Dalam Asri Pawestri dan Ni Putu Ayu (2018), menurut Rudangga (2016), kebijakan
dividen (dividend policy) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan
pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan
ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang.
Dalam Wijaya et al. (2010) penentuan kebijakan dividen harus dilakukan secara
tepat. Jika dividen yang akan diberikan terlalu tinggi, maka ekspansi perusahaan akan
terganggu. Sebaliknya, jika dividen yang akan diberikan terlalu rendah, minat investor
akan menurun. Oleh karena itu, penetapan kebijakan dividen yang tepat akan
memengaruhi peningkatan harga saham yang berdampak pada peningkatan nilai
perusahaan (Asri Pawestri dan Ni Putu Ayu, 2018).
Bagi investor kebijakan dividen merupakan sinyal dalam menilai kinerja suatu
perusahaan. Investor cenderung lebih menyukai dividen dibandingkan keuntungan
modal di masa depan karena dividen dianggap lebih pasti (Ratna Novita Sari, 2017)
Ukuran Perusahaan
Firm Size merupakan cerminan total dari aset yang dimiliki suatu perusahan.
Perusahaan sendiri dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu perusahaan berskala kecil dan
perusahaan berskala besar. Perusahaan yang berskala besar menunjukkan perusahaan
sedang bertumbuh sehingga memengaruhi profitabilitas perusahaan, profit yang
meningkat cenderung akan menarik minat investor yang kemudian membuat
permintaan saham perusahaan meningkat, sehingga harga saham perusahaan menjadi
melambung tinggi yang selanjutnya akan berimbas dengan tingginya nilai perusahaan
(IGB Angga Pratama dan IGB Wiksuana, 2018).
Menurut Badan Standarisasi Nasional dalam Sulistiono (2010), kategori ukuran
perusahan ada 3 macam, yaitu: (1) Perusahaan kecil, perusahaan yang dikategorikan
perusahaan kecil apabila perusahaan tersebut memiliki kekayaan bersih lebih dari
50.000.000,- dengan paling banyak 500.000.000,- tidak termasuk bangunan tempat
usaha, atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari 300.000.000,- sampai dengan
paling banyak 2.500.000.000,-. (2) Perusahaan menengah, perusahaan dikategorikan
perusahaan menengah apabila perusahaan tersebut memiliki kekayaan bersih antara
500.000.000,- sampai paling banyak 10.000.000.000,- dan tidak termasuk bangunan
tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan tahunan lebuh dari 2.500.000.000,- sampai
dengan paling banyak 50.000.000.000,-. (3) Perusahaan besar, perusahaan dapat
dikategorikan perusahaan yang besar apabila memiliki kekayaan bersih lebih dari
10.000.000.000,- tidak termasuk bangunan tempat usaha dan memiliki hasil penjualan
tahunan lebih dari 50.000.000.000,- (Roviqotus dan Akhmad Riduwan, 2016).
Thin Capitalization
Thin capitalization menurut Anang Mury Kurniawan (2015:241)
adalah suatu skema penghindaran pajak dengan cara membuat struktur utang
jauh lebih besar dari modal. Munculnya thin capitalization diakibatkan oleh
adanya perbedaan perlakuan antara bunga sebagai return atas utang dengan
dividen sebagai return atas investasi saham dalam peraturan perpajakan.
Perbedaan tersebut terletak pada pembayaran bunga yang tergolong dalam
biaya dapat dikurangkan (deductible expense), sedangkan pembayaran
dividen tergolong dalam biaya yang tidak dapat dikurangkan (non deductible
expense).
Menurut Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
169/PMK.010/2015 pasal 2 ayat (1) tentang Penentuan Besarnya
Perbandingan Antara Utang dan Modal Perusahaan Untuk Keperluan
Perhitungan Pajak Penghasilan, besarnya perbandingan antara utang dan
modal ditetapkan paling tinggi sebesar 4 : 1.
Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)
Bagi negara, perpajakan merupakan sumber pendapatan yang besar,
sedangkan bagi perusahaan perpajakan dianggap sebagai biaya yang menjadi
pengurang pendapatannya. Oleh karena itu, penghindaran pajak tidak jarang
dilakukan oleh perusahaan. Menurut Siti Khomsatun dan Dwi Martani (2015),
penghindaran pajak merupakan usaha untuk memanfaatkan peluang yang terdapat
dalam aturan dan perundangan pajak sehingga beban pajak maupun besarannya
dibayar lebih rendah.
Menurut OECD (1987) dalam Haqi Fadillah (2019), tax avoidance adalah
usaha wajib pajak untuk mengurangi pajak terutang. Upaya ini bisa jadi tidak
melanggar hukum (the letter of the law), tetapi sebenarnya bertentangan dengan
tujuan dibuatnya peraturan perundang-undangan perpajakan. Dyreng, et al.(2008)
menyatakan bahwa perusahaaan menghindari pajak dengan menggunakan regulasi
yang kurang jelas dan memungkinkan adanya celah (loop holes) untuk memperoleh
manfaat pajak.
Perlawanan Terhadap Pajak
Kewajiban perpajakan yang dianggap sebagai beban oleh para Wajib Pajak
menyebabkan banyaknya masyarakat yang enggan membayar pajak dan melakukan
perlawanan terhadap pajak. Perlawanan terhadap pajak menurut Waluyo (2017:13)
dikelompokkan menjadi 2, yaitu:
– Perlawanan pasif
Perlawanan pasif berupa hambatan yang mempersulit pemungutan
pajak dan mempunyai hubungan erat dengan struktur ekonomi.
– Perlawanan aktif
Perlawanan aktif secara nyata terlihat pada semua usaha dan
perbuatan yang secara langsung ditunjukkan kepada pemerintah
(fiskus) dengan tujuan menghindari pajak.
Menurut Mardiasmo (2018:9) bentuk perlawanan aktif dibagi menjadi 2, yaitu:
Penghindaran pajak (tax avoidance)
Usaha meringankan beban pajak dengan tidak melanggar undang–
undang.
Penggelapan pajak (tax evasion)
Usaha meringankan beban pajak dengan cara melanggar undang–
undang (menggelapkan pajak).
Pengertian Pajak
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 Pasal
(1) angka (1) tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak adalah
kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang
bersifat memaksa berdasarkan Undang–Undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar–
besarnya kemakmuran rakyat.
Dalam Waluyo (2017:2-3) terdapat pengertian pajak menurut beberapa ahli
juga. P. J. A Adriani mengungkapkan bahwa pajak adalah iuran negara (yang dapat
dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan–
peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk,
dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran–pengeluaran umum
berhubungan dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintah. Sedangkan
menurut Soeparman Soemahamidjaja, pajak adalah iuran wajib berupa uang atau
barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma–norma hukum, guna
menutup biaya produksi barang–barang dan jasa–jasa kolektif dalam mencapai
kesejahteraan umum.
Secara ekonomi, dalam Waluyo (2017:3-5) dikatakan bahwa pajak
merupakan penerimaan negara yang digunakan untuk mengarahkan kehidupan
masyarakat yang lebih sejahtera. Pelayanan yang diberikan pemerintah merupakan
sebuah kepentingan umum yang dananya berasal dari pajak yang dibayarkan
masyarakat, sehingga hasilnya akan diberikan kembali ke masyarakat. Sedangkan
dari sisi lain, yaitu sisi hukum, pajak telah diatur oleh berbagai peraturan
perundang–undangan yang menjadi dasar hukum dalam pungutan pajak.
Terdapat ciri–ciri yang melekat pada definisi pajak dalam Siti Resmi
(2017:2). Ciri–ciri tersebut diambil dari beberapa definisi sebelumnya, yaitu:
– Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang–undang serta
aturan pelaksanaannya.
– Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi
individual oleh pemerintah.
– Pajak dipungut oleh negara, baik pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah.
– Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran–pengeluaran pemerintah, yang
bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, digunakan untuk
membiayai public investment
Teori Modigliani Miller
Teori Modigliani Miller (MM) merupakan awal mula munculnya teori struktur
modal modern yang dikemukakan oleh Franco Modigliani dan Merton H. Miller pada
tahun 1958. Teori ini awalnya menyatakan bahwa struktur modal tidak memengaruhi
nilai perusahaan dengan asumsi pasar modal sempurna dan tidak ada pajak. Namun
setelah itu, MM menambahkan faktor pajak ke dalam teorinya karena teori MM tanpa
pajak sebelumnya dinilai tidak realistis.
Teori MM dengan pajak merupakan teori yang menjelaskan bahwa struktur modal
yang terdiri dari hutang yang besar dapat meningkatkan nilai perusahaan. Menurut
Brigham and Ehrhardt (2011) dalam Elfira Rosa et al. (2018), manfaat pajak atas
penggunaan hutang dalam struktur modal perusahaan diperoleh dari beban bunga yang
dapat dijadikan sebagai beban atau pengurang laba. Hal ini tercerminkan dengan thin
capitalization yang juga melibatkan lebih besar hutang dalam struktur modalnya.
Bird in the Hand Theory
Teori bird in the hand dieksplorasi oleh Myron Gordon pada tahun 1956 dan John
Litner pada tahun 1962. Teori ini menjelaskan adanya hubungan antara nilai perusahaan
dengan kebijakan dividen yang diproksikan melalui Dividend Payout Ratio (DPR),
dimana biaya modal sendiri akan turun jika Dividend Payout Ratio tinggi. Hal ini
dikarenakan investor lebih menyukai dividen daripada capital gain sebagai imbal hasil
atas investasinya karena lebih pasti dan aman. Dalam teori ini, para investor berpendapat
bahwa satu burung di tangan lebih berharga dibandingkan seribu burung di udara.
Burung di tangan tersebut mencerminkan kas ditangan dalam bentuk dividen.
Menurut Gordon dan Litner (1956) dalam Ni Kadek Puspita dan Ida Bagus Putra
(2019), teori ini menyatakan pihak eksternal (investor) lebih tertarik dengan dividen
tunai dibandingkan capital gain atau imbal hasil atas investasi yang telah dijanjikan di
masa depan. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Hermuningsih dan Dewi (2009)
dalam Bayu Irfandi dan I.B. Panji Sedana (2015) yang menyatakan bahwa dividen
memiliki tingkat kepastian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan capital gain.
Peningkatan dividen yang menjadi orientasi para investor akan menyebabkan
peningkatan harga saham yang juga akan memengaruhi meningkatnya nilai perusahaan.
Teori Keagenan
Teori keagenan (agency theory) merupakan teori yang menjelaskan hubungan antara
“principal” dan “agent”. Principal adalah pemegang saham dan pemilik perusahaan
yang memberikan wewenang kepada agent untuk mengelola perusahaan dan melakukan
pengambilan keputusan atas nama pemegang saham, sedangkan agent merupakan
manajemen perusahaan yang diberikan wewenang oleh principal. Dalam Elfira Rosa et
al. (2018), Jensen and Mecking (1976) menyatakan bahwa perusahaan merupakan
kumpulan kontrak antara pemegang saham dan manajemen untuk mengelola
penggunaan dan pengendalian sumber daya. Dalam kontrak tersebut, manajemen
didelegasikan untuk membuat keputusan terbaik untuk pemegang saham dan akan
menerima imbalan dari prinsipal atas kinerjanya.
Dalam teori keagenan terdapat asumsi bahwa agent dan principal memiliki
kepentingan yang berbeda, sehingga dapat menimbulkan konflik kepentingan di
antaranya. Sugiyono (2014) menyatakan dalam Kevin Hestia dan I Ketut Suryanawa
(2019) bahwa pemegang saham ingin memaksimalkan kesejahteraan dengan
profitabilitas yang meningkat terus menerus, sedangkan manajemen ingin memenuhi
kebutuhan ekonomi dan psikologisnya secara maksimal. Permasalahan keagenan dapat
timbul apabila terdapat perbedaan tujuan antara pihak pemegang saham dan manajemen
yang saling bertentangan. Meningkatnya nilai perusahaan dapat didorong oleh
keselarasan tujuan antara pemegang saham dan manajemen dalam menjalankan
kegiatan perusahaan.
Menurut Hanlon dan Heitzman (2010) dalam Siti Khomsatun dan Dwi Martini
(2015), penghindaran pajak dalam bentuk thin capitalization yang dilakukan oleh
manajemen merupakan upaya efisiensi untuk meningkatkan kesejahteraan pemegang
saham dan pemilik perusahaan.
Ukuran perusahaan dan dividen juga dapat dinilai sebagai tolak ukur kerja sama
antara prinsipal dan agen. Perusahaan yang berukuran besar mencerminkan keselarasan
tujuan antara agen dan prinsipal dalam mengelola dan mengembangkan perusahaan
tersebut. Perusahaan dengan tingkat dividen yang tinggi mencerminkan adanya
kesamaan dalam rangka untuk mencapai tujuan jangka panjang perusahaan, yaitu
meningkatkan nilai perusahaan
Teori Sinyal
Teori sinyal (signalling theory) merupakan teori yang menjelaskan pentingnya
perusahaan untuk memberikan informasi yang terdapat dalam laporan keuangan kepada
pihak eksternal (investor). Informasi tersebut dianggap sebagai sinyal yang akan
memberikan petunjuk mengenai prospek perusahaan ke depannya dan memengaruhi
keputusan investasi yang akan diambil oleh pihak eksternal (investor).
Menurut Ross (1997) dalam Elfira Rosa et al. (2018), pihak manajemen mempunyai
informasi tentang keadaan perusahaan yang lebih baik dibandingkan pihak eksternal
(investor). Ketidaksamaan informasi (asimetri informasi) dapat terjadi pada perusahaan
yang tidak memberikan informasi kepada pihak eksternal, sehingga perusahaan
sebaiknya memberikan sinyal kepada pihak eksternal dengan maksud untuk mengurangi
kemungkinan terjadinya asimetri informasi.
Dengan adanya asimetri informasi, pihak eksternal akan lebih melindungi diri
dengan memberikan penilaian atas perusahaan yang cukup rendah (Ni Kadek Puspita
dan Ida Bagus Putra, 2019). Hal ini akan merugikan bagi perusahaan yang dinilai oleh
pihak eksternal lebih rendah dari yang seharusnya. Namun, sebaliknya akan
menguntungkan bagi perusahaan yang dinilai oleh pihak eksternal lebih tinggi dari yang
seharusnya. Oleh sebab itu, perusahaan akan memberikan sinyal kepada pihak eksternal
berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya untuk meminimalisir kemungkinan
ketidaksamaan informasi dan meningkatkan nilai perusahaan.
Dalam penelitian ini, thin capitalization, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen
yang menjadi alat untuk memberikan sinyal kepada pihak eksternal (investor) mengenai
kinerja perusahaan dan prospek perusahaan di masa yang akan datang.
Thin capitalization akan memengaruhi struktur modal perusahaan dan perpajakan
perusahaan. Perusahaan yang melakukan thin capitalization akan memperoleh laba
yang lebih besar karena bunga atas hutang yang dimiliki perusahaan dapat dijadikan
pengurang pendapatan. Bagi investor, hal ini merupakan sinyal baik karena dapat
meningkatkan pendapatan atas investasinya.
Perusahaan yang berukuran besar cenderung memiliki prospek yang lebih terjamin
dibandingkan dengan perusahaan yang masih berukuran kecil. Hal ini dikarenakan
pihak manajemen perusahaan sudah dapat mengembangkan perusahaannya sampai saat
ini. Ukuran perusahaan yang besar juga ditangkap investor sebagai sinyal baik dalam
mempertimbangkan keputusan investasinya.
Menurut Fauzi dan Suhadak (2015:3) dalam Ria Esana dan Ari Darmawan (2017)
menyatakan bahwa peningkatan pembayaran dividen dari perusahaan dianggap sebagai
good news (berita baik), dikarenakan hal ini menggambarkan posisi dan prospek
perusahaan dalam keadaan yang bagus. Hal ini akan ditanggapi dengan reaksi positif
dari investor yang akan meningkatkan nilai perusahaan.
Perbedaan Fraud dengan Tax Avoidance
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI,2012) fraud (kecurangan) adalah :
“Setiap tindakan akuntansi sebagai: (1) Salah saji yang timbul dari
kecurangan dalam pelaporan keuangan yaitu salah saji atau penghilangan
secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan untuk
mengelabuhi pemakai laporan keuangan, (2) Salah saji yang timbul dari
perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva (seringkali disebut dengan
penyalahgunaan atau penggelapan) berkaitan dengan pencurian aktiva
entitas yang berakibat laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia”.
Sedangkan menurut Tunggal (2012:189) fraud merupakan penipuan di
bidang keuangan yang disengaja, yang dimaksudkan untuk mengambil aset atau
hak orang maupun pihak lain. Selanjutnya, menurut Hall (2011:113) dalam
bukunya “Principles of Accounting Information Systems” menyatakan bahwa
fraud adalah :
“Fraud denotes a false representation of material fact made by one party
to another party with the intent to deceive and induce the other party to
justifiably rely on the fact to his or her detriment”.
Adapun Tax Avoidance menurut Thomas Sumarsan (2012:6) merupakan
tindakan Wajib Pajak yang tidak secara jelas melanggar undang-undang,
sekalipun kadang-kadang dengan jelas menafsirkan undang-undang tidak sesuai
dengan maksud dan tujuan pembuat undang-undang. Penghindaran pajak legal
dan aman dilakukan oleh wajib pajak, karena tidak bertentangan dengan peraturan
perpajakan yaitu dengan menggunakan metode dan teknik yang cenderung
memanfaatkan kelemahan (grey area) dalam peraturan perundang-undangan
perpajakan itu sendiri, sehingga memaksimalkan pengurangan pajak pada
perusahaan tersebut (Pohan, 2013:23).
Dengan demikian, fraud merupakan serangkaian tindakan melawan hukum
yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu untuk mendapatkan keuntungan,
sedangkan tax avoidance merupakan tindakan yang memanfaatkan celah (grey
area) dalam undang-undang untuk mendapatkan keuntungan tanpa melawan
hukum
Kebijakan Anti Penghindaran Pajak
Adapun upaya pemerintah Indonesia untuk meminimalisir kasus
penghindaran pajak yaitu dengan mengeluarkan beberapa kebijakan Anti
Penghindaran Pajak seperti yang dimuat dalam laman klikpajak.id (2018)
diantaranya sebagai berikut:
1. Anti Thin Capitalization
Ketentuan anti Thin Capitalization merupakan upaya wajib pajak mengurangi
beban pajak dengan cara memperbesar pinjaman, agar dapat membebankan biaya
bunga dan mengecilkan laba. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 18 ayat 1 UU PPh
dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 169/PMK.03/2015 yang
mengatur Penentuan Besarnya Perbandingan antara Utang dan Modal Perusahaan
untuk Keperluan Penghitungan Pajak penghasilan (Debt to Equity Ratio).
2. Controlled Foreign Corporation (CFC) Rules
Ketentuan ini tertuang dalam Pasal 18 Ayat 2 UU PPh yang memuat aturan
mengenai kewenangan Menteri Keuangan menetapkan saat diperolehnya dividen
oleh wajib pajak dalam negeri atas penyertaan modal pada Badan Usaha di luar
negeri yang tidak menjual saham di bursa efek paling rendah 50%.
3. Transfer Pricing
Ketentuan mengenai Transfer Pricing diatur dalam Pasal 18 Ayat 3 UU PPh.
Dalam pasal ini mengatur kewenangan Direktur Jenderal Pajak untuk menentukan
kembali besaran penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang sebagai
modal untuk menghitung besar Penghasilan Kena Pajak bagi wajib pajak yang
memiliki hubungan istimewa.
4. Anti-treaty Shopping
Ketentuan mengenai anti treaty shopping diatur dalam PER-25/PJ/2010
tentang Pencegahan Penyalahgunaan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda.
5. Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha
Penerapan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha dalam Transaksi antara
Wajib Pajak dan Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa diatur dalam PER32/PJ/2011 Ketentuan pertama hingga keempat merupakan Specific Anti
Avoidance Rule (SAAR), yaitu ketentuan anti penghindaran pajak atas transaksi.
Sedangkan ketentuan kelima merupakan General Anti Avoidance Rule (GAAR),
yaitu ketentuan pajak yang semata-mata dilakukan wajib pajak untuk tujuan
penghindaran pajak atau transaksi yang tidak memiliki substansi bisnis
Karakter Penghindaran Pajak
Komite urusan fiskal Organization for Economic Cooperation and
Development (OECD) menyebutkan ada tiga karakter penghindaran pajak yaitu
sebagai berikut:
1. Adanya unsur artifisial dimana berbagai pengaturan seolah-olah terdapat di
dalamnya padahal tidak, dan ini dilakukan karena ketiadaan faktor pajak
2. Skema semacam ini sering memanfaatkan loopholes dari undang-undang atau
menerapkan ketentuan-ketentuan legal untuk berbagai tujuan, akan tetapi
bukan itu yang sebetulnya dimaksudkan oleh pembuat undang-undang.
3. Kerahasiaan juga sebagai bentuk dari skema ini dimana umumnya para
konsultan menunjukkan alat atau cara untuk melakukan penghindaran pajak
dengan syarat wajib pajak menjaga serahasia mungkin
Tax Avoidance (Penghindaran Pajak)
Menurut Thomas Sumarsan (2012:6) penghindaran pajak merupakan
tindakan Wajib Pajak yang tidak secara jelas melanggar undang-undang,
sekalipun kadang-kadang dengan jelas menafsirkan undang-undang tidak sesuai
dengan maksud dan tujuan pembuat undang-undang. Pajak merupakan kontribusi
wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan
secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat (Mardiasmo, 2018;26). Penghindaran pajak legal dan aman
dilakukan oleh wajib pajak, karena tidak bertentangan dengan peraturan
perpajakan yaitu dengan menggunakan metode dan teknik yang cenderung
memanfaatkan kelemahan (grey area) dalam peraturan perundang-undangan
perpajakan itu sendiri, sehingga memaksimalkan pengurangan pajak pada
perusahaan tersebut (Pohan, 2013:23)
Manfaat dan Tujuan Return On Equity
Menurut Kasmir (2015:198) Manfaat dari penggunaan Rasio Return On
Equity (ROE) yaitu :
1. Mengetahui besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
2. Mengetahui produktivitas dari seluruh perusahaan yang digunakan baik modal
pinjaman maupun modal sendiri
3. Untuk mengetahui efisiensi penggunaan modal sendiri maupun pinjaman.
Sedangkan Menurut Kasmir (2015:197), Tujuan penggunaan rasio Return
On Equity (ROE) bagi perusahaan maupun pihak luar perusahaan, yaitu sebagai
berikut:
1. Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
2. Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik
pinjaman maupun modal sendiri.
3. Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan
baik modal sendiri maupun pinjaman
Return On Equity (ROE)
Menurut Kasmir (2015 : 204) menyatakan bahwa Return On Equity
merupakan rasio yang dapat diukur dengan membandingkan laba bersih sesudah
pajak dengan modal sendiri. Semakin tinggi nilai ROE berarti semakin efektif dan
efisien perusahaan memanfaatkan ekuitasnya. Jika nilai ROE suatu perusahaan
tinggi, maka hal tersebut akan menarik minat investor untuk berinvestasi
begitupun sebaliknya (Arihta et al., 2020).
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2016:82) menyatakan
bahwa Rasio Return On Equity (ROE) diukur dari keuntungan berdasarkan
ekuitas tertentu. Dapat disimpulkan bahwa Rasio Return On Equity (ROE)
merupakan rasio yang diukur dari tingkat kinerja perusahaan dalam menghasilkan
laba dari ekuitasnya.
Thin Capitalization
Menurut Kayis – Kumar (2019) Thin Capitalization Rules secara luas
dapat dikatakan sebagai mekanisme anti penghindaran yang membatasi tax base
erosion dari aktivitas cross-border intercompany. Sedangkan, menurut Taylor &
Richardson (2012) Thin Capitalization merupakan pembentukan struktur modal
dengan kombinasi kepemilikan utang yang lebih besar dari modal. Mekanisme
pembentukan struktur modal melalui mekanisme Thin Capitalization
menyebabkan berbagai dampak. Utang yang diberikan menimbulkan beban
bunga, dimana perlakuan bunga dalam perpajakan berbeda dengan pelakuan
dividen. Beban bunga dalam ketentuan perpajakkan diperkenankan sebagai
pengurang penghasilan (Buettner et al., 2012). Oleh karena itu, hal ini
menimbulkan celah dan kesempatan kepada perusahaan untuk melakukan
penghindaran pajak (Tax Avoidance ) melalui pemanfaatan bunga.
Dalam dunia internasional, beberapa negara telah mengatur aturan Thin
Capitalization ini yang disebut dengan Thin Capitalization Rule (TCR). Aturan ini
dapat menjadi solusi bagi masalah thin capitalization dengan membatasi jumlah
beban pengurang pajak (Buettner,et al.,2012). Dikutip dari laman onlinepajak.com (2020), di Indonesia upaya pemerintah untuk meminimalisir
perusahaan melakukan penghindaran pajak melalui skema thin capitalization ini
terdapat dari pasal 18 ayat 1 UU PPh yang menyebutkan dimana Menteri
Keuangan berwenang mengeluarkan keputusan mengenai besarnya perbandingan
antara hutang dan modal perusahaan untuk keperluan perhitungan pajak. Adapun
besar perbandingan ini kemudian telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 169/PMK.010/2015 tentang penentuan besarnya perbandingan antara
utang dan modal perusahaan untuk keperluan penghitungan pajak penghasilan
(Debt to equity ratio). Besarnya perbandingan utang dan modal menurut ketentuan
tersebut maksimal sebesar 4:1
Faktor Pertimbangan dalam Penetapan Harga
Menurut Tjiptono (2017:294), secara umum faktor – faktor pertimbangan
dalam penetapan harga dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu faktor
internal perusahaan dan faktor eksternal.
(1) Faktor Internal Perusahaan
(a) Tujuan Pemasaran Perusahaan
Tujuan tersebut bisa berupa mempertahankan kelangsungan hidup
(survival) perusahaan, maksimisasi laba, aliran kas, atau Return On
Investment (ROI) saat ini, menjadi pemimpin pangsa pasar,
menciptakan kepemimpinan dalam hal kualitas produk, mengatasi
persaingan, melaksanakan tanggung jawab sosial, membantu
penjualan produk lainnya, mempertahankan loyalitas dan dukungan
para distributor, dan lain – lain.
(b) Strategi Bauran Pemasaran
Harga hanyalah salah satu komponen dari bauran pemasaran. Oleh
karena itu, harga wajib terintegrasi, konsisten, dan saling mendukung
dengan bauran pemasaran lainnya, yaitu produk, distribusi, dan
promosi.
(c) Biaya
Biaya merupakan faktor yang menentukan harga minimal yang harus
ditetapkan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Oleh karena
itu, setiap perusahaan pasti menaruh perhatian besar pada aspek
struktur biaya (tetap dan variabel), serta jenis – jenis biaya lainnya.
(d) Pertimbangan Organisasi
Manajemen perlu memutuskan siapa di dalam organisasi yang harus
menetapkan harga. Setiap perusahaan menangani masalah penetapan
harga menurut caranya masing – masing. Pada perusahaan kecil,
umumnya harga ditetapkan oleh manajemen puncak. Pada
perusahaan besar, seringkali masalah penetapan harga ditangani oleh
divisi atau manajer suatu lini produk.
(2) Faktor Eksternal
(a) Karakteristik Pasar dan Permintaan
Setiap perusahaan perlu memahami sifat pasar dan permintaan yang
dihadapinya, apakah termasuk pasar persaingan sempurna,
persaingan monopolistik, oligopoli, atau monopoli. Faktor lain yang
tidak kalah pentingnya adalah elestisitas permintaan, yang
mencerminkan sensitivitas permintaan terhadap perubahan harga.
(b) Persaingan
Menurut Porter dalam Tjiptono (2017:296), ada lima kekuatan
produk yang berpengaruh didalam persaingan sebuah industri, yaitu
persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk substitusi,
pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru. Informasi –
informasi yang dibutuhkan untuk menganalisis karakteristik
persaingan yang dihadapi antara lain :
i) Jumlah perusahaan dalam industri
Bila hanya ada satu perusahaan dalam industri, maka secara
teoretis perusahaan yang bersangkutan bebas menetapkan
harganya seberapa pun. Akan tetapi sebaliknya, bila industri
terdiri atas banyak perusahaan, maka persaingan harga terjadi.
Bila produk yang dihasilkan tidak terdiferensiasi, maka hanya
pemimpin industri yang leluasa menentukan perubahan harga
ii) Ukuran relatif setiap anggota dalam industri
Bila perusahaan memiliki pangsa pasar yang besar, maka
perusahaan bersangkutan dapat memegang inisiatif perubahan
harga. Bila pangsa pasarnya kecil, maka hanya menjadi pengikut
harga
iii) Diferensiasi produk
Bila perusahaan berpeluang melakukan diferensiasi dalam
industrinya, maka perusahaan tersebut dapat mengendalikan
aspek penetapan harganya, bahkan sekalipun perusahaan itu kecil
dan banyak pesaing dalam industri
iv) Kemudahan untuk memasuki industri bersangkutan
Bila sebuah industri mudah untuk dimasuki, maka perusahaan
yang ada sulit mempengaruhi atau mengendalikan harga.
Sedangkan bila ada hambatan masuk ke pasar, maka perusahaan
– perusahaan yang sudah ada dalam industri tersebut dapat
mengendalikan harga
(c) Unsur – unsur Lingkungan Eksternal Lainnya
Grewal dan Levy dalam Tjiptono (2017:297), menambahkan satu
faktor pertimbangan lain yang tak kalah pentingnya, yaitu internet.
Semakin banyaknya konsumen yang mencari informasi dan
berbelanja secara online berdampak pada semakin sensitifnya
konsumen terhadap harga.
Dimensi Harga
Dimensi harga yang diadaptasi dari penelitian Amilia dan Asmara (2017)
menyatakan ada empat indikator yang dapat dijadikan pengukuran terhadap
harga, yaitu :
(1) Keterjangkauan harga
Harga yang terjangkau adalah harapan konsumen sebelum mereka
melakukan pembelian. Konsumen akan mencari produk-produk yang
harganya dapat mereka jangkau.
(2) Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Untuk produk tertentu, biasanya konsumen tidak keberatan apabila harus
membeli dengan harga relatif mahal asalkan kualitas produknya
baik. Namun konsumen lebih menginginkan produk dengan harga
murah dan kualitasnya baik.
(3) Daya saing harga
Perusahaan menetapkan harga jual suatu produk dengan
mempertimbangkan harga produk yang dijual oleh pesaingya agar
produknya dapat bersaing di pasar.
(4) Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen terkadang mengabaikan harga suatu produk namun lebih
mementingkan manfaat dari produk tersebut.
Tujuan Penetapan Harga
Tujuan penetapan harga yang diuraikan oleh Menurut Tjiptono (2017:291),
antara lain sebagai berikut :
(1) Tujuan Berorientasi Pada Laba
Tujuan ini dirancang untuk memaksimumkan harga dibandingkan harga
– harga para pesaing. Perusahaan upaya memasarkan produknya baik
barang maupun jasa pasti menginginkan laba yang maksimal
(2) Tujuan Berorientasi Pada Volume
Tujuan volume ini biasa harga ditetapkan sedemikian rupa agar dapat
mencapai target volume penjualan, nilai penjualan, atau pangsa pasar.
Tujuan ini banyak diterapkan oleh maskapai penerbangan, institusi
pendidikan, perusahaan tour and travel, pengusaha bioskop yang rata –
rata berfokus kepada banyaknya konsumen bukan tingginya laba
(3) Tujuan Berorientasi Pada Citra
Perusahaan dapat menetapkan harga tinggi untuk membentuk atau
mempertahankan citra prestisius. Selain itu, harga murah dapat digunakan
untuk membentuk citra nilai tertentu, misalnya dengan memberikan
jaminan bahwa harganya merupakan harga yang terendah disuatu wilayah
tertentu. Pada intinya, baik penetapan harga tinggi maupun harga murah
tujuan tersebut berusaha untuk meningkatkan persepsi konsumen terhadap
produk yang ditawarkan oleh perusahaan
(4) Tujuan Stabilisasi Harga
Bila suatu perusahaan menurunkan harganya, maka para pesaingnya
harus menurunkan pula harga mereka. Kondisi seperti ini yang mendasari
terbentuknya tujuan stabilisasi harga dalm industri – industri tertentu yang
produknya sangat terstandarisasi (misalnya, minyak bumi)
(5) Tujuan – tujuan Lainnya
Harga dapat pula ditetapkan dengan tujuan mencegah masuknya
pesaing, mempertahankan loyalitas pelanggan, mendukung penjualan
ulang, mendapatkan aliran kas secepatnya
Pengertian Harga
Menurut Tjiptono (2017:289), harga merupakan satuan moneter atau ukuran
lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh
hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa.
Menurut Kotler dan Keller (2018:67), harga merupakan salah satu elemen
dari bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan. Berdasarkan beberapa
pengertian diatas dan disesuaikan dengan penelitian ini maka dapat disimpulkan
bahwa harga adalah jumlah dari nilai uang yang dibayar oleh pembeli kepada
penjual untuk memperoleh barang atau jasa yang diinginkan.
Dimensi Kualitas Produk
Menurut Kotler dan Keller (2018:8), dimensi produk adalah sebagai berikut :
(1) Bentuk (form)
Banyak produk dapat di diferensiasikan berdasarkan bentuk ukuran,
bentuk, atau struktur fisik produk.
(2) Fitur (feature)
Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan menvariasikan fitur
yang melengkapi fungsi dasar mereka.
(3) Kualitas Kinerja (performace quality)
Sebagian besar produk ditetapkan pada suatu kualitas yang berkaitan
dengan karakteristik utama yang dimiliki.
(4) Kualitas Kesesuaian (conformance quality)
Pembeli mengharapkan produk mempunyai kualitas kesesuaian yang
tinggi, yaitu tingkat dimana semua unit yang diproduksi identik dan
memenuhi spesifikasi yang dijanjikan.
(5) Ketahanan (durability)
Ukuran umur operasi harapan produk dalam kondisi biasa atau penuh
tekanan, merupakan atribut berharga untuk produk – produk tertentu.
(6) Keandalan (reliability)
Pembeli biasanya akan membayar lebih untuk produk yang lebih dapat
diandalkan. Keandalan adalah ukuran probabilitas bahwa produk tidak
akan mengalami malfungsi atau gagal dalam periode waktu tertentu.
(7) Desain (design)
Totalitas fitur yang mempengaruhi tampilan, rasa, dan fungsi produk
berdasarkan kebutuhan pelanggan
Pengertian Kualitas Produk
Menurut Kotler and Armstrong dalam Putro et al (2014), menyatakan
kualitas produk sebagai “The ability of a product to perform its functions. Its
includes the product’s overall durability, reliability, precision, ease of
operation and repair, and other valued attributes”. (Kualitas produk
berhubungan erat dengan kemampuan produk untuk menjalankan fungsinya,
termasuk keseluruhan produk, keandalan, ketepatan, kemudahan
pengoperasian dan perbaikan, dan atribut bernilai lainnya).
Berdasarkan informasi – informasi tersebut, dapat dipahami bahwa
kualitas produk merupakan karakteristik dari barang dan jasa yang
mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan, yang merupakan
gabungan dari keandalan, ketepatan, kemudahan, pemeliharaan dari suatu
produk.
Pengertian Produk
Menurut Kotler dan Keller (2018:4), mendefinisikan produk sebagai
segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu
keinginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara,
orang, tempat, properti, organisasi, informasi, dan ide.
Menurut Tjiptono (2017:231), produk merupakan segala sesuatu yang
dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan, dan/atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau
keinginan.
Berdasarkan definisi para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan dipasar untuk mendapatkan
perhatian, dibeli, dipergunakan, dikonsumsi dan untuk memuaskan kebutuhan
dan keinginan konsumen.
Strategi Kepuasan Pelanggan
Strategi kepuasan pelanggan menyebabkan para pesaing harus berusaha
keras dan memerlukan biaya tinggi dalam usahanya merebut pelanggan suatu
perusahaan. Kepuasan pelanggan merupakan strategi jangka panjang yang
membutuhkan komitmen, baik menyangkut dana maupun sumber daya manusia
Tjiptono (1997 ;40) ada beberapa strategi yang dapat dipadukan untuk meraih
dan meningkatkan kepuasan pelanggan :
1. Relationship Marketing yaitu strategi di mana transaksi pertukaran
antara pembeli dan penjual berkelanjutan, tidak berakhir setelah
penjualan selesai, dengan menjalin suatu kemitraan dengan pelanggan
secara terus menerus. Pada akhirnya akan menimbulkan kesetiaan
pelanggan sehingga terjadi bisnis ulangan.
2. Strategi Superior Costumer Service, yaitu menawarkan pelayanan
yang lebih baik dari pesaing. Hal ini membutuhkan dana yang besar
kemampuan sumber daya manusia, dan usaha yang gigih agar dapat
tercipta suatu pelayanan yang superior. Manfaat dari pelayanan yang
lebih baik tersebut yaitu tingkat pertumbuhan yang cepat dan
besarnya laba yang diperoleh.
3. Strategi Unconditional Guarantenes, yaitu intinya memiliki
komitmen untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan yang pada
gilirannya akan menjadi sumber dinamisme penyempurnaan mutu
produk atau jasa dan kinerja perusahaan. Selain itu juga akan
meningkatkan moativasi karyawan untuk mencapai tingkat kinerja
yang lebih baik dari sebelumnya.
4. Strategi penanganan keluhan yang efisien.
5. Strategi peningkatan kinerja perusahaan
6. Menerapkan Quality Functional Development (QFD) yaitu praktik
untuk merancang suatu proses sebagai tanggapan terhadap kebutuhan
pelanggan. QFD berusaha menterjemahkan apa yang dibutuhkan
pelanggan menjadi apa yang dihasilkan organisasi dengan melibatkan
pelanggan dalam proses pengembangan produk sedini mungkin.
Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Menurut Kottler, et al (2004) dalam Tjiptono (2005 ; 210-214) ada
beberapa metode yang dapat dipergunakan oleh setiap perusahaan untuk
memantau kepuasan pelanggan yaitu :
1. Complaint and Sugestion System (Sistem keluhan dan saran)
Setiap organisasi yang berorientasi pada pelanggan perlu menyediakan
kesempatan yang luas dan nyaman bagi para pelanggannya untuk
menyampaikan saran, kritik, pendapatan dan keluhan mereka.Media yang
bisa digunakan antara lain kotak saran, saluran bebas pulsa, website, dll.
2. Ghost Shoping (Pembeli Bayangan)
Metode ini dilakukan dengan mempekerjakan beberapa orang ghost
shoppersuntuk berperan atau berpura-pura sebagai pelanggan potensial
produk pesaing.Setelah itu mereka diminta untuk melaporkan temuantemuan mereka berupa kekuatan da kelemahan produk pesaing.
3. Lost costumer Analysis (Analisis Pelanggan yang Lari)
Sedapat mungkin perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah
berhenti membeli atau yang telah berpindah ke pemasok lain agar dapat
memahami mengapa hal itu terjadi dan supaya mengambil kebijakan
perbaikan/penyempurnaan selanjutnya.
4. Costumer satisfaction surverys (Survey Kepuasan Pelanggan)
Melalui survei, perusahaan akan memperoleh tanggapan dan balikan secara
langsung dan perhatian dan juga memberikan kesan positif bahwa
perusahaan menaruh perhatian terhadap para pelanggannya. Pengukuran
kepuasan pelanggan melalui metode ini dapat dilakukan dengan berbagai
cara, di antaranya :
a. Directly Reported Satisfactionyaitu pengukuran dilakukan secara
langsung melalui pengajuan pertanyaan kepada pelanggan.
b. Derived Dissatisfaction yaitu pertanyaan yang diajukan menyangkut dua
hal utama berupa besarnya harapan pelanggan terhadap atribut tertentu
dan besarnya kinerja yang mereka rasakan.
c. Problem Analysis. Pelanggan yang dijadikan responden diminta
mengungkapkan dua hal pokoknya yaitu tentang masalah-masalah yang
mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahaan dan saran- saran perbaikannya.
d. Important-Performance Analysis. Responden diminta untuk merangking
berbagai elemen atau atribut penawaran berdasarkan derajat pentingnya.
Selain itu pelanggan juga diminta untuk merangking seberapa baik
kinerja perusahaan dalam masing-masing elemen tersebut. Angka-angka
ini kemudian digunakan untuk menghitung indeks kepuasan pelanggan
dengan cara mengalikan antara tingkat kepuasan dengan derajat tingkat
kepentingan.
Kepuasan Pelanggan
Banyak perusahaan memfokuskan pada kepuasan tinggi karena para
pelanggan yang kepuasannya hanya biasa-biasa saja akan mudah untuk berubah bila
mendapat tawaran yang lebih baik.Mereka yang amat puas lebih sukar untuk
mengubah pilihannya.Dewasa ini semakin diyakini bahwa kunci utama untuk
memenangkan persaingan adalah memberikan nilai dan kepuasan kepada pelanggan
melalui penyampaian produk dan jasa berkualitas dengan harga bersaing.Kepuasan
adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan antara persepsi/kesannya kinerja (atau hasil) suatu produk dan
harapan-harapannya.kottler(2000 ; 42)
Menurut Mowen Minor kepuasan pelanggan adalah keseluruhan sikap
yang ditunjukkan konsumen atas barang dan jasa setelah mereka memperoleh dan
menggunakannya. Sedangkan menurut Band 1991kepuasan pelanggan merupakan
suatu tingkatan dimana kebutuhan, keinginan, dan harapan dari pelanggan akan
dapat terpenuhi atau terlampaui melalui suatu transaksi yang akan mengakibatkan
terjadinya pembelian ulang.
Pada dasarnya tujuan dari suatu bisnis adalah untuk menciptakan para
pelanggan yang merasa puas. Terciptanya kepuasan dapat memberikan beberapa
manfaat, di antaranya hubungan antara perusahaan pelanggannya menjadi harmonis,
memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang dan terciptanya loyalitas
pelanggan dan membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word-of- mouth)yang menguntungkan bagi pelanggan Tjiptono(2006 ; 24)
Adapun manfaat perusahaan memperhatikan kepuasan pelanggan
dikemukakan oleh fandy tjiptono dalam bukunya yang berjudul Strategi Bisnis
meliputi :
a. Reputasi perusahaan semakin positif di mata masyarakat pada umumnya dan
pelanggan pada khususnya
b. Mendorong loyalitas pelanggan
c. Memungkinkan terciptanya rekomendasi dari mulut ke mulut (word-of- mouth)yang menguntungkan bagi perusahaan sehingga banyak membeli
d. Meningkatkan volume penjualan dan keuntungan
e. Hubungan harmonis
f. Mendorong setiap anggota organisasi untuk bekerja dengan tujuan serta
kebanggan yang lebih baik
g. Menekan biaya melayani pelanggan sebagai dampak familiaritas dan relasi
khusus dengan pelanggan
h. Terbukanya peluang melakukan penjualan silang (cross selling produk)
Dalam studinya mengenai loyalitas nasabah bank, Jones dan Saser
1995menemukan bahwa pelanggan yang menyatakan “completely satisfied”
cenderung 42% lebih mungkin untuk loyal dibandingkan mereka yang sekedar “satisfied”. Itulah sebabnya banyak pakar yang menegaskan hanya tingkat kepuasan
tertinggi (sangat puas) yang bisa dianggap sebagai tingkat kinerja yang bisa diterima.
Implikasinya, apabila hasil survei kepuasan pelanggan sebuah perusahaan
menunjukkan bahwa 10% pelanggannya “completely satisfied”, sementara 30%
“very satisfied” dan 40% “satisfied”, perusahaan bersangkutan tidak boleh berbangga
hati dan merasa aman bahwa 80% pelanggannya puas, namun justru mereka harus
waspada karena 90% pelanggannya tidak sepenuhnya puas dan mungkin beralih
merek atau pemasok Tjiptono (2005 ; 199) :
1. Contact theory
Teori ini berasumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja
produk aktual dengan ekspetasi konsumen pra-pembelian. Apabila
kinerja aktual lebih besar atau sama dengan ekspetasi maka pelanggan
akan puas. Sebaliknya, jika kinerja aktual lebih rendah dibandingkan
ekspetasi, maka konsumen tidak akan puas.
2. Assimilation theory
Teori ini menyatakan evaluasi purnabeli merupakan fungsi positif dari
ekspetasi konsumen pra-pembelian.Karena fungsi diskomfirmasi secara
psikologis tidak enak dilakukan konsumen cenderung secara perseptual
mendistorsi perbedaan antara ekspetasi dan kinerja ke arah ekspetasi
awal.
3. Assimilation-contrast theory
Teori ini berpegangan bahwa terjadinya efek asimilasi atau efek kontras
merupakan fungsi dari tingkat kesenjangan antara kinerja yang
diharapkan dengan kinerja aktual. Apabila kesenjangan besar, konsumen
akan memperbesar gap tersebut sehingga produk dipersepsikan lebih
baik atau lebih buruk dibandingkan kenyataannya. Namun, jika
kesenjangan tidak berlaku, Assimilation theory yang berlaku.
Menurut Bramson (2005;2) kepuasan pelanggan merupakan suatu konsep
yang mencakup 5 faktor :
1. Pengalaman konsumen dengan kepuasan utuh ketika melakukan
transaksi dengan anda
2. Kesediaan anda untuk mengembangkan hubungan dengan anda dan
dengan perusahaan anda
3. Kesediaan untuk menjadi pembeli setia
4. Kesediaan untuk merekomendasikan anda kepada orang lain
5. Penolakan untuk berpindah pada pesaing
Berdasarkan pengertian yang ada dapat disimpulkan, bahwa kepuasan
pelanggan merupakan kesetiaan konsumen terhadap perusahaan atau suatu produk
tertentu dengan disertai tindakan untuk membeli kembali dan konsumen bersedia
mengembangkan hubungan kembali.
Prinsip-prinsip kualitas pelayanan
Untuk dapat menyelenggarakan menejemen pelayanan dengan baik, kita
harus mengelola moment kritis pelayanan, berempati kepada konsumen dengan
cara membuat lingkaran pelayanan dan menghindari terjadinya gap. Selain itu ada
juga prinsip-prinsip manajemen pelayanan yang dapat dipakai sebagai bahan
acuan. Prinsip-prinsip tersebut antara lain :
1. Identifikasi kebutuhan konsumen yang sesungguhnya
2. Sediakan pelayanan yang terpadu (one-stop-shop)
3. Membuat system yang mendukung pelayanan konsumen
4. Usahakan agar semua orang atau karyawan bertanggung jawab
terhadap kualitas pelayanan
5. Layanilah keluhan konsumen secara baik
6. Terus berinovasi
7. Karyawan adalah sama pentingnya dengan konsumen
8. Bersikap tegas tetapi ramah terhadap konsumen
9. Jalin komunikasi dan interaksi khusus dengan pelanggan/nasabah
10. Selalu mengontrol kualitas Raminto dan winarsih(2008 ; 87)
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan
pelanggan antara lain(Adisaputro,2010:68):
1. Memonitor dan menganalisis penyebab pelanggan yang tidak lagi
membeli pada perusahaan.
2. Menemui pelanggan yang berhenti membeli dari kita atau berubah
membeli brand pesaing
3. Membentuk pembeli bayangan untuk berperan sebagai pembeli potensial
produk pesaing dan melaporkan baik kekuatan maupun kelemahan produk
kita maupun produk pesaing.
Ada beberapa cara mempertahankan pelanggan yaitu sebagai berikut
(Foster, 2002:45):
a. Memberikan iklan
b. Dengarkan pelanggan
c. Siap membantu setiap saat
d. Beri kesempatan pelanggan mengeluh
e. Respon keluhan pelanggan
f. Hormati pelanggan
Perusahaan tidak hanya ingin memperbaiki hubungan dengan mitranya
saja, tetapi juga dengan pelanggannya.Dahulu banyak perusahaan yang
menyepelehkan pelanggan. Pelanggan mereka tidak memiliki alternatif
pemasok, atau para pemasok sama buruk kualitas dan pelayanannya atau pasar
berkembang sedemikian pesat sehingga perusahaan tidak perlu pusing untuk
benar-benar memuaskan seluruh pelanggannya.
Baik konsumen maupun produsen sama-sama menikmati benefit dari
hubungan baik antara perusahaan dengan konsumen. Oleh karena itu,
hubungan yang baik tersebut bukan saja menjadi kepentingan organisasi
untuk mempertahankan kesetiaan konsumen, tetapi konsumen sendiri
memperoleh benefit dari hubungan jangka panjang.
Dalam kaitannya dengan kepuasan pelanggan kualitas layanan
memiliki beberapa dimensi tergantung pada konteksnya. Dalam kasus
pemasaran barang ada beberapa dimensi yang biasa digunakan yaitu:
1. kinerja (performance) : karakteristik operasi dasar dari suatu produk.
Misalnya kecepatan pengiriman paket titipan kilat.
2. Fitur (features) : karakteristik pelengkap khusus yang dapat menambah
pengalaman pemakaian produk. Contoh, minuman gratis selama
penerbangan pesawat.
3. Realibilitas yaitu probabilitas terjadinya kegagalan atau kerusakan produk
dalam periode tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan
semakin handal produk tersebut. 4. Konformasi (conformaance) yaitu tingkat kesesuaian produk dengan
standar yang telah ditetapkan. Misalnya ketepatan waktu keberangkatan
dan datangnya kereta api.
Dimensi Kualitas
Suatu barang dikatakan bermutu apabila dapat diandalkan, mudah diperbaiki,
dirawat, mudah dipakai, aman, menarik dari segi penampilan serta tahan
lama.Berbeda dengan mutu suatu jasa seperti pelayanan perbankan.Dalam hal ini
persepsi tentang mutu sangatlah rumit karena mutu disini sangat abstrak disamping
unsur-unsur teknis banyak pula aspek-aspek non teknis yang mewarnai persepsi itu.
Perkembangan terakhir ditemukan bahwa sepuluh dimensi kualitas tersebut
dapat disederhanakan menjadi lima dimensi kualitas jasa yaitu :reliability,
responsiveness, assurance, emphaty, tangibility zeithaml(2000;188).
a. Reliability, yaitu menyajikan jasa sesuai dengan janji serta akurat dan
memuaskan.
b. Responsiveness,yaitu ketersediaan para karyawan untuk membantu
pelanggan dan menyajikan jasa dengan segera.
c. Assurance,yaitu pengetahuan, keterampilan dan kemampuan serta sopan
santun karyawan dalam menyajikan jasa, aman dari bahaya, resiko,
keraguan, serta memiliki sifat dapat dipercaya.
d. Emphaty,meliputi kemudahan dalam interaksi, komunikasi, yang baik,
memberikan perhatian secara pribadi serta memahami kebutuhan dan
keinginan pelanggan.
e. Tangible,bukti secara fisik yaitu bukti yang ditunjukkan oleh fasilitas
fisik, peralatan yang digunakan, penampilan para karyawan penyaji jasa
material dan sarana komunikasi.
Tiap individu tergantung dari latar belakang dan kepentingan masing- masing dapat saja melakukan penilaian terhadap pelayanan perbankan.
Penelitian yang dilakukan oleh Robert dan Prevost tahun 1987 yang
dikutip oleh wijono (1990)telah berhasil membuktikan adanya perbedaan
dimensi tersebut, yang disebutkan bahwa:
Bagi pemakai jasa pelayanan perbankan, mutu pelayanan perbankan lebih
terkait pada dimensi ketanggapan petugas, memenuhi kebutuhan nasabah,
kelancaran, komunikasi petugas dalam melayani nasabah.
Namun, menurut Brady dan Cronin (2001)mereka menggambarkan
masing-masing dari tiga kualitas dalam subsidimensi langsung mengukur
masing-masing kualitas yaitu:
1. Kualitas interaksi yaitu kualitas yang berhubungan erat dengan
proses layanan itu disampaikan yaitu dilihat dari proses interaksi staff
penyedia layanan pelanggannya (gronroos,2000) dan proses interaksi
tersebut dapat dilihat dari bagaimana cara bersikap, berprilaku
terhadap pelanggannya serta keahlian yang mereka miliki. Kualitas
interaksi digambarkan dalam tiga subdimensi yaitu : Sikap yaitu kepribadianyang dimiliki oleh staff yang
menunjukkan keramahan terhadap pelanggan. Contohnya,
sikap dan kepribadian dari staff direstoran sangat
mempengaruhi pendapat pelanggan, staff disana sangat ramah. Prilaku disini dimaksudkan dengan sifat yang baik dari staff
serta kemauan untuk dilayani. Keahlian yaitu kemampuan staff dalam melaksanakan
pekerjaannya. Contahnya staf direstoran itu tahu akan
pekerjaannya dan memiliki pengetahuan yang bagus serta bias
menjawab pertanyaan para pelanggan dengan cepat.
2. Kualitas lingkungan fisik menurut Rust dan Oliver yaitu sebuah
kualitas yang ada didalam lingkungan dimana proses pelayanan itu
terjadi (Gronroos, 2000)dan kualitas ini digambarkan dalam tiga
subdimensi yaitu : Kondisi lingkungan yaitu suatu kondisi yang dapat
memberikan kenyamanan yang berkenaan dengan aspek
nonvisual. Contohnya dari jauh, meja ditempat pelanggan
yangingin berdiri dari tempat duduk, ternyata kursi tidak bisa
didorong mundur karena dibelakangnya ada tamu lain yang
sedang duduk karena kondisi ruangan yang rapat dan sempit. Faktor sosial yaitu jumlah dan tipe pelanggan lain yang berada
dalam lingkungan pelayanan. Seperti tentang prilaku mereka
contohnya tangisan bayi seorang pelanggan sangat menggangu
pelanggan lain.
3. Kualitas hasilyaituapa yang pelanggan dapatkan ketika proses
produksi service dan interaksi-interaksi antara pelanggan dengan
penyedia layanan selesai (gronroos,2000). Dan kualitas ini
digambarkan dalam tiga subdimensi yaitu : Waktu tunggu yaitu pelanggan gunakan untuk menunggu kualitas
yang didapat. Bentuk nyata yaitu segala yang berwujud. Valensi yaitu ukuran tentang pengalaman yang didapat bisa baik
atau jelek.
Tingkat Kinerja
Tingkat kinerja menurut Tjiptono (2006;146) adalah kinerja aktual produk
yang dirasakan setelah pemakaiannya.Engel, dkk 1994 (Dalam
Tjiptono)mengungkapkan bahwa apabila kinerja actual produk memberikan hasil
sama atau melampaui harapan pelanggan maka pelanggan akan merasa puas atau
sebaliknya. Kotler(2000;45) mendefinisikan kinerja sebagai hasil yang dirasakan.
Apabila harapan pelanggan merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan
tentang apa yang akan diterimanya nilai dia membeli atau mengkonsumsi suatu
produk, maka kinerja merupakan persepsi pelanggan terhadap apa yang diterima
setelah mengkonsumsi produk yang dibeli.
Muddie dan Angela (2006;151) menjelaskan ada lima faktor yang
menyebabkan kinerja actual produk buruk yaitu :
1. Pelanggan keliru mengkonsumsikan jasa yang diinginkan.
2. Kinerja karyawan perusahaan jasa yang buruk.
3. Pelanggan keliru menafsirkan signal (harga, positioning, dll).
4. Miskomunikasi rekomendasi mulut ke mulut.
5. Miskomunikasi penyedia jasa oleh pesaing
Tingkat Kepentingan
Tingkat kepentingan pelanggan menurut Rangkuty (2003 ;35) didefinisikan
sebagai keyakinan pelanggan sebelum mencoba atau membeli suatu produk jasa yang
akan dijadikan standard acuan dalam menilai kinerja produk jasa tersebut. Zethaml,
dkk membuat suatu model konseptual mengenai tingkat kepentingan. Menurut model
tersebut, terdapat dua tingkatan pelanggan yaitu adequate service dan desired service.
Adecuate service (layanan adekuat) adalah tingkatan kinerja jasa minimal yang masih
dapat diterima berdasarkan perkiraan jasa yang mungkin akan diterima dan
tergantung pada alternatif yang tersedia. Desired service (layanan tersamar) adalah
tingkat kinerja jasa yang diharapkan pelanggan akan diterimanya, yang merupakan
gabungan dari kepercayaan kepercayaan pelanggan mengenai apa yang dapat dan
harus diterimanya. Zona of tolerance (daerah toleransi) adalah daerah diantara
adequate service dan desired service yaitu daerah dimana variasi pelayanan yang
masih dapat diterima oleh pelanggan. Zona of tolerance dapat mengembang dan
menyusut, serta berbeda-beda untuk setiap individu, perusahaan, situasi dan aspek
jasa. Apabila pelayanan yang diterima oleh pelanggan berada dibawah adequate
service, pelanggan akan frustasi dan kecewa. Sedangkan apabila pelayanan yang
diterima pelanggan melebihi desired service, pelanggan akan sangat puas dan
terkejut. Desired servicedipengaruhi oleh faktor-faktor berikut :
1. Keinginan untuk dilayani dengan baik dan benar. Pelanggan berharap
dilayani dengan baik karena dia melihat pelanggan lainnya dilayani
dengan baik serta dilayani dengan benar, dimana pelayanan yang benar
tergantung pada falsafah individu yang bersangkutan.
2. Kebutuhan perorangan. Pelayanan yang diharapkan pelanggan karena
kebutuhan pelayanan tersebut bersifat mendasar dan terkait dengan
kesejahteraan pelanggan.
3. Janji secara langsung. Pelayanan yang diharapkan pelanggan karena
pelanggan dijanjikan mendapatkan pelayanan seperti itu secara
langsung oleh pemberi/organisasi jasa.
4. Janji tidak langsung. Pelayanan yang diharapkan pelanggan karena
pelanggan memperoleh petunjuk yang berkaitan dengan pelayanan
tersebut sehingga dia menarik kesimpulan tentang pelayanan seperti
apa yang seharusnya diberikan. Petunjuk tersebut meliputi harga serta
peralatan pendukung pelayanan.
5. Pelayanan yang diperkirakan. Pelayanan minimal yang dapat diterima
pelanggan karena pelanggan telah memperkirakan akan mendapatkan
pelayanan seminimal itu. Pelayanan yang diperkirakan tersebut
cenderung merupakan perkiraan pelanggan atas transaksi individu dan
bukan keseluruhan hubungan dengan penyedia jasa
Kepuasan Nasabah
Kepuasan nasabah adalah persepsi nasabah bahwa harapannya telah
terpenuhi, diperoleh hasil yang optimal bagi setiap nasabah dan pelayanan perbankan
dengan memperhatikan kemampuan nasabah dan keluarganya, perhatian terhadap
keluarganya, perhatian terhadap kebutuhan nasabah sehingga kesinambungan yang
sebaik-baiknya antara puas dan hasil.Tjiptono dalam Noviyantie (2001) kepuasan
pelanggan merupakan evaluasi pembeli dimana alternatif yang dipilih sekurang- kurangnya memberikan hasil (outcome) sama dengan harapan pelanggan.
Ketidakpuasan timbul apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi harapan
pelanggan.
Bagi pelanggan, apa yang dihasilkan yaitu perusahaan baginya tidak begitu
penting. Pelanggan memikirkan apa yang akan dibelinya untuk memuaskan
kebutuhannya atas dasar pertimbangan bilai inilah selanjutnya akan menentukan
bentuk apa bisnis yang perlu dikembangkan.
Pelayanan pelanggan bermutu hanya bias dipahami dari sudut pandang
pelanggan. Kita harus merumuskan pelayanan bermutu melalui mata pelanggan.
Hanya bila pelanggan menganggap bahwa anda sebagai pelayanan telah memberikan
pelayanan pelanggan bermutu.William B.Martin,(2005)
MenurutKottler(2000 ; 35) kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dia terima dibandingkan
dengan harapannya. Nasabah baru akan merasa puas apabila kinerja pelayanan
perbankan yang mereka dapatkan sama atau melebihi dari apa yang mereka harapkan
dan perasaan kecewa nasabah akan timbul apabila kinerja yang diperolehnya tidak
sesuai dengan apa yang menjadi harapannya.
Kepuasan yang tinggi merupakan polis asuransi terhadap suatu yang salah,
yang tidak akan terhindarkan karena adanya keragaman yang terkait dengan produksi
jasa. Pelanggan jangka panjang dalam situasi ini akan lebih memanfaatkan karena
pengalaman positif sebelumnya, dan pelanggan yang puas akan kurang tertarik
dengan tawaran pesaing. Tidak mengherankan bahwa perusahaan telah terobsesi
dengan kepuasan pelanggan, mengingat hubungannya langsung dengan kesetiaan
pelanggan, pangsa pasar dan keuntungan.Lovelock.H.C,dkk (2005 ; 65)
Konsep Kualitas Pelayanan
Komponen jasa atau layanan memainkan peran strategik dalam setiap
bisnis, Tjiptono dan Chandra (2011:175).Pembelian sebuah barang sering
dibarengi dengan unsur jasa/layanan. Demikian pula sebaliknya, suatu jasa
sering diperluas dengan cara memasukan atau menambahkan produk fisik
pada penawaran jasa tersebut. Umumnya pelayanan lebih bersifat intangibles,
tidak dapat dilihat dan diraba sehingga pengguna hanya bisa dirasakan
melalui pengalaman langsung.Namun pelayanan mencakup hal – hal yang
tangibles, yang bisa dilihat dan diraba, berupa dimensi fisik dari pelayanan
itu sendiri.Suatu perusahaan dapat dikatakan meraih sukses ketika dilihat
dari faktor pelayanan pelanggan, oleh karena itu pelayanan yang baik sangat
mempengaruhi banyaknya jumlah pelanggan dalam suatu perusahaan.
Untuk mencapai dan menghasilkan suatu kualitas jasa yang sangat
baik, suatu perusahaan jasa haruslah mengerti dan mengimplementasikan
segala dimensi-dimensi kualitas jasa dengan tepat, karena para pelanggan
dalam menilai kualitas jasa suatu perusahaan, mereka menggunakan
persepsinya dengan melihat dan merasakan dimensi-dimensi kualitas jasa
yang ditawarkan suatu perusahaan. Servqual ini tidak hanya sekedar teori
semata namun bisa diaplikasikan secara nyata dalam dunia bisnis. Konsep
servqual banyak digunakan dalam industri jasa untuk memahami persepsi
target pelanggan tentang kebutuhan layanan mereka dan juga untuk
menyediakan pengukuran kualitas pelayanan organisasi. Servqual juga dapat
diterapkan secara internal untuk memahami persepsi karyawan terhadap
kualitas layanan dengan tujuan untuk mencapai perbaikan layanan.
Pada dasarnya metode ini melibatkan survei sampel dari pelanggan
sehingga mereka merasa kebutuhan layanannya dipahami.Dan untuk
mengukur persepsi mereka terhadap kualitas layanan bagi organisasi yang
bersangkutan. Pelanggan diminta untuk menjawab banyak pertanyaan dalam
setiap dimensi yang menentukan kepentingan relatif dari setiap atribut,
selanjutnya sebuah pengukuran ekspektasi kinerja yang akan berhubungan
dengan perusahaan “sangat baik”, dan kemudian sebuah pengukuran kinerja
untuk perusahaan yang bersangkutan. Hal ini memberikan penilaian terhadap
kesenjangan antara kinerja yang diinginkan dan aktual, bersama-sama
dengan peringkat pentingnya kriteria pelayanan.Hal ini memungkinkan
organisasi untuk memfokuskan sumber daya serta memaksimalkan biaya
kualitas layanan yang dikendalikan.
Sebagian besar pengguna akan setuju bahwa pemeriksaan yang
komprehensif dan menyeluruh tentang kebutuhan layanan dan kualitas
layanan memberikan pendekatan yang sangat berharga untuk meningkatkan
kualitas layanan. Servqual memberikan informasi rinci tentang persepsi
pelanggan tentang layanan (patokan yang ditetapkan oleh pelanggan sendiri),
kinerja tingkat seperti yang dirasakan oleh pelanggan, komentar dan saran
konsumen, kesan dari karyawan sehubungan dengan harapan pelanggan dan
kepuasan. Dimana Zeithaml, Bitner dan Dwayne (2009, p.104)
mengungkapkan ada lima faktor paling dominan atau penentu kualitas jasa
dari konsep servqual yaitu :
1. Reliability (keandalan) yaitu kemampuan untuk memberikan jasa yang
dijanjikan dengan handal dan akurat. Dalam arti luas, keandalan berarti
bahwa perusahaan memberikan janji-janjinya tentang penyediaan,
penyelesaian masalah dan harga.Apabila dikaitkan dengan bidang usaha
jasa ritel, maka karyawan yang handal adalah karyawan yang selalu
memberikan pelayanan maksimal dan membantu memenuhi kebutuhan
yang di cari konsumen dengan cepat dan tepat.
2. Responsiveness (daya tanggap) yaitu kesadaran dan keinginan untuk
membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat. Dimensi ini
menekankan pada perhatian dan ketepatan ketika berurusan dengan
permintaan, pertanyaan, dan keluhan pelanggan.Bila dikaitkan dalam
bidang jasa ritel maka sebagai contohnya konsumen tidak harus
menunggu pelayanan yang lama dan kecepatan dalam menangani keluhan
dari konsumen.
3. Assurance (kepastian) yaitu pengetahuan, sopan santun, dan
kemampuan karyawan untuk menimbulkan keyakinan dan kepercayaan.
Dimensi ini mungkin akan sangat penting pada jasa layanan yang
memerlukan tingkat kepercayaan cukup tinggi dimana pelanggan akan
merasa aman dan terjamin. Contohnya seperti bank, asuransi, obat-obatan
dan broker.
4. Empathy (empati) yaitu kepedulian dan perhatian secara pribadi yang
diberikan kepada pelanggan. Inti dari dimensi empati adalah
menunjukkan kepada pelanggan melalui layanan yang diberikan bahwa
pelanggan itu special, dan kebutuhan mereka dapat dipahami.
5. Tangible (berwujud), yaitu berupa penampilan fasilitas fisik, peralatan,
pegawai, dan material yang dipasang. Dimensi ini menggambarkan wujud
secara fisik dan layanan yang akan diterima oleh konsumen. Oleh karena
itu, penting bagi perusahaan untuk memberikan impresi yang positif
terhadap kualitas layanan yang diberikan tetapi tidak menyebabkan
harapan pelanggan yang terlalu tinggi.Hal ini meliputi lingkungan fisik
seperti exterior dan interior bangunan, penampilan personil yang rapi dan
menarik saat memberikan jasa. Contohnya dalam usaha ritel, maka
karyawannya memakai seragam yang rapi dan seluruh peralatan atau asset
pendukung seperti meja dan kursi sitting areatertata dengan rapi dan
bersih, rak penjualan bersih dan tertata rapi beserta poduct yang dijual,
kebersihan toilet, dan area sales penjualan yang bersih, wangi, dan suhu
ruangan dingin
Definisi Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapakan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan, Tjiptono (2011:59).Jadi dapat diambil kesimpulan segala bentuk
aktifitas yang dilakukan oleh perusahaan harus sesuai dengan ekspetasi serta
meningkatkan keunggulan suatu pelayanan untuk memenuhi keinginan dan
harapan serta kepuasan pelanggan. Kualitas atau mutu dalam industri jasa
pelayanan adalah suatu penyajian produk atau jasa sesuai ukuran yang
berlaku di tempat produk tersebut diadakan dan penyampaiannya setidaknya
sama dengan yang diingkan dan diharapkan oleh konsumen, Tjiptono dalam
Sunyoto (2012).“Mutu pelayanan berpusat pada upaya pemenuhan
kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketepatan penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan konsumen, yaitu adanya kesesuaian antara harapan
dengan persepsi manajemen, adanya kesesuaian antara persepsi atas harapan
konsumen dengan standar kerja karyawan, adanya kesesuaian antara standar
kerja karyawan dengan pelayanan yang diberikan dengan pelayanan yang
dijanjikan dan adanya kesesuaian antara pelayanan yang diterima dengan
yang diharapkan dengan konsumen”. Menurut Sunyoto (2012).
Berdasarkan beberapa definisi diatas disimpulkan bahwa kualitas
pelayanan merupakan suatu penyajian produk atau jasa yang sesuai dengan
standar perusahaan dan diupayakan dalam penyampaian produk dan jasa
tersebut sama dengan apa yang diharapkan konsumen atau bahkan melebihi
ekspetasi kosumen.
Gummeson yang dikutip oleh Tjiptono (2012:201) mengidentifikasi sumber
kualitas yang menentukan kualitas pelayanan yaitu:
1. Production Quality
Menjelaskan bahwa kualitas pelayanan ditentukan oleh kerjasama antara
departemen produksi/operasi dan departemen pemasaran.
1. Delivery Quality
Menjelaskan bahwa kualitas pelayanan dapat ditentukan oleh janji
perusahaan terhadap konsumen.
2. Desain Quality
Menjelaskan bahwa kualitas pelayanan ditentukan sejak pertama kali
jasatersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
3. Relationship Quality
Menyatakan bahwa kualitas pelayanan ditentukan oleh relasi
professionaldan sosial antara perusahaan dan stakeholder (konsumen,
pemasok,perantara, pemerintah, dan karyawan)
Karakteristik Pelayanan
Kotler (2013:37) mengemukakan bahwa jasa atau layanan memiliki
empat karakteristik utama yaitu:
1. Intangibility (tidak berwujud)
Jasa atau layanan berbeda secara signifikan dengan barang fisik. Bila
barang merupakan suatu objek, benda, material yang bisa dilihat, disentuh
dan dirasadengan panca indra, maka jasa atau layanan justru merupakan
suatu perbuatan,tindakan, pengalaman, proses, kinerja (performance) atau
usaha yang sifatnyaabstrak. Bila barang dapat dimiliki, maka jasa/layanan
cenderung hanya dapatdikonsumsi tetapi tidak dapat dimiliki (nonownership).Jasa juga bersifat intangible, artinya jasa tidak dapat dilihat,
dirasa, dicium, didengar atau diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi. Seorang
konsumen jasa tidak dapat menilaihasil dari sebuah jasa sebelum ia
mengalami atau mengkonsumsinya sendiri.
2. Inseparability (tidak terpisahkan)
Barang biasanya diproduksi terlebih dahulu, kemudian dijual, barudi
konsumsi. Sedangkan jasa umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian
diproduksi dan dikonsumsi pada waktu dan tempat yang sama. Interaksi
antara penyedia jasa dan pelanggan merupakan ciri khusus dalam pemasaran
jasa layanan bersangkutan. Keduanya mempengaruhi hasil (outcome) dari
jasa/layanan bersangkutan. Hubungan antara penyedia jasa dan pelanggan
ini,efektivitas staff layanan merupakan unsur kritis. Implikasinya, sukses
tidaknya jasa atau layanan bersangkutan ditunjang oleh kemampuan
organisasi dalam melakukan proses rekrutmen dan seleksi, penilaian kinerja,
system kompensansi, pelatihan, dan pengembangan karyawan secara efektif.
3. Variability
Layanan sangat bervariasi. Kualitas tergantung pada siapa yang
menyediakanmereka dan kapan dan dimana kualitas layanan disediakan.Ada
beberapa penyebab variabilitas layanan dimana jasa diproduksi dan
dikonsumsi secara bersama-sama sehingga membatasi kontrol kualitas.
Permintaan yang tidak tetap membuat sulit untuk memberikan produk yang
konsisten dan tetapselama permintaan tersebut berada dipuncak. Tingginya
tingkat kontak antara penyedia layanan dan tamu, berarti bahwa konsistensi
produk tergantung pada kemampuan penyedia layanan dan kinerja pada saat
yang sama. Seorang tamudapat menerima pelayanan yang sangat baik
selama satu hari dan mendapatpelayanan dari orang yang sama keesokan
harinya.
4. Perishability (tidak tahan lama)
Perishability berarti bahwa jasa atau layanan adalah komoditas yang
tidak tahan lama, tidak dapat disimpan untuk pemakaian ulang di waktu
yang akan datang, dijual kembali, atau dikembalikan. Permintaan jasa juga
bersifatfluktuasi dan berubah, dampaknya perusahaan jasa seringkali
mengalamimasalah sulit.Oleh karena itu perusahaan jasa merancang strategi
agar lebih baik dalam menjalankan usahanya dengan menyesuaikan
permintaan dan penawaran.
Leonard L.Berry dikutip oleh Tjiptono dalam Sunyoto (2012)
mengemukakan ada 3(tiga) karakteristik pelayanan, yaitu:
1. Lebih bersifat tidak berwujud daripada berwujud (more intangible
than tangible)
2. Produksi dan konsumsi bersamaan waktu ( simultaneous production
and consumption).
3. Kurang memiliki standart dan keseragaman (less standardized and
uniform)
Definisi Pelayanan
Modernitas dengan kemajuan teknologi akan mengakibatkan
persaingan yang sangat ketat untuk memperoleh dan mempertahankan
pelanggan. Pelayanan menjadi suatu keharusan yang harus dilakukan
perusahaan supaya mampu bertahan dan tetap mendapatkan kepercayaan
pelanggan. Pelayanan merupakan segala kegiatan yang dibutuhkan untuk
menerima, memproses menyampaikan, dan memenuhi pesanan pelanggan
untuk menindak lanjuti setiap kegiatan yang mengandung kekeliruan, Payne
(2008:219). Kualitas layanan suatu perusahaan haruslah terus dipertahankan
dan ditingkatkan karena pelanggan mengharapkan mendapat suatu pelayanan
yang baik bahkan melebihi yang mereka harapkan sehingga pelanggan akan
puas terhadap perusahaan jasa tersebut.
Aktivitas, manfaat maupun kepuasan merupakan bentuk pelayanan
yang pada dasarnya tidak berwujud. Pelayanan merupakan proses yang
terdiri atas serangkaian aktivitas intangible (tidak berwujud) yang biasanya
(namun tidak harus selalu) terjadi pada interaksi antara konsumen dengan
karyawan jasa, sumber daya fisik, barang, atau sistem penyedia jasa yang
disediakan sebagai solusi atas masalah konsumen. Hal ini diungkapkan
Gronroos yang dikutip oleh Tjiptono (2011:17). Dari definisi ini, dapat
dikatakan bahwa pelayanan merupakan aktivitas yang diberikan kepada
konsumen dan pada dasarnya tidak berwujud, disediakan sebagai solusi atau
masalah konsumen.Layanan merupakan kegiatan yang ditawarkan oleh
penyedia jasa kepada konsumen, bisa berupa benda dan objek lainnya,
layanan adalah kegiatan ekonomi yang ditawarkan oleh salah satu pihak
kepada pihak lain, hal ini ditulis oleh Lovelock dan Wirtz (2011:37).
Seringkali berbasis waktu, kinerja membawa hasil yang diingkan ke
penerima, benda atau asset lainnya adalah tanggung jawab pembeli.
Terdapat beberapa pengertian jasa di antaranya adalah jasa itu
sebagai deeds (tindakan, prosedur, aktivitas) proses – proses, dan unjuk kerja
yang yang intangible, Sunyoto (2012).Jasa dari sisi penjualan dan konsumsi
secara kontras dengan barang. Barang adalah suatu objek yang tangible yang
dapat diciptakan dan dijual atau digunakan setelah selang waktu tertentu.Jasa
adalah intangible (seperti kenyamanan, hiburan, kecepatan, kesenangan, dan
kesehatan) dan perishable (jasa tidak mungkin disimpan sebagai persediaan
yang siap dijual atau dikonsumsi pada saat diperlukan) jasa diciptakan dan
dikonsumsi secara simultan. Dalam jasa selalu ada aspek interaksi antara
pihak konsumen dan pemberi jasa, meskipun pihak – pihak yang terlibat
tidak selalu menyadari, Sunyoto (2012). Jasa juga bukan merupakan barang,
akan tetapi jasa adalah suatu proses atau aktivitas, dan aktivitas – aktivitas
tersebut tidak terwujud.Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan
bahwa jasa merupakan suatu aktivitas yang ditawarkan kepada pihak lain
dalam waktu itu juga karena jasa tidak dapat disimpan dan tidak berwujud
Manfaat Kualitas
Menurut Edvarsdsson dalam buku Tjiptono dan Chandra (2011:171-
173), produktivitas biasanya selalu dikaitkan dengan kualitas dan
profitabilitas. Meskipun demikian ketiga konsep tersebut memiliki
penekanan yang berbeda-beda:
1. Produktivitas menekankan pemanfaatan (utilisasi) sumber daya, yang
seringkali diikuti dengan penekanan biaya dan rasionalisasi modal. Fokus
utamanya terletak pada produksi/operasi.
2. Kualitas lebih menekankan aspek kepuasan pelanggan dan pendapatan.
Fokusutamanya adalah customer utility.
3. Profitabilitas merupakan hasil dari hubungan antara penghasil
(uncome),biaya, dan modal yang digunakan.
Perusahaan dapat meningkatkan pangsa pasarnya melalui pemenuhan
kualitasyang bersifat customer – driven yang akan memberikan keunggulan
harga dan customer value. Customer value merupakan kombinasi dari
manfaat dan pengorbanan yang terjadi apabila pelanggan menggunakan
suatu barang atau jasa guna memenuhi kebutuhan tertentu.Jika kualitas yang
dihasilkan superior dan pangsa pasar yangdimiliki besar, maka
profitabilitasnya terjamin.
Manfaat superior meliputi:
1. Loyalitas pelanggan yang besar
2. Pangsa pasar lebih besar
3. Harga saham yang lebih tinggi
4. Harga jual produk / jasa lebih tinggi
5. Produkvitas yang lebih besar
Definisi Kualitas
Definisi kualitas sendiri adalah “Quality is the totality of features and
characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated
or implied needs”, Kotler dan Keller (2009, p.169). Dari penjelasan di atas
bisa disimpulkan bahwa kualitas adalah keseluruhan dari fitur dan
karakteristik dari sebuah produk atau jasa yang memiliki kemampuan untuk
memuaskan kebutuhan kualitas adalah sesuatu yang diputuskan oleh
pelanggan, Wijaya (2011:11).Artinya, kualitas didasarkan pada pengalaman
aktual pelanggan atau konsumen terhadap produk atau jasa yang diukur
berdasarkan persyaratan-persyaratan tersebut
Indikator fasilitas
Menurut Tjiptono (2014, h.318) indikator fasilitas ada enam, yaitu :
1. Pertimbangan/perencanaan spasial
2. Perencanaan ruangan
3. Perlengkapan/perabotan
4.Tata cahaya dan warna
5. Pesan-pesan yang disampaikan secara grafis
6. Dan unsur pendukung
Definisi Fasilitas
Fasilitas adalah segala sesuatu yang berupa benda maupun uang yang
dapat memudahkan serta memperlancar pelaksanaan suatu usaha(Sam :
2012). Fasilitas merupakan penampilan,kemampuan sarana prasarana dan
keadaan lingkungan sekitarnya dalam menunjukkan eksistensinya kepada
eksternal yang meliputi fasilitas fisik(gedung) perlengkapan dan peralatan.
Yang termasuk fasilitas dapat berupa alat, benda-benda, perlengkapan, uang,
ruang tempat kerja, Menurut Lupioadi dkk. (2008).
Dalam organisasi perusahaan baik jasa maupun produk, banyak hal
yang harus diperhatikan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pimpinan
organisasi perusahaan adalah fasilitas. Fasilitas merupakan salah satu bagian
penting dalam organisasi baik organisasi komersial maupun organisasi
nonkomersial. Fasilitas adalah segala sesuatu yangdapat mempermudah
upaya dan memperlancar kerja dalam rangka mencapai suatu tujuan (Zakiah
Daradjat). Fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan dan
memperlancar pelaksanaan suatu usaha dapat berupa benda-benda maupun
uang(Suryo Subroto). Lebih luas lagi tentang pengertian fasilitas, fasilitas
dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat memudahkan,
memperlancar pelaksanaan suatu usaha (Suhaisimi Arikonto). Fasilitas juga
merupakan alat untuk membedakan antara perusahaan yang satu dari pesaing
yang lainnya(Supriyanto 2012). Untuk menunjang aktivitas perusahaan,
maka dibutuhkan berbagai jenis dan bentuk fasilitas untuk memperlancar
kerjadi suatu perusahaan. Semakin kompleks dan rumit proses kerja, maka
fasilitas kerja yang digunakan menjadi semakin banyak dan kompleks juga.
Dalam fasilitas kerja terdapat berbagai karekteristik(Lupioadi 2008).
Fasilitas adalah penyediaan perlengkapan fisik untuk memberikan
kemudahan kepada para tamu dalam melaksanakan aktivitas, sehingga
kebutuhan-kebutuhan pengunjung dapat terpenuhi selama melakukan
aktivitas, Menurut Sulastiyono (2011:98).Fasilitas merupakan segala sesuatu
yang sengaja disediakan oleh penyedia jasa untuk dipakai serta dinikmati
oleh konsumen untuk bertujuan memberikan tingkat kepuasan yang
maksimal. Fasilitas merupakan segala sesuatu yang bersifat peralatan fisik
disediakan oleh pihak penjual jasa untuk mendukung kenyamanan konsumen
(Kotler, 2009 :45).
Fasilitas merupakan sumber daya fisik yang harus ada sebelum suatu
jasa di tawarkan kepada konsumen, Menurut tjiptono(2014, h.317). Fasilitas
merupakan sesuatu yang penting dalam usaha jasa, oleh karena itu fasilitas
yang ada yaitu kondisi fasilitas, design interior dan eksterior serta
kebersihan harus di pertimbangkan terutama yang berkaitan erat dengan apa
yang dirasakan konsumen secara langsung. Persepsi yang diperoleh dari
interaksi pelanggan dengan fasilitas jasa berpengaruh terhadap kualitas jasa
tersebut dimata konsumen.
Strategi Bauran Promosi
Berdasarkan buku Prinsip-Prinsip Pemasaran,Kotler dan Armstrong
(2008:137 )pemasar dapat memilih dari dua strategi bauran promosi dasar
yaitu promosi dorong dan promosi tarik. Strategi dorong lebih melibatkan
untuk “mendorong” produk melalui sarana pemasaran kepada konsumen
akhir. Penjualan personal dan promosi dagang termasuk dalam strategi
dorong ini. Sedangkan untuk strategi tarik, produsen mengarahkan kegiatan
promosinya kepada konsumen akhir untuk membujukmereka agar membeli
produk. Iklan dan promosi konsumen termasuk dalam strategi tarik ini. Jadi
dapat ditarik kesimpulan, apabila strategi tarik iniefektif dan berjalan sesuai
rencana, maka konsumen akan meminta produkdari anggota saluran, yang
kemudian meminta produk dari produsen. Dalam hal merancang strategi
bauran promosi, perusahaan mempertimbangkan banyak faktor ketika
merancang strategi bauran promosi mereka, termasuk jenis produk/pasar.
Setelah menetapkan anggaran dan bauran promosi adabeberapa langkah
untuk mengintegrasikan bauran promosi, yaitu :
1. Menganalisis tren secara internal dan eskternal yang dapat
mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk melaksanakan suatu
bisnis
2. Mengaudit saku pembelanjaan komunikasi keseluruhan organisasi
3. Mengenali semua titik sentuh pelanggan untuk perusahaan dan
mereknya
4. Membentuk tim dalam perencanaan komunikasi
5. Menciptakan tema nuansa, dan kualitas yang cocok, pada semua media
komunikasi
6. Menciptakan ukuran kinerja yang berlaku bagi semua elemen
komunikasi
7. Menunjuk seorang direktur yang bertanggung jawab atas
usahakomunikas
Jenis-Jenis Promosi
Lima sarana promosi utama menurut Kotler dan Amstrong (2008:117)
adalah :
1. Periklanan (advertising)
Semua bentuk terbayar presentasi nonpribadi dan promosi ide, barang,
atau jasa dengan sponsor tertentu.Tujuan periklanan adalah tugas
komunikasi tertentu yang dicapai dengan pemirsa sasaran tertentu selama
periode waktu tertentu, Menurut Kotler dan Amstrong (2008:151).Tujuan
dari periklanan itu bisa di golongkan berdasarkan tujuan utama yaitu
menginformasikan, membujuk, atau mengingatkan. Periklanan yang
informatif sering digunakan ketika perusahaan mencoba untuk
memperkenalkan kategori produk baru. Dalam hal ini, tujuannya adalah
membangun permintaan utama. Beberapa periklanan persuasif atau
periklanan yang membujuk menjadi periklanan yang komparatif, dimana
perusahaan secara langsung atau tidak langsung membandingkan mereknya
dengan competitor.Dan yang terakhir, periklanan pengingat membantu
memelihara hubungan pelanggan dan membuat konsumen terus memikirkan
produk tersebut.
2. Promosi penjualan ( sales promotion )
Insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian atau penjualan
produk atau jasa. Menurut Kotler dan Armstrong ( 2008:206 ) banyak sarana
yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan penjualan, yaitu:
2.1 Alat promosi konsumen
Meliputi sampel produk, kupon, pengembalian tunai, harga khusus,
premi, barang khusus iklan, undian, serta permainan.
2.2 Alat promosi dagang
Membujuk penjual perantara untuk menjual merek, memberikan
ruang rak, mempromosikan merek itu dalam iklan, dan pada akhirnya
menawarkannya kepada konsumen.Beberapa alat promosi dagang yang
biasanya di gunakan oleh produsen adalah kontes, diskon langsung dari
harga resmi, barang-barang gratis yang berupa kemasan ekstra yang
ditujukan kepada penjual perantara yang membeli kuantitas tertentu.
2.3 Alat promosi bisnis
Alat promosi penjualan yang digunakan untuk menghasilkan arahan
bisnis, mendorong pembelian, menghargai pelanggan, dan memotivasi
wiraniaga. Disini perusahaan memfokuskan diri pada dua alat tambahan
promosi bisnis utama yaitu konvensi dan pameran dagang.Perusahaan
yang menjual produk mereka memperlihatkan produk mereka di pameran
dagang.
3. Hubungan masyarakat (public relations)
Membangun hubungan baik dengan berbagai kalangan untuk
mendapatkan publisitas yang diinginkan, membangun citra perusahaan yang
baik, dan menangani atau menghadapi rumor, berita,dan kejadian yang tidak
menyenangkan. Menurut Kotler dan Armstrong (2008:169) departemen
hubungan masyarakat bisa melaksanakan satu atau semua fungsi berikut :
3.1 Hubungan pers : menciptakan dan menempatkan informasi berharga
di media berita untuk menarik perhatian pada seseorang, produk atau
jasa
3.2 Publisitas produk : mempublikasikan produk tertentu
3.3 Kegiatan masyarakat : membangun dan mempertahankanhubungan
nasional dan komunitas lokal
3.4 Melobi : membangun dan mempertahankan hubungan dengan
pembuat peraturan
3.5 Hubungan investor : mempertahankan hubungan dengan pemegang
saham dan pihak lainnya dalam komunitas keuangan
3.6 Pengembangan : hubungan masyarakat dengan donor atau anggota
organisasi untuk mendapatkan dukungan financial.
4. Penjualan personal ( personal selling )
Presentasi pribadi oleh wiraniaga perusahaan untuk tujuan
menghasilkan penjualan dan membangun hubungan pelanggan.Penjualan
personal adalah salah satu profesi yang paling tua di dunia. Orang-orang
yang melakukan penjualan mendapat banyak sebutan yaitu wiraniaga,
manajer distrik, account executive, agen, konsultan penjualan, dll. Menurut
Kotler dan Armstrong (2008:182). Banyak perusahaan menggunakan
penjualan personal karena dapat berfungsi sebagai jembatan antara
perusahaan dan pelanggannya.Dalam banyak kasus, penjualan personal
mewakili dua majikan yaitu penjual dan pembeli.
5. Pemasaran langsung ( direct marketing)
Hubungan langsung dengan konsumen individual yang ditargetkan
secaracermat untuk memperoleh respons segera dan membangun hubungan
pelanggan yang langgeng. Penggunaan surat langsung, telepon, televisi,
respons langsung, e-mail, Internet, dan sarana lain untuk berkomunikasi
secara langsung dengan konsumen tertentu. Menurut Kotler dan Armstrong
(2008:222) terdapat dua manfaat dari pemasaran langsung baik dari pihak
pembeli maupun pihak penjual. Bagi pembeli, pemasaran langsung bersifat
menyenangkan, mudah dan pribadi. Pembeli bisnis bisa belajar mengenai
produk dan jasa tanpa terikat waktu dengan siwiraniaga. Pemasaran
langsung bersifat interaktif dan segera, dimana pembeli dapat berinteraksi
dengan penjual melalui telepon atau di situs Web penjual untuk menciptakan
informasi yang tepat.Bagi penjual pemasaran langsung merupakan sarana
yang kuat untuk membangun hubungan pelanggan. Dengan menggunakan
database pemasaran, pemasar mampu untuk menargetkan kelompok
individual kecil dan mempromosikan produk mereka secara pribadi. Selain
itu pemasaran langsung juga menawarkan alternatif biaya yang rendah,
efisien dan cepat untuk menjangkau pasar dari si penjual.
Tujuan Promosi Penjualan
Tujuan promosi menurut Kotler dan Amstrong (2008:205) yaitu :
1. Mendorong pembelian pelanggan jangka pendek atau meningkatkan
hubungan pelanggan jangka panjang
2. Mendorong pengecer menjual barang baru dan menyediakan lebih
banyak persediaan
3. Mengiklankan produk perusahaan dan memberikan ruang rak yang
lebih banyak
4. Untuk tenaga penjualan, berguna untuk mendapatkan lebih banyak
dukungan tenaga penjualan bagi produk lama atau baru atau
mendorong wiraniaga mendapatkan pelanggan baru.
Dapat disimpulkan tujuan kegiatan promosi yang di lakukan berfungsi
untuk menyebarluaskan informasi dan mendapatkan perhatian, menciptakan
dan menumbuhkan keinginan konsumen untuk membeli produk yang di
tawarkan, oleh sebab itu harus diusahakan bagaimana mempengaruhi
berfikir konsumen akhir meyakinkan pembeli. Sedangkan kata promosi
harus baik dan menarik, sehingga memberi kesan bahwa pembeli tidak
menghendaki produk yang lain selain produk yang di tawarkan kepadanya.
Promosi
Promosi adalah arus informasi atau persuasif satu arah yang dibuat untuk
mengarah seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran
dalam pemasaran. Promosi merupakan fungsi komunikasi dari perusahaan yang
bertanggung jawab menginformasikan dan membujuk/mengajak pembeli, Babin
(2011: 27). Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program
pemasaran. Promosi merupakan cara khusus dari iklan pribadi, promosi penjualan
dan hubungan masyarakat yang dipergunakan perusahaan untuk tujuan iklan dan
pemasarannya. Hakikatnya promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran yang
dimaksut dengan komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha
menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk dan mengingatkan pasar sasaran
atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada
produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan, Tjiptono(2008:219). “Bauran
promosi (promotion mix) juga disebut bauran komunikasi pemasaran (marketing
communication mix) perusahaan merupakan paduan spesifik iklan, promosi penjualan,
hubungan masyarakat, penjualan personal, dan sarana pemasaran langsung yang
digunakan perusahaan untuk mengkomunikasikan nilai pelanggan secara persuasif
dan membangun hubungan pelanggan.”
Promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat
penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk(Hamdani dalam
Sunyoto, 2013: 19). Dengan kegiatan promosi yang dilakukan, perusahaan akan
berusaha membujuk calon konsumen untuk melakukan pembelian atas suatu produk
atau jasa yang di tawarkan, dalam hal ini perusahaan melakukan komunikasi dengan
konsumen. Promosi diperlukan untuk memperkenalkan, memberikan informasi, serta
membentuk image dari suatu produk atau jasa yang ditawarkan
Pengaruh kepuasaan pelanggan
Bagi perusahaan yang berpusat kepada konsumen, kepuasaan
konsumen merupakan tujuan dan sarana pemasaran, dewasa ini perusahaan
harus lebih baik lagi memperhatikan tingkat kepuasaan konsumennya
karena internet menyediakan sarana bagi konsumen untuk menyebarkan
berita buruk dengan cepat dan juga berita baik ke seluruh dunia, Kotler
(2009). Dengan menggambarkan kejadiaan dan tindakan yang salah atau
tidak benar yang dilakukan oleh perusahaan, hal ini akan mendorong
ketidakpuasaan dan protes dari konsumen. Perusahaan yang meraih
peringkat kepuasaan konsumen yang tinggi memastikan pasar sasaran
mereka mengetahuinya.Setelah peringkat kepuasaan tersebut diketahui,
maka pelanggan juga akan merasakan tingkat kepuasaan yang lebih lagi.
Terciptanya kepuasaan konsumen dapat memberikan beberapa
manfaat, diantaranya adalah hubungan antara perusahaan dan pelanggan
jadi lebih harmonis, memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang dan
terciptanya loyalitas konsumen dan membentuk suatu rekomendasi dari
mulut ke mulut yang menguntungkan bagi perusahaan, reputasi perusahaan
jadi lebih baik dimata konsumen, dan laba yang di peroleh menjadi
meningkat.
Mengukur Kepuasan Konsumen
Tingkat kepuasaan konsumen selalu didasarkan pada upaya peniadaan
atau paling sedikit upaya penyempitan gap antara keadaan yang diinginkan
dalam hal ini berarti harapan dengan keadaan yang dihadapi (perceived).
Menurut Kotler dan Keller (2009), terdapat sejumlah metode untuk
mengukur tinggi tidaknya kepuasaan konsumen terhadap suatu perusahaan.
Beberapa metode yang dapat dilakukan dengan mudah antara lain adalah
survey berkala, mengamati tingkat kehilangan konsumen, dan
mempekerjakan konsumen misterius.
1. Survey berkala
Survey berkala mampu melacak kepuasaan konsumen secara langsung
dan juga mengajukan pertanyaan tambahan untuk mengukur niat pembelian
kembali dan kemungkinan atau kesediaan responden untuk
merekomendasikan suatu perusahaan dan merek kepada orang lain.
2. Tingkat kehilangan konsumen
Pengukuran tingkat kehilangan konsumen dapat dilakukan dengan
mengamati secara langsung kepada konsumen yang merupakan konsumen
tetap.Pencegahan yang dapat dilakukan kepada konsumen yang tidak lagi
datang ke perusahaan kita adalah dengan menghubungi konsumen tersebut.
3. Konsumen misterius
Konsumen misterius merupakan seseorang yang berperan sebagai
pembeli potensial dan melaporkan titik kuat dan titik lemah yang di
alaminya dalam berbelanja produk di perusahaan tersebut ataupun saat
berbelanja di perusahaan competitor.
Teknik pengukuran kepuasaan pelanggan harus dilakukan oleh setiap
perusahaan, bahkan bukan hanya oleh perusahaan sendiri, melainkan di
perusahaan competitor juga. Hal ini disebabkan oleh karena walaupun
perusahaan kita memiliki tingkat kepuasaan pelanggan sebanyak 80%, hal
tersebut tidak akan baik apabila tingkat kepuasaan konsumen perusahaan
pesaing 90%.
Dimensi Kepuasan Konsumen
Hal yang dapat mempengaruhi kepuasaan konsumen dapat dilihat dari
ukuran atau dimensi kepuasaan konsumen menurut kotler (2011), yaitu :
1. Tetap setia
Konsumen yang cenderung terpaksa akan menjadi setia atau loyal.
Konsumen yang puas terhadap produk yang dikonsumsinya akan
mempunyai kecenderungan untuk membeli ulang dari produsen yang sama.
2. Membeli produk yang di tawarkan
Keinginan untuk membeli produk atau makanan lain yang di tawarkan
karena adanya keinginan untuk mengulang pengalaman yang baik dan
menghindari pengalaman yang buruk.
3. Merekomendasikan produk
Kepuasan merupakan faktor yang mendorong adanya komunikasi dari
mulut ke mulut (word of mouth communication) yang bersifat positif. Hal ini
dapat berupa rekomendasi kepada calon konsumen yang lain dan
mengatakan hal-hal yang baik mengenai produk dan perusahaan yang
menyediakan produk.
4. Bersedia membayar lebih
Konsumen cenderung menggunakan harga sebagai patokan kepuasaan,
ketika harga lebih tinggi konsumen cenderung berfikir kualitas menjadi lebih
tinggi juga.
5. Memberi masukan
Walaupun kepuasan sudah tercapai, konsumen selalu menginginkan
yang lebih lagi, maka konsumen akan memberi masukan atau saran agar
keinginan mereka dapat tercapai
Kepuasan Konsumen
Dalam memenuhi kepuasan konsumen, perusahaan memang di tuntut
kejeliannya untuk mengetahui pergeseran kebutuhan dan keinginan konsumen yang
hampir setiap saat berubah. Pembeli akan bergerak setelah membentuk persepsi
terhadap nilai penawaran dibandingkan dengan harapannya.
Kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan (kinerja atau hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya,
Menurut Kotler dalam buku sunyoto (2013, p.35). Konsumen dapat mengalami salah
satu dari tiga tingkat kepuasaan umum yaitu kalau kinerja di bawah harapan,
konsumen akan merasa kecewa tetapi jika kinerja sesuai dengan harapan pelanggan
akan merasa puas dan apabila kinerja bisa melebihi harapan maka pelanggan akan
merasakan sangat puas senang atau gembira. Banyak tokoh yang mendefinisikan
tentang kepuasan konsumen, kepuasan konsumen adalah respon atau reaksi terhadap
ketidaksesuaian antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja actual yang
dirasakansetelah penggunaan atau pemakaian, menurut Rangkuti (2011:31).
Kepuasan pelanggan adalah, “Satisfaction is a person’s feelings of pleasure or
disappointmen that result from comparing a product’s perceived performance (or
outcome) to their expectations”.menurut Zeithaml, Bitner dan Dwayne (2009, p.104).
Menurutnya kepuasaan didefinisikan sebagai perasaan pelanggan yang puas atau
kecewa yang dihasilkan dari membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk
(atau hasil) dengan ekspektasi pelanggan. Dari penjelasan teori diatas, maka kunci
untuk memberikan kepuasaan pada konsumen adalah berusaha mengetahui terlebih
dahulu apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen. Pada dasarnya, kepuasan
dan ketidakpuasan konsumen atas produk atau jasa akan berpengaruh pada pola
perilaku selanjutnya (Lupiyoadi, 2013:231). Apabila konsumen merasa puas, mereka
akan memnunjukkan besarnya kemungkinan kembali membeli produk atau jasa yang
sama. Pelanggan yang puas juga cenderung akan memberikan referensi yang baik
atas produk atau jasa yang telah mereka gunakan kepada orang lain.
Empat Tahap Loyalitas
Loyalitas dapat dibagi menjadi empat tahap yaitu (Oliver, 1997):
a. Cognitive Loyalty.
Konsumen mengetahui semua basis informasi yang tersedia mengenai
segala hal yang menyangkut merek dan keuntungan yang didapat.
b. Affective Loyalty.
Konsumen berencana akan mengulangi membeli suatu produk atau jasa
yang sama.
c. Conative Loyalty.
Konsumen memiliki keinginan yang kuat dan memiliki keterlibatan yang
tinggi sebagai motivasi untuk membeli kembali produk atau jasa yang
sama.
d. Action Loyalty.
Loyalitas dapat bertahan dengan tidak hanya melalui motivasi yang kuat
tetapi juga karena adanya keinginan untuk terus melakukan segala hal
yang mungkin untuk terus membeli produk dengan merek yang
dipercayainya.
Empat Kategori Loyalitas
Dick & Basu (1994) membuat sebuah tabel silang yang membagi loyalitas
pelanggan ke dalam empat kategori yaitu:
a. Loyalty.
b. Latent Loyalty.
c. Spurious Loyalty.
d. No Loyalty.
Latent loyalty terjadi ketika perilaku loyal tidak/kurang terlihat walaupun
relative loyalty tinggi. Hal ini bisa diakibatkan oleh berbagai hal antara lain:
norma sosial, orientasi pelanggan terhadap harga, maupun upaya untuk mencegah
pelanggan untuk beralih.
Spurious loyalty merupakan keadaan dimana pelanggan melakukan
pembelian berulang (behavior loyalty tinggi) namun tidak memiliki dukungan
sikap yang kuat terhadap produk. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal antara
lain: kemiripan, terikat kontrak, atau ketidakadaan pesaing atau penyedia alternatif
lainnya.
No loyalty merujuk kepada keadaan dimana pelanggan memiliki sikap
relatif (relative attitude) yang rendah dan tidak adanya perilaku loyal (behavioral
loyalty).
Tujuan dari organisasi mencapai pelanggan yang loyal yang berada pada
bagian kategori loyalty. Organisasi ingin memiliki pelanggan yang memiliki
dukungan sikap yang kuat terhadap produk bukan hanya berdasarkan harga,
kontrak ataupun ketidakadaan pesaing
Pengukuran Loyalitas
Dick & Basu (1994) mengatakan bahwa pengukuran terhadap loyalitas
dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kategori berikut:
a. Pengukuran perilaku/behavioral (berdasarkan perilaku kasat mata atau
pengakuan terhadap perilaku dimasa lalu).
b. Pengukuran sikap/attitudinal (berdasarkan pernyataan-pernyataan
preferensi tindakan yang mungkin dilakukan).
Pendekatan behavioral memfokuskan pada pengamatan loyalitas melalui
perilaku seperti repeated buying, dan tidak menghiraukan proses kognitif yang
sebetulnya mendasari perilaku tersebut; pendekatan sikap memfokuskan pada
sikap, dimana brand loyalty dianggap suatu komitmen psikologis sehingga aspek
perilaku yang mengikutinya dapat diabaikan (Dick & Basu, 1994).
Jadi untuk mengukur loyalitas tidak hanya berdasarkan perilaku saja tetapi
juga memperhatikan sikap karena sikap tersebut mendasari terjadinya perilaku
pelanggan. Oleh karena itu pengukuran loyalitas dapat diukur dengan
menggunakan pendekatan yang memperhatikan pendekatan behavioral dan
pendekatan attitudinal.
Empat Keadaan dari Loyalty Customer
Nordman (2004) mendefinisikan empat keadaan dari loyalty customer.
Empat keadaan tersebut adalah:
a. Total behavioral loyalty.
b. Partial behavioral loyalty.
c. Partial behavioral disloyalty.
d. Total behavioral disloyalty.
Total behavioral loyalty didefinisikan sebagai penggunaan servis dari satu
penyedia jasa yang eksklusif secara kontinu. Total behavioral loyalty ini ditandai
dengan keberadaan kontrak servis yang mengatur segala servis yang digunakan
oleh pelanggan.
Partial behavioral loyalty didefinisikan sebagai penggunaan yang kontinu
dari sebagian (bukan semua) servis yang pernah diterima dari satu penyedia jasa.
Partial behavioral loyalty ini ditandai dengan keberadaan setidaknya satu kontrak
servis yang masih aktif walaupun satu atau lebih kontrak lain telah dibatalkan.
Partial behavioral disloyalty didefinisikan sebagai penghentian
penggunaan dari sebagian (bukan semua) servis yang pernah diterima dari satu
penyedia jasa. Partial behavioral disloyalty ini ditandai dengan keberadaan satu
atau lebih kontrak yang dihentikan atau diputus dan adanya pembelian servis dari
penyedia jasa yang berbeda.
Total behavioral disloyalty didefinisikan sebagai penghentian keseluruhan
servis yang pernah diterima dari satu penyedia jasa. Total behavioral disloyalty
ditandai dengan adanya pemutusan terhadap seluruh kontrak yang pernah dibuat.
Loyalitas (Loyalty)
Loyalitas konsumen adalah sebuah komitmen mendalam yang dipegang
teguh untuk melakukan pembelian berulang terhadap sebuah produk atau jasa
secara konsisten di masa yang akan datang, walaupun terdapat pengaruh-pengaruh
situasional dan usaha-usaha pemasaran yang berpotensi menyebabkan perilaku
berpindah (Oliver, 1997).
Dick & Basu (1994) mendefinisikan loyalitas pelanggan sebagai hubungan
antara relative attitude dan repeat patronage. Loyalitas merujuk pada sebuah
sikap atau perilaku yang favorable terhadap sebuah merek dengan tambahan
melakukan pembelian yang berulang (Day, 1969).
Pendapat lain yang dikemukakan Jarvis & Wilcox (1977) mendefinisikan
loyalitas sebagai sebuah situasi dimana perilaku pembelian berulang ditemukan
berjalan bersama dengan ikatan secara psikologi (Jarvis & Wilcox, 1977); dan
intensi-intensi dan perilaku-perilaku untuk melakukan pembelian berulang (Peter
& Olson, 1990).
Jadi loyalitas adalah sebuah sikap favorable terhadap sebuah produk atau
jasa sehingga terjadi pembelian berulang secara konsisten di masa yang akan
datang dan mencegah pelanggan untuk beralih kepada produk atau jasa lainnya.
Morgan and Hunt (1994) dan Bendapudi and Berry (1997) mengemukakan
dua pendekatan dan menegaskan pentingnya menggunakan kedua perspektif
dalam mempelajari loyalitas. Dua pendekatan di dalam mempelajari hubungan
dan loyalitas pihak yang berhubungan yaitu:
a. Pendekatan ekonomi yakni melihat dari sisi cost dan benefit dari
keputusan untuk loyal/disloyal.
b. Pendekatan psikologis yakni melihat dari sisi kepuasan dan komitmen.
Variabel-variabel yang Mempengaruhi Komitmen
Menurut Morgan & Hunt (1994) ada beberapa variabel yang
mempengaruhi komitmen, yaitu:
a. Pilihan produk (product choice).
b. Kemiripan produk (product familiarity).
c. Persepsi akan resiko (perceived risk).
d. Cost of switching.
e. Sunk cost.
Pilihan produk (product choice) berbicara mengenai jumlah alternatif yang
dimiliki oleh pelanggan. Menurut Alonso (2000), semakin banyak pilihan yang
mungkin terjadi, maka semakin tinggi tingkat kompleksitas dalam pemilihan
merek. Sehingga semakin banyak pilihan akan menyebabkan kemungkinan para
pelanggan untuk berkomitmen terhadap sebuah merek menjadi lebih kecil.
Kemiripan produk (product familiarity) menurut Alonso (2000) merujuk
pada tingkat pengetahuan yang dimiliki tentang suatu produk atau jasa. Asosiasi
yang menyiratkan hubungan antara kemiripan produk dan komitmen bahwa
kemiripan produk membuat pelanggan menjadi lebih tidak sensitif terhadap harga.
Perceived risk, diungkapkan oleh Erdem (1998), berbicara mengenai
kemungkinan para pelanggan mendapatkan sebuah produk atau jasa yang
berkualitas rendah. Hal ini disebabkan karena kekurangan informasi akan suatu
produk atau jasa karena beberapa atribut tidak benar-benar diungkapkan kepada
pelanggan sejak pertama kali.
Switching cost merupakan biaya dari modifikasi sebuah infrastruktur yang
telah ada. Shapiro & Varian (1998) menyatakan bahwa cara-cara untuk
mempertahankan para pelanggan adalah dengan meningkatkan switching cost.
Sunk cost merupakan biaya-biaya dari kehilangan investasi yang aktual.
Alonso (2000) berpendapat bahwa para pelanggan yang mengalami sunk cost
cenderung untuk mempersepsikan kualitas yang lebih baik pada pilihan aktual
mereka dan lebih berkomitmen pada hal tersebut
Penyebab Terjadinya Komitmen
Amine (1998) menghipotesiskan bahwa ada dua penyebab terjadinya
sebuah komitmen, yaitu:
a. Motif-motif kognitif (cognitive motives).
Motif-motif kognitif yang dimaksud seperti perceived risk atau
perceived variations dalam performa di antara merek-merek yang
bersaing. Proses kognitif memungkinkan para pelanggan untuk
mempertahankan perilaku pembelian secara konsisten selama
keuntungan-keuntungan yang menempel pada merek melebihi biaya
berpindah ke merek lainnya.
b. Alasan-alasan afektif (affective reasons).
Alasan-alasan afektif yang dimaksud seperti attachment atau perasaanperasaan emosional terhadap suatu merek. Proses afektif
memungkinkan para pelanggan untuk mempertahankan hubungan
dengan suatu merek, produk atau perusahaan dengan dasar affective
attachment kepada hal tersebut. Tujuan dari proses afektif adalah
untuk mengurangi kecenderungan para pelanggan untuk mensubstitusi
kepada merek lain dari merek yang biasa
Tiga Komponen Komitmen
Gundlach, Achrol & Mentzer (1995) berargumen bahwa komitmen
mempunyai tiga buah komponen, yaitu:
a. Sebuah komponen instrumental dimana hal tersebut merupakan sebuah
bentuk dari investasi.
b. Sebuah komponen attitudinal yang mungkin dapat dijelaskan sebagai
affective commitment atau psychological attachment.
c. Sebuah dimensi sementara yang mengindikasikan bahwa hubungan itu
nyata selama suatu waktu
Tiga Elemen dan Tiga Tipe Komitmen
Dalam literatur yang dikemukakan oleh Dwyer et al. (1992), ada tiga
elemen dari komitmen yaitu:
a. Komitmen adalah sesuatu yang bertahan. Hal itu melibatkan
pengertian secara implisit dan eksplisit bahwa patner akan tetap
melanjutkan untuk bekerja sama setelah transaksi yang terjadi
sekarang terselesaikan dan akan menghadapi hal-hal baru yang
mungkin muncul.
b. Komitmen merefleksikan suatu keinginan. Hal itu lebih berdasar pada
pilihan pribadi daripada kewajiban secara legal. Ketika patner yang
berkomitmen mungkin terikat oleh pengaturan-pengaturan kontrak
jangka pendek, mereka memilih untuk melanjutkan hubungan setelah
kewajiban-kewajiban legal terpenuhi.
c. Komitmen dikendalikan oleh nilai. Trading partners membentuk
hubungan jangka panjang apabila mereka percaya bahwa mereka akan
mendapatkan sebuah keuntungan jangka panjang dari pengaturan.
Fullerton (1999) secara empiris menunjukkan bahwa pengukuran dari tiga
tipe komitmen di dalam employment relationships dapat diadaptasi untuk
mengukur komitmen pelanggan terhadap suatu organisasi pada relationships
marketing. Tiga tipe komitmen yang dimaksud adalah affective, continuance dan
normative
Komitmen (Commitment)
Komitmen merujuk pada keinginan untuk mempertahankan sebuah
hubungan yang bernilai (Arnould et al., 2004). Komitmen adalah ketika lebih
banyak orang yang berdedikasi kepada sebuah kelompok dan memberi nilai pada
keanggotaannya, semakin termotivasi mereka dalam mengikuti kelompok tersebut
(Solomon, 2006).
Menurut Moorman et al. (1992), komitmen adalah sebuah keinginan yang
bertahan untuk menjaga sebuah hubungan yang bernilai. Sementara itu Dwyer &
Oh (1987) mendefinisikan komitmen dalam hubungan pembeli dan penjual
Universitas Indonesia
sebagai suatu eksistensi dari janji secara implisit atau eksplisit dari kelanjutan
hubungan antar patner.
Beberapa peneliti mendefinisikan komitmen sebagai suatu ikatan
psikologis pelanggan, loyalitas, keprihatinan terhadap kesejahteraan di masa yang
akan datang dan identifikasi dan kebanggaan memiliki asosiasi dengan organisasi
(Garbarino & Johnson, 1999).
Jadi komitmen adalah dedikasi dan keinginan yang bertahan dari
seseorang atau kelompok dalam mempertahankan hubungan pembeli dan penjual
sebagai kelanjutan hubungan antar patner yang bernilai
Keuntungan dari Terbentuknya Kepercayaan
Di dalam sebuah partnership, kepercayaan adalah sebuah variabel mediasi.
Kepercayaan dapat meningkatkan keuntungan-keuntungan sebagai berikut
(Morgan & Hunt, 1994):
a. Meningkatkan kerjasama/cooperation.
b. Meningkatkan terjadinya acquiescence.
c. Meningkatnya functionality dari conflict.
d. Menurunkan keinginan untuk pergi/prospensity to leave.
e. Menurunkan ketidakpastian/uncertainty.
Variabel-variabel yang Mempengaruhi Kepercayaan
Bejou, Ennew & Palmer (1998) dan Milne & Boza (1998) mengatakan
bahwa ada beberapa variabel yang mempengaruhi kepercayaan, yaitu kemiripan
suatu produk (product familiarity) dan komunikasi (communication) yang
merupakan tingkat pertukaran informasi di antara kelompok-kelompok.
Di lain pihak, Morgan & Hunt (1994) berpendapat bahwa variabelvariabel yang mempengaruhi kepercayaan adalah sebagai berikut:
a. Nilai-nilai yang terbagi (shared values).
Shared values didefinisikan di dalam pernyataan-pernyataan yang
berhubungan dengan persepsi-persepsi dari individu bahwa mereka
membagi nilai-nilai yang sama dengan organisasi.
b. Komunikasi (communication).
Komunikasi mempunyai tiga subconstructs. Subconstructs tersebut
yaitu: frekuensi, relevansi dan timeliness sebuah komunikasi dari
organisasi kepada pelanggan.
c. Perilaku oportunistik (opportunistic behavior).
Perlu diketahui bahwa perilaku oportunistik mempengaruhi
kepercayaan secara negatif. Hal ini menunjukkan bahwa ada persepsi
persepsi dari individu bahwa organisasi telah mengambil keuntungan
dari mereka di masa yang lampau.
Jadi beberapa hal yang mempengaruhi tingkat kepercayaan adalah
kemiripan suatu produk, nilai-nilai yang terbagi, komunikasi dan perilaku
oportunistik (mempengaruhi tingkat kepercayaan secara negatif)
Kepercayaan (Trust)
Kepercayaan didefinisikan sebagai keyakinan suatu kelompok dalam
reliabilitas dan integritas dari seorang patner (Arnould, Price & Zinkhan, 2004).
Definisi lain dari kepercayaan adalah pada saat seseorang mengharapkan hasil
yang positif dari seorang patner yang mempunyai integritas dan dapat diharapkan
secara menyakinkan (Morgan & Hunt, 1994).
Moorman, Zaltman & Deshpande (1992) mendefinisikan kepercayaan
sebagai kebersediaan untuk mengandalkan sesuatu pada sebuah patner dimana
seseorang berkeyakinan. Pendapat lain yang dikemukakan oleh Schurr & Ozane
(1985) mendefinisikan kepercayaan sebagai sebuah keyakinan bahwa janji dari
seorang patner dapat diandalkan dan sebuah kelompok akan memenuhi
kewajiban-kewajibannya dalam sebuah hubungan.
Beberapa peneliti mengatakan bahwa kepercayaan adalah tingkat
keyakinan yang dipersepsikan pada reliabilitas dan kejujuran dari patner-patner
(Crosby, Evans & Cowles, 1990). Sementara menurut Garbarino & Johnson
(1999), kepercayaan telah diperlakukan sebagai dasar yang baik dalam
membangun hubungan yang stabil.
Pada kesempatan lain, Morgan & Hunt (1994) mengatakan bahwa
kepercayaan kepada seorang patner yang merupakan hasil dari keyakinan bahwa
kelompok tersebut reliable dan mempunyai tingkat integritas yang tinggi, yang
dapat diasosiasikan dengan hal-hal sebagai berikut:
a. Konsistensi.
b. Kompetensi.
c. Kejujuran.
d. Keadilan.
e. Tanggung jawab.
f. Kebersediaan untuk membantu.
g. Kebaikan hati.
Jadi kepercayaan adalah pada saat seorang patner yang memiliki
reliabilitas dan integritas diandalkan dan diharapkan untuk memenuhi kewajibankewajiban dalam sebuah hubungan yang stabil.
Manfaat Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Perusahaan-perusahaan yang sukses umumnya melakukan analisis
kepuasan pelanggan ini sebagai bagian yang integral dari bisnis mereka. Mereka
menggunakan statistik untuk menerjemahkan respon yang muncul menjadi
informasi yang berguna. Dengan intepretasi yang tepat dari hasil temuan
pengukuran kepuasan pelanggan ini, maka perusahaan bisa mendapatkan manfaat
dari pengukuran kepuasan pelanggan yang mereka lakukan, seperti
(www.spss.com):
a. Meningkatkan loyalitas pelanggan.
b. Bereaksi dengan cepat terhadap perusahaan yang terjadi di pasar.
c. Mengidentifikasi peluang-peluang dan mengambil keuntungan dari
peluang-peluang tersebut.
d. Memenangkan persaingan.
e. Mempertahankan atau memperbesar market share.
f. Meningkatkan pendapatan perusahaan.
Hasil temuan yang didapatkan dalam pengukuran kepuasan pelanggan
memberikan suatu peluang kepada perusahaan untuk (Cravens, 1996):
a. Pengembangan produk baru.
b. Melakukan peningkatan atau perbaikan produk yang sudah ada.
c. Melakukan peningkatan atau perbaikan dalam proses produksi.
d. Melakukan peningkatan atau perbaikan pemberian layanan jasa
tambahan/pendukung.
Tujuan Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Suatu pengukuran kepuasan pelanggan yang direncanakan dengan baik
bisa memberikan jawaban kepada perusahaan mengenai pertanyaan yang paling
penting bagi mereka, yaitu: Apakah pelanggan perusahaan merasa puas? Biasanya
perusahaan melakukan pengukuran kepuasan pelanggan ini dengan tujuan
(www.spss.com):
a. Untuk memahami harapan (expectations) dan persepi (perceptions) dari
pelanggannya.
b. Untuk mengetahui seberapa baik perusahaan memuaskan harapan dan
keinginan dari pelanggannya tersebut.
c. Mengembangkan standar bagi jasa dan produk berdasarkan hasil temuan
dari survei ini.
d. Melihat trend yang sedang terjadi sehingga perusahaan dapat segera
melakukan tindakan yang sesuai.
e. Mengevaluasi akibat dari suatu perubahan dalam kebijakan perusahaan
atau produk maupun jasa yang diberikan.
Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Hoffman & Bateson (1997) mengemukakan bahwa terdapat berbagai
metode dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mengukur kepuasan pelanggan.
Secara umum, metode tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar,
yaitu pengukuran secara langsung dan tidak langsung.
Pengukuran tidak langsung terdiri dari menelusuri dan memonitor
penjualan, catatan, keuntungan dan komplain pelanggan. Pengukuran secara tidak
langsung ini merupakan pendekatan pasif yang dilakukan perusahaan untuk
menentukan apakah persepsi pelanggan sesuai atau melebihi ekspektasinya.
Sedangkan pengukuran secara langsung merupakan pendekatan aktif yang
bisa dilakukan dengan menjalankan riset pasar (marketing research), dengan
metode-metode seperti survei kepuasan pelanggan (customer satisfaction survey),
kunjungan ke pelanggan (customer visits), focus group discussion atau mystery
shoppers (Massnick, 1997).
Survei ini memberikan suatu hasil yang disebut Indeks Kepuasan
Pelanggan (Customer Satisfaction Index) yang menjadi standar kinerja perusahaan
dan patokan nilai yang harus tetap dijaga dan ditingkatkan oleh perusahaan
(Massnick, 1997).
Faktor yang Menentukan Tingkat Kepuasan Pelanggan
Ada 5 faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan pelanggan (Irawan,
2003), yaitu:
a. Kualitas produk.
Konsumen atau pelanggan akan merasa puas bila hasil evaluasi
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas. Beberapa
dimensi yang berpengaruh dalam membentuk kualitas produk adalah
performance, reliability, conformance, durability, feature dan lain-lain.
b. Kualitas pelayanan.
Komponen atau driver pembentuk kepuasan pelanggan ini terutama untuk
industri jasa. Pelanggan akan merasa puas apabila mereka mendapatkan
pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan yang diharapkan. Dimensi
kualitas pelayanan ini sudah banyak dikenal seperti yang dikonsepkan oleh
ServQual yang meliputi 5 dimensi yaitu: reliability, responsiveness,
assurance, emphaty dan tangible. Dalam banyak hal, kualitas pelayanan
seringkali mempunyai daya diferensiasi yang lebih kuat dibandingkan
dengan kualitas produk.
c. Faktor emosional.
Konsumen yang merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa orang
lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk dengan merek
tertentu akan cenderung mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Kepuasannya bukan karena kualitas dari produk tersebut tetapi self esteem
atau social value yang membuat pelanggan menjadi puas terhadap merek
produk tertentu.
d. Harga.
Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga
yang relatif murah akan memberikan value yang lebih tinggi kepada
pelanggannya. Jelas bahwa faktor harga juga merupakan faktor yang
penting bagi pelanggan untuk mengevaluasi tingkat kepuasannya.
e. Biaya dan kemudahan untuk mendapatkan produk atau jasa.
Pelanggan yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu
membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa akan
cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut
Kepuasan Sebagai Sebuah Konsep Konsumen
Konsep kepuasan sangat mendasar untuk konsumen individual, untuk
keuntungan perusahaan yang didukung melalui pembelian dan patronisasi, dan
untuk kestabilan struktur ekonomi dan politik. Semua entitas mengambil
keuntungan dari provisi dan penerimaan hasil memuaskan kehidupan, khususnya
di pasar. (Oliver, 1997).
Beberapa alasan yang mendasarinya dapat ditinjau dari empat buah
perspektif (Oliver, 1997):
a. Perspektif Konsumen.
Konsumen ingin untuk dipuaskan karena beberapa hal sebagai berikut:
• Kepuasan itu sendiri adalah sebuah keinginan akhir dari konsumsi dan
patronisasi; itu adalah sebuah pengalaman yang kuat dan
menyenangkan.
• Kepuasan menyingkirkan kebutuhan untuk mengambil tindakantindakan pembetulan atau mengalami konsekuensi dari sebuah
keputusan buruk.
• Kepuasan menyakinkan konsumen menjadi lebih ahli dalam
pengambilan keputusan.
b. Perspektif Perusahaan.
Banyak yang menemukan bahwa pengulangan proses pembelian adalah
penting untuk melanjutkan arus profitabilitas. Bahkan untuk produkproduk dengan interval pembelian yang panjang (contoh: peralatan rumah
tangga, mobil), kepuasan menjadi penting karena word of mouth dan
aktivitas-aktivitas dari berbagai organisasi pengawas, seperti lembaga
konsumen, yang menyelidiki laporan kepuasan dari waktu ke waktu.
c. Perspektif Industri.
Seluruh industri, termasuk perusahaan-perusahaan di sebuah industri, telah
lama menjadi subjek dari pengamatan mendalam untuk pengaruh baik atau
buruk terhadap konsumen. Secara jelas, sebuah konsekuensi dari
ketidakpuasan konsumen diarahkan langsung kepada industri adalah
regulasi dan biaya-biaya pelayanan seseorang. Hal ini menjadikan
kepuasan di seluruh industri menjadi fenomena yang dapat diukur sebagai
input untuk kebijakan atau regulasi.
d. Perspektif Sosial.
Penelitian mengenai kualitas kehidupan menyarankan cukup kuat bahwa
anggota masyarakat yang puas mempunyai kehidupan yang lebih baik,
baik itu dalam hal kesehatan, sosial dan mental, atau keuangan. Sulit untuk
membedakan arah dari pengaruh antara hasil kehidupan yang diinginkan
dan kualitas hidup yang diharapkan, kepuasan hidup terus menjadi sebuah
tujuan untuk pemerintah dan untuk individu di masyarakat
Kepuasan (Satisfaction)
Kepuasan adalah respon akan terpenuhinya ekspektasi konsumen. Itu
adalah sebuah pertimbangan bahwa fitur dari sebuah produk atau jasa
memberikan sebuah tingkat kenikmatan terpenuhinya ekspektasi konsumen.
(Oliver, 1997).
Seorang pelanggan yang puas adalah dimana seseorang tersebut menerima
nilai tambah secara signifikan dari supplier, tidak hanya tambahan produk-produk,
jasa-jasa atau sistem-sistem (Hanan & Karp, 1991).
Seroarang supplier pemuas adalah seseorang yang memberikan nilai
tambah secara signifikan kepada seorang pelanggan, tidak hanya tambahan
barang-barang atau jasa-jasa (Hanan & Karp, 1991).
Kepuasan pelanggan menurut Kotler (1997) adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang sebagai hasil dari perbandingan antara prestasi atau produk
yang dirasakan dan yang diharapkannya. Sementara De young (1996)
menyarankan bahwa semakin individual taktik-taktik pemasaran yang digunakan,
semakin tinggi tingkat kepuasan pelanggan.
Jadi kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa saat sebuah produk
atau jasa memenuhi ekspektasi konsumen dimana terdapat nilai tambah yang
dirasakan oleh konsumen secara signifikan dan semakin individual taktik-taktik
pemasaran yang digunakan akan meningkatkan kepuasan pelanggan.
Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Konsumen
Menurut Parasuraman (Lupiyoadi (2013: 216), kualitas pelayanan
yaitu seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan
atas pelayanan yang mereka terima. Menurut Kotler dalam laksana (2012)
pengertian layanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat
ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak
berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.
Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Konsumen
didukung oleh hasil penelitian Merry Setia Putri, Setiyo Budiadi (2019)
tentang Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Konsumen Rumah
Makan Lombok Hijau Lamongan. Demikian juga penelitian oleh Agus
Riyanto (2015), yang menunjukkan bahwa Tangibles, Responsiveness,
Assurance dan Emphaty berpengaruh terhadap Kepuasan Konsumen
Pengaruh Harga terhadap Kepuasan Konsumen
Menurut Kotler (2013) harga adalah jumlah uang yang harus dibayar
pelanggan untuk produk itu. menurut Alma (2014: 121), yaitu harga adalah
nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang. Pendapat Alma tersebut
mengambarkan bahwa harga sebagai suatu nilai dari barang yang dijual
dan barang tersebut diukur dalam bentuk uang..
Pengaruh Harga secara parsial terhadap Kepuasan Konsumen
tersebut seirama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Asep
Jamaludin (2019) yang menyatakan bahwa harga berpengaruh terhadap
Kepuasan Konsumen
Pengaruh Ekspektasi terhadap Kepuasan Konsumen
Menurut Mulyani dari Olson dan Dover (2014), ekspektasi atau
harapan pelanggan merupakan keyakinan pelanggan sebelum mencoba
atau membeli suatu produk, yang dijadikan standar atau acuan dalam
menilai kinerja produk tersebut. Hal ini terlihat pada hasil penelitian
Hardiyanti Pratiwi (2017) yang menunjukkan bahwa Ekspektasi yang
meliputi Kebutuhan pribadi (X1). Produk terakhir yang disantap (X2)
Perbandingan dengan produk sejenis lainnya (X3). Janji layanan secara
implisit (X4) Pengalaman masa lampau (X5) memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap Kepuasan Konsumen .
Indikator Kualitas Layanan
Menurut Parasuraman, kualitas pelayanan yaitu seberapa jauh
perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas pelayanan yang
mereka terima. Indikator Kualitas Layanan dalam penelitin ini bertolak
dari pendapat Pasuraman (dalam Lupiyoadi, 2013) yang meliputi:
1) Berwujud (Tangible)
2) Kehandalan (Reliability)
3) Ketanggapan (Responsiveness)
4) Jaminan dan Kepastian (Assurance)
5) Perhatian (Emphaty)
Komponen-komponen Kualitas Layanan
Kualitas layanan memiliki beberapa komponen didalamnya.
Menurut Pasuraman dalam Lupiyoadi (2013) ada lima komponen
yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas layanan jasa, yaitu :
1) Tangible (berwujud)
Kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan
eksistensinya kepada pihak eksternal.
2) Reliability (kehandalan)
Kemampuan perusahaan untuk memberikan layanan sesuai
yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya.
3) Responsiveness (ketanggapan)
Suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan layanan
yang tepat dan cepat kepada konsumen, dengan penyampaian
informasi yang jelas.
4) Assurance (jaminan dan kepastian)
Pengetahuan, kesopan santunan, dan kemampuan para
pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para
konsumen kepada perusahaan.
5) Emphaty (perhatian)
Memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual
atau pribadi yang diberikan kepada para konsumen dengan
berupaya memahami keinginan konsumen
Kualitas Layanan
Supranto dan Nandan (2011) mengemukakan kualitas
layanan/jasa merupakan suatu cara perusahaan jasa agar tetap dapat
unggul bersaing adalah memberikan jasa dengan yang lebih tinggi
dengan pesaingnya secara konsisten. Kotler (2013) mengatakan
bahwa kualitas layanan harus dimulai dari kebutuhan konsumen
dan berakhir pada presepsi konsumen, presepsi konsumen tentang
kualitas layanan ke konsumen merupakan salah satu penentu
keberhasilan pemasaran.
Pengertian Kualitas Layanan
Secara umum layanan adalah bentuk pemberian layanan atau
servis yang diberikan kepada Konsumen. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia dijelaskan layanan sebagai usaha melayani kebutuhan orang
lain. Sedangkan melayani adalah membantu menyiapkan dan mengurus
apa yang diperlukan seseorang. Menurut Parasuraman Lupiyoadi,
kualitas pelayanan yaitu seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan
harapan pelanggan atas pelayanan yang mereka terima
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga, antara lain para ahli
seperti Alma (2014: 122) menyatakan : ”price policies” perlu diketahui
faktor-faktor yang mempengaruhi:
1) Apa yang akan dituju misalnya untuk mencegah masuknya saingan
maka price policies ditetapkan berdasarkan harga pokok di tambah
laba tipis.
2) Penetrasi maksudnya untuk menerobos produk-produk baru,
pricpolicies dapat ditinjau dari tiga sudut, yaitu:
a) Produsen
b) Whole saler
c) Retailer
Pengertian Harga
Secara sederhana, istilah harga dapat diartikan sebagai jumlah
uang (satuan moneter) dan atau aspek lain (non-moneter) yang
mengandung utilitas/kegunaan tertentu yang diperlukan untuk
mendapatkan suatu produk. Kebijaksanaan harga perlu diperhatikan
perusahaan agar tercapai tujuan yang diinginkan, salah satunya
untuk mencapai keuntungan yang wajar dari penjualan yang dilakukan.
Kotler (2013) harga adalah jumlah uang yang harus dibayar
pelanggan untuk produk itu. Jadi, harga adalah nilai tukar konsumen
untuk mendapatkan suatu produk dan dimanfaatkan dalam memakai
atau menggunakan produk dan jasa.
Indikator Ekspektasi
Menurut Mulyani dari Olson dan Dover (2014), ekspektasi atau
harapan pelanggan merupakan keyakinan pelanggan sebelum mencoba
atau membeli suatu produk, yang dijadikan standar atau acuan dalam
menilai kinerja produk tersebut. Indikator dari variabel harapan
pelanggan pada penelitian ini mengacu pada Mulyani (2014), yang
meliputi:
1. Communications by
The Service Provider
Expectation
4. Past Experience
2. Price Paid
3. Similar
Experience
1) Kebutuhan pribadi
2) Produk terakhir yang digunakan/disantap
3) Perbandingan dengan produk sejenis lainnya
4) Janji layanan secara implisit
5) Pengalaman masa lampau
Pengertian Ekspektasi
Kata ekspektasi berasal dari bahasa Inggris, expectation atau
expectancy. Bila diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia
berarti harapan atau tingkat harapan. Menurut Mulyani dari Olson dan
Dover (2014), ekspektasi atau harapan pelanggan merupakan keyakinan
pelanggan sebelum mencoba atau membeli suatu produk, yang
dijadikan standar atau acuan dalam menilai kinerja produk tersebut.
Secara sederhana pengertian ekspektasi adalah harapan. Menurut
harapan berasal dari kata hope dan expectation. Hope dan expectation
adalah dua kata yang sering membuat kita bingung karena kesamaan
dalam konotasinya (Kurniansah, 2012).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen
Lupiyoadi (2011) menyebutkan lima faktor utama yang perlu
diperhatikan dalam kaitannya dengan Kepuasan Konsumen , antara
lain:
1) Kualitas Produk
Konsumen akan puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan
bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas. Produk dikatakan
berkualitas bagi seseorang, jika produk itu dapat memenuhi
kebutuhanya (Montgomery dalam Lupiyoadi, 2011). Kualitas produk
ada dua yaitu eksternal dan internal. Salah satu kualitas produk dari
faktor eksternal adalah citra merek.
2) Kualitas Layanan
Konsumen akan merasa puas bila mendapatkan layanan yang
baik atau yang sesuai dengan harapan.
3) Emosional
Konsumen merasa puas ketika orang memuji dia karena
menggunakan merek yang mahal.
4) Harga
Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi
menetapkan harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang
lebih tinggi.
5) Biaya
Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan
atau tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk
atau jasa cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut.
Pengertian Kepuasan Konsumen
Kepuasan Konsumen adalah hasil (outcome) yang dirasakan atas
penggunaan produk atau jasa, sama atau melebihi harapan yang
diinginkan (Yamit, 2011: 78). Kepuasan Konsumen adalah tingkat
kepuasan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang
dirasakan dibandingkan dengan harapan yang diinginkan (Tjiptono,
2015: 24).
Dari definisi-definisi di atas disimpulkan bahwa kepuasan
konsumen adalah membandingkan antara diharapkan dengan hasil yang
diberikan perusahaan dalam usaha memenuhi harapan konsumen.
Gaspers (dalam Nasution, 2015) mengatakan bahwa Kepuasan
Konsumen sangat bergantung kepada persepsi dan harapan konsumen.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan harapan
konsumen antara lain:
1) Kebutuhan dan keinginan yang berkaitan dengan hal-hal yang
dirasakan konsumen ketika sedang mencoba melakukan transaksi
dengan produsen produk.
2) Pengalaman masa lalu ketika mengkonsumsi produk dari perusahaan
maupun pesaing-pesaingnya.
3) Pengalaman dari teman-teman.
Konsumen yang puas adalah konsumen yang merasa
mendapatkan nilai dari pemasok, produsen / penyedia jasa. Nilai dapat
berasal dari produk, layanan, sistem atau sesuatu yang bersifat emosi,
seperti terpenuhinya ekdpektasi/harapan. Jika nilai dari konsumen
adalah harga yang murah, maka konsumen akan puas kepada produsen
yang memberikan harga yang kompetitif. Demikian pula jika nilai
tersebut bagi konsumen adalah kenyamanan, maka kepuasan akan
datang apabila layanan yang diperoleh benar-benar nyaman
Fasilitas Pelabuhan
Faktor fasilitas biasanya merupakan suatu faktor yang sangat menunjang
dalam usaha perusahaan memasarkan produk kepada konsumen pengguna barang
ataupun jasa. Adapun definisi fasilitas adalah segala hal yang dapat memudahkan
suatu produk untuk dipasarkan.Menurut Philip Kotler (2015). Fasilitas juga dapat
diartikan sebagai suatu bentuk pembelian manfaat dai perusahaan kepada
konsumen pengguna yang diberikan atas dasar pembayaran sejumlah uang.
Dengan kata lain, pada perusahaan jasa, fasilitas yang disediakan berupa alat-alat
yang dapat menunjang dalam memberikan pelayanan yang memuaskan bagi
konsumen.
Fasilitas biasa lainnya dipengaruhi oleh tingkat pelayanan,yang artinya
kenaikan atau penambahan fasilitas dalam suatu perusahaan akan menyebabkan
meningkatnya pelayanan. Fasilitas yang memadai dan lengkap merupakan suatu
daya tarik tersendiri bagi konsumen dalam menentukan pilihannya atau dalam
mengambil keputusan terhadap penggunaan suatu produk.Dan sebaliknya fasilitas
yang memadai yang tidak disesuaikan dengan pelayanan, mendorong ke arah
kegagalan perusahaan karena konsumen dapat mengurungkan niatnya untuk
membeli produk yang ditawarkan perusahaan.Fasilitas merupakan segala sesuatu
yang memudahkan konsumen dalam menggunakan jasa perusahaan tersebut.
Fasilitas merupakan segala sesuatu yang memudahkan konsumen dalam
usaha yang bergerak di bidang jasa, maka segala fasilitas yang ada yaitu kondisi
fasilitas, kelengkapan, desain interior, dan eksterior serta kebersihan fasilitas
harus diperhatikan terutama yang berkaitan erat dengan apa yang dirasakan atau
didapat konsumen secara langsung.Pelanggan memang harus dipuaskan, sebab
kalau tidak puas akan meninggalkan perusahaan dan menjadi pelanggan pesaing.
Hal ini akan menjadikan penurunan penjualan dan pada gilirannya akan
menurunkan pendapatan perusahaan. Sedangkan menurut Kotler (2015)
mendefinisikan fasilitas yaitu segala sesuatu yang bersifat peralatan fisik dan
disediakan oleh pihak penjual jasa untuk mendukung kenyamanan konsumen.
Menurut Tjiptono (2016) desain dan tata letak fasilitas jasa erat kaitannya
dengan pembentukan presepsi pelanggan.Sejumlah tipe jasa, presepsi yang
terbentuk dari interaksi antara pelanggan dengan fasilitas berpengaruh terhadap
kualitas jasa tersebut di mata pelanggan. Faktor-faktor yang berpengaruh
signifikan terhadap desain fasilitas jasa adalah sebagai berikut:
1. Sifat dan tujuan organisasi.
Sifat suatu jasa sering kali menentukan berbagai persyaratan desainnya.
Sebagai contoh desain rumah sakit perlu mempertimbangkan ventilasi yang
memadai, ruang peralatan medis yang representatif, ruang tunggu pasien yang
nyaman, kamar pasien yang bersih.Desain fasilitas yang baik dapat memberikan
beberapa manfaat, diantaranya perusahaan mudah dikenali dan desain interior bisa
menjadi ciri khas atau petunjuk mengenai sifat jasa didalamnya.
2. Ketersediaan tanah dan kebutuhan akan ruang atau tempat.
Setiap perusahaan jasa membutuhkan lokasi fisik untuk mendirikan
fasilitas jasanya. Dalam menentukan lokasi fisik diperlukan beberapa faktor yaitu
kemampuan finansial, peraturan pemerintah berkaitan dengan kepemilikan tanah
dan pembebasan tanah, dan lain – lain.
3. Fleksibilitas
Fleksibilitas desain sangat dibutuhkan apabila volume permintaan sering
berfluktuasi dan jika spesifikasi jasa cepat berkembang, sehingga resiko keuangan
relatif besar. Kedua kondisi ini menyebabkan fasilitas jasa harus dapat disesuaikan
dengan kemungkinan perkembangan di masa datang.
4.Faktor estetis.
Fasilitas jasa yang tertata rapi, menarik akan dapat meningkatkan sikap
positif pelanggan terhadap suatu jasa, selain itu aspek karyawan terhadap
pekerjaan dan motivasi kerjanya juga meningkat. Aspek-aspek yang perlu ditata
meliputi berbagai aspek. Misalnya tinggi langit–langit bangunan, lokasi jendela
dan pintu, bentuk pintu yang beraneka ragam, dan dekorasi interior.
5.Masyarakat dan lingkungan sekitar.
Masyarakat (terutama masalah sosial dan lingkungan hidup) dan
lingkungan disekitar fasilitas jasa memainkan peranan penting dan berpengaruh
besar terhadap perusahaan. Apabila perusahaan tidak mempertimbangkan faktor
ini, maka kelangsungan hidup perusahaan bisa terancam.
6.Biaya kontruksi dan operasi.
Kedua jenis biaya ini dipengaruhi desain fasilitas.Biaya kontruksi
dipengaruhi oleh jumlah dan jenis bangunan yang digunakan.Biaya operasi
dipengaruhi oleh kebutuhan energi ruangan, yang berkaitan dengan perubahan
suhu
Kualitas Pelayanan
Menurut Wijaya (2018:61-64) salah satu faktor yang menentukan
kepuasan konsumen adalah kualitas layanan yang terdiri atas lima dimensi
kesenjangan pelayanan yang merupakan ketidaksesuaian antara presepsi
pelayanan (perceived service) dan pelayanan yang diharapkan (expected service ).
Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berpengaruh dengan
produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi
harapan. Kualitas pelayanan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan
dan keinginan konsumen serta ketepatan penyampaiaannya dalam mengimbangi
harapan konsumen.
Kata kualitas mengandung banyak definisi dan makna karena orang
yang berbeda akan mengartikannya secara berlainan, seperti kesesuaian
dengan persyaratan atau tuntutan, kecocokan untuk pemakaian
perbaikanberkelanjutan, bebas dari kerusakan atau cacat, pemenuhan
kebutuhan pelanggan, melakukan segala sesuatu yang membahagiakan.
Kotler dan Keller dalam Mar’ati dan Sudarwanto (2016) menjelaskan
bahwa Kualitas (quality) adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa
yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang
dinyatakan atau tersirat. Tjiptono dalam Mar’ati dan Sudarwanto (2016)
menjelaskan bahwa kualitas layanan berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan
pelanggan serta ketepatan penyampaian untuk mengimbangi harapan pelanggan.
Kualitas layanan dapat dievaluasi dengan cara membandingkan kualitas yang
dialami atau diterima pelanggan perusahaan dengan layanan yang diharapkan.
Sedang Mardikawati dan Farida dalam Mar’ati dan Sudarwanto (2016)
menyatakan bahwa kualitas layanan adalah sifat dari penampilan produk atau
kinerja yang merupakan bagian utama strategi perusahaan dalam rangka meraih
keunggulan yang berkesinambungan, baik sebagai pemimpin pasar ataupun
strategi untuk terus tumbuh. Kualitas layanan dapat diketahui dengan cara
membandingkan persepsi pelanggan atas layanan yang benar-benar mereka
terima dengan layanan sesungguhnya yang mereka harapkan. Kualitas pelayanan
menjadi hal utama yang diperhatikan serius oleh perusahaan, yang melibatkan
seluruh sumber daya yang dimiliki perusahaan. Mengacu pada pengertian kualitas
layanan tersebut maka konsep kualitas layanan adalah suatu daya tanggap dan
realitas dari jasa yang diberikan perusahaan. Kualitas pelayanan harus dimulai
dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Hal ini berarti
bahwa kualitas yang baik bukanlah berdasarkan persepsi penyediaan jasa,
melainkan berdasarkan persepsi pelanggan. Kualitas layanan mengacu pada
penilaian-penilaian pelanggan tentang inti pelayanan, yaitu si pemberi pelayanan
itu sendiri atau keseluruhan organisasi pelayanan, sebagian besar masyarakat
sekarang mulai menampakkan tuntutan terhadap pelayanan prima, mereka bukan
lagi sekedar membutuhkan produk yang bermutu tetapi mereka lebih senang
menikmati kenyamanan pelayanan. Oleh karena itu dalam merumuskan strategi
dan program pelayanan, organisasi harus berorientasi pada kepentingan
pelanggan dan sangat memperhatikan dimensi kualitasnya.
Sikap dan Layanan pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi merupakan
kunci keberhasilan, juga usaha untuk menarik minat konsumen. Pelabuhan
Perikanan Nusantara Prigi dituntut untuk menekankan pelayanan yang berkualitas.
Menurut Philip Kotler (2015), pelayanan merupakan kegiatan atau
manfaat yang dapat diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada
dasarnya tidak terwujud dan tidak berakibat pula pada pemilikan sesuatu.
Menyadari akan pentingnya pelayanan kepada konsumen sebagai sarana yang
kompetitif,banyak perusahaan telah membentuk pelayanan kepada pelanggan.
Konsep kualitas sendiri pada dasarnya bersifat relatif yaitu tergantung dari
perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri dan spesifikasi. Pada
dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas yang seharusnya konsisten satu sama lain
1. Persepsi konsumen,
2. Produk (jasa),
3. Proses.
Untuk yang berwujud barang, ketiga orientasi ini hampir selalu dapat
dibedakan dengan jelas, tetapi tidak untuk jasa. Untuk jasa, produk dan proses
mungkin tidak dapat dibedakan dengan jelas, bahkan produknya adalah proses itu
sendiri. Konsistensi kualitas jasa untuk ketiga orientasi tersebut dapat memberi
kontribusi pada keberhasilan suatu perusahaan ditinjau dari kepuasan pelanggan,
kepuasan karyawan, dan profitabilitas organisasi. Menurut John Sviokla, salah
satu faktor yang menentukan tingkat keberhasilan dan kualitas perusahaan adalah
kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan.
Keberhasilan perusahaan dalam memberikan layanan yang berkualitas kepada
para pelanggannya, pencapaian pangsa pasar yang tinggi, serta peningkatan laba
perusahaan tersebut sangat ditentukan oleh pendekatan Zeithmal, Berry, dan
Parasuraman, (2017).
Salah satu pendekatan kualitas jasa yang banyak dijadikan acuan dalam
riset pemasaran adalah model Servqual yang dikembangkan oleh Parasuraman,
Zeithmal, dan Berry dan Parasuraman (2017) yaitu:
1. Berwujud (tangible), yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan
eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan
prasarana fisik perusahaan yang dapaty diandalkan keadaan lingkungan
sekitarnya merupakan bukti nyata dari pelayanan yang diberikan, oleh pembeli
jasa. Hal ini meliputi fasilitas fisik (contoh: gedung, gudang), perlengkapan
dan peralatan yang digunakan (teknologi), serta penampilan pegawainya.
2. Keandalan (reliability) yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan
pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan serta akurat dan terpercaya, Kinerja
harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu,
pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang
simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi.
3. Ketanggapan (responsiveness) yaitu suatu kebijakan untuk membantu dan
memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan,
dengan penyampaian informasi yang jelas. Membiarkan konsumen menunggu
persepsi yang negatif dalam pelayanan.
4. Jaminan dan kepastian (assurance) yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan
kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para
pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen antara lain
komunikasi, kredibilitas, keamanan, kompetensi, dan sopan santun.
5. Empati (empathy) yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat
individual atas pribadi yang diberikan kepad para pelanggan dengan berupaya
memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan
memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami
kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang
nyaman bagi pelanggan.
6. Menurut Parasuraman, et al (2015)ada tiga hal penting yang harus diperhatikan
dalam kualitas pelayanan, yaitu kualitas pelayanan sulit dievaluasi oleh
pelanggan dari pada kualitas barang, persepsi kualitas pelayanan dihasilkan.
7. Dari perbandingan antara kepuasan pelanggan dengan pelayanan yang
diberikan secara nyata, evaluasi kualitas tidak semata-mata diperoleh dari hasil
akhir dari sebuah layanan, tapi juga mengikutsertakan evaluasi dari proses
layanan tersebut.
Apabila pelayanan yang diterima atau dirasakan pelanggan sesuai atau
bahkan melebihi harapan pelanggan, maka pelayanan tersebut dianggap
berkualitas dan memuaskan.Namun apabila pelanggan mendapati bahwa
pelayanan yang diterima itu tidak sesuai atau berada di bawah harapan pelanggan,
maka pelayanan dapat dianggap tidak berkualitas dan mengecewakan.
Pengertian Kepuasaan Pelanggan
Kepuasan konsumen didefinisikan sebagai tingkat perasaan seseorang
setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan
harapannya Kotler, (2015) atau diartikan bawa kepuasan merupakan fungsi dari
kinerja yang dirasakan (perceived performance) dan harapan (expectations).Jika
kinerja produk atau jasa lebih rendah dari harapan, konsumen akan merasa tidak
puas. Jika kinerja sesuai harapan maka konsumen akan merasa puas, jika kinerja
sampai melebihi harapan, maka konsumen akan merasa sangat puas (delighted).
Kepuasan konsumen merupakan kunci keberhasilan suatu perusahaan.
Jangka panjangnya adalah meningkatkan keuntungan yang ditentukan oleh
terpenuhinya kebutuhan dan keinginan konsumen secara memuaskan, karena dari
sini akan menimbulkan terjadinya penggunaan ulang dimasa yang akan datang.
Pada dasarnya kepuasan konsumen mencakup perbedaan antara harapan dan
kinerja atau hasil yang dirasakan. Penilaian terhadap kepuasan konsumen dapat
dibedakan menjadi :
1. Positive disconfirmation, dimana hasil yang diterima lebih baik daripada hasil
yang diharapkan.
2. Simple confirmation, dimana hasil yang diterima sama dengan hasil yang
diharapkan.
3. Negative confirmation, dimana hasil yang diterima lebih buruk (rendah)
daripada hasil yang diharapkan.
Pada akhirnya konsumen yang merasa terpuaskan kebutuhan dan
keinginannya akan menindaklanjuti dengan :
1) Melakukan pembelian ulang (reselling) produk atau jasa.
2) Menyatakan hal baik perusahaan kepada orang lain
3) Kurang memperhatikan produk dan jasa pesaing.
4) Membeli produk yang lain dari perusahaan tersebut
Sedangkan konsumen yang merasa tidak terpuaskan dapat melakukan
tindakan-tindakan yang dikhawatirkan dapat merugikan perusahaan seperti :
1) Menghentikan pembelian produk dari perusahaan
2) Menyatakan keluhan perusahaan kepada orang lain
3) Membeli produk atau jasa lain pada perusahaan pesaing Sehingga kunci untuk
memuaskan konsumen adalah memenuhi atau melebihi pengharapan
konsumen mengenai kualitas jasa.
Kepuasan pelanggan telah menjadi konsep sentral dalam teori dan praktik
pemasaran, serta merupakan salah satu tujuan esensial bagi aktivitas bisnis.
Kepuasan pelanggan berkontribusi pada sejumlah aspek krusial, seperti
terciptanya loyalitas pelanggan, meningkatnya reputasi perusahaan, berkurangnya
elastisitas harga, berkurangnya biaya transaksi masa depan, dan meningkatnya
efisiensi dan produktivitas karyawan, Anderson Tjiptono, (2016).
Menurut Tjiptono (2016) pada umumnya program kepuasan pelanggan
meliputi kombinasi dari tujuh elemen utama, yakni :
1. Barang dan jasa berkualitas.
Perusahaan yang ingin menerapkan program kepuasan pelanggan harus
memliki produk berkualitas baik dan layanan prima.Paling tidak, standarnya harus
menyamai para pesaing utama dalam industri. Untuk itu berlaku prinsip “quality
comes first, satisfaction programs follow”. Biasanya perusahaan yang tingkat
kepuasan pelanggannya tinggi menyediakan tingkat layanan pelanggan yang
tinggi pula. Seringkali itu merupakan cara mereka menjustifikasi harga yang
lebih mahal.
2. Relationship Marketing
Keterlibatan langsung manajemen puncak dalam menangani keluhan
pelanggan juga sangat penting, karena bisa mengomunikasikan secara nyata
komitmen perusahaan dalam memuaskan setiap pelanggan. Selain itu para staf
layanan pelanggan harus diseleksi dan dipantau secara cermat guna memastikan
bahwa mereka benar-benar berorientasi pada pemuasan kebutuhan pelanggan
Kunci pokok dalam setiap program promosi loyalitas adalah upaya menjalin relasi
jangka panjang dengan para pelanggan. Asumsinya adalah bahwa relasi yang
8
kokoh dan saling menguntungkan antara penyedia jasa dan pelanggan dapat
membangun bisnis ulangan (repeat business) dan menciptakan loyalitas
pelanggan.
Upaya menjalin relasi dengan pelanggan juga bisa gagal karena sebabsebab lain, seperti sebagian pelanggan menolak untuk tergantung kepada
pemasok tunggal, mungkin saja tidak ada manfaat timbal balik bagi perusahaan
dan pelanggan, dan sebagian pelanggan lebih menyukai fokus jangka pendek yang
semata-mata didasarkan pada harga murah.
3. Program promosi loyalitas
Program promosi loyalitas banyak diterapkan untuk menjalin relasi antara
perusahaan dan pelanggan.Biasanya, program ini memberikan semacam
penghargaan khusus (seperti diskon, bonus, voucher) kepada pelanggan kelas
kakap atau pelanggan rutin (heavy users) agar tetap loyal pada produk dari
perusahaan bersangkutan.
4. Fokus pada pelanggan terbaik
Pelanggan terbaik bukan sekedar mereka yang termasuk heavy users.
Tentu saja mereka berbelanja banyak, namun kriteria lainnya menyangkut
pembayarannya yang lancar dan tepat waktu, tidak terlalu banyak membutuhkan
layanan tambahan (karena mereka telah sangat paham mengenai cara berinteraksi
dengan perusahaan), dan relatif tidak sensitif terhadap harga (lebih menyukai
stabilitas daripada terus – menerus berganti pemasok untuk mendapatkan harga
termurah)
5) Sistem penanganan komplain secara efektif
Penanganan komplain terkait erat dengan kualitas produk.Perusahaan
harys memastikan bahwa barang dan jasa yang dihasilkannya benar-benar
berfungsi sebagaimana mestinya sejak awal.Baru setelah itu, jika ada masalah,
perusahaan segera berusaha memperbaikinya lewat sistem penanganan
komplain.Jadi jaminan kualitas haruis mendahului penanganan komplain.
Setiap orang yang bekerja mengharapkan dapat memperoleh kepuasan dari
tempat bekerjanya. Kepuasan akan mempengaruhi produktivitas yang sangat
diharapkan oleh seorang manajer, sehingga seorang manajer perlu memahami apa
yang harus dilakukan untuk menciptakan kepuasan kerja karyawan. Keterlibatan
langsung manajemen puncak dalam menangani keluhan pelanggan juga sangat
penting, karena bisa mengomunikasikan secara nyata komitmen perusahaan dalam
memuaskan setiap pelanggan.Selain itu para staf layanan pelanggan harus
diseleksi dan dipantau secara cermat guna memastikan bahwa mereka benar-benar
berorientasi pada pemuasan kebutuhan pelanggan.
Kepuasan konsumen menurut Kotler dan Keller dalam Mar’ati dan
Sudarwanto (2016) adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang timbul
karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap
ekspektasi mereka. Jika kinerja gagal memenuhi ekspektasi, pelanggan akan tidak
puas, jika kinerja sesuai dengan ekspektasi, pelanggan akan puas, dan jika kinerja
melebehi ekspektasi, pelanggan akan sangat puas atau senang. Tjiptono dalam
Farizal dan Prijati (2015), mengutip beberapa definisi kepuasan pelanggan
diantaranya :
1. Menurut Tse dan Wilton (2015), bahwa kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan adalah merupakan respon pelanggan terhadap ketidaksesuaian atau
diskonformasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja aktual
yang dirasakan pemakainya.
2. Menurut Wilkie (2017), kepuasan pelanggan merupakan suatu tanggapan
emosional pada evaluasi terhadap pengalaman konsumsi suatu produk atau
jasa.
3. Menurut Engel (2016), kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purna beli,
dimana persepsi terhadap kinerja alternatif produk atau jasa yang dipilih
memenuhi atau melebihi harapan sebelum pembelian. Apabila persepsi
terhadap kinerja tidak bisa memenuhi harapan, maka yang terjadi adalah
ketidakpuasan.
Hubungan Emphaty dengan Kepuasan Konsumen
Emphaty merupakan kepedulian yang mencakup kemudahan
komunikasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen dengan cara
mendengarkan kemudian memberi perhatian kepada tiap-tiap konsumen.
Dengan kata lain empati yaitu perhatian khusus atau individu terhadap
segala kebutuhan dan keluhan pelanggan, serta adanya komunikasi yang
baik antara penyedia jasa dengan konsumen. Terciptanya komunikasi yang
baik dari driver GO-JEK kepada konsumen. Driver yang perduli dengan
keselamatan konsumen berpengaruh dengan rasa puas dengan layanan yang
diberikan. Konsumen akan merasa senang dan nyaman dengan layanan GOJEK.
Hubungan empati dengan kepuasan konsumen mempunyai
pengaruh positif terhadap kepuasan konsumen. Semakin baik persepsi
konsumen terhadap empati yang diberikan oleh perusahaan maka kepuasan
konsumen juga akan semakin tinggi. Dan sebaliknya jika persepsi
konsumen terhadap empati yang diberikan oleh perusahaan buruk maka
kepuasan konsumen juga akan semakin rendah
Hubungan Responsiveness dengan Kepuasan Konsumen
Responsiveness adalah dimensi kualitas pelayanan yang paling
dinamis harapan pelanggan terhadap kecepatan pelayanan hampir dapat
dipastikan akan berubah dengan kecenderungan naik dari waktu ke waktu
(Handi Irawan, 2009). Daya tanggap pada penelitian ini merupakan
kesigapan driver atau pihak GO-JEK dalam melayani konsumen. Ketika
mengalami masalah pada kendaraan yang digunakan GO-JEK seperti ban
bocor, dibutuhkan kesigapan dan daya tanggap driver untuk mengatasi
permasalan tersebut. Atau daya tanggap driver GO-JEK untuk menangani
respon permintaan dari para konsumen.
Hubungan daya tanggap dengan kepuasan konsumen mempunyai
pengaruh positif terhadap kepuasan konsumen. Semakin baik persepsi
konsumen terhadap daya tanggap perusahaan maka kepuasan konsumen
juga akan semakin tinggi. Dan sebaliknya jika persepsi konsumen terhadap
daya tanggap buruk maka kepuasan konsumen juga akan semakin rendah.
Hubungan Reliability dengan Kepuasan Konsumen
Menurut Zeithaml. Et al (2006) Kehandalan adalah pemenuhan janji
pelayanan segera dan memuaskan dari perusahaan38. Pelayanan GO-JEK
sebagai bisnis transportasi mengantarkan konsumen ketempat tujuan yang
tepat dan cepat. Dan memberikan pelayanan yang sesuai dengan yang
dijanjikan dan akurat serta memberikan informasi yang tepat kepada
konsumen.
Hubungan kehandalan dengan kepuasan konsumen mempunyai
pengaruh positif. Semakin baik persepsi konsumen terhadap kehandalan
perusahaan maka kepuasan konsumen juga akan semakin tinggi. Dan
sebaliknya jika persepsi konsumen terhadap kehandalan buruk maka
kepuasan konsumen juga akan semakin rendah
Hubungan Tangible dengan Kepuasan Konsumen
Bukti fisik yang baik akan mempengaruhi persepsi konsumen. Karena
suatu bentuk jasa tidak bisa dilihat, dicium ataupun diraba. Maka aspek
wujud fisik menjadi bagian penting sebagai alat ukur dari pelayanan. Pada
saat yang bersamaan, aspek bukti fisik mempengaruhi harapan konsumen,
karena bukti fisik yang baik maka harapan konsumen akan lebih tinggi.
Oleh karena itu, pihak GO-JEK dan driver harus memberikan bukti nyata
seperti melengkapi atribut kendaraan, menggunakan kendaraan dengan
kondisi baik atau mempermudah tampilan aplikasi GO-JEK.
Hubungan bukti fisik dengan kepuasan konsumen adalah wujud
fisik yang mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan konsumen.
Semakin baik persepsi konsumen dengan bukti fisik maka kepuasannya
akan meningkat dan menciptakan rasa loyal. Dan sebaliknya jika persepsi
konsumen terhadap bukti fisik buruk, maka kepuasan konsumen juga akan
semakin rendah
Kualitas Layanan
Kotler dan Keller (2010) menjelaskan bahwa Kualitas adalah
totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.
Lupiyoadi (2008) menjelaskan bahwa kualitas pelayanan adalah faktor
yang menentukan tingkat keberhasilan dan kualitas perusahaan dimana
kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas
kepada konsumen dan sebagai strategi perusahaan untuk mempertahankan
diri dan mencapai kesuksesan dalam menghadapi persaingan.
Tjiptono (2014) menjelaskan bahwa kualitas layanan berfokus pada
upaya pemenuhan kebutuhan pelanggan serta ketepatan penyampaian untuk
mengimbangi harapan pelanggan. Kualitas layanan dapat dievaluasi dengan
cara membandingkan kualitas yang dialami atau diterima pelanggan
perusahaan dengan layanan yang diharapkan. Sedang Mardikawati dan
Farida (2013) menyatakan bahwa kualitas layanan adalah sifat dari
penampilan produk atau kinerja yang merupakan bagian utama strategi
perusahaan dalam rangka meraih keunggulan yang berkesinambungan, baik
sebagai pemimpin pasar ataupun strategi untuk terus tumbuh.
Dimensi SERVQUAL yang dikembangkan oleh Parasuraman,
Zeithmal, dan Berry 1988 (dalam utami, 2010), ada sepuluh dimensi dari
kualitas jasa yang dapat diringkas menjadi lima dimensi, yaitu :
1. Bukti Langsung (Tangibles)
Bukti lansung meliputi penampakan dari fasilitas, Gedung, peralatan
dan penampilan. Sebuah perusahaan yang mempunyai fasiitas yang
lengkap serta Gedung yang memadai akan mempengaruhi evaluasi
konsumen terhadap kualitas pelayanan yang diberikan perushaan
tersebut. Konsumen selalu mencoba untuk menilai suatu pelayanan
atau servis jasa sebelum mereka membeli dan tidak mampu untuk
melihat jasa itu sendiri, mereka akan menilai berdasarkan semua
benda-benda yang bersinergi dengan jasa itu sendiri
2. Keandalan (Reliability)
Kehandalan merupakan seberapa jauh penyedia jasa sanggup
memberikan pelayanan atau jasa sama seperti yang telah dijanjikan
secara akurat dan tepat. Reliability bukan hanya sangat penting untuk
masalah-masalah yang sangat besar, tapi seringkali jasa yang kecil pun
merupakan hal yang penting untuk konsumen dalam memberikan
evaluasi apakah suatu jasa berkualitas tinggi atau rendah. Akibat dari
pelayanan yang jelek , perusahaan akan menerima publikasi yang
negative dan hal itu menyebabkan berkurangya konsumen yang akan
membeli jasa tersebut.
3. Daya Tanggap (Responsiveness)
Daya tanggap menunjukkan kemauan dan komitmen dari penyedia jasa
untuk membantu pelanggan dalam memberikan jasa pada waktu yang
tepat. Daya tanggap bukan hanya menyangkut dari cepatnya suatu
pelayanan yang diberikan, tetapi juga kemauan dari penyedia jasa atau
karyawan dalam membantu konsumen.
4. Kepastian (Assurance)
Jaminan meliputi: Kompetensi, courtesy, credibility (kredibilitas) dan
security (keamanan). Kompetesni terdiri dari keahlian dan
pengetahuan dari para karyawan dalam memberikan pelayanan.
Courtesy meliputi kesopanan dan keramhan dari karyawan terhadap
konsumen. Kredibilitas menyangkut reputasi dari suatu perushaan.
5. Empati (Emphaty)
Empati meliputi: acces, communication, dan under standing customer.
Kemampuan berkomunikasi para karyawan untuk menjelaskan dengan
baik mengenai pelayanan yang disediakan akan memberikan dampak
positif dari penilaian konsumen. Yang perlu diperhatikan lagi adalah
mengerti keinginan konsumen, hal ini tidak boleh diremehkan
Faktor Utama Kepuasan Konsumen
Menurut Lupiyoadi (2013) dalam menentukan tingkat kepuasan,
terdapat lima factor utaman yang harus diperhatikan perusahaan,
yaitu:
1. Kualitas Produk
Konsumen akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
2. Kualitas Pelayanan
Terutama untuk industry jasa, konsumen akan merasa puas bila
mereka mendapatkan pelayanan yang bak atau yang sesuai
dengan yang diharapkan.
3. Emosional
Konsumen akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan
bahwa orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan
produk dengan merk tertentu. Kepuasan yang diperoleh bukan
karena kualitas dari produk tetapi nilai social yang membuat
konsumen merasa puas terhadap merk tertentu.
4. Harga
Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan
harga yang lebih murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi
kepada konsumennya.
5. Biaya
Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau
tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk
atau jasa cenderung puas terhadap produk atau jasa itu.
Mengukur Kepuasan Konsumen
Pengukuran kepuasan pelanggan sangat bermanfaat bagi
perusahaan untuk mengetahui posisi dari perusahaan dibandingkan
pesaing dan pelanggan itu sendiri. Selain itu pengukuran kepuasan
pelanggan juga berguna untuk mengetahui letak dari kekurangan
perusahaan di persepsi pelanggan yang perlu untuk ditingkatkan.
Menurut Lovelock dan Wright (2007) pelanggan mengalami berbagai
tingkat kepuasan atau ketidakpuasan setelah mengalami masingmasing jasa sesuai dengan sejauh mana harapan mereka terpenuhi
atau terlampaui. Menurut Kotler dalam Susanto (2000) terdapat empat
metode yag dapat dilakukan perusahaan untuk mengetahui tingkat
kepuasan pelanggan, yaitu:
1. Sistem Keluh dan Saran
Perusahaan memberikan kesempatan serta fasilitas seluasluasnya bagi pelanggan untuk menyampaikan kritik, saran, dan
keluhan. Metode ini biasanya menggunakan fasilitas berupa kotak
saran ataupun layanan telepon customer service.
2. Survei Kepuasan Pelanggan
Metode survei merupakan salah satu metode yang umum
dlakukan terutama dalam penelitian. Metode survei bisa dilakukan
dengan telepon ataupun melakukan wawancara langsung dengan
pelanggan.
3. Ghost Shopping
Metode ghost shopping ini dilakukan dengan cara
memperkerjakan beberapa orag untuk berperan sebagai pembeli di
perusahaan pesaing. Tujuannya ada;ah untuk mngetahui tingkat
kepuasan pelanggan yang dirasakan si ghost shopper sehingga dapat
memprediksi kepuasan pelanggan yang sebenarnya.
4. Lost Customer Analysis
Metode ini dilakukan dengan cara menghubungi pelanggan
yang telah beralih ke perusahaan lain. Harapannya pelanggan
tersebuut akan memberikan informasi mengapa dia beralih dan apa
kekurangan dari perusahaan disbanding pesaing
Dimensi-dimensi Kepuasan Konsumen
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Andrieani (2016) secara
keseluruhan dimensi-dimensi kepuasan, yaitu :
1, Kualitas yang dirasakan
Penentu Utama kepuasan konsumen yaitu kualitas atau kinerja.
Kualitas sangat mendasar bagi seluruh kegiatan ekonpmi karena dapat
menggambarkan dua komponen yaitu pengalaman dan konsumsi.
2. Nilai yang dirasakan
Nilai yang dirasakan adalah suatu tingkat manfaat yang
dirasakan oleh konsumen terhadap harga yang dibayar dengan
membandingkan manfaat yang dirasakan setelah konsumen melakukan
transaksi dengan penawaran yang diberikan oleh perusahaan berupa
produk atau jasa. Dengan ini konsumen dapat menggunakan
perimbangan untuk membandingkan produk atau jasa yang dirasa
memberi nilai tinggi dan yang rendah.
3. Harapan pelanggan
Harapan pelanggan merupakan tahap awal sebelum konsumen
merasakan nilai dan kualitas yang diberikan perusahaan. Konsumen
memiliki harapan sejauh mana penawaran perusahaan dalam produk
ataupun jasa. Konsumen mendapat informasi-informasi dari berbagai
sumber, selanjutnya memperkirakan perusahaan memiliki
kemampuan untuk terus memberikan kreatifitas di masa depan
Pengertian Kepuasan Pelanggan
Kepuasan adalah ketika konsumen memenuhi kebutuhannya, hal
itu merupakan konsumen memberikan penilaian terhadap sebuah fitur
produk atau jasa, atau produk atau jasa itu sendiri. Hal itu merupakan
suatu kepuasan yang didapatkan kosumen yang berhubungan dengan
pemenuhan kebutuhan (Valerie A. Zeithaml, 2009)
Kotler dan Keller (2010) berpendapat bahwa kepuasan konsumen
adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja
yang diharapkan (ekspektasi). Konsumen membentuk ekspektasi mereka
dari pengalaman sebelumnya, seperti mempertanyakan kepada rekan
atau teman yang sudah membeli atau menggunakan produk yang sudah
ditawarkan, serta informasi penawaran dari perusahaan tersebut. Apabila
perusahaan berekspektasi terlalu tinggi, maka konsumen akan kecewa.
Dan sebaliknya apabila ekspektasi yang ditawarkan oleh perusahaan
terlalu rendah, maka konsumen tidak akan tertarik dengan produk yang
ditawarkan.
Pengaruh Harga dan Kualitas produk secara simultan terhadap Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan merupakan pencapaian nyata yang harus dipenuhi oleh
produsen. Dalam rangka menciptakan kepuasan konsumen, produsen perlu
memahami faktor pendorong kepuasan. Salah satu faktornya harga dan kualitas
produk. Harga merupakan indikator penting dalam memasarkan sebuah produk.
dalam sebagian besar kasus, biasanya permintaan dan harga berbanding terbalik,
yakni semakin tinggi harga, semakin rendah permintaan terhadap produk (Kotler
dan Amstrong 2009). Oleh karena itu, penetapan harga yang tepat perlu mendapat
perhatian yang besar dari perusahaan. Sedangkan kualitas produk mencerminkan
semua dimensi penawaran produk yang memberikan manfaat bagi konsumen
(Tjiptono 2008). Jadi, kualitas produk yang sesuai dengan harapan konsumen
akan memberikan kepuasan.
Penelitian yang dilakukan Susanto (2013) menyatakan bahwa harga, kualitas
produk dan nilai pelangga berpengaruh secara simultan terhadap kepuasan
konsumen rumah makan di purwokerto. Mahendra (2014) menyatakan bahwa
harga dan kualitas produk berpengaruh secara simultan terhadap kepuasan
konsumen Honda Beat Kecamatan Trenggalek. Nandahapsari (2015) menyatakan
kualitas produk, harga dan kepercayaan berpengaruh secara simultan terhadap
kepuasan konsumen Catering Rosa Kediri. Rita et.al (2014) menyatakan bahwa
harga, kualitas produk dan kualitas pelayanan berpengaruh secara simultan
terhadap kepuasan konsumen café dan resto cabana Manado. Jessica et.al (2014)
menyatakan bahwa harga, kualitas produk dan promosi berpengaruh secara
simultan terhadap kepuasan pelanggan Kartu Prabayar Telkomsel.
Pengaruh Kualitas produk terhadap Kepuasan Pelanggan
Kualitas produk merupakan kemampuan dari suatu produk dalam
menjalankan fungsinya. Kualitas produk mempunyai hubungan yang sangat erat
dengan kepuasan pelanggan karena kualitas produk dapat dinilai dari kemampuan
produk tersebut untuk menciptakan kepuasan pelanggan. Hubungan kualitas
produk dengan kepuasan pelanggan tersebut ditegaskan pula oleh (Swasta 2008)
bahwa kualitas dari suatu produk ditentukan oleh pelanggan melalui karakteristik
yang ada pada suatu produk dan jasa, dimana puas dan tidaknya pelanggan
dipengaruhi oleh nilai yang didapat dengan mengkonsumsi suatu produk.
Semakin tinggi tingkat kualitas produk dalam memuaskan pelanggan, maka
akan menyebabkan kepuasaan pelanggan yang tinggi pula (Kotler dan Amstrong
2009). Mowen dan Minor (2002) berpendapat kualitas produk mempunyai
pengaruh yang bersifat langsung terhadap kepuasan pelanggan. Dengan
meningkatkan kemampuan suatu produk maka akan tercipta keunggulan bersaing
sehingga pelanggan menjadi semakin puas.
Penelitian yang dilakukan Prastyo (2011) menyatakan bahwa kualitas produk
dan harga berpengaruh terhadap kepuasan konsumen. Yulia (2015) menyatakan
bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan
konsumen pada produk M2 Fashion Online Singaraja. Ardahana (2010)
menyatakan bahwa harga, kualitas produk dan lokasi berpengaruh terhadap
kepuasan pelanggan Bengkel Caesar Semarang. Loindong (2014) menyatakan
bahwa harga, kualitas produk dan lokasi berpengaruh terhadap kepuasan
pelanggan pada warung makan Lamongan di kota Manado. Nurnas (2015)
menyatakan bahwa harga, kualitas produk dan pengembangan produk
berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan Mebel UD. Kartini Jepara
Nganjuk
Pengaruh Harga terhadap Kepuasan Pelanggan
Harga merupakan faktor pendorong kepuasan konsumen. Kesalahan
menetapkan harga jual akan berdampak pada persepsi pelanggan yang kurang
baik terhadap produk dan nama perusahaan. Anderson, fornell, Lehman (dalam
Bei dan Chiao 2001) dalam hasil penelitianya menegaskan bahwa harga
merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kepuasan konsumen,
karena bila sewaktu-waktu konsumen mengevaluasi nilai dari produk yang
diperoleh konsumen biasanya berfikir mengenai harga. Harga yang tinggi
menyebabkan perusahaan dapat mengurangi tingkat kesalahan atau mengurangi
pemborosan terhadap produk. Suatu produk yang memiliki kualitas adalah produk
yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan sesuai harapan konsumen bahkan
dapat melebihi apa yang diharapkan oleh konsumen sehingga konsumen puas.
Jika harga yang telah dibeli memenuhi harapan yang di inginkan konsumen, hal
ini akan menimbulkan kepuasan bagi konsumen.
Penelitian yang dilakukan Wibowo (2013) menyatakan bahwa harga, kualitas
layanan dan nilai pelanggan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen pada
Rumah Makan Di Kota Purwokerto. Rahma et.al (2012) menyatakan bahwa harga
berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen online shopping pada
Mahasiswi Univeristas Surabaya. Ardahana (2010) menyatakan bahwa harga,
kualitas produk dan lokasi berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan Bengkel
Caesar Semarang. Nandahapsari (2015) menyatakan bahwa harga, kualitas produk
dan lokasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan pada Catering
Rossa Kediri. Hastuti (2013) menyatakan bahwa kualitas pelayanan dan harga
berpengaruh terhadap pelanggan Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia di
Kota Solo.
Dimensi Kualitas Produk
Menurut Orville, Larreche, dan Boyd (2005) mengungkapkan indikator
yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas produk, yaitu:
1) Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari
sebuah produk. Indikator pada Performance (kinerja), yaitu kinerja
produk sesuai dengan manfaat, kemudahan dan kenyaman dalam
menggunakan produk dan bahan pertimbangan konsumen.
2) Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang
bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin
besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar
pula daya tahan produk. Indikator pada Durability (daya tahan), yaitu usia
atau keawetan sebuah produk.
3) Conformance to Specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu
sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi
spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada
produk. Indikator pada Conformance to Specifications (kesesuaian dengan
spesifikasi), yaitu karakteristik desain produk dan karakteristik kualitas
sesuai dengan standar yang ditetapkan.
4) Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen
terhadap produk. Indikator pada Features (fitur), yaitu keistimewaan
tambahan produk dan kelengkapan sebuah produk yang sesuai dengan
manfaat.
5) Reliabilty (kehandalan), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja
dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil
kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
Indikator pada Reliabilty (kehandalan), yaitu keberhasilan produk dalam
menjalankan fungsinya.
6) Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk
bisa dilihat dari tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk. Indikator pada
Aesthetics (estetika), yaitu bentuk, desain dan warna yang ditawarkan
produk.
7) Perceived Quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari
penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena
terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan
informasi atas produk yang bersangkutan. Jadi persepsi konsumen terhadap
produk didapat dari harga, merek, periklanan, reputasi, dan negara asal.
Indikator pada Perceived Quality (kesan kualitas), yaitu penilaian
pelanggan (presepsi pelanggan) dan perasaan pelanggan dalam
menggunakan produk.
8) Serviceability, meliputi kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta
kompetensi dan keramahtamahan staf layanan. Indikator pada
Serviceability, yaitu kemudahan dalam memperbaiki produk.
Kualitas produk merupakan kemampuan dari suatu produk dalam
menjalankan fungsinya. Kualitas produk mempunyai hubungan yang sangat
erat dengan kepuasan pelanggan karena kualitas produk dapat dinilai dari
kemampuan produk tersebut untuk menciptakan kepuasan pelanggan.
Hubungan kualitas produk dengan kepuasan pelanggan tersebut ditentukan
oleh pelanggan melalui karakteristik yang ada pada suatu produk dan jasa,
dimana puas dan tidaknya pelanggan dipengaruhi oleh nilai yang didapat
dengan mengkonsumsi suatu produk.
Semakin tinggi tingkat kualitas produk dalam memuaskan pelanggan, maka
akan menyebabkan kepuasaan pelanggan yang tinggi pula (Kotler dan
Amstrong 2009). Mowen dan Minor (2002) berpendapat kualitas produk
mempunyai pengaruh yang bersifat langsung terhadap kepuasan pelanggan.
Dengan meningkatkan kemampuan suatu produk maka akan tercipta
keunggulan bersaing sehingga pelanggan menjadi semakin puas
Pengertian Kualitas Produk
Menurut Kotler dan Amstrong (2009) kualitas produk adalah kemampuan
sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan
durabilitas, reliabilitas, ketetapan, kemudahan pengoperasian dan reparasi
produk juga atribut produk lainnya. Menurut Mowen dan Minor (2002)
kualitas produk sebagai evaluasi menyeluruh pelanggan atas kebaikan barang
dan jasa. Isu utama dalam menilai kinerja produk adalah dimensi apa yang
digunakan konsumen untuk mengevaluasinya. Bagian dari kebijakan produk
adalah perihal kualitas produk. Kualitas suatu produk baik berupa barang
maupun jasa perlu ditentukan melalui dimensi-dimensinya.
Menurut David Garvin yang dikutip Vincent Gasperz (Umar 2001), untuk
menentukan dimensi kualitas barang, dapat melalui delapan dimensi yaitu
performance, features, reliability, durability, servicebility, aesthetics,
conformance dan perceive performance. Dimensi berisifat universal sehingga
harus didefinisikan, diklarifikasikan, dan interprestasikan sesuai dengan
penggunannya, hanya yang cocok saja yang dipergunakan sesuai dengan
bentuk dan jenis produk dari perusahaan tersebut.
Mc Charty dan Perreault (2003) mengemukakan bahwa, produk
merupakan hasil dari produksi yang akan dilempar kepada konsumen untuk
didistribusikan dan dimanfaatkan konsumen untuk memenuhi kebutuhannya.
Dengan melihat definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa kualitas produk
adalah suat usaha untuk memenuhi atau melebihi harapan pelanggan, dimana
suatu produk tersebut memiliki kualitas yang sesuai dengan standar kualitas
yang telah ditentukan, dan kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah
karena selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah
Faktor yang Mempengaruhi Harga
Menurut Tjiptono (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi harga adalah
sebagai berikut:
1. Harga jual
Harga jual merupakan harga akhir yang ditetapkan produsen akan suatu
produk setelahadanya perhitungan semua biaya produksi.
2. Kesesuaian harga
Bahwa tinggi rendahnya harga ditetapkan perusahaan sesuai dengan
kualitas produk tersebut, sehingga konsumen akan mendapatkan manfaat yang
seimbang dengan jumlah uang yang dikeluarkan.
3. Perbandingan harga
Perbandingan mengenai harga yang ditetapkan perusahaan dengan
perusahaan lain dengan produk yang sejenis atau subtitusi sehingga konsumen
akan dapat menetapkan pilihannya terhadap beberapa alternatif produk
tersebut.
Indikator Harga
Harga suatu barang atau jasa menjadi penentu bagi permintaan pasar.
Harga juga dapat mempengaruhi program pemasaran perusahaan atau
organisasi. Karena ini merupakan satu-satunya bauran pemasaran yang dapat
menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Nurhayati (2011) mengungkapkan
indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu:
1) Harga terjangkau.
2) Harga sesuai dengan kualitasnya.
3) Harga suku cadang murah.
4) Harga sesuai manfaat yang dirasakan.
Peran Harga
Harga mempunyai peranan penting secara makro (bagi perekonomian
secara umum) dan secara mikro (bagi konsumen dan perusahaan) (Tjiptono,
2004):
1) Bagi perekonomian, harga produk mempunyai pengaruh tingkat
perekonomian, karena harga berpengaruh terhadap alokasi faktor-faktor
produksi. Seperti tenaga kerja, tanah, modal, waktu dan kewirausahaan.
Tingkat upah yang tinggi menarik tenaga kerja, tingkat bunga yang tinggi
menjadi daya tarik bagi investasi modal, dan seterusnya. Sebagai alokator
sumber daya, harga menentukan apa yang diproduksi (penawaran) dan siapa
yang akan membeli barang dan jasa yang dihasilkan (permintaan).
2) Bagi konsumen, dalam penjualan ritel, ada segmen pembeli yang sangat
sensistif terhadap faktor harga (menjadikan harga sebagai satu-satunya
pertimbangan membeli produk) dan ada pula yang tidak. Mayoritas
konsumen agak sensitif terhadap harga, namun mempertimbangkan faktor
lain (seperti citra merek, lokasi, toko, layanan, nilai (value), fitur produk, dan
kualitas). Selain itu, persepsi konsumen terhadap kualitas harga seringkali
dipengaruhi oleh harga. Dalam beberapa kasus harga yang mahal dianggap
mencerminkan kualitas tinggi, terutama dalam kategori produk spesial.
