Indikator Motivasi Kerja


Menurut Hasibuan (2020:142) motivasi memiliki indikator motivasi kerja
sebagai berikut:

  1. Kebutuhan Fisik, yaitu dimana manusia itu membutuhkan motivasi dalam
    dirinya untuk dapat mencapai apa yang diinginkannya. Kebutuhan fisik
    tersebut dapat berupa adanya pembayaran gaji karyawan yang layak,
    adanya bonus atau uang lembur, dan tunjangan berupa uang makan dan
    transportasi.
  2. Kebutuhan Rasa Aman dan Keselamatan, yaitu dalam hal ini suatu
    organisasi perlu dan harus adanya memberikan fasilitas kerja yang aman
    dan nyaman bagi karyawannya, fasilitas itu dapat berupa jaminan
    keselamatan kerja, dana pensiun, dan alat-alat perlengkapan keselamatan
    dalam bekerja lainnya.
  3. Kebutuhan Sosial, yaitu suatu kebutuhan yang seseorang lakukan melalui
    interaksi dengan seseorang lainnya, interaksi tersebut berupa menjalin
    hubungan pertemanan, diterimanya seseorang atau individu dalam suatu
    kelompok, dan adanya keinginan dicintai dan mencintai.
  4. Kebutuhan Akan Penghargaan sesuai dengan kemampuanmya, yaitu suatu
    hal yang berhubungan dengan adanya pengakuan dari orang lain atas suatu
    prestasi kerja yang telah dicapai, hal ini seperti keinginan karyawan untuk
    dihormati serta di hargai oleh karyawan lainnya dan keinginan karyawan
    yang dihargai oleh atasannya atas pencapaian atau prestasi kerja yang telah
    ia raih, hal ini akan membuat karyawan terdorong atau termotivasi dalam
    bekerja
    Sedangkan Menurut Syahyuti (dalam Syarief dkk, 2022) menyebutkan
    bahwa terdapat beberapa indikator untuk mengukur motivasi kerja, yaitu:
  5. Dorongan mencapai tujuan, seseorang yang mempunyai motivasi kerja
    yang tinggi maka dalam dirinya mempunyai dorongan yang kuat untuk
    mencapai kinerja yang maksimal, yang nantinya akan berpengaruh
    terhadap tujuan dari suatu organisasi;
  6. Semangat kerja, semangat kerja sebagai keadaan psikologis yang baik
    apabila semangat kerja tersebut menimbulkan kesenangan yang
    mendorong seseorang untuk bekerja lebih giat dan lebih baik serta
    konsekuen dalam mencapai tujuan yang ditetapkan oleh organisasi;
  7. Inisitaif dan kreativitas, inisiatif diartikan sebagai kekuatan untuk
    kemampuan seseorang pegawai untuk memulai atau meneruskan suatu
    pekerjaan dengan penuh energi tanpa ada dorongan dari orang lain atau
    atas kehendak sendiri, sedangkan kreativitas merupakan kemampuan
    seseorang pegawai untuk menemukan hubungan-hubungan baru dan
    membuat kombinasi-kombinasi yang baru sehingga dapat menemukan
    sesuatu yang baru. Dalam hal ini sesuatu yang baru bukan berarti
    sebelumnya tidak ada, akan tetapi sesuatu yang baru ini dapat berupa
    sesuatu yang belum dikenal sebelumnya;
  8. Rasa tanggung jawab, sikap individu pegawai yang mempunyai motivasi
    kerja yang baik harus mempunyai rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan
    yang mereka lakukan sehingga pekerjaan tersebut mampu diselesaikan
    secara tepat waktu

Jenis-Jenis Motivasi Kerja


Menurut Hasibuan (2020:150) motivasi memiliki jenis-jenis sebagai
berikut:

  1. Motivasi Positif, merupakan usaha atasan untuk mempengaruhi
    bawahannya supaya termotivasi atau bersemangat dalam bekerja dengan
    cara memberikan hadiah, karena dengan pemberian hadiah tersebut
    semangat bekerja bawahan akan meningkat.
  2. Motivasi Negatif, merupakan usaha atasan untuk mempengaruhi
    bawahannya dengan pemberian hukuman yang standar. Dengan ini
    semangat bekerja bawahan dalam jangka waktu yang pendek dapat
    meningkat karena mereka takut akan hukumannya, akan tetapi jika dalam
    jangka waktu yang panjang dapat berakibat fatal

Faktor Yang mempengaruhi Motivasi Kerja


Menurut Afandi (2021:24) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
motivasi kerja yaitu :

  1. Kebutuhan Hidup Kebutuhan untuk dapat mempertahankan hidup, seperti
    makanan, minuman, tempat tinggal, dan sebagainya. Adanya keinginan ini
    membuat seseorang lebih giat dalam bekerja.
  2. Kebutuhan Masa Depan Kebutuhan akan masa depan yang cerah serta baik
    hingga tercipta hal yang harmonis dan tenang.
    27
  3. Kebutuhan Harga Diri Kebutuhan akan penghargaan dalam diri seseorang
    serta pengakuan dari masyarakat lingkungannya. Hal ini dapat membuat
    seseorang termotivasi untuk dapat dihargai.
  4. Kebutuhan Pengakuan Prestasi Kerja Kebutuhan atas prestasi kerja yang
    dibutuhkan seseorang dicapai dengan menggunakan kemampuan,
    keterampilan, serta potensi yang optimal untuk dapat mencapai prestasi
    kerja yang sangat memuaskan

Tujuan Pemberian Motivasi


Tujuan Pemberian Motivasi Menurut (Syarief dkk, 2022) tujuan
pemberian motivasi kepada para pegawai yaitu:

  1. Mengubah perilaku pegawai sesuai dengan keinginan organisasi;
  2. Meningkatkan gairah dan semangat kerja;
  3. Meningkatkan disiplin kerja;
  4. Meningkatkan prestasi kerja;
  5. Mempertinggi moral kerja pegawai;
  6. Meningkatkan rasa tanggung jawab;
  7. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi;
  8. Menumbuhkan loyalitas pegawai pada organisasi.
    Sedangkan menurut Sedarmayanti (dalam Adhari, 2021) bahwa tujuan
    adanya pemberian motivasi kerja terhadap pegawai yaitu:
  9. Mengubah perilaku pegawai sesuai keinginan organisasi;
  10. Meningkatkan semangat dan semangat kerja;
  11. Meningkatkan disiplin kerja;
  12. Meningkatkan prestasi kerja;
  13. Meningkatkan rasa tanggung jawab;
  14. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi;
  15. Menumbuhkan loyalitas pegawai pada organisasi

Pengertian Motivasi


Menurut Wardan (2020:109) Motivasi adalah usaha atau kegiatan manajer
untuk dapat menimbulkan atau meningkatkan semangat dan kegairahan kerja dari
para pekerja-pekerja atau karyawan-karyawannya.
Sedangkan menurut Mohtar (2019:20) Motivasi adalah dorongan kerja
yang timbul pada diri seseorang untuk berperilaku dalam mencapai tujuan yang
telah ditentukan.
Begitupun Afandi (2021:23) yang menyatakan bahwa motivasi merupakan
suatu keinginan yang muncul pada diri seseorang atau individu karena seseorang
itu terinspirasi, tersemangati, dan terdorong untuk mengerjakan aktivitas dengan
ikhlas, perasaan senang, dan bersungguh-sungguh sehingga hasil dari aktivitas
yang dilakukan mendapatkan hasil yang baik serta berkualitas.
Menurut (Hasibuan, 2021:143), motivasi merupakan daya penggerak yang
memunculkan aksi gairah bekerja seseorang untuk dapat bekerja sama secara
tersturktur dan efisien. Perusahaan tidak hanya menginginkan karyawan yang
cakap, terampil, pintar, dan sebagainya, yang penting juga disongkongi dengan
kerja keras yang tinggi dan kerja giat yang tinggi untuk mencapai tujuan bersama.
Hal yang sama di sampaikan Syarief,et al, (2022) Motivasi kerja
merupakan suatu proses dimana kebutuhan mendorong seseorang untuk
melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah ke tercapainya tujuan tertentu
dan tujuan organisasi dan untuk memenuhi beberapa kebutuhan

Indikator Kompensasi


Kompensasi memiliki pengukuran dalam pemberiannya. Indikator dalam
pemberian kompensasi oleh organisasi untuk pegawai tentu berbeda-beda.
Menurut (Hasibuan, 2021) indikator kompensasi terbagi menjadi dua yaitu:
kompensasi langsung (direct compensation) berupa gaji, upah, dan upah insentif;
kompensasi tidak langsung (indirect compensation atau employee welfare) atau
kesejahteraan pegawai). Berikut ini penjelasannya:

  1. Gaji adalah balas jasa yang dibayar secara periodik kepada pegawai tetap
    serta mempunyai jaminan yang pasti. Maksudnya, gaji akan tetap
    dibayarkan walupun pekerja tersebut tidak masuk kerja.
  2. Upah adalah balas jasa yang dibayarkan kepada pekerja harian dengan
    berpedoman atas perjanjian yang disepakati membayarnya.
  3. Upah insentif adalah tambahan balas jasa yang diberikan kepada pegawai
    tertentu yang prestasinya di atas prestasi standar. Upah insentif ini
    merupakan alat yang dipergunakan pendukung prinsip adil dalam
    pemberian kompensasi.
  4. Benefit dan Service Benefit dan Service adalah kompensasi tambahan
    (finansial atau nonfinansial) yang diberikan berdasarkan kebijaksanaan
    organisasi terhadap semua pegawai dalam usaha untuk meningkatkan
    kesejahteraan mereka. Seperti tunjangan hari raya, uang pensiun, pakaian
    dinas, kafetaria, mushala, olahraga, dan darmawisata.
    Menurut Affandi (2018:194) mengemukakan, secara umum ada beberapa
    indikator kompensasi, yaitu :
  5. Upah dan gaji Upah biasanya berhubungan dengan tarif gaji perjam. Upah
    merupakan basis bayaran yang seringkali digunakan bagi pekerja produksi
    dan pemeliharaan. Gaji umumnya berlaku untuk tarif bayaran mingguan,
    bulanan atau tahunan.
  6. Insentif, adalah tambahan kompensasi diatas atau diluar gaji yang
    diberikan oleh perusahaan.
  7. Tunjangan, merupakan bayaran atau jasa yang diberikan perusahaan
    sebagai pelengkap gaji pokok.
  8. Fasilitas Contoh fasilitas adalah kenikmatan/fasilitas seperti mobil
    perusahaan, tempat parkir khusus, atau akses perusahaan yang diperoleh
    karyawan

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kompensasi


Menurut Hasibuan (2020:127) faktor-faktor yang mempengaruhi
kompensasi yaitu :

  1. Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja. Dalam hal ini jika penawaran
    yang ada itu lebih besar dari lowongan pekerjaan maka tingkat kompensasi
    relatif kecil, begitupun sebaliknya jika terdapat penawaran lebih kecil
    sedangkan lowongan pekerjaan itu lebih besar maka kompensasi yang
    ditawarkan akan relatif lebih besar.
  2. Kemampuan dan Kesediaan Perusahaan. Dalam hal ini apabila jika
    perusahaan atau suatu organisasi tersebut mampu dan bersedia
    memberikan kompensasi dengan baik maka tingkat kompensasi semakin
    besar, begitupun sebaliknya apabila perusahaan atau suatu organisasi
    tersebut hanya mampu memberikan kompensasi rendah maka tingkat
    kompensasi pun rendah.
  3. Produktivitas Kerja Pegawai atau Karyawan. Dalam hal ini jika
    produktivitas kerja yang dilakukan pegawai atau karyawan tersebut baik,
    maka tingkat kompensasi yang akan didapatkan akan semakin besar,
    begitupun sebaliknya jika produktivitas yang dilakukan pegawai atau
    karyawan buruk, maka kompensasi yang akan didapatkan pun rendah.
  4. Biaya Hidup Dalam hal ini biaya hidup dapat menentukan tinggi
    rendahnya tingkat kompensasi. Yang dimana jika biaya hidup di daerah
    tersebut tinggi maka tingkat pendapatan kompensasi juga akan tinggi
    begitupun dengan sebaliknya.
  5. Kondisi Perekonomian Nasional Dalam hal ini tinggi atau rendahnya
    tingkat pemberian kompensasi yang dilakukan perusahaan kepada pegawai
    juga dapat disebabkan oleh kondisi perekonomian saat itu. Jika
    perekonomian sedang tinggi maka kompensasi yang akan diberikan pun
    akan tinggi, sebaliknya jika perekonomian sedang merosot maka
    kompensasi yang akan diberikan pun akan rendah

Tujuan Kompensasi


Menurut Hasibuan (2020:121) tujuan pemberian kompensasi antara lain
yaitu sebagai ikatan kerja sama, kepuasan kerja, motivasi, stabilitas karyawan, dan
disiplin. Berikut penjelasannnya :

  1. Ikatan Kerja Sama. Dengan adanya pemberian kompensasi kepada
    karyawan dapat menciptakan suatu ikatan kerja sama antara bos dengan
    karyawan. dalam hal ini karyawan harus mengerjakan tugas-tugasnya
    dengan baik, sedangkan bos atau pengusaha wajib membayarkan
    kompensasi sesuai dengan yang sudah disepakati.
  2. Kepuasan Kerja. Dengan adanya balas jasa, karyawan akan dapat
    memenuhi kebutuhan fisiknya, status sosial, dan egoistiknnya sehingga
    memperoleh kepuasan kerja.
  3. Motivasi. Dengan pemberian balas jasa yang diberikan cukup besar,
    karyawan akan sangat termotivasi dalam bekerja.
  4. Stabilitas Karyawan. Dengan pemberian kompensasi dengan prinsip adil
    dan layak maka stabilitas karyawan akan lebih terjamin.
  5. Disiplin. Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin
    karyawan akan semakin baik. Para karyawan akan menyadari akan
    tanggung jawabnya serta menaati peraturan-peraturan yang berlaku.
    Sejalan dengan hal tersebut, Martoyo (1994) dalam Akbar, et al.,
    (2021:127) berpendapat bahwa tujuan kompensasi adalah:
  6. Pemenuhan kebutuhan ekonomi pegawai atau sebagai jaminan economic
    security bagi pegawai.
  7. Mendorong agar pegawai lebih baik dan lebih giat.
  8. Menunjukkan bahwa organisasi mengalami kemajuan.
  9. Menunjukkan penghargaan dan perlakuan adil organisasi terhadap
    pegawainya (adanya keseimbangan antara input yang diberikan pegawai
    terhadap organisasi dan output atau besarnya imbalan yang diberikan
    organisasi kepada pegawai).
    Menurut Priyono dan Marmis (dalam Suryani dan FoEh, 2019)
    mengungkapkan bahwa tujuan dari pemberian kompensasi umumnya
    diperuntukan untuk kepentingan organisasi, pegawai, pemerintah dan masyarakat.
    Secara lebih rinci diuraikan tujuan program kompensasi meliputi:
  10. Ikatan kerjasama Dengan adanya pemberian kompensasi maka terjalinlah
    ikatan kerja sama formal antara organisasi dan pegawai, dimana pegawai
    harus mengerjakan tugasnya dengan baik sedangkan organisasi wajib
    membayar kompensasi yang telah disepakati.
  11. Kepuasan kerja Dengan pemberian balas jasa, pegawai dapat memenuhi
    kebutuhannya sehingga diperoleh kepuasan kerja dari jabatan yang
    diembannya.
  12. Motivasi Dengan kompensasi yang memadai, manajer merasa lebih mudah
    untuk memotivasi pegawai, yang pada gilirannya berarti berdampak pada
    peningkatan produktivitas.
  13. Stabilitas pegawai dengan program kompensasi yang berdasarkan prinsip
    adil dan wajar, stabilitas pegawai lebih terjamin karena turnover yang
    relatif rendah.
  14. Peningkatan disiplin Kompensasi yang sesuai prosedur memiliki dampak
    meningkatkan disiplin pegawai

Pengertian Kompensasi


Menurut Mari Maryati (2019) Kompensasi yang baik dapat menarik
karyawan yang memiliki kualifikasi yang baik, menjadikan karyawan loyal, puas
dengan pekerjaannya dan menginspirasi untuk lebih beprestasi.
Adapun menurut Cahya (2021) Kompensasi adalah semua pendapatan
yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang di terima
karyawan sebagai imbalan atas jasa yang di berikan kepada perusahaan tidak
hanya faktor pemberian kompensasi saja yang perlu diperhatikan oleh perusahaan
guna meningkatkan kepuasan kerja karyawan, akan tetapi perusahaan harus
memperhatikan faktor motivasi.
Menurut Hasibuan (2019:119), kompensasi adalah semua pendapatan
berupa uang tunai, barang, baik langsung maupun tidak langsung yang diterima
oleh seorang karyawan atas pemberian jasanya kepada perusahaan.
Pendapat yang sama di sampaikan Affandi (2018:191) mengatakan bahwa
Semua pendapatan yang berbentuk langsung atau tidak langsung yang diterima
karyawan sebagai imbalan atau jasa yang diberikan kepada perusahaan
Hal yang sama di sampaikan Akbar, et al.,(2021:125) kompensasi adalah
semua bentuk pengembalian (return) finansial dan tunjangan-tunjangan yang
diperoleh pegawai sebagai bagian dari sebuah hubungan kepegawaian

Indikator Servant Leadership


Menurut Widodo dalam (Suryati 2021) Indikator Servant Leadership
Sebagai berikut:

  1. Kasih sayang (love) Karakteristik pertama dalam Servant
    Leadershipadalah kepemimpinan yang mengasihi berdasarkan kasih
    sayang. Kasih sayang (love) mengacu pada bahasa Yunani yaitu cinta
    moral. Cinta berarti melakukan hal benar pada waktu yang tepatuntuk
    alasan yang benar.
  2. Pemberdayaan (empowerment) Pemberdayaan menempatkan penekanan
    pada kerjasama yaitu mempercayakan kekuasaan kepada orang lain, dan
    mendengarkan saran dari follower.
  3. Visi (vision) Visi merupakan arah kemana organisasi dan orang-orang
    yang dipimpin akan dibawa oleh seorang ,dan membantu membentuk
    masa depan, pengaruhnya lebih kuat terhadap orangorang yang bekerja
    untuk kepentingan organisasi.
  4. Kerendahan hati (humality) Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang
    menjaga kerendahan hati dengan menunjukkan rasa hormat terhadap
    karyawan serta mengakui kontribusi karyawan terhadap tim.
  5. Kepercayaan (trust) Servant Leadership adalah orang-orang pilihan
    diantara sejumlah orang lain dan pilihan itu didasarkan pada beberapa
    kelebihan tertentu yang menyebabkan Servant Leadership tersebut
    mendapatkan kepercayaan untuk menjadi pemimpin

Karakteristik Servant Leadership


Menurut Ken Blanchard (2018) menjelaskan tentang karakteristik yang
penting dari Servant Leadership yaitu:

  1. Listening (Mendengarkan). Dalam kepemimpinan yang melayani maka
    seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan komunikasi untuk
    mangambil suatu keputusan, sehingga pemimpin mudah mengidentifikasi
    pengambilan keputusannya melalui pendengaran dari bawahannya.
  2. Empathy (Empati). Seorang pemimpin yang melayani berusaha untuk
    memahami dan berempati dengan orang lain, sehingga seorang pekerja
    dapat diperlakukan tidak hanya sebagai pekerja biasa melainkan juga
    sebagai seseorang yang membutuhkan rasa hormat dan penghargaan.
  3. Healing (Penyembuhan). Sebuah kekuatan besar dari seorang
    kepemimpinan yang melayani adalah memiliki kemampuan untuk
    menyembuhkan orang lain dan dirinya sendiri. Seorang pemimpin yang
    melayani mencoba untuk membantu bawahannya dalam memecahkan
    masalah dan konflik yang sedang terjadi, karena pemimpin ingin
    mengembangkan kemampuan masing-masing individu. Hal tersebut
    mengarah kepada pembentukan budaya bisnis perusahaan.
  4. Persuasion (Persuasi). Seorang pemimpin yang melayani tidak akan
    mengambil keuntungan dari kekuatan statusnya dengan memaksakan
    bawahannya untuk patuh, tetapi mencoba lebih untuk meyakinkan
    bawahannya dalam melakukan sesuatu hal. Dapat di lihat salah satu hal
    kepemimpinan yang paling membedakan antara model Servant Leadership
    dengan otoriter tradisional.
  5. Conceptualization (Konseptualisasi). Seorang kepemimpinan yang
    melayani harus mempunyai pemikiran yang jauh melebihi realitas sehari-
    hari. Berarti pemimpin tersebut mempunyai kemampuan melihat untuk
    melampaui batas dalam mengkonsepkan bisnis operasinya dan fokus
    terhadap tujuan waktu jangka panjang perusahaan

Pengertian Kepemimpinan Melayani (Servant Leadership)


Menurut (Septiadi & Adnyani, 2019) Servant Leadership merupakan salah
satu model pendekatan leadership dimana pemimpin mengutamakan orang lain
atau karyawan daripada dirinya sendiri.
Menurut (Dumatubun, 2018) Servant Leadership yaitu suatu Kesetaraan
dan keadilan yang merupakaan nilai utama dari Servant Leadership karena hal
tersebut mendorong serta mendukung suatu perlakuan yang adil terhadap setiap 3
karyawan nilai tersebut bisa mempengaruhi persepsi karyawan untuk
meningkatakn loyalitas dan komitmen organisasi.
Menurut Saputra dan Anindita, (2021) Servant Leadership yaitu perilaku
memimpin orang lain dari sudut pandang penempatan kebutuhan organisasi,
tujuan organisasi dan kebutuhan orang-orang diatas kebutuhan dan keinginan
pemimpin sendiri.
Hal sama disampaikan oleh Pohan (2021) Servant Leadership diartikan
sebagai jenis kepemimpinan yang membahas masalah etika, menciptakan
organisasi dengan unik dan nyaman, pengalaman terhadap pelanggan dan
menganggap bawahan atau karyawan sebuah aset penting bagi perusahaan,.
Menurut Widodo dalam Suryati (2021) menjelaskan bahwa Servant
Leadership atau pemimpin yang melayani yaitu mempunyai kecenderungan lebih
mengutamakan kebutuhan, kepentingan dan aspirasi orang orang yang di
pimpinnya di atas dirinya

Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


Motivasi kerja adalah semangat atau hasrat dalam melakukan suatu
pekerjaan. Kinerja merupakan suatu ukuran hasil dalam menentukan
keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan yang sudah
ditentukan sebelumnya.
Didukung pada penelitian yang dilakukan Nila Hotiana (2018)
dengan hasil motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja. Penelitian lain yang dilakukan oleh Djafar (2018) juga
diperoleh hasil bahwa motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja.

Pengaruh Servant Leadership Terhadap Motivasi Kerja


Servant leadership adalah suatu bentuk kepemimpinan yang secara
langsung terlibat dalam setiap pekerjaan karyawannya, penuh tanggung
jawab, dan selalu mementingkan organisasi terlebih dahulu. Motivasi
kerja adalah suatu yang menciptakan dorongan atau semangat untuk
melakukan suatu pekerjaan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Aprilliansya et al. (2018)
yang menunjukkan hasil bahwa servant leadership berpengaruh positif
dan signifikan terhadap motivasi karyawan. Penelitian lain yang
dilakukan oleh Dewi dan Riana (2019) menunjukkan servant
leadership berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja

Pengaruh Servant Leadership Terhadap Kinerja


Servant leadership yaitu gaya kepemimpinan yang melayani berasal
dari hati untuk melayani, servant leadership mampu memicu semangat
kerja pada para karyawan, diakibatkan dari rasa perhatian yang
diberikan oleh atasan pada setiap karyawannya sehingga tercipta
semangat kerja pada karyawan tersebut (Neuschel, 2008). Kinerja
adalah hasil dari apa yang telah dilakukan oleh karyawan berdasar pada
tujuan dari organisasi.
Didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan
(2019) yang menunjukkan hasil bahwa servant leadership berpengaruh
positif signifikan terhadap kinerja karyawan

Indikator Motivasi


Indikator motivasi menurut Noermijati (2013) adalah sebagai
berikut :

  1. Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja yang menyenangkan akan meningkatkan
    semangat serta motivasi kerja pada karyawan.
  2. Gaya Kepemimpinan
    Gaya kepemimpinan yang tepat dalam organisasi dapat
    meningkatkan semangat dan motivasi karyawan.
  3. Kenyamanan dalam Bekerja
    Karyawan yang memiliki motivasi kerja tinggi dapat ditimbulkan
    dari rasa nyaman dalam melakukan pekerjaannya
  4. Kesempatan untuk Belajar
    Kesempatan untuk belajar yang sama dalam sebuah organisasi
    dapat memberikan motivasi lebih untuk peningkatan kinerja
    karyawan

Tori Herzberg


Dalam teori motivasi Herzberg motivasi bertumpu pada kajian
Motivation Factors dan Hygiene Factors. Motivation Factors
yaitu faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja disasarkan
pada pemenuhan kebutuhan seperti penghargaan, pencapaian,
tanggung jawab, serta peluang untuk tumbuh. Sedangkan
Hygiene Factors ditinjau dari bagaimana kondisi kerja,
lingkungan kerja, serta hal sejenisnya yang berpengaruh dalam
mendorong seseorang atau karyawan untuk memiliki semangat
kerja yang tinggi

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow


Dalam teori ini dijelaskan bahwa terdapat lima tingkatan
kebutuhan manusia yaitu FAKHA (Fisiologis, Aman, Kasih
sayang, Harga diri, dan Aktualisasi diri).

