Luthans et al. (2007) menyatakan bahwa strategi peningkatan resiliensi secara
proaktif dan reaktif di tempat kerja dapat berkontribusi terhadap kepuasan
hidup sehingga resiliensi karyawan memengaruhi kebahagiaan individu di
tempat kerja. Memerluas argumen tersebut, Prayag et al. (2019),
mengungkapkan resiliensi pada diri seseorang dapat memberikan pengaruh
positif terhadap kepuasan hidup pemilik atau manajer bisnis. Sejalan dengan
itu resiliensi juga ditemukan untuk memprediksi kepuasan hidup karena dapat
bekerja sebagai perisai seseorang dalam menghadapi berbagai kesulitan
(Langer, 2004)
Resiliensi karyawan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. (Athota,
V. S., Budhwar, P., & Malik, A., 2020) dalam penelitiannya pada karyawan
di Australia dan India terdapat pengaruh positif dan signifikan antara
resiliensi dengan kinerja karyawan. Diperkuat oleh penelitian ( (Walpita, Y.
N, 2020)) bahwa jika resiliensi tinggi, maka kinerja karyawan cenderung
semakin tinggi. Karena tingginya tingkat resiliensi bisa menurunkan dampak
negative di dalam pekerjaan. (Li, P. P, 2020) menemukan bahwa resiliensi
berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja
