Coaker (2021), Tharpe (2014), serta Simonsons dan Schmitt (2009) dalam
Wardhana (2022), mengemukakan bahwa citra merek (brand image) proses
penafsiran ulang dari berbagai persepsi yang berkaitan dengan merek, yang
terbentuk melalui informasi dan pengalaman yang telah diperoleh oleh konsumen
atau pelanggan di masa lalu mengenai merek tersebut.
Brand Image adalah persepsi atau citra yang terbentuk di benak konsumen
tentang suatu merek. Mencakup semua asosiasi, pengalaman, dan perasaan yang
dimiliki konsumen terhadap merek tersebut. Brand image sangat penting karena
dapat mempengaruhi bagaimana konsumen memilih produk atau layanan. Brand
sendiri memiliki hubungan yang sangat erat dengan brand image, karena brand
image mencerminkan bagaimana konsumen memandang dan menggambarkan
suatu produk. Dengan kata lain, brand image berkaitan langsung dengan persepsi
dan citra yang terbentuk di benak konsumen mengenai produk tersebut.
Kotler (2019) mengatakan, “citra merek (brand image) bukan hanya sekedar
nama atau simbol, melainkan merupakan elemen penting dalam membangun
hubungan antara perusahaan dan pelanggannya.” Sedangkan definisi brand image
menurut Zhang (2015) yaitu “nama gengsi pada suatu merek bergantung pada
bagaimana individu menafsirkan dan memahami makna merek tersebut.” Ini
melibatkan penilaian subjektif terhadap keberadaan merek, yang mencakup sikap
atau evaluasi individu baik positif maupun negatif, serta pola perilaku mereka yang
berhubungan dengan merek tersebut.
Chinomona (2016) berpendapat “brand image didefinisikan sebagai
representasi mental yang dimiliki oleh konsumen, yang mencerminkan makna
simbolis yang mereka hubungkan dengan atribut khusus dari suatu produk atau
layanan.” Ini mencakup cara konsumen memandang dan memahami merek
berdasarkan fitur-fitur tertentu yang terkait dengan produk atau layanan tersebut.
Wardhana (2021) menjelaskan “bahwa jika pelanggan memiliki pandangan yang
positif terhadap suatu merek, mereka cenderung akan melakukan pembelian ulang
produk dari merek tersebut.” Sebaliknya, jika citra merek tersebut negatif,
kemungkinan besar pelanggan tidak akan membeli produk itu lagi.