  1. Fisiologis
    Faktor fisiologis yaitu kebutuhan fisik seperti makanan,
    tempat tinggal, pakaian dan lain-lain.
  2. Rasa Aman
    Rasa aman yaitu keamanan serta perlindungan dari berbagai
    bahaya baik secara fisik maupun emosional.
  3. Sosial
    Kebutuhan sosial dapat meliputi kasih sayang, persahabatan,
    rasa memiliki, serta penerimaan.
  4. Penghargaan
    Penghargaan meliputi faktor-faktor internal seperti
    pencapaian, kemandirian, harga diri, faktor-faktor secara
    eksternal antara lain yaitu pengakuan, status, serta perhatian.
  5. Aktualisasi Diri
    Aktualisasi diri yaitu dorongan yang dapat membentuk
    seseorang untuk menjadi apa, hal ini meliputi pengembangan
    diri, pertumbuhan, serta pemenuhan diri.

Pengertian Motivasi


Motivasi kerja menurut Apriliansyah (2018) merupakan
kondisi yang dapat mendorong seseorang atau karyawan untuk
melakukan pekerjaannya guna mewujudkan tujuan dari organisasi
yang sudah ditetapkan. Motivasi kerja adalah kondisi yang
mempengaruhi dalam membangkitkan semangat seseorang atau
karyawan dalam mencapai tujuan organisasi (Iskandar dan
Yuhansyah, 2018). Hasibuan (2014) mengatakan bahwa, motivasi
menjadi faktor pendorong karyawan dalam meningkatkan kinerja
karyawan.
Motivasi kerja dapat meningkatkan semangat dan memiliki
energi lebih banyak untuk menghasilkan kinerja yang baik (Joseph,
2015). Karakteristik motivasi memiliki 3 macam yaitu :

  1. Usaha merujuk pada usaha karyawan dalam bekerja dan
    berusaha lebih giat daripada karyawan lain.
  2. Kemauan yang kuat merupakan pertanda bahwa karyawan
    memiliki motivasi kerja tinggi.
  3. Arah dan tujuan hidup membuat karyawan termotivasi dan
    memiliki semangat cukup tinggi dalam bekerja

Indikator Servant Leadership


Indikator dalam pengukuran servant leadership menurut
Sendjaya (2015) adalah sebagai berikut :

  1. Love (Kasih sayang)
    Memperlihatkan bagaimana pemimpin dapat menganggap
    orang lain sebagai alat dalam mencapai tujuan, namun
    dengan memperlakukan orang tersebut sebagaimana
    mestinya.
  2. Empowerment (pemberdayaan)
    Seorang pemimpin mempercayakan kekuasaannya pada
    orang lain serta memperhatikan saran dari karyawan
    sehingga tercipta kerjasama yang baik.
  3. Vision (visi)
    Memperlihatkan pada arah tujuan yang akan diambil oleh
    seorang pemimpin, hal ini dapat menginspirasi setiap
    tindakan dan membentuk arah yang lebih baik.
  4. Humality (kerendahan hati)
    Memperlihatkan pemimpin dalam menunjukkan rasa saling
    menghormati dan mengakui kontribusi dari hasil kerja
    setiap karyawannya.
  5. Trust (kepercayaan)
    Memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin adalah
    orang yang dipilih berdasarkan pada kemampuan, serta
    kelebihan dalam memperoleh kepercayaan tersebut.

Karakteristik Servant Leadership


Menurut Spears (2010) terdapat 10 karakter Servant
Leadership antara lain sebagai berikut:

  1. Listening (Mendengarkan)
    Kepemimpinan yang melayani diharuskan memperkuat
    keterampilan mendengarkan dengan berkomitmen
    mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian.
    Kepemimpinan pelayan berusaha mengidentifikasi keinginan
    kelompok, Mendengarkan juga mencakup dengan suara hati
    seseorang dan berusaha untuk memahami apa yang
    dikomunikasikan tubuh, jiwa, dan pikiran seseorang.
  2. Empathy (Empati)
    Pemimpin pelayan berusaha untuk berempati dengan orang lain,
    karena setiap orang memerlukan untuk dihargai dan diterima
    atas semangat khusus dan unik mereka. Seorang pemimpin
    pelayan akan sukses bila mereka terampil sebagai seorang
    pendengar yang empati.
  3. Healing (Penyembuhan)
    Kekuatan dalam Kepemimpinan pelayan alah satunya adalah
    potensi untuk menyembuhkan diri sendiri maupun orang lain.
  4. Awareness (Kesadaran)
    Kesadaran dapat membantu pemimpin untuk berkomitmen
    dalam menumbuhkan kesadaran pada setiap karyawannya,
    memahami masalah yang berhubungan dengan etika,
    kekuasaan, dan nilai-nilai.
  5. Persuasion (Bujukan)
    Pemimpin pelayan dapat mengandalkan persuasi, bukan otoritas
    posisi dalam pembuatan keputusan. Karakter ini menjadikan
    pemimpin pelayan berusaha untuk meyakinkan orang lain
    bukan melalui paksaan.
  6. Conceptualization (Konseptual)
    Kemampuan pemimpin pelayan dalam melihat suatu masalah
    atau organisasi dari perspektif konseptualisasi berarti seseorang
    diharuskan untuk berpikir diluar kenyataan sehari-hari.
  7. Foresight (Tinjauan ke masa depan)
    Karakteristik pemimpin pelayan dalam memahami pelajaran di
    masa lalu, realita saat ini, serta kemungkinan dan konsekuensi
    dari keputusan yang diambil untuk masa depan.
  8. Stewardship (Penata layanan)
    Kepemimpinan pelayan memainkan peran yang cukup penting
    dalam kepercayaan untuk kebaikan masyarakat yang lebih
    besar, yakni seperti penata layanan yang melayani kebutuhan
    orang lain.
  9. Commitment to the growth of people (Komitmen terhadap
    pertumbuhan orang)
    Pemimpin pelayan memiliki tanggung jawab dalam upaya
    peningkatan pertumbuhan profesional karyawan dan organisasi.
    Dengan menyediakan dana untuk pengembangan pribadi
    maupun profesional, mendorong minat, memastikan setiap
    karyawan ikut andil dalam pengambilan keputusan, dan secara
    aktif membantu setiap karyawan.
  10. Building Community (Membangun Komunitas)
    Membangun komunitas berarti menganalisis strategi dalam
    pembangunan komunitas, membangun komunitas mencakup
    membangun komunitas antar karyawan, pemimpin serta
    bawahan, antara masyarakat dan pelanggan

Pengertian Servant Leadership


Servant Leadership atau Kepemimpinan Pelayan
merupakan model kepemimpinan yang diperkenalkan Robert K.
Greenleaf pada tahun 1970. Suprianto (2016) menyebutkan
Servant Leadership atau biasa disebut kepemimpinan pelayan
adalah kepemimpinan yang mengembangkan karyawan,
memberdayakan karyawan, bertanggung jawab, dan tidak
mementingkan diri sendiri. Pemimpin yang berprinsip melayani
karyawan tanpa adanya imbalan adalah bentuk gaya
kepemimpinan servant leadership, Sendjaya (2015).

Indikator Kinerja


Indikator kinerja karyawan yang diutarakan Mangkunegara
(2016) adalah sebagai berikut :

  1. Kualitas kerja merupakan seberapa baik kinerja yang telah
    dilakukan oleh karyawan
  2. Kuantitas kerja merupakan penilaian kinerja yang dilakukan
    karyawan dalam melakukan pekerjaannya dalam sehari.
    Kuantitas dapat dinila dari kecepatan kerja yang dilakukan
    masing-masing pegawai.
  3. Pelaksanaan tugas merupakan seberapa baik karyawan dalam
    melakukan pekerjaan secara akurat.
  4. Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran pada
    kewajiban karyawan dalam melaksanakan pekerjaan yang
    diberikan.
    Sedangkan indikator kinerja yang diungkapkan oleh
    Sudarmanto (2015) sebagai berikut :
  5. Quality, berkaitan dengan proses dan hasil yang ideal dalam
    memenuhi tujuan.
  6. Quantity, berkaitan dengan jumlah yang dihasilkan.
  7. Timeliness, berkaitan dengan waktu yang diperlukan untuk
    menyelesaikan tugas yang diberikan.
  8. Cost Effectiveness, berkaitan dengan tingkat penggunaan
    sumber daya dalam organisasi (orang, materi, uang,
    teknologi) untuk memperoleh hasil dalam penggunaan
    sumber-sumber organisasi.
  9. Need For Supervision, berkaitan dengan kemampuan setiap
    individu dalam penyelesaian tugas tanpa perlunya
    pengawasan dari pimpinan.
  10. Interpersonal Impact, berkaitan dengan kemampuan
    individu dalam peningkatan kemampuan diri, serta kerja
    sama antar sesama karyawan

Faktor-faktor Kinerja


Faktor-faktor kinerja dipengaruhi oleh tiga faktor
(Mangkunegara, 2016) yaitu :

  1. Faktor Individual
    Faktor individual terdiri atas kemampuan dan keterampilan,
    latar belakang serta demografi.
  2. Faktor Psikologis
    8
    Faktor Psikologis terdiri atas personality, attitude, motivasi,
    dan pembelajaran.
  3. Faktor Organisasi
    Faktor organisasi terdiri atas kepemimpinan, sumber daya,
    serta penghargaan

Dimensi Kinerja


Dimensi Kinerja menurut Edison et, al. (2016) sebagai
berikut :

  1. Target
    Merupakan sebuah indikator dalam pemenuhan jumlah
    kegiatan, atau jumlah pekerjaan yang dihasilkan.
  2. Kualitas
    Kualitas diukur dari bagaimana kualitas pekerjaan yang
    dicapai serta kesempurnaan, keterampilan, dan kemampuan
    setiap karyawan. Hasil pekerjaan diharapkan mendekati
    sempurna atau memenuhi tujuan dari pekerjaan tersebut.
  3. Ketepatan Waktu
    Ketepatan waktu diukur berdasarkan tingkat ketepatan
    terhadap suatu pekerjaan yang terselesaikan yakni dari awal
    pemberian pekerjaan hingga menjadi output. Menyelesakan
    dalam waktu yang ditentukan serta pemanfaatan waktu
    semaksimal mungkin untuk aktivitas lain.
  4. Tata Asas
    Dalam melakukan diperlukan pemenuhan target, kualitas,
    dan ketepatan waktu namun harus dilakukan dengan benar,
    transparan, dan dapat dipertanggung jawabkan dapat menjadi
    salah satu penentu kinerja karyawan

Pengertian Kinerja Karyawan


Kinerja Karyawan yaitu suatu hasil kerja yang diperoleh oleh
seseorang dalam penyelesaian tugas yang dibebankan
kepadanya dan didasarkan pada pengalaman, kecakapan, dan
kesungguhan (Hasibuan, 2013). Menurut Robbins dan Judge
(2016) kinerja merupakan sebuah hasil yang diraih oleh
karyawan pada pekerjaannya dengan kriteria tertentu yang
berlaku dalam setiap pekerjaan. Sari (2015) mendefinisikan
kinerja karyawan merupakan hasil kerja yang diraih oleh
seseorang atau kelompok berdasarkan pada tanggung jawab
karyawan dalam periode tertentu. Kinerja adalah suatu fungsi
kemampuan karyawan dalam menerima pekerjaan, pencapaian
atas pekerjaan yang diberikan, serta interaksi dari tujuan dan
kemampuan kinerja (Nawawi, 2011).

Pengukuran kepuasan pelanggan yang dikemukakan oleh Philip Kotler dan
Susanto (Kotler & Susanto, 2000 ) mencakup empat metode, yaitu:
1) Sistem keluhan dan saran
Perusahaan yang berfokus pada pelanggan pasti akan mempermudah
pelanggannya untuk memberikan masukan atau pendapat serta keluhan yang
mereka katakan. Media atau alat yang di gunakan dalam sistem keluhan dan
saran meliputi kotak saran, kartu komentar, saluran telepon khusus dan lain
sebagainya. Akan tetapi, karena metode ini cenderung pasifmaka sulit akan
sulit mendapatkan gambaran lengkap mengenai kepuasan dan jugaketidak
kepuasan pelanggan. Pelanggan yang tidak puas belum tentuakan
menyampaikan keluhan yang dirasakannya, bisa sajamereka langsung beralih
ke perusahaan atau merek lain dan memutuskan untuk tidak lagi menjadi
pelanggan perusahaan tersebut.
2) Survei kepuasan pelanggan
Survei mengenai kepuasan pelanggan telah banyak dilakukan oleh
perusahaan atau bahkan peneliti. Survei kepuasan pelanggan ini dapat
dilakukan dengan menggunakan media seperti surat pos, telepon maupun
wawancara pribadi. Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini
dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :
a) Direct Reported Satisfaction
Pengukuran survei dilakukan secara langsung melalui berbagai
pertanyaan.
b) Derived Dissatisfaction
Pertanyaan yang di ajukan menyangkut 2 hal utama, yaitu besarnya
harapan pelanggan terhadap atribut tertentu dan besarnyakinerja yang
telah mereka rasakan atau terima.
c) Problem Analysis
Responden yang mana ialah pelangganperusahaan, diminta untuk
mengungkapkan dua hal pokok, yaitu : masalah-masalah yang mereka
hadapi berkaitan dengan penawaran dari pihak perusahaan serta
saransaran perbaikan bagi pihak perusahaan.
d) Importance-Performance Analysis
Pada teknik ini, responden diminta meranking berbagai elemen dari
penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen tersebut.
Selain itu, responden diminta merangking seberapa baik kinerja
perusahaan
dalam masing-masing elemen tersebut.
3) Belanja siluman (Ghost shopping)
Metode ini dilaksanakan dengan cara memperkerjakan beberapa orang (ghost
shopper) untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan potensial produk
perusahaan dan pesaing. Lalu ghost shopper tersebut menyampaikan temuan-
temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan pesaing
berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.
Selain itu para ghost shopper juga datang melihat langsung bagaimana
karyawan berinteraksi dan memperlakukan para pelanggannya.
Tentunya karyawan tidak boleh tahu kalau atasannya baru melakukan
penilaian akan menjadi bias.
4) Analisis pelanggan yang hilang (Lost customer analysis)
Pihak perusahaan berusaha mencari tau masalah pelanggan dengan cara
menghubungi para pelanggannya yang sudah berhenti menjadi pelanggan
atau beralih ke perusahaan lain. Harapkan memperoleh informasi tersebut
10
bagi perusahaan ialah untuk mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka
meningkatkan kepuasan serta loyalitas pelanggan

Customer Satisfaction


Pada dasarnya kepuasan palanggan mencakup perbedaan antara tingkat
kepentingan dan kinerja atau hasil yang dirasakan (Rangkuty, 2002). Terciptanya
kepuasan pelanggan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya hubungan antara
perusahaan dan pelanggan menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi
konsumen untuk melakukan pembelian ulang dan terciptanya loyalitas pelanggan, dan
membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan bagi
perusahaan (Tjiptono, 2004).
Kepuasan adalah tingkat perasaan dimana seseorang menyatakan hasil
perbandingan atas kinerja produk/jasa yang diterima/yang diharapkan (Fatona, 2010).
Jika dirasakan sama atau lebih baik dari yang diharapkan, pelanggan kita katakan puas
(satisfaction). Jika dirasakan lebih rendah dari yang diharapkan, pelanggan dikatakan
tidak puas(Hartono & Wahyono, 2015). Sedangkan menurut Mowen (2001) kepuasan
pelanggan adalah keseluruhan sikap yang ditunjukkan oleh konsumen atas barang dan
jasa setelah mereka memperoleh dan menggunakannya.
Dari beberapa definisi oleh para ahli tersebut, dapat diambil garis besar bahwa
kepuasan pelanggan adalah perasaan seseorang yang menyatakan bahwa nilai yang ia
dapatkan sesuai dengan kebutuhan dan harapannya. Definisi kepuasan pelanggan dapat
diterapkan dalam penilaian kepuasan atau ketidakpuasan terhadap suatu perusahaan
tertentu karena keduanya berkaitan erat dengan konsep kepuasan pelanggan sebagaimana
yang dikemukakan oleh Engel dan Pawitra (1993) dalam Rangkuty (2002)

kunci membangun kepercayaan

Pendekatan yang juga perlu dilakukan untuk membentuk kepercayaan dan
hubungan adalah dengan mendengarkan, yang merupakan kunci membangun
kepercayaan karena tiga faktor penting (Griffin, 2003):
a. Pelanggan lebih cenderung mempercayai seseorang yang menunjukkan rasa
hormat dan apa yang dikatakannya.
b. Pelanggan cenderung lebih mempercayai perusahaan bila perusahaan
mendengarkan dan membantu masalah-masalahnya.
c. Semakin banyak pelanggan memberitahu maksudnya, semakin besar rasa
kepercayaannya.
Menurut Mowen (2002) menyatakan ada tiga jenis kepercayaan yaitu:
a. Kepercayaan Atribut Objek Pengetahuan tentang sebuah objek memiliki atribut
khusus yang disebut kepercayaan atribut objek. Kepercayaan atribut objek
menghubungkan sebuah atribut dengan objek, seperti seseorang, barang atau jasa,
melalui kepercayaan atribut objek, konsumen menyatakan apa yang diketahui
tentang sesuatu hal variasi atributnya.
b. Kepercayaan Manfaat Atribut Seseorang mencari produk dan jasa yang akan
menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhannya dengan kata lain memiliki
atribut yang akan memberikan manfaat yang dapat dikenal. Hubungan antara
atribut dan manfaat ini menggambarkan jenis kepercayaan kedua. Kepercayaan
atribut manfaat merupakan persepsi konsumen tentang seberapa jauh atribut
tertentu menghasilkan, atau memberikan manfaat tertentu.
c. Kepercayaan Manfaat Objek Jenis kepercayaan ketiga dibentuk dengan
menghubungkan objek dan manfaatnya. Kepercayaan manfaat objek merupakan
persepsi konsumen tentang seberapa jauh produk, orang atau jasa tertentu yang
akan memberikan manfaat tertentu

Customer Trust


Kepercayaan telah menjadi hal yang penting di dalam keputusan bisnis yang
melibatkan sebuah ketidakpastian dan juga ketergantungan. Bagi seorang konsumen,
untuk membangun kepercayaan dengan retailers informasi tentang sebuah produk harus
diungkapkan dengan benar (Chinomona & Dubihlela, 2014).
Menurut (Salim et al., 2015) Trust (kepercayaan) didefinisikan sebagai dimensi
dari sebuah hubungan yang menentukan suatu tingkat di manasebuah pihak merasa dapat
mempercayai integritas dari janji yang ditawarkan oleh pihak yang lainnya. Kepercayaan
juga timbul dari pengharapan positif terhadap niat atau perilaku partner dimana
keyakinan bahwa partner akan bertanggung jawab dan tidak akan melukai partnernya
(Soleh et al. 2018).
Menurut Mawey Thalia Claudia et al.(2018) Kepercayaan merupakan kesediaan
pelanggan mempercayai atau mengandalkan merek dalam situasi risiko karena adanya
harapan bahwa merek tersebut memberikan hasil positif. Konsumen yang percaya
terhadap suatu perusahaan berarti telah memiliki keyakinan yang tinggi kepada
perusahaan yang pada akhirnya akan membuat konsumen mempertahankan hubungannya
dan tetap menjalin ikatan emosional yang kuat kepada perusahaan.
Kepercayaan memiliki perasn yang penting dalam pemasaran industri. Dinamika
lingkungan bisnis yang cepat memaksa pemasaran perusahaan untuk mencari cara lebih
kreatif dan fleksibel untuk beradaptasi. Untuk tetap bertahan dalam situasi tersebut,
perusahaan akan mencari cara yang kreatif melalui pembentukan hubungan yang
kolaboratif dengan pelanggan (Lau dan Lee, 1999). Kepercayaan dianggap sebagai cara
yang paling penting dalam membangun dan memelihara hubungan dengan pelanggan
dalam jangka panjang.

Kategori experience

Terdapat beberapa kategori pada Customer Experience menurut Robinnete
dan Brand dalam Salim dkk. (2014) yang membagi experience kedalam beberapa
kategori, yaitu:
1) Experience in Product
Experience product merupakan pengalaman yang dirasakan konsumen terhadap
produk atau jasa. Pengalaman merupakan salah satu kekuatan dari produk. Hal ini
mengindikasikan bahwa jika perusahaan memberikan produk atau layanan yang
maksimal kepada konsumen, maka konsumen akan memperoleh pengalaman yang
baik terhadap produk atau jasa yang dikonsumsi.
2) Experience in Environment
Experience in environment merupakan kemampuan perusahaan dalam
memberikan pengalaman keseluruhan terhadap konsumen. Lingkungan usaha
merupakan faktor penting dalam menciptakan pengalaman konsumen. Hal ini
disebabkan karena lingkungan atau tempat usaha adalah sebuah alat untuk
memperkenalkan konsumen kepada keseluruhan pengalaman yang akan dirasakan,
dan juga merupakan pertukaran yang paling mudah untuk dilihat (visible) serta
pertukaran yang interaktif.
3) Experience in Loyalty Communication
Kesempatan terbaik untuk menyenangkan konsumen adalah ketika konsumen
memperoleh pelayanan.
4) Experience in Customer Service and Social Exchanged Experience
merupakan gabungan antara pelayanan yang diberikan perusahaan dengan
harapan konsumen. Karyawan merupkan faktor penting dalam menentukan
pelayanan konsumen, karena karyawan yang berhubngan langsung dengan
konsumen.
5) Experience in Event
Acara-acara yang diadakan perusahaan mampu memberikan pengalaman terhadap
konsumen. Perusahaan dapat mengajak masyarakat berpartisispasi dalam acara
sehingga informasi tentang persuhaan dapat disampaikan jelas kepada konsumen

Customer Experience


Pengalaman memberikan memori atau kenangan tersendiri bagi
konsumen. Kenangan yang positif akan memberikan keuntungan bagi perusahaan,
selain itu konsumen akan menceritakan pengalaman tersebut kepada orang lain
sehingga menarik untuk ikut mengkonsumsi produk atau jasa tersebut
(Prastyaningsih, 2014) Oleh karena itu, menurut (Dirbawanto & Sutrasmawati,
2016) customer experience di sebuah perusahaan tidak hanya melulu tentang para
Pelangganyang sekedar ingin membeli sebuah produk tetapi juga berkaitandengan
suasana di dalam maupun diluar perusahaan atau ritel, kasir, dan bahkan
pelanggan lain.
Menurut Fajarsunarimo & Sumarsono (2014) pengalaman (experience)
yaitu peristiwa pribadi yang terjadi atas respon terhadap beberapa rangsangan.
Menggabungkan lebih dari sekadar pembelian dan konsumsi, serta memengaruhi
pengguna lebih dalam (Fisk, 2007). Sedangkan menurut (Pramudita & Japarianto,
2013) customer experience didefinisikan berasal dari satu set interaksi antara
pelanggan dan produk, perusahaan, atau bagian dari organisasi, yang
menimbulkan reaksi. Pengalaman ini benar-benar pribadi dan menyiratkan
keterlibatan pelanggan pada tingkat yang berbeda (baik secara rasional,
emosional, sensorik, fisik, dan spiritual). Pada dasarnya, customer experience
adalah penciptaan kepuasaan konsumen melalui pengalaman (Salim, Catherine, &
Andreani, 2015). Menurut Fisk (2007) Pengalaman pelanggan (customer
experience) dapat dilihat dari beberapa perspektif. Paling mendasar adalah
pengalaman de facto yang diperoleh pelanggan dari perusahaan atau merek
berdasarkan totalitas interaksi mereka

mengimplementasikan strategi pemecahan masalah dalam customerengagement

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih dan
mengimplementasikan strategi pemecahan masalah dalam customer
engagement :
a. Make it convenient
Usaha pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan
berbagai akses atau chanel yang beragam untuk menambah
kenyamanan customer dalam menyampaikan masalahnya. Dengan
semakin banyak tools atau channel yang ditawarkan oleh
perusahaan atau organisasi, maka semakin mudah bagi customer
untuk menyampaikan complain atau mencari penyelesaian bagi
masalahnya.
a. Make it comfortable
Memperluas keterlibatan customer di dalam memperluas strategi
customer relations dapat dilakukan dengan memberi komunikasi 2
arah dengan menampilkan tambahan audio-visual ketika customer
merasakan atau berinteraksi langsung dengan produk. Dengan
menambah kenyamanan customer ketika mereka berinteraksi
dengan produk/ jasa/ organisasi secara langsung, maka akan
mendorong munculnya perasaan percaya bahwa memang customer
diperlakukan secara layak dan sepatutnya.
b. Make it consistant
Salah satu hal yang dapat mempengaruhi keterlibatan pelanggan
adalah konsistensi dari organisasi atau perusahaan dalam
menyampaikan pesannya dalam implementasi yang diterima dari
pelanggan. Jika perusahaan misalnya telah menjanjikan layanan
servis pelanggan selama 24 jam melalui call center, maka wajib
bagi perusahaan untuk memberikan layanan call center 24 jam
sehingga pelanggan merasa benar-benar diperhatikan oleh sebuah
organisasi atau perusahaan.
c. Make it customized
Di dalam persaingan pasar yang semakin ketat, setiap informasi
mengenai produk yang diterima oleh pelanggan sebaiknya
disesuaikan dengan situasi yang benar-benar sedang dirasakan oleh
pelanggan. Identifikasi kebutuhan pelanggan membawa perusahaan
pada peluang baru untuk memenangkan preferensi pelanggan
terhadap produk atau jasa yang mereka tawarkan. Identifikasi
kapan dan apa yang pelanggan butuhkan, bagaimana cara
berinteraksi yang tepat dengan mereka, servis apa yang biasa
mereka gunakan, dan bagaimana mereka menginginkan informasi
untuk diperoleh melalui pendekatan individual namun dengan
konteks pesan yang tinggi dan relevan.

Customer Engagement


Sashi (2012) menyebutkan bahwa customer engagement (keterikatan
pelanggan) berfokus pada pemuasan pelanggan dengan memberikan nilai
lebih yang unggul daripada pesaing untuk membangun kepercayaan dan
komitmen dalam hubungan jangka panjang.
Customer engagement merupakan suatu bentuk hubungan antara
pelanggan dengan sebuah produk atau jasa. Dengan memiliki engagement
yang baik terhadap produk atau jasa maka pelanggan akan memiliki
sebuah rasa pengakuan terhadap produk atau jasa tersebut, sehingga dapat
menciptakan suatu keunggulan kompetitif karena sebuah keunggulan
harus diakui oleh pelanggan agar bisa benar-benar menjadi sebuah
keunggulan (Andi & Darmayanti, 2016). Customer engagement juga
diartikan sebagai segala usaha untuk melibatkan customer (pelanggan) di
dalam interaksi emosional antara perusahaan dan pelanggannya (Novianti
& Mulyana, 2018) sedangkan menurut (Brodie et al., 2011) customer
engagement adalah keadaan psikologis yang terjadi berdasarkan interaktif,
pengalaman pelanggan terhadap agen/objek (misalkan merek) yang
berfokus dalam hubungan pelayanan.
Brodie (2011) mengidentifikasikan pemicu yang memotivasi
pelanggan untuk berinteraksi dengan sebuah perusahaan akan
mempengaruhi sub-proses dari customer engagement yang terdiri dari (1)
Learning , dikarakteristikkan sebagai kompetensi kognitif yang
mempengaruhi pengambilan keputusan pembelian dan konsumsi, (2)
Sharing, informasi, pengalaman, atau pengetahuan individual di dalam
proses kontribusi aktif pelanggan, (3) Advocating, rekomendasi yang
diberikan oleh pelanggan kepada pihak lain mengenai suatu merek atau
jasa tertentu, (4) Socializing, interaksi antara 2 arah antar pelanggan
dimana mereka memperoleh atau mengembangkan sikap, atensi, sudut
pandang pada sebuah organisasi, dan yang terakhir, (5) Co-Developing,
yang merupakan proses dimana pelanggan berkontribusi di dalam
performance perusahaan atau organisasi dengan membantu dalam
pengembangan produk, jasa, merek, dan arti merek. Bila pelanggan sudah
benar-benar dilibatkan secara aktif, bagaimanapun telah menjadi pondasi
atau dasar bagi hubungan perusahaan dengan pelanggan berdasarkan
kepercayaan dan kesetiaan. Karena pengelolaan akan kepercayaan dan
kesetiaan dapat dilakukan bila pelanggan telah merasa bahwa servis atau
layanan telah memberikan good value kepada mereka terutama dalam
pemecahan masalah yang dihadapi oleh pelanggan. Serta bila pelanggan
telah merasakan pemulihan atau perubahan pelayanan yang buruk
sehingga akhirnya akan meningkatkan komitmen pelanggan yang
membawa pada kepercayaan dan loyalitas (Rangkuti, 2002).

Bauran Promosi (Promotion mix)


Menurut Terence A. Shimp, (2003) Bauran promosi merupakan program
komunikasi permasaran total sebuah perusahaan yang terdiri dari iklan, penjualan
pribadi, promosi penjualan, pemasaran langsung dan hubungan masyarakat yang
dipergunakan perusahaan untuk mencapai tujuan iklan dan pemasarannya.
Dengan melihat dan mengamati keadaan konsumen di pasaran, maka perusahaan
akan berlomba-lomba untuk mengatur strategi yang efektif dalam hal untuk
memasarkan produk yang dimilikinya. Promosi merupakan salah satu kunci umum
dalam strategi pemasaran secara menyeluruh serta dalam upaya memasarkan
produknya melalui saluran yang terdapat pada pemasaran. Dengan demikian
dalam hal aktivitas pemasaran dapat lebih mudah menjalin komunikasi terhadap
calon konsumen yang menjadi targetnya melalui para perantara guna untuk
memperbesar kemungkinan dalam tahap-tahap penjualan yang di rencanakan
secara optimal dapat mencapai tujuan yang dinginkan.
Demi meraih tujuan yang ingin dicapai, maka perusahaan akan melakukan
berbagai tindakan promosi. Adapun menurut Kotler dan Keller 2013 di jalaskan
bahwa bauran promosi memiliki 5 unsur, yaitu :
a. Periklanan (Advertising)
Iklan adalah setiap bentuk presentasi yang bukan dilakukan orang dan
berupa promosi gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor yang telah ditentukan.
Menurut J. Paul Peter dan Jerry C Olson iklan adalah segala sajian informasi
nonpersonal berbayar perihal produk, merek, perusahaan atau toko. Biasanya
iklan memiliki sponsor yang sudah dikenal. Iklan dimaksudkan untuk memengaruhi
afeksi dan kognisi, konsumen evaluasi, perasaan, pengetahuan, makna,
kepercayaan, sikap dan citra konsumen menyangkut produk dan merek.
Menurut Shimp (2003), periklanan didefinisikan sebagai bentuk komunikasi
yang dibayar dan tidak personal, yang digunakan oleh perusahaan untuk
mempromosikan produk, jasa, atau ide melalui media massa seperti televisi, radio,
majalah, surat kabar, dan internet. Tujuan utama dari periklanan adalah untuk
membangun kesadaran merek, menginformasikan target pasar, membujuk
konsumen untuk mencoba produk, dan mengingatkan mereka akan keberadaan
merek. Periklanan merupakan alat yang efektif untuk menjangkau audiens yang
luas dan membangun citra merek yang kuat, meskipun sifatnya yang satu arah
membuat interaksi dengan konsumen menjadi terbatas.
Dalam kegiatan periklanan ini terdapat dua keputusan penting yang harus
diambil yait menentukan iklan yang harus disampaikan kepada pasar yang dituju
dan memilih media yang paling sesuai (Terence A. Shimp, 2003). Periklanan
memiliki lima fungsi utama yaitu:
1) Memberikan informasi (Informing), iklan membuat konsumen sadar (awere)
akan merek-merek baru, mendidik mereka tentang berbagai fitur dan manfaat
merek, serta memfasilitasi pencitraan brand image yang pasif.
2) Mempengaruhi atau membujuk (Persuading), periklanan tidak hanya bersifat
memberi tahu saja, tetapi juga bersifat membujuk terutama kepada pembeli
pembeli potensial, dengan menyatakan bahwa suatu produk adalah lebih baik
darinya. Advertising yang efektif akan mampu membujuk pelanggan untuk
mencoba produk dan jasa yang diiklankan.
3) Menciptakan kesan (Image), sebuah iklan akan mempunyai suatu kesan
tertentu tentang apa yang diiklankannya. Dalam hal ini pemasangan iklan
selalu berusaha untuk menciptakan iklan yang sebaik-baiknya, misalnya
dengan menggunakan warna, ilustrasi, bentuk, dan suasana yang menarik.
Terkadang pembelian sebuah barang tidak dilakukan secara rasional atau
memperhatiakn nilai ekonomisnya, tetapi lebih mendorong untuk
mempertahankan atau meningkatkan gengsi, seperti pembelian mobil, toko,
rumah yang megah dan sebagainya.
4) Memberikan nilai tambah (Adding value), terdapat tiga cara mendasar di mana
perusahaan bisa memberi nilai tambah bagi penawaran-penawaran mereka,
yaitu inovasi, penyempurnaan kualitas, atau mengubah persepsi konsumen.
Advertising memberi nilai tambah pada merek dengan mempengaruhi
persepsi konsumen. Advertising yang efektif menyebabkan merek dipandang
lebih elegan, lebih bergaya, lebih bergengsi, dan lebih bisa unggul dari
tawaran pesaing.
5) Mendampingi (Assisting), upaya-upaya lain dari perusahaan menegani
pemaparan di atas sudah sangat jelas, bahwa keberadaan Advertising
sangatlah penting dalam sebuah perusahaan. Dengan adanya Advertising,
konsumen akan dapat mengidentifikasi kemasan-kemasan produk di toko dan
mengenali nilai produk dengan lebih mudah setelah melihatnya diiklankan di
televisi, koran, majalah, internet, jejaring sosial, kalender, katalog dan
billboard.
b. Promosi penjualan (Sales Promotion)
Promosi penjualan adalah insentif jangka pendek yang dirancang untuk
mendorong tindakan pembelian yang cepat dan langsung. Shimp (2003)
menjelaskan bahwa promosi penjualan mencakup berbagai teknik, seperti kupon,
diskon, sampel produk gratis, kontes, undian, dan program loyalitas. Tujuan dari
promosi penjualan adalah untuk merangsang permintaan secara langsung,
meningkatkan volume penjualan dalam waktu singkat, dan mendorong konsumen
untuk melakukan pembelian secara impulsif.
c. Penjualan Personal (Personal Selling)
Personal selling adalah komunikasi tatap muka antara perwakilan
perusahaan dengan satu atau lebih calon pembeli. Shimp (2003) menekankan
bahwa elemen ini memungkinkan interaksi dua arah yang fleksibel, di mana
penjual dapat langsung menyesuaikan pesan mereka sesuai dengan kebutuhan
dan tanggapan dari pembeli. Keunggulan dari personal selling terletak pada
kemampuannya untuk membangun hubungan jangka panjang, mengatasi
keberatan calon pembeli, dan menutup penjualan secara efektif.
d. Pemasaran Langsung (Direct Marketing)
Pemasaran langsung adalah sistem pemasaran interaktif yang
menggunakan satu atau lebih media iklan untuk menghasilkan respons atau
transaksi yang terukur di lokasi manapun. Menurut Shimp (2003), pemasaran
langsung mencakup telemarketing, direct mail, email marketing, dan online
marketing. Tujuannya adalah untuk menjangkau pelanggan secara individu dan
membangun hubungan yang lebih personal, sering kali dengan menggunakan
basis data pelanggan untuk personalisasi pesan.
Sistem marketing dimana perusahaan berkomunikasi secara langsung
dengan target customer untuk menghasilkan respon atau transaksi. Respon yang
dihasilkan bisa berupa inquiry, pembelian, atau bahkan dukungan. Pemasaran
langsung meliputi penggunaan surat, telepon, faksimil, e-mail, atau internet, untuk
berkomunikasi langsung atau meminta tanggapan atau berdialog dengan
pelanggan tertentu dan calon pelanggan.
e. Hubungan Masyarakat (Public Relations)
Public relations atau hubungan masyarakat adalah upaya untuk membangun
hubungan yang baik dengan berbagai publik perusahaan (stakeholder) melalui
publisitas yang menguntungkan, membangun citra korporat yang baik, dan
menangani atau meliput berita yang tidak menyenangkan. Shimp (2003)
menyatakan bahwa Public relations memiliki kredibilitas yang tinggi di mata publik
karena pesan yang disampaikan sering kali dianggap sebagai berita yang objektif,
bukan iklan yang berbayar. Kegiatan Public relations bisa mencakup konferensi
pers, rilis berita, sponsor acara, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial.
Hubungan masyarakat melibatkan lebih dari sekedar kegiatan yang
dirancang untuk menjual suatu produk atau jasa dan pada saat yang sama
mempengaruhi keputusan pembelian di antara konsumen. Lebih jauh lagi,
program hubungan masyarakat dapat melibatkan beberapa elemen program
promosi tetapi digunakan dengan cara yang berbeda.
Kadangkala publisitas dapat lebih efektif dari iklan karena konsumen dapat
dikatakan telah siap untuk menerima pesan yang disampaikan. Public relations
adalah bentuk-bentuk komunikasi dan informasi tentang perusahaan, produk, atau
merk pemasar yang tidak membutuhkan pembayaran. Publisitas yaitu suatu
bentuk promosi non personal mengenai, pelayanan atau kesatuan usaha tertentu
dengan jalan mengulas informasi/berita tentangnya (pada umumnya bersifat
ilmiah).

  1. Video Promosi
    Kata video berasal dari kata latin, yang berarti ‘saya lihat’. Video adalah
    teknologi pemprosesan sinyal elektronik yang mewakilkan gambar bergerak.
    Aplikasi umum dari teknologi video adalah televisi. Video juga dapat digunakan
    dalam aplikasi teknik, keilmuan, produksi dan keamanan. Istilah video juga
    digunakan sebagai singkatan videotape, perekam video dan pemutar video. Saat
    ini ada dua kategori video, yaitu video analog dan video digital (Hidayat,
    Wandanaya, dan Fadriansyah 2016). Video sendiri dapat terdiri dari berbagai
    macam jenis, ada video animasi, video dokumenter, video pembelajaran dan
    lainnya. Namun terdapat kendala dalam membuat branding menarik dengan video
    yaitu kemampuan dalam mengambil video (shooting) yang tepat, kemampuan
    memisahkan gambar video dengan suara dari video, kemampuan mengemas
    video yang menarik seperti melakukan editing suara dan gambar, melakukan
    dubbing serta menambahkan teks. Kendala lain yang dihadapi adalah teknik
    membuat alur cerita yang menarik sehingga pesan dari branding dapat mudah
    diterima oleh masyarakat luas (Eka Sari et al. 2021).
    Menurut Terence (2003) Video Promosi adalah bentuk penayangan
    informasi yang bersifat audio visual sehingga menjadi kunci mengenai suatu
    merek atau membagikan informasi kepada pelanggan dan konsumen akhir. Jadi
    dapat disimpulkan bahwa video promosi adalah penyampaian informasi yang
    menarik menggunakan media audio visual dengan cara ini kita bisa memberi
    tahukan membujuk dan mempengaruhi pemustaka untuk mengunjungi
    perpustakaan (Astuti Danisa Puji and Desriyeni 2018). Dalam buku (Cahyadi Dian
    dan Tangsi 2023) menjelaskan bahwa Secara umum, video promosi dapat
    diartikan sebagai sebuah bentuk konten pemasaran yang menggunakan media
    video untuk mempromosikan produk atau layanan kepada konsumen dengan cara
    yang efektif dan menarik. Definisi ini sejalan dengan perkembangan teknologi dan
    tren pemasaran yang semakin canggih dan beragam. Video promosi juga
    merupakan salah satu bentuk komunikasi pemasaran yang memanfaatkan media
    audio-visual dalam format video. Tujuannya adalah memperkenalkan produk atau
    jasa kepada konsumen secara menarik dan efisien. Umumnya, video promosi
    dibuat menggunakan teknologi produksi video, lalu disebarkan melalui platform
    digital atau media sosial guna menjangkau audiens yang lebih luas. Adapun
    tahapan perencanaan Video promosi, sebagai berikut:
    Menurut Kotler dan Keller (2016, 559), tahapan perencanaan video promosi
    harus dimulai dengan pemahaman yang mendalam tentang produk atau layanan
    yang ditawarkan, target pasar, dan tujuan kampanye pemasaran. Selanjutnya,
    tahapan perencanaan yang perlu dilakukan antara lain pemilihan pesan yang ingin
    disampaikan, pemilihan jenis dan gaya video, serta menentukan budget dan
    jadwal produksi (Cahyadi Dian dan Tangsi 2023).
    a. Pra Produksi
    Tahapan awal sebelum dilaksanakannya produksi video. Tahapan ini
    merupakan tahap yang sangat penting karena tahapan ini semua langkah-langkah
    perencanaan untuk produksi video dilakukan. Dalam tahapan pra produksi ini yang
    harus dilakukan, yaitu:
    1) Menentukan pesan utama atau konsep dalam video yang akan dibuat.
    2) Membuat Storyline yang sesuai dengan metode yang digunakan dan
    menyusun naskah narasi dangan skenario yang jelas dan lengkap.
    3) Membuat ilustrasi visual per adegan untuk memberikan gambaran teknis
    kepada tim produksi (kamera, suara, grafis, dll).
    4) Menentukan lokasi pengambilan gambar dan menentukan jadwal syuting dan
    timeline produksi secara keseluruhan.
    b. Produksi
    Tahap produksi merupakan pelaksanaan dari seluruh perencanaan yang
    telah disusun pada tahap pra-produksi, dimulai setelah naskah dan Storyline siap
    untuk dijadikan bentuk audio visual. Seluruh kru produksi berkumpul untuk
    melakukan persiapan, di mana sutradara mengarahkan jalannya sesuai adegan
    dan alur produksi, kameramen menyiapkan peralatan kamera serta menentukan
    angle pengambilan gambar, penata lighting mengatur pencahayaan sesuai
    32
    kebutuhan visual, dan penata audio menyiapkan perangkat perekam suara agar
    narasi dan dialog terdengar jelas. Seluruh visual dan audio direkam secara optimal
    dengan konsep video promosi.
    c. Pasca produksi
    Tahap pasca produksi merupakan proses akhir dari pembuatan video
    promosi yang berfokus pada pengolahan seluruh hasil rekaman dari tahap
    produksi agar menjadi tayangan yang utuh, menarik, dan sesuai tujuan promosi.
    Pada tahap ini, dilakukan pemilihan (Footage) terbaik untuk disusun sesuai alur
    narasi yang telah dirancang, serta dilakukan penyuntingan video meliputi
    pemotongan gambar, penambahan transisi, efek visual, teks informatif, dan
    identitas brand seperti logo dan warna khas Marlin Frozen Food. Selain itu, audio
    juga disesuaikan dengan memasukkan narasi, musik latar, serta sound effect
    untuk memperkuat suasana dan memperjelas pesan yang ingin disampaikan.
    Setelah semua elemen visual dan audio berhasil digabungkan secara selaras,
    video kemudian dirender ke dalam berbagai format dan durasi yang sesuai, agar
    bisa diunggah dan dibagikan melalui platform Instagram sebagai media utama
    promosi

Promosi


Philip Kotler (2014;20) mengemukakan promosi sebagai berikut: “Promosi
adalah kegiatan yang menunjuk kepada berbagai aktivitas yang dilakukan oleh
perusahaan untuk mengkomunikasikan kebaikan produknya dan membujuk
beberapa para konsumen sasaran untuk membeli”. Promosi memberitahukan
pembeli atas produk dan jasa yang bersangkutan di pasar, serta meyakinkan
mereka bahwa barang atau jasa tersebut dapat memberikan kepuasan kepada
konsumen sesuai dengan yang mereka inginkan. Karena itu promosi mempunyai
peranan penting dalam manajemen pemasaran guna meningkatkan hasil
penjualan karena tanpa adanya promosi sangatlah sulit untuk dapat meyakinkan
pembeli (Sendianto 2016).
Menurut Sigit (2002: 53) dalam (Farih, Jauhari, dan Widodo 2019) promosi
adalah setiap bentuk komunikasi yang digunakan oleh perusahaan (pemasar)
untuk memberi tahu (informasi), membujuk, atau mengingatkan orang mengenai
produk, jasa, bayangan (image), gagasan (idea) atau keterlibatan perusahaan dan
masyarakat dengan maksud agar orang dapat menerimanya dan melakukan
perbuatan sebagaimana seperti keinginan perusahaan (pemasar). Strategi
promosi menurut Kotler dan Armstrong (2008:74) adalah kreativitas
mengkomunikasikan keunggulan produk serta membujuk pasar sasaran. Dalam
sektor pariwisata strategi promosi ini penting dilakukan karena sektor pariwisata
merupakan industri yang kompetitif. Dalam industri pariwisata yang berkembang
pesat, persaingan menjadi semakin tinggi, sehingga strategi promosi destinasi
wisata semakin penting peranannya.
Menurut Unonongo, Warouw, dan Tulung (2015) menjelaskan bahwa
promosi berfungsi untuk mendapatkan perhatian calon pembeli, maksudnya
perhatian dari calon pembeli harus di peroleh, karena merukapakan titik awal
proses pengambilan keputusan didalam membeli suatu barang atau
menggunakan suatu jasa. Selain itu, menciptakan dan menumbuhkan interest
pada diri calon pembeli. Perhatian yang sudah diberikan oleh seseorang mungkin
akan dilanjutkan pada tahap berikutnya atau berhenti. Maksud dari pernyataan
tahap berikut ini adalah timbulnya rasa tertarik dan rasa tertarik ini yang menjadi
fungsi utama dari kegiatan promosi.
Menurut Listyawati, Manajemen, dan Ypk (2016) Tujuan utama dari promosi
adalah menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk, serta mengingantkan
pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Secara rinci
ketiga tujuan promosi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut (Tjiptono, 1996):
a. Menginformasikan
Menginformasikan pasar mengenaik produk baru, memperkenalkan cara
pemakaian yang baru dari produk, menyampaikan perubahan harga kepada
pasar, menjelaskan cara kerja produk, menginformasikan jasa-jasa yang
disediakan, meluruskan kesan yang salah, mengurangi ketakutan atau
kekhawatiran pembeli, membangun citra perusahaan.
b. Membujuk pelanggan sasaran
Membentuk pilihan merek, mengalihkan pilihan ke merek lain, mengubah
persepsi pelanggan terhadap atribut produk, mendorong pembeli untuk
belanja saat itu juga, mendorong pembeli untuk menerima kunjungan
salesman.
c. Mengingatkan
Mengingatkan pembeli bahwa produk yang bersangkutan dibutuhkan dalam
waktu dekat, mengingatkan pembeli akan tempat-tempat yang menjual produk
perusahaan, membuat pembeli tetap ingat walaupun tidak ada kampanye
iklan, menjaga agar ingatan pertama pembeli jatuh pada produk perusahaan.
Promosi merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan
untuk memperkenalkan produk atau jasa kepada konsumen dengan tujuan
membentuk pemahaman, menumbuhkan ketertarikan, serta mendorong terjadinya
perubahan sikap positif terhadap produk tersebut. Melalui promosi yang efektif,
konsumen tidak hanya dikenalkan pada keberadaan produk, tetapi juga diarahkan
untuk memahami manfaat dan keunggulannya. Proses ini secara bertahap
diharapkan dapat membangkitkan minat, menciptakan rasa suka, menumbuhkan
keyakinan terhadap kualitas produk, hingga akhirnya mendorong keputusan
pembelian

Indikator Customer Engagement


Dalam implementasinya, menurut Tinggi dkk. (2021) ada lima dimensi untuk
mengukur indikator customer engagement, yaitu :
1) Enthusiasm (Antusiasme)
Yakni menggambarkan tingkat dari kegembiraan serta ketertarikan pelanggan
pada sebuah merek.
2) Attention (Perhatian)
Yakni tingkat antusias pelanggan pada sebuah merek.
3) Absorption (Penyerapan)
Yakni mencerminkan suatu kondisi membuat pelanggan senang dengan
menuangkan ketertarikannya pada sebuah merek.
4) Interaction (Interaksi)
Yakni menggambarkan hubungan antara pelanggan dengan sebuah merek
ataupun dengan pelanggan yang lain serta.
5) Identification (identifikasi)
Menggambarkan rasa kesatuan dari pelanggan terhadap sebuah merek.

