Teori penganggaran modal
Teori penganggaran modal atau capital budgeting theory menjelaskan proses evaluasi proyek investasi jangka panjang. Keputusan penganggaran modal meliputi pembelian mesin, pembangunan pabrik, digitalisasi sistem, pembukaan cabang, akuisisi perusahaan, pengembangan produk, atau investasi teknologi.
Keputusan investasi jangka panjang penting karena melibatkan jumlah dana besar, memiliki dampak yang panjang, sulit dibatalkan, dan mengandung tingkat ketidakpastian yang relatif tinggi. Oleh karena itu, perusahaan perlu menilai apakah manfaat ekonomi masa depan dari suatu proyek lebih besar daripada biaya investasi awal dan biaya modal yang digunakan (Ross et al., 2022).
Metode utama penganggaran modal adalah net present value atau NPV. NPV mengukur selisih antara nilai kini arus kas masuk yang diharapkan dan investasi awal.
NPV=∑t=1nCFt(1+k)t−I0NPV = \sum_{t=1}^{n}\frac{CF_t}{(1+k)^t} – I_0NPV=t=1∑n(1+k)tCFt−I0
Keterangan:
NPV=net present valueNPV = \text{net present value}NPV=net present value
CFt=arus kas bersih periode ke-tCF_t = \text{arus kas bersih periode ke-}tCFt=arus kas bersih periode ke-t
k=biaya modal atau tingkat diskontok = \text{biaya modal atau tingkat diskonto}k=biaya modal atau tingkat diskonto
I0=investasi awalI_0 = \text{investasi awal}I0=investasi awal
Apabila NPV bernilai positif, proyek diperkirakan memberikan pengembalian lebih besar daripada tingkat pengembalian minimum yang disyaratkan perusahaan. Oleh sebab itu, proyek dengan NPV positif secara teori dapat diterima karena menambah nilai perusahaan. Sebaliknya, proyek dengan NPV negatif sebaiknya ditolak karena tidak mampu menghasilkan nilai yang memadai.
Selain NPV, perusahaan dapat menggunakan internal rate of return atau IRR. IRR merupakan tingkat diskonto yang membuat NPV sama dengan nol. Jika nilai IRR lebih tinggi daripada biaya modal, maka proyek dapat dianggap layak. Namun, NPV secara umum lebih konsisten dengan tujuan maksimalisasi nilai perusahaan, terutama ketika membandingkan proyek yang saling eksklusif atau memiliki pola arus kas yang kompleks (Brigham & Houston, 2022).
Metode payback period juga sering digunakan, khususnya untuk mengukur kecepatan pengembalian investasi. Metode ini menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan investasi awal. Kelemahannya, payback period umumnya mengabaikan nilai waktu uang dan arus kas setelah periode pengembalian. Oleh sebab itu, payback period sebaiknya digunakan sebagai alat tambahan, bukan satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi.
