Menurut Kurniawan (2020) brand image adalah kumpulan pemahaman dan
kepercayaan konsumen sebagai alasan atau motivasi menetapkan minat konsumen
dalam melakukan pembelian. Brand image memiliki peran yang penting di dalam
membedakan sebuah produk atau jasa dengan perusahaan lain. Tanpa adanya citra
merek yang baik dan positif, sulit bagi perusahaan menarik perhatian pelanggan
yang baru dan yang lama. Jika konsumen sudah memiliki pandangan brand image
yang baik dan positif dalam sebuah produk/jasa, maka kemungkinan besar
konsumen akan melakukan pembelian. Hasil dari penelitian yang dilakukan
Suhardi & Irmayanti (2019) mendapatkan hasil bahwa citra merek berpengaruh
positif dan signifikan terhadap minat beli.
Indikator-indikator Minat Beli
Menurut Ferdinand dalam Septyadi et al., (2022) Minat beli diidentifikasi
melalui indikator-indikator sebagai berikut :
- Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli suatu
produk. - Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk
kepada orang lain. - Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang
memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya dapat
diganti jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya. - Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu
mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi
untuk mendukung sifat- sifat positif dari produk tersebut.
Pengertian Minat Beli
Menurut Kotler & Keller (2016:137) berpendapat bahwa minat beli
merupakan salah satu jenis perilaku konsumen yang terjadi sebagai respon yang
muncul terhadap objek yang menunjukan keinginan konsumen untuk membeli
sesuatu. Minat beli merupakan bagian dari elemen perilaku dalam sikap
konsumen. Sementara menurut Schiffman & Kanuk (2015:228) berpendapat
bahwa minat beli merupakan penjelasan dari sikap seseorang terhadap objek yang
sangat cocok untuk mengukur perilaku produk, jasa, atau merek tertentu.
Menurut Priansa (2017:164) minat beli merupakan sesuatu yang
berhubungan dengan rencana konsumen untuk membeli suatu produk tertentu
serta banyaknya unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu. Menurut
Rahima (2018) minat beli konsumen pada dasarnya merupakan faktor pendorong
dalam membeli suatu produk. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
timbulnya minat beli pada konsumen sebagai berikut:
a. Dorongan dari diri sendiri (individu), Dorongan akan keingintahuan yang
membangkitkan rasa ingin belajar, membaca, dan melakukan penelitian lain.
b. Motif Sosial, dapat membangkitkan minat untuk melakukan aktivitas tertentu.
Misalnya minat dalam hal berpakaian karena ingin mendapatkan persetujuan
atau penerimaan dan perhatian orang lain.
c. Faktor Emosional, Minat yang berhubungan dengan dengan emosi. Misalnya
ketika minat tersebut mendapatkan kesuksesan maka akan mempertahankan
minat tersebut dan jika sebaliknya bila mendapatkan kegagalan maka akan
berhenti melakukan minat tersebut.
Ada beberapa perbedaan antara pembelian aktual dan minat beli. Jika
pembelian aktual adalah pembelian aktual oleh konsumen, maksud pembelian
adalah niat untuk membeli pada kesempatan di masa depan. Meskipun pembelian
belum tentu terjadi di masa depan, pengukuran niat beli biasanya dilakukan untuk
memaksimalkan prediksi dari pembelian sebenarnya itu sendiri.
Minat beli yang dihasilkan menimbulkan motivasi yang selalu tersimpan
dalam ingatannya dan pada akhirnya terwujud dalam ingatannya ketika
konsumen harus memenuhi kebutuhannya. Pengukuran tingkat bunga pembelian
biasanya dilakukan untuk memaksimalkan prediksi dari pembelian sebenarnya itu
sendiri. Terdapat perbedaan antara pembelian aktual dan minat pembelian. Bila
pembelian aktual adalah pembelian yang benar dilakukan oleh konsumen, maka
minat pembelian adalah niat untuk melakukan pembelian pada kesempatan
mendatang.
Peran Celebrity Endorser
Menurut Kertamukti (2015:69-70) mengatakan bahwa selebriti yang
digunakan untuk mempromosikan suatu produk, berfungsi untuk:
a. Testimonial, jika secara personal selebriti menggunakan produk tersebut maka
pihak selebriti bisa memberikan kesaksian tentang kualitas maupun keunggulan
dari produk atau merek yang diiklankan.
b. Endorsement, Pada saat selebriti diminta untuk membintangi iklan produk
dimana selebriti secara pribadi tidak ahli dalam bidang tersebut.
c. Actor, selebriti mempromosikan suatu produk atau merek tertentu terkait
dengan peran yang sedang actor tersebut bintangi dalam suatu program
tayangan tertentu.
d. Spokesperson, selebriti yang mempromosikan produk, merek atau suatu
perusahaan dalam kurun waktu tertentu masuk dalam kelompok peran
spokesperson. Penampilan mereka akan diasosiasikan dengan merek atau suatu
produk yang mereka wakili.
Pengertian Celebrity Endorser
Menurut Kertamukti (2015:68) Endorser adalah narasumber yang
digunakan dalam iklan, tokoh seperti aktor, penghibur, atau atlet yang dikenal
karena prestasinya di dalam bidang yang berbeda dari golongan produk yang
didukung. Menurut Kertamukti (2015:69) Celebrity endorser adalah iklan yang
menggunakan individu yang terkenal oleh publik atas prestasinya selain dari pada
produk yang didukungnya. Menurut Kertamukti (2015:70) selebriti yang
digunakan untuk mempromosikan suatu produk, memiliki fungsi untuk
testimonial, endorser, actor, dan spokesperson. Para Celebrity Endorser
diharapkan dapat menjadi juru bicara pada suatu produk atau merek baik secara
langsung maupun tidak langsung agar cepat melekat di benak konsumen, sehingga
konsumen memiliki minat untuk membeli produk atau merek.
Shimp (2014:47) menyatakan selain mengungkit brand image dengan
mengasosiasikan dirinya dengan merek lain, sebuah merek dapat mengungkit
ekuitasnya dengan menyelaraskan diri dengan orang, seperti karyawannya sendiri
maupun pendukung (Endorser). Merek yang diiklankan sering didukung
masyarakat popular, diperhitungkan sebesar seperenam dari iklan menampilkan
selebriti di seluruh dunia. Menurut Shimp (2014:258) mengiklankan dan agensi
bersedia memberikan kompensasi yang besar untuk selebriti yang digemari dan
juga dihormati oleh masyarakat umum. Target dan siapa yang diharapkan akan
mempengaruhi sikap dan perilaku para konsumen secara positif terhadap merek
yang dipromosikan oleh selebriti.
Dimensi Brand Trust
Menurut Ika dan Kustini dalam Natsir & Ernawati (2020) kepercayaan
merek dapat diukur melalui:
- Dimension of Viability
Dimensi ini didefinisikan sebagai sebuah persepsi bahwa suatu merek dapat
memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan nilai konsumen. Dimensi ini dapat
diukur melalui indikator kepuasan dan nilai. - Dimension of Intentionality
Dimensi ini mencerminkan perasaan aman dari individu terhadap suatu merek.
Dimensi ini dapat diukur melalui indikator security dan trust.
Indikator Brand Trust
Menurut Lau dan Lee dalam Ridwanudin & Fanni (2019) terdapat tiga
faktor sebagai pengukur kepercayaan terhadap merek, antara lain:
- Brand Characteristic (Karakteristik merek) memiliki peran yang penting dalam
menentukan pengambilan keputusan konsumen untuk mempercayai suatu
merek, hal ini disebabkan konsumen akan melakukan penilaian sebelum
membeli suatu produk atau jasa. Karakteristik merek yang berkaitan dengan
kepercayaan merek meliputi:
a. Brand Reputation
Persepsi konsumen pada suatu merek bahwa merek tersebut memiliki
reputasi yang bagus dan berkaitan dengan kepercayaan konsumen terhadap
merek tersebut.
b. Brand Predictability
Prediktabilitas ini dapat dikaitkan dengan tingkat kekonsistenan kualitas
produk. Prediksi atau persepsi konsumen bahwa suatu merek dapat
diprediksikan erat berkaitan dengan kepercayaan konsumen terhadap merek
tersebut.
c. Brand Competence
Merek yang mempunyai kemampuan untuk dapat memecahkan
permasalahan yang dihadapi oleh konsumen dalam memenuhi segala
keperluannya. Kemampuan merupakan suatu elemen penting yang
mempengaruhi kepercayaan. Konsumen mungkin mengetahui brand
competence melalui pengalaman secara langsung atau komunikasi dari
mulut ke mulut. - Company Characteristic (Karakteristik perusahaan), Persepsi yang dapat
mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap suatu perusahaan (trust in the
company) adalah sebagai berikut:
a. Trust in the Company (Kepercayaan terhadap Perusahaan)
Trust in a company adalah suatu rasa percaya bahwa perusahaan itu bagus,
dan memiliki kemampuan untuk menciptakan produk yang berkualitas.
b. Company Reputation (Reputasi Perusahaan)
Persepsi konsumen bahwa perusahaan memiliki reputasi kesetaraan sangat
berkaitan erat dengan kepercayaan konsumen terhadap suatu merek.
c. Perceived Motives of the Company (Motif Perusahaan yang dirasakan
Pelanggan)
Persepsi konsumen bahwa perusahaan memiliki motif yang menguntungkan
sangat berkaitan dengan kepercayaan konsumen terhadap merek yang
diluncurkan oleh perusahaan tersebut.
d. Company Integrity (Integritas Perusahaan)
Integritas perusahaan merupakan persepsi konsumen yang sesuai dengan
prinsip perusahaan yang logis, misalnya menepati janji, bertindak etis, dan
berlaku jujur. - Consumer-Brand Characteristic (Karakteristik Pelanggan-Merek)
Setiap hubungan memiliki dua arah, setiap kelompok saling mempengaruhi
dalam hubungannya dengan kelompok lain. Sehingga, karakteristik pelangganmerek dapat mempengaruhi kepercayaan pelanggan terhadap suatu merek.
a. Similarity between Consumer’s Self-Concept and Brand Personality
(Kemiripan antara konsep diri konsumen dengan kepribadian merek)
Kepribadian merek adalah asosiasi yang terkait dengan merek yang diingat
oleh konsumen dalam menerimanya. Kesamaan antara konsep diri konsumen
dengan kepribadian merek sangat berkaitan dengan kepercayaan konsumen
terhadap merek.
b. Brand Liking (Kesukaan Merek),
Bagi konsumen untuk membuat hubungan dengan suatu merek, maka
konsumen tersebut harus mengemari dulu merek tersebut. Di pasar konsumen,
jika konsumen menyukai suatu jenis merek yang menurutnya sesuai dan
menarik kemungkinan konsumen akan lebih mempercayai merek tersebut.
c. Brand Experience (Pengalaman merek)
Pengalaman masa lalu yang pernah dialami oleh konsumen dengan suatu
merek khususnya dalam lingkup pemakaian maka pengalaman konsumen
dengan suatu merek sangat berkaitan dengan kepercayaannya terhadap merek
tersebut.
d. Brand Satisfaction (Kepuasan Merek)
Hasil evaluasi subyektif terhadap suatu hal yang dicapai oleh suatu merek
dalam rangka memenuhi yang diharapkan oleh konsumen. Fenomena ini sesuai
dengan paradigma diskonfirmasi kepuasan konsumen, perbandingan antara
harapan konsumen dengan hasil yang dirasakan sangat mencirikan definisi
kepuasan.
e. Peer Support (Dukungan rekan)
Salah satu determinan perilaku individu adalah pengaruh yang dibawa oleh
individu lain. Untuk menyatakan secara tidak langsung bahwa pengaruh sosial
merupakan determinan penting dalam pembentukan perilaku individu.
Faktor – Faktor Pembentuk Brand Trust
Menurut Copley (2014:161) terdapat tiga faktor pembentuk brand trust
yaitu sebagai berikut:
- Opportunistic behavior
Pengaruh negatif pada hubungan karena berorientasi pada tipuan. - Consumers predetermined set
Pengakuan bahwa konsumen dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang belum
tentu berada dalam kendali langsung mereka, yaitu pengaruh orang tua dan
tahap kehidupan. - Communications
Berbagi informasi formal dan informal dan informasi yang tepat waktu
Pengertian Brand Trust
Menurut Tjiptono (2015:398) faktor trust terhadap sebuah merek
merupakan aspek penting dari loyalitas merek. Trust in a brand didefinisikan
sebagai kesediaan konsumen untuk mempercayai atau mengandalkan merek
dalam situasi risiko dikarenakan adanya harapan bahwa merek yang bersangkutan
akan memberikan hasil yang positif.
Menurut Hermawan (2012:54) Komunikasi pemasaran yang baik dalam
implementasinya akan mempengaruhi pada persepsi positif terhadap kepercayaan
merek yang disampaikan, begitu juga dengan sebaliknya kepercayaan merek
mendorong komunikasi pemasaran yang terintegrasi.
Menurut Suhardi & Irmayanti (2019) Brand Trust adalah kemampuan
merek untuk dapat dipercaya, yang dihasilkan dari keyakinan konsumen bahwa
produk mampu memenuhi nilai yang dijanjikan dan intensi baik merek tersebut
mampu mengutamakan kepentingan konsumen. Kepercayaan dapat dibangun oleh
adanya harapan untuk bertindak sesuai untuk memenuhi kebutuhan dan
mempercayai pihak lain, bahwa merek dapat di percaya dan memberikan harapan
untuk memenuhi keinginan konsumen
Indikator Brand Image
Menurut Keller (2013:347) berpendapat bahwa faktor-faktor yang
membentuk brand image, yaitu:
- Kekuatan Merek (Strength of Brand Association)
Kekuatan merek mengacu pada seberapa dalam seseorang konsumen
memikirkan tentang informasi produk dan bagaimana informasi tersebut dapat
membuat konsumen untuk menguraikan merek tersebut. - Keunggulan Merek (Favorability of Brand)
Keunggulan merek merupakan rasa kepercayaan merek dalam meyakinkan
konsumen bahwa merek memiliki keunggulan serta dapat membentuk reputasi
yang positif. - Keunikan Merek (Uniqueness of Brand)
Keunikan asosiasi merek merupakan keunikan suatu produk yang membuat
suatu perbedaan sehingga pelanggan tidak beralih ke merek yang lain.
Faktor Pembentuk Brand Image
Menurut Firmansyah (2019:72), Berikut ini merupakan faktor-faktor yang
membentuk brand image yaitu :
a. Faktor lingkungan
Faktor ini mempengaruhi atribut teknis yang ada dalam suatu produk, dan
faktor-faktor ini dikendalikan oleh produsen tambahan Disamping itu, sosial
budaya juga termasuk dalam faktor ini.
b. Faktor personal
Persiapan psikologis konsumen untuk menghadapi persepsi, pengalaman
konsumen sendiri, emosi, kebutuhan dan motivasi konsumen.
Fungsi dan Peran Brand Image
Menurut Firmansyah (2019:69), brand image memiliki beberapa fungsi,
yaitu:
a. Pintu masuk pasar (Market Entry) Berkaitan dengan fungsi market entry, brand
image berperan penting dalam hal pioneering, advantage, brand extension, dan
brand alliance.
b. Sumber Nilai tambah produk Para pemasar mengakui bahwa brand image tidak
hanya merangkum pengalaman konsumen dengan produk dari merek tersebut,
tapi benar-benar dapat mengubah pengalaman itu.
c. Nama merek merupakan penyimpanan nilai dari investasi biaya iklan dan
peningkatan kualitas produk yang terakumulasikan.
d. Kekuatan dalam penyaluran produk brand dengan citra yang kuat berfungsi
baik sebagai indikator kekuatan dalam saluran distribusi.
Pengertian Brand Image
Menurut Nurhalim (2020) menguraikan bahwa brand image adalah
representasi dari semua persepsi terhadap merek dan dibangun dari informasi dan
juga pengalaman masa lalu. Menurut Kotler & Keller (2016:315) menyatakan
bahwa brand image adalah persepsi dan keyakinan yang dilakukan oleh
konsumen yang tercermin dalam asosiasi yang terjadi didalam memori konsumen.
Menurut Kotler & Keller (2016:188) brand image merupakan gambaran sikap
ekstrinsik produk dan jasa seperti bagaimana cara merek berusaha untuk
memenuhi kebutuhan psikologis maupun sosial setiap pelanggannya.
Menurut Keller (2013:3) menyatakan bahwa brand image adalah
tanggapan konsumen akan suatu merek yang diingat oleh konsumen atas baik dan
buruknya merek. Menurut Firmansyah (2018) menyatakan brand image
merupakan representasi dari keseluruhan persepsi konsumen terhadap merek dan
dibentuk dari informasi dan pengalaman terhadap merek tersebut.
Menurut Shimp (2014:40) mengatakan bahwa Citra merek merupakan
dimensi kedua dari pengetahuan merek berdasarkan konsumen dengan
merepresentasikan asosiasi-asosiasi yang diaktifkan dalam memori ketika berpikir
mengenai merek tertentu.
Bauran Pemasaran
Menurut Kotler & Amstrong (2018) mengemukakan bahwa bauran
pemasaran adalah suatu alat pemasaran yang digunakan oleh perusahaan untuk
mencapai tujuan perusahaan. Menurut Kotler & Keller (2016:25) konsep dalam
bauran pemasaran terdiri dari product (produk), price (harga), place (tempat), dan
promotion (promosi) atau disebut dengan 4P. Berikut adalah pengertian dari
masing-masing komponen tersebut:
- Produk (Product)
Produk merupakan sesuatu yang bisa di jual ke pasar untuk menarik perhatian
dari konsumen agar produk yang ditawarkan terjual, dalam rangka memberikan
kepuasan pada konsumen dan untuk memenuhi kebutuhan dan juga keinginan
konsumen. - Harga (Price)
Harga adalah suatu nilai atau kualitas yang dapat ditukarkan oleh konsumen
untuk suatu produk atau jasa guna menikmati manfaat yang sama dengan
pengorbanan yang dikeluarkan. - Tempat (Place)
Aktivitas dari suatu perusahaan untuk menyediakan produk, dan target
pelanggannya. Seperti transportasi, lokasi, pergudangan, dan lain sebagainya. - Promosi (Promotion)
Promosi merupakan suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan untuk
membujuk dan menjelaskan keunggulan atau manfaat dari suatu produk
sehingga konsumen tertarik untuk membeli.
