Adapun ciri-ciri karyawan yang mempunyai loyalitas tinggi pada perusahaan, antara
lain adalah:
a. siap bekerja berdedikasi tinggi
b. bangga terhadap kinerja perusahaan,
c. merasa terinspirasi
d. siap mengorbankan kepentingan pribadi
e. merasa ada kesesuaian nilai dengan perusahaan.
Kurniawan (2015) mengutarakan beberapa indikator loyalitas kerja antara lain:
a. patuh terhadap peraturan seperti, mematuhi segala undang-unadang dan peraturan yang
berlaku, kerja yang diberikan pimpinan yang berwenang, selalu mematuhi jam kerja
yang sudah ditetapkan
b. mempunyai tanggung jawab mampu menyelesaikan tugas secara tepat waktu dan dengan
hasil yang baik, selalu memelihara barang-barang perusahaan dengan sebaik-baiknya,
mengutamakan kepentingan perusahaan dari kepentingan pribadi, tidak pernah
menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dibuatnya.
c. menyumbangkan pemikiran dan tenaga secara ikhlas kepada perusahaan
d. jujur, antara lain selalu melaksanakan tugas secara ihlas tanpa merasa dipaksa, tidak
menyalah gunakan wewenang yang dipercayakan padanya dan melaporkan hasil
kerjanya kepada pimpinan secara apa adanya
Pengertian Loyalitas Kerja
Loyalitas kerja didefiniskan oleh Sudimin (2003) sebagai kesediaan karyawan untuk
turut berpartisipasi mencapai tujuan perusahaan dengan dengan mempergunakan semua
kemampuan, keterampilan, pikiran, waktu dan menjaga data nama perusahaan untuk tidak
melakukan kegiatan yang mengakibatkan perusahaan rugi. Loyalitas dirumuskan oleh
Sudimin (2003) sebagai jasa bakti kita kepada seseorang dan tidak menjadi pengkhianat
ketika dibutuhkann. Robbins (2015) mengutarkan bahwa loyalitas adalah kerelaan untuk
memproteksi serta menyelamatkan perasan dan fisik seseorang. Siswanto (2005)
mengartikan loyalitas sebagai suatu tekad dan kesediaan mematuhi, melakukan, dan
mendistribusi perintah yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran.
Agustian (2009) mendefinisikan loyalitas sebagai kesetiaan terhadap prinsip yang diyakini.
Loyalitas karyawan didefiniskan sebagai sikap emosional yang menggembirakan dan
menyukai pekerjaannya (Dessler, 2015. Pada dasarnya loyalitas berarti sebagai kesetiaan
terhadap seseorang pada suatu hal bisa berupa kesetian fisik maupun non fisik seperti
perhatian dan pikiran. Untuk bisa sukses dalam mencapai tujuan perusahan maka perusahaan
mutlak memerlukan karyawan dengan loyalitas tinggi. Hasibuan (2016) berpendapat bahwa
karyawan menunjukkan loyalitas dengan keikhlasan karyawan untuk membela dan menjaga
perusahaan tempat bekerja dari gangguan orang yang ingin menjatuhkan perusahaan.
Pendapat serupa diutarakan oleh Poerwadarminta (2002) loyalitas merupakan kepercayaan,
pengabdian dan kesetiaan yang dipersembahkan kepada seseorang atau instansi, dimana
didalamnya ada tanggung jawab dan cinta serta berperilaku dan memberikan pelayanan
terbaik. Nitisemito (2015) mengutarakan, loyalitas terhadap perusahaan adalah sikap yaitu
seberapa jauh seseorang karyawan mengidentifikasikan perusahaan tempat dimana dia
bekerja dengan menunjukkan keinginan bekerja dan berusaha yang terbaik dan loyalitas yang
diberikan untuk perusahaan merupakan perilaku, yaitu suatu keputusan seseorang untuk tetap
tinggal di perusahaan. Robbins (2006) berpendapat bahwa loyalitas berhubungan dengan
tingkat kepercayaan yaitu suatu keinginan untuk menyelamatkan dan melindungi seseorang.
Apabila loyalitas dan kepercayaan terhadap organisasi dimiliki oleh seseorang, maka orang
tersebut rela berkorban dan berjasa dengan hal apa yang diyakininya. Dengan demikian,
loyalitas mempunyai korelasi positif terhadap tingkat kepuasan, semakin tinggi level
kepercayaan karyawan kepada perusahaan, maka level loyalitas karyawan terhadap
perusahaan juga semakin tinggi. Purwopoespito (2014), mengutarakan loyalitas yang terjadi
pada pekerjaan dicerminkan oleh sikap karyawan yang mendedikasikan keahliannya,
melakukan pekerjaan dengan tanggung jawab, jujur dan disiplin dalam bekerja. Loyalitas
kerja para karyawan terhadap perusahaan akan dapat menciptakan rasa tanggung jawab dan
menimbulkan semangat dan motivasi kerja (Nitisemito, 2015). Agar dapat menciptakan
loyaIitas karyawan terhadap perusahaan maka perusahaan harus berusaha agar karyawan
merasa ikut memiliki perusaan. Dengan perasaan ikut memiliki perusahaan maka karyawan
akan juga ikut merasakan perkembangan perusahaan. Berdasarkan definisi yang diutarakan
oleh para ahli diatas, dapat diambil kesimpulkan bahwa loyalitas kerja adalah merupakan
kesetiaaan karyawan terhadap perusahaan yang ditunjukkan melalui keinginan yang kuat
untuk tetap berada dalam perusahaan dan bekerja dengan baik untuk kemajuan perusahaan
tersebut serta rela berkorban dan melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Menurut Runtu (2014) Loyalitas hanya mungkin bisa dianggap sebagai bentuk yg
terjadi dengan sendirinya apabila seorang karyawan bergabung. Pada saat organisasi
menginginkan salah satu karyawan yang loyal, organisasi harus mengupayakan supaya
berubah kepada tingkatan lebih tinggi. Dengan apa yang terjadi karyawan tersebut sungguh
senang akan merasa “suka-duka” organisasi. Oleh karena itu loyalitas meliputi kesediaan
tetap harus bertahan, memiliki bentuk produktivitas standard. Loyalitas jangan diartikan
sebagai sesuatu yang terjadi dengan sendirinya ketika seorang karyawan bergabung di dalam
organisasi. Karyawan yang memiliki loyalitas yang rendah karena sifat karakternya,
kekecewaan pada karyawan, dan sikap dari atasan, serta perasaan secara negatif, seperti
meninggalkan organisasi, organisasi lain sangat menguntungkan, tidak dapat mendapat
manfaat, dan menyesali bergabung pada suatu organisasi.
Indikator Komunikasi Organisasi
Baik buruknya komunikasi organisasi dapat diukur dengan indikator dalam
komunikasi pada organisasi yang dikemukakan beberapa ahli seperti Suliyem (2016):
a. Kenyataan pesan yang disampaikan sesama individu
b. Kesamaan pemahaman makna berasal pada pesan diantara anggota semua organisasi
c. Adanya umpan balik antara anggota organisasi
Sedangkan Purwanto (2011) mengemukakan bahwa dimensi dan indikator dari
komitmen organisasi antara lain yaitu:
a. Dimensi Vertikal
1) Komunikasi yang berasal dari atas ke bawah. Indikatornya yaitu perintah, prosedur,
teguran dan pujian.
2) Komunikasi yang berasal dari bawah ke atas. Indikatornya yaitu saran dan laporan
pekerjaan.
b. Dimensi Horizontal
Indikatornya yaitu informasi, koordinasi tugas dengan bagian yang sama dan rapat.
c. Dimensi Diagonal
Indikatornya yaitu informasi diterima dengan cepat, hubungan antar divisi dan
koordinasi dengan bagian lain.
Komponen Komunikasi Organisasi
Menurut Muhammad (2014:17), Secara teknis dapat dilakukan bahwa komunikasi
organisasi melibatkan :
a. Pengirim pesan atau komunikator
adalah individu mengirim pesan. Pesan atau informasi akan diberikan berasal dari otak
pengirim pesan. Oleh karena itu proses sebelum pengirim mengirimkan pesan, pengirim
harus menciptakan pesan yang akan dikirimkannya.
b. Pesan
adalah informasi yang dapat dikirimkan pada komunikan. Pesan dapat berupa pesan
verbal atau non verbal. Pesan verbal itu bisa lisan dan juga bisa tulisan, sedangkan pesan
non verbal bisa berupa gerak tubuh, nada suara, ekspresi muka dan lain lain.
c. Saluran
adalah jalan yang dilalui pesan dari komunikator dengan komunikan. Channel yang
biasa dalam komunikasi adalah gelombang cahaya serta suara yang bisa kita lihat dan
dengar, akan tetapi alat yang digunakan itu berbeda-beda.
d. Penerima pesan atau komunikan
adalah yang menganalisis serta menginterpretasikan pesan yang di terimanya.
e. Balikan (Feedback)
adalah respon terhadap pesan yang diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan
atau komunikator. Dengan diberikannya reaksi ini kepada komunikator, komunikator
akan dapat mengetahui apakah pesan yang disampaikan dilaksanakan bersama selaras
dengan kesamaan yang disebut dengan komunikator
Arah dan Tujuan Komunikasi Organisasi
Menurut Robbins (2016:7) arah komunikasi terdiri dari:
a. Komunkasi dari atas ke bawah
Bentuk pembicaraan yang di dapati dari satu tingkatan pada suatu perkumpulan
organisasi ke tingkatan lebih rendah disebut komunikasi ke bawah. Komunikasi inilah
yang diberikan oleh pemimpin kelompok, manajer dalam menetapkan suatu tujuan,
menyampaikan bentuk instruksi, menginformasikan kebijakan dan prosedur kepada
karyawan, menunjukkan persoalan yang membutuhkan perhatian dan menawarkan
umpan balik mengenai kinerja.
b. Komunkasi dari bawah menuju atas
Komunikasi ke atas dapat mengalir menuju kepada tingkatan yang lebih tinggi pada
salah satu kelompok dan organisasi. Komunikasi dapat dilakukan untuk membuat
peranan penting kepada orang–orang yang memegang kekuasaan, member mereka
informasi mengenai proses pencapaian tujuan, dan menyampaikan masalah–masalah
terkait.
c. Komunkasi lateral
Komunikasi terjadi antara anggota berdasar pada kelompok kerja seperjuangan, antara
anggota dari lingkungan perusahaan pada tingkatan yang sama, sesama manajer pada
tatanan yang sama atau diantara individu–individu yang setara secara horizontal.
Menurut Wahjono (2015:218), komunikasi organisasi menjalanan empat fungsi
yaitu:
a. Fungsi kendali (kontrol/pengawasan)
Komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku pada kelompok pekerja supaya
mereka mematuhi total aturan dan hierarki yang diberikan wewenang dalam organisasi.
b. Fungsi motivasi
Dengan komunikasi dapat menjelaskan pada anggota apa yang harus dikerjakan dan
bagimana dapat bekerja lebih baik.
c. Fungsi pengungkapan emosi
Dengan komunikasi anggota dapat mengexpresikan ketidak puasan atau rasa puas tidak
terhingga yang mereka rasakan.
d. Fungsi informasi
Dengan komunikasi semua keputusan dapat diambil dan dapat diteruskan pada semua
anggota orgnisasi.
Sementara Menurut Bungin (2013) fungsi komunikasi dikatakan menjadi 4 dalam
organisasi yaitu fungsi informatif, regulatif, persuasif, serta integratif dijelaskan sebagai
berikut:
a. Informasi dalam sebuah organisasi sangat dibutuhkann dalam mengerjakan pekerjaan
tepat, baik dari pimpinan yang memberi informasi, maupun bawahan yang
membutuhkan informasi. Informasi juga dibutuhkann dalam mengatasi konflik, sebagai
contoh menghindari miscommunication atau misunderstanding, dan bisa untuk
menetapka suatu kebijakan.
b. Regulatif merupakan bentuk aturan yang berlaku dalam sebuah bentuk menejerial. Ada
2 regulatif pada suatu organisasi. Pertama, pimpinan organisasi memiliki kuasa memberi
perintah, intruksi kerja, membuat standar operation dalam bekerja. Kedua, anggota atau
bawahan membutuhkan bentuk peraturan dan wajib dipatuhi. Berikut harus diketahui
dan di pahami bawahan untuk menjalankan perintah atasan:
1) Kejelasan atasan menyampaikan perintah
2) Ketegasan atasan memberikan sanksi
3) Mewujudkan kepercayaan anggota atau bawahan kepada atasan,
4) Pesan yang disampaikan pada bawahan secara jelas dan benar.
c. Persuasif atau ajakan, untuk kesejahteraan organisasi biasanya pimpinan lebih memilih
untuk mengajak daripada memerintah anggota.
d. Integratif atau saluran dalam organisasi dibutuhkan oleh anggota. Ada 2 saluran, yaitu
saluran komunikasi formal seperti penerbitan bidang khusus pada organisasi tersebut
(newsletter, bulletin) dan laporan mengenai kemajuan organisasi juga komunikasi
informal, seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan
olahraga, dan kegiatan darmawisata. Maka pada pelaksanaan ini dapat menimbulkan
kontribusi dengan baik bagi anggota dalam kelompok sebuah organisasi
Definisi Komunikasi Organisasi
Komunikasi dalam organisasi memegang peranan sangat penting dalam menunjang
aktivitas organisasi. Setiap fungsi SDM selalui disertai dengsn komunikasi, serta dimulai
proses seleksi, interview sampai pemecatan pekerja semuanya membutuhkan komunikasi.
Komunikasi organisasi merupakan hal yang penting di dalam kehidupan berorganisasi
sehingga diperlukan beberapa pemahaman mengenai komunikasi organisasi.
Kata komunikasi (dengan kata Inggris “communication”) secara etimologi atau
menurut asalnya didapat kata bahasa latin communicare dan ini berasal pada kata communis.
Kata communis memiliki makna “berbagi” atau “menjadi hak bersama”, yaitu suatu
keinginan kerja yang bertujuan untuk memperoleh kebersamaan dan keberagaman makna.
(Hubeis dkk, 2012:4). Komunikasi adalah rangkaian penyampaian melalui pesan oleh
sesorang kepada semua orang untuk memberitahu serta untuk dapat selalu mengubah pada
sikap, gagasan, atau tingkah laku, baik secara langsung (lisan) maupun tidak (dapat
dilakukan pada media). (Hubeis dkk, 2012:5).
Sementara Waynespaces dan Faules menyebutkan bahwa definisi fungsional pada
komunikasi dalam organisasi sebagai petunjuk dan penafsiran didalam pesan diantara unit
bagian komunikasi apa merupakan bagian salah satu pada suatu organisasi tertentu (Ruliana,
2016:25). Depari (dalam Triana, Utami, & Ruhana, 2016) menyatakan bahwa komunikasi
adalah suata proses pada penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang diberikan dengan
lambang tertentu dapat mengandung arti dilakukan oleh penyampain melalui pesan untuk
diberikan kepada siapa penerima isi pesan. Muhammad (2014:4) dapat mengemukakan
apapun bahwa ada dalam di kaitannya dengan komunikasi pada organisasi, komunikasi
adalah bentuk pertukaran pada pesan verbal serta non verbal dari pengirim dan penerima
untuk mengubah pola tingkah pada perilaku. Perubahan tingkah laku pada pengertian yang
lebar yaitu pergantian yang akan terjadi pada dalam diri suatu individu didalam aspek
kognitif, efektif atau psikomotor. Menurut Purwanto (2011:4) komunikasi pada organisasi
merupakan suatu rangkaian pertukaran pada informasi pada individu melewati suatu cara
atau sistem yang biasa (wajar) baik bersama tanda, sinyal, maupun perilaku dan tindakan.
Robbins dan Jugde (2015:47) mengatakan bahwa, “organizational commitment is deefined as
a state in which an employee identifies with a particular organizatioon, its goals and wishes
to maintain membership in the organization.” Komitmen dalam organisasi dikelompokkan
untuk keadaan di mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan organisasi, tujuan
organisasi dan keinginan untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi. Selanjutnya
menurut Davis & Newstroom (dalam Suliyem, 2016) mengemukakan bahwa,
“organizational commitment, organizational degree to which an employee identifiies with the
organization and wants to continue actively participating in it. Komitmen organisasi adalah
tingkatan dalam organisasi di mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan
organisasi dan melanjutkan keaktifan untuk berpartisipasi di dalam organisasi. Seperti gaya
magnet yang kuat menarik satu objek logam lain, itu adalah ukuran dari kesediaan karyawan
untuk tetap berada dalam organisasi demi masa depan. Adanya misi dan tujuan dari
seseorang dengan keinginan yang tinggi untuk berusaha mencapai prestasi dan niat untuk
terus bekerja pada organisasi.
Menurut Golddhaber (1986) mengetahui proses penciptaan untuk saling bertukar
pesan pada salah satu jaringan pada hubungan dimana tergantung pada yang lain guna
memberikan manfaat sekitar lingkungan yang kurang jelas atau yang selalu dapat berubah.
Pengertian ini mengandung proses beberapa salah konsep sebagai dari berikut :
a. Proses
adalah sistem kerja yang sangat terbuka serta dinamis yang secara tidak langsung.
Karenaa bentuk kegiatan yang diulang-ulang dan tidak terkontrol tersebut maka dapat
dinyatakan sebagai suatu proses.
b. Pesan
adalah rangkaian simbol dimana mengandung pengertian mengenai objek manusia,
kejanggalan kerja yang diberikan terhadap interaksi bersama dengan kelompok lain.
Pesan dalam suatu organisasi dilihat menurut jenis klasifikasi yang berhubungan
langsung dengan kata bahasa, penerima yang dikehendaki, metode difusi, dan arus untuk
tujuan berbagai beberapa pesan. Jenis pesan pada bahasa dibedakan menjadi 2 (dua)
kelompok yaitu verbal dan non verbal, dalam suatu organisasi adalah surat, memo,
percakapan, dan pidato. Sedangkan pesan non verbal pada suatu organisasi dapat berupa
bahasa gerak seluruh bagian tubuh.
c. Jaringan
Bentuk organisasi terbentuk dari satu seri manusia yang setiap person menduduki posisi
atau peranan penting pada suatu di dalam organisasi. Ciptaan serta pertukaran suatu
pesan dari seseoang terjadi melampaui suatu jalur jalan kecil yang disebut jaringan
komunikasi. Suatu kelompok komunikasi ini dapat mencukupi dengan lebih dari satu
orang, beberapa orang atau keseluruhan dalam organisasi. Luas dari system jaringan
komunikasi ini dijalankan oleh beberapa faktor arah & arus pesan, isi pesan, dan
hubungan peranan, serta lain-lain.
d. Keadaan dimana selalu membutuhkan
Hal ini dapat berubah sifat yang berada pada kelompok yang merupakan bentuk sistem
yang terbuka. Bila mengalami gangguan dapat berpengaruh divisi yang lainnya dan akan
terjadi juga kepada semua sistem organisasi.
e. Hubungan
Karena organisasi adalah bagian dari suatu sistem terbuka, sistem pada suatu kehidupan
sosial yang untuk memanfaatkan bagian-bagian dimana terletak pada individu yang ada
dalam organisasi. Oleh karenaa itu hubungan individu dalam organisasi yang menitik
beratkan pada tingkah laku komunikasi dari seseorang yang terlibat suatu hubunngan
perlu untuk dipelajari.
f. Lingkungan
Lingkungan adalah bentuk totalitas secara fisik dan faktor sosial yang diperhitungkan
dalam pembuatan dalam keputusan individu berada pada suatu sistematik. Yang menjadi
bagian dalam lingkungan internal adalah personal, staf, golongan fungsional dari
organisasi, dan juga bagian lainnya seperti tujuan, produk, serta lainnya. Organisasi
sebagai program terbuka yang mana harus berhubungan pada lingkungan eksternal
seperti: teknologi, ekonomi, dan faktor sosial. Karena faktor yang berada pada
lingkungan tidak tetap maka organisasi memerlukan sistem informasi baru guna
mengatasi perubahan pada lingkungan dengan menciptakan serta melakukan penukaran
pesan baik secara internal dan eksternal.
g. Ketidakpastian
Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang
diharapkan. Ketentuan tidak pasti dalam organisasi didapatkan daripada informasi
sesungguhnya yang dimanfaatkan dan dihadapkan pada lingkungan yang bersangkutan.
Dapat dinyatakan ketidakpastian dapat disebabkan karena terlalu sedikitnya informasi
yang didapatkan dan sangat berlebih atau banyak informasi yang diberikan untuk
diterima.
Menurut Redding and Saborn dalam Safari dkk. (2019) “komunikasi organisasi
adalah pengiriman serta penerimaan pada informasi dalam kelompok sangat kompleks.
Komunikasi organisasi ini antara lain, hubungan antar manusia, komunikasi yang berasal
dimana atasan kepada bawahan, seperti : komunikasi dari asal bawahan kepada atasan,
komunikasi bersama sesama rekan kerja, keterampilan berkomunikasi dan berbicara
mendengarkan serta menulis”. Menurut Katz & Kahn dalam Safari dkk. (2019) “Bahwa
komunikasi organisasi merupakan bentuk arus informasi, pertukaran dari informasi dan
pemindahan arti dalam suatu organisasi”
Berdasarkan definisi komunikasi organisasi menurut para ahli di atas, dapat
diartikan bahwa komunikasi organisasi adalah proses di mana karyawan atau anggota
organisasi bertukar informasi di lingkungan perusahaan atau organisasi
Faktor Akibat atau Dampak Persepsi Dukungan Organisasi
Menurut Rhoades & Eisenberger (2002) persepsi pada dukungan kelompok kerja
memiliki beberapa akibat yang meliputi:
a. Komitmen organisasi
Berdasar norma komunikasi searah, persepsi suatu dukungan di dalam organisasi akan
menciptakan kewajiban untuk memperhatikan kesejahteraan organisasi. Kewajiban
kondisi tersebut akan menaikkan komitmen efektif pekerja terhadap organisasi.
b. Efek terkait pekerjaan
Persepsi dukungan organisasi mempengaruhi reaksi afektif karyawan terhadap
pekerjaannya, termasuk kepuasan kerja dan suasana hati yang positif. Kepuasan kerja
berdampak pada sikap keseluruhan karyawan terhadap pekerjaannya. Persepsi untuk
dukungan organisasi dapat berperan aktif terhadap kepuasan kinerja dengan
meningkatkan harapan penghargaan atas jerih payah, dan memperlihatkan peluang
bantuan bila dibutuhkann. Suasana jiwa yang sehat berbeda dengan kepuasan kerja
karena mendukung keadaan tidak stabil seseorang tidak menggunakan objek tertentu.
Persepsi terhadap dukungan organisasi dapat berkontribusi pada perasaan hati,
kompetensi diri dan kelayakan karyawan sehingga meningkatkan suasana hati yang
positif.
- Job Involvment (Keterlibatan Kerja)
Keikut campuran kerja menuju pada identifikasi dan tertuju pada aktifitas harian yang
dilakukan oleh orang tertentu. Kompetensi yang di terima karyawan sangat bergantung
dengan keinginan. Dengan menitik beratkan tingakt kompetensi karyawan, persepsi yang
terjadi pada dukungan organisasi bisa meningkatkan pada minat karyawan dalam
kegiatan kerja yang dilakukan. - Kinerja
Persepsi pada dukungan organisasi yang dapat meningkatkan standar kinerja karyawan
dengan tindakan yang melampaui pada tanggung jawab yang sudah ditentukan sehingga
dapat memberi keuntungan organisasi. Tindakan tersebut berupa saling membantu
sesama teman kerja, melakukan tindakan yang dapat melindungi organisasi dari berbagai
resiko, berbagi ilmu dan ketrampilan yang memiliki manfaat bagi organisasi.
Dimensi Persepsi Dukungan Dalam Organisasi
Menurut Robbins & Judge (2016) terdapat beberapa tingkatan persepsi dukungan
organisasi yaitu meliputi:
a. Penghargaan
Penghargaan finansial baik yang berwujud gaji, upah, insentif, atau tunjangan sudah
amat popular. Namun penghargaan nonfinansial, seperti pujian, penerimaan, pengakuan
atau yang lainnya tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan kinerja karyawan.
Sebuah survey yang meminta karyawan memberikan nilai terhadap berbagai
penghargaan menemukan bahwa penghargaaan nonfinansial ada pada peringkat yang
lebih tinggi daripada penghargaan finansial (Luthans, 2011). Pengakuan dapat dijadikan
satu motivator yang ampuh. Tindakan pengakuan dapat berupa promosi, penempatan
pada proyek yang bergengsi, perluasan pekerjaan untuk memberinya lingkup pekerjaan
yang lebih menarik dan menguntungkan, dan berbagai simbol status dan kebanggaan.
b. Kepedulian
Kepedulian ialah bentuk perhatian pemimpin terhadap orang lain, khususnya anggota
tim dengan memberi sumbangan dalam bentuk materi, gagasan/pemikiran, waktu,
dan/atau, keahlian/keterampilan. Menurut Kaswan (2015) kepedulian menyiratkan
tentang banyak hal, yaitu empati dan mengutamakan orang lain.
c. Kesejahteraan
Kesejahteraan (well-being) juga dikenal dengan kesejahteraan subjektif atau emosi, atau
kebahagiaan. Pengertian lain kesejahteraan dikaitan dengan tujuan hidup yang
bermakna.
Sementara Rhoades & Eisenberger (2002) dalam Mujiasih (2015), persepsi dalam
dukungan pada organisasi memiliki aspek sebagai berikut:
a. Penghargaan pada kontribusi karyawan
Penghargaan perusahaan terhadap kontribusi atau usaha yang dilaksanakan oleh
karyawan berpedoman pada pengakuan dan perhatian, gaji dan promosi, serta akses
informasi atau bentuk lainnya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaannya dengan
baik.
b. Perhatian atau bertanggung jawab terhadap besar kesejahteraan pada karyawan
Perhatian organisasi bisa berupa memperhatikan kesejahteraan karyawan, mendengarkan
pendapat atau keluh kesah kebutuhan karyawan untuk memperhatikan pekerjaan
karyawan.
Sedangkan indikator persepsi dukungan organisasi menurut Rhoades & Eisenberger
(2002:699) dalam Tjandra dkk (2018), yaitu:
a.Organisasi menghargai pada kontribusi karyawan.
b. Organisasi menghargai besar usaha lebih yang diberikan karyawan
c. Organisasi akan memperhatikan terhadap segala sebab akibat dari karyawan.
d. Organisasi sangat peduli terhadap kesejahteraan karyawan.
e. Organisasi akan menginformasikan pekerja apabila tidak melaksanakan pekerjaan dengan
baik.
f. Organisasi akan peduli anisasi menunjukan perhatian yang sangat besar terhadap
karyawan.
g. Organisasi akan mengapresiasi keberhasilan karyawan saat bekerja.
Definisi Persepsi Dukungan Organisasi
Disebut kontribusi yang diberikan oleh individu kemudian mendapatkan perhatian
dan kepedulian dari organisasi tentang kesejahteraan mereka. Teori ini mengartikan mereka
percaya bahwa organisasi akan memberikan perhatian dan kesejahteraan yang layak sesuai
dengan kontribusi kinerja yang dilakukan (Eisenberger dkk., 1986). Kemudian, Robbins
(2016) mengatakan Persepsi pada dukungan organisasi adalah merupakan tingkat sejauh
mana individu memiliki keyakinan bahwa kelompok usaha menghargai kontribusi mereka
yang kemudian peduli terhadap tingkat kesejahteraan mereka.
Dalam lingkungan interaksi sosial melibatkan begitu banyak hal seperti interaksi
sesama individu dan kelompok kemudian kelompok dengan kelompok sampai pada individu
dengan organisasi. Sehingga, teori persepsi dukungan organisasi mempelajari interaksi antara
individu dengan organisasi/instansinya. Bagaimana organisasi dalam memahami dan
memperlakukan mereka.
Sementara menurut Ningrum (2013), persepsi dukungan organisasi ialah persepsi
anggota mengenai seberapa jauh organisasi akan memberikan dukungan terhadap pegawai
dan sejauh mana menghadapi tingkat untuk kesiapan dalam organisasi guna akan bermanfaat
jika menggunakan bantuan pada saat akan dibutuhkan
Hubungan Pengaruh Reward Terhadap Produktivitas Kerja
Reward merupakan faktor penting bagi motivasi karyawan. Reward
disebut juga sebagai imbalan intrinsik yaitu imbalan yang merupakan bagian dari
pekerjaan itu sendiri, imbalan tersebut mencakup rasa penyelesaian, otonomi
dan pertumbuhan, maksutnya semangat untuk memulai atau menyelesaikan
suatu proyek pekerjaan merupakan hal penting bagi motivasi karyawan
irmayanti (2013), karena dengan adanya reward yang diberikan kepada
karyawan maka akan memotivasi karyawan lebih semangat dan giat dalam
bekerja sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh solikah, setyowati, dan
sanosra (2016) yang diperoleh hasil bahwa reward berpengaruh positif dan
signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan
Hubungan Pengaruh Pengalama Kerja Terhadap Produktivitas Kerja
Pengalaman Kerja sangat penting untuk melihat keterampilan karyawan,
karena semakin lama pengalaman kerja pada karyawan maka akan semakin
tinggi pula tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh karyawan
sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Seperti yang di
ungkapkan (fagbenle, 2012) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi produktivitas karyawan adalah berasal dari diri karyawan sendiri
atau human factor, salah satunya adalah pengalaman kerja. Hal ini didukung
dengan penelitian yang dilakukan oleh sulaeman (2015) yang diperoleh hasil
bahwa pengalaman kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
produktivitas kerja karyawan
Produktivitas Kerja
Produktivitas kerja karyawan bagi suatu perusahaan sangatlah penting
sebagai alat pengukur keberhasilan dalam menjalankan usaha. Semakin tinggi
produktivitas kerja karyawan dalam perusahaan, berarti laba perusahaan dan
produktivitas akan meningkat. Produktivitas adalah perbandingan antara hasil
yang di capai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu. Peran serta
tenaga kerja di sini adalah penggunaan sumber daya serta efisien dan efektif
(Sutrisno, 2017).
Menurut Tohardi (2017:100), produktivitas merupakan sikap mental,
yang selalu mencari perbaikan terhadap apa yang telah ada. Suatu keyakinan
bahwa seseorang dapat melakukan pekerjaan lebih baik hari ini daripada hari
kemarin dan hari esok lebih baik dari hari i
Indikator DIsiplin Kerja
Sutrisno (2016) menjelaskan bahwa disiplin kerja adalah suatu perilaku
seorang individu yang disesuaikan bersama aturan, prosedur pekerjaan yang
berlaku. Maka dari hal tersebut, disiplin kerja ialah suatu sikap ataupun tindakan
serta perbuatan yang disesuaikan bersama aturan-aturan baik tertulis ataupun tak
tertulis.
Menurut sutrisno (2016:94), terdapat 3 indikator disiplin pekerja di dalam
sebuah perusahaan, antara lain:
- Memiliki ketaatan pada peraturan akan waktu. Memberikan
perhatian kepada jam masuk kerja, jam istirahat, jam pulang kerja yang
tepat waktu sertadisesuaikan bersama peraturan yang berlangsung pada
suatu organisasai ataupun perusahaan. - Memiliki ketaatan pada aturan organisasi ataupun perusahaan.
Aturan perusahaan tentang tatacara mengenakan pakaian dan juga tingkah
laku ketika melakukan pekerjaannya. - Memiliki ketaatan pada aturan yang lainnya pada perusahaan.
Peraturan mengenai apa saja yang dibolehkan serta tak dibolehkan
dilaksanakan untuk pekerja pada organisasi ataupun perusahaan.
Hubungan Pengaruh Dukungan Organisasi Terhadap Produktivitas Kerja
Dukungan organisasi merupakan salah satu elemen yang
mempengaruhi perilaku karyawan. Karena dukungan positif dari pimpinan dan
segenap karyawan akan menciptakan situasi kerja yang kondusif. Dukungan
organisasi mengacu pada presepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi
menilai kontribusi dan peduli pada kesejahteraan karyawannya Putra dan
Moeins (2019). Apabila karyawan menganggap dukungan organisasi yang
diterimanya tinggi, maka karyawan akan menyatukan keanggotaan sebagai
anggota organisasi di dalam diri mereka dan mereka akan mengembangkan
hubungan dan presepsi yang lebih positif terhadap organisasi tersebut,
sehingga produktivitas karyawan akan meningkat. Hal ini didukung dengan
penelitian yang dilakukan oleh Mujiasih (2015) yang diperoleh hasil bahwa
dukungan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas
kerja karyawan
Indikator Loyalitas Kerja
Loyalitas karyawan dapat terlihat melalui sikap dan perilaku karyawan
saat bekerja dalam perusahaan. Sikap dan perilaku karyawan yang mencerminkan
loyalitas karyawan terkandung dalam setiap indikator loyalitas karyawan yang
digunakan untuk mengukur loyalitas karyawan. Terdapat empat indikator loyalitas
karyawan menurut Susanti et al (2021:225), antara lain:
- Kepatuhan
Adalah kemampuan karyawan untuk menaati seluruh peraturan
yang berlaku, untuk melaksanakan segala tugas yang diberikan oleh
atasan yang bertanggung jawab dan tidak melanggar larangan yang telah
ditentukan. Semakin tinggi kepatuhan karyawan kepada perusahaan maka
semakin tinggi loyalitas karyawan. - Tanggung Jawab
Adalah kemampuan karyawan dalam menyelesaikan tugas dengan
benar, tepat waktu dan berani menanggung konsekuensi dari keputusan
atau tindakan yang telah diambil oleh karyawan. Semakin tinggi tanggung
jawab karyawan kepada perusahaan maka semakin tinggi loyalitas
karyawan. - Dedikasi
Adalah kontribusi gagasan dan tenaga yang diberikan oleh
karyawan dengan tulus kepada perusahaan. Semakin tinggi dedikasi
karyawan kepada perusahaan maka semakin tinggi loyalitas karyawan. - Integritas
Adalah kemampuan karyawan untuk mengakui, berbicara atau
memberikan informasi yang tepat sesuai dengan realita dan kebenaran.
Semakin tinggi integritas karyawan maka semakin tinggi loyalitas
karyawan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa loyalitas kerja
dipengaruhi oleh faktor faktor rasiona seperti gaji, bonus dan jenjang karir, factor
emosional seperti pekerjaan yang menantang, lingkungan kerja yang mendukung
dan faktor spiritual menyangkut kebutuhan rohani seperti kebebasan untuk
melakukan ibadah.
Loyalitas Kerja
Loyalitas adalah kesetiaan seorang karyawan kepada perusahaan,
karyawan yang loyal kepada perusahaan. Loyalitas mempengaruhi karyawan
untuk meningkatan kariernya, demikian pula sebaliknya loyalitas dapat
memengaruhi karier baik secara langsung maupun tidak langsung melalui variabel
lain (Dewi, 2019)
Menurut Onsardi (2017), loyalitas merupakan kondisi yang mengikat
karyawan dengan perusahannya, karena loyalitas bukan hanya kesetiaan yang
terlihat dari seberapa lama seseorang bekerja di dalam organisasi perusahaan,
namun dapat dilihat juga dari seberapa besar ide, pikiran dan gagasan, serta
kinerjanya tercurah sepenuhnya kepada perusahaan itu. Sutriniasih (2018)
menyatakan timbulnya loyalitas dipengaruhi oleh karakteristik pribadi,
karakteristik pekerjaan, karakteristik perusahaan atau organisasi dan pengalaman
yang diperoleh selama bekerja. Loyalitas karyawan didasarkan pada hubungan
kepercayaan, rasa memiliki yang kuat, dan kemauan untuk tetap dalam organisasi.
Kepuasan karyawan memberikan dampak positif pada loyalitas dan kepercayaan
diri karyawan yang dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja (Al-edenat dan
Alhawamdeh, 2018).
Menurut Siswanto (2012:28), pengertian loyalitas karyawan adalah
biasanya identik dengan komitmen kepada organisasi kadang-kadang dipandang
sebagai sikap. Namun, tidak begitu banyak sikap (atau komponen pemikiran)
yang penting dalam organisasi, melainkan itu adalah komponen tindakan bottom-
line.
Menurut Wan (2012:2), loyalitas karyawan adalah sebagai lampiran
psikologis atau komitmen terhadap organisasi dan terjadi sebagai akibat dari
meningkatnya kepuasan yang berasal dari hasil proses evaluasi internal, dan jika
tingkat harapan karyawan yang memenuhi atau melampaui maka kepuasan akan
tumbuh. Dalam melaksanakan kegiatan kerja karyawan tidak akan terlepas dari
loyalitas dan sikap kerja, sehingga dengan demikian karyawan tersebut akan
selalu melaksanakan pekerjaan dengan baik. Karyawan merasakan adanya
kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan (Soegandhi dan
Sutanto et al, 2013:45)
Perilaku Inovatif Karyawan (Employee Innovative Behaviour)
Perilaku inovatif karyawan merupakan wujud nyata dari kreativitas
karyawan dalam menjalankan pekerjaan. Kreativitas yang berasal dari individu,
dalam hal ini disebut karyawan, merupakan dasar dalam melakukan suatu inovasi.
Inovasi bergantung pada bagaimana individu tersebut melahirkan gagasan atau
ide-ide baru, melakukan perancangan terhadap ide, menerapkan ide yang telah
dirancang dan dipersiapkan dengan baik lalu melakukan modifikasi pada
pekerjaan (Etikariena & Muluk, 2014). Pernyataan Widiyanti & Sawitri (2018)
perusahaan yang mampu melakukan inovasi secara berkelanjutan, selalu
melakukan perbaikan kualitas pada produk yang dihasilkan. Inovasi juga menjadi
salah satu motivasi karyawan dalam menjaga kinerjanya saat bekerja, sehingga
menyebabkan kinerja perusahaan lebih unggul jika dibandingkan dengan
perusahaan lain.
Karyawan dikatakan sebagai salah satu aset berharga perusahaan, karena
karyawan mampu melakukan inovasi. Hal ini menjadi alasan, pentingnya
perusahaan membangun kesadaran karyawan dalam memunculkan perilaku
inovatif saat bekerja. Perilaku inovatif yang berasal dari dalam diri karyawan
dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu:
18
- Faktor internal berasal dari dalam diri individu, seperti cara individu
melakukan pemecahan masalah atau mencari solusi, kepribadian setiap
individu, dan motivasi yang dibangun dalam diri masing-masing. - Faktor pekerjaan berasal dari lingkungan kerja individu seperti tuntutan yang
harus diselesaikan dalam pekerjaan dan karakteristik pekerjaan. - Faktor kontekstual berasal dari suatu peristiwa tertentu seperti gaya
kepemimpinan, iklim psikologis dan juga dukungan dari karyawan lain.
(Widiyanti & Sawitri, 2018).
Loyalitas Karyawan (Employee Loyalty)
Asriandi et.al (2017) mendefinisikan loyalitas sebagai suatu kesetiaan,
dimana kesetiaan ini berdasar pada kesadaran diri seseorang. Konsep ini terlihat
mudah ketika diperbincangkan namun dalam kenyataannya sangat sulit untuk
dianalisis. Loyalitas karyawan merupakan kesadaran yang dimiliki karyawan
berkaitan dengan kesetiaan karyawan terhadap organisasi, keputusan untuk tetap
bertahan pada pekerjaan dan mempertahankan posisi karyawan dalam organisasi.
Bentuk kesetiaan karyawan diwujudkan dengan menjaga nama baik organisasi
serta melakukan pembelaan jika diperlukan untuk melindungi organisasi. Terdapat beberapa unsur yang diperlihatkan ketika karyawan memiliki loyalitas
kerja yaitu:
- Mentaati peraturan perusahaan. Kebijakan perusahaan dibuat untuk
meningkatkan kedisiplinan dalam bekerja sehingga peraturan perusahaan dapat
membantu dalam melakukan pengawasan pekerjaan. - Memiliki rasa tanggung jawab dalam bekerja. Risiko pekerjaan merupakan
hal yang tidak dapat dihindari. Ketika karyawan secara sadar mau untuk
menanggung segala risiko dan beban yang akan diterima akibat dari tanggung
jawab pekerjaan, maka karyawan tersebut telah menunjukkan sikap setia terhadap
perusahaan. - Bekerja sama. Terdapat beberapa hal dalam pekerjaan yang tidak dapat
dilakukan secara individu sehingga membutuhkan bantuan orang lain secara
kelompok. Karyawan yang memiliki loyalitas dalam bekerja akan melakukan
kerjasama yang baik dengan karyawan lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. - Rasa memiliki terhadap perusahaan. Karyawan akan bertanggung jawab
atas tantangan yang dihadapi dalam perusahaan. Karyawan juga merasa harus
menjaga perusahaan dari segala ancaman, demi tercapainya tujuan perusahaan. - Rasa suka terhadap pekerjaan. Karyawan yang merasa pekerjaannya telah
sesuai dengan passion yang dimiliki, membuat pekerjaan yang dilakukan menjadi
lebih mudah. Hal ini disebabkan karena karyawan melakukan pekerjaan sesuai
dengan hal yang disukai dan dikuasai (Safitri, 2015).
Pemberdayaan Karyawan (Employee Empowerment)
Menurut Pelit et.al (2011) dalam Appelbaum et.al (2014) pemberdayaan
diartikan sebagai pemberian wewenang untuk menjalankan suatu tanggung jawab
yang diberikan atasan kepada karyawannya. Pemberdayaan karyawan tidak hanya
berorientasi pada hasil akhir, namun terdapat beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam memberdayakan seseorang. Faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan yaitu tingkat motivasi karyawan, gaya kepemimpinan dari
atasan, serta umpan balik yang diberikan oleh bawahan. Pemberdayaan karyawan
juga menjadi salah satu faktor dalam menentukan keberhasilan organisasi.
Penelitian Kirkman & Rosen (1999) dalam Baird et.al (2018) menyatakan
pemberdayaan karyawan memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja
organisasi. Ketika perusahaan berhasil menerapkan pemberdayaan karyawan yang
baik maka kinerja karyawan juga ikut meningkat.
Indikator Produktivitas Kerja Karyawan
Menurut Sutrisno (2014) untuk mengukur produktivitas kerja
diperlukan suatu indicator, sebagai berikut :
1) Kemampuan
Memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas. Kemampuan karyawan
sangat bergantung pada ketrampilan yang dimiliki serta profesionalisme
mereka dalam bekerja dan menyelesaikan tugas – tugas yang diembannya.
2) Meningkatkan hasil yang dicapai
Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil merupakan salah
satu yang dapat dirasakan baik oleh yang mengerjakan maupun yang
menikmati hasil pekerjaan tersebut. Jadi, upaya untuk memnfaatkan
produktivitas kerja bagi masing – masing yang terlibat dalam suatu
pekerjaan.
3) Semangat kerja
Semangat kerja merupakan upaya untuk lebih baik dari hari kemarin.
Indikator ini dapat dilihat dari etos kerja dan hasil yang dicapai dalam satu
hari kemudian dibandingkan dengan hari sebelumnya.
4) Membangun diri
Selalu mengembangkan diri untuk meningkatkan kemampuan kerja.
Pengembangan diri dapat dilakukan dengan melihat tantangan dan harapan
dengan apa yang akan dihadapi. Karenan semakin kuat tantangannya,
pengembangan diri mutlak dilakukan.
5) Mutu
Mutu merupakan hasil pekerjaan yang dapat menunjukkan kualitas kerja
seorang pegawai. Jadi, meningkatkan mutu bertujuan untuk memberikan
hasil terbaik yang akan sangat berguna bagi perusahaan dan pada dirinya
sendiri.
6) Efisiensi
Perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya
yang digunakan. Masukan dan keluaran merupakan aspek produktivitas
yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi karyawan
Pengaruh Kompensasi terhadap Loyalitas Karyawan
Kompensasi adalah sesuatu yang diterima karyawan atas jasa yang
mereka sumbangkan pada pekerjaannya. Mereka menyumbangkan apa
yang menurut mereka berharga, baik tenaga maupun pengetahuan yang
dimiliki. Seorang pekerja sebagai tukang pikul barang merasa bahwa
kekuatan fisik yang dimiliki adalah sesuatu yang berharga yang mereka
sumbangkan atas pekerjaannya. Untuk memindahkan barang dari satu
tempat ke tempat lain mereka akan memperoleh balasan yang setimpal
atas pekerjaannya. Sesuatu yang berharga bagi karyawan adalah
pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dijadikan sebagai dasar
dalam menuntun haknya sebagai pekerja, Wilson Bangun (2012).
Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Loyalitas Karyawan
Menurut Cahyadi (2013) Lingkungan kerja dalam perusahaan sangat
penting untuk diperhatikan oleh manajemen. Meskipun lingkungan
kerja tidak melaksanakan proses produksi dalam suatu perusahaan,
namun lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap
pegawai yang melaksanakan proses produksi tersebut.
Lingkungan kerja yang baik dapat mengakibatkan sesama karyawan
lebih saling mendukung satu sama lain untuk menyelesaikan pekerjaan
yang dibebankan kepada mereka, sehingga lingkungan kerja yang aman
dan nyaman akan menciptakan kepuasan kerja bagi karyawan dan akan
menghasilkan kinerja yang baik bagi perusahaan
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja
Faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja menurut Mulyadi
(2015) adalah :
1) Pelatihan dan pendidikan karyawan
Dengan adanya program pelatihan dan pendidikan kerja pada karyawan
akan meningkatkan ketrampilan pada karyawan sehingga dapat
menggunakan peralatan yang disediakan perusahaan untuk melaksanakan
pekerjaannya. Setelah karyawan mendapatkan pelatihan dan pendidikan
yang tepat akan dapat melakukan perkerjaannya dengan benar dan
memperkecil kesalahan di masa lalu. Oleh sebab itu, pelatihan dan
pendidikan sebagai dasar pengetahuan kepada karyawan.
2) Hubungan industrial
Hubungan industrial adalah hubungan antara pimpinan atau wakil dari
perusahaan dan wakil pekerja atau serikat pekerja bila sudah mengenai
pekerjaan dan pribadi antara atasan dan bawahan yang dilakukan sehari –
hari. Hubungan yang harmonis antara atasan dan bawahan, antara sesame
karyawan, dan sesame atasan akan meningkatkan produktivitas kerja. Oleh
sebab itu, karyawan harus diperlakukan dengan baik, dengan demikian
sikap karyawan akan baik pula dalam menjalankan proses produksi,
sehingga akan berpengaruh pada tingkat produktivitas kerja.
3) Sikap mental dan kemampuan fisik karyawan
Kondisi sikap dan mentall semua karyawan akan menjadi hal yang sangat
penting bagi perusahaan atau organisasi, karena kondisi sikap dan fisik
karyawan sangat erat hubungannya dengan produktivitas kerja karyawan
Faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan
Tingkat loyalitas karyawan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
bukan hanya dari faktor eksternal melainkan dari faktor internal yang
ada dalam diri karyawan. Menurut Steer dan Porter dalam Agustina
(2016:60) bahwa timbulnya loyalitas dipengaruhi karena faktor
dibawah ini:
a. Karakteristik pribadi
Meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
prestasi yang dimiliki, ras, dan beberapa sifat individu lainnya.
b. Karakteristik pekerjaan
Meliputi tantangan dalam pekerjaan, stres kerja, interaksi
sosial, umpan balik tugas, dan kesesuian tugas.
c. Karakteristik desain perusahaan
Menyangkut pada intern perusahaan yang dapat dilihat dari
sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam
pengambilan keputusan, paling tidak mengajukan beberapa tingkat
asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan, baik ketergantungan
fungsional maupun control perusahaan.
d. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan
Internalisasi individu terhadap perusahaan setelah melakukan
tugas seperti rasa aman
Pengertian Karyawan
Menurut undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan pasal 1 ayat 2 menyebutkan bahwa karyawan adalah
setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun
masyarakat, baik didalam maupun diluar hubungan kerja.
Menurut Hasibuan (2013) karyawan adalah penjual jasa
(perorangan atau tenaga) dan mendapat kompensasi yang bersarnya
ditetapkan terlebih dahulu. Dan jika karyawan adalah setiap orang yang
menjual tenaganya (fisik dan pikiran) kepada suatu perusahaan dan
memperoleh balas jasa yang sesuai dengan perjanjian.
Pengertian Loyalitas
Robbins (2012:231) stated loyalty is processes that arise as a
result the desire to be faithful and devoted both at work, group, boss nor
in his company, for that matter cause someone to be willing to sacrifice
for the sake of satisfying the other party or Public.
Menurut Mondy dalam Anesia (2016:6) mengemukakan bahwa
loyalitas adalah keterikatan yang diidentifikasi dari psikologi individu
pada pekerjaannya dan sejauh mana hubungan karyawan dengan
Menurut Wicaksono (2013:48) loyalitas merupakan setia pada
sesuatu dengan rasa cinta, sehingga rasa loyalitas yang tinggi seseorang
merasa tidak perlu mendapatkan imbalan dalam melakukan sesuatu
untuk orang lain atau perusahaan tempat ia meletakkan loyalitasnya.
Indikator Kompensasi
Indikator dalam pemberian kompensasi untuk karyawan tentu
berbeda-beda. Hasibuan (2012:118) mengemukakan secara umum
indikator kompensasi, antara lain:
a. Gaji
b. Upah
c. Insentif
d. Tunjangan
e. Fasilitas
Indikator Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja di perusahaan terbagi menjadi dua yaitu:
lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik.
a. Lingkungan kerja fisik (Physical Work Environment)
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik
yang terdapat di lingkungan tempat kerja tersebut dan dapat
mempengaruhi karyawan. Siagian (2014:69) mengemukakan bahwa
lingkungan kerja fisik terdiri dari beberapa indikator yaitu:
1) Bangunan tempat kerja
Bangunan tempat bekerja di samping menarik untuk dipandang
juga dibangun dengan pertimbangan keselamatan dan kesehatan
kerja, agar karyawan merasa nyaman dan aman dalam
melakukan pekerjaannya.
2) Peralatan kerja yang memadai
Peralatan yang memadai sangat dibutuhkan oleh karyawan
karena akan mendukung karyawan dalam menyelesaikan tugas
yang di embannya di dalam perusahaan.
3) Fasilitas
Fasilitas perusahaan sangat dibutuhkan oleh karyawan sebagai
pendukung dalam menyelasikan pekerjaan yang ada di
perusahaan. Selain itu ada hal yang perlu di perhatikan oleh
perusahaan yakni tentang cara memanusiakan karyawannya,
seperti tersedianya fasilitas untuk karyawan beristirahat seperti
loker setelah lelah bekerja dan juga tersedianya tempat ibadah.
4) Tersedianya sarana angkutan
Tersedianya sarana angkutan yang akan mendukung para
karyawan untuk sampai di tempat kerja dengan tepat waktu, baik
yang diperuntukkan karyawan maupun angkutan umum yang
nyaman, murah dan mudah di peroleh.
b. Lingkungan kerja non fisik (Non Physical Work Environment)
Lingkungan kerja non fisik adalah terciptanya hubungan kerja
yang harmonis antara karyawan dengan atasan. Siagian (2014:70)
mengemukakan bahwa lingkungan kerja non fisik terdiri dari
beberapa indikator yaitu:
1) Hubungan rekan kerja setingkat
Indikator hubungan dengan karyawan yaitu hubungan dengan
karyawan yang harmonis dan tanpa saling intrik di antara
sesama karyawan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
dalam satu organisasi agar karyawan tetap tinggal adalah dengan
adanya hubungan yang harmonis dan kekeluargaan.
2) Hubungan atasan dengan karyawan
Hubungan atasan dengan karyawan atau bawahan harus di jaga
dengan baik dan harus saling menghargai antara atasan dengan
karyawan atau bawahan, dengan saling menghargai maka akan
menimbulkan rasa hormat diantara individu masing – masing.
3) Kerjasama antar karyawan
Kerjasama antara karyawan harus dijaga dengan baik, karena
akan mempengaruhi pekerjaan yang akan mereka lakukan. Jika
kerjasama antara karyawan dapat terjalin dengan baik maka
karyawan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka secara efektif
dan efisien
Pengertian Lingkungan Kerja
Menurut Sedarmayanti (2013:22) bahwa suatu tempat yang terdapat
sebuah kelompok dimana di dalamnya terdapat beberapa sarana dan
prasarana yang mendukung untuk mencapai tujuan perusahaan sesuai
dengan visi dan misi perusahaan.
Menurut Siagian (2014:66) mengemukakan bahwa lingkungan kerja
adalah lingkungan dimana para karyawan melakukan pekerjaannya
sehari-hari. Secara garis besar, lingkungan kerja terdapat dua jenis
yaitu: Lingkungan kerja fisik, dan Lingkungan kerja non fisik.
Menurut Afandi (2016:61) lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada
di lingkungan para karyawan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas seperti temperatur, kelembaban, ventilasi,
penerangan, kegaduhan, kebersihan tempat kerja dan memada tidaknya
alat-alat perlengkapan kerja. Lingkungan kerja dapat didefinisikan
sebagai keseluruhan alat perkakas yang dihadapi, lingkungan sekitarnya
dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, sebagai pengaruh kerjanya
baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok.
Gomes (2014:89) the work environment is a process work where the
environment is mutual interact according to certain patterns, and each
of them has a characteristic or certain values regarding the
organization that will not be separated from the environment where the
organization is located, and the human being who is the center
everything
Pengertian Produktifitas
Menurut Sutrisno (2014) produktivitas adalah ukuran efisiensi
produktif suatu perbandingan antara hasil keluaran dan masukan. Masukan
dalam hal ini sering dibatasi tenaga kerja, sedangkan keluaran diukur dalam
kesatuan fisik, bentuk dan nilai.
Menurut Kusrianto (Sutrisno, 2014) menyatakan bahwa produktivitas
adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran satu tenaga kerja
per satuan waktu. Yang dimaksud peran serta tenaga kerja disini adalah
penggunaan sumber daya manusia serta efektif dan efisien.
Berdasarkan kedua uraian pendapat tersebut maka dapat disimpulkan
produktivitas adalah perbandingan antara jumlah yang dihasilkan selama
produksi dan jumlah setiap sumber yang dipergunakan selama produksi
Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan Transformasional dengan Loyalitas Karyawan
Loyalitas karyawan kepada perusahaan merupakan kesetiaan atau
bentuk dari keterikatan emosi yang mendalam terhadap perusahaan akibat
adanya kepuasan terhadap kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan
kepadanya. Poerwopoespito (2004), menyebutkan bahwa loyalitas kepada
pekerjaan tercermin pada sikap karyawan yang mencurahkan kemampuan dan
keahlian yang dimiliki, melaksanakan tugas dengan tanggungjawab, disiplin
serta jujur dalam bekerja. Poerwopoespito (2005), juga menjelaskan bahwa
sikap karyawan sebagai bagian dari perusahaan yang paling utama adalah
loyal.
Setiap perusahaan memiliki visi dan misi yang ingin dicapainya.
Pencapaian visi dan misi tersebut dilakukan dengan menyusun berbagai
tugas dan peran yang membentuk sebuah struktur organisasi. Dalam struktur
suatu organisasi pasti memiliki pemimpin guna mengarahkan dan mengatur
sumber daya yang ada agar tujuan organisasi tercapai. Pendekatan seorang
atasan kepada bawahannya dalam memimpin sebuah organisasi tercermin
dalam gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan seorang atasan yang
berbeda di setiap organisasi menyebabkan perbedaan hasil yang dicapai oleh
masing-masing organisasi.
Dalam pembentukan loyalitas kerja diperlukan adanya kesadaran diri
individu, baik langsung atau tidak langsung, yang didukung oleh berbagai
faktor. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan salah satu faktor
penentu loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Sense of power, merupakan
wujud kepemimpinan transformasional dalam menciptakan pemberdayaan
karyawan. Pemberdayaan merupakan kebutuhan instrinsik dari dalam
individu untuk memiliki kebebasan membuat keputusan (self-determination)
dan merasa yakin pada efektifitas diri (self-efficacy) (Spreitzer, 1997).
Melalui konsep ini, bawahan diberikan tugas dan wewenang yang lebih
besar dalam pengambilan keputusan. Dengan keyakinannya, bawahan akan
memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian prestasi organisasi dan
berperilaku yang lebih efektif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Reward
Menurut Rivai (2015) faktor-faktor yang mempengaruhi reward terbagi
menjadi dua yaitu, lingkungan eksternal dan internal. Lingkungan eksternal
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi reward dan berasal dari luar
perusahaan, seperti pasar tenaga kerja, kondisi ekonomi, peraturan pemerintah,
dan serikat pekerja, sedangkan untuk lingkungan internal berkaitan dengan hal-
hal didalam perusahaan yang turut memengaruhi reward tersebut.
1) Pasar tenaga kerja
Pasar tenaga kerja mempengaruhi pemberian reward dalam dua cara, yang
pertama tingkat persaingan tenaga kerja sebagian menentukan batas rendah
atau floor tingkat pembayaran. Tingkat pembayaran suatu perusahaan yang
terlalu rendah, tenaga kerja yang memenuhi syarat tidak akan bersedia
bekerja diperusahaan itu. Kedua, pada saat yang sama, mereka menekan
pengusaha untuk mencari alternatif, seperti penyediaan tenaga kerja asing,
yang harganya mungkin lebih rendah, atau teknologi yang mengurangi
kebutuhan tenaga kerja.
2) Kondisi ekonomi
Salah satu aspek yang juga mempengaruhi reward sebagai salah satu faktor
eksternal adalah kondisi-kondisi ekonomi industri, terutama derajat tingkat
persaingan, yang mempengaruhi kesanggupan untuk membayar perusahaan
itu dengan gaji tinggi.
3) Peraturan pemerintah
Pemerintah secara langsung mempengaruhi tingkat reward melalui
pengendalian upah dan petunjuk yang melarang peningkatan dalam reward
untuk para pekerja tertentu pada waktu tertentu, dan hukum yang menetapkan
tingkat tarif upah minimum, gaji, pengaturan jam kerja dan mencegah
diskriminasi. Pemerintah juga melarang perusahaan mempekerjakan pekerja
anak-anak dibawah umur (yang telah ditetapkan).
4) Serikat pekerja
Pengaruh eksternal penting lain pada suatu program reward kerja adalah
serikat kerja. Kehadiran serikat pekerja diperusahaan sektor swasta
diperkirakan meningkat upah 10 sampai 15 persen dan menaikkan tunjangan
sekitar 20 sampai 30 persen. Perbedaan upah antara perusahaan yang
mempunyai serikat pekerja dengan yang tidak mempunyai serikat pekerja
tampak paling besar selama periode resesi dan paling kecil selama periode
inflasi.
5) Anggaran tenaga kerja
Anggaran tenaga kerja secara normal identik dengan jumlah uang yang
tersedia untuk reward karyawan tahunan. Tiap-tiap unit perusahaan
dipengaruhi oleh ukuran anggaran tenaga kerja. Suatu anggaran perusahaan
tidak secara normal menyatakan secara tepat jumlah uang yang dialokasikan
ke masing-masing karyawan melainkan berapa banyak yang tersedia untuk
unit atau divisi.
6) Siapa yang membuat keputusan reward
Kita lebih mengetahui siapa yang membuat keputusan reward dibanding
sekitar beberapa faktor lain, tetapi masalah ini bukan suatu hal sederhana.
Keputusan atas berapa banyak yang harus dibayar, sistem apa yang dipakai,
manfaat apa untuk ditawarkan, dan sebagainya, dipengaruhi dari bagian atas
hingga dibawah perusahaan
Gaya Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan merupakan kemampuan individu untuk
mempengaruhi, memotivasi dan memungkinkan pengikut untuk
memberikan kontribusi terhadap efektivitas dan kesuksesan organisasi
(House et all., 1999).
Menurut Bass (1985) dan Yukl (1994 : 297) tingkat sejauh mana
seorang pemimpin disebut transformasional terutama diukur dalam
hubungannya dengan efek kepemimpinan tersebut terhadap para
pengikut. Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa
adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap
pemimpin tersebut dan mereka merasa termotivasi untuk melakukan lebih
dari pada yang awalnya diharapkan oleh mereka.
Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional telah
diformulasikan oleh Burns Yukl, Selanjutnya Burns menjelaskan
kepemimpinan transformasional sebagai sebuah proses yang padanya para
pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan
motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin tersebut mencoba
menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita cita
yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti kemerdekaan, keadilan dan
kemanusiaan bukan didasarkan atas emosi, seperti keserakahan,
kecemburuan dan kebencian.
Menurut Keller (1992) mengemukakan bahwa Kepemimpinan
Transformational adalah sebuah gaya kepemimpinan yang mengutamakan
pemenuhan terhadap tingkatan tertinggi dari hirarki maslow yakni
kebutuhan akan harga diri dan aktualisasi diri. Kepemimpinan
transformasional inilah yang sungguh-sungguh diartikan sebagai
kepemimpinan yang sejati karena kepemimpinan ini sungguh bekerja
menuju sasaran pada tindakan mengarahkan organisasi kepada suatu
tujuan yang tidak pernah diraih sebelumnya. Para pemimpin secara riil
harus mampu mengarahkan organisasi menuju arah baru (Locke, 1997).
Sedangkan menurut O’Leary (2001) “Kepemimpinan
transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh
seseorang manajer bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan
memiliki kinerja melampaui status dan mencapai serangkaian sasaran
organisasi yang sepenuhnya baru”. Tjiptono (2002: 84) mendefinisikan
kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang menciptakan visi
dan lingkungan yang memotivasi para karyawan untuk berprestasi melampaui
harapan. Kepemimpinan transformasional juga didefinisikan sebagai
kepemimpinan yang mencakup upaya perubahan organisasi (sebagai lawan
kepemimpinan yang dirancang untuk mempertahankan status quo).
Kepemimpinan transformasional yaitu pemimpin yang
mencurahkan perhatiannya kepada persoalan- persoalan yang dihadapi
oleh para pengikutnya dan kebutuhan pengembangan dari masing-masing
pengikutnya dengan cara memberikan semangat dan dorongan untuk
mencapai tujuannya (Robbin,2007:473).
Faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan
Pambudi juga menambahkan bahwa lima (5) faktor yang menjadi
tolok ukur sumber daya manusia yang mempunyai loyalitas atau
komitmen (Utomo, 2002, p.17), yaitu:
a. Karyawan tersebut berada di perusahaan tertentu;
b. Karyawan tersebut mengenal seluk beluk bisnis perusahaannya
maupun para pelanggannya dengan baik.
c. Karyawan tersebut turut berperan dalam mempertahankan
hubungan dengan pelanggan yang menguntungkan bagi
perusahaannya;
d. Karyawan tersebut merupakan aset tak berwujud yang tidak dapat
ditiru oleh para pesaing; Karyawan tersebut mempromosikan
perusahaannya, baik dari sudut produk, layanan, sebagai tempat
kerja yang ideal maupun keunggulan kinerja dan masa depan yang
lebih baik.
Sedangkan menurut Steers dan Porter (1983) menyatakan bahwa
timbulnya loyalitas kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor :
a. Karakteristik pribadi, meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin,
tingkat pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras, dan sifat
kepribadian
b. Karakteristik pekerjaan, meliputi tantangan kerja, stres kerja,
kesempatan untuk berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi
tugas, umpan balik tugas, dan kecocokan tugas
c. Karakteristik desain perusahaan, yang dapat dilihat dari
sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam
pengambilan keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai
tingkat asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan,
ketergantungan fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan
d. Pengalaman yang diperoleh dalam perusahaan, yaitu internalisasi
individu terhadap perusahaan setelah melaksanakan pekerjaan
dalam perusahaan tersebut meliputi sikap positif terhadap
perusahaan, rasa percaya terhadap perusahaan sehingga
menimbulkan rasa aman, merasakan adanya kepuasan pribadi yang
dapat dipenuhi oleh perusahaan.
Tujuan Penghargaan/Reward
Menurut Sedarmayanti (2017) tujuan diberikannya reward oleh
perusahaan kepada karyawannya adalah sebagai berikut:
1) Menarik SDM
Hendaknya setiap penghargaan kepada pegawai dapat menimbulkan
ketertarikan/hasrat bagi pegawai untuk memperolehnya.
2) Memotivasi SDM
Penghargaan pegawai harus memotivasi pegawai untuk dapat bekerja lebih
baik, lebih bersemangat dan lebih berkinerja tinggi.
3) Mengembangkan SDM
Penghargaan pegawai hendaknya dapat memberi peluang kepada pegawai
untuk berkembang, berkekmbang kemampuan dan wawasannya, berkembang
kariernya dan berkembang pendapatannya.
4) Memuaskan SDM
Hendaknya setiap penghargaan dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi
pegawai yang memperolehnya.
5) Memelihara SDM
Penghargaan pegawai hendaknya dapat mempertahankan keberadaan
pegawai pada organisasi tertentu sehingga tingkat turn over atau keluar dari
organisasi rendah
Loyalitas Karyawan
Secara umum loyalitas dapat diartikan dengan kesetiaan,
pengabdian dan kepercayaan yang diberikan atau ditujukan kepada
seseorang atau lembaga, yang di dalamnya terdapat rasa cinta dan
tanggung jawab untuk berusaha memberikan pelayanan dan perilaku
terbaik (Rasimin, 1988). Siswanto (1989) juga berpendapat hal yang sama
bahwa loyalitas adalah tekad dan kesanggupan individu untuk mentaati,
melaksanakan, mengamalkan peraturan-peraturan dengan penuh kesadaran
dan sikap tanggung jawab. Hal ini dibuktikan dengan sikap dan tingkah
laku kerja yang positif.
Hasibuan (2005), mengemukakan bahwa loyalitas atau kesetiaan
merupakan salah satu unsur yang digunakan dalam penilaian karyawan
yang mencakup kesetiaan terhadap pekerjaannya, jabatannya dan
organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan karyawan menjaga
dan membela organisasi didalam maupun diluar pekerjaan dari rongrongan
orang yang tidak bertanggung jawab. Poerwopoespito (2004),
menyebutkan bahwa loyalitas kepada pekerjaan tercermin pada sikap
karyawan yang mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki,
melaksanakan tugas dengan tanggungjawab, disiplin serta jujur dalam
bekerja. Poerwopoespito (2005), juga menjelaskan bahwa sikap karyawan
sebagai bagian dari perusahaan yang paling utama adalah loyal. Sikap ini
diantaranya tercermin dari terciptanya suasana yang menyenangkan dan
mendukung ditempat kerja, menjaga citra perusahaan dan adanya
kesediaan untuk bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Lebih lanjut, terdapat beberapa ciri karyawan yang memiliki
loyalitas yang rendah diantaranya karena sifat karakternya (bawaan),
kekecewaan karyawan, dan sikap atasan, serta perasaan negatif, seperti
ingin meninggalkan perusahaan, merasa bekerja di perusahaan lain
lebih menguntungkan, tidak merasakan manfaat, dan menyesali bergabung
dengan perusahaan. Adapun karakteristik karyawan yang menunjukkan
loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan diantaranya adalah : bersedia
bekerja melebihi kondisi biasa, merasa bangga atas prestasi yang
dicapai perusahaan, merasa terinspirasi, bersedia mengorbankan
kepentingan pribadi, merasa ada kesamaan nilai dengan perusahaan.
Menurut Pambudi, di masa lalu atau masa sebelumnya, loyalitas para
karyawan hanya diukur dari jangka waktu lamanya karyawan tersebut bekerja
bagi sebuah organisasi. Namun saat ini, ukuran loyalitas para karyawan telah
sedikit bergeser ke arah yang lebih kualitatif, yaitu yang disebut sebagai
komitmen. Komitmen itu sendiri dapat diartikan sebagai seberapa besar
seseorang mencurahkan perhatian, pikiran dan dedikasinya bagi organisasi
selama dia bergabung di dalam organisasi tersebut (Utomo, 2002, p.10).
Sistem Penghargaan/Reward dari Perusahaan untuk Karyawan
Menurut Sedarmayanti (2017) membagi reward ke dalam beberapa
bentuk, yaitu sebagai berikut:
1) Keadilan
Model penghargaan organisasi dengan memberikan penghargaan kepada
pegawai sesuai proporsi
2) Kesamaan
Model penghargaan organisasi dengan memberi penghargaan yang sama
tanpa memandang kontribusi dan masing-masing individu
3) Kebutuhan
Model penghargaan organisasi dengan mendasarkan kebutuhan pegawai
daripada kontribusinya
Indikator Penghargaan/Reward
Indikator – indicator reward menurut Kadarisman (2012) yaitu :
1) Gaji
2) Penghargaan
3) Pujian
4) Cuti
5) Tunjangan
Hubungan Kepuasan Kerja Terhadap Loyalitas Kerja
Menurut Hasibuan (2011:73) Karyawan yang puas akan pekerjaan mereka akan berdampak
positif bagi loyalitas perusahaan karena semangat dan komitmen kerja dapat tumbuh dari
kepuasan karyawan tersebut. Kepuasan karyawan terhadap loyalitas pekerjaan mereka dapat
dilihat dari beberapa indikator seperti kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap promosi,
rekan kerja, dan atasan. Jika indikator tersebut terpuaskan karyawan akan mencintai pekerjaan
mereka dan lebih setia dan loyal kepada perusahaan. Sebaliknya jika indikator tersebut tidak
terpuaskan karyawan akan cenderung tidak menyukai pekerjaan mereka sehingga tidak akan
optimal dan loyal saat bekerja dan memiliki kecenderungan lain untuk meninggalkan pekerjaan
mereka suatu saat nanti. Hal ini sependapat dengan penelitian Ovinda, (2013) bahwa hubungan
kepuasan kerja dengan loyalitas karyawan bersifat positif karena jika karyawan nyaman akan
pekerjaannya maka akan timbul loyalitas
Hubungan Leadership Terhadap Loyaitas kerja
Kepemimpinan adalah kombinasi karakter atau kepribadian seorang individu yang mendorong
individu tersebut untuk menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan, yang tanpa motivasi
dari pemimpin, sulit untuk dicapai. Dalam organisasi, pemimpin memiliki gambaran jelas
mengenai dimana posisi organisasi sekarang; kemana arah organisasi harus dijalankan; dan
bagaimana organisasi menuju ke arah tersebut (Bertocci, 2009:6). Arah hubungan positif
menunjukkan bahwa jika kepemimpinan dalam perusahaan sudah baik maka akan berdampak
positif terhadap loyalitas pegawai. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh hasibuan
(2013: 169) bahwa pelaksanaan kepemimpinan cenderung menumbuhkan kepercayaan,
partisipasi, loyalitas, dan internal motivasi para bawahan dengan cara persuasif. Hal ini sesuai
dengan penelitian terdahulu milik Kitriawaty (2017) yang menyatakan bahwa hubungan
leadership berpengaruh signifikan terhadap loyalitas karyawan
Dimensi Penghargaan/Reward
Rewards dalam penelitian ini akan diukur menggunakan dimensi yang
digunakan oleh Karami et al (2013) dengan dimensi rewards sebagai berikut:
1) Financial Rewards
Adalah rewards atau tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
uang atau finansial seperti gaji, bonus dan tunjangan.
2) Inherent Rewards
Adalah tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk kebanggaan
dan rasa empati dari pihak perusahaan.
3) Non-Financial Rewards
Adalah rewards atau tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
bukan uang seperti wewenang, apresiasi dan penunjukan pegawai sebagai
perwakilan perusahaan
Motivasi Terhadap Loyalitas Kerja
Menurut Robbins (2013:198), bila seseorang termotivasi, ia akan mencoba sekuat tenaga
dalam berusaha. Tingkat upaya yang tinggi akan mengantar kehasil loyalitas yang
menguntungkan dan bermanfaat bagi organisasi tersebut. Maka dapat disimpulkan motivasi
yang tinggi dapat mempengaruhi tingginya loyalitas karyawan. Motivasi dengan loyalitas
karyawan memiliki hubungan positif hal tersebut didukung oleh penelitian dari ihwan (2017)
dari motivasi yang diberikan menjadikan dorongan untuk bekerja lebih baik sehingga
menghasilkan SDM yang baik dan secara tidak langsung akan meningkatkan loyalitar
karyawan
Indikator Loyalitas Kerja Karyawan
Loyalitas menurut Saydam dalam Kurniawan ( 2015;78) adalah sebagai berikut:
1) Ketaatan atau kepatuhan
Ketaatan yaitu kesanggupan seorang pegawai untuk menaati segala peraturan kedinasan
yang berlaku dan metaati perintah kedinasan yang berlaku dan mentaati perintah dinas
yang diberikan atasan yang berwenang, serta sanggup tidak melanggar larangan yang
ditentukan.
2) Bertanggung jawab
Bertanggung jawab ditandai dengan kesanggupann seorang karyawan dalam
menyelesesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan baik, tepat waktu serta
berani mengambil resiko untuk keputusan yang dibuat atau tindakan yang dilakukan.
3) Pengabdian
Yaitu sumbangan pemikiran dan tenaga serta ikhlas kepada perusahaan.
4) Kejujuran
Berarti adanya keselarasan antara yang terucap atau perbuatan dengan kenyataan
Pengertian Reward
Menurut Fahmi (2016) reward merupakan bentuk pemberian balas jasa
yang diberikan kepada seseorang karyawan atas prestasi pekerjaan yang
dilakukan, baik berbentuk finansial maupun non finansial.
Menurut Siagian (2015) reward adalah pekerjaan itu sendiri, upah,
peluang promosi, pengawasan, dan rekan kerja. reward juga merupakan usaha
atau cara untuk menumbuhkan pengakuan atau perasaan diterima didalam
organisasi, yang meliputi non finansial dan finansial.
Menurut Satrohadiwirya (2010) yang mengatakan penghargaan
merupakan imbalan balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada para
tenaga kerja, karena tenaga kerja tersebut telah memberikan sumbangan tenaga
dan pikiran demi kemajuan perusahaan guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Berdasarkan definisi para ahli diatas, reward adalah ganjaran, hadiah, atau
imbalan. Dalam konsep manajamen reward merupakan salah satu alat untuk
meningkatkan motivasi para pegawai, metode ini bisa juga mengasosiasikan
perbuatan dan kelakuan seseorang dengan perasaan bahagia, senang dan
biasanya akan membuat mereka melakukan suatu perbuatan yang berulang-
ulang, selain motivasi reward juga bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi
usahanya untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi yang telah dapat
dicapainya. Maka dapat disimpulkan bahwa reward adalah segala imbalan balas
jasa yang diberikan oleh perusahaan atas kontribusi karyawan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja
Menurut Steers dan Porter, 1983 (dalam Soegandhi dkk, 2013;30) bahwa loyalitas di pengaruhi
empat faktor:
- Karakteristik pribadi, meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan, prestasi
yang dimiliki, ras dan beberapa sifat kepribadian. - Pekerjaan, berupa tantangan kerja, job stress, kesempatan berinteraksi sosial, job
enrichment, identifikasi tugas, umpan balik tugas dan kecocokan tugas. - Karakteristik desain perusahaan, menyangkut pada internal perusahaan itu yang dapat
dilihat dari desentralisasi, tingkat formalisasi, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan
keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai tingkat asosiasi dengan tanggung
jawab perusahaan, ketergantungan fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan. - Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan, meliputi sikap positif terhadap perusahaan,
rasa percaya pada sikap positif terhadap perusahaan, rasa aman
Konsep Loyalitas
Menurut Steers & Porter, 1983 (dalam Soegandhi dkk, 2013) ada beberapa konsep loyalitas,
yaitu:
- Loyal Kepada Perusahaan
Loyal kepada perusahaan merupakan konsep loyal yang sangat popular. Loyalitas seperti
ini menuntut karyawan untuk terus bekerja di perusahaan dalam kondisi apapun. Oleh
karena itu, orang yang pindah kerja sering di anggap tidak loyal terhadap perusahaan. - Loyal Kepada Pekerjaan
Di sini seorang karyawan tidak loyal terhadap perusahaan, tapi loyal terhadap pekerjaan
yang ia kerjakan. ia akan bekerja dengan gigih demi pekerjaannya. Karyawan seperti ini di
anggap sebagai asset perusahaan yang berharga karena ia akan mengerjakan pekerjaan yang
menjadi job desc-nya dengan sebaik-baiknya. - Loyal Kepada Visi, Misi Dan Tujuan Perusahaan
Dalam bekerja kita harus tahu visi, misi dan tujuan perusahaan serta loyal terhadapnya.
Bukan hanya job desc-nya saja. Konsep loyalitas seperti ini membutuhkan pemahaman
sepenuhnya bahwa yang kita kerjakan bukan saja harus selesai dengan baik, tapi juga harus
sejalan dengan tujuan perusahaan.
Jenis-jenis motivasi
- Motivasi Positif (Insentif Positif)
Maksudnya manajer memotivasi (merangsang) karyawan dengan memberikan
hadiah (reward) kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar atau
proses untuk mempengaruhi orang lain agar menjalankan sesuatu yang kita
inginkan dengan memberikan kemungkinan untuk mendapatkan hadiah
(reward. - Motivasi Negatif (Insentif Negatif)
Maksudnya manajer memotivasi karyawan dengan standar mereka akan
mendapatkan hukuman atau proses untuk mempengaruhi seseorang agar mau
melakukan sesuatu yang kita inginkan tetapi teknik dasar yang digunakan
adalah lewat kekuatan ketakutan
Indikator Kepuasan Kerja
Menurut Luthans (2011:141), kepuasan kerja memiliki 6 indikator yang dapat mempengaruhi,
yaitu:
- Pekerjaan itu sendiri
Karyawan akan lebih merasa puas terhadap pekerjaannya apabila mereka diberikan tugas
yang menarik dan menantang serta kesempatan untuk belajar. Dalam research yang
ditemukan oleh penulis, kepuasan kerja juga berhubungan dengan oportunitas yang sama,
lingkungan yang ramah, dan perilaku anti-harassment dalam suatu organisasi. - Gaji Uang
Digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Uang juga dapat dijadikan sebagai
alat untuk memperoleh kepuasan tingkat atas. Gaji dilihat oleh karyawan sebagai
gambaran bagaimana manajemen mengevaluasi kontribusi mereka terhadap organisasi. - Promosi Secara tradisional
promosi adalah cara seseorang menaikan posisi mereka dalam hirarki suatu organisasi.
Promosi memiliki pengaruh yang berbeda terhadap kepuasan kerja dikarenakan bentuk
promosi berbedabeda, perbedaan tersebut dapat dicontohkan dengan promosi yang
diterima orang berdasarkan senioritas akan berbeda dengan promosi yang didasarkan oleh
prestasi atau kinerja. - Supervisi atasan
Supervisi dibagi menjadi 2 dimensi, yang pertama adalah Employee Centered lebih
memfokuskan pada interaksi supervisor kepada karyawan. Interaksi yang dimaksud dalam
dimensi ini adalah bagaimana supervisor memeriksa kondisi karyawan dalam melakukan
tugas, memberikan saran dan bantuan, serta berkomunikasi dalam personal ataupun resmi.
Dimensi kedua dalam supervisi adalah partisipasi yang dapat dilihat dari cara supervisor
melibatkan karyawan dalam beberapa pengambilan keputusan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Hasibuan, (2009;203)
yaitu:
- Balas jasa yang adil dan layak
- Penempatan yang tepat sesuai keahlian
- Berat ringannya pekerjaan
- Suasana dan lingkungan pekerjaan
- Peralatan yang menjangkau pelaksanaan pekerjaan
- Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya
- Sifat pekerjaan monoton atau tidak
Teori Kepemimpinan
Dalam Wibowo (2016;107) ada beberapa teori tentang kepemimpinan yang dipaparkan,
diantaranya adalah:
- Teori sifat
Trait theories atau teori sifat merupakan teori yang berusaha mengidentifikasi karakteristik
spesifik (fisik, mental, kepribadian) berkaitan dengan keberhasilan kepemimpinan menurut
Ghibson dik (1995:78). Terdapat tiga karakteristik berkaitan dengan efektivitas
kepemimpinan adalah:
a. Personality (kepribadian): tingkat energy, toleransi terhadap stress, percaya diri,
kedewasaan emosional, dan integritas.
b. Motivation (motivasi): orientasi kekuasaan tersosialisasi, kebutuhan kuat untuk
berprestasi, memulai diri, membujuk.
c. Ability (kemampuan): keterampilan interpersonal, keterampilan kognitif, keterampilan
teknis.- Teori perilaku
Behavioral theories atau teori perilaku kepemimpinan tumbuh sebagai hasil dari
ketidakpuasan terhadap trait theories atau teori sifat karena dinilai tidak dapat menjelaskan
efektivitas kepemimpinan dan gerakan hubungan antara manusia. Teori ini percaya bahwa
perilaku pemimpin secara langsung mempengaruhi efektivitas kelompok. Pemimpin dapat
menyesuaikan gaya kepemimpinannya untuk mempengaruhi orang lain dengan efektif.
- Teori perilaku
Motivasi
Menurut Hamzah Uno (2016) motivasi adalah dorongan dasar yang
menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang
yang menggerakkan dirinya untuk dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan
dorongan dalam dirinya.
Menurut Hasibuan (2013) motivasi berasal dari kata latin movereyang berarti
dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation)dalam manajemen hanya
ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi
mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan agar
mau bekerja sama secara produktif sehingga tercapai tujuan yang ditentukan.
Menurut Gibson (2013) motivasi kerja adalah kekuatan yang mendorong
seseorang karyawan yang menimbulkan dan mengarahkan perilaku karyawan.
Menurut Farida & Hartono (2016) motivasi merupakan daya penggerak yang
menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja
efektif dan terintegrasi dengan segala daya dan upayanya untuk mencapai kepuasan,
untuk mencapai kepuasan itu sendiri dibutuhkan alat motivasi atau daya penggerak
yang diberikan kepada karyawan salah satunya yaitu penghargaan (reward). Farida
& Hartono (2016) Menyatakan alat-alat motivasi (daya perangsang) yang diberikan
kepada karyawan dapat berupa :
1) Material incentive adalah motivasi yang bersifat materiil sebagai imbalan
prestasi yang diberikan kepada karyawan. Yang termasuk material incentive
adalah yang berbentuk uang dan barang-barang.
2) Nonmaterial incentive adalah motivasi yang tidak berbentuk materi. Yang
termasuk nonmaterial incentive adalah penempatan yang tepat, pekerjaan yang
terjamin, piagam penghargaan, bintang jasa, perlakuan yang wajar, dan
sejenisnya.
Tipe-Tipe Kepemimpinan
Menurut Terry dalam Suwatno dan Priansa (2016) tipe-tipe kepemimpinan adalah sebagai
berikut:
- Kepemimpinan pribadi (personal leadership)
Dalam tipe ini pemimpin mengadakan hubungan langsung dengan bawahannya, sehingga
timbul hubungan pribadi yang intim. - Kepemimpinan non-pribadi (non-personal leadership)
Dalam tipe ini pimpinan tidak mengadakan hubungan langsung dengan bawahannya,
sehingga antara atasan dan bawahan tidak timbul kontak pribadi. Hubungan antara
pimpinan dengan bawahannya melalui perencanaan dan instruksi-instruksi tertulis. - Kepemimpinan otoriter (authoritarian leadership)
Dalam tipe ini pimpinan memperlakukan bawahannya secara sewenang-wenang, karena
menganggap diri orang paling berkuasa, bawahannya digerakan dengan jalan paksa,
sehingga para pekerja dalam melakukan pekerjaannya bukan karena ikhlas melakukan
pekerjaannya, melainkan karena takut. - Kepemimpinan kebapakan (paternal leadership)
Dalam tipe ini pimpinan memperlakukan bawahannya seperti anak sendiri, sehingga para
bawahannya tidak berani mengambil keputusan, segala sesuatu yang pelik diserahkan
kepada bapak pimpinan untuk menyelesaikannya. Dengan demikian bapak sangat banyak
pekerjaannya yang menjadi tanggung jawab anak buahnya. - Kepemimpinan demokratis (democratic leadership)
Dalam tipe ini pimpinan selalu mengadakan musyawarah dengan para bawahannya untuk
menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya yang sukar, sehingga para bawahannya merasa
dihargai pikiran-pikirannya dan pendapat-pendapatnya serta mempunyai pengalaman yang
baik di dalam menghadapi segala persoalan yang rumit. Dengan demikian para bawahan
bergeraknya itu bukan karena rasa paksaan, tetapi karena rasa tanggung jawab yang timbul
karena kesadaran atas tugas-tugasnya. - Kepemimpinan bakat (indigenous leadership) Dalam tipe ini pimpinan dapat menggerakan
bawahannya karena mempunyai bakat untuk itu, sehingga para bawahannya senang
mengikutinya, jadi tipe ini lahir karena pembawannya sejak lahir seolah-olah ditakdirkan
untuk memimpin dan diikuti oleh orang lain. Dalam tipe ini pimpinan tidak akan susah
menggerakkan bawahannya, karena para bawahannya akan selalu menurut akan
kehendaknya
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengalaman Kerja
Menurut Ismanto & Nano (2011) Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pengalaman tidaknya seorang karyawan sebagai indikator
pengalaman kerja, yaitu lama waktu atau masa kerja, tingkat pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki, dan penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan.
1) Lama kerja atau masa kerja
Suatu ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh
seseorang karyawan dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan, dan telah
melaksanakan dengan baik.
2) Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
Suatu pengetahuan menunjuk pada konsep, prinsip, prosedur,
kebijakan, atau informasi lain yang dibutuhkan karyawan, pengetahuan juga
mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada
tanggung jawab pekerjaan. Sedangkan keterampilan merujuk pada
kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu
tugas atau pekerjaan.
3) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan
Tingkat penguasaan seorang karyawan dalam melaksanakan aspek-
aspek teknis peralatan dan teknik pekerjaan.
4) Jenis pekerjaan
Semakin banyak jenis tugas yang dilaksanakan seorang karyawan maka
umumnya orang tersebut akan memperoleh hasil pelaksanaan tugas yang
lebih baik
Pengertian Leadership atau Kepemimpinan
Yamin dan Maaisah (2010; 74) Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi yang
dilakukan oleh seseorang dalam mengolah anggota untuk mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan menurut Wukir (2013; 134) kepemimpinan merupakan seni memotivasi dan
mempengaruhi sekelompok orang untuk bertindak mencapai tujuan
Pengukuran Pengalaman kerja
Pengalaman kerja tidak hanya dari lamanya bekerja karyawan pada bidang
pekerjaan tertentu saja, akan tetapi dapat dilihat dari keterampilan, keahlian,
kemampuan, yang dimiliki oleh pekerja tersebut. Lamanya seseorang bekerja
pada pekerjaan yang sama atau sejenis akan mengakibatkan lebih tahu dan
terampil dalam melaksanakan pekerjannya (Hardiansah 2014).
1) Gerakan yang mantap dan lancar
Setiap karyawan yang sudah berpengalaman akan melakukan gerakan
yang mantap dan bekerja tanpa disertai keragunan.
2) Gerakan berirama
Gerakan berirama merupakan terciptanya dari kebiasaan dalam
melakukan pekerjaan sehari-hari.
3) Lebih cepat menanggapi tanda-tanda
Merupakan tanda-tanda seperti akan terjadinya kecelakaan kerja. Dapat
mengetahui atau timbul kesulitan sehingga lebih siap menghadapinya. Karena
didukung oleh pengalaman dapat mengetahui akan terjadinya kesulitan dan
siap menghadapinya.
4) Bekerja dengan tenang.
Seorang karyawan yang berpengalaman akan memiliki rasa percaya
diri yang cukup besa
Aspek-aspek Loyalitas Karyawan
Menurut Siswanto (2013), aspek-aspek loyalitas karyawan adalah sebagai
berikut :
- Taat pada peraturan
Setiap kebijakan yang diterapkan dalam organisasi untuk
memperlancar dan mengatur jalannya pelaksanaan tugas oleh
manajemen organisasi ditaati dan dilaksanakan dengan baik. Keadaan
ini akan menimbulkan kedisiplinan yang menguntungkan organisasi
baik intern maupun ekstern. - Tanggung jawab pada perusahaan/organisasi
Karakteristik pekerjaan dan pelaksanaan tugasnya mempunyai
konsekuensi yang dibebankan karyawan. Kesanggupan karyawan
untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan kesadaran akan setiap
resiko pelaksanaan tugasnya akan memberikan pengertian tentang
keberanian dan kesadaran bertanggungjawab terhadap resiko atas apa
yang telah dilaksanakan. - Kemauan untuk bekerja sama
Bekerja sama dengan orangorang dalam suatu kelompok akan
memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin
dicapai oleh orangorang secara invidual. - Rasa memiliki
Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap organisasi akan
membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan
bertanggung jawab terhadap organisasi sehingga pada akhirnya akan
menimbulkan loyalitas demi tercapainya tujuan organisasi. - Hubungan antar pribadi
Karyawan yang mempunyai loyalitas kerja tinggi mereka akan
mempunyai sikap fleksibel ke arah tata hubungan antara pribadi.
Hubungan antara pribadi ini meliputi hubungan sosial diantara
karyawan, hubungan yang harmonis antara atasan dan karyawan,
situasi kerja dan sugesti dari teman kerja. - Kesukaan terhadap pekerjaan
Organisasi harus dapat menghadapi kenyataan bahwa karyawannya
tiap hari datang untuk bekerjasama sebagai manusia seutuhnya dalam
hal melakukan pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati
sebagai indikatornya bisa dilihat dari : keunggulan karyawan dalam
bekerja, karyawan tidak pernah menuntut apa yang diterimanya diluar
gaji pokok
Pengertian Pengalaman Kerja
Menurut Marwansyah (2014) pengalaman kerja adalah suatu pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang dimiliki pegawai untuk mengemban
tanggungjawab dari pekerjaan sebelumnya, indikator dari pengalaman kerja
adalah : pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan tanggungjawab.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengalaman kerja
merupakan suatu kemampuan yang dimiliki karyawan yang didapatkan dari
lamanya masa kerja karyawan tersebut.
Menurut Ismanto (2011) pengalaman kerja merupakan proses
pembentukan atau keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena
keterlibatan karyawan dalam melaksanakan tugas pekerjaannya
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan
Steers & Porter (1983) menyatakan bahwa timbulnya loyalitas kerja
dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
- Karakteristik pribadi yang meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin,
tingkat pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras, dan sifat kepribadian - Karakteristik pekerjaan, meliputi tantangan kerja, stres kerja,
kesempatan untuk berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi
tugas, umpan balik tugas, dan kecocokan tugas - Karakteristik desain perusahaan/organisasi, yang dapat dilihat dari
sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam
pengambilan keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai
tingkat asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan, ketergantungan
fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan - Pengalaman yang diperoleh dalam perusahaan/organisasi, yaitu
internalisasi individu terhadap perusahaan setelah melaksanakan
pekerjaan dalam perusahaan tersebut meliputi sikap positif terhadap
perusahaan, rasa percaya terhadap perusahaan sehingga menimbulkan
rasa aman, merasakan adanya kepuasan pribadi yang dapat dipenuhi
oleh perusahaan.
Indikator Loyalitas Karyawan
Sahar (2019) mengemukakan bahwa indikator loyalitas yang digunakan
untuk menentukan loyalitas anggota organisasi adalah keinginan untuk tetap
bertahan pada organisasi yang ditandai dengan :
- Penerimaan penuh terhadap nilai-nilai organisasi yang ditandai dengan
menerima apapun yang menjadi kebijakan organisasi. - Setia pada perusahaan.
- Keinginan untuk tetap bertahan dalam organisasi.
- Keinginan untuk berusaha semaksimal mungkin ditandai dengan
bersedia bekerja melebihi kondisi biasa.
Pengertian Loyalitas Karyawan
Loyalitas berasal dari kata loyal yang berarti setia. Loyalitas dalam
organisasi dapat diartikan sebagai kesetiaan seorang karyawan terhadap
organisasi. Menurut Andromike (2014: 3) loyalitas karyawan adalah sikap dan
perbuatan mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, melaksanakan
tugas dengan tanggung jawab serta jujur dalam bekerja, menciptakan hubungan
kerja yang baik dengan atasan, rekan kerja dengan bawahan dalam
menyeleseaikan tugas, menciptakan suasana yang mendukung dan menyenangkan
saat ditempat kerja dan adanya kesediaan untuk bekerja dalam jangka waktu yang
panjang. Utomo (2010) mengemukakan bahwa loyalitas dapat dikatakan sebagai
kesetiaan seseorang terhadap suatu hal yang bukan hanya berupa kesetiaan fisik
semata, namun lebih pada kesetiaan non fisik seperti pikiran dan perhatian.
Loyalitas para karyawan dalam suatu organisasi itu mutlak diperlukan demi
kesuksesan organisasi itu sendiri. Menurut Reichheld (2012), semakin tinggi
loyalitas para karyawan di suatu organisasi, maka semakin mudah bagi organisasi
itu untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya
oleh pemilik organisasi. Begitu pula sebaliknya, bagi organisasi yang loyalitas
para karyawannya rendah, maka semakin sulit bagi organisasi tersebut untuk
mencapai tujuan-tujuan organisasinya yang telah ditetapkan sebelumnya oleh para
pemilik organisasi.
Jenis-jenis Motivasi Kerja
Hasibuan (2017) menyatakan bahwa ada dua jenis motivasi kerja, yaitu
motivasi positif dan motivasi negatif.
- Motivasi positif (insentif positif)
Motivasi positif maksudnya pemimpin memotivasi (merangsang) bawahan
dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi di atas
prestasi standar. Dengan motivasi positif, semangat kerja bawahan akan
meningkat karena umumnya manusia senang menerima yang baikbaik
saja. - Motivasi negatif (insentif negatif)
Motivasi negatif maksudnya pemimpin memotivasi bawahan dengan
standar mereka akan mendapat hukuman. Dengan motivasi negatif ini
semangat bekerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat
karena mereka takut dihukum, tetapi untuk jangka waktu panjang dapat
berakibat kurang baik.
Tujuan Motivasi Kerja
Menurut Hasibuan (2017) tujuan dari motivasi kerja adalah sebagai berikut:
- Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
- Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
- Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan
- Meningkatkan kedisiplinan karyawan
- Mengefektifkan pengadaan karyawan
- Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
- Meningkatkan loyalitas, kreativitas dan partisipasi karyawan
- Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
Indikator Motivasi Kerja
Hasibuan (2008:157) menyatakan bahwa motivasi kerja pegawai
dipengaruhi oleh kebutuhan fisik, kebutuhan akan keamanan dan keselamatan,
kebutuhan sosial dan kebutuhan akan penghargaan diri. Kemudian menurut Medi
Prakoso (2015) dari faktor tersebut diturukanlah indikator-indikator untuk
mengetahui tingkat motivasi pada karyawan, yaitu:
- Kebutuhan rasa aman dan keselamatan
Ditunjukan dengan fasilitas keamanan dan keselamatan kerja yang
diantaranya jaminan sosial tenaga kerja, dana pensiun, asuransi kesehatan,
asuransi kecelakaan dan perlengkapan keselamatan kerja. - Kebutuhan fisik
Ditunjukan dengan pemberian gaji, pemberian bonus, uang makan, uang
transport, fasilitas perumahaan dan sebagainya. - Kebutuhan akan penghargaan
Ditunjukan dengan pengakuan dan penghargaan berdasarkan
kemampuannya yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh
pegawai lain dan pimpinan terhadap prestasi kerja. - Kebutuhan sosial
Ditunjukan dengan melakukan interaksi dengan orang lain yang
diantaranya untuk diterima di kelompok dan kebutuhan untuk dicintai dan
mencintai
Pengertian Motivasi Kerja
Motivasi merupakan dorongan-dorongan individu untuk bertindak yang
menyebabkan orang tersebut berperilaku dengan cara tertentu yang mengarah
pada tujuan. Prinsip dasar motivasi adalah kemampuan (ability) dan motivasi
individu. Menurut prinsip tersebut, tidak ada tugas yang dapat dilaksanakan
dengan baik tanpa didukung oleh kemampuan untuk melaksanakannya.
Rivai (2011:837) mengemukakan bahwa motivasi merupakan serangkaian
sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang
spesifik sesuai dengan tujuan individu. Setiap orang yang bekerja mengharapkan
memperoleh kepuasan dari tempatnya bekerja. Pada dasarnya kepuasan kerja
merupakan hal yang bersifat individual karena setiap individu akan memiliki
tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam
diri setiap individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan
keinginan individu, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan.
Namun, kemampuan tidaklah mencukupi untuk menjamin tercapainya kinerja
terbaik. Individu harus memiliki keinginan (motivasi) untuk mencapai kinerja
terbaik (Setiawan dan Ghozali, 2006: 126).
Sedangkan pengertian motivasi lainnya dikemukakan oleh Hakim
(2006:167) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi
kinerja karyawan yaitu faktor motivasi dimana motivasi merupakan kondisi yang
menggerakan seseorang berusaha untuk mencapai tujuan atau mencapai hasil yang
diinginkan
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja
Menurut Nitisemito (1992:159) Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
terbentuknya suatu lingkungan kerja adalah sebagai berikut :
- Pewarnaan
Warna dapat berpengaruh terhadap karyawan didalam melaksanakan
pekerjaannya, namun tidak sedikit perusahaan yang kurang
memperhatikan masalah warna. Pewarnaan pada dinding atau tembok pada
ruang kerja hendaknya menggunakan warna yang lembut. Dengan
demikian karyawan akan merasa nyaman. - Penerangan
Penerangan dalam ruang kerja karyawan memegang peranan yang sangat
penting dalam meningkatkan semangat karyawan. Dengan adanya
penerangan yang cukup maka kegiatan-kegiatan operasional organisasi
akan berjalan dengan lancar sehingga karyawan akan menunjukkan hasil
kerja yang baik. - Udara
Suhu udara yang terlalu panas akan menurunkan semangat kerja karyawan
di dalam melaksanakan pekerjaannya. Maka dari itu perusahaan
diharapkan untuk memberikan udara yang cukup (tidak terlalu panas dan
tidak terlalu dingin) di dalam ruangan kerja karyawan, dengan adanya
pertukaran udara yang cukup maka karyawan akan selalu merasa segar dan
semangat untuk menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung
jawabnya. - Suara Bising
Suara yang bising bisa sangat menganggu para karyawan dalam bekerja.
Suara bising tersebut dapat merusak konsentrasi kerja karyawan sehingga
kinerja karyawan menjadi tidak optimal. Maka dari itu setiap perusahaan
harus selalu berusaha untuk menghilangkan suara bising tersebut atau
paling tidak menekannya untuk memperkecil suara bising tersebut dengan
memperdengarkan musik yang bisa mengembalikan konsentrasi karyawan. - Ruang Gerak
Karyawan yang bekerja dalam suatu perusahaan hendaknya mendapatkan
tempat yang cukup untuk melaksanakan pekerjaannya. Karyawan tidak
mungkin dapat bekerja dengan maksimal jika tempat yang tersedia tidak
dapat memberikan kenyamanan. Dengan demikian ruang gerak untuk
tempat karyawan bekerja seharusnya direncanakan terlebih dahulu agar
para karyawan tidak terganggu di dalam melaksanakan pekerjaan. Menurut
Assauri (1993:33) mengemukakan bahwa: “Agar para karyawan dapat
leluasa bergerak dengan baik, maka ruangan gerak para karyawan perlu
diberikan ruangan yang memadai. Terlalu sempit ruang gerak akan
menghambat proses kerja para karyawan. Sebaliknya ruangan kerja yang
besar merupakan pemborosan ruangan”.
Dari pendapat di atas mengenai ruang gerak yang ideal adalah ruang yang
leluasa sehingga dapat membantu kelancaran kerja karyawan. Ruangan
yang sempit akan mengakibatkan lalu-lintas di tempat kerja menjadi
semrawut, sehingga karyawan akan kehilangan semangat dalam bekerja. - Keamanan
Rasa aman bagi karyawan sangat berpengaruh terhadap semangat kerja
dan kinerja karyawan. Di sini yang dimaksud dengan keamanan yaitu
keamanan yang dapat dimasukkan ke dalam lingkungan kerja fisik. Jika di
tempat kerja tidak aman karyawan tersebut akan menjadi gelisah, tidak
tenang dan tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya serta semangat
kerja karyawan tersebut akan mengalami penurunan. Oleh karena itu
sebaiknya suatu perusahaan terus berusaha untuk menciptakan dan
mempertahankan suasana aman tersebut, misalnya memasang kamera
CCTV di setiap sudut ruangan atau memperketat penjagaan dengan adanya
peran dari security. - Kebersihan
Lingkungan kerja yang bersih akan menciptakan keadaan disekitarnya
menjadi sehat. Oleh karena itu setiap perusahaan hendaknya selalu
menjaga kebersihan lingkungan kerja. Dengan adanya lingkungan kerja
yang bersih karyawan akan merasa senang sehingga kinerja karyawan
akan meningkat.
Jenis-jenis Lingkungan Kerja
Sedarmayanti (2001:21) mengemukakan bahwa ada 2 jenis lingkungan
kerja, yaitu:
- Lingkungan kerja fisik
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang
terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik
secara langsung maupun secara tidak langsung. - Lingkungan kerja non-fisik
Lingkungan kerja non-fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang
berkaitan dengan hubungsn kerja, baik hubungan dengan atasan maupun
hubungan dengan bawahan sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan
bawahan
Indikator Lingkungan Kerja
Menurut Nitisemito (1992:159), indikator-indikator lingkungan kerja
terdiri dari:
- Tersedianya fasilitas untuk karyawan
Hal ini dimaksudkan bahwa peralatan yang digunakan untuk mendukung
kelancaran kerja lengkap dan memadai. Tersedianya fasilitas kerja yang
lengkap, adanya fasilitas umum, toilet, poliklinik, tempat ibadah dan
tempat makan/kantin. - Suasana kerja
Suasana kerja adalah kondisi yang ada disekitar karyawan yang sedang
melakukan pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan itu
sendiri. - Hubungan dengan rekan kerja
Hubungan dengan rekan kerja yaitu hubungan dengan rekan kerja
harmonis dan tanpa ada saling intrik diantara sesama rekan kerja.
Hubungan yang harmonis dan kekeluargaan merupakan salah satu faktor
yang dapat memengaruhi kinerja seseorang.
Pengertian Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja memiliki banyak pengertian menurut para ahli, seperti
yang dikemukakan oleh Nitisemito (2002;11), lingkungan kerja adalah sesuatu
yang ada disekitar para pekerja dan yang mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Pengertian lingkungan kerja lainnya
dikemukakan oleh Sedarmayati (2001;21), menyatakan lingkungan kerja sebagai
keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di
mana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai
perseorangan maupun sebagai kelompok. Sedangkan menurut Heijrachman dan
Husnan (1997:34) yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pengaturan
lingkungan kerja adalah pengaturan penerangan tempat kerja, pengontrolan
terhadap suara gaduh dalam pabrik, pengontrolan terhadap udara, pengaturan
kebersihan tempat kerja, dan pengaturan tentang keamanan kerja.
Perhatian terhadap lingkungan manajemen penting karena tiap elemen
lingkungan mempengaruhi baik langsung atau tidak langsung terhadap kegiatan-
kegiatan manajerial. Tetapi, tidak semua lingkungan sama dan tidak semua
organisasi memiliki lingkungan yang sama, sementara organisasi tidak
mempunyai informasi yang cukup tentang keadaan lingkungannya. Mereka
berbeda dalam hal karakteristik lingkungan, yaitu satu kondisi dalam mana
pengaruh keadaan lingkungan masa datang suatu organisasi tidak dapat secara
akurat dinilai dan diprediksi (Silalahi,2013:131).
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Organisasi
Menurut Eisenberger dalam Baliarti (2016), organizationalsupport
dipengaruhi oleh pengalaman yang dimiliki oleh individu, serta pengamatan
mengenai keseharian organisasi dalam memperlakukan seseorang. Dalam hal ini
sikap organisasi terhadap ide-ide yang dilontarkan oleh pegawai, respon
terhadap pegawai yang mengalami masalah serta perhatian perusahaan terhadap
kesejahteraan dan kesehatan pegawai merupakan tiga aspek yang menjadi
perhatian utama dari pegawai. Ketiga aspek yang menjadi perhatian utama dari
pegawai yaitu:
1) Sikap Organisasi Terhadap Ide-Ide Pegawai
Organizational support dipengaruhi oleh sikap organisasi terhadap ide-
ide yangdilontarkan oleh pegawai. Bila organisasi melihat ide dari pegawai
sebagai sumbangan yang konstruktif, yang mungkin saja dapat diwujudkan
melalui perencanaan yang matang, maka individu yang bekerja ditempat
tersebut memiliki persepsi yang positif akan dukungan organisasi terhadap
diri mereka. Sebaliknya, dukungan organisasi akan menjadi negatif bila
perusahaan selalu menolak ide dari pegawai dan segala sesuatu merupakan
keputusan dari pimpinan puncak.
2) Respon Terhadap Pegawai
Menghadapi Masalah Organizational support juga dipengaruhi oleh
respon terhadap pegawai yangmenghadapi masalah. Bila organisasi
cenderung untuk berdiam diri dan tidak memperlihatkan usaha untuk
membantu individu yang terlibat masalah, maka pegawai akan melihat bahwa
tidak ada dukungan yang diberikan organisasi terhadap pegawai.
3) Respon Terhadap Kesejahteraan dan Kesehatan Pegawai
Perhatian organisasi akan kesejahteraan pegawai juga mempengaruhi
tingkat organizational support pegawai. Pegawai yang melihat bahwa
organisasiberusaha keras untuk meningkatkan kesejahteraan individu yang
bekerja didalamnya, akan melihat hal ini sebagai suatu hal yang positif.
Pegawai melihat bahwa organisasi memberikan dukungan agar setiap orang
dapat bekerja secara optimal demi tercapainya tujuan bersama. Pada dasarnya
organizational support merupakan suatu persepsi pegawai bahwa dirinya
dihargai dan diperhatikan oleh organisasi atau perusahaan tempatnya bekerja.
Bila organisasi memperhatikan dan menghargai upaya yang dilakukan oleh
individu untuk mencapai tujuan perusahaan maka individu akan
mempersepsikan bahwa organisasimemberikan dukungan terhadap mereka
Manfaat Kinerja Karyawan
Pendapat dari Umam (2010;101) beberapa efek yang dapat ditimbulkan
dari adanya kinerja adalah sebagai berikut :
- Pencapaian Target
Pada saat karyawan dan pimpinan bertindak efektif dengan energi
positif, untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab masing-masing
sesuai dengan arahan dari target. Maka pada saat itulah energi positif
setiap orang akan berkontribusi untuk menghasilkan karya serta kinerja
terbaiknya. - Loyalitas Karyawan
Loyalitas memiliki beberapa unsur, diantaranya yaitu adanya sikap
kesetiaan, disiplin kerja yang tinggi, kesadaran untuk melaksanakan
tanggung jawab, dan berusaha menjaga nama baik perusahaan.
semakin tinggi tingkat loyalitasnya, maka akan semakin baik pula
kinerja karyawan tersebut. - Pelatihan dan Pengembangan
Semakin baik kinerja karyawan maka semakin rendah kebutuhan
pelatihan dan pengembangan. Sebaliknya, semakin buruk kinerja
karyawan tersebut maka akan semakin tinggi kebutuhan karyawan
tersebut untuk mendapatkan pelatihan dan pengembangan. - Promosi
Kinerja dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk
promosi karyawan. - Berperilaku Positif
Mendorong orang lain agar berperilaku positif atau memperbaiki
tingkatan mereka yang berada di bawah standar kinerja. - Peningkatan Organisasi
Memberikan dasar yang kuat bagi pembuatan kebijakan untuk
peningkatan organisasi
Dampak dari Adanya Dukungan Organisasi
Berbagai penelitian menunjukan bahwa organizational support
mempunyai dampak baik bagi individu maupun organisasi. Dampak tersebut
menurut Indriana (2016), antara lain:
1) Komitmen organisasi
Pegawai yang mempersepsikan tingkat organizational support yang
tinggi melahirkan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaannya.
Pegawai merasa organisasi berkomitmen terhadap dirinya. Sebagai
balasannya, pegawai pun berkomitmen terhadap organisasi.
2) Kesiapan untuk berubah
Organisasi yang peduli dengan kemajuan yang dicapai oleh para
pegawai membuat pegawai memiliki tanggung jawab terhadap tujuan
organisasi. Ketika organisasi ingin menjadi lebih baik, pegawai siap
mendukungnya.
3) Intensitas meninggalkan organisasi
Pegawai yang memprersepsikan dukungan tinggi dari organisasi akan
membuat pegawai betah bersama organisasi. Pegawai cenderung tidak ingin
meninggalkan organisasi.
4) Organizational citizen behavior
Organizational support yang tinggi membuat pegawai percaya pada
organisasi. Dengan kepercayaan tersebut, pegawai mau melakukan pekerjaan
yang bukan tanggung jawab mereka dengan sukarela.
5) Kepuasan kerja
Organizational support mempunyai pengaruh terhadap job satisfaction
pegawai. Pegawai yang merasa adanya organizational support yang tinggi
cenderung puas terhadap gaji, rekan kerja, atasan dan promosi
Pengertian Dukungan Organisasi
Menurut Eisenberger dalam mangundjaya (2016) Teori dukungan
organisasi menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan emosional dan
menilai keuntungan dari peningkatan usaha dalam bekerja, karyawan
membentuk persepsi umum mengenai sejauhmana organisasi menghargai
kontribusinya dan peduli terhadap kesejahteraannya (persepsi dukungan
organisasi).
Bersamaan dengan itu menurut Erdogan dan Enders (2016) dukungan
oganisasi merupakan derajat kepercayaan individu terhadap organisasi bahwa
organisasi peduli kepadanya, menilai setiap masukan yang diberikan, dan
menyediakan pertolongan dan bantuan untuknya. Sugiyono (2015)
mendeskripsikan dukungan organisasi didefiniskan sebagai seberapa banyak
organisasi menilai kontribusi pegawai dan peduli terhadapnya.
Menurut Danish, Ramzan dan Ahmad (2013), Dukungan organisasi
merupakan ekspektasi pegawai bahwa organisasi menghargai kontribusi dan
pekerjaan yang pegawai lakukan dengan sebaiknya.
Menurut Robbins (2015) dukungan organisasi adalah dimana organisasi
menghadapi suatu lingkungan yang dinamis dan berubah agar organisasi
menyesesuaikan diri
Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia menurut Hasibuan
(2015), yaitu terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengendalian, pengadaan, pengembangan kompensasi, pengintegrasian,
pemeliharaan, kedisiplinan dan pemberhentian. Menurut Flippo dalam
Yuniarsih dan Suwanto (2014), fungsi manajemen sumber daya manusia terdiri
dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, integrasi dan pemutusan hubungan
kerja. Menurut Harris, Yuniarsih, dan Suwanto (2014), fungsi manajemen
sumber daya manusia terdiri dari perencanaan, penempatan, pengevaluasian,
kompensasi, pengembangan dan mengatur hubungan yang efektif antar tenaga
kerja. Menurut Hasibuan (2015), fungsi manajemen sumber daya manusia
adalah sebagai berikut:
1) Perencanaan
Perencanaan (human resources planning) adalah merencanakan tenaga
kerja secara efektif dan efisien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan
dalam membantu mewujudkan tujuan perusahaan.
2) Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua
karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
wewenang, integrasi, dan koordinasi dalam bagan organisasi
(organization chart).
3) Pengarahan
Pengarahan (directing) adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan,
agar mau bekerja sama dengan bekerja efektif dan efisien dalam mebantu
tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
4) Pengendalian
Pengendalian (controlling) adalah kegiatan mengendalikan semua
karyawan, agar menaati peraturan-peraturan perusahaan dan bekerja
sesuai dengan rencana.
5) Pengadaan.
Pengadaan (procurement) adalah proses penarikan, seleksi,
penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang
sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
6) Pengembangan
Pengembangan (development) adalah proses peningkatan keterampilan
teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui Pendidikan dan
pelatihan.
7) Kompensasi
Kompensasi (compensation) adalah pemberian balas jasa langsung
(direct) dan tidak langsung (indirect), uang atau barang kepada karyawan
sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan.
8) Pengintegrasian
Pengintegrasian (integration) adalah kegiatan untuk mempersatukan
kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar terciptanya kerja
sama yang serasi dan saling menguntungkan.
9) Pemeliharaan
Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau
meningkatkan kondisi fisik, mental, dan loyalitas karyawan, agar mereka
tetap mau bekerja sama sampai pension.
10) Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan fungsi MSDM yang terpenting dan kunci
terwujudnya tujuan karena tanpa disiplin yang baik sulit terwujudnya
tujuan perusahaan yang maksimal.
11) Pemberhentian
Pemberhentian (separation) adalah putusnya hubungan kerja seseorang
dari suatu perusahaan. pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan
karyawan, keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pension, dan
sebab-sebab lainnya
Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia
Peran manajemen Sumber Daya Manusia dalam menjalankan aspek
Sumber Daya Manusia, harus dikelola dengan baik sehingga kebijakan dan
praktik dapat berjalan sesuai dengan rencana yang diinginkan perusahaan,
menurut Rivai (2015) peran manajemen SDM antara lain:
1) Melakukan analisis jabatan (menetapkan karakteristik pekerjaan masing-
masing SDM)
2) Merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan merekrut calon pekerja
3) Menyeleksi calon pekerja
4) Memberikan pengenalan dan penempatan pada karyawan baru
5) Menetapkan upah, gaji, dan cara memberikan kompensasi
6) Memberikan intensif dan kesejahteraan
7) Melakukan evaluasi kinerja
8) Mengkomunikasikan, memberikan penyuluhan, menegakkan disiplin kerja
9) Memberikan pendidikan, pelatihan dan pengembangan
10) Membangun komitmen kerja
11) Memberikan keselamatan kerja
12) Memberikan jaminan kesehatan
13) Menyelesaikan perselisihan perburuhan
14) Menyelesaikan keluhan dan relationship karyawan
Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Farida (2017) Manajemen sumber daya manusia adalah
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dari kegiatan
pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi dan pemeliharaan sumber
daya manusia dengan maksud untuk membantu pencapaian tujuan perusahaan,
individu dan masyarakat. Menurut Irianto dalam Herawati (2014) manajemen
sumber daya manusia merupakan pengakuan tentang pentingnya tenaga
organisasi sebagai sumber daya manusia yang sangat penting dalam memberi
kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi, dan penggunaan beberapa fungsi dan
kegiatan untuk memastikan bahwa SDM tersebut digunakan secara efektif dan
adil bagi kepentingan individu, organisasi dan masyarakat. Menurut Hasibuan
(2014), “manajemen sumber daya manusia adalah ilmu & seni mengatur
hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu
terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.”
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya
manusia merupakan kegiatan perencanaan, pengadaan, pengembangan, dan
pemeliharaan serta penggunaan Sumber Daya manusia untuk mencapai tujuan
baik bagi industri atau perusahaan
Manajemen
Manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang
diinginkan oleh sebuah industri atau perusahaan. Manajemen juga sebagai ilmu
pengetahuan yang bersifat universal serta mempergunakan kerangka ilmu
pengetahuan yang sistematis.
Menurut Farida (2017) mengemukakan bahwa “manajemen adalah seni
dan ilmu dalam perencanaan, pengoorganisasian/organisasian, pengarahan, dan
pengawasan daripada sumber daya manusia untuk mencapai tujua yang telah
ditetapkan.
Menurut Hasibuan (2016) mengemukakan bahwa “manajemen merupakan
ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan
sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu”.
Pengertian Manajemen menurut Robbins, Coulter (2012) mengemukakan
“Manajemen melibatkan suatu koordinasi dan mengawasi aktivitas kerja lainnya
sehingga kegiatan mereka selesai dengan efektif dan efisien. Arti dari efisien
sendiri adalah mendapatkan hasil output terbanyak dari input yang seminimal
mungkin, sedangkan arti dari efektif adalah “melakukan hal yang benar”, yaitu
melakukan sebuah pekerjaan yang dapat membantu organisasi mencapai
tujuannya”.
Berdasarkan semua paparan di atas, dapat di pahami dan dapat
disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang
proses mengatur sumber daya manusia dan sumber daya lainnya guna mencapai
tujuan industri atau perusahaan secara efektif dan efisien
Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
- Efektifitas dan Efisiensi
Prawirosentono (1999:27) berpendapat bahwa efektifitas dan efisiensi
yaitu apabila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh
mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-
akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari hasil yang
dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif
dinamakan tidak efesien. Sebaliknya, bila akibat yang dicari-cari tidak
penting atau remeh maka kegiatan tersebut efesien. - Otoritas (wewenang)
Menurut Prawirosentono (1999:27), otoritas merupakan sifat dari suatu
komunikasi atau perintah dalam suatu organisasi formal yang dimiliki
seorang anggota organisasi kepada anggota yang lain untuk melakukan
suatu kegiatan kerja sesuai dengan kontribusinya. Perintah tersebut
mengatakan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dalam
organisasi tersebut. - Disiplin
Disiplin adalah taat kepada hukum dan peraturan yang berlaku. Jadi
menurut Prawirosentono (1999:27) disiplin karyawan merupakan
kegiatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian
kerja dengan organisasi dimana dia bekerja. - Inisiatif
Inisiatif berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk
ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan
perusahaan
Karatketistik Kinerja Karyawan
Menurut Mangkunegara (2002:68), karakteristik orang yang memiliki
kinerja tinggi adalah sebagai berikut:
a. Memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi.
b. Berani mengambil dan menanggung resiko yang dihadapi.
c. Memiliki tujuan yang realistis.
d. Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk
merealisasi tujuannya.
e. Memanfaatkan umpan balik (feed back) yang konkrit dalam seluruh
kegiatan kerja yang dilakukannya.
f. Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah
diprogramkan.
Indikator Kinerja Karyawan
Pengukuran kinerja karyawan dapat bervariasi berdasarkan sifat pekerjaan,
jenis perusahaan dan sektor organisasi atau perusahaan. Bagus Surya Kurniawan
dan Medi Prakoso (2015) mengemukakan bahwa untuk mengukur apakah
karyawan memiliki kinerja yang baik pada pekerjaan mereka maka dapat diukur
dari:
- Ketepatan Waktu
Suatu jenis pekerjaan tertentu menuntut kehadiran karyawan dalam
mengerjakannya sesuai dengan waktu yang ditentukan. - Deskripsi Pekerjaan
Pernyataan tertulis yang menjelaskan tentang tanggung jawab yang harus
dilaksanakan dari suatu pekerjaan tertentu. - Kuantitas
Seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam periode waktu yang
telah ditentukan. - Kualitas
Setiap karyawan dalam mampu mengenal dan manyelesaikan masalah
yang relevan serta memiliki sikap kerja yang positif di tempat kerja
Pengertian Kinerja Karyawan
Menurut Mangkunegara (2000:67), istilah kinerja berasal dari kata job
performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya
yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja (output) secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja karyawan pada dasarnya
adalah hasil kerja karyawan selama periode tertentu. Kinerja bisa mempengaruhi
berlangsungnya kegiatan suatu perusahaan, semakin baik kinerja yang ditunjukan
oleh para karyawan maka semakin baik pula perkembangan perusahaan tersebut.
Menurut Simamora (2004:53) kinerja karyawan merupakan tingkat hasil
kerja karyawan dalam pencapaian persyaratan pekerjaan yang diberikan. Kinerja
karyawan yang baik sangat penting bagi kemajuan perusahaan. Pengertian kinerja
lainnya dikemukakan oleh Hasibuan (2002:160), kinerja merupakan suatu hasil
kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya atas kecakapan, usaha dan kesempatan. Sedangkan menurut Mathis dan Jackson (2006:378)
kinerja yaitu apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan
Indikator Employee Well-Being
Berikut adalah beberapa indikator kesejahteraan karyawan (Employee
Well-Being) :
- Kesejahteraan subjektif
Kesejahteraan ini mencakup pengalaman emosional yang
menyenangkan, suasana hati positif, dan tingkat kepuasan hidup tinggi. - Kesejahteraan tempat kerja
Kesejahteraan ini merujuk pada kondisi sekitar karyawan yang
mempengaruhi pelaksaan tugas yang telah diberikan - Kesejahteraan psikologis
Kesejahteraan ini melibatkan keterikatan karyawan untuk
berhubungan secara positif dengan rekan kerja, pemahaman diri pribadi,
otonomi, serta pemahaman terhadap tujuan dan makna dalam kehidupan
Faktor yang mempengaruhi Employee Well-Being
Terdapat dua faktor Employee Well-Being, antara lain:
- Faktor yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dengan sesama
karyawan.
a. Gaji dan upah yang cukup dapat digunakan untuk kebutuhan
psikologis dan sosial
b. Rekan kerja yang kompak merupakan keinginan kebutuhan sosial.
c. Kondisi kerja yang aman, nyaman, dan menarik - Faktor yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dan pimpinan
a. Pimpinan yang adil dan bijaksana
b. Melengkapi karyawan dengan sumber dana yang diperlukan untuk
menjalankan tugasnya.
c. Mengkomunikasikan tentang apa yang diharapkan dari karyawan
d. Memberikan penghargaan untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Employee Well-Being
Employee Well-Being merupakan kompensasi pelengkap/benefit dan
manfaat yang diberikan berdasarkan kebijaksanaan perusahaan dengan
tujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi fisik dan mental
karyawan, sehingga kinerja dan produktivitas kerjanya meningkat.
Employee Well-Being juga dikenal sebagai reward dari perusahaan meliputi
semua jenis penghargaan berupa uang maupun bentuk produk atau barang
yang dibayarkan langsung sebagai penghargaan kepada karyawan atas hasil
kerja yang di capai. Adapun dalam penelitian menyatakan
kesejahteraan karyawan adalah kompensasi tidak langsung yang di berikan
kepada karyawan, baik dinilai dengan uang maupun tidak. Disebut
kompesasi tidak langsung karena tidak berkesinambungan langsung dengan
uang, biasanya dibuat sebagai Upaya penciptaan kondisi dan lingkungan
kerja yang menyenangkan . Employee benefit biasa juga di sebut dengan
kompensasi pelengkap, gaji tersembunyi (fringe benefit), pelayanan
karyawan atau jaminan sosial
Kesejateraan karyawan adalah balas jasa pelengkap dalam bentuk
material maupun non material yang di berikan perusahaan sesuai dengan
kebijaksaan perusahaan dengan tujuan mempertahankan kondisi fisik dan
mental supaya produktivitas kerja karyawan meningkat . Kesejahteraan
karyawan juga diartikan sebagai jaminan sosial yang berbentuk pemberian
penghasilan baik dalam materi atau non materi, yang diberikan kepada
karyawan dari perusahaan selama masa pengabdiannya atau setelah berhenti
di karenakan pensiun dan lanjut usia, dengan tujuan memberikan dorongan
serta semangat kepada karyawan . Dalam penelitian mengungkapkan
bahwa kesejahteraan karyawan merupakan suatu kepuasan yang diperoleh
oleh seorang karyawan dalam melakukan pekerjaan di dalam perusahaan.
Indikator Work-Life Balance
Adapun indikator Work-Life Balance yaitu :
- Time Balance (Keseimbangan Waktu)
Keseimbangan waktu ini merujuk pada keseimbangan antara
waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan dan waktu yang dihabiskan
untuk kehidupan pribadi dan keluarga. Hal ini berarti seseorang atau
karyawan mampu mengalokasikan waktu yang memadai untuk
kehidupannya. - Involment Balance (Keseimbangan Keterlibatan)
Keseimbangan keterlibatan mengacu pada tingkat keterlibatan
psikologis atau komitmen seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan
pribadinya. Ini mencakup bagaimana seseorang dapat mengelola stress
dan keterlibatan emosional dalam kedua aspek tersebut. Keseimbangan
ini penting supaya seseorang atau karyawan tidak terlalu terlibat dalam
pekerjaan sehingga keluarganya dan kehidupan pribadinya diabaikan
ataupun sebaliknya. - Satisfaction Balance (Keseimbangan Kepuasan)
Keseimbangan kepuasan merujuk pada tingkat kepuasan yang
dirasakan sesorang atau karyawan dalam pekerjaan dan kehidupan
pribadinya. Keseimbangan ini membantu memastikan bahwa seseorang
merasa terpenuhi dalam keterlibatannya di tempat kerja dan kehidupan
pribadinya
Faktor yang mempengaruhi Loyalitas Karyawan
Ada tiga faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan di antaranya
adalah :
- Faktor Rasional
Faktor ini berupa hal yang bisa dijelaskan secara logis, seperti:
gaji, bonus, jenjang karir, dan fasilitas yang diberikan perusahaan
kepada karyawannya. - Faktor Emosional
Faktor emosional ini menyangkut perasaan atau ekspresi diri
seperti: menantangnya pekerjaan, adanya dukungan di lingkungan kerja,
perasaan aman karena perusahaan menyediakan tempat kerja yang stabil
untuk jangka panjang, pemimpin yang berwibawa, pekerjaan yang
memberikan rasa bangga, penghargaan yang di berikan oleh perusahaan
dan budaya kerja. - Faktor Kepribadian
Faktor ini menyangkut sifat, karakter, dan tempramen yang
dimiki oleh karyawan
Loyalitas Karyawan
Loyalitas karyawan adalah keadaan dimana individu atau karyawan
memiliki empati kuat terhadap organisasi yang tercermin dalam perilaku,
seperti berpartisipasi untuk mencapai tujuan organisasi dengan
bersungguh-sungguh menjalankan tugas di dalam organisasi, mendukung
kebijakan organisasi dengan cara menataati peraturan dalam organisasi,
dan ingin tetap berada dalam organisasi dalam jangka panjang serta
berkontribusi kepada perusahaan . Adapun pendapat yang sama yaitu
loyalitas karyawan adalah bentuk tekad dan kesanggupan karyawan untuk
menaati dan mengamalkan dengan kesadaran dan tanggung jawab pada
pekerjaan . Loyalitas karyawan adalah kesetiaan karyawan terhadap
pekerjaannya, loyalitas karyawan mencerminkan rasa kesetiaan dan
tanggung jawab yang tinggi dari karyawan terhadap perusahaan mereka.
Ini merupakan bentuk apresiasi atas penghargaan yang diberikan
perusahaan kepada karyawan .
Loyalitas adalah kepercayaan atau penerimaan dari setiap tujuan
organisasi atau profesi, kemauan untuk melakukan usaha dengan sungguh-
sungguh, serta keinginan untuk menjaga keanggotaan dalam instansi dan
profesi . Loyalitas karyawan adalah kesetiaan karyawan yang di
tunjukkan ke perusahaan melalui kesediaan untuk menjalankan tugas dan
tanggung jawab yang telah di sepakati sejak awal bekerja . Sama halnya
dengan pendapat yangmana loyalitas karyawan ialah sikap kesetiaan
terhadap perusahaannya, dengan demikian yang menjadi tolak ukur
loyalitas adalah lamanya mereka bertahan dengan dampak produktivitas
yang semakin baik bagi perusahaan
Keterkaitan Loyalitas Kerja dan Kepribadian Terhadap Kinerja Karyawan
Hasil penelitian Reiza Adelia Maulida (2022) menyatakan bahwa tingkat loyalitas
sangat mempengaruhi kinerja karyawan, perusahaan dapat berjalan dengan baik bila
loyalitas dapat dikelola dengan semaksimal mungkin, karena loyalitas kerja sangat
berpengaruh untuk membangun kenyamanan pada kinerja karyawan yang bekerja pada
suatu perusahaan
Hasil penelitian SriIndrastuti (2021) Kepribadian tidak membawa pengaruh
signifikan terhadap kinerja karyawan tetapi kepribadian karyawan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja melalui kompetensi karyawan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa kompetensi karyawan dapat memediasi pengaruh kepribadian karyawan terhadap
kinerja karyawan
Indikator Kinerja Keryawan
Kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance yang berarti
prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Pengertian kinerja
(prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya (Mangkunegara, 2017).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Menurut Kopelman (dalam Annisa, Setyawan, dan Susila, 2017),faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja adalah: individual characteristics(karakteristik individual),
organizational charasteristic (karakteristikorganisasi), dan work characteristics
(karakteristik kerja). Lebihlanjut oleh Kopelman dijelaskan bahwa kinerja selain
dipengaruhi olehfaktor 9lingkungan juga sangat tergantung dari karakteristik
individusepertikemampuan, pengetahuan, keterampilan, motivasi, norma dan nilai.
Dalamkaitannya dengan konsep kinerja, terlihat bahwa karakteristik
individusepertikepribadian, umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan
sukubangsa,keadaan sosial ekonomi, pengalaman terhadap keadaan yanglalu,
akanmenentukan perilaku kerja dan produktivitas kerja, baik individu maupun organisasi
sehingga hal tersebut akan menimbulkan kepuasan bagi pelangganatau pasien.
Definisi Kinerja Karyawan
Menurut Cole, dkk, (dalam Alfatamma, 2020) kinerjaa adalah menggambarkan
kinerja sebagai proses berkelanjutan untuk meningkatkankinerja individu dengan
menyelaraskan dengan yang di inginkan (dandengantujuan strategis organisasi) secara
informal, sehari-hari, dansecarainformasi/sistematis melalui wawancara penilaian dan
penetapantujuan.Pekerjaan yang dilakukan dalam kapasitas manajemen tenaga kerja.
Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kinerja karyawanmerupakan suatu bentuk
kesuksesan seseorang untuk mencapai peranatauterget tertentu yang berasal dari
perbuatannya sendiri. Kinerja seseorangdikatakan baik apabila hasil kerja individu
tersebut dapat melampaui peranatau target yang ditentukan sebelumnya.
kinerja karyawan dapat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan
dengan melihat tinggi rendahnya kinerja yang diberikan oleh karyawan perusahaan
(Hidayat dan Wulantika, 2021)
Menurut Cash and Fischer (Dalam Isniar, 2013) Kinerja yang sering disebut dengan
performance juga disebut result yang berarti apa yang telah dihasilkan oleh individu
karyawan.
Lita Wulantika (2021) mencirikan bahwa skill pegawai adalah konsekuensi dari
kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai dalam melakukan pekerjaan dan kewajiban
yang diberikan dalam jangka waktu tertentu
Indikator Kepribadian Kerja
Menurut Robbins, (2014:131) Ada Lima indikator dari kepribadian
- Ekstroversi , Kepribadian yang menggambarkan seseorng yang supel , riang dan
percaya diri . - b. Kemampuan bersepakat , kepribadian yang menggambarkan seseorang yang
bersifat baik , kooperatif , dan mempercayai - c. Kemampuan mendengarkan suara hati ,kepribadian yang menggambarkan
seseorang yang bertanggung jawab , dapat diandalkan ,Satabil dan tertata - d. Stabilitas emosi , kepribadian yang mencirikan seseorang yang tenang , percaya
diri , tentram
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Kerja
Kepribadian seseorang di hasilkan oleh faktor keturunan, lingkungan, dan situasi
Stephen dan Timothy (2008;127).
- Keturunan
Keturunan merujuk ke faktor-faktor yang di tentukan pada saat pembuahan, sosok
fisik, daya tarik wajah, kelamin, tempramen, komposisi otot dan refleks, tingkat
energy, dan ritme hayati merupakan karateristik yang umumnya dianggap sebagai
yang paling oleh siapa kedua orang tua. karateristik itu pasti ada pada saat
kelahiran dan tidak ada pengalaman seberapapun yang dapat mengubahnya.Tetapi
karateristik kepribadian tidaklah sepenuhnya ditentukan oleh keturunan. - Lingkungan
Di antara faktor-faktor yang menekan pada pembentukan kepribadian kita adalah
budaya dimana kita di besarkan, normanorma di antara keluarga, teman-teman dan
kelompok sosial, serta pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. - Situasi
Kepribadian seseorang, walaupun pada umumnya mantap dan konsisten, dapat
berubah dalam situasi yang berbeda tuntutan yang berbeda dari situasi yang
berlainan memunculkan aspek-aspek yang berlainan dari kepribadian seseorang
Definisi Kepribadian kerja
Allport (Suryabrata, 1995: 248) kepribadian adalah organisasi dinamis dan sistem
psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas.
Kepribadian juga merupakan sesuatu yang terdapat dalam diri individu yang
membimbing dan memberi arahan pada tingkah laku individu.
Sullivan (Suryabrata, 1995: 260) menyatakan kepribadian merupakan pola yang
relatif dari situasi hubungan antara pesan yang ditandai kehidupan manusia, kepribadian
ini tidak dapat dipisahkan dari situasi hubungan individu dengan orang lain. Menurutnya
tingkah laku yang bersifat sosial juga dapat dianggap sebagai kepribadian.
Kepribadian (personality) didefinisikan oleh Salvator Maddi sebagai karakteristik
dan kecenderungan seseorang yang bersifat konsisten yang menentukan perilaku
psikologis sesorang seperti cara berpikir, berperasaan dan bertindak. Tipe kepribadian
mempengaruhi orientasi umum ke arah penciptaan tujuan, pemilihan alternatif, tindakan
terhadap risiko dan reaksi di bawah tekanan (Kristanti, 2012).
Indikator Loyalitas Kerja
Loyalitas karyawan tidak terbentuk begitu saja dalam perusahaan, tetapi ada
beberapa indikator yang mewujudkan loyalitas tersebut. Indikator loyalitas yang terdapat
pada individu dikemukakan oleh Siswanto, dalam Trianasari (2005) antara lain :
- Taat pada peraturan Karyawan mempunyai tekat untuk melakukan setiap perintah
dari perusahaan atau mentaati dan mematuhi segala peraturan yang berlaku, baik
secara tertulis maupun tidak tertulis. - Tanggung jawab pada perusahaan Kesanggupan karyawan dalam melaksanakan
tugas sebaikbaiknya dan kesadaran tanggung jawab terhadap resiko atas apa yang
telah dilaksanakan - Kemauan untuk bekerja sama Karyawan dapat bekerja sama dengan orang-orang
yang ada dalam suatu perusahaan karena tanpa adanya kerja sama, maka sulit
perusahaan mencapai tujuan. Sebaliknya, dengan bekerja sama memungkinkan
perusahaan dalam mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan. - Rasa memiliki terhadap perusahaan Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap
perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk menjaga dan
bertanggung jawab terhadap perusahaan, sehingga akan menimbulkan loyalitas
demi tercapainya tujuan perusahaan. - Hubungan antar pribadi Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi akan
mempunyai sikap fleksibel ke arah hubungan pribadi. Hubungan antara pribadi
ini meliputi, hubungan sosial antara para karyawan, serta hubungan antara atasan
dan karyawan. - Kesukaan terhadap pekerjaan Karyawan melakukan pekerjaannya dengan senang
hati sebagai indikatornya bisa dilihat dari keunggulan karyawan dalam bekerja
dan karyawan tidak banyak menuntut apa yang diterimanya di luar gaji pokok.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Mas’ud
(2004):Kepuasan dengan promosi Kesempatan promosi sepertinya memiliki pengaruh
yang berbeda pada kepuasan kerja. Hasil ini dikarenakan promosi memiliki sejumlah
bentuk yang berbeda dan memiliki berbagai penghargaan. Kepuasan dengan Rekan kerja
Sifat alami dari kelompok atau tim kerja kan mempengaruhi kepuasan kerja. Pada
umumnya rekan kerja atau anggota tim yang kooperatif merupakan sumber kepuasan
kerja yang paling sederhana pada karyawan secara individu. Kepuasan dengan Gaji Upah
dan gaji merupakan faktor multidimensi dalam kepuasan kerja. Uang tidak hanya
membantu orang memperoleh kebutuhan dasar, tetapi juga alat untuk memberikan
kebutuhan kepuasan pada tingkat uang lebih tinggi. Karyawan melihat gaji sebagai
refleksi dari bagaimana manajemen memandang kontribusi mereka terhadap perusahaan
Definisi Loyalitas Kerja
Riyanti (2017:6), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan adalah tekad dan
kemampuan untuk mengikuti dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, tekad dan
kemampuan yang harus ditunjukkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, dan dalam
pelaksanaan tugas. Pendapat ini dimaknai bahwa loyalitas karyawan terhadap pekerjaan
timbul secara internal serta loyalitas terhadap perusahaan tempatnya bekerja karena
tanggung jawab dan kemampuannya.
Hasibuan (2021:210), menyatakan bahwa loyalitas kerja karyawan adalah
keragamaan peran dan anggota dalam menggunakan pikiran dan waktunya untuk
mencapai tujuan organisasi.
Suhendi (2017:260), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan ditunjukkan
dengan adanya komitmen karyawan terhadap perusahaan, komitmen organisasi dapat
dibentuk oleh beberapa faktor baik dari organisasi maupun individu.
Kadarwati (2017:108), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan terhadap
pekerjaan adalah aktivitas fisik, psikologis, dan sosial yang menyababkan individu
memilih sikap untuk mengikuti aturan tekad untuk melakukan dan mempraktikkan
sesuatu yang dipahami sebagai sesuatu yang bermakna, penuh pengetahuan dan tanggung
jawab serta persepsi pribadi terhadap upaya pencapaian tujuan organisasi pemerintahan
berdasarkan keahliannya untuk meningkatkan efektivitas organisasi pemerintahan dan
disertai dengan dedikasi yang konsisten dan kuat
Pengaruh kepuasan kerja terhadap Loyalitas Karyawan
Steers dan Porter (2009) menyatakan bahwa salah satu factor yang
menyebabkan timbulnya loyalitas kerja antara lain adalah Pengalaman dalam
dalam bekerja. Hal ini berupa meliputi sikap positif terhadap perusahaan, rasa
percaya pada perusahaan, rasa aman, serta perasaaan puas terhadap perusahaan.
Kepuasan kerja merupakan keadaan emosi atau perasaan positif yang muncul dari
persepsi seorang karyawan mengenai pekerjaan yang mereka lakukan untuk
perusahaan. Sehinga semakin tinggi rasa puas karyawan maka semakin mencintai
pekerjaan dan loyal dalam bekerja begitu sebaliknya, jika semakin rendah rasa puas
karyawan maka semakin tidak loyal dan malas dalam bekerja.
Indikator Kepuasan Kerja
Afandi (2020) Adapun indikator-indikator kepuasan kerja meliputi antara lain :
1) Pekerjaan Isi pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah memiliki elemen
yang memuaskan
2) Upah Jumlah bayaran yang diterima seseorang sebagai akibat dari
pelaksanaan kerja apakah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan adil.
3) Promosi Kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan
jabatan.
4) Pengawas Seseorang yang senantiasa memberikan perintah atau petunjuk
dalam pelaksanaan kerja
5) Rekan Kerja Rekan kerja yang saling membantu dalam menyelesaikan
pekerjaan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi kepuasan Kerja.
Afandi (2020) ada lima faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja,
yaitu sebagai berikut:
1) Pemenuhan kebutuhan (Need fulfillment) Kepuasan ditentukan oleh
tingkatan karakteristik pekerjaan memberikan kesempatan pada individu
untuk memenuhi kebutuhannya.
2) Perbedaan (Discrepancies) Kepuasan merupakan suatu hail memenuhi
harapan. Pemenuhan harapan mencerminkan perbedaan antara apa yang
diharapkan dan apa yang diperoleh individu dari pekerjaannya. Bila
harapan lebih besar dari apa yang diterima, orang akan tidak puas.
Sebaliknya individu akan puas bila menerima manfaat diatas harapan.
3) Pencapaian nilai (Value attainment) Kepuasan merupakan hail dari
persepsi pekerjaan memberikan pemenuhan nilai kerja individual yang
penting.
4) Keadilan (Equity) Kepuasan merupakan fungi dari seberapa adil individu
diperlakukan di tempat kerja
5) Budaya Organisasi (Organization Culture). Dalam sebuah organisasi
yang terjalin budaya kerja yang baik dan harmonis maka pegawai akan
merasa puas bekerja dan berupaya bekerja dengan baik
Pengertian Kepuasan Kerja
Menurut Robbins dan Judge (2020) menyatakan bahwa kepuasan kerja
adalah perasaan positif seseorang terhadap pekerjaan yang merupakan hasil dari
evaluasi dari karakteristik pekerjaan tersebut. Pendapat lain mendefinisikan
mengenai kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan tentang seberapa baik
pekerjaan menyediakan hal yang dinilai sebagai sesuatu yang penting
Menurut Robbins (2019) mendefinisikan kepuasan kerja adalah suatu sikap
umum seorang individu terhadap pekerjaannya, selisih antara banyaknya ganjaran
yang diterima seorang pekerja dan banyaknya yang mereka yakini dibandingkan
yang seharusnya mereka terima.
Kepuasan kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang
berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan yang
diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan psikologis
(Sutrisno 2019)
Menurut Rivai (2022) kepuasan kerja adalah bagaimana orang merasakan
pekerjaan dan aspek-aspeknya. Dengan demikian, kepuasan merupakan evaluasi
yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang,
puas atau tidak puas dalam bekerja
