Pengertian Media Sosial


Menurut Antony Mayfield (2008) yang memberikan gagasannya berupa
definisi media sosial, bahwa media sosial adalah media yang penggunaannya
mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan peran, khususnya blog, jejaring
sosial, wiki/ensiklopedia online, forum-forum maya, termasuk virtual world
(dengan karakter 3D). Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein media
sosial adalah sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membanguun
diatas dasar ideologi dan teknologi web 2.0 dan yang memungkinkan
penciptanya dan pertukaran user generated content. Menurut Lisa Buyer media
sosial merupakan bentuk hubungan masyarakat yang paling transparan
menarik dan interaktif saat ini. Media sosial merupakan salah satu aplikasi
yang digunakan untuk berbagi sebuah informasi gambar, video, teks dan audio
satu dengan yang lain yang dapat dilakukan dengan muda

Influencer


Influencer berasal dari kata “influencer” yang berarti mempengaruhi, dalam
bahasa Indonesia influencer diartikan sebagai seseorang yang memiliki pengaruh
atau mampu mempengaruhi seseorang. Seorang influencer merupakan seorang
individu yang aktif di berbagai platform media sosial dengan pengikut yang
banyak (Sugiarto Maulana et al., 2021). Para influencer merupakan mereka yang
dipercaya dan digemari oleh sebagian masyarakat, dari apapun yang dipakai dan
dilakukan akan selalu menjadi fokus banyak orang.
Dalam dunia pemasaran, influencer menjadi bagian dari strategi promosi
yang efektif. perusahaan juga memanfaatkan kekuatan personal branding para
influencer untuk menjangkau target pasar secara lebih organik. kolaborasi yang
dilakukan seperti endorsement, paid promote, hingga brand ambassador. Menurut
Hariyanti & Wirapraja 2018 Influencer merupakan individu yang aktif di media
sosial dan memiliki jumlah pengikut yang cukup signifikan. Keberadaan mereka
memungkinkan pesan yang disampaikan melalui platform digital dapat
mengetahui perilaku, opini, bahkan keputusan dari para pengikutnya. Influencer
tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, namun juga berfungsi sebagai
panutan atau role model yang memiliki kekuatan untuk membentuk pola pikir dan
gaya hidup audiens.
Klasifikasi influencer berdasarkan jumlah pengikut. Klasifikasi ini
membantu dalam menentukan strategi pemasaran yang tepat, tergantung pada
tingkat jangkauan san kedekataan influencer terhadap audiensnya Menurut Ellora
(2019) influencer berdasarkan jumlah followers secara umum dibagi menjadi 4,
yaitu:

  1. Nano influencer merupakan individu yang memiliki jumlah pengikut
    sekitar 500 hingga 1.000 orang. meskipun jangkauannya terbatas nano
    influencer cenderung memiliki hubungan yang lebih personal dan
    interaktif dengan para pengikutnya. Kedekatan ini memungkinkan pesan
    yang disampaikan lebih mudah diterima dan memiliki tingkat kepercayaan
    yang tinggi.
    16
  2. Micro Influencer memiliki pengikut berkisar antara 1.000 hingga 100.000
    orang. Mereka umumnya memiliki keahlian atau minat pada bidang
    tertentu, seperti kecantikan, kuliner, atau parenting. Micro influencer
    sering dianggap lebih autentik dan terpercaya karena konten ynay yang
    bersifat niche dan sesuai dengan minat audiensnya.
  3. Macro Influencer adalah individu dengan julan pengikutnya antara
    100.000 hingga 1 juta orang.Mereka biasanya sudah memiliki pengalaman
    profesional dalam menghasilkan konten digital dan, menjadikan aktivitas
    di media sosial sebagai pekerjaan utama. influencer jenis ini memiliki
    kemampuan produksi yang tinggi serta pengaruh yang luas sehingga sering
    menjadi pilihan utama bagi merek-merek besar.
  4. Mega Influencer merupakan tokoh dengan jumlah pengikut lebih dari 1
    juta orang. Mereka umumnya berasal dari kalangan selebritis, artis, atau
    tokoh publik yang sudah memiliki popularitas sebelum terjun di media
    sosial. Mega Influencer memiliki data jangkauan yang sangat luas, namun
    interaksi personal dengan pengikut cenderung lebih rendah dengan
    dibandingkan kategori lainnya.
    2.3 Media Baru
    Dengan munculnya media baru pada saat ini menimbulkan perbedaan pada
    pola komunikasi. Adanya media baru membuat masyarakat untuk semakin mudah
    dalam melakukan komunikasi dari jarak jauh. Media baru hadir dengan
    didukungnya internet, saat ini internet menjadi kebutuhan sehari-hari manusia
    yang tidak dapat terpisahkan. Dengan adanya internet saat membantu masyarakat
    dalam mengakses segala hal seperti mencari informasi, berkomunikasi, pekerjaan,
    membeli barang, atau juga sebagai media untuk mengekspresikan. Internet juga
    memiliki manfaat yang cukup besar dalam kehidupan manusia, adanya internet
    apapun dapat terhubung dari suatu tempat ke tempat lain dengan adanya internet
    dan adanya media baru membawa dampak besar pada pola komunikasi dan pola
    hidup masyaraka

Teori Personal Branding menurut Peter Montoya


Teori utama yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah
menggunakan teori Personal Branding Menurut Peter Montoya, Teori yang
dijelaskan oleh Peter Montoya terdapat eight laws of personal branding yang
berarti delapan hukum dalam personal branding. Menurut Montoya 2014:59-
67) terdapat 8 konsep-konsep untuk pembentukan personal branding sebagai
pondasi dari personal branding yang kuat, yaitu:

  1. Spesialisasi (Specialization)
    Spesialisasi diri merupakan suatu ciri khas dari sebuah personal
    branding yang hebat ketepatan pada sebuah spesialisasi terkonsentrasi,
    hanya pada sebuah kekuatan, keahlian, atau pencapaian tertentu. Dalam
    menilai spesialisasi, dilakukan dengan berpedoman pada aspek-aspek,
    contohnya kemampuan, perilaku, gaya hidup, misi, produk, profesi dan
    layanan.
    a. Ability, dilihat dari kemampuan individu untuk memiliki visi yang
    strategik dan prinsip-prinsip awal yang baik. Dalam hal ini
    berkaitan dengan kemampuan individu dalam menyusun, dan
    memilih kata-kata secara tepat sehingga efektif dalam berbicara di
    depan umum.
    b. Behavior, yaitu menyangkut tentang perilaku individu. Seperti
    keterampilan dalam memimpin, kedermawanan, dan kemampuan
    untuk mendengarkan.
    c. Lifestyle dapat dilihat dari gaya hidup Sehari-hari yang ditampilkan
    individu.
    d. Mission, dalam hal ini dapat dilihat dari keterbukaan dari individu
    dalam menjalankan proyek-proyek ataupun kegiatan-kegiatan yang
    dilakukannya.
    e. Product, dilihat dari berbagai produk yang diunggah oleh individu,
    baik produk yang dihasilkan sendiri maupun produk-produk yang
    merupakan hasil kerjasamanya dengan berbagai brand lainnya.
    f. Profession, bisa dilihat dari pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang
    yang dibagikan di akun media sosial miliknya.
    g. Service, dilihat dari berbagai profesi yang dimiliki oleh seseorang
    untuk melakukan pelayanan terhadap masyarakat.
  2. Kepemimpinan (Leadership)
    Dalam personal branding menenkankan bahwa orang ingin di
    pandu oleh sosok yang memiliki otoritas dan keunggulan.
    Kepemimpinan dibangun melalui kemampuan untuk memberikan
    arahan yang jelas ditengah ketidakpastian, dengan begitu menunjukan
    kompetensi yang kuat dan memenuhi bahkan melebihi harpan. Dengan
    cara ini seseorang bisa mendapatkan pengakuan dan otoritas di mata
    publik.
  3. Kepribadian (Personality)
    Seorang individu yang hebat didasari pada seseorang yang
    memiliki kepribadian yang apa adanya dan menyadari
    ketidaksempurnaan, pada konsep tersebut menghilangkan beberapa
    tekanan yang terdapat konsep kepemimpinan. seseorang harus
    memiliki sebuah kepribadian yang baik, namun tidak harus sempurna.
  4. Perbedaaan (Distinctiveness)
    Personal brand yang aktif harus menampilkan sesuatu yang beda
    dari yang lainnya. Diferensiasi diperlukan supaya membedakan satu
    dan lainnya. Dalam membentuk personal branding. Selain itu dengan
    perbedaan seseorang akan lebih dikenal oleh khalayak dan bisa
    memiliki pengalaman yang lebih besar serta wawasan yang tentunya
    lebih luas.
  5. Kenampakan (Visibility)
    Seorang individu harus secara konsisten dan terus-menerus
    sampai personal branding nya dikenal dan diakui oleh khalayak. maka
    visual juga lebih penting daripada kemampuan. Dengan begitu seorang
    individu perlu mempromosikan dirinya dan menggunakan setiap
    kesempatan untuk membuat dirinya terlihat dan terkenal di khalayak.
  6. Kesatuan (Unity)
    Konsep ini menekankan konsistensi dalam setiap aspek
    kehidupan dan perilaku seseorang, kesatuan merupakan semua
    tindakan, keputusan, dan interaksi dengan orang lain harus memiliki
    nilai dan tujun yang sama untuk membangun sebuah citra yang kuat.
    Berati keeselarasan anatara apa yang seseorang katakan, lakukan dan
    tunjukan baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
  7. Keteguhan (Persistence)
    Konsep ini menyatakan bahwa membangaun personal branding
    emerluka waktu dan ketekunana. Personal branding tidak bisa terjadi
    secara langsung melainkan personal branding membutuhkan waktu
    untuk tumbuh. Dalam konsep ini penting untuk tetap fokus pada tujuan
    jangka panjang, dengan menghindari tren sesaat yang dapat
    membangun cita brand.
  8. Nama Baik (Goodwill)
    Sebuah personal branding akan memberikan hasil dan bertahan
    lebih lama jika seseorang dibelakangnya dipersepsikan dengan citra
    yang positif. Seseorang tersebut harus diasosiasikan dengan sebuah
    nilai atau ide yang diakui secara umum yang tentunya positif dan
    bermanfaat

Definisi Personal Branding


Personal branding penggabungan dari dua kata yang itu personal dan
branding, dalam bahasa Inggris personal berarti pribadi dan branding adalah
brand berarti merek atau kata brand dalam bahasa Norwegia kuno memiliki arti
merujuk pada sebuah praktik dalam memberi tanda sebuah kepemilikan pada
hewan ternak (Swasty,2016). Menurut Jeff Bezos (2019) “your brand is what
people say about you when you’re in the room” yang merupakan personal
branding dapat diartikan tentang bagaimana seseorang mempresentasikan diri
kepada orang lain dan bagaimana seseorang ingin terlihat dan dikenal oleh
masyarakat sehingga dirinya memiliki keunikan dari orang lain.
Setiap individu perlu memiliki personal branding di dalam dirinya
karena untuk digunakan dalam persaingan di dunia kerja. Dengan memiliki
sebuah citra diri atau personal branding yang kuat akan mendorong individu
dengan mudah untuk mengembanka kemampuannya untuk meningkatkan self
awareness, self esteem, self worth dan tentunya nilai positif lainnya dengan
begitu dapat menjadi pembeda dan keunikan seseorang individu dari individu
lainnya. Personal branding merupakan suatu proses pembentukan sudut
pandang masyarakat dalam aspek-aspek yang dimiliki oleh seseorang
contohnya seperti kemampuannya, kepribadiannya, dan nilai nilai yang dalam
menciptakan sebuah sudut pandang positif dari masyarakat untuk menunjang
menciptakan sebuah personal branding yang kuat. (Haroen, 2014)
Personal branding berasal dari nilai-nilai kehidupan seseorang dan
memiliki sudut pandang tinggi terhadap siapa sebenarnya diri anda. Personal
branding adalah merek pribadi anda di benak orang lain yang ada kenal.
dengan adanya personal branding akan memudahkan semua orang melihat anda
berbeda dengan orang lain dan tentunya dengan adanya keunikan tersendiri,
seperti orang akan lupa dengan wajah kita tetapi dengan adanya keunikan diri
kita akan diingat selalu oleh orang lain (Cindy Yunitasari & Edwin Japarianto,
2013). Konsisten adalah sebuah syarat utama dalam personal branding yang
kuat. Hal-hal yang tidak konsisten akan melemahkan personal branding
dimana pada akhirnya akan menghilangkan kepercayaan serta ingatan orang
lain terhadap diri anda (McNally & Speak, 2002:13).
Menurut Lair, et. all (dalam Lair, Sullivan & Cheney, 2005, 35) Personal
branding merupakan salah satu proses untuk membentuk persepsi masyarakat
terhadap diri seseorang yang dipandang sebagai merek atau brand oleh
masyarakat. Dengan begitu proses pembentukan persepsi masyarakat oleh diri
seseorang yang meliputi kepribadiannya, kemampuannya dan aspek lainnya
yang akan menciptakan persepsi positif di pemikiran masyarakat serta
digunakan sebagai alat pemasaran (McNally & Speak, 2022). Menurut Peter
Montoya (2002) dalam bukunya yang berjudul “The Personal Branding
Phenomenon” menyatakan bawah personal branding merupakan pengertian
mengenai menciptakan identitas yang ditampilkan ke publik untuk diri sendiri
sebagai sebuah proyek bisnis.
Personal branding merupakan proses membangun dan mengelola citra
dan reputasi seseorang di mata publik, menurut para ahli personal branding
melibatkan penciptaan persepsi yang positif dan tak terlupakan tentang
individu yang dapat mempengaruhi karir dan hubungan sosial mereka.
Personal branding adalah sesuatu tentang bagaimana mengambil kendari atas
penilaian orang lain terhadap anda sebelum anda bertemu langsung dengan
anda “personal branding is about taking control of how other people perceive
you before they come into direct contact with you” (Montoya & Vandehey,
2008)

Pengaruh Brand Image, Fitur, Persepsi Harga terhadapLoyalitas Pelanggan


Menurut (Fara Diba. 2018). menyatakan bahwa brand image
dan persepsi harga akan memberikan dampak yang besar pada
keberhasilan produk tersebut dalam memenangkan pelanggan, dan
pelanggan akan kembali membeli, dan akan memberitahu yang lain
tentang pengalaman baiknya dengan produk tersebut dapat
dikatakan pelanggan tersebut merasa puas. Para konsumen membeli
suatu produk bukan karena fisik produk semata-mata tetapi karena
manfaat yang ditimbulkan dari produk yang dibeli.
Menurut (Tingkir, 2014). Brand Image memiliki pengaruh
yang positif terhadap loyalitas pelanggan. Citra merek merupakan
image atau sesuatu yang melekat di benak konsumen. Semakin baik
persepsi di benak konsumen terhadap citra merek perusahaan maka
kepuasan konsumen juga akan semakin tinggi. Sebaliknya juga, jika
persepsi konsumen terhadap citra merek buruk maka kepuasan
konsumen juga akan semakin rendah.

Pengaruh Brand Image, Fitur, Persepsi Harga terhadapKepuasan Pelanggan


Merek merupakan janji penjual untuk secara konsisten
memberikan feature, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli,
bukan hanya sekedar simbol yang membedakan produk perusahaan
tertentu dengan kompetitornya (Kotler, 2005). Kotler dan Amstrong
(2008) mempunyai pendapat bahwa merek merupakan nama, istilah,
tanda, simbol, desain atau kombinasi yang ditujukan untuk
mengidentifikasi barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan
sekaligus sebagai diferensiasi produk.
Menurut Dapat juga dikatakan bahwa brand image
merupakan konsep yang diciptakan oleh konsumen karena alasan
subyektif dan emosi pribadinya. (Erna Feririanadewi, 2008).
Apabilah citra merek suatu perusahaan baik dan dikenal oleh banyak
orang konsumen akan merasa puas terhadap produk.

Loyalitas Konsumen


Loyalitas pelanggan sangat penting artinya bagi perusahaan
yang ingin menjaga kelangsungan hidup maupun keberhasilan
usahanya. Olson dalam Musanto (2004:128) menyatakan bahwa
loyalitas pelanggan merupakan dorongan perilaku untuk melakukan
pembelian secara berulang-ulang dan membangun kesetiaan
pelanggan terhadap suatu produk/ jasa yang dihasilkan oleh badan
usaha tersebut membutuhkan waktu yang lama melalui proses
pembelian yang berulang-ulang tersebut.
Fournell dalam Margaretha (2004:297) loyalitas merupakan
fungsi dari kepuasan pelanggan, rintangan pengalihan, dan keluhan
pelanggan. Pelanggan yang puas akan dapat melakukan pembelian
ulang pada waktu yang akan datang dan memberitahukan kepada
orang lain apa yang dirasakan.
Griffin (2005:223) mengemukakan keuntungan-
keuntungan yang akan diperoleh perusahaan apabila memiliki
pelanggan yang loyal antara lain:
1) Mengurangi biaya pemasaran (karena biaya untuk
menarik pelanggan baru lebih mahal).
2) Mengurangi biaya transaksi (seperti biaya negosiasi
kontrak, pemrosesan pesanan, dll.).
3) Mengurangi biaya turnover pelanggan (karena
pergantian pelanggan yang lebih sedikit).
4) Meningkatkan penjualan silang yang akan
memperbesar pangsa pasar perusahaan.
5) Word of mouth yang lebih positif dengan asumsi
bahwa pelanggan yang loyal juga berarti yang merasa
puas

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan adalah sejauh mana kinerja yang
diberikan oleh sebuah produk sepadan dengan harapan pembeli
jika kinerja produk yang dirasakan sama dengan atau lebih besar
dari harapannya maka pelanggan akan merasa lebih puas dan
sebaliknya apabila kinerja produk kurang dari yang diharapkan,
pembelinya tidak akan merasa puas (Kotler dalam Supriyono,
2008:13). sedangkan menurut Band dalam Musanto (2004:125)
kepuasan pelanggan merupakan suatu tingkatan dimana
kebutuhan, keinginan dan harapan dari pelanggan yang terpenuhi
yang akan mengakibatkan terjadinya pembelian ulang atau
kesetiaan yang berlanjut.
Wood (2009:11) manfaat-manfaat spesifik kepuasan
pelanggan bagi perusahaan mencakup:
1) Dampak positif pada loyalitas pelanggan.
2) Berpotensi menjadi sumber pendapatan masa depan
(terutama melalui pembelian ulang, cross-selling
dan up-selling).
3) Menekan biaya transaksi pelanggan di masa depan
(terutama biaya-biaya komunikasi, penjualan dan
layanan pelanggan).
4) Menekan volatilitas dan risiko berkenaan dengan
prediksi aliran kas masa depan.
5) Meningkatkan toleransi harga (terutama kesediaan
untuk membayar harga premium dan pelanggan
tidak mudah tergoda untuk beralih pemasok).
6) Rekomendasi gethok tular positif.
7) Pelanggan cenderung lebih reseptif terhadap
product-line extensions, brand extensions dan new
add-on services yang ditawarkan perusahaan.
8) Meningkatnya bargaining power relatif perusahaan
terhadap jejaring pemasok, mitra bisnis dan saluran
distribusi.

Persepsi Harga


Dalam arti sempit, harga (price) adalah jumlah yang
ditagihkan atas suatu produk baik barang maupun jasa. Lebih luas
lagi, harga adalah jumlah semua nilai yang diberikan oleh
pelanggan untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau
menggunakan suatu produk baik barang maupun jasa (Kotler,
2008). Engel (2004) mendefinisikan harga sebagai sejumlah uang
(ditambah beberapa produk) yang dibutuhkan untuk
mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.
Menurut Stanton (1994) harga adalah sejumlah nilai yang
ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau
menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh
pembeli atau penjual (melalui tawar menawar) atau ditetapkan
oleh penjual untuk suatu harga yang sama terhadap semua
pembeli.
Paul Peter dan Jerry Olson (2000) menyatakan:
“Persepsi harga berkaitan dengan bagaimana informasi harga
dipahami seluruhnya oleh konsumen dan memberikan makna
yang dalam bagi mereka.” Pada saat konsumen melakukan
evaluasi dan penelitian terhadap harga dari suatu produk sangat
dipengaruhi oleh perilaku dari konsumen itu sendiri.
Dengan demikian penilaian terhadap harga suatu
produk dikatakan mahal, murah atau biasa saja dari setiap
individu tidaklah harus sama, karena tergantung dari persepsi
individu yang dilatarbelakangi oleh lingkungan kehidupan dan
kondisi individu. Dalam pengambilan keputusan, harga memiliki
dua peranan utama, yaitu (Fandy Tjiptono, 2008).
1) Peranan alokasi, yaitu membantu para pembeli untuk
memutuskan cara terbaik dalam memperoleh manfaat
yang diharapkan sesuai dengan kemampuan daya
belinya. Dengan demikian, adanya harga dapat
membantu pembeli untuk memutuskan cara
mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis
barang atau jasa. Pembeli membandingkan harga dari
berbagai alternatif yang tersedia, kemudian
memutuskan alokasi dana yang dikehendaki.
2) Peranan informasi, yaitu “mendidik” konsumen
mengenai faktor produk yang dijual, misalnya kualitas.
Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi dimana
pembeli mengalami kesulitan untuk menilai faktor
produk atau manfaatnya secara objektif. Persepsi yang
sering berlaku adalah bahwa harga yang mahal
mencerminkan kualitas yang tinggi.
Simamora (2002) mendefinisikan persepsi adalah
“bagaimana kita melihat dunia sekitar kita” atau secara formal,
merupakan suatu proses dimana seseorang menyeleksi,
mengorganisasikan, dan menginterpretasi stimuli ke dalam suatu
gambaran dunia yang berarti dan menyeluruh. Menurut Mowen
dalam Ujang Sumarwan (2003) bahwa, “perception is the process
through which individuals are exposed to information, attend to
that information, and comprehend to it”.

Fitur


Dalam teori pemasaran fitur merupakan salah satu
elemen dari atribut produk. Fitur dapat dikatakan sebagai aspek
sekunder dari suatu produk. Fitur identik dengan sesuatu yang
unik, khas, dan istimewa yang tidak dimiliki oleh produk lainnya
(Kotler dan Armstrong, 2008).
Fitur sering diasosiasikan dengan kemanfaatan atau
fungsionalitas dari suatu produk. Menurut Dewi dan Jatra (2013)
fitur merupakan karakteristik tambahan yang dirancang untuk
menambah ketertarikan konsumen terhadap produk atau
menyempurnakan fungsi produk. Indikator yang digunakan untuk
mengukur fitur adalah sebagai berikut: kelengkapan fitur,
kebutuhan fitur, ketertarikan fitur, dan kemudahan dalam
penggunaan.
Fitur adalah sarana kompetitif untuk
mendiferensiasikan produk perusahaan dari produk pesaing.
Menjadi produsen pertama yang memperkenalkan fitur baru yang
bernilai adalah salah satu cara paling efektif untuk bersaing.
(Kotler and Armstrong 2006). Fitur merupakan karakteristik atau
fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh objek.
Berbagai produk yang serupa dapat dilihat berbeda oleh
konsumen dari perbandingan fitur di dalamnya, yaitu
perbandingan kelengkapan fitur, kecanggihan fitur atau
keistimewaan yang ditonjolkan dari satu fitur di suatu produk
dibandingkan dengan produk lain.
Fandy Tjiptono (2002) mengatakan bahwa fitur adalah
unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan
dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Fitur produk
dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli suatu
produk, karena fitur produk melekat erat pada suatu produk dan
seringkali digunakan oleh konsumen sebagai dasar dan
pertimbangan untuk memutuskan membeli atau tidak suatu
barang atau jasa yang ditawarkan.
Sebuah produk dapat ditawarkan dengan berbagai fitur.
Sebuah model awal tanpa tambahan yang menyertai produk
tersebut menjadi titik awalnya. Perusahaan dapat menciptakan
model tingkatan yang lebih tinggi dengan menambahkan
berbagai fitur. Fitur merupakan alat persaingan untuk
mengidentifikasikan produk perusahaan terhadap produk sejenis
yang menjadi pesaingnya. Menjadi produsen awal yang
mengenalkan fitur baru yang dibutuhkan dan dianggap bernilai
menjadi salah satu cara yang efektif untuk bersaing.
Sebuah produk dapat ditawarkan dalam berbagai
macam variasi. Mulai dari variasi warna, kemasan, aroma, rasa,
dan sebagainya. Definisi fitur produk menurut Kotler dan
Armstrong (2008) yaitu alat persaingan untuk membedakan
produk perusahaan terhadap produk sejenis yang menjadi
pesaingnya. Dengan berbagai fitur produk yang ditawarkan oleh
produsen, konsumen pun akan semakin terpuaskan dengan
produk-produk yang sesuai dengan kebutuhannya

Brand Image


Merek merupakan janji penjual untuk secara konsisten
memberikan feature, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli,
bukan hanya sekedar simbol yang membedakan produk perusahaan
tertentu dengan kompetitornya (Kotler, 2005). Kotler dan Amstrong
(2008) mempunyai pendapat bahwa merek merupakan nama, istilah,
tanda, simbol, desain atau kombinasi yang ditujukan untuk
mengidentifikasi barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan
sekaligus sebagai diferensiasi produk

Proses Keputusan Pembelian


Proses keputusan pembelian dilakukan apabila konsumen
menyadari suatu masalah atau kebutuhan terhadap suatu produk yang
diinginkan. Proses pembelian menggambarkan alasan mengapa
seseorang lebih menyukai, memilih dan membeli suatu produk dengan
merek tertentu. Menurut Firmansyah (2018) tahapan proses
pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahapan, yaitu
diawali dengan tahapan pengenalan kebutuhan, kemudian ke tahapan
kedua pencarian informasi dan penilaian sumber-sumber, dilanjutkan
ke tahapan ketiga evaluasi alternatif, selanjutnya ke tahapan keempat
keputusan untuk membeli, dan tahapan kelima perilaku setelah
pembelian.
Penjelasan dari lima tahap atau proses keputusan pembelian:

  1. Pengenalan masalah merupakan tahap pertama proses keputusan
    pembelian, diamana konsumen menyadari suatu masalah atau
    kebutuhan.
  2. Pencarian informasi merupakan tahap proses keputusanpembelian
    dimana konsumen ingin mencari informasi lebih banyak,
    konsumen mungkin hanya memperbesar perhatian atau melakukan
    pencarian informasi secara aktif.
  3. Evaluasi alternatif merupakan tahap proses keputusan pembeli
    dimana konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi
    merek alternatif dalam sekolompok pilihan.
  4. Keputusan pembelian merupakan keputusan pembeli tentang
    merek mana yang paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada
    antara pembelian dan keputusan pembelian
  5. Perilaku pasca pembelian merupakan tahap proses keputusan
    pembeli dimana konsumen mengambil tindakan selanjutnya
    setelah pembelian, berdasarkan kepuasan atau ke tidak puasan
    mereka

Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Tjiptono (2012) dalam Harsono (2018) faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan adalah ikatan
emosional yang terjalin antara pelanggan dan produsen setelah
pelanggan menggunakan produk dan jasa dari perusahaan dan
mendapati bahwa produk atau jasa tersebut memberi nilai tambah.
Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu:

  1. Nilai emosional, merupakan perasaan atau afektif atau emosi
    positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika
    konsumen mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat
    membeli atau menggunakan suatu merek, maka merek tersebut
    memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional
    berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang
    akan dialami konsumen pada saat membeli produk.
  2. Nilai sosial, merupakan utilitas yang didapat dari kemampuan
    produk untuk meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai
    sosial merupakan nilai yang dianut oleh suatu konsumen,
    mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk
    oleh konsumen.
  3. Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi
    biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang.
  4. Nilai fungsional, merupakan nilai yang diperoleh dari atribut
    produk yang memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada
    konsumen nilai ini berkaitan langsung dengan fungsi yang
    diberikan oleh produk atau layanan kepada konsumen.

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah sebuah pemikiran dimana individu
mengevaluasi dan memutuskan berbagai pilihan pada suatu ptoduk dari
banyak pilihan. Menurut Kotler & Amstrong (2014) keputusan pembeli
di nama kosumen benar-benar membeli.
Menurut Firmansyah (2018) keputusan pembelian merupakan
kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan individu dalam pemilihan
alternatif perilaku yang sesuai dari dua alternatif perilaku atau lebih
dan dianggap sebagai tindakan yang paling tepat dalam membeli
dengan terlebih dahulu melalui tahapan proses pengambilan keputusan.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa keputusanpembelian
adalah sebuah proses pengambilan keputusan yang diawali dengan
pengenalan masalah kemudian mengevaluasinya dan memutuskan
produk mana yang dipilih dan kemudian mengarah kepada keputusan
pembelian

Indikator Brand Image


Menurut Simamora (2011:33) ada 3 (tiga) indikator brand image,yaitu:

  1. Citra Pembuat (Corporate Image), yaitu sekumpulan asosiasiyang
    dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu
    barang atau jasa.
  2. Citra Pemakai (User Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
    dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan
    suatu barang atau jasa.
  3. Citra Produk (Product Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
    dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau jasa

Dimensi Brand Image


Menurut Kotler dan Keller (2015:97) mengemukakan 5 dimensi
brand image yaitu:

  1. Brand indentify (Identitas merek)
    Berkaitan dengan merek atau produk simbol, warna,
    packaging, tempat, identitas perusahaan, motto, dan lain sebaginya
    sehingga memudahkan kosumen dalam menegnal dan
    membedakannyadengan produk pesaing.
  2. Brand Personality (Personalitas Merek )
    Berkaitan dengan ciri khas dari sesuatu merek yang
    membangun karakter khusus seperti halnya manusia, seperti
    karekter tegas, wibawa, kaku, hangat dinamis, kreatif, murah
    senyum, insipenden, penyayang, berjiwa sosial dan lain-lain.
  3. Brand Association (Asosiasi Merek )
    Yaitu perihal spesifik yang layak atau selalu di hubungkan
    dengan merek tertentu dapat berupa penwaran menarik, kegiatan
    rutin dan kosisten seperti sponsorship, CSR, isu-isu yang sangat
    kuat terkait merek, person, simbol-simbil, dan maksud tertentu
    yang sangat melekat kuat pada produk
  4. Brand Attitude and Behavior ( Sikap dan Prilaku Merek)
    Yaitu sikap atau prilaku komunikasi dan interaksi merek
    kepada kosumen dalam menawarkan manfaat-manfaat dan nilai
    yangdimilikinya. Sikap dan prilaku meliputi sikap dan prilaku
    kosumen. Kegiatan dan atribut yang melekat pada merek ketika
    berinterkasi dengan para kosumennya.
  5. Brand Benefit and Competence (Manfaat dan Keunggulan Merek)
    Yaitu nilai nilai serta kelebihan khususnya yang dihasilkan merek
    tertentu kepada kosumen yang membuat kosumen bisa menikmati
    manfaat karena kebutuhan, keinginan, harapan dan keingninanya
    terealisasi berkat penawaran tersebut

Pengertian Brand Image


Menurut Fandy Tijiptono (2015:105) mengemukakan bahwa
image atau citra sebagai penjelasan mengenai asosiasi serta
kepercayaan kosumen mengenai suatu merek, sementara asosiasi yaitu
sifat yang melekat pada merek dan mempunyai tingkat kekuatan
tertentu. Brand image atau yang sering dikenal dengan citra merek
adalah hasil penelitian maupun pandangan baik buruknya suatu merek
oleh konsumen. sedangkan Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:328)
menjelaskan bahwasanya citra merek merupakan sekumpulan asosiasi
khusus yang hendak diwujudkan dan dijaga oleh penyedia jasa.
Asosiasi tersebut mengungkapkan merek yang sebenarnya dan apa
yang pemasar janjikan pada kosumennya. Menurut Levy dan Weitz
(2012:93) mendefinisikan citra merek (brand image) atau citra merek
merupakan sekumpulan kepercayaan, ide, dan persepsi yang dimiliki
seseorang pada merek tertentu yang bisa mempengaruhi keputusan
pembelian seseorang. Menurut Shafe, dkk (2014 :364) Brand image
atau citra merek merupakan sekumpulan persepsi mengenai merek yang
tergambar dari asosiasi merek yang terdapat pada memori konsumen

Definisi Branding


Pada bukunya “Designing Brand Identity fourth edition” Wheeler (2013)
menyatakan bahwa brand atau merek merupakan sesuatu yang dibuat oleh
perusahaan dalam menghubungkan emosional konsumen terhadap produk atau jasa
mereka. Pembuatan suatu merek yang menonjol akan membuat para konsumen
menjadi semakin percaya terhadap brand tersebut bahkan menciptkan hubungan
yang panjang dengan para konsumen (hlm. 2).
Branding merupakan sebuah proses dalam memperluas dan membangun
pengetahuan konsumen akan sebuah brand atau merek. Branding juga bertujuan
untuk mendapatkan kesetiaan pelanggan serta membuat sebuah produk atau jasa
dipilih oleh konsumen dibandingkan dengan yang lainnya. Maka dari itulah,
perusahaan memanfaatkan branding sebagai sebuah sarana dalam menjangkau
konsumen serta bersaing dengan kompetitor. (Wheeler, 2013)
Menurut Wheeler (2013) sebuah brand strategy dibentuk selaras dengan
visi, nilai, dan budaya yang dicerminkan oleh suatu perusahaan dalam memahami
kebutuhan dan persepsi konsumen. Brand strategy merupakan sebuah inti dalam
memandu pemasaran agar dapat meningkatkan penjualan serta memberikan
kejelasan mengenai produk atau jasa yang terkait. Pembuatan brand strategy dapat didefinisikan dengan positioning,
diferensiasi, keunggulan, serta value proposition dari sebuah produk atau jasa
(Wheeler, 2013). Menurut Bob Ulrich, seperti yang dikutip oleh Wheeler (2013)
menyatakan bahwa inti strategi ini yakni memberikan atau menyediakan kebutuhan
konsumen dengan desain, nilai serta inovasi yang konsisten sehingga hal tersebut
akan menjadi cerminan citra suatu perusahaan agar mendapat kepercayaan
konsume

Strategi Konten Promosi

  1. Identitas, membentuk identitas untuk mengungkapkan informasi sebagai
    gambaran umum akun tersebut. Contoh bentuk identitas dapat mencakup
    nama pengguna, biografi, dan logo.
  2. Konten, mengunggah konten-konten yang relate dengan identitas yang
    dibentuk. Pembuatan konten ini dapat berupa konten yang bersifat
    informatif, interaktif, menghibur, serta membangkitkan emosional
  3. Interaksi, dengan mengunggah konten-konten yang dapat menciptakan
    peluang bagi pengguna atau audiens untuk berinteraksi melalui like,
    comment, dan share. Hal ini memungkinkan individu dan kelompok untuk
    mengekspresikan pendapat mereka, membagikan pesan mereka, dan
    terhubung dengan orang-orang yang berpikiran sama.
  4. Relationship, membangun konten interaksi agar menjadi “terkait” bisa
    sesederhana seperti dua orang yang sebelumnya tidak dikenal saling
    mengikuti konten media sosial satu sama lain. Hal ini membutuhkan dua
    atau lebih pengguna yang membentuk semacam hubungan antara satu
    dengan yang lain dengan berbicara, berbagi minat, bertemu langsung, atau
    sekadar berteman (Kietzmann et al. 2011, 246

Personal Branding dan Jenis Personal Branding


Pada tahun 1969, Kotler dan Levy pertama kali meresmikan gagasan bahwa
seseorang dapat dijadikan sebuah merek yang dipasarkan dan dikelola. Oleh karena
itu, anggapan bahwa manusia adalah sebuah merek telah diadopsi dalam industri
pemasaran sudah sejak lama. Dalam artikel mereka, Kotler dan Levy membahas
bagaimana konsep pemasaran tradisional dapat diubah dari menjual produk
menjadi pemasaran “manusia, ideologi, dan jasa” (Kotler & Levy, 1969). Dengan
kata lain, Kotler dan Levy percaya bahwa sistem konsep pemasaran tradisional
dapat ditingkatkan dan diimplementasikan ke berbagai hal, termasuk manusia,
maka dari itu seseorang dapat disebut sebagai “produk” dan merek. Konsep ini
kemudian diterima, dievaluasi, dan dipromosikan. Pada dasarnya konsep branding
menggunakan dua gagasan utama :

  1. Branding berperan sebagai fasilitator untuk menyampaikan informasi
    kepada target audiences (Chernatony, 1998).
  2. Branding berperan sebagai faktor pembeda dari yang lain (Roper and Fill,
    2012).
    Personal branding umumnya menjadi ranah selebriti, politisi, atau
    profesional yang berusaha sukses dalam karier mereka. Namun, dengan
    berkembangnya media sosial, personal branding dapat dilakukan oleh kalangan
    masyarakat biasa. Siapa pun yang memiliki akses internet kini dapat membangun
    personal branding dengan apa yang mereka bagikan pada laman media sosial
    pribadinya.
    Mengelola personal branding dinilai lebih abstrak dan memiliki citra yang
    kaya dibanding dengan produk atau jasa. Karena pada dasarnya personal branding
    dibangun oleh kata-kata dan tindakan orang tersebut. Menurut Timothy P.O’Brien
    mengatakan bahwa personal branding adalah identitas pribadi yang mampu
    menciptakan sebuah respon emosional terhadap orang lain mengenai kualitas dan
    nilai yang dimiliki oleh orang tersebut (Haroen, 2014:13).
    Melalui personal branding, kita dapat mempengaruhi keputusan seseorang
    untuk “membeli” maupun mengontrol perilaku seseorang. Keuntungan yang
    didapat dari personal branding adalah :
    a. Menjadi “top of mind”
    b. Meningkatkan wewenang dan kepercayaan dalam keputusan
    c. Menempatkan diri dalam peran leadership
    d. Meningkatkan prestis
    e. Mendapatkan pengakuan
    f. Mencapai tujuan.
    Personal branding yang dibangun melalui media sosial di era sekarang
    merupakan sebuah langkah yang sangat efektif. Hal ini didukung dengan
    tersedianya akses internet yang saat ini dapat dinikmati oleh seluruh kalangan
    masyaraka

Personal Branding McNally dan Speak


Berbicara mengenai teori dari personal branding, maka diketahui bahwa ada
banyak sekali teori tersebut. Salah satunya adalah teori personal branding yang
dikemukakan oleh McNally dan Speak (2004:21) menjelaskan bahwa personal
brand merupakan persepsi yang tertanam dan terpelihara di benak orang lain, yang
memiliki tujuan akhir agar publik punya pandangan positif terhadapnya sehingga
dapat berlanjut kepada kepercayaan dan loyalitas.
McNally dan Speak (2011) dalam bukunya Be Your Own Brand
menyatakan bahwa “a strong personal brand is a powerful way for the world to see
and value the authentic you” yang dalam bahasa Indonesia artinya “Personal brand
yang kuat adalah cara yang ampuh bagi dunia untuk mengenal dan menghargai
kamu yang sebenarnya”. Tidak hanya tokoh penting saja, saat ini setiap orang
sangat diperlukan memiliki personal branding nya sendiri, dengan memadukan
syarat komunikasi yang tepat, guna terwujudnya hasil yang optimal dan terciptanya
dasar yang stabil bagi kendala, kredibilitas, dan berkharisma (Rampersad, 2008).
Menurut David McNally dan Karl D. Speak (2002), personal branding yang
kuat terdapat tiga hal mendasar yang menyatu. Berikut tiga karakteristiknya :

  1. Distinctive (Ciri Khas), yaitu personal brand yang kuat menggambarkan
    sesuatu yang sangat spesifik atau khas sehingga berbeda dengan
    kebanyakan orang atau selebritis. Namun personal branding tidak hanya
    12
    sekedar berbeda, tetapi seseorang yang memiliki keyakinan dan
    kepercayaan atas nilai-nilai dan ide-ide yang dimiliki. Maka, terbentuk
    sebuah keunikan dan ciri khas yang mewakili diri orang tersebut. Dalam hal
    ini kekhasan ini dapat direpresentasikan dalam bentuk kualitas konten,
    tampilan foto maupun video dalam Instagram, copywriting, serta spesifikasi
    akun tersebut.
  2. Relevance (Relevansi), bahwa personal brand yang kuat tidak hanya
    memiliki khas tetapi juga memiliki hubungan yang dianggap penting oleh
    audiens. Dengan kata lain yang diperjuangkan harus relevan bagi audiens.
    Relevansi adalah sesuatu yang dihasilkan dari kepentingan orang lain apa
    yang dilakukan untuk mereka dan dengan penilaian mereka tentang
    seberapa baik seseorang melakukannya. Relevansi bagian dari proses yang
    diawali oleh pertanyaan berikut:
    a. Apa yang audiens inginkan?
    b. Apa yang audiens perlukan?
    c. Apa yang audiens hargai?
    d. Apa yang audiens harapkan?
  3. Consistent (Konsisten), artinya hal-hal yang khas dan relevan tadi
    dilakukan secara berulang atau direpetisi. Hal ini dikarenakan orang-orang
    baru akan percaya pada suatu hubungan berdasarkan pada konsistensi
    perilaku yang mereka alami atau amati. Konsistensi adalah ciri khas dari
    semua merek yang kuat. Sebagai ‘merek’, seseorang hanya mendapatkan
    ‘kredit’ (pengakuan, penerimaan, atau pengakuan oleh orang lain) dari apa
    yang dilakukan secara konsisten.

Proses Keputusan Pembelian


Proses keputusan pembelian dilakukan apabila konsumen
menyadari suatu masalah atau kebutuhan terhadap suatu produk yang
diinginkan. Proses pembelian menggambarkan alasan mengapa
seseorang lebih menyukai, memilih dan membeli suatu produk dengan
merek tertentu. Menurut Firmansyah (2018:27) tahapan proses
pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahapan, yaitu
diawali dengan tahapan pengenalan kebutuhan, kemudian ke tahapan
kedua pencarian informasi dan penilaian sumber-sumber, dilanjutkan
ke tahapan ketiga evaluasi alternatif, selanjutnya ke tahapan keempat
keputusan untuk membeli, dan tahapan kelima perilaku setelah
pembelian

Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Tjiptono (2012) dalam Harsono (2018:7) faktor-faktor
yang mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan adalah ikatan
emosional yang terjalin antara pelanggan dan produsen setelah
pelanggan menggunakan produk dan jasa dari perusahaan dan
mendapati bahwa produk atau jasa tersebut memberi nilai tambah.
Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu:

  1. Nilai emosional, merupakan perasaan atau afektif atau emosi
    positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika
    konsumen mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat
    membeli atau menggunakan suatu merek, maka merek tersebut
    memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional
    berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang
    akan dialami konsumen pada saat membeli produk.
  2. Nilai sosial, merupakan utilitas yang didapat dari kemampuan
    produk untuk meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai
    sosial merupakan nilai yang dianut oleh suatu konsumen,
    mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk
    oleh konsumen.
  3. Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi
    biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang.
  4. Nilai fungsional, merupakan nilai yang diperoleh dari atribut
    produk yang memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada
    konsumen nilai ini berkaitan langsung dengan fungsi yang
    diberikan oleh produk atau layanan kepada konsumen

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah sebuah pemikiran dimana individu
mengevaluasi dan memutuskan berbagai pilihan pada suatu produk
dari banyak pilihan. Menurut Kotler & Amstrong (2014:30)
keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan
keputusan pembeli di mana konsumen benar-benar membeli.
Menurut Firmansyah (2018:27) keputusan pembelian
merupakan kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan individu
dalam pemilihan alternatif perilaku yang sesuai dari dua alternatif
perilaku atau lebih dan dianggap sebagai tindakan yang paling tepat
dalam membeli dengan terlebih dahulu melalui tahapan proses
pengambilan keputusan

Pengertian Brand Awareness


Menurut Hermawan (2014) dalam Tumagor dan Hidayat
(2018:57) brand awareness (kesadaran merek) adalah kemampuan
dari seorang calon pembeli (potential buyer) untuk mengenali
(recognize) atau mengingat (recall) suatu merek yang merupakan
bagian dari suatu kategori produk. Menurut Firmansyah (2019:26)
brand awareness (kesadaran merek) adalah persentase pelanggan
yang mengetahui dan mengingat brand Anda. Sedangkan menurut
Ambadar (2014) dalam Utomo (2017:79) menyatakan bahwa
kesadaran merek atau brand awareness adalah eksistensi merek
dibenak pelanggan.

Brand


Brand atau merek adalah suatu tanda atau simbol yang terdiri dari nama,
istilah, gambar, logo, lambang, desain atau kombinasi dari semua itu yang
ditujukan untuk mengidentifikasi, mendefinisi atau memberi identitas kepada
suatu barang atau layanan (jasa) dari suatu penjual serta membedakannya dari
pesaing. Menurut UU No. 20 Tahun 2016 tentang merek dan indikasi
geografis, menyebutkan bahwa merek adalah tanda yang berupa gambar,
nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari
unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam
kegiatan perdagangan dan jasa

Definisi Minat Beli Ulang


Menurut Hellier, et al (2003) dalam Adhitya Rinaldi dan Suryono Budi
Santoso (2018), minat beli ulang merupakan keputusan terencana
seseorang untuk melakukan pembelian kembali atas jasa dan produk
tertentu, dengan mempertimbangkan situasi pengalaman yang terjadi
setelah berbelanja melalui respon negatif atau positif.
Menurut Sundalangi et al (2014) dalam Ketut Joni Santika dan
Kastawan Mandala (2019), minat beli ulang yang tinggi mencerminkan
tingkat kepuasan yang tinggi dari konsumen ketika memutuskan untuk
mengkonsumsi produk yang diberikan setelah mencoba produk tersebut
dan kemudian timbul rasa tidak suka atau suka terhadap produk

Dimensi Brand Experience


Menurut Brakus et al (2009) dalam Hatane Samuel dan Reynaldi
Susanto Putra (2018) brand experience memilikii 4 dimensi :
(1) Sensorik : Menciptakan pengalaman melalui penglihatan, suara,
sentuhan, rasa, dan bau.
(2) Afeksi : Pendekatan perasaan dengan mempengaruhi suasana
emosi, perasaan, dan hati.
(3) Perilaku : Menciptakan pengalaman secara gaya hidup, pola
perilaku, fisik.
(4) Intelektual : Menciptakan pengalaman yang mendorong konsumen
terlibat dalam pemikiran seksama mengenai keberadaan
suatui merek.

Dimensi Brand Trust


Menurut Kustini (2011 : 23) dalam Aldy Novrianto dan Tjahjono Djatmiko
(2016), brand trust memiliki dua dimensi:
(1) Dimension of Viabilty
Dimensi ini mewakili sebuah persepsi bahwa suatu brand dapat
memuaskan serta memenuhi kebutuhan terhadap nilai konsumen.
Dimensi ini dapat diukur dengan menggunakan indikator nilai (value)
dan kepuasan.
(2) Dimension of Intentionality
Dimensi ini mencermikan rasa aman dari seorang individu
terhadap suatu brand. Dapat diukur melalui indikator trust dan
security. Kepercayaan sangat tergantung terhadap pengalaman
konsumen akan suatui merek, kepuasan akan menentukan besarnya
kepercayaan merek yang akhirnya akan mempengaruhi keputusan
pembelian konsumen pada merek tersebut.

Definisi Brand Experience


Menurut Brakus et al (2009) dalam Hatane Samuel dan Reynaldi
Susanto Putra (2018), brand experience adalah sensasi, perasaan,
kognisi dan tanggapan konsumen yang ditimbulkan oleh merek,
komunikasi pemasaran, orang dan lingkungan merek tersebut
dipasarkan.
Menurut Alloza (2008 : 373) dalam Christopher Edbert Ang dan Keni
(2021), brand experience merupakan persepsi konsumen pada setiap
kontak yang terjadi pada sebuah brand, dapat berupa image dalam
sebuah brand dalam iklan, ketika kontak pertama seorang konsumen
dengan brand tersebut atau tingkat pelayanan yang dirasakan konsumen
dari sebuah brand

Definisi Brand Trust


Menurut Delgado (2003) dalam Rezana Agustyan dan Muhammad
Baehaqi (2020), Brand Trust merupakan rasa aman yang dimiliki oleh
konsumen akibat dari interaksinya dengan sebuah brand, yang
berdasarkan presepsi bahwa brand tersebut dapat bertanggung jawab
dan diandalkan atas keselamatan serta kepentingan dari konsumen.
Menurut Tjiptono (2015 : 398) dalam I Made Dwi Bhisma Putra, I Gede
Putu Kawiana, dan I Wayan Suartina (2021), Kemampuan merek untuk
dipercaya (brand reliability), yang bersumber pada keyakinan konsumen
bahwa produk tersebut mampu memenuhi intensi baik merek (brand
intention) dan nilai yang dijanjikan yang didasarkan pada keyakinan
konsumen bahwa merek tersebut mampu mengutamakan kepentingan
konsumen

Jenis – Jenis Merek


Menurut Firmansyah (2019:24), brand terbagi sebagai berikut :
(1) Manufacturer Brand
Manufacturer brand merupakan merek yang dimiliki oleh suatu
perusahaan yang memproduksi jasa atau produk. Contoh : Soffel
(2) Private Brand
Private brand merupakan merek yang memiliki oleh distributor
atau pedagang dari produk atau jasa seperti hypermarket Giant
menjual kapas merek Giant, dan sebagainya.

Strategi Merek


Menurut Kotler (2018:264), terdapat berbagai strategi merek, antara
lain:
(1) Line Extension (Perluasan Lini)
Strategi perluasan lini dapat dilakukan dengan cara menambah
varian baru pada produk mereka agar dapat memperkuat merek dan
memperluas target pasar di kalangan masyarakat luas.
(2) Brand Extension (Perluasan Merek)
Perusahaan besar sering melakukan strategi ini untuk menguasai
pasar dengan mengerluarkan produk baru.
(3) Multi Brands (Multi Merek)
Multi brand merupakan strategi perusahaan dengan
menambahkan merek untuk kategori produk yang sama sehingga
menarik minat konsumen dari berbagai kalangan.
(4) New Brands (Merek Baru)
Strategi brand baru ketika perusahaan membuat produk baru
dalam kategori baru, sehingga tidak memungkinkan menggunakan
merek yang sudah ad

Definisi Brand


Menurut Kotler dan Amstrong (2018i:i250) mengatakan bahwaa “ A
brand is a name, term, sign, symbol or design, or a combination of these
that identifies the maker or seller of a product or service.” Yang berarti
merek adalah namaa, istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi
dari semuannya yang mengidentifikasi pembuat atau penjual produk atau
jasa.
Menurut Firmansyah (2019:23) mengatakan bahwa brand merupakan
simbol, tanda, desain, nama atau gabungan diantaranya untuk dipakai
sebagai identitas suatu organisasi, perusahaan atau peorangan pada
jasa dan barang yang dimiliki untuk membedakan dengan produk jasa
lainnya

Pentingnya Destination Branding


Destination branding bagi sebuah tempat destinasi menjadi penting karena
beberapa alasan seperti berikut:

  1. Meningkatkan citra destinasi.
  2. Memperkuat citra destinasi yang unik sekaligus brand destination
    personality.
  3. Mengartikulasi ambisi, meningkatkan ekspektasi dan menciptakan brand
    promise yang berkulalitas untuk target maupun calon target.
  4. Memberi diferensiasi kepada destinasi dari kompetitornya yang lain.
  5. Menurunkan resiko dalam pengambilan keputusan target akan destinasi yang
    hendak dituju, di mana destination branding dapat membuat target maupun
    calon target menjadi lebih percaya ketika memilih destinasi yang
    bersangkutan tersebut untuk dikunjungi.
  6. Menerima respect, recognition, loyalty, dan renown dari target yang
    berkunjung ke destinasi yang bersangkutan (Morrison, 2019).

Tujuan Destination Branding


Dalam melakukan destination branding, maka objectives atau beberapa tujuan
yang ingin dicapai untuk perancangan brand destinasi yang bersangkutan perlu
diketahui terlebih dahulu. Dengan menentukan tujuan dilakukannya destination
branding, maka destination image dan positioning dapat ditentukan. Berdasarkan
The Handbook on Tourism Destination Branding oleh The European Travel
Commission and UNWTO (2009) dalam Morrison (2019), beberapa tujuan
dilakukannya destination branding adalah sebagai berikut:

  1. Untuk membedakan sebuah destinasi dengan berbagai destinasi lainnya
    mupun kompetitornya.
  2. Untuk meningkatkan kesadaran, rekognisi, dan daya ingat target mupun calon

Destination Branding


Anholt dalam Morrison (2019) menyatakan bahwa destination branding adalah
sebuah strategi pemasaaran yang digunakan untuk menciptakan persepsi dan citra
destinasi yang baik. Berbagai destinasi tentunya semakin bersaing dalam
menampilkan citra yang baik untuk menarik perhatian wisatawan. Oleh sebab itu,
destination branding digunakan untuk membangun destination image yang positif
dengan menentukan positioning dari destination branding yang hendak dirancang,
sehingga destinasi tersebut berbeda dari destinasi lainnya dengan destination
brand personality tersendiri.

  1. Destination Image
    Destination image adalah citra dan persepsi yang dimiliki dalam benak
    konsumen terhadap suatu destinasi wisata sesuai dengan banyaknya informasi
    yang diketahui oleh pengunjung maupun calon pengunjung mengenai
    destinasi tersebut.
  2. Destination Positioning
    Destination positioning adalah upaya yang dilakukan oleh stakeholder dan
    organisasi pemasaran destinasi dalam menentukan posisi merek destinasi
    sesuai dengan citra yang dimiliki oleh destinasi tersebut. Destination
    positioning dapat dikatakan sebagai upaya sebuah destinasi untuk
    menunjukkan keunikan dan kelebihan yang dimilikinya kepada target
    pengunjung yang telah ditentukan.
  3. Destination Brand Personality
    Destination brand personality adalah bagaimana sebuah destination brand
    tempat wisata digambarkan seperti karakteristik seseorang, seperti misalnya
    brand personality milik Outback Queensland yaitu adventurous, proud
    Australian (Morrison, 2019).

Brand Books


Brand book adalah buku berisi guidelines mengenai ketentuan pemakaian merek,
strategi merek, dan kesadaraan merek sehingga penggunaan merek dapat tetap
selaras dengan seluruh proses branding yang telah dibangun (Wheeler, 2018).

  1. Foreword
    Foreword berisi penjelasan seputar merek, seperti visi dan misi, brand
    attributes, cara menggunakan guidelines dari merek yang dirancang, dan aturan
    identitas merek di dalamnya.
  2. Brand Identity Elements
    Menjelaskan elemen-elemen dalam identitas merek, seperti brandmark,
    logotype, signature, tagline, name in text, dan larangan dalam penggunaan
    identitas merek.
  3. Color
    Sistem warna yang digunakan pada identitas merek, warna-warna pendukung,
    dan aturan pemakaian warna pada identitas merek.
  4. Signature
    Berisi corporate signature, variasi signature, tata cara penggunaan signature
    dengan tagline, clearspace, serta ketentuan ukuran signature.
  5. Tipografi
    Berisi typeface family yang digunakan, typeface pendukung.
  6. International Business Papers
    Berisi implementasi identitas merek seperti pada kop surat A4, amplop A4, dan
    kartu nama.
  7. Media digital
    Berisi implementasi identitas merek pada berbagai media digital seperti sosial
    media, konten internet, video.
  8. Marketing Materials
    Invoice, form pemesanan barang, imagery, brochure systems, posters, dan
    material lainnya.
  9. Advertising
    Berisi implementasi identitas merek pada periklanan, tagline, cara
    menempatkan signature pada iklan.
  10. Signage
    Berisi ketentuan penggunaan identitas merek pada signage.
  11. Vehicle Identification
    Berisi ketentuan penggunaan identitas merek pada kendaraan seperti motor,
    mobil.
  12. Packaging
    Ketentuan penggunaan identitas merek pada kemasan yang hendak digunakan.
  13. Ephemera
    Penggunaan identitas merek pada berbagai material pendukung seperti
    stationery, merchandise, souvernir.
  14. Image Library
    Berisi implementasi identitas merek pada foto perusaahaan (Wheeler, 2018)

Taglines


Tagline adalah sebuah frasa pendek yang mengandung esensi, personality,
dan positioning dari sebuah perusahaan untuk membedakan perusahaan
tersebut dari pesaingnya. Sebagai brand promise, tagline yang baik dapat
digunakan dalam jangka waktu yang lama dan dapat tetap digunakan
seiring terjadinya berbagai perubahan. Tagline juga harus bersifat
memorable dan memiliki makna yang sesuai dengan esensi perusahaan
(Wheeler, 2018)

Sequence of Cognition


Wheeler (2018) menyatakan bahwa kesadaran dan pengakuan seseorang
terhadap sebuah merek difasilitasi oleh identitas visual yang mudah diingat
dan diidentifikasi. Sebuah identitas visual yang dapat dengan mudah
diingat akan menimbulkan asosiasi merek dalam benak target konsumen
dan menciptakan persepsi konsumen terhadap merek. Bentuk, warna, dan
wujud menjadi faktor visual yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang
dalam mengingat sebuah identitas visual.

  1. Shapes
    Bentuk adalah unsur pertama yang diidentifikasi dan diingat oleh otak
    manusia.
  2. Color
    Warna mampu memicu emosi dan menciptakan asosiasi merek dalam
    benak seseorang. Warna juga digunakan untuk membedakan satu
    merek dengan merek yang lainnya, sehingga merek lebih mudah untuk
    diidentifikasi oleh target konsumen, dan dapat membangun brand
    awareness yang tepat.
  3. Form
    Setelah bentuk dan warna, maka konten lainnya yang ada pada merek
    dipahami

Pengaruh Brand Awareness terhadap Purchase Intention


Kesadaran merek atau brand awareness Menurut Rifyal Dahlawy
Chalil, (2021:24), merupakan istilah pemasaran yang menggambarkan
tingkat pengakuan konsumen terhadap suatu produk dengan suatu nama.
Kesadaran merek umumnya dalam pemasaran diberikan sebagai sesuatu
tingkat kesadaran konsumene terhadap bisnis. Kesadaran merek
digunakan untuk mengukur kemampuan pelanggan potensial untuk tidak
hanya mengenali citra merek, tetapi juga mengaitkanya dengan produk
atau layanan perusahaan tertentu

Proses pembelian


Ada beberapa proses pembelian, proses tersebut diantaranya sebagai
berikut.
a. Kebutuhan need, proses pembelian berawal dari adanya kebutuhan
yang tak harus dipenuhi atau kebutuhan yang muncul pada saat itu dan
memotivasi untuk melakukan pembelian.
b. Pengenalan Recognition, mengenali kebutuhan itu sendiri untuk dapat
menetapkan sesuatu untuk memenuhinya.
c. Pencaarian Search, merupakan bagian aktif dalam pembelian yaitu
mencari jalan untuk mengisi kebutuhan tersebut.
d. Evaluasi evaluation, suatu proses untuk mempelajari semua yang
didapat selam pencarian dan mengembangkan beberapa pilihan.
e. Keputussan decision, langkah terakhir dari suatu proses pembelian
untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diterima.

  1. Indikator Purchase Intention
    Menurut Kotler dan Keller (2016:198) purchase intention adalah
    bentuk dari perilaku dari konsumen yang berkeinginan untuk membeli atau
    memilih sebuah produk yang didasari oleh pengalaman, penggunaan dan
    keinginannya pada suatu produk. Sedangkan menurut Goivani Antania
    Hanjani dan Arry Widodo (2019:42).
    a. Transaksional, yaitu kecenderungan untuk membeli produk.
    b. Referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
    produk kepada orang lain.
    c. Preferensial, yaitu yang menggambarkan perilaku seseorang yang
    memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya
    dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.
    d. Eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu
    mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari
    informasi untuk mendukun sifat – sifat positif dari produk tersebut

Pengertian Purchase Intention


Purchase intention yang dikemukakan menurut Schiffman dan
Kanuk (2020:143) adalah kekuatan atau dorongan dari dalam individu
yang memaksa konsumen untuk melakukan suatu tindakan. Sadangkan
menurut Barber (2020:143) menyatakan bahwa minat beli adalah prediktor
terbaik dalam memprediksi perilaku pembelian.
Menurut Kotler dan Amstrong (2014:13) minat beli adalah
penentuan konsumen untuk melakukan suatu tindakan seperti membeli
suatu produk. Menurut Hansudoh (2012:7) minat beli juga dapat diartikan
sebagai suatu keinginan untuk membeli yang merupakan bagian dari
proses menuju kearah tindakan pembelian yang dilakukan oleh seorang
konsumen. Sebuah proses pembelian konsumen berkaitan erat dengan
motif yang dimilikinya untuk memakai atau membeli produk tertentu.
Purchase intention adalah kecenderungan untuk membeli sebuah
merek dan secara umum berdasarkan kesesuian antara motif pembelian
dengan atribut atau karakteristik dari merek yang dapat dipertimbangkan
Purchase intention dapat diartikan sebagai suatu sikap senang terhadap
suatu objek yang membuat individu berusaha untuk mendaparkan objek
tersebut dengan cara membayarkan dengan uang atau pengorbanan.
Menurut Aditya Krisna, Agus, Lisa Adetiya, Fitri Nut, dan Marina
(2021:8) mendefinisikan purchase intention sebagai kemungkinan
individu konsumen berencana membeli produk tertentu pada jangka waktu
tertentu dan hal itu terjadi setelah konsumen menyimpan informasi yang
relevan untuk menentukan keputusan membeli. Purchase intention adalah
rencana yang dilakukan individu secara sada yang merupakan usaha untuk
membeli sebuah produk. Mendefinisikan intense membeli sebagai
kesediaan individu untuk membeli suatu produk. Sehingga, pengetahuan
akan intense membeli dibutuhkan oleh perusahaan untuk mengetahui
kecenderungan konsumen terhadap suatu produk maupun dalam
memprediksi perilaku konsumen di masa mendatang.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
definisi purchase intention adalah kecenderungan individu untuk membeli
suatu produk di masa yang akan datang.

Indikator Digital Marketing


Menurut Sudaryo Yoyo (2020:15)menetapkan empat indikator
Digital Marketing yang dapat disebutkan sebagai berikut :
a. Website adalah penghubung dengan dunia digital secara keseluruhan
dan mungkin bagian yang paling penting dalam keseluruhan strategi
pemasaran digital, dimana kegiatan online akan terarah langsung ke
calon konsumen.
b. Optimasi mesin pencari (secarch engine optimation), salah satu
bagian penting dari website adalah SEO (secarch engine optimation),
atau proses pengaturan konten dari website agar mudah ditemukan
oleh pengguna internet yang sedang mencari konten yang relevan
dengan yang ada di website, dan juga menyajikan konten agar dapat
dengan mudah ditemukan oleh mesin – mesin pencari.
c. Jajaring sosial (social network), sebuah peluang pemasaran, namun
saat ini belum ada seseorangpun yang bisa menawarkan sistem
periklanan dengan sangat fokus ke kelompok masyarakat yang sangat
kecil (niche) atau dasar informasi profil yang didapatkan dari situs –
situs jejaring sosial.
d. Manajemen hubungan pelanggan (customer relationship
management), menjaga konsumen yang sudah ada dan membangun
kerjasama yang saling menguntungkan dengan mereka adalah salah
satu elemen penting dari kegiatan pemasaran digital

Tingkatan Brand Awareness


Tingkatan Brand awareness memiliki beberapa tingkatan dari
tingkatan yang paling rendah tidak menyadari brand sampai tingkatan
yang paling tinggi yaitu Top Of Mind, yang bisa digambarkan dalam
sebuah piramida. Piramida Brand awareness dari rendah sampai tingkat
tertinggi adalah sebagai berikut:
Unware of brand tidak menyadari brand adalah tingkat paling rendah
dalam piramida brand awareness di mana konsumen tidak menyadari
adanya suatu brand.

  1. Brand recognition pengenalan brand adalah tingkat minimal brand
    awareness, di mana pengenalan suatu brand muncul lagi setelah
    dilakukan pengingatakan kembali lewat bantuan aided recall.
  2. Brand recall pengingatan kembali brand adalah pengingatan kembali
    tanpa brand tanpa bantuan unaidel recall.
  3. Top of mind puncak pikiran adalah brand yang disebutkan pertama kali
    oleh konsumen, atau brand tersebut merupakan brand utama dari
    berbagai brand yang ada dalam benak konsumen.
  4. Unaware of brand tidak menyadari merek. Ketegori ini termasuk merek
    yang tetap tidak dikenal walaupun sudah dilakukan pengingatan
    kembali lewat bantuan (aided recall).
    Berdasarkan penjelasan di atas adanya tingkatan – tingkatan dalam
    brand awarenes menujukan adanya perbedaan tingkat kesadaran yang
    berbeda – beda pada masing – masing individu.
  5. Indikator Brand Awareness
    Menurut Anang Firmansyah, (2019:39) terdapat empat indikator
    yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh konsumen terhadap
    suatu brand. Antara lain adalah sebagai berikut.
  6. Recall, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika ditanya
    merek apa saja yang diingat.
  7. Recognition, yaitu mengingat kembali merek yang dicerminkan dengan
    merek lain yang diingat oleh responden menyebutkan merek yang
    pertama.
  8. Purchase dicision, yaitu seberapa jauh konsumen akan memasukkan
    suatu merek ke dalam alternatif pilihan ketika merek akan membeli
    produk atau jasa.
  9. Consumption, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali merek
    ketika sedang menggunakan produk atau jasa

Pengaruh Corporate Branding terhadap Keputusan Pembelian


Corporate Branding sebagai salah satu jenis branding atau manajemen
merek yang berfungsi untuk meningkatkan citra dan reputasi perusahaan yang
menyangkut seluruh aspek dari perusahaan dan dapat menciptakan identitas
perusahaan yang unik dan memberi nilai tambah bagi produk atau jasanya. Oleh
karena itu, adanya Corporate Branding membuat konsumen akan lebih mengenal
produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Corporate Branding juga
mencerminkan sebuah perusahaan bergerak pada bidang apa dan dengan tujuan
apa, sehingga semuanya tentang perusahaan tersebut akan tergabung dalam
cerminan dari Corporate Branding tersebut (Andriyanto., dkk, 2018).
Corporate Branding sebagai bentuk penerapan dari penggunaan nama
perusahaan sebagai suatu merek produk, nama perusahaan ini sehingga dapat
menciptakan persepsi, kemudian menjadi aset perusahaan dalam menggambarkan
kemampuannya untuk menciptakan produk-produk atau jasa yang berkualitas dan
inovatif bagi konsumen. Akhirnya dapat digunakan sebagai penjamin dari kualitas
sebuah produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan yang menjadi penentu
kuat bagi konsumen untuk melakukan keputusan pembelian. Hal ini didukung
dengan hasil penelitian Farid dan Faridha (2017) dan Andriyanto., dkk (2018)
yang menyatakan bahwa Corporate Branding berpengaruh positif dan signifikan
terhadap keputusan pembelian. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang
diajukan adalah:
H1 : Corporate Branding berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian.
2.4.2. Pengaruh Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian
Kualitas produk sebagai bentuk kemampuan sebuah produk atau jasa untuk
memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi apa yang diinginkan
pelanggan. Kualitas produk tentu saja memiliki kaitan yang sangat erat dengan
keputusan pembelian. Kualitas dari suatu produk menjadi salah satu pertimbangan
penting bagi konsumen dalam pengambilan keputusan untuk melakukan
pembelian. Produk yang berkualitas akan mendorong konsumen untuk melakukan
pembelian produk tersebut. oleh karena itu, memberikan kualitas produk yang
tinggi merupakan kewajiban perusahaan untuk mengapai tujuannya.
Kualitas produk yang baik membuat konsumen cenderung melakukan
keputusan pembelian, namun jika kualitas produk tersebut kurang baik maka
kemungkinan konsumen tidak akan melakukan keputusan pembelian produk
tersebut. Penjualan produk dengan kualitas yang baik akan meningkatkan
kepercayaan konsumen dalam hal keandalan produk, dengan demikian konsumen
akan melakukan keputusan pembelian.

Perilaku Konsumen


Tujuan pemasaran adalah memenuhi kepuasan dan kebutuhan konsumen
melalui kegiatan pemasaran, yang akan berdampak terhadap meningkatnya hasil
penjualan produk, dan pada akhirnya akan meningkatkan keuntungan sesuai
tujuan yang sudah ditetapkan dalam kegiatan pemasaran. Hal tersebut juga
menunjukkan bahwa perusahaan harus mengetahui bagaimana keinginan
konsumen dan juga apa yang dibutuhkan konsumen melalui studi perilaku
konsumen. Beberapa definisi perilaku konsumen dapat dijelaskan sebagai berikut:
Menurut Peter dan Olson (2013), mendenisikan bahwa “Perilaku konsumen
(Customer Behavior) adalah sebagai dinamika interaksi antara pengaruh dan
kesadaran, perilaku, dan lingkungan dimana manusia melakukan pertukaran
aspek-aspek kehidupan”.
Menurut Hawkins (2013), “Perilaku konsumen adalah studi tentang
individu, kelompok, atau organisasi dan proses yang mereka gunakan untuk
memilih, aman, penggunaan, dan membuang produk, jasa, pengalaman, atau ide
untuk memuaskan kebutuhan dan dampak bahwa proses ini memiliki pada
pelanggan dan masyarakat”. Menurut Michael R. Solomon (2015) “Perilaku
konsumen adalah studi tentang proses yang terlibat ketika individu atau kelompok
pilih, pembelian, penggunaan, atau membuang produk, jasa, ide, atau pengalaman
untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan”.
Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli diatas,
dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah studi tentang individu,
kelompok, atau organisasi dan studi tentang proses yang terlibat ketika individu
atau kelompok pilih, pembelian, penggunaan, atau membuang produk, jasa, ide,
atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan dampak bahwa proses ini
memiliki pada pelanggan dan masyarakat.
Perilaku konsumen sangat perlu dipahami oleh perusahaan sehingga dapat
memasarkan produk yang dihasilkan dengan baik. Banyak perbedaan yang
dimiliki konsumen, akan tetapi juga banyak kesamaan yang perlu diperhatikan
oleh perusahaan sebagai pihak pemasar. Pemasar yang memahami perilaku
konsumen akan mampu memperkirakan bagaimana kecenderungan sikap seorang
konsumen terhadap informasi yang diterimanya. Maka mempelajari perilaku
konsumen sangatlah penting bagi sebuah perusahaan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2014) perilaku konsumen dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu:

  1. Faktor Budaya. Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap
    perilaku konsumen. Faktor kebudayaan terdiri dari: budaya, subbudaya, kelas
    sosial,
  2. Faktor Sosial. Selain faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi
    oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga serta status sosial.
  3. Faktor Pribadi. Faktor pribadi yang memberikan kontribusi terhadap perilaku
    konsumen terdiri dari: usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan dan lingkungan
    ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri
  4. Faktor Psikologis. Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor
    psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan
    sikap

Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Keller (2016), mendefinisikan bahwa “kualitas adalah
totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhhan yang dinyatakan atau tersirat”.
Sedangkan menurut Laksana (2011), mendefinisikan bahwa “kualitas terdiri dari
sejumlah keitimewaan produk yang memenuhi keinginan pelanggan dengan
demikian memberikan kepuasan atas penggunaan produk”.
Menurut Saladin (2012), mendefinisikan bahwa “produk adalah segala
sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk diperhatikan, dimiliki,
dipakai,dan dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan”.
Sedangkan menurut Kotler dan Amstrong (2014) mendefinisikan bahwa “produk
sebagai segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar agar menarik
perhatian, akuisisi, penggunaan, atau konsumsi yang dapat memuaskan suatu
keinginan dan kebutuhan”. Menurut Alma (2014) mendefinisikan bahwa
sebagai seperangkat atribut baik berwujud maupun tidak berwujud, termasuk
didalamnya masalah warna, harga, nama baik produk, nama baik pengecer, dan
pelayanan pabrik serta pelayanan pengecer, yang diterima oleh pembeli guna
memuaskan keinginannya”.
Menurut Kotler dan Keller (2016), mendefinisikan bahwa “kualitas produk
adalah kemampuan suatu barang untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai
bahkan melebihi dari apa yang diinginkan pelanggan”. Sedangkan menurut
Mowen dan Minor (2012), mendefinisikan bahwa “kualitas produk merupakan
proses evaluasi secara keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu
barang atau jasa”. Menurut Kotler dan Armstrong (2014), mendefinisikan bahwa
“kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk dalam memperagakan
fungsiya, hal ini termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan,
kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk, juga atribut produk lainnya”

Corporate Branding


Brand yang kuat dalam kompetisi pasar adalah tujuan utama dari banyak
organisasi karena memungkinkan penciptaan berbagai manfaat bagi organisasi
termasuk mengurangi risiko, lebih besarkeuntungan, kerjasama dengan pihak lain
serta kesempatan untuk perluasan merek. Brand yang kuat ditandai dengan
dikenalnya suatu merek dalam masyarakat, asosiasi merek yang tinggi pada suatu
produk, persepsi positif dari pasar dan kesetiaan konsumen terhadap merek yang
tinggi. Perusahaan yang pandai memberikan merek pada suatu produk atau jasa
maka produk atau jasa tersbut memiliki keistimewaan dimata konsumennya.
Menurut American Marketing Association dalam Kotler dan Keller (2016)
brand adalah suatu nama, istilah, tanda, lambang, desain atau kombinasi dari
semuanya, yang diharapkan mengidentifikasikan barang atau jasa dari
sekelompok penjual dan diharapkan akan membedakan barang atau jasa tersebut
dari produk-produk pesaing. Menurut Alma (2014) brand sebagai suatu tanda atau
simbol yang memberikan identitas suatu barang atau jasa tertentu, dapat berupa
kata-kata, gambar atau kombinasi keduanya.
Menurut Undang – Undang no 15 tahun 2001 yang dikutip oleh Tjiptono
(2015), brand adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf huruf, angkarepository.unimus.ac.id
12
angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki
daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa brand
adalah suatu tanda yang berupa nama, istilah, tanda, lambang, desain atau
kombinasi dari semuanya, yang memberikan identitas suatu barang atau jasa
tertentu yang memiliki daya pembeda dari produk-produk pesaing.
Terdapat enam level pengertian merek menurut Kotler dan Keller (2016),
tingkatan tersebut diantaranya meliputi:

  1. Atribut, merek mengingatkan pada atribut-atribut tertentu, Contoh: Ferrari
    memberikan kesan mobil mahal dan bergengsi.
  2. Manfaat, atribut perlu diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan
    emosional.
  3. Nilai, merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen.
  4. Budaya, merek mewakili budaya tertentu yang dianut.
  5. Kepribadian, merek mencerminkan atau memproyeksikan suatu kepribadian
    tertentu.
  6. Pemakai, merek memperhatikan jenis pelanggan yang menggunakan atau
    membeli produk tertentu.
    Sopiah dan Sangadji (2016) menyatakan bahwa merek memiliki berbagai
    macam tujuan, yaitu:
  7. Pengusaha menjamin konsumen bahwa barang yang dibeli sungguh berasal
    dari pengusahanya
  8. Perusahaan mejamin mutu barang
  9. Perusahaan memberi nama pada merek barangnya supaya mudah diingat dan
    disebut sehingga konsumen dapat menyebutkan mereknya saja .
  10. Meningkatkan ekuitas merek sehingga memungkinkan memperoleh margin
    lebih tinggi dan memberi kemudahan dalam memepertahankan kesetiaan
    konsumen
  11. Memberi motivasi pada saluran distribusi karena barang dengan merek terkenal
    akan cepat laku, mudah disalurkan, serta mudah penanganannya

Manajemen Pemasaran


Pemasaran dalam sebuah perusahaan sebagai suatu kegiatan pokok yang
harus dilakukan oleh perusahaan untuk menjalankan roda bisnis guna
mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri, Peran pemasaran
sangat penting dalam membantu perusahaan dalam mencapai tujuannya karena
aktivitas perusahaan diarahkan untuk menciptakan perusahaan yang bisa
berkembang dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan agar tetap bisa bertahan
ditengah persaingan yang ketat.
Menurut Kotler dan Keller (2016), pemasaran merupakan sebuah proses
kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka
butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan secara bebas saling
bertukar produk dan jasa yang bernilai satu sama lainnya. Menurut Hasan (2013),
pemasaran adalah proses mengidentifikasi, menciptakan dan mengkomunikasikan
nilai, serta memelihara hubungan yang memuaskan pelanggan untuk
memaksimalkan keuntungan perusahaan.

Definisi Influencer


Istilah “pengaruh” adalah akar dari “influencer”. Seseorang yang
mempengaruhi atau dipengaruhi oleh orang lain disebut influencer.
Seseorang atau sosok dengan pengikut media sosial yang cukup besar
yang postingannya memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perilaku
pengikutnya dikenal sebagai influencer (Maulana et al., 2021).
Influencer juga merupakan seseorang yang memiliki pengikut atau
penayangan media sosial yang cukup besar. Influencer dengan banyak
kemampuan untuk mempengaruhi pengikut mereka termasuk
YouTuber, musisi, selebriti (juga dikenal sebagai selebriti tiktok), dan
lain-lain. Untuk menginspirasi dan mempengaruhi pengikut mereka,
influencer dapat membujuk mereka untuk mempercayai apa yang
mereka katakan dan lakukan (Khairunnisa, 2022). Karena kemampuan
mereka untuk menjalin hubungan yang solid dengan pengikut mereka,
influencer dianggap sebagai salah satu strategi pemasaran terbaik.
Untuk alasan ini, sangat penting bagi seorang influencer untuk
memiliki rencana untuk membujuk audiens mereka. Tiga kriteria
digunakan untuk mengklasifikasikan influencer (Sahara, 2024):

  1. Mega Influencer
    Karena mereka memiliki lebih dari satu juta pengikut dan
    audiens yang beragam yang mencakup berbagai subjek menarik,
    influencer kaliber tertinggi dikenal sebagai mega influencer. Di
    media sosial, mereka juga jarang terlibat dengan pengikut mereka.
  2. Macro Influencer
    Influencer makro, yang seringkali memiliki kurang dari satu
    juta pengikut, adalah influencer yang berbagi kehidupan mereka
    dengan fokus tertentu.
  3. Micro Influencer
    Seorang influencer dengan lebih dari 1000 hingga 100.000
    pengikut disebut sebagai influencer mikro, dan mereka sering
    terlibat dengan pengikut mereka lebih sering.

New Media (Media Baru)


Kebangkitan media baru di dunia saat ini pasti berpengaruh pada
pergeseran komunikasi sosial. Internet adalah salah satu media baru
yang paling sering digunakan masyarakat umum saat ini. Saat ini, orang
menggunakan internet untuk berinteraksi dan mendapatkan informasi.
Orang dapat terhubung dari satu lokasi ke lokasi lain melalui internet,
yang merupakan jaringan komunikasi. Internet telah berkembang
menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan
tidak ada batasan jenis materi yang dapat diakses di internet. Dengan
demikian, kita dapat mengklaim bahwa keterlibatan manusia dengan
teknologi digital, khususnya internet, menciptakan media baru (Sahara,
2024).
Ungkapan “media baru” mengacu pada kombinasi jaringan yang
terhubung dan teknologi komunikasi digital terkomputerisasi. Apa pun
yang dapat bertindak sebagai perantara antara sumber dan penerima
informasi dianggap sebagai media baru. Digitalisasi dan konvergensi
adalah dua elemen utama media baru. Karena memadukan beberapa
bentuk media lain, termasuk teks, musik, dan video, internet
menunjukkan konvergensi (McQuail & Deuze, 2020). Teknologi
digital, integratif, interaktif, dapat dimanipulasi, jaringan, terkompresi,
dan tidak memihak merupakan sebagian besar teknologi media modern.
Menurut Sugihartati (2014), teknologi digital memfasilitasi
transformasi teknologi media tradisional menjadi media baru.
Telekomunikasi modern berputar di sekitar komputer dan jaringan
penyiaran. Masyarakat mulai belajar tentang Internet, elemen
multimedia, dan metode baru pengolahan dan distribusi informasi
digital. Platform media sosial seperti Facebook, Instagram, YouTube,
Twitter, dan Path adalah bentuk media online baru yang memungkinkan
orang biasa berkomunikasi, berbagi, dan membangun jaringan online.
Bentuk media baru lainnya masih ada, termasuk komputer atau
notebook, video game, realitas virtual, pemutar media portabel, DVD,
VCD, dan ponsel.
Media baru adalah hasil dari media lama yang tidak lagi relevan
dengan kemajuan teknologi modern. Buku, majalah, surat kabar, dan
televisi semuanya tetap penting sejak munculnya media baru, tetapi
media tradisional sekarang menyesuaikan diri dengan media baru.
Format yang dikenal sebagai “media baru” digunakan untuk
mendistribusikan informasi digital yang mencakup teks, suara, dan
gambar. Media sosial hadir dalam berbagai bentuk, seperti blog,
Facebook, Instagram, Twitter, Google Plus, dan TikTok

Definisi Komunikasi


Istilah “komunikasi” berasal dari kata Latin “Communis”, yang
menandakan tindakan membina kolaborasi antara dua individu atau
lebih. Menurut Cherry, sebagaimana dikutip oleh Stuart, komunikasi
berasal dari kata Latin “Communico” yang berarti berbagi. Rongers
dan D. Lawrence Kincaid mendeskripsikan komunikasi sebagai suatu
proses di mana dua individu atau lebih melakukan pertukaran atau
melakukan penciptaan informasi untuk memperoleh saling pengertian
yang lebih mendalam (Cangara, 2019). Dalam Pengantar Ilmu
Komunikasi, Hafied Cangara menjelaskan bahwa komunikasi adalah
proses penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi manusia, baik yang
disengaja maupun tidak disengaja, yang mempengaruhi satu sama
lain, juga dianggap sebagai komunikasi. Komunikasi tidak hanya
mencakup bahasa tetapi juga ekspresi wajah, karya seni, dan teknologi
(Cangara, 2019).
Komunikasi memainkan peran penting dalam membantu
individu menyampaikan pesan, bahkan dengan cara yang implisit.
Everett M. Rongers, seorang ahli sosiologi pedesaan Amerika,
mendefinisikan komunikasi sebagai proses transmisi konsep dari
sumber kepada satu atau lebih penerima, dengan tujuan untuk
mempengaruhi perilaku mereka (Cangara, 2019). Pada dasarnya,
komunikasi adalah proses di mana seorang komunikator berbagi
pesan dengan penerima untuk mencapai pemahaman dan kesepakatan
bersama. Proses ini sangat penting bagi manusia, karena interaksi
9
dengan orang lain membantu mencapai hasil yang diinginkan, seperti
membangun personal branding (Rabbani et al., 2022). Interaksi antara
satu sama lain sangat dibutuhkan dalam hal personal branding untuk
melihat bagaimana sudut orang lain terhadap individu. Dengan
komunikasi yang baik dan penyampaian pesan yang baik kita dapat
melihat bagaimana image/citra yang dimiliki oleh orang tersebut.
Komunikasi mempunyai beberapa karakteristik yang dimiliki,
yaitu (Mas & Haris, 2020):
a. Komunikasi adalah serangkaian tindakan atau peristiwa yang
saling berhubungan yang berlangsung selama periode tertentu
dan terjadi secara bertahap.
b. Komunikasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja,
terarah, dan selaras dengan tujuan atau maksud dari
komunikator.
c. Komunikasi yang efektif terjadi ketika dua pihak atau lebih
yang terlibat dalam proses tersebut secara aktif terlibat dan
berkolaborasi.
d. Komunikasi bersifat simbolis dan pada dasarnya bergantung
pada penggunaan simbol.
e. Komunikasi adalah proses transaksional, yang melibatkan dua
tindakan: mengirim dan menerima. Tindakan ini harus terjadi
secara seimbang atau proporsional.
f. Karena komunikasi melampaui ruang dan waktu, peserta atau
pelaku dalam percakapan tidak perlu hadir pada waktu dan
lokasi yang sama. Kontak offline dan online dapat dilakukan,
tetapi dengan kemajuan teknologi, media sosial telah menjadi
platform yang populer untuk komunikasi.
Dari karakteristik yang telah dijelaskan tersebut, komunikasi
merupakan kegiatan yang dilakukan setiap hari secara sengaja ataupun
tidak sengaja yang dapat dilakukan dua orang atau lebih. Tidak harus
dilakukan secara langsung, komunikasi dapat dilakukan secara virtual
yang melampaui faktor ruang dan waktu. Ketika terjadi komunikasi
biasanya orang yang mengirimkan pesan mempunyai tujuan untuk
penerimanya, jika komunikasi tersebut berjalan dengan baik tujuan
yang ingin disampaikan akan diterima dengan baik juga. Sama halnya
dengan seseorang yang ingin berkomunikasi di media sosial, mereka
akan menyebarkan/mengirimkan pesan yang ingin dilihat oleh para
khalayak luas sesuai dengan tujuan mereka dan penerima akan
memahami pesan yang disampaikan

Pengertian Theory of Planned Behavior (TPB)


Menurut Azjen (2013) Theory of Planned Behavior (TPB) memiliki
dasar pada asumsi manusia berperilaku dengan menghitungkan informasi
yang ada dan secara eksplisit maupun implisit mempertimbangkan akibat
dari tindakan mereka. Teori ini memiliki pondasi terhadap perpektif
kepercayaan yang mampu mempengaruhi
seseorang untuk melaksanakan tingkah laku yang spesifik.
Perpektif kepercayaan dilaksanakan melalui penggabungan beraneka
ragam karakteristik, kualitas dan atribut atas informasi tertentu kemudian
membentuk kehendak dalam bertingkah laku (Ajzen,2013). Niat dan
perilaku dalam teori ini merupakan fungsi dari tiga determinan dasar, yaitu
satu sifat pribadi, satu akibat pengaruh sosial, dan yang terakhir berkaitan
dengan masalah control. Determinan pertama yang menyangkut sifat
pribadi adalah faktor sikap (attitude) yang merupakan pandangan individu
terhadap suatu perilaku, yang kedua adalah dorongan serta tekanan sosial
orang-orang di sekitar untuk melakukan atau tidak melakukan suatu
perilaku determinan kedua ini di sebut juga dengan norma subjektif
(subjektive norm) dikarenakan berhubungan dengan pengaruh normative
yang dirasakan. Determinan ketiga dari niat adalah kemampuan menilai
tinggi diri sendiri, atau disebut persepsi kontrol perilaku (perceived
behavioral control) Ajzen (2013) menyatakan bahwa niat diasumsikan untuk
menangkap motivasi untuk melakukan sesuatu. Niat tersebut sendiri juga
merupakan faktor mengidentifikasi seberapa besar kemauan, usaha serta
upaya untuk melakukan suatu perilaku. Semakin tinggi niat seseorang,
maka akan semakin besar kemungkinan perilaku yang akan dilakukan
berada dalam kehendak dan kendali perilaku tersebut. Menurut Ajzen
(2010) melalui Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikemukannya,
menjelaskan bahwa intense (niat) adalah fungsi dari 3 determinan dasar,
yaitu :

Persepsi Pengendalian Perilaku (perceived behavioral control),
merupakan keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang mendukung atau
menghambat perilaku yang akan ditampilkan dan persepsinya tentang
seberapa kuat hal-hal yang mendukung dan menghambat perilakunya
tersebut (perceived power)

Sikap Berperilaku (attitude to ward the behavior), merupakan keyakinan
individu akan hasil dari suatu perilaku dan evaluasi atas hasiltersebut.

Norma Subjektif (subjective norm), merupakan keyakinan tentang
harapan normative orang lain dan motivasi untuk memenuhi harapan
tersebut.

Indikator Keputusan Pembelian

Terdapat lima indikator utama yang digunakan untuk memahami proses
pemecahan masalah dalam aktivitas konsumen saat membeli barang atau jasa
(Dewi et al., 2020). Berikut adalah penjelasan dari setiap indikator :

  1. Recognition of Needs and Desires
    Proses ini dimulai ketika konsumen menyadari adanya kebutuhan atau
    keinginan yang belum terjawab. Tahap ini menjadi langkah awal dalam
    pengambilan keputusan, di mana konsumen mengidentifikasi kesenjangan antara
    situasi saat ini dan apa yang mereka inginkan. Misalnya, individu yang merasa
    rambutnya kering mungkin akan mulai mencari produk perawatan rambut yang
    cocok.
  2. Looking for Information
    Setelah mengidentifikasi kebutuhan, konsumen akan mulai mencari
    informasi mengenai produk atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
    Informasi ini dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti internet, testimoni
    pelanggan, saran dari teman, atau iklan. Pada tahap ini, konsumen berusaha untuk
    mengumpulkan informasi yang selengkap mungkin agar dapat membuat
    keputusan yang tepat.
  3. Valuation of Purchase Alternatives
    Konsumen kemudian mengevaluasi berbagai pilihan produk atau jasa
    berdasarkan kriteria tertentu, seperti harga, kualitas, merek, atau fitur. Evaluasi
    ini membantu konsumen mempersempit pilihan mereka dan menentukan opsi
    terbaik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
  4. Purchase Decision
    Setelah mengevaluasi alternatif, konsumen akan mengambil keputusan
    untuk membeli produk atau jasa tertentu. Keputusan ini dipengaruhi oleh faktor-
    faktor seperti persepsi terhadap merek, pengalaman sebelumnya, dan promosi
    yang ditawarkan.
  5. Behavior After Purchasing
    Tahap akhir dari proses pembelian adalah evaluasi perilaku konsumen
    setelah transaksi. Pada fase ini, konsumen menilai apakah produk atau layanan
    yang mereka beli sesuai dengan ekspektasi yang dimiliki. Apabila konsumen
    merasa puas, mereka cenderung untuk melakukan pembelian kembali atau
    merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain. Di sisi lain, jika
    konsumen merasa tidak puas, hal ini dapat memicu keluhan atau keputusan untuk
    tidak melakukan pembelian di masa mendatang

Purchase Decision


Keputusan pembelian merupakan bentuk dari kepercayaan konsumen
terhadap perusahaan, dengan mempertimbangkan segala resiko yang ada,
perusahaan dapat meyakinkan konsumen terhadap produk perusahaan.
Keputusan pembelian adalah tahap di mana konsumen mengenali adanya
masalah, mencari informasi mengenai produk, dan mengevaluasi seberapa baik
setiap alternatif dapat menyelesaikan masalah tersebut. Proses ini akhirnya
mengarah pada pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian (Dewi et al.,
2020).

Indikator Kepercayaan

Adapun indikator yang membangun Kepercayaan pelanggan yang dapat
diukur melalui tiga dimensi utama menurut (Nguyen et al., 2013), adalah sebagai
berikut:

  1. Reliability
    Konsep keandalan berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam
    menyajikan produk atau layanan dengan konsistensi dan ketepatan waktu, sesuai
    dengan janji yang telah dibuat kepada pelanggan. Pelanggan mengharapkan
    adanya kepastian bahwa perusahaan dapat diandalkan untuk memenuhi
    kebutuhan dan ekspektasi mereka tanpa adanya kesalahan. Aspek-aspek yang
    termasuk dalam keandalan meliputi pengiriman yang tepat waktu, kualitas
    produk yang konsisten, dan komitmen perusahaan dalam memenuhi janji kepada
    pelanggan.
  2. Integrity
    Integritas mencerminkan sifat jujur, transparan, dan etis dari perusahaan
    dalam berinteraksi dengan pelanggan. Perusahaan yang memiliki tingkat
    integritas tinggi akan berkomunikasi secara terbuka dan jujur, menjaga
    kepercayaan pelanggan, serta bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral yang
    diterima secara umum. Dimensi ini juga mencakup perlakuan adil terhadap
    pelanggan, penyampaian informasi yang jelas, serta konsistensi antara
    pernyataan dan tindakan perusahaan.
  3. Competence
    Kompetensi menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memberikan
    solusi yang efektif dan berkualitas sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Sebuah
    perusahaan yang dianggap kompeten biasanya memiliki karyawan yang terampil
    dan berpengetahuan, proses operasional yang efisien, serta kemampuan untuk
    menangani masalah atau tantangan yang mungkin muncul. Selain itu, kompetensi
    juga mencakup aspek inovasi, adaptabilitas, dan kemampuan perusahaan untuk
    terus berkembang seiring dengan perubahan kebutuhan pelanggan dan dinamika
    pasar

Customer Trust


Kepercayaan konsumen menjadi salah satu faktor utama untuk pelanggan
membuat keputusan pembelian. Dengan tingkat kepercayaan yang tinggi
konsumen dapat mempengaruhi pelanggan untuk membuat keputusan pembelian
produk perusahaan. Konsumen tidak akan melanjutkan transaksi jika mereka
tidak memiliki kepercayaan terhadap penjual. Kepercayaan ini menjadi elemen
fundamental dalam interaksi antara konsumen dan penjual, baik di lingkungan
offline maupun online. Kepercayaan terhadap penjual ditentukan oleh beberapa
dimensi, termasuk kejujuran, kemampuan, kompetensi dan pengakuan. Di
samping itu, kepercayaan dari pelanggan sangat berpengaruh dalam menciptakan
hubungan yang berkomitmen dengan merek. Teori pertukaran sosial juga
mengindikasikan bahwa pelanggan lebih cenderung berinteraksi dengan
perusahaan yang mereka percayai (Kam et al., 2016)

Indikator Live Streaming

indikator-indikator menurut
(Chandrruangphen et al., 2022):

  1. Kualitas Produk
    Salah satu faktor terpenting yang memengaruhi kepercayaan konsumen
    adalah kualitas produk yang ditawarkan selama sesi live streaming. Ketika
    konsumen merasa bahwa produk yang dipromosikan memiliki kualitas yang baik
    dan sesuai dengan deskripsi yang diberikan, mereka cenderung lebih percaya
    pada penjual. Kualitas produk yang tinggi menciptakan kesan positif dan
    meningkatkan keyakinan konsumen bahwa produk tersebut layak untuk dibeli.
  2. Transparansi Harga
    Kejelasan informasi mengenai harga produk juga menjadi elemen penting
    dalam membangun kepercayaan. Konsumen akan merasa lebih yakin jika harga
    yang ditampilkan selama live streaming disampaikan dengan jujur tanpa adanya
    biaya tersembunyi. Transparansi ini menunjukkan bahwa penjual bersikap
    terbuka dan tidak mencoba untuk menyesatkan konsumen, sehingga mendorong
    rasa percaya.
  3. Citra Penjual
    Reputasi atau citra penjual memainkan peran penting dalam memengaruhi
    kepercayaan konsumen. Penjual yang terlihat profesional, ramah, dan dapat
    diandalkan akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari audiens. Meskipun
    pengaruh citra penjual terhadap kepercayaan tidak sekuat kualitas produk atau
    transparansi harga, citra ini tetap menjadi salah satu faktor pendukung yang
    penting dalam proses membangun hubungan dengan konsumen.
  4. Pengumuman Waktu Siaran
    Memberikan informasi mengenai jadwal live streaming sebelumnya juga
    dapat meningkatkan minat konsumen untuk menonton. Ketika waktu siaran
    diumumkan dengan jelas, konsumen dapat mengatur jadwal mereka untuk
    mengikuti sesi tersebut, sehingga menciptakan ekspektasi positif terhadap
    pengalaman belanja yang akan mereka dapatkan. Hal ini juga menunjukkan
    profesionalism dari pihak penjual dalam mengelola acara live streaming.
    Indikator-indikator ini bekerja secara sinergis untuk menciptakan rasa
    percaya pada konsumen selama sesi live streaming, yang pada akhirnya dapat
    mendorong mereka untuk melakukan keputusan pembelian

Live Streaming


Platform media sosial selalu memiliki banyak sekali fitur fitur baru yang
di sediakan bagi perusahaan maupun pelanggan, dengan banyaknya fitur yang di
tawarkan untuk perusahaan. fitur live streaming merupakan salah satu fitur yang
banyak di gunakan baik oleh perusahaan maupun oleh pelanggan. live streaming
pada platform belanja online menjadikan penghubung antara produk dan
konsumen, perilaku pembelian akhir konsumen didasarkan pada kepercayaan
konsumen terhadap produk dan kepercayaan pada rekomendasi yang di berikan
oleh streamer (Wu & Huang, 2023). Live Streaming memiliki fungsi yang mirip
dengan perilaku impulse buying, di mana pembeli cenderung melakukan
pembelian tanpa perencanaan. Peluang ini semakin besar ketika menggunakan
aplikasi digital seperti TikTok, yang menyediakan fitur live streaming shopping
untuk memfasilitasi interaksi langsung antara penjual dan pembeli (Kalemben et
al., 2023).

Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) Terhadap KeputusanPembelian


Penelitian sebelumnya, sebagaimana disampaikan oleh Ratnaningsih
(2022), menegaskan bahwa fear of missing out memiliki pengaruh positif dan –
signifikan, baik secara parsial maupun simultan, terhadap keputusan pembelian
konsumen. Temuan serupa juga dikemukakan oleh Syafah dan Santoso (2022),
yang menunjukkan bahwa fear of missing out memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen

Hubungan Influencer Marketing Terhadap Keputusan Pembelian


Influencer Marketing adalah teknik pemasaran yang memanfaatkan
media sosial untuk mendapatkan lebih banyak manfaat kampanye yang efektif
(Hariyanti & Wirapraja, 2018). Ini melibatkan influencer atau individu dengan
mempengaruhi konsumen untuk meningkatkan penjualan dan membina
hubungan konsumen (Lengkawati & Saputra, 2021). Influencer Marketing
diklasifikasikan dalam kategori kelompok referensi karena hal itu dapat secara
langsung atau tidak langsung mempengaruhi perilaku dan sikap individu
(Kotler, 2015). Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan lainnya
Influencer Marketing (X) Fear of Missing Out (FoMO) (Z)
sering digunakan oleh perusahaan dan organisasi untuk bertindak sebagai endorser
dan bahkan duta merek ketika melakukan pemasaran produk (Amalia & Sagita,
2019). Dalam ranah influencer, terdapat indikator daya tarik yang dapat
mempengaruhi keputusan pelanggan atau pengikut, mengarahkan mereka untuk
secara konsisten menikmati konten yang dibuat oleh influencer. Itu minat
audiens atau pengikut terhadap influencer dengan daya tarik yang kuat dapat
membentuk konsumen perilaku, sifat, keyakinan, minat, dan preferensi (Shimp,
2013). Hal ini pada gilirannya dapat berdampak keputusan konsumen dalam
membeli produk. Indikator kedua berkaitan dengan sifat dapat dipercaya,
meliputi kejujuran dan integritas seorang influencer (Shimp, 2007).). Seorang
influencer dengan level tinggi keahlian dapat mempengaruhi keputusan
pembelian secara signifikan (Chan, Ng, & Luk, 2013). Pengikut, yang pada
dasarnya adalah konsumen, mengambil keputusan pembelian terhadap produk
yang dipromosikan oleh influencer.
Pada penelitian (Fathurrahman et al., 2021) ; (Uyuun & Dwijayanti,
2022) yaitu variabel influencer marketing berpengaruh positif dan signifikan
pada keputusan pembelian. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh
Lengkawati dan Saputra (2021). Dalam penelitiannya, mereka menemukan
bahwa influencer marketing memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian
yaitu apabila suatu perusahaan meningkatkan penggunaan influencer marketing
maka keputusan pembelian konsumen pun akan mengalami peningkatan dan
demikian sebaliknya.
Sejalan dengan penelitian tersebut, penelitian yang dilakukan oleh H.P et
al.(2020) juga menemukan bahwa influencer marketing memiliki pengaruh
secara langsung dan signifikan terhadap keputusan pembelian

indikator keputusan pembalian
menurut Kotler & Armstrong (2016:188):
a. Pilihan produk. Dalam membeli produk dan tujuan yang lain, konsumen
harus mengambil keputusan. Dalam kasus ini perusahaan harus
meningkatkan perhatiannya kepada customer ataupun calon customer yang
berminat membeli produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan.
b. Pilihan merek. Merek sebuah memiliki perbedaan tersendiri, sehingga
membuat konsumen harus memilih dan mengambil keputusan tentang merek
yang akan dibeli. Dalam kasus ini perusahaan harus mengetahui alasan
customer memilih sebuah merek.
c. Pilihan penyalur. Setiap konsumen dalam membeli produk pasti ada faktor-
faktor yang mempermudah seperti lokasi yang dekat, harga yang murah,
persediaan barang yang lengkap, kenyamanan dalam belanja, keluasan
tempat dan lain-lain, dalam kasus ini perushaaan harus mengetahui alasan
customer pemilih sebuah penyalur.
d. Waktu pembelian. Dalam pemilihan waktu pembelian keputusan konsumen
menentukan waktu kapan membeli produk dan memprduksinya lalu
membelinya kembali, dalam kasus ini perusahaan harus mengetahui kapan
customer akan membeli produk sesuai kebutuhannya
e. Jumlah pembelian. Dalam seberapa banyak produk yang akan di belanjakan,
konsumen juga dapat mengambil keputusan berapa banyak produk yang
dibeli untuk kebutuhan. Dalam kasus ini perusahaan harus mengetahui
berapa jumlah pembelian produk dalam satu kali beli.
f. Metode pembayaran. Dalam pembelian produk atau jasa, konsumen
mengambil keputusan tentang metode pembayaran yang akan dilakukan.
Dalam hal ini perusahaan perlu mengetahui metode pembayaran apa yang
biasa dilakukan oleh konsumen berupa cash atau transaksi rekening bank

Dimensi Keputusan Pembelian


Kotler & Armstrong (2016:188) dalam mengemukakan keputusan
pembelian memiliki dimensi sebagai berikut:

  1. Pilihan produk Dalam membeli produk dan tujuan yang lain, konsumen harus
    mengambil keputusan. Dalam kasus ini perusahaan harus meningkatkan
    perhatiannya kepada customer ataupun calon customer yang berminat
    membeli produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan.
  2. Pilihan merek Merek sebuah memiliki perbedaan tersendiri, sehingga
    membuat konsumen harus memilih dan mengambil keputusan tentang merek
    yang akan dibeli. Dalam kasus ini perusahaan harus mengetahui alasan
    customer memilih sebuah merek.
  3. Pilihan penyalur Setiap konsumen dalam membeli produk pasti ada faktor-
    faktor yang mempermudah seperti lokasi yang dekat, harga yang murah,
    persediaan barang yang lengkap, kenyamanan dalam belanja, keluasan tempat
    dan lain-lain, dalam kasus ini perushaaan harus mengetahui alasan customer
    pemilih sebuah penyalur.
  4. Waktu pembelian Dalam pemilihan waktu pembelian keputusan konsumen
    menentukan waktu kapan membeli produk dan memprduksinya lalu
    membelinya kembali, dalam kasus ini perusahaan harus mengetahui kapan
    customer akan membeli produk sesuai kebutuhannya
  5. Jumlah pembelian\ Dalam seberapa banyak produk yang akan di belanjakan,
    konsumen juga dapat mengambil keputusan berapa banyak produk yang dibeli
    untuk kebutuhan. Dalam kasus ini perusahaan harus mengetahui berapa
    jumlah pembelian produk dalam satu kali beli.
  6. Metode pembayaran. Dalam pembelian produk atau jasa, konsumen
    mengambil keputusan tentang metode pembayaran yang akan dilakukan.
    Dalam hal ini perusahaan perlu mengetahui metode pembayaran apa yang
    biasa dilakukan oleh konsumen berupa cash atau transaksi rekening bank

Faktor Keputusan Pembelian


faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian menurut
Hatane dalam (Menitulo Gohae et al.,2021), yaitu :Keputusan untuk membeli
dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan
tersebut dilakukan. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat
digolongkan sebagai berikut:

  1. Fully Planned Purchase, baik produk dan merek sudah diilih
    sebelumnya. Biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi
    (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan
    pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga).
  2. Planned purchase dapat dialihkan dengan taktik marketing misalnya
    pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya.
  3. Partially Planned Purchase, bermaksud untuk membeli produk yang
    sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran.
    Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh discountharga, atau display produk.
  4. Unplanned Purchase, baik produk dan merek dipilih di tempat
    pembelian. Konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk
    pajangan sebagai pengganti daftar belanja. Dengan kata lain, sebuah
    pajangan dapat mengingatkan sesorang akan kebutuhan dan memicu
    pembelian

Definisi Keputusan Pembelian


Menurut setiadi dalam (Darilsyah Mahmud et al.,2023), keputusan
pembelian adalah kegiatan pembelian sebagai pertukaran uang dengan barang atau
jasa. Sehingga menimbulkan kepuasan atau ketidakpuasan konsumen
berdasarkan umpan balik.
Lestari dan Saifuddin dalam (Isna Amelia Nurhamidah 2022) menyatakan
keputusan pembelian adalah kegiatan yang diantaranya berupa pemecahan
masalah yang dilakukan oleh individu dalam pemilihan alternatif. Perilaku dan
dianggap sebagai sikap yang paling tepat dalam membeli dengan mendahulukan
tahapan proses pengambilan keputusan.
Menurut Kotler dan Keller (2009) dalam jurnal Fatmawati dan Soliha
(2017) menyebutkan bahwa keputusan pembelian adalah suatu proses
penyelesaian masalah. Yang terdiri dari menganalisa atau pengenalan kebutuhan,
keinginan, pencairan informasi, penilaian sumber-sumber seleksi terhadap
alternatif pembelian, kebutuhan pembelian, dan perilaku setelah pembelian.
Menurut Kotler & Armstrong (2016:188) Keputusan pembelian adalah
perilaku konsumen tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi
memilih, membeli, menggunakan barang, jasa, ide atau pengalaman untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.
Menurut Vrat dalam (Raeni Dwi Santy dan Reggina Andriani 2023)
Keputusan pembelian adalah sebagai proses pembelian, dan pembelian yang
efektif. Hal ini bertujuan untuk memperoleh bahan yang sesuai dalam jumlah
yang tepat, dengan kualitas yang tepat, dari sumber daya yang tepat, pada waktu
yang tepat, dan harga yang tepat.
Menurut Santy, R. D., & Atika, S. D. (2020) bahwa keputusan pembelian
adalah ketika semakin tinggi pengetahuan produk, semakin tinggi pula frekuensi
pengambilan keputusan pembelian dan pengetahuan produk memiliki implikasi
besar terhadap keputusan pembelian

Indikator FoMO

Indikator FoMO menurut dari Pryzbylski, Murayama,
DeeHaan, & Gladwell (2013) karena dapat memberikan peneliti alat yang valid
dan terpercaya untuk mengukur FoMO dalam konteks influencer marketing
terhadap keputusan pembelian. Indikator ini tidak hanya relevan secara teoritis
tetapi juga memiliki aplikasi praktis yang signifikan dalam memahami dan
memanfaatkan perilaku konsumen yang dipengaruhi oleh FoMO. Berikut
indikator Pryzbylski, Murayama, DeeHaan, & Gladwell (2013) :
a. Takut (Fear)
Hal ini berkaitan dengan ketakutan emosional yang dialami ketika seseorang
merasa terancam oleh melewatkan momen atau peristiwa tertentu.
b. Khawatir (Worry)
Kekhawatiran muncul ketika seseorang mengamati orang lain berpartisipasi
dalam momen tertentu atau peristiwa dan pengalaman ketakutan.
c. Kecemasan (Anxiety)
Kecemasan bermanifestasi sebagai respons terhadap situasi tidak nyaman
ketika seseorang mengalami hal tersebut berpartisipasi atau tidak
berpartisipasi dalam suatu momen atau peristiwa

2.1.2.3 Aspek FoMO (Fear of Missing Out)
menurut dalam Przybylski, Murayama, DeHaan dan Gladwell dalam
(Kharisma Adzan Muhammad 2024), yaitu:
a. Tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis akan relatedness. Relatedness
adalah kebutuhan seseorang untuk merasakan perasaan tergabung,
terhubung, dan kebersamaan dengan orang lain. Kondisi seperti pertalian
yang kuat, hangat, dan peduli dapat memuaskan kebutuhan untuk
pertalian, sehingga individu merasa ingin memiliki kesempatan lebih
dalam berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap penting dan terus
mengembangkan kompetensi sosialnya dan apabila kebutuhan psikologis
akan relatedness tidak terpenuhi menyebabkan individu merasa cemas
dan mencoba mencari tahu pengalaman dan apa yang dilakukan oleh orang
lain salah satunya melalui internet.

b. Tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis akan kebutuhan psikologis akan
berkaitan dengan competencedan autonomy. Competence didefinisikan
sebagai keinginan yang melekat pada individu untuk merasa efektif
dalam berinteraksi dengan lingkungannya mencerminkan kebutuhan
untuk melatih kemampuan dan mencari tantangan yang optimal (Reeve &
Sickenius dalam Tekeng, 2015). Kebutuhan competence berkaitan dengan
keyakinan individu untuk melakukan tindakan atau perilaku tertentu
secara efisien dan efektif. Rendahnya kepuasan terhadap competence akan
memungkinkan individu merasa frustasi dan putus asa. Sementara
autonomy adalah pengalaman merasakan adanya pilihan, dukungan dan
kemauan yang berkaitan dengan memulai, memelihara dan
mengakhiri keterlibatan perilaku (Niemic, Lynch, Vansteenkistec,
Bernstein, Deci & Ryan dalam Tekeng, 2015).
2.1.2.4 Indikator FoMO (fear of Missing Out)
Tabel 2. 2 Tabel Indikator FoMO (fear of Missing Out)
No Nama Penulis Indikator
1
Menurut Beneke dalam (M
Arib Daffa Hisbullah 2023)
a. Ketergantungan pada Media Sosial
b. Perbandingan Sosial,
c. Kecenderungan Implusif
2.
Pryzbylski, Murayama,
DeeHaan, & Gladwell (2013)
a. Fear
b. Worry
c. Anxiety
3
Menurut Lutz dalam
konteks yang dikutip oleh
M. Arib Daffa Hisbullah et
al. (2023)
a. Kecemasan Sosial
b. Keinginan untuk Menjaga Status
Sosial
c. Pengaruh Lingkungan
d. Kebutuhan untuk Terlibat dalam
aktivitas Populer
Sumber: Hasil oleh penelitian, 2024

Faktor FoMO (Fear of Mmissing Out)


Menurut JWT Intelligence dalam (Kharisma Adzan Muhammad 2024)
menyebutkan ada enam faktor pendorong yang mempengaruhi munculnya
FoMO, yaitu keterbukaan informasi di media sosial, usia, social one-
upmanship, peristiwa yang disebarkan melalui fitur hashtag, kondisi deprivasi
relative, serta banyaknya dorongan untuk mengetahui suatu informas

Definisi FoMO (Fear of Missing Out)


Menurut Pryzbylski, Murayama, DeeHaan, dan Gladwell dalam (Darilsyah
Mahmud et al.,2023) menyatakan bahwa FoMO (Fear of Missing Out) adalah
mencerminkan ketakutan individu terhadap terputusnya dari peristiwa terkini dan
keinginan yang kuat untuk tetap terhubung dengan orang lain melalui media
sosial dan saluran komunikasi lainnya. Fenomena ini menggambarkan bagaimana
media sosial dapat menjadi alat yang kuat dalam mempertahankan dan
memperluas jaringan sosial, serta memenuhi kebutuhan akan interaksi dan
informasi yang terkini bagi penggunanya.
Menurut San et al., (2019) Fear of Missing Out (FoMO) adalah strategi
yang sering digunakan dalam e-commerce karena urgensi dan dampak hilangnya
sesuatu yang besar dalam mempengaruhi keputusan orang. Fear of missing out
juga merupakan istilah yang biasa digunakan kalangan muda untuk menyebut pola
perilaku yang selalu merasa khawatir berlebihan dan merasakan ketakutan akan
tertinggal tren pergaulan yang terkini.
Menurut Lutz dalam (M Arib Daffa Hisbullah et al., 2023) menyatakan
fear of missing out adalah seseorang yang mengalami ketertarikan untuk membeli
produk atau layanan karena khawatir akan kehilangan kesempatan atau
pengalaman yang sedang populer dan diminati oleh orang lain. Fenomena ini
dapat mendorong seseorang untuk mengambil keputusan pembelian, meskipun
sebenarnya produk atau layanan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan atau
keinginan pribadi mereka. Hal ini menunjukkan bagaimana FoMO dapat
memengaruhi perilaku konsumen di era digital, di mana pengaruh dari media
sosial dan tren menjadi faktor yang signifikan dalam proses pembelian tersebut
sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan atau keinginan pribadi mereka.
Meurut Suhartini dan Dwi Maharani (2023) Fear of Missing Out (FoMO)
adalah istilah yang menggambarkan rasa takut kehilangan kesempatan untuk
mengalami suatu kegiatan atau memiliki sesuatu yang dikira penting bagi
individu. Dalam dunia pemasaran, FoMO dapat memainkan peran penting dalam
memengaruhi perilaku konsumen dalam membuat keputusan pembelian.
Meurut Beneke dalam (Darilsyah Mahmud et al.,2023) menyatakan fear of
missing out adalah konsumen yang cenderung mengalami kesulitan dalam
memilih satu pilihan karena mereka ingin mencoba semua pilihan yang tersedia.
Hal menciptakan dorongan untuk terlibat secara lebih luas dan eksploratif dalam
berbagai kesempatan yang ada, karena ada rasa kekhawatiran bahwa memilih satu
pilihan akan menghilangkan kesempatan untuk mengalami atau memiliki yang
lainnya

Indikator Influencer

Indikator Influencer marketing dari
Shimp (2014) :

a. Daya tarik
Daya tarik, baik fisik maupun non fisik, seperti kepribadian atau watak,
berperan peranan penting dalam diri setiap individu. Shimp (2014)
mengkonsepkan daya tarik sebagai suatu sifat atau karakteristik dalam
kelompok tertentu. Penting untuk dicatat bahwa daya tarik lebih dari itu
penampilan fisik; konsumen juga mempertimbangkan ciri dan karakteristik
kepribadian pemberi pengaruh. Penampilan fisik juga merupakan atribut
penting, karena berkontribusi pada penampilan awal kesan yang dibentuk oleh
konsumen.
b. Dapat dipercaya
Kepercayaan didasarkan pada tingkat kejujuran, integritas, dan integritas
yang dirasakan individu keandalan. Influencer yang dapat membangun
kepercayaan dengan pengikutnya lebih mungkin untuk mempengaruhi
keputusan pembelian mereka (Shimp, 2007).
c. Keahlian
Indikator keahlian berkaitan dengan kemampuan, keterampilan,
pengetahuan, dan kapasitas untuk terhubung dengan merek yang mereka
promosikan (Shimp, 2007). Seorang influencer dengan substansial keahlian
dapat berdampak signifikan terhadap keputusan pembelian (Chan, Ng, & Luk,
2013)

Aspek Influencer Marketing


Menurut Solis dalam (Isna Amelia Nurhamidah 2022) terdapat beberapa
kategori aspek yang dapat dilihat dari seorang influencer, yaitu Reach,
Resonance, dan Relevance.

  1. Reach, berarti seberapa banyak pengikut atau follower yang memiliki
    engagement seperti like, share, retweet, comment, klik pada link URL, atau
    mengisi form pembelian pada postingan yang dibuat oleh influencer. .
  2. Resonance, berarti influencer berhasil mempengaruhi follower untuk
    meneruskan dan membagikan kembali konten yang dibuatnya. Sementara
  3. Relevance, berarti apakah influencer memiliki nilai, budaya, dan demografis
    yang sama dengan target konsumen dari produk tersebut

Definisi Influencer Marketing


Menurut Hariyanti dan Wirapraja dalam penelitian yang dikutip oleh
Darilsyah Mahmud et al. (2023:6), influencer adalah individu yang aktif di media
sosial dengan jumlah pengikut yang signifikan. Influencer memiliki kemampuan
untuk mempengaruhi pengikutnya berdasarkan keahlian dan kemampuan yang
mereka miliki.
Menurut Ruly Kurniadi dan Aryo Wibisono (2024) Influencer adalah orang
atau tokoh media sosial yang memiliki jumlah pengikut yang banyak dimedia
sosialnya dan apa yang mereka katakan dapat mempengaruhi perilaku
pengikutnya. Influencer juga mereka yang memiliki pengaruh signifikan terhadap
media sosial. Orang –orang berpengaruh ini telah mendapatkan kepercayaan dari
rekan online mereka,dan pendapat mereka dapat berdampak besar pada reputasi
perusahaan.
Menurut Brown dan Hayes, dalam (Darilsyah Mahmud et al. 2023:6),
influencer adalah seseorang memiliki kemampuan untuk menciptakan konten
yang menarik dan memikat. Dengan keterampilan ini, mereka berhasil
menetapkan diri sebagai individu yang dapat memengaruhi audiens mereka.
Menurut Agustin dan Amron, dalam (Silpia Agustina et al. 2023:359),
sebagian besar pengguna media sosial saat ini secara aktif mengikuti konten
yang mereka lihat di platform tersebut. Hal ini menjadikan peran influencer
sangat penting bagi perusahaan dalam memasarkan produk mereka kepada para
pengguna.
Menurut Shimp dalam (Nikmatus Sholiqah dan Khusnul Fikriyah 2022),
influencer adalah individu yang dinilai berdasarkan tiga aspek utama: kepercayaan
(trustworthiness), keahlian (expertise), dan daya tarik (attractiveness).
Kepercayaan (trustworthiness) mengacu pada sejauh mana seorang influencer
dianggap jujur, memiliki integritas, dan dapat dipercaya. Keahlian (expertise)
mengacu pada pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang dimiliki oleh
seorang influencer yang berkaitan dengan konten yang dibuat atau
dipresentasikannya. Daya tarik (attractiveness) tidak hanya merujuk pada daya
tarik fisik, tetapi juga mencakup karakteristik positif yang dapat dilihat oleh
audiens, seperti sifat kepribadian, keterampilan intelektual, gaya hidup,
kecakapan khusus, dan lain sebagainya.
Menurut Menurut Joseph dalam (Isna Amelia Nurhamidah 2022)
menyatakan para influencer adalah berbagai elemen dalam aktivitas dari individu
yang memiliki pengaruh terhadap pengikutnya di media sosial. Elemen tersebut
diantaranya motivasi pribadi, kemampuan pribadi, motivasi sosial, kemampuan
sosial, motivasi struktural, dan kemampuan struktural.
Menurut Wong dalam (Yodi H.P et al., 2020) Influencer marketing adalah
praktik yang sangat populer akhir-akhir ini. Praktik ini dapat didefinisikan
sebagai bentuk pemasaran yang melibatkan kegiatan mengidentifikasi dan
membangun hubungan dengan individu yang memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi calon pembeli.
Menurut Rossiter dan Percy (2021, dalam Alifa dan Saputri, 2022)
mengemukakan bahwa terdapat 4 indikator yang dapat mengukur influencer
marketing. Indikator tersebut yaitu visibility (popularitas), credibility
(kredibilitas), attractiveness (daya tarik), power (kekuatan).
Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa influencer
marketing adalah strategi modern dalam pemasaran melalui media sosial. Para
influencer tidak hanya mempengaruhi pengikut mereka tetapi juga membantu
perusahaan dalam memasarkan produknya. Mereka memanfaatkan popularitas,
kredibilitas, daya tarik pribadi, dan kekuatan sosial mereka untuk memengaruhi
persepsi dan keputusan pembelian calon konsumen, menjadikan mereka mitra
yang berharga dalam mencapai tujuan pemasaran perusahaan

Pengaruh Keahlian Terhadap Niat Beli Konsumen


Beberapa konsumen lebih tertarik membeli produk yang di endorse oleh
seorang influencer yang memiliki tingkat pengetahuan dan pengalaman tentang
produk yang di endorse. Konsumen akan lebih cenderung mengembangkan
hubungan positif dengan influencer yang dianggap ahli di bidangnya (Lou, 2022).
Keahlian yang dimiliki influencer dapat membentuk tingkat keterlibatan
pelanggan dengan kuat dan mempengaruhi niat beli konsumen terhadap produk
yang dipromosikan (Alfarraj et al.,2021). Keahlian juga tidak hanya membentuk
tingkat kredibilitas influencer yang dirasakan tetapi juga membentuk perilaku
pembelian dan niat beli (Schouten et al., 2019).

Pengaruh Kepercayaan terhadap Niat Beli Konsumen


Kejujuran yang dimiliki oleh seorang influencer ketika mempromosikan
produk dapat memberikan kepercayaan kepada konsumen terhadap suatu produk
sehingga dapat meningkatkan niat beli konsumen terhadap produk. Sehingga
kepercayaan dari influencer yang melakukan endorsement memiliki peran penting
dalam mendorong niat beli konsumen (Yuan & Loui, 2020). Selain itu, influencer
yang selalu aktif membagikan konten informatif akan memperkuat emosional
pengikutnya dan mempengaruhi mereka secara positif untuk memperoleh produk
atau merek yang direkomendasikan (Ki et al., 2020). Influencer yang dapat
dipercaya akan lebih persuasif dan mendukung niat beli konsumen (Koay et al.,
2022). Niat beli dapat didefenisikan sebagai rencana sadar individu untuk
berusaha membeli suatu produk, karena niat beli mencakup probabilitas bahwa
konsumen berencana untuk membeli produk tertentu (Martiningsih & Setyawan,
2022).

Pengaruh Daya Tarik Terhadap Niat Beli Konsumen


Dalam dunia pemasaran digital saat ini, menciptakan kepercayaan
antara influencer dan pelanggan menjadi sangat penting. Influencer yang aktif
selalu menyapa pengikutnya melalui postingannya sehingga membuat pengikut
mereka terlihat seperti rekan (Erz et al., 2019). Influencer dengan fisik yang
menarik lebih menarik perhatian pengikut mereka (Ao et al., 2023). Attractiveness
merupakan faktor penting dalam penggunaan influencer untuk mendukung suatu
produk atau layanan. Attractiveness atau daya tarik merupakan defenisi dari
ketertarikan seorang konsumen yang mengarah pada fisik dan kepribadian
seorang influencer seperti daya tarik fisik yang cantik, ganteng, seksi, dan atletis
(Setiawan et al., 2022). Saat konsumen melihat sisi menarik dari seorang
influencer maka konsumen akan memihak produk dari influencer tersebut.
Influencer yang menarik secara fisik biasanya dipertimbangkan dalam melakukan
promosi produk karena memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan niat beli
konsumen. Niat beli konsumen mengacu pada perencanaan untuk membeli
sesuatu yang digunakan untuk masa depan. Niat beli adalah tindakan kognitif
dimana persepsi konsumen tentang suatu produk dianggap sebagai faktor yang
penting (Martiningsih & Setyawan, 2022)

Niat Beli


Niat beli diartikan sebagai rencana sadar dari konsumen untuk melakukan
upaya dalam membeli, karena niat beli mencakup probabilitas bahwa konsumen
berencana untuk membeli produk tertentu (Lou & Yuan, 2019). Niat beli adalah
kecenderungan dan keinginan dalam diri konsumen yang memotivasi konsumen
untuk membeli suatu produk atau jasa (Putri & Roostika, 2021). Seseorang akan
cenderung memiliki niat untuk melakukan sesuatu jika kegiatan tersebut adalah
hal yang disukai. Niat tersebut akan membentuk perilaku seseorang yang
berhubungan dengan niat pembelian. Konsumen berpandangan bahwa seorang
influencer umumnya merupakan sumber informasi yang dapat dipercaya (Faizan
et al., 2019). Pandangan konsumen tentang kualitas keseluruhan suatu produk
atau layanan, yang berdasarkan pada niat beli, dapat menjadi faktor penentu dari
nilai produk atau layanan tersebut dan dapat mempengaruhi keputusan dan
loyalitas konsumen terhadap merek tersebut. Purchase intention timbul setelah
konsumen merasa tertarik dan ingin membeli produk yang dilihat (Nugroho et al.,
2022).
Pada konteks pemasaran influencer, penelitian sebelumnya telah
mengindikasikan bahwa sikap konsumen terhadap merek tertentu memiliki
dampak langsung terhadap niat pembelian. Pengambilan keputusan sebelum
melakukan niat pembelian juga harus mempertimbangkan beberapa faktor.
Menurut Ding et al., (2020) terdapat 5 faktor yang mendorong terjadinya
purchase intention: 1) Keinginan dalam mengetahui kejelasan produk, 2)
Mempunyai pertimbangan untuk membeli, 3) Ketertarikan untuk mencoba, 4)
Keinginan untuk mengenal produk lebih dalam, dan 5) Keinginan untuk memiliki
produk.

Keahlian Infuencer


Keahlian dari seorang influencer dalam melakukan endorsement
merupakan hal yang penting dalam meningkatkan minat pembelian. Menurut
Utami (2019) yaitu keahlian influencer akan sangat berpengaruh bagi minat
pembelian. Keahlian adalah sejauh mana seseorang dapat melihat influencer
sebagai orang yang berpengalaman, berpengetahuan, dan berkualitas
(Weismueller et al., 2020). Seorang influencer tidak akan dianggap memiliki
keahlian di bidang tertentu kecuali penggemarnya percaya padanya sebagai
seorang yang terampil, mahir, dan memiliki pengetahuan yang memadai
(Schouten et al., 2019). Keahlian seorang influencer akan mempengaruhi
pengaruh informasinya terhadap konsumen (Lin et al., 2019). Seorang endorser
yang dianggap sebagai ahli pada subjek tertentu lebih persuasif dalam mengubah
pendapat audiens yang berkaitan dengan bidang keahliannya daripada seorang
endorser yang dianggap tidak ahli (Gilal et al., 2020). Oleh karena itu, beberapa
perusahaan menggunakan influencer yang sering menonjolkan bidang keahlian
mereka di media sosial karena calon konsumen menganggap mereka menarik dan
ahli di bidang tertentu

Kepercayaan Influencer


Kekuatan kredibilitas adalah dimana seseorang yang tidak dikenal dapat
menjadi sumber terpercaya dalam proses pengambilan keputusan (Mainolfi et al.,
2021). Kepercayaan adalah kesan konsumen tentang presenter atau model yang
berkaitan dengan wataknya. Kepercayaan adalah seberapa tidak bias persepsi
penerima terhadap sumber (Abdullah et al., 2020). Trustworthiness adalah tingkat
kepercayaan penerima informasi pada sumber untuk menyampaikan pernyataan
(Rusdiana et al., 2020). Tingkat kejujuran atau kepercayaan dari endorser
bergantung pada persepsi audiens terhadap maksud endorser tersebut. Apabila
konsumen percaya bahwa seorang influencer memotivasi murni karena
kepentingan pribadi, maka endorser tersebut kurang persuasif, begitupun
sebaliknya (Gilal et al., 2020). Menurut Lou dan Yuan (2019) trustwothiness
seorang influencer merupakan sejauh mana pengikut mempercayai bahwa
influencer dapat dipercaya, yang tercermin dalam persepsi kejujuran,
ketergantungan, ketulusan, dan kepercayaan influencer. Kepercayaan membentuk
pikiran konsumen sebelum mereka mengkonsumsi produk karena pilihan yang
akan ditetapkan berawal dari tumbuhnya kepercayaan pada produk sehingga
mampu memberikan hal yang positif sesuai dengan apa yang konsumen harapkan
(Bilal & Achmad, 2023). Oleh karena itu, kepercayaan merupakan indikator yang
sangat penting untuk mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.

Daya Tarik Influencer


Pada umumnya individu cenderung menyukai orang-orang yang mereka
senangi, cantik, atau tampan dan yang banyak memiliki kesamaan. Attractiveness
terdiri dari tiga dimensi, yaitu kesamaan, keakraban, dan rasa suka, yang artinya
influencer dianggap menarik bagi penerima jika mereka memiliki kesamaan atau
keakraban dengan influencer atau mereka menyukai influencer terlepas dari
apakah keduanya memiliki kesamaan dan keakraban atau tidak (Gilal et al., 2020).
(Annisa et al., 2020) menyatakan bahwa influencer yang kurang menarik akan
kalah dengan influencer yang memiliki daya tarik fisik. Namun, attractiveness
tidak hanya berfokus pada kecantikan fisik saja , tetapi juga kualitas lain seperti
kecerdasan, sifat kepribadian, dan gaya hidup (Olaosebikan, 2020). Influencer
yang memiliki daya tarik tinggi kemungkinan besar akan menarik perhatian dan
mendapatkan lebih banyak publisitas dari publik (Koay et al., 2021). Dengan
menggunakan influencer sebagai bintang iklan suatu produk, maka daya tarik
yang dimiliki oleh influencer tersebut menjadi dimensi penting bagi citra produk
yang diwakili, sehingga dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen

Influencer


Influencer adalah seorang atau figure dalam kehidupan yang memiliki
jumlah pengikut yang banyak atau signifikan di media sosial dan sesuatu yang
mereka sampaikan dapat mempengaruhi para pengikutnya (Hariyanti & Wipraja,
2019). Influencer bisa dikatakan sebagai genre baru dalam dunia selebriti, yakni
seseorang yang mendapatkan popularitas dan memiliki pengaruh melalui berbagai
konten (video, foto, atau kata-kata) di seluruh platform media sosial (Hayman et
al., 2023). Influencer dapat melakukan proses transfer makna yang merangsang
minat dan mempengaruhi sikap konsumen terhadap produk atau merek dan
pembelian (Magano et al., 2022). Menurut Pratiwi & Patrikha (2021), influencer
ialah seseorang atau tokoh yang berada dalam media sosial dan mempunyai
beberapa anggota followers yang berlimpah. Para influencer juga disebut sebagai
opinion leader yang dapat membangun kesadaran tertentu bagi para pengikutnya
melalui media sosial (Meifitri, 2020). Istilah beauty influencer pun hadir seiring
dengan meningkatnya kesadaran wanita dalam dunia kecantikan. Beauty
influencer merupakan influencer yang menyajikan konten kecantikan mulai dari
tutorial merias wajah, tips merawat kulit, mengulas produk kecantikan, hingga
vlog mengenai kehidupan pribadi (Haerunissa et al., 2019).
Seorang influencer harus memiliki kredibilitas dan pemahaman yang baik
terkait produk dari brand yang dipromosikan, selain dari menarik perhatian orang.
Kredibilitas merupakan suatu persepsi tentang bagaimana seseorang memiliki
keahlian tertentu dan pesan yang disampaikan dapat dipercaya oleh penerima atau
konsumen (Prayoga & Artanti, 2021). Credibility merupakan kejujuran dan
kepercayaan yang dimiliki dalam membuat konten iklan dan sama seperti yang
dipersepsikan oleh konsumen (Wilopo, 2021). Kredibilitas yang tinggi akan
mempermudah influencer dalam melakukan komunikasi pemasaran produk atau
merek (Alexander et al., 2020). Kredibilitas influencer terdiri dari tiga dimensi
yang mempengaruhi pesan untuk dapat diyakini dan mempunyai daya persuasi.
Menurut Ohanian (1990) dalam Geraldine & Candraningrum (2020)
mengembangkan kredibilitas menjadi tiga dimensi, yaitu attractiveness (daya
tarik), trustworthiness (kepercayaan), dan expertise (keahlian). Selanjutnya dia
menjelaskan bahwa ketiga dimensi tersebut, baik secara mandiri atau bersama-
sama, mempunyai kontribusi dalam mempengaruhi sikap audien terhadap iklan
dan niat beli.

Indikator keputusan pembelian

Menurut Kotler dan Armstrong dalam Pradana et al. (2017),
menyatakan bahwa terdapat empat indikator keputusan pembelian, yaitu:

  1. Kemantapan membeli setelah mengetahui informasi produk adalah
    dari konsumen setelah melakukan pembelian pada sebuah produk
    setelah mengetahui informasi yang baik dari sebuah produk tersebut.
  2. Memutuskan membeli karena merek yang paling disukai merupakan
    melakukan pembelian karena sebuah merek ternama.
  3. Membeli karena sesuai dengan keinginan dan kebutuhan.
    Merupakan konsumen yang membeli karena sebuah keinginan dan
    kebutuhan .
  4. Membeli karena mendapat rekomendasi dari orang lain merupakan
    pembelian dari rekomendasi teman atau keluarga untuk membeli
    produk tersebut.

Definisi Keputusan Pembelian


Menurut (Kumbara, 2021) keputusan pembelian merupakan sikap
konsumen dalam menentukan suatu pemilihan suatu produk untuk
mencapai kepuasan yang diinginkan. Keputusan pembelian adalah
tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk,
Kholidah dan Arifiyanto (2020).
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut maka dapat disimpulkan
keputusan pembelian merupakan hasil dari sikap konsumen terhadap
produk yang mereka anggap dapat memenuhi kebutuhan mereka, maka
akan terjadilah suatu keputusan dalam pembelian tersebut

Indikator sosial media marketing

Menurut Rumman dan Alhadid (2014) terdapat indikator yang ada
pada sosial media marketing yaitu:

  1. Online Communities, sebuah perusahaan atau bisnis dapat
    menggunakan media sosial untuk membangun komunitas di sekitar
    produk/bisnisnya. Komunitas yang hidup menciptakan loyalitas dan
    mendorong diskusi, yang dapat berkontribusi terhadap
    pengembangan dan peningkatan bisnis, Taprial dan Kanwar (2012).
  2. Interaction, sebuah halaman Facebook atau akun Twitter dapat
    memberi tahu semua pengikutnya mengenai subjek tertentu dengan
    cepat dan bersamaan. Situs jejaring sosial memungkinkan interaksi
    yang lebih besar dengan komunitas online melalui penyiaran
    informasi terkini yang relevan bagi konsumen Berselli et al. (2012).
  3. Sharing of Content, dimensi berbagi adalah tentang sejauh mana
    seorang individu mengubah, mendistribusikan, dan menerima
    konten dalam lingkungan media sosial Babac (2011).
  4. Accessibility, media sosial mudah diakses dan membutuhkan biaya
    yang minimal atau bahkan tanpa biaya untuk menggunakannya.
    Media sosial mudah digunakan dan tidak memerlukan keahlian
    khusus, pengetahuan untuk menggunakannya Taprial dan Kanwar,
    (2012).
  5. Credibility, ini adalah tentang menyampaikan pesan Anda dengan
    jelas kepada orang-orang, membangun kredibilitas untuk apa yang
    Anda katakan atau lakukan, terhubung secara emosional dengan
    audiens target Anda, memotivasi pembeli dan menghasilkan
    pelanggan yang loyal. Media sosial menyediakan platform yang
    sangat baik untuk semua bisnis (besar atau kecil) untuk membangun
    jaringan dan menjangkau audiens target mereka, terhubung dengan
    mereka secara langsung dan menghasilkan kepercayaan dengan
    mendengarkan apa yang mereka katakana Taprial dan Kanwar,
    (2012).

Definisi Sosial Media


Sosial media merupakan salah satu alat perantara bagi setiap orang
untuk keperluan berkomunikasi antar sesama, serta mengeksperesikan
dirinya (Nasrullah, 2019). Media sosial memungkinkan penggunanya
untuk berbagi konten dengan cepat dan realtime melalui smartphone,
tablet, laptop maupun komputer. Dengan adanya sosial media menjadi
solusi untuk mempermudah kita dalam berkomunikasi. Bahkan saat ini
media sosial banyak dimanfaatkan untuk media berbisnis sekaligus untuk
melakukan pemasaran sebuah produk.
Berikut terdapat dimensi untuk mengukur efektivitas media sosial
sebagai sarana pemasaran (Bilgin, 2018) :

  1. Entertainment, mendorong perilaku yang menciptakan
    emosi/perasaan positif tentang merek di benak jumlah pengikut di
    media sosial.
  2. Interaction, media sosial memfasilitasi interaksi, konten berbagi
    dan kolaborasi bisnis dengan pelanggan mereka.
  3. Trendiness, memperkenalkan informasi terbaru/terkini tentang
    produk kepada pelanggan.
  4. Advertisement, iklan media sosial pada persepsi dan kesadaran
    pelanggan adalah bagian dari kegiatan pemasaran media sosial.
  5. Customization, tindakan menciptakan kepuasan pelanggan
    berdasarkan kontak bisnis dengan pengguna individu. Media sosial
    sebagai alat bantu untuk berkomunikasi jarak jauh dan dengan
    perbedaan waktu

Karakteristik Influencer


Ada beberapa aspek karakteristik seorang influencer untuk
menentukan kesesuaiannya terhadap merek (Hafiidh, 2022), antara lain:

  1. Kesepakatan influencer dengan pembisnis. Dengan hal ini
    menjadikan hal yang sangat penting dikarenakan sangat
    mempengaruhi dalam tujuan kerjasama antara seorang influencer
    dengan perusahaan untuk mencapai keberhasilan bersama;
  2. Tingkat ketenaran influencer, dengan promosi sebuah merek yang
    bertujuan untuk mengangkat citra merek, tentu saja diperlukan kerja
    sama dengan seorang influencer yang telah di kenal oleh banyak
    publik;
  3. Kualitas feeds atau kualitas konten yang di upload. Dengan adanya
    tanggapan oleh seorang pengikut terhadap sebuah merek akan sangat
    berpengaruh pada feeds yang ditayangkan serta konten yang menarik
    yang di tayangkan oleh seorang influencer. Inilah salah satu alasan
    pentingnya dengan pembuatan konten yang sangat berkualitas karna
    sangat mempengaruhi bahkan mewakili produk di mata para
    pengikut atau konsumen;
    19
  4. Seorang influencer harus memiliki postingan di media sosial yang
    jelas atau bahkan memiliki postingan yang unik atau bahkan
    memiliki kekhasan yang tidak semua orang atau influencer lain
    memilikinya;
  5. Seorang influencer harus seorang yang benar-benar membutuhkan
    produk tersebut atau bahkan menggunakan produk yang di tawarkan
    kepada para pengikut mereka, dengan demikan produk yang di
    iklankan memang benar – benar bermanfaat

indikator influence

Menurut (Forbes, 2016) indikator seorang influencer yaitu:

  1. Relatability, influencer memiliki koneksi dengan pengikutnya
    seperti berbagi cerita dan pengalaman pribadi yang
    menimbulkan hubungan simpatik dengan pengikutnya.
  2. Knowledge, influencer memiliki pengetahuan dan wawasan
    tentang suatu produk atau merek dan mampu memberikan fakta
    yang jelas dan pasti tentang produk ke konsumen.
  3. Helpfulness, influencer memberikan saran dan opini yang dapat
    digunakan untuk mempengaruhi keputusan konsumen terhadap
    suatu produk atau jasa.
  4. Confidence, influencer memiliki kepercayaan atas informasi
    yang diberikan dan memiliki keyakinan atas kemampuan yang
    dimiliki.
  5. Articulation, influencer dapat mengkomunikasikan dan
    menyajikan informasi dengan jelas dan lancar untuk membantu
    pengikutnya dalam memahami produk atau merek, baik secara
    visual maupun verbal.

Pengertian Influencer


Menurut Azevedo et al. (2018) dalam Herviani et al. (2020) sosial
media influencer adalah pengguna media sosial dengan jumlah pengikut
yang tinggi di media sosial, yang dipercaya oleh masyarakat umum dan
dapat menyebarkan informasi di media sosial dengan mudah dan kapan
saja influencer menerbitkan sebuah postingan akan menjangkau banyak
pengguna lain. Selebriti atau influencer sudah sejak lama di manfaatkan
atau di gunakan sebagai media promosi bahkan kampanye pemasaran,
dengan tujuan untuk menyalurkan citra atau memberikan nilai selebriti
kepada merek yang di dukungnya bahkan yang sedang di gunakannya
Cheah et al. (2019).
Influencer lebih sering fokus kepada audiens atau target pasar
mereka dengan tujuan agar lebih tersegmentasi kepada siapa berbagi
minat. Dengan begitu, maka influencer harus lebih dekat dengan audiens
dan lebih sepesifik dengan mereka, sehingga mereka dapat tampil dengan
mudah dan percaya atau kredibel. Influencer adalah sebuah fenomena
modern. Agen pemasaraan telah meningkat secara signifikan, sebagian
besar seorang influencer termasuk dalam katagori berikut: Selebriti,
pakar industri, blogger atau pembuat konten dan mikro influencer.
Sebagai besar pemasaran influencer di lakukan menggunaan media sosial
terutama influencer mikro.

Pengaruh Social Media Ads terhadap Potongan Harga


Sosial media ads yang menyertakan elemen potongan harga cenderung lebih
efektif dalam menarik perhatian konsumen. Visualisasi promo diskon dalam iklan
media sosial dapat meningkatkan persepsi konsumen terhadap nilai produk
tersebut. Hasil penelitian (Ramadhani & Anjani, 2021) menyatakan bahwa social
media ads yang menampilkan potongan harga mampu meningkatkan persepsi nilai
dan menarik lebih banyak konsumen untuk melakukan pembelian

Pengaruh Influencer Marketing terhadap Potongan Harga


Selain memengaruhi keputusan pembelian secara langsung, Influencer
Marketing juga dapat berperan dalam memperkuat daya tarik potongan harga.
Influencer seringkali memberikan kode diskon atau mempromosikan promo
eksklusif, sehingga potongan harga menjadi lebih menarik bagi audiens mereka.
Menurut (Yuniarti & Setiawan, 2021), promosi melalui influencer yang disertai
dengan penawaran diskon dapat meningkatkan minat beli konsumen secara
signifikan

Pengaruh Social Media Ads terhadap Keputusan Pembelian


Social media ads adalah bentuk promosi berbayar yang disebarkan melalui
platform media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok. Iklan di media
sosial yang menarik, relevan, dan ditargetkan dengan baik dapat menciptakan
kesadaran merek serta mempengaruhi konsumen dalam proses pengambilan
keputusan pembelian. Menurut (Putri & Suprapti, 2020), efektivitas iklan media
sosial secara signifikan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.
Penelitian lain oleh (Hidayat & Hidayat, 2022) juga menunjukkan bahwa social
media ads mampu meningkatkan intensi pembelian melalui paparan visual yang
menarik dan penawaran yang relevan

Pengaruh Influencer Marketing terhadap Keputusan Pembelian


Influencer Marketing adalah strategi pemasaran dengan memanfaatkan
individu yang memiliki pengaruh kuat di media sosial untuk mempromosikan
produk atau layanan tertentu. Influencer yang memiliki kredibilitas tinggi, daya
tarik personal, dan kekuatan persuasif dapat memengaruhi keputusan pembelian
konsumen melalui rekomendasi atau ulasan produk yang mereka bagikan. Menurut
penelitian oleh (Nugroho & Iqbal, 2021), Influencer Marketing terbukti memiliki
pengaruh positif terhadap keputusan pembelian konsumen. Hal ini juga sejalan
dengan hasil penelitian (Rachmawati & Wulandari, 2020) yang menyatakan bahwa
kepercayaan terhadap influencer mampu meningkatkan minat beli yang kemudian
mempengaruhi keputusan pembelian

Skincare


Skincare merujuk pada serangkaian perawatan dan produk yang digunakan
untuk menjaga kesehatan dan penampilan kulit. Produk skincare terdiri dari
berbagai jenis yang memiliki tujuan khusus, seperti menjaga kelembapan kulit,
melindungi dari sinar matahari, mencegah penuaan dini, dan mengatasi masalah
kulit seperti jerawat atau kulit kusam. Dalam beberapa tahun terakhir, industri
skincare mengalami perkembangan pesat, dengan meningkatnya kesadaran
konsumen akan pentingnya perawatan kulit yang baik dan penggunaan produk yang
sesuai dengan jenis kulit mereka.
Di Indonesia, pasar skincare berkembang pesat seiring dengan perubahan
gaya hidup dan meningkatnya kepedulian terhadap kesehatan kulit, terutama di
kalangan generasi muda. Menurut data dari Nielsen (2020), tren perawatan kulit
telah beralih dari hanya sekedar kebutuhan menjadi bagian dari gaya hidup, di mana
konsumen kini lebih tertarik untuk menggunakan produk yang tidak hanya efektif,
tetapi juga aman dan ramah lingkungan. Hal ini mengarah pada meningkatnya
permintaan untuk produk-produk skincare yang berbahan alami dan terbukti aman
untuk digunakan.
Sebagai bagian dari pasar yang berkembang ini, produk skincare
menghadirkan berbagai pilihan yang bertujuan untuk menjawab kebutuhan
konsumen yang mencari solusi praktis dan efektif dalam merawat kulit mereka.
Produk ini ditujukan untuk memberikan manfaat seperti mencerahkan,
melembapkan, dan meremajakan kulit, yang dapat mempengaruhi keputusan
pembelian konsumen yang peduli dengan hasil nyata dan kemudahan penggunaan.
Jenis-jenis Produk Skincare
Produk skincare memiliki berbagai macam jenis yang dibedakan berdasarkan
fungsinya. Beberapa produk umum dalam kategori skincare antara lain:

  1. Micellar Water ( pembersih )
    micelle, yang berfungsi untuk mengangkat kotoran, minyak, dan sisa
    makeup secara lembut tanpa perlu dibilas. Selain membersihkan, micellar
    water juga membantu menyegarkan kulit, menjaga kelembapan, serta cocok
    digunakan untuk semua jenis kulit, termasuk kulit sensitif, karena
    formulanya yang ringan dan tidak mengandung alkohol.
  2. Facial Wash
    pembersih wajah yang berfungsi untuk mengangkat kotoran, minyak
    berlebih, debu, dan sisa makeup, sehingga membantu mencegah
    penyumbatan pori-pori, jerawat, serta komedo. Selain itu, facial wash juga
    membantu mengontrol minyak di wajah, menyegarkan kulit, menjaga
    keseimbangan pH kulit, dan memaksimalkan penyerapan produk perawatan
    21
    kulit selanjutnya.
  3. Toner
    Toner adalah produk yang digunakan setelah pembersihan wajah untuk
    membantu mengencangkan pori-pori, menghidrasi kulit, dan
    menyeimbangkan pH kulit. Beberapa toner juga memiliki kandungan yang
    dapat membantu mengatasi masalah kulit tertentu, seperti jerawat atau kulit
    kusam.
  4. Serum
    Serum adalah produk dengan konsentrasi bahan aktif yang lebih tinggi
    dibandingkan dengan krim atau pelembap. Serum biasanya digunakan
    untuk memberikan manfaat spesifik, seperti mencerahkan, mengurangi
    tanda penuaan, atau mengatasi masalah kulit tertentu seperti jerawat dan
    noda hitam.
  5. Moisturizer (Pelembap)
    Pelembap berfungsi untuk menjaga kelembapan kulit dan mencegah kulit
    menjadi kering. Pelembap sangat penting untuk menjaga kulit tetap
    terhidrasi dan tampak sehat.
    Skincare tidak hanya berfungsi untuk mempercantik penampilan, tetapi juga
    untuk menjaga kesehatan kulit secara keseluruhan. Kulit yang sehat akan lebih
    terlihat segar, terhindar dari iritasi, dan memiliki kelembapan yang cukup. Oleh
    karena itu, perawatan kulit yang baik dan rutin dapat berkontribusi pada
    peningkatan rasa percaya diri dan kenyamanan diri.
    Selain itu, penggunaan produk skincare yang tepat juga dapat membantu
    mencegah berbagai masalah kulit yang sering terjadi, seperti jerawat, kulit
    berminyak, kulit kering, serta tanda-tanda penuaan dini. Produk seperti Skincare ini
    dapat membantu memenuhi kebutuhan perawatan kulit yang lebih terfokus pada
    hasil yang nyata dan bisa dirasakan oleh pengguna dalam waktu yang relatif
    singkat.
    Keputusan pembelian produk skincare sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor
    seperti kualitas produk, reputasi merek, harga, dan rekomendasi dari orang lain.
    Dalam konteks ini, Influencer Marketing dan social media ads yang dipasang di
    platform seperti Instagram dan TikTok dapat memainkan peran penting dalam
    memengaruhi konsumen untuk memilih produk tertentu. Menurut Theory of
    Reasoned Action (TRA), keputusan pembelian konsumen didorong oleh sikap
    mereka terhadap produk dan pengaruh sosial, termasuk rekomendasi dari influencer
    yang mereka percayai (Fishbein & Ajzen, 2011).
    Produk seperti Skincare ini, yang dipromosikan melalui influencer atau media
    sosial ads, dapat mempengaruhi audiens untuk mencoba produk tersebut karena
    mereka merasa lebih yakin dengan kualitas dan hasil yang dijanjikan oleh
    influencer yang mereka ikuti. Selain itu, hasil yang nyata, seperti kulit yang lebih
    cerah atau lebih lembap, dapat meningkatkan tingkat kepuasan dan loyalitas
    konsumen terhadap produk tersebut.
    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Produk Skincare
  6. Jenis Kulit
    Setiap orang memiliki jenis kulit yang berbeda, seperti kulit kering,
    berminyak, atau kombinasi. Konsumen cenderung memilih produk skincare
    yang sesuai dengan jenis kulit mereka untuk menghindari iritasi dan
    mendapatkan hasil yang optimal. Oleh karena itu, merek seperti Skincare
    ini perlu menawarkan produk yang diformulasikan khusus untuk berbagai
    jenis kulit.
  7. Kandungan Produk
    Kandungan bahan aktif dalam produk skincare sangat penting untuk
    diperhatikan oleh konsumen. Beberapa bahan seperti asam hialuronat,
    vitamin C, dan retinol memiliki manfaat tertentu, dan konsumen sering
    mencari produk yang mengandung bahan-bahan ini untuk mencapai hasil
    yang mereka inginkan.
  8. Harga dan Aksesibilitas
    Harga produk juga menjadi pertimbangan utama dalam keputusan
    pembelian. Produk skincare yang harganya terjangkau namun efektif,
    seperti Skincare ini, akan lebih menarik bagi konsumen yang ingin merawat
    kulit mereka tanpa mengeluarkan biaya yang tinggi. Aksesibilitas produk
    juga penting, di mana produk yang mudah ditemukan di toko kosmetik atau
    online store akan lebih mudah diakses oleh konsumen.
    Skincare merupakan elemen penting dalam menjaga kesehatan dan
    kecantikan kulit. Produk seperti Skincare ini hadir sebagai solusi yang dapat
    membantu konsumen merawat kulit mereka dengan hasil yang terlihat. Melalui
    pemasaran yang efektif, baik melalui Influencer Marketing atau social media
    ads, merek skincare dapat membangun hubungan yang lebih kuat dengan
    konsumen dan mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Dengan
    meningkatnya kesadaran akan pentingnya perawatan kulit, produk skincare
    yang berkualitas akan terus memiliki potensi besar di pasar, terutama di
    kalangan audiens muda yang sangat aktif di platform media sosial

Social Media Ads


Social media ads atau iklan media sosial merujuk pada bentuk iklan yang
ditempatkan atau dipasang di platform media sosial dengan tujuan untuk
meningkatkan kesadaran merek, menarik audiens baru, atau mendorong tindakan
tertentu, seperti pembelian produk. Platform media sosial seperti Instagram,
TikTok, Facebook, Twitter, dan lainnya menawarkan berbagai jenis format iklan
yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan merek dan tujuan pemasaran mereka
(Susanto, 2020). Untuk produk Skincare ini , penggunaan social media ads di
Instagram dan TikTok menjadi salah satu strategi utama untuk menjangkau
konsumen dengan cara yang lebih tepat sasaran dan personal.
Jenis-jenis Social Media Ads

  1. Iklan Bergambar (Display Ads)
    Iklan bergambar adalah salah satu bentuk iklan yang paling sederhana dan
    umum digunakan di media sosial. Iklan ini biasanya berupa gambar atau
    banner yang menarik perhatian audiens dan diletakkan di dalam feed atau
    stories pengguna. Pada platform seperti Instagram, iklan bergambar dapat
    menampilkan produk seperti Perusahaan ini dengan desain yang menarik,
    sehingga dapat menarik minat audiens untuk mengetahui lebih lanjut
    tentang produk tersebut (Wahyuni, 2020).
  2. Iklan Video (Video Ads)
    Video ads memungkinkan merek untuk menunjukkan produk mereka dalam
    format yang lebih dinamis dan menarik. Iklan video sangat efektif dalam
    memperkenalkan produk secara lebih mendalam, seperti tutorial
    penggunaan produk atau testimoni pengguna. Untuk produk skincare , iklan
    video bisa memperlihatkan cara penggunaan produk, hasil yang dapat
    dicapai, serta testimoni dari pengguna yang sudah merasakan manfaatnya.
    Menurut studi oleh Handayani (2021), iklan video cenderung lebih memikat
    karena dapat mengkomunikasikan pesan secara lebih lengkap dan visual,
    yang membuat audiens lebih tertarik.
  3. Iklan Carousel
    Iklan carousel adalah format iklan yang memungkinkan pengguna untuk
    menggulirkan beberapa gambar atau video dalam satu iklan. Iklan carousel
    memungkinkan merek untuk menampilkan berbagai aspek produk atau fitur
    produk dalam satu iklan. Untuk produk seperti Skincare ini, format carousel
    bisa digunakan untuk menampilkan berbagai varian produk, manfaat, atau
    sebelum dan sesudah penggunaan produk. Format ini memberikan
    fleksibilitas lebih bagi merek untuk menyampaikan pesan dengan cara yang
    lebih kreatif (Suryadi, 2021).
  4. Iklan Stories
    Instagram dan TikTok memiliki fitur stories yang memungkinkan merek
    untuk menampilkan iklan dalam format singkat yang berlangsung 24 jam.
    Iklan stories dapat sangat efektif untuk meningkatkan keterlibatan audiens
    karena tampil di bagian atas feed dan lebih mudah dilihat oleh pengguna.
    Iklan stories juga cenderung lebih informal dan personal, yang dapat
    membuat audiens merasa lebih dekat dengan merek. Produk Skincare ini
    dapat dipromosikan melalui stories dengan cara yang menarik dan mudah
    diakses oleh audiens target.
    Social media ads memainkan peran penting dalam pemasaran produk
    skincare seperti Glad 2 Glow karena kemampuannya untuk menjangkau audiens
    secara tepat dan efektif. Platform seperti Instagram dan TikTok memiliki sistem
    iklan yang sangat canggih yang memungkinkan pengiklan untuk menargetkan
    audiens berdasarkan berbagai kriteria, seperti usia, lokasi, minat, dan perilaku.
    Misalnya, dengan menggunakan Facebook Ads Manager, merek seperti Skincare
    ini dapat menargetkan iklan mereka kepada perempuan muda yang tertarik dengan
    perawatan kulit dan kecantikan, serta sering berinteraksi dengan konten terkait
    produk skincare.
    Iklan di media sosial juga dapat memanfaatkan fitur-fitur seperti shoppable
    posts, yang memungkinkan konsumen untuk langsung membeli produk dari iklan
    yang mereka lihat tanpa perlu keluar dari platform media sosial. Fitur ini sangat
    menguntungkan untuk produk skincare yang ingin memberikan kemudahan bagi
    konsumen dalam melakukan pembelian langsung setelah melihat iklan.
    Menurut Theory of Reasoned Action (TRA), keputusan pembelian konsumen
    sangat dipengaruhi oleh sikap dan niat mereka terhadap produk (Fishbein & Ajzen,
    2011). Social media ads, dengan kemampuannya untuk menyampaikan pesan yang
    menarik dan relevan, dapat membentuk sikap positif konsumen terhadap produk
    Perusahaan ini dan mendorong mereka untuk melakukan pembelian. Misalnya,
    iklan yang menampilkan testimonial atau bukti hasil nyata dari penggunaan produk
    skincare dapat memengaruhi niat beli konsumen.
    19
    Keuntungan utama dari social media ads adalah kemampuan untuk
    menargetkan audiens secara tepat dan memantau hasil secara real-time. Dengan
    menggunakan alat analitik yang tersedia pada platform media sosial, merek dapat
    melihat kinerja iklan mereka melalui metrik seperti tingkat klik, konversi, dan
    keterlibatan. Hal ini memungkinkan pengiklan untuk mengoptimalkan kampanye
    mereka secara lebih efisien dan efektif (Wahyuni, 2020). Selain itu, iklan di media
    sosial cenderung memiliki biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan iklan
    tradisional seperti televisi atau radio, namun tetap dapat menjangkau audiens yang
    luas.
    Penggunaan social media ads juga memungkinkan merek untuk berinteraksi
    langsung dengan audiens mereka melalui fitur-fitur seperti komentar, pesan
    langsung, atau reaksi terhadap iklan. Ini menciptakan peluang bagi merek untuk
    membangun hubungan yang lebih personal dengan konsumen dan meningkatkan
    loyalitas terhadap produk (Susanto, 2020).
    Meskipun social media ads menawarkan banyak keuntungan, ada beberapa
    tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah persaingan yang tinggi
    dalam iklan berbayar di media sosial. Banyak merek yang bersaing untuk
    mendapatkan perhatian audiens yang sama, sehingga pengiklan perlu memiliki
    strategi yang kreatif dan terukur untuk memastikan bahwa iklan mereka dapat
    menonjol di antara banyaknya konten yang ada (Suryadi, 2021). Selain itu,
    perubahan algoritma platform media sosial juga bisa memengaruhi jangkauan dan
    efektivitas iklan. Platform seperti Instagram dan TikTok sering mengubah cara
    mereka menampilkan iklan kepada pengguna, yang dapat memengaruhi visibilitas
    iklan dan hasil kampanye pemasaran (Susanto, 2020)

Potongan Harga


Potongan harga adalah salah satu strategi promosi penjualan yang umum
digunakan oleh perusahaan untuk menarik perhatian konsumen dan mendorong
keputusan pembelian. Potongan harga atau diskon ini memberikan insentif finansial
kepada konsumen dengan mengurangi harga normal suatu produk dalam periode
tertentu, sehingga konsumen merasa mendapatkan nilai lebih dari transaksi tersebut
(Sari, 2020). Strategi ini efektif dalam meningkatkan volume penjualan jangka
pendek dan mempercepat perputaran produk, terutama dalam industri yang sangat
kompetitif seperti kosmetik dan skincare.
Menurut Kotler dan Keller (2016), potongan harga termasuk dalam kategori
promosi penjualan yang bertujuan untuk merangsang permintaan dalam waktu
singkat dengan menawarkan pengurangan harga langsung. Dalam konteks produk
skincare, potongan harga bisa menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang
mempertimbangkan pembelian pertama atau bagi mereka yang ingin mencoba
produk baru dengan risiko finansial yang lebih rendah. Sebagaimana dikemukakan
oleh Wulandari (2021), diskon harga mampu memengaruhi persepsi konsumen
terhadap nilai produk, sehingga meningkatkan intensi pembelian mereka.
Dalam pemasaran digital, potongan harga sering dikombinasikan dengan
kampanye media sosial dan Influencer Marketing untuk menciptakan efek
pemasaran yang lebih kuat. Sebagai contoh, brand skincare yang melakukan
kolaborasi dengan influencer untuk mengumumkan potongan harga eksklusif dapat
menarik lebih banyak perhatian dari audiens yang sudah mempercayai influencer
tersebut (Prasetya, 2022). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Nurhayati
(2023) yang menunjukkan bahwa konsumen yang menerima informasi tentang
promosi dari influencer cenderung lebih termotivasi untuk melakukan pembelian
karena adanya penawaran diskon.
Elemen-Elemen Strategi Potongan Harga:

  1. Diskon Langsung (Direct Discount)
    Diskon langsung adalah pengurangan harga yang diterapkan secara
    langsung pada harga produk yang ditawarkan. Misalnya, harga normal
    produk skincare tertentu adalah Rp200.000, dan selama periode promosi,
    perusahaan memberikan diskon 20%, sehingga harga jual menjadi
    Rp160.000. Menurut penelitian oleh Hartati (2021), diskon langsung
    merupakan salah satu bentuk promosi yang paling efektif untuk menarik
    konsumen karena memberikan manfaat yang langsung dirasakan dalam
    bentuk penghematan finansial.
  2. Diskon Musiman (Seasonal Discount)
    Diskon musiman diberikan selama periode tertentu, seperti akhir tahun, hari
    raya, atau selama event promosi khusus seperti Harbolnas (Hari Belanja
    Online Nasional). Menurut Susilowati (2022), strategi ini tidak hanya
    membantu menghabiskan stok produk, tetapi juga meningkatkan kesadaran
    merek saat periode promosi berlangsung. Dalam konteks toko kosmetik
    seperti Guardian Mall Olympic Garden Malang, diskon musiman sangat
    efektif dalam menarik pelanggan yang mencari produk skincare berkualitas
    dengan harga lebih terjangkau.
  3. Diskon Berbasis Volume (Quantity Discount)
    Diskon berbasis volume diberikan kepada konsumen yang membeli produk
    dalam jumlah tertentu. Contohnya, beli dua produk skincare mendapatkan
    diskon 15%. Studi oleh Rahayu (2023) menyatakan bahwa diskon berbasis
    volume dapat meningkatkan nilai rata-rata pembelian per transaksi serta
    mendorong konsumen untuk mencoba lebih banyak varian produk dalam
    satu kali pembelian.
    Pengaruh Potongan Harga terhadap Keputusan Pembelian:
    Potongan harga memiliki dampak yang signifikan terhadap keputusan
    pembelian konsumen. Berdasarkan teori perilaku konsumen, diskon harga dapat
    memengaruhi persepsi nilai dan urgensi pembelian, yang pada akhirnya mendorong
    konsumen untuk melakukan pembelian segera (Schiffman & Kanuk, 2014).
    Penelitian oleh Dewi (2021) menemukan bahwa 68% konsumen lebih tertarik untuk
    membeli produk skincare saat terdapat penawaran diskon, dibandingkan saat harga
    normal.
    Selain itu, potongan harga juga dapat menciptakan efek psikologis seperti
    “fear of missing out” (FOMO), yaitu kekhawatiran konsumen akan kehilangan
    kesempatan mendapatkan harga spesial. Menurut hasil riset oleh Yuliani (2022),
    promosi diskon yang dikemas dengan batasan waktu tertentu cenderung
    meningkatkan urgensi pembelian karena konsumen terdorong untuk segera
    memanfaatkan penawaran tersebut sebelum berakhir.
    Tidak hanya itu, potongan harga yang disampaikan melalui Influencer
    Marketing atau iklan media sosial terbukti lebih efektif dibandingkan dengan
    promosi konvensional. Hal ini diperkuat oleh penelitian Setiawan (2023), yang
    menunjukkan bahwa 75% responden merasa lebih terdorong untuk membeli produk
    yang mendapatkan rekomendasi dari influencer sekaligus ditawarkan dengan
    potongan harga khusus.
    Keuntungan utama dari penerapan potongan harga adalah kemampuannya
    untuk menarik pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lama. Bagi
    perusahaan, strategi ini bukan hanya meningkatkan volume penjualan jangka
    pendek, tetapi juga membangun loyalitas pelanggan ketika dikombinasikan dengan
    pengalaman produk yang memuaskan. Dalam industri skincare, di mana konsumen
    cenderung mencoba berbagai produk sebelum menemukan yang sesuai, potongan
    harga dapat menjadi strategi yang efektif untuk memperkenalkan produk baru
    sekaligus memperbesar pangsa pasar (Fitriani, 2024)

Influencer Marketing


Influencer Marketing adalah salah satu strategi pemasaran digital yang
memanfaatkan individu dengan pengaruh besar di media sosial untuk
mempromosikan produk atau layanan kepada audiens mereka. Influencer adalah
seseorang yang memiliki jumlah pengikut yang besar di platform media sosial,
seperti Instagram, TikTok, YouTube, atau Twitter, dan memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi opini serta perilaku audiens mereka (Handayani, 2021). Dalam
konteks pemasaran produk skincare ini , Influencer Marketing dapat menjadi salah
satu metode yang efektif untuk memperkenalkan produk kepada konsumen dan
mempengaruhi keputusan pembelian mereka.
Influencer Marketing bekerja berdasarkan prinsip bahwa konsumen lebih
cenderung percaya pada rekomendasi dari individu yang mereka ikuti dan percayai
dibandingkan dengan iklan langsung dari merek atau perusahaan. Influencer
mampu menciptakan hubungan emosional yang lebih kuat dengan audiens mereka,
yang pada gilirannya dapat meningkatkan tingkat keterlibatan dan kepercayaan
terhadap produk yang dipromosikan (Susanto, 2020). Dalam industri kosmetik,
seperti produk skincare pengaruh influencer menjadi sangat signifikan karena
audiens sering mencari rekomendasi dari orang yang mereka anggap
berpengalaman dalam merawat kulit dan menggunakan produk kecantikan.
Jenis-jenis Influencer

  1. Mega Influencer
    Mega influencer adalah individu yang memiliki pengikut dalam jumlah
    besar, biasanya lebih dari satu juta pengikut. Mereka sering kali merupakan
    selebritas atau tokoh terkenal yang sudah memiliki pengaruh yang kuat di
    media sosial. Meskipun dapat menjangkau audiens yang sangat luas, kerja
    sama dengan mega influencer cenderung memiliki biaya yang tinggi dan
    dapat menghasilkan keterlibatan yang lebih rendah dibandingkan dengan
    influencer yang lebih kecil (Suryadi, 2021).
  2. Macro Influencer
    Macro influencer memiliki pengikut antara 100 ribu hingga satu juta.
    Mereka memiliki audiens yang cukup besar dan sering kali memiliki niche
    tertentu. Merek yang ingin menjangkau audiens dengan minat atau
    demografi tertentu lebih cenderung bekerja sama dengan macro influencer,
    karena mereka dapat memberikan tingkat keterlibatan yang lebih tinggi
    dibandingkan dengan mega influencer.
    12
  3. Micro Influencer
    Micro influencer memiliki pengikut yang lebih sedikit, sekitar 1.000 hingga
    100.000 pengikut, tetapi mereka cenderung memiliki hubungan yang lebih
    dekat dan lebih personal dengan audiens mereka. Meskipun jangkauannya
    lebih kecil, micro influencer biasanya memiliki tingkat keterlibatan yang
    lebih tinggi dan dapat lebih efektif dalam membangun kepercayaan serta
    mempengaruhi keputusan pembelian audiens (Susanto, 2020).
  4. Nano Influencer
    Nano influencer memiliki jumlah pengikut yang lebih kecil lagi, biasanya
    di bawah 1.000. Meskipun mereka memiliki audiens yang terbatas, nano
    influencer sering kali memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam komunitas
    yang mereka bangun, karena kedekatannya dengan pengikut mereka. Hal
    ini membuat nano influencer menjadi pilihan yang menarik bagi merek
    yang ingin mengedepankan pemasaran yang lebih autentik dan berbasis
    komunitas (Suryadi, 2021).
    Dalam pemasaran produk skincare seperti Perusahaan ini, Influencer
    Marketing dapat dilakukan melalui berbagai strategi, antara lain:
  5. Endorsement Produk
    Influencer dapat memberikan endorsement atau rekomendasi langsung
    terhadap produk skincare kepada audiens mereka. Mereka bisa berbagi
    pengalaman pribadi menggunakan produk, memberikan testimonial, atau
    menampilkan cara penggunaan produk dalam kehidupan sehari-hari. Ini
    akan membangun kredibilitas produk dan memberikan keyakinan kepada
    audiens tentang kualitas dan manfaat produk tersebut (Wibowo, 2021).
  6. Content Collaboration
    Kolaborasi konten antara merek dan influencer adalah salah satu bentuk
    kerja sama yang populer. Influencer dapat membuat konten berupa video
    tutorial, review produk, atau unboxing yang menunjukkan cara penggunaan
    produk Skincare ini. Konten semacam ini dapat meningkatkan kesadaran
    merek sekaligus memberikan informasi yang berguna bagi konsumen,
    sehingga mereka merasa lebih percaya diri untuk mencoba produk tersebut.
  7. Giveaways dan Kontes
    Memberikan hadiah atau mengadakan kontes yang melibatkan produk
    skincare Perusahaan ini juga merupakan strategi Influencer Marketing yang
    efektif. Influencer dapat menyelenggarakan kontes di mana pengikut
    mereka harus mengikuti akun media sosial merek atau membagikan
    pengalaman mereka dengan produk skincare yang dipromosikan. Hal ini
    dapat memperluas jangkauan produk dan meningkatkan interaksi dengan
    audiens.
    Keberhasilan Influencer Marketing sangat bergantung pada seberapa besar
    pengaruh yang dimiliki oleh influencer terhadap audiens mereka. Menurut Theory
    of Social Influence, individu cenderung dipengaruhi oleh orang yang mereka
    percayai atau kagumi (Wibowo, 2021). Dalam konteks ini, influencer yang
    dipercaya oleh audiens mereka dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap
    keputusan pembelian produk skincare. Audiens lebih cenderung membeli produk
    yang direkomendasikan oleh influencer yang mereka ikuti, terutama jika influencer
    tersebut memiliki kredibilitas dalam bidang tersebut.
    Dalam penelitian oleh Handayani (2021), ditemukan bahwa audiens yang
    mengikuti influencer di media sosial merasa lebih yakin dalam memilih produk
    skincare yang direkomendasikan oleh influencer favorit mereka, karena mereka
    percaya pada pengalaman pribadi influencer tersebut. Hal ini membuktikan bahwa
    Influencer Marketing dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk,
    yang pada akhirnya mendorong keputusan pembelian.
    Keuntungan utama dari Influencer Marketing adalah peningkatan kesadaran
    merek dan pengaruh yang lebih besar terhadap audiens target. Melalui kerja sama
    dengan influencer, merek dapat menjangkau audiens yang mungkin sulit dijangkau
    dengan cara pemasaran tradisional. Selain itu, influencer dapat membantu
    menciptakan konten yang lebih menarik dan autentik, yang dapat membangun
    hubungan yang lebih kuat dengan audiens.
    Namun, ada juga tantangan dalam Influencer Marketing, seperti memilih
    influencer yang tepat, memastikan kecocokan antara merek dan influencer, serta
    mengukur hasil dari kampanye pemasaran yang dilakukan. Oleh karena itu, penting
    bagi merek seperti Skincare ini untuk memilih influencer yang memiliki audiens
    yang sesuai dengan target pasar mereka dan memiliki kredibilitas yang baik di mata
    pengikut mereka (Susanto, 2020)

Digital Marketing


Digital marketing adalah strategi pemasaran yang menggunakan teknologi
digital dan platform internet untuk mempromosikan produk atau layanan.
Pemasaran ini memanfaatkan beragam kanal digital seperti mesin pencari, situs
web, media sosial, email, dan aplikasi untuk berinteraksi langsung dengan audiens,
meningkatkan kesadaran merek, serta mendorong keputusan pembelian konsumen
(Wahyuni, 2020). Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan penggunaan
internet di berbagai lapisan masyarakat, digital marketing kini menjadi elemen
penting dalam strategi bisnis untuk mencapai konsumen yang lebih luas, termasuk
dalam industri kosmetik dan skincare seperti produk Skincare ini.
Dalam konteks digital marketing untuk produk skincare, dua elemen utama
yang paling relevan adalah Influencer Marketing dan Social Media Ads. Kedua
elemen ini memanfaatkan platform media sosial, terutama Instagram dan TikTok,
untuk menjangkau audiens yang lebih besar dan menciptakan keterlibatan yang
lebih personal dengan konsumen.
Elemen-Elemen Digital Marketing dalam Media Sosial

  1. Media Sosial
    Media sosial merupakan salah satu kanal utama dalam digital marketing.
    Platform seperti Instagram dan TikTok memungkinkan brand untuk
    terhubung dengan audiens mereka secara langsung dan personal. Melalui
    platform-platform ini, merek dapat memperkenalkan produk, meningkatkan
    kesadaran merek, serta membangun hubungan jangka panjang dengan
    konsumen melalui konten yang menarik dan interaktif. Menurut Susanto
    (2020), media sosial menyediakan ruang bagi merek untuk berkomunikasi
    dengan audiensnya melalui berbagai format konten, mulai dari foto, video,
    hingga live streaming, yang dapat meningkatkan keterlibatan dan perhatian
    konsumen.
    9
  2. Influencer Marketing
    Influencer Marketing adalah bentuk pemasaran yang memanfaatkan orang-
    orang berpengaruh di media sosial untuk mempromosikan produk atau
    layanan. Influencer memiliki pengikut yang besar dan dapat memengaruhi
    opini serta keputusan pembelian pengikut mereka (Handayani, 2021).
    Dalam penelitian ini, influencer yang relevan di Instagram dan TikTok
    dapat digunakan untuk mempromosikan produk skincare ini . Pengikut
    influencer yang merasa dekat dengan mereka sering kali lebih percaya pada
    rekomendasi produk yang diberikan, yang dapat mempengaruhi keputusan
    mereka dalam membeli produk tersebut. Influencer yang tepat dapat
    memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku pembelian konsumen.
  3. Iklan Berbayar di Media Sosial
    Salah satu bentuk iklan yang paling banyak digunakan dalam digital
    marketing adalah social media ads atau iklan di media sosial. Instagram dan
    TikTok menawarkan berbagai format iklan, mulai dari iklan foto, video,
    carousel, hingga story ads yang dapat disesuaikan dengan preferensi
    pengguna. Melalui iklan ini, merek dapat menargetkan audiens berdasarkan
    demografi, minat, perilaku, dan bahkan lokasi geografis, sehingga
    pemasaran menjadi lebih tepat sasaran (Suryadi, 2021). Iklan berbayar ini
    tidak hanya meningkatkan kesadaran merek, tetapi juga mendorong audiens
    untuk melakukan tindakan tertentu, seperti mengklik link produk atau
    melakukan pembelian langsung.
    Pemasaran digital, khususnya yang dilakukan melalui media sosial, memiliki
    pengaruh yang sangat besar terhadap keputusan pembelian konsumen, terutama di
    kalangan audiens muda yang aktif di platform seperti Instagram dan TikTok.
    Menurut teori AIDA (Attention, Interest, Desire, Action), pemasaran digital
    berfungsi untuk menarik perhatian audiens, membangkitkan minat, menciptakan
    keinginan untuk membeli produk, dan akhirnya mendorong konsumen untuk
    melakukan pembelian (Wibowo, 2021). Dalam konteks produk skincare ini,
    Influencer Marketing dan social media ads dapat mempercepat proses ini.
    Influencer yang memiliki kredibilitas di mata pengikutnya dapat dengan mudah
    menarik perhatian mereka dan menumbuhkan keinginan untuk mencoba produk
    yang dipromosikan.
    Salah satu keuntungan utama dari digital marketing adalah kemampuan untuk
    mengukur hasil secara langsung. Melalui metrik seperti tingkat klik, konversi, dan
    tingkat keterlibatan, perusahaan dapat mengetahui seberapa efektif kampanye
    pemasaran yang dilakukan dan melakukan perbaikan jika diperlukan. Di sisi lain,
    biaya pemasaran digital yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan pemasaran
    tradisional menjadi alasan utama mengapa banyak merek kosmetik, seperti
    Skincare ini , memilih untuk memanfaatkan media sosial dalam strategi pemasaran
    mereka (Suryadi, 2021).
    Keuntungan utama dari digital marketing adalah efisiensi biaya yang lebih
    tinggi dan kemampuan untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dalam
    pemasaran tradisional, merek harus bergantung pada media cetak, televisi, atau
    radio untuk menjangkau konsumen, yang memerlukan biaya tinggi dan waktu yang
    lama untuk mencapai audiens yang tepat. Sementara itu, digital marketing
    memungkinkan perusahaan untuk melakukan pemasaran dengan biaya yang lebih
    rendah dan dalam waktu yang lebih cepat. Hal ini sangat bermanfaat untuk merek
    seperti Skincare ini , yang ingin meningkatkan visibilitas dan penjualannya tanpa
    mengeluarkan anggaran besar.
    Selain itu, digital marketing memungkinkan merek untuk mengembangkan
    personalized marketing atau pemasaran yang dipersonalisasi, yaitu pemasaran yang
    menyesuaikan konten dengan preferensi dan kebiasaan konsumen. Dengan data
    yang diperoleh dari interaksi pengguna di media sosial, merek dapat menyesuaikan
    kampanye pemasaran untuk menjawab kebutuhan spesifik audiens mereka. Hal ini
    tentu saja dapat meningkatkan efektivitas pemasaran dan memengaruhi keputusan
    pembelian konsumen

Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Keller (2018:145) dikutip oleh Priscilla Hartanti
(2022) terdapat lima tahap yang dilewati oleh seorang pelanggan dalam
menentukan keputusan pembelian, yaitu sebagai berikut:

  1. Pengenalan Kebutuhan (Need Recognition)
    Proses pembelian dimulai saat pembeli menyadari terdapat
    masalah atau kebutuhan. Kebutuhan didapat oleh rangsangan dari dalam
    diri pelanggan (internal), misalnya rasa lapar, atau haus yang muncul
    sampai pada suatu tingkat tertentu dan menjadi sebuah dorongan.
    Kebutuhan juga dapat dipicu oleh rangsangan dari luar diri pelanggan
    (eksternal), misalnya seseorang yang mungkin mengagumi mobil atau
    rumah baru teman atau melihat iklan di telivisi yang menginspirasi
    pemikiran untuk melakukan pembelian.
  2. Pencarian Informasi (Information Search)
    Pelanggan yang terangsang kebutuhannya akan mulai terdorong
    untuk mencari lebih banyak informasi. Pencarian informasi dapat
    dibedakan berdasarkan dua tingkatan. Pertama adalah perhatian yang
    memuncak (heightened attention), yaitu keadaan pencarian informasi
    yang lebih ringan. Pada tingkat ini, seseorang hanya sekadar bersikap
    lebih menerima terhadap informasi tentang suatu produk. Kedua adalah
    pencarian informasi aktif (active information search). Pada tingkat ini,
    seseorang akan lebih aktif untuk mencari informasi dari segala sumber
    seperti melalui bahan bacaan, menelepon teman, atau mengunjungi toko
    untuk mempelajari tentang suatu produk.
  3. Evaluasi Alternatif (Evaluation of Alternatives)
    Setelah pencarian informasi, pelanggan akan menghadapi
    sejumlah pilihan mengenai merek dengan produk yang sejenis. Tidak ada
    proses evaluasi tunggal dan sederhana yang digunakan oleh semua
    pelanggan atau oleh seorang pelanggan dalam semua situasi pembelian.
    Sejumlah konsep dasar akan dapat membantu pemahaman terhadap
    proses evaluasi pelanggan. Pertama, pelanggan berusaha memenuhi suatu
    kebutuhan. Kedua, pelanggan mencari manfaat tertentu dari solusi
    produk. Ketiga, pelanggan memandang setiap produk sebagai
    sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam
    memberikan manfaat yang dicari. Pelanggan bersikap berbeda-beda
    dalam menilai atribut produk yang dianggap relevan atau menonjol,
    mereka akan memberikan perhatian paling besar pada atribut yang
    memberikan manfaat yang dicari.
  4. Keputusan Pembelian (Purchase Decision)
    Dalam tahap evaluasi, pelanggan membentuk preferensi antar
    merekmerek dalam kumpulan pilihan dan mungkin juga membentuk
    minat pembelian pada merek yang disukai. Umumnya, pelanggan akan
    memutuskan pembelian pada merek tersebut. Namun, ada dua faktor
    yang berintervensi di antara minat pembelian dan keputusan pembelian.
    Faktor yang pertama adalah sikap orang lain dan faktor yang kedua adalah
    faktor situasional yang tidak terduga. Oleh karena itu, minat pembelian
    tidak selalu menghasilkan pembelian yang aktual.
  5. Perilaku Pasca Pembelian (Postpurchase Behavior)
    Setelah membeli suatu produk, pelanggan akan merasakan
    kepuasan atau ketidakpuasan. Apabila kinerja produk tidak sesuai dengan
    harapan pelanggan, maka pelanggan akan tidak puas. Jika memenuhi
    harapan, maka pelanggan akan puas, dan jika melebihi harapan, maka
    pelanggan akan sangat puas. Semakin besar kesenjangan antara harapan
    dan kinerja produk yang dirasakan, semakin besar ketidakpuasan
    pelanggan. Pelanggan yang merasa puas akan membeli produk tersebut
    kembali, membicarakan hal yang positif terhadap produk tersebut kepada
    orang lain, kebal dari daya tarik produk pesaing, dan membeli produk lain
    dari perusahaan tersebut. Sedangkan pelanggan yang tidak puas akan
    membicarakan hal yang negatif terhadap produk tersebut kepada orang
    lain

Jumlah Pembelian
Seorang pelanggan akan membeli produk dengan jumlah yang tak
sama. Oleh karena itulah setiap perusahaan harus mempersiapkan jumlah
produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan, yang ditentukan
berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut :
(1) Kebutuhan : pelanggan akan menentukan jumlah produk yang akan
dibelinya berdasarkan kebutuhannya
(2) Sebagai persediaan : merupakan tindakan mempersiapkan produk
bagi pelanggan apabila dibutuhkan dimasa yang akan datang

Waktu Pembelian


Setiap pelanggan akan membeli pada waktu yang berbeda-beda
sesuai dengan kebutuhannya. Dalam hal ini pertimbangan pelanggan
dalam menentukan waktu pembalian adalah :
(1) Kesesuaian dengan kebutuhan : ketika pelanggan merasa
membutuhkan sesuatu dan merasa perlu melakukan pembelian.
Dengan kata lain, pelanggan memutuskan untuk membeli suatu
produk pada saat membutuhkannya.
(2) Alasan pembelian : setiap produk mempunyai alasan untuk memenuhi
kebutuhan setiap pelanggan pada saat dibutuhkan.
(3) Keuntungan yang dirasakan : ketika pelanggan memenuhi kebutuhan
akan suatu produk di saat-saat tertentu, maka saat itulah seorang
pelanggan akan merasakan keuntungan dari pembelian tersebut