Indikator Loyalitas Karyawan


Menurut indicator Loyalitas menurut Syadam (2019) adalah sebagai berikut
:

  1. Ketaatan dan kepatuhan Seorang karyawan yang loyal akan selalu taat
    pada peraturan. Sesuai dengan pengertian loyalitas, ketaatan ini timbul
    dari kesadaran karyawan jika peraturan yang dibuat oleh perusahaan
    semata-mata disusun untuk memperlancar jalannya pelaksaan kerja
    perusahaan. Kesadaran ini membuat karyawan akan bersikap taat
    tanpa merasa terpaksa atau takut terhadap sanksi yang akan
    diterimanya apabila melanggar peraturan tersebut.
  2. Tanggung jawab Ketika seorang karyawan memiliki sikap sesuai
    dengan pengertian loyalitas, maka otomatis ia akan merasa memiliki
    tanggung jawab yang besar terhadap perusahaannya. Karyawan akan
    berhati-hati dalam mengerjakan tugas-tugasnya, namun sekaligus
    berani untuk mengembangkan berbagai inovasi demi kepentingan
    perusahaan..
  3. Rasa Memiliki Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap
    perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut
    menjaga dan bertanggung jawab terhadap perusahaan sehingga pada
    akhirnya akan menimbulkan sikap sesuai dengan pengertian loyalitas
    demi tercapainya tujuan perusahaan..
  4. Kesukaan Dengan Pekerjaan Sebagai manusia, karyawan pasti akan
    mengalami masa-masa jenuh terhadap pekerjaan yang dilakukannya
    setiap hari. Seorang karyawan yang memiliki sikap sesuai dengan
    pengertian loyalitas akan mampu menghadapi permasalahan ini
    dengan bijaksana. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila seorang
    karyawan mencintai pekerjaannya

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan


Steers dan Porter (2009) menyatakan bahwa timbulnya loyalitas kerja
dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu::

  1. Karakteristik pribadi. Hal ini meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin,
    tingkat pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras dan beberapa sifat
    kepribadian
  2. Karakteristik pekerjaan. Hal ini Hal ini berupa tantangan kerja, job
    stress, kesempatan berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi
    tugas, umpan balik tugas dan kecocokan tugas
  3. Karakteristik desain perusahaan. Hal ini berupa kondisi Hal ini berupa
    kondisi intern perusahaan tersebut yang dilihat dari desentralisasi,
    tingkat formalisasi, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan
    keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai tingkat asosiasi
    dengan tanggung jawab perusahaan, ketergantungan fungsional maupun
    fungsi kontrol perusahaan.
  4. Pengalaman dalam hal ini berupa meliputi sikap positif terhadap
    perusahaan, rasa percaya pada perusahaan, rasa aman, serta perasaan
    puas terhadap perusahaan.

Pengertian Loyalitas Karyawan


Syadam (2019) Loyalitas merupakan kesetiaan karyawan terhadap
perusahaan yang akan menimbulkan rasa tanggung jawab. Menurut Hasibuan
(2022) mengemukakan bahwa loyalitas atau kesetiaan merupakan salah satu unsur
yang digunakan dalam penilaian karyawan yang mencakup kesetiaan terhadap
pekerjaannya, jabatannya dan organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan
karyawan menjaga dan membela organisasi didalam maupun diluar pekerjaan dari
rongrongan orang yang tidak bertanggung jawab.
Dari pembahasan diatas disimpulkan bahwa loyalitas karyawan merupakan
kesetiaan karyawan pada suatu perusahaan dengan bersedia melakukan segala
tanggung jawab yang telah diberikan dengan sikap dan tindakan yang positif karena
mereka akan memberikan sikap timbal balik jika perusahaan tempat mereka bekerja
memperhatikan segala aspek pendukung dalam pengembangan karir

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kerja Inovatif


Munculnya sikap inovatif pada perilaku karyawan didukung beberapa
penunjang. Nijenhuis (2015) mengemukakan faktor eksternal maupun faktor
internal diperkirakan mampu meingkatkan timbulnya perilaku kerja inovatif
pada seorang pekerja.
a. Faktor eksternal
1) Tekanan berkompetitif
Tekanan untuk bersaing atau berkompetisi yang semakin tinggi dapat
menjadi faktor pendorong bagi pekerja untuk bekerja dengan lebih baik, hal
tersebut berimbas secara positif dalam memunculkan sikap inovatif pada
perilaku pekerja.
2) Tekanan sosial – politik
Suatu usaha yang disokong oleh pemerintah diharuskan untuk
menyajikan hasil kerja yang memuaskan secara terus menerus jika igin terus
mendapatkan sokongan tersebut, sehingga seluruh lapisan dalam suatu usaha
harus terus melakukan inovasidalam upaya memberi hasil yang baik pada
pekerjaannya.
b. Faktor Internal
1) Hubungan dengan atasan
Pekerja yang dapat menjalin hubungan baik dengan atasannya lebih
mampu meyakinkan bahwa sikap inovatif yang mereka miliki dapat
menghasilkan keuntungan kinerja, hal tersebut dikarenakan adanya
kepercayaan dan rasa hormat yang lebih.
2) Hubungan dengan rekan kerja
Pekerja yang dapat menjalin hubungan baik dengan rekan kerja akan
membantu mereka dalam menerapkan gagasan baru yang mereka miliki. Hal
tersebut dapat menambah idea generation pada organisasi.
Berdasarkan penelitan Hammon et al. (2011), 4 faktor utama yang
mempengaruhi perilaku kerja inovatif adalah sebagai berikut:
a. Individual Differences
Seorang individu tentu saja mempunyai kondisi yang tidak sama satu sama
lain dari sisi keingintahuan, kecerdasan, imajinasi, hingga kepekaan terhadap
sebuah seni.
b. Motivation
Motivasi mengacu pada keterlibatan pekerja dalam mengerjakan suatu tugas
disebut sebagai motivasi intrinsik, sedangkan motivasi yang mengacu adanya
rewards disebut sebagai motivasi ektrinsik.
c. Job Characteristic
Karakteristik pekerjaan dalam hal ini yang lebih sering dikenal, antara lain
role requirements, job autonomy, job complexity, dan time pressure,. Adapun
dalam kaitannya sebuah pekerjaan yang lebih kompleks, maka akan banyak
inovasi yang dilakukan oleh individu dengan fokus terhadap aspek pekerjaan
mereka secara bersamaan.
d. Job Contextual
Secara umum, ada faktor kontekstual yang dapat memengaruhi kinerja
inovatif. Dalam hal ini, pengaruhnya tentu saja berdampak pada motivasi
intrinsik pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Faktor konstektual dapat
berhubungan dengan dukungan sumber daya organisasi, kreativitas, dan
kepemimpinan transformasiona

Indikator Perilaku Kerja Inovatif


Janssen (2000) menyatakan dalam hal ini sebuah dimensi tentang perilaku
kerja inovatif yang diukur dengan indikator antara lain:
a. Penciptaan sebuah ide baru dalam rangka penyelesaian masalah
b. Pencarian metode kerja, baik itu teknik, maupun instrumen baru.
c. Penghasiilan sebuah solusi dalam penyelesaian masalah.
d. Pemobilisasian dalam sebuah dukungan ke dalam ide inovasi.
e. Sebuah upaya dalam menyetujui gagasan inovatif.
f. Pembuatan anggota organisasi antusias yang sejalan dengan gagasan yang
inovatif.
g. Pengubahan sebuah ide inovatif untuk menjadi aplikasi yang memiliki
kegunaan tertentu.
h. Penjabaran ide inovatif dalam sebuah lingkungan secara sistematis.
Sedangkan Jong & Hartog (2010) menjabarkan generalisasi ide yang
merupakan dimensi perilaku kerja inovatif dapat dilihat juga dalam penjelasan
di bawah ini, seperti:
a. Pembuatan gagasan baru dalam sebuah isu yang rumit.
b. Pencarian sebuah cara, baik itu secara teknis atau instrumen baru.
Kemudian ide promosi yang juga merrupakan dimensi perilaku kerja
inovatif dijelaskan dalam beberapa hal, seperti:
a. Pembuatan anggota organisasi paling antusias untuk ide inovatif.
b. Melakukan generalisasi terhadap sebuah solusi murni agar masalah bisa
teratasi.
c. Pemobilisasian sebuah dukungan terhadap ide yang inovatif.
d. Kejelasan sebuah persetujuan untuk pengembangan ide yang inovatif.
Selanjutnya, penerapan ide yang merupakan dimensi perilaku kerja inovatif
dapat dilihat serta diukur dalam penjelasan di bawah ini:
a. Melakukan transfer baik itu ide inovatif ke dalam penerapan yang berguna.
b. Pengenalan sebuah ide inovatif ke lingkungan kerja secara sistematis.
c. Pengevaluasian sebuah kegunaan ide inovatif itu sendir

Dimensi Perilaku Kerja Inovatif


Dalam penelitiannya, Janssen (2002) menjelaskan mengenai penjabaran
dimensi perilaku kerja inovatif oleh Scott & Bruce (1994) seperti berikut ini:
a. Idea Generation
Idea generation merupakan sebuah langkah dari seseorang di dalam
pekerjaan untuk menerapkan gagasannya dengan tujuan untuk memecahkan
problematika yang muncul pada pekerjaan.
b. Idea Implementation
Idea implementation merupakan proses individu yang berpartisipasi dalam
kegiatan sosial untuk membangun hubungan dengan latar belakang sebagai
pendukung yang diperlukan. (Galbraith dan Kanter, 1988 dalam Jassen, 2000).
c. Idea Realization
Idea realization adalah penerapan sebuah ide dalam proses individu yang
ada dalam peran kerja, kelompok, atau organisasi.
Sedangkan Jong & Hartog (2008), menjabarkan adanya dimensi pada
perilaku kerja inovatif sebagai berikut:
a. Idea Exploration
Idea exploration juga disebut eksplorasi ide adalah sebuah cara dalam
meningkatkan suatu layanan, produk, ataupun proses. Adapun untuk
menyelesaikan pada tahap ini bisa dicoba dalam melakukan sebuah pemikiran
dalam bentuk penyelesaian sebuah tahap.
b. Idea Generation
Idea generation berkaitan dengan suatu kegiatan untuk menjelaskan situasi
pasar yang baru, dimulai dari peningkatan kinerja yang sedang berlangsung
kemudian pengidentifikasian dalam pencarian pemecahan masalah.
c. Idea Championing
Idea championing atau biasa disebut juga dalam perjuangan terhadap
sebuah gagasan ide, dalam hal ini suatu usaha digunakan untuk mencari
dukungan dan membangun koalisi. Hal ini biasanya dilakukan dengan sebuah
ekspresi antusiasme dan kepercayaan diri terhadap keberhasilan akan sebuah
inovasi. Sebuah usaha yang gigih diperlukan keterlibatan sosok yang hebat
dalam suatu ide.
d. Idea Implementation
Idea implementation yang dalam hal ini biasa disebut juga implementasi
gagasan ide adalah pengimplementasian sebuah ide ke dalam proses dan
perilaku kerja rutin. Hal ini biasa juga dilihat dalam pengembangan produk
baru melalui tahap pengujian adau pemodifikasian

Pengertian Perilaku Kerja Inovatif


Perilaku kerja inovatif digambarkan dengan suatu proses menciptakan dan
menerapkan gagasan baru dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan pada
sebuah usaha (Janssen, 2000). Scott & Bruce (1994) menyebut perilaku kerja
inovatif sebagai upaya pada seseorang dalam menerapkan gagasan barunya di
dalam pekerjaan dengan tujuan mencari keuntungan. Jong & Hartog (2008)
mendiskripsikan perilaku kerja inovatif sebagai sebuah tindakan seseorang
yang mempunyai tujuan untuk dapat mengenalkan ide atau gagasannya dalam
pembuatan sebuah produk baru

Prinsip Inovasi


Inovasi menurut Kuratko & Hodgetts (2017) mengacu pada berbagai prinsip
sebagai berikut:
a. Be action oriented, dimana individu yang berinovasi harus dapat selalu
membuat gagasan dan peluang baru.
b. Menciptakan produk yang dapat diterima khalayak dengan membuatnya
secara sederhana, sehingga cara kerja inovasi dapat dipahami dengan
mudah.
c. Inovator harus memulai dari yang kecil dan dapat mengembangkan dengan
idenya sehingga perencanaan dan perluasan dapat tumbuh dengan cara dan
waktu yang tepat.
d. Inovator dituntut untuk bersikeras pada tujuannya untuk menggapai
kesuksesan.
e. Test, try, and revise, dimana inovator harus melakukan proses uji coba
hingga pembetulan untuk dapat melihat kekurangan pada produk yang
dirancang.
f. Inovator harus dapat berkaca dari kesalahan yang lalu karena kegagalan
dapat menjadi pedoman dalam menciptakan sebuah inovasi

Jenis-Jenis Inovasi


Berikut ini adalah jenis-jenis dari inovasi berdasarkan Susanto & Putra
(2010):
a. Inovasi meliputi pembuatan produk baru.
b. Inovasi meliputi proses dari pembuatan produk hingga proses pengiriman
produk.
c. Inovasi pada supply chain, dimana inovasi dapat mengalihkan produk baik
dari input dan output.
d. Inovasi pemasaran, dimana hasil terlihat dengan adanya metode baru pada
pemasaran, tambahan pada desain produk, perubahan kemasan, perubahan
harga, dan sebagainya

Tujuan Inovasi


Secara umum, tujuan dari dilakukannya inovasi adalah untuk membuat
kondisi sebuah usaha agar dapat berkembang dengan pesat. Makmur & Thahier
(2015) menyebutkan bahwa terapat beberapa perspektif pada tujuan dari
inovasi:
a. Perspektif anggaran, dimana mencari cara untuk berinovasi dengan
menggunakan anggaran yang relatif kecil namun dapat menghasilkan jumlah
besar.
b. Perspektif pelanggan, dimana semua kalangan di dalam sebuah usaha
melakukan inovasi untuk mendapatkan konsumen sebanyak mungkin dan
dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin.
c. Perspektif pengolahan bisnis internal, dimana setiap bagian dalam sebuah
usaha dapat berinovasi dalam tujuan menciptakan kondisi yang mendukung.
d. Perspektif pertumbuhan, dimana inovasi dilakukan untuk perluasan bidang
usaha

Pengertian Inovasi


Van de Ven (1986) menyebut inovasi sebagai pengembangan dan penerapan
ide-ide baru oleh masing-masing orang pada sebuah organisasi. Ide-ide baru
tersebut dapat berupa pengumpulan gagasan yang telah ada yang bertujuan
untuk dapat menghadapi tantangan yang ada. Van de Ven (1986) menyebutkan
bahwa masing-masing orang dalam organisasi berkesempatan untuk memegang
peran dalam mengembangkan gagasannya. Oleh karena itu, inovasi dapat
disebut sebagai langkah dalam menemukan dan menerapkan suatu hal yang
baru pada situasi yang baru.
Dalam penelitian Scott dan Bruce (1994) disebutkan bahwa perilaku kerja
inovatif berasal dari perilaku inovatif individu yang merupakan inovasi tingkat
awal pada individu.
Trott (2008) menyebut inovasi memegang peran penting pada sebuah usaha
karena inovasi menyokong keberlangsungan hidup sebuah usaha sehingga
inovasi disebut sebagai pusat aktivitas pada sebuah usaha yang meliputi dari
pembentukan sebuah ide, hingga proses pemasaran produk yang melalui
pengembangan serta proses pembuatannya.
Sedangkan Drucker (2012) menyebutkan bahwa inovasi merupakan sebuah
alat bagi sebuah usaha karena dengan adanya perubahan atau inovasi yang
terjadi pada sebuah usaha, maka aka nada kesmepatan bagi sebuah usaa untuk
menjalankan sebuat usaha baru atau berbeda

Indikator Job Satisfaction


Dalam penelitian (Nurhandayani, 2022) menyatakan bahwa indikator dari
kepuasan kerja, yaitu:
a. Gaji
Besaran kompensasi yang diterima oleh karyawan untuk pekerjaan yang
dilakukan. Gaji merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi
kepuasan kerja, karena karyawan biasanya merasa dihargai apabila mereka
menerima gaji yang sesuai dengan upaya dan kinerja mereka.
b. Pekerjaan itu sendiri
Kepuasan yang berasal dari jenis pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan yang
menarik, menantang, dan sesuai dengan minat atau keahlian seseorang dapat
meningkatkan kepuasan kerja. Sebaliknya, pekerjaan yang monoton atau
tidak sesuai dengan minat bisa menurunkan tingkat kepuasan.
c. Rekan Kerja
Hubungan dan interaksi yang terjalin dengan sesama karyawan juga menjadi
faktor penting dalam kepuasan kerja. Lingkungan kerja yang mendukung,
dengan rekan kerja yang kooperatif dan baik, dapat meningkatkan kepuasan
serta meningkatkan semangat kerja.
d. Atasan
Gaya kepemimpinan atasan dan hubungan interpersonal antara atasan dan
bawahan dapat memengaruhi kepuasan kerja. Atasan yang memberi
dukungan, memberikan umpan balik konstruktif, dan menciptakan
lingkungan kerja yang positif akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan.
e. Promosi
Kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan promosi atau kenaikan
pangkat merupakan faktor yang berpengaruh dalam kepuasan kerja.
Karyawan cenderung merasa lebih puas jika mereka memiliki peluang untuk
maju dalam karier dan mendapatkan pengakuan atas kinerja mereka.
f. Lingkungan Kerja
Lingkungan fisik dan psikologis tempat kerja juga memainkan peran dalam
kepuasan kerja. Lingkungan yang aman, nyaman, bersih, serta memiliki
fasilitas yang memadai dapat meningkatkan kenyamanan dan kepuasan kerja
karyawan

Faktor-Faktor Job Satisfaction


Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kepuasan kerja yaitu (Tiong,
2023: 99):
a. Kesempatan untuk maju
Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan bagi karyawan untuk memperoleh
pengalaman dan peningkatan kemampuan selama bekerja.
b. Keamanan kerja
Sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria
maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan
karyawan selama bekerja.
c. Gaji
Faktor ini lebih banyak ketidakpuasan, dan jarang orang mengekspresikan
kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang akan diperoleh.
d. Perusahaan dan manajemen
Perusahaan dan manajemen yang baik adalah faktor yang mampu
memberikan situasi dan kondisi yang stabil. Faktor ini yang menengtukan
kepuasan kerja karyawan.
e. Pengawasan (supervisi)
Bagi karyawan supervisor dianggap sebagai figure ayah dan sekaligus atasan.
Supervisi yang buruk berakibat absensi dan turnover.
f. Faktor intrinsik dari pekerjaan
Dimana atribut yang ada pada pekerjaan masyarakat keterampilan tertengtu.
Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas dapat meningkatkan atau
mengurangi kepuasan.
g. Kondisi kerja
Faktor ini termasuk dalam kondisi kerja, ventilasi penyinaran, kantin dan
tempat parker.
h. Aspek sosial dalam pekerjaan
Merupakan salah satu sikap yang digambarkan tetapi dipandang sebagai
faktor yang menunjang kepuasan atau ketidakpuasaan dalam pekerjaan.
i. Komunikasi
Komunikasi yang lancar antara karyawan dan pihak manajemen banyak
dipakai sebagai alasan untuk menyukai jabatannya, dalam hal ini adanya
kesediaan piha atasan untuk mau mendengar, memahami, dan mengakui
pendapat ataupun prestasi karyawan. Keadaan ini akan sangat berperan dalam
menimbulkan rasa puas terhadap pekerjaan.
j. Fasilitas
Faktor ini seperti hal nya perusahaan memberikan fasilitas rumah sakit, cuti,
dana pension merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi
akan menimbulkan rasa puas

Teori Job Satisfaction


Ada lima teori yang berkaitan dengan kepuasan kerja (Indrasari, 2017:42),
yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Teori pemenuhan kebutuhan
    Teori ini berargumen bahwa kepuasan kerja diukur melalui penghargaan yang
    diterima oleh karyawan atau tingkat kebutuhan yang berhasil dipenuhi.
    Karyawan akan merasa puas jika mereka mendapatkan apa yang mereka
    butuhkan. Semakin banyak kebutuhan yang terpenuhi, semakin tinggi
    kepuasan yang dirasakan oleh karyawan, dan sebaliknya. Terdapat hubungan
    positif yang langsung antara kepuasan kerja dan pemenuhan kebutuhan yang
    diharapkan.
  2. Teori equity
    Teori ini menjelaskan bahwa kepuasan seseorang bergantung pada persepsi
    keadilan yang dirasakannya. Rasa keadilan atau ketidakadilan ini muncul dari
    perbandingan diri dengan orang lain yang berada dalam posisi yang sama,
    baik di lingkungan kerja maupun di tempat lain. Teori ini membagi konsep
    equity menjadi tiga kompon utama:
    a. Input, yang mencakup segala sesuatu yang dianggap berharga oleh
    pegawai sebagai kontribusi untuk pekerjaannya, seperti pendidikan,
    pelatihan, dan alat kerja.
    b. Out comes, yang merujuk pada segala hal yang dianggap berharga oleh
    pegawai sebagai hasil dari pekerjaannya, termasuk gaji, status, dan
    pengakuan atas prestasi.
    c. Comparisons person, yaitu perbandingan antara input dan out comes yang
    diterima. Menurut teori ini, kepuasan atau ketidakpuasan pegawai
    ditentukan oleh perbandingan antara input-output dirinya dan input-output
    pegawai lain. Jika perbandingan tersebut menunjukkan keadilan, maka
    pegawai akan merasa puas, sebaliknya jika tidak, maka ketidakpuasan
    akan muncul
  3. Teori Ketidaksesuaian
    Teori ini menjelaskan bahwa untuk menilai kepuasan kerja individu, perlu
    dilakukan analisis terhadap perbedaan antara harapan yang dimiliki terhadap
    pekerjaan dan realitas yang dialaminya. Tingkat kepuasan kerja seseorang
    dipengaruhi oleh ketidaksesuaian antara harapan, kebutuhan, atau nilai-nilai
    yang diinginkan dengan apa yang dirasakan atau dicapai melalui pekerjaan
    tersebut. Oleh karena itu, sikap karyawan terhadap pekerjaannya sangat
    dipengaruhi oleh perbedaan yang mereka rasakan.
  4. Teori motivasi dua faktor
    Teori ini menyatakan bahwa terdapat dua kategori yang mempengaruhi
    tingkat kepuasan dan ketidakpuasan pegawai, yaitu:
    a. Faktor pemeliharaan atau faktor ketidakpuasan, yang meliputi elemen-
    elemen yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk mencapai
    kenyamanan fisik, seperti gaji, kualitas supervisi, kebijakan organisasi,
    serta hubungan interpersonal di antara rekan kerja, atasan, dan bawahan,
    serta aspek keamanan kerja, status, dan kondisi kerja.
    b. Faktor motivator atau faktor kepuasan, yang berfokus pada kebutuhan
    psikologis pegawai. Faktor ini berkaitan dengan pengharg aan terhadap
    individu yang berhubungan langsung dengan pekerjaan, seperti prestasi,
    pengakuan, dan karakteristik pekerjaan itu sendiri.
  5. Teori kelompok acuan sosial
    Teori ini memiliki kesamaan dengan teori pemenuhan kebutuhan, tetapi
    perbedaannya terletak pada fakta bahwa harapan, keinginan, dan kepentingan
    berasal dari individu dalam konteks kelompok, bukan sebagai individu yang
    terpisah. Teori ini menyatakan bahwa jika pekerjaan sejalan dengan
    kepentingan, harapan, dan tuntutan individu dalam kelompok, maka individu
    tersebut akan merasakan kepuasan dalam pekerjaannya. Namun, dalam
    praktiknya, individu tidak selalu mengikuti keputusan kelompok dan
    terkadang menunjukkan sikap independen

Pengertian Job Satisfaction


Kepuasan kerja pada dasarnya berkaitan dengan perilaku seseorang dalam
bekerja, di mana seorang karyawan akan merasa nyaman dan memiliki loyalitas
tinggi terhadap perusahaan apabila ia mendapatkan kepuasan kerja yang sesuai
dengan harapannya (Yuliani, 2023: 136). “Job satisfaction may be as pleasurable
as positive emotional state resulting from the appraisal of one’s job or job
experiences, state resulting from the appraisal of one’s job or job experiences”.
Kepuasan kerja dapat diartikan sebagai suatu kondisi positif yang dirasakan oleh
seseorang setelah menilai pekerjaan atau pengalaman yang mereka jalani. Hal ini
tercipta ketika individu merasa bahwa pekerjaan yang dilakukannya memenuhi
harapan dan kebutuhan mereka, baik dalam hal tantangan, penghargaan, maupun
keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.“The appraisal of one s job
as attaining or allowing the attainment of one’s important job value, providing these
value are congruent with or help full fit one’s basic needs” hal ini menunjukan
bahwa seseorang akan merasa puas dengan pekerjaannya jika pekerjaan itu tidak
hanya memberikan apa yang mereka nilai penting, tetapi juga jika pekerjaan
tersebut dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti kebutuhan emosional,
finansial, atau kebutuhan akan tantangan dan penghargaan dalam pekerjaan.
(Indrasari, 2017:38).
Kepuasan kerja merupakan perasaan positif atau negatif yang dirasakan oleh
seorang pegawai terkait pekerjaannya maupun kondisi pribadinya. Perasaan yang
berkaitan dengan pekerjaan mencakup aspek seperti upaya yang dikeluarkan,
peluang pengembangan karir, hubungan antar rekan kerja, penempatan posisi, dan
struktur organisasi. Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan kondisi
pribadi mencakup usia, kesehatan, kemampuan, serta tingkat pendidikan (Setiono
& Sustiyatik, 2019: 173). Kepuasan kerja adalah respons emosional positif atau
negatif yang dirasakan individu terhadap pekerjaan yang mereka lakukan, yang
pada akhirnya memengaruhi tindakan mereka dalam menyelesaikan tugas guna
mencapai tujuan perusahaan (Rony & Yulisyahyanti, 2022). Kepuasan kerja adalah
sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaanya. Sikap ini
dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja (Ernanto &
Indriyaningrum, 2023).
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa
kepuasan job satisfaction atau kepuasan kerja merupakan sikap positif yang
dirasakan oleh karyawan melalui penilaian terhadap berbagai aspek yang dianggap
baik dalam pekerjaan dan kondisi diri mereka. Kepuasan kerja mencakup perasaan
senang atau tidak senang yang dialami individu sehubungan dengan pekerjaan yang
dijalani

Indikator Burnout


Indikator-indikator burnout meliputi empat hal utama (Rosada, 2023), yaitu:
a. Kelelahan Fisik
Merujuk pada kondisi tubuh yang sangat lelah atau letih akibat beban kerja
yang berlebihan, kurang tidur, atau terlalu banyak waktu yang dihabiskan
untuk pekerjaan. Kelelahan fisik ini dapat mengurangi energi dan
mempengaruhi kinerja secara keseluruhan.
b. Kelelahan Mental
Ini berkaitan dengan keletihan yang dirasakan pada tingkat kognitif atau
pemikiran. Individu yang mengalami kelelahan mental mungkin merasa sulit
untuk berkonsentrasi, memproses informasi, atau membuat keputusan. Ini
terjadi akibat stres yang berkepanjangan atau tuntutan kognitif yang berat di
tempat kerja.
c. Kelelahan Emosional
Ini mengacu pada perasaan kewalahan secara emosional, seperti merasa
kosong, tidak termotivasi, atau kehilangan semangat dalam menjalani
pekerjaan. Kelelahan emosional sering kali diiringi dengan perasaan tidak
dapat mengatasi tuntutan pekerjaan atau hubungan interpersonal yang ada di
tempat kerja.
d. Penghargaan Diri yang Rendah
Individu yang mengalami burnout sering merasa bahwa mereka tidak
dihargai atau diakui atas pekerjaan yang mereka lakukan. Ini bisa
menurunkan rasa percaya diri mereka dan mengurangi motivasi untuk bekerja
lebih keras, yang semakin memperburuk kondisi burnout.

Dampak Burnout


Adapun dampak dari burnout adalah sebagai berikut (Hibah, 2023:10):
a. Burnout is Lost Energy
Pekerja yang mengalami kelelahan mental akan merasakan stres, merasa
tertekan, dan kehabisan energi. Mereka juga akan mengalami kesulitan dalam
tidur serta cenderung menjauh dari lingkungan sekitar. Kondisi ini akan
berdampak negatif pada kinerja mereka. Selain itu, produktivitas dalam
pekerjaan juga akan semakin menurun.
b. Burnout is Lost Enthusiasm
Keinginan untuk beraktivitas dalam pekerjaan semakin menurun, menjadikan
segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan terasa kurang menyenangkan.
Kreativitas dan minat terhadap pekerjaan juga semakin berkurang, sehingga
hasil yang dicapai menjadi sangat terbatas.
c. Burnout is Lost Confidence
Tanpa adanya energi dan partisipasi aktif dalam pekerjaan, kinerja pekerja
akan terhambat. Hal ini dapat menyebabkan pekerja merasa semakin tidak
efektif dan meragukan kemampuan diri mereka. Dampak dari kondisi ini akan
berpengaruh pada hasil pekerjaan secara keseluruhan. Ambiguitas peran,
motivasi intrinsik, dan konflik peran merupakan faktor yang berkontribusi
terhadap kelelahan kerja, yang memiliki hubungan dengan komitmen
organisasi, kepuasan kerja, kinerja tenaga penjual, serta keinginan untuk
berpindah

Faktor-faktor penyebab Burnout


Burnout umumnya terjadi akibat adanya ketidaksesuaian atau
ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan kemampuan atau sumber
daya yang dimiliki oleh pekerja. Ketika individu merasa pekerjaan yang dilakukan
tidak sesuai dengan keterampilan, minat, atau nilai-nilai pribadinya, hal ini dapat
menyebabkan stres yang berkepanjangan. Ketidaksesuaian tersebut akan
mengganggu kesejahteraan fisik dan mental, serta menurunkan motivasi dan kinerja
kerja secara signifikan. Dengan kata lain, semakin besar perbedaan antara individu
dengan pekerjaannya, semakin besar kemungkinan terjadinya burnout yang dapat
mempengaruhi efektivitas dan produktivitas kerja. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi munculnya burnout (Alam, 2022:50), yaitu:
a. Work Overloaded
Work Overloaded dapat terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara pekerja dan
tugas yang diberikan. Pekerja sering kali dibebani dengan terlalu banyak
pekerjaan dalam waktu yang terbatas. Kondisi ini muncul karena pekerjaan
yang harus diselesaikan melebihi kapasitas kemampuan manusia yang
memiliki batasan. Akibatnya, kualitas kerja dapat menurun, hubungan antar
rekan kerja menjadi kurang sehat, kreativitas berkurang, dan risiko burnout
meningkat.
b. Lack of Work Control
Setiap orang memiliki keinginan untuk mendapatkan kesempatan dalam
membuat pilihan dan keputusan, serta memanfaatkan kemampuan berpikir
menyelesaikan masalah untuk mencapai prestasi. Namun, aturan yang ada
kadang-kadang membatasi inovasi pekerja, sehingga mereka merasa kurang
memiliki tanggung jawab terhadap hasil yang dicapai akibat pengawasan
yang terlalu ketat dari atasan.
c. Rewarded for Work
Minimnya penghargaan di tempat kerja dapat menyebabkan karyawan merasa
tidak dihargai. Penghargaan tidak hanya diukur dari bonus finansial, tetapi
juga dari hubungan yang harmonis antara rekan kerja dan antara karyawan
dengan atasan. Penghargaan yang diberikan dapat meningkatkan perasaan
positif karyawan, yang merupakan indikator penting bahwa mereka telah
melaksanakan tugas dengan baik
d. Breakdown in Community
Karyawan yang tidak merasakan rasa memiliki terhadap komunitas di tempat
kerja cenderung mengalami kurangnya keterikatan positif. Seseorang akan
memberikan performa terbaiknya ketika merasa nyaman dan bahagia, yang
terbangun melalui saling menghargai. Namun, seringkali lingkungan kerja
justru menciptakan situasi yang berlawanan. Terdapat kesenjangan baik di
antara rekan kerja maupun dengan atasan, di mana masing-masing lebih fokus
pada diri sendiri dan kurang memiliki waktu berkualitas bersama.
e. Treated Fairly
Perasaan tidak diperlakukan secara adil merupakan salah satu faktor yang
dapat menyebabkan burnout. Keadilan melibatkan penghargaan terhadap
perbedaan dan saling menghormati. Rasa saling menghargai ini akan
memperkuat keterikatan dengan komunitas di tempat kerja. Tanpa adanya
keadilan, pekerja akan kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan
kerjanya. Ketidakadilan sering kali muncul dalam konteks promosi atau
ketika pekerja disalahkan atas kesalahan yang tidak mereka buat

Pengertian Burnout


Burnout adalah sindrom yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental
yang intens, yang mencakup perkembangan konsep diri yang negatif, penurunan
kemampuan untuk berkonsentrasi, serta munculnya perilaku kerja yang buruk.
Burnout juga dikatakan sebagai kelelahan yang muncul akibat seseorang bekerja
dengan sangat intens tanpa memperhatikan kebutuhan pribadi mereka (Alam,
2022:42). Burnout merupakan kondisi kelelahan atau kejenuhan yang dialami oleh
seseorang dalam dunia kerja, yang umumnya disebabkan oleh beban kerja yang
berlebihan atau lingkungan kerja yang kurang mendukung. Ketika seseorang
mengalami burnout dalam tingkat yang tinggi, ia cenderung menarik diri
dari pekerjaannya (Amalia, 2021: 4-5).
Burnout merupakan suatu perasaan overload dari kelelahan fisik dan mental
yang merupakan akumulasi dari stres sehari-hari. Burnout juga mengakibatkan
produktivitas dan efekti vitas yang rendah bagi organisasi. Uraian di atas
menunjukkan bahwa burnout memiliki dampak negatif baik bagi individu maupun
organisasi (Natalia, 2016). Kemudian burnout juga dikatakan suatu sindrom karena
adanya tekanan kerja yang menyebabkan seseorang menjadi merasa letih, kelelahan
mental dan emosional, serta perasaan tidak berdaya, yang disebabkan oleh stres
akibat pekerjaan yang terlalu berat (Rosada, 2023).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa burnout adalah suatu
sindrom psikologis yang timbul akibat kelelahan yang sangat berat, baik fisik,
mental, maupun emosional, yang mengakibatkan gangguan pada individu dan
penurunan dalam pencapaian prestasi pribadi

Burnout


Dalam lingkungan profesional, seringkali tuntutan beban kerja yang tinggi
dapat menyebabkan karyawan menghadapi konflik peran yang mengganggu
kemampuan mereka untuk memenuhi tanggung jawab pekerjaan dengan baik.
Konflik ini sering kali menyebabkan kesulitan dalam mencapai kepuasan kerja,
karena karyawan merasa tertekan oleh berbagai tuntutan yang tidak sejalan atau
bertentangan satu sama lain. Salah satu tantangan terbesar di bidang Sumber Daya
Manusia (SDM) adalah bagaimana mengurangi risiko burnout atau kelelahan akibat
pekerjaan

Indikator Innovative Behavior


Indikator dalam perilaku inovatif ada empat bagian (Puji Astuti et al., 2019)
sebagai berikut:
a. Pencarian Ide
Kemampuan mencari tahu teknologi baru, proses, teknik dan ide-ide baru.
Pencarian ide merupakan langkah pertama dalamkel proses inovasi, dimana
kreativitas dan kemampuan untuk berfikir out of the box sangat dibutuhkan
untuk menemukan solusi baru atau peluang yang belum dieksplorasi.
b. Pengembangan Ide
Kemampuan untuk mengembangkan, memperbaiki dan menghasilkan ide-ide
kreatif. Pada tahap ini, ide-ide tersebut dievaluasi, disempurnakan, dan
dipersiapkan untuk diterapkan. Proses ini memerlukan analisis mendalam dan
pengolahan informasi yang baik untuk menciptakan solusi yang lebih matang.
c. Implementasi Ide
Tahap ini melibatkan kemampuan untuk menerapakan ide yang telah
dikembangkan menjadi tindakan nyata dalam organisasi. Implementasi
meliputi proses perencanaan, pengorganisasian sumber daya, dan penerapan
solusi inovatif kedalam sistem kerja atau produk yang lebih nyata.
d. Pengambilan Risiko
Inovasi sering kali melibatkan ketidakpastian dan kemungkinan kegagalan.
Kemampuan untuk mengambil resiko mencerminkan kesiapan untuk
mencoba hal baru meskipun belum tentu terjamin keberhasilannya.

Aspek Innovative Behavior


Perilaku innovative behavior memiliki 5 aspek penting yang harus
diperhatikan (Laily & Wahyuni, 2018:45) yaitu sebagai berikut:
a. Opportunity Exploration
Aspek ini mengacu pada proses mempelajari dan mengetahui lebih banyak
tentang oeluang untuk berinvasi dan mengembangkan ide-ide baru. Ini
melibatkan analisis dan identifikasi potensi peluang yang dapat dimanfaatkan
untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kinerja, dengan langkah-
langkah seperti mengidentifikasi kebutuhan masalah, mengumpulkan
informasi. Menganalisis data, mengidentifikasi peluang, dan
mengembangkan strategi untuk memanfaatkan peluang yang telah
diidentifikasi.
b. Generativy
Aspek ini mengacu pada kemampuan untuk memunculkan konsep-konsep
baru dan inovatif untuk tujuan pengembangan. Ini melibatkan proses kreatif
yang memungkinkan individu atau tim untuk menghasilkan ide-ide baru,
memecahkan masalah, dan mengembangkan solusi yang lebih baik. Dengan
demikian, generativy meminkan peran penting dalam mendorong inovasi dan
kemajuan dalam berbagai bidang.
c. Formative Investigation
Aspek ini mengacu pada proses pemberian perhatian untuk menyempurnakan
ide, solusi, dan opini, dengan melakukan peninjauan dan evaluasi sistematis.
Dalam proses ini, ide-ide yang telah dihasilkan dievaluasi dan disempurnakan
untuk memastikan bahwa mereka efektif, efisien, dan sesuai dengan
kebutuhan. Dengan demikian, aspek ini memainkan peran penting dalam
meningkatkan kualitas dan keefektifan Solusi yang dihasilkan.
d. Championing
Aspek ini mengacu pada adanya praktek-praktek usaha untuk merealisasikan
ide ide. Dengan kata lain dalam aspek ini, mengambil langkah-langkah nyata
untuk membuat ide-ide menjadi kenyataan, dengan mempromosikan,
mendukung, dan mengdvokasi mereka agar dapat dimplementasikan dan
mencapai hasil yang diinginkan.
e. Application
Aspek ini mengacu pada mencoba untuk mengembangkan, menguji coba, dan
mengkomersialisasikan ide-ide inovatif. Dalam tahap ini ide-ide yang telah
dihasilkan dan disempurnakan kemudian diimplementasikan dalam bentuk
nyata, diuji coba untuk memastikan keefektifanya, dan dipasrkan untuk
mencapai kesuksesan komersial.

Faktor-Faktor Innovative Behavior


Terdapat dua faktor utama yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku
inovatif, yaitu faktor internal dan eksternal (Nardo et al., 2022:13).

  1. Faktor Internal
    a. Tipe Kepribadian
    Individu dengan tipe kepribadian yang berani mengambil risiko cenderung
    lebih mampu mengembangkan dan melaksanakan perilaku inovatif.
    b. Gaya Pemecahan Masalah
    Karyawan yang memiliki gaya pemecahan masalah yang intuitif dapat
    mengasilkan ide-ide baru, yang pada gilirannya akan menciptakan solusi
    inovatif.
  2. Faktor Eksternal
    a. Kepemimpinan
    Hubungan yang baik antara karyawan dan pemimpin dapat mendorong
    munculnya perilaku inovatif. Karyawan yang merasa dihargai dan didorong
    oleh pemimpin yang memberikan harapan tinggi akan lebih cenderung
    menunjukan perilaku inovatif.
    b. Dukungan untuk berinovasi
    Dukungan dari orang-orang di sekitar individu, termasuk rekan kerja dan pihak
    dalam organisasi, sangat penting untuk menciptakan suasana yang mendukung
    perilaku inovatif.
    c. Tuntutan Pekerjaan
    Tingginya tuntutan pekerjaan dapat menjadi pemicu bagi karuawan untuk
    meningkatkan kreativitas dan menghasilkan ide-ide inovatif. Tuntutan ini
    menjadi dorongan bagi karyawan untuk menunjukan perilaku inovatif.
    d. Iklim Psikologis
    Iklim psikologis mengacu pada bagaimana karyawan memandang dan menilai
    lingkungan organisasi mereka, yang dapat mepengaruhi kemampuan mereka
    untuk berinovasi

Pengertian Innovative Behavior


Innovative behavior atau perilaku inovatif dapat dipahami sebagai
serangkaian tindakan individu yang bertujuan untuk menciptakan,
memperkenalkan, dan mengimplementasikan hal-hal baru yang memberikan
manfaat bagi organisasi secara keseluruhan (Nardo et al., 2022: 9). Perilaku inovatif
merupakan tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam upaya
menemukan solusi terhadap suatu permasalahan dengan menggali dan menerapkan
ide-ide baru, baik dalam konteks bisnis maupun organisasi (Ausat et al., 2023: 55).
Innovative behavior merupakan rangkaian aktivitas individu yang berfokus
pada identifikasi dan penerapan hal-hal baru yang memberikan keuntungan bagi
organisasi (Zain et al., 2024). Perilaku inovatif adalah pengenalan masalah dan
permulaan demonstrasi yang disengaja dari pemikiran baru dan berharga, termasuk
seperangkat perilaku yang diharapkan untuk menciptakan, mengirimkan, dan
melaksanakan pemikiran dengan rencana untuk meningkatkan kinerja individu
(Ernanto & Indri yaningrum, 2023)

Innovative Behavior


Setiap inovasi akan selalu diikuti dengan suatu perubahan, namun tidak setiap
perubahan selalu didorong oleh ide baru yang langsung memberikan pengaruh
positif terhadap kemajuan, perkembangan, dan pertumbuhan suatu organisasi.
Keunggulan kompetitif perusahaan dalam dunia bisnis bisa tercapai melalui budaya
kerja yang inovatif, serta adanya dukungan penuh dari pihak manajemen. Oleh
karena itu, perusahaan harus memandang hal ini sebagai faktor penting dalam
strategi mereka. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan memberikan
dorongan dan motivasi kepada karyawan agar mereka senantiasa mengembangkan
perilaku inovatif. Dengan meningkatkan perilaku inovatif, karyawan dapat
merasakan kepuasan dalam pekerjaan mereka, yang pada gilirannya akan
berdampak positif pada kinerja perusahaan secara keseluruhan. Inovasi yang
didorong oleh perilaku kreatif dan terintegrasi dengan visi perusahaan akan
mempercepat pencapaian tujuan dan memperkuat posisi kompetitif perusahaan

Pengaruh Work-Life Balance terhadap Innovative Work Behavior


WLB tidak hanya memberikan manfaat bagi kesejahteraan individu, tetapi
juga memiliki implikasi penting terhadap kinerja inovatif. Keseimbangan hidup
memungkinkan individu untuk memulihkan energi secara emosional dan fisik,
menjaga kesehatan mental, serta mempertahankan semangat dan motivasi dalam
bekerja. Fisher et al. (2009) menjelaskan bahwa individu yang merasa memiliki
kontrol atas jadwal dan tuntutan hidupnya akan lebih siap dalam menghadapi
tantangan kerja dan lebih terbuka terhadap perubahan. Hal ini menjadi dasar bagi
munculnya kreativitas, fleksibilitas kognitif, dan inisiatif inovatif.
Kim dan Yun (2019) menegaskan bahwa WLB berkontribusi secara
signifikan terhadap kualitas hidup kerja yang berdampak langsung pada perilaku
inovatif karyawan. Wibowo (2024)menemukan bahwa WLB berkontribusi positif
terhadap peningkatan IWB. Karyawan yang mampu menjaga keseimbangan antara
pekerjaan dan kehidupan pribadinya cenderung memiliki tingkat keterlibatan kerja
yang lebih tinggi, sehingga lebih terdorong untuk mengemukakan ide-ide baru dan
mencoba pendekatan yang berbeda dalam menyelesaikan tugas. Temuan ini
mengindikasikan bahwa keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi dapat menjadi
faktor penting yang menopang kesiapan mental karyawan untuk berinovasi.
WLB menciptakan ruang psikologis yang aman bagi individu untuk
berinovasi. Ketika guru merasa bahwa kehidupan pribadinya tidak terancam oleh
tuntutan pekerjaan, mereka akan lebih berani untuk mengambil risiko kognitif dan
eksperimen dalam pengajaran. Ini memperlihatkan bahwa WLB bukan hanya soal
pengelolaan waktu, tetapi menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya mindset
inovatif dalam dunia pendidikan

Pengaruh Employee Engagement terhadap Work-Life Balance


Meskipun EE secara umum dianggap sebagai hal yang positif, penelitian
menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan kerja yang tinggi dapat berdampak
ambivalen terhadap WLB. Di satu sisi, keterlibatan kerja dapat menyebabkan
kelelahan apabila tidak di padukan dengan sistem kerja yang mendukung
keseimbangan hidup. Namun, studi oleh Ali et al. (2022) menunjukkan bahwa
dalam konteks organisasi yang memiliki fleksibilitas kerja dan budaya dukungan
sosial, EE justru berkontribusi positif terhadap pencapaian WLB. Dalam kondisi
demikian, individu yang engaged merasa lebih memiliki kontrol atas waktu dan
peran-peran kehidupannya, sehingga lebih mampu menjalankan fungsi pribadi
maupun profesional secara seimbang.
Penelitian oleh Christian et al., (2011) menyatakan bahwa EE yang sehat
memungkinkan individu untuk mengelola energi mereka secara adaptif, termasuk
dalam menyeimbangkan tuntutan kerja dan kehidupan pribadi. Guru yang memiliki
keterlibatan tinggi, namun juga mampu mengatur waktu istirahat dan interaksi
sosial di luar pekerjaan, akan mengalami tingkat stres yang lebih rendah dan
kepuasan hidup yang lebih tinggi. EE yang ideal bukan hanya menciptakan
produktivitas tinggi, tetapi juga memperkuat kapasitas individu untuk mengatur
keseimbangan hidup. Guru yang memiliki EE yang sehat tidak memandang
keterlibatan kerja sebagai beban, melainkan sebagai ekspresi aktualisasi diri,
sehingga mampu menjaga batasan sehat antara ranah pekerjaan dan kehidupan
pribadi. Dalam konteks pendidikan modern yang menuntut fleksibilitas tinggi, EE
yang dikombinasikan dengan keterampilan pengelolaan diri akan menjadi kunci
utama tercapainya WLB.
Dinh, (2020) menambahkan bahwa EE secara tidak langsung berperan
sebagai pengatur stres kerja. Ketika individu merasa terhubung secara positif
dengan pekerjaannya, mereka cenderung memiliki persepsi kontrol yang lebih
tinggi terhadap beban kerja dan tuntutan waktu. Kondisi ini memungkinkan
terciptanya keseimbangan antara peran profesional dan personal, yang pada
akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan

Pengaruh Employee Engagement terhadap Innovative Work Behavior


Karyawan yang memiliki tingkat EE yang tinggi umumnya menunjukkan
antusiasme, dedikasi, dan keterlibatan penuh dalam pekerjaan mereka. Schaufeli et
al. (2002)dalam Ali et al., (2022) mendeskripsikan engagement sebagai suatu
kondisi psikologis positif yang mendorong individu untuk bekerja dengan penuh
semangat, memiliki komitmen terhadap organisasi, dan secara aktif terlibat dalam
pencapaian tujuan kerja. Keterlibatan ini menciptakan lingkungan psikologis yang
kondusif bagi munculnya inisiatif, pemikiran kreatif, dan perilaku proaktif. Dalam
konteks pendidikan, guru yang engaged tidak hanya menjalankan tugas mengajar
secara rutin, tetapi juga terdorong untuk mengeksplorasi metode pembelajaran
baru, menyesuaikan pendekatan pengajaran dengan kebutuhan siswa, serta aktif
mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi di kelas (Xanthopoulou et al.
2013).
Amanda et al., (2024) dalam penelitiannya membuktikan bahwa EE
memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku kerja inovatif. Penelitian tersebut
menyoroti bahwa keterlibatan guru berkontribusi terhadap munculnya keberanian
dalam mengambil risiko terukur, serta keinginan untuk terus memperbarui strategi
pengajaran secara mandiri. Selain itu, Saks (2019) menyatakan bahwa engagement
berkorelasi positif dengan perilaku kerja ekstra-peran, termasuk inovasi dan
partisipasi dalam pengembangan organisasi EE berfungsi tidak hanya sebagai
pendorong motivasi internal, tetapi juga sebagai sumber energi psikis yang
memungkinkan individu untuk menanggung ketidakpastian dan risiko dalam proses
inovasi. Dalam dunia pendidikan, guru yang engaged cenderung lebih resilien
terhadap hambatan struktural seperti keterbatasan fasilitas atau resistensi terhadap
perubahan, karena mereka memiliki dorongan intrinsik untuk berkontribusi lebih.
Elamin et al., (2024) yang menunjukkan bahwa EE tidak hanya berkorelasi
langsung dengan perilaku kerja inovatif, tetapi karyawan yang engaged cenderung
lebih terbuka dalam bertukar ide dan pengalaman, yang pada akhirnya menciptakan
lingkungan yang mendorong eksplorasi dan implementasi ide-ide baru. Hal ini
menegaskan bahwa EE dapat menjadi katalis yang kuat untuk inovasi yang
berkesinambungan dalam organisasi. Oleh karena itu, EE menjadi prasyarat penting
untuk menciptakan perilaku kerja inovatif yang berkelanjutan di lingkungan
pendidikan. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa IWB sangat dipengaruhi oleh
kondisi psikologis individu, dukungan organisasi, dan keterlibatan kerja. Ali et al.
(2022) menemukan bahwa karyawan yang memiliki EE yang tinggi lebih
cenderung menunjukkan perilaku inovatif karena merasa memiliki tanggung jawab
lebih besar terhadap perbaikan di tempat kerja

Dimensi Work-Life Balance


Hayman (Hayman, 2005), mengidentifikasi tiga dimensi utama yang
menyebabkan mana individu dapat menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan
kehidupan pribadi secara efektif:

  1. Work Interference with Personal Life (WIPL), merupakan ukuran
    sejauh mana pekerjaan individu mengganggu atau menghambat
    kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab
    dalam kehidupan pribadi. Tingginya tingkat WIPL menunjukkan
    adanya tekanan pekerjaan yang berdampak negatif terhadap kualitas
    kehidupan non-pekerjaan.
  2. Personal Life Interference with Work (PLIW), menggambarkan
    sejauh mana tanggung jawab dan kegiatan pribadi memengaruhi
    performa, fokus, dan keterlibatan individu di tempat kerja. Dimensi
    ini menekankan adanya interaksi timbal balik antara kehidupan
    pribadi dan pekerjaan, yang dapat mempengaruhi efektivitas individu
    dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
  3. Work/Personal Life Enhancement (WPLE), mencerminkan dampak
    positif dari interaksi antara kehidupan kerja dan pribadi, yaitu sejauh
    mana pengalaman, keterampilan, atau sumber daya yang diperoleh
    dari salah satu domain dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas di
    domain lainnya. Dimensi ini menekankan peran synergy antara
    pekerjaan dan kehidupan pribadi dalam mendukung kesejahteraan
    individu dan produktivitas organisasi

Work-Life Balance


Work-life balance (WLB) merupakan suatu kondisi di mana individu dapat
menjalankan peran dan tanggung jawab dalam pekerjaan maupun kehidupan
pribadi secara harmonis, tanpa menyebabkan konflik yang berlebihan di salah satu
aspek kehidupannya. Konsep ini menekankan pada pentingnya keseimbangan
antara tuntutan profesional dan kebutuhan pribadi agar individu dapat berfungsi
secara optimal di kedua ranah tersebut. (Ali et al., 2022) menjelaskan bahwa WLB
mencerminkan kapasitas seseorang dalam mengelola waktu, energi, dan perhatian
secara proporsional antara pekerjaan dan kehidupan personal, sehingga ia dapat
mempertahankan stabilitas emosional dan performa kerja yang sehat. Dalam
kerangka kerja modern, WLB dipandang bukan hanya sebagai isu kesejahteraan
karyawan, tetapi juga sebagai faktor strategis yang dapat mempengaruhi motivasi,
keterlibatan kerja, dan bahkan perilaku inovatif di tempat kerja.
Wood et al. (2020) menunjukkan bahwa WLB memiliki pengaruh positif
terhadap keterlibatan kerja harian dan kesiapan psikologis karyawan untuk
menghadapi beban kerja. Mereka menyatakan bahwa individu yang secara teratur
mampu menciptakan jeda mikro (micro-breaks) dan mengelola keseimbangan
energi antara aktivitas kerja dan non-kerja akan cenderung menunjukkan
keterlibatan yang lebih tinggi dan sikap kerja yang lebih adaptif. Dalam konteks
organisasi, WLB mendukung pencapaian kinerja berkelanjutan karena mampu
menekan tingkat kelelahan emosional, meningkatkan kepuasan kerja, dan
memperbesar kemungkinan munculnya gagasan atau inovasi baru.
Kim dan Yun (2019) menegaskan bahwa WLB berkontribusi secara
signifikan terhadap kualitas hidup kerja yang berdampak langsung pada perilaku
inovatif karyawan. Individu yang merasakan keseimbangan hidup cenderung lebih
kreatif, terbuka terhadap perubahan, serta bersedia untuk berpartisipasi dalam
penciptaan dan pelaksanaan ide-ide baru. WLB juga memungkinkan seseorang
untuk memproses tantangan pekerjaan secara lebih konstruktif karena tidak
mengalami tekanan berlebihan dari aspek kehidupan pribadinya

Employee Engagement


Employee engagement (EE) menggambarkan sejauh mana karyawan
terlibat secara emosional dan kognitif dalam pekerjaannya. Menurut Kahn (1990)
dalam Huang et al., (2022), EE mencakup keterlibatan fisik, kognitif, dan
emosional karyawan dalam peran kerja mereka. Schaufeli et al. (2002) dalam Ali
et al., (2022) menambahkan bahwa EE adalah kondisi positif yang ditandai oleh
vigor (semangat), dedication (dedikasi), dan absorption (keterlibatan penuh). Vigor
mengacu pada energi dan ketahanan mental yang tinggi saat bekerja, dedication
mencerminkan keterlibatan kuat dan rasa bangga terhadap pekerjaan, sedangkan
absorption adalah keadaan di mana karyawan sepenuhnya tenggelam dalam
pekerjaannya sehingga waktu terasa berlalu dengan cepat

Innovative Work Behavior


Innovative work behavior (IWB) merujuk pada perilaku individu di tempat
kerja yang bertujuan untuk menghasilkan, mengembangkan, serta menerapkan ide-
ide baru guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi. Menurut Farrukh
et al. (2022), IWB melibatkan proses penciptaan, adopsi, dan implementasi ide-ide
baru untuk produk, layanan, dan praktik kerja oleh karyawan. Dalam konteks ini,
inovasi tidak terbatas pada teknologi, tetapi juga mencakup cara kerja baru,
perbaikan proses, hingga pendekatan interaksi kerja yang lebih efisien. IWB bukan
hanya tentang ide, tetapi juga keberanian untuk memperjuangkannya dan
menjadikannya nyata dalam praktik kerja. Perilaku inovatif ini menjadi kunci
penting dalam menciptakan organisasi yang adaptif dan berkelanjutan.
Menurut De Jong & Den Hartog (2010), dalam Ali et al. (2022), IWB terdiri
dari empat fase utama: eksplorasi peluang, generasi ide, promosi ide, dan
implementasi ide. Pada tahap eksplorasi, individu aktif mengamati dan
mengidentifikasi kebutuhan atau peluang di lingkungan kerjanya yang dapat
direspons melalui perubahan. Generasi ide mencerminkan proses berpikir kreatif
dalam menghasilkan solusi baru terhadap masalah yang ada. Promosi ide
melibatkan upaya untuk memperoleh dukungan dari atasan atau rekan kerja
terhadap ide-ide tersebut. Terakhir, implementasi ide mengacu pada penerapan
solusi tersebut secara nyata dalam kegiatan kerja sehari-hari, yang diharapkan
mampu memberikan hasil yang lebih baik bagi organisasi.
Elamin et al. (2024) menekankan bahwa adanya keterlibatan dalam
knowledge sharing, kepercayaan terhadap pimpinan, dan sistem penghargaan dapat
memperkuat munculnya IWB di lingkungan kerja. Faktor personal seperti rasa
percaya diri dan keinginan untuk berkontribusi juga menjadi pemicu internal yang
penting. IWB memiliki implikasi besar baik terhadap individu maupun organisasi.
Bagi organisasi, perilaku inovatif karyawan mendorong efisiensi proses,
peningkatan kualitas produk atau layanan, serta keunggulan kompetitif yang
berkelanjutan Hock-Doepgen et al. (2025) menjelaskan bahwa perilaku inovatif
karyawan merupakan faktor penting dalam menciptakan inovasi berkelanjutan yang
mampu menjaga daya saing organisasi di pasar yang dinamis. Dalam tingkat
individu, IWB meningkatkan rasa kepemilikan terhadap pekerjaan, memperluas
kompetensi, dan memberi peluang pertumbuhan karier. Yen et al. (2025)
menegaskan bahwa perilaku inovatif individu berkontribusi pada pengembangan
keterampilan baru dan memperkuat motivasi intrinsik untuk berprestasi lebih baik
dalam pekerjaannya.
Pemahaman IWB dapat diperkuat dengan Job Demands-Resources (JDR)
Model dari Bakker & Demerouti (2007) dalam Hwang & Yi, (2025), yang
menekankan bahwa perilaku karyawan dipengaruhi oleh keseimbangan antara
tuntutan pekerjaan (job demands) dan sumber daya pekerjaan (job resources). Job
demands yang tinggi tanpa sumber daya yang memadai dapat menimbulkan stres
dan mengurangi kapasitas inovatif, sedangkan job resources seperti dukungan
atasan, otonomi, dan kesempatan pengembangan kompetensi dapat meningkatkan
employee engagement, motivasi, dan perilaku inovatif. Dengan demikian, model
JDR menyediakan kerangka teoritis yang kuat untuk menjelaskan mengapa
karyawan mampu menunjukkan perilaku inovatif secara konsisten dan
berkelanjutan

Self efficacy terhadap perilaku kerja inovatif.


Dalam studi sebelumnya pada penelitian Dewa Nyoman dan
Komang Ardan (2016) telah ditemukakan bahwa berdasarkan hasil
dari uji regresi linier berganda nilai Sig. pada variabel self efficacy
sebesar 0,000 dan lebih kecil dari alpa 0,05. Sehingga hasil ini
memberikan bukti bahwa self efficacy memiliki pengaruh yang
signifikan dan positif terhadap perilaku kerja inovatif karyawan.
Dengan semakin tinggi self efficacy yang dihasilkan individu maka
semakin tinggi pula perilaku kerja inovatif yang timbul pada diri
karyawan. Hasil penelitian pun diperkuat oleh penelitian terdahulu
pada hasil penelitian Hsi-Chi Hsiao et al., (2011),
Wahyuningrum,dkk. (2012), dan Momeni et al., (2014) yang
menyatakan bahwasannya self efficacy memiliki pengaruh positif
terhadap perilaku kerja inovatif.

Budaya organisasi islami terhadap perilaku kerja inovatif
Dalam penelitian Bondan Ndaru (2014) menyatakan hasil
bahwasannya budaya organisasi memiliki pengaruh signifikan
terhadap perilaku kerja inovatif dengan hasil t-statistik sebesar
(2,756)>t-tabel (1,671). Maka hasil ini memberikan artian bahwa

dengan adanya budaya organisasi yang kuat bahwa akan membuat
karyawan untuk dapat berfikir, berbuat, berprilaku sesuai yang telah
ditetapkan ada pada organisas. Sehingga kesesuaian yang terbentuk
dari masing-masing individu karyawan didalam suatu organisasi akan
mendorong mereka untuk dapat berperilaku inovatif dalam bekerja.
Hasil olah data dari penelitian terdahulu diatas diperkuat oleh hasil
penelitian yang dilakukan oleh Desphande and Farley (2004), Hult et
al. (2004) di dalam penelitian Bondan (2014) bahwasannya
keterkaitan budaya organisasi merupakan determinan utama bagi
perilaku kerja inovatif, juga menekankan pada aspek lingkungan pada
organisasi yang berorientasi pada budaya riset dan pengembangan
sebagai faktor penting perusahaan dalam menghadapi persaingan

Self efficacy terhadap budaya organisasi islami


Self efficacy merupakan kepercayaan yang muncul dari dalam diri
individu akan kemampuannya dalam menjalankan tugasnya agar
mencapai tujuannya (Venna et al, 2017:164). Faktor dari self efficacy
salah satunya yaitu faktor budaya, budaya dapat memberikan
pengaruh kepada self efficacy melalui nilai, kepercayaan dan proses
pengaturan diri yang memiliki fungsi sebagai sumber penilaian self
efficacy juga sebagai keyakinan akan self efficacy. Jika di dalam
organisasi terdapat budaya organisasi yang berlandaskan islami dan
membawa dampak positif dalam perusahaan maka akan mampu
meningkatkan self efficacy dalam bekerja. Sehingga dari budaya
organisasi islami yang positif didalam organisasi tentunya akan
menambah kepercayaan diri pada karyawan dalam mengapresiasikan
pendapatnya. Dalam penelitian Kwan dan Eddy (2013) menunjukkan
bahwa adanya pengaruh positif dari budaya organisasi dan self
efficacy karyawan melalui pengujian inner model menunjukkan
sebesar 0,535. Dengan adanya budaya organisasi dalam perusahaan
dapat memberikan dampak pada karyawan dengan merasa turut
terlibat menjadi bagian dari organisasi sehingga dengan keterlibatan
tersebut memberikan dorongan pada rasa kepercayaan individu dalam
bertindak.

Menurut Muhammad (2004:263) adapun manfaat budaya organisasi
islami bagi berbagai pihak terkait yaitu sebagai berikut:
1) Bagi karyawan muslim. Dapat memberikan dorongan dalam hal:
a) Kesempatan berperan
b) Berprestrasi
c) Aktualisasi diri
d) Mendapatkan pengakuan
e) Penghargaan
f) Kebanggaan kerja
g) Rasa ikut memiliki dan bertanggung jawab
h) Meningkatkan memimpin dan
i) Memecahkan masalah
2) Bagi perusahaan tempat bekerja. Budaya organisasi islami dan
perusahaan akan mampu:
a) Meningkatkan kerjasama
b) Mengefektifkan koordinasi
c) Integrasi dan singkronisasi
d) Memperlancar komunikasi dan hubungan kerja
e) Menumbuhkan kepemimpinan yang partisipatif
f) Mengeliminasi hambatan psikologis dan kultural
g) Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan
h) Mendorong kreativitas karyawan

Indikator dalam budaya organisasi islami


Menurut Muhammad (2004:264) indikator dalam nilai-nilai budaya
kerja islami yaitu:
1) Komitmen dan konsisten. Dalam bekerja karyawan harus
menjaga komitmen dalam perjanjian kerja serta menaatinya
dengan menjaga konsistensi dalam bekerja.
2) Wewenang dan tanggungjawab. Menjaga tanggung jawab
merupakan nilai yang harus dipegang teguh setiap karyawan
agar tidak terjadi penyelewengan dalam bekerja.
3) Keikhlasan dan kejujuran. Dalam bekerja harus memunculkan
niat yang ikhlas dengan pengharapan Ridho Allah semata
dengan bekerja penuh kejujuran yang utama.
4) Kreativitas dan kepekaan. Dalam bekerja diharuskan setiap
karyawan memiliki kreativitas dalam bekerja sehingga mampu
menghadapi persaingan di dunia luar serta menjaga kepekaan
dengan setiap rekan kerja.
5) Kepemimpinan dan keteladanan. Dalam bekerja kepemimpinan
dengan memegang teguh nilai islami bersumber dari Rasulullah
SAW merupakan keteladanan yang wajib dicontoh.
6) Kebersamaan dan dinamika kelompok. Dalam bekerja menjaga
kebersamaan dalam menghadapi kesulitan menjadi kunci utama
agar terus terjalin komunikasi yang baik antar kelompok.
7) Keakurasian dan kecepatan. Dalam bekerja kecepatan dan
keakurasian menjadi keharusan dan harus dipertahankan agar
terus bergerak mencapai tujuan yang diinginkan.
8) Rasionalitas dan kecerdasan emosi. Dalam bekerja karyawan
dengan pikiran emosional dan rasional sangat berkaitan erat
saling melengkapi, emosi memberikan masukan dan informasi
kepada pikiran rasional.
9) Keteguhan dan ketegasan. Dalam bekerja karyawan seharusnya
teguh dalam memegang prinsip tetapi tetap luwes dalam
mengoreksi kesalahan dan tidak ragu-ragu.
10) Disiplin dan keteraturan kerja. Dalam bekerja karyawan
diwajibkan menjaga kedisiplinan dalam bekerja ini merupakan
contoh karyawan yang siap untuk bekerja dengan teratur sesuai
dengan peraturan yang ada dalam perusahaan.
11) Keberanian dan kearifan. Dalam bekerja penting menjunjung
tinggi keberanian dalam mengemukakan pendapat jika benar
dan jika salah menghindari kemungkaran terjadi disekelilingnya
dalam bekerja.
12) Dedikasi dan loyalitas. Dalam bekerja penting perlunya loyalitas
karyawan dalam bekerja dengan mencurahkan seluruh keahlian
yang dimilikinya dengan dedikasi penuh pada pekerjaannya.
13) Semangat dan motivasi. Dalam bekerja karyawan perlu menjaga
semangat serta motivasi yang tinggi agar dapat memberikan
dorongan dalam bekerja.
14) Ketekunan dan kesabaran. Dalam bekerja semua butuh proses
yang tidak instan butuh pengorbanan, kesabaran diimbangi
dengan ketekunan yang menjadikan pekerjaan menjadi
15) Keadilan dan keterbukaan. Dalam bekerja Rasulullah pun
menerapkan keadilan dalam bekerja serta bersikap keterbukaan
yang terus dipertahankan.
16) Penguasaan ilmu dan teknologi. Dalam bekerja tantangan terus
ada dengan perkembangan teknologi menjadikan karyawan
harus mampu menguasai ilmu yang mendalam dan teknologi
sebagai pendamping yang bersatu padu.

Pengertian budaya organisasi islami


Menurut Robbins dan Judge (2008) budaya organisasi
merupakan sebuah sistem dimana para anggota organisasi
menganutnya bersama sehingga membedakan organisasi tersebut
dengan organisasi lainnya. Sedangkan menurut R.Denison dalam
Umam (2010) mengatakan bahwa budaya organisasi merupakan
nilai-nilai, keyakinan, dan prinsip-prinsip dasar yang merupakan
sebagai landasan serta perilaku yang gunanya untuk meningkatkan
atau menguatkan dari prinsip-prinsip tersebut. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa budaya organisasi islami menurut Diah (2015)
yaitu suatu sistem makna dengan nilai-nilai, kepercayaan yang
berdasarkan pada nilai islami yang dianut didalam organisasi
tersebut menjadi sebuah rujukan dalam bertindak serta
membedakan dengan organisasi lainnya

Karakter individu dengan perilaku kerja inovatif


Menurut George dan Zhou (2001) dalam Sujarwo (2017)
menyatakan tentang karakter dari individu yang memiliki perilaku
kerja inovatif ada beberapa karakter yaitu,
1) Mencari tahu teknologi baru, proses, teknik dan ide-ide baru.
2) Menghasilkan ide-ide kreatif
3) Memajukan serta memperjuangkan ide-ide tersebut ke orang
lain.
4) Meneliti serta menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk
mewujudkan ide-ide baru.
5) Mengembangkan rencana serta jadwal yang matang untuk dapat
merealisasikan ide baru tersebut

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kerja inovatif


Menurut Etikariena dan Muluk (2014) dalam Bobo (2017) ada
beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku kerja inovatif
yaitu:
1) Faktor Internal
a) Tipe Kepribadian
Individu yang memiliki tipe kepribadian ialah
individu yang mampu serta berani menanggung resiko
terhadap perilaku inovatif yang dibuat. Sehingga orang
yang menyatakan dirinya mampu akan dengan mudah
untuk munculnya perilaku kerja inovatif.
b) Gaya individu memecahkan masalah.
Individu yang mempunyai gaya dalam pemecahan
masalah bersifat intuitif dapat memberikan ide sehingga
menghasilkan solusi yang baru. Individu seperti ini dapat
dengan mudah menyesuaikan beradaptasi dengan cepat
akan kondisi yang terjadi untuk dapat memecahkan
masalah yang terjadi didalam lingkungan kerja.
2) Faktor Eksternal
a) Kepemimpinan
Jika bawahan yang kurang menjaga hubungan baik antar
bawahan dan atasannya, hal ini dapat menjadikan perilaku
inovatif individu kurang terlihat, tetapi jika individu
karyawan memiliki hubungan baik dengan atasannya, maka
dapat memunculkan perilaku inovatif pada diri karyawan.
b) Dukungan dalam berinovasi
Dukungan yang berasal dari orang-orang sekitar dapat
membantu individu karyawan dalam berperilaku inovatif,
tetapi bukan hanya dukungan dari orang dalam pun bisa
memunculkan perilaku inovatif bagi karyawan tersebut.
Sehingga dukungan orang sekitarnya bekerja seperti rekan
kerja sangat mampu untuk individu berinovatif karena
lingkungan sekitarnya mendukung dirinya.
c) Tuntutan dalam pekerjaan
Tuntutan pekerjaan berasal dari perusahaan tempatnya
bekerja yang cenderung memicu semangat karyawan dalam
berperilaku inovatif, sehingga menjadi sebuah dorongan
tersendiri bagi karyawan. Akibat yang muncul dari adanya
adanya tuntutan pekerjaan yang tinggi adalah berperilaku
inovatif.
d) Iklim psikologis
Iklim psikologis menunjukkan bagaimana lingkungan
tempatnya bekerja dipersiapkan dan di interpretasikan oleh
karyawan

Indikator perilaku kerja inovatif


Indikator perilaku kerja inovatif menurut Jenssen (2000) dalam
Aditya dan Ardhana (2016) terdiri dari beberapa indikator yaitu,
1) Generasi ide (idea generation)
Indikator ini mengacu pada pengembangan serta dari
penggunaan ide-ide yang memberi banyak manfaat bagi
organisasi sendiri. Indikator ini dapat diukur dari tanggapan
responden terhadap upayanya dalam mencari metode kerja yang
baru. Dalam bekerja individu dapat mencari metode kerja yang
baru yang dapat meningkatkan kinerjanya agar bermanfaat bagi
perusahaan.
2) Promosi ide (idea promotion)
Indikator ini mengacu pada perilaku individu yang
bertujuan menjual ide inovatifnya pada rekan kerjanya ataupun
pada atasannya sekalipun. Pada indikator ini dapat diukur dari
bagaimana tanggapan dari responden pada upayanya untuk
mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak seperti atasan
ataupun rekan kerjanya sehingga ide inovatif yang dimiliki
individu dapat tersampaikan. Dapat mengkonsultasikan ide baru
nya hingga membicarakannya kepada atasan akan ide barunya
yang membawa manfaat agar dapat diterapkan di lingkungannya
bekerja.
3) Impelementasi ide (idea implementation)
Indikator mengacu pada penyertaan perilaku individu yang
mengarah untuk realisasi serta pengaplikasian ide atau
gagasannya di tempatnya bekerja. Pada indikator ini dapat
diukur dari tanggapan responden terhadap bagaimana cara
individu untuk mewujudkan ide-ide barunya tersebut menjadi
aplikasi atau program yang dapat digunakan. Ide baru yang telah
diajukan sehingga dapat diterapkan didalam lingkungannya
bekerja serta membawa manfaat bagi sekitar.
Dari indikator perilaku kerja inovasi diatas menurut Jenssen
(2000) yang telah diuraikan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
indikator perilaku kerja inovasi dibagi menjadi beberapa indikator
yaitu generasi ide (idea generation), promosi ide (idea promotion), dan
impelementasi ide (idea implementation)

Pengertian perilaku kerja inovatif


Menurut Farr dan Ford dalam Wardhani dan Gulo (2017)
menyatakan bahwa perilaku kerja inovatif yaitu bentuk perilaku
dengan tujuan untuk mencapai inisiasi serta pengenalan suatu ide,
proses, prosedur maupun produk baru yang berguna bagi
organisasi. Menurut Inkeles, et al dalam Wardhani dan Gulo (2017)
mengartikan sebagai bagian proses dari modernisasi yang dikaitkan
pada perilaku kerja inovatif sebagai bagian dari proses perubahan
dalam kehidupan masyarakat, dengan diikuti oleh perubahan sikap,
sifat serta gaya hidup individu dalam bermasyarakat. Menurut
West dan Farr (1989) dalam Wardhani dan Gulo (2017) perilaku
kerja inovatif yaitu penemuan, pengalaman serta pengaplikasian
dari ide, proses, produk dan prosedur yang baru lalu digunakan ke
dalam organisasi untuk mendapatkan manfaat terhadap performa
kerja, kelompok kerja, organisasi dan masyarakat luas. Jadi dapat
disimpulkan bahwa perilaku kerja inovatif merupakan suatu bentuk
perilaku individu akan penemuan, pengalaman dengan
mengimplementasikan ide-ide, gagasan, proses, produk, hingga
prosedur baru untuk digunakan dalam organisasi serta berguna

Dimensi self efficacy


Dimensi self efficacy menurut Bandura dalam Ismail (2016:39)
memiliki tiga dimensi yaitu,
1) Tingkat (level).
Yaitu persepsi diri individu tentang kemampuannya untuk
memperoleh tingkah laku atau perilaku yang akan diukur
dengan tingkat tugas yang menunjukkan variasi kesulitan
tugas. Maka dengan tingkatan kesulitan yang dimiliki akan
mampu mengindikasi dimensi kecerdikan, tenaga, serta akurasi
yang dibutuhkan untuk menyebutkan beberapa dimensi
perilaku kerja. Jika individu karyawan yang memiliki self
efficacy yang tinggi akan mampu bahwa dirinya yakin dapat
menyelesaikan tugas yang sulit sedangkan jika individu
memiliki self efficacy yang rendah memiliki keyakinan bahwa
dirinya hanya mampu menyelesaikan tugas yang mudah saja.
2) Keluasan (generality).
Yaitu individu menilai keyakinannya berfungsi di berbagai
kegiatan tertentu. Dimensi ini berkaitan dengan bagaimana
penguasaan individu dengan bidang atau tugas pekerjaan.
Maka jika individu dengan self efficacy yang tinggi mampu
menguasai beberapa bidang sekaligus untuk dapat
menyelesaikan suatu tugas. Sedangan jika individu dengan self
efficacy yang rendah hanya menguasai sedikit bidang yang
diperlukan dalam menyelesaikan tugas karena rendahnya
penguasaan individu terhadap beberapa bidang pekerjaan.
3) Kekuatan (strenght).
Yaitu pada dimensi ini lebih menekankan pada tingkatan
kekuatan atau kemantapan individu terhadap keyakinannya.
Maka Self efficacy menjadi dasar dalam melakukan usaha yang
keras, bahkan jika menemukan hambatan-hambatan dalam
pekerjaan. Jika individu karyawan yang memiliki tingkat
kekuatan yang tinggi dengan memiliki keyakinan diri kuat
akan kompetisi maka karyawan tidak akan mudah untuk
menyerah, putus asa atau frustasi dalam menghadapi hambatan
serta memiliki kecenderungan untuk menadaptkan
keberhasilan yang lebih besar dibandingkan dengan individu
yang memiliki kekuatan yang rendah

Pengertian Self efficacy


Menurut Bandura (1997) dalam Ismail (2016) Self efficacy
merupakan sebagai keyakinan diri dari individu akan kemampuannya
untuk mengorganisasikan serta melakukan tindakan atau sikap yang
dianggap perlu agar mencapai hasil yang diinginkan. Menurut Baron
dan Byrne (1991) dalam Al Musadieq (2016) efikasi diri (self efficacy)
sebagai evaluasi individu mengenai kemampuan atau kompetensi
dirinya untuk melakukan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi
hambatan. Keitner dan Kinicki (2003) dalam Venna, Endang dan
Cahyo (2017) self efficacy adalah keyakinan seseorang mengenai
peluangnya untuk berhasil mencapai tugas tertentu. Jadi dapat
disimpulkan bahwa efikasi diri (self efficacy) adalah kemampuan
individu untuk dapat meyakinkan dirinya bahwa dirinya mampu
melakukan sesuatu. Dalam konteks penelitian ini yang akan diteliti
adalah peranan dari self efficacy dari individu karyawan, sehingga
nantinya peneliti akan mencari tahu kemampuan individu dalam
meyakinkan dirinya dalam mengerjakan tugas sehingga harapannya
ketika ada self efficacy dari dalam individu karyawan maka individu
akan lebih mampu untuk berinovasi

Hubungan antara Psychological Capital dan Budaya organisasiTerhadap Perilaku Kerja Inovatif

Menurut Li & Zheng (2014), perilaku kerja inovatif dipengaruhi oleh
dua faktor, yaitu faktor individual dan faktor organisasi. Modal psikologi
merupakan salah satu dari faktor individual yang membentuk sebuah
inovasi dalam bekerja. Dan faktor organisai salah satu contohnya adalah
budaya organisasi, dimana ketika budaya di organisasi tersebut
mendukung maka perilaku kerja inovatif pun ikut meningkat

Hubungan antara Psychological Capital dan Budaya organisasiTerhadap Perilaku Kerja Inovatif


Menurut Li & Zheng (2014), perilaku kerja inovatif dipengaruhi oleh
dua faktor, yaitu faktor individual dan faktor organisasi. Modal psikologi
merupakan salah satu dari faktor individual yang membentuk sebuah
inovasi dalam bekerja. Dan faktor organisai salah satu contohnya adalah
budaya organisasi, dimana ketika budaya di organisasi tersebut
mendukung maka perilaku kerja inovatif pun ikut meningka

Hubungan Budaya Organisasi dengan Perilaku Kerja inovatif


Kreativitas dan inovasi merupakan hal yang memiliki kaitan dengan
pengelolaan sumber daya manusia pada organisasi. Secara eksplisit
berfokus pada interaksi dinamis antara pengembangan individu dalam
keterampilan berfikir kreatif dan budaya organisasi yang mendukung,
melalui peningkatan praktek dalam manajemen sumber daya manusia
dalam organisasi yang mendasarkan pada nilai objektifitas didalam
lingkungan organisasi (Prayudhayanti, 2014) . Hal ini menunjukkan
adanya keterkaitan antara perilaku kerja inovatif pada guru dengan budaya
organisasi yang terjadi pada instansi

Hubungan Psychological Capital dengan Perilaku Kerja Inovatif


Pada faktor individu, secaara psikologis individu yang bersedia
untuk menerima resiko akan kegagalan dalam berinovasi. Hal ini berkaitan
dengan karakteristik psikologis mereka. Maka dari itu, individu yang
memiliki psychological capital yang tinggi akan memiliki perilaku yang
lebih inovatif (Ratnaningsih et al., 2016)

Elemen Budaya Organisasi


Menurut Deninson (2009) elemen budaya dalam organiasi, antara
lain : nilai-nilai, keyakinan, prinsip dasar, serta praktek-praktek
manajemen dan juga perilaku. Terlepas akan adanya seberapa banyak
elemen menurut para ahli, secara umum elemen budaya organisasi
terdiri dari dua elemen pokok, yaitu:
1) Elemen Behavioural
Merupakan elemen yang kasat mata atau terlihat dalam
bentuk perilaku sehari-hari para anggotannya, logo atau jargon,
cara berkomunikasi, cara berpakaian, ataupun cara bertindak yang
dapat dipahami oleh individu diluar organisasi. Bagi individu
diluar organisasi elemen tersebut dianggap sebagai representasi
dari budaya sebuah organisasi sebab elemen ini mudah diamati,
dipahami, dan diinterpretasikan.
2) Elemen Idealistik
Elemen idealistik dinyatakan secara formal dalam bentuk
penyataan visi dan misi organisasi, tujuan dari elemen ini agar
ideologi dari organisasi tetap berlanjut.
d. Indikator budaya organisasi
Menurut Schein (2012)budaya organisasi kedalam beberapa level,
yaitu:
1) Artifak (artifact), tingkat pertama dalam budaya organisasi yang
tampak (visible) atau permukaan (surface). Level ini merupakan
dimensi yang dapat dilihat, didengar, dirasakan ketika seseorang
masuk pada suatu organisasi dengan budaya yang kurang dikenal.
Seperti produk, sejarah organisasi, arsitektur, mitos, teknologi, dan
cara berpakaian.
2) Nilai-nilai (espoused values), tingkatan kedua dalam budaya
organisasi yang tidak tampak (invisible). Yaitu nilai-nilai yang
diekspresikan oleh seluruh anggota organisasi. Tingkatan budaya
ini dapat diukur dengan perubahan-perubahan yang berada pada
organisasi.
3) Asumsi Dasar (basic underlying assumptions), tingkatan ini yang
paling mendalam yang mendasari pada nilai-nilai yaitu keyakinan
(beliefs), yang terdiri dari berbagai asumsi dasar. Asumsi dasar
mencakup pada hubungan dengan lingkungan, hakikat manusia,
hakikat mengenai aktivitas manusia dan hakikat pada hubungan
antar manusia

Fungsi Budaya Organisasi


Menurut Robbins et al., (2013), mengemukakan lima fungsi
utama dari budaya dalam organisasi sebagai berikut:
1) Budaya organisasi berfungsi sebagai pembeda, hal itu berarti
bahwa budaya yang ada dalam organisasi menciptakan perbedaan
dengan organisasi lainnya.
2) Budaya memberikan akan rasa identitas ke anggota-anggota
organisasi
3) Budaya mempermudah timbulnya sebuah komitmen pada sesuatu
yang lebih luas daripada kepentingan akan diri sendiri.
4) Budaya meningkatkan kemantapan akan sistem sosial. Budaya
merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan
organisasi dengan memberikan standar-standar yang tepat
mengenai apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para
karyawan
5) Budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan
mekanisme pengendali yang memandu dan membentuk sikap serta
perilaku karyawan

Definisi Budaya Organisasi


Pengertian budaya dan organisasi secara parsial mempunyai
pengertian yang berbeda dan budaya organisasi sendiri mempunyai
pengertian yang berbeda pula. Budaya merupakan sebuah konsep
penting dalam memahamo sebuah masyarakat dan kelompok manusia
untuk jangka waktu yang lama. Budaya sendiri merupakan
kompleksitas atau asumsi akan tingkah lau, cerita, metafora, dan
bermacam-macam ide lainnya yang menjadi satu kolektif dalam
menentukan arti menjadi anggota masyarakat tertentu(Stoner, 1995).
Hofstede dalam Wilson Bangun (2012), mengartikan budaya
sebagai pemrogaman kolektif atas pemikiran yang membedakan
anggota-anggota suatu kategori orang dari kategori lainnya. Maka
budaya dapat diartikan sebagai pola pikir dan perilaku efektif dan
efisien yang dilakukan secara berulang terus menerus untuk mencapai
tujuan. Karena efektif dan efisien juga diulang secara terus menerus
sehingga membentuk karakter (watak). Pola pikir yang diulang terus
menerus karena diyakini sebagai bentuk kebenaran maka akan
menjadikannya sebuah nilai (value) dan ideologi untuk diperjuangkan,
sedangkan pola perilaku yang berulang secara terus menerus maka
membentuk norma untuk mengatur, mengarahkan, dan mengendalikan
perilaku individu. Adapun konsep organisasi sendiri menurut Kast dan
James E. Rosenzweig (2002),bahwa organisasi diartikan sebagai
berikut:
1) Suatu subsistem dari lingkungan yang lebih luas
2) Segala pengaturan yang berorientasi pada sasaran orang dan tujuan
yang meliputi
3) Suatu subsistem teknik, dimana orang akan memakai pengetahuan,
teknik, peralatan, dan fasilitas
4) Suatu subsistem struktur, dimana orang akan bekerja sama dalam
aktivitas yang terpadu
5) Suatu subsistem psikososial, dimana adanya hubungan sosial
antara individu dengan individu lainnya
6) Subsistem manajerial perencanaan, pelaksanaan, pengawasan
dalam setiap segala usaha yang dilakukan
Organisasi yang dimaksud disini berkaitan dengan segi sosial,
karena subjeknya sendiri merupakan manusia yang disatukan oleh nilai-
nilai tertentu. Nilai tersebut merupakan esensi akan moralitas kehendak
untuk memenuhi tanggung jawab manusia, baik yang dilakukan dalam
lingkup organisasi formal maupun organisasi non formal.
Budaya organisasi adalah sebuah persepsi umum yang dipegang
oleh anggota organisasi, dan suatu sistem tentang kebeartian bersama
(Robbins, 2010). Sedangkan Mangkunegara (2009) budaya organisasi
merupakan seperangkat asumsi atau sistem akan keyakinan, nilai-nilai,
dan norma yang dikembangkan dalam organisasi lalu dijadikan sebagai
pedoman tingkah laku bagi anggota-anggota untuk mengatasi masalah
adaptasi internal dan eksternal.
Dalam pengertian lainnya budaya organisasi adalah sebagai
aturan main yang menjadi pegangan atau pedoman dari masyarakat
organisasi dalam menjalankan kewajibannya dan nilai-nilai untuk
berperilaku didalam organisasi. Budaya organisasi dibentuk untuk
dijadikan sebagai nilai-nilai, yang menjadi pedoman dalam berprilaku
dalam lingkup organisasi.
Dari beberapa definisi diatas maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa budaya organisasi sesungguhnya tumbuh karena diciptakan dan
dikembangkan oleh individu yang ada dalam organisasi, dan diterima
sebagai nilai (value) yang harus dipertahankan dan diturunkan kepada
setiap anggota organisasi baru. Nilai (value) tersebut digunakan sebagai
pedoman bagi setiap anggota dan dapat dianggap sebagai ciri khas yang
membedakan satu organisasi dengan organisasi lainnya

Aspek-aspek Psychological Capital


Luthans et al, (2007) menyatakan bahwa Psychological Capital
memiliki beberapa karakteristik dalam diri individu yaitu:
1) Self-efficacy (Efikasi diri)
Self-efficacy merupakan kepemilikan akan rasa yakin dalam
mengambil setiap kesempatan sebagai bentuk usaha untuk
mencapai sebuah kesuksesan didalam tugas yang menantang.
Seorang individu yang memiliki sifat seperti ini akan membuat
individu lebih merasa percaya diri, contohnya ketika guru merasa
percaya diri terlibat dalam diskusi mengenai strategi pembelajaran
yang efektif sehingga membuat individu berkontribusi dalam
lingkungan kerja.
2) Hope (Harapan)
Hope yaitu memiliki ketekunan untuk mencapai tujuan,
mampu melihat sebuah peluang yang dapat dicapai, dan
memunculkan harapan dalam mencapai keberhasilan. Contohnya,
individu memandang adanya banyak jalan keluar setiap adanya
masalah. Sehingga individu dengan tenang mengatasi
permasalahan yang dihadapi.
3) Resiliency (Ketahanan)
Resiliency yaitu kemampuan individu dalam mengatasi
tantangan hidup dan mempertahankannya. Ketika individu
mengalami masalah maka individu dapat mengatasinya, dan
memecahkan masalah tersebut untuk melakukan perubahan ke arah
yang lebih baik dan mencapai kesuksesan. Contohnya, ketika
individu dihadapkan pada keadaan masa-masa sulit dalam
pekerjaannya maka individu tersebut mampu mengatasinya.
4) Optimism (Optimisme)
Optimisme yaitu kemampuan menciptakan sebuah atribut
yang positif dalam diri individu tentang kesuksesan dalam tugas
yang menantangnya. Contohnya, individu beranggapan jika terjadi
hal-hal yang tidak pasti dalam pekerjaannya maka individu
mengharapkan hal tersebut merupakan yang terbaik untuk dirinya,
dan individu akan mengambil hikmah dari setiap masalah dan
menjadikannya sebuah pembelajaran untuk perubahan yang lebih
baik

Definisi Psychological Capital


Psychological capital atau lebih dikenal dengan sebutan PsyCap,
merupakan konsep dalam level individu yang bertujuan untuk
mendorong pertumbuhan dan kinerja pada individu. Sedangkan dalam
level organisasi mendorong organisasi memperoleh keuntungan
kompetitif melalui kinerja karyawan (Luthans & Avolio, 2003).
Psychological capital merupakan keadaan psikologis yang positif yang
dicirikan adanya keyakinan diri bahwa individu tersebut dapat
mencapai tujuannya melalui kemampuan kognitif yang ada dalam diri
individu untuk melakukan sebuah aksi yang tepat, belajar dari orang
lain, belajar dari pengalaman yang dimiliki dan menetapkan pada tujuan
yang dimiliki (Adiwibawa, 2014).
Luthans et al., (2007) mendefinisikan modal psikologi sebagai
berikut:
“PsyCap is an individual’s positive psychological state of development
and is characterized by: (1) Having confidence (self-efficacy) to take
on and pit in the necessary effort to succeed at challenging task; (2)
Making a positive attribution (optimism) about succeeding now and in
the future; (3) Persevering toward goals and, when necessary,
redirecting paths to goals (hope) in order to succeed, and (4) When
beset by problems and aversity, sustaining and bouncing back and even
beyond (resiliency) to attain success”.
Berdasarkan kutipan diatas maka dapat diartikan bahwa modal
psikologis sebagai suatu perkembangan keadaan psikologis yang positif
pada individu yang ditandai dengan memiliki keyakinan (self efficacy)
untuk memilih dan upaya yang dibutuhkan agar berhasil dalam tugas
yang menantang. Selanjutnya, membuat atribut positif (optimism)
tentang keberhasilan pada masa kini dan masa yang akan datang.
Memiliki ketekunan dalam mencapai tujuan dan, perlu mengalihkan
cara untuk mencapai tujuan (hope) dalam mencapai keberhasilan.
Kemudian, ketika terjadi sebuah masalah dan kesulitan, diharapkan
mampu bertahan dan “memantul kembali” bahkan melampui ketahanan
(resiliency) untuk mencapai keberhasilan.
Berdasarkan dari beberapa definisi maka dapat disimpulkan
bahwa modal psikologis adalah kondisi perkembangan psikologis
seseorang yang positf dan memiliki beberapa karakteristik. Selain itu
sifat dari modal psikologis adalah terbuka terhadap perubahan dan akan
terus berkembang

Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Kerja Inovatif


`Tercapainya sebuah perilaku inovatif dipengaruhi oleh berbagai
faktor, baik dari dalam individu maupun dari lingkungan organisasi. Li
dan Zheng (2014) menyatakan terdapat dua faktor yang dapat
memunculkan perilaku inovatif pada diri seseorang, yaitu:
1) Faktor Internal
Faktor internal yang dapat menimbulkan perilaku inovatif
berasal dari sifat yang dimiliki oleh individu untuk ikut serta dalam
memunculkan perilaku inovatif. Kemampuan individu dalam
berinovasi dapat dilihat dari sifat yang ada dalam individu, seperti
psychologi capital (modal psikologi) merupakan modal positif bagi
individu, seperti sifat optimisme, efikasi diri, resiliensi dan
harapan. Sifat positif tersebut mendorong individu untuk
berperilaku inovatif.
2) Faktor eksternal
Faktor eksternal yang mampu menimbulkan perilaku
inovatif pada individu merupakan faktor yang mengacu pada
kondisi lingkungan tempat individu bekerja, kondisi lingkungan,
serta budaya yang ada pada organisasi individu bekerja. Budaya
yang ada di organisasi sangat besar pengaruhnya terhadap
pembentukan pribadi seseorang, karena budaya organisasi ikut
merangsang tumbuhnya kreativitas sehingga menumbuhkan
perilaku kerja inovatif dari anggota organisasi.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat dua faktor yang dapat memunculkan perilaku inovatif, yaitu
faktor internal yang berasal dari dalam diri individu dan faktor eksternal
yang berasal dari lingkungan. Penelitian ini berfokus pada faktor yang
disampaikan Li & Zheng (2014) Kedudukan budaya organisasi terletak
pada faktor eksternal, sedangkan kedudukan modal psikologis terletak
pada faktor internal dari dalam diri individu

Aspek-Aspek Perilaku Kerja Inovatif


Menurut De Jong dan Hartog (2008), terdapat empat indikator
perilaku kerja inovatif yaitu:
1) Idea Exploration (Pengekplorasian Ide)
Perilaku untuk mempelajari akan adanya peluang baru
dengan mengidentifikasi peristiwa yang telah terjadi,
mengidentifikasi teka-teki yang perlu untuk dipecahkan, dan
mengindentifikasi pemicu terjadinya masalah yang membutuhkan
penyelesaian.
2) Idea Generation (Pemunculan Ide)
Perilaku dalam pemunculan ide dan mampu
mengembangkan ide inovasi dengan menciptakan dan
menyarankan ide untuk menemukan proses baru.
3) Ide Championing (Mewujudkan Ide)
Upaya untuk mewujudkan sebuah ide-ide kreatif dan
merealisasikan dalam bentuk pekerjaan. Dalam hal ini individu
diharapkan terdorong untuk mencari dukungan dalam mewujudkan
ide dengan inovasi baru yang telah dihasilkan.
4) Ide Implementation (Pengaplikasian Ide)
Perilaku untuk menerapkan ide baru tersebut kedalam
proses kerja yang biasa dilakukan, serta tindakan untuk
mengembangkan, menguji coba, dan mengkomersialisasikan ide-
ide inovatif.
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku
inovatif adalah serangkaian tindakan yang menghasilkan ide atau
gagasan baru yang muncul dari individu yang terarah dan tertuju dalam
mencapai tujuan dari organisasi atau perusahaan. Sehingga seseorang
yang memiliki perilaku inovatif akan berusaha untuk berupaya
memecahkan masalah dengan menggunakan segenap cara yang
berbeda dari orang lain sehingga menghasilkan cara yang efektif dan
efisien

Definisi Perilaku Kerja Inovatif


Perilaku inovatif sangat berhubungan dengan inovasi. Perilaku
inovatif dengan inovasi sendiri berupa perubahan sosial, bedanya
terletak di tekankan pada ciri perubahannya. Inovasi penekanannya
terletak di hal yang dilihat sebagai suatu yang baru dari individu
maupun masyarakat. Sedangkan, perilaku inovatif penekanannya
terletak di sikap yang kreatif terhadap suatu yang berubah dari sesuatu
yang bersifat tradisional menjadi ke sesuatu yang bersifat modern.
Menurut Roger (2009) menyampaikan bahwa inovasi akan
mempunyai batasan sebagai gagasan atau ide, praktek, dan berupa
benda atau objek yang dianggap baru oleh seseorang. Sedangkan
Robbins (2006) menyatakan bahwa inovasi merupakan suatu
pembaharuan, sesuatu penemuan yang baru, berupa ide, cara, alat,
hasil produk atau yang lainnya. Seseorang yang memiliki perilaku
inovatif akan terlihat dan berdampak pada kehidupan sehari-harinya
yang akan memiliki pikiran kritis, akan selalu mengusahakan agar
sesuatu muncul yang baru dari lingkungan sekitarnya.
Menurut Kleysen dan Street (2001) perilaku inovatif berarti
sebagai keseluruhan tindakan dari individu yang mengarah
pemunculan, pengenalan, dan penerapan dari suatu yang baru dan
menguntungkan pada seluruh tingkat organisasi. Perilaku inovatif
berfokus pada proses yang lebih kompleks karena perilaku inovatif
membahas sampai ke penerapan ide-ide yang dihasilkan (Carneli, dkk,
2006). Lebih lanjut lagi George dan Zhou (2001), berpendapat karakter
individu yang memiliki perilaku inovatif yaitu:
1) Berusaha untuk memahami teknologi yang baru, teknik, proses dan
gagasan baru.
2) Berusaha menghasilkan gagasan-gagasan kreatif.
3) Berusaha memperjuangkan dan memajukan ide-ide ke orang lain.
4) Menyediakan sumber daya dan meneliti apa yang diperlukan untuk
mewujudkan ide-ide baru.
5) Mengembangkan rencana dan jadwal yang matang untuk dapat
mewujudkan ide tersebut

Pelatihan Efikasi Diri untuk Meningkatkan Perilaku Kerja Inovatif


Ormrod ( 2008: 21 ) menyatakan bahwa efikasi diri adalah penilaian seseorang
tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan perilaku tertentu atau mencapai
tujuan tertentu. Individu dengan efikasi diri tinggi mampu mencapai keberhasilan
yang tinggi disbanding individu dengan efikasi diri rendah. Hal ini terjadi karena
individu dengan efikasi diri tinggi memiliki aspirasi yang lebih tinggi dan memiliki
kegigihan yang lebih kuat dalam bekerja untuk mencapai sutau tujuan tertentu
( Bandura dalam Feldman, 2012: 187 ).Menurut Mathis ( 2002) Pelatihan adalah suatu
proses dimana orang – orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu
mencapai tujuan organisasi. Pelatihan terkait dengan ketrampilan dan kemampuan
yang diperlukan untuk pekerjaan yang sekarang dilakukan. Pelatihan dilakukan untuk
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan teknis sesuai dengan profesi pada
bidangnya.
Self efficacy merupakan konsep penting dalam manajemen dan organisasi. Asal
self efficacy adalah penelitian dan teori sosial kognitif (Bandura, 1997). Tidak seperti
mengukur persepsi individu dari seluruh kelompok atau organisasi, self efficacy
mengevaluasi persepsi orang dari situasi kerja. Self efficacy mencerminkan keyakinan
seseorang dalam kemampuan untuk melakukan tugas khusus pada proses inovasi
(Luthans et al., 2007). Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa self efficacy
yang lebih tinggi memungkinkan untuk melihat tantangan sebagai sesuatu yang dapat
diatasi dengan kompetensi yang cukup dan usaha sehingga mereka cenderung
memilih untuk mengeksplorasi peluang dan menggenerasikan ide – ide baru untuk
mengatasi hal tersebut. Individu yang memiliki optimism tinggi cenderung akan
bersikap positif untuk berusaha melakukan sebuah perubahan kearah yang lebih baik,
melihat kesempatan – kesempatan di masa depan, dan fokus dalam memgambil
kesempatan – kesempatan tersebut.

Faktor – Faktor yang Memengaruhi Efikasi Diri


Ormrod (2008: 23) menjelaskan empat faktor yang memengaruhi
perkembangan Efikasi Diri, yaitu :
a. Keberhasilan dan Kegagalan pembelajar sebelumnya.
Pembelajar lebih mungkin untuk yakin bahewa mereka bias berhasil
pada suatu tugas tertentu apabila mereka telah berhasl pada tugas tersebut atau
tugas lain yang mirip di masa lalu. Sebagai contoh, Elena mungkin lebih yakin
untuk memelajari soal matematika tentang pengurangan, karena sebelumnya
Elena telah berhasil mempelajari soal pertambahan. Contoh lain, Budi mungkin
saya lebih yakin untuk belajar bulu tangkis, karena sebelumnya iya telah belajar
ping pong. Meski demikian, penelitian harus mampu mengindentifikasi sejauh
mana individu tersebut mampu mempertimbangan antara kesuksesan dan
kegagalan yang sudah terjadi sebelumnya. Berbeda dengan siswa Sekolah Dasar,
Pembelajaran yang memasuki usia remaja lebih mampu mempertimbangkan
suatu pola kesuksesan dan kegagalan jangka panjang.
b. Pesan dari Orang Lain
Salah cara dapat digunakan untuk meningkatkan efikasi diri siswa
adalah dengan menunjukkan hal-hal yang sebelumnya telah mereka lakukan
dengan baik atau hal – hal yang sekatang telah mereka lakukan dengan mahir.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah memberikan alas an – alas an kepada siswa
untuk percaya bahwa mereka dapat sukses dimasa depan. Perkataan seperti “
Kamu pasti bisa mengerjakan tugas Fisika” dapat mendongkrak kepercayaan diri
diri siswa. Namun, pengaruh prediksi optimistic akan cepat hilang kecuali siswa
melakukan usaha yang benar – benar membuat siswa sukses.
c. Kesuksesan dan Kegagalan Orang Lain
Individu seringkali membentuk opini mengenai kemampuannya sendiri
dengan mengamati kesuksesan dan kegagalan orang lain yang serupa dengan
orang tersebut. Dengan cara yang sama, siswa sering mempertimbangkan
kesuksesan dan kegagalan teman sekelasnya, terutama yang kemampuannya
setara, ketika menilai peluang kesuksesan siswa itu sendiri, Ketika siswa meliahat
teman – teman kelas yang kemampuannya setara dengannya dan temannnta itu
suskses, maka siswa juga memiliki alas an untuk optimis dan akan kesusksesan
mereka sendiri. Berlaku sebaliknya, jika siswa melihat teman dengan kemampuan
yang setara gagal, siswa tersebut akan jauh kurang optimis.
d. Kesuksesan dan Kegagalan dalam Kelompok yang lebih besar.
Siswa mungkin memiliki efikasi diri yang lebih besar ketika mereka
bekerja dalam kelompok. Efikasi diri macam ini disebut sebagai efikasi diri
kolektif. Efikasi diri kolektif tergantuk tidak hanya pda persepsi siswa akan
kapabilitasnya sendiri dan orang lain, melaikan juga pada persepsi mereka
mengenai bagaimana mereka dapat bekerja bersama – sama secara kolektif dan
mengkoordinasikan peran serta tanggung mereka.. Anak-anak dan remaja akan
memiliki efikasi diri yang tinggi ketika mereka bekerja dengan kelompok, asalkan
kelompok mereka berfungsi secara lancer dan efektif.
Feist dan Feist (2011: 213) menjabarkan empat faktor yang
memengaruhi efikasi diri, yaitu :
a. Pengalaman Menguasai Sesuatu ( mastery experiences )
Sumber yang paling berpengaruh dari efikasi diri adalah pengalaman
mengenai sesuatu, yaitu performa mas alalu. Secara umum, performa yang
berhasil akan meningkatgkan ekspektasi menegnai kemampuan, kegagalan
cenderung akan menurunkan hal tersebut. Ada enam dampak dari pernyataan
tersebut.
Pertama, performa yang berhasil akan meningkatkan efikasi diri secara
proporsional dengan kesulitan dari tugas tersebut. Sebagai contoh, seoarang
pelajar yang cerdas akan mengalami alami peningkatan efikasi diri dengan
baik bila belajar meghadapi soal dengan kesulitan tinggi dan diimbangi
dengan kegiatan belajar yang setara, Kedua, tugas yang dapat diselesaikan
dengan baik oleh diri sendiri akan lebih efektif daripada yang diselesaikan
dengan bantuan orang lain. Ketiga, saat individu telah berusaha secara
maksimal namun mengalami kegagalan maka kegagalan ini dapat
menyebabkan penurunan efikasi diri. Kegagalan dengan usaha minimal tidak
terlalu berpengaruh terhadap penurunan efikasi diri, tetapi kegagalan yang
disertai usaha maksimal akan berpengaruh terhadap penurunan efikasi diri..
Keempat, kegagalan dalam kondisi rangsangan atau tekanan emosi yang tinggi
tidak terlalu merugikan diri dibandingkan dengan kegagalan dalam kondisi
maksimal. Kelima, kegagalan sebelum mengukuhkan rasa menguasai sesuatu
akan lebih berpengaruh buruk pada rasa efikasi diri daripada kegagalan
setelahnya. Dampak keenam, kegagalan yang terjadi kadang-kadang
mempunyai dampak yang sedikit terhadap efikasi diri, terutama pada individu
yang mempunyai ekspetasi yang tinggi terhadap kesuksesan.
b. Modeling Sosial
Modeling social yaitu penagalaman vikarius adalah factor krdua yang
memengaruhi sefikasi diri. Efikasi diri meningkat saat individu
mengobservasi pencapaian oaring lain yang mempunyai kompentensi yang
setara, namun akan berkurang saat individu melihat rekan sebaya gagal.
c. Persuasi Sosial
Efikasi diri dapat diperoleh atau dilemahkan melalui persuasi social. Ada
tiga kondisi dmana persuasi orang lain dapat meningkatkan atau menurunkan
efikasi diri. Kondisi pertama adalah bahwa individu harus mempercayai pihak
yang melakukan persuasi. Kata – kata atau kritik dari sumber yang terpercaya
mempunyai daya yang lebih efektif dibandingkan dengan hal yang sama dari
sumber yang tidak terpercaya. Pesuasi sosial dapat meningkatkan efikasi diri
secara efektif hanya bila kegiatan yang ingin didukung untuk dicoba berada dalam
jangkauan perilaku seseoarang. Sebanyak apapun persuasi verbal dari orang lain
tidak dapat mengubah penialaian seseorang mengenal kemampuan dirinya untuk
berlari 100 meter dibawah 8 detik.
Kondisi kedua yaitu bahwa daya yang lebih efektif dari sugesti
berhubungan langsung dengan status dan otoritas yang dipersepsikan dari orang
yang melakukan persuasi. Sebagai contoh, saran dari seorang tokoh music
terkenal kepada pemain music pemuala bahwa mereka mampu mempelajari not
balok dalam jangka waktu tiga hari bisa lebih dipercaya diri pada saran dari
seoarang teman.
Kondisi ketiga, persuasi sosial menjadi lebih efektif saat dikombinasikan
dengan performa sukses. Persuasi dapat meyakinkan seseoarang untuk berusaha
dalam suatu kegiatan dan apabila performan yang dilakukan sukses, maka efikasi
akan meningkat karena individu mengalami pencapaina dan penghargaan verbal.
d. Kondisi Fisik dan emosional
Emosi yang kuat biasanya akan mengurangi performa misalnya saat
seseorang mangalami ketakutan atau kecemasan akut. Kondisi emosi seperti ini
akan menimbulkan ekspektasi efikasi diri rendah. Kebanyakan orang saat tidak
tajut, mempunyai kemampuan untuk menaklukkan ular berbisa dengan berhasil.
Untuk menaklukkan ular yang perlu dilakukan ialah memegang kuat tepat
dibelakang kepala ular. Tetapi ketika rasa takut muncul saat seseoarang sedang
berusaha memegang ular, yang terjadi adalah ekspektasi menaklukkan ular orang
tersebut menurun secara drastis.
Menurut Schermerhorn dkk dalam Wibowo (2013: 162 ) ada empat cara
untuk membangun efikasi diri, yaitu :
a. Enactive Mastery;
Mendapatkan kepercayaan melalui pengalaman positif.
b. Vicaroius Modelling;
Mendapatkan kepercayaan dengan melalui mengamati orang lain
c. Verbal Persuation;
Mendapatkan kepercayaan seseorang yang memeritahu kita atau mendorong
kita bahwa kita dapat menjalankan tugas
d. Emotional Arousal;
Mendapatkan kepercayaan ketika kita sangat didorong atau diberi energi untuk
berkinerja baik dalam suatu situasi
Berdasarkan beberapa penjabaran yang telah disampaikan bahwa faktor –
faktor yang memengaruhi efikasi diri adalah pengalaman sebelumnya, pengalaman
vikarius, persuasi sosial, kondisi fisik dan emosional

Dimensi Efikasi Diri


Bandura ( 1997: 42-43 ) menyebutkan bahwa Efikasi Diri terdiri dari tiga
dimensi yaitu :
a. Tingkat Kesulitan ( Level )
Aspek tingkat kesulitan yang dimaksud adalah kesulitan dalam mengerjakan
tugas. Ada perbedaan tingkat diri antara satu individu dengan individu lainnya.
Salah satu yang membedakan Efikasi Diri adalah tingkat kesulitan, Tugas dengan
tingkat kesulitan tertentu dapat menentukan Efikasi Diri seseorang. Saat seseorang
menghadapi tugas yang mudah, tidak menghadapiu kesulitan atau mendapat
rintangan dan masalah, maka sangat mudah bagi seseorang untuk mencapai
Efikasi Diri tinggi. Individu yang mengerjakan tugas dengan kesulitan tinggi
dituntut untuk memiliki Efikasi Diri tinggi, akibatnya individu dengan Efikasi Diri
rendah cebderung menghindari tugas dengan tingkat kesulitan tinggi.
b. Tingkat Kekuatan ( Strenght )
Tingkat kekuatan merupakan aspek efikasi diri yang berkaitan dengan
kekuatan dari keyakinan atau pengharapan individu terhadap kemampuannya.
Keyakinan yang kuat akan mendorong individu untuk terus berupaya mencapai
tujuannya meskipun mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Sebaliknya jika keyakinan yang dimiliki individu lemah akan membuat individu
tersebut mudah goyah oleh pengalaman – pengalaman yang tidak menyenangkan.
c. Generalisasi ( Generality )
Generalisasi merupakan cakupan bidang tugas dimana individu merasa
mampu untuk melakukan tugas. Generalisasi berkaitan dengan apakah seseorang
hanya merasa yakin terhadap kemampuannya pada suatu tugas atau situasi
tertentu pada tugas yang lebih bervariasi. Generalisasi dapat bervariasi pada
beberapa dimensi termasuk didalamnya derajat kesamaan aktifitas, modalitas
dimana kemampuan diekspresikan seperti perilaku, kognisi dan afeksi, fitur
kualitatif dari suatu situasi dan karakteristik orang yang menjadi sasaran perilaku
tersebut.
Pendapat lain tentang dimensi efikasi diri juga disampaikan oleh Adisasmito ( dalam
Raeni dan Purnami, 2013: 40 ) yaitu :
a. Dimensi Tingkat
Dimensi tingkat mengacu pada tingkat kesulitan tugas yang diyakini
seseorang dapat dicapai. Tingkat keyakinan akan memengaruhi dalam pemilihan
aktifitas, jumlah usaha, serta ketahanan dalam menghadapi dan meyelesaikan
tugas yang dilakukan. Hal ini dimaksudkan bahwa seseorang yang mempunyai
tingkat keyakinan tinggi akan mampu menghadapi situasi kompetitif dengan
antusias dan percaya diri.
b. Dimensi Kekuatan
Dimensi kekuatan mengacu pada tingkat keyakinan individu dalam meraih
kesuksesan setiap tugas. Individu dengan dimesi kekuatan yang baik tetap
memiliki keyakinan bahwa individu tersebut mampu untuk memyelesaikan
tugasnya dnegan baik meskipun tugas yang dihadapi sagat berat dan sulit.
c. Dimensi Generalisasi
Dimensi generalisasi mengacu pada keyakinan individu terhadap beberapa
kemampuan tertentu yang dapat diraih dengan sukses dalam berbagai situasi.
Generalisasi pada keyakinan diri menunjukkan tingkat kesempurnaan keyakinan
diri yang tidak dibatasi oleh situasi tertentu

Pengertian Pelatihan Efikasi Diri


Dalam Robbins dan Judge (2017: 142-143 ) pelatihan adalah pengalaman
belajar terstruktur yang dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan
menjadi ketrampilan khusus, pengetahuan atau sikap. Kemampuan tersebut adalah
potensi fisik, mental, atau potensi psikologis. Pelatihan dalam hal ini bertujuan
untuk mengubah kemampuan, pengetahuan dan pengalaman kedalam pekerjaan
khusus yang berhubunban dengan ketrampilan. Pengertian pelatihan menurut
Yukl (1977: 10) adalah semua usaha merencanakan, melaksanakan, evaluasi guna
mempermudah dalam memperoleh kemampuan – kemampuan, pengetahuan,
sikap yang relevan dengan tujuan organisasi. Kegiatan pelatihan mempunyai
tujuan tertentu yaitu untuk meningkatkan kemampuan kerja sehingga
menimbulkan perubahan perilaku aspek – aspek kognitif, ketrampilan dan sikap
( Hamalik, 2005: 12 ). Kemampuan tersebut adalah :
a. Kemampuan membenuk dan membina hubungan antar perorangan
( intra personal )
b. Kemampuan menyesuaikan diri dengan keseluruhan lingkungan kerja
c. Pengetahuan dan kecakapan untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu
d. Kebiasaan, pikiran, dan tindakan serta sikap dalam pekerjaan
Perubahan aspek kognitif yang bertujuan menimbulkan suatu perubahan sangat
dibutuhkan bagi pekerja batik untuk dapat bersaing sehingga perilaku kerja kreatif
dan inovatif dapat terwujud. Self Efficacy yang tinggi diharapkan dapat membentuk
pola berpikir kreatif dan inovatif .
Bandura dalam ( Feist and Feist 2017 : 157 ) mendefinisikan Efikasi Diri sebagai
keyakinan seseorang dalam kemampuannya untuk melakukan suatu bentuk control
terhadap keberfungsian orang itu sendiri dan kejadian dalam lingkungan. Selanjutnya
menurut Baron dan Byrne (dalam Nurlaila 2011: 21-23 ) menyatakan bahwa efikasi
diri adalah suatu penilaian individu terhadap kemampuan dan kompetensinya dalam
melaksanakan suatu tugas dan dalam mencapai suatu tujuan, atau ketika mengatasi
suatu masalah. Efikasi diri yang selanjutnya mengarahkan sesorang dalam merasa,
berpikir, memotivasi dirinya sendiri dan perilaku yang akan dimunculkan. Dalam
kehidupan sehari-hari efikasi diri mengarahkan seseorang untuk menghadapi
tantangan tersebut. Individu dapat memiliki efikasi diri yang tinggi atau rendah.
Individu dengan efikasi diri tinggi akan lebih tekun, sedikit merasa cemas dan tidak
mengalami depresi sedangkan individu yang memilki efikasi rendah memiliki
keterampilan sosial yang kurang, tanggapan terhadap lingkungan disertai kecemasan,
adanya keinginan menghindari interaksi interpersonal serta cenderung lebih depresi.
Seperti yang diungkapkan Bandura ( dalam Ardiyanti & Alsa, 2015: 3-4 )
bahwa bagaimana individu berperilaku tergantung pada resiprokal antara
lingkungan dengan faktor personal individu, khususnya faktor kognitif yang
berhubungan dengan keyakinannya bahwa dia mampu atau tidak mampu
melakukan suatu tindakan untuk mencapai hasil tertentu dengan berhasil (efikasi
diri). Dari sini tampak bahwa perspektif sosial kognitif menempatkan efikasi diri
sebagai salah satu faktor yang memengaruhi perilaku.
Berdasarkan pendapat para ahli tentang Efikasi Diri disimpulkan bahwa
Efikasi Diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan diri sendiri
dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas tertentu.
Dalam penelitian ini, variabel Efikasi Diri sebagai bentuk intervensi
psikologis yang di desain dalam bentuk pelatihan sebagai upaya untuk
meningkatkan perilaku kerja individu lebih inovatif. Pelatihan Efikasi Diri
mengacu pada dimensi Efikasi Diri yang diungkapkan oleh Bandura meliputi :
Dimensi tingkat kesulitan tugas ( Level ), dimensi kekuatan ( strength), dan
dimensi generalisasi ( Generality ). Dengan demikian individu pembatik akan
merasa yakin dengan kemampuan dan usaha – usaha yang dilakukannya sehingga
mampu mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan

Faktor – Faktor yang Memengaruhi Perilaku Kerja Inovatif


Terdapat faktor-faktor yang diperkirakan dapat meningkatkan munculnya
perilaku inovatif karyawan. Nijenhuis (2015) mengemukakan beberapa faktor
eksternal maupun faktor internal yaitu:
a. Faktor Eksternal.
1) Competitive pressures.
Semakin tingginya tekanan untuk berkompetisi mampu mendorong
karyawan untuk bekerja lebih baik dan memiliki efek positif untuk
munculnya perilaku inovatif.
2) Social – Political pressures.
Organisasi yang memiliki dukungan dari pemerintah harus terus memberi
hasil kerja yang memuaskan jika tetap ingin mendapat dukungan. Sehingga
pemimpin dan karyawan harus memuncul perilaku inovasi agar tetap
memberi hasil kerja yang terus berkembang dan lebih baik.
b. Faktor Internal
1) Interaksi dengan atasan (Kepemimpinan)
Karyawan yang memiliki hubungan yang positif dengan atasan mereka
lebih mungkin untuk menunjukkan perilaku inovatif kerja dan mampu
memberi keyakinan bahwa perilaku inovatif mereka akan menghasilkan
keuntungan kinerja. Hubungan yang berkualitas sering ditandai dengan
saling percaya dan menghormati.
2) Interaksi dengan grup rekan kerja
Karyawan yang memiliki hubungan baik dengan rekan kerja lebih mungkin
memudahkan mereka mengimplementasikan ide baru mereka juga
meningkatkan idea generation di dalam sebuah grup rekan kerja mereka.
Dan hal ini memudahkan perilaku inovatif kerja untuk berkembang

Dimensi Perilaku inovatif


Menurut Jong dan Hartog (2003:26-27) dalam proses perilaku inovatif dapat
diukur dengan 4 dimensi yaitu melihat peluang, mengeluarkan ide, memperjuangkan
ide, dan aplikasi ide yang dibagi menjadi 2 tahapan yang dilewati individu. Melihat
peluang dan mengeluarkan ide termasuk dalam tahap inisiasi kemudian untuk
memperjuangkan ide dan aplikasi ide termasuk dalam tahap implementasi. Berikut
penjelasan mengenai dimensi dalam perilaku inovatif yaitu:

  1. Tahap Inisiasi
    a. Melihat Peluang
    Untuk para karyawan melihat peluang merupakan proses awal yang dilakukan
    dengan cara mengidentifikasi permasalahan yang ada yang tidak sesuai dengan
    yang diharapkan, permasalahan metode kerja yang diterapkan, kebutuhan
    pelanggan yang tidak terpenuhi, dan adanya indikasi perubahan pola tren yang
    terjadi di lingkungan. Dari beberapa permasalahan tersebut maka karyawan
    dapat melihat adanya peluang kesempatan untuk memberikan solusi yang
    bermanfaat.
    b. Mengeluarkan ide
    Pada tahap ini karyawan mengeluarkan konsep mengenai pemikiran baru
    dengan tujuan untuk perbaikan atau perubahan agar lebih baik. Hal ini
    mencakup menghasilkan ide baru atau layanan baru, pertemuan dengan klien
    atau teknologi pendukung dan menghasilkan solusi untuk masalah dengan
    tujuan untuk meningkatkan proses pelayaan sehingga lebih efisien. Kunci
    dalam mengeluarkan ide yaitu mengkombinasikan dan memperbaharui
    informasi dan konsep yang ada untuk memecahkan masalah dan
    meningkatkan kinerja.
  2. Tahap Implementasi
    a. Memperjuangkan Ide
    Dalam tahapan ini adalah mengembangkan dan mengimplementasikan ide yang
    telah diungkapkan. Tanggung jawab dalam impelentasi ide untuk inovasi maka
    karyawan dituntut untuk memiliki komitmen yang kuat dan mampu mengajak
    orang lain agar paham mengenai ide yang dicetuskan. Untuk kesuksesan suatu
    organisasi memang diperlukan peran karyawan untuk memunculkan ide-ide
    kreatif dan kemudian memperjuangkan ide tersebut. Memperjuangkan dalam
    hal ini termasuk membujuk dan memengaruhi rekan kerja agar mendukung
    dengan melakukan negosiasi. Keberhasilan ide bergantung pada kemampuan
    individu dalam membujuk dan mempengaruhi serta pada kemampuannya untuk
    memanfaatkan jaringan pribadi yang dimiliki.
    b. Aplikasi Ide
    Tahap aplikasi ide berkaitan dengan perilaku yang dilakukan karyawan yang
    bertujuan untuk mengembangkan, menguji dan memasarkan hal baru. Hal ini
    kaitannya dengan membuat inovasi dalam proses kerja yang biasa dilakukan

Pengertian Perilaku Kerja Inovatif


Perilaku inovatif adalah faktor kunci yang mendukung inovasi di dalam setiap
organisasi sehingga pengukurannya dapat dilihat keterkaitannya dengan praktik dan
teori yang diungkapkan (Amir, 2015: 67). Kreativitas dan inovasi sering digunakan
dalam penelitian saat ini yang masih dipertukarkan dalam penggunaannya yang belum
diperhatikan dengan jelas (West dan Farr, 1990:5). Kreativitas mengacu pada
pengeluaran ide sedangkan inovasi penerapannya hingga pada aplikasi ide yang
dimiliki (Jong dan Hartog, 2003:28).
Menurut Rank et al. (2004: 522) perilaku inovatif mengacu pada inisiatif
karyawan terkait dengan adanya inovasi di dalam organisasi termasuk generasi ide
baru dan penggunaan ide, mengkomunikasikan ide dan menyampaikannya terhadap
yang lain mengenai ide tersebut serta mengimplementasikan dalam pekerjaan di
organisasi. West dan Farr (1990:9) mengungkapkan bahwa perilaku inovatif
didefinisikan sebagai intensitas menggenerasikan, mempromosikan dan
merealisasikan ide baru pada rekan kerja mereka, tim kerja atau organisasi dalam
rangka untuk meningkatkan kinerja individu, kelompok atau organisasi. Selama
mempromosikan ide, individu tidak hanya membagikan informasi dan data mengenai
tujuan inovasi tetapi seharusnya
juga mewujudkannya ke dalam bentuk yang mudah dipahami dan sesuai untuk yang
lain dan tim (Jaberi, 2016: 42).
Berbeda dengan Jong dan Hartog (2003:25) yang mendefinisikan bahwa perilaku
inovatif merupakan semua tindakan individu yang diarahkan pada generasi,
pengenalan dan penerapan hal baru yang menguntungkan di tingkat organisasi
manapun mencakup perubahan dalam konsep layanan antarmuka klien, sistem
pengiriman dan pilihan teknologi. Untuk berperan dalam proses inovasi karyawan
dapat menghasilkan ide yang muncul karena adanya peluang yang dilihat dari adanya
ketidaksesuaian dengan yang diharapkan, mengidentifikasi kesenjangan kinerja atau
menghasilkan solusi untuk permasalahan (Jong dan Hartog, 2007: 43).
Menurut Purba (2009: 155) mengungkapkan bahwa perilaku inovatif merupakan
perilaku yang menekankan adanya sikap kreatif agar terjadi proses perubahan sikap
dari tradisional ke modern, atau dari sikap yang belum maju ke sikap yang sudah maju.
Seorang individu yang memiliki perilaku inovatif dalam keseharaiannya akan lebih
berpikir kritis, berusaha agar selalu terjadi perubahan untuk pembaruan di
lingkungannya, dan mengupayakan perubahan yang memiliki nilai tambah, serta
berupaya untuk memecahkan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien.
Sedangkan Scott dan Bruce (2013:581-582) mengungkapkan bahwa perilaku
inovatif merupakan proses multistage dengan berbagai kegiatan dan perilaku individu
yang diperlukan dalam setiap tahapnya yaitu pencetusan ide yang muncul akibat
beberapa faktor sosial, tahap selanjutnya mencari dukungan untuk ide dan berupaya
untuk memberikan pemahaman mengenai idenya terhadap yang lain, dan tahap yang
terakhir adalah merealisasikan ide dalam bentuk produk ataupun pelayanan.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan maka dapat disimpulkan bahwa
perilaku inovatif adalah perilaku yang ditunjukkan oleh individu dalam suatu
organisasi yang berupaya untuk memberikan ide sebagai solusi atas permasalahan
yang terjadi, dan menyampaikannya pada rekan kerja atau tim untuk selanjutnya
direalisasikan agar mendapatkan hasil yang diharapkan

Pengertian Leadership atau Kepemimpinan


Yamin dan Maaisah (2010; 74) Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi yang
dilakukan oleh seseorang dalam mengolah anggota untuk mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan menurut Wukir (2013; 134) kepemimpinan merupakan seni memotivasi dan
mempengaruhi sekelompok orang untuk bertindak mencapai tujuan

Indikator Motivasi Kerja


Menurut Wibowo (2013; 110), adapun indikator-indikator motivasi kerja adalah sebagai
berikut:

  1. Engagement
    Merupakan janji pekerja untuk menunjukkan tingkat antusiasme, inisiatif, dan usaha untuk
    meneruskan.
  2. Commitment
    Merupakan suatu tingkatan dimana pekerja mengikat dengan organisasi dengan
    menunjukkan tindakan Organizational Citizenship.
  3. Satisfaction (kepuasan)
    Merupakan refleksi pemenuhan kontrak psikologis dan memenuhi harapan ditempat
    bekerja.
  4. Insentif
    Merupakan pemimpin perlu membuat perencanaan pemberian insentif dalam bentuk baik
    berupa gaji, bonus, tunjangan dan jaminan. Berdasarkan penjelasan diatas, karyawan akan
    termotivasi dalam berkerja dipengaruhi oleh hubungan baik antar sesame karyawan dengan
    apa yang dikerjakannya. Point-point yang telah disebutkan tersebut sebagai pendorong atau
    perangsang untuk karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan

Prinsip-Prinsip Motivasi Kerja


Terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi kerja karyawan menurut Syaiful dan Aswan
(2012:27), diantaranya yaitu:

  1. Prinsip Partisipasi
    Dalam upaya memotivasi kerja, karyawan perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi
    dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin.
  2. Prinsip Komunikasi
    Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha
    pencapaian tugas, dengan informasi yang jelas, pegawai akan lebih
    mudah dimotivasi kerjanya.
  3. Prinsip mengakui andil bawahan
    Pemimpin mengakui bahwa bawahan (karyawan) mempunyai andil didalam usaha
    pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, karyawan akan lebih mudah di motivasi
    kerjanya.
  4. Prinsip pendelegasian
    Wewenang Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada karyawan
    bawahan untuk sewaktu waktu dapat mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang
    dilakukannya, akan membuat karyawan yang bersangkutan menjadi termotivasi untuk
    mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin.
  5. Prinsip pemberi perhatian
    Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang diinginkan karyawan bawahannya,
    akan memotivasi karyawan bekerja apa yang diharapkan oleh pemimpin.

Pengertian Motivasi Kerja


Menurut Rivai (2011:839), motivasi adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan,
mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja.
Sedangkan menurut Samsudin (2006:81), motivasi merupakan kondisi atau energi yang
menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi
perusahaan.

Jenis-Jenis Motivasi


Ada dua jenis motivasi kerja, yaitu motivasi positif dan motivasi negatif (Hasibuan, 2017; 89):

  1. Motivasi positif (insentif positif)
    Motivasi positif maksudnya pemimpin memotivasi (merangsang) bawahan dengan
    memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar. Dengan
    motivasi positif, semangat kerja bawahan akan meningkat karena umumnya manusia
    senang menerima yang baik-baik saja.
  2. Motivasi negatif (insentif negatif)
    Motivasi negatif maksudnya pemimpin memotivasi bawahan dengan standar mereka akan
    mendapat hukuman. Dengan motivasi negatif ini semangat bekerja bawahan dalam jangka
    waktu pendek akan meningkat karena mereka takut dihukum, tetapi untuk jangka waktu
    panjang dapat berakibat kurang baik

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Tugas manjemen sumber daya manusia untuk mengelola manusia seefektif mungkin, agar
dapat meperoleh suatu kesatuan sumber daya manusia yang merasa puas dan memuaskan.
Dalam mengerjakan pekerjaan seharusnya organisasi memperhatikan fungsi-fungsi
manajemen dan fungsi operasional seperti yang dikemukakan oleh Malayu (2015: 21-23),
berikut ini :

  1. Fungsi Manajerial :
    a. Perencanaan
    Perencanaan (human resources planning) adalah merencanakan tenaga kerja agar
    sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan efektif serta efisien dalam membantu
    terwujudnya tujuan. Perencanaan ini untuk menetapkan program kepegawaian.
    b. Pengorganisasian
    Pengorganisasian (organizing) adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua karyawan
    dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi,
    dan koordinasinya dalam bagan organisasi (organization chart). Organisasi yang baik
    akan membantu tercapainya tujuan secara efektif.
    c. Pengarahan
    Pengarahan (directing) adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan agar mau
    bekerjasama dan bekerja efektif secara efisien dalam terwujudnya tujuan perusahaan,
    karyawan dan masyarakat. Pengarahan dilakukan oleh pemimpin dengan
    kepemimpinannya, memerintah bawahan agar mau mengerjakan semua tugasnya
    dengean baik.
    d. Pengendalian
    Pengendalian (controlling) adalah kegiatan mengendalikan semua karyawan agar mau
    mentaati peraturan-peraturan perusahan dan mau bekerja sesuai rencana. Pengendalian
    karyawan ini meliputi kehadiran, kedisiplinan, perilaku, kerjasama dan pelaksanaan
    pekerjaan.
  2. Fungsi Operasional
    a. Pengadaan
    Pengadaan (procrument) adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi dan
    induksi untuk mendapatkan karyaan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
    Pengadaan yang baik akan membantu terwujudnya tujuan.
    b. Pengembangan
    Pengembangan (development) adalah proses peningkatan penerampilan teknis,
    teoristik, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
    Pendidikan dan pelatihan harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini maupun
    masa depan.
    c. Kompensasi
    Kompensasi (compensation) adalah pemberian balas jasa langsung (direct) dan tidak
    langsung (indirect), uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang
    diberikannya kepada perusahaan. Prinsip kompensasi adalah adil dan layak. Adil
    diartikan sesuai dengan prestasi kerjanya, layak diartikan dapat memenuhi kebutuhan
    primernya serta berpedoman pada batas upah minimum pemerintah dan berdasarkan
    internal dan eksternal konsistensi.
    d. Pengintegrasian
    Pengintegrasian (intregation) adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
    perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang serasi dan saling
    menguntungkan. Pengintegrasian merupakan hal penting dalam manajemen sumber
    daya manusia.
    e. Pemeliharaan
    Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau mengingatkan
    kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan, agar mereka bekerja sama sampai pensiun.
    Pemeliharaan yang baik dilakukan dengan program kesejahteraan yang berdasarkan
    kebutuhan sebagian besar karyawan serta berpedoman kepada internal dan eksternal
    konsistensi.
    f. Kedisiplinan
    Kedisiplinan merupakan fungsi manajemen sumber daya manusia yang terpenting demi
    terwujudnya tujuan yang maksimal. Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran
    untuk mentaati peraturan-peraturan perusahaan dan norma-norma sosial.
    g. Pemberhentian
    Pemberhentian (separation) adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu
    perusahaan. Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan karyawan, keinginan
    perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun, dan sebab-sebab lainnya. Berdasarkan
    pengertian menurut para ahli diatas penulis sampai pada pemahaman bahwa fungsi-
    fungsi sumber daya manusia merupakan suatu ilmu untuk pengarahkan, pengadaan,
    pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan,
    pemberhentian agar dapat memperoleh suatu kesatuan sumber daya manusia yang
    merasa puas dan memuaskan dan untuk tujuan perusahaan dapat tercapai.

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Pengertian manajemen sumber daya manusia menurut Marwansyah (2015:3), sebagai
pendayagunaan sumber daya manusia di dalam organisasi yang dilakukan melalui fungsi-
fungsi perencanaan sumber daya manusia, rekrutmen dan seleksi, pengembangan sumber daya
manusia, perencanaan dan pengembangan karir, pemberian kompensasi dan kesejahteraan,
keselamatan dan kesehatan kerja dan hubungan industrial. Pendapat lain yang dikemukakan
oleh Malayu (2015:10), menyatakan bahwa ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan
tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan
masyarakat. Sedangkan yang dikemukakan oleh Mangkunegara (2016:2), menyatakan bahwa
suatu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pelaksanaan dan pengawasan
terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan dan
pemisahaan tenaga kerja dalam rangka mencapai tujuan organisasi

Pengertian Manajemen


Winardi (2016:11) mengemukakan bahwa manajemen merupakan sebuah proses yang khas
yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakan dan
pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah
ditetapkan melalui pemanfaatan sumber-sumber daya manusia serta sumber-sumber lain,
Sedangkan (T. Hani Handoko 2016: 4) mengemukakan pengertian manajemen sebagai bekerja
dengan orang-orang untuk menentukan, menginterprestasikan dan mencapai tujuan-tujuan
organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan
personalia atau kepegawaian, pengarahan, kepemimpinan dan pengawasan

Pengaruh Loyalitas Karyawan terhadap Kinerja Karyawan


Loyalitas karyawan sangatlah penting bagi setiap organisasi dan juga
terhadap karyawan. Loyalitas karyawan mempunyai dasar hubungan pada
kepercayaan, rasa memiliki yang kuat, dan keinginan yang tetap pada
organisasi. Loyalitas karyawan mempunyai dampak positif terhadap
kepercayaan diri pada setiap karyawan dalam meningkat produktivitas dan
kinerja pada organisasi (Surujlal, 2003 dalam Alhawamdeh dan Al-edenat,
2018).
Menurut Preko dan Adjetey (2013), setiap karyawan pada organisasi
ingin merasa adanya kepuasaan saat melakukan pekerjaan yang di kerjakan
seperti tempat kerja yang nyaman, komunikasi saling timbal balik, dan
pengaturan manajamen dalam organisasi yang efisien dapat mendorong
peningkatan loyalitas karyawan. Sehingga kepercayaan karyawan pada
organisasi akan merasa nyaman, loyal, dan bertanggungjawab dalam
bekerja, dan juga dapat meningkatkan kienrja dalam tugas yang diberikan.
Hasil penelitian Al-edenat dan Alhawamedeh (2018) memberikan bukti
empirik bahwa kinerja dari 252 orang karyawan industri kecil dan
menengah di Jordania meningkat secara signifikan karena loyalitas
karyawan yang tinggi pada organisasi

Pengaruh Pemberdayaan Karyawan terhadap Loyalitas Karyawan


Organisasi memandang kinerja adalah indikator penting hingga
dibutuhkan cara untuk dapat meningkatkan kinerja karyawan. Kinerja
karyawan dapat ditentukan saat karyawan memutuskan untuk tetap diposisi
kerja di organisasi sekarang atau pindah keorganisasi lain. Menurut Radzi
(2009), karyawan yang memiliki pencapaian pemberdayaan yang tinggi
mempunyai rasa loyalitas yang tinggi terhadap organisasi dan bersedia
menerima sebuah tugas tambahan jika ditugaskan oleh atasan. Bowen dan
Lawler (1992, dalam Radzi (2009), manfaat pemberdayaan ialah bahwa
karyawan akan merasa nyaman untuk diri sendiri dan loyal terhadap
pekerjaan mereka pada organisasi yang mereka tempati.
Pemberdayaan menunjukkan suatu keuntungan penting bagi
organisasi dan karyawaan. Pemberdayaan karyawan mempunyai manfaat
misalnya menumbuhkan rasa kepatuhan dan rasa pembentukkan
membangun pada organisasi dan juga mampu memenuhi kebutuhan dasar
dari karyawan seperti penerimaan dan kepemilikan pada setiap karyawan.
Pemberdayaan pada karyawan dapat menghasilkan dan mengembangkan
kepercayaan, komunikasi timbal balik antara sesama karyawan dan juga
organisasi. Loyalitas karyawan secara positif dipengaruhi oleh
pemberdayaan yang dianggap sebagai aktivitas mendasar kepada
kepercayaan yang mana dapat mempengaruhi loyalitas seorang karyawan
secara emosional dan sosial (Ignore, 2009 dalam Alhawamdeh dan Al-
edenat, 2018).

Pengaruh Pemberdayaan Karyawan terhadap Kinerja Karyawan


Pada lingkungan kerja dalam organisasi, karyawan memiliki wewenang
dalam memberikan pendapat dalam organisasi agar menjadi hubungan saling timbal
balik. Maka dari itu, organisasi mengambil kebijakan dalam pemberdayaan
karyawan sebagai dalam meningkatkan kinerja karyawan dalam organisasi. Dengan
mengembangkan pemberdayaan dalam organisasi dapat meningkatkan solusi
kreatif pada setiap kesalahan karyawan yang bisa terjadi pada aktivitas kerja
karyawan. Pemberdayaan karyawan di lingkungan perusahaan atau organisasi akan
memberikan peningkatan dalam segi organisasi yaitu dengan memberikan pelatihan
dan pengembangan pada pengetahuan dan keterampilan karyawan. Saling menjalin
komunikasi timbal balik karyawan dan organsasi, memberikan kepercayaan dan
tanggung jawab kepada karyawan dalam menyelesaikan tugas yang mana
organisasi akan mendapatkan karyawan yang memiliki hasil kinerja yang
berkualitas dan sesuai yang diharapkan oleh organisasi.
Menurut Patterson (2004, dalam Al-edenat dan Alhawamedeh, 2018), bahwa
pemberdayaan bagi karyawan merupakan suatu pintu untuk bekerja terkait pada
pengetahuan, kemampuan dan ruang kebebasan dalam memikirkan suatu
penyelasaian dalam pekerjaan, dan meningkatkan dorongan pada kinerja karyawan.
Kinerja karyawan dapat diberdayakan melalui akuntabilitas yang lebih besar
dengan melalui pekerjaan yang diberikan kepada mereka. Oleh karena itu,
kemampuan pada karyawan perlu ditingkatkan dan dimanfaatkan kinerja setiap
karyawan pada organisasi (Al-edenat dan Alhawamedeh, 2018).

Dampak Loyalitas Karyawan


Loyalitas karyawan yang tinggi memberikan dampak positif bagi
organisasi. Steers dan Porter (1987) dalam Rivai (2014) menyatakan bahwa dampak
loyalitas karyawan yang tinggi bagi organisasi adalah sikap kerja yang positif.
Sikap kerja yang positif tersebut meliputi:

  1. Kemauan untuk bekerja sama.
    Karyawan dengan tingkat loyalitas kerj ayang tinggi memiliki kesediaan
    untuk bekerj sama dengan orang lain. Kerja sama dengan orang lain dalam
    organisasi akan mendukung organisasi untuk dapat mencapai tujuan yang
    telah ditetapkan dengan lebih mudah.
  2. Rasa memiliki.
    Karyawan yang loyal pada organisasi ditunjukkan melalui rasa memiliki
    organisasi yang besar. Karyawan dengan tingkat rasa memiliki yang tinggi
    membuat karyawan mempunyai sikap untuk turut serta menjaga dan
    bertanggungjawab pada organisasi guna mencapai tujuan.
  3. Hubungan antar pribadi.
    Karyawan dengan tingkat loyalitas yang tinggi memiliki sikap fleksibel
    yang menuju pada arah hubungan antara pribadi yang baik.
  4. Suka terhadap pekerjaan.
    Wujud lain dari loyalitas karyawan adalah rasa suka karyawan pada
    pekerjannya. Karyawan yang menyukai pekerjannnya akan memiliki
    perilaku positif dalam bentuk datang tiap hari untuk bekerja dan bekerja
    dengan senang hati untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan


Loyalitas karyawan merupakan hal yang penting bagi sebuah organisasi
yang perlu untuk terus diusahakan peningkatannya. Runtu (2016) mengungkapkan
faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan yaitu:

  1. Karakteristik pribadi.
    Karakteristik pribadi berkaitan dengan faktor-faktor diri karyawan.
    Karakteristik pribadi meliputi jenis kelamin, usia, lama kerja, pendidikan,
    prestasi, minat, bakat, serta sifat kepribadian seorang individu.
  2. Karakteristik pekerjaan.
    Karakteristik pekerjaan mengungkapkan atau menjabarkan hal apa saja
    yang ada pada sebuah pekerjaan, seperti tantangan dalam pekerjaan, stress
    berkaitan dengan pekerjaan, hubungan sosial pekerjaan, identifikasi
    pekerjaan, umpan balik, dan tingkat kesesuaian pekerjaan dengan
    karakteristik karyawan.
  3. Karakteristik desain perusahaan.
    Karakteristik desain perusahaan berhubungan dengan tingkat formal,
    partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan, tingkat keterlibatan
    karyawan, dan tanggung jawab perusahaan.
  4. Pengalaman yang didapat dari perusahaan.
    Loyalitas karyawan pada sebuah organisasi ditentukan atau dipengaruhi
    oleh seberapa baik pengalaman karyawan saat bekerja dalam sebuah
    organisasi. Pengalaman karyawan yang baik dalam sebuah organisasi akan
    membuat karyawan akan tetap bekerja dalam perusahaan dalam jangka
    waktu yang lama atau sampai akhir kariernya (pensiun)

Definisi Loyalitas Karyawan


Dalam sebuah organisasi pemberdayaan dan kinerja merupakan suatu hal
yang penting. Loyalitas karyawan mempunyai hubungan yang saling keterkaitan
terhadap organisasi. Dalam hal ini organisasi sangat membutuhkan karyawan yang
sangat loyal kepada pekerjaan yang akan diberikan organisasi. Namun, hal ini
merupakan hal yang menjadi tantangan pada organisasi pada saatini. Kesetian
karyawan dapat dilihat dari segi terbentuknya sistem komunikasi, sistem
manajemen, dan lingkungan kerja dalam organisasi tersebut. Karyawan yang loyal
memiliki peran penting dalam kontribusi dan pengembangan organisasi manapun.
Kontribusi karyawan terhadap bisnis perusahaan dapat meningkat dengan waktu
yang berjalan pada organisasi. Maka dari itu, kebijakan organisasi sangat penting
diterapkan untuk menumbuhkan loyalitas karyawan dalam memfasilitasi jangka
waktu kerja yang panjang pada perusahaan.
Pada ekonomi yang berjalan sekarang, kesetiaan seorang karyawan
dipandang sebagai isu penting, yang mana keberhasilan suatu negara maupun
perusahaan bergantung pada keterampilan karyawan. Oleh karena itu, dalam
loyalitas karyawan perusahaan perlu mempertahankan karyawan yang memiliki
kualifikasi dan tingkat kinerja yang tinggi dalam memajukkan tujuan perusahaan
dalam melakukan persaingan dengan perusahaan lain. Banyak perusahaan merujuk
pada situasi sulit dan kerugian dalam kepergian karyawan yang mana perusahaan
maupun orgnisasi memiliki dampak pada efektivitas dan semangat karyawan pada
perusahaan. Niehoff et al. (2001) mendefinikan loyalitas sebagai perilaku aktif
yang menunjukkan kebanggaan dan dukungan bagi organisasi, membela organisasi
dari kritik, menekankan aspek positif dari organisasi, dan menahan diri dari
mengeluh tentang organisasi. Menurut Mowday et.al (1979 dalam pada Phuong dan
Vinh, 2020) loyalitas berarti presentasi komitmen karyawan dalam organisasi yang
ditandai dengan keuntungan relatif pada karyawan dengan keikutsertaan terlibat
aktif dalam aktivitas dalam perusahaan. Ketika karyawaan loyal dan percaya
kepada organisasi tempat melakukan aktivitasnya seperti menjalankan nilai-nilai,
misi, tujuan organisasi maka, perusahaan dapat mewujudkan harapan yang kuat
dalam bersaing dengan kompetitor lainnya.
Menurut Phuong dan Vinh (2020) loyalitas karyawan merupakan sebuah
bidang dimana karyawan yang loyal mempunyai peran penting untuk berkontribusi
pada pengembangan perusahaan. Maka, dari itu kebijakan-kebijakan perusahaan
maupun organisasi tersebut perlu memperjelas kepada karyawan agar dapat
menumbuhkan loyalitas karyawan pada pekerjaannya dan kepada organisasi.
Loyalitas karyawan memiliki keterkaitan karyawan pada organisasi, tujuan,
sasaran, dan nilai organisasi itu sendiri. Menurut Sazkaya (2018), konsep loyalitas
karyawan dapat digambarkan juga bahwa karyawan berusaha dalam mementingan
kepentingan pribadi, memperlihatkan perilaku implikasi dan kepemilikan
intelektual untuk mendukung tujuan organisasi. Yang mana saling mendukung satu
sama lain, tetap bersama dengan organisasi, saling berkomunikasi dalam
menyelesaikan masalah yang sulit, sehingga masalah-masalah yang terjadi pada
organisasi dapat terselesaikan dan mencapai tujuan organisasi tersebut.

Indikator Environmental Performance


Dalam mengukur environmental performance suatu organisasi, terdapat dua
indikator (Carroll, 2016), yaitu:

Pengukuran environmental performance secara non-objektif
Praktik dan aktivitas lingkungan kerap dipertimbangkan saat mengukur
environmental performance, karena environmental performance terkait
dengan sistem manajemen lingkungan yang perusahaan terapkan. Oleh
karena itu, indikator non-objektif digunakan dalam perhitungan
environmental performance untuk mengungkapkan usaha yang
dilakukan perusahaan guna mengurangi dampak aktivitas terhadap
lingkungan. Ukuran environmental performance meliputi implementasi
sistem manajemen lingkungan, integrasi tujuan lingkungan dalam
perencanaan perusahaan, desain ramah lingkungan dari hasil ataupun
proses manufaktur, pengembangan produk hijau, dll.
Langkah-langkah pengukuran non-objektif ini kerap didasari pada
kuesioner yang diajukan ke perusahaan dan mengungkapkan kepatuhan perusahaan
pada peraturan, kendala laporan lingkungan, metode dan alat pengelolaan
lingkungan, persepsi strategi lingkungan tentang pencegahan pencemaran, strategi
lingkungan dengan penghematan biaya, program pelatihan karyawan, dll

Pengukuran environmental performance secara objektif
environmental performance atau kinerja lingkungan kerap diukur
dengan variabel yang dapat diamati dan diukur yang menggambarkan
berbagai cara aktivitas tertentu dalam perusahaan dapat menyebabkan
dampak pada lingkungan. Indikator-indikator ini mengukur polusi yang
disebabkan oleh aktivitas perusahaan, kepatuhan terhadap peraturan
lingkungan, memodifikasi proses produksi, penciptaan produk hijau dan
perusahaan andil secara sukarela dalam inisiatif lingkungan. Indikator
ini sering kali dihitung berdasarkan data yang dilaporkan perusahaan
secara wajib maupun sukarela.

Dampak Pemberdayaan Karyawan


Bagi perusahaan, pemberdayaan karyawaan memiliki banyak manfaat
seperti, dalam meningkatkan kualitas kerja tim dan kolaborasi, setiap manajer
memiliki waktu dalam menginvestasi menciptakan misi dan visi organisasi,
membentuk strategi dalam mengambil keputusan yang dapat membuat perusaahan
menjadi kompettitif dipasar. Dengan pemberdayaan karyawan yang merata pada
perusahaan maupun organisasi memiliki dampak pada penghematan biaya,
peningkatan daya saing perusahaan lain, peningkatan dalam pelayanan pelanggan,
peningkatan keterampilan dan kemampuan karyawan inilah yang menjadi manfaat
penting pemberdayaan bagi karyawan di perusahaan dalam memajukkan
perusahaan (Sazkaya, 2018).
Baird et.al (2017) menyatakan pemberdayaan merupakan proses
meningkatkan pandangan pada kemampuan karyawan dan anggota organisasi dapat
dilihat melalui mengindentifikasi kondisi yang mendorong ketidakberdayaan,
melakukan penghapusan praktik organisasi formal maupun informal dalam
memberika informasi yang efektif. Dalam organisasi karyawan memiliki banyak
informasi mengenai organisasi yang berdasarkan pada kinerja karyawan, keahlian
karyawan untuk memahami dan berkontribusi pada kinerja yang mana akan
memberi karyawan kekuatan dalam membuat keputusan yang dapat mempengaruhi
kinerja organisasi. Dalam mengambil definisi self-efficacy pada pemberdayaan
karyawan dapat melakukan peningkatan pada karyawan sehingga karyawan
mempunyai hak untuk menguasai dan menggunakan sumber daya dalam
menggapai tujuan organisasi yang diinginkan bersama (Bowen dan Lawler, 2006
dalam Baird et.al, 2017)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberdayaan Karyawan


Menurut Bolat (2003) pemberdayaan karyawan mempunyai tiga faktor
dalam perspektif perilaku pemberdayaan karyawan yaitu:

  1. Kekuasaan, yaitu memberdayakan karyawan melalui pemberian kebijakan
    yang diperlukan dalam menjalankan tugas.
  2. Sumber daya yakni memberikan akses– akses sumber daya yang diperlukan
    kepada karyawan dalam pemuasan tugas. Ketiga,
  3. Informasi adalah menginformasikan kepada semua karyawan tentang
    perubahan lingkungan baik internal maupun lingkungan eksternal
    organisasi.
    Robbins (2013) menyatakan bahwa untuk meningkatkan efektivitas
    keberhasilan pemberdayaan karyawan dipengaruhi oleh banyak faktor. Berikut ini
    adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pemberdayaan karyawan:
  4. Kemampuan (Competency).
    Kemampuan karyawan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
    keberhasilan pemberdayaan karyawan. Kemampuan karyawan meliputi:
    pengetahuan (knowledge) yang dimiliki, keterampilan (skill) yang dimiliki,
    dan sikap (attitude) atau perilaku (behaviour) dari masing-masing
    karyawan.
  5. Penempatan (Placement)
    Pemberdayaan karyawan akan menjadi optimal saat karyawan ditempatkan
    pada suatu posisi atau jabatan sesuai dengan kemampuan (pendidikan,
    pengetahuan, keterampilan) yang dimiliki. Selaian itu, penempatan juga
    harus disesuaikan dengan kebutuhan jabatan dalam organisasi.
  6. Kewenangan (Authority)
    Pemberdayaan yang baik dilakukan saat organisasi memberikan
    kewenangan yang jelas kepada karyawan. Kewenangan yang diberikan
    berhubungan dengan posisi atau jawaban yang diemban atau dimiliki
    karyawan. Melalui kewenangan yang dimilikinya, karyawan dapat
    mengambil keputusan strategis yang akan dapat membantu dalam
    melaksanakan tugas-tugasnya guna peningkatan kinerja.
  7. Tanggungjawab (Responsibility)
    Pemberdayaan akan menjadi efektif dan efisien saat karyawan memiliki
    tanggung jawab yang jelas. Artinya, karyawan harus melaksanakan
    pekerjaannya yang merupakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab yang
    tinggi.
  8. Kepercayaan (Loyalty)
    Pemberdayaan akan berdaya guna saat adanya kepercayaan yang tinggi dari
    organisasi kepada karyawan. Artinya, karyawan yang diberi kepercayaan
    harus dapat dipercaya bahwa karyawan akan menjalankan tugas atau
    pekerjaanya sesuai dengan wewenang dari jabatannya.
  9. Dukungan (Support)
    Pemberdayaan karyawan dilakukan dengan memberikan dukungan kepada
    karyawan. Untuk dapat menjalankan tugasnya, karyawan membutuhkan
    dukungan yang optimal dari organisasi maupun rekan kerja. Dukungan yang


British Standard Institution menyediakan panduan untuk mengembangkan
seri ISO 14000 pada tahun 1996. Pada tahun 1999, sertifikasi ISO 14031
mengusulkan indikator environmental performance yang dibagi menjadi tiga
kategori, yakni:

  1. Indikator kinerja manajemen
    Indikator kinerja manajemen memberikan informasi dan secara tidak
    langsung mengukur upaya yang dilakukan oleh perusahaan guna
    meningkatkan environmental performance mereka.
  2. Indikator operasional
    Indikator operasional lingkungan memberikan informasi tentang hasil
    praktik pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan. Hal ini sebagai dasar
    evaluasi aspek lingkungan.
  3. Indikator kondisi lingkungan
    Indikator kondisi lingkungan secara langsung mengukur kualitas
    lingkungan dengan memberikan informasi terkait konteks lingkungan lokal,
    regional, dan nasional. Biasanya indikator ini digunakan untuk menilai
    dampak dari emisi udara atau kualitas air. Indikator lingkungan eksternal
    ini, berhubungan dengan tujuan kebijakan lingkungan, membantu
    penentuan prioritas dan objektivitas organisasi.

Definisi Pemberdayaan Karyawan


Pada lingkungan bisnis yang bersaing pada saat ini, pemberdayaan
karyawaan menjadi konsep penting dalam sumber daya manusia. Proses
pemberdayaan karyawan memungkinkan karyawan untuk berperan aktif dalam
pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan kesesuaian
tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Dengan pengambilan keputusan organisasi
keseluruhan secara cepat maka dapat meningkatkan daya tanggap organisasi
terhadap perubahan situasi lingkungan makro dan membuat organisasi lebih siap
untuk mengatasi ketidakpastian yang melibatkan lingkungan. Menurut Conger dan
Kanungo (1988) pemberdayaan didefinisikan sebagai di mana semua karyawan
mempunyai tingkat hierarki organisasi diberi wewenang untuk membuat keputusan
penting dan diberi tanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan dan tindakan
mereka. Dede dan Sazkaya (2018) mendefinisikan pemberdayaan karyawan
sebagai pemberian kepada seseorang (karyawan) untuk memliki lebih banyak
kendali atas kehidupan atau situasi mereka sendiri berkaitan dengan pekerjaannya.
Karyawan tidak dapat membentuk peraturan dalam bekerja yang mana mempunyai
rasa mandiri untuk bebas bertindak dalam melaksanakan tanggung jawab, maka
dari itu pemberdayaan karyawan sangat diperlukan untuk memberikan pengaturan
terhadap manajer dan karyawan agar dapat bekerja satu sama lain dalam
pengambilan keputusan sebagai suatu organisasi (Tuğ, 2010). Pemberdayaan
karyawan merupakan alat motivasi bagi karyawan untuk meningkatkan kinerjanya,
mendorong karyawan untuk bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan dan
menjadi alat untuk membangun kepercayaan antara manajer dan karyawan untuk
mengatasi hambatan (Jones dan Hamed, 2010 dalam Fernandez dan Moldogaziev,
2015).
Proses pemberdayaan karyawan membutuhkan struktur yang fleksibel dan
datar daripada yang bersifat hierarki tradisional, dan proses pemberdayaan ini
memerlukan sistem terbuka di mana komunikasi dan informasi mengalir kesegala
arah (Potterfield, 1999).

Dampak Kinerja Karyawan


Kinerja karyawan yang tinggi merupakan salah satu ukuran kemampuan
sebuah organisasi dalam melakukan pengelolaan SDM yang dimilikinya dengan
baik. Kinerja karyawan yang tinggi akan memberikan kontribusi (dampak) positif
bagi karyawan maupun organisasi secara keseluruhan. Robbins (2013) menyatakan
bahwa dampak atau manfaat dari kinerja karyawan yang tinggi adalah:

  1. Organisasi dapat berkembang dengan lebih pesat.
  2. Organisasi dapat dengan mundah untuk mencapai target yang telah
    direncanakan atau ditentukan dan tepat sasaran.
  3. Dapat meminimalisir atau mengurangi risiko-risiko negatif yang terjadi
    dalam organisasi.
  4. Meningkatkan soliditas serta kekompakan kerja antar karyawan dalam
    organisasi karena masing-masing karyawan bekerja secara sungguh-
    sungguh dan dapat saling bekerjasama guna mencapai tujuan atau target
    yang telah ditentukan organisasi.
  5. Organisasi atau perusahaan memiliki citra yang semakin baik dimata
    masyarakat dan akan disegani oleh para pesaing dalam bisnis yang sama

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan. Berikut ini
dipaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan:

  1. Motivasi (Motivation)
    Menurut Shadare dan Hammed (2009 dalam Putri dan Ardana, 2016)
    menyatakan bahwa motivasi karyawan merupakan salah satu strategi untuk
    meningkatkan kinerja karyawan. Bagi perusahaan ini merupakan faktor
    penting untuk dapat memastikan karyawan melakukan kemampuan terbaik
    (Bose, 2018). Motivasi adalah suatu kondisi atau tindakan yang membantu
    seseorang untuk melaksanakan sebuah pekerjaan atau kegiatan semaksimal
    untuk berbuat dan berproduksi (Murty dan Hudiwinarsih, 2012 dalam Putri
    dan Ardana, 2016). Dalam memberikan motivasi ini memberikan suatu
    bentuk proses dari kebutuhan menibulkan keinginan, kebutuhan
    menimbulkan tindakan, dan kebutuhan menghasilkan keputusan sehingga
    dapat mencapai hasil bagi perusahaan (Putri dan Ardana, 2016).
  2. Kepuasaan Kerja (Job Satisfaction)
    Kepuasaan kerja merupakan dorongan individu atau karyawan mengenai
    keseluruhan pekerjaan dalam memfokuskan pada tingkat dalam menyukai
    atau tidak dalam pekerjaan mereka (Spector, 1997 dalan Inuwa, 2016).
    Menurut George dan Jones (2008) dalan Inuwa, (2016) kepuasaan kerja
    memiliki suatu keyakinan dan perasaan yang dirasakan setiap karyawan
    tentang pekerjaan mereka masing-masing. Jika kepuasaan kerja yang
    dimiliki oleh setiap karyawan tinggi maka tentu akan menghasilkan kinerja
    yang baik.
  3. Gaya Kepimpinan (Leadership Style)
    Gaya kepimpinan menggambarkan suatu sikap yang ditetapkan oleh
    seseorang untuk dapat memimpin sehingga tujuan oragnisasi atau
    perusahaan dapat tercapai. Suatu pemimpin dapat dikatakan berhasil ketika
    pemimpin dapat mendorong karyawan dalam menggapai tujuan, visi dan
    misi perusahaan. Karyawan dapat mengetahui seorang pemimpin yang baik
    dapat menerapkan gaya kepimpinan seperti apa yang akan bisa mendorong,
    memotivasi, dan mendisiplinkan karyawan di dalam organisasi tersebut.
  4. Keterikatan (Engagement)
    Kinerja setiap karyawan tidak hanya terdorong dengan baik hanya dengan
    bekerja pada pekerjaannya, melainkan dimotivasi oleh serangkaian faktor
    pendukung. Keterikatan karyawan merupakan salah satu faktor pendukung
    yang mendorong dalam peningkatan kinerja karyawan. Menurut Hobel
    (2006 dalam Preko dan Adjetey, 2016) Keterikatan karyawan merupakan
    suatu alat penting dalam manajemen kinerja. Ketika karyawan direkrut dan
    tidak diberikan tugas, fasilitas, dan lingkungan kerja yang diperlukan maka
    karyawan tidak sepenuhnya terlibat. Keterikatan karyawan ini adalah istilah
    baru yang digunakan dalam pekerjaan sosial, yang telah akrab bagi
    komunitas manajemen selama dua dekade.
  5. Pemberdayaan Karyawan (Employee Empowerment)
    Karyawan perlu diberdayakan dengan maksimal agar karyawan bisa
    mengembangkan kemampuan dirinya untuk dapat menyelesaikan pekerjaan
    dan tugas serta tanggap terhadap perkembangan lingkungan. Ahmad (2017)
    menyatakan bahwa pemberdayaan karyawan adalah usaha yang dilakukan
    organisasi dengan memberikan tanggungjawab dan wewenang kepada
    karyawan untuk lebih terlibat dalam organisasi guna mencapai tujuan yang
    telah organisasi tetapkan. Melalui pemberdayaan, karyawan diharapkan
    dapat memberikan sumbangan positif bagi organisasi yang terwujud dalam
    bentuk meningkatnya kinerja karyawan (Onsoardi, 2018)

Definisi Kinerja Karyawan


Dalam lingkungan bisnis yang bersaing saat ini, kinerja karyawan sangatlah
penting bagi organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Organisasi perlu
menyadari bahwa dalam mengembangkan karakteristik seseorang yang unik dan
dinamis, yang mana dapat mempengaruhi pemberdayaan yang memiliki
keunggulan kompetitif dimiliki oleh karyawan untuk bertahan pada kondisi pasar
yang terus berubah. Pengertian kinerja berasal dari sebuah kata dalam KBBI yang
dasar kata nya “Kerja” yang memiliki arti suatu prestasi yang akan diperlihatkan
karyawan kepada organisasi. Kinerja karyawan merupakan prestasi yang diperoleh
karyawan yang terlihat dari bentu knilai dan kualitas dalam melakukan tugas yang
telah menjadi tanggung jawab. Kinerja karyawan memiliki keterkaitan dalam
menyelesaikan tugas dan tujuan organisasi berdasarkan standar kerja yang telah
ditetapkan (Chen, 2011). Menurut Darden dan Babin (1994) dalam Ahmad (2017)
kinerja karyawan merupakan sistem penilaian yang digunakan organisasi untuk
mengevaluasi kemampuan dan efisiensi karyawan dalam bekerja. Organisasi akan
dapat sangat berpengaruh ketika karyawan memiliki pencapaian kinerja dan
produktivitas tinggi sehingga dapat membuat organisasi mencapai keunggulan
bersaing (Pfeffer, 1994).
Menurut Borman dan Motowidlo (1993) dalam Pradhan et al., (2017)
kinerja dapat diartikan sebagai konsep tingkat dasar dimana seseorang dapat
membedakan aspek proses kinerja, yaitu seorang karyawan ikut terlibat dalam hasil
yang diharpakan oleh organisasi. Shields (2016) mendefinisikan kinerja sebagai
sejauh mana seorang karyawan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Dalam acuan utama dari kinerja adalah kemampuan untuk bertanggungjawab dan
dapat memahami kesepakatan antara manajer dan karyawan untuk menyelesai tugas
yang diberikan. Menurut Borman dan Motowidlo (1997) kinerja mempunyai
konteks sebagai efektivitas karyawan dalam melaksanakan pekerjaan yang
diberikan, mewujudkan pemenuhan visi dan misi organisasi sekaligus memberikan
reward kepada karyawan yang memenuhi tujuan organisasi, dan dapat membentuk
individu karyawan secara proporsional.
Menurut Rivai (2014) kinerja adalah keseluruhan hasil seseorang selama
diberikan pertanggungjawab tugas yang dibandingkan dengan standar pekerjaan,
sasaran atau kriteria yang telah ditentukan dan disepakati. Kinerja karyawan tidak
dapat dijalankan sendiri tetapi berkaitan dengan kepuasaan kerja dan reward yang
diberikan kepada karyawan dimana kompensasi tersebut akan dipengaruhi oleh
kterampilan, kemampuan dan sifat individu setiap karyawan dalam organisasi.
Selain itu, kinerja karyawan dapat dipengaruhi oleh berbagai karakteristik setiap
individu. Seperti pada perkembangan perusahaan di era yang telah memiliki
persaingan dan mengglobal dan tentunya perusahaan maupun organisasi
membuthkan karyawan yang kinerja yang tinggi dan dapat bertanggungjawab
dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.
Dalam mencapai suatu tujuan organisasi maka kinerja karyawan perlu
diukur dari segi kualitas, kuantitas, dan target waktu dalam menyelesaikan tugas.
Suatu standar kerja pada organisasi dapat menjadi tolak ukur dalam memandingkan
antara apa yang telah dilakukan dan diharapkan seorang karyawan terhadap
pekerjaan atau jabatannya. Organisasi sekarang menyediakan penilaianbagi para
pemimpin dalam menjelaskan tujuan dan standar kinerja dalam memotivasi kinerja
karyawan. Menurut Mangkunegara (2012) kinerja adalah suatu penilaian hasil
kualitas dan kuantitas kerja karyawan dalam melaksanakan tugas yang sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepada karyawan tersebut. Ada pun
menurut Rivai (2014) kinerja merupakan kemauan seseorang dalam melakukan
suatu kegiatan dan bertanggungjawab dengan hasil yang sesuai dari pekerjaan yang
telah ditentukan. Namun, kinerja bisa menjadi proses seorang karyawan yang dapat
melakukan suatu hasil yang diukur pada jangka waktu yang ditentukan berdasarkan
kesepakatan yang telah ditentukan.

Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan


Penelitian mengenai budaya organisasi telah banyak dilakukan
sebelumnya. Seperti penilitian yang dilakukan oleh (Patulak et al., 2014)
mengatakan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif terhadap
kinerja karyawan. (Putriana et al., 2015) menyatakan bahwa budaya
organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan. (Khalifah &
Palupiningdyah, 2015) berpendapat bahwa budaya organisasi
berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. (Kusworo et al., 2015)
juga berpendapat bahwa budaya organisasi berpengaruh terhadap
kinerja karyawan. Penelitian (Shahzad, 2013) dan (Hakim, 2015)
berpendapat serupa bahwa budaya organisasi berpengaruh terhadap
kinerja karyawan. Namun terdapat pula penelitian yang menyatakan
bahwa budaya organisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan
seperti penelitian yang dilakukan oleh (Syauta, 2012).

Kinerja Karyawan


Kinerja merupakan bentuk perilaku yang secara nyata
ditampilkan oleh setiap karyawan dalam bentuk hasil kerja sesuai
perannya dalam perusahaan (Zainal et al., 2014). Payaman Simanjuntak
dalam (Rivai et al., 2015) kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas
pelaksanaan tugas tertentu. Sedangkan (Rivai et al., 2015) mengemukakan
kinerja adalah suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk
menyelesaikan tugas dan pekerjaan seseorang sepatutnya memiliki derajat
kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu.
Kinerja karyawan tidak dapat berdiri sendiri melainkan
dipengaruhi banyak hal. Beberapa hal yang dapat mendorong kinerja
seperti kompetensi, budaya organisasi, kepuasan (Agustinah et al., 2020),
kemimpinan, orientasi kerja dan budaya organisasi (Maabuat, 2016).
Peneliti lain juga mengemukakan beberapa hal yang dapat mempengaruhi
kinerja yaitu budaya organisai dan komunikasi internal (Pranita & Dewi,
2019), self motivation dan budaya organisasi (Subagyo et al., 2020)

Jenis jenis Budaya Organisasi


Menurut (Kreitner & Kinicki, 2003) bahwa secara umum terdapat
tiga (3) jenis budaya organisasi yaitu:
1) Budaya konstruktif Budaya konstruktif adalah budaya dimana para
pegawai didorong untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengerjakan
tugas dan proyeknya dengan cara yang akan membantu mereka dalam
memuaskan kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang. Tipe budaya
ini mendukung keyakinan normatif yang berhubungan dengan pencapaian
tujuan aktualisasi diri, penghargaan yang manusiawi dan persatuan.
2) Budaya pasif – defensif Budaya pasif – defensif bercirikan keyakinan
yang memungkinkan bahwa pegawai berinteraksi dengan pegawai lain
dengan cara yang tidak mengancam keamanan kerja sendiri. Budaya ini
mendorong keyakinan normatif yang berhubungan dengan persetujuan,
konvensional, ketergantungan, dan penghidupan.
3) Budaya agresif defensive Budaya agresif – defensif mendorong
pegawainya untuk mengerjakan tugasnya dengan kerja keras untuk
melindungi keamanan kerja dan status mereka. Tipe budaya ini lebih
bercirikan keyakinan normatif yang mencerminkan oposisi, kekuasaan,
kompetitif dan perfeksionis. Meskipun sebuah organisasi dapat
menampilkan satu tipe budaya organisasi secara menonjol, ia tetap dapat
menunjukkan keyakinan normative dan karakteristik yang lain. Riset
menunjukkan bahwa organisasi dapat memiliki sub budaya fungsional, sub
budaya hierarkis berdasarkan posisi seseorang dalam organisasi, sub
budaya geografis, sub budaya pekerjaan berdasar pada gelar atau posisi
seseorang, sub budaya sosial yang diambil dari aktivitas sosial.

Indikator Budaya Organisasi


Menurut (Muis et al., 2018) indikator budaya organisasi adalah:

  1. Ketanggapan, diperlukan untuk tanggap dalam menjalankan
    perintah organisasi atau tanggap dalam menentukan sikap dan
    berfikir.
  2. Dorongan, dalam organisasi perlu adanya dorongan atau dukungan
    dari pimpinan agar karyawan dapat menjalankan tugas dengan baik.
  3. Kepemimpinan, hal ini berlaku dalam menentukan nilai nilai serta
    sikap yang akan diterapkan dalam organisasi oleh pimpinan
    perusahaan.
  4. Keramahan, pemimpin perlu untuk meningkatan keramahan kepada
    karyawan agar dapat menjadikan tauladan bagi karyawan.
  5. Kemampuan, sangat penting dalam kaitannya mencapai tujuan dari
    organisasi karena kemampuan 18 yang baik dari seorang pemimpin
    akan mendapatkan hasil yang baik sementara

Budaya Organisasi


(Robbins & Coulter, 2010) Budaya organisasi merupakan
sehimpunan nilai, prinsip, tradisi dan cara bekerja yang dianut bersama dan
mempengaruhi perilaku serta tindakan para anggota organisasi. Menurut
(Fajar, 2018) Randolph dan Blackbum dalam (Tampubolon, 2012)
menyatakan bahwa :“Budaya perusahaan (corporate culture) merupakan
seperangkat nilai-nilai kunci, kepercayaan, dan pemahaman-
pemahaman yang dibentuk oleh dan untuk anggota organisasi”. Budaya
Organisasi bisa diartikan sebagai sebuah pembeda antar satu organisasi
dengan yang lainnya karena meliputi tradisi adat istiadat, kebiasaan,
prosedur, dan ide yang beragam disetiap organisasi.
Budaya organisasi menjadi hal peting yang dapat mendorong
kinerja karyawan (Agustinah et al., 2020). Budaya organisasi merupakan
sistem nilai yang dimiliki perusahaan untuk di para karyawan (Dewi et al.,
2021). Budaya organisasi mempengaruhi perilaku karyawan sehingga
tindakan karyawan mencerminkan nilai organisasi. Budaya organisasi
yang diterima dan diikut karyawan dengan baik akan mendorong kinerja
karyawan (Pratama, 2020); (Amanda et al., 2017)

Faktor-Faktor Lingkungan Kerja


Faktor lingkungan merupakan salah satu yang harus dipertimbangkan dalam
sebuah perusahaan yang sedang beroperasi. Menurut (Sunyoto, 2012)
menjelaskan faktor-faktor lingkungan kerja yang meliputi:

  1. Hubungan karyawan Dalam hubungan karyawan ini terdapat dua
    hubungan yaitu hubungan sebagai individu dan hubungan sebagai
    kelompok.
  2. Tingkat kebisingan lingkungan kerja Lingkungan kerja yang tidak
    tenang atau bising akan dapat menimbulkan pengaruh yang kurang
    baik yaitu adanya ketidaktenangan dalam bekerja.
  3. Peraturan kerja Peraturan kerja yang baik dan jelas dapat
    memberikan pengaruh yang baik terhadap kepuasan dan kinerja para
    karyawan untuk pengembangan karier di perusahaan tersebut.
  4. Penerangan Dalam hal ini, penerangan bukanlah terbatas pada
    penerangan listrik, tetapi termasuk juga penerangan matahari.
  5. Sirkulasi udara Sirkulasi atau pertukaran udara yang cukup maka
    pertama yang harus dilakukan pengadaan ventilasi.
  6. Keamanan Lingkungan kerja dengan rasa aman akan menimbulkan
    ketenangan dan kenyamanan, di mana hal ini akan dapat
    memberikan dorongan semangat untuk bekerja

Pengaruh Pengembangan Karir terhadap Loyalitas Karyawan


Bagi organisasi, pengembangan karir dapat menciptakan tenaga kerja yang
begitu terampil serta berpengetahuan, yang pada hasilnya dapat menjurus pada
peningkatan produktivitas, kualitas, dan inovasi. Memberikan peluang untuk
pengembangan karir juga dapat mendukung dalm menarik dan menjaga talenta terbaik,
dikarenakan karyawan lebih cenderung bertahan dengan organisasi yang mendukung
pertumbuhan dan perkembangan mereka. Selain itu, berinvestasi dalam pengembangan
karir karyawan dapat berkontribusi pada budaya organisasi yang positif dan dapat
membantu menciptakan budaya pembelajaran dalam organisasi, yang dapat mengarah
pada peningkatan dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Pendapat ini searah dengan
hasil penelitian Mawadah et al. (2022) bahwa pengembangan karir signifikan terhadap
loyalitas karyawan

Indikator-Indikator Loyalitas Karyawan


Gozaly dan Wibawa (2018:31) menyebutkan indikator dari loyalitas, yaitu:
a. Kemauan untuk terus menjadi bagian organisasi
Keinginan seorang karyawan untuk bersikeras berada dalam organisasi
dapat menunjukkan loyalitas mereka terhadap perusahaan.
b. Kemauan & menerima pada niali-nilai dan tujuan organisasi
Ketika karyawan terinspirasi untuk menjalankan nilai dan tujuan
organisasi, mereka cenderung lebih terlibat, produktif, dan setia. Hal ini dapat
menyebabkan peningkatan moral karyawan, tingkat turnover yang lebih rendah,
dan peningkatan kesuksesan perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi atasan
untuk menetapkan nilai dan tujuan yang jelas, serta menetapkan dengan
sesungguh hati bahwa hal tersebut didiskusikan secara benar kepada karyawan.
c. Menerima untuk menjalankan aktifitas yang konsisten kesetiaan terhadap
kriteria dengan memprioritaskan kepentingan organisasi di atas kepentingan
pribadi mungkin tepat dalam situasi tertentu di mana tujuan organisasi sangat
penting atau mendesak, tetapi hal itu tidak boleh diharapkan setiap saat.
Pengusaha harus menyadari pentingnya keseimbangan kehidupan kerja dan
memastikan bahwa karyawan dapat menyeimbangkan kewajiban pribadi
mereka dengan tanggung jawab pekerjaan mereka


Menurut Chaerudin (2020) terdapat faktor yang mempengaruhi loyalitas,
diantaranya:
a) Faktor Keamanan, termasuk masa jabatan seorang karyawan, kesesuaian gaji,
keselamatan dalam kerja, serta jaminan kesehatan dan sosial.
b) Faktor Kenyamanan, termasuk kondisi lingkungan kerja yang baik, hubungan
pertemanan, fasilitas yang memadai, sistem kerja, dan bentuk kepemimpinan
yang memotivasi.
c) Faktor Tantangan, termasuk adanya promosi karir yang dapat dirasakan oleh
seluruh karyawan.

Pengertian Loyalitas Karyawan


Jika seseorang bekerja pada perusahaan, perlu memiliki sikap loyalitas pada
perusahaan. Tumbuhnya rasa loyal yang besar terhadap perusahaan, hendak membantu
perusahaan untuk terus tumbuh dan berkembang. Rasa loyal yang besar dapat dilihat
dari karyawan yang selalu siap untuk bergerak dan merampungkan tugasnya dengan
sebaik-baiknya yang terbukti dari hasil kinerja karyawan, juga memberi masukan atau
saran yang mampu membangun perusahaan menjadi lebih baik. Leuwol (2020:81)
mengatakan jika loyalitas merupakan bentuk kesetiaan karyawan pada organisasi.
Ketika karyawan setia, mereka menjurus untuk membuktikan kepatuhan yang lebih atas
kebijakan dan prosedur perusahaan.
Pengertian loyalitas menurut Suksmatatyarani (2019) menyebut bila loyalitas
ialah tekad dan kemampuan untuk patuh, menjalankan, dan menerapkan segala sesuatu
yang pegawai patuhi secara sadar dan bertanggung jawab, serta kemampuan yang dapat
mereka buktikan melalui bersikap atau berperilaku saat bertugas. Sedangkan Iskandar
dan Yuhansyah (2018) mengatakan bahwa loyalitas mencerminkan kesetiaan seseorang
pegawai terhadap organisasi tempat ia bertugas. Bentuk kesetiaan yang dimaksud ialah
kesetiaan terhadap jabatan, pekerjaan serta organisasi.
Lain halnya dengan Chaerudin (2020:92) menyuarakan bahwa loyalnya
karyawan yaitu bukan semata-mata mengenai kesetiaan fisik yang tergambarkan pada
lamanya karyawan mengabdi pada perusahaan, tetapi juga keadaan psikologis yang
menghubungkan pekerja dengan bisnis mereka, seperti ide dan seluruh dedikasi mereka
kepada perusahaan. Sementara Poerwopoespito (2000) menerangkan bahwa karyawan
yang menempatkan keterampilan dan keahliannya dalam pekerjaannya, menyelesaikan
tugas dengan penuh tanggung jawab, jujur dengan rekan kerja dan atasannya, disiplin,
menjunjung tinggi reputasi perusahaan, dan setia pada pekerjaannya untuk waktu yang
lama mencerminkan komitmen mereka terhadap pekerjaannya

Indikator-Indikator Pengembangan Karir


Menurut Yan Liu (2021) indikator-indikator pengembangan karir, berupa:

  1. Promosi yang jelas
  2. Peluang untuk menempati tertentu
  3. Peluang untuk ikut semua pendidikkan dan pelatihan
  4. Kenaikkan dalam mendisiplinkan diri
  5. Menaikkan motivasi karyawan
    Sedangkan Siagian (2019) indikator dari pengembangan karir yaitu:
    1) Keadilan yang berlaku dalam bekerja
    Promosi yang obyektif dan rasional dengan mencakup faktor-faktor
    seperti kinerja pekerjaan, keterampilan dan kompetensi, pengalaman, dan
    potensi untuk tumbuh dan berkembang, akan menciptakan organisasi yang
    transparan dan adil untuk mengevaluasi karyawan serta memudahkan
    memilih kandidat yang paling memenuhi syarat untuk dipromosikan.
    2) Perhatian dari petinggi
    Melibatkan atasan dalam perencanaan karir individu dapat membantu
    karyawan mengidentifikasi jalur karir potensial dalam organisasi dan
    keterampilan serta pengalaman yang dibutuhkan untuk mencapainya.
    Atasan dapat memberikan nasihat, dukungan, dan bimbingan untuk
    membantu karyawan dalam berkembang dan maju mengenai karir mereka,
    serta mengidentifikasi peluang pelatihan dan pengembangan potensial yang
    dapat meningkatkan keterampilan.
    3) Informasi mengenai beragam peluang promosi
    Akses ke informasi mengenai peluang promosi sangat penting bagi
    karyawan yang ingin memajukan karir mereka dalam suatu organisasi.
    Proses seleksi menunjukkan komitmen terhadap praktik yang transparan
    dan adil dapat membantu membangun kepercayaan dan keterlibatan di
    antara karyawan, karena mereka merasa dihargai dan didukung dalam
    tujuan karir mereka.
    4) Keinginan untuk dinaikkan
    Strategi yang fleksibel dan proaktif perlu digunakan untuk mendorong
    minat karyawan dalam pengembangan karir. Penting bagi pengusaha untuk
    memberi dukungan dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapainya.
    Melakukan diskusi rutin dengan karyawan untuk memahami aspirasi karir
    mereka dan mengidentifikasi jalur pengembangan karir dalam organisasi
    yang sejalan dengan tujuan karyawan.
    5) Prestasi kerja memuaskan
    Prestasi kerja seorang karyawan merupakan faktor penting dalam
    kemampuan mereka sebagai bahan pertimbangan promosi ke posisi atau
    tanggung jawab yang lebih di masa mendatang. Atasan biasanya mencari
    karyawan yang telah menunjukkan rekam jejak kesuksesan, pencapaian, dan
    kontribusi yang kuat bagi organisasi (loyal)

Pengertian Pengembangan Karir

Pengembangan karir ialah suatu peningkatan terhadap sebuah pekerjaan
menjadi lebih tinggi pada tanggung jawab, wewenang, tugas, kompetensi dan lain
sebagainya. Sutrisno (2019:165) menyatakan pengembangan karir ialah proses
peningkatan keterampilan, kemampuan, pengetahuan, dan pengembangan profesional
seseorang secara keseluruhan untuk mencapai tujuan karir tertentu. Dengan artian,
organisasi atau pimpinan perusahaan telah membuat strategi sebelumnya mengenai hal-
hal yang perlu dilaksanakan untuk memajukan karir karyawan selagi mereka bekerja.
Lain halnya dengan yang dikemukakan oleh Arismunandar & Khair (2020) yang
menyatakan bahwa pengembangan karir adalah kemitraan antara karyawan dan
perusahaan untuk mendukung pertumbuhan dan peningkatan karir karyawan melalui
berbagai kegiatan dan inisiatif. Dengan berinvestasi dalam pengembangan karir,
perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang positif yang mendukung
keterlibatan dan retensi karyawan, serta mendorong kesuksesan bisnis secara
keseluruhan.
Pendapat lain juga dikatakan oleh Priansa (2018:161) yang berpendapat bahwa
pengembangan karir adalah proses berkelanjutan dan berkesinambungan yang
melibatkan berbagai kegiatan dan inisiatif untuk mendukung pertumbuhan dan
kemajuan karyawan. Pengembangan karir merupakan upaya yang dapat dilakukan baik
oleh karyawan maupun organisasi guna mencapai kinerja dan pertumbuhan yang
optimal dengan melibatkan berbagai kegiatan dan inisiatif yang memungkinkan
karyawan untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan
pengalaman mereka, serta memberikan kesempatan untuk memajukan karir karyawan
(Busro, 2018)

Indikator-Indikator Beban Kerja


Terdapat beberapa indikator-indikator oleh Koesomowidjojo (2017:33),
diantaranya:

  1. Keadaan Pekerjaan
    Keadaan kerja konsentrasikan yaitu tentang bagaimana seseorang
    mengerti dan menguasai tugas dengan baik. Misalnya, terdapat seorang
    karyawan yang bekerja dibagian produksi yang berkaitan dengan
    pengoperasian mesin produksi. Maka dapat dilihat seberapa jauh karyawan
    dalam memahami dan mengerti pengoperasian mesin produksi. Maka dari
    itu, perusahaan perlu menerapkan serta melakukan sosialisasi tentang SOP
    (Standard Operational Procedure) kepada seluruh karyawan sehingga
    dapat bekerja dengan:
    a. Dapat menjalankan pekerjaan sesuai dengan standar
    b. Memperkecil terjadinya kesalahan dan kecelakaan kerja dalam pelaksanaan
    kerja
    c. Menekan besaran beban kerja karyawan dan menumbuhkan comparability,
    credibility serta defensibility
    d. Memiliki sistem yang memungkinkan evaluasi proses kerja yang dapat
    membantu perusahaan mengidentifikasi area untuk perbaikan dan
    meningkatkan efisiensi secara keseluruhan
    e. Memberi kebijakan agar karyawan mudah menentukan keputusan
    f. Memudahkan karyawan dalam berkomunikasi dengan rekan kerja maupun
    atasan
  2. Pemakaian Jam Kerja
    Beban karyawan dapat dikurangi dengan menjadwalkan jam kerja sesuai
    dengan SOP. Namun, banyak perusahaan kekurangan SOP atau
    menjalankan SOP secara tidak konsisten, menyebabkan penggunaan jam
    kerja yang diberikan kepada pekerja menjadi melampaui atau benar-benar
    terbatas.
  3. Sasaran Yang wajib berhasil
    Beban kerja yang akan diselesaikan oleh pegawai secara alami akan
    dipengaruhi secara langsung oleh tujuan kerja yang telah ditetapkan oleh
    organisasi. Semakin banyak beban yang diterima dan dialami oleh pegawai,
    maka semakin tidak seimbang antara jam penyelesaian dengan banyaknya
    pekerjaan yang diberikan.

Jenis Beban Kerja


Koesoemowidjojo (2017:22) berpendapat bahwa terdapat dua macam dari
beban kerja, antara lain:
1) Beban kerja kuantitatif, ditunjukkan ketika terdapat banyak pekerjaan yang
harus dilakukan, itu dapat menunjukkan beberapa faktor seperti jam kerja,
tekanan kerja yang tinggi, atau tanggung jawab yang signifikan pada
pekerjaan. Hal ini dapat menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap
kesejahteraan karyawan, termasuk masalah kesehatan fisik dan mental,
kelelahan, dan penurunan kepuasan kerja.
2) Beban kerja kualitatif, terkait dengan kemampuan atau ketidakmampuan
karyawan untuk melakukan tugas secara efektif dapat berdampak signifikan
pada kinerja, kepuasan kerja, dan kesejahteraan karyawan secara
keseluruhan. Ketika karyawan terampil dan kompeten, mereka dapat
melaksanakan pekerjaan mereka dengan mudah, yang mengarah ke rasa
pencapaian dan pengalaman kerja yang positif. Namun, ketika karyawan
kekurangan keterampilan yang diperlukan atau menghadapi kesulitan dalam
melaksanakan pekerjaannya, hal itu dapat menyebabkan stres, frustrasi, dan
penurunan produktivitas