Teori Job Satisfaction


Ada lima teori yang berkaitan dengan kepuasan kerja (Indrasari, 2017:42),
yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Teori pemenuhan kebutuhan
    Teori ini berargumen bahwa kepuasan kerja diukur melalui penghargaan yang
    diterima oleh karyawan atau tingkat kebutuhan yang berhasil dipenuhi.
    Karyawan akan merasa puas jika mereka mendapatkan apa yang mereka
    butuhkan. Semakin banyak kebutuhan yang terpenuhi, semakin tinggi
    kepuasan yang dirasakan oleh karyawan, dan sebaliknya. Terdapat hubungan
    positif yang langsung antara kepuasan kerja dan pemenuhan kebutuhan yang
    diharapkan.
  2. Teori equity
    Teori ini menjelaskan bahwa kepuasan seseorang bergantung pada persepsi
    keadilan yang dirasakannya. Rasa keadilan atau ketidakadilan ini muncul dari
    perbandingan diri dengan orang lain yang berada dalam posisi yang sama,
    baik di lingkungan kerja maupun di tempat lain. Teori ini membagi konsep
    equity menjadi tiga kompon utama:
    a. Input, yang mencakup segala sesuatu yang dianggap berharga oleh
    pegawai sebagai kontribusi untuk pekerjaannya, seperti pendidikan,
    pelatihan, dan alat kerja.
    b. Out comes, yang merujuk pada segala hal yang dianggap berharga oleh
    pegawai sebagai hasil dari pekerjaannya, termasuk gaji, status, dan
    pengakuan atas prestasi.
    c. Comparisons person, yaitu perbandingan antara input dan out comes yang
    diterima. Menurut teori ini, kepuasan atau ketidakpuasan pegawai
    ditentukan oleh perbandingan antara input-output dirinya dan input-output
    pegawai lain. Jika perbandingan tersebut menunjukkan keadilan, maka
    pegawai akan merasa puas, sebaliknya jika tidak, maka ketidakpuasan
    akan muncul
  3. Teori Ketidaksesuaian
    Teori ini menjelaskan bahwa untuk menilai kepuasan kerja individu, perlu
    dilakukan analisis terhadap perbedaan antara harapan yang dimiliki terhadap
    pekerjaan dan realitas yang dialaminya. Tingkat kepuasan kerja seseorang
    dipengaruhi oleh ketidaksesuaian antara harapan, kebutuhan, atau nilai-nilai
    yang diinginkan dengan apa yang dirasakan atau dicapai melalui pekerjaan
    tersebut. Oleh karena itu, sikap karyawan terhadap pekerjaannya sangat
    dipengaruhi oleh perbedaan yang mereka rasakan.
  4. Teori motivasi dua faktor
    Teori ini menyatakan bahwa terdapat dua kategori yang mempengaruhi
    tingkat kepuasan dan ketidakpuasan pegawai, yaitu:
    a. Faktor pemeliharaan atau faktor ketidakpuasan, yang meliputi elemen-
    elemen yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk mencapai
    kenyamanan fisik, seperti gaji, kualitas supervisi, kebijakan organisasi,
    serta hubungan interpersonal di antara rekan kerja, atasan, dan bawahan,
    serta aspek keamanan kerja, status, dan kondisi kerja.
    b. Faktor motivator atau faktor kepuasan, yang berfokus pada kebutuhan
    psikologis pegawai. Faktor ini berkaitan dengan pengharg aan terhadap
    individu yang berhubungan langsung dengan pekerjaan, seperti prestasi,
    pengakuan, dan karakteristik pekerjaan itu sendiri.
  5. Teori kelompok acuan sosial
    Teori ini memiliki kesamaan dengan teori pemenuhan kebutuhan, tetapi
    perbedaannya terletak pada fakta bahwa harapan, keinginan, dan kepentingan
    berasal dari individu dalam konteks kelompok, bukan sebagai individu yang
    terpisah. Teori ini menyatakan bahwa jika pekerjaan sejalan dengan
    kepentingan, harapan, dan tuntutan individu dalam kelompok, maka individu
    tersebut akan merasakan kepuasan dalam pekerjaannya. Namun, dalam
    praktiknya, individu tidak selalu mengikuti keputusan kelompok dan
    terkadang menunjukkan sikap independen