Menurut, Delgado Ballester, Munuera-Aleman and Yagiie Guillen dalam Christiaan
Rudolf Quintus Roets (2014), Mengkonseptualisasikan kepercayaan merek sebagai
konstruksi dua dimensi, terdiri dari atribut keandalan dan niat.
Sedangkan menurut Delgado dalam Hendrajati Aditya (2016), Kepercayaan merek
adalah perasaan aman yang dimiliki konsumen akibat dari interaksinya dengan sebuah
merek, yang berdasarkan persepsi bahwa merek tersebut dapat diandalkan dan
bertanggung jawab atas kepentingan dan keselamatan dari konsumen.
Penulis menarik kesimpulan dari pengertian yang telah diuraikan bahwa pengertian
brand trust adalah perasaan aman yang dimiliki konsumen akibat dari interaksinya
dengan sebuah merek, jika konsumen sudah merasa aman dan nyaman dengan suatu
merek maka konsumen akan semakin menyukai dan mempercayai merek tersebut sesuai
dengan yang diinginkan dan juga kepercayaan merek sebagai konstruksi dua dimensi,
terdiri dari atribut keandalan dan niat
Pengukuran Citra Merek
Severi dan Ling (2013), menyatakan ada tiga indikator yang dapat dijadikan
pengukuran terhadap Citra Merek, yaitu:
(1) Produk memiliki citra yang berbeda dengan smartphone lainnya .
(2) Produk memiliki citra yang jelas
(3) Produk memiliki memiliki citra yang kuat
Faktor Pembentuk Citra Merek
Menurut Sugiharti (2012), terdapat pembentuk citra merek yaitu:
(1) Citra Pembuat
Citra produk merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa tiga faktor.
(2) Citra Produk
Citra produk merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap
suatu produk.
(3) Citra Pemakai
Citra pemakai merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa.
Definisi Citra Merek
Citra merek dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi yang muncul di benak
konsumen ketika mengingat suatu merek dari produk tertentu. Novansyah (2016),
menyatakan citra merek adalah citra tentang suatu merek yang dianggap sebagai
kelompok asosiasi yang menghubungkan pemikiran konsumen terhadap suatu nama
merek. Sedangkan menurut Shimp et al, dalam Sangadji dan Sopiah (2013:327),
berpendapat bahwa citra merek (brand image ) dapat dianggap sebagai jenis asosiasi
yang muncul di benak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu, asosiasi
tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang
dikaitkan kepada suatu merek, sama halnya ketika berfikir tentang orang lain.
Menurut Sitio (2017), citra merek adalah sekumpulan sikap yang diambil tentang
gambaran yang tercermin dalam benak dan pikiran konsumen untuk menilai suatu
merek yang memiliki dimensi yakni; (1) pengenalan (recognition), (2) reputasi
(reputation), (3) daya tarik atau simpati (affinity) dan (4) kesetiaan (loyalty).
Pengukuran Kualitas Produk
Menurut Putro et al (2014), ada empat indikator yang dapat dijadikan pengukuran
yaitu:
(1) Produk yang dijual bervariasi.
(2) Produk memiliki fitur yang lebih baik daripada smartphone lainnya.
(3) Produk memiliki kualitas yang bagus
(4) Kualitas produk sesuai dengan uang yanh dikeluarkan.
Dimensi Kualitas Produk
Menurut Durianto dalam Sangadji dan Sopiah (2013:329 ), kualitas produk terdiri
atas enam dimensi yaitu :
(1) Kinerja
Kinerja merupakan elemen kualitas produk yang berkaitan langsung dengan
bagaimana suatu produk dapat menjalankan fungsinya untuk memenuhi
kebutuhan konsumen.
(2) Reliabilitas
Reliabilitas merupakan daya tahan produk selama dikonsumsi.
(3) Fitur
Fitur merupakan fungsi-fungsi sekunder yang ditambahkan pada suatu produk,
seperti fitur kendali jauh (remote control ) pada televisi.
(4) Keawetan (durability)
Keawetan merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukkann suatu
pengukuran terhadap siklus produk, baik secara teknis maupun waktu. Produk
dikatakan awet jika dapat bertahan dalam pemakaian berulang-ulang.
(5) Konsistensi
Konsistensi merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukkan seberapa jauh
suatu produk bisa memenuhi standar atau spesifikasi tertentu. Produk yang
mempunyai konsistensi tinggi berarti sesuai dengan standar yang ditentukan.
(6) Desain
Desain merupakan aspek emosional yang memengaruhi kepuasan konsumen
sehingga desain kemasan ataupun bentuk produk akan turut memengaruhi
persepsi kualitas produk tersebut
Definisi Kualitas Produk
Kualitas dapat diartikan kemampuan dari produk untuk menjalankan fungsinya yang
mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan, kekuatan, kemudahan dalam
pengemasan dan reparasi produk dan ciri-ciri lainnya (Luthfia 2012).
Menurut Ong dan Sugiono (2013), kualitas produk adalah bagaimana produk itu
memiliki nilai yang dapat memuaskan konsumen baik secara fisik maupun secara
psikologis yang menunjuk pada atribut atau sifat-sifat yang terdapat dalam suatu barang
atau hasil.
Definisi Produk
Menurut Kotler dalam Manap (2016:255), Produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan dipasar, untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Produk
terdiri atas barang , jasa , pengalaman , events, orang,tempat, kepemilikan, organisasi,
informasi dan ide. Produk adalah suatu kumpulan atribut, fisik, psikis, jasa, dan
simbolik yang dibuat untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan
Setyaningrum et al (2015:87), Sedangkan menurut Ali Hasan, SE., MM (2014),
Memasarkan produk adalah deals bauran rancangan product, pricing, place, promotion,
packaging, dan positioning yang akan ditawarkan kepada prospek, dan pelanggan.
Secara umum, produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan dipasar dan suatu
kumpulan atirbut, fisik, psikis, jasa, dan simbolik untuk memuaskan dan memenuhi
keinginan pelanggan
Pengukuran Minat Beli Ulang
Menurut Kuenzel dan Halliday (2008), menyatakan ada tiga indikator yang dapat
dijadikan pengukuran terhadap Minat Beli Ulang, yaitu:
(1) Keinginan untuk membeli kembali suatu merek produk.
(2) Mempertimbangkan untuk membeli tipe lain dari suatu produk
(3) Selalu mengutamakan suatu merek produk
Klasifikasi Minat Beli Ulang
Minat beli ulang konsumen menurut Ferdinand dalam Purba (2015), dapat dibagi
menjadi minat referensial, minat explorative, minat transaksional, dan minat
preferensial yang diuraikan sebagai berikut:
(1) Minat Referensial
Minat referensial merupakan minat seorang konsumen untuk mereferensikan
sebuah produk berdasarkan pengalaman yang dimilikinya kepada konsumen lain
agar konsumen tersebut ikut membeli.
(2) Minat Exploratif
Minat exploratif merupakan minat seorang konsumen untuk mencari segala
informasi yang berhubungan dengan produk yang diinginkannya.
(3) Minat Transaksional
Minat transaksional merupakan kecenderungan seorang konsumen untuk membeli
kembali produk yang pernah dibeli konsumen tersebut sebelumnya.
(4) Minat Preferensial
Minat preferensial merupakan gambaran perilaku seorang konsumen yang
menjadikan produk tersebut sebagai preferensi utama dibandingkan dengan
produk-produk lain di pasaran.
Definisi Minat Beli Ulang
Menurut Muzzaki (2013), Minat beli ulang adalah keinginan yang timbul dalam diri
pelanggan untuk membeli kembali produk atau jasa di masa yang akan datang setelah
sebelumnya pernah mengkonsumsi produk atau jasa yang sama.
Prastyaningsih et al. (2014), menyatakan minat beli ulang terjadi setelah konsumen
melakukan pembelian, dapat dikarenakan pernah mengkonsumsi sehingga berniat lagi
untuk membeli ulang produk atau jasa yang sama.
Mediasi citra merek terhadap pengaruh promosi media sosial danniat pembelian ulang
Menurut penelitian oleh Susanto dan Wardhani (2019), promosi media
sosial yang efektif dapat meningkatkan citra merek, yang pada akhirnya
mendorong niat pembelian ulang. Studi oleh Hidayat dan Kusuma (2020)
menunjukkan bahwa konsumen lebih cenderung setia kepada merek yang aktif
dan menarik dalam promosi media sosial, karena hal ini menciptakan citra merek
yang positif di benak mereka. Penelitian ini diperkuat oleh temuan dari Fadilah
dan Pratomo (2021), yang menyatakan bahwa citra merek memainkan peran
penting sebagai mediator dalam hubungan antara promosi media sosial dan niat
pembelian ulang. Konsumen yang menerima promosi media sosial yang menarik
dan konsisten cenderung memiliki persepsi positif terhadap citra merek dan lebih
mungkin untuk melakukan pembelian ulang.
Mediasi citra merek terhadap pengaruh harga dan niat pembelianulang
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Putra (2019), citra
merek yang kuat dapat meningkatkan persepsi nilai konsumen terhadap produk,
yang pada gilirannya dapat meningkatkan niat pembelian ulang meskipun harga
produk tersebut tinggi. Studi oleh Anggraeni dan Setiawan (2020) menunjukkan
bahwa konsumen cenderung tetap loyal terhadap merek dengan citra positif,
bahkan ketika harga mengalami peningkatan. Penelitian ini diperkuat oleh
temuan dari Wirawan dan Santoso (2021), yang mengindikasikan bahwa citra
merek berperan sebagai mediator penting dalam hubungan antara harga dan niat
pembelian ulang. Citra merek yang positif dapat mengurangi sensitivitas
konsumen terhadap harga, sehingga konsumen lebih cenderung untuk
melakukan pembelian ulang. Berdasarkan literatur tersebut, hipotesis bahwa
citra merek memediasi pengaruh harga terhadap niat pembelian ulang di sangat
relevan dan didukung oleh berbagai penelitian terkini
Pengaruh Promosi Media Sosial Terhadap Niat Pembelian Ulang
Promosi media sosial adalah media yang digunakan untuk meningkatkan
pengenalan terhadap merek, bisnis, dan produk melalui platfotm media sosial
(Kevin et al., 2020). Promosi menggunakan media sosial memiliki banyak
fungsi, termasuk memudahkan pemasaran produk dan layanan, memperlancar
komunikasi antara pembeli dan penjual, serta dengan adanya aplikasi media
sosial pemasaran suatu produk akan menjadi lebih jelas dan transparan
(Tajudinnur & Ferdian, 2022). Seiring dengan perkembangan promosi berbasis
digital, keterlibatan langsung oleh konsumen yang ditargetkan secara hati-hati
menjadi hal yang penting untuk mendapatkan tanggapan langsung dan
membangun hubungan yang erat dengan konsumen. Maka dari itu, promosi
media sosial memiliki pengaruh terhadap niat pembelian ulang karena bisa
memudahkan konsumen untuk mengetahui lebih lanjut suatu produk yang ingin
mereka beli kembali seperti penelitian yang dilakukan oleh (Astuti, 2022) bahwa
promosi media sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat pembelian
ulang
Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Niat Pembelian Ulang
Kualitas produk mencakup kondisi fisik, sifat, dan fungsi dari barang
atau layanan berdasarkan tingkat mutu yang disesuaikan dengan daya tahan,
keandalan, kemudahan penggunaan, kesesuaian, perbaikan, dan komponen
lainnya yang dirancang untuk memenuhi kepuasan dan kebutuhan pelanggan
(Tajudinnur & Ferdian, 2022). Produk yang ditampilkan harus memiliki nilai
lebih dan mampu bersaing dengan produk lainnya. Dengan kualitas produk yang
baik, kepercayaan konsumen akan terbentuk secara alami, karena konsumen
yakin bahwa kualitas yang diberikan sesuai dengan apa yang telah dijanjikan.
Untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar, perusahaan memastikan bahwa
kualitas produk memenuhi harapan konsumen, dengan demikian dapat dikatakan
bahwa konsumen menilai suatu produk berdasarkan kualitasnya (Adiantari &
Seminari, 2022). Maka dari itu, kualitas produk yang semakin bagus akan
meningkatkan niat pembelian ulang konsumen.
Pengaruh Harga Terhadap Niat Pembelian Ulang
Harga merupakan elemen penting dalam bauran pemasaran karena dapat
berperan dalam menghasilkan pendapatan melalui penjualan (Tajudinnur &
Ferdian, 2022). Dengan menetapkan harga pada suatu produk, perusahaan dapat
memperoleh keuntungan dari penjualan produk tersebut. Harga yang ditetapkan
adalah satu-satunya elemen dalam bauran pemasaran yang menghasilkan
pendapatan bagi organisasi. Menetapkan harga yang murah pada suatu produk
merupakan sumber kepuasan karena memberikan konsumen nilai tinggi untuk
uang yang akan mereka keluarkan pada produk yang dibeli (Chairunnisa et al.,
2022). Hal ini menunjukkan harga sangatlah berpengaruh terhadap niat
pembelian ulang konsumen. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh
(Leindarita & Andriansa, 2022) yang menyebutkan bahwa harga berpengaruh
positif dan signifikan terhadap niat pembelian ulang.
Pengaruh Citra Merek Terhadap Niat Pembelian Ulang
Citra merek adalah kesan yang terbentuk di pikiran konsumen saat
mereka memikirkan tentang suatu merek dari produk tertentu. Dalam
mengembangkan citra merek, penting untuk memahami bahwa merek yang kuat
memiliki identitas yang jelas. Konsumen biasanya mencari sesuatu yang unik
dan khas yang terkait dengan merek tersebut (Firmansyah, 2019). Citra merek
dapat tercipta dengan cara pengalaman langsung konsumen, termasuk kepuasan
fungsional dan kepuasan emosional, merek tidak hanya harus dapat berkinerja
optimal dan sesuai dengan yang dijanjikan, tetapi juga harus memahami
kebutuhan konsumen, mewakili nilai-nilai yang diinginkan oleh konsumen, dan
memenuhi kebutuhan individual konsumen. Hal ini akan berkontribusi pada
hubungan yang kuat antara konsumen dan merek tersebut (Amilia & Nst, 2017).
Ketika konsumen kurang memiliki pengetahuan untuk menilai suatu tentang
produk maka, citra merek merupakan panduan yang tepat untuk menuntun
mereka. Citra merek juga mencakup asosiasi yang muncul di pikiran konsumen
saat mereka mengingat merek tertentu (Fera & Pramuditha, 2021).
Pengaruh Promosi Media Sosial Terhadap Citra Merek
Produk atau jasa akan laku secara luas jika melakukan strategi yang
dinamakan promosi. Penting untuk melakukan promosi karena merupakan salah
satu elemen kunci dalam mengembangkan bisnis, baik skala besar maupun skala
kecil (Firmansyah, 2019). Pemasar melakukan promosi untuk
menginformasikan produk mereka kepada konsumen dan mempengaruhi mereka
agar membelinya. Promosi bukan hanya tentang menyampaikan informasi,
tetapi juga menciptakan komunikasi yang membuat pelanggan tertarik dan ingin
memiliki produk tersebut. Menurut Cahyono (2018), Promosi pada dasarnya
mencakup semua aktivitas yang bertujuan untuk mengkomunikasikan suatu
produk kepada pasar target dengan tujuan memberikan informasi tentang
keunggulan, manfaat, dan eksistensi produk tersebut. Selain itu, promosi juga
bertujuan untuk mengubah sikap konsumen dan mendorong mereka untuk
membeli produk tersebut. Dalam era media sosial, produk atau jasa yang sudah
tersebar di kalangan masyarakat dapat dengan cepat menjadi terkenal karena
dapat dipromosikan secara luas dan mudah diakses oleh banyak orang. Interaksi
yang intensif dan berkelanjutan di media sosial juga dapat membantu
memperkuat citra merek, karena pengguna dapat berbagi pengalaman positif
tentang produk atau jasa tersebut dengan cepat kepada orang lain. Berdasarkan
studi yang dilakukan oleh (Lamasi & Santoso, 2022), promosi sosial media
memiliki pengaruh secara signifikan terhadap citra merek.
Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Citra Merek
Menurut Riswandani & Mahargiono (2023), kualitas produk adalah
faktor krusial yang dapat memengaruhi tingkat kepercayaan konsumen terhadap
merek produk atau jasa tersebut, baik secara positif maupun negatif. Kualitas
produk juga penting untuk dapat memposisikan diri di pasar yang luas
(Firmansyah, 2019). Setiap produsen harus mampu meningkatkan kualitas
produknya agar dapat membantu mempertahankan atau meningkatkan pangsa
pasar mereka. Hal ini karena kualitas produk berhubungan erat dengan
keputusan konsumen, yang merupakan tujuan utama dari kegiatan pemasaran
produsen. Kualitas produk memberikan konsep yang berorientasi pada kepuasan
konsumen, di mana seorang penjual dianggap memberikan kualitas apabila
produk atau layanannya memenuhi atau bahkan melebihi harapan konsumen.
Kualitas produk juga mencerminkan nilai jual yang lebih tinggi daripada produk
pesaing. Namun, penampilan yang menarik atau superior tidak menjamin
kualitas tinggi jika tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar
(Fatmawati & Soliha, 2017). Secara keseluruhan, kualitas produk adalah suatu
kondisi yang dinamis yang saling terkait. Meskipun definisinya dapat bervariasi,
pada dasarnya kualitas produk mengacu pada spesifikasi barang atau jasa yang
dapat memberikan kepuasan kepada konsumen dengan memenuhi atau bahkan
melebihi harapan mereka. Produk yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya
akan melahirkan citra merek yang membuat konsumen dapat mengidentifikasi
dan menilai kualitasnya lebih dalam lagi.
Pengaruh Harga Terhadap Citra Merek
Menurut Sudiyono et al.,(2018) harga adalah total nilai yang dibayarkan
oleh pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan
suatu produk atau jasa. Bagi Sebagian besar eksekutif pemasaran, harga
merupakan tantangan utama dan banyak bisnis sering kali gagal menetapkan
harga dengan tepat. Salah satu kesalahan umum yang terjadi adalah bisnis
cenderung segera memotong harga untuk meningkatkan penjualan tanpa
membangun kesadaran pada pelanggan bahwa produk mereka yang memiliki
harga tinggi tetapi berkualitas tinggi sepadan dengan nilai yang mereka bayar.
Maka dari itu, suatu bisnis yang berhasil mengembangkan strategi harga yang
sesuai akan dapat mencapai pendapatan dan profitabilitas maksimal. Harga
merupakan elemen yang dapat mempengaruhi pembentukan citra merek yang
baik tergantung dari banyak atau sedikitnya jumlah uang yang akan dikeluarkan
oleh konsumen untuk membeli suatu produk (Firmansyah, 2019). Upaya yang
dapat dilakukan untuk memperkuat citra merek yang baik adalah dengan
menetapkan harga yang terjangkau dalam pemasaran agar memberikan dampak
positif dalam minat dan keputusan pembelian konsumen (Teguh Afwan & Budi
Santosa, 2019). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Cahya Kamila &
Khasanah, 2022) telah menunjukkan bahwa harga memiliki pengaruh yang
signifikan dan positif terhadap citra merek.
Citra Merek
Citra merek adalah hasil dari persepsi pelanggan terhadap kualitas suatu
merek atau perusahaan yang mencerminkan evaluasi dari konsumen, baik yang
berpotensi sebagai pelanggan maupun yang merasa tidak puas (Adiantari &
Seminari, 2022), serta melibatkan pihak-pihak lain yang terkait dengan
perusahaan, seperti pemasok, agen, dan investor (Kamase & Arif, 2023). Citra
merek mencakup pemahaman dan kepercayaan terhadap karakteristik merek
(bagian berpikir), hasil dari penggunaan merek tersebut, serta kondisi
penggunaan yang sesuai, sejalan dengan penilaian, perasaan, dan emosi yang
terkait dengan merek tersebut (aspek perasaan) (Nicolas, 2021). Di saat
konsumen menerima informasi langsung melalui iklan atau melalui kelompok
referensi disitulah citra merek akan terbentuk.
Citra merek sangat penting dalam mempengaruhi niat pembelian ulang,
hal ini dikarenakan konsumen cenderung lebih percaya dan merasa nyaman
dengan merek yang sudah mereka kenal dan percayai. Ketika sebuah merek
memiliki citra positif, konsumen akan kembeli untuk membeli produk dari
merek tersebut karena sudah merasa yakin dengan konsistensi yang ditawarkan
(Sandy & Aquinia, 2022).
Promosi Media Sosial
Promosi merupakan suatu proses penyampaian atau penyediaan
informasi kepada individu dengan tujuan memengaruhi atau meyakinkan mereka
agar melakukan pembelian barang atau jasa dan memiliki tujuan untuk
meningkatkan penjualan produk atau layanan (Farahan & Lestari, 2023). Ini
merupakan bagian dari strategi pemasaran yang berupaya untuk
mengkomunikasikan kepada masyarakat mengenai suatu produk atau layanan
tertentu, sehingga masyarakat menjadi tertarik untuk membeli produk atau jasa
tersebut serta memengaruhi individu agar semakin menyadari kualitas atau
keunggulan dari barang atau jasa yang ditawarkan (Lamasi & Santoso, 2022).
Strategi promosi tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan informasi produk
kepada pelanggan, melainkan juga untuk menciptakan kebahagiaan dan hiburan
bagi pelanggan (S. I. N. W. Abdullah et al., 2023). Hal ini diharapkan dapat
meningkatkan kepuasan pelanggan dan memperkuat minat mereka untuk
melakukan pembelian.
Media sosial adalah konten digital yang dapat diakses oleh semua orang
melalui perangkat teknologi (Asari et al., 2022). Kehadiran media sosial
mendorong pelaku bisnis dan organisasi untuk mencari cara mencapai tujuan
yang lebih besar dengan biaya yang lebih efisien (Semuel & Setiawan, 2018).
Media sosial juga dianggap sebagai alat pemasaran yang paling sukses untuk
membina hubungan pelanggan yang positif dan menjaga hubungan yang sudah
ada.
Jadi, promosi media sosial adalah kegiatan promosi yang melibatkan
merek, produk, atau layanan menggunakan media sosial (Tajudinnur & Ferdian,
2022). Kemudahan dan efektivitas menjadi alasan utama mengapa perusahaan
memulai beralih mempromosikan produknya menggunakan media sosial. Dalam
meningkatkan niat pembelian ulang, promosi media sosial dapat membantu
konsumen secara mudah dalam mengingat suatu merek atau produk yang
dipasarkan
Kualitas Produk
Kualitas produk adalah pemahaman bahwa produk yang ditawarkan oleh
perusahaan memiliki nilai jual lebih dan daya tarik yang tidak dimiliki oleh
produk sejenis (Wijaya & Hapsari, 2022). Kualitas produk merujuk pada atribut
atau ciri-ciri dari suatu produk atau layanan yang menyatukan kemampuannya
untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan cara yang diungkapkan atau
diimplementasikan (Ida & Hidayati, 2020). Kualitas yang optimal dari suatu
produk menjadi suatu keharusan bagi perusahaan , karena hal ini mencerminkan
pemenuhan ekspetasi konsumen yang menjadi kunci untuk pertumbuhan
produktivitas perusahaan. Ketika seorang konsumen melakukan pembelian
produk, ia tidak hanya memperoleh barang fisik, tetapi juga mencari kualitas,
keunggulan, dan manfaat yang akan dihasilkan setelah melakukan pembelian.
Semakin tinggi kualitasnya, semakin besar kepuasan konsumen, dan ini dapat
membentuk loyalitas konsumen untuk kembali membeli produk tersebut
(Sijabat, 2021). Maka dari itu , setiap perusahaan perlu menentukan standar
kualitas produk yang diproduksinya agar dapat mendukung upaya meningkatkan
atau mempertahankan posisi produk tersebut di pasar targetnya.
Kualitas produk sangat penting dalam mempengaruhi niat pembelian
ulang karena untuk memperluas pangsa pasar, perusahaan dapat menerapkan
berbagai strategi guna menciptakan keunggulan kompetitif, salah satunya
dengan memastikan bahwa kualitas produk sesuai dengan harapan konsumen
(Adiantari & Seminari, 2022).
Harga
Harga merupakan bagian penting dari bauran pemasaran karena dapat
menghasilkan pendapatan melalui penjualan (Tajudinnur & Ferdian, 2022).
Harga adalah jumah uang yang diperlukan untuk memperoleh barang, jasa, atau
keduanya dan merupakan elemen pemasaran yang menghasilkan pendapatan
penjualan, sedangkan elemen lainnya hanya menyangkut biaya (Nur et al.,
2022). Harga yang ditetapkan oleh perusahaan juga dapat meningkatkan minat
beli konsumen karena konsumen selalu mempertimbangkan kualitas dan
performa produk atau jasa dibandingkan dengan harga yang mereka bayar.
Konsumen ingin memastikan bahwa harga sepadan dengan kualitas produk dan
memberikan keuntungan sosial yang diharapkan dari pembelian tersebut
(Tarmizi, 2022). Harga yang sesuai dengan nilai produk dapat meningkatkan
kepuasan konsumen sehingga timbulnya niat dalam membeli dan pada akhirnya
tercipta pembelian yang berulang kali. Harga juga menjadi penentu dalam
bagaimana konsumen menilai apakah harga suatu produk sebanding dengan
manfaat yang diperoleh dan seberapa sesuai dengan anggaran mereka.
Menurut Adira et al., (2022) terdapat indikator yang digunakan untuk
mengukur variabel harga, yaitu :
1) Keterjangkaun harga
Sejauh mana harga produk dianggap terjangkau oleh konsumen, terutama
dalam kaitannya dengan pendapatan atau nilai suatu produk.
2) Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Sejauh mana harga produk sesuai dengan kualitas yang ditawarkan. Harga
yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dibandingkan dengan kualitas produk
dapat memengaruhi persepsi konsumen.
3) Daya saing harga
Sejauh mana harga produk bersaing dengan produk sejenis di pasaran. Harga
yang bersaing dapat memengaruhi daya tarik produk bagi konsumen.
4) Konsistensi harga dengan manfaat produk
Sejauh mana harga produk sebanding dengan manfaat atau nilai yang
diberikan kepada konsumen. Harga yang tidak sebanding dengan manfaat
produk dapat memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Niat Pembelian Ulang
Niat pembelian atau minat pembelian merupakan dorongan atau
keinginan pelanggan untuk membeli produk dalam waktu dekat, dengan upaya
untuk memperoleh produk yang diinginkan (Soefhwan & Kurniawati, 2022).
Minat terhadap sesuatu muncul melalui serangkaian proses mental pada
konsumen yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sensitif dan bergantung pada
kebutuhan individu (Juliana & Dharmayanti, 2016). Maka dari itu, terciptanya
niat beli adalah proses sulit yang melibatkan beberapa faktor dan merupakan
tahap awal sebelum pelanggan benar-benar menggunakan suatu produk.
Menurut Soefhwan & Kurniawati (2022), terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi munculnya suatu niat atau minat dalam suatu pembelian, yaitu
sebagai berikut :
1) Ketertarikan
Ketertarikan terhadap suatu produk atau layanan dapat memotivasi seseorang
untuk memiliki niat pembelian.
2) Keinginan
Keinginan untuk memiliki atau menggunakan produk juga memainkan peran
penting dalam pembentukan niat pembelian, dan dapat dipicu oleh kebutuhan
atau keinginan yang ingin dipenuhi oleh produk tersebut.
3) Keyakinan
Keyakinan terhadap produk, merek, atau penjual juga mempengaruhi niat
pembelian, di mana jika seseorang yakin bahwa produk atau layanan tersebut
akan memenuhi harapannya atau memberikan manfaat yang diinginkan,
kemungkinan untuk memiliki niat pembelian akan meningkat.
14
Sedangkan niat pembelian ulang merujuk pada kegiatan pelanggan membeli
produk atau layanan dari suatu perusahaan secara berulang. Terdapat
beberapa faktor penting yang dapat menyebabkan pelanggan memutuskan
untuk melakukan pembelian berulang (Farahan & Lestari, 2023) :
1) Reputasi merek yang kuat
Reputasi merek yang kuat menciptakan kepercayaan pelanggan dan
keyakinan akan kualitas produk atau layanan, mendorong mereka untuk
melakukan pembelian ulang
2) Kenyamanan
Kemudahan dalam proses pembelian, pengiriman, dan menggunakan produk
memberikan pengalaman yang menyenangkan, membangun kenyamanan
bagi pelanggan, dan mendorong mereka untuk kembali berbelanja
3) Kepuasan terhadap produk
Kepuasan terhadap produk yang memenuhi atau bahkan melampaui harapan
pelanggan menjadi motivasi utama untuk melakukan pembelian ulang.
Niat pembelian ulang menjadi hal yang penting bagi bisnsi karena jumlah
pelanggan yang kembali membeli akan menjamin penjualan produk, yang
pada gilirannya akan memastikan pendapatan yang cukup untuk menjaga
kelangsungan operasional bisnis (Leindarita & Andriansa, 2022). Pada
penelitian sebelumnya oleh Chairunnisa et al., (2022), variabel niat pembelian
ulang atau yang biasa disebut variabel dependen ini dipengaruhi oleh
beberapa variabel yaitu harga, promosi, kualitas produk, dan citra merek.
Bagi perusahaan, niat pembelian ulang memiliki dampak dalam pemasaran.
Pelanggan dengan niat pembelian ulang yang tinggi biasanya menjadi
pelanggan setia yang berperan penting dalam pendapatan perusahaan dan
membangun loyalitas pelanggan lebih hemat biaya daripada menarik
pelanggan baru, karena menarik pelanggan baru memerlukan biaya promosi
yang lebih besar (Wijarnoko et al., 2023).
Hubungan Harga Dengan Niat Pembelian Ulang
Dalam pembelian konsumen sangat memperhatikan harga, terutama dalam
pembelanjaan online karena konsumen akan dimudahkan dalam proses
memandingkan harga dari setiap toko online dalam suatu marketplace. Sehingga
jika konsumen sudah menemukan harga marketplacedengan harga produk atau
jasa yang berkualitas bagus, maka konsumen akan melakukan pembelian ulang
pada marketplace tersebut. Penelitian (Wardani, Paramita, & Minarsih, 2016)
menyatakan bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara harga produk atau
jasa dengan niat pembelian online. Berdasarkan penelitian sebelumnya
dinyatakan bahwa harga berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian ulang
pada pembelanjaan online.
Hubungan Kepercayaan Dengan Niat Pembelian Ulang
Dalam pembelian online transaksi jual beli dilakukan secara online tanpa
adanya tatap muka antara produsen dan konsumen, oleh karena itu kepercayaan
merupakan factor yang sangat penting dalam belanja online. Karena dengan
adanya kepercayaan konsumen terutama setelah melakukan pembelian
sebelumnya dan puas, maka konsumen akan berniat untuk melakukan pembelian
ulang pada marketplace tersebut.Penelitian (Adinata, 2015) menyatakan bahwa
adanya pengaruh yang signifikan antara kepercayan konsumen dengan niat
pembelian ulang. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dapat dinyatakan
bahwa kepercayaan konsumen berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian
ulang
Hubungan Kualitas Website Dengan Niat Pembelian Ulang
Dalam melakukan belanja online kualitas website merupakan factor yang
dapat mempengaruhi niat pembelian konsumen. Kualitas website menurut (Barnes
& Vidgen, 2003) terdiri dari 3 dimensi : 1) kualitas kegunaan dengan kemudahan
penggunaan dan navigasi untuk pengguna). 2) kualitas desain tampilan menu dan
sistem tertata dan tulisan jelas. 3) kualitas informasi yang akurat, dimengerti dan
dapat dipercaya konsumen. Dengan begitu kualitas website dapat menarik
konsumen dalam melakukan pembelian secara online pada marketplace.
Penelitian (Nabilah, 2018) menemukan bahwa adanya pengaruh yang signifikan
antara kualitas website dengan niat pembelian ulang konsumen pada belanja
online. Berdasarkan dari hasil penelitian sebelumnya menyatakan bahwa kualitas
website berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian ulang. Selain itu
berdasarkan pada hasil penelitian (Razak, Ahmad, & Marimuthu, 2016) juga
menyatakan bahwa kualitas dari sebuah website berpengaruh positif terhadap niat
pembelian ulang pada kegiatan belanja online dalam hal ini marketplace.
Harga
Menurut (Peter & Olson, 2014) harga merupakan biaya yang di korbankan
konsumen (uang, waktu, aktivitas, kognitif dan upaya perilaku) untuk ditukarkan
dengan nilai atau utilitas yang ditawarkan pada suatu produk. Sedangkan, menurut
(Kotler & Armstrong, 2008) menyatakan bahwa harga merupakan suatu elemen
dari bauran pemasaran yang paling fleksibel seperti pada fitur produk, dan
komitmen penyalur, dan harga dapat berubah dengan cepat. (Nitisemito, 2007)
mendefinisikan bahwa harga ialah nilai suatu produk baik barang atau jasa yang
diukur dengan sejumlah uang yang disesuaikan dengan nilai tersebut dimana
penjual rela melepaskan barang dan jasa ke konsumen dengan menggunakan uang
sebagai alat tukarnya. Menurut (Wardani, Paramita, & Minarsih, 2016)harga
merupakan satuan moneter yang didgunakan sebagai alat tukar yang fleksibel dan
dapat berubah sewaktu-waktu. Sedangkan, (Tjiptono, 2014) menyatakan bahwa
harga merupakan sejumlah uang atau satuan moneter dan atau ukuran lainnya
(termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak
kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa oleh konsumen.
Jadi harga adalah besarnya sejumlah biaya, satuan ukuran atau
pengorbanan yang dikeluarkan oleh konsumen untuk mendapatkan atau
menggunakan suatu produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya
dengan alat tukarnya biasa menggunakan uang. Oleh karena itu penetapan harga
dibuat dengan berbagai variasi dan kualitas dari produk atau pelayanan jasa yang
diterima oleh konsumen. Namun, ada suatu produk yang memiliki variasi banyak
dengan penetapan harga yang sama, maka akan muncul persepsi kesamaan
kualitas yang mencerminkan variasi suatu produk secara horizontal. Dan dapat
juga digunakan untuk variasi produk dengan adanya kualitas bertingkat yang
secara vertical.
Menurut (Tjiptono, 2008) bahwa ada empat tujuan dari penetapan harga,
yaitu :
1) Tujuan berorientasi pada laba, dengan memilih harga jual produk sesuai
dengan jumlah laba yang sebanyak-banyaknya
2) Skala ekonomis yang tersedia bagi suatu perusahaan, dengan memproduksi
pada skala besar untuk menghemat biaya produksi sehinggan harga yang di
jualkan lebih terjangkau
3) Struktur biaya perusahaan dibandingkan pesaingnya, jika struktur biaya yang
dimiliki perusahaan itu lebih sedikit dari pesaing, maka laba yang di peroleh
lebih besar dan dapat mempertahankan harga pada tingkat kompetitif
4) Organisasi, manajer dalam organisasi harus memutuskan orang yang
berwenang dalam penentapan harga suatu produk.
Menurut (Tjiptono, Pemasaran Jasa, 2014) harga mempunyai empat
alternative strategi dalam penetapan harga jasa berdasarkan persepektif definisi
nilai oleh pelanggan yaitu sebagai berikut :
a. Nilai (value) harga murah
Konsumen berpersepsi bahwa dengan semakin murahnya harga produk
atau jasa, maka akan semakin besar nilai yang diterima konsumen. Namun juga,
ini bukan berarti bahwa tingkat kualitas dan atribut produk atau jasa selalu
relevan, hanya saja harga lebih penting bagi konsumen. Strategi dalam penetapan
harga murah sesuai dengan definisi nilai adalah dapat berupa diskon,
menggunakan satuan harga ganjil tertentu atau odd pricing (contoh Rp.9.750,00
yang mendekati Rp.10.000,00), syncro pricing (harga diselaraskan dengan
permintaan dan penawaran), Penetration pricing (menetapkan harga murah untuk
jasa baru untuk mendorong pencobaan produk dan pemakaian lebih luas).
b. Nilai sesuatu yang diinginkan dari sebuah jasa
Konsumen mementingkan sesuatu yang didapatkan dari sebuah jasa
daripada harga moneternya. Semakin bagus atribut intrinsic produk atau jasa,
maka semakin besar pula nilai produk atau jasa di mata konsumen sehinggan
pemasar mempunyai peluang untuk menetapkan harga mahal agar konsumen
percaya bahwa itu bagus. Strategi penetapan harga dapat berupa prestige pricing
(harga mahal dengan kualitas jasa tinggi), skimming pricing (harga mahal untuk
tambahan jasa baru pada produk sebelumnya).
c. Nilai kualitas yang didapat dari harga yang dibayarkan
Konsumen sangat mempertimbangkan kualitas produk ataua jasa, dan
harga moneternya yang disesuaikan dengan kualitas produk atau jasa yang
diharapkan berdasarkan segmen konsumen. Strategi penetapan harga berupa
value pricing (konsep giving for less, jumlah produk atau jasa dikemas dalam 1
paket yang menjadi daya tarik tersendiri), market segmentation pricing (harga
berbeda yang disesuaikan sesuai segmen pasar yang memiliki elastisitas harga
permintaan dengan harapan mendapatkan tingkat kualitas produk atau jasa yanag
berbeda).
d. Nilai semua yang didapatkan dari semua yang diberikan
Strategi penetapan harganya dapat berupa pricing framing (adanya
informasi perbandingan harga sebagai referensi yang akurat dan relevan atas jasajasa lain yang familiar bagi konsumen), price bundling (penetapan harga dan
menjual berbagai jasa atau produk dalam 1 paket dengan jasa pendukungnya
seperti garansi), complementary pricing (menetapkan harga untuk produk yang
bersifat komplementer atau saling berkaitan misalnya perangkat tambahan
harganya lebih mahal daripada perangkat aslinya), result-based pricing
(menetapkan harga sesuai dengan hasil dari jasa yang tingkat ketidakpastiannya
tinggi).
Menurut pendapat dari (Nitisemito, 2007)menyatakan bahwa harga dapat
diukur dengan lima indicator sebagai berikut :
a. Harga yang ditawarkan bervariasi, sehingga konsumen dapat memilih
sesuai kemampuanya
b. Keterjangkauan harga
c. Harga produk bersaing
d. Harga sesuai dengan manfaat produk atau jasa
e. Harga sesuai dengan kualitas produk atau jasa yang dijual
Kepercayaan
Dalam melakukan pembelian secara online, kepercayaan konsumen
merupakan hal yang penting karena menentukan niat konsumen dalam membeli
atau berniat untuk melakukan pembelian ulang suatu produk atau jasa pada suatu
situs jual beli online. Kepercayaan menurut (Nabilah, 2018) adalah konsumen
bersedia untuk melakukan belanja online dengan yakin dan berharap bahwa
website online melakukan kegiatan sesuai dengan yang diharapkan, meskipun
penjual dan pembeli tidak saling kenal. Sedangkan (Masitoh, Wibowo, &
Sunaryo, 2018) menyatakan bahwa kepercayaan adalah rasa percaya konsumen
terhadap suatu produk yang beranggapan bahwa tidak ada resiko yang dihadapkan
dan semua akan sesuai dengan yang dipercayakan yaitu produk baik. Menurut
(Ganesan & Ron, 1997) menyatakan bahwa kepercayaan sebagai sebuah
kebaikan, karena berdasarkan pada sejauh mana perusahaan percaya bahwa
mitranya memiliki niat dan motif-motif yang menguntungkan. Menurut (Maima,
2012) kepercayaan merupakan rasa yang timbul dengan adanya pengalaman dari
seseorang.
Sedangkan, menurut (Lamb, Hair, & Carl, 2001) kepercayaan merupakan
suatu pola yang terorganisasi melalui pelanggan yang kemudian di pegang oleh
seorang individu sebagai suatu kebenaran di dalam hidupnya. (Adinata, 2015)
kepercayaan konsumen ialah kesediaan satu pihak kepada pihak lain mengenai
resiko yang akan diterimnya berdasarkan keyakinan serta harapan bahwa pihak
lain tersebut akan bertindak sesuai dengan yang diharapkan meskipun kedua belah
pihak belum saling kenal. Pendapat lain dari (Morgan & Hunt, 1994) yang
menyatakan kepercayaan merupakan sugesti konsumen bahwa perusahaan akan
melakukan tindakan positif kepada konsumen dengan menghasilkan hasil
memiliki dengan integritas tinggi yang berkaitan dengan konsistensi, jujur,
bertanggungjawab suatu perusahaan kepada konsumen serta tidak ada ekspektasi
bahwa perusahaan mengambil tindakan dengan hasil negative. Tanpa adanya rasa
percaya maka tidak akan ada tindakan pembelian yang dilakukan konsumen
terutama dalam konteks ini yaitu pembelian produk secara online. Jadi dapat
disimpulkan bahwa kepercayaan ialah suatu pola fikir atau pendapat manusia
bahwa yang semua akan berjalan sesuai dengan yang apa yang dia percaya atau
berfikir positif tentang sesuatu bahwa akan baik-baik saja bahwa pihak lain akan
melakukan tindakan sesuai yang diharapkan, meskipun kedua belah pihak belum
mengenal satu sama lain. Dengan kata lain, kepercayaan merupakan suatu
pendapat konsumen bahwa penjual akan memberikan pelayanan dan tindakan
yang positif (jujur, bertanggungjawab dan konsisten) sehingga akan menghasilkan
hasil yang positif dan saling menguntungkan kedua belahpihak (penjual dan
pembeli), dan konsumen tidak ragu untuk melakukan pembelian produk.
Menurut pendapat dari (Mayer, Davis, & Schoorman, 1995) trust atau
kepercayaan dapat diukur melalui tiga dimensi diantaranya sebagai berikut :
a. Kenyamanan pada pembelian produk dan pelayanan yang diberikan
oleh penjual, sehingga pembeli merasa nyaman dan senang saat
membeli
b. Kepuasaan terhadap kualitas produk atau jasa beserta pelayanan yang
diberikan penjual kepada konsumen
c. Tanggung jawab (penjual bertanggung jawab penuh terhadap barang
yang dijualnya terutama dalam proses pengiriman produk)
Sedangkan (Chen & Chang, 2012) untuk mengukur kepercayaan
konsumen dengan menggunakan 4 indikator sebagai berikut :
- Kepercayaan akan reputasi (berdasarkan pengalaman dan informasi
yang didapatkan) - Kepercayaan mengenai kehandalan kinerja atau pelayanan
(berdasarkan kepuasan dan pengalaman positif pada pembelian
sebelumnya) - Aman dalam transaksi (berdasarkan pengalaman positif pada
pembelian sebelumnya) - Tidak mencari uang secara illegal atau belum terdapat hal yang
mencurigakan semua jujur mulai dari kualitas produk dan pelayanan
Kualitas Website
Website atau web merupakan salah satu jaringan internet yang digunakan
sebagai sumber untuk mengoperasikan web, yang saat ini berkembang dengan
pesat (Nurwansyah, 2010). Informasi pada website didistribusikan pada dengan
menggunakan pendekatan hypertext (teks pendek sebagai acuan untuk membuka
dokumen lain), dimana orang dapat memperoleh informasi dengan cara meloncat
dari dokumen satu ke dokumen yang lainnya yang dapat diakses oleh semua orang
di seluruh dunia. Menurut pendapat dari (Anwariningsih, 2016) Aplikasi web
dibagi menjadi dua jenis yang meliputi statis dan dynamic. Statis ialah website
yang isinya tetap atau jarang diubah karena sifatnya tidak interaktif atau satu arah,
misalnya personal web. Sedangkan dynamic ialah website yang isisnya sering
diubah karena sifatnya interaktif atau dua arah, misalnya e-commerce, e-new,
portal dan lain sebagainya. Website yang digunakan dalam pembahasan ini yaitu
e-commerce dengan, menggunakan website dynamic yang digunakan untuk
komunikasi dua arah. Pada e-commerce, situs web memainkan peran penting
dalam menarik, mempertahankan, dan mempertahankan minat konsumen pada
toko online di sebuah situs agar membuat konsumen tertarik.
Menurut (Nabilah, 2018) kualitas website merupakan kumpulan dari
halaman yang menampilkan informasi data teks, gambar, video dan lain
sebagainya dengan tampilan yang mudah, lengkap dan menarik diaplikasikan oleh
semua orang dengan mutu sesuai dengan manfaatnya. Informasi dalam hal ini
mengenai cara bertransaksi online, serta informasi tentang produk produk dan jasa
pada website belanja online. Sedangkan menurut (Razak, Ahmad, & Marimuthu,
2016) menyatakan bahwa website yang berkualitas itu adalah dengan membangun
komprasi kualitas system, dan kualitas layanan dengan informasi yang akurat.
Kualitas website sangat penting dalam marketplace karena dengan adanya semua
kegiatan mulai dari promosi sampai pembayaran bahkan pengiriman produk
menggunakan website. Model website quality merupakan salah satu alat diantara
beberapa metode lainnya, website quality mengukur kesesuaian informasi dengan
tugas, interaksi, kepercayaan, waktu respon, desain intuitiveness (mampu
mrnggerakkan hati), daya tarik visual, daya inovasi, daya tarik emosional,
komunikasi terintegrasi, proses bisnis dan substitutability. Dengan begitu maka,
jika kualitas website dan penggunanya dapat mengaplikasikannya dengan mudah
efektif serta efisien akan menciptakan respon baik dari konsumen.
Stuart Barnes dan Vidgen mengembangkan suatu metode yang dapat
digunakan untuk mengukur kualitas dari suatu website yaitu metode WebQual.
WebQual berdasarkan konsep Quality Function Deployment (QFD) adalah suatu
proses dalam pengembangan dan pengimplementasian suatu produk atau jasa
yang didasarkan pada “voice of customer”, konsep QFD ini disusun berdasarkan
pada persepsi pengguna akhir dari suatu website (Santoso & Anwar, 2015). Dalam
suatu website tentu ada kriteria atau ciri-ciri website yang baik sehingga dapat
dikatakan bahwa website tersebut berkualitas ataupun tidak, dengan begitu
(Anwariningsih, 2016) mendefinisikan bagaimana suatu website dapat dikatakan
berkualitas ataupun tidak. Sebelum mendefinisikan suatu website tersebut
berkualiatas ataupun tidak maka harus menentukan tahapan perancangan
website/web oleh developer untuk menghasilkan website yang berkualitas yaitu
dengan memperhatikan berbagai hal dalam pembuatan suatu website/web yang
baik atau berkualitas.
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mendefinisikan
website yang berkualitas atau disebut baik menurut (Anwariningsih, 2016)
meliputi sebagai berikut :
- Content atau sistematika isi yang terdiri dari : tata letak menu atau
informasi, kelengkapan dari isi, kedalaman dari isi, ketepatan isi
denga audiens, kemudahan dalam penelusuran, sistematika
penyampaian informasi dan kemudahan informasi untuk dipahami. - Navigasi : terdapat navigasi yang mudah digunakan bagi pengguna
- Tampilan desain yang menarik dengan memperhatikan pilihan
kombinasi gambar, kombinasi warna, tampilan dan kombinasi animasi,
tata letak gambar dan animasi, kesesuaian theme dengan brand
perusahaan, kesatuan dan kesesuaian desain antar halaman web, dan
kemudahan diingat (positioning) - Interaktivitas, yang terdiri dari forum diskusi, messages board (rolling
messages), download, Email, chatting, fasilitas pengguna atau
member, polling, shoppingchart, buku tamu, komentar terhadap suatu
web - Fungsionalitas, dapat berfungsi sebagaimana web dibuat
- Hosting, Domain, dan Jasa pembuatan dengan memperhatikan letak
hosting dengan tepat sesuai dengan keberadaan sebagian besar audiens,
kapasitas, teknologi dan fasilitas hosting yang dimiliki, biaya dan
teknologi hosting yang digunakan, nama domain yang singkat dan
mudah diingat, penggunaan subdomain konsisten, dan biaya
pembuatan web yang murah - Pengelolaan, yang meliputi : kemudahan dalam updating data,
kemudahan dalam pembackupan data, interaksi dengan para audien,
aktivitas promosi dari web tersebut, updating tampilan, fasilitas dan
teknologi, serta kemudahan dalam pengelolaan webnya
Berikut ini dimensi-dimensi yang digunakan untuk mengukur kualitas dari
sebuah website berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Barnes & Vidgen,
2003), terdapat tiga dimensi dalam model WebQual adalah sebagai berikut :
a. Kegunaan adalah kualitas yang berkaitan dengan penggunaan situs (seperti
kemudahan penggunaan dan navigasi untuk pengguna, kecocokan desain,
dan gambaran yang disampaikan kepada pengguna website).
b. Kualitas informasi adalah kualitas dari isi atau konten yang terdapat pada
situs, adanya kesesuaian informasi untuk tujuan penggunaannya seperti
akurasi, format dan relevansi.
c. Interaksi pelayanan adalah kualitas interaksi layanan yang dialami oleh
pengguna saat mempelajari lebih dalam mengenai website, yang dapat
diwujudkan melalui empati dan kepercayaan (masalah transaksi dan
keamanan informasi, komunikasi dengan pemilik website, pengiriman
produk dan sebagainya.)
Niat Pembelian Ulang
Niat beli adalah tahap kecenderungan responden untuk bertindak sebelum
keputusan membeli benar-benar dilaksanakan. Terdapat perbedaan antara
pembelian aktual dan niat pembelian. Bila pembelian aktual adalah pembelian
yang benar-benar dilakukan oleh konsumen, maka niat pembelian adalah niat
untuk melakukan pembelian pada kesempatan mendatang. Menurut (Kotler ,
2005) niat pembelian ulang konsumen berkaitan dengan perilaku konsumen
berdasarkan motif yang dimilikinya untuk membeli atau memakai produk tertentu
untuk membeli kembali. Menurut (Adinata, 2015) niat beli ulang yang dimaksud
adalah pada saat konsumen membutuhkan akan jasa pelayanan atau suatu produk
maka, akan kembali membeli produk pada tempat yang sama, yang
menumbuhkan ikatan emosional antara pelanggan dengan suatu produk atau jasa.
Sedangkan, niat pembelian ulang menurut (Griffin, 2005) ialah perilaku dari
konsumen yang memberikan reaksi yang positif terhadap kepercayaan dari suatu
produk dan konsumen tersebut berniat untuk mengunjungi kembali atau membeli
produk dari perusahaan tersebut.
Pendapat lain dari (Parasuraman, Zeithaml, & Berry, 1985) menyatakan
bahwa niat pembelian ulang merupakan harapan setelah pembelian kualitas
layanan penjual mempengaruhi kepuasan, kepercayaan dan selanjutnya niat
pembelian kembali, tergantung dengan apa harapan yang dipenuhi. Oleh karena
itu, secara teori adanya sinyal yang timbulnya niat pembelian ulang online adalah
sebagai berikut :
a) Adanya sinyal yang berkaitan dengan antarmuka situs web atau website
pada suatu marketplace
b) Adanya harapan baik pada kualitas layanan penjual pada marketplace
c) Adanya konfirmasi kualitas
d) Timbulnya rasa kepuasan pada pembelian pertama
e) Adanya niat pembelian ulang.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa niat pembelian
ulang merupakan kegiatan pembelian kembali konsumen yang berdasarkan
dengan tingkat kepuasan dan pengalaman positif sehingga menciptakan
kepercayaan dari produk tersebut dan niat untuk kembali mengunjungi atau
membeli produk marketplace tersebut. Selain itu juga, niat pembelian ulang pada
marketplace yang dilakukan oleh konsumen itu dapat berdasarkan kualitas
website, harga yang lebih murah, dan pelayanan yang diberikan kepada pelanggan
sehingga pelanggan merasa puas dan pada akhirnya percaya dengan Shopee.
Indikator yang digunakan untuk mengukur niat beli ulang menurut (Aresa, 2012)
ialah sebagai berikut :
- Berniat untuk melakukan pembelian ulang
- Meningkatkan frekuensi pembelian
- Bertransaksi kembali
- Berniat bertransaksi pada produk atau jasa di tempat yang sama
- Berniat untuk mempertahankan pembelian
Sedangkan, pendapat lain menurut (Palma & Andjarwati, 2016) bahwa
niat beli ulang pada belanja online dapat diukur dengan menggunakan indikator
sebagai berikut : - Niat pembelian pada toko online dibanding toko offline
- Niat melakukan belanja online sebanyak mungkin
- Frekuensi pembelian
- Rekomendasi positif
Niat Pembelian Ulang Dalam Perilaku Konsumen
Dengan kata lain, perilaku konsumen ialah pembelajaran konsumen dalam
pembelian suatu produk mulai dari cara memperoleh barang, mengkonsumsinya
dan membuangnya, hingga adanya pengalaman pembelian produk tersebut. Untuk
itu perilaku konsumen merupakan pengetahuan tentang suatu produk dan akan
memunculkan suatu tindakan pembelian produk baik dalam bentuk barang
ataupun jasa. Dalam hal ini, dimana perilaku konsumen dalam memilih suatu
produk sesuai dengan seperti bagaimana kualitas website, harga dan kepercayaan
konsumen dari suatu produk yang akan dibeli pada toko online. Kebanyakan
perilaku konsumen ini menginginkan produk dengan harga yang murah,
kepercayaan terhadap pelayanan pada toko online, memilih aplikasi toko online
dengan kualitas website menarik dan mudah dalam pengaplikasiannya.
Menurut pernyataan dari (Peter & Olson, 2014) bahwa meskipun dalam
pembelanjaan online konsumen harus pandai mengira kualitas produk yang
biasanya disesuaikan dengan merek produk yang sudah terkenal dan penjual yang
terpercaya berdasarkan pengalaman dari orang yang sudah melakukan belanja
online. Menurut (Kotler , 2005) niat pembelian ulang konsumen berkaitan dengan
perilaku konsumen berdasarkan motif yang dimiliki konsumen untuk membeli
atau memakai produk tertentu. Sedangkan, niat pembelian ulang menurut
(Griffin, 2005) ialah perilaku dari konsumen yang memberikan reaksi yang positif
terhadap kepercayaan dari suatu produk dan konsumen tersebut berniat untuk
mengunjungi kembali atau membeli produk dari perusahaan tersebut. Reaksi
tersebut sebagai akibat karena pelanggan merasa terpuaskan akan produk dan
layanan yang diberikan sesuai dengan pengalaman dari pembelian sebelumnya.
Tujuan Pemberian Insentif
Menurut pendapat Ranupandojo dan Husnan (2002 ) mengatakan bahwa
pelaksanaan sistem upah insentif ini dimaksudkan perusahaan terutama untuk
meningkatkan produktivitas kerja karyawan dan mempertahankan karyawan yang
berprestasi untuk tetap berada dalam perusahaan.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari
pemberian insentif yaitu :
- Bagi perusahaan
Tujuan dari pelaksanaan insentif dalam perusahaan adalah untuk
meningkatkan produkstivitas kerja karyawan dengan jalan
mendorong/merangsang agar karyawan :
a) Bekerja lebih bersemangat dan cepat.
b) Bekerja lebih disiplin.
c) Bekerja lebih kreatif. - Bagi Karyawan
Dengan adanya pemberian insentif karyawan akan mendapat keuntunga
diantaranya :
a) Standar prestasi dapat diukur secara kuantitatif.
b) Standar prestasi di atas dapat digunakan sebagai dasar pemberian balas jasa
yang diukur dalam bentuk uang.
c) Karyawan harus lebih giat agar dapat menerima uang lebih besar.
Jadi, secara umum tujuan dari pemberian insentif adalah untuk memotivasi
karyawan supaya semangat dalam bekerja dan kinerjanya akan meningkat. Cara
seperti ini adalah cara yang sangat efektif untuk meningkatkanl produktifitas
perusahaan.
Indikator-Indikator Pemberian Insentif
Menurut Hasibuan (2008) pertimbangan dasar penyusunan insentif antara lain
sebagai berikut :
- Fasilitas
Fasilitas adalah kenikmatan atau fasilitas seperti mobil prusahaan,
keanggotaan klub, tempat parkir khusus, atau akses kepesawatan prusahaan
yang diperoleh karyawan. Fasilitas dapat mewakili jumlah substansi dari
insentif terutama eksekutif yang dibayar mahal. - Lama karyawan bekerja
Besarnya insentif ditentukan berdasarkan lamanya karyawan melaksanakan
atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Cara perhitungannya dapat
menggunakan per jam, per hari, per minggu atau pun per bulan. Umumnya
cara yang diterapkan apabila ada kesulitan dalam menerapkan cara pemberian
insentif, maka berdasarkan kinerja. - Kebutuhan
Cara ini menunjukkan bahwa insentif pada karyawan didasarkan pada tingkat
urgensi kebutuhan hidup yang layak dari karyawan. Ini berarti insentif yang
diberikan adalah wajar apabila dapat dipergunakan untuk memenuhi sebagian
kebutuhan pokok. - Keadilan dan Kelayakan
Disamping masalah keadilan dalam pemberian insentif tersebut perlu pula
diperhatikan masalah kelayakan. Layak pengertiannya membandingkan
besarnya insentif dengan perusahaan lain yang bergerak dalam bidang usaha
sejenis. Apabila insentif didalam perusahaan yang bersangkutan lebih rendah
dibandingkan dengan perusahaan lain, maka perusahaan/instansi akan
mendapat kendala yakni berupa menurunnya kinerja pegawai yang dapat
diketahui dari berbagai bentuk akibat ketidakpuasan pegawai mengenai
insentif tersebut. - Evaluasi Jabatan
Evaluasi jabatan adalah suatu usaha untuk menentukan dan membandingkan
nilai suatu jabatan tertentu dengan nilai jabatan-jabatan lain dalam suatu
organisasi, ini berarti pula penentuan nilai relatif atau harga dari suatu jabatan
guna menyusun rangking dalam penentuan insentif
Pengertian Insentif
Insentif merupakan sejumlah uang yang di tambahkan pada upah dasar yang
diberikan sebuah perusahaan kepada karyawan dengan tujuan supaya karyawan
bekerja lebih giat dan hasil kerjanya lebih maksimum. Pengertian insentif menurut
Mangkunegara (2002) adalah suatu bentuk motivasi yang dinyatakan dalam
bentuk uang atas dasar kinerja yang tinggi dan juga merupakan rasa pengakuan
dari pihak organisasi terhadap kinerja karyawan dan kontribusi terhadap
organisasi atau perusahaan sedangkan menurut Handoko (2002) insentif adalah
perangsang yang ditawarkan kepada para karyawan untuk melaksanakan kerja
sesuai atau lebih tinggi dari standar-standar yang telah ditetapkan.
Pengertian insentif menurut Simamora (2004) adalah kompensasi yang
mengaitkan bayaran atas dasar untuk dapat meningkatkan produktivitas para
karyawan guna mencapai keunggulan yang kompetitif, sedangkan menurut
Nawawi (2003) mengemukakan bahwa insentif adalah penghargaan atau ganjaran
yang diberikan untuk memotivasi para karyawan agar produktivitasnya tinggi dan
sifatnya tidak tetap.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa insentif
adalah pengupahan yang memberikan imbalan yang berbeda karena memang
prestasi yang berbeda atau penghargaan dalam bentuk uang yang diberikan
kepada mereka yang dapat bekerja melampaui standar yang telah ditentukan
sebagai balas jasa perusahaan kepada karyawan atas prestasinya, sehingga
karyawan termotivasi untuk dapat meningkatkan produktivitasnya guna mencapai
keunggulan yang kompetitif
Manfaat Komitmen
Komitmen dibentuk dengan berbagai strategi bukan berarti tidak ada manfaatnya,
manfaat dengan adanya komitmen dalam organisasi adalah sebagai berikut :
- Para pekerja yang benar-benar menunjukkan komitmen tinggi terhadap
organisasi mempunyai kemungkinan yang jauh lebih besar untuk
menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi dalam organisasi. - Memiliki keinginan yang lebih kuat untuk tetap bekerja pada organisasi yang
sekarang dan dapat terus memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan. - Sepenuhnya melibatkan diri pada pekerjaan mereka, karena pekerjaan
tersebut adalah mekanisme kunci dan saluran individu untuk memberikan
sumbangannya bagi pencapaian tujuan organisasi.
Jadi, dengan adanya komitmen terhadap perusahaan maka karyawan memiliki
manfaat diantaranya ikhlas dan senang hati pada saat melibatkan diri pada
pekerjaan, memiliki keinginan yang lebih kuat untuk tetap bekerja pada organisasi
yang sekarang dan dapat terus memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan
serta mempunyai kemungkinan yang jauh lebih besar untuk menunjukkan tingkat
partisipasi yang tinggi dalam organisasi
Cara Membentuk komitmen
Tidak semua karyawan memiliki komitmen begitu saja saat bekerja disebuah
perusahaan, bahkan mayoritas karyawan bekerja karena dorongan kebutuhan saja,
maka tugas perusahaan adalah membentuk komitmen diantara para anggota atau
karyawan. Menurut Dessler (1999) mengemukakan sejumlah cara yang bisa
dilakukan untuk membangun komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:
- Menjadikan Organisasi yang Karismatik
Jadikan visi dan misi organisasi sebagai sesuatu yang karismatik, sesuatu
yang dijadikan pijakan, dasar bagi setiap karyawan dalam berperilaku,
bersikap, dan bertindak.
Membangun Tradisi
Segala sesuatu yang baik di organisasi jadikanlah sebagai suatu tradisi yang
secara terus-menerus dipelihara, dijaga oleh generasi berikutnya. - Memiliki Prosedur Pengaduan yang Komprehensif
Bila ada keluhan atau komplain dari pihak luar ataupun dari internal
organisasi maka organisasi harus memiliki prosedur untuk mengatasi keluhan
tersebut secara menyeluruh. - Membangun Komunikasi Dua Arah
Jalinlah komunikasi dua arah di organisasi tanpa memandang rendah
bawahan. - Membangun Rasa Kebersamaan
Jadikan semua unsur dalam organisasi sebagai suatu komunitas di mana di
dalamnya ada nilai-nilai kebersamaan, rasa memiliki, kerja sama, berbagi,
dan lain-lain. - Membangun Nilai Berbasis Keseragaman
Membangun nilai-nilai yang didasarkan adanya kesamaan. Setiap anggota
organisasi memiliki kesempatan yang sama, misalnya untuk promosi, maka
dasar yang digunakan untuk promosi adalah kemampuan, keterampilan,
minat, motivasi, kinerja, dan tanpa ada diskriminasi. - Penyetaraan Level
Sebaiknya organisasi membuat kebijakan di mana antara karyawan level
bawah sampai yang paling atas tidak terlalu berbeda atau mencolok dalam
gaya hidup, penampilan fisik dan lain-lain.
Memberikan Kesempatan Berkontribusi
Organisasi sebagai suatu komunitas harus bekerja sama, saling berbagi, saling
memberi manfaat, dan memberikan kesempatan yang sama pada anggota
organisasi. Semuanya harus memberikan kontribusi yang maksimal demi
keberhasilan organisasi tersebut. - Pergi Bersama
Adakan acara-acara yang melibatkan semua anggota organisasi sehingga
kebersamaan bisa terjalin. Misalnya, sekali-kali produksi dihentikan dan
semua karyawan terlibat dalam acara rekreasi bersama keluarga, pertandingan
olah raga, seni, dan lain-lain, yang dilakukan oleh semua anggota organisasi
dan keluarganya. - Mendukung Pengembangan Karyawan
Hasil studi menunjukkan bahwa karyawan akan lebih memiliki komitmen
terhadap organisasi bila organisasi memperhatikan perkembangan karier
karyawan dalam jangka panjang. - Kesempatan Untuk Aktualisasi Diri
Setiap karyawan diberi kesempatan yang sama untuk mengaktualisasikan diri
secara maksimal di organisasi sesuai dengan kapasitas masing-masing. - Memberikan Tantangan Pekerjaan
Karyawan masuk ke organisasi dengan membawa mimpi dan harapannya,
kebutuhannya. Berikan bantuan yang kongkrit bagi karyawan untuk
mengembangkan potensi yang dimilikinya dan mewujudkan impiannya. Jika
pada tahap-tahap awal karyawan memiliki persepsi yang positif terhadap
organisasai maka karyawan akan cenderung memiliki kinerja yang tinggi
pada tahap-tahap berikutnya. - Memperkaya Dan Memberdayakan
Ciptakan kondisi agar karyawan bekerja tidak secara monoton karena
rutinitas akan menimbulkan perasaan bosan bagi karyawan. Hal ini tidak baik
karena akan menurunkan kinerja karyawan. Misalnya dengan memberikan
tantangan dengan memberikan tugas, kewajiban dan otoritas tambahan dan
lain-lain. - Mempromosikan Dari Dalam
Bila ada lowongan jabatan, sebaiknya kesempatan pertama diberikan kepada
pihak intern perusahaan sebelum merekrut karyawan dari luar perusahaan. - Menyediakan Kegiatan Pengembangan
Bila organisasi membuat kebijakan untuk merekrut karyawan dari dalam
sebagai prioritas maka dengan sendirinya hal itu akan memotivasi karyawan
untuk terus tumbuh dan berkembang personalnya, juga jabatannya. - Menjamin Keamanan Karyawan
Bila karyawan merasa aman, baik fisik maupun psikis, maka komitmen akan
muncul dengan sendirinya. Misalnya, karyawan merasa aman karena
perusahaan membuat kebijakan memberikan kesempatan karyawan bekerja
selama usia produktif. Karyawan akan merasa aman dan tidak takut akan ada
pemutusan hubungan kerja. Karyawan merasa aman karena keselamatan kerja
diperhatikan perusahaan. - Membangun Komitmen Pada Karyawan Baru
Membangun komitmen karyawan pada organisasi merupakan proses yang
panjang dan tidak bisa dibentuk secara instan. Oleh karena itu perusahaan
harus benar-benar memberikan perlakuan yang benar pada masa awal
karyawan memasuki organisasi, dengan demikian karyawan akan mempunyai
persepsi yang positif terhadap organisasi. - Mencatat Data-Data Tentang Perushaan
Data-data tentang kebijakan, visi, misi, semboyan, filosofi, sejarah, strategi,
dan lain-lain. Organisasi sebaiknya dibuat dalam bentuk tulisan, bukan
sekedar bahasa lisan. - Memberikan Teladan Dalam Bentuk Perilaku
Bila pimpinan ingin menanamkan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, aturan-
aturan, disiplin, dan lain-lain pada bawahan, sebaiknya pimpinan sendiri
memberikan teladan dalam bentuk sikap dan perilaku sehari-hari. - Memberikan Teladan Dalam Bentuk Tindakan
Tindakan jauh lebih efektif dari sekedar kata-kata. Bila pimpinan ingin
karyawannya berbuat sesuatu maka sebaiknya pimpinan tersebut mulai
berbuat sesuatu, tidak sekedar kata-kata atau berbicara.
Tidak ada satu pimpinan organisasi manapun yang tidak menginginkan seluruh
jajaran anggotanya tidak memiliki komitmen yang kuat terhadap
organisasi/perusahaan mereka. Bahkan sampai sejauh ini banyak pimpinan
organisasi sedang berusaha menggiatkan peningkatan komitmen anggotanya
terhadap organisasi, maka dengan menciptakan rasa kepemilikan terhadap
perusahaan, meyakinkan karyawan dalam manajemen serta menciptakan
semangat dalam bekerja, perusahaan dapat membentuk komitmen karyawan.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen
Komitmen karyawan tidak akan dimiliki oleh karyawan kecuali ada faktor-faktor
yang mempengaruhinya, Steers dalam Sopiah (2008) menyatakan bahwa ada tiga
faktor yang mempengaruhi komitmen seorang karyawan antara lain :
- Ciri pribadi pekerja
Ciri pribadi pekerja termasuk masa jabatannya dalam organisasi, dan variasi
kebutuhan dan keinginan yang berbeda dari tiap karyawan. - Ciri pekerjaan
Ciri pekerjaan seperti identitas tugas dan kesempatan berinteraksi dengan
rekan sekerja. - Pengalaman kerja
Pengalaman kerja seperti keandalan organisasi di masa lampau dan cara
pekerja-pekerja lain mengutarakan dan membicarakan perasaannya tentang
organisasi.
Menurut pendapat di atas dikemukakan bahwa komitmen dapat dimiliki karyawan
karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi, dengan demikian berarti
bawha komitmen karyawan tidak akan terjadi begitu saja melainkan terjadi secara
bertahap, untuk menjaga agar karyawan selalu memiliki komitmen, maka
perusahaan harus memiliki strategi untuk menjaga dan meningkatkan komitmen
karyawan
Strategi Komitmen
Komitmen karyawan tidak dapat terus-menerus bertahan dalam diri karyawan
tanpa adanya strategi yang dimiliki perusahaan itu sendiri dalam membangun,
memelihara, dan meningkatkan komitmen karyawan. Menurut Robbins (2009)
memperkuat komitmen karyawan dalam suatu organisasi dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu mengurangi tuntutan kerja karyawan dan meningkatkan
kemampuan karyawan.
a. Mengurangi Tuntutan Karyawan
- Menentukan prioritas
Menentukan prioritas bertujuan mengurangi tuntutan kerja karyawan dengan
melakukan aktivitas yang berguna dan menunda atau menghilangkan aktivitas
yang tidak berguna. - Menetapkan fokus
Tuntutan karyawan dapat terlalu tinggi karena tidak terpusatkan, sebuah
perusahaan dapat melakukan dengan menerapkan beberapa aktivitas yang
sangat penting saja, dalam hal ini fokus dengan menentukan tema bagi
aktivitas perusahannya. - Melakukan rekayasa
Rekayasa proses produksi dapat mengurangi tuntutan kerja karyawan,
rekayasa tersebut dapat berupa memperpendek jalur, otomatisasi, dan
penyederhanaan kerja.
b. Meningkatkan Kemampuan Karyawan - Kontrol
Kontrol adalah memberikan karyawan kewenangan untuk mengontrol
keputusan mengenai bagaimana mengerjakan pekerjaan mereka. - Strategi atau Visi
Strategi atau visi yaitu menawarkan kepada karyawan visi dan arahan yang
membuat mereka memiliki komitmen untuk berkerja keras. - Tantangan Kerja
Tantangan kerja yaitu memberi karyawan stimulasi kerja yang dapat
mengembangkan ketrampilan baru. - Kolaborsi dan Team Work
Kolaborsi dan team work yaitu membentuk tim untuk melakukan pekerjaan. - Kultur Kerja
Kultur kerja yaitu membangun suatu lingkungan dan susana keterbukaan,
menarik, menyenangkan, dan penuh penghargaan. - Membagi Keuntungan
Membagi keuntungan yaitu memberikan kompensasi kepada karyawan
karena menyelesaikan pekerjaan dengan baik. - Komunikasi
Komunikasi yaitu menyebarkan informasi sesering mungkin dan secara
terbuka. - Perhatian
Perhatian yaitu memastikan bahwa setiap karyawan diperlakukakn sesuai
martabatnya. - Teknologi
Teknologi yaitu memberikan karyawan teknologi yang membuat pekerjaan
mereka menjadi lebih mudah. - Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan dan pengembangan yaitu memastikan karyawan memiliki
keterampilam untuk mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik.
Segala sesuatu harus memiliki strategi supaya semuanya dapat berjalan sesuai
dengan keinginan dan hasilnya memuaskan. Begitu juga dengan komitmen,
perusahaan harus memiliki strategi supaya tingkat komitmen karyawan terus
bertambah terhadap perusahaan dan pekerjaannya
Komponen Kebutuhan
Henderson dalam Potter dan Perry (1997) membagi kebutuhan dasar manusia ke
dalam 14 komponen berikut:
- Bernapas secara normal.
- Makan dan minum yang cukup.
- Eliminasi (buang air besar dan kecil).
- Bergerak dan mempertahankan postur yang diinginkan.
- Tidur dan istirahat.
- Memilih pakaian yang tepat.
- Mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal dengan menycsuaikan
pakaian yang dikenakan dan memodifIkasi lingkungan. - Menjaga kebersihan diri dan penampilan.
- Menghindari bahaya dari lingkungan dan menghindari membahayakan orang
lain. - Berkomunikasi dengan orang lain dalam mengekspresikan emosi, kebutuhan,
kekhawatiran, dan opini. - Beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan.
- Bekerja sedemikian rupa sebagai modal untuk membiayai kebutuhan hidup.
- Bermain atau berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi.
- Belajar, menemukan, atau memuaskan rasa ingin tahu yang mengarah pada
perkembangan yang normal, kesehatan, dan penggunaan fasilitas kesehatan
yang tersedia.
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar kehidupan
dapat terus berlanjut, berbagai macam kebutuhan tersebut diantaranya seperti
yang jabarkan di atas
Loyalitas
Menurut Powers (2000) mendefinisikan bahwa loyalitas mencakup kesediaan
untuk tetap bertahan, memiliki produktivitas yang melampaui standar, memiliki
perilaku altruis, serta adanya hubungan timbal balik di mana loyalitas karyawan
harus diimbangi oleh loyalitas organisasi terhadap karyawan. Indikator yang dapat
dipakai untuk mengidentifikasi loyalitas karyawan yaitu:
- Tetap bertahan dalam organisasi
- Bersedia bekerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan
- Menjaga rahasia bisnis perusahaan
- Mempromosikan perusahaan kepada pelanggan dan masyarakat umum
- Menaati peraturan tanpa perlu pengawasan yang ketat
- Mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan organisasi
- Tidak bergosip, berbohong atau mencuri
- Membeli dan menggunakan produk perusahaan
- Ikut berkontribusi dalam kegiatan social perusahaan
- Menawarkan saran-saran untuk perbaikan
- Mau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan aksidental perusahaan
- Mau mengikuti arahan atau instruksi
- Merawat properti perusahaan dan atau tidak memboroskannya
- Bekerja secara aman
- Tidak mengakali aturan perusahaan termasuk ijin sakit
- Mau bekerja sama dan membantu rekan kerja
Loyalitas adalah kesetiaan karyawan untuk tetap tinggal pada sebuah organisasi
atau perusahaan dan mematuhi seluruh aturan-aturan perusahaan dengan tanpa
merasa terbebani olehnya, serta ikut menjaga dan menjunjung nilai-nilai yang
terdapat diperusahaan tersebut
Komponen-Komponen Komitmen
Zurnali (2010) dengan mengacu pada pendapat-pendapat Meyer and Allen
mendefinisikan masing-masing komponen komitmen organisasional sebagai
berikut:
1) Affective commitment atau komitmen afektif
Komitmen afektif adalah perasaan cinta pada organisasi atau perusahaan yang
memunculkan kemauan untuk tetap tinggal dan membina hubungan sosial
serta menghargai nilai hubungan dengan organisasi dikarenakan telah
menjadi anggota organisasi.
2) Continuance commitment atau komitmen berkelanjutan
Komitmen berkelanjutan adalah perasaan berat untuk meninggalkan
organisasi dikarenakan kebutuhan untuk bertahan dengan pertimbangan biaya
apabila meninggalkan organisasi dan penghargaan yang berkenaan dengan
partisipasi di dalam organisasi.
3) Normative Commitment atau komitmen normatif
Komitmen normatif adalah perasaan yang mengharuskan untuk bertahan
dalam organisasi dikarenakan kewajiban dan tanggung jawab terhadap
organisasi yang didasari atas pertimbangan norma, nilai, dan keyakinan
karyawan.
Pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen memiliki tiga aspek atau
komponen yaitu komitmen normatif yang didasarkan perasaan-perasaan pegawai
tentang kewajiban yang harus ia berikan kepada organisasi dan tindakan tersebut
merupakan hal benar yang harus dilakukan. Komitmen berkelanjutan yang
didasarkan hasrat yang dimiliki oleh individu didasarkan pada persepsi tentang
kerugian yang akan dihadapinya jika ia meninggalkan organisasi, sehingga
individu merasa membutuhkan untuk dihubungkan dengan organisasi serta
komitmen afektif,s yaitu suatu pendekatan emosional dari individu dalam
keterlibatan dengan organisasi, sehingga individu akan merasa dihubungkan
dengan organisasi, berkaitan dengan emosional, identifikasi dan keterlibatan
karyawan didalam suatu organisasi
Faktor Komitmen Karyawan
menurut Minner dalam Sopiah (2008) mengemukakan empat
faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan antara lain :
- Faktor persona, misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman
kerja, dan kepribadian. - Karakteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, tantangan dalam
pekerjaan, konflik peran, tingkat kesulitan dalam pekerjaan. - Karakteristik struktur, misalnya besar kecilnya organisasi, bentuk organisasi,
kehadiran serikat pekerjan, dan tingkat pengendalian yang dilakukan
organisasi terhadap karyawan. - Pengalaman kerja. Pengalaman kerja seorang karyawan sangat berpengaruh
terhadap tingkat komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru
21
beberapa tahun bekerja dan karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja
dalam organisasi tentu memiliki tingkat komitmen yang berlainan.
Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan ada empat faktor
diantaranya faktor personal, karakteristik jabatan, karakteristik struktur dan
pengalaman kerja, sehingga dengan adanya faktor-faktor tersebut maka karyawan
memiliki komitmen terhadap pekerjaan dan perusahaan dimana mereka bekerja
Pengertian Komitmen Karyawan
Sumber daya manusia adalah aset perusahaan yang harus dijaga dan dipelihara
agar karyawan yang berkualitas tetap berada diperusahaan, untuk mewujudkan hal
tersebut karyawan harus memiliki komitmen. Komitmen adalah sikap yang
mencerminkan sejauh mana seorang individu mengenal dan terikat pada
organisasinya. Karyawan yang berkomitmen dan berkualitas biasanya selalu dapat
diandalkan dan akan mencurahkan kemampuannya secara maksimal. Pengertian
komitmen karyawan menurut Steers dalam Kuntjoro (2002) adalah rasa
identifikasi, keterlibatan dan loyalitas yang dinyatakan oleh seorang pegawai
terhadap organisasinya. Komitmen karyawan merupakan kondisi dimana pegawai
sangat tertarik terhadap tujuan, nilai-nilai, dan sasaran organisasinya. Komitmen
terhadap organisasi artinya lebih dari sekedar keanggotaan formal, karena
meliputi sikap menyukai organisasi dan kesediaan untuk mengusahakan tingkat
upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi demi pencapaian tujuan. Menurut
Zurnali (2010), komitmen merupakan perasaan yang kuat dan erat dari seseorang
terhadap tujuan dan nilai suatu organisasi dalam hubungannya dengan peran
mereka terhadap upaya pencapaian tujuan dan nilai-nilai tersebut.
Hubungan Antara Lingkungan Kerja Dengan Kinerja Pegawai
Lingkungan kerja berpengaruh langsung terhadap hasil kerja pegawai
yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi. Kondisi
lingkungan kerja dikatakan baik apabila pegawai dapat melaksanakan
tugas secara optimal, sehat, aman, dan nyaman.Sebaliknya lingkungan
kerja dikatakan tidak baik apabila lingkungan dapat menurunkan motivasi
serta semangat kerja dan akhirnya dapat menurunkan kinerja
pegawai.Pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan dapat
dilihat dari hasil penelitian Makkira dkk (2016) yang berjudul “Pengaruh
Disiplin Kerja, Komitmen Organisasi dan Lingkungan Kerja Terhadap
Kinerja Karyawan Pada PT Trans Retail Indonesia (CARREFOUR)
Cabang Panakukang Makasar” menunjukkan lingkungan kerja
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT.
Trans Retail Indonesia (Carrefour) Cabang Panakkukang Makassa
Hubungan Antara Komitmen Organisasi Dengan Kinerja Pegawai
Komitmen organisasi merupakan ikatan emosional individu
sebagai pegawai terhadap organisasi yang meliputi dukungan moral dan
tekad mengabdi kepada organisasi. Pegawai yang berkomitmen untuk
bekerja secara maksimal akan mengharapkan keberhasilan organisasi dan
selanjutnya pada kinerja pegawai. Pegawai yang memiliki komitmen
tinggi pada organisasi maka akan termotivasi untuk meningkatkan
kinerjanya karena mereka menjadi tidak tertarik untuk meninggalkan
pekerjaannya. Pada penelitian Makkira dkk (2016), hasil penelitian
menunjukkan komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja pegawai. Begitu juga dengan penelitian Adil dkk (2018)
yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh komitmen organisasional
terhadap kinerja pegawai Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi
Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan bahwa komitmen organisasional
berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pegawai yang dibuktikan
dengan menggunakan uji t. Dari hasil uji diketahui faktor komitemn
organisasi berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja pegawai.
Kesimpulan dari penelitian tersebut yaitu semakin tinggi komitmen
organisasional maka akan semakin baik dan meningkatkan kinerja pegawai
tersebut
Hubungan Antara Disiplin Kerja Dengan Kinerja Pegawai
Disiplin kerja merupakan bagian atau variabel yang sangat penting
dalam pengembangan sumber daya manusia.Oleh karena itu disiplin kerja
diperlukan dalam suatu organisasi agar tidak terjadi keteledoran,
penyimpangan atau kelalaian yang menyebabkan terjadinya pemborosan
dalam melakukan pekerjaan.Hasibuan (2003) menyatakan bahwa disiplin
kerja yang baik adalah apabila pegawai mematuhi peraturan organisasi
yakni pegawai datang tepat waktu, berpakaian rapi dan mematuhi
peraturan organisasi.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sidanti (2015) yang berjudul
“Pengaruh Lingkungan Kerja, Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap
Kinerja Pegawai Negeri Sipil di Seketariat DPRD Kabupaten Madiun”
menyatakan bahwa nilai t-hitung untuk fakor disiplin kerja paling tinggi
dibandingkan nilai t-hitung untuk faktor lain. Hal ini menunjukkan faktor
yang paling besar berpengaruh terhadap kinerja PNS adalah faktor disiplin
kerja dibanding faktor lingkungan kerja dan motivasi kerja. Dapat
disimpulkan bahwa disiplin kerja akan meningkatkan kinerja pegawai.
Hasil penelitian lain yang bertujuan mengetahui pengaruh disiplin kerja
terhadap kinerja pegawai dilakukan oleh Makkira dkk (2016) dan Adil dkk
(2018) menyatakan bahwa disiplin kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja pegawai. Kesimpulan dari ketiga penelitian
tersebut menyatakan bahwa semakin tinggi disiplin kerja seorang pegawai
maka semakin meningkat kinerja pegawai tersebut
Indikator Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja menurut pendapat Sedarmayanti(2001) terbagi dalam 2
indikator yaitu :
- Hubungan kerja yaitu hubang kerja antar karyawan dengan
karyawan lain atau karyawan dengan pimpinan organisasi - Lingkungan kerja non-fisik yaitu terdiri dari setruktur keja,
tanggung jawab kerja, perhatian dan dukungan pimpinan, kerja
sama anatr klompok, kelancaran komunikasi
Lingkungan kerja
Pegawai sebagai manusia tidak dapat dipisahkan dengan keadaan
disekitar tempat bekerja, yaitu lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang kondusif
akan memberikan rasa kenyamanan, kemananan dan ketentraman terhadap
pegawai sehingga produktifitas pegawai menjadi optimal. Sedarmayanti (2001)
menerangkan bahwa lingkungan kerja non fisik berkaitan dengan hubungan baik
kerja baik hubungan dengan bawahan, rekan kerja maupun atasan dengan
atasan.Contoh lingkungan kerja non fisik yaitu struktur kerja, tanggung jawab
kerja, perhatian dan dukungan pemimpin, kerjasama antar kelompok dan
kelancaran komunikasi.
Lingkungan kerja memiliki arti penting dalam mempengaruhi lingkugan
kerja. (Analisa 2011:20) menyatakan bahwa “ lingkungan kerja adalah sesuatu
yang ada disekitar pegawai dan dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan
tugads yang dibebankan” kondisi dan suasana lingkungan yang baik akan dapat
tercipta dengan adanya penyusunan organisasi secara baik dan benar sebagaimana
yang dikatakan oleh Sedarmayanti (2001) seperti dikutip Analisa (2011:21)
menyatakan bahwa suasana lingkungan kerja dihasilkan terutama dalam
organisasi yang telah tersusun secara baik, sedangkan suasana kerja yang kkurang
baik banyak ditimbulkan oleh organisasi yang tidak tersusun dengan secara baik
pula.
Indikator Komitmen organisasi
Komitmen organisasi menurut pendapat dari Meyer dan Allen
dalam Luthans (2006) terbagi dalam tiga indikator yaitu:
- Komitmen afektif (affective commitment), pendekatan emosional dari
individu dalam keterlibatannya pada organisasi berkaitan dengan
emosional, identifikasi, dan keterlibatan pegawai di dalam suatu
organisasi. - Komitmen berkelanjutan (continuance commitment), hasrat yang
dimiliki individu untuk tetap berada dalam organisasi. Komitmen
tersebut berdasar pada persepsi pegawai tentang kerugian yang akan
dihadapinya jika pegawai meninggalkan organisasi. Pegawai dengan
komitmen berkelanjutan yang kuat akan melanjutkan keanggotaannya
dengan organisasi karena mereka membutuhkannya. - Komitmen normatif (normative commitment), suatu perasaan wajib
dari individu untuk bertahan dalam organisasi berkaitan dengan
kesetiaan yang harus diberikan karena pengaruh orang lain, dan
kesadaran bahwa komitmen terhadap organisasi merupakan suatu
keharusan. Pegawai yang berkomitmen normatif kuat akan tetap
bergabung dalam organisasi karena merasa sudah cukup puas dengan
hidupnya
Komitmen organisasi
Komitmen organisasi sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi
kinerja pegawai. Pegawai yang berkomitmen tinggi diharapkan akan memberikan
kinerja yang optimal. Seseorang yang bergabung dalam lembaga dituntut
memiliki komitmen dalam dirinya. Pegawai yang berkomitmen pada lembaga,
diharapkan kinerja dari pegawai akan meningkat. Bentuk komitmen kerja tidak
hanya bersifat pasif seperti loyalitas, melainkan juga bersifat aktif seperti
melibatkan hubungan dengan organisasi kerja yang memiliki tujuan memberikan
segala usaha demi keberhasilan lembaga. Menurut Luthans (2006), sikap
terefleksi dalam bentuk loyalitas pegawai pada organisasi dan berkelanjutan
dimana pegawai mengekspresikan perhatiannya untuk keberhasilan serta
kemajuan yang berkelanjutan terhadap organisasi adalah pengertian komitmen
organisasi. Disimpulkan yaitu sebagai keletakan emosioal idenvikasi dan
keterlibatan individu dengan organisasi serta keinginan untuk tetap menjadi
anggota organisasi. Sistem tanggapan yang disediakan oleh organisasi terkadang
kurang mendapat perhatian dari karyawan untuk lebih menumbuhkan sikap loyal
terhadap karyawan.
Indikator disiplin
kerja lainnya yang digunakan untuk mengukur disiplin kerja menurut
(Hasibuan 20004) adalah sebagai berikut:
- Sikap
Perilaku pegawai yang tercermin dari kesadaran atau kerelaan pegawai
dalam melaksanakan peraturan perusahaaan, yaitu kehadiran pegawai
ditempat kerja untuk bekerja dan kemampuan dalam memanfaatkan atau
menggunakan perlengkapan dengan baik. - Norma
Peraturan mengenai hal yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan
untuk dilakukan oleh pegawai selama dalam perusahaan. Norma juga
menjadi acuan dalam bersikap, yaitu mematuhi peraturan yang ditentukan
perusahaan secara sadar dan mengikuti cara kerja yang ditentukan
perusahaan. - Tanggung jawab
Kemampuan dalam menjalankan tugas danperaturan dalam perusahaan,
yaitu pegawai harus bertanggung jawab atas pekerjaan yang sudah
ditentukan lembaga
Disiplin Kerja
Secara umum, disiplin adalah taat kepada peraturan yang
berlaku.Hasibuan (2004), berpendapat bahwa kedisiplinan adalah
kesadaran dan kesediaan seseorang menaati peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku. Disiplin akan mendorong semangat
kerja seorang pegawai dan terwujudnya tujuan lembaga. Disiplin kerja
sebagai faktor penting yang tidak dapat diabaikan.Faktor tersebut
merupakan bagian dari fungsi pemeliharaan pegawai.Semakin baik disiplin
kerja seorang pegawai maka semakin tinggi prestasi kerja yang dicapai.
Dalam pandangan paling moderen mengenai disiplin kerja dikatakan
bahwa disiplin kerja merupakan bagian palig mendasar atau esensial dari
manusi. Sebagian yang paling mendasar, dia akan memberikan setatus dari
masyarakat yang berada dilingkungan tersebut. Juga bisa mengikat
individu lain baik yang bekerja atau tidak (Anoraga,2006: 11-14) .
Disimpulkan bahwa dengan disiplin kerja pegawai dapat lebih
bertanggung jawab terhadap tugasnya sehingga kinerja akan lebih baik,
pegawai yang memiliki disiplin kerja akan memiliki kinerja yang lebih
baik yang dapat membangun produktivitas pegawai tersebut displin kerja
harus dibangun pada setiap pegawai mulai dari dini
Faktor yang mempengaruhi kinerja
Faktor yang mempengaruhi kinerja menurut
Wirawan (2009) antara lain:
- Faktor internal pegawai, yaitu faktor bawaan dan faktor berkembang.
Faktor bawaan dari lahir yaitu terdapat dalam diri pegawai, misalnya
bakat, sifat pribadi, serta keadaan fisik dan kejiwaan. Faktor berkembang
yaitu faktor yang diperoleh ketika pegawai berkembang, misalnya
pengetahuan, keterampilan, etos kerja, pengalaman kerja, dan motivasi
kerja. - Faktor lingkungan internal organisasi, yaitu dukungan dari organisasi
dimana pegawai bekerja. Faktor-faktor lingkungan internal organisasi
tersebut antara lain visi, misi dan tujuan organisasi, kebijakan organisasi,
teknologi, strategi organisasi, sistem manajemen, kompensasi,
kepemimpinan, budaya organisasi, dan teman kerja. - Faktor lingkungan eksternal organisasi, yaitu keadaan, kejadian, atau
situasi yang terjadi di lingkungan luar organisasi yang mempengaruhi
kinerja pegawai. Contoh faktor tersebut antara lain kehidupan ekonomi,
kehidupan politik, kehidupan sosial, budaya dan agama masyarakat, dan
kompetitor
Indikator Kinerja
Menurut Artana (2012) suatu pekerjaan dapat diukur melalui berbagai
indikator, yaitu:
- Pengetahuan yaitu pengetahuan pegawai yang berkaitan dengan semua
tingkat pekerjaan dan hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. - Kualitas kerja yaitu hasil kerja pegawai yang ditinjau dari segi ketelitian
dan kerapian. - Kuantitas kerja yaitu hasil kerja pegawai yang ditinjuau dari jumlah hasil
tugas yang mampu diselesaikan. - Kesetiaan yaitu keteguhan pegawai terhadap pekerjaan dan jabatan di
perusahaan, tercermin pada kesediaan pegawai menjaga dan membela
perusahaan. - Kemampuan bekerjasama yaitu kemampuan pegawai bekerjasama untuk
menyelesaikan suatu tugas sehingga dapat mencapai hasil yang sebesar-
besarnya. - Kemampuan beradaptasi yaitu kemampuan pegawai untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungan dan pekerjaan.
10 - Inisiatif yaitu daya pikir dan kreatifitas pegawai dalam bentuk ide untuk
suatu tujuan lembaga. - Kemandirian yaitu kemampuaan pegawai dalam menyelesaikan tugas atau
pekerjaannya sendiri. - Kreatifitas adalah kemampuan untuk mengajukan ide-ide baru yang
membangun sehingga dapat membantu dalam kelancaran pekerjaan,
mengurangi biaya, memperbaiki hasil kerja dan menambah produktifitas.
Indikator-indikator tersebut dapat dijadikan sebagai dasar penilaian
setiap pekerjaan sehingga penilaian kinerja pegawai dapat diukur lebih mudah dan
jelas.Penilaian kerja sendiri memiliki tujuan dan mafaat.Bangun (2012)
menjelaskan bahwa penilaian kerja digunakan untuk mengevaluasi antar individu
dalam suatu lembaga, pengembangan diri setiap individu, pemeliharaan sistem
dan dokumentasi yang berguna untuk pengambilan keputusan.Kinerja dipengaruhi
oleh berbagai macam faktor
Kinerja Pegawai
Kinerja merupakan pencapaian kerja seorang dalam melaksanakan tugas
yang sudah diberikan kepadanya dengan tanggung jawab secara kualitas maupun
kuantitas (Mangkunegara, 2000).Penilaian kerja dilakukan untuk menilai
pelaksanaan tugas pegawai dan selanjutnya digunakan untuk evaluasi demi
mencapai keberhasilan kerja.Penilaian dilakukan dengan membandingkan hasil
kerja yang dicapai pegawai dengan standar pekerjaan lembaga.Jika hasil kerja
seorang pegawai melebihi standar maka dapat dikatakan kinerja pegawai
berkategori baik, demikian sebaliknya.Selain itu, penilaian kerja juga dapat
ditinjau dari jumlah pekerjaan yang diselesaikan pegawai dalam batas waktu
tertentu.Jika seorang pegawai mampu menyelesaikan tugas dalam jumlah
melebihi standar maka dapat dikatakan kinerja pegawai berkategori baik,
demikian sebaliknya.Mangkunegara (2000:67) dalam bukunya Manajemen
Sumber Daya Manusia sebuah intansi/organisasi , mengemukakan pengertian
kinerja sebagai berikut : Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikanya. Sedangkan Rivai (2006:309) mengatakan
bahwa kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai
prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam
intansi/organisasi.Adapun pengertian kinerja menurut Stephen Robbins yang
diterjemahkan oleh Harbani Pasolong, Kinerja adalah hasil evaluasi terhadap
pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai dibandingkan kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya (Pasolong, 2007:176). Dapat disimpulkan bahwa kinerja
merupakan perwujudan kerja yang telah dilakukan oleh karyawan yang biasanya
dipakai sebagai dasar peneliaan terhadap karyawan atau organisasi. Kinerja yang
baik merupakan langkah untuk tercpainya tujuan organisasi,sehingga perlu
diupayakan usaha untuk meningkatkan kinerja
Komponen komitmen organisasi
Komitmen organisasi bersifat multidimensi, maka terdapat
pengembangan dukungan untuk tiga model komponen yangdiajukan
oleh Mayer dan Allen (1991) dalam Luthans (2006). Ketiga dimensi
tersebut adalah:
a. Komitmen afektif adalah keterikatan emosional karyawan,
identifikasi, dan keterlibatan dalam organisasi.
b. Komitmen kelanjutan adalah komitmen berdasarkan kerugian
yang berhubungan dengan keluarnya karyawan dari Organisasi.
Hal ini mungkin karena kehilangan seniorotas atas promosi atau
benefit.
c. Komitmen normative adalah perasasan wajib untuk tetapberada
dalam organisasi karena memang harus begitu tindakan tersebut
merupakan hal benar yang harusdilakukan
Definisi Komitmen organisasi
Komitmen organisasi adalah suatu keadaan saat seseorang
karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan dan keinginannya
untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut
. Menurut Griffin (2004), komitmen organisasi adalah sikap yang
mencerminkan sejauh mana seseorang individu mengenal dan terikat
pada organisasinya. Komitmen organisasi, paling sering didefinisikan
sebagai keinginan kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu,
keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi, keyakinan
tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi. Dengan kata lain,
ini merupakan sikap yang mereflesikan loyalitas karyawan pada
organisasi dan proses berkelanjutan dimana anggota organisasi
mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilan
serta kemajuan yang berkelanjutan.
Menurut Robbins (2002), komitmen organisasi merupakan keadaan
dimana karyawan mengaitkain dirinya ke organisasi tertentu dan
sasaran- sasarannya, serta berharap mempertahankan keanggotaannya
dalam organisasi itu. Sehingga, keterlibatan kerja yang tinggi berarti
mengaitkan diri ke pekerjaan khusus seseorang; sedangkan komitmen
pada organisasi yang tinggi berarti mengaitkan diri ke organisasi yang
mempekerjakannya
Pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja Karyawan
Dalam penelitian Adham & Wahyudianto (2020) dengan judul “Pengaruh
Komunikasi dan Kompetensi Kerja Terhadap Kinerja Pada PT Pelayaran Eka
Ivana Jasa Cabang Samarinda” menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan komunikasi terhadap kinerja karyawan. Pimpinan bertanggung jawab
dalam mengawasi dan mengavaluasi kinerja dengan mengkomunikasikan
penilaian kepada bawahannya, pemimpin harus mengetahui kekurangan ataupun
masalah apa saja yang sedang dihadapi para bawahannya dan bagaimana
menyampaikannya dengan cara berkomunikasi. Komunikasi ini tidak hanya
terjadi antara atasan dengan bawahan tetapi juga antara sesama rekan kerja, agar
setiap pegawai dapat bekerja dengan baik, hal ini komunikasi akan berpengaruh
terhadap kinerja karyawan. Adapun dalam penelitian Dewi (2021) dengan judul
“Pengaruh Komunikasi terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Indosurya Kencana
di Bekasi” mengatakan bahwa komuikasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja karyawan. Dalam penelitian Nurhidayat (2022) dengan judul
“Pengaruh Komunikasi dan Stress Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT. Bumi
Agung Wilayah Kota Tanggerang Selatan” menyebutkan bahwa Komunikasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan
Indikator Kinerja Karyawan
Menurut Robbins (2016:260) indikator kinerja yaitu alat untuk mengukur
sajauh mana pencapain kinerja karyawan. Berikut indikator-indikator untuk
mengukur kinerja karyawan:
- Kualitas kerja
Kualitas kerja dapat dilihat dari hasil kerja karyawan dalam
menyelesaikan pekerjaan juga kemampuan dan keterampilan karyawan
dalam mengerjakan tugas yang diberikan padanya. - Kuantitas
Kuantitas yaitu ukuran jumlah hasil kerja unit maupun jumlah siklus
aktivitas yang diselesaikan oleh karyawan sehingga kinerja karyawan
dapat diukur melalui jumlah (unit/siklus) tersebut. - Ketepatan Waktu
Kinerja Karyawan juga dapat diukur dari ketepatan waktu karyawan
dalam menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Sehingga
tidak mengganggu pekerjaan yang lain yang merupakan bagian dari
tugas karyawan tersebut. - Efektifitas
Efektifitas yang di maksud merupakan tingkat penggunaan sumber daya
organisasi (tenaga, uang, teknologi dan bahan baku) dimaksimalkan
dengan maksud menaikan hasil dari setiap unit dalam penggunakan
sumber daya. - Kemandirian
Kemandirian merupakan tingkat seseorang yang nantinya akan dapat
menjalankan fungsi kerjanya tanpa menerima bantuan, bimbingan atau
pengawas
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan, Menurut
Masram (2017:147) faktor-faktor tersebut terdiri dari:
- Efektivitas dan efisiensi.
Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh
mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-
akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari hasil yang
dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif
dinamakan tidak efisien. - Otoritas (wewenang).
Otoritas adalah sifat dari suatu komunikasi atau pemerintah dalam
suatu organisasi formal yang dimiliki oleh seorang anggota organisasi
kepada anggota lain untuk melakukan suatu kegiatan kerja dengan
kontribusinya. - Disiplin.
Disiplin adalah taat kepada hokum dan peraturan yang berlaku. - Inisiatif.
Yaitu yang berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam
membentuk ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan
tujuan organisasi
Pengertian Kinerja Karyawan
Menurut Rizaldi (2021) Kinerja adalah suatu hasil dimana orang, sumber-
sumber yang ada di lingkungan kerja tertentu secara bersama membawa hasil
akhir yang didasarkan tingkat mutu dan standar yang telah ditetapkan.
Menurut Busro dalam Narimawati et.al (2022) Kinerja merupakan hasil
kerja yang dapat dicapai pegawai baik individu maupun kelompok dalam suatu
organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan
organisasi dalam mencapai visi dan misi dan tujuan organisasi dengan
kemampuan menyelesaikan masalah sesuai dengan waktu yang dietntukan dan
tidak melanggar hukum.
Adapun Menurut Effendy (2018) mengatakan bahwa kinerja merupakan
Hasil kerja yang dapat dicapai oleh individu atau kelompok orang didalam suatu
organisasi, dimulai dari proses awal sampai akhir sebagai hasil yang didapat,
Organisasi yang baik adalah organisasi yang berusaha meningkatkan kemampuan
sumber daya manusia, karena hal tersebut merupakan faktor kunci untuk
meningkatkan kinerja karyawan di sebuah organisasi. Kasmir (2016:182)
mengatakan kinerja merupakan hasil kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai
dalam menyelesaikan tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam suatu
periode tertentu.
Menurut Wulantika (2018) Kinerja karyawan merupakan salah satu
dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur, mengevaluasi kemampuan
karyawan menjalankan tugasnya dan memiliki kewajiban kepada organisasi
tempat mereka bernaung. Sedangkan Robbin (2016:260) mendefinisikan kinerja
adalah suatu hasil yang dicapai oleh pegawai dalam pekerjaanya menurut kriteria
tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan.
Pengertian Kinerja Karyawan
Menurut Rizaldi (2021) Kinerja adalah suatu hasil dimana orang, sumber-
sumber yang ada di lingkungan kerja tertentu secara bersama membawa hasil
akhir yang didasarkan tingkat mutu dan standar yang telah ditetapkan.
Menurut Busro dalam Narimawati et.al (2022) Kinerja merupakan hasil
kerja yang dapat dicapai pegawai baik individu maupun kelompok dalam suatu
organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan
organisasi dalam mencapai visi dan misi dan tujuan organisasi dengan
kemampuan menyelesaikan masalah sesuai dengan waktu yang dietntukan dan
tidak melanggar hukum.
Adapun Menurut Effendy (2018) mengatakan bahwa kinerja merupakan
Hasil kerja yang dapat dicapai oleh individu atau kelompok orang didalam suatu
organisasi, dimulai dari proses awal sampai akhir sebagai hasil yang didapat,
Organisasi yang baik adalah organisasi yang berusaha meningkatkan kemampuan
sumber daya manusia, karena hal tersebut merupakan faktor kunci untuk
meningkatkan kinerja karyawan di sebuah organisasi. Kasmir (2016:182)
mengatakan kinerja merupakan hasil kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai
dalam menyelesaikan tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam suatu
periode tertentu.
Menurut Wulantika (2018) Kinerja karyawan merupakan salah satu
dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur, mengevaluasi kemampuan
karyawan menjalankan tugasnya dan memiliki kewajiban kepada organisasi
tempat mereka bernaung. Sedangkan Robbin (2016:260) mendefinisikan kinerja
adalah suatu hasil yang dicapai oleh pegawai dalam pekerjaanya menurut kriteria
tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja
karyawan merupakan pencapaian hasil karyawan dalam suatu proses
melaksanakan tugasnya dengan sesuai tanggung jawab yang diberikan. Dengan
meningkatkan kinerja karyawan akan membawa dampak yang positif bagi
perusahaan, sehingga karyawan memiliki tingkat kinerja yang baik dan optimal
untuk membantu mewujudkan tujuan perusahaan
Indikator Kompetensi
Ada beberapa indikator Menurut Sugiyanto & Santoso (2018) antara lain:
- Pengetahuan
Kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya seorang karyawan
mengetahui cara melakukan identifikasi belajar dan bagaimana
melakukan pembelajaran yang baik sesuai dengan kebutuhan yang ada
dengan efektif dan efisien di perusahaan. - Pemahaman
Kedalam kognitif dan afektif yang dimiliki individu. Misalnya seorang
karyawan dalam melaksanakan pembelajaran harus mempunyai
pemahaman yang baik tetang karakteristik dan kondisi secara efektif
dan efisien. - Kemampuan/Keterampilan
Sesuatu yang dimiliki oleh individu yang melaksanakan tugas atau
pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya, kemampuan
karyawan dalam memilih metode kerja yang dianggap lebih efektif dan
efisien. - Nilai
Suatu standar perilaku yang telah ditakini dan secara psikologis telah
menyatu dalam diri seseorang. Misalnya, standar perilaku para
karyawan dalam melaksanakan tugas (kejujuran, keterbukaan,
demokratis dan lain- lain). - Sikap
Perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap
suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya, reaksi terhadap
krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji dan sebagainya. - Minat
Kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.
Misalnya, melakukan sesuatu aktivitas tugas
Faktor – Faktor Kompetensi
Latief et. al (2018) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor yang
dapat memengaruhi kecakapan kompetensi seseorang, yaitu sebagai berikut:
- Keyakinan dan Nilai-nilai
Keyakinan terhadap diri maupun terhadap orang lain akan sangat
memengaruhi perilaku. Apabila orang percaya bahwa mereka tidak
kreatif dan inovatif, mereka tidak akan berusaha berpikir tentang cara
baru atau berbeda dalam melakukan sesuatu. - Keterampilan
Keterampilan memainkan peranan di berbagai kompetensi. Berbicara
di depan umum merupakan keterampilan yang dapat dipelajari,
dipraktikan dan diperbaiki. Keterampilan menulis juga dapat
diperbaiki dengan instruksi, praktik dan umpan balik. - Pengalaman
Keahlian dari banyak kompetensi memerlukan pengalaman
mengorganisasi orang, komunikasi di hadapan kelompok,
menyelesaikan masalah, dan sebagainya. Orang yang tidak pernah
berhubungan dengan organisasi besar dan kompleks tidak mungkin
mengembangkan kecerdasan organisasional untuk memahami
dinamika kekuasaan dan pengaruh dalam lingkungan tersebut. - Karakteristik
Kepribadian Dalam kepribadian termasuk banyak faktor yang di
antaranya sulit untuk berubah. Akan tetapi, kepribadian bukannya
sesuatu yang tidak dapat berubah. Kenyataannya, kepribadian
seseorang dapat berubah sepanjang waktu. Orang merespon dan
berinteraksi dengan kekuatan dan lingkungan sekitarnya. - Motivasi
Motivasi merupakan faktor dalam kompetensi yang dapat berubah.
Dengan memberikan dorongan, apresiasi terhadap pekerjaan bawahan,
memberikan pengakuan dan perhatian individual dari atasan dapat
mempunyai pengaruh positif terhadap motivasi seseorang bawahan. - Isu Emosional
Hambatan emosional dapat membatasi penguasaan kompetensi. Takut
membuat kesalahan, menjadi malu, merasa tidak disukai atau tidak
menjadi bagian, semuanya cenderung membatasi motivasi dan
inisiatif. Perasaan tentang kewenangan dapat mempengaruhi
kemampuan komunikasi dan menyelesaikan konflik dengan manajer.
Orang mungkin mengalami kesulitan mendengarkan orang lain apabila
mereka tidak merasa didengar. - Kemampuan Intelektual
Kompetensi tergantung pada pemikiran kognitif seperti pemikiran
konseptual dan pemikiran analitis. Tidak mungkin memperbaiki
melalui setiap intervensi yang diwujudkan suatu organisasi. Sudah
tentu faktor seperti pengalaman dapat meningkatkan kecakapan dalam
kompetensi ini
Pengertian Kompetensi
Menurut Agustian (2018) menjelaskan bahwa kompetensi adalah suatu
kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang
dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang
dituntut oleh pekerjaan tersebut. Kompetensi juga menunjukkan karakteristik
pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki atau dibutuhkan oleh setiap individu
yang memampukan mereka untuk melakukan tugas dan tanggung jawab mereka
secara efektif dan meningkatkan standar kualitas profesional dalam pekerjaan
mereka.
Ada juga pengertian Kompetensi menurut Edison et. al (2016) Kompetensi
adalah kemampuan individu untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan benar
dan memiliki keunggulan yang didasarkan pada hal-hal yang menyangkut
pengetahuan, keahlian, dan sikap. Sutrisno (2016:203) “kompetensi adalah suatu
kemampuan yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan yang didukung
oleh sikap kerja serta penerapannya dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan
yang mengacu pada persyaratan kerja yang ditetapkan”.
Sedangkan Menurut Wibowo (2016) Kompetensi adalah suatu kemampuan
untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan yang dilandasi atas
keterampilan dan pengalaman serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh
pekerja. Sugiyanto dan Santoso (2018) menyebutkan bahwa kompetensi juga
dapat menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu dari suatu
profesi dalam ciri keahlian tertentu, yang menjadi ciri dari seorang profesional.
Dengan demikian pegawai yang memiliki kompetensi tinggi akan mendapatkan
kepuasan kerja dan kinerja sumber daya manusia yang meningkat
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi
merupakan karakteristik seseorang yang memiliki kemampuan dan dilandasi
dengan keterampilan, pengetahuan, dan perilaku yang dapat menghasilkan
pekerjaan yang efektif dalam mecapai tujuan perusahaan
Indikator Komitmen
Indikator Komitmen menurut Robbins dalam penelitian Rizaldi (2021)
yaitu:
- Komitmen Afektif, yaitu keterikatan berdasarkan emosional
- Komitmen Continue, yaitu dimana karyawan akan tetap bertahan di
tempat ia bekerja karena akan beresiko jika keluar. - Komitmen Normatif, yaitu karyawan akan tetap di perusahaan karena
kewajiban bagi tujuan perusahaan
Faktor – Faktor Komitmen
Menurut Malayu S.P Hasibuan (2014:78) terbentuknya komitmen suatu
organisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
- Faktor Kesadaran
Kesadaran menunjukkan suatu keadaan jiwa seseoang yang
merupakan titik temu dari berbagai pertimbangan sehingga diperoleh
suatu keyakinan, ketetapan hati dan kesinambungan dalam jiwa yang
bersangkutan. - Faktor Aturan
Aturan adalah perangkat penting dalam segalatindakan dan perbuatan
seseorang. Peranan aturan sangat besar dalam hidup bermasyarakat,
sehingga dengan sendirinyaaturan harus dibuat, dan diawasi yang
pada akhirnya dapat tercapai sasaran manajemen sebagai pihak yang
berwenang dan mengatur segala sesuatu yang ada di dalam organisasi
kerja tersebut. - Faktor Organisasi
Organisasi pelayanan contohya pelayanan Pendidikan ada dasarnya
tidak berbeda dengan organisasi pada umumnya hanya terdapat sedikit
perbedaan pada penerapannya, karena sasaran pelayanan ditujukan
secara khusus kepada manusia yang memiliki watak dan kehendak
yang multi kompleks. - Faktor Pendapatan
Pendapatan adalah penerimaan seseorang sebagai imbalan atas tenaga,
pikiran yang telah dicurahkan untuk orang lain atau badan organisasi
baik dalam bentuk uang. - Faktor Kemampuan Keterampilan
Kemampuan berasal dari kata mampu yang memiliki arti dapat
melakukan tugas atau pekerjaan sehingga menghasilkan barang atau
jasa sesuai dengan yang diharapkan. Kemampuan dapat diartikan
sebagai sifat/keadaan yang ditujukan oleh keadaan seseorang yang
dapat melaksanakan tugas atau dasar ketentuan-ketentuan yang ada.
Keterampilan adalah kemampuan melakukan pekerjaan dengan
menggnakan anggota badan dan peralatan yang tersedia. - Faktor Sarana Pelayanan
Sarana pelayanan ada segalajenis perlengkapa kerja dan fasilitas lain
yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan
pekerjaan, dan juga berfungsi sosial dalam rangkauntuk memenuhi
kepentingan orang-orang yang sedang berhubungan dengan organisasi
kerja itu.
Pengertian Komitmen
Komitmen kerja atau komitmen organisasi merupakan suatu kondisi yang
dirasakan oleh karyawan yang dapat menimbulkan perilaku positif yang kuat
terhadap organisasi kerja yang dimilikinya. Menurut Steers dan Porter (2013)
suatu bentuk komitmen kerja yang muncul bukan hanya bersifat loyalitas yang
pasif, tetapi juga melibatkan hubungan yang aktif dengan organisasi kerja yang
memiliki tujuan memberikan segala usaha demi keberhasilan organisasi kerja
yang bersangkutan.
Kusumaputri (2015:41) mengatakan bahwa komitmen merupakan
kekuatan yang mengikat individu melakukan aksi untuk menuju satu atau
beberapa tujuan. Karyawan yang memiliki komitmen dalam melaksanakan
pekerjaannya dapat diartikan sebagai kemampuan atau kemauan yang telah ada
dalam diri karyawan untuk menyelaraskan perilaku pribadi dan menjadikan
prioritas dan tujuan perusahaan. Triatna (2016:120) komitmen adalah suatu kadar
kesetiaan karyawan terhadap perusahaan yang dicirikan oleh keinginan untuk
tetap menjadi bagian organisasi, berbuat yang terbaik untuk organisasi dan
selalu menjaga nama baik organisasi.
Cohen dalam Kusumaputri (2015) mendefinisikan bahwa komitmen kerja
adalah kekuatan yang mengikat individu untuk melakukan suatu aksi menuju satu
atau beberapa tujuan organisasi. Sedangkan Miller dan Lee dalam Kusumaputri
(2015) mendefinisikan komitmen kerja adalah keadaan anggota organisasi yang
terikat aktivitas dan keyakinannya, adapun fungsinya untuk mempertahankan
aktivitas dan keterlibatannya dalam organisasi. Menurut Robbins dalam
penelitian Rizaldi (2021), komitmen organisasi yakni suatusituasi yang
dihadapi karyawan mengenai keberadaanya di organisasi tersebut dengan
memutuskan akan memihak serta memiliki tujuan yang diiringi keinginan untuk
tetap berada atau menjadi bagian dalam organisasi.
Menurut Wibowo (2016:429), komitmen adalah perasaan, sikap dan
perilaku individu mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari organisasi,
terlibat dalam proses kegiatan operasional dan loyal terhadap organisasi dalam
mencapai tujuan organisasi.
Indikator Komunikasi
Indikator Komunikasi menurut Wibowo (2014 : 171) yaitu :
- Kemudahan dalam memperoleh informasi
Proses komunikasi akan mudah untuk memproleh komunikasi dalam
pemindahan ide ataupun gagasan - Intensitas Komunikasi
Apabila banyak percakapan yang baik, maka komunikasi akan
semakin lancer. - Efektivitas komunikasi
Berkomunikasi secara tatap langsung akan memudahkan pasan yang
disampaikan komunikator. - Tingkat pemaham pesan
Komunikasi yang baik dan lancar akan memudahkan seseorang atau
penerima mengerti dan memahami pesan yang disampaikan. - Perubahan sikap
Seseorang yang memahami pesan yang disampaikan komunikator,
maka akan terjadi perubahan sikap yang dilakukan sesuai dengan apa
yang di komunikasikan
Faktor – Faktor Komunikasi
Menurut Mangkunegara (2004:148) ada dua tinjauan faktor yang
mempengaruhi komunikasi, yaitu dari pihak sender (pengirim) dan dari
pihak receiver (penerima).
- Faktor dari pihak sender (pengirim)
a) Keterampilan pengirim
Pihak pengirim sebagai pengirim informasi, ide, berita, pesan,
perlu menguasai cara-cara penyampaian pikiran, baik secara
tertulis, maupun lisan
b) Sikap pengirim
Pengirim harus bersikap meyakinkan penerima terhadap pesan
yang diberikan kepadanya
c) Pengertahuan pengirim
Pengirim yang mempunyai pengetahuan luas akan dapat
mengirim informasi kepada penerima sebaik mungkin.
d) Media saluran yang digunakan oleh pengirim,
media atau saluran komunikasi sangat membantu dalam
penyampaian ide, informasi, atau pesan kepada penerima. - Faktor dari pihak receiver (penerima)
a) Keterampilan penerima,
Pesan yang diberikan oleh pengirim akan dapat dimengerti
dengan baik, jika penerima mempunyai keterampilan
mendengar dan membaca.
b) Sikap penerima,
Sikap penerima terhadap pengirim sangat mempengaruhi
komunikasi, dengan begitu sikap penerima harus bersikap positif
terhadap pengirim
c) Pengetahuan penerima
penerima yang mempunyai pengetahuan yang lebih luas akan
mudah dalam menafsirkan ide atau pesan yang diterimanya dari
pengirim.
d) Media saluran komunikasi
media saluran komunikasi yang digunakan sangat berpengaruh
dalam penerimaan ide atau pesan.
e) Komunikasi yang efektif
f) Kualitas komunikasi
Hubungan Persepsi Keadilan Kompensasi Dan Peran KepemimpinanDengan Komitmen Karyawan Pada Organisasi
Komitmen karyawan terhadap organisasi juga diartikan lebih dari sekedar
keanggotaan formal, karena meliputi sikap menyukai organisasi dan kesediaan
untuk mengusahakan tingkat upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi demi
pencapaian tujuan. Staw (dalam Roslina, 2010) memberikan pendapat bahwa
komitmen pada organisasi merupakan suatu pemahaman khusus dari individu
sebagai ikatan psikologis pada organisasi termasuk rasa terlibat dengan pekerjaan,
komitmen dan percaya akan nilai-nilai organisasi. Dalam hal ini komitmen yang
dimaksudkan bukan sekedar setia semata akan tetapi lebih dari itu. Hal ini
diperkuat oleh pendapat Reichers Robbins (dalam Roslina, 2010) yang
menyatakan bahwa komitmen pada organisasi adalah suatu bentuk keterdekatan
yang bersifat psikologis antara anggota dengan organisasinya.
Komitmen seseorang terhadap organisasi tidak muncul dalam seketika,
melainkan muncul melalui beberapa tahap atau fase. Meyer dan Allen (1990),
menyatakan bahwa salahsatu aspek komitmen adalah komitmen berkelanjutan.
Adapun komitmen berkelanjutan yaitu keadaan dimana karyawan terus berada
dalam organisasi karena adanya pertimbangan biaya. Biaya merupakan
kompensasi finansial yang diterima oleh karyawan sebagai balas jasa dari
pekerjaan yang telah dilakukannya. Artinya, salah satu faktor penting yang
mendorong seorang karyawan memiliki komitmen terhadap perusahaan adalah
kompensasi atau balas jasa.
Amstrong dan Murlis (2003) membagi kompensasi menjadi dua jenis,
yaitu finansial maupun nonfinansial. Kompensasi dalam bentuk finansial berupa
gaji/upah, tunjangan, bonus dan juga kepemilikan saham perusahaan bagi
karyawan. Sedangkan kompensasi non finansial meliputi kesehatan dan keamanan
karyawan.
Persepsi karyawan terhadap keadilan kompensasi merupakan persepsi
terhadap perbandingan yang adil antara segala bentuk imbalan baik finansial
maupun non finansial yang diterima karyawan sebagai bagian dari hubungan
karyawan dengan organisasi yang disesuaikan dengan sumbangan yang telah
diberikan karyawan terhadap organisasi. Dengan kata lain, persepsi terhadap
keadilan kompensasi sesuatu yang melalui proses penilaian yang dilakukan
karyawan terhadap keseimbangan apa yang telah diberikannya kepada organisasi
dengan apa yang telah ia terima dari organisasi. Persepsi yang baik terhadap
keadilan kompensasi akan menumbuhkan komitmen karyawan pada organisasi.
Komitmen karyawan terhadap organisasi juga tidak terlepas dari
bagaimana peran seorang dalam menumbuhkan komitmen karyawan. Secara
teoritis Greenberg dan baron (Dalam Basalamah, 2004), menyatakan bahwa
pemimpin dengan gayanya, tindakan – tindakannya dan efektifitasnya mampu
mempengaruhi bawahan dan organisasinya. Hal ini dapat dikaitkan juga dengan
pendapat dari Mitzburgh (dalam Luthan, 2006), yaitu salah satu peran
kepemimpinan yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah peran
sebagai pemimpin (leader) . Peran sebagai leader adalah peran seorang pemimpin
menjalankan perannya dengan menggunakan pengaruhnya untuk memotivasi dan
mendorong karyawannya untuk mencapai tujuan organisasi, sehingga dapat
diartikan bahwa pemimpin memiliki peran untuk menumbuhkan keiginan
karyawan untuk dapat menerima nilai-nilai organisasi. Adapun menurut Allen dan
Mayer (1990), salah satu komponen pembentuk komitmen adalah aspek kelekatan
afektif karyawan terhadap perusahaan tempatnya bekerja. Seorang karyawan
dikatakan memiliki kelekatan afektif dengan organisasi tempatnya bekerja bila
yang bersangkutan bersedia untuk menerima nilai-nilai yang dianut oleh
organisasi, memiliki kemauan untuk berusaha keras demi kemajuan organisasi,
dan memiliki keinginan untuk tetap berada dalam organisasi.
Menurut Timpe (2005), peran kepemimpinan akan efektif bila pemimpin
menyadari apa yang dikehendaki pengikut dan apa yang mereka takuti, sehingga
karyawan bergairah melaksanakan permintaan dari pimpinan mereka dan
berusaha semaksimal mungkin. Karyawan akan melaksanakan apa yang diminta
oleh pimpinan serta berusaha untuk memenuhi sasaran dari pemimpin mereka
dalam upaya pencapaian tujuan organisasi. Tujuan organisasi akan tercapai bila
karyawan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi. Dengan demikian,
maka peran kepemimpinan akan efektif bila pemimpin mampu menumbuhkan
komitmen karyawan pada organisasi
Hubungan Peran Kepemimpinan Dengan Komitmen Karyawan PadaOrganisasi
Kepemimpinan tidak sama artinya dengan manager, kepemimpinan adalah
suatu kemampuan yang lebih tinggi. Pemimpin adalah orang yang menentukan
kemana arah bisnis, arah tujuan internal maupun eksternal, dan menyelaraskan
aset dan keterampilan organisasi dengan kesempatan dan resiko yang dihadapkan
oleh lingkungan. (Timpe, 2005).
Peran pemimpin sangat penting bagi organisasi, dimana pemimpin adalah
yang menentukan arah bisnis, arah tujuan internal maupun tujuan eksternal, dan
menyelaraskan aset dan keterampilan organisasi dengan kesempatan dan resiko
yang dihadapkan pada lingkungan (Timpe, 2005).
Menurut Mitzburgh (dalam Luthan, 2006), salah satu peran kepemimpinan
yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah peran sebagai pemimpin
(leader) . Peran ini adalah peran seorang pemimpin dalam menggunakan
pengaruhnya terhadap karyawan untuk membangkitkan semangat kerja serta
menumbuhkan komitmen karyawan pada organisasi agar dapat mencapai tujuan
dari organisasi.
Dougherty dan Hardy (dalam Retnaningsih, 2007) menyatakan bahwa
level tinggi keterlibatan peran akan dikaitkan dengan level tinggi komitmen peran
diantara para manajer dengan tanggung jawab implementasi akan meningkatkan
kinerja. Peningkatan kinerja merupakan indikasi akan adanya komitmen karyawan
yang tinggi terhadap organisasi. Artinya, besarnya peran kepemimpinan akan
mempengaruhi tingkat komitmen karyawan pada organisasi
Hubungan Persepsi Keadilan Kompensasi Dengan Komitmen KaryawanPada Organisasi
Keadilan kompensasi adalah faktor penting yang mempengaruhi
bagaimana dan mengapa organisasi bekerja pada suatu organisasi dan bukan pada
organisasi lainnya. Organisasi harus cukup kompetitif dengan beberapa jenis
keadilan kompensasi untuk mempekerjakan, mempertahankan dan memberikan
imbalan terhadap kinerja setiap individu. (Retnaningsih , 2007).
Persepsi keadilan kompensasi karyawan merujuk pada semua bentuk
pandangan suatu karyawan terhadap kesesuaian imbalan yang diterima dari
pekerjaan mereka. Keadilan kompensasi menjadi salah satu aspek yang patut
diperhatikan oleh organisasi. Dengan adanya persepsi terhadap keadilan
kompensasi yang sesuai dengan prestasi kerja karyawan maka diharapkan bahwa
karyawan akan merasa puas, sehingga karyawan menjadi lebih berkomitmen dan
berkonsentrasi terhadap keberhasilan dan kemajuan organisasi.
Menurut Allen dan Mayer (1990), salah satu aspek dalam komitmen
karyawan terhadap organisasi adalah komitmen berkelanjutan, yaitu keadaan
dimana karyawan terus berada dalam organisasi karena adanya pertimbangan
biaya. Dari pengertian diatas, dapat diartikan bahwa kompensasi memiliki
pengaruh terhadap komitmen organisasi dari karyawan
Tipe-Tipe Kepemimpinan
Ada tiga gaya kepemimpinan yang diperagakan oleh Bill Woods (dalam
Timpe, 2005), yaitu :
a. Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik
mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai
karakteritik yang negatif.
Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah
seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan
sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
a. Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain
dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai
harkat dan martabat mereka
b. Pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa
mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para
bawahannya.
c. Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara
lain:
a. Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
b. Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
c. Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
d. Menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh
bawahan.
b. Tipe Demokratik
Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku
koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa
sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak
bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan. Pemimpin tipe ini juga
melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya,
memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan
martabat manusia Dan pemimpin tipe ini adalah seorang pemimpin yang disegani
bukannya ditakuti.
c. Kendali Bebas
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan
lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang
yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-
sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-
masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.
Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah :
a. Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
b. Pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih
rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang
nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung.
c. Status quo organisasional tidak terganggu
d. Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir dan bertindah yang
inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan
sendiri.
e. Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan
prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada
pada tingkat yang minimum.
Pendapat diatas menjelaskan tentang tiga tipe kepemimpinan, yaitu tipe
otokratik, tipe demokratik dan tipe kendali bebas. Dimana ketiga tipe
kepemimpinan tersebut memiliki masing – masing kelebihan dan kelemahan
tersendiri
Kriteria Seorang Pemimpin
Meskipun menurut Collons mengenai riset tentang kepemimpinan tidak
mengungkapkan satu sifat tunggal yang dimiliki semua pemimpin yang berhasil,
tetapi sejumlah ciri yang umum dimiliki oleh banyak diantara mereka, telah
diidentifikasikan (dalam Timpe, 2005).
DeGaulle (dalam Timpe, 2005), Sifat yang berguna bagi pemimpin yang
dapat dipertimbangkan adalah :
a. Kemampuan Untuk Berkomunikasi
Kemamapuan untuk memberikan dan menerima informasi merupakan
keharusan bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang bekerja
dengan menggunakan bantuan orang lain, karena itu pemberian perintah,
penyampaian informasi kepada orang lain mutlak perlu dikuasai.
b. Kemampuan untuk memecahkan persoalan
Kemampuan untuk memecahkan persoalan dari mereka yang dipimpin,
atau membantu dalam pemecahan persoalan mereka, merupakan ciri lain dari
pemimpin yang efektif.
c. Kesadaran akan kebutuhan
Pemimpin yang efektif mengerti akan kebutuhan dari mereka yang
dipimpinnya, baik yang dinyatakan maupun tidak, dan ia tau bagaimana
memuaskannya.
d. Keluwesan
Pemimpin yang luwes mampu menyesuaikan organisasi untuk
mengahadapi kebutuhan yang berubah tanpa terlalu banyak meresahkan mereka
yang dipimpin.
e. Kecerdasan
Pemimpin yang efektif tidak perlu seorang yang jenius, tetapi anggota
kelompok merasa bahwa pemimpin memiliki kemampuan untuk membantu
mereka memenuhi kebutuhan pribadi.
f. Kesediaan Menerima Tanggung Jawab
Apabila seseorang pemimpin menerima kewajiban untuk mencapai suatu
tujuan, berarti ia bersedia untuk bertanggung jawab kepada pimpinannya atas apa-
apa yang dilakukan bawahanya. Disini pemimpin harus mampu mengatasi
bawahanya, mengatasi tekanan kelompok informal, bahkan kalau perlu juga harus
serikat buruh .Hampir semua pemipin merasa bahwa pekerjaan lebih banyak
menghabiskan energi daripada jabatan bukan pimpinan
g. Keterampilan Sosial
Tidak merendahkan anggota kelompok dihadapan anggota yang lainnya.
Pemimpin yang bijaksana, diplomatis dan mampu berhubungan dengan kelompok
dihargai anggota kelompok, sebab perilaku tersebut mempengaruhi performanya.
h. Kesadaran Akan Diri dan Lingkungan
Pandangan ke dalam diri, mengerti dengan penuh pengertian, dan
kesadaran yang peka terhadap lingkungannya menjadikan dirinya pemimpin yang
efektif.
Pendapat diatas menjelaskan mengenai sejumlah ciri yang umum dimiliki
oleh pemimpin yang berhasil, yaitu : kemampuan untuk berkomunikasi,
kemampuan untuk memecahkan persoalan, kesadaran akan kebutuhan, keluwesan,
kecerdasan, kesediaan menerima tanggung jawab, keterampilan sosial dan
kesadaran akan diri dan lingkungan, meskipun riset tentang kepemimpinan
tersebut tidak mengunkapkan satu sifat tunggal yang dimiliki semua pemimpin
yang berhasil
Kriteria Seorang Pemimpin
Meskipun menurut Collons mengenai riset tentang kepemimpinan tidak
mengungkapkan satu sifat tunggal yang dimiliki semua pemimpin yang berhasil,
tetapi sejumlah ciri yang umum dimiliki oleh banyak diantara mereka, telah
diidentifikasikan (dalam Timpe, 2005).
DeGaulle (dalam Timpe, 2005), Sifat yang berguna bagi pemimpin yang
dapat dipertimbangkan adalah :
a. Kemampuan Untuk Berkomunikasi
Kemamapuan untuk memberikan dan menerima informasi merupakan
keharusan bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang bekerja
dengan menggunakan bantuan orang lain, karena itu pemberian perintah,
penyampaian informasi kepada orang lain mutlak perlu dikuasai.
b. Kemampuan untuk memecahkan persoalan
Kemampuan untuk memecahkan persoalan dari mereka yang dipimpin,
atau membantu dalam pemecahan persoalan mereka, merupakan ciri lain dari
pemimpin yang efektif.
c. Kesadaran akan kebutuhan
Pemimpin yang efektif mengerti akan kebutuhan dari mereka yang
dipimpinnya, baik yang dinyatakan maupun tidak, dan ia tau bagaimana
memuaskannya.
d. Keluwesan
Pemimpin yang luwes mampu menyesuaikan organisasi untuk
mengahadapi kebutuhan yang berubah tanpa terlalu banyak meresahkan mereka
yang dipimpin.
e. Kecerdasan
Pemimpin yang efektif tidak perlu seorang yang jenius, tetapi anggota
kelompok merasa bahwa pemimpin memiliki kemampuan untuk membantu
mereka memenuhi kebutuhan pribadi.
f. Kesediaan Menerima Tanggung Jawab
Apabila seseorang pemimpin menerima kewajiban untuk mencapai suatu
tujuan, berarti ia bersedia untuk bertanggung jawab kepada pimpinannya atas apa-
apa yang dilakukan bawahanya. Disini pemimpin harus mampu mengatasi
bawahanya, mengatasi tekanan kelompok informal, bahkan kalau perlu juga harus
serikat buruh .Hampir semua pemipin merasa bahwa pekerjaan lebih banyak
menghabiskan energi daripada jabatan bukan pimpinan
g. Keterampilan Sosial
Tidak merendahkan anggota kelompok dihadapan anggota yang lainnya.
Pemimpin yang bijaksana, diplomatis dan mampu berhubungan dengan kelompok
dihargai anggota kelompok, sebab perilaku tersebut mempengaruhi performanya.
h. Kesadaran Akan Diri dan Lingkungan
Pandangan ke dalam diri, mengerti dengan penuh pengertian, dan
kesadaran yang peka terhadap lingkungannya menjadikan dirinya pemimpin yang
efektif.
Pendapat diatas menjelaskan mengenai sejumlah ciri yang umum dimiliki
oleh pemimpin yang berhasil, yaitu : kemampuan untuk berkomunikasi,
kemampuan untuk memecahkan persoalan, kesadaran akan kebutuhan, keluwesan,
kecerdasan, kesediaan menerima tanggung jawab, keterampilan sosial dan
kesadaran akan diri dan lingkungan, meskipun riset tentang kepemimpinan
tersebut tidak mengunkapkan satu sifat tunggal yang dimiliki semua pemimpin
yang berhasil
Peran Kepemimpinan
Secara teoritis Greenberg dan Baron (dalam Basalamah, 2004),
menyatakan bahwa pemimpin dengan gayanya, tindakan – tindakannya dan
efektifitasnya mampu mempengaruhi bawahan dan organisasinya. Akan tetapi,
penelitian menunjukkan bahwa kadang – kadang pemimpin pengaruhnya sangat
kecil. Lebih lanjut dijelaskan alasan mengapa pemimpin mempunyai pengaruh
ataupun peran yang kecil terhadap organisasi, yaitu :
a. Karena pemimpin tersebut memang lemah dan tidak cocok untuk pekerjaan
yang harus diembannya
b. Dalam kondisi tertentu faktor – faktor lain dapat mensubstitusi pengaruh
pemimpin tersebut atau menetralisir pengaruh yang ditimbulkan oleh
pemimpin tersebut.
Henry Mitzburgh (dalam Luthan, 2006), berdasarkan studi observasi yang
dilakukan secara langsung, membagi tiga jenis peran pemimpin, yaitu :
- Peran Interpersonal (The Interpersonal Roles)
Peran ini dapat ditingkatkan melalui jabatan formal yang dimiliki oleh
seorang pemimpin dan antara pemimpin dengan orang lain. Peran interpersonal
terbagi menjadi 3, yaitu :
a. Sebagai Simbol Organisasi (Figurehead). Kegiatan yang dilakukan dalam
menjalankan peran sebagai simbol organisasi umumnya bersifat resmi, seperti
menjamu makan siang pelanggan.
b. Sebagai Pemimpin (Leader). Seorang pemimpin menjalankan perannya dengan
menggunakan pengaruhnya untuk memotivasi dan mendorong karyawannya
untuk mencapai tujuan organisasi.
c. Sebagai Penghubung (Liaison). Seorang pemimpin juga berperan sebagai
penghubung dengan orang diluar lingkungannya, disamping ia juga harus dapat
berperan sebagai penghubung antara manajer dalam berbagai level dengan
bawahannya. - Peran Informasional (The Informational Roles)
Seringkali pemimpin harus menghabiskan banyak waktu dalam urusan
menerima dan menyebarkan informasi. Ada tiga peran pemimpin disini.
a. Sebagai Pemantau (Monitor). Untuk mendapatkan informasi yang valid,
pemimpin harus melakukan pengamatan dan pemeriksaan secara kontinyu
terhadap lingkungannya, yakni terhadap bawahan, atasan, dan selalu menjalin
hubungan dengan pihak luar.
b. Sebagai Penyebar (Disseminator). Pemimpin juga harus mampu menyebarkan
informasi kepada pihak-pihak yang memerlukannya.
c. Sebagai Juru Bicara (Spokesman). Sebagai juru bicara, pemimpin berperan
untuk menyediakan informasi bagi pihak luar. - Peran Pembuat Keputusan (The Decisional Roles)
Ada empat peran pemimpin yang berkaitan dengan keputusan.
a. Sebagai Pengusaha (Entrepreneur). Pemimpin harus mampu memprakasai
pengembangan proyek dan menyusun sumberdaya yang diperlukan. Oleh
karena itu pemimpin harus memiliki sikap proaktif.
b. Sebagai Penangkal Gangguan (Disturbance Handler). Pemimpin sebagai
penghalau gangguan harus bersikap reaktif terhadap masalah dan tekanan
situasi.
c. Sebagai Pengalokasi Sumber Daya (Resource Allocator). Disini pemimpin
harus dapat memutuskan kemana saja sumber dana akan didistribusikan ke
bagian-bagian dari organisasinya. Sumber dana ini mencakup uang, waktu,
perbekalan, tenaga kerja dan reputasi.
d. Sebagai Juru Runding (Negotiator). Seorang pemimpin harus mampu
melakukan negosiasi pada setiap tingkatan, baik dengan bawahan, atasan
maupun pihak luar.
Sedangkan Anoraga et al. (dalam Mulyadi, 2013) mengemukakan bahwa
ada sembilan peranan kepemimpinan dalam organisasi, yaitu : - Pemimpin sebagai perencana
- Pemimpin sebagai pembuat kebijakan
- Pemimpin sebagai ahli
- Pemimpin sebagai pelaksana
- Pemimpin sebagai pengendali
- Pemimpin sebagai pemberi hadiah tau hukuman
- Pemimpin sebagai lambang atau simbol
- Pemimpin sebagai tempat menimpakan segal a kesalahan
- Pemimpin sebagai pengganti peran anggota lain
Daft (dalam Budiarto, 2004), mengemukakan bahwa peran kepemimpinan
adalah sebagai berikut :
a. Sebuah posisi dalam suatu struktur kelompok
b. Pemimpin sebagai peran dari serangkaian perilaku yang diharapkan
c. Pemimpin sebagai peran dari aktivitas kelompok
d. Pemimpin sebagai manusia.
Kepemimpinan mengandung unsur-unsur:
a. Adanya kemampuan mempengaruhi orang lain
b. Adanya kemampuan untuk mengarahkan tingkah laku kelompok yang
dipimpin
c. Adanya usaha pencapaian tujuan organisasi
Dougherty dan Hardy (dalam Retnaningsih, 2007) menyatakan bahwa
level tinggi keterlibatan peran akan dikaitkan dengan level tinggi komitmen peran
diantara para manajer dengan tanggung jawab implementasi akan meningkatkan
kinerja. Otonomi peran adalah sejauh mana manajer mempunyai kebebasan untuk
mengambil keputusan berarti dan secara independen menyesuaikan perilaku
dalam menjalankan peran. Otonomi peran menerangkan level tinggi
pemberdayaan dan “kehilangan” mekanisme kontrol manajemen atas.
Signifikansi peran adalah sejauh mana peran dipandang penting utnuk
keberhasilan keseluruhan usaha implementasi. Level tinggi signifikansi peran
yang dipersepsikan akan dikaitkan dengan level tinggi komitmen peran diantara
para manajer dengan tanggung jawab implementasi (Noble dan Mokwa, dalam
Retnanigsih, 2007).
Dalam mengelola orang lain, peran pemimpin adalah meyakinkan para
pengikutnya bahwa jika karyawan meningkatkan pertambahan performa, maka
mereka akan menerima sejenis imbalan yang nyata, atau penambahan jaminan.
Sesuai dengan itu, maka dimensi dasar dari kepengikutan (orang yang dipimpin)
adalah keinginan untuk perbaikan pekerjaan, pengakuan dan keinginan terlindung
dari kegagalan. Artinya, peran kepemimpinan akan efektif bila pemimpin
menyadari apa yang dikehendaki pengikut dan apa yang mereka takuti, (Timpe,
2005)
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan tidak sama artinya dengan manager, kepemimpinan adalah
suatu kemampuan yang lebih tinggi. Pemimpin adalah orang yang menentukan
kemana arah bisnis, arah tujuan internal maupun eksternal, dan menyelaraskan
aset dan keterampilan organisasi dengan kesempatan dan resiko yang dihadapkan
oleh lingkungan. (Timpe, 2005).
Wood, et al. (dalam Budiarto, 2004) mendefinisikan kepemimpinan
sebagai pola hubungan interpersonal yang mempengaruhi individu atau kelompok
untuk menyelesaikan suatu tugas. Sementara itu Greenberg dan Baron (dalam
Budiarto, 2004) mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu proses di mana
seorang individu mempengaruhi anggota kelompok lainnya dalam pencapaian
tujuan-tujuan kelompok.
Pemimpin adalah seseorang yang mempergunakan wewenangya untuk
mengarahkan orang lain serta bertanggungjawab atas pekerjaan orang tersebut
dalam mencapai tujuan. Dimana kepemimpinan adalah gaya seorang pemimpin
mempengaruhi bawahannya, agar mau bekerjasama dan bekerja efektif sesuai
dengan perintahnya, (Hasibuan, 2005)
Menurut Terry (dalam Basalamah, 2004) kepemimpinan adalah suatu
proses mempengaruhi orang lain untuk berusaha secara sukarela mencapai tujuan
organisasi atau kelompok. Sedangkan Tannenbaum, dkk mengemukakan bahwa
kepemimpinan adalah suatu proses saling mempengaruhi antar individu, yang
dilakukan dan diarahkan melalui proses komunikasi dalam rangka pencapaian
tujuan (dalam Basalamah, 2004). Koontz dan Donnel mendefiisikan bahwa
kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mengikuti atau
melakukan usaha pencapaian tujuan bersama (dalam Basalamah, 2004).
Dari beberapa definisi diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa
kepemimpinan adalah suatu proses mengarahkan aktivitas orang lain (individu
maupun kelompok) dalam usaha mencapai suatu tujuan pada situasi tertentu
Azas Kompensasi
Hasibuan (2005), menyatakan bahwa agar dalam pelaksanaannya program
kompensasi dapat berjalan secara efektif, maka program kompensasi tersebut
harus menerapkan azas-azas kompensasi yaitu:
- Azas Adil, artinya besarnya kompensasi yang diberikan kepada karyawan
harus disesuaikan dengan prestasi kerja, jenis pekerjaan, resiko pekerjaan,
tanggung jawab, jabatan pekerjaan dan memenuhi persyaratan internal
konsisten. - Azas layak dan wajar, artinya kompensasi yang diberikan kepada karyawan
harus dapat memenuhi kebutuhannya pada tingkat normatif yang ideal.
Dari pendapat diatas, disimpulkan bahwa azas dari komensasi adalah azas
adil serta layak dan wajar. Azas adil dimaksudkan adalah kompensasi disesuaikan
dengan prestasi kerja, jenis dan resiko pekerjaan, sedangkan azas layak dan wajar
adalah kompensasi harus memenuhi kebutuhan yang layak bagi karyawan
Jenis-Jenis Kompensasi
Sikula (dalam Mangkunegara, 2005) mengemukakan bahwa proses
administrasi upah atau gaji (kadang-kadang disebut kompensasi) melibatkan
pertimbangan atau keseimbangan pertimbangan. Kompensasi merupakan sesuatu
yang dipertimbangkan sebagai suatu yang sebanding. Dalam kepegawaian, hadiah
yang bersifat uang merupakan kompensasi yang diberikan kepada pegawai
sebagai penghargaan dari pelayanan mereka. Bentuk-bentuk pemberian upah,
bentuk upah dan gaji digunakan untuk mengatur pemberian keuangan antara
majikan dan pegawainya. Pemberian upah merupakan imbalan, pembayaran untuk
pelayanan yang telah diberikan oleh pegawai.
Sangat banyak bentuk-bentuk pembayaran upah, baik yang berupa uang
(financial) maupun yang bukan berupa uang (nonfinancial). Pembayaran upah
biasanya dalam bentuk konsep pembayaran yang berarti luas daripada merupakan
ide-ide gaji dan upah yang secara normal berupa keuangan tetapi tidak suatu
dimensi yang nonfinancial.
Amstrong dan Murlis (2003), menjelaskan bahwa pemberian kompensasi
dapat dalam bentuk – bentuk sebagai berikut:
a. Kompensasi finansial
Kompensasi finansial adalah berkaitan dengan pemberian gaji dasar dan
gaji variabel serta ketentuan ketentuan mengenai tunjangan dan pensiun
karyawan. Dimana kompensasi finansial meliputi :
- Gaji pokok
- Survey gaji dan evaluasi jabatan
- Struktur gaji
- Gaji kontingen
- Tunjangan dan pensiun karyawan
- Remunerasi total
b. Kompensasi non finansial
Kompensasi non finansial memfokuskan pada kebutuhan orang untuk
mendapatkan penghargaan, berprestasi, bertanggungjawab, dan pengembangan
peluang akan promosi jabatan yang bisa berkontribusi pada peningkatan motivasi,
komitmen dan kinerja. Kompensasi non finansial dapat memiliki dampak yang
sangat besar pada motivasi dan komitmen darpada sekedar kompensasi dalam
bentuk uang. Proses imbalan nonfinansial memainkan peran penting dalam
pengembangan dan implementasi strategi imbalan keseluruhan.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa jenis – jenis kompensasi
adalah kompensasi finansial dan kompensasi non finansial. Dimana kompensasi
finansial meliputi gaji dan insentif sedangkan kompensasi non finansial seperti
penghargaan, peluang akan promosi jabatan
Komponen-Komponen Kompensasi
Setelah suatu organisasi membuat sebuah keputusan tentang pemberian
kompensasi bagi karyawannya, selanjutnya disusun sebuah program pemberian
kompensasi. Di dalam program pemberian kompensasi ini meliputi, sekurang –
kurangnya 8 komponen, antara lain sebagai berikut:
- Organisasi administrasi pemberian kompensasi
Pengorganisasian dan administrasi pemberian kompensasi ini sangat
diperlukan sekali. Sebab pemberian kompensasi bukanlah sekedar membagikan
upah atau gaji kepada karyawan saja, melainkan harus memperhitungkan
kemampuan organisasi serta produktivitas karyawan dan aspek-aspek lainnya
yang berhubungan dengan itu. - Metode pemberian kompensasi
Dalam pemberian kompensasi digunakan beberapa metode diantaranya:
a. Metode Tunggal
Metode tunggal yaitu metode yang dalam penetapan gaji pokok hanya
didasarkan atas ijazah terakhir dari pendidikan formal yang dimiliki karyawan.
b. Metode jamak
Metode jamak yaitu suatu metode yang dalam gaji pokok berdasarkan atas
beberapa pertimbangan seperti ijazah, sifat pekerjaan, pendidikan, informal. - Struktur pemberian kompensasi
Struktur pemberian kompensasi yang baik adalah menganut faham
keadilan. Setiap karyawan akan memperoleh kompensasi sesuai denagn tanggung
jawab pekerjaannya. - Program pemberian kompensasi sebagai perangsang kerja
Suatu program pemberian kompensasi bukan semata-mata didasarkan
sebagai imbalan atas pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran karyawan terhadap
organisasi, melainkan juga merupakan cara untuk merangsang dan meningkatkan
kegairahan kerja. - Tambahan sumber pendapatan bagi karyawan
Dengan program kompensasi yang baik bukan saja memperoleh upah atau
gaji yang rutin, melainkan juga memperoleh tambahan sumber pendapatan selain
upah atau gaji tersebut. - Terjaminnya sumber pendapatan dan peningkatan jumlah imbalan jasa
Setiap karyawan suatu organisasi mengharapakan bahwa kompensasi yang
diterima tidak akan menurun, dan bahkan setiap waktu akan naik. Oleh sebab itu
pemberian kompensasi harus menjamin bahwa organisasinya adalah merupakan
sumber pendapatan bagi karyawannya, dan selalu memikirkan adanya
peningkatan jumlah kompensasi. - Kompensasi bagi kelompok manajerial
Pimpinan atau atasan pada setiap organisasi adalah merupakan kelompok
yang bertanggung jawab mati hidupnya organisasi. Oleh sebab itu wajar apabila
kompensasi yang mereka terima lebih besar daripada karyawan biasa. - Prospek dimasa depan
Untuk memperhitungkan prospek yang akan datang ini perlu
memperhitungkan tiga dimensi waktu yaitu: keadaan organisasi pada waktu yang
lalu, kondisi organisasi saat ini, dan prospek masa yang akan datang.
Dari penjelasan diatas, disimpulkan bahwa komponen – komponen dalam
kompensasi meliputi : Organisasi administrasi pemberian kompensasi, metode
pemberian kompensasi, struktur pemberian kompensasi, program pemberian
kompensasi sebagai perangsang kerja, tambahan sumber pendapatan bagi
karyawan, terjaminnya sumber pendapatan dan peningkatan jumlah imbalan jasa,
kompensasi bagi kelompok manajerial, dan prospek dimasa depan
Indikator Pemberian Kompensasi
Menurut Mangkunegara (2011), beberapa indikator kompensasi, yaitu :
- Tingkat bayaran
Tingkat bayaran bisa diberikan tinggi, rata-rata, atau rendah bergantung pada
kondisi perusahaan. Artinya, tingkat pembayaran bergantung pada kemampuan
perusahaan membayar jasa pegawainya - Struktur bayaran
Struktur pembayaran berhubungan dengan rata-rata bayaran, tingkat
pembayaran, dan klasifikasi jabatan di perusahaan. - Penentuan bayaran individu
Penentuan bayaran individu perlu didasarkan pada rata-rata tingkat bayaran,
tingkat pendidikan, masa kerja, dan prestasi kerja pegawai. - Metode pembayaran
Ada dua metode pembayaran, yaitu metode pembayaran yang didasarkan pada
waktu (per jam, per hari, per minggu, per bulan). Kedua metode ini didasarkan
pada pembagian hasil. - Kontrol pembayaran
Kontrol pembayaran merupakan pengendalian secara langsung dan tidak
langsung dari biaya kerja. Pengendalian biaya merupakan faktor utama dalam
administrasi upah dan gaji. Tugas mengontrol pembayaran adalah
mengembangkan standar kompensasi dan meningkatkan fungsinya, mengukur
hasil yang bertentangan dengan standar tetap, serta meluruskan perubahan
standar pembayaran upah.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi indikator
dalam pemberian kompensasi adalah : tingkat bayaran, struktur bayaran,
penentuan bayaran individu, metode pembayaran dan kontrol pembayaran
Tujuan Kompensasi
Martoyo (dalam Nugroho, dkk, 2012) menyatakan bahwa tujuan
pemberian kompensasi adalah :
- Pemenuhan kebutuhan ekonomi karyawan atau sebagai jaminan ekonomi
bagi pegawai; - Mendorong agar pegawai lebih baik dan lebih giat;
- Menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kemajuan;
Sedangkan menurut Hasibuan (2005), tujuan pemberian kompensasi
adalah sebagai berikut : - Ikatan Kerja Sama
Dengan pemberian kompensasi terjalin ikatan kerja sama formal antara
majikan dengan karyawan. Karyawan harus mengerjakan tugas-tugasnya
dengan baik, sedangkan pengusaha/majikan wajib membayar kompensasi
sesuai dengan perjanjian yang disepakati. - Kepuasan Kerja
Dengan balas jasa, karyawan akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
fisik, status sosial, dan egoistiknya sehingga memperoleh kepuasan kerja dari
jabatannya. - Pengadaan Efektif
Jika program kompensasi ditetapkan cukup besar, pengadaan karyawan yang
qualified untuk perusahaan akan lebih mudah. - Motivasi
Jika balas jasa yang diberikan cukup besar, manajer akan mudah memotivasi
bawahannya. - Stabilitas Karyawan
Dengan program kompensasi atas prinsip adil dan layak serta eksternal
konsistensi yang kompentatif maka stabilitas karyawan lebih terjamin karena
turn-over relative kecil. - Disiplin
Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan
semakin baik. Mereka akan menyadari serta mantaati peraturan-peraturan
yang berlaku. - Pengaruh Serikat Buruh
Dengan program kompensasi yang baik pengaruh serikat buruh dapat
dihindarkan dan karyawan akan berkonsentrasi pada pekerjaannya. - Pengaruh Pemerintah
Jika program kompensasi sesuai dengan undang-undang perburuhan yang
berlaku (seperti batas upah minimum) maka intervensi pemerintah dapat
dihindarkan.
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pemberian
kompensasi adalah senagai berikut : Pemenuhan kebutuhan ekonomi karyawan
atau sebagai jaminan ekonomi bagi pegawai, mendorong agar pegawai lebih baik
dan lebih giat, Menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kemajuan. Serta
tujuan lainnya adalah sebagai berikut : sebagai ikatan kerja sama, menciptakan
kepuasan kerja, tujuan efektifitas, untuk memotivasi, menjaga stabilitas karyawan,
peningkatan disiplin, mengurangi pengaruh serikat buruh, serta menghindarkan
dari intervensi pemerintah
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kompensasi
Kebijakan atau peraturan tentang pemberian kompensasi dalam suatu
organisasi terhadap karyawan bukan sesuatu yang statis, melainkan bersifat
dinamis. Hal ini berarti bahwa ketentuan pemberian kompensasi suatu organisasi
dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu. Perubahan dalam ketentuan pemberian
kompensasi dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Hasibuan (2005) faktor-
faktor yang mempengaruhi kompensasi antara lain sebagai berikut:
- Penawaran dan Permintaan Kerja
Jika pencari kerja (penawaran) lebih banyak daripada lowongan pekerjaan
(permintaan) maka kompensasi relatif kecil. Sebaliknya jika pencari kerja
lebih sedikit daripada lowongan pekerjaan, maka kompensasi relatif semakin
besar. - Kemampuan dan Kesediaan Perusahaan
Apabila kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar semakin
baik maka tingkat kompensasi akan semakin besar. - Serikat Buruh / Organisasi Perusahaan
Apabila serikat buruhnya kuat dan berpengaruh maka tingkat kompensasi
semakin besar. Sebaliknya jika serikat buruh tidak kuat dan kurang
berpengaruh maka tingkat kompensasi relatif kecil. - Produktivitas Kerja Karyawan
Jika produktivitas kerja karyawan baik dan banyak maka kompensasi akan
semakin besar. Sebaliknya kalau produktivitas kerjanya buruk serta sedikit
maka kompensasinya kecil. - Pemerintah dengan Undang-undang dan Keppres
Pemerintah dengan undang-undang dan keppres menetapkan besarnya batas
upah/balas jasa minimum. Peraturan Pemerintah ini sangat penting supaya
pengusaha tidak sewenag-wenang menetapkan besarnya balas jasa bagi
karyawan. - Biaya Hidup / Cost Living
Apabila biaya hidup di daerah itu tinggi maka tingkat kompensasi/upah
semakin besar. Sebaliknya, jika tingkat biaya hidup di daerah itu rendah maka
tingkat upah/kompensasi relatif kecil. - Posisi Jabatan Karyawan
Karyawan yang menduduki jabatan lebih tinggi akan menerima
gaji/kompensasi lebih besar. Sebaliknya karyawan yang menduduki jabatan
yang lebih rendah akan memperoleh gaji/kompensasi yang kecil. - Pendidikan dan Pengalaman Kerja
Jika pendidikan lebih tinggi dan pengalaman kerja lebih lama maka gaji/balas
jasanya akan semakin besar, karena kecakapan serta keterampilannya lebih
baik. Sebaliknya, karyawan yang berpendidikan rendah dan pengalaman kerja
yang kurang maka tingkat gaji/kompensasinya kecil. - Kondisi Perekonomian Nasional
Apabila kondisi perekonomian nasional sedang maju (boom) maka tingkat
upah/kompensasi akan semakin besar, karena akan mendekati kondisi full
employment. Sebaliknya jika kondisi perekonomian kurang maju (depresi)
maka tingkat upah rendah, karena terdapat banyak penganggur (disqueshed
unemployment). - Jenis dan Sifat Pekerjaan
Kalau jenis dan sifat pekerjaan yang sulit dan mempunyai resiko (finansial,
keselamatan) yang besar maka tingkat upah/balas jasanya semakin besar
karena membutuhkan kecakapan serta ketelititan untuk mengerjakannya.
Tetapi jika jenis dab sifat pekerjaannya mudah dan resiko (finansial,
kecelakaannya) kecil, tingkat upah/balas jasanya relatif rendah.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kompensasi menurut,
Megginson (dalam Mangkunegara, 2011) adalah sebagai berikut: - Faktor Pemerintah
Peraturan pemerintah yang berhubungan dengan penentuan standar gaji
minimal, pajak penghasilan, penetapan harga bahan baku, biaya transportasi,
inflasi maupun devaluasi sangat mempengaruhi perusahaan dalam
menentukan pemberian kompensasi karyawan. - Penawaran Bersama antara Perusahaan dan Karyawan
Dalam menentukan kompensasi dapat dipengaruhi pula pada saat terjadinya
tawar menawar mengenai besarnya upah yang harus diberikan oleh
perusahaan kepada karyawannya. - Standard dan Biaya Hidup Karyawan
Dalam pemberian kompensasi perlu mempertimbangkan standar dan biaya
hidup minimal karyawan. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar dan rasa
aman karyawan akan memunkinkan karyawan dapat bekerja dengan penuh
motivasi untuk mencapai tujuan perusahaan. - Ukuran Perbandingan Upah
Dalam menentukan kompensasi dipengaruhi pula oleh ukuran besar kecilnya
perusahaan, tingkat pendidikan karyawan, masa kerja karyawan. Artinya,
perbandingan tingkat upah karyawan perlu memperhatikan tingkat
pendidikan, masa kerja, dan ukuran perusahaan. - Permintaan dan Persediaan
Dalam menentukan kompensasi karyawan perlu mempertimbangkan tingkat
persediaan dan permintaan pasar. Artinya, kondisi pasar saat itu perlu
dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan tingkat upah karyawan. - Kemampuan Membayar
Dalam menentukan kompensasi karyawan perlu didasarkan pada kemampuan
perusahaan dalam membayar upah karyawan. Artinya, jangan sampai
menentukan kebijakan kompensasi diluar batas kemampuan yang ada pada
perusahaan
Pengertian Persepsi Keadilan Kompensasi
Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang
langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa
yang diberikan kepada perusahaan (Hasibuan, 2005). Sedangkan menurut Sirkula
(dalam Mangkunegara, 2011) Kompensasi merupakan sesuatu yang
dipertimbangkan sebagai suatu yang sebanding sebagai pembayaran untuk
pelayanan yang telah diberikan karyawan.
Menurut Mangkunegara (2011) kompensasi merupakan hal yang sangat
berpengaruh terhadap motivasi, kepuasan dan hasil kerja karyawan, sebab itu
kompensasi yang diberikan perusahaan harus mempertimbangkan standar
kehidupan normal dari karyawan.
Sependapat dengan Mangkunegara, Retnaningsih (2007) mengemukakan
bahwa keadilan kompensasi adalah faktor penting yang mempengaruhi
bagaimana dan mengapa organisasi bekerja pada suatu organisasi dan bukan pada
organisasi lainnya. Organisasi harus cukup kompetitif dengan beberapa jenis
keadilan kompensasi untuk mempekerjakan, mempertahankan dan memberikan
imbalan terhadap kinerja setiap individu. Biaya keadilan kompensasi merupakan
biaya signifikan dalam kebanyakan organisasi. Meskipun biaya keadilan
kompensasi relatif mudah dihitung, nilai yang didapat pengusaha dan karyawan
lebih sulit diidentifikasikan untuk mengadministrasikan biaya-biaya ini secara
bijaksana maka perlu ada kerja sama antara sumber daya manusia dan para
manajer.
Persepsi keadilan kompensasi karyawan merujuk pada semua bentuk
pandangan suatu karyawan terhadap kesesuaian imbalan yang diterima dari
pekerjaan mereka. Keadilan kompensasi mempunyai dua komponen yaitu:
pembayaran keuangan langsung (dalam bentuk upah, gaji, insentif, komisi dan
bonus) dan pembayaran yang tidak langsung (dalam bentuk tunjangan keuangan
seperti asuransi dan uang liburan yang diberikan organisasi atau atasan). Keadilan
kompensasi pada prinsipnya adalah sama akan tetapi bagi karyawan yang
prestasinya beda maka akan memperoleh keadilan kompensasi yang berbeda pula
tergantung pada prestasi kerja mereka. Ada kalanya karyawan mendapatkan
insentif atau bonus karena prestasi kerja mereka, meskipun banyak sekali jenis
insentif tetapi yang paling umum adalah bonus (Suhartini, 1999).
Menurut Suhartini (1999) ada tiga macam keadilan dalam keadilan
kompensasi yaitu keadilan individu, keadilan internal dan keadilan eksternal.
Keadilan individu mengacu pada perasaan keadilan yang dirasakan karyawan
dalam menerima keadilan kompensasi, sedangkan keadilan prosedural mengacu
pada perasaan keadilan atas cara/alat yang digunakan untuk menentukan keadilan
kompensasi yang diterima. Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa keadilan
internal dapat digunakan untuk memprediksi kepuasan karyawan dalam menerima
gaji secara internal. Sedangkan keadilan eksternal dapat digunakan untuk
mengetahui kepuasan karyawan juga untuk mengevaluasi manajemen dan juga
konflik yang dirasakan karyawan atas keadilan kompensasi berdasarkan
perbandingan keadlian kompensasi organisasi pesaing
Pengertian Persepsi
Menurut Goerge dan Jones (dalam Basalamah, 2004), persepsi adalah
suatu proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan dan
menginterpretasikan masukan melalui panca indera (mata, telinga, kulit, hidung
dan lidah) untuk memberikan arti dan tatanan bagi dunia sekelilingnya.
Sedangkan Robbins berpendapat bahwa persepsi adalah proses dimana
individu mengorganisasikan dan menginterpretasikan pemahaman indera mereka
guna memberikan arti bagi lingkungan mereka (dalam Basalamah, 2004).
Kedua definisi diatas memilki kesamaan dalam menyatakan persepsi
sebagai suatu proses mengorganisasikan dan mengimplementasikan sesuatu yang
diperoleh panca indera. Yang artinya adalah dari penglihatan mata, perasaan kulit
atau lidah, penciuman hidung, atau pendengaran telinga seseorang memperoleh
data tertentu yang selanjutnya akan diorganisasikan dan diinterpretasikan di dalam
proses tersebut.
Kemp dan Dayton (dalam Prawiradilaga, 2004) menyatakan bahwa
persepsi merupakan suatu proses dimana seseorang menyadari keberadaan
lingkungannya serta dunia yang mengelilinginya. Persepsi terjadi karena setiap
manusia memiliki indra untuk menyerap objek-objek serta kejadian disekitarnya.
Pada akhirnya persepsi dapat mempengaruhi cara berfikir, bekerja, serta bersikap
pada diri seseorang. Hal ini terjadi karena orang tersebut dalam mencerna
informasi dari lingkungannya berhasil melakukan adaptasi sikap, pemikiran, atau
prilaku terhadap informasi tersebut
Menciptakan dan Menumbuhkan Komitmen Karyawan Terhadap Organisasi
Menurut Martin dan Nicholas (dalam Amstrong, 2003) ada 3 pilar besar
dalam komitmen. Ketiga pilar itu, meliputi : a sense of belonging to the
organization; a sense of excitement in the job; dan pentingnya rasa memiliki
(ownership).
a. A sense of belonging to the organization
Untuk mencapai rasa memiliki tersebut, maka salah satu pihak dalam
manajemen harus mampu membuat karyawan: 1) mampu mengidentifikasikan
dirinya terhadap organisasi; 2) merasa yakin bahwa apa yang dilakukannya /
pekerjaannya adalah berharga bagi organisasi tersebut; 3) merasa nyaman
dengan organisasi tersebut; 4) merasa mendapat dukungan yang penuh dari
organisasi dalam bentuk misi yang jelas (apa yang direncanakan untuk
dilakukan); nilai-nilai yang ada (apa yang diyakini sebagai hal yang penting
oleh manajemen) dan norma-norma yang berlaku (cara-cara berperilaku yang
bisa diterima oleh organisasi).
b. Perasaan bergairah terhadap pekerjaan (a sense of excitement in the job)
Perasaan bergairah terhadap pekerjaan (a sense of excitement in the job)
Perasaan seperti ini bisa dimunculkan dengan cara: 1) mengenali faktor faktor
motivasi intrinsik dalam mengatur desain pekerjaan (job design); 2) kualitas
kepemimpinan; 3) kemauan manajer dan supervisor untuk mengenali bahwa
motivasi dan komitmen karyawan bisa meningkat jika ada perhatian terus
menerus, memberi delegasi atas wewenang, serta memberi kesempatan serta
ruang yang cukup bagi karyawan untuk menggunakan ketrampilan dan
keahliannya secara maksimal
c. Pentingnya rasa memiliki (ownership)
Rasa memiliki bisa muncul jika karyawan merasa bahwa mereka benar-benar
diterima menjadi bagian atau kunci penting dari organisasi. Konsep penting
dari ownership akan meluas dalam bentuk partisipasi dalam membuat
keputusan-keputusan dan mengubah praktik kerja, yang pada akhirnya akan
mempengaruhi keterlibatan karyawan. Jika karyawan merasa dilibatkan dalam
membuat keputusan-keputusan dan jika karyawan merasa ide-idenya didengar
dan jika karyawan merasa memberi kontribusi yang ada pada hasil yang
dicapai, maka karyawan akan cenderung menerima keputusan-keputusan atau
perubahan yang dilakukan. Hal ini dikarenakan karyawan merasa dilibatkan,
bukan karena dipaksa.
Ada lima faktor kunci untuk mengembangkan komitmen karyawan pada
organisasi yang dijabarkan Susatyo (dalam Fajariyanti, 2002) berdasarkan riset
yang bertajuk Asian Employe Report 2001 yang perlu diperhatikan pengelola
organisasi :
- Fairness at work
Apakah karyawan diperlukan secara fair oleh organisasi? Unsur yang harus
diperhatikan: penilaian kinerja dilakukan secara adil, peraturan organisasi
memihak secara seimbang baik terhadap karyawan maupun organisasi,
implementasi peraturan organisasi dilakukan secara adil dan merata, gaji
diberikan sesuai kontribusi karyawan - Trusted in the job
Apakah karyawan dipercaya dalam pekerjannya? Faktor ini mencakup :
dipercaya menggunakan dan menguasai asset organisasi untuk tujuan yang
tepat, didorong mencoba cara dan metode baru dalam melakukan pekerjaan,
mengatur waktu sendiri dalam bekerja, diberi keleluasaan membuat
keputusan, dipercaya mengetahui informasi (terbatas) mengenai organisasi. - Availability of the right resources
Apakah karyawan diberikan sumber daya yang memadai untuk dapat bekerja
dengan baik? Faktor ini menggambarkan tersedianya peralatan dan
perlengkapan kerja, pelatihan dan peluang pengembangan diri, tersedianya
waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan, jumlah personel yang
memadai untuk merampungkan pekerjaan. - Genuine care and concern for employee
Apakah organisasi memperlihatkan perhatian dan kepedulian yang tulus
terhadap kondisi karyawan? Faktor ini dijabarkan atas kepedulian terhadap
perasaan karyawan dalam bekerja di organisasi, tunjangan keluarga, organisasi
memikirkan karir jangka panjang karyawan, umpan balik mengenai kinerja,
organisasi membantu bila kebutuhan mendesak. - Having a well – defined job
Apakah karyawan memiliki pekerjaan yang terdefinisi dengan jelas? Unsur-
unsur yang dapat menjelaskan faktor ini adalah deskripsi kerja yang jelas,
target jangka pendek yang gamblang, tidak ada perintah yang simpang siur,
hasil yang diharapkan atasan harus jelas
Perkembangan Pendekatan Terhadap Komitmen Pada Organisasi
Dalam perkembangannya, konsep komitmen pada organisasi didefinisikan
dan diukur dengan berbagai cara yang berbeda. Pendekatan – pendekatan teoritis
yang utama, muncul dari riset sebelumnya atas komitmen, yaitu :
a. Pendekatan Sikap (Attitudinal Approach).
Komitmen menurut pendekatan ini menunjuk pada permasalahan
keterlibatan dan loyalitas. Menurut pendekatan ini, “Commitment is viewed as on
attitude of attachment to the organization, which leads to particular job – related
behaviors “ (Muthuveloo dan Rose, 2005).
Menurut pendekatan ini, komitmen dipandang sebagai suatu sikap
keterikatan kepada organisasi, yang berperan penting pada pekerjaan tertentu dan
perilaku yang terkait. Sebagai contoh, karyawan yang memiliki komitmen tinggi,
akan rendah tingkat absensinya, dan lebih kecil kemungkinannya untuk
meninggalkan organisasi dengan sukarela, dibandingkan dengan lebih karyawan
yang memiliki komitmen rendah. Konsep komitmen pada organisasi dar
Mowday, Porter, dan Steers (dalam Luthans, 2006), merupakan pendekatan
sikap; dimana, Komitmen didefinisikan sebagai :
- Keinginan yang kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu ;
- Keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi;
- Keyakinan tertentu dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi.
Karyawan yang memiliki komitmen tinggi merasakan adanya loyalitas dan rasa
memiliki organisasi; memiliki keinginan kuat untuk tetap bergabung dengan
organisasi; terlibat sungguh-sungguh dalam pekerjaannya; dan menampilkan
tingkah laku yang sesuai dengan tujuan organisasi.
b. Pendekatan Perilaku (Behavioral Approach)
Pendekatan ini menitikberatkan pandangan bahwa investasi karyawan
(berupa waktu, pertemanan, pension, dan lain-lain) membuat ia terikat untuk loyal
terhadap organisasi. Dalam pendekatan ini, komitmen pada organisasi
didefinisikan sebagai : profit associated with continued participation and a cost’
associated with leaving”. Menurut White (dalam Armstrong, 2003), komitmen
pada organisasi terdiri dari tiga area keyakinan ataupun perilaku yang ditampilkan
oleh karyawan terhadap organisasi , yaitu :
a. Keyakinan dan penerimaan terhadap organisasi, tujuan dan nilai – nlai yang
ada di organisasi tersebut.
b. Adanya keinginan untuk berusaha sebaik mungkin sesuai dengan keinginan
organisasi. Hal ini tercakup diantaranya menunda waktu libur untuk
kepentingan organisasi dan bentuk pengorbanan yang lain tanpa
mengharapkan personal gain secepatnya.
c. Keyakinan untuk mempertahankan keanggotaannya di organisasi tersebut
Matieu dan Zajack (dalam Muchinsky, 1993) menyatakan bahwa seseorang
yang terlalu berkomitmen pada organisasi akan cenderung berkurang
pengembangan dirinya (Self Development); dan bila komitmen mencerminkan
identifikasi dan keterlibatan dalam organisasi, maka organisasi akan mendapat
keuntungan dengan berkurangnya turnover, adanya prestasi yang lebih bai
Aspek-Aspek Komitmen Karyawan Pada Organisasi.
Komitmen seseorang terhadap organisasi tidak muncul dalam seketika,
melainkan muncul melalui beberapa tahap atau fase. Meyer dan Allen (1990),
menemukan bahwa komitmen pada organisasi memiliki tiga aspek yaitu :
a. Komitmen Afektif
Salah satu komponen pembentuk komponen adalah aspek kelekatan afektif
karyawan terhadap perusahaan tempatnya bekerja. Seorang karyawan dikatakan
memiliki kelekatan afektif dengan organisasi tempatnya bekerja bila yang
bersangkutan bersedia untuk menerima nilai-nilai yang dianut oleh organisasi,
memiliki kemauan untuk berusaha keras demi kemajuan organisasi, dan memiliki
keinginan untuk tetap berada dalam organisasi. Selanjutnya, kelekatan afektif ini
disebut sebagai komitmen afektif.
b. Komitmen Keberlanjutan
Aspek kedua ini adalah persepsi mengenai biaya. Hal ini merupakan suatu
keadaan dimana seorang karyawan terus berada dalam organisasi karena adanya
pertimbangan biaya yang ia rasakan bila ia berhenti bekerja pada organisasi
tersebut.
c. Komitmen Normatif
Aspek kewajiban merupakan sebuah kondisi dimana karyawan tetap
bertahan pada perusahaan karena merasa harus memenuhi kewajibannya terhadap
organisasi. Jewel dan Siegall (1998) mempunyai pendapat bahwa keterikatan
terhadap organisasi sebagai sifat hubungan antara individu dengan organisasi.
Menurut tokoh tersebut ada tiga aspek keterikatan terhadap organisasi, yaitu
a. Adanya kepercayaan dan penerimaan yang begitu kuat terhadap nilai dan
tujuan organisasi.
b. Adanya kemauan untuk bekerja keras bagi kepentingan organisasi
c. Mempunyai keinginan yang kuat menjadi anggota organisasi
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Karyawan PadaOrganisasi
Faktor penentu komitmen karyawan pada organisasi dapat berasal dari
kondisi internal karyawan maupun kondisi eksternal yang berasal dari organisasi.
Kedua penentu ini berpengaruh besar dalam menciptakan komitmen pada
organisasi (Budiarto, 2004).
Menurut Luthans (dalam Budiarto, 2004), faktor penentu komitmen pada
organisasi adalah variabel-variabel (umur, masa jabatan dalam organisasi, dan
kecenderungan afeksifitas positif atau negatif, atau kontrol (internal dan eksternal)
dan organisasi (desain kerja dan gaya kepemimpinan supervisor). Selain itu,
komitmen karyawan terhadap organisasi juga ditandai dengan sikap-sikap
emosional yang timbul dengan adanya lokus internal dan eksternal. Lokus internal
berasal dari dalam diri seseorang dengan merasa bahwa mereka dapat
mengendalikan sendiri kondisi mereka, dan lokus eksternal menganggap adanya
hal di luar diri yang menentukan kondisi hidup mereka, seperti misalnya sesuatu
yang berasal dari organisasi, kebijakan organisasi, sikap kepemimpinan
organisasi, kontrol dari atasan.
Greenberg dan Baron (dalam Basalamah, 2004) berpendapat bahwa
komitmen terhadap organisasi ditimbulkan atau diakibatkan oleh beberapa faktor,
antara lain sebagai berikut :
a. Beberapa aspek dari pekerjaan itu sendiri. Menurut penelitian, tingkat
komitmen akan semakin tinggi apabila seorang karyawan merasakan hal – hal
sebagai berikut
- Tanggung jawab dan otonomi yang berkaitan dengan suatu pekerjaan
tertentu yang dirasakan tinggi - Pekerjaan kurang repetitif
- Pekerjaannya lebih penting.
Sebaliknya, apabila kemungkinan promosi adalah sedikit serta apabila
pekerjaan tersebut meimbulkan kekhawatiran dan tidak jelas, maka komitmen
terhadap organisasi tersebut cenderung rendah.
b. Adanya kesempatan kerja lainnya, artinya apabila karyawan merasa ada
banyak kesempatan untuk bekerja di tempat lain dan alternatif tersebut
dianggap layak, maka komitmen karyawan terhadap organisasi cenderung
rendah.
c. Karakteristik individual dari karyawan yang bersangkutan. Karyawan yang
berusia lanjut, serta puas dengan tingkat kinerja mereka cenderung memiliki
komitmen yang tinggi terhadap organisasi mereka.
d. Beberapa faktor yang berkaitan dengan lingkungan kerja secara keseluruhan
seperti : penyelia, penilaian, kesejahteraan, kepemilikan terhadap saham
organisasi yang bersangkutan dan sebagainya.
Sedangkan Steven dkk (dalam Sunarto, 2010) menjelaskan ada tiga faktor
yang dapat mempengaruhi komitmen pada organisasi, yaitu
a. Atribut-atribut personal (personal atributs), seperti usia individu, jenis
kelamin, pendidikan
b. Faktor organisasional (organizational factors), seperti besar kecilnya
organisasi dan sentralisasi otonomi.
c. Faktor-faktor yang berkaitan dengan peran (role-related factor), seperti beban
pekerjaan dan ketrampilan bawahan.
Steers dan Porter (dalam Sunarto, 2010) mengemukakan tentang empat
atribut personal komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:
a. Usia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa semakin lanjut usia
seseorang maka akan semakin memiliki komitmen terhadap organisasinya. Hal ini
tentu saja berkaitan dengan kehidupan individu itu sendiri, dengan bertambahnya
usia seseorang maka semakin banyak pula pengalaman yang diterimanya,
termasuk kegagalan-kegagalan dan keberhasilan-keberhasilan, juga berbagai
macam tantangan dapat lebih bijaksana dan hati-hati dalam mengambil suatu
keputusan termasuk pilihan terhadap pekerjaannya, bahwa organisasi tempatnya
bekerja saat ini adalah sesuatu yang terbaik bagi dirinya.
b. Masa kerja. Semakin lama masa kerja seseorang akan semakin tinggi
komitmen organisasinya. Karyawan yang sudah lama bekerja, sudah terbiasa
dengan kondisi dan iklim organisasinya, ia akan merasa menjadi bagian dari
organisasi tersebut setelah melalui bertahun-tahun bekerja di organisasinya.
Apabila mengalami hambatan atau tekanan-tekanan, maka karyawan dengan masa
kerja yang lebih lama akan lebih kuat bertahan dibandingkan karyawan baru yang
belum banyak terlibat dalam organisasinya.
c. Motif berprestasi. Semakin tinggi motif berprestasi seseorang akan
semakin terikat terhadap organisasi. Dijelaskan oleh Robinowitz dan Hall (dalam
Sunarto, 2010) bahwa salah satu faktor yang menentukan komitmen seseorang
adalah adanya harapan yang besar pada pekerjaannya, kebanggaan pada
organisasi dan adanya ambisi umum serta adanya keinginan untuk mobilitas ke
atas.
d. Tingkat pendidikan. Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan
yang tinggi akan lebih cepat menguasai bidangnya. Strauss dan Sayless (dalam
Sunarto, 2010) menyatakan bahwa pekerjaan yang mudah dan sederhana dapat
terselesaikan secara otomotis tanpa berpikir lagi yang berarti untuk berhasil
menyelesaikan tanpa membutuhkan perencanaan, analisis maupun penguasaan
teori sehingga karyawan yang berpendidikan tinggi biasanya lebih banyak
menuntut pada diri sendiri maupun pada pihak organisasi
Pengertian Komitmen Karyawan Pada Organisasi
Menurut Robbin (dalam Budiarto, 2004), Komitmen pada organisasi
merupakan derajat sejauh mana seorang karyawan memihak pada suatu organisasi
tertentu dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam
organisasi itu. Sedangkan menurut Newstrom dan Davis (dalam Budiarto, 2004),
komitmen karyawan merupakan keinginan karyawan untuk tetap bertahan bekerja
pada organisasi sampai masa yang akan datang. Hal tersebut menggambarkan
kepercayaan karyawan pada misi dan tujuan organisasi, keinginan untuk
berprestasi dan tetap bekerja pada organisasi. Komitmen karyawan menjadi hal
penting bagi sebuah organisasi dalam menciptakan kelangsungan organisasinya.
Komitmen karyawan terhadap organisasi menunjukkan hasrat karyawan
untuk tetap tinggal dan bekerja serta mengabdikan diri bagi organisasi. Komitmen
karyawan juga merefleksikan sejauh mana seorang karyawan mengidentifikasikan
dirinya pada organisasi, keterlibatan karyawan pada organisasi, dan keinginan
untuk tidak meninggalkan organisasi (Newstrom dan Davis dalam Budiarto,
2004).
Menurut Logman Dictionary of Contemporary English (dalam Roslina,
2010) komitmen mempunyai empat arti yaitu : (1) komitmen adalah sebuah janji;
(2) komitmen berarti tanggung jawab; (3) komitmen berarti komitmen kepada
sistem berpikir dan aksi; (4) komitmen juga berarti tindakan komited. Robbins
(dalam Roslina, 2010) mengemukakan pengertian komitmen adalah suatu keadaan
dimana seorang karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-
tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi itu. Sedangkan
Sutarto (dalam Sunarto, 2010) mengemukakan organisasi adalah suatu unit sosial
atau sekelompok manusia yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan, karena
di dalam organisasi akan terjadi interaksi antar person, baik di antara bawahan
dengan atasan atau sebaliknya
Staw (dalam Roslina, 2010) memberikan pendapat bahwa komitmen
organisasi merupakan suatu pemahaman khusus dari individu sebagai ikatan
psikologis pada organisasi termasuk rasa terlibat dengan pekerjaan, komitmen dan
percaya akan nilai-nilai organisasi. Dalam hal ini komitmen yang dimaksudkan
bukan sekedar setia semata akan tetapi lebih dari itu. Hal ini diperkuat oleh
pendapat Robbins (dalam Roslina, 2010) yang menyatakan bahwa komitmen pada
organisasi adalah suatu bentuk keterdekatan yang bersifat psikologis antara
anggota dengan organisasinya
Hubungan Self-Efficacy dengan komitmen karyawan
Setiap individu mempunyai prinsip dan tujuan hidupnya masing-masing,
tidak banyak karyawan yang memiliki komitmen dalam pekerjaan yang sudah
dijalaninya, bila komitmen karyawan rendah tidak dapat bekerja dengan baik dan
memenuhi target pekerjaannya. Hasilnya pun tidak sesuai dengan apa yang sudah
atasan harapkan. Menurut Mayer & Allen (dalam Ayu, 2012:107) menyatakan
bahwa pekerja yang mempunyai kewajiban terhadap kelompok akan merasakan
identic dengan organisasinya. Menurut Robbins (2015:70) komitmen karyawan
yakni sejauhmana orang menyesuaikan pada kelompok tertentu serta pertahankan
keanggotaan ddialam kelompok.
Berdasarkan Ratnasari & Yusnita, (2018:15) Semakin tingginya efikasi diri
pada karyawan maka semakin meningkatnya kinerja karyawan. Efikasi yang tinggi
dapat ditunjukan dengan adanya pekerjaan yang cepet terselesaikan, kehadiran dan
koloyalan karyawan pada perusahaan. Menurut Bandura (1997: 42) Self-Efficacy
merupakan tingkat keyakinan atau kepercayaan sesorang terhadap kekuatan diri
(percaya diri) dalam mengerjakan dan menjalankan tugas atau pekerjaannya. Self-
efficay dapat didefinisikan sebagai keyakinan sesorang tentang kemampuannya
untuk mengarahkan sumber daya kognitif serta tindakan yang diperlukan untuk
berhasil mengerjakan pekerjaannya.
Penelitian tentang interaksi self-efficacy serta komitmen karyawan sudah
diteliti. Penelitian Argawal & Misrha (2016), Alam (2016), Arya, Sharma & Singh
(2012), & Tsai dkk (2011) menandakan bahwa masih ada interaksi positif
signifikan antara self-efficacy menggunakan komitmen karyawan. Self-efficacy
merupakan keyakian seorang tentang kemampuannya buat mengerjakan suatu
pekerjaan. Keyakinan ini mendorong seorang buat bekerja lebih ulet & membarui
suatu halangan sebagai tantangan bagi dirinya. Self-efficacy jua menciptakan
pekerja lebih gampang buat menyesuaikan diri menggunakan lingkungan & lebih
bisa mengikuti keadaan menggunakan nilai-nilai yg terdapat pada perusahaan.
Yang lalu menciptakan pekerja mempunyai kinerja yg lebih baik & mengevaluasi
sebuah instansi menggunakan baik. Sehingga karyawan yang mempunyai self-
efficacy akan cenderung buat permanen bertahan pada sebuah instansi &
menyebarkan komitmen organisasinya terhadap instansi.
Tetapi penelitian yang dilakukan Sinha, Talwar & Rajpal (2002),
menerangkan masih ada interaksi positif tetapi nir sighnifikan antara self-efficacy
menggunakan komitmen karyawan. Self effikasi hanya menaruh kontibusi pada
komitmen organisasi sebanyak 3%. Hal ini bisa terjadi lantaran karyawan yang
mempunyai self-efficacy yang tinggi nir selalu berguna untuk instansi. Terdapat
beberapa pekerjaan yang dilakukan sang pekerja yang menguntungkan bagi pekerja
sendiri tetapi tidak mengunntungkan bagi instansi. Sehingga meskipun pekerja
mempunyai self-efficacy yg tinggi tetapi hal ini nir mendukung pekerja buat
mempunyai komitmen yang tinggi juga dikarenakan cuma pekerja yang menerima
manfaat berdasarkan self-efficacy yang dipunyai tetapi instansi belum
memperolehnya
Dimensi Self-Efficacy
Menurut Bandura (dalam Ghufron, 2010:88), efikasi diri pada diri sendiri akan
beda antar individu dengan individu lain berlandaskan 3 dimensi yakni:
a. Tingkat (Level), Dimensi ini berhubungan atas taraf kesusahan kewajiban
saat pribadi merasakan bisa buat menjalankannya. Bila pribadi ditemukan
terhadap kewajiban-kewajiban yang ditata taraf kesusahannya, sehinga
efikasi diri pribadi bisa jadi terrbatas atas kewajiban-kewajiban yang
mudah, sedang, ataupun sangat sulit, sama dengan batasan keahliannya
yang dirasa buat mencukupi permintaan perilaku yang diperlukan atas
masng-masing taraf. Dimensi ini mempunyai implikasi pada penentuan
kelakuan yang merasa bisa dikerjakannya serta menghindar kelakuan yang
berada diluar batasan keahlian yang dirasakannya.
b. Kekuatan (strength), Dimensi ini berhubungan atas taraf kuatan dari
kemampuan ataupun harapan pribadi tentang keahliannya. Harapan yang
lebihmudah dipengaruhi oleh pengetahuan-pengetahuan yang bukan
mendorong. Baliknya, harapan yang tinggi mendukung pribadi terus tinggal
didalam upayanya. Namun bisa jadi ditemui pengetahuan yang kurang
mendukung. Dimensi ini biasa berhubungan langsung pada dimensi level,
yakni semakin tinggi level tingkat kesusahan kewajiban, semakin rendah
kepercayaan yang dirasa buat membereskannya.
c. Generalisasi (geneality), Dimensi ini berhubungan pada besar wujud
perilaku yang dimana pribadi merasakan percaya akan keahliannya. Pribadi
bisa merasakan percaya pada keahlian diri sendiri.
Gibson, dkk (dalam Wibowo, 2013: 161) berpendapat bahwa
efikasi diri memiliki 3 aspek-aspek yakni:
a. Magnitude merupakan tingkat kesulitan tugas yang diyakini seseorang
dapat dijangkau.
b. Strength menunjukkan pada pendirian berdasar besaran sebagai kuat atau
lemah.
c. Gaenerality menunjukkn tingkatan dimana harapan digeneralisir disemua
situasi.
Berdasarkan Ivancevich, konopaske, dan Matteson (dalam Fattah, 2017:56)
efikasi diri terdiri dari 3 aspek yakni:
a. Magnitude (besarnya), mengacu pada kesulitan tugas yang diyakini dapat
ditangani oleh individu
b. Strength (kekuatan), mengacu pada keyakinan yang berhubungan dengan
besarnya efikasi diri (self-efficacy)
c. Generality (generalitas), menunjukan berapa luas situasi dimana keyakinan
terhadap kemampuan tersebut berlaku
Pengertian Self-Efficacy
Berdasarkan Bandura (dalam Feist & Roberts, 2017:517) mendefinisikan self-
efficacy yakni kepercayaan seorang didalam keahliannya buat menjalankan sebuah
wujud control pada peran individu serta kejadiian didalam lingkungan. Menurut
Bandura (1994:2) pula menjelaskan Self-Efficacy untuk penentuan memotivasi diri
sendiri, berfikir, individu merasa, serta perilaku.
Efikasi diri yakni sesuatu wujud pemahaman untuk diri ataupun self
knowwledge yang sangat pengaruh didalam kebiasaan seharian. Yang mana
diakibatkan efikasi diri yang dipunyai turut memengaruhi orang didalam memilih
langkah yang mau dilakukan untuk mewujudkan sesuatu target termasuk
didalamnya kiraan bermacam peristiwa yang nantinya ditemui. Efikasi diri yaitu
kepercayaan yang mana seorang dapat mengusai keadaan serta memperoleh
hasilyang positif. Menurut Alwisol (2014:287) menjelaskan efikasi diri hubungan
atas kepercayaan yang mana diri sendiri mempunyai keahlian menjalankan
langkah yang diinginkan seperti halnya bisa ataupun tidak bisa mengerjakan tugas
sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan Hidayat (2011:156) efikasi diri yakni penilitian terhadap
kemampuan sendiri buat mengaturkan serta menjalankan langkah yang
dibutuhkan buat menggapai kerja yang sudah tetapkan. Menurut Aliftulahtin
(2014:12) menyatakan bahwa self-efficacy yakni kepercayaan seorang mengenal
peluang buat melakukan tugasnya yang sesuai.
Menurut Alwisol (2009:287), menjelaskan bahwa efikasi diri yakni persepsi
diri tentang berapa baik diri bisa berguna didalam keadaan trtentu, efikasi diri
hubungan atas kepercayaan yang mana diri mempunyai keahlian menjalankan
sesuatu yang diinginkan. Pendapat Alwisol (2009:288) efikasi diri bisa didapat,
diganti, ditinggikan ataupun direndahkan, dengan komposisi 4 sumber, yaitu
pengetahuan mengusai suatu kinerja, persuasi sosial, pengetahuan vikarius serta
bangkitan. Pengetahuan performansi yakni prestasi yang sudah diperoleh pada
waktu yang lampau. Pengetahuan vikarius didapat dengan model sosial. Persuasi
sosial yakni kepercayaan pada memberi persuasi, serta sifat realistik atas yang
dipersusikan.
Menurut Woolfolk (dalam Anwar, 2009:23) bahwa self efficacy yakni
pengukuran seorang pada diri sendiri ataupun taraf kepercayaan tentang berapa
tinggi keahliannya didalam menjalankan sebuah kewajiban buat menggapai hasil
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Karyawan
Menurut Steers (dalam Sunarto, 2005:20) menjelaskan 3 faktor yang
memengaruhi komitmen seseorang karyawan yakni:
a. Ciri pribadi pekerja, termasuk pula waktu jabatannya pada kelompok serta
variasi keperluan serta harapan yang tidak sinkron atas setiap pekerja.
b. Ciri pekerjaan, misalnya: bukti diri kewajiban serta peluang berkomunikasi
pada teman kerja.
c. Pengalaman kerja, misalnya: keteladanan kelompok diwaktu lalu serta cara
para karyawan yang lain membicarakan serta menjelaskan perasaan terkait
kelompok.
Menurut Minner (dalam Sopiah, 2008:165) menjelaskan 4 factor yang
memengaruhi komitmen karyawan yakni
a. Faktor personal, seperti pengalaman kerja, jenis kelamin, usia, pendidikan
serta kepribadian.
b. Karakteristik pekerjaan, seperti konflik peran, tantangan tugas, lingkup
jabatan, taraf kesusahan didalam tugas.
c. Karakteristik struktur, seperti kehadiran serikat pekerjaan, ukuran
kelompok, wujud kelompok, serta taraf pengawasan yang dijalankan
kelompok pada pekerja.
d. Pengalaman kerja, pengalaman kerjaan seseorang pekerja sangatlah
pengaruh pada taraf komitmen karyawan terhadap kelompok. Pekerja yang
hanya beberapa masa kerja serta pekerja yang telah lama kerja didalam
kelompok pasti mempunyai taraf komitmen yang berbeda.
Menurut Steers dan Poter (dalam Sopiah, 2008:164) menjelaskan sebagian
factor yang memengaruhi komitmen karyawan terhadap kelompok yakni:
a. Faktor Personal seperti: job choice factors,psychological contract,
karakteristik personal, job expectations. Keseluruhan faktor ini akan
membentuk faktor awal.
b. Faktor Organisasi seperti: supervision, job scope, goal consistency
organizational, inittial work experience. Segala factor ini akan
membentukkan serta memperlihatkan tanggungjawab.
c. Non-Organizational Factors seperti:avaibility of alternative jobs. Yakni
factor yang tidak berawal atas didalam kelompok.
Berdasarkan Allen dan Mayer (Dalam Fauzan, 2022:168) beberapa factor
memengaruhi komitmen karyawan yakni:
a. Kompetensi
b. efikasi diri
c. motivasi kerja
Aspek-Aspek Komitmen Karyawan
Menurut Kaswan (2017:225-226) tingkat komitmen karyawan rata-rata
berdasarkan aspek, adalah:
a. Komitmen afektif, memperlihatkan kuatnya kemauan emosional pekerja
buat menyesuaikan diri menggunakan nilai – nilai yang terdapat supaya visi
serta kemauannya buat permanen pada kelompok bisa tercapai.
b. Komitmen berkelanjutan, yakni komitmen yang dilandasi atas ke
khawatiran seseorang pada kehilangan sesuatu yang sudah didapat semasa
ini didalam kelompok, misalnya fasilitas, gaji, serta lainnya.
c. Komitmen normatif, memperlihatkan tanggungjawab moral pekerja buat
terus berada didalam kelompok.
Menurut Mayer dan Allen (dalam Sutrisno, 2010: 292-293) aspek-aspek
yang mungkin menentukan komitmen adalah :
a. Affective commitment, Komitmen keterikatan secara psikologis dengan
kelompok berlandaskan seberapa baik perasaan tentang kelompok.
Komitmen pada jenis ini ada serta berkembang atas dukungan adanya
keamanan, kenyamanan, serta kegunaan lainnya yang dijalani pada sebuah
kelompok yang belum didapatnya atas tempat ataupun kelompok lainnya.
Semakin nyaman serta besar manfaatnya yang didapatkan untuk anggota,
meningkat komitmen seseorang didalam kelompok yang dipilih. Sebagai
biaya yang harus diterima apabila keluar ataupun meninggalkan kelompok
serta komitmen menjadi wajib buat tetap didalam kelompok.
b. Continuance commitment, menjadi keterikatan anggota secara psikologis
dalam kelompok dikarenakan biaya yangg ditanggung menjadi dampak
meninggalkan kelompok. Didalam kaitan dengan ini peserta akan
menghitung kegunaan serta pengorbann atas keikutsertaan pada ataupun
sebagai peserta sebuah kelompok. Peserta akan lebih mempunyai daya
tahan ataupun komitmen yang besar didalam kepesertaan apabila
pengorbaanan dampak meninggalkan kelompok semakin besar.
c. Normative commitment, keterikatan anggota secara psikologis pada
kelompok dikarenakan kewajiban moral buat memelihara interaksi pada
kelompok. Didalam hubungan ini suatu yang mendukung pesar buat terus
tinggal serta menaruh sumbangan dalam eksistensi sebuah kelompok, baik
non materi ataupun materi, yakni dengan adanya kewajiban moral, yang
mana seorang akan merasakan kurang nyaman serta bersalah bila belum
menjalankan hal.
Menurut Allen dan Mayer (dalam Anwar, 2013:714) menjelaskan dari
3 aspek-aspek yang berhubungan atas kondisi psikologi:
a. Komitmen afektif, yakni keterkaitan emosional positif pekerja pada
kelompok lokasi bekerja. Komitmen afektif yakni elemen ingin ataupun
kemauan. Para pegawai yang secara afektif menghubungkan kuat dirinya
atas visi kelompok diidentifikasikan dirinya untuk visi- visi kelompok serta
berkeinginan buat selalu jadi bagian kelompok. Mereka mengingatkan diri
atas kelompok dikarenakan mau mengikat diri pada kelompok.
b. Komitmen berkelanjutan, yaitu elemen keperluan ataupun memperoleh
dengan kehiilangan bekerja didalam kelompok. Invesmen yakni mendapati
kehilanggan keanggotaan organisasi.
c. Komitmen normatif, yakni seseorang individu terus bekerja serta jadi
kelompok dikarenakan perasan kewajiiban moral. Perasaan ini bermula atas
sebuah ancaman pada individu setelah serta sebelum jadi peserta kelompok.
d. Komitmen antara, jika komitmen kelompok berkelanjutan, afektif, normatif
relatif bersifatkan tetap didalam kewajiban ataupun bisa disebutkan sebagai
batu loncatan seorang jadi bagian ataupun bekerja buat sebuah kelompok
sejak awal hari jadi bagian sebuah kelompok keinginannya hanya
bersifatkan sementara
Pengertian Komitmen Karyawan
Kaitan sekelompok organisasi dengan organisasinya menjadikan komitmen
sebagai konstruk psikologis, serta anggotanya ketika dalam berorganisasi
menjadikan implikasi sebagai suatu ketetapan seseorang untuk melanjutkannya.
Menurut Handoko (2008:44) Komitmen karyawan yakni strata dimana
seseorang karyawan mengidentifikasi diri menggunakan instansi serta tujuan-
tujuannya serta berkemauan buat menjaga kepesertaannya didalam instansi.
Komitmen karyawan didorong menggunakan syarat lingkungan kerja yg adil
buat pekerja, meningkat pekerja dihargai, meningkat pula komitmen karyawan
dalam instansi.
Berdasarkan Robbins (2015:70) komitmen karyawan yakni sejauh mana
orang menyesuaikan dengan kelompok tertentu serta menjaga anggotanya
didalam kelompok. Pendapat Lincoln (Sopiah, 2008:155) komitmen karyawan
meliputi kesenangan, kesetiaan serta kemauan peserta atas kelompok.
Sementara itu menurut Blau & Boal (Sopiah, 2008:155) menjelaskan komitmen
selaku berpihak serta keloyalan pekerja pada kelompok serta visi kelompok.
Menurut Mowday (Sopiah, 2008:156) menjelaskan Komitmen menjadi
dimensi konduite krusial yang bisa dipakai buat mengukur kesamaan karyawan
buat bertahan menjadi bagian kelompok serta bersedia berupaya keras atas
pencapaian visi kelompok. Komitmen karyawan berlandaskan Kepmenpan
Nomor: 25/KEP/M. PAN/04/2002 yakni keyakinan hati, memiliki ambisi yang
besar serta janji guna membereskan kewajiban.
Menurut Wibowo (2012:371) Komitmen karyawan yakni perasaan
penyesuaian, loyal serta keikutsertaan yang diperlihatkan pada karyawan untuk
kelompok ataupun elemen kelompok. Komitmen karyawan pada kelompok
melibat 3 sikap yakni: (1) perasaan penyesuaian atas visi kelompok, (2)
perasaan keikutsertaan didalam kewajiban kelompok, (3) perasaan loyal buat
kelompok. Menurut Luthans (2006:249) menjelaskan komitmen kerap kali
diartikan sebagai kemauan yang kuat guna tetap menjadi anggota kelompok
tertentu, semangat guna berupaya keras sesuai kemauan kelompok, serta
kepercayaan tertentu, perolehan nilai serta tujuan kelompok. Menurut Yuwono,
dkk (2005: 134) berpendapat bahwa komitmen karyawan ditandai melalui
bentuk loyal serta penyesuaian pada kelompok. Komitmen atas kelompok
bukan cuma terkait atas keloyalan pekerja untuk organisasi yang bersifat positif,
namun serta menyertakan relasi yang aktif terhadap kelompok, yang mana
pekerja kesanggupan atas keinginan sendiri guna mengasihkan semua sesuatu
yang ada dalam diri buat membanntu mewujudkan visi serta perkembangan
kelompok.
Menurut Kaswan (2017: 216) komitmen karyawan yakni sikap kerja
didalam bentuk loyal, dedikasi, kemauan, keinginan, serta keyakinan yang
tinggi untuk memperlihatkan kemauan tetap jadi elemen bagian kelompok
dengan mau mendapat nilai serta visi kelompok, serta bekerja untuk keperluan
kelompok. Pendapat Griffin (2004:15) komitmen yakni perilaku yang
menggambarkan sejauh mana seseorang pribadi memahami serta terikat untuk
kelompoknya. Pekerja yang merasaa lebih komitmen atas kelompok
mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang dapat dipercaya, berniat buat lebih lama
tinggal didalam kelompok
Dimensi-Dimensi Kepuasan Kerja
Luthans (2006) membagi dimensi kepuasan kerja dalam lima
dimensi yang mempengaruhi kepuasan kerja yaitu pekerjaan itu sendiri,
gaji, promosi, pengawasan, kelompok kerja. Kemudian Luthan (2006)
juga menambahkan kondisi kerja sebagai dimensi kepuasan kerja.
- Pekerjaan itu sendiri
Kepuasan kerja itu sendiri merupakan sumber utama kepuasan.
Penelitian terbaru menemukan bahwa karakteristik pekerjaan dan
kompleksitas menghubungkan antara kepribadian dan kepuasan kerja,
dan jika persyaratan kreativitas pekerjaan karyawan terpenuhi, maka
cendrung menjadi puas. - Gaji
Upah dan gaji dikenal menjadi signifikan, tetapi kompleks secara
kognitif dan merupakan faktor multidimensi dalam kepuasan
kerja.Uang tidak hanya untuk membantu orang memperoleh
kebutuhan dasar, tetapi juga alat untuk memberikan kepuasan pada
tingkat yang lebih tinggi. Karyawan melihat gaji sebagai refleksi dari
bagaimana manajemen memandang kontribusi mereka terhadap
perusahaan. - Promosi
Kesempatan promosi sepertinya memiliki pengaruh yang berbeda pada
kepuasan kerja. Hal ini dikarenakan promosi memiliki sejumlah
bentuk yang berbeda dan memiliki penghargaan.Misalnya, individu
yang dipromosikan atas dasar senioritas sering mengalami kepuasan
kerja tetapi tidak sebanyak orang yang dipromosikan atas dasar
kinerja. - Pengawasan
Pengawasan (supervisi) merupakan sumber penting lain dari kepuasan
kerja. Dua dimensi gaya pengawasan yang mempengaruhi kepuasan
kerja. Pertama adalah bepusat pada karyawan, diukur menurut tingkat
dimana penyelia menggunakan ketertarikan personal dan peduli pada
keryawan. Hal ini dimanifestasikan dalam cara-cara seperti meneliti
seberapa baik kerja karyawan, memberikan nasihat dan bantuan pada
individu, dan berkomunikasi dengan rekan kerja secara personal
maupun dalam konteks pekerjaan. Dimensi lain yaitu partisipasi atau
pengaruh, seperti diilustrasikan oleh manajer yangf memungkinkan
orang untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang
mempengaruhi pekerjaan mereka. - Kelompok kerja
Sifat alami dari kelompok atau tim kerja akan mempengaruhi
kepuasan kerja. Pada umumnya, rekan kerja atau anggota tim yang
kooperatif merupakan sumber kepuasan kerja yang paling sederhana
pada keryawan secara individu. Kelompok kerja terutama tim yang
kuat, bertindak sebagai sumber dukungan, kenyamanan, nasihat, dan
bantuan pada anggota individu. - Kondisi kerja
Kondisi kerja memiliki pengaruh kecil tehadap kepuasan kerja. Jika
kondisi kerja bagus (misalnya lingkungan bersih dan menarik)
individu akan lebih mudah menyelesaikan pekerjaan mereka.
Sebaliknya, kondisi kerja yang buruk akan membuat individu sulit
menyelesaikan pekerjaannya. Dengan kata lain, efek lingkungan kerja
sama halnya dengan efek kelompok kerja kita.
