Faktor Faktor Kepercayaan


Menurut Harmilan (2018)mengemukakan agar pasien dapat percaya
terhadap perusahaan, perlu adanya aktivitas yang dilakukan. Terdapat tiga
aktivitas yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menumbuhkan
kepercayaan pasien tersebut, diantaranya :

  1. Achieving Result
    Harapan pasien tidak lain ialah janji pasien yang harus dipenuhi bila
    ingin mendapatkan kepercayaan pasien. Dengan kata lain,
    kepercayaan pasien dapat ditumbuhkan melalui penetapan janji yang
    diberikan oleh pihak perusahaan.
  2. Acting with integrity
    Bertindak dengan integritas berarti adanya konsistensi antara ucapan
    dan tindakan dalam setiap situasi. Adanya integritas merupakan
    faktor kunci bagi salah satu pihak untuk percaya akan ketulusan dari
    pihak lain. Segala sesuatu yang diucapkan harus sesuai dengan
    tindakan.
  3. Demonstrate concern
    Kemampuan perusahaan untuk menunjukkan perhatiannya kepada
    pasien dalam bentuk menunjukan sikap pengertian kepada pasien
    jika pasien tersebut menghadapi masalah dengan produknya, hal ini
    digunakan untuk menumbuhkan kepercayaan terhadap merek

Kepercayaan


Menurut Peelen (2013)trust atau kepercayaan adalah sebuah kemauan
untuk bergantung terhadap rekan yang dapat dipercayai. Dimensi yang
digunakan untuk menilai trust adalah persepsi atau kepercayaan terhadap
kehandalan dan integritas dari seorang mitra.
Sedangkan Menurut Priansa (2017), kepercayaan terjadi karena adanya
keyakinan yang disertai reliabilitas dan integritas dari apa yang dipercaya
oleh konsumen. Keberlangsungan hidup suatu perusahaan tergantung kepada
kepercayaan dari pelanggan.
Sedangkan Kepercayaan pasien menurut Etta Mamang Sangadji (2013)
adalah semua pengetahuan yang dimilki oleh pasien dan semua kesimpulan
yang dibuat oleh pasien tentang objek, atribut, dan manfaatnya.sedangkan
menurut Diansyah (2018) Kepercayaan pasien merupakan sebuah jenis
refleksi emosional bagi dunia usaha klinik kesehatan. Hal tersebut tergantung
pada tingkat pemenuhan produk yang diharapkan atau layanan manfaat, serta
tingkat konsistensi harapan dan hasil aktual. Apabila pasien mengharapkan
suatu pelayanan pada tingkat tertentu, dan yang dirasakannya pelayanan yang
diterima lebih tinggi dari apa yang diharapkannya dan tetap menggunakan
produk atau pelayanan tersebut, maka pasien tersebut dapat dikatakan
percaya

Indikator Kepuasan Pelanggan


Menurut Irawan (2012) indikator yang akan diukur dari variable
kepuasan pelanggan sebagai berikut :
1) Kepuasan jasa secara menyeluruh. Para konsumen yang memakai
jasa akan merasa puas saat melihat pekerjaan yang di kerjakan
selesai dengan bagus dan tidak mengecewakan konsumen.
2) Merekomendasikan kepada pihak lain Konsumen yang merasa puas
akan memberi informasi kepada kerabat dan temannya, jika kinerja
itu bagus.
3) Akan menggunakan jasa kembali Konsumen puas dengan produk
dan pelayanan yang berikan, pelanggan pasti akan mengunakan
kembali produk dan jasa

Faktor Faktor yang mempengaruhi Kepuasan


Menurut Wijayanti (2017) Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
kepuasan adalah kebutuhan konsumen, harapan-harapan yang terselubung,
pelanggan khusus, sentuhan emosional, dan zona toleransi yang didasarkan
pada informasi dari beberapa sumber diantaranya:

  1. Dari mulut ke mulut (word of mouth) Pengaruh ini timbul dari segala
    sesuatu yang didengar oleh konsumen dari konsumen lainnya. Hal
    ini merupakan faktor potensial karena konsumen biasanya cenderung
    mempercayai konsumen lain yang pernah mencoba produk atau jasa
    yang diberikan perusahaan atau instansi. Kebutuhan Pribadi
    (Personal needs) Faktor ini bergantung pada kebutuhan pribadi
    masing-masing, konsumen biasanya tidak sama antar konsumen,
    sehingga harapan yang diperlukan oleh konsumen jadi tidak sama.
  2. Pengalaman masa lalu (Past experience) Keadaan yang diharapkan
    tidak terlepas dari pengalaman masa lalu dari masing-masing
    konsumen, karena semakin tinggi pengalamannya maka akan sangat
    berpengaruh terhadap harapannya dalam mempengaruhi kebutuhan.
  3. Komunikasi eksternal (external communication) Komunikasi
    eksternal seperti adanya promosi, penyuluhan yang mereka terima
    akan mempengaruhi harapan dari konsumen.
  4. Komunikasi eksternal (external communication) Komunikasi
    eksternal seperti adanya promosi, penyuluhan yang mereka terima
    akan mempengaruhi harapan dari konsumen

Kepuasan Pelanggan


Memahami kebutuhan dan keinginan pasien adalah hal penting yang
mempengaruhi kepuasan pasien. Pasien yang puas merupakan aset yang
sangat berharga karena apabila pasien merasa puas mereka akan terus
melakukan pemakaian terhadap jasa pilihannya, tetapi jika pasien merasa
tidak puas mereka akan memberitahukan dua kali lebih hebat kepada orang
lain tentang pengalaman buruknya Untuk menciptakan kepuasan pasien,
rumah sakit harus menciptakan dan mengelola suatu sistem untuk
memperoleh pasien yang lebih banyak dan kemampuan untuk
mempertahankan pasiennya.
Menurut Kotler (2014) menyatakan bahwa kepuasan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan kesannya
terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan – harapannya.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2013), kepuasan pasien adalah tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan (kinerja atau hasil) yang
dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Pasien dapat mengalami salah
satu dari tiga tingkat kepuasan umum yaitu kalau kinerja di bawah harapan,
pasien akan merasa kecewa tetapi jika kinerja sesuai dengan harapan
pelanggan akan merasa puas dan apabila kinerja bisa melebihi harapan maka
pelanggan akan merasakan sangat puas senang atau gembira. Menurut
Tjiptono Fandy 2015) mendefinisikan kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan sebagai suatu tanggapan emosional pada evaluasi terhadap
pengalaman pelanggan suatu produk atau jasa Kotler dan Keller (2012)
mengatakan bahwa kepuasan merupakan tingkat keadaan perasaan seseorang
setelah membandingkan kinerja suatu produk yang dirasakan dengan
harapannya.

Prinsip-Prinsip Kualitas Pelayanan


Untuk menciptakan suatu gaya menejemen dan lingkungan yang kondusif
bagi perusahaan jasa untuk memperbaiki kualitas, perusahaan harus mampu
memenuhi enam prinsip utama yang berlaku baik bagi perusahaan manufaktur
maupun perusahaan jasa. Keenam prinsip tersebut sangat bermanfaat dalam
membentuk dan mempertahankan lingkungan yang tepat untuk melaksanakan
penyempurnaan kualitas secara berkesinambungan dengan didukung oleh
pemasok, karyawan, dan pelanggan. Enam prinsip pokok tersebut meliputi
(Wolkins, dkk dalam Tjiptono, 2004) :

  1. Kepemimpinan
    Strategi kualitas perusahaan harus merupakan inisiatif dan komitmen
    manajemen puncak. Manajemen puncak harus memimpin perusahaannya
    untuk meningkatkan kinerja kualitasnya. Tanpa adanya kepemimpinan
    dari manajemen puncak, maka usaha untuk meningkatkan kualitas hanya
    berdampak kecil terhadap perusahaan.
  2. Pendidikan
    Semua personil perusahaan dari manajer puncak sampai karyawan
    operasional harus memperoleh pendidikan mengenai kualitas. Aspek-
    aspek yang perlu mendapat penekanan dalam pendidikan tersebut meliputi
    konsep kualitas sebagai strategi bisnis, alat dan teknik implementasi
    strategi kualitas, dan peranan eksekutif dalam implementasi strategi
    kualitas.
  3. Perencanaan
    Proses perencanaan strategik harus mencakup pengukuran dan tujuan
    kualitas yang dipergunakan dalam mengarahkan perusahaan untuk
    mencapai visinya.
  4. Review
    Proses review merupakan satu-satumya alat yang paling efektif bagi
    manajemen untuk mengubah perilaku organisasional. Proses ini
    merupakan suatu mekanisme yang menjamin adanya perhatian yang
    konstan untuk mencapai tujuan kualitas.
  5. Komunikasi
    Implementasi strategi kualitas dalam organisasi dipengaruhi oleh proses
    komunikasi dalam perusahaan. Komunikasi harus dilakukan dengan
    karyawan, pelanggan, dan stakeholder perusahaan lainnya, seperti
    pemasok, pemegang saham, pemerintah, masyarakat umum, dan lain-lain.
  6. Penghargaan dan Pengakuan
    Penghargaan dan pengakuan merupakan aspek yang penting dalam
    implementasi strategi kualitas. Setiap karyawan yang berprestasi baik
    perlu diberi penghargaan dan prestasinya tersebut diakui. Dengan
    demikian dapat meningkatkan motivasi, moral kerja, rasa bangga, dan rasa
    kepemilikan setiap orang dalam organisasi, yang pada gilirannya dapat
    memberikan kontribusi besar bagi perusahaan dan bagi pelanggan yang
    dilayani.

Dimensi-Dimensi Kualitas Pelayanan


Pada awalnya, Parasuraman, et al. (1985) mengidentifikasi sepuluh
dimensi pokok, yakni reliabilitas, daya tanggap, kompetensi, akses, kesopanan,
komunikasi, kredibilitas, keamanan, kemampuan memahami pelanggan, dan bukti
fisik. Namun pada penelitian berikutnya, ketiga pakar ini menyempurnakan dan
merangkum sepuluh dimensi tersebut. Kompetensi, kesopanan, kredibilitas, dan
kemampuan disatukan menjadi jaminan (assurance). Sedangkan akses,
komunikasi, dan kemampuan memahami pelanggan dikategorikan sebagai empati
(emphaty). Dengan demikian, terdapat lima dimensi utama yaitu:

  1. Kehandalan (Reliability), yaitu kemampuan perusahaan untuk melakukan
    pelayanan sesuai yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.
  2. Ketanggapan (Responsiveness), yaitu kemampuan perusahaan untuk
    menolong pelanggan dan ketersediaan untuk melayani pelanggan yang
    baik.
  3. Keyakinan/Jaminan (Assurance), yaitu pengetahuan, kesopanan petugas,
    serta sifatnya yang dapat dipercaya sehingga pelanggan terbatas dari risiko.
  4. Kepedulian/Empati (Emphaty), yaitu rasa peduli untuk memberikan
    perhatian secara individual kepada pelanggan, memahami kebutuhan
    pelanggan, serta kemudahan untuk dihubungi.
  5. Penampilan/Bukti Fisik (Tangible), yaitu meliputi fasilitas fisik,
    perlengkapan karyawan, dan sarana komunikas

Pengertian Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi harapan
pelanggan (Lovelock dalam Tjiptono, 2004). Dalam model SERVQUAL, kualitas
pelayanan didefinisikan sebagai penilaian atau sikap global berkenaan dengan
superioritas suatu jasa (Parasuraman, et al., 1985). Definisi ini didasarkan pada
tiga landasan konseptual utama: (1) kualitas jasa lebih sukar dievaluasi konsumen
dibandingkan kualitas barang; (2) persepsi terhadap kualitas jasa merupakan hasil
dari perbandingan antara harapan pelanggan dengan kinerja aktual jasa; (3)
evaluasi kualitas tidak hanya dilakukan atas hasil jasa, namun juga mencakup
evaluasi terhadap proses penyampaian jasa.
Majid (2009) mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai suatu penyajian
produk atau jasa sesuai ukuran yang berlaku di tempat produk tersebut diadakan
dan penyampaiannya setidaknya sama dengan yang diinginkan dan diharapkan
oleh konsumen. Putro, dkk (2014) mengatakan bahwa kualitas pelayanan adalah
segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan guna memenuhi harapan
konsumen. Pelayanan dalam hal ini diartikan sebagai jasa atau service yang
disampaikan oleh pemilik jasa yang berupa kemudahan, kecepatan, hubungan,
kemampuan dan keramahtamahan yang ditujukan melalui sikap dan sifat dalam
memberikan pelayanan untuk kepuasan konsumen

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Kotler (2002) menyebutkan lima faktor utama yang perlu diperhatikan
dalam kaitannya dengan kepuasan konsumen antara lain :

  1. Kualitas produk
    Konsumen akan puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa
    produk yang mereka gunakan berkualitas. Produk dikatakan berkualitas
    bagi seseorang, jika produk itu dapat memenuhi kebutuhannya. Kualitas
    produk ada dua yaitu eksternal dan internal. Salah satu kualitas produk
    dari faktor eksternal adalah citra merek.
  2. Kualitas Pelayanan
    Konsumen akan merasa puas bila mendapatkan pelayanan yang akan baik
    atau yang sesuai dengan harapan.
  3. Emosional
    Konsumen merasa puas ketika orang memuji dia karena menggunakan
    merek yang mahal.
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga
    yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi.
  5. Biaya
    Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu
    membuang waktu untuk mendapatkan suatu jasa cenderung puas terhadap
    jasa tersebut.

Aspek-Aspek Kepuasan Pelanggan


Sureshchandar, Rajendran & Anantharaman (2002) mengatakan bahwa
terdapat lima dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan.
Kelima dimensi tersebut adalah:

  1. Layanan inti jasa (Core service)
    Layanan inti dari jasa menggambarkan isi layanan yaitu fitur apa saja yang
    ditawarkan dalam layanan yang diberikan seperti gamabaran dan suatu
    objek. Gambaran apa saja yang ditawarkan oleh biro jasa pada layanan
    jasa yang diberikan oleh konsumen
  2. Elemen manusia dalam penyampaian jasa (Human element of service
    delivery)
    Pada dimensi ini merujuk kepada semua aspek (keandalan, ketanggapan,
    jaminan, empati, saat kebenaran, insiden kritis dan pemulihan) yang akan
    berpengaruh pada elemen manusia dalam penyampaian jasa.
  3. Elemen sistem dalam penyampaian jasa (systematizatioon of service
    delivery)
    Pada aspek ini merupakan proses, prosedur, sistem dan teknologi yang
    akan membuat layanan yang baik. Pelanggan selalu ingin dan
    mengharapkan proses pelayanan yang benar-benar standar, efisien, dan
    sederhana sehingga mereka bisa menerima layanan tanpa gangguan, hal-
    hal yang tidak diinginkan atau banyak pertanyaan yang diajukan oleh
    penyedia layanan.
  4. Bukti fisik (Tangible of service)
    Merupakan aspek nyata dari fasilitas layanan (peralatan, mesin,
    penampilan karyawan, dan lain-lain) atau lingkungan fisik.
  5. Tanggung jawab sosial (Social responsibility)
    Merupakan tanggung jawab sosial membantu sebuah organisasi untuk
    memimpin sebagai warga yang bertanggungjawab dalam mendorong
    perilaku etis dalam segala hal

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Kata kepuasan atau satisfaction berasal dari bahasa Latin “satis” (artinya
cukup baik, memadai) dan “facio” (melakukan atau membuat). Secara sederhana
kepuasan dapat diartikan sebagai ‘upaya pemenuhan sesuatu’ atau ‘membuat
sesuatu memadai’. Menurut Tjiptono (2000), bahwa kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan adalah respons pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian atau
diskonfirmasi, yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau norma kinerja
lainnya) dan kinerja aktual jasa yang dirasakan setelah pemakaiannya.
Wilkie (dalam Tjiptono, 2014) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan
merupakan respon emosional terhadap evaluasi pengalaman mengkonsumsi
produk, toko atau jasa. Sedangkan Mowen & Minor (2002) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan merupakan keseluruhan sikap yang ditunjukkan pelanggan
atas jasa atau barang setelah mereka memperoleh dan menggunakannya.
Menurut Kotler (2002), kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya
terhadap kinerja (hasil) suatu jasa dan harapan-harapannya. Jika kinerja berada di
bawah harapan, konsumen tidak akan puas. Jika kinerja memenuhi harapan,
pelanggan akan puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelangga amat puas atau
senang. Pelanggan yang puas cenderung akan memberikan referensi yang baik
terhadap jasa kepada orang lain.

Pengukuran Tingkat Kepuasan


Pemantauan dan pengukuran terhadap kepuasan pelanggan juga
menjadi hal yang sangat penting bagi setiap perusahaan. Hal ini
dikarenakan langkah tersebut dapat memberikan umpan balik dan masukan
bagi keperluan pengembangan dan implementasi strategi peningkatan
kualitas pelanggan. Pada prinsipnya kepuasan pelanggan itu dapat diukur
dengan berbagai macam metode dan tehnik.
Menurut Kotler (1994:41-43) ada beberapa macam metode
pengukuran kepuasan pelanggan, yaitu:

  1. Sistem keluhan dan saran, yaitu organisasi yang berpusat pelanggan
    memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya untuk
    menyampaikan saran dan keluhan, misalnya dengan menyediakan kotak
    saran, kartu komentar, customer hot lines, dan lain-lain.
  2. Ghost Shopping, yaitu salah satu cara untuk memperoleh gambaran
    mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa
    orang untuk berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial,
    kemudian melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan
    kelemahan produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman
    mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.
  3. Lost Customer analysis, yaitu perusahaan menghubungi para pelanggan
    yang telah berhenti atau yang telah pindah pemasok agar dapat
    memahami mengapa hal itu terjadi.
  4. Survei kepuasan pelanggan, yaitu salah satu konsep untuk penilaian
    kepuasan adalah konsep ServQual yang dikembangkan oleh
    Parasuraman, Berry dan Zeithaml. Konsep ini yang paling banyak
    digunakan oleh pelaku bisnis diseluruh dunia yang berkecimpung dalam
    pelayanan pelanggan. Menurut konsep ServQual Faktor yang
    mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap pelayanan yaitu
    Tanggible, Reability, Responsiveness, Assurance dan Empaty.
    Kelebihan dari konsep ini adalah karena didasarkan pada suatu riset
    yang sangat komprehensif, mudah dipahami dan mempunyai instrumen
    yang jelas untuk melakukan pengukuran

Definisi Pelayanan


Pelayanan adalah tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh
suatu pihak-pihak lain, yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak
berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu dan
pelayanan merupakan perilaku produsen dalam rangka memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen demi tercapainya kepuasan pasien
(Kotler, 2011).
Menurut Algifari (2016) pelayanan adalah suatu bentuk layanan yang
diselenggarakan oleh penyedia layanan (produsen atau instansi
pemerintah) kepada pengguna layanan tersebut. Layanan dapat berupa
pelayanan yang ditawarkan. Pelayanan berhubungan dengan upaya
pemenuhan kebutuhan dan keinginan pengguna layanan serta ketepatan
dalam penyampaian untuk memenuhi harapan pengguna layanan.
Menurut Lukman (Rahadi,2010) pelayanan adalah kegiatan-kegiatan
yang tidak jelas, namun menyediakan kepuasan konsumen dan atau
pemakai industri serta tidak terikat pada penjualan suatu produk atau
pelayanan lainnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pelayanan adalah suatu
urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung dengan orang-orang
atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan konsumen.
Sebagai pelayanan kesehatan masyarakat umum, Rumah sakit
memiliki masalah utama yaitu mengenai pelayanan yang diberikan apakah
sudah sesuai harapan pasien atau tidak. Oleh karena itu, pihak Rumah
Sakit dituntut untuk selalu menjaga kepercayaan pasien dengan
meningkatkan mutu pelayanannya

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien


Salah satu studi mengenai dimensi dari dari kualitas pelayanan adalah
hasil kajian dari Gronroos seorang pakar dari Swedia. Menurutnya ada 3
dimensi dari kualitas pelayanan. Pertama adalah technical quality, yaitu
yang berhubungn dengan outcome suatu pelayanan. Kedua adalah functional
quality yang lebih banyak berhubungan dengan proses delievery atau
bagaiman pelayanan yang diberikan kepada pelanggan. Ketiga adalah image
atau reputasi dari produsen yang menyediakan jasa.
Menurut Anderson (Rahadi, 2010) dengan pelayanan yang sama untuk
kasus yang sama bisa terjadi tingkat kepuasan yang dirasakan pasien akan
berbeda-beda. Hal ini tergantung dari latar belakang pasien itu sendiri,
karakteristik individu yang sudah ada sebelum timbulnya penyakit yang
disebut dengan predisposing factor. Faktor-faktor tersebut antara lain:
pangkat, tingkat ekonomi, kedudukan sosial, pendidikan, latar belakang
sosial budaya, sifat umum kesukuan, jenis kelamin, sikap mental dan
kepribadian seseorang.
Menurut Parasuraman terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi
kepuasan oleh pelayanan, yaitu pelayanan yang diharapkan (expected
service) dan pelayanan yang diterima oleh pengguna (perceived service) apabila pelayanan yang diterima atau yang dirasakan (perceived service)
sesuai dengan pelayanan yang diharapkan, maka pelayanan yang diberikan
di persepsikan baik dan memuaskan. Sebaliknya jika pelayanan yang
diterima lebih rendah daripada pelayanan yang diharapkan, maka pelayanan
yang diberikan dipersepsikan buruk. Dengan demikian, baik tidaknya
pelayanan tergantung kepada kemampuan penyelenggara pelayanan dalam
memenuhi harapan konsumennya secara konsisten.
Menurut Parasuraman, Berry dan Zeithamlmembagi pelayanan yang
mempengaruhi kepuasan Pasien, yaitu:
a. Tangible yang meliputi penampilan dan perfomansi dari fasilitas-
fasilitas fisik, peralatan, personel, dan material-material komunikasi
yang digunakan dalam proses penyampaian layanan.
b. Reliability meliputi kemampuan pihak penyedia jasa dalam
memberikan jasa atau pelayanan secara tepat dan akurat sehingga
konsumen dapat mempercayai dan mengandalkannya.
c. Responsivenees meliputi kemauan atau keinginan pihak penyedia jasa
untuk segera memberikan bantuan pelayanan yang dibutuhkan dengan
tanggap.
d. Assurance, yaitu pemahaman dan sikap sopan dari karyawan (contact
personnel) dikaitkan dengan kemampuan mereka dalam memberikan
keyakinan kepada konsumen bahwa pihak penyedia jasa mampu
memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Dimensi assurance

Definisi Kepuasan


Seorang pelanggan yang puas adalah pelanggan yang merasa mendapat
Value dari pemasok, produsen atau penyedia jasa. Value ini bisa berasal dari
produk, pelayanan, sistem atau sesuatu yang bersifat emosi. Kalau
pengatakan bahwa value adalah produk yang berkualitas, maka kepuasan
terjadi kalau pelanggan mendapatkan produk yang berkualitas. Kalau value
bagi pelanggan adalah kenyamanan, maka kepuasan akan datang apabila
pelayanan yang diperoleh benar-benar nyaman. Kalau value dari pelanggan
adalah harga yang murah, maka pelanggan akan puas kepada produsen yang
memberikan harga yang paling kompetitif (Irawan, 2007:2).
Menurut Aritonang R dan Lerbin R (2005) Kepuasan pelanggan sebagai
hasil penilaian pelanggan terhadap apa yang diharapkannya dengan
membeli dan mengkonsumsi suatu produk. Harapan itu lantas dibandingkan
dengan persepsinya terhadap kinerja yang diterimanya dengan
mengkonsumsi produk tersebut. Jika harapannya lebih tinggi dari kinerja
produk, ia akan merasa tidak puas. Sebaliknya, jika harapannya sama
dengan atau lebih rendah daripada kinerja produk ia akan merasa puas.
Menurut Minor (Aprilia, 2015) kepuasan konsumen adalah keseluruhan
sikap yang ditunjukan konsumen atas barang atau jasa setelah memperoleh
dan menggunakannya

Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan


Menurut Kotler dan Keller dalam Tjiptono (2014:369) ada
beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan pengukuran
kepuasan pelanggan, diantaranya:

  1. Sistem keluhan dan saran
    Organisasi yang berpusat pelanggan (Customer Centered)
    memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya
    untuk menyampaikan saran dan keluhan. Informasi-informasi ini
    dapat memberikan ide-ide cemerlang bagi perusahaan dan
    memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan cepat untuk
    mengatasi masalah-masalah yang timbul.
  2. Pembeli bayangan (Ghost atau Mystery Shopping)
    Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan
    pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang untuk
    berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial, kemudian
    melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan
    produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka
    dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para ghost
    shopper juga dapat mengamati cara penanganan setiap keluhan.
  3. Analisis konsumen terakhir (Lost Customer Analysis)
    Perusahaan selayaknya menghubungi para pelanggan yang telah
    berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat
    memahami mengapa hal itu terjadi. Bukan hanya exit interview saja
    yang perlu, tetapi pemantauan customer loss rate juga penting,
    peningkatan customer loss rate menunjukkan kegagalan
    perusahaan dalam memuaskan pelanggannya.
  4. Survei kepuasan pelanggan
    Umumnya penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan
    dengan penelitian survei, baik melalui pos, telepon, maupun
    wawancara langsung. Perusahaan akan memperoleh tanggapan dan
    umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan
    tanda (signal) positif bahwa perusahaan menaruh perhatian
    terhadap para pelanggannya

Faktor-faktor Kepuasan pelanggan


Menurut Irawan (2004:37) ada lima faktor yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan :

  1. Kualitas produk, yaitu pelanggan akan puas setelah membeli dan
    menggunakan produk tersebut dan ternyata kualitas produknya
    baik. Kualitas produk ini adalah dimensi global.
  2. Harga, yaitu untuk pelanggan yang sensitif, biasanya harga murah
    adalah sumber kepuasan yang penting karena mereka akan
    mendapatkan value of money yang tinggi. Komponen harga ini
    relatif tidak penting bagi mereka yang tidak sensitif terhadap harga.
  3. Kualitas layanan, yaitu sangat bergantung pada tiga hal, yaitu
    sistem, teknologi dan manusia. Kualitas layanan merupakan driver
    yang mempunyai banyak dimensi. Salah satu konsep kualitas
    layanan yang populer adalah ServQual. Berdasarkan konsep ini,
    kualitas layanan diyakini mempunyai lima dimensi yaitu reliability,
    responsiveness, assurance, emphaty, dan tangible.
  4. Faktor perasaan, yaitu kepuasan pelanggan dapat timbul pada saat
    mengendarai mobil yang memiliki brand image yang baik. Rasa
    bangga, rasa percaya diri, simbol sukses, bagian dari kelompok
    orang penting dan sebagainya adalah contoh – contoh emotional
    value yang mendasari kepuasan pelanggan.
  5. Kemudahan, yaitu pelanggan akan semakin puas apabila relatif
    mudah, nyaman, dan efisien dalam mendapatkan produk atau
    layanan

Definisi Kepuasan Pelanggan


Menurut Kotler (2014:150) kepuasan pelanggan ialah perasaan
senang atau kecewa yang muncul setelah membandingkan kinerja
(hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (hasil) yang diharapkan.
Sedangkan menurut Daryanto (2011:9) kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang
dirasakan, dibandingkan dengan harapan

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dalam Lupiyoadi (2006:182), ada 5 (lima)
jenis dimensi dalam kualitas pelayanan (Service Quality), yaitu:

  1. Bukti fisik (Tangibles)
    Yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan
    eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan
    sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat diandalkan
    keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata dari
    pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Hal ini meliputi
    fasilitas fisik contoh: gedung, gudang, dan lain-lain, perlengkapan
    dan peralatan yang digunakan (teknologi), serta penampilan
    pegawainya.
  2. Keandalan (Reliability)
    Yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai
    dengan yang dijanjikan secara akurat dengan terpercaya. Kinerja
    harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan
    waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa
    kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi.
  3. Ketanggapan (Responsivenes)
    Yaitu suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan
    yang cepat (responsive) dan tepat kepada pelanggan, dengan
    penyampaian informasi yang jelas.
  4. Jaminan dan kepastian (Assurance)
    Yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para
    pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para
    pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen
    antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility),
    keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun
    (courstesy).
  5. Empati (Emphaty)
    Yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau
    pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya
    memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan
    diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang
    pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta
    memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Lovelock yang dikutip oleh Laksana (2008:88) kualitas
pelayanan adalah tingkat mutu yang diharapkan, dan pengendalian
keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk memenuhi kebutuhan
konsumen. Untuk dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik
maka perlu dibina hubungan yang erat antara perusahaan, dalam hal ini
adalah karyawan dengan pemakai jasa tersebut
Menurut Kotler (2005:153) kualitas layanan adalah model yang
menggambarkan kondisi pelanggan dalam membentuk harapan akan
layanan dari pengalaman masa lalu, promosi dari mulut ke mulut, dan
iklan dengan membandingkan pelayanan yang mereka harapkan dengan
apa yang mereka terima atau rasakan.
Tjiotono (2007:51) menyatakan bahwa kualitas pelayanan dapat
diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan
konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi
harapan konsumen.
Parasuraman dalam Dimyati, 2005:25) salah satu pendekatan
kualitas pelayanan yang banyak dijadikan acuan riset pemasaran adalah
model SERVQUAL (Service Quality). SERVQUAL dibangun atas
adanya perbandingan dua faktor utama, yaitu persepsi pelanggan atas
layanan yang mereka terima (perceived service) dengan layanan yang
sesungguhnya diharapkan (expected service). Jika kenyataan lebih dari
yang diharapkan maka layanan dapat berkualitas, dan sebaliknya.
Singkat kata, kualitas pelayanan dapat didefinisikan sebagai seberapa
jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas layanan
yang mereka terima.

Pengertian Pelayanan


Moenir (2010:26) pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materi
melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha
memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya.
Loina (2001:38) mengatakan bahwa pelayanan merupakan suatu
proses keseluruhan dari pembentukan citra perusahaan, baik melalui
media berita, membentuk budaya perusahaan secara internal, maupun
melakukan komunikasi tentang pandangan perusahaan kepada para
pemimpin pemerintahan serta publik lainnya yang berkepentingan.

Pengertian Kualitas


Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia jasa merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Kualitas menurut Lupiyoadi
(2006:175) adalah perpaduan antara sifat dan karakteristik yang
menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi persyaratan
kebutuhan pelanggan. Pelanggan yang menentukan dan menilai sampai
seberapa jauh sifat dan karakteristik itu memenuhi kebutuhannya.
Sementara Tjiptono (2008:67) mengatakan bahwa kualitas adalah
produk yang bebas cacat. Dengan kata lain produk sesuai dengan
standar (target, sasaran atau persyaratan yang bisa didefinisikan,
diobservasi, dan diukur). Kualitas mencerminkan semua dimensi
penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefit) bagi
pelanggan

Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kualitas Produk dan Harga TerhadapKepuasan


Berdasarkan peneltian dari Freekley Stefly Maramis (2018:1666)
menyatakan bahwa kualitas produk, harga dan kualitas pelayanan berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen. Sedangkan menurut Rina
Sukmawati (2018: 141) menyatakan bahwa Terdapat pengaruh positif dan
signifikan secara bersama-sama dari variabel kualitas produk, harga, dan kualitas
pelayanan terhadap kepuasan konsumen.

Pengaruh Harga Terhadap Kepuasan


Berdasarkan teori Fandy Tjiptono (2015: 8) menyatakan bahwa harga
murah yang di dasari semata-mata aspek diskon tanpa dibarengi efisiensin biaya
berpotensi mengorbankan standar kualitas yang sejatinya merupakan hak
konsumen. Low cost tidak boleh diikuti pengurnagan kualitas. Dasar utama low
cost seharusnya adalah kemampuan menekan biaya dalam menghasilkan tingkat
kualitas yang setara. Dengan kata lain, murah tidak sama dengan murahan.
Masalah lain, dalam promosinya, banyak pemasar yang terjebak menekankan
“how cheap they are” dan bukannya “how valuable they are”. Konsumen
mungkin tertarik membeli sekali, namun jika ia tidak puas, jangan harap ia bakal
membeli lagi! Fokus pada kepuasan pelanggan merupakan upaya
mempertahankan pelanggan dalam rangka menghadapi para produsen yang
berbiaya rendah. Banyak perusahaan yang mendapati bahwa cukup banyak
pelanggan yang sebenarnya bersedia membayar harga yang lebih mahal untuk
pelayanan dan kualitas yang lebih baik.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan


Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa
perusahaan yang menerapkan program kepuasan pelanggan harus memiliki
produk yang berkualitas baik dan layanan prima. Berdasarkan teori dari John C
Mowen (2001: 89) menyatakan bahwa penilaian kinerja ini ternyata sangat erat
hubungan nya dengan penilaian kualitas produk. Konsumen membandingkan
persepsi mereka atas kualitas produk setelah menggunakan produk tersebut sesuai
dengan ekspektasi kinerja produk sebelum mereka membelinya. Tergantung pada
bagaimana kinerja aktial dibandingkan dengan kinerja yang diharapkan, mereka
akan mengalami emosi yang positif, negatif atau netral. Tanggapan emosional ini
bertindak sebagai masukan atau input dalam persepsi kepuasan/ ketidakpuasan
menyeluruh mereka

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Peserta


Berdasarkan teori dari Fandy Tjiptono (2015: 11) menyatakan bahwa pada
hakikatnya kepuasan pelanggan merupakan strategi jangka panjang, karena
dibutuhkan waktu cukup lama sebelum bisa membangun dan mendapatkan
reputasi dengan dasar kualitas pelayanan prima, dan kerapkali juga dituntut
investasi besar pada serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk membahagiakan
pelanggan saat ini dan masa depan. Sedangkan teori dari Ali Hasan (2008: 66)
menyatakan bahwa surplus konsumen dengan konsep kepuasan pelanggan,
mempertimbangkan faktor harga dan kuantitas, kualitas pelayanan dan kemasan.
Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa biasanya
perusahaan yang tingkat kepuasan pelanggannya tinggi menyediakan tingkat
layanan pelanggan yang tinggi pula. Untuk menciptakan kepuasan pelanggan,
diperlukan dukungan dari semua sumber daya organisasi, serta tanggung jawab
penuh pimpinan tingkat korporat. Karyawan seagai garis terdepan menjadi ujung
tombak perusahaan yang berinteraksi langsung dengan pelanggan dan
berkewajiban memberikan pelayanan kepada pelanggan, yaitu memuaskan
pelanggan

Indikator Kepuasan Peserta


Menurut Ali Hasan (2008:70) menyatakan bahwa indikator yang sebagai
determinasi kepuasan pelanggan pada produk jasa (intangible product) yaitu:

  1. Serviciability, yaitu tingkat kemudahan dan kecepatan pelayanan
  2. Accessibility, yaitu letak yang mudah di akses
  3. Communication, kemampuan berkomunikasi dengan bahasa konsumen
  4. Competence, tingkat keterampilan menyelesaikan masalah
  5. Courtesy, sikap sopan dan bersahabat dengan konsumen
  6. Reliability, kemampuan mewujudkan pelayanan sesuai promosi
  7. Security, keamanan, keterjaminan dan legalitas
  8. Tangibles, wujud fisik, gedung, peralatan-peralatan
  9. Understanding – customer, pemahaman kebutuhan dan keinginan
    pelanggan.
    Menurut Mowen dalam Fransiska Pramita (2010:30) menyatakan bahwa
    indikator atau dimensi kepuasan peserta adalah :
  10. Attributes related to product, atribut yang berhubungan dengan
    produk.
  11. Attributes related to service, atribut yang berhubungan dengan
    layanan.
  12. Attributes related to purchase, atribut yang berhubungan dengan
    penjualan.
    Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2015: 35) indikator yang
    mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah ekspektasi, diskonfirmasi (obyektif
    dan subyektif), perceived performance, dan sikap konsumen

Model Kepuasan Peserta


Menurut Fandy Tjiptono (2011: 298) menyatakan bahwa secara garis
besar, riset-riset kepuasan pelanggan didasarkan pada 3 teori utama yaitu
diantaranya:

  1. Contrast theory
    Bearsumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja produk aktual
    dengan ekspektasi pra pembelian. Apabila kinerja aktual lebih besar atau
    sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas. Sebaliknya, jika
    kinerja akttual lebih rendah dibandingkan ekpektasi, maka konsumen
    akan tidak puas.
  2. Assimilation theory
    Menyatakan bahwa evaluasi purna beli merupakan fungsi positif dari
    ekspektasi konsumen pra pembelian. Karena proses diskonfirmasi secara
    psikologis tidak enak dilakukan, konsumen cenderung secara perseptual
    mendistorsi perbedaan antara ekspektasi dan kinerjanya ke arah
    ekspektasi awal. Dengan kata lain, penyimpangan dari ekspektasinya
    cenderung akan diterima oleh konsumen bersangkutan.
  3. Assimilation – contrast theory berpegangan bahwa terjadinya efek
    asimilasi (assimilation effect) atau efek kontras (contrast effect)
    merupakan fungsi dari tingkat kesenjangan antara kinerja yang di
    harapkan dan kinerja aktual. Apabila kesenjangan nya besar, konsumen
    akan memperbesar gap tersebut, sehingga produk dipersepsikan jauh lebih
    bagus/buruk dibandingkan kenyataan nya (sebagaimana halnya contrast
    theory). Namun, jika kesenjangannya tidak terlampau besar, assimilation
    theory yang berlaku. Dengan kata lain, jika rentang deviasi yang bisa
    diterima (acceptable deviation) dilewati, maka kesenjangan antara
    ekspektasi dan kinerja akan menjadi signifikan dan di situla efek kontras
    berlaku

Pengertian Kepuasan Peserta


Menurut Kotler dan Armstrong dalam Eni Sudjiani (2019:127)
menyatakan bahwa “Customer satisfaction is the level on person’s fell stale
resultating fromcomparing a product’s perceived performance (or outcome) in
relation to the person’s expectation”. Yang artinya kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan konsumen dengan membandingkan harapan yang dimiliki
dengan realita atau hasil yang sebenarnya.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013:180) menyatakan bahwa kepuasan
atau ketidakpuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal
dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja produk yang riil/ aktual
dengan kinerja produk yang di harapkan. Sedangkan menurut M Suyanto (2018:
76) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan senang atau kecewa dari
pelanggan yang berasal dari perbandingan antara kinerja produk dengan harapan.
Jika kinerja produk sesuai dengan harapan, pelanggan puas atau senang, dan
begitu juga sebaliknya.
Menurut Engel dalam Ali Hasan (2008: 56) menyatakan bahwa kepuasan
pelanggan merupakan suatu konsep evaluasi purnabeli dimana alternatif yang
dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan
ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan. Sedangkan menurut
Menurut Fandy Tjiptono dalam Rida farida (2016: 39) menyatakan bahwa
kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan antara persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan
harapan.

Indikator Harga


Menurut Setyo Ferry (2012:5) dalam penelitiannya, indikator harga yang
digunakan sebanyak 4 indikator, yaitu referensi harga, harga yang relatif lebih
murah, kesesuaian pengorbanan dan harga sesuai dengan manfaat produk.
Sedangkan menurut Rinaldi Bursan dalam Utari Wijayati dan Rahma
Wahdiniwaty (2014:22) menyatakan dimensi atau indikator harga yaitu:

  1. Kesesuaian harga dengan manfaat produk
  2. Kesesuaian harga dengan pendapatan atau uang saku yang diterima
  3. Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
    Sedangkan menurut Stanton dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4)
    menyatakan bahwa indikator atau dimensi harga yaitu:
  4. Keterjangkauan harga
  5. Perbandingan dengan merek lain
  6. Kesesuaian harga dengan kualitas

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keputusan Harga


Menurut Ali Hasan (2008: 304) menyatakan bahwa keputusan tentang
harga yang baik adalah apabila mampu mencerminkan seluruh kepentingan
perusahaan. Berikut ini adalah faktor yang memengaruhi keputusan harga:

  1. Kondisi perekonomian
    Kondisi perekonomian (inflasi, resesi, tingkat suku bunga, anggaran),
    kebijakan serta peraturan pemerintah, dan aspek sosial sangat
    memengaruhi tingkat harga yang berlaku.
  2. Price elasticity
    Elastisitas permintaan akan memengaruhi penentuan harga dan volume
    yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis barang, harga dan volume
    penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga,
    maka penjualan akan menurun, dan sebaliknya jika terjadi penurunan
    harga, volume penjualan akan meningkat.
  3. Non price factor
    Pembeli mungkin bersedia membayar harga premium (jaminan,
    pelayanan) atau justru mengorbankan beberapa manfaat dari sebuah
    produk demi harga yang lebih rendah.
  4. Tujuan perusahaan
    Penetapan harga suatu produk sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang
    akan dicapai oleh perusahaan.
  5. Faktor legal dan etis
    Faktor legasl dan etis biasanya menjadi alat pengawasan ppemerintah
    dalam penentuan harga maksimum, minimum, atau harga tertentu. Serta
    praktik lainnya demi mencegah keberlangsungan dan mencegah dari pasar
    monopoli atau oligopoli.
  6. Bauran pemasaran
    Penetapan harga harus di koordinasikan dan saling mendukung dengan
    bauran pemasaran lainnya, yaitu produk, distribusi dan promosi.
  7. Biaya merupakan faktor dasar dalam penentuan harga yang minimal,
    sebab tingkat harga tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan
    mengakibatkan kerugian. Begitupun sebaliknya.
  8. Ukuran bisnis
    Manajemen perlu memutuskan siapa yang harus menetapkan harga, setiap
    perusahaan menetappkan harga menurut caranya masing-masing.
  9. Persaingan
    Kekuatan-kekuatan yang berpengaruh dalam persaingan setiap industri
    adalah persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk substitusi,
    pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru.
  10. Sifat pasar
    Setiap perusahaan perlu memahami kaitan sifat pasar dan permintaan yang
    dihadapinya, apakah termasuk persaingan sempurna, persaingan
    monopolistik, oligopoli, atau monopoli

Pengertian Harga


Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 216) menyatakan bahwa harga
merupakan salah satu atribut paling penting yang dievaluasi oleh konsumen, dan
manajer harus benar-benar menyadari peran tersebut dalam pembentukan sikap
konsumen. Pada kondisi tertentu konsumen sangat sensitif terhadap harga
sehingga harga suatu produk yang relatif tinggi dibandingkan para pesaingnya
dapat mengeliminasi produk dari pertimbangan konsumen. Dalam kasus lain,
harga dapat digunakan sebagai indikator pengganti kualitas produk, dengan hasil
produk yang berharga tinggi yang bisa dipandang positif oleh segmen pasar
tertentu.
Menurut M Suyanto (2018: 259) menyatakan bahwa harga merupakan
nilai yang akan membeli dalam jumlah yang terbatas, berat, atau ukuran lainnya
dari barang atau jasa. Sebagai pertimbangan yang diberikan dalam pertukaran
untuk transfer kepemilikan, harga membentuk dasar penting transaksi komersial.
Hal ini mungkin sudah ditetapkan oleh kontrak, meninggalkan yang ditentukan
oleh rumus yang disepakati di masa mendatang, atau diketahui atau di
negosiasikan selama transaksi antara pihak-pihak yang terlibat.
Kotler dan Keller (2012:25) harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa
yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalu tawar menawar, atau
ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli.
Menurut Ari Setyaningrum (2015: 128) menyatakan bahwa secara lebih luas dapat
dikatakan bahwa harga ialah jumlah semua nilai yang di berikan oleh konsumen
untuk memperoleh keuntungan atas kepemilikan atau penggunaan suatu produk
atau jasa. Secara historis, harga menjadi faktor utama yang memengaruhi pilihan
seorang pembeli. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong, dalam Erna
Susilawati dan Rahma Wahdiniwaty (2017: 17) menyatakan bahwa harga
merupakan jumlah uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, atau lebih
jelasnya adalah jumlah dari semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan sebuah manfaat dengan memiliki atau menggunakan sebuah produk
atau jasa

Indikator Kualitas Produk


Indikator kualitas produk menurut Kotler and Armstrong dalam Shandy
Widjoyo Putro (2014:3) menyatakan kualitas produk sebagai “the ablity of a
product to perform its functions. Its includes the product’s overall durability,
reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes”.
Artinya kualitas produk berhubungan erat dengan kemampuan produk untuk
menjalankan fungsinya yaitu diantaranya:

  1. Keseluruhan Produk,
  2. Keandalan,
  3. Ketepatan,
  4. Kemudahan Pengoperasian,
  5. Atribut Bernilai Lainnya

Konsep Produk

Menurut Fandy Tjiptono (2016: 176) menyatakan bahwa secara spesifik,
konsep produk terdiri atas 3 level yaitu:

  1. Core product, yakni semua manfaat pokok (core benefits) yang ditawarkan
    produk kepada konsumen. Manfaat merupakan hasil yang diterima
    konsumen dari penggunaan atau kepemilikan sebuha barang ataus
    jasa.Contohnya, manfaat pokok sebuah mobil adalah untuk transportasi
    dari satu tempat ke tempat lain.
  2. Actual product, yaitu produk fisik atau delievered service yang
    memberikan manfaat produk. Sebagai contoh, saat kita membeli tiket
    pesawat Air Asia menuju Kuala Lumpur, core product nya adalah time
    critical transport, sedangkan actual product nya berupa nama merek Air
    Asia, layout dan layanan terminal bandara, sistem booking dan fitur
    lainnya.
  3. Augmented product, yaitu actual product ditambah fitur-fitur pendukung
    lainnya, seperti garansi, fasilitas kredit, layan antar, instalasi, dan reparasi
    purna beli

Pengertian Kualitas Produk


Definisi kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong dalam Utari
Wijayati dan Rahma Wahdiniwaty (2016: 37) adalah “product quality is the
ability of a product to perform its function, it includes the product’s several
durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued
attributes”. Artinya kualitas produk adalah kemampuan produk untuk
menampilkan fungsinya, hal ini termasuk waktu kegunaan dari produk, keandalan,
kemudahan dalam penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai yang lainnya.
Sedangkan menurut M Suyanto (2018: 214) menyatakan bahwa produk
konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat
yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi
pelanggan. Kualitas produk merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai
dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Menurut Hawkins (2010: 19)
menyatakan bahwa “a product quality is anything a consumer acquires or might
acquire to meet a perceived need. Consumer are generally buying need
satisfaction, not physical product attributes”. Yang artinya bahwa kualitas produk
merupakan sesuatu apapun yang diperoleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan
atau keinginan yang dirasakan oleh konsumen. Pada umumnya konsumen
membeli karena ingin adanya kepuasan dalam produk tersebut, bukan hanya
atribut produk fisik saja. Sementara menurut John C Mowen (2001: 90)
menyatakan bahwa kualitas produk adalah evaluasi menyeluruh pelanggan atas
kebaikan kinerja barang atau jasa. Menurut Vincent dalam Jogi Morrison
Simanjutak dan Rahma Wahdiniwaty (2018: 195) menyatakan bahwa faktor-
faktor yang mempengaruhi kualitas produk itu sendiri adalah kinerja, fitur,
kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, keandalan, kemudahan servis, estetika,
dan kualitas yang dirasakan

Indikator Kualitas Pelayanan


Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017: 65) adalah sebagai berikut:

  1. Reliability, kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat
    diandalkan dan akurat.
  2. Responsiveness, kesediaan untuk membantu pelanggan dan
    memberikan layanan yang cepat.
  3. Assurances, pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
    mereka untuk menjamin mutu sehingga peserta percaya dan yakin.
  4. Empathy, perhatian individual terhadap pelanggan.
  5. Tangibles, penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.
    Sementara menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013:
    100) menyatakan bahwa lima indikator kualitas jasa atau layanan adalah:
  6. Kendalan (reliability), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan
    yang dijanjikan dengan tepat (accurately) dan kemampuan untuk
    dipercaya (dependably), terutama memberikan jasa secara tepat waktu
    (on time), dengan cara yang sama sesuai dengan jadwal yang telah di
    janjikan, dan tanpa melakukan kesalahan.
  7. Daya tanggap (responsiveness), yaitu kemauan atau keinginan para
    karyawan untuk membantu memberikan jasa yang dibutuhkan
    konsumen.
  8. Jaminan (assurances), meliputi pengatahuan, kemampuan, keramahan,
    kesopanan, dan sifat dapat dipercaya dari kontak personal untuk
    menghilangkan sifat keragu-raguan konsumen dan membuat mereka
    merasa terbebas dari bahaya dan risiko.
  9. Empati, yang meliputi sikap kontak personal atau perusahaan untuk
    memahami kebutuhan dan kesulitasn konsumen dalam bentuk
    perhatian pribadimm dan kemudahan untuk melakukan komunikasi.
  10. Produk fisik (tangible), tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan dan
    saran komunikasi, dan lain-lain yang bisa dan harus ada dalam proses
    jasa

Model Kualitas Jasa


Menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 101)
menyatakan bahwa model kualitas jasa di identifikasi lima gap yang
menyebabkan kegagalan penyampaian jasa. Kelima gap tersebut adalah:

  1. Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, yaitu adanya
    peredaan antara penilaian pelayanan menurut pengguna jasa dan persepsi
    manajemen mengenai harapan pengguna jasa.
  2. Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan
    spesifikasi kualitas jasa. Kesenjangan terjadi antara lain karena tidak
    memadainya komitmen manajemen terhadap kualitas jasa, persepsi
    mengenai ketidaklayakan, tdak memadainya standardisasi tugas, dan tidak
    adanya penyusunan tujuan.
  3. Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa (service
    delievery). Kesenjangan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor
    berikut:
    a) Ambiguitas pesan, yaitu sejauh mana pegawai dapat melakukan
    tugas sesuai dengan harapan manajer dan tetap bisa memuaskan
    pelanggan
    b) Konflik pesan, yaitu sejauh mana pegawai meyakini bahwa
    mereka tidak memuaskan semua pihak.
    c) Kesesuaian pegawai dengan tugas yang harus dikerjakannya.
    d) Kesesuaian teknologi yang digunakan pegawai.
    e) Sistem pengendalian dari atasan, yaitu tidak memadainay sistem
    penilaian dan sistem imbalan.
    f) Kontrol yang dirasakan (perceived control), yaittu sejauh mana
    pegawai merasakan kebebasan atau fleksibilitas untuk
    menentukan cara pelayanan.
    g) Kerja tim (team work), yaittu sejauh mana pegawai dan
    manajemen merumuskan tujuan untuk memuaskan pelanggan
    secara bersama-sama dan terpadu.
  4. Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal. Ekspektasi
    pelanggan atas kualitas pelayanan dipengaruhi oleh pernyataan yang di
    buat oleh perusahaan mengenai komunikasi pemasaran.
  5. Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang diharapkan, yaitu adanya
    perbedaan persepsi antara jasa yang dirasakan dan yang diharapkan oleh
    pelanggan. Jika keduanya terbukti sama, perusahaan akan memperoleh itra
    dan dampak positif.

Lima Perspektif Kualitas Pelayanan


Menurut Garvin dalam Fandy Tjiptono (2017: 129) menyatakan bahwa
setidaknya ada lima perspektif kualitas yang berkembang saat ini: transcendental
approach, product-based approach, user based approach, manufacturing-based
approach, dan value based approach.

  1. Transcendental Approach
    Dalam perspektif ini, kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu
    sesuatu yang secara intuitif bisa dipahami, namun nyaris tidak mungkin
    dikomunikasikan, contohnya kecantikan atau cinta. Perspektif ini
    menegaskan bahwa orang hanya bisa belajar memahami kualitas melalui
    pengallaman didapatkan dari esposur berulang kali (repated exposure).
    Misalkan produk atau jasa seni musik, drama, lukis, tari dan rupa.
  2. Product based approach
    Perspektif ini mengasumsikan bahwa kualitas merupakan karakteristik,
    komponen atau atribut obyektif yang dapat dikuantitatifkan dan dapat
    diukur. Misalkan produk laptop yang memiliki spesifikasi mikro prosesor,
    kapasitas memori, RAM, fitur tambahan (Wifi, web cam), harga, ukuran
    dan berat yang berbeda-beda.
  3. User based approach
    Perspektif ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
    orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang
    paling memuaskan preferensi seseorang (maximum satisfaction)
    merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat
    subyektif dan demand oriented ini juga menyatakan bahwa setiap
    pelanggan memiliki kebutuhan dan keinginan masing-masing yang
    berbeda satu sama lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama
    dengan kepuasan maksimum yang dirasakan nya. Misalkan masakan atau
    makanan manis, asin, pedas, dan bersantan memiliki penggemarnya
    masing-masing.
  4. Manufacturing based approach
    Persepektif ini bersifat supply based dan lebih berfokus pada praktik-
    praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas
    sebagai kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to
    requirement).
  5. Value based approach
    Perspektif ini memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga
    (price). Dengan mempertimbankan trade off antara kinerja dan harga,
    kualitas didefinisikan sebagai affordable excellence, yakni tingkat kinerja
    terbaik atau yang sepadan dengan harga yang di bayarkan. Kualitas dalam
    persepektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas
    paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Contohnya, mobil
    ekonomis berkualitas berbeda dengan mobil mobil mewah yang
    berkualitas.

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Fandy Tjiptono (2017: 180) mendefinisikan kualitas pelayanan
atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Sedangkan menurut Parasuraman
dalam Arni Purwani dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa
kualitas pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan (persepsi)
pelanggan dengan Kualitas pelayanan yang diharapkan pelanggan.
Menurut Leon G Schiffman (2015: 139) menyatakan bahwa it is more
difficult for consumers to evaluate the quality of service than the quality of
products. This is true because of certain distinctive characteristic of service: they
are intangible, they are variable, they are pershable, and they are simultaneouly
produced and consumed. Yang artinya bahwa lebih sulit bagi konsumen untuk
mengevaluasi Kualitas pelayanan daripada kualitas produk. Ini benar karena
karakteristik khusus layanan tertentu: mereka tidak berwujud, mereka berupa
variabel, mereka mudah rusak karena harus mempertahankan reputasi, dan mereka
secara bersamaan diproduksi dan dikonsumsi.
Menurut Kotler dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 99) menyatakan
bahwa kualitas pelayanan atau jasa merupakan kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan. Sedangkan menurut Atep Adya Brata (2003:
36) menyatakan bahwa berbicara mengenai kualitas pelayanan, ukuran nya bukan
hanya ditentukan oleh pihak yang melayani saja tetapi lebih banyak ditentukan
oleh pihak yang dilayani, karena mereka lah yang menikmati layanan sehingga
dapat mengukur kualitas pelayanan berdasarkan harapan-harapan mereka dalam
memenuhi kepuasan nya

Indikator Pada Kualitas Pelayanan


Sebelumnya telah dijelaskan mengenai dimensi – dimensi kualitas
pelayanan. Diantaranya adalah Reliability, Responsiveness, Assurance,
Empathy, Tangible. Tiap dimensi ini memiliki indikator – indikator
tersendiri. Yang dikenal dengan indikator kualitas pelayanan, adalah
sebagai berikut (Ratih, 2020):

  1. Indikator untuk dimensi reliability, diantaranya:
    a) Kecermatan dalam melayani pelanggan.
    b) Standar pelayanan yang jelas.
    c) Kemampuan perusahaan dalam menggunakan alat bantu dalam proses
    pelayanan.
  2. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi responsiveness, terdiri dari:
    a) Merespon dengan baik pelanggan yang ingin mendapatkan pelayanan.
    b) Perusahaan melakukan pelayanan dengan cepat, tepat, dan cermat.
    c) Perusahaan melayani dalam waktu yang tepat.
    d) Semua keluhan pelanggan direspon oleh perusahaan.
  3. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi assurance, diantaranya:
    a) Perusahaan memberikan jaminan tepat waktu dalam pelayanan
    pelanggan.
    b) Perusahaan memberikan jaminan biaya yang sesuai dengan
    pelayanan.
  4. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi empathy, diantaranya:
    a) Pelaku usaha melayani dengan sopan santun dan ramah – tamah.
    b) Menghargai setiap pelanggan.
    c) Mendahulukan kepentingan pelanggan.
  5. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi tangibles, diantara:
    a) Penggunaan alat bantu dalam pelayanan.
    b) Penampilan dalam melayani pelanggan.
    c) Kemudahan akses pelanggan dalam permohonan pelayanan

Dimensi Kualitas Pelayanan


Lima dimensi utama yang menentukan tingkat kepuasan konsumen
serta kualitas jasa suatu perusahaan (Ratih, 2020):

  1. Reliability (keandalan) adalah kemampuan perusahaan dalam
    memberikan layanan bagi pelanggan. Bisa dikatakan, reliability adalah
    kebalikan dari tangible, yang mana reliability bersifat abstrak. Karena
    reliability berhubungan langsung dengan harapan konsumen.
  2. Responsiveness (daya tanggap) adalah dimensi yang berkaitan dengan
    ketanggapan. Yaitu bagaimana perusahaan dapat memberikan layanan
    yang responsif terhadap semua keinginan dan kebutuhan pelanggan.
    Biasanya, dimensi ini diikuti dengan penyampaian yang runtut namun
    mudah dimengerti.
  3. Assurance (kepastian), yaitu kepastian yang didapatkan oleh pelanggan
    dari perilaku pelaku bisnis. Contohnya adalah komunikasi yang baik,
    pengetahuan yang luas, hingga sikap sopan dan santun kepada
    pelanggan. Dengan adanya assurance ini, maka kepercayaan pelanggan
    akan meningkat. Karena merasa pelaku bisnis profesional dan
    memahami product knowledge dengan baik.
  4. Empathy (empati) di mana empathy berkaitan dengan kepuasan
    pelanggan yang erat kaitannya dengan perhatian yang tulus dan dekat
    kepada setiap pelanggan. Empathy akan membantu perusahaan untuk
    mengetahui kebutuhan serta keinginan dari pelanggan dengan spesifik.
  5. Tangibles (bukti fisik) artinya adalah kemampuan perusahaan dalam
    memberikan layanan terbaik bagi pelanggan. Kemampuan ini merupakan
    hal yang konkret, artinya dapat dilihat dan dirasakan secara langsung
    oleh pelanggan

Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan berarti tingkat layanan yang terkait dengan
harapan dan kebutuhan pelanggan. Yang mana ini berarti bahwa perusahaan
dapat dikatakan mampu menyediakan produk baik barang ataupun jasa, jika
sesuai dengan keinginan pelanggan. Jika pelanggan merasa puas dengan
produk serta pelayanan perusahaan, berarti kualitas pelayanan dikatakan
baik. Kualitas pelayanan dapat dikatakan baik apabila sesuai dengan yang
diharapkan oleh konsumen. Jika sesuai dengan harapan konsumen, berarti
dapat dikategorikan memuaskan. Sementara jika melebihi harapan
konsumen, maka dapat dikatakan sangat memuaskan (Ratih, 2020)

Indikator Kepuasan Pelanggan


Menurut Setyo (2017:758) indikator kepuasan pelanggan yaitu:

  1. Terpenuhinya harapan pelanggan;
  2. Selalu mengunakan produk;
  3. Merekomendasi ke orang lain;
  4. Kualitas layanan;
  5. Loyalitas;
  6. Reputasi yang baik;
  7. Lokasi

Elemen Yang Menyangkut Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan ditentukan oleh persepsi pelanggan atas performance
produk atau jasa dalam memenuhi harapan pelanggan. Pelanggan merasa puas
apabila harapannya terpenuhi atau akan sangat puas jika harapan pelanggan
terlampui. Menurut Donni Juni Priansa (2017:210) mendefinisikan bahwa
terdapat lima elemen yang menyangkut kepuasan konsumen adalah sebagai
berikut:

  1. Harapan (Expectations) terhadap suatu barang atau jasa telah dibentuk sebelum
    konsumen membeli barang atau jasa tersebut. Pada saat proses pembelian
    dilakukan, konsumen berharap bahwa barang atau jasa yang mereka terima
    sesuai dengan harapan, keinginan dan keyakinan mereka. Barang/jasa yang
    sesuai dengan harapan akan menyebabkan konsumen merasa puas.
  2. Kinerja (Performance) pengalaman konsumen tehadap kinerja aktual barang
    atau jasa ketika digunakan tanpa dipengaruhi oleh harapan mereka. Ketika
    kinerja aktual barang atau jasa berhasil maka konsumen akan merasa puas.
  3. Perbandingan (Camparison) hal ini dilakukan dengan mebandingkan harapan
    kinerja barang atau jasa sebelum membeli dengan persepsi kinerja aktual
    barang atau jasa tercsebut. Konsumen akan merasa puas ketika harapan
    sebelum pembelian sesuai atau melebihi persepsi mereka terhadap kinerja
    aktual produk.
  4. Pengalaman (Experience) harapan konsumen dipengaruhi oleh pengalaman
    mereka terhadap penggunaan merek dari barang atau jasa yang berbeda dari
    orang lain.
  5. Konfirmasi (Comfirmation) dan dikonfirmasi (Disconfirmation) konfirmasi
    atau terkonfirmasi terjadi jika harapan sesuai dengan kinerja produk.
    Sebaliknya diskonfirmasi atau tidak terkonfirmasi terjadi ketika harapan lebih
    tinggi atau lebih rendah dari kinerja aktual produk. Maka konsumen akan
    merasa puas saat terjadi confirmation /disconfirmation.

Faktor-Faktor yang Menentukan Tingkat Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan merupakan penilaian setiap konsumen dengan
membandingkan antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diharapkan. Jika
produk atau jasa yang diberikan oleh perusahaan sesuai dengan ekspetasi
pelanggan maka pelanggan akan merasa puas. Sebaliknya, jika produk atau jasa
yang diberikan oleh perusahaan tidak sesuai dengan ekspetasi pelanggan maka
pelanggan akan merasa kecewa.
Dalam memenuhi kepuasan pelanggan terdapat bebrapa faktor untuk
menentukan tingkat dari kepuasan yang dirasakan pada pelanggan. Menurut
Irawan (2015:37), faktor-faktor pendorong kepuasan pelanggan adalah sebagai
berikut:

  1. Kualitas produk, pelanggan puas setelah membeli dan menggunakan produk
    tersebut ternyata kualitas produknya baik.
  2. Harga Untuk pelanggan yang sensitif, biasanya harga murah adalah sumber
    kepuasan yang penting karena pelanggan akan mendapatkan nilai yang tinggi.
  3. Service quality Kepuasan terhadap kualitas Kualitas Pelayanan biasanya sulit
    ditiru. Kualitas Kualitas Pelayanan merupakan driver yang mempunyai banyak
    dimensi, salah satunya yang populer adalah SERVQUAL.
  4. Emotional factor pelanggan akan merasa puas (bangga) karena adanya
    emotional value yang diberikan oleh brand dari produk tersebut.
  5. Biaya dan kemudahan pelanggan akan semakin puas apabila relative mudah,
    nyaman dan efisien dalam mendapatkan produk atau Kualitas Pelayanan.
    Berikut ini adalah dimensi kepuasan konsumen menurut Fandy Tjiptono
    (2015:212), yaitu sebagai berikut:
  6. Tangibles (bukti fisik) Bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang digunakan,
    representasi fisik produk atau jasa.
  7. Reliability (keandalan) Kemampuan untuk melaksanakan produk atau jasa
    yang dijanjikan tepat dan terpercaya.
  8. Responsiveness (ketanggapan) Kemampuan untuk membantu pelanggan
    dengan memberikan produk atau jasa dengan cepat atau ke tanggapan.
  9. Empathy (empati) Syarat untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi
    pelanggan

Model Kepuasan Konsumen


Pada umumnya perusahaan melakukan aktivitas bisnis atau tugas pemasaran
dengan menawarkan barang atau jasa dari suatu perusahaannya, untuk
menciptakan sebuah kepuasan bagi konsumen maupun pelanggannya. Dengan hal
ini para peneliti sebelumnya berupaya untuk menyusun kerangka secara teoritis
untuk menjelaskan mengenai faktor yang menentukan proses pembentukan dan
konsekuensi dari kepuasan itu sendiri. Fandy Tjiptono (2015:298) menyatakan
bahwa kepuasan konsumen didasarkan pada tiga teori utama yaitu :

  1. Contrast Theory berasumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja
    produk aktual dengan ekspektasi para-pembelian. Apabila kinerja aktual lebih
    besar atau sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas. Sebaliknya jika
    kinerja aktual lebih rendah dibandingkan ekspektasi maka konsumen akan
    tidak puas.
  2. Assimiliation Theory menyatakan bahwa evaluasi purna beli merupakan fungsi
    positif dari ekspektasi konsumen pra-pembelian. Karena proses dikonfirmasi
    secara psikologis tidak enak dilakukan konsumen cenderung secara perceptual
    mendistori perbedaan antara ekpektasi dan kinerjanya kearah ekspektasi awal.
    Dengan kata lain penyimpangan dari ekspektasinya cenderung akan diterima
    oleh konsumen yang bersangkutan.
  3. Assimilation – contrast Theory beranggapan bahwa terjadinya efek asimilasi
    (assilation effect) atau efek kontras (Contras effect) merupakan fungsi dari
    tingkat kesenjangan antara kinerja yang diharapkan dan kinerja actual. Apabila
    kesenjangan besar, konsumen akan memperbesar gap tersebut, sehingga
    produk dipersepsikan jauh lebih bagus atau buruk dibandingkan dengan
    kenyataannya (sebagaimana halnya contrast theory). Namun jika kesenjangan
    tidak terlampau besar, assimilation theory yang berlalu. Dengan kata lain, jika
    rentang deviasi yang bias diterima (acceptable deviations) dilewati, maka
    kesenjangan antara ekspektasi dan kinerja akan menjadi signifikan dan
    disitulah efek kontras berlaku

Pengertian Kepuasan Pelanggan


kepuasan konsumen adalah respon emosional terhadap pengalaman-
pengalaman berkaitan dengan produk atau jasa tertentu yang dibeli, gerai ritel,
atau bahkan pola perilaku (seperti perilaku belanja dan perilaku pembeli), serta
pasar secara keseluruhan. Respon emosional dipicu oleh proses evakuasi kognitif
yang membandingkan persepsi (atau keyakinan) terhadap objek, tindakan atau
kondisi tertentu dengan nilai-nilai (atau kebutuhan, keinginan dan hasrat)
individual. Menurut Tjiptono (2015:146), “kepuasan pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara
persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan harapan-harapannya”.
Menurut Danang Sunyoto (2015:140). Kepuasan konsumen merupakan salah satu
alasan dimana konsumen memutuskan untuk berbelanja pada suatu tempat.
Apabila konsumen merasa puas dengan suatu produk, mereka cenderung akan
terus membeli dan menggunakannya serta memberitahukan orang lain tentang
pengalaman mereka yang menyenangkan dengan produk tersebut. Sedangkan
menurut Kotler dan Amstrong (2018:39) kepuasan pelanggan merupakan salah
satu pendorong utama yang menhubungkan antara perusahaan dan pelanggan
dalam jangka panjang. Jika berbicara tentang kepuasan atau ketidakpuasan, terdiri
dari perasaan senang tertentu atau kecewa yang berasal dari perbandingan antara
kinerja suatu produk dengan keinginan pribadi. Menurut Andi Riyanto (2018:118)
kepuasan pelanggan adalah perbandingan kualitas layanan yang dialami
pelanggan, yang diharapkan pelanggan apabila kualitas yang dialami oleh
pelanggan lebih rendah yang diharapkan, maka akan terjadi ketidakpuasan.
pelanggan sesuai yang diharapkan, pelanggan akan puas, dan apabila kualitas
Kualitas Pelayanan lebih apa yang diharapkan, pelanggan akan sangat puas.

Hubungan Price Discount Terhadap Kepuasan Pelanggan


Konsumen memiliki persepsinya sendiri terhadap discount.Bagaimana
konsumen memandang harga (tinggi, rendah, dan wajar) mempunyai pengaruh
yang kuat terhadap maksud membeli dan kepuasan membeli. Menurut Putri dan
Edwar (2015:57) price discount merupakan penghematan yang ditawarkan pada
konsumen dari harga normal akan suatu produk, yang tertera di label atau
kemasan produk tersebut. Price discount memberikan beberapa keuntungan
diantaranya: dapat memicu konsumen untuk membeli dalam jumlah yang banyak,
mengantisipasi promosi pesaing, dan mendukung perdagangan dalam jumlah yang
lebih besar. Memberikan contoh suatu kasus yakni saat konsumen sedang melihat-
lihat di toko ritel, serta tak memiliki maksud guna membeli, secara tiba-tiba
konsumen itu memandang barang tertentu yang tengah berada pada diskon yang
cukuplah besar. Dan secara tak sengaja brand barang tersebut merupakan brand
yang digemari. Ketika hal itu berlangsung, konsumen memberikan keputusan
untuk melaksanakan pembelian barang tersebut. Berdasarkan contoh kasus itu,
brand atau merek barang/produk yang memiliki potongan harga yang sama seperti
kemauan konsumen akibatnya memunculkan dorongan guna membeli dan
menimbulkan rasa puas pada pelanggan. Begitu juga yang terjadi pada industri
perhotelan dan industri lainnya. Yudi Abdalah (2016) didalam penelitian ini
menunjukan bahwa variabel potongan harga berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen. Hal ini berarti bahwa pengguna sangat mementingkan
potongan harga karena menimbulkan rasa puas terhadap perusahaan tersebut

Indikator Price Discount


Menurut Wahyudi (2017:284), indikator dari Price Discount antara lain:
1) Frekuensi Diskon: Frekuensi diskon mengacu pada seberapa sering pemasar
dalam suatu gerai ritel melakukan potongan harga terhadap produk yang
ditawarkannya.
2) Besaran Diskon: Besaran diskon merupakan seberapa besar diskon yang
ditawarkan oleh pemasar terhadap produk yang ditawarkan kepada
konsumennya, yang dapat dilihat dari presentase misalnya 30%, 50% dll.
3) Waktu Pemberian Diskon: Waktu pemberian diskon merujuk pada kapan saja
waktu yang dipilih pemasar untuk melakukan potongan harga produk yang
ditawarkan kepada para konsumen

Jenis-Jenis Price Discount


Terdapat beberapa jenis price discount, penyesuaian harga yang disebut
diskon dan potongan pembelian yang pertama Menurut Abdullah dan Tantri
(2015:1890) di antaranya adalah:
a. Diskon/potongan kas, diskon kas adalah pengurangan harga kepada konsumen
yang membayar kewajiban mereka dengan tepat waktu.
b. Diskon/potongan jumlah, diskon jumlah adalah pengurangan harga bagi
pembeli dalam jumlah besar (tertentu).
c. Diskon/potongan fungsional, diskon fungsional (juga disebut diskon
perdagangan) ditawarkan oleh produsen kepada anggota saluran perdagangan,
jika mereka akan membentuk fungsi tertentu, seperti penjualan, pertokoan, dan
penyimpanan. Produsen dapat menawarkan diskon fungsional yang berbeda
kepada saluran perdagangan yang berbeda karena fungsi-fungsi mereka yang
yang yang bermacam-macam, tetapi produsen harus menawarkan diskon
fungsional yang sama kepada setiap saluran perdagangan.
d. Diskon/potongan musiman, diskon musiman adalah pengurangan harga bagi
pembeli yang membeli dagangan atau jasa di luar musimnya. Diskon musiman
memungkinkan penjual untuk mempertahankan produksi yang tetap selama
setahun.
e. Diskon/potongan pembelian, potongan pembelian adalah jenis lain
pengurangan dari harga dasar.
Yang ke dua Jenis-jenis price discount (potongan harga) Menurut Alma
dalam Lestari (2018:132), terdapat dua jenis price discount diantaranya adalah:
a. Rabat, potongan yang diterima berupa pengurangan harga dari daftar harga
yang resmi.
b. Potongan tunai, pengurangan harga kepada pembeli yang membayar tagihan
mereka lebih awal. Metode potongan ini diberikan berdasarkan pertimbangan
pertimbangan, jumlah pembelian, prosedur pembayaran dan juga tergantung
pada taktik promosi produsen atau penjual. Meskipun potongan harga
merupakan salah satu strategi dalam penetapan harga untuk menarik perhatian
konsumen, tetapi potongan harga secara langsung memberikan dampak positif
terhadap konsumen yang berpendapatan rendah.
Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan jenis-jenis price discount,
diantaranya adalah:

  1. Potongan pembelian, potongan yang diterima berupa pengurangan harga dari
    daftar harga resmi atau harga awal.
  2. Potongan tunai/ kas, pengurangan harga kepada pembeli yang membayar
    tagihan mereka lebih awal atau tepat waktu. Metode potongan ini diberikan
    berdasarkan pertimbangan pertimbangan, jumlah pembelian, prosedur
    pembayaran dan juga tergantung pada taktik promosi produsen atau penjual.
  3. Diskon/potongan jumlah, diskon jumlah adalah pengurangan harga bagi
    pembeli dalam jumlah besar (tertentu).

Tujuan Price Discount


Price discount mempunyai tujuan bagi perusahaan, berikut adalah beberapa
tujuan price discount menurut para ahli. Tujuan diadakannya diskon harga
menurut Nitisemito (dalam Brian, 2016:21) adalah:
a. Mendorong pembeli untuk membeli dalam jumlah yang besar sehingga volume
penjualan diharapkan akan bisa naik. Pemberian potongan harga akan
berdampak terhadap konsumen, terutama dalam pola pembelian konsumen
yang akhirnya juga berdampak terhadap volume penjualan yang diperoleh
perusahaan.
b. Pembelian dapat dipusatkan perhatiannya pada penjual tersebut, sehingga hal
ini dapat menambah atau mempertahankan langganan penjual yang
bersangkutan.
c. Merupakan sales service yang dapat menarik terjadinya transaksi pembelian.
Menurut Sutisna dalam Jurnal Nobel (2018:3) tujuan pemberian price
discount (potongan harga) adalah :

  1. Efektifitas discount, mengetahui seberapa besar dampak dari price discount
    yang dibeikan kepada konsumen
  2. Meningkatkan kuantitas pembelian, dengan diberikannya discount dapat
    mempengaruhi jumlah barang yang akan dibeli oleh konsumen
  3. Harga, adanya discount yang diberikan secara langsung dapat mengurangi
    jumlah pengeluaran konsumen.
  4. Mengikat pelanggan agar tidak berpindah tempat
  5. Mendorong pembelian dilakukan dengan kontan atau waktu yang pendek.
    Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari price
    discount adalah:
  6. Mendorong pembeli untuk membeli dalam jumlah yang besar sehingga volume
    penjualan diharapkan akan bisa naik. Pemberian potongan harga akan
    berdampak terhadap konsumen, terutama dalam pola pembelian konsumen
    yang akhirnya juga berdampak terhadap volume penjualan yang diperoleh
    perusahaan.
  7. Mengikat pelanggan agar tidak berpindah tempat.
  8. Mendorong pembelian dilakukan dengan kontan atau waktu yang pendek.

Jenis-Jenis Price Discount


Terdapat beberapa jenis price discount, penyesuaian harga yang disebut
diskon dan potongan pembelian yang pertama Menurut Abdullah dan Tantri
(2015:1890) di antaranya adalah:
a. Diskon/potongan kas, diskon kas adalah pengurangan harga kepada konsumen
yang membayar kewajiban mereka dengan tepat waktu.
b. Diskon/potongan jumlah, diskon jumlah adalah pengurangan harga bagi
pembeli dalam jumlah besar (tertentu).
c. Diskon/potongan fungsional, diskon fungsional (juga disebut diskon
perdagangan) ditawarkan oleh produsen kepada anggota saluran perdagangan,
jika mereka akan membentuk fungsi tertentu, seperti penjualan, pertokoan, dan
penyimpanan. Produsen dapat menawarkan diskon fungsional yang berbeda
kepada saluran perdagangan yang berbeda karena fungsi-fungsi mereka yang
yang yang bermacam-macam, tetapi produsen harus menawarkan diskon
fungsional yang sama kepada setiap saluran perdagangan.
d. Diskon/potongan musiman, diskon musiman adalah pengurangan harga bagi
pembeli yang membeli dagangan atau jasa di luar musimnya. Diskon musiman
memungkinkan penjual untuk mempertahankan produksi yang tetap selama
setahun.
e. Diskon/potongan pembelian, potongan pembelian adalah jenis lain
pengurangan dari harga dasar.
Yang ke dua Jenis-jenis price discount (potongan harga) Menurut Alma
dalam Lestari (2018:132), terdapat dua jenis price discount diantaranya adalah:
a. Rabat, potongan yang diterima berupa pengurangan harga dari daftar harga
yang resmi.
b. Potongan tunai, pengurangan harga kepada pembeli yang membayar tagihan
mereka lebih awal. Metode potongan ini diberikan berdasarkan pertimbangan
pertimbangan, jumlah pembelian, prosedur pembayaran dan juga tergantung
pada taktik promosi produsen atau penjual. Meskipun potongan harga
merupakan salah satu strategi dalam penetapan harga untuk menarik perhatian
konsumen, tetapi potongan harga secara langsung memberikan dampak positif
terhadap konsumen yang berpendapatan rendah.
Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan jenis-jenis price discount,
diantaranya adalah:

  1. Potongan pembelian, potongan yang diterima berupa pengurangan harga dari
    daftar harga resmi atau harga awal.
  2. Potongan tunai/ kas, pengurangan harga kepada pembeli yang membayar
    tagihan mereka lebih awal atau tepat waktu. Metode potongan ini diberikan
    berdasarkan pertimbangan pertimbangan, jumlah pembelian, prosedur
    pembayaran dan juga tergantung pada taktik promosi produsen atau penjual.
  3. Diskon/potongan jumlah, diskon jumlah adalah pengurangan harga bagi
    pembeli dalam jumlah besar (tertentu)

Pengertian Price Discount


Potongan harga sering sekali ditemukan dalam proses transaksi jual beli
maupun dalam menentukan pemakaian jasa. Kebanyakan bertujuan untuk
meningkatkan minat beli dari para konsumen. Hal ini terjadi karena dengan
adanya diskon konsumen akan tertarik untuk membelanjakan uangnya pada
produk atau jasa yang menawarkan diskon. Price Discount menurut Abdullah
dan Francis (2015:189) memberikan hadiah kepada konsumen atas pembayaran
awal, volume pembelian, dan pembelian di waktu luar musim dengan mengubah
harga dasar suatu produk. Menurut Tjiptono (2015:229) Potongan harga/diskon
merupakan salah satu jenis dari promosi penjualan. Potongan harga adalah
pengurangan produk dari harga normal dalam periode tertentu. Sedangkan
promosi penjualan adalah bentuk persuasi langsung melalui penggunaan berbagai
insentif yang dapat diatur untuk merangsang pembelian produk dengan secara
dan/atau meningkatkan jumlah barang yang dibeli pelanggan. Sedangkan Menurut
Kotler dan Keller (2016:84) price discount merupakan penghematan yang
ditawarkan pada konsumen dari harga normal akan suatu produk, yang tertera di
label atau kemasan produk tersebut. Menurut Machfoedz dalam Lesrtari
(2018:131) potongan harga (Price Discount) adalah potongan harga yang
menarik, sehingga harga sesungguhnya lebih rendah dari harga umum

Hubungan Kualitas Kualitas Pelayanan Terhadap KepuasanPelanggan


Kualitas Kualitas Pelayanan memiliki peran penting dalam menciptakan
kepuasan pelanggan. Persepsi pelanggan mengenai Kualitas Pelayanan
perusahaan baik atau tidaknya tergantung antara kesesuaian dan keinginan
Kualitas Pelayanan yang diperolehnya. Perusahaan penyedia jasa, Kualitas
Pelayanan yang diberikan menjadi suatu tolak ukur kepuasan pelanggan. Bila
kualitas Kualitas Pelayanan jasa yang dirasakan lebih kecil dari pada yang
diharapkan maka pelanggan akan merasa kecewa dan tidak puas bahkan memberi
dampak negatif lainnya pada perusahaan. Fandy Tjiptono (2015:125) menyatakan
dengan indeks kepuasan kualitas konsumen yang diukur dalam ukuran apapun
dengan dimensi kualitas Kualitas Pelayanan yaitu tangible, empathy, reliability,
responsiveness dan assurance memiliki pengaruh terhadap kepuasan konsumen.
Pengaruh antara kualitas Kualitas Pelayanan dengan kepuasan konsumen
diperkuat oleh jurnal Wayan Widya Suryadharma dan Ketut Nurcahya (2015)
yang menunjukan bahwa secara simultan variabel kualitas Kualitas Pelayanan
berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Fitzsimmons dalam Zaenal Mukarom dan Muhibudin (2015:108)
mengemukakan lima indikator Kualitas Pelayanan yaitu :

  1. Reliability yang ditandai dengan pemberian Kualitas Pelayanan yang tepat dan
    benar.
  2. Tangibles yang ditandai dengan penyediaan yang memadai sumber daya
    lainnya.
  3. Responsiveness ditandai dengan keinginan melayani konsumen dengan cepat.
  4. Assurance yang ditandai tingkat perhatian terhadap etika dan moral dalam
    memberikan Kualitas Pelayanan.
  5. Empati yang ditandai tingkat kemauan untuk mengetahui keinginan dan
    kebutuhan konsumen

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Kualitas Pelayanan


Kualitas Kualitas Pelayanan merupakan faktor yang sangat penting
khususnya bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa. Aplikasi kualitas
Kualitas Pelayanan sebagai sifat dari penampilan produk atau kinerja merupakan
bagian dari strategi perusahaan dalam rangka meraih keunggulan yang
berkesinambungan, baik sebagai pemimpin pasar maupun strategi untuk terus
tumbuh. Faktor penyebab buruknya kualitas Kualitas Pelayanan menurut Fandy
Tjiptono (2015:178), faktor penyebab buruknya kualitas Kualitas Pelayanan
adalah sebagai berikut :

  1. Produksi dan konsumsi yang terjadi secara simultan salah satu karakteristik
    unik jasa atau layanan adalah inseparability (tidak dapat dipisahkan), artinya
    jasa diproduksi dan dikonsumsi pada saat bersamaan. Hal ini kerapkali
    membutuhkan kehadiran dan partisipasi pelanggan dalam proses penyampaian
    jasa. Konsekuensinya, berbagai macam persoalan sehubungan dengan interaksi
    antara penyedia layanan dan pelanggan bisa saja terjadi. Beberapa kelemahan
    yang mungkin ada pada karyawan jasa dan mungkin berdampak negatif
    terhadap persepsi kualitas meliputi :
    a. Tidak terampil dalam melayani pelanggan;
    b. Cara berpakaian karyawan yang kurang sesuai konteks;
    c. Tutur kata karyawan kurang sopan;
    d. Bau badan karyawan mengganggu kenyamanan pelanggan;
    e. Mimik muka karyawan selalu cemberut.
  2. Intensitas tenaga kerja yang tinggi keterlibatan karyawan secara insentif dalam
    penyampaian layanan dapat pula menimbulkan masalah kualitas yaitu berupa
    tingginya variabilitas yang dihasilkan. Faktor-faktor yang biasa
    mempengaruhinya antara lain :
    a. Upah rendah (umumnya karyawan yang melayani atau berinteraksi langsung
    dengan pelanggan memiliki tingkat pendidikan dan upah yang paling rendah
    dalam suatu perusahaan);
    b. Pelatihan yang kurang memadai atau bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan
    organisasi;
    c. Tingkat perputaran karyawan terlalu tinggi;
    d. Motivasi kerja karyawan rendah.
  3. Dukungan terhadap pelanggan internal kurang memadai Karyawan front line
    merupakan ujung tombak sistem penyampaian layanan. Dalam banyak kasus,
    keramahan dan kesopanan operator telepon dan satpam bisa jadi memberikan
    kesan pertama bagi calon pelanggan yang ingin berhubungan dengan sebuah
    perusahaan penyedia jasa. Agar para karyawan front line mampu melayani
    pelanggan secara efektif, mereka membutuhkan dukungan dari fungsi-fungsi
    utama manajemen (operasi, pemasaran, keuangan, dan SDM). Dukungan
    tersebut bisa juga berupa peralatan (perkakas, material, pakaian, seragam),
    pelatihan keterampilan maupun informasi (misalnya, prosedur operasi).
  4. Gap komunikasi, bila terjadi gap komunikasi, maka bisa timbul penilaian atau
    persepsi negatif terhadap kualitas layanan. Gap-gap komunikasi bisa berupa :
    a. Penyedia layanan memberikan janji berlebihan, sehingga tidak mampu
    memenuhinya.
    b. Penyedia layanan tidak bisa selalu menyajikan informasi terbaru kepada
    para pelanggan.
    c. Pesan komunikasi penyedia layanan tidak dipahami pelanggan.
    d. Penyedia layanan tidak memperhatikan atau tidak segera menindaklanjuti
    keluhan atau saran pelanggan.
  5. Memperlakukan semua pelanggan dengan cara yang sama dalam hal interaksi
    dengan penyedia layanan, tidak semua pelanggan bersedia menerima layanan
    yang seragam, sering terjadi ada pelanggan yang menginginkan atau bahkan
    menuntut layanan yang sifatnya personal dan berbeda dengan pelanggan lain.
    Hal ini memunculkan tantangan bagi penyedia layanan dalam hal individual
    dan memahami perasaan pelanggan terhadap penyedia layanan dan layanan
    spesifik yang mereka terima.
  6. Perluasan atau pengembangan layanan secara berlebihan bila terlampau banyak
    layanan baru dan tambahan terhadap layanan yang sudah ada, hasil yang
    didapatkan belum tentu optimal, bahkan tidak tertutup kemungkinan timbul
    masalah-masalah seputar standar kualitas layanan. Selain itu, pelanggan juga
    bisa bingung membedakan variasi penawaran layanan baik dari segi fitur,
    keunggulan maupun tingkat kualitasnya.
  7. Visi bisnis jangka pendek (misalnya orientasi pencapaian target penjualan dan
    laba tahunan, penghematan biaya sebesar-besarnya, peningkatan produktivitas
    tahunan, dll) bisa merusak kualitas layanan yang sedang dibentuk untuk jangka
    panjang. Sedangkan Christian Gronroos dalam Rolando (2018:56)
    mengemukakan bahwa terdapat 4 faktor yang mempengaruhi kualitas Kualitas
    Pelayanan yaitu: 1. Menjaga dan memperhatikan, bahwa pelanggan akan
    merasakan kepuasan Kualitas Pelayanan karyawan dan sistem operasional yang
    ada dapat menyelesaikan problem mereka. 2. Spontanitas, dimana karyawan
    menunjukan keinganan untuk menyelesaikan masalah pelanggan. 3.
    Penyelesaian masalah, karyawan yang berhubungan langsung dengan
    pelanggan harus memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas berdasarkan
    standar yang ada, termasuk pelatihan yang diberikan untuk dapat memberikan
    Kualitas Pelayanan yang lebih baik. 4. Perbaikan, apabila terjadi hal-hal yang
    tidak diinginkan harus mempunyai personil yang dapat menyiapkan usaha-
    usaha khusus untuk dapat mengatasi kondisi tersebut

Prinsip – Prinsip Kualitas Kualitas Pelayanan


Kualitas Pelayanan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak
perusahaan berupa hal yang tidak berwujud namun dapat dirasakan oleh
konsumen. Pengukuran Kualitas Pelayanan dapat dilihat dari terhadap suatu
layanan yang telah diterima oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan harapannya.
Dalam memberikan Kualitas Pelayanan perusahaan juga harus memiliki
prinsip untuk mewujudkannya, ada enam pokok prinsip pokok dalam kualitas
Kualitas Pelayanan menurut Tjiptono dan Chandra (2016:141), yaitu :
1) Kepemimpinan Strategi kualitas perusahaan harus merupakan inisiatif dan
komitmen manajemen puncak. Manajemen puncak harus memimpin
perusahaanya untuk meningkatkan kualitas hanya berdampak kecil terhadap
perusahaannya.
2) Pendidikan Semua personil perusahan dari manajer puncak sampai karyawan
operasional harus memperoleh pendidikan mengenai kualitas. Aspek-aspek
yang perlu mendapat penekanan dalam pndidikan tersebut meliputi konsep
kualitas sebagai strategi bisnis, alat dan teknis implementasi strategi kualitas,
dan peranan eksekutif dalam implementasi strategi kualitas.
3) Perencanaan Proses perencanaan strategi harus mencakup pengukuran dan
tujuan kualitas yang dipergunakan dalam mengarahkan perusahaan untuk
mencapai visinya.
4) Review Proses review merupakan satu-satunya alat yang paling efektif bagi
manajemen untuk mengubah perilaku organisasional. Proses ini merupakan
suatu mekanisme yang menjamin adanya konstan untuk mencapai tujuan
kualitas.
5) Komunikasi Implementasi strategi kualitas dalam organisasi dipengaruhi oleh
proses komunikasi dalam perusahaan. Komunikasi harus dilakukan oleh
karyawan, pelanggan, dan stakeholder perusahaan lainnya. Seperti pemasok,
pemegang saham, pemerintah, masyarakat umum, dan lain-lain.
6) Penghargaan dan pengakuan Penghargaan dan pengakuan merupakan aspek
yang penting dalam implementasi strategi kualitas. Setiap karyawan yang
berprestasi baik perlu diberikan penghargaan dan prestasinya tersebut diakui.
Dengan demikian diberikan penghargaan dan prestasinya tersebut diakui.
Dengan demikian dapat meningkatkan motivasi, moral kerja, rasa bangga, rasa
kepemilikan setiap orang dalam organisasi, yang pada akhirnya dapat
memberikan konstribusi besar bagi perusahaan dan bagi pelanggan yang
dilayani

Pengertian Kualitas Kualitas Pelayanan


Sudah menjadi keharusan perusahaan melakukan kualitas Kualitas
Pelayanan yang terbaik supaya mampu bertahan dan tetap menjadi kepercayaan
pelanggan. Terciptanya Kepuasan Pelanggan dapat memberikan manfaat
diantaranya hubungan antara Perusahaan dan Pelanggan menjadi harmonis,
Pelanggan akan melakukan pembelian ulang hingga terciptanya loyaitas
Pelanggan, dan membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word of
mouth) yang menguntungkan Perusahaan. Menurut Arianto (2018:83) kualitas
Kualitas Pelayanan dapat diartikan sebagai berfokus pada memenuhi kebutuhan
dan persyaratan, serta pada ketepatan waktu untuk memenuhi harapan pelanggan.
Kualitas Pelayanan berlaku untuk semua jenis layanan yang disediakan oleh
perusahaan saat klien berada di perusahaan. Menurut Kotler dan Keller
(2016:143) “kualitas adalah kelengkapan fitur suatu produk atau jasa yang
memiliki kemampuan untuk memberikan kepuasan terhadap suatu kebutuhan”.
Menurut Kasmir (2017:47) kualitas Kualitas Pelayanan di definisikan sebagai
tindakan atau perbuatan seorang atau organisasi bertujuan untuk memberikan
kepuasan kepada pelanggan ataupun karyawan. Sedangkan menurut Aria dan Atik
(2018:16) kualitas Kualitas Pelayanan merupakan komponen penting yang
harus diperhatikan dalam memberikan Kualitas Pelayanan prima. Kualitas
Kualitas Pelayanan dmerupakan titik sentral bagi perusahaan karena
mempengaruhi kepuasan konsumen dan kepuasan konsumen akan muncul
apabila kualitas Kualitas Pelayanan yang diberikan dengan baik.

Definisi Kepuasan Konsumen


Kepuasan Konsumen Menurut Tjiptono (2009:195), kepuasan atau
satisfaction berasal dari bahasa latin “statis” yang berarti cukup baik atau
memadai dan “facio” (melakukan atau membuat) sehingga secara sederhana
kepuasan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu
yang memadai. Sedangkan konsumen menurut Webster’s Dictionary dalam buku
Lupiyoadi (2013:211) mendefinisikan konsumen sebagai seorang individu atau
kelompok yang berulang kali datang ke tempat yang sama untuk memuaskan
keinginannya dengan memiliki suatu produk atau mendapatkan suatu jasa dan
memuaskan produk atau jasa tersebut.
Dalam menentukan tingkat kepuasan, seorang konsumen sering kali melihat
dari nilai lebih suatu produk dan kinerja pelayanan yang diterima dari suatu proses
pembelian produk atau jasa. Pencarian nilai oleh konsumen terhadap produk atau
jasa perusahaan kemudian menimbulkan teori yang disebut dengan nilai yang
diterima konsumen (customer value delivered), yaitu besarnya selisih nilai yang
diberikan oleh konsumen terhadap produk atau jasa perusahaan yang ditawarkan
kepadanya dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen untuk
memperoleh produk atau jasa tersebut (Lupiyoadi, 2013:212)

Indikator Kepercayaan


Dalam penelitian ini kepercayaan dinilai berdasarkan berikut ini.
a. Kepercayaan terhadap layanan petugas
b. Kepercayaan terhadap fasilitas Hotel
c. Kepercayaan terhadap hotel
(Moorman et. al, 1992 dalam Gatot Yulianto dan Purwanto Waluyo, 2004:359)

Dimensi Kepercayaan


Menurut Mayer et al. (1995) faktor yang membentuk kepercayaan seseorang
terhadap yang lain ada tiga yaitu kemampuan (ability), kebaikan hati
(benevolence), dan integritas (integrity). Ketiga faktor tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:

  1. Kemampuan (Ability)
    Kemampuan mengacu pada kompetensi dan karakteristik penjual/ organisasi
    dalam mempengaruhi dan mengotorisasi wilayah yang spesifik. Dalam hal ini,
    bagaimana penjual mampu menyediakan, melayani, sampai mengamankan
    transaksi dari gangguan pihak lain. Artinya bahwa konsumen memperoleh
    jaminan kepuasan dan keamanan dari penjual dalam melakukan transaksi. Kim et
    al. (2003) menyatakan bahwa ability meliputi kompetensi, pengalaman,
    pengesahan institusional dan kemampuam dalam ilmu pengetahuan.
  2. Kebaikan hati (Benevolence)
    Kebaikan hati merupakan kemauan penjual dalam memberikan kepuasan yang
    saling menguntungkan antara dirinya dengan konsumen. Profit yang diperoleh
    penjual dapat dimaksimumkan, tetapi kepuasan konsumen juga tinggi. Penjual
    bukan semata-mata mengejar profit maksimum semata, melainkan juga memiliki
    perhatian yang besar dalam mewujudkan kepuasan konsumen. Menurut Kim et al.
    (2003), benevolence meliputi perhatian, empati, keyakinan, dan daya terima.
  3. Integritas (Integrity)
    Integritas berkaitan dengan bagaimana perilaku atau kebiasaan penjual dalam
    menjalankan bisnisnya. Informasi yang diberikan kepada konsumen apakah benar
    sesuai dengan fakta atau tidak. Kualitas produk yang dijual apakah dapat
    dipercaya atau tidak. Kim et al. (2003) mengemukakan bahwa integrity dapat
    dilihat dari sudut kewajaran (fairness), pemenuhan (fulfillment), kesetiaan
    (loyalty), keterus-terangan (honestly), keterkaitan (dependability), dan kehandalan
    (reliabilty)

Definisi Kepercayaan


Kepercayaan, Seperti yang dikutip Ishak dan Zhafitri (2011) menyatakan
kepercayaan adalah kesediaan untuk bergantung kepada pihak lain yang telah
dipercaya. Menurut Sunarto (2004) Kepercayaan konsumen adalah semua
pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat
konsumen tentang objek, atribut, dan manfaatnya. Objek dapat berupa Pengaruh
Kepuasan dan Kepercayaan, produk, orang, perusahaan, dan segala sesuatu,
dimana seseorang memiliki kepercayaan dan sikap. Sedangkan Atribut adalah
karakteristik atau fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh objek.
Sedangkan Manfaat (Benifits) adalah hasil positif yang diberikan atribut kepada
konsumen.
Para manajer harus menyadari bahwa kepercayaan terhadap objek, atribut,
dan manfaat menunjukkan persepsi konsumen, dan karena itu, umumya
kepercayaan seorang konsumen berbeda dengan konsumen lainnya. Barnes
(2008:149) menyatakan bahwa ada beberapa elemen penting dari kepercayaan,
yaitu:
a) Kepercayaan merupakan perkembangan dan pengalaman dan tindakan masa
lalu.
b) Watak yang diharapkan dari partner, seperti dapat dipercaya dan dapat
diandalkan.
c) Kepercayaan melibatkan kesediaan untuk menempatkan diri dalam resiko.
d) Kepercayaan melibatkan perasaan aman dan yakin pada diri partner.
Lita (2009:72) menjelaskan beberapa manfaat dari adanya kepercayaan,
antara lain:
a) Kepercayaan dapat mendorong pemasar untuk berusaha menjaga hubungan
yang terjalin dengan bekerjasama dengan rekan perdagangan.
b) Kepercayaan menolak pilihan jangka pendek dan lebih memilih keuntungan
jangka panjang yang diharapkan dengan mempertahankan rekan yang ada.
c) Kepercayaan dapat mendorong pemasar untuk memandang sikap yang
mendatangkan risiko besar dengan bijaksana karena percaya bahwa rekannya
tidak akan mengambil kesempatan yang dapat merugikan pemasar.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono (2008, p.30) Ada empat karakteristik jasa/ layanan yang
membedakannya dari barang yaitu:
1) Intangibility (tidak berwujud). Jasa berbeda dengan barang. Jika barang
merupakan suatu objek, alat, atau benda, maka jasa adalah suatu perbuatan,
kinerja, atau usaha. Konsep intangible pada jasa memiliki dua pengertian,
yaitu:
a) Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa
b) Sesuatu yang tidak dapat dengan mudah didefinisikan, diformulasikan,
atau dipahami secara rohani.

  1. Inseparability (tidak terpisah antara produksi dan konsumsi). Barang
    biasanya diproduksi, kemudian dijual lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa,
    umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi
    secara bersamaan.
  2. Variability (outputnya tidak terstandar). Jasa bersifat sangat variabel yang
    memiliki banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenis, tergantung pada siapa,
    kapan, dan dimana saja jasa tersebut dihasilkan. Para konsumen sangat peduli
    akan variability yang tinggi dan seringkali mereka meminta pendapat kepada
    orang lain sebelum memutuskan untuk memilih. Dalam hal ini, penyedia jasa
    dapat melakukan dua tahap dalam pengendalian kualitas, yaitu:
    a. Melakukan investasi dalam seleksi pelatihan personil yang baik .
    b. Melakukan standarisasi proses pelaksana jasa.

Definisi Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang
diberikan mampu sesuai dengan ekspetasi pelanggan. Kualitas pelayanan bisa
diwujudkan melalui pemenuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan
penyampaian untuk mengimbangi harapan pelanggan menurut Tjiptono
(2007:121).
Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk,
jasa, manusia, proses, lingkungan yang memenuhi melebihi harapan menurut
Fandy Tjiptono (2008). Menurut Freddy Rangkuti (2009), tingkat kualitas
pelayanan tidak dapat dinilai berdasarkan sudut pandang perusahaan tetapi harus
dipandang dari sudut pandang penilaian pelanggan. Karena itu, dalam
merumuskan strategi dan program pelayanan, perusahaan harus berorientasi
kepada kepentingan pelanggan dengan memperhatikan komponen kualitas
pelayanan.
Menurut Tjiptono (2011) kualitas jasa merupakan sesuatu yang dipersepsikan
oleh pelanggan. Pelanggan akan menilai kualitas sebuah jasa yang dirasakan
berdasarkan apa yang mereka deskripsikan dalam benak mereka. Pelanggan akan
beralih ke penyedia jasa lain yang lebih mampu memahami kebutuhan spesifik
pelanggan dan memberikan layanan yang lebih baik. Kualitas yang rendah akan
menimbulkan ketidakpuasan pada pelanggan, tidak hanya pelanggan yang makan
di restoran tersebut tapi juga berdampak pada orang lain. Karena pelanggan yang
kecewa akan bercerita paling sedikit kepada lima belas orang lainnya.
Dampaknya, calon pelanggan akan menjatuhkan pilihannya kepada pesaing
(Lupiyoadi dan Hamdani,2006).

Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasaan Pelanggan


Hubungan antara kualitas pelayanan dan kepuasan secara luas
didokumentasikan dalam literatur terutama pemasaran, hubungan tersebut secara
teoritismaupun empiris adalah positif seperti yang telah diteliti oleh Wijayanti
(2016). Secara teoritis ketika pelayanan yang diberikan mampu memenuhi atau
melampauipengharapan atau ekpetasi pelanggan maka pelanggantersebut merasa
puas Parasuraman et al (1988). Secara empiris banyak penelitian dengan latar
belakang sampel yang berbeda-beda telah membuktikan bahwa kualitas
pelayanan mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan seperti
yang diungkapkan oleh dan Wellyan (2017) juga mengungkap kan hal serupa yakni kualitas pelayanan yang dilihat daril ima dimensi : tangible, reliability,
responsiveness, assurance, emphaty memiliki dampak positif bagi kepuasan
pelanggan.

Pelayanan Publik

Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan dalam rangka pengaturan,
pembinaan, bimbingan, penyediaan fasilitas, jasa dan lainnya yang dilaksanakan
oleh aparatur pemerintah sebagai upaya pemenuhan kebutuhan kepada masyarakat
sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku (UU No. 25 Tahun 2009
tentang Pelayanan Publik)

Kualitas Pelayanan Publik


Pemberian pelayanan yang baik merupakan salah satu upaya perusahaan
untuk menciptakan kepuasan bagi konsumennya. Jika konsumen merasa telah
mendapatkan pelayanan yang baik berarti perusahaan mampu memberikan
pelayanan yang baik. Demikian pula sebaliknya, pelayanan tidak dapat diuraikan
secara objektif seperti sebuah produk, melainkan merupakan interaksi sosial
dengan subjektivitas yang lebih tergantung pada nilai, parasaan dan perilaku.
Pelayanan yang berkualitas itu tidak hanya ditentukan oleh pihak yang
melayani, tetapi juga pihak yang ingin dipuaskan. Dan yang menjadi prinsip-
prinsip layanan yang berkualitas menurut H.A.S. Moenir (2002:205) antara lain :
a. Proses dan prosedur harus ditetapkan lebih awal.
b. Proses dan prosedur itu harus diketahui oleh semua pihak yang terlibat.
c. Disiplin bagi pelaksanaan untuk mentaati proses dan prosedur
d. Perlu peninjauan proses dan prosedur oleh pimpinan, sewaktu-waktu dapat
dirubah apabila perlu.
e. Perlu menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembang budaya
organisasi untuk menciptakan kualitas layanan.
f. Kualitas berarti memenuhi keinginan, kebutuhan dan selera konsumen.
g. Setiap orang dalam organisasi merupakan partner dengan orang lainnya.

Penyelenggaraan Pelayanan Publik


Kegiatan pelayanan publik diselenggarakan oleh instansi pemerintah yang
merupakan sebutan kolektif meliputi satuan kerja atau satuan orang kementrian,
departemen, lembaga, pemerintahan non-departemen, dan instansi pemerintah
lainnya, baik pusat maupun daerah termasuk Badan Usaha Milik Daerah.
Sedangakan yang berperan sebagai penerima pelayanan publik adalah orang,
masyarakat, instansi pemerintah dan badan hukum.
Dalam pasal 14 UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
menyatakan penyelenggaran pelayanan publik memiliki beberapa hak sebagai
berikut :
a. Memberikan pelayanan tanpa dihambat pihak lain yang bukan tugasnya
b. Melakukan kerjasama
c. Mempunyai anggaran pembiayaan penyelenggaraan pelayanan publik
d. Melakukan pembelaan terhadap pengaduan dan tuntutan yang tidak sesuai
dengan kenyataan dalam penyelenggaraan pelayanan publik, dan
e. Menolak permintaan pelayanan yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan.
Dalam pasal 15 UU No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
menyatakan bahwa penyelenggaraan pelayanan publik berkewajiban sebagai
berikut :
a. Menyusun dan menetapkan standar pelayanan
b. Menyusun, menetapkan, dan mempublikasikan maklumat pelayanan
c. Menempatkan pelaksana yang kompeten
d. Menyediakan sarana, prasarana atau fasilitas pelayanan publik yang
mendukung terciptanya iklim pelayanan yang memadai
e. Memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas-asas
penyelenggaraan pelayanan publik

Faktor Pendukung Pelayanan


Pelayan umum kepeda masyarakat akan dapat berjalan sebagaimana yang
diharapkan, apabila faktor-faktor pendukungnya cukup memadai serta dapat
difungsikan secara berhasil guna dan berdaya guna. Pada proses pelayanan
terdapat faktor penting, dan setiap faktor mempunyai peranan yang berbeda-beda
tetapi saling berpengaruh dan secara bersama-sama akan mewujudkan
pelaksanaan pelayanan yang baik.
H.A.S Moenir (2002:88) berpendapat ada enam faktor pendukung
pelayanan, anatara lain :
a. Faktor kesadaran
Faktor kesadaran ini mengarah pada keadaan jiwa seseorang yang
merupakan titik temu dari beberapa pertimbangan sehingga diperoleh suatu
keyakinan, ketenangan, ketetapan hati dan keseimbangan jiwa.
b. Faktor aturan
Aturan sebagai perangkat penting dalam segala tindakan pekerjaan
seseorang. Oleh karena itu, setiap aturan secara langsung ataupun tidak langsung
akan sangat berpengaruh.
c. Faktor organisasi
Faktor organisasi tidak hanya terdiri dari susunan organisasi tetapi lebih
banyak pada pengaturan mekanisme kerja. d. Faktor pendapatan
Faktor pendapatan yang diterima oleh seseorang merupakan imbalan atas
tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan orang lain. Pendapatan dalam bentuk
uang, iuran atau fasilitas dalam jaka waktu tertentu.
e. Faktor kemampuan
Faktor kemampuan merupakan titik ukur untuk mengetahui sejauh mana
pegawai dapat melakukan suatu pekerjaan sehingga menghasilkan barang atau
jasa sesuai dengan apa yang diharapkan.
f. Faktor sarana pelayanan
Faktor sarana yang dimaksud yaitu segala jenis peralatan, perlengkapan
kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat pendukung utama dalam
mempercepat pelaksanaan penyelesaian pekerjaan

Unsur–unsur Pelayanan


Suatu proses kegiatan pelayanan terdapat beberapa faktor atau unsur yang
saling mendukung jalannya kegiatan. Menurut H.A.S Moenir (2002:8) yang
menjadi unsur-unsur dalam pelayanan adalah :
a. Sistem, prosedur, dan metode.
Dalam pelayanan perlu adanya informasi, prosedur dan metode yang
mendukung kelancaran dalam memberikan pelayanan.
b. Personil
Personil lebih ditekankan pada perilaku aparatur dalam pelayanan.
Aparatur pemerintah selaku personil pelayanan harus profesional, disiplin dan
terbuka terhadap kritik dari pelanggan atau masyarakat.
c. Sarana dan prasarana
Dalam pelayanan diperlukan peralatan dan ruang kerja serta fasilitas
pelayanan. Misalnya seperti ruang tamu, tempat parkir yang memadai dan
sebagainya.
d. Masyarakat sebagai pelanggan
Dalam pelayananya, masyarakat selaku pelanggan sangatlah heterogen
yaitu tingkat pendidikannya maupun perilakunya.

Asas Pelayanan Publik


Untuk dapat memberikan pelayanan yang memuaskan pengguna jasa,
penyelenggaraan pelayanan harus memenuhi asas-asas pelayanan. asas-asas
penyelenggaraan pelayanan publik diatur dalam Pasal 4 Undang-undang Nomor
25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik yang dikutip oleh Eny Kusdarini
(2011:190) yakni yang terdiri dari 12 asas :
a. Asas kepentingan umum
b. Asas kepastian hukum
c. Asas kesamaan hak
d. Keseimbangan hak dan kewajiban
e. Asas keprofesionalan
f. Asas partisipasif
g. Asas persamaan perlakuan/tindak deskriminatif
h. Asas keterbukaan
i. Asas akuntabilitas
j. Asas fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan
k. Asas ketepatan waktu
l. Asas kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan

Publik


Istilah publik berasal dari bahasa inggris dengan kata “public” yang
berarti umum, masyarakat ataupun negara. Menurut Litjan Poltak Sinambella, dkk
(2011:5) Kata publik sebenarnya sudah diterima menjadi bahasa Indonesia baku
menjadi publik yang berarti umum, orang banyak atau ramai. Sedangkan Menurut
Inu Kencana Syafiie, dkk (1999:18) arti dari kata publik itu sendiri adalah
sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap
dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang mereka
miliki.

Pelayanan


Pelayanan merupakan salah satu ujung tombak dari upaya pemuasan
pelanggan dan sudah merupakan keharusan yang wajib dioptimalkan baik oleh
individu maupun organisasi, karena dari bentuk pelayanan yang diberikan
tercermin kualitas individu atau organisasi yang memberikan pelayanan.
Menurut Hardiyansah (2011:11) “Pelayanan dapat diartikan sebagai
aktivitas yang diberikan untuk membantu, menyiapkan, dan mengurus baik itu
berupa barang atau jasa dari satu pihak ke pihak lain”. Pendapat lain mengenai
pelayanan juga dikemukakan oleh Gronross (dalam Ratminto dan Atik Septi
Winarsih, 2006:2) bahwa Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian
aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai
akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang
disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk pemberi
pelayanan untuk memecahkan permasalahan konsumen/ pelanggan.
Dari definisi diatas dapat dilihat bahwa pelayanan adalah aktivitas yang
dapat dirasakan melalui hubungan antara penerima dan pemberi pelayanan yang
menggunakan peralatan berupa organisasi atau lembaga perusahaan.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Parasuraman menjabarkan kualitas pelayanan ke dalam 10 dimensi pelayanan
yang dapat digunakan untuk menilai kualitas pelayanan yaitu sebagai berikut
(Parasuraman, dkk.,1988):

  1. Ketersediaan fasilitasa fisik (tangible) untuk pelayanan.
  2. Ketepatan petugasa dalam memberikan pelayanan (reliability).
  3. Kemauan dan kesiapan petugas dalam memberikan pelayanan
    (responsiveness).
  4. Keterampilan dan pengetahuan petugas dalam memberikan pelayanan
    (competence).
  5. Sikap (sopan, respek, perhatian, keramahan) petugas dalam memberikan
    pelayanan (courtesy).
  6. Kejujuran dan dapat dipercaya terhadap petugas dalam memberikan
    pelayanan (credibility).
  7. Keamanan (fisik, keuangan, kerahasiaan) yang harus diberikan oleh petugas
    pelayanan (security).
  8. Kemudahan untuk dihubungi atau ditemui petugas yang memberikan
    pelayanan (access).
    Institut Teknologi Nasional `
  9. Cara berkomunikasi yang dimiliki oleh petugas dalam memberikan
    pelayanan (communication).
  10. Usaha petugas dalam memahami kebutuhan konsumen (understanding the
    customer)

Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan adalah besarnya perbedaan antara harapan atau keinginan
konsumen dengan tingkat persepsi mereka (Parasuraman, dkk., 1988). Sementara
itu kualitas pelayanan jasaa berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan pelanggan sertaq ketepatan peyampaiannya untuk mengimbangi harapan
pelanggan. (Tjiptono, 2004).

Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasaan Pelanggan


Hubungan antara kualitas pelayanan dan kepuasan secara luas
didokumentasikan dalam literatur terutama pemasaran, hubungan tersebut secara
teoritismaupun empiris adalah positif seperti yang telah diteliti oleh Wijayanti
(2016). Secara teoritis ketika pelayanan yang diberikan mampu memenuhi atau
melampauipengharapan atau ekpetasi pelanggan maka pelanggantersebut merasa
puas Parasuraman et al (1988). Secara empiris banyak penelitian dengan latar
belakang sampel yang berbeda-beda telah membuktikan bahwa kualitas
pelayanan mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan seperti
yang diungkapkan oleh dan Wellyan (2017) juga mengungkap kan hal serupa
yakni kualitas pelayanan yang dilihat daril ima dimensi : tangible, reliability,
responsiveness, assurance, emphaty memiliki dampak positif bagi kepuasan
pelanggan..
Konsep kepuasan konsumen merupakan hal penting bagi para manajer
pemasaran dimana kepuasan konsumen dapat mendorong pembelian ulang
(Puspitasari 2017). Kepuasan pelanggan merupakan hasil dari perbandingan
antara harapan dan kenyataan yang diterima pelanggan setelah mengkonsumsi
barang atau jasa. Puspitasari (2018) menyatakan bahwa apabila pelanggan puas
terhadap barang atau kualitas layanan yang diberikan maka akan timbul kesetiaan
pelanggan sehingga minat beli pelanggan meningkat dan membuat pelanggan
kembali melakukan pembelian ulang (repurchase).

Pengaruh E-tracking Terhadap Kepuasan Pelanggan


Pada penelitian ini Layanan mengacu pada keyakinan pelanggan pengguna
jasa pengiriman untuk memberikan kepercayaan, Dapat disimpulkan bahwa
kepercayaan dalam hal penggunaan jasa pengiriman merupakan keyakinan dan
harapan pengguna jasa pengiriman bahwa penyedia jasa pelayanan mempunyai
kompetensi dan tidak berlaku opertunis.
Menurut penelitian Irma Ayu Nuraini (2017) dengan judul Pengaruh
Tingkat Kepercayaan, Kualitas, Layanan dan Harga Terhadap Kepuasan
Pelanggan JNE Surabaya. Dari penelitian ini diperoleh hasil penelitian semakin
seseorang puas terhadap layanan yang diberikan oleh perusahaan maka pelanggan
akan merasa puas dan kembali menggnakan jasa atau barang yang ditawarkan

Kepuasaan Pelanggan.


Kepuasan pelanggan adalah tanggapan atau evaluasi emosional dimana
pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa. Kepuasan pelanggan merupakan
bahan evaluasi alternatif yang dapat dipilih sekurang-kurangnya melebihi
harapan pelanggan. Dewasa ini dapat dipastikan bahwa kunci utama untuk
memenangkan hati pelanggan dan persaingan adalah memberikan kepuasan
kepada pelanggan Tjiptono (2018). Maka dari itu konsep pemasaran yang
sebaiknya dianut oleh perusahaan ialah yang memiliki tema pokok yang
menyatakan seluruh elemen bahwa bisnis harus berorientasi kepada kepuasan
pelanggannya. Menurut Kotler dalam Januar (2016) kepuasan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya
terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan harapan-harapannya. Menurut
S.C.Chen (2017) semakin tinggi kepuasan seseorang maka semakin positif pula
sikap yang dimiliki pelanggan. Indikator Kepuasan Pelanggan menurut Brillyan
J.S dalam Sinaga,E (2017).

  1. Kesesuaian harapan dan kenyataan dalam arti ekspektasi atau harapan yang
    dituangkan dalam produk/jasa yang ditawarkan dan menjadi kenyataan
    seperti yang diinginkan pelanggan.
  2. Kualitas customer service dalam aeri Pelayanan yang responsif yang dapat
    dihubungi untuk menjawab kebutuhan pelanggan.
  3. Kesediaan merekomendasikan dalam hal ini Kepercayaan yang sudah
    didapat dan membuat pelanggan bersedia merekomendasikan tanpa diminta.
  4. Minat menggunakan kembali adalah manfaat dan bentuk dari Kepuasan
    pelanggan yang membuat pelanggan kembali menggunakan barang/jasa
    yang ditawarkan

Indikator Ketepatan Pengiriman


Definisi ketepatan pengiriman adalah ketepatan waktu pengiriman dan
jaminan barang pesanan konsumen selamat hingga sampai tujuan menjadi ujung
tombak usaha agar tetap dapat memperoleh kepercayaan dan kesetiaan konsumen
Handoko (2016). Indikator ketepatan waktu yang digunakan dalam penelitian ini
menurut Handoko (2016) adalah :

  1. Ketepatan dalam jasa pengiriman barang.
  2. Ketepatan dalam menentukan harga.
  3. Ketepatan dalam menempuh waktu

Ketepatan Pengiriman.


Ketepatan waktu pengiriman merupakan hal yang sangat penting
mengingat ketepatan waktu pengiriman produk yang sudah dibeli akan menjadi
beberapa faktor yang penting didalam meningkatkan kepuasan pelanggan.
Waktu pengiriman merupakan estimasi jangka waktu dari ketika pelanggan
memesan produk hingga produk yang dipesan tiba dan diterima. Sugiarto
(2017) mendefinisikan ketepatan waktu sebagai suatu standar yang telah
ditetapkan dimana sarana transportasi tiba, berangkat atau lewat pada suatu
titik yang telah ditetapkan dan pada waktu yang telah ditetapkan.
Menurut Yazid dalam Huda (2016) Bagi sejumlah perusahaan jasa,
waktu adalah kendala utama untuk proses produksi jasanya, bila waktu mereka
tidak dipergunakan secara efektif, mereka akan kehilangan keuntungan.
Sebaliknya bila mereka menghadapi permintaan yang berlebihan, mereka tidak
bisa menciptakan waktu untuk memuaskan permintaan itu. Ketepatan waktu
didalam jasa pengiriman barang sering berhubungan dengan transportasi yang
digunakan oleh jasa pengiriman barang seperti melalui jalur darat, udara,
maupun laut. Hal lain yang biasanya menghambat alur pengiriman tersebut
biasanya berupa kondisi cuaca saat itu, kemacetan yang terjadi saat proses
pengiriman dan hal lainnya yang bisa menghambat pengiriman barang ketempat
tujuan

Indikator Kualitas Pelayanan.


Indikator kualitas pelayanan yang digunakan pada penelitian ini yaitu,
menurut Kotler dalam Fandy Tjiptono (2016) :

  1. Ketanggapan (Responsiveness)
    yaitu keinginan para staff untuk membantu para pelanggan dan memberikan
    pelayanan yang tanggap.
  2. Kehandalan (Reliability)
    Yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera,
    akurat dan memuaskan.
  3. Empati (Empaty)
    Yaitu kesediaan karyawan dan pengusaha untuk lebih peduli memberikan
    perhatian secara pribadi kepada pelanggan

Kualitas Layanan


Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia pelayanan merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Keunggulan suatu produk jasa
adalah tergantung dari kualitas serta keunikan yang diperlihatkan oleh jasa
tersebut,apakah sudah sesuai dengan harapan pelanggan/penumpang. Kualitas
layanan pada umumya lebih ditekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan pelanggan serta ketepatan dalam penyampaiannya untuk
mengimbangi kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan dalam
penyampaiannya untuk mengimbangi kebutuhan pelanggan dengan harapan
mereka. Parasuraman dalam Tjiptono (2000) mengemukakan bahwa ada 2 (dua)
hal utama yang mempengaruhi kualitas jasa, yaitu :

  1. Jasa yang diharapkan (expected service) adalah standar jasa yang
    diinginkan.
  2. Jasa yang diterima (perceived service) adalah perbandingan antara jasa
    yang diharapkan dan jasa yang diterima.
    Perusahaan mempunyai strategi yang mencakup akan kualitas pelayanan
    itu sendiri, menurut Tjiptono (2016) strategi kualitas layanan yang dilakukan
    oleh perusahaan mencakup empat yaitu sebagai berikut :
  3. Atribut Pelayanan
    Atribut pelayanan adalah suatu tata cara atau etika penyampaian pelayanan
    kepada para konsumen. Melakukan jasa pelayanan, hendaknya pelayanan
    tersebut dapat membuat konsumen menjadi merasa dihormati. Oleh karena
    itu Atribut pelayanan sangat dipengaruhi atas berbagai faktor antara lain:
    Keterampilan hubungan antara pribadi, komunikasi, ilmu pengetahuan,
    sensitifitas, pemahaman dan berbagai perilaku eksternal.
  4. Pendekatan untuk menyempurnakan kualitas pelayanan
    Kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas konsumen.
    Agar kualitas jasa menjadi sempurna, maka perlu disertai beberapa faktor
    penunjang antara lain: faktor biaya, waktu penerapan program dan pengaruh
    pelayanan konsumen. Berdasarkan faktor-faktor tersebut maka kepuasan
    yang maksimal akan dapat dicapai.
  5. Sistem umpan balik
    Salah satu cara untuk mengevaluasi dan memperbaiki kualitas konsumen
    adalah dengan menggunakan sistem umpan balik. Adanya sistem umpan
    balik makaposisi tingkat kualitas konsumen dapat diketahui, agar
    memperoleh hasil yang baik maka informasi umpan balik harus difokuskan
    pada beberapa hal sebagai berikut:
    a. Mengukur dan memperbaiki kinerja perusahaan.
    b. Memahami persepsi konsumen.
    c. Menunjukan komitmen perusahaan pada kualitas produk pada para
    konsumen.

Layanan E-tracking


Kualitas E-tracking dapat meyakinkan pelanggan bahwasannya
teknologi informasi yang diimplementasikan adalah suatu hal yang
memudahkan bagi pelangan didalam memanfaatkan sistem yang sudah
disediakan, Sistem tracking yang digunakan akan terus diaplikasikan dan
dikembangkan oleh perusahaan agar dapat membangun selalu kepuasan
pelanggan.
Menurut Kotler & Keller (2017) menyatakan bahwa kualitas layanan
berbasis elektronik berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan. Kualitas
layanan yang berbasis elektronik adalah bentuk dan upaya dari perusahaan
untuk pemenuhan kebutuhan yang diiringi dengan keinginan pelanggan serta
bentuk ketepatan cara penyampaian melalui media elektronik agar dapat
memenuhi harapan serta kepuasan pelanggan. Menurut Shin et al (2017)
kepuasan para konsumen industri jasa pengiriman tersebut dapat dibentuk oleh
beberapa faktor diantaranya kualitas pelayanan, teknologi tracking system dan
harga yang ditawarkan.
Indikator Kualitas Layanan E-tracking menurut Galuh Dwi Septiani
dalam Tjiptono (2016), yaitu:

  1. Memudahkan dalam hal ini mempertahankan dan berusaha memberikan
    kemudahan untuk pelanggan.
  2. Design situs WEB diartikan dengan pelanggan yang dimudahkan
    mengetahui update dari paketnya dan mudah diakses dimanapun dan
    kapanpun.
  3. Keamanan/Privasi website memiliki keamanan yang baik, dan melindungi
    seluruh data pengirim atau penerima paket.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dalam Anggraini (2021) indikator didalam
kualitas pelayanan yaitu untuk mengetahui kualitas pelayanan yang dirasakan
secara nyata oleh konsumen, ada indikator kualitas pelayanan yang terletak
pada lima dimensi kualitas pelayanan, yaitu:

  1. Tangibles (yang teramati) yaitu kualitas pelayanan berupa penampilan fisik
    fasilitasnya, teknologi pendukung, dan tampilan karyawannya. Indikator
    dari Tangibles:
    a. Karyawan berpenampilan rapi dan professional.
    b. Peralatan yang dimiliki perusahaan terlihat modern.
    c. Fasilitas fisik perusahaan bersih dan penataannya rapi.
  2. Reliability (keandalan) yaitu kemampuan dan keandalan perusahaan untuk
    untuk menyediakan pelayanan yang terpercaya. Indikator dari Reliability:
    a. Dalam melayani konsumen, karyawan harus menyampaikan informasi
    dengan jelas.
    b. Karyawan memiliki keahlian untuk mengoperasikan peralatan di
    perusahaan.
  3. Responsiveness (ketanggapan) yaitu berupa kesanggupan untuk membantu
    dan menyediakan pelayanan secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap
    keinginan konsumen. Indikator dari Responsiveness:
    a. Karyawan memberikan pelayanan segera pada konsumen.
    b. Karyawan dalam melayani konsumen secara cepat dan tepat.
    c. Kesediaan karyawan untuk merespon dan membantu konsumen.
  4. Assurance (jaminan) yaitu berupa kemampuan dan keramahan serta sopan
    santun pegawai dalam meyakinkan kepercayaan konsumen. Indikator dari
    Assurance:
    a. Karyawan memiliki sikap yang menumbuhkan rasa percaya para
    konsumen.
    b. Karyawan berperilaku sopan kepada konsumen.
    c. Karyawan dalam melayani konsumen menggunakan tutur bahasa yang
    santun.
    d. Karyawan dalam melayani konsumen harus disertai dengan senyum
    yang ramah.
  5. Empathy (empati) yaitu berupa sikap tegas tetapi penuh perhatian dari
    karyawan terhadap konsumen. Indikator dari Empathy:
    a. Karyawan melayani konsumen dengan pemikiran positif dengan
    memperlakukan mereka dengan baik dan menghormati mereka, tidak
    menjadi acuh terhadap konsumen.
    b. Karyawan memperlakukan konsumen secara penuh perhatian.
    c. Karyawan sungguh-sungguh mengutamakan kepentingan konsumen
    dan berupaya memahami keinginan konsumen

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dalam Anggraini (2021) untuk mengetahui
kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen terdapat lima dimensi
kualitas pelayanan yaitu:

  1. Tangibles (yang teramati) yaitu kualitas pelayanan berupa penampilan fisik
    fasilitasnya, teknologi pendukung, dan tampilan karyawannya. Penampilan
    fisik perusahaan akan sangat berpengaruh pada evaluasi pelanggan
    terhadap kualitas pelayanan yang diberikan perusahaan.
  2. Reliability (keandalan) yaitu kemampuan dan keandalan perusahaan untuk
    untuk menyediakan pelayanan yang terpercaya. Keandalan menunjukkan
    seberapa jauh perusahaan memberikan pelayanan sama seperti yang telah
    dijanjikan secara akurat dan tepat. Keandalan ini tidak hanya penting untuk
    masalah-masalah yang besar, karena masalah kecil juga menjadi hal
    penting untuk pelanggan dalam memberikan evaluasi tentang perusahaan.
  3. Responsiveness (ketanggapan) yaitu berupa kesanggupan untuk membantu
    dan menyediakan pelayanan secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap
    keinginan konsumen. Daya tanggap menunjukkan kemauan dan
    komitmen dari perusahaan dalam memberikan pelayanan yang tepat waktu.
    Daya tanggap tidak hanya mengenai cepatnya pelayanan yang diberikan,
    tetapi juga kemauan dari perusahaan atau karyawan dalam membantu
    pelanggan
  4. Assurance (jaminan) yaitu berupa kemampuan dan keramahan serta sopan
    santun pegawai dalam meyakinkan kepercayaan konsumen. Kemampuan
    untuk melahirkan kepercayaan dan keyakinan dari pelanggan yang meliputi
    pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan karyawan untuk
    menumbuhkan rasa percaya pelanggan terhadap perusahaan.
  5. Empathy (empati) yaitu berupa sikap tegas tetapi penuh perhatian dari
    karyawan terhadap konsumen. Kemampuan komunikasi para karyawan
    untuk menjelaskan dengan baik mengenai pelayanan yang disediakan
    perusahaan akan memberikan dampak baik dari evaluasi pelanggan.

Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan merupakan upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan konsumen serta ketepatan dalam penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan pelanggan. Menurut Wyekof dalam Sinollah (2019)
kualitas pelayanan yaitu seberapa bagus tingkat pelayanan yang diberikan
sesuai dengan ekspektasi pelanggan.
Menurut Parasuraman dalam Yulianto (2018) mendefinisikan kualitas
layanan (service quality) sebagai persepsi pelanggan atas jasa yang mereka
terima. Di samping itu, Parasuraman juga menyatakan kualitas layanan
merupakan evaluasi keseluruhan dari fungsi jasa yang diterima secara aktual
oleh pelanggan (kualitas teknis) dan bagaimana cara layanan tersebut
disampaikan (kualitas fungsional). Apabila layanan yang diterima dan
dirasakan sesuai dengan harapan pelanggan maka kualitas layanan tersebut
dianggap sebagai kualitas yang baik, dan sebaliknya apabila kualitas layanan
yang diterima tidak sesuai dengan yang diharapkan pelanggan maka kualitas
layanan tersebut dipersepsikan buruk

Kepuasan


Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan
kinerja atau hasil yang dirasakan dengan harapannya (Supranto, J. 2003:233). Jadi,
tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan
dengan harapan. Apabila kinerja di bawah harapan, maka pelanggan akan kecewa.
Bila kinerja sesuai dengan harapan, pelanggan akan puas. Sedangkan bila kinerja
melebihi harapan, pelanggan akan sangat puas. Harapan pelanggan dapat dibentuk
oleh pengalaman masa lain, komentar dari kerabatnya, serta janji dan informasi
pemasaran dan saingannya. Pelanggan yang puas akan setia lebih lama, kurang
sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang perusahaan
tersebut. Untuk menciptakan kepuasan pelanggan, perusahaan harus menciptakan
dan mengelola suatu sistem untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak dan
kemampuan untuk mempertahankan pelanggannya.
Pada dasarnya kepuasan dan ketidakpuasan pelanggan atas produk akan
berpengaruh pada pola perilaku selanjutnya. Hal ini ditunjukkan pelanggan
setelah terjadi proses pembelian (postpurchase action ). Apabila pelanggan
merasa puas, maka dia akan menunjukkan besarnya kemungkinan untuk
kembali untuk membeli produk yang sama . Pelanggan yang puas juga
cenderung akan memberikan referensi yang baik terhadap produk kepada
orang lain (Lupiyoadi, R.: 2001:159).
Tjiptono, F. dan Diana, A. (2001:68), mengemukakan bahwa :
“Kualitas dan kepuasan konsumen berkaitan erat. Kualitas memberikan suatu
dorongan kepada pelanggan untuk menjalin ikatan yang kuat kepada
perusahaan, Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan
perusahaan untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta
kebutuhan mereka. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan
kepuasan pelanggan di mana perusahaan memaksimumkan pengalaman
pelanggan yang menyenangkan dan meminimumkan atau meniadakan
pengalaman pelanggan yang kurang menyenangkan. Pada gilirannya kepuasan
pelanggan dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas pelanggan kepada
perusahaan yang memberikan kualitas memuaskan.”
Kepuasan konsumen ditentukan oleh persepsi konsumen atas penampilan
produk atau jasa dalam memenuhi harapan konsumen. Konsumen puas apabila
harapannya terpenuhi dan akan sangat puas jika harapannya terlampau

Standar Pelayanan Publik


Di Indonesia , upaya untuk menetapkan standar pelayanan publik dalam
kerangka peningkatan kualitas pelayanan publik sebenarnya telah lama dilakukan.
Upaya tersebut antara lain ditunjukan dengan terbitnya berbagai kebijakan, seperti :

  1. Surat Keputusan Menteri Pendayaagunaan Aparatur Negara Nomor 81 Tahun
    1993, Tentang Pedoman Tatalaksana Pelayanan Umum;
  2. Inpres Nomor 1 Tahun 1995, Tentang Perbaikan dan Peningkatan Mutu
    Pelayanan Aparatur Pemerintah Kepada Masyarakat;
  3. Surat Edaran Menko Wasbangpan Nomor 56/Wasbangpan/6/98, Tentang
    Langkah-langkah Nyata memperbaiki Pelayanan Masyarakat. Instruksi
    Mendagri Nomor 20/1996.
  4. Surat Edaran Menkowasbangpan Nomor 56/MK. Wasbangpan//6/98,
    Tentang Surat Menkowasbangpan Nomor 145/MK. Waspan/3/1999; hingga
    Surat Edaran Mendagri Nomor 503/125/PUOD/1999, yang kesemuanya
    bermuara pada kualitas pelayanan.
  5. Kep. Menpan Nomor 81/1993, Tentang Pedoman Tatalaksana Pelayanan
    Umum.
  6. Surat Edaran Depdagri Nomor 100/757/OTDA, Tentang Pelaksanaan
    Kewenangan Wajib dan Standar Pelayanan Minimum, Tahun 2002.
  7. Kep. Menpan Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003, Tentang Pedoman Umum
    Penyelenggaraan Pelayanan Publik
  8. Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009, Tentang
    Pelayanan Publik

Pengertian Kualitas Pelayanan Publik


Kualitas pelayanan (service quality) adalah hasil persepsi dari perbandingan
antara harapan dengan kinerja aktual yang diterima pelanggan. Zauhar (2005:22),
menyatakan bahwa :
Kualitas pelayanan adalah penyesuaian terhadap perincian-perincian
(conformance to specification) dimana kualitas ini dipandang sebagai derajad
keunggulan yang ingin dicapai, dilakukannya kontrol terus menerus dalam
mencapai keunggulan tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan pengguna
jasa. Pelayanan merupakan respon terhadap kebutuhan manajerial yang hanya
terpenuhi jika pengguna jasa itu mendapatkan produk yang mereka inginkan.
Pollit dalam Thoha (2007:33) adalah : “Sekali lagi menegaskan bahwa tujuan
utamanya bukan sekedar untuk menyenangkan hati penerima pelayanan publik,
melainkan untuk memberdayakan mereka”.
Sebagaimana dikatakan Thoha (2007:33), bahwa ”peran dan posisi birokrasi dalam
pelaksanaan pelayanan publik harus di ubah. Peran yang selama ini suka mengatur
dan minta dilayani, menjadi suka melayani, suka mendengarkan tuntutan, kebutuhan
dan harapan-harapan masyarakat”.
Menurut Potter dalam Supriyono (2003:16), dikemukakan pelayanan yang
berkualitas perlu beberapa kriteria, antara lain :
a. Tepat dan relevan, artinya pelayanan harus mampu memenuhi profesi,
harapan dan kebutuhan individu atau masyarakat.
b. Tersedia dan terjangkau, artinya pelayanan harus dapat dijangkau oleh
setiap orang atau kelompok yang mendapat prioritas.
c. Dapat menjamin rasa keadilan, artinya terbuka dalam memberikan
perlakuan terhadap individu atau sekelompok orang dalam keadaan yang
sama.
d. Dapat diterima, artinya pelayanan memiliki kualitas apabila dilihat dari
teknis/cara, kualitas, kemudahan, kenyamanan, menyenangkan, dapat
diandalkan, tepat waktu, cepat, responsive, dan manusiawi.
e. Ekonomis dan efisien, artinya dari sudut pandang pengguna pelayanan
dapat dijangkau dengan tarif dan pajak oleh semua lapisan masyarakat.
f. Efektif, artinya menguntungkan bagi pengguna dan jasa lapisan
masyarakat

Pengertian Pelayananan Publik


Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam
interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan
menyediakan kepuasan pelanggan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan
bahwa pelayanan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain. Sedangkan melayani
adalah membantu menyiapkan/mengurus apa yang diperlukan seseorang.
Pelayanan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok
dalam memberikan kepuasan kepada penerima layanan. Pelayanan hakekatnya
adalah serangkaian kegiatan, karena itu pelayanan merupakan proses. Pelayanan
sebagai proses berlangsung secara rutin dan berkesinambungan meliputi seluruh
kehidupan orang dalam masyarakat.
Napitupulu (2007 : 164), dalam bukunya yang berjudul Pelayanan Publik
dan Customer Satisfaction, mengartikan pelayanan sebagai berikut :
Serangkaian kegiatan atau proses pemenuhan kebutuhan orang lain secara
lebih memuaskan berupa produk jasa dengan sejumlah ciri seperti tidak
berwujud, cepat hilang, lebih dapat dirasakan daripada dimiliki, dan
pelanggan lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses mengkonsumsi jasa
tersebut.
Pelayanan adalah suatu kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
masyarakat. Pelayanan tidak memiliki wujud, melainkan dapat dirasakan dan cepat
hilang. Sastrodiningrat (2002:17) menyatakan bahwa pelayanan adalah :
Pelayanan dalam suatu organisasi kerja identik dengan penjabaran tugas-
tugas pegawai/pengurus yang berwenang dalam organisasi yang
bersangkutan. Pelayanan berarti pemberian bantuan, penyediaan fasilitas,
partisipasi, dan makna yang lain dari pemberian bantuan kepada orang lain
kearah pencapaian tujuan.
Sedangkan (2008:198) bahwa “Pelayanan adalah segala bentuk kegiatan
pelayanan dalam bentuk barang atau jasa pelayanan dalam rangka upaya pemenuhan
kebutuhan masyarakat”

Pengertian Kualitas


Kualitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tingkat baik
buruknya sesuatu hal, kadar, derajat, atau taraf, mutu. Selaras dengan pengertian
tersebut, menurut Crosby dalam Nasution, (2001:16), kualitas adalah conformance to
requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan.
Definisi tersebut mengonfirmasikan bahwa dalam suatu kualitas ada sebuah
ukuran atau takaran tertentu yang dijadikan acuan bagi sebuah produk jasa. Kualitas
sesuatu produk ditentukan dari tolok ukur tersebut. Dikatakan berkualitas apabila
telah sesuai atau mencapai ukuran dimaksud, tapi jika tidak sesuai berarti produk
tersebut kurang atau tidak berkualitas.
Salah satu ukuran kualitas dimaksud yaitu dari harapan pelanggan atau
pengguna produk. Dalam hal ini, kualitas berarti soal memenuhi harapan pelanggan.
Selanjutnya konsep tersebut dikenal dengan kepuasan pelanggan (customer
satisfication). Mengenai kualitas dan kepuasan pelanggan tersebut sesuai dengan
definisi kualitas menurut Garvin, Feigenbaum, dan Buddy berikut ini.
Kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk,
manusia/tenaga kerja, proses dan tugas serta lingkungan yang memenuhi harapan
pelanggan atau konsumen menurut Garvin dalam Nasution (2001:16). Selanjutnya
Feigenbaum, menyatakan bahwa suatu produk dapat dikatakan berkualitas apabila
memenuhi kepuasan atau sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen.
Menurut Buddy dalam Wahyuningsih (2002:10), kualitas adalah strategi dasar bisnis
yang menghasilkan barang dan jasa yang memenuhi kebutuhan dan kepuasan
konsumen internal dan eksternal, secara eksplisit dan implisit”

Faktor yang mempengaruhi Promosi


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi promosi dalam penentuan
keputusan pembelian (Sunyoto, 2015), yaitu :

  1. Sifat Pasar
    Terdapat 3 sifat pasar yang dapat mempengaruhi promosi meliputi luas
    geografi, jenis konsumen dan konsentrasi pasar.
  2. Sifat Produk
    Terdapat 3 sifat produk yang mempengaruhi promosi meliputi nilai unit,
    nilai barang dan tingkat kebutuhan konsumen akan barang.
  3. Dana Hidup Produk
    Strategi produk akan dipengaruhi pada tahap dasar hidup produk. Pada
    tahap perkenalan harus menstimulasi permintaan primer.
  4. Dana Yang Tersedia
    Dasar tersedia ialah penentu, sebab proses program iklan tidak akan berjalan
    dengan baik jika dana yang tersedia sangat terbatas.

Indikator Promosi


Menurut Kotler & Armstrong (2017) terdapat beberapa indikator Promosi
yaitu antara lain :

  1. Periklanan yaitu penggunaan media dalam menawarkan segala suatu ide,
    barang atau layanan oleh sponsor tertentu melalui suatu media.
  2. Promosi Penjualan yaitu aktivitas yang dilakukan untuk meningkatkan
    permintaan produk atau layanan.
  3. Personal Selling yaitu interaksi antara pembeli dan penjual secara langsung
    guna menawarkan barang atau jasa.
  4. Direct and digital marketing yaitu strategi marketing yeng mendandalkan
    komunikasi melalui media digital

Promosi


Promosi memiliki tujuan yaitu membantu orang memahami mengapa
mereka harus membeli produk tersebut. Promosi merupakan sarana yang tepat
untuk membuat konsumen tertarik karena tanpa adanya Promosi konsumen tidak
dapat mengenal produk dari suatu perusahaan. Menurut Tjiptono (2017) Promosi
adalah sebuah pemasaran yang menitikberatkan pada memberian informasi,
menarik dan mengingatkan tentang produk dan jasa yang ditawarkan suatu
perusahaan. Menurut Kotler, P & Armstrong, G (2016) Promosi merupakan segala
aktivitas yang ditujukan untuk menarik perhatian pelanggan dengan menyajikan
produk atau jasa dengan cara membujuk mereka untuk membeli.
Promosi adalah salah satu jenis komunikasi yang dapat menyampaikan
penjelasan dengan menyakinkan calon pembeli mengenai produk atau jasa (Alma,
2018).

Faktor yang mempengaruhi citra merek


Menurut Amalia & Nasution (2017) terdapat faktor yang mempengaruhi
Citra Merek, yaitu sebagai berikut :

  1. Kualitas dan mutu
    Mengenai kualitas produk yang dipasarkan ditawarkan perusahaan terhadap
    merek tersebut.
  2. Bisa dipercaya
    Mengenai pendapat konsumen terhadap suatu produk yang dipergunakan.
  3. Manfaat
    Mengenai fungsi terhadap suatu produk yang memiliki manfaat yang sesuai.
  4. Pelayanan
    Berkaitan dengan tugas perusahaan dalam melayani konsumen.
  5. Harga
    Nilai yang dikeluarkan konsumen yang dipengaruhi baik buruknya citra
    yang dipanndangnya.
  6. Image
    Berkaitan dengan baik atau buruknya informasi pada sebuah merk produk

Indikator Citra Merek


Menurut Amalia & Nasution (2017) Indikator citra merek terbagi menjadi
3, yaitu :

  1. Kelengkapan produk
    Adalah sesuatu yang berhubungan dengan merek produk, mulai dari
    kemasan, price, rasa dan lain-lain.
  2. Perekonomian konsumen
    Adalah kegunaan produk yang ditawarkan pada merek tersebut.
  3. Kepribadian merek
    Adalah asosiaso mengenai kepripadian merek tersebut.

Citra Merek


Perusahaan membutuhkan image untuk dapat dikenal luas oleh
masyarakat, karena masyarakat akan menilai atau menentukan keputusan
pembelian suatu produk berdasarkan citra merek yang mereka ketahui. Bagi
perusahaan citra berarti pandangan seseorang terhadap jiwa perusahaan. Oleh
karena itu perusahaan harus menciptakan citra merek yang baik dimata masyarakat
luas sehingga dapat menarik minat konsumen dalam menentukan pembelian.
Menurut Kotler dan Keller (2014) Citra Merek ialah persepsi seseorang
dan kepercayaannya dari pengalaman yang dirasakan mengenai suatu produk . Citra
merek merupakan deskripsi mengenai asosiaso dan keyakinan konsumen terhadap
merek tertentu (Tjiptono, 2017). Berdasarkan penjabaran tersebut, maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa citra merek ialah suatu pemahaman seseorang tentang
merek secara mendetail mengenai sebuah produk tertentu sehingga dapat merekat
dibenak konsumen.

Faktor Kualitas Produk


Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dalam kualitas
produk (Sofjan Assauri, 2012), yaitu :

  1. Pasar
    Jumlah produk berkualitas yang dipasarkan perusahaan akan mengalami
    pertumbuhan. Jika terdapat produk yang memenuhi kebutuhan konsumen
    dipasaran maka konsumen akan menginginkan produk tersebut untuk
    memenuhi kebutuhannya.
  2. Uang
    Banyaknya persaingan diberbagai bidang akan menyebabkan menurunan
    keuntungan perusahaan sehingga kebutuhan otomatisasi dan strategi akan
    menyebabkan pengeluaran yang besar.
  3. Manajemen
    Manajemen bertanggungjawab atas pemasaran produk yang memiliki
    kualitas yang baik. Produk yang ditawarkan kepada konsumen harus
    melalui manajemen yang ketat serta harus mengevalusi standar kualitasnya.
  4. Manusia
    Banyaknya konsumen akan produk maka semakin banyak pula permintaan
    dalam jumlah besar akan kebutuhan karyawan dengan pengetahuan yang
    khusus.
  5. Motivasi
    Untuk mendapatkan produk dengan kualitas yang baik, maka dibutuhkan
    motivasi kepada karyawan dalam bentuk tambahan upah.
  6. Bahan
    Bahan yang dipergunakan dalam memproduksi suatu produk yang memiliki
    kualitas bagus harus dengan bahan yang baik pula.
  7. Mesin dan Mekanik
    Kualitas yang baik menjadi faktor penentu dalam memelihara waktu kerja
    mesin dan mekaniknya agar produk yang diproduksi memenuhi standar
    kualitas pasar.
  8. Metode Informasi Modern
    Perkembangan dalam hal teknologi computer memungkinkan untuk
    mengumpulkan, menyimpan, mengambil dalam skla yang tidak dapat
    ditentukan.
  9. Persyaratan Proses Produksi
    Perencaan yang semakin ketat membutuhkan pengendalian yang lebih ketat
    juga akan proses pembuatan produk

Indikator Kualitas Produk


Kualitas Produk memiliki beberapa indicator dalam menentukan
keputusan pembelian, yaitu antara lain ( Kotler & Keller, 2014) :

  1. Bentuk, tentang pengukuran, bentuk dan struktur fisik produk.
  2. Fitur, ialah keunggulan dari produk yang menjadi keistimewaan lengkapnya
    produk.
  3. Kualitas kinerja, yaitu karakter pertama saat produk dipasarkan.
  4. Kesan kualitas, ialah informasi yang konsumen tidak mengetahui secara
    langsung maka terdapat sebuah ukuran pengguna.
  5. Ketahanan, yaitu umur operasi produk dalam kondisi baik untuk digunakan
    konsumen

Kualitas Produk


Produk atau jasa dalam suatu bisnis pada perusahaan yang diperjualkan
diharuskan memiliki kualitas produk yang memadai atau kualitas produk sesuai
dengan harga jual. Dalam penghadapi banyakan persaingan dari kualitas produk,
perusahaan dituntut harus berinvosan pada peningkatan produknya. Karena hal
tersebut akan membuat konsumen merasakan kepuasan tersendiri akan produk yang
dibeli dan akan melakukan pembelian ulang produk.
Karakteristik suatu produk sesuai dengan kemampuan untuk terpenuhinya
kebutuhan pelanggan disebut Kualitas Produk (Kotler & Armstrong, 2014).
Menurut Kotler, P & Keller (2016) Kualitas Produk merupakan kapasitas produk
untuk menjalankan fungsi di dalamnya. Kapasitas ini mencakup kekuatan,
keandalan, dan akurasi yang dicapai di seluruh produknya