Ciri-ciri individu yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi


Menjadi individu yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi
memiliki, ciri atau tanda tertentu yang dapat dilihat. Menurut Goleman dalam
Nurita (2012:19) dikemukakan ciri-ciri individu yang memiliki kecerdasan emosi
tinggi, yaitu:
a. Memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan dapat bertahan
dalam menghadapi frustasi.
b. Dapat mengendalikan dorongan-dorongan hati sehingga tidak melebih-
lebihkan suatu kesenangan
c. Mampu mengatur suasana hati dan dapat menjaganya agar beban stress
tidak melumpuhkan kemampuan berfikir seseorang.
d. Mampu berempati terhadap orang lain dan tidak lupa berdoa.
Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, setiap individu dalam
mendapatkannya tentu memiliki cara yang berbeda-beda. Menurut mangkunegara
(2008;184), terdapat 4 aspek utama untuk pencapaian sukses pribadi dan kerja. 4
aspek tersebut antara lain:
a. Perseverance
Ketekunan atau keteguhan hati merupakan kemampuan seseorang
menghadapi tantangna dan menganalisis untuk menentukan keputusan
terbaik.
b. Managing Uncertainty
Bagi kebanyak orang ketidakpastian sangat mengganggu keharmonisan
diri. Sebenarnya jika kita mampu mengelola keberadaan
ketidakpastian, hal tersebut dapat menjadi rahmat dan anugrah.
Caranya kita mau berdisiplin diri untuk mengubah cara berpikir dna
bertanggung jawab terhadap kemungkinan kejadian dari ketidakpastian
tersebut.
c. Endurance
Kesabaran atau ketabahan merupakan kekuatan pengendalian diri yang
luar biasa.
d. Handling Frustration
Menangani frustasi dalam upaya peningkatan kecerdasan emosi, yaitu:

  1. Tetaplah terpusat pada masalahnya bukan pada orangnya.
  2. Bertanggung jawablah atas kesalahan anda sendiri
  3. Carilah pemecahan yang adil, penuh pertimbangan dan empati
  4. Ceritakanlah penderitaan anda tanpa menuduh dan menyalahkan
    orang lain.
  5. Denganrkan pendapat orang lain dan berusahalah untuk
    mengikhlaskan persoalan yang telah terjadi
  6. Memperkuat jati diri dan pengendalian diri serta berusahalah untuk
    mengambil hikmah terhadap kejadian pahit tersebut

Komponen-komponen kecerdasan emosional


Titimaea (2006) dalam Efendi dan Sutanto (2013:2) mengungkapkan lima
dimensi dari kecerdasan emosional yaitu: self awareness, self regulation, self
motivation, social awareness, dan social skills sebagai berikut:
a. Self awareness
Kemampuan seseorang untuk memahami berbagai potensi dalam dirinya
menyangkut kelebihan yang dimiliki maupun kelemahannya.

  1. Seseorang dengan kesadaran diri tinggi akan mampu memahami
    kekuatan, kelemahan, nilai dan motif diri (Having high self-awareness
    allows people to know their strengths, weaknesses , values, and
    motives).
  2. Seseorang dengan kesadaran diri tinggi akan mampu mengukur
    suasana hatinya dan memahami secara intuitif bagaimana suasana
    hatinya mempengaruhi orang lain (People with high self awareness
    can accurately measure their own moods and intuitively understand
    how their moods affect others)
  3. Seseorang dengan kesadaran diri tinggi akan mampu menerima umpan
    balik dari orang lain tentang bagaimana memperbaiki secara
    berkelanjutan (are open to feedback from others on how to
    continuously improve)
  4. Mampu membuat keputusan meskipun di bawah ketidakpastian
    maupun di bawah tekanan (are able to make sound decisions despite
    uncertainties and pressures).
  5. Seseorang dengan kesadaran diri tinggi akan mampu menunjukkan
    rasa humor (They are able to show a sense of humor)
  6. Seorang pemimpin dengan kesadaran diri tinggi akan mampu
    memahami berbagai faktor yang membuat dirinya disukai (A leader
    with good self-awareness would recognize factors such as whether he
    or she was liked )
  7. Seseorang dengan kesadaran diri tinggi akan mampu memanfaatkan
    tekanan daripada anggota organisasi (was exerting the right amount of
    pressure on organization members).
    Ketika seseorang memiliki kesadaran diri yang tinggi lebih peka
    analisanya untuk memahami perasaan orang lain.
    b. Self regulation
    Kemampuan seseorang untuk mengontrol atau mengendalikan emosi
    dalam dirinya.
  8. Seseorang dengan kesadaran diri tinggi akan mampu mengontrol atau
    mengarahkan kembali luapan dan suasana hati (The ability to control
    or redirect disruptive impulses and moods)
  9. Seseorang dengan kesadaran diri tinggi akan mampu berpikir jernih
    sebelum bertindak (the propensity to suspend judgment and to think
    before acting).
  10. Kemampuan untuk mengontrol diri sendiri berarti memiliki
    kecerdasan emosional yang tinggi karena untuk mengontrol diri
    sendiri diperlukan pengetahuan dan kemampuan.
    c. Self motivation
    Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri yang dilihat dari beberapa
    indikator sebagai berikut:
  11. Seseorang dengan self motivation tinggi selalu memiliki alasan-alasan
    sehingga memberikan dorongan untuk selalu memperbaiki
    kinerja(seek ways to improve their performance).
  12. Seseorang dengan self motivation tinggi memiliki kesiapan mental
    untuk berkorban demi tercapainya tujuan organisasi(readily make
    personal sacrifices to meet the organization`s goals).
  13. Seseorang dengan self motivation tinggi mampu mengendalikan emosi
    diri sendiri dan memanfaatkannya untuk memperbaiki peluang agar
    bisa sukses(they harness their emotions and employ them to improve
    their chances ofbeing successful).
  14. Seseorang dengan self motivation tinggi dalam melakukan kegiatan
    lebih terdorong untuk bisa sukses dibandingkan ketakutan akan
    kegagalan(they operate from hope of success rather than fear of
    failure).
    d. Social awareness
    Kesadaran sosial adalah pemahaman dan sensitivitas terhadap perasaan,
    pemikiran, dan situasi orang lain (Social awareness refers to having
    understanding and sensitivity to the feelings, thoughts, and situations of others).
    Indikator untuk mengukur social awareness adalah sebagai berikut:
  15. Memahami situasi yang dihadapi oleh orang lain(understanding
    another person`s situation).
  16. Mengalami emosi orang lain (experiencing the other person`s
    emotions).
  17. Memahami kebutuhan orang lain dengan menunjukkan
    kepedulian(knowing their needs by showing that they care).
    e. Social skill
    Kemampuan untuk menjalin hubungan sosial yang didasarkan pada
    indikator:
  18. Kemampuan untuk mengelola hubungan dengan orang
    lain(proficiency in managing relationships).
  19. Kemampuan untuk membangun jaringan dengan orang
    lain(proficiency in building networks).
    Dimensi-dimensi dari kecerdasan emosional tersebut bisa digunakan untuk
    mengukur seberapa tinggi kecerdasan emosional seseorang.
    Sedangkan menurut Particia Patton, dalam Mangkunegara (2008: 173)
    menyatakan bahwa karakteristik kecerdasan emosi yang perlu dimiliki adalah
    sebagai berikut:
    a. Kesabaran
    Untuk menjadi orang sabar perlu melakukan antara lain mengakui bahwa
    anda tidak sabaran dan carilah penyebabnya, ukurlah batas toleransi anda, lakukan
    dialog degnan diri sendiri, belajar menentukan posisi, relaksasi, pokus dan
    tindakan yang terkontrol.
    b. Keefektivan
    Keefektivan melahirkan sikap-sikap penting seperti mampu, bersikap
    efektif, berpengaruh, dan berdayaguna yang sangat perlu dalam menghadapi
    tantangan

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kecerdasan Emosional


Menurut Goleman (2009) dalam Nurita (2012;16) faktor-faktor yang
mempengaruhi kecerdasan emosional meliputi:

  1. Faktor yang bersifat bawaan genetik
    Faktor yang bersifat bawaan genetik misalnya temperamen. Ada 4
    temperamen, yaitu penakut, pemberani, periang, pemurung. Anak
    yang penakut dan pemurung mempunyai sirkuit emosi yang lebih
    mudah dibangkitkan dibandingka dengan sirkuit emosi yang dimiliki
    anak pemberani dan periang. Temperamen atau pola emosi bawaan
    lainnya dapat dirubah sampai tingkat tertentu melalui pengalaman,
    terutama pengalaman pada masa kanakkanak.
  2. Faktor yang berasal dari lingkungan
    Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama kita untuk
    mempelajari emosi, dalam lingkungan yang akrab ini kita belajar
    begaimana merasakan perasaan kita sendiri dan bagaimana orang lain
    menanggapi perasaan kita, bagaimana berfikir tentang perasaan ini
    dan pilihan-pilihan apa yang kita miliki untuk bereaksi, serta
    bagaimana membaca dan mengungkap harapan dan rasa takut.
    Pembelajaran emosi bukan hanya melalui hal-hal yang diucapkan dan
    dilakukan oleh orang tua secara langsung pada anak-anaknya,
    melainkan juga melalui contoh-contoh yang mereka berikan sewaktu
    menangani perassaan mereka sendiri atau perasaan yang biasa muncul
    antara suami dan istri

Pengertian Kecerdasan Emosional


Setiap individu memiliki kemampu yang berbeda-beda. Kemampuan yang
dimiliki oleh setiap individu di bagi menjadi 3 kemampuan yaitu Kecerdasan
intelektual (Intellegence Quotient),Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient),
dan Kecerdasan Spiritual (Spiritual quotient). Keseimbangan dalam ketiga hal ini
dapat membuat individu diterima di berbagai bidang. Namun, kecerdasan
emosional merupakan hal penting dalam menentukan karakter individu, terutama
dalam mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Beberapa ahli mengemukakan definisi tentang kecerdasan emosional yaitu
antara lain:
a. Menurut Goleman dalam Nurita (2012:14)
“Kecerdasan Emosional adalah kecakapan emosional yang meliputi
kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan memiliki daya tahan
ketika menghadapi rintangan, mampu mengendalikan impuls dan tidak
cepat merasa puas, mampu mengatur suasana hati dan mampu mengelola
kecemasan agar tidak mengganggu kemampuan berpikir, mampu
berempati serta berharap.”
b. Pengertian mengenai kecerdasan emosional juga dinyatakan oleh Hein
(2007) dalam Efendi dan Susanto (2013:2): “Emotional intelligence is the
innate potential to feel, use, communicate, recognize, remember, describe,
identify, learn form, manage, understand, and explain emotions.” Pendapat
ini menyatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan potensi dari
dalam diri seseorang untuk bisa merasakan, menggunakan,
mengomunikasikan, mengenal, mengingatkan, mendeskripsikan emosi.
c. Menurut Salovey dan Mayer dalam Saptoto (2010:3)
“Kecerdasan Emosi digunakan untuk menggambarkan sejumlah
keterampilan yang berhubungan dengan keakuratan penilaian tentang
emosi diri sendiri dan orang lain, serta kemampuan mengelola perasaan
untuk memotivasi, merencanakan, dan meraih tujuan kehidupan.”
d. Menurut Ahmadi (2009:101)
“Perasaan (Emosi) ialah suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan
yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungan dengna
peristiwa mengenal dan bersifat subjektif.

Dampak Perilaku Cyberbullying


Berbagai penelitian telah menunjukkan siswa korban cyberbullying menderita
kecemasan, depresi, stres, harga diri rendah, kemarahan, ketidakberdayaan,
somatisasi, gangguan tidur, mudah tersinggung dan masalah konsentrasi yang
mempengaruhi prestasi akademis mereka. Penelitian Martinez-Monteagundo
(2019) juga menunjukkan menjadi korban cyberbullying akan meningkatkan
kemungkinan pemikiran untuk bunuh diri, meningkatkan kecemasan, menimbulkan
depresi dan stres yang tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian dari Desiana R (2019) jenis penelitian kualitatif dengan
menggunakan pendekatan studi fenomenologi. Fokus penelitian ini adalah
mengkaji dampak dampak psikologis yaitu kognitif, afeksi, dan konatif yang terjadi
pada korban cyberbullying. Informan penelitian ini terdapat 276 peserta didik kelas
VII. pengambilan data peneliti melakukkan penyebaran angket screening untuk
mendapatkan data peserta didik yang menjadi korban cyberbullying menyebutkan
bahwa terdapat dampak psikologis bagi korban cyberbullying diantaranya yaitu
dampak kognitif, afeksi, dan konatif. Dampak kognitif yang dialami yaitu
kehilangan konsentrasi belajar hingga menurunkan indeks prestasi sekolah.Dampak
afeksi yang dialami yaitu merasa sedih, marah, malu, dendam dikarenakan
mendapat komentar dan pesan dengan kata-kata kasar melalui sosial media,
hilangnya kepercayaan, tidak nyaman, dan takut karena menerima pesan melalui
media sosial dengan motif pelecehan seksual. Sedangkan dampak konatif yang
dialami yaitu membalas dendam seperti membalas dengan memposting foto pelaku,
menegur hingga membalas dengan menggunakan kekerasan fisik seperti memukul,
melempar, dan membanting benda-benda, ada yang memilih untuk diam dan
memendamnya sendiri, menjauhi dengan memutuskan semua akses untuk
berkomunikasi seperti memblokir nomor whatsapp dan keluar dari grup di media
sosial, dan melaporkan kepada Orang tua serta guru Bimbingan Konseling

Motif Pelaku Cyberbullying


Menurut Anggraeni dkk (2022) dalam penelitiannya yang berjudul Motif Perilaku
Cybebullying Remaja Di Media Sosial terdapat berbagai macam motif seseorang
melakukan cyberbullying. Motif-motif tersebut antara lain adalah ingin
menyampaikan perasaan kesal/tidak suka kepada orang yang menjadi target,
keinginan informan agar orang tersebut mengetahui kesalahan atas sikapnya,
Informan ingin menjatuhkan dan mempermalukan orang yang menjadi target,
Berawal dari rasa sakit hati kepada orang yang menjadi target dan ingin
membalasanya serta Informan ingin mencari kesenangan melalui perilaku
cyberbullying di Twitter. Setiap orang memiliki motif sebab yang berbeda antara
satu dengan lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian lainnya oleh Rana (2023) dengan judul Motivasi
Remaja Melakukan Cyberbullying di Media Sosial, hasil penelitian menyebutkan
bahwa motivasi pelaku melakukan cyberbullying di media sosial di bagi menjadi
dua, yaitu motivasi internal, yang berasal dari dalam diri individu dan juga motivasi
eksternal, yang berasal dari luar individu. Adapun motivasi internal terbagi menjadi
5 yaitu, sering melakukan bullying di dunia nyata sehingga hal itu juga di lakukan
di media sosial, karena media sosial merupakan jalan yang paling mudah melakukan
penindasan.Adanya ketidakseimbangan kuasa, atau dalam kata lain apa yang
dilakukan pelaku dalam segimental dan sosial merasa lebih kuat.Merasa
mempunyai segalanya sehingga apapun bisa elaku lakukan kepada korban.Ingin
membuat mental korban hancur sehingga korban mempunyai keinginan untuk
berhenti bersekolah bahkan pindah sekolah. Identitas yang tidak di ketahui oleh
korban memudahkan pelaku lebih mudah melakukan tindakan cyberbullying.
Sedangkan faktor eksternal di bagi menjadi 2 yaitu, pelaku mengungkapkan
motivasi melakukan tindakan cyberbullying korban karena sifat dan karakteristik
korban yang mengundang untuk di tindas.Tertantang dari sebuah film yangdi tonton
sehingga ingin melakukan tindakan cyberbullying

Faktor-faktor Perilaku Cyberbullying


Perilaku cyberbullying pada remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor
internal dari korban dan pelaku, maupun faktor eksternal korban dan pelaku
cyberbullying. salah satu faktor internal perilaku cyberbullying yaitu Kemampuan
pelaku berempati. Remaja yang tidak empati serta tidak mengerti tentang etika yang
baik secara online biasanya sulit untuk mengontrol perilaku mereka di dunia online.
Empati merupakan bagian dari kecerdasan emosional. Sedangkan faktor eksternal
yang dapat menyebabkan seseorang melakukan cyberbullying Intensitas
penggunaan media sosial. Semakin tinggi intensitas pemakaian media sosial, maka
semakin besar peluang remaja melakukan cyberbullying ataupun menjadi
korbannya (Jalal & dkk, 2021).
Hasil dari systematic review oleh Heni Agusputita Dewi (2020) menyebutkan
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan cyberbullying
yaitu:
1 Faktor Individu
Individu merupakan kunci utama pada cyberbullying, dimana keterlibatanseseorang
dalam cyberbullying dapat ditentukan oleh dirinya sendiri. Individu yangdianggap
lemah memiliki resiko lebih besar dalam cyberbullying sejalan dengan penelitian
Merrill & Hanson, terhadap 13.583 remaja usia 12-18 tahun di Amerika serikat yang
mengungkapkan bahwa ras kulit hitam (8,8%) dan hispanik (13,19%) kurang
mungkin diganggu dibandingkan dengan kulit putih (17,79%) dan kelompok ras
lainnya (17,25%) Hal tersebut menunjukan bahwa seseorang yang terlihat lemah
sangat rentan mengalami cyberbullying sedangkan mereka yang tampak lebihberani
dan tidak mau menjadi korban memiliki kemungkinan kecil untuk menjadi korban
cyberbullying.
.2 Pengalaman Kekerasan
Pengalaman kekerasan lingkungan merupakan indikator dari tingkat kejahatan
cyberbullying, terutama di kalangan remaja. Terdapat hubungan yang kuat antara
pengalaman kekerasan lingkungan dan keterlibatan dalam kejahatan cyberbullying
pada remaja dengan impulsif rendah. Sehingga menempatkan remaja impulsif pada
risiko yang lebih tinggi sebagai korban cyberbullying. Paparan kekerasan
meningkatkan risiko remaja untuk terlibat dalam cyberbullying (Khoury-Kassabri
& dkk, 2019).
.3 Persepsi
Persepsi individu terhadap diri sangat penting dan dapat berpengaruh terhadap
penghargaan diri seseorang. “Persepsi cyberbullying.” Dibentuk dari tiga kriteria
yaitu intensionalitas, publisitas, dan ketidakseimbangan. Ketika tingkat identitas
moral rendah maka seseorang menemukan pengaruh tidak langsung dari persepsi
terhadap cybervictimization melalui pelepasan moral. Tingkat identitas moral tinggi
pengaruh tidak langsung sehingga dapat mendorong persepsi remaja tentang
cyberbullying. Terdapat hubungan positif yang kuat antara persepsi cyberbullying
dan cybervictimization, persepsi berhubungan negatif dengan pelepasan moral, dan
terdapat hubungan antara pelepasan moral dan cybervictimization (Cuadrado-
Gordillo & Fernández-Antelo, 2019).
4 Harga Diri dan Pengendalian Diri
Harga diri dan pengendalian diri berpengaruh terhadap keterlibatan remaja dalam
cyberbullying. Pelaku cyberbullying cenderung memiliki harga diri lebih tinggi
dengan pengendalian diri yang rendah. Pengendalian diri yang tinggi ditunjukan
dari tingginya kontrol perilaku dan persepsi yang lebih besar tentang kontrol
psikologis. Korban cyberbullying menunjukkan kontrol perilaku yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pelaku cyberbullying (Cuadrado-Gordillo & Fernández-
Antelo, 2019).
.5 Gender
Gender diprediksi sebagai prediktor dari keterlibatan remaja dalam cyberbullying.
Remaja perempuan lebih mungkin menjadi korban dibandingkan menjadi pelaku
dalam cyberbullying. Hal serupa diungkapkan Anthanasiou etc (2018) bahwa
remaja perempuan lebih mungkin menjadi korban cyberbullying dua kali
dibandingkan anak laki-laki di Belanda.
2.2.3.6 Usia
Usia adalah prediktor terlemah dalam cyberbullying, tidak terdapat perbedaan usia
untuk masing-masing peran dalam cyberbullying. Namun, hal berbeda diungkapkan
oleh Merill & Hanson (2016) yang menyatakan bahwa usia lebih muda
dibandingkan usia umum dalam setiap kelas memiliki tingkat viktimisasi yang jauh
lebih tinggi dari usia yang lebih tua (Merrill & Hanson, 2016). Sejalan dengan
Anthanasiou etc (2018) yang mengungkapkan bahwa remaja berusia di atas 16
tahun memiliki peluang 48% lebih rendah untuk menjadi korban cyberbullying
dibandingkan dengan remaja yang lebih muda di Rumania.
7 Kontrol Psikologis
Cyberbullying pada remaja terkait dengan masalah emosi dimana gangguan emosi
mewakili prediktor terkuat untuk tindakan cyberbullying, sangat dibutuhkan adanya
kontrol psikologis pada remaja agar dapat mencegah cyberbullying. fase pencarian
jati diri, fase penuh konflik, fase penuh penentangan yang disertai perubahan atau
transisi dengan berbagai tingkat stres yang berdampak pada perkembangan
psikologis remaja. Untuk itu diperlukan kontrol psikologis pada remaja agar dapat
meminimalisir risiko keterlibatannya dalam cyberbullying (Hurlock, 2011).
2.2.3.8 Faktor Teman
Teman memiliki pengaruh besar terhadap kecenderungan menjadi pelaku
cyberbullying karena dengan karakteristik sama dapat saling memengaruhi perilaku
dan keyakinan. Teman memiliki pengaruh besar terhadap kecenderungan menjadi
pelaku cyberbullying. Dari kajian literature oleh Heni Aguspita Dewi (2020)
didapatkan bahwa teman sebaya mempunyai peranan penting dalam keterlibatan
remaja dalam cyberbullying, melalui teman remaja dapat mempelajari berbagai hal
termasuk keterlibatan remaja dalam tindakan cyberbullying. Namun disisi lain
dukungan teman sebaya dapat membantu remaja untuk keluar dari masalah yang
dihadapinya, dimana dukungan teman merupakan hal penting yang dibutuhkan oleh
remaja.
9 Faktor Sekolah
Tingkat sekolah, jenis sekolah dan ukuran kualitas sekolah berhubungan dengan
risiko bullying dan cyberbullying, dimana prevalensi cyberbullying bervariasi di
setiap jenis sekolah dan kualitas sekolah. Menurut Anthanasiou etc (2018) , siswa
sekolah negeri lebih mungkin melaporkan keterlibatan dalam cyberbullying dari
pada sekolah swasta. Korban cyberbullying dari sekolah swasta hanya
menganggapnya sebagai hal yang biasa dan mereka tidak merasa keberatan.
2.2.3.10 Faktor Keluarga
Pemantauan orang tua secara signifikan berhubungan negatif dengan kejadian
cyberbullying pada remaja dimana terdapat hubungan positif antara impulsif dan
tindakan cyberbullying yang lebih kuat pada remaja dengan pemantauan orangtua
rendah. Remaja impulsif tinggi cenderung terlibat dalam cyberbullying daripada
remaja impulsif rendah. Penelitian Athanasiou et al., (2018) yang dilakukan
terhadap 13.708 remaja di tujuh Negara Eropa mengungkapkan bahwa 77,9%
orangtua mengizinkan remaja untuk mengunjungi setiap situs dan 54,1%
melaporkan bahwa orang tua mereka tidak pernah atau jarang memberikan batasan
waktu dalam pengunaan internet (Athanasiou & etc, 2018)

Bentuk-bentuk Cyberbullying


Menurut Willard (2007), aspek-aspek dari perilaku cyberbullying ada tujuh, yaitu:
Aspek pertama dari cyberbullying yaitu flaming, flaming merupakan perilaku yang
berupa mengirim pesan teks dengan kata-kata kasar, dan frontal. Perlakuan ini
biasanya dilakukan di dalam chat group di media sosial seperti mengirimkan
gambar-gambar yang dimaksudkan untuk menghina orang yang dituju. Flaming
adalah cyberbullying di ruang diskusi atau kolom chat dan komentar karena individu
atau kelompok tertentu menyampaikan pesan kemarahan dan tidak sopan secara
online (Rusyidi, Bintari, & Wibowo, 2019). Aspek kedua harassment, merupakan
perilaku mengirim pesan-pesan dengan kata-kata tidak sopan, yang ditujukan
kepada seseorang yang berupa gangguan yang dikirimkan melalui email, sms,
maupun pesan teks, di jejaring sosial secara terus menerus. Harassment merupakan
hasil dari tindakan flaming dalam jangka panjang. Harassment dilakukan dengan
saling berbalas pesan atau bisa disebut perang teks. Perilaku harassment dalam
pemanfaatan teknologi dan media sosial yang dilakukan remaja.
Aspek ketiga denigration merupakan perilaku mengumbar keburukan seseorang di
internet dengan maksud merusak reputasi dan nama baik orang yang dituju. Seperti
seseorang yang mengirimkan gambar-gambar seseorang yang sudah diubah
sebelumnya menjadi lebih sensual agar korban diolok-olok dan mendapat penilaian
buruk dari orang lain.Perilaku denigration dalam penelitian Muwarni & Dewi
(2019) menunjukkan bahwa 77,7% responden adalah terlibat sebagai pelaku
tindakan denigration. Namun pada 46,5% responden yang terlibat sebagai pelaku
masih berada pada kategori tingkat rendah, hanya 1-2 kali dalam setahun terakhir.
Aspek keempat impersonation,merupakan perilaku berpura-pura menjadi orang lain
dan mengirimkan pesan-pesan atau status yang tidak baik. Pada perilaku
impersonation oleh para pelaku berpura-pura menjadi orang lain dan kemudian
memposting atau mengirim materi yang dapat merusak reputasi teman- temannya.
Hasil selanjutnya menunjukan 69,3% dari responden belum pernah melakukan
tindakan impersonation. Hanya 30,7% responden menjadi pelaku, 21% diantaranya
terlibat sebagai pelaku tingkat rendah.
Aspek kelima Outing and Trickery, Outing merupakan perilaku menyebarkan
rahasia orang lain, atau foto-foto pribadi milik orang lain. Trickery merupakan
perilaku membujuk sesorang dengan tipu daya agar mendapatkan rahasia atau foto
pribadi orang tersebut. Menurut penelitian Widyanti dkk (2022) aspek
cyberbullying yang dilakukan oleh siswa MTs Al-Islam Limpung Batang adalah
outing dengan mean 201. Outing yaitu menyebarkan rahasia orang lain dan foto-
foto pribadi orang lain. Pelaku outing dan trickery biasanya justru adalah teman
yang cukup dekat dengan korban. Faktor yang membuat terjadinya outing dan
trickery dapat dipicu dari perasaan rendah diri dari seorang teman,iri terhadap teman
dan hubungan pertemanan yang meregang. Ketika korban mempercayai bahwa
seorang pelaku cyberbullying adalah teman,cenderung ia akan menceritakan rahasia-
rahasia dengan kepercayaan bahwa teman tersebut akan menyimpannya.
Aspek keenam exclusion merupakan perilaku dengan sengaja dan kejam
mengeluarkan seseorang dari grup online. Perilaku cyberbullying yang paling sering
dilakukan oleh remaja dalam penelitian ini adalah mengucilkan seseorang dari
kelompoknya secara online, atau yang disebut sebagai exclusion. Aspek ketujuh
cyberstalking merupakan perilaku berulang kali mengirimkan ancaman
membahayakan atau pesan-pesan yang mengintimidasi dengan menggunakan
komunikasi elektronik. Kasus tentang kejahatan cyberstalking dalam lingkungan
sekolah bisa melibatkan siswa yang menjadi korban, guru atau staf yang menjadi
korban (Deslian & Pernando, 2023). Hasil penelitian dari Indrayani & Johansari
(2019) cyberstalking menempati urutan ketiga sebanyak 5 tuturan (3%) setelah
flaming dan harrasmen. Tindakan yang terjadi adalah pengiriman pesan yang
mengandung unsur mengintimidasi sehingga dapat membuat si penerima pesan
merasa dalam bahaya dan takut akan keselamatannya (cyberstalking).
Berdasarkan hasil penelitian Sartana & Afriyeni (2017) dengan judul Perundungan
Maya (Cyberbullying) Pada Awal Remaja menunjukkan bahwa jumlah korban
perundungan maya di kalangan remaja awal hampir mencapai separuh dari
responden, yaitu 172 responden (49%). Itu artinya, hampir satu dari dua responden
pernah menjadi korban perusakan maya.Sementara itu, responden yang menjadi
pelaku perundungan maya jumlahnya lebih sedikit, yaitu hanya 76 responden(21%).
Adapun teknik yang banyak digunakan pelaku untuk merundung korban adalah
tulisan yang hal ini diakui oleh korban. Korban perundungan maya, diataranya 88
responden (51%) mengaku dirundung lewat tulisan, 84 responden (49%) lewat
suara, 42 orang lewat gambar (24%), dan 10 orang dirundung lewat video
(6%).Sementara itu 50 responden(47%) mengaku merundung temannya
menggunakan tulisan, 34 responden (32%) menggunakan suara, dan 23 responden
(21%) menggunakan gambar.
Hasil penelitian lainnya oleh Malihah & Alfisari (2018) dengan judul Perilaku
Cyberbullying Pada Remaja Dan Kaitannya Dengan Kontrol Diri Dan Komunikasi
Orang kategori jumlah populasi yang terpilih sebanyak 417 siswa perilaku
cyberbullying menunjukkan hampir satu perdua remaja dalam penelitian ini(48,3%)
berada pada kategori di bawah rata-rata dari remaja yang lain. Sementara sisanya
42,7 persen adalah remaja yang memiliki kategori perilaku cyberbullying yang
dikategorikan diatas rata-rata remaja lainnya.Hal ini terlihat dari beberapa perilaku
remaja yang suka mengirimkan pesan kepada teman di media sosial dengan tujuan
untuk memaksa dan dilakukan lebih dari satu kali (54,32), remaja suka mengejek
teman di grup/chatroom(56,79%), remaja juga menyatakan tidak akan menasihati
apabila ada teman yang mengeluarkan anggota di grup online tanpa sebab
(50,62%)

Definisi Cyberbullying


Cyberbullying yaitu tindakan mengintimidasi menggunakan media atau perangkat
elektronik, tindakan perundungan di media sosial adalah tindakan yang disengaja
oleh pelaku dengan maksud atau tujuan yang menyebabkan timbulnya kerugian,
tindakan yang selalu dilakukan secara konsisten atau berulang- ulang,
Cyberbullying selalu melibatkan suatu unsur hubungan yang ditandai dengan
adanya ketidakseimbangan kekuatan (Hellsten, 2017). Cyberbullying merupakan
perilaku individu atau kelompok secara sengaja dan berulang kali melakukan
tindakan yang menyakiti orang lain melalui penggunaan media komputer, telepon
seluler dan alat elektronik lainnya. Cyberbullying melibatkan pelecehan atau
penganiayaan yang dilakukan oleh pelaku terhadap korbannya tidak dengan kontak
fisik atau tidak saling berdekatan satu sama lain, melainkan secara psikologis yang
kemudian akan merusak emosional baik korban maupun pelakunya
sendiri.Berdasarkan uraian para ahli diatas peneliti mengambil kesimpulan bahwa
cyberbullying adalah salah satu kategorisasi dari bullying yang menggunakan sosial
media sebagai alat untuk mengganggu atau mengintimidasi teman atau orang lain
(Hinduja, 2007).
Hasil penelitian Sting (2019) dengan judul Hubungan Antara Kecerdasan
Emosional Dengan Perilaku Cyberbullying Pada Remaja di Salatiga. Pada
penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif korelasional.
Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa-siswi Sekolah Menengah Atas di
Salatiga. Hasil penelitian menyebutkan terdapat hubungan negatif yang signifikan
antara kecerdasan emosional dan perilaku cyberbullying pada remaja di Salatiga.
Hasil penelitian didapati bahwa sebagian besar partisipan memiliki kecerdasan
emosional yang tinggi yaitu,sebanyak 228 orang (56.5 %). Pada kategori sangat
tinggi menduduki peringkat kedua dengan jumlah partisipan sebanyak 168 (41,5
%). Disisi lain kategori rendah berada pada tingkat 3 dengan jumlah partisipan
sebanyak 7 orang (1.7%). Diperingkat terakhir ada pada kategori sangat rendah
dengan partisipan hanya 1 orang (0.2%). Jadi dapat disimpulkan bahwa kecerdasan
emosional partisipan tergolong tinggi. Pada hasil analisa deksriptif variabel
cyberbullying, hasil yang ditemui ialah sebagian besar partisipan tidak pernah
melakukan perilaku cyberbullying dengan jumlah 394 orang (0.5%). Di sisi lain
partisipan yang kadang-kadangmelakukanperilaku cyberbullying sebanyak 9 orang
(2.2 %). Peringkat terakhir jatuh pada kategori sering, dimana partisipan yang sering
melakukan perilaku cyberbullying hanya sejumlah 2 orang (0.5 %). Jadi dapat
disimpulkan bahwa perilaku cyberbullying partisipan berada pada kategori tidak
pernah. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional
remaja di Salatiga, semakin rendah pula perilaku cyberbullying timbul pada remaja
di Salatiga, begitu pula sebaliknya. Temuan ini membuktikan bahwa kecerdasan
emosional memiliki peranan penting dalam mengendalikan perilaku cyberbullying.
Apabila individu memiliki kecerdasan emosional yang tinggi maka perilaku agresif
remaja dapat dikontrol sehingga hal tersebut meningkatkan kepekaan individu
terhadap perilaku cyberbullying. Peningkatan kepekaan cyberbullying terhadap
individu merupakan komponen yang penting dalam mencegah terjadinya
cyberbullying. Individu yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi juga
memiliki empati yang tinggi.
Hasil penelitian lainya oleh Maulana (2022) dengan judul ”Hubungan Antara
Kecerdasan Emosional Dan Interaksi Sosial Dengan Perilaku Cyberbullying Di
Kalangan Peserta Didik” Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan
Populasi penelitian menggunakan tiga sekolah, yaitu: UPT SMP Negeri 1 Gresik,
UPT SMP Negeri 3 Gresik, dan UPT SMP Negeri 5 Gresik dengan total keseluruhan
populasi peserta didik kelas VIII sebanyak 1.020 peserta didik. Sampel penelitian
sebanyak 288 peserta didik kelas VIII yang dipilih menggunakan teknik simple
random sampling yang ditentukan dengan rumus slovin. Nilai signifikansi
0.004 < 0.05 menunjukkan bahwa adanya hubungan signifikan antara kecerdasan
emosional dengan perilaku cyberbullying di kalangan peserta didik (Ha) diterima
dan (Ho) ditolak. Koefisien korelasi sebesar -0.118 menunjukkan bahwa kekuatan
hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku cyberbullying adalah
sangat lemah dengan arah hubungan negatif yang menunjukkan bahwa hubungan
12
kecerdasan emosional dengan perilaku cyberbullying berlawanan sehingga dapat
disimpulkan bahwa jika kecerdasan emosional tinggi maka perilaku cyberbullying
rendah. Hasil penelitian ini mendukung teori Goleman yang digunakan peneliti
yakni lima aspek kecerdasan emosional pada peserta didik dapat mempengaruhi
perilaku suatu individu, yaitu kemampuan mengenali emosi diri, mengelola emosi
diri, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain (empati) dan membina hubungan
dengan orang lain yang diperlukan dalam diri suatu individu. Kecerdasan emosional
dan interkasi sosial merupakan faktor yang berkaitan dengan perilaku
cyberbullying. Oleh sebab itu perlu adanya kewaspadaan peserta didik pada fase
remaja awal dalam menghadapi timbulnya perilaku cyberbullying di fase peralihan
dan perkembangan ini.
Sejalan dengan penelitian Rachmawati (2022) dengan judul Hubungan Kecerdasan
Emosional Dengan Kecenderungan Cyberbullying Pada Remaja Di SMP
Muhammadiyah 1 Surakarta. Sampel penelitian sebanyak 109 siswa yang
ditentukan dengan teknik proportional stratified sampling. Pengumpulan data
penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data penelitian adalah univariat dan
bivariate yang menggunakan Chi Square. Nilai signifikasi uji menunjukkan lebih
rendah dari 0,05 (0,000 <0,05) sehingga keputusan uji adalah H0 ditolak yang
bermakna bahwa terdapat hubungan yang signifikan kecerdasan emosional dengan
perilaku Cyberbullying pada siswa kelas 6 SMP Muhammadiyah I Surakarta,
dimana semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional remaja maka perilaku
cyberbullying nya semakin rendah. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian
besar responden memiliki kecerdasan emosional yang tinggi (47%). Kecerdasan
emosional merupakan kemampuan emosi yang dimiliki oleh remaja untuk
mengendalikan diri, memiliki daya tahan dalam menghadapi suatu masalah, mampu
mengendalikan impuls, memotivasi dan mampu mengatur suasana hati,
kemampuan berempati dan membina hubungan dengan orang lain. Sehingga, orang
yang dikatakan cerdas secara emosional adalah orang yang mampu mengenali
emosi diri maupun orang lain, mengelola emosi diri sendiri, memotivasi diri sendiri,
yang kemudian aspek-aspek tersebut akan dijalankan atau dilaksanakan dalam
berhubungan secara sosial dengan orang lain. Kecerdasan emosional merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku cyberbullying pada
remaja. Remaja yang memiliki kecerdasan emosional yang rendah cenderung
mengalami kesulitan dalam mengontrol emosi untuk tidak melakukan perilaku
cyberbullying, begitu sebaliknya remaja yang memiliki kecerdasan emosional yang
tinggi mampu mengontrol emosinya untuk menginternalisasi pola-pola perilaku,
nilai-nilai dalam masyarakat akan mengembangkan sikap menerima interaksi yang
diterimanya dalam lingkungannya baik lingkungan keluarga, sekolah maupun
masyarakat.
Penelitian lainnya oleh Khairunnisa & Alfaruqy (2022) dengan judul Hubungan
Antara Kecerdasan Emosional Dengan Cyberbullying Di Media Sosial Twitter Pada
Siswa SMAN 16 Jakarta Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif.
Populasi penelitian ini adalah 172 siswa SMAN 26 Jakarta yang merupakan
pengguna aktif Twitter. Hasil penelitian tersebut signifikan dan terdapat hubungan
dengan arah negatif antara variabel dependen dan variabel independen. Hasil
tersebut mendukung hipotesis yang telah ditetapkan di awal penelitian bahwa
semakin tinggi kecerdasan emosional siswa makan akan semakin rendah
cyberbullying, begitupun sebaliknya. Pada hasil penelitian menunjukkan besarnya
sumbangan efektif kecerdasan emosional terhadap cyberbullying siswa SMAN 26
Jakarta adalah 19,4%. Hasil kategorisasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
sebanyak 86,67% dari 120 subjek berada pada kategori kecerdasan emosional tinggi
dan 52,5% dari 120 subjek berada pada kategori cyberbullying yang sangat rendah.
Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa mayoritas subjek memiliki
kecerdasan emosional yang tinggi disertai dengan cyberbullying yang sangat
rendah. Hal tersebut dikarenakan pada usia remaja, keterampilan dalam mengontrol
dan memanajemen emosi berperan besar dalam mengendalikan perilaku
cyberbullying kepada teman sebaya. Individu dengan tingkat kecerdasan emosional
tinggi akan memiliki tingkat kepekaan terhadap cyberbullying yang tinggi pula

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional


Kecerdasan emosional tidak ditentukan sejak lahir tetapi dapat dilakukan melalui
proses pembelajaran. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan
emosional individu menurut Goleman (2000), yaitu faktor dari lingkungan keluarga
dan non keluarga. Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama dalam
mempelajari emosi. Peran serta orang tua sangat dibutuhkan karena orang tua adalah
subyek pertama yang perilakunya diidentifikasi, diinternalisasi yang pada akhirnya
akan menjadi bagian dari kepribadian anak. kecerdasan emosional ini dapat
diajarkan pada saat anak masih bayi dengan contoh-contoh ekspresi. Kehidupan
emosi yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi anak kelak di kemudian
hari, sebagai contoh: melatih kebiasaan hidup disiplin dan bertanggung jawab,
kemampuan berempati, kepedulian, dan sebagainya. Hal ini akan menjadikan anak
menjadi lebih mudah untuk menangani dan menenangkan diri dalam menghadapi
permasalahan, sehingga anak-anak dapat berkonsentrasi dengan baik dan tidak
memiliki banyak masalah tingkah laku seperti tingkah laku kasar dannegatif.
Sedangkan faktor dari lingkungan non keluarga. Dalam hal ini adalah lingkungan
masyarakat dan lingkungan penduduk. kecerdasan emosional ini berkembang
sejalan dengan perkembangan fisik dan mental anak. Pembelajaran ini biasanya
ditunjukkan dalam aktivitas bermain anak seperti bermain peran. Anak berperan
sebagai individu di luar dirinya dengan emosi yang menyertainya sehingga anak
akan mulai belajar mengerti keadaan orang lain. Pengembangan kecerdasan
emosional dapat ditingkatkan melalui berbagai macam bentuk pelatihan diantaranya
adalah pelatihan asertivitas, empati dan masih banyak lagi bentuk pelatihan yang
lainnya

Aspek-aspek Kecerdasan Emosional


Golleman (2000) menyatakan bahwa secara umum ciri-ciri seseorang memiliki
kecerdasan emosional adalah mampu memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi
frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan,
mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan
kemampuan berfikir serta berempati dan berdoa. Lebih lanjut Goleman (2000)
merinci lagi aspek-aspek kecerdasan emosional secara khusus sebagai berikut:
Aspek yang pertama dari kecerdasan emosional yaitu mengenali emosi diri, artinya
kemampuan individu yang berfungsi untuk memantau perasaan dari waktu ke
waktu, mencermati perasaan yang muncul. Ketidakmampuan untuk mencermati
perasaan yang sesungguhnya menandakan bahwa orang berada dalam kekuasaan
emosi. Kemampuan mengenali diri sendiri meliputi kesadaran diri. jika seseorang
memiliki kemampuan dalam mengenali emosi dengan baik dan dapat mengontrol
dirinya untuk tidak terlibat dalam perilaku yang negatif terutama ketika sedang
mengalami tekanan. Sehingga kemampuan dalam mengenali seseorang dalam
mengontrol dirinya dalam mengarahkan perilakunya dengan baik dan terhindar dari
perilaku cyberbullying (Violenta & dkk, 2021).
Aspek kedua mengelola emosi, yaitu kemampuan untuk menghibur diri sendiri,
melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang
timbul karena kegagalan keterampilan emosi dasar. Orang yang buruk kemampuan
dalam keterampilan ini akan terus menerus bernaung melawan perasaan murung,
sementara mereka yang pintar akan dapat bangkit kembali jauh lebih cepat.
Kemampuan mengelola emosi meliputi kemampuan penguasaan diri dan
kemampuan menenangkan kembali. Barroncelli & Ciucci (2014) menyatakan
bahwa pelaku cyberbullying kurang memiliki pemikiran realistis ketika mengatasi
masalah serta memiliki kemampuan mengelola emosi yang kurang baik karena
mereka seringkali kurang bijak ketika berinteraksi di media sosial. Dengan
demikian jika kecerdasan emosional individu rendah akan membuat individu
tersebut lebih mengalami kesulitan mengelola emosi maupun berempati terhadap
orang lain, sehingga emosi akan dilampiaskan kepada orang lain dengan berperilaku
agresif seperti mengirim pesan yang tidak pantas di media sosial. Hal tersebut
membuat individu dengan kecerdasan emosional yang rendah cenderung dapat
menjadi pelaku cyberbullying (Santrock, 2011).
Aspek ketiga memotivasi diri sendiri, yaitu kemampuan untuk mengatur emosi
merupakan alat untuk mencapai tujuan dan sangat penting untuk memotivasi dan
menguasai diri. Orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih
produktif dan efektif dalam upaya apapun yang dikerjakannya. Kemampuan ini
didasari oleh kemampuan mengendalikan emosi, yaitu menahan diri terhadap
kepuasan dan mengendalikan dorongan hati. Kemampuan ini meliputi:
pengendalian dorongan hati, kekuatan berfikir positif dan optimis. Pada pelaku
cyberbullying memiliki perbedaan motivasi dalam melakukan tindakannya yang
disebabkan karena perbedaan latar belakang dari seseorang. in order to motive
adalah tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang yang melakukan suatu tindakan
tertentu. Secara singkat, in order to motive adalah tujuan yang ingin diraih oleh
seseorang melakukan cyberbullying. Bentuk nyata dari suatu tindakan bullying yang
dilakukan oleh salah satu informan adalah ia merasa senang dan puas ketika berhasil
melakukan bullying kepada temannya. Pelaku cyberbullying juga melakukan
cyberbullying untuk dilihat bahwa dirinnya memiliki kekuatan untuk melawan
orang yang tidak disukai (Anggraeni & dkk, 2022).
Aspek keempat mengenali emosi orang lain, kemampuan ini disebut empati, yaitu
kemampuan yang bergantung pada kesadaran diri emosional, kemampuan ini
merupakan keterampilan dasar dalam bersosial. Orang empatik lebih mampu
menangkap sinyal-sinyal sosial tersembunyi yang mengisyaratkan apa yang
dibutuhkan orang atau dikehendaki orang lain. Penelitian oleh Aini & Rahardjo
(2023) empati memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku cyberbullying,
dimana dapat dikatakan bahwa semakin tinggi empati maka semakin rendah
perilaku cyberbullying yang dilakukan, sebaliknya semakin rendah empati maka
semakin tinggi perilaku cyberbullying. Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh
Arofa dkk (2018) yang mengatakan bahwa individu yang melakukan cyberbullying
memiliki rasa empati yang rendah, sehingga tidak mampu menggunakan sudut
pandang orang lain dan memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Empati
merupakan sifat afektif, yaitu kapasitas seseorang untuk merasakan emosi dari
orang lain dan kemampuan kognitif, dimana individu dapat memahami perasaan
orang lain. Dapat dikatakan bahwa jika individu memiliki tingkat empati yang
rendah, individu tersebut sulit untuk memahami dan merasakan emosi dari individu
lain.
Aspek kelima membina hubungan. Seni membina hubungan sosial merupakan
keterampilan mengelola emosi orang lain, meliputi keterampilan sosial yang
menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan hubungan antar pribadi.
Penelitian Maulana (2023) menunjukkan bahwa kekuatan hubungan antara interaksi
sosial dengan perilaku cyberbullying adalah sangat lemah dengan arah hubungan
negatif yang menunjukkan bahwa hubungan interaksi sosial dengan perilaku
cyberbullying berlawanan sehingga dapat disimpulkan bahwa jika interaksi sosial
tinggi maka perilaku cyberbullying rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa ketika seseorang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dalam hal ini
dapat membina hubungan dengan orang lain maupun dengan sekitarnya maka ia
enggan untuk melakukan perilaku cyberbullying

Definisi Kecerdasan Emosional


Goleman menyatakan kecerdasan emosional merupakan kemampuan emosi yang
meliputi kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi
frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih lebihkan kesenangan,
mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan
kemampuan berpikir, berempati dan berdoa. Kecerdasan emosional dapat
menempatkan emosi seseorang pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan
mengatur suasana hati. Koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial
yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati
individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat
emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan
sosial serta lingkungannya (Goleman, 2000)

Aspek dalam budaya organisasi


Tujuh hal yang menjadi aspek penting suatu budaya organisasi
menurut Robbins (2002, dalam Mujiasih, 2012) adalah:
a. Inovasi dan pengambilan resiko (Inovation and Risk Taking)
Tingkat daya pendorong karyawan untuk bersikap inovatif, berani
mengambil keputusan dan resiko.
b. Perhatian terhadap detail (Attention to Detail)
Tingkat tuntutan terhadap karyawan untuk mampu
memperlihatkan ketepatan, analisis dan perhatian terhadap detail.
c. Orientasi terhadap hasil (Outcome Orientation)
Tingkat tuntutan terhadap manajemen untuk lebih memusatkan
perhatian pada hasil dibandingkan perhatian pada teknik dan
proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
d. Orientasi terhadap individu (People Orientation)
Tingkat keputusan manajemen dalam mempertimbangkan efek
hasil terhadap individu yang ada dalam perusahaan.
e. Orientasi terhadap tim (Team Orientation)
Tingkat aktivitas pekerjaan yang diatur dalam tim, bukan secara
perorangan.
f. Agresifitas (Aggresiveness)
Tingkat tuntutan terhadap individu agar berlaku agresif dan
bersaing (kompetitif), serta tidak bersikap santai.
g. Stabilitas (Stability)
Tingkat penekanan aktivitas perusahaan dalam mempertahankan
status quo berbanding pertumbuhan

Fungsi budaya organisasi
Robbins (2002), mengemukakan bahwa fungsi dari budaya organisasi
antara lain adalah:
a. Budaya organisasi memiliki suatu peran batas-batas penentu yaitu
budaya menciptakan perbedaan antara satu perusahaan dengan
perusahaan yang lain.
b. Budaya berfungsi untuk menyampaikan rasa identitas kepada
anggota-anggota perusahaan sehingga karyawan merasa bangga
menjadi anggota dari perusahaan tempatnya bekerja
c. Budaya mempermudah penerusan komitmen sampai mencapai
batasan yang lebih luas, melebihi batasan ketertarikan individu
sehingga mampu mencapai tujuan perusahaan
d. Budaya mendorong stabilitas sistem sosial. Budaya merupakan
suatu ikatan social yang membantu mengikat kebersamaan
perusahaan dengan menyediakan standar yang sesuai mengenai
apa yang harus dikatakan dan dilakukan karyawan.
e. Budaya mendorong stabilitas sosial. Budaya merupakan suatu
ikatan sosial yang membantu mengikat kebersamaam perusahaan
dengan menyediakan standar-standar yang sesuai mengenai apa
yang harus dikatakan dan dilakukan karyawan.
f. Budaya bertugas sebgai pembentuk rasa dan mekanisme
pengendalian yang memberikan panduan dan membentuk perilaku
serta sikap karyawan.
Menurut Kreitner dan Kinicki (2005, dalam Mujiasih, 2012), fungsi
budaya organisasi adalah:
a. Memberikan identitas perusahaan kepada karyawan
Budaya memberikan identitas pada sebuah perusahaan Identitas
ini dapat di dukung dengan mengadakan atau memberikan
penghargaan yang dapat mendorong inovasi. Identitas yang
dimiliki suatu perusahaan menjadikan anggotanya berbeda dengan
anggota perusahaan lain dan memberikan pola identifikasi kepada
perusahaan.
b. Memudahkan komitmen kolektif
Salah satu nilai dalam perusahaan adalah menjadi sebuah
perusahaan dimana karyawannya bangga menjadi bagian dari
perusahaan sehingga karyawan akan tetapbertahan dan bekerja
pada perusahaan dalam waktu yang lama.
c. Mempromosikan stabilitas sistem sosial
Stabilitas sistem sosial mencerminkan taraf dimana lingkungan
kerja dirasakan positif dan mendukung karyawan dalam
perusahaan, adanya konflik dan perubahanperubahan yang terjadi
diatur dengan baik dan efektif.
d. Membentuk perilaku dengan membantu manajer merasakan
keberadaannya
Budaya membantu para karyawan memahami alasan perusahaan
melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan bagaimana
perusahaan mencapai tujuan jangka panjang

Dimensi budaya organisasi


Budaya mengimplementasikan adanya dimensi atau karakteristik
tertentu. Budaya organisasi harus mempunyai dimensi mencolok yang dapat
didefinisikan dan diukur. Robbins (2008) membagi menjadi 9 karakteristik
utama yang menjadi pembeda budaya organisasi satu dengan lainnya.
Karakteristik tersebut adalah:
a. Toleransi terhadap tindakan berisiko
Sejauh mana para karyawan dianjurkan untuk bertindak agresif,
inovatif, dan mengambil risiko dalam pekerjaan.
b. Arah
Sejauh mana organisasi menciptakan dengan jelas sasaran dan
harapan mengenai prestasi.
c. Integrasi
Tingkat sejauh mana unit-unit dalam organisasi didorong untuk
bekerja dengan cara yang terkoordinasi.
d. Dukungan dari manajemen
Tingkat sejauh mana para pimpinan memberi komunikasi yang
jelas, bantuan, serta dukungan terhadap bawahan mereka.
e. Kontrol
Jumlah peraturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk
mengawasi dan mengendalikan perilaku karyawan.
f. Identitas
Tingkat sejauh mana para anggota mengidentifikasi dirinya secara
keseluruhan dengan organisasinya ketimbang dengan kelompok
kerja tertentu atau dengan bidang keahlian profesional.
g. Sistem imbalan
Tingkat sejauh mana alokasi imbalan, seperti kenaikan
gaji/promosi didasarkan atas kriteria prestasi karyawan sebagai
kebalikan dari senioritas, sikap pilih kasih, dan sebagainya.
h. Toleransi terhadap konflik
Tingkat sejauh mana para karyawan didorong untuk
mengemukakan konflik dan ktitik secara terbuka.
i. Pola-pola komunikasi
Tingkat sejauh mana komunikasi organisasi dibatasi oleh hierarki
kewenangan yang formal.

Pengertian budaya organisasi


Menurut Schein (2002) merumuskan budaya organisasi sebagai
sebagai suatu pola dari asumsi-asumsi mendasar yang dipahami bersama
dalam sebuah organisasi, terutama dalam memecahkan masalah-masalah
yang dihadapi. Pola-pola tersebut menjadi sesuatu yang pasti dan
disosialisasikan kepada anggota baru dalam organisasi.
Sedangkan Susanto (2007) memberikan definisi budaya organisasi
sebagai nilai-nilai yang menjadi pedoman sumber daya manusia untuk
menghadapi permasalahan eksternal dan usaha penyesuaian integrasi ke
dalam perusahaan sehingga masing-masing anggota organisasi harus
memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana mereka harus bertindak atau
berperilaku.
Salah satu teori penting mengenai budaya organisasi didapat dari
pernyataan Marshal (2005), ia menyatakan bahwa: setiap anggota di dalam
organisasi mempunyai impian dan harapan, mempunyai pokok persoalan dan
masalah. Mereka ingin berhasil dalam bekerja dan memberikan kontribusinya
kepada organisasi. Pemenuhan harapan, keinginan dan kesesuaian nilai akan
menciptakan energi, rasa bangga, kesetiaan dan gairah. Kesemuanya ini
memberikan warna yang kuat kepada budaya kerja, juga kepada budaya
organisasi.
Sedangkan Robbins (2008) memberi definisi budaya organisasi
sebagai suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi
itu.

Ciri-ciri keterikatan kerja


Karyawan yang memiliki work engagement terhadap organisasi/
perusahaan memiliki karakteristik tertentu. Berbagai pendapat mengenai
karakteristik karyawan yang memiliki work engagement yang tinggi banyak
dikemukakan dalam berbagai literatur, diantaranya Federman (2009)
mengemukakan bahwa karyawan yang memiliki work engagement yang
tinggi dicirikan sebagai berikut:
a. Fokus dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dan juga pada
pekerjaan yang berikutnya
b. Merasakan diri adalah bagian dari sebuah tim dan sesuatu yang
lebih besar daripada diri mereka sendiri
c. Merasa mampu dan tidak merasakan sebuah tekanan dalam
membuat sebuah lompatan dalam pekerjaan
d. Bekerja dengan perubahan dan mendekati tantangan dengan
tingkah laku yang dewasa
Karyawan yang memiliki work engagement yang tinggi akan bekerja
lebih dari kata “cukup baik”, mereka bekerja dengan berkomitmen pada
tujuan, menggunakan intelegensi untuk membuat pilihan bagaimana cara
terbaik untukmenyelesaikan suatu tugas, memonitor tingkah laku mereka
untuk memastikan apa yang mereka lakukan benar dan sesuai dengan tujuan
yang akan dicapai dan akan mengambil keputusan untuk mengkoreksi jika
diperlukan (Thomas, 2009)
Menurut Hewitt (Schaufeli & Bakker, 2010), karyawan yang memiliki
work engagement yang tinggi akan secara konsisten mendemonstrasikan tiga
perilaku umum, yaitu:
a. Say – secara konsisten bebicara positif mengenai organisasi
dimana ia bekerja kepada rekan sekerja, calon karyawan yang
potensial dan juga kepada pelanggan
b. Stay – Memiliki keinginan untuk menjadi anggota organisasi
dimana ia bekerja dibandingkan kesempatan bekerja di organisasi
lain
c. Strive – Memberikan waktu yang lebih, tenaga dan inisiatif untuk
dapat berkontribusi pada kesuksesan bisnis organisasi
Robertson, Smythe (2007) berpendapat bahwa karyawan yang
engaged menunjukkan antusiasme, hasrat yang nyata mengenai pekerjaannya
dan untuk organisasi yang mempekerjakan mereka. Karyawan yang engaged
menikmati pekerjaan yang mereka lakukan da berkeinginan untuk
memberikan segala bantuan yang mereka mampu untuk dapat mensukseskan
organisasi dimana mereka bekerja. Karyawan yang engaged juga mempunyai
level energi yang tinggi dan secara antusias terlibat dalam pekerjaannya
(Schaufeli, Taris & Rhenen,, 2008).
Leiter & Bakker (2010), ketika karyawan engaged, mereka merasa
terdorong untuk berusaha maju menuju tujuan yang menantang, mereka
menginginkan kesuksesan. Lebih lanjut, work engagement merefleksikan
energi karyawan yang dibawa dalam pekerjaan.
Berdasarkan uraian di atas, ciri-ciri karyawan yang engaged tidak
hanya mempunyai kapasitas untuk menjadi energik, tetapi mereka secara
antusias mengaplikasikan energi yang dimiliki pada pekerjaan mereka. Work
engagement juga merefleksikan keterlibatan yang intensif dalam bekerja,
karyawan yang memilikinya memiliki perhatian yang lebih terhadap
perusahaan, memikirkan detail penting, tenggelam dalam pekerjaannya,
merasakan pengalaman untuk hanyut dalam pekerjaaan sehingga melupakan
waktu dan mengurangi segala macam gangguan dalam pekerjaan

Faktor yang memengaruhi keterikatan kerja


Menurut Federman (2009) bahwa employee engagement juga dapat
dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
a. Kebudayaan (Cultuure)
b. Indikator Sukses (Success Indikators)
c. Pengertian Prioritas (Priority Setting)
d. Komunikasi (Communication)
e. Inovasi (Innovation)
f. Penguasaan Bakat (Talent Acquisition)
g. Peningkatan Bakat (Talent Enhancement)
h. Insentif dan Pengakuan (Incentives and Acknowledgement)
i. Pelanggaran (Cusomer-Centered)
Menurut Thomas (2009) engagement dapat dipengaruhi oleh empat
intrinsic rewards, yaitu: Kebermaknaan (A Sense of Meaningfulness), Pilihan
(A Sense of Choice), Kemampuan (A Sense of Conpetence), dan Kemajuan (A
Sense of Progress).
Faktor pendorong work engagement yang dijabarkan oleh Perrins
(2003) meliputi 10 hal yang dijabarkan secara berurutan:
a. Senior Management yang memperhatikan keberadaan karyawan
b. Pekerjaan yang memberikan tantangan
c. Wewenang dalam mengambil keputusan
d. Perusahaan/ organisasi yang fokus pada kepuasan pelanggan
e. Memiliki kesempatan yang terbuka lebar untuk berkarier
f. Reputasi perusahaan
g. Tim kerja yang solid dan saling mendukung
h. Kepemilikan sumber yang dibutuhkan untuk dapat menunjukkan
performa kerja yang prima
i. Memiliki kesempatan untuk memberikan pendapat pada saat
pengambilan keputusan.
j. Penyampaian visi organisasi yang jelas oleh senior management
mengenai target jangka panjang organisasi

Dimensi keterikatan kerja (work engagement)


Utrecht Work Engagement Scale (UWES) (Schaufeli et al, 2003;.
Schaufeli dan Bakker, 2004, Schaufeli, Taris dan Rhenen, 2008). Seorang
karyawan yang tergolong memiliki work engagement dengan kata lain dapat
didefinisikan dengan melakukan pekerjaan pikiran yang ditandai dengan
semangat, dedikasi, dan penyerapan dalam menyelesaikan semua
penugasannya.
Secara ringkas Schaufeli, Salanova, Gonzales-Roma, & Bakker,
(2002) menjelaskan mengenai dimensi yang terdapat dalam work
engagement, yaitu:
a. Vigor
Merupakan curahan energi dan mental yang kuat selama bekerja,
keberanian untuk berusaha sekuat tenaga dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan, dan tekun dalam menghadapi kesulitan kerja.
Juga kemauan untuk menginvestasikan segaala upaya dalam suatu
pekerjaan, dan tetap bertahan meskipun menghadapi kesulitan.
b. Dedication
Merasa terlibat sangat kuat dalam suatu pekerjaan dan mengalami
rasa kebermaknaan, antusiasme, kebanggaan, inspirasi dan
tantangan.
c. Absorption
Dalam bekerja karyawan selalu penuh konsentrasi dan serius
terhadap suatu pekerjaan. Dalam bekerja waktu terasa berlalu
begitu cepat dan menemukan kesulitan dalam memisahkan diri
dengan pekerjaan.
Menurut Macey, Schneider, Barbera & Young (dalam Mujiasih,
2012), work engagement mencakup 2 dimensi penting, yaitu:
a. Work engagement sebagai energi psikis
Dimana karyawan merasakan pengalaman puncak dengan berada
di dalam pekerjaan dan arus yang terdapat di dalam pekerjaan
tersebut. Keterikatan kerja merupakan tendangan fisik dari
perendaman diri dalam pekerjaan (immersion), perjuangan dalam
pekerjaan (striving), penyerapan (absorption), fokus (focus) dan
juga keterlibatan (involvement).
b. Work engagement sebagai energi tingkah laku
Bagaimana work engagement terlihat oleh orang lain. Keterikatan
kerja terlihat oleh orang lain dalam bentuk tingkah laku yang
berupa hasil.
Tingkah laku yang terlihat dalam pekerjaan berupa:
1) Karyawan akan berfikir dan bekerja secara proaktif, akan
mengantisipasi kesempatan untuk mengambil tindakan dan
akan mengambil tindakan dengan cara yang sesuai dengan
tujuan organisasi.
2) Karyawan yang engaged tidak terikat pada “job
description”, mereka focus pada tujuan dan mencoba untuk
mencapai secara konsisten mengenai kesuksesan organisasi.
3) Karyawan secara aktif mencari jalan untuk dapat
memperluas kemampuan yang dimiliki dengan jalan yang
sesuai dengan yang penting bagi visi dan misi perusahaan.
4) Karyawan pantang menyerah walau dihadapkan dengan
rintangan atau situasi yang membingungkan

Pengertian keterikatan kerja


Menurut Kahn (dalam May dkk, 2004) work engagement dalam
pekerjaan dikonsepsikan sebagai anggota organisasi yang melaksanakan
peran kerjanya, bekerja dan mengekspresikan dirinya secara fisik, kognitif
dan emosional selama bekerja. Keterikatan karyawan yang demikian itu
sangat diperlukan untuk mendorong timbulnya semangat kerja karyawan
(Hochschild, dalam May dkk, 2004).
Brown, (Robbins, 2003) memberikan definisi work engagement yaitu
dimana seorang karyawan dikatakan work engagement dalam pekerjaannya
apabila karyawan tersebut dapat mengidentifikasikan diri secara psikologis
dengan pekerjaannya, dan menganggap kinerjanya penting untuk dirinya,
selain untuk organisasi. Karyawan dengan work engagement yang tinggi
dengan kuat memihak pada jenis pekerjaan yang dilakukan dan benar-benar
peduli dengan jenis kerja itu .
Secara lebih spesifik Schaufeli, Salanova, Gonzalez-Roma dan Bakker
(2002) mendefinisikan work engagement sebagai positivitas, pemenuhan,
kerja dari pusat pikiran yang dikarakteristikkan (Schaufeli, dkk, 2008), Work
engagement merupakan sebuah motivasi dan pusat pikiran positif yang
berhubungan dengan pekerjaan yang dicirikan dengan vigor, dedication dan
absorption (Schaufeli, Salanova, Gonzales-Roma, & Bakker, 2002, dalam
Mujiasih, 2012).
Work engagement lebih daripada keadaan sesaat dan spesifik,
mengacu ke keadaan yang begerak tetap meliputi aspek kognitif dan afektif
yang tidak fokus pada objek, peristiwa, individu atau perilaku tertentu
(Schaufeli & Martinez, 2002). Schaufeli, Salanova, dan Bakker (dalam
Mujiasih, 2012) memberikan batasan mengenai work engagement sebagai
persetujuan yang kuat terhadap pelaksanaan pekerjaan dan hal-hal lain yang
berhubungan dengan pekerjaan.Schaufeli dan Bakker, Rothbard (dalam Saks,
2006) mendefinisikan engagement sebagai keterlibatan psikologis yang lebih
lanjut melibatkan dua komponen penting, yaitu attention dan absorption.
Attention mengacu pada ketersediaan kognitif dan total waktu yang
digunakan seorang karyawan dalam memikirkan dan menjalankan perannya,
sedangkan Absorption adalah memaknai peran dan mengacu pada intensitas
seorang karyawan fokus terhadap peran dalam organisasi.
Secara umum Thomas (2009) menggambarkan employee engagement
dengan istilah worker engagement, yang diartikan sebagai suatu tingkat bagi
seseorang yang secara aktif memiliki managemen diri dalam menjalankan
suatu pekerjaan. Sedangkan menurut Robbins dan Judge (2008) employee
engagement yaitu keterlibatan, kepuasan, dan antusiasme individual dengan
kerja yang mereka lakukan.
Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian teori di atas mengenai
work engagement merupakan sikap dan perilaku karyawan dalam bekerja
dengan mengekspresikan dirinya secara total baik secara fisik, kognitif,
afektif dan emosional. Karyawan menemukan arti dalam bekerja, kebanggaan
telah menjadi bagian dari organisasi tempat ia bekerja, bekerja untuk
mencapai visi dan misi keseluruhan sebuah organisasi. Karyawan akan
bekerja ekstra dan mengupayakan sesuatu untuk pekerjaan di atas apa yang
diharapkan baik dalam waktu dan energi

Faktor-faktor kebermaknaan kerja


Faktor-faktor dalam kebermaknaan kerja Hoole dan Bonnema (2015)
menjelaskan bahwa terdapat dua faktor dalam kebermaknaan kerja yaitu,
faktor yang mempengaruhi kebermaknaan kerja dan faktor yang
dipengaruhi kebermaknaan kerja:
a. Mempengaruhi kebermaknaan kerja
1) Sudut pandang
Pekerjaan bermakna merupakan nilai-nilai dalam diri karyawan yang
dapat mempengaruhi pengalaman karyawan tentang pekerjaan yang
bermakna serta dapat berdampak pada keterlibatan kerja karyawan.
2) Pengalaman
Overell (dalam Hoole dan Bonnema, 2015) mengatakan tahap
kehidupan seseorang mempunyai dampak yang berarti bagi
seseorang tentang apa yang mereka inginkan untuk mendampatkan
makna dari pekerjaan.
b. Dipengaruhi kebermaknaan kerja
Dalam faktor ini kebermaknaan kerja mempengaruhi pekerjaan yang
sedang dilakukan karyawan, dimana seseorang yang mempunyai
kebermaknaan kerja maka keterikatan kerja karyawan meningkat.
Sedangkan, Morin (dalam Kawuryan, 2017) menyebutkan
faktor apa saja yang mempengaruhi keterikatan kerja, yaitu:
a. Development and learning
Faktor development and learning atau pengembangan dan
pembelajaran adalah persepsi tentang pekerjaan yang sesuai dengan
kepentingan dan kompetensi karyawan atau pekerjaan yang
memungkinkan karyawan mengeksperisakan dirinya lewat
pekerjaannya.
b. Work Utility
Utilitas kerja berhubungan dengan aspek pragmatis pekerjaan,
yang dilihat sebagai pekerjaan yang dapat membantu orang lain.
Faktor utilitas kerja berhubungan dengan manfaat pekerjaan bagi
kepentiang bersama.
c. Quality of Working Relationship
Faktor ini berbicara mengenai kualitas hubungan kerja
mengenai interpersonal kerja, persepsi kerja sama antar pekerja,
solidaritas sesama pekerja dan adanya dukungan sosial.
d. Autonomy
Otonomi berhubungan dengan adanya karyawan membuat
penilaian sendiri, menunjukan kreativitasnya dan kebebasan
karyawan dalam melakukan pekerjaannya. Dalam faktor ini,
pekerjaan yang berarti menjelaskan bahwa karyawan dapat mengatur
tugasnya, sesuai dengan cara yang menurut karyawan efektif.
e. Moral Correctness
Pada faktor moral correctness atau kebenaran moral
merupakan persepsi karyawan tentang pekerjaannya sesuai dengan hal
yang diinginkan dan dihargai dalam masyarakat dan pekerjaan
tersebut diciptakan dengan cara yang bertanggung jawab secara
sosial

Aspek kebermaknaan kerja


Steger (dalam Kawuryan, 2017) mengatakan adanya tiga aspek
yang bisa menjelaskan kebermaknaan kerja, yaitu:
a. Positive meaning in work (PM)
Positif meaning in work adalah keadaan dimana karyawan merasa apa
yang dilakukan atau yang dikerjakan memiliki arti yang signifikan
bagi karyawan.
b. Meaning making through work (MM)
Meaning making through work merupakan pemberian makna oleh
karyawan terhadap pekerjaan yang akan membantu karyawan dalam
menciptakan makna bagi pekerjaan yang sedang dijalaninya.
c. Greater good motivations (GG)
Greater good motivations yaitu pekerjaan karyawan akan menjadi
lebih berarti ketika pekerjaan tersebut dapat berdampak besar bagi
orang.
Sedangkan Chalofsky (dalam Handayani dan Pitoyo, 2018),
menggambambarkan konsep dari kebermaknaan kerja atau kebermaknaan
kerja memiliki tiga bagian yang mempunyai hubungan:
a. Sudut pandang pada diri
Untuk mencapai kebermaknaan dalam pekerjaan yang sedang ditekuni
tergantung pada sudut pandang dari karyawan tentang pekerjaan yang
sedang ditekuni
b. Sudut pandang pada pekerjaan
Makna yang ditimbulkan dari pekerjaan itu sendiri karena karyawan
yakin dan tahu tentang kesuksesan dan risiko dari pekerjaan karyawan
c. Sudut pandang keseimbangan
Kebermaknaan kerja dapat muncul karena mempunyai kondisi tempat
kerja yang mampu menjamin pencerahan antara individu, nilai dan
tujuan dari pekerjaannya

Faktor-faktor keterikatan kerja


Terdapat tiga faktor utama yang membangun keterikatan kerja pada
karyawan yaitu personal resources, job demands dan job resources
berdasarkan job demands-resources (Bakker dan Leiter ; dalam Steven
dan Prihatsanti, 2017).
a. Tuntutan pekerjaan ( job demands )
Job demands atau tuntutan pekerjaan adalah lingkungan pekerjaan
sebagai pemberi stimulus yang memiliki sifat memaksa dan memerintah
sehingga dibutuhkan pemberian respon. Respon yang diberikan
diperlukan usaha fisik atau psikis karyawan, dikarenakan tuntutan kerja
yang mengarah pada beberapa aspek yaitu, fisik, sosial atau organisasi.
Terdapat faktor-faktor yang bisa berpengaruh pada tuntutan kerja antara
lain, tekanan kerja (work pressure), tuntutan emosi (emotional demands),
tuntutan mental (mental demands), dan tuntutan fisik (physical
demands).
b. Sumber daya pekerjaan (job resources)
Sumber daya kerja atau job resources dapat disebut sebagai aspek fisik,
psikologis, sosial, dan organisasi pada pekerjaan yang memiliki fungsi
antara lain 1) dikurangi tuntutan dalam pekerjaan serta usaha untuk
mengeluarkan secara fisik maupun psikis, 2) mencapai tujuan pekerjaan
yang sedang dilakukan karyawan 3) dan menstimulasi perkembangan,
pertumbuhan dan pembelajaran pribadi.
c. Sumber daya pribadi (personal resources)
Personal resources adalah aspek kognitif dan afektif dari kepribadian,
ini berisi kepercayaan pada diri karyawan yang bersifat positif dan
kepada lingkungan yang bersifat dapat dikembangkan. Hal ini bisa
memberikan motivasi dan melengkapi dalam mencapai tujuan walaupun
dalam keadaan sulit dan bahkan terdapat tantangan

Pengertian keterikatan kerja


Keterikatan kerja berasal dari bahasa inggris dimana berarti kerja dan
keterikatan yang berarti keterikatan. Pengertian keterikatan kerja atau
keterikatan kerja sendiri menurut Lockwood (Pri, 2017), merupakan
karyawan yang mampu berkomitmen kepada perusahaan baik secara
emosional ataupun secara intelektual. Sedangkan defenisi keterikatan kerja
menurut Brown (Robbins ; dalam Rozi, 2017) adalah keadaan dimana
karyawan dikatakan keterikatan kerja dalam pekerjaannya apabila karyawan
dapat mengidentifikasi dirinya secara psikologis terhadap pekerjaannya dan
mengganggap pekerjaannya penting bagi dirinya selain untuk perusahaan.
Kahn (Pri, 2017) mengungkapkan keterikatan kerja merupakan
karyawan yang menguasai perannya dalam pekerjaannya dan dapat membuat
karyawan mengikat diri dengan pekerjaanya serta mampu mengekspresikan
dirinya dalam melakukan pekerjaan dirinya secara fisik, kognitif dan
emosional. Schaufeli dan Bakker (Pri, 2017) mengatakan bahwa, karyawan
yang memiliki keterikatan kerja dalam dirinya akan memperlihatkan adanya
sikap positif dalam melakukan pekerjaannya seperti, adanya kepuasan kerja,
melakukan pekerjaannya secara yang aktif, memiliki komitmen terhadap
perusahaan dan kurangnya memiliki niat untuk keluar dari pekerjaannya.
Bakker (Santoso dan Jatmika, 2017) mengatakan, keterikatan kerja
yang tinggi pada diri karyawan mampu membantu karyawan dalam
memperlihatkan performa kerjanya yang terbaik, ini dikarenakan karyawan
menikmati pekerjaannya. Hal ini juga didukung oleh Robinson, Perryman
dan Hayday yang mengatakan karyawan yang memiliki keterikatan kerja
terhadap pekerjaannya mengetahui akan pekerjaannya dan dapat bekerja
sama dengan rekan-rekan kerjanya untuk meningkatkan kinerjanya serta
untuk kepentingan perusahaan (Pri, 2017).
Saks (Noearant dan Prihatsanti, 2017) mengemukakan manfaat dari
keterikatan kerja untuk karyawan yaitu karyawan memiliki kepuasaan kerja
dan memiliki rasa cinta terhadap pekerjaannya. Bates (Yudiani, 2017) juga
mengatakan, dengan adanya keterikatan kerja dalam diri karyawan dapat
memprakirakan produktivitas karyawan dalam bekerja dan membantu
mencapai keberhasilan perusahaan serta kinerja finansial karyawan.
Salanova dan Schaufeli mengungkapkan Seorang karyawan yang mempunyai
keterikatan kerja yang tinggi akan memperlihatkan tingkah lakunya seperti,
berorientasi pada tujuan, tekun dalam mencapai sesuatu dengan penuh
semangat, serta antusias, bermakna dan bangga terhadap apa yang telah
dilakukan (Pri, 2017).
Seorang karyawan yang memiliki keterikatan dengan perusahaan akan
meningkatkan produktivitas perusahaan dan keterikatan kerja juga dapat
ditumbuh kembangkan dalam diri karyawan (Nusatria ; dalam Santoso dan
Jatmika, 2017). Setiap karyawan juga memiliki keterikatan kerja yang
berbeda dalam setiap diri karyawan disesuaikan dengan level trait atau
pandangan individu yang berbeda satu sama lain (Bakker, Arnold dan Leiter,
Michael ; dalam Yudiani, 2017).
Marcey (Steven dan Prihatsanti, 2017) mengungkapkan, seorang
karyawan yang mempunyai keterikatan kerja dalam dirinya memiliki
pemikiran luas tentang pekerjaannya. Clifton dan Anderson karyawan yang
memiliki keterikan kerja akan membantu karyawan untuk bekeja ekstra dan
karyawan akan mengusahakan untuk melakukan pekerjaannya sesuai yang
diharapkan perusahaan ((Mujiasih, 2015).
Schaufeli & Bakker (Leiter dan Bakker ; dalam Steven dan
Prihatsanti, 2017) menjelaskan karyawan yang memiliki keterikatan kerja
yang rendah dapat mengakibatkan karyawan menjadi cepat lelah, mengalami
stress kerja dan beban kerja yang tinggi ini disebabkan ketidak mampuan
karyawan dalam menjawab tuntutan kerja dan pandangan karyawan terhadap
lingkungan kerjanya serta diri karyawan sendiri.
Jadi, keterikatan kerja adalah karyawan yang dapat mengenali dirinya
dan pekerjaannya dan dapat mengekspresikan dirinya baik secara fisik dan
psikologis terhadap pekerjaannya serta mampu berkomitmen terhadap
perusahaannya. Keterikatan kerja dalam diri karyawan membantu karyawan
menunjukan performa kerjanya yang tinggi dan memiliki kepuasaan akan
pekerjaannya. Setiap karyawan juga memiliki keterikatan kerja yang berbeda-
beda ini dikarenakan setiap karyawan mempunyai pandangan yang berbeda-
beda. Karyawan yang kurang memiliki keterikatan kerja dalam dirinya akan
membuat karyawan cepat lelah, karyawan menjadi mudah stres dan
mempunyai beban kerja yang tinggi.

Dimensi Manajemen Konflik


Rahim dan Bonoma menyebutkan bahwa terdapat lima gaya penanganan
konflik yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk menghadapi dan menangani
konflik yang terjadi, yaitu; intergrating, obliging, dominating, avoiding, dan
compromising.
.1 Avoiding Style
Dalam karya doktoral I. A. Williams (2011) dijelaskan bahwa individu yang
mengaplikasikan gaya manajemen konflik menghindar atau avoiding style
menandakan bahwa individu tersebut telah mengetahui adanya konflik yang terjadi,
namun demikian tindakan yang diambilnya ialang pengabaian atas konflik yang
terjadi itu. Pemakaian gaya menghindar ini tidak direkomendasikan karena individu
atau pun pihak-pihak yang terlibat dan menggunakan gaya menghindar tersebut
akan membuatnya tidak keluar dari permasalahan yang ada serta menandakan tidak
adanya jalan keluar yang didapatkan dalam upaya penyelesaian masalah (Lam et
al., 2007)
Gaya manajemen konflik menghindar atau avoiding style ini memiliki
tingkat concern for others yang cukup rendah serta tingkat concern for self yang
rendah juga. Hal ini menyebabkan karyawan tersebut pada situasi “lose-lose” (K.
W. Chan et al., 2008; Lam et al., 2007; Rahim, 2004). Gaya avoidance ini juga
dapat menstimulasi masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dan dipecahkan
sehingga dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan (Gitlow & McNary,
2006). I. A. Williams juga menjelaskan bahwa menurut Starks gaya avoidance ini
cepat dalam menyelesaikan permasalahan akan tetapi resolusi yang dihasilkan
sifatnya sementara dan berpotensi untuk dapat berkembang lebih besar
permasalahannya (Starks, 2006).
Gaya manajemen konflik menghindar (avoiding style) ini diindikasikan
dengan adanya penarikan diri, tidak bertanggung jawab, serta sikap menghindar
dari suatu masalah. Hal tersebut memeberikan dampak yaitu terjadinya penundaan
berkala yang dilakuakn oleh individu sampai pada waktu yang tidak bisa ditentukan
atau hingga dirasa ada pada saat yang lebih baik, atau pun penghindaran yang
dilakukan hanya untuk membuat dirinya merasa. Gaya menghindar ini sering kali
dikarakteristikkan sebagai perilaku yang tidak peduli terhadap issue dan konflik
yang terjadi dalam sebuah organisasi.
Kreitner & Kinicki (2010, p.388) juga menjelaskan bahwa gaya menghindar
ini merupakan sebuah taktik yang akan melibatkan baik itu penarikan diri secara
pasif dari permasalahan ataupun aktif dalam masalah tersebut. Gaya ini sungguh
tepat dilakukan untuk permasalahan yang sepele atau ketika biaya konfrontasi lebih
besar daripada manfaat dari penyelesaian konflik tersebut. Gaya ini juga tidak tepat
digunakan untuk permasalahan yang sulit dan yang dapat memperburuk masalah.
Keunggulan utama dari gaya ini adalah bahwa gaya ini menunda waktu atau situasi
yang ambigu. Kelemahan utamanya adalah bahwa taktis ini hanya menawarkan
solusi yang temporer dan mengenyampingkan inti permasalahannya.
.2 Compromising Style
Menurut I. A. Williams (2011), gaya manajemen konflik kompromi ini
didefinisikan sebagai sebuah situasi atau pun kondisi dimana setiap kelompok yang
berkonflik sepakat pada beberapa isu yang dihasilkan lewat adanya kompromi
(Robbins & Judge, 2010; Starks, 2006). Bekerja dalam sebuah kelompok atau tim
itu sulit ketika sebuah konflik muncul. Salah satu metode untuk mendapatkan hasil
yang diinginkan dan dapat diterima oleh semua pihak dalam sebuah kelompok
adalah dengan cara mengkompromikan masalah tersebut hingga ada kata sepakat.
Tim ini mampu bersinergi dan meningkatkan kerjasama tim dan menjadi produktif
(Choudrie, 2005). Starks (2006) juga berpendapat bahwa gaya manajemen konflik
ini dapat menghasilkan kepuasan sebuah kelompok, namun di lain pihak,
permasalah tersebut dapat diabaikan. Gaya kompromi ini menunjukkan suatu
kepedulian yang menengah pada diri sendiri dan orang lain sehingga menghasilkan
situasi “no win – no lose” (K. W. Chan et al., 2008; Lam et al., 2007; Rahim, 2004).
Pendekatan compromising ini tidak efektif digunakan dalam studi pada bidang
manufaktur dalam menciptakan pengembangan produk baru (Lam et al., 2007).
Gaya manajemen konflik kompromi atau compromising style ini melibatkan
adanya “give and take” atau dapat juga diistilahkan dengan berbagi, yang
menjadikan kedua belah pihak memberikan sesuatu untuk dapat membuat
keputusan dimana dapat diterima secara bersama (Rahim, 2001). Ini mungkin
berarti membagi perbedaan, pertukaran konsesi, atau mencari jalan tengah dengan
cepat.
Bagi pihak-pihak yang terlibat dalam suatu konflik yang memiliki visi
bertolak belakang serta menginginkan kekuasaan dan kekuatan yang sama, gaya
manajemen konflik kompromi ini cocok untuk digunakan guna mencapai suatu
kesepakatan mutlak (Kreitner dan Kinicki, 2010). Namun untuk gaya manajemen
konflik kompromi ini tidak terlalu pas atau sesuai digunakan berlebihan dalam
upayanya mencapai kesepakatan bersama. Keunikan dan keunggulan dari gaya
manajemen konflik kompromi ini ialah tidak akan pihak yang merasa terlalu
disalahkan jugatidak ada pihak terlibat yang merasa dirugikan, namun demikian
hasil kesepatakan untuk pemecahan masalah secara kreatif ini sering kali bersifat
temporer.
2.2.2.3 Dominating Style
Dalam I. A. Williams (2011), dominating style dijelaskan sebagai suatu
keadaan dimana pihak-pihak yang terlibat saling bersaing dan ingin berkuasa lewat
paksaan terhadap pihak lain yang kemudian membuat pihak lain tersebut mengalah
(Starks, 2006). Gaya dominating ini dapat dikategorisasikan dalam suatu kelompok
dengan concern for self yang tinggi dan concern for others yang rendah sehingga
menghasilkan sebuah hasil yang “win-lose” (Rahim, 2004). Individu yang
menggunakan dominating style ini biasanya telah memahami tingkat kemampuan
rekan kerjanya. Pihak-pihak dalam konflik yang menggunakan gaya manajemen
konflik mendominasi ini, akan berusaha melampaui rekan kerja mereka, hal
tersebut menjadikan pihak dengan dominating style akan memandang konflik
sebagai sebuah kompetisi bagi mereka. Oleh karena itu, orang akan melihat orang
yang menggunakan gaya dominasi ini lebih sering berargumen dibanding
menyatakan sebuah fakta (Williams, 2011).
Individu yang mendominasi atau berkompetisi akan memperlihatkan segala
kemampuannya sebagai bentuk upayanya dalam memenangkan argumen, ide mau
pun perspektif yang ia miliki dan sebagai hasilnya adalah sering mengabaikan
kebutuhan dan harapan yang inginkan oleh pihak lainnya (Rahim, 2011).
Pendominasian yang dilakuan oleh seorang individu dapat memiliki arti sebagai
suatu keteguhan individu dalam mengakuisisi seseorang dan atau sebagai bentuk
pertahanan posisi pihak tersebut yang ingin menunjukkan bahwa pihak dengan gaya
manajemen konflik yang mendominasi adalah pihak yang benar. Terkadang orang
yang mendominasi ingin selalu menang dengan cara apapun. Seorang atasan yang
mendominasi akan menggunakan kekuatan posisi dia untuk mempengaruhi
keinginan bawahannya dan memerintahkan bawahannya untuk patuhi
keinginannya.
Kreitner dan Kinicki (2010, p.387) mengemukakan bahwa gaya manajemen
konflik ini disebut forcing karena hal itu bergantung pada wewenang formal untuk
memaksakan kepatuhan. Ketika solusi yang dianggap tidak lagi popular dijadikan
suatu acuan untuk kemudian diimplementasikan, maka manajemen konflik dengan
gaya mendominasi ini akan sangat cocok untuk digunakan, selain itu tipe dominasi
ini juga sesuai untuk mengtasi konflik yang terkait dengan isu yang minor, tenggak
waktu yang sudah dekat, atau menghadapi krisis. Kelemahan utama dari gaya
dominasi ini biasanya menimbulkan kebencian.
.4 Integrating Style
Suasana kerja yang menyenangkan dapat tercipta apabila karyawan mau
pun kryawati di suatu organisasi mau pun perusahaan dapat mengintegrasikan
konflik-konflik yang ada secara nyata (Williams, 2011). Segala persoalan yang
terjadi di tempat kerja akan melibatkan segelintir upaya pemecahan masalah dan
melibatkan beragam ide dan keinginan setiap pihak yang terlibat dalam
penyelesaian konflik yang ada. Para peneliti juga setuju bahwa dengan
mengaplikasikan gaya manajemen konflik integrasi dalam tempat kerja akan
memungkinkan karyawan mau pun karyawati untuk memberikan ide-ide kreatif
yang lebih dan solusi dari permasalahan tersebut (Guttman, 2009; Rahim 2004).
Menurut I. A. Williams (2011), dalam sebuah studi terhadap staf perawat
rumah sakit, gaya manajemen konflik yang kooperatif atau terintegrasi adalah salah
satu cara untuk diasosiasikan dengan kepuasan kerja (Montoro-Rodriguez & Small,
2006). Gaya manajemen konflik ini berkontribusi dalam memberian efektifikasi
untuk top management teams dan inovasi organisasi (Tjosvold, 2006). Oleh karena
itu, gaya integrasi ini akan menunjukkan hasil yang “win-win” serta menunjukkan
kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain yang tinggi (K. W. Chan et al., 2008;
Lam et al., 2007; Rahim, 2004). Karakteristik seseorang yang menggunakan gaya
integrasi ini adalah individu tersebut akan menginvestigasi sebuah permasalahan
untuk mencari solusi yang terbaik bagi seluruh pihak yang terlibat (Rahim, 1983).
Menurut Rahim (2001), integrasi disebut juga sebagai gaya yang mencari
solusi dari permasalahan. Hal ini melibatkan kolaborasi dari setiap pihak seperti
keterbukaan, pertukaran informasi, pemeriksaan perbedaan-perbedaan untuk
mendapatkan solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Follet (1926/1940)
juga menegaskan bahwa aturan pertama untuk melakukan integrasi adalah
mengesampingkan permasalahan anda terlebih dahulu, hadapi permasalahan
utama, mengungkap konflik, bawa semua hal lebih terbuka untuk dibicarakan
(Rahim, 2001).
Gray (1989) menggambarkan hal ini sebagai pengkolaborasian, yakni
sebuah proses dimana setiap pihak yang terlibat melihat konflik serta pemecahan
masalahnya dari suatu sudut pandang yang berbeda, dan secara kontrukstif
mengeksplorasikan perbedaan mereka dan mencari solusi yang melebihi batas
padangan mereka sendiri tentang apa yang bisa didapat (Rahim, 2001).
Kreitner dan Kinicki (2010, p.386) mengemukakan bahwa pihak-pihak
yang memiliki kepentingan tersebut akan menghadapi masalah yang ada dan secara
terintegasi akan melakukan identifikasi masalah, untuk menghasilkan dan
mempertimbangkan sebuah solusi alternatif, untuk penyelesaian konflik tersebut.
Gaya manajemen konflik sesuai digunakan untuk masalah yang kompleks yang
mengandung kesalahpahaman. Akan tetapi, mengintegrasikan tidak sesuai
digunakan untuk menyelesaikan konflik yang berakar dalam menentang sistem.
.5 Obliging Style
Menurut I. A. Williams (2011), gaya manajemen konflik obliging seperti
ini dapat dijelaskan sebagai suatu keadaan dimana satu kelompok mengatur
kepentingan mereka untuk memuaskan atau mengakomodasi kelompok lain
(Starks, 2006). Gaya konflik untuk diidentifikasikan sebagai suatu kesediaan dalam
membantu serta menunjukkan kepedulian terhadap diri sendiri rendah dan
kepedulian terhadap orang lain yang tinggi sehingga menghasilkan situasi yang
“lose-win” (Rahim, 2004).
Menurut Rahim (2001), gaya konflik ini disebut juga sebagai gaya yang
mengakomodasikan konflik. Gaya seperti ini diasosiasikan dengan berusaha untuk
27
mengecilkan perbedaan dan menekankan kesamaan untuk memenuhi kepedulian
dari pihak lain.
Kreitner dan Kinicki (2010) mengemukakan bahwa individu yang
mengakomodasikan konflik yang terjadi akan mengabaikan kekhawatiran dirinya
sendiri untuk lebih memikirkan keprihatinan orang lain. Gaya manajemen konflik
yang juga biasa disebut smoothing ini diidentifikasikan sebagai perasaan yang
mengecilkan perbedaan yang ada ditengah konflik yang terjadi, dengan cara
menekankan kesamaan. Gaya manajemen konflik mengakomodasi ini sesuai
diaplikasikan sebagai suatu strategi penyelesaian konflik ketika masalah tersebut
memungkinkan untuk mendapatkan sesuatu sebagai imbalan pada akhirnya. Akan
tetapi tidak sesuai digunakan untuk permasalahan yang kompleks atau yang
memperburuk masalah literatur mengenai konflik telah banyak menggunakan
paradigma lima gaya tersebut diatas, tetapi hal ini telah diuji secara empiris sulit
untuk membedakan antara gaya integrasi, obliging, dan kompromi (cf., Weider-
Hatfield, 1988). Pada tingkat makro, integrasi, obliging, dan kompromi mungkin
menunjukkan bahwa semua itu berkolaborasi dengan pihak lain seperti gaya
kooperatif (De Dreu & Van de Vliert, 1997). Berbeda dengan gaya menghindari
dan mendominasi, mengelola konflik dengan berkolaborasi dengan integrasi,
membantu dan/atau kompromi dapat menyebabkan keefektifan individu dan tim
lebih besar (De Dreu & Van de Vliert, 1997).

Definisi Manajemen Konflik


Perspektif mengenai konflik serta aspek-aspek yang terkandung didalamnya
telah berkembang cukup lama. Para ahli terdahulu turut meneliti tentang beragam
teori klasik seperti teori Gulick & Urwick (1937) atau pun Taylor (1911). Namun
demikian, asumsi yang dimiliki mereka secara implisit mengungkapkan bahwa
konflik merupaka sesuatu hal yang dapat mendatangkan kerugian bagi efisiensi
sebuah organisasi mau pun perusahaan, sehingga sangat disarankan bagi siapapun
untuk meminimalkan potensi terjadinya konflik sebisa mungkin. Pada dasarnya
setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga apa yang menguasai
pemikiran mereka pun tentunya tidak sama, hal tersebut sejalan dengan dengan
pernyataan Thomson (1998 dalam Rahim, 2001) yang mengemukakan konflik
sebagai suatu persepsi yang berdasar pada adanya perbedaan kepentingan diantara
tiap-tiap individu. Konflik merupaka suatu hal yang tidak dapat terhindarkan dan
selalu berada ditengah-tengah manusia dalam kesehariannya, konflik ialah suatu
hal yang tidak dapat terelakan dan terjadi di antara manusia ketika dua atau lebih
entitas sosial; seperti individu, grup, organisasi; yang timbul dan bersentuhan satu
sama lain dalam mencapai tujuan mereka, dimana hubungan antar entitas tersebut
dapat menjadi tidak konsisten ketika dua atau lebih dari mereka menginginkan
sumber daya serupa yang dalam pasokan pendek (Rahim, 2001).
Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku
maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu
pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk
komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana
mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi. Bagi pihak luar (di
luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya adalah informasi
yang akurat tentang situasi konflik. Hal tersebut dikarenakan adanya komunikasi
efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga.
Suatu tata cara juga upaya yang dilakukan oleh para individu yang terlibat
dalam suatu konflik yang sedang terjadi untuk mengarahkan perselisihan atau
konflik yang sedang terjadi tersebut ke arah hasil yang diinginkan, meskipun hasil
yang akan diberikan akan mungkin atau tidak mungkin memberikan suatu
ketenangan, hal positif, kreatif, kemufakatan serta agresi (Ross, 1993). Dalam
melakukan penanganan atas suatu konflik, pihak-pihak yang terlibat atau
manajemen yang menjadi penengan dapat melakukan upaya penyelesaian konflik
tersebut dengan melibatkan diri sendiri, pihak ketiga internal maupun pihak ketiga
eksternal untuk mencapai suatu keputusan yang sebisa mungkin menguntungkan
segala pihak yang ada. Proses pengadaan manajemen konflik memperlihatkan
adanya suatu pendekatan yang berorientasi pada bagaimana suatu konflik diatasi
dalam pola komunikasi (termasuk perilaku) setiap pihak yang terlibat dan
dilibatkan serta upaya mereka dalam memengaruhi kepentingan dan penafsiran
terhadap suatu konflik.
Berdasarkan asumsi yang diberikan oleh Ujan, dkk (2011) manajemen
konflik merupakan segelintir upaya untuk membatasi dan menghindari kekerasan
yang mungkin terjadi diantara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu konflik, dan
upaya mentransformasikannya kea rah yang lebih positif bagi pihak-pihak yang ada
didalamnya. Sementara itu, mengacu pada apa yang kemukakan oleh Winardi
(2007) bahwa terjadinya penyelesaian suatu konflik dikatakan benar terjadi jika
alasan dana pa yang menyebabkan konflik tersebut terjadi dihilangkan, sehingga
membuat konflik yang serupa atau pun sama tidak akan terulang lagi. Jadi, secara
umum manajemen konflik adalah strategi yang dijalankan oleh serangkaian pihak
untuk meminimalisir, menghindari, serta menghilangkan konflik dan merubah
perilaku pihak-pihak yang terlibat ke arah yang lebih positif serta menguntungkan
bagi suatu organisasi mau pun perusahaan.
Konflik dapat terjadi pada siapa saja, baik antar individu maupun konflik
dari dalam individu itu sendiri, dan pada umumnya konflik itu berdampak negatif.
As’ad (1991) mengemukakn bahwa konflik terjadi apabila seseorang harus memilih
antara dua atau lebih macan kebutuhan. Anoraga (1992) menyatakan bahwa konflik
manajemen merupakan salah satu bagian dari persoalan-persoalan yang ada pada
perusahaan. Konflik manajemen terjadi karena seseorang karyawan mempunyai
kebutuhan dan keinginan yang harus dipuaskan.
Dalam kenyatannya kebutuhan tersebut tidak selalu muncul satu persatu
tetapi sering timbul bersama pada saat yang sama. Handoko (1986) menyatakan
manajemen konflik berarti manajer harus menemukan cara untuk menyeimbangkan
konflik. Hendriks (1996) mengemukakan manajemen konflik adalah menaksir atau
memperhitungkan konflik. Setelah mengetahui pengertian manajemen konflik
maka dapat diambil pengertian mengenai manajer konflik yaitu menaksir konflik
yang ada dalam perusahaan agar supaya dapat memanfaatkan konflik sehingga
tidak mengalami tekanan (stress), frustrasi serta pada gilirannya melemahkan
perhatian terhadap tugas atau pekerjaan, tetapi justru memberi rasa percaya diri
yang baru dengan melihat sebagai komoditas yang dapat dikelola.
Dalam suatu organisasi mau pun perusahaan, konflik sangatlah diperlukan.
Hal tersebut dapat dipergunakan sebagai suatu inovasi yang masih menghasilkan
perubahan atau pun inovasi dalam proses pemecahan masalahnya yang tentunya
dapat membawa organisasi mau un perusahaan tersebut mengarah menjadi lebih
baik. Selain itu, konflik juga hadir sebagai bentuk kedinamikaan suatu organisasi
mau pun perusahaan. Suatu lingkungan yang memili kemajuan dan memperlihatkan
perkembangan pasti akan menghadapi konflik. Namun demikian, bukan berarti
bahwa konflik tidak dapat dicegah, diarahkah, bahkan dihilangkan. Dengan
melakukan pengamatan yang tepat waktu dan pengambilan keputusan yang baik,
konflik dapat dicegah. Dalam Rahim (2001) mengemukakan bahwa perspektif
mengenai konflik secara realistis dapat berpotensi menghasilkan suatu hal yang
produktif maupun yang menghancurkan (Assael, 1969; Deutsch, 1969; Jehn,
1997a; de Dreu & van de Vliert, 1997; Kelly & Kelly, 1998; Pelled, Eisenhardt, &
Xin, 1999). Hasil fungsional dan disfungsional dari sebuah konflik dalam
organisasi menurut Rahim (2001) adalah:
a. Hasil Fungsional

  1. Konflik dapat menstimulasi inovasi, kreatifitas, dan perkembangan.
  2. Pembuatan keputusan organisasi dapat ditingkatkan.
  3. Solusi alternatif dari sebuah masalah dapat dipecahkan.
  4. Konflik dapat mengarahkan kepada solusi yang sinergis untuk
    masalah umum.
  5. Performa individu dan kelompok dapat ditingkatkan.
  6. Individu dan kelompok mungkin akan dipaksa untuk mencari
    pendekatan baru untuk menyelesaikan masalah.
  7. Individu dan kelompok dapat diminta untuk mengartikulasikan dan
    mengklarifikasi posisi mereka.
    b. Hasil Disfungsional
  8. Konflik dapat menyebakan stress dalam bekerja, kelelahan,
    dan ketidakpuasan.
  9. Komunikasi antar individu dan kelompok dapat berkurang.
  10. Suasana ketidakpercayaan dan kecurigaan dapat berkembang.
  11. Hubungan kerja menjadi rusak.
  12. Performa kerja menjadi menurun.
  13. Penolakan untuk berubah menjadi meningkat.
  14. Loyalitas dan komitmen pada organisasi dapat berpengaruh.
    Disebabkan oleh keberadaan dua sisi yang menjadi dampak dari sebuah
    konflik, batasan dari suatu kondisi yang fungsional dan disfungsional harus
    dijabarkan. Terdapat tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi hal
    ini. Pendekatan pertama adalah mengurangi atau menghindari konflik. Walaupun
    nilai dari konflik tersebut didiskusikan secara terbuka ditekankan (Jehn, 1997;
    Simons & Peterson, 2000). Para peneliti lainnya juga mendukung pendekatan ini
    bahwa konflik harus diminimalisasi atau dihindari dalam tempat kerja ketika
    konflik tersebut secara umum mempunyai konsekuensi yang negatif (cf. Jehn &
    Bendersky, 2003). Namun demikian, dikarenakan konflik itu tidak dapat dihindari
    pada tempat kerja, pendekatan ini dianggap tidak realistis (Leung dan Tjosvold,
    1998).
    Pendekatan kedua adalah untuk mendorong satu tipe konflik berada diatas
    tipe konflik yang lainnya. Menurut Jehn (1995) mengidentifikasi konflik pada tugas
    dan konflik pada hubungan sebagai dua tipe konflik utama dalam tempat kerja.
    Konflik terdiri atas beberapa pertentangan tentang pekerjaan dan perbedaan
    perspektif juga ide-ide mengenai suatu topik yang menarik atau pun pengambilan
    keputusan. Konflik yang terjadi pada suatu hubungan dalam organisasi mau pun
    perusahaan, yang berhubungan dengan tugas yang sedang dikerjakan dapat
    mengakibatkan suatu hal yang positif namun demikian, konflik yang terjadi antar
    individu yaitu diantara hubungan yang terbangun diantara masing-masing pihak
    yang terlibat, dapat mengakibatkan munculnya dampak yang negatif (Jehn &
    Bendersky, 2003; Simons & Peterson, 2000). Walaupun konflik pada tugas
    dikatakan dapat menjadi alasan munculnya konflik pada hubungan ataupun
    sebaliknya, hal tersebut tidak secara praktis dikatakan layak untuk mendorong
    konflik pada tugas sementara hal tersebut tidak mendorong konflik pada hubungan
    (Simons dan Peterson, 2000).
    Selanjutnya, pendekatan ketiga ialah mengelola konflik. Jika suatu konflik
    dapat dikelola dengan cara yang sesuai atau tepat sasaran, makan akan dapat
    menghasilkan hasil yang menguntungkan (Chen, Liu, & Tjosvold, 2005; DeChurch
    & Marks, 2001; De Dreu & Weingart, 2003; Pondy, 1992; Putnam & Wilson,
    1982). De Dreu dan Weingart (2003) memperlihatkan bahwa manajemen konflik
    memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah kelompok kerja. De Dreu dan
    Beersma’s (2005) juga berkomentar tentang karya ilmiah negara yang
    “disayangkan” hasilnya karena kurangnya perhatian pada pengaruh manajemen
    konflik terhadap hasil yang “lunak” seperti kepuasan, kesejahteraan dan kesehatan.
    Berdasarkan uraian segelintir asumsi yang terpapar di atas, maka dapat
    disimpulkan bahwa manajemen konflik merupakan suatu kemampuan yang
    dimiliki oleh karyawan mau pun karyawati dalam upayanya mengelola konflik
    yang muncul pada suatu organisasi mau pun perusahaan dengan maksud untuk
    21
    meminimalisir konflik-konflik yang ada, juga demi memanfaatkan konflik tersebut
    menjadi suatu hal yang menguntungkan bagi keseluruhan pihak yang terlibat,
    sehingga dalam lingkungan kerja, konflik dapat berperan sebagai suatu hal yang
    mampu menjadikan setiap individu baik atasan mau pun bawahan lebih kreatif,
    mampu mengatasi diri dan persoalan, serta hal-hal positif lainnya yang dapat
    memicu terjadinya keuntungan

Definisi Keterikatan Kerja


Work engagement atau yang lebih akrab dikenal sebagai keterikatan kerja,
mengacu pada komitmen, semangat, antusiasme, keterlibatan, penyerapan, upaya
yang terfokus, dan energi (Schaufeli, 2010). Sementara itu dalam kamus Merriam-
Webster didefinisikan bahwa engagement merupakan suatu keterlibatan emosional
atau suatu komitmen, sebagai “the state of being gear”.
Kahn merupakan ahli pertama yang mengonsepkan keterikatan kerja (work
engagement). Kahn menjelaskan keterikatan kerja sebagai sebuah pemanfaatan diri
yang dimiliki dan dilakukan oleh individu-individu di dalam sebuah organisasi mau
pun perusahaan ke dalam peran kerja mereka.
Pada keterikatan kerja (work engagement), setiap individu akan
mengekspresikan diri mereka secara fisik, kognitif, emosional, dan mental melalui
pekerjaan yang dilakukannya selama memerankan kinerjanya. Pembahasan
mengenai keterikatan karyawan memiliki beberapa istilah dalam penggunaannya
yaitu job engagement, employee engagement, dan work engagement. Roberts dan
Davenport (dalam Bakker dan Leiter, 2010) menyatakan bahwa job engagement
adalah rasa antusias pada diri individu dan ia terlibat dengan pekerjaannya.
Employee engagement diartikan oleh Federman (2009, dalam Bakker dan Leiter,
2010) sebagai tingkat komitmen individu dalam sebuah organisasi mau pun
perusahaan serta digunakan mengetahui seberapa besar dampak dari komitmen
selama masa jabatan berlangsung. Setelah itu pada tahun 1992, Kahn (dalam
Bakker dan Leiter, 2010) menjelaskan adanya perbedaan pada konsep keterikatan
(engagement) dengan suatu kondisi psikologis “being fully there” atau keberadaan
seseorang disuatu tempat dan suatu waktu secara penuh. Hal tersebut digambarkan
berbeda dengan individu yang merasa dan menjadi penuh perhatian, terhubung,
terintegrasi, dan fokus pada peran kinerja mereka.
Work engagement dikarakteristikkan oleh Maslach dan Leiter (1997)
melalui keberadaan energi, keterlibatan, dan efikasi. Ketiga karakteristik yang
dikemukakan oleh Maslach dan Leiter tersebut dianggap sebagai lawan dari tiga
karakteristik burnout. Mereka menjelaskan bahwa bahwa dalam istilah burnout,
ketiga karakter keterikatan kerja tersebut berubah, energi berubah menjadi
kelelahan, keterlibatan menjadi sinisme, dan efikasi menjadi ketidak efektifan.
Hal tersebut berlawanan dengan perspektif yang dikemukakan oleh Maslach
dan Leiter, Schaufeli, Salanova, Gonzales-Roma, & Bakker (2002, dalam Bakker
dan Leiter, 2010), mereka mengemukakan bahwa engagement itu sendiri adalah
suatu kesatuan yang berdiri sendiri. Menurut Schaufeli dkk. (2002) burnout dan
engagement merupakan dua konsep yang terpisah dan seharusnya diukur secara
independen. Schaufeli dkk menginterpretasikan bahwa pada seorang individu yang
memiliki level burnout yang rendah tidak berarti individu tersebut memiliki level
engagement yang tinggi. Maka dari itu Schaufeli dkk mendefinisikan
operasionalisasi work engagement sebagai suatu hal yang terpisah dari
operasionalisasi burnout, serta mendefinisikan work engagement sebagai suatu
motivasi, hal yang positif, suatu pemenuhan. Cara pandang seorang individu dalam
bekerja, dikarakteristikkan melalui vigor, dedication, dan absorption. Keterikatan
kerja (work engagement) lebih mengacu kepada keadaan afektif-kognitif-perilaku
yang lebih gigih dan meresap serta tidak fokus pada objek, kejadian, individu, atau
perilaku tertentu. Mengacu pada definisi diatas, work engagement memiliki tiga
dimensi yang disebut vigor, dedication, dan absorption. Hal tersebutlah yang
menjadi dasar pemisah atas pengukuran burnout dan pengukuran work engagement.
Keterikatan kerja (work engagemen) bukanlah suatu kebalikan positif dari
burnout (Schaufeli dkk). Burnout terjadi karena adanya tuntutan pekerjaan yang
tinggi dan terlalu berlebih sehingga menguras energi karyawan serta karyawati
yang berdampak pada munculnya kelelahan pada individu yang menjadikan
karyawan dan karyawati menarik diri secara mental (Schaufeli dan Bakker, 2004).
Burnout dapat diidentifikasikan dengan munculnya gejala psikologis seperti
kelelahan, sinisme, dan tidak percaya diri yang cukup mengganggu individu
tersebut. Gejala psikologis tersebut muncul sebagai dampak dari stresor pekerjaan
kronis yang dialami individu (Maslach dan Leiter, 1997). Sementara itu,
kekerikatan kerja (work engagement) merupakan suatu keadaan positif, terpenuhi,
serta keterhubungan antara pikiran dengan keadaan bekerja, yang ditandai dengan
adanya tiga dimensi, yaitu vigor, dedication, dan absorption (Schaufeli dkk).
Berdasarkan pandangan yang dimiliki oleh Schaufeli dkk, individu yang
memiliki dimensi kekuatan (vigor) dalam dirinya, digambarkan sebaga individu
yang memiliki banyak energi dalam bekerja serta memiliki kemampuan untuk
bangkit kembali disaat mengahadapi permasalahan dalam pekerjaan, memiliki
keinginan yang besar untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu pekerjaan, juga
gigih dalam menghadapi permasalahan-permasalahan di lingkungan kerja. Individu
yang berdedikasi (dedication) dalam dirinya, ditandai dengan adanya pengetahuan
mengenai kepentingan, antusias, inspiratif, memliki kebanggaan, serta siap
menghadapi tantangan. Semangat dan dedikasi merupakan kebalikan positif dari
burnout

Hubungan antara Iklim Organisasi terhadap Keterikatan Kerja (Work Engagement)


Iklim organisasi merupakan suatu suasana organisasi diciptakan oleh
beberapa komponen yang membentuk nilai kebijaksanaan yang
pelaksanaannya sesuai dengan kepentingan kelompok kerja. Komponen-
komponen yang membentuk suasana ini meliputi: praktek pengambilan
keputusan yang lebih partisipatif dan berpola kelompok, adanya arus
komunikasi yang mengalir keseluruh jenjang organisasi secara memadai
dalam arti jumlah dan mutu, terciptanya kondisi yang sedemikian rupa
sehingga mendorong dan merangsang pegawai untuk bekerja giat, adanya
pengharapan yang penuh terhadap sumber daya manusia sebagai modal
dasar organisasi, adanya pengakuan pengaruh bawahan dalam
melaksanakan tugas pekerjaan, dan adanya penyediaan teknplogi oleh
organisasi secara memadai sesuai dengan kebutuhan untuk melaksanakan
tugas pekerjaan (Purnomosidhi, 1996).
Dalam suatu perusahaan pasti memiliki sebuah iklim organisasi yang
dapat mempengaruhi setiap tindakan dan setiap perasaan yang ada pada diri
setiap karyawan. Rasa percaya dan rasa saling mendukung juga dapat
muncul ketika karyawan berusaha untuk meringankan masalah yang
dihadapi rekan kerjanya, berbuat baik dan hormat kepada orang lain serta
menghindari konflik antarrekan kerja. Rasa saling percaya dan rasa saling
mendukung terjadi secara terus menerus antar anggota organisasi dapat
menciptakan iklim organisasi yang kondusif (Stringer, 2002).
Vazirani (2007) mengatakan bahwa penyebab tidak terikatnya
karyawan dengan pekerjaan mereka berhubungan dengan lingkungan kerja
yang negatif. Selanjutnya ia mengatakan bahwa semakin kondusif lingkungan
kerja, semakin tinggi tingkat keterikatan kerja karyawan. Sejalan dengan itu,
Oshagbemi (1999) mengatakan bahwa lingkungan kerja yang kondusif yang
membentuk sikap atau reaksi emosional yang positif terhadap lingkungan
kerja disebut sebagai kualitas kehidupan kerja.
Iklim organisasi yang kondusif mampu mendukung keterikatan kerja
yang ada pada karyawan dengan cukup baik. Kahn (1990) mengungkapkan
bahwa keterikatan yang dimiliki karyawan akan membuat mereka
mengekspresikan diri secara fisik, kognitif, dan emosional dalam bekerja.
Aspek fisik ialah menyangkut energi fisik yang diberikan oleh individu
dalam menyelesaikan pekerjaannya. Aspek kognitif ialah menyangkut
keyakinan karyawan terhadap organisasi, baik itu terhadap pemimpin
maupun kondisi dalam bekerja. Aspek emosional ialah menyangkut perasaan
karyawan tentang masing-masing faktor apakah mereka memiliki sikap positif
ataupun negatif terhadap pemimpin dan organisasi

Dimensi iklim organisasi


Stinger (dalam Wirawan, 2008) menyatakan bahwa iklim organisasi
dalam perusahaan dapat diukur dengan mengunakan enam dimensi
diantaranya adalah struktur, standar-standar, tanggung jawab, penghargaan,
dukungan, dan komitmen. Berikut adalah ke-6 dimensinya:
.1 Struktur (Structure)
Struktur organisasi merefleksikan perasaan diorganisasi
secara baik dan mempunyai peran dan tanggung jawab yang
jelas dalam lingkungan organisasi. Struktur tinggi jika anggota
merasa pekerjaan mereka didefinisikan secara baik.
.2 Standar-standar (Standards)
Mengukur perasaan tekanan untuk meningkatkan kinerja dan
derajat kebanggaan yang dimiliki oleh anggota organisasi
dalam melakukan pekerjaan dengan baik. Standar-standar
tinggi artinya anggota organisasi selalu berupaya mencari jalan
untuk meningkatkan kinerja. Sebaliknya standar rendah
merefleksikan harapan yang lebih rendah untuk kinerja.
.3 Tanggung jawab (Responsibility)
Merefleksikan perasaan karyawan bahwa mereka adalah “bos
bagi diri sendiri” dan tidak memerlukan keputusannya
dilegitimasi oleh anggota organisasi lainnya. Persepsi
tanggung jawab tinggi menunjukkan anggotanya merasa
didorong untuk memecahkan problemnya sendiri. Tanggung
jawab rendah menunjukkan bahwa pengambilan keputusan
dan percobaan terhadap pendekatan baru tidak diharapkan.
2.2.3.4 Penghargaan (Recognition)
Mengindikasikan bahwa anggota organisasi merasa dihargai
jika mereka dapat menyelesaikan tugas secara baik.
Penghargaan merupakan ukuran penghargaan yang
dihadapkan dengan kritik dan berkarakteristik keseimbangan
antara karakter dan kritik. Penghargaan rendah artinya
penyelesaian pekerjaan dengan baik diberikan imbalan secara
tidak konsisten.
5 Dukungan (Support)
Merefleksikan perasaan percaya dan saling mendukung terus
berlangsung di antara kelompok kerja. Dukungan tinggi jika
anggota organisasi merasa bahwa mereka bagian dari tim
yang berfungsi dengan baik dan merasa memperoleh bantuan
dari atasannya, jika mengalami kesulitan dalam menjalankan
tugas. Jika dukungan rendah, anggota organisasi merasa
terisolasi dan tersisih sendiri. Komponen iklim organisasi ini
menjadi sangat penting untuk model bisnis yang ada saat ini,
dimana sumber-sumber sangat terbatas.
6 Komitmen (Commitment)
Merefleksikan perasaan bangga anggota terhadap
organisasinya dan derajat keloyalan terhadap pencapaian
tujuan organisasi. Perasaan komitmen kuat berasosiasi
dengan loyalitas personal. Level rendah komitmen artinya
karyawan merasa apatis terhadap organisasi dan tujuannya

Faktor pembentuk iklim organisasi


Menurut Stringer (2002), terdapat lima faktor yang menyebabkan
terjadinya iklim suatu organisasi, yaitu lingkungan eksternal, strategi
organisasi, pengaturan organisasi, kekuatan sejarah dan gaya
kepemimpinan.
.1 Lingkungan eksternal merupakan industri atau bisnis yang
sama yang akan mempunyai iklim organisasi umum yang
sama. Iklim organisasi umum perusahaan asuransi pada
umumnya sama.
.2 Strategi organisasi, strategi yang berbeda akan menimbulkan
pola iklim organisasi yang berbeda. Strategi mempengaruhi
iklim organisasi secara tidak langsung. Strategi akan
menentukan hal-hal yang penting bagi organisasim hasil
berdarsarkan nilai, dan perilaku-perilaku untuk mencapai
tujuan eksplisit dari strategi.
3 Pengaturan organisasi, mempunyai pengarub paling kuat
terhadap iklim organisasi. Pengaturan organisasi mencakup
hubungan desain formal organisasi dan lingkungan pelaporan,
deskripsi pekerjaan, penentuan tujuan, sistem pengukuran
kinerja, sistem evaluasi, sistem imbalan, sistem pelatihan dan
pengembangan, kebijakan dan prosedur baru, sistem
manajemen karir, dan lainnya.
4 Sejarah Organisasi, semakintua umur organisasi maka
semakin kuat pengaruh sejarahnya. Pengaruh tersebut dalam
bentuk tradisi dan ingatan yang membentuk harapan anggora
organisasi dan mempunya pengaruh terhadap iklim
organisasinya.
5 Gaya kepemimpinan, perilaku memimpin mempengaruhi iklim
organisasi yang kemudian mendorong motivasi karyawan.
Motivasi karyawan merupakan pendorong utama terjadinya
kinerja. Kepemimpinan merupakan masalah relasi antara
pemimpin dengan yang dipimpin. Kepemimpinan bisa
berfungsi atas dasar kekuasaan pemimpin untuk mengajak
dan menggerakan orang-orang guna melakukan sesuatu demi
tercapainya tujuan organisasi

Definisi iklim organisasi


Menurut Tagiuri dan Litwin (dalam Wirawan, 2007) Iklim organisasi
merupakan kualitas lingkungan internal organisasi yang secara relatif terus
berlangsung, dialami oleh anggota organisasi, mempengaruhi perilaku
mereka dan dapat dilukiskan dalam pengertian satu set karakteristik atau
sifat organisasi.
Al Shammari dalam Haryanti (2005) mendefinisikan iklim organisasi
sebagai suatu set dari sifat-sifat terukur (measurable properties) dari
lingkungan kerja yang dirasakan atau dilihat secara langsung atau tidak
langsung oleh orang hidup yang bekerja dilingkungan tersebut dan
diasumsikan mempengaruhi motivasi dan prilaku mereka. Sedangkan
Reichers dan Scheneider dalam Shadur, et. al. (1999) berpendapat bahwa
iklim organisasi (organizational climate) mengacu pada persepsi bersama
dari kebijakan, praktek, dan prosedur organisasi secara informal dan formal.
Stringer (2002) mendefinisikan iklim organisasi sebagai “…collection
and pattern of environmental determinant of aroused motivation.” Iklim
organisasi sebagai koleksi dan pola lingkungan yang menentukan munculnya
motivasi. Dari seluruh definisi tersebut dapat disimpulkan definisi iklim
organisasi adalah persepsi anggota organisasi baik individu maupun
kelompok dan pihak lain yang berhubungan dengan organisasi secara rutin
tentang lingkungan internal organisasi yang akan mempengaruhi sikap dan
perilaku anggota organisasi, serta menentukan kinerja organisasi. Iklim
organisasi adalah lingkungan kerja atau lingkungan psikologis yang
dirasakan oleh anggota organisasi, yang membedakan organisasi satu
dengan yang lain dan dapat menentukan perilaku anggota organisasi

Dampak dari Keterikatan Kerja (Work Engagement)


Harter, dkk. (2002) mengemukakan bahwa engagement dapat
berdampak pada hasil bisnis. Ini disebabkan adanya kepuasan kerja dari
karyawan yang bahagia sehingga dapat meningkatkan performanya yang
akhirnya juga berdampak pada hasil bisnis. Robinson, dkk. (2004) juga
menyatakan bahwa dampak engagement adalah dapat meningkatkan
kesadaran karyawan terhadap bisnis dan performa dalam bekerja dengan
koleganya.
Hal ini juga sejalan dengan riset yang dilakukan oeh Gallup.
Organisasi Gallup menemukan bahwa engagement berhubungan dengan
loyalitas pelanggan, pertumbuhan bisnis, dan keuntungan. Selain itu, Gallup
juga menemukan bahwa work engagement mempengaruhi performa yakni,
rendahnya tingkat absensi, rendahnya turnover, rendahnya insiden
keselamatan, meningkatnya produktivitas dan keuntungan. Xanthopoulou,
Bakker, Demerouti, & Schaufeli (2009) juga telah membuktikan bahwa work
engagement dapat berdampak pada performa dalam bentuk pemasukan
finansial setiap harinya.
Robinson dkk. (2004) menjelaskan bahwa karyawan yang engaged
menampilkan perilaku diantaranya :
a. Percaya kepada organisasi
b. Tertarik bekerja lebih baik
c. Memahami konteks bisnis dan ”bigger picture” organisasi
d. Kerelaan untuk bertindak ”lebih”
e. Selalu mengikuti perkembangan yang ada di lapangan
Saks (2006) mengemukakan beberapa hasil mengenai manfaat work
engagement, diantaranya:
a. Kepuasan Kerja
Pengujian membuktikan bahwa work engagement berpengaruh
positif terhadap kepuasan kerja. Karyawan yang engaged sudah pasti
memiliki rasa cinta kepada perusahaan mereka. Kepuasan kerja merupakan
cerminan perasaan pekerja terhadap pekerjaannya dan sudah pasti puas
atas segala sesuatu yang melekat pada pekerjaannya.
b. Komitmen Organisasi
Pengujian membuktikan bahwa work engagement berpengaruh
positif terhadap komitmen organisasi. Karyawan yang sudah engaged
dengan perusahaan tentu akan memiliki komitmen dengan perusahaannya
karena elemen-elemen komitmen juga terkandung dalam work engagement.
c. Intention to quit
Pengujian membuktikan bahwa work engagement berpengaruh
negatif terhadap intention to quit. Keinginan keluar dari organisasi
disebabkan adanya rasa tidak nyaman lagi dalam organisasi. Karyawan yang
sudah engaged akan memiliki kecenderungan bertahan karena mereka
sudah merasa menjadi bagian organisasi yang tidak terpisahkan.
Bakker & Demerouti (2008) mengemukakan bahwa engagement
berhubungan dengan performa yang lebih baik. Hal ini dikarenakan :
a. Karyawan sering mengalami emosi yang positif termasuk
kebahagiaan, kesenangan, dan antusiasme.
b. Karyawan mengalami kesehatan psikologis dan fisik.
c. Karyawan membuat job resources dan personal resources
mereka sendiri.
d. Menularkan engagement mereka kepada orang lain

Faktor-faktor Keterikatan Kerja (Work Engagement)


ABC International Inc. menemukan beberapa faktor yang
mempengaruhi keterikatan kerja, yaitu: Adaptability (keterbukaan terhadap
ide-ide baru; kesiapan memodifikasi respon kerja pada saat menghadapi
perubahan), Achievement Orientation (orientasi untuk selalu mendorong diri
dalam siklus target, yaitu target kerja, mencapainya, dan menetapkan target
yang semakin menantang), Attraction to the work (kemampuan mengelola
sikap positif terhadap pekerjaannya selama periode stres dan frustrasi),
Emotional Maturity (menghindari bertindak impulsif dan ekstrim atau
menghindari reaksi emosional yang berdampak negatif terhadap efektifitas
kerja dan terhadap hubugan kerja), Positive Disposition (menunjukkan
keramahan dengan pelanggan dan rekan kerja; berkeinginan untuk menolong
orang lain mencapai target kerja mereka), dan Self-Efficacy (memperlihatkan
kenyamanan, berkeras dalam menunjukkan percaya diri atas kemampuannya
berhasil dalam pekerjaan dan melampaui prestasi orang lain).

Dimensi Keterikatan Kerja (Work Engagement)


Schaufeli dan Bakker (2004) menjelaskan bahwa keterikatan kerja
(work engagement) merupakan suatu kondisi dimana individu memiliki pikiran
yang positif serta memiliki motivasi yang tinggi dalam kaitannya dengan
pekerjaannya. Keterikatan kerja atau work engagement memiliki tiga dimensi,
yaitu:
1 Vigor (semangat)
Vigor ditandai oleh tingginya tingkat energi dan ketahanan
mental saat bekerja, kemauan untuk menginvestasikan upaya dalam
pekerjaan seseorang, dan ketekunan juga dalam menghadapi kesulitan.
Karyawan yang mendapat skor tinggi pada vigor (semangat) selalu memiliki
banyak energi, semangat dan stamina saat bekerja, sedangkan mereka yang
mendapat skor rendah pada vigor (semangat) memiliki sedikit energi,
semangat dan stamina dalam mengerjakan pekerjaan merek
.2 Dedication (dedikasi)
Dedikasi ditandai dengan rasa penting, antusiasme, inspirasi,
kebanggaan, dan tantangan. Karyawan yang mendapat skor tinggi pada
dedikasi memiliki identifikasi yang kuat dengan pekerjaan mereka karena
memaknainya, inspiratif, dan menantang. Selain itu, mereka biasanya
merasa antusias dan bangga tentang pekerjaan mereka. Karyawan yang
mendapat skor rendah tidak mengidentifikasi diri dengan pekerjaan mereka
karena mereka tidak memaknainya, inspirasi, atau menantang. Apalagi,
mereka merasa tidak antusias atau bangga tentang pekerjaan mereka.
3 Absorption (penyerapan)
Absorbsi ditandai dengan konsentrasi penuh dan bahagia
dalam pekerjaan, dimana waktu berlalu dengan cepat dan sulit untuk
memisahkan diri dari pekerjaan. Karyawan yang mendapat skor tinggi pada
absorbsi merasa bahwa mereka menikmati pekerjaan mereka, mereka
merasa tenggelam oleh pekerjaan mereka dan memiliki kesulitan untuk
memisahkan dari pekerjaan mereka. Akibatnya, segala sesuatu di sekitar
mereka dilupakan dan waktu terasa cepat. Karyawan yang mendapat skor
rendah pada absorbsi tidak merasa menikmati atau tenggelam dalam
pekerjaan mereka, mereka tidak mengalami kesulitan memisahkan dari itu,
mereka juga tidak lupa segala sesuatu di sekitar mereka, termasuk waktu.
Selain itu, Schaufeli dan Bakker (2004) menambahkan bahwa
semangat dan dedikasi merupakan dimensi utama dari keterikatan kerja,
sedangkan dimensi absorpsi berkembang sesuai dengan perkembangan
kedua dimensi utama. Ketiga dimensi inilah yang akan digunakan dalam
mengukur keterikatan kerja

Definisi keterikatan kerja (work engagement)


Keterikatan Kerja (Work engagement) merupakan topik hangat yang
baru dibahas beberapa dekade belakangan ini. Berdasarkan Kamus Besar
Bahasa Indonesia, bekerja merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk
mencari nafkah. Rothbard (2001) menjelaskan engagement sebagai
kehadiran psikologis tetapi lebih jauh menyatakan bahwa hal itu melibatkan
dua komponen penting yaitu attention dan absorption. Attention mengacu
pada ketersediaan kognitif dan jumlah waktu yang dihabiskan individu untuk
berpikir mengenai perannya. Sementara itu absorption berarti individu
sedang asyik dalam menjalankan perannya dan mengacu pada intensitas
fokus terhadap peran tersebut.
Kahn (1990) menggunakan istilah personal engagement, yaitu
penggunaan diri secara optimal dalam peran karyawan di organisasi.
Keterikatan yang dimiliki karyawan akan membuat mereka mengekspresikan
diri secara fisik, kognitif, dan emosional dalam bekerja. Aspek fisik dari work
engagement menyangkut energi fisik yang diberikan oleh individu dalam
menyelesaikan pekerjaannya. Aspek kognitif dari work engagement
menyangkut keyakinan karyawan terhadap organisasi, baik itu terhadap
pemimpin maupun kondisi dalam bekerja. Sementara itu aspek emosional
menyangkut perasaan karyawan tentang masing-masing faktor apakah
10
mereka memiliki sikap positif ataupun negatif terhadap pemimpin dan
organisasi.
Schaufeli, Salanova, Gonzalez-Roma dan Bakker (2002) menjelaskan
bahwa work engagement merupakan keadaan mental individu terkait dengan
pekerjaannya yang bersifat positif dan penuh yang ditandai oleh vigor,
dedikasi, dan absorption. Work engagement juga ditandai dengan tingkat
energi yang tinggi dan identifikasi yang kuat dengan pekerjaan seseorang
(Bakker, Schaufeli, Leiterc, dan Taris, 2008).
Saks (2006) mengungkapkan bahwa work engagement adalah suatu
konstruk yang berbeda dan unik yang mencangkup aspek kognitif,
emosional, dan perilaku yang berkaitan dengan kinerja individu dalam
pekerjaannya. Work engagement merupakan antitesis positif yang
berlawanan dari burnout (Maschlach, Schaufeli, dan Leiter, 2001).
Perlu dibedakan mengenai konsep work engagement dengan
workaholics. Karyawan yang mengalami work engagement dapat merasa
lelah setelah seharian bekerja, namun mereka memaknai kelelahan tersebut
sebagai hal yang menyenangkan karena berkaitan dengan prestasi positif.
Sementara itu karyawan yang workaholics bekerja keras karena dorongan
batin yang kuat dan tidak tertahankan. Pada akhirnya karyawan yang
mengalami work engagement tidak menjadi workaholics karena mereka
menikmati hal-hal lain di luar pekerjaan (Bakker dan Demerouti, 2008).
Lockwood (dalam Wulandari, 2011) mendefinisikan engagement
sebagai pernyataan oleh individu secara emosional dan intelektual memiliki
komitmen terhadap organisasi, yang diukur melalui tiga perilaku utama: 1)
berbicara positif mengenai organisasi kepada rekan kerja dan pekerja
berpotensi serta pelanggan, 2) memiliki gairah yang intens untuk menjadi
anggota organisasi, meski sebenarnya mendapat peluang kerja di tempat
11
lain, 3) menunjukkan usaha ekstra dan perilaku yang memiliki kontribusi
terhadap kesuksesan organisasi.
Saks (2006) menjelaskan bahwa work engagement berbeda dengan
komitmen organisasi, OCB, dan job involvment. Komitmen organisasi
berbeda dari engagement karena komitmen mengacu pada sikap seseorang
dan keterikatan terhadap organisasi mereka. Sedangkan engagement
bukanlah sikap tetapi sejauh mana seorang individu memperhatikan
pekerjaan dan berkonsentrasi penuh terhadap pekerjaan mereka. Sementara
itu jika OCB melibatkan perilaku sukarela dan informal yang dapat membantu
rekan kerja dan organisasi, maka fokus engagement adalah kinerja karyawan
sesuai dengan perannya dan bukan bersifat sukarela.
Berdasarkan definisi yang sudah dijelaskan, maka dapat disimpulkan
bahwa keterikatan kerja merupakan suatu kondisi dimana individu memiliki
pikiran yang positif serta memiliki motivasi yang tinggi dengan pekerjaannya

Pengaruh Cinta Terhadap Pekerjaan terhadap Komitmen KerjaKaryawan


Menurut Aulia et al. (2019), cinta terhadap pekerjaan pada tentara
mencerminkan hubungan emosional positif yang mendalam antara pekerja dan
pekerjaan mereka. Empat aspek utama yang menggambarkan cinta kerja pada
tentara adalah semangat, kedekatan, keikhlasan, dan loyalitas. Dalam konteks
loyalitas, hal ini meliputi kepatuhan, dedikasi, dan komitmen terhadap pekerjaan.
Sejalan dengan hasil penelitian Perwira et al. (2021) dan Aulia & Adiono (2021)
mendukung temuan ini dengan menyatakan bahwa cinta terhadap pekerjaan,
dukungan organisasi, dan kesejahteraan psikologis secara bersamaan memiliki
pengaruh signifikan terhadap keterlibatan kerja. Hasil penelitian mereka
mengungkapkan bahwa ketika karyawan merasakan kecintaan terhadap pekerjaan
mereka dan mendapatkan dukungan organisasi yang memadai, serta merasa baik
secara psikologis, mereka cenderung lebih terlibat dalam pekerjaan mereka.
Keterlibatan kerja ini, pada gilirannya, dapat meningkatkan komitmen kerja
karyawan, mendorong mereka untuk memberikan performa terbaik dan
berkontribusi secara maksimal terhadap organisas

Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Komitmen Kerja Karyawan


Menurut Juliarti & Anindita (2022), tingginya kepuasan kerja berkontribusi
signifikan pada peningkatan komitmen kerja karyawan. Rasa puas kinerja
karyawan pada pekerjaannya cenderung memperlihatkan tingkatan komitmen yang
lebih tinggi terhadap perusahaan tempat bekerjanya. Ini karena kepuasan kerja bisa
meningkatkan motivasi dan keterlibatan karyawan, membuat mereka lebih loyal
dan berdedikasi terhadap organisasi. Penelitian memperlihatkan bahwsannya ketika
karyawan merasa dihargai dan puas pada beberapa aspek pekerjaan mereka,
contohnya lingkungan kerja, kesempatan pengembangan, dan penghargaan, mereka
lebih mungkin untuk berkomitmen pada tujuan dan visi perusahaan. Aban et al.
(2019), Arfinasari & Prabowo (2022), dan Ramadhan & Marinda (2021) juga
mengatakan bahwasanya kepuasan kerja berdampak positif kepada komitmen
organisasi karyawan. Oleh karenanya, terdapat hubungan langsung diantara tingkat
kepuasan kerja serta tingkat komitmen ditunjukkan oleh pekerja terhadap
perusahaan yang memiliki dampak pada produktivitas dan stabilitas organisasi
secara keseluruhan

Pengaruh Work Life Balance terhadap Cinta Terhadap Pekerjaan


Beberapa penelitian menyatakan keseimbangan kehidupan personal dan
pekerjaan yang baik dapat meningkatkan kepuasan dan rasa cinta karyawan
terhadap pekerjaannya. Dalam Bygrave (2020) karyawan yang berhasil mengatur
waktu antara pekerjaan dan kehidupan personal mereka lebih cinta terhadap
pekerjaan yang lebih tinggi. Keseimbangan yang baik ini membuat karyawan
merasa lebih bahagia dan puas dengan pekerjaan mereka, yang pada akhirnya
berkontribusi pada peningkatan komitmen kerja mereka. Menurut Osbaldiston et
al. (2019) menunjukkan bahwa work life balance yang sehat juga dapat mengurangi
tingkat kebencian karyawan terhadap pekerjaan mereka. Karyawan yang
mempunyai keseimbangan yang cukup untuk kehidupan pribadi mereka dan
memiliki pengelolaan waktu yang efektif, cenderung lebih mencintai pekerjaan
mereka. Dengan demikian, work life balance yang baik tidak hanya mengurangi
ketidakpuasan tetapi juga meningkatkan keterlibatan dan cinta terhadap pekerjaan

Pengaruh Work Life Balance terhadap Kepuasan Kerja


Menurut Juliarti & Anindita (2022) work life balance mempunyai pengaruh
positif signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan. Penelitian memperlihatkan
bahwasanya keseimbangan antara tuntutan pekerjaan serta kehidupan pribadi
menaikan kepuasan kerja. Lolita & Mulyana (2019), Rachmawati & Susanto
(2021), Chaeria (2024), dan Atthohiri & Wijayati (2021) mengkonfirmasi
hubungan positif yang signifikan diantara keseimbangan kehidupan pekerjaan dan
personal serta kepuasan kerja karyawan. Hasil ini menegaskan bahwasanya
keseimbangan yang baik diantara pekerjaan serta kehidupan pribadi tidak hanya
memperbaiki kesejahteraan karyawan, tetapi juga persepsi mereka terhadap
pekerjaan. Karyawan yang mencapai keseimbangan ini cenderung lebih
terodorong, lebih terlibat, serta mempunyai tingkatan kepuasan kerja yang lebih
tinggi. Dengan kata lain, pemeliharaan keseimbangan yang efektif antara karir dan
aspek kehidupan lainnya berkontribusi pada pengalaman kerja yang sangat
memuaskan dan produktifitas yang bai

Pengaruh Work Life Balance terhadap Komitmen Kerja Karyawan


Work life balance merupakan faktor penting dalam mempertahankan
komitmen karyawan. Konsep ini mengacu pada kemampuan individu untuk
memenuhi tuntutan pekerjaan sekaligus menjaga keharmonisan dengan kehidupan
pribadi, yang menciptakan kebahagiaan secara menyeluruh. Work life balance
melibatkan keseimbangan antara jam kerja dan waktu pribadi serta integrasi antara
ambisi karir dan aspek-aspek penting lainnya seperti kebahagiaan, waktu luang,
hubungan keluarga, dan pengembangan spiritual, yang bertujuan untuk mencapai
titik tengah yang memungkinkan individu berfungsi optimal di semua area
kehidupan tanpa mengorbankan salah satunya (Rifadha, 2019). Dengan demikian,
individu perlu merencanakan dan mengelola waktu serta energi mereka untuk
memenuhi kebutuhan profesional dan pribadi secara bersamaan, sambil menjaga
kesejahteraan emosional dan fisik. Menurut Rahmadina & Setyaningrum (2023)
dan Ardiansyah & Surjanti (2020) work life balance mempunyai pengaruh positif
sign. terhadap komitmen, berarti semakin tinggi tingkat keseimbangan kerja dan
personal karyawan, maka komitmen yang diberikan karyawan juga semakin tinggi.
Begitu dengan sebaliknya, apabila keseimbangan kerja dan personal karyawan
rendah, maka komitmen yang diberikan karyawan juga rendah. Menurut Ramadhan
& Marinda (2019) work life balance dan kepuasan kerja secara bersama-sama
berpengaruh sign. terhadap komitmen

Indikator Cinta terhadap Pekerjaan


Cinta pekerjaan sering kali menjadi sumber utama semangat kerja
seseorang. Ketika seseorang mencintai pekerjaannya, mereka cenderung memiliki
energi positif, antusiasme, dan motivasi intrinsik yang tinggi, hal tersebut
merupakan elemen kunci dari semangat kerja. Semangat kerja yang tinggi bisa
memperkuat dan memelihara perasaan cinta terhadap pekerjaan, menciptakan
siklus positif yang saling menguatkan. Menurut Purwanto (dalam Adha, 2022),
indikator untuk mengukur semangat kerja yakni:

  1. Antusiasme, merujuk pada tingkat energi dan motivasi yang ditunjukkan
    individu dalam melaksanakan tugas. Karyawan yang antusias biasanya
    lebih aktif, bersemangat, dan memiliki sikap positif terhadap pekerjaan dan
    lingkungan kerja. Orang yang mencintai pekerjaannya cenderung
    memperlihatkan antusiasme yang tinggi.
  2. Partisipasi, memperlihatkan sejauh mana karyawan terlibat dalam kegiatan
    atau proses di tempat kerja. Ini mencakup kontribusi dalam diskusi, proyek
    tim, dan inisiatif organisasi. Karyawan yang tinggi partisipasinya cenderung
    lebih terhubung dengan tim dan tujuan perusahaan. Cinta terhadap
    pekerjaan sering kali mendorong seseorang untuk berpartisipasi aktif dalam
    pekerjaannya.
  3. Inisiatif, mengacu pada kemampuan karyawan untuk mengambil tindakan
    proaktif tanpa perlu disuruh. Karyawan yang memiliki inisiatif seringkali
    mencari cara untuk memperbaiki proses, menyelesaikan masalah, dan
    berkontribusi lebih dari sekadar tugas yang diberikan. Kecintaan terhadap
    pekerjaan bisa memotivasi seseorang untuk mengambil inisiatif dalam
    pekerjaannya.
  4. Kreativitas, memperlihatkan kemampuan untuk berpikir di luar batasan dan
    menghasilkan ide-ide baru. Karyawan yang kreatif bisa memberikan solusi
    inovatif untuk masalah dan berkontribusi pada pengembangan produk atau
    layanan yang lebih baik. Mencintai pekerjaan sering kali mendorong
    seseorang untuk berpikir kreatif dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
  5. Loyalitas, mencakup komitmen dan kesetiaan karyawan terhadap perusahaan.
    Karyawan yang loyal tidak hanya memperlihatkan dedikasi yang tinggi tetapi juga
    berusaha untuk mencapai tujuan jangka panjang perusahaan dan seringkali
    mempertahankan hubungan baik dengan rekan kerja. Cinta terhadap pekerjaan
    biasanya berkorelasi dengan tingkat loyalitas yang tinggi terhadap pekerjaan dan
    organisasi

Dimensi Cinta terhadap Pekerjaan


Karyawan yang mencintai pekerjaan mereka cenderung merasa lebih
bahagia di tempat kerja, dan kebahagiaan tersebut pada gilirannya memperkuat
perasaan cinta terhadap pekerjaan. Kombinasi dari keduanya bisa menciptakan
suasana kerja yang produktif, positif, dan memuaskan. Prasetyo et al. (2017)
menjelaskan kebahagiaan kerja bisa dilihat dalam dua hal, yakni pleasure yang
mengacu pada perasaan positif maupun negatif yang dialami seseorang di tempat
kerja. Ini mencerminkan bagaimana karyawan merasakan kepuasan, kebahagiaan,
atau ketidaknyamanan dalam lingkungan kerja mereka, dan activation yang
mengacu pada bagaimana energi atau tingkat aktivitas seseorang mempengaruhi
niat atau intensi mereka untuk bertindak. Ini mencerminkan seberapa aktif dan
energik seseorang merasa dalam melaksanakan tugas dan menghadapi tantangan di
tempat kerja. Karyawan yang mencintai pekerjaan juga cenderung bersemangat
dalam menjalani pekerjaannya dan membawa suasana positif pada perusahaan.
Menurut Alex S. Nitisemito (dalam Syafrizal, 2021) menyatakan bahwasanya
semangat kerja memiliki empat dimensi yakni naiknya produktivitas karyawan,
tingkat absensi rendah, labour turnover, berkurangnya kegelisahan.
Aulia et al. (2019) mengidentifikasi empat dimensi utama dalam konsep
cinta pekerjaan:

  1. Kegairahan (Zeal): Dimensi ini mencerminkan sikap positif terhadap
    pekerjaan, meliputi perasaan senang, kenikmatan dalam bekerja,
    penghayatan mendalam, kenyamanan, serta hasrat (passion) yang kuat
    terhadap pekerjaan. Kegairahan menggambarkan antusiasme dan semangat
    individu dalam menjalankan tugasnya.
  2. Kedekatan Emosi (Closeness): Aspek ini merujuk pada hubungan
    emosional yang erat antara individu dengan pekerjaannya, serta dengan
    lingkungan sosial di tempat kerja. Ini mencakup rasa keterikatan dan
    koneksi personal dengan tugas-tugas dan rekan kerja.
  3. Kesetiaan (Loyalty): Kesetiaan dalam konteks ini berkaitan dengan
    kepatuhan, komitmen, dan dedikasi terhadap pekerjaan. Ini memperlihatkan
    kesiapan individu untuk tetap setia pada pekerjaannya dan organisasinya,
    bahkan dalam situasi yang menantang.
  4. Ketulusikhlasan (Heartiness): Dimensi ini ditandai dengan sikap tidak
    mementingkan untung rugi secara berlebihan, kesabaran dalam menghadapi
    tantangan, dan kecenderungan untuk tidak mengeluh. Individu dengan
    ketulusikhlasan tinggi cenderung memberikan lebih dari yang dituntut dan
    memprioritaskan pekerjaan di atas kepentingan pribadi lainnya.
    Keempat dimensi ini secara kolektif membentuk konstruk cinta pekerjaan,
    menggambarkan hubungan yang mendalam dan positif antara individu dengan
    pekerjaannya. Keseluruhan indikator ini bersama-sama membentuk landasan kuat
    bagi perasaan cinta terhadap pekerjaan, yang tak hanya kepuasan kerja yang
    meningkat tetapi juga mempengaruhi komimten dan kinerja karyawan secara
    positif.

Pengertian Cinta terhadap Pekerjaan


Menurut Bygrave (2020), cinta terhadap pekerjaan merupakan suatu proses
keterikatan antara pekerja dengan pekerjaannya. Seseorang yang bekerja dengan
rasa cinta terhadap pekerjaan akan lebih bersemangat dan tidak akan merasa
terbebani selama mengerjakan tugasnya. Rasa cinta yang dimiliki seseorang
terhadap pekerjaannya bisa menghasilkan energi yang tinggi, merangsang
keinginan untuk menghasilkan karya-karya baru, serta senantiasa meningkatkan
kualitas pekerjaan dan prestasi kerja.
Kecintaan pada pekerjaan yakni faktor krusial yang mempengaruhi tingkat
keterikatan kerja seseorang terhadap pekerjaannya. Cinta sendiri merupakan
hubungan emosional timbal balik yang positif antara pekerja dan pekerjaannya,
mempunyai makna yang dalam, dan bercirikan pengorbanan yang ikhlas dalam
melaksanakan pekerjaan (Perwira et al., 2021). Menurut Aulia et al. (2019),
kecintaan terhadap kerja mempunyai korelasi yang kuat dengan keterikatan kerja.
Kecintaan seseorang terhadap pekerjaan akan memberikan energi yang luar biasa,
kerinduan untuk berkreasi baru, dan motivasi untuk meningkatkan kualitas kerja
secara terus menerus. Oleh karena itu, semakin intens hubungan seseorang dengan
pekerjaan, maka semakin tinggi keterikatan kerja yang dimiliki individu tersebut

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Robbin & Judge (dalam Zahrudin et al., 2023), ada lima indikator
kepuasan kerja mencakup berbagai aspek yang penting untuk mempengaruhi
kepuasan kerja karyawan terhadap pekerjaannya, antara lain:

  1. Work itself (pekerjaan itu sendiri), mengacu pada sejauh mana pekerjaan itu
    sendiri menarik, menantang, dan memberikan kesempatan untuk belajar dan
    berkembang. Ini juga meliputi variasi tugas yang dimiliki karyawan dalam
    melakukan pekerjaannya.
  2. Pay (upah), berkaitan dengan jumlah kompensasi finansial yang diterima
    karyawan dan sejauh mana hal ini dianggap adil dibandingkan dengan
    pekerjaan yang dilakukan. Ini juga mencakup tunjangan dan manfaat lain
    yang diterima.
  3. Promotion (promosi), merujuk pada kesempatan untuk kemajuan karir
    dalam organisasi. Ini meliputi kejelasan jalur karir, keadilan dalam proses
    promosi, dan frekuensi promosi yang tersedia.
  4. Supervision (pengawasan), berhubungan dengan kualitas pengawasan yang
    diterima karyawan dari atasan langsung mereka. Ini mencakup kompetensi
    teknis supervisor, dukungan, dan gaya kepemimpinan.
  5. Co-Workers (rekan kerja), mengacu pada tingkat kepuasan karyawan
    dengan rekan kerja mereka. Ini meliputi hubungan interpersonal, kerja sama
    tim, dan atmosfer sosial di tempat kerja.
    Merujuk dari uraian tersebut, bisa disimpulkan setiap indikator
    berkontribusi pada tingkat kepuasan mereka secara keseluruhan. Dengan
    memahami indikator kepuasan kerja, organisasi bisa lebih efektif dalam
    mengidentifikasi faktor mana saja yang mempengaruhi kepuasan kerja serta
    melaksanakan perbaikan yang perlu guna peningkatan kesejahteraan dan kepuasan
    kerja

Dimensi Kepuasan Kerja


Menurut Sutrisno (dalam Ramadhan & Marinda (2019) menyatakan
kepuasan kerja dipengaruhi oleh berbagai elemen dan dimensi yang terkait.
Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap kepuasan kerja meliputi:

  1. Aspek psikologis mencakup berbagai elemen yang berkaitan dengan
    kondisi mental dan kejiwaan pegawai. Hal ini meliputi tingkat ketertarikan
    terhadap pekerjaan, rasa nyaman dalam menjalankan tugas, cara pandang
    terhadap tanggung jawab kerja, serta potensi dan kemampuan yang dimiliki
    oleh setiap karyawan.
  2. Dimensi sosial berkaitan dengan kualitas hubungan dan komunikasi yang
    terjalin dalam lingkungan kerja. Hal ini mencakup dinamika interaksi antar
    sesama rekan kerja, serta pola komunikasi antara bawahan dengan pimpinan
    dalam struktur organisasi perusahaan.
  3. Faktor fisik mengacu pada berbagai aspek yang berhubungan dengan
    kondisi material dan kesehatan karyawan. Ini mencakup karakteristik
    pekerjaan, manajemen waktu kerja dan istirahat, ketersediaan peralatan
    kerja, kondisi lingkungan kerja seperti tata ruang, temperatur, pencahayaan,
    dan sirkulasi udara, serta faktor-faktor personal seperti status kesehatan dan
    usia karyawan.
  4. Komponen finansial terkait dengan sistem penghargaan dan jaminan
    kesejahteraan yang diberikan kepada karyawan. Aspek ini mencakup
    struktur dan besaran gaji, program jaminan sosial, berbagai bentuk
    tunjangan, fasilitas penunjang, serta kesempatan pengembangan karir
    melalui sistem promosi yang diterapkan perusahaan.

Pengertian Kepuasan Kerja


Ramadhan & Marinda (2019) menyatakan bahwasanya kepuasan kerja
ialah indikator penting yang mengukur seberapa efektif organisasi dalam memberi
feedback pada karyawan yang telah mencapai tujuan organisasi. Pranindhita &
Wibowo (2020), mendefinisikan kepuasan kerja sebagai persepsi individu tentang
pencapaian kepuasan dalam dan luar pekerjaan, serta kemampuan menerima nilai-
nilai dalam pekerjaan. Faktor yang mempengaruhinya meliputi pemenuhan
kebutuhan dan pencapaian harapan dalam pekerjaan. Adapun Mora et al. (2020),
Kepuasan kerja dilihat sebagai pandangan umum terhadap pekerjaan,
mencerminkan sejauh mana harapan dan penghargaan yang diterima sesuai.
Kepuasan kerja dianggap mampu meningkatkan komitmen karyawan terhadap
pekerjaannya. Secara keseluruhan, kepuasan kerja merupakan konsep multidimensi
yang mencerminkan kesesuaian antara harapan, pengalaman, dan penghargaan
dalam konteks pekerjaan, dengan implikasi signifikan terhadap kinerja dan
komitmen karyawan.

Indikator Work Life Balance


Puryana & Ramdani (2022) menyatakan work life balance sebagai
keseimbangan tanggung jawab kerja dan aspek kehidupan personal. Menutip
McDonald dan Bradley (dalam Puryana & Ramdani, 2022) indikator utama work
life balance ada tiga, yaitu:

  1. Time balance, mencerminkan alokasi waktu yang memadai untuk pekerjaan
    dan keluarga.
  2. Involvement balance, menunjukkan keterlibatan psikologis dan komitmen
    yang seimbang antara keluarga dan juga pekerjaan.
  3. Satisfaction balance, merujuk pada tingkatan kepuasan yang seimbang
    dalam aktivitas pekerjaan dan keluarga.
    Berbagai perspektif ini menunjukkan bahwa work life balance mencakup
    beberapa aspek penting: alokasi waktu yang seimbang, keterlibatan psikologis yang
    merata, serta kepuasan yang setara dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi.
    Keseimbangan ini krusial untuk mengurangi stres dan memastikan kualitas hidup
    yang baik di semua aspek

Dimensi Work Life Balance


Fisher, Bulger, dan Smith (dalam Pranindhita & Wibowo, 2020)
mengidentifikasi empat dimensi:

  1. Work Interference with Personal Life (WIPL), mengukur besarnya
    pekerjaan mempengaruhi personal kehidupan.
  2. Personal Life Interference with Work (PLIW), menilai bagaimana
    kehidupan personal berdampak pada performa kerja.
  3. Personal Life Enhancement of Work (PLEW), mengevaluasi cara kehidupan
    personal yang positif meningkatkan kinerja kerja.
  4. Work Enhancement of Personal Life (WEPL), menganalisis bagaimana
    pekerjaan dapat memperbaiki kualitas hidup personal

Pengertian Work Life Balance


Menurut Lumunon et al. (2019) work life balance yakni kemampuan
karyawan dalan pengelolaan waktu antara tanggung jawab kerja dan kebutuhan
pribadi. Ini yakni kondisi di mana karyawan bisa menyeimbangkan dengan baik
antara pekerjaan dan aspek kehidupan pribadi, termasuk keluarga. Karyawan yang
berhasil mencapai keseimbangan ini biasanya memperlihatkan produktivitas dan
performa yang lebih tinggi. Mereka juga cenderung merasa lebih puas, bahagia, dan
kreatif, berkat dukungan dari lingkungan sosial mereka seperti keluarga dan teman,
serta dukungan dari manajemen perusahaan.
Menurut Rifadha (2019), merujuk pada kemampuan seseorang ketika
menjalankan pekerjaan dan kehidupan pribadi secara seimbang, yang berkontribusi
pada kebahagiaan mereka. Konsep ini menghubungkan aspek pekerjaan dengan
rasa bahagia, waktu luang, kehidupan keluarga, dan perkembangan spiritual.
Wijaya (2020) memperluas definisi ini, membuktikan bahwasanya work life
balance mencakup tingkat keterlibatan dan kepuasan individu dalam hal waktu
serta keterkaitan psikologis, baik dalam peran kerja maupun kehidupan pribadi
(termasuk hubungan dengan pasangan, keluarga, teman, dan masyarakat), tanpa
adanya konflik antara kedua peran tersebut.

Indikator Komitmen Kerja Karyawan


Menurut Lincoln & Kalleberg (dalam Kurniawan & Prasetyo, 2022)
terdapat tiga indikator komitmen organisasional, yakni:

  1. Kesetiaan karyawan, mengacu pada tingkat loyalitas dan dedikasi yang
    ditunjukkan oleh karyawan terhadap organisasi. Ini mencerminkan
    keinginan pekerja menjadi bagian organisasi untuk waktu panjang.
    Kesetiaan bisa ditunjukkan melalui:
    a. Keinginan untuk tetap bekerja di organisasi meskipun ada tawaran
    pekerjaan lain,
    b. Kesediaan untuk mendukung tujuan dan nilai-nilai organisasi,
    c. Konsistensi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab,
    d. Kemauan untuk membela organisasi dari kritik eksternal.
  2. Keterlibatan karyawan, merujuk pada sejauh mana karyawan berpartisipasi
    aktif dalam kegiatan organisasi dan kontribusi mereka terhadap pencapaian
    tujuan organisasi, mencakup:
    a. Partisipasi aktif dalam pengambilan keputusan,
    b. Inisiatif dalam mengusulkan ide-ide baru untuk perbaikan,
    c. Kesediaan untuk bekerja melebihi ekspektasi normal,
    d. Keterlibatan dalam kegiatan sukarela atau proyek tambahan yang
    menguntungkan organisasi,
    e. Kolaborasi efektif dengan rekan kerja dan tim.
  3. Kebanggaan karyawan pada organisasi, mencerminkan perasaan positif dan
    rasa hormat yang dimiliki karyawan terhadap organisasi mereka. Ini
    memperlihatkan sejauh mana karyawan mengidentifikasi diri mereka
    dengan organisasi dan merasa bangga menjadi bagian darinya. Indikator ini
    bisa dilihat melalui:
    a. Kemauan untuk merekomendasikan organisasi sebagai tempat kerja
    yang baik kepada orang lain,
    b. Berbicara positif tentang organisasi kepada pihak eksternal,
    c. Perasaan bangga ketika menyebutkan tempat kerja mereka,
    d. Antusiasme dalam mempromosikan produk atau layanan organisasi,
    e. Identifikasi diri yang kuat dengan misi dan nilai-nilai organisasi

Dimensi Komitmen Kerja Karyawan


Meyer & Allen (dalam Farla et al., 2019) menjelaskan terdapat tiga dimensi
organisasional commitment:

  1. Komitmen afektif muncul ketika seorang pekerja merasakan ikatan
    emosional yang kuat dan keinginan untuk terus menjadi anggota organisasi.
    Ini memperlihatkan bahwasanya karyawan memilih untuk bertahan di
    organisasi karena mereka merasa nilai dan tujuan organisasi tepat pada diri
    mereka sendiri. Tingkat keterlibatan individu dalam organisasi sering
    dijadikan sebagai indikator komitmen afektif.
  2. Komitmen kontinuan berkaitan dengan loyalitas karyawan terhadap
    organisasi yang didasari oleh pertimbangan kerugian jika meninggalkan
    organisasi. Karyawan yang berkomitmen kontinuan yang tinggi cenderung
    berkeinginan kuat agar tetap menjadi bagian dari organisasi, karena mereka
    merasa akan mengalami kerugian signifikan jika memutuskan untuk keluar.
  3. Komitmen normatif bersumber dari nilai dan tujuan internal karyawan.
    Kesadaran akan pentingnya komitmen terhadap organisasi menjadi
    pendorong utama bagi karyawan untuk bertahan. Komitmen ini menyatakan
    perasaan kewajiban moral agar selalu bekerja dalam organisasi. Karyawan
    dengan komitmen normatif yang kuat merasa bertanggung jawab terhadap
    organisasi merujuk dari norma dan nilai yang mereka anut, bukan semata-
    mata karena keuntungan pribadi

Pengertian Komitmen Kerja Karyawan


Menurut Farla et al. (2019), komitmen kerja menggambarkan kondisi
individu yang mempunyai tekad dan kemauan yang kuat guna mempertahankan
keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Hal ini mencerminkan kebanggaan
karyawan terhadap pekerjaan mereka serta keinginan untuk menjadi bagian dari
organisasi. Karyawan yang berkomitmen akan memberikan kontribusi terbaik dan
memperlihatkan dedikasi tinggi dalam melaksanakan tugas mereka, karena mereka
merasa terhubung secara emosional dan terlibat dengan organisasi.
Suhardi et al. (2021) menjelaskan komitmen merupakan ikatan emosional
antara pekerja terhadap pekerjaannya yang berkembang dari rasa percaya dan
kemauan untuk mencapai tujuan bersama, serta keinginan untuk tetap menjadi
bagian dari Perusahaan, meskipun menghadapi tantangan atau situasi yang tidak
menyenangkan, memperlihatkan ketahanan dan loyalitas mereka. Adapun menurut
Mora et al. (2020), komitmen kerja merupakan dimensi perilaku yang
mencerminkan kecenderungan karyawan untuk mendukung dan terlibat dalam
organisasi. Komitmen kerja terdiri dari dua komponen utama, yakni sikap dan
keinginan untuk bertindak. Sikap meliputi identifikasi, keterlibatan, dan loyalitas
terhadap organisasi, sedangkan keinginan untuk bertindak berhubungan dengan
kesiapan karyawan untuk berusaha dan berperilaku tepat pada tuntutan organisasi.
Karyawan yang berkomitmen kerja yang kuat akan memperlihatkan kesetiaan dan
dedikasi, berusaha keras untuk memenuhi tuntutan organisasi

Work Engagement Theory


Peneliti ini mempergunakan teori keterikatan kerja (work engagement
theory) yang pada awalnya dijelaskan oleh William Kahn pada tahun 1990, namun
kemudian mengalami pengembangan signifikan oleh Schaufeli dan Bakker. Kahn
(1990) mendefinisikan keterikatan kerja sebagai kondisi di mana anggota
organisasi menjalankan peran mereka secara fisik, kognitif, dan emosional.
Schaufeli dan Bakker (2004) memperluas konsep ini, menggambarkannya sebagai
keadaan pikiran positif yang memungkinkan ekspresi diri dalam pekerjaan (Sugito
& Setiabudhi, 2017).
Teori ini berasumsi bahwasanya karyawan yang terikat secara positif
dengan pekerjaannya akan memperlihatkan performa yang optimal, berdedikasi,
lebih produktif, dan lebih berkomitmen pada organisasi. Schaufeli dan Bakker
(dalam Anggraini & Mulyana, 2022), menguraikan keterikatan kerja melalui tiga
dimensi utama: Vigor (semangat), dimensi ini mencerminkan tingkat energi yang
tinggi dan semangat selama bekerja. Karyawan yang memiliki vigor tinggi
memperlihatkan kegigihan dan mental yang kuat dalam menghadapi tantangan, dan
kemauan untuk menginvestasikan usaha ekstra dalam pekerjaan mereka. Mereka
memiliki stamina emosional dan kognitif yang memungkinkan mereka untuk
bertahan dalam situasi kerja yang kompleks. Dedication (dedikasi), mencerminkan
keterlibatan psikologis yang mendalam dengan pekerjaan. Karyawan yang
memiliki dedikasi tinggi memperlihatkan rasa bermakna yang kuat dalam peran
mereka, antusiasme terhadap tugas mereka, dan kebanggaan yang mendalam
terhadap kontribusi mereka. Dedikasi juga mencakup perasaan terinspirasi oleh
pekerjaan dan tantangan yang dihadapi. Absorption (keterlibatan), merujuk pada
keadaan konsentrasi penuh dan fokus mendalam dalam pekerjaan. Karyawan yang
mengalami absorption tinggi seringkali memperlihatkan tingkat fokus yang intens,
seolah-olah “tenggelam” dalam aktivitas kerja mereka.
Teori ini muncul sebagai respons terhadap fokus Wilmar Schaufeli dkk
mengenai job burnout yang berdampak terhadap disengagement dengan
mengemukakan konsep dasar keterikatan kerja, disaat bersamaan Arnold Bakker
dkk mengembangkan model Job Demand-Resources atau tuntutan pekerjaan (job
demands) dan sumber daya pekerjaan (job resources) yang menjelaskan faktor-
faktor yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan dan kinerja. Selanjutnya
Schaufeli dan Bakker mengembangkan sebuah instrument yang dikenal dengan
nama UWES (Utrecht Work Engagement Scale) yang mengukur keterlibatan kerja
dalam tiga dimensi yakni vigor, dedication, dan absorption (Manurung et al.,
2021).
Merujuk dari uraian, peneliti mempergunakan teori keterikatan kerja
menurut Schaufeli & Bakker (2004). Teori ini mendasari hubungan antara individu
dan pekerjaannya, dimana karyawan dengan tingkat keterikatan kerja tinggi
cenderung superior dalam performa kerja, produktivitas yang meningkat, dan
komitmen organisasional yang kuat. Mereka juga cenderung mengalami kepuasan
kerja lebih tinggi yang bisa meningkatkan rasa cinta karyawan terhadap
pekerjaannya serta mengalami keseimbangan dalam kehidupan pekerjaan maupun
pribadi sehingga mendapatkan kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Teori keterikatan kerja Schaufeli & Bakker (2004) memiliki relevansi dan
hubungan yang signifikan dengan berbagai konsep penting dalam psikologi
organisasi dan manajemen sumber daya manusia:

  1. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan personal adalah faktor
    penting yang memengaruhi kesejahteraan karyawan. Karyawan yang
    memiliki keterikatan kuat dengan pekerjaannya biasanya lebih efektif dalam
    mengelola waktu dan energi, yang berkontribusi pada peningkatan kualitas
    hidup di luar lingkungan kerja sehingga mereka seringkali menghadapi
    konflik peran yang lebih sedikit antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan
    pribadi.
  2. Kepuasan kerja adalah hasil langsung dari keterlibatan kerja. Karyawan
    yang merasa bersemangat, terdedikasi, dan terlibat penuh dalam pekerjaan
    mereka cenderung merasa lebih puas dengan pekerjaan tersebut.
    Keterikatan kerja yang tinggi membawa dampak positif terhadap rasa
    kepuasan yang mereka rasakan dalam pekerjaan, baik itu dalam hal
    pengakuan, tantangan yang diberikan pekerjaan, atau pencapaian yang
    diperoleh.
  3. Rasa cinta terhadap pekerjaan sering kali muncul ketika seorang karyawan
    merasa berdedikasi dan terlibat dengan pekerjaan mereka. Ketika karyawan
    merasa bahwa pekerjaan mereka bermakna dan mereka memberikan
    kontribusi yang berarti, mereka akan mengembangkan rasa cinta terhadap
    pekerjaan tersebut.
  4. Keterikatan kerja yang tinggi berkorelasi positif dengan peningkatan
    komitmen. Keterikatan karyawan secara mendalam akan mengembangkan
    ikatan yang lebih kuat dengan organisasi. Mereka akan mengidentifikasi diri
    dengan nilai-nilai dan tujuan perusahaan, loyalitas tinggi, serta
    berkeinginan rendah untuk meninggalkan organisasi

Hubungan karyawan


Dalam hubungan karyawan terdapat dua hubungan yaitu hubungan
sebagai individu dan hubungan sebagai kelompok. Hubungan karyawan
sebagai individu, motivasi yang didapat seorang karyawan adalah dari
reken-rekan kerja ataupun atasan. Yang menjadi sebuah motivasi, jika
dalam hubungan karyawan dengan rekan sekerja atau atasan berlangsung
harmonis. Dan sebaliknya, jika hubungan diantara kedua hal tersebut tidak
harmonis, maka akan mengakibatkan kurang atau tidaknya motivasi dalam
karyawan tersebut.
Sedangkan dalam hubungan sebagai kelompok, seorang karyawan akan
berhubungan dengan banyak orang, baik secara individu atau secara
kelompok. Hubungan ini ada beberapa yang mendapat perhatian agar
keberadaan kelompok ini menjadi produktif, seperti: kepemimpinan yang
baik, kondisi kerja yang baik, distribsi informasi yang baik, dan system
pengupahan yang jelas

Lingkungan kerja


Lingkungan kerja menurut sedarmayanti (Rawani & Lubis, 2021)adalah
keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi lingkungan sekitarnya dimana
seorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik perseorangan
maupun sebagai kelompok. Menurut nitisemito (Rawani & Lubis, 2021),
lingkungan kerja merupakan sesuatu yang berada pada sekitar para karyawan
sehingga mempengaruhi suatu individu dalam melaksanakan kewajiban dan tugas
yang telah ditugaskan kepadanya. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa lingkungan kerja merupakan sesuatu yang berada di sekitar pegawai saat
bekerja, baik berebentuk fisik dan non fisik, yang dapat mempengaruhi dirinya dan
pekerjaan saat bekerja. menurut (sedarmayanti, 2018:56) lingkungan kerja dibagi
dalam dua bagian, yaitu lingkungan kerja non fisik dan lingkungan kerja fisik.

Faktor-faktor yang memengaruhi kinerja


Faktor-faktor yang memengaruhi kinerja menurut Sedarmayanti
(2001: 65) antara lain:
 Sikap mental (motivasi kerja, disiplin kerja, etika kerja). Sikap mental
yang dimiliki seorang pegawai akan memberikan pengaruh terhadap
kinerjanya.
 Pendidikan. Pendidikan yang dimiliki seorang pegawai mempengaruhi
kinerja pegawai tersebut.
 Ketrampilan. Pegawai yang memiliki ketrampilan akan mempunyai
kinerja yang lebih baik dari pada pegawai yang tidak mempunyai
ketrampilan.
 Kepemimpinan. Kepemimpinan manajer memberikan pengaruh
terhadap kinerja pegawainya.
 Tingkat penghasilan. Tingkat penghasilan pegawai berpengaruh
terhadap kinerja pegawai.
 Kedisiplinan. Kedisiplinan yang kondusif dan nyaman akan dapat
meningkatkan kinerja pegawai.
 Komunikasi. Para pegawai dan manajer harus senantiasa menciptakan
komunikasi yang harmonis dan baik.
 Sarana pra sarana. Perusahaan harus memberikan fasilitas atau sarana
dan prasarana yang dapat mendukung kinerja pegawai.
 Kesempatan berprestasi. Adanya kesempatan berprestasi dalam
perusahaan dapat memberikan motivasi kepada pegawai untuk selalu
meningkatkan kinerja

Pengertian Kinerja


Kata “kinerja” berasal dari bahasa Inggris “performance” yang
identik dengan bahasa Indonesia “Prestasi”. Performance berarti tingkah
laku yang membuahkan satu hasil, khususnya tingkah laku yang dapat
mengubah lingkungan dengan cara-cara tertentu.
Kinerja pegawai sering diartikan sebagai pencapaian tugas, dimana
pegawai dalam bekerja harus sesuai dengan program kerja organisasi
untuk menunjukkan tingkat kinerja organisasi dalam mencapai visi, misi,
dan tujuan organisasi. Kinerja merupakan prestasi kerja, yaitu
perbandingan antara hasil kerja dengan standar yang ditetapkan (Dessler,
2000: 41). Kinerja dalah hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas
yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung
jawab yang diberiakan (Mangkunegara, 2002: 22). Manajemen kinerja
adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja
perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan
kelompok kerja di perusahaan tersebut

Teori Motivasi


Marihot Tua Effendi Hariandja (2009: 324), mengemukakan
bahwa terdapat lima macam teori motivasi, antara lain:

  1. Teori Motivasi Kebutuhan
    Teori ini dikemukakan oleh Abraham A. Maslow yang menyatakan
    bahwa manusia dimotivasi untuk memuaskan sejumlah kebutuhan
    yang melekat pada diri setiap manusia yang cenderung bersifat
    bawaan. Kebutuhan ini terdiri dari lima jenis dan terbentuk dalam
    suatu hierarki dalam pemenuhan, dalam arti manusia pada dasarnya
    pertama sekali akan berusaha memenuhi kebutuhan tingkat pertama,
    kemudian kebutuhan tingkat kedua dan seterusnya, dan pemenuhan
    semua kebutuhan yang sudah terpenuhi tidak menjadi unsur
    pemotivasi lagi.
    Adapun kebutuhan-kebutuhan adalah:
    1) Kebutuhan fisik
    2) Kebutuhan rasa aman
    3) Kebutuhan sosial
    4) Kebutuhan pengakuan
    5) Kebutuhan aktualisasi diri
  2. Teori X dan Y
    Teori ini menyatakan bahwa manusia pada dasarnya terdiri dari dua
    jenis. Pencetusnya McGregor, mengatakan bahwa ada jenis manusia X
    dan jenis manusia Y yang masing-masing memeiliki karakteristik
    tertentu. Jenis manusia X adalah manusia yang selalu ingin
    menghindari pekerjaan bilamana mungkin, sedangkan manusia jenis Y
    menunjukkan sifat yang senang bekerja yang diibaratkan bahwa
    bekerja baginya seperti bermain. Kemudian jenis manusia X tidak
    punya inisiatif dan senang diarahkan, sedangkan jens manusia Y
    adalah sebaliknya. Dikaitkan dengan kebutuhan, dikatakan bahwa tipe
    manusia X bila mana mengacu pada hierarki kebutuhan dari Maslow,
    memiliki kebutuhan tingkat rendah dibandingkan manusia tipe Y yang
    memiliki kebutuhan tingkat tinggi.
  3. Three Needs Theory
    Teori ini dikemukakan oleh David McClelland, yang mengatakan
    bahwa ada tiga kebutuhan manusia, yaitu:
     Kebutuhan berprestasi, yaitu keinginan untuk melakukan sesuatu
    lebih baik dibandingkan sebelumnya.
     Kebutuhan untuk berkuasa, yaitu kebutuhan untuk lebih kuat, lebih
    berpengaruh terhadap orang lain.
     Kebutuhan afiliasi, kebutuhan untuk disukai, mengembangkan, atau
    memelihara persahabatan dengan orang lain.
  4. ERG Theory
    Teori ini dikemukakan oleh Clayton Aldefer, yang sebetulnya tidaklah
    jauh berbeda dengan teori A. Maslow, yang mengatakan bahwa teori
    ini merupakan revisi dari teori tersebut. Teori ini mengatakan bahwa
    ada tiga kelompok kebutuhan manusia, yaitu:
  5. Existence berhubungan dengan kebutuhan untuk mempertahankan
    keberadaan seseorang dalam hidupnya. Dikaitkan dengan
    penggolongan dari Maslow, ini berkaitan dengan kebutuhan fisik
    dan keamanan.
  6. Relatednees berhubungan dengan kebutuhan untuk berinteraksi
    dengan orang lain. Dikaitkan dengan penggolongan kebutuhan dari
    Maslow, ini meliputi kebutuhan social dan pengakuan.
  7. Growth berhubungan dengan kebutuhan pengembangan diri, yang
    identik dengan kebutuhan self-actualization yang dikemukakan
    oleh Maslow

Jenis-Jenis Motivasi


Malayu S.P. Hasibuan (2008: 150), mengemukakan bahwa terdapat
dua jenis motivasi yang digunakan antara lain:

  1. Motivasi Positif (intensif positif)
    Dalam motivasi positif pimpinan memotivasi (merangsang) bawahan
    dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi diatas
    prestasi standar, dengan motivasi positif ini semangat kerja bawahan
    akan meningkat. Insentif yang diberikan kepada karyawan diatas
    standar dapat berupa uang, fasilitas, barang, dan lain-lain.
  2. Motivasi Negatif
    Dalam motivasi negatif, pimpinan memotivasi dengan memberikan
    hukuman bagi mereka yang bekerja dibawah standar yang ditentukan.
    Dengan motivasi negative semangat bawahan dalam jangka waktu
    pendek akan meningkat karena takut dihukum, tetapi untuk jangka
    waktu yang panjang dapat berakibat kurang baik.

Tujuan Motivasi


Menurut Hasibuan (2003) yang dikutip Soekidjo (2005: 125)
mengemukakan bahwa: motivasi di dalam suatu organisasi mempunyai
maksud dan tujuan yang sangat luas dalam rangka pengembangan
organisasi tersebut, antara lain:
a. Meningkatkan gairah dan semangat kerja pegawai atau karyawan.
b. Meningkatkan kepuasan kerja karyawan, yang akhirnya meningkatkan
kinerjanya.
c. Meningkatkan produktifitas karyawan
d. Meningkatkan loyalitas dan integritas karyawan
e. Meningkatkan kedisiplinan karyawan
f. Meningkatkan kehadiran kerja karyawan

Manfaat lingkungan kerja


Menurut Ishak dan Tanjung (2003), manfaat lingkungan kerja:
 Menciptakan gairah kerja sehingga produktivitas dan prestasi kerja
meningkat
 Pekerjaan dapat terselesaikan dengan tepat, pekerjaan diselesaikan
sesuai standar yang benar dan dalam skala waktu yagn ditentukan.
 Semangat juangnya akan tinggi.

Pengertian Motivasi


Motivasi merupakan keinginan seseorang melakukan sesuatu
akibat dorongan dari diri sendiri maupun dari luar diri pegawai. Selain itu
motivasi dapat pula diartikan sebagai dorongan pegawai untuk melakukan
tindakan karena mereka ingin melakukannya.
Berikut pendapat para ahli tentang motivasi:
Menurut A. A. Prabu Mangkunegara (2009: 93), berpendapat
bahwa: “Motivasi adalah kondisi yang menggerakan pegawai agar mampu
mencapai tujuan dari motifnya”. Sedangkan elemen yang terkandung
dalam motivasi meliputi unsur membangkitkan, mengarahkan, menjaga,
menunjukkan intesitas, bersifat terus menerus dan adanya tujuan”.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat dikatakan bahwa motivasi
timbul dalam diri pegawai atau melalui rangsangan dari luar diri pegawai
tersebut. Dalam sebuah organisasi, pemimpin dalam hal ini dituntut
memainkan peran yang lebih dalam memberikan rangsangan dan dorongan
agar pegawainya semakin termotivasi dalam menghasilkan output yang
memuaskan dan terus berusaha lebih meningkatkan lagi hasil kerjanya

Survei Kepuasan Pelanggan


Umumnya penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan dengan
penelitian survey, baik melalui pos, telepon, maupun wawancara langsung. Hal ini
karena melalui survey, perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik
secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan tanda(signal) positif bahwa
perusahaan menaruh perhatian penting terhadap para pelanggannya. Metode
survey kepuasan pelanggan dapat dilakukan menggunakan pengukuran dengan
berbagai cara, yaitu ;
a) Pengukuran dapat dilakukan secara langsung melalui pertanyaan,
seperti sangat tidak puas, tidak puas, indiferen, puas, sangat
puas(directly reported satisfaction)
b) Responden juga dapat diberi pertanyaan mengenai seberapa besar
mereka mengharapkan suatu atribut tertentu dan seberapa besar yang
mereka rasakan(derived satisfaction)
c) Metode lain adalah dengan meminta responden untuk menuliskan
masalah-masalah yang mereka miliki dengan penawaran dari
perusahaan dan untuk menuliskan perbaikan-perbaikan yang mereka
sarankan(problem analisys)
d) Selain itu responden juga dapat diminta untuk merangking berbagai
elemen dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen
dan seberapa baik kinerja perusahaan dalam masing-masing
elemen(importance/performance ratings)

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan atau masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas
pelayanan yang diberikan, oleh karena itu kepuasan pelanggan atau masyarakat
sangat erat kaitannya dengan kualitas pelayanan. Jika pelayanan berkualitas maka
pelanggan atau masyarkat pun akan puas, begitu pula sebaiknya. Terdapat banyak
definisi tentang kepuasan pelanggan menurut para ahli.
Schnaars dalam Pasolong(2008;221), mengatakan bahwa pada dasarnya
tujuan dari suatu bisnis atau usaha adalah menciptakan rasa puas terhadap
pelanggannya, terciptanya kepuasan pelanggan dapat memberikan beberapa
manfaat diantaranya, hubungan antara pelanggan dengan instansi menjadi
harmonis, memberikan dasar yang baik bagi pemakai, terciptanya loyalitas dari
pelanggan serta terbentuknya rekomendasi dari mulut ke mulut yang semuanya
menguntungkan perusahaan.
Kotler dalam Nasution (2004:104), mengatakan bahwa kepuasan
pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja hasil
yang ia rasakan dibandingkan dengan harapannya. Kotler dalam
Tjiptono&Candra(2011:314) pada prinsipnya kepuasan pelanggan itu dapat
diukur dengan berbagai macam metode dan teknik, yaitu sebagai berikut :

  1. Sisitem keluhan dan saran
    Organisasi yang berpusat pelanggan(customer-centered) memberikan
    kesempatan yang luas kepada para pelanggannya untuk menyampaikan
    saran dan keluhan, misalnya dengan menyediakan kotak saran, kartu
    komentar, customer hot lines, dan lain-lain.
  2. Ghost shooping
    Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan
    pelanggan adalah dengan memperkerjakan beberapa orang untuk berperan
    untuk bersikap sebagai pembeli potensial, kemudian melaporkan temuaan-
    temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahan dan
    pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk
    tersebut
  3. Lost customer analysis
    Perusahaan seyogyanya menghubungi para pelanggan yang telah berhenti
    membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat memahami mengapa
    hal itu terjadi. Bukan hanya exit interview saja yang perlu, tetapi
    pemantauan customer loos rate juga penting, peningkatan customer loos
    rate menunjukkan kegagalan perusahaan dalam memuaskan pelanggannya

Kualitas Pelayanan Publik


Pada hakekatnya, tujuan dari pelayanan public yang dilakukan oleh
birokrasi adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan hasil akhir
terciptanya kepuasan masyarakat terkait pelayanan yang telah diberikan. Untuk
mencapai kepuasan tersebut tentu saja birokrasi dalam memberikan pelayanan
public harus dapat memberikan pelayanan yang berkualitas bagi masyarakat.
Kualitas pelayanan public menurut Pasolong (2008:210), sebagai berikut :
“Kualitas pada dasarnya merupakan kata yang menyandang arti relative
karena bersifat abstrak, kualitas dapat digunakan untuk menilai atau menentukan
tingkat penyesuaian suatu hal terhadap persyaratan atau spesifikasinya. Bila
persyaratan atau spesifikasinya itu terpenuhi berarti kualitas sesuatu hal yang
dimaksud dapat dikatakan dengan baik, sebaliknya jika persyaratan tidak
terpenuhi maka dapat dikatakan tidak baik. Dengan demikian untuk menentukan
kualitas pelayanan diperlukan indicator.”
Kualitas menurut Hunt dalam Nasution (2004:40), adalah kecocokan
pengguna produk(fitness for use)untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan
pelanggan. Kecocokan penggunaan itu didasarkan atas lima ciri utama yaitu :
a) Teknologi, yaitu kekuatan atau daya tahan.
b) Psikologis, yaitu cita rasa atau status
c) Waktu, yaitu kehandalan.
d) Kontraktual, yaitu adanya jaminan
e) Etika, yaitu sopan santun, ramah dan jujur
Sementara itu Lovelock dalam Duaji (2013:33), mendefenisikan kualitas
pelayanan sebagai :
“Penyesuaian terhadap perincian-perincian(conformance of specification)
dimana kualitas ini dipandang sebagai derajat keunggulan yang ingin dicapai,
dilakukan control terus menerus dalam mencapai keunggulan tersebut dalam
rangka memenuhi kebutuhan pengguna jasa”
Feigenbaum dalam Nasution (2004:41), mengatakan bahwa kualitas adalah
kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). Suatu produk
berkualitas apabila dapat memberi kepuasan sepenuhnya kepada konsumen atas
suatu produk. Kemudian Garvin dan Davis dalam Nasution(2004:41), menyatakan
bahwa kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan suatu
produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas serta lingkungan yang memenuhi
atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Sinambela dkk(2010:8)
mengatkan bahwa pelayanan berkualitas dapat dilakukan dengan konsep layanan
sepenuh hati(digagas oleh Patricia Patton), yaitu berasal dari diri sendiri yang
mencerminkan emosi, watak, keyakinan, nilai, sudut pandang, oleh karena itu
aparatur pelayanan dituntut untuk memberikan pelayanan kepada pelanggan
dengan sepenuh hati.
Sedarmayanti (2009:252), mengatakan bahwa kualitas berarti :
a) Kesesuaian dengan persyaratan/tuntutan
b) Kecocokan untuk pemakaian
c) Perbaikan atau penyempurnaan berkelanjutan
d) Bebas dari kerusakan atau cacat
e) Pemenuhan kebutuhan dari pelanggan awal dan setiap saat
f) Melakukan sesuatu secara benar awal
g) Sesuatu yang bisa membahagiakan pelanggan

Prinsip-prinsip Pelayanan Publik


Dalam pelaksanaan pelayan public terdapat prinsip-prinsip pokok yang
harus dimiliki oleh birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam Duaji (2013:79) prinsip-prinsip pokok dalam pemberian pelayanan public
atau masyarakat yaitu :
a) Prinsip aksessibilitas, yaitu bahwa pada hakekatnya setiap jenis pelayanan
harus terjangkau oleh setiap pengguna pelayanan. Tempat , jarak, dan
sistem pelayanan harus sedapat mungkin dekat dan mudah dijangkau atau
diakses oleh pengguna pelayanan.
b) Prinsip kontinuitas, yaitu bahwa setiap jenis pelayanan harus secara terus
menerus tersedia bagi masyarakat dengan kepastian dan penjelasan
tertentu yang berlaku bagi proses pelayanan.
c) Prinsip teknikalitas, yaitu bahwa setiap jenis pelayanan pada akhirnya
harus dilaksanakan secara efektif dan efisien serta memberikan
keuntungan bagi pemerintah maupun bagi masyarakat secara luas.
d) Prinsip akuntabilitas, yaitu bahwa proses atau produk dan mutu pelayanan
harus dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat karena aparat
pemerintah itu pada hakekatnya mempunyai tugas memberikan pelayanan
yang sebaik-baiknya.
Kemudian prinsip-prinsip pelayanan public menurut keputusan Menpan
No. 63 Tahun 2003 tentang pedoman pelayanan public, mencakup beberapa hal
yaitu :

  1. Kesederhanaan, prosedur pelayanan public tidak berbelit-belit mudah
    dipahami, dan mudah dilaksanakan.
  2. Kejelasan, yang meliputi :
    a. Persyaratan teknis dan administrative pelayanan publicUNIVERSITAS MEDAN AREA
    37
    b. Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam
    memberikan pelayanan dan menyelesaikan keluhan dalam pelaksanaan
    pelayanan public
    c. Rincian biaya tarif atau tata cara pembayaran.
    d. Kepastian waktu, pelaksanaan pelayanan public dapat diselesaikan dalam
    kurun waktu yang ditentukan.
    e. Akurasi, produk pelayanan public diterima dengan benar, tepat dan syah.
    f. Keamanan, proses dan produk pelayanan memberikan rasa aman dan
    kepastian hukum.
    g. Tanggung jawab, pimpinan penyelenggaraan pelayanan public
    bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan menyelesaikan
    keluhan atau persoalan dalam pelayanan public.
    h. Kelengkapan sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan
    perlengkapan lainnya yang memadai termasuk sarana teknologi
    komunikasi dan informatika.
    i. Kemudahan akses, tempat dan lokasi serta sarana yang memadai, mudah
    dijangkau oleh masyarakat dan mudah memanfaatkan sarana teknologi
    dan komunikasi informatika.
    j. Kedisplinan, kesopanan, dan keramahan, pemberi pelayanan harus
    bersikap disiplin sopan dan santun, ramah serta memberikan pelayanan
    dengan ikhlas.
    k. Kenyamanan, lingkungan yang harus tertib, teratur disediakan ruang
    tunggu yang nyaman, bersih lingkungan yang indah dan sehat dilengkapi
    dengan fasilitas pendukung pelayanan, seperti parker, toilet tempat
    ibadah dl

Desentralisasi dan Pelayanan Publik.


System desentralisasi telah merubah paradigm dalam penyelenggaraan
pemerintahan di daerah, dari yang menitik beratkan penggunaan kekuasaan
pemerintah pusat terhadap daerah kearah peningkatan partisipasi masyarakat dan
peningkatan pelayanan masyarakat sebagai hasil akhir dari interaksi elemen-
elemen tersebut. Hal tersebut dikuatkan oleh pernyataan Osborn dan
Gaebrel(1993:283) sebagai berikut :
“Para pemimpin yang berjiwa wirausaha secara naluriah mencoba
menjangkau pendekatan yang terdesentralisasi menggerakkan banyak keputusan
ke pinggiran ke tangan pelanggan, masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa melalui desentralisasi diharapkan
dapat diwujudkan program-program pemerintah yang berorientasi kepada
kebutuhan pelanggan, masyarakat dan lembaga/organisasi non pemerintah.
Melalui pendekatan ini kualitas public dapat ditingkatkan secara efisien dan
efektif. Secara etimologis, istilah desentralisasi berasal dari bahasa latin, de berarti
lepas dan centrum berarti pusat. Secara terminology terdapat beberapa pengertian
dan defenisi yang dapat disimpulkan, diantaranya menurut Henry Maddick(1963)
adalah penyerahan kekuasaan secara hukum untuk menangani bidang-
bidang/funsi-fungsi tertentu kepada daerah otonom.
Menurut Rondinelli(1983:18) dalam Hanif Nurcholis 2007, adalah :
“Penyerahan perencanaan, pembuat keputusan, atau kewenangan administrative
dari pemerintah pusat kepada organisasi wilayah, satuan administratitif daera,
organisasi semi otonom, pemerintah daerah, atau organisasi non
pemerintah/lembaga swadaya masyarakat”
Sedangkan menurut PBB (dalam Koswara,2001:48) memberikan batasan
tentang desentralisasi sebagai berikut : “Desentralization refers to the transfer of
authority away from national capital wheter by deconcentration(i.e.delegation) to
field office or by devolution to local authorities or local bodies”(Desentralisasi
merujuk pada pemindahan kekuasaan dari pemerintah pusat baik melalui
dekonsentrasi(delegasi) pada pejabat wilayah maupun melalui devolusi pada
badan-badan otonom daerah).

Pemerintah Sebagai Pelayan Publik


Memposisikan pemerintah sebagai pelayan public bukanlah hal yang baru
dalam teori dan praktek pemerintahan di dunia. Baik melalui kajian tentang tujuan
dibentuknya sebuah negara atau pemerintah maupun dalam berbagai peraturan
yang menyangkut penyelenggaraannya, ditemukan bahwa pemerintah diadakan
oleh rakyat dengan tujuan untuk mengatur dan melayani masyarakat.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa pengertian :
Pertama , dari aspek pengertian, pemerintah seperti yang diuraikan
oleh Ramlan Surbakti “secara etimologis berasal dari kata Yunani : Kybernan atau
Nakhoda Kapal, Artinya menatap kedepan” selanjutnya kata memerintah berarti
melihat ke depan, menentukan berbagai kebijakan yang diselenggarakan untuk
mencapai tujuan masyarakat negara, memperkirakan arah perkembangan
masyarakat pada masa yang akan dating dan mempersiapkan langkah-langkah
untuk menyongsong perkembangan masyarakat.
Selanjutnya kata pemerintah berasal dari kata Perintah, dalam konteks ini
Taliziduhu Ndaraha(Paimin,2007:7) menyatakan bahwa istilah Perintah secara
umum dimaknai sebagai yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu atau
sesuatu yg dilakukan. Pandangan lain mengenai istilah ini dikemukakan oleh
C.F.Strong(Paimin,2007:8) yang menyatakan bahwa Pemerintah dalam arti luas
adalah pihak yang mempunyai kewenangan untuk memelihara kedamaian dan
keamanan negara ke dalam maupun keluar. Pengertian singkat mengenai istilah
pemerintah dikemukakan oleh W.S. Sayre(paimin,2007:8) yang menyatakan
Pemerintah adalah lembaga yang teroganisir yang memperlihatkan dan
menjalankan kekuasaannya. Sedangkan dalam konsep pemerintah yang amanah
menurut Rasyid(Paimin,2007:45) adalah pemimpin atau pemerintah yang member
kepada rakyat yang mereka inginkan sebelum mereka minta

Pengertian Pelayanan Publik


Pelayanan sangat erat kaitannya dengan public, istilah public itu sendiri
berasal dari bahasa inggri public yang berarti umum, masyarakat, negara. Kata
public sebenarnya sudah diterima menjadi bahasa Indonesia Baku menjadi public
yang berarti umum, orang banyak, ramai. Inu dan kawan-kawan dalam sinambela,
dkk(2011:05), yang mendefinisikan bahwa public adalah sejumlah manusia yang
memiliki kesamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap, atau tindakan yang benar
dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang merasa memiliki.
Dwiyanto (2011:14) mengatakan bahwa pelayanan public adalah
pelayanan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Sementara itu, Ratmino & Atik
(2015:5), mengatakan bahwa pelayanan umum adalah segala bentuk jasa
pelayanan, baik dalam bentuk barang public maupun jasa public yang pada
prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh instansi pemerintahan
di puasat, di daerah dan di lingkungan BUMN atau BUMD, dalam rangka upaya
pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Sinambela, dkk (2010:5) mengatakan bahwa
pelayanan public diartikan sebagai setiap kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah terhadap sejumlah manusia yang memiliki setiap kegiatan yang
menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan dan menawarkan kepuasan
meskipun hasilnya tidak terkait terhadapsutau produk secara fisik.
Senada dengan pendapat diatas Kurniawan dalam Pasolong (2008:199),
mengatakan bahwa pelayanan public adalah pemberian pelayanan(melayani)
keperluan orang lain atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada
organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Sementara itu Thoha dalam Sedarmayanti (2009:243), mengatakan bahwa
pelayanan masyarakat adalah usaha yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok
orang atau instansi tertentu untuk memberi bantuan dan kemudahan kepada
masyarakat dalam mencapai tujuan tertentu. Kemudian duaji(2013:30),
mangantakan bahwa pelayanan public adalah suatu upaya membantu atau member
manfaat kepada public memalui penyediaan barang atau jasa yang diperlukan oleh
mereka

Pengertian Pelayanan


Ada berbagai defenisi pelayanan menurut para ahli, menurut Monir dalam
Pasolong (2008:198), mengatakan bahwa pelayanan adalah proses pemenuhan
kebutuhan melalui aktivitas orang lain secara langsung.
Senada dengan pendapat diatas Gronroos dalam Ratminto & Atik(2012:2),
mengatakan bahwa pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas
yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi akibat adanya
interaksi antara konsumen dengan pegawai atau hal-hal yang disediakan oleh
organisasi pemberi pelayanan yang dimaksud untuk memecahkan permasalahan
konsumen atau pelanggan. Sementara itu, Lovelock dalam Duaji (2013:30),
menyebutkan bahwa pelayanan adalah hal-hal yang jika diterapkan terhadap suatu
produk akan meningkatkan daya atau nilai terhadap pelanggan (service is those
thing wich when added to a product, increase its utility or value to the costumer)

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Hasibuan (2001:21) Manajemen Sumber Daya Manusia memiliki
beberapa fungsi yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan,
kedisiplinan, dan pemberhentian.

  1. Perencanaan
    Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja secara efektif dan efisien
    agar sesuai dengan kebutuhan organisasi dalam membantu terwujudnya
    tujuan. Perencanaan dilakukan dengan menerapkan program kepegawaian
    yang meliputi pengorganisasian, pengarahan, pengadaan, pengembangan,
    kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan, dan
    pemberhentian program kepegawaian yang baik akan membantu
    terwujudnya tujuan.
  2. Pengorganisasian
    Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasikan semua
    pegawai dengan menerapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
    wewenang, integrasi, dan koordinasi, dengan organisasi yang kuat akan
    membantu terwujudnya tujuan secara efektif.
  3. Pengarahan
    Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan semua pegawai agar mau
    bekerja sama dan bekerja secara efektif dan efisien dalam membantu
    tercapainya tujuan organisasi, pegawai, dan masyarakat.
  4. Pengadaan
    Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan untuk
    mendapatkan pegawai yang sesuai dengan uang dibutuhkan oleh
    organisasi.
  5. Pengembangan
    Pengembangan adalah proses peningkatan ketrampilan teknis, teoritis,
    konseptual, dengan moral pegawai melalui pendidikan dan pelatihan yang
    diberikan dan harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini dan
    dimasa yang akan datang.
  6. Kompensasi
    Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung maupun tidak langsung
    uang ataupun barang kepada pegawai sebagai balas jasa yang diberikan
    kepada organisasi. Prinsip kompensasi adalah adil dan layak. Adil
    diartikan sesuai dengan prestasi kerjanya, layak diartikan dapat memenuhi
    kebutuhan primernya serta berpedoman pada upah minimum pemerintah.
  7. Pengintegrasian
    Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
    organisasi dengan kebutuhan pegawai agar tercipta kerjasama yang serasi
    dan saling menguntungkan.
  8. Pemeliharaan
    Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara kondisi mental, fisik, dan
    loyalitas pegawai agar mereka mau tetap bekerja sama sampai pensiun.
  9. Kedisiplinan
    Kedisiplinan merupakan fungsi MSDM yang terpenting dan kunci
    terwujudnya tujuan, karena tanpa kedisiplinan yang baik maka akan sulit
    untuk mewujudkan tujuan. Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran
    untuk mentaati peraturan dan norma-norma yang ada di dalam organisasi.
  10. Pemberhentian
    Pemberhentian adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu
    organisasi dikarenakan kontrak kerja berakhir, pensiun, dan sebab-sebab
    lainnya.

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Jika kita berbicara tentang kualitas pelayan public, maka tidak akan
lepas dari manajemen sumber daya manusia. Sumber daya manusia merupakan
asset dalam suatu organisasi dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam
mencapai tujuan organisasi. Pengelolaan sumber daya manusia yang baik akan
menghasilkan sumber daya yang mempunyai tingkat kemampuan dan ketrampilan
yang baik pula. Dimana dalam mengimplementasikan kemampuan dan
keterampilan tersebut tidak luput dari masalah yang dihadapinya baik secara fisik
atau psikis yang akan mempengaruhi proses pencapaian tujuan organisasi.
Manajemen berasal dari bahasa inggris “to manage” yang berarti
mengelola suatu aktivitas untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Sedangkan sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang
terdapat dalam suatu organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas.
Menurut pengertian para ahli, manajemen sumber daya manusia (MSDM)
adalah sebagai berikut : Menurut Hasibuan (2001:10) pengertian MSDM adalah :
“Ilmu dan seni yang mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan
efisien membantu terwujudnya organisasi, pegawai, dan masyarakat”.
Menurut Simamora (2004:4) MSDM adalah : “Pendayagunaan,
pengembangan, pemberian balas jasa dan pengelolaan individu anggota organisasi
atau kelompok pegawai.” Menurut Handoko (2004:9) MSDM adalah : “MSDM
merupakan salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian.” Manajemen
Sumber Daya Manusia menurut Nitisemito (2002:6) : “MSDM adalah rangkaian
strategis, proses dan aktivitas yang di desain untuk menunjang tujuan organisasi
dengan cara mengintegrasikan kebutuhan organisasi dan individu.

Faktor-faktor lingkungan kerja


Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya suatu kondisi
lingkungan kerja menurut Sedarmayanti ( 2001: 21 ):
 Penerangan/cahaya di tempat kerja
 Suhu udara di tempat kerja
 Kelembaban di tempat kerja
 Sirkulasi udara di tempat kerja
 Kebisingan di tempat kerja
 Getaran mekanis di tempat kerja
 Bau-Bauan ditempat kerja
 Tata warna di tempat kerja
 Dekorasi di tempat kerja
 Musik Keamanan di tempat kerja
 Hubungan atasan dengan bawahan
 Hubungan sesama rekan kerja

Jenis – jenis lingkungan kerja


Menurut Sedarmayanti (2009: 21) menyatakan bahwa: secara garis
besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi 2 yakni:
 Lingkungan kerja fisik: semua yang terdapat disekitar tempat kerja
yang dapat mempengaruhi pegawai baik secara langsung maupun tidak
langsung.
 Lingkungan kerja non fisik: semua keadaan yang terjadi yang
berkaitan dengan hubungan kerja, baik dengan atasan maupun dengan
sesama rekan kerja ataupun hubungan dengan bawahan.

Pengertian Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja merupakan suatu faktor yang secara tidak
langsung mempengaruhi kinerja pegawai. Lingkungan kerja yang kondusif
memberikan rasa aman dan memungkinkan para pegawai untuk dapat
berkerja optimal. Lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung
terhadap pegawai dalam menyelesaikan tanggung jawab kepada
organisasi. Lingkungan kerja tersebut mencakup hubungan kerja yang
terbentuk antara sesama pegawai dan hubungan kerja antar bawahan dan
atasan serta lingkungan fisik tempat pegawai bekerja.
Berikut pendapat dari Sedarmayanti tentang lingkungan kerja
Pertama pendapat yang dikemukakan oleh Sedarmayanti (2011: 2)
mendefinisikan lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan
bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di mana seseorang bekerja,
metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan
maupun sebagai kelompok. Pada tahun sebelumnya Sedarmayanti (2001:
31), mengemukakan bahwa lingkungan kerja non fisik adalah semua
keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik
hubungan dengan atasan maupun hubungan sesama rekan kerja, ataupun
hubungan dengan bawahan. Dan selain lingkungan kerja non fisik
Sedarmayanti (2001: 26), mengemukakan terdapat juga lingkungan kerja
fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat
kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun
secara tidak langsung.
Selain dari Sedarmayanti pendapat tentang lingkungan kerja juga
dikemukakan dari beberapa ahli yaitu menurut Nitisemito (2001: 183)
mengemukakan bahwa lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada
disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Misalnya kebersihan, musik
dan lain-lain. Namun secara umum pengertian lingkungan kerja
merupakan kondisi dan suasana dimana para pegawai tersebut
melaksanakan tugas dan pekerjaannya dengan maksimal

Dasar Gaya Kepemimpinan


Menurut Istijanto (2006: 236) bahwa gaya kepemimpinan di bagi
dua yaitu:
 Kepemimpinan atas dasar struktur yaitu kepemimpinana yang
menekankan struktur tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan
dimana meliputi tugas pokok, fungsi, tanggung jawab, prestasi kerja
dan ide (gagasan).
 Kepemimpnan berdasarkan pertimbangan yaitu kepemimpinan yang
menekankan gaya kepemimpinan yang memberikan perhatian atas
dukungan terhadap bawahan dimana meliputi peraturan, hubungan
kerja dan etika

Macam-Macam Pendekatan Gaya Kepemimpinan


Menurut John M.Ivanchevis dalam bukunya “Perilaku dan
Manajemen Organisasi” tahun 2006, ada beberapa macam pendekatan
dalam kepemimpinan :

  1. Pendekatan Trait
    Pendekaatan ini merupakan usaha identifikasi karakter khusus (fisik,
    mental, kepribadian) terkait kesuksesan pemimpin. Teori ini
    mengandalkan riset yang mengaitkan berbagai trait terhadap kriteria
    sukses tertentu.
  2. Pendekatan Behavioral
    Pendekatan ini merupakan reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh
    factor-faktor luar. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan
    oleh lingkungan social budaya.
  3. Pendekatan Situasional
    Pendekatan kepemimpinan yang mendorong pemimpin memahami
    perilakunya sendiri. Pendekatan ini menyatakan bahwa keefektifan
    sebuah kepemimpinan adalah fungsi dari berbagai aspek situasi
    kepemimpinan

Pengertian Gaya kepemimpinan


Pemimpin dalam suatu organisasi harus mempunyai jiwa
kepemimpinan, harus bisa mempengaruhi bawahan, harus bisa mengatur,
mengelola, memimpin bawahan dengan kekuatan yang dimilikinya. Setiap
pemimpin pada dasarnya memiliki perilaku yang berbeda dalam
memimpin para pengikutnya, perilaku para pemimpin itu disebut dengan
gaya kepemimpinan. Seseorang mampu memberikan perilaku
kepemimpinan dengan gaya yang dimiliki masing-masing individu.
Menurut John M. Ivancevich dalam bukunya yang berjudul
“Perilaku dan Manajemen Organisasi Edisi Ketujuh” tahun 2006,
kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi orang lain untuk
mendukung pencapaian tujuan organisasi yang relevan. Gaya
kepemimpinan merupakan suatu cara pemimpin untuk mempengaruhi
bawahannya yang dinyatakan dalam bentuk pola tingkah laku atau
kepribadian. Seorang pemimpin merupakan seseorang yang memiliki
suatu program dan yang berperilaku secara bersama-sama dengan anggota-
anggota kelompok dengan mempergunakan cara atau gaya tertentu,
sehingga kepemimpinan mempunyai peranan sebagai kekuatan dinamik
yang mendorong, memotivasi dan mengkordinasikan perusahaan dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Berdasarkan pengertian-pengertian
gaya kepemimpinan yang sudah diterapkan oleh para ahli dapat
disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah kemampuan seseorang
pemimpin dalam mengarahkan, mempengaruhi, mendorong dan
mengendalikan orang bawahan untuk bisa melakukan sesuatu pekerjaan
atas kesadarannya dan sukarela dalam mencapai suatu tujuan tertent

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Tujuan dari manajemen sumber daya manusia, menurut Malayu
S.P. Hasibuan (2002) diantaranya:
a. Untuk menentukan dan kuantitas karyawan yang akan mengisi semua
jabatan dalam perusahaan.
b. Untuk menjamin tersedianya tenaga kerja masa kini maupun masa
depan, sehingga setiap pekerjaan ada yang mengerjakannya.
c. Untuk menghindari terjadinya mismanajemen dan tumpang tindih
dalam pelaksanaan tugas.
d. Untuk mempermudah koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi (KIS),
sehingga produktivitas kerja meningkat.
e. Untuk menghindari kekurangan dan atau kelebihan karyawan.
f. Untuk menjadi pedoman dalam menetapkan program penarikan
seleksi, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan,
kedisiplinan, dan pemberhentian karyawan.
g. Menjadi pedoman dalam melaksanakan mutasi (vertical atau
horizontas) dan pensiun karyawan.
h. Menjadi dasar dalam melakukan penilaian karyawan

SDM Fungsi Operasional


Pengadaan tenaga kerja, yaitu perencanaan SDM, analisis jabatan,
proses penarikan, seleksi, penempatan kerja, orientasi dan induksi untuk
mendapatkan pegawai yang dibutuhkan organisasi.
a. Pengembangan, yaitu proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis,
konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
b. Kompensasi, yaitu pemberian balas jasa langsung (direct) berupa gaji,
insentif dan tidak langsung (indirect) berupa keuntungan,
pelayanan/kesejahteraan.
c. Pengintegrasian, yaitu kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
organisasi dan kebutuhan pegawai, agar tercipta kerja sama yang serasi
dan saling menguntungkan. Sub-sub babnya adalah kebutuhan
karyawan, motivasi kerja, kepuasan kerja, disiplin kerja, partisipasi
kerja.
d. Pemeliharaan tenaga kerja, yaitu kegiatan untuk memelihara atau
meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan, agar
mereka tetap mau bekerja sama sampai pensiun. Sub-sub babnya berupa
komunikasi kerja, kesehatan dan keselamatan kerja, pengendalian
konflik kerja, dan konseling kerja.
e. PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), yaitu putusnya hubungan kerja
seseorang pegawai dari suatu organisasi yang disebabkan oleh
keingingan karyawan, keinginan perusahaan, berakhirnya kontrak kerja
dan sebagainya.
f. Gaya kepemimpinan berdiri sendiri
g. Lingkungan kerja berdiri sendiri karena lingkungan kerja memiliki sub
seperti tata ruang kerja, peralatan kerjadan penerangan.
Diantara fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia diatas saling
mempengaruhi satu sama lain. Apabila terdapat ketimpangan dalam salah
satu fungsi, akan mempengaruhi fungsi yang lain. Tingkat efektivitas dan
fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia tersebut, ditentukan oleh
profesionalisme sumber daya manusia yang ada dalam perusahaan

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Di dalam suatu organisasi pengelolaan yang baik pada manajemen
sumber daya manusia sangat penting. Hal ini mengingat pegawai
merupakan asset perusahaan/organisasi/instansi yang wajib dijaga.
Dengan semakin berkembangnya suatu organisasi maka makin sulit pula
perencanaan dan pengendalian pegawainya. Oleh karena itu, maka
sangatlah dibutuhkan manajemen sumber daya manusia yang mengatur
dan mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan kepegawaian
baik dalam hal administrasi, pembagian tugas maupun pada kegiatan
manajemen sumber daya manusia lainnya.
Menurut Mangkunegara (2001: 2) manajemen sumber daya
manusia merupakan suatu pengorganisasian, pengkoordinasian,
pelaksanaan dan pengawasan, pengadaan,pengembangan, pemberian balas
jasa, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemisah tenaga kerja dalam
rangka mencapai suatu tujuan perusahaan.
Menurut Hasibuan (2008: 10) manajemen sumber daya manusia
adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar
efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan,
dan masyarakat.
Sedangkan menurut Mondy Noe dalam Marwansyah (2012:3),
manajemen sumber daya manusia adalah pendayagunaan sumber daya
manusia untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi

Hubungan Beban Kerja dengan Kinerja Karyawan


Beban kerja menjadi salah satu unsur yang perlu diperhatikan dalam menjalankan
operasional perusahaan. Pembebanan kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan
dari individu karyawan akan menyebabkan kinerja karyawan kurang optimal atau
bahkan menurun. Menurut Budiasa (2021;38) beban kerja yang terlalu tinggi
ataupun beban kerja yang terlalu rendah berkolerasi dengan kinerja yang rendah.
Peningkatan ataupun penurunan dalam beban kerja menyebabkan penurunan
kinerja, tetapi peningkatan dalam kurva beban kerja lebih sensitiv berdampak buruk
bagi kinerja karyawan, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi beban kerja
maka semakin rendah kinerja

Hubungan Kedisiplinan dengan Kinerja Karyawan


Kedisiplinan merupakan hal yang sangat penting dalam segala kegiatan yang
dilakukan manusia, terutama dalam hal meningkatkkan mutu dan kinerja dalam
suatu perusahaan. Disiplin kerja yang baik menunjukkan besarnya rasa tanggung
jawab karyawan terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Menurut
Sinambela (2016;332) disiplin kerja merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan
dalam pertumbuhan organisasi yang bermanfaat untuk mendidik karyawan dalam
mematuhi segala peraturan dan kebijakan sehingga karyawan dapat mewujudkan
kinerja yang maksimal. Dalam mewujudkan disiplin kerja yang baik karyawan
perlu memiliki rasa tanggung jawab didalam dirinya dan kesadaran mengenai
pentingnta aturan-aturan yang telah ditetapka

Hubungan Lingkungan Kerja dengan Kinerja Karyawan


Budiasa (2021;44) menyatakan bahwa lingkungan kerja yang bagus akan
mendorong individu atau kelompok untuk bekerja lebih baik dan mampu bersikap
positif seperti mempunyai kesetiaan yang tinggi terhdap perusahaan, kebanggaan
dalam bekerja sehingga lingkungan kerja juga dapat membantu karyawan bekerja
secara optimal. Lingkungan kerja yang tidak nyaman dan kurang kondusif
berpengaruh terhadap kenyamanan karyawan dalam bekerja sehingga hal tersebut
dapat mengarah pada penurunan kinerja karyawan.

Indikator Beban Kerja


Menurut Koesomowidjojo (2017;33) menyatakan bahwa terdapat tiga indikator
beban kerja, diantaranya adalah :

  1. Kondisi pekerjaan
    Mencakup tentang bagaimana pandangan yang dimiliki oleh karyawan
    mengenai kondisi pekerjaannya, misalnya mengambil keputusan dengan cepat
    pada saat bekerja.
  2. Penggunaan waktu bekerja
    Waktu yang dihabiskan oleh karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya,
    karyawan perlu memanfaatkan waktu seefisien mungkin guna mengantisipasi
    kejadian tidak terduga seperti adanya pekerjaan ekstra diluar waktu yang telah
    ditentukan atau lembur.
  3. Target yang harus dicapai
    Pandangan karyawan mengenai besarnya target kerja yang diberikan untuk
    menyelesaikan pekerjaannya atau pandangan mengenai hasil kerja yang harus
    diselesaikan dalam jangka waktu tertentu.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja


Menurut Budiasa (2021;32) terdapat dua faktor yang mempengaruhi beban kerja
diantaranya adalah :

  1. Faktor Eksternal
    Faktor eksternal beban kerja adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh
    karyawan. Aspek beban kerja eksternal sering disebut dengan stresor. Yang
    termasuk beban kerja eksternal adalah :
    a. Tugas-tugas (task)
    b. Organisasi kerja
    c. Lingkungan kerja
  2. Faktor Internal
    Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh
    karyawan itu sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal.
    Secara ringkas faktor internal meliputi :
    a. Faktor somatis, yaitu jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, kondisi
    kesehatan, dan status gizi.
    b. Faktor psikis, yang meliputi motivasi, kepercayaan, presepsi, kepuasan,
    keinginan, dan lain-lain

Pengertian Beban Kerja


Menurut Koesomowidjojo (2017;21) mengemukakan bahwa beban kerja
merupakan segala bentuk pekerjaan yang diberikan kepada para karyawan untuk
segera diselesaikan dalam kurun waktu tertentu.
Menurut Budiasa (2021;30) beban kerja adalah presepsi dari karyawan
mengenai kegiatan yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu serta upaya
dalam menghadapi permasalahan dalam pekerjaan. Beban kerja dapat diukur dari
total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Menurut Mahawati, dkk (2021;4) beban kerja adalah volume pekerjaan
yang dibebankan kepada tenaga kerja baik berupa fisik maupun mental dan menjadi
tanggung jawabnya.
Menurut Prima dan Windy (2017) beban kerja dapat didefinisikan sebagai
perbedaan antara kemampuan karyawan dengan tuntutan pekerjaannya. Apabila
kemampuan karyawan lebih tinggi daripada tuntutan pekerjaan, akan muncul
prasaan bosan atau jenuh pada karyawan. Sebaliknya, jika kemampuan karyawan
lebih rendah daripada tuntutan pekerjaan, maka akan muncul kelelahan yang
berlebihan

Indikator Disiplin Kerja


Menurut Dewi dan Harjoyo (2019;97) beberapa indikator kedisiplinan diantaranya
adalah :

  1. Disiplin terhadap aturan waktu
    Disiplin terhadap aturan waktu dapat dilihat dari jam masuk bekerja, jam
    istirahat, dan jam pulang kantor sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.
  2. Disiplin terhadap peraturan
    Disiplin terhadap peraturan dasar dapat dilihat dari bagaimana cara karawan
    berpakaian dan bertingkah laku dalam bekerja.
  3. Disiplin terhadap tanggung jawab atau prosedur operasional standar (SOP)
    Disiplin terhadap SOP dapat dilihat dari karyawan yang melakukan tugas-
    tugasnya yang sesuai dengan tanggung jawabnya.
  4. Taat terhadap peraturan lainnya
    Aturan yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh karyawan dalam
    perusahaan.

Pendekatan-pendekatan Disiplin Kerja


Terdapat tiga pendekatan disiplin kerja menurut Tsauri (2013:143-144) yaitu
sebagai berikut :

  1. Pendekatan disiplin secara modern
    Pendekatan disiplin modern yaitu mempertemukan sejumlah keperluan atau
    kebutuhan baru diluar hukuman. Pendekatan ini beramsumsi:
    a. Disiplin modern merupakan suatu cara untuk menghindari bentuk
    hukuman secara fisik.
    b. Melindungi tuduhan yang benar untuk diteruskan pada proses hukum yang
    berlaku.
  2. Pendekatan disiplin secara tradisi
    Pendekatan disiplin ini dengan memberikan hukuman. Pendekatan ini
    berasumsi:
    a. Disiplin dilakukan oleh atasan kepada bawahan, dan tidak pernah ada
    peninjauan kembali bila telah diputuskan.
    b. Disiplin adalah hukuman untuk pelanggaran, pelaksanaannya harus
    disesuaikan dengan tingkat pelanggarannya.
    c. Hukuman diberikan untuk memberikan pelajaran kepada pelanggar.
    d. Pemberian hukuman kepada karyawan yang melanggar untuk kedua
    kalinya harus diberikan hukuman yang lebih berat.
  3. Pendekatan disiplin bertujuan
    Pendekatan disiplin bertujuan berasumsi bahwa:
    a. Disiplin kerja harus dapat diterima dan dipahami oleh semua karyawan
    perusahaan.
    b. Disiplin bukanlah suatu hukuman, tetapi merupakan pembentukan
    perilaku karyawan.
    c. Disiplin ditujukan untuk perubahan perilaku karyawan yang jauh lebih
    baik.
    d. Disiplin karyawan bertujuan agar karyawan bertanggung jawab terhadap
    suatu perbuatannya

Sanksi-sanksi Disiplin Kerja


Adanya sanksi yang diberikan bagi karyawan yang melanggar disiplin kerja adalah
untuk memperbaiki dan mendidik para karyawan yang melakukan pelanggaran.
Menurut Sinambela (2016;354) terdapat beberapa tingkat sanksi yang umumnya
berlaku dalam suatu orgainasi yang meliputi sanksi disiplin ringan, sanksi disiplin
sedang, sanksi disiplin berat, yaitu :

  1. Sanksi disiplin ringan
    a. Teguran lisan
    b. Teguran tertulis
    c. Pernyataan tidak puas secara tertulis
  2. Sanksi disiplin sedang
    a. Penundaan kenaikan gaji
    b. Penundaan kenaikan jabatan
    c. Penurunan pangkat
  3. Sanksi disiplin berat
    a. Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama tiga tahun
    b. Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah
    c. Pembebasan dari jabatan
    d. Pemberhentian secara tidak hormat

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan


Menurut Dewi dan Harjoyo (2019;96) faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin
kerja antara lain :

  1. Besar kecilnya pemberian kompensasi
    Besar kecilnya pemberian kompensasi juga dapat mempengaruhi tegaknya
    disiplin kerja karyawan, para karyawan akan mematuhi peraturan yang berlaku
    jika mereka merasa mendapatkan balas jasa yang sesuai dengan jerih payah
    mereka dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan yang telah diberikan kepada
    dirinya.
  2. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan
    Keteladanan pimpinan tentunya sangat penting sekali dalam perusahaan,
    dikarenakan dalam lingkungan perusahaan semuai karyawan tentunya akan
    selalu memperhatikan bagaimana pimpinan menegakkan disiplin dan
    bagaimana dapat mengendalikan dirinya baik melalui ucapan, sikap, dan
    tindakan yang dapat merugikan aturan disiplin yang sudah ditetapkan.
  3. Ada tidaknya aturan yang pasti yang dapat dijadikan pegangan
    Disiplin kerja pada perusahaan tidak akan terlaksana, bila tidak ada aturan
    tertulis yang pasti untuk bisa dijadikan peggangan bersama. Disiplin tidak
    mungkin dapat ditegakkan bila peraturan yang dibuat berdasarkan instruksi
    lisan yang dapat berubah-ubah atau tidak tetap. Oleh karena itu pihak
    perusahaan harus membuat aturan tertulis yang pasti, dengan demikian para
    karyawan akan mendapatkan suatu kepastian bahwa siapa saja yang melanggar
    peraturan akan dikenakan sanksi dengan tegas tanpa adanya pandang bulu.
  4. Keberanian pimpinan dalam mengambil keputusan
    Keberanian seorang pemimpin untuk mengambil suatu keputusan atau
    tindakan yang sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dikerjakan oleh para
    karyawan di lingkungan perusahaan, dengan hal tersebut adanya tindakan
    terhadap pelanggaran disiplin sesuai dengan sanksi yang ada, maka karyawan
    merasa tidak akan berbuat kesalahan yang serupa. Melainkan jika tidak ada
    keberanian pemimpin dalam memberikan hukuman, maka banyak kayawan
    yang akan melanggar disiplin kerja karena tidak diberikannya sanksi.
  5. Ada tidaknya pengawasan pimpinan
    Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan perlu ada pengawasan
    dari seorang atasan, pengawasan ini dapat mengarahkan para karyawan agar
    dapat melaksanakan pekerjaan yang telah ditetapkan. Dengan adanya
    pengawasan ini, maka sedikit banyak para karyawan akan terbiasa melakukan
    disiplin kerja.
  6. Ada tidaknya perhatian kepada karyawan
    Pimpinan yang berhasil memberi perhatian yang besar kepada para karyawan
    akan dapat menciptakan disiplin kerja yang baik, karena karyawan tidak hanya
    puas dengan penerimaan kompensasi yang tinggi saja, tetapi mereka juga
    membutuhkan perhatian yang besar dari pemimpinnya.
  7. Diciptakannya kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegakknya disiplin.
    Kebiasaan -kebiasaan tersebut antara lain :
    a. Saling menghormati antar karyawan dalam lingkungan pekerjaan.
    b. Melontarkan pujian, sehingga karyawan akan turut merasa bangga dengan
    pujian tersebut.
    c. Sering mengikut sertakan karyawan dalam pertemuan-pertemuan, apalagi
    pertemuan yang berkaitan dengan karir dan pekerjaan mereka

Pengertian Kedisiplinan


Menurut Hasibuan (2016:163) menyatakan, bahwa kedisiplinan merupakan
kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku di sekitarnya.
Menurut Sinambela (2016;335) disiplin kerja adalah kesadaran atau
kesediaan karyawan dalam menaati segala peraturan dan norma-norma sosial yang
berlaku. Dengan demikian disiplin kerja merupakan suatau alat yang digunakan
pimpinan untuk berkomunikasi dengan para karyawan agar mereka bersedia untuk
merubah perilaku mereka mengikuti aturan yang berlaku. Kedisiplinan harus
ditegakkan dalam suatu perusahaan, yang artinya, tanpa dukungan disiplin kerja
karyawan yang baik, sulit bagi perusahaan tersebut untuk mewujudkan tujuannya.
Untuk itu, kedisiplinan merupakan kunci keberhasilan suatu perusahaan dalam
mencapai tujuannya.
Menurut Yulia dan Andini (2019) disiplin kerja adalah suatu sikap,
perilaku yang dilakukan secara sukarela dan penuh kesadaran serta keadaan untuk
mengikuti peraturan yang telah ditetapkan perusahaan baik tertulis maupun tidak
tertulis. Kedisiplinan juga merupakan salah satu fungsi operatif dari manajer karena
semakin disiplin karyawan maka semakin tinggi prestasi dan produktivitas kerja
yang dapat dicapainya dan akan menciptakan karyawan yang berkualitas.
Menurut Farida dan Hartono (2015;43) disiplin kerja mencakup berbagai
aturan yang disusun oleh perusahaan yang merupakan tuntunan untuk mencapai
tujuan perusahaan, pada saat aturan dilanggar, kinerja perusahaan akan berkurang
sampai pada tingkat tertentu, tergantung pada besar kecilnya pelanggaran

Indikator Lingkungan Kerja


Menurut Budiasa (2021;43) indikator lingkungan kerja adalah sebagai berikut :

  1. Suasana kerja
    Kondisi yang ada disekitar karyawan yang menciptakan suasana serta
    mempengaruhi pelaksanaan didalam pekerjaan tersebut.
  2. Hubungan dengan rekan kerja
    Hubungan dengan rekan kerja dapat dilihat dari keharmonisan tanpa saling
    menjatuhkan satu sama lain. Didalam hubungan pekerjaan yang harmonis
    karyawan akan bertahan didalam perusahaan dan tetunya akan mempengaruhi
    kinerja karyawan.
  3. Tersedianya fasilitas atau perlengkapan kerja
    Merupakan peralatan untuk mendukung kelancaran kerja. Tersedianya fasilitas
    kerja yang lengkap menjadi penunjang yang penting didalam pelaksanaan kerja
    guna meningkatkan kinerja karyawan.

Aspek Lingkungan Kerja Non-Fisik


Menurut Budiasa (2021:41) ada beberapa aspek lingkungan kerja non fisik yang
bisa mempengaruhi perilaku karyawan, yaitu:

  1. Lingkungan sosial, yaitu latar belakang keluarga, jumlah keluarga, tingkat
    kesejahtergaan dan lain-lain sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan.
  2. Status soaial, yaitu semakin tinggi jabatan karyawan dalam perusahaan maka
    semakin tinggi kewenangan dan keleluasaan dalam mengambil keputusan.
  3. Hubungan kerja dalam perusshaan, yaitu hubungan kerja antar karyawan atau
    hubungan antar karyawan dengan atasan.
  4. Kelancaran komunikasi atau sistem informasi, yaitu sejauh mana karyawan
    merasakan adanya komunikasi yang baik, terbuka, dan lancar, baik antara
    teman sekerja ataupun dengan pimpinan

Jenis-Jenis Lingkungan Kerja


Menurut Widiana (2015:27) terdapat dua jenis lingkungan kerja yaitu lingkungan
kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik :

Keamanan
Lingkungan kerja dengan rasa aman akan menimbulkan ketengan dan
kenyamanan bagi karyawan, dimana hal ini akan dapat memberikan dorongan
semangat karyawan untuk bekerja

Lingkungan Kerja Fisik yaitu lingkungan atau kondisi tempat kerja yang dapat
memperngaruhi atau meningkatkan efesiensi kerja.

Lingkungan Kerja Non Fisik yaitu semua keadaan yang terjadi yang berkaitan
dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan
dengan bawahan sesama rekan kerja ataupun hubungan dengan bawahan.
1.2.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja
Menurut Panjaitan (2017) menjelaskan faktor lingkungan kerja merupakan salah
satu yang harus dipertimbangkan dalam sebuah perusahaan yang sedang beroprasi.
Faktor-faktor lingkungan kerja meliputi :

Hubungan karyawan
Dalam hubungan karyawan ini terdapat dua hubungan yaitu hubungan sebagai
individu dan hubungan sebagai kelompok.

Tingkat kebisingan lingkungan kerja
Lingkungan kerja yang tidak tenang atau bising akan dapat menimbulkan
pengaruh yang kurang baik yaitu adanya ketidaktenangan dalam bekerja.

Peraturan kerja
Peraturan kerja yang baik dan jelas dapt memberikan pengaruh yang baik
terhadap produktivitas dan kinerja para karyawan untuk mengambangkan karir
dalam perusahaan tersebut.

Penerangan
Dalam hal ini, penerangan bukanlah sebatas pada penerangan listrik, tetapi juga
termasuk penerangan matahari.

Sirkulasi udara
Sirkulasi atau pertukaran udara yang cukup, makadari itu harus dilakukan
pengadaan ventilasi.

Faktor Lingkungan Kerja


Menurut Afandi (2021:66-67) terdapat beberapa faktor dari lingkungan kerja :

  1. Kenyamanan karyawan, Kenyamanan didalam bekerja akan berdampak
    terhadap kualitas kerja pada diri seseorang. Maka dari itu dengan lingkungan
    kerja yang mendukung dapat membuat pegawai bekerja secara maksimal.
  2. Perilaku karyawan, adalah dimana orang yang bekerja di tempat kerja dapat
    menempatkan dirinya bekerja secara lebih baik. Dengan adanya lingkungan
    yang mendukung,nyaman,bersih maka pegawai bisa bekerja secara lebih baik.
  3. Kinerja karyawan, yaitu jika kondisi di lingkungan kerja terjamin maka kinerja
    pegawai akan naik. Dan jika fasilitas di tempat kerja menurun maka tingkat
    kinerja pegawai akan ikut menurun.
  4. Tingkat Stres karyawan yaitu lingkungan yang tidak kondusif dapat
    menyebabkan tingkat stres pegawai

Pengertian Lingkungan Kerja


Menurut Budiasa (2021;39), lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada
disekitar pegawai pada saat bekerja baik berbentuk fisik atau non fisik, langsung
atau tidak langsung, yang dapat mempengaruhi diri dan pekerjaan karyawan saat
bekerja.
Menurut Afandi (2021:66) lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada di
lingkungan para pekPengertian Lingkungan Kerja
Menurut Budiasa (2021;39), lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada
disekitar pegawai pada saat bekerja baik berbentuk fisik atau non fisik, langsung
atau tidak langsung, yang dapat mempengaruhi diri dan pekerjaan karyawan saat
bekerja.
Menurut Afandi (2021:66) lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada di
lingkungan para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan
tugas seperti temperatur, kelembaban, ventilasi, penerangan, kegaduhan,
kebersihan tempat kerja dan memadai tidaknya alat – alat perlengkapan kerja.
Lingkungan kerja dapat diartikan sebagai keseluruhan alat perkakas yang dihadapi,
lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, sebagai
pengaruh kerjanya baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok.
Menurut Widiana (2015;26), lingkungan kerja merupakan segala sesuatu
yang ada disekitar para karyawan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas-tugas yang dibebankan baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Menurut Kamaroellah (2014;22) Lingkungan kerja merupakan keadaan
tempat kerja seorang karyawan yang meliputi lingkungan kerja fisik maupun
lingkungan kerja non fisik. Lingkungan kerja fisik merupakan suatu keadaan
berbentuk fisik yang berada di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi
karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja non fisik
merupakan semua keadaan yang terjadi berkaitan dengan hubungan kerja, baik
hubungan dengan atasan maupun hubungan antar rekan kerja. Dari beberapa
pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja merupakan
kondisi atau suasana ditempat karryawan bekerja yang meliputi fasilitas-fasilitas
yang diberikan guna menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan mendukung
berjalannya operasional perusahaan yang baik dan maksimal

kerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan
tugas seperti temperatur, kelembaban, ventilasi, penerangan, kegaduhan,
kebersihan tempat kerja dan memadai tidaknya alat – alat perlengkapan kerja.
Lingkungan kerja dapat diartikan sebagai keseluruhan alat perkakas yang dihadapi,
lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, sebagai
pengaruh kerjanya baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok.
Menurut Widiana (2015;26), lingkungan kerja merupakan segala sesuatu
yang ada disekitar para karyawan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas-tugas yang dibebankan baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Menurut Kamaroellah (2014;22) Lingkungan kerja merupakan keadaan
tempat kerja seorang karyawan yang meliputi lingkungan kerja fisik maupun
lingkungan kerja non fisik. Lingkungan kerja fisik merupakan suatu keadaan
berbentuk fisik yang berada di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi
karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja non fisik
merupakan semua keadaan yang terjadi berkaitan dengan hubungan kerja, baik
hubungan dengan atasan maupun hubungan antar rekan kerja. Dari beberapa
pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja merupakan
kondisi atau suasana ditempat karryawan bekerja yang meliputi fasilitas-fasilitas
yang diberikan guna menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan mendukung
berjalannya operasional perusahaan yang baik dan maksimal

Indikator Kinerja


Silaen, dkk (2020;40) indikator yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah
sebagai berikut :

Indikator Kinerja
Silaen, dkk (2020;40) indikator yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah
sebagai berikut :

  1. Kualitas kerja
    Kualitas kerja merupakan seberapa baik seorang karyawan mengerjakan tugas-
    tugas yang dibebankan.
  2. Kuantitas
    Kuantitas kerja merupakan seberapa lama seorang karyawan bekerja dalam
    satu harinya, kuantitas kerja dapat dilihat dari kecepatan dan ketepatan
    karyawan dalam bekerja.
  3. Pemanfaatan waktu
    Yaitu penggunaan masa kerja yang disesuaikan dengan kebijaksanaan
    perusahaan.
  4. Tingkat kehadiran
    Jika kehadiran karyawan dibawah standar kerja yang ditetapkan maka
    karyawan tersebut tidak akan mampu memberikan kontribusi yang optimal
    bagi perusahaan.
  5. Kerjasama
    Karyawan mampu bekerjasama dengan rekan kerjanya dalam menyelesaikan
    pekerjaan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Adamy (2016;96) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi pencapaian
kinerja adalah sebagai berikut:

  1. Faktor Kemampuan
    Secara psikologis, kemampuan (Ability) terdiri dari kemampuan potensi (IQ)
    dan kemampuan reality (knowledge + skill). Artinya, pegawai yang memiliki
    IQ di atas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk
    jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia
    akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan.
  2. Faktor Motivasi
    Motivasi terbentuk dari sikap (Attitude) seorang karyawan dalam menghadapi
    situasi (Situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakan diri
    karyawan yang terarah untuk mencapai tujuan perusahaan.
  3. Faktor Situasi
    Meliputi sejumlah karakteristik organisasi yang mempengaruhi kinerja baik
    positif maupun negatif.
    Menurut Indrasari (2017;54) mengatakan bahwa ada dua faktor yang
    mempengaruhi kinerja, yaitu:
  4. Faktor individu
    a. Usaha (Effort) yang menunjukkan sejumlah sinergi fisik dan mental yang
    digunakan dalam menyelenggarakan gerakan tugas.
    b. Abilities, yaitu sifat-sifat personal yang diperlukan untuk melaksanakan
    suatu tugas
  5. Faktor situasi lingkungan
    a. Kondisi fisik
    b. Peralatan
    c. Waktu
    d. Material
    e. Pendidikan
    f. Supervisi
    g. Desain Organisasi

Pengertian Kinerja


Menurut Sodikin (2017;130) kinerja adalah performance yang merupakan hasil
kerja secara total dan berkualitas yang dicapai seorang karyawan dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Sedangkan menurut Indrasari (2017;50) kinerja keryawan diartikan sebagai hasil
usaha seseorang yang dicapai dengan kemampuan dan perbuatan dalam situasi
tertentu.
Menurut Adamy (2016;91) kinerja merupakan seberapa banyak karyawan
memberikan kontribusi kepada perusahaan yang antara lain termasuk kuantitas
output, kualitas output, jangka waktu output, kehadiran ditempat kerja dan sikap
kooperatif. Sedangkan Widiana (2015;39) kinerja adalah catatan hasil-hasil yang
diperoleh dari pekerjaan yang dilakukan yang digunakan sebagai dasar penilaian
atau evaluasi bagi perusahaan.
Budiasa (2021;15) menyatakan bahwa kinerja adalah kemampuan
seseorang dalam memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki untuk mencapai hasil
pekerjaan baik secara kualitas maupun kuantitas, kinerja yang baik adalah kinerja
yang mengikuti tatacara atau prosedur sesuai standar yang telah ditetapkan. Dari
berbagai pendapat para ahli diatas peneliti menyimpulkan bahwa kinerja adalah
hasil kerja yang telah dicapai seorang karyawan dari tingkah laku kerjanya dalam
melaksanakan ativitas pekerjaan sebagai upaya untuk mencapai tujuan perusahaan
secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun gambaran
mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program atau kegiatan sesuai
dengan tujuan, visi dan misi perusahaan