Menurut (Goleman, 2019) emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk
bertindak dan rencana seketika untuk mengatasi suatu masalah. Akar kata emosi
adalah movere yang artinya menggerakkan, bergerak, menyiratkan bahwa
kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. (Goleman, 2015:
410) mengelompokkan emosi dalam golongan-golongan besar yaitu:
- Amarah: beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa
pahit, berang, tersinggung, bermusuhan dan barang kali yang paling
hebat, tindak kekerasan dan kebencian patologis - Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri,
kesepian, ditolak, putus asa, dan kalau menjadi patologis, depresi berat - Rasa takut: cemas, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali,
waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, sebagio patologi fobia dan panik. - Kenikmatan: bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur,
bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa
terpenuhi, kegirangan luar biasa senang sekali dan batas ujungnya. - Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat,
bakti, hormat, kemesraan, kasih - Terkejut: terkesiap, terkejut, takjub, terpana
- Jengkel: hina, jijik, muak, mual, tidak suka, mau muntah
- Malu: malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib dan hati hancur lebur
Kecerdasan emosi merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan sendiri
dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan
mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang
lain (Goleman, 2015)
Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan
emosi adalah kemampuan individu dalam mengelola emosi meliputi kemampuan
mengendalikan dorongan diri dan keinginan, mengontrol sikap dan perilaku.
Sehingga individu dapat diterima di lingkungan sosial dan dapat mengenali
perasaan orang lain
