Faktor yang Mempengaruhi Repurchase Intention


Kotler & Armstrong, (2011) dalam Tae & Bessie (2021) mengatakan ada
beberapa faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang untuk melakukan
pembelian ulang, yaitu:

  1. Faktor Kultur
    “Kultur dan kelas sosial seseorang memainkan peran penting dalam
    mempengaruhi minat mereka untuk melakukan pembelian. Sejak masa kecil,
    konsumen mengembangkan persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipengaruhi
    oleh kultur dan lingkungan sosial mereka. Akibatnya, persepsi dan preferensi
    konsumen akan bervariasi dari individu ke individu, membentuk pandangan yang
    unik dan berbeda dalam hal keputusan pembelian mereka.
  2. Faktor Nasionalitas, Agama, Kelompok Ras, dan Wilayah Geografis
    Faktor-faktor ini juga memiliki dampak signifikan terhadap individu.
    Nasionalitas, keyakinan agama, kelompok ras, dan lokasi geografis seseorang
    mempengaruhi cara mereka melihat dunia dan, pada gilirannya, memengaruhi
    keputusan pembelian yang mereka buat. Setiap faktor ini berkontribusi pada
    pembentukan identitas dan preferensi unik yang mempengaruhi perilaku
    konsumen.
  3. Faktor Psikologis
    Faktor-faktor psikologis meliputi pengalaman belanja sebelumnya yang
    dimiliki individu, serta sikap dan keyakinan pribadi mereka. Pengalaman belanja
    yang dimaksud adalah perubahan dalam perilaku yang terjadi sebagai hasil dari
    interaksi sebelumnya dengan produk atau layanan. Minat konsumen untuk
    melakukan pembelian ulang sangat dipengaruhi oleh pengalaman belanja
    sebelumnya yang mereka alami. Pengalaman ini akan memengaruhi tindakan
    mereka dan keputusan yang mereka ambil terkait pembelian di masa depan.
  4. Faktor Pribadi
    Faktor-faktor pribadi seperti kepribadian, usia, pekerjaan, situasi ekonomi,
    dan gaya hidup individu memiliki dampak signifikan terhadap persepsi dan
    keputusan pembelian yang diambil oleh konsumen. Aspek-aspek pribadi ini
    membentuk pandangan unik dan preferensi konsumen dalam memilih produk atau
    layanan. Selain itu, faktor pribadi juga mencakup konsep diri, yaitu bagaimana
    individu memandang diri mereka sendiri dan bagaimana pandangan ini
    memengaruhi keputusan mereka dalam membeli. Kepribadian, usia, pekerjaan,
    kondisi ekonomi, dan gaya hidup semua berperan dalam membentuk cara
    konsumen mengevaluasi dan memutuskan pembelian.
  5. Faktor Sosial
    Faktor sosial melibatkan pengaruh dari kelompok referensi atau kelompok
    acuan (small reference group). Kelompok acuan ini terdiri dari individu atau
    kelompok yang mempengaruhi sikap, pendapat, norma, dan perilaku konsumen.
    Contoh kelompok acuan meliputi keluarga, teman, atau kelompok sosial tertentu.
    Dalam konteks niat beli ulang, keluarga memainkan peran penting sebagai
    pengambil keputusan, penginisiasi tindakan, pemberi pengaruh dalam keputusan
    pembelian, serta penentu apa yang dibeli, siapa yang membeli, dan siapa yang
    menggunakan produk tersebut. Pengaruh kelompok acuan terhadap niat beli ulang
    sangat bergantung pada kemampuan kelompok tersebut dalam menentukan produk
    dan merek yang sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan kelompok. Keefektifan
    pengaruh kelompok acuan dalam mendorong niat beli ulang juga dipengaruhi oleh
    kualitas produk dan ketersediaan informasi yang relevan bagi konsumen.”
    Sedangkan menurut Pappas (2014), terdapat empat faktor utama yang
    mempengaruhi niat beli ulang konsumen, yaitu:
    a. Perhatian (Attention)
    “Faktor ini merujuk pada tingkat perhatian yang diberikan konsumen
    terhadap suatu produk, baik itu barang atau jasa. Perhatian yang besar dari
    konsumen terhadap produk akan mempengaruhi niat mereka untuk
    melakukan pembelian ulang.
    b. Ketertarikan (Interest)
    Faktor ini melibatkan pemusatan perhatian dan perasaan positif yang
    dirasakan oleh konsumen terhadap produk. Ketertarikan muncul ketika
    konsumen merasa tertarik dan menyenangkan terhadap produk yang
    ditawarkan.
    c. Keinginan (Desire)
    Faktor ini mencakup dorongan atau hasrat yang dimiliki konsumen untuk
    membeli produk. Keinginan ini menunjukkan tingkat motivasi dan
    kebutuhan yang mendorong konsumen untuk melakukan pembelian.
    d. Keyakinan (Conviction)
    Faktor ini berhubungan dengan tingkat kepercayaan diri konsumen terhadap
    kualitas, kegunaan, dan manfaat dari produk yang akan dibeli. Keyakinan
    ini menciptakan rasa percaya diri pada konsumen bahwa produk yang
    dipilih akan memenuhi harapan mereka dan memberikan keuntungan yang
    diinginkan.”

Dimensi Repurchase Intention


Menurut Goh (2016), terdapat empat dimensi utama yang membentuk niat
beli ulang, yaitu:

  1. Minat Transaksional (Transactional interest)
    “Ini mengacu pada kecenderungan konsumen untuk terus membeli kembali
    produk yang telah mereka konsumsi sebelumnya. Minat ini mencerminkan
    kebiasaan konsumen dalam melakukan pembelian ulang terhadap produk yang
    mereka anggap memuaskan atau memenuhi kebutuhan mereka.
  2. Minat Referensial (Referential interest)
    Ini adalah kesediaan konsumen untuk merekomendasikan produk yang telah
    mereka gunakan kepada orang lain. Minat referensial menunjukkan tingkat
    kepuasan konsumen yang tinggi sehingga mereka merasa percaya diri dan
    bersemangat untuk merekomendasikan produk tersebut kepada teman, keluarga,
    atau rekan kerja mereka.
  3. Minat Preferensial (Preferential interest)
    Ini merujuk pada perilaku konsumen yang menjadikan produk yang telah
    mereka konsumsi sebagai pilihan utama mereka. Minat preferensial
    menggambarkan bagaimana konsumen memilih produk tertentu sebagai pilihan
    utama mereka di antara berbagai opsi yang tersedia di pasar.
  4. Minat Eksploratif (Explorative interest)
    Ini adalah keinginan konsumen untuk terus mencari dan memperoleh
    informasi mengenai produk yang mereka minati. Minat eksploratif mencerminkan
    rasa ingin tahu dan ketertarikan konsumen untuk mengetahui lebih banyak tentang
    produk yang mereka sukai, baik melalui penelitian, ulasan, atau sumber informasi
    lainnya.”

Definisi Repurchase Intention


Niat untuk melakukan pembelian ulang dapat diartikan sebagai komitmen
yang dimiliki oleh konsumen setelah mereka melakukan pembelian produk atau
layanan tertentu. Setiana & Marlien (2021) menyebutkan “komitmen ini muncul
sebagai hasil dari pengalaman positif yang dirasakan konsumen terhadap suatu
merek, di mana kepuasan yang diperoleh dari transaksi tersebut memainkan peran
penting.” Faktor-faktor yang mempengaruhi niat beli ulang termasuk kepuasan
konsumen, kualitas produk, pengalaman layanan, serta persepsi nilai dari produk
atau layanan yang bersangkutan. Chang (2020) mengungkapkan “bahwa tingkat
niat pelanggan untuk melakukan pembelian kembali akan meningkat secara
signifikan ketika mereka merasakan pengalaman konsumsi yang positif.” Hal ini
menunjukkan bahwa kepuasan dan perasaan baik yang dihasilkan selama interaksi
dengan produk atau layanan dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk
memilih merek yang sama di masa depan. Pengalaman yang menyenangkan dan
memuaskan selama konsumsi berkontribusi pada kecenderungan pelanggan untuk
kembali membeli produk tersebut.
Savila (2019) menyatakan, “pelanggan yang secara rutin melakukan
pembelian suatu produk dalam jangka waktu tertentu menunjukkan bahwa mereka
memiliki keinginan untuk melakukan pembelian kembali terhadap produk
tersebut.” Hal ini menunjukkan, ketika pelanggan melakukan transaksi berulang
kali, hal ini mencerminkan adanya niat yang kuat untuk terus memilih produk itu
di masa mendatang, yang bisa jadi disebabkan oleh kepuasan atau pengalaman
positif yang mereka peroleh dari penggunaan produk tersebut. Sedangkan menurut,
Dwipayana & Sulistyawati (2018) “faktor yang mempengaruhi niat beli ulang
meliputi kepuasan konsumen terhadap produk atau layanan yang diterima,
pengalaman positif yang dialami selama transaksi, serta nilai dan manfaat yang
dirasakan dari produk atau layanan tersebut.” Jika pelanggan puas dengan barang
yang mereka beli, mereka mungkin akan lebih sering membeli barang tersebut.

Faktor Pembentuk Brand Image


Chernev (2020) mengemukakan beberapa faktor yang membentuk citra merek
sebagai berikut:

  1. “Kesesuaian ekonomi (economic fit): merujuk pada tingkat kecocokan
    antara merek yang ditawarkan dengan harga atau nilai yang diberikan. Hal
    ini mencakup bagaimana merek tersebut sejalan dengan harapan konsumen
    terkait harga yang mereka bayarkan, serta sejauh mana nilai yang diterima
    dianggap sesuai atau pantas dengan biaya yang dikeluarkan.
  2. Kesesuaian simbolik (symbolic fit): yaitu kesesuaian antara manfaat
    simbolik yang diperoleh oleh konsumen ketika mereka memilih untuk
    memiliki produk dari merek tersebut. Manfaat simbolik ini berfungsi untuk
    memenuhi kebutuhan konsumen dalam meningkatkan prestise, gengsi, atau
    rasa harga diri mereka. Selain itu, manfaat tersebut juga berkaitan dengan
    identifikasi ego dan kebanggaan yang muncul dari penggunaan merek
    tersebut, serta mencerminkan gaya hidup dan berbagai aspek lainnya yang
    dianggap penting bagi individu.
  3. Kesesuaian perasaan (sensory fit): yaitu hubungan antara perasaan dan
    pengalaman pelanggan dengan situasi saat mereka menggunakan barang
    merek tertentu, yang dapat menyebabkan kesan positif terhadap merek
    tersebut.
  4. Kesesuaian futuristik (futuristic fit): yaitu kecocokan dengan teknologi,
    yang mencakup faktor seperti desain, inovasi, dan keunikan, dan lainnya.
    Dibandingkan dengan merek dan kolaborasi merek lainnya, ini dapat
    meningkatkan persepsi merek. Dengan kata lain, kesesuaian ini
    meningkatkan kesan merek ketika inovasi dan desain sesuai dengan harapan
    pelanggan.
  5. Kesesuaian manfaat (Utilitarian fit): yaitu penilaian merek yang
    didasarkan pada kecocokan yang ditunjukkan dengan kualitas pabrikan,
    material yang digunakan, daya tahan, dan kehandalan produk dengan merek
    tersebut.”

Indikator Brand Image


Citra merek adalah cara konsumen memandang suatu merek, yang merupakan
hasil dari berbagai asosiasi merek yang terpatri dalam pikiran mereka. Menurut
Romney & Steinbart (2016) yang menjadi indikator dalam citra merek meliputi halhal sebagai berikut:

  1. Brand strength (Kekuatan Merek)
    “Merujuk pada keunggulan khas yang dimiliki oleh sebuah merek yang
    bersifat fisik dan tidak ditemukan pada merek-merek lain. Keunggulan ini berfokus
    pada atribut-atribut fisik yang terkait dengan merek tersebut, yang membedakannya
    dari merek lainnya. Dengan demikian, brand strength dapat dianggap sebagai suatu
    kelebihan yang membedakan merek tersebut dari kompetitornya. Aspek-aspek
    yang termasuk dalam kategori brand strength meliputi penampilan fisik produk,
    harga yang ditetapkan, keberfungsian dari semua fasilitas yang disediakan oleh
    produk, serta penampilan dan kualitas dari fasilitas pendukung yang terkait dengan
    produk tersebut.
  2. Brand uniqueness (Keunikan Merek)
    Mengacu pada suatu merek yang menonjolkan perbedaan yang jelas
    dibandingkan dengan merek-merek lainnya. Kesan unik ini timbul dari atributatribut yang membedakan merek tersebut atau memberikan diferensiasi dari
    produk-produk lain yang ada di pasar. Aspek-aspek yang termasuk dalam kategori
    brand uniqueness mencakup berbagai elemen seperti variasi harga yang
    ditawarkan, perbedaan dalam layanan yang diberikan, serta ciri khas penampilan,
    nama merek, dan aspek fisik dari produk itu sendiri.
  3. Brand favorable (Kesukaan Merek)
    Dalam kelompok brand favorable, terdapat beberapa aspek yang dinilai,
    antara lain kemampuan suatu merek untuk diucapkan dengan mudah dan daya ingat
    konsumen terhadap merek tersebut. Selain itu, penting juga untuk menilai sejauh
    mana kesan yang dimiliki konsumen tentang merek tersebut sesuai dengan citra
    yang ingin dibangun dan dipertahankan oleh perusahaan.

Dimensi Brand Image


Perusahaan yang menjalankan kegiatan bisnis perlu lebih aktif dan
berkomitmen dalam menjaga dan memperkuat citra merek mereka untuk mencapai
kemajuan yang berkelanjutan dalam bisnis. Beberapa dimensi yang mempengaruhi
serta membentuk citra merek meliputi faktor-faktor berikut:

  1. Identitas Merek
    Dimensi dari identitas merek atau brand identity merujuk pada elemenelemen fisik yang terkait dengan merek atau produk yang bersangkutan. Identitas
    merek ini memungkinkan konsumen untuk dengan mudah mengenali atau
    membedakan merek tersebut dari merek atau produk lainnya. Elemen yang
    termasuk dalam identitas merek mencakup berbagai aspek logo, warna, lokasi,
    slogan, kemasan, dan elemen visual lainnya yang membantu membentuk kesan dan
    pengenalan merek di mata konsumen.
  2. Kepribadian Merek
    Dimensi dari brand personality atau personalitas merek merujuk pada
    serangkaian ciri khas atau karakteristik yang melekat pada sebuah merek, yang
    dapat membentuk kepribadian yang unik, layaknya kepribadian manusia. Dengan
    adanya personalitas merek ini, konsumen dapat dengan mudah membedakan merek
    tersebut dari merek lain yang berada dalam kategori yang sama atau sejenis. Contoh
    dari personalitas merek mencakup karakter-karakter seperti tegas, lucu, kaku,
    berwibawa, dinamis, kreatif, inspiratif, dan berbagai sifat lainnya yang membantu
    menciptakan identitas yang khas dan membedakan merek tersebut di pasar.
  3. Asosiasi Merek
    Dimensi dari asosiasi merek merujuk pada berbagai elemn spesifik atau detail
    yang secara konsisten dikaitkan dengan suatu merek. Elemen-elemen spesifik ini
    dapat mencakup berbagai aspek, seperti penawaran unik yang diberikan oleh
    produk, kegiatan yang dilakukan secara berulang dan konsisten, misalnya melalui
    sponsorship atau kegiatan tanggung jawab sosial (CSR), serta berbagai isu atau
    masalah yang berkaitan erat dengan merek tersebut. Selain itu, asosiasi merek juga
    dapat melibatkan orang, simbol, dan makna tertentu yang sangat kuat dan melekat
    pada merek adalah (Kulit putih = Ponds), (Gramedia = buku), dan (Lifebuoy =
    Kebersihan), yang menunjukkan bagaimana simbol dan makna tertentu membentuk
    persepsi publik terhadap merek tersebut.
  4. Sikap & Perilaku Merek
    Dimensi sikap dan perilaku merek mencakup sikap serta cara merek
    berkomunikasi dan berinteraksi dengan konsumen, serta bagaimana merek tersebut
    menawarkan berbagai keuntungan dan nilai. Kadang-kadang, merek mungkin
    menggunakan metode yang baik tetapi juga bisa melakukan pelanggaran etika
    dalam komunikasi atau memberikan layanan yang kurang memuaskan. Semua
    tindakan ini berpotensi mempengaruhi pandangan publik terhadap sikap dan
    perilaku merek tersebut. Sebaliknya, jika sebuah merek menerapkan sikap yang
    simpatik, jujur, dan konsisten antara apa yang dijanjikan dengan kenyataan, serta
    memberikan pelayanan yang baik dan menunjukkan kepedulian terhadap
    lingkungan, maka ini akan menciptakan persepsi positif terhadap merek tersebut.
    Oleh karena itu, dimensi sikap dan perilaku merek mencakup berbagai aspek
    komunikasi, kegiatan, dan atribut yang terkait dengan merek ketika berhubungan
    dengan konsumen, termasuk perilaku dari pegawai dan pemiliknya.
  5. Manfaat & Kompetensi Merek
    Dimensi manfaat dan kompetensi merek mencakup berbagai nilai dan
    keunggulan khusus yang ditawarkan oleh suatu merek kepada konsumen atau
    publik. Nilai dan keunggulan ini berfungsi untuk memberikan manfaat yang
    signifikan bagi konsumen, karena mereka dapat memenuhi kebutuhan, keinginan,
    aspirasi, atau obsesi konsumen melalui apa yang ditawarkan oleh merek tersebut.
    Dalam konteks ini, nilai dan keunggulan dari merek dapat memiliki berbagai sifat,
    termasuk fungsional, emosional, simbolik, dan sosial. Sebagai contoh, sebuah
    merek produk deterjen dapat memiliki manfaat sebagai berikut:
  • Fungsional: Membersihkan pakaian dengan efektif
  • Emosional: Meningkatkan rasa percaya diri pemakai pakaian yang telah
    dibersihkan
  • Simbolik: Menjadi simbol bagi masyarakat modern yang mengutamakan
    kebersihan
  • Sosial: Memberikan inspirasi kepada masyarakat untuk lebih peduli
    terhadap kebersihan lingkungan.
    Berbagai manfaat, keunggulan, dan kompetensi khusus yang melekat pada
    suatu merek tentunya mempengaruhi citra merek tersebut, baik itu berupa produk,
    individu, maupun perusahaan secara keseluruhan.

Komponen Brand Image


Menurut Kotler & Keller (2017), citra merek terdiri dari beberapa komponen,
dan terdapat tiga komponen utama dari citra merek yaitu, sebagai berikut:
a. Attributes (Atribut)
“Atribut dapat diartikan sebagai suatu penjelasan yang bersifat deskriptif
mengenai berbagai fitur atau karakteristik yang terkandung dalam suatu produk
atau layanan. Dengan kata lain, atribut ini memberikan informasi yang mendetail
dan jelas tentang aspek-aspek khusus yang ada pada produk atau jasa tersebut,
sehingga memungkinkan konsumen untuk memahami keunggulan dan perbedaan
dari apa yang ditawarkan.
1) Product related attributes (Atribut produk)
Atribut produk dapat diartikan sebagai elemen-elemen atau bahan-bahan
yang diperlukan untuk memastikan bahwa fungsi dari produk yang dicari
oleh konsumen dapat beroperasi dengan baik. Atribut ini berkaitan erat
dengan komposisi fisik serta persyaratan tertentu yang harus dipenuhi dalam
penyediaan suatu layanan yang ditawarkan, sehingga dapat berfungsi secara
optimal sesuai dengan harapan konsumen. Dengan demikian, atribut
tersebut memainkan peran penting dalam menentukan sejauh mana produk
atau jasa dapat memenuhi kebutuhan dan ekspektasi pengguna. Merek
menyediakan perlindungan hukum terhadap keistimewaan atau ciri khas
produk yang ditawarkan
2) Non-product related attributes (Atribut non-produk)
Atribut non-produk dapat dipahami sebagai elemen-elemen eksternal yang
berkaitan dengan proses pembelian dan konsumsi suatu produk atau
layanan. Aspek-aspek ini mencakup berbagai informasi penting, seperti
harga yang ditetapkan, kemasan dan desain yang digunakan untuk menarik
perhatian konsumen, serta individu atau kelompok, termasuk selebriti, yang
terlibat atau dikenal menggunakan produk atau layanan tersebut. Selain itu,
atribut non-produk juga mencakup konteks di mana dan bagaimana produk
atau layanan tersebut digunakan, yang semuanya berkontribusi terhadap
persepsi konsumen dan keputusan pembelian mereka.
b. Benefits (Keuntungan)
Nilai pribadi yang diasosiasikan oleh konsumen dengan berbagai atribut dari
produk atau layanan tersebut merujuk pada makna dan kepentingan yang diberikan
individu terhadap elemen-elemen tertentu yang membentuk pengalaman mereka.
Hal ini mencakup bagaimana konsumen mengaitkan fitur-fitur produk atau jasa
dengan kebutuhan, preferensi, serta pengalaman pribadi mereka, sehingga
menciptakan suatu hubungan emosional atau psikologis yang dapat mempengaruhi
keputusan pembelian dan loyalitas mereka terhadap merek.
1) Functional benefits: merujuk pada kemampuan produk atau layanan untuk
memenuhi kebutuhan dasar konsumen, yang mencakup aspek-aspek
penting seperti kebutuhan fisik serta rasa aman, sekaligus menyediakan
solusi untuk berbagai masalah yang mungkin dihadapi oleh pengguna.
Manfaat ini berkaitan dengan bagaimana produk atau layanan tersebut dapat
secara efektif menjawab tantangan yang dihadapi konsumen, memberikan
kenyamanan, dan memenuhi ekspektasi fundamental yang mereka harapkan
dari apa yang mereka beli. Merek juga berperan dalam menarik perhatian
pembeli terhadap produk-produk baru yang diluncurkan, yang dapat
memberikan manfaat positif bagi merek dengan meningkatkan minat dan
kesadaran konsumen terhadap inovasi atau penawaran terbaru dari merek
tersebut.
2) Experiental benefits: berkaitan dengan berbagai perasaan dan pengalaman
yang muncul ketika seseorang menggunakan suatu produk atau layanan.
Manfaat ini tidak hanya memenuhi kebutuhan untuk bereksplorasi, tetapi
juga memberikan kepuasan yang bersifat sensorik. Manfaat ini juga
mencakup bagaimana interaksi dengan produk atau jasa dapat menciptakan
pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan bagi konsumen,
merangsang indra mereka dan memungkinkan mereka merasakan keunikan
serta nilai emosional dari penggunaan tersebut.
3) Symbolic benefits: berkaitan erat dengan kebutuhan individu untuk
mendapatkan pengakuan sosial atau untuk mengekspresikan diri serta
meningkatkan rasa harga diri mereka. Dalam konteks ini, konsumen
cenderung menghargai nilai-nilai seperti prestise, eksklusivitas, dan gaya
fashion yang ditawarkan oleh merek tertentu, karena elemen-elemen ini
sangat berhubungan dengan bagaimana mereka memandang diri mereka
sendiri.
c. Brand Attitude (Sikap merek)
Sikap merek dapat didefinisikan sebagai penilaian keseluruhan yang
diberikan oleh konsumen terhadap suatu merek. Hal ini mencakup kepercayaan
yang dimiliki konsumen mengenai merek-merek tertentu, serta sejauh mana mereka
meyakini bahwa produk atau layanan tersebut memiliki atribut atau manfaat
tertentu yang diharapkan. Selain itu, sikap merek juga melibatkan penilaian
evaluatif terhadap keyakinan tersebut, di mana konsumen menilai apakah produk
atau layanan itu baik atau buruk berdasarkan atribut atau manfaat yang ada. Dengan
demikian, sikap merek mencerminkan pandangan dan persepsi yang lebih
kompleks mengenai kualitas dan nilai dari apa yang ditawarkan oleh merek tersebut
di mata konsumen.”

Manfaat Brand Image


Menurut Keller, seperti yang dikutip oleh Fandi Tjiptono dalam Purnamawati
& Indiani (2022), merek memberikan manfaat baik bagi produsen maupun
konsumen. Bagi produsen, merek memiliki peran yang sangat penting dalam hal:

  1. Merek berfungsi sebagai alat identifikasi yang mempermudah perusahaan
    dalam menangani dan melacak produk, terutama dalam hal
    pengorganisasian inventaris dan pencatatan akuntansi
  2. Merek juga memberikan perlindungan hukum terhadap fitur atau aspek unik
    dari produk yang membedakannya dari produk lain
  3. Selain itu, merek berfungsi sebagai sinyal kualitas bagi pelanggan yang
    puas, sehingga mereka dapat dengan mudah mengenali dan membeli produk
    tersebut lagi di masa mendatang
  4. Merek juga berperan dalam menciptakan asosiasi dan makna khusus yang
    membedakan produk dari produk pesaing lainnya
  5. Merek menjadi sumber keunggulan kompetitif dengan memberikan
    perlindungan hukum, membangun loyalitas pelanggan, dan menciptakan
    citra unik di benak konsumen
  6. Selain itu, merek dapat menjadi sumber pendapatan finansial, terutama
    dalam hal pendapatan di masa depan

Fungsi dan Peran Brand Image


Boush dan Jones dalam Firmansyah (2019), berpendapat bahwa citra merek
(brand image) memiliki beberapa fungsi, sebagai berikut:

  1. Pintu masuk pasar (Market Entry)
    “Dalam hal ini, citra merek memainkan peran krusial dalam hal keuntungan
    sebagai pelopor (pioneering advantage), perluasan merek (brand extension), dan
    aliansi merek (brand alliance). Sebagai contoh, produk yang merupakan pelopor
    dalam suatu kategori dan memiliki citra merek yang kuat seringkali mendapatkan
    keuntungan signifikan, karena produk pengikut (follower) biasanya mengalami
    kesulitan untuk menandingi pamor produk pelopor tersebut. Misalnya, merek
    seperti Aqua yang merupakan pelopor dalam kategori air mineral. Bagi produk
    pengikut, menggeser posisi produk pelopor yang memiliki citra merek yang solid
    sering kali memerlukan biaya yang sangat tinggi. Inilah yang menjelaskan
    keuntungan yang dinikmati oleh produk pelopor dengan citra merek yang kuat
    dibandingkan dengan pelopor yang memiliki citra merek yang lemah atau produk
    yang tidak memiliki merek yang jelas.
  2. Sumber nilai tambah produk (Source of Added Product Value)
    Fungsi lain dari citra merek adalah sebagai sumber nilai tambah bagi produk
    (source of added product value). Para pemasar mengakui bahwa citra merek tidak
    hanya mencerminkan pengalaman konsumen dengan produk dari merek tertentu,
    tetapi juga memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan mengubah pengalaman
    tersebut secara signifikan. Sebagai ilustrasi, penelitian menunjukkan bahwa
    konsumen cenderung merasa bahwa makanan atau minuman dari merek kesukaan
    mereka memiliki rasa yang lebih baik dibandingkan dengan produk dari kompetitor,
    terutama jika produk tersebut diuji tanpa pengetahuan konsumen mengenai merek
    (unblinded) dibandingkan dengan pengujian yang dilakukan dengan pengetahuan
    merek (blinded taste tests). Dengan demikian, citra merek berperan secara
    substansial dalam meningkatkan nilai produk dengan memodifikasi pengalaman
    konsumen terhadap produk tersebut.
  3. Penyimpan nilai perusahaan (Corporate Store of Value)
    Nama merek berfungsi sebagai penyimpan nilai yang berasal dari akumulasi
    investasi dalam biaya iklan dan peningkatan kualitas produk. Perusahaan dapat
    memanfaatkan nilai yang tersimpan ini untuk mengubah strategi pemasaran
    menjadi keuntungan kompetitif yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Sebagai
    contoh, merek Hallmark telah memperoleh manfaat dari keputusan yang diambil
    pada tahun 1950, dimana mereka memutuskan untuk secara khusus mensponsori
    beberapa program televisi berkualitas tinggi setiap tahunnya.
  4. Kekuatan dalam penyaluran produk (Channel Power)
    Nama merek yang memiliki citra yang kuat tidak hanya berfungsi sebagai
    indikator keberhasilan tetapi juga memberikan kekuatan dalam saluran distribusi.
    Ini berarti merek tersebut tidak hanya penting dalam menghadapi pesaing di pasar,
    tetapi juga memiliki pengaruh dalam mendapatkan akses ke saluran distribusi serta
    mengontrol dan mempengaruhi persyaratan yang ditetapkan oleh distributor.
    Sebagai contoh, strategi perluasan merek Coca Cola dapat dianggap menyelesaikan
    tiga fungsi utama. Pertama, strategi ini memungkinkan Coca Cola untuk memasuki
    pasar baru dengan biaya yang lebih rendah. Kedua, ia membantu mengurangi pasar
    baru dengan biaya yang lebih rendah. Ketiga, strategi ini memberikan Coca Cola
    kekuatan tawar dalam negoisasi perdagangan, karena merek tersebut dianggap
    mampu meningkatkan penjualan secara signifikan.”

Definisi Brand Image


Coaker (2021), Tharpe (2014), serta Simonsons dan Schmitt (2009) dalam
Wardhana (2022), mengemukakan bahwa citra merek (brand image) proses
penafsiran ulang dari berbagai persepsi yang berkaitan dengan merek, yang
terbentuk melalui informasi dan pengalaman yang telah diperoleh oleh konsumen
atau pelanggan di masa lalu mengenai merek tersebut.
Brand Image adalah persepsi atau citra yang terbentuk di benak konsumen
tentang suatu merek. Mencakup semua asosiasi, pengalaman, dan perasaan yang
dimiliki konsumen terhadap merek tersebut. Brand image sangat penting karena
dapat mempengaruhi bagaimana konsumen memilih produk atau layanan. Brand
sendiri memiliki hubungan yang sangat erat dengan brand image, karena brand
image mencerminkan bagaimana konsumen memandang dan menggambarkan
suatu produk. Dengan kata lain, brand image berkaitan langsung dengan persepsi
dan citra yang terbentuk di benak konsumen mengenai produk tersebut.
Kotler (2019) mengatakan, “citra merek (brand image) bukan hanya sekedar
nama atau simbol, melainkan merupakan elemen penting dalam membangun
hubungan antara perusahaan dan pelanggannya.” Sedangkan definisi brand image
menurut Zhang (2015) yaitu “nama gengsi pada suatu merek bergantung pada
bagaimana individu menafsirkan dan memahami makna merek tersebut.” Ini
melibatkan penilaian subjektif terhadap keberadaan merek, yang mencakup sikap
atau evaluasi individu baik positif maupun negatif, serta pola perilaku mereka yang
berhubungan dengan merek tersebut.
Chinomona (2016) berpendapat “brand image didefinisikan sebagai
representasi mental yang dimiliki oleh konsumen, yang mencerminkan makna
simbolis yang mereka hubungkan dengan atribut khusus dari suatu produk atau
layanan.” Ini mencakup cara konsumen memandang dan memahami merek
berdasarkan fitur-fitur tertentu yang terkait dengan produk atau layanan tersebut.
Wardhana (2021) menjelaskan “bahwa jika pelanggan memiliki pandangan yang
positif terhadap suatu merek, mereka cenderung akan melakukan pembelian ulang
produk dari merek tersebut.” Sebaliknya, jika citra merek tersebut negatif,
kemungkinan besar pelanggan tidak akan membeli produk itu lagi.

Pengaruh Citra Merek (Brand Image) Terhadap keputusan pembelian.


Pentingnya pengembangan citra merek dalam keputusan pembelian. Citra
merek yang dikelola dengan baik akan menghasilkan konsekuensi yang positif.
Menciptakan kesan menjadi salah satu karateristik dasar dalam orientasi
pemasaran modern yaitu lewat pemberian perhatian lebih serta penciptaan merek
yang kuat. Implikasi dari hal tersebut menjadikan merek suatu produk
menciptakan citra dari produk itu sendiri di benak pikiran konsumen dan
menjadikan motivasi dasar bagi konsumen dalam memilih suatu produk (Aaker,
2009). Seperti penelitian yang dilakukan oleh (Suryani, 2018) bahwa citra merek
(brand image) mempunyai pengaruh yang positif terhadap keputusan mahasiswa
dalam pemilih program studi Manajemen di STIE Rahmaniyah Sekayu.

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian (purchase decision) konsumen adalah tindakan dari
konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. (Kotler, 2016)
Teradapat lima tahapan dalam proses pengambilan keputusan pembelian,
pembelian dimulai jauh sebelum pembelian aktual dilakukan dan memiliki
dampak yang lama setelah itu.
Menurut Kotler (2016) Secara umum konsumen memiliki 5 (lima) tahap
untuk mencapai suatu keputusan pembelian dan hasilnya yaitu:

  1. Tahapan Pengenalan Masalah. Pada tahap ini konsumen mengenali sebuah
    kebutuhan, keinginan atau masalah. Kebutuhan pada dasarnya dapat di
    cetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Perusahaan harus
    menentukan kebutuhan, keinginan atau masalah mana yang mendorong
    konsumen memulai proses membeli suatu produk.
  2. Tahapan Pencarian Informasi. Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan
    terdorong untuk mencari informasi- informasi yang lebih banyak. Sumbersumber informasi konsumen terbagi dalam 4 (empat) kelompok yaitu:
    a. Sumber Pribadi. Sumber Pribadi ini di dapat konsumen melalui keluarga,
    teman, dan kenalan atau tetangga.
    b. Sumber Komersial. Sumber Komersial ini di dapat konsumen melalui
    iklan, wiraniaga, penyalur, kemasan, pajangan di toko.
    c. Sumber Publik. Sumber Publik ini di dapat konsumen melalui media masa,
    organisasi penentu peringkat konsumen atau lembaga konsumen.
    d. Sumber Pengalaman. Sumber Pengalaman ini di dapat konsumen melalui
    penanganan, pengkajian, dan pemakaian produk.
  3. Tahapan Evaluasi Alternatif atau Pilihan. Setelah mengumpulkan informasi
    sebuah merek, konsumen akan melakukan evaluasi alternatif terhadap
    beberapa merek yang menghasilkan produk yang sama dan bagaimana
    konsumen memilih di antara produk-produk alternatif.
  4. Tahapan Keputusan Pembelian. Konsumen akan mengembangkan sebuah
    keyakinan atas merek dan tentang posisi tiap merek berdasarkan masingmasing atribut yang berujung pada pembentukan citra produk. Selain itu, pada
    evaluasi alternatif konsumen juga membentuk sebuah prefensi atas produkproduk yang ada dalam kumpulan pribadi dan konsumen juga akan
    membentuk niat untuk membeli merek yang paling di sukai dan berujung pada
    keputusan pembelian.
  5. Tahapan Perilaku Pasca Pembelian. Tugas perusahaan pada dasarnya tidak
    hanya berakhir setelah konsumen membeli produk yang di hasilkan saja, tetapi
    yang harus diperhatikan lebih lanjut adalah meneliti dan memonitor apakah
    konsumen akan mengalami tingkat kepuasan dan ketidakpuasan setelah
    menggunakan produk yang akan dibeli. Tugas tersebut merupakan tugas akhir
    setelah periode sesudah pembelian.
    Keputusan pembelian adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan
    keputusan pembelian. Artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan,
    haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan

Perilaku Konsumen


Berikut ini adalah berberapa pengertian citra merek dari beberapa sumber :
Menurut Schiffman, et.al, (2007) perilaku Konsumen merupakan perilaku
yang diperlihatkan oleh konsumen saat mencari, menggunakan, membeli,
mengevaluasi, maupun menghabiskan produk barang dan jasa yang diharapkan
akan dapat memuaskan kebutuhan konsumen.
Perilaku konsumen merupakan suatu proses individu ataupun kelompok
dalam menyeleksi, membeli, menggunakan ataupun membuang pelayanan,
produk, ide dan pengalaman untuk memuaskan kebutuhannya Solomon (2006).
Menurut Kotler dan Philip (2005) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
perilaku konsumen dalam keputusan pembelian adalah :
a) Faktor lingkungan:
Salah satu pada faktor lingkungan terdiri dari budaya antara lain, norma
ataupun nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, presepsi merupakan cara
pandang sesuatu, preferensi merupakan rasa suka pada suatu produk
dibandingkan dengan produk lain, behavior adalah kebiasaan.
b) Faktor teknologi:
Transportasi pribadi, peralatan rumah tangga, audio visual, internet dan seluler.
c) Faktor sosial:
Faktor sosial ini merupakan kelompok yang dapat mempengaruhi anggota atau
komunitas dalam pembuatan keputusan terhadap pembelian suatu barang atau
jasa. Peran dan status seseorang di masyarakat atau tempat kerja juga akan
mempengaruhi pola tindakan yang dilakukan dalam melakukan pembelian
barang atau jasa.
d) Faktor pribadi:
1) Aspek pribadi yaitu satu konsumen akan berbeda dengan konsumen lainnya
karena: usia, pekerjaan, kondisi keuangan, kepribadian, gaya hidup, konsep
diri.
2) Aspek psikologi yaitu faktor kejiwaan yang mempengaruhi tindakan atau
kebiasaan seseorang saat melakukan pembelian suatu barang maupun jasa
yang terdiri dari: presepsi, motivasi, kepercayaan dan perilaku.

Citra Merek


Berikut ini adalah berberapa pengertian citra merek dari beberapa sumber:

  1. Citra merek adalah “Total persepsi terhadap suatu objek, yang dibentuk dengan
    memproses informasi dari berbagai sumber setiap waktu” Menurut Setiadi
    Nugroho (dalam Lopez, (2015).
  2. Menurut Supranto (dalam(Sholikhah, 2017) citra merek adalah apa yang
    konsumen pikir atau rasakan ketika konsumen mendengar atau melihat nama
    suatu merek atau pada intinya apa yang konsumen telah pelajari tentang merek.
  3. Citra merek adalah seperangkat keyakinan konsumen mengenai merek
    tertentu(Kotler A. , 2011)
  4. “Brand image can be defined as a perception about brand as reflected by the
    brand association held in consumer memory”. Citra merek adalah persepsi
    tentang merek yang digambarkan oleh asosiasi merek yang ada dalam ingatan
    konsumen (Kotler, 2016).

Pengertian Personal Branding


Personal branding adalah citra atau reputasi diri yang terbentuk dalam
pikiran setiap individu yang mengenal seseorang. Personal branding adalah
citra diri yang ingin tampilkan, mencerminkan prinsip, nilai, dan segala hal tentang
diri seseorang. Personal branding merupakan proses di mana seseorang
menjadikan dirinya atau kariernya sebagai sebuah merek. Personal branding
merupakan pendekatan strategis di dalam pemasaran yang berfokus untuk
membentuk kesan yang kuat dan dapat menciptakan dampak positif terhadap
audiens .
Personal branding adalah proses membangun persepsi publik terhadap
berbagai aspek yang dimiliki seseorang seperti kepribadian, keterampilan, atau
nilai-nilai, serta bagaimana hal-hal ini dapat menciptakan pandangan positif di mata
masyarakat yang kemudian bisa dimanfaatkan sebagai alat pemasaran.
Personal branding merupakan usaha untuk membangun citra diri yang positif dan
menarik perhatian dan membangun hubungan yang kuat dengan audiens atau
individu lainnya (43). Personal branding adalah proses menciptakan citra yang
khas dan menguntungkan bagi individu dengan cara mengkomunikasikan nilainilai, identitas, keterampilan, visi, dan tujuan mereka secara konsisten

Indikator Endorsement


Endorsement memiliki tiga indikator utama yang digunakan untuk
mengukur efektivitas promosi oleh influencer, yaitu attractiveness, expertise dan
trustworthiness. Ketiga indikator ini berperan penting dalam menentukan
sejauh mana endorsement tersebut mampu mempengaruhi audiens dan
meningkatkan brand image. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing
indikator:

  1. Attractiveness (daya tarik), yaitu sikap dan juga gaya hidup yang
    ditampilkan sehingga audiens merasa nyaman dan terhubung. Influencer
    yang dianggap menarik secara fisik maupun personal oleh audiens akan
    lebih efektif dalam mempengaruhi persepsi terhadap brand yang
    dipromosikan.
  2. Expertise (keahlian), yaitu menggambarkan tingkat pengetahuan,
    pengalaman, dan kemampuan endorser yang relevan dengan produk,
    sehingga meningkatkan kredibilitas informasi yang disampaikan.
  3. Trustworthiness (kepercayaan), yaitu menggambarkan sejauh mana
    endorser dianggap jujur, dapat dipercaya, serta memiliki reputasi dan
    integritas yang baik dalam menyampaikan pesan promosi secara kredibel
    dan meyakinkan.

Pengertian Endorsement


Endorsement adalah penggunaan selebriti untuk menyampaikan pesan atau
informasi mengenai suatu produk agar dapat menarik perhatian audiens dan
meningkatkan daya tarik pada produk tersebut . Endorsement influencer
merupakan strategi pemasaran yang sering digunakan dalam mempromosikan
produk atau layanan tertentu oleh suatu perusahaan . Endorsement adalah
seorang tokoh publik yang bertugas menyampaikan informasi kepada masyarakat
mengenai keberadaan suatu produk di pasar dan menerima kompensasi tertentu dari
perusahaan . Endorsement biasanya melibatkan penggunaan influencer atau
tokoh terkenal untuk mendukung dan membintangi suatu produk . Sistem kerja
para influencer endorsement yaitu dengan memposting foto atau video disuatu
platform media sosial . Endorsement memanfaatkan daya tarik emosional dan
intelektual influencer untuk menciptakan hubungan positif antara mereka dan
produk yang mereka promosikan . Jadi, endorsement adalah bentuk promosi
yang dilakukan oleh perusahaan dengan memperkenalkan produk melalui suatu
media, di mana seorang influencer digunakan sebagai pendukung utama di
dalamnya

Indikator Brand Image


Menurut Keller brand image memiliki tiga indikator penting yang
memengaruhi bagaimana konsumen memandang dan merasakan suatu merek (29).
Berikut adalah penjelasan masing-masing indikator:

  1. Strength of Brand Associations, yaitu mengacu pada tingkat di mana
    asosiasi merek tertanam dalam ingatan konsumen. Pengalaman pelanggan
    yang positif terhadap pemasaran merek menghasilkan asosiasi yang kuat.
  2. Favorability of Brand Associations, yaitu mengacu pada seberapa baik
    konsumen memandang asosiasi merek. Hal ini mencerminkan konsumen
    dalam memandang suatu merek sebagai sesuatu yang membantu, dapat
    diandalkan, dan memenuhi kebutuhan atau keinginan mereka.
  3. Uniqueness of Brand Associations, yaitu menggambarkan seberapa
    berbedanya asosiasi merek dari pesaing. Keunikan ini membuat merek
    menonjol dari pesaing dan memberinya karakter yang khas.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Brand Image


Menurut Kotler, terdapat faktor yang dapat mempengaruhi brand image
(citra merek) dari komunikasi pemasaran, yaitu iklan (advertising), promosi
penjualan (sales promotion), penjualan pribadi (personal selling), public relation
(hubungan dengan masyarakat), pemasaran secara langsung (direct marketing)
(28). Berikut adalah penjelasan masing-masing faktor:

  1. Iklan (advertising)
    Iklan adalah bentuk komunikasi pemasaran yang dilakukan melalui media
    massa seperti televisi, radio, media cetak, dan digital. Iklan yang efektif
    mampu menciptakan kesan positif dan memperkuat identitas suatu merek di
    benak konsumen. Di era modern ini, iklan digital semakin berkembang,
    salah satunya melalui endorsement kepada influencer. Dengan
    memanfaatkan popularitas dan kredibilitas influencer, merek dapat
    menjangkau target audiens secara lebih personal dan meyakinkan, sehingga
    meningkatkan daya tarik serta kepercayaan konsumen terhadap produk
    yang ditawarkan.
  2. Promosi Penjualan (sales promotion)
    Promosi penjualan mencakup kegiatan pemasaran yang memberikan
    insentif tambahan kepada konsumen untuk mencoba atau membeli produk,
    seperti diskon, kupon, atau hadiah langsung. Strategi ini dapat
    mempengaruhi citra merek dengan menciptakan persepsi bahwa merek
    tersebut memberikan nilai lebih kepada konsumen. Promosi yang efektif
    dan konsisten dapat memperkuat citra merek sebagai merek yang peduli
    terhadap kebutuhan konsumen dan menawarkan pengalaman pembelian
    yang menarik serta menguntungkan.
  3. Penjualan Pribadi (personal selling)
    Penjualan pribadi melibatkan interaksi langsung antara penjual dan
    konsumen untuk membangun hubungan serta meyakinkan konsumen
    mengenai nilai produk. Melalui komunikasi yang personal dan informatif,
    strategi ini dapat memperkuat citra merek sebagai entitas yang peduli dan
    responsif terhadap kebutuhan pelanggan, sekaligus meningkatkan
    kepercayaan serta loyalitas konsumen terhadap merek.
  4. Public Relation (Hubungan dengan Masyarakat)
    Aktivitas hubungan masyarakat dapat memperkuat citra merek sebagai
    pihak yang peduli dan memiliki tanggung jawab sosial melalui
    keterlibatannya dalam kegiatan sosial, event, atau kampanye edukasi.
  5. Pemasaran Secara Langsung (Direct Marketing)
    Pemasaran langsung mencakup komunikasi yang ditujukan secara langsung
    kepada konsumen melalui berbagai saluran, seperti email, pesan singkat,
    atau media sosial. Strategi ini memungkinkan merek menjalin komunikasi
    yang lebih personal dan interaktif, sehingga konsumen merasa dihargai dan
    diperhatikan. Melibatkan influencer dalam komunikasi langsung dapat
    menciptakan pengalaman yang lebih dekat dan autentik bagi konsumen.
    Dengan personal branding yang relevan dan konsisten, influencer dapat
    membantu memperkuat citra merek sebagai entitas yang responsif, peduli,
    dan selaras dengan kebutuhan serta preferensi pelanggan.

Pengertian Brand Image


Brand image atau citra merek adalah gambaran yang terbentuk dalam
pikiran konsumen mengenai sebuah merek, yang mempengaruhi tingkat
kepercayaan konsumen atau pelanggan terhadap merek tersebut. Brand image
dapat diartikan sebagai persepsi yang terbentuk dalam pikiran konsumen saat
mereka mengingat sebuah merek dari produk tertentu. Citra merek merupakan
persepsi konsumen yang digunakan untuk menilai suatu produk, terutama ketika
konsumen memiliki pengetahuan yang terbatas tentang produk yang ingin dibeli
Brand image atau citra merek adalah identitas suatu produk yang berfungsi
untuk membedakan produk tersebut dari produk lainnya. Brand image dapat
membentuk persepsi atau kesan tentang sebuah produk yang akan teringat di benak
konsumen tentang bagaimana produk tersebut dipandang oleh publik dengan
menilai kualitas, keunggulan, serta nilai emosional dari sebuah produk atau merek. Brand image memainkan peran penting dalam membangun kesan yang
mendalam tentang produk, yang pada akhirnya tertanam dalam ingatan konsumen.
Brand image juga berfungsi sebagai pengingat dalam hal memunculkan kembali
informasi terkait merek tersebut di benak konsumen

Pengaruh citra merek, kualitas produk dan promosi terhadap citraperusahaan.


Setiap perusahaan berusahaa untuk menjual produknya
sebanyak mungkin. Peningkatan volume penjualan merupakan hal
yang ingin dicapai oleh perusahaan. Selain itu perusahaan juga ingin
memiliki citra yang positif dimata konsumennya. Dalam penelitian ini
faktor – faktor yang mempengaruhi citra perusahaan dibatasi pada
faktor citra merek, kualitas produk dan promosi, yang apabila
dilakukan perbaikan maka kemungkinan akan meningkatkan citra
perusahaan.

Pengaruh promosi terhadap citra perusahaan


Perusahaan memerlukan strategi promosi yang tepat agar dapat
memasarkan produknya kepada konsumen. Kegiatan promosi dapat
mengenalkan produk kepada konsumen akan manfaat dan karakteristik
produk, selanjutnya konsumen akan tertarik untuk melakukan
pembelian. Promosi penjualan merupakan salah satu dari marketing
mix yang dilakukan perusahaan untuk mendorong konsumen agar
konsumen melakukan pembelian. Kegiatan promosi penjualan dapat
dilakukan dengan cara pemberian contoh barang, kupon/nota, kupon
hadiah, undian dan kontes, rabat dan peragaan. Kegiatan promosi
penjualan dapat menarik konsumen untuk melakukan pembelian dan
untuk meningkatkan citra perusahaan tersebut dimata konsumennya.

Pengaruh kualitas produk terhadap citra perusahaan


Produk merupakan atribut yang tidak bisa dilepaskan dengan
kualitas produk yang menentukan bagi pemenuhan kebutuhan
konsumen. Kualitas produk yang tinggi akan mendorong terjadinya
pengambilan keputusan pembelian konsumen yang nantinya dengan
kualitas produk dapat memenuhi harapan konsumen terhadap produk
tersebut. Dengan banyaknya pemasar yang memasarkan bermacam –
macam produk konsumen sudah semakin selektif dalam menentukan
produk yang mana yang akan dipilih, dibeli, dan digunakan. Kualitas
yang dipersepsikan produk tersebut akan membawa nama baik
perusahaan dimata konsumennya, selain itu tentu berdampak positif
juga pada keputusan pembelian konsumennya.

Pengaruh citra merek terhadap citra perusahaan


Citra merek (Brand Image) merupakan representasi dari
keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman masa lalu terhadap merek itu. Citra terhadap merek
berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi
terhadap suatu merek. Makin baik citra merek maka akan baik pula
citra sebuah perusahaan. Jadi makin baik citra merek dari Fusion Batik
akan meningkatkan citra perusahaan dari Fusion Batik tersebut

Proses Terbentuknya Citra Perusahaan


Proses terbentuknya citra perusahaan menurut Hawkins et
al. (2000: 55) diperlihatkan pada gambar sebagai berikut :
Berdasarkan Gambar 1 proses terbentuknya citra perusahaan
berlangsung pada beberapa tahapan. Pertama, obyek
mengetahui (melihat atau mendengar) upaya yang dilakukan
perusahaan dalam membentuk citra perusahaan. Kedua,
memperhatikan upaya perusahaan tersebut. Ketiga, setelah
adanya perhatian obyek mencoba memahami semua yang ada
pada upaya perusahaan. Keempat, terbentuknya citra
perusahaan pada obyek yang kemudian tahap kelima citra
perusahaan yang terbentuk akan menentukan perilaku obyek
sasaran dalam hubungannya dengan perusahaan. upaya
perusahaan sebagai sumber informsai terbentuknya citra
perusahaan memerlukan keberadaan secara lengkap
dimaksudkan sebagai informasi yang dapat menjawab
kebutuhan dan keinginan objek sasaran. Kasali (2003: 10)
mengemukakan, “Pemahaman yang berasal dari suatu
informasi yang tidak lengkap menghasilkan citra yang tidak
sempurna”.

Peran Citra


Pentingnya citra perusahaan dikemukakan Gronroos dalam
Sutisna (2001: 332) sebagai berikut :
1) Menceritakan harapan bersama kampanye pemasaran
eksternal.
2) Sebagai penyaring yang mempengaruhi persepsi pada
kegiatan perusahaan.
3) Sebagai fungsi dari pengalaman dan harapan konsumen
atas kualitas pelayanan perusahaan.
4) Mempunyai pengaruh penting terhadap manajemen atau
dampak internal.
Uraian mengenai pentingnya citra perusahaan adalah
sebagai berikut :
1) Menceritakan harapan bersama kampanye pemasaran
eksternal. Citra positif memberikan kemudahan
perusahaan untuk berkomunikasi dan mempunyai tujuan
secara efektif sedangkan citra negatif sebaliknya.
2) Sebagai penyaring yang mempengaruhi persepsi pada
kegiatan perusahaan. citra positif menjadi pelindung
terhadap kesalahan kecil, kualitas teknis atau fungsional
sedangkan citra negatif dapat memperbesar kesalahan
tersebut.
3) Sebagai fungsi dari pengalaman dan harapan konsumen
atas kualitas pelayanan perusahaan. Jika kinerja
pelayanan memenuhi atau melebihi citra yang
dihasilkan, maka kinerja pelayanan tersebut berfungsi
memperkuat citra itu atau bahkan mungkin
memperbaikinya. Meskipun demikian, jika kinerja
berada dibawah, maka citra akan memudar secara nyata.
4) Mempunyai pengaruh penting terhadap manajemen atau
dampak internal. Citra perusahaan yang kurang jelas
dan nyata mempengaruhi sikap karyawan terhadap
perusahaan.
Gronroos dalam Sutisna (2001: 332)
Perasaan puas atau tidaknya konsumen terjadi setelah
mempunyai pengalaman dengan produk maupun perusahaan
yang diawali adanya pengambilan keputusan. Sehingga dapat
disimpulkan keberadaan citra perusahaan yang baik penting
sebagai sumber daya internal obyek dalam menentukan
hubungannya dengan perusahaan. Konsisten dengan arti telah
dikemukakan, citra perusahaan merupakan hal yang abstrak.
Sutisna (2001: 215) mengatakan, “Satu hal yang dianalisis
mengapa terlihat ada masalah citra perusahaan adalah
organisasi dikenal atau tidak dikenal”. Dapat dipahami
keterkenalan perusahaan yang tidak baik menunjukan citra
perusahaan yang bermasalah. Masalah citra perusahaan
tersebut, dalam keberadaannya berada dalam pikiran dan atau
perasaan konsumen.

Unsur – unsur Citra Perusahaan


Menurut Frank Jefkins (2004: 15), unsur – unsur citra
perusahaan ada empat antara lain :
1) Personality, yakni keseluruhan karakteristik perusahaan
yang dipahami oleh lingkungan di luar perusahaan.
2) Reputation, yakni keyakinan seseorang terhadap
perusahaan berdasarkan pengalaman pribadi atau orang
lain atas jasa atau produk perusahaan.
3) Values/Ethics, yakni nilai – nilai dan filosofi yang
dianut perusahaan, keramahan pelayanan, gaya kerja,
dan komunikasi baik internal perusahaan maupun
interaksi dengan pihak luar.
4) Corporate identity, yakni identitas dalam nama, simbol,
logo, warna dan ritual untuk memunculkan perusahaan,
merek dan kepentingan perusahaan.

Macam – macam Citra


Macam – macam citra menurut Frank Jefkins (2004: 10)
adalah sebagai berikut :
1) Cerminan citra (the mirror image), yakni citra berasal
dari dugaan manajemen terhadap publik eksternal
dalam melihat organisasi atau perusahaan.
2) Citra yang masih hangat (the current image), yakni citra
yang terdapat pada publik eksternal berdasarkan
pengalaman atau menyangkut miskinnya informasi dan
pemahaman publik eksternal.
3) Citra yang diinginkan (the wish image), yakni citra dari
manajemen yang menginginkan pencapaian prestasi
tertentu.
4) Citra yang berlapis (the multiple image), yakni
pembentukan citra dari sebagian perusahaan cabang
atau organisasi sayap yang belum tentu memiliki
keseragaman citra seluruh organisasi atau
perusahaannya.

Pengertian Citra Perusahaan


Sekarang ini banyak sekali perusahaan atau organisasi
memahami sekali perlunya memberi perhatian yang cukup
untuk membangun suatu citra yang menguntungkan bagi suatu
perusahaan tidak hanya dengan melepaskan diri terhadap
terbentuknya suatu kesan publik negatif. Dengan kata lain, citra
perusahaan adalah fragile commodity (komoditas yang
rapuh/mudah pecah). Namun, kebanyakan perusahaan juga
meyakini bahwa citra perusahaan yang positif adalah esensial,
sukses yang berkelanjutan dan dalam jangka panjang
(Seitel,1999: 69).
Menurut Bill Canton dalam Sukatendel (1999: 46)
mengatakan citra adalah “image: the impression, the feeling,
the conception which the public has of a company; a
concioussly created impression of an object, person or
organization” (citra adalah kesan, perasaan, gambaran diri
publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja
diciptakan dari suatu obyek, orang atau organisasi).
Citra perusahaan dapat menjadi informasi ekstrinsik
petunjuk bagi pembeli baik yang ada dan potensi dan mungkin
atau tidak dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan misalnya,
kesediaan untuk memberikan kata positif dari mulut ke mulut.
Citra perusahaan diasumsikan berdampak akibat pada pilihan
pelanggan perusahaan ketika atribut pelayanan sulit untuk
dievaluasi, maka citra perusahaan didirikan dan dikembangkan
di benak konsumen melalui komunikasi dan pengalaman. Citra
perusahaan yang diyakini untuk menciptakan efek halo pada
penilaian kepuasan pelanggan (Andreassen et al., 1999: 22).

Tujuan promosi penjualan


1) Tujuan promosi penjualan intern yaitu mendorong
karyawan lebih tertarik pada produk dan promosi
perusahaan.
2) Tujuan promosi penjualan ekstern yaitu untuk
memperlancar atau menyoroti perubahan – perubahan
musiman dalam pesanan, untuk mendorong jumlah
pembelian yang lebih besar, untuk mendapatkan dukungan
yang luas dalam saluran terhadap usaha promosi atau untuk
memeroleh tempat serta ruang gerak yang baik.
c. Metode – metode promosi penjualan
Metode – metode promosi penjualan menurut Basu Swastha
(1999: 281) ada tujuh yaitu :
1) Pemberian contoh barang, yaitu dengan memberikan
contoh barang secara cuma – cuma kepada konsumen
dengan tujuan untuk digunakan atau dicoba. Ini
merupakan alat promosi penjualan yang dianggap
paling mahal, tetapi juga paling efektif, pemberian
contoh barang ini dapat efektif terutama untuk
mengenalkan produk baru dan produk baru tersebut
sering disertakan dalam penjualan produk lain.
2) Kupon/nota, yaitu dengan menyarankan pada pembeli
untuk menyimpan dan mengumpulkan nota atau kupon
– kupon pembeliannya agar dapat mendapatkan barang
seharga tertentu secara cuma – cuma atau barang
lainnya. penjual menggunakan cara tersebut dengan
maksud untuk menarik pembeli yang lebih banyak.
3) Hadiah, yaitu suatu metode yang pada prinsipnya sama
dengan metode kupon/nota, hanya mempunyai variasi
yang lain. Cara ini dapat mendorong seseorang untuk
membeli lebih banyak lagi, mempelajari keuntungan –
keuntungan dan akhirnya menjadi pelanggan.
4) Kupon hadiah, yaitu dengan cara setiap pembeli yang
membeli sampai jumlah tertentu atau mambeli satu unit
barang akan memeroleh satu kupon yang akan diundi
suatu hari. Nomor kupon yang cocok dengan nomor
undiannya akan mendapatkan hadiah atau dengan
variasi yang lain. Dengan hadiah yang menarik akan
membuat orang tertarik.
5) Undian dan kontes, yaitu merupakan alat promosi yang
hanya dilakukan di tempat – tempat tertentu dan hanya
dilakukan oleh penjual tertentu saja.
6) Rabat (cost refund), merupakan pengurangan harga
yang diberikan kepada pembeli. Rabat ini digunakan
terutama untuk memperkenalkan produk baru. Juga
dipakai untuk pembelian ulang atas suatu barang yang
memiliki margin tertinggi (menguntungkan). Besarnya
rabat dapat dilakukan dengan presentase atau dengan
satuan rupiah. 7) Peragaan, yaitu salah satu alat promosi yang
menghubungkan produsen dengan pengecer. Bagi
produsen yang besar, biasanya tugas ini diberikan
kepada tenaga penjualnya. Pengecer dapat memberikan
kesempatan kepada produsen untuk menggunakan
sebagian ruang atau etalase guna mengadakan peragaan
atau dapat juga ditempat lain.

Promosi


Kegiatan promosi tidak boleh berhenti hanya pada
memperkenalkan produk pada konsumen saja. Akan tetapi harus
dilakukan dengan upaya untuk mempengaruhinya agar konsumen
tersebut menjadi senang kemudian membeli produknya. Menurut
Gitosudarmono (2000: 237) “Promosi merupakan kegiatan yang
ditujukan untuk memengaruhi konsumen agar mereka dapat
menjadi kenal akan produk yang ditawarkan oleh perusahaan
kepada mereka dan kemudian mereka menjadi senang lalu
membeli produk tersebut”. Adapun alat – alat yang dapat
digunakan untuk mempromosikan suatu produk, dapat dipilih
beberapa cara yaitu :
a. Iklan
Iklan merupakan alat utama bagi pengusaha untuk
memengaruhi konsumennya. Iklan ini dapat dilakukan oleh
pengusaha lewat surat kabar, radio, majalah, bioskop, televisi
ataupun dalam bentuk poster yang dipasang di pinggir jalan
atau tempat – tempat yang strategis. Dalam membaca atau
melihat iklan ini diharapkan konsumen atau calon konsumen
akan terpengaruh lalu tertarik untuk membeli produk yang
diiklankan.
b. Promosi penjualan (sales promotion)
Promosi penjualan adalah merupakan kegiatan perusahaan
untuk menjajakan produk yang dipasarkan sedemikian rupa
sehingga konsumen akan mudah untuk melihatnya dan bahkan
dengan cara penempatan dan pengaturan tertentu maka produk
tersebut akan menarik perhatian konsumen. Bentuk yang
termasuk dalam sales promotion adalah memberikan contoh
gratis kepada konsumen, dengan mengadakan demonstrasi
penggunaan barang.
c. Publisitas
Publikasi merupakan cara yang biasa digunakan juga oleh
pengusaha untuk membentuk pengaruh secara tidak langsung
kepada konsumen agar mereka menjadi tahu dan menyenangi
produk yang dipasarkan. Cara ini dilakukan dengan cara
memuat berita tentang produk atau perusahaan yang
menghasilkan produk tertentu di media massa. Misalnya saja
berita di surat kabar, berita di radio atau televisi, maupun
majalah tertentu dan sebagainya. Dengan memuat berita itu
maka para pembaca secara tidak sadar telah dipengaruhi oleh
berita tersebut. Publisitas merupakan suatu alat promosi yang
mampu membentuk opini masyarakat secara tepat, sehingga
sering disebut sebagai usaha untuk “menyosialisasikan” atau
“memasyarakatkan” suatu produk.
d. Personal Selling
Personal Selling merupakan kegiatan perusahaan untuk
melakukan kontak langsung dengan para calon konsumen.
Dengan kontak langsung ini diharapkan akan terjadi hubungan
atau interaksi yang positif antara perusahaan dengan calon
konsumen itu. Kontak langsung ini akan dapat memengaruhi
secara lebih intensif para konsumen, karena dalam hal ini
pengusaha dapat mengetahui keinginan dan selera konsumen
serta gaya hidupnya, dan dengan demikian pengusaha dapat
menyesuaikan cara pendekatan atau komunikasi dengan
konsumen itu secara lebih tepat yang sesuai dengan konsumen
yang bersangkutan, yang termasuk dalam kategori personal
selling ini adalah :
1) Door to door selling
2) Mail order
3) Telephone selling
4) Direct selling

Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Kualitas merupakan sesuatu yang diputuskan oleh pelanggan.
Kualitas didasarkan pada pengalaman aktual pelanggan terhadap
produk atau jasa, diukur berdasarkan persyaratan pelanggan
tersebut. Feigan Baum (2001: 28), faktor yang mempengaruhi
kualitas produk ada 9 faktor yang dikenal dengan 9M, yaitu :
Market (pasar), Money (Modal), Management (manajemen),
Men (sumber daya manusia), Motivasion (motivasi), Matherial,
Machine and Mechanization (bahan, mesin dan mekanisasi),
Modern information method (metode informasi modern),
Mounting product reluirement (persyaratan proses produksi).
Secara umum faktor yang memengaruhi kualitas produk
tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu :
1) Faktor yang berkaitan dengan teknologi, yaitu mesin, bahan
dan perusahaan, dan
2) Faktor yang berhubungan dengan human resource, yaitu
operator, mandor dan personal lain dari perusahaan.
Faktor terpenting bagi perusahaan adalah pada manusianya
(sumber daya manusia), karena dengan kualitas yang tinggi pada
sumber daya manusia pada perusahaan dapat menciptakan suatu
produk yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu perusahaan harus
berusaha mengoptimalkan sumber daya yang ada pada perusahaan.
Kepuasan pada produk, jasa dan perusahaan dapat dievaluasi
berdasarkan faktor atau dimensi tertentu. Menurut Garvin dalam
Lovelock (1999: 45), faktor yang sering digunakan dalam
mengevaluasi kepuasan terhadap suatu produk yaitu:
1) Kinerja (performance), karakteristik operasi pokok dari
produk inti (core product) yang dibeli.
2) Ciri – ciri atau keistimewaan tambahan (features), yaitu
karakteristik sekunder atau pelengkap.
3) Keandalan (reliability) yaitu kemungkinan kecil akan
mengalami kerusakan atau gagal dipakai.
4) Kesesuaian dengan spesifikasi (performance to
specification), yaitu sejauh mana karaktersitik desain
dan operasi memenuhi standar – standar yang telah
ditetapkan sebelumnya.
5) Daya tahan (durability), yaitu berkaitan dengan berapa
lama produk tersebut dapat digunakan mencakup umur
teknis, maupun umur ekonomis penggunaan produk.
6) Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi,
kenyamanan, mudah direparasi serta penanganan
keluhan yang memuaskan.
7) Estetika, yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
8) Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), yaitu
citra dan reputasi produk serta tanggung jawab
perusahaan terhadapnya.
(Fandy Tjiptono, 2002: 26)

Pengertian Kualitas Produk


Perusahaan akan selalu berusaha untuk memuaskan pelanggan
mereka dengan menawarkan produk yang berkualitas. Produk yang
berkualitas adalah produk yang memiliki manfaat bagi pemakainya
(konsumennya). Jika seseorang membayangkan suatu produk,
maka mereka membayangkan manfaat yang akan diperoleh dari
produk yang akan mereka pergunakan. Manfaat dalam suatu
produk adalah konsekuensi yang diharapkan konsumen ketika
mereka membeli dan menggunakan suatu produk. Banyak definisi
yang diungkapkan oleh para ahli ekonomi. Menurut Kotler (2000:
347), “Kualitas produk merupakan ciri dan karakteristik suatu
barang atau jasa yang berpengaruh pada kemampuannya untuk
memuaskan kebutuhan yang dinyatakan maupun tersirat”.
Komarrudin (1999: 253), mendefinisikan kualitas produk sebagai
berikut :
Karena itu kualitas tersebut dapat menggambarkan salah satu
dari hal – hal seperti kemampuan untuk mempergunakan
(fitness for use), kelas atau derajat (grade), mutu kecocokan
(quality of conformance), karakteristik mutu (quality of
characteristic), fungsi mutu (quality function), dan nama
sebuah bagian dalam organisasi (quality department).

Pengertian Produk


Produk diperuntukkan bagi pemuasan akan kebutuhan dan
keinginan dari konsumen. Produsen harus memperhatikan secara
hati – hati kebijakan akan produknya. Pada dasarnya suatu produk
dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara, antara lain
berdasarkan pada daya tahan produk dalam penggunaannya atau
wujud produk tersebut. Berdasarkan kriteria tersebut Fandy
Tjiptono (2002: 5), mengelompokkan produk menjadi tiga
kelompok, yaitu :
1) Non-durable goods (barang yang tidak terlalu lama), yaitu
barang yang dikonsumsi sekali pakai atau memiliki jangka
waktu kurang dari satu tahun.
2) Durable goods (barang yang dapat bertahan lama), yaitu
barang yang bersifat tahan lama dan dapat dipergunakan lebih
dari satu tahun.
3) Service (jasa), yaitu suatu aktivitas, manfaat atau kepuasan
yang ditawarkan oleh suatu perusahaan untuk dijual.
Menurut Stanton dalam Buchari Alma (2000: 20) “Produk
adalah seperangkat atribut, baik berujud maupun tidak berujud,
termasuk didalamnya masalah warna, harga, nama baik pabrik,
nama baik perusahaan dan pelayanan serta pelayanan pengecer
yang diterima oleh pembeli untuk memuaskan keinginannya”.
Produk tidak hanya berbentuk barang yang berujud, akan tetapi
juga sesuatu yang tidak berujud, seperti pelayanan jasa, produk,
dan lain sebagainya, dipergunakan untuk memuaskan kebutuhan
dan keinginan (needs and wants) dari konsumen. Konsumen tidak
hanya membeli produk sekedar memuaskan kebutuhan (needs),
akan tetapi juga bertujuan memuaskan keinginan (wants).
Basu Swastha (1999: 30) mendefinisikan “produk sebagai
suatu sifat kompleks, baik dapat diraba maupun tidak dapat diraba,
termasuk bungkus, warna, prestice perusahaan dan pengecer, yang
diterima oleh pembeli untuk memuaskan kebutuhan dan
keinginannya”. Sehingga pada dasarnya konsumen membeli
sekumpulan sifat fisik dan kimia sebagai alat pemuas
kebutuhannya. Setiap kombinasi akan memberikan kepuasan yang
berbeda.

Brand Image (Citra Merek)


Keterkaitan konsumen pada suatu merek akan lebih kuat
apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakkan untuk
mengkomunikasikannya sehingga akan terbentuk citra merek (brand
image). Citra merek yang baik akan mendorong untuk meningkatkan
volume penjualan dan citra perusahaan.
Citra merek dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul
di benak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu. Asosiasi
tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau
citra tertentu yang dikaitkan pada merek tertentu, sama halnya ketika
kita berpikir mengenai orang lain.
Pendapat Kotler dan Gary Armstrong (2007: 80) dimana
“Brand Image adalah himpunan keyakinan konsumen mengenai
berbagai merek”. Intinya Brand Images atau Brand Description, yakni
diskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek
tertentu.
Dari sebuah produk dapat lahir sebuah brand jika produk itu
menurut persepsi konsumen mempunyai keunggulan fungsi (functional
brand), menimbulkan asosiasi dan citra yang diinginkan konsumen
(image brand) dan membangkitkan pengalaman tertentu saat
konsumen berinteraksi dengannya (experiental brand).
Citra produk dan makna asosiasi brand dikomunikasikan oleh
iklan dan media promosi lainnya, termasuk public relation dan event
sponsorship. Iklan dianggap mempunyai peran terbesar dalam
mengkomunikasikan citra sebuah brand dan sebuah image brand juga
dapat dibangun hanya menggunakan iklan yang menciptakan asosiasi
dan makna simbolik yang bukan merupakan ekstensi dari fitur produk.
Penting untuk dicatat bahwa membangun sebuah brand tidak
hanya melibatkan penciptaan perceived difference melalui iklan.
Sering terjadi kesalahpahaman bahwa sebuah brand dibangun semata –
mata menggunakan strategi periklanan yang jitu untuk menciptakan
citra dan asosiasi produk yang diinginkan. Memang iklan berperan
penting dalam membangun banyak merek terutama yang memang
dideferensiasikan atas dasar citra produk akan tetapi, sebuah image
brand sekalipun harus didukung produk yang berkualitas, strategi
penetapan harga yang tepat untuk mendukung citra yang
dikomunikasikan melalui iklan produk tersebut.

Brand (Merek)


Brand adalah salah satu atribut yang sangat penting dari sebuah
produk yang penggunaanya pada saat ini sudah sangat meluas karena
beberapa alasan, dimana merek suatu produk berarti memberikan nilai
tambah produk tersebut.
Pikiran para pelanggan dipengaruhi oleh beragam pesan yang
sampai pada angka ribuan pesan dan sering berubah – ubah. Merek
tidak hanya kesan – kesannya, tetapi merek juga harus menempati
suatu posisi khusus dalam pikiran untuk benar – benar menjadi sebuah
merek.
Permasalahanya bila merek tidak mendapat tempat khusus atau
berbeda dalam benak konsumen, maka akan memberi kesempatan bagi
para pesaing untuk menempati posisi dalam benak konsumen tersebut
dan merek itu menjadi kurang sejati. Oleh karena itulah maka
diperlukan apa yang dinamakan dengan merek sejati.
Merek sejati terdiri dari tiga hal yang merupakan sifat
fundamental yang membedakan merek sejati dalam benak konsumen
yakni internalisasi jumlah kesan – kesan, suatu khusus di “pikiran
(mind’s eye)” konsumen, dan manfaat – manfaat fungsional dan
emosional yang dirasakan. Secara definitif merek sejati dapat
dijelaskan sebagai internalisasi jumlah dari semua kesan yang diterima
para pelanggan dan konsumen yang dihasilkan dalam sebuah posisi
khusus di “pikiran” konsumen berdasarkan manfaat – manfaat
fungsional dan emosional. Cara yang paling mudah untuk
membedakan merek sejati dengan merek lain adalah dengan
melihatnya pada serangkaian kesatuan yang membandingkan
kekhususan relatif. Jika merek menjadi khusus dalam benak
konsumen, maka merek tersebut lebih mendekati definisi merek sejati.
Definisi lain tentang merek dijelaskan oleh Kotler dan Gary
Armstrong (2007: 70) dalam bukunya Dasar – Dasar Pemasaran
Principles of Marketing. Menurut mereka merek adalah nama, istilah,
tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari semua ini yang
dimaksudkan untuk mengenali produk atau jasa dari seseorang atau
penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. Jadi merek
mengidentifikasi pembuat atau penjual dari suatu produk. Merek juga
merupakan janji penjual untuk menyampaikan kesimpulan sifat,
manfaat, dan jasa spesifik secara konsisten kepada pembeli. Merek
dapat menyampaikan empat tingkat arti :
a. Atribut
Merek akan mengingatkan orang pada atribut tertentu.
Misalnya keawetan dan sebagainya sehingga hal ini memberikan
suatu landasan pemosisian bagi atribut lain dari produk tersebut.
b. Manfaat
Pelanggan tidak membeli atribut tetapi mereka membeli
manfaat dari produk tersebut. Oleh karena itu atribut harus
diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional.
c. Nilai
Merek juga mencerminkan sesuatu mengenai nilai – nilai
pembeli. Misalnya saja menilai prestasi, keamanan, dan prestise
tinggi suatu produk.
d. Kepribadian
Merek menggambarkan kepribadian. Merek akan menarik
orang yang gambaran sebenarnya dan citra dirinya cocok dengan
citra merek.

Kepercayaan Merek dan Loyalitas Merek


Menurut Chaudhuri & Holbrook dalam Mabkhot et al. (2017) kepercayaan merek
adalah kunci penentu utama loyalitas sikap dan loyalitas perilaku terhadap merek. Sikap
kepercayaan kepada merek berangkat berdasarkan pengalaman yang positif yang sebelumnya
sudah dialami konsumen terhadap merek. Sehingga suatu saat, saat konsumen hendak membeli
produk yang sama, maka konsumen tersebut akan membeli lagi produk merek yang sudah ia percayai. Menurut Rahmadani et al. (2022) persepsi yang ada di benak konsumen terhadap sebuah merek akan mengarahkan mereka terhadap rasa trust atau distrust.
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Marliawati & Cahyaningdyah
(2020) menemukan bahwa kepercayaan konsumen yang tinggi terhadap suatu merek
berpengaruh secara positif terhadap loyalitas merek. Ketika konsumen memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap merek, akan menumbuhkan sikap loyal dari konsumen kepada merek.

Kepribadian Merek dan Kepercayaan Merek


Menurut Aaker David (2011) kepribadian merek yang kuat akan membangun hubungan
antara merek dan konsumen serta sebagai sarana menarik konsumen. Menurut Kotler & Keller
(2012) kepribadian merek merupakan bentuk perpaduan dari kepribadian manusia yang dapat
dikaitkan dengan merek. Karakteristik merek mencerminkan karakteristik penggunanya.
Beberapa penelitian terdahulu telah dilakukan untuk meneliti pengaruh kepribadian merek
terhadap kepercayaan merek.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mabkhot et al. (2017) menunjukan bahwa
kepribadian merek dan kepercayaan merek berpengaruh positif. Menurut Andita et al. (2021)
menemukan semakin baik kepribadian merek, maka semakin meningkat pula kepercayaan
terhadap merek. Sehingga, kepribadian dari sebuah merek yang dirasa selaras atau cocok
dengan kepribadian konsumen akan menciptakan rasa percaya terhadap merek tersebut. Dari
dugaan tersebut, diharapkan dengan adanya kepribadian merek akan berdampak terhadap
terciptanya kepercayaan konsumen terhadap merek.

Citra Merek dan Kepercayaan Merek


Menurut Chaudhuri & Holbrook dalam Mabkhot et al. (2017) kepercayaan merek
merupakan kesediaan dari konsumen untuk mempercayakan suatu merek menjalankan
fungsinya sesuai kebutuhan yang diinginkan konsumen. Menurut Trifena & Hidayat (2018)
citra merek memainkan peran penting dalam pembentukan kepercayaan merek. Kepercayaan
merek memiliki fungsi atau peran untuk mengurangi rasa ketidakpastian dan resiko terhadap
suatu merek. Dimana hal ini yang akan mempengaruhi konsumen untuk memilih kembali
merek tersebut atau tidak dimasa depan..
Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Trifena & Hidayat (2018)
menemukan bahwa citra yang baik dari suatu merek membuat masyarakat juga memiliki
persepsi yang baik terhadap sebuah merek. Dengan citra merek yang positif akan membentuk
reputasi yang positif pula terhadap merek sehingga hal ini dapat berdampak pada kepercayaan
konsumen akan merek.

Kepribadian Merek dan Loyalitas Merek


Menurut Kotler & Keller (2012) kepribadian merek merupakan bentuk perpaduan dari
kepribadian manusia yang dapat dikaitkan dengan merek. Menurut Granti & Kissi (2019)
secara sistematis kesesuaian kepribadian merek dengan kepribadian konsumen akan
membentuk brand association, brand attachment, brand trust, dan brand loyalty. Kepribadian
merek yang kuat akan membangun hubungan antara merek dan konsumen. Dengan hubungan
yang kuat tersebut dapat menjadikan konsumen sebagai pelanggan yang setia dan loyal
terhadap merek. Menurut Adha & Utami (2021) menyatakan bahwa kepribadian merek yang
unggul dan sesuai dengan kepribadian konsumennya terbentuk dari adanya ikatan yang positif
antar konsumen dengan merek.

Kepercayaan Merek
Kepercayaan konsumen merupakan faktor yang sangat penting bagi sebuah merek.
Menurut Delgado & Fernandez (2016) kepercayaan merek merupakan kemampuan merek
untuk dapat dipercaya oleh konsumen karena merek mampu bertanggung jawab atas klaim atau
janji atas produknya. Menurut Chaudhuri & Holbrook dalam Mabkhot et al. (2017)
kepercayaan merek merupakan kesediaan dari konsumen untuk mempercayakan suatu merek
menjalankan fungsinya sesuai kebutuhan yang diinginkan konsumen. Kepercayaan merek
didukung atas pengalaman konsumen dalam menggunakan merek.
Menurut Mabkhot et al. (2017) konsumen yang percaya terhadap suatu merek akan
bersedia untuk tetap setia, tetap membeli produk atau merek baru yang dikenalkan di bawah
merek yang ia percayai, membayar harga yang tinggi, dan berbagi informasi tentang selera,
perilaku, dan preferensi konsumen. Menurut Nawaz & Usman (2011) kepercayaan terhadap
merek ada karena perusahaan berjanji untuk memberikan produk yang memenuhi harapan
konsumen dan perusahaan berhasil memenuhi janji tersebut. Sehingga penting bagi perusahaan
untuk terus menepati janji dan konsisten terhadap kualitas dan nilai yang ada dalam produknya.

Loyalitas Merek


Menurut Lee et al. (2016) loyalitas merek merupakan sebuah komitmen yang dimiliki
oleh sebuah merek untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang melakukan pembelian secara
berulang terhadap suatu produk. Loyalitas merek berkaitan dengan hubungan yang terbangun
antara merek dan pelanggan dalam jangka yang panjang. Pelanggan yang memiliki loyalitas
yang tinggi terhadap merek merupakan aset yang mahal bagi perusahaan, karena
perbandingannya akan lebih mudah dibanding untuk mendapatkan pelanggan baru. Menurut
Istanti (2023) dalam artikelnya berpendapat bahwa aset yang penting bagi perusahaan ialah loyalitas pelanggan karena loyalitas tersebut dapat mempertahankan kelangsungan hidup
perusahaan.
Menurut teori yang dikemukakan Oliver (1997), terdapat empat dimensi dari loyalitas
merek, yaitu :

Action, berfokus pada perubahan niat menjadi tindakan yang disertai dengan kemauan
untuk mengatasi hambatan yang ada.

Cognitive, berfokus pada atribut merek.

Affective, berfokus pada sikap positif berupa kesukaan terhadap merek.

Conative, berfokus pada pengembangan perilaku yang ditandai dengan komitmen terhadap
merek.

Kepribadian Merek


Menurut Kotler & Keller (2012) kepribadian merek merupakan bentuk perpaduan dari
kepribadian manusia yang dapat dikaitkan dengan merek. Menurut Adha & Utami (2021)
kepribadian merek yang sesuai dengan kepribadian membentuk ikatan yang positif antara
merek dengan konsumen. Berdasarkan teori yang dikemukakan Aaker dalam Mabkhot et al.
(2017) kepribadian merek dapat dikembangkan ke dalam dimensi yaitu sincerity (ketulusan),
excitement (kegembiraan), competence (kecakapan), sophistication (kecanggihan), ruggedness
(ketangguhan). Kepribadian merek mencerminkan kepribadian perusahaan, oleh sebab itu
penting bagi perusahaan untuk terus menyesuaikan dengan kepribadian konsumen. Menurut
Banerjee et al. (2016) konsumen cenderung lebih menyukai dan memilih merek yang mereka
rasa sesuai dan konsisten dengan kepribadian mereka yang akan menciptakan ketertarikan
untuk mendapatkan merek tersebut.
Menurut Cho & Auger (2017) jika brand personality dikelola dengan baik dapat
meningkatkan keterikatan dan keterlibatan. Seperti contoh, setiap merek memiliki
9
kepribadiannya masing-masing seperti elegan / lucu, feminin / maskulin, sederhana / mewah,
colorfull / monokrom, dan lain sebagainya, yang kemudian kepribadian dari merek tersebut
dicocokan dengan kepribadian diri mereka. Karakteristik merek inilah yang dapat menarik
konsumen karena merek dapat mencerminkan karakteristik dari dirinya (konsumen). Menurut
Yuntanti et al. (2019) kepribadian merek yang berbeda memainkan peranan penting dalam
kesuksesan suatu merek karena itu mengarahkan pelanggan untuk memahami dan membangun
hubungan yang kuat dengan merek. Menurut Granti & Kissi (2019) secara sistematis
kesesuaian kepribadian merek dengan kepribadian konsumen akan membentuk brand
association, brand attachment, brand trust, dan brand loyalty.

Pengaruh Promosi pada Media Sosial TikTok Terhadap KeputusanPembelian


Dalam penelitian Luh Kadek Budi Martini & Luh Komang Candra Dewi (2021)
mengemukakan bahwa menggunakan meda sosial sebagai alat promosi di internet
merupakan cara yang efektif untuk dapat mendapatkan konsumen baru serta
memperluas pasar. Hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk dunia memiliki akun
media sosial dan memungkinkan untuk saling menghubungkan satu orang dan yang
lainnya di seluruh dunia. Promosi di media sosial TikTok dapat menyampaikan
informasi dengan mudah dan cepat. Hal ini sangat memungkinkan untuk meningkatkan
brand awareness dengan biaya yang minim bahkan gratis. Dalam hasil penelitiannya
menyebutkan bahwa promosi menggunakan media TikTok berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian konsumen.

Pengaruh Harga Terhadap Keputusan Pembelian


Penetapan harga merupakan salah satu keputusan terpenting dalam sebuah
pemasaran. Harga adalah suatu nilai uang yang ditentukan oleh perusahaan sebagai
imbalan barang atau jasa yang diperdagangkan dan sesuatu yang lain yang diadakan
suatu perusahan guna memuaskan keinginan pelanggan (Gerung dkk, 2017). harga juga
merupakan alat yang nantinya dijadikan proses pertukaran terhadap suatu barang atau
jasa oleh konsumen (Riyono dan Budiharja, 2016). Menurut Alfian Alam Dwi Cahyo
(2023) dalam penelitiannya didapatkan hasil bahwa harga memilki pengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian sepatu aerostreet.

Pengaruh Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian


Citra merek (Brand Image) adalah nilai dan makna yang melekat pada
konsumen melalui suatu produk atau melayani (Keller, 2016). Citra merek (Brand
Image) adalah persepsi dan keyakinan yang dilakukan oleh konsumen, seperti
tercermin dalam asosiasi yang terjadi dalam memori konsumen (Lin et al, 2015).
Berdasarkan pengertian tersebut menunjukkan bahwa suatu merek akan kuat apabila
didasarkan pada pengalaman dan mendapat informasi yang banyak (Handayani et al,
2022). Dalam penelitan Alfian Alam Dwi Cahyo (2023) didapatkan hasil bahwa citra
merek memilki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian sepatu aerostreet.

Tahap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian


Menurut Sunarto, ada lima tahapan dalam pengambilan keputusan pembelian,
yaitu :

  1. Pengenalan Masalah
    Proses pembelian diawali dengan pengenalan masalah atau kebutuhan (need
    recognition). Pembeli menyadari suatu perbedaan antara keadaan sebenarnya
    dengan kekadaan yang diinginkannya. Kebutuhan itu dapat digerakkan oleh
    keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan itu dapat digerakkan oleh rangsangan
    internal (dari dalam diri pembeli) atau dari luar.
  2. Pencarian informasi
    Seorang konsumen yang telah tertarik mungkin mencari lebih banyak
    informasi. Jika dorongan konsumen begitu kuatnya dan prosuk yang
    memuaskan benda dalam jangkauan, konsumen kemungkinan besar akan
    membelinya. Jika tidak konsumen mungkin menyimpan kebutuhan dalam
    ingatan atau melakukan pencarian informasi (information research) yang
    berkaitan dengan kebutuhan itu.
  3. Evaluasi berbagai alternatif
    Orang pemasaran perlu mengetahui tentang evaluasi berbagai alternatif yaitu,
    bagaimana memproses informasi tidak menggunakan satu proses evaluasi
    sederhana dalam semua situasi pembelian. Sebaliknya, beberapa proses
    evaluasi digunakan sekaligus.
  4. Keputusan pembelian
    Dalam tahap evaluasi, konsume membuat peringkat atas mereka dan
    membentuk niat untuk membeli. Namun demikian, ada dua faktor yang dapat
    mempengaruhi maksud pembelian dan keputusan pembelian. Faktor pertama
    adalah sikap orang lain, seberapa jauh sikap pihak lain dapat mengurangi
    alternatif yang disukai sesorang

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Keller (2012) ada beberapa indikator keputusan pembelian,
yaitu sebagai berikut :

  1. Pilihan produk
    Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau
    menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini Perusahaan harus
    memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah
    produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan.
  2. Pilihan merek
    Pembeli harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli.
    Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini
    Perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
  3. Pilihan penyalur
    Pembeli harus mengambil keputusan penyalur mana yang akan dikunjungi.
    Setiap pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda dalam hal
    menentukan penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang
    murah, persediaan barang yang lengkap dan lain-lain.
  4. Waktu pembelian
    Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-beda,
    misalnya ; ada yang membeli setiap hari,satu minggu sekali, dua minggu sekali,
    tiga minggu sekali atau sebulan sekali.
  5. Jumlah pembelian
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang
    akan dibelinya pada suatu saat.pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari
    satu. Dalam hal ini Perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk sesuai
    dengan keinginan yang berbeda-beda dari para pembeli.
    Menurut Adriansyah (2012) indikator keputusan pembelian ada beberapa, yaitu
    sebagai berikut :
  6. Tujuan dalam membeli sebuah produk
  7. Pemrosesan informasi untuk sampai ke pemilihan produk
  8. Kemantapan pada sebuah produk
  9. Memberikan rekomendasi kepada orang lain
  10. Melakukan pembelian ulang

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah proses mengintegrasikan yang
mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua alternatif atau lebih, dan
memilih salah satu diantaranya (Sangadji dan Sopiah, 2013).
Keputusan pembelian merupakan suatu proses pengambilan keputusan akan
pembelian yang mencakup penentuan apa yang dibeli atau tidak melakukan pembelian
dan keputusan itu diperoleh dari kegiatan-kegiatan sebelumnya. Menurut Kotler dan
Amstrong (2014) menyatakan bahwa keputusan pembelian adalah tahap proses
keputusan dimana konsumen secara actual melakukan pembelian produk yaitu
beberapa tahapan yang dilakukan oleh konsumen sebelum melakukan keputusan
pembelian suatu produk.
Keputusan pembelian sebagai suatu keputusan konsumen yang dipengaruhi
oleh ekonomi keuangan, teknologi, politik, budaya, produk, harga, lokasi, promosi,
physical evidence, people, dan process, sehingga membentuk suatu sikap pada
konsumen untuk mengolah segala informasi dan mengambil kesimpulan berupa respon
yang muncul produk yang akan dibeli (Buchari Alma, 2013)

Indikator Media Sosial


Menurut (Ridwan, 2017) dari penelitian ilmu komunikasi sebelumnya tentang
pemasaran melalui media sosial, ada beberapa indikator media sosial dalam upaya
memasarkan produk, yaitu :
a. Frekuensi pesan
Frekuensi pesan adalah cara penyampaian suatu pesan yang cepat dan efisien
dengan tingkat tingginya frekuensi dalam penyebaran pesan sehinga pengguna
lebih cepat menerima informasi dari berbagai media.
b. Feedback pesan
Feedback pesan merupakan umpan balik pesan yang diberikan oleh konsumen
kepada penjual. Feedback pesan dapat dikatakan sebagai respon terhadap pesan
atau informasi pemasaran yang di sebarluaskan oleh penjual kepada konsumen.
c. Tingkat daya tarik pesan
Untuk menarik perhatian konsumen diperlukan daya tarik pesan yang menarik
dalam pemasaran dimana bisa terdiri atas bahasa yang digunakan, identitas,
kualitas, ataupun kreativitas.
d. Kejelasan/kelengkapan pesan
Kejelasan dan kelengkapan pesan merupakan upaya yang dilakukan para
penjual untuk memasarkan produk atau layanan jasa di berbagai platform media
agar konsumen terpengaruh untuk membeli dan tidak beralih ke produk sejenis
lainnya.

Efektivitas Media Sosial


Menurut Nasrullah (2015) media sosial paling baik dipahami sebagai suatu
kelompok baru dari online media, yang sebagian besar memiliki karakteristik sebagai
berikut :
a. Participation & Engagement, sosial media mendorong kontribusi dan umpan
balik dari semua orang yang tertarik. Hal ini mengaburkan batas antara sosial
media dan penonton.
b. Openness,sebagian besar layanan sosial media terbuka untuk menerima umpan
balik dari partisipasi. Mereka mendorong suara atau voting, komentar dan
membuat konten. Konten yang dilindungi password disukai pengguna.
c. Conversation, bila tradisional media berbicara tentang komunikasi broadcast
(konten yang ditransmisikan dan didistribusikan kepada penonton), sosial
media berbicara tentang komunikasi yang lebih baik, yaitu metode percakapan
komunikasi dua arah.
d. Community, sosial media memungkinkan komunikasi untuk terbentuk dengan
cepat dan sapat berkomunikasi dengan efektif. Komunikasi berbagai minat
yang sama, seperti pecinta fotografi, masalah politik, masalah musik atau
hiburan, ataupun sebuah acara TV favorit.
e. Connectedness, sebagian besar jenis sosial media berkembang karena
keterhubungan mereka, yaitu dengan cara memanfaatkan link yang
mengarahkan untuk berpindah ke sumber website yang lain.

Indikator Promosi


Menurut Kotler dan Keller (2016) menyatakan ada beberapa indkator yang
dapat mengukur promosi, adalah sebagai berikut :

  1. Pesan promosi
    Adalah tolak ukut seberapa baik pesan promosi dilakukan dan disampaikan ke
    konsumen atau pasar.
  2. Media promosi
    Adalah media yang dipilih dan digunakan oleh Perusahaan untuk melakukan
    promosi.
  3. Waktu promosi
    Adalah seberapa lama waktu Perusahaan untuk melakukan program promosi.
  4. Frekuensi promosi
    Adalah jumlah promosi penjualan yang dilakukan dalam suatu waktu oleh
    Perusahaan melalui media promosi penjualan

Fungsi Promosi


Adapun fungsi dari promosi yang dikemukakan oleh Ririyanti (2013) adalah
sebagai berikut :

  1. Menarik perhatian konsumen
    Menciptakan perhatian konsumen menjadi hal penting dalam mendorong suatu
    pembelian pada suatu produk, dengan melakukan promosi yang gencar,
    membuat promosi dengan semenarik mungkin, menyebarluaskan promosi ke
    berbagai media, maka dapat menarik konsumen untuk memutuskan pembelian
    (Suparyanto dan Rosad, 2015).
  2. Penyampaian pesan di media promosi
    Promosi penjualan merupakan aktivitas pemasaran yang mengusulkan nilai
    tambah dari suatu produk dalam jangka waktu tertentu untuk menumbuhkan
    minat pembelian konsumen, efektivitas penjualan atau mendorong upaya yang
    dilakukan oleh tenaga penjualan (Hermawan, 2015).
  3. Mengembangkan rasa ingin memiliki produk
    Perusahaan melakukan promosi dnegan tujuan untuk menarik konsumen
    supaya dapat mengembangkan rasa ingin memiliki produk tersebut, sehingga
    konsumen semakin dekat untuk membeli suatu produk (Ririntiyani, 2013)

Promosi


Promosi adalah salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat
penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk jasa. Kegiatan
promosi bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi antara Perusahaan dengan
konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk memperngaruhi konsumen dalam
kegiatan pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya
(Lupiyoadi, 2006).
Promosi merupakan salah satu unsur dalam bauran pemasaran perusahaan yang
didayagunakan untuk memberitahukan, membujuk, dan mengingatkan tentang produk
perusahaan (Rangkuti, 2009).
Promosi adalah aktivitas yang mengkomunikasikan keunggulan produk dan
membujuk pelanggan untuk membeli produk itu (Kotler dan Amstrong, 2014).
Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dapat mengarahkan
suatu organisasi atau seseorang untuk menciptakan suatu transaksi antara penjual dan
pembeli.

Indikator Harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2008) dalam Pradana et al., (2017) indikator
harga adalah sebagai berikut:

  1. Harga terjangkau oleh kemampuan daya beli konsumen.
    Harga yang terjangkau adalah harapan konsumen sebelum mereka melakukan
    pembelian. Konsumen akan mencari produk-produk yang harganya dapat
    mereka jangkau.
  2. Kesesuaian antara harga dengan kualitas.
    Untuk produk tertentu, biasanya konsumen tidak keberatan apabila harus
    membeli dengan harga relatif mahal asalkan kualitas produknya baik. Namun
    konsumen lebih menginginkan produk dengan harga murah dan kualitasnya
    baik.
  3. Harga memiliki daya saing dengan produk lain yang sejenis.
    Perusahaan menetapkan harga jual suatu produk dengan mempertimbangkan
    harga produk yang dijual oleh pesaingnya agar produknya dapat bersaing di
    pasar.

Harga


Harga merupakan sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen untuk
mendapatkan keuntungan memiliki dan menggunakan produk atau jasa yang
memungkinkan perusahaan mendapatkan laba yang wajar dengan cara dibayar untuk
mendapatkan nilai pelanggan yang diciptakan (Kotler dan Amstrong, 2012).
Harga merupakan salah satu faktor penentu dalam pemilihan merek yang
berkaitan dengan keputusan konsumen dalam pembelian (Dananjaya, 2014).
Guntur (2010) dalam Farisi (2018) mendefinisikan bahwa harga adalah
sejumlah uang yang ditagihkan atas suatu produk maupun jasa atau jumlah dari nilai
yang ditukarkan para pelanggan untuk memperoleh manfaat atas kepemilikan atau
penggunaan dari suatu produk maupun jasa.

Faktor-faktor pembentuk citra merek


Schiffman dan Kanuk (Widianingsih, 2009) menyebutkan faktor-faktor
pembentuk citra merek adalah sebagai berikut :

  1. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang dan jasa yang
    ditawarkan oleh produsen.
  2. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat atau kesepakatan
    yang dibentuk oleh Masyarakat tentang suatu produk atau jasa yang
    dikonsumsi.
  3. Kegunaan atau manfaat yang terkait dengan fungsi dari suatu produk atau jasa
    yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
  4. Pelayanan, yang berkaitan dengan tugas produsen dalam melayani konsumen.
  5. Resiko, berkaitan dengan besar kecilnya akibat atau untung rugi yang mungkin
    dialami oleh konsumen.
  6. Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
    sedikitnya jumlah biaya yang dikeluarkan konsumen untuk menempuh studi.
  7. Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan,
    kesepakatan, dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek tertentu

Komponen Citra Merek


Menurut Keller (1993), brand image atau citra merek merupakan persepsi
mengenai sebuah merek sebagaimana direfleksikan oleh asosiasi merek yang terdapat
dalam benak konsumen. Adapun komponen-komponen yang terkandung dalam citra
merek atau brand mage antara lain yaitu sebagai berikut :
a. Atribut (Attributes)
Hal-hal yang ada di dalam komponen atribut yaitu :

  1. Atribut produk (Product related attributes). Merupakan bahan-bahan yang
    diperlukan agar fungsi produk yang dicari konsumen dapat bekerja.
    Berhubungan dengan komposisi fisik atau persyaratan dari suatu jasa yang
    ditawarkan, dapat berungsi.
  2. Atribut non-produk (Non-product related attributes). Meru[akan aspek
    eksternal dari suatu produk yang berhubungan dengan pembelian dan
    konsumsi suatu produk atau jasa. Terdiri dari : informasi tentang harga,
    kemasan dan desain produk, orang, per group atau selebriti yang
    menggunakan produk atau jasa itu digunakan.
    b. Keuntungan (Benefits)
    Benefit adalah nilai personal yang dikaitkan oleh konsumen pada atribut-atribut
    produk atau jasa tersebut. Adapun hal-hal yang perlu ada dalam komponen
    benefit adalah :
  3. Functional benefit. Berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar
    seperti kebutuhan fisik dan keamanan atau pemecahan masalah.
  4. Experiental benefits. Berhubungan dengan perasaan yang muncul dengan
    menggunakan suatu produk atau jasa. Benefit ini memuaskan kebutuhan
    bereksperimen seperti seperti kepuasan sensori.
  5. Symbolic benefits. Berhubungan dengan kebutuhan akan persetujuan sosial
    atau ekspresi personal dan self-esteem seorang.konsumen akan menghargai
    nilai-nilai prestise, eksklusivitas dan gaya fashion merek karena hal-hal
    berhubungan dengan konsep diri mereka.
    c. Sikap merek (brand attitude)
    Sikap merek atau brand attitude adalah evaluasi keseluruhan atas merek, apa
    yang dipercayai oleh konsumen mengenai merek-merek tertentu sejauh apa
    konsumen pervcaya bahwa produk atau jasa tersebut memiliki atribut atau
    keuntungan tertentu, dan penilaian evaluative terhadap kepercayaan tersebut
    bagaimana baik atau buruknya suatu produk jika memiliki atribut atau
    keuntungan tersebut.

Indikator Citra Merek


Menurut Indratama dan Artanti (2014), citra merek dapat dilihat melalui
beberapa aspek-aspek atau indikator khususnya sebagai berikut :
a. Kekuatan (strength)
Strength atau kekuatan mengarah pada berbagai keunggulan-keunggulan
yang dimiliki brand bersangkutan yang bersifat fisik, dan tidak ditemukan
pada brand lainnya. Keunggulan sehingga bisa dianggap sebagai sebuah
kelebihan dibandingkan brand lainnya. Termasuk pada kelompok strength
ini antara lain :

  • Penampilan fisik produk
  • Keberfungsian semua fasilitas dari produk
  • Harga produk
  • Penampilan fasilitas pendukung dari produk bersangkutan
    Strength adalah kekuatan asosiasi brand tergantung pada bagaimana
    informasi masuk ke dalam ingatan konsumen dan bagaimana proses
    bertahan sebagai bagian dari brand image.
    b. Keunikan (uniqueness)
    Uniqueness atau keunikan adalah kemampuan untuk membedakan sebuah
    brand diantara brand-brand lainnya. Kesan unik ini muncul dari atribut
    produk, kesan unik berarti terdapat diferensiasi antara produk satu dengan
    produk lainnya. Termasuk dalam kelompok unik ini antara lain :
  • Variasi layanan
  • Harga
  • Diferensiasi
    c. Kesukaan (favourable)
    Favourable atau kesukaan mengarah pada kemampuan brand tersebut untuk
    mudah diingat oleh pelanggan. Termasuk dalam kelompok favourable ini
    antara lain :
  • Kemudahan brand produk untuk diucapkan
  • Kemampuan brand untuk tetap diingat pelanggan
  • Kesesuaian antara kesan brand di benak pelanggan dengan image yang
    diinginkan Perusahaan

Citra Merek


Dapat didefinisikan bahwa citra merek adalah suatu penggambaran sifat–sifat
ekstrinsik produk maupun layanan, termasuk usaha merek dalam memenuhi kebutuhan
sosial ataupun psikologis bagi pelanggannya (Kotler & Keller, 2016). Citra merek
merupakan keseluruhan persepsi terhadap produk atau merek yang dibentuk dari
informasi dan pengalaman masa lalu terhadap produk atau merek itu (Dedhy Pratama,
2017).
Citra merek ((brand image) merupakan serangkaian asosiasi yang ada dalam
benak konsumen terhadap suatu merek (Alma, 2004:375). Hubungan terhadap suatu
merek akan semakin kuat jika berdasarkan pengalaman dan berbagai informasi.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa citra merek merupakan
sebuah pemikiran yang ada didalam benak masyarakat tentang suatu barang atau jasa
yang telah mereka kenal dan telah mereka gunakan atau dikonsumsi.
Citra merek (brand image) adalah serangkaian asosiasi yang dipersepsikan oleh
individu sepanjang waktu, sebagai hasil pengalaman langsung maupun tidak langsung
atas sebuah merek (Tjiptono, 2011). Menurut Setiadi (2013) brand image adalah
representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman masa lalu terhadap merek itu. Citra produk yang baik akan
menguntungkan perusahaan karena secara tidak sadar konsumen akan
merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain. Sebaliknya, citra produk yang
buruk akan menyebabkan konsumen menyebarkan informasi buruk kepada orang lain.

Hubungan Brand Image Memediasi Pengaruh Kualitas Produk terhadapKeputusan Pembelian


Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh (Setiadi & Ekawati, 2019)
mengenai peran brand image memediasi pengaruh kualitas produk terhadap
keputusan pembelian didapatkan hasil bahwa brand image mampu memediasi
pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian. Hal ini menunjukan brand
image memediasi pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian secara
parsial, dengan kata lain brand image memperkuat pengaruh kualitas produk terhadap
keputusan pembelian. Penelitian selanjutnya diuji oleh (Darmajaya & Sukawati,
2018), (Oktavenia & Ardani, 2019) mengenai peran brand image memediasi
pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian didapatkan hasil bahwa
peran brand image secara signifikan memediasi pengaruh kualitas produk terhadap
keputusan pembelian

Hubungan Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Suryantari & Respati, 2022)
mengenai pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian didapatkan hasil
bahwa brand image berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan
pembelian. Hal ini menyatakan bahwa semakin tinggi brand image, maka keinginan
pelanggan untuk melakukan pembelian akan semakin meningkat. Penelitian
selanjutnya dicoba oleh (Anisa & Telagawathi, 2018) mengenai pengaruh brand
image terhadap keputusan pembelian dan didapatkan hasil yang menyatakan bahwa
brand image memengaruhi keputusan pembelian Milo Activ-Go UHT di PT Graha
Artha Persada secara positif serta signifikan. Brand Image bisa menetapkan
pandangan pelanggan pada suatu barang atau jasa sebelum mengambil keputusan
pembelian. Dimana jika citra merek suatu produk baik maka akan memengaruhi
konsumen untuk melakukan keputusan pembelian

Hubungan Kualitas Produk Terhadap Brand Image


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Setiadi & Ekawati, 2019)
mengenai pengaruh kualitas produk terhadap brand image didapatkan hasil
menunjukkan bahwa kualitas produk secara signifikan berpengaruh positif terhadap
brand image. Hal tersebut menunjukan semakin baiknya kualitas produk yang
diberikan oleh smartphone Oppo maka akan meningkatkan brand image dari
smartphone Oppo di Kota Denpasar. Penelitian selanjutnya dicoba oleh (Sanjiwani &
Suasana, 2019) mengenai kualitas produk terhadap brand image. Terdapat hasil yang
menunjukkan bahwa kualitas produk secara signifikan berpengaruh terhadap brand
image Miniso di Kota Denpasar. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin bagus
kualitas produk yang ditawarkan oleh Miniso semakin baik juga brand image yang
ditanamkan oleh konsumen pada produk Miniso.

Hubungan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Terdapat penelitian yang dilakukan oleh (Oktavenia & Ardani, 2019)
mengenai pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian, berdasarkan hasil
penelitian tersebut bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap
keputusan pembelian, bahwa semakin tinggi kualitas produk yang ditawarkan
handphone Nokia kepada masyarakat, maka semakin tinggi keputusan mereka untuk
membeli produk tersebut. Secara keseluruhan kualitas produk handphone Nokia
cukup tinggi, karena produk tersebut memiliki keistimewaan yang tidak ada produk
handphone yang lainnya. Penelitian selanjutnya diuji oleh (Darmajaya & Sukawati,
2018), (Suryantari & Respati, 2022) mengenai kualitas produk terhadap keputusan
pembelian terdapat hasil bahwa kualitas produk secara positif berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian.

Keputusan Pembelian


Menurut Yusuf, et al. (2020) menyatakan bahwa keputusan pembelian
merupakan sebuah pendekatan penyelesaian masalah pada sebuah kegiatan manusia
dalam membeli suatu produk guna memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.
Keputusan merupakan pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan, artinya untuk
mengambil sebuah keputusan harus terdapat pilihan lain, sebaliknya jika konsumen
tidak memiliki alternatif lain untuk memilih maka tidak dapat dikategorikan sebagai
pengambilan keputusan (Jaelani, 2018). Sedangkan menurut Lubis (2018) keputusan
pembelian merupakan tahap dari evaluasi para konsumen menyusun dari beberapa
peringkat barang dalam barang pilihannya, yang dimana tahap evaluasi itu akan
menimbulkan hasrat pembelian, sehingga para konsumen akan membeli barang yang
disukainya. Pentingnya sebuah keputusan pembelian bagi para konsumen adalah
untuk mengetahui produk apa yang akan di beli dari evaluasi beberapa pilihan
alternatif produk yang tersedia. Menurut Kotler, et al. (2022, p. 91-97) keputusan
pembelian tersebut memiliki beberapa indikator, yaitu:
1) Pengenalan masalah, yaitu pada tahap pertama ini konsumen menyadari sebuah
masalah akan kebutuhan konsumen, pada bagian ini pemasar harus tau apa yang
dibutuhkan konsumen dan yang di inginkan dengan mencari tau dari beberapa
konsumen.
2) Pencarian informasi, yaitu pada tahap kedua ini konsumen terdorong untuk
mencari sebuah informasi mengenai produk tersebut sesuai dengan kebutuhan
yang diinginkannya, informasi mengenai produk tersebut melalui berbagai macam
yaitu, social media, teman dan keluarga.
3) Evaluasi alternatif, yaitu pada tahap ketiga ini konsumen akan dihadapkan pada
beberapa pilihan produk yang akan dibeli. Disini konsumen akan mengevaluasi
dari produk yang akan dibeli yaitu konsumen akan mencari produk yang
diinginkan dan dibutuhkan, lalu konsumen akan melihat manfaat yang diberikan
produk tersebut, serta konsumen akan menilai perbedaan produk satu dengan yang
lainnya dalam memenuhi kebutuhan konsumen.
4) Keputusan membeli, yaitu pada tahap evaluasi konsumen benar-benar menilai
produk mana yang sesuai dengan kebutuhan nya, lalu konsumen memiliki niat
untuk membeli produk tersebut yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan nya
sehingga konsumen memutuskan pembelian.
5) Perilaku pasca pembelian, yaitu konsumen akan menilai sendiri sebuah produk
yang dibeli setelah melakukan pembelian, setelah konsumen menggunakan produk
tersebut dan mereka merasa puas dan terdapat kesan yang positif maka konsumen
akan melakukan pembelian ulang tetapi jika konsumen tidak merasa puas dan
tidak sesuai harapan maka konsumen tidak akan membeli kembali produk tersebut.

Brand Image


Brand menurut Lalaounis (2021, p. 18) merupakan nama, istilah, tanda,
simbol, desain, atau kombinasi dari semua yang dimaksudkan untuk
mengidentifikasi barang dan jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk
membedakannya dari pesaing. Brand Image merupakan kesan, keyakinan dan ide
yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu merek. Brand image menurut Maitriani
& Nizar (2020) adalah persepsi atau pemahaman seorang konsumen tentang sebuah
merek yang dimana tertanam dibenak seseorang konsumen dan asosiasi yang muncul
di pikiran ketika mendengar sebuah nama atau slogan. Merek sangat penting bagi
konsumen karena merek merupakan perangkat simbolis dari sebuah brand itu sendiri,
Merek memungkinkan konsumen untuk memuaskan tidak hanya untuk kebutuhan
fungsional mereka tetapi juga kebutuhan emosional mereka (Lalaounis, 2021, p. 31).
Citra terhadap merek berhubungan dengan sebuah keyakinan calon pembeli untuk
mengambil keputusan pembelian, pelanggan atau konsumen yang memilik citra yang
baik terhadap suatu merek, akan lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian
produk. Konsumen cendrung akan lebih memilih merek yang sudah dikenal karena
mereka akan merasa aman dan percaya dengan sesuatu yang sudah dikenal dan
kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan (Agustini & Suasana, 2020). Dapat
disadari secara tidak langsung baik dan buruknya sebuah citra merek dapat ditentukan
sejak konsumen melihat produk dari sebuah merek hingga konsumen telah membeli
atau menggunakan produk tersebut. Hal tersebut akan membuat konsumen memilih
produk dari merek mana yang memiliki kualitas yang baik dan yang sama sekali tidak
memiliki kualitas (Amalia, 2019).
Selanjutnya, menurut Febriani & Khairusy (2020) bahwa citra merek yang
baik akan meyakinkan konsumen untuk mengambil keputusan pembelian produk
karena karakteristik produk seperti kualitas, desain, dan daya tarik produk mampu
menunjukkan kemampuannya memenuhi kebutuhan konsumen sehingga menciptakan
asosiasi yang positif terhadap merek. Menurut Lalaounis (2021, p. 50)
menyampaikan bahwa ada beberapa faktor yang membentuk indikator-indikator citra
merek, yakni:
1) Kekuatan asosiasi merek, yaitu hal ini mengenai bagaimana suatu informasi bisa
masuk, terproses dan tertanam didalam benak konsumen sehingga menjadi bagian
dari citra merek.
2) Keuntungan asosiasi merek, yaitu hal ini mengenai bagaimana perusahaan
berhasil mendapatkan kepercayaan konsumen dan unggul dalam persaingan
terhadap kualitas yang diberikan dan dapat memenuhi kebutuhan serta
memuaskan konsumen.
3) Keunikan asosiasi merek, yaitu hal ini mengenai sebuah merek harus unggul dan
memiliki ciri khas atau daya tarik tersendiri terhadap fungsi produk, atribut
produk dan citra produk yang diminati konsumen.

Kualitas Produk


Menurut Kumbara (2021) menyatakan bahwa kualitas produk merupakan
kemampuan sebuah produk untuk menunjukkan fungsinya dalam memuaskan
kebutuhan dan keinginan konsumen. Kemampuan tersebut termasuk ketelitian, daya
tahan dan kehandalan yang terdapat pada produk secara keseluruhan. Artinya, sebuah
brand harus berusaha meningkatkan kualitas produknya, karena semakin baik
kualitas produk yang diberikan kepada konsumen semakin tercapai harapan
konsumen terhadap produk tersebut (Putri, 2022, p. 1) Sehingga, suatu produk dapat
dikatakan semakin berkualitas apabila semakin memenuhi harapan konsumen
(Martiana & Apriani, 2019). Hal ini bertujuan untuk menjaga agar produk yang
dihasilkan bisa memenuhi standar yang sudah ditetapkan sehingga konsumen tidak
akan kehilangan kepercayaan terhadap produk yang bersangkutan.
Pengalaman pelanggan dalam membeli produk yang baik atau buruk akan
mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian Kembali atau tidak
(Sukmawati, 2018). Oleh karena itu, pelaku usaha harus mampu menciptakan produk
yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. kebutuhan yang tidak dapat
memenuhi harapan konsumen, haruslah cepat direspon oleh pelaku usaha, yaitu
dengan upaya pengembangan produk sesuai dengan harapan konsumen tersebut. Jika
hal tersebut dapat dilaksanakan oleh sebuah brand, maka brand tersebut tetap dapat
memuaskan para konsumen dan dapat menambah jumlah konsumen (Kumbara,
2021). Adapun indikator kualitas produk menurut Kotler, et al. (2022, p. 187-188)
adalah sebagai berikut:
1) Fungsi inti, untuk menciptakan nilai pelanggan dan memberikan manfaat
2) Fitur, karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi produk
atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
3) Kualitas Kinerja, berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah
produk.
4) Kesesuaian dengan spesifikasi, sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah
produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukannya
cacat pada produk.
5) Daya Tahan, berapa lama umur produk yang bersangkutan dapat bertahan sebelum
produk tersebut harus diganti, semakin tinggi tingkat frekuensi pemakaian
konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya tahan produk.
6) Keandalan, ukuran probabilitas bahwa suatu produk tidak akan mengalami
kerusakan dalam jangka waktu tertentu.
7) Membentuk, produk dapat dibedakan berdasarkan bentuk, ukuran dan struktur
fisik suatu produk
8) Gaya, berhubungan dengan bagaimana tampilan sebuah produk dan mempunyai
ciri khas yang sulit ditiru
9) Desain, fitur yang mempengaruhi tampilan, rasa dan fungsi dari sebuah produk
sesuai dengan kebutuhan pelanggan

Hubungan EWOM terhadap minat beli melalui citra merek


Hasil penelitian pengaruh ewom terhadap minat beli melalui citra merek
dijelaskan oleh Zahra Noor Eriza (2017) dalam hasil penelitiannya yang
menyatakan bahwa hubungan langsung dan hubungan tidak langsung sama-sama
signifikan. Hal ini berarti EWOM berpengaruh signifikan dan positif secara
langsung terhadap minat beli. Dan EWOM juga berpengaruh signifikan dan
positif secara tidak langsung terhadap minat beli yang dimediasi oleh variabel
citra merek.

Hubungan Antara Citra Merek Dengan Minat Beli


Hasil penelitian pengaruh citra merek terhadap minat beli dijelaskan oleh
(Semuel & Lianto, 2014) dalam hasil penelitiannya bahwa variabel citra merek
terbukti berpengaruh signifikan terhadap minat beli dengan nilai tvalue sebesar
4,331. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa citra merek yang baik pada
produk smartphone berpengaruh kepada minat beli

Hubungan Antara Electronik word of mouth dengan minat beli


Hasil penelitian pengaruh EWOM terhadap Minat Beli telah dijelaskan oleh
(Jalilvand & Samiei, 2012), dalam hasil penelitiannya bahwa EWOM berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Minat Beli. Hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh (Semuel & Lianto, 2014), bahwa variabel EWOM terbukti secara
signifikan mempengaruhi Minat Beli. Semakin baik atau bagus review seseorang
tentang suatu produk maka akan menimbulkan minat beli yang tinggi.

Hubungan Antara Electronik word of mouth dengan citra merek


Hasil penelitian pengaruh EWOM terhadap citra merek dijelaskan oleh
(Semuel & Lianto, 2014) dalam hasil penelitiannya bahwa variabel EWOM
terbukti berpengaruh terhadap citra merek. Nilai tvalue sebesar 9,360 menunjukkan
bahwa pengaruh EWOM terhadap citra merek adalah signifikan. Hal ini berarti
kualitas dari EWOM memiliki pengaruh positif terhadap citra merek dan dapat
mendorong timbulnya citra merek.

Indikator citra merek


Mengacu pada pendapat Kotler dan Keller (2010) citra merek merupakan
kesan yang diperoleh pelanggan setelah menggunakan produk dapat diukur
menggunakan indikator (Rizan, 2012):

  1. Strengthness (Kekuatan)
    Suatu keunggulan yang dimiliki oleh Emina yang membuat citra merek
    menjadi baik.
  2. Uniqueness (Keunikan)
    Suatu keunikan yang dimiliki oleh Emina yang membuat berbeda dengan
    pesaingnya.
  3. Favorable (Kesukaan)
    Suatu kemudahan konsumen dalam mengetahui atau mendapatkan produk.

Citra Merek


Merek adalah gabungan dari simbol,nama,tanda,istilah,desain yang
digunakan sebagai identitas produk atau jasa untuk membedakan dengan pesaing
lainya (Keller , 2013) sebelum melakukan pembelian konsumen terlebih dahulu
memilih dan membandingkan antara produk satu dengan produk yang lain.
dengan reputasi merek yang kuat akan menjadikan konsumen merasa lebih
nyaman dan reliable terhadap suatu produk atau jasa (Kotler dan Keller,2010)
Kepercayaan konsumen terhadap citra merek digunakan sebagai dasar
dalam menetapkan minat beli serta dapat mengatasi kebingungan konsumen
dalam memilih serta membedakan antara produk satu dengan produk lainya di
pasaran (Tulipa & Muljani, 2015). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
oleh (Tulipa & Muljani, 2015). menghasilkan bahwa citra merek berpengaruh
positif terhadap minat beli, dengan adanya citra merek pada konsumen suatu
produk maka minat beli akan meningkat

Dimensi Electronic Word Of Mouth


e-WOM dibagi dalam tiga dimensi (Goyette , Ricard, Bergeron, & Marticotte,
2010) yaitu:

  1. Intensity (intensitas)
    e-WOM adalah banyaknya pendapat yang ditulis konsumen dalam sebuah situs
    jejaring sosial. Intensity terdiri dari indikator sebagai berikut:
    a. Frekuensi mengakses informasi dari situs jejaring sosial
    b. Frekuensi interaksi dengan pengguna situs jejaring sosial
    c. Banyaknya ulasan yang ditulis oleh pengguna situs jejaring sosial.
  2. Valence of Opinion
    Merupakan pendapat konsumen baik positif atau negatif mengenai produk.
    Valence of Opinion memiliki dua sifat yaitu negatif dan positif. Valence of
    opinion meliputi:
    a. Komentar positif dari pengguna situs jejaring sosial.
    b. Rekomendasi dari pengguna situs jejaring sosial,
    c. Content
    Merupakan isi informasi dari situs jejaring sosial berkaitan dengan produk.
    Indikator dari content meliputi:
    1) Informasi variasi produk.
    2) Informasi kualitas produk.
    3) Informasi mengenai harga produk.
    EWOM yang dimaksud dalam penelitian ini adalah komunikasi dari mulut
    ke mulut yang positif yaitu ketika konsumen merasa puas dalam membeli atau
    memakai suatu produk, maka konsumen tersebut akan cenderung menceritakan
    pengalamannya kepada konsumen lain atau orang-orang terdekatnya atau
    melakukan review-review melalui media internet terhadap kosmetik Emina
    Sehingga konsumen lain atau orang-orang terdekatnya tersebut cenderung akan
    melakukan pembelian karena pengalaman konsumen lain yang menunjukkan
    sikap puasnya terhadap suatu produk.

Electonic Word Of Mouth (e-Wom)


Salah satu jenis bauran pemasaran yaitu promosi yang terdiri dari beberapa
alat komunikasi pemasaran atau yang disebut bauran komunikasi. Menurut Kotler
dan Armstrong (2012) komunikasi pemasaran adalah sarana yang digunakan
perusahaan untuk menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen
baik secara langsung atau tidak langsung tentang suatu merek yang dijual. Bauran
komunikasi salah satunya yaitu word of mouth marketing.
Menurut Paul Peter dan Jerry (2000) Word of mouth merupakan salah satu
strategi promosi yang dilakukan oleh pemasar. Word of Mouth adalah metode
penyebaran kesadaran produk hingga menjangkau konsumen diluar mereka
dengan melakukan kontak langsung untuk mempromosikan suatu produk.
Konsumen dapat berbagi informasi dengan konsumen lain dengan cara tatap muka
secara langsung mengenai informasi suatu produk.
Word of mouth adalah saluran komunikasi informal utama konsumen yang
dilakukan dengan cara tatap muka secara langsung antara konsumen satu dengan
konsumen yang lain. Hal ini dapat mempengaruhi keputusan jangka pendek dan
jangka panjang konsumen untuk membeli suatu produk. Komunikasi dari mulut
ke mulut ini dapat mempengaruhi beberapa macam kondisi, yaitu kesadaran,
harapan, persepsi, sikap, keinginan berbuat, dan perilaku. Perilaku yang
dimaksudkan adalah perilaku konsumen dalam melakukan keputusan pembelian
yang diawali dari minat beli konsumen terhadap suatu produk (Eriza, 2017).
Menurut Kotler dan Keller (2008) saluran komunikasi personal dalam
ucapan atau perkataan dari mulut ke mulut (WOM) bisa menjadi metode promosi
yang efektif karena pada umumnya disampaikan dari konsumen oleh konsumen
dan untuk konsumen, sehingga konsumen yang puas dapat menjadi media iklan
bagi perusahaan.
Seiring berkembangnya teknologi internet memungkinkan konsumen
untuk berinteraksi dengan konsumen lainnya secara efektif dan efisien melalui
situs jejaring sosial atau yang sekarang lebih dikenal dengan electronic word of
mouth (EWOM). EWOM adalah pernyataan positif atau negatif yang dibuat oleh
konsumen potensial, konsumen riil atau mantan konsumen tentang suatu produk
yang dapat diakses oleh banyak orang (Hennig-thurau, et al, 2004).
EWOM dianggap sebagai evolusi dari komunikasi tradisional tatap muka
secara langsung menjadi lebih modern dengan bantuan cyberspace atau sebuah
media elektronik dalam jaringan komputer yang banyak dipakai untuk keperluan
komunikasi satu arah maupun imbal baik melalui internet.
EWOM adalah bentuk kesediaan konsumen yang secara sukarela
memberikan rekomendasi kepada orang lain untuk membeli atau menggunakan
produk suatu perusahaan melalui internet. Dengan adanya Internet memunculkan
bentuk-bentuk baru dari komunikasi yang berdampak bagi perusahaan dan
konsumen untuk meningkatkan komunikasi pemasaran yang lebih baik dan
memungkinkan konsumen untuk berbagi informasi (Syafaruddin, Suharyono, &
Kumadji, 2016)
EWOM bukan merupakan komunikasi yang murni interpersonal karena
dapat diakses oleh banyak orang, tetapi juga bukan merupakan komunikasi massa
karena hanya ditujukan kepada orang tertentu secara spesifik. EWOM merupakan
media komunikasi yang digunakan untuk saling berbagi informasi mengenai suatu
produk yang telah dikonsumsi antar konsumen yang tidak saling mengenal dan
bertemu sebelumnya (Diansyah & Nurmalasari, 2017).
Perbedaaan antara WOM dan EWOM terdapat pada media yang
digunakan. WOM tradisional biasanya bersifat face-to-face. Sedangkan EWOM
bersifat online. Seiring berkembangnya teknologi, WOM telah berubah dari faceto-face menjadi cyberspace. Aksebilitas tinggi EWOM yang dapat mencapai
jutaan orang, dapat dilakukan untuk jangka waktu yang panjang, dan dapat
ditemukan oleh siapa saja yang tertarik pada produk tertentu. Karakterisitik khas
EWOM adalah dapat memungkinkan pengguna web untuk mengembangkan
hubungan virtual dan community (Semuel & Lianto, 2014).

Indikator Minat Beli


Menurut Kotler dan Keller (2010) minat beli dapat diidentifikasi melalui
indikator-indikator sebagai berikut:

  1. Minat transaksional
    Kecenderungan seseorang untuk membeli produk.
  2. Minat refrensial
    Kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang
    lain.
  3. Minat preferensial
    Minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki prefrensi
    utama pada produk tersebut
  4. Minat eksploratif
    Minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari
    informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk
    mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.

Minat Beli


Menurut Philip Kotler (2000) minat sebagai dorongan, yaitu rangsangan
internal yang kuat yang memotivasi tindakan, dimana dorongan tersebut
dipengaruhi oleh perasaan positif terhadap suatu produk. Minat beli adalah
sesuatu yang timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihat,
kemudian timbul suatu ketertarikan untuk membeli dan memilikinya.
Minat beli konsumen timbul dengan sendirinya jika konsumen merasa
tertarik dan memberikan respon yang positif terhadap suatu produk maka
konsumen kemungkinan besar akan melakukan pembelian. Minat beli merupakan
instruksi pada diri konsumen untuk melakukan pembelian terhadap suatu produk,
melakukan perencanaan, mengambil tindakan seperti mengusulkan,
merekomendasikan, memilih dan akhirnya mengambil keputusan untuk membeli.
Menurut Simamora (2004) minat beli merupakan sesuatu yang pribadi
yang berhubungan dengan sikap individu terhadap suatu produk yang memiliki
kekuatan dan dorongan melakukan tindakan untuk mendapatkan produk. Minat
beli merupakan kelanjutan perhatian yang merupakan titik tolak terhadap
timbulnya keinginan untuk melakukan kegiatan yang diharapkan. Minat muncul
akibat adanya stimulus positif yang menimbulkan motivasi.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2004) motivasi adalah kekuatan atau
dorongan dari dalam diri individu yang memaksa mereka untuk melakukan
tindakan. Jika seorang konsumen mempunyai motivasi yang tinggi terhadap suatu
produk, maka konsumen akan terdorong untuk berperilaku mendapatkan suatu
produk tersebut. Sebaliknya jika motivasinya rendah, maka konsumen akan
mencoba untuk menghindari produk tersebut.
Menurut Swastha dan Handoko (2000) Minat beli konsumen merupakan
kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan
menggunakan produk termasuk pada saat proses pengambilan keputusan
pembelian. Artinya bahwa minat beli konsumen merupakan tindakan yang
dilakukan oleh konsumen perorangan, kelompok atau organisasi untuk menilai,
memperoleh dan menggunakan produk melalui proses pembelian yang diawali
dengan proses pengambilan keputusan yang menentukan tindakan tersebut.

Kepercayaan Merek Berpengaruh Terhadap Loyalitas Merek


Menurut Aaker (2011) kepercayaan merek merupakan merek yang dapat
memenuhi harapan serta dapat diandalkan tidak ada yang mengecewakan, keaslian
merek membuat konsumen dapat menambah kepercayaan terhadap merek.
Penelitian Erdem dan Oğuz (2022) ditemukan bahwa merek dengan kepercayaan
merek yang kuat mempengaruhi loyalitas merek. Pada penelitian yang dilakukan
oleh Fitria dan Susanti (2024) ditemukan bahwa kepercayaan merek berpengaruh
secara parsial terhadap loyalitas merek pada merek Citra dengan produk Hand &
Body Lotion.

Citra Merek Berpengaruh Terhadap Loyalitas Merek


Menurut Kotler dan Keller (2016) Citra merek merupakan persepsi
konsumen terhadap suatu merek yang terbentuk dari pengalaman dan pengetahuan
mereka terhadap produk tersebut. Pada penelitian yang dilakukan oleh Pramesti,
dkk. (2024) Citra merek merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah
perusahaan karena mempengaruhi minat beli konsumen. Masalah citra merek
merupakan salah satu hal yang juga harus diperhatikan oleh perusahaan dengan
seksama. Penelitian Hokky dan Bernarto (2021) menemukan bahwa citra merek
berpengaruh positif terhadap loyalitas merek, hasil tersebut didukung. Citra merek
berpengaruh positif terhadap loyalitas merek, yang berarti bahwa semakin baik citra
merek, maka semakin tinggi loyalitas merek dan sebaliknya. Pada penelitian yang
dilakukan oleh Kuo-Ning, dkk. (2020) menunjukan bahwa terkait dengan pengaruh
citra merek terhadap loyalitas merek adalah signifikan. Penelitian ini juga menguji
efek mediasi citra merek terhadap hubungan antara pengalaman merek dan loyalitas
merek pada industri perhotelan.

Loyalitas Merek


Menurut Aaker (2011) loyalitas merek terbentuk karena adanya fitur yang
menarik pada produk, kepribadian yang disukai, tau nilai-nilai merek yang sesuai
dengan pandangan konsumen. Faktor kebiasaan dari merek tersebut dan familiar
pada suatu merek sangat kuat membuat konsumen tetap setia, konsumen cenderung
setia pada merek yang otentik dan bahkan membenci merek yang mencoba meniru
atau, lebih buruk lagi, palsu dan berusaha menjadi merek yang orisinal.
Menurut Kotler dan Keller (2016) Loyalitas merek dapat membantu
mengidentifikasi kekuatan produk, loyalitas dapat menunjukan kepada perusahaan
merek mana yang paling kompetitif dengan mereknya dengan melihat pelanggan
mana yang meninggalkan mereknya. Status Loyalitas pemasaran biasanya
membayangkan empat kelompok berdasarkan status loyalitas merek:

  1. Hard core loyals: konsumen yang hanya membeli satu merek sepanjang
    waktu
  2. Split loyals: konsumen yang setia pada dua atau tiga merek
  3. Shifting loyals: pindah kesetiaan dari satu merek ke merek lain
  4. Switchers: konsumen yang tidak menunjukkan loyalitas pada merek apa
    pun
    Pada merek Arei, loyalitas dapat terbentuk jika konsumen merasa produkproduk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen dalam
    melakukan aktivitas outdoor. Produk yang memenuhi ekspektasi konsumen dalam
    hal kualitas dan kehandalan akan mendorong terbentuknya loyalitas yang lebih
    kuat

Kepercayaan Merek


Menurut Aaker (2011) kepercayaan merek merupakan merek yang dapat
memenuhi harapan serta dapat diandalkan tidak ada yang mengecewakan, keaslian
merek membuat konsumen dapat menambah kepercayaan terhadap merek.
Kepercayaan merek merupakan komponen penting dalam pemasaran dan perilaku
konsumen, dengan memahami definisi, komponen, manfaat, dimensi, serta faktorfaktor yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kepercayaan merek, menerapkan
strategi untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang kuat dan penuh
kepercayaan dengan konsumen (Wardhana, 2024). Menurut Ade, dkk. (2021)
kepercayaan sebagai cornerstone of the strategic partnership dikarenakan
karakteristik hubungan kepercayaan berharga dan harapan kelompok yang
membuat hubungan komitmen. Aset berharga dapat diperoleh perusahaan jika
konsumen merasa percaya terhadap merek. Kebebasan konsumen memilih produk
sesuai dengan pilihan menjadi isu penting bagi perusahaan untuk menawarkan fitur
benefit yang menimbulkan kepercayaan konsumen. Kepercayaan tercipta jika
merek produk ditawarkan di pasar dapat memuaskan konsumen. Tolak ukur
kepercayaan merek yang diungkapkan oleh Ade, dkk, (2022) mengemukakan
terdapat tiga faktor indikator dalam kepercayaan merek yaitu:

  1. Karakteristik merek Pengambilan keputusan konsumen dipengaruhi
    oleh karakteristik merek karena konsumen memberikan penilaian
    sebelum membeli produk dengan merek tertentu. Karakteristik
    merek yang berkaitan dengan brand trust meliputi:
    a. Brand reputation merek yang telah memiliki reputasi baik sangat
    berkaitan dengan brand trust.
    b. Brand predictability terkait dengan tingkat kekonsistenan
    kualitas produk dan dalam persepsi konsumen merek dapat
    diprediksi memiliki hubungan dengan brand trust.
    c. Brand competence merek dianggap memiliki kemampuan
    memecahkan masalah yang dihadapi oleh konsumen dalam
    memenuhi need dan want.
  2. Karakteristik perusahaan ketika konsumen memiliki pengetahuan
    mengenai perusahaan diindikasikan akan mempengaruhi
    penilaiannya terhadap merek perusahaan. Adapun karakteristik
    perusahaan diprediksi memiliki pengaruh terhadap merek
    perusahaan meliputi: company trust; company reputation; perceived
    motives of the company dan company integrity.
  3. Karakteristik merek konsumen membangun hubungan pelanggan
    dengan merek mencakup kesamaan antara selfconcept pelanggan
    dengan citra merek (similarity between consumer’s selfconcept and
    brand personality); pengalaman konsumen (brand experience);
    hubungan merek (brand liking); kepuasan merek (brand satisfaction)
    dan peer support sebagai perilaku individu yang terbentuk karena
    perilaku sosial.

Citra Merek


Menurut Kotler dan Keller (2016) citra merek merupakan persepsi
konsumen terhadap suatu merek yang terbentuk dari pengalaman dan pengetahuan
mereka terhadap produk tersebut. Citra merek menggambarkan sifat ekstrinsik
produk atau layanan, termasuk cara-cara yang digunakan oleh merek untuk
memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial pelanggan. Menciptakan atau
memperkuat persepsi tentang asosiasi citra merek itu sendiri memiliki asosiasi yang
membantu menciptakan atau memperkuat asosiasi merek. Menurut Wardana
(2021) mengemukakan bahwa pelanggan mempunyai citra positif terhadap suatu
merek, maka dari itu pelanggan akan melakukan pembelian produk dari suatu
merek kembali. Namun sebaliknya, jika citra pada merek tertentu negatif, maka dari
itu kemungkinan kecil untuk terjadinya pembelian produk dari suatu merek itu
kembali.
Menurut Aaker (1991) citra merek merupakan serangkaian asosiasi,
biasanya Kedua signifikan. Sama seperti asosiasi, begitu juga gambar merujuk kita
pada ingatan dan persepsi yang mungkin mencerminkan atau tidak mencerminkan
realitas objektif. Memanfaatkan nilai dari sebuah nama merek memberi sebuah
gagasan tentang seperti apa citra merek seharusnya yang paling penting adalah
memutuskan citra apa yang ingin ditampilkan pada pelanggan ketika mereka
menemukan suatu merek, hal ini sangat penting untuk mencoba memastikan bahwa
persepsi pelanggan terhadap merek sepositif mungkin dan itu terbangun

Hubungan Kepercayaan Merek terhadap Minat Beli Ulang


Penelitian yang dilakukan oleh (Fandiyanto dan Endriyasari, 2019)
mengatakan bahwa kepercayaan merek berpengaruh pada minat beli ulang.
Menurut Belopa (2015) juga menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
signifikan pada kepercayaan merek terhadap minat beli ulang.
Menurut Firdaus (2021) menyatakan bahwa kepercayaan merek
berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang.

Hubungan Experiential Marketing terhadap Minat Beli Ulang


Penelitian yang dilakukan oleh (Anggraini et al., 2020) mengatakan
bahwa experiential marketing berpengaruh pada minat beli ulang. Menurut
Hendarsono (2013)juga menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan
pada experiential marketing terhadap minat beli ulang.
Menurut Subawa (2020) menyatakan bahwa experiential marketing
berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang.

Kepercayaan Merek


Menurut Lau dan Lee ( 1999) menyatakan bahwa kepercayaan
merek merupakan Keinginan konsumen untuk bersandar pada suatu merek
dengan berbagai resiko-resiko yang yang dihadapi karena konsumen
memiliki ekspetasi atau harapan terhadap merek tersebut akan menyebabkan
hasil yang positif. Kepercayaan merek adalah kemampuan merek untuk
dipercaya , yang bersumber pada keyakinan konsumen bahwa merek suatu
produk mampu memenuhi nilai yang dijanjikan dan keyakinan konsumen
bahwa merek tersebut mampu mengutamakan kepentingan konsumen
(Delgado, 2004).
Menurut Said Firdaus (2021), Kepercayaan merek merupakan
keinginan konsumen untuk bersandar pada suatu merek dengan resikoresiko yang dihadapi karena ekspetasi terhadap merek tersebut akan
menyebabkan hasil yang positif. Kepercayaan terhadap suatu merek adalah
persepsi kehandalan dari sudut pandang konsumen yang didasarkan pada
pengalaman atau lebih pada urutan transaksi atau ineraksi yang dicirikan
oleh terpenuhinya harapan akan kinerja suatu produk(Fandiyanto &
Endriyasari, 2019)

Experiential Marketing


Experiential Marketing menurut (Schmitt, 1999) adalah suatu
konsep pemasaran yang berupaya untuk mengkomunikasikan produk yang
dijual dengan cara menarik perhatian konsumen menyentuh hati,
menanamkan kesan yang baik kepada hati dan pikiran konsmen tentang
suatu produk yang dijual. Experiential Marketing merupakan suatu usaha
yang digunakan oleh perusahaan atau pemasar dalam mengemas produk
sehingga dapat memberikan pengalaman emosi, menyentuh hati dan
perasaan konsumen (Schmitt, 1999).
Experiential marketing adalah konsep pemasaran yang
menggunakan sisi emosi dan perasaan konsumen dengan menciptakan
pengalaman yang baik yang tidak terlupakan sehingga konsumen terus
menggunakan produk tersebut dan menjadi fanatik (Andreani, 2007).
Berdasarkan konsep yang dikemukakan (Schmitt, 1999) Experiential
Marketing dapat diukur menggunakan lima faktor utama yaitu : Sense, Feel,
Think, Action, dan Relate.

  1. Sense
    Sense merupakan usaha untuk menciptakan pengalaman yang berkaitan
    dengan panca indra melalui penglihatan, suara, sentuhan, rasa, dan
    aroma. Sense dalam experiential marketing digunakan untuk
    menciptakan diferensiasi suatu produk untuk memotivasi dan
    mendorong konsumen serta untuk menambah nilai konsumen.
    Melalui sense akan tercipta sensory experience yang dapat memberikan
    kesan keindahan, kesenangan dan kepuasan. Dalam menciptakan sense
    terhadap suatu produk harus mencakup penglihatan bentuk (kemasan
    produk), sentuhan (produk lembut), perasaan (varian rasa), dan
    penciuman (aroma).
  2. Feel
    Feel merupakan pengalaman yang berkaitan dengan suasana hati serta
    emosi jiwa seorang saat menggunakan suatu produk. Pada umumnya
    akan muncul feel dibenak konsumen pada saat menggunakan produk
    sehingga dapat mempengaruhi suasana hati dan emosi yang kuat
    terhadap kenangan dan kebanggan terhadap produk tersebut.
    Feel terhadap suatu produk harus mencakup suasana hati yaitu kondisi
    positif dan negatif menentukan produk apa yang akan dibeli oleh
    konsumen. Pikiran yang bagus akan mampu berifikir secara positif
    dapat memberikan pendapat yang positif terhadap produk.
  3. Think
    Think merupakan pengalaman yang bertujuan untuk mempengaruhi
    pemikiran konsumen secara langsung dan menciptakan kesadaran
    melalui proses berfikir terhadap suatu produk. Think akan muncul
    dalam suatu pemikiran yang bagus. Pikiran yang bagus akan
    memberikan kesan yang positif terhadap produk. Menurut (Lupiyoadi,
    2016) cara yang baik untuk membuat think berhasil adalah :
    a) Kejutan (Surprise).
    Kejutan merupakan hal yang penting dalam membangun konsumen
    agar mereka terlibat dalam cara berfikir yang kreatif. Dalam
    experiential marketing, unsur surprise menempati hal yang sangat
    penting karena dengan pengalaman-pengalaman yang mengejutkan
    dapat memberikan kesan emosional yang mendalam dan diharapkan
    dapat terus membekas dibenak konsumen dalam waktu yang lama.
    b) Memikat (Intrigue)
    Intrigue campaign mencoba membangkitkan rasa ingin tahu
    konsumen, apas aja yang memikat konsumen. Daya pikat ini
    tergantung dari acuan yang dimiliki oleh setiap konsumen.
    Terkadang apa yang dapat memikat seseorang dapat menjadi
    sesuatu yang membosankan bagi orang lain, tergantung pada tingkat
    pengetahuan, kesukaan, dan pengalaman konsumen tersebut.
    c) Provokasi (Provocation)
    Provokasi dapat menimbulkan sebuah diskusi atau menciptakan
    sebuah perdebatan. Provokasi dapat beresiko jika dilakukan secara
    tidak baik dan agresif.
  4. Act
    Act merupakan tindakan yang berhubungan dengan perilaku atau gaya
    hidup seseorang. act akan menyentuh pengalaman dalam gaya dan
    berinteraksi dengan perubahan gaya hidup, yang dilakukan secara
    spontan karena dapat melihat model, dan konsumen akan melakukan
    pembelian karena adanya pengaruh yang berasal dari luar dan opini dari
    dalam dirinya. Act dapat membentuk persepsi konsumen terhadap
    produk yang akan dibeli oleh konsumen melalui keunikan, menarik,
    terkenal, mudah didapat, harga sesuai dengan manfaat yang dijanjikan.
  5. Relate
    Relate merupakan pengalaman yang dignakan dalam mempengaruhi
    konsumen dengan menggabungkan suatu aspek (Sense, Feel, Think,
    Action) dan berfokus pada penciptaan persepsi positif di mata
    konsumen. Relate memiliki dampak terhadap hubungan dengan orang
    lain, kelompok sosial serta gaya hidup di suatu tempat.

Minat Beli Ulang


Menurut (Fandiyanto & Endriyasari, 2019) minat beli ulang
merupakan pembelian yang didasarkan atas pengalaman pembelian yang
telah dilakukan dimasa lalu. Menurut (Schiffman dan Kanuk, 2004) minat
beli ulang terjadi ketika produk memenuhi harapan konsumen dan
persetujuan, yang menandakan indikasi tinggi bahwa mereka akan membeli
dan memanfaatkannya kembali dalam jumlah yang lebih besar. Minat
pembelian ulang merupakan perilaku konsumen yang berhubungan dengan
kepuasan konsumen. Jika konsumen tidak merasa puas maka konsumen
tidak akan melakukan pembelian selanjutnya (Said Firdaus dan Amelia
Rahmi, 2021).
Menurut (Tjiptono, 2015), Minat beli ulang berbeda dengan
loyalitas, loyalitas mencerminkan komitmen psikologis terhadap suatu
merek atau produk tertentu sedangkan perilaku pembelian ulang sematamata menyangkut pembelian merek yang sama secara berulang kali.
Perilaku membeli timbul karena didahului oleh adanya minat membeli,
minat membeli muncul dikarenakan oleh persepsi yang didapatkan bahwa
produk tersebut memiliki kualitas yang baik, jadi minat membeli muncul
dari konsumen (Clilesti dan Nifita, 2018). Mengadopsi dan mengadaptasi
konsep yang dikemukakan (Trivedi, 2020) minat beli ulang dapat dilihat dan
dicerminkan melalui beberapa indikator berikut : konsumen berniat untuk
membeli kembali produk kecantikan merek yang sama yaitu Ms glow secara
berkelanjutan. bersedia membeli kembali produk Ms glow

Hubungan Brand Trust dan Minat Beli Ulang


Menurut Ardhanari dalam Belopa (2015) Ketika seorang konsumen mempercayai suatu
merek, konsumen tersebut memiliki niat membeli yang positif terhadap merek tersebut.
Bahkan tidak menutup kemungkinan seorang konsumen akan melakukan pembelian kembali
terhadap suatu merek yang disukai . Setiadi dalam Belopa (2015) juga menjelaskan bahwa,
jika kepercayaan positif terhadap merek, konsumen akan lebih mungkin untuk
mempunyai sikap positif dan membeli produk itu. Kepuasan atas penggunaan produk
akan memperkuat sikap dan mempertinggi probabilitas pembelian kembali. Dengan
demikian dapat dijelaskan bahwa jika konsumen merasa aman dengan suatu merek maka
hal itu akan membuat konsumen memiliki kepercayaan yang positif terhadap merek
tersebut sehingga hal tersebut akan mempertinggi probabilitas pembelian produk kembali

Hubungan Citra Merek dan Minat Beli Ulang


Ogilvy & Mather dalam Andreani et al (2012:65) juga mengatakan bahwa citra merek
yang kuat dapat membuat pelanggan melakukan pembelian secara berulang-ulang.
Sedangkan menurut Andreani et al (2012:65), pembelian ulang di pengaruhi oleh faktor
citra merek yang positif, karena dengan citra merek yang kuat dapat menyebabkan
konsumen menjadi minat beli ulang. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
citra merek dan harga merupakan salah satu faktor seorang konsumen dalam melakukan
pembelian ulang, karena dengan citra merek yang positif tersebut dapat membuat
konsumen melakukan pembelian secara berulang-ulang.

Hubungan Kualitas Produk dan Minat Beli Ulang


Fang dalam Palma, Marisa Arnindita, Anik Lestari Andjarwati (2016) mengatakan
bahwa kualitas berpengaruh terhadap niat pembelian ulang namun tidak berpengaruh
secara langsung . Kepuasan akan berpengaruh secara langsung ke niat pembelian ulang,
sehingga kualitas produk akan berpengaruh terhadap niat pembelian ulang, maka
konsumen harus merasakan kepuasan terlebih dahulu.

Pengukuran Brand Trust


Menurut Kustini dalam Rizan (2012), brand trust dapat diukur melalui dua dimensi
viabilitas dan dimensi intensionalitas
a. Dimensi viabilitas
Dimensi ini mewakili sebuah persepsi bahwa suatu merek dapat memenuhi dan
memuaskan kebutuhan dan nilai konsumen.
b. Dimensi intensionalitas
Dimensi ini mencerminkan perasaan aman dari seorang individu terhadap suatu
merek.

Dimensi Brand Trust


Menurut Ali hasan (2013:127), terdapat dimensi-dimensi kepercayaan merek yang
terdiri dari :

  1. Reliability
    Berkaitan dengan tingkat keandalan perusahaan dalam menyediakan layanan
    produk
  2. Credibility
    Berkaitan dengan tingkat keahlian yang dibutuhkan perusahaan untuk melakukan
    pekerjaan secara efektif dan andal.
  3. Benevolence
    Berkaitan dengan niat dan motivasi perusahaan.

Definisi Brand Trust


Menurut, Delgado Ballester, Munuera-Aleman and Yagiie Guillen dalam Christiaan
Rudolf Quintus Roets (2014), Mengkonseptualisasikan kepercayaan merek sebagai
konstruksi dua dimensi, terdiri dari atribut keandalan dan niat.
Sedangkan menurut Delgado dalam Hendrajati Aditya (2016), Kepercayaan merek
adalah perasaan aman yang dimiliki konsumen akibat dari interaksinya dengan sebuah
merek, yang berdasarkan persepsi bahwa merek tersebut dapat diandalkan dan
bertanggung jawab atas kepentingan dan keselamatan dari konsumen.
Penulis menarik kesimpulan dari pengertian yang telah diuraikan bahwa pengertian
brand trust adalah perasaan aman yang dimiliki konsumen akibat dari interaksinya
dengan sebuah merek, jika konsumen sudah merasa aman dan nyaman dengan suatu
merek maka konsumen akan semakin menyukai dan mempercayai merek tersebut sesuai
dengan yang diinginkan dan juga kepercayaan merek sebagai konstruksi dua dimensi,
terdiri dari atribut keandalan dan niat

Pengukuran Citra Merek


Severi dan Ling (2013), menyatakan ada tiga indikator yang dapat dijadikan
pengukuran terhadap Citra Merek, yaitu:
(1) Produk memiliki citra yang berbeda dengan smartphone lainnya .
(2) Produk memiliki citra yang jelas
(3) Produk memiliki memiliki citra yang kuat

Faktor Pembentuk Citra Merek


Menurut Sugiharti (2012), terdapat pembentuk citra merek yaitu:
(1) Citra Pembuat
Citra produk merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa tiga faktor.
(2) Citra Produk
Citra produk merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap
suatu produk.
(3) Citra Pemakai
Citra pemakai merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa.

Definisi Citra Merek


Citra merek dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi yang muncul di benak
konsumen ketika mengingat suatu merek dari produk tertentu. Novansyah (2016),
menyatakan citra merek adalah citra tentang suatu merek yang dianggap sebagai
kelompok asosiasi yang menghubungkan pemikiran konsumen terhadap suatu nama
merek. Sedangkan menurut Shimp et al, dalam Sangadji dan Sopiah (2013:327),
berpendapat bahwa citra merek (brand image ) dapat dianggap sebagai jenis asosiasi
yang muncul di benak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu, asosiasi
tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang
dikaitkan kepada suatu merek, sama halnya ketika berfikir tentang orang lain.
Menurut Sitio (2017), citra merek adalah sekumpulan sikap yang diambil tentang
gambaran yang tercermin dalam benak dan pikiran konsumen untuk menilai suatu
merek yang memiliki dimensi yakni; (1) pengenalan (recognition), (2) reputasi
(reputation), (3) daya tarik atau simpati (affinity) dan (4) kesetiaan (loyalty).

Pengukuran Kualitas Produk


Menurut Putro et al (2014), ada empat indikator yang dapat dijadikan pengukuran
yaitu:
(1) Produk yang dijual bervariasi.
(2) Produk memiliki fitur yang lebih baik daripada smartphone lainnya.
(3) Produk memiliki kualitas yang bagus
(4) Kualitas produk sesuai dengan uang yanh dikeluarkan.

Dimensi Kualitas Produk


Menurut Durianto dalam Sangadji dan Sopiah (2013:329 ), kualitas produk terdiri
atas enam dimensi yaitu :
(1) Kinerja
Kinerja merupakan elemen kualitas produk yang berkaitan langsung dengan
bagaimana suatu produk dapat menjalankan fungsinya untuk memenuhi
kebutuhan konsumen.
(2) Reliabilitas
Reliabilitas merupakan daya tahan produk selama dikonsumsi.
(3) Fitur
Fitur merupakan fungsi-fungsi sekunder yang ditambahkan pada suatu produk,
seperti fitur kendali jauh (remote control ) pada televisi.
(4) Keawetan (durability)
Keawetan merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukkann suatu
pengukuran terhadap siklus produk, baik secara teknis maupun waktu. Produk
dikatakan awet jika dapat bertahan dalam pemakaian berulang-ulang.
(5) Konsistensi
Konsistensi merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukkan seberapa jauh
suatu produk bisa memenuhi standar atau spesifikasi tertentu. Produk yang
mempunyai konsistensi tinggi berarti sesuai dengan standar yang ditentukan.
(6) Desain
Desain merupakan aspek emosional yang memengaruhi kepuasan konsumen
sehingga desain kemasan ataupun bentuk produk akan turut memengaruhi
persepsi kualitas produk tersebut

Definisi Kualitas Produk


Kualitas dapat diartikan kemampuan dari produk untuk menjalankan fungsinya yang
mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan, kekuatan, kemudahan dalam
pengemasan dan reparasi produk dan ciri-ciri lainnya (Luthfia 2012).
Menurut Ong dan Sugiono (2013), kualitas produk adalah bagaimana produk itu
memiliki nilai yang dapat memuaskan konsumen baik secara fisik maupun secara
psikologis yang menunjuk pada atribut atau sifat-sifat yang terdapat dalam suatu barang
atau hasil.

Definisi Produk


Menurut Kotler dalam Manap (2016:255), Produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan dipasar, untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Produk
terdiri atas barang , jasa , pengalaman , events, orang,tempat, kepemilikan, organisasi,
informasi dan ide. Produk adalah suatu kumpulan atribut, fisik, psikis, jasa, dan
simbolik yang dibuat untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan
Setyaningrum et al (2015:87), Sedangkan menurut Ali Hasan, SE., MM (2014),
Memasarkan produk adalah deals bauran rancangan product, pricing, place, promotion,
packaging, dan positioning yang akan ditawarkan kepada prospek, dan pelanggan.
Secara umum, produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan dipasar dan suatu
kumpulan atirbut, fisik, psikis, jasa, dan simbolik untuk memuaskan dan memenuhi
keinginan pelanggan