Teori Keputusan Investasi (3)

Teori risiko dan pengembalian

Teori risiko dan pengembalian menjelaskan bahwa investor maupun manajer perusahaan harus mempertimbangkan hubungan antara tingkat keuntungan yang diharapkan dan risiko yang menyertai investasi. Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi, sedangkan risiko merupakan kemungkinan bahwa return aktual berbeda dari return yang diharapkan (Bodie et al., 2021).

Secara umum, investasi dengan risiko lebih tinggi harus memberikan tingkat pengembalian yang diharapkan lebih tinggi. Investor tidak akan bersedia menanamkan modal pada investasi berisiko tinggi apabila return yang ditawarkan sama dengan investasi berisiko rendah. Prinsip ini sering disebut sebagai hubungan positif antara risiko dan return.

Return investasi dapat dihitung dengan rumus:

R=P1−P0+DP0R = \frac{P_1-P_0+D}{P_0}R=P0​P1​−P0​+D​

Keterangan:

R=tingkat pengembalianR = \text{tingkat pengembalian}R=tingkat pengembalian

P0=harga investasi pada awal periodeP_0 = \text{harga investasi pada awal periode}P0​=harga investasi pada awal periode

P1=harga investasi pada akhir periodeP_1 = \text{harga investasi pada akhir periode}P1​=harga investasi pada akhir periode

D=pendapatan investasi, seperti dividenD = \text{pendapatan investasi, seperti dividen}D=pendapatan investasi, seperti dividen

Risiko investasi dapat dibedakan menjadi risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko sistematis adalah risiko yang berasal dari perubahan kondisi ekonomi makro, seperti inflasi, kenaikan suku bunga, resesi, ketidakstabilan politik, dan perubahan nilai tukar. Risiko ini memengaruhi hampir seluruh perusahaan dan tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui diversifikasi.

Sebaliknya, risiko tidak sistematis adalah risiko spesifik perusahaan atau industri, seperti kegagalan produk, kerusakan mesin, konflik tenaga kerja, penurunan kualitas manajemen, atau masalah rantai pasok. Risiko tidak sistematis dapat dikurangi melalui diversifikasi (Bodie et al., 2021).