Kualitas Produk.


Kualitas produk adalah ukuran keseluruhan dari keunggulan dan
karakteristik suatu produk yang memengaruhi sejauh mana produk tersebut
memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan. Kualitas produk juga dapat diartikan
sebagai Kumpulan karakteristik dari barang dan jasa yang mempunyai kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan yang merupakan suatu pengertian dari gabungan daya
tahan, kehandalan, ketepatan, kemudahan pemeliharaan serta atribut lainnya dari
suatu produk. Menurut Kotler dan Amstrong (2008) dalam penelitian (Rusniawan
& Santoso, 2021) mendefinisikan bahwa kualitas produk merupakan Kumpulan
karakteristik produk dan layanan yang dapat memenuhi persyaratan keberlanjutan,
keandalan, akurasi, kemudahan pemeliharaan dan produk lainya. Sedangkan
menurut Kotler dan Amstrong (2013) dalam penelitian yang dilakukan oleh (Amalia
& Maskur, 2023) Menyatakan arti dari kualitas produk adalah kemampuan sebuah
produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas,
reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut
produk lainnya. Kualitas produk adalah kemampuan suatu perusahaan untuk
memberikan identitas atau ciri pada setiap produknya sehingga konsumen dapat
mengenali suatu produk tersebut.
Menurut Fandy Tjiptono dan Gregorius Chandra (2012), untuk mengukur kualitas
produk terdapat indikator yang dapat dilihat yaitu sebagai Berikut:

  1. Warna.
  2. Penampilan.
  3. Porsi.
  4. Bentuk.
  5. Tekstur.
  6. Aroma

Persepsi Harga.


Persepsi harga merupakan cara konsumen melihat, menilai, dan memahami
harga suatu produk atau layanan. Ini adalah pandangan atau penilaian subjektif
konsumen tentang apakah harga suatu produk atau layanan sesuai dengan nilai yang
mereka harapkan atau apakah harga tersebut terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Menurut Cockril dan Goode (2010:368) dalam (Amalia & Maskur, 2023) yang
menyatakan bahwa persepsi harga merupakan faktor psikologis dari berbagai segi
yang mempunyai pengaruh penting dalam reaksi konsumen kepada harga. informasi
harga dipaham oleh konsumen dan dibuat bermakna oleh mereka. Berhubungan
dengan informasi harga, konsumen bisa membandingkan antara harga yang
dinyatakan dengan sebuah harga atau kisaran harga yang mereka bayangkan atas
produk tersebut.
Sedangkan menurut Peter dan Olson (2010) dalam penelitian yang
dilakukan oleh (Nanda & Keni, 2022) Mendefinisikan persepsi harga sebagai
pemahaman konsumen mengenai informasi harga dan seberapa harga tersebut
memiliki nilai yang sesuai dengan manfaat serta fungsi sebuah produk. Persepsi
harga memberikan informas mengenai harga serta pandangan konsumen mengenai
harga baik dari tingkat harganya, keterjangkauan harga tersebut dan kesesuaian
harga tersebut terhadap manfaat yang di berikan sebuah produk atau jasa sehingga
harga tersebut menjadi pertimbangan bagi konsumen dalam melakukan pembelian
sebuah produk barang atau jasa.
Indikator persepsi harga menurut Suparyanto dan Rosad (2015) dalam penelitian
(Suryajaya & Sienatra, 2021) sebagai Berikut:

  1. Keterjangkauan harga produk.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitasmya.
  3. Daya saing harga.
  4. Keseuaian harga dengan manfaatnya

Keputusan Pembelian.


Keputusan pembelian merujuk kepada proses di mana seorang individu atau
organisasi memilih untuk membeli produk atau jasa dari berbagai pilihan yang
tersedia. Ini melibatkan serangkaian langkah dan pertimbangan yang dilakukan
sebelum akhirnya membuat keputusan untuk melakukan pembelian.
Menurut (Kurniawan et al., 2023) mengatakan keputusan pembelian adalah
sebuah tahapan pengambilan keputusan untuk menentukan apakan akan melakukan
pembelian atau tidak terhadap bayang yang di butuhkan atau diinginkan. Keputusan
pembelian merupakan sebuah proses evaluasi terhadap dua atau lebih objek untuk
kemudian dilakukan pembelian terhadap salah satunya. Sehingga Keputusan
pembelian adalah tahap kritis dalam proses pengambilan keputusan konsumen di
mana individu memilih apakah akan membeli suatu produk atau layanan setelah
mempertimbangkan berbagai faktor dan opsi yang tersedia.
Menurut Fandy Tjiptono.(2012) dalam (Cesariana et al., 2022) mengatakan
bahwa keputusan pembelian merupakan suatu proses dimana konsumen memahami
permasalahan mencari informasi ataupun merk tertentu dari suatu produk kemudian
mengevaluasi seberapa baik tiap alternatif tersebut dapat menyelesaikan
masalahnya yang setelah itu menuju kepada keputusan pembelian. Secara singkat
Keputusan pembelian adalah proses di mana konsumen mengidentifikasi masalah,
mencari informasi, mengevaluasi berbagai alternatif, dan akhirnya memutuskan
untuk membeli produk atau layanan yang dianggap paling sesuai untuk
memecahkan masalah tersebut.
Sedangkan menurut Kotler & Amstrong (2014), dalam penelitian (Darmansah
& Yosepha, 2020) keputusan pembelian adalah tahapan dalam proses pengambilan
keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli. Sebelum benar-benar
membeli konsumen akan melewati beberapa tahapan proses pembelian.
Pengambilan keputusan merupakan kegiatan individu yang terlibat langsung dalam
proses pembelian barang yang ditawarkan oleh Perusahaan.
Keputusan pembelian menurut Kotler & Amstrong (2018) dalam (Mayasari,
2023) ada dua faktor yang dapat mempengaruhi keputusan untuk melakukan
pembelian. Sikap orang lain terhadap merek yang dicari sangat berpengaruh, serta
situasi yang tidak terduga dapat berperan dalam keputusan akhir. Pilihan merek
dapat dilakukan oleh individu Ketika mereka memutuskan melakukan pembelian.
Keputusan seseorang bisa berpengaruh oleh fakto-faktor seperti sikap dan situasi
yang tak terduga.
Dalam Keputusan Pembelian terdapat 3 (tiga) faktor yang mempengarui
timbulnya keputusan pembelian, yaitu:
a) Sikap orang lain, keputusan pembelian dapat dipengaruhi oleh keluarga,
tetangga, teman maupun orang kepercayaan.
b) Situasi tak terduga, keputusan pembelian juga dapa di pengaruhi oleh
persepsi harga, pendapatan dan manfaat yang diharapkan setelah
melakukan pembelian suatu produk.
c) Faktor yang dapat diduga, merupakan faktor situasional yaitu dimana
situasi konsumen yang bersifat sementara dalam aktivitas berbelanja
yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu

Hubungan Kualitas Pelayanan dengan Keputusan Pembelian


Menurut Fandy Tjiptono (2017:180) mendefinisikan kualitas
pelayanan atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat
layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspetasi pelanggan.
Persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan yang tersedia baik atau
tidaknya tergantung keinginan dan kesesuaian kualitas pelayanan yang
diperolehnya. Perusahaan menganggap konsumen sebagai raja yang harus
dilayani dengan baik, mengingat bahwa konsumen akan mendatangkan
keuntungan bagi perusahaan agar tetap bertahan. Kualitas pelayanan yang
baik merupakan pelayanan yang dapat memenuhi harapan pelanggan
sehingga menciptakan kepuasan konsumen terutama dalam hal bukti
langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati. Semakin bagus
layanan yang diberikan kepada konsumen dapat menjadi tolak ukur
terhadap keputusan pembelian. Hasil penelitian yang dilakukan oleh RA
Nur Amalina (2015) menunjukan bahwa kualitas pelayanan terdapat
pengaruh positif yang siginifikan terhadap keputusan pembelian. Selain
itu, sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Sofyan
(2021) menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian.

Hubungan Store Atmosphere dengan Keputusan Pembelian


Menurut Utami (2017:322) mendefinisikan store atmosphere
sebagai karakteristik fisik toko seperti pencahayaan, warna, temperatur,
musik dan aroma sehingga menciptakan kenyamanan pada konsumen.
Dengan suasana toko yang sengaja dibuat oleh pebisnis berusaha untuk
mengkomunikasikan informasi yang terkait layanan, harga dan
ketersediaan barang dagangan (Utami, 2017:322). Store atmosphere yang
unik dan nyaman mampu menarik perhatian konsumen untuk berkunjung
pada sebuah toko atau tempat makan. Store atmosphere tidak hanya dapat
menciptakan suasana lingkungan yang menyenangkan saja, tetapi juga
dapat memberikan nilai tambah terhadap produk yang dijual serta
mendapatkan first impression konsumen yang akan memberikan dampak
positif sehingga terjadinya komunikasi lanjutan pada konsumen untuk
menjadi rekomendasi dalam pemilihan konsumen pada keputusan
pembelian. Membuat konsumen merasa nyaman saat berada dalam toko
atau tempat makan sangat memicu dan memikat konsumen untuk
melakukan keputusan pembelian.

Hubungan Keragaman Produk dengan Keputusan Pembelian


Keragaman produk adalah macam-macam produk dalam artian
kelengkapan produk dan menu yang dapat dilihat dari segi rasa, ukuran,
kualitas serta ketersediaan produk pada setiap toko (Aerianto, 2017). Jika
toko menyediakan produk yang beranekaragam maka akan memudahkan
pebisnis dalam menarik konsumen untuk berkunjung pada sebuah toko.
Semakin banyak pillihan produk yang ditawarkan, maka memudahkan
konsumen untuk memilih berbagai alternatif pilihan produk yang sesuai
dengan keinginannya sehingga konsumen memiliki kesempatan untuk
membandingkan, membedakan dan memilih diantara beberapa alternatif
sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli suatu produk. Agustina
(2017) menyatakan semakin beragam produknya, konsumen akan semakin
puas dalam memilih produk. Keberagaman produk yang tersedia akan
mempengaruhi keputusan pembelian konsumen

Hubungan Brand Image dengan Keputusan Pembelian


Menurut Sotjan (2015:204) mendefinisikan merek adalah nama, istilah,
tanda atau lambang dan kombinasi dari dua atau lebih unsur tersebut yang
bermaksud untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang
penjual atau kelompok penjual sehingga konsumen mengenal merek yang
berbeda dari produk pesaingnya. Dengan kata lain, konsumen memandang
brand image menjadi bagian terpenting dari suatu produk karena brand
image mencerminkan tentang suatu produk yang jual. Apabila konsumen
tidak memiliki pengalaman pada suatu produk, maka cenderung untuk
mempercayai merek yang paling disukai atau yang sudah terkenal. Pada
dasarnya konsumen akan menentukan pilihannya untuk membeli produk
yang mempunyai citra yang baik. Semakin baik sebuah brand image suatu
produk, maka berdampak besar terhadap keputusan pembelian. Citra
merek yang positif menunjukan adanya kepercayaan dan kesetiaan
konsumen pada merek produk tersebut. Sebaliknya jika citra merek suatu
produk dinilai negatif, konsumen justru akan mempertimbangkan banyak
hal ketika akan membeli.

Indikator Kualitas Pelayanan


Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani
dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) adalah sebagai berikut :
a. Reliability (kehandalan)
Kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat diandalkan
dan akurat.
b. Responsiveness (daya tanggap)
Kesediaan untuk membantu pelanggan dan memberikan
layanan yang cepat.
c. Assurances (jaminan)
Pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
mereka untuk menjamin mutu sehingga konsumen yakin dan
percaya.
d. Empati
Perhatian individual terhadap pelanggan
e. Tangibles (bukti fisik)
Penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Fandy Tjiptono (2017:180) mendefinisikan
kualitas pelayanan atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa
bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan
ekspetasi pelanggan. Kualitas pelayanan adalah seberapa baik
suatu organisasi atau perusahaan mampu merespon kebutuhan
pelanggan. Kualitas pelayanan dapat diukur dengan waktu respon
kecepatan pelayanan, jaminan pelayanan dan tingkat kepuasan
pelanggan. Menurut Parasuraman dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa kualitas
pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan
persepsi pelanggan dengan kualitas pelayanan pelanggan yang
diharapkan. Kualitas pelayanan dapat diketahui dengan cara
membandingkan persepsi para konsumen atas pelayanan yang
mereka terima dengan pelayanan sesungguhnya yang mereka
harapkan terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan.
Jika jasa yang diterima sesuai dengan apa yang diharapkan maka
kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa
yang diterima melebihi harapan konsumen, maka kualitas
pelayanan dipersepsikan sangat baik dan berkualitas. Sebaliknya
jika jasa yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan,
maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk dan berakibat pada
citra toko. Menurut Arianto (2018:83) kualitas pelayanan dapat
diartikan sebagai berfokus pada memenuhi kebutuhan dan
persyaratan, serta pada ketepatan waktu untuk memenuhi harapan
pelanggan. Kualitas pelayanan merupakan titik sentral bagi
perusahaan karena mempengaruhi kepuasan konsumen dan
kepuasan konsumen akan muncul apabila kualitas Kualitas
Pelayanan yang diberikan dengan baik. Berdasarkan pendapat
para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kualitas
pelayanan adalah persepsi konsumen tentang seberapa baik
pelayanan yang diterima terutama dalam memenuhi kebutuhan
konsumen

Indikator Store Atmosphere


Indikatore store atmsophere menurut Berman dan Evan
(2014:545) sebagai berikut :
a. Store Exterior (bagian depan toko)
Bagian depan toko mencerminkan kemantapan dan kekokohan
spirit perusahaan dan sifat kegiatan yang ada di dalamnya serta
dapat menciptakan kepercayaan goodwill bagi konsumen store
exterior berfungsi sebagai identifikasi atau tanda pengenal
sehingga dinyatakan sebagai lambang. Elemen-elemen store
exterior terdiri dari :
1) Bagian depan toko meliputi pintu masuk dan konstruksi
gedung. Store front harus menciptakan keunikan,
kemantapan, kekokohan atau hal lain yang berkaitan dengan
citra toko.
2) Papan nama (Marque) adalah suatu tanda yang digunakan
untuk memajang nama atau logo suatu toko. Marque dapat
dibuat dengan teknik pewarnaan, penulisan huruf atau
penggunaan lampu neon dan dapat terdiri dari nama atau
logo saja atau dapat dikombinasikan dengan slogan dan
informasi lainnya supaya lebih efektif, marquee harus
diletakan diluar terlihat berbeda dan lebih menarik.
3) Pintu masuk harus direncanakan sebaik mungkin, sehingga
dapat mengundang konsumen untuk masuk melihat ke
dalam toko

Pengertian Store Atmosphere


Store atmosphere atau suasana toko merupakan suasana
terencana yang sesuai dengan sasaran pasar sehingga
memungkinkan dapat menarik minat konsumen untuk
berkunjung. Menurut Utami (2017:322) mendefinisikan store
atmosphere sebagai karakteristik fisik toko seperti pencahayaan,
warna, temperatur, musik dan aroma sehingga menciptakan
kenyamanan pada konsumen. Suasana toko atau store atmosphere
adalah perasaan atau kejiwaan pada seseorang pada saat
memasuki toko (Alma, 2018:60). Store atmosphere dapat
digambarkan sebagai perubahan terhadap perencanaan lingkungan
pembelian yang menghasilkan efek emosional khusus yang dapat
menyebabkan konsumen melakukan tindakan pembelian.
M.Ma’ruf Amin (2014:204) store atmosphere adalah suasana
dalam toko yang menciptakan perasaan tertentu dalam diri
pelanggan yang ditimbulkan dari penggunaan unsur-unsur desain
interior seperti pencahayaan, tata suara, sistem pengaturan udara
dan pelayanan Bagi sebuah toko penting untuk menonjolkan
tampilan fisik, store atmosphere berguna untuk membangun citra
dan menarik minat pembeli. Store atmosphere meliputi berbagai
tampilan seperti interior, exsterior, tata letak, lalu lintas internal
toko, kenyamanan, udara, seragam, fasilitas, keunikan desain,
panjang barang dan sebagainya yang menimbulkan daya tarik
konsumen sehingga konsumen nyaman dan membangkitkan
keinginan untuk membeli (Berman dan Evan yang dialih
bahasakan Lina Salim 2014:528). Berdasarkan pendapat para ahli
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa store atmosphere adalah
suasana yang dapat dirasakan konsumen ketika berada di dalam
toko.

Indikator Keragaman Produk


Menurut Philip Kotler (2012:347) adalah tersedianya jenis semua
produk yang ditawarkan untuk dimiliki, dipakai atau dikonsumsi
oleh konsumen yang dihasilkan oleh suatu produsen jenis atau
variasi menu yang ditawarkan.
Adapun indikatornya adalah :

  1. Produk yang tersedia mempunyai berbagai varian
  2. Terdapat menu yang beragam
  3. Kualitas produk yang dijual memenuhi selera konsumen.

Dimensi Keragaman Produk


Menurut Kotler dan Keller (2011) terdapat empat dimensi
keragaman produk sebagai berikut :
a. Lebar
Semakin banyak bauran produk yang disajikan mengacu pada
banyaknya lini produk yang berbeda di setiap perusahaan.
b. Kedalaman
Suatu bauran mengacu pada jumlah seluruh barang dalam
bauran tersebut.
c. Keluasan
Suatu bauran produk mengacu pada berapa banyak jenis yang
ditawarkan masing-masing produk dalam lini tersebut.
d. Konsistensi
Bauran produk mengacu pada seberapa erat hubungan berbagai
lini produk dalam penggunaan akhir, ketentuan produksi,
saluran distribusi atau yang lainnya

Pengertian Keragaman Produk


Keragaman produk adalah kumpulan semua produk dan
barang yang ditawarkan oleh penjual. Keragaman produk adalah
macam-macam produk dalam artian kelengkapan produk dan
menu yang dapat dilihat dari segi rasa, kualitas serta ketersediaan
produk pada setiap toko tersebut (Aerianto, 2017). Menurut
Kotler (2012:347) kelengkapan produk adalah tersedianya semua
jenis produk yang ditawarkan untuk dimiliki, dipakai atau
dikonsumsi oleh konsumen yang dihasilkan oleh suatu produsen.
Keragaman produk diartikan sebagai suatu usaha
penganekaragaman produk yang dihasilkan oleh perusahaan
untuk digunakan konsumen dalam memuaskan kebutuhannya.
Keragaman produk dan cara penyajian yang berbeda juga dapat
menarik konsumen dan mempertahankan eksistensi pada sebuah
perusahaan. Semua hal dilakukan perusahaan agar terjadi
peningkatan keputusan pembelian.
Keragaman merupakan faktor penting untuk pertimbangan
konsumen dalam memilih alternatif produk yang sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan mereka. Keragaman produk dapat
berjalan apabila perusahaan terus berinovatif dalam menciptakan
produk baru atau variasi produk yang dihasilkan untuk
memuaskan konsumen. Konsumen akan semakin senang jika
suatu restoran atau toko menyajikan beragam produk dimana di
dalamnya terdapat produk dan menu yang di display secara
lengkap Hubungan antara keragaman produk dan perilaku
konsumen itu sendiri yang merupakan sebuah proses dalam
pengambilan keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Keller
(2016:26) bahwa keragaman produk adalah strategi yang
membuat produk berbeda dengan competitor bahkan dapat
melebihinya sehingga mendapat hasil yang dinilai oleh konsumen
dan nilai yang diharapkan dapat memengaruhi pilihan dan
kebutuhan konsumen. Hal ini sejalan dengan teori dari (Utami,
2010) bahwa toko yang tidak dapat menyediakan kebutuhan
produk yang dicari oleh konsumen akan mengakibatkan
kurangnya kesetiaan konsumen dan berdampak kerugian pada
toko.

Indikator Brand Image


Adapun indikator brand image menurut Kotler dan Keller
(2016:347) sebagai berikut :
a. Keunggulan asosiasi merek
Keunggulan asosiasi merek, salah satu faktor pembentuk brand
image adalah keunggulan produk, dimana produk tersebut
unggul dalam persaingan.
b. Kekuatan asosiasi merek
Setiap merek yang berharga mempunyai jiwa kualitas tinggi.
Kepribadian khusus adalah kewajiban mendasar bagi pemilik
merek untuk mensosialisasikan kepribadian tersebut dalam
bentuk iklan ataupun bentuk kegiatan promosi lainnya agar
mampu menjadi penghubung antara produk dan merek dengan
pelanggan sehingga merek tersebut lebih mudah dikenal dan
tetap eksis ditengah maraknya persaingan. Membangun
popularitas merek yang terkenal bukan hal mudah akan tetapi
popularitas adalah salah satu kunci yang dapat membentuk
brand image kepada pelanggan.
c. Keunikan asosiasi merek
Keunikan asosiasi merek merupakan keunikan-keunikan yang
dimiliki oleh merek produk tertentu untuk menarik perhatian
konsumen.

Dimensi Pembentuk Brand Image


Menurut Widyaningsih dalam Cendana (2017) bahwa terdapat
dimensi-dimensi utama yang mempengaruhi terbentuknya citra
sebuah merek adalah sebagai berikut :
a. Identitas merek (Brand Identity)
Identitas merek berkaitan dengan identitas fisik pada produk
sehingga konsumen mudah mengenali dan membedakan
dengan merek produk lain seperti adanya logo, warna,
kemasan dan identitas perusahaan lainnya.
b. Personalitas merek (Brand Personality)
Personalitas merek adalah karakter khas sebuah merek yang
membentuk kepribadian tertentu sebagaimana layaknya
manusia sehingga konsumen dengan mudah membedakan
merek lain dalam kategori yang sama .
c. Asosiasi merek (Brand Association)
Asosiasi merek adalah hal-hal spesifik yang selalu dikaitkan
dengan suatu merek dapat berupa penawaran unik suatu
produk, aktivitas yang berulang dan konsisten misalnya dalam
hal sponsorship atau kegiatan sosial, isu-isu yang kuat
berkaitan dengan merek tersebut.
d. Sikap dan perilaku merek (brand attitude and behavior)
Sikap dan perilaku merek adalah sikap atau perilaku
komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam
menawarkan benefit-benefit dan nilai yang dimilikinya. Brand
attitude and behavior mencakup sikap dan perilaku
komunikasi, aktivitas dan atribut yang melekat pada merek
saat berhubungan dengan konsumen, termasuk perilaku
karyawan dan pemilik merek.
e. Manfaat dan keunggulan merek (Brand Benefit and
Competence)
Manfaat dan keunggulan merek merupakan nilai-nilai dan
keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu merek kepada
konsumen agar merasakan manfaat karena kebutuhan,
keinginan dan harapannya terwujud melalui penawaran
tersebut

Faktor yang Mempengaruhi Brand Image


Menurut Alifian B (2012:26) mengemukakan faktor-faktor
terbentuknya citra merek antara lain :
a. Keunggulan produk
Produk yang unggul dapat dikatakan mampu bersaing dengan
lainnya. Keunggulan kualitas memiliki arti model dan
kenyamanan bagi pengguna produk dan ciri khas itu yang
menyebabkan suatu produk punya daya tarik tersendiri untuk
tiap konsumen.
b. Kekuatan asosiasi merek
Kekuatan asosiasi merek merupakan pengolahan informasi
yang diterima oleh konsumen. Ketika seorang konsumen
secara aktif menguraikan informasi suatu produk atau jasa
maka akan tercipta asosiasi yang semakin kuat pada ingatan
konsumen. Asosiasi merek pada benak konsumen tergantung
bagaimana suatu merek tersebut dapat dipertimbangkan.
c. Keunikan merek
Salah satu faktor terbentuknya brand image adalah keunikan
merek. Keunikan merek adalah bagian dari asosiasi terhadap
suatu merek yang mau tidak mau harus terbagi dengan merek
lainnya sehingga masing-masing produk harus memiliki
keunggulan untuk bersaing yang menjadi dasar alasan
konsumen memilih suatu merek tertentu. Dengan
memposisikan merek lebih mengacu pada pengalaman atau
keuntungan diri dari image produk tersebut.

Pengertian Brand Image


Brand image merupakan persepsi dan keyakinan
konsumen yang tercermin dalam asosiasi yang terjadi dalam
memori atau benak konsumen terhadap suatu merek tertentu.
Asosiasi tersebut secara sederhana muncul dalam bentuk
pemikiran yang dikaitkan dengan suatu merek. Menurut Sotjan
(2015:204) mendefinisikan bahwa merek adalah nama, istilah,
tanda atau lambang dan kombinasi dari dua atau lebih unsur
tersebut yang bermaksud untuk mengidentifikasikan barang atau
jasa dari seorang penjual atau kelompok penjual sehingga
konsumen mengenal merek yang berbeda dari produk pesaingnya.
Brand image sebagai suatu nama atau simbol yang
mempresentasikan atas apa yang dilakukan perusahaan untuk
menyampaikan jenis usahanya kepada konsumen (Kotler dan
Keller, 2016). Citra merek dapat mendeskripsikan berbagai
informasi yang diterima oleh konsumen. Informasi citra terdapat
dari logo atau simbol yang digunakan oleh penjual untuk
mewakili produknya. Fungsi simbol dan logo bukan semata-mata
hanya sebagai pembeda dari pesaing sejenis namun juga
merefleksikan mutu dan visi misi perusahaan tersebut. Brand
image yang dibangun dapat menjadi identitas cerminan dari visi,
keunggulan, standart kualitas, pelayanan dan komitmen dari
pelaku usaha atau pemilik. Berdasarkan pendapat para ahli diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa brand image adalah representasi
dari keselurahan presepsi terhadap merek yang dibentuk dari
informasi logo atau simbol suatu bisnis

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian menurut Kotler (2018:70) adalah
sebagai berikut :
a. Kemantapan pada sebuah produk
Keputusan konsumen dalam melakukan suatu pembelian, pasti
memilih salah satu dari beberapa alternatif. Pilihan alternatif
tersebut didasari pada kualitas, mutu, harga yang terjangkau
serta faktor-faktor lain yang memantapkan keinginan
konsumen untuk membeli produk tersebut berdasarkan harapan
dan kebutuhannya.
b. Kebiasaan dalam membeli produk
Kebiasaan konsumen dalam membeli suatu produk dapat
berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Konsumen merasa
produk yang dibelinya sudah melekat di benak hati mereka
karena sudah merasakan manfaat dari produk tersebut sehingga
enggan untuk mencoba produk baru. Hal tersebut membuat
konsumen cenderung memilih produk yang sudah biasa
digunakan.
c. Memberikan rekomendasi kepada orang lain
Apabila konsumen mendapatkan manfaat yang sesuai dari
produk yang dibeli, maka mereka pasti merekomendasikan
produk tersebut ke orang lain supaya merasakan bahwa produk
yang dibelinya benar-benar sangat bagus dan lebih baik dari
produk lain

Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Kotler (2015), sikap konsumen dalam membeli sesuatu
dipengaruhi oleh beberapa faktor :
a. Faktor budaya
Budaya merupakan penentu paling dasar dari keinginan dan
perilaku seseorang. Pemasaran lintas budaya muncul dari riset
pemasaran yang cermat bahwa relung etnis dan demografi
yang berbeda tidak selalu menanggapi secara baik terhadap
iklan pasar massal.
b. Faktor sosial
Dalam faktor sosial, perilaku konsumen dipengaruhi oleh
kelompok acuan, keluarga, peran dan status sosial sebagai
berikut :
1) Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang
memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap
sikap atau perilaku seseorang. Kelompok yang berpengaruh
langsung yaitu kelompok keanggotan seperti keluarga,
teman, tetangga dsb. Pada kelompok tidak langsung seperti
keagamaan, profesi dan asosiasi perdagangan yang
interaksinya tidak rutin.
2) Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen paling
penting dalam masyarakat karena menjadi acuan primer dan
dominan yang paling berpengaruh. Orientasi keluarga
terdiri dari orang tua dan saudara kandung yang
mendapatkan orientasi atas agama, politik, ekonomi, ambisi
pribadi serta cinta. Pengaruh yang lebih langsung terhadap
perilaku pembelian sehari-hari adalah keluarga prokreasi
yaitu pasangan dan anak seseorang.
3) Peran dan status sosial
Seseorang berpartisipasi dalam banyak kelompok, keluarga,
organisasi dan lainnya. Posisi seseorang dalam masing-
masing kelompok dapat didefinisikan dalam peran dan
status. Peran terdiri dari kegiatan yang dilakukan sesuai
dengan tugas serta tanggung jawabnya yang berada di
lingkungan sekitarnya. Masing-masing peran membawa
status yang mencerminkan nilai umum yang diberikan
kepada masyarakat.
c. Faktor pribadi
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi.
Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus dalam
hidup misalnya pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan
konsep diri serta nilai dan gaya hidup pembeli.
d. Faktor psikologis
Satu perangkat proses psikologis berkombinasi dengan
karakteristik konsumen tertentu untuk menghasilkan proses
keputusan pembelian. Tugas pemasar adalah memahami apa
yang terjadi dalam kesadaran konsumen antara datangnya
rangsangan pemasaran luar dan keputusan pembelian akhir

Proses Keputusan Pembelian


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku
konsumen dan pemahaman tentang cara konsumen melakukan
keputusan pembelian. Menurut Kotler (2017) ada lima tahap
proses yang dilalui konsumen dalam mengambil keputusan
pembelian :
a. Pengenalan masalah
Tahap pertama proses pengambilan keputusan dimulai saat
pembeli menyadari terhadap adanya suatu masalah atau
kebutuhan. Pembeli merasakan timbulnya perbedaan antara
nyata dan yang diinginkan. Kebutuhan ini disebabkan karena
adanya rangsangan internal maupun eksternal.
b. Pencarian informasi
Tahap kedua proses pengambilan keputusan yaitu dimana
seorang konsumen yang terdorong kebutuhannya mungkin,
atau mungkin juga tidak, mencari informasi lebih lanjut. Jika
dorongan konsumen kuat dan produk itu berada di dekatnya,
mungkin konsumen akan langsung membelinya. Apabila tidak,
kebutuhan ini hanya menjadi ingatan saja.
c. Evaluasi alternatif
Tahap ketiga proses pengambilan keputusan yaitu konsumen
memproses informasi tentang pilihan merek yang berpengaruh
pada keputusan pembelian terakhir. Jika dilihat dari sisi bahwa
konsumen mempunyai kebutuhan pasti konsumen tersebut
akan mencari manfaat tertentu dan melihat atribut produk.
Konsumen memberikan bobot yang berbeda untuk setiap
atribut produk sesuai dengan kepentingannya.
d. Keputusan pembelian
Tahap keempat proses pengambilan keputusan yaitu biasanya
konsumen memilih merek yang paling disukai akan tetapi ada
juga faktor yang mempengaruhi seperti sikap orang lain dan
faktor-faktor keadaan yang tidak terduga.
e. Perilaku pasca pembelian
Tahap kelima dalam proses pengambilan keputusan yaitu
dimana konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah
membeli dan menggunakan suatu produk berdasarkan
kepuasan dan ketidakpuasan yang mereka rasakan

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah suatu kegiatan yang secara
langsung terlibat dalam memperoleh produk dan jasa yang
ditawarkan oleh penjual. Menurut Kotler dan Armstrong (2015)
keputusan pembelian adalah membeli merek yang paling disukai,
tetapi dua faktor dapat berada antara niat pembelian dan
keputusan pembelian. Menurut Sunyoto (2013:87) menyatakan
bahwa keputusan pembelian merupakan satu tindakan konsumen
membentuk preferensi diantara alternatif-alternatif merek barang.
Keputusan tersebut mendorong bagaimana konsumen melakukan
pilihan diantara dua atau lebih alternatif terhadap pembelian suatu
produk sesuai dengan kebutuhannya. Keputusan untuk membeli
mengarah pada pelanggan bagaimana proses dalam pengambilan
keputusan.
Sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk,
seorang konsumen pada dasarnya melakukan proses pengambilan
keputusan terlebih dahulu. Proses pengambilan keputusan
menuagustarut Agusta (2020:12) merupakan tahapan konsumen
dalam memutuskan suatu produk tertentu yang menurutnya sudah
paling baik dari berbagai alternatif yang dianggap sesuai dengan
kebutuhan dan kepentingan yang dimiliki melalui pilihan yang
tepat serta menguntungkan. Proses pengambilan keputusan yang
rumit sering melibatkan beberapa keputusan seperti adanya
pilihan alternatif dua atau lebih yang membentuk niat membeli
produk yang paling disukai untuk mengkolaborasi, menunda dan
menghindar sangat dipengaruhi oleh resiko yang dirasakan.
Pengambilan keputusan oleh konsumen dalam melakukan
pembelian suatu produk diawali adanya kesadaran atas
pemenuhan kebutuhan dan keinginan. Setelah konsumen
menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan tersebut maka perlu
tindak lanjuti untuk memenuhinya. Menurut Kotler dan Amstrong
(2016:177) keputusan pembelian adalah perilaku konsumen
tentang bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih,
membeli, menggunakan barang , jasa, ide atau pengalaman untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Dengan mengetahui
informasi ataupun merek produk tersebut dan melakukan evaluasi
sehingga dapat memecahkan masalah dan mengarah pada
keputusan pembelian. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa keputusan pembelian adalah suatu
keputusan final yang dimiliki seorang konsumen untuk membeli
suatu barang atau jasa dengan berbagai pertimbangan-
pertimbangan tertentu

Karakteristik Promosi


Kotler yang dikutip oleh Benyamin Molan (2005:266), yaitu :

  1. Komunikasi : Promosi penjualan menarik perhatian dan biasanya
    memberikan informasi yang dapat mengarahkan konsumen pada
    produk.
  2. Intensif : Promosi penjualan menggabungkan sejumlah
    kebebasan, dorongan, atau kontribusi yang member nilai bagi
    konsumen.
  3. Ajakan : Promosi penjualan merupakan ajakan untuk melakukan
    transaksi pembelian sekarang.

Tujuan Promosi


Tujuan dari promosi penjualan menurut Buchori Alma (2004:188),
ialah :

  1. Menarik para pembeli baru.
  2. Memberi hadiah/ penghargaan kepada konsumen-konsumen/
    pelanggan lama.
  3. Meningkatkan daya pembelian ulang dari konsumen lama.
  4. Menghindarkan konsumen lari ke merek lain.
  5. Mempopulerkan merek.
  6. Meningkatkan volume penjualan jangka pendek dalam rangka
    memperluas “ market share “ jangka panjang

Bauran Promosi


Promosi pada dasarnya memiliki bentuk yang sama tapi bentu
tersebut memiliki tugas khusus. Beberapa tugas khusus atau yang
disebut dengan bauran promosi menurut J.Paul Peter dan James
H. Donnelly ( 2007 : 111 ), adalah :

  1. Penjualan tatap muka ( Personal Selling )
    Penjualan tatap muka adalah komunikasi langsung antara penjual
    untuk memberikan informasi suatu produk kepada calon pembeli
    potensial dan membentuk pemahaman pelanggan terhadap produk
    sehingga mereka kemudian akan mencoba dan membelinya.
  2. Periklanan ( Advertising )
    Periklanan adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang
    atau jasa secara non personal oleh suatu sponsor tertentu yang
    memerlukan pembayaran.
  3. Promosi penjualan ( Sales Promotion )
    Promosi penjualan adalah aktivitas bentuk persuasi langsung
    melalui penggunaan berbagai insentif yang dapat diatur untuk
    merangsang pembelian produk.
  4. Hubungan masyarakat ( Public Relation )
    Hubungan masyarakat adalah upaya komuniaksi menyeluruh dari
    suatu perusahaan untuk mempengaruhi persepsi, opini, keyakinan, dan
    sikap berbagai kelompok terhadap perusahaan tersebut.
  5. Pemasaran langsung ( Direct Marketing )
    Pemasaran langsung adalah sistem pemasaran yang bersifat
    interaktif, yang memanfaatkan satu atau beberapa media iklan untuk
    menimbulkan respon yang terukur dan transaksi di sembarang tempat

Pengertian Promosi


Menurut Kotler dan Keller (2009 :510) menyatakan bahwa
promosi adalah berbagai cara untuk menginformasikan, membujuk,
dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung
tentang suatu produk atau brand yang dijual. Menurut Tjiptono (2008:
219)pada hakikatnyapromosi adalah suatu bentuk komunikasi
pemasaran. Yang dimaksud dengan komunikasi pemasaran adalah
aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,
mempengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas
perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan
loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.
Selain itu Bilson Simamora (2003: 210) juga menjelaskan tentang
promosi penjualan identik dengan insentif, seperti diskon, hadiah,
undian, dan lain – lain. Daya tariknya tergantung pada insentif yang
ditawarkan. kedua, seberapa besar nilai tersebut. Ketiga seberapa besar
peluang untuk memperoleh insentif itu. Khusus yang ketiga, ini
berlaku untuk insentif yang sifatnya undian. Buchari Alma (2009: 179)
menjelaskan tentang promosi yaitu sejenis komunikasi yang memberi
penjelasan yang meyakinkan calon konsumen tentang barang dan jasa

Indikator Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2012: 52) didalam variabel harga
ada beberapa unsur kegiatan utama harga yang meliputi tingkatan harga,
diskon, potongan harga dan periode pembayaran. Menurut Kotler dan
Armstrong (2012: 278) ada empat idikator yang mencirikan harga yaitu
keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas produk, daya
saing harga, kesesuaian harga dengan manfaat.

Pengertian Harga


Harga wajib ditentukan dalam suatu usaha, karena harga
merupakan nilai dari barang yang dijual. Harga menurut Philip Kontler
dan Gary Armstrong (2006:345) adalah jumlah semua nilai yang diberikan
oleh pelanggan untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau
menggunakan suatu produk atau jasa. Harga adalah nilai suatu barang
yang di nyatakan dengan uang Alma (2004: 169). Swasta dan sukotjo
(2007:211) mendefinisikan harga adalah sejumlah uang (di tambah
beberapa barang kalau mungkin) yang di butuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya. Menurut definisi
dari para ahli diatas daopat disimpulkan bahwa harga adalah nilai suatu
barang yang dinyatakan dengan uang untuk mendapatkan suatu produk.

Tujuan Penetapan Harga

Menurut Lamarto (2006: 314) tujuan kebijakan penentuan harga
yaitu:
a. Berorientasi pada laba

  1. Mencapai target laba investasi atau laba penjualan bersih, Penetapan
    harga produk pada perusahaan atau produsen bertujuan untuk
    mencapai sasaran pencapaian prosentase tertentu untuk pengembalian
    laba penjualan bersih.
  2. Memaksimalkan laba, Sasaran dari kebijakan penetapan harga adalah
    untuk menghasilkan atau memperoleh uang sebanyak-banyaknya.
    b. Berorientasi pada penjualan
  3. Meningkatkan volume penjualan, Sasaran dari penetapan harga
    adalah dengan adanya prosentase peningkatan volume penjualan
    selama periode tertentu. Disatu pihak, sasaran perusahaan atau
    produsen bisa meningkatkan volume penjualan tetapi dengan tetap
    mempertahankan tingkat laba yang diperolehnya. Namun disegi lain,
    manajemen bisa memutuskan dan meningkatkan volume
    penjualannya melalui strategi penetapan harga yang agresif dengan
    kerugian. Dalam hal ini manajemen bisa mutskan bahwa peningkatan
    volume penjualan dapat memberikan posisi didalam pasar.
  4. Mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar, Pangsa pasar
    merupakan indicator kondisi perusahaan yang lebih baik
    dibandingkan dengan target laba investasi, artinya sasaran penetapan
    harga yang lebih baik. Hal tersebut dapat terjadi terutama waktu pasar
    total sedang berkembang dan perusahaan atau produsen dapat
    memperoleh laba yang diharapkan. Namun jika manajemen tidak
    mengetahui atau memahami jika pasar sedang berkembang, maka
    akibatnya pangsa pasar perusahaan atau produsen dapat mengalami
    kemunduran.
  5. Berorientasi pada status quo
    a. Menstabilkan harga, Strabilitas harga sering menjadi sasara-
    sasaran industri yang mempunyai pimipinan harga.
    b. Menangkal persaingan, Perusahaan atau produsen secara sadar
    memberikan harga pada produknya untuk memenangkan
    persaingan. Walaupun perusahaa atau produsen tersebut sudah
    besar, namun hanya mempunyai pernanan yang kecil dalam
    menentukan harga pasar.

Tingkatan Produk


Menurut Philip Kotler (2009: 4) ada 5 tingkatan produk, yaitu core
benefit, basic product, expected product, augmented product dan
Potential product. Penjelasan tentang kelima produk adalah :

  1. Pada tingkat dasar adalah manfaat inti (core benefit): layanan atau
    manfaat yang benar-benar di beli pelanggan.
  2. Pada tingkat kedua, pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi
    produk dasar (basic product).
  3. Pada tingkat ketiga, pemasar mempersiapkan produk yang di
    harapkan (expeted product), sekelompok atribut dan kondisi
    biasanya di harapkan pembeli ketika mereka membeli produk ini.
  4. Pada tingkat keempat, pemasar menyiapkan produk tambahan
    (augmented product) yang melebihi harapan pelanggan.
  5. Tingkat kelima adalah produk potensial (potential product), yang
    mencakup semua kemungkinan tambahan dan informasi yang
    mungkin di alami sebuah produk atau penawaran di masa
    depan.Ini adalah tempat di mana perusahaan mencari cara baru
    untuk memuaskan pelanggan dan membedakan penawaran
    mereka.

Karakteristik Produk


Menurut (Kotler dan Armstrong 2009:214) beberapa atribut yang
menyertai dan melengkapi produk (karakteristik dari atribut produk
adalah:
1) Merek (Branding)
Merek (brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan,
atau kombinasi dari semua ini yang mana dimaksudkan untuk
mengidentifikasi produk atau jasa dari satu atau kelompok penjual dan
membedakannya dari produk pesaing. Pemberian merek merupakan
masalah pokok dalam strategi produk. Nama merek yang baik dapat
menambah keberhasilan yang besar pada produk. 2) Pengemasan (Packing)
Pengemasan (packing) adalah suatu kegiatan merancang dan
membuat wadah atau pembungkus dari suatu produk.
3) Kualitas Produk (Product Quality)
Kualitas Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu
produk untuk melaksanakan fungsinya yang mana meliputi daya tahan
keandalan, ketepatan, kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut
bernilai lainnya. Untuk meningkatkan kualitas dari produk, maka
perusahaan dapat menerapkan program “Total Quality Manajemen
(TQM)”. Pengertian dari Total Quality Management sendiri ialah
sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan
(customer satisfaction) dengan kegiatan yang diupayakan benar sekali
(right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous
improvement) dan memotivasi karyawan. Selain mengurangi
kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk
meningkatkan nilai konsumen.

Pengertian Produk


Produkadalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar un
tuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang
dapat memuaskan keinginan atau kebutuhanKotler &Armstrong,
(2001: 346). Philip Kotler (2000:394) dalam Buchori Alma (2009:139)
Jadi produk itu bukan hanya berbentuk sesuatu yang berwujud saja
seperti makanan, pakaian, dan sebagainya. Akan tetapi sesuatu yang
tidak berwujud seperti pelayanan jasa. Semua diperuntukan bagi
pemuasan kebutuhan dan keinginan (need and wonts) dari konsumen.
Produk yang baik adalah produk yang berkualitas, Philip Kotler (2009:
2) menyatakan bahwa kualitas produk adalah kemapuan sebuah produk
dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan
durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoprasian dan
reparasi produk juga atribut produk lainnya. Deskripsi produk menurut
bagan marketing mix yaitu ragam, kualitas, desain, fitur, nama, merek,
kemasan dan layanan

MACAM – MACAM KEPUTUSAN PEMBELIAN


Menurut pendapat Howard dalam (Basu Swastha dan Irawan 2005:
117) menyatakan bahwa pembelian konsumen dapat ditinjau sebagai
kegiatan penyelesaian suatu masalah, dan terdapat tiga macam situasi.
Situasi tersebut adalah:
a. Perilaku responsi rutin. Salah satu jenis perilaku pembelian yang paling
sederhana terdapat dalam suatu pembelian yang berharga murah dan
sering dilakukan. Dalam hal ini konsumen ketika melakukan pembelian
sudah memahami merek-merek atribunya.
b. Penyelesaian masalah terbatas. Pebelian akan lebih kompleks apabila
konsumen tidak megetahui sebuah merek yang sejenis dengan produk
yang disukainya, sehingga membutuhkan informasi lebih banyak lagi
sebelum memutuskan pembelian.
c. Penyelesaian masalah ekstensif. Pembelian akan menjadi kompleks
apabila konsumen menjumpai jenis produk yang kurang dipahami
mengenai detail produknya dan kriteria penggunaannya. Dalam hal ini
konsumen sama sekali tidak memiliki informasi yang cukup terhadap
produk tersebut

PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN


Keputusan pembelian pada hakikatnya merupakan hak yang
sepenuhnya dimiliki oleh konsumen. Namun tidak semua konsumen
mempunyai pilihan yang tepat dalam memilih kebutuhan mereka,
sehingga akhirnya mereka menyesal. Maka dari itu konsumen harus
memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa hal sebelum
melakukan pembelian, supaya tidak menyesal. Pengambilan
keputusan juga harus mempertimbangkan beberapa faktor

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pengambilan
keputusan pembelian menurut (Setiadi 2010: 10) antara lain:
a. Faktor –faktor budaya

  1. Kebudayaan, kebudayaan merupakan faktor penentu paling utama
    dari keinginan dan perilaku seseorang. Seorang anak yang sedang
    tumbuh mendapatkan seperangkat nilai-nilai, persepsi, preferensi dan
    perilaku melalui suatu proses sosialisasi yang melibatkan keluarga
    dan lembaga lembaga sosial penting lainnya.
  2. Subbudaya, subbudaya dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:
    kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, dan
    area geografis.
  3. Kelas sosial, kelas-kelas sosial adalah kelompok yang relatif
    homogen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun
    secara hirarki dan yang keanggotaannya mempunyai nilai, minat, dan
    perilaku yang serupa.
    b. Faktor-faktor sosial
  4. Kelompok referensi, kelompok referensi ini terdiri dari seluruh
    kelompok yang dapat memberi pengaruh secara langsung ataupun
    tidak langsung terhadap perilaku seseorang. Beberapa diantaranya
    adalah kelompok primer, dengan adanya interaksi yang cukup
    berkesinambungan yang meliputi, keluarga, teman, tetangga,
    kelompok sejawat. Kelompok sekunder, cenderung lebih resmi dan
    interaksi yang terjadi tidak berkesinambungan.
  5. Keluarga, keluarga merupakan salah satu lembaga pendidikan
    informal yang dimana seseorang bisa mendapatkan pandangan
    tentang agama, politik, ekonomi, dan nilai atau harga diri serta cinta.
  6. Peran dan Status, Seseorang umumnya berpartisipasi dalam
    kelompok selama hidupnya-keluarga, klub, organisasi. Posisi
    seseorang dalam setiap kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran
    dan status.
    c. Faktor Pribadi
  7. Umur dan tahapan dalam siklus hidup, konsumen membeli atau
    mengkonsumsi sebuah produk yang berbeda-beda sepanjang
    hidupnya dimana setiap kegiatan konsumsi dipengaruhi oleh siklus
    hidup konsumen.
  8. Pekerjaan, pekerjaan seorang konsumen dapat mempengaruhi pola
    konsumsi konsumen tersebut. semakin tinggi jabatan atau pekerjaan
    seorang konsumen tersebut maka semakin tinggi tingkat konsumsi
    yang dilakukan.
  9. Keadaan ekonomi, selain pekerjaan konsumen keadaan ekonomi
    juga merupakan salah satu hal yang diperhatikan ketika akan
    melakukan keputusan pembelian terhadap suatu produk. Hal yang
    diperhatikan dalam keadaan ekonomi dilihat berdasarkan besaran
    penghasilan yang dimiliki konsumen tersebut, jumlah tabungan,
    utang dan sikap terhadap atau menabung.
  10. Gaya hidup, gaya hidup merupakan sebuah pola hidup seseorang
    konsumen yang terlihat melalui aktivitasnya yang terbentuk melalui
    sebuah kelas sosial dan pekerjaan. Tetapi kelas sosial dan pekerjaan
    yang sama tidak menjamin munculnya sebuah gaya hidup yang sama
    antara berberapa atau banyak konsumen.
  11. Kepribadian dan konsep diri,setiap konsumen mempunyai berbagai
    macam karakteristik kepribadaian yang berbeda antara satu dengan
    yang lainnya yang dapat mempengaruhi aktivitas kegiatan
    pembelian. Kepribadian merupakan suatu hal yang sangat berguna
    dalam menganalisis pilihan merek konsumen. Hal tersebut
    disebabkan karena beberapa kalangan konsumen akan memilih
    merek yang cock dengan kepribadian dan konsep dirinya.
    d. Faktor- faktor psikologis
  12. Motivasi, setiap konsumen memiliki banyak kebutuhan pada waktu-
    waktu tertentu. Terdapat kebutuhan yang muncul dari tekanan
    biologis seperti lapar, haus dan rasa tidak nyaman. Beberapa
    kebutuhan bersifat biogenic, kebutuhan ini timbul dari suatu keadaan
    fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, haus, resah tidak nyaman.
    Adapaun kebutuhan lain bersifat psiko genik, yaitu kebutuhan yang
    timbul dari keadaan fisiologis tertentu, seperti kebutuhan untuk
    diakui, kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima.
  13. Persepsi, Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang
    memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk
    menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini. persepsi
    ksetiap konsumen terhadap merek atau produk berbeda-beda antara
    satu dengan yang lainnya.
  14. Proses belajar , Proses belajar menjelaskan perubahan perilaku
    seseorang yang timbul dari pengalaman. Pembelajaran dihasilkan
    melalui perpaduan kerja antara pendorong, rangsangan, isyarat
    bertindak, tanggapan dan penguatan. Pemasar dapat membangun
    permintaan konsumen atas suatu produk dengan mengaitkan pada
    dorongan yang kuat, menggunakan tindakan atau semacamnya yang
    memberikan motivasi dan memberikan penguatan positif karena pada
    dasarnya konsumen akan melakukan pemilihan alternative pada satu
    merek.
  15. Kepercayaan dan sikap, kepercayaan adalah suatu gagasan deskriptif
    yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu. Keyakinan konsumen
    terhadapsuatu produk atau merek akan mempengaruhi keputusan
    pembelian mereka.
  16. INDIKATOR
    Menurut (Schiffman & Kanuk 2008:506) Indikator keputusan
    pembelian ada tiga yaitu: Pembelian percobaan (Trial Purchase),
    Pembelian Ulangan (Repeat Order) dan Pembelian komitmen jangka
    panjang (Long-term Purchase)

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah
menentukan pilihannya dan melakukan pembelian produk, serta
mengkonsumsinya (Suharno, 2010: 96). Keputusan pembelian antara
satu konsumen dengan yang lainnya berbeda – beda, karena kebutuhan
dan selera konsumen yang berbeda, menurut (Schifman dan Kanuk,
2008: 485 ) keputusan pembelian adalah seleksi terhadap dua pilihan
alternatif atau lebih. Konsumen sebelum memutuskan untuk membeli
suatu produk pasti memiliki alternatif untuk menjadi pertimbangan.
(Menurut kotler dan Armstrong, 2008:181) keputusan pembelian
adalah membeli merek yang paling disukai dari berbagai alternatif
yang ada, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan
keputusan pembelian.
Konsumen dalam keputusan pembelian dipengaruhi oleh perilaku
konsumen, pola perilaku konsumen antara satu dengan yang lainnya
saling berkaitan, seperti produk kemudian harga dan juga promosi.
Sebelum memutuskan untuk membeli konsumen akan memastikan
produk apa yang akan dibeli kemudian memilih produknya melihat
kualitas dan kegunaannya terlebih dahulu kemudian konsumen akan
melihat harga dari produk yang telah ia pilih. Promosi juga
mempengaruhi keputusan pembelian, konsumen tidak akan tahu
produk yang baik serta harga yang murah jika tidak ada promosi dari
penjual.

    Dimensi Kualitas Produk


    Dimensi kualitas produk menurut Tjiptono (2001, 25) :

    1. Performance (kinerja), karakteristik operasi pokok dari produk inti (Core
      Product) yang dibeli, misalnya kecepatan, konsumsi bahan bakar, jumlah
      penumpang yang dapa diangkut, kemudahan dan kenyamanan dalam
      mengemudi dan sebagainya.
    2. Keistimewaan tambahan (Features)
      Yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap, misalnya kelengkapan interior
      dan eksterior seperti Dash Board, AC, Sound System, Door Lock
      System,Power Steering, dan sebagainya.
    3. Keandalan (Reliability)
      Kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai,
      misalnya mobil tidak seing ngadat.
    4. Kesesuaian dengan spesifikasi
      Sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar – standar
      yang telah ditetapkan sebelumnya.
    5. Daya tahan
      Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan.
      Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis penggunaan.
    6. Estetika
      Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera. Misalnya bentuk fisik mobil
      yang menarik, model atau desain yang artistic, warna, dan sebagainya

    Manfaat Citra Merek


    Menurut Rangkuti dalam (Prawesti, 2016) manfaat citra merek adalah
    sebagai berikut:

    1. Brand Image dapat dibuat sebagai dasar untuk bersaing di dalam
      strategi perusahaan.
    2. Brand Image dapat dipakai sebagai dasar untuk bersaing dengan
      brand – brand lain dari produk yang sejenis.
    3. Brand Image dapat membantu memperbaharui penjualan suatu
      produk.
    4. Brand Image dapat dipergunakan untuk mengevaluasi efek kualitas
      dari strategi pemasaran.
    5. Brand Image dapat dihasilkan dari faktor – faktor lain di luar usaha
      – usaha strategi perusahaan.

    Faktor Yang Membentuk Citra Merek


    Menurut Schiffman dan Kanuk dalam (Prawesti, 2016) faktor yang
    membentuk citra merek, yaitu :

    1. Kualitas atau mutu : Berkaitan dengan Kualitas produk barang
      yang ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.
    2. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat atau
      kesepakatan yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk
      yang dikonsumsi.
    3. Kegunaan atau manfaat : yang terkait dengan fungsi dari suatu
      produk barang yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
    4. Pelayanan, yang berkaitan dengan tugas produsen dalam melayani
      konsumennya.
    5. Resiko, berkaitan dengan besar kecilnya akibat atau untung dan
      rugi yang mungkin dialami oleh konsumen.
    6. Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau
      banyak sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk
      mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra
      jangka panjang.
    7. Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan,
      kesepakatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari
      produk tertentu.

    Komponen Citra Merek


    Komponen Citra Merek (Sangadji & Sopiah, 2013:328) :

    1. Asosiasi merek (brand association)
    2. Menurut Aake dalam Simamora (2004) dalam (Sangadji & Sopiah,
      2013:329) asosiasi merek adalah sekumpulan entitas yang bisa
      dihubungkan dengan suatu merek.
      Durianto (2004) dalam (Sangadji & Sopiah, 2013:329) berpendapat bahwa
      asosiasi terhadap merek dibentuk oleh tiga hal, yaitu nilai yang dirasakan,
      kepribadian merek, dan asosiasi organisasi.
    3. Dukungan asosiasi merek
      Dukungan asosiasi merek merupakan respons konsumen terhadap atribut,
      manfaat serta keyakinan dari suatu produk berdasarkan penilaian mereka
      atas produk. Atribut di sini tidak berkaitan dengan fungsi produk, tetapi
      berkaitan dengan citra merek. Dukungan asosiasi merek tersebut
      ditunjukkan dengan persepsi konsumen terhadap produk yangg
      menganggap bahwa produk yang dikonsumsi itu baik dan bermanfaat bagi
      konsumen.
    4. Kekuatan asosiasi merek
      Setelah mengonsumsi sebuah produk, konsumen akan mengingat kesan
      yang ditangkap dari produk tersebut. Jika konsumen telah merasakan
      manfaatnya, ingatan konsumen terhadap produk tersebut akan lebih besar
      lagi daripada ketika konsumen belum menggunakannya. Itulah yang
      membuat ingatan konsumen semakin kuat terhadap asosiasi sebuah merek.
      Kekuatan asosiasi merek ditunjukkan dengan reputasi baik yang dimiliki
      produk tersebut di mata konsumen, produk tersebut dirasa memiliki
      manfaat ekspresi diri dan menambah rasa percaya diri konsumen.
    5. Keunikan asosiasi merek
      Jika sebuah produk mempunyai cirri khas yang membedakannya dari
      produk lain, produk tersebut akan diingat oleh konsumen. Ingatan
      konsumen itu akan semakin kuat jika konsumen sudah merasakan manfaat
      dari sebuah produk dan merasa bahwa merek lain tidak akan bisa
      memuaskan keinginannya tersebut.
      Citra merek mempunyai tiga pendukung menurut Simamora dalam
      (Prawesti, 2016) yaitu:
    6. Citra Pembuat / Perusahaan (Corporate Image) merupakan sekumpulan
      asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang
      membuat suatu produk atau jasa.
    7. Citra Pemakai (User Image) merupakan sekumpulan asosiasi yang
      dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu
      barang atau jasa.
    8. Citra Produk (Product Image) merupakan sekumpulan asosiasi yang
      dipersepsikan konsumen terhadap suatu produk

    Pengertian Citra Merek


    Citra merek adalah apa yang konsumen pikir atau rasakan ketika mereka
    mendengar atau melihat nama suatu merek atau pada intinya apa yang konsumen
    telah pelajari tentang merek (Supranto & Limakrisna, 2007:128). Menurut
    Surachman (2008:275) citra merek adalah suatu pandangan masyarakat terhadap
    merek suatu produk.
    Menurut kotler (2005) dalam (Sangadji & Sopiah, 2013:323) merek dapat
    memiliki enam level pengertian, yaitu:
    a. Atribut
    Merek mengingatkan pada atribut – atribut tertentu, misalnya
    Mercedes member kesan sebagai mobil yang mahal, dibuat dengan baik,
    tahan lama, dan bergengsi tinggi.
    b. Manfaat
    Atribut perlu diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional.
    Atribut “tahan lama” dapat diterjemahkan menjadi manfaat fungsional.
    c. Nilai
    Merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen, misalnya Mercedes
    berarti kinerja tinggi, keamanan, dgengsi.
    d. Budaya
    Merek juga mewakili budaya tertentu, misalnya Mercedes mewakili budaya
    Jerman yang terorganisasi, efisien, dan bermutu tinggi.
    e. Kepribadian
    Merek juga mencerminkan kepribadian tertentu, misalnya Mercedes
    mencerminkan pemimpin yang masuk akal (orang), singa yang memerintah
    (binatang), atau istana yang agung (objek).
    f. Pemakai
    Merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan
    produk

    Implikasi pada Strategi Pemasaran


    Untuk mengembangkan strategi pemasaran yang efektif, pemasar harus
    mengetahui jenis proses pemecahan masalah yang digunakan konsumennya untuk
    membuat keputusan pembelian. Pemasar yang menargetkan beberapa segmen
    pasar segmen pasar sekaligus, masing – masing dengan proses pemecahan
    masalah yang berbeda. Multi strategi tersebut adalah perilaku pilihan yang rutin,
    pengambilan keputusan yang terbatas, dan pengambilan keputusan yang intensif.

    • Perilaku pilihan yang rutin
      Pemasar yang telah mapan dan memiliki pangsa pasar yang besar
      harus terus memelihara merek mereka agar tetap pada set yang
      dibangkitkan dalam benak segmen pasar yang paling menjanjikan.
      Karena segmen pasar tersebut tidak lagi melakukan banyak upaya
      pencarian, pemasar pesaing hanya memiliki kesempatan minimal
      untuk dapat menyisipkan merek mereka ke dalam set yang
      dipertimbangkan konsumen pada set pemecahan masalah. Secara
      umum, semakin otomatis suatu perilaku pilihan, semakin sulit bagi
      pemasar untuk menyela dan memengaruhi pilihan.
      Pemasar merek baru atau merek yang pangsa pasarnya rendah harus
      berupaya menyela proses pemecahanmasalah otomatis konsumen.
      Tujuannya adalah untuk menarik konsumen ketingkat pengambilan
      keputusan terbatas yang lebih terkontrol dan disadari, yang
      memasukkan merek barutersebut ke dalam set yang dipertimbangkan.
    • Pengambilan keputusan yang terbatas
      Sebagian besar keputusan konsumen membutuhkan upaya pemecahan
      masalah yang terbatas karena sebagian besar konsumen telah memilki
      sejumlah besar informasi produk yang berasal dari pengalaman masa
      lalu. Oleh karena itu, dasar strategi pemasarannya adalh menyiapkan
      informasi tambahan agar tersedia bagi konsumen kapanpun mereka
      membutuhkannya. Iklan untuk meningkatkan kesadaran utama untuk
      membantu membawa suatu merek ke dalam set yang dibangkitkan dari
      alternative pilihan pada awal proses pengambilan keputusan. Hal ini
      penting karena sebagian besar konsumen cenderung tidak melakukan
      pencarian alternative lainnya secara ekstensif.
    • Pengambilan keputusan yang ekstensif
      Dalam situasi pengambilan keputusan yang ekstensif di mana
      pengetahuan sangat rendah, konsumen membutuhkan informasi
      tentang segala sesuatu, termasuk tujuan akhir mana yang penting,
      alternative pilihan mana yang relevan, kriteria pilihan mana yang tepat,
      dan sebagainya. Konsumen yang berada dalam situasi pemecahan
      masalah yang ekstensif akan memperhatikan informasi yang relevan,
      dan termotivasi untuk memahaminya. Pemasar dapat mengambil
      manfaat dari daya serap informasi konsumen dengan menyajikan
      contoh gratis, kupon potongan harga, atau pencobaan gratis untuk
      membantu konsumen mendapatkan pengetahuan tentang merek yang
      ditawarkan

    Peran Dalam Pembelian


    Hasan (2008:138) faktor pendorong yang sangat kuat dalam pengambil
    keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh sejumlah orang memiliki
    keterlibatan dalam pengambilan keputusan pembelian. Dan orang yang memiliki
    keterlibatan dalam keputusan pembelian adalah sebagai berikut :
    a. Intitator adalah orang yang menyadari pertama kaliadanya
    kebutuhan yang belum terpenuhi dan mengusulkan untuk membeli
    produk tertentu.
    b. Influencer adalah orang yang sering berperan sebagai pemberi
    pengaruh yang karena pandangan nasihat atau pendapatnya
    mempengaruhi keputusan pembelian.
    c. Decider adalah orang beperan sebagai pengambil keputusan dalam
    menentukan apakah produk jadi dibeli, produk apa yang dibeli,
    bagaimana cara membeli, dan dimana produk itu dibeli.
    d. Buyer adalah orang yang melakukan pembelian actual.
    e. User adalah orang yang mengonsumsi atau menggunakan produk
    yang dibeli

    Faktor – faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian


    Menurut Pride dan Ferrell (1995) dalam (Sangadji, Sopiah, 2013:335)
    membagi faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen ke dalam tiga kelompok,
    yaitu:

    1. Faktor pribadi
      Faktor pribadi merupakan faktor yang unik bagi seseorang. Berbagai
      faktor pribadi dapat memengaruhi keputusan pembelian. Faktor pribadi
      digolongkan menjadi tiga, yaitu:
      a. Faktor demografi
      Faktor demografi berkaitan dengan siapa yang terlibat dalam
      pengambilan keputusan pembelian. Faktor ini meliputi cirri – cirri
      individual seperti jenis kelamin, usia, ras, suku bangsa, pendapatan,
      siklus, kehidupan keluarga, dan pekerjaan.
      b. Faktor situasional
      Faktor situasional merupakan keadaan atau kondisi eksternal yang ada
      ketika konsumen membuat keputusan pembelian.
      c. Faktor tingkat keterlibatan
      Faktor tingkat keterlibatan konsumen ditunjukkan dengan sejauh mana
      konsumen mempertimbangkan terlebih dahulu keputusannya sebelum
      membeli suatu produk.
    2. Faktor psikologis
      Faktor psikologis yang ada pada diri seseorang sebagian menetapkan
      perilaku orang tersebut sehingga mempengaruhi perilakunya sebagai
      konsumen. Faktor – faktor psikologis meliputi:
      a. Motif
      Motif adalah kekuatan energi internal yang mengarahkan kegiatan
      seseorang ke arah pemenuhan kebutuhan atau pencapaian sasaran.
      b. Persepsi
      Persepsi adalah proses pemilihan, pengorganisasian, dan
      pengeinterpretasian masukan informasi untuk menghasilkan makna.
      c. Kemampuan dan pengetahuan
      Kemampuan adalah kesanggupan dan efisiensi untuk melakukan tugas
      – tugas tertentu. Kemampuan yang diminati oleh para pemasar adalah
      kemampuan seorang individu untuk belajar di mana proses
      pembelajaran tersebut merupakan perubahan perilaku seseorang yang
      disebabkan oleh informasi dan pengalaman
      d. Sikap
      Sikap merujuk pada pengetahuan dan perasaan positif atau negative
      terhadap sebuah objek atau kegiatan tertentu.
      e. Kepribadian
      Kepribadian adalah semua ciri internal dan perilaku yang membuat
      seseorang itu unik. Kepribadian seseorang berasal dari keturunan dan
      pengalaman pribadi.
    3. Faktor sosial
      Manusia hidup di tengah – tengah masyarakat. Sudah tentu manusia akan
      dipengaruhi oleh masyarakat di mana dia hidup. Dengan demikian,
      perilaku konsumen juga akan dipengaruhi oleh masyarakat atau faktor
      sosial yang melingkarinya. Faktor social tersebut meliputi:
      a. Peran dan pengaruh keluarga
      Dalam kaitannya dengan perilaku konsumen, keluarga mempunyai
      pengaruh langsung terhadap keputusan pembelian konsumen. Setiap
      anggota keluarga mempunyai kebutuhan, keinginan, dan selera yang
      berbeda – beda.
      b. Kelompok referensi
      Kelompok referensi dapat berfungsi sebagai perbandingan dan sumber
      informasi bagi seseorang sehingga perilaku para anggota kelompok
      referensi ketika membeli suatu produk bermerek tertentu akan dapat
      dipengaruhi oleh kelompok referensi.
      c. Kelas social
      Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang terbuka untuk para individu
      yang memiliki tingkat sosial yang serupa. Dalam kelas sosial terjadi
      pembedaan masyarakat ke dalam kelas – kelas secara bertingkat, ada
      kelas yang tinggi, ada yang rendah.
      d. Budaya dan subbudaya
      Budaya memengaruhi bagaimana seseorang membeli dan
      menggunakan produk, serta kepuasan konsumen terhadap produk
      tersebut sebab budaya juga menentukan produk – produk yang dibeli
      dan digunakan.
      Menurut Schiffman dan Kanuk (2000) dalam (Sangadji, Sopiah, 2013:121)
      mengemukakan empat macam pespektif model manusia (model of man). Model
      manusia yang dimaksud adalah suatu model tingkah laku keputusan dari
      seseorang individu berdasarkan empat perspektif, yaitu:
    4. Manusia ekonomi
      Manusia dipandang sebagai seorang individu yang memutuskan secara
      rasional. Agar dapat berfikir secara rasional, seorang individu harus
      menyadari berbagai alternative produk yang tersedia. Dia juga harus
      mampu memeringkatkan alternative tersebut berdasarkan kebaikan dan
      keburukannya, dan mampu memilih yang terbaik dari alternative yang
      tersedia.
    5. Manusia pasif
      Model ini menggambarkan manusia sebagai individu yang mementingkan
      diri sendiri dan menerima berbagai macam promosi yang ditawarkan
      pemasar. Konsumen digambarkan sebagai pembeli yang irasional dan
      komplusif, yang siap menyerah pada usaha dan tujuan pemasar. Konsumen
      sering kali dianggap sebagai objek yang bisa dimanipulasi.
    6. Manusia kognitif
      Model manusia kognitif menggambarkan konsumen sebagai individu yang
      berpikir untuk memecahkan masalah. Konsumen sering kali bisa pasif
      untuk menerima produk dan jasa apa adanya, tetapi sering kali juga sangat
      aktif untuk mencari alternative produk yang dapat memenuhi kebutuhan
      dan kepuasannya.
    7. Manusia emosional
      Model ini menggambarkan konsumen sebagai individu yang memiliki
      perasaan mendalam dan emosi yang memengaruhi pembelian atau
      kepemilikan barang – barang tertentu. Perasaan seperti rasa senang, takut,
      cinta, khawatir, fantasi, atau kenangan sangat memengaruhi konsumen.
      Manusia emosional kurang berupaya mencari informasi sebelum membeli.
      Konsumen lebih banyak mempertimbangkan suasana hati dan perasaan saat
      itu sehingga “melakukannya saja”. Namun, hal tersebut bukan berarti
      bahwa manusia emosional melakukan keputusan yang tidak rasional.
      Pembelian produk yang memenuhi kebutuhan emosional adalah keputusan
      konsumen yang rasional.

    Struktur Keputusan Pembelian


    Setiap keputusan pembelian tersebut memiliki struktur komponen yang
    berbeda diantaranya ( Sudaryono, 2016:119) :
    a. Kebutuhan tentang jenis produk.
    Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah radio
    atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini perusahaan
    harus memusatkan perhatian kepada orang – orang yang berminat
    membeli radio seperti alternative lain yang mereka pertimbangkan.
    b. Keputusan tentang bentuk produk.
    Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli radio tertentu.
    Keputusan tersebut juga menyangkut ukuran, mutu suara, corak, dan
    sebagainya. Dalam hal ini perusahaan harus melakukan riset pemasaran
    untuk mengetahui kesukaan konsumen tentang produk tersebut agar
    dapat memaksimalkan daya tarik mereknya.
    c. Keputusan tentang merek
    Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan
    dibeli. Setiap merek memiliki kekhususan sendiri. Dalam hal ini
    perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen meilih merek.
    d. Keputusan tentang penjual.
    Konsumen harus mengambil keputusan di mana radio akan dibeli,
    apakah pada toko serba ada, toko alat – alat listrik, toko khusus radio,
    atau toko lain. Dalam hal ini produsen, pedagang besar, dan pengecer
    harus mengetahui bagaimana konsumen memiloh penjual tertentu.
    e. Keputusan tentang jumlah produk.
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
    yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan
    mungkin lebih dari satu unit. Dalam hal ini perusahaan harus
    mempersiapkan banyak produk sesuai keinginan yang berbeda – beda
    dari para pembeli.
    f. Keputusan tentang waktu pembelian.
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia harus
    melakukan pembelian. Masalah ini akan menyangkut tersedianya uang
    untuk membeli radio. Oleh karena itu perusahaan harus mengetahui
    faktor – faktor yang memengaruhi keputusan konsumen dalam
    penentuan waktu pembelian. Dengan demikian perusahaan dapat
    mengatur waktu produksi dan kegiatam pemasarannya.
    g. Keputusan tentang cara pembayaran.
    Konsumen harus mengambil keputusan tentang metode atau cara
    pembayaran produk yang dibeli, apakah secara tunai atau mengangsur.
    Keputusan tersebut akan memengaruhi keputusan tentang penjual dan
    jumlah pembeliannya.

    Jenis Perilaku Pembelian


    Ada 4 Perilaku Pembelian (Kotler,1995:224) yaitu :

    • Perilaku pembelian kompleks
      Para konsumen mempunyai perilaku pembelian kompleks ketika
      mereka sangat terlibat dalam suatu pembelian dan menyadari adanya
      perbedaan nyata antara berbagai merek. Biasanya konsumen tidak
      mengetahui banyak mengenai kategori produk dan harus banyak
      belajar.
      Pembeli ini akan melalui suatu proses belajar yang pertama ditandai
      dengan mengembangkan kepercayaan mengenai produk tersebut,
      kemudian pendirian, dan kemudian membuat pilihan pembelian
      dengan bijaksana.
    • Perilaku pembelian yang mengurangi ketidak sesuaian ( disonansi)
      Kadang – kadang konsumen sangat terlibat dalam suatu pembelian
      tetapi tidak melihat banyak perbedaan dalam merek. Keterlibatan
      yang tinggi ini sekali lagi berdasarkan kenyataan bahwa pembelian
      tersebut bersifat mahal, jarang dan beresiko. Dalam kasus ini,
      pembeli akan berkeliling untuk mempelajari apa yang tersedia tetapi
      akan membeli dengan cukup cepat karena perbedaan merek tidak
      nyata. Pembeli mungkin menanggapi hanya menurut harga yang
      baik atau menurut kemudahan dalam membeli.
    • Perilaku dalam pembelian
      Banyak produk yang dibeli dengan keterlibatan konsumen yang
      rendah dan tidak ada perbedaan merek yang signifikan. Contoh
      pembelian garam. Para konsumen mempunyai keterlibatan yang
      rendah dalam kategori produk ini. Mereka pergi ke toko dan mencari
      merek tersebut. Jika mereka terus – menerus mencari merek yang
      sama, hal ini dalah di luar kebiasaan, tidak ada kesetiaan merek yang
      kuat. Terdapat bukti yang baik bahwa para konsumen mempuntai
      keterlibatan yang rendah dengan kebanyakan barang yang murah dan
      sering dibeli

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Keputusan dalam arti umum adalah suatu keputusan seseorang di mana dia
    memilih salah satu dari beberapa alternative pilihan yang ada. Menurut Setiadi
    (2003) dalam (Sangadji & sopiah, 2013:121) keputusan pembelian adalah proses
    pengintegrasian yang mengkombinasi sikap pengetahuan untuk mengevaluasi dua
    atau lebih perilaku alternatif, dan memilih salah satu diantaranya. Berdasarkan
    pendapat ahli di atas maka dapat disampaikan bahwa keputusan pembelian adalah
    suatu keputusan seseorang di mana dia memilih salah satu dari beberapa
    alternative pilihan yang ada dan proses integrasi yang mengkombinasi sikap
    pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternative dan memilih
    salah satu diantaranya

    Kepuasan Pelanggan


    Menurut (Keller, 2008) kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau
    kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil) produk yang
    dipikirkan terhadap kinerja yang diharapkan (ekspektasi). Konsumen membentuk
    ekspektasi mereka dari pengalaman sebelumnya, seperti mempertanyakan kepada
    rekan atau teman yang sudah membeli atau menggunakan produk yang sudah
    ditawarkan, serta informasi penawaran dari perusahaan tersebut. Apabila perusahaan
    berekspektasi terlalu tinggi, maka konsumen akan kecewa, dan sebaliknya apabila
    ekspektasi yang ditawarkan oleh perusahaan terlalu rendah, maka konsumen tidak akan
    tertarik dengan produk yang ditawarkan. Penulis melihat dalam pandangan nya,
    kepuasan konsumen juga berdampak pada sektor pemerintah, kalangan pebisnis dan
    juga konsumen itu sendiri, dimana dalam realisasi nya pada sektor pemerintah berimbas
    kepada bagaimana tindakan atas suatu produk yang dilakukan demi meningkatkan
    kenyamanan masyarakat, kemudian di kalangan pebisnis peningkatan kepuasan
    pelanggan berpotensi mengarah pada pertumbuhan penjualan jangka panjang dan
    jangka pendek dimana hal ini tentunya sangat mempengaruhi gaya dan taktik dari
    penjualan pebisnis tersebut kemudian untuk kalangan konsumen konsep kepuasan
    pelanggan dapat bermanfaat dalam memberikan informasi lebih jelas tentang seberapa
    puas atau tidak puas konsumen lain terhadap suatu produk atau jasa tertentu (Fandy
    Tjiptono, 2008). Kotler menyatakan terdapat 4 metode dalam mengukur kepuasan
    pelanggan yaitu

    1. Complaint and Suggestion System (sistem keluhan dan saran)
      Setiap perusahaan yang berorientasi pada pelanggan (costumer oriented)
      perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para pelanggannya untuk
      menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan mereka. Media yang digunakan
      biasanya meliputi kotak saran yang diletakkan ditempat strategis, menyediakan
      kartu komentar (yang bisa di isi langsung ataupun yang bisa dikirimkan via pos
      kepada perusahaan), menyediakan saluran telepon khusus (customer hotline),
      dan lain-lain. Hal ini dilakukan oleh perusahaan yang berorientasi pada
      kenyamanan pelanggan dengan harapan bahwa pelanggan tersebut akan merasa
      puas setelah mendapat treat terkait.
    2. Customer Satisfaction Survey (survey kepuasan pelanggan)
      Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan yang dilakukan
      dengan menggunakan metode survey, baik melalui pos ataupun telepon maupun
      wawancara pribadi. Melalui survey, perusahaan akan memperoleh tanggapan
      dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan sekaligus juga
      memberikan tanda (signal) positif bahwa perusahaan menaruh perhatian
      terhadap para pelanggannya.
    3. Ghost Shopping (pembeli bayangan/ hantu)
      Metode ini dilaksanakan dengan cara memperkerjakan beberapa orang
      (ghost shopper) untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan atau pembeli
      potensial produk perusahaan pesaing. Lalu ghost shopper tersebut menyampaikan
      temuan-temuannya mengenai kekuatan maupun kelebihan dari perusahaan pesaing
      berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian mereka dalam produk- produk
      tersebut. Selain itu para ghost shopper juga dapat mengamati atau menilai cara dan
      pesaingnya menjawab pertanyaan pelanggan dan menangani setiap keluhan.
    4. Lost Customer Analysis (analisis pelanggan yang lari)
      Metode ini sedikit unik. Perusahaan berusaha menghubungi para
      pelanggannya yang telah berhenti membeli atau yang telah beralih pemasok.
      Yang diharapkan adalah akan diperolehnya informasi penyebab terjadinya hal
      tersebut dan dikemudian hari perusahan tidak menutup kemungkinan dapat
      menawarkan produk secara terus menerus sebagai cara untuk mendapatkan
      kepuasan pelanggan

    Kualitas Pelayanan


    “Kualitas pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang
    bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya
    interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal yang disediakan oleh
    perusahaan pemberian pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan
    konsumen atau pelanggan” (Setyabudi, 2014) .
    Pengertian pelayanan adalah “Pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan
    yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud
    dan mengakibatkan kepemilikan apapun”. Dalam bisnis ritel terdapat beberapa jenis
    pelayanan (Amstrong, 2002).
    a. Customer service

    1. Personal Keeper, yaitu bagian karyawan dari perusahaan yang bertugas
      melayani dan menyiapkan barang yang dipesan dari pelanggan yang
      nantinya akan diambil.
    2. Pramuniaga, seperti kasir, sales promotion girl (SPG) yang tentunya
      sudah dilatih dan siap dengan sigap melayani pelanggan.
      b. Terkait fasilitas dari gerai perusahaan
    3. Fasilitas memilih cara pembayaran menggunakan debit maupun credit
      card.
    4. Fasilitas akses dan keselamatan maupun keamanan berupa tangga
      darurat atau perlatan P3K.
    5. Jasa delivery (pengantaran).
      c. Terkait jam pelayanan gerai dimana jam operasional bisa jadi 24 jam kerja
      ataupun hanya 8 jam kerja saja.
      Terdapat 5 dimensi pelayanan untuk menjadi tonggak keberhasilan dari suatu
      perusahaan yaitu (Rambat, 2001: 148)
    6. Bukti Fisik (Tangibles)
      Hal ini mengacu pada kemampuan perusahaan dalam memberikan bukti
      nyata kepada pelanggan yang menggunakan jasa perusahaan, yang
      meliputi bukti fisik seperti perlengkapan yang dipakai dalam
      menjalankan usaha, gedung kantor perusahaan, gudang barang,
      peralatan yang dipakai seperti teknologi yang digunakan oleh pegawai
      serta penampilan atau pakaian seragam dari pegawai perusahaan.
    7. Keandalan (Reliability)
      Kemampuan perusahaan dimana perusahaan memberikan jasa mereka
      dengan secara akurat dan terpercaya, perusahaan juga di tuntut untuk
      selalu andal dalam memberikan pelayanan terhadap konsumen dimana
      di harapkan tanpa kendala dalam memberikan pelayanan nya.
    8. Ketanggapan (Responsiveness)
      Yaitu kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan seperti
      informasi yang mengalir dengan jelas Ketika dibutuhkan oleh konsumen
      dimana kemampuan ini ada untuk meminimalisir konsumen yang tidak
      mendapatkan perhatian, dan menjauhkan citra negative terhadap
      perusahaan dimana perusahaan yang bersangkutan dianggap lalai dalam
      memberikan respon yang tanggap dan cepat ketika dibutuhkan.
    9. Jaminan dan Kepastian (Assurance)
      Pengetahuan atas dasar sopan santun yang dilakukan oleh para pegawai
      dari perusahaan untuk menambahkan rasa aman dan menumbuhkan
      kepercayaan terhadap perusahaan yang terdiri dari faktor keamanan,
      kompetensi, kredibilitas, dan nilai sopan santun yang di terapkan dalam
      lingkungan perusahaan.
    10. Rasa Empati (Empathy)
      Jenis perhatian tulus dan di tanamkan oleh perusahaan pada setiap
      pegawai untuk selalu memberikan kesan selalu berupaya memahami apa
      yang di inginkan oleh pelanggan

    Orientasi Strategi Harga


    Dalam perusahaan terdapat strategi harga yang dapat digunakan dalam mempengaruhi
    konsumen dalam meningkatkan volume penjualan, terdapat tiga orientasi dalam strategi
    harga (Ma’ruf, 2005 :155 – 165).
    a. Orientasi Demand (Permintaan)
    Penetapan harga berdasarkan permintaan oleh konsumen, merujuk dengan melihat
    kondisi harga yang berbeda beda yang di tawarkan pada konsumen, kemudian
    dipilihlah harga yang disesuaikan dengan tingkat belanja yang ingin dicapai oleh
    perusahaan.
    b. Orientasi Biaya
    Orientasi jenis ini dipakai dalam mayoritas perusahaan dimana dalam penetapan
    harga dengan cara menambah dari harga pokok penjualan per unit dengan semua
    biaya operasional dan nilai besaran laba yang diinginkan oleh perusahaan.
    c. Orientasi pesaing
    Penetapan harga yang dilakukan dengan pelaku ritel atau perusahaan menngikuti
    harga yang di tetapkan oleh pesaing atau kompetitor yang bergerak pada bidang
    yang sama.
    Penetapan harga haruslah sesuai atau memadai dan sesuai dengan kualitas produk yang
    di tawarkan. Perusahaan harus menetapkan harga yang tepat dan akurat sehingga
    konsumen tidak akan kecewa pada saat melakukan pembelian atas produk yang di
    perolehnya dalam melaksanakan kegiatan berbelanja

    Harga


    Harga merupakan jumlah yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa. Lebih
    luas lagi, harga adalah jumlah nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk mendapatkan
    keuntungan dari memiliki atau menggunkan suatu produk atau jasa. Sedangkan
    menurut Sudaryono “Harga (price) adalah suatu nilai tukar yang bisa di samakan
    dengan uang atau barang lain untuk manfaat yang di peroleh dari suatu barang atau jasa
    bagi seseorang atau kelompok pada waktu tertentu dan tempat tertentu” (Sudaryono,
    2006). Dalam hal ini perusahaan diharuskan menentukan tujuan dan arah dari pasar
    yang dituju oleh perusahaan, semakin jelas tujuan yang diinginkan maka akan semakin
    cepat dan mudah pula dalam proses penetapan harga (Zainurossalamia, 2020).
    Pendefinisian harga juga dapat di artikan sebagai, satu unsur bauran pemasaran
    yang menghasilkan pendapatan sedangkan yang lainnya menghasilkan biaya (Phillip &
    Keller, 2007). Adapun pendapat lain menyatakan bahwa harga adalah segala bentuk
    biaya moneter yang dikorbankan oleh konsumen untuk memperoleh, memiliki
    sejumlah kombinasi dari barang serta pelayanan dari suatu produk. Perusahaan harus
    menetapkan harga jual untuk yang pertama kalinya, terutama pada saat
    mengembangkan produk baru. Penetapan harga jual berpotensi menjadi suatu masalah
    karena keputusan penetapan harga jual cukup kompleks dan harus memperhatikan
    berbagai aspek yang mempengaruhinya (Hasan, 2008).

    Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian


    Tedapat tiga faktor yang mempengaruhu konsumen dalam melakukan
    keputusan pembelian, diantaranya (Etta Mamang Sangadji & Sopiah, 2013) : Faktor
    psikologis, faktor situasional dan Faktor sosial.

    1. Faktor psikologis, mencakup persepsi, motivasi, pembelajaran, sikap dan
      kepribadian. Sikap dan kepercayaan merupakan faktor psikologis yang
      memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Sikap adalah suatu kecenderungan
      yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam situasi dan
      kondisi tertentu secara konsisten. Sikap memengaruhi kepercayaan, dan
      kepercayaan memengaruhi sikap. Kepribadian merupakan faktor psikologis yang
      memengaruhi perilaku konsumen, kepribadian adalah pola individu untuk
      merespons stimulus yang muncul dari lingkungannya. Termasuk didalam
      kepribadian adalah opini, minat, dan prakasa. Pembelajaran berdampak pada
      adanya perubahan. seorang individu/konsumen dikatakan belajar jika ada
      perubahan kearah yang lebih baik dalam tiga aspek (kognitif, afektif, dan
      psikomotor) yang bersifat relative permanen. Konsumen akan belajar setelah
      mendapat pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain.
      Setelah membeli dan mengkonsumsi produk, konsumen akan melakukan pembelian
      ulang dilain waktu. Sebalikanya, jika tidak puas, konsumen tidak akan melakukan
      pembelian dilain waktu.
    2. Faktor situasional, mencakup keadaan sarana dan prasarana tempat belanja, waktu
      belanja pengguanaan produk, dan kondisi saat pembelian. Keadaan sarana dan
      prasarana tempat belanja mencakup tempat parkir, gedung, eksterior dan interior
      toko, pendingin udara, penerangan/pencahayaan, tempat ibadah, dan sebagainya.
      Waktu berbelanja bisa pagi, siang, sore atau malam hari. Waktu yang tepat
      berbelanja bagi setiap orang tentu berbeda. Orang yang sibuk bekerja pada malam
      hari akan memilih waktu belanja pada sore atau malah hari. Kondisi konsumen saat
      melakukan pembelian akan memengaruhi pembuatan keputusan konsumen.
    3. Faktor sosial, mencakup undang-undang/peraturan, keluarga, kelompok referensi,
      kelas sosial, dan budaya.
      1) Sebelum memutuskan untuk membeli produk, konsumen akan
      mempertimbangkan apakah pembelian produk tersebut di perbolehkan atau tidak
      oleh aturan/undang-undang yang berlaku. Jika di perbolehkan, konsumen akan
      melakukan pembelian. Namun, jika dilarang oleh undang-undang konsumen tidak
      akan membeli.
      2) Keluarga terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Anak yang baik tentunya akan
      melakukan pembelian produk jiakan ayah atau ibunya menyetujui.
      3) Untuk kelompok referensi, contohya kelompok referensi untuk ibu-ibu
      (kelompok pengajian, pkk, dan arisan), remaja (tim sepakbola, girl band,tim basket
      dll) untuk bapak-bapak (kelompok penggemar motor besar dll).
      4) Untuk kelas sosial yang ada di masayarakat, contohnya kelas atas, menengah dan
      bawah
      5) Untuk budaya dan subbudaya, contohnya suku sunda, jawa, batak Madura. Tiap
      suku mempunyai budaya/subbudaya yang berbed

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Keputusan pemebelian adalah suatu kegiatan atau aksi yang dilakukan oleh
    konsumen dimana pada tahap ini konsumen benar – benar membeli produk yang
    dibutuhkan atau diinginkan. Proses pengambilan keputusan ini secara langsung
    melibatkan konsumen dalam melakukan pembelian dan memperdayagunakan barang
    yang ditawarkan dan dibeli sebelumnya. Proses pengambilan keputusan diawali dengan
    adanya suatu kebutuhan oleh konsumen yang berusaha untuk dipenuhi, pada tahap ini
    konsumen tentunya akan dihadrikan oleh beberapa alternatif yang tersedia, oleh karena
    nya di dalam proses ini terdapat banyak informasi yang terdapat utnuk mengarahkan
    konsumen pada suatu proses seleksi yang dilakukan oleh konsumen yang berdampak
    pada terpilihnya satu atau lebih alternatif yang terbaik bagi konsumen.
    Dalam sebuah pembelian, konsumen akan melewati lima tahapan yaitu:
    Pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian,
    perilaku pasca pembelian.
    1) Pengenalan masalah
    Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali sebuah masalah atau
    kebutuhan. Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau
    eksternal. Sebuah perusahaan perlu mengidentifikasikan keadaan yang memicu
    kebutuhan tertentu. Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen,
    perusahaan dapat mengidentifikasi rangsangan yang paling sering
    membangkitkan strategi pemasaran yang memicu minat konsumen.
    2) Pencarian informasi
    Seorang konsumen yang tergerak oleh stimulus akan berusaha untuk mencari
    informasi lebih banyak tentang hal yang dikenalinya sebagai kebutuhannya.
    Konsumen dapat mendapatkan informasi dari sumber pribadi seperti keluarga
    dekat, secara komersial dengan iklan, dalam bungkus produk atau wadah, secara
    publik melewati media massa.
    3) Evaluasi alternatif
    Dalam tahap evaluasi, konsumen akan memproses informasi produk yang
    bersaing dan membuat penilaian.
    4) Keputusan Pembelian
    Keputusan konsumen untuk menunda atau menghindari suatu keputusan
    pembelian sangat dipengaruhi oleh resiko yang dirasakan (perceived risk).
    Besarnya resiko yang didapatkan oleh pelanggan tentunya berbeda dari tiap
    individu yang melaksanakannya tergantung dari seberapa besar uang yang di
    pertaruhkan, besaran atribut, dan tingkat percaya diri dari konsumen itu sendiri.
    5) Perilaku Pasca Pembelian
    Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami tahap berikutnya yaitu
    kepuasan pasca pembelian, dimana ketika pelanggan sudah memasuki tahap ini
    pelanggan yang merasa tidak puas ketika sudah membeli produk yang dibeli
    akan menginformasikan kepada khalayak umum dan berhenti membeli produk
    ini, sedangkan bagi para pelanggan yang merasa puas setelah membeli produk
    akan terus melakukan re-purchasing dan menyebarkan berita positif atas
    pengalaman nya membeli produk tersebu

    Pengertian Motivasi Konsumen
    Menurut Setiadi (2003), motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan
    tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan-tujuan yang hendak dicapai, yang
    dikondisikan oleh kemampuan upaya untuk memenuhi suatu kebutuhan
    individual.
    Motivasi konsumen adalah keadaan didalam pribadi seseorang yang
    mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan guna
    mencapai suatu tujuan. Adanya motivasi pada diri seseorang akan
    menunjukkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan untuk
    mencapai sasaran kepuasan. Jadi, motivasi adalah proses untuk
    mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang kita inginkan (Setiadi,
    2008).
    Sangadji dan Sopiah (2013) juga menjelaskan bahwa motivasi adalah
    dorongan yang muncul dari dalam diri atau dari luar diri (lingkungan) yang
    menjadi faktor penggerak kearah tujuan yang ingin dicapai. Terkait dengan
    konsumen, motivasi bisa diartikan sebagai suatu dorongan yang
    menggerakkan konsumen untuk memutuskan bertindak kearah pencapaian
    tujuan, yaaitu memenuhi berbagai macam kebutuhan dan keinginan.
    Motif (dorongan) adalah kebutuhan dengan tekanan kuat yang
    mengarahkan seseorang mencari kepuasan (Kotler dan Armstrong, 2008),
    sedangkan menurut Mowen dan Minor (2002), motivasi adalah keadaan yang
    diaktivasi atau digerakkan dimana seseorang mengarahkan perilaku
    19
    berdasarkan tujuan. Hal ini termasuk dorongan, keinginan dan hasrat.
    Motivasi dimulai dengan timbulnya rangsangan yang memacu pengenalan
    kebutuhan yang berasal dari dalam dan luar diri konsumen

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Membeli Konsumen


    Menurut Kotler dan Armstrong (2008) keputusan membeli konsumen
    dipengaruhi oleh empat faktor diantaranya faktor budaya, faktor sosial, faktor
    pribadi dan faktor psikologis.
    a. Faktor Budaya
    1) Budaya
    Penyebab keinginan dan perilaku seseorang yang paling dasar.
    Tumbuh di dalam suatu masyarakat seorang anak mempelajari
    nilai-niali dasar, persepsi, keinginan dan perilaku dari keluarga dan
    institusi penting lainnya. Setiap kelompok dan masyarakat
    mempunyai budaya dan pengaruh budaya, pada perilaku pembelian
    bisa sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain. Kegagalan
    menyesuaikan diri dengan perbedaan ini dapat menghasilkan
    pemasaran yang tidak efektif atau kesalahan yang memalukan.
    2) Subbudaya
    Subbudaya meliputi kebangsaan, agama, kelompok ras dan daerah
    geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar yang
    penting, dan pemasar sering merancang produk dan program
    pemasaran yang dibuat untuk kebutuhan mereka.
    3) Kelas Sosial
    Pembagian masyarakat yang relatif permanen dan berjenjang
    dimana anggotanya berbagi nilai, minat dan perilaku yang sama.
    Kelas sosial ditentukan hanya oleh satu faktor seperti pendapatan.
    b. Faktor Sosial
    1) Kelompok
    Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil.
    Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung dan tempat dimana
    seseorang menjadi anggotanya disebut kelompok keanggotaan.
    Sebaliknya kelompok referensi bertindak sebagai titik
    perbandingan atau titik referensi langsung atau tidak langsung
    dalam membentuk sikap atau perilaku seseorang. Tetapi orang
    sering kali dipengaruhi oleh kelompok referensi dimana mereka
    tidak menjadi anggotanya.
    2) Keluarga
    Keluarga bisa sangat mempengaruhi perilaku membeli. Keluarga
    adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam
    masyarakat dan telah diteliti secara ekstensif. Pemasar tertarik pada
    peran suami, istri dan anak-anak dalam pembelian barang dan jasa
    yang berbeda.
    3) Peran dan status
    Posisi seseorang dalam masing-masing kelompok dapat
    didefinisikan dalam peran dan status. Peran terdiri dari kegiatan
    yang diharapkan dilakukan seseorang sesuai dengan orang-orang di
    sekitarnya. Masing-masing peran membawa status yang
    mencerminkan nilai umum yang diberikan kepadanya oleh
    masyarakat.
    c. Faktor Pribadi
    1) Usia dan Tahap Siklus Hidup
    Orang mengubah barang dan jasa yang mereka beli sepanjang
    hidup mereka. Selera makan, pakaian, perabot dan rekreasi sering
    berhubungan dengan usia. Pembelian juga dibentuk oleh tahap
    siklus hidup keluarga (tahap-tahap yang dilalui keluarga ketika
    mereka menjadi matang dnegan berjalannya waktu). Pemasar
    sering mendefenisikan pasar sasaran mereka dengan tahap siklus
    hidup dan mengembangkan produk dan rencana pemasaran yang
    sesuai untuk setiap tahap itu.
    2) Pekerjaan
    Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang mereka
    beli. Pemasar berusaha mengidentifikasi kolompok pekerjaan yang
    mempunyai minat di atas rata-rata pada produk dan jasa mereka.
    3) Situasi Ekonomi
    Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk.
    Jika indikator ekonimi menunjukkan resesi, pemasar dapat
    mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang, mereposisi
    dan menetapkan harga kembali untuk produk mereka secara
    seksama.
    4) Gaya Hidup
    Adalah pola hidup seseorang yang diekspresikan oleh kegiatan,
    minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan
    seseorang secara keseluruhan yang berinteraksi dengan lingkungan.
    Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu di balik kelas sosial
    seseorang.
    5) Kepribadian dan Konsep Diri
    Kepribadian setiap orang yang berbeda-beda mempengaruhi
    perilaku pembeliannya. Kepribadian mengacu pada karakteristik
    psikologi unik yang menyebabkan respon yang relative konsisten
    dan bertahan lama terhadap lingkungan orang itu sendiri.
    Kepribadian biasanya digambarkan dalam karakteristik perilaku
    seperti kepercayaan diri, dominasi, kemampuan bersosialisasi,
    otonomi, cara mempertahankan diri, kemampuan beradaptasi dan
    sifat agresif. Kepribadian dapat digunakan untuk menganalisis
    perilaku konsumen untuk produk atau pilihan merek tertentu.
    d. Faktor Psikologis
    1) Motivasi
    Setiap orang memiliki banyak kebutuhan salah satunya kebutuhan
    biologis. Kebutuhan lainnya adalah kebutuhan psikologis yang
    timbul dari kebutuhan akan pengakuan, penghargaan atau rasa
    memiliki. Kebutuhan menjadi motif ketika kebutuhan itu mencapai
    tingkat intensitas yang kuat. Motif (dorongan) adalah kebutuhan
    dengan tekanan kuat yang mengarahkan seseorang mencari
    kepuasan. Teori Freud (dalam kotler & armstrong, 2008)
    menyatakan bahwa keputusan pembelian seseorang dipengaruhi oleh
    motif bawah sadar yang bahkan tidak dipahami sepenuhnya oleh
    pembeli.
    2) Persepsi
    Orang yang termotivasi akan beraksi. Cara orang tersebut bertindak
    dipengaruhi oleh persepsi dirinya tentang sebuah situasi. Persepsi
    adalah proses dimana orang memilih, mengatur dan
    menginterpretasikan informasi untuk membentuk gambaran dunia
    yang berarti.
    3) Pembelajaran
    Ketika orang bertindak, mereka belajar. Pembelajaran
    menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul
    dari pengalaman. Ahli teori pembelajaran mengatakan bahwa
    perilaku manusia yang paling utama adalah belajar. Pembelajaran
    terjadi melalui interaksi dorongan, rangsangan, pertanda, respons
    dan penguatan. Dorongan menjadi motif ketika dorongan itu
    diarahkan menuju objek rangsangan tertentu.
    4) Keyakinan dan Sikap
    Keyakinan dan sikap mempengaruhi perilaku pembelian. Keyakinan
    adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang tentang sesuatu.
    Keyakinan bisa didasarkan pada pengetahuan nyata, pendapat, atau
    iman dan bisa membawa muatan emosi maupun tidak.
    Sikap menggambarkan evaluasi, perasaan dan tendensi yang relative
    konsisten dari seseorang terhadap sebuah objek atau ide. Sikap
    menempatkan orang kedalam suatu kerangka pikiran untuk
    menyukai atau tidak menyukai sesuatu, untuk bergerak menuju atau
    meninggalkan sesuatu.

    Proses Pengambilan Keputusan Membeli


    Proses pembelian dimulai jauh sebelum pembelian sesungguhnya dan
    berlanjut dalam waktu yang lama setelah pembelian. Konsumen melewati 5
    tahap untuk semua pembelian yang dilakukannya, tetapi dalam pembelian
    yang lebih rutin konsumen sering menghilangkan atau membalik urutan
    beberapa tahap ini (Kotler & Armstrong, 2008).
    Tahap-tahap pengambilan keputusan menurut Kotler dan Amstrong
    (2008) ;
    a. Pengenalan Kebutuhan
    Proses pembelian dimulai dengan pengenalan kebutuhan. Pembeli
    menyadari suatu masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dipicu oleh
    rangsangan internal atau eksternal ketika salah satu kebutuhan normal
    seseorang timbul pada tingkat yang lebih tinggi sehingga menjadi
    dorongan.
    b. Pencarian Informasi
    Konsumen yang tertarik mungkin akan mencari lebih banyak informasi
    atau mungkin tidak. Jika dorongan konsumen itu kuat dan produk yang
    memuaskan ada didekat konsumen itu, kemungkinan konsumen akan
    membelinya kemudian. Jika tidak, konsumen bisa menyimpan kebutuhan
    itu dalam ingatannya dan melakukan penarian informasi yang
    berhubungan dengan kebutuhannya. Konsumen dapat memperoleh
    informasi dari beberapa sumber meliputi sumber pribadi, sumber
    komersial, sumber publik dan sumber pengalaman.
    c. Evaluasi Alternatif
    Yaitu bagaimana konsumen memproses informasi untuk sampai pada
    pilihan merek. Konsumen sampai pada sikap terhadap merek yang
    berbeda melalui beberapa prosedur evaluasi. Bagaimana cara konsumen
    mengevaluasi alternatif bergantung pada konsumen pribadi dan situasi
    pembelian tertentu. Konsumen yang sama hanya sedikit melakukan
    evaluasi atau bahkan tidak mengevaluasi, sebagai gantinya mereka
    membeli berdasarkan dororngan dan bergantung pada intuisi. Kadang-
    kadang konsumen membuat keputusan pembelian sendiri, kadang mereka
    meminta nasihat pembelian kepada teman, pemandu konsumen atau
    wiraniaga.
    d. Keputusan Pembelian
    Keputusan pembelian konsumen adalah membeli merek yang paling
    disukai, tetapi terdapat 2 faktor yang bisa berada di antara niat pembelian
    dan keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain dan
    faktor kedua adalah faktor situasional yang tidak diharapkan. Setiadi
    (2003) mengatakan sejauh mana sikap orang lain akan mengurangi
    alternatif pilihan seseorang. Pada saat konsumen bertindak, faktor-faktor
    keadaan yang tidak terduga mungkin timbul dan mengubah tujuan
    pembelian.
    e. Perilaku Pasca Pembelian
    Setelah membeli produk, konsumen akan merasa puas atau tidak puas
    dan terlibat dalam perilaku pasca pembelian. Hal yang menentukan
    kepuasan atau ketidakpuasan pembeli terhadap suatu pembelian terletak
    pada hubungan ekspektasi konsumen dan kinerja anggapan produk. Jika
    produk tidak memenuhi ekspektasi, konsumen akan kecewa sebaliknya
    jika produk memenuhi ekspektasi, konsumen puas dan jika produk
    melebihi kespektasi, konsumen sangat puas.
    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa proses
    keputusan membeli adalah tahap-tahap yang menuntun seseorang untuk
    menentukan pilihannya dalam membeli suatu produk

    Pengertian Keputusan Membeli


    Menurut Kotler (2002), keputusan pembelian adalah tindakan dari
    konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. Berbagai macam
    faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu
    produk atau jasa, biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas,
    harga dan produk sudah yang sudah dikenal oleh masyarakat.
    Menurut Sangadji dan Sopiah (2013) proses pengambilan keputusan
    pembelian sangat dipengaruhi oleh perilaku konsumen. Proses tersebut
    sebenarnya merupakan proses pemecahan masalah dalam rangka memenuhi
    keinginan atau kebutuhan konsumen.
    Menurut Schiffman dan Kanuk (2008) keputusan pembelian adalah
    proses pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian,
    artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia
    beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada
    bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan.
    Menurut Sumarwan (dalam maharani, 2017) keputusan pembelian adalah
    proses merumuskan berbagai alternatif tindakan guna menjatuhkan pilihan
    pada salah satu alternatif tertentu untuk melakukan pembelian. Pemasar perlu
    mengetahui siapa yang terlibat dalam keputusan membeli dan peran apa yang
    dimainkan oleh setiap orang untuk banyak produk,cukup mudah untuk
    mengenali siapa yang mengambil keputusan.
    Setiadi (2003) mendefinisikan bahwa inti dari pengambilan keputusan
    konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengombinasikan
    pengetahuan untuk mengevaluasi dua perilaku alternatif atau lebih, dan
    memilih salah satu diantaranya. Hasil dari proses pengintegrasian ini adalah
    suatu pilihan yang disajikan secara kognitif sebagai keinginan berperilaku.

    Hubungan Gaya Hidup Konsumen dengan Keputusan Pembelian


    Gaya hidup suatu masyarakat akan berbeda dengan masyarakat yang
    lainnya. Gaya hidup merupakan tindakan yang dilakukan seseorang untuk
    mendapatkan dan memakai suatu barang atau jasa dan termasuk proses keputusan
    yang mendahului serta menentukan tindakan yang dilakukannya.
    Dalam penelitian yang dilakukan Abdilla dan Agus (2020) gaya hidup yang
    diekspresikan dengan aktivitas, minat dan opini seseorang menyatakan gaya hidup
    memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian
    smartphone. Serta penelitian yang dilakukan Badjamal (2019) menyimpulkan
    dalam penelitiannya bahwa gaya hidup memiliki hubangan dan berpengaruh
    terhadap keputusan pembelian handphone merek Samsung

    Hubungan Motivasi Konsumen dengan keputusan Pembelian


    Terdapat hubungan yang saling berkaitan antara motivasi dengan faktor-
    faktor kebudayaann, sosial dan pribadi. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi
    motivasi pembeli dalam melakukan suatu tindakan untuk mencapai kepuasan.
    Tiap tindakan yang dilakukan seseorang didorong oleh suatu kekuatan dalam diri
    orang tersebut.
    Motivasi muncul karena kebutuhan yang dirasakan konsumen. Dan
    kebutuhan muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan antara yang
    dirasakannya dengan apa yang seharusnya terjadi. Maka konsumen terdorong
    untuk melakukan suatu tindakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut
    hasil dari suatu penelitian, terdapat pengaruh yang sangat nyata antara motivasi
    konsumen terhadap keputusan pembelian handphone Android (Syahril, 2017)

    Dimensi Gaya Hidup


    Gaya hidup pada dasarnya merupakan suatu perilaku yang mencerminkan
    masalah apa yang sebenarnya yang ada di dalam alam pikir pelanggan yang
    cenderung berbair dengan berbagai hal yan terkait dengan masalah emosi dan
    psikologis konsumen.
    Menurut Setiadi (2015:81) gaya hidup akan berkembang pada masing-
    masing dimensi AIO (Activities, Interest, and Opinion), dan didefinisikan sebagai
    berikut:

    1. Aktivitas (Activities), adalah tindakan nyata. Aktivitas ini dapat berupa
      kerja, hobi, kegiatan sosial, hiburan, anggota klub, masyarakat, belanja dan
      olahraga. Aktivitas (kegiatan) konsumen merupakan karakteristik konsumen
      dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan adanya aktivitas konsumen,
      perusahaan dapat mengetahui kegiatan apa saja yang dapat dilakukan oleh
      pasar sasarannya, sehingga mempermudah perusahaan untuk menciptakan
      strategi-strategi dari informasi yang didapatkan tesebut. Dengan kata lain,
      perusahaan dapat menghasilkan produk yang dapat menunjang aktivitas
      keseharian serta gaya hidup yang dimiliki konsumen.
    2. Ketertarikan (Interest), adalah tindakan kegairahan yang menyertai
      perhatian khusus maupun terus menerus. Minat atau ketertarikan setiap
      manusia berbeda-beda. Adakalanya manusia tertarik pada makanan,
      adakalanya manusia tertarik pada mode pakaian, dan sebagainya. Minat
      merupakan faktor pribadi konsumen dalam mempengaruhi proses
      pengambilan keputusan. Setiap perusahaan dituntut untuk selalu memahami
      minat dan hasrat para pelanggannya. Dengan memahami minat
      pelanggannya, dapat memudahkan perusahaan untuk menciptakan konsep
      pemasar guna mempengaruhi proses pembelian pada pasar sasarannya.
      Sehingga konsumen akan menyukai produk yang ditawarkan.
    3. Pendapat (Opinion), adalah jawaban lisan atau tertulis yang akan orang
      berikan sebagai respon terhadap suatu situasi. Opini digunakan untuk
      mendeskripsikan penafsiran, harapan dan evaluasi seperti kepercayaan
      mengenai maksud orang lain, antisipasi sehubungan dengan peristiwa masa
      datang. Seperti konsumen memiliki pendapat bahwa produk yang digunakan
      dapat memberikan manfaat untuknya di jaman sekarang ini.

    Klasifikasi Gaya Hidup


    VALS (Value and Lifestyle) merupakan suatu program yang dikembangkan
    untuk mengukur gaya hidup, dan mengidentifikasikan delapan kelompok
    konsumen pada suatu masyarakat (Setiadi, 2015:86):

    1. Actualizer: seseorang yang mempunyai pendapatan tinggi dan harga diri
      yang tinggi. Mereka mempunyai rentang minat yang luas pada berbagai
      bidang dan terbuka pada perubahan. Mereka membeli produk untuk
      mencapai yang terbaik dalam hidup.
    2. Fulfilleds: seseorang yang berpendapatan tinggi , dewasa, bertanggung
      jawab, berpendidikan tinggi dalam bidang profesional. Termasuk dalam
      konsumen yang praktis dan berorientasi pada nilai.
    3. Believers: agak kurang kaya, dan lebih tradisonal disbanding fulfilleds.
      Kehidupan mereka terpusat pada keluarga, agama, masyarakat dan bangsa.
    4. Achiever: banyak kerja kurang rekreasi, fokus karier dan keluarga,
      menghindari perubahan, dan konservatif dalam politik.
    5. Striver: seseorang dengan nilai-nilai yang serupa dengan achiever namun
      sumber daya ekonomi, sosial dan psikologinya lebih sedikit.
    6. Struggeler: orang yang berpenghasilan paling rendah dan terlalu sedikit
      sumber dayanya untuk dimasukkan ke dalam orientasi konsumen manapun
      dengan keterbatasannnya, mereka cenderung menjadi konsumen yang loyal
      pada merek.
    7. Experiencer: konsumen yang berkeinginan besar dalam menyukai hal-hal
      baru.
    8. Maker: orang yang suka mempengaruhi lingkungan mereka dengan cara
      yang praktis

    Dinamika Proses Motivasi


    Menurut Rossanty (2018:100) proses motivasi: perusahaan harus bisa
    menentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai, baru kemudian konsumen
    dimotivasi kearah itu. Mengetahui kepentingan, perusahaan harus bisa mengetahui
    keinginan konsumen tidak hanya dilihat dari kepentingan perusahaan semata.
    Komunikasi efektif, melakukan komunikasi dengan baik terhadap
    konsumen agar konsumen dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan
    apa yang bisa mereka dapatkan. Proses motivasi perlu untuk menyatukan tujuan
    perusahaan dan tujuan kepentingan konsumen. Tujuan perusahaan adalah untuk
    mencari laba serta perluasan pasar. Tujuan individu konsumen adalah pemenuhan
    kebutuhan dan kepuasan. Kedua kepentingan di atas harus disatukan dan untuk itu
    penting adanya penyesuaian motivasi. Perusahaan memberikan fasilitas agar
    konsumen mudah mendapatkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

    Motivasi Konsumen


    Menurut Kayode (2014:52) the reason behind purchases made on particular
    goods or services is reffered to as buying motive. It is the driving force behind
    buying behavior; it may be based on physiological wants or psychological wants.
    Yang berarti alasan dibalik pembelian yang dilakukan pada barang atau jasa
    tertentu disebut sebagai motif pembelian. Ini adalah kekuatan pendorong dibalik
    perilaku pembelian; mungkin didasarkan pada keinginan fisiologis atau keinginan
    psikologis.
    Dalam Kamugisha (2017:57) motivations: customers have ‘drives’ that
    make them buy certain product. Artinya motivasi: konsumen memiliki ‘dorongan’
    yang membuat mereka membeli produk tertentu. Motivasi dapat digambarkan
    sebagai kekuatan pendorong dalam individu yang mendorong mereka untuk
    mengambil tindakan. Kekuatan pendorong dihasilkan oleh tegangan. Ketegangan
    muncul karena kebutuhan yang tidak terpenuhi. Manusia sebagai individu
    berusaha (baik secara sadar maupun tidak sadar) untuk mengurangi tegangan ini
    melalui perilaku pembelian yang dapat memenuhi kebutuhan mereka dan
    membebaskan mereka dari tekanan yang dirasakan.
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, motivasi adalah kecenderungan
    yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar melakukan tindakan
    dengan tujuan tertentu; usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok
    yang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki.
    Menurut Setiadi (2015:27) motivasi konsumen adalah keadaan di dalam
    pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan
    guna mencapai suatu tujuan. Dengan adanya motivasi pada diri seseorang akan
    menunjukkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan untuk mencapai
    sasaran kepuasan. Maka dapat disimpulkan bahwa motivasi muncul karena
    kebutuhan yang dirasakan konsumen. Kebutuhan sendiri muncul karena
    ketidaknyamanan antara yang seharusnya dirasakan dengan yang sebenarnya
    dirasakan. Kebutuhan yang dirasakan tersebut mendorong seseorang untuk
    melakukan tindakan memenuhi kebutuhan tersebut.

    Dimensi Persepsi Kualitas


    Kotler dan Keller (2012:9) menyatakan terdapat enam dimensi yang perlu
    diperhatikan dalam persepsi kualitas suatu produk, yaitu:

    1. Mutu kinerja (performance), dimensi yang paling basic dan berhubungan
      dengan fungsi utama dari suatu produk. Seperti konsumen dapat
      menemukan kemudahan dalam pengoperasian suatu produk.
    2. Keandalan (reliability), adalah ukuran kemungkinan suatu produk tidak
      akan rusak atau gagal dalam suatu periode tertentu. Seperti konsumen
      menganggap produk yang dipilihnya mempunyai kualitas yang membuatnya
      lebih handal dari produk lain.
    3. Keistimewaan (feature), sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan
      berbagai keistimewaan, yakni karakteristik yang melengkapi fungsi dasar
      produk. Dengan kata lain, produk memiliki karakteristik yang membuatnya
      istimewa dari produk lain.
    4. Daya tahan (durability), daya tahan atau keawetan menunjukkan suatu
      pengukuran terhadap siklus produk dalam kondisi normal dan/ atau berat
      baik secara teknis maupun waktu. Produk memiliki daya tahan yang lama
      sehingga dipilih oleh konsumen.
    5. Mutu kesesuaian (conformance quality), dimensi ini menunjukkan seberapa
      jauh suatu produk dapat menyamai standar atau spesifikasi tertentu.
    6. Gaya (style), dimensi ini banyak menawarkan aspek emosional dalam
      mempengaruhi kepuasan pelanggan. Dan juga dapat menggambarkan
      penampilaan serta perasaan yang ditimbulkan oleh produk bagi konsumen.

    Persepsi Kualitas


    Menurut Kartajaya (2010:73)) persepsi kualitas merupakan dimensi ekuitas
    merek. Konsumen akan memiliki persepsi baik atau buruk terhadap kualitas suatu
    produk, dan akan cenderung memberikan respon positif ataupun negatif terhadap
    produk. Semakin positif persepsi konsumen terhadap suatu produk maka akan
    semakin baik pula persepsinya pada merek produk itu sendiri.
    Menurut Tjiptono (2011:97) persepsi kualitas merupakan penilaian
    konsumen terhadap keunnggulan atau superioritas produk secara keseluruhan.
    Oleh karena itu, persepsi kualitas didasarkan pada evaluasi subyektif konsumen
    terhadap kualitas produk.
    Seorang konsumen dalam memilih suatu produk akan sangat dipengaruhi
    oleh penilaian kualitas produk tersebut. Persepsi kualitas menjadi hal yang hampir
    selalu dipertimbangkan oleh konsumen dalam membuat suatu keputusan
    pembelian. Karena untuk mendapatkan manfaat yang diinginkin dari suatu
    produk, persepsi kualitas merupakan salah satu hal yang penting untuk
    dipertimbangkan

    Proses Persepsi

    1. Seleksi Perseptual, terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih
      stimulus berdasarkan pada psychological set yang dimiliki. Psychological
      set yaitu berbagai informasi yang ada dalam memori konsumen. Sebelum
      seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus mendapat perhatian
      dari konsumen. Oleh karena itu, dua proses yang termasuk ke dalam definisi
      seleksi adalah:
      a. Perhatian (attention)
      b. Persepsi selektif (selectif perception)
    2. Organisasi Persepsi, berarti bahwa konsumen mengelompokkan informasi
      dari berbagai sumber ke dalam pengertian yang menyeluruh untuk
      memahami lebih baik dan bertindak atas pemahaman itu. Prinsip dasar dari
      organisasi persepsi ialah penyatuan yang berarti bahwa berbagai stimulus
      akan dirasakan sebagai suatu yang dikelompokkan secara menyeluruh.
      Pengorganisasian seperti itu memudahkan untuk memproses informasi dan
      memberikan pengertian yang terintegrasi terhadap stimulus.
    3. Interpretasi Persepstual
      Proses terakhir pada persepsi ialah memberikan interpretasi atas stimulus
      yang diterima oleh konsumen. Setiap stimulus yang menarik perhatian
      konsumen baik disadari atau tidak disadari, akan diinterpretasikan oleh
      konsumen. Dalam proses interpretasi konsumen membuka kembali berbagai
      informasi dalam memori yang telah tersimpan dalam waktu yang lama (long
      term memory) yang berhubungan dengan stimulus yang diterima. Informasi
      dalam long term memory akan membentuk konsumen untuk
      menginterpretasikan stimulus. Interpretasi ini didasarkan pengalaman
      penggunaan pada masa lalu, dan pengalaman itu tersimpan dalam memori
      jangka panjang konsumen.

    Persepsi Konsumen


    Hampir semua kejadian di dunia saat ini penuh dengan rangsangan. Suatu
    rangsangan (stimulus) adalah sebuah unit input yang merangsang satu atau lebih
    dari (lima) pancaindra: penglihatan, penciuman, rasa, sentuhan dan pendengaran.
    Oleh karena itu mereka menggunakan keterbukaan yang selektif (selectif
    exposure) untuk menentukan mana rangsangan yang harus diperhatikan dan mana
    yang harus diabaikan (Setiadi, 2015:91).
    Dalam Rossanty et al (2018:84) dijelaskan persepsi merupakan suatu proses
    yang timbul akibat adanya sensasi, di mana sensasi adalah aktivitas merasakan
    atau penyebab keadaan emosi yang menggembirakan. Sensasi juga dapat
    didefinisikan sebagai tanggap yang cepat dari indra penerima terhadap stimuli
    dasar seperti cahaya, warna, dan suara. Dengan adanya itu semua, persepsi akan
    timbul.
    Persepsi merupakan salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi
    bagaimana seseorang memutuskan untuk membeli dan menggunakan suatu
    produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. Persepsi yang dibentuk seseorang
    dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya (Setiadi, 2015:92).
    Maka dapat dikatakan persepsi merupakan sebagai cara seseorang
    memandang dunia di sekitarnya. Persepsi adalah semua yang berhubungan dengan
    pemahaman subjektif konsumen. Dan konsumen akan bertindak dan bereaksi atas
    dasar persepsi yang dimilikinya.

    Tipe Perilaku Keputusan Pembelian


    Kotler dan Keller (2013:23), membedakan 4 (empat) tipe perilaku
    pembelian konsumen berdasarkan pada tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat
    perbedaan diantara merek, yaitu:

    1. Perilaku pembelian yang rumit
      Perilaku konsumen yang rumit membutuhkan keterlibatan yang tinggi
      dalam pembelian, dengan berusaha menyadari perbedaan-perbedaan yang
      jelas diantara merek-merek yang ada.
    2. Perilaku membeli berdasarkan kebiasaan
      Dalam tahap ini, konsumen membeli suatu produk berdasarkan kebiasaan
      bukan berdasarkan kesetiaan terhadap suatu merek. Konsumen memilih
      produk secara berulang bukan karena merek produk, tetapi karena mereka
      sudah mengenal produk tersebut.
    3. Perilaku pembelian yang mencari keragaman
      Perilaku ini memiliki keterlibatan yang rendah, tetapi masih terdapat
      perbedaan merek yang jelas. Konsumen berperilaku dengan tujuan mencari
      keragaman bukan kepuasan terhadap produk.
    4. Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan
      Terkadang konsumen sangat terlibat dalam pembelian, namun mereka hanya
      melihat sedikit perbedaan antar merek. Dalam perilaku ini, setelah
      pembelian konsumen mungkin akan mengalami ketidaknyamanan karena
      merasakan adanya fitur yang tidak mengenakkan atau mendengar kabar
      yang membuatnya tertarik mengenai merek lain dan akan siaga terhadap
      informasi yang mendukung keputusannya.

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Menurut Setiadi (2015:10) keputusan pembelian dari pembeli sangat
    dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi pembeli.
    Faktor Kebudayaan

    1. Kebudayaan merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan
      dan perilaku seseorang. Bila makhluk-makhluk lainnya bertindak
      berdasarkan naluri,maka perilaku manusia umumnya dipelajari.
    2. Subbudaya. Setiap kebudayaan terdiri dari subbudaya-subbudaya yang lebih
      kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk
      para anggotanya.
    3. Kelas sosial adalah kelompok yang relative homogeny dan bertahan lama
      dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan yang
      keanggotaanya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa.
      Faktor Sosial
    4. Kelompok refernsi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang
      mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau
      perilaku seseorang.
    5. Keluarga. Keluarga orientasi, yang merupakan orang tua seseorang. Dan
      keluarga prokreasi, yaitu pasangan hidup anak-anak seseorang keluarga
      merupakan organisasi pembeli konsumen yang paling penting dalam suatu
      masyarakat.
    6. Peran dan status. Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok
      selama hidupnya keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap
      kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran dan status.
      Faktor Pribadi
    7. Umur dan tahapan dalam siklus hidup. Konsumsi seseorang juga dibentuk
      oleh tahapan siklus hidup keluarga. Orang-orang dewasa biasanya
      mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani
      hidupnya.
    8. Pekerjaan. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok
      pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa
      tertentu.
    9. Keadaan ekonomi. Yang dimaksud dengan keadaan ekonomi seseorang
      adalah terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya,
      stabilitasnya dan polanya), tabungan dan hartanya, kemampuan untuk
      meminjam dan sikap terhadap mengeluarkan lawan menabung.
    10. Gaya hidup. Gaya hidup menggambarkan “seseorang secara keseluruhan”
      yan berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga mencerminkan
      sesuatu di balik kelas sosial seseorang.
    11. Kepribadian dan konsep diri. Yang dimaksud dengan kepribadian adalah
      karakteristik psikologis yang berbeda dan setiap orang yang memandang
      responsnya terhadap lingkungan yang relative konsisten.
      Faktor Psikologis
    12. Motivasi. Beberapa kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan ini timbul dari
      suatu keadaan fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, haus, resah tidak
      nyaman. Adapun kebutuhan lain bersifat psikogenik, yaitu kebutuhan yang
      timbul dari keadaan fisiologis tertentu, seperti kebutuhan untuk diakui,
      kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima.
    13. Persepsi, didefinisikan sebagai proses di mana seseorang memilih,
      mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan
      suatu gambaran yang berarti dari dunia ini.
    14. Proses belajar, menjelaskan perubahan dalam perilau seseorang yang timbul
      dari pengalaman.
    15. Kepercayaan dan sikap. Kepercayaan adalah suatu gagasan deskriptif yang
      dimiliki seseorang terhadap sesuatu

    Dimensi Keputusan Pembelian


    Kotler dan Amstrong (2016:188) menyebutkan terdapat enam dimensi
    keputusan pembelian, yaitu:

    1. Pemilihan Produk (Product Choice)
      Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli suatu produk atau
      menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam hal ini, perusahaan
      harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berniat membeli
      suatu produk serta alternatif yang akan mereka pertimbangkan. Misalnya:
      kebutuhan suatu produk.
    2. Pemilihan Merek (Brand Choice)
      Konsumen harus menentukan merek mana yang akan dibeli, setiap merek
      memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus
      mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek. Sehingga
      konsumen dalam memilih produk menyatakan mereknyalah yang akan
      dipilih. Misalnya: kepercayaan dan popularitas merek.
    3. Pemilihan Saluran Pembelian (Dealer Choice)
      Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan
      dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur,
      dapat dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, persediaan
      barang yang lengkap. Kenyamanan berbelanja, dan keleluasaan tempat.
      Seperti misalnya konsumen akan memilih tempat yang mudah ia jangkau.
    4. Penentuan Waktu Pembelian (Purchase Timing)
      Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian dapat berbeda-
      beda. Konsumen akan mempertimbangkan kapan dia akan membeli suatu
      produk. Dan konsumen akan memilih waktu yang tepat untuk membeli
      produk yang dipilihnya.
    5. Jumlah Pembelian (Purchase Amount)
      Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
      yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin
      lebih dari satu jenis produk. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan
      banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para
      pembeli. Konsumen akan menetapkan membeli dan menggunakan satu atau
      lebih produk yang dipilihnya

    Keputusan Pembelian


    Schiffman dan Kanuk dalam Sumarwan (2015:357) mendefinisikan suatu
    keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih alternatif. Seorang
    konsumen yang hendak melakukan pilihan maka ia harus memiliki pilihan
    alternatif. Setiadi (2015:342) menyatakan pengambilan keputusan (consumer
    decision making) adalah proses pengintegrasian yang mengombinasikan
    pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif, dan memilih
    salah satu diantaranya.
    Semua aspek pengaruh dan kognisi terlibat dalam pengambilan keputusan
    konsumen, termasuk pengetahuan, arti kepercayaan yang diaktifkan dari ingatan
    serta perhatian dan pemahaman yang terlibat dalam penerjemahan baru di
    lingkungan. Akan tetapi, inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah proses
    pengintegrasian yang mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua
    atau lebih perilaku alternatif, dan memilih salah satu di antaranya. Hasil dari
    proses pengintegrasian ini ialah suatu pilihan, yang disajikan secara kognitif
    sebagai keinginan berperilaku.
    Setiadi (2015:343) memandang pengambilan keputusan konsumen sebagai
    suatu pemecahan masalah dan mengasumsikan bahwa konsumen memiliki sasaran
    yang ingin dicapai atau dipuaskan. Seorang konsumen menganggap sesuatu ialah
    “masalah” karena konsekuensi yang diinginkannya belum dapat tercapai.
    Konsumen membuat keputusan perilaku mana yang ingin dilakukan untuk dapat
    mencapai sasaran mereka, dan dengan demikian memecahkan masalahnya

    Perilaku Konsumen


    Menurut Firmansyah (2018:2) perilaku konsumen adalah sebuah kegiatan
    yang berkaitan erat dengan proses pembelian suatu barang atau jasa. Perilaku
    konsumen merupakan tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan,
    mengonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan
    yang mendahului dan menyusuli tindakan ini (Setiadi, 2015:2).
    Dan The American Marketing Association dalam Kotler (2000) yang dialih
    bahaskan oleh Setiadi (2015:2) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai
    interaksi dinamis antara afeksi dan kognisi, perilaku, dan lingkungannya di mana
    manusia melakukan kegatan pertukaran dalam hidup mereka.
    Dari definisi tersebut terdapat tiga ide penting, yaitu : (1) perilaku
    konsumen adalah dinamis; (2) hal tersebut melibatkan interaksi antara afeksi dan
    kognisi, perilaku dan kejadian di sekitar; dan (3) hal tersebut melibatkan
    pertukaran.
    Perilaku konsumen adalah dinamis, berarti bahwa perilaku seorang
    konsumen, grup konsumen, ataupun masyarakat luas selalu berubah dan bergerak
    sepanjang waktu. Hal ini memiliki implikasi terhadap studi perilaku konsumen.
    Dalam hal studi perilaku konsumen, salah satu implikasinya adalah bahwa
    generalisasi perilaku konsumen biasanya terbatas untuk jangka waktu tertentu,
    produk, dan individu atau grup tertentu.
    Perilaku konsumen melibatkan pertukaran. Itu merupakan hal terakhir yang
    ditekankan dalam definisi perilaku konsumen, yaitu pertukaran di antara individu.
    Hal ini membuat definisi perilaku konsumen tetap konsisten dengan definisi
    pemasaran sejauh ini juga menekankan pertukaran. Kenyataannya, peran
    pemasaran adalah untuk menciptakan pertukaran dengan konsumen melalui
    formulasi dan penerapan strategi pemasaran

    Indikator Word of Mouth


    Terdapat tiga indikator Word of Mouth, yang pertama adalah berbicara
    mengenai pengalaman positif dan kualitas produk. Indikator kedua melibatkan
    merekomendasikan kepada teman dan keluarga. Sedangkan indikator ketiga
    terkait dengan usaha untuk membujuk teman dan mengajak keluarga untuk
    melakukan sesuatu (Fakhrudin et al., 2021)

    Pengertian Word of Mouth


    Word of Mouth merupakan komunikasi yang terjadi melalui perkataan atau
    saran dari orang ke orang mengenai pandangan atau penilaian terhadap suatu
    produk atau layanan. Komunikasi ini dapat terjadi baik secara personal maupun
    dalam kelompok, dengan tujuan memberikan informasi secara pribadi mengenai
    suatu produk atau layanan (Fakhrudin et al., 2021). Word of Mouth merupakan
    bentuk komunikasi antara individu, di mana informasi mengenai suatu produk,
    layanan, atau merek disampaikan dari satu orang ke orang lain. Dalam proses ini,
    pesan yang disampaikan penerima pesan bersifat non-komersil (Suarmaja et al.,
    2023). Word of Mouth adalah suatu aktivitas pemasaran yang memiliki potensi
    untuk mendorong individu konsumen agar berbicara, mempromosikan,
    merekomendasikan, dan bahkan menjual produk atau merek perusahaan kepada
    calon pelanggan lainnya (Wibowo et al., 2022)

    Indikator Brand Image


    Indikator brand image melibatkan tiga aspek utama. Pertama, citra
    perusahaan mencakup pandangan konsumen terhadap perusahaan, termasuk
    popularitas, kredibilitas, jaringan perusahaan, dan pemakai produk (Syahrazad
    and Hanifa, 2019). Kedua, citra produk mengevaluasi persepsi konsumen terhadap
    barang atau jasa, melibatkan atribut produk, manfaat bagi konsumen, dan jaminan
    produk (Arianty and Andira, 2021). Ketiga, citra pemakai mencakup persepsi
    yang dihasilkan oleh konsumen terhadap pemakaian barang atau jasa, melibatkan
    identitas pemakai dan status sosialnya (Liyono, 2022). Ketiga aspek ini menjadi
    indikator penting dalam membentuk citra merek dan memengaruhi persepsi
    konsumen terhadap produk atau layanan yang ditawarkan oleh suatu perusahaan
    (Dairina and Sanjaya, 2022)

    Pengertian Brand Image


    Brand image atau citra merek merupakan persepsi dan pandangan
    konsumen terhadap suatu merek (Dairina and Sanjaya, 2022). Pengertian brand
    image yang disampaikan oleh Nurhalim (2020) mencerminkan ide bahwa brand
    image atau citra merek adalah representasi dari semua persepsi yang dimiliki
    konsumen terhadap suatu merek (Nurhalim, 2020). Prastiwi (2016) menyatakan
    bahwa, brand image atau citra merek diartikan sebagai pandangan dan
    kepercayaan yang dimiliki oleh konsumen terhadap suatu merek barang atau jasa.
    Citra merek ini memiliki peran penting dalam memperkuat loyalitas merek dan
    mampu meningkatkan kemungkinan konsumen untuk melakukan pembelian ulang
    (Prastiwi, 2016).

    Indikator Brand Ambassador


    Indikator yang digunakan untuk menilai variabel brand ambassador
    mencakup transference, congruence, kredibilitas, daya tarik, dan power (Amalia
    and Riva’i, 2022). Transference (keterbukaan) adalah saat seorang selebriti
    mendukung merek yang terkait dengan profesi mereka, dan produk yang
    dipromosikan dapat diterima oleh konsumen (Muthia and Kusumahadi, 2023).
    Congruence (kesesuaian) merupakan konsep kunci dalam peran brand
    ambassador yang memastikan keselarasan antara merek dan selebriti, sehingga
    produk yang diiklankan dapat meningkatkan kepercayaan dan ketergantungan
    konsumen (Wardani and Istiyanto, 2022). Kredibilitas menunjukkan sejauh mana
    konsumen melihat bahwa selebriti tersebut memiliki pengetahuan, keterampilan,
    atau pengalaman yang relevan, sehingga dianggap dapat dipercaya untuk
    memberikan informasi objektif (Siahaan et al., 2022). Daya Tarik merupakan
    aspek nonfisik penampilan selebriti yang mendukung citra produk melalui
    kecerdasan, sifat kepribadian, gaya hidup, atau kebugaran tubuh (Rusli et al.,
    2020). Power (pengaruh) adalah daya tarik kharismatik yang dipancarkan oleh
    selebriti untuk mempengaruhi konsumen, mendorong mereka untuk membeli atau
    menggunakan produk yang dipromosikan (Muthia and Kusumahadi, 2023)

    Pengertian Brand Ambassador


    Brand ambassador adalah seseorang yang dipilih oleh suatu merek atau
    perusahaan untuk mewakili dan mempromosikan produk atau layanan mereka
    (Iswanto, 2021). Brand ambassador adalah individu yang memberikan dukungan
    kepada suatu merek dan seringkali berasal dari kalangan tokoh masyarakat yang
    terkenal (Rani and Widyasari, 2022). Brand ambassador sering kali dapat
    dianggap sebagai bintang iklan atau pendukung iklan yang aktif mendukung dan
    mempromosikan produk atau layanan suatu merek (Probosini et al., 2021).
    Seorang selebriti atau influencer media sosial yang menjadi brand ambassador
    dapat memberikan pengaruh positif terhadap persepsi konsumen terhadap suatu
    produk atau merek (Lailiya, 2020).

    Indikator Keputusan Pembelian


    Indikator keputusan pembelian adalah faktor-faktor atau tanda-tanda yang
    memberikan petunjuk atau informasi terkait dengan pengambilan keputusan
    pembelian oleh konsumen (Anim and Indiani, 2020). Ada 4 indikator yang dapat
    memengaruhi keputusan pembelian. Pertama, kemantapan produk menjadi faktor
    kunci, di mana keputusan pembelian dipengaruhi oleh tingkat keyakinan dan
    kepercayaan konsumen terhadap stabilitas dan kualitas produk (Maryati and
    Khoiri, 2022). Kedua, kebiasaan pembelian konsumen dapat menjadi indikator
    yang signifikan, karena konsumen cenderung memilih produk atau merek tertentu
    secara teratur berdasarkan pengalaman positif sebelumnya (Camelia and Hartono,
    2021). Ketiga, pengaruh dari rekomendasi orang lain, termasuk teman, keluarga,
    atau ulasan online, sering menjadi faktor kuat dalam pengambilan keputusan
    pembelian (Romadon et al., 2023). Terakhir, tindakan pembelian ulang oleh
    konsumen dapat mencerminkan tingkat kepuasan dan kepercayaan terhadap
    produk, menjadi indikator bahwa konsumen memilih kembali produk yang sama
    berdasarkan pengalaman positif sebelumnya (Misnawati and Sumarni, 2020).
    Pemahaman terhadap indikator-indikator ini dapat membantu perusahaan dalam
    merancang strategi pemasaran yang lebih efektif untuk memenuhi harapan dan
    kebutuhan konsumen.

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Keputusan pembelian dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yang
    meliputi:
    a. Brand Ambassador
    Brand ambassador adalah individu yang ditunjuk oleh perusahaan untuk
    mempromosikan produknya. Iklan yang disampaikan oleh sumber yang menarik,
    seperti selebriti yang populer, akan mendapatkan perhatian besar dan mudah
    diingat oleh masyarakat. Personality seorang brand ambassador dapat
    mempengaruhi personality dari sebuah brand. Dengan demikian, citra positif dari
    brand ambassador dapat meningkatkan citra merek dan menarik konsumen untuk
    membeli produk tersebut (Liya et al., 2021).
    b. Brand Image
    Brand image adalah persepsi konsumen terhadap suatu merek, yang dapat
    memengaruhi keputusan pembelian mereka. Konsumen dengan citra positif
    terhadap suatu merek lebih cenderung melakukan pembelian pada produk
    tersebut. Citra merek yang baik memberikan kepercayaan kepada konsumen
    mengenai kualitas produk dan layanan yang ditawarkan (Liya et al., 2021).
    c. Word of Mouth
    Word of mouth adalah komunikasi informal yang terjadi antara konsumen
    mengenai pengalaman mereka dengan suatu produk. Strategi promosi yang
    menggunakan konsumen yang puas untuk meningkatkan kesadaran produk
    dikenal sebagai Word of Mouth. Word of Mouth dianggap lebih terpercaya
    dibandingkan informasi dari iklan, karena informasi tersebut berasal dari orang
    yang dikenal dan dipercaya, seperti teman atau keluarga. Kemudahan dalam
    melakukan WOM tanpa disadari dapat meningkatkan nilai suatu produk di mata
    konsumen lainnya, sehingga mempengaruhi keputusan pembelian mereka (Liya et
    al., 2021).

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Keputusan pembelian merupakan proses di mana konsumen memilih dan
    membeli produk atau layanan tertentu dari berbagai pilihan yang tersedia (Sari,
    2020). Menurut Kotler and Armstrong (2018), keputusan pembelian merupakan
    keputusan konsumen tentang merek mana yang akan dibeli dari berbagai pilihan
    yang tersedia di pasaran. Proses pengambilan keputusan konsumen yang rumit
    seringkali melibatkan beberapa tahap dan keputusan yang saling terkait (Kotler
    and Armstrong, 2018). Menurut Firmansyah (2019), keputusan pembelian adalah
    langkah-langkah pemecahan masalah yang diambil oleh individu saat memilih
    tindakan yang paling sesuai dari dua atau lebih alternatif perilaku. Proses ini
    dianggap sebagai langkah yang paling tepat dalam melakukan pembelian,
    melibatkan tahapan proses pengambilan keputusan sebelumnya (Firmansyah,
    2019). Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh bagaimana suatu proses
    pengambilan keputusan pembelian tersebut dilaksanakan (Tanady and Fuad,
    2020). Sementara menurut Yusuf (2021), keputusan pembelian merupakan
    evaluasi pilihan-pilihan yang dilakukan individu untuk memilih produk tertentu
    dari berbagai opsi (Yusuf, 2021)

    Hubungan Perilaku Konsumen Dengan Keputusan Pembelian


    Konsumen mengklasifikasikan untuk apa barang, jasa, ide, dan pengalaman
    tersebut apakah akan di gunakan kembali atau tidak digunakan lagi sesuai
    keinginan (Kotler dan Keller, 2016). Penelitian Didin dan Zainul (2013)
    menyatakan bahwa perilaku berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan
    pembelian. Setiap konsumen memiliki perilakunya masing-masing berdasarkan
    keinginan mereka sebelum mereka memutuskan untuk membeli dan
    menggunakan produk atau jasa yang akan mereka gunakan, karna keputusan
    pembelian merupakan bagian dari perilaku konsumen. Konsumen akan mencari
    informasi tentang apa yang akan mereka beli atau gunakan produk atau jasa yang
    sesuai dengan harapan mereka

    Indikator Gaya Hidup


    Gaya hidup dapat diukur dengan dilakukannya psikografik (psyocographic).
    Psikografik adalah identifikasi karakteristik kepribadian dan sikap yang akan
    mempengaruhi gaya hidup seseorang dan perilaku pembelian. Psikografik titik
    data mencakup pendapat, sikap, dan keyakinan tentang berbagai askpek yang
    berkaitan dengan gaya hidup dan perilaku pembelian. Psikografik sering
    diantrikan sebagai pengukuran AIO (activity, interest, opinion) atau pernyataan
    untuk menggambarkan aktifitas, minat, dan opini konsumen

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup


    Menurut Kotler dan Amstronge (2012) gaya hidup seseorang dapat
    dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan
    untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa, termaksud
    didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan
    tersebut. Adapun 2 faktor yang mempengaruhi gaya hidup menurut Kotler dan
    Amstronge (2012) yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal)
    dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Faktor interrnal meliputi :
    1) Sikap
    Sikap berati suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang disiapkan untuk
    memerikan tanggapan suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman
    dan mempengaruhi secara langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut
    dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, dan lingkungan sosial.
    2) Pengalaman dan pengamatan
    Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku,
    pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat
    dipelajari, melalui belajar orang akan mendapatkan pengalaman. Hasil dari
    pengalaman sosial akan dapat membentuk pandangan terhadap suatu objek.
    3) Kepribadian
    Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara perilaku
    yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu.
    4) Konsep diri
    Faktor lain yang dapat menentukan kepribadian individu adalah konsep diri.
    Konsep diri sudah menjadi pendekatan yang sangat luas untuk
    menggambarkan antar konsep diri konsumen dengan image merk.
    Bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi minat
    terhadap suatu objek. Konsep diri sudah menjadi pola kepribadianakan
    menentukan pola perilaku individu dalam menghadapi permasalahan
    hidupnya., karena konsep diri merupakan frame of reference yang menjadi
    awal perilaku.
    5) Motif
    Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa
    aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan berberpa contoh tentang
    motif. Jika motif seseorang terhadap kebutuhan akan prestise itu besar maka
    akan membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah kepada gaya hidup
    hedonis.
    6) Presepsi
    Presepsi adalah proses dimana orang memilih, mengatur dan
    menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang berarti
    mengenai dunia

    Klasifikasi Gaya Hidup


    Gaya hidup identik dengan kelas sosial dalam masyarakat. Kelas sosial
    adalah pembagian suatu kelompok yang membedakan antara masyarakat yang
    memiliki kedudukan yang seimbang. Menurut Anwar Prabu Mangkunegara
    (2009) yang juga berhubungan dengan perilaku konsumen, maka gaya hidup
    dapat dikategorikan sebagai berikut :
    1) Kelas sosial atas cenderung membeli barang-barang yang mahal,
    membeli pada toko yang berkualitas dan lengkap (toko serba ada,
    supermarket), konservatif dalam konsumsinya, barang-barang yang
    dibeli cenderung untuk dapat menjadi warisan bagi keluarganya.
    2) Kelas sosial menengah kecenderungan membeli barang untuk
    menampakkan kekayaanya, membeli barang dengan jumlah banyak
    dengan kualitas memadai. Berkeinginan dengan barang yang mahal
    dengan sistem kredit, seperti kendaraan, rumah mewah, dan kebutuhan-
    kebutuhan lainnya yang memiliki harga lebih mahal dari pendapatannya.
    3) Kelas sosial rendah cenderung membeli barang dengan mementingkan
    kuantitas dari pada kualitas. Pada umumnya mereka membeli barang
    untuk kebutuhan sehari-hari, memanfaatkan penjualan barang-barang
    yang didiskon atau penjualan dengan harga rendah.

    Definisi Gaya Hidup


    Gaya hidup atau sering disebut dengan lifestyle adalah gambaran atau
    tingkah laku, pola dan cara hidup yang menunjukan bagaimana aktivitas
    seseorang. Minat dan ketertarikan serta pemikiran mereka sendiri merupakan
    cara membedakan status diri dengan orang lain dan lingkungan melalui ciri
    khas sosial yang mereka miliki. Menurut Kotler dan Keller (2012), Gaya hidup
    adalah pola hidup seseorang yang di ekspresikan dalam aktivitas, minat, dan
    opininya.
    Setiap konsumen memilih, menggunakan apa yang mereka ingin gunakan
    sesuai dengan minat, opini, dan aktivitas mereka. Gaya hidup konsumen saat
    ini bergantung pada teknologi yang ada. Masyarakat kini menjadikan digital
    sebagai alat yang sering digunakan sehari-hari.
    Menurut Kotler dalam Pakpahan M (2016), Gaya hidup menggambarkan
    keseluruhan diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya
    hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi
    di dunia. Contohnya, perusahaan penghasil komputer mungkin mendapatkan
    bahwa sebagian besar pembeli komputer berorientasi pada pencapaian prestasi.
    Dengan demikian, para pemasar dapat dengan lebih jelas mengarakan merknya
    ke gaya hidup orang berprestasi.
    Sedangkan gaya hidup menurut Solomon (2011) merupakan sebuah
    prespektif pemasaran gaya hidup bahwa orang seperti mereka ke kelompok
    atas dasar hal-hal yang mereka lakukan, bagaimana mereka menghabiskan
    waktu luang mereka dan bagaimana meeka memilih untuk menghabiskan
    pendapatan lebih mereka.

    Model Perilaku Konsumen


    Perilaku konsumen harus dipahami oleh suatu perusahaan agar dapat
    memasarkan dengan baik produknya, karena konsumen sendiri banyak
    memiliki perbedaan, disisi lain konsumen sendiri memiliki kesamaan itu
    sebabnya sebagai produsen kita harus mengerti tentang pemasaran. Sebagai
    pemasar penting memahami mengapa dan bagaimana seorang konsumen
    melakukan keputusan pembelian sehingga dengan begitu pemasar dapat
    merancang strateginya dengan tepat. Berikut adalah model perilaku
    konsumen menurut Kotler dan Keller (2016)

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen


    Menurut Kotller dan Keller (2016) menyatakan bahwa keputusan
    pembelian merupakan bagian dari perilaku konsumen, maka faktor-faktor yang
    mempengaruhi keputusan pembelian :
    1) Faktor Budaya (cultural factors)
    a) Budaya (culture), adalah kumpulan nilai dasar, presepsi, keinginan,
    dan perilaku yang dipelajari oleh anggota masyarakat dari keluarga
    dan intusi penting lainnya. Budaya merupakan penentu keinginan dan
    perilaku mendasar.
    b) Sub-budaya (subculture), adalah kelompok masyarakat yang berbagai
    sistem nilai bersadarkan pengalaman hidup dan situasi yang umum.
    Sub-budaya terdiri dari kebangsaan, agama, kelompok, ras, dan
    daerah geografis.
    c) Kelas sosial (sosial classess), merupakan pembagian masyarakat yang
    relatif homogen dan permanen, dan tersusun secara hirarki dan
    anggotanya menganut nilai-nilai minat dan perilaku yang sama.
    2) Faktor Sosial (sosial classes)
    a) Kelompok referensi (reference groups), adalah dua atau lebih orang
    yang berinteraksi yang mencapai tujuan pribadi atau tujuan bersama.
    Sebuah kelompok mempunyai pengaruh langusung (tatap muka) atau
    tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut.
    b) Keluarga (familiy), adalah organisasi pembelian konsumen yang
    paling penting dalam masyarakat dan anggota keluarga
    mempresentasikan kelompok referensi utama yang paling
    berpengaruh. Ada dua keluarga dalam kehidupan pembeli, yaitu:
    keluarga oreintasi (family of orientation) terdiri dari orang tua dan
    saudara kandung, keluarga prokreasi (family of procreation) yaitu
    pasangan dan anak-anak.
    c) Peran sosial dan status (roles and status), peran terdiri dari aktivitas
    yang di harapkan di lakukan seseorang yang ada di sekitarnya. Setiap
    perna membawa status yang mencerminkan penghargaan yang
    diberikan oleh masyarakat. Seseorang beradaptasi dalam banyak
    kelompok, keluarga, klub, dan organisasi. Kelompok sering menjadi
    sumber informasi penting dalam membantu mendefenisikan norma
    perilaku.
    3) Faktor Sosial (personal factors)
    Faktor pribadi juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi meliputi usia
    dan tahap dalam siklus pembeli (age and stage in life cycle), pekerjaan
    dan keadaan ekonomi (occupation and self concept), seperti gaya hidup
    dan nilai (life style and value)

    Definisi Perilaku Konsumen


    Perilaku konsumen pada hakikatnya untuk memahami “Mengapa konsumen
    melakukan dan apa yang mereka lakukan Menurut Griffin dalam Sopiah dan
    Sangadji (2013), perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta
    proses psikologi yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli,
    ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah
    melakukan hal-hal kegiatan mengevaluasi. Dimana konsumen akan
    mengevaluasi sebelum melakukan kegiatan membeli ataupun menggunakan
    produk atau jasa karna adanya proses kemauan diri sendiri. Sebagai contoh
    konsumen akan mencari informasi untuk mendapatkan produk atau jasa yang
    sesuai dengan keinginan mereka sebelum memutuskan akan menggunakan atau
    membeli barang atau jasa tersebut.
    Menurut Engel et all (2010) perilaku konsumen adalah tindakan yang
    langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan
    produk dan jasa, termaksud mendahului dan menyusul dari tindakan ini. Definisi
    ini juga mengatakan bahwa konsumen adalah proses yang diawali dengan
    penerimaan, konsumsi dan diakhir dengan penentuan (disposion). Artinya
    konsumen akan melakukan tindakan dengan menggunakan, mengkonsumsi, dan
    menghabiskan produk atau jasa.
    Menurut Kotler dan Keller (2016) perilaku konsumen adalah studi
    bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih, membeli dan
    menggunakan dan membuang atau tidak menggunakan barang, jasa, ide, dan
    pengalaman untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka

    Dimensi dan Indikator Keputusan Pembelian


    Dimensi dan indikator keputusan pembelian menurut Kotler dan Keller
    yang dialih bahasakan oleh Tjiptono (2012) menjelaskannya bahwa keputusan
    konsumen untuk melakukan pembelian suatu produk meliputi enam sub
    keputusan sebagai berikut:
    1) Pilihan produk
    Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau
    menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini perusahaan harus
    memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli
    sebuah produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan. Misalnya:
    kebutuhan suatu produk, keberagaman varian produk dan kualitas produk.
    2) Pilihan merek
    Pembeli harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli.
    Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Misalnya:
    kepercayaan dan popularitas merek.
    3) Pilihan penyalur
    Pembeli harus mengambil keputusan penyalur mana yang akan dikunjungi.
    Setiap pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda dalam hal
    menentukan penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang
    murah, persediaan barang yang lengkap dan lain-lain. Misalnya: kemudahan
    mendapatkan produk dan ketersediaan produk.
    4) Waktu pembelian
    Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-beda,
    misalnya : ada yang membeli sebulan sekali, tiga bulan sekali, enam bulan
    sekali atau satu tahun sekali.
    5) Jumlah pembelian
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
    yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin
    lebih dari satu. Misalnya: kebutuhan akan produk

    Proses Keputusan Pembelian


    Pada proses pembelian, konsumen memperoleh alternatif yang dipilih
    atau pengganti untuk mereka melakukan pembelian. Konsumen mengalami
    proses pembelian tertentu maka dari itu konsumen memiliki perbedaan yang
    menarik dari satu dan yang lainnnya. Konsumen sangat bervariasi dari segi
    demografi, psikografis, psikologis, dan lain sebagainya. Sehingga keputusan
    pembelian dan penggunaan sebuah produk, maupun jasa. Konsumen relatif
    bervariasi pula sesuai dengan selera masing-masing dalam pembelian

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Adapula faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku keputusan pembelian
    menurut Kotler dan Keller (2016) :
    1) Faktor Budaya (cultural factors)
    a) Budaya (culture), adalah kumpulan nilai dasar, presepsi, keinginan, dan
    perilaku yang dipelajari oleh anggota masyarakat dari keluarga dan
    intusi penting lainnya. Budaya merupakan penentu keinginan dan
    perilaku mendasar.
    b) Sub-budaya (subculture), adalah perilaku konsumen berupa kelompok
    masyarakat yang berbagai sistem nilai berdasarkan pengalaman hidup
    dan situasi yang umum. Sub-budaya terdiri dari kebangsaan, agama,
    c) kelompok, ras, dan daerah geografis. Banyak sub-budaya yang
    membentu segment pasar penting, dan pemasar sering merancang
    produk dan program pemasar yang sesuai dengan kebuthan mereka.
    d) Kelas sosial (sosial classes) mencerminkan gaya hidup seorang
    konsumen berupa pembagian masyarakat yang relatif homogen dan
    permanen, dan tersusun secara hirarki dan anggotanya menganut nilai-
    nilai minat dan perilaku yang sama.
    2) Faktor Sosial (sosial factors)
    a) Kelompok referensi (reference groups), adalah dua atau lebih orang
    yang berinteraksi yang mencapai tujuan pribadi atau tujuan bersama.
    Sebuah kelompok mempunyai pengaruh langsung (tatap muka) atau
    tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut.
    b) Keluarga (family),adalah organisasi pembelian konsumen yang paling
    penting dalam masyarakat dan anggota keluarga mempresentasikan
    kelompok referensi utama yang paling berpengaruh. Ada dua keluarga
    dalam kehidupan pembeli, yaitu: keluarga orientasi (family of
    orientation) terdiri dari orang tua dan saudara kandung, keluarga
    prokreasi (family of procreation) yaitu pasangan dan anak-anak.
    c) Peran sosial dan status (roles and status), peran terdiri dari aktivitas
    yang diharapkan dilakukan seseorang yang ada disekitarnya. Setiap
    peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang
    diberikan oleh masyarakat. Seseorang beradaptasi dalam banyak
    kelompok, keluarg, klub, dan organisasi. Kelompok sering menjadi
    sumber informasi penting dalam membantu mendefenisikan norma
    perilaku. Kita dapat mendefenisikan seserang dalama tiap kelompok
    dimana ia menjadi anggota berdasarkan peran dan status yang
    dimilikinya.
    3) Faktor Personal ( personal factors)
    Faktor pribadi juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi meliputi usia
    dan tahap dalam siklus pembeli (age and stage in life cycle), pekerjaan dan
    keadaan ekonomi (occupacion and economic circumstances), kepribadian
    dan konsep diri (personality and self concept), seperti gaya hidup dan nilai
    (life style and value).

    Definisi Keputusan Pembelian


    Keputusan pembelian adalah salah satu tahapan dalam proses keputusan
    pembelian sebelum pasca perilaku pembelian. Dalam memasuki tahap
    keputusan pembelian sebelumnya konsumen sudah dihadapkan pada beberapa
    alternatif sehingga pada tahap ini konsumen akan melakukan aksi untuk
    memutuskan membeli produk berdasarkan pilihan yang sudah ditentukan.
    Menurut Kotler dan Amstrong (2016) keputusan pembelian merupakan
    bagian dari perilaku konsumen, perilaku konsumen yaitu tentang bagaimana
    individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan
    bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan
    keinginan mereka.
    Menurut Pakpahan M (2016) mengatakan bahwa keputusan pembelian
    adalah keputusan seorang pembeli juga di pengaruhi oleh ciri-ciri
    kepribadiannya, termaksud usia, pekerjaan, keadaan ekonomi. Perilaku
    konsumen akan menentukan proses pengambilan keputusan dalam melakukan
    pembelian.
    Sedangkan menurut Buchari Alma (2013) mengemukakan bahwa
    keputusan pembelian adalah suatu keputusan konsumen yang dipengaruhi oleh
    ekonomi keuangan, teknologi, politik, budaya, produk, harga, lokasi, promosi,
    physical evidence,people, dan proses. Sehingga membentuk suatu sikap pada
    konsumen untuk mengolah segala informasi dan mengambil kesimpulan berupa
    respons yang munvul untuk produk yang akan dibeli.
    Bersadarkan defenisi-defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa
    keputusan pembelian adalah bagaimana konsumen memutuskan membeli atau
    menggunakan suatu barang/jasa dengan mengenali dan memproses sebelum
    menentukan keputusan pembelian. Setiap konsumen ataupun pelanggan harus
    mengenali kebutuhannya sesuai dengan apa yang mereka inginkan, lalu mencari
    informasi bagaimana tentang produk tersebut dan mempertimbangkan serta
    menetukan produk mana yang akan diputuskan untuk dibeli ataupun digunakan.
    Keputusan pembelian tidak dapat dipisahkan dari berbagai sifat
    konsumennya (consumer behavior) sehingga setiap konsumen memiliki
    kebiasaan yang berbeda dalam melakukan pembelian

    Indikator Keputusan Pembelian


    Tjiptono (2012:184) menjelaskan bahwa terdapat enam indikator dalam
    keputusan pembelian konsumen yaitu sebagai berikut:

    1. Pemilihan produk
      Konsumen memiliki keputusan untuk melakukan pembelian produk
      atau menghabiskan uangnya untuk tujuan tertentu. Sehingga dalam hal ini,
      penjual perlu memfokuskan perhatiannya ke calon pembeli yang berminat
      unuk melakukan pembelian produk juga alternatif pertimbangan yang sudah
      ada. Contoh: kebutuhan terhadap produk tertentu, adanya keragaman variasi
      produk dan kualitas produk.
    2. Pemilihan merek
      Konsumen perlu mengambil keputusan kepada merek yang akan mereka
      beli. Setiap merek mempunyai ciri khas tersendiri dari merek lainnya.
      Sehingga dalam hal ini penjual perlu mengetahui bagaimana konsumen
      akan memilih sebuah produk. Contoh: kepercayaan dan kepopuleran merek.
    3. Pemilihan penyalur
      Konsumen perlu mengambil keputusan penyalur mana yang akan
      dipilih. Setiap konsumen memiliki pertimbangan yang berbeda untuk
      memilih penyalur, hal ini dikarenakan adanya beberapa faktor seperti, lokasi
      yang tidak jauh dari tempat konsumen, harga murah, persediaan barang
      yang cukup dan lainnya. Contoh: kemudahan untuk mendapatkan produk
      dan persediaan produk yang memadai.
    4. Waktu pembelian
      Keputusan konsumen memilih waktu untuk melakukan pembelian bisa
      berbeda-beda. Contohnya ada konsumen yang melakukan pembelian tiap
      sebulan sekali atau dua bulan sekali.
    5. Jumlah pembelian
      Konsumen bisa memberikan keputusan pembelian tentang seberapa
      banyak produk yang akan dibeli pada waktu tertentu. Pembelian yang
      dilakukan bisa jadi lebih dari satu produk. Sehingga dalam hal ini penjual
      perlu mempersiapkan stok produk sesuai permintaan yang berbeda dari tiap
      pembeli. Contoh: kebutuhan akan produk

    Tahapan Keputusan Pembelian


    Sebelum melakukan pembelian konsumen akan melalui beberapa tahapan,
    seperti yang diungkapkan oleh Alma (2020:104) yaitu:

    1. Pengenalan masalah atau kebutuhan
      Seseorang akan merasakan adanya rangsangan dari dalam (internal),
      contohnya karena seseorang merasakan haus, ia akan membeli minum,
      maupun dari luar (eksternal) contohnya karena seseorang melihat suatu
      iklan, sehingga ada dorongan untuk membeli produk di dalam iklan
      tersebut. Dalam hal ini pihak pemasar perlu menggali informasi dari
      beberapa konsumen sehingga akan memperoleh data yang diperlukan pihak
      pemasar untuk menarik minat beli konsumen dari rangsangan yang paling
      sering terjadi.
    2. Mencari informasi
      Seseorang akan mencari tau terlebih dahulu informasi mengenai
      produknya, seperti ingin membeli produk apa, produk yang bagaimana, dimana
      tempat membelinya, dsb. Untuk mencari informasi tersebut seseorang bisa
      menemukannya dari beberapa sumber, yaitu sumber pribadi, yang meliputi
      sumber yang berasal dari lingkungan sekitar seperti keluarga, teman dan
      tetangga, sumber komersial, mencangkup iklan, tenaga penjual dan melihat
      display, sumber public meliputi media masas atau pers, Tv dan radio. Dan juga
      pengalaman masa lalu, atau produk tersebut sudah digunakan sebelumnya.
    3. Evaluasi alternatif
      Dalam tahap ini, evaluasi tiap konsumen akan berbeda-beda tergantung
      pada pemilihan atribut produk, akahkah cocok atau tidak dengan harapan
      konsumen. Serta tiap konsumen berbeda tingkat kebutuhannya, ada konsumen
      yang memiliki kebutuhan yang sangat mendesak, adapula yang tidak terlalu
      mendesak, dengan kata lain masih dapat ditunda dilain hari. Lalu ada juga faktor
      merek yang dapat membuat konsumen memutuskan alternatif, ada konsumen
      yang fanatic kepada sebuah merek, hal ini akan membuat konsumen tersebut
      sulit untuk berpindah ke merek lainnya. Hasilnya pertimbangan dari konsumen
      adalah kepuasan penuh akan alternatif yang diambil, seperti, iklan di Sosial
      media yang dinilai ialah gambar, warna dan harga. Sedangkan restoran yang
      dinilai kebersihan, makanan, lokasi, kenyamanan dan harga, dsb.
    4. Keputusan pembelian
      Pada tahap ini, konsumen harus mengambil keputusan setelah beberapa
      tahapan sebelumnya. Bila terjadi keputusan pembelian, maka kumpulan
      keputusan termasuk jenis produk, kualitas, waktu, harga, cara membayar, dan
      sebagainya. Terkadang dalam pengambilan keputusan ada pihak-pihak yang
      memberi dorongan terakhir, hal ini akan membuat adanya pertimbangan lagi
      dan dapat mengubah keputusan awal secara singkat.
    5. Perilaku pasca pembelian
      Postpurchase behavior atau perilaku pasca pembelian adalah
      pengalaman konsumen setelah pembelian atau mengkonsumsi produk. Hal ini
      akan mencangkup, akahkah konsumen senang atau kecewa, hal ini tergantung
      dari ekspetasi konsumen terhadap produk dengan kenyataan yang ditemui. Jika
      ekspetsai jauh dari kenyataan, maka konsumen akan kecewa, jika sesuai dengan
      ekspetasi, berarti konsumen puas dan jika lebih baik dari ekspetasi yang
      dipikirkan maka konsumen akan sangat senang. Pada umunya, ekspetasi
      konsumen akan meningkat bila mengetahui ulasan produk ataupun cerita
      pengalaman teman tentang produk itu sangatlah bagus dan jika hal ini tidak
      dirasakan konsumen, maka akan sangat kecewa. Sehingga penjual tidak perlu
      melebih-lebihkan kelebihan produknya, supaya jarak antara kenyataan dan
      ekspetasi konsumen tidaklah jauh. Hal ini akan menjalin hubungan yang baik
      antara penjual dan konsumen

    Faktor-Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Konsumen Dalam Melakukan Keputusan Pembelian


    Chaniago (2021:49) menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi
    konsumen ketika melakukan pembelian, diantaranya:

    1. Faktor internal terdiri dari beberapa hal seperti:
      a. Budaya, jika dilihat dari lingkungan bisnis maka faktor budaya ialah
      berkaitan dengan sifat dan kepribadian seseorang, contohnya: sikap,
      pola berfikir, Bahasa, tata krama, hedonism, dan lain-lainnya.
      b. Agama, seseorang dengan tingkat agama tertentu akan menentukan
      sikap dalam membeli sesuatu. Contohnya: seseorang yang sangat
      taat agama cenderung akan lebih sabar dan memaklumi suatu produk
      c. Pengalaman masa lalu, tiap pengalaman konsumen baik itu positif
      maupun negative dari pembelian sebelumnya, pengalaman orang
      lain atau dari sumber lainnya akan membuat sikap dan kepribadian
      dalam membeli sebuah barang. Konsumen yang sudah memiliki
      pengalaman akan lebih berhati-hati dengan promosi penjual.
    2. Sedangkan faktor eksternal pada seseorang yang akan memicu
      konsumen melakukan pembelian sebuah produk dijelaskan seperti
      berikut:
      a. Strata sosial, seseorang konsumen akan memiliki stratanya masing-
      masing tiap di lingkungan tertentu, contohnya: konsumen kelas atas,
      konsumen kelas menengah dan juga konsumen kelas bawah. Strata
      ini bisa didasari dengan latar belakang ekonomi, Pendidikan, profesi
      atau pekerjaan dan lainya.
      b. Keluarga, cara seseorang tumbuh dan berkembang di dalam sebuah
      keluarga akan mempengaruhi perilaku konsumen. Contoh:
      seseorang tumbuh dan berkembang di dalam keluarga yang kritis
      akan cenderung memiliki perilaku yang lebih selektif ketika
      membeli sesuatu.
      c. Atribut produk, hal yang mempengaruhi seseorang untuk
      menentukan minat dan perilaku konsumen dalam pembelian ialah
      seperti spesifikasi barang, kemasan, harga, kualitas dan manfaat
      produk tersebut, seringkalo atrinut produk ini menjadi pesona bagi
      konsumen

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Menurut Sudaryono (2016:99) keputusan pembelian adalah memilih dari
    beberapa alternatif pilihan, bisa antara dua atau lebih dari dua pilihan. Ketika
    mengambil suatu keputusan, seseorang harus dapat menetapkan satu dari alternatif
    lainnya. Jika seseorang memutuskan untuk membeli karena berhadapan dengan
    pilihan antara membeli atau tidak membeli maka hal ini disebut posisi membuat
    keputusan.
    Kotler and Amstrong (2019:181) mendefinisikan bahwa keputusan
    pembelian (purchase decision) konsumen merupakan sebuah tindakan membeli
    merek yang konsumen paling suka, tetapi dua faktor bisa saja berada diantara niat
    pembelian dan keputusan pembelian

    Indikator Promosi


    Menurut Kotler and Keller (2016:582) indikator promosi adalah sebagai
    berikut:

    1. Periklanan (advertising),
      Segala bentuk aktivitas yang dibayarkan secara non personal dan
      promosi ide, barang, atau jasa oleh sponsor yang diidentifikasikan melalui
      sarana media cetak (koran dan majalah), media penyiaran (radio dan
      televisi), media jaringan (telepon, kabel, satelit dan wireless), media
      elektronik (audio, video, videodisk, compact disk, halaman web), dan media
      tampilan (papan iklan, tanda dan poster).
    2. Promosi penjualan (sales promotion)
      Stimulus jangka pendek untuk memicu percobaan pembelian suatu
      produk atau jasa, termasuk promosi konsumen (sampel, kupon dan premi),
      promosi dagang (seperti iklan dan display), dan promosi tenaga penjualan
      (kompetisi untuk tenaga penjualan).
    3. Hubungan masyarakat (public relations and publicity)
      Segala bentuk program yang ditujukan secara personal atau internal
      kepada karyawan perusahaan ataupun secara eksternal ke konsumen,
      perusahaan lain, pemerintah dan media yang memiliki tujuan untuk
      mempromosikan atau menjaga citra perusahaan atau mengkomunikasikan
      produk pribadinya. Public relations memberikan secara detail perihal
      informasi perusahaan atau suatu produk.
    4. Pemasaran online dan media sosial (online and social media marketing)
      Kegiatan dan program online yang dirancang untuk melibatkan
      konsumen atau calon konsumen secara langsung atau tidak langsung akan
      meningkatkan kesadaran, citra dan mendapatkan penjualan produk dan jasa.
    5. Pemasaran langsung dan basis data (direct and database marketing)
      Pemanfaatan surat, telepon, fax, email atau internet untuk
      berkomunikasi secara langsung dengan meminta respon dan menjalin
      hubungan dengan konsumen.
    6. Penjualan pribadi (personal selling)
      Interaksi tatap muka dengan satu atau lebih calon pembeli yang
      memiliki fokus untuk menyampaikan presentasi, menjawab pertanyaan dan
      mendapatkan penjualan. Selain untuk menghasilkan penjualan, hal ini
      dilakukan agar menumbuhkan hubungan dengan konsumen

    Pengertian Promosi


    Kenneth (1990) dalam Setiyaningrum et al. (2015:223) mengungkapkan
    bahwa “promosi memiliki peran untuk menginformasikan (to inform), membujuk
    (to persuade) dan mengingatkan (to remind) konsumen agar memberikan
    tanggapan (respond) terhadap sebuah produk atau jasa yang ditawarkan. Tanggapan
    tersebut dapat dalam berbagai bentuk seperti, dari kesadaran (awareness) akan
    keberadaan sebuah produk atau jasa sampai dengan pembelian”.
    Adapun menurut Kotler and Amstrong (2019:63) promosi ialah kegiatan
    untuk memberitahukan tentang manfaat produk dan mengajak konsumen untuk
    melakukan pembelian. Definisi lainnya dikemukakan oleh Tjiptono and Gregorius
    (2017:431) promosi penjualan (sales promotion) adalah segala sesuatu penawaran
    atau insentif jangka pendek yang difokuskan bagi pembeli, pengecer atau pedagang
    grosir dan dirancang untuk mendapatkan respon yang spesifik dan secepatnya.
    Secara garis besar ada tiga klasifikasi utama dari promosi penjualan yaitu:
    a. Promosi konsumen (consumer promotion), mencangkup: kupon, produk
    gratis (sampel), member premium, hadiah, undian dan lainnya
    b. Promosi dagang (trade promotion), mencangkup: diskon kas, barang
    dagangan (merchandise), bantuan peralatan, specialty advertising, atau
    insentif lain untuk pengecer atau pedagang grosir
    c. Promosi wiraniaga (salesforce promotions), mencangkup kontes
    penjualan

    Indikator Keragaman Produk


    Utami (2015) dalam Hidayat dan Sujud (2019) menjelaskan bahwa dalam
    keragaman produk memiliki pertimbangan sebagai berikut:

    1. Variasi merek produk
      Variasi merek produk menjelaskan beragamnya jenis merek produk
      yang ditawarkan atau dapat dijelaskan sebagai persentase permintaan untuk
      beberapa standart kualitas umum yang memberikan kepuasan.
    2. Variasi kelengkapan produk
      Variasi kelengkapan produk ialah beberapa kategori produk barang
      berbeda yang ada disebuah toko. Toko yang memiliki banyak jenis dan tipe
      barang yang dijual atau memiliki banyak ragam kategori barang yang
      ditawarkan.
    3. Variasi ukuran produk
      Variasi ukuran produk atau keragaman (assortmen) ialah sejumlah
      standar kualitas umum disebuah kategori toko dengan begitu toko tersebut
      memiliki kedalaman (depth) yang baik.
    4. Variasi kualitas produk
      Variasi kualitas produk ialah standar kualitas disebuah kategori
      barang yang memiliki kaitannya dengan packaging, label, ketahanan
      produk, jaminan dan manfaat.