Menurut Park dalam (Irawan 2021:54), mengungkapkan kepuasan pelanggan
adalah suatu perasaan pelanggan sebagai respon terhadap produk barang atau jasa
yang telah dikonsumsi.
Kotler dan Keller (2016:33) mengatakan kepuasan pelanggan sebagai
berikut:
“Satisfaction reflects a person’s judgment of a product’s perceived
performance in relationship to expectations. If performance falls short of
expectations, the customer is disappointed. If it matches expectations, the customer
is satisfied. If it exceeds them, the customer is delighted” yang artinya kepuasan
mencerminkan penilaian seseorang tentang kinerja produk yang dirasakan dalam
kaitannya dengan harapan. Apabila kinerja jauh dari ekspektasi, pelanggan kecewa.
Jika kinerja memenuhi harapan, pelanggan puas. Jika melebihi ekspektasi,
pelanggan senang.
Bahrudin, M., dan Zuhro, S. (2016), menyatakan kepuasan pelanggan adalah
evaluasi pilihan yang disebabkan oleh keputusan pembelian tertentu dan
pengalaman dalam menggunakan atau mengkonsumsi barang atau jasa. Sedangkan,
Tjiptono (2014:353) mengkonseptualisasikan kepuasan pelanggan seperti perasaan
yang muncul menjadi output penilaian terhadap pengalaman pemakaian produk
atau jasa
Pengertian E-Commerce
E-Commerce merupakan transaksi elektronik yang berkaitan dengan
pembelian atau penjualan barang maupun jasa antara rumah tangga, individu,
pemerintah dan organisasi publik atau swasta lainnya yang dilakukan melalui
jaringan komputer (Pradana, M. 2017:167). Sedangkan, menurut Laudon dalam
(Prasetio et al., 2021:3), mengatakan E-Commerce adalah penggunaan internet,
web, aplikasi mobile dan bro
Indikator Handling Complaint
Fasilitas yang disediakan kepada pelanggan yang bermaksud
memudahkan penyampaian masukan seperti keluhan, kritik, pendapat
maupun saran. Menurut (Santoso, Arif Kurniawan, Rois Arifin 2021).
Indikator penanganan konsumen diuraikan sebagai berikut:
- Cepat dalam menangani keluhan.
- Kewajaran atau keadilan dalam memecahkan permasalahan atau
keluhan. - Kemudahan bagi konsumen untuk menghubungi perusahaan
Faktor Faktor yang mempengaruhi Handling Complaint
Setiap konsumen yang merasa tidak puas terhadap kinerja produk, jasa
dan atau perusahaan tertentu akan bereaksi dengan tindakan yang berbeda-
beda. Ada yang mendiamkan saja dan ada pula yang melakukan komplain.
Menurut Tjiptono (2020), keputusan seseorang untuk melakukan
komplain atau tidak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
- Tingkat kepentingan konsumsi yang dilakukan Apabila konsumen
mempersepsikan tingkat kepentingan, biaya dan waktu yang
dibutuhkan relatif besar, maka besar kemungkinan pelanggan
bersangkutan akan melakukan komplain. - Tingkat ketidakpuasan pelanggan Semakin tidak puas seorang
pelanggan semakin besar pula kemungkinannya melakukan
komplain. - Manfaat yang diperoleh oleh komplain Semakin besar persepsi
konsumen terhadap manfaat yang bisa diperoleh dari penyampaian
komplain, semakin besar pula kemungkinannya melakukan
complain
Handling Complaint
Kotler (2016) Keluhan atau komplain merupakan suatu ungkapan
ketidakpuasan dari pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan oleh
perusahaan. Pelanggan yang tidak puas dengan pelayanan dari perusahaan
yang menyebabkan kekecewaan akan mengatakan ketidakpuasannya kepada
orang lain. Penanganan komplain yang baik mampu memberikan peluang
mengubah pelanggan yang kurang puas menjadi loyal. Keluhan konsumen
yang ditanggapi dengan positif akan membuat pelanggan tersebut merasakan
diperhatikan oleh perusahaan tersebut. Pada hal ini, kepuasan dalam
penanganan keluhan menjadi tingi dari pada kepuasan terhadap barang atau
jasa yang telah pelanggan tersebut komsumsi ( Daengs,et all 2015) Keluhan
adalah artikulasi ketidakpuasan verbal atau tertulis yang mengirimkan
peringatan kepada perusahaan atau penyedia layanan tentang perilaku,
layanan, atau produknya Stauss B (2019) Pelanggan biasanya mengeluh
karena ada sesuatu yang salah tetapi mereka juga dapat mengeluh karena
harapan yang tidak terpenuhi atau ada gangguan dalam komunikasi.
Artinya Keluhan merupakan hal yang disampaikan oleh konsumen
karena mereka merasakan adanya ketidaksesuaian atas jasa yang diterima
dengan yang dijanjikan. Suatu pengaduan dan keluhan bisa dijadikan
kesempatan untuk perusahaan agar memperbaiki kesalahan yang ada. Dengan
demikian, perusahaan dapat mengembangkan ide-ide yang baru,
meningkatkan pemasaran ataupun pelayanan.
Indikator Kualitas Pelayanan
Tjiptono (2020)berhasil mengidentifikasi lima dimensi pokok kualitas
pelayanan jasa, yaitu:
1) Bukti langsung (tangibles) meliputi fasilitas fisik, perlengkapan,
pegawai, dan sarana komunikasi.
2) Keandalan (reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan
yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan
3) Daya tanggap (responsiveness), yaitu keinginan para staf untuk
membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan
tanggap.
4) Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan, kemampuan,
kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas
dari bahaya, risiko atau keragu-raguan.
5) Empati (emphaty), kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan
pada pelanggan
Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan
Faktor-faktor yang diperhatikan dalam Pelaksanaan Pelayanan Menurut
(Januar Efendi 2016), faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh suatu
perusahaan dalam pelaksanaan pelayanan adalah:
- Ketepatan waktu pelayanan, seperti waktu tunggu dan proses
pelayanan - Akurasi pelayanan, yaitu berkaitan dengan reliabilitas pelayanan dan
bebas kesalahan - Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan
- Tanggung jawab misalnya cara penerimaan pesanan,dan penanganan
keluhan dari pelanggan external - Kelengkapan, menyangkut lingkup pelayanan dan ketersediaan
sarana pendukung - Kemudahan mendapat pelayanan, berkaitan dengan banyak nya
outlet,petugas, staf administrasi, dan fasilitas pendukung - Variasi model pelayanan yaitu berkaitan dengan inovasi untuk
memberikan pola-pola baru dalam pelayanan, features dari
pelayanan - Pelayanan pribadi, berkaitan dengan flexibilitas dan penangaanan
permintaan khusus - Kenyamanan dalam memperoleh pelayanan local, ruang pelayanan,
dan kemudahan menjangkau pelayaanan
Kualitas Pelayanan
Kualitas memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan pelanggan.
Kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin
ikatan hubungan yang kuat dengan perusahaan. Tentang pengertian atau
definisi kualitas dapat berbeda makna bagi setiap orang, karena kualitas
memiliki banyak kriteria dan sangat tergantung pada konteksnya.
Menurut Kotler (2014) kualitas adalah kemampuan suatu barang untuk
memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang
diinginkan pelanggan. Menurut Tjiptono Fandy dan Chandra (2015), kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan yang diwujudkan melalui
pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan.
Menurut Tjiptono (2014:51) kualitas pelayanan didefinisikan sebagai
suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia,
proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Tujuan
kualitas pelayanan akan terwujud apabila kualitas pelayanan yang diberikan
lebih dari apa yang diharapkan oleh para pasien. Pelayanan yang diberikan
oleh pasien harus secara keseluruhan bukan hanya kualitas pelayanan yang
diberikan oleh para dokter maupun suster ataupun perawat tetapi lebih pada
hal-hal yang terkait dengan pelayanan kepada pasien.
Faktor Faktor Kepercayaan
Menurut Harmilan (2018)mengemukakan agar pasien dapat percaya
terhadap perusahaan, perlu adanya aktivitas yang dilakukan. Terdapat tiga
aktivitas yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menumbuhkan
kepercayaan pasien tersebut, diantaranya :
- Achieving Result
Harapan pasien tidak lain ialah janji pasien yang harus dipenuhi bila
ingin mendapatkan kepercayaan pasien. Dengan kata lain,
kepercayaan pasien dapat ditumbuhkan melalui penetapan janji yang
diberikan oleh pihak perusahaan. - Acting with integrity
Bertindak dengan integritas berarti adanya konsistensi antara ucapan
dan tindakan dalam setiap situasi. Adanya integritas merupakan
faktor kunci bagi salah satu pihak untuk percaya akan ketulusan dari
pihak lain. Segala sesuatu yang diucapkan harus sesuai dengan
tindakan. - Demonstrate concern
Kemampuan perusahaan untuk menunjukkan perhatiannya kepada
pasien dalam bentuk menunjukan sikap pengertian kepada pasien
jika pasien tersebut menghadapi masalah dengan produknya, hal ini
digunakan untuk menumbuhkan kepercayaan terhadap merek
Kepercayaan
Menurut Peelen (2013)trust atau kepercayaan adalah sebuah kemauan
untuk bergantung terhadap rekan yang dapat dipercayai. Dimensi yang
digunakan untuk menilai trust adalah persepsi atau kepercayaan terhadap
kehandalan dan integritas dari seorang mitra.
Sedangkan Menurut Priansa (2017), kepercayaan terjadi karena adanya
keyakinan yang disertai reliabilitas dan integritas dari apa yang dipercaya
oleh konsumen. Keberlangsungan hidup suatu perusahaan tergantung kepada
kepercayaan dari pelanggan.
Sedangkan Kepercayaan pasien menurut Etta Mamang Sangadji (2013)
adalah semua pengetahuan yang dimilki oleh pasien dan semua kesimpulan
yang dibuat oleh pasien tentang objek, atribut, dan manfaatnya.sedangkan
menurut Diansyah (2018) Kepercayaan pasien merupakan sebuah jenis
refleksi emosional bagi dunia usaha klinik kesehatan. Hal tersebut tergantung
pada tingkat pemenuhan produk yang diharapkan atau layanan manfaat, serta
tingkat konsistensi harapan dan hasil aktual. Apabila pasien mengharapkan
suatu pelayanan pada tingkat tertentu, dan yang dirasakannya pelayanan yang
diterima lebih tinggi dari apa yang diharapkannya dan tetap menggunakan
produk atau pelayanan tersebut, maka pasien tersebut dapat dikatakan
percaya
Indikator Kepuasan Pelanggan
Menurut Irawan (2012) indikator yang akan diukur dari variable
kepuasan pelanggan sebagai berikut :
1) Kepuasan jasa secara menyeluruh. Para konsumen yang memakai
jasa akan merasa puas saat melihat pekerjaan yang di kerjakan
selesai dengan bagus dan tidak mengecewakan konsumen.
2) Merekomendasikan kepada pihak lain Konsumen yang merasa puas
akan memberi informasi kepada kerabat dan temannya, jika kinerja
itu bagus.
3) Akan menggunakan jasa kembali Konsumen puas dengan produk
dan pelayanan yang berikan, pelanggan pasti akan mengunakan
kembali produk dan jasa
Faktor Faktor yang mempengaruhi Kepuasan
Menurut Wijayanti (2017) Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
kepuasan adalah kebutuhan konsumen, harapan-harapan yang terselubung,
pelanggan khusus, sentuhan emosional, dan zona toleransi yang didasarkan
pada informasi dari beberapa sumber diantaranya:
- Dari mulut ke mulut (word of mouth) Pengaruh ini timbul dari segala
sesuatu yang didengar oleh konsumen dari konsumen lainnya. Hal
ini merupakan faktor potensial karena konsumen biasanya cenderung
mempercayai konsumen lain yang pernah mencoba produk atau jasa
yang diberikan perusahaan atau instansi. Kebutuhan Pribadi
(Personal needs) Faktor ini bergantung pada kebutuhan pribadi
masing-masing, konsumen biasanya tidak sama antar konsumen,
sehingga harapan yang diperlukan oleh konsumen jadi tidak sama. - Pengalaman masa lalu (Past experience) Keadaan yang diharapkan
tidak terlepas dari pengalaman masa lalu dari masing-masing
konsumen, karena semakin tinggi pengalamannya maka akan sangat
berpengaruh terhadap harapannya dalam mempengaruhi kebutuhan. - Komunikasi eksternal (external communication) Komunikasi
eksternal seperti adanya promosi, penyuluhan yang mereka terima
akan mempengaruhi harapan dari konsumen. - Komunikasi eksternal (external communication) Komunikasi
eksternal seperti adanya promosi, penyuluhan yang mereka terima
akan mempengaruhi harapan dari konsumen
Kepuasan Pelanggan
Memahami kebutuhan dan keinginan pasien adalah hal penting yang
mempengaruhi kepuasan pasien. Pasien yang puas merupakan aset yang
sangat berharga karena apabila pasien merasa puas mereka akan terus
melakukan pemakaian terhadap jasa pilihannya, tetapi jika pasien merasa
tidak puas mereka akan memberitahukan dua kali lebih hebat kepada orang
lain tentang pengalaman buruknya Untuk menciptakan kepuasan pasien,
rumah sakit harus menciptakan dan mengelola suatu sistem untuk
memperoleh pasien yang lebih banyak dan kemampuan untuk
mempertahankan pasiennya.
Menurut Kotler (2014) menyatakan bahwa kepuasan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan kesannya
terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan – harapannya.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2013), kepuasan pasien adalah tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan (kinerja atau hasil) yang
dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Pasien dapat mengalami salah
satu dari tiga tingkat kepuasan umum yaitu kalau kinerja di bawah harapan,
pasien akan merasa kecewa tetapi jika kinerja sesuai dengan harapan
pelanggan akan merasa puas dan apabila kinerja bisa melebihi harapan maka
pelanggan akan merasakan sangat puas senang atau gembira. Menurut
Tjiptono Fandy 2015) mendefinisikan kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan sebagai suatu tanggapan emosional pada evaluasi terhadap
pengalaman pelanggan suatu produk atau jasa Kotler dan Keller (2012)
mengatakan bahwa kepuasan merupakan tingkat keadaan perasaan seseorang
setelah membandingkan kinerja suatu produk yang dirasakan dengan
harapannya.
Prinsip-Prinsip Kualitas Pelayanan
Untuk menciptakan suatu gaya menejemen dan lingkungan yang kondusif
bagi perusahaan jasa untuk memperbaiki kualitas, perusahaan harus mampu
memenuhi enam prinsip utama yang berlaku baik bagi perusahaan manufaktur
maupun perusahaan jasa. Keenam prinsip tersebut sangat bermanfaat dalam
membentuk dan mempertahankan lingkungan yang tepat untuk melaksanakan
penyempurnaan kualitas secara berkesinambungan dengan didukung oleh
pemasok, karyawan, dan pelanggan. Enam prinsip pokok tersebut meliputi
(Wolkins, dkk dalam Tjiptono, 2004) :
- Kepemimpinan
Strategi kualitas perusahaan harus merupakan inisiatif dan komitmen
manajemen puncak. Manajemen puncak harus memimpin perusahaannya
untuk meningkatkan kinerja kualitasnya. Tanpa adanya kepemimpinan
dari manajemen puncak, maka usaha untuk meningkatkan kualitas hanya
berdampak kecil terhadap perusahaan. - Pendidikan
Semua personil perusahaan dari manajer puncak sampai karyawan
operasional harus memperoleh pendidikan mengenai kualitas. Aspek-
aspek yang perlu mendapat penekanan dalam pendidikan tersebut meliputi
konsep kualitas sebagai strategi bisnis, alat dan teknik implementasi
strategi kualitas, dan peranan eksekutif dalam implementasi strategi
kualitas. - Perencanaan
Proses perencanaan strategik harus mencakup pengukuran dan tujuan
kualitas yang dipergunakan dalam mengarahkan perusahaan untuk
mencapai visinya. - Review
Proses review merupakan satu-satumya alat yang paling efektif bagi
manajemen untuk mengubah perilaku organisasional. Proses ini
merupakan suatu mekanisme yang menjamin adanya perhatian yang
konstan untuk mencapai tujuan kualitas. - Komunikasi
Implementasi strategi kualitas dalam organisasi dipengaruhi oleh proses
komunikasi dalam perusahaan. Komunikasi harus dilakukan dengan
karyawan, pelanggan, dan stakeholder perusahaan lainnya, seperti
pemasok, pemegang saham, pemerintah, masyarakat umum, dan lain-lain. - Penghargaan dan Pengakuan
Penghargaan dan pengakuan merupakan aspek yang penting dalam
implementasi strategi kualitas. Setiap karyawan yang berprestasi baik
perlu diberi penghargaan dan prestasinya tersebut diakui. Dengan
demikian dapat meningkatkan motivasi, moral kerja, rasa bangga, dan rasa
kepemilikan setiap orang dalam organisasi, yang pada gilirannya dapat
memberikan kontribusi besar bagi perusahaan dan bagi pelanggan yang
dilayani.
Dimensi-Dimensi Kualitas Pelayanan
Pada awalnya, Parasuraman, et al. (1985) mengidentifikasi sepuluh
dimensi pokok, yakni reliabilitas, daya tanggap, kompetensi, akses, kesopanan,
komunikasi, kredibilitas, keamanan, kemampuan memahami pelanggan, dan bukti
fisik. Namun pada penelitian berikutnya, ketiga pakar ini menyempurnakan dan
merangkum sepuluh dimensi tersebut. Kompetensi, kesopanan, kredibilitas, dan
kemampuan disatukan menjadi jaminan (assurance). Sedangkan akses,
komunikasi, dan kemampuan memahami pelanggan dikategorikan sebagai empati
(emphaty). Dengan demikian, terdapat lima dimensi utama yaitu:
- Kehandalan (Reliability), yaitu kemampuan perusahaan untuk melakukan
pelayanan sesuai yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan. - Ketanggapan (Responsiveness), yaitu kemampuan perusahaan untuk
menolong pelanggan dan ketersediaan untuk melayani pelanggan yang
baik. - Keyakinan/Jaminan (Assurance), yaitu pengetahuan, kesopanan petugas,
serta sifatnya yang dapat dipercaya sehingga pelanggan terbatas dari risiko. - Kepedulian/Empati (Emphaty), yaitu rasa peduli untuk memberikan
perhatian secara individual kepada pelanggan, memahami kebutuhan
pelanggan, serta kemudahan untuk dihubungi. - Penampilan/Bukti Fisik (Tangible), yaitu meliputi fasilitas fisik,
perlengkapan karyawan, dan sarana komunikas
Pengertian Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi harapan
pelanggan (Lovelock dalam Tjiptono, 2004). Dalam model SERVQUAL, kualitas
pelayanan didefinisikan sebagai penilaian atau sikap global berkenaan dengan
superioritas suatu jasa (Parasuraman, et al., 1985). Definisi ini didasarkan pada
tiga landasan konseptual utama: (1) kualitas jasa lebih sukar dievaluasi konsumen
dibandingkan kualitas barang; (2) persepsi terhadap kualitas jasa merupakan hasil
dari perbandingan antara harapan pelanggan dengan kinerja aktual jasa; (3)
evaluasi kualitas tidak hanya dilakukan atas hasil jasa, namun juga mencakup
evaluasi terhadap proses penyampaian jasa.
Majid (2009) mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai suatu penyajian
produk atau jasa sesuai ukuran yang berlaku di tempat produk tersebut diadakan
dan penyampaiannya setidaknya sama dengan yang diinginkan dan diharapkan
oleh konsumen. Putro, dkk (2014) mengatakan bahwa kualitas pelayanan adalah
segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan guna memenuhi harapan
konsumen. Pelayanan dalam hal ini diartikan sebagai jasa atau service yang
disampaikan oleh pemilik jasa yang berupa kemudahan, kecepatan, hubungan,
kemampuan dan keramahtamahan yang ditujukan melalui sikap dan sifat dalam
memberikan pelayanan untuk kepuasan konsumen
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan
Kotler (2002) menyebutkan lima faktor utama yang perlu diperhatikan
dalam kaitannya dengan kepuasan konsumen antara lain :
- Kualitas produk
Konsumen akan puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa
produk yang mereka gunakan berkualitas. Produk dikatakan berkualitas
bagi seseorang, jika produk itu dapat memenuhi kebutuhannya. Kualitas
produk ada dua yaitu eksternal dan internal. Salah satu kualitas produk
dari faktor eksternal adalah citra merek. - Kualitas Pelayanan
Konsumen akan merasa puas bila mendapatkan pelayanan yang akan baik
atau yang sesuai dengan harapan. - Emosional
Konsumen merasa puas ketika orang memuji dia karena menggunakan
merek yang mahal. - Harga
Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga
yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi. - Biaya
Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu
membuang waktu untuk mendapatkan suatu jasa cenderung puas terhadap
jasa tersebut.
Aspek-Aspek Kepuasan Pelanggan
Sureshchandar, Rajendran & Anantharaman (2002) mengatakan bahwa
terdapat lima dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan.
Kelima dimensi tersebut adalah:
- Layanan inti jasa (Core service)
Layanan inti dari jasa menggambarkan isi layanan yaitu fitur apa saja yang
ditawarkan dalam layanan yang diberikan seperti gamabaran dan suatu
objek. Gambaran apa saja yang ditawarkan oleh biro jasa pada layanan
jasa yang diberikan oleh konsumen - Elemen manusia dalam penyampaian jasa (Human element of service
delivery)
Pada dimensi ini merujuk kepada semua aspek (keandalan, ketanggapan,
jaminan, empati, saat kebenaran, insiden kritis dan pemulihan) yang akan
berpengaruh pada elemen manusia dalam penyampaian jasa. - Elemen sistem dalam penyampaian jasa (systematizatioon of service
delivery)
Pada aspek ini merupakan proses, prosedur, sistem dan teknologi yang
akan membuat layanan yang baik. Pelanggan selalu ingin dan
mengharapkan proses pelayanan yang benar-benar standar, efisien, dan
sederhana sehingga mereka bisa menerima layanan tanpa gangguan, hal-
hal yang tidak diinginkan atau banyak pertanyaan yang diajukan oleh
penyedia layanan. - Bukti fisik (Tangible of service)
Merupakan aspek nyata dari fasilitas layanan (peralatan, mesin,
penampilan karyawan, dan lain-lain) atau lingkungan fisik. - Tanggung jawab sosial (Social responsibility)
Merupakan tanggung jawab sosial membantu sebuah organisasi untuk
memimpin sebagai warga yang bertanggungjawab dalam mendorong
perilaku etis dalam segala hal
Pengertian Kepuasan Pelanggan
Kata kepuasan atau satisfaction berasal dari bahasa Latin “satis” (artinya
cukup baik, memadai) dan “facio” (melakukan atau membuat). Secara sederhana
kepuasan dapat diartikan sebagai ‘upaya pemenuhan sesuatu’ atau ‘membuat
sesuatu memadai’. Menurut Tjiptono (2000), bahwa kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan adalah respons pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian atau
diskonfirmasi, yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau norma kinerja
lainnya) dan kinerja aktual jasa yang dirasakan setelah pemakaiannya.
Wilkie (dalam Tjiptono, 2014) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan
merupakan respon emosional terhadap evaluasi pengalaman mengkonsumsi
produk, toko atau jasa. Sedangkan Mowen & Minor (2002) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan merupakan keseluruhan sikap yang ditunjukkan pelanggan
atas jasa atau barang setelah mereka memperoleh dan menggunakannya.
Menurut Kotler (2002), kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya
terhadap kinerja (hasil) suatu jasa dan harapan-harapannya. Jika kinerja berada di
bawah harapan, konsumen tidak akan puas. Jika kinerja memenuhi harapan,
pelanggan akan puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelangga amat puas atau
senang. Pelanggan yang puas cenderung akan memberikan referensi yang baik
terhadap jasa kepada orang lain.
Pengukuran Tingkat Kepuasan
Pemantauan dan pengukuran terhadap kepuasan pelanggan juga
menjadi hal yang sangat penting bagi setiap perusahaan. Hal ini
dikarenakan langkah tersebut dapat memberikan umpan balik dan masukan
bagi keperluan pengembangan dan implementasi strategi peningkatan
kualitas pelanggan. Pada prinsipnya kepuasan pelanggan itu dapat diukur
dengan berbagai macam metode dan tehnik.
Menurut Kotler (1994:41-43) ada beberapa macam metode
pengukuran kepuasan pelanggan, yaitu:
- Sistem keluhan dan saran, yaitu organisasi yang berpusat pelanggan
memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya untuk
menyampaikan saran dan keluhan, misalnya dengan menyediakan kotak
saran, kartu komentar, customer hot lines, dan lain-lain. - Ghost Shopping, yaitu salah satu cara untuk memperoleh gambaran
mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa
orang untuk berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial,
kemudian melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan
kelemahan produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman
mereka dalam pembelian produk-produk tersebut. - Lost Customer analysis, yaitu perusahaan menghubungi para pelanggan
yang telah berhenti atau yang telah pindah pemasok agar dapat
memahami mengapa hal itu terjadi. - Survei kepuasan pelanggan, yaitu salah satu konsep untuk penilaian
kepuasan adalah konsep ServQual yang dikembangkan oleh
Parasuraman, Berry dan Zeithaml. Konsep ini yang paling banyak
digunakan oleh pelaku bisnis diseluruh dunia yang berkecimpung dalam
pelayanan pelanggan. Menurut konsep ServQual Faktor yang
mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap pelayanan yaitu
Tanggible, Reability, Responsiveness, Assurance dan Empaty.
Kelebihan dari konsep ini adalah karena didasarkan pada suatu riset
yang sangat komprehensif, mudah dipahami dan mempunyai instrumen
yang jelas untuk melakukan pengukuran
Definisi Pelayanan
Pelayanan adalah tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh
suatu pihak-pihak lain, yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak
berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu dan
pelayanan merupakan perilaku produsen dalam rangka memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen demi tercapainya kepuasan pasien
(Kotler, 2011).
Menurut Algifari (2016) pelayanan adalah suatu bentuk layanan yang
diselenggarakan oleh penyedia layanan (produsen atau instansi
pemerintah) kepada pengguna layanan tersebut. Layanan dapat berupa
pelayanan yang ditawarkan. Pelayanan berhubungan dengan upaya
pemenuhan kebutuhan dan keinginan pengguna layanan serta ketepatan
dalam penyampaian untuk memenuhi harapan pengguna layanan.
Menurut Lukman (Rahadi,2010) pelayanan adalah kegiatan-kegiatan
yang tidak jelas, namun menyediakan kepuasan konsumen dan atau
pemakai industri serta tidak terikat pada penjualan suatu produk atau
pelayanan lainnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pelayanan adalah suatu
urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung dengan orang-orang
atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan konsumen.
Sebagai pelayanan kesehatan masyarakat umum, Rumah sakit
memiliki masalah utama yaitu mengenai pelayanan yang diberikan apakah
sudah sesuai harapan pasien atau tidak. Oleh karena itu, pihak Rumah
Sakit dituntut untuk selalu menjaga kepercayaan pasien dengan
meningkatkan mutu pelayanannya
Faktor-Faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien
Salah satu studi mengenai dimensi dari dari kualitas pelayanan adalah
hasil kajian dari Gronroos seorang pakar dari Swedia. Menurutnya ada 3
dimensi dari kualitas pelayanan. Pertama adalah technical quality, yaitu
yang berhubungn dengan outcome suatu pelayanan. Kedua adalah functional
quality yang lebih banyak berhubungan dengan proses delievery atau
bagaiman pelayanan yang diberikan kepada pelanggan. Ketiga adalah image
atau reputasi dari produsen yang menyediakan jasa.
Menurut Anderson (Rahadi, 2010) dengan pelayanan yang sama untuk
kasus yang sama bisa terjadi tingkat kepuasan yang dirasakan pasien akan
berbeda-beda. Hal ini tergantung dari latar belakang pasien itu sendiri,
karakteristik individu yang sudah ada sebelum timbulnya penyakit yang
disebut dengan predisposing factor. Faktor-faktor tersebut antara lain:
pangkat, tingkat ekonomi, kedudukan sosial, pendidikan, latar belakang
sosial budaya, sifat umum kesukuan, jenis kelamin, sikap mental dan
kepribadian seseorang.
Menurut Parasuraman terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi
kepuasan oleh pelayanan, yaitu pelayanan yang diharapkan (expected
service) dan pelayanan yang diterima oleh pengguna (perceived service) apabila pelayanan yang diterima atau yang dirasakan (perceived service)
sesuai dengan pelayanan yang diharapkan, maka pelayanan yang diberikan
di persepsikan baik dan memuaskan. Sebaliknya jika pelayanan yang
diterima lebih rendah daripada pelayanan yang diharapkan, maka pelayanan
yang diberikan dipersepsikan buruk. Dengan demikian, baik tidaknya
pelayanan tergantung kepada kemampuan penyelenggara pelayanan dalam
memenuhi harapan konsumennya secara konsisten.
Menurut Parasuraman, Berry dan Zeithamlmembagi pelayanan yang
mempengaruhi kepuasan Pasien, yaitu:
a. Tangible yang meliputi penampilan dan perfomansi dari fasilitas-
fasilitas fisik, peralatan, personel, dan material-material komunikasi
yang digunakan dalam proses penyampaian layanan.
b. Reliability meliputi kemampuan pihak penyedia jasa dalam
memberikan jasa atau pelayanan secara tepat dan akurat sehingga
konsumen dapat mempercayai dan mengandalkannya.
c. Responsivenees meliputi kemauan atau keinginan pihak penyedia jasa
untuk segera memberikan bantuan pelayanan yang dibutuhkan dengan
tanggap.
d. Assurance, yaitu pemahaman dan sikap sopan dari karyawan (contact
personnel) dikaitkan dengan kemampuan mereka dalam memberikan
keyakinan kepada konsumen bahwa pihak penyedia jasa mampu
memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Dimensi assurance
Definisi Kepuasan
Seorang pelanggan yang puas adalah pelanggan yang merasa mendapat
Value dari pemasok, produsen atau penyedia jasa. Value ini bisa berasal dari
produk, pelayanan, sistem atau sesuatu yang bersifat emosi. Kalau
pengatakan bahwa value adalah produk yang berkualitas, maka kepuasan
terjadi kalau pelanggan mendapatkan produk yang berkualitas. Kalau value
bagi pelanggan adalah kenyamanan, maka kepuasan akan datang apabila
pelayanan yang diperoleh benar-benar nyaman. Kalau value dari pelanggan
adalah harga yang murah, maka pelanggan akan puas kepada produsen yang
memberikan harga yang paling kompetitif (Irawan, 2007:2).
Menurut Aritonang R dan Lerbin R (2005) Kepuasan pelanggan sebagai
hasil penilaian pelanggan terhadap apa yang diharapkannya dengan
membeli dan mengkonsumsi suatu produk. Harapan itu lantas dibandingkan
dengan persepsinya terhadap kinerja yang diterimanya dengan
mengkonsumsi produk tersebut. Jika harapannya lebih tinggi dari kinerja
produk, ia akan merasa tidak puas. Sebaliknya, jika harapannya sama
dengan atau lebih rendah daripada kinerja produk ia akan merasa puas.
Menurut Minor (Aprilia, 2015) kepuasan konsumen adalah keseluruhan
sikap yang ditunjukan konsumen atas barang atau jasa setelah memperoleh
dan menggunakannya
Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler dan Keller dalam Tjiptono (2014:369) ada
beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan pengukuran
kepuasan pelanggan, diantaranya:
- Sistem keluhan dan saran
Organisasi yang berpusat pelanggan (Customer Centered)
memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya
untuk menyampaikan saran dan keluhan. Informasi-informasi ini
dapat memberikan ide-ide cemerlang bagi perusahaan dan
memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan cepat untuk
mengatasi masalah-masalah yang timbul. - Pembeli bayangan (Ghost atau Mystery Shopping)
Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan
pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang untuk
berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial, kemudian
melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan
produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka
dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para ghost
shopper juga dapat mengamati cara penanganan setiap keluhan. - Analisis konsumen terakhir (Lost Customer Analysis)
Perusahaan selayaknya menghubungi para pelanggan yang telah
berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat
memahami mengapa hal itu terjadi. Bukan hanya exit interview saja
yang perlu, tetapi pemantauan customer loss rate juga penting,
peningkatan customer loss rate menunjukkan kegagalan
perusahaan dalam memuaskan pelanggannya. - Survei kepuasan pelanggan
Umumnya penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan
dengan penelitian survei, baik melalui pos, telepon, maupun
wawancara langsung. Perusahaan akan memperoleh tanggapan dan
umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan
tanda (signal) positif bahwa perusahaan menaruh perhatian
terhadap para pelanggannya
Faktor-faktor Kepuasan pelanggan
Menurut Irawan (2004:37) ada lima faktor yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan :
- Kualitas produk, yaitu pelanggan akan puas setelah membeli dan
menggunakan produk tersebut dan ternyata kualitas produknya
baik. Kualitas produk ini adalah dimensi global. - Harga, yaitu untuk pelanggan yang sensitif, biasanya harga murah
adalah sumber kepuasan yang penting karena mereka akan
mendapatkan value of money yang tinggi. Komponen harga ini
relatif tidak penting bagi mereka yang tidak sensitif terhadap harga. - Kualitas layanan, yaitu sangat bergantung pada tiga hal, yaitu
sistem, teknologi dan manusia. Kualitas layanan merupakan driver
yang mempunyai banyak dimensi. Salah satu konsep kualitas
layanan yang populer adalah ServQual. Berdasarkan konsep ini,
kualitas layanan diyakini mempunyai lima dimensi yaitu reliability,
responsiveness, assurance, emphaty, dan tangible. - Faktor perasaan, yaitu kepuasan pelanggan dapat timbul pada saat
mengendarai mobil yang memiliki brand image yang baik. Rasa
bangga, rasa percaya diri, simbol sukses, bagian dari kelompok
orang penting dan sebagainya adalah contoh – contoh emotional
value yang mendasari kepuasan pelanggan. - Kemudahan, yaitu pelanggan akan semakin puas apabila relatif
mudah, nyaman, dan efisien dalam mendapatkan produk atau
layanan
Definisi Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler (2014:150) kepuasan pelanggan ialah perasaan
senang atau kecewa yang muncul setelah membandingkan kinerja
(hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (hasil) yang diharapkan.
Sedangkan menurut Daryanto (2011:9) kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang
dirasakan, dibandingkan dengan harapan
Dimensi Kualitas Pelayanan
Menurut Parasuraman dalam Lupiyoadi (2006:182), ada 5 (lima)
jenis dimensi dalam kualitas pelayanan (Service Quality), yaitu:
- Bukti fisik (Tangibles)
Yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan
eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan
sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat diandalkan
keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata dari
pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Hal ini meliputi
fasilitas fisik contoh: gedung, gudang, dan lain-lain, perlengkapan
dan peralatan yang digunakan (teknologi), serta penampilan
pegawainya. - Keandalan (Reliability)
Yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai
dengan yang dijanjikan secara akurat dengan terpercaya. Kinerja
harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan
waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa
kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi. - Ketanggapan (Responsivenes)
Yaitu suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan
yang cepat (responsive) dan tepat kepada pelanggan, dengan
penyampaian informasi yang jelas. - Jaminan dan kepastian (Assurance)
Yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para
pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para
pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen
antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility),
keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun
(courstesy). - Empati (Emphaty)
Yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau
pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya
memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan
diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang
pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta
memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan
Pengertian Kualitas Pelayanan
Menurut Lovelock yang dikutip oleh Laksana (2008:88) kualitas
pelayanan adalah tingkat mutu yang diharapkan, dan pengendalian
keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk memenuhi kebutuhan
konsumen. Untuk dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik
maka perlu dibina hubungan yang erat antara perusahaan, dalam hal ini
adalah karyawan dengan pemakai jasa tersebut
Menurut Kotler (2005:153) kualitas layanan adalah model yang
menggambarkan kondisi pelanggan dalam membentuk harapan akan
layanan dari pengalaman masa lalu, promosi dari mulut ke mulut, dan
iklan dengan membandingkan pelayanan yang mereka harapkan dengan
apa yang mereka terima atau rasakan.
Tjiotono (2007:51) menyatakan bahwa kualitas pelayanan dapat
diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan
konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi
harapan konsumen.
Parasuraman dalam Dimyati, 2005:25) salah satu pendekatan
kualitas pelayanan yang banyak dijadikan acuan riset pemasaran adalah
model SERVQUAL (Service Quality). SERVQUAL dibangun atas
adanya perbandingan dua faktor utama, yaitu persepsi pelanggan atas
layanan yang mereka terima (perceived service) dengan layanan yang
sesungguhnya diharapkan (expected service). Jika kenyataan lebih dari
yang diharapkan maka layanan dapat berkualitas, dan sebaliknya.
Singkat kata, kualitas pelayanan dapat didefinisikan sebagai seberapa
jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas layanan
yang mereka terima.
Pengertian Pelayanan
Moenir (2010:26) pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materi
melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha
memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya.
Loina (2001:38) mengatakan bahwa pelayanan merupakan suatu
proses keseluruhan dari pembentukan citra perusahaan, baik melalui
media berita, membentuk budaya perusahaan secara internal, maupun
melakukan komunikasi tentang pandangan perusahaan kepada para
pemimpin pemerintahan serta publik lainnya yang berkepentingan.
Pengertian Kualitas
Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia jasa merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Kualitas menurut Lupiyoadi
(2006:175) adalah perpaduan antara sifat dan karakteristik yang
menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi persyaratan
kebutuhan pelanggan. Pelanggan yang menentukan dan menilai sampai
seberapa jauh sifat dan karakteristik itu memenuhi kebutuhannya.
Sementara Tjiptono (2008:67) mengatakan bahwa kualitas adalah
produk yang bebas cacat. Dengan kata lain produk sesuai dengan
standar (target, sasaran atau persyaratan yang bisa didefinisikan,
diobservasi, dan diukur). Kualitas mencerminkan semua dimensi
penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefit) bagi
pelanggan
Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kualitas Produk dan Harga TerhadapKepuasan
Berdasarkan peneltian dari Freekley Stefly Maramis (2018:1666)
menyatakan bahwa kualitas produk, harga dan kualitas pelayanan berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen. Sedangkan menurut Rina
Sukmawati (2018: 141) menyatakan bahwa Terdapat pengaruh positif dan
signifikan secara bersama-sama dari variabel kualitas produk, harga, dan kualitas
pelayanan terhadap kepuasan konsumen.
Pengaruh Harga Terhadap Kepuasan
Berdasarkan teori Fandy Tjiptono (2015: 8) menyatakan bahwa harga
murah yang di dasari semata-mata aspek diskon tanpa dibarengi efisiensin biaya
berpotensi mengorbankan standar kualitas yang sejatinya merupakan hak
konsumen. Low cost tidak boleh diikuti pengurnagan kualitas. Dasar utama low
cost seharusnya adalah kemampuan menekan biaya dalam menghasilkan tingkat
kualitas yang setara. Dengan kata lain, murah tidak sama dengan murahan.
Masalah lain, dalam promosinya, banyak pemasar yang terjebak menekankan
“how cheap they are” dan bukannya “how valuable they are”. Konsumen
mungkin tertarik membeli sekali, namun jika ia tidak puas, jangan harap ia bakal
membeli lagi! Fokus pada kepuasan pelanggan merupakan upaya
mempertahankan pelanggan dalam rangka menghadapi para produsen yang
berbiaya rendah. Banyak perusahaan yang mendapati bahwa cukup banyak
pelanggan yang sebenarnya bersedia membayar harga yang lebih mahal untuk
pelayanan dan kualitas yang lebih baik.
Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan
Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa
perusahaan yang menerapkan program kepuasan pelanggan harus memiliki
produk yang berkualitas baik dan layanan prima. Berdasarkan teori dari John C
Mowen (2001: 89) menyatakan bahwa penilaian kinerja ini ternyata sangat erat
hubungan nya dengan penilaian kualitas produk. Konsumen membandingkan
persepsi mereka atas kualitas produk setelah menggunakan produk tersebut sesuai
dengan ekspektasi kinerja produk sebelum mereka membelinya. Tergantung pada
bagaimana kinerja aktial dibandingkan dengan kinerja yang diharapkan, mereka
akan mengalami emosi yang positif, negatif atau netral. Tanggapan emosional ini
bertindak sebagai masukan atau input dalam persepsi kepuasan/ ketidakpuasan
menyeluruh mereka
Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Peserta
Berdasarkan teori dari Fandy Tjiptono (2015: 11) menyatakan bahwa pada
hakikatnya kepuasan pelanggan merupakan strategi jangka panjang, karena
dibutuhkan waktu cukup lama sebelum bisa membangun dan mendapatkan
reputasi dengan dasar kualitas pelayanan prima, dan kerapkali juga dituntut
investasi besar pada serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk membahagiakan
pelanggan saat ini dan masa depan. Sedangkan teori dari Ali Hasan (2008: 66)
menyatakan bahwa surplus konsumen dengan konsep kepuasan pelanggan,
mempertimbangkan faktor harga dan kuantitas, kualitas pelayanan dan kemasan.
Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa biasanya
perusahaan yang tingkat kepuasan pelanggannya tinggi menyediakan tingkat
layanan pelanggan yang tinggi pula. Untuk menciptakan kepuasan pelanggan,
diperlukan dukungan dari semua sumber daya organisasi, serta tanggung jawab
penuh pimpinan tingkat korporat. Karyawan seagai garis terdepan menjadi ujung
tombak perusahaan yang berinteraksi langsung dengan pelanggan dan
berkewajiban memberikan pelayanan kepada pelanggan, yaitu memuaskan
pelanggan
Indikator Kepuasan Peserta
Menurut Ali Hasan (2008:70) menyatakan bahwa indikator yang sebagai
determinasi kepuasan pelanggan pada produk jasa (intangible product) yaitu:
- Serviciability, yaitu tingkat kemudahan dan kecepatan pelayanan
- Accessibility, yaitu letak yang mudah di akses
- Communication, kemampuan berkomunikasi dengan bahasa konsumen
- Competence, tingkat keterampilan menyelesaikan masalah
- Courtesy, sikap sopan dan bersahabat dengan konsumen
- Reliability, kemampuan mewujudkan pelayanan sesuai promosi
- Security, keamanan, keterjaminan dan legalitas
- Tangibles, wujud fisik, gedung, peralatan-peralatan
- Understanding – customer, pemahaman kebutuhan dan keinginan
pelanggan.
Menurut Mowen dalam Fransiska Pramita (2010:30) menyatakan bahwa
indikator atau dimensi kepuasan peserta adalah : - Attributes related to product, atribut yang berhubungan dengan
produk. - Attributes related to service, atribut yang berhubungan dengan
layanan. - Attributes related to purchase, atribut yang berhubungan dengan
penjualan.
Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2015: 35) indikator yang
mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah ekspektasi, diskonfirmasi (obyektif
dan subyektif), perceived performance, dan sikap konsumen
Model Kepuasan Peserta
Menurut Fandy Tjiptono (2011: 298) menyatakan bahwa secara garis
besar, riset-riset kepuasan pelanggan didasarkan pada 3 teori utama yaitu
diantaranya:
- Contrast theory
Bearsumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja produk aktual
dengan ekspektasi pra pembelian. Apabila kinerja aktual lebih besar atau
sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas. Sebaliknya, jika
kinerja akttual lebih rendah dibandingkan ekpektasi, maka konsumen
akan tidak puas. - Assimilation theory
Menyatakan bahwa evaluasi purna beli merupakan fungsi positif dari
ekspektasi konsumen pra pembelian. Karena proses diskonfirmasi secara
psikologis tidak enak dilakukan, konsumen cenderung secara perseptual
mendistorsi perbedaan antara ekspektasi dan kinerjanya ke arah
ekspektasi awal. Dengan kata lain, penyimpangan dari ekspektasinya
cenderung akan diterima oleh konsumen bersangkutan. - Assimilation – contrast theory berpegangan bahwa terjadinya efek
asimilasi (assimilation effect) atau efek kontras (contrast effect)
merupakan fungsi dari tingkat kesenjangan antara kinerja yang di
harapkan dan kinerja aktual. Apabila kesenjangan nya besar, konsumen
akan memperbesar gap tersebut, sehingga produk dipersepsikan jauh lebih
bagus/buruk dibandingkan kenyataan nya (sebagaimana halnya contrast
theory). Namun, jika kesenjangannya tidak terlampau besar, assimilation
theory yang berlaku. Dengan kata lain, jika rentang deviasi yang bisa
diterima (acceptable deviation) dilewati, maka kesenjangan antara
ekspektasi dan kinerja akan menjadi signifikan dan di situla efek kontras
berlaku
Pengertian Kepuasan Peserta
Menurut Kotler dan Armstrong dalam Eni Sudjiani (2019:127)
menyatakan bahwa “Customer satisfaction is the level on person’s fell stale
resultating fromcomparing a product’s perceived performance (or outcome) in
relation to the person’s expectation”. Yang artinya kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan konsumen dengan membandingkan harapan yang dimiliki
dengan realita atau hasil yang sebenarnya.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013:180) menyatakan bahwa kepuasan
atau ketidakpuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal
dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja produk yang riil/ aktual
dengan kinerja produk yang di harapkan. Sedangkan menurut M Suyanto (2018:
76) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan senang atau kecewa dari
pelanggan yang berasal dari perbandingan antara kinerja produk dengan harapan.
Jika kinerja produk sesuai dengan harapan, pelanggan puas atau senang, dan
begitu juga sebaliknya.
Menurut Engel dalam Ali Hasan (2008: 56) menyatakan bahwa kepuasan
pelanggan merupakan suatu konsep evaluasi purnabeli dimana alternatif yang
dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan
ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan. Sedangkan menurut
Menurut Fandy Tjiptono dalam Rida farida (2016: 39) menyatakan bahwa
kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan antara persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan
harapan.
Indikator Harga
Menurut Setyo Ferry (2012:5) dalam penelitiannya, indikator harga yang
digunakan sebanyak 4 indikator, yaitu referensi harga, harga yang relatif lebih
murah, kesesuaian pengorbanan dan harga sesuai dengan manfaat produk.
Sedangkan menurut Rinaldi Bursan dalam Utari Wijayati dan Rahma
Wahdiniwaty (2014:22) menyatakan dimensi atau indikator harga yaitu:
- Kesesuaian harga dengan manfaat produk
- Kesesuaian harga dengan pendapatan atau uang saku yang diterima
- Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
Sedangkan menurut Stanton dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4)
menyatakan bahwa indikator atau dimensi harga yaitu: - Keterjangkauan harga
- Perbandingan dengan merek lain
- Kesesuaian harga dengan kualitas
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keputusan Harga
Menurut Ali Hasan (2008: 304) menyatakan bahwa keputusan tentang
harga yang baik adalah apabila mampu mencerminkan seluruh kepentingan
perusahaan. Berikut ini adalah faktor yang memengaruhi keputusan harga:
- Kondisi perekonomian
Kondisi perekonomian (inflasi, resesi, tingkat suku bunga, anggaran),
kebijakan serta peraturan pemerintah, dan aspek sosial sangat
memengaruhi tingkat harga yang berlaku. - Price elasticity
Elastisitas permintaan akan memengaruhi penentuan harga dan volume
yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis barang, harga dan volume
penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga,
maka penjualan akan menurun, dan sebaliknya jika terjadi penurunan
harga, volume penjualan akan meningkat. - Non price factor
Pembeli mungkin bersedia membayar harga premium (jaminan,
pelayanan) atau justru mengorbankan beberapa manfaat dari sebuah
produk demi harga yang lebih rendah. - Tujuan perusahaan
Penetapan harga suatu produk sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang
akan dicapai oleh perusahaan. - Faktor legal dan etis
Faktor legasl dan etis biasanya menjadi alat pengawasan ppemerintah
dalam penentuan harga maksimum, minimum, atau harga tertentu. Serta
praktik lainnya demi mencegah keberlangsungan dan mencegah dari pasar
monopoli atau oligopoli. - Bauran pemasaran
Penetapan harga harus di koordinasikan dan saling mendukung dengan
bauran pemasaran lainnya, yaitu produk, distribusi dan promosi. - Biaya merupakan faktor dasar dalam penentuan harga yang minimal,
sebab tingkat harga tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan
mengakibatkan kerugian. Begitupun sebaliknya. - Ukuran bisnis
Manajemen perlu memutuskan siapa yang harus menetapkan harga, setiap
perusahaan menetappkan harga menurut caranya masing-masing. - Persaingan
Kekuatan-kekuatan yang berpengaruh dalam persaingan setiap industri
adalah persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk substitusi,
pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru. - Sifat pasar
Setiap perusahaan perlu memahami kaitan sifat pasar dan permintaan yang
dihadapinya, apakah termasuk persaingan sempurna, persaingan
monopolistik, oligopoli, atau monopoli
Pengertian Harga
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 216) menyatakan bahwa harga
merupakan salah satu atribut paling penting yang dievaluasi oleh konsumen, dan
manajer harus benar-benar menyadari peran tersebut dalam pembentukan sikap
konsumen. Pada kondisi tertentu konsumen sangat sensitif terhadap harga
sehingga harga suatu produk yang relatif tinggi dibandingkan para pesaingnya
dapat mengeliminasi produk dari pertimbangan konsumen. Dalam kasus lain,
harga dapat digunakan sebagai indikator pengganti kualitas produk, dengan hasil
produk yang berharga tinggi yang bisa dipandang positif oleh segmen pasar
tertentu.
Menurut M Suyanto (2018: 259) menyatakan bahwa harga merupakan
nilai yang akan membeli dalam jumlah yang terbatas, berat, atau ukuran lainnya
dari barang atau jasa. Sebagai pertimbangan yang diberikan dalam pertukaran
untuk transfer kepemilikan, harga membentuk dasar penting transaksi komersial.
Hal ini mungkin sudah ditetapkan oleh kontrak, meninggalkan yang ditentukan
oleh rumus yang disepakati di masa mendatang, atau diketahui atau di
negosiasikan selama transaksi antara pihak-pihak yang terlibat.
Kotler dan Keller (2012:25) harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa
yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalu tawar menawar, atau
ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli.
Menurut Ari Setyaningrum (2015: 128) menyatakan bahwa secara lebih luas dapat
dikatakan bahwa harga ialah jumlah semua nilai yang di berikan oleh konsumen
untuk memperoleh keuntungan atas kepemilikan atau penggunaan suatu produk
atau jasa. Secara historis, harga menjadi faktor utama yang memengaruhi pilihan
seorang pembeli. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong, dalam Erna
Susilawati dan Rahma Wahdiniwaty (2017: 17) menyatakan bahwa harga
merupakan jumlah uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, atau lebih
jelasnya adalah jumlah dari semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan sebuah manfaat dengan memiliki atau menggunakan sebuah produk
atau jasa
Indikator Kualitas Produk
Indikator kualitas produk menurut Kotler and Armstrong dalam Shandy
Widjoyo Putro (2014:3) menyatakan kualitas produk sebagai “the ablity of a
product to perform its functions. Its includes the product’s overall durability,
reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes”.
Artinya kualitas produk berhubungan erat dengan kemampuan produk untuk
menjalankan fungsinya yaitu diantaranya:
- Keseluruhan Produk,
- Keandalan,
- Ketepatan,
- Kemudahan Pengoperasian,
- Atribut Bernilai Lainnya
Konsep Produk
Menurut Fandy Tjiptono (2016: 176) menyatakan bahwa secara spesifik,
konsep produk terdiri atas 3 level yaitu:
- Core product, yakni semua manfaat pokok (core benefits) yang ditawarkan
produk kepada konsumen. Manfaat merupakan hasil yang diterima
konsumen dari penggunaan atau kepemilikan sebuha barang ataus
jasa.Contohnya, manfaat pokok sebuah mobil adalah untuk transportasi
dari satu tempat ke tempat lain. - Actual product, yaitu produk fisik atau delievered service yang
memberikan manfaat produk. Sebagai contoh, saat kita membeli tiket
pesawat Air Asia menuju Kuala Lumpur, core product nya adalah time
critical transport, sedangkan actual product nya berupa nama merek Air
Asia, layout dan layanan terminal bandara, sistem booking dan fitur
lainnya. - Augmented product, yaitu actual product ditambah fitur-fitur pendukung
lainnya, seperti garansi, fasilitas kredit, layan antar, instalasi, dan reparasi
purna beli
Pengertian Kualitas Produk
Definisi kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong dalam Utari
Wijayati dan Rahma Wahdiniwaty (2016: 37) adalah “product quality is the
ability of a product to perform its function, it includes the product’s several
durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued
attributes”. Artinya kualitas produk adalah kemampuan produk untuk
menampilkan fungsinya, hal ini termasuk waktu kegunaan dari produk, keandalan,
kemudahan dalam penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai yang lainnya.
Sedangkan menurut M Suyanto (2018: 214) menyatakan bahwa produk
konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat
yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi
pelanggan. Kualitas produk merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai
dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Menurut Hawkins (2010: 19)
menyatakan bahwa “a product quality is anything a consumer acquires or might
acquire to meet a perceived need. Consumer are generally buying need
satisfaction, not physical product attributes”. Yang artinya bahwa kualitas produk
merupakan sesuatu apapun yang diperoleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan
atau keinginan yang dirasakan oleh konsumen. Pada umumnya konsumen
membeli karena ingin adanya kepuasan dalam produk tersebut, bukan hanya
atribut produk fisik saja. Sementara menurut John C Mowen (2001: 90)
menyatakan bahwa kualitas produk adalah evaluasi menyeluruh pelanggan atas
kebaikan kinerja barang atau jasa. Menurut Vincent dalam Jogi Morrison
Simanjutak dan Rahma Wahdiniwaty (2018: 195) menyatakan bahwa faktor-
faktor yang mempengaruhi kualitas produk itu sendiri adalah kinerja, fitur,
kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, keandalan, kemudahan servis, estetika,
dan kualitas yang dirasakan
Indikator Kualitas Pelayanan
Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017: 65) adalah sebagai berikut:
- Reliability, kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat
diandalkan dan akurat. - Responsiveness, kesediaan untuk membantu pelanggan dan
memberikan layanan yang cepat. - Assurances, pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
mereka untuk menjamin mutu sehingga peserta percaya dan yakin. - Empathy, perhatian individual terhadap pelanggan.
- Tangibles, penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.
Sementara menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013:
100) menyatakan bahwa lima indikator kualitas jasa atau layanan adalah: - Kendalan (reliability), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan
yang dijanjikan dengan tepat (accurately) dan kemampuan untuk
dipercaya (dependably), terutama memberikan jasa secara tepat waktu
(on time), dengan cara yang sama sesuai dengan jadwal yang telah di
janjikan, dan tanpa melakukan kesalahan. - Daya tanggap (responsiveness), yaitu kemauan atau keinginan para
karyawan untuk membantu memberikan jasa yang dibutuhkan
konsumen. - Jaminan (assurances), meliputi pengatahuan, kemampuan, keramahan,
kesopanan, dan sifat dapat dipercaya dari kontak personal untuk
menghilangkan sifat keragu-raguan konsumen dan membuat mereka
merasa terbebas dari bahaya dan risiko. - Empati, yang meliputi sikap kontak personal atau perusahaan untuk
memahami kebutuhan dan kesulitasn konsumen dalam bentuk
perhatian pribadimm dan kemudahan untuk melakukan komunikasi. - Produk fisik (tangible), tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan dan
saran komunikasi, dan lain-lain yang bisa dan harus ada dalam proses
jasa
Model Kualitas Jasa
Menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 101)
menyatakan bahwa model kualitas jasa di identifikasi lima gap yang
menyebabkan kegagalan penyampaian jasa. Kelima gap tersebut adalah:
- Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, yaitu adanya
peredaan antara penilaian pelayanan menurut pengguna jasa dan persepsi
manajemen mengenai harapan pengguna jasa. - Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan
spesifikasi kualitas jasa. Kesenjangan terjadi antara lain karena tidak
memadainya komitmen manajemen terhadap kualitas jasa, persepsi
mengenai ketidaklayakan, tdak memadainya standardisasi tugas, dan tidak
adanya penyusunan tujuan. - Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa (service
delievery). Kesenjangan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor
berikut:
a) Ambiguitas pesan, yaitu sejauh mana pegawai dapat melakukan
tugas sesuai dengan harapan manajer dan tetap bisa memuaskan
pelanggan
b) Konflik pesan, yaitu sejauh mana pegawai meyakini bahwa
mereka tidak memuaskan semua pihak.
c) Kesesuaian pegawai dengan tugas yang harus dikerjakannya.
d) Kesesuaian teknologi yang digunakan pegawai.
e) Sistem pengendalian dari atasan, yaitu tidak memadainay sistem
penilaian dan sistem imbalan.
f) Kontrol yang dirasakan (perceived control), yaittu sejauh mana
pegawai merasakan kebebasan atau fleksibilitas untuk
menentukan cara pelayanan.
g) Kerja tim (team work), yaittu sejauh mana pegawai dan
manajemen merumuskan tujuan untuk memuaskan pelanggan
secara bersama-sama dan terpadu. - Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal. Ekspektasi
pelanggan atas kualitas pelayanan dipengaruhi oleh pernyataan yang di
buat oleh perusahaan mengenai komunikasi pemasaran. - Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang diharapkan, yaitu adanya
perbedaan persepsi antara jasa yang dirasakan dan yang diharapkan oleh
pelanggan. Jika keduanya terbukti sama, perusahaan akan memperoleh itra
dan dampak positif.
Lima Perspektif Kualitas Pelayanan
Menurut Garvin dalam Fandy Tjiptono (2017: 129) menyatakan bahwa
setidaknya ada lima perspektif kualitas yang berkembang saat ini: transcendental
approach, product-based approach, user based approach, manufacturing-based
approach, dan value based approach.
- Transcendental Approach
Dalam perspektif ini, kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu
sesuatu yang secara intuitif bisa dipahami, namun nyaris tidak mungkin
dikomunikasikan, contohnya kecantikan atau cinta. Perspektif ini
menegaskan bahwa orang hanya bisa belajar memahami kualitas melalui
pengallaman didapatkan dari esposur berulang kali (repated exposure).
Misalkan produk atau jasa seni musik, drama, lukis, tari dan rupa. - Product based approach
Perspektif ini mengasumsikan bahwa kualitas merupakan karakteristik,
komponen atau atribut obyektif yang dapat dikuantitatifkan dan dapat
diukur. Misalkan produk laptop yang memiliki spesifikasi mikro prosesor,
kapasitas memori, RAM, fitur tambahan (Wifi, web cam), harga, ukuran
dan berat yang berbeda-beda. - User based approach
Perspektif ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang
paling memuaskan preferensi seseorang (maximum satisfaction)
merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat
subyektif dan demand oriented ini juga menyatakan bahwa setiap
pelanggan memiliki kebutuhan dan keinginan masing-masing yang
berbeda satu sama lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama
dengan kepuasan maksimum yang dirasakan nya. Misalkan masakan atau
makanan manis, asin, pedas, dan bersantan memiliki penggemarnya
masing-masing. - Manufacturing based approach
Persepektif ini bersifat supply based dan lebih berfokus pada praktik-
praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas
sebagai kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to
requirement). - Value based approach
Perspektif ini memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga
(price). Dengan mempertimbankan trade off antara kinerja dan harga,
kualitas didefinisikan sebagai affordable excellence, yakni tingkat kinerja
terbaik atau yang sepadan dengan harga yang di bayarkan. Kualitas dalam
persepektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas
paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Contohnya, mobil
ekonomis berkualitas berbeda dengan mobil mobil mewah yang
berkualitas.
Pengertian Kualitas Pelayanan
Menurut Fandy Tjiptono (2017: 180) mendefinisikan kualitas pelayanan
atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Sedangkan menurut Parasuraman
dalam Arni Purwani dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa
kualitas pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan (persepsi)
pelanggan dengan Kualitas pelayanan yang diharapkan pelanggan.
Menurut Leon G Schiffman (2015: 139) menyatakan bahwa it is more
difficult for consumers to evaluate the quality of service than the quality of
products. This is true because of certain distinctive characteristic of service: they
are intangible, they are variable, they are pershable, and they are simultaneouly
produced and consumed. Yang artinya bahwa lebih sulit bagi konsumen untuk
mengevaluasi Kualitas pelayanan daripada kualitas produk. Ini benar karena
karakteristik khusus layanan tertentu: mereka tidak berwujud, mereka berupa
variabel, mereka mudah rusak karena harus mempertahankan reputasi, dan mereka
secara bersamaan diproduksi dan dikonsumsi.
Menurut Kotler dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 99) menyatakan
bahwa kualitas pelayanan atau jasa merupakan kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan. Sedangkan menurut Atep Adya Brata (2003:
36) menyatakan bahwa berbicara mengenai kualitas pelayanan, ukuran nya bukan
hanya ditentukan oleh pihak yang melayani saja tetapi lebih banyak ditentukan
oleh pihak yang dilayani, karena mereka lah yang menikmati layanan sehingga
dapat mengukur kualitas pelayanan berdasarkan harapan-harapan mereka dalam
memenuhi kepuasan nya
Indikator Pada Kualitas Pelayanan
Sebelumnya telah dijelaskan mengenai dimensi – dimensi kualitas
pelayanan. Diantaranya adalah Reliability, Responsiveness, Assurance,
Empathy, Tangible. Tiap dimensi ini memiliki indikator – indikator
tersendiri. Yang dikenal dengan indikator kualitas pelayanan, adalah
sebagai berikut (Ratih, 2020):
- Indikator untuk dimensi reliability, diantaranya:
a) Kecermatan dalam melayani pelanggan.
b) Standar pelayanan yang jelas.
c) Kemampuan perusahaan dalam menggunakan alat bantu dalam proses
pelayanan. - Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi responsiveness, terdiri dari:
a) Merespon dengan baik pelanggan yang ingin mendapatkan pelayanan.
b) Perusahaan melakukan pelayanan dengan cepat, tepat, dan cermat.
c) Perusahaan melayani dalam waktu yang tepat.
d) Semua keluhan pelanggan direspon oleh perusahaan. - Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi assurance, diantaranya:
a) Perusahaan memberikan jaminan tepat waktu dalam pelayanan
pelanggan.
b) Perusahaan memberikan jaminan biaya yang sesuai dengan
pelayanan. - Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi empathy, diantaranya:
a) Pelaku usaha melayani dengan sopan santun dan ramah – tamah.
b) Menghargai setiap pelanggan.
c) Mendahulukan kepentingan pelanggan. - Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi tangibles, diantara:
a) Penggunaan alat bantu dalam pelayanan.
b) Penampilan dalam melayani pelanggan.
c) Kemudahan akses pelanggan dalam permohonan pelayanan
Dimensi Kualitas Pelayanan
Lima dimensi utama yang menentukan tingkat kepuasan konsumen
serta kualitas jasa suatu perusahaan (Ratih, 2020):
- Reliability (keandalan) adalah kemampuan perusahaan dalam
memberikan layanan bagi pelanggan. Bisa dikatakan, reliability adalah
kebalikan dari tangible, yang mana reliability bersifat abstrak. Karena
reliability berhubungan langsung dengan harapan konsumen. - Responsiveness (daya tanggap) adalah dimensi yang berkaitan dengan
ketanggapan. Yaitu bagaimana perusahaan dapat memberikan layanan
yang responsif terhadap semua keinginan dan kebutuhan pelanggan.
Biasanya, dimensi ini diikuti dengan penyampaian yang runtut namun
mudah dimengerti. - Assurance (kepastian), yaitu kepastian yang didapatkan oleh pelanggan
dari perilaku pelaku bisnis. Contohnya adalah komunikasi yang baik,
pengetahuan yang luas, hingga sikap sopan dan santun kepada
pelanggan. Dengan adanya assurance ini, maka kepercayaan pelanggan
akan meningkat. Karena merasa pelaku bisnis profesional dan
memahami product knowledge dengan baik. - Empathy (empati) di mana empathy berkaitan dengan kepuasan
pelanggan yang erat kaitannya dengan perhatian yang tulus dan dekat
kepada setiap pelanggan. Empathy akan membantu perusahaan untuk
mengetahui kebutuhan serta keinginan dari pelanggan dengan spesifik. - Tangibles (bukti fisik) artinya adalah kemampuan perusahaan dalam
memberikan layanan terbaik bagi pelanggan. Kemampuan ini merupakan
hal yang konkret, artinya dapat dilihat dan dirasakan secara langsung
oleh pelanggan
Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan berarti tingkat layanan yang terkait dengan
harapan dan kebutuhan pelanggan. Yang mana ini berarti bahwa perusahaan
dapat dikatakan mampu menyediakan produk baik barang ataupun jasa, jika
sesuai dengan keinginan pelanggan. Jika pelanggan merasa puas dengan
produk serta pelayanan perusahaan, berarti kualitas pelayanan dikatakan
baik. Kualitas pelayanan dapat dikatakan baik apabila sesuai dengan yang
diharapkan oleh konsumen. Jika sesuai dengan harapan konsumen, berarti
dapat dikategorikan memuaskan. Sementara jika melebihi harapan
konsumen, maka dapat dikatakan sangat memuaskan (Ratih, 2020)
Indikator Kepuasan Pelanggan
Menurut Setyo (2017:758) indikator kepuasan pelanggan yaitu:
- Terpenuhinya harapan pelanggan;
- Selalu mengunakan produk;
- Merekomendasi ke orang lain;
- Kualitas layanan;
- Loyalitas;
- Reputasi yang baik;
- Lokasi
Elemen Yang Menyangkut Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan ditentukan oleh persepsi pelanggan atas performance
produk atau jasa dalam memenuhi harapan pelanggan. Pelanggan merasa puas
apabila harapannya terpenuhi atau akan sangat puas jika harapan pelanggan
terlampui. Menurut Donni Juni Priansa (2017:210) mendefinisikan bahwa
terdapat lima elemen yang menyangkut kepuasan konsumen adalah sebagai
berikut:
- Harapan (Expectations) terhadap suatu barang atau jasa telah dibentuk sebelum
konsumen membeli barang atau jasa tersebut. Pada saat proses pembelian
dilakukan, konsumen berharap bahwa barang atau jasa yang mereka terima
sesuai dengan harapan, keinginan dan keyakinan mereka. Barang/jasa yang
sesuai dengan harapan akan menyebabkan konsumen merasa puas. - Kinerja (Performance) pengalaman konsumen tehadap kinerja aktual barang
atau jasa ketika digunakan tanpa dipengaruhi oleh harapan mereka. Ketika
kinerja aktual barang atau jasa berhasil maka konsumen akan merasa puas. - Perbandingan (Camparison) hal ini dilakukan dengan mebandingkan harapan
kinerja barang atau jasa sebelum membeli dengan persepsi kinerja aktual
barang atau jasa tercsebut. Konsumen akan merasa puas ketika harapan
sebelum pembelian sesuai atau melebihi persepsi mereka terhadap kinerja
aktual produk. - Pengalaman (Experience) harapan konsumen dipengaruhi oleh pengalaman
mereka terhadap penggunaan merek dari barang atau jasa yang berbeda dari
orang lain. - Konfirmasi (Comfirmation) dan dikonfirmasi (Disconfirmation) konfirmasi
atau terkonfirmasi terjadi jika harapan sesuai dengan kinerja produk.
Sebaliknya diskonfirmasi atau tidak terkonfirmasi terjadi ketika harapan lebih
tinggi atau lebih rendah dari kinerja aktual produk. Maka konsumen akan
merasa puas saat terjadi confirmation /disconfirmation.
Faktor-Faktor yang Menentukan Tingkat Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan merupakan penilaian setiap konsumen dengan
membandingkan antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diharapkan. Jika
produk atau jasa yang diberikan oleh perusahaan sesuai dengan ekspetasi
pelanggan maka pelanggan akan merasa puas. Sebaliknya, jika produk atau jasa
yang diberikan oleh perusahaan tidak sesuai dengan ekspetasi pelanggan maka
pelanggan akan merasa kecewa.
Dalam memenuhi kepuasan pelanggan terdapat bebrapa faktor untuk
menentukan tingkat dari kepuasan yang dirasakan pada pelanggan. Menurut
Irawan (2015:37), faktor-faktor pendorong kepuasan pelanggan adalah sebagai
berikut:
- Kualitas produk, pelanggan puas setelah membeli dan menggunakan produk
tersebut ternyata kualitas produknya baik. - Harga Untuk pelanggan yang sensitif, biasanya harga murah adalah sumber
kepuasan yang penting karena pelanggan akan mendapatkan nilai yang tinggi. - Service quality Kepuasan terhadap kualitas Kualitas Pelayanan biasanya sulit
ditiru. Kualitas Kualitas Pelayanan merupakan driver yang mempunyai banyak
dimensi, salah satunya yang populer adalah SERVQUAL. - Emotional factor pelanggan akan merasa puas (bangga) karena adanya
emotional value yang diberikan oleh brand dari produk tersebut. - Biaya dan kemudahan pelanggan akan semakin puas apabila relative mudah,
nyaman dan efisien dalam mendapatkan produk atau Kualitas Pelayanan.
Berikut ini adalah dimensi kepuasan konsumen menurut Fandy Tjiptono
(2015:212), yaitu sebagai berikut: - Tangibles (bukti fisik) Bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang digunakan,
representasi fisik produk atau jasa. - Reliability (keandalan) Kemampuan untuk melaksanakan produk atau jasa
yang dijanjikan tepat dan terpercaya. - Responsiveness (ketanggapan) Kemampuan untuk membantu pelanggan
dengan memberikan produk atau jasa dengan cepat atau ke tanggapan. - Empathy (empati) Syarat untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi
pelanggan
Model Kepuasan Konsumen
Pada umumnya perusahaan melakukan aktivitas bisnis atau tugas pemasaran
dengan menawarkan barang atau jasa dari suatu perusahaannya, untuk
menciptakan sebuah kepuasan bagi konsumen maupun pelanggannya. Dengan hal
ini para peneliti sebelumnya berupaya untuk menyusun kerangka secara teoritis
untuk menjelaskan mengenai faktor yang menentukan proses pembentukan dan
konsekuensi dari kepuasan itu sendiri. Fandy Tjiptono (2015:298) menyatakan
bahwa kepuasan konsumen didasarkan pada tiga teori utama yaitu :
- Contrast Theory berasumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja
produk aktual dengan ekspektasi para-pembelian. Apabila kinerja aktual lebih
besar atau sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas. Sebaliknya jika
kinerja aktual lebih rendah dibandingkan ekspektasi maka konsumen akan
tidak puas. - Assimiliation Theory menyatakan bahwa evaluasi purna beli merupakan fungsi
positif dari ekspektasi konsumen pra-pembelian. Karena proses dikonfirmasi
secara psikologis tidak enak dilakukan konsumen cenderung secara perceptual
mendistori perbedaan antara ekpektasi dan kinerjanya kearah ekspektasi awal.
Dengan kata lain penyimpangan dari ekspektasinya cenderung akan diterima
oleh konsumen yang bersangkutan. - Assimilation – contrast Theory beranggapan bahwa terjadinya efek asimilasi
(assilation effect) atau efek kontras (Contras effect) merupakan fungsi dari
tingkat kesenjangan antara kinerja yang diharapkan dan kinerja actual. Apabila
kesenjangan besar, konsumen akan memperbesar gap tersebut, sehingga
produk dipersepsikan jauh lebih bagus atau buruk dibandingkan dengan
kenyataannya (sebagaimana halnya contrast theory). Namun jika kesenjangan
tidak terlampau besar, assimilation theory yang berlalu. Dengan kata lain, jika
rentang deviasi yang bias diterima (acceptable deviations) dilewati, maka
kesenjangan antara ekspektasi dan kinerja akan menjadi signifikan dan
disitulah efek kontras berlaku
Pengertian Kepuasan Pelanggan
kepuasan konsumen adalah respon emosional terhadap pengalaman-
pengalaman berkaitan dengan produk atau jasa tertentu yang dibeli, gerai ritel,
atau bahkan pola perilaku (seperti perilaku belanja dan perilaku pembeli), serta
pasar secara keseluruhan. Respon emosional dipicu oleh proses evakuasi kognitif
yang membandingkan persepsi (atau keyakinan) terhadap objek, tindakan atau
kondisi tertentu dengan nilai-nilai (atau kebutuhan, keinginan dan hasrat)
individual. Menurut Tjiptono (2015:146), “kepuasan pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara
persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan harapan-harapannya”.
Menurut Danang Sunyoto (2015:140). Kepuasan konsumen merupakan salah satu
alasan dimana konsumen memutuskan untuk berbelanja pada suatu tempat.
Apabila konsumen merasa puas dengan suatu produk, mereka cenderung akan
terus membeli dan menggunakannya serta memberitahukan orang lain tentang
pengalaman mereka yang menyenangkan dengan produk tersebut. Sedangkan
menurut Kotler dan Amstrong (2018:39) kepuasan pelanggan merupakan salah
satu pendorong utama yang menhubungkan antara perusahaan dan pelanggan
dalam jangka panjang. Jika berbicara tentang kepuasan atau ketidakpuasan, terdiri
dari perasaan senang tertentu atau kecewa yang berasal dari perbandingan antara
kinerja suatu produk dengan keinginan pribadi. Menurut Andi Riyanto (2018:118)
kepuasan pelanggan adalah perbandingan kualitas layanan yang dialami
pelanggan, yang diharapkan pelanggan apabila kualitas yang dialami oleh
pelanggan lebih rendah yang diharapkan, maka akan terjadi ketidakpuasan.
pelanggan sesuai yang diharapkan, pelanggan akan puas, dan apabila kualitas
Kualitas Pelayanan lebih apa yang diharapkan, pelanggan akan sangat puas.
Hubungan Price Discount Terhadap Kepuasan Pelanggan
Konsumen memiliki persepsinya sendiri terhadap discount.Bagaimana
konsumen memandang harga (tinggi, rendah, dan wajar) mempunyai pengaruh
yang kuat terhadap maksud membeli dan kepuasan membeli. Menurut Putri dan
Edwar (2015:57) price discount merupakan penghematan yang ditawarkan pada
konsumen dari harga normal akan suatu produk, yang tertera di label atau
kemasan produk tersebut. Price discount memberikan beberapa keuntungan
diantaranya: dapat memicu konsumen untuk membeli dalam jumlah yang banyak,
mengantisipasi promosi pesaing, dan mendukung perdagangan dalam jumlah yang
lebih besar. Memberikan contoh suatu kasus yakni saat konsumen sedang melihat-
lihat di toko ritel, serta tak memiliki maksud guna membeli, secara tiba-tiba
konsumen itu memandang barang tertentu yang tengah berada pada diskon yang
cukuplah besar. Dan secara tak sengaja brand barang tersebut merupakan brand
yang digemari. Ketika hal itu berlangsung, konsumen memberikan keputusan
untuk melaksanakan pembelian barang tersebut. Berdasarkan contoh kasus itu,
brand atau merek barang/produk yang memiliki potongan harga yang sama seperti
kemauan konsumen akibatnya memunculkan dorongan guna membeli dan
menimbulkan rasa puas pada pelanggan. Begitu juga yang terjadi pada industri
perhotelan dan industri lainnya. Yudi Abdalah (2016) didalam penelitian ini
menunjukan bahwa variabel potongan harga berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen. Hal ini berarti bahwa pengguna sangat mementingkan
potongan harga karena menimbulkan rasa puas terhadap perusahaan tersebut
Indikator Price Discount
Menurut Wahyudi (2017:284), indikator dari Price Discount antara lain:
1) Frekuensi Diskon: Frekuensi diskon mengacu pada seberapa sering pemasar
dalam suatu gerai ritel melakukan potongan harga terhadap produk yang
ditawarkannya.
2) Besaran Diskon: Besaran diskon merupakan seberapa besar diskon yang
ditawarkan oleh pemasar terhadap produk yang ditawarkan kepada
konsumennya, yang dapat dilihat dari presentase misalnya 30%, 50% dll.
3) Waktu Pemberian Diskon: Waktu pemberian diskon merujuk pada kapan saja
waktu yang dipilih pemasar untuk melakukan potongan harga produk yang
ditawarkan kepada para konsumen
Jenis-Jenis Price Discount
Terdapat beberapa jenis price discount, penyesuaian harga yang disebut
diskon dan potongan pembelian yang pertama Menurut Abdullah dan Tantri
(2015:1890) di antaranya adalah:
a. Diskon/potongan kas, diskon kas adalah pengurangan harga kepada konsumen
yang membayar kewajiban mereka dengan tepat waktu.
b. Diskon/potongan jumlah, diskon jumlah adalah pengurangan harga bagi
pembeli dalam jumlah besar (tertentu).
c. Diskon/potongan fungsional, diskon fungsional (juga disebut diskon
perdagangan) ditawarkan oleh produsen kepada anggota saluran perdagangan,
jika mereka akan membentuk fungsi tertentu, seperti penjualan, pertokoan, dan
penyimpanan. Produsen dapat menawarkan diskon fungsional yang berbeda
kepada saluran perdagangan yang berbeda karena fungsi-fungsi mereka yang
yang yang bermacam-macam, tetapi produsen harus menawarkan diskon
fungsional yang sama kepada setiap saluran perdagangan.
d. Diskon/potongan musiman, diskon musiman adalah pengurangan harga bagi
pembeli yang membeli dagangan atau jasa di luar musimnya. Diskon musiman
memungkinkan penjual untuk mempertahankan produksi yang tetap selama
setahun.
e. Diskon/potongan pembelian, potongan pembelian adalah jenis lain
pengurangan dari harga dasar.
Yang ke dua Jenis-jenis price discount (potongan harga) Menurut Alma
dalam Lestari (2018:132), terdapat dua jenis price discount diantaranya adalah:
a. Rabat, potongan yang diterima berupa pengurangan harga dari daftar harga
yang resmi.
b. Potongan tunai, pengurangan harga kepada pembeli yang membayar tagihan
mereka lebih awal. Metode potongan ini diberikan berdasarkan pertimbangan
pertimbangan, jumlah pembelian, prosedur pembayaran dan juga tergantung
pada taktik promosi produsen atau penjual. Meskipun potongan harga
merupakan salah satu strategi dalam penetapan harga untuk menarik perhatian
konsumen, tetapi potongan harga secara langsung memberikan dampak positif
terhadap konsumen yang berpendapatan rendah.
Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan jenis-jenis price discount,
diantaranya adalah:
- Potongan pembelian, potongan yang diterima berupa pengurangan harga dari
daftar harga resmi atau harga awal. - Potongan tunai/ kas, pengurangan harga kepada pembeli yang membayar
tagihan mereka lebih awal atau tepat waktu. Metode potongan ini diberikan
berdasarkan pertimbangan pertimbangan, jumlah pembelian, prosedur
pembayaran dan juga tergantung pada taktik promosi produsen atau penjual. - Diskon/potongan jumlah, diskon jumlah adalah pengurangan harga bagi
pembeli dalam jumlah besar (tertentu).
Tujuan Price Discount
Price discount mempunyai tujuan bagi perusahaan, berikut adalah beberapa
tujuan price discount menurut para ahli. Tujuan diadakannya diskon harga
menurut Nitisemito (dalam Brian, 2016:21) adalah:
a. Mendorong pembeli untuk membeli dalam jumlah yang besar sehingga volume
penjualan diharapkan akan bisa naik. Pemberian potongan harga akan
berdampak terhadap konsumen, terutama dalam pola pembelian konsumen
yang akhirnya juga berdampak terhadap volume penjualan yang diperoleh
perusahaan.
b. Pembelian dapat dipusatkan perhatiannya pada penjual tersebut, sehingga hal
ini dapat menambah atau mempertahankan langganan penjual yang
bersangkutan.
c. Merupakan sales service yang dapat menarik terjadinya transaksi pembelian.
Menurut Sutisna dalam Jurnal Nobel (2018:3) tujuan pemberian price
discount (potongan harga) adalah :
- Efektifitas discount, mengetahui seberapa besar dampak dari price discount
yang dibeikan kepada konsumen - Meningkatkan kuantitas pembelian, dengan diberikannya discount dapat
mempengaruhi jumlah barang yang akan dibeli oleh konsumen - Harga, adanya discount yang diberikan secara langsung dapat mengurangi
jumlah pengeluaran konsumen. - Mengikat pelanggan agar tidak berpindah tempat
- Mendorong pembelian dilakukan dengan kontan atau waktu yang pendek.
Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari price
discount adalah: - Mendorong pembeli untuk membeli dalam jumlah yang besar sehingga volume
penjualan diharapkan akan bisa naik. Pemberian potongan harga akan
berdampak terhadap konsumen, terutama dalam pola pembelian konsumen
yang akhirnya juga berdampak terhadap volume penjualan yang diperoleh
perusahaan. - Mengikat pelanggan agar tidak berpindah tempat.
- Mendorong pembelian dilakukan dengan kontan atau waktu yang pendek.
Jenis-Jenis Price Discount
Terdapat beberapa jenis price discount, penyesuaian harga yang disebut
diskon dan potongan pembelian yang pertama Menurut Abdullah dan Tantri
(2015:1890) di antaranya adalah:
a. Diskon/potongan kas, diskon kas adalah pengurangan harga kepada konsumen
yang membayar kewajiban mereka dengan tepat waktu.
b. Diskon/potongan jumlah, diskon jumlah adalah pengurangan harga bagi
pembeli dalam jumlah besar (tertentu).
c. Diskon/potongan fungsional, diskon fungsional (juga disebut diskon
perdagangan) ditawarkan oleh produsen kepada anggota saluran perdagangan,
jika mereka akan membentuk fungsi tertentu, seperti penjualan, pertokoan, dan
penyimpanan. Produsen dapat menawarkan diskon fungsional yang berbeda
kepada saluran perdagangan yang berbeda karena fungsi-fungsi mereka yang
yang yang bermacam-macam, tetapi produsen harus menawarkan diskon
fungsional yang sama kepada setiap saluran perdagangan.
d. Diskon/potongan musiman, diskon musiman adalah pengurangan harga bagi
pembeli yang membeli dagangan atau jasa di luar musimnya. Diskon musiman
memungkinkan penjual untuk mempertahankan produksi yang tetap selama
setahun.
e. Diskon/potongan pembelian, potongan pembelian adalah jenis lain
pengurangan dari harga dasar.
Yang ke dua Jenis-jenis price discount (potongan harga) Menurut Alma
dalam Lestari (2018:132), terdapat dua jenis price discount diantaranya adalah:
a. Rabat, potongan yang diterima berupa pengurangan harga dari daftar harga
yang resmi.
b. Potongan tunai, pengurangan harga kepada pembeli yang membayar tagihan
mereka lebih awal. Metode potongan ini diberikan berdasarkan pertimbangan
pertimbangan, jumlah pembelian, prosedur pembayaran dan juga tergantung
pada taktik promosi produsen atau penjual. Meskipun potongan harga
merupakan salah satu strategi dalam penetapan harga untuk menarik perhatian
konsumen, tetapi potongan harga secara langsung memberikan dampak positif
terhadap konsumen yang berpendapatan rendah.
Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan jenis-jenis price discount,
diantaranya adalah:
- Potongan pembelian, potongan yang diterima berupa pengurangan harga dari
daftar harga resmi atau harga awal. - Potongan tunai/ kas, pengurangan harga kepada pembeli yang membayar
tagihan mereka lebih awal atau tepat waktu. Metode potongan ini diberikan
berdasarkan pertimbangan pertimbangan, jumlah pembelian, prosedur
pembayaran dan juga tergantung pada taktik promosi produsen atau penjual. - Diskon/potongan jumlah, diskon jumlah adalah pengurangan harga bagi
pembeli dalam jumlah besar (tertentu)
Pengertian Price Discount
Potongan harga sering sekali ditemukan dalam proses transaksi jual beli
maupun dalam menentukan pemakaian jasa. Kebanyakan bertujuan untuk
meningkatkan minat beli dari para konsumen. Hal ini terjadi karena dengan
adanya diskon konsumen akan tertarik untuk membelanjakan uangnya pada
produk atau jasa yang menawarkan diskon. Price Discount menurut Abdullah
dan Francis (2015:189) memberikan hadiah kepada konsumen atas pembayaran
awal, volume pembelian, dan pembelian di waktu luar musim dengan mengubah
harga dasar suatu produk. Menurut Tjiptono (2015:229) Potongan harga/diskon
merupakan salah satu jenis dari promosi penjualan. Potongan harga adalah
pengurangan produk dari harga normal dalam periode tertentu. Sedangkan
promosi penjualan adalah bentuk persuasi langsung melalui penggunaan berbagai
insentif yang dapat diatur untuk merangsang pembelian produk dengan secara
dan/atau meningkatkan jumlah barang yang dibeli pelanggan. Sedangkan Menurut
Kotler dan Keller (2016:84) price discount merupakan penghematan yang
ditawarkan pada konsumen dari harga normal akan suatu produk, yang tertera di
label atau kemasan produk tersebut. Menurut Machfoedz dalam Lesrtari
(2018:131) potongan harga (Price Discount) adalah potongan harga yang
menarik, sehingga harga sesungguhnya lebih rendah dari harga umum
Hubungan Kualitas Kualitas Pelayanan Terhadap KepuasanPelanggan
Kualitas Kualitas Pelayanan memiliki peran penting dalam menciptakan
kepuasan pelanggan. Persepsi pelanggan mengenai Kualitas Pelayanan
perusahaan baik atau tidaknya tergantung antara kesesuaian dan keinginan
Kualitas Pelayanan yang diperolehnya. Perusahaan penyedia jasa, Kualitas
Pelayanan yang diberikan menjadi suatu tolak ukur kepuasan pelanggan. Bila
kualitas Kualitas Pelayanan jasa yang dirasakan lebih kecil dari pada yang
diharapkan maka pelanggan akan merasa kecewa dan tidak puas bahkan memberi
dampak negatif lainnya pada perusahaan. Fandy Tjiptono (2015:125) menyatakan
dengan indeks kepuasan kualitas konsumen yang diukur dalam ukuran apapun
dengan dimensi kualitas Kualitas Pelayanan yaitu tangible, empathy, reliability,
responsiveness dan assurance memiliki pengaruh terhadap kepuasan konsumen.
Pengaruh antara kualitas Kualitas Pelayanan dengan kepuasan konsumen
diperkuat oleh jurnal Wayan Widya Suryadharma dan Ketut Nurcahya (2015)
yang menunjukan bahwa secara simultan variabel kualitas Kualitas Pelayanan
berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan.
Indikator Kualitas Pelayanan
Menurut Fitzsimmons dalam Zaenal Mukarom dan Muhibudin (2015:108)
mengemukakan lima indikator Kualitas Pelayanan yaitu :
- Reliability yang ditandai dengan pemberian Kualitas Pelayanan yang tepat dan
benar. - Tangibles yang ditandai dengan penyediaan yang memadai sumber daya
lainnya. - Responsiveness ditandai dengan keinginan melayani konsumen dengan cepat.
- Assurance yang ditandai tingkat perhatian terhadap etika dan moral dalam
memberikan Kualitas Pelayanan. - Empati yang ditandai tingkat kemauan untuk mengetahui keinginan dan
kebutuhan konsumen
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Kualitas Pelayanan
Kualitas Kualitas Pelayanan merupakan faktor yang sangat penting
khususnya bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa. Aplikasi kualitas
Kualitas Pelayanan sebagai sifat dari penampilan produk atau kinerja merupakan
bagian dari strategi perusahaan dalam rangka meraih keunggulan yang
berkesinambungan, baik sebagai pemimpin pasar maupun strategi untuk terus
tumbuh. Faktor penyebab buruknya kualitas Kualitas Pelayanan menurut Fandy
Tjiptono (2015:178), faktor penyebab buruknya kualitas Kualitas Pelayanan
adalah sebagai berikut :
- Produksi dan konsumsi yang terjadi secara simultan salah satu karakteristik
unik jasa atau layanan adalah inseparability (tidak dapat dipisahkan), artinya
jasa diproduksi dan dikonsumsi pada saat bersamaan. Hal ini kerapkali
membutuhkan kehadiran dan partisipasi pelanggan dalam proses penyampaian
jasa. Konsekuensinya, berbagai macam persoalan sehubungan dengan interaksi
antara penyedia layanan dan pelanggan bisa saja terjadi. Beberapa kelemahan
yang mungkin ada pada karyawan jasa dan mungkin berdampak negatif
terhadap persepsi kualitas meliputi :
a. Tidak terampil dalam melayani pelanggan;
b. Cara berpakaian karyawan yang kurang sesuai konteks;
c. Tutur kata karyawan kurang sopan;
d. Bau badan karyawan mengganggu kenyamanan pelanggan;
e. Mimik muka karyawan selalu cemberut. - Intensitas tenaga kerja yang tinggi keterlibatan karyawan secara insentif dalam
penyampaian layanan dapat pula menimbulkan masalah kualitas yaitu berupa
tingginya variabilitas yang dihasilkan. Faktor-faktor yang biasa
mempengaruhinya antara lain :
a. Upah rendah (umumnya karyawan yang melayani atau berinteraksi langsung
dengan pelanggan memiliki tingkat pendidikan dan upah yang paling rendah
dalam suatu perusahaan);
b. Pelatihan yang kurang memadai atau bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan
organisasi;
c. Tingkat perputaran karyawan terlalu tinggi;
d. Motivasi kerja karyawan rendah. - Dukungan terhadap pelanggan internal kurang memadai Karyawan front line
merupakan ujung tombak sistem penyampaian layanan. Dalam banyak kasus,
keramahan dan kesopanan operator telepon dan satpam bisa jadi memberikan
kesan pertama bagi calon pelanggan yang ingin berhubungan dengan sebuah
perusahaan penyedia jasa. Agar para karyawan front line mampu melayani
pelanggan secara efektif, mereka membutuhkan dukungan dari fungsi-fungsi
utama manajemen (operasi, pemasaran, keuangan, dan SDM). Dukungan
tersebut bisa juga berupa peralatan (perkakas, material, pakaian, seragam),
pelatihan keterampilan maupun informasi (misalnya, prosedur operasi). - Gap komunikasi, bila terjadi gap komunikasi, maka bisa timbul penilaian atau
persepsi negatif terhadap kualitas layanan. Gap-gap komunikasi bisa berupa :
a. Penyedia layanan memberikan janji berlebihan, sehingga tidak mampu
memenuhinya.
b. Penyedia layanan tidak bisa selalu menyajikan informasi terbaru kepada
para pelanggan.
c. Pesan komunikasi penyedia layanan tidak dipahami pelanggan.
d. Penyedia layanan tidak memperhatikan atau tidak segera menindaklanjuti
keluhan atau saran pelanggan. - Memperlakukan semua pelanggan dengan cara yang sama dalam hal interaksi
dengan penyedia layanan, tidak semua pelanggan bersedia menerima layanan
yang seragam, sering terjadi ada pelanggan yang menginginkan atau bahkan
menuntut layanan yang sifatnya personal dan berbeda dengan pelanggan lain.
Hal ini memunculkan tantangan bagi penyedia layanan dalam hal individual
dan memahami perasaan pelanggan terhadap penyedia layanan dan layanan
spesifik yang mereka terima. - Perluasan atau pengembangan layanan secara berlebihan bila terlampau banyak
layanan baru dan tambahan terhadap layanan yang sudah ada, hasil yang
didapatkan belum tentu optimal, bahkan tidak tertutup kemungkinan timbul
masalah-masalah seputar standar kualitas layanan. Selain itu, pelanggan juga
bisa bingung membedakan variasi penawaran layanan baik dari segi fitur,
keunggulan maupun tingkat kualitasnya. - Visi bisnis jangka pendek (misalnya orientasi pencapaian target penjualan dan
laba tahunan, penghematan biaya sebesar-besarnya, peningkatan produktivitas
tahunan, dll) bisa merusak kualitas layanan yang sedang dibentuk untuk jangka
panjang. Sedangkan Christian Gronroos dalam Rolando (2018:56)
mengemukakan bahwa terdapat 4 faktor yang mempengaruhi kualitas Kualitas
Pelayanan yaitu: 1. Menjaga dan memperhatikan, bahwa pelanggan akan
merasakan kepuasan Kualitas Pelayanan karyawan dan sistem operasional yang
ada dapat menyelesaikan problem mereka. 2. Spontanitas, dimana karyawan
menunjukan keinganan untuk menyelesaikan masalah pelanggan. 3.
Penyelesaian masalah, karyawan yang berhubungan langsung dengan
pelanggan harus memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas berdasarkan
standar yang ada, termasuk pelatihan yang diberikan untuk dapat memberikan
Kualitas Pelayanan yang lebih baik. 4. Perbaikan, apabila terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan harus mempunyai personil yang dapat menyiapkan usaha-
usaha khusus untuk dapat mengatasi kondisi tersebut
Prinsip – Prinsip Kualitas Kualitas Pelayanan
Kualitas Pelayanan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak
perusahaan berupa hal yang tidak berwujud namun dapat dirasakan oleh
konsumen. Pengukuran Kualitas Pelayanan dapat dilihat dari terhadap suatu
layanan yang telah diterima oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan harapannya.
Dalam memberikan Kualitas Pelayanan perusahaan juga harus memiliki
prinsip untuk mewujudkannya, ada enam pokok prinsip pokok dalam kualitas
Kualitas Pelayanan menurut Tjiptono dan Chandra (2016:141), yaitu :
1) Kepemimpinan Strategi kualitas perusahaan harus merupakan inisiatif dan
komitmen manajemen puncak. Manajemen puncak harus memimpin
perusahaanya untuk meningkatkan kualitas hanya berdampak kecil terhadap
perusahaannya.
2) Pendidikan Semua personil perusahan dari manajer puncak sampai karyawan
operasional harus memperoleh pendidikan mengenai kualitas. Aspek-aspek
yang perlu mendapat penekanan dalam pndidikan tersebut meliputi konsep
kualitas sebagai strategi bisnis, alat dan teknis implementasi strategi kualitas,
dan peranan eksekutif dalam implementasi strategi kualitas.
3) Perencanaan Proses perencanaan strategi harus mencakup pengukuran dan
tujuan kualitas yang dipergunakan dalam mengarahkan perusahaan untuk
mencapai visinya.
4) Review Proses review merupakan satu-satunya alat yang paling efektif bagi
manajemen untuk mengubah perilaku organisasional. Proses ini merupakan
suatu mekanisme yang menjamin adanya konstan untuk mencapai tujuan
kualitas.
5) Komunikasi Implementasi strategi kualitas dalam organisasi dipengaruhi oleh
proses komunikasi dalam perusahaan. Komunikasi harus dilakukan oleh
karyawan, pelanggan, dan stakeholder perusahaan lainnya. Seperti pemasok,
pemegang saham, pemerintah, masyarakat umum, dan lain-lain.
6) Penghargaan dan pengakuan Penghargaan dan pengakuan merupakan aspek
yang penting dalam implementasi strategi kualitas. Setiap karyawan yang
berprestasi baik perlu diberikan penghargaan dan prestasinya tersebut diakui.
Dengan demikian diberikan penghargaan dan prestasinya tersebut diakui.
Dengan demikian dapat meningkatkan motivasi, moral kerja, rasa bangga, rasa
kepemilikan setiap orang dalam organisasi, yang pada akhirnya dapat
memberikan konstribusi besar bagi perusahaan dan bagi pelanggan yang
dilayani
Pengertian Kualitas Kualitas Pelayanan
Sudah menjadi keharusan perusahaan melakukan kualitas Kualitas
Pelayanan yang terbaik supaya mampu bertahan dan tetap menjadi kepercayaan
pelanggan. Terciptanya Kepuasan Pelanggan dapat memberikan manfaat
diantaranya hubungan antara Perusahaan dan Pelanggan menjadi harmonis,
Pelanggan akan melakukan pembelian ulang hingga terciptanya loyaitas
Pelanggan, dan membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word of
mouth) yang menguntungkan Perusahaan. Menurut Arianto (2018:83) kualitas
Kualitas Pelayanan dapat diartikan sebagai berfokus pada memenuhi kebutuhan
dan persyaratan, serta pada ketepatan waktu untuk memenuhi harapan pelanggan.
Kualitas Pelayanan berlaku untuk semua jenis layanan yang disediakan oleh
perusahaan saat klien berada di perusahaan. Menurut Kotler dan Keller
(2016:143) “kualitas adalah kelengkapan fitur suatu produk atau jasa yang
memiliki kemampuan untuk memberikan kepuasan terhadap suatu kebutuhan”.
Menurut Kasmir (2017:47) kualitas Kualitas Pelayanan di definisikan sebagai
tindakan atau perbuatan seorang atau organisasi bertujuan untuk memberikan
kepuasan kepada pelanggan ataupun karyawan. Sedangkan menurut Aria dan Atik
(2018:16) kualitas Kualitas Pelayanan merupakan komponen penting yang
harus diperhatikan dalam memberikan Kualitas Pelayanan prima. Kualitas
Kualitas Pelayanan dmerupakan titik sentral bagi perusahaan karena
mempengaruhi kepuasan konsumen dan kepuasan konsumen akan muncul
apabila kualitas Kualitas Pelayanan yang diberikan dengan baik.
Definisi Kepuasan Konsumen
Kepuasan Konsumen Menurut Tjiptono (2009:195), kepuasan atau
satisfaction berasal dari bahasa latin “statis” yang berarti cukup baik atau
memadai dan “facio” (melakukan atau membuat) sehingga secara sederhana
kepuasan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu
yang memadai. Sedangkan konsumen menurut Webster’s Dictionary dalam buku
Lupiyoadi (2013:211) mendefinisikan konsumen sebagai seorang individu atau
kelompok yang berulang kali datang ke tempat yang sama untuk memuaskan
keinginannya dengan memiliki suatu produk atau mendapatkan suatu jasa dan
memuaskan produk atau jasa tersebut.
Dalam menentukan tingkat kepuasan, seorang konsumen sering kali melihat
dari nilai lebih suatu produk dan kinerja pelayanan yang diterima dari suatu proses
pembelian produk atau jasa. Pencarian nilai oleh konsumen terhadap produk atau
jasa perusahaan kemudian menimbulkan teori yang disebut dengan nilai yang
diterima konsumen (customer value delivered), yaitu besarnya selisih nilai yang
diberikan oleh konsumen terhadap produk atau jasa perusahaan yang ditawarkan
kepadanya dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen untuk
memperoleh produk atau jasa tersebut (Lupiyoadi, 2013:212)
Indikator Kepercayaan
Dalam penelitian ini kepercayaan dinilai berdasarkan berikut ini.
a. Kepercayaan terhadap layanan petugas
b. Kepercayaan terhadap fasilitas Hotel
c. Kepercayaan terhadap hotel
(Moorman et. al, 1992 dalam Gatot Yulianto dan Purwanto Waluyo, 2004:359)
Dimensi Kepercayaan
Menurut Mayer et al. (1995) faktor yang membentuk kepercayaan seseorang
terhadap yang lain ada tiga yaitu kemampuan (ability), kebaikan hati
(benevolence), dan integritas (integrity). Ketiga faktor tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
- Kemampuan (Ability)
Kemampuan mengacu pada kompetensi dan karakteristik penjual/ organisasi
dalam mempengaruhi dan mengotorisasi wilayah yang spesifik. Dalam hal ini,
bagaimana penjual mampu menyediakan, melayani, sampai mengamankan
transaksi dari gangguan pihak lain. Artinya bahwa konsumen memperoleh
jaminan kepuasan dan keamanan dari penjual dalam melakukan transaksi. Kim et
al. (2003) menyatakan bahwa ability meliputi kompetensi, pengalaman,
pengesahan institusional dan kemampuam dalam ilmu pengetahuan. - Kebaikan hati (Benevolence)
Kebaikan hati merupakan kemauan penjual dalam memberikan kepuasan yang
saling menguntungkan antara dirinya dengan konsumen. Profit yang diperoleh
penjual dapat dimaksimumkan, tetapi kepuasan konsumen juga tinggi. Penjual
bukan semata-mata mengejar profit maksimum semata, melainkan juga memiliki
perhatian yang besar dalam mewujudkan kepuasan konsumen. Menurut Kim et al.
(2003), benevolence meliputi perhatian, empati, keyakinan, dan daya terima. - Integritas (Integrity)
Integritas berkaitan dengan bagaimana perilaku atau kebiasaan penjual dalam
menjalankan bisnisnya. Informasi yang diberikan kepada konsumen apakah benar
sesuai dengan fakta atau tidak. Kualitas produk yang dijual apakah dapat
dipercaya atau tidak. Kim et al. (2003) mengemukakan bahwa integrity dapat
dilihat dari sudut kewajaran (fairness), pemenuhan (fulfillment), kesetiaan
(loyalty), keterus-terangan (honestly), keterkaitan (dependability), dan kehandalan
(reliabilty)
Definisi Kepercayaan
Kepercayaan, Seperti yang dikutip Ishak dan Zhafitri (2011) menyatakan
kepercayaan adalah kesediaan untuk bergantung kepada pihak lain yang telah
dipercaya. Menurut Sunarto (2004) Kepercayaan konsumen adalah semua
pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat
konsumen tentang objek, atribut, dan manfaatnya. Objek dapat berupa Pengaruh
Kepuasan dan Kepercayaan, produk, orang, perusahaan, dan segala sesuatu,
dimana seseorang memiliki kepercayaan dan sikap. Sedangkan Atribut adalah
karakteristik atau fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh objek.
Sedangkan Manfaat (Benifits) adalah hasil positif yang diberikan atribut kepada
konsumen.
Para manajer harus menyadari bahwa kepercayaan terhadap objek, atribut,
dan manfaat menunjukkan persepsi konsumen, dan karena itu, umumya
kepercayaan seorang konsumen berbeda dengan konsumen lainnya. Barnes
(2008:149) menyatakan bahwa ada beberapa elemen penting dari kepercayaan,
yaitu:
a) Kepercayaan merupakan perkembangan dan pengalaman dan tindakan masa
lalu.
b) Watak yang diharapkan dari partner, seperti dapat dipercaya dan dapat
diandalkan.
c) Kepercayaan melibatkan kesediaan untuk menempatkan diri dalam resiko.
d) Kepercayaan melibatkan perasaan aman dan yakin pada diri partner.
Lita (2009:72) menjelaskan beberapa manfaat dari adanya kepercayaan,
antara lain:
a) Kepercayaan dapat mendorong pemasar untuk berusaha menjaga hubungan
yang terjalin dengan bekerjasama dengan rekan perdagangan.
b) Kepercayaan menolak pilihan jangka pendek dan lebih memilih keuntungan
jangka panjang yang diharapkan dengan mempertahankan rekan yang ada.
c) Kepercayaan dapat mendorong pemasar untuk memandang sikap yang
mendatangkan risiko besar dengan bijaksana karena percaya bahwa rekannya
tidak akan mengambil kesempatan yang dapat merugikan pemasar.
Dimensi Kualitas Pelayanan
Menurut Tjiptono (2008, p.30) Ada empat karakteristik jasa/ layanan yang
membedakannya dari barang yaitu:
1) Intangibility (tidak berwujud). Jasa berbeda dengan barang. Jika barang
merupakan suatu objek, alat, atau benda, maka jasa adalah suatu perbuatan,
kinerja, atau usaha. Konsep intangible pada jasa memiliki dua pengertian,
yaitu:
a) Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa
b) Sesuatu yang tidak dapat dengan mudah didefinisikan, diformulasikan,
atau dipahami secara rohani.
- Inseparability (tidak terpisah antara produksi dan konsumsi). Barang
biasanya diproduksi, kemudian dijual lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa,
umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi
secara bersamaan. - Variability (outputnya tidak terstandar). Jasa bersifat sangat variabel yang
memiliki banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenis, tergantung pada siapa,
kapan, dan dimana saja jasa tersebut dihasilkan. Para konsumen sangat peduli
akan variability yang tinggi dan seringkali mereka meminta pendapat kepada
orang lain sebelum memutuskan untuk memilih. Dalam hal ini, penyedia jasa
dapat melakukan dua tahap dalam pengendalian kualitas, yaitu:
a. Melakukan investasi dalam seleksi pelatihan personil yang baik .
b. Melakukan standarisasi proses pelaksana jasa.
Definisi Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang
diberikan mampu sesuai dengan ekspetasi pelanggan. Kualitas pelayanan bisa
diwujudkan melalui pemenuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan
penyampaian untuk mengimbangi harapan pelanggan menurut Tjiptono
(2007:121).
Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk,
jasa, manusia, proses, lingkungan yang memenuhi melebihi harapan menurut
Fandy Tjiptono (2008). Menurut Freddy Rangkuti (2009), tingkat kualitas
pelayanan tidak dapat dinilai berdasarkan sudut pandang perusahaan tetapi harus
dipandang dari sudut pandang penilaian pelanggan. Karena itu, dalam
merumuskan strategi dan program pelayanan, perusahaan harus berorientasi
kepada kepentingan pelanggan dengan memperhatikan komponen kualitas
pelayanan.
Menurut Tjiptono (2011) kualitas jasa merupakan sesuatu yang dipersepsikan
oleh pelanggan. Pelanggan akan menilai kualitas sebuah jasa yang dirasakan
berdasarkan apa yang mereka deskripsikan dalam benak mereka. Pelanggan akan
beralih ke penyedia jasa lain yang lebih mampu memahami kebutuhan spesifik
pelanggan dan memberikan layanan yang lebih baik. Kualitas yang rendah akan
menimbulkan ketidakpuasan pada pelanggan, tidak hanya pelanggan yang makan
di restoran tersebut tapi juga berdampak pada orang lain. Karena pelanggan yang
kecewa akan bercerita paling sedikit kepada lima belas orang lainnya.
Dampaknya, calon pelanggan akan menjatuhkan pilihannya kepada pesaing
(Lupiyoadi dan Hamdani,2006).
Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasaan Pelanggan
Hubungan antara kualitas pelayanan dan kepuasan secara luas
didokumentasikan dalam literatur terutama pemasaran, hubungan tersebut secara
teoritismaupun empiris adalah positif seperti yang telah diteliti oleh Wijayanti
(2016). Secara teoritis ketika pelayanan yang diberikan mampu memenuhi atau
melampauipengharapan atau ekpetasi pelanggan maka pelanggantersebut merasa
puas Parasuraman et al (1988). Secara empiris banyak penelitian dengan latar
belakang sampel yang berbeda-beda telah membuktikan bahwa kualitas
pelayanan mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan seperti
yang diungkapkan oleh dan Wellyan (2017) juga mengungkap kan hal serupa yakni kualitas pelayanan yang dilihat daril ima dimensi : tangible, reliability,
responsiveness, assurance, emphaty memiliki dampak positif bagi kepuasan
pelanggan.
Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan dalam rangka pengaturan,
pembinaan, bimbingan, penyediaan fasilitas, jasa dan lainnya yang dilaksanakan
oleh aparatur pemerintah sebagai upaya pemenuhan kebutuhan kepada masyarakat
sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku (UU No. 25 Tahun 2009
tentang Pelayanan Publik)
Kualitas Pelayanan Publik
Pemberian pelayanan yang baik merupakan salah satu upaya perusahaan
untuk menciptakan kepuasan bagi konsumennya. Jika konsumen merasa telah
mendapatkan pelayanan yang baik berarti perusahaan mampu memberikan
pelayanan yang baik. Demikian pula sebaliknya, pelayanan tidak dapat diuraikan
secara objektif seperti sebuah produk, melainkan merupakan interaksi sosial
dengan subjektivitas yang lebih tergantung pada nilai, parasaan dan perilaku.
Pelayanan yang berkualitas itu tidak hanya ditentukan oleh pihak yang
melayani, tetapi juga pihak yang ingin dipuaskan. Dan yang menjadi prinsip-
prinsip layanan yang berkualitas menurut H.A.S. Moenir (2002:205) antara lain :
a. Proses dan prosedur harus ditetapkan lebih awal.
b. Proses dan prosedur itu harus diketahui oleh semua pihak yang terlibat.
c. Disiplin bagi pelaksanaan untuk mentaati proses dan prosedur
d. Perlu peninjauan proses dan prosedur oleh pimpinan, sewaktu-waktu dapat
dirubah apabila perlu.
e. Perlu menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembang budaya
organisasi untuk menciptakan kualitas layanan.
f. Kualitas berarti memenuhi keinginan, kebutuhan dan selera konsumen.
g. Setiap orang dalam organisasi merupakan partner dengan orang lainnya.
Penyelenggaraan Pelayanan Publik
Kegiatan pelayanan publik diselenggarakan oleh instansi pemerintah yang
merupakan sebutan kolektif meliputi satuan kerja atau satuan orang kementrian,
departemen, lembaga, pemerintahan non-departemen, dan instansi pemerintah
lainnya, baik pusat maupun daerah termasuk Badan Usaha Milik Daerah.
Sedangakan yang berperan sebagai penerima pelayanan publik adalah orang,
masyarakat, instansi pemerintah dan badan hukum.
Dalam pasal 14 UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
menyatakan penyelenggaran pelayanan publik memiliki beberapa hak sebagai
berikut :
a. Memberikan pelayanan tanpa dihambat pihak lain yang bukan tugasnya
b. Melakukan kerjasama
c. Mempunyai anggaran pembiayaan penyelenggaraan pelayanan publik
d. Melakukan pembelaan terhadap pengaduan dan tuntutan yang tidak sesuai
dengan kenyataan dalam penyelenggaraan pelayanan publik, dan
e. Menolak permintaan pelayanan yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan.
Dalam pasal 15 UU No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
menyatakan bahwa penyelenggaraan pelayanan publik berkewajiban sebagai
berikut :
a. Menyusun dan menetapkan standar pelayanan
b. Menyusun, menetapkan, dan mempublikasikan maklumat pelayanan
c. Menempatkan pelaksana yang kompeten
d. Menyediakan sarana, prasarana atau fasilitas pelayanan publik yang
mendukung terciptanya iklim pelayanan yang memadai
e. Memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas-asas
penyelenggaraan pelayanan publik
Faktor Pendukung Pelayanan
Pelayan umum kepeda masyarakat akan dapat berjalan sebagaimana yang
diharapkan, apabila faktor-faktor pendukungnya cukup memadai serta dapat
difungsikan secara berhasil guna dan berdaya guna. Pada proses pelayanan
terdapat faktor penting, dan setiap faktor mempunyai peranan yang berbeda-beda
tetapi saling berpengaruh dan secara bersama-sama akan mewujudkan
pelaksanaan pelayanan yang baik.
H.A.S Moenir (2002:88) berpendapat ada enam faktor pendukung
pelayanan, anatara lain :
a. Faktor kesadaran
Faktor kesadaran ini mengarah pada keadaan jiwa seseorang yang
merupakan titik temu dari beberapa pertimbangan sehingga diperoleh suatu
keyakinan, ketenangan, ketetapan hati dan keseimbangan jiwa.
b. Faktor aturan
Aturan sebagai perangkat penting dalam segala tindakan pekerjaan
seseorang. Oleh karena itu, setiap aturan secara langsung ataupun tidak langsung
akan sangat berpengaruh.
c. Faktor organisasi
Faktor organisasi tidak hanya terdiri dari susunan organisasi tetapi lebih
banyak pada pengaturan mekanisme kerja. d. Faktor pendapatan
Faktor pendapatan yang diterima oleh seseorang merupakan imbalan atas
tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan orang lain. Pendapatan dalam bentuk
uang, iuran atau fasilitas dalam jaka waktu tertentu.
e. Faktor kemampuan
Faktor kemampuan merupakan titik ukur untuk mengetahui sejauh mana
pegawai dapat melakukan suatu pekerjaan sehingga menghasilkan barang atau
jasa sesuai dengan apa yang diharapkan.
f. Faktor sarana pelayanan
Faktor sarana yang dimaksud yaitu segala jenis peralatan, perlengkapan
kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat pendukung utama dalam
mempercepat pelaksanaan penyelesaian pekerjaan
Unsur–unsur Pelayanan
Suatu proses kegiatan pelayanan terdapat beberapa faktor atau unsur yang
saling mendukung jalannya kegiatan. Menurut H.A.S Moenir (2002:8) yang
menjadi unsur-unsur dalam pelayanan adalah :
a. Sistem, prosedur, dan metode.
Dalam pelayanan perlu adanya informasi, prosedur dan metode yang
mendukung kelancaran dalam memberikan pelayanan.
b. Personil
Personil lebih ditekankan pada perilaku aparatur dalam pelayanan.
Aparatur pemerintah selaku personil pelayanan harus profesional, disiplin dan
terbuka terhadap kritik dari pelanggan atau masyarakat.
c. Sarana dan prasarana
Dalam pelayanan diperlukan peralatan dan ruang kerja serta fasilitas
pelayanan. Misalnya seperti ruang tamu, tempat parkir yang memadai dan
sebagainya.
d. Masyarakat sebagai pelanggan
Dalam pelayananya, masyarakat selaku pelanggan sangatlah heterogen
yaitu tingkat pendidikannya maupun perilakunya.
Asas Pelayanan Publik
Untuk dapat memberikan pelayanan yang memuaskan pengguna jasa,
penyelenggaraan pelayanan harus memenuhi asas-asas pelayanan. asas-asas
penyelenggaraan pelayanan publik diatur dalam Pasal 4 Undang-undang Nomor
25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik yang dikutip oleh Eny Kusdarini
(2011:190) yakni yang terdiri dari 12 asas :
a. Asas kepentingan umum
b. Asas kepastian hukum
c. Asas kesamaan hak
d. Keseimbangan hak dan kewajiban
e. Asas keprofesionalan
f. Asas partisipasif
g. Asas persamaan perlakuan/tindak deskriminatif
h. Asas keterbukaan
i. Asas akuntabilitas
j. Asas fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan
k. Asas ketepatan waktu
l. Asas kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan
Publik
Istilah publik berasal dari bahasa inggris dengan kata “public” yang
berarti umum, masyarakat ataupun negara. Menurut Litjan Poltak Sinambella, dkk
(2011:5) Kata publik sebenarnya sudah diterima menjadi bahasa Indonesia baku
menjadi publik yang berarti umum, orang banyak atau ramai. Sedangkan Menurut
Inu Kencana Syafiie, dkk (1999:18) arti dari kata publik itu sendiri adalah
sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap
dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang mereka
miliki.
Pelayanan
Pelayanan merupakan salah satu ujung tombak dari upaya pemuasan
pelanggan dan sudah merupakan keharusan yang wajib dioptimalkan baik oleh
individu maupun organisasi, karena dari bentuk pelayanan yang diberikan
tercermin kualitas individu atau organisasi yang memberikan pelayanan.
Menurut Hardiyansah (2011:11) “Pelayanan dapat diartikan sebagai
aktivitas yang diberikan untuk membantu, menyiapkan, dan mengurus baik itu
berupa barang atau jasa dari satu pihak ke pihak lain”. Pendapat lain mengenai
pelayanan juga dikemukakan oleh Gronross (dalam Ratminto dan Atik Septi
Winarsih, 2006:2) bahwa Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian
aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai
akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang
disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk pemberi
pelayanan untuk memecahkan permasalahan konsumen/ pelanggan.
Dari definisi diatas dapat dilihat bahwa pelayanan adalah aktivitas yang
dapat dirasakan melalui hubungan antara penerima dan pemberi pelayanan yang
menggunakan peralatan berupa organisasi atau lembaga perusahaan.
Dimensi Kualitas Pelayanan
Parasuraman menjabarkan kualitas pelayanan ke dalam 10 dimensi pelayanan
yang dapat digunakan untuk menilai kualitas pelayanan yaitu sebagai berikut
(Parasuraman, dkk.,1988):
- Ketersediaan fasilitasa fisik (tangible) untuk pelayanan.
- Ketepatan petugasa dalam memberikan pelayanan (reliability).
- Kemauan dan kesiapan petugas dalam memberikan pelayanan
(responsiveness). - Keterampilan dan pengetahuan petugas dalam memberikan pelayanan
(competence). - Sikap (sopan, respek, perhatian, keramahan) petugas dalam memberikan
pelayanan (courtesy). - Kejujuran dan dapat dipercaya terhadap petugas dalam memberikan
pelayanan (credibility). - Keamanan (fisik, keuangan, kerahasiaan) yang harus diberikan oleh petugas
pelayanan (security). - Kemudahan untuk dihubungi atau ditemui petugas yang memberikan
pelayanan (access).
Institut Teknologi Nasional ` - Cara berkomunikasi yang dimiliki oleh petugas dalam memberikan
pelayanan (communication). - Usaha petugas dalam memahami kebutuhan konsumen (understanding the
customer)
Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan adalah besarnya perbedaan antara harapan atau keinginan
konsumen dengan tingkat persepsi mereka (Parasuraman, dkk., 1988). Sementara
itu kualitas pelayanan jasaa berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan pelanggan sertaq ketepatan peyampaiannya untuk mengimbangi harapan
pelanggan. (Tjiptono, 2004).
Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasaan Pelanggan
Hubungan antara kualitas pelayanan dan kepuasan secara luas
didokumentasikan dalam literatur terutama pemasaran, hubungan tersebut secara
teoritismaupun empiris adalah positif seperti yang telah diteliti oleh Wijayanti
(2016). Secara teoritis ketika pelayanan yang diberikan mampu memenuhi atau
melampauipengharapan atau ekpetasi pelanggan maka pelanggantersebut merasa
puas Parasuraman et al (1988). Secara empiris banyak penelitian dengan latar
belakang sampel yang berbeda-beda telah membuktikan bahwa kualitas
pelayanan mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan seperti
yang diungkapkan oleh dan Wellyan (2017) juga mengungkap kan hal serupa
yakni kualitas pelayanan yang dilihat daril ima dimensi : tangible, reliability,
responsiveness, assurance, emphaty memiliki dampak positif bagi kepuasan
pelanggan..
Konsep kepuasan konsumen merupakan hal penting bagi para manajer
pemasaran dimana kepuasan konsumen dapat mendorong pembelian ulang
(Puspitasari 2017). Kepuasan pelanggan merupakan hasil dari perbandingan
antara harapan dan kenyataan yang diterima pelanggan setelah mengkonsumsi
barang atau jasa. Puspitasari (2018) menyatakan bahwa apabila pelanggan puas
terhadap barang atau kualitas layanan yang diberikan maka akan timbul kesetiaan
pelanggan sehingga minat beli pelanggan meningkat dan membuat pelanggan
kembali melakukan pembelian ulang (repurchase).
Pengaruh E-tracking Terhadap Kepuasan Pelanggan
Pada penelitian ini Layanan mengacu pada keyakinan pelanggan pengguna
jasa pengiriman untuk memberikan kepercayaan, Dapat disimpulkan bahwa
kepercayaan dalam hal penggunaan jasa pengiriman merupakan keyakinan dan
harapan pengguna jasa pengiriman bahwa penyedia jasa pelayanan mempunyai
kompetensi dan tidak berlaku opertunis.
Menurut penelitian Irma Ayu Nuraini (2017) dengan judul Pengaruh
Tingkat Kepercayaan, Kualitas, Layanan dan Harga Terhadap Kepuasan
Pelanggan JNE Surabaya. Dari penelitian ini diperoleh hasil penelitian semakin
seseorang puas terhadap layanan yang diberikan oleh perusahaan maka pelanggan
akan merasa puas dan kembali menggnakan jasa atau barang yang ditawarkan
Kepuasaan Pelanggan.
Kepuasan pelanggan adalah tanggapan atau evaluasi emosional dimana
pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa. Kepuasan pelanggan merupakan
bahan evaluasi alternatif yang dapat dipilih sekurang-kurangnya melebihi
harapan pelanggan. Dewasa ini dapat dipastikan bahwa kunci utama untuk
memenangkan hati pelanggan dan persaingan adalah memberikan kepuasan
kepada pelanggan Tjiptono (2018). Maka dari itu konsep pemasaran yang
sebaiknya dianut oleh perusahaan ialah yang memiliki tema pokok yang
menyatakan seluruh elemen bahwa bisnis harus berorientasi kepada kepuasan
pelanggannya. Menurut Kotler dalam Januar (2016) kepuasan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya
terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan harapan-harapannya. Menurut
S.C.Chen (2017) semakin tinggi kepuasan seseorang maka semakin positif pula
sikap yang dimiliki pelanggan. Indikator Kepuasan Pelanggan menurut Brillyan
J.S dalam Sinaga,E (2017).
- Kesesuaian harapan dan kenyataan dalam arti ekspektasi atau harapan yang
dituangkan dalam produk/jasa yang ditawarkan dan menjadi kenyataan
seperti yang diinginkan pelanggan. - Kualitas customer service dalam aeri Pelayanan yang responsif yang dapat
dihubungi untuk menjawab kebutuhan pelanggan. - Kesediaan merekomendasikan dalam hal ini Kepercayaan yang sudah
didapat dan membuat pelanggan bersedia merekomendasikan tanpa diminta. - Minat menggunakan kembali adalah manfaat dan bentuk dari Kepuasan
pelanggan yang membuat pelanggan kembali menggunakan barang/jasa
yang ditawarkan
Indikator Ketepatan Pengiriman
Definisi ketepatan pengiriman adalah ketepatan waktu pengiriman dan
jaminan barang pesanan konsumen selamat hingga sampai tujuan menjadi ujung
tombak usaha agar tetap dapat memperoleh kepercayaan dan kesetiaan konsumen
Handoko (2016). Indikator ketepatan waktu yang digunakan dalam penelitian ini
menurut Handoko (2016) adalah :
- Ketepatan dalam jasa pengiriman barang.
- Ketepatan dalam menentukan harga.
- Ketepatan dalam menempuh waktu
Ketepatan Pengiriman.
Ketepatan waktu pengiriman merupakan hal yang sangat penting
mengingat ketepatan waktu pengiriman produk yang sudah dibeli akan menjadi
beberapa faktor yang penting didalam meningkatkan kepuasan pelanggan.
Waktu pengiriman merupakan estimasi jangka waktu dari ketika pelanggan
memesan produk hingga produk yang dipesan tiba dan diterima. Sugiarto
(2017) mendefinisikan ketepatan waktu sebagai suatu standar yang telah
ditetapkan dimana sarana transportasi tiba, berangkat atau lewat pada suatu
titik yang telah ditetapkan dan pada waktu yang telah ditetapkan.
Menurut Yazid dalam Huda (2016) Bagi sejumlah perusahaan jasa,
waktu adalah kendala utama untuk proses produksi jasanya, bila waktu mereka
tidak dipergunakan secara efektif, mereka akan kehilangan keuntungan.
Sebaliknya bila mereka menghadapi permintaan yang berlebihan, mereka tidak
bisa menciptakan waktu untuk memuaskan permintaan itu. Ketepatan waktu
didalam jasa pengiriman barang sering berhubungan dengan transportasi yang
digunakan oleh jasa pengiriman barang seperti melalui jalur darat, udara,
maupun laut. Hal lain yang biasanya menghambat alur pengiriman tersebut
biasanya berupa kondisi cuaca saat itu, kemacetan yang terjadi saat proses
pengiriman dan hal lainnya yang bisa menghambat pengiriman barang ketempat
tujuan
Indikator Kualitas Pelayanan.
Indikator kualitas pelayanan yang digunakan pada penelitian ini yaitu,
menurut Kotler dalam Fandy Tjiptono (2016) :
- Ketanggapan (Responsiveness)
yaitu keinginan para staff untuk membantu para pelanggan dan memberikan
pelayanan yang tanggap. - Kehandalan (Reliability)
Yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera,
akurat dan memuaskan. - Empati (Empaty)
Yaitu kesediaan karyawan dan pengusaha untuk lebih peduli memberikan
perhatian secara pribadi kepada pelanggan
Kualitas Layanan
Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia pelayanan merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Keunggulan suatu produk jasa
adalah tergantung dari kualitas serta keunikan yang diperlihatkan oleh jasa
tersebut,apakah sudah sesuai dengan harapan pelanggan/penumpang. Kualitas
layanan pada umumya lebih ditekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan pelanggan serta ketepatan dalam penyampaiannya untuk
mengimbangi kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan dalam
penyampaiannya untuk mengimbangi kebutuhan pelanggan dengan harapan
mereka. Parasuraman dalam Tjiptono (2000) mengemukakan bahwa ada 2 (dua)
hal utama yang mempengaruhi kualitas jasa, yaitu :
- Jasa yang diharapkan (expected service) adalah standar jasa yang
diinginkan. - Jasa yang diterima (perceived service) adalah perbandingan antara jasa
yang diharapkan dan jasa yang diterima.
Perusahaan mempunyai strategi yang mencakup akan kualitas pelayanan
itu sendiri, menurut Tjiptono (2016) strategi kualitas layanan yang dilakukan
oleh perusahaan mencakup empat yaitu sebagai berikut : - Atribut Pelayanan
Atribut pelayanan adalah suatu tata cara atau etika penyampaian pelayanan
kepada para konsumen. Melakukan jasa pelayanan, hendaknya pelayanan
tersebut dapat membuat konsumen menjadi merasa dihormati. Oleh karena
itu Atribut pelayanan sangat dipengaruhi atas berbagai faktor antara lain:
Keterampilan hubungan antara pribadi, komunikasi, ilmu pengetahuan,
sensitifitas, pemahaman dan berbagai perilaku eksternal. - Pendekatan untuk menyempurnakan kualitas pelayanan
Kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas konsumen.
Agar kualitas jasa menjadi sempurna, maka perlu disertai beberapa faktor
penunjang antara lain: faktor biaya, waktu penerapan program dan pengaruh
pelayanan konsumen. Berdasarkan faktor-faktor tersebut maka kepuasan
yang maksimal akan dapat dicapai. - Sistem umpan balik
Salah satu cara untuk mengevaluasi dan memperbaiki kualitas konsumen
adalah dengan menggunakan sistem umpan balik. Adanya sistem umpan
balik makaposisi tingkat kualitas konsumen dapat diketahui, agar
memperoleh hasil yang baik maka informasi umpan balik harus difokuskan
pada beberapa hal sebagai berikut:
a. Mengukur dan memperbaiki kinerja perusahaan.
b. Memahami persepsi konsumen.
c. Menunjukan komitmen perusahaan pada kualitas produk pada para
konsumen.
Layanan E-tracking
Kualitas E-tracking dapat meyakinkan pelanggan bahwasannya
teknologi informasi yang diimplementasikan adalah suatu hal yang
memudahkan bagi pelangan didalam memanfaatkan sistem yang sudah
disediakan, Sistem tracking yang digunakan akan terus diaplikasikan dan
dikembangkan oleh perusahaan agar dapat membangun selalu kepuasan
pelanggan.
Menurut Kotler & Keller (2017) menyatakan bahwa kualitas layanan
berbasis elektronik berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan. Kualitas
layanan yang berbasis elektronik adalah bentuk dan upaya dari perusahaan
untuk pemenuhan kebutuhan yang diiringi dengan keinginan pelanggan serta
bentuk ketepatan cara penyampaian melalui media elektronik agar dapat
memenuhi harapan serta kepuasan pelanggan. Menurut Shin et al (2017)
kepuasan para konsumen industri jasa pengiriman tersebut dapat dibentuk oleh
beberapa faktor diantaranya kualitas pelayanan, teknologi tracking system dan
harga yang ditawarkan.
Indikator Kualitas Layanan E-tracking menurut Galuh Dwi Septiani
dalam Tjiptono (2016), yaitu:
- Memudahkan dalam hal ini mempertahankan dan berusaha memberikan
kemudahan untuk pelanggan. - Design situs WEB diartikan dengan pelanggan yang dimudahkan
mengetahui update dari paketnya dan mudah diakses dimanapun dan
kapanpun. - Keamanan/Privasi website memiliki keamanan yang baik, dan melindungi
seluruh data pengirim atau penerima paket.
Indikator Kualitas Pelayanan
Menurut Parasuraman dalam Anggraini (2021) indikator didalam
kualitas pelayanan yaitu untuk mengetahui kualitas pelayanan yang dirasakan
secara nyata oleh konsumen, ada indikator kualitas pelayanan yang terletak
pada lima dimensi kualitas pelayanan, yaitu:
- Tangibles (yang teramati) yaitu kualitas pelayanan berupa penampilan fisik
fasilitasnya, teknologi pendukung, dan tampilan karyawannya. Indikator
dari Tangibles:
a. Karyawan berpenampilan rapi dan professional.
b. Peralatan yang dimiliki perusahaan terlihat modern.
c. Fasilitas fisik perusahaan bersih dan penataannya rapi. - Reliability (keandalan) yaitu kemampuan dan keandalan perusahaan untuk
untuk menyediakan pelayanan yang terpercaya. Indikator dari Reliability:
a. Dalam melayani konsumen, karyawan harus menyampaikan informasi
dengan jelas.
b. Karyawan memiliki keahlian untuk mengoperasikan peralatan di
perusahaan. - Responsiveness (ketanggapan) yaitu berupa kesanggupan untuk membantu
dan menyediakan pelayanan secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap
keinginan konsumen. Indikator dari Responsiveness:
a. Karyawan memberikan pelayanan segera pada konsumen.
b. Karyawan dalam melayani konsumen secara cepat dan tepat.
c. Kesediaan karyawan untuk merespon dan membantu konsumen. - Assurance (jaminan) yaitu berupa kemampuan dan keramahan serta sopan
santun pegawai dalam meyakinkan kepercayaan konsumen. Indikator dari
Assurance:
a. Karyawan memiliki sikap yang menumbuhkan rasa percaya para
konsumen.
b. Karyawan berperilaku sopan kepada konsumen.
c. Karyawan dalam melayani konsumen menggunakan tutur bahasa yang
santun.
d. Karyawan dalam melayani konsumen harus disertai dengan senyum
yang ramah. - Empathy (empati) yaitu berupa sikap tegas tetapi penuh perhatian dari
karyawan terhadap konsumen. Indikator dari Empathy:
a. Karyawan melayani konsumen dengan pemikiran positif dengan
memperlakukan mereka dengan baik dan menghormati mereka, tidak
menjadi acuh terhadap konsumen.
b. Karyawan memperlakukan konsumen secara penuh perhatian.
c. Karyawan sungguh-sungguh mengutamakan kepentingan konsumen
dan berupaya memahami keinginan konsumen
Dimensi Kualitas Pelayanan
Menurut Parasuraman dalam Anggraini (2021) untuk mengetahui
kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen terdapat lima dimensi
kualitas pelayanan yaitu:
- Tangibles (yang teramati) yaitu kualitas pelayanan berupa penampilan fisik
fasilitasnya, teknologi pendukung, dan tampilan karyawannya. Penampilan
fisik perusahaan akan sangat berpengaruh pada evaluasi pelanggan
terhadap kualitas pelayanan yang diberikan perusahaan. - Reliability (keandalan) yaitu kemampuan dan keandalan perusahaan untuk
untuk menyediakan pelayanan yang terpercaya. Keandalan menunjukkan
seberapa jauh perusahaan memberikan pelayanan sama seperti yang telah
dijanjikan secara akurat dan tepat. Keandalan ini tidak hanya penting untuk
masalah-masalah yang besar, karena masalah kecil juga menjadi hal
penting untuk pelanggan dalam memberikan evaluasi tentang perusahaan. - Responsiveness (ketanggapan) yaitu berupa kesanggupan untuk membantu
dan menyediakan pelayanan secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap
keinginan konsumen. Daya tanggap menunjukkan kemauan dan
komitmen dari perusahaan dalam memberikan pelayanan yang tepat waktu.
Daya tanggap tidak hanya mengenai cepatnya pelayanan yang diberikan,
tetapi juga kemauan dari perusahaan atau karyawan dalam membantu
pelanggan - Assurance (jaminan) yaitu berupa kemampuan dan keramahan serta sopan
santun pegawai dalam meyakinkan kepercayaan konsumen. Kemampuan
untuk melahirkan kepercayaan dan keyakinan dari pelanggan yang meliputi
pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan karyawan untuk
menumbuhkan rasa percaya pelanggan terhadap perusahaan. - Empathy (empati) yaitu berupa sikap tegas tetapi penuh perhatian dari
karyawan terhadap konsumen. Kemampuan komunikasi para karyawan
untuk menjelaskan dengan baik mengenai pelayanan yang disediakan
perusahaan akan memberikan dampak baik dari evaluasi pelanggan.
Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan merupakan upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan konsumen serta ketepatan dalam penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan pelanggan. Menurut Wyekof dalam Sinollah (2019)
kualitas pelayanan yaitu seberapa bagus tingkat pelayanan yang diberikan
sesuai dengan ekspektasi pelanggan.
Menurut Parasuraman dalam Yulianto (2018) mendefinisikan kualitas
layanan (service quality) sebagai persepsi pelanggan atas jasa yang mereka
terima. Di samping itu, Parasuraman juga menyatakan kualitas layanan
merupakan evaluasi keseluruhan dari fungsi jasa yang diterima secara aktual
oleh pelanggan (kualitas teknis) dan bagaimana cara layanan tersebut
disampaikan (kualitas fungsional). Apabila layanan yang diterima dan
dirasakan sesuai dengan harapan pelanggan maka kualitas layanan tersebut
dianggap sebagai kualitas yang baik, dan sebaliknya apabila kualitas layanan
yang diterima tidak sesuai dengan yang diharapkan pelanggan maka kualitas
layanan tersebut dipersepsikan buruk
Kepuasan
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan
kinerja atau hasil yang dirasakan dengan harapannya (Supranto, J. 2003:233). Jadi,
tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan
dengan harapan. Apabila kinerja di bawah harapan, maka pelanggan akan kecewa.
Bila kinerja sesuai dengan harapan, pelanggan akan puas. Sedangkan bila kinerja
melebihi harapan, pelanggan akan sangat puas. Harapan pelanggan dapat dibentuk
oleh pengalaman masa lain, komentar dari kerabatnya, serta janji dan informasi
pemasaran dan saingannya. Pelanggan yang puas akan setia lebih lama, kurang
sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang perusahaan
tersebut. Untuk menciptakan kepuasan pelanggan, perusahaan harus menciptakan
dan mengelola suatu sistem untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak dan
kemampuan untuk mempertahankan pelanggannya.
Pada dasarnya kepuasan dan ketidakpuasan pelanggan atas produk akan
berpengaruh pada pola perilaku selanjutnya. Hal ini ditunjukkan pelanggan
setelah terjadi proses pembelian (postpurchase action ). Apabila pelanggan
merasa puas, maka dia akan menunjukkan besarnya kemungkinan untuk
kembali untuk membeli produk yang sama . Pelanggan yang puas juga
cenderung akan memberikan referensi yang baik terhadap produk kepada
orang lain (Lupiyoadi, R.: 2001:159).
Tjiptono, F. dan Diana, A. (2001:68), mengemukakan bahwa :
“Kualitas dan kepuasan konsumen berkaitan erat. Kualitas memberikan suatu
dorongan kepada pelanggan untuk menjalin ikatan yang kuat kepada
perusahaan, Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan
perusahaan untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta
kebutuhan mereka. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan
kepuasan pelanggan di mana perusahaan memaksimumkan pengalaman
pelanggan yang menyenangkan dan meminimumkan atau meniadakan
pengalaman pelanggan yang kurang menyenangkan. Pada gilirannya kepuasan
pelanggan dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas pelanggan kepada
perusahaan yang memberikan kualitas memuaskan.”
Kepuasan konsumen ditentukan oleh persepsi konsumen atas penampilan
produk atau jasa dalam memenuhi harapan konsumen. Konsumen puas apabila
harapannya terpenuhi dan akan sangat puas jika harapannya terlampau
Standar Pelayanan Publik
Di Indonesia , upaya untuk menetapkan standar pelayanan publik dalam
kerangka peningkatan kualitas pelayanan publik sebenarnya telah lama dilakukan.
Upaya tersebut antara lain ditunjukan dengan terbitnya berbagai kebijakan, seperti :
- Surat Keputusan Menteri Pendayaagunaan Aparatur Negara Nomor 81 Tahun
1993, Tentang Pedoman Tatalaksana Pelayanan Umum; - Inpres Nomor 1 Tahun 1995, Tentang Perbaikan dan Peningkatan Mutu
Pelayanan Aparatur Pemerintah Kepada Masyarakat; - Surat Edaran Menko Wasbangpan Nomor 56/Wasbangpan/6/98, Tentang
Langkah-langkah Nyata memperbaiki Pelayanan Masyarakat. Instruksi
Mendagri Nomor 20/1996. - Surat Edaran Menkowasbangpan Nomor 56/MK. Wasbangpan//6/98,
Tentang Surat Menkowasbangpan Nomor 145/MK. Waspan/3/1999; hingga
Surat Edaran Mendagri Nomor 503/125/PUOD/1999, yang kesemuanya
bermuara pada kualitas pelayanan. - Kep. Menpan Nomor 81/1993, Tentang Pedoman Tatalaksana Pelayanan
Umum. - Surat Edaran Depdagri Nomor 100/757/OTDA, Tentang Pelaksanaan
Kewenangan Wajib dan Standar Pelayanan Minimum, Tahun 2002. - Kep. Menpan Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003, Tentang Pedoman Umum
Penyelenggaraan Pelayanan Publik - Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009, Tentang
Pelayanan Publik
Pengertian Kualitas Pelayanan Publik
Kualitas pelayanan (service quality) adalah hasil persepsi dari perbandingan
antara harapan dengan kinerja aktual yang diterima pelanggan. Zauhar (2005:22),
menyatakan bahwa :
Kualitas pelayanan adalah penyesuaian terhadap perincian-perincian
(conformance to specification) dimana kualitas ini dipandang sebagai derajad
keunggulan yang ingin dicapai, dilakukannya kontrol terus menerus dalam
mencapai keunggulan tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan pengguna
jasa. Pelayanan merupakan respon terhadap kebutuhan manajerial yang hanya
terpenuhi jika pengguna jasa itu mendapatkan produk yang mereka inginkan.
Pollit dalam Thoha (2007:33) adalah : “Sekali lagi menegaskan bahwa tujuan
utamanya bukan sekedar untuk menyenangkan hati penerima pelayanan publik,
melainkan untuk memberdayakan mereka”.
Sebagaimana dikatakan Thoha (2007:33), bahwa ”peran dan posisi birokrasi dalam
pelaksanaan pelayanan publik harus di ubah. Peran yang selama ini suka mengatur
dan minta dilayani, menjadi suka melayani, suka mendengarkan tuntutan, kebutuhan
dan harapan-harapan masyarakat”.
Menurut Potter dalam Supriyono (2003:16), dikemukakan pelayanan yang
berkualitas perlu beberapa kriteria, antara lain :
a. Tepat dan relevan, artinya pelayanan harus mampu memenuhi profesi,
harapan dan kebutuhan individu atau masyarakat.
b. Tersedia dan terjangkau, artinya pelayanan harus dapat dijangkau oleh
setiap orang atau kelompok yang mendapat prioritas.
c. Dapat menjamin rasa keadilan, artinya terbuka dalam memberikan
perlakuan terhadap individu atau sekelompok orang dalam keadaan yang
sama.
d. Dapat diterima, artinya pelayanan memiliki kualitas apabila dilihat dari
teknis/cara, kualitas, kemudahan, kenyamanan, menyenangkan, dapat
diandalkan, tepat waktu, cepat, responsive, dan manusiawi.
e. Ekonomis dan efisien, artinya dari sudut pandang pengguna pelayanan
dapat dijangkau dengan tarif dan pajak oleh semua lapisan masyarakat.
f. Efektif, artinya menguntungkan bagi pengguna dan jasa lapisan
masyarakat
Pengertian Pelayananan Publik
Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam
interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan
menyediakan kepuasan pelanggan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan
bahwa pelayanan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain. Sedangkan melayani
adalah membantu menyiapkan/mengurus apa yang diperlukan seseorang.
Pelayanan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok
dalam memberikan kepuasan kepada penerima layanan. Pelayanan hakekatnya
adalah serangkaian kegiatan, karena itu pelayanan merupakan proses. Pelayanan
sebagai proses berlangsung secara rutin dan berkesinambungan meliputi seluruh
kehidupan orang dalam masyarakat.
Napitupulu (2007 : 164), dalam bukunya yang berjudul Pelayanan Publik
dan Customer Satisfaction, mengartikan pelayanan sebagai berikut :
Serangkaian kegiatan atau proses pemenuhan kebutuhan orang lain secara
lebih memuaskan berupa produk jasa dengan sejumlah ciri seperti tidak
berwujud, cepat hilang, lebih dapat dirasakan daripada dimiliki, dan
pelanggan lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses mengkonsumsi jasa
tersebut.
Pelayanan adalah suatu kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
masyarakat. Pelayanan tidak memiliki wujud, melainkan dapat dirasakan dan cepat
hilang. Sastrodiningrat (2002:17) menyatakan bahwa pelayanan adalah :
Pelayanan dalam suatu organisasi kerja identik dengan penjabaran tugas-
tugas pegawai/pengurus yang berwenang dalam organisasi yang
bersangkutan. Pelayanan berarti pemberian bantuan, penyediaan fasilitas,
partisipasi, dan makna yang lain dari pemberian bantuan kepada orang lain
kearah pencapaian tujuan.
Sedangkan (2008:198) bahwa “Pelayanan adalah segala bentuk kegiatan
pelayanan dalam bentuk barang atau jasa pelayanan dalam rangka upaya pemenuhan
kebutuhan masyarakat”
Pengertian Kualitas
Kualitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tingkat baik
buruknya sesuatu hal, kadar, derajat, atau taraf, mutu. Selaras dengan pengertian
tersebut, menurut Crosby dalam Nasution, (2001:16), kualitas adalah conformance to
requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan.
Definisi tersebut mengonfirmasikan bahwa dalam suatu kualitas ada sebuah
ukuran atau takaran tertentu yang dijadikan acuan bagi sebuah produk jasa. Kualitas
sesuatu produk ditentukan dari tolok ukur tersebut. Dikatakan berkualitas apabila
telah sesuai atau mencapai ukuran dimaksud, tapi jika tidak sesuai berarti produk
tersebut kurang atau tidak berkualitas.
Salah satu ukuran kualitas dimaksud yaitu dari harapan pelanggan atau
pengguna produk. Dalam hal ini, kualitas berarti soal memenuhi harapan pelanggan.
Selanjutnya konsep tersebut dikenal dengan kepuasan pelanggan (customer
satisfication). Mengenai kualitas dan kepuasan pelanggan tersebut sesuai dengan
definisi kualitas menurut Garvin, Feigenbaum, dan Buddy berikut ini.
Kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk,
manusia/tenaga kerja, proses dan tugas serta lingkungan yang memenuhi harapan
pelanggan atau konsumen menurut Garvin dalam Nasution (2001:16). Selanjutnya
Feigenbaum, menyatakan bahwa suatu produk dapat dikatakan berkualitas apabila
memenuhi kepuasan atau sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen.
Menurut Buddy dalam Wahyuningsih (2002:10), kualitas adalah strategi dasar bisnis
yang menghasilkan barang dan jasa yang memenuhi kebutuhan dan kepuasan
konsumen internal dan eksternal, secara eksplisit dan implisit”
Faktor yang mempengaruhi Promosi
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi promosi dalam penentuan
keputusan pembelian (Sunyoto, 2015), yaitu :
- Sifat Pasar
Terdapat 3 sifat pasar yang dapat mempengaruhi promosi meliputi luas
geografi, jenis konsumen dan konsentrasi pasar. - Sifat Produk
Terdapat 3 sifat produk yang mempengaruhi promosi meliputi nilai unit,
nilai barang dan tingkat kebutuhan konsumen akan barang. - Dana Hidup Produk
Strategi produk akan dipengaruhi pada tahap dasar hidup produk. Pada
tahap perkenalan harus menstimulasi permintaan primer. - Dana Yang Tersedia
Dasar tersedia ialah penentu, sebab proses program iklan tidak akan berjalan
dengan baik jika dana yang tersedia sangat terbatas.