Dimensi Customer engagement


Menurut Brodie dkk., (2013) ada 3 dimensi Customer Engagement yaitu
sebagai berikut:
1) Kognitif
Keterlibatan kognitif tidak sekadar terbatas pada kesadaran (awareness),
melainkan mencakup proses mental yang lebih dalam dan terstruktur. Ini adalah
tahap di mana konsumen secara aktif memproses informasi yang mereka terima
dari suatu merek. Keterlibatan ini ditunjukkan ketika konsumen menaruh perhatian
penuh pada pesan merek, berupaya memahami konten yang disajikan, dan
membentuk persepsi atau pengetahuan baru berdasarkan informasi tersebut.
Dalam konteks pemasaran digital, aspek kognitif dapat dilihat dari seberapa
intensif konsumen mencari detail produk, membandingkan informasi dengan
sumber lain, dan mencerna pesan inti yang ingin disampaikan oleh merek. Hasil
dari proses ini adalah terbentuknya pemahaman yang lebih akurat dan terperinci
mengenai identitas, keunggulan, atau nilai yang ditawarkan oleh suatu merek. Sifat
konsumen yang terlibat secara aktif, serta mengalami proses kognitif yang
berkelanjutan. Konsumen juga menaruh perhatian serta terlarut dalam suatu
brand.
2) Emosional
Keterlibatan emosional adalah fondasi dari hubungan jangka panjang antara
konsumen dan merek. Dimensi ini lebih dari sekadar perasaan senang, tetapi
mencakup ikatan afektif yang kuat seperti rasa percaya, kebanggaan, dan koneksi
pribadi. Ketika konsumen merasakan keterlibatan emosional, mereka cenderung
mengembangkan loyalitas dan komitmen yang lebih dalam, yang membuat
mereka menjadi kurang sensitif terhadap harga atau tawaran dari pesaing. Dalam
konteks komunikasi visual seperti video, aspek ini sangat dipengaruhi oleh
elemen-elemen kreatif seperti narasi cerita, musik, visual, dan nada yang
digunakan, yang mampu membangkitkan empati, nostalgia, atau perasaan positif
lainnya, sehingga menciptakan resonansi emosional yang kuat. Konsumen yang
mengalami kebahagiaan secara intrinsik, mereka antusias dan bergairah dalam
menanggapi suatu perilaku dari merek atau perusahaan.
3) Perilaku
Aspek perilaku adalah manifestasi paling nyata dari dua dimensi
sebelumnya. Ini mengacu pada tindakan fisik dan interaksi yang dilakukan
konsumen sebagai respons terhadap merek. Keterlibatan ini mencakup spektrum
yang luas, mulai dari tindakan sederhana hingga tindakan yang lebih signifikan.
Contohnya termasuk interaksi di media sosial (seperti likes, shares, dan
komentar), mengunjungi situs web, mencari ulasan produk, hingga tindakan krusial
seperti melakukan pembelian, pembelian berulang, dan merekomendasikan
produk (word-of-mouth) kepada orang lain. Keterlibatan perilaku menunjukkan
bahwa konsumen tidak hanya pasif menerima pesan, tetapi juga menjadi
partisipan aktif yang berkontribusi pada visibilitas dan pertumbuhan merek.
Partisipasi dari konsumen, sifat konsumen yang bersemangat menanggapi suatu
brand atau perusahaan serta terjadinya brand activation.
Dari dimensi-dimensi tersebut, customer engagement mencakup aspek
kognitif, emosional, dan perilaku yang saling berkaitan dalam membentuk
keterlibatan konsumen terhadap suatu merek. Secara kognitif, konsumen secara
aktif memproses informasi dan menunjukkan perhatian yang tinggi terhadap
brand. Secara emosional, konsumen merasakan keterikatan secara intrinsik
melalui perasaan antusias, senang, dan gairah terhadap interaksi dengan brand.
Sementara itu, secara perilaku (behavioral), keterlibatan tercermin dari partisipasi
aktif konsumen dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan brand, termasuk
brand activation. Ketiga dimensi ini menunjukkan bahwa customer engagement
tidak hanya melibatkan pikiran dan perasaan, tetapi juga tindakan nyata dari
konsumen.

Definisi Customer Engagement


Customer Engagement merupakan upaya untuk menciptakan, membangun,
dan meningkatkan hubungan dengan pelanggan yang merupakan strategi penting
dalam mempertahankan performa bisnis di masa depan (Brodie dkk. 2013).
Customer Engagement berfokus pada pelanggan dan kebutuhan mereka sesuai
dengan konsep pemasaran. Dengan adanya customer engagement, suatu
perusahaan fokus kepada kepuasan pelanggan dengan memberikan mereka nilai
lebih dari pesaing untuk membangun kepercayaan dan komitmen pada hubungan
jangka panjang (Sashi 2012).
Customer Engagement adalah konstruksi perilaku yang berjalan di luar
perilaku pembelian dan dapat juga dikatakan sebagai manifestasi perilaku
pelanggan terhadap merek yang dihasilkan dari motivasi seperti aktivitas dari
mulut ke mulut, rekomendasi, membantu pelanggan lain, blogging dan menulis
ulasan (van Doorn et al., 2010). Customer Engagement adalah keadaan motivasi
yang terjadi berdasarkan co-creative, interaktif, pengalaman pelanggan dengan
agen / objek fokus (misalnya merek) dalam fokus hubungan layanan (Brodie et al.,
2011) Dalam definisinya ini Customer Engagement terjadi di bawah serangkaian
kondisi yang bergantung pada konteks tertentu yang menghasilkan tingkat
Customer engagement yang berbeda dan ada proses pertukaran relasional yang
dinamis dan berulang yang bersama-sama menciptakan nilai. (Ashari dan Sitorus
2023)

Instagram


Instagram adalah sebuah aplikasi untuk berbagi foto dan video yang dapat
dilihat oleh Followers dari pengunggah foto tersebut dan dapat saling memberikan
komentar antara sesamanya. Nama Instagram sendiri berasal dari insta dan gram,
“insta” yang berasal dari kata instant dan “gram” yang berasal dari telegram, dapat
disimpulkan dari namanya yang berarti menginformasikan atau membagikan foto
kepada orang lain dengan cepat. Salah satu yang unik dari Instagram adalah foto
yang berbentuk persegi, ini terlihat seperti kamera Polaroid dan kodak Instamatic
bukan seperti foto umumnya yang menggunakan rasio 4:3.Instagram dapat
diartikan menampilkan dan menyampaikan informasi berupa foto, gambar atau
video secara cepat lewat aplikasi yang dapat diakses oleh orang lain (Kertamukti
Rama 2015).
Instagram merupakan salah satu media digital yang memiliki fungsi untuk
pengambilan foto guna berbgai informasi terhadap pengguna. Banyak orang yang
memanfaatkan instagram sebagai sarana untuk melakukan bisnis dengan
memasarkan produk melalui efek gambar yang dapat menarik pembeli.
Menurut (Antasari dan Pratiwi 2022) Instagram memiliki fitur-fitur yang akan
mempermudah dalam menggunakan aplikasi tersebut, sebagai berikut:
a. Profil dan Bio
Instagram kembali melakukan update design. Update ini yang mengubah
tampilan profile dan bio di Instagram. Instagram kini makin fokus pada followers
dan following dan mempersingkat bio, padahal dulu tampilan Instagram lebih fokus
ke informasi di bio profile. Bahkan sekarang kita juga diuntungkan dengan bio
profile yang lebih simple.
b. Unggah foto dan video
Filter untuk foto dan video memungkinkan pengguna untuk mengunggah foto
maupun video yang kemudian akan muncul ke halaman utama pengikut/followers.
Pada fitur unggah foto dan video pengguna Instagram dapat memilih foto atau
video yang akan diunggah dari galeri atau album yang terdapat pada
smarthphone, atau dapat langsung menggunakan camera yang tersedia pada fitur
tersebut.
c. Fitur Instagram Stories
Fitur Instagram Stories di Indonesia, fitur Instagram terbaru ini memang
menjadi fitur favorit untuk promosi. Menurut Instagram, ada 400 juta Instagram
Stories yang diunggah. Indonesia pun disebut sebagai Instagram Stories creator
terbesar di dunia. Pelaku usaha biasanya akan membuat konten stories semenarik
mungkin dan memanfaatkan data yang masuk dalam Instagram Insight.
d. Caption
Caption adalah tulisan atau keterangan yang berkaitan dengan foto atau
video yang diunggah. Jika pengguna menulis keterangan foto yang menarik,
pengguna akan dapat menarik minat followers untuk membaca keseluruhan isi
keterangan atau caption tersebut.
e. Komentar
Fitur komentar terletak di bawah foto atau video, tepatnya bagian tengah.
Fungsinya adalah tentu saja untuk mengomentari postingan atau unggahan foto
atau video yang dirasa menarik. Pengguna juga dapat menggunakan fitur aerobba
atau tanda (@) dan memasukkan nama pengguna yang dimaksud dalam
komentar tersebut, agar komentar tersebut dapat dibaca oleh penggunatersebut.
f. Hastags
Hashtag merupakan simbol tanda pagar yang digunakan di Instagram untuk
membantu mengelompokkan foto atau video yang diunggah, sehingga
memudahkan pengguna lain dalam menemukan konten berdasarkan tema atau
topik tertentu. Dalam kegiatan pemasaran produk, penggunaan hashtag pada
setiap unggahan berfungsi agar konten tersebut tergabung dengan postingan lain
yang memiliki topik serupa, sehingga jangkauan dan visibilitas terhadap audiens
yang lebih luas dapat meningkat.
g. Like
Suatu fitur Instagram yang bertujuan untuk memberi like atau tanda suka
apabila followers teratrik dengan unggahan foto atau video pengguna dengan
menekan emoticon berbentuk love yang berada di kanan bawah foto atau video.
Selain itu, juga men-tap dua kali pada foto atau video yang di unggah pengguna.
h. Activity
Satu lagi fitur Instagram juga yang keren adalah your activity, fitur ini yang
berisi informasi durasi penggunaan anda ketika mengakses aplikasi Instagram,
dengan fitur Activity, pengguna jadi tahu berapa lama waktu yang dihabiskan untuk
bermain Instagram.
i. Direct Message (DM)
Fitur Direct Message merupakan suatu fitur yang memungkinkan pengguna
untuk mengirim pesan, foto, atau video kepada satu orang ataupun beberapa
orang.
j. Geotagging (Tag Lokasi)
Geotagging adalah memasukkan lokasi foto yang diunggah ke halaman
utama. Sehingga followers dapat mengetahui lokasi di mana foto tersebut diambil.
k. Story Archive
Instagram sebelumnya telah memperkenalkan fitur Archive di mana
postingan yang sudah sempat di upload bisa disimpan ke dalam sebuah arsip
pribadi. Dengan fitur tersebut anda bisa secara non-permanen menghapus foto
atau video ke dalam arsip pribadi dan bisa sewaktu-waktu mengembalikannya lagi
seperti semula

Strategi Promosi


Strategi adalah bagian yang penting dalam sebuah perusahaan untuk
mencapai tujuan yang efektif. Suatu perusahaan harus mampu mengatasi
masalah atau hambatan yang timbul dari dalam maupun luar perusahaan. Menurut
A. Halim (2015) Strategi adalah suatu cara dimana sebuah lembaga dan
organisasi mencapai suatu tujuannya sesuai dengan peluang serta ancaman pada
lingkungan eksternal yang akan dihadapi serta kemampuan dan sumber daya
(Soekarman dan Veronica 2021). Adapun manfaat strategi yaitu, sebagai sarana
untuk mengkomunikasikan tujuan organisasi dan menentukan jalan mana yang
harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Dalam penjelasan diatas dapat dikatakan
suatu perusahaan atau organisasi dalam membuat strategi pasti memiliki manfaat
yang berdampak signifikan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan seperti,
bagaimana organisasi tersebut berjalan, perusahaan agar tetap bertahan,
menganalisis dan mengatasi permasalahan, serta tetap unggul dari para
kompetitor. Karena untuk meningkatkan keuntungan perusahaan bukan hanya
menerapkan strategi dengan cepat tetapi strategi tersebut harus dipikirkan dan
direncanakan dengan matang (Zidhan Nurul dkk. 2024).
Menurut Mintzberg (Mundir Abdillah 2017), konsep strategi itu sekurang-
kurangnya mencakup lima arti yang saling terkait, dimana strategi adalah suatu:
a. Perencanaan untuk semakin memperjelas arah yang ditempuh organisasi
secara rasional dalam mewujudkan tujuan-tujuan jangka panjang.
b. Acuan yang berkenaan dengan penilaian konsisten ataupun inkonsistensi
perilaku serta tindakan yang dilakukan oleh organisasi.
c. Sudut yang diposisikan oleh organisasi saat memunculkan aktivitasnya.
d. Suatu perspektif yang menyangkut visi yang teritegritasi antar organisasi
dengan lingkungannya yang menjadi btas bagi aktivitasnya.
e. Rincian langkah taktis organisasi yang berisi informasi untuk mengelabui para
pesaing.
Dalam rangka mewujudkan sasaran, tujuan dan misi organisasi maka suatu
organisasi menggunakan bentuk atau tipe strategi tertentu. Menurut Koten dalam
(Salusu, 2008) tipe-tipe strategi meliputi:
a. Corporate Strategy (strategi organisasi)
Strategi ini berkaitan dengan perumusan misi, tujuan, nilai- nilai, dan inisiatif-
inisiatif strategis yang baru.
b. Program Strategy (strategi program)
Strategi ini lebih memberi perhatian pada implikasi-implikasi strategis dari
suatu program tertentu.
c. Resource Support Strategy (strategi pendukung sumber daya)
Strategi ini memusatkan perhatian pada memaksimalkan pemanfaatan
sumber-sumber daya esensial yang tersedia guna meningkatkan kualitas
kinerja organisasi.
d. Institutional Strategy (strategi kelembagaan)
Fokus dari strategi institusional ialah mengembangkan kemampuan
organisasi untuk melaksanakan inisiatif-inisiatif strategi
Seluruh partisipan dalam analisis dan pemilihan strategi harus memiliki
informasi audit eksternal dan internal di hadapan mereka. Informan ini, ditambah
dengan pernyataan misi instansi, akan membantu para partisipan mengkristalisasi
di dalam benak mereka sendiri berbagai strategi yang mereka yakini paling
bermanfaat bagi instansi. Kreativitas seharusnya didorong dalan proses pemikiran
ini. Strategi-strategi alternatif yang diajukan oleh partisipan harus dipertimbangkan
dan didiskusikan dalam satu atau serangkaian rapat. Berbagai strategi tersebut
dapat disusun dalam bentuk tertulis. Ketika semua strategi yang masuk akal yang
diindentifikasikan oleh partisipan telah disampaikan dan dimengerti, strategi –
strategi tersebut hendaknya diperingkat berdasarkan daya tarik masing- masing
partisipan, proses ini akan menghasilkan sebuah daftar prioritas strategi terbaik
yang mencerminkan pemikiran seluruh anggota kelompok (David, 2010: 323).
Strategi promosi adalah rencana untuk penggunaan yang optimal dari
elemen-elemen promosi: periklanan, hubungan masyarakat, penjualan pribadi,
dan promosi penjualan (Hedynata dan Radianto 2016). Strategi promosi bertujuan
dalam peningkatan volume penjualan. Kesesuaian minat konsumen dengan
konten promosi yang dijalankan akan menimbulkan permintaan terhadap suatu
produk. Peningkatan permintaan inilah yang akan mendorong proses produksi
yang diakibatkan adanya kenaikan penjualan (Khairani dan Pratiwi 2018)

Kualitas hubungan berpengaruh pada keterikatan pelanggan


Pelanggan yang merasakan hubungan yang positif dan kuat dengan
penyedia jasa akan memberikan kontribusi terhadap upaya penjualan dan
pemasaran perusahaan melalui kebiasaan untuk tetap berpegang pada perusahaan
yang dituju oleh Romero (2017:5). Selama Kualitas hubungan menjadi mediasi
yang penting dalam membentuk Keterikatan, Sangat sulit untuk menerima bahwa
terdapat kelonggaran atas ikatan kuat antara kedua pelaku bisnis dan sejatinya
perusahaan tidak akan bisa memposisikan Keterikatan. Dalam penelitian yang
dilakukan oleh Kim and Han (2008) dalam Itani et al. (2019:5) menyatakan bahwa
Relationship Quality berpengaruh positif pada Customer Engagement. Sebab sulit
untuk menerima bahwa tanpa adanya hubungan yang kuat antara pelanggan dan
perusahaan, karena hal itu mampu menciptakan adanya keterikan pelanggan

Kepuasan Pelanggan berpengaruh terhadap Keterikatan Pelanggan


Kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan adalah dua hasil perilaku
penting yang berusaha dicapai oleh setiap organisasi jasa. Banyak penelitian
menunjukkan bahwa memberikan nilai superior yang diperoleh dari pengalaman
lengkap dengan layanan adalah salah satu cara paling penting untuk menghasilkan
kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan (Cronin dkk; Yang dan Peterson;
Gallarza dan Saura; Kesari, dan Atulkar, 2016) dalam El-Adly (2019:2) Dengan
kata lain, Kepuasan pelanggan merupakan mekanisme penting dari keterikatan
pelanggan adanya kepuasan pelanggan akan mampu menekankan niat perilaku
penting dari keterikatan pelanggan. Selain itu, keterikatan pelanggan berdampak
pada kinerja perusahaan menjadi semakin positif atau tidaknya, karena dalam
pemberian jasa kepuasan dan pengalaman menjadi alasan mengapa pelanggan
merasa puas atas pengalaman yang didapatkan. Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Busalim et al, (2020) Darwin Dhasan and Mayuree Aryupong (2019) dan
Itania et al, (2019) Customer Satisfaction berpengaruh positif terhadap Customer
Engagement

Nilai yang Dirasakan Pelanggan berpengaruh terhadap KeterikatanPelanggan


Nilai yang Dirasakan Pelanggan merupakan opini atau identifikasi seorang
pelanggan dalam hal penilaian atas manfaat produk yang telah digunakan, penilaian
ini dapat berupa sifat subjektif maupun multidimensi hal ini selaras denga napa
yang dikatakan dalam penelitian sebelumnya. Menurut El-Adly (2019:2) Nilai yang
Dirasakan Pelanggan merupakan penilai yang mengidentifikasi sifat subjektif dan
multidimensi dari nilai yang dirasakan pelanggan. Berdasarkan definisi ini,
mengkonseptualisasikan nilai yang dirasakan pelanggan dalam konteks hotel
sebagai konstruksi multidimensi yang terdiri dari lebih banyak dimensi daripada
sekadar harga dan kualitas (yaitu, dimensi kognitif). Selain itu Nilai yang Dirasakan
Pelanggan juga mencakup dimensi afektif seperti kepuasan diri, kesenangan
estetika, prestise, transaksi, dan hedonisme. Hal ini sejalan dengan keterikatan
pelanggan karena Keterikatan dianggap sebagai salah satu aspek dari bagaimana
hubungan pelanggan-perusahaan berkembang, selain itu keterikatan pelanggan
secara langsung juga berkontribusi pada perfoma perusahaan. Serta, mengikat
pelanggan secara tidak langsung bisa berkontribusi pada kesuksesan bisnis melalui
refensi antar pelanggan, aktifitas yang dipengaruhi oleh sosial, pengetahuan dan
timbal balik yang dikembalikan lagi ke perusahaan Kumar et al. (2017:2). Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Busalim et al, (2020) Dhasan & Aryupong, (2019)
dan Itania et al, (2019) Customer Preceived Value berpengaruh positif terhadap
Customer Engagement

Indikator Keterikatan Pelanggan

Adapun Indikator menurut Gallup dalam jurnal Itani et al. (2019:2) dapat
diukur pada konteks strategi perolehan Keterikatan Pelanggan pada adalah sebagai
berikut:
a. Pembelian pelanggan adalah jenis interaksi transaksional yang memiliki efek
langsung pada penjualan dan keuntungan bisnis Baik melalui pembelian
pelanggan atau aktivitas tidak langsung lainnya, pelanggan yang terlibat
sangat penting untuk kinerja dan pertumbuhan perusahaan di masa depan
b. Rujukan pelanggan adalah dapat meningkatkan hasil pemasaran dan
penjualan perusahaan dan mengarah ke basis pelanggan yang lebih puas
karena beberapa manfaat yang ditargetkan untuk pelanggan saat ini yang
berpartisipasi dalam program tersebut
c. Pengaruh sosial pelanggan adalah strategi influence-marketing yang
berfokus terutama pada persuasi dan kepatuhan dalam lingkungan sosial.
Pelanggan berbeda dalam cara berbagi pengalaman, informasi, dan
pengetahuan tentang penawaran perusahaan untuk mempengaruhi perilaku
orang lain melalui saluran online dan offline.
d. Berbagi pengetahuan pelanggan adalah membuat aktivitas berbagi informasi
dan umpan balik menjadi lebih mudah dengan memberikan umpan balik
Dan berikut merupakan Indikator-indikator Keterikatan Pelanggan menurut Van
Tonder & Petzer (2018:6)
a. Identifikasi: mengacu pada sejauh mana pelanggan akan berhubungan
dengan objek perikatan, penelitian ini mungkin menyangkut penyedia
asuransi jangka pendek. Pelanggan yang mengidentifikasi dengan penyedia
layanan dapat melihat kritik dari penyedia sebagai penghinaan pribadi
kepada pelanggan dan memandang diri mereka sebagai bagian dari
perusahaan. Konsumen ini juga cenderung mengidentifikasi diri mereka
dengan kesuksesan
b. Antusiasme: menyangkut sejauh mana konsumen bersemangat tentang
fokus keterikatan. Diyakini bahwa konsumen yang antusias tertarik dan
bersemangat tentang penyedia
c. Perhatian: mengukur tingkat fokus pelanggan terhadap objek keterikatan.
Pelanggan yang berfokuspada penyedia mungkin ingin mempelajari lebih
lanjut tentangnyamemperhatikan aspek apa pun yang terkait dengannya,
dan berkonsentrasi secara ekstensif pada penyedia
d. Penyerapan dianggap sebagai keadaan perhatian yang lebih progresif.
Pelanggan yang asyik dengan penyedia layanan akan melupakan hal lain
saat berinteraksi dengan pelanggaan, mungkin terbawa oleh suasana dan
merasa waktu berlalu dengan cepat ketika berurusan dengan penyedia
mungkin sangat terlibat dengan penyedia layanan dan merasa bahwa akan
sulit untuk menjauh dari pelanggan

Keterikatan Pelanggan


Menurut Kumar et al. (2016:505) dalam Itani et al., (2019:2) Customer
Engagement adalah sebuah konsep abstrak dan didefinisikan sebagai konstruksi
atas pembelian Kembali (Repurcasing) yang terdiri dari empat dimensi,
diantaranya: Customer Purchases, Customer References, Customer Influence dan
Customer Knowledge/ Feedback. Kumar (2008) dalam Itani et al. (2019:2)
berpendapat bahwa akan sangat menentukan reputasi perusahaan akan diunggulkan
ataupun diremehkan oleh pelanggan, jika Keterikatan Pelanggan tidak
diperhitungkan. Melalui laporan aktual maupun peramalan pembelanjaan dimasa
depan, Keterikatan pelanggan secara langsung berkontribusi pada performa
perusahaan. Serta, mengikat pelanggan secara tidak langsung bisa berkontribusi
pada kesuksesan bisnis melalui refensi antar pelanggan, aktifitas yang dipengaruhi
oleh sosial, pengetahuan dan timbal balik yang dikembalikan lagi ke perusahaan
Kumar et al. (2017:2).
Berdasarkan pada respon pelanggan atas item yang didapatkan , Gallup dalam
Itani et al. (2019:1) pada penelitiannya menjelaskan bahwa Keterikatan Pelanggan
dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Fully Engaged, yang artinya pelanggan terikat secara emosional dan loyal
    secara rasional, Pelanggan tersebut akan berusaha keras untuk menemukan
    produk yang disukai oleh mereka bahkan pelanggan tersebut tidak menerima
    produk penggantinya. Dapat dikatakan seperti duta merek tersebut dan dapat
    dikatakan sebagai pelanggan yang bernilai dalam konteks bisnis.
  2. Indiffrent, dapat diartikan sebagai pelanggan yang secara emosional dan
    rasional berada di posisi netral, pelanggan ini menyikapi penawaran apapun
    dengan cara ambil atau tinggalkan tanpa memperhitungkan apapun terhadap
    produk maupun layanan.
  3. Actively Disagaged, diartikan sebagai pelanggan yang terlepas secara
    emosional terhadap produk maupun layanan yang ditawarkan perusahaan.
    Pelanggan pada tipe ini akan dengan mudah berganti merek, berperilaku
    antagonis pada penawaran yang diberikan bahkan mereka sangat peka terhadap
    kekurangan produk atau layanan yang ditawarkan.
    Pada sektor hospitality, pelanggan hotel dengan kategori fully engaged
    menyumbang lebih dari 40% per tahun dibandingkan pelanggan dari kategori
    actively disengaged.
    Penelitian terdahulu mensugesti bahwa Keterikatan Pelanggan memegang
    pengaruh yang cukup disukai dalam hasil dari kunci. Demikian, Keterikatan
    Pelanggan menjelaskan bahwa untuk mendorong reputasi jangka panjang Verhoef
    et al. (2010) dalam (Itani et al., 2019:2) dan membantu menurunkan pengurangan
    pelanggan Chathoth et al. (2016), Hollebeek (2011) dalam Itani et al. (2019:2)
    Restaurant, Café, dan Hotel sangat membutuhkan dorongan Keterikatan Pelanggan.
    Romero (2017) dalam jurnal Itani et al. (2019:2) untuk keuntungan yang dipegang
    atas mengoperasikan kegiatan pada sektor pelayanan. So et al. (2014) dalam Itani
    et al. (2019:2).
    Kumar et al. (2017:2) mendefinisikan Customer Enggagement sebagai
    mekanisme penambahan nilai pelanggan ke perusahaan, baik melalui kontribusi
    langsung maupun tidak langsung, sedangkan menurut sumber Van Doorn et al.
    (2010:253) dalam jurnal Itani et al., (2019) berpendapat bahwa Keterikatan
    Pelanggan adalah manifestasi perilaku pelanggan terhadap merek atau perusahaan,
    di luar pembelian, yang dihasilkan dari penggerak motivasi.
    Hasil Keterikatan pelanggan dari penggerak motivasi dan dimanifestasikan dalam
    perilaku yang diambil pelanggan terhadap perusahaan Van Doorn et al. (2010).
    Perilaku keterikatan termasuk retensi pelanggan, pembaruan, dan pembelian
    35
    berulang seperti yang disarankan oleh 63% pemasar yang disurvei oleh Marketo.
    Enam Teori keterikatan memberikan konseptualisasi multidimensi Customer
    Engagement untuk menangkap kompleksitas yang terkait dengan konstruksi
    tersebut Kumar et al.(2017). Konseptualisasi ini mencakup: Pembelian Pelanggan,
    Rujukan Pelanggan, Pengaruh Sosial Pelanggan, dan Penyebaran Pengetahuan
    Pelanggan, sejalan dengan teori sebelumnya yang menyetujui konseptualisasi
    multidimensi dari konstruksi Customer Engagement misalnya, Brodie et al. (2011),
    So et al. (2014). CE mencakup non-transaksional pelanggan (relasional) dan
    interaksi transaksional dengan perusahaan, pelanggan lain, dan atau prospek Kumar
    et al. (2017:2)

Kualitas Hubungan


Kualitas Hubungan adalah tingkat evaluasi keseluruhan pelanggan pada
kekuatan hubungan antara pelanggan dan penyedia layanan (TP Liang et al.,
2011:74) dalam Busalim et al., (2020:12)
Menurut Kumar dan Pansari (2016) dalam Itani et al. (2019:4) teori keterikatan,
mediator relasional diantaranya adalah kepercayaan, komitmen, dan kepuasan
disarankan untuk mendorong tingkat Keterikatan Pelanggan yang lebih tinggi.
Dalam hal ini, Kualitas Hubungan dapat mendorong pelanggan untuk terlibat
dengan perusahaan. Kepuasan didefinisikan sebagai “tingkat kepuasan yang
menyenangkan dari pemenuhan yang berhubungan dengan konsumsi” Oliver
(1997:13) dalam Itani et al. (2019:4) sedangkan kepercayaan adalah keyakinan
pelanggan bahwa penyedia layanan online baik hati dan jujur dalam Busalim et al.,
(2020:12) Janji terjadi ketika pembeli dan penjual saling percaya untuk
menyelesaikan transaksi, dan penting untuk melakukan upaya terbaik dalam
mempertahankan transaksi.” Morgan dan Hunt (1994: 23) dalam Itani et al.
(2019:4) Pelanggan banyak cenderung mengerahkan upaya dan terlibat dalam
kegiatan yang mendukung perusahaan jika mereka tidak memiliki hubungan yang
berkualitas. Pansari dan Kumar (2017) dalam Itani et al. (2019:4) berpendapat
bahwa “pelanggan menjadi terlibat dengan perusahaan saat menjalin hubungan
berdasarkan kepercayaan dan komitmen memuaskan dan memiliki ikatan
emosional.” Meskipun efek Kualitas Hubungan mungkin memiliki pada
Keterikatan Pelanggan, tinjauan literatur ekstensif Hollebeek (2011) dalam Itani et
al. (2019:4) tidak menemukan studi yang relevan yang memeriksa kemungkinan
hubungan antara kedua konstruksi

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan adalah dua hasil perilaku
penting yang berusaha dicapai oleh setiap organisasi jasa. Banyak penelitian
menunjukkan bahwa memberikan nilai superior yang diperoleh dari pengalaman
lengkap dengan layanan adalah salah satu cara paling penting untuk menghasilkan
kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan (Cronin dkk; Yang dan Peterson;
Gallarza dan Saura; Kesari, dan Atulkar, 2016) dalam El-Adly (2019:2)
Kepuasan pelanggan umumnya telah dipelajari dalam penelitian sebelumnya
sebagai konstruk unidimensi yang mengukur kepuasan secara keseluruhan
organisasi layanan sebagai hasil dari penilaian keseluruhan dari semua interaksi dan
titik kontak dengan organisasi layanan Yang & Peterson (2004) Chen & Tsai (2008)
dalam El-Adly (2019:2)

Nilai yang Dirasakan Pelanggan


Nilai yang Dirasakan Pelanggan diidentifikasi sebagai penilaian
keseluruhan atas manfaat produk, yang dibatasi oleh presepsi atas apa yang diterima
dan apa yang diberikan. Zeithaml dikutip dalam Itani et al., (2019:3)
Definisi ini mengidentifikasi sifat subjektif dan multidimensi dari nilai yang
dirasakan pelanggan. Berdasarkan definisi ini, mengkonseptualisasikan nilai yang
dirasakan pelanggan dalam konteks hotel sebagai konstruksi multidimensi yang
terdiri dari lebih banyak dimensi daripada sekadar harga dan kualitas (yaitu,
dimensi kognitif). Ini juga mencakup dimensi afektif seperti kepuasan diri,
kesenangan estetika, prestise, transaksi, dan hedonisme. Memang, menempatkan
konstruksi multidimensi lebih mencerminkan pengalaman perhotelan lengkap yang
dapat diperoleh tamu selama mereka tinggal di hotel dan karenanya memprediksi
hasil perilaku mereka seperti kepuasan dan loyalitas pelanggan daripada konstruksi
unidimensi yang hanya berfokus pada nilai uang atau kualitas. Dalam penelitian ini,
nilai kepuasan diri hotel didefinisikan sebagai peningkatan suasana hati tamu hotel
dan kemampuan untuk bersantai dengan berkurangnya ketegangan dan stres akibat
berada di hotel dan menggunakan fasilitasnya El-Adly (2019:2)
Mirip dengan pemasaran hubungan lainnya faktor yang diselidiki dalam penelitian
ini, bahwa Nilai yang dirasakan pelanggan juga dapat membantu dalam
memberikan kontribusi untuk keunggulan kompetitif yang berkelanjutan untuk
perusahaan jasa Dootson et al. (2016:13). Penelitian menunjukkan bahwa emosi
positif secara langsung mempengaruhi keterikatan pelanggan tetapi tidak
memfasilitasi hubungan dari kepercayaan dan komitmen. Dengan demikian,
efeknya tampaknya tidak tergantung pada faktor lain.dan direkomendasikan agar
manajer mengalokasikan sumber daya ke titik kontak yang lebih memuaskan dan
menyenangkan dengan pelanggan sebagai cara untuk meningkatkan keterikatan
pelanggan. Sementara keterikatan pelanggan (sebagai indikator kinerja utama itu
sendiri) dapat membenarkan pengeluaran sumber daya tersebut, seperti yang kita
lihat dalam hasil, hal itu terkait dengan aspek lain dari kinerja perusahaan

Ringkasan Teori Manajemen Keuangan

Teori-teori manajemen keuangan merupakan perangkat konseptual untuk memahami keputusan perusahaan mengenai investasi, pendanaan, dividen, risiko, informasi, dan tata kelola. Teori maksimalisasi nilai perusahaan menempatkan penciptaan nilai jangka panjang sebagai tujuan utama. Teori nilai waktu uang, penganggaran modal, risiko dan pengembalian, CAPM, serta teori portofolio menjelaskan bagaimana perusahaan dan investor mengevaluasi investasi.

Dalam keputusan pendanaan, teori Modigliani dan Miller, trade-off theory, pecking order theory, agency theory, dan signaling theory menjelaskan alasan perusahaan menggunakan kombinasi utang dan ekuitas yang berbeda. Dalam keputusan dividen, dividend irrelevance theory, bird in the hand theory, dividend signaling theory, agency theory, dan residual dividend theory menjelaskan pertimbangan perusahaan dalam membagikan laba atau menahannya untuk investasi.

Agency theory, free cash flow theory, dan corporate governance theory menekankan bahwa kualitas tata kelola penting untuk membatasi konflik kepentingan dan penggunaan sumber daya yang tidak produktif. Sementara itu, behavioral finance theory menunjukkan bahwa keputusan keuangan dapat dipengaruhi oleh bias psikologis dan tidak selalu sepenuhnya rasional.

Tidak ada satu teori yang dapat menjelaskan seluruh perilaku keuangan perusahaan dalam semua situasi. Trade-off theory dapat lebih relevan bagi perusahaan mapan dengan aset berwujud dan arus kas stabil, sedangkan pecking order theory sering lebih sesuai untuk menjelaskan preferensi pendanaan berdasarkan ketersediaan dana internal dan asimetri informasi. Oleh karena itu, penelitian manajemen keuangan sebaiknya menggunakan teori secara kontekstual sesuai karakteristik perusahaan, sektor industri, kondisi pasar, dan tujuan analisis.

Integrasi Teori Manajemen Keuangan dalam Penelitian

Teori-teori manajemen keuangan dapat digunakan sebagai landasan untuk menyusun kerangka berpikir dan hipotesis penelitian. Pemilihan teori harus disesuaikan dengan variabel, objek penelitian, dan hubungan kausal yang dianalisis.

Fokus penelitianTeori yang relevanPenjelasan hubungan
Struktur modal terhadap nilai perusahaanTrade-off theory; pecking order theory; MM theoryMenjelaskan dampak komposisi utang dan ekuitas terhadap biaya modal, risiko, serta nilai perusahaan
Kebijakan dividen terhadap nilai perusahaanDividend signaling theory; bird in the hand theory; dividend irrelevance theoryMenjelaskan apakah dividen memberi sinyal positif, mengurangi ketidakpastian, atau tidak relevan dalam kondisi tertentu
Kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaanAgency theoryMenjelaskan penyelarasan kepentingan manajer dan pemegang saham
Free cash flow terhadap nilai perusahaanFree cash flow theory; agency theoryMenjelaskan potensi penyalahgunaan kas bebas dan fungsi utang/dividen sebagai alat disiplin
Profitabilitas terhadap struktur modalPecking order theory; trade-off theoryPerusahaan profitable cenderung menggunakan laba ditahan, tetapi juga dapat memiliki kapasitas utang lebih tinggi
Pengungkapan informasi terhadap reaksi pasarSignaling theory; efficient market hypothesisMenjelaskan respons investor terhadap informasi perusahaan
Keputusan investasi terhadap nilai perusahaanCapital budgeting theory; signaling theoryInvestasi yang menghasilkan NPV positif meningkatkan nilai dan dapat memberi sinyal pertumbuhan
Tata kelola terhadap kinerja perusahaanAgency theory; corporate governance theoryTata kelola mengurangi konflik kepentingan serta meningkatkan kualitas pengawasan

Sebagai contoh, penelitian mengenai pengaruh keputusan investasi, struktur modal, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan dapat menggunakan teori maksimalisasi nilai perusahaan sebagai payung utama. Keputusan investasi dijelaskan melalui teori penganggaran modal; struktur modal dijelaskan melalui trade-off theory dan pecking order theory; sedangkan kebijakan dividen dijelaskan melalui signaling theory serta agency theory.

Contoh rumusan kalimat akademik yang siap digunakan:

“Teori trade-off menjelaskan bahwa perusahaan menentukan tingkat penggunaan utang dengan mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat pajak dari bunga utang dan biaya kesulitan keuangan yang meningkat akibat leverage berlebihan (Kraus & Litzenberger, 1973).”

“Menurut pecking order theory, perusahaan cenderung memprioritaskan penggunaan dana internal, kemudian utang, dan menjadikan penerbitan saham baru sebagai alternatif terakhir karena adanya asimetri informasi antara manajemen dan investor eksternal (Myers & Majluf, 1984).”

“Agency theory menyatakan bahwa pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan dapat menimbulkan konflik kepentingan antara pemegang saham sebagai principal dan manajer sebagai agent (Jensen & Meckling, 1976).”

“Peningkatan pembayaran dividen dapat dipersepsikan sebagai sinyal positif mengenai keyakinan manajemen atas kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas pada masa mendatang (Bhattacharya, 1979).”

“Keputusan investasi yang menghasilkan net present value positif secara teoritis dapat meningkatkan nilai perusahaan karena proyek tersebut menghasilkan manfaat ekonomi melebihi biaya modal yang digunakan (Ross et al., 2022).”

Teori Perilaku Keuangan (2)

Market timing theory

Market timing theory menjelaskan bahwa perusahaan dapat memilih waktu penerbitan saham atau utang berdasarkan kondisi pasar. Perusahaan cenderung menerbitkan saham ketika manajemen mempersepsikan harga saham perusahaan relatif tinggi, dan cenderung membeli kembali saham ketika harga saham dianggap relatif rendah (Baker & Wurgler, 2002).

Teori ini menyatakan bahwa struktur modal perusahaan bukan hanya hasil dari pencarian struktur modal optimal atau urutan pendanaan, tetapi juga merupakan akumulasi dari keputusan pendanaan masa lalu yang dipengaruhi oleh kondisi pasar. Perusahaan dapat memanfaatkan tingkat bunga rendah untuk menerbitkan utang atau memanfaatkan sentimen pasar positif untuk menerbitkan saham.

Namun, market timing tidak boleh menjadi satu-satunya dasar keputusan pendanaan. Perusahaan tetap harus mempertimbangkan kebutuhan dana, risiko, struktur modal, kemampuan pembayaran, biaya modal, serta dampak jangka panjang terhadap nilai perusahaan.

Teori Perilaku Keuangan (1)

Behavioral finance theory

Behavioral finance theory menjelaskan bahwa keputusan keuangan tidak selalu dibuat secara sepenuhnya rasional. Investor, manajer, analis, dan pelaku pasar dapat dipengaruhi oleh emosi, bias kognitif, tekanan sosial, serta keterbatasan informasi. Teori ini berkembang sebagai pelengkap terhadap asumsi rasionalitas penuh dalam teori keuangan tradisional (Kahneman & Tversky, 1979).

Beberapa bias perilaku yang penting dalam keuangan adalah overconfidence, loss aversion, herding behavior, anchoring, dan mental accounting. Overconfidence terjadi ketika manajer atau investor terlalu yakin terhadap kemampuan dan prediksinya. Loss aversion menggambarkan kecenderungan individu merasakan kerugian secara lebih kuat daripada keuntungan dengan nilai yang sama. Herding behavior terjadi ketika investor mengikuti tindakan mayoritas tanpa melakukan analisis independen.

Dalam konteks perusahaan, bias perilaku dapat memengaruhi keputusan investasi dan pendanaan. Manajer yang terlalu percaya diri mungkin melakukan ekspansi berlebihan atau menganggap risiko proyek terlalu rendah. Investor yang panik dapat menjual saham secara berlebihan ketika menerima informasi negatif. Sebaliknya, euforia pasar dapat mendorong penilaian saham menjadi terlalu tinggi.

Prospect theory dari Kahneman dan Tversky (1979) menyatakan bahwa individu mengevaluasi keputusan berdasarkan keuntungan atau kerugian relatif terhadap titik acuan, bukan semata-mata berdasarkan nilai absolut kekayaan. Individu juga cenderung menghindari risiko ketika berada pada kondisi keuntungan, tetapi dapat menjadi lebih berani mengambil risiko ketika menghadapi kerugian.

Implikasi teori perilaku keuangan adalah bahwa perusahaan perlu membangun proses keputusan yang disiplin, berbasis data, menggunakan evaluasi independen, dan memiliki mekanisme pengawasan. Keputusan investasi tidak boleh didasarkan hanya pada optimisme manajemen, sedangkan keputusan pendanaan tidak boleh diambil hanya karena tren pasar sementara.

Teori Informasi dan Pasar (3)

Signaling theory

Signaling theory telah dijelaskan dalam kaitannya dengan struktur modal dan kebijakan dividen. Secara lebih luas, teori ini menekankan bahwa tindakan perusahaan dapat membawa kandungan informasi bagi investor. Manajer dapat menyampaikan sinyal melalui keputusan pendanaan, pengumuman investasi, kebijakan dividen, pembelian kembali saham, pengungkapan sukarela, dan komitmen terhadap tata kelola.

Sinyal yang efektif harus memiliki kredibilitas. Sinyal positif yang mudah ditiru oleh perusahaan berkualitas rendah cenderung kurang dipercaya investor. Sebaliknya, sinyal yang mahal atau sulit ditiru, seperti komitmen membayar dividen berkelanjutan atau investasi besar pada proyek produktif, dapat lebih kredibel apabila didukung oleh arus kas dan fundamental perusahaan yang kuat (Spence, 1973; Ross, 1977).

Teori Informasi dan Pasar (2)

Efficient market hypothesis

Efficient market hypothesis atau hipotesis pasar efisien dikembangkan oleh Fama (1970). Teori ini menyatakan bahwa harga sekuritas mencerminkan informasi yang tersedia di pasar. Dalam pasar yang efisien, investor sulit memperoleh abnormal return secara konsisten hanya dengan menggunakan informasi publik karena informasi tersebut telah tercermin dalam harga saham.

Fama (1970) membedakan efisiensi pasar menjadi tiga bentuk.

  • Bentuk lemah, yaitu harga saham mencerminkan seluruh informasi historis, seperti harga dan volume perdagangan masa lalu.
  • Bentuk setengah kuat, yaitu harga saham mencerminkan seluruh informasi publik, termasuk laporan keuangan, pengumuman dividen, dan informasi ekonomi.
  • Bentuk kuat, yaitu harga saham mencerminkan seluruh informasi, baik publik maupun privat.

Implikasi teori pasar efisien bagi manajemen keuangan adalah bahwa perusahaan harus menjaga kualitas dan kecepatan pengungkapan informasi. Keputusan investasi, pengumuman laba, perubahan struktur modal, aksi korporasi, dan kebijakan dividen dapat segera memengaruhi persepsi investor dan harga saham apabila pasar merespons informasi tersebut.

Walaupun demikian, pasar di dunia nyata tidak selalu sepenuhnya efisien. Bias perilaku investor, keterbatasan informasi, ketidakpastian, likuiditas pasar, dan faktor institusional dapat menyebabkan harga saham menyimpang dari nilai fundamental dalam jangka pendek. Oleh karena itu, teori pasar efisien lebih tepat dipahami sebagai kerangka untuk menganalisis bagaimana informasi memengaruhi harga, bukan sebagai klaim bahwa pasar selalu sempurna.

Teori Informasi dan Pasar (1)

Asimetri informasi

Asimetri informasi terjadi ketika satu pihak dalam transaksi memiliki informasi yang lebih lengkap dibandingkan pihak lain. Dalam perusahaan, manajer biasanya mengetahui lebih banyak mengenai prospek usaha, risiko proyek, kualitas aset, dan kondisi operasional daripada investor atau kreditor eksternal.

Asimetri informasi memengaruhi keputusan pendanaan, kebijakan dividen, dan respons pasar terhadap informasi perusahaan. Misalnya, ketika perusahaan menerbitkan saham baru, investor dapat menafsirkan bahwa manajemen menilai saham perusahaan sedang overvalued. Akibatnya, pengumuman penerbitan saham dapat memunculkan reaksi pasar yang negatif (Myers & Majluf, 1984).

Untuk mengurangi asimetri informasi, perusahaan perlu menyajikan laporan keuangan berkualitas, memberikan pengungkapan yang transparan, menerapkan audit independen, mengomunikasikan strategi secara kredibel, dan menjaga konsistensi antara informasi yang disampaikan dengan realisasi kinerja.

Teori Keagenan dan Tata Kelola (3)

Corporate governance theory

Corporate governance theory menekankan pentingnya sistem pengawasan, struktur kepemilikan, transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan pemegang saham dalam memastikan bahwa manajemen bertindak sesuai dengan tujuan perusahaan. Tata kelola perusahaan yang baik dapat meningkatkan kepercayaan investor, menurunkan risiko penyalahgunaan aset, memperbaiki kualitas pengambilan keputusan, dan menurunkan biaya modal.

Prinsip tata kelola perusahaan umumnya mencakup transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan kewajaran. Dalam praktik, tata kelola yang baik diwujudkan melalui keberadaan dewan komisaris independen, komite audit, sistem manajemen risiko, audit internal, kode etik, mekanisme pelaporan pelanggaran, dan pengungkapan informasi yang memadai.

Teori tata kelola relevan dalam penelitian manajemen keuangan karena kualitas tata kelola dapat memoderasi hubungan antara keputusan pendanaan, kebijakan dividen, profitabilitas, dan nilai perusahaan. Perusahaan dengan tata kelola yang kuat biasanya lebih dipercaya oleh investor karena risiko konflik keagenan dan manipulasi informasi cenderung lebih rendah.

Teori Keagenan dan Tata Kelola (2)

Free cash flow theory

Free cash flow theory dikemukakan oleh Jensen (1986). Free cash flow adalah arus kas yang tersedia setelah perusahaan memenuhi seluruh kebutuhan investasi yang memiliki nilai kini bersih positif. Apabila perusahaan memiliki kas bebas berlebihan, manajer dapat terdorong untuk melakukan investasi yang tidak produktif, ekspansi berlebihan, akuisisi yang tidak menciptakan sinergi, atau pengeluaran yang meningkatkan kepentingan pribadi.

Teori ini menjelaskan bahwa utang dan dividen dapat berfungsi sebagai alat disiplin. Utang mengharuskan perusahaan membayar bunga dan pokok secara periodik. Dividen mengurangi kas yang berada dalam kendali manajer. Kedua mekanisme tersebut dapat membatasi penggunaan dana pada proyek yang tidak menciptakan nilai.

Namun, penggunaan utang dan dividen tidak dapat diterapkan secara seragam. Perusahaan dengan ketidakpastian pendapatan tinggi memerlukan fleksibilitas kas yang lebih besar. Oleh karena itu, kebijakan disiplin keuangan harus disesuaikan dengan stabilitas arus kas, siklus bisnis, peluang investasi, dan tingkat risiko perusahaan.

Teori Keagenan dan Tata Kelola (1)

Agency theory

Agency theory merupakan teori sentral dalam manajemen keuangan. Teori ini membahas hubungan kontraktual antara principal dan agent. Dalam perusahaan, pemegang saham bertindak sebagai principal karena menyediakan modal dan memiliki perusahaan, sedangkan manajer bertindak sebagai agent karena diberi mandat untuk mengelola perusahaan (Jensen & Meckling, 1976).

Konflik keagenan muncul karena manajer tidak selalu mengambil keputusan yang sepenuhnya sejalan dengan kepentingan pemegang saham. Manajer mungkin mengejar pertumbuhan perusahaan demi prestise, memperbesar organisasi tanpa pertimbangan efisiensi, menggunakan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi, atau menghindari risiko proyek yang sebenarnya meningkatkan nilai pemegang saham.

Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan bahwa biaya keagenan terdiri atas biaya monitoring, bonding cost, dan residual loss. Monitoring cost adalah biaya yang dikeluarkan pemilik untuk mengawasi tindakan manajer, misalnya biaya audit dan pengawasan dewan komisaris. Bonding cost adalah biaya yang dikeluarkan manajer untuk meyakinkan pemilik bahwa ia akan bertindak sesuai kepentingan perusahaan. Residual loss adalah kerugian nilai yang tetap terjadi akibat perbedaan keputusan manajer dan kepentingan pemilik.

Berbagai mekanisme dapat digunakan untuk mengurangi masalah keagenan.

  • Pemberian kompensasi berbasis kinerja dan nilai perusahaan jangka panjang.
  • Kepemilikan saham oleh manajemen dalam proporsi yang tepat.
  • Pengawasan dewan komisaris yang independen dan efektif.
  • Audit internal serta audit eksternal yang berkualitas.
  • Pengungkapan informasi yang transparan dan tepat waktu.
  • Penerapan sistem pengendalian internal.
  • Penggunaan utang secara proporsional untuk meningkatkan disiplin kas.
  • Pembayaran dividen untuk mengurangi free cash flow berlebih.

Teori Kebijakan Dividen (5)

Residual dividend theory

Residual dividend theory menyatakan bahwa perusahaan sebaiknya membayar dividen setelah seluruh kebutuhan investasi yang memiliki NPV positif terpenuhi. Dalam teori ini, laba ditahan digunakan terlebih dahulu untuk mendanai proyek investasi yang menguntungkan. Setelah kebutuhan modal untuk investasi terpenuhi, sisa laba dapat dibagikan sebagai dividen.

Pendekatan residual menempatkan keputusan investasi sebagai prioritas utama. Jika perusahaan memiliki banyak proyek yang diperkirakan menghasilkan return di atas biaya modal, perusahaan sebaiknya mempertahankan laba lebih besar. Sebaliknya, apabila peluang investasi terbatas, perusahaan dapat membagikan porsi laba yang lebih besar sebagai dividen (Brigham & Houston, 2022).

Kelemahan kebijakan residual adalah besaran dividen dapat berfluktuasi dari tahun ke tahun. Fluktuasi tersebut mungkin tidak disukai investor yang menghendaki pendapatan dividen stabil. Oleh sebab itu, banyak perusahaan berusaha menjaga stabilitas dividen sambil tetap mempertimbangkan kebutuhan investasi dan kondisi kas.

Teori Kebijakan Dividen (4)

Agency theory dan dividen

Agency theory menjelaskan bahwa dividen dapat digunakan untuk mengurangi konflik kepentingan antara manajemen dan pemegang saham. Perusahaan yang memiliki free cash flow besar berpotensi menghadapi masalah apabila manajer menggunakan dana tersebut untuk proyek yang kurang produktif, ekspansi yang berlebihan, atau kepentingan pribadi (Jensen, 1986).

Pembayaran dividen dapat mengurangi jumlah kas bebas yang berada di bawah diskresi manajemen. Ketika perusahaan membayar dividen, perusahaan mungkin harus mencari pendanaan eksternal apabila membutuhkan dana untuk investasi. Kebutuhan pendanaan eksternal tersebut meningkatkan pengawasan oleh pasar modal, bank, dan kreditor sehingga dapat mendorong manajemen bertindak lebih disiplin.

Namun, kebijakan dividen yang terlalu agresif juga dapat membatasi kemampuan perusahaan membiayai investasi produktif. Oleh karena itu, perusahaan harus menyeimbangkan kebutuhan membayar dividen dengan kebutuhan mempertahankan laba untuk pertumbuhan dan penguatan struktur keuangan.

Teori Kebijakan Dividen (3)

Dividend signaling theory

Dividend signaling theory menyatakan bahwa perubahan kebijakan dividen dapat memberikan sinyal kepada investor mengenai prospek laba dan arus kas perusahaan di masa depan. Kenaikan dividen dapat dipersepsikan sebagai sinyal bahwa manajemen yakin perusahaan mampu mempertahankan atau meningkatkan kinerjanya. Sebaliknya, penurunan dividen dapat diinterpretasikan sebagai sinyal adanya penurunan prospek atau tekanan keuangan (Bhattacharya, 1979).

Teori sinyal dividen relevan karena manajer umumnya memiliki informasi lebih baik dibandingkan investor. Namun, sinyal berupa dividen dianggap kredibel apabila perusahaan benar-benar memiliki kemampuan kas untuk mendukung kebijakan tersebut. Perusahaan yang menaikkan dividen tanpa dukungan kinerja keuangan yang memadai dapat mengalami tekanan kas dan penurunan kepercayaan investor pada masa mendatang.

Dalam penelitian empiris, kebijakan dividen sering diukur menggunakan dividend payout ratio atau DPR.

DPR=Dividen per SahamLaba per Saham×100%DPR = \frac{\text{Dividen per Saham}}{\text{Laba per Saham}} \times 100\%DPR=Laba per SahamDividen per Saham​×100%

Rasio tersebut menunjukkan proporsi laba bersih yang dibagikan kepada pemegang saham. Semakin tinggi DPR, semakin besar proporsi laba yang dibagikan; namun, semakin sedikit pula dana internal yang ditahan untuk ekspansi.

Teori Kebijakan Dividen (2)

Bird in the hand theory

Bird in the hand theory dikembangkan oleh Gordon (1963) dan Lintner (1962). Teori ini menyatakan bahwa investor cenderung lebih menyukai dividen saat ini daripada capital gain yang belum pasti pada masa depan. Dividen dianggap sebagai “burung di tangan,” sedangkan capital gain dipandang sebagai “burung di semak” yang lebih tidak pasti.

Menurut teori ini, pembayaran dividen yang stabil dapat menurunkan ketidakpastian investor dan menurunkan tingkat pengembalian yang disyaratkan. Jika tingkat pengembalian yang disyaratkan turun, nilai perusahaan dapat meningkat. Oleh karena itu, perusahaan yang memiliki arus kas stabil dan laba yang konsisten sering dipandang lebih menarik apabila mampu mempertahankan kebijakan dividen yang dapat diprediksi.

Namun, pandangan ini tidak selalu berlaku untuk seluruh jenis investor. Investor yang berorientasi pertumbuhan mungkin lebih menyukai perusahaan yang menahan laba untuk mendanai proyek dengan tingkat pengembalian tinggi. Oleh sebab itu, kebijakan dividen perlu disesuaikan dengan tahap pertumbuhan perusahaan, peluang investasi, kondisi kas, dan karakteristik basis investornya.

Teori Kebijakan Dividen (1)

Dividend irrelevance theory

Dividend irrelevance theory dikembangkan oleh Modigliani dan Miller (1961). Teori ini menyatakan bahwa dalam kondisi pasar sempurna, kebijakan dividen tidak memengaruhi nilai perusahaan. Investor dianggap tidak membedakan apakah memperoleh return dari dividen tunai atau dari capital gain akibat kenaikan harga saham.

Menurut teori ini, jika perusahaan memilih membayar dividen lebih tinggi, perusahaan mungkin membutuhkan pendanaan eksternal untuk membiayai investasi. Sebaliknya, jika perusahaan menahan laba lebih besar, perusahaan dapat membiayai investasi dari dana internal. Dalam kondisi pasar sempurna, kedua pilihan tersebut tidak mengubah nilai perusahaan karena investor dapat menciptakan “dividen sendiri” dengan menjual sebagian saham apabila membutuhkan kas.

Walaupun penting secara teoretis, dividend irrelevance theory sulit diterapkan secara penuh dalam praktik karena terdapat pajak, biaya transaksi, asimetri informasi, preferensi investor, biaya emisi saham, dan masalah keagenan. Keberadaan faktor-faktor tersebut membuat kebijakan dividen dapat memengaruhi nilai perusahaan.

Teori Struktur Modal (5)

Signaling theory

Signaling theory menjelaskan bahwa manajemen menggunakan keputusan keuangan sebagai sinyal untuk menyampaikan informasi mengenai prospek perusahaan kepada investor. Teori ini berangkat dari kondisi asimetri informasi, yaitu ketika manajer memiliki informasi yang lebih baik tentang kinerja dan peluang masa depan perusahaan dibandingkan pihak eksternal (Spence, 1973).

Dalam konteks keuangan perusahaan, peningkatan dividen, pembelian kembali saham, peningkatan investasi produktif, atau keputusan penggunaan utang yang wajar dapat dipersepsikan investor sebagai sinyal positif bahwa manajemen optimistis terhadap arus kas masa depan. Sebaliknya, pengurangan dividen, penerbitan saham baru secara mendadak, atau peningkatan utang yang ekstrem dapat dipersepsikan sebagai sinyal risiko atau kebutuhan dana yang mendesak.

Ross (1977) menyatakan bahwa struktur modal dapat digunakan sebagai sinyal kualitas perusahaan. Perusahaan dengan prospek dan arus kas baik mungkin lebih berani menggunakan utang karena manajemen yakin perusahaan mampu memenuhi kewajiban pembayaran. Namun, interpretasi sinyal harus dilakukan secara hati-hati karena penggunaan utang yang berlebihan juga dapat memperbesar risiko kesulitan keuangan.

Teori Struktur Modal (4)

Agency theory dalam struktur modal

Agency theory menjelaskan konflik kepentingan antara pihak-pihak dalam perusahaan, khususnya antara pemegang saham dan manajer, serta antara pemegang saham dan kreditor. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa ketika pemilik perusahaan menyerahkan pengelolaan kepada manajer, muncul potensi perbedaan kepentingan.

Pemegang saham menginginkan peningkatan nilai perusahaan. Namun, manajer mungkin lebih memilih kebijakan yang meningkatkan kepentingan pribadi, seperti memperbesar fasilitas, mempertahankan kas berlebih, memperluas perusahaan secara tidak efisien, atau menghindari proyek berisiko yang sebenarnya menguntungkan pemegang saham. Perbedaan kepentingan tersebut menghasilkan biaya keagenan.

Utang dapat menjadi salah satu mekanisme disiplin bagi manajemen. Perusahaan yang menggunakan utang memiliki kewajiban bunga dan pokok yang harus dipenuhi secara berkala. Kondisi tersebut dapat mengurangi free cash flow yang tersedia bagi manajer untuk digunakan pada investasi yang tidak produktif. Dengan demikian, utang dapat mendorong disiplin dan efisiensi manajemen (Jensen, 1986).

Namun, utang juga dapat memunculkan konflik antara pemegang saham dan kreditor. Pemegang saham mungkin terdorong mengambil proyek yang lebih berisiko karena apabila proyek berhasil, manfaatnya terutama dinikmati pemegang saham. Sebaliknya, apabila proyek gagal, sebagian risiko kerugian ditanggung kreditor. Masalah tersebut dikenal sebagai asset substitution problem.

Karena itu, kreditor sering menetapkan covenant atau pembatasan kontraktual, seperti batas rasio utang, pembatasan pembayaran dividen, persyaratan pemeliharaan rasio keuangan tertentu, atau larangan menjual aset tanpa persetujuan. Pembatasan tersebut bertujuan melindungi kepentingan kreditor, meskipun dapat mengurangi fleksibilitas perusahaan.

Teori Struktur Modal (3)

Pecking order theory

Pecking order theory dikemukakan oleh Myers dan Majluf (1984). Teori ini menjelaskan bahwa perusahaan memiliki urutan preferensi dalam memilih sumber dana karena adanya asimetri informasi antara manajemen dan investor eksternal.

Manajemen umumnya memiliki informasi lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan, prospek investasi, dan risiko masa depan dibandingkan investor luar. Ketika perusahaan menerbitkan saham baru, investor mungkin menafsirkan tindakan tersebut sebagai sinyal bahwa manajemen menilai saham perusahaan sedang terlalu tinggi. Interpretasi ini dapat menyebabkan harga saham turun.

Karena itu, perusahaan cenderung mengikuti urutan pembiayaan sebagai berikut:

  1. Dana internal, terutama laba ditahan.
  2. Utang dengan risiko relatif rendah.
  3. Utang tambahan atau instrumen hibrida.
  4. Penerbitan saham baru sebagai pilihan terakhir.

Menurut teori ini, perusahaan yang sangat profitable tidak selalu memiliki rasio utang rendah karena tidak membutuhkan utang, tetapi justru karena laba internalnya cukup untuk membiayai investasi. Sebaliknya, perusahaan yang kurang menguntungkan dapat memiliki utang tinggi karena kebutuhan dananya lebih besar daripada laba ditahan yang tersedia.

Pecking order theory tidak berfokus pada satu struktur modal optimal seperti trade-off theory. Teori ini lebih menekankan bahwa struktur modal yang terlihat pada suatu waktu merupakan hasil dari akumulasi keputusan pendanaan berdasarkan kebutuhan dana dan urutan preferensi pembiayaan perusahaan (Myers & Majluf, 1984).

Teori Struktur Modal (2)

Trade-off theory

Trade-off theory menjelaskan bahwa perusahaan menentukan struktur modal optimal dengan menyeimbangkan manfaat penggunaan utang dan biaya penggunaan utang. Manfaat utama utang adalah penghematan pajak dari beban bunga. Sementara itu, biaya penggunaan utang meliputi biaya kesulitan keuangan, risiko kebangkrutan, biaya keagenan, pembatasan kontrak utang, dan meningkatnya risiko gagal bayar (Kraus & Litzenberger, 1973).

Perusahaan dengan utang yang rendah mungkin belum memanfaatkan manfaat tax shield secara maksimal. Namun, perusahaan dengan utang yang terlalu tinggi menghadapi beban bunga besar dan risiko financial distress. Oleh karena itu, trade-off theory menekankan bahwa perusahaan perlu mencari titik keseimbangan antara manfaat pajak dan biaya kesulitan keuangan.

Secara sederhana, nilai perusahaan berutang dapat dipandang sebagai nilai perusahaan tanpa utang ditambah manfaat pajak utang, kemudian dikurangi biaya kesulitan keuangan dan biaya keagenan.

VL=VU+PV(Tax Shield)−PV(Financial Distress Costs)−PV(Agency Costs)V_L = V_U + PV(\text{Tax Shield}) – PV(\text{Financial Distress Costs}) – PV(\text{Agency Costs})VL​=VU​+PV(Tax Shield)−PV(Financial Distress Costs)−PV(Agency Costs)

Keterangan:

VL=nilai perusahaan berutangV_L = \text{nilai perusahaan berutang}VL​=nilai perusahaan berutang

VU=nilai perusahaan tanpa utangV_U = \text{nilai perusahaan tanpa utang}VU​=nilai perusahaan tanpa utang

Teori trade-off menjelaskan mengapa perusahaan dengan aset berwujud besar, arus kas stabil, dan risiko bisnis rendah sering kali mampu menggunakan utang lebih banyak. Aset berwujud dapat menjadi jaminan, sedangkan arus kas yang stabil meningkatkan kemampuan membayar bunga dan pokok utang. Sebaliknya, perusahaan dengan pendapatan sangat fluktuatif atau aset utama berupa kekayaan intelektual mungkin cenderung lebih berhati-hati dalam menggunakan utang.

Teori Struktur Modal (1)

Teori Modigliani dan Miller

Teori Modigliani dan Miller merupakan salah satu teori fundamental dalam struktur modal. Modigliani dan Miller (1958) menyatakan bahwa dalam pasar modal sempurna, tanpa pajak, tanpa biaya kebangkrutan, tanpa biaya transaksi, dan tanpa asimetri informasi, struktur modal tidak memengaruhi nilai perusahaan. Dengan kata lain, nilai perusahaan tidak berubah hanya karena perusahaan mengganti sumber pendanaan dari ekuitas menjadi utang atau sebaliknya.

Proposisi tersebut dikenal sebagai teori irrelevansi struktur modal. Gagasan utamanya adalah bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh kemampuan aset perusahaan menghasilkan arus kas, bukan oleh cara perusahaan membagi sumber pembiayaan antara utang dan ekuitas.

Namun, asumsi teori Modigliani dan Miller sangat ideal. Dalam praktik, terdapat pajak, biaya kebangkrutan, biaya keagenan, asimetri informasi, biaya emisi sekuritas, dan keterbatasan akses pendanaan. Oleh sebab itu, struktur modal pada kenyataannya dapat memengaruhi nilai perusahaan.

Modigliani dan Miller (1963) kemudian memasukkan unsur pajak perusahaan. Dalam kondisi adanya pajak, penggunaan utang dapat memberikan manfaat berupa tax shield atau penghematan pajak karena bunga utang dapat menjadi beban yang mengurangi laba kena pajak. Berdasarkan perspektif ini, perusahaan yang menggunakan utang dapat memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan perusahaan tanpa utang, sepanjang manfaat pajak lebih besar daripada risiko dan biaya tambahan yang muncul.

Teori Modigliani dan Miller tetap penting karena memberikan titik awal untuk memahami bahwa struktur modal menjadi relevan bukan semata-mata karena komposisi utang dan ekuitas, tetapi karena adanya ketidaksempurnaan pasar yang nyata dalam dunia bisnis.

Teori Keputusan Investasi (5)

Teori portofolio modern

Modern portfolio theory dikembangkan oleh Markowitz (1952). Teori ini menyatakan bahwa investor seharusnya tidak menilai investasi secara individual saja, melainkan menilai kontribusi suatu aset terhadap risiko dan return portofolio secara keseluruhan. Dengan mengombinasikan berbagai aset yang memiliki korelasi tidak sempurna, investor dapat mengurangi risiko portofolio tanpa selalu menurunkan return yang diharapkan.

Konsep kunci teori portofolio modern adalah diversifikasi. Diversifikasi memungkinkan investor mengurangi risiko tidak sistematis melalui penyebaran investasi pada berbagai perusahaan, industri, wilayah, atau jenis aset. Namun, risiko sistematis tetap sulit dihilangkan karena dipengaruhi oleh kondisi pasar secara keseluruhan (Markowitz, 1952).

Bagi manajer keuangan, teori portofolio relevan ketika perusahaan mengelola portofolio investasi, mempertimbangkan diversifikasi bisnis, mengalokasikan dana pensiun, atau menyusun strategi manajemen risiko. Perusahaan perlu menghindari konsentrasi investasi yang terlalu tinggi pada satu produk, pasar, pelanggan, pemasok, atau mata uang karena kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap guncangan tertentu.

Teori Keputusan Investasi (4)

Capital asset pricing model

Capital asset pricing model atau CAPM menjelaskan hubungan antara risiko sistematis suatu investasi dengan tingkat return yang diharapkan. Teori CAPM dikembangkan oleh Sharpe (1964), Lintner (1965), dan Mossin (1966). Menurut CAPM, return yang diharapkan dari suatu aset terdiri atas tingkat bebas risiko ditambah kompensasi atas risiko sistematis aset tersebut.

Rumus CAPM adalah:

E(Ri)=Rf+βi[E(Rm)−Rf]E(R_i) = R_f + \beta_i[E(R_m)-R_f]E(Ri​)=Rf​+βi​[E(Rm​)−Rf​]

Keterangan:

E(Ri)=return yang diharapkan dari aset iE(R_i) = \text{return yang diharapkan dari aset } iE(Ri​)=return yang diharapkan dari aset i

Rf=tingkat bebas risikoR_f = \text{tingkat bebas risiko}Rf​=tingkat bebas risiko

βi=beta aset i\beta_i = \text{beta aset } iβi​=beta aset i

E(Rm)=return pasar yang diharapkanE(R_m) = \text{return pasar yang diharapkan}E(Rm​)=return pasar yang diharapkan

Beta menunjukkan sensitivitas return suatu saham terhadap perubahan return pasar. Beta lebih dari satu menunjukkan bahwa saham cenderung bergerak lebih fluktuatif daripada pasar. Beta kurang dari satu menunjukkan bahwa saham cenderung kurang sensitif terhadap perubahan pasar.

CAPM memiliki implikasi penting dalam manajemen keuangan karena dapat digunakan untuk memperkirakan biaya ekuitas atau cost of equity. Biaya ekuitas diperlukan dalam perhitungan biaya modal rata-rata tertimbang dan evaluasi proyek investasi. Walaupun demikian, CAPM bergantung pada sejumlah asumsi ideal, seperti pasar yang efisien, investor rasional, dan kemampuan investor melakukan diversifikasi. Dalam praktik, perusahaan perlu melengkapinya dengan analisis risiko spesifik, kondisi pasar, dan karakteristik industri.

Teori Keputusan Investasi (3)

Teori risiko dan pengembalian

Teori risiko dan pengembalian menjelaskan bahwa investor maupun manajer perusahaan harus mempertimbangkan hubungan antara tingkat keuntungan yang diharapkan dan risiko yang menyertai investasi. Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi, sedangkan risiko merupakan kemungkinan bahwa return aktual berbeda dari return yang diharapkan (Bodie et al., 2021).

Secara umum, investasi dengan risiko lebih tinggi harus memberikan tingkat pengembalian yang diharapkan lebih tinggi. Investor tidak akan bersedia menanamkan modal pada investasi berisiko tinggi apabila return yang ditawarkan sama dengan investasi berisiko rendah. Prinsip ini sering disebut sebagai hubungan positif antara risiko dan return.

Return investasi dapat dihitung dengan rumus:

R=P1−P0+DP0R = \frac{P_1-P_0+D}{P_0}R=P0​P1​−P0​+D​

Keterangan:

R=tingkat pengembalianR = \text{tingkat pengembalian}R=tingkat pengembalian

P0=harga investasi pada awal periodeP_0 = \text{harga investasi pada awal periode}P0​=harga investasi pada awal periode

P1=harga investasi pada akhir periodeP_1 = \text{harga investasi pada akhir periode}P1​=harga investasi pada akhir periode

D=pendapatan investasi, seperti dividenD = \text{pendapatan investasi, seperti dividen}D=pendapatan investasi, seperti dividen

Risiko investasi dapat dibedakan menjadi risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko sistematis adalah risiko yang berasal dari perubahan kondisi ekonomi makro, seperti inflasi, kenaikan suku bunga, resesi, ketidakstabilan politik, dan perubahan nilai tukar. Risiko ini memengaruhi hampir seluruh perusahaan dan tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui diversifikasi.

Sebaliknya, risiko tidak sistematis adalah risiko spesifik perusahaan atau industri, seperti kegagalan produk, kerusakan mesin, konflik tenaga kerja, penurunan kualitas manajemen, atau masalah rantai pasok. Risiko tidak sistematis dapat dikurangi melalui diversifikasi (Bodie et al., 2021).

Teori Keputusan Investasi (2)

Teori penganggaran modal

Teori penganggaran modal atau capital budgeting theory menjelaskan proses evaluasi proyek investasi jangka panjang. Keputusan penganggaran modal meliputi pembelian mesin, pembangunan pabrik, digitalisasi sistem, pembukaan cabang, akuisisi perusahaan, pengembangan produk, atau investasi teknologi.

Keputusan investasi jangka panjang penting karena melibatkan jumlah dana besar, memiliki dampak yang panjang, sulit dibatalkan, dan mengandung tingkat ketidakpastian yang relatif tinggi. Oleh karena itu, perusahaan perlu menilai apakah manfaat ekonomi masa depan dari suatu proyek lebih besar daripada biaya investasi awal dan biaya modal yang digunakan (Ross et al., 2022).

Metode utama penganggaran modal adalah net present value atau NPV. NPV mengukur selisih antara nilai kini arus kas masuk yang diharapkan dan investasi awal.

NPV=∑t=1nCFt(1+k)t−I0NPV = \sum_{t=1}^{n}\frac{CF_t}{(1+k)^t} – I_0NPV=t=1∑n​(1+k)tCFt​​−I0​

Keterangan:

NPV=net present valueNPV = \text{net present value}NPV=net present value

CFt=arus kas bersih periode ke-tCF_t = \text{arus kas bersih periode ke-}tCFt​=arus kas bersih periode ke-t

k=biaya modal atau tingkat diskontok = \text{biaya modal atau tingkat diskonto}k=biaya modal atau tingkat diskonto

I0=investasi awalI_0 = \text{investasi awal}I0​=investasi awal

Apabila NPV bernilai positif, proyek diperkirakan memberikan pengembalian lebih besar daripada tingkat pengembalian minimum yang disyaratkan perusahaan. Oleh sebab itu, proyek dengan NPV positif secara teori dapat diterima karena menambah nilai perusahaan. Sebaliknya, proyek dengan NPV negatif sebaiknya ditolak karena tidak mampu menghasilkan nilai yang memadai.

Selain NPV, perusahaan dapat menggunakan internal rate of return atau IRR. IRR merupakan tingkat diskonto yang membuat NPV sama dengan nol. Jika nilai IRR lebih tinggi daripada biaya modal, maka proyek dapat dianggap layak. Namun, NPV secara umum lebih konsisten dengan tujuan maksimalisasi nilai perusahaan, terutama ketika membandingkan proyek yang saling eksklusif atau memiliki pola arus kas yang kompleks (Brigham & Houston, 2022).

Metode payback period juga sering digunakan, khususnya untuk mengukur kecepatan pengembalian investasi. Metode ini menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan investasi awal. Kelemahannya, payback period umumnya mengabaikan nilai waktu uang dan arus kas setelah periode pengembalian. Oleh sebab itu, payback period sebaiknya digunakan sebagai alat tambahan, bukan satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi.

Teori Keputusan Investasi (1)

Teori nilai waktu uang

Teori nilai waktu uang atau time value of money menyatakan bahwa uang yang diterima saat ini lebih bernilai daripada jumlah uang yang sama yang diterima pada masa mendatang. Uang saat ini dapat segera digunakan untuk investasi, memperoleh bunga, membiayai operasi, atau menghindari ketidakpastian di masa depan (Gitman et al., 2015).

Nilai masa depan suatu dana dihitung dengan rumus:

FV=PV(1+r)nFV = PV(1+r)^nFV=PV(1+r)n

Sementara itu, nilai sekarang dari arus kas masa depan dihitung sebagai berikut:

PV=FV(1+r)nPV = \frac{FV}{(1+r)^n}PV=(1+r)nFV​

Keterangan:

FV=future value atau nilai masa depanFV = \text{future value atau nilai masa depan}FV=future value atau nilai masa depan

PV=present value atau nilai sekarangPV = \text{present value atau nilai sekarang}PV=present value atau nilai sekarang

r=tingkat bunga atau tingkat pengembalianr = \text{tingkat bunga atau tingkat pengembalian}r=tingkat bunga atau tingkat pengembalian

n=jumlah perioden = \text{jumlah periode}n=jumlah periode

Sebagai ilustrasi, jika perusahaan menginvestasikan Rp100 juta pada tingkat pengembalian 10 persen per tahun selama tiga tahun, nilai masa depan investasi tersebut adalah:

FV=Rp100.000.000(1+0,10)3FV = Rp100.000.000(1+0,10)^3FV=Rp100.000.000(1+0,10)3

FV=Rp133.100.000FV = Rp133.100.000FV=Rp133.100.000

Teori nilai waktu uang mendasari hampir seluruh analisis keputusan investasi. Perusahaan tidak cukup hanya membandingkan total penerimaan dengan total pengeluaran, tetapi harus mendiskontokan arus kas masa depan ke nilai saat ini. Semakin lama arus kas diterima, semakin rendah nilainya pada saat ini, terutama apabila tingkat risiko dan tingkat bunga tinggi.

Teori pemangku kepentingan

Teori pemangku kepentingan atau stakeholder theory menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham, melainkan juga kepada pihak-pihak lain yang dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan. Pemangku kepentingan tersebut meliputi karyawan, kreditor, pemasok, pelanggan, pemerintah, masyarakat, dan lingkungan (Freeman, 1984).

Dalam konteks manajemen keuangan, teori pemangku kepentingan memperluas orientasi perusahaan dari semata-mata memaksimalkan keuntungan pemegang saham menuju penciptaan nilai jangka panjang yang lebih inklusif. Misalnya, perusahaan dapat mengalokasikan dana untuk keselamatan kerja, peningkatan kualitas tenaga kerja, pengurangan emisi, perlindungan data pelanggan, atau pengembangan pemasok lokal. Kebijakan tersebut mungkin menambah biaya dalam jangka pendek, tetapi dapat mengurangi risiko, memperkuat legitimasi, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan menjaga keberlanjutan bisnis.

Teori ini sangat relevan dalam praktik keuangan berkelanjutan dan investasi berbasis environmental, social, and governance. Keputusan investasi dan pendanaan modern semakin dipengaruhi oleh risiko lingkungan, reputasi, tata kelola, keselamatan kerja, serta kepatuhan terhadap regulasi. Dengan demikian, nilai perusahaan dipandang bukan hanya sebagai hasil dari keuntungan finansial, tetapi juga sebagai hasil dari kemampuan perusahaan mengelola dampak sosial dan lingkungan secara bertanggung jawab (Freeman, 1984).

Teori maksimalisasi nilai perusahaan

Teori maksimalisasi nilai perusahaan menyatakan bahwa manajer keuangan seharusnya mengambil keputusan yang meningkatkan nilai pasar perusahaan dalam jangka panjang. Pada perusahaan terbuka, nilai tersebut umumnya tercermin dalam harga saham dan kapitalisasi pasar. Dalam perusahaan tertutup, nilai perusahaan dapat diperkirakan melalui nilai arus kas, nilai aset, laba, atau pendekatan valuasi bisnis lainnya (Ross et al., 2022).

Teori ini berkembang sebagai kritik terhadap tujuan maksimalisasi laba. Laba memang merupakan indikator penting, tetapi laba mempunyai sejumlah keterbatasan. Laba akuntansi dapat dipengaruhi oleh metode akuntansi; laba tidak selalu sama dengan kas; laba tidak secara langsung mempertimbangkan waktu penerimaan; dan laba tidak selalu memperhitungkan risiko dari keputusan yang diambil. Dengan demikian, perusahaan yang melaporkan laba tinggi belum tentu menciptakan nilai tinggi apabila laba tersebut diperoleh melalui risiko berlebihan, utang yang tidak sehat, atau pengorbanan investasi jangka panjang (Brigham & Houston, 2022).

Contoh sederhana dapat diberikan melalui dua proyek investasi. Proyek A menghasilkan laba sebesar Rp500 juta dengan risiko rendah dan penerimaan kas yang stabil selama lima tahun. Proyek B menghasilkan laba sebesar Rp600 juta, tetapi penerimaannya baru terjadi pada akhir tahun kelima dan memiliki risiko gagal yang sangat tinggi. Apabila hanya menggunakan dasar laba, proyek B tampak lebih baik. Namun, apabila nilai waktu uang dan risiko diperhitungkan, proyek A dapat memiliki nilai kini bersih yang lebih tinggi dan lebih mampu meningkatkan nilai perusahaan.

Implikasi teori maksimalisasi nilai perusahaan adalah bahwa manajemen harus mengevaluasi setiap keputusan berdasarkan kontribusinya terhadap arus kas, tingkat risiko, biaya modal, keberlanjutan bisnis, dan kekayaan pemegang saham. Keputusan yang meningkatkan laba jangka pendek tetapi merusak reputasi, meningkatkan risiko hukum, atau menurunkan kemampuan perusahaan bersaing pada masa depan tidak sejalan dengan prinsip maksimalisasi nilai.

Konsep Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan pada dasarnya ditentukan oleh kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas masa depan, waktu penerimaan arus kas, serta tingkat risiko yang melekat pada arus kas tersebut. Oleh karena itu, teori manajemen keuangan banyak berhubungan dengan tiga keputusan pokok, yaitu keputusan investasi, keputusan pendanaan atau struktur modal, dan keputusan dividen (Gitman et al., 2015; Ross et al., 2022).

Secara konseptual, nilai perusahaan dapat dinyatakan sebagai nilai sekarang dari arus kas masa depan:

V=∑t=1nCFt(1+k)tV = \sum_{t=1}^{n}\frac{CF_t}{(1+k)^t}V=t=1∑n​(1+k)tCFt​​

Keterangan:

V=nilai perusahaanV = \text{nilai perusahaan}V=nilai perusahaan

CFt=arus kas pada periode ke-tCF_t = \text{arus kas pada periode ke-}tCFt​=arus kas pada periode ke-t

k=tingkat pengembalian yang disyaratkan atau tingkat diskontok = \text{tingkat pengembalian yang disyaratkan atau tingkat diskonto}k=tingkat pengembalian yang disyaratkan atau tingkat diskonto

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai perusahaan akan meningkat apabila perusahaan mampu meningkatkan arus kas masa depan, mempercepat penerimaan arus kas, atau menurunkan risiko sehingga tingkat diskonto yang diminta investor menjadi lebih rendah. Kerangka ini menjadi dasar bagi teori investasi, teori struktur modal, teori dividen, teori keagenan, teori sinyal, dan teori-teori lain dalam manajemen keuangan.

Landasan Teoretis Manajemen Keuangan

Teori-teori manajemen keuangan menjelaskan dasar pemikiran mengapa perusahaan memilih proyek investasi tertentu, menggunakan utang atau ekuitas, membagikan atau menahan laba, serta mengelola hubungan dengan investor dan kreditor. Secara umum, teori-teori ini berorientasi pada penciptaan nilai perusahaan melalui keputusan investasi, pendanaan, dividen, pengelolaan risiko, dan tata kelola yang efektif.

Manajemen keuangan merupakan bidang ilmu yang membahas keputusan perusahaan mengenai pemerolehan dana, penggunaan dana, pengelolaan aset, pengendalian risiko, dan distribusi hasil usaha. Dalam perspektif modern, tujuan pokok manajemen keuangan adalah memaksimalkan nilai perusahaan atau kekayaan pemegang saham dalam jangka panjang, bukan hanya memaksimalkan laba akuntansi jangka pendek (Brigham & Houston, 2022; Ross et al., 2022).

Rangkuman Konsep Manajemen Keuangan

Konsep dasar manajemen keuangan berpusat pada bagaimana organisasi membuat keputusan mengenai dana secara rasional, efisien, terukur, dan bertanggung jawab. Manajemen keuangan mencakup perencanaan, penganggaran, penghimpunan dana, pengalokasian dana, pengendalian, manajemen risiko, serta pelaporan dan evaluasi kinerja keuangan.

Tujuan modern manajemen keuangan adalah meningkatkan nilai perusahaan secara berkelanjutan, bukan sekadar mengejar laba jangka pendek. Nilai tersebut ditentukan oleh kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas masa depan, waktu penerimaan arus kas, serta tingkat risiko yang melekat pada aktivitas perusahaan. Oleh sebab itu, manajer keuangan harus mempertimbangkan nilai waktu uang, hubungan risiko dan pengembalian, likuiditas, profitabilitas, biaya modal, biaya peluang, dan keberlanjutan.

Tiga keputusan inti dalam manajemen keuangan adalah keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan keputusan dividen. Keputusan investasi menentukan aset atau proyek yang dipilih perusahaan; keputusan pendanaan menentukan sumber dan struktur dana; sedangkan keputusan dividen menentukan pembagian laba antara pemegang saham dan kebutuhan pertumbuhan perusahaan. Ketiga keputusan tersebut harus dibuat secara terintegrasi karena perubahan pada satu keputusan dapat memengaruhi keputusan lainnya.

Laporan keuangan, analisis rasio, manajemen modal kerja, penganggaran, pengendalian internal, tata kelola, dan manajemen risiko merupakan instrumen penting untuk menerjemahkan konsep manajemen keuangan ke dalam praktik. Dalam lingkungan bisnis yang semakin digital dan dinamis, manajemen keuangan juga harus memanfaatkan teknologi tanpa mengabaikan pengendalian, keamanan data, etika, serta tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Pada akhirnya, manajemen keuangan yang baik bukan hanya kemampuan menghitung angka. Manajemen keuangan adalah kemampuan mengambil keputusan yang menyeimbangkan pertumbuhan, keuntungan, risiko, likuiditas, keberlanjutan, dan kepentingan pemangku kepentingan. Pemahaman yang kuat terhadap konsep-konsep dasar tersebut menjadi fondasi bagi pengelolaan organisasi yang sehat, kredibel, adaptif, dan mampu menciptakan nilai jangka panjang.

Implikasi Praktis

Konsep-konsep dasar manajemen keuangan memiliki implikasi langsung bagi perusahaan besar, usaha kecil dan menengah, organisasi nirlaba, lembaga publik, maupun individu. Walaupun tujuan spesifik setiap organisasi dapat berbeda, seluruh organisasi memerlukan pengelolaan dana yang disiplin agar dapat bertahan dan mencapai sasaran.

Bagi usaha kecil dan menengah, manajemen keuangan sering menentukan keberlangsungan usaha. Banyak usaha mengalami kesulitan bukan karena produk tidak diminati, tetapi karena arus kas tidak dikelola dengan baik. Pemilik usaha mungkin mencatat penjualan tinggi, tetapi tidak memiliki kas untuk membeli bahan baku karena terlalu banyak penjualan kredit atau karena dana usaha tercampur dengan kebutuhan pribadi.

Praktik dasar yang perlu diterapkan oleh usaha kecil meliputi pemisahan rekening usaha dan rekening pribadi, pencatatan transaksi harian, penyusunan laporan laba rugi sederhana, pemantauan arus kas mingguan, pengelolaan piutang, penetapan harga berdasarkan biaya dan margin, serta penyediaan dana cadangan. Praktik sederhana tersebut dapat meningkatkan disiplin keuangan dan kualitas pengambilan keputusan.

Bagi perusahaan besar, tantangan manajemen keuangan lebih kompleks karena melibatkan volume transaksi yang tinggi, unit bisnis yang beragam, penggunaan utang dan instrumen keuangan, risiko mata uang, investasi besar, serta tuntutan tata kelola yang lebih ketat. Dalam kondisi tersebut, perusahaan membutuhkan sistem perencanaan keuangan terintegrasi, kebijakan investasi yang jelas, manajemen risiko formal, kontrol internal kuat, dan pelaporan yang transparan.

Bagi organisasi publik dan nirlaba, tujuan utama tidak selalu maksimalisasi nilai pemegang saham. Namun, prinsip manajemen keuangan tetap relevan. Organisasi publik perlu menggunakan anggaran secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel untuk mencapai pelayanan publik. Organisasi nirlaba harus menjaga keberlanjutan dana, kepatuhan terhadap donor, transparansi penggunaan anggaran, dan pencapaian dampak sosial.

Dalam penelitian akademik, konsep dasar manajemen keuangan dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena, seperti pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan, hubungan likuiditas dan profitabilitas, pengaruh keputusan investasi terhadap kinerja perusahaan, dampak kebijakan dividen terhadap harga saham, peran tata kelola dalam mengurangi risiko keuangan, atau pengaruh digitalisasi terhadap efisiensi pengelolaan keuangan.

Model konseptual sederhana dalam penelitian kuantitatif dapat digambarkan sebagai berikut:

Keputusan Investasi\text{Keputusan Investasi}Keputusan Investasi

Keputusan Pendanaan\text{Keputusan Pendanaan}Keputusan Pendanaan

Kebijakan Dividen\text{Kebijakan Dividen}Kebijakan Dividen

↓\downarrow↓

Kinerja Keuangan\text{Kinerja Keuangan}Kinerja Keuangan

↓\downarrow↓

Nilai Perusahaan\text{Nilai Perusahaan}Nilai Perusahaan

Dalam model tersebut, keputusan investasi, pendanaan, dan dividen dapat diposisikan sebagai variabel independen; kinerja keuangan sebagai variabel mediasi; dan nilai perusahaan sebagai variabel dependen. Tata kelola perusahaan, ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan, atau risiko bisnis dapat digunakan sebagai variabel moderasi atau variabel kontrol sesuai kerangka teori dan tujuan penelitian.

Digitalisasi Manajemen Keuangan

Transformasi digital telah mengubah praktik manajemen keuangan. Sistem enterprise resource planning, perangkat lunak akuntansi berbasis cloud, analitik data, kecerdasan buatan, teknologi finansial, pembayaran digital, dan otomatisasi proses memungkinkan pengelolaan keuangan yang lebih cepat, terintegrasi, dan berbasis data.

Digitalisasi memberikan beberapa manfaat utama bagi manajemen keuangan.

  • Mempercepat pencatatan dan pelaporan transaksi.
  • Menyediakan data keuangan secara waktu nyata atau real time.
  • Memperbaiki akurasi proyeksi arus kas dan anggaran.
  • Mempermudah rekonsiliasi transaksi.
  • Mengurangi pekerjaan manual dan risiko kesalahan administratif.
  • Mendukung analitik kinerja yang lebih mendalam.
  • Meningkatkan transparansi dan jejak audit.
  • Memungkinkan pengawasan keuangan lintas unit atau lintas wilayah.
  • Memudahkan integrasi dengan sistem penjualan, persediaan, pengadaan, dan sumber daya manusia.

Sebagai contoh, integrasi antara sistem penjualan, inventori, dan keuangan memungkinkan perusahaan mengetahui secara cepat produk yang memiliki penjualan tinggi tetapi margin rendah, pelanggan dengan piutang melewati jatuh tempo, persediaan yang bergerak lambat, atau proyeksi defisit kas pada minggu tertentu. Informasi tersebut membantu manajer mengambil keputusan secara lebih responsif.

Namun, digitalisasi juga menciptakan risiko baru. Risiko siber, kebocoran data, penipuan digital, kesalahan konfigurasi sistem, ketergantungan pada vendor teknologi, dan kelemahan pengendalian akses perlu dikelola secara serius. Oleh karena itu, investasi teknologi keuangan harus disertai kebijakan keamanan informasi, kontrol akses, pelatihan pegawai, pencadangan data, rencana pemulihan bencana, dan audit sistem berkala.

Teknologi bukan pengganti pertimbangan manajerial. Sistem dapat menyediakan data dan proyeksi, tetapi keputusan tetap membutuhkan penilaian profesional, pemahaman konteks bisnis, pertimbangan etika, dan kemampuan membaca risiko yang tidak selalu dapat direpresentasikan secara sempurna dalam angka.

Perencanaan dan Pengendalian Keuangan

Perencanaan keuangan adalah proses menetapkan sasaran finansial, memperkirakan kebutuhan dana, menyusun proyeksi pendapatan dan biaya, menentukan sumber pembiayaan, serta merancang tindakan untuk mencapai tujuan tersebut. Pengendalian keuangan adalah proses memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan keuangan sesuai dengan rencana, kebijakan, dan target yang telah ditetapkan.

Perencanaan dan pengendalian keuangan merupakan dua kegiatan yang saling melengkapi. Perencanaan tanpa pengendalian menyebabkan organisasi tidak mengetahui apakah target tercapai. Sebaliknya, pengendalian tanpa perencanaan membuat organisasi tidak memiliki standar pembanding yang jelas.

Proses perencanaan keuangan umumnya meliputi:

  1. Menetapkan tujuan perusahaan, seperti pertumbuhan penjualan, peningkatan laba, ekspansi pasar, penurunan utang, atau peningkatan nilai perusahaan.
  2. Menganalisis kondisi internal dan eksternal perusahaan.
  3. Menyusun asumsi ekonomi, seperti inflasi, suku bunga, kurs, pertumbuhan pasar, dan harga bahan baku.
  4. Menyusun proyeksi penjualan.
  5. Menyusun anggaran produksi, pembelian, tenaga kerja, dan biaya operasional.
  6. Menyusun anggaran kas.
  7. Menyusun proyeksi laporan laba rugi, neraca, dan arus kas.
  8. Mengidentifikasi kebutuhan pembiayaan.
  9. Menganalisis kelayakan rencana dan risiko.
  10. Memantau realisasi serta menyesuaikan rencana apabila terjadi perubahan kondisi.

Anggaran merupakan rencana kuantitatif yang disusun untuk periode tertentu. Anggaran bukan sekadar alat pembatasan biaya, melainkan instrumen koordinasi, komunikasi, motivasi, dan evaluasi kinerja. Anggaran membantu setiap unit memahami target, kebutuhan sumber daya, dan tanggung jawab masing-masing.

Jenis anggaran yang umum digunakan antara lain anggaran penjualan, anggaran produksi, anggaran bahan baku, anggaran tenaga kerja langsung, anggaran biaya overhead, anggaran biaya operasional, anggaran kas, anggaran investasi modal, dan anggaran induk atau master budget.

Anggaran kas sangat penting karena menunjukkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran kas. Dengan anggaran kas, perusahaan dapat mengantisipasi surplus atau defisit kas. Jika diproyeksikan terjadi defisit, manajer dapat menyiapkan pinjaman jangka pendek, mempercepat penagihan piutang, menunda pengeluaran yang tidak mendesak, atau melakukan langkah lainnya. Jika diproyeksikan terjadi surplus, perusahaan dapat menginvestasikan kas sementara pada instrumen yang aman dan likuid.

Pengendalian keuangan dilakukan melalui perbandingan antara anggaran dan realisasi. Selisih antara keduanya disebut varians. Varians dapat bersifat menguntungkan atau tidak menguntungkan. Namun, varians tidak boleh hanya dipandang sebagai angka; manajer harus menelusuri penyebabnya.

Contohnya, biaya bahan baku yang melebihi anggaran dapat disebabkan oleh kenaikan harga pasar, pemborosan produksi, pembelian yang tidak efisien, perubahan spesifikasi produk, atau kesalahan dalam penyusunan anggaran. Tindakan korektif harus disesuaikan dengan akar masalah, bukan sekadar memotong biaya secara seragam.

Sistem pengendalian internal merupakan bagian penting dari pengendalian keuangan. Pengendalian internal mencakup kebijakan, prosedur, struktur organisasi, sistem informasi, dan aktivitas pengawasan yang dirancang untuk menjaga aset, memastikan keandalan informasi, meningkatkan efisiensi operasi, serta mendukung kepatuhan terhadap peraturan.

Contoh pengendalian internal antara lain pemisahan tugas antara pihak yang menyetujui transaksi, menyimpan aset, mencatat transaksi, dan merekonsiliasi laporan; otorisasi berjenjang untuk pengeluaran dana; rekonsiliasi bank secara berkala; pembatasan akses terhadap sistem; audit internal; dan dokumentasi transaksi yang memadai.

Risiko, Tata Kelola, dan Etika

Manajemen keuangan selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Oleh sebab itu, pengelolaan risiko merupakan bagian integral dari pengambilan keputusan keuangan. Risiko bukan hanya kemungkinan kerugian moneter, tetapi juga potensi penyimpangan hasil aktual dari target yang ditetapkan.

Risiko keuangan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk.

  • Risiko likuiditas, yaitu risiko ketidakmampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek saat jatuh tempo.
  • Risiko kredit, yaitu risiko bahwa pelanggan, debitur, atau pihak lawan transaksi gagal memenuhi kewajiban pembayaran.
  • Risiko pasar, yaitu risiko kerugian akibat perubahan harga pasar, suku bunga, nilai tukar, harga komoditas, atau harga saham.
  • Risiko suku bunga, yaitu risiko perubahan biaya utang atau nilai aset karena fluktuasi tingkat bunga.
  • Risiko nilai tukar, yaitu risiko perubahan nilai transaksi atau posisi keuangan akibat fluktuasi mata uang.
  • Risiko operasional, yaitu risiko yang timbul akibat kegagalan proses internal, manusia, sistem, atau kejadian eksternal.
  • Risiko hukum dan kepatuhan, yaitu risiko akibat pelanggaran peraturan, kontrak, standar pelaporan, atau kewajiban perpajakan.
  • Risiko reputasi, yaitu risiko penurunan kepercayaan pemangku kepentingan akibat praktik bisnis yang tidak etis, kegagalan layanan, atau informasi negatif.

Proses manajemen risiko biasanya mencakup identifikasi risiko, pengukuran risiko, evaluasi dampak dan probabilitas, pemilihan strategi mitigasi, implementasi pengendalian, pemantauan, serta pelaporan risiko. Strategi penanganan risiko dapat berupa menghindari risiko, mengurangi risiko, mentransfer risiko, menerima risiko secara terukur, atau melakukan lindung nilai.

Hedging atau lindung nilai digunakan untuk mengurangi dampak perubahan harga, kurs, atau suku bunga yang merugikan. Misalnya, perusahaan importir yang memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang asing dapat menggunakan kontrak forward untuk mengunci nilai tukar. Dengan demikian, perusahaan dapat memperoleh kepastian lebih tinggi mengenai biaya pembelian pada masa depan.

Tata kelola perusahaan atau corporate governance juga sangat berkaitan dengan manajemen keuangan. Tata kelola perusahaan merupakan sistem yang mengatur hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, direksi, manajemen, auditor, kreditor, dan pemangku kepentingan lainnya dalam proses pengambilan keputusan serta pengawasan perusahaan.

Prinsip tata kelola yang baik umumnya mencakup transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan kewajaran. Tata kelola yang baik membantu mengurangi konflik kepentingan, meningkatkan kualitas keputusan, mencegah penyalahgunaan aset, memperkuat kepercayaan investor, dan mengurangi risiko manipulasi laporan keuangan.

Salah satu isu utama dalam tata kelola adalah masalah keagenan atau agency problem. Masalah ini muncul karena pemilik perusahaan dan manajer memiliki kepentingan yang tidak selalu sama. Pemegang saham menginginkan peningkatan nilai perusahaan, sedangkan manajer mungkin memiliki insentif untuk memperbesar kekuasaan, memperoleh fasilitas berlebihan, menghindari risiko pribadi, atau mengejar target jangka pendek.

Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan bahwa hubungan antara pemilik dan manajer dapat menimbulkan biaya keagenan. Biaya tersebut mencakup biaya pengawasan oleh pemilik, biaya pengikatan atau bonding oleh manajemen, dan kerugian residual akibat keputusan manajer yang tidak sepenuhnya selaras dengan kepentingan pemilik.

Mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan antara lain:

  • Sistem insentif yang dikaitkan dengan kinerja dan nilai jangka panjang perusahaan.
  • Pengawasan dewan komisaris atau board of directors yang efektif.
  • Audit internal dan audit eksternal yang independen.
  • Transparansi laporan keuangan dan pengungkapan informasi material.
  • Kepemilikan manajerial dalam proporsi yang tepat.
  • Perlindungan hak pemegang saham.
  • Kepatuhan terhadap regulasi dan kode etik perusahaan.

Etika keuangan juga memiliki peran sentral. Keputusan keuangan dapat memengaruhi tenaga kerja, investor, konsumen, pemerintah, pemasok, masyarakat, dan lingkungan. Karena itu, manajer keuangan harus menghindari manipulasi laba, penggelapan aset, insider trading, konflik kepentingan yang tidak diungkapkan, praktik suap, penghindaran pajak ilegal, dan penyajian informasi yang menyesatkan.

Kepercayaan adalah aset tidak berwujud yang sangat berharga. Ketika perusahaan kehilangan kepercayaan investor, kreditor, pelanggan, dan masyarakat, biaya pemulihan reputasi dapat jauh lebih besar daripada keuntungan jangka pendek yang diperoleh melalui tindakan tidak etis.

Siklus konversi kas

Siklus konversi kas atau cash conversion cycle menggambarkan waktu yang dibutuhkan perusahaan sejak mengeluarkan kas untuk membeli persediaan hingga menerima kas dari penjualan kepada pelanggan.

Cash Conversion Cycle=Days Inventory Outstanding+Days Sales Outstanding−Days Payables Outstanding\text{Cash Conversion Cycle} = \text{Days Inventory Outstanding} + \text{Days Sales Outstanding} – \text{Days Payables Outstanding}Cash Conversion Cycle=Days Inventory Outstanding+Days Sales Outstanding−Days Payables Outstanding

Siklus konversi kas yang lebih pendek umumnya menunjukkan bahwa perusahaan lebih cepat mengubah investasi pada persediaan menjadi kas. Perusahaan dapat memperpendek siklus kas dengan meningkatkan perputaran persediaan, mempercepat penagihan piutang, dan mengelola jangka waktu pembayaran kepada pemasok secara bijaksana.

Namun, perusahaan tidak boleh memperpendek siklus kas secara ekstrem hingga mengorbankan hubungan dengan pelanggan dan pemasok. Misalnya, penagihan yang terlalu agresif dapat membuat pelanggan berpindah ke pesaing, sedangkan penundaan pembayaran yang berlebihan dapat mengganggu rantai pasok.

Manajemen utang usaha

Utang usaha merupakan kewajiban perusahaan kepada pemasok atas pembelian secara kredit. Utang usaha dapat menjadi sumber pembiayaan jangka pendek yang relatif murah karena perusahaan dapat memperoleh bahan atau barang sebelum melakukan pembayaran.

Namun, perusahaan harus mengelola utang usaha secara hati-hati. Pembayaran yang terlalu cepat dapat mengurangi kas yang sebenarnya dapat digunakan untuk kebutuhan lain. Sebaliknya, pembayaran yang terlambat dapat merusak hubungan dengan pemasok, menyebabkan denda, menghilangkan diskon, dan menurunkan reputasi kredit perusahaan.

Manajer keuangan harus mengevaluasi syarat kredit pemasok, termasuk periode pembayaran dan potongan tunai. Contohnya, syarat “2/10, net 30” berarti pembeli memperoleh potongan 2 persen jika membayar dalam 10 hari; jika tidak memanfaatkan diskon, pembayaran penuh harus dilakukan paling lambat 30 hari. Keputusan mengambil atau tidak mengambil diskon perlu dibandingkan dengan biaya pendanaan alternatif.

Manajemen persediaan

Persediaan mencakup bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Persediaan diperlukan untuk menjaga kelancaran produksi dan memenuhi permintaan pelanggan. Namun, persediaan yang terlalu besar menimbulkan biaya penyimpanan, risiko kerusakan, risiko usang, biaya asuransi, serta kebutuhan modal yang lebih tinggi.

Sebaliknya, persediaan yang terlalu rendah dapat menyebabkan stockout, kehilangan penjualan, keterlambatan produksi, dan menurunnya kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menentukan tingkat persediaan optimal berdasarkan pola permintaan, waktu pemesanan, kapasitas pemasok, biaya penyimpanan, dan risiko gangguan pasokan.

Economic order quantity atau EOQ merupakan salah satu model untuk menentukan jumlah pemesanan persediaan yang ekonomis.

EOQ=2DSHEOQ = \sqrt{\frac{2DS}{H}}EOQ=H2DS​​

Keterangan:

D=kebutuhan persediaan tahunanD = \text{kebutuhan persediaan tahunan}D=kebutuhan persediaan tahunan

S=biaya pemesanan per pesananS = \text{biaya pemesanan per pesanan}S=biaya pemesanan per pesanan

H=biaya penyimpanan per unit per tahunH = \text{biaya penyimpanan per unit per tahun}H=biaya penyimpanan per unit per tahun

Walaupun model EOQ membantu secara konseptual, praktik manajemen persediaan modern juga mempertimbangkan sistem just in time, digitalisasi rantai pasok, prakiraan permintaan, integrasi pemasok, serta risiko gangguan global.

Manajemen piutang

Piutang usaha timbul ketika perusahaan menjual barang atau jasa secara kredit. Penjualan kredit dapat meningkatkan volume penjualan dan memperkuat hubungan dengan pelanggan, tetapi juga menimbulkan risiko keterlambatan pembayaran atau piutang tak tertagih.

Manajemen piutang mencakup kebijakan kredit, standar seleksi pelanggan, batas kredit, jangka waktu pembayaran, potongan tunai, prosedur penagihan, dan pembentukan cadangan kerugian piutang. Kebijakan kredit yang terlalu ketat dapat menurunkan penjualan; sebaliknya, kebijakan kredit yang terlalu longgar dapat meningkatkan risiko piutang macet.

Periode penagihan rata-rata atau average collection period dapat digunakan untuk mengevaluasi kecepatan penagihan piutang.

Average Collection Period=Rata-rata PiutangPenjualan Kredit Tahunan/365\text{Average Collection Period} = \frac{\text{Rata-rata Piutang}}{\text{Penjualan Kredit Tahunan}/365}Average Collection Period=Penjualan Kredit Tahunan/365Rata-rata Piutang​

Apabila periode penagihan meningkat secara signifikan, perusahaan perlu mengevaluasi kualitas pelanggan, efektivitas proses penagihan, atau kebijakan kredit yang diterapkan.

Manajemen kas

Kas merupakan aset paling likuid, tetapi kas umumnya tidak menghasilkan pengembalian tinggi apabila hanya disimpan tanpa dimanfaatkan. Perusahaan perlu menjaga saldo kas optimal: cukup untuk membayar kewajiban rutin dan menghadapi keadaan darurat, tetapi tidak terlalu besar hingga menciptakan biaya peluang.

Manajemen kas mencakup peramalan arus kas, penjadwalan penerimaan dan pembayaran, pengendalian saldo bank, investasi jangka pendek atas kas menganggur, serta pengelolaan fasilitas kredit. Perusahaan perlu memperkirakan kapan pelanggan akan membayar, kapan utang jatuh tempo, kapan gaji harus dibayar, dan kapan pengeluaran investasi dilakukan.

Kegagalan mengelola kas dapat menyebabkan perusahaan mengalami krisis likuiditas, meskipun perusahaan tersebut secara akuntansi mencatat laba. Oleh sebab itu, anggaran kas merupakan salah satu instrumen penting dalam perencanaan keuangan.

Manajemen Modal Kerja

Modal kerja merupakan dana yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasi sehari-hari perusahaan. Modal kerja bersih atau net working capital dihitung sebagai selisih antara aset lancar dan liabilitas lancar.

Modal Kerja Bersih=Aset Lancar−Liabilitas Lancar\text{Modal Kerja Bersih} = \text{Aset Lancar} – \text{Liabilitas Lancar}Modal Kerja Bersih=Aset Lancar−Liabilitas Lancar

Aset lancar mencakup kas, bank, investasi jangka pendek, piutang usaha, persediaan, dan aset lain yang dapat direalisasikan dalam jangka pendek. Liabilitas lancar mencakup utang usaha, utang bank jangka pendek, utang pajak, biaya yang masih harus dibayar, dan kewajiban jangka pendek lainnya.

Manajemen modal kerja bertujuan memastikan perusahaan memiliki dana yang memadai untuk menjalankan operasi tanpa mengorbankan profitabilitas secara berlebihan. Area utama manajemen modal kerja meliputi manajemen kas, piutang, persediaan, dan utang usaha.

Analisis rasio keuangan

Analisis rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi dan kinerja perusahaan melalui hubungan antara satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya. Rasio lebih bermakna apabila dibandingkan dengan tren historis, target perusahaan, rata-rata industri, atau kompetitor yang relevan.

Rasio likuiditas menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek. Contoh utamanya adalah current ratio dan quick ratio.

Rasio aktivitas menilai efisiensi perusahaan menggunakan aset. Contohnya adalah perputaran persediaan, perputaran piutang, dan total asset turnover.

Inventory Turnover=Harga Pokok PenjualanRata-rata Persediaan\text{Inventory Turnover} = \frac{\text{Harga Pokok Penjualan}}{\text{Rata-rata Persediaan}}Inventory Turnover=Rata-rata PersediaanHarga Pokok Penjualan​

Receivables Turnover=Penjualan KreditRata-rata Piutang\text{Receivables Turnover} = \frac{\text{Penjualan Kredit}}{\text{Rata-rata Piutang}}Receivables Turnover=Rata-rata PiutangPenjualan Kredit​

Total Asset Turnover=Penjualan BersihTotal Aset\text{Total Asset Turnover} = \frac{\text{Penjualan Bersih}}{\text{Total Aset}}Total Asset Turnover=Total AsetPenjualan Bersih​

Rasio solvabilitas atau leverage menilai tingkat penggunaan utang dan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjang. Contohnya debt to asset ratio, debt to equity ratio, dan times interest earned.

Debt to Asset Ratio=Total LiabilitasTotal Aset\text{Debt to Asset Ratio} = \frac{\text{Total Liabilitas}}{\text{Total Aset}}Debt to Asset Ratio=Total AsetTotal Liabilitas​

Times Interest Earned=EBITBeban Bunga\text{Times Interest Earned} = \frac{\text{EBIT}}{\text{Beban Bunga}}Times Interest Earned=Beban BungaEBIT​

EBIT adalah earnings before interest and taxes atau laba sebelum bunga dan pajak. Rasio times interest earned menunjukkan kemampuan perusahaan membayar beban bunga dari laba operasionalnya.

Rasio profitabilitas menilai kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Rasio yang umum digunakan meliputi net profit margin, return on assets, dan return on equity.

Net Profit Margin=Laba BersihPenjualan Bersih×100%\text{Net Profit Margin} = \frac{\text{Laba Bersih}}{\text{Penjualan Bersih}} \times 100\%Net Profit Margin=Penjualan BersihLaba Bersih​×100%

Return on Assets=Laba BersihTotal Aset×100%\text{Return on Assets} = \frac{\text{Laba Bersih}}{\text{Total Aset}} \times 100\%Return on Assets=Total AsetLaba Bersih​×100%

Return on Equity=Laba BersihTotal Ekuitas×100%\text{Return on Equity} = \frac{\text{Laba Bersih}}{\text{Total Ekuitas}} \times 100\%Return on Equity=Total EkuitasLaba Bersih​×100%

Return on assets menunjukkan efisiensi perusahaan menggunakan seluruh aset untuk menghasilkan laba. Return on equity menunjukkan tingkat pengembalian yang diperoleh pemegang saham atas modal yang mereka tanamkan.

Rasio pasar digunakan terutama pada perusahaan publik untuk melihat penilaian investor terhadap perusahaan. Contohnya earnings per share, price earnings ratio, dan price to book value.

EPS=Laba Bersih−Dividen Saham PreferenJumlah Saham Biasa Beredar\text{EPS} = \frac{\text{Laba Bersih} – \text{Dividen Saham Preferen}}{\text{Jumlah Saham Biasa Beredar}}EPS=Jumlah Saham Biasa BeredarLaba Bersih−Dividen Saham Preferen​

PER=Harga Saham per LembarLaba per Saham\text{PER} = \frac{\text{Harga Saham per Lembar}}{\text{Laba per Saham}}PER=Laba per SahamHarga Saham per Lembar​

PBV=Harga Saham per LembarNilai Buku per Saham\text{PBV} = \frac{\text{Harga Saham per Lembar}}{\text{Nilai Buku per Saham}}PBV=Nilai Buku per SahamHarga Saham per Lembar​

Analisis rasio perlu dilakukan secara hati-hati. Rasio yang baik pada satu industri belum tentu baik pada industri lain. Misalnya, perusahaan ritel umumnya memiliki perputaran persediaan yang berbeda dengan perusahaan manufaktur berat. Demikian juga, perusahaan teknologi mungkin memiliki struktur aset dan tingkat utang yang berbeda dengan perusahaan properti.

Laporan arus kas

Laporan arus kas menjelaskan perubahan kas perusahaan berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Laporan ini membantu pengguna memahami dari mana kas berasal dan untuk apa kas digunakan.

Arus kas operasi yang positif dan stabil biasanya menunjukkan bahwa kegiatan utama perusahaan mampu menghasilkan kas. Arus kas investasi yang negatif tidak selalu buruk karena dapat menunjukkan perusahaan sedang melakukan ekspansi atau membeli aset produktif. Arus kas pendanaan dapat positif ketika perusahaan memperoleh pinjaman atau menerbitkan saham, dan dapat negatif ketika perusahaan membayar utang, membeli kembali saham, atau membayar dividen.

Pola arus kas harus dievaluasi berdasarkan tahap pertumbuhan perusahaan. Perusahaan rintisan atau perusahaan yang tumbuh cepat mungkin memiliki arus kas investasi negatif karena melakukan ekspansi besar. Sebaliknya, perusahaan matang umumnya diharapkan memiliki arus kas operasi yang kuat dan lebih stabil.

Laporan laba rugi

Laporan laba rugi menyajikan pendapatan, beban, dan laba atau rugi perusahaan selama periode tertentu. Secara sederhana:

Laba Bersih=Pendapatan−Beban\text{Laba Bersih} = \text{Pendapatan} – \text{Beban}Laba Bersih=Pendapatan−Beban

Pendapatan adalah peningkatan manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas utama perusahaan, misalnya penjualan barang atau jasa. Beban adalah pengorbanan ekonomi yang diperlukan untuk menghasilkan pendapatan, seperti harga pokok penjualan, biaya gaji, biaya pemasaran, biaya listrik, biaya sewa, biaya bunga, dan pajak.

Laba bersih penting sebagai indikator kinerja, tetapi manajer perlu menginterpretasikannya secara kritis. Laba dapat dipengaruhi oleh kebijakan akuntansi, estimasi depresiasi, pengakuan pendapatan, pembentukan cadangan, dan transaksi nonkas. Oleh karena itu, analisis laba harus dilengkapi dengan analisis arus kas, margin, pertumbuhan, dan kualitas pendapatan.

Laporan posisi keuangan

Laporan posisi keuangan atau neraca menunjukkan aset, liabilitas, dan ekuitas perusahaan pada tanggal tertentu. Persamaan akuntansi dasar adalah:

Aset=Liabilitas+Ekuitas\text{Aset} = \text{Liabilitas} + \text{Ekuitas}Aset=Liabilitas+Ekuitas

Aset merupakan sumber daya yang dikuasai perusahaan dan diharapkan menghasilkan manfaat ekonomi pada masa depan. Aset dapat berupa kas, piutang, persediaan, tanah, bangunan, mesin, kendaraan, investasi, paten, merek, dan perangkat lunak.

Liabilitas merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang harus diselesaikan melalui pengorbanan sumber daya ekonomi. Liabilitas mencakup utang usaha, utang bank, utang obligasi, utang pajak, dan kewajiban lainnya.

Ekuitas merupakan hak residual pemilik atas aset perusahaan setelah dikurangi seluruh liabilitas. Ekuitas dapat berasal dari modal yang disetor pemilik, laba ditahan, serta komponen ekuitas lainnya.

Analisis neraca membantu manajer mengevaluasi tingkat likuiditas, struktur modal, kualitas aset, kemampuan membayar utang, dan fleksibilitas keuangan perusahaan.

Laporan Keuangan dan Analisis

Laporan keuangan merupakan sumber informasi utama dalam manajemen keuangan. Laporan ini menggambarkan posisi keuangan, kinerja, arus kas, dan perubahan ekuitas perusahaan dalam suatu periode. Namun, laporan keuangan tidak boleh hanya dibaca sebagai dokumen administratif. Manajer keuangan harus menganalisisnya untuk memahami kemampuan perusahaan menghasilkan laba, memenuhi kewajiban, mengelola aset, dan menciptakan nilai.

Laporan keuangan utama meliputi laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, serta catatan atas laporan keuangan.

Indikator Cinta terhadap Pekerjaan


Cinta pekerjaan sering kali menjadi sumber utama semangat kerja
seseorang. Ketika seseorang mencintai pekerjaannya, mereka cenderung memiliki
energi positif, antusiasme, dan motivasi intrinsik yang tinggi, hal tersebut
merupakan elemen kunci dari semangat kerja. Semangat kerja yang tinggi bisa
memperkuat dan memelihara perasaan cinta terhadap pekerjaan, menciptakan
siklus positif yang saling menguatkan. Menurut Purwanto (dalam Adha, 2022),
indikator untuk mengukur semangat kerja yakni:

  1. Antusiasme, merujuk pada tingkat energi dan motivasi yang ditunjukkan
    individu dalam melaksanakan tugas. Karyawan yang antusias biasanya
    lebih aktif, bersemangat, dan memiliki sikap positif terhadap pekerjaan dan
    lingkungan kerja. Orang yang mencintai pekerjaannya cenderung
    memperlihatkan antusiasme yang tinggi.
  2. Partisipasi, memperlihatkan sejauh mana karyawan terlibat dalam kegiatan
    atau proses di tempat kerja. Ini mencakup kontribusi dalam diskusi, proyek
    tim, dan inisiatif organisasi. Karyawan yang tinggi partisipasinya cenderung
    lebih terhubung dengan tim dan tujuan perusahaan. Cinta terhadap
    pekerjaan sering kali mendorong seseorang untuk berpartisipasi aktif dalam
    pekerjaannya.
  3. Inisiatif, mengacu pada kemampuan karyawan untuk mengambil tindakan
    proaktif tanpa perlu disuruh. Karyawan yang memiliki inisiatif seringkali
    mencari cara untuk memperbaiki proses, menyelesaikan masalah, dan
    berkontribusi lebih dari sekadar tugas yang diberikan. Kecintaan terhadap
    pekerjaan bisa memotivasi seseorang untuk mengambil inisiatif dalam
    pekerjaannya.
  4. Kreativitas, memperlihatkan kemampuan untuk berpikir di luar batasan dan
    menghasilkan ide-ide baru. Karyawan yang kreatif bisa memberikan solusi
    inovatif untuk masalah dan berkontribusi pada pengembangan produk atau
    layanan yang lebih baik. Mencintai pekerjaan sering kali mendorong
    seseorang untuk berpikir kreatif dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
  5. Loyalitas, mencakup komitmen dan kesetiaan karyawan terhadap perusahaan.
    Karyawan yang loyal tidak hanya memperlihatkan dedikasi yang tinggi tetapi juga
    berusaha untuk mencapai tujuan jangka panjang perusahaan dan seringkali
    mempertahankan hubungan baik dengan rekan kerja. Cinta terhadap pekerjaan
    biasanya berkorelasi dengan tingkat loyalitas yang tinggi terhadap pekerjaan dan
    organisasi.

Dimensi Cinta terhadap Pekerjaan


Karyawan yang mencintai pekerjaan mereka cenderung merasa lebih
bahagia di tempat kerja, dan kebahagiaan tersebut pada gilirannya memperkuat
perasaan cinta terhadap pekerjaan. Kombinasi dari keduanya bisa menciptakan
suasana kerja yang produktif, positif, dan memuaskan. Prasetyo et al. (2017)
menjelaskan kebahagiaan kerja bisa dilihat dalam dua hal, yakni pleasure yang
mengacu pada perasaan positif maupun negatif yang dialami seseorang di tempat
kerja. Ini mencerminkan bagaimana karyawan merasakan kepuasan, kebahagiaan,
atau ketidaknyamanan dalam lingkungan kerja mereka, dan activation yang
mengacu pada bagaimana energi atau tingkat aktivitas seseorang mempengaruhi
niat atau intensi mereka untuk bertindak. Ini mencerminkan seberapa aktif dan
energik seseorang merasa dalam melaksanakan tugas dan menghadapi tantangan di
tempat kerja. Karyawan yang mencintai pekerjaan juga cenderung bersemangat
dalam menjalani pekerjaannya dan membawa suasana positif pada perusahaan.
Menurut Alex S. Nitisemito (dalam Syafrizal, 2021) menyatakan bahwasanya
semangat kerja memiliki empat dimensi yakni naiknya produktivitas karyawan,
tingkat absensi rendah, labour turnover, berkurangnya kegelisahan.
Aulia et al. (2019) mengidentifikasi empat dimensi utama dalam konsep
cinta pekerjaan:

  1. Kegairahan (Zeal): Dimensi ini mencerminkan sikap positif terhadap
    pekerjaan, meliputi perasaan senang, kenikmatan dalam bekerja,
    penghayatan mendalam, kenyamanan, serta hasrat (passion) yang kuat
    terhadap pekerjaan. Kegairahan menggambarkan antusiasme dan semangat
    individu dalam menjalankan tugasnya.
  2. Kedekatan Emosi (Closeness): Aspek ini merujuk pada hubungan
    emosional yang erat antara individu dengan pekerjaannya, serta dengan
    lingkungan sosial di tempat kerja. Ini mencakup rasa keterikatan dan
    koneksi personal dengan tugas-tugas dan rekan kerja.
  3. Kesetiaan (Loyalty): Kesetiaan dalam konteks ini berkaitan dengan
    kepatuhan, komitmen, dan dedikasi terhadap pekerjaan. Ini memperlihatkan
    kesiapan individu untuk tetap setia pada pekerjaannya dan organisasinya,
    bahkan dalam situasi yang menantang.
  4. Ketulusikhlasan (Heartiness): Dimensi ini ditandai dengan sikap tidak
    mementingkan untung rugi secara berlebihan, kesabaran dalam menghadapi
    tantangan, dan kecenderungan untuk tidak mengeluh. Individu dengan
    ketulusikhlasan tinggi cenderung memberikan lebih dari yang dituntut dan
    memprioritaskan pekerjaan di atas kepentingan pribadi lainnya

Pengertian Cinta terhadap Pekerjaan


Menurut Bygrave (2020), cinta terhadap pekerjaan merupakan suatu proses
keterikatan antara pekerja dengan pekerjaannya. Seseorang yang bekerja dengan
rasa cinta terhadap pekerjaan akan lebih bersemangat dan tidak akan merasa
terbebani selama mengerjakan tugasnya. Rasa cinta yang dimiliki seseorang
terhadap pekerjaannya bisa menghasilkan energi yang tinggi, merangsang
keinginan untuk menghasilkan karya-karya baru, serta senantiasa meningkatkan
kualitas pekerjaan dan prestasi kerja.
Kecintaan pada pekerjaan yakni faktor krusial yang mempengaruhi tingkat
keterikatan kerja seseorang terhadap pekerjaannya. Cinta sendiri merupakan
hubungan emosional timbal balik yang positif antara pekerja dan pekerjaannya,
mempunyai makna yang dalam, dan bercirikan pengorbanan yang ikhlas dalam
melaksanakan pekerjaan (Perwira et al., 2021). Menurut Aulia et al. (2019),
kecintaan terhadap kerja mempunyai korelasi yang kuat dengan keterikatan kerja.
Kecintaan seseorang terhadap pekerjaan akan memberikan energi yang luar biasa,
kerinduan untuk berkreasi baru, dan motivasi untuk meningkatkan kualitas kerja
secara terus menerus. Oleh karena itu, semakin intens hubungan seseorang dengan
pekerjaan, maka semakin tinggi keterikatan kerja yang dimiliki individu tersebut

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Robbin & Judge (dalam Zahrudin et al., 2023), ada lima indikator
kepuasan kerja mencakup berbagai aspek yang penting untuk mempengaruhi
kepuasan kerja karyawan terhadap pekerjaannya, antara lain:

  1. Work itself (pekerjaan itu sendiri), mengacu pada sejauh mana pekerjaan itu
    sendiri menarik, menantang, dan memberikan kesempatan untuk belajar dan
    berkembang. Ini juga meliputi variasi tugas yang dimiliki karyawan dalam
    melakukan pekerjaannya.
  2. Pay (upah), berkaitan dengan jumlah kompensasi finansial yang diterima
    karyawan dan sejauh mana hal ini dianggap adil dibandingkan dengan
    pekerjaan yang dilakukan. Ini juga mencakup tunjangan dan manfaat lain
    yang diterima.
  3. Promotion (promosi), merujuk pada kesempatan untuk kemajuan karir
    dalam organisasi. Ini meliputi kejelasan jalur karir, keadilan dalam proses
    promosi, dan frekuensi promosi yang tersedia.
  4. Supervision (pengawasan), berhubungan dengan kualitas pengawasan yang
    diterima karyawan dari atasan langsung mereka. Ini mencakup kompetensi
    teknis supervisor, dukungan, dan gaya kepemimpinan.
  5. Co-Workers (rekan kerja), mengacu pada tingkat kepuasan karyawan
    dengan rekan kerja mereka. Ini meliputi hubungan interpersonal, kerja sama
    tim, dan atmosfer sosial di tempat kerja

Dimensi Kepuasan Kerja


Menurut Sutrisno (dalam Ramadhan & Marinda (2019) menyatakan
kepuasan kerja dipengaruhi oleh berbagai elemen dan dimensi yang terkait.
Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap kepuasan kerja meliputi:

  1. Aspek psikologis mencakup berbagai elemen yang berkaitan dengan
    kondisi mental dan kejiwaan pegawai. Hal ini meliputi tingkat ketertarikan
    terhadap pekerjaan, rasa nyaman dalam menjalankan tugas, cara pandang
    terhadap tanggung jawab kerja, serta potensi dan kemampuan yang dimiliki
    oleh setiap karyawan.
  2. Dimensi sosial berkaitan dengan kualitas hubungan dan komunikasi yang
    terjalin dalam lingkungan kerja. Hal ini mencakup dinamika interaksi antar
    sesama rekan kerja, serta pola komunikasi antara bawahan dengan pimpinan
    dalam struktur organisasi perusahaan.
  3. Faktor fisik mengacu pada berbagai aspek yang berhubungan dengan
    kondisi material dan kesehatan karyawan. Ini mencakup karakteristik
    pekerjaan, manajemen waktu kerja dan istirahat, ketersediaan peralatan
    kerja, kondisi lingkungan kerja seperti tata ruang, temperatur, pencahayaan,
    dan sirkulasi udara, serta faktor-faktor personal seperti status kesehatan dan
    usia karyawan.
  4. Komponen finansial terkait dengan sistem penghargaan dan jaminan
    kesejahteraan yang diberikan kepada karyawan. Aspek ini mencakup
    struktur dan besaran gaji, program jaminan sosial, berbagai bentuk
    tunjangan, fasilitas penunjang, serta kesempatan pengembangan karir
    melalui sistem promosi yang diterapkan perusahaan

Pengertian Kepuasan Kerja


Ramadhan & Marinda (2019) menyatakan bahwasanya kepuasan kerja
ialah indikator penting yang mengukur seberapa efektif organisasi dalam memberi
feedback pada karyawan yang telah mencapai tujuan organisasi. Pranindhita &
Wibowo (2020), mendefinisikan kepuasan kerja sebagai persepsi individu tentang
pencapaian kepuasan dalam dan luar pekerjaan, serta kemampuan menerima nilai-
nilai dalam pekerjaan. Faktor yang mempengaruhinya meliputi pemenuhan
kebutuhan dan pencapaian harapan dalam pekerjaan. Adapun Mora et al. (2020),
Kepuasan kerja dilihat sebagai pandangan umum terhadap pekerjaan,
mencerminkan sejauh mana harapan dan penghargaan yang diterima sesuai.
Kepuasan kerja dianggap mampu meningkatkan komitmen karyawan terhadap
pekerjaannya. Secara keseluruhan, kepuasan kerja merupakan konsep multidimensi
yang mencerminkan kesesuaian antara harapan, pengalaman, dan penghargaan
dalam konteks pekerjaan, dengan implikasi signifikan terhadap kinerja dan
komitmen karyawan.