Sumber-sumber Pendapatan


Menurut Greuning, et al. (2013:289) menyebutkan bahwa pendapatan dapat
berasal dari beberapa sumber, diantaranya adalah penjualan barang, pemberian
jasa, penggunaan aset entitas oleh entitas lain yang menghasilkan bunga, royalti
dan dividen.
Berdasarkan teori Greuning, dapat disimpulkan bahwa kegiatan normal
perusahaan seperti penjualan barang ataupun jasa yang berhubungan dengan
kegiatan utama perusahaan akan mendatangkan hasil yang disebut pendapatan.
Adapun pendapatan yang bukan berasal dari kegiatan normal perusahaan disebut
hasil non operasi.

Indikator Pendapatan


Pendapatan sebagai unsur kedua yang akan dikaji kaitanya dengan
penggunaan platform jual-beli online harus memiliki indikator yang jelas.
Menurut Kuswadi (2008:45) ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai
indikator dalam menentukan pendapatan yaitu :

  1. Modal usaha. Modal usaha merupakan sesuatu yang digunakan untuk
    mendirikan atau menjalankan suatu usaha. Modal ini dapat berupa uang dan
    juga tenaga atau keahlian.
  2. Lama usaha. Lama pembukaan usaha dapat mempengaruhi tingkat
    pendapatan, lama seorang pelaku bisnis menekuni bidang usahanya akan
    mempengaruhi produktivitasnya sehingga dapat menambah efisiensi dan
    menekan biaya produksi lebih kecil daripada penjualan.
  3. Jam kerja pedagang. Analisis jam kerja merupakan bagian dari teori ekonomi
    mikro, khususnya pada teori penawaran tenaga kerja yaitu tentang kesediaan
    individu untuk bekerja dengan harapan memperoleh penghasilan atau tidak
    bekerja dengan konsekuensi mengorbankan penghasilan yang seharusnya
    didapatkan

PePendapatanndapatan


Pendapatan merupakan faktor yang sangat penting dalam kegiatan suatu
perusahaan, karena besar kecilnya pendapatan yang dihasilkan akan
mempengaruhi tingkat laba yang didapatkan perusahaan tersebut. Menurut
Kartikahadi, et.al (2012:186) pendapatan adalah kenaikan manfaat ekonomi
selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset
atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak
berasal dari kontribusi penanam modal. Sedangkan Martani, et.al (2016:204)
menyebutkan definisi penghasilan dan pendapatan adalah kenaikan manfaat
ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau
penambahan aset atau penurunan liabilitas yang mengakibatkan kenaikan ekuitas
yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Pendapatan adalah penghasilan
yang berasal dari aktivitas normal dari suatu entitas dan merujuk kepada istilah
yang berbeda-beda seperti penjualan (sales), pendapatan jasa (fees), bunga
(interest), dividen (dividend), dan royalti (royalty).

Penjualan


Unsur kedua yang akan dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan
penggunaan platform jual-beli online adalah penjualan. Berikut ini adalah
beberapa definisi penjualan yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Menurut
Moekijat (2011:488) penjualan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk
mencari pembeli, mempengaruhi serta memberikan petunjuk agar pembeli dapat
menyesuaikan kebutuhannya dengan produksi yang ditawarkan serta mengadakan
perjanjian mengenai harga yang menguntungkan untuk kedua belah pihak.
Sedangkan menurut Wijaya (2011: 92) penjualan adalah sebuah transaksi
pendapatan barang atau jasa yang dikirim pelanggan untuk imbalan kas suatu
kewajiban untuk membayar. Assuari (2004: 5) berpendapat bahwa “penjualan
ialah sebagai kegiatan manusia yang mengarahkan untuk memenuhi dan
memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran”. Swastha
(2014:9) menyatakan “penjualan merupakan satu bagian dari promosi dan
promosi adalah satu bagian dari program pemasaran secara keseluruhan”.
Dalam sebuah perusahaan, kegiatan penjualan merupakan kegiatan yang
paling penting karena dengan adanya kegiatan penjualan tersebut maka akan
terbentuk laba yang dignakan untuk menjamin keberlangsungan perusahaan
tersebut. Penjualan harus menghasilkan suatu aliran pendapatan yang cukup agar
dapat digunakan untuk menutup biaya operasi perusahaan dan dapat memberikan
suatu keuntungan bagi investor. Pada umumnya tujuan penjualan adalah untuk
mencapai laba optimal dengan modal yang minima

Biaya


Definisi biaya menurut Darsono (2015:15) “biaya adalah kas atau setara kas
yang dikorbankan untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang
diharapkan akan memperoleh manfaat atau keuntungan di masa yang akan
datang”. Selanjutnya adalah definisi efisiensi biaya yang dikemukakan oleh
Adisasmita (2006:43) “efisiensi adalah input yang digunakan, dialokasikan secara
optimal dan baik untuk mencapai output yang menggunakan biaya terendah”.
Sedangkam efisiensi menurut Mulyadi (2007: 63) adalah ketepatan cara (usaha,
kerja) dalam menjalankan sesuatu dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga
dan biaya. Efisiensi juga berarti perbandingan antara pemasukan dan pengeluaran
atau antara biaya dan keuntungan. Kaitan antara biaya dan efisiensi dikemukakan
oleh Wakidi (2012) yang mengartikan efisiensi biaya penjualan online sebagai
“ukuran pencapaian terbaik dari perbandingan antara biaya yang dikeluarkan
untuk usaha mendapatkan calon pembeli dan usaha menawarkan produk secara
online kepada pembeli sehingga terjadi penjualan online sampai pada usaha untuk
pengiriman barang kepada pembeli dengan pencapaian hasil yang sudah diraih”.
Berdasarkan beberapa teori tentang efisiensi dan biaya di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat keterkaitan antara efisiensi dan biaya. Dalam
pengelolaan sebuah usaha sangatlah penting mengutamakan efisiensi dalam
pembiayaan operasional perusahaan. Hal ini tidak lain adalah untuk meningkatkan
pendapatan perusahaan melalui perhitungan dan proses tertentu. Biaya pemasaran
yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan merupakan bagian dari biaya variabel
atau dapat disebut variabel cost dan merupakan bagian dari total cost atau biaya
total dari sebuah produk. Jika perusahaan memiliki dan menggunakan teknologi
yang efektif dalam melakukan pemasaran produk, maka akan dapat menekan
biaya pemasaran itu sendiri dan efek positif nya akan mengurangi harga jual
produk. Dengan begitu maka harga produk dapat dijual dengan harga yang lebih
murah. Harga produk yang lebih murah, menjadikan produk tersebut memiliki
peluang yang besar untuk bisa terjual dan pada akhirnya akan meningkatkan
penjualan dan pendapatan.
Untuk dapat mengukur tingkat efisiensi biaya maka perlu diketahui
beberapa indikator biaya. Indikator Biaya Pemasaran Menurut Tjiptono, dkk,
(2015:3), yaitu:

  1. Biaya Periklanan (advertising cost)
  2. Biaya Promosi Penjualan (sales promotion cost)
  3. Biaya Publisitas
  4. Biaya Pemasaran Personal (personal selling cost)

Keputusan Pembelian


Menurut Peter Jerry C. Olson (2013) berpendapat bahwa suatu keputusan
mencakup suatu pilihan diantara dua atau lebih tindakan atau prilaku alternatif.
Pemasar secara khusus akan tertarik dengan perilaku Pembeli, terutama pilihan
konsumen akan merek-merek yang akan dibeli. Proses inti dari pengambilan
keputusan konsumen adalah proses integrasi yang digunakan untuk
mengkombinasikan pengetahuan guna untuk mengevaluasi dua atau lebih
perilaku alternatif dan memilih satu diantaranya. Hasil dari proses integrasi
tersebut merupakan suatu pilihan, serta kognitif menunjukan intensi prilaku.
Keputusan pembelian akan suatu produk merupakan kegiatan yang sering
dilakukan oleh konsumen. Menurut Kotler dan Amstrong (2012) dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu: Faktor budaya, faktor social, faktor pribadi, faktor
psikologis. Menurut Kotler dan Amstrong (2012) terdapat lima tahapan yang
dilalui oleh konsumen dalam pengambilan keputusan: Tahapan pengenalan
masalah, pencarian informasi, evaluasi alternative, keputusan pembelian,
perilaku pasca pembelian.
Keputusan pembelian konsumen merupakan penyeleksian terhadap dua
pilihan alternatif atau lebih konsumen pada pembelian di Shopee. Indikator
indikator keputusan pembelian dikembangkan dari indikator yang digunakan
menurut Lina (2019) sebagai berikut sebagai berikut: Pilihan Merek, Pilihan
Penyalur, Jumlah Pembelian.

Kepercayaan


Kepercayaan (Trust) didefinisikan oleh Kotler dan Keller (2016) sebagai
kesediaan perusahaan untuk mengandalkan mitra bisnis yang tergantung pada
sejumlah faktor interpersonal dan antar organisasi, seperti kompetensi,
integritas, kejujuran, dan ketulusan yang dirasakan perusahaan. Jika melihat
pada konteks online, Beldad et al. (2010) mengutarakan kepercayaan sebagai
sikap ekspektasi percaya diri seseorang mengenai situasi risiko online di mana
kerentanan seseorang tidak akan dimanfaatkan. Kemudian Sharma et al.
(2019) menganggap bahwa kepercayaan sebagai faktor penting dalam
membangun dan memelihara hubungan jangka panjang, oleh sebab itu
dianggap sebagai pelopor utama konsumen dalam memiliki niat membeli
menggunakan platform online.
Menurut Ha et al. (2019) kepercayaan adalah kesediaan seseorang untuk
menerima kemungkinan terburuk yang tidak menguntungkan untuk
melakukan transaksi belanja dengan penjual online dengan harapan akan
sesuai dengan keinginan konsumen. Ia juga menambahkan bahwa kepercayaan
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap niat belanja online konsumen.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan niat tersebut, perusahaan
perlu membangun kepercayaan dengan konsumennya. Oliveira et al. (2017)
mengungkapkan terdapat tiga dimensi pada variabel kepercayaan yaitu
Competence, Integrity, dan Benevolence. Competence (kemampuan)
mengarah kepada kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmen yang
diberikannya kepada konsumen. Integrity (integritas) mengacu pada
perusahaan yang bertindak secara konsisten, jujur dan andal. Benevolence
(ketulusan) merupakan kemampuan perusahaan untuk mengutamakan
kepentingan konsumen daripada kepentingan pribadi, dan menunjukkan
kepedulian yang tulus terhadap kesejahteraan konsumen

Electronic Word of Mouth (E-WOM)


Electronic word-of-mouth (eWOM) merupakan perkembangan baru dari
Word-of Mouth (WOM) yaitu bentuk komunikasi pemasaran yang dilakukan
melalui jaringan internet. eWOM pada dasarnya terjadi karena adanya
perpindahan informasi (Farzin & Fattahi, 2018). Menurut Hennig-Thurau et al.
(2004) eWOM merupakan pernyataan positif atau negatif apapun yang
terbentuk oleh calon konsumen, konsumen aktual, atau konsumen sebelumnya
tentang suatu produk atau perusahaan yang tersedia untuk banyak orang atau
lembaga melalui internet.
Persebaran eWOM dilakukan dengan menggunakan media internet
sebagai media perantara, dengan adanya komunikasi sosial secara online ini
secara otomatis bisa membantu konsumen untuk membagikan pengalaman
mengenai produk atau jasa yang mereka peroleh dalam melakukan pembelian
(Kamtarin 2012). Cheung and Lee (2012) mengemukakan faktor yang
mendorong terjadinya eWOM adalah rasa ingin memiliki, reputasi, dan
kebersediaan untuk membantu. Hal yang sama dikemukakan oleh Hening-
Thurau, et al. (2004) yang menemukan faktor pendorong terjadinya eWOM
yaitu: platform assistance, venting negative feeling, concern for other
consumen, extraversion/ positive self enhancement, social benefit, Economic
incentives, helping the company, advice seeking. Goyette et al. (2010) dalam
penelitianya membagi eWOM menjadi tiga dimensi yang mencakup intensity,
valance of opinion, content.

Manfaat Digital Marketing


Manfaat Digital Marketing menurut Kotler (2002; 758), pemasaran
online atau digital marketing memiliki banyak keuntungan bagi pelanggan
atau konsumen dan pelaku pasar.
a) Manfaat bagi pelanggan atau klien antara lain:
(1) Nyaman. Pelanggan dapat memesan barang di mana saja selama 24
jam sehari. Pelanggan tidak harus pergi ke perusahaan tempat
mereka menjual.
(2) Informasi. Pelanggan dapat memperoleh informasi komparatif
tentang perusahaan, produk, dan pesaing mereka tanpa
meninggalkan kantor atau rumah mereka.
(3) Haluskan sedikit. Pelanggan tidak harus berurusan dengan
provokasidan emosi, sehingga mereka tidak perlu antre untuk
melakukan pembelian.
(4) Pelanggan dapat memesan barang sesuai dengan keinginannya.
Pelanggan dapat mengirimkan permintaan mereka langsung ke
perusahaan tentang barang dan jasa yang mereka butuhkan. Untuk
memungkinkan pembeli menemukan kelebihan dan kekurangan
barang tersebut.
b) Manfaat pemasaran:
(1) Cepat menyesuaikan dengan kondisi pasar. Perusahaan dapat dengan
cepat menambahkan produk ke penawaran mereka dan mengubah
harga serta deskripsi produk.
(2) Biaya rendah. Pemasar online dapat menghindari biaya manajemen
toko, biaya sewa, asuransi, dan infrastruktur yang menyertainya.
Mereka dapat membuat katalog digital dengan biaya yang jauh lebih
rendah daripada mencetak dan mengirimkan katalog kertas.
(3) Mengembangkan hubungan. Pemasar online dapat berbicara dengan
pelanggan dan belajar lebih banyak dari mereka. Pemasar dapat
mengunduh laporan yang diperlukan atau demo gratis perangkat
lunak pemasar.
(4) Mengukur ukuran penonton. Pemasar dapat mengetahui
berapapersentase pelanggan yang berbelanja online dapat
mengunjungi situs yang telah mereka buat. Informasi ini akan
membantu pelaku pasar meningkatkan tawaran dan iklan mereka.
Berikut keunggulan pemasaran digital (Pangestika, 2018):
(1) Kecepatan Lokasi Strategi pemasaran media digital dapat dilakukan
dengan sangat cepat hanya dalam beberapa detik. Selain itu, pemasaran
digital dapat diukur secara real time.
(2) Kemudahan Evaluasi Dengan menggunakan media online, Anda bisa
langsung melihat hasil kegiatan pemasaran Anda. Informasi tentang
berapa lama produk telah dilihat, berapa persentase penjualan yang
telah dikonversi dari setiap iklan, dan sebagainya.
(3) Jaringan geografis pemasaran digital yang luas menggunakan beberapa
langkah untuk mendistribusikan produk ke seluruh dunia
menggunakan Internet.
3) Komponen atau Metode Digital Marketing
Ada empat metode pemasaran digital yang dapat dilakukan
perusahaan dalam memberikan keuntungan berupa kemampuan perusahaan
mencapai lebih banyak konsumen melalui pendekatan global, (Kotler &
Keller, 2016). Adapun empat metode tersebut adalah:
a) Pemasaran daring, dimana perusahaan menyampaikan informasi yang
ingin disampaikan melalui media daring, baik media yang berbayar atau
tidak berbayar. Pemasaran daring biasanya dilakukan melalui laman
web, search ads, display ads, dan pesan elektronik;
b) Media sosial, biasanya media ini perusahaan dapat menampilkan suara
public melalui kehadiran mereka dalam interaksi antar konsumen.
Secara umum, media sosial dapat diklasifikasikan kedalam tiga
kategori: komunitas dan forum online, blog, serta social network;
c) Word of Mouth (E-WOM), dimana interaksi antar konsumen tercipta
baik secara generik atau diinisiasi oleh perusahaan. Metode ini membuat
perusahaan perlu untuk mengendalikan interaksi yang dilakukan oleh
konsumen;
d) Mobile marketing, dimana pemasaran dilakukan melalui gawai gawai
pintar.
Sesuai dengan topik penelitian, akan dijelaskan lebih lanjut tentang Word
of Mouth (E-WOM) pada sub bab berikut ini.

Pengertian Digital Marketing


Pemasaran digital adalah proses mempromosikan dan mencari pasar
melalui media digital online menggunakan berbagai alat seperti jejaring
sosial (Purwana, 2017). Digital marketing merupakan salah satu media
pemasaran yang banyak diminati masyarakat dalam hal mendukung banyak
kegiatan (Pradiani, 2017). Iklan digital dapat menjangkau khalayak yang
lebih luas di kancah internasional. Saat ini jaringan internet sudah ada
dimana-mana dan setiap orang memiliki smartphone, sehingga sekarang bisa
melakukan pemasaran dimana saja. Pemasaran digital memperluas dan
meningkatkan fungsi pemasaran tradisional menggunakan fasilitas Internet
dan teknologi informasi. Definisi ini berfokus pada semua pemasaran
tradisional, dan perlu dicatat bahwa konsep-konsep seperti “pemasaran
interaktif”, “pemasaran individual”, dan “pemasaran elektronik” terkait erat
dengan “pemasaran digital” (Urban, 2004: 2). Ditulis oleh Ridwan Sanjaya
& Josua Tarigan (2009: 47), pemasaran digital adalah kegiatan pemasaran
yang melibatkan branding dengan menggunakan berbagai media berbasis
web seperti blog, situs web, email, iklan, dan jejaring sosial. Tentu saja,
pemasaran digital bukan hanya tentang pemasaran internet. Menurut Kleindl
& Burrow (2005), pemasaran digital adalah proses perencanaan dan
penerapan ide atau konsep pemikiran, penetapan harga, periklanan, dan
distribusi. Pemasaran dapat dijelaskan secara lebih sederhana, seperti
mengembangkan dan memelihara hubungan yang saling memuaskan antara
perusahaan dan konsumen. Pemasaran digital Chaffey (2002: 14) adalah
penggunaan teknologi digital untuk membuat saluran online melalui inovasi
terbaru di pasar (situs web, email, database, televisi digital, blog lain, saluran,
podcast, jejaring sosial, dll.).
Vardhana (2015) menemukan bahwa strategi pemasaran digital
memiliki dampak sebesar 78% terhadap keunggulan kompetitif UMKM
dalam mempromosikan produknya. Strategi tersebut terdiri dari sebagai
berikut:
a) Tersedianya informasi produk dan manual produk;
b) Ketersediaan gambar, seperti foto dan ilustrasi produk;
c) Ketersediaan video dengan kemampuan untuk mendeskripsikan atau
mempromosikan suatu produk;
d) Tersedianya lampiran dokumen yang berisi informasi dalam berbagai
format;
e) Mampu berkomunikasi dengan pengusaha secara online;
f) Ketersediaan alat transaksi, pilihan alat pembayaran;
g) Ketersediaan layanan dan layanan pelanggan;
h) Mampu mendukung umpan balik online;
i) Kesiapan tampilan testimoni;
j) Ketersediaan pendaftaran tamu;
k) Kesiapan proposal khusus;
l) Tersedianya penyajian informasi terkini melalui SMS-blog;
m) Pencarian produk yang mudah;
n) Kemampuan untuk menciptakan visibilitas dan pengetahuan merek;
o) Kemampuan untuk mengidentifikasi dan menarik pelanggan baru;
p) Kemampuan untuk memperkuat citra merek yang diterima konsumen

Word Of Mouth


Word of mouth ialah perusahaan dapat mempromosikan produk yang
mereka jual melalui metode promosi. Word of Mouth adalah strategi
pemasaran yang bekerja dengan menyampaikan dari mulut ke mulut dari satu
pelanggan ke pelanggan lainnya. Artinya pelanggan yang puas akan
memberitahu pelanggan lain mengapa produk perusahaan lebih baik dan akan
merekomendasikannya kepada pelanggan lain. Verbal menurut Sernovitz
dalam Nugraha (2013) secara keseluruhan adalah komunikasi lisan satu orang
ke orang lain atau kormunikasi lisan antara orang dengan orang lain/di antara
pengirim dan penerima pesan yang mengandung komponen barang,
administrasi atau merek. Telah dibuktikan bahwa promosi dari mulut ke mulut
memengaruhi pilihan konsumen dan memainkan peran penting dalam
keputusan pembelian konsumen. Dari Word of Mouth, berikut adalah beberapa
definisi:
1) Sesuai WOMMA (Word of Mouth Marketing Association) mengatakan
WOMMA adalah tindakan dimana pembeli memberikan data tentang suatu
barang kepada pembeli yang berbeda. WOM adalah tindakan pemasaran
yang memicu pelanggan untuk berdiskusi, memajukan,
merekomendasikan, dan menawarkan barang kepada pembeli yang
berbeda.
2) Word of Mouth ialah proses dimana informasi mengenai suatu produk
yang ditemukan seseorang di media, melalui interaksi sosial, atau melalui
pengalaman pribadi dengan produk tersebut diteruskan ke orang lain yanf
menyebarkan informasi ke seluruh dunia (Prasetijo & Lhalauw dalam
Puspasari, 2014). Menurut beberapa definisi yang diberikan di atas, “Word
of Mouth” ialah bentuk komunikasi pemasaran dimana seorang pelanggan
menyebarkan informasi tentang suatu produk kepada pelanggan lain
melalui mulut ke mulut.

Promotion (Promosi)


Promosi adalah komponen penting dari setiap strategi pemasaran yang
memerlukan seperangkat alat yang komprehensif, yang umumnya bersifat
jangka pendek, dimaksudkan untuk mendorong pembelian atau perdagangan
yang lebih cepat.
Promosi dalam pemasaran yaitu aktivitas yang telah terbukti dapat
meningkatkan permintaan barang atau jasa. Promosi bisa dilakukanuntuk
menyebarluaskan informasi tentang produk ataupun jasa yang ditawarkan, baik
untuk membuat produk atau jasa yang sudah dikenal menjadi pilihan atau
membuat produk atau jasa tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2018) Segala jenis komunikasi yang dilakukan
untuk menjelaskan meyakinkan, dan mengingatkan pasar sasaran tentang
barang yang dibuat oleh perusahaan orang, atau keluarga dianggap sebagai
promosi Menurut Praestuti (2020), promosi ialah upaya persuasi yang
dilakukan untuk merayu ataupun mendorong pelanggan agar mau membeli
barang atau jasa suatu perusahaan. Menurut Kotler dan Armstrong (2018)
menyatakan Mempromosikan produk adalah strategi untuk menonjolkan
keunggulannya kepada pelanggan dan meyakinkan mereka untuk membelinya.
Promosi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu
program pemasaran.
Dari ketiga pendapat para ahli diatas, maka kesimpulannya promosi adalah
kegiatan persuasif atau bujukan yang mendorong konsumen untuk membeli
produk yang ditawarkannya.
Berikut ini adalah tujuan dari promosi penjualan menurut Fandi Tjiptono

  1. Tujuan promosi penjualan
    a) Memberi Informasi
    Alasan utama promosi ialah untuk memahami produk ataupun jasa pada tahap
    pengenalan bersama-sama dengan membangkitkan minat terhadap item
    tersebut.
    b) Membujuk
    Membujuk merupakan pilihan kedua dari pemasaran yang menekankan pada
    keunggulan produk yang dijual.
    c) Pengingat
    Agar pelanggan tidak beralih ke produk saingan di pasar sasaran, sangat
    penting atau perlu untuk mengingatkan mereka tentang keberadaan produk
    tersebut.
    d) Pemantapan
    Pada tahap ini, perusahaan berupaya meyakinkan pembeli bahwasannya
    mereka sudah mengambil keputusan yang sesuai dengan mengambil barang
    dan menjadi klien setia.
  2. Kegiatan Promosi
    1) Over The Line ialah jenis metode khusus dengan teknik “menarik
    perhatian” pelanggan melalui iklan yang menarik dserta membangkitkan
    minat individu untuk membeli atau mencoba barang. Media tersebut
    adalah sebagai berikut : Media Elektronik, Media Cetak (koran, majalah,
    katalog), dan Media Online (Internet)
    2) Below the Line ialah jenis pemasaran yang bertujuan untuk mendorong
    calon pembeli untuk membeli atau mencoba barang ataupun jasa yang
    ditawarkan melalui Tindakan yang melibatkan atau mempertemukan
    pelaku usaha atau penjual secara langsung dengan pembeli. Media
    promosi yang dimanfaatkan: Seminar, pameran, kuis, dan event

Digital Marketing


Marketing adalah proses membuat, menyampaikan, menukar, dan
mengkomunikasikan penawaran yang berharga bagi pelanggan atau
masyarakat. Sementara itu, Internet adalah media digital. Internet membuatnya
sangat mudah dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, membeli barang,
dan melakukan lebih banyak lagi dalam hidup. yang seharusnya dapat
dilakukan melalui media web. Jadi saat ini web telah menjadi mekanisme
penting bagi perusahaan ataupun pelaku bisnis dalam menawarkan barangnya.
Dari penjelasan inilah muncul nama promosi lanjutan di masa komputerisasi
yang sedang berlangsung (Muljono, 2018). Jadi digital marketing
mempromosikan melalui media canggih dalam menawarkan merek yang
perusahaan miliki.
Memanfaatkan pemasaran digital, khususnya media sosial, sebagai bagian
dari strategi bisnis dapat menawarkan strategi memperluas jaringan konsumen
untuk pemasaran produk, sehingga memperluas keunggulan perusahaan atas
pesaing. Pelaku bisnis harus menyelidiki berbagai strategi komunikasi digital
sebagai bagian dari strategi komunikasi bisnis sebelum menerapkan pemasaran
digital. Perusahaan menggunakan saluran media digital, strategi komunikasi
digital, untuk mengiklankan produk mereka di situs web dan melalui media
online dengan tujuan menarik dan membujuk pelanggan untuk melakukan
pembelian.
Ada enam jenis utama media sosial dalam buku Nasrullah (2015) yang
berjudul Social Media.
1.Social Networking
Sarana untuk berinteraksi khususnya efek dari interaksi tersebut di dunia maya
adalah social networking. Atribut dasar dari tempat interaksi interpersonal
adalah bahwa klien mereka membentuk jaringan pertemanan baru. Secara
umum, jaringan pertemanan baru dibingkai berdasarkan minatnya pada hal
yang persis sama, seperti kegiatan ketertatikan bersama. Facebook dan
Instagram ialah contoh jejaring sosial.

  1. Blog
    Blog ialah media sosial yang memungkinkan pengguna untuk berbagi dengan
    pengguna lain, misalnya dengan berbagi tautan web, informasi, dan lainnya
    serta memposting aktivitas dan kegiatan sehari-hari.
  2. Microblogging
    Microblogging ialah jenis media sosial yang memungkinkan orang
    memposting serta menulis mengenai kegiatan atau dan pemikiran mereka.
    Secara garis besar, kehadiran media sosial semacam ini mengacu pada
    perkembangan Twitter yang hanya memberikan ruang khusus, khususnya batas
    140 karakter.
  3. Media sharing
    Dokumen, video, audio, dan gambar dapat dibagikan dan disimpan secara
    online oleh pengguna platform media sosial ini. Contoh media ini adalah
    Youtube, flash, photo bucket

Kelebihan dan Kelemahan Online shop


Banyak kelebihan dari system belanja online telah menyebabkan seseorang
lebih memilih belanja online daripada belanja offline. Berikut ini kelebihan online
shop menurut Prasetio (2012) dalam web Hestanto (2021) diantaranya :

  1. Belanja online dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja asalkan konsumen
    dan penjual tersambung dengan internet.
  2. Tersedia banyak pilihan ragam produk dalam toko online.
  3. Dengan menggunakan system jual-beli online maka dapat menghemat waktu
    dan tenaga, calon pembeli cukup meluangkan waktu sebentar dengan
    membuka internet untuk mencari dan membeli produk yang dibutuhkan
    melaui katalog digital.
  4. Konsumen jual-beli online dapat membandingkan produk dan harga dengan
    toko online lainnya, sehingga lebih banyak memiliki pilihan.
  5. Proses belanja yang mudah bagi para konsumen. Para konsumen cukup
    memesan barang, dan melakukan pembayaran yang biasanya dapat dilakukan
    melalui internet/mobile banking atau ATM dan tinggal menunggu barang
    dikirim.
    Selain memiliki kelebihan, system belanja online juga memiliki beberapa
    kekurangan, berikut ini beberapa kekurangan dari belanja online :
  6. Sering terjadi penipuan penjualan yang dilakukan oleh penjual dengan tidak
    mengirim barang kepada pembeli setelah dilakukan pembayaran atau transfer
    uang.
  7. Kualitas dan fisik barang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Fisik barang
    berbeda dengan foto yang ditampilkan di website.
  8. Sistem jual-beli secara online membutuhkan biaya tambahan untuk
    transportasi atau pengiriman barang.
  9. Dengan membeli barang secara online maka pembeli tidak dapat melihat dan
    mencoba secara barang yang dipesan secara langsung.
  10. Jual-beli online membutuhkan waktu agar barang sampai ditempat pembeli
    karena proses pengiriman

Market Place


Market place merupakan bagian dari digital marketing. Pengertian market
place menurut Opida (2014) Market place merupakan media online berbasis
internet (web based) tempat melakukan kegiatan bisnis dan transaksi antara
pembeli dan penjual. Pembeli dapat mencari supplier sebanyak mungkin dengan
kriteria yang diinginkan, sehingga memperoleh sesuai harga pasar. Sedangkan
bagi supplier/penjual dapat mengetahui perusahaan-perusahaan yang
membutuhkan produk/jasa mereka

Dampak Negatif E-commerce


Meskipun banyak manfaat dan keuntungan dari penggunaan aplikasi e-
commerce, namun ternyata penggunaan e-commerce juga memliki beberapa
kelemahan dan dampak negatif, menurut Purwaningtias (2020) terdapat beberapa
adalah dampak negatif dari penggunaan e-commerce :

  1. Terjadi pencurian informasi berharga dan rahasia.
    Tindakan pencurian ini informasi rahasia sebuah organisasi kepada pihak-pihak
    yang tidak berhak dan tidak bertanggungjawab dapat mengakibatkan kerugian
    yang besar bagi korbannya.
  2. Dapat berakibat kehilangan kesempatan bisnis jika terjadi gangguan pelayanan.
    Jika terjadi kesalahan dalam hal pelayanan yang bersifat kesalahan non-teknis
    seperti padamnya aliran listrik atau koneksi internet yang buruk, maka
    kesempatan atau peluang bisnis bisa saja hilang karena calon pelanggan bisa
    saja beralih kepada produsen atau penjual yang lain.
  3. Hilangnya kepercayaan dari para konsumen.
    Persaingan dalam bisnis merupakan suatu hal yang biasa terjadi. Namun
    persaingan yang tidak sehat bisa saja terjadi dan dilakukan oleh perusahaan
    pesaing, misalnya saja usaha menjatuhkan reputasi sebuah perusahaan yang
    dilakukan oleh perusahaan lain sebagai pesaing. Hal ini akan memberikan
    dampak negatif bagi perusahaan yang menjadi korban. Bisa saja para
    konsumen tidak lagi mempercayai perusahaan yang reputasinya telah
    dijatuhkan tersebut.
  4. Penggunaan akses oleh pihak yang tidak berhak dan tidak bertanggungjawab.
    Contoh kasus dalam hal ini adalah pembobolan sebuah sistem perbankan oleh
    hacker, yaitu dengan memindahkan sejumlah rekening orang lain ke rekening
    pribadinya.
  5. Kerugian yang sifatnya tidak terduga.
    Kerugian ini disebabkan karena adanya gangguan yang dilakukan dengan
    sengaja, ketidak jujuran, praktek bisnis yang melanggar kesepakatan dan
    hukum, serta kesalahan yang disebabkan oleh faktor manusia atau kesalahan
    pada sistem elektronik.

Manfaat E-commerce


Dalam penerapannya, penggunaan E-commerce memiliki sejumlah manfaat
bagi perusahaan. Widayati (2013) menyebutkan 5 manfaat e-commerce bagi
perusahaan, daiantaranya adalah :

  1. Dapat meningkatkan market exposure. Dengan bantuan internet maka semua
    orang dapat melakukan transaksi jual beli online, misalnya dalam hal
    memesan dan membeli produk yang dijual tanpa ada batasan jarak dan waktu.
  2. Menurunkan biaya operasional. Dengan bantuan computer maka biaya yang
    dikeluarkan oleh perusahaan tidak terlalu banyak, sehingga biaya-biaya
    seperti gaji, sewa tempat, dan biaya lainya dapat dikurangi.
  3. Melebarkan jangkauan. Penggunaan internet pada e-commerce dapat diakses
    oleh semua orang dan menjangkau hamper seluruh belahan dunia tanpa
    batasan tempat dan waktu.
  4. Meningkatkan Customer Loyalty. Konsumen yang menggunakan E-
    commerce dapat memilih sendiri produk yang ia inginkan yaitu dengan
    melihat katalog produk yang ditawarkan oleh penjual atau produsen. Selain
    itu, para konsumen juga bisa mendapatkan informasi yang detail dari para
    penjual atau produsen dimana informasi tersebut dapat diakses setiap waktu.
  5. Meningkatkan Supply Management. Penggunaan E-commerce pada
    perusahaan dapat meningkatkan efisiensi pengeluaran operasional perusahaan
    terutama pada stock barang dan jumlah karyawan. Hal ini terjadi karena
    adanya supply management yang baik.
  6. Memperpendek Waktu Produksi. Dengan e-commerce maka proses
    pemesanan barang oleh konsumen kepada penjual atau produsen dapat
    dilakukan secara langsung tanpa batas waktu. Hal ini akan mempersingkat
    waktu dalam proses perpindahan barang dari penjual ke konsumen.
    Sedangkan menurut Suyanto (2003:50) beberapa manfaat yang dapat
    diperoleh dari e-commerce bagi organisasi adalah :
  7. Memperluas market place hingga ke pasar nasional dan international.
  8. Menurunkan biaya pembuatan, pemrosesan, pendistribusian, penyimpanan dan
    pencarian informasi yang menggunakan kertas.
  9. Memungkinkan pengurangan inventory dan overhead dengan
    menyederhanakan supply chain dan management tipe “pull”.
  10. Mengurangi waktu antara outlay modal dan penerimaan produk dan jasa.
  11. Mendukung upaya-upaya business process reengineering.
  12. Memperkecil biaya telekomunikasi internet lebih murah dibanding VAN.
  13. Akses informasi lebih cepat.

Klasifikasi E-commerce


E-commerce dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian. Menurut
Laudon dan Traver (2017: 22-27) e-commerce diklasifikasikan menjadi enam
jenis model, yaitu:

  1. Business-to-Consumer (B2C) e-commerce, bisnis online jenis ini menjangkau
    konsumen secara individual. B2C e-commerce mencakup pembelian barang
    ritel, 10 travel, konten online dan jenis layanan lainnya. Jenis B2C e-
    commerce ini tumbuh secara eksponensial sejak 1995, dan merupakan jenis e-
    commerce yang paling sering ditemui konsumen.
  2. Business-to-Business (B2B) e-commerce, merupakan jenis e-commerce
    terbesar yang berfokus pada penjualan ke bisnis lain. Proses transaksi
    ecommerce bertipe B2B, perusahaan atau organisasi yang terlibat dapat
    bertindak sebagai pembeli atau penjual. Terdapat dua model bisnis utama
    yang digunakan dalam B2B e-commerce: (1) net marketplace, yang meliputi
    e-distributor, perusahaan e-procurement, bursa dan konsorsium industri, dan
    (2) jaringan industri swasta.
  3. Consumer-to-Consumer (C2C) e-commerce, pada jenis ini tersedia media
    bagi konsumen untuk menjual satu sama lain, dengan bantuan pembuat pasar
    online (juga disebut penyedia platform). Dalam C2C e-commerce, pihak
    individu menjual barang atau jasanya kepada individu, organisasi atau
    perusahaan yang berperan sebagai konsumen melalui internet.
  4. Mobile e-commerce (m-commerce), mengacu pada penggunaan perangkat
    mobile untuk memungkinkan bertransaksi online dengan menggunakan
    jaringan seluler dan nirkabel untuk menghubungkan smartphone atau tablet
    ke internet.
  5. Social e-commerce, merupakan e-commerce yang menggunakan jejaring
    sosial dan social media. Pertumbuhan Social e-commerce didorong oleh
    sejumlah faktor, termasuk meningkatnya popularitas sign-on sosial, notifikasi
    jaringan, kolaborasi alat belanja online, pencarian social toko virtual di
    Facebook, Instagram, Pinterest, YouTube, dan situs jejaring sosial lainnya.
    Social e-commerce sering kali dihubungkan dengan jenis m-commerce, hal
    ini disebabkan karena semakin banyak pengguna jaringan sosial yang
    mengakses jaringan tersebut melalui perangkat mobile. Proses social e-
    commerce melibatkan penggunaan aplikasi mobile pengolahan pesan seperti
    Facebook Messenger, WhatsApp, BBM, dan lain-lain sebagai media
    berinteraksi antara penjual dengan konsumen.
  6. Local e-commerce, Local e-commerce adalah perpaduan dari m-commerce,
    social e-commerce, dan local e-commerce yang didorong oleh banyaknya
    minat terhadap layanan on-demand lokal seperti Uber, dan GOJEK. Local e-
    commerce merupakan bentuk e-commerce yang berfokus untuk melibatkan
    konsumen berdasarkan lokasi geografis saat ini. Pedagang lokal
    menggunakan berbagai teknik pemasaran online untuk mendorong konsumen
    ke toko mereka.

E-commerce


Setelah memahami definisi dan teori tentang digital marketing dari para
ahli, berikutnya adalah definisi tentang e-commerce dari para ahli. Menurut
Wijaya (2020:19) E-commerce adalah website yang digunakan untuk menjual
produk-produk dari pemilik website itu sendiri. Definisi E-commerce menurut
menurut David yang telah diterjemahkan oleh Purbo (2001:2) merupakan satu set
teknologi dinamis, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan,
konsumen, dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan
barang, pelayanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik. Menurut
Wong (2010: 33) pengertian dari electronic commerce adalah pembelian,
penjualan dan pemasaran barang serta jasa melalui sistem elektronik. Seperti
radio, televisi dan jaringan computer atau internet. Dapat disimpulkan bahwa di
dalam kegiatan e-commerce terdapat unsur kegiatan pemasaran untuk mendukung
kegiatan jual-beli secara digital. Sedangkan menurut Kotler & Amstrong (2012)
E-commerce adalah saluran online yang dapat dijangkau seseorang melalui
komputer, yang digunakan oleh pebisnis dalam melakukan aktifitas bisnisnya dan
digunakan konsumen untuk mendapatkan informasi dengan menggunakan
bantuan komputer yang dalam prosesnya diawali dengan memberi jasa informasi
pada konsumen dalam penentuan pilihan. Menurut Laudon dan Traver (2017: 11-
12) pada awal berkembangnya e-commerce, satu-satunya media digital adalah
web browser, namun saat ini media yang lebih banyak digunakan adalah melalui
aplikasi mobile.

Kelemahan Digital marketing


Meskipun memiliki banyak kelebihan, namun ternyata digital marketing
juga memiliki beberapa kelemahan dalam penerapannya. Menurut Royan (2020),
terdapat 3 kelemahan dalam digital marketing, antara lain adalah :

  1. Konten dan system digital marketing mudah ditiru.
    Masalah plagiatisme di Indonesia sangatlah banyak terjadi. Hal ini disebabkan
    karena ketidakpastian hukum yang mengatur tentang plagiatisme. Semantara
    banyak oknum pelaku usaha yang hanya ingin memasarkan produk mereka
    secara mudah saja tanpa harus membuat konten iklan hasil karya mereka
    sendiri yang tentunya membutuhkan biaya, waktu dan pengorbanan yang lebih.
  2. Memunculkan banyak pesaing.
    Kesadaran masyarakat dan para pelaku usaha terhadap besarnya manfaat
    internet dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan dengan biaya
    pemasaran konvensional telah memicu minat para pelaku usaha untuk beralih
    ke system pemasaran digital. Hal ini berdampak terhadap semakin banyaknya
    para pelaku usaha yang baru sebagai pesaing dalam bisnis.
  3. Membutuhkan kreatifitas yang tinggi
    Untuk dapat bersaing deangan para pelaku usaha yang sama-sama memasarkan
    produknya melalui digital marketing, maka seorang pelaku usaha dituntut harus
    memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi dalam membuat konten iklan untuk
    dipasang di platform digitalnya. Hal ini diperlukan untuk dapat membedakan
    dengan iklan dari para pelaku usaha yang lain dan juga untuk dapat menarik
    para customer untuk mengunjungi iklan yang dipasang dan pada akhirnya
    melakukan pembelian

Manfaat Digital Marketing


Penggunaan digital marketing dalam dunia usaha memiliki beberapa
manfaat. Berikut adalah manfaat dari kegiatan pemasaran menggunakan digital
marketing menurut Chole dan Dharmik (2018):

  1. Informasi Produk dan Layanan yang Transparan Dengan adanya informasi
    digital yang hanya membutuhkan sekali klik (internet) sehingga masyarakat
    mampu mendapatkan informasi yang detail, jelas dan transparan mengenai
    produk atau servis.
  2. Kemudahan update informasi produk atau jasa, sehingga pelanggan dapat
    memperoleh pembaharuan langsung. Pelanggan dapat memperoleh
    pembaharuan informasi dengan mudah dan cepat mengenai produk atau jasa
    dengan tersedianya pembaruan informasi produk atau jasa yang terus
    ditingkan secara berkelanjutan dan dengan kemudahan dalam melakukan
    pengeditan di situs tersebut.
  3. Analisis Komparatif dengan pesaing, mudah untuk membandingkan produk
    atau jasa sendiri dengan produk orang lain. Kemajuan teknologi yang terjadi
    saat ini memberikan kemudahan bagi sebuah pemilik usaha yang melakukan
    pemasaran secara digital untuk membandingkan produk atau jasa perusahaan
    tersebut dengan produk atau jasa dari perusahaan lain. Hal ini dapat
    membantu dalam meningkatkan kualitas produk atau jasa sendiri.
  4. Biaya lebih murah. Dengan bantuan digital, biaya yang diperlukan untuk
    mempromosikan produk atau jasa melalui situs social, channels media, dan
    personal email menjadi tidak maha

Media Pemasaran Digital


Dalam penelitiannya mengenai Digital marketing and Social Media (Chole
dan Dharmik, 2018) menyampaikan beberapa media yang dapat digunakan
sebagai pendukung kegiatan digital marketing antara lain adalah ponsel, social
media, search engine optimization (SEO), Email, search engine marketing (SEM)
dan text massage.

  1. Ponsel. Penggunaan ponsel sebagai media pemasaran digunakan oleh hampir
    semua perusahaan yang memiliki produk atau jasa misal seperti produk
    belanja, produk khusus, produk luxury, atau lainnya. Pengiriman sms, atau
    menggunakan aplikasi mobile phone seperti Whatsapp, Line, Kakao Talk
    merupakan beberapa contoh cara yang dapat dilakukan untuk
    mempromosikan produk atau jasa hanya dengan sekali klik.
  2. Social Media Marketing. Sosial Media Marketing adalah metoda pemasaran
    online yang saat ini sangat booming dibandingkan dengan jenis pemasaran
    lainnya. Hampir semua orang mengenal dan memiliki social media. Media
    pemasaran ini lebih dimanfaatkan oleh bisnis berukuran kecil, UKM atau
    bisnis lainnya yang berada di wilayah pedesaan. Facebook, Instagram,
    Twitter, Linkedin, SnapGram, Youtube dan lain sebagainya merupakan
    beberapa contoh social media yang sering digunakan oleh perusahaan.
  3. Search Engine Marketing. Search engine merupakan suatu cara pilihan terbaik
    untuk menemukan suatu informasi melalui internet. Terdapat beberapa traffic
    atau sumber kunjungan ke sebuah website, namun traffic dari mesin pencari
    menjadi yang paling baik khususnya dalam mendapatkan pengunjung yang
    tetarget (Ridwan dkk. 2017). Strategi yang dilakukan pada Search Engine
    Marketing adalah dengan mengupgrade visibilitas website dan menjadikannya
    paling atas dalam mesin pencarian.
  4. Search Engine Optimization. Search Engine Optimization adalah proses yang
    mempengaruhi tampilan website yang dipromosikan di situs mesin pencari
    (search engine) seperti google, yahoo, bing yang dapat di tampilkan di
    halaman pertama dari pengguna internet dengan menggunakan kata kunci
    tertentu tanpa mengeluarkan biaya (Wibowo, 2017). Strategi yang dilakuan
    hampir sama dengan Search Engine Marketing yaitu dengan membuat website
    perusahaan berada di daftar paling atas pada search engine namun relative
    lebih murah bahkan bisa dilakukan sendiri dengan gratis, meskipun memiliki
    kekurangan yaitu membutuhkan waktu yang cukup lama.
  5. Email Marketing. Yang dimaksud dalam email marketing adalah menyediakan
    pesan tentang produk atau jasa yang dikirim melalui email kepada seseorang
    atau calon konsumen tertentu. Di dalam email marketing, iklan, video dan
    pesan dikirimkan kepada pelanggan untuk membuat mereka sadar atau
    mengetahui terhadap produk, brand atau merek, dan informasi tentang harga
    dan strategi ini cukup murah. Sebagai contoh: ketika seseorang mendownload
    sebuah aplikasi seperti pegipegi kemudian saat registrasi terdapat salah satu
    form yang wajib diisi berupa alamat email calon konsumen, dan biasanya di
    aplikasi tersebut akan menawarkan kepada calon konsumennya untuk
    berlangganan surat elektronik apabila ada penawaran harga diskon dan
    lainnya.
  6. Pesan Teks. Cara ini merupakan satu-satunya media pemasaran yang mudah
    dan nyaman untuk mengirim pesan informasi ataupun penawaran produk atau
    jasa dengan menggunakan bantuan telepon genggam.

Pemasaran Digital (Digital Marketing)


Definisi Digital marketing menurut Chaffey dan Chadwick (2016:11)
“Digital marketing is the application of the internet and related digital
technologies in conjunction with traditional communications to to achieves
marketing objectives”. Artinya Digital marketing merupakan aplikasi dari internet
dan berhubungan dengan teknologi digital dimana didalamnya berhubungan
dengan komunikasi tradisional untuk mencapai tujuan pemasaran. Beberapa
contoh platform online yang digunakan oleh para marketer untuk menawarkan
produk mereka dan berkomunikasi dengan para calon konsumennya antara lain
adalah Website, Blog, Media sosial (Instagram, Whatsapp, Line, dan lain
sebagainya). Dalam bukunya Sanjaya dan Tarigan (2016:47) menyatakan bahwa
kegiatan marketing termasuk branding yang menggunakan berbagai media
berbasis web seperti blog, website, e-mail, adwords ataupun jejaring sosial.
Digital marketing adalah aktivitas mempromosikan dan menawarkan pasar
melalui media digital secara online dengan menggunakan berbagai sarana seperti
jejaring sosial (Purwana, et.al, 2017). Dalam arti yang sederhana marketing atau
kegiatan pemasaran dapat diartikan sebagai pembangunan dan pemeliharaan
hubungan yang saling memuaskan antara perusahaan dan konsumen. Dari
pengertian Digital marketing diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Digital
marketing adalah kegiatan pemasaran yang dilakukan secara digital dengan
menggunakan teknologi berbasis internet. Mengingat bahwa hampir semua
wilayah di belahan dunia sudah terjangkau oleh internet maka penggunaan Digital
marketing sebagai alat pemasaran sangatlah dibutuhkan oleh para pemasar,
sehingga terdapat peluang yang sangat besar untuk melakukan kegiatan
pemasaran.
Menurut Iram dan Chopade (2018) dalam Sabila (2019:23) menyatakan
bahwa dengan menggunakan digital marketing sebagai alat pemasaran dapat
memberikan kenyamanan, kemudahan, serbaguna, dan lebih cepat dibanding yang
lain. Hal ini tidak hanya memudahkan konsumen, tetapi juga sebagai alat yang
efektif bagi pemasar dalam menjangkau target pasar mereka. Digital marketing
merupakan platfrom yang digunakan oleh pengusaha, investor mikro, perusahaan
berbasis produk, dan unit lainnya untuk mempromosikan produk atau jasa yang
mereka tawarkan (Chole dan Dharmik, 2018).

Fungsi Pemasaran


Fungsi pemasaran yang dikemukakan oleh Sudaryono (2016:50) terdiri dari
3 fungsi antara lain adalah :

  1. Fungsi Pertukaran. Dengan adanya kegiatan pemasaran, maka pembeli dapat
    membeli produk dari produsen. Baik dengan cara menukar uang dengan
    produk ataupun dengan cara menukar produk dengan produk (barter) untuk
    dipakai sendiri atau untuk dijual kembali. Pertukaran merupakan salah satu
    dari empat cara orang mendapatkan suatu produk.
  2. Fungsi Distribusi Fisik. Distribusi fisik suatu produk dilakukan dengan
    mengangkut dan menyimpan produk. Produk diangkut dari produsen
    mendekati konsumen yang membutuhkan dengan banyak cara, baik melalui
    transportasi air, darat, udara, dan sebagainya. Penyimpanan produk bertujuan
    untuk menjaga pasokan produk agar tidak kekurangan saat dibutuhkan.
  3. Fungsi Perantara. Untuk menyampaikan produk dari tangan produsen ke
    tangan konsumen dapat dilakukan melalui perantara pemasaran yang
    menghubungkan aktivitas pertukaran dengan distirbusi fisik. Aktivitas fungsi
    perantara antara lain pengurangan tingkat risiko, pembiayaan, pencarian
    informasi serta standarisasi dan penggolongan (klasifikasi) produk

Pemasaran


Pemasaran merupakan sebuah kegiatan yang sangat penting bagi setiap
perusahaan. Mengingat pentingnya pemasaran bagi setiap perusahaan, maka
diperlukan pemahaman yang tepat tentang definisi pemasaran. Menurut
Melydrum dalam Sudaryono (2016:41), pemasaran adalah proses bisnis yang
berusaha menyelaraskan antara sumber daya manusia, finansial dan fisik
organisasi dengan kebutuhan dan keinginan para pelanggan dalam konteks
strategi kompetitif. Menurut Philip Kotler dan Kevin Lane Keller (2016:27)
menyatakan : “Marketing is a societal process by which individuals and groups
obtain what they need and want through creating, offering, and freely exchanging
products and services of value with others”. (Pemasaran adalah proses sosial
dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan
inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran secara bebas produk dan
jasa yang bernilai dengan orang lain). Berdasarkan teori pemasaran yang
dikemukakan oleh Kotler and Keller tersebut, maka dapat digaris-bawahi bahwa
kegiatan pemasaran harus memiliki nilai yang saling menguntungkan bagi
pemasar dan juga bagi para calon konsumen

Pengaruh Social media marketing dan user generated contentberpengaruh terhadap keputusan penggunaan jasa.


Penelitian yang dilakukan (Sembiring, 2023), terdapat hubungan
antara social media marketing dan keputusan pembelian yang
signifikan. Dengan hubungan seperti ini berarti bahwa makin tinggi
social media marketing maka makin tinggi keputusan pembelian.
Penelitian yang dilakukan (Putri, 2020), terdapat hubungan antara
user generated content terhadap minat beli konsumen Dapur Mbok
Sarminah. Dengan hubungan seperti ini berarti bahwa makin tinggi user
generated content maka makin tinggi minat beli.
Secara keseluruhan, kaitan antara social media marketing dan user
generated content dapat membentuk pengalaman pengguna yang kuat
dan positif, yang pada akhirnya mempengaruhi keputusan penggunaan
produk atau jasa.

Pengaruh User Generated Content Terhadap Keputusan Penggunaan


Penelitian yang dilakukan(Putri, 2020), terdapat hubungan antara user
generated content terhadap minat beli konsumen Dapur Mbok Sarminah.
Dengan hubungan seperti ini berarti bahwa makin tinggi user generated
content maka makin tinggi minat beli.
Pemanfaatan konten yang dihasilkan oleh pengguna dapat memperkuat
upaya pemasaran perusahaan dengan mempromosikan produk atau
layanannya kepada konsumen. Melibatkan orang ketiga atau langsung dati
pengguna dapat memberikan kesan alami dalam pemasaran (Dila Khoirin
anisa & Novi Marlena, 2022)

Pengaruh Social Media Marketing Terhaap Keputusan Penggunaan


Penelitian yang dilakukan (Sembiring, 2023), terdapat hubungan
antara social media marketing dan keputusan pembelian yang signifikan.
Hubungan seperti ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian lebih
banyak dipengaruhi oleh pemasaran media sosial yang lebih besar.
Social media marketing yang dilakukan oleh suatu bisnis dapat
mempengaruhi pemikiran seseorang yang akan berdampak pada pemikiran
orang lainnya secara lebih halus secara lebih luas sebelum melakukan
keputusan pembelian atau penggunan (Narottama & Moniaga, 2022)

Indikator Keputusan Penggunaan


Menurut Alma (2004) dalam Ilmi (2018), keputusan penggunaan
mempunyai indikator sebagai berikut:

  1. Pembelian produk terjadi ketika konsumen menggunakan uangnya
    untuk mendapatkan suatu produk atau jasa.
  2. Mencurahkan perhatian pada pembelian merupakan langkah konsumen
    untuk memberikan prioritas pada produk atau jasa yang akan digunakan.
  3. Kesiapan untuk berkorban adalah perilaku konsumen yang bersedia
    menghabiskan waktu, biaya, dan tenaga untuk mendapatkan produk atau
    jasa.
  4. Penggunaan produk atau jasa diputuskan saat konsumen merasa tertarik
    untuk memanfaatkan produk atau jasa tersebut.

Pengertian Keputusan Penggunaan


Keputusan adalah proses eksplorasi masalah yang dimulai dari latar
belakang masalah, menemukan masalah, dan sampai pada kesimpulan atau
saran. Menurut Sembiring (2023), menyatakan bahwa Keputusan pembelian
atau penggunaan jasa adalah proses yang melibatkan konsumen dalam
menilai berbagai opsi dan memilih satu atau lebih dari alternatif yang
dianggap perlu, dengan mempertimbangkan faktor-faktor tertentu dalam
proses pembelian.”
Keputusan penggunaan adalah langkah integrasi pengetahuan yang
menggabungkan dan mengevaluasi beberapa alternatif, lalu memilih satu
diantaranya. Hasil integri ini berupa kognitif yang mencerminkan niat
prilaku, yang pada akhirnya adalah rencana untuk meleksanakan satu atau
lebih tindakan (Erwan & Edi Setiawan, 2023). Keputusan menggunakan
jasa pada dasarnya kaitannya memang erat dengan perilaku konsumen.
Perilaku konsumen merupakan unsur yang penting dalam kegiatan
pemasaran produk. Pada dasarnya perusahaan tidak mengetahui apa yang
pelanggan pikirkan saat membeli/menggunakan produknya.
Perilaku konsumen mencakup keputusan penggunaan jasa, juga
dikenal sebagai keputusan pembelian. Pada dasarnya, keputusan pembelian
adalah tindakan atau perilaku konsumen yang menentukan apakah mereka
melakukan pembelian atau transaksi tertentu. Perilaku konsumen adalah
tindakan yang secara langsung terlibat dalam upaya perusahaan untuk
mendapatkan pelanggan baru

Indikator Social Media Marketing


Menurut Pradiptarini (2011) dalam Sembiring (2023) indikator Social
Media Marketing adalah sebagai berikut :

  1. Kualitas Konten
    Kualitas konten mencakup seberapa bernilai, relevan, dan menarik suatu
    materi. Konten berkualitas memenuhi kebutuhan audiens, memberikan
    informasi yang akurat, dan disajikan dengan cara yang menarik dan
    mudah dipahami.
  2. Membangun kepercayaan (hubungan)
    Membangun kepercayaan atau hubungan melibatkan konsistensi,
    transparasi, dan saling pengertian. Memberikan komunikasi jujur,
    mendengarkan dengan baik, dan memenuhi janji-janji membantu
    menciptakan dasar kepercayaan yang kuat.
  3. Keterlibatan
    Suatu kondisi dimana seseorang atau sesuatu terlibat dalam sesuatu
    aktivitas atau situasi. Inii mencakup partisipasi, ketertarikan atau
    kontribusi terhadap suatu peristiwa atau hubungan.
  4. Integrasi dengan platform media lainnya
    Merujuk pada kemampuan untuk menyatukan atau menghubungkan
    suatu sistem atau aplikasi dengan platfrom media yang berbeda. Ini
    memungkinkan pertukaran informasi atau fungsionalitas antar platfrom
    secara lebih efisien

Pengertian Social Media Marketing


Pasaran media sosial digunakan untuk menghubungkan pelanggan
ke situs web sosial, tempat mereka biasanya menghabiskan waktu. Menurut
Santoso, Baihaqi, & Persada 2017 dalam Sembiring, 2023 Menggunakan
platform media sosial seperti blogging, microblogging, dan jejaring sosial,
pemasaran media sosial adalah semacam iklan yang menggunakan platform
ini untuk secara langsung atau tidak langsung mempromosikan produk,
merek, perusahaan, orang, atau kelompok.
Menurut Ariadi & Saino, 2014 dalam Sembiring, 2023 Pemasaran
media sosial adalah upaya menggunakan media sosial untuk menarik
pelanggan untuk barang, jasa, atau perusahaan tertentu. Ini termasuk
pemasaran melalui jejaring sosial, blog, dan metode lainnya.
Dengan menggunakan media sosial untuk memudahkan berbagai
interaksi atau komunikasi dua arah tentang produk yang dijual oleh
perusahaan dengan konsumen atau calon pelanggan, penulis dapat menarik
kesimpulan bahwa pemasaran media sosial adalah jenis pemasaran yang
menggunakan media sosial untuk meningkatkan popularitas produk.
Pemasaran media sosial, bagaimanapun, tidak secara khusus berusaha untuk
meningkatkan penjualan produk perusahaan

Digital Marketing


Pemasaran digital adalah bidang pemasaran di mana produk atau
jasa dipromosikan dengan menggunakan media digital untuk mencapai
calon konsumen. Saat ini, pemasaran digital menjadi pilihan utama
masyarakat untuk mendukung berbagai kegiatan, secara bertahap
menggantikan pendekatan pemasaran konvensional atau tradisional. Dalam
digital marketing, komunikasi dan transaksi dapat dilakukan kapan saja
(Saputra & Ardani, 2020).
Secara umum, digital marketing merupakan strategi pemasaran yang
menggunakan berbagai platform digital melalui internet, termasuk basis
data, surel, situs web, media sosial, perangkat seluler, dan televise digital.
Fokusnya adalah mencapai tujuan pemasaran dengan meningkatkan jumlah
konsumen yang diincar serta memperluas pemahaman mengenai profil,
prilaku, nilai produk, serta loyalitas pelanggan atau konsumen yang mencari
target (Chaffey dan Chadwick, 2016).
Digital marketing dapat diartikan sebagai strategi pemasaran yang
dilakukan melalui berbagai media online, di mana internet memegang peran
kunci sebagai alat penting bagi kemajuan bisnis.
Pemasaran digital melibatkan penggunaan media intersent seperti
Instagram, Facebook, Twitter, TikTok, dan situs web untuk memikat
pelanggan agar menggunakan produk atau layanan yang dihasilkan oleh
perusahaan (Lombok & Samadi, 2022)

TEORI KOMUNIKASI PEMASARAN DIGITAL (Model AISAS)


Teori AISAS model perilaku komunikasi digital yang diciptakan oleh
dentsu, seorang agen periklanan di jepang pada tahun 2005. Teori AISAS terdiri
dari Attention (perhatian), Interest (ketertarikan), Search (pencarian), Action
(aksi), dan Share (berbagi).AISAS menjelaskan mengenai terjadinya perubahan
yang signifikan terhadap pola perilaku konsumen semenjak hadirnya teknologi
komunikasi dan imformasi atau media baru yaitu internet. Sehingga efek yang
diusulkan diera media baru sebagai berikut :
a. Attention ialah calon konsumen memperhatikan produk yang diiklankan
melalui berbagai media seperti media elektronik dan media social.
b. Interest adalah ketertarikan terhadap produk yang bersifat pasif,
diartikan seperti suatu cara untuk memotivasi khalayak untuk mencari
informasi mengenai produk, service dan iklan.
c. Search adalah ditahap pencarian dalm memperoleh informasi terkait
produk, ini sebagai tahap peralihan ialah peralihan dari proses
individual ke sosial yang mana konsumen telah bertanya dan masuk
dalam kategori zona aktif.
d. Action adalah interaksi tidak sebatas dilevel informasi namun telah
masuk keranah physical interaction.
e. Share ialah tahapan terakhir yang menandakan produk atau brand telah
berhasil dipasarkan yaitu saat konsumen menyebarluaskan serta
merekomendasikan brand kepada orang lain.
C. PROMOSI WISATA
Promosi merupakan proses untuk menyampaikan informasi terhadap
target pasar, mengenai hal-hal yag berkaitan dengan produk, harga, tempat
produk yang dijual dengan melakukan ajakan atau persuasi yang bertujuan
supaya target bersedia melakukan pembelian (Yoeti, 2008). Pada dasarnya
maksud dari kata promosi ialah untuk memberitahukan, membujuk atau
mengingatkan lebih mendalam (Yoeti, 2008)

DIGITAL MARKETING


Marketing ialah aktivitas suatu perusahaan dalam menciptakan,
mengkomunikasikan, menyampaikan dan bertukar penawaran yang memiliki
nilai bagi konsumen atau masyarakat.Sedangkan Internet merupakan media yang
diciptakan secara digital.Dalam kehidupan, internet sangat mudah dalam
mencari informasi yang dibutuhkan, pembelian barang, dan masih banyak lagi
yang dapat dilakukan melalui media internet.Sehingga kini internet menjadi
sebuah media yang penting bagi perusahaan atau pelaku bisnis dalam bertukar
penawaran. Dari penjelasan tersebut nama digital marketing telah hadir di era
digital saat ini (Muljono, 2018). Jadi digital marketing merupakan pemasaran
melalui media digital dalam menawarkan brand yang dimiliki oleh suatu
perusahaan.
Digital marketing merupakan kegiatan dibidang pemasaran yang
memanfaatkan platform yang ada di internet dalam menjangkau para target
konsumen, selain itu digital marketing diartikan sebagai pemasaran produk atau
jasa melalui internet atau disebut dengan pemasaran-i, web marketing, online
marketing, e-marketing, atau e-commerce (Hermawan , 2012). Kegiatan digital
marketing dimanfaatkan oleh pelaku bisnis sehingga penerapan media internet
dipasaran meningkat.Adapun dua manfaat digital marketing (Hermawan , 2012):

  1. Biayanya relatif murah adalah pemasaran menggunakan digital marketing
    jauh lebih murah dan mudah menjangkau calon konsumen begitu luas
    dibandingkan periklanan konvensional. Sifat digital marketing
    memungkinkan konsumen memeriksa dan membandingkan produk satu
    dengan yang lainnya lebih nyaman.
  2. Muatan informasi yang besar adalah penggunaan digital marketing
    menyediakan sejumlah informasi yang besar dan begitu luas dibandingkan
    dengan media konvensional seperti media cetak, radio dan televisi. Digital
    marketing juga mampu menyimpan data secara akurat yang dibutuhkan
    oleh perusahaan

Business to Business (B2B)


Business to Business (B2B) merupakan proses penjualan produk atau jasa
dari satu perusahaan kepada perusahaan lainnya. Fokus utama dari Business to
Business (B2B) ini adalah memberikan produk atau jasa yang memiliki kualitas
tinggi serta menciptakan rasa kepercayaan dengan konsumen. Prioritas utama
dalam Business to Business (B2B) adalah menciptakan kerjasama yang berskala
panjang dengan para konsumen. Konsep ini melibatkan pemasaran berbasis
hubungan antara pemilik usaha dengan konsumen mereka. Relationship
Marketing, yang dikemukakan oleh Kotler pada tahun 2017, merupakan praktik
atau cara untuk menciptakan relasi atau hubungan jangka panjang yang dapat
memberikan kepuasan kepada konsumen, pemasok, serta penyalur supaya bisnis
tetap bertahan dalam waktu jangka panjang (Rumefi, 2023)
Pemasaran Business to Business (B2B) merupakan proses pemasaran yang
melibatkan antara penjualan produk atau layanan dari satu perusahaan ke
perusahaan lainnya. Lain halnya dengan pemasaran menggunakan metode B2C
(Business to Customer) yang mengacu pada konsumen akhir, sedangkan untuk
Business to Business (B2B) menargetkan pasar bisnis dan memprioritaskan
hubungan jangka panjang dengan mitra bisnis. Dalam pemasaran Business to
Business (B2B), terdapat beberapa karakteristik yang penting, seperti:
1) Produk atau layanan yang ditawarkan kepada konsumen dalam pemasaran
Business to Business (B2B), pada umumnya lebih kompleks dan khusus,
sebab perusahaan Business to Business (B2B) memerlukan solusi yang
disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
2) Tahapan dalam pengambilan keputusan dalam pemasaran Business to
Business (B2B), yang lebih kompleks dan melibatkan sejumlah pemangku
kepentingan dalam sebuah instansi. Keputusan pembelian Business to
Business (B2B) membutuhkan pertimbangan yang mendalam dan dapat
mengambil waktu yang lebih lama.
Menurut Shepherd definisi pemasaran Business to Business (B2B)
didasarkan pada pengalaman praktis serta menggambarkan bahwa pemasaran
Business to Business (B2B) meliputi segala hal yang dilakukan oleh sebuah
instansi untuk mengidentifikasi, memperoleh, serta mendukung kesempatan atau
peluang pendapatan (Shepherd, 2012).

Jenis Pengetahuan Produk (Product Knowledge)


Dalam buku “Creative Selling Everyday” terdapat tiga jenis dalam
pengetahuan produk, antara lain:
1) Pengetahuan tentang karakteristik atau atribut produk.
Seorang konsumen akan melihat suatu produk berdasarkan dengan
karakteristik produk tersebut. apabila ingin membeli suatu mobil, maka mobil yang
akan dipilih harus memiliki atribut warna, model, tahun pembuatan, jumlah cc,
merek, dan ciri khas lainnya dari produk tersebut.
2) Pengetahuan tentang manfaat produk.
Jenis pengetahuan produk yang kedua adalah tentang manfaat produk.
Konsumen membeli produk atau jasa tersebut, karena ingin mengetahui manfaat
dari produk tersebut yang sesuai dengan apa yang konsumen butuhkan.
Secara umum terdapat dua jenis manfaat yang dirasakan oleh konsumen
atau pelanggan:
a) Manfaat Fungsional
Manfaat fungsional merujuk pada manfaat langsung atau nyata yang
diperoleh konsumen dari penggunaan produk atau layanan tertentu. Manfaat
fungsional berkaitan dengan cara produk atau layanan tersebut memenuhi
kebutuhan atau keinginan praktis konsumen. Contoh manfaat fungsional meliputi
kinerja produk, keandalan, kemudahan penggunaan, kualitas, efisiensi, dan harga
yang kompetitif.
Dalam pemasaran, penting untuk memahami dan menyoroti manfaat
fungsional dari produk atau layanan karena hal ini dapat menjadi faktor penentu
utama dalam keputusan pembelian konsumen. Memperjelas dan menonjolkan
manfaat fungsional produk atau layanan dapat membantu membangun
kepercayaan konsumen dan membedakan merek dari pesaing di pasar.
b) Manfaat Emosional
Manfaat emosional dalam konteks manfaat pengetahuan merek mengacu
pada perasaan atau pengalaman positif yang dikaitkan dengan merek oleh
konsumen. Ini melibatkan bagaimana merek membangkitkan emosi seperti
kebahagiaan, kepuasan, kenyamanan, atau hubungan emosional yang mendalam
dengan konsumen.
Manfaat emosional penting karena dapat mempengaruhi persepsi
konsumen terhadap merek, membentuk loyalitas merek, dan memengaruhi
keputusan pembelian jangka panjang. Oleh karena itu, dalam strategi pemasaran,
penting untuk memperhitungkan dan memanfaatkan manfaat emosional ini untuk
membangun hubungan yang kuat antara merek dan konsumen.
3) Pengetahuan tentang kepuasan yang diberikan produk bagi konsumen.
Hal tersebut mengacu pada pemahaman atau kesadaran yang dimiliki
konsumen tentang sejauh mana produk memenuhi atau melebihi harapan mereka
dan memberikan kepuasan. Ini mencerminkan pengetahuan konsumen tentang
pengalaman positif yang mereka alami setelah menggunakan produk tersebut.
Penting untuk merekam dan memahami tingkat kepuasan konsumen
terhadap produk karena dapat memberikan wawasan berharga untuk
meningkatkan kualitas produk, layanan pelanggan, dan strategi pemasaran.
Konsumen yang puas cenderung menjadi pelanggan setia dan mungkin juga
menjadi advokat merek yang berharga, yang dapat memengaruhi persepsi merek
di kalangan orang lain. Oleh karena itu, memahami pengetahuan konsumen
tentang kepuasan produk merupakan elemen kunci dalam manajemen merek dan
pemasaran.(Herdianto & F.Ronodirdjo, 2020)

Pengertian Product Knowledge


Pengetahuan produk (product knowledge) merupakan kumpulan dari
berbagai deretan informasi mengenai produk, yang meliputi kategori produk,
merek, terminologi produk, atribut, fitur produk, harga dan kepercayaan mengenai
produk. Apabila pengusaha atau penjual dapat memahami tentang pengetahuan
produk yang baik dan benar maka penjual akan lebih mudah dalam melakukan
konfirmasi kepada konsumen untuk memastikan pembelian produk. Selain itu,
pengetahuan produk juga meliputi beberapa informasi yang diproses oleh
konsumen untuk memperoleh suatu produk. (Herdianto & F.Ronodirdjo, 2020)

Komponen-komponen Brand Knowledge


Dikutip dari artikel Konverzi (2023) adapun komponen-komponen dalam
brand knowledge, antara lain:
1) Kesadaran merek (brand awareness): Ini mengacu pada sejauh mana
konsumen mengenal dan mengingat merek anda. Kesadaran merek dapat
dibagi menjadi dua bagian: kesadaran merek yang tidak dibantu (tanpa
bantuan eksternal, seperti menyebutkan merek secara spontan) dan
kesadaran merek yang dibantu (dengan bantuan eksternal, seperti mengenali
merek dari daftar pilihan).
2) Asosiasi merek (brand associations): Ini mencakup hubungan atau atribut
yang dikaitkan dengan merek oleh konsumen. Asosiasi merek dapat berupa
karakteristik produk, manfaat, pengalaman, atau nilai-nilai yang dihubungkan
dengan merek tersebut. Asosiasi merek yang kuat dapat membentuk citra
merek yang positif di benak konsumen.
3) Citra merek (brand image): Ini merupakan gambaran atau persepsi yang
dimiliki konsumen tentang merek. Citra merek mencakup persepsi konsumen
terhadap kualitas, keandalan, gaya hidup, nilai-nilai merek, dan hubungan
emosional dengan merek tersebut.
4) Loyalitas merek (brand loyalty): Ini mengacu pada tingkat kesetiaan
konsumen terhadap merek. Loyalitas merek mencakup berbagai tingkatan,
mulai dari loyalitas merek yang lemah hingga loyalitas merek yang kuat.
Konsumen yang loyal cenderung memilih dan membeli produk merek tersebut
secara konsisten, bahkan ketika ada opsi lain yang tersedia. (Yansens, 2023)

Pengertian Brand Knowledge


Brand knowledge atau pengetahuan merek merupakan suatu bagian dari
merek. Menurut Kotler dan Philip (2012) merek merupakan nama, tanda, istilah,
simbol, serta desain dari produk yang bertujuan untuk mengetahui barang atau
jasa dari satu penjual ke penjual lainnya untuk membedakan mereka dari para
pesaing (Kotler & Philip, 2012). Sedangkan menurut Keller (Nindita Ariama Putri,
2021) mengemukakan bahwa, brand knowledge merupakan informasi seputar
merek dalam ingatan (memory) konsumen, beserta asosiasi-asosiasi yang
berhubungan dengan merek tersebut (Putri, 2021).
Berdasarkan dari pendapat-pendapat ahli diatas, dapat diketahui bahwa
brand knowledge merupakan pengukuran pengetahuan dan informasi bagi
konsumen atau pelanggan yang dihubungkan dengan suatu produk yang
dikonsumsi. Selain itu, pengetahuan merek (brand knowledge) mengacu pada
tingkat pemahaman dan kesadaran konsumen terhadap suatu merek. Ini
mencakup pengetahuan tentang produk atau layanan yang ditawarkan oleh merek
tersebut, nilai-nilai yang diwakili oleh merek, citra merek, dan pengalaman yang
terkait dengan merek tersebut. Pengetahuan merek juga mencakup pemahaman
tentang keunikan merek dalam perbandingan dengan pesaingnya, serta reputasi
dan kredibilitas merek di mata konsumen. Dengan kata lain, pengetahuan merek
mencakup semua informasi dan persepsi yang dimiliki konsumen tentang suatu
merek.

Strategi Promosi


Dalam upaya pengembangan bisnis, satu hal yang tidak boleh sampai
dilewatkan adalah membuat perencanaan pemasaran bisnis yang matang. Dalam
rencana bisnis yang matang dapat mengantarkan suatu usaha pada sebuah
keberhasilan dalam berbisnis. Strategi promosi adalah segala upaya terencana
yang dilakukan oleh sebuah bisnis dalam melakukan pemasaran suatu produk
agar produk tersebut dapat diminati oleh banyak pelanggan sehingga nantinya
terjadilah proses transaksi. Ekspektasi dan kepuasan pelanggan menjadi kunci.
Hal tersebut disebabkan oleh pola rencana ataupun strategi tertentu yang mampu
untuk menarik perhatian dan meningkatkan jumlah penjualan produk.
Dalam dunia bisnis di era modern seperti sekarang, merancang tahapan
strategi promosi adalah suatu langkah tepat dalam mempromosikan produk agar
dapat mendatangkan pelanggan. Strategi promosi mempunyai ciri khas atau
karakter khusus, hal tersebut yang menjadikannya berbeda dengan strategi
lainnya dalam bisnis. Karakter tersebut harus ada ketika seorang marketer
menerapkan strategi promosi dalam bisnis. Adapun karakter yang harus di lakukan
oleh marketer dalam mengaplikasikan strategi promosi antara lain:

Tujuan Promosi


Pada umumnya tujuan promosi adalah untuk mencapai berbagai hasil yang
diinginkan oleh perusahaan atau organisasi dalam konteks pemasaran dan
komunikasi. Tujuan promosi memberikan dampak kepada konsumen agar
keinginan dalam membeli produk atau jasa yang dihasilkan dapat terealisasikan.
Maka dari itu, harus diusahakan bagaimana mempengaruhi mindset konsumen
untuk melakukan kegiatan pembelian. (Sari dkk., 2022). Adapun tujuan dari
melakukan kegiatan promosi yang dilakukan oleh individu maupun organisasi,
antara lain:
1) Meningkatkan kesadaran, promosi bertujuan untuk membuat target pasar
menyadari keberadaan produk atau layanan tertentu.
2) Meningkatkan minat, setelah kesadaran tercapai, promosi berusaha untuk
menarik minat pelanggan potensial terhadap produk atau layanan tersebut.
3) Mendorong pembelian, tujuan utama promosi adalah untuk mendorong
pembelian produk atau layanan, baik melalui peningkatan keinginan
konsumen maupun melalui penawaran khusus atau diskon.
4) Membangun dan mempertahankan hubungan, promosi dapat digunakan
untuk membangun dan memelihara hubungan positif antara merek dan
pelanggan, yang dapat menghasilkan loyalitas jangka panjang.
5) Mengenalkan produk baru, jika ada produk atau layanan baru, promosi dapat
membantu dalam memperkenalkannya kepada pasar dan membangun minat
awal.
6) Meningkatkan citra merek, promosi juga dapat digunakan untuk meningkatkan
citra merek, baik dengan menekankan kualitas, nilai, atau nilai-nilai merek
yang diinginkan.
7) Meningkatkan penjualan dalam periode tertentu, promosi sering digunakan
untuk meningkatkan penjualan selama periode tertentu, seperti musim liburan
atau penjualan akhir tahun.

Jenis Promosi


Cara pemasaran yang beragam telah mampu menghasilkan bentuk dan juga
upaya dalam melakukan promosi yang sangat beragam. Umumnya, dalam
kegiatan promosi ini tersebut meliputi iklan, promosi konsumen, siaran pers, serta
masih banya kegiatan promosi lainnya. Philip Kotler dan Grey Amstrong
berpendapat bahwa promosi dapat dibagi menjadi lima jenis, yaitu advertising,
personal selling, sales promotion, public relation, dan direct marketing (Masyithoh
dkk., 2023).
Tapi pada umumnya, berbagai promosi yang sering dilihat dan ditemukan
saat ini adalah sebagai berikut:
1) Promosi secara fisik
Promosi yang dilakukan secara fisik dapat ditemui dengan mudah pada
event atau acara-acara tertentu, seperti konser, pameran, bazar, dan masih
banyak event lainnya. Kegiatan promosi tersebut pada umumnya dilakukan
dengan membuka booth agar dapat menawarkan atau mempromosikan produk
barang produk atau jasanya.
Jenis promosi ini mempunyai kelebihan serta kekurangan tersendiri.
Kelebihan dari promosi tersebut adalah memungkinkan pebisnis untuk
menjangkau serta melakukan interaksi satu sama lain yaitu calon konsumen dan
pembeli secara langsung. Sedangkan untuk kekurangan dari promosi fisik ialah
terbatasnya para calon konsumen yang bisa dijangkau. Pada umumnya, untuk
kegiatan promosi fisik ini biasanya diadakan pada lokasi khusus, seperti
perkantoran, kampus atau sekolah, mall, dan sebagainya. Sehingga, setiap orang
yang berada pada lokasi tersebut dapat terjangkau dengan mudah dan efektif.
2) Promosi melalui media tradisional
Jenis promosi ini, pada masanya memang sangat efektif untuk
meningkatkan penjualan, beberapa contohnya seperti media cetak, TV, radio,
billboard, iklan banner, dan lain sebagainya. Jenis promosi ini pun mempunyai
keuntungannya tersendiri daripada promosi fisik, yaitu dapat menjangkau lebih
banyak konsumen dalam periode waktu yang lama. Akan tetapi, jenis promosi
melalui media tradisional ini mempunyai kekurangan, yaitu harga yang dikeluarkan
untuk biaya promosi lumayan mahal, baik dari segi media maupun biaya promosi
itu sendiri.
3) Promosi melalui media digital
Perkembangan teknologi dan juga media informasi sekarang ini telah
mengubah cara memasarkan produk atau promosi produk. Beberapa promosi
yang dapat dilakukan secara digital diantaranya adalah jaringan website, mesin
pencari, media sosial, email, aplikasi, dan lain-lain. Setiap perusahaan atau
pengusaha yang sudah sadar akan teknologi, umumnya akan cenderung memilih
menggunakan internet sebagai media promosi bisnisnya. Selain biaya yang
dikeluarkan terbilang murah, promosi dengan menggunakan media digital juga
dapat menjangkau lebih banyak orang, dan proses promosinya pun lebih mudah
serta cepat.

Pengertian Promosi


Promosi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan
kesadaran merek, minat, dan pembelian produk, layanan, atau merek tertentu. Ini
melibatkan penggunaan berbagai strategi pemasaran dan komunikasi untuk
memperkenalkan, mempromosikan, dan memengaruhi target audiens agar
melakukan tindakan tertentu, seperti pembelian atau partisipasi dalam kegiatan
tertentu. Promosi dapat mencakup berbagai elemen, termasuk iklan, penjualan
langsung, promosi penjualan, pemasaran langsung, sponsor acara, publisitas,
konten pemasaran, dan aktivitas lainnya yang dirancang untuk memperkuat citra
merek dan mendorong konsumen untuk berinteraksi dengan merek atau produk
tersebut.
Menurut Sari (Marbun dkk 2022) promosi dipandang sebagai suatu informasi
untuk mempengaruhi individu maupun organisasi untuk melakukan pembelian
terhadap produk dan juga jasa (Marbun dkk., 2022). Sedangkan menurut Aisya
dan Riyadi (2020) promosi merupakan suatu komunikasi antara pembeli dan
penjual yang berawal dari informasi yang tepat serta bertujuan untuk merubah
sikap dan tingkah laku pembeli yang sebelumnya tidak mengetahui akan produk
atau jasa yang dipasarkan dan setelah melakukan promosi pembeli menjadi tahu
akan produk atau jasa tersebut, sehingga pembeli akan tetap mengingat dan tidak
asing lagi mengenai produk tersebut (Aisyah & Riyadi, 2020).

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan
pemasaran. Menurut Kotler dan Amstrong (2019), menyatakan bahwa pemasaran
merupakan analisis, perencanaan, pengendalian, serta penerapan atau
implementasi dari program-program yang telah dirancang guna menciptakan,
membangun, serta memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan sasaran
konsumen untuk memperoleh tujuan perusahaan. Sedangkan arti dari manajemen
ialah sebuah proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
penggerakan (actuating), serta pengawasan (controlling). (Yulianti dkk., 2019)
Maka dari itu, dapat diartikan bahwa manajemen pemasaran merupakan
sebagai analisis dari perencanaan, penerapan, dan pengendalian program yang
dirancang untuk menciptakan, membangun, serta mempertahankan pertukaran
yang menguntungkan dengan target pasar dengan maksud untuk mendapatkan
tujuan-tujuan organisasi.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN)


Di Indonesia tumbuhnya BUMN pada masa kemerdekaan sebenarnya untuk
sebagian merupakan reaksi terhadap situasi kolonial. Dalam Undang-Undang
No.9 Tahun 1969 menyebutkan, BUMN merupakan seluruh bentuk usaha negara
yang seluruhnya atau sebagian modalnya dimiliki oleh Negara/Pemerintah dan
dipisahkan dari kekayaan negara.
Pengertian BUMN yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan di
atas masing-masing secara substantif memperlihatkan adanya reformasi. Apabila
sebelum adanya UU No.19 Tahun 1960, terdapat bermacam-macam bentuk
usaha negara, maka setelah ditetapkannya UU No.19 Tahun 1960 seluruh badan
usaha milik negara yang ada pada waktu itu diberi nama Perusahaan Negara.
(Nachrawi, 2021)
Adapun tugas-tugas BUMN sebagaimana dituangkan dalam Instruksi
Presiden No.5 Tahun 1988, yakni:
1) Mengadakan barang yang karena pertimbangan keamanan serta kerahasiaan
harus dikuasai oleh negara;
2) Didirikan atas pertimbangan guna melakukan kebijakan pemerintahan
tertentu dan atau strategis;
3) BUMN dibangun dengan tujuan untuk menjaga dan melindungi keselamatan
serta kesejahteraan masyarakat;
4) BUMN didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
sehingga harus dimiliki dan dikelola oleh pemerintah;
5) Usaha-usaha yang bersifat komersial layaknya yang dilakukan oleh swasta.

Tujuan Pemberdayaan UMKM


Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan hal
yang penting karena memiliki dampak yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi,
pembangunan sosial, dan pengentasan kemiskinan. Adapun tujuan dari
pemberdayaan UMKM, yang telah diatur dalam pasal 5 Undang-Undang UMKM,
yaitu:
1) Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang
dan berkeadilan;
2) Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri, dan;
3) Meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam pembangunan
daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan
ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan. (Nurjaya., SE., 2022

Pengertian UMKM


Menurut UUD 1945 kemudian dikuatkan melalui TAP MPR NO. XVI/MPR-
RI/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi, Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah perlu diberdayakan sebagai bagian dari integral ekonomi
rakyat yang mempunyai kedudukan, peran, dan potensi strategis untuk mencapai
struktur perekonomian nasional yang makin seimbang, berkembang dan
berkeadilan. Kemudian, diciptakan pengertian UMKM melalui Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 1999 dan karena keadaan perkembangan yang semakin dinamis
kemudian dialihkan ke Undang-Undang Nomor 20 Pasal 1 Tahun 2008 tentang
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah maka pengertian UMKM adalah sebagai
berikut:
1) Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana yang
telah dirancang dalam Undang-Undang.
2) Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah
atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang.
3) Usaha menengah merupakan usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
yang dimana dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan
merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai,
atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil maupun Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
4) Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan
usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih
besar dari usaha menengah, yang terdiri atas usaha nasional milik negara
atau swasta, usaha patungan, serta usaha asing yang melakukan kegiatan
ekonomi di Indonesia.

Tahapan Video Promosi


Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam membuat suatu video
promosi, antara lain :
1) Perencanaan: Tahap ini melibatkan identifikasi tujuan promosi, penentuan
target audiens, pembuatan konsep, dan penyusunan skenario atau naskah.
2) Pengumpulan materi: Ini termasuk pengambilan gambar atau rekaman video,
pengumpulan foto, dan pengumpulan elemen visual atau audio lainnya yang
diperlukan untuk pembuatan video promosi.
3) Produksi: Proses ini mencakup pengambilan gambar atau rekaman video
sesuai dengan skenario atau naskah yang telah disiapkan. Hal ini melibatkan
penggunaan kamera, peralatan pencahayaan, dan peralatan audio jika
diperlukan.
4) Editing: Tahap editing melibatkan pengeditan rekaman video, pengaturan
urutan gambar, penambahan efek visual atau audio, penambahan teks atau
grafis, dan penyuntingan lainnya untuk menciptakan narasi yang kuat dan
menarik.
5) Penyebaran: Setelah video selesai diedit, tahap selanjutnya adalah
menyebarluaskannya kepada audiens target. Ini bisa dilakukan melalui
berbagai platform seperti situs web, media sosial, televisi, atau acara promosi
lainnya.
6) Evaluasi: Tahap terakhir adalah evaluasi kinerja video promosi, yang
melibatkan pengukuran efektivitasnya dalam mencapai tujuan promosi yang
telah ditetapkan. Evaluasi ini dapat dilakukan melalui analisis data, umpan
balik dari audiens, dan pengamatan terhadap respons dan interaksi dengan
video tersebut.

Jenis Video Promosi


Adapun jenis-jenis video promosi, dalam pembuatan video promosi terdapat
5 jenis video promosi yang dapat dibuat oleh suatu perusahaan, yaitu:
1) Video profil
Video profil adalah media yang sangat efektif yang digunakan untuk
mempromosikan daerah, produk, dan mempromosikan suatu perusahaan tertentu.
Video profil atau istilah lainnya company profil merupakan solusi kreatif dan inovatif
untuk berbagai keperluan, terutama untuk kebutuhan dalam mempromosikan.
Selain itu, video profil merupakan sebuah rekaman yang ditampilkan di media
audio dalam wujud visual lainnya, yang dimana digunakan untuk isi dari profil suatu
instansi, daerah sampai dengan objek wisata. (Permana dkk., 2017)
Jadi, pada dasarnya video profil tersebut merupakan jenis video promosi
yang dirancang untuk memperkenalkan dan mempresentasikan sebuah
perusahaan, merek, atau individu kepada para audience. Biasanya video profil
dimasukkan elemen-elemen seperti, sejarah perusahaan atau merek, visi dan
misi, nilai dan budaya perusahaan, produk atau layanan dan lain sebagainya.
2) Video demo atau tutorial
Video demo atau tutorial adalah jenis video promosi yang dirancang untuk
menunjukkan kepada pemirsa cara menggunakan produk atau layanan secara
praktis atau memberikan panduan langkah demi langkah tentang suatu topik
tertentu. Tujuan utama dari video demo atau tutorial adalah untuk memberikan
pemahaman yang jelas dan praktis kepada pemirsa tentang bagaimana produk
atau layanan dapat digunakan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Video edukasi
Video edukasi adalah jenis video yang dirancang untuk menyampaikan
informasi, pengetahuan, atau keterampilan kepada pemirsa dengan tujuan
mendidik atau memberikan pemahaman yang lebih baik tentang suatu topik
tertentu. Tujuan utama dari video edukasi adalah untuk mengajarkan sesuatu
kepada pemirsa, baik itu konsep abstrak, keterampilan praktis, atau informasi
fakta.
Maka dari itu, video edukasi merupakan jenis video yang sangat efektif
untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada pemirsa dalam format
yang menarik dan mudah dicerna.
4) Video testimoni
Video testimoni adalah bentuk testimonial yang disampaikan melalui video.
Pada umumnya, video testimoni menampilkan seseorang yang memberikan
kesaksian atau pengalaman pribadi mereka tentang produk, layanan, atau
pengalaman tertentu. Video testimoni bisa menjadi alat pemasaran yang sangat
efektif karena memungkinkan potensi pelanggan untuk melihat dan mendengar
pengalaman positif secara langsung dari orang lain. Hal ini dapat meningkatkan
kepercayaan dan meyakinkan calon pelanggan lebih dari sekadar tulisan testimoni
atau ulasan tertulis. Video testimoni juga bisa memberikan konteks dan emosi
tambahan yang sulit ditangkap dalam bentuk tulisan.
5) Video event
Video event adalah rekaman visual dari sebuah acara atau kejadian yang
direkam menggunakan kamera atau perangkat perekam lainnya. Video event
biasanya mencakup berbagai jenis acara, mulai dari konser, konferensi, presentasi
bisnis, pernikahan, pertunjukan teater, hingga acara olahraga. Tujuan utama dari
video event adalah untuk merekam dan mengabadikan momen-momen penting
atau menarik dari suatu acara agar dapat ditonton kembali oleh orang yang tidak
dapat menghadiri acara tersebut secara langsung. Video juga dapat digunakan
untuk dokumentasi, promosi, atau keperluan arsip. (Koen Cinema Indonesia,
2023)

Pengertian Video Promosi


Video promosi adalah jenis konten video yang diciptakan dengan tujuan
khusus untuk mempromosikan atau memasarkan produk, layanan, atau merek
tertentu kepada audiens target. Biasanya, video promosi dirancang untuk menarik
perhatian, menyampaikan pesan pemasaran yang jelas, dan mempengaruhi
penonton untuk mengambil tindakan tertentu, seperti pembelian produk atau
layanan yang dipromosikan. Tujuan utama dari video promosi adalah untuk
meningkatkan kesadaran merek, mempengaruhi persepsi konsumen, dan
mendorong.
Dikutip dari artikel, menurut Degey (2016) video promosi adalah video yang
digunakan untuk mempromosikan sesuatu. Ciri dari video promosi yaitu dapat
mempromosikan sesuatu secara lebih rinci dengan kapasitas durasi yang lebih
panjang dibandingkan dengan video iklan lainnya, dikarenakan tahapan
pengambilan gambar untuk video promosi tersebut harus dilakukan secara terus
menerus dari objek yang ingin dipromosikan agar hasil dari video promosi tersebut
lebih jelas dan detail yang mencakup seluruh objek tersebut. Dengan membuat
video promosi yang baik pastinya akan dapat meningkatkan citra perusahaan itu
sendiri, dapat meningkatkan nama brand di depan para calon konsumen atau
target (audience) (Arsyad, 2020)

Direct Marketing


Pemasaran selalu menjadi hal yang penting di dalam dunia bisnis. Salah
satunya ialah direct marketing. Keuntungan yang diperoleh adalah semakin
mendekatkan dengan para calon konsumen. Menurut Direct Marketing Association
pemasaran langsung merupakan suatu sistem interaktif yang menggunakan satu
atau lebih media periklanan untuk menciptakan suatu respons yang dapat diukur
dan/atau transaksi pada segala lokasi (Shimp, 2019). Sedangkan menurut Kotler
dan Amstrong (Helmin dan Siregar, 2022), pemasaran langsung atau dikenal juga
dengan sebutan direct marketing merupakan bentuk pemasaran yang melibatkan
komunikasi langsung dengan konsumen dengan tujuan untuk membujuk para
calon konsumen dalam melakukan pembelian (T. & Siregar, 2022)
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pemasaran langsung
(direct marketing) merupakan sistem penjualan yang dilakukan oleh suatu
perusahaan atau organisasi dalam melakukan komunikasi secara langsung
dengan target konsumen untuk memperoleh respons ataupun transaksi.
Pengusaha atau penjual melakukan pendekatan langsung kepada pelanggan
dengan produk atau jasa yang ditawarkannya. Walaupun pemasarannnya
langsung ditujukan kepada calon konsumen, antara penjual dan konsumen
sebenarnya tidak harus bertatap muka. Saluran pemasaran secara langsung ini
dapat dilakukan melalui email, telepon, media sosial, dan lain sebagainya.
Menurut Tjiptono, Chandra, & Adriana (2017), pemasaran langsung atau
direct marketing dapat dibedakan menjadi 3 indikator, antara lain :
1) Pemasaran sasaran adalah mengacu pada kemampuan perusahaan untuk
mengidentifikasi dan memilih audiens yang tepat untuk pesan pemasaran
mereka. Ini melibatkan segmentasi pasar yang cermat dan pemilihan target
pasar yang sesuai dengan karakteristik demografis, psikografis, atau perilaku
yang relevan. Dengan memahami siapa target pasar mereka, perusahaan
dapat menyesuaikan pesan pemasaran mereka dengan lebih efektif,
meningkatkan relevansi dan respons dari audiens.
2) Akses Informasi adalah merujuk pada kemampuan perusahaan untuk
mengumpulkan, menyimpan, dan mengelola data pelanggan atau prospek
secara efisien. Ini mencakup penggunaan basis data pelanggan yang
terorganisir dengan baik, teknologi informasi, dan alat analisis data untuk
mendapatkan wawasan yang mendalam tentang perilaku konsumen dan
preferensi mereka. Dengan memiliki akses yang baik terhadap informasi
pelanggan, perusahaan dapat menyesuaikan pesan pemasaran mereka
dengan lebih baik dan memberikan pengalaman yang lebih personal kepada
konsumen.
3) Kreativitas dalam pemasaran langsung adalah mengacu pada kemampuan
perusahaan untuk mengembangkan pesan pemasaran yang unik, menarik,
dan berkesan untuk menarik perhatian audiens target mereka. Ini melibatkan
penggunaan ide-ide kreatif, desain visual yang menarik, narasi yang
menggugah emosi, dan strategi kreatif lainnya untuk membuat pesan
pemasaran menjadi lebih menonjol di antara persaingan. Dengan kreativitas
yang tepat, perusahaan dapat meningkatkan daya tarik kampanye pemasaran
langsung mereka dan menghasilkan respons yang lebih positif dari konsumen

Kelebihan Digital Marketing


Di era digital sekarang ini, digital marketing banyak digunakan oleh beberapa
industri atau perusahaan sebagai strategi dalam melakukan bisnis mereka. Hal
tersebut membuktikan banyak kelebihan dan manfaat yang diperoleh oleh
perusahaan dalam menerapkan digital marketing, antara lain:
1) Kecepatan Publikasi
Strategi pemasaran yang menggunakan digital marketing dapat dilakukan
dengan sangat cepat, dapat tersebar serta terpublikasi hanya dalam beberapa
menit. Sehingga hal tersebut memungkinkan perusahaan untuk merespons tren
pasar atau perubahan industri dengan lebih cepat, dan juga memberikan
fleksibilitas untuk menguji dan mengoptimalkan strategi pemasaran dalam waktu
yang tepat dan real time.
2) Kemudahan Mengevaluasi
Strategi pemasaran dengan menggunakan digital marketing, dapat secara
langsung diketahui hasilnya, layaknya berapa banyak orang yang telah melihat
produk tersebut, berapa durasi iklan yang ditonton, selain itu, dapat diketahui juga
berapa jumlah persenan pada penjualan dari setiap iklan. Setelah mengetahui
informasi tersebut, maka dapat dilakukan evaluasi iklan mana yang menarik dan
tidak tertarik di mata pelanggan, sehingga dapat dikonversi untuk periode
selanjutnya.
3) Jangkauan Luas
Melakukan strategi digital marketing dapat menyebarkan produk secara luas
ke seluruh dunia hanya dengan beberapa langkah memanfaatkan peluang
internet.
4) Murah dan Efektif
Digital marketing tentunya meminimalisir pengeluaran dan juga efektif,
dikarenakan biaya anggaran yang dikeluarkan bisa sampai 40% menurut
Gartner’s.
5) Membangun Nama Brand
Strategi digital marketing merujuk pada proses memperkuat kesadaran,
persepsi, dan reputasi merek di kalangan konsumen melalui berbagai saluran
digital. Ini melibatkan pembangunan citra merek yang kuat, konsisten, dan
terpercaya di mata konsumen. Aktivitas ini mencakup pembuatan konten yang
relevan dan menarik, interaksi yang positif dengan audiens melalui media sosial
dan platform online lainnya, serta memastikan konsistensi merek di seluruh
saluran digital. Membangun nama merek yang kuat melalui digital marketing
membantu meningkatkan loyalitas konsumen, membedakan merek dari pesaing,
dan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. (Indah Nur Agustina, S.Par.
dkk., 2023)

Tujuan Digital Marketing


Dikutip dari Kreativ dalam buku ajar digital marketing (2023) ditemukan
bahwa, sebanyak 46% dari total pengeluaran iklan global di pada tahun 2021
dialokasikan untuk digital marketing. Beberapa pelanggan yang mengambil
keputusan untuk membeli produk atau jasa setelah pelanggan tersebut melihat
konten video pemasaran. Digital Marketing memiliki tujuan untuk menarik para
calon konsumen serta menarik konsumen dengan lebih cepat, dan juga
meningkatkan penjualan produk dari sebuah brand pada waktu yang bersamaan,
dan mengembangkan brand awareness perusahaan. (Indah Nur Agustina, S.Par.
dkk., 2023). Adapun tujuan dari digital marketing, antara lain:
1) Meningkatkan kesadaran, memperluas jangkauan merek dan produk agar
lebih dikenal oleh target pasar melalui berbagai saluran digital seperti situs
web, media sosial, dan mesin pencari.
2) Peningkatan keterlibatan, mendorong interaksi yang lebih aktif antara merek
dan konsumen melalui konten yang relevan, menarik, dan berdaya ungkit.
3) Generasi prospek, mengumpulkan prospek atau leads yang berpotensi
menjadi pelanggan melalui formulir kontak, pendaftaran email, atau tindakan
lainnya.
4) Konversi penjualan, mengubah prospek menjadi pelanggan yang sebenarnya
dengan menawarkan penawaran yang menarik, mengarahkan mereka ke
halaman pembelian, dan menyediakan pengalaman yang nyaman dan
terpercaya.
5) Meningkatkan retensi pelanggan, yang diman membangun hubungan yang
kuat dengan pelanggan yang ada melalui komunikasi berkelanjutan,
memberikan nilai tambah, dan memenuhi kebutuhan mereka.
6) Analisis dan optimalisasi, menggunakan data dan analisis untuk memahami
kinerja kampanye, mengidentifikasi tren, dan mengoptimalkan strategi
marketing untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa depan

Pengertian Digital Marketing


Digital marketing merupakan praktik pemasaran yang menggunakan
berbagai platform dan kanal digital untuk mempromosikan produk, layanan, atau
merek. Ini melibatkan penggunaan internet dan teknologi digital lainnya seperti
smartphone, komputer, dan media sosial untuk mencapai target audiens. Menurut
Jerry Maytanius (Aridi & Agustina 2023) digital marketing merupakan suatu strategi
pemasaran yang menggunakan media digital dan platform online sebagai upaya
dalam mempromosikan produk, layanan, maupun merek dari sebuah instansi
tersebut (Maytanius dkk., 2023). Salah satu keutamaan dari digital marketing
adalah mampu untuk menjangkau masyarakat luas dengan biaya yang lebih
rendah dibandingkan dengan menggunakan metode pemasaran tradisional
seperti iklan cetak dan sejenisnya (Santi, 2020).
Menurut Farizki (Pangestika dkk, 2020) digital marketing merupakan suatu
kegiatan pemasaran dalam mempromosikan sebuah brand atau produk
menggunakan media digital seperti internet dan media sosial. Tujuan dari digital
marketing untuk menarik para konsumen secara cepat. Seperti yang diketahui,
banyaknya pengguna teknologi yang mencakup seluruh masyarakat mulai dari
generasi milenial hingga generasi Z, sehingga tidak heran kegiatan pemasaran
menggunakan digital menjadi pilihan utama bagi perusahaan atau industri di dunia.
(Farizki dkk., 2020)

Pengaruh Digital Marketing terhadap KeputusanPembelian


Menurut Chaffey, 2000 yang dikutip oleh Pradiani, 2018 e-
marketing merupakan pengembangan dari marketing
tradisional dimana marketing tradisional adalah suatu proses
pemasaran melalui media komunikasi offline seperti melalui
penyebaran brosur, iklan di televisi dan radio, dan lain
sebagainya. Setelah maraknya internet dan kemudahan
komunikasi yang ditawarkannya, maka penerapan marketing
pada perusahaan mulai mengadopsi media internet, yang
kemudian disebut sebagai e-marketing.
Menurut Philip Kotler, 2012 yang dikutip oleh Saputri,
2016 keputusan pembelian dipengaruhi oleh psikologis dasar
yang yang berperan penting dalam memahami bagaimana
konsumen membuat keputusan pembelian mereka. Setiap
orang yang ingin melakukan pembelian biasanya akan
memilih-milih terlebih dahulu apa yang baik dan sesuai dengan
keinginan sebelum memutuskan apa yang akan mereka beli

Pengertian keputusan pembelian


Keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah
menentukan pilihannya dan melakukan pembelian produk,
serta mengkonsumsinya. Keputusan pembelian antara satu
konsumen dengan yang lainnya berbeda-beda, karena
kebutuhan dan selera konsumen yang berbeda, menurut
Schiffman dan Kanuk, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
2011 keputusan pembelian adalah perilaku yang diperlihatkan
konsumen dalam mencari, memberi, menggunakan,
mengevaluasi dan menghabiskan suatu produk dan jasa yang
diharapkan dapat memuaskan kebutuhannya. Menurut Kotler
dan Amstrong, 2008:179 yang dikutip oleh Mandey, 2013
keputusan pembelian adalah proses keputusan pembeli tentang
merek mana yang dibeli. Pada umumnya, keputusan pembelian
konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi 2
faktor bisa berada antara niat dan keputusan pembelian.
Konsumen dalam keputusan pembelian dipengaruhi oleh
perilaku konsumen, pola perilaku konsumen antara satu
dengan yang lainnya saling berkaitan, seperti produk kemudian
harga dan juga promosi. Sebelum memutuskan untuk membeli
konsumen akan memastikan produk apa yang akan dibeli
kemudian memilih produknya melihat kualitas dan
kegunaannya terlebih dahulu kemudian konsumen akan
melihat harga dari produk yang telah ia pilih. Promosi juga
mempengaruhi keputusan pembelian, konsumen tidak akan
tahu produk yang baik serta harga yang murah jika tidak ada
promosi dari penjual

Manfaat influencer marketing


Menurut Ellora (2019), berdasarkan jumlah followers secara
umum jenis influencer dibagi menjadi 4, yaitu :

  1. Nano influencer
    Nano influencer adalah influencer yang memiliki jumlah
    followers 500 hingga 1.000. Meskipun jumlah
    followersnya paling sedikit di kategori influencer, namun
    tetap memiliki pengaruh yang kuat karena lebih mengenal
    hampir seluruh followersnya secara langsung
  2. Micro influencer
    Micro influencer adalah influencer yang memiliki jumlah
    followers antara 1.000 hingga 100.000. Micro influencer
    biasanya dikenal karena suatu bidang secara spesifik.
    Misalnya beauty blogger, parenting blogger, food
    blogger, dan masih banyak lagi.
  3. Macro influencer
    Macro influencer berada satu tingkat diatas micro
    influencer, mereka memiliki followers diatas 100.000
    hingga 1.000.000. Influencer jenis ini paling banyak
    ditemukan dan kerap dianggap paling ideal bagi brand.
    Macro influencer juga memproduksi konten yang lebih
    berkualitas, karena content creator adalah pekerjaan
    utamanya.
  4. Mega influencer
    Mega influencer atau biasa disebut dengan premium
    influencer atau celebrity influencer, mereka memilliki
    followers lebih dari 1 juta. Influencer jenis ini
    dikategorikan sebagai jenis influencer tertinggi karena
    biasanya berasal dari kalangan artis, youtuber, atau
    selebgram yang memiliki lebih dari 1 juta followers

Pengertian Influencer Marketing


Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin
pesat, dunia bisnis dituntut untuk selalu memperbarui strategi
pemasarannya agar lebih inovatif dalam menciptakan produk
hingga melakukan promosinya. Saat ini strategi pemasaran
yang sedang banyak digunakan adalah metode pemasaran yang
menggunakan influencer sebagai medianya. Para influencer
adalah mereka yang dipercaya dan digemari oleh sebagian
masyarakat, apapun yang dipakai dan dilakukan akan selalu
menjadi sorotan bagi orang banyak. Seorang influencer dapat
menciptakan citra merek produk yang lebih baik dan dengan
biaya yang lebih murah dibandingkan menggunakan brand
endorser artis atau figur publik yang sudah berada kalangan
artis papan atas. Seorang influencer secara umum biasanya
dipilih berdasarkan kemampuan, keahlian, tingkat popularitas,
maupun reputasi yang dimilikinya (Hariyanti & Wirapraja,
2018). Kepribadian generasi milenial yang dekat dengan dunia
internet, lebih menyukai pendekatan secara online berupa User
Generated Content (UGC) yang dibuat oleh perseorangan.
Mereka menggunakan media sosial untuk mendapatkan
informasi dan melakukan pengambilan keputusan dalam
pembelian produk berdasarkan review atau testimoni dari
orang yang sudah membeli atau menggunakan produk tersebut
(Arini, Angga, & Putra, 2019). Oleh sebab itu menggunakan
influencer sebagai media promosi merupakan hal yang efektif
karena masing-masing influencer memiliki cara yang berbeda
dalam melakukan promosi produk secara soft selling, hal ini
diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan massa dan
meningkatkan brand awareness.
Indikator influencer marketing menurut Hovland, Janis dan
Kelly, 1953 yang dikutip oleh Sugiharto & Ramadhana, 2018
“kredibilitas disusun menyimpulkan dari pembahasan-
pembahasan sebelumnya bahwa itu memiliki 3 komponen
yaitu trustworthiness, expertise, dan attractiveness”.

  1. Trustworthiness
    Menurut Shimp (2007), trustworthiness mengarah pada
    kemampuan sumber yang dilihat memiliki kejujuran,
    integritas dan dapat dipercaya. Influencer yang dipercaya
    dapat mempengaruhi audience meskipun memiliki
    kemampuan yang biasa-biasa saja
  2. Expertise
    Menurut Shimp (2007), expertise mengarah pada
    pengetahuan, pengalaman atau keahlian yang dimiliki oleh
    seorang influencer yang dapat dikaitkan dengan merek
    yang sedang di iklan-kan
  3. Attractiveness
    Attractiveness menurut Shimp (2007), yaitu mengarah
    kepada diri yang menurut audience dianggap memiliki
    daya tarik fisik yang menarik. Menurut Mowen dan Minor
    (2002), karakteristik influencer harus sesuai dengan
    produk yang mereka bawakan. Jika audience merasa
    tertarik dengan influencer, hal tersebut dapat mempersuasi
    dengan mudah melalui ketertarikan dari inflluencer
    tersebut.

Pengaruh Brand Image terhadap Keputusan Pembelian


Menurut P. Kotler & Keller, 2009 yang dikutip oleh Musay,
2013 citra merek adalah presepsi dan keyakinan yang dipegang
oleh konsumen, seperti yang dicerminkan asosiasi yang
tertanam dalam ingatan pelanggan, yang selalu diingat pertama
kali saat mendengar slogan dan tertanam dibenak
konsumennya, kemudian menurut Tjiptono & Fandy (2015),
citra merek adalah deskripsi asosiasi dan keyakinan konsumen
terhadap merek tertentu. Citra merek (brand image) adalah
pengamatan dan kepercayaan yang digenggam konsumen,
seperti yang dicerminkan di asosiasi atau di ingatan konsumen.
Menurut Ferrinadewi, 2008:166 yang dikutip oleh Musay,
2013 brand image merupakan konsep yang diciptakan oleh
konsumen karena alasan subyektif dan emosi pribadinya.
Berbagai upaya dilakukan perusahaan dalam rangka
mempertahankan brand image yang mereka miliki diantaranya
inovasi teknologi keunggulan yang dimiliki produk tersebut,
penetapan harga yang bersaing, dan promosi yang tepat
sasaran. Semakin baik brand image produk yang dijual, maka
semakin tinggi keputusan pembelian oleh konsumen
(Francisco, 2013)
Kesimpulannya, brand image (citra merek) merupakan
gambaran atau kesan yang ditimbulkan oleh suatu merek
dalam benak pelanggan. Penempatan citra merek dibenak
konsumen harus dilakukan secara terus-menerus agar citra
merek yang tercipta tetap kuat dan dapat diterima secara
positif. Ketika sebuah merek memiliki citra yang kuat dan
positif di benak konsumen maka merek tersebut akan selalu
diingat dan kemungkinan konsumen untuk membeli merek
yang bersangkutan sangat besar (P.musay, 2013)

Teori Brand Image


Menurut Kertajaya, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
2011, menyatakan ada beberapa faktor yang membentuk citra
merek yaitu :

  1. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk
    barang yang ditawarkan oleh produsen dengan merek
    tertentu
  2. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan
    pendapat dan kesepakatan yang di bentuk oleh masyarakat
    tentang suatu produk yang dikonsumsi
  3. Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari
    suatu produk yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen
  4. Pelayanan, yang berkaitan dengan tugas produsen dalam
    melayani konsumennya
  5. Resiko, berkaitan dengan untung rugi yang dialami oleh
    konsumen
  6. Harga, dalam hal ini yang dikeluarkan konsumen untuk
    mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi
    citra berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
    sedikitnya jumlah uang jangka panjang
  7. Image, yang dimiliki merek itu sendiri, yaitu berupa
    pelanggan, kesempatan dan informasi yang berkaitan
    dengan suatu merek dari produk tertentu
    Menurut Rahman, 2010:179 yang dikutip oleh Kurniati,
    2012, pengukuran terhadap merek mempunyai enam tingkat
    pengertian, yaitu :
  8. Atribut : Merek mengingatkan pada atribut tertentu dari
    sebuah produk, baik dari program purna jualnya,
    pelayanan, maupun kelebihannya dan perusahaan
    menggunakan atribut tersebut sebagai materi iklan mereka
  9. Manfaat : Pelanggan tentu tidak membeli sebatas atribut
    dari suatu produk melainkan manfaatnya
  10. Nilai : Merek mewakili nilai dari produknya. Jam tangan
    merek Rolex, misalnya yang memberikan nilai tinggi bagi
    penggunanya
  11. Budaya : Merek mewakili budaya tertentu
  12. Kepribadian : Merek layaknya seseorang yang
    merefleksikan sebuah kepribadian tertentu
  13. Pemakai : Merek menunjukkan jenis konsumen yang
    membeli atau menggunakan suatu produk tersebut.

Pengertian Brand Image


Brand Image merupakan representasi dari keseluruhan
persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman masa lalu konsumen terhadap merek itu. Ketika
konsumen memutuskan untuk membeli suatu produk
sebenarnya mereka memiliki alasan-alasan tertentu dalam
memilih sebuah produk, misalnya merasa puas dengan kualitas
dan pelayanan yang ditawarkan produk tersebut. Ada pula
konsumen yang membeli barang berdasarkan kebutuhan akan
suatu barang dan tidak sedikit konsumen yang membeli suatu
produk secara spontanitas, maksudnya konsumen membeli
produk tersebut tanpa ada rencana untuk membeli sebelumnya
atau tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan khusus ketika
memutuskan untuk membeli (Musay, 2013). Berbagai upaya
dilakukan perusahaan dalam rangka mempertahankan brand
image yang mereka miliki diantaranya inovasi teknologi
keunggulan yang dimiliki produk tersebut, penetapan harga
yang bersaing, dan promosi yang tepat sasaran. Semakin baik
brand image produk yang dijual, maka semakin tinggi
keputusan pembelian oleh konsumen (Francisco, 2013).
Pengertian brand image menurut para ahli :

  • Menurut Tjiptono, 2015:49 yang dikutip oleh Venessa &
    Arifin, 2015 Citra merek adalah deskripsi asosiasi dan
    keyakinan konsumen terhadap merek tertentu
  • Menurut Kertajaya, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
    2011, mengemukakan pendapatnya bahwa yang dimaksud
    dengan citra merek adalah gebyar dari seluruh asosiasi yang
    terkait pada suatu merek yang sudah ada di benak
    konsumen

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Digital Marketing


Menurut Strauss dan Frost, 2009 yang dikutip oleh Hendrawan
dkk, 2019, ada tujuh tahap yang perlu diperhatikan dalam
perancangan e-marketing yaitu :

  1. Situation Analysis (Analisis Situasi)
    Tahap pertama merupakan awal dari konsep bisnis
    dengan melakukkan analisis kekuatan, peluang, kelemahan
    serta ancaman bagi perusahaan. Dalam bagian ini, analisis
    situasi yang digunakan adalah analisis SWOT. Menurut
    Rangkuti (2004), analisis SWOT adalah indentifikasi
    berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi
    perusahaan. Analisis ini disarankan pada logika yang dapat
    memaksimalkan Kekuatan (Strengths), dan Peluang
    (Opportunities), namun secara strategi selalu berkaitan
    dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan
    perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategi
    (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategi
    perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman)
    dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut Analisis
    Situasi. Analisis SWOT membandingkan antara faktor
    internal Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weakness)
    dengan faktor eksternal Peluang (Opportunities) dan
    Ancaman (Threats) yang dihadapi di dunia bisnis.
  2. E-Marketing Strategic Planning (Strategi Perencanaan E-
    Marketing)
    Dalam tahap ini terdapat metodologi tujuh langkah
    sederhana yang membantu dalam mengevaluasi dan
    menganalisis peluang pasar (Market Opportunity
    Analysis/MOA), yaitu : Mengidentifikasi kebutuhan
    pelanggan yang belum terpenuhi mengidentifikasi
    pelanggan tertentu yang akan dituju oleh perusahaan.
    Menilai keuntungan yang berkaitan dengan kompetisi
    menilai sumber daya perusahaan untuk memberikan
    penawaran menilai kesiapan pasar akan teknologi.
    Menentukan peluang secara konkret. Menilai peluang daya
    tarik bagi pelanggan. Strategi perencanaan e-marketing
    meliputi segmentation, targeting, differentiation, dan
    positioning.
  3. Objectives (Tujuan)
    Tujuan dalam e-marketing mencakup aspek tugas,
    kuantitas, dan waktu. Tugas (apa yang akan dicapai).
    Kuantitas yang terukur (seberapa banyak). Time Frame
    (kapan). Sebagian besar e-marketing bertujuan untuk
    mencapai berbagai tujuan seperti berikut: Meningkatkan
    pangsa pasar. Meningkatkan jumlah komentar pada sebuah
    blog atau website. Meningkatkan pendapatan penjualan.
    Mengurangi biaya (misalnya biaya distribusi atau promosi).
    Mencapai tujuan merek (seperti meningkatkan kesadaran
    merek). Meningkatkan ukuran database. Mencapai tujuan
    Customer Relationship Management (CRM) (seperti
    meningkatkkan kepuasan pelanggan, frekuensi pembelian,
    atau tingkat referensi pelanggan). Memperbaiki manajemen
    rantai suplai (seperti dengan meningkatkan koordinasi
    anggota, menambahkan mitra atau mengoptimalkan tingkat
    persediaan).
  4. E-marketing strategy (Strategi e-marketing)
    Strategi e-marketing mencakup strategi mengenai 4P dan
    hubungan manajemen (relationship management) untuk
    mencapai tujuan rencana mengenai Product (Produk), Price
    (Harga), Place (Saluran Distribusi), dan Promotion
    (Promosi)
  5. Implementation Plan (Rencana Pelaksanaan)
    Pada tahap ini perusahaan memutuskan bagaimana untuk
    mencapai tujuan melalui strategi yang efektif dan kreatif.
    Pemasar memilih bauran pemasaran (4P), strategi
    manajemen dan strategi lain untuk mencapai tujuan rencana
    dan kemudian menyusun rencana pelaksanaan
    (Implementation Plan). Perusahaan juga memeriksa untuk
    memastikan organisasi pemasaran yang tepat di tempat
    pelaksanaan (staf, struktur departemen, penyedia layanan
    aplikasi, dan lain-lain di luar perusahaan). Internet telah
    mengubah tempat pertukaran dari marketplace (seperti,
    interaksi face-to-face) menjadi marketspace (seperti,
    interaksi screen-to-face). Perbedaan utama adalah bahwa
    sifat hubungan pertukaran sekarang ditengahi oleh interface
    teknologi. Dengan perpindahan dari hubungan antar muka
    people-mediated menjadi technology-mediated, terdapat
    sejumlah pertimbangan perancangan interface yang
    dihadapi. Menurut Rayport dan J.Jaworski (2003), ada
    berbagai elemen dalam mendesain sebuah situs web, yaitu
    context (konteks dari situs mencerminkan nilai keindahan
    dan kegunaan dari situs tersebut), content (konten
    merupakan semua objek digital yang terdapat dalam sebuah
    web baik dalam bentuk audio, video, image ataupun text),
    community (kommunitas merupakan ikatan hubungan yang
    terjadi antara sesame pengunjung atau pelanggan dari
    sebuah website karena adanya kesamaan minat atau hobi),
    customization (kustomisasi merupakan kemampuan situs
    untuk memodifikasi dirinya sesuai dengan keinginan
    penggunanya), communication (komunikasi antara
    perusahaan dengan pelanggan, terdiri dari Broadcast
    Dimension, Interactive Dimension, dan Hybrid Dimension),
    connection (kemampuan sebuah website untuk berpindah
    dari sebuah webpage ke webpage lainnya ataupun website
    lainnya dengan onclick baik pada text, images maupun
    toolbars yang lain), dan commerce (commerce merupakan
    fitur dari customer interface yang mendukung berbagai
    aspek dari transaksi perdagangan dan memiliki dimensi
    seperti registration, shopping cart, security, credit card
    approval, one click shopping, order through affiliates,
    configuration technology, order tracking, delivery option)
  6. Budget (Anggaran)
    Kunci dari perencanaan strategis adalah untuk
    mengidentifikasi hasil yang diharapkan dari suatu investasi.
    Selama pelaksanaan rencana, pemasar akan terus memantau
    pendapatan aktual dan biaya untuk melihat hasil yang telah
    dicapai. Internet merupakan salah satu tools yang dapat
    digunakan untuk memantau hasil karena catatan teknologi
    pengunjung setiap klik. Untuk mendapatkan informasi
    anggaran yang dapat dipertanggungjawabkan, perlu dibuat
    perhitungan tentang revenue forecast (perkiraan
    pendapatan), intangible benefits (manfaat tidak berwujud),
    cost savings (penghematan biaya), dan e-marketing costs
    (biaya e-marketing)
  7. Evaluation Plan (Rencana Evaluasi)
    Perencanaan e-marketing dilaksanakan, keberhasilannya
    tergantung pada evaluasi yang terus menerus. Jenis evaluasi
    ini tergantung pada tujuan rencana. Untuk menentukan hasil
    pemasarannya, perusahaan dapat menggunakan balanced
    scorecard untuk mengukur kesuksesan dari program
    internet marketing dan apakah program internet marketing
    tersebut cocok sesuai dengan objektif dari perusahaan

Manfaat Digital Marketing


Pada 2018 jumlah pengguna internet di Indonesia sudah
mencapai 171,17 juta jiwa. Angka ini setara dengan 64,8% dari
total penduduk Indonesia 264,16 juta jiwa. Jika dibandingkan
dengan tahun sebelumnya, terdapat pertambahan pengguna
internet di Indonesia mencapai 27,92 juta orang atau tumbuh
10,12% hal ini terbukti dari data hasil survei penetrasi dan
perilaku pengguna internet yang dirilis oleh APJII (Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada Mei 2019.
Sedangkan hasil survei untuk media sosial yang paling sering
dikunjungi oleh masyarakat Indonesia adalah 50,7%
menggunakan media sosial Facebook, 17,8% menggunakan
Instagram, 15,1% menggunakan Youtube, 1,7% menggunakan
Twitter, dan 0,4% menggunakan LinkedIn (Franedya, 2019)

Tahap Keputusan Berkunjung


Menurut Kotler dan Keller (2012) proses keputusan pembelian dan
keputusan berkunjung meliputi lima tahapan, yaitu :

  1. Problem Recognition (Pengenalan Masalah)
    Proses pembelian dimulai saat pembeli menyadari suatu masalah atau
    kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan internal atau pun internal. Pemasar
    perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu dengan
    mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen. Kemudian mereka dapat
    mengembangkan strategi pemasaran yang memicu minat konsumen.
  2. Information Search (Pencarian Informasi)
    Setelah mengenal kebutuhan yang dihadapinya, konsumen akan mencari
    informasi lebih lanjut atau tidak. Ketika konsumen mengumpulkan informasi,
    hanya bebrapa pilihan yang ,menjadi kuat. Jika kebutuhan itu sangat penting
    bagi konsuemen maka pencarian informasi akan lebih mendalam, salah satu
    cara konsumen yaitu mendapatkan informasi dari berbagai pihak. Informasi-
    informasi yang didapatkan konsumen dibagi menjadi empat kelompok sumber
    informasi diantaranya :
    a. Pribadi : keluarga, teman, tetangga
    b. Komersial : iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, tampilan.
    c. Publik : media masa, organisasi pemeringkat, konsumen.
    d. Pengalaman : penanganan, pemeriksaan, penggunaan produk.
    Jumlah dan pengaruh relatif dari sumber-sumber informasi tergantung pada
    jenis produk dan karakteristik pembeli.Secara umum konsumen menerima
    informasi tentang suatu produk dari sumber komersial, yaitu sumber yang
    didominasi pemasar. Namun sumber informasi yang paling efektif didominasi
    dari sumber pribadi.Setiap sumber informasi menjalankan fungsi yang berbeda
    dalam memengaruhi keputusan pembelian.Yang menjadi pusat perhatian
    pemasaran adalah sumber informasi pokok yang diperhatikan konsumen.
  3. Evaluation Alternative (Evaluasi Alternatif )
    Setelah melalui tahapan pencarian informasi, konsumen akan menghadapi
    sejumlah merek yang dapat dipilih, pemilihan alternatif ini melalui beberapa
    proses tertentu, yaitu :
    a. Konsumen akan mempertimbangkan berbagai sifat produk
    b. Pemasar harus mempertimbangkan kegunaan ciri-ciri suatu produk
    c. Konsumen biasnaya membangun seperangkat kepercayaan merek sesuai
    dengan ciri-cirinya
    d. Konsumen diasumsikan memiliki sejumlah fungsi kegunaan setiaap cirri
    yang menggambarkan bagaimana konsumen mengharapkan kepuasan dari
    suatu produk yang bervariasi pada tingkat yang berbeda untuk masing-
    masing ciri
    e. Terbentuknya sikap konsumen terhadap beberapa merek melalui prosedur
    f. Penilaian konsumen ternyata menerapkan prosedur penilaian yang berbeda
    untuk membuat suatu pilihan diantara sekian banyak ciri-ciri objek
    g. Purchase Decision (Keputusan Pembelian)
    Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk prefensi antar merek dalam
    kumpulan pilihan. Konsumen membentuk suatu minat terhadap merek yang
    paling dsukai. Dalam melaksanakan pembelian, konsumen dapat membentuk
    lima sub keputusan : merek, penyalur, kuantitas waktu, dan metode pembayaran.
    Cara sikap orang lain mengurangi altenatif yang disukai akan bergantung pada
    dua hal yaitu intensitan negatif orang lain pada alternatif yang disukai
    konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. Minat
    beli berada pada posisi setelah konsumen melakukan evaluasi alternatf sebelum
    melakukan keputusan pembelian. Pertimbangan alternatif konsumen untuk
    menyelesaikan masalah dalam memilih sebuah merek mana yang menjadi
    pilihan konsumen untuk mengatasi masalahnya terdapat beberapa macam
    alternatif pilihaan yang dibedakan berdasarkan beberapa klasifikasi yaitu: kelas
    produk, bentuk produk, merek atau model yang ingin konsumen beli. Adapun
    klasifikasi lainnya yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memutuskan
    pilihan membeli yaitu : meteode dalam pembayaran (kas, cek, atau kredit) yang
    dikunjunginya, dan waktu yang dikunjunginya harian atau bulanan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Berkunjung


Menurut Wahyuni et al., (2022) menyatakan bahwa ada lima faktor yang
menentukan seseorang untuk membeli jasa atau mengunjungi objek wisata, yaitu :

  1. Lokasi, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang lokasi yang
    benar-benar strategis dan tidak membutuhkan terlalu banyak waktu, tenaga dan
    biaya sehingga lokasi ini dapat mendukung yang lain.
  2. Fasilitas, fungsinya adalah memenuhi kebutuhan wisatawan selama tinggal
    untuk sementara waktu di destinasi wisata yang dikunjungi. Sehingga apabila
    suatu destinasi memiliki fasilitas yang lengkap maka akan mempengaruhi
    konsumen untuk berkunjung.
  3. Citra/image, menggambarkan kepada seseorang terhadap suatu destinasi yang
    mengandung kenyakinan, kesan dan persepsi. Citra yang terbentuk di pasar
    merupakan kombinasi antara berbagai faktor yang ada pada destinasi yang
    bersangkutan (seperti cuaca, pemandanan alam, keamanan, kesehatan dan
    sanitasi, keramah tamahan, dan lain-lain) dan informasi yang diterima oleh
    calon wisatawan dari berbagai sumber dipihak lain, atau fantasinya sendiri,
    walaupun tidak nyata, sangat penting di dalam mempengaruhi keputusan calon
    wisatawan.
  4. Harga/tarif, akan mempengaruhi seorang konsumen untuk mengambil
    keputusan dalam berkunjung ke suatu destinasi. Harga yang tinggi pada suatu
    daerah tujuan wisata akan memberikan imbas/timbal balik pada pengunjung
    begitu pula sebaliknya.
  5. Pelayanan, yang diberikan pada saat memilih sampai terjadinya transaksi
    pembelian sangatlah berpengaruh terhadap jadi tidaknya pembelian yang
    dilakukan oleh konsumen. Oleh karena itu, suatu destinasi akan memiliki
    banyak pengunjung apabila memberikan pelayanan yang terbaik bagi
    pengunjungnya.

Definisi Keputusan Berkunjung


Keputusan berkunjung adalah suatu tahap dimana konsumen telah
memiliki pilihan dan siap untuk melakukan pembelian atau pertukaran antara
uang dan janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan suatu
barang atau jasa (Kotler, 2012). Sedangkan menurut Tina Rahmadayanti &
Kholid Murtadlo, (2020) keputusan berkunjung adalah suatu keputusan yang
diambil oleh seseorang yang akan melakukan perjalanan ke suatu tempat wisata
tertentu untuk berlibur. Keputusan pengunjung untuk memilih objek wisata yang
dipilih pada dasarnya merupakan salah satu bentuk pengambilan keputusan.
Kristiutami, (2015) menyatakan bahwa keputusan berkunjung wisatawan sama
dengan keputusan pembelian. Keputusan berkunjung merupakan sebuah proses
dimana seseorang pengunjung melakukan penilaian dan memilih satu alternatif
yang diperlukan berdasarkan pertimbangan tertentu. Proses pengambilan
keputusan sangatlah penting karena dalam melakukan perjalanan wisata seorang
pengunjung terlebih dahulu menyiapkan mental, jarak tempuh berapa lama, ke
tempat wisata mana dan lain-lain. Keputusan berkunjung merupakan tahapan atau
proses yang dipengaruhi oleh motivasi, preferensi, informasi, dan kondisi
lingkungan dimana seseorang memiliki pilihan dan melakukan penilaian dengan
berbagai pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam melakukan perjalanan
atau kunjungan ke suatu tempat tertentu

Aspek Digital Marketing


Aspek digital marketing yang harus diketahui dan dipersiapkan dalam
menjalankan sebuah usaha menurut Karni Fadhillah (2020) sebagai berikut :

  1. Menetukan Target Market
    Menentukan kriteria target market bisnis merupakan hal penting dilakukan
    sebelum terjun ke dunia bisnis. Dari menentukan spesifikasi target pasar
    nantinya akan memudahkan untuk menjalankan strategi pemasaran
    menggunakan iklan digital ataupun cara penyampaian konten melalui sosial
    media.
  2. Branding
    Branding merupakan sebuah cara yang dilakukan untuk membuat sebuah bisnis
    atau usaha dikenal oleh banyak orang. Hal ini bisa diwujudkan melalui
    penggunaan iklan (baik secara digital maupun konvensional), melalui word of
    mouth (ulut ke mulut), mengikuti sebuah event, menjadi sponsor sebuah acara,
    menciptakan logo yang ikonik, membuat nama brand yang mudah diingat, dan
    masih banyak lagi.
  3. Iklan
    Aspek pemasaran yang tak kalah penting adalah ads atau iklan. Iklan dalam
    promosi digital dapat dibuat spesifik mungkin dengan menargetkan kriteria
    konsumen tertentu. Melalui penargetan iklan yang spesifik iklan akan tayang
    pada orang-orang dengan kriteria yang diinginkan. Dengan demikian
    perusahaan dapat menghemat biaya dalam metode pemasaran yang digunakan.
    Hal ini tidak seperti pemasaran konvensional dimana jangkauan atau target
    market tidak bisa dibuat spesifik
    12
  4. Berkomunikasi dengan Konsumen
    Dalam menjalin hubungan dengan konsumen pastikan bahwa cara
    berkomunikasi yang digunakan sesuai dengan kriteria target market yang
    sebelumnya sudah ditentukan. Cara berkomunikasi yang tepat dan baik akan
    membangun hubungan di antara suatu brand dengan konsumennya. Hal ini
    berperan dalam meningkatkan kredibilitas serta kepuasan pelanggan terhadap
    pelayanan brand bisnis.
  5. Konsistensi
    Konsistensi merupakan kunci utama dalam memasarkan sebuah usaha atau
    bisnis. Untuk memaksimalkan peluang dalam bersaing dengan kompetitor lain,
    membuat sebuah konten media sosial atau iklan digital harus secara konsisten.
    Mempertahankan setiap kualitas konten hingga seluruh informasi yang akan
    diberikan tersampaikan pada konsumen. Informasi yang diberikan pun harus
    sesuai kebenarannya sebab, hal ini dapat mempengaruhi kredibilitas bisnis atau
    usaha di mata konsumen

Jenis-jenis Digital Marketing


Menurut Andy et al., (2020) terdapat beebrapa jenis digital marketing
sebagai berikut :

  1. Website
    Salah satu jenis dari digital marketing yaitu website. Saat ini banyak produk atau
    jasa yang sudah menggunakan website sebagai sarana promosi dam memasarkan
    produknya di era digital. Selain sebagai sarana promosi dan memasarkan produk,
    mealui website konsumen dapat mencari dan melihat review tentang produk atau
    jasa yang dicari.
  2. Sosial Media Marketing
    Sosial media marketing adalah pemasaran menggunakan situs media sosial untuk
    meningkatkan visibilitas di internet dan untuk mempromosikan produk dan jasa.
    Melalui media sosial bisa menjadi jembatan untuk bertukar ide, pengetahuan,
    informasi, bahkan komunikasi antar pengguna.
  3. Search Engine atau Mesin Pencarian
    Search Engine atau Mesin Pencarian adalah jenis website yang khusus untuk
    mengumpulkan daftar website yang bisa ditemukan di internet dalam data base
    yang kemudian menampilkan daftar indeks ini berdasarkan kata kunci atau
    keyword yang dicari oleh pengguna. Search Engine terbagi menjadi 2 yaitu SEO
    (Search Engine Optimization) dan SEM (Search Engine Marketing)
    a. SEM (Optimasi Mesin Pemasaran) : bekerja dengan cara meningkatkan
    visitabily dengan menggunakan periklanan dan optimasi dengan timbal balik
    berupa biaya. SEM memudahkan dalam mengupayakan website bisa muncul
    dihalaman pertama Google.
    b. SEO (Optimasi Mesin Pencari) : merupakan upaya menaikkan website
    dihalaman pertama Google dengan startegi atau peletakkan kata kunci artikel
    atau suatu konten

Kelebihan dan Kekurangan Digital Marketing


Dalam pengaplikasiannya digital marketing memiliki kelebihan dan
kekurangan. Menurut Andy et al., (2020) kelebihan dan kekurangan digital
marketing sebagai berikut :
a. Kelebihan menggunakan Digital Marketing

  1. Efisiensi biaya dan waktu : pemasaran digital memiliki biaya yang lebih rendah
    dibandingkan dengan pemasaran tradisional. Selain itu, pemasaran digital akan
    mendapatkan jangkauan pasar yang lebih luas dan lebih besar tanpa harus
    membuang banyak waktu untuk melakukan promosi.
  2. Interaktif : pengguna online dapat memilik kapan untuk memulai
    pemasarannya, dengan siapa, dimana saja, dan berapa lama nya tidak terbatas
    oleh waktu.
  3. Konten menarik : pemasaran digital menawarkan banyak konten menarik,
    praktis, dan tidak terbatas.
  4. Mudah diukur : teknologi digital memungkinkan pengukuran. Pemilik usaha
    dapat mengetahui seberapa jauh konten yang dibuat dan dapat berdampak pada
    penjualan.
  5. Audiens tak terbatas : kunjungan pada platform online yang dimiliki tidak
    terbatas, siapapun dapat melihat web, media sosial, atau akun lainnya.
    b. Kekurangan menggunakan Digital Marketing
  6. Koneksi internet : promosi online dapat terhambat salah satunya karena
    koneksi internet yang lambat, audiens akan sulit untuk mengakses konten yang
    telah di upload.
  7. Tantangan privasi dan keamanan : pengumpulan dan penggunaan data pribadi
    dapat menimbulkan masalah privasi dan keamanan yang perlu dikelola hati-
    hati.
  8. Kurangnya kepercayaan : kurangnya kepercayaan pengguna karena banyaknya
    iklan yang dimanipulasi sehingga mengarah pada penipuan

Manfaat Digital Marketing dan Dampak Digital Marketing


Menurut Andy et al., (2020) digital marketing memiliki beberapa manfaat
bagi perusahaan untuk meningkatkan pemasaran produk, jasa, atau tempat sebagai
berikut :

  1. Meningkatkan penjualan, jangkauan konsumen dan target pasar yang luas akan
    membuat produk, jasa, atau tempat semakin dikenal oleh banyak orang.
  2. Lebih dekat dengan konsumen, komunikasi melalui media digital akan
    membuat konsumen menjadi lebih dekat. Dengan memberikan pelayanan
    terbaik konsumen akan merasa nyaman dan menjadi pelanggan setia.
  3. Meningkatkan pendapatan, dengan berkembangnya jaringan konsumen yang
    dimiliki, maka pendapatan juga akan ikut bertambah. Pendapatan yang
    meningkat juga bisa mendorong pertambahan profit perusahaan.
    Digital Marketing memiliki dampak signifikan dalam membentuk persepsi dan
    mempengaruhi keputusan pengunjung untung berkunjung. Berikut beberapa
    dampak dari digital marketing, yaitu :
  4. Membangun Kesadaran Merek
    Dengan berbagai saluran digital seperti media sosial perusahaan dapat
    membangun kesadaran merek secara efektif. Kesadaran merek yang tinggi
    dapat membentuk persepsi positif terhadap usaha yang dijalankan dan
    meningkatkan kemungkinan bahwa orang tersebut akan mengunjungi situs web
    atau tempat usaha tersebut.
  5. Testimoni atau Review Online
    Ulasan atau review online akan memainkan peran penting dalam membentuk
    persepsi seseorang. Ulasan positif yang baik dan terdapat bukti yang akurat
    tentang kualitas dan kepuasan pelanggan yang dapat mempengaruhi keputusan
    pengunjung untuk mengunjungi.
  6. Interaksi melalui Media Sosial
    Interaksi melalui media sosial dapat membentuk persepsi pelanggan tentang
    keaslian, nilai merek, dan sebagainya. Respon positif dan interaksi langsung
    dapat menciptakan ikatan emosional dengan pelanggan yang akan mendorong
    mereka untuk mengunjungi situs web atau tempat usaha.
  7. Kampanye Iklan Berbayar
    Kampanye iklan berbayar dapat memberikan hasil cepat dan membentuk
    persepsi bahwa bisnis tersebut memiliki tawaran menarik. Iklan yang
    ditargetkan secara tepat dapat memotivasi pengunjung untuk mengklik iklan
    dan mengunjungi situs web.
  8. Personalisasi melalui Email Marketing
    Melalui email marketing yang personal dan disesuaikan, bisnis dapat
    membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan. Personalisasi pesan
    dapat membentuk persepsi bahwa bisnis peduli dan memahami kebutuhan
    individual pelanggan

Indikator Digital Marketing


Digital marketing memiliki beberapa indikator menurut Viedy E, Samadi L
(2022), yaitu :

  1. Accessibility (aksessibilitas), kemampuan pengguna untuk mengakses
    informasi dan layanan yang disediakan secara online dan periklanan.
  2. Interactivity (interaktivitas), tingkat komunikasi dua arah yang mengacu pada
    kemampuan timbal balik komunikasi antara pengiklan dan konsumen, dan
    menanggapi input yang akan diterima.
  3. Entertainment (hiburan), kemampuan beriklan untuk memberi kesenangan
    atau hiburan kepada konsumen.
  4. Credibility (kepercayaan), tingkat kepercayaan konsumen pada iklan yang
    muncul atau sejauh mana iklan memberikan informasi tentang mereka dapat
    dipercaya, tidak memihak, kompeten, kredibel, dan spesifik.
  5. Informativeness (informatif), kemampuan iklan untuk menyuplai informasi
    kepada konsumen, serta memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai
    sebuah produk sehingga bisa memberikan keuntungan ekonomis

Definisi Digital Marketing


Kini banyak perusahaan yang menggunakan teknologi modern untuk
mempromosikan usaha atau bisnis mereka. Hal ini juga dimanfaatkan oleh
industri pariwisata di Jawa Timur Park 3 yang menggunakan startegi digital
marketing untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Digital marketing
merupakan penggunaan berbagai platform atau media online seperti media sosial,
email dan berbagai platform online lainnya untuk mempromosikan, memasarkan,
dan mengkomunikasikan produk dan layanan. Tujuan utama dari digital
marketing adalah untuk meningkatkan keputusan berkunjung, meningkatkan
kesadaran merek, meningkatkan penjualan, dan menarik perhatian calon
pelanggan. Digital marketing memiliki definisi yang sangat luas dengan berbagai
konsep juga sistem penerapan yang berbeda-beda menurut Chaffey (2011) digital
marketing adalah pemasaran digital adalah suatu bentuk usaha perusahaan dalam
memasarkan produk dan jasanya ke dalam teknologi digital secara online guna
mendapatkan pasar secara global dan spesifik.
Strategi digital marketing akan terus berkembang seiring berkembangnya
teknologi dan seiring berjalannya waktu, perusahaan akan terus memperbarui
strateginya untuk tetap bertahan di pasar yang dinamis ini. Digital marketing
bukan hanya tentang periklanan, tetapi juga tentang berinteraksi dengan calon
pelanggan dan membangun hubungan jangka panjang. Digital marketing memiliki
peran penting dalam dunia bisnis modern dan memainkan peran inti dalam
menarik perhatian pengunjung ke platform online atau situs web.
Menurut Andy et al., (2020) ada beberapa alasan mengapa digital marketing
penting , yaitu :

Biaya yang lebih efisien, melalui digital marketing perusahaan dapat
menghemat anggaran dan memaksimalkan hasil keuangan perusahaan karena,
semua aktivitas pemasaran dilakukan secara online

Targeting yang lebih efisien, digital marketing dapat memudahkan untuk
mengetahui apa yang diinginkan pelanggan, apa yang disukai dan apa yang
tidak disukai

Mencapai audiens yang lebih luas, melalui digital marketing perusahaan
dapat terhubung dengan orang dari seluruh penjuru dunia sehingga, akan
memperluas pelanggan potensial

Indikator Produk Inovasi


1) Pembaharuan Jenis Produk (Varian Produk)
Suatu sarana untuk membedakan produk satu dengan yang lainnya atau
membedakan produk yang dimiliki dengan produk pesaing. Sebagai
contoh menu makanan restaurant yang menyajikan makanan yang
serupa tetapi masing-masing restaurant pasti memberi variasi makanan
yang berbeda di hidangannya.
2) Kualitas Produk
Keunggulan suatu produk terhadap fungsinya masing-masing yang
meliputi daya tahan, ketelitian, kekuatan, kehandalan serta rasa yang
dipertahankan.
3) Gaya dan Desain Produk
Gaya dan desain produk merupakan suatu penampilan dari sebuah
produk, sebagai contoh desain produk untuk melakukan promosi dengan
menggunakan fitur desain promosi guna menarik konsumen untuk
membelinya.

Tujuan Produk Inovasi


Tujuan dari produk inovasi yaitu untuk mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan agar tidak kalah saing dengan perusahaan
lain. Selain itu dengan terus berkembangnya teknologi yang mengharuskan
perusahaan terus mengembangkan inovasi terhadap produknya agar bisa
menyesuaikan kebutuhan dan selera konsumen serta siklus hidup produk
yang tidak bertahan lama yang membuat persaingan domestik dan luar
negeri semakin ketat. Produk yang ditawarkan pun harus unik dan beragam
dengan menunjukan kualitas keunggulan dari masing-masing produk yang
ditawarkan demi memenuhi kebutuhan serta selera konsumennya.
Menurut Tjiptono (2018:439), tujuan yang ingin dicapai dari
penciptaan produk baru diantaranya adalah:
1) Untuk memenuhi kebutuhan baru dan memperkuat reputasi
perusahaan sebagai innovator, yaitu dengan menawarkan produk
yang lebih baru dari pada yang telah ada (strategi ofensif).
2) Untuk mempertahankan daya saing terhadap yang ada, yaitu
dengan menawarkan produk yang dapat memberikan jenis
kepuasan yang baru. Bentuknya dapat berupa tambahan terhadap
lini produk yang sudah ada ataupun revisi terhadap produk yang
telah ada (strategidefensif).

Proses Pegembangan Produk Inovasi


Menurut Kotler (2017:10) proses pengembangan produk baru dapat
dibagi menjadi delapan proses, yaitu:
1) Proses Penciptaan Gagasan (Idea Generation)
Proses penciptaan gagasan bertujuan mendapatkan sebanyak
mungkin gagasan. Sumber gagasan tersebut dapat diperoleh dari
pelanggan, ilmua, pesaing, salesman perusahaan, distributor,
maupun pihak manajemen puncak. Pada tahap ini manajemen
puncak perlu menetapkan dan menegaskan kelompok produk apa
dan pasar mana yang akan diteliti. Maka harus jelas dulu
sebelumnya mengenai sasaran produk baru dan seberapa besar
upaya yang diperlukan untuk mengembangkan produk tersebut.
2) Proses Penyaringan Gagasan (Idea Screening)
Kesalahan penyaringan gagasan ini bertujuan pokok meneliti dan
membuang gagasan yang tidak baik sedini mungkin. Dua jenis
kesalahan yang harus dihindarkan dalam tahap ini adalah:
a) Kesalahan membuang (Drop error)
Jenis kesalahan ini terjadi bila perusahaan ternyata
membuang gagasan yang sebenarnya bagus.
b) Kesalahan jalan terus (Go error)
Jenis kesalahan ini terjadi bila perusahaan ternyata
meloloskan gagasan yang tidak bagus ke tahap
pengembangan dan akhirnya ke tahap komersial.
3) Proses Pengembangan dan Pengujian Konsep (Concept
Development and Testing)
Setelah melewati tahap penyaringan gagasan mengenai produk
tertentu yang bisa dijual ke pasar, lalu dikembangkan menjadi
beberapa konsep produk. Konsep produk yang telah ditemukan
masih perlu penempatan yang jelas sehingga pemisahan bisa
menyadari pada tingkat persaingan maka ia bersaing. Selanjutnya
pengujian atas konsep dilakukan pada sekelompok konsumen yaitu
konsumen diberikan uraian terperinci masing-masing konsep dan
diminta menjawab pertanyaan mengenai konsep tadi. Berdasarkan
jawaban responden tadi lalu diambil sebagai sampel sehingga
produsen dapat menilai konsep mana yang paling memikat dan
cukup kuat.
4) Proses pengembangan strategi pemasaran (Marketing Strategy
Development)
Pada tahap ini manajer produk, baru menyusun suatu konsep
permulaan strategi pemasaran untuk memperkenalkan produk di
pasar nanti. Strategi ini mencakup tiga bagian pokok, yaitu:
a) Rencana penempatan produk tersebut, hasil penjualan,
pangsa pasar serta sasaran keuntungan selama beberapa
tahun yang akan datang.
b) Perincian harga produk, saluran distribusi dan anggaran
pemasaran selama tahun pertama.
c) Sasaran jangka panjang dalam penjualan, keuntungan dan
strategi bauran pemasaran.
5) Proses Analisis Bisnis (Business Analysis)
Pada tahap ini manajer perusahaan harus memperkirakan jumlah
penjualan, jumlah penjualan perdana, jumlah penjualan pengganti,
jumlah penjualan ulang, serta biaya dan laba.
6) Proses Pengembangan Produk (Product Development)
Apabila dari segi bisnis sudah dinyatakan layak untuk diteruskan,
maka pada tahap ini konsep produk masuk ke tahap perekayasaan
untuk dikembangkan secara fisik di bagian produksi. Beberapa versi
fisik dari konsep produk akan di kembangkan oleh bagian R&D
dimana dalam proses itu diharapkan akan terbentuk prototype yang
memenuhi persyaratan.
7) Proses pengujian pasar (Market Testing)
Sasaran pokok dari pengujian pasar adalah pengkajian atas
tanggapan-tanggapan konsumen dan penyalur terhadap masalah-
masalah perlakuan, penggunaan dan pembelian produk senyatanya
senta pengkajian atas seberapa luas pasar sesungguhnya. Seberapa
luas pasar yang harus diadakan akan tergantung pada dua segi yaitu
biaya dan resiko penanaman modal disatu pihak adalah keterbatasan
waktu dan biaya penelitian.
8) Proses Komersialisasi (Commercialization)
Melalui tahap pengujian pasar, diharapkan dapat diperoleh
informasi yang cukup untuk keputusan berikutnya, yaitu produk
dipasarkan secara masal atau produk dibatalkan. Bila keputusan
yang diambil adalah meneruskan ke tahap komersialisasi, maka
perusahaan memerlukan penanaman modal dan biaya pemasaran
yang besar. Selain itu perusahaan juga harus memperhatikan faktor-
faktor seperti kapan waktu yang tepat untuk memasuki pasar,
dimana produk baru akan dipasarkan, pemasaran pasar yang
terencana dan prospek pasar sasaran

Pengertian Produk Inovasi


Pada era perdagangan bebas dan persaingan global ini, membuat
perusahaan harus siap dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin
ketat. Persaingan yang lebih ketat serta luas serta pandangan perilaku
konsumen yang semakin kritis dalam memilih serta menentukan suatu
produk yang membuat perusahaan harus lebih kreatif dan inovatif dalam
membuat dan menghasilkan suatu produk yang berkualitas serta lebih baik
dari produk pesaing. Inovasi dapat meningkatkan nilai tambah produk, serta
dengan adanya inovasi akan dapat menciptakan ide baru serta memunculkan
produk baru yang dapat memberikan manfaat serta solusi yang baik bagi
permasalahan yang dihadapi konsumen.
Menurut Myers &Marquis (dalam Kotler,2016:454, Produk inovasi
merupakan hasil dari berbagai macam proses yang digabungkan dan saling
mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain. Serta cara untuk
menciptakan produk baru yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Inovasi adalah suatu ide, praktik, atau objek yang
dipahami oleh setiap individu atau pengguna lainnya sebagai sesuatu yang
baru. Proses pengambilan keputusan untuk inovasi pada prinsipnya studi
dan sebuah aktivitas pemrosesan informasi dimana setiap individu dapat
termotivasi guna untuk mengurangi ketidakpastian mengenai keuntungan
dan kerugian dari inovasi (Sumarwan,2010).
Inovasi berujung pada menciptakan introduksi produk baru. Tipe
produk baru ini berkaitan dengan strategik apa yang ingin dicapai oleh
perusahaan tersebut. Dari produk lama yang telah mencapai titik jenuh
dipasaran, diperlukan sebuah inovasi untuk mengganti produk lama
tersebut. Penggantian ini dapat berupa produk pengganti yang secara total
baru atau dengan perkembangan produk lama yang lebih modern, sehingga
dapat terus meningkatkan keinginan pelanggan dalam keputusan pembelian
produk tersebut (Siswanto et al., 2018).
Menurut Stanton (2016:222) adalah: “A product is
asset of tangible and intangible attributes, including packaging, color, price
quality and brand plus the services and reputation of the seller”. Artinya
suatu produk adalah kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak
nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merk
ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya

Indikator Digital Marketing


Menurut Ryan and Jones (2009:32-33), indikator digital marketing
saling terhubung dengan bauran pemasaran (4p) terutama promosi, berikut
beberapa indikator digital marketing:
1) Website
Website adalah penghubung dengan dunia digital secara
keseluruhan dan mungkin bagian bagian yang paling penting dalam
keseluruhan strategi pemasaran digital, dimana kegiatan online akan
terarah langsung ke calon konsumen.
2) Optimal Mesin Pencari (SEO)
SEO merupakan proses pengaturan konten atau bagian penting dari
website yang dapat membantu konsumen agar lebih mudah juga
menyuguhkan konten agar dengan mudah ditemukan oleh mesin
pencari dan selain itu untuk melakukan pencaharian konten dengan
lebih spesifik.
3) Hubungan masyarakat online (Online PR)
Online PR merupakan saluran berbasis online untuk membentuk
presepsi yang positif terhadap merek yang bertujuan untuk
menempatkan perusahaan atau organisasi dalam bidang tertentu
untuk memiliki kewenangan yang besar.
4) Sosial Network
Jejaring Sosial merupakan kesempatan yang besar dalam
pemasaran, tetapi jejaring sosial belum dapat menawarkan adanya
metode periklanan atau dasar informasi yang didapat dari situs
jejaring sosial, kepada kelompok yang berskala kecil di masyarakat.
5) Manajemen hubungan pelanggan
Digunakan untuk tujuan menjaga konsumen yang sudah ada dan
membangun kerjasama yang saling menguntungkan dengan mereka

Hal-hal Yang Mempengaruhi Digital Marketing


Digital marketing digunakan untuk memperluas pemasaran dari cara
konvensional menjadi serba digital untuk dijangkau konsumen secara tepat
waktu dan fleksibel. Adapun hal-hal yang dapat mempengaruhi digital
marketing yaitu:
1) Search Engine Marketing
Search Engine Marketing merupakan metode pemasaran digital
yang menggunakan iklan berbayar untuk mendapatkan
jangkauan yang lebih luas ataupun traffic ke website agar
masyarakat luas dapat melihat serta mengaksesnya dengan
mudah sehingga para pelaku bisnis bisa mengembangkan
usahanya lebih besar lagi dengan menggunakan media digital
ini.
2) E-mail Marketing
E-mail marketing suatu bentuk digital marketing yang
memanfaatkan media email dalam proses promosi produk
maupun jasa, yang ditujukan kepada calon konsumen ataupun
konsuemn yang sebelumnya pernah membeli suatu produk/jasa
pada suatu perusahaan. Digital marketing melalu email
marketing ini bertujuan untuk membangun relasi serta koneksi
dengan konsumen agar selalu mengetahui update penawaran
terbaru yang dipromosikan oleh perusahaan.
3) Social Media Marketing
Menurut Gunelius (2011 dalam Ratana, 2018) social media
marketing merupakan bentuk pemasaran langsung maupun tidak
langsung untuk membangun kesadaran, pengenalan merek,
peningkatan kembali, dan penindakan terhadap merek, bisnis,
produk yang dikemas dengan alat-alat disitus jejaring sosial.
Media sosial membantu pelaku usaha dalam mencari konsumen
dan membangun hubungan yang lebih personal.

Pengertian Digital Marketing


Teknologi digital dan media sosial sudah menjadi trend tersendiri,
masyarakat luas dapat melihat semua unggahan semua jenis produk melalui
media sosial dan dapat sekali dimanfaatkan sebagai peluang bisnis memalui
digital marketing yang mana dapat diakses secra realtime dan tidak terbatas
wilayah, jadi semua orang bisa melihatnya inilah yang menjadi strategi para
pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya agar tetap bertahan bahkan
berkembang pesat. Menurut data dari Google, Temase, Bain & Company,
menunjukan besarnya peningkatan ekonomi digital pada tahun 2020
(Eka,2020). Adanya perubahan pola perilaku sosial dan belanja pada
masyarakat dengan masuknya digitalisasi membuat semua hal berubah
menjadi online (Eka,2020).
Definisi digital marketing menurut American marketing association
(AMA) adalah sebuah institusi, aktivitas, dan proses yang difasilitasi oleh
teknologi berbasis digital dalam menciptakan, mengomunikasikan, dan
menyampaikan nilai-nilai kepada konsumen dan pihak yang berkepentingan
lainnya (Kannan & Hongshuang,2016).
Menurut Chaffey dan Chadwick (2016:11) “Digital marketing is the
application of the internet and related digital technologies in conjunction
with traditional communications to achieves marketing objectives”. Artinya
yaitu merupakan aplikasi dari internet dan berhubungan dengan teknologi
digital marketing dimana didalamnya berhubungan dengan komunikasi
tradisional untuk mencapai tujuan pemasaran. Penggunaan internet dan
penggunaan teknologi interaktif lain untuk membuat dan menghubungkan
informasi antara perusahaan dan konsumen yang berupa website, serch
egine marketing, viral marketing, affiliate marketing, email marketing
(Malik,2017).
Dengan adanya internet dan media sosial yang digunakan
masyarakat dalam berinteraksi sosial maupun berbelanja maka digital
marketing pun menjadi ramai. Hal ini sama saja dengan word of mouth
namun bedanya ini dilakukan dengan versi digital yang mana bisa
menjangkau lebih jauh dalam menarik pelanggan. Hal ini pula yang menjadi
pilihan para masyarakat dalam melakukan keputusan apa yang akan diambil
dalam membeli sebuah produk yang dipilihnya. Dengan digital marketing
dapat pula membantu penjual dalam menciptakan produk yang mempunyai
kualitas, pelayanan, serta memberikan feedback yang lebih baik bagi
konsumen (Abdu,2018). Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan digital
marketing merupakan sarana dalam membantu proses penjualan agar lebih
bisa menjangkau konsumen dari berbagai wilayah untuk melakukan
pembelian secara digital

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian menurut Kotler dan Armstrong
(2021) dalam buku Wibowo dan Priansa (2017:300) menjelaskan bahwa
keputusan konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk terdiri dari
beberapa indikator yaitu:
1) Pilihan Produk
Konsumen mempunyai beberapa pilihan alternatif yang mana dapat
diambil keputusan untuk membeli produk tersebut dan
membayarnya atau memakai uangnya untuk keperluan yang lain.
2) Pilihan Merek
Pilihan merek yang begitu beragam membuat konsumen harus
menentukan keputusan apa yang akan diambil mengenai pilihan
merek tersebut yang nantinya akan dibeli.
3) Pilihan Penyalur
Penyalur yang menjual barang/jasa juga menjadikan sebuah pilihan
terhadap konsumen dalam mengambil keputusan dimana konsumen
akan membeli barang/jasa tersebut.
4) Waktu Pembelian
Konsumen dapat menentukan keputusan kapan waktu yang tepat
harus melakukan pembelian.
5) Jumlah Pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan mengenai seberapa banyak
jumlah produk yang akan dibelinya pada suatu saat, jumlah
pembelian mungkin saja lebih dari satu

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Adapun faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian menurut
Amalina Hudani (2020:100) :
1) Faktor Sosial
Faktor sosial dapat mempengaruhi keputusan pembelian produk
makanan yang dijual di restaurant teras dara and lounge dimana itu
tergantung dari pengaruh kelompok sosial bagi seseorang.
Konsumen akan datang dan mengkonsumsi makanan tersebut sesuai
dengan keinginannya serta statusnya dalam kelompok sosialnya.
Faktor sosial tersebut bisa saja dari keluarga, teman, organisasi,
maupun masyarakat lain yang memberikan pengaruh terhadap
perilaku pembelian.
2) Faktor Pribadi
Faktor pribadi ini meliputi pekerjaan, keadaan perekonomian, usia
dan siklus hidup pembeli, dan gaya hidup. Dari sinilah banyak sekali
karakteristik yang berpengaruh langsung terhadap perilaku
konsumen dalam proses pembelian, serta sebagai pemasar wajib
menjalin hubungan jangka panjang serta baik dengan pelanggan.
Agar pelanggan tertarik maka harus diimbangi dengan strategi
pemasaran yang tepat dengan memperhatikan fenomena-fenomena
perubahan yang berlaku pada konsumen guna mendapatkan dan
mempertahankan nilai perusahaan di mata pelanggan.
3) Faktor Budaya
Faktor budaya menjadi hal utama yang memberikan pengaruh secara
luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Kebudayaan
(culture) merupakan faktor yang paling mendasar dalam keinginan
dan perilaku manusia. Setiap budaya terdiri dari subkultur yang
lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih
spesifik bagi anggotanya. Subkultur meliputi kebangsaan, agama,
ras dan wilayah geografis. Peran lainnya adalah kelas sosial, kelas
sosial adalah pembagian atau kelompok yang relatif homogen dan
tetap dalam masyarakat yang terstruktur secara hierarkis dan yang
anggotanya memiliki nilai, minat, dan perilaku yang sama. (Thamrin
Abdullah, 2012).
Norma budaya didasarkan pada nilai, kepercayaan, dan sikap
anggota kelompok masyarakat tertentu. Sistem nilai mempengaruhi
perilaku pembelian, misalnya, orang memperhatikan kesehatanya
maka akan membeli makanan yang tidak mengandung bahan
berbahaya bagi kesehatan.

Tahap-tahap Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2012) dalam buku Wibowo
(2017:312) dan Priansa, terdapat tahap-tahap proses keputusan pembelian
yang terdiri dari :
1) Pengenalan Masalah
Keputusan pembelian diawali dengan adanya keinginan serta
kebutahan konsumen yang belum terpenuhi dan tersalurkan, dalam
hal ini konsumen pun menyadari terdapat perbadaan antara keadaan
yang diinginkan dengan yang sebenarnya diperlukan.
2) Pencarian Informasi
Setelah konsumen menyadari akan adanya kebutuhan terhadap suatu
produk tertentu maka konsumen akan mencari informasi tentang
produk tersebut baik melalui logika pengetahuan maupun informasi
yang didapatkan dari luar.
3) Evaluasi Alternatif
Setelah informasi diperoleh maka konsumen akan melakukan
evaluasi mengenai produk tersebut melalui berbagai alternatif
pilihan dalam memenuhi suatu kebutuhan yang diperlukakan.
4) Keputusan Pembelian
Apabila tidak ada faktor lain yang mempengaruhi hasil pemilihan
evaluasi maka pilihan yang telah ditentukan menjadi sebuah
keputusan yang diambil dan ditetapkan, maka pembelian yang
aktual adalah hasil akhir dari sebuah pencarian serta evaluasi yang
telah dilakukan.
5) Evaluasi Pasca Pembelian
Merupakan perilaku konsumen yang merasa puas atau tidak puas
dengan produk yang dibeli. Jika konsumen merasa puas maka akan
melakukan pembelian kembali akan tetapi jika konsumen merasa
tidak puas dengan produk yang dibeli mereka akan meniggalkan,
menolaknya, bahkan menggembalikan produk tersebut dikemudian
hari.
6) Waktu pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia akan
melakukan pembelian dengan disertai ketersediaan uang yang
cukup.
7) Cara Pembayaran
Konsumen bebas melakukan pembayaran bisa melalui tunai/cash
ataupun debit atau bahkan melalui cicilan/kredit

Pengertian Keputusan Pembelian


Dalam proses pengambilan keputusan diawali karena adanya
kebutuhan yang harus dipenuhi, yang mana kebutuhan ini terkait dengan
beberapa pilihan alternatif sehingga perlu adanya evaluasi yang bertujuan
untuk memperoleh keputusan dalam memilih alternatif yang terbaik untuk
kebutuhan konsumen.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2010) dalam jurnal Harjati dan
Lusia (2014) keputusan merupakan suatu hal yang dihadapkan pada dua
pilihan alternatif atau lebih. Contohnya yaitu jika seseorang dihadapkan
oleh suatu keinginan atau kebutuhan akan suatu produk maka orang tersebut
mempunyai dua pilihan antara membelinya atau tidak, maka orang tersebut
sedang dihadapkan dengan posisi dalam pengambilan keputusan.
Pada tahap evaluasi, konsumen membuat preferensi mengenai
berbagai pilihan merek suatu barang ataupun jasa, dimana diantara berbagai
merek tersebut terdapat pilihan yang nantinya membentuk suatu keputusan
merek produk barang/jasa apa yang dibeli dan disukai (Kotler dan Keller
Lane,2018).
Adapun menurut Suryani (2012:17) keputusan pembelian adalah
proses konsumen dalam memilih atau menentukan keputusan dalam
membeli produk atau jasa. Ketertarikan konsumen untuk membeli atau
mengambil tindakan terhadap suatu barang yang berhubungan dengan
keputusan yang akan diambil serta diukur dengan tingkat kemungkinan
konsumen melakukan pembelian.
Menurut Setiadi (2010:384), mengatakan: Perilaku membeli
mengandung makna yakni kegiatan- kegiatan individu secara langsung
terlibat dalam pertukaran uang dengan barang dan jasa serta dalam proses
pengambilan keputusan yang menentukan kegiatan tersebut. Menurut
Kotler dan Keller (2012:170), yang mengatakan bahwa: “Keputusan
pembelian adalah tahap awal dalam proses pengembalian keputusan
pembelian dimana konsumen benar-benar memilih suatu produk untuk
dibeli. Keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau
menghindari keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh resiko yang
dirasakan”.

Pengaruh Perspesi Harga terhadap Keputusan Pembelian


Menurut hasil penelitian Santri (2016) menyatakan bahwa Harga
berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian. Demikian pula menurut
hasil penelitian Errie Margery, Alfonsius, Wan Suryani (2019) menyatakan
bahwa Harga secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Keputusan
Pembelian. Dengan adanya Harga yang sesuai maka konsumen akan
memutuskan membeli yang ditawarkan perusahaan.

Pengaruh Citra Merek terhadap Keputusan Pembelian


Menurut hasil penelitian Siska Farenzia, Raymond (2020), menyatakan
bahwa terdapat pengaruh positif dan tidak signifikan antara Citra Merek dengan
Keputusan Pembelian. Sedangkan, menurut hasil penelitian Nurul Huda (2020)
menyatakan bahwa Citra Merek secara simultan berpengaruh terhadap Keputusan
Pembelian. Hal ini berarti semakin baik citra merek dapat meningkatkan
Keputusan Pembelian.

Tipe Perilaku Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2018:174) terdapat 4 tipe perilaku Keputusan
Pembelian, yaitu :

  1. Complex Buying Behavior
    Ini merupakan perilaku pembelian konsumen dalam situasi dimana
    adanya keterlibatan konsumen yang sangat tinggi dalam pembelian dan
    melihat adanya perbedaaan yang signifikan dirasakan diantara merek-
    merek.
  2. Dissonance Reducing Buying Behavior
    Ini adalah perilaku pembelian konsumen dalam situasi dimana
    konsumen sangat terlibat dalam pembelian yang mahal, jarang atau
    berisiko , tetapi hanya melihat sedikit perbedaan antara merek-merek.
  3. Habitual Buying Behavior
    Perilaku pembelian dimana terjadi dibawah kondisi keterlibatan
    konsumen rendah dan sedikit perbedaan merek yg signifikan
  4. Variety Seeking Buying Behavior
    Merupakan perilaku konsumen yang ditandai dengan keterlibatan
    konsumen yang rendah tetapi merasakan perbedaan merek yang
    signifkan.

Peranan dalam Proses Keputusan Pembelian


Menurut Tjiptono (2019:152) ada berbagai macam peranan dalam proses
keputusan pembelian :
(1) Pemakai (users), yaitu mereka yang akan menggunakan barang atau
jasa yang dibeli.
(2) Influencers, ini adalah orang-orang yang mempengaruhi keputusan
pembelian. Mereka sering membantu dalam menentukan spesifikasi
produk dan juga menyediakan informasi untuk mengevaluasi
alternative-alternatif yang ada.
(3) Pembuat Keputusan (deciders), yakni orang-orang yang memutuskan
persyaratan produk dan / atau pemasok.
(4) Pemberi Persetujuan (approvers), merupakan orang-orang yang
mengesahkan tindakan yang diusulkan oleh pembuat keputusan atau
pembeli.
(5) Pembeli (buyers), yaitu mereka yang mempunyai wewenang resmi
untuk memilih pemasok dan menyusun syarat-syarat pembelian.
Pembeli dapat membantu menentukan spesifikasi produk, tetapi
mereka memainkan peranan yang utama dalam memilih pemasok dan
bernegosiasi.
(6) Gatekeeper, yaitu mereka yang mengendalikan aliran informasi kepada
pihak-pihak lain. Sebagai contoh yakni agen pembelian berwenang
untuk mencegah wiraniaga berhubungan langsung dengan pemakai
atau pembuat keputusan.

Pengertian Keputusan Pembelian


Kotler dan Armstrong (2018:177) mendefinisikan Keputusan Pembelian
adalah keputusan pembeli mengenai merek apa yang ingin dibeli.
Sedangkan, Kotler dan Keller (2016:198) berpendapat bahwa Keputusan
Pembelian adalah bentuk pemilihan dan minat untuk membeli merek yang paling
disukai diantara sejumlah merek yang berbeda

Strategi Penetapan Harga


Ada beberapa strategei penetapan harga menurut Kotler dan Armstrong
(2018:309), yaitu:
1.Customer Value Based Pricing
Strategi ini menggunakan persepsi nilai pelanggan yang dijadikan
kunci utama untuk menetapkan suatu harga produk atau jasa, ini artinya
dimana perusahaan lebih mementingkan persepsi pelanggan
dibandingkan biaya penjual.
2.Cost Based Pricing
Ini merupakan strategi penetapan harga yang berdasarkan biaya
produksi, biaya distribusi, biaya penjualan atau jasa, serta tingkat
pengembalian dari usaha dan resiko perusahaan.
3.Competition Based Pricing
Yaitu penetapan harga yang berdasarkan strategi pesaing, biaya,
harga, dan penawaran pasar

Dimensi Harga


Di adaptasi dari penelitian Amilia dan Asmara (2017), menjelaskan terdapat
empat indikator Harga yaitu sebagai berikut :
(1) Keterjangkaun Harga
Harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan dapat dijangkau oleh
konsumen, sehingga para konsumen dapat membeli produk yang di
produksi oleh perusahaan.
(2) Kesesuaian Harga dengan kualitas produk.
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen.
Orang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi
orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
(3) Kesesuaian Harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang
dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk
mendapatkannya. Hal tersebut berlaku sebaliknya jika konsumen
merasakan manfaat produk lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka
konsumen tersebut akan beranggapan bahwa produk tersebut mahal dan
konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian ulang.
(4) Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan
produk lainnya, dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat
dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebu

Pengertian Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2018:308), Harga adalah sejumlah uang yang
dibebankan untuk sebuah produk atau jasa, atau sejumlah nilai yang konsumen
tukarkan untuk memperoleh manfaat atau kepemilikan atau penggunaan atas sebuah
produk atau jasa.
Tjiptono (2019:290) berpendapat bahwa harga adalah satu-satunya unsur
bauran pemasaran yang mendatangkan pemasukan atau pendapatan bagi
perusahaan

Pendukung Citra Merek


Menurut Nurul Huda (2020), terdapat 3 variabel pendukung Citra Merek,
antara lain yaitu:

  1. Citra Pembuat (Corporate Image)
    Citra pembuat adalah sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
    konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa
    dimana indikatornya meliputi nama besar perusahaan itu sendiri.
  2. Citra Pemakai (User Image)
    Citra Pemakai merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
    konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau
    jasa, yang dimana indikatornya adalah gaya, gaul, percaya diri dan
    mewah.
  3. Citra Produk (Product Image)
    Citra Produk yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
    konsumen terhadap suatu produk

Pengertian Citra Merek


Menurut Kotler dan Keller (2016:32) Citra Merek adalah penawaran dari
sumber yang diketahui dalam benak masyarakat dan membentuk citranya sendiri.
Citra Merek adalah Sekumpulan keyakinan, ide, kesan, dan persepsi dari
seorang, suatu komunitas, atau masyarakat tentang suatu brand. (Huda, 2020).
Berdasarkan deskripsi di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa, Citra
Merek adalah penawaran dari sumber yang diketahui yang dimana berisi
sekumpulan ide, kesan, dan persepsi konsumen terhadap suatu merek.
b. Dimensi Citra Merek
Menurut Wijaya (2013) dimensi-dimensi utama membentuk citra sebuah
merek tertuang dalam berikut ini:
(1) Brand Identity (Identitas Merek)
Brand Identity merupakan identitas fisik yang berkaitan dengan
merek atau produk tersebut sehingga konsumen mudah mengenali dan
membedakannya dengan merek atau produk lain, seperti logo, warna,
kemasan, lokasi, identitas perusahaan yang memayungi, slogan, dan
lain-lain.
(2) Brand Personality (Personalitas Merek).
Brand Personality adalah karakter khas sebuah merek yang
membentuk kepribadian tertentu sebagaimana layaknya manusia,
sehingga khalayak konsumen dengan mudah membedakannya dengan
merek lain dalam kategori yang sama, misalnya karakter tegas, kaku,
berwibawa, nigrat, atau murah senyum, hangat, penyayang, berjiwa
sosial, atau dinamis, kreatif, independen, dan sebagainya.
(3) Brand Association (Asosiasi Merek).
Brand Association adalah hal-hal spesifik yang pantas atau selalu
dikaitkan dengan suatu merek, bisa muncul dari penawaran unik suatu
produk, aktivitas yang berulang dan konsisten misalnya dalam hal
sponsorship atau kegiatan social resposibility, isu-isu yang sangat kuat
berkaitan dengan merek tersebut, ataupun orang, simbol-simbol dan
makna tertentu yang sangat kuat melekat pada suatu merek.
(4) Brand Attitude and Behavior (Sikap dan Perilaku Merek).
Brand Attitude and Behavior adalah sikap atau perilaku
komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam menawarkan
benefit-benefit dan nilai yang dimilikinya. Attitude and behavior
mencakup sikap dan perilaku konsumen, aktivitas dan atribut yang
melekat pada merek saat berhubungan dengan khalayak konsumen,
termasuk perilaku karyawan dan pemilik merek.
(5) Brand Benefit and Competence (Manfaat dan Keunggulan Merek).
Brand Benefit and Competence merupakan nilai-nilai dan
keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu merek kepada konsumen
yang membuat pelanggan dapat merasakan manfaat karena kebutuhan,
keinginan, mimpi, dan obsesinya terwujudkan oleh apa yang
ditawarkan tersebut

Strategi Nama Merek


Kotler dan Armstrong (2018:267), terdapat enam strategi nama merek, yaitu:
(1) Harus menunjukkan sesuatu mengenai manfaat dan kualitas produk.
(2) Harus mudah diucapkan, dikenali, dan diinget.
(3) Nama dari sebuah merek harus berbeda.
(4) Harus bisa untuk diperpanjang.
(5) Harus mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa asing.
(6) Harus mampu melakukan registrasi dan perlindungan hukum.

anfaat Merek

M
Manfaat merek Menurut Tjiptono (2019:190) yaitu:
(1) Bagi Perusahaan merek berperan penting sebagai sarana identifikasi produk
dan perusahaan, sebagai bentuk proteksi hukum, signal jaminan kualitas,
menciptakan asosiasi dan makna unik (diferensiasi), sarana keunggulan
kompetitif, dan sumber financial returns.
(2) Bagi Konsumen merek berperan sebagai identifikasi sumber produk,
penetapan tanggung jawab pada produsen atau distributor spesifik,
pengurang resiko, penekan biaya pencarian internal dan eksternal, janji atau
ikatan khusus dengan produsen, alat simbolis yang memproyeksikan citra
diri, dan signal kualitas

Pengertian Merek


Menurut Kotler dan Armstrong (2018:250) merek adalah nama, istilah, tanda,
simbol, atau gambaran, atau kombinasi dari semuanya, yang mengidentifikasi
produk atau layanan dari satu penjual atau kelompok penjual yang membedakan
mereka dari para pesaing.
Pengertian merek yang dikutip dari Tjiptono (2019:215) merek merupakan
aset intangible yang sangat berharga bagi setiap perusahaan. Merek terdiri atas
berbagai elemen, seperti nama merek, simbol, slogan, desain, grafis, nilai simbolis,
ikatan khusus, kepribadian, citra diri, dan seterusnya

Hubungan Variabel Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Amstrong (2008) dalam penelitian (Rusniawan &
Santoso, 2021) dalam (Rusniawan & Santoso, 2021)mendefinisikan bahwa kualitas
produk merupakan Kumpulan karakteristik produk dan layanan yang dapat
memenuhi persyaratan keberlanjutan, keandalan, akurasi, kemudahan pemeliharaan
dan produk lainya. Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Andreas
Natanael Rusniawan dan Thumas Santoso (2021) yang menyatakan bahwa kualitas
produk berpengaruh positif dan signifikan. Kemudian pada penelitian yang
dilakukan Niditya Putri Hayuningtyas (2023) menyatakan bahwa kualitas produk
berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian, dan pada penelitian
Safarudhin Baihaky, Ahmad Nizar Yogatama, dan Rita Indah Mustikowati (2022)
menyatakan bahwa kualitas produk berpengaruh positif terhadap keputusan
pembelian.

Hubungan variabel persepsi harga terhadap keputusan pembelian.


Menurut Peter dan Olson (2010)dalam penelitian yang dilakukan oleh (Nanda
& Keni, 2022) Mendefisisikan persepsi harga sebagai pemahaman konsumen
mengenai informasi harga dan seberapa harga tersebut memiliki nilai yang sesuai
dengan manfaat serta fungsi sebuah produk. Peryataan terdebut di dukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Isni Arifatul laili, (2020) bahwa persepsi harga
memiliki hubungan kuat terhadap keputusan pembelian

Promosi.


Promosi adalah serangkaian tindakan atau strategi yang digunakan oleh
perusahaan atau individu untuk meningkatkan pengetahuan, minat, dan permintaan
terhadap produk atau layanan mereka. Dengan demikian, promosi adalah salah satu
elemen penting dalam upaya pemasaran untuk mencapai tujuan penjualan dan
keberhasilan bisnis. Menurut Kotler dan keller (2016) dalam penelitian yang
dilakukan (Wibowo & Rahayu, 2021) menyatakan bahwa promosi merupakan
aktivitas membujuk pelanggan sasaran pembelian dengan mengkomunikasikan
keunggulan produk yang di tawarkan sehingga menarik konsumen untuk melakukan
keputusan pembelian.
Menurut Tjiptono (2001) dalam (Radji & Kasim, 2020) menyatakan bahwa
pada hakikatnya promosi adalah komunikasi pemasaran. Komunikasi pemasaran
adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi,
membujuk dan mengingatkan pasar sasaran atas Perusahaan dan produknya agar
bersedia, menerima, dan loyal pada produk yang ditawarkan Perusahaan. Dalam
bauran pemasaran promosi merupakan merupakan variabel penting untuk
dilaksanakan suatu Perusahaan dalam promosi produk dan jasanya.
Indikator variabel promosi menurut Lupiyoadi dan Hamdani (2006) pada penelitian
(Kurniawan et al., 2023) menyebutkan indikator variabel promosi sebagai Berikut:

  1. Periklanan.
  2. Penjualan Personal.
  3. Promosi Penjualan.
  4. Publisitas dan Humas.
  5. Informasi dari mulut ke mulut.
  6. Pemasaran Langsung