Keragaman Produk


Menurut Setiyaningrum et al. (2015:87) produk adalah suatu kumpulan
atribut fisik, psikis, jasa dan simbolik yang dibentuk untuk memberikan kepuasan
akan kebutuhan dan keinginan konsumen. Suatu produk terdiri dari atribut-atribut,
baik yang berwujud (tangible) juga yang tidak berwujud (intangible), termasuk
packaging, warna, harga, kualitas dan merek berserta jasa layanan dari penjual dan
reputasi.
Adapun Kotler and Amstrong (2019:62) menjelaskan bahwa “produk
berarti gabungan barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pasar
sasaran”. Definisi lainnya Tjiptono and Gregorius (2017:370) mengatakan bahwa
“produk ialah sesuatu (barang, jasa, orang, tempat, ide, informasi, dan/atau
organisasi) yang bisa diajukan untuk memberikan kepuasan untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen.
Definisi keragaman produk menurut Simamora (2014:441) adalah
seperangkat (lini produk (product line) dan unsur yang diajukan oleh penjual pada
para konsumen. Definisi lainnya dijelaskan oleh Kotler and Keller (2012:25)
keragaman produk adalah adanya segala jenis produk dari mulai kuantitas,
kesesuaian dengan selera dan keinginan juga adanya produk yang ditawarkan untuk
konsumen agar dapat dimiliki, digunakan atau dikonsumsi.

Indikator Harga


Stanton (2012:13) menjelaskan terdapat empat ukuran yang
mendeskripsikan harga, seperti:

  1. Keterjangkauan harga
    Konsumen mendapatkan harga yang lebihh terjangkau yang sudah
    ditetapkan oleh penjual. Suatu produk biasanya memiliki beberapa jenis dan
    memiliki harga yang juga bervariasi dari yang murah hingga yang mahal.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
    Harga terkadang dijadikan sebagai indikator untuk menilai kualitas
    bagi konsumen. Terkadang konsumen lebih memilih harga yang lebih
    mahal dibandingkan barang yang lebih murah. Konsumen akan cenderung
    memiliki anggapan bahwa harga mahal berarti kualitasnya lebih baik.
  3. Kesesuaian harga dengan manfaat
    Konsumen memilih untuk membeli sebuah produk karena
    bermanfaat bagi meraka. Sehingga manfaat yang dirasakan konsumen setara
    dengan jumlah uang yang mereka keluarkan.
  4. Memiliki daya saing harga
    Konsumen biasanya membandingkan harga suatu produk dengan
    produk yang lain. Barang dengan harga yang mahal atau murah dapat
    menjadi pertimbangan dari konsumen saat membeli produk

Pengertian Harga


Kotler dan Armstrong (2011) dalam Setiyaningrum, dkk (2015:128)
mengungkapkan bahwa “harga adalah sejumlah uang yang diminta untuk
mendapatkan produk atau suatu jasa atau jika dijabarkan lebih mendetail bahwa
harga adalah jumlah keseluruhan nilai yang dibagikan oleh konsumen untuk
memperoleh sebuah keuntungan (benefit)”.
Definisi lainnya dikemukakan Tjiptono and Gregorius (2017:370) bahwa
“secara sederhana, istilah harga adalah jumlah uang (satuan moneter) dan/atau
aspek lain (non-moneter) yang berisi utilitas/kegunaan tertentu yang dibutuhkan
untuk mendapatkan sebuah produk”. Sedangkan Kotler dan Amstrong (2019:63)
menjelaskan bahwa harga adalah jumlah uang yang harus dibayarkan oleh
konsumen untuk memperoleh produk

Unsur atau Variabel Marketing Mix (Bauran Pemasaran)


Adapun pemaparan empat unsur strategi Maketing Mix adalah
sebagai berikut :

  1. Product (produk)
    Produk adalah semua yang bisa ditawarkan dipasar untuk
    mendapatkan perhatian, permintaan, pemakaian atau konsumsi yang
    dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen.
  2. Price (harga)
    Harga adalah jumlah uang yang ditagihkan untuk suatu
    produk atau jasa.
  3. Place (tempat)
    Tempat meliputi berbagai kegiatan yang dilakukan
    perusahaan agar produk/jasa dapat diperoleh dan tersedia bagi pasar
    sasaran.
  4. Promotion (promosi)
    Promosi berarti aktivitas pemasaran yang berusaha
    menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk atau
    mengingatkan pasar sasarn atau perusahaan dan produknya
    agarbersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang
    ditawarkan perusahaan yang bersangkutan

Marketing Mix (Bauran Pemasaran)


Pemasaran merupakan suatu bidang profesi yang menarik,
dinamis, dan kontemporer. Pemasaran adalah proses sosial dan
manajerial yang digunakan oleh individu dan kelompok untuk
mendapatkan sesuatu yang mereka butuhkan dan inginkan melalui
pembuatan dan pertukaran produk dan nilai dengan pihak lain.
Menurut Buchari Alma, pemasaran adalah penekanan pada analisis
struktur pasar, orientasi dan dukungan pelanggan, serta memposisikan
perusahaan dalam mengawasi rantai nilai. Terdapat banyak cara yang
dapat dilakukan oleh perusahaan dalam memasarkan produknya.
Keberhasilan atau kegagalan suatu perusahaan dalam menjual produk-
produknya di pasar dapat diketahui dari perkembangan penjualan yang
dinyatakan dalam barang yang terjual. Maka dari itu, para pengusaha
harus menggunakan strategi-strategi jitu untuk menarik minat konsumen
strategi yang digunakan yaitu strategi bauran pemasaran Menurut Ratih Hurriyati menyatakan bahwa bauran
pemasaran merupakan unsur-unsur pemasaran yang saling terkait,
dibaurkan, diorganisir, dan digunakan dengan tepat, sehingga perusahaan
dapat mencapai tujuan pemasaran dengan efektif, sekaligus memuaskan
kebutuhan dan keinginan konsumen

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Volume Penjualan


Aktivitas penjualan banyak dipengaruhi oleh faktor yang dapat
meningkatkan aktivitas perusahaan, oleh karena itu manajer penjualan
perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan menurut Basu Swasta
sebagai berikut:
1) Kondisi dan Kemampuan Penjual
Kondisi dan kemampuan terdiri dari pemahaman atas beberapa
masalah penting yang berkaitan dengan produk yang dijual, jumlah
dan sifat dari tenaga penjual adalah:
a) Jenis dan karakteristik barang atau jasa yang ditawarkan
b) Harga produk atau jasa
c) Syarat penjualan seperti pembayaran dan pengiriman
2) Kondisi Pasar
Pasar mempengaruhi kegiatan dalam transaksi penjualan baik
sebagai kelompok pembeli atau penjual. Kondisi pasar dipengaruhi
oleh beberapa faktor yakni jenis pasar, kelompok pembeli, daya
beli, frekuensi pembelian serta keinginan dan kebutuhannya.
3) Modal
Modal atau dana sangat diperlukan dalam rangka untuk
mengangkut barang dagangan ditempatkan atau untuk
memperbesar usahanya. Modal perusahaan dalam penjelasan ini
adalah modal kerja perusahaan yang digunakan untuk mencapai
target penjualan yang dianggarkan, misalnya dalam
menyelenggarakan stok produk dan dalam melaksanakan kegiatan
penjualan memerlukan usaha seperti alat transportasi, tempat untuk
menjual, usaha promosi, dan sebagainya

Pengertian Volume Penjualan


Menurut Schiffan volume penjualan adalah tingkat penjualan yang
diperoleh perusahaan untuk periode tertentu dalam satuan unit atau
rupiah. Menurut Basu Swasta penjualan adalah interaksi antara
individu saling bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan,
memperbaiki, menguasai atau mempertahankan hubungan pertukaran
sehingga menguntungkan bagi pihak lain. Istilah volume penjualan
telah mengalami telah mengalami perubahan-perubahan selama
beberapa tahun.
Pada mulanya, para pengusaha menggunakan istilah tersebut untuk
menunjukkan pengarahan tenaga penjualan atau disebut juga
manajemen penjualan, kemudian istilah tersebut diartikan secara lebih
luas lagi dengan penjualan dari seluruh kegiatan pemasaran, distribusi
fisik, penetapan harga jual dan perencanaan produk, tetapi sekarang
istilah tersebut sudah dibedakan dengan menunjukkan kegiatan
pemasaran menjual produknya

Faktor-Faktor Pemilihan Lokasi


Handi Handoko menyebutkan faktor-faktor yang secara
umum perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi
peusahaan diantaranya:

  1. Lingkungan Masyarakat
    Perusahaan perlu memperhatikan nilai-nilai
    lingkungan dan ekologi dimana perusahan akan berlokasi,
    karena pabrik-pabrik sering memproduksi limbah dalam
    berbagai bentuk air, udara, atau limbah zat padat yang telah
    tercemar, dan sering menimbulkan suara bising.
    Lingkungan masyarakat yang menyenangkan bagi
    kehidupan karyawan dan eksekutif juga memungkinkan
    mereka melakukan pekerjaan dengan lebih baik.
  2. Kedekatan Pasar
    Dekat dengan pasar akan membuat perusahaan
    dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para
    langganan, dan sering mengurangi biaya distribusi. Perlu
    dipertimbangkan juga apakah pasar perusahaan tersebut
    luas ataukah hanya melayani sebagian kecil masyarakat,
    produk mudah rusak atau tidak, berat produk, dan biaya
    distribusi barang jadi pada total biaya.
  3. Tenaga Kerja
    Dimanapun lokasi perusahaan, hal yang paling
    mendasar adalah haruslah mempunyai tenaga kerja. Bagi
    banyak perusahaan sekarang kebiasaan dan sikap calon
    pekerja suatu daerah lebih penting daripada keterampilan
    dan pendidikan karena perusahaan jarang menemukan
    tenaga kerja baru yang telah siap pakai untuk pekerjaan
    yang sangat bervariasi dan tingkat spesialisasi yang sangat
    tinggi, sehingga perusahaan harus menyelenggarakan
    program latihan khusus bagi tenaga kerja yang baru.
  4. Kedekatan dengan Bahan Mentah dan Supplier
    Apabila bahan mentah berat dan susut cukup besar
    dalam proses produksi maka perusahaan lebih baik
    berlokasi dekat dengan bahan mentah, misalnya pabrik
    semen, kayu, kertas, dan baja. Tetapi bila produk jadi lebih
    berat, besar, dan bernilai rendah maka lokasi dipilih
    sebaliknya.
  5. Fasilitas dan Biaya Transportasi
    Tersedianya fasilitas transportasi baik lewat darat,
    air, dan udara pastinya akan memudahkan pengadaan
    faktor-faktor produksi dan penyaluran produk perusahaan.
    Pentingnya pertimbangan biaya transportasi tergantung
    terhadap total biaya. Untuk banyak perusahaan perbedaan
    biaya transportasi tidak sepenting perbedaan upah tenaga
    kerja tetapi bagaimanapun juga biaya transportasi tidak
    dapat dihilangkan dimanapun perusahaan berlokasi.

Pengertian Tempat


Menurut Kotler tempat merupakan aktivitas organisasi agar
produk mudah didapatkan konsumen sasarannya, sehingga
unsur ini mencakup keputusan-keputusan mengenai proses
perjalanan produk dari tangan organisasi sampai kepada
konsumen.
Pemilihan tempat yang tepat berarti mendapatkan lokasi
yang memungkinkan paling banyak efek positifnya bagi
organisasi dan menghindari sebanyak mungkin efek negatif
yang mungkin timbul. Jika organisasi telah menentukan
biaya yang ditimbulkan dan sulit untuk menimalkannya.
Keputusan pemilihan lokasi sering tergantung dengan jenis
usaha. Untuk keputusan lokasi industri, strategi yang
digunakan biasanya adalah strategi untuk menimalkan biaya,
sedangkan untuk bisnis perdagangan barang atau jasa, strategi
yang digunakan terfokus pada mendekati pasar sasaran.
Secara umum, tujuan dari strategi pemilihan lokasi adalah
untuk memaksimalkan keuntungan yang diperoleh oleh
organisasi dan meminimalisir biaya yang timbul dari kegiatan
usahanya. Pemilihan lokasi yang salah akan mempengaruhi
pemaksimalan keuntungan organisasi. Kesalahan suatu
organisasi yang berdiri tanpa mempertimbangkan pemilihan
lokasi yang tepat maka beberapa waktu setelah menjalakan
usahanya akan menghadapi beberapa masalah seperti masalah
tenaga kerja, biaya produksi dan pasar sasaran. Kesalahan
seperti ini dapat mengakibatkan organisasi beroperasi tidak
efektif dan efisien.

Bauran Promosi


Untuk mengkomunikasikan produk perlu disusun strategi
yang sering disebut bauran promosi atau promotion-mix yang
terdiri atas 4 komponen utama, yaitu:
a) Personal Selling
Kegiatan promosi dilakukan secara lisan dalam
perusahaan atau lebih calon pembeli.
b) Periklanan
Kegiatan promosi yang menggunakan media yang
dibayar oleh seorang penjual untuk mengkomunikasikan
informasi mengenai produknya. Pengambilan keputusan
periklanan, menciptakan pesan periklanan, memilih media
periklanan, mengevaluasi program periklanan.
c) Promosi Penjualan
Promosi penjualan adalah intensif jangka pendek untuk
meningkatkan pembelian atau penjualan suatu produk atau
jasa dengan pembelian diharapkan terjadi sekarang juga.
d) Hubungan Masyarakat
Hubungan masyarakat bertujuan membangun hubungan
baik dengan publik melalui publisitas yang menyenangkan,
menumbuhkembangkan citra perusahaan yang baik,
menangani atau melenyapkan desas-desus, dan peristiwa
yang tidak menyenangkan

Pengertian Promosi


Promosi merupakan salah satu fungsi pemasaran dengan
memfokuskan pengkomunikasian komponen program pemasaran
secara persuasive terhadap sasaran dalam menunjang pertukaran
dengan kosumen dan membantu dalam pencapaian tujuan dari
kedua belah pihak. Peran promosi sebagai koordinasi dari upaya
komunikasi pemasaran dalam memberikan pengaruh terhadap
sikap atau perilaku

Tujuan Penetapan Harga


Adapun tujuan dari penetapan harga yaitu:

  1. Berorientasi terhadap laba
    Pada tujuan ini untuk memaksimalkan laba dan
    target laba. Dalam hal memaksimalkan laba perusahaan
    berusaha dalam pemilihan harga yang bia menghasilkan
    keuntungan yang tinggi dalam persaingan usaha.
    Sedangkan target laba ada dua yaitu margin laba yang
    menunjukkan target laba pada produk dalam presentase
    laba penjualan. dan yang kedua target ROI yaitu target
    laba yang di nyatakan dalam rasio laba pada invetasi total
    yang dilakukan dalam produksi beserta aset produk.
  2. Orientasi pada citra
    Citra pada perusahan di bentuk melalui strategi
    untuk menetapkan harga. Menetapkan harga rendah atau
    harga tinggi dapat membangun persepsi konumen
    terhadap produk yang ditawarkan oleh perusahaan.
  3. Stabilitas harga
    Stabilisasi di lakukan untuk menetapkan harga
    dalam mempertahankann kestabilan harga peruahaan
    dengan harga pemimpin industri.

Pengertian Harga


Harga bisa diartikan sebagai nilai jual atau beli akan barang
maupun jasa. Dalam menetapkan harga tidak bisa terlalu
rendah maupun terlalu tinggi, karena harga menjadi
pertimbangan bagi konsumen dalam menentukan pembelian.
Jika harga barang atau jasa itu tinggi maka otomatis
konsumen akan beralih pada pesaing.
Harga menurut Kotler dan Amstrong merupakan jumlah
semua nilai konsumen yang ditukarkan dalam rangka
mendapatkan manfaat dan memiliki atau menggunakan suatu
barang atau jasa.

Tingkatan-Tingkatan Produk


Untuk merencanakan penawaran produk, pemasar perlu
memahami tingkatan produk sebagai berikut

  1. Produk utama, yaitu manfaat yang sebenarnya dibutuhkan
    dan akan dikonsumsi oleh pelanggan dari setiap produk.
  2. Produk genetik, yaitu produk dasar yang mampu
    memenuhi fungsi produk yang paling dasar (rancangan
    produk minimal agar dapat berfungsi).
  3. Produk harapan, yaitu produk formal yang ditawarkan
    dengan berbagai atribut dan kondisinya secara normal
    diharapkan dan disepakati untuk dibeli.
  4. Produk pelengkap, yaitu berbagai atribut produk yang
    dilengkapi atau ditambahi berbagai manfaat dan layanan,
    sehingga dapat memberikan tambahan kepuasan dan
    dapat dibedakan dengan produk pesaing.
  5. Produk potensial, yaitu segala macam tambahan dan
    perubahan yang mungkin dikembangkan untuk suatu
    produk dimasa mendatang

Atribut Produk


Adapun atribut produk menurut Tjiptono meliputi merek,
jaminan (garansi), pelayanan, dan sebagainya.
1) Merek
Merek merupakan nama, istilah, tanda, simbol,
lambang, desain, atau kombinasi atribut-atribut produk
lainnya yang diharapkan dapat memberikan identitas dan
diferensiasi terhadap produk pesaing. Pada dasarnya
suatu merek juga merupkan janji penjual untuk secara
konsisten menyampaikan serangkaian ciri-ciri, mafaat,
dan jasa tertentu kepada pembeli. Dan merek juga
digunakan untuk beberapa tujuan yaitu:15
a) Sebagai identitas, yang bermanfaat dalam
diferensiasi atau membedakan produk suatu
perusahaan dengan produk pesaingnya. Ini
memudahkan konsumen untuk mengenalinya saat
berbelanja dan saat melakukan pembelian ulang.
b) Alat promosi, yaitu sebagai daya tarik produk.
c) Untuk membina citra, yaitu dengan memberikan
keyakinan, jaminan kualitas kepada konsumen.
d) Untuk mengendalikan pasar

Pengertian Produk


Produk merupakan segala hal yang ditawarkan pada pasar
untuk dimilik, diperhatikan, digunakan serta dikonsumsi guna
memberikan kepuasan terhadap kebutuhan maupun keinginan
konsumen. Menurut Kotler produk merupakan segala sesuatu
yang dapat ditawarkan kepasar, untuk memutuskan
kebutuhan dan keinginan konsumen. Produk terdiri atas
barang, jasa, pengalaman, orang, tempat, kepemilikan,
organisasi informasi dan ide.

Komponen Marketing Mix (Bauran Pemasaran)


Sesuai pembahasan sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan
marketing mix atau bauran pemasaran merupakan salah satu kombinasi
dari beberapa variabel yang digunakan sebagai sarana oleh perusahaan
untuk memenuhi atau melayani kebutuhan dan keinginan konsumen.
Sehingga dari kebutuhan dan keinginan konsumen, hendaknya
manajemen yang ada dalam sebuah perusahaan mampu memadukan
komponen-komponen yang ada di dalam marketing mix atau bauran
pemasaran. Dengan kata lain, dari adanya komponen-komponen
tersebut sebuah perusahaan diharapkan mampu menentukan tingkat
keberhasilannya sebagai upaya untuk mencapai tujuan yakni dalam
memasarkan produknya.

Pengertian Marketing Mix Syariah


Pemasaran dalam islam adalah bentuk muamalah yang dibenarkan
dalam islam, sepanjang dalam segala proses transaksinya terpelihara
dari hal-hal yang terlarang oleh ketentuan syariah. Sedangkan menurut
Kertajaya dan Sula Syariah Marketing sebuah disiplin bisnis strategi
yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan value
dari suatu inisiator kepada stakeholdernya , yang dalam keseluruhan
prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah dalam
islam.
Secara sederhana, penentuan makerting mix syariah ditujukan agar
setiap kegiatan pemasaran dapat berlangsung dengan sukses,
produknya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
konsumen, diberi harga uang terjangkau oleh konsumen lalu
didistribusikan

Pengertian Marketing Mix (Bauran Pemasaran)


Secara umum, pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok
yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk
mempertahankan hidupnya untuk berkembang dan mendapatkan
laba. Pemasaran mencakup kegiatan yang dapat berguna dalam
menciptakan, mengembangkan, mendistribusikan, barang yang
dihasilkan sesuai dengan permintaan calon pembeli berdasarkan
kemampuan dalam menghasilkan suatu barang

Pengertian Promosi (Promotion)


Promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran yang
merupakan aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan
informasi, mempengaruhi/ membujuk, dan atau meningatkan pasar
sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima,
membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang
bersangkutan (Tjiptono, 2007)

Pengertian Harga (Price)


Definisi harga adalah sejumlah uang (ditambah beberapa produk)
yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk
dan pelayanannya. Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa harga
yang dibayar oleh pembeli sudah termasuk layanan yang diberikan
oleh penjual. Banyak perusahaan mengadakan pendekatan terhadap
penentuan harga berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya. Adapun
tujuan tersebut dapat berupa meningkatkan penjualan,
mempertahankan market share, mempertahankan stabilitas harga,
mencapai laba maksimum dan sebagainya (Engel, J; Blackwell R,
2004).

Pengertian Produk (Product)


Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen
untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi
pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang
bersangkutan. Secara konseptual produk adalah pemahaman subyektif
dari produsen atas sesuatu yang bisa ditawarkan, sebagai usaha untuk
mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan
keinginan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas
organisasi serta daya beli pasar (Tjiptono, 2002). Intensitas kompetisi
di pasar memaksa perusahaan untuk mengupayakan adaptasi produk
yang tinggi guna meraih keunggulan yang kompetitif atas pesaing,
karena adaptasi produk dapat memperluas basis pasar lokal dan
ditingkatkan untuk preferensi lokal tertentu. Konsumen semakin
banyak memiliki alternatif dan sangat hati-hati dalam menentukan
keputusan untuk melakukan pembelian dengan mempertimbangkan
faktor-faktor kebutuhan, keunggulan produk, pelayanan dan
perbandingan harga sebelum memutuskan untuk membeli. Dari
faktor-faktor tersebut, keunggulan produk termasuk ke dalam
pertimbangan utama sebelum membeli. Keunggulan kompetitif suatu
produk merupakan salah satu faktor penentu dari kesuksesan produk
baru, dimana kesuksesan produk tersebut diukur dengan parameter
jumlah penjualan produk (Tjiptono, 2008)

Bauran Pemasaran (Marketing Mix)


Konsep marketing mix merupakan salah satu konsep marketing yang
sedang tren pada saat ini, dan konsep ini juga merupakan penentu
keberhasilan dari seorang marketer untuk mencapai keuntungan. Berkaitan
dengan bauran pemasaran konvensional, maka penerapan dalam syariah
akan merujuk pada konsep dasar kaidah fiqih yakni ”Al-ashlu fil-
muamalah al-ibahah illa ayyadulla dalilun ’ala tahrimiha” yang berarti
bahwa pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali
ada dalil yang mengharamkannya (Kartajaya dan Sula, 2008)
Islam mengatur bagaimana manusia yang ada di muka bumi ini
melakukan paktek bisnis atau mencari nafkah dengan mengambil
keuntungan dari orang lain. Dan ada aturan yang dibuat dalam Islam yang
sesuai dengan hal ini yaitu manusia secara tegas dilarang mengambil atau
memakan keuntungan dan harta orang lain dengan cara yang bathil.
Larangan ini berlaku meskipun praktek bisnis yang dilakukan dalam
bentuk kerja sama, jual beli, maupun yang lainnya.
Manusia dalam kegiatan bermuamalah diberikan kebebasan untuk
memenuhi kebutuhannya. Namun kebebasan yang diberikan dalam Islam
ini juga tetap diatur batasannya agar tidak menyakiti salah satu pihak
dalam kegiatan bermuamalah. Maka dari itu hal yang perlu kita perhatikan
dalam kegiatan bermuamalah ini adalah batasan apa saja yang tidak boleh
dlakukan sesuai dengan ajaran syariat Islam dalam hal bermuamalah

Pengertian Bauran Pemasaran (Marketing Mix)


Istilah marketing mix atau bauran pemasaran pertama kali digunakan
oleh Neil Borden (1964), yang terinspirasi dari konsep dan gagasan yang
dikemukakan oleh James Cullington (1948) yang menurutnya bahwa
seorang eksekutif bisnis berperan sebagai ‘mixer of ingredients’. Borden
mengemukakan bauran pemasaran terdiri dari 12 aspek dalam artikelnya
yang berjudul “The Concept of the Marketing Mix” yang dipublikasikan
pada tahun 1964, yaitu sebagai berikut;

  1. Product Planning
  2. Pricing
  3. Branding
  4. Channels or Distribution
  5. Personal Selling
  6. Adverstising
  7. Promotions
  8. Packaging
  9. Display
  10. Servicing
  11. Physical Handing
  12. Fact Finding and Analysis
    Aspek-aspek yang dikemukakan oleh Borden kemudian
    disederhanakan dan dipopulerkan oleh Jarome McCarthy (1968) menjadi 4
    aspek pokok, yang terdiri dari Product, Price, Place, dan Promotion. Pada
    umumnya sering disebut dengan 4P. Sejatinya, proses pemasaran dengan
    4P kurang efektif dan banyak pihak yang mengkritik serta menilai bahwa
    4P merupakan konsep yang belum sempurna. Kritikan dan nilai yang
    kurang efektif terhadap konsep 4P menjadi dorongan untuk beberapa pakar
    untuk mengemukakan konsep atau model pemasaran yang baru. Salah
    satunya adalah model 7P Service Marketing Mix yang dikemukakan oleh
    Booms dan Bitner (1981) serta model bauran pemasaran holistic marketing
    yang dikemukakan oleh Kotler dan Keller (2006). Pada konteks pemasaran
    jasa, Booms dan Bitner (1981) menambah,kan tiga aspek pada konsep 4P
    sehingga menjadi konsep 7P, yang terdiri dari;
  13. Product
  14. Price
  15. Place
  16. Promotion
  17. People
  18. Process
  19. Physical Evidence
    Pengertian bauran pemasaran adalah sebagai berikut : “Bauran
    pemasaran adalah perangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan
    untuk mengejar tujuan perusahaannya.” Maka, dapat disimpulkan bahwa
    bauran pemasaran merupakan satu perangkat yang terdiri dari produk,
    harga, promosi dan distribusi, yang di dalamnya akan menentukan tingkat
    keberhasilan pemasaran dan semua itu ditujukan untuk mendapatkan
    respon yang diinginkan dari pasar sasaran (Kotler dan Keller, 2007).
    Angipora (2002) yang mengemukakan bahwa pengertian dari bauran
    pemasaran adalah seperangkat variabel pemasaran yang dapat
    dikendalikan dan dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan
    tanggapan yang diinginkan di dalam pasar sasaran.
    Bauran Pemasaran adalah kombinasi dari empat variabel atau
    kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran, yakni: produk,
    struktur harga,kegiatan promosi, dan sistem distribusi. Jadi, kegiatan-
    kegiatan marketing mix terdiri dari empat unsur, di mana unsur-unsur
    tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain
    (Swastha dan Irawan, 2006)

Minat Beli

  1. Kotler (2014)
    Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) minat beli
    adalah perilaku konsumen dimana konsumen memiliki
    keinginan dalam memilih dan mengkonsumsi suatu produk.
    Minat beli akan timbul apabila seseorang konsumen sudah
    berpengaruh terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk
    dan informasi suatu produk. Untuk menarik atau
    menumbuhkan minat beli konsumen terlebih dahulu
    pemasar harus memahami bagaimana konsumen
    berkeputusan. Menurut kotler dalam buku manjemen
    pemasaran, minat beli adalah tahapan yang dilakukan oleh
    konsumen sebelum memebli, pengenalan masalah,
    pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan
    pemebelian, dan perilaku pasca pembelian. Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) ada beberapa
    indikator yang menentukan minat beli, yaitu :
    a. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang
    dalam membeli produk.
    b. Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang
    mereferensikan produk kepada orang lain.
    c. Minat preferensial, yaitu menunjukkan perilaku
    seseorang yang memiliki preferensial utama pada
    produk tersebut.
    d. Minat eksploratif, yaitu menunjukkan perilaku
    seseorang yang selalu mencari informasi mengenai
    produk yang diminati dan mencari produk lain yang
    akan mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
  2. Ferdinand (2016)
    Minat beli dapat diartikan sebagai suatu sikap senang
    terhadap suatu objek yang membuat individu berusaha
    untuk mendapatkan objek tersebut dengan cara
    membayarnya dengan uang atau pengorbanan.
    Adapun indikator minat beli menurut Ferdinand (dalam
    Veronika, 2016:24), yaitu:
    a. Minat transaksional, yaitu kecenderugan seseorang
    untuk membeli produk
    b. Minat referensial, yaitu kecenderugan seseorang untuk
    mereferensikan produk kepada orang lian
    c. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan
    perilaku seseorang yang memeliki preferensi utama pada
    produk tersebut, preferensi ini hanya dapat digantikan
    jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.
    d. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku
    seseorang yang selalu mencari informasi mengenai
    produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk
    mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
  3. Wibowo (2015)
    Menurut Ashari (2012:246) d alam Wibowo (2015),
    minat beli merupakan rasa ketertarikan yang dialami oleh
    konsumen terhadap suatu produk (barang atau jasa) yang
    dipengaruhi oleh sikap diluar konsumen dan di dalamnya
    konsumen itu sendiri.
    Adapun indikator-indikator minat beli menurut
    (Wibowo, 2015) sebagai berikut:
    1) Ketertarikan merupakan suatu keadaan atau peristiwan
    tertarik pada suatu barang yang ada dalam suatu toko.
    2) Perhatian merupakan pemusatan atau konsetrasi dari
    seluruh aktifitas individu yang ditujukan kepada sesuatu
    atau sekumpulan objek.
    3) Pencarian informasi merupakan suatu keinginan untuk
    mengetahui lebih banyak tentang suatu barang

Harga


Harga Menurut Kuncoro (2021), harga adalah nilai tukar
suatu barang atau jasa dalam satuan uang pada suatu waktu
dan tempat tertentu.
Indikator harga menurut Kuncoro yang dapat dilihat dari
perubahan nilai tukar atau fluktuasi harga pada pasar, antara
lain:
a. Indeks Harga Saham: Indeks yang mengukur kenaikan
atau penurunan nilai saham di pasar saham. Naiknya
indeks ini menunjukkan bahwa harga saham-saham di
pasar sedang naik dan investor optimis terhadap kondisi
pasar.
b. Indeks Harga Konsumen: Indeks yang mengukur
perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang
dikonsumsi oleh rumah tangga. Naiknya indeks ini
menunjukkan bahwa harga barang dan jasa konsumsi
meningkat, yang berdampak pada daya beli masyarakat.
c. Tingkat Inflasi: Tingkat kenaikan harga-harga umum
dalam suatu periode tertentu, misalnya setahun. Naiknya
tingkat inflasi menunjukkan bahwa harga-harga barang
dan jasa meningkat secara umum.
d. Tingkat Suku Bunga: Tingkat pengembalian yang harus
dibayar oleh peminjam atas pinjaman uang dari bank
atau lembaga keuangan. Naiknya tingkat suku bunga
dapat berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa
karena biaya produksi yang meningkat.
e. Kurs Mata Uang: Harga tukar suatu mata uang dengan
mata uang lain. Naiknya kurs mata uang dapat impor
dan ekspor suatu negara.
Sumbernya dapat ditemukan di buku “Ekonomi
Mikro: Teori, Konsep, dan Aplikasi” karya Suyanto dan
Kuncoro.

Teori Harga (Price)


Agar dapat sukses dalam memasarkan suatu barang atau
jasa, setiap perusahaan harus menetapkan harganya secara tepat.
Harga merupakan satu-satunya unsur marketing mix yang
memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan,
sedangkan ketiga unsur lainnya (produk, distribusi, dan
promosi) menyebabkan timbulnya biaya (pengeluaran).
Harga mempengaruhi keputusan pembelian karena nasabah
biasanya akan membandingkan harga terlebih dahulu dan
mencari yang paling sesuai dengan kondisi finansial, selain itu
nasabah akan menilai terlebih dahulu apakah harga yang
ditawarkan sesuai dengan manfaat yang didapatkan
(Romadhoni, 2019).

  1. Menurut Kotler dalam sunyoto (2019:131)
    Menurut Kotler dalam sunyoto (2019:131), harga adalah
    sejumlah uang yang dibebankan pada suatu produk tertentu,
    perusahaan menetapkan harga dalam berbagai cara. Di
    dalam perusahaan kecil, harga seringkali di tetapkan oleh
    manajemen puncak.
    Harga juga mempunyai beberapa indikator sebagai
    berikut :
    a. Daftar harga produk (list price)
    b. Harga produk sendiri adalah jumlah yang harus
    dibayarkan oleh pelanggan untuk memperoleh suatu
    produk dimana harga suatu produk memberikan
    pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan atas
    penjualan.
    c. Rabat/diskon (discount) Diskon atau potongan harga
    merupakan salah satu strategi pemasaran produk dalam
    bisnis yang terbukti masih efektif hingga saat ini.
    Banyak pelaku bisnis menggunakan strategi ini.
    Konsumen sebenarnya tidak terlalu membutuhkan
    barang tersebut, tetapi kenyataanya karena ada label
    diskon membuat konsumen tersebut menjadi lupa diri.
    Memang dengan strategi memberikan diskon membuat
    konsumen lebih konsumtif.
    d. Potongan harga khusus (allowance) Potongan harga
    khusus merupakan pengurangan dari apa yang tercantum
    dalam daftar harga dan diberikan kepada pelanggan
    yang bersedia melakukan suatu pembelian produk yang
    sudah disepakati oleh penjual. Pemberian potongan
    harga khusus bisa berwujud uang atau tambahan barang
    pada event tertentu.
    e. Periode pembayaran (payment period) Periode
    pembayaran adalah kemudahan pembayaran yang
    diberikan penjual terhadap konsumennya berupa
    kelongaran jangka waktu pembayaran yang dilakukan
    konsumen dalam transaksi pembelian.
    f. Syarat kredit (credit term) Syarat kredit adalah sistem
    pembayaran secara kredit yang diberikan
    produsen/penjual terhadap konsumen dalam jangka
    waktu yang telah ditentukan derngan tambahan
    pembayaran berupa bunga/pajak yang harus dibayarkan.

Penerapan strategi marketing mix jasa pendidikan


Marketing mix adalah strategi kombinasi kegiatan inti
pemasaran dalam kegiatan dapat dikendalikan oleh organisasi dalam
menyajikan penawaran produk pada segmen pasar sebagai sasaran
pasar. Kombinasi elemen yang tergabung dalam strategi marketing mix
sekolah harus dikoordinasikan seefektif mungkin, diantaranya strategi
produk, harga, lokasi dan promosi. Hal tersebut saling mempengaruhi
dan menjadi satu kesatuan dalam strategi pemasaran untuk mencapai
tujuan lembaga pendidikan. (Candra A, 2018). Keempat unsur tersebut
dirasa kurang mencukupi sehingga menambahkan tiga unsur lagi yaitu
orang (SDM), bukti fisik, dan proses, sifat dari unsur tersebut operasi
atau konsumsi yang merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan
dan mengikut sertakan pelanggan dan pemberian layanan secara
langsung hingga terjadinya interaksi langsung (Zulkifli Z. , 2021).
Pemilihan strategi pemasaran jasa pendidikan yang tepat
mempertimbangan sumber daya dan kemampuan yang tersedia serta
memperoleh keterampilan baru untuk mengembangkan dan menerapkan
startegi secara efektif dan efisien. Strategi pemasaran yang dipilih
menentukan target strategi pemasaran melalui segmentasi, target,
positioning di realisasikan menggunakan marketing mix di realisasikan
pengelolaan pemasaran jasa pendidikan (M Fauzan & dkk, 2022).
Penerapan marketing mix sebagai strategi pemasaran jasa
sebagai tujuan untuk mencapai target keberhasilan sekolah. Penawaran
produk seperti program pendidikan, proses pelayanan pendidikan, dan
hasil lulusan dari pendidikan. Dengan melaksanakan berbagai upaya
sekolah untuk tetap berkembang dan mampu bersaing secara unggul.
Sekolah dikatakan sukses jika sanggup menghasilkan input, proses,
output, income dan juga semakin bertambahnya jumlah pelanggan.

Hubungan Emotional Intelligence Dengan Loyalitas Karyawan


Loyalitas kerja karyawan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
keberhasilan suatu perusahaan. Membentuk karyawan dengan loyalitas tinggi
merupakan tugas pimpinan dalam menjaga loyalitas bawahannya. Tingginya
semangat kerja, motivasi kerja, dan kesetiaan kerja karyawan (loyalitas) pada
perusahaan tergantung pada para pemimpin yang bisa mengarahkan serta
membimbing para karyawannya. Karyawan yang memiliki loyalitas akan merasa
memiliki keterikatan pada tempat kerja, semangat terhadap perusahaannya dan
memiliki kemauan untuk terus bekerja dalam organisasi sehingga karyawan
tersebut tidak akan meninggalkan perusahaan.
Penelitian yang dilakukan Yeshinta (2020) mengatakan bahwa kecerdasan
emosional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pegawai.
Artinya semakin meningkat kecerdasan emosional maka semakin tinggi loyalitas
para karyawan, sebaliknya semakin menurun kecerdasan emosional maka dapat
menyebabkan loyalitas pegawai menurun. Demikian pula dengan penelitian
Hidayah et al. (2021) yang mengatakan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh
positif dan signifikan terhadap loyalitas karyawan.

Hubungan Kepemimpinan Transformasional Dengan EmotionalIntelligence


Menurut Sari (2019) mendefinisikan kepemimpinan transformasional sebagai
Gaya kepemimpinan yang memberikan perhatian terhadap bawahan yang
dimilikinya agar memacu semangat dan motivasi bagi mereka. Pemimpin yang
menerapkan tipe kepemimpinan transformasional ini akan cenderung memacu
pengikutnya untuk menghasilkan karya melebihi apa yang diharapkan, yaitu
dengan mengubah visi, menjadi teladan, memberikan dukungan, dan merangsang
keinginan untuk berubah menjadi lebih baik. Pengikut memiliki kepercayaan,
kekaguman, kesetiaan, dan rasa hormat terhadap pemimpin mereka, sehingga
mereka akan dengan mudah melakukan lebih banyak pekerjaan dari yang
diharapkan.
Gaya Kepemimpinan transformasional dianggap sebagai faktor penting
dalam perubahan organisasi. Pemimpin transformasional pada dasarnya harus
dapat mempengaruhi bawahannya, serta memberi wewenang kepada orang lain
untuk melaksanakan visi dan misi yang dapat melampaui apa yang mereka anggap
sebagai batas mereka. Untuk dapat mempengaruhi bawahannya, pemimpin harus
memiliki hubungan emosional yang baik dengan para karyawan.
Penelitian yang dilakukan Nurwahdah (2022) mengungkapkan bahwa
kepemimpinan transformasional hijau berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Kecerdasan Emosional pada UKM Batik Warna Alam Klaten Jawa Tengah. Selain
23
itu, penelitian dari Fayyaz et al. (2022) mengungkapkan bahwa kecerdasan
emosional berpengaruh langsung, positif dan signifikan terhadap hubungan
kepemimpinan transformasional dan project success, hal ini menunjukkan bahwa
kecerdasan emosional mempengaruhi dan menandakan hubungan kepemimpinan
transformasional dan project success. Pentingnya pengaruh Kecerdasan Emosional
terhadap hubungan antara kepemimpinan transformasional dan project success
berhasil dijelaskan dalam penelitian ini

Hubungan Kepemimpinan Transformasional Dengan Loyalitas

.
Kepemimpinan transformasional telah menjadi pusat literatur kepemimpinan
selama hampir tiga dekade. Hal ini diakui sebagai gaya kepemimpinan yang
meningkatkan kesadaran anggota organisasi akan kebutuhan untuk mencapai tujuan
bersama. Gaya kepemimpinan transformasional didasarkan pada kepercayaan,
penghargaan, dan penghormatan antara pemimpin dan pengikut. Pemimpin
transformasional dikatakan sebagai pemimpin yang mengejar kerja tim, rasa
hormat, kerja sama, dan referensi untuk mencapai tujuan individu dan organisasi.
Gaya kepemimpinan memiliki hubungan yang kuat dan terikat dengan
loyalitas karyawan. Handoko (2016) mengatakan bahwa dalam kenyataannya para
pemimpin dapat mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, loyalitas kerja,
keamanan, kualitas kehidupan kerja terutama tingkat prestasi suatu organisasi.
Untuk mendapatkan loyalitas karyawan, pemimpin harus bisa mempengaruhi
bawahannya agar dapat bekerja melebihi ekspektasi mereka.
Penelitian yang dilakukan Muliati (2020) mengungkapkan bahwa
kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap
loyalitas pegawai. Selain itu penelitian dari Fatrin (2020) juga mengungkapkan
hasil yang sama, yaitu kepemimpinan berpengaruh secara signifikan terhadap
loyalitas karyawan di PT. Mandalika Adi Pratama. Kedua penelit diatas mendukung
penelitian yang dilakukan oleh Marzuki (2018) yang mengatakan bahwa
kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap
loyalitas karyawan di LP3I Group.

Unsur-unsur strategi pemasaran jasa pendidikan


Pemasaran memiliki tiga unsur penting yaitu strategi
pemasaran, taktik pemasaran, dan nilai pemasaran. Untuk memasarkan
produk jasa agar tepat sasaran, adapun unsur-unsur strategi pemasaran
jasa pendidikan, yaitu (Rusdiana & kodir, 2022) :
1) Identifikasi pasar, yaitu tahapan pertama untuk mengetahui
kapasitas dan potensi lembaga pendidikan dalm pemasaran dengan
melakukan riset pasar pendidikan untuk mengetahui keadaan dan
ekspetasi pasar yang menjadi kepentingan pelanggan.
2) Segmentasi pasar, yaitu tindakan mengidentifikasi dan membentuk
kelompok pembeli atau konsumen secara terpisah. Setiap konsumen
dibedakan menurut karakteristik kebutuhan produk dan bauran
pemasaran sendiri (Nina, 2021).
3) Targeting, yaitu proses memilih salah satu atau lebih segmen yang
akan dijadikan pasar sasaran atau target pasar.
4) Positioning, yaitu rancangan tindakan dan citra dari lembaga
pendidikan untuk mencapai sebuah posisi diantara para pesaing
yang diterapkan dalam pencapaian sasaran, sehingga diperlukan
kreatifitas yang dilakukan terhadap produk (Nina, 2021).
5) Deferensiasi, yaitu suatu proses dalam memberikan penawaran yang
berbeda dari pesaing, dengan mengisyaratkan lembaga pendidikan
mempunyai jasa yang berkualitas, menciptakan persepsi terhadap
nilai tertentu kepada pelanggan.
6) Komunikasi pemasaran, yaitu proses menyampaikan informasi
produk atau ide yang efektif yang ada di lembaga pendidikan kepada
target sasaran.
7) Pelayanan lembaga pendidikan, kemampuan sumber daya manusia
dengan mengoptimalkan fasilitas lembaga pendidikan untuk
memberikan kepuasan kepada pelanggan

Analisis strategi pemasaran jasa pendidikan


Manajemen Pemasaran menggunakan informasi yang
dihasilkan oleh analisis situasi sebagai pedoman untuk menentukan
sebuah strategi baru atau mengubah strategi yang sudah ada. Penentuan
penggunaan strategi terlebih dahulu menganalisis situasi secara teratur,
sehingga dapat mengetahui hasil pencapaian melalui identifikasi
kebutuhan. Strategi digunakan untuk mengetahui situasi yang
mempengaruhi lembaga pendidikan dengan cara menganalisis situasi
secara internal maupun eksternal, sebagai berikut (Sunaengsih C. ,
2017):
1) Faktor internal lembaga pendidikan yang harus dianalisis adalah
perkembangan hasil pencapaian penjualan produk setiap sektor dan
kategori pelanggan perkembangan pangsa pasar proses dan hasil
pelaksanaan program-program marketing mix sumber-sumber daya
produksi keuangan manusia serta manajemen sekolah.
2) Secara eksternal yang harus dianalisis meliputi pasar pesaing
pemasok, perekonomian, sosial budaya, situasi politik, beserta
produk-produknya misalnya kebijakan fisikal dan moneter, serta
hukum perundang-undangan serta peraturan yang berlaku.
Strategi pemasaran adalah suatu mindset yang rinci mengenai
pasar sasaran, penetapan posisi, marketing mix, dan biaya untuk
pemasaran yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pasar (grace,
2021). Lembaga pendidikan juga membutuhkan strategi pemasaran jasa
pendidikan sebagai sektor jasa yang membutuhkan orientasi pemasaran
khusus

Pengukuran Loyalitas Karyawan


Loyalitas karyawan tidak bisa terbentuk dengan sendirinya didalam suatu
perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Ghozali (2005), untuk mengukur
loyalitas, ada 4 dimensi, yaitu :
1) Ketaatan/Kepatuhan
Yaitu mampu mentaati segala peraturan di perusahaan yang berlaku, dan
mentaati perintah yang diberikan atasan yang berwenang
2) Bertanggung Jawab
Yaitu mampu menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan
baik, tepat waktu serta berani mengambil resiko untuk keputusan yang di buat
atau tindakan yang dibuat.
3) Pengabdian
Yaitu karyawan bekerja secara ikhlas dan mendahulukan kepentingan
perusahaan.
4) Kejujuran
Yaitu melaporkan hasil pekerjaannya kepada atasannya

Pengertian strategi pemasaran jasa pendidikan


Strategi adalah cara untuk mencapai sebuah sasaran, strategi
dapat didefinisikan sebagai keputusan dan tindakan yang menentukan
kinerja jangka panjang sebuah organisasi, dengan menggambarkan
pentingnya strategi bagi manajer pemasaran melalui pemasaran strategi
dalam menetapkan rencana organisasi melakukan bisnis Bagaimana
organisasi akan berhasil dalam persaingan dan bagaimana organisasi
menarik dan memuaskan pelanggannya (Sunaengsih C. , 2017).
Pemasaran itu sendiri adalah proses, cara, atau perbuatan
memasarkan barang dagangan (Azan & dkk, 2021). Pemasaran adalah
proses perencanan dan penerapan konsep, penetapan harga, promosi,
distribusi ide, barang, dan jasa untuk menciptakan komunikasi tujuan
pribadi dan organisasi (Mardia & dkk, 2021). Konsep pemasaran
merupakan suatu kerangka pemikiran yang menjadi dasar pengambilan
keputusan di dalam suatu perusahaan untuk mengelola semua sumber
daya yang ada pada perusahaan yang bersangkutan berjalan secara
efektif dan efisien. Dengan begitu dalam mencapai tujuan pasar harus
melakukan beberapa pendekatan melalui proses manajemen pemasaran
diantaranya, analisis, rencana, implementasi, dan evaluasi. Hal tersebut
berguna bagi manajer pemasaran dalam membuat perencanaan dan
mengambil keputusan, sehingga manajer perlu memperhatikan aspek
yang meliputi; analisi situasi, prioritas tujuan organisasi, sasaran pasar
(target market), marketing mix.
Strategi pemasaran jasa pendidikan merupakan salah satu alat
bagi lembaga pendidikan untuk menghadapi daya saing yang dinamis.
Strategi pemasaran memiliki tujuan yaitu mendapat keuntungan dan
mencapai tujuan secara efektif dan efisien sebagai pertimbangan untuk
menjalankan lembaga pendidikan dengan menekankan pada biaya
promosi, operasional, dan proses pemasaran jasa pendidikan (Syarifah
N & dkk, 2022). Pemanfaatan menentukan strategi pemasaran jasa
pendidikan harus inovatif dan tepat sasaran dengan analisis lingkungan
dalam menghadapi persaingan untuk mempertahankan positioning
lembaga pendidikan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan


Loyalitas akan terwujud apabila kebutuhan dalam pekerjaannya dapat terpenuhi,
sehingga karyawan akan senang dalam melakukan pekerjaannya. Menurut Dewi
(2016) ada 4 faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan. yaitu :
1 Karakteristik Pribadi
Merupakan faktor yang menyangkut karyawan itu sendiri yang meliputi
usia, masa kerja, umpan balik, jenis kelamin, tingkat pendidikan, prestasi
yang dimiliki, ras, dan sifat kepribadian.
2 Karakteristik Pekerjaan
Merupakan faktor yang menyangkut pekerjaan pada perusahaan tersebut,
meliputi tantangan kerja, identifikasi tugas, umpan balik tugas, kecocokan
tugas, job stres, dan job enrichment. Karyawan dituntut untuk dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat kerjanya berada, meliputi
semua elemen pendukung perusahaan, terutama dengan dumber daya
manusia.
3 Karakteristik Desain Perusahaan
Menyangkut pada internal perusahaan yang dapat dilihat dari sentralisasi,
tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan keputusan di
perusahaan.
4 Pengalaman Yang Diperoleh Dalam Pekerjaan
Internalisasi individu terhadap perusahaan setelah melaksanakan pekerjaan
dalam perusahaan sehingga menimbulkan rasa aman, merasakan adanya
keputusan pribadi yang dipenuhi oleh perusahaan

Loyalitas Karyawan


Loyalitas pertama kali diteliti oleh Steers & Porter di tahun 1983, yang
mengemukakan pendapat bahwa loyalitas adalah hubungan aktif antara individu
atau antara bawahan dan atasan sedemikian rupa sebagai individu sehingga individu
bersedia memberikan pelayanan terbaik pada atasan. Dengan perkembangan
zaman, loyalitas karyawan telah diteliti oleh beberapa peneliti, seperti Iskandar
(2018) mengatakan bahwa loyalitas merupakan kesetiaan seorang karyawan
terhadap suatu instansi tempat ia bekerja. Meliputi kesetiaan pada jabatan,
pekerjaan dan organisasi. Pada tahun berikutnya, Wilianto (2019) mengemukakan
bahwa loyalitas karyawan adalah keinginan, kesediaan, dan tindakan karyawan
untuk menjalankan tugas perusahaan secara penuh kesadaran dan tanggung jawab
sehingga tujuan perusahaan berhasil tercapai serta keputusan pasti karyawan untuk
untuk tetap bekerja dalam perusahaan atau tidak keluar dari perusahaan apabila
tidak membuat kesalahan yang ekstrim.
Loyalitas menurut Purnamasari dan Sintaasih (2019) adalah kesetiaan yang
dicerminkan oleh kesediaan karyawan untuk melindungi dan membela organisasi
dengan kesadaran, tekad, dan kemampuan yang dibuktikan dengan sikap dan
perilaku dalam melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan organisasi. Loyalitas
ditahun yang sama diteliti oleh Citra dan Fahmi (2019) sebagai kesetiaan seseorang
terhadap suatu hal yang bukan hanya berupa kesetiaan fisik semata, namun lebih
pada kesetiaan non fisik seperti pikiran dan perhatian. Loyalitas para karyawan
dalam suatu organisasi itu mutlak diperlukan demi kesuksesan organisasi itu
sendiri..
Menurut penelitian Altanchimeg dan Sarantuya (2018) menyebutkan bahwa
loyalitas karyawan sebagai tekad dan kesanggupan dari individu atau karyawan
untuk menaati, melaksanakan, mengamalkan peraturan-peraturan yang ada di
perusahaan dengan penuh kesadaran dan sikap tanggung jawab serta tidak adanya
keterpaksaan dalam bekerja secara keseluruhan. Hal ini selarang dengan pernyataan
Werdati et al. (2020) Loyalitas karyawan adalah merupakan tekad dan kesanggupan
untuk menaati, melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh
kesadaran dan tanggung jawab pekerjaan.
Sedangkan menurut penelitian terbaru dari Maulida dan Karyaningsih
(2022) loyalitas adalah kesetiaan karyawan dengan seluruh kemampuan,
keterampilan, pikiran dan waktu untuk ikut serta mencapai tujuan perusahaan dan
menyimpan rasa perusahaan serta tidak melakukan tindakan-tindakan yang
merugikan perusahaan selama orang itu masih berstatus karyawan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa loyalitas adalah
keadaan yang menyangkut fisik, psikis, dan sosial yang membuat karyawan
mempunyai sikap untuk mentaati peraturan yang ditentukan oleh perusahaan,
melakukan dan menerapkan sesuatu yang ditaatinya dengan penuh kesadaran dan
tanggung jawab pribadi terhadap upaya pencapaian tujuan perusahaan sesuai
dengan keahliannya, sehingga dapat terjadi peningkatan efektifitas perusahaan yang
disertai dengan pengabdian yang kuat

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Emotional Intelligence


Menurut Goleman (2016), ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan
emosional seseorang, yaitu :

  1. Lingkungan Keluarga (Internal)
    Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi.
    Kecerdasan emosi ini dapat diajarkan pada saat anak masih bayi dengan
    contoh-contoh ekspresi. Peristiwa emosional yang terjadi pada masa anakanak akan melekat dan menetap secara permanen hingga dewasa, kehidupan
    emosional yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi anak kelak
    dikemudian hari.
  2. Lingkungan Non-Keluarga (Eksternal)
    Maksud dari lingkungan non keluarga ini adalah lingkungan masyarakat dan
    pendidikan. Kecerdasan emosional akan berkembang sejalan dengan
    pertumbuhan fisik dan mental seseorang. Pembelajaran ini biasanya
    ditunjukan dalam suatu aktivitas bermain peran. Anak berperan sebagai
    individu diluar dirinya dengan emosi yang menyertainya sehingga anak akan
    mulai belajar mengerti keadaan orang lain

Emotional Intelligence

.
Emotional Intelligence pertama kali diteliti oleh Peter Salovey dan John D.
Mayer di tahun 1990-an mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai bagian dari
kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan untuk memantau perasaan dan
emosi diri sendiri dan orang lain, untuk membedakan di antara mereka dan
menggunakan informasi ini untuk memandu pemikiran dan tindakan seseorang.
Kemudian konsep emotional intelligence ini dikembangkan lebih lanjut oleh Daniel
Goleman pada tahun 1998 yang mengatakan bahwa kecerdasan emosi adalah
kapasitas untuk mengenali perasaan diri dan perasaan orang lain, memotivasi diri
dan orang lain, dan mengatur emosi diri dengan baik dan ketika berhubungan
dengan orang lain.
Mengikuti perkembangan zaman, emotional intelligence telah diteliti oleh
beberapa peneliti seperti yang dilakukan Samosir et al., (2018) yang mengatakan
kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan yang ada pada diri seseorang untuk
dapat memahami perasaan diri sendirimaupun perasaan orang lain, kemampuan
untuk memotivasi diri sendiri dalam situasi yang frustasi sehingga beban stress
tidak mempengaruhi kemampuan berpikirnya, serta kemampuan untuk mengelola
emosi pada diri sendiri dengan baik sehingga dapat hubungan sosial dengan orang
lain juga berjalan baik.
Penelitian dari Lestari et al., (2021) mengatakan kecerdasan emosi
merupakan kemampuan di bidang emosi yaitu kesanggupan menghadapi frustasi,
kemampuan mengendalikan emosi, semangat optimisme, dan kemampuan menjalin
hubungan dengan orang lain atau empati.
Penelitian yang dilakukan oleh Ratnasari et al. (2022) mengatakan
kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih
dan membangkitkan perasaan untuk membantu fikiran, memahami perasaan dan
maknanya, serta mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu
perkembangan emosi dan intelektual.
Berdasarkan teori-teori tersebut dapat disimpulkan bahwa emotional
intelligence merupakan kemampuan seseorang yang meliputi kontrol diri,
semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri maupun
orang lain

Pengukuran Kepemimpinan Transformasional


Menurut penelitian yang dilakukan Robin dan Judge (2013) ada empat dimensi
dalam kepemimpinan transformasional, yaitu sebagai berikut :

Pengaruh Ideal (Idealized Influence)
Mampu menjadi panutan/role model, mendapatkan rasa hormat dan
mendapatkan kepercayaan

  1. Motivasi Inspirasional (Inspirasional Motivation)
    Mampu memberikan motivasi inspirasi, dan mempunyai target pencapaian
    yang jelas untuk dicapai oleh karyawannya.
  2. Stimulasi Intelektual (Intelectual Stimulation)
    Menghargai ide-ide karyawan dan membantu karyawannya memecahkan
    masalah.
  3. Perhatian Individu (Individualized Consideration)
    Mampu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, memberikan
    pengembangar karir, dan menjalin hubungan yang baik dengan karyawan

Unsur-unsur marketing mix jasa pedidikan


Adapun unsur-unsur marketing mix sebagai strategi pemasaran
jasa pendidikan adalah (Azan & dkk, 2021):
1) Produk (product)
Produk dalam konteks jasa pendidikan adalah jasa yang
ditawarkan untuk menarik calon pelanggan dengan tujuan
memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat berupa reputasi,
prospek, dan varian pilihan. Sebagai penghasil produk (layanan)
untuk memenuhi macam permintaan konsumen perlu
memperhatikan pengemasan yang artinya untuk menjaga nama baik,
reputasi atau citra lembaga agar tetap baik dan unggul, branding
artinya keunggulan atau simbol yang menjadikan pembeda dari
produk lain, pelabelan. Lembaga pendidikan menghasilkan produk
jasa pendidikan dengan mewarkan reputasi, mutu pendidikan,
prospek, peluang bagi peserta didik untuk menentukan pilihan yang
diinginkan dalam keberhasilan masa depan (Bunyamin, 2021).
Sehingga lembaga pendidikan harus bisa menghasilkan kompetensi
lulusan, yaitu kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.

a) Produk utama inti cover benefit yaitu pemanfaatan dari setiap
produk yang sebenarnya dibutuhkan untuk digunakam oleh
pelanggan.
b) Produk generik yaitu produk dasar yang mampu memenuhi
fungsi produk yang paling dasar rancangan produk minimal agar
dapat berfungsi.
c) Produk harapan (expected) yaitu produk formal yang ditawarkan
dengan berbagai atribut dan kondisinya secara normal layak
diharapkan dan disepakati untuk dibeli.
d) Produk potensial yaitu segala macam tambahan dan perubahan
yang mungkin dikembangkan untuk suatu produk di masa
mendatang.
2) Harga (place)
Harga yaitu kewajiban pembiayaan atau uang yang harus
dibayar oleh konsumen untuk mendapatkan suatu produk yang
dinginkan. Biaya pendidikan adalah nilai rupiah dari semua sumber
daya (input) dalam bentuk natura (barang), pengorbanan, dan uang
yang dikeluarkan untuk seluruh aktivitas pendidikan (Rahmat,
2020). Biaya dikeluarkan pelanggan kepada lembaga pendidikan
sebagai penyedia layanan jasa untuk mempertimbangkan kegunaan
besaran biaya dalam pemanfaatannya. Sehingga lembaga
pendidikan perlu mensosialisasikan kebijakan kepada pelanggan
terhadap biaya yang diperlukan untuk kegiatan operasionalnya.
3) Lokasi (price)
Lokasi merupakan suatu tempat dimana lembaga
beroperasi dalam melakukan aktivitas kegiatan. Lokasi sekolah
mempertimbangkan keberadaan lingkungan yang mudah di akses
oleh transportasi, lingkungan belajar yang kondusif (Rahmat, 2020).
Dalam hal ini terdapat tiga jenis interaksi yang mempengaruhi lokasi
antara lain; pemilihan lokasi yang strategis, penyampaian kualitas
produk yang sesuai, interaksi melalui media informasi dan
komunikasi agar komunikasi kedua pihak dapat terlaksana.
4) Promosi (promotion)
Promosi adalah bentuk komunikasi pemasaran untuk
menyebarkan informasi, mempengaruhi, membujuk, atau
meningkatkan pasar sasaran terhadap produk jasa yang bersedia
menerima membeli dan meningkatkan loyalitas terhadap organisasi.
promosi setiap pendidikan meliputi aktivitas yang digunakan
sekolah untuk menjangkau khalayak untuk membangun lingkungan
internal serta menciptakan layanan jasa pendidikan untuk memenuhi
keinginan dan harapan masyarakat. saluran promosi dibagi menjadi
empat, pemasaran langsung (kunjungan secara langsung terhadap
masyarakat), pemasaran tidak langsung (penggunaan media cetak,
pemasangan bild board, brosur), pemasaran melalui media sosial
(pemasaran melalui facebook, instragram, youtube, dan
sebagainya), pemasaran online (website). sehingga sekolah mampu
21
berkomunikasi dengan pelanggan secara intens agar menarik minat
dan pelanggan merasakan pelayanan yang diberikan oleh sekolah.

Tujuan dan manfaat marketing mix jasa pendidikan


Marketing mix dalam pemahamannya perlu diketahui bahwa
terdapat beberapa tujuan dalam penggunaan marketing mix, diantaranya
(Sumuyati, 2019):
1) Periklanan (adventising)
Periklanan merupakan salah satu kegiatan penting dalam
marketing mix tujuan dari periklanan ini adalah untuk memberikan
informasi tentang produk barang atau jasa kepada target konsumen
dan untuk meningkatkan pemasaran.
2) Promosi penjualan (sale promotion)
Aktivitas ini merupakan kumpulan dari berbagai alat
intensif yang dirancang untuk mendorong permintaan suatu barang
atau jasa. Dengan kegiatan inti sebagian besar berjangka pendek dan
tidak dilakukan secara berulang.
3) Pemasaran langsung (direct marketing)
Pemasaran langsung adalah sistem pemasaran interaktif
yang menggunakan suatu media iklan untuk menghasilkan
tanggapan atau transaksi yang dapat diukur pada suatu lokasi
tujuannya untuk mengkomunikasikan produk atau jasa secara
langsung kepada konsumen yang dianggap target market potensia

Pengertian penerapan marketing mix jasa pendidikan


Penerapan adalah suatu perbuatan untuk mempraktekan suatu
teori atau metode dalam mencapai tujuan serta kepentingan yang
diinginkan oleh suatu kelompok agar tersusun dan terencana (Endang S
& Zaimuddin, 2021). Pengertian marketing mix secara bahasa yaitu
bauran pemasaran, sedangkan menurut istilah marketing mix adalah
strategi pemasaran yang dilaksanakan secara terpadu yang dilakukan
secara bersamaan dalam menerapkan elemen marketing mix sebagai
strategi pemasaran. Marketing mix di dalamnya terdapat beberapa
elemen marketing jika sebelumnya dengan 4P product (produk), place
(lokasi), price (harga), promotion (promosi), namun seiring
berkembangnya zaman yang semakin modern dengan kecanggihan
teknologi terdapat penambahan tiga elemen people (sumber daya
manusia), physical evidence (bukti fisik), process (proses) yang kini
menjadi 7P dalam marketing mix (Hutabarat, 2017, p. 116). Lembaga
pendidikan dapat memilih untuk menerapkan marketing mix sebagai
strategi pemasaran selama penggunaannya menjadikan organisasi lebih
berkembang dalam mencapai tujuan.

Kepemimpinan Transformasional


Teori kepemimpinan transformasional pertama kali ditemukan oleh James
McGregor Burn pada tahun 1978. Kemudian penelitian mengenai kepemimpinan
transformasional dilanjutkan oleh Bernard M. Bass pada tahun 1985 yang mulai
mencetuskan Teori Kepemimpinan Full-Range dan dikembangkan lagi oleh Avolio
dan Bass pada tahun 1991. Ada 3 gaya kepemimpinan yang mereka gagaskan, yaitu
Kepemimpinan Laissez-Faire, Kepemimpinan Transaksional dan Kepemimpinan
Transformasional. Dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut, kepemimpinan
transformasional lebih efektif dibandingkan 2 kepemimpinan lainnya, dipandang
dari sisi kontribusi pemimpin transformasional yang lebih banyak memotivasi para
karyawannya.
Burn mengidentifikasi kepemimpinan transformasional sebagai hubungan
di mana pemimpin dan staf saling memotivasi untuk tingkat yang lebih tinggi yang
mengakibatkan kesesuaian sistem nilai antara pemimpin dan staf. Mengikuti
perkembangan zaman, selalu ada pembaruan oleh peneliti lainnya mengenai
kepemimpinan transformasional, seperti penelitian yang dilakukan oleh Robin dan
Judge (2013) yang mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional merupakan
proses mempengaruhi individu untuk mencapai tujuan organisasi dengan
mendahulukan kepentingan organisasi dan mengesampingkan kepentingan pribadi.
Kepemimpinan transformasional juga diteliti oleh Supartha (2016) menyatakan
kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memotivasi karyawan
untuk memandang masa depan organisasi dengan optimis.
Kepemimpinan transformasional yang diteliti oleh Susana (2018)
mengungkapkan kepemimpinan transformasional mengintegrasikan ide-ide yang
dikembangkan dalam pendekatan watak, gaya dan kontingensi, esensi
kepemimpinan transformasional adalah sharing of power. Dalam konsep ini,
seorang pemimpin transformasional melibatkan bawahan secara bersama-sama
untuk melakukan perubahan, atau sering disebut wujud pemberdayaan. Melalui
kepemimpinan transformasional ada suatu keterikatan yang positif antara atasan
dan bawahan. Sedangkan menurut Permana et al., (2019) yang mengungkapkan
kepemimpinan transformasional merupakan suatu gaya kepemimpinan yang
menggunakan efektifitas inspirasi dari seorang pemimpin untuk merubah
pengikutnya melalui ide dan emosinya.
Menurut penelitian terbaru dari Priarso et al. (2019) mengatakan bahwa
gaya kepemimpinan transformasional mengacu pada kemampuan pemimpin
mengintegrasikan kreatifitas, ketekunan, energi positif, dan intuisinya, serta peka
terhadap karyawan agar tujuan organisasi dapat tercapaai dan berdampak bagi
karyawan.
Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan di atas, dapat dirumuskan
bahwa kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan, dimana pemimpin
tersebut mampu mengembangkan komitmen pengikutnya, mampu menstimulasi
dan menginspirasi pengikutnya, mampu meningkatkan tujuan pengikutnya, serta
mampu memberikan kepercayaan pada pengikutnya untuk bekerja melebihi
harapan sehingga dapat mencapai tujuan organisasi

Pengaruh Citra Merek terhadap Keputusan Pembelian


Konsumen sering membeli produk dari merek yang terkenal
karena mereka merasa lebih aman dengan produk yang sudah dikenal,
dan mereka beranggapan bahwa merek terkenal lebih dapat
diandalkan, selalu tersedia, dan kualitasnya terkjamin. Oleh karena
itu, merek terkenal sering kali dipilih oleh konsumen daripada merek
yang tidak terkenal. Oleh karena itu nama merek perusahaan yang
kuat merupakan faktor penting bagi pelanggan untuk memilih merek
mereka atas merek yang tidak dikenal. Demikian juga menurut
(Kotler, 2020), citra merek dapat memengaruhi keputusan pembelian
konsumen. Citra merek yang kuat dapat memicu keinginan konsumen
untuk membeli produk tersebut dan memperkuat loyalitas konsumen
terhadap merek tersebut. Hal ini disebabkan karena citra merek
mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan oleh konsumen, sehingga
membuat mereka lebih terhubung dan lebih percaya pada merek
tersebut

Pengaruh Celebrity Endorsment terhadap Keputusan Pembelian


Menggunakan endorsement adalah menjadi salah satu keputusan
untuk menjadikan banyak konsumen mengetahui sebuah produk,
terlebih jika menggunakan endorser yang cukup terkenal dan
banyak disukai banyak orang menjadikannya salah satu sumber utama
dalam meraih calon konsumen lebih banyak. Menggunakan
endorsement juga menjadikan suatu daya tarik tersendiri untuk
target calon konsumen dan akan cenderung membuat mereka
melakukan keputusan pembelian. Ketika promosi dilakukan terus
menerus maka akan mempengaruhi konsumen serta memperbesar
konsumen dalam terhadap keputusan pembelian. Menurut (Tiauw,
A. A., & Amin, 2021) Endorsement memiliki pengaruh yang kuat
dalam meningkatkan keputusan pembelian

Pengaruh Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian


Kualitas produk yang ditawarkan bervariasi dari satu pasar ke
pasar lainnya. Penilaian konsumen terhasap kualitas produk yang
diterima, baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan produk
yang ditawarkan, harius dipertimbangkan secara terpisah oleh calon
konsumen sebelum membuat keputusan pembelian. Hasil
penelitian menurut (Meilina Boediono, S. C., & sari Immanuel, 2018)
menunjukan bahwa kualitas Produk dapat berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian.Hal ini membuktikan bahwa
kualitas produk turut menjadi bahan pertimbangan sebelum konsumen
memutuskan untuk melakukan pembelian. Kualitas Produk
berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian, pernyataan ini dapat
didukung berdasarkan hasil-hasil riset yang relevan yaitu (Hamidi, D.
Z., & Prakoso, 2018)

Indikator Kualitas Produk


Menurut Kotler, P. & Keller, (2017:128) mengemukakkan
bahwa terdapat beberapa indikator kualitas produk yang meliputi:
a. Fitur Produk (Product Features), Kemampuan produk
dalam menyediakan fitur yang diinginkan oleh
konsumen, serta kualitas dari fitur tersebut.
b. Kinerja Produk (Product Performance), Kemampuan
produk dalam melakukan fungsi utamanya dengan baik
dan efektif.
c. Kualitas Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction
Quality), Kualitas yang dirasakan oleh konsumen
terhadap produk yang memenuhi ekspektasi mereka.
d. Kualitas Konformitas (Conformance Quality), Tingkat
kesesuaian produk dengan standar kualitas yang telah
ditetapkan.
e. Kualitas Daya Tahan (Durability Quality), Kemampuan
produk untuk bertahan dalam jangka waktu yang lama
tanpa mengalami kerusakan.
f. Kualitas Layanan Purna Jual (Serviceability Quality),
Kemampuan produk dalam memberikan layanan purna
jual yang memuaskan bagi konsumen.
g. Kualitas Estetika (Aesthetics Quality), Penampilan
visual atau fisik dari produk yang menarik dan sesuai
dengan keinginan konsumen.

Dimensi Kualitas Produk


Kotler, P., Kartajaya, H., & Setiawan, (2017:119) terdapat
beberapa dimensi kualitas produk yang harus diperhatikan oleh
perusahaan, yaitu:
a. Kualitas produk inti (Core Product Quality):
Menunjukkan kemampuan produk untuk memenuhi
kebutuhan dasar konsumen. Hal ini berkaitan dengan
fungsi utama produk dan fitur-fitur yang dimiliki.
b. Kualitas desain (Design Quality), Menunjukkan sejauh
mana desain produk menarik perhatian konsumen dan
memenuhi kebutuhan estetika serta kenyamanan dalam
penggunaan.
c. Kualitas merek (Brand Quality), Menunjukkan sejauh
mana merek produk dikenal dan dihargai oleh
konsumen, termasuk reputasi merek, citra merek, dan
kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut.
d. Kualitas pelayanan (Service Quality), Menunjukkan
sejauh mana perusahaan memberikan layanan yang
baik dan memuaskan terhadap konsumen, seperti
pelayanan purna jual dan dukungan teknis.
e. Kualitas relasi (Relationship Quality), Menunjukkan
sejauh mana perusahaan mampu membangun
hubungan jangka panjang yang baik dengan konsumen,
termasuk memahami kebutuhan konsumen,
memberikan nilai tambah, dan memperkuat loyalitas
konsumen

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Pada era industri sekarang ini,agar dapat memperkuat
penjualannya di pasaran perusahaan berlomba berfiki runtuk dapat
mempertahankan kualitas produk yang mereka punya serta
meningkatkan kualitasnya. Mengasilkan inovasi terbaru karena
konsumen senantiasa lebih selektif dalam mempertimbangan
kualitas produk yang akan dibelinya.Oleh karena itu para pelaku usaha di berbagai bidang industri bergantung pada karakteristik
produk dan produksinya. Menurut (Tjiptono, 2018:255) kualitas
produk dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor. antara lain :
a. Desain produk yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan
pelanggan
b. Bahan baku dan material yang berkualitas tinggi
c. Proses produksi yang baik dan terstandarisasi
d. Penerapan kontrol mutu yang ketat
e. Peningkatan inovasi produk secara terus-menerus
f. Pemenuhan regulasi dan standar yang berlaku

Pengertian Perilaku Hijau


Pengertian perilaku hijau menurut beberapa para ahli sebagai
berikut:
1) Francoeur et al., (2021;68) menjelaskan bahwa perilaku hijau adalah
tindakan dan perilaku karyawan yang berkontribusi untuk
menciptakan kelestarian lingkungan di dalam suatu organisasi.
2) Shah & Ali Soomro, (2023;77) perilaku hijau membantu perusahaan
dalam mencapai tujuan kinerja hijau yang ditingkatkan dengan
mengembangkan perilaku hijau di kalangan karyawan. Perilaku
hijau dapat dipromosikan melalui dua elemen penting, yaitu perilaku
hijau terkait tugas dan perilaku hijau sukarela. Perilaku hijau terkait
tugas menggambarkan perilaku hijau yang dilakukan sehubungan
dengan tugas pekerjaan yang diminta dari karyawan. Adapun
perilaku hijau sukarela melibatkan inisiatif pribadi oleh karyawan
yang melebihi harapan perusahaan. Sikap lingkungan di tempat kerja
dapat dipengaruhi oleh sikap lingkungan, kontrol perilaku yang
dirasakan, aktivitas yang sedang berlangsung, norma sosial, dan niat
aktivitas.
3) Menurut Joong et al., (2019;87) perilaku HRM meningkatkan
keleluasaan karyawan, membuat karyawan lebih mungkin
berkontribusi pada perusahaan ketika mereka terlibat dalam
interaksi berkualitas dengan perusahaan atau pemasok. Misalnya
semakin tinggi persepsi praktik HRM oleh pekerja garis depan,
semakin tinggi juga tingkat perilaku pelayananya. Mereka
menunjukkan bahwa pekerja layanan dengan pemahaman yang
kuat tentang praktik HRM (misalnya perekrutan dan pelatihan)
memberikan layanan yang sangat baik kepada pelanggan yang
melebihi kewajibannya

Indikator Kinerja Hijau


Berdasarkan pandangan Joong et al., (2019:84) indikator kinerja
hijau adalah sebagai berikut
1) Dukungan Manajemen Senior
Manajemen mengkomunikasikan kebijakan lingkungan, rencana,
dan informasi terkait lainnya kepada karyawan
2) Pelatihan
memberikan pelatih karyawan agar dapat membantu mereka
memahami praktik lingkungan baru
3) Pemberdayaan
karyawan yang diberdayakan agar cenderung terlibat dalam aktivitas
lingkungan
4) Penghargaan
penghargaan dapat memicu minat karyawan untuk bertanggung
jawab terhadap lingkungan

Keputusan Pembelian
Definisi keputusan pembelian menurut Sutiyono, R., (2020) adalah
pengambilan keputusan konsumen, yang dipengaruhi oleh ekonomi
keuangan, teknologi, politik, budaya, produk, harga, lokasi, promosi, bukti
fisik, orang dan proses. Oleh karena konsumen untuk memproses semua
informasi dan membentuk sikap yang menuntun mereka untuk menarik
kesimpulan dalam bentuk jawaban yang menunjukan produk apa yang harus
mereka beli. Sedangkan Menurut (Armstrong, G., Kotler, P., Harker, M., &
Brennan, 2021, p. 236) Keputusan pembelian adalah hasil dari interaksi
pengaruh lingkungan pemasaran, karakteristik individu, dan proses
pengambilan keputusan pembelian.” Konsumen membuat keputusan
pembelian dibuat melalui beberapa tahap, yakni pengenalan masalah,
pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan evaluasi
pasca-pembelian.

Indikator Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah proses konsumen dalam
menjalankan persepsi masalah, mengumpulkan informasi pada
produk atau merek serta menilai bagaimana suatu produk dilihat
dari baik atau tidak saat pilihan tersebut dipakai memecahkan
masalah, sehingga mendekati kepada keputusan pembelian. (Kotler
& Keller, 2016, p. 158) indikator yang digunakan untuk mengukur
keputusan pembelian adalah sebagai berikut:
a. Pengenalan masalah: Tahap dimana konsumen
mengenali sebah merek yang tepat untuk memenuhi
kebutuhannya.
b. Pencarian informasi: Informasi mengenai merek
melalui berbagai media mendukung konsumen untuk
mengetahui kelebihan suatu merek.
c. Evaluasi alternatif: Merupakan merek yang paling
sesuai dibandingkan mereka alternative yang lainnya.
d. Keputusan pembelian: Keyakinan konsumen dalam
pengambilan keputusan terhadap merek.
e. Perilaku setelah pembelian: Adanya persepsi positif dari
konsumen setelah menggunakan produk dengan merek
yang dibeli

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja hijau


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja hijau
menurut para ahli sebagai berikut: Menurut Subbauer &
Schafer.,(2019:144)
1) Kinerja inovatif
Banyaknya karakteristik green practice yang terkait dengan
integrasi teknologi dan pengelolaan masalah lingkungan yang
menjadikan Inovasi hijau sebagai solusi untuk mengendalikan
pencemaran lingkungan yang dihasilkan oleh perusahaan. Inovasi
hijau dapat menghasilkan proses bisnis, teknik, sistem, praktek dan
solusi baru yang mengurangi kerusakan lingkungan yang
diciptakan oleh suatu perusahan
2) Penghargaan
penghargaan sangat penting bagi karyawan dan dapat membantu
meningkatkan minat karyawan untuk bertanggung jawab dalam
bekerja, sengingga karyawan dapat membantu suatu perusaan
untuk memcipkan kinerja yang berwawan lingkungan dan
keberlanjutan.
3) Kinerja sosial
Penentu penting dari kinerja hijau adalah manajemen lingkungan
yang mengklaim tenaga kerja yang diberdayakan dilatih dengan
pengetahuan dan memiliki keterampilan untuk mematuhi tidak
hanya dengan masalah peraturan yang dinamis tetapi juga untuk
memenuhi tujuan perusahaan untuk memiliki tenaga kerja
lingkungan yang efisien

Pengertian Kinerja Hijau


Pengertian kinerja hijau menurut beberapa para ahli sebagai
berikut:
1) Joong et al., (2019:87) kinerja hijau adalah hasil dari kegiata kerja
organisasi yang diterapkannya untuk mengurangi efek negatif
terhadap lingkungan. Singkatnya GHRM menarik komitmen
karyawan dan perilaku ramah lingkungan, memberdayakan
organisasi untuk meningkatkan kinerja lingkunga. untuk
memfasilitasi pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana
penerapan praktik GHRM meningkatkan kinerja lingkungan melalui
komitmen karyawan dan perilaku ramah lingkungan.
2) Shah & Ali Soomro, (2023;41) kinerja hijau adalah fokus
perusahaan untuk melindungi dan memberi manfaat bagi
lingkungan, atas masalah yang berdampak negatif pada
lingkungan yang timbul dari kegiatan operasional perusahaan.
3) Fransiskus E, (2020:81) menjelaskan bahwa kinerja hijau adalah
bagaimana keberhasilan perusahaan dalam mengurangi dan
meminimalkan dampak lingkungannya. Kinerja hijau merupakan
kinerja perusahaan dalam membentuk lingkungan yang baik.
Perusahaan dengan tingkat perlindungan lingkungan tertentu sangat
bertekad untuk melindungi investor dan pemangku kepentingan
untuk mendapatkan informasi yang lebih. Perusahaan dengan kinerja
lingkungan yang umumnya sangat baik mengungkapkan informasi
yang efektif, dapat diverifikasi dan sulit untuk diikuti oleh
perusahaan lain

Manajemen Sumber Daya Manusia Hijau


Manajemen sumber daya manusia hijau adalah suatu proses
pembentukan tenaga kerja yang ramah lingkungan, memahami dan menghargai
budaya untuk melindungi lingkungan perusahaan. Manajemen sumber daya
manusia hijau semakin diakui sebagai praktik penting dalam menerapkan
praktik hijau yang meningkatkan tingkat perlindungan lingkungan dan
mempromosikan pembangunan jangka panjang yang dapat memberikan
keunggulan kompetitif bagi bisnis.
Ali et al., (2021:1726) menjelaska bahwa sumber daya manusia hijau
dianggap sebagai aset berharga organisasi untuk mempromosikan integrasi
praktik hijau ke dalam manajemen lingkungan, manajemen sumber daya
manusia hijau juga membantu perusahaan untuk membangun tenaga kerja yang
memahami dan membantu promosi perilaku hijau untuk meningkatkan
perlindungan lingkungan dan pengembangan bisnis yang berkelanjutan. Pada
saat ini perusahaan besar terutama di negara maju harus menerapkan praktik
manajemen sumber daya manusia hijau untuk mencapai tujuan organisasi
hijau. Manajemen sumber daya manusia hijau memastikan kelestarian
lingkungan dan membuat organisasi lebih kompetitif dan melibatkan karyawan
dan organisasi dalam inisiatif hijau, kebutuhan bisnis menerapkan praktik hijau
secara efektif untuk mencapai keberlanjutan organisasi.
Meskipun perusahaan di negara berkembang mengadopsi manajemen
sumber daya manusia hijau, negara berkembang harus secara sistematis
mengintegrasikannya ke dalam fungsi manajemen sumber daya manusia. Ini
membantu menangani masalah lingkungan dan masalah terkait secara efektif.
Sebuah literatur yang luas menyarankan bahwa perusahaan dapat mencapai
tujuan lingkungan dan menangani masalah lingkungan dengan menerapkan
manajemen sumber daya manusia hijau.
Menurut Rashid et al., (2023:2) manajemen sumber daya manusia hijau
adalah sebagai kegiatan manajemen sumaber daya manusia yang
meningkatkan dampak lingkungan yang positif dan sangat penting untuk
implementasi yang efektif dari kebijakan pengelolaan lingkungan dan strategi
hijau. Manajemen sumber daya hijau juga merupakan konsep yang
berkembang yang konsisten dengan literatur keberlanjutan organisasi. Joong et
al., (2019:85) mengatakan bahwa istilah GHRM sebagai singkatan dari Green
Human Resources Management. Termasuk perekrutan dan pemeliharaan
karyawan ramah lingkungan, serta memberikan pelatihan tentang lingkungan
dan kontribusi hijau karyawan untuk dimasukkan dalam evaluasi kinerja para
karyawan. GHRM memainkan peran penting dalam pengelolaan lingkungan.
Fungsi SDM memegang peranan penting dalam mencapai tujuan perusahaan
ramah lingkungan.
Keberhasilan pengelolaan lingkungan perusahaan bergantung pada
perilaku ramah lingkungan karyawan, karena perilaku mereka meningkatkan
tingkat perlindungan lingkungan di seluruh perusahaan. Bagi perusahaan untuk
mencapai kelestarian lingkungan, penting untuk memahami caranya GHRM
mempengaruhi perilaku hijau karyawan, yang pada gilirannya mempengaruhi
perlindungan lingkungan perusahaan. Teori identitas sosial menyampaikan
dasar teoritis untuk proses psikologis karyawan dalam kaitannya dengan upaya
lingkungan operasional, komitmen organisasi bertindak sebagai mediator
GHRM untuk perilaku pro-lingkungan.
Berdasarkan teori identitas sosial, karyawan cenderung
mengintegrasikan nilai-nilai organisasi yang positif biasanya merupakan tanda
komitmen organisasi yang kuat jika karyawan yang mengurusnya. Dalam hal
perlindungan lingkungan, mereka lebih bersedia untuk berpartisipasi inisiatif
manajemen lingkungan operasionalnya, termasuk GHRM. Jadi karyawan
biasanya terlibat secara emosional di perusahaan mereka menunjukkan
komitmen organisasional yang lebih tinggi terhadap perusahaan. GHRM
berkaitan dengan pengembangan kemampuan hijau dalam merekrut, memilih,
melatih, dan mengembangkan kepemimpinan hijau. GHRM juga bertujuan
untuk memotivasi karyawan hijau dengan mengevaluasi dan menghargai
kinerja hijau karyawan. Dan misi GHRM adalah mendorong keterlibatan
karyawan dengan memberdayakan mereka dan menciptakan budaya organisasi
yang ramah lingkungan.
Dari definisi manajemen sumber daya manusia hijau di atas dapat
disimpulkan bahwa sumber daya manusia hijau dianggap sebagai aset berharga
bagi perusahaan untuk mempromosikan integrasi praktik hijau ke dalam
manajemen lingkungan, manajemen sumber daya manusia juga membantu
perusahaan untuk membangun tenaga kerja yang memahami dan membantu
promosi perilaku hijau untuk meningkatkan perlindungan lingkungan dan
pengembangan bisnis yang berkelanjutan

Teori Marketing Mix


Secara harfiah atau tata bahasa sederhana dapat ditarik secara garis
besar yaitu marketing adalah pemasaran, sedangkan mix adalah campuran
atau bauran. Sehingga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut
dengan bauran pemasaran. Menurut (Armstrong, G., Kotler, P., Harker, M.,
& Brennan, 2021:64) Bauran pemasaran (marketing mix) adalah alat
pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasarannya
dalam pasar sasaran. Bauran pemasaran sendiri mempunyai empat elemen
yaitu: produk, harga, promosi, dan distribusi. Semua perusahaan terus
berusaha untuk bertahan, berkembang dan mampu bersaing. Maka dari itu
setiap perusahaan selalu menetapkan strategi pemasarannya, karena kegiatan
pemasaran yang dilakukan tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan dari
pemasaran perusahaan yang dapat mempengaruhi tingkat pertambahan laba
yang diperoleh perusahaan dalam jangka panjang serta market share tertentu.
Salah satu unsur dalam kegiatan pemasaran terpadu adalah bauran pemasaran
(marketing mix) karena strategi pemasaran ini adalah yang paling banyak
diterapkan di perusahaan. Dari definisi-definisi di atas dapat diartikan bahwa
marketing mix merupakan variabel terkendali yang bisa digabungkan untuk
mencapai tujuan yang diharapkan dari pasar sasaran. Variabel- variabel
marketing mix tersebut adalah :

  1. Product (produk)
    Produk adalah elemen penting dari program pemasaran
    perushaan. Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke
    pasar untuk mendapatkan perhatikan, akuisis, penggunaan atau
    konsumsi untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
    Strategi produk ini dapat mempengaruhi strategi pemasaran yang
    lainnya. Konsumen membeli sebuah produk bukan hanya karena
    sekedar ingin memiliki produk tersebut tetapi juga untuk memenuhi
    kebutuhan serta keinginan konsumen.
  2. Price (harga)
    Harga adalah jumlah uang yang harus dibayarkan oleh
    konsumen untuk membeli atau memiliki produk yang diinginkan.
    Harga adalah satu-satunya alat bauran pemasaran yang digunakan
    oleh perusahaan untuk mencapai pemasaran yang diinginkan. Dalam
    memutuskan penentuan harga, maka pihak perusahaan harus
    mengkoordinasikan dengan rancangan produk, distribusi dan
    promosi sehingga bisa membentuk strategi pemasaran yang efektif.
  3. Place (tempat)
    Place yang dalam bahasa Indonesia berarti sebagai tempat.
    Place dalam strategi pemasaran memiliki tiga dimensi sudut
    pandang. Pertama, secara fisik dapat dimaknai sebagai sebuah
    tempat. Tempat atau lokasi bermukimnya sebuah kantor atau
    perusahaan. Sisi strategis sebuah tempat menjadi satu pertimbangan
    penting bagi perusahaan dimana hal ini sebagai penentuan titik
    lokasi yang mudah atau justru jauh untuk diakses oleh pihak – pihak
    terkait. Kedua, secara non fisik dapat dimaknai sebagai suasana
    sebuah tempat yang nyaman, bersih dan teratur, sehingga siapa pun
    yang berada di tempat tersebut dapat menikmati suasana yang
    sesuai. Kenyamanan merupakan poin penting yang perlu digaris
    bawahi. Kenyamanan dapat berasal dari kantor yang bersih, rapi dan
    memiliki kualitas pelayanan yang baik. Ketiga, dapat dimaknai
    sebagai suatu saluran distribusi yaitu aktivitas mendistrbusikan atau
    mengirimkan produk sampai ke konsumen secara tepat waktu.
    Perusahaan dapat menentukan distribusi produk mereka melalui
    distributor, yang akan mendistribusikan produk ke perantara dan
    subkontraktor dan meneruskan produk ke pengecer (retailer) yang
    akan menjual produk tersebut kepada konsumen. Saluran distribusi
    dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu saluran distribusi langsung
    dan saluran distribusi tidak langsung.
  4. Promotion (promosi)
    Promosi adalah salah satu elemen pemasaran, yang mengacu
    pada kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk
    menginformasikan kepada konsumen tentang manfaat dan
    keunggulan kualitas produk dan jasa yang mereka hasilkan. Selain
    itu, kegiatan promosi yang tepat juga diharapkan bisa
    mempertahankan atau menambah brand produk tersebut di
    masyarakat

Strategi Pemasaran


Strategi pemasaran ialah seperangkat tujuan, pedoman, dan aturan
yang memberikan pengarahan pada kegiatan pemasaran perusahaan dan
acuan dan atribusinya pada setiap tingkatan, terutama dalam menanggapi
lingkungan serta kondisi kompetitif industri yang bisa berganti (Assauri,
2015:154). Secara umum keberhasilan atau kegagalan pengembangan
perusahaan tidak hanya bergantung pada bagaimana sebuah perusahaan
memutuskan strategi pemasaran yang akan diterapkan, tetapi juga
tergantung pada analisis dan pengamatan yang tepat terhadap faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi strategi pemasaran perusahaan. Untuk
mempersiapkan diri dalam menghadapi persaingan, Perusahaan perlu
mengetahui apa yang menjadi kelemahan, kekurangan dan kekuatannya
mereka untuk mempersiapkan persaingan, sehingga dapat mengenal diri
sendiri dengan lebih baik dan memanfaatkan segala peluang yang ada

Green Strategy


Green Strategy merupakan pendekatan terstruktur yang secara signifikan
meningkatkan perlindungan lingkungan serta mendukung keberlanjutan dalam
setiap aktivitas, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar perusahaan
manufaktur. Penerapan strategi hijau memungkinkan perusahaan membangun
reputasi yang baik di mata pelanggan, mitra usaha, dan masyarakat luas.
Perusahaan yang menunjukkan komitmen terhadap praktik bisnis berkelanjutan
dan ramah lingkungan cenderung mendapatkan apresiasi dan dukungan lebih
besar dari konsumen yang semakin memiliki kesadaran terhadap isu-isu
lingkungan (9).
Pendekatan Green Strategy yang menitikberatkan pada kinerja lingkungan
memiliki keterkaitan yang cukup signifikan dengan sektor bisnis perhotelan.
Pertumbuhan industri pariwisata yang pesat saat ini turut mendorong
perkembangan sektor perhotelan, khususnya di negara-negara berkembang.
Namun demikian, industri perhotelan juga menjadi salah satu kontributor utama
terhadap permasalahan lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut, penerapan
praktik bisnis berkelanjutan seperti Green Strategy dapat menciptakan kondisi
yang menguntungkan bagi perusahaan (9).

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran adalah aktivitas rencana dan peluncuran
perusahaan. Dalam rencana tersebut, ia harus memiliki strategi dan
keterampilan rencana yang benar. Peran manajemen pemasaran di perusahaan
sangat penting, seperti mempersiapkan produk baru, pilihan tujuan
perusahaan, serta mempromosikan produk baru kepada pelanggan.
Manajemen pemasaran yang efektif adalah dapat menilai dan
mengembangkan serangkaian strategi pemasaran yang optimal. Sehabis
memastikan pasar sasaran dan posisi produk yang di idamkan dalam benak
konsumen, industri butuh mendesain program supaya produk bisa
mendapatkan reaksi dari pasaran sasaran. Dalam pemasaran dibutuhkan
sesuatu perlengkapan, perlengkapan disini merupakan program yang bisa
dikontrol oleh industri. Menurut (David jobber et.all, 2019:5) Pemasaran
adalah suatu proses yang terdiri dari segala aktivitas yang dilakukan
perusahaan untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan mengantarkan
nilai kepada pelanggan sehingga tercipta hubungan yang baik dan
berkelanjutan.
(Armstrong, G., Kotler, P., Harker, M., & Brennan, 2021:6)
Pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konseptualisasi,
penetapan harga, promosi, dan distribusi ide, barang, dan jasa untuk
menciptakan pertukaran yang memenuhi tujuan individu dan organisasi

Green Innovation


Green Innovation merujuk pada kemajuan teknologi yang dilakukan oleh
perusahaan untuk menciptakan produk yang bersifat ramah lingkungan guna
mendukung prinsip keberlanjutan. Melalui penerapan Green Innovation, perusahaan
dapat meningkatkan efisiensi produksi, mengoptimalkan operasional internal, serta
menurunkan biaya melalui pendekatan yang berorientasi lingkungan. Secara praktik,
Green Innovation meliputi perubahan dalam desain produk serta proses produksi mulai
dari pemilihan bahan, tahap produksi, hingga distribusi dengan tujuan utama untuk
meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan (27).
Green Innovation mencakup pengembangan produk dan proses yang
berorientasi pada lingkungan, yang dirancang untuk mengurangi konsumsi energi,
menekan polusi, mendaur ulang limbah, serta memanfaatkan sumber daya yang
berkelanjutan (2). Proses inovasi ini mendorong perusahaan untuk mengelola
biaya secara lebih efisien dan menjadi lebih adaptif dalam menjalankan
operasional internal. Selain itu, inovasi juga membantu meningkatkan
pemanfaatan sumber daya secara optimal dan menurunkan tingkat polusi. Ketika
inovasi diterapkan secara efektif, hasil yang diperoleh antara lain adalah
peningkatan aktivitas daur ulang, pengurangan konsumsi energi, dan pada
akhirnya perusahaan dapat meraih keunggulan kompetitif dipersaingan bisnis (2)

Indikator indikator Green Leadership


Terdapat beberapa indikator yang disebutkan menurut Sopiawadi et al (26)
disebutkan bahwasanya terdapat empat indikator terkait dengan Green Leadership
yaitu sebagai berikut:

  1. Visioner
    Indikator ini menggambarkan kemampuan seorang pemimpin dalam
    mengembangkan suatu visi jangka panjang, strategi yang berfokus pada
    suatu keberlanjutan lingkungan, berpikir inovatif, menginspirasi orang lain
    untuk peduli dan bertindak demi pelestarian lingkungan.
  2. Inspirational motivation
    Indikator ini merupakan kemampuan pemimpin dalam menginspirasi dan
    memotivasi orang lain agar turut peduli terhadap keberlanjutan.
  3. Intellectual stimulation
    Indikator ini merupakan kemampuan pemimpin yang dapat mendorong
    adanya inovasi, serta mampu merangsang munculnya kreativitas pada
    karyawan yang dimana akan mampu dalam membantu karyawan lebih aktif
    dan peduli terhadap keberlanjutan dan isu-isu lingkungan.
  4. Individual consideration
    Indikator ini menggambarkan tentang kemampuan seorang pemimpin dalam
    memperhatikan hal apa saja yang dubutuhkan karyawannya dan
    pengembangan karyawan sehingga dapat turut serta dalam program
    keberlanjutan

Karakteristik Green Leadership


Menurut buku kepemimpinan tata kelola keberlanjutan (25) Green
leadership merupakan suatu gaya kepemimpinan yang mengutamakan suatau
keberlanjutan lingkungan. Terdapat beberapa karakteristik kunci dalam Green
Leadership yaitu sebagai berikut ini:

  1. Fokus pada keberlanjutan
    Green leadership memiliki focus utama untuk menciptakan masa depan
    yang berkelanjutan dan lebih mempertimbangkan keputusan yang memiliki
    dampak jangka panjang pada lingkungan.
  2. Inovasi
    Green leadership lebih inovatif dalam mencari ide baru untuk mengurangi
    dampak lingkungan dari organisasinya.
  3. Pendekatan kolaboratif
    Berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan agar terciptanya visi
    bersama untuk mencapai masa depan yang memfokuskan pada
    keberlanjutan dan bekerja sama untuk mencapai visi tersebut.
  4. Transparansi
    Transparansi terkait dengan tujuan lingkungan mereka dan secara teratur
    melaporkan kemajuan terhadap tujuan tersebut.
  5. Sikap proaktif
    Memiliki sikap yang pro aktif terhadap permasalahan lingkungan dan
    bekerja untuk mencegah masalah sebelum terjadi.
  6. Nilai kuat
    Green leadership memiliki nilai yang kuat terkait dengan keberlanjutan
    lingkungan dan memiliki komitmen untuk hidup dan bekerja dengan cara
    yang sejalan dengan nilai nilai tersebut.
  7. Pembelajaran kontinu
    Green leadership memiliki suatu komitmen yang kuat untuk terus belajar
    dan mencari suatu pengetahuan dan ide baru terkait dengan keberlanjutan
    lingkungan.

Indikator Volume Penjualan


Menurut Kotler dan Amstrong (2016: 5) “ukuran volume
penjualan adalah harga, promosi, kualitas, saluran distribusi dan
produk”.
1) Harga yang diminta
Harga penjualan memiliki peranan penting dan memengaruhi
sejauh mana produk atau jasa yang diproduksi akan terjual.
2) Produk
Walaupun seberapa baik produk dapat memenuhi kebutuhan
pelanggan, produk tetap menjadi salah satu faktor yang paling
signifikan dalam memengaruhi kemampuan perusahaan dalam
menjual sejumlah barang atau jasa yang mereka tawarkan.
3) Promosi
Sebuah perusahaan terlibat dalam promosi ketika tujuannya
adalah untuk memberitahukan kepada calon pelanggan mengenai
perusahaan itu sendiri dan produk atau layanan yang mereka
tawarkan.
4) Saluran distribusi
Saluran distribusi adalah aktivitas bisnis yang mengalihkan
sumber daya untuk memasok produk-produk perusahaan dengan
kualitas yang tinggi.
5) Mutu dan kualitas produk
Kualitas produk adalah salah satu faktor yang memengaruhi
volume penjualan. Pelanggan akan terus melakukan pembelian dari
perusahaan jika produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang
baik.

Faktor yang mempengaruhi volume penjualan


Manajer penjualan harus memahami bahwa ada faktor-faktor
yang memiliki potensi besar untuk memengaruhi hasil penjualan, dan
faktor-faktor ini dapat memiliki dampak signifikan terhadap kinerja
organisasi atau bisnis secara keseluruhan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2016:3), “ada beberapa faktor
yang mempengaruhi volume penjualan” antara lain:
1) Kondisi dan kemungkinan penjual
Memahami sejumlah detail penting tentang barang yang akan
dipasarkan termasuk jumlah dan variasi penjual:
a. Jenis dan fitur produk atau layanan yang disediakan
b. Biaya produk
c. Pengiriman dan pembayaran.
2) Dinamika pasar
Pasar itu sendiri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
aktivitas penjualan ketika terjadi transaksi antara sekelompok
pembeli dan penjual. Jenis pasar, kelompok pembeli yang terlibat,
tingkat daya beli, frekuensi pembelian, serta permintaan dan
preferensi pelanggan, semuanya memiliki dampak yang
berpengaruh pada kondisi pasar secara keseluruhan.
3) Modal
Untuk mengirim barang, mengangkut barang, dan
mengembangkan bisnis, perusahaan memerlukan sumber daya
finansial. Dalam konteks ini, modal kerja perusahaan digunakan
untuk mencapai target penjualan yang telah direncanakan.
4) Kondisi Organisasi Perusahaan
Sales professionals umumnya mengurus masalah penjualan
dalam konteks bisnis skala besar.
5) Faktor-faktor Lain
Penjualan sering kali dipengaruhi oleh faktor-faktor tambahan
seperti periklanan, demonstrasi produk, promosi, beragamnya
produk yang ditawarkan, dan pemberian insentif, karena unsur-
unsur ini meningkatkan kemungkinan bahwa pelanggan akan
melakukan pembelian kembali. Berbagai langkah yang dapat
diambil untuk merangsang pertumbuhan volume penjualan adalah
sebagai berikut:
Terdapat upaya untuk meningkatkan volume penjualan yang
mencakup:
a. Memasarkan barang sehingga pelanggan dapat melihatnya.
b. Posisi dan tata letak yang konsisten untuk menarik perhatian
pelanggan pada barang dagangan.
c. Menganalisis pasar
d. Mengindetifikasi calon klien
e. Menyiapkan pameran.
f. Mengadakan diskon atau obral

Green Leadership


Disebutkan oleh Martin et al (20), Green Leadership adalah kemampuan
seorang pemimpin untuk mempengaruhi orang dan menggerakkan organisasi untuk
menentukan kebijakan dan mewujudkan visi keberlanjutan lingkungan dalam
jangka panjang. Tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memiliki
kepedulian terhadap pemeliharaan lingkungan yang berkelanjutan. Green
Leadership juga membutuhkan pemimpin yang memiliki semangat, proaktif,
penuh inisiatif, dan kreatif.
Green Leadership memengaruhi perilaku pro-lingkungan karyawan, yang
pada akhirnya berdampak pada kinerja lingkungan secara keseluruhan. Selain
menjadikan karyawan yang pro terhadap lingkungan Green Leadership juga
mengembangkan kompetensi, sikap, dan perilaku lingkungan karyawan sebagai
keharusan strategis untuk meningkatkan kinerja lingkungan organisasi. Praktik
kepemimpinan hijau telah ditemukan memiliki peran penting dalam membentuk
perilaku hijau karyawan Karyawan didorong untuk menginvestasikan lebih
banyak sumber daya dalam hasil yang ramah lingkungan, seperti memiliki sikap
dan perilaku sadar lingkungan yang menerima sumber daya dan dukungan yang
lebih ramah lingkungan dari para pemimpin mereka, yang disebut sebagai
kepemimpinan yang ramah lingkungan (21)
Green Leadership tidak hanya tentang kepemimpinan, tetapi juga
dipengaruhi oleh perilaku ramah lingkungan. Permasalahan lingkungan saat ini
semakin mendesak karena perubahan lingkungan yang cepat, yang disebabkan
oleh perilaku manusia. Perhatian terhadap masalah lingkungan ini menentukan
11
masa depan kehidupan manusia di bumi. Untuk mencapai keseimbangan antara
planet, people, dan prosperity, diperlukan pengelolaan lingkungan yang baik oleh
pemerintah, perusahaan, dan individu (22).
Green Leadership merupakan suatu gaya kepemimpinan yang dapat
memberikan dampak posistif bagi Perusahaan seperti, dapat mengatasi resiko,
mengamankan sumber daya, dan sistem inovasi utama untuk mengelola tantangan
keberlanjutan. Dengan prinsip prinsip dan pelatihan yang ramah lingkungan dapat
menjadikan model utama bagi manajemen strategis dalam kinerja perusahaan
(23). Dengan mengimplementasikan Green Leadership organisasi berharap dapat
mencapai tidak hanya keberlanjutan ekologis tetapi juga keberhasilan finansial
jangka panjang dengan mengintegrasikan tujuan lingkungan dengan tujuan
strategis yang lebih luas (24)

Leadership


Disampaikan oleh Kardoyo (18) Leadership merupakan elemen penting
dalam manajemen organisasi. Leadership didefinisikan sebagai kemampuan untuk
memotivasi, mengarahkan, dan membimbing orang lain agar mau bekerja sama
untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Leadership adalah inti
dari manajemen, berperan dalam menggerakkan sumber daya organisasi.
Leadership identik dengan sosok pemimpin yang memiliki kemampuan dan
keterampilan untuk memimpin organisasi menuju tujuan yang telah ditetapkan.
Seorang pemimpin yang sukses mampu menerapkan teknik-teknik manajemen
seperti mengatur, menginspirasi, dan membangun kepercayaan diri tim, sehingga
dapat meningkatkan kinerja seluruh karyawan (18).
Leadership juga disebut sebagai kegiatan mempengaruhi orang untuk
berusaha keras untuk mencapai tujuan kelompok. Dari definisi tersebut ada
beberapa hal penting, yaitu: 1. Adanya usaha dari si pemimpin untuk
memengaruhi orang lain yang tidak dibatasi oleh jenis kelompok atau
organisasinya, 2. Tujuan kelompok yang akan dicapai. Pemimpin harus lebih
tangguh dalam menghadapi rintangan dibandingkan seseorang yang lainnya, dan
mereka mempunyai kapasitas untuk bekerja dengan sasaran yang jauh ke depan
serta mempunyai tingkat kekuatan kemauan atau keteguhan hati dalam bekerja.
Peran pemimpin sangat besar dalam memotivasi anggota organisasi dalam
memperbesar energi untuk berperilaku dalam upaya mencapai tujuan (19

Volume Penjualan


Penjualan adalah komunikasi antara individu satu dengan individu
lainnya, dengan tujuan menciptakan, meningkatkan, mengarahkan, atau
mempertahankan kesepakatan pertukaran yang menguntungkan bagi
kedua belah pihak.
Menurut Swastha (2020), ada dua cara untuk mengukur volume
penjualan. Pertama, dengan mencapai target penjualan, yang dapat
diukur dengan jumlah unit produk yang terjual. Kedua, dengan
meningkatnya volume penjualan, yang berarti perusahaan menghasilkan
keuntungan tambahan dari total nilai penjualan yang sebenarnya dalam
suatu periode tertentu. Swastha (2020) juga mengidentifikasi beberapa
indikator volume penjualan, termasuk:

1. Pencapaian volume penjualan

  1. Pencapaian laba
  2. Mendukung pertumbuhan perusahaan.
    Abdullah (2017:23) “penjualan adalah usaha menyelesaikan atau
    menyelesaikan pembelian dan memungkinkan terjadinya transaksi.
    Oleh karena itu, fungsi jual beli merupakan satu kesatuan yang mampu
    melakukan peralihan hak dan transaksi”.
    Volume penjualan dapat berfungsi sebagai ukuran untuk menilai
    kesuksesan perusahaan, terutama bagi pemimpin pasar, dalam
    memasarkan dan menjual produknya. Peningkatan volume juga dapat
    dianggap sebagai indikasi meningkatnya permintaan terhadap produk
    tersebu

Langkah-langkah Mengembangkan Promosi Efektif


Kotler dan Armstrong (2019: 123) mengidentifikasi empat
tahapan dalam mengembangkan promosi yang efektif sebagai berikut:
a) Mengidentifikasi Pelanggan Sasaran
Langkah awal dalam prosedur ini adalah mengidentifikasi
pelanggan target yang spesifik. Ini mencakup calon pembeli,
pengguna saat ini, dan pembeli yang dapat memberikan dampak
positif bagi perusahaan. Keputusan perusahaan tentang pesan yang
akan disampaikan, cara penyampaian, lokasi promosi, dan waktu
pelaksanaannya akan dipengaruhi oleh identifikasi pelanggan
target ini.
b) Menentukan Tujuan Komunikasi
Setelah mengidentifikasi pelanggan target, perusahaan perlu
mencari tanggapan terhadap pembelian. Pembelian merupakan
hasil dari proses pengambilan keputusan yang melibatkan sejumlah
tahapan oleh konsumen. Biasanya, konsumen melewati
serangkaian langkah saat mereka membeli suatu produk, termasuk
tahap kesadaran, pengetahuan, minat, preferensi, kepercayaan, dan
pada akhirnya, pembelian.
Pelanggan sasaran mungkin memiliki tingkat pengetahuan
yang terbatas tentang produk yang ditawarkan, mungkin hanya
mengetahui nama produk atau memiliki pengetahuan terbatas
tentang fitur produk. Dengan demikian, langkah pertama yang
sangat penting bagi bisnis adalah meningkatkan kesadaran dan
pemahaman pelanggan. Setelah pelanggan memiliki pengetahuan
tentang produk, perusahaan harus menggunakan beragam alat
promosi untuk mempromosikan preferensi terhadap produk
tersebut, menciptakan perasaan positif, dan membangun
kepercayaan terhadap produk yang ditawarkan.
Pada akhirnya, walaupun pelanggan yang menjadi target
mungkin sudah memiliki keyakinan terhadap produk yang
ditawarkan, mereka mungkin masih ragu untuk melangsungkan
pembelian. Mungkin mereka membutuhkan informasi tambahan
atau menunggu perbaikan kondisi ekonomi. Karena itu, perusahaan
perlu membantu konsumen mencapai tahap pembelian akhir
dengan memberikan penawaran harga promosi khusus atau insentif
berupa bonus sebagai dorongan.
c) Merancang Komunikasi
Merancang komunikasi dengan tujuan mencapai respons yang
diinginkan melibatkan tiga aspek penting: apa yang perlu
disampaikan (strategi pesan), bagaimana cara menyampaikannya
(strategi kreatif), dan siapa yang akan menjadi penyampai pesan
tersebut (sumber pesan). Ini adalah tiga pertimbangan utama yang
diidentifikasi oleh Kotler dan Armstrong (2019: 125).
1) Strategi pesan: Manajemen perlu mengidentifikasi daya tarik,
ide, atau tema yang terkait dengan posisi merek atau produk,
serta menentukan aspek yang membedakan produk dari pesaing.
2) Strategi kreatif: Keberhasilan promosi atau komunikasi
pemasaran tergantung pada cara pesan disampaikan dan isi
pesannya. Jika promosi atau komunikasi pemasaran tidak
berhasil, ini menunjukkan bahwa pesan dan isinya kurang baik.
3) Sumber pesan: Seringkali, promosi atau komunikasi pemasaran
tidak melibatkan sumber eksternal. Sebaiknya, promosi atau
komunikasi pemasaran memanfaatkan individu yang memiliki
popularitas, seperti selebriti, karena pesan yang disampaikan
oleh sumber yang terkenal dan dapat dipercaya dapat menarik
perhatian lebih banyak orang.
d) Memilih Saluran Komunikasi
Menurut Kotler dan Armstrong (2019:128) terdapat dua jenis
saluran komunikasi. “Pertama, saluran komunikasi pribadi.
Saluran dimana dua orang atau lebih berkomunikasi langsung satu
sama lain diantaranya berkomunikasi tatap muka, melalui telepon,
atau e-mail. Beberapa saluran komunikasi pribadi dikendalikan
langsung oleh perusahaan, tetapi komunikasi pribadi lain mengenai
produk mungkin menjangkau pembeli dengan saluran yang tidak
dikendalikan langsung oleh perusahaan

Green Human Resources Management


Menurut Owino & Kwasira (16) Green Human Resources Management
Green Human Resource Management adalah pendekatan inovatif terhadap kinerja
dan fungsi Sumber Daya Manusia dalam suatu organisasi, di mana konteks
lingkungan merupakan dasar dari semua inisiatif yang dilakukan. Green Human
Resource Management dinyatakan sebagai keterlibatan semua kegiatan dalam
pengembangan, implementasi dan pemeliharaan sistem yang berkelanjutan yang
bertujuan membuat karyawan organisasi menjadi ramah lingkungan.
Green Human Resources Management adalah tujuan yang membantu
dalam menciptakan tenaga kerja hijau yang dapat memahami dan menghargai
suatu Green Culture di organisasi atau perusahaan. Green Innovation seperti ini
dapat mempertahankan tujuan hijaunya selama proses Human Resources
Management perekrutan dan pelatihan, kompensasi, pengembangan, dan
memajukan sumber daya manusia perusahaan. Departemen sumber daya manusia
di perushaan memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan budaya yang
mendorong tentang keberlanjutan di perusahaan. Proses seleksi, kompensasi
insentif, sistem manajemen kinerja, keterlibatan karyawan, dan pelatihan menjadi
pusat keberhasilan perusahaan (17).
Selain itu dijelaskan juga bahwa Green Human Resources Management
merupakan pendekatan inovatif terhadap kinerja dan fungsi sumber daya manusia
dalam suatu organisasi, yang dimana konteks lingkungan adalah pondasi awal dari
semua inisitaif yang dilakukan (17)

Green Competitive Advantage


Green Competitive Advantage adalah kondisi di mana suatu perusahaan
menempati beberapa posisi mengenai pengelolaan lingkungan atau inovasi hijau.
Dalam konteks ini, pesaing organisasi seringkali tidak dapat meniru strategi
lingkungan yang diadopsi, yang mengarah pada pencapaian tujuan dan manfaat
berkelanjutan. Dari definisi ini, jelas bahwa Green Competitive Advantage
merupakan hal penting yang harus dicapai oleh perusahaan melalui berbagai
sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan kinerja lebih baik dari
kompetitor. Penerapan inovasi hijau dan kesadaran lingkungan yang tinggi
mengarah pada pengembangan kinerja yang lebih baik, keunggulan kompetitif
yang lebih baik , dan bisnis yang berkelanjutan (13).
Green Competitive Advantage juga dapat didefinisikan sebagai strategi
lingkungan dan keberlanjutan yang sukses yang tidak dapat ditiru oleh pesaing.
Bisnis harus mengambil bagian dalam proyek yang kreatif, inovatif, dan ramah
lingkungan jika mereka ingin membangun keunggulan kompetitif hijau (14).
Klassen dan McLaughlin mencatat bahwa Green Competitive Advantage
ditingkatkan ketika bisnis dapat mengurangi biaya, meningkatkan efisiensi
operasional, dan meningkatkan reputasi mereka dengan pemangku kepentingan
(15).

Promosi (Promotion)


Pada hakikatnya promosi merupakan suatu bentuk
komunikasi pemasaran. Komunikasi pemasaran adalah aktivitas
pemasaran yang berusaha untuk menyebar informasi,
mempengaruhi/membujuk dan atau mengingatkan pasar sasaran atas
perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan
loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.
Menurut Swastha dan Irawan (2001), Promosi adalah arus
informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan
seseorang atau organisasi kepada tindakan menciptakan pertukaran
dalam pemasaran.
Promosi hendaknya mencakup siapa, apa, kapan dan di mana
penentuan usaha dapat memenuhi semua keinginan orang dan tidak
semua perusahaan memiliki dana tak terbatas untuk keperluan
promosi, maka itu promosi harus diarahkan ke pasar sasaran. Promosi
dapat meliputi nama perusahaan, logo teknik personal selling,
promosi penjualan istimewa, hubungan masyarakat dan
publisitasnya. Perlu diperhatikan, sebaiknya perusahaan
berhubungan dengan media sebelum usaha didirikan.
Untuk mengomunikasikan produk perlu disusun suatu
strategi yang sering disebut dengan strategi Bauran Promosi
(promotion-mix) yang terdiri atas 4 (empat) komponen utama, yaitu
periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion),
hubungan masyarakat (public relation), dan penjualan perorangan
(personal selling)

Tempat atau Saluran Distribusi (Place)


Saluran distribusi yaitu sekelompok organisasi yang saling
tergantung dalam keterlibatan mereka pada proses yang
memungkinkan suatu produk tersedia bagi penggunaan atau
konsumsi oleh konsumen atau pengguna industrial. Dalam hal
kebijakan distribusi, desain saluran perlu ditetapkan. Mendesain
sistem saluran memerlukan analisis kebutuhan layanan konsumen,
penetapan sasaran dan kendala-kendala saluran pengidentifikasian
alternatif-alternatif saluran yang utama serta mengevaluasinya,
selanjutnya perlu ditetapkan sasaran dan kendala saluran.
Setelah perusahaan menetapkan sasaran yang hendak dicapai
oleh salurannya, selanjutnya ia harus mengidentifikasikan alternatif-
alternatif utama salurannya yang berhubungan dengan jenis
perantara, jumlah perantara, dan tanggung jawab anggota saluran.
Jenis perantara: mencari jenis perantara yang sesuai dengan produk
untuk dapat menjual atau mendekatkannya pada konsumen. Jumlah
perantara: perusahaan dapat memutuskan banyaknya pedagang
perantara dari tiap tingkat yang menurutnya paling efektif. Tanggung
jawab anggota saluran: produsen dan perantara sepakat mengenai
syarat dan tanggung jawab masing-masing anggota saluran mengenai
harga, hak wilayah, dan layanan khusus.
Selanjutnya perusahaan harus mengevaluasi masing-masing
alternatif berdasarkan kriteria ekonomi, pengendalian, dan adaptif.
Kriteria ekonomi: memilih alternatif berdasarkan keuntungan bersih
yang dihasilkan setelah mengurangi pendapatan penjualan yang
dilakukan oleh saluran dengan semua biaya yang dikeluarkan.
Pengendalian: pemilihan saluran yang problem pengendaliannya
menjadi hal yang utama. Adaptif: perusahaan dapat menyalurkan
produknya ke saluran-saluran itu dalam waktu yang berjangka lama
atau berjangka pendek.
Menurut Kotler dan Amstrong (2019: 63) tempat atau saluran
distribusi yaitu “kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia
untuk dikonsumsi oleh konsumen. Keputusan saluran perusahaan
secara langsung akan mempengaruhi semua keputusan pemasaran
lain”. Penentuan harga tergantung pada apakah perusahaan
berkolaborasi dengan mitra lain atau menjual produk secara langsung
melalui platform situs web.

Indikator Harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2019: 62) indikator
harga yaitu sebagai berikut:
a) Daftar Harga
Daftar Harga adalah daftar yang mencantumkan informasi
mengenai harga-harga yang tertera pada menu atau produk
secara langsung.
b) Diskon
Diskon adalah potongan harga yang diberikan secara
langsung kepada pembeli ketika mereka melakukan pembelian
dalam jumlah besar selama periode waktu tertentu.
c) Potongan Harga
Potongan harga adalah penurunan harga yang diberikan
oleh produsen kepada konsumen pada suatu produk

Strategi Penetapan Harga Bauran Produk


Strategi untuk menetapkan harga suatu produk seringkali
berubah ketika produk tersebut menjadi bagian dari rangkaian
produk yang lebih besar. Dalam konteks ini, perusahaan mencari
kombinasi harga yang akan menghasilkan keuntungan maksimal
dari keseluruhan rangkaian produk. Menurut Kotler dan
Armstrong (2019:6), terdapat empat pendekatan dalam penetapan
harga untuk rangkaian produk. Pertama, ada strategi penetapan
harga lini produk yang mengatur rentang harga antara berbagai
produk dalam suatu lini produk berdasarkan perbedaan biaya
antar produk, evaluasi konsumen terhadap berbagai fitur yang
berbeda, serta harga pesaing. Kedua adalah penetapan harga
produk terkait dimana “menetapkan harga untuk produk yang
harus digunakan serta produk utama, seperti bilah untuk silet”.
Ketiga adalah penetapan harga produk sampingan dimana
“menetapkan harga untuk produk sampingan guna membuat
harga produk utama lebih kompetitif”. Terakhir adalah penetapan
harga paket produk dimana “penetapan harga dengan
menggabungkan beberapa produk lalu menawarkan paket produk
kepada konsumen pada harga yang lebih murah jika
dibandingkan kalau harus membeli produk secara terpisah”.

Indikator Produk


Menurut Kotler dan Armstrong (2019: 62), indikator produk
adalah:
a) Keberagaman Produk
Diversifikasi produk merujuk pada kemampuan perusahaan
untuk menawarkan beragam produk guna memenuhi preferensi
dan kebutuhan dari konsumen mereka.
b) Kualitas Produk (Product Quality)
Kualitas adalah karakteristik dari suatu produk yang dinilai
berdasarkan kemampuannya untuk memenuhi standar atau
kebutuhan yang diungkapkan atau tersirat oleh pelanggan.
Kepuasan pelanggan dan nilai produk sangat terkait erat satu
sama lain. Kinerja produk juga dipengaruhi oleh tingkat
kualitasnya.
c) Label (labelling)
Selembar kertas, metal atau benda lain yang dibubuhkan
pada produk yang menunjukkan tanda (informasi) tentang isi,
milik dan sumber.
Label adalah bagian dari sebuah produk yang membawa
informasi verbal tentang produk atau tentang penjualnya. Label
merupakan bagian sebuah kemasan, atau merupakan etika lepas
yang ditempelkan pada produk.
Pemberian label dapat berfungsi:

  • Mengidentifikasi produk atau merk
  • Menggolongkan produk
  • Menjelaskan beberapa hal mengenai produk
  • Dapat digunakan sebagai alat untuk promosi.

Bauran Pemasaran (Marketing Mix)


Menurut Sunarsi (2020), Marketing Mix dapat didefinisikan
sebagai gabungan dari elemen atau tindakan yang merupakan elemen
pokok dalam pemasaran, yang terdiri dari strategi produk (product),
penetapan harga (price), distribusi (place), dan promosi (promotion).
Menurut Kotler dan Amstrong (2019:62) bauran pemasaran
adalah “serangkaian alat pemasaran (marketing mix) yang digunakan
oleh perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan dalam pasar
sasaran”.
Menurut Kotler dan Armstrong (2016:47), bauran pemasaran
atau marketing mix terdiri dari empat komponen utama yang dapat diatur
oleh perusahaan. Komponen-komponen ini mencakup produk (product),
harga (price), distribusi (place), dan promosi (promotion). Marketing
Mix ini adalah suatu alat yang dapat dikelola dan digunakan oleh pelaku
bisnis untuk memengaruhi persepsi konsumen di pasar target mereka
terkait dengan produk, harga, lokasi, dan promosi.

Fungsi Strategi Pemasaran


Menurut Sudaryono (2016:50), berikut adalah ringkasan dari
fungsi-fungsi pemasaran yang disajikan:
a) Fungsi Penukaran
Pemasaran memungkinkan konsumen untuk memperoleh
produk dari produsen, baik melalui pembelian dengan uang
maupun pertukaran produk dengan produk (barter), baik untuk
keperluan pribadi maupun untuk tujuan revendasi. Proses
pertukaran ini adalah salah satu dari empat metode yang
digunakan oleh individu untuk memperoleh suatu produk.
b) Fungsi Distribusi Fisik
Proses distribusi fisik produk melibatkan pengangkutan dan
penyimpanan produk. Produk diangkut dari produsen ke
konsumen dengan berbagai metode, seperti melalui transportasi
air, darat, udara, dan lainnya. Penyimpanan produk bertujuan
untuk memastikan ketersediaan produk ketika dibutuhkan dan
untuk mencegah kekurangan stok.
c) Fungsi Perantara
Untuk mengantarkan produk dari produsen ke konsumen,
dapat menggunakan perantara pemasaran yang menghubungkan
proses pertukaran dengan distribusi fisik. Fungsi perantara
melibatkan beberapa aktivitas, seperti mengurangi risiko,
memberikan pembiayaan, mencari informasi, dan melakukan
standarisasi serta pengelompokan produk (klarifikasi)

Tujuan Strategi Pemasaran


Tujuan pokok pendirian sebuah perusahaan pemasaran adalah
mencapai tingkat profitabilitas tertentu, pertumbuhan perusahaan,
atau peningkatan pangsa pasar. Konsep pemasaran memandang
bahwa mencapai tujuan-tujuan tersebut tergantung pada keputusan
yang diambil oleh konsumen. Untuk memenuhi keputusan
konsumen tersebut, perusahaan harus melaksanakan berbagai
kegiatan pemasaran secara terpadu.

Macam-macam Strategi Pemasaran


Secara prinsip, strategi dapat diklasifikasikan berdasarkan
berbagai jenis strategi yaitu, strategi manajemen, strategi investasi,
dan strategi bisnis.
1) Strategi Manajemen
Strategi manajemen adalah strategi yang dapat digunakan
oleh tim manajemen dengan fokus pada perencanaan strategi
secara keseluruhan, seperti strategi pengembangan produk,
penentuan harga, ekspansi pasar, dan lain sebagainya.
2) Strategi Investasi
Strategi ini melibatkan keputusan terkait investasi, seperti
apakah perusahaan akan mengadopsi pendekatan pertumbuhan
agresif dengan mencoba untuk menembus pasar, ataukah akan
memilih strategi bertahan, mengembangkan kembali divisi baru,
dan sebagainya.
3) Strategi Bisnis
Strategi ini menitikberatkan pada berbagai aspek
manajemen seperti strategi pemasaran, strategi produksi, strategi
distribusi, dan juga strategi yang berkaitan dengan aspek keuangan
(Rahmi Rangkuti, 2018:10)

Strategi Pemasaran


Para ahli dalam buku-buku mereka masing-masing telah
mengemukakan berbagai definisi mengenai strategi. Secara etimologi,
kata “strategi” berasal dari Bahasa Yunani “Strategos,” yang merupakan
penggabungan dari “Stratos” (tentara) dan “ego” (pimpinan). Dalam
intinya, strategi adalah suatu rencana atau metode yang digunakan
sebagai landasan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Dengan kata
lain, strategi digunakan sebagai alat untuk mencapai sasaran yang
diinginkan.
Swastha (2018) Strategi pemasaran dapat digambarkan sebagai
suatu rencana besar yang menguraikan cara sebuah perusahaan harus
menjalankan operasinya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Kotler (2017), strategi pemasaran adalah cara berpikir yang
akan digunakan untuk mencapai tujuan pemasaran suatu perusahaan. Ini
dapat mencakup strategi khusus untuk pasar target, menentukan posisi
perusahaan, mengatur bauran pemasaran (marketing mix), serta
menentukan besaran anggaran pemasaran.
Menurut Tjiptono (2016), strategi pemasaran adalah suatu instrumen
pokok yang disusun atau direncanakan dengan tujuan mencapai target
perusahaan, sambil terus mengembangkan keunggulan bersaing secara
berkelanjutan

Pengaruh Harga terhadap Keputusan Pembelian


Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa untuk variabel harga
berpengaruh signifikan terhadap variabel keputusan pembelian pada pizza
hut delivery Bogor cabang Pajajaran. Sebab harga yang diberikan pizza hut
delivery Bogor cabang Pajajaran saat ini banyak memberikan potongan
harga, dan harganya juga yang terjangkau sehingga mampu mempengaruhi
konsumen untuk membelinya. Hasil penelitian ini pun didukung dengan
penelitian yang sudah dilakukan oleh Pina, et al. (2016) yang menyatakan
bahwa harga positif berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen
pada Rumah Makan Khas Kaili di Kota Palu. Sehingga variabel harga
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian pada pizza hut
delivery Bogor cabang Pajajaran.

Pengaruh Produk terhadap Keputusan Pembelian


Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa untuk variabel produk
berpengaruh signifikan terhadap variabel keputusan pembelian pada pizza
hut delivery Bogor cabang Pajajaran. Sebab variasi produk, kualitas
produk, dan tampilan produk pada pizza hut delivery Bogor cabang
Pajajaran merupakan faktor penting konsumen memutuskan untuk
membelinya. Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh
Kotler dan Keller (2012:5) yang menyatakan bahwa produk adalah segala
sesuatu yang dapat ditawarkan pada pasar agar menarik perhatian, akuisisi,
penggunaan atau konsumsi yang dapat memuaskan suatu kebutuhan dan
keinginan

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Kotler (2010:159) menyatakan bahwa, dalam penelitian ini
menggunakan empat indikator untuk menentukan keputusan pembelian,
yaitu :
a. Kemantapan pada sebuah produk
b. Kebiasaan dalam membeli sebuah produk
c. Memberikan rekomendasi kepada orang
d. Melakukan pembelian ulang

Faktor-Faktor pada Keputusan Pembelian


a. Faktor Budaya
Budaya, sub budaya, maupun kelas sosial sangat penting bagi perilaku
pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan serta perilaku
paling mendasar. Anak-anak yang sedang tumbuh akan mendapatkan
seperangkat nilai, persepsi, preferensi, serta lembaga-lembaga penting
lainnya. Masing-masing sub budaya terdiri dari kebangsaan, agama,
kelompok, ras, dan wilayah geografis.
Pada intinya dalam sebuah tatanan kehidupan dalam bermasyarakat
terdapat sebuah tingkatan (strata) sosial.
b. Faktor Sosial
Selain faktor budaya, perilaku pembelian konsumen juga dipengaruhi
oleh beberapa faktor sosial diantaranya adalah :
1) Kelompok acuan
Kelompok acuan dalam perilaku pembelian konsumen dapat
didefinisikan sebagai kelompok yang dapat memberikan pengaruh
secara langsung. kelompok ini biasanya mampu memberikan
pengaruh secara langsung terhadap seseorang. Adapun anggota
kelompok ini adalah kelompok primer seperti keluarga, teman,
tetangga, dan rekan kerja.
2) Keluarga
Dalam sebuah organisasi pembelian konsumen, keluarga
dibedakan menjadi dua bagian yaitu yang pertama keluarga
dikenal dengan istilah keluarga orientasi. Keluarga jenis ini terdiri
dari orang tua serta saudara kandung seseorang yang dapat
memberikan orientasi agama, politik, dan ekonomi serta ambisi
pribadi, harga diri, dan cinta. Kedua adalah keluarga yang terdiri
dari pasangan dan jumlah anak yang dimiliki seseorang. Keluarga
jenis ini biasanya disebut dengan keluarga prokreasi.
3) Peran dan status
Semakin tinggi peran seseorang di dalam sebuah organisasi maka
akan semakin tinggi pula status mereka dalam organisasi itu.
c. Faktor Pribadi
Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi
diantaranya adalah usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan
ekonomi, gaya hidup, dan kepribadian diri pembeli.
d. Faktor Psikologis
Pilihan yang dibeli seorang konsumen lebih lanjut dipengaruhi oleh
empat faktor psikologis, yaitu :

  1. Motivasi
    Motivasi (dorongan) adalah kebutuhan yang cukup menekan
    untuk mengarahkan seseorang untuk mencari cara agar dapat
    memuaskan kebutuhan.
  2. Persepsi
    Seseorang yang sudah termotivasi akan siap untuk bertindak.
    Bagaimana orang tersebut dapat bertindak karena dipengaruhi
    oleh persepsi mengenai situasi. Persepsi itu sendiri adalah proses
    yang dilalui orang dalam memilih, mengorganisasikan, serta
    mengiteprestasikan informasi agar dapat membentuk gambaran
    yang berarti mengenai dunia.
  3. Pengetahuan
    Jika konsumen bertindak maka dengan sendirinya mereka telah
    belajar. Pelajaran tersebut menjelaskan perubahan dalam tingkah
    laku individual yang muncul dari pengalaman, pembelajaran
    berlangsung melalui saling pengaruh dari dorongan, rangsangan,
    petunjuk, respon, serta pembenaran.
  4. Keyakinan dan Sikap
    Keyakinan merupakan pemikiran deskriptif yang dimiliki
    seseorang mengenai sesuatu. Sedangkan sikap merupakan
    evaluasi, perasaan, serta kecenderungan dari seseorang terhadap
    suatu objek atau ide yang relatif konsisten.

Proses Keputusan Pembelian


Terdapat lima peran yang terjadi dalam keputusan pembelian, yaitu :
a. Pemprakarsa (initiator). Orang yang pertama kali memberikan saran
untuk membeli suatu produk atau jasa tertentu.
b. Pemberi pengaruh (influencer). Orang yang pandangannya atau
nasihatnya memberikan bobot dalam pengambilan keputusan akhir.
c. Pengambil keputusan (decider). Orang yang menentukan sebagian
atau keseluruhan keputusan pembelian, dengan bagaimana dia
membeli, dan di mana akan membeli.
d. Pembeli (buyer). Orang yang melakukan pembelian secara nyata.
e. Pemakai (user). Orang yang mengkonsumsi dan menggunakan produk
atau jasa

Struktur Keputusan Pembelian


Swasta dan Handoko (2020:102) menyatakan bahwa, keputusan
pembelian suatu produk mempunyai suatu struktur sebanyak tujuh
komponen, yaitu :
a. Keputusan tentang jenis produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk
dan menggunakan uangnya untuk tujuan lain, dalam hal ini
perusahaan harus memusatkan perhatiannya pada orang-orang yang
berminat membeli jenis produk serta alternatif lain yang mereka
pertimbangkan.
b. Keputusan tentang bentuk produk
Konsumen dapat mengambil keputusan dalam membeli sebuah
produk dengan bentuk tertentu, seperti tentang ukuran, mutu, corak,
dan lain sebagainya. Dalam hal ini perusahaan harus melakukan riset
pemasaran agar mengetahui kesukaan konsumen tentang produk yang
bersangkutan untuk dapat memaksimumkan daya tarik mereknya.
c. Keputusan tentang merek
Konsumen harus mengambil keputusan dimana produk itu telah
dibeli, setiap merek memiliki beberapa perbedaan tersendiri. Pada
kasus ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih
sebuah merek.
d. Keputusan tentang penjualannya
Konsumen harus mengambil keputusan dimana produk itu akan dibeli,
apakah di pengecer atau di toko khusus. Oleh karena itu pemasar
harus mengetahui bagaimana konsumen memilih penjual tertentu.
e. Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen dapat mengambil keputusan sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada
suatu pasar.
f. Keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen membuat keputusan tentang kapan ia akan melakukan
pembelian. Keputusan tersebut menyangkut tentang tersedianya dana
untuk membeli produk yang diinginkannya. Oleh sebab itu,
keputusan tentang waktu pembelian ini berkaitan dengan tersedianya
dana dan juga berkaitan dengan masalah-masalah tingkat harga dari
produk tersebut.
g. Keputusan tentang pembayaran
Konsumen harus mengambil keputusan tentang metode atau cara
membayar produk yang telah dibelinya. Keputusan itu dipengaruhi
oleh penjualan dan jumlah pembelinya

Indikator Proses

Menurut Booms dan Bitner dalam Wijaya (2013:65)
menyatakan proses mempunyai beberapa indikator, yaitu :
1) Kebijakan (polices)
2) Prosedur (procedure)
3) Mekanisme (mechanism)
4) Keterlibatan karyawan dengan konsumen (employee customer
involvement)
Menurut Tjiptono (2014:43) menyatakan bahwa indikator proses
terdiri dari :
1) Proses check in dan check out cepat dan menyenangkan
2) Proses pemesanan mudah serta bisa online
3) Proses pembayaran mudah dan tidak ribet
4) Proses pelayanan dari awal hingga akhir baik
5) Proses pengolahan makanan dijamin bersih dan halal
Menurut Sukotjo (2010:2) menyatakan bahwa proses
mempunyai beberapa indikator, yaitu :
1) Kemudahan Transaksi
2) Kecepatan Transaksi
3) Ketelitian

Proses (process)

Yang dimaksud proses dalam pemasaran ialah procedure actual,
mekanisme, dan aliran aktivitas yang digunakan untuk menyampaikan
jasa. Proses disini mencangkup bagaimana cara perusahaan melayani
permintaan pada tiap konsumennya. Mulai dari konsumen tersebut
memesan (order) hingga akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka
butuhkan. Beberapa perusahaan tertentu biasanya memiliki cara yang unik
dan khusus dalam melayani konsumennya. Proses disini merupakan
kegiatan yang menunjukan bagaimana pelayanan diberikan kepada
konsumen selama melakukan pembelian suatu barang.
Proses dapat diartikan sebagai mutu layanan, sedangkan mutu layanan
itu sendiri bergantung pada proses penyampaian informasi kepada
konsumen. Mengingat bahwa penggerak perusahaan adalah karyawan itu
sendiri, maka untuk menjamin mutu layanan (quality assurance), seluruh
operasional perusahaan harus dijalankan sesuai dengan sistem dan
prosedur yang terstandarisasi oleh karyawan yang berkompetensi,
berkomitmen, serta loyal terhadap perusahaan dimana tempatnya bekerja.

Indikator Partisipan

Menurut Zeithaml dan Bitner dalam Alma (2013:19)
menyatakan indikator dari people terbagi menjadi dua, yaitu :
1) Pelayanan Karyawan
2) Konsumen
Menurut Kotler dan Amstrong (2014:62) menyatakan indikator
dari partisipan terbagi menjadi empat, yaitu :
1) Kerapian
2) Kebersihan
3) Kehandalan
4) Keramahan

Partisipan (people)


Partisipan merupakan bagian yang tidak kalah penting dari unsur-
unsur lain dari bauran pemasaran karena disini semua pelaku memainkan
peranan penting dalam penyajian jasa sehingga dapat mempengaruhi
persepsi pembeli. Yang dimaksud partisipan disini adalah karyawan
penyedia jasa layanan maupun penjualan, ataupun orang-orang yang
terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses layanan itu
sendiri yang ingin menjual dan menyampaikan produk kepada sasaran.
Menurut Lovelock (2011:48) menyatakan bahwa, partisipan adalah
semua pelaku berperan dalam penyajian jasa dan berinteraksi secara
langsung dengan pembeli, sehingga dapat mempengaruhi persepsi
pembeli.

Indikator Promosi


Menurut Kotler dalam Rosvita (2010:28) menyatakan terdapat
tiga indikator promosi yaitu :
1) Jangkauan Promosi.
2) Kuantitas penayangan iklan di media promosi.
3) Kualitas penyampaian pesan dalam penayangan iklan di media
promosi.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012:432) menyatakan bahwa
indikator promosi terdiri dari lima, yaitu :
1) Periklanan (Adversiting)
2) Promosi penjualan (Sales Promotion)
3) Penjualan perseorangan (Personal Selling)
4) Hubungan masyarakat (Public Relations)
5) Penjualan langsung (Direct Marketing)
Menurut Kotler dan Amstrong (2016:520) menyatakan bahwa
terdapat beberapa indikator dari variabel promosi, yaitu :
1) Kupon (Coupons)
2) Potongan harga (Rebates)
3) Paket harga atau penawaran diskon (Price pack or cents-off-
deals)

Promosi (promotion)


Salah satu bentuk komunikasi yang biasa digunakan oleh perusahaan
adalah promosi yang bertujuan untuk memperkenalkan, memberitahukan,
meyakinkan serta membujuk konsumen untuk membeli produk yang sudah
ditawarkan. Dapat dikatakan promosi karena merupakan salah satu alasan
komunikasi yang bersifat membujuk serta mengajak agar konsumen
tertarik dengan produk-produk yang ditawarkan atau dipasarkan dan
diharapkan terjadinya transaksi penjualan.
Menurut Lovelock (2011:46) menyatakan bahwa, promosi
merupakan kegiatan untuk menginformasikan, mengajak, dan
mengingatkan konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung
mengenai suatu merek atau produk yang ditawarkan.
Menurut Sunyoto (2012:154) menyatakan bahwa, kegiatan promosi
bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi antara perusahaan dengan
konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen
dalam kegiatan pembelian atau penggunaan produk sesuai dengan
kebutuhan dan kerugiannya.

Indikator Harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2015:452) menyatakan bahwa,
indikator yang digunakan dalam penetapan harga antara lain :
1) Penetapan harga jual
2) Elastisitas harga
3) Pertumbuhan harga pesaing
Menurut Goenadhi (2011:159) menyatakan bahwa, persepsi
harga dapat diukur dengan indikator sebagai berikut :
1) Terjangkau
2) Bersaing
3) Sesuai manfaat
Menurut Asasauri (2015:352) menyatakan bahwa, indikator
harga dapat diukur dengan tiga indikator, yaitu :
1) Keterjangkauan Harga
2) Diskon atau Potongan Harga
3) Cara Pembayaran

Harga (price)


Harga merupakan sejumlah uang yang harus dibayarkan untuk
medapatkan sebuah produk atau jasa. Lebih spesifik lagi, harga adalah
uang yang konsumen tukarkan untuk mendapatkan manfaat dengan
menggunakan suatu barang atau jasa. Harga mencangkup tentang
penentuan penetapan harga yang layak ditawarkan pada pasar berdasarkan
kualias produk, segmentasi dan target pasarnya, yang dinyatakan oleh
Lovelock (2011:45).
Menurut Kotler dan Keller (2012:405) menyatakan bahwa, harga
adalah salah satu elemen bauran pemasaran yang menghasilkan
pendapatan dan paling mudah untuk disesuaikan, suatu harga yang
ditetapkan mempunyai nilai arti yang sangat penting bagi sebuah
perusahaan. Fungsi harga adalah membantu para konsumen untuk
memutuskan cara memperoleh manfaat.
Menurut Untoro, Joko (2010:8) menyatakan bahwa harga adalah
kemampuan yang dimiliki oleh suatu barang atau jasa, yang dinyatakan
dalam bentuk uang.

Bauran Pemasaran


Menurut Assauri (2015:198) menyatakan bahwa, bauran pemasaran
merupakan kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem
pemasaran, para pembeli atau konsumen. Intinya bauran pemasaran
merupakan variabel-variabel yang digunakan perusahaan dalam kegiatan
pemasarannya. Variabel dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk,
harga, promosi, dan tempat. Sementara itu, untuk pemasaran jasa perlu bauran
pemasaran yang diperluas dengan elemen-elemen tambahan seperti
partisipan, proses, dan bukti fisik yang dinyatakan oleh Kotler dan Amstrong
(2010:62).
Ketujuh unsur bauran pemasaran tersebut saling berhubungan dan
berpengaruh satu dengan lainnya, sehingga harus diupayakan untuk
menghasilkan suatu kebijakan pemasaran yang mengarah kepada layanan
dalam kepuasan konsumen. Jadi di dalam bauran pemasaran terdapat variabel-
variabel yang saling mendukung satu dengan lainnya, yang kemudian oleh
perusahaan akan digabungkan untuk memperoleh tanggapan-tanggapan yang
diinginkan di dalam pasar sasaran.

  1. Produk (product)
    Produk merupakan titik pusat dari kegiatan pemasaran karena produk
    merupakan hasil dari suatu perusahaan yang dapat ditawarkan ke pasar
    untuk dikonsumsi dan produk merupakan alat dari suatu perusahaan untuk
    mencapai tujuan dari perusahaannya. Suatu produk harus memiliki
    keunggulan dari produk-produk yang lain baik dari segi kualitas, desain,
    bentuk, ukuran, kemasan, pelayanan, garansi, dan rasa agar dapat menarik
    minat konsumen untuk membeli lalu mencoba produk tersebut.
    Produk merupakan elemen yang penting dalam sebuah program
    pemasaran. Strategi produk dapat mempengaruhi strategi pemasaran yang
    lainnya sehingga pembelian sebuah produk bukan hanya sekedar untuk
    memiliki produk tersebut tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan dan
    keinginan para konsumen. Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan
    Keller (2012:5) menyatakan bahwa, produk adalah segala sesuatu yang
    dapat ditawarkan ke pasar untuk menarik perhatian, dimiliki, digunakan
    atau dikonsumsi serta dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan
    konsumen.

Manajemen Pemasaran


Hampir semua orang beranggapan bahwa manajemen pemasaran
adalah mencari pelanggan sebanyak-banyaknya untuk produk-produk yang
sekarang ada pada perusahaan yang bersangkutan. kebanyakan diantaranya
hanya berfokus pada perancangan iklan dan aktifitas penjualan saja,
sedangkan tanggung jawab seorang pemasaran hanya difokuskan sebagai
wiraniaga (orang yang melakukan penjualan barang secara langsung kepada
konsumen). Tetapi pandangan ini terlalu sempit, karena konsumen
mempunyai tingkatan permintaan yang diinginkan untuk produknya.
Menurut Kotler dan Keller (2012:5) menyatakan bahwa, definisi
manajemen pemasaran adalah sebagai seni dan ilmu untuk memilih pasar
sasaran dan meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan dengan
menciptakan, menghantarkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang
lebih unggul.
Pengertian menurut Assauri, Sofjan (2013:12) menyatakan bahwa,
manajemen pemasaran merupakan kegiatan penganalisaan, perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian program-program yang dibuat untuk
membentuk, membangun, dan memelihara keuntungan dari pertukaran melalui
sasaran pasar guna untuk mencapai tujuan organisasi (perusahaan) dalam
jangka waktu yang panjang.
Menurut Suparyanto dan Rosad (2015:1) menyatakan bahwa,
manajemen pemasaran adalah proses menganalisis, merencanakan, mengatur,
dan mengelola program-program yang mencangkup pengkonsepan, penetapan
harga, promosi dan distribusi dari produk, jasa dan gagasan yang dirancang
untuk menciptakan dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan
pasar sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan.
Menurut Buchori dan Djaslim (2010:5) menyatakan bahwa,
manajemen pemasaran merupakan proses perencanaan dan pelaksanaan
konsepsi, penetapan harga, promosi dan distribusi gagasan, barang, dan jasa,
untuk menghasilkan pertukaran yang memuaskan individu dan memenuhi
tujuan organisasi

Pemasaran Langsung


Menurut Kotler dan Armstrong (2014:516) mengatakan bahwa pemasaran
langsung adalah hubungan langsung yang ditargetkan kepada individual
konsumen untuk memperoleh respon secara cepat dan membangun hubungan
pelanggan secara berkelanjutan. Sedangkan menurut Belch dan Belch
(2012:470), pemasaran langsung adalah sistem pemasaran dimana suatu
organisasi berkomunikasi secara langsung dengan target pelanggan untuk
menghasilkan respon ataupun transaksi. Berdasarkan uraian definisi yang telah
dikemukakan, dapat dijelaskan bahwa pemasaran langsung adalah salah satu
alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mengkomunikasikan secara
langsung dengan pelanggan secara individual untuk mendapat respon. Program
direct marketing dapat dirancang untuk mencapai beberapa alternatif tujuan
berikut (Tjiptono & Chandra, 2012), yaitu:
1) Mendorong leads atau pencobaan produk (product trial), direct
marketing dapat dimanfaatkan untuk memperluas lingkup
pelanggan perusahaan dengan cara menarik para non pemakai ke
pemakai produk tertentu
2) Meningkatkan kualitas relasi dengan pelanggan, melalui
pengembangan database pelanggan yang memuat sejarah
pembeliannya, perusahaan bisa melakukan seleksi segmen pasar
dengan lebih akurat, menstimulasi pembelian ulang, dan
mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai level dan jenis
bisnis tambahan yang bisa dikembangkan dari masing-masing
individual
3) Mempertahankan pelanggan, dengan cara membuat berbagai
program yang dirancang untuk mempertahankan pelanggan,
misalnya seperti menawarkan kupon atau insentif
4) Mengaktifkan kembali mantan pelanggan, membuat program
untuk merebut kembali pelanggan yang hilang karena tidak
adanya variasi produk yang diinginkannya atau karena
pengalaman buruk yang didapat saat pembelian sebelumnya

Penjualan Personal


Menurut Kotler & Keller (2009:174) mengemukakan penjualan perorangan
adalah interaksi tatap muka dengan suatu atau lebih pembeli prospektif untuk
tujuan melakukan presentasi, menjawab pertanyaan, dan pengadaan pesanan.
Menurut Lupiyoadi dan Hamdani (2009:121) menyatakan bahwa, penjualan
perseorangan mempunyai peranan yang penting dalam pemasaran jasa, karena:
1) Interaksi secara personal antara penyedia jasa dan konsumen
sangat penting
2) Jasa tersebut disediakan oleh orang bukan oleh mesin
3) Orang merupakan bagian dari produk dan jas