Capital asset pricing model
Capital asset pricing model atau CAPM menjelaskan hubungan antara risiko sistematis suatu investasi dengan tingkat return yang diharapkan. Teori CAPM dikembangkan oleh Sharpe (1964), Lintner (1965), dan Mossin (1966). Menurut CAPM, return yang diharapkan dari suatu aset terdiri atas tingkat bebas risiko ditambah kompensasi atas risiko sistematis aset tersebut.
Rumus CAPM adalah:
E(Ri)=Rf+βi[E(Rm)−Rf]E(R_i) = R_f + \beta_i[E(R_m)-R_f]E(Ri)=Rf+βi[E(Rm)−Rf]
Keterangan:
E(Ri)=return yang diharapkan dari aset iE(R_i) = \text{return yang diharapkan dari aset } iE(Ri)=return yang diharapkan dari aset i
Rf=tingkat bebas risikoR_f = \text{tingkat bebas risiko}Rf=tingkat bebas risiko
βi=beta aset i\beta_i = \text{beta aset } iβi=beta aset i
E(Rm)=return pasar yang diharapkanE(R_m) = \text{return pasar yang diharapkan}E(Rm)=return pasar yang diharapkan
Beta menunjukkan sensitivitas return suatu saham terhadap perubahan return pasar. Beta lebih dari satu menunjukkan bahwa saham cenderung bergerak lebih fluktuatif daripada pasar. Beta kurang dari satu menunjukkan bahwa saham cenderung kurang sensitif terhadap perubahan pasar.
CAPM memiliki implikasi penting dalam manajemen keuangan karena dapat digunakan untuk memperkirakan biaya ekuitas atau cost of equity. Biaya ekuitas diperlukan dalam perhitungan biaya modal rata-rata tertimbang dan evaluasi proyek investasi. Walaupun demikian, CAPM bergantung pada sejumlah asumsi ideal, seperti pasar yang efisien, investor rasional, dan kemampuan investor melakukan diversifikasi. Dalam praktik, perusahaan perlu melengkapinya dengan analisis risiko spesifik, kondisi pasar, dan karakteristik industri.