Manajemen Pemasaran
Menurut Priansa (2017) menyatakan bahwa manajemen pemasaran
merupakan ilmu dan seni dalam menjalankan fungsi manajemen yang terdiri dari
kegiatan perencanaan hingga pengendalian dalam rangka menyampaikan produk
serta nilai yang terkandung didalamnya dari pihak produsen hingga sampai ke
konsumen. Menurut Tjiptono (2015:93) menyatakan manajemen pemasaran
adalah suatu proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi seperti penentu harga,
promosi dan distribusi barang, jasa dan gagasan untuk menciptakan pertukaran
dengan kelompok sasaran yang memenuhi tujuan pelanggan dan organisasi.
Menurut Kotler (2013) menyatakan bahwa manajemen pemasaran adalah
suatu analisis, perencanaan implementasi dan pengendalian dari setiap program
yang menguntungkan dengan pembeli sebagai sasaran untuk mencapai tujuan
organisasi atau perusahaan. Menurut Kotler & Keller (2012:78) menyatakan
bahwa manajemen pemasaran adalah penganalisaan, pelaksanaan, dan juga
pengawasan program-program yang ditujukan untuk mengadakan pertukaran
dengan pasar yang dituju untuk mencapai tujuan organisasi. Hal ini sangat
tergantung pada pemasaran organisasi dalam memenuhi setiap kebutuhan dan
keinginan pasar serta menentukan harga, mengadakan komunikasi dan distribusi
yang efektif untuk memberitahu, mendorong serta melayani pasar. Berdasarkan
definisi tersebut maka manajemen pemasaran adalah suatu proses dalam analisa,
perencanaan, pengarahan, pengendalian, pengawasan, dan pelaksanaan suatu
kegiatan yang berkaitan dengan barang atau jasa yang bertujuan untuk
menciptakan suatu kepuasan dan tujuan dari berbagai pihak yang terlibat
Pengertian Pemasaran
Menurut Kotler & Keller (2016:27), Pemasaran adalah suatu kegiatan yang
mengatur lembaga dan proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan,
menyampaikan, dan mempertukarkan penawaran yang bernilai baik bagi
pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat pada umumnya Sedangkan menurut
Tjiptono (2015:5) menyampaikan bahwa pemasaran adalah menggambarkan
berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk menstimulasi permintaan
produk atau jasa yang dimiliki perusahaan dan memastikan jika produk atau jasa
mereka dapat disampaikan dengan baik kepada para konsumen.
Menurut Sedjati (2018) berpendapat bahwa pemasaran merupakan kegiatan
perusahaan untuk mengendalikan serta mengarahkan arus barang maupun jasa
dari produsen kepada konsumen. Menurut Andayani (2017:11) Pemasaran adalah
suatu proses yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang
mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara
bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Menurut Kotler & Keller (2016:27) Manajemen pemasaran didefinisikan
“Marketing is meeting needs profitability”, maksud ungkapan tersebut adalah
pemasaran merupakan hal yang dilakukan untuk memenuhi setiap kebutuhan
konsumen dengan cara-cara yang menguntungkan semua pihak. Menurut definisi
ini, pemasaran adalah aktivitas yang harus dilakukan perusahaan untuk
menjalankan bisnisnya baik pada produk maupun layanan yang ditawarkannya
kepada pasar sasarannya. Pemasaran bertujuan untuk menyediakan apa yang
dibutuhkan konsumen serta memberikan kepuasaan kepada konsumen.
Hubungan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian
Promosi merupakan upaya pemasaran yang menggunakan bentuk
komunikasi bersifat media dan non media untuk meningkatkan kesadaran dan
permintaan dari konsumen atau untuk memperbaiki kualitas produk (Mita dan
Frendy, 2021). Setiap jenis produk yang dipasarkan oleh perusahaan apakah
barang atau jasa, tidak akan mendapat tanggapan dari konsumen jika konsumen
tidak mengenali produk yang dijual oleh perusahaan. Promosi yang menarik
yang ditawarkan kepada perusahaan yang berinteraksi dengan konsumen dan
melakukan tindakan berdasarkan informasi produk yang dijual meningkatkan
kemungkinan konsumen dalam membeli produk tersebut (Beni et al., 2019).
Promosi dianggap dapat memberikan pengaruh terhadap keputusan pembelian
konsumen. Beberapa hasil dari penelitian sebelumnya telah mendukung adanya
hubungan antara promosi dengan keputusan pembelian. Hal tersebut sejalan
dengan penelitian Dinda dan Dr. Sri Setyo (2022) bahwa promosi memiliki
pengaruh pada keputusan pembelian.
Hubungaan Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian
Brand image memberikan pendorong untuk keputusan pembelian karena
menurut Firmansyah (2019) merek yang sangat kuat ditandai dengan dikenalnya
suatu merek oleh masyarakat dan tingginya asosiasi merek pada suatu produk
dan terbentuknya persepsi positif dari pasar. Citra merek perlu dijaga dan
dikembangkan agar memberikan pengaruh yang lebih menguntungkan bagi
perusahaan. Dari penjelasan tersebut, salah satu alasan yang mendorong
perusahaan memperkuat citra mereknya dimata konsumen adalah
kecenderungan konsumen melakukan keputusan pembelian terhadap merek
yang memiliki reputasi baik.
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) terdapat lima indikator
keputusan pembelian yaitu sebagai berikut :
- Pemilihan Produk
Konsumen memiliki pilihan untuk membelanjakan uangnya untuk hal
lain atau membeli suatu produk. Perusahaan harus memusatkan
perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah produk
dan alternatif yang mereka pertimbangkan. Indikator yang dapat ditarik
misalnya: kebutuhan suatu produk, keberagaman varian produk dan
kualitas produk. - Pemilihan merek
Pembeli dihadapkan pada pilihan tentang merek mana yang akan dibeli.
Setiap merek memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan
harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
Misalnya: kepercayaan dan popularitas suatu merek. - Pemilihan Penyalur
Pembeli harus memilih penyalur mana yang akan dikunjungi. Setiap
pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda dalam hal
menentukan penyalur bisa dikarenakan oleh faktor lokasi yang dekat,
harga terjangkau, persediaan produk yang lengkap dan lain-lain. - Waktu Pembelian
Waktu pengambilan keputusan pembelian konsumen mungkin bisa
berbeda-beda. Misalnya membeli sebulan sekali atau tiga bulan sekali. - Metode Pembayaran
Pembeli memiliki kebebasan untuk memilih cara pembayaran saat
mereka memutuskan untuk membeli suatu produk
Tahapan Proses Keputusan Pembelian
Tahapan-tahapan dari suatu pembelian menurut Kotler (2005:224)
adalah sebagai berikut :
- Pengenalan Masalah, proses pembelian dimulai saat pembeli
menentukan kebutuhan dan kesulitan. Ada kemungkinan pemicu internal
atau eksternal menyebabkan persyaratan ini. - Pencarian Informasi, proses pengambilan keputusan pembeli dimana
konsumen tergerak untuk mencari informasi tambahan, konsumen
mungkin sekedar meningkatkan perhatian atau mungkin pula mencari
informasi secara aktif. - Evaluasi Alternatif, Setelah pencarian informasi, pelanggan akan
menghadapi berbagai pilihan mengenai produk yang sejenis. Pemilihan
alternatif ini melalui beberapa tahap suatu proses evaluasi tertentu. Yang
pertama adalah sifat-sifat produk, bahwa setiap konsumen melihat suatu
produk sebagai kumpulan dari sifat atau ciri tertentu dan disesuaikan
dengan kebutuhannya. - Keputusan Pembelian, dalam tahap evaluasi, konsumen menciptakan
preferensi antar merek dalam kumpulan pilihan. Konsumen juga
membuat rencana untuk membeli barang yang disukai. Dalam
melaksanakan maksud pembelian, konsumen dapat membentuk lima sub
keputusan: merek, penyalur, jumlah waktu dan metode pembayaran. - Perilaku Pasca Pembelian, Tingkat kemiripan kinerja produk yang
diraskan dan aktual menentukan kepuasan pelanggan. Jika kinerja tidak
memenuhi harapan, konsumen kecewa, jika memenuhi harapan maka
konsumen puas. Perasaan ini menentukan apakah pelanggan membeli
produk kembali dan menjadi pelanggan setia.
Pengertiaan Keputusan Pembelian
Setiap perusahaan harus membuat keputusan pembelian secara
langsung untuk menerima dan menggunakan barang yang akan diberikan
sebagai respon terhadap pilihan tersebut.
Keputusan pembelian adalah keputusan yang diambil pembeli
setelah mempertimbangkan dua pilihan atau lebih. Oleh karena itu,
memiliki beberapa pilihan atau lebih sangat penting dalam pengambilan
keputusan (Hurdawaty dan Madaniyah, 2020). Menurut Kotler and Keller
(2018) keputusan pembelian adalah tindakan lebih lanjut dari tahap evaluasi
sesuai preferensi beberapa alternatif merek yang mewujudkan nilai membeli
dengan merek yang sangat disukai. Salah satu tahapan yang muncul kepada
konsumen ketika merasa tertarik dan membutuhkan suatu produk sehingga
memutuskan untuk memilih produk yang sangat diinginkan untuk dibeli
disebut keputusan pembelian (Beni et al., 2019).
Indikator Promosi
Saat diperlukan adanya suatu evaluasi terhadap promosi yang sedang
dan telah dilakukan, maka kita harus memiliki patokan atau indikator
konkret yang menunjukkan berbagai aspek promosi yang dilakukan.
Dengan demikian, kita dapat melakukan analisis yang komprehensif
terhadap suatu promosi yang telah dilakukan. Menurut Kotler dan Keller
(2016:272) indikator-indikator promosi di antaranya adalah sebagai berikut:
- Pesan promosi
Merupakan tolak ukur seberapa baik pesan promosi dilakukan dan
disampaikan kepada masyarakat. - Media Promosi
Merupakan saluran yang dimanfaatkan oleh perusahaan untuk
melakukan promosi. - Waktu Promosi
Merupakan durasi lamanya promosi yang dilakukan oleh perusahaan
Pengertian Promosi
Salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran
yaitu promosi. Menurut Warren & Keegan (2017) menyatakan bahwa
promosi mengacu pada program komunikasi konsumen atau penjualan yang
dibayar dengan durasi terbatas yang meningkatkan nilai suatu produk atau
merek. Sedangkan menurut Maulana (Puspita, 2020) promosi yang
dilakukan melalui penjualan langsung merupakan cara yang efektif untuk
menarik pelanggan dengan tujuan yang tepat, yang dapat diukur dan dapat
membantu mempertahankan pelanggan melalui penjualan langsung dengan
memberikan notifikasi dan promosi secara langsung pada tiktokshop.agar
mereka bersedia membelinya dan tetap loyal terhadap perusahaan yang
bersangkutan.
Indikator Brand Image
Menurut Aaker & Biel (Keller dan Swaminathan, 2020:239) berikut
adalah beberapa indikator yang bisa digunakan untuk menilai dan mengukur
brand image :
- Citra perusahaan (corporate image) merupakan kumpulan asosiasi
yang ada dalam pemikiran pelanggan terhadap perusahaan yang
memiliki produk tertentu termasuk pelanggan, jaringan perushaan,
popularitas, dan kredibilitas. - Citra pemakai (user image) merupakan sekumpulan asosiasi yang
dipersepsikan dalam benak konsumen terhadap pengguna produk
tertentu seperti pemakai atau konsumen maupun pelanggan itu sendiri,
gaya hidup, maupun status sosial. - Citra produk (product image) merupakan serangkaian asosiasi yang
dipersepsikan konsumen terhadap suatu merek produk seperti kualitas
produk, atribut produk, harga, keunggulan, manfaat, serta garansi.
Faktor – Faktor Brand Image
Menurut Kotler, Keller, Brady, Goodman, Hansen (2019), Sahney
(2016), Aaker (2011), dimensi-dimensi utama yang mempengaruhi dan
membentuk brand image, yaitu:
- Identitas merek (brand identity) yaitu ciri atau karakteristik yang
berhubungan dengan identitas merek atau logo produk, skema, warna
kemasan, bentuk dan label, motto atau slogan dan lain sebagainya.
Tujuan identitas merek guna untuk mempermudah konsumen dalam
mengenali produk dengan merek tertentu dan membedakan dengan
produk lain maupun merek pesaing. - Personalitas merek (brand personality) merupakan ciri khas atau
kualitas yang dimiliki sebuah merek guna mempermudah konsumen
maupun pelanggan dalam membedakannya dengan merek lain pada
kategori yang sama seperti karakter yang tegas, kemurahan senyuman,
kehangatan, rasa sayang, jiwa sosial, dinamis, kreatif, kemandirian, dan
lain sebagainya. - Asosiasi merek (brand association) merupakan sejumlah hal yang
terhubung dengan sebuah merek, termasuk penawaran produk khusus,
sponsorship dan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan, perhatian
terkait merek, simbol-simbol yang berbeda, dan makna yang terkait erat
dengan sebuah merek. - Sikap dan perilaku merek (brand attitude and behavior) yaitu seperti
halnya interaksi antara merek dengan pelanggannya dalam menawarkan
nilai atau manfaat produk, sikap dan perilaku merek berkaitan dengan
sikap atau perilaku komunikasi. Hal ini mencakup sikap dan perilaku
pelanggan, perilaku pemilik merek, perilaku karyawan perusahaan
pemilik merek, aktivitas dan atribut- atribut yang terkait dengan merek
saat berhubungan dengan pelanggan.
Menurut Caputo (2021) dan Aaker (2020), bahwa persepsi
konsumen atas citra merek terbentuk dari informasi yang terkait dengan
merek atau berbagai jenis asosiasi yang dimiliki pelanggan dengan merek
membentuk kesan mereka terhadap merek tersebut. Citra suatu merek
dibentuk oleh berbagai asosiasi merek, beberapa diantaranya adalah sebagai
berikut : - Keunggulan Asosiasi Merek (Strength of Brand Association) adalah
gambaran tentang bagaimana informasi masuk dalam benak pelanggan
dan kemudian membangun popularitas terhadap merek tertentu melalui
komunikasi pemasaran seperti periklanan, promosi penjualan,
penjualan personal, word of mouth, maupun berbagai media promosi
lainnya. - Kekuatan Asosiasi Merek (Favorability of Brand Association) adalah
melambangkan fakta bahwa produk suatu merek lebih unggul
dibandingkan merek pesaing ditinjau dari atribut dan manfaat produk.
Jika merek suatu produk mampu memberikan kepuasan atas kebutuhan
dan keinginan konsumen, maka akan tercipta kesan dan sikap positif
konsumen terhadap merek produk tersebut. - Keunikan Asosiasi Merek (Uniqueness of Brand Association) adalah
representasi terkait dengan keunikan atau ciri khas suatu produk yang
membuatnya sulit ditiru oleh pesaing.
Pengertian Brand Image
Brand Image didefinisikan pembeli yang mempersepsikan citra
merek sebagai titik fokus suatu barang karena mencerminkan keyakinan,
ide, persepsi, dan sudut pandang individu maupun masyarakat terhadap
suatu merek (Huda, 2020). Citra merek berhubungan dengan sikap
konsumen yang berupa preferensi terhadap suatu merek. Menurut
Mcpheron (2021) dan Wardhana, et al. (2021) bahwa konsumen lebih
cenderung melakukan pembelian kembali suatu produk jika mereka
memiliki persepsi yang baik terhadap suatu merek tersebut. Namun
sebaliknya, jika citra pada suatu merek negatif, maka kemungkinan kecil
untuk terjadinya pembelian produk itu kembali. Citra merek merupakan
pemaknaan kembali dari seluruh kesan pelanggan terhadap suatu merek
yang didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman sebelumnya terhadap
merek tersebut (Coaker 2021)
Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian
Kualitas produk erat kaitannya dengan keputusan pembelian.
Kualitas produk menjadi salah satu aspek pertimbangan konsumen dalam
memutuskan pembelian. Kualitas yang baik akan berujung pada
kepuasan pada konsumen yang selanjutnya akan membuat konsumen
tersebut menjadi loyal terhadap produk tersebut. Perusahaan harus dapat
memberikan kualitas yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan
konsumen dengan memperhatikan standar-standar kualitas pasar yang
ada. Hal ini dimasudkan agar kualitas yang diberikan perusahaan tersebut
tidak kalah saing dibandingkan perusahaan kompetitornya.
Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian
Dalam suatu bisnis, pengaruh brand image terhadap keputusan
pembelian kaitannya begitu erat dan tidak bisa dipisahkan. Semakin baik
brand image yang Anda buat, pelanggan akan lebih melirik produk dan
jasa yang ditawarkan. Selain itu, identitas dari sebuah produk baik atau
tidaknya bisa dilihat pertama kali dari brand image.
Brand image yang baik dan menarik akan berdampak terhadap
pembelian produk pada konsumen. Brand image menjadi satu bagian
bagi perusahaan untuk menunjang produknya diminati atau tidak oleh
konsumen. Brand image yang buruk akan menyebabkan produk tidak
diminati oleh konsumen, sedangkan brand image yang baik akan banyak
diminati oleh konsumen.
Pada dasarnya, konsumen saat ini lebih mementingkan brand
image pada produk, apabila produk tersebut bermerek terkenal maka
tingkat penjualan produk tersebut dalam perusahaan dapat meningkat.
Tentunya perusahaan menerapkan brand image yang menarik dan tetap
meningkatkan kualitas produk itu sendiri
Proses Keputusan Pembelian
Terdapat lima tahapan yang dilewati pembeli untuk mencapai
keputusan pembelian. Menurut Manap (2016:248) tahapan
keputusan digambarkan dalam sebuah model sebagai berikut:
- Pengenalan Masalah
Proses dalam pengambilan keputusan dengan pengenalan
masalah atau kebutuhan pembeli menyadari suatu perbedaan
antara keadaan yang sebenarnya dan keadaan yang
diinginkannya. Kebutuhan itu bisa digerakan oleh rangsangan
dari dalam diri pembeli atau dari luar. - Pencarian Informasi
Konsumen dalam memenuhi kebutuhannya melakukan
pencarian informasi yang berhubung dengan kebutuhannya.
Seberapa jauh orang mencari informasi tergantung pada kuat
lemahnya dorongan kebutuhan, banyaknya informasi yang
dimiliki, kemudahan memperoleh informasi dan kepuasan yang
diperoleh dari kegiatan mencari informasi. - Evaluasi Alternatif
Evaluasi alternatif merupakan tahap dari proses keputusan
pembelian, yaitu ketika konsumen menggunakan informasi
untuk mengevaluasi merek alternatif dalam pilihan yang
dilakukannya. Produsen harus berusaha memahami cara
konsumen mengenai informasi yang diperolehnya dan sampai
pada sikap mengenai produk merek dan keputusan untuk
membeli. - Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan tahap dari proses pengambilan
keputusan pembelian yaitu ketika konsumen benar membeli,
konsumen akan membeli merek yang diinginkan dan sesuai
dengan kebutuhan. Dalam keputusan pembelian konsumen
mempertimbangkan terlebih dahulu sesuai 20 dengan
kebutuhannya. - Keputusan Pasca Pembelian
Tingkah laku pasca pembelian merupakan tahap proses ketika
konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli
berdasarkan pada penilaian rasa puas atau tidak puas. Apabila
harapan konsumen dan situasi yang diterima sesuai dengan
dengan yang diinginkannya dan merasa puas maka akan ada
pengulangan pembelian di masa akan datang.
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut Buchari (2018 24 :104) terdapat lima indikator
dalam proses keputusan pembelian yaitu:
- Pengenalan masalah
Proses pembelian yang diawali pengenalan masalah atau
kebutuhan konsumen. Kebutuhan konsumen dapat dipengaruhi
oleh faktor dari dalam maupun dari luar konsumen. - Pencarian informasi
Proses dimana konsumen mencari informasi tentang kebutuhan
melalui beberapa sumber. - Evaluasi alternative
Setelah melalui pencarian informasi dari berbagai sumber
selanjutnya konsumen mempunyai beberapa pilihan alternatif
merek atau produk. - Keputusan pembelian
Konsumen dihadapkan pada keputusan pembelian terhadap
produk yang disukai. - Perilaku pasca pembelian
Tahap ini dipengaruhi oleh pengalaman konsumen pada saat
membeli suatu produk
Dimensi Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian tidak terpisahkan dari bagaimana sifat
seorang konsumen (consumer behavior) sehingga masing-masing
konsumen memiliki kebiasaan yang berbeda dalam melakukan
pembelian, Kotler & Armstrong (2016:188) mengemukakan
keputusan pembelian memiliki dimensi sebagai berikut:
- Pilihan produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah
produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain.
Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya
kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah produk serta
alternatif yang mereka pertimbangkan. - Pilihan merek
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek nama
yang akan dibeli setiap merek memiliki perbedaan tersendiri.
Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana
konsumen memilih sebuah merek. - Pilihan penyalur
Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana
yang akan dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal
menentukan penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat,
harga yangmurah, persediaan barang yang lengkap, kenyamanan
dalam belanja, keluasan tempat dan lain-lain. - Waktu pembelian
Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa
berbeda-beda misalnya ada yang membeli setiap hari, satu
minggu sekali, dua minggu sekali dan lain sebagainya. - Jumlah pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak
produk yang akan dibelanjakan pada suatu saat. Pembelian yang
dilakukan mungkin lebih dari satu. Dalam hal ini perusahaan
harus mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan
keinginan yang berbeda-beda. - Metode pembayaran
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang metode
pembayaran yang akan dilakukan dalam pengambilan keputusan
menggunakan produk atau jasa. Saat ini keputusan pembelian
dipengaruhi oleh tidak hanya oleh aspek lingkungan dan
keluarga, keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh teknologi
yang digunakan dalam transaksi pembelian.
Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Keller (2016: 198), proses keputusan
pembelian adalah tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi
di antara merek-merek dalam setiap pilihan dan juga dapat
membentuk suatu niat untuk membeli merek yang paling disukai.
Dalam melaksanakan niat beli, konsumen dapat menhasilkan
sebanyak lima subdisi: merek, dealer, kuantitas, waktu, dan metode
pembayaran.
Menurut (Fandy Tjiptono 2016:22) perilaku konsumen
merupakan tindakan-tindakan yang secara langsung terlibat dalam
usaha memperoleh, menentukan produk dan jasa, termasuk proses
pengambilan keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakantindakan tersebut. konsumen harus melalui seluruh urutan tahap
ketika membeli produk. Khususnya karena dalam model ini
menampung seluruh pertimbangan yang muncul ketika konsumen
menghadapi pembelian baru dengan keterliban yang lebih tinggi.
Menurut Damiati (2017) keputusan pembelian yaitu suatu
proses pengambilan keputusan dengan seleksi yang dilakukan
individu untuk menentukan pilihan diantara beberapa alternatif
terkait suatu produk yang sesuai untuk memenuhi kebutuhannya.
Menurut Buchari (2018:96) keputusan pembelian adalah sebuah
proses dimana konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi
mengenai produk atau merek tertentu dan mengevaluasi seberapa
baik masing – masing alternatif tersebut dapat memecahkan
masalahnya, kemudian mengarah pada keputusan pembelian.
Menurut Kotler dan Keller (2016: 200) Keputusan konsumen
untuk memodifikasi, menunda, atau menghidari keputusan
pembelian sangat dipengaruhi oleh satu atau lebih tipe risiko yang
dirasakan:
- Risiko fungsional : Produk tidak memenuhi harapan.
- Risiko fisik : Produk ini mengancam kesehatan fisik atau
kesehatan pengguna atau orang lain. - Risiko keuangan : Produk tidak sebanding dengan harga yang
dibayarkan. - Risiko sosial : Produk ini menghasilkan rasa malu di depan
orang lain. - Risiko psikologis : Produk mempengaruhi kesehatan mental
pengguna. - Risiko waktu : Kegagalan produk menghasilkan biaya peluang
untuk menemukan produk lain yang memuaskan.
Indikator Kualitas Produk
Menurut Shairen Octavia Mihing, Budiyanto (2021) indikator
kualitas produk :
- Rasa yang enak
Ini menyangkut penilaian konsumen terhadap cita rasa pada
produk yang di tawarkan perusahaan kepada konsumen. - Keistimewaan tambahan
Keistimewaan adalah karakteristik sekunder atau pelengkap dan
dapat didefinisikan sebagai tingkat kelengkapan atribut-atribut
yang ada pada sebuah produk. - Kehandalan
Kemungkinan kecil akan mengalami kegagalan pada waktu
konsumen menggunakan produk. - Daya tahan
Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut terus dapat
digunakan
Dimensi Kualitas Produk
Kualitas produk memiliki dimensi yang dapat digunakan
untuk menganalisis karakteristik dari suatu produk. Menurut David
Garvin dalam buku Fandy Tjiptono (2016:134) menyatakan bahwa
kualitas produk memiliki delapan dimensi sebagai berikut:
- Kinerja (Performance)
Berkaitan dengan aspek fungsional dari produk dan merupakan
karakteristik utama yang dipertahankan konsumen ketika ingin
membeli suatu produk. Maksudnya sejauh mana produk dapat
berfungsi sebagaimana fungsinya. - Keistimewaan Tambahan (Features)
Aspek kedua dari kinerja yang menambahkan fungsi dasar,
berkaitan dengan pilihan-pilihan dan pengembangannya.
Maksudnya suatu produk selain memiliki fungsi utama tentu
memiliki fungsi lain yang bersifat komplemen. - Kehandalan (Reliability)
Kemungkinan kecil akan mengalami kegagalan pada waktu
konsumen menggunakan produk. - Kesesuaian Dengan Spesifikasi (Conformance to Spesification)
Berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk terhadap
spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan
keinginan konsumen. Intinya, sejauh mana karakteristik desain
dan operasi memenuhi standar. - Daya Tahan (Durability)
Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus
digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur
ekonomis. - Kemampuan Pelayanan (Serviceability)
Karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan, kompetensi,
kemudahan dan akurasi dalam memberikan pelayanan untuk
perbaikan barang. - Estetika (Esthetica)
Daya tarik produk terhadap panca indera. Misal keindahan
desain produk, keunikan model produk, dan kombinasi. - Kualitas Yang Dipersepsikan (Percaived Quality)
Persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan
suatu produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya.
Pengertian Kualitas Produk
Menurut Buchari (2018:140) menyatakan Kualitas produk
adalah produk yang mampu memberikan hasil yang lebih dari yang
diharapkan oleh konsumen. Menurut Kotler dan Keller (2016: 347)
Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melakukan
fungsi-fungsinya, kemampuan tersebut meliputi daya tahan,
kehandalan, ketelitian yang dihasilkan produk secara keseluruhan.
Perusahaan perlu terus meningkatkan kualitas produk atau jasanya
karena peningkatan kualitas produk dapat membuat konsumen
merasa puas terhadap produk atau jasa yang mereka beli, dan akan
mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian ulang.
Kotler dan Keller (2016:156) pengertian kualitas adalah
sebagai berikut, “Quality is the totality of features and
characteristics of a product or service that bear on its ability to
satisfy stated or implied needs”. Artinya Kualitas adalah totalitas
fitur dan karakteristik suatu produk atau layanan yang memikul
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau
tersirat.
Sedangkan menurut David Garvin dalam Fandy Tjiptono
(2016:134) kualitas produk adalah karakteristik dari suatu produk
dalam kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang
telah ditentukan dan mempunyai sifat laten”
Indikator Word of Mouth
Menurut Sari et al (2013) indikator yang dapat digunakan
terdiri dari:
- Minat Repeat order
Terjadi apabila konsumen merespon positif terhadap produk
sehingga mereka akan melakukan pembelian secara terus
menerus (repeat order) terhadap produk yang berhasil menarik
perhatian. Biasanya, konsumen akan melakukan pembelian
pada satu tempat yang sama. - Minat preferensi
Terjadi disaat konsumen lebih mendahulukan produk yang
dipercaya dibandingkan produk lainnya. Mereka akan
cenderung melakukan pemberin rangking terhadap produkproduk yang diminati sebelum memberi keputusan untuk
membeli, biasanya membandingkan antara pendapatan dan
harga. - Minat Eksploratif
Konsumen yang berminat akan cenderung melakukan
pencarian informasi tentang produk yang disukai. Konsumen
ini cenderung akan mencari tahu dari pengalaman konsumen
lain yang merasa puas setelah melakukan pembelian.
Jenis-Jenis Word of Mouth
Berdasarkan pendapat Ali Hasan (2010), Word of Mouth
terdiri dari dua jenis, yaitu:
- Organic word of mouth
Pembicaraan yang bersemi secara alami dari kualitas positif
dari perusahaan anda. - Amplified word of mouth
Pembicaraan yang dimulai oleh kampanye yang disengajakan
untuk membuat orang-orang berbicara.
Manfaat Word of Mouth
Menurut Kotler (2009:174) dalam jurnal Kiki Joesyiana ada
dua manfaat utama dalam melakukan Word of Mouth (WOM), yaitu:
- Sumber dari mulut ke mulut meyakinkan
Cerita dari mulut ke mulut adalah satu-satunya metode promosi
yang berasal dari konsumen, oleh konsumen, dan untuk
konsumen. Pelanggan yang merasa puas tidak hanya akan
membeli kembali, tetapi mereka juga adalah reklame yang
berjalan dan berbicara untuk bisnis yang dijalankan. - Sumber dari mulut ke mulut memiliki biaya yang rendah
Dengan tetap menjaga hubungan dengan pelanggan yang
puasdan menjadikan mereka sebagai penyedia akan membebani
bisnis yang dijalankan dengan biaya yang relatif rendah
Dimensi Word of Mouth
Menurut Sernovitz (2009:31), terdapat lima dimensi atau
elemen dasar word of mouth yang dikenal dengan 5T, yaitu:
- Talkers (pembicara)
Kumpulan target dimana mereka yang akan membicarakan suatu
merek biasa disebut juga influencer. Talkers ini bisa siapa saja
mulai dari teman, tetangga, keluarga, dll. Selalu ada orang yang
antusias untuk berbicara. Mereka ini yang paling bersemangat
menceritakan pengalamannya. - Topics (topik)
Berkaitan dengan apa yang dibicarakan oleh talker. Topik ini
berhubungan dengan apa yang ditawarkan oleh suatu merek.
Seperti tawaran spesial, diskon, produk baru, atau pelayanan
yang memuaskan. Topik yang baik ialah topik yang simpel,
mudah dibawa, dan natural. Seluruh word of mouth memang
bermula dari topik yang menggairahkan untuk dibicarakan. - Tools (alat)
Merupakan alat penyebaran dari topic dan talker. Topik yang
telah ada juga membutuhkan suatu alat yang membantu agar
topik atau pesan dapat berjalan. Alat ini membuat orang mudah
membicarakan atau menularkan produk atau jasa perusahaan
kepada orang lain. - Talking part (partisipasi)
Suatu pembicaraan akan hilang jika hanya ada satu orang yang
berbicara mengenai suatu produk. Maka perlu adanya orang lain
yang ikut serta dalam percakapan agar word of mouth dapat
terus berlanjut. - Tracking (pengawasan)
Suatu tindakan perusahaan untuk mengawasi serta memantau
respon konsumen. Hal ini dilakukan agar perusahaan dapat
mempelajari masukan positif atau negatif konsumen, sehingga
dengan begitu perusahaan dapat belajar dari masukan tersebut
untuk kemajuan yang lebih baik
Pengertian Word of Mouth
Word of Mouth adalah komunikasi dari mulut ke mulut
biasanya terjadi saat konsumen atau pelanggan membicarakan
tentang layanan, merek, dan kualitas produk yang telah dipakai
kepada orang lain. Menurut Priansa (2017: 339) word of mouth
merupakan sebuah kegiatan pemasaran dalam memberikan informasi
suatu produk atau jasa dari satu konsumen kepada konsumen lainnya
untuk membicarakan, mempromosikan dan mau menjual suatu
merek kepada orang lain. Word of mouth dapat berupa komentar atau
rekomendasi yang disebarkan pelanggan berdasarkan pengalaman
yang diterimannya, memiliki pengaruh yang kuat terhadap
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pihak lain. Menurut
Kotler & Amstrong (2016:199) Sebagian besar, word of mouth
terjadi secara alami, konsumen mulai dengan membicarakan sebuah
merek yang mereka gunakan kepada orang lain.
Menurut (Ayunita & Musikita, 2021) mengatakan bahwa
Ketika calon konsumen sudah mengetahui tentang produk yang telah
ditawarkan melalui promosi maupun mendapatkan informasi dari
mulut ke mulut melalui media sosial, maka calon konsumen berhak
melakukan pertimbangan sebelum mereka memutuskan sebuah
keputusan dalam pembelian. Ketika konsumen sudah melakukan
pembelian dan menggunakan produk tersebut, konsumen akan
melakukan penilaian terhadap produk yang telah dikonsumsinya,
apabila produk tersebut memberikan kepuasan dan kesan positif
pada konsumen, maka kemungkinan pesan e-wom positif akan
terjadi, begitupun sebaliknya.
Menurut (Joesyiana, 2018) mengatakan bahwa Word of
mouth lebih dikatakan efektif dalam kegiatan pemasaran karena
kegiatan word of mouth didasari pengalaman seseorang dalam
mengkonsumsi suatu produk atau jasa suatu perusahaan. Puas dan
tidak puas nya seorang konsumen sangat berpengaruh terhadap
dampak word of mouth baik positif maupun negatif yang akan
timbul, sehingga mempengaruhi perusahaan tersebut.
Word of mouth merupakan jenis promosi yang ampuh, efektif
dan berbiaya paling murah. Konsumen yang merasa puas akan
memberi tahu dan merekomendasikan orang lain dari mulut ke mulut
mengenai pengalaman yang baik dalam suatu produk. Word of
mouth marketing seringkali lebih memiliki keunggulan kompetitif
dalam menyampaikan informasi suatu bisnis. Hal ini dikarenakan
word of mouth marketing muncul secara natural dari pendapat
lingkungan sosial yang dirasa lebih jujur dan tidak ada motif-motif
tertentu dalam menyampaikan suatu informasi kepada konsumen
lainnya. Ditambah dengan munculnya teknologi yang semakin
canggih tidak lagi membatasi word of mouth marketing pada situasi
percakapan tatap muka, namun dapat melalui telepon maupun
jejaring sosial melalui smartphones.
Word of mouth melalui media internet disebut dengan
electronic word of mouth, e-wom melalui media sosial dilakukan
dengan cara memberi review produk, memberikan rekomendasi
kepada konsumen lain atau hanya sekedar berbagi pengalaman
(testimoni) oleh para public figure atau influencer. Pengalaman atau
review yang orang lain berikan dijadikan bahan informasi atau
masukan sebelum mengambil keputusan pembelian. Terjadinya ewom memicu calon konsumen baru untuk melakukan pembelian
pada sebuah produk yang telah dilihat dan didengar dari orang lain.
Ketika calon konsumen sudah mengetahui tentang produk yang telah
ditawarkan melalui promosi maupun mendapatkan informasi dari
mulut ke mulut melalui media sosial, maka calon konsumen berhak
melakukan pertimbangan sebelum mereka memutuskan sebuah
keputusan dalam pembelian.
Keputusan pembelian adalah tindakan yang dilakukan
konsumen untuk membeli sebuah produk. Oleh karena itu,
pengambilan keputusan pembelian konsumen merupakan suatu
proses pemilihan salah satu dari beberapa alternatif penyelesaian
masalah dengan tindak lanjut yang nyata. Setelah itu konsumen
dapat melakukan evaluasi pilihan dan kemudian dapat menentukan
sikap yang akan diambil.
Teknik Word of Mouth tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
teknik ini bisa dilakukan secara langsung dari mulut ke mulut,
hingga melalui cara tak langsung yaitu dengan perantara media
elektronik. Kapanpun dan dimanapun, produk perusahaan
berpeluang untuk terus diperbincangkan. Kita juga mengetahui
begitu pentingnya peran Word of Mouth bagi branding perusahaan.
Sehingga mau tidak mau perusahaan harus menampilkan performa
terbaiknya kapanpun proses produksi berlanjut. Ada berbagai cara
yang bisa dilakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan ulasan
positif dari masyarakat. Diantaranya adalah dengan melibatkan
pelanggan dalam komunikasi, memberikan pelayanan terbaik,
memperoleh feedback dari pelanggan, dan lain sebagainya. Dengan
demikian, masyarakat akan menilai positif produk perusahaan
sehingga reputasi brand tetap terjaga.
Berdasarkan pendapat Ali Hasan (2010), terdapat tiga
motivasi dasar yang mendorong pembicaraan word of mouth yaitu :
- Mereka menyukai anda dan produk anda
Orang-orang membicarakan karena anda melakukan atau
menjual sesuatu yang mereka ingin bicarakan. Mereka
menyukai produk anda. Mereka menyukai bagaimana anda
memperlakukan mereka. Anda telah melakukan sesuatu yang
menarik. - Pembicaraan membuat mereka merasa baik
Word of mouth lebih sering mengarah ke emosi atau perasaan
terhadap produk atau fitur produk. Kita terdorong untuk berbagi
oleh perasaan dimana kita sebagai individu daripada apa yang
dilakukan bisnis. - Mereka merasa terhubung dalam suatu kelompok
Keinginan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok
adalahperasaan manusia yang paling kuat. Kita merasa
terhubung. Membicarakan suatu produk adalah salah satu cara
kita mendapat hubungan tersebut. Kita merasa senang secara
emosional ketika kita membagikan kesenangan dengan suatu
kelompok yang memiliki kesenangan yang sama.
Dimensi Brand Image
Menurut Widyaningsih dalam Cendana (2017) yang
merangkum dari hasil studi terhadap berbagai literatur dan riset-riset
yang relevan, disimpulkan bahwa dimensi-dimensi utama yang
memengaruhi dan membentuk citra sebuah merek tertuang dalam
berikut ini:
- Identitas merek (Brand Identity)
Dimensi pertama adalah brand identity atau identitas merek.
Brand identity merupakan identitas fisik yang berkaitan dengan
merek atau produk tersebut sehingga konsumen mudah
mengenali dan membedakannya dengan merek atau produk
lain, seperti logo, warna, kemasan, lokasi, identitas perusahaan
yang memayunginya, slogan, dan lain-lain. - Personalitas merek (Brand Personality)
Dimensi kedua adalah brand personality atau personalitas
merek. Brand personality adalah karakter khas sebuah merek
yang membentuk kepribadian tertentu sebagaimana layaknya
manusia, sehingga khalayak konsumen dengan mudah
membedakannya dengan merek lain dalam kategori yang sama,
misalnya karakter tegas, kaku, berwibawa, ningrat, atau murah
senyum, hangat, penyayang, berjiwa sosial, atau dinamis,
kreatif, independen, dan sebagainya. - Asosiasi merek (Brand Association)
Dimensi ketiga adalah brand association atau asosiasi merek.
Brand association adalah hal-hal spesifik yang pantas atau
selalu dikaitkan dengan suatu merek, bisa muncul dari
penawaran unik suatu produk, aktivitas yang berulang dan
konsisten misalnya dalam hal sponsorship atau kegiatan social
responsibility, isu-isu yang sangat kuat berkaitan dengan merek
tersebut, ataupun person. - Sikap dan perilaku merek (Brand Attitude & Behavior)
Dimensi keempat adalah brand attitude atau sikap dan perilaku
merek. Brand attitude and behavior adalah sikap atau perilaku
komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam
menawarkan manfaat-manfaat dan nilai yang dimilikinya.
Kerap sebuah merek menggunakan cara-cara yang kurang
pantas dan melanggar etika dalam berkomunikasi, pelayanan
yang buruk sehingga memengaruhi pandangan publik terhadap
sikap dan perilaku merek tersebut, atau sebaliknya, sikap dan
perilaku simpatik, jujur, konsisten antara janji dan realitas,
pelayanan yang baik dan kepedulian terhadap lingkungan dan
masyarakat luas membentuk persepsi yang baik pula terhadap
sikap dan perilaku merek tersebut.
Jadi, brand attitude & behavior mencakup sikap dan perilaku
komunikasi, aktivitas dan atribut yang melekat pada merek saat
berhubungan dengan khalayak konsumen, termasuk perilaku
karyawan dan pemilik merek. - Manfaat dan keunggulan merek (Brand Benefit & Competence)
Dimensi kelima adalah brand benefit and competence atau
manfaat dan keunggulan merek. Brand benefit and competence
merupakan nilai-nilai dan keunggulan khas yang ditawarkan
oleh suatu merek kepada konsumen yang membuat konsumen
dapat merasakan manfaat karena kebutuhan, keinginan, mimpi
dan obsesinya terwujudkan oleh apa yang ditawarkan tersebut.
Nilai dan manfaat di sini dapat bersifat functional, emotional,
symbolic maupun social, misalnya merek produk deterjen
dengan benefit membersihkan pakaian (functional benefit/
values), menjadikan pemakai pakaian yang dibersihkan jadi
percaya diri (emotional benefit/ values), menjadi simbol gaya
hidup masyarakat modern yang bersih (symbolic benefit/
values) dan memberi inspirasi bagi lingkungan untuk peduli
pada kebersihan diri, lingkungan dan hati nurani (social
benefit/ values). Manfaat, keunggulan dan kompetensi khas
suatu merek akan memengaruhi brand image produk, individu
atau lembaga/ perusahaan tersebut.
Komponen Brand Image
Komponen pembentuk brand image ada tiga, yaitu :
- Citra Pembuat (Corporate Image)
Sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap
perusahaan yang membuat suatu produk dan jasa. - Citra Pemakai (User Image)
Sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap
pemakai yang menggunakan barang atau jasa, meliputi
pemakai itu sendiri, gaya hidup atau kepribadian dan status
sosial. - Citra Produk (Product Image)
Sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap
suatu produk, yang meliputi atribut produk tersebut, manfaat
bagi konsumen, penggunaannya, serta jaminan.
Indikator Brand Image
Menurut Kotler & Keller (2016) mengatakan bahwa pada
dasarnya terdapat indikator brand image sebagai berikut :
- Kekuatan asosiasi merek (Strength of brand association)
Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan
konsumen dan bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai
bagian dari brand image. - Keuntungan asosiasi merek (Favourability of brand association)
Kesuksesan sebuah proses pemasaran sering tergantung pada
proses terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, dimana
konsumen dapat percaya pada atribut yang diberikan mereka
dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. - Keunikan asosiasi merek (Uniqueness Of brand association)
Suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi
alasan bagi konsumen untuk memilih merek tertentu. Keunikan
asosiasi merek dapat berdasarkan atribut produk, fungsi produk
atau citra yang dinikmati konsumen.
Faktor-Faktor Pembentuk Brand Image
Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi brand image
Schiffman dan Kanuk (2007) menyebutkan faktor-faktor pembentuk
brand image yaitu:
- Kualitas atau mutu
Berkaitan dengan kualitas produk barang yang ditawarkan oleh
produsen dengan merek tertentu. - Dipercaya atau diandalkan
Berkaitan dengan pendapat atau kesepakatan yang dibentuk oleh
masyarakat tentang suatu produk yang dikonsumsi. - Kegunaan atau manfaat
Hal tersebut terkait dengan fungsi dari suatu produk barang yang
bisa dimanfaatkan oleh konsumen. - Harga
Dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk
mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra
jangka panjang. - Citra
Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa
pandangan, kesepakatan dan informasi yang berkaitan dengan
suatu merek dari produk tertentu.
Pengertian Brand Image
Menurut Keller brand Image dalam Widyastuti & Said
(2017) brand image adalah persepsi seorang konsumen terhadap
suatu merek yang juga merupakan cerminan ingatan yang dapat
digambarkan dan berhubungan dengan merek. Menurut Khuong &
Tran (2018) Brand Image adalah sebuah situasi dimana konsumen
berpikir dan merasakan sebuah atribut dari sebuah merek sehingga
konsumen dapat dengan baik merangsang niat pembelian konsumen
dan meningkatkan nilai merek. Brand image adalah sebuah
pandangan pelanggan saat ini terhadap suatu brand. Ini dapat
didefinisikan sebagai kumpulan asosiasi unik di dalam benak
pelanggan sasaran. Ini menandakan seperti apa suatu brand saat ini
berdiri dan dikenal oleh konsumen maupun non konsumen. “Brand
image can be defined as a perception about brand as reflected by the
brand association held in consumer memory”. Brand image atau
citra merek adalah persepsi tentang merek yang digambarkan oleh
asosiasi merek yang ada dalam ingatan konsumen (Kotler & Keller,
2016).
Menurut Espíndola (2020) dan Arifin dan Fachrodji (2015),
brand image atau citra merek berhubungan dengan sikap konsumen
yang berupa preferensi terhadap suatu merek. Kotler, Keller, Brady,
Goodman, Hansen (2019) dan Kotler dan Armstrong (2018)
menyatakan bahwa merek bukanlah hanya sekedar nama maupun
simbol saja, namun merek menjadi elemen kunci dalam hubungan
antara perusahaan dengan pelanggannya. Mcpheron (2021) dan
Wardhana, et al. (2021) mengemukakan jika pelanggan memiliki
citra positif terhadap suatu merek, maka pelanggan akan melakukan
pembelian produk itu kembali.
Salah satu tugas perusahaan adalah menciptakan merek
yang positif dimata pelanggan, di mana merek merupakan hal
yang perlu di perhatikan perusahaan dalam keberlangsungan
usahanya dimasa depan. Merek dianggap sebagai value indicator
karena dapat menciptakan dan menambah value kepada produk,
perusahaan, masyarakat ataupun negara. Oleh karena itu, merek
merupakan indikator yang memberikan suatu nilai kepada
pelanggan internal dan eksternal serta investor
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut (Kotler, 2021) dalam (Maryati & Khoiri, 2022) terdapat
beberapa indikator dalam keputusan pembelian sebagai berikut:
1) Adanya sebuah kemantapan produk, sebuah keputusan pembelian
dapat juga dilakukan oleh konsumen dengan mencari sebuah
informasi tersebut.
2) Terdapat kebiasaan membeli, mendapatkan rekomendasi dari
supplier yang informasi penting, bahwa sebuah indikator keputusan
pembelian sangat menarik.
3) Rekomendasi dari orang lain, dapat menyampaikan sebuah
informasi dari orang lain agar dapat tertarik melakukan pembelian
ini.
4) Adanya pembelian ulang, ini sangat penting dalam bisnis anda,
maka adanya sebuah sebab kemudian konsumen juga melakukan
pembelian ulang pada suatu produk
Proses Pengambilan Keputusan Konsumen
Menurut Kotler dan Keller (2012 : 166) dalam (Nurdiansyah, 2017
: 19) Proses pengambilan keputusan pembelian konsumen terdiri
dari lima tahap yang dilakukan oleh seorang konsumen sebelum
sampai pada keputusan pembelian dan selanjutnya pasca pembelian.
Lima tahap tersebut meliputi sebagai berikut :
1) Pengenalan Masalah
Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali masalah
atau kebutuhan. Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh
rangsangan internal (kebutuhan umum seseorang) atau eksternal
rangsangan pihak luar (iklan).
2) Pencarian Informasi
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan mulai terdorong
untuk mencari informasi yang lebih banyak. Konsumen dalam
tahap ini dapat dibagi menjadi dua level. Pertama menguatkan
perhatian, level ini menunjukkan situasi bersifat lebih ringan,
hanya sekedar lebih peka pada informasi produk. Kedua, aktif
mencari informasi. Konsumen akan lebih aktif untuk mencari
informasi melalui bahan bacaan, menelpon teman maupun
mengunjungi toko untuk mempelajari suatu produk.
3) Evaluasi Alternatif
Tidak ada proses evaluasi tunggal sederhana yang digunakan
oleh semua konsumen atau oleh satu konsumen dalam semua
situasi pembelian. Beberapa konsep dasar akan dapat membantu
pemahaman terhadap proses evaluasi konsumen. Pertama,
konsumen berusaha memenuhi kebutuhan. Kedua, konsument
mencari manfaat tertentu dari solusi produk. Ketiga, konsumen
memandang masing-masing produk sebagai sekumpulan atribut
dengan kemampuan yang berbeda dalam memberikan manfaat
untuk memuaskan kebutuhan.
4) Keputusan Pembelian
Sifat melakukan maksud pembelian, konsumen dapat
mengambil lima sub keputusan yaitu merek, dealer, kuantitas,
waktu dan metode. Melakukan pembelian produk sehari-hari
keputusan yang diambil lebih kecil. Beberapa kasus
menunjukkan konsumen bisa mengambil keputusan untuk tidak
secara formal mengevaluasi setiap merek.
5) Perilaku Pasca Pembelian
Setelah pembelian, konsumen mungkin mengalami
ketidaksesuaian karena memperhatikan fitur-fitur tertentu yang
mengganggu atau mendengar hal yang menyenangkan tentang
merek lain. Tugas pemasar tidak berakhir begitu saja ketika
produk dibeli. Pemasar harus memantau kepuasan pasca
pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk
pasca pembelian.
Pengertian Keputusan Pembelian
Pemasar harus mengekslporasi berbagai efek pada pembelian
konsumen dan memperdalam pemahaman mereka tentang
bagaimana konsumen sebenarnya membuat keputusan pembelian.
Konsumen tidak akan langsung memutuskan untuk membeli suatu
produk, tetapi konsumen memiliki banyak pertimbangan yang pada
akhirnya akan memutuskan apakah akan membeli suatu produk.
Keputusan pembelian merupakan perilaku konsumen yang ingin
membeli atau tidak membeli suatu produk.
Menurut Kotler dan Amstrong (2008:181) dalam (Dendhy Pradana,
2017) mengemukakan bahwa keputusan pembelian konsumen
adalah membeli merek yang paling disukai.
Menurut Tjiptono (2016 : 22), Keputusan pembelian merupakan
salah satu bagian dari perilaku konsumen. Perilaku konsumen
merupakan tindakan secara langsung terlibat dalam usaha
memperoleh, menentukan, produk dan jasa, termasuk proses
pengambilan keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan
tersebut.
Proses pengambilan keputusan oleh konsumen adalah suatu proses
dimana seorang calon konsumen memiliki kesadaran atau
mengidentifikasi munculnya kebutuhan untuk dipenuhi. (Trinanda
at. al, 2022:37)
Hubungan Brand Image dan Keputusan Pembelian
Sebelum konsumen memutuskan untuk membeli suatu produk,
sebenarnya ia mempunyai alasan-alasan tertentu untuk memilih
produk atau jasa tersebut, misalnya ia merasa puas dengan
pelayanan dan kualitas yang diberikan oleh perusahaan produk atau
jasa tersebut. Proses keputusan pembelian yaitu menggabungkan
informasi untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternative
dan memilih salah satunya. Jika konsumen tidak memiliki
pengalaman dengan suatu produk atau jasa, mereka cenderung
mempercayai merek yang diinginkan atau dikenal. Alasan tersebut
yang mendorong perusahaan untuk memperkuat posisi merek
mereka untuk menciptakan citra merek yang positif dan tetap kuat
di benak konsumen, mendorong seseorang untuk tertarik pada
pilihan produk atau melakukan sebuah keputusan pembelian. Secara
ringkas dapat dikatakan bahwa brand image adalah citra atau kesan
yang diciptakan oleh suatu merek di benak konsumen.
Dimensi Brand Image
Menurut Kotler & Keller (2019), dimensi-dimensi citra merek,
yaitu:
1) Identitas merek (brand identity) yaitu ciri atau karakteristik yang
berkaitan dengan logo produk, logo atau identitas perusahaan,
kombinasi penggunaan warna, bentuk dan label kemasan, motto
atau slogan, dan lain sebagainya. Identitas merek ditujukan guna
mempermudah konsumen maupun pelanggan dalam mengenali
produk dengan merek tertentu dan membedakan dengan produk
lainnya maupun merek pesaingnya.
2) Personalitas merek (brand personality) merupakan ciri khas atau
karakter khas yang dimiliki sebuah merek guna mempermudah
konsumen maupun pelanggan dalam membedakannya dengan
merek lain pada kategori yang sama seperti karakter yang tegas,
kemurahan senyuman, kehangatan, rasa sayang, jiwa sosial,
dinamis, kreatif, kemandirian, dan lain sebagainya.
3) Asosiasi merek (brand association) merupakan berbagai hal
yang berkaitan dengan suatu merek seperti: penawaran yang
unik dari suatu produk, aktivitas sponsorship maupun kegiatan
tanggung jawab social perusahaan, berbgai isu yang
berhubungan dengan merek tersebut, berbagai simbol dan
makna tertentu yang sangat kuat terkait dengan suatu merek.
4) Sikap dan perilaku merek (brand attitude and behavior) yaitu
sikap dan perilaku merek yang berkaitan dengan sikap atau
perilaku komunikasi, maupun interaksi antara merek dengan
pelanggannya dalam menawarkan nilai atau manfaat produk.
Hal yang mencakup aspek ini adalah sikap dan perilaku
konsumen, perilaku karyawan perusahaan pemilik merek,
perilaku pemilik merek, aktivitas dan atribut-atribut yang
melekat pada merek saat beberhubungan dengan konsumen
maupun pelanggan.
Faktor-Faktor Brand Image
Menurut Chernev (2020), menyatakan faktor-faktor pembentuk citra
merek sebagai berikut:Kesesuaian ekonomi (economic fit) yaitu
kesesuaian antara merek dengan harga atau nilai yang ditawarkan.
1) Kesesuaian simbolik (symbolic fit) yaitu kesesuaian manfaat
simbolik yang diterima oleh konsumen apabila konsumen ingin
memiliki produk dengan merek tersebut.
2) Kesesuaian perasaan (sensory fit) yaitu kesesuaian antara
perasaan atau pengalaman konsumen dengan kondisi ketika
menggunakan produk dari merek yang dapat membentuk kesan
positif terhadap merek tersebut.
3) Kesesuaian futuristik (futuristic fit) yaitu kesesuaian yang
berkaitan dengan teknologi antara desain, inovasi, keunikan, dan
hal lainnya dibandingkan dengan merek dan aliansi merek yang
dapat dirasakan menjadi lebih positif.
4) Kesesuaian manfaat (utilitarianfit) yaitu penilaian terhadap
merek yang didasarkan pada kesesuaian manfaat yang diterima
yang ditunjukkan dengan kualitas pabrikan, material yang
digunakan, daya tahan, dan kehandalan dari produk dengan
merek tersebut.
Indikator Brand Image
Kotler & Keller (2012:10) dalam (Intan Frida Syahrazad, 2018)
berkata bahwa semua perusahaan berusaha menciptakan citra merek
yang baik dan kuat dengan menciptakan suatu merek seunik
mungkin yang dapat menguntungkan. Terdapat beberapa indikatorindikator yang membentu brand image, antara lain adalah :
1) Citra perusahaan
Citra perusahaan merupakan persepsi konsumen terhadap citra
suatu perusahaan itu sendiri. Perusahaan sebagai organisasi
berusaha membangun image nya dengan tujuan tak lain agar
nama perusahaan ini bagus, sehingga akan mempengaruhi segala
hal mengenai apa yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.
Dalam meningkatkan kemampuan perusahaan dan jaringan
perusahaan, maka perusahaan harus menjaga hal-hal sebagai
berikut:
a) Kepopuleran, suatu perusahaan yang dikenal dan disukai
orang banyak.
b) Keinovatifan, suatu perusahaan yang dapat bersaing dengan
pesaingnya adalah perusahaan yang tidak berhenti
melakukan inovasi dari waktu ke waktu.
c) Lokasi perusahaan, tempat dimana suatu perusahