keadilan dalam sistem
    penggajian, dan pengakuan atas kontribusi karyawan.
  2. Kepemimpinan yang mendukung: Kepemimpinan yang memperhatikan
    karyawan, memberikan arahan yang jelas, dan memberikan dukungan
    emosional dan instrumental dapat meningkatkan tingkat dukungan organisasi.
    Pemimpin yang memberikan perhatian pada kebutuhan karyawan, memberikan
    umpan balik konstruktif, dan mendukung perkembangan karir karyawan dapat
    menciptakan iklim yang positif.
  3. Budaya organisasi yang inklusif: Budaya organisasi yang menghargai
    keberagaman, kolaborasi, dan partisipasi karyawan dapat mempromosikan
    dukungan organisasi. Adanya norma-norma yang mendukung, saling percaya,
    dan saling peduli di dalam organisasi menciptakan lingkungan di mana
    karyawan merasa didukung.
  4. Keadilan organisasional: Keadilan dalam kebijakan, prosedur, dan
    pengambilan keputusan organisasi juga memengaruhi tingkat dukungan
    organisasi. Karyawan yang merasa diperlakukan secara adil dan merasa bahwa
    keputusan organisasi didasarkan pada kriteria yang objektif, merasakan tingkat
    dukungan yang lebih besar.
  5. Dukungan sosial: Interaksi positif antara karyawan, dukungan dari rekan kerja
    dan atasan, serta hubungan sosial yang baik dalam organisasi dapat
    memengaruhi tingkat dukungan organisasi. Dukungan sosial mencakup
    dukungan emosional, dukungan instrumental, dan akses ke sumber daya dan
    informasi yang relevan

Fungsi Dukungan Organisasi


Hasibuan (2017) menjelaskan fungsi-fungsi yang memengaruhi dukungan
organisasi:

  1. Meningkatkan kesejahteraan karyawan: Dukungan organisasi yang diberikan
    kepada karyawan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka secara
    keseluruhan. Dukungan tersebut dapat berupa dukungan emosional, dukungan
    instrumental, dan dukungan informasional. Dengan merasakan dukungan dari
    organisasi, karyawan dapat merasa lebih aman, puas, dan termotivasi dalam
    melaksanakan tugas-tugas pekerjaan mereka.
  2. Meningkatkan kepuasan kerja: Dukungan organisasi yang diberikan kepada
    karyawan juga dapat berdampak positif pada kepuasan kerja mereka. Ketika
    karyawan merasa didukung oleh organisasi, baik melalui dukungan dari atasan,
    rekan kerja, maupun sistem organisasi secara keseluruhan, mereka cenderung
    merasa puas dengan pekerjaan mereka. Hal ini dapat berkontribusi pada
    produktivitas dan kinerja yang lebih baik.
    Meningkatkan keterikatan karyawan: Dukungan organisasi juga berperan
    dalam meningkatkan keterikatan karyawan terhadap organisasi. Ketika
    karyawan merasakan dukungan yang kuat dari organisasi, mereka lebih
    cenderung mengembangkan rasa loyalitas, identitas, dan komitmen terhadap
    organisasi tempat mereka bekerja. Ini dapat membantu memperkuat ikatan
    antara karyawan dan organisasi, serta mengurangi kemungkinan turnover
    karyawan.
  3. Mengurangi stres dan kelelahan kerja: Dukungan organisasi dapat membantu
    mengurangi tingkat stres dan kelelahan kerja yang dialami oleh karyawan.
    Ketika karyawan merasa didukung, mereka dapat mengatasi tekanan dan
    tantangan dengan lebih baik. Dukungan organisasi dapat memberikan sumber
    daya dan bantuan yang diperlukan dalam menghadapi tuntutan kerja yang
    tinggi, sehingga membantu mengurangi risiko kelelahan dan burnout.
  4. Meningkatkan kinerja organisasi: Dukungan organisasi yang efektif juga dapat
    berdampak positif pada kinerja organisasi secara keseluruhan. Karyawan yang
    merasa didukung cenderung lebih termotivasi, berdedikasi, dan berkontribusi
    secara aktif dalam mencapai tujuan organisasi. Dukungan organisasi yang kuat
    juga dapat memfasilitasi kolaborasi, komunikasi yang efektif, dan inovasi, yang
    semuanya dapat meningkatkan kinerja dan keberhasilan organisasi.

Pengertian Dukungan Organisasi


Hasibuan (2017) dukungan organisasi dapat diartikan sebagai upaya yang
dilakukan oleh organisasi untuk memenuhi kebutuhan karyawan dan memberikan
sumber daya yang diperlukan agar karyawan dapat mencapai tujuan organisasi dan
meningkatkan kesejahteraan mereka. Sedangkan Rhoades, et al dalam Rosyiana (2019)
mengatakan bahwa dukungan organisasi dapat berarti menghargai kontribusi pegawai,
mendengar keluhan, merasa bangga akan hasil kerja atau prestasinya dan memenuhi
kebutuhan pegawai. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan dukungan organisasi
merupakan faktor yang perlu untuk diperhatikan oleh perusahan agar dapat berjalan
dengan efektif dan efisien.
Mujiasih (2015) Dukungan organisasi yang dirasakan adalah persepsi karyawan
tentang sejauh mana organisasi menghargai dan berkontribusi terhadap kesejahteraan
mereka. Dharmawan, Nurtjahjanti (2017) Persepsi dukungan organisasi adalah
keyakinan terhadap dukungan organisasi yang dikaitkan dengan kepedulian terhadap
kesejahteraan karyawan berdasarkan kontribusi yang telah diberikan individu kepada
perusahaan. Purnami (2017) mengungkapkan bahwa persepsi dukungan organisasi
juga dianggap sebagai keyakinan universal yang dipegang oleh setiap karyawan terkait
evaluasi kebijakan dan prosedur organisasi. Agustina (2012) Persepsi dukungan
organisasi, salah satu kekuatan yang memengaruhi perilaku guru untuk meningkatkan
perilaku atau kinerjanya. Saud (2016) Dukungan organisasi yang dirasakan oleh
karyawan menimbulkan rasa komitmen, karyawan tidak hanya merasa harus
berkomitmen terhadap atasannya, tetapi juga merasa berkewajiban untuk terlibat dalam
perilaku yang mendukung tujuan organisasi

Indikator Gaya Kepemimpinan


Hasibuan (2017), terdapat ada beberapa indikator gaya kepemimpinan yang
dijelaskan sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan otoritatif: Indikator ini mencakup adanya arahan dan keputusan
    yang jelas dari seorang pemimpin. Pemimpin yang memiliki gaya
    kepemimpinan otoritatif memberikan petunjuk yang jelas, memberikan
    keputusan dengan tegas, dan mengarahkan tim atau organisasi untuk mencapai
    tujuan yang telah ditetapkan.
  2. Kepemimpinan partisipatif: Indikator ini mencakup adanya partisipasi dan
    keterlibatan anggota tim atau organisasi dalam pengambilan keputusan.
    Pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan partisipatif melibatkan anggota
    tim dalam proses pengambilan keputusan, mendengarkan dan menghargai
    pendapat mereka, serta memfasilitasi kolaborasi dan kontribusi dari seluruh
    anggota tim.
  3. Kepemimpinan demokratis: Indikator ini mencakup adanya kesetaraan dalam
    pengambilan keputusan dan proses pengelolaan organisasi. Pemimpin yang
    memiliki gaya kepemimpinan demokratis memberikan kebebasan kepada
    anggota tim atau organisasi untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan
    keputusan, menghormati kebebasan individu, serta mendorong kerjasama dan
    dialog yang terbuka.
  4. Kepemimpinan transformasional: Indikator ini mencakup adanya pemimpin
    yang mampu menginspirasi dan memotivasi anggota tim atau organisasi untuk
    mencapai tujuan yang lebih tinggi. Pemimpin yang memiliki gaya
    kepemimpinan transformasional memiliki visi yang jelas, mampu
    menggerakkan emosi dan semangat anggota tim, serta mendorong inovasi dan
    perkembangan individu.
  5. Kepemimpinan servant (pelayanan): Indikator ini mencakup adanya pemimpin
    yang mementingkan pelayanan kepada anggota tim atau organisasi. Pemimpin
    yang memiliki gaya kepemimpinan servant mengutamakan kepentingan
    anggota tim, mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan mereka, serta
    berperan sebagai pelayan yang membantu dan memfasilitasi kesuksesan
    individu dan tim

Faktor yang memengaruhi gaya kepemimpinan


Hasibuan (2017), ada beberapa faktor yang memengaruhi gaya kepemimpinan.
Berikut adalah beberapa faktor-faktor tersebut:

  1. Karakteristik kepemimpinan individu: Faktor ini mencakup karakteristik
    pribadi seorang pemimpin, seperti kepribadian, nilai-nilai, sikap, dan tingkat
    kepercayaan diri. Karakteristik individu ini akan memengaruhi gaya
    kepemimpinan yang diadopsi oleh pemimpin.
  2. Pengalaman kepemimpinan: Faktor ini mencakup pengalaman seorang
    pemimpin dalam memimpin dan mengelola tim atau organisasi. Pengalaman
    kepemimpinan dapat membentuk pemahaman dan keterampilan kepemimpinan
    seseorang, dan dapat memengaruhi gaya kepemimpinan yang dijalankan.
  3. Konteks organisasi: Faktor ini mencakup karakteristik dan kebutuhan
    organisasi di mana seorang pemimpin beroperasi. Misalnya, ukuran organisasi,
    struktur organisasi, budaya organisasi, dan tuntutan tugas yang ada dalam
    organisasi dapat memengaruhi gaya kepemimpinan yang dipilih oleh
    pemimpin.
  4. Kepentingan anggota tim atau organisasi: Faktor ini mencakup kepentingan dan
    kebutuhan anggota tim atau organisasi yang dipimpin. Seorang pemimpin perlu
    memperhatikan kebutuhan dan preferensi anggota tim dalam mengadopsi gaya
    kepemimpinan yang efektif.
  5. Lingkungan eksternal: Faktor ini mencakup faktor-faktor eksternal yang
    memengaruhi organisasi dan pemimpin, seperti kondisi pasar, persaingan,
    regulasi pemerintah, dan tren industri. Lingkungan eksternal ini dapat
    memengaruhi pilihan gaya kepemimpinan yang diperlukan untuk menghadapi
    tantangan dan peluang yang ada

Tujuan Gaya Kepemimpinan


Hasibuan (2011) tujuan kepemimpinan adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kinerja organisasi: Salah satu tujuan utama kepemimpinan
    adalah meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan. Seorang pemimpin
    bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan
    memotivasi karyawan untuk mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan
    efisien.
  2. Mengembangkan dan memotivasi karyawan: Kepemimpinan juga bertujuan
    untuk mengembangkan potensi dan kemampuan karyawan agar dapat mencapai
    performa yang optimal. Seorang pemimpin harus dapat memberikan motivasi,
    arahan, dan dukungan kepada karyawan dalam mencapai tujuan pribadi dan
    profesional mereka.
  3. Menciptakan lingkungan kerja yang harmonis: Pemimpin bertujuan untuk
    menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan saling mendukung di mana
    karyawan dapat bekerja dengan baik bersama dan saling menghormati. Hal ini
    dapat membantu meningkatkan keterlibatan karyawan, kepuasan kerja, dan
    kolaborasi antar anggota tim.
  4. Mengembangkan visi dan strategi: Kepemimpinan juga bertujuan untuk
    mengembangkan visi jangka panjang dan strategi organisasi. Seorang
    pemimpin harus memiliki kemampuan untuk melihat gambaran besar,
    merumuskan tujuan jangka panjang, dan merancang strategi yang efektif untuk
    mencapai tujuan tersebut

Pengertian Gaya Kepemimpinan


Gaya Kepemimpinan adalah contoh perilaku yang dirancang sedemikian rupa
untuk mengarahkan bawahan dalam upaya memaksimalkan kinerja keseluruhan
bawahan mereka agar kinerja organisasi secara keseluruhan dan tujuan organisasi dapat
dimaksimalkan (Hidayat, 2018). Sedangkan Sutikno (2014) “Kepemimpinan dalam
organisasi diarahkan untuk memengaruhi orang-orang yang dipimpinnya, agar mau
berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh orang lain yang
memimpinnya”.
Kartono (2017) mengatakan kepemimpinan adalah suatu keterampilan
memengaruhi orang lain, bawahan, atau kelompok, mengarahkan perilaku bawahan
atau orang lain untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok. Ketika Edison et al
(2018) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu tindakan memengaruhi orang
lain ketika mereka sedang down ingin bekerja untuk menjadi sukses tujuan tertentu.
Senada dengan itu, Suwatno & Priansa (2018) menyatakan bahwa Kepemimpinan
adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh yang konstruktif lain untuk
melakukan usaha kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan desain

Indikator Motivasi Kerja


Indikator motivasi kerja teori hirarki kebutuhan Maslow dalam Sofyandi dan
Garniwa (2012) terdiri dari:

  1. Kebutuhan fisiologis (Physiological-need) kebutuhan manusia yang paling
    dasar yang merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan, minum,
    perumahan, oksigen, tidur dan sebagainya.
  2. Kebutuhan rasa aman (Safety-need). meliputi keamanan akan perlindungan dari
    bahaya kecelakaan kerja, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya dan
    jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak lagi bekerja.
  3. Kebutuhan sosial (Social-need). kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi dana
    interaksi yang lebih erat dengan orang lain. Dalam organisasi akan berkaitan
    dengan kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang
    baik, rekreasi bersama dan sebagainya.
  4. Kebutuhan penghargaan (Esteem-need) meliputi kebutuhan keinginan untuk
    dihormati, dihargai atas prestasi seseorang, pengakuan atas kemampuan dan
    keahlian seseorang serta efektifitas kerja seseorang.
  5. Kebutuhan aktualisasi diri (Self-actualization need). berkaitan dengan proses
    pengembangan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. Kebutuhan untuk
    menunjukkan kemampuan, keahlian dan potensi yang dimiliki seseorang

Faktor-faktor yang memengaruhi Motivasi Kerja


Hasibuan (2018) menjelaskan ada beberapa faktor yang memengaruhi motivasi
yaitu sebagai berikut:

  1. Faktor Intrinsik:
  • Pengakuan: Pengakuan atas prestasi kerja dan kontribusi karyawan
    dapat meningkatkan motivasi kerja mereka.
  • Pekerjaan yang menantang: Tantangan dalam pekerjaan dapat
    memberikan dorongan tambahan untuk mencapai hasil yang baik.
  • Otonomi: Memberikan kebebasan kepada karyawan untuk mengambil
    keputusan dan mengatur pekerjaan mereka sendiri dapat meningkatkan
    motivasi intrinsik.
  1. Faktor Ekstrinsik:
  • Gaji dan imbalan: Kompensasi yang adil dan imbalan yang memadai
    menjadi faktor ekstrinsik yang penting dalam memotivasi karyawan.
  • Kebijakan penghargaan: Kebijakan penghargaan yang jelas dan
    transparan, seperti bonus atau promosi, dapat menjadi faktor penggerak
    yang kuat.
  • Lingkungan kerja yang mendukung: Lingkungan kerja yang positif,
    kolaboratif, dan mendukung dapat memengaruhi motivasi karyawan
    secara positif.
  • Kebijakan pengembangan karir: Kesempatan pengembangan karir yang
    jelas dan jalan untuk promosi dapat meningkatkan motivasi kerja.
  1. Faktor Personal:
  • Nilai-nilai pribadi: Kesenjangan antara nilai-nilai pribadi seseorang
    dengan nilai-nilai organisasi dapat memengaruhi motivasi kerja.
  • Tujuan pribadi: Karyawan yang memiliki tujuan yang jelas dan terkait
    dengan pekerjaan mereka cenderung lebih termotivasi untuk mencapai
    tujuan tersebut.
  • Keterampilan dan kompetensi: Rasa percaya diri dalam melaksanakan
    tugas-tugas pekerjaan dan keterampilan yang relevan juga dapat
    memengaruhi motivasi kerja

Fungsi Motivasi Kerja


Menurut Sardiman (2007), fungsi motivasi ada 3 (tiga), yaitu:

  1. Mendorong manusia untuk berbuat, motivasi dalam hal ini merupakan motor
    penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
  2. Menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah tujuan yang hendak dicapai,
    sehingga motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus
    dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
  3. Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan perbuatan apa yang
    harus dikerjakan yang sesuai guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan
    perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Pengertian Motivasi


Manullang dalam Agustina ika (2008), motivasi merupakan pekerjaan yang
dilakukan oleh seorang manajer memberikan inspirasi, semangat dan dorongan kepada
orang lain. Sedangkan Robbin, dalam Andiyanto (2011) mengemukakan bahwa
motivasi adalah keinginan yang tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh
kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan individual. Oleh sebab itu,
dapat dibuat kesimpulan seorang individu melakukan sesuatu atas dasar keinginan serta
adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan.
Motivasi dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
Faktor eksternal yaitu: lingkungan kerja, pimpinan, perkembangan organisasi atau
tuntutan kerja, dorongan atau bimbingan dari atasan, dan kompensasi. Faktor internal,
yaitu: orang alami, tingkat pendidikan, pengalaman masa lalu, keinginan atau harapan
masa depan. (Wicaksono & Hermani, 2017). Hal ini diperlukan untuk memberikan
motivasi yang efektif kepada karyawan. Agar karyawan tidak selalu mengeluhkan hal-
hal yang sepele, tidak melanggar semua aturan yang diberikan perusahaan, dan juga
tidak saling menyalahkan sesama karyawan

Fungsi Manjemen Sumber Daya Manusia


Sutrisno (2017), mengemukakan fungsi-fungsi manajemen sumber daya
manusia adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi Manajerial, meliputi penentuan program sumber daya manusia yang
    akan membantu pencapaian tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.
  2. Fungsi Pengorganisasian, membentuk organisasi dengan merancang susunan
    dari berbagai hubungan antara jabatan, personalia, dan faktor-faktor fisik.
  3. Fungsi Pengarahan, mengusahakan agar karyawan mau bekerja secara efektif
    melalui perintah motivasi.
  4. Fungsi Pengendalian, mengadakan pengamatan atas pelaksanaan dan
    membandingkan dengan rencana dan mengoreksinya jika terjadi
    penyimpangan atau jika perlu menyesuaikan kembali rencana yang telah
    dibuat.
  5. Fungsi Operasional
    a. Pengadaan, perencanaan sumber daya manusia, perekrutan, seleksi,
    penempatan, dan orientasi karyawan, perencanaan mutu dan jumlah
    karyawan. Sedangkan perekrutan, seleksi, dan penempatan berkaitan
    dengan penarikan, pemilihan, penyusunan, dan evaluasi formulir lamaran
    kerja, tes psikologi, dan wawancara.
    b. Pengembangan, meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap
    karyawan agar dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kegiatan ini
    menjadi semakin penting dengan berkembangnya dan semakin
    kompleksnya tugas-tugas manajer.
    c. Kompensasi, pemberian penghargaan yang adil dan layak kepada
    karyawan sebagai jasa kerja mereka. Pemberian kompensasi merupakan
    tugas yang paling kompleks dan juga merupakan salah satu aspek paling
    berarti bagi karyawan ataupun organisasi.
    d. Integrasi, usaha-usaha untuk menyelaraskan kepentingan individu
    karyawan, organisasi, dan masyarakat. Untuk itu perlu memahami sikap
    dan perasaan karyawan untuk dipertimbangkan dalam pengambilan
    keputusan.
    e. Pemeliharaan, mencegah kehilangan karyawan-karyawan tetapi dimaksud
    untuk memelihara sikap kerja sama dan kemampuan bekerja karyawan
    tersebut.
    f. Pemutusan Hubungan Kerja, memutuskan hubungan kerja dan
    mengembalikannya kepada masyarakat. Proses pemutusan hubungan kerja
    yang utama adalah pensiun, pemberhentian, dan pemecatan

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia mempunyai tujuan (Sinambela, 2018). Berikut
tujuannya:

  1. Sasaran perusahaan, mengenal MSDM dalam rangkaian kontribusi atas
    efektivitas perusahaan (produktivitas dan laba).
  2. Sasaran organisasional, sasaran formal yang disusun untuk pencapaian tujuan
    organisasi.
  3. Sasaran fungsional, mempertahankan kontribusi departemen SDM sesuai
    kebutuhan organisasi (perekrutan, penempatan, dan penilaian).
  4. Sasaran sosial, tanggap dari sisi etika dan sosial akan kebutuhan dan kondisi
    masyarakat (keuntungan perusahaan, taat pada hukum, hubungan dengan
    serikat pekerja).
  5. Sasaran pribadi karyawan, pencapaian tujuan individu dalam organisasi yang
    memotivasi individu dalam bekerja

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia merupakan ilmu dan seni yang mengatur
hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya
tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat (Handoko, 2017). Oleh sebab itu,
manajemen sumber daya manusia merupakan faktor yang paling penting untuk
diperhatikan oleh pihak perusahaan. Apabila hal tersebut tidak mampu untuk dilakukan
dengan baik, akan membuat perusahaan mengalami kendala dalam mencapai tujuan
perusahaan.
Manajemen sumber daya manusia (MSDM) merupakan bidang strategis dari
organisasi. Manajemen sumber daya manusia harus dipandang sebagai perluasan dari
pandangan tradisional untuk mengelola orang secara efektif dan untuk itu
membutuhkan pengetahuan tentang perilaku manusia dan kemampuan mengelolanya.
Bermacam-macam pendapat tentang pengertian manajemen sumber daya manusia,
antara lain adanya yang menciptakan human resources, ada yang mengartikan sebagai
manpower management serta ada yang menyetarakan dengan pengertian sumber daya
manusia dengan personal (personalia, kepegawaian, dan sebagainya). Akan tetapi, pada
manajemen sumber daya manusia yang mungkin tepat adalah human resources
management (manajemen sumber daya manusia).
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah Mengelola Sumber Daya Manusia.
Dessler (1997) dalam Sutrisno (2017). manajemen sumber daya manusia dapat
didefinisikan sebagai suatu kebijakan atau praktik yang dibutuhkan seseorang yang
menjalankan aspek “orang” atau sumber daya manusia dari posisi seorang manajemen,
meliputi perekrutan, penyaringan, pelatihan, pengimbalan, dan penilaian. Sementara
itu Schuler, et al. (1992) dalam Sutrisno (2017). Sumber Daya Manusia (MSDM),
merupakan pengakuan tentang pentingnya tenaga kerja organisasi sebagai sumber daya
manusia yang sangat penting dalam memberi kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi,
dan menggunakan beberapa fungsi dan kegiatan untuk memastikan bahwa SDM
tersebut digunakan secara efektif dan adil bagi kepentingan individu, organisasi, dan
masyarakat.
Fokus MSDM terletak pada upaya mengelola SDM di dalam dinamika interaksi
antara organisasi-pekerja yang sering kali memiliki kepentingan berbeda. Menurut
Stoner (1995) dalam Sutrisno (2017), MSDM meliputi penggunaan SDM secara
produktif dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi dan pemuasan kebutuhan pekerja
secara individual. Jadi, MSDM dapat juga merupakan kegiatan perencanaan,
pengadaan, pengembangan, pemeliharaan, serta penggunaan SDM untuk mencapai
tujuan baik secara individu maupun organisasi. Mondy dan Noe dalam Marwansyah
(2016), mendefinisikan Manajemen Sumber Daya Manusia (human resource
management) sebagai pendayagunaan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan-
tujuan organisasi.
Sumber daya manusia menjadi satu-satunya sumber daya yang ada pada suatu
perusahaan yang memiliki keinginan, akal perasaan, pengetahuan, dorongan,
keterampilan, daya dan karya (Sutrisno, 2016). Agar bisnis dapat tumbuh dengan baik,
manajemen manusia yang baik adalah salah satu alasannya

Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Loyalitas Karyawan


Kepuasan kerja merupakan rasa puas atau tidaknya seorang karyawan atas pekerjaan
yang dijalankannya di perusahaan. Suparyadi (2015) berpendapat bahwa kepuasan kerja
merupakan suatu sikap positif yang didasarkan kepada hasil evaluasi terhadap apa yang
diharapkan akan diproleh melalui upaya-upaya yang dilakukan dalam melaksanakan suatu
pekerjaan dengan hasil atau ganjaran yang diterimanya. Seseorang yang memiliki tinggi
kepuasan kerja akan terdorong untuk setia dengan perusahaan. Namun seseorang yang yang
tidak mendapatkan kepuasan didalam pekerjaannya akan sulit loyal terhadap perusahaan.
Penelitian Aminudin dan Tasrif (220) menegaskan bahwa kepuasan kerja berefek
nyata terhadap loyalitas karyawan. Adanya kepuasan kerja akan menciptakan loyalitas yang
tinggi. Seorang karyawan yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi akan memiliki loyalitas
tinggi, sebaliknya seseorang yang tidak mendapatkan kepuasan di dalam pekerjaannya akan
mempunyai loyalitas yang rendah. Penelitian Zanabazar dan Jigjiddorj (2018) menyatakan
karyawan yang suka dengan pekerjaannya akan cenderung loyal dibandingkan karyawan
yang kurang puas di dalam pekrjaannya

Pengaruh Komunikasi Organisasi terhadap Loyalitas Karyawan


Komunikasi organisasi juga dapat mendukung terciptanya loyalitas karyawan.
Komunikasi organisasi adalah berlangsungnya proses penyampaian gagasan, harapan, dan
pesan yang disampaikan oleh individu kepada individu lain dalam organisasi. Purwanto
(2011:4) menjelaskan bahwa komunikasi organisasi adalah proses suatu pertukaran informasi
antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyal-
sinyal, maupun perilaku atau tindakan. Penelitian yang dilakukan Anisatusa’dyah dan Yusuf
(2020) menegaskan bahwa bahwa komunikasi dalam organisasi berefek nyata terhadap
loyalitas karyawan. Hasil ini mengindikasikan bahwa baik buruknya komunikasi dalam
organisasi akan berdampak kepada loyalitas karyawan

Pengaruh Persepsi Dukungan Organisasi terhadap Loyalitas Karyawan


Loyalitas karyawan tidak terlepas dari adanya persepsi dukungan organisasi. Persepsi
dukungan organisasi adalah penilaian individu atas penghargaan yang diberikan oleh
perusahaan terhadap kontribusi yang diberikan. Menurut Robbins (2016) persepsi dukungan
organisasi merupakan tingkat sejauh mana individu memiliki keyakinan bahwa organisasi
menghargai kontribusi mereka yang kemudian peduli terhadap kesejahteraan mereka.
Dengan demikian persepsi dukungan organisasi merupakan pandangan yang dimiliki oleh
karyawan atas rasa peduli organisasi kepada dirinya yang telah berkontribusi kepada
perusahaan.
Adanya persepsi dukungan organisasi yang positif akan mendorong karyawan untuk
setia dengan perusahaan. Sebaliknya, karyawan yang merasa perusahaan tidak memedulikan
kondisinya akan sulit untuk memberikan kesetiaannya kepada perusahaan. Hasil penelitian
yang dilaksankan Nuswantoro (2021) menegaskan bahwa dukungan organisasi mempunyai
pengaruh terhadap loyalitas. Hasil tersebut bermakna bahwa ada atau tidaknya dukungan
organisasi kepada karyawan akan berdampak kepada tinggi rendahnya loyalitas karyawan

Pengaruh Komunikasi Organisasi terhadap Kepuasan Kerja


Komunikasi organisasi turut mmbentuk loyalitas karyawan. Komunikasi organisasi
merupakan berlangsungnya proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang
disampaikan oleh individu kepada individu lain dalam organisasi. Purwanto (2011:4)
menjelaskan bahwa komunikasi organisasi ialah suatu proses pertukaran informasi antar
individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal,
maupun perilaku atau tindakan.
Penelitian yang dilakukan Anisatusa’dyah dan Yusuf (2020) menegaskan bahwa
bahwa komunikasi dalam organisasi berefek nyata terhadap loyalitas karyawan. Komunikasi
yang berjalan lancar dalam suatu organisasi yaitu terciptanya pertukaran informasi antara
pemberi dan penerima dengan baik akan menciptakan kepuasan karyawan di dalam
menjalankan pekerjaannya. Hasil ini mengindikasikan bahwa baik buruknya komunikasi
dalam organisasi akan berdampak nyata kepada terbentuknya loyalitas karyawan. Penelitian
Safari dkk (2019) menyatakan bahwa dengan adanya komunkasi organisasi yang
berlangsung dengan baik akan membantu terbentuknya kepuasan kerja karyawan di
perusahaan.

Pengaruh Persepsi Dukungan Organisasi terhadap Kepuasan Kerja


Menurut Robbins (2016) persepsi Analisa ini merupakan tingkat sejauh mana individu
memiliki keyakinan bahwa organisasi memberikan reward kontribusi mereka yang kemudian
peduli terhadap kesejahteraan mereka. Dengan demikian persepsi dukungan organisasi
merupakan pandangan yang dihargai oleh karyawan atas rasa peduli organisasi kepada
dirinya yang telah berkontribusi kepada perusahaan.
Adanya persepsi dukungan organisasi yang positif akan mendorong karyawan untuk
puas dengan pekerjaannya. Sebaliknya, karyawan yang merasa perusahaan tidak
memedulikan kondisinya akan sulit untuk merasa senang dengan jerih payah kerja yang
dilakukannya di perusahaan. Hasil penelitian Sari (2019) menegaskan bahwa dukungan
organisasi mempunyai dampak terhadap kepuasan kerja. Hasil tersebut bermakna bahwa ada
atau tidaknya dukungan organisasi kepada karyawan akan berdampak kepada tinggi
rendahnya kepuasan karyawan. Penelitian Maan, dll (2020) menyimulkan bahwa terdapat
hubungan antara pesepsi dukungan organisasi dan kepuasan kerja. Karyawan yang
mendapatkan dukungan psikologis akan lebih proaktif daripada karyawan yang tidak
mendapatkan dukungan psikologis dari perusahaan

Dimensi Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja dapat diukur dengan dimensi-dimensi kepuasan menurut Indeks
Deskriptif Jabatan (Job Descriptive Index). Menurut Smith (dalam Luthans, 2014) dimensi-
dimensi tersebut antara lain:
a. Atasan
1) Kesetiaan
2) Rasa keadilan,
b. Promosi
1) Peluang
2) Rasa keadilan mendapatkan promosi,
c. Benefit
1) Asuransi,
2) Fasilitas,
d. Contingen Reward
1) Rasa hormat,
2) Apresiasi,
e. Operating Procedure
1) Aturan,
2) Procedur

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja tidak semata-mata timbul dengan sendirinya. Kepuasan kerja timbul
karena adanya beberapa faktor yang mendorong karyawan merasa puas atas pekerjaannya.
Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mendorong timbulnya kepuasan kerja dalam diri
karyawan menurut (Abdus, 2014)
a. Faktor instrinsik
Merupakan faktor yang berasal dari diri karyawan dan dibawa oleh setiap karyawan
sejak mulai bekerja di mana dia bekerja.
b. Faktor ekstrinsik
Menyangkut hal-hal yang berada dari luar karyawan, antara lain kondisi fisik lingkungan
kerja, sistem penggajian dan interaksinya dengan karyawan lain.
Sementara itu Robbins memiliki pendapat lain mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja. Berikut ini merupakan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja menurut Robbins (2016):
a. Pekerjaan yang Menantang
Menurut Robbins (2016:36), Pekerjaan yang menantang adalah pekerjaan yang
memberikan kesempatan untuk menggunakan kemampuan, ketrampilan dan
menawarkan satu varietas tugas, umpan balik dan kebebasan tentang seberapa baiknya
melakukan pekerjaan yang secara praktek sangat menantang.
b. Ganjaran yang Pantas
Imbalan yang pantas, dan atau imbalan yang layak adalah merupakan keinginan
karyawan akan kebijakan promosi dan sistem upah yang mereka pandangan sebagai adil
dan segaris dengan pengharapan mereka. Bila upah dilihat sebagai adil yang didasarkan
pada tuntutan pekerjaan, tingkat ketrampilan individu, dan standar pengupahan
komunitas, kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. Serupa pula karyawan
berusaha mendapatkan praktik promosi yang adil, karenaa promosi memberikan
kesempatan untuk pertumbuhan pribadi, status sosial dan tanggung jawab yang
ditingkatkan. Oleh karenaa itu individu-individu yang berpandangan bahwa
keberagaman promosi dibuat dalam cara yang adil (Robbins, 2015:35).
c. Kondisi Kerja yang Mensupport
Menurut Robbins (2002:36), Kondisi kerja ini disampaikan bahwa para karyawan
memperhatikan lingkungan kerja mereka yang memperhatikan kenyamanan pribadi
maupun kemudahan untuk dapat bekerja dengan baik. pembelajaran menunjukkan
bahwa karyawan sangat peduli pada lingkungan fisik yang tidak berbahaya atau yang
nyaman. Selain itu kebanyakan karyawan lebih suka bekerja tidak jauh dari rumah,
dalam fasilitas yang bersih dan relatif modern, dan dengan alat dan perlengkapan yang
memadai. Kondisi kerja ini adalah berdasarkan lingkungan fisik dan non-fisik, yang
merupakan faktor penting dalam memberikan kepuasan kerja karyawan. Kondisi
lingkungan fisik: dingin, berdebu, panas, bising, dan lain-lain. Termasuk di sini adalah
kondisi tempat, penyinaran, ventilasi, kantin, dan tempat parkir.Sedangkan lingkungan
non-fisik diantaranya adalah lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
d. Rekan Kerja yang Mendukung
Menurut Robbins (2016:36): “Dari kerja orang mendapatkan hasil lebih dari sekadar
uang atau prestasi yang berwujud. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi
kebutuhan akan interaksi sosial”. Oleh karenaa itu tidak heran setiap orang memiliki
rekan kerja yang supportif dan bersahabat dapat meningkatkan kepuasan kerja. Perilaku
dari pimpinan juga merupakan faktor utama pada kepuasan kerja. Studi-studi umumnya
memberikan manfaat bahwa kepuasan karyawan ditingkatkan bila penyedia langsung
akan dapat memahami dan secara bersahabat, memberikan pujian atas kinerja hasil kerja
yang baik, mendengarkan keluh kesah karyawan dan menunjukkan minat pribadi
terhadap mereka. Kepuasan kerja karyawan akan dapat tercapai bilamana pimpinan
langsung dapat memahami, bersahabat dan memberikan pujian atas kinerja karyawan
yang baik, mendengarkan pendapat karyawan, dan menunjukkan minat pribadi terhadap
mereka. Rekan sekerja yang mendukung mengandung arti bahwa seseorang
mendapatkan lebih dari pada sekedar prestasi dan uang yang berwujud dari dalam kerja,
tetapi kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi sosial, sehingga berharap penting
bagi mereka untuk memiliki rekan kerja yang sama smaa mendukung dan dapat bekerja
dengan baik. Dalam hal ini Luthans (2014:152) menambahkan bahwa selain pengaruh
teman sekerja, juga pengaruh atasan pada kepuasan kerja, seperti perhatian pimpinan
akan tingkat kesejahteraan pegawai/karyawan, bimbingan dan bantuan untuk melakukan
pekerjaan, komunikatif, serta mau melibatkan diri dalam pekerjaan akan menimbulkan
kepuasan kerja

Teori-Teori Kepuasan Kerja


Curphy dkk (2012) menyatakan bahwa teori tentang kepuasan kerja dapat
dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam teori, yaitu:
a. Teori Afektivitas
Mengacu pada kecendrungan seseorang untuk bereaksi terhadap rangasangan dalam
sikap emosi yang konsisten. Orang-orang dengan kecenderungan negatif secara tetap
bereaksi terhadap perubahan, peristiwa dalam sikap negatif sehingga tidak bahagia.
Sedangkan afektivitas positif secara konsisten bereaksi terhadap perubahan dengan sikap
positif.
b. Equity Theory (Teori Keseimbangan)
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Adam (1963). Prinsip teori ini adalah orang
akan merasakan puas atau tidak, tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan
(equity) atau tidak dalam situasi, diperoleh dengan cara membandingkan dirinya dengan
orang lain yang sekelas, sekantor maupun di tempat lain.
c. Two Factor Theory (Teori Dua Faktor) dari Herzberg
Teori ini menyatakan ada dua faktor yang dapat memberikan kepuasan dalam bekerja.
Kedua faktor tersebut adalah :
1) Sesuatu yang akan memotivasi (motivator)
Faktor ini antara lain faktor prestasi, penghargaan dan pengakuan, faktor tanggung
jawab, faktor memperoleh perkembangan dan kemajuan dalam bekerja khususnya
faktor pekerjaan atau promosi.
2) Kebutuhan kesehatan lingkungan kerja (hygiene factors)
Faktor ini dapat berbentuk upah/gaji, kondisi kerja, hubungan antara pekerja,
kebijaksanaan dan proses administrasi perusahaan

Pengertian Kepuasan Kerja


Suatu efektifitas atau respon emosional terhadap aspek pekerjaan. Kepuasan kerja
merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaan yang didasarkan atas aspek-aspek
pekerjaan. Kepuasan kerja merupakan masalah yang cukup menarik dan penting, baik bagi
individu sebagai pekerja maupun bagi perusahaan. Seorang manajer perlu menciptakan
lingkungan kerja yang dapat memenuhi kebutuhan atau motif pekerjaannya, guna terciptanya
tujuan organisasi sebagaimana yang diharapkan. Berikut ini terdapat beberapa pendapat ahli
tentang pengertian kepuasan kerja, yaitu:
Menurut Robbins dan Judge (2015: 78) kepuasan kerja merupakan “sikap umum
pada kegiatan personal yang menunjukkan bentuk suatu perbedaan antara jumlah
penghargaan yang diterima oleh pekerja serta jumlah yang mereka yakini seharusnya
mereka terima”. Kepuasan kerja merupakan respon afektif atau emosional terhadap berbagai
segi atau aspek pekerjaan seseorang sehingga kepuasan kerja bukan merupakan konsep
tunggal. Seseorang bisa dikatakan relatif puas dengan beberapa bidang pekerjaan dan kurang
puas dengan satu atau lebih aspek lainnya (Hasibuan, 2016:202).
Kepuasan Kerja merupakan indikasi sikap (positif) yang terjadi pada tenaga kerja
manusia terhadap hasil pekerjaan yang timbul berdasarkan penilaian terhadap proses situasi
kerja. Penilaian sedini mungkin dapat dilaksanakan terhadap salah satu rutinitas kerja,
penilaian dilakukan sebagai rasa menghargai dalam meraih nilai penting dalam pekerjaan.
Karyawan yang puas lebih mencintai situasi kerjanya daripada kurang menyukainya.
Perasaan yang berhubungan dengan puas dan ketidak puasan kerja cenderung mencerminkan
penilaian dari tenaga kerja tentang pengalaman kerja pada waktu sekarang dan masa lalu
daripada harapan untuk masa depan. Sehingga dapat disimpulkan terdapat dua pola kerja
penting dalam kepuasan kinerja yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-Kebutuhan dasar
(Robbins & Judge, 2015:46).
Definisi lain dikemukakan oleh Kinicki dan Fugate (2012) yang menyatakan bahwa
kepuasan kerja merupakan rangkaian tanggapan afektif atau emosi terhadap berbagai bentuk
kerja seseorang. Pengertian ini menyatakan bahwa kepuasan kerja bukanlah konsep tunggal.
Tepatnya orang sangat bisa relatif puas pada satu atau beberapa aspek pekerjaannya tetapi
mungkin tidak puas dengan satu kegiatan atau bidang lain dari pekerjaannya. Sedangkan
menurut Suparyadi (2015) kepuasan kerja dapat digolongkan pada suatu sikap positif suatu
bentuk pekerjaan dimana sesuai hasil atau jerih payah yang diterimanya.
Menurut Herman (dalam Yanuardini, 2014) kepuasan kerja berbentuk pada sikap
umum seseorang dalam menghadapi pekerjaannya personal yang tinggi kepuasan kerjanya
memiliki sikap positif terhadap pekerjaannya, sedangkan seseorang yang tidak memperoleh
kepuasan didalam pekerjaannya memiliki sikap yang negatif terhadap pekerjaannya

Faktor Loyalitas Kerja


Steers & Porter (dalam Sari dan Widyastuti, 2008) menyatakan bahwa terciptanya
loyalitas pada kerja dipengaruhi oleh :
a. karakteristik pribadi meliputi masa kerja, usia, jenis kelamin, ras, prestasi yang dimiliki,
tingkat pendidikan dan sifat kepribadian
b. Karakteristik pekerjaan meliputi job enrichment, stress kerja, tantangan kerja,
kesempatan untuk berinteraksi sosial, identifikasi tugas, kecocokan tugas, dan umpan
balik tugas
c. Karakteristik desain perusahaan/organisasi yang dapat dilihat dari sentralisasi, tingkat
keikutsertaan dalam proses pengambilan keputusan, tingkat formalitas, paling tidak bisa
selalu menunjukkan berbagai tingkat asosiasi disertai tanggung jawab perusahaan;
d. Pengalaman kerja yang pernah diperoleh dalam perusahaan dan organisasi yaitu
internalisasi individu kepada perusahaan setelah menjalankan pekerjaan

Aspek Loyalitas Kerja.


Steers dan Porter (1983) menjeaskan beberapa aspek loyalitas yaitu motivasi yang
kuat, motivasi untuk bekerja semaksimalnya dan memiliki keyakinan yang pasti terhadap
nilai-nilai perusahaan. Sedangkan (Nitisemito, 2015 ) menekankan aspek loyalitas pada
aktivitas kerja karyawan antara lain: mentaati peraturan, menunjukkan sikat kerja yang
bertanggung jawab. Sekap mentaati peraturan ditunjukkan dengan mempunyai tekad dan
kesediaan untuk mematuhi segala peraturan, perintah perusahaan serta tidak melanggar
larangan yang ditetapkan baik secara lisan dan tertulis. Tanggung jawab yang dicirikan
dengan kesediaan karyawan dalam melakukan pekerjaan dengan hasil terbaik dan kesadaran
terhadap resiko dalam mengemban tugas akan memberikan pemahaman tentang kesediaan
dan keberanian merasa mendapat tanggung jawab akan menciptakan loyalitas kerja. Aspek
loyalitas menurut Kurniawan (2015) adalah : a) Taat dan patuh, b) tanggung jawab, c)
pengabdian, d) kejujuran. Taat adalah kesanggupan seorang karyawan untuk mematuhi
segala peraturan perusahaan yang berlaku dan mematuhi perintah atasan, serta bersedia tidak
melanggar aturan yang ditetapkan. Tanggung jawab ditandai dengan kesediaan seorang
karyawan dalam melaksanakan pekerjaan sampai selesai dengan hasil yang baik, tepat waktu
serta berani menanggung resiko terhadap keputusan yang dibuat atau tindakan yang diambil.
Pengabdian, yaitu sumbangsih ide dan tenaga kepada perusahaan dengan penuh keikhlasan
dan kejujuran, adanya keserasian antara yang diucapkan dengan kenyataan. Dari keterangan
diatas dapat diartikan bahwa loyalitas kerja merupakan kesetiaaan karyawan terhadap
perusahaan. Seseorang karyawan dengan loyalitas kerja yang tinggi akan memiliki motivasi
yang tinggi untuk tetap menjadi berada di perusahaan, motivai yang tinggi untuk
mengembangkan perusahaan, mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan.