Indikator Loyalitas Kerja


Adapun ciri-ciri karyawan yang mempunyai loyalitas tinggi pada perusahaan, antara
lain adalah:
a. siap bekerja berdedikasi tinggi
b. bangga terhadap kinerja perusahaan,
c. merasa terinspirasi
d. siap mengorbankan kepentingan pribadi
e. merasa ada kesesuaian nilai dengan perusahaan.
Kurniawan (2015) mengutarakan beberapa indikator loyalitas kerja antara lain:
a. patuh terhadap peraturan seperti, mematuhi segala undang-unadang dan peraturan yang
berlaku, kerja yang diberikan pimpinan yang berwenang, selalu mematuhi jam kerja
yang sudah ditetapkan
b. mempunyai tanggung jawab mampu menyelesaikan tugas secara tepat waktu dan dengan
hasil yang baik, selalu memelihara barang-barang perusahaan dengan sebaik-baiknya,
mengutamakan kepentingan perusahaan dari kepentingan pribadi, tidak pernah
menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dibuatnya.
c. menyumbangkan pemikiran dan tenaga secara ikhlas kepada perusahaan
d. jujur, antara lain selalu melaksanakan tugas secara ihlas tanpa merasa dipaksa, tidak
menyalah gunakan wewenang yang dipercayakan padanya dan melaporkan hasil
kerjanya kepada pimpinan secara apa adanya

Pengertian Loyalitas Kerja


Loyalitas kerja didefiniskan oleh Sudimin (2003) sebagai kesediaan karyawan untuk
turut berpartisipasi mencapai tujuan perusahaan dengan dengan mempergunakan semua
kemampuan, keterampilan, pikiran, waktu dan menjaga data nama perusahaan untuk tidak
melakukan kegiatan yang mengakibatkan perusahaan rugi. Loyalitas dirumuskan oleh
Sudimin (2003) sebagai jasa bakti kita kepada seseorang dan tidak menjadi pengkhianat
ketika dibutuhkann. Robbins (2015) mengutarkan bahwa loyalitas adalah kerelaan untuk
memproteksi serta menyelamatkan perasan dan fisik seseorang. Siswanto (2005)
mengartikan loyalitas sebagai suatu tekad dan kesediaan mematuhi, melakukan, dan
mendistribusi perintah yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran.
Agustian (2009) mendefinisikan loyalitas sebagai kesetiaan terhadap prinsip yang diyakini.
Loyalitas karyawan didefiniskan sebagai sikap emosional yang menggembirakan dan
menyukai pekerjaannya (Dessler, 2015. Pada dasarnya loyalitas berarti sebagai kesetiaan
terhadap seseorang pada suatu hal bisa berupa kesetian fisik maupun non fisik seperti
perhatian dan pikiran. Untuk bisa sukses dalam mencapai tujuan perusahan maka perusahaan
mutlak memerlukan karyawan dengan loyalitas tinggi. Hasibuan (2016) berpendapat bahwa
karyawan menunjukkan loyalitas dengan keikhlasan karyawan untuk membela dan menjaga
perusahaan tempat bekerja dari gangguan orang yang ingin menjatuhkan perusahaan.
Pendapat serupa diutarakan oleh Poerwadarminta (2002) loyalitas merupakan kepercayaan,
pengabdian dan kesetiaan yang dipersembahkan kepada seseorang atau instansi, dimana
didalamnya ada tanggung jawab dan cinta serta berperilaku dan memberikan pelayanan
terbaik. Nitisemito (2015) mengutarakan, loyalitas terhadap perusahaan adalah sikap yaitu
seberapa jauh seseorang karyawan mengidentifikasikan perusahaan tempat dimana dia
bekerja dengan menunjukkan keinginan bekerja dan berusaha yang terbaik dan loyalitas yang
diberikan untuk perusahaan merupakan perilaku, yaitu suatu keputusan seseorang untuk tetap
tinggal di perusahaan. Robbins (2006) berpendapat bahwa loyalitas berhubungan dengan
tingkat kepercayaan yaitu suatu keinginan untuk menyelamatkan dan melindungi seseorang.
Apabila loyalitas dan kepercayaan terhadap organisasi dimiliki oleh seseorang, maka orang
tersebut rela berkorban dan berjasa dengan hal apa yang diyakininya. Dengan demikian,
loyalitas mempunyai korelasi positif terhadap tingkat kepuasan, semakin tinggi level
kepercayaan karyawan kepada perusahaan, maka level loyalitas karyawan terhadap
perusahaan juga semakin tinggi. Purwopoespito (2014), mengutarakan loyalitas yang terjadi
pada pekerjaan dicerminkan oleh sikap karyawan yang mendedikasikan keahliannya,
melakukan pekerjaan dengan tanggung jawab, jujur dan disiplin dalam bekerja. Loyalitas
kerja para karyawan terhadap perusahaan akan dapat menciptakan rasa tanggung jawab dan
menimbulkan semangat dan motivasi kerja (Nitisemito, 2015). Agar dapat menciptakan
loyaIitas karyawan terhadap perusahaan maka perusahaan harus berusaha agar karyawan
merasa ikut memiliki perusaan. Dengan perasaan ikut memiliki perusahaan maka karyawan
akan juga ikut merasakan perkembangan perusahaan. Berdasarkan definisi yang diutarakan
oleh para ahli diatas, dapat diambil kesimpulkan bahwa loyalitas kerja adalah merupakan
kesetiaaan karyawan terhadap perusahaan yang ditunjukkan melalui keinginan yang kuat
untuk tetap berada dalam perusahaan dan bekerja dengan baik untuk kemajuan perusahaan
tersebut serta rela berkorban dan melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Menurut Runtu (2014) Loyalitas hanya mungkin bisa dianggap sebagai bentuk yg
terjadi dengan sendirinya apabila seorang karyawan bergabung. Pada saat organisasi
menginginkan salah satu karyawan yang loyal, organisasi harus mengupayakan supaya
berubah kepada tingkatan lebih tinggi. Dengan apa yang terjadi karyawan tersebut sungguh
senang akan merasa “suka-duka” organisasi. Oleh karena itu loyalitas meliputi kesediaan
tetap harus bertahan, memiliki bentuk produktivitas standard. Loyalitas jangan diartikan
sebagai sesuatu yang terjadi dengan sendirinya ketika seorang karyawan bergabung di dalam
organisasi. Karyawan yang memiliki loyalitas yang rendah karena sifat karakternya,
kekecewaan pada karyawan, dan sikap dari atasan, serta perasaan secara negatif, seperti
meninggalkan organisasi, organisasi lain sangat menguntungkan, tidak dapat mendapat
manfaat, dan menyesali bergabung pada suatu organisasi.

Indikator Komunikasi Organisasi


Baik buruknya komunikasi organisasi dapat diukur dengan indikator dalam
komunikasi pada organisasi yang dikemukakan beberapa ahli seperti Suliyem (2016):
a. Kenyataan pesan yang disampaikan sesama individu
b. Kesamaan pemahaman makna berasal pada pesan diantara anggota semua organisasi
c. Adanya umpan balik antara anggota organisasi
Sedangkan Purwanto (2011) mengemukakan bahwa dimensi dan indikator dari
komitmen organisasi antara lain yaitu:
a. Dimensi Vertikal
1) Komunikasi yang berasal dari atas ke bawah. Indikatornya yaitu perintah, prosedur,
teguran dan pujian.
2) Komunikasi yang berasal dari bawah ke atas. Indikatornya yaitu saran dan laporan
pekerjaan.
b. Dimensi Horizontal
Indikatornya yaitu informasi, koordinasi tugas dengan bagian yang sama dan rapat.
c. Dimensi Diagonal
Indikatornya yaitu informasi diterima dengan cepat, hubungan antar divisi dan
koordinasi dengan bagian lain.

Komponen Komunikasi Organisasi


Menurut Muhammad (2014:17), Secara teknis dapat dilakukan bahwa komunikasi
organisasi melibatkan :
a. Pengirim pesan atau komunikator
adalah individu mengirim pesan. Pesan atau informasi akan diberikan berasal dari otak
pengirim pesan. Oleh karena itu proses sebelum pengirim mengirimkan pesan, pengirim
harus menciptakan pesan yang akan dikirimkannya.
b. Pesan
adalah informasi yang dapat dikirimkan pada komunikan. Pesan dapat berupa pesan
verbal atau non verbal. Pesan verbal itu bisa lisan dan juga bisa tulisan, sedangkan pesan
non verbal bisa berupa gerak tubuh, nada suara, ekspresi muka dan lain lain.
c. Saluran
adalah jalan yang dilalui pesan dari komunikator dengan komunikan. Channel yang
biasa dalam komunikasi adalah gelombang cahaya serta suara yang bisa kita lihat dan
dengar, akan tetapi alat yang digunakan itu berbeda-beda.
d. Penerima pesan atau komunikan
adalah yang menganalisis serta menginterpretasikan pesan yang di terimanya.
e. Balikan (Feedback)
adalah respon terhadap pesan yang diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan
atau komunikator. Dengan diberikannya reaksi ini kepada komunikator, komunikator
akan dapat mengetahui apakah pesan yang disampaikan dilaksanakan bersama selaras
dengan kesamaan yang disebut dengan komunikator

Arah dan Tujuan Komunikasi Organisasi


Menurut Robbins (2016:7) arah komunikasi terdiri dari:
a. Komunkasi dari atas ke bawah
Bentuk pembicaraan yang di dapati dari satu tingkatan pada suatu perkumpulan
organisasi ke tingkatan lebih rendah disebut komunikasi ke bawah. Komunikasi inilah
yang diberikan oleh pemimpin kelompok, manajer dalam menetapkan suatu tujuan,
menyampaikan bentuk instruksi, menginformasikan kebijakan dan prosedur kepada
karyawan, menunjukkan persoalan yang membutuhkan perhatian dan menawarkan
umpan balik mengenai kinerja.
b. Komunkasi dari bawah menuju atas
Komunikasi ke atas dapat mengalir menuju kepada tingkatan yang lebih tinggi pada
salah satu kelompok dan organisasi. Komunikasi dapat dilakukan untuk membuat
peranan penting kepada orang–orang yang memegang kekuasaan, member mereka
informasi mengenai proses pencapaian tujuan, dan menyampaikan masalah–masalah
terkait.
c. Komunkasi lateral
Komunikasi terjadi antara anggota berdasar pada kelompok kerja seperjuangan, antara
anggota dari lingkungan perusahaan pada tingkatan yang sama, sesama manajer pada
tatanan yang sama atau diantara individu–individu yang setara secara horizontal.
Menurut Wahjono (2015:218), komunikasi organisasi menjalanan empat fungsi
yaitu:
a. Fungsi kendali (kontrol/pengawasan)
Komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku pada kelompok pekerja supaya
mereka mematuhi total aturan dan hierarki yang diberikan wewenang dalam organisasi.
b. Fungsi motivasi
Dengan komunikasi dapat menjelaskan pada anggota apa yang harus dikerjakan dan
bagimana dapat bekerja lebih baik.
c. Fungsi pengungkapan emosi
Dengan komunikasi anggota dapat mengexpresikan ketidak puasan atau rasa puas tidak
terhingga yang mereka rasakan.
d. Fungsi informasi
Dengan komunikasi semua keputusan dapat diambil dan dapat diteruskan pada semua
anggota orgnisasi.
Sementara Menurut Bungin (2013) fungsi komunikasi dikatakan menjadi 4 dalam
organisasi yaitu fungsi informatif, regulatif, persuasif, serta integratif dijelaskan sebagai
berikut:
a. Informasi dalam sebuah organisasi sangat dibutuhkann dalam mengerjakan pekerjaan
tepat, baik dari pimpinan yang memberi informasi, maupun bawahan yang
membutuhkan informasi. Informasi juga dibutuhkann dalam mengatasi konflik, sebagai
contoh menghindari miscommunication atau misunderstanding, dan bisa untuk
menetapka suatu kebijakan.
b. Regulatif merupakan bentuk aturan yang berlaku dalam sebuah bentuk menejerial. Ada
2 regulatif pada suatu organisasi. Pertama, pimpinan organisasi memiliki kuasa memberi
perintah, intruksi kerja, membuat standar operation dalam bekerja. Kedua, anggota atau
bawahan membutuhkan bentuk peraturan dan wajib dipatuhi. Berikut harus diketahui
dan di pahami bawahan untuk menjalankan perintah atasan:
1) Kejelasan atasan menyampaikan perintah
2) Ketegasan atasan memberikan sanksi
3) Mewujudkan kepercayaan anggota atau bawahan kepada atasan,
4) Pesan yang disampaikan pada bawahan secara jelas dan benar.
c. Persuasif atau ajakan, untuk kesejahteraan organisasi biasanya pimpinan lebih memilih
untuk mengajak daripada memerintah anggota.
d. Integratif atau saluran dalam organisasi dibutuhkan oleh anggota. Ada 2 saluran, yaitu
saluran komunikasi formal seperti penerbitan bidang khusus pada organisasi tersebut
(newsletter, bulletin) dan laporan mengenai kemajuan organisasi juga komunikasi
informal, seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan
olahraga, dan kegiatan darmawisata. Maka pada pelaksanaan ini dapat menimbulkan
kontribusi dengan baik bagi anggota dalam kelompok sebuah organisasi

Definisi Komunikasi Organisasi
Komunikasi dalam organisasi memegang peranan sangat penting dalam menunjang
aktivitas organisasi. Setiap fungsi SDM selalui disertai dengsn komunikasi, serta dimulai
proses seleksi, interview sampai pemecatan pekerja semuanya membutuhkan komunikasi.
Komunikasi organisasi merupakan hal yang penting di dalam kehidupan berorganisasi
sehingga diperlukan beberapa pemahaman mengenai komunikasi organisasi.
Kata komunikasi (dengan kata Inggris “communication”) secara etimologi atau
menurut asalnya didapat kata bahasa latin communicare dan ini berasal pada kata communis.
Kata communis memiliki makna “berbagi” atau “menjadi hak bersama”, yaitu suatu
keinginan kerja yang bertujuan untuk memperoleh kebersamaan dan keberagaman makna.
(Hubeis dkk, 2012:4). Komunikasi adalah rangkaian penyampaian melalui pesan oleh
sesorang kepada semua orang untuk memberitahu serta untuk dapat selalu mengubah pada
sikap, gagasan, atau tingkah laku, baik secara langsung (lisan) maupun tidak (dapat
dilakukan pada media). (Hubeis dkk, 2012:5).
Sementara Waynespaces dan Faules menyebutkan bahwa definisi fungsional pada
komunikasi dalam organisasi sebagai petunjuk dan penafsiran didalam pesan diantara unit
bagian komunikasi apa merupakan bagian salah satu pada suatu organisasi tertentu (Ruliana,
2016:25). Depari (dalam Triana, Utami, & Ruhana, 2016) menyatakan bahwa komunikasi
adalah suata proses pada penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang diberikan dengan
lambang tertentu dapat mengandung arti dilakukan oleh penyampain melalui pesan untuk
diberikan kepada siapa penerima isi pesan. Muhammad (2014:4) dapat mengemukakan
apapun bahwa ada dalam di kaitannya dengan komunikasi pada organisasi, komunikasi
adalah bentuk pertukaran pada pesan verbal serta non verbal dari pengirim dan penerima
untuk mengubah pola tingkah pada perilaku. Perubahan tingkah laku pada pengertian yang
lebar yaitu pergantian yang akan terjadi pada dalam diri suatu individu didalam aspek
kognitif, efektif atau psikomotor. Menurut Purwanto (2011:4) komunikasi pada organisasi
merupakan suatu rangkaian pertukaran pada informasi pada individu melewati suatu cara
atau sistem yang biasa (wajar) baik bersama tanda, sinyal, maupun perilaku dan tindakan.
Robbins dan Jugde (2015:47) mengatakan bahwa, “organizational commitment is deefined as
a state in which an employee identifies with a particular organizatioon, its goals and wishes
to maintain membership in the organization.” Komitmen dalam organisasi dikelompokkan
untuk keadaan di mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan organisasi, tujuan
organisasi dan keinginan untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi. Selanjutnya
menurut Davis & Newstroom (dalam Suliyem, 2016) mengemukakan bahwa,
“organizational commitment, organizational degree to which an employee identifiies with the
organization and wants to continue actively participating in it. Komitmen organisasi adalah
tingkatan dalam organisasi di mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan
organisasi dan melanjutkan keaktifan untuk berpartisipasi di dalam organisasi. Seperti gaya
magnet yang kuat menarik satu objek logam lain, itu adalah ukuran dari kesediaan karyawan
untuk tetap berada dalam organisasi demi masa depan. Adanya misi dan tujuan dari
seseorang dengan keinginan yang tinggi untuk berusaha mencapai prestasi dan niat untuk
terus bekerja pada organisasi.
Menurut Golddhaber (1986) mengetahui proses penciptaan untuk saling bertukar
pesan pada salah satu jaringan pada hubungan dimana tergantung pada yang lain guna
memberikan manfaat sekitar lingkungan yang kurang jelas atau yang selalu dapat berubah.
Pengertian ini mengandung proses beberapa salah konsep sebagai dari berikut :
a. Proses
adalah sistem kerja yang sangat terbuka serta dinamis yang secara tidak langsung.
Karenaa bentuk kegiatan yang diulang-ulang dan tidak terkontrol tersebut maka dapat
dinyatakan sebagai suatu proses.
b. Pesan
adalah rangkaian simbol dimana mengandung pengertian mengenai objek manusia,
kejanggalan kerja yang diberikan terhadap interaksi bersama dengan kelompok lain.
Pesan dalam suatu organisasi dilihat menurut jenis klasifikasi yang berhubungan
langsung dengan kata bahasa, penerima yang dikehendaki, metode difusi, dan arus untuk
tujuan berbagai beberapa pesan. Jenis pesan pada bahasa dibedakan menjadi 2 (dua)
kelompok yaitu verbal dan non verbal, dalam suatu organisasi adalah surat, memo,
percakapan, dan pidato. Sedangkan pesan non verbal pada suatu organisasi dapat berupa
bahasa gerak seluruh bagian tubuh.
c. Jaringan
Bentuk organisasi terbentuk dari satu seri manusia yang setiap person menduduki posisi
atau peranan penting pada suatu di dalam organisasi. Ciptaan serta pertukaran suatu
pesan dari seseoang terjadi melampaui suatu jalur jalan kecil yang disebut jaringan
komunikasi. Suatu kelompok komunikasi ini dapat mencukupi dengan lebih dari satu
orang, beberapa orang atau keseluruhan dalam organisasi. Luas dari system jaringan
komunikasi ini dijalankan oleh beberapa faktor arah & arus pesan, isi pesan, dan
hubungan peranan, serta lain-lain.
d. Keadaan dimana selalu membutuhkan
Hal ini dapat berubah sifat yang berada pada kelompok yang merupakan bentuk sistem
yang terbuka. Bila mengalami gangguan dapat berpengaruh divisi yang lainnya dan akan
terjadi juga kepada semua sistem organisasi.
e. Hubungan
Karena organisasi adalah bagian dari suatu sistem terbuka, sistem pada suatu kehidupan
sosial yang untuk memanfaatkan bagian-bagian dimana terletak pada individu yang ada
dalam organisasi. Oleh karenaa itu hubungan individu dalam organisasi yang menitik
beratkan pada tingkah laku komunikasi dari seseorang yang terlibat suatu hubunngan
perlu untuk dipelajari.
f. Lingkungan
Lingkungan adalah bentuk totalitas secara fisik dan faktor sosial yang diperhitungkan
dalam pembuatan dalam keputusan individu berada pada suatu sistematik. Yang menjadi
bagian dalam lingkungan internal adalah personal, staf, golongan fungsional dari
organisasi, dan juga bagian lainnya seperti tujuan, produk, serta lainnya. Organisasi
sebagai program terbuka yang mana harus berhubungan pada lingkungan eksternal
seperti: teknologi, ekonomi, dan faktor sosial. Karena faktor yang berada pada
lingkungan tidak tetap maka organisasi memerlukan sistem informasi baru guna
mengatasi perubahan pada lingkungan dengan menciptakan serta melakukan penukaran
pesan baik secara internal dan eksternal.
g. Ketidakpastian
Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang
diharapkan. Ketentuan tidak pasti dalam organisasi didapatkan daripada informasi
sesungguhnya yang dimanfaatkan dan dihadapkan pada lingkungan yang bersangkutan.
Dapat dinyatakan ketidakpastian dapat disebabkan karena terlalu sedikitnya informasi
yang didapatkan dan sangat berlebih atau banyak informasi yang diberikan untuk
diterima.
Menurut Redding and Saborn dalam Safari dkk. (2019) “komunikasi organisasi
adalah pengiriman serta penerimaan pada informasi dalam kelompok sangat kompleks.
Komunikasi organisasi ini antara lain, hubungan antar manusia, komunikasi yang berasal
dimana atasan kepada bawahan, seperti : komunikasi dari asal bawahan kepada atasan,
komunikasi bersama sesama rekan kerja, keterampilan berkomunikasi dan berbicara
mendengarkan serta menulis”. Menurut Katz & Kahn dalam Safari dkk. (2019) “Bahwa
komunikasi organisasi merupakan bentuk arus informasi, pertukaran dari informasi dan
pemindahan arti dalam suatu organisasi”
Berdasarkan definisi komunikasi organisasi menurut para ahli di atas, dapat
diartikan bahwa komunikasi organisasi adalah proses di mana karyawan atau anggota
organisasi bertukar informasi di lingkungan perusahaan atau organisasi

Faktor Akibat atau Dampak Persepsi Dukungan Organisasi


Menurut Rhoades & Eisenberger (2002) persepsi pada dukungan kelompok kerja
memiliki beberapa akibat yang meliputi:
a. Komitmen organisasi
Berdasar norma komunikasi searah, persepsi suatu dukungan di dalam organisasi akan
menciptakan kewajiban untuk memperhatikan kesejahteraan organisasi. Kewajiban
kondisi tersebut akan menaikkan komitmen efektif pekerja terhadap organisasi.
b. Efek terkait pekerjaan
Persepsi dukungan organisasi mempengaruhi reaksi afektif karyawan terhadap
pekerjaannya, termasuk kepuasan kerja dan suasana hati yang positif. Kepuasan kerja
berdampak pada sikap keseluruhan karyawan terhadap pekerjaannya. Persepsi untuk
dukungan organisasi dapat berperan aktif terhadap kepuasan kinerja dengan
meningkatkan harapan penghargaan atas jerih payah, dan memperlihatkan peluang
bantuan bila dibutuhkann. Suasana jiwa yang sehat berbeda dengan kepuasan kerja
karena mendukung keadaan tidak stabil seseorang tidak menggunakan objek tertentu.
Persepsi terhadap dukungan organisasi dapat berkontribusi pada perasaan hati,
kompetensi diri dan kelayakan karyawan sehingga meningkatkan suasana hati yang
positif.

  1. Job Involvment (Keterlibatan Kerja)
    Keikut campuran kerja menuju pada identifikasi dan tertuju pada aktifitas harian yang
    dilakukan oleh orang tertentu. Kompetensi yang di terima karyawan sangat bergantung
    dengan keinginan. Dengan menitik beratkan tingakt kompetensi karyawan, persepsi yang
    terjadi pada dukungan organisasi bisa meningkatkan pada minat karyawan dalam
    kegiatan kerja yang dilakukan.
  2. Kinerja
    Persepsi pada dukungan organisasi yang dapat meningkatkan standar kinerja karyawan
    dengan tindakan yang melampaui pada tanggung jawab yang sudah ditentukan sehingga
    dapat memberi keuntungan organisasi. Tindakan tersebut berupa saling membantu
    sesama teman kerja, melakukan tindakan yang dapat melindungi organisasi dari berbagai
    resiko, berbagi ilmu dan ketrampilan yang memiliki manfaat bagi organisasi.

Dimensi Persepsi Dukungan Dalam Organisasi
Menurut Robbins & Judge (2016) terdapat beberapa tingkatan persepsi dukungan
organisasi yaitu meliputi:
a. Penghargaan
Penghargaan finansial baik yang berwujud gaji, upah, insentif, atau tunjangan sudah
amat popular. Namun penghargaan nonfinansial, seperti pujian, penerimaan, pengakuan
atau yang lainnya tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan kinerja karyawan.
Sebuah survey yang meminta karyawan memberikan nilai terhadap berbagai
penghargaan menemukan bahwa penghargaaan nonfinansial ada pada peringkat yang
lebih tinggi daripada penghargaan finansial (Luthans, 2011). Pengakuan dapat dijadikan
satu motivator yang ampuh. Tindakan pengakuan dapat berupa promosi, penempatan
pada proyek yang bergengsi, perluasan pekerjaan untuk memberinya lingkup pekerjaan
yang lebih menarik dan menguntungkan, dan berbagai simbol status dan kebanggaan.
b. Kepedulian
Kepedulian ialah bentuk perhatian pemimpin terhadap orang lain, khususnya anggota
tim dengan memberi sumbangan dalam bentuk materi, gagasan/pemikiran, waktu,
dan/atau, keahlian/keterampilan. Menurut Kaswan (2015) kepedulian menyiratkan
tentang banyak hal, yaitu empati dan mengutamakan orang lain.
c. Kesejahteraan
Kesejahteraan (well-being) juga dikenal dengan kesejahteraan subjektif atau emosi, atau
kebahagiaan. Pengertian lain kesejahteraan dikaitan dengan tujuan hidup yang
bermakna.
Sementara Rhoades & Eisenberger (2002) dalam Mujiasih (2015), persepsi dalam
dukungan pada organisasi memiliki aspek sebagai berikut:
a. Penghargaan pada kontribusi karyawan
Penghargaan perusahaan terhadap kontribusi atau usaha yang dilaksanakan oleh
karyawan berpedoman pada pengakuan dan perhatian, gaji dan promosi, serta akses
informasi atau bentuk lainnya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaannya dengan
baik.
b. Perhatian atau bertanggung jawab terhadap besar kesejahteraan pada karyawan
Perhatian organisasi bisa berupa memperhatikan kesejahteraan karyawan, mendengarkan
pendapat atau keluh kesah kebutuhan karyawan untuk memperhatikan pekerjaan
karyawan.
Sedangkan indikator persepsi dukungan organisasi menurut Rhoades & Eisenberger
(2002:699) dalam Tjandra dkk (2018), yaitu:
a.Organisasi menghargai pada kontribusi karyawan.
b. Organisasi menghargai besar usaha lebih yang diberikan karyawan
c. Organisasi akan memperhatikan terhadap segala sebab akibat dari karyawan.
d. Organisasi sangat peduli terhadap kesejahteraan karyawan.
e. Organisasi akan menginformasikan pekerja apabila tidak melaksanakan pekerjaan dengan
baik.
f. Organisasi akan peduli anisasi menunjukan perhatian yang sangat besar terhadap
karyawan.
g. Organisasi akan mengapresiasi keberhasilan karyawan saat bekerja.

Definisi Persepsi Dukungan Organisasi


Disebut kontribusi yang diberikan oleh individu kemudian mendapatkan perhatian
dan kepedulian dari organisasi tentang kesejahteraan mereka. Teori ini mengartikan mereka
percaya bahwa organisasi akan memberikan perhatian dan kesejahteraan yang layak sesuai
dengan kontribusi kinerja yang dilakukan (Eisenberger dkk., 1986). Kemudian, Robbins
(2016) mengatakan Persepsi pada dukungan organisasi adalah merupakan tingkat sejauh
mana individu memiliki keyakinan bahwa kelompok usaha menghargai kontribusi mereka
yang kemudian peduli terhadap tingkat kesejahteraan mereka.
Dalam lingkungan interaksi sosial melibatkan begitu banyak hal seperti interaksi
sesama individu dan kelompok kemudian kelompok dengan kelompok sampai pada individu
dengan organisasi. Sehingga, teori persepsi dukungan organisasi mempelajari interaksi antara
individu dengan organisasi/instansinya. Bagaimana organisasi dalam memahami dan
memperlakukan mereka.
Sementara menurut Ningrum (2013), persepsi dukungan organisasi ialah persepsi
anggota mengenai seberapa jauh organisasi akan memberikan dukungan terhadap pegawai
dan sejauh mana menghadapi tingkat untuk kesiapan dalam organisasi guna akan bermanfaat
jika menggunakan bantuan pada saat akan dibutuhkan

Hubungan Pengaruh Reward Terhadap Produktivitas Kerja


Reward merupakan faktor penting bagi motivasi karyawan. Reward
disebut juga sebagai imbalan intrinsik yaitu imbalan yang merupakan bagian dari
pekerjaan itu sendiri, imbalan tersebut mencakup rasa penyelesaian, otonomi
dan pertumbuhan, maksutnya semangat untuk memulai atau menyelesaikan
suatu proyek pekerjaan merupakan hal penting bagi motivasi karyawan
irmayanti (2013), karena dengan adanya reward yang diberikan kepada
karyawan maka akan memotivasi karyawan lebih semangat dan giat dalam
bekerja sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh solikah, setyowati, dan
sanosra (2016) yang diperoleh hasil bahwa reward berpengaruh positif dan
signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan

Hubungan Pengaruh Pengalama Kerja Terhadap Produktivitas Kerja


Pengalaman Kerja sangat penting untuk melihat keterampilan karyawan,
karena semakin lama pengalaman kerja pada karyawan maka akan semakin
tinggi pula tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh karyawan
sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Seperti yang di
ungkapkan (fagbenle, 2012) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi produktivitas karyawan adalah berasal dari diri karyawan sendiri
atau human factor, salah satunya adalah pengalaman kerja. Hal ini didukung
dengan penelitian yang dilakukan oleh sulaeman (2015) yang diperoleh hasil
bahwa pengalaman kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
produktivitas kerja karyawan

Produktivitas Kerja


Produktivitas kerja karyawan bagi suatu perusahaan sangatlah penting
sebagai alat pengukur keberhasilan dalam menjalankan usaha. Semakin tinggi
produktivitas kerja karyawan dalam perusahaan, berarti laba perusahaan dan
produktivitas akan meningkat. Produktivitas adalah perbandingan antara hasil
yang di capai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu. Peran serta
tenaga kerja di sini adalah penggunaan sumber daya serta efisien dan efektif
(Sutrisno, 2017).
Menurut Tohardi (2017:100), produktivitas merupakan sikap mental,
yang selalu mencari perbaikan terhadap apa yang telah ada. Suatu keyakinan
bahwa seseorang dapat melakukan pekerjaan lebih baik hari ini daripada hari
kemarin dan hari esok lebih baik dari hari i

Indikator DIsiplin Kerja


Sutrisno (2016) menjelaskan bahwa disiplin kerja adalah suatu perilaku
seorang individu yang disesuaikan bersama aturan, prosedur pekerjaan yang
berlaku. Maka dari hal tersebut, disiplin kerja ialah suatu sikap ataupun tindakan
serta perbuatan yang disesuaikan bersama aturan-aturan baik tertulis ataupun tak
tertulis.
Menurut sutrisno (2016:94), terdapat 3 indikator disiplin pekerja di dalam
sebuah perusahaan, antara lain:

  1. Memiliki ketaatan pada peraturan akan waktu. Memberikan
    perhatian kepada jam masuk kerja, jam istirahat, jam pulang kerja yang
    tepat waktu sertadisesuaikan bersama peraturan yang berlangsung pada
    suatu organisasai ataupun perusahaan.
  2. Memiliki ketaatan pada aturan organisasi ataupun perusahaan.
    Aturan perusahaan tentang tatacara mengenakan pakaian dan juga tingkah
    laku ketika melakukan pekerjaannya.
  3. Memiliki ketaatan pada aturan yang lainnya pada perusahaan.
    Peraturan mengenai apa saja yang dibolehkan serta tak dibolehkan
    dilaksanakan untuk pekerja pada organisasi ataupun perusahaan.

Hubungan Pengaruh Dukungan Organisasi Terhadap Produktivitas Kerja


Dukungan organisasi merupakan salah satu elemen yang
mempengaruhi perilaku karyawan. Karena dukungan positif dari pimpinan dan
segenap karyawan akan menciptakan situasi kerja yang kondusif. Dukungan
organisasi mengacu pada presepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi
menilai kontribusi dan peduli pada kesejahteraan karyawannya Putra dan
Moeins (2019). Apabila karyawan menganggap dukungan organisasi yang
diterimanya tinggi, maka karyawan akan menyatukan keanggotaan sebagai
anggota organisasi di dalam diri mereka dan mereka akan mengembangkan
hubungan dan presepsi yang lebih positif terhadap organisasi tersebut,
sehingga produktivitas karyawan akan meningkat. Hal ini didukung dengan
penelitian yang dilakukan oleh Mujiasih (2015) yang diperoleh hasil bahwa
dukungan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas
kerja karyawan

Indikator Loyalitas Kerja


Loyalitas karyawan dapat terlihat melalui sikap dan perilaku karyawan
saat bekerja dalam perusahaan. Sikap dan perilaku karyawan yang mencerminkan
loyalitas karyawan terkandung dalam setiap indikator loyalitas karyawan yang
digunakan untuk mengukur loyalitas karyawan. Terdapat empat indikator loyalitas
karyawan menurut Susanti et al (2021:225), antara lain:

  1. Kepatuhan
    Adalah kemampuan karyawan untuk menaati seluruh peraturan
    yang berlaku, untuk melaksanakan segala tugas yang diberikan oleh
    atasan yang bertanggung jawab dan tidak melanggar larangan yang telah
    ditentukan. Semakin tinggi kepatuhan karyawan kepada perusahaan maka
    semakin tinggi loyalitas karyawan.
  2. Tanggung Jawab
    Adalah kemampuan karyawan dalam menyelesaikan tugas dengan
    benar, tepat waktu dan berani menanggung konsekuensi dari keputusan
    atau tindakan yang telah diambil oleh karyawan. Semakin tinggi tanggung
    jawab karyawan kepada perusahaan maka semakin tinggi loyalitas
    karyawan.
  3. Dedikasi
    Adalah kontribusi gagasan dan tenaga yang diberikan oleh
    karyawan dengan tulus kepada perusahaan. Semakin tinggi dedikasi
    karyawan kepada perusahaan maka semakin tinggi loyalitas karyawan.
  4. Integritas
    Adalah kemampuan karyawan untuk mengakui, berbicara atau
    memberikan informasi yang tepat sesuai dengan realita dan kebenaran.
    Semakin tinggi integritas karyawan maka semakin tinggi loyalitas
    karyawan.
    Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa loyalitas kerja
    dipengaruhi oleh faktor faktor rasiona seperti gaji, bonus dan jenjang karir, factor
    emosional seperti pekerjaan yang menantang, lingkungan kerja yang mendukung
    dan faktor spiritual menyangkut kebutuhan rohani seperti kebebasan untuk
    melakukan ibadah.

Loyalitas Kerja


Loyalitas adalah kesetiaan seorang karyawan kepada perusahaan,
karyawan yang loyal kepada perusahaan. Loyalitas mempengaruhi karyawan
untuk meningkatan kariernya, demikian pula sebaliknya loyalitas dapat
memengaruhi karier baik secara langsung maupun tidak langsung melalui variabel
lain (Dewi, 2019)
Menurut Onsardi (2017), loyalitas merupakan kondisi yang mengikat
karyawan dengan perusahannya, karena loyalitas bukan hanya kesetiaan yang
terlihat dari seberapa lama seseorang bekerja di dalam organisasi perusahaan,
namun dapat dilihat juga dari seberapa besar ide, pikiran dan gagasan, serta
kinerjanya tercurah sepenuhnya kepada perusahaan itu. Sutriniasih (2018)
menyatakan timbulnya loyalitas dipengaruhi oleh karakteristik pribadi,
karakteristik pekerjaan, karakteristik perusahaan atau organisasi dan pengalaman
yang diperoleh selama bekerja. Loyalitas karyawan didasarkan pada hubungan
kepercayaan, rasa memiliki yang kuat, dan kemauan untuk tetap dalam organisasi.
Kepuasan karyawan memberikan dampak positif pada loyalitas dan kepercayaan
diri karyawan yang dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja (Al-edenat dan
Alhawamdeh, 2018).
Menurut Siswanto (2012:28), pengertian loyalitas karyawan adalah
biasanya identik dengan komitmen kepada organisasi kadang-kadang dipandang
sebagai sikap. Namun, tidak begitu banyak sikap (atau komponen pemikiran)
yang penting dalam organisasi, melainkan itu adalah komponen tindakan bottom-
line.
Menurut Wan (2012:2), loyalitas karyawan adalah sebagai lampiran
psikologis atau komitmen terhadap organisasi dan terjadi sebagai akibat dari
meningkatnya kepuasan yang berasal dari hasil proses evaluasi internal, dan jika
tingkat harapan karyawan yang memenuhi atau melampaui maka kepuasan akan
tumbuh. Dalam melaksanakan kegiatan kerja karyawan tidak akan terlepas dari
loyalitas dan sikap kerja, sehingga dengan demikian karyawan tersebut akan
selalu melaksanakan pekerjaan dengan baik. Karyawan merasakan adanya
kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan (Soegandhi dan
Sutanto et al, 2013:45)

Perilaku Inovatif Karyawan (Employee Innovative Behaviour)


Perilaku inovatif karyawan merupakan wujud nyata dari kreativitas
karyawan dalam menjalankan pekerjaan. Kreativitas yang berasal dari individu,
dalam hal ini disebut karyawan, merupakan dasar dalam melakukan suatu inovasi.
Inovasi bergantung pada bagaimana individu tersebut melahirkan gagasan atau
ide-ide baru, melakukan perancangan terhadap ide, menerapkan ide yang telah
dirancang dan dipersiapkan dengan baik lalu melakukan modifikasi pada
pekerjaan (Etikariena & Muluk, 2014). Pernyataan Widiyanti & Sawitri (2018)
perusahaan yang mampu melakukan inovasi secara berkelanjutan, selalu
melakukan perbaikan kualitas pada produk yang dihasilkan. Inovasi juga menjadi
salah satu motivasi karyawan dalam menjaga kinerjanya saat bekerja, sehingga
menyebabkan kinerja perusahaan lebih unggul jika dibandingkan dengan
perusahaan lain.
Karyawan dikatakan sebagai salah satu aset berharga perusahaan, karena
karyawan mampu melakukan inovasi. Hal ini menjadi alasan, pentingnya
perusahaan membangun kesadaran karyawan dalam memunculkan perilaku
inovatif saat bekerja. Perilaku inovatif yang berasal dari dalam diri karyawan
dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu:
18

  1. Faktor internal berasal dari dalam diri individu, seperti cara individu
    melakukan pemecahan masalah atau mencari solusi, kepribadian setiap
    individu, dan motivasi yang dibangun dalam diri masing-masing.
  2. Faktor pekerjaan berasal dari lingkungan kerja individu seperti tuntutan yang
    harus diselesaikan dalam pekerjaan dan karakteristik pekerjaan.
  3. Faktor kontekstual berasal dari suatu peristiwa tertentu seperti gaya
    kepemimpinan, iklim psikologis dan juga dukungan dari karyawan lain.
    (Widiyanti & Sawitri, 2018).

Loyalitas Karyawan (Employee Loyalty)


Asriandi et.al (2017) mendefinisikan loyalitas sebagai suatu kesetiaan,
dimana kesetiaan ini berdasar pada kesadaran diri seseorang. Konsep ini terlihat
mudah ketika diperbincangkan namun dalam kenyataannya sangat sulit untuk
dianalisis. Loyalitas karyawan merupakan kesadaran yang dimiliki karyawan
berkaitan dengan kesetiaan karyawan terhadap organisasi, keputusan untuk tetap
bertahan pada pekerjaan dan mempertahankan posisi karyawan dalam organisasi.
Bentuk kesetiaan karyawan diwujudkan dengan menjaga nama baik organisasi
serta melakukan pembelaan jika diperlukan untuk melindungi organisasi. Terdapat beberapa unsur yang diperlihatkan ketika karyawan memiliki loyalitas
kerja yaitu:

  1. Mentaati peraturan perusahaan. Kebijakan perusahaan dibuat untuk
    meningkatkan kedisiplinan dalam bekerja sehingga peraturan perusahaan dapat
    membantu dalam melakukan pengawasan pekerjaan.
  2. Memiliki rasa tanggung jawab dalam bekerja. Risiko pekerjaan merupakan
    hal yang tidak dapat dihindari. Ketika karyawan secara sadar mau untuk
    menanggung segala risiko dan beban yang akan diterima akibat dari tanggung
    jawab pekerjaan, maka karyawan tersebut telah menunjukkan sikap setia terhadap
    perusahaan.
  3. Bekerja sama. Terdapat beberapa hal dalam pekerjaan yang tidak dapat
    dilakukan secara individu sehingga membutuhkan bantuan orang lain secara
    kelompok. Karyawan yang memiliki loyalitas dalam bekerja akan melakukan
    kerjasama yang baik dengan karyawan lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
  4. Rasa memiliki terhadap perusahaan. Karyawan akan bertanggung jawab
    atas tantangan yang dihadapi dalam perusahaan. Karyawan juga merasa harus
    menjaga perusahaan dari segala ancaman, demi tercapainya tujuan perusahaan.
  5. Rasa suka terhadap pekerjaan. Karyawan yang merasa pekerjaannya telah
    sesuai dengan passion yang dimiliki, membuat pekerjaan yang dilakukan menjadi
    lebih mudah. Hal ini disebabkan karena karyawan melakukan pekerjaan sesuai
    dengan hal yang disukai dan dikuasai (Safitri, 2015).

Pemberdayaan Karyawan (Employee Empowerment)


Menurut Pelit et.al (2011) dalam Appelbaum et.al (2014) pemberdayaan
diartikan sebagai pemberian wewenang untuk menjalankan suatu tanggung jawab
yang diberikan atasan kepada karyawannya. Pemberdayaan karyawan tidak hanya
berorientasi pada hasil akhir, namun terdapat beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam memberdayakan seseorang. Faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan yaitu tingkat motivasi karyawan, gaya kepemimpinan dari
atasan, serta umpan balik yang diberikan oleh bawahan. Pemberdayaan karyawan
juga menjadi salah satu faktor dalam menentukan keberhasilan organisasi.
Penelitian Kirkman & Rosen (1999) dalam Baird et.al (2018) menyatakan
pemberdayaan karyawan memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja
organisasi. Ketika perusahaan berhasil menerapkan pemberdayaan karyawan yang
baik maka kinerja karyawan juga ikut meningkat.

Indikator Produktivitas Kerja Karyawan


Menurut Sutrisno (2014) untuk mengukur produktivitas kerja
diperlukan suatu indicator, sebagai berikut :
1) Kemampuan
Memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas. Kemampuan karyawan
sangat bergantung pada ketrampilan yang dimiliki serta profesionalisme
mereka dalam bekerja dan menyelesaikan tugas – tugas yang diembannya.
2) Meningkatkan hasil yang dicapai
Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil merupakan salah
satu yang dapat dirasakan baik oleh yang mengerjakan maupun yang
menikmati hasil pekerjaan tersebut. Jadi, upaya untuk memnfaatkan
produktivitas kerja bagi masing – masing yang terlibat dalam suatu
pekerjaan.
3) Semangat kerja
Semangat kerja merupakan upaya untuk lebih baik dari hari kemarin.
Indikator ini dapat dilihat dari etos kerja dan hasil yang dicapai dalam satu
hari kemudian dibandingkan dengan hari sebelumnya.
4) Membangun diri
Selalu mengembangkan diri untuk meningkatkan kemampuan kerja.
Pengembangan diri dapat dilakukan dengan melihat tantangan dan harapan
dengan apa yang akan dihadapi. Karenan semakin kuat tantangannya,
pengembangan diri mutlak dilakukan.
5) Mutu
Mutu merupakan hasil pekerjaan yang dapat menunjukkan kualitas kerja
seorang pegawai. Jadi, meningkatkan mutu bertujuan untuk memberikan
hasil terbaik yang akan sangat berguna bagi perusahaan dan pada dirinya
sendiri.
6) Efisiensi
Perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya
yang digunakan. Masukan dan keluaran merupakan aspek produktivitas
yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi karyawan

Pengaruh Kompensasi terhadap Loyalitas Karyawan


Kompensasi adalah sesuatu yang diterima karyawan atas jasa yang
mereka sumbangkan pada pekerjaannya. Mereka menyumbangkan apa
yang menurut mereka berharga, baik tenaga maupun pengetahuan yang
dimiliki. Seorang pekerja sebagai tukang pikul barang merasa bahwa
kekuatan fisik yang dimiliki adalah sesuatu yang berharga yang mereka
sumbangkan atas pekerjaannya. Untuk memindahkan barang dari satu
tempat ke tempat lain mereka akan memperoleh balasan yang setimpal
atas pekerjaannya. Sesuatu yang berharga bagi karyawan adalah
pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dijadikan sebagai dasar
dalam menuntun haknya sebagai pekerja, Wilson Bangun (2012).

Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Loyalitas Karyawan


Menurut Cahyadi (2013) Lingkungan kerja dalam perusahaan sangat
penting untuk diperhatikan oleh manajemen. Meskipun lingkungan
kerja tidak melaksanakan proses produksi dalam suatu perusahaan,
namun lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap
pegawai yang melaksanakan proses produksi tersebut.
Lingkungan kerja yang baik dapat mengakibatkan sesama karyawan
lebih saling mendukung satu sama lain untuk menyelesaikan pekerjaan
yang dibebankan kepada mereka, sehingga lingkungan kerja yang aman
dan nyaman akan menciptakan kepuasan kerja bagi karyawan dan akan
menghasilkan kinerja yang baik bagi perusahaan

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja


Faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja menurut Mulyadi
(2015) adalah :
1) Pelatihan dan pendidikan karyawan
Dengan adanya program pelatihan dan pendidikan kerja pada karyawan
akan meningkatkan ketrampilan pada karyawan sehingga dapat
menggunakan peralatan yang disediakan perusahaan untuk melaksanakan
pekerjaannya. Setelah karyawan mendapatkan pelatihan dan pendidikan
yang tepat akan dapat melakukan perkerjaannya dengan benar dan
memperkecil kesalahan di masa lalu. Oleh sebab itu, pelatihan dan
pendidikan sebagai dasar pengetahuan kepada karyawan.
2) Hubungan industrial
Hubungan industrial adalah hubungan antara pimpinan atau wakil dari
perusahaan dan wakil pekerja atau serikat pekerja bila sudah mengenai
pekerjaan dan pribadi antara atasan dan bawahan yang dilakukan sehari –
hari. Hubungan yang harmonis antara atasan dan bawahan, antara sesame
karyawan, dan sesame atasan akan meningkatkan produktivitas kerja. Oleh
sebab itu, karyawan harus diperlakukan dengan baik, dengan demikian
sikap karyawan akan baik pula dalam menjalankan proses produksi,
sehingga akan berpengaruh pada tingkat produktivitas kerja.
3) Sikap mental dan kemampuan fisik karyawan
Kondisi sikap dan mentall semua karyawan akan menjadi hal yang sangat
penting bagi perusahaan atau organisasi, karena kondisi sikap dan fisik
karyawan sangat erat hubungannya dengan produktivitas kerja karyawan

Faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan


Tingkat loyalitas karyawan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
bukan hanya dari faktor eksternal melainkan dari faktor internal yang
ada dalam diri karyawan. Menurut Steer dan Porter dalam Agustina
(2016:60) bahwa timbulnya loyalitas dipengaruhi karena faktor
dibawah ini:
a. Karakteristik pribadi
Meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
prestasi yang dimiliki, ras, dan beberapa sifat individu lainnya.
b. Karakteristik pekerjaan
Meliputi tantangan dalam pekerjaan, stres kerja, interaksi
sosial, umpan balik tugas, dan kesesuian tugas.
c. Karakteristik desain perusahaan
Menyangkut pada intern perusahaan yang dapat dilihat dari
sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam
pengambilan keputusan, paling tidak mengajukan beberapa tingkat
asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan, baik ketergantungan
fungsional maupun control perusahaan.
d. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan
Internalisasi individu terhadap perusahaan setelah melakukan
tugas seperti rasa aman

Pengertian Karyawan


Menurut undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan pasal 1 ayat 2 menyebutkan bahwa karyawan adalah
setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun
masyarakat, baik didalam maupun diluar hubungan kerja.
Menurut Hasibuan (2013) karyawan adalah penjual jasa
(perorangan atau tenaga) dan mendapat kompensasi yang bersarnya
ditetapkan terlebih dahulu. Dan jika karyawan adalah setiap orang yang
menjual tenaganya (fisik dan pikiran) kepada suatu perusahaan dan
memperoleh balas jasa yang sesuai dengan perjanjian.

Pengertian Loyalitas


Robbins (2012:231) stated loyalty is processes that arise as a
result the desire to be faithful and devoted both at work, group, boss nor
in his company, for that matter cause someone to be willing to sacrifice
for the sake of satisfying the other party or Public.
Menurut Mondy dalam Anesia (2016:6) mengemukakan bahwa
loyalitas adalah keterikatan yang diidentifikasi dari psikologi individu
pada pekerjaannya dan sejauh mana hubungan karyawan dengan
Menurut Wicaksono (2013:48) loyalitas merupakan setia pada
sesuatu dengan rasa cinta, sehingga rasa loyalitas yang tinggi seseorang
merasa tidak perlu mendapatkan imbalan dalam melakukan sesuatu
untuk orang lain atau perusahaan tempat ia meletakkan loyalitasnya.

Indikator Kompensasi


Indikator dalam pemberian kompensasi untuk karyawan tentu
berbeda-beda. Hasibuan (2012:118) mengemukakan secara umum
indikator kompensasi, antara lain:
a. Gaji
b. Upah
c. Insentif
d. Tunjangan
e. Fasilitas

Indikator Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja di perusahaan terbagi menjadi dua yaitu:
lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik.
a. Lingkungan kerja fisik (Physical Work Environment)
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik
yang terdapat di lingkungan tempat kerja tersebut dan dapat
mempengaruhi karyawan. Siagian (2014:69) mengemukakan bahwa
lingkungan kerja fisik terdiri dari beberapa indikator yaitu:
1) Bangunan tempat kerja
Bangunan tempat bekerja di samping menarik untuk dipandang
juga dibangun dengan pertimbangan keselamatan dan kesehatan
kerja, agar karyawan merasa nyaman dan aman dalam
melakukan pekerjaannya.
2) Peralatan kerja yang memadai
Peralatan yang memadai sangat dibutuhkan oleh karyawan
karena akan mendukung karyawan dalam menyelesaikan tugas
yang di embannya di dalam perusahaan.
3) Fasilitas
Fasilitas perusahaan sangat dibutuhkan oleh karyawan sebagai
pendukung dalam menyelasikan pekerjaan yang ada di
perusahaan. Selain itu ada hal yang perlu di perhatikan oleh
perusahaan yakni tentang cara memanusiakan karyawannya,
seperti tersedianya fasilitas untuk karyawan beristirahat seperti
loker setelah lelah bekerja dan juga tersedianya tempat ibadah.
4) Tersedianya sarana angkutan
Tersedianya sarana angkutan yang akan mendukung para
karyawan untuk sampai di tempat kerja dengan tepat waktu, baik
yang diperuntukkan karyawan maupun angkutan umum yang
nyaman, murah dan mudah di peroleh.
b. Lingkungan kerja non fisik (Non Physical Work Environment)
Lingkungan kerja non fisik adalah terciptanya hubungan kerja
yang harmonis antara karyawan dengan atasan. Siagian (2014:70)
mengemukakan bahwa lingkungan kerja non fisik terdiri dari
beberapa indikator yaitu:
1) Hubungan rekan kerja setingkat
Indikator hubungan dengan karyawan yaitu hubungan dengan
karyawan yang harmonis dan tanpa saling intrik di antara
sesama karyawan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
dalam satu organisasi agar karyawan tetap tinggal adalah dengan
adanya hubungan yang harmonis dan kekeluargaan.
2) Hubungan atasan dengan karyawan
Hubungan atasan dengan karyawan atau bawahan harus di jaga
dengan baik dan harus saling menghargai antara atasan dengan
karyawan atau bawahan, dengan saling menghargai maka akan
menimbulkan rasa hormat diantara individu masing – masing.
3) Kerjasama antar karyawan
Kerjasama antara karyawan harus dijaga dengan baik, karena
akan mempengaruhi pekerjaan yang akan mereka lakukan. Jika
kerjasama antara karyawan dapat terjalin dengan baik maka
karyawan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka secara efektif
dan efisien

Pengertian Lingkungan Kerja


Menurut Sedarmayanti (2013:22) bahwa suatu tempat yang terdapat
sebuah kelompok dimana di dalamnya terdapat beberapa sarana dan
prasarana yang mendukung untuk mencapai tujuan perusahaan sesuai
dengan visi dan misi perusahaan.
Menurut Siagian (2014:66) mengemukakan bahwa lingkungan kerja
adalah lingkungan dimana para karyawan melakukan pekerjaannya
sehari-hari. Secara garis besar, lingkungan kerja terdapat dua jenis
yaitu: Lingkungan kerja fisik, dan Lingkungan kerja non fisik.
Menurut Afandi (2016:61) lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada
di lingkungan para karyawan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas seperti temperatur, kelembaban, ventilasi,
penerangan, kegaduhan, kebersihan tempat kerja dan memada tidaknya
alat-alat perlengkapan kerja. Lingkungan kerja dapat didefinisikan
sebagai keseluruhan alat perkakas yang dihadapi, lingkungan sekitarnya
dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, sebagai pengaruh kerjanya
baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok.
Gomes (2014:89) the work environment is a process work where the
environment is mutual interact according to certain patterns, and each
of them has a characteristic or certain values regarding the
organization that will not be separated from the environment where the
organization is located, and the human being who is the center
everything

Pengertian Produktifitas


Menurut Sutrisno (2014) produktivitas adalah ukuran efisiensi
produktif suatu perbandingan antara hasil keluaran dan masukan. Masukan
dalam hal ini sering dibatasi tenaga kerja, sedangkan keluaran diukur dalam
kesatuan fisik, bentuk dan nilai.
Menurut Kusrianto (Sutrisno, 2014) menyatakan bahwa produktivitas
adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran satu tenaga kerja
per satuan waktu. Yang dimaksud peran serta tenaga kerja disini adalah
penggunaan sumber daya manusia serta efektif dan efisien.
Berdasarkan kedua uraian pendapat tersebut maka dapat disimpulkan
produktivitas adalah perbandingan antara jumlah yang dihasilkan selama
produksi dan jumlah setiap sumber yang dipergunakan selama produksi

Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan Transformasional dengan Loyalitas Karyawan


Loyalitas karyawan kepada perusahaan merupakan kesetiaan atau
bentuk dari keterikatan emosi yang mendalam terhadap perusahaan akibat
adanya kepuasan terhadap kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan
kepadanya. Poerwopoespito (2004), menyebutkan bahwa loyalitas kepada
pekerjaan tercermin pada sikap karyawan yang mencurahkan kemampuan dan
keahlian yang dimiliki, melaksanakan tugas dengan tanggungjawab, disiplin
serta jujur dalam bekerja. Poerwopoespito (2005), juga menjelaskan bahwa
sikap karyawan sebagai bagian dari perusahaan yang paling utama adalah
loyal.
Setiap perusahaan memiliki visi dan misi yang ingin dicapainya.
Pencapaian visi dan misi tersebut dilakukan dengan menyusun berbagai
tugas dan peran yang membentuk sebuah struktur organisasi. Dalam struktur
suatu organisasi pasti memiliki pemimpin guna mengarahkan dan mengatur
sumber daya yang ada agar tujuan organisasi tercapai. Pendekatan seorang
atasan kepada bawahannya dalam memimpin sebuah organisasi tercermin
dalam gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan seorang atasan yang
berbeda di setiap organisasi menyebabkan perbedaan hasil yang dicapai oleh
masing-masing organisasi.
Dalam pembentukan loyalitas kerja diperlukan adanya kesadaran diri
individu, baik langsung atau tidak langsung, yang didukung oleh berbagai
faktor. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan salah satu faktor
penentu loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Sense of power, merupakan
wujud kepemimpinan transformasional dalam menciptakan pemberdayaan
karyawan. Pemberdayaan merupakan kebutuhan instrinsik dari dalam
individu untuk memiliki kebebasan membuat keputusan (self-determination)
dan merasa yakin pada efektifitas diri (self-efficacy) (Spreitzer, 1997).
Melalui konsep ini, bawahan diberikan tugas dan wewenang yang lebih
besar dalam pengambilan keputusan. Dengan keyakinannya, bawahan akan
memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian prestasi organisasi dan
berperilaku yang lebih efektif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Reward


Menurut Rivai (2015) faktor-faktor yang mempengaruhi reward terbagi
menjadi dua yaitu, lingkungan eksternal dan internal. Lingkungan eksternal
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi reward dan berasal dari luar
perusahaan, seperti pasar tenaga kerja, kondisi ekonomi, peraturan pemerintah,
dan serikat pekerja, sedangkan untuk lingkungan internal berkaitan dengan hal-
hal didalam perusahaan yang turut memengaruhi reward tersebut.
1) Pasar tenaga kerja
Pasar tenaga kerja mempengaruhi pemberian reward dalam dua cara, yang
pertama tingkat persaingan tenaga kerja sebagian menentukan batas rendah
atau floor tingkat pembayaran. Tingkat pembayaran suatu perusahaan yang
terlalu rendah, tenaga kerja yang memenuhi syarat tidak akan bersedia
bekerja diperusahaan itu. Kedua, pada saat yang sama, mereka menekan
pengusaha untuk mencari alternatif, seperti penyediaan tenaga kerja asing,
yang harganya mungkin lebih rendah, atau teknologi yang mengurangi
kebutuhan tenaga kerja.
2) Kondisi ekonomi
Salah satu aspek yang juga mempengaruhi reward sebagai salah satu faktor
eksternal adalah kondisi-kondisi ekonomi industri, terutama derajat tingkat
persaingan, yang mempengaruhi kesanggupan untuk membayar perusahaan
itu dengan gaji tinggi.
3) Peraturan pemerintah
Pemerintah secara langsung mempengaruhi tingkat reward melalui
pengendalian upah dan petunjuk yang melarang peningkatan dalam reward
untuk para pekerja tertentu pada waktu tertentu, dan hukum yang menetapkan
tingkat tarif upah minimum, gaji, pengaturan jam kerja dan mencegah
diskriminasi. Pemerintah juga melarang perusahaan mempekerjakan pekerja
anak-anak dibawah umur (yang telah ditetapkan).
4) Serikat pekerja
Pengaruh eksternal penting lain pada suatu program reward kerja adalah
serikat kerja. Kehadiran serikat pekerja diperusahaan sektor swasta
diperkirakan meningkat upah 10 sampai 15 persen dan menaikkan tunjangan
sekitar 20 sampai 30 persen. Perbedaan upah antara perusahaan yang
mempunyai serikat pekerja dengan yang tidak mempunyai serikat pekerja
tampak paling besar selama periode resesi dan paling kecil selama periode
inflasi.
5) Anggaran tenaga kerja
Anggaran tenaga kerja secara normal identik dengan jumlah uang yang
tersedia untuk reward karyawan tahunan. Tiap-tiap unit perusahaan
dipengaruhi oleh ukuran anggaran tenaga kerja. Suatu anggaran perusahaan
tidak secara normal menyatakan secara tepat jumlah uang yang dialokasikan
ke masing-masing karyawan melainkan berapa banyak yang tersedia untuk
unit atau divisi.
6) Siapa yang membuat keputusan reward
Kita lebih mengetahui siapa yang membuat keputusan reward dibanding
sekitar beberapa faktor lain, tetapi masalah ini bukan suatu hal sederhana.
Keputusan atas berapa banyak yang harus dibayar, sistem apa yang dipakai,
manfaat apa untuk ditawarkan, dan sebagainya, dipengaruhi dari bagian atas
hingga dibawah perusahaan

Gaya Kepemimpinan Transformasional


Kepemimpinan merupakan kemampuan individu untuk
mempengaruhi, memotivasi dan memungkinkan pengikut untuk
memberikan kontribusi terhadap efektivitas dan kesuksesan organisasi
(House et all., 1999).
Menurut Bass (1985) dan Yukl (1994 : 297) tingkat sejauh mana
seorang pemimpin disebut transformasional terutama diukur dalam
hubungannya dengan efek kepemimpinan tersebut terhadap para
pengikut. Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa
adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap
pemimpin tersebut dan mereka merasa termotivasi untuk melakukan lebih
dari pada yang awalnya diharapkan oleh mereka.
Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional telah
diformulasikan oleh Burns Yukl, Selanjutnya Burns menjelaskan
kepemimpinan transformasional sebagai sebuah proses yang padanya para
pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan
motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin tersebut mencoba
menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita cita
yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti kemerdekaan, keadilan dan
kemanusiaan bukan didasarkan atas emosi, seperti keserakahan,
kecemburuan dan kebencian.
Menurut Keller (1992) mengemukakan bahwa Kepemimpinan
Transformational adalah sebuah gaya kepemimpinan yang mengutamakan
pemenuhan terhadap tingkatan tertinggi dari hirarki maslow yakni
kebutuhan akan harga diri dan aktualisasi diri. Kepemimpinan
transformasional inilah yang sungguh-sungguh diartikan sebagai
kepemimpinan yang sejati karena kepemimpinan ini sungguh bekerja
menuju sasaran pada tindakan mengarahkan organisasi kepada suatu
tujuan yang tidak pernah diraih sebelumnya. Para pemimpin secara riil
harus mampu mengarahkan organisasi menuju arah baru (Locke, 1997).
Sedangkan menurut O’Leary (2001) “Kepemimpinan
transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh
seseorang manajer bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan
memiliki kinerja melampaui status dan mencapai serangkaian sasaran
organisasi yang sepenuhnya baru”. Tjiptono (2002: 84) mendefinisikan
kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang menciptakan visi
dan lingkungan yang memotivasi para karyawan untuk berprestasi melampaui
harapan. Kepemimpinan transformasional juga didefinisikan sebagai
kepemimpinan yang mencakup upaya perubahan organisasi (sebagai lawan
kepemimpinan yang dirancang untuk mempertahankan status quo).
Kepemimpinan transformasional yaitu pemimpin yang
mencurahkan perhatiannya kepada persoalan- persoalan yang dihadapi
oleh para pengikutnya dan kebutuhan pengembangan dari masing-masing
pengikutnya dengan cara memberikan semangat dan dorongan untuk
mencapai tujuannya (Robbin,2007:473).

    Faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan


    Pambudi juga menambahkan bahwa lima (5) faktor yang menjadi
    tolok ukur sumber daya manusia yang mempunyai loyalitas atau
    komitmen (Utomo, 2002, p.17), yaitu:
    a. Karyawan tersebut berada di perusahaan tertentu;
    b. Karyawan tersebut mengenal seluk beluk bisnis perusahaannya
    maupun para pelanggannya dengan baik.
    c. Karyawan tersebut turut berperan dalam mempertahankan
    hubungan dengan pelanggan yang menguntungkan bagi
    perusahaannya;
    d. Karyawan tersebut merupakan aset tak berwujud yang tidak dapat
    ditiru oleh para pesaing; Karyawan tersebut mempromosikan
    perusahaannya, baik dari sudut produk, layanan, sebagai tempat
    kerja yang ideal maupun keunggulan kinerja dan masa depan yang
    lebih baik.
    Sedangkan menurut Steers dan Porter (1983) menyatakan bahwa
    timbulnya loyalitas kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor :
    a. Karakteristik pribadi, meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin,
    tingkat pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras, dan sifat
    kepribadian
    b. Karakteristik pekerjaan, meliputi tantangan kerja, stres kerja,
    kesempatan untuk berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi
    tugas, umpan balik tugas, dan kecocokan tugas
    c. Karakteristik desain perusahaan, yang dapat dilihat dari
    sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam
    pengambilan keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai
    tingkat asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan,
    ketergantungan fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan
    d. Pengalaman yang diperoleh dalam perusahaan, yaitu internalisasi
    individu terhadap perusahaan setelah melaksanakan pekerjaan
    dalam perusahaan tersebut meliputi sikap positif terhadap
    perusahaan, rasa percaya terhadap perusahaan sehingga
    menimbulkan rasa aman, merasakan adanya kepuasan pribadi yang
    dapat dipenuhi oleh perusahaan.

    Tujuan Penghargaan/Reward


    Menurut Sedarmayanti (2017) tujuan diberikannya reward oleh
    perusahaan kepada karyawannya adalah sebagai berikut:
    1) Menarik SDM
    Hendaknya setiap penghargaan kepada pegawai dapat menimbulkan
    ketertarikan/hasrat bagi pegawai untuk memperolehnya.
    2) Memotivasi SDM
    Penghargaan pegawai harus memotivasi pegawai untuk dapat bekerja lebih
    baik, lebih bersemangat dan lebih berkinerja tinggi.
    3) Mengembangkan SDM
    Penghargaan pegawai hendaknya dapat memberi peluang kepada pegawai
    untuk berkembang, berkekmbang kemampuan dan wawasannya, berkembang
    kariernya dan berkembang pendapatannya.
    4) Memuaskan SDM
    Hendaknya setiap penghargaan dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi
    pegawai yang memperolehnya.
    5) Memelihara SDM
    Penghargaan pegawai hendaknya dapat mempertahankan keberadaan
    pegawai pada organisasi tertentu sehingga tingkat turn over atau keluar dari
    organisasi rendah

    Loyalitas Karyawan


    Secara umum loyalitas dapat diartikan dengan kesetiaan,
    pengabdian dan kepercayaan yang diberikan atau ditujukan kepada
    seseorang atau lembaga, yang di dalamnya terdapat rasa cinta dan
    tanggung jawab untuk berusaha memberikan pelayanan dan perilaku
    terbaik (Rasimin, 1988). Siswanto (1989) juga berpendapat hal yang sama
    bahwa loyalitas adalah tekad dan kesanggupan individu untuk mentaati,
    melaksanakan, mengamalkan peraturan-peraturan dengan penuh kesadaran
    dan sikap tanggung jawab. Hal ini dibuktikan dengan sikap dan tingkah
    laku kerja yang positif.
    Hasibuan (2005), mengemukakan bahwa loyalitas atau kesetiaan
    merupakan salah satu unsur yang digunakan dalam penilaian karyawan
    yang mencakup kesetiaan terhadap pekerjaannya, jabatannya dan
    organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan karyawan menjaga
    dan membela organisasi didalam maupun diluar pekerjaan dari rongrongan
    orang yang tidak bertanggung jawab. Poerwopoespito (2004),
    menyebutkan bahwa loyalitas kepada pekerjaan tercermin pada sikap
    karyawan yang mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki,
    melaksanakan tugas dengan tanggungjawab, disiplin serta jujur dalam
    bekerja. Poerwopoespito (2005), juga menjelaskan bahwa sikap karyawan
    sebagai bagian dari perusahaan yang paling utama adalah loyal. Sikap ini
    diantaranya tercermin dari terciptanya suasana yang menyenangkan dan
    mendukung ditempat kerja, menjaga citra perusahaan dan adanya
    kesediaan untuk bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang.
    Lebih lanjut, terdapat beberapa ciri karyawan yang memiliki
    loyalitas yang rendah diantaranya karena sifat karakternya (bawaan),
    kekecewaan karyawan, dan sikap atasan, serta perasaan negatif, seperti
    ingin meninggalkan perusahaan, merasa bekerja di perusahaan lain
    lebih menguntungkan, tidak merasakan manfaat, dan menyesali bergabung
    dengan perusahaan. Adapun karakteristik karyawan yang menunjukkan
    loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan diantaranya adalah : bersedia
    bekerja melebihi kondisi biasa, merasa bangga atas prestasi yang
    dicapai perusahaan, merasa terinspirasi, bersedia mengorbankan
    kepentingan pribadi, merasa ada kesamaan nilai dengan perusahaan.
    Menurut Pambudi, di masa lalu atau masa sebelumnya, loyalitas para
    karyawan hanya diukur dari jangka waktu lamanya karyawan tersebut bekerja
    bagi sebuah organisasi. Namun saat ini, ukuran loyalitas para karyawan telah
    sedikit bergeser ke arah yang lebih kualitatif, yaitu yang disebut sebagai
    komitmen. Komitmen itu sendiri dapat diartikan sebagai seberapa besar
    seseorang mencurahkan perhatian, pikiran dan dedikasinya bagi organisasi
    selama dia bergabung di dalam organisasi tersebut (Utomo, 2002, p.10).

      Sistem Penghargaan/Reward dari Perusahaan untuk Karyawan


      Menurut Sedarmayanti (2017) membagi reward ke dalam beberapa
      bentuk, yaitu sebagai berikut:
      1) Keadilan
      Model penghargaan organisasi dengan memberikan penghargaan kepada
      pegawai sesuai proporsi
      2) Kesamaan
      Model penghargaan organisasi dengan memberi penghargaan yang sama
      tanpa memandang kontribusi dan masing-masing individu
      3) Kebutuhan
      Model penghargaan organisasi dengan mendasarkan kebutuhan pegawai
      daripada kontribusinya

      Hubungan Kepuasan Kerja Terhadap Loyalitas Kerja


      Menurut Hasibuan (2011:73) Karyawan yang puas akan pekerjaan mereka akan berdampak
      positif bagi loyalitas perusahaan karena semangat dan komitmen kerja dapat tumbuh dari
      kepuasan karyawan tersebut. Kepuasan karyawan terhadap loyalitas pekerjaan mereka dapat
      dilihat dari beberapa indikator seperti kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap promosi,
      rekan kerja, dan atasan. Jika indikator tersebut terpuaskan karyawan akan mencintai pekerjaan
      mereka dan lebih setia dan loyal kepada perusahaan. Sebaliknya jika indikator tersebut tidak
      terpuaskan karyawan akan cenderung tidak menyukai pekerjaan mereka sehingga tidak akan
      optimal dan loyal saat bekerja dan memiliki kecenderungan lain untuk meninggalkan pekerjaan
      mereka suatu saat nanti. Hal ini sependapat dengan penelitian Ovinda, (2013) bahwa hubungan
      kepuasan kerja dengan loyalitas karyawan bersifat positif karena jika karyawan nyaman akan
      pekerjaannya maka akan timbul loyalitas

      Hubungan Leadership Terhadap Loyaitas kerja


      Kepemimpinan adalah kombinasi karakter atau kepribadian seorang individu yang mendorong
      individu tersebut untuk menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan, yang tanpa motivasi
      dari pemimpin, sulit untuk dicapai. Dalam organisasi, pemimpin memiliki gambaran jelas
      mengenai dimana posisi organisasi sekarang; kemana arah organisasi harus dijalankan; dan
      bagaimana organisasi menuju ke arah tersebut (Bertocci, 2009:6). Arah hubungan positif
      menunjukkan bahwa jika kepemimpinan dalam perusahaan sudah baik maka akan berdampak
      positif terhadap loyalitas pegawai. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh hasibuan
      (2013: 169) bahwa pelaksanaan kepemimpinan cenderung menumbuhkan kepercayaan,
      partisipasi, loyalitas, dan internal motivasi para bawahan dengan cara persuasif. Hal ini sesuai
      dengan penelitian terdahulu milik Kitriawaty (2017) yang menyatakan bahwa hubungan
      leadership berpengaruh signifikan terhadap loyalitas karyawan

      Dimensi Penghargaan/Reward


      Rewards dalam penelitian ini akan diukur menggunakan dimensi yang
      digunakan oleh Karami et al (2013) dengan dimensi rewards sebagai berikut:
      1) Financial Rewards
      Adalah rewards atau tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
      uang atau finansial seperti gaji, bonus dan tunjangan.
      2) Inherent Rewards
      Adalah tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk kebanggaan
      dan rasa empati dari pihak perusahaan.
      3) Non-Financial Rewards
      Adalah rewards atau tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
      bukan uang seperti wewenang, apresiasi dan penunjukan pegawai sebagai
      perwakilan perusahaan

      Motivasi Terhadap Loyalitas Kerja


      Menurut Robbins (2013:198), bila seseorang termotivasi, ia akan mencoba sekuat tenaga
      dalam berusaha. Tingkat upaya yang tinggi akan mengantar kehasil loyalitas yang
      menguntungkan dan bermanfaat bagi organisasi tersebut. Maka dapat disimpulkan motivasi
      yang tinggi dapat mempengaruhi tingginya loyalitas karyawan. Motivasi dengan loyalitas
      karyawan memiliki hubungan positif hal tersebut didukung oleh penelitian dari ihwan (2017)
      dari motivasi yang diberikan menjadikan dorongan untuk bekerja lebih baik sehingga
      menghasilkan SDM yang baik dan secara tidak langsung akan meningkatkan loyalitar
      karyawan

      Indikator Loyalitas Kerja Karyawan


      Loyalitas menurut Saydam dalam Kurniawan ( 2015;78) adalah sebagai berikut:
      1) Ketaatan atau kepatuhan
      Ketaatan yaitu kesanggupan seorang pegawai untuk menaati segala peraturan kedinasan
      yang berlaku dan metaati perintah kedinasan yang berlaku dan mentaati perintah dinas
      yang diberikan atasan yang berwenang, serta sanggup tidak melanggar larangan yang
      ditentukan.
      2) Bertanggung jawab
      Bertanggung jawab ditandai dengan kesanggupann seorang karyawan dalam
      menyelesesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan baik, tepat waktu serta
      berani mengambil resiko untuk keputusan yang dibuat atau tindakan yang dilakukan.
      3) Pengabdian
      Yaitu sumbangan pemikiran dan tenaga serta ikhlas kepada perusahaan.
      4) Kejujuran
      Berarti adanya keselarasan antara yang terucap atau perbuatan dengan kenyataan

      Pengertian Reward


      Menurut Fahmi (2016) reward merupakan bentuk pemberian balas jasa
      yang diberikan kepada seseorang karyawan atas prestasi pekerjaan yang
      dilakukan, baik berbentuk finansial maupun non finansial.
      Menurut Siagian (2015) reward adalah pekerjaan itu sendiri, upah,
      peluang promosi, pengawasan, dan rekan kerja. reward juga merupakan usaha
      atau cara untuk menumbuhkan pengakuan atau perasaan diterima didalam
      organisasi, yang meliputi non finansial dan finansial.
      Menurut Satrohadiwirya (2010) yang mengatakan penghargaan
      merupakan imbalan balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada para
      tenaga kerja, karena tenaga kerja tersebut telah memberikan sumbangan tenaga
      dan pikiran demi kemajuan perusahaan guna mencapai tujuan yang telah
      ditetapkan.
      Berdasarkan definisi para ahli diatas, reward adalah ganjaran, hadiah, atau
      imbalan. Dalam konsep manajamen reward merupakan salah satu alat untuk
      meningkatkan motivasi para pegawai, metode ini bisa juga mengasosiasikan
      perbuatan dan kelakuan seseorang dengan perasaan bahagia, senang dan
      biasanya akan membuat mereka melakukan suatu perbuatan yang berulang-
      ulang, selain motivasi reward juga bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi
      usahanya untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi yang telah dapat
      dicapainya. Maka dapat disimpulkan bahwa reward adalah segala imbalan balas
      jasa yang diberikan oleh perusahaan atas kontribusi karyawan

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja

      Menurut Steers dan Porter, 1983 (dalam Soegandhi dkk, 2013;30) bahwa loyalitas di pengaruhi
      empat faktor:

      1. Karakteristik pribadi, meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan, prestasi
        yang dimiliki, ras dan beberapa sifat kepribadian.
      2. Pekerjaan, berupa tantangan kerja, job stress, kesempatan berinteraksi sosial, job
        enrichment, identifikasi tugas, umpan balik tugas dan kecocokan tugas.
      3. Karakteristik desain perusahaan, menyangkut pada internal perusahaan itu yang dapat
        dilihat dari desentralisasi, tingkat formalisasi, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan
        keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai tingkat asosiasi dengan tanggung
        jawab perusahaan, ketergantungan fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan.
      4. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan, meliputi sikap positif terhadap perusahaan,
        rasa percaya pada sikap positif terhadap perusahaan, rasa aman

      Konsep Loyalitas


      Menurut Steers & Porter, 1983 (dalam Soegandhi dkk, 2013) ada beberapa konsep loyalitas,
      yaitu:

      1. Loyal Kepada Perusahaan
        Loyal kepada perusahaan merupakan konsep loyal yang sangat popular. Loyalitas seperti
        ini menuntut karyawan untuk terus bekerja di perusahaan dalam kondisi apapun. Oleh
        karena itu, orang yang pindah kerja sering di anggap tidak loyal terhadap perusahaan.
      2. Loyal Kepada Pekerjaan
        Di sini seorang karyawan tidak loyal terhadap perusahaan, tapi loyal terhadap pekerjaan
        yang ia kerjakan. ia akan bekerja dengan gigih demi pekerjaannya. Karyawan seperti ini di
        anggap sebagai asset perusahaan yang berharga karena ia akan mengerjakan pekerjaan yang
        menjadi job desc-nya dengan sebaik-baiknya.
      3. Loyal Kepada Visi, Misi Dan Tujuan Perusahaan
        Dalam bekerja kita harus tahu visi, misi dan tujuan perusahaan serta loyal terhadapnya.
        Bukan hanya job desc-nya saja. Konsep loyalitas seperti ini membutuhkan pemahaman
        sepenuhnya bahwa yang kita kerjakan bukan saja harus selesai dengan baik, tapi juga harus
        sejalan dengan tujuan perusahaan.

      Jenis-jenis motivasi

      1. Motivasi Positif (Insentif Positif)
        Maksudnya manajer memotivasi (merangsang) karyawan dengan memberikan
        hadiah (reward) kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar atau
        proses untuk mempengaruhi orang lain agar menjalankan sesuatu yang kita
        inginkan dengan memberikan kemungkinan untuk mendapatkan hadiah
        (reward.
      2. Motivasi Negatif (Insentif Negatif)
        Maksudnya manajer memotivasi karyawan dengan standar mereka akan
        mendapatkan hukuman atau proses untuk mempengaruhi seseorang agar mau
        melakukan sesuatu yang kita inginkan tetapi teknik dasar yang digunakan
        adalah lewat kekuatan ketakutan

      Indikator Kepuasan Kerja


      Menurut Luthans (2011:141), kepuasan kerja memiliki 6 indikator yang dapat mempengaruhi,
      yaitu:

      1. Pekerjaan itu sendiri
        Karyawan akan lebih merasa puas terhadap pekerjaannya apabila mereka diberikan tugas
        yang menarik dan menantang serta kesempatan untuk belajar. Dalam research yang
        ditemukan oleh penulis, kepuasan kerja juga berhubungan dengan oportunitas yang sama,
        lingkungan yang ramah, dan perilaku anti-harassment dalam suatu organisasi.
      2. Gaji Uang
        Digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Uang juga dapat dijadikan sebagai
        alat untuk memperoleh kepuasan tingkat atas. Gaji dilihat oleh karyawan sebagai
        gambaran bagaimana manajemen mengevaluasi kontribusi mereka terhadap organisasi.
      3. Promosi Secara tradisional
        promosi adalah cara seseorang menaikan posisi mereka dalam hirarki suatu organisasi.
        Promosi memiliki pengaruh yang berbeda terhadap kepuasan kerja dikarenakan bentuk
        promosi berbedabeda, perbedaan tersebut dapat dicontohkan dengan promosi yang
        diterima orang berdasarkan senioritas akan berbeda dengan promosi yang didasarkan oleh
        prestasi atau kinerja.
      4. Supervisi atasan
        Supervisi dibagi menjadi 2 dimensi, yang pertama adalah Employee Centered lebih
        memfokuskan pada interaksi supervisor kepada karyawan. Interaksi yang dimaksud dalam
        dimensi ini adalah bagaimana supervisor memeriksa kondisi karyawan dalam melakukan
        tugas, memberikan saran dan bantuan, serta berkomunikasi dalam personal ataupun resmi.
        Dimensi kedua dalam supervisi adalah partisipasi yang dapat dilihat dari cara supervisor
        melibatkan karyawan dalam beberapa pengambilan keputusan.

      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


      Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Hasibuan, (2009;203)
      yaitu:

      1. Balas jasa yang adil dan layak
      2. Penempatan yang tepat sesuai keahlian
      3. Berat ringannya pekerjaan
      4. Suasana dan lingkungan pekerjaan
      5. Peralatan yang menjangkau pelaksanaan pekerjaan
      6. Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya
      7. Sifat pekerjaan monoton atau tidak

      Teori Kepemimpinan


      Dalam Wibowo (2016;107) ada beberapa teori tentang kepemimpinan yang dipaparkan,
      diantaranya adalah:

      1. Teori sifat
        Trait theories atau teori sifat merupakan teori yang berusaha mengidentifikasi karakteristik
        spesifik (fisik, mental, kepribadian) berkaitan dengan keberhasilan kepemimpinan menurut
        Ghibson dik (1995:78). Terdapat tiga karakteristik berkaitan dengan efektivitas
        kepemimpinan adalah:
        a. Personality (kepribadian): tingkat energy, toleransi terhadap stress, percaya diri,
        kedewasaan emosional, dan integritas.
        b. Motivation (motivasi): orientasi kekuasaan tersosialisasi, kebutuhan kuat untuk
        berprestasi, memulai diri, membujuk.
        c. Ability (kemampuan): keterampilan interpersonal, keterampilan kognitif, keterampilan
        teknis.
        • Teori perilaku
          Behavioral theories atau teori perilaku kepemimpinan tumbuh sebagai hasil dari
          ketidakpuasan terhadap trait theories atau teori sifat karena dinilai tidak dapat menjelaskan
          efektivitas kepemimpinan dan gerakan hubungan antara manusia. Teori ini percaya bahwa
          perilaku pemimpin secara langsung mempengaruhi efektivitas kelompok. Pemimpin dapat
          menyesuaikan gaya kepemimpinannya untuk mempengaruhi orang lain dengan efektif.

      Motivasi


      Menurut Hamzah Uno (2016) motivasi adalah dorongan dasar yang
      menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang
      yang menggerakkan dirinya untuk dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan
      dorongan dalam dirinya.
      Menurut Hasibuan (2013) motivasi berasal dari kata latin movereyang berarti
      dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation)dalam manajemen hanya
      ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi
      mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan agar
      mau bekerja sama secara produktif sehingga tercapai tujuan yang ditentukan.
      Menurut Gibson (2013) motivasi kerja adalah kekuatan yang mendorong
      seseorang karyawan yang menimbulkan dan mengarahkan perilaku karyawan.
      Menurut Farida & Hartono (2016) motivasi merupakan daya penggerak yang
      menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja
      efektif dan terintegrasi dengan segala daya dan upayanya untuk mencapai kepuasan,
      untuk mencapai kepuasan itu sendiri dibutuhkan alat motivasi atau daya penggerak
      yang diberikan kepada karyawan salah satunya yaitu penghargaan (reward). Farida
      & Hartono (2016) Menyatakan alat-alat motivasi (daya perangsang) yang diberikan
      kepada karyawan dapat berupa :
      1) Material incentive adalah motivasi yang bersifat materiil sebagai imbalan
      prestasi yang diberikan kepada karyawan. Yang termasuk material incentive
      adalah yang berbentuk uang dan barang-barang.
      2) Nonmaterial incentive adalah motivasi yang tidak berbentuk materi. Yang
      termasuk nonmaterial incentive adalah penempatan yang tepat, pekerjaan yang
      terjamin, piagam penghargaan, bintang jasa, perlakuan yang wajar, dan
      sejenisnya.

      Tipe-Tipe Kepemimpinan


      Menurut Terry dalam Suwatno dan Priansa (2016) tipe-tipe kepemimpinan adalah sebagai
      berikut:

      1. Kepemimpinan pribadi (personal leadership)
        Dalam tipe ini pemimpin mengadakan hubungan langsung dengan bawahannya, sehingga
        timbul hubungan pribadi yang intim.
      2. Kepemimpinan non-pribadi (non-personal leadership)
        Dalam tipe ini pimpinan tidak mengadakan hubungan langsung dengan bawahannya,
        sehingga antara atasan dan bawahan tidak timbul kontak pribadi. Hubungan antara
        pimpinan dengan bawahannya melalui perencanaan dan instruksi-instruksi tertulis.
      3. Kepemimpinan otoriter (authoritarian leadership)
        Dalam tipe ini pimpinan memperlakukan bawahannya secara sewenang-wenang, karena
        menganggap diri orang paling berkuasa, bawahannya digerakan dengan jalan paksa,
        sehingga para pekerja dalam melakukan pekerjaannya bukan karena ikhlas melakukan
        pekerjaannya, melainkan karena takut.
      4. Kepemimpinan kebapakan (paternal leadership)
        Dalam tipe ini pimpinan memperlakukan bawahannya seperti anak sendiri, sehingga para
        bawahannya tidak berani mengambil keputusan, segala sesuatu yang pelik diserahkan
        kepada bapak pimpinan untuk menyelesaikannya. Dengan demikian bapak sangat banyak
        pekerjaannya yang menjadi tanggung jawab anak buahnya.
      5. Kepemimpinan demokratis (democratic leadership)
        Dalam tipe ini pimpinan selalu mengadakan musyawarah dengan para bawahannya untuk
        menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya yang sukar, sehingga para bawahannya merasa
        dihargai pikiran-pikirannya dan pendapat-pendapatnya serta mempunyai pengalaman yang
        baik di dalam menghadapi segala persoalan yang rumit. Dengan demikian para bawahan
        bergeraknya itu bukan karena rasa paksaan, tetapi karena rasa tanggung jawab yang timbul
        karena kesadaran atas tugas-tugasnya.
      6. Kepemimpinan bakat (indigenous leadership) Dalam tipe ini pimpinan dapat menggerakan
        bawahannya karena mempunyai bakat untuk itu, sehingga para bawahannya senang
        mengikutinya, jadi tipe ini lahir karena pembawannya sejak lahir seolah-olah ditakdirkan
        untuk memimpin dan diikuti oleh orang lain. Dalam tipe ini pimpinan tidak akan susah
        menggerakkan bawahannya, karena para bawahannya akan selalu menurut akan
        kehendaknya

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengalaman Kerja


      Menurut Ismanto & Nano (2011) Ada beberapa faktor yang
      mempengaruhi pengalaman tidaknya seorang karyawan sebagai indikator
      pengalaman kerja, yaitu lama waktu atau masa kerja, tingkat pengetahuan dan
      keterampilan yang dimiliki, dan penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan.
      1) Lama kerja atau masa kerja
      Suatu ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh
      seseorang karyawan dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan, dan telah
      melaksanakan dengan baik.
      2) Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
      Suatu pengetahuan menunjuk pada konsep, prinsip, prosedur,
      kebijakan, atau informasi lain yang dibutuhkan karyawan, pengetahuan juga
      mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada
      tanggung jawab pekerjaan. Sedangkan keterampilan merujuk pada
      kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu
      tugas atau pekerjaan.
      3) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan
      Tingkat penguasaan seorang karyawan dalam melaksanakan aspek-
      aspek teknis peralatan dan teknik pekerjaan.
      4) Jenis pekerjaan
      Semakin banyak jenis tugas yang dilaksanakan seorang karyawan maka
      umumnya orang tersebut akan memperoleh hasil pelaksanaan tugas yang
      lebih baik

      Pengertian Leadership atau Kepemimpinan


      Yamin dan Maaisah (2010; 74) Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi yang
      dilakukan oleh seseorang dalam mengolah anggota untuk mencapai tujuan organisasi.
      Sedangkan menurut Wukir (2013; 134) kepemimpinan merupakan seni memotivasi dan
      mempengaruhi sekelompok orang untuk bertindak mencapai tujuan

      Pengukuran Pengalaman kerja


      Pengalaman kerja tidak hanya dari lamanya bekerja karyawan pada bidang
      pekerjaan tertentu saja, akan tetapi dapat dilihat dari keterampilan, keahlian,
      kemampuan, yang dimiliki oleh pekerja tersebut. Lamanya seseorang bekerja
      pada pekerjaan yang sama atau sejenis akan mengakibatkan lebih tahu dan
      terampil dalam melaksanakan pekerjannya (Hardiansah 2014).
      1) Gerakan yang mantap dan lancar
      Setiap karyawan yang sudah berpengalaman akan melakukan gerakan
      yang mantap dan bekerja tanpa disertai keragunan.
      2) Gerakan berirama
      Gerakan berirama merupakan terciptanya dari kebiasaan dalam
      melakukan pekerjaan sehari-hari.
      3) Lebih cepat menanggapi tanda-tanda
      Merupakan tanda-tanda seperti akan terjadinya kecelakaan kerja. Dapat
      mengetahui atau timbul kesulitan sehingga lebih siap menghadapinya. Karena
      didukung oleh pengalaman dapat mengetahui akan terjadinya kesulitan dan
      siap menghadapinya.
      4) Bekerja dengan tenang.
      Seorang karyawan yang berpengalaman akan memiliki rasa percaya
      diri yang cukup besa

      Aspek-aspek Loyalitas Karyawan


      Menurut Siswanto (2013), aspek-aspek loyalitas karyawan adalah sebagai
      berikut :

      1. Taat pada peraturan
        Setiap kebijakan yang diterapkan dalam organisasi untuk
        memperlancar dan mengatur jalannya pelaksanaan tugas oleh
        manajemen organisasi ditaati dan dilaksanakan dengan baik. Keadaan
        ini akan menimbulkan kedisiplinan yang menguntungkan organisasi
        baik intern maupun ekstern.
      2. Tanggung jawab pada perusahaan/organisasi
        Karakteristik pekerjaan dan pelaksanaan tugasnya mempunyai
        konsekuensi yang dibebankan karyawan. Kesanggupan karyawan
        untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan kesadaran akan setiap
        resiko pelaksanaan tugasnya akan memberikan pengertian tentang
        keberanian dan kesadaran bertanggungjawab terhadap resiko atas apa
        yang telah dilaksanakan.
      3. Kemauan untuk bekerja sama
        Bekerja sama dengan orangorang dalam suatu kelompok akan
        memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin
        dicapai oleh orangorang secara invidual.
      4. Rasa memiliki
        Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap organisasi akan
        membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan
        bertanggung jawab terhadap organisasi sehingga pada akhirnya akan
        menimbulkan loyalitas demi tercapainya tujuan organisasi.
      5. Hubungan antar pribadi
        Karyawan yang mempunyai loyalitas kerja tinggi mereka akan
        mempunyai sikap fleksibel ke arah tata hubungan antara pribadi.
        Hubungan antara pribadi ini meliputi hubungan sosial diantara
        karyawan, hubungan yang harmonis antara atasan dan karyawan,
        situasi kerja dan sugesti dari teman kerja.
      6. Kesukaan terhadap pekerjaan
        Organisasi harus dapat menghadapi kenyataan bahwa karyawannya
        tiap hari datang untuk bekerjasama sebagai manusia seutuhnya dalam
        hal melakukan pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati
        sebagai indikatornya bisa dilihat dari : keunggulan karyawan dalam
        bekerja, karyawan tidak pernah menuntut apa yang diterimanya diluar
        gaji pokok

      Pengertian Pengalaman Kerja


      Menurut Marwansyah (2014) pengalaman kerja adalah suatu pengetahuan,
      keterampilan, dan kemampuan yang dimiliki pegawai untuk mengemban
      tanggungjawab dari pekerjaan sebelumnya, indikator dari pengalaman kerja
      adalah : pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan tanggungjawab.
      Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengalaman kerja
      merupakan suatu kemampuan yang dimiliki karyawan yang didapatkan dari
      lamanya masa kerja karyawan tersebut.
      Menurut Ismanto (2011) pengalaman kerja merupakan proses
      pembentukan atau keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena
      keterlibatan karyawan dalam melaksanakan tugas pekerjaannya

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan


      Steers & Porter (1983) menyatakan bahwa timbulnya loyalitas kerja
      dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :

      1. Karakteristik pribadi yang meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin,
        tingkat pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras, dan sifat kepribadian
      2. Karakteristik pekerjaan, meliputi tantangan kerja, stres kerja,
        kesempatan untuk berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi
        tugas, umpan balik tugas, dan kecocokan tugas
      3. Karakteristik desain perusahaan/organisasi, yang dapat dilihat dari
        sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam
        pengambilan keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai
        tingkat asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan, ketergantungan
        fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan
      4. Pengalaman yang diperoleh dalam perusahaan/organisasi, yaitu
        internalisasi individu terhadap perusahaan setelah melaksanakan
        pekerjaan dalam perusahaan tersebut meliputi sikap positif terhadap
        perusahaan, rasa percaya terhadap perusahaan sehingga menimbulkan
        rasa aman, merasakan adanya kepuasan pribadi yang dapat dipenuhi
        oleh perusahaan.

      Indikator Loyalitas Karyawan


      Sahar (2019) mengemukakan bahwa indikator loyalitas yang digunakan
      untuk menentukan loyalitas anggota organisasi adalah keinginan untuk tetap
      bertahan pada organisasi yang ditandai dengan :

      1. Penerimaan penuh terhadap nilai-nilai organisasi yang ditandai dengan
        menerima apapun yang menjadi kebijakan organisasi.
      2. Setia pada perusahaan.
      3. Keinginan untuk tetap bertahan dalam organisasi.
      4. Keinginan untuk berusaha semaksimal mungkin ditandai dengan
        bersedia bekerja melebihi kondisi biasa.

      Pengertian Loyalitas Karyawan


      Loyalitas berasal dari kata loyal yang berarti setia. Loyalitas dalam
      organisasi dapat diartikan sebagai kesetiaan seorang karyawan terhadap
      organisasi. Menurut Andromike (2014: 3) loyalitas karyawan adalah sikap dan
      perbuatan mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, melaksanakan
      tugas dengan tanggung jawab serta jujur dalam bekerja, menciptakan hubungan
      kerja yang baik dengan atasan, rekan kerja dengan bawahan dalam
      menyeleseaikan tugas, menciptakan suasana yang mendukung dan menyenangkan
      saat ditempat kerja dan adanya kesediaan untuk bekerja dalam jangka waktu yang
      panjang. Utomo (2010) mengemukakan bahwa loyalitas dapat dikatakan sebagai
      kesetiaan seseorang terhadap suatu hal yang bukan hanya berupa kesetiaan fisik
      semata, namun lebih pada kesetiaan non fisik seperti pikiran dan perhatian.
      Loyalitas para karyawan dalam suatu organisasi itu mutlak diperlukan demi
      kesuksesan organisasi itu sendiri. Menurut Reichheld (2012), semakin tinggi
      loyalitas para karyawan di suatu organisasi, maka semakin mudah bagi organisasi
      itu untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya
      oleh pemilik organisasi. Begitu pula sebaliknya, bagi organisasi yang loyalitas
      para karyawannya rendah, maka semakin sulit bagi organisasi tersebut untuk
      mencapai tujuan-tujuan organisasinya yang telah ditetapkan sebelumnya oleh para
      pemilik organisasi.

      Jenis-jenis Motivasi Kerja


      Hasibuan (2017) menyatakan bahwa ada dua jenis motivasi kerja, yaitu
      motivasi positif dan motivasi negatif.

      1. Motivasi positif (insentif positif)
        Motivasi positif maksudnya pemimpin memotivasi (merangsang) bawahan
        dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi di atas
        prestasi standar. Dengan motivasi positif, semangat kerja bawahan akan
        meningkat karena umumnya manusia senang menerima yang baikbaik
        saja.
      2. Motivasi negatif (insentif negatif)
        Motivasi negatif maksudnya pemimpin memotivasi bawahan dengan
        standar mereka akan mendapat hukuman. Dengan motivasi negatif ini
        semangat bekerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat
        karena mereka takut dihukum, tetapi untuk jangka waktu panjang dapat
        berakibat kurang baik.

      Tujuan Motivasi Kerja


      Menurut Hasibuan (2017) tujuan dari motivasi kerja adalah sebagai berikut:

      1. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
      2. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
      3. Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan
      4. Meningkatkan kedisiplinan karyawan
      5. Mengefektifkan pengadaan karyawan
      6. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
      7. Meningkatkan loyalitas, kreativitas dan partisipasi karyawan
      8. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan

      Indikator Motivasi Kerja


      Hasibuan (2008:157) menyatakan bahwa motivasi kerja pegawai
      dipengaruhi oleh kebutuhan fisik, kebutuhan akan keamanan dan keselamatan,
      kebutuhan sosial dan kebutuhan akan penghargaan diri. Kemudian menurut Medi
      Prakoso (2015) dari faktor tersebut diturukanlah indikator-indikator untuk
      mengetahui tingkat motivasi pada karyawan, yaitu:

      1. Kebutuhan rasa aman dan keselamatan
        Ditunjukan dengan fasilitas keamanan dan keselamatan kerja yang
        diantaranya jaminan sosial tenaga kerja, dana pensiun, asuransi kesehatan,
        asuransi kecelakaan dan perlengkapan keselamatan kerja.
      2. Kebutuhan fisik
        Ditunjukan dengan pemberian gaji, pemberian bonus, uang makan, uang
        transport, fasilitas perumahaan dan sebagainya.
      3. Kebutuhan akan penghargaan
        Ditunjukan dengan pengakuan dan penghargaan berdasarkan
        kemampuannya yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh
        pegawai lain dan pimpinan terhadap prestasi kerja.
      4. Kebutuhan sosial
        Ditunjukan dengan melakukan interaksi dengan orang lain yang
        diantaranya untuk diterima di kelompok dan kebutuhan untuk dicintai dan
        mencintai

      Pengertian Motivasi Kerja


      Motivasi merupakan dorongan-dorongan individu untuk bertindak yang
      menyebabkan orang tersebut berperilaku dengan cara tertentu yang mengarah
      pada tujuan. Prinsip dasar motivasi adalah kemampuan (ability) dan motivasi
      individu. Menurut prinsip tersebut, tidak ada tugas yang dapat dilaksanakan
      dengan baik tanpa didukung oleh kemampuan untuk melaksanakannya.
      Rivai (2011:837) mengemukakan bahwa motivasi merupakan serangkaian
      sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang
      spesifik sesuai dengan tujuan individu. Setiap orang yang bekerja mengharapkan
      memperoleh kepuasan dari tempatnya bekerja. Pada dasarnya kepuasan kerja
      merupakan hal yang bersifat individual karena setiap individu akan memiliki
      tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam
      diri setiap individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan
      keinginan individu, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan.
      Namun, kemampuan tidaklah mencukupi untuk menjamin tercapainya kinerja
      terbaik. Individu harus memiliki keinginan (motivasi) untuk mencapai kinerja
      terbaik (Setiawan dan Ghozali, 2006: 126).
      Sedangkan pengertian motivasi lainnya dikemukakan oleh Hakim
      (2006:167) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi
      kinerja karyawan yaitu faktor motivasi dimana motivasi merupakan kondisi yang
      menggerakan seseorang berusaha untuk mencapai tujuan atau mencapai hasil yang
      diinginkan

      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja


      Menurut Nitisemito (1992:159) Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
      terbentuknya suatu lingkungan kerja adalah sebagai berikut :

      1. Pewarnaan
        Warna dapat berpengaruh terhadap karyawan didalam melaksanakan
        pekerjaannya, namun tidak sedikit perusahaan yang kurang
        memperhatikan masalah warna. Pewarnaan pada dinding atau tembok pada
        ruang kerja hendaknya menggunakan warna yang lembut. Dengan
        demikian karyawan akan merasa nyaman.
      2. Penerangan
        Penerangan dalam ruang kerja karyawan memegang peranan yang sangat
        penting dalam meningkatkan semangat karyawan. Dengan adanya
        penerangan yang cukup maka kegiatan-kegiatan operasional organisasi
        akan berjalan dengan lancar sehingga karyawan akan menunjukkan hasil
        kerja yang baik.
      3. Udara
        Suhu udara yang terlalu panas akan menurunkan semangat kerja karyawan
        di dalam melaksanakan pekerjaannya. Maka dari itu perusahaan
        diharapkan untuk memberikan udara yang cukup (tidak terlalu panas dan
        tidak terlalu dingin) di dalam ruangan kerja karyawan, dengan adanya
        pertukaran udara yang cukup maka karyawan akan selalu merasa segar dan
        semangat untuk menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung
        jawabnya.
      4. Suara Bising
        Suara yang bising bisa sangat menganggu para karyawan dalam bekerja.
        Suara bising tersebut dapat merusak konsentrasi kerja karyawan sehingga
        kinerja karyawan menjadi tidak optimal. Maka dari itu setiap perusahaan
        harus selalu berusaha untuk menghilangkan suara bising tersebut atau
        paling tidak menekannya untuk memperkecil suara bising tersebut dengan
        memperdengarkan musik yang bisa mengembalikan konsentrasi karyawan.
      5. Ruang Gerak
        Karyawan yang bekerja dalam suatu perusahaan hendaknya mendapatkan
        tempat yang cukup untuk melaksanakan pekerjaannya. Karyawan tidak
        mungkin dapat bekerja dengan maksimal jika tempat yang tersedia tidak
        dapat memberikan kenyamanan. Dengan demikian ruang gerak untuk
        tempat karyawan bekerja seharusnya direncanakan terlebih dahulu agar
        para karyawan tidak terganggu di dalam melaksanakan pekerjaan. Menurut
        Assauri (1993:33) mengemukakan bahwa: “Agar para karyawan dapat
        leluasa bergerak dengan baik, maka ruangan gerak para karyawan perlu
        diberikan ruangan yang memadai. Terlalu sempit ruang gerak akan
        menghambat proses kerja para karyawan. Sebaliknya ruangan kerja yang
        besar merupakan pemborosan ruangan”.
        Dari pendapat di atas mengenai ruang gerak yang ideal adalah ruang yang
        leluasa sehingga dapat membantu kelancaran kerja karyawan. Ruangan
        yang sempit akan mengakibatkan lalu-lintas di tempat kerja menjadi
        semrawut, sehingga karyawan akan kehilangan semangat dalam bekerja.
      6. Keamanan
        Rasa aman bagi karyawan sangat berpengaruh terhadap semangat kerja
        dan kinerja karyawan. Di sini yang dimaksud dengan keamanan yaitu
        keamanan yang dapat dimasukkan ke dalam lingkungan kerja fisik. Jika di
        tempat kerja tidak aman karyawan tersebut akan menjadi gelisah, tidak
        tenang dan tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya serta semangat
        kerja karyawan tersebut akan mengalami penurunan. Oleh karena itu
        sebaiknya suatu perusahaan terus berusaha untuk menciptakan dan
        mempertahankan suasana aman tersebut, misalnya memasang kamera
        CCTV di setiap sudut ruangan atau memperketat penjagaan dengan adanya
        peran dari security.
      7. Kebersihan
        Lingkungan kerja yang bersih akan menciptakan keadaan disekitarnya
        menjadi sehat. Oleh karena itu setiap perusahaan hendaknya selalu
        menjaga kebersihan lingkungan kerja. Dengan adanya lingkungan kerja
        yang bersih karyawan akan merasa senang sehingga kinerja karyawan
        akan meningkat.

      Jenis-jenis Lingkungan Kerja


      Sedarmayanti (2001:21) mengemukakan bahwa ada 2 jenis lingkungan
      kerja, yaitu:

      1. Lingkungan kerja fisik
        Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang
        terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik
        secara langsung maupun secara tidak langsung.
      2. Lingkungan kerja non-fisik
        Lingkungan kerja non-fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang
        berkaitan dengan hubungsn kerja, baik hubungan dengan atasan maupun
        hubungan dengan bawahan sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan
        bawahan

      Indikator Lingkungan Kerja


      Menurut Nitisemito (1992:159), indikator-indikator lingkungan kerja
      terdiri dari:

      1. Tersedianya fasilitas untuk karyawan
        Hal ini dimaksudkan bahwa peralatan yang digunakan untuk mendukung
        kelancaran kerja lengkap dan memadai. Tersedianya fasilitas kerja yang
        lengkap, adanya fasilitas umum, toilet, poliklinik, tempat ibadah dan
        tempat makan/kantin.
      2. Suasana kerja
        Suasana kerja adalah kondisi yang ada disekitar karyawan yang sedang
        melakukan pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan itu
        sendiri.
      3. Hubungan dengan rekan kerja
        Hubungan dengan rekan kerja yaitu hubungan dengan rekan kerja
        harmonis dan tanpa ada saling intrik diantara sesama rekan kerja.
        Hubungan yang harmonis dan kekeluargaan merupakan salah satu faktor
        yang dapat memengaruhi kinerja seseorang.

      Pengertian Lingkungan Kerja


      Lingkungan kerja memiliki banyak pengertian menurut para ahli, seperti
      yang dikemukakan oleh Nitisemito (2002;11), lingkungan kerja adalah sesuatu
      yang ada disekitar para pekerja dan yang mempengaruhi dirinya dalam
      menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Pengertian lingkungan kerja lainnya
      dikemukakan oleh Sedarmayati (2001;21), menyatakan lingkungan kerja sebagai
      keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di
      mana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai
      perseorangan maupun sebagai kelompok. Sedangkan menurut Heijrachman dan
      Husnan (1997:34) yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pengaturan
      lingkungan kerja adalah pengaturan penerangan tempat kerja, pengontrolan
      terhadap suara gaduh dalam pabrik, pengontrolan terhadap udara, pengaturan
      kebersihan tempat kerja, dan pengaturan tentang keamanan kerja.
      Perhatian terhadap lingkungan manajemen penting karena tiap elemen
      lingkungan mempengaruhi baik langsung atau tidak langsung terhadap kegiatan-
      kegiatan manajerial. Tetapi, tidak semua lingkungan sama dan tidak semua
      organisasi memiliki lingkungan yang sama, sementara organisasi tidak
      mempunyai informasi yang cukup tentang keadaan lingkungannya. Mereka
      berbeda dalam hal karakteristik lingkungan, yaitu satu kondisi dalam mana
      pengaruh keadaan lingkungan masa datang suatu organisasi tidak dapat secara
      akurat dinilai dan diprediksi (Silalahi,2013:131).

      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Organisasi


      Menurut Eisenberger dalam Baliarti (2016), organizationalsupport
      dipengaruhi oleh pengalaman yang dimiliki oleh individu, serta pengamatan
      mengenai keseharian organisasi dalam memperlakukan seseorang. Dalam hal ini
      sikap organisasi terhadap ide-ide yang dilontarkan oleh pegawai, respon
      terhadap pegawai yang mengalami masalah serta perhatian perusahaan terhadap
      kesejahteraan dan kesehatan pegawai merupakan tiga aspek yang menjadi
      perhatian utama dari pegawai. Ketiga aspek yang menjadi perhatian utama dari
      pegawai yaitu:
      1) Sikap Organisasi Terhadap Ide-Ide Pegawai
      Organizational support dipengaruhi oleh sikap organisasi terhadap ide-
      ide yangdilontarkan oleh pegawai. Bila organisasi melihat ide dari pegawai
      sebagai sumbangan yang konstruktif, yang mungkin saja dapat diwujudkan
      melalui perencanaan yang matang, maka individu yang bekerja ditempat
      tersebut memiliki persepsi yang positif akan dukungan organisasi terhadap
      diri mereka. Sebaliknya, dukungan organisasi akan menjadi negatif bila
      perusahaan selalu menolak ide dari pegawai dan segala sesuatu merupakan
      keputusan dari pimpinan puncak.
      2) Respon Terhadap Pegawai
      Menghadapi Masalah Organizational support juga dipengaruhi oleh
      respon terhadap pegawai yangmenghadapi masalah. Bila organisasi
      cenderung untuk berdiam diri dan tidak memperlihatkan usaha untuk
      membantu individu yang terlibat masalah, maka pegawai akan melihat bahwa
      tidak ada dukungan yang diberikan organisasi terhadap pegawai.
      3) Respon Terhadap Kesejahteraan dan Kesehatan Pegawai
      Perhatian organisasi akan kesejahteraan pegawai juga mempengaruhi
      tingkat organizational support pegawai. Pegawai yang melihat bahwa
      organisasiberusaha keras untuk meningkatkan kesejahteraan individu yang
      bekerja didalamnya, akan melihat hal ini sebagai suatu hal yang positif.
      Pegawai melihat bahwa organisasi memberikan dukungan agar setiap orang
      dapat bekerja secara optimal demi tercapainya tujuan bersama. Pada dasarnya
      organizational support merupakan suatu persepsi pegawai bahwa dirinya
      dihargai dan diperhatikan oleh organisasi atau perusahaan tempatnya bekerja.
      Bila organisasi memperhatikan dan menghargai upaya yang dilakukan oleh
      individu untuk mencapai tujuan perusahaan maka individu akan
      mempersepsikan bahwa organisasimemberikan dukungan terhadap mereka

      Manfaat Kinerja Karyawan


      Pendapat dari Umam (2010;101) beberapa efek yang dapat ditimbulkan
      dari adanya kinerja adalah sebagai berikut :

      1. Pencapaian Target
        Pada saat karyawan dan pimpinan bertindak efektif dengan energi
        positif, untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab masing-masing
        sesuai dengan arahan dari target. Maka pada saat itulah energi positif
        setiap orang akan berkontribusi untuk menghasilkan karya serta kinerja
        terbaiknya.
      2. Loyalitas Karyawan
        Loyalitas memiliki beberapa unsur, diantaranya yaitu adanya sikap
        kesetiaan, disiplin kerja yang tinggi, kesadaran untuk melaksanakan
        tanggung jawab, dan berusaha menjaga nama baik perusahaan.
        semakin tinggi tingkat loyalitasnya, maka akan semakin baik pula
        kinerja karyawan tersebut.
      3. Pelatihan dan Pengembangan
        Semakin baik kinerja karyawan maka semakin rendah kebutuhan
        pelatihan dan pengembangan. Sebaliknya, semakin buruk kinerja
        karyawan tersebut maka akan semakin tinggi kebutuhan karyawan
        tersebut untuk mendapatkan pelatihan dan pengembangan.
      4. Promosi
        Kinerja dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk
        promosi karyawan.
      5. Berperilaku Positif
        Mendorong orang lain agar berperilaku positif atau memperbaiki
        tingkatan mereka yang berada di bawah standar kinerja.
      6. Peningkatan Organisasi
        Memberikan dasar yang kuat bagi pembuatan kebijakan untuk
        peningkatan organisasi

      Dampak dari Adanya Dukungan Organisasi


      Berbagai penelitian menunjukan bahwa organizational support
      mempunyai dampak baik bagi individu maupun organisasi. Dampak tersebut
      menurut Indriana (2016), antara lain:
      1) Komitmen organisasi
      Pegawai yang mempersepsikan tingkat organizational support yang
      tinggi melahirkan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaannya.
      Pegawai merasa organisasi berkomitmen terhadap dirinya. Sebagai
      balasannya, pegawai pun berkomitmen terhadap organisasi.
      2) Kesiapan untuk berubah
      Organisasi yang peduli dengan kemajuan yang dicapai oleh para
      pegawai membuat pegawai memiliki tanggung jawab terhadap tujuan
      organisasi. Ketika organisasi ingin menjadi lebih baik, pegawai siap
      mendukungnya.
      3) Intensitas meninggalkan organisasi
      Pegawai yang memprersepsikan dukungan tinggi dari organisasi akan
      membuat pegawai betah bersama organisasi. Pegawai cenderung tidak ingin
      meninggalkan organisasi.
      4) Organizational citizen behavior
      Organizational support yang tinggi membuat pegawai percaya pada
      organisasi. Dengan kepercayaan tersebut, pegawai mau melakukan pekerjaan
      yang bukan tanggung jawab mereka dengan sukarela.
      5) Kepuasan kerja
      Organizational support mempunyai pengaruh terhadap job satisfaction
      pegawai. Pegawai yang merasa adanya organizational support yang tinggi
      cenderung puas terhadap gaji, rekan kerja, atasan dan promosi

      Pengertian Dukungan Organisasi


      Menurut Eisenberger dalam mangundjaya (2016) Teori dukungan
      organisasi menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan emosional dan
      menilai keuntungan dari peningkatan usaha dalam bekerja, karyawan
      membentuk persepsi umum mengenai sejauhmana organisasi menghargai
      kontribusinya dan peduli terhadap kesejahteraannya (persepsi dukungan
      organisasi).
      Bersamaan dengan itu menurut Erdogan dan Enders (2016) dukungan
      oganisasi merupakan derajat kepercayaan individu terhadap organisasi bahwa
      organisasi peduli kepadanya, menilai setiap masukan yang diberikan, dan
      menyediakan pertolongan dan bantuan untuknya. Sugiyono (2015)
      mendeskripsikan dukungan organisasi didefiniskan sebagai seberapa banyak
      organisasi menilai kontribusi pegawai dan peduli terhadapnya.
      Menurut Danish, Ramzan dan Ahmad (2013), Dukungan organisasi
      merupakan ekspektasi pegawai bahwa organisasi menghargai kontribusi dan
      pekerjaan yang pegawai lakukan dengan sebaiknya.
      Menurut Robbins (2015) dukungan organisasi adalah dimana organisasi
      menghadapi suatu lingkungan yang dinamis dan berubah agar organisasi
      menyesesuaikan diri

      Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


      Fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia menurut Hasibuan
      (2015), yaitu terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
      pengendalian, pengadaan, pengembangan kompensasi, pengintegrasian,
      pemeliharaan, kedisiplinan dan pemberhentian. Menurut Flippo dalam
      Yuniarsih dan Suwanto (2014), fungsi manajemen sumber daya manusia terdiri
      dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, integrasi dan pemutusan hubungan
      kerja. Menurut Harris, Yuniarsih, dan Suwanto (2014), fungsi manajemen
      sumber daya manusia terdiri dari perencanaan, penempatan, pengevaluasian,
      kompensasi, pengembangan dan mengatur hubungan yang efektif antar tenaga
      kerja. Menurut Hasibuan (2015), fungsi manajemen sumber daya manusia
      adalah sebagai berikut:
      1) Perencanaan
      Perencanaan (human resources planning) adalah merencanakan tenaga
      kerja secara efektif dan efisien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan
      dalam membantu mewujudkan tujuan perusahaan.
      2) Pengorganisasian
      Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua
      karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
      wewenang, integrasi, dan koordinasi dalam bagan organisasi
      (organization chart).
      3) Pengarahan
      Pengarahan (directing) adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan,
      agar mau bekerja sama dengan bekerja efektif dan efisien dalam mebantu
      tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
      4) Pengendalian
      Pengendalian (controlling) adalah kegiatan mengendalikan semua
      karyawan, agar menaati peraturan-peraturan perusahaan dan bekerja
      sesuai dengan rencana.
      5) Pengadaan.
      Pengadaan (procurement) adalah proses penarikan, seleksi,
      penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang
      sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
      6) Pengembangan
      Pengembangan (development) adalah proses peningkatan keterampilan
      teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui Pendidikan dan
      pelatihan.
      7) Kompensasi
      Kompensasi (compensation) adalah pemberian balas jasa langsung
      (direct) dan tidak langsung (indirect), uang atau barang kepada karyawan
      sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan.
      8) Pengintegrasian
      Pengintegrasian (integration) adalah kegiatan untuk mempersatukan
      kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar terciptanya kerja
      sama yang serasi dan saling menguntungkan.
      9) Pemeliharaan
      Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau
      meningkatkan kondisi fisik, mental, dan loyalitas karyawan, agar mereka
      tetap mau bekerja sama sampai pension.
      10) Kedisiplinan
      Kedisiplinan merupakan fungsi MSDM yang terpenting dan kunci
      terwujudnya tujuan karena tanpa disiplin yang baik sulit terwujudnya
      tujuan perusahaan yang maksimal.
      11) Pemberhentian
      Pemberhentian (separation) adalah putusnya hubungan kerja seseorang
      dari suatu perusahaan. pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan
      karyawan, keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pension, dan
      sebab-sebab lainnya

      Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia


      Peran manajemen Sumber Daya Manusia dalam menjalankan aspek
      Sumber Daya Manusia, harus dikelola dengan baik sehingga kebijakan dan
      praktik dapat berjalan sesuai dengan rencana yang diinginkan perusahaan,
      menurut Rivai (2015) peran manajemen SDM antara lain:
      1) Melakukan analisis jabatan (menetapkan karakteristik pekerjaan masing-
      masing SDM)
      2) Merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan merekrut calon pekerja
      3) Menyeleksi calon pekerja
      4) Memberikan pengenalan dan penempatan pada karyawan baru
      5) Menetapkan upah, gaji, dan cara memberikan kompensasi
      6) Memberikan intensif dan kesejahteraan
      7) Melakukan evaluasi kinerja
      8) Mengkomunikasikan, memberikan penyuluhan, menegakkan disiplin kerja
      9) Memberikan pendidikan, pelatihan dan pengembangan
      10) Membangun komitmen kerja
      11) Memberikan keselamatan kerja
      12) Memberikan jaminan kesehatan
      13) Menyelesaikan perselisihan perburuhan
      14) Menyelesaikan keluhan dan relationship karyawan

      Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


      Menurut Farida (2017) Manajemen sumber daya manusia adalah
      perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dari kegiatan
      pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi dan pemeliharaan sumber
      daya manusia dengan maksud untuk membantu pencapaian tujuan perusahaan,
      individu dan masyarakat. Menurut Irianto dalam Herawati (2014) manajemen
      sumber daya manusia merupakan pengakuan tentang pentingnya tenaga
      organisasi sebagai sumber daya manusia yang sangat penting dalam memberi
      kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi, dan penggunaan beberapa fungsi dan
      kegiatan untuk memastikan bahwa SDM tersebut digunakan secara efektif dan
      adil bagi kepentingan individu, organisasi dan masyarakat. Menurut Hasibuan
      (2014), “manajemen sumber daya manusia adalah ilmu & seni mengatur
      hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu
      terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.”
      Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya
      manusia merupakan kegiatan perencanaan, pengadaan, pengembangan, dan
      pemeliharaan serta penggunaan Sumber Daya manusia untuk mencapai tujuan
      baik bagi industri atau perusahaan

      Manajemen


      Manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang
      diinginkan oleh sebuah industri atau perusahaan. Manajemen juga sebagai ilmu
      pengetahuan yang bersifat universal serta mempergunakan kerangka ilmu
      pengetahuan yang sistematis.
      Menurut Farida (2017) mengemukakan bahwa “manajemen adalah seni
      dan ilmu dalam perencanaan, pengoorganisasian/organisasian, pengarahan, dan
      pengawasan daripada sumber daya manusia untuk mencapai tujua yang telah
      ditetapkan.
      Menurut Hasibuan (2016) mengemukakan bahwa “manajemen merupakan
      ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan
      sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu”.
      Pengertian Manajemen menurut Robbins, Coulter (2012) mengemukakan
      “Manajemen melibatkan suatu koordinasi dan mengawasi aktivitas kerja lainnya
      sehingga kegiatan mereka selesai dengan efektif dan efisien. Arti dari efisien
      sendiri adalah mendapatkan hasil output terbanyak dari input yang seminimal
      mungkin, sedangkan arti dari efektif adalah “melakukan hal yang benar”, yaitu
      melakukan sebuah pekerjaan yang dapat membantu organisasi mencapai
      tujuannya”.
      Berdasarkan semua paparan di atas, dapat di pahami dan dapat
      disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang
      proses mengatur sumber daya manusia dan sumber daya lainnya guna mencapai
      tujuan industri atau perusahaan secara efektif dan efisien

      Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan

      1. Efektifitas dan Efisiensi
        Prawirosentono (1999:27) berpendapat bahwa efektifitas dan efisiensi
        yaitu apabila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh
        mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-
        akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari hasil yang
        dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif
        dinamakan tidak efesien. Sebaliknya, bila akibat yang dicari-cari tidak
        penting atau remeh maka kegiatan tersebut efesien.
      2. Otoritas (wewenang)
        Menurut Prawirosentono (1999:27), otoritas merupakan sifat dari suatu
        komunikasi atau perintah dalam suatu organisasi formal yang dimiliki
        seorang anggota organisasi kepada anggota yang lain untuk melakukan
        suatu kegiatan kerja sesuai dengan kontribusinya. Perintah tersebut
        mengatakan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dalam
        organisasi tersebut.
      3. Disiplin
        Disiplin adalah taat kepada hukum dan peraturan yang berlaku. Jadi
        menurut Prawirosentono (1999:27) disiplin karyawan merupakan
        kegiatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian
        kerja dengan organisasi dimana dia bekerja.
      4. Inisiatif
        Inisiatif berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk
        ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan
        perusahaan

      Karatketistik Kinerja Karyawan


      Menurut Mangkunegara (2002:68), karakteristik orang yang memiliki
      kinerja tinggi adalah sebagai berikut:
      a. Memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi.
      b. Berani mengambil dan menanggung resiko yang dihadapi.
      c. Memiliki tujuan yang realistis.
      d. Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk
      merealisasi tujuannya.
      e. Memanfaatkan umpan balik (feed back) yang konkrit dalam seluruh
      kegiatan kerja yang dilakukannya.
      f. Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah
      diprogramkan.

      Indikator Kinerja Karyawan


      Pengukuran kinerja karyawan dapat bervariasi berdasarkan sifat pekerjaan,
      jenis perusahaan dan sektor organisasi atau perusahaan. Bagus Surya Kurniawan
      dan Medi Prakoso (2015) mengemukakan bahwa untuk mengukur apakah
      karyawan memiliki kinerja yang baik pada pekerjaan mereka maka dapat diukur
      dari:

      1. Ketepatan Waktu
        Suatu jenis pekerjaan tertentu menuntut kehadiran karyawan dalam
        mengerjakannya sesuai dengan waktu yang ditentukan.
      2. Deskripsi Pekerjaan
        Pernyataan tertulis yang menjelaskan tentang tanggung jawab yang harus
        dilaksanakan dari suatu pekerjaan tertentu.
      3. Kuantitas
        Seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam periode waktu yang
        telah ditentukan.
      4. Kualitas
        Setiap karyawan dalam mampu mengenal dan manyelesaikan masalah
        yang relevan serta memiliki sikap kerja yang positif di tempat kerja

      Pengertian Kinerja Karyawan


      Menurut Mangkunegara (2000:67), istilah kinerja berasal dari kata job
      performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya
      yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja (output) secara kualitas dan kuantitas
      yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
      tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja karyawan pada dasarnya
      adalah hasil kerja karyawan selama periode tertentu. Kinerja bisa mempengaruhi
      berlangsungnya kegiatan suatu perusahaan, semakin baik kinerja yang ditunjukan
      oleh para karyawan maka semakin baik pula perkembangan perusahaan tersebut.
      Menurut Simamora (2004:53) kinerja karyawan merupakan tingkat hasil
      kerja karyawan dalam pencapaian persyaratan pekerjaan yang diberikan. Kinerja
      karyawan yang baik sangat penting bagi kemajuan perusahaan. Pengertian kinerja
      lainnya dikemukakan oleh Hasibuan (2002:160), kinerja merupakan suatu hasil
      kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya atas kecakapan, usaha dan kesempatan. Sedangkan menurut Mathis dan Jackson (2006:378)
      kinerja yaitu apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan

      Indikator Employee Well-Being


      Berikut adalah beberapa indikator kesejahteraan karyawan (Employee
      Well-Being) :

      1. Kesejahteraan subjektif
        Kesejahteraan ini mencakup pengalaman emosional yang
        menyenangkan, suasana hati positif, dan tingkat kepuasan hidup tinggi.
      2. Kesejahteraan tempat kerja
        Kesejahteraan ini merujuk pada kondisi sekitar karyawan yang
        mempengaruhi pelaksaan tugas yang telah diberikan
      3. Kesejahteraan psikologis
        Kesejahteraan ini melibatkan keterikatan karyawan untuk
        berhubungan secara positif dengan rekan kerja, pemahaman diri pribadi,
        otonomi, serta pemahaman terhadap tujuan dan makna dalam kehidupan

      Faktor yang mempengaruhi Employee Well-Being


      Terdapat dua faktor Employee Well-Being, antara lain:

      1. Faktor yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dengan sesama
        karyawan.
        a. Gaji dan upah yang cukup dapat digunakan untuk kebutuhan
        psikologis dan sosial
        b. Rekan kerja yang kompak merupakan keinginan kebutuhan sosial.
        c. Kondisi kerja yang aman, nyaman, dan menarik
      2. Faktor yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dan pimpinan
        a. Pimpinan yang adil dan bijaksana
        b. Melengkapi karyawan dengan sumber dana yang diperlukan untuk
        menjalankan tugasnya.
        c. Mengkomunikasikan tentang apa yang diharapkan dari karyawan
        d. Memberikan penghargaan untuk meningkatkan kinerja karyawan.

      Employee Well-Being


      Employee Well-Being merupakan kompensasi pelengkap/benefit dan
      manfaat yang diberikan berdasarkan kebijaksanaan perusahaan dengan
      tujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi fisik dan mental
      karyawan, sehingga kinerja dan produktivitas kerjanya meningkat.
      Employee Well-Being juga dikenal sebagai reward dari perusahaan meliputi
      semua jenis penghargaan berupa uang maupun bentuk produk atau barang
      yang dibayarkan langsung sebagai penghargaan kepada karyawan atas hasil
      kerja yang di capai. Adapun dalam penelitian menyatakan
      kesejahteraan karyawan adalah kompensasi tidak langsung yang di berikan
      kepada karyawan, baik dinilai dengan uang maupun tidak. Disebut
      kompesasi tidak langsung karena tidak berkesinambungan langsung dengan
      uang, biasanya dibuat sebagai Upaya penciptaan kondisi dan lingkungan
      kerja yang menyenangkan . Employee benefit biasa juga di sebut dengan
      kompensasi pelengkap, gaji tersembunyi (fringe benefit), pelayanan
      karyawan atau jaminan sosial
      Kesejateraan karyawan adalah balas jasa pelengkap dalam bentuk
      material maupun non material yang di berikan perusahaan sesuai dengan
      kebijaksaan perusahaan dengan tujuan mempertahankan kondisi fisik dan
      mental supaya produktivitas kerja karyawan meningkat . Kesejahteraan
      karyawan juga diartikan sebagai jaminan sosial yang berbentuk pemberian
      penghasilan baik dalam materi atau non materi, yang diberikan kepada
      karyawan dari perusahaan selama masa pengabdiannya atau setelah berhenti
      di karenakan pensiun dan lanjut usia, dengan tujuan memberikan dorongan
      serta semangat kepada karyawan . Dalam penelitian mengungkapkan
      bahwa kesejahteraan karyawan merupakan suatu kepuasan yang diperoleh
      oleh seorang karyawan dalam melakukan pekerjaan di dalam perusahaan.

      Indikator Work-Life Balance


      Adapun indikator Work-Life Balance yaitu :

      1. Time Balance (Keseimbangan Waktu)
        Keseimbangan waktu ini merujuk pada keseimbangan antara
        waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan dan waktu yang dihabiskan
        untuk kehidupan pribadi dan keluarga. Hal ini berarti seseorang atau
        karyawan mampu mengalokasikan waktu yang memadai untuk
        kehidupannya.
      2. Involment Balance (Keseimbangan Keterlibatan)
        Keseimbangan keterlibatan mengacu pada tingkat keterlibatan
        psikologis atau komitmen seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan
        pribadinya. Ini mencakup bagaimana seseorang dapat mengelola stress
        dan keterlibatan emosional dalam kedua aspek tersebut. Keseimbangan
        ini penting supaya seseorang atau karyawan tidak terlalu terlibat dalam
        pekerjaan sehingga keluarganya dan kehidupan pribadinya diabaikan
        ataupun sebaliknya.
      3. Satisfaction Balance (Keseimbangan Kepuasan)
        Keseimbangan kepuasan merujuk pada tingkat kepuasan yang
        dirasakan sesorang atau karyawan dalam pekerjaan dan kehidupan
        pribadinya. Keseimbangan ini membantu memastikan bahwa seseorang
        merasa terpenuhi dalam keterlibatannya di tempat kerja dan kehidupan
        pribadinya

      Faktor yang mempengaruhi Loyalitas Karyawan


      Ada tiga faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan di antaranya
      adalah :

      1. Faktor Rasional
        Faktor ini berupa hal yang bisa dijelaskan secara logis, seperti:
        gaji, bonus, jenjang karir, dan fasilitas yang diberikan perusahaan
        kepada karyawannya.
      2. Faktor Emosional
        Faktor emosional ini menyangkut perasaan atau ekspresi diri
        seperti: menantangnya pekerjaan, adanya dukungan di lingkungan kerja,
        perasaan aman karena perusahaan menyediakan tempat kerja yang stabil
        untuk jangka panjang, pemimpin yang berwibawa, pekerjaan yang
        memberikan rasa bangga, penghargaan yang di berikan oleh perusahaan
        dan budaya kerja.
      3. Faktor Kepribadian
        Faktor ini menyangkut sifat, karakter, dan tempramen yang
        dimiki oleh karyawan

      Loyalitas Karyawan


      Loyalitas karyawan adalah keadaan dimana individu atau karyawan
      memiliki empati kuat terhadap organisasi yang tercermin dalam perilaku,
      seperti berpartisipasi untuk mencapai tujuan organisasi dengan
      bersungguh-sungguh menjalankan tugas di dalam organisasi, mendukung
      kebijakan organisasi dengan cara menataati peraturan dalam organisasi,
      dan ingin tetap berada dalam organisasi dalam jangka panjang serta
      berkontribusi kepada perusahaan . Adapun pendapat yang sama yaitu
      loyalitas karyawan adalah bentuk tekad dan kesanggupan karyawan untuk
      menaati dan mengamalkan dengan kesadaran dan tanggung jawab pada
      pekerjaan . Loyalitas karyawan adalah kesetiaan karyawan terhadap
      pekerjaannya, loyalitas karyawan mencerminkan rasa kesetiaan dan
      tanggung jawab yang tinggi dari karyawan terhadap perusahaan mereka.
      Ini merupakan bentuk apresiasi atas penghargaan yang diberikan
      perusahaan kepada karyawan .
      Loyalitas adalah kepercayaan atau penerimaan dari setiap tujuan
      organisasi atau profesi, kemauan untuk melakukan usaha dengan sungguh-
      sungguh, serta keinginan untuk menjaga keanggotaan dalam instansi dan
      profesi . Loyalitas karyawan adalah kesetiaan karyawan yang di
      tunjukkan ke perusahaan melalui kesediaan untuk menjalankan tugas dan
      tanggung jawab yang telah di sepakati sejak awal bekerja . Sama halnya
      dengan pendapat yangmana loyalitas karyawan ialah sikap kesetiaan
      terhadap perusahaannya, dengan demikian yang menjadi tolak ukur
      loyalitas adalah lamanya mereka bertahan dengan dampak produktivitas
      yang semakin baik bagi perusahaan

      Keterkaitan Loyalitas Kerja dan Kepribadian Terhadap Kinerja Karyawan


      Hasil penelitian Reiza Adelia Maulida (2022) menyatakan bahwa tingkat loyalitas
      sangat mempengaruhi kinerja karyawan, perusahaan dapat berjalan dengan baik bila
      loyalitas dapat dikelola dengan semaksimal mungkin, karena loyalitas kerja sangat
      berpengaruh untuk membangun kenyamanan pada kinerja karyawan yang bekerja pada
      suatu perusahaan
      Hasil penelitian SriIndrastuti (2021) Kepribadian tidak membawa pengaruh
      signifikan terhadap kinerja karyawan tetapi kepribadian karyawan berpengaruh signifikan
      terhadap kinerja melalui kompetensi karyawan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan
      bahwa kompetensi karyawan dapat memediasi pengaruh kepribadian karyawan terhadap
      kinerja karyawan

      Indikator Kinerja Keryawan


      Kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance yang berarti
      prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Pengertian kinerja
      (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
      pegawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
      kepadanya (Mangkunegara, 2017).

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


      Menurut Kopelman (dalam Annisa, Setyawan, dan Susila, 2017),faktor-faktor yang
      mempengaruhi kinerja adalah: individual characteristics(karakteristik individual),
      organizational charasteristic (karakteristikorganisasi), dan work characteristics
      (karakteristik kerja). Lebihlanjut oleh Kopelman dijelaskan bahwa kinerja selain
      dipengaruhi olehfaktor 9lingkungan juga sangat tergantung dari karakteristik
      individusepertikemampuan, pengetahuan, keterampilan, motivasi, norma dan nilai.
      Dalamkaitannya dengan konsep kinerja, terlihat bahwa karakteristik
      individusepertikepribadian, umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan
      sukubangsa,keadaan sosial ekonomi, pengalaman terhadap keadaan yanglalu,
      akanmenentukan perilaku kerja dan produktivitas kerja, baik individu maupun organisasi
      sehingga hal tersebut akan menimbulkan kepuasan bagi pelangganatau pasien.

      Definisi Kinerja Karyawan


      Menurut Cole, dkk, (dalam Alfatamma, 2020) kinerjaa adalah menggambarkan
      kinerja sebagai proses berkelanjutan untuk meningkatkankinerja individu dengan
      menyelaraskan dengan yang di inginkan (dandengantujuan strategis organisasi) secara
      informal, sehari-hari, dansecarainformasi/sistematis melalui wawancara penilaian dan
      penetapantujuan.Pekerjaan yang dilakukan dalam kapasitas manajemen tenaga kerja.
      Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kinerja karyawanmerupakan suatu bentuk
      kesuksesan seseorang untuk mencapai peranatauterget tertentu yang berasal dari
      perbuatannya sendiri. Kinerja seseorangdikatakan baik apabila hasil kerja individu
      tersebut dapat melampaui peranatau target yang ditentukan sebelumnya.
      kinerja karyawan dapat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan
      dengan melihat tinggi rendahnya kinerja yang diberikan oleh karyawan perusahaan
      (Hidayat dan Wulantika, 2021)
      Menurut Cash and Fischer (Dalam Isniar, 2013) Kinerja yang sering disebut dengan
      performance juga disebut result yang berarti apa yang telah dihasilkan oleh individu
      karyawan.
      Lita Wulantika (2021) mencirikan bahwa skill pegawai adalah konsekuensi dari
      kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai dalam melakukan pekerjaan dan kewajiban
      yang diberikan dalam jangka waktu tertentu

      Indikator Kepribadian Kerja


      Menurut Robbins, (2014:131) Ada Lima indikator dari kepribadian

      1. Ekstroversi , Kepribadian yang menggambarkan seseorng yang supel , riang dan
        percaya diri .
      2. b. Kemampuan bersepakat , kepribadian yang menggambarkan seseorang yang
        bersifat baik , kooperatif , dan mempercayai
      3. c. Kemampuan mendengarkan suara hati ,kepribadian yang menggambarkan
        seseorang yang bertanggung jawab , dapat diandalkan ,Satabil dan tertata
      4. d. Stabilitas emosi , kepribadian yang mencirikan seseorang yang tenang , percaya
        diri , tentram

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Kerja


      Kepribadian seseorang di hasilkan oleh faktor keturunan, lingkungan, dan situasi
      Stephen dan Timothy (2008;127).

      1. Keturunan
        Keturunan merujuk ke faktor-faktor yang di tentukan pada saat pembuahan, sosok
        fisik, daya tarik wajah, kelamin, tempramen, komposisi otot dan refleks, tingkat
        energy, dan ritme hayati merupakan karateristik yang umumnya dianggap sebagai
        yang paling oleh siapa kedua orang tua. karateristik itu pasti ada pada saat
        kelahiran dan tidak ada pengalaman seberapapun yang dapat mengubahnya.Tetapi
        karateristik kepribadian tidaklah sepenuhnya ditentukan oleh keturunan.
      2. Lingkungan
        Di antara faktor-faktor yang menekan pada pembentukan kepribadian kita adalah
        budaya dimana kita di besarkan, normanorma di antara keluarga, teman-teman dan
        kelompok sosial, serta pengaruh-pengaruh lain yang kita alami.
      3. Situasi
        Kepribadian seseorang, walaupun pada umumnya mantap dan konsisten, dapat
        berubah dalam situasi yang berbeda tuntutan yang berbeda dari situasi yang
        berlainan memunculkan aspek-aspek yang berlainan dari kepribadian seseorang

      Definisi Kepribadian kerja


      Allport (Suryabrata, 1995: 248) kepribadian adalah organisasi dinamis dan sistem
      psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas.
      Kepribadian juga merupakan sesuatu yang terdapat dalam diri individu yang
      membimbing dan memberi arahan pada tingkah laku individu.
      Sullivan (Suryabrata, 1995: 260) menyatakan kepribadian merupakan pola yang
      relatif dari situasi hubungan antara pesan yang ditandai kehidupan manusia, kepribadian
      ini tidak dapat dipisahkan dari situasi hubungan individu dengan orang lain. Menurutnya
      tingkah laku yang bersifat sosial juga dapat dianggap sebagai kepribadian.
      Kepribadian (personality) didefinisikan oleh Salvator Maddi sebagai karakteristik
      dan kecenderungan seseorang yang bersifat konsisten yang menentukan perilaku
      psikologis sesorang seperti cara berpikir, berperasaan dan bertindak. Tipe kepribadian
      mempengaruhi orientasi umum ke arah penciptaan tujuan, pemilihan alternatif, tindakan
      terhadap risiko dan reaksi di bawah tekanan (Kristanti, 2012).

      Indikator Loyalitas Kerja


      Loyalitas karyawan tidak terbentuk begitu saja dalam perusahaan, tetapi ada
      beberapa indikator yang mewujudkan loyalitas tersebut. Indikator loyalitas yang terdapat
      pada individu dikemukakan oleh Siswanto, dalam Trianasari (2005) antara lain :

      1. Taat pada peraturan Karyawan mempunyai tekat untuk melakukan setiap perintah
        dari perusahaan atau mentaati dan mematuhi segala peraturan yang berlaku, baik
        secara tertulis maupun tidak tertulis.
      2. Tanggung jawab pada perusahaan Kesanggupan karyawan dalam melaksanakan
        tugas sebaikbaiknya dan kesadaran tanggung jawab terhadap resiko atas apa yang
        telah dilaksanakan
      3. Kemauan untuk bekerja sama Karyawan dapat bekerja sama dengan orang-orang
        yang ada dalam suatu perusahaan karena tanpa adanya kerja sama, maka sulit
        perusahaan mencapai tujuan. Sebaliknya, dengan bekerja sama memungkinkan
        perusahaan dalam mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan.
      4. Rasa memiliki terhadap perusahaan Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap
        perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk menjaga dan
        bertanggung jawab terhadap perusahaan, sehingga akan menimbulkan loyalitas
        demi tercapainya tujuan perusahaan.
      5. Hubungan antar pribadi Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi akan
        mempunyai sikap fleksibel ke arah hubungan pribadi. Hubungan antara pribadi
        ini meliputi, hubungan sosial antara para karyawan, serta hubungan antara atasan
        dan karyawan.
      6. Kesukaan terhadap pekerjaan Karyawan melakukan pekerjaannya dengan senang
        hati sebagai indikatornya bisa dilihat dari keunggulan karyawan dalam bekerja
        dan karyawan tidak banyak menuntut apa yang diterimanya di luar gaji pokok.

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja


      Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Mas’ud
      (2004):Kepuasan dengan promosi Kesempatan promosi sepertinya memiliki pengaruh
      yang berbeda pada kepuasan kerja. Hasil ini dikarenakan promosi memiliki sejumlah
      bentuk yang berbeda dan memiliki berbagai penghargaan. Kepuasan dengan Rekan kerja
      Sifat alami dari kelompok atau tim kerja kan mempengaruhi kepuasan kerja. Pada
      umumnya rekan kerja atau anggota tim yang kooperatif merupakan sumber kepuasan
      kerja yang paling sederhana pada karyawan secara individu. Kepuasan dengan Gaji Upah
      dan gaji merupakan faktor multidimensi dalam kepuasan kerja. Uang tidak hanya
      membantu orang memperoleh kebutuhan dasar, tetapi juga alat untuk memberikan
      kebutuhan kepuasan pada tingkat uang lebih tinggi. Karyawan melihat gaji sebagai
      refleksi dari bagaimana manajemen memandang kontribusi mereka terhadap perusahaan

      Definisi Loyalitas Kerja


      Riyanti (2017:6), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan adalah tekad dan
      kemampuan untuk mengikuti dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, tekad dan
      kemampuan yang harus ditunjukkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, dan dalam
      pelaksanaan tugas. Pendapat ini dimaknai bahwa loyalitas karyawan terhadap pekerjaan
      timbul secara internal serta loyalitas terhadap perusahaan tempatnya bekerja karena
      tanggung jawab dan kemampuannya.
      Hasibuan (2021:210), menyatakan bahwa loyalitas kerja karyawan adalah
      keragamaan peran dan anggota dalam menggunakan pikiran dan waktunya untuk
      mencapai tujuan organisasi.
      Suhendi (2017:260), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan ditunjukkan
      dengan adanya komitmen karyawan terhadap perusahaan, komitmen organisasi dapat
      dibentuk oleh beberapa faktor baik dari organisasi maupun individu.
      Kadarwati (2017:108), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan terhadap
      pekerjaan adalah aktivitas fisik, psikologis, dan sosial yang menyababkan individu
      memilih sikap untuk mengikuti aturan tekad untuk melakukan dan mempraktikkan
      sesuatu yang dipahami sebagai sesuatu yang bermakna, penuh pengetahuan dan tanggung
      jawab serta persepsi pribadi terhadap upaya pencapaian tujuan organisasi pemerintahan
      berdasarkan keahliannya untuk meningkatkan efektivitas organisasi pemerintahan dan
      disertai dengan dedikasi yang konsisten dan kuat

      Pengaruh kepuasan kerja terhadap Loyalitas Karyawan


      Steers dan Porter (2009) menyatakan bahwa salah satu factor yang
      menyebabkan timbulnya loyalitas kerja antara lain adalah Pengalaman dalam
      dalam bekerja. Hal ini berupa meliputi sikap positif terhadap perusahaan, rasa
      percaya pada perusahaan, rasa aman, serta perasaaan puas terhadap perusahaan.
      Kepuasan kerja merupakan keadaan emosi atau perasaan positif yang muncul dari
      persepsi seorang karyawan mengenai pekerjaan yang mereka lakukan untuk
      perusahaan. Sehinga semakin tinggi rasa puas karyawan maka semakin mencintai
      pekerjaan dan loyal dalam bekerja begitu sebaliknya, jika semakin rendah rasa puas
      karyawan maka semakin tidak loyal dan malas dalam bekerja.

      Indikator Kepuasan Kerja


      Afandi (2020) Adapun indikator-indikator kepuasan kerja meliputi antara lain :
      1) Pekerjaan Isi pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah memiliki elemen
      yang memuaskan
      2) Upah Jumlah bayaran yang diterima seseorang sebagai akibat dari
      pelaksanaan kerja apakah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan adil.
      3) Promosi Kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan
      jabatan.
      4) Pengawas Seseorang yang senantiasa memberikan perintah atau petunjuk
      dalam pelaksanaan kerja
      5) Rekan Kerja Rekan kerja yang saling membantu dalam menyelesaikan
      pekerjaan

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi kepuasan Kerja.


      Afandi (2020) ada lima faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja,
      yaitu sebagai berikut:
      1) Pemenuhan kebutuhan (Need fulfillment) Kepuasan ditentukan oleh
      tingkatan karakteristik pekerjaan memberikan kesempatan pada individu
      untuk memenuhi kebutuhannya.
      2) Perbedaan (Discrepancies) Kepuasan merupakan suatu hail memenuhi
      harapan. Pemenuhan harapan mencerminkan perbedaan antara apa yang
      diharapkan dan apa yang diperoleh individu dari pekerjaannya. Bila
      harapan lebih besar dari apa yang diterima, orang akan tidak puas.
      Sebaliknya individu akan puas bila menerima manfaat diatas harapan.
      3) Pencapaian nilai (Value attainment) Kepuasan merupakan hail dari
      persepsi pekerjaan memberikan pemenuhan nilai kerja individual yang
      penting.
      4) Keadilan (Equity) Kepuasan merupakan fungi dari seberapa adil individu
      diperlakukan di tempat kerja
      5) Budaya Organisasi (Organization Culture). Dalam sebuah organisasi
      yang terjalin budaya kerja yang baik dan harmonis maka pegawai akan
      merasa puas bekerja dan berupaya bekerja dengan baik

      Pengertian Kepuasan Kerja


      Menurut Robbins dan Judge (2020) menyatakan bahwa kepuasan kerja
      adalah perasaan positif seseorang terhadap pekerjaan yang merupakan hasil dari
      evaluasi dari karakteristik pekerjaan tersebut. Pendapat lain mendefinisikan
      mengenai kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan tentang seberapa baik
      pekerjaan menyediakan hal yang dinilai sebagai sesuatu yang penting
      Menurut Robbins (2019) mendefinisikan kepuasan kerja adalah suatu sikap
      umum seorang individu terhadap pekerjaannya, selisih antara banyaknya ganjaran
      yang diterima seorang pekerja dan banyaknya yang mereka yakini dibandingkan
      yang seharusnya mereka terima.
      Kepuasan kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang
      berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan yang
      diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan psikologis
      (Sutrisno 2019)
      Menurut Rivai (2022) kepuasan kerja adalah bagaimana orang merasakan
      pekerjaan dan aspek-aspeknya. Dengan demikian, kepuasan merupakan evaluasi
      yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang,
      puas atau tidak puas dalam bekerja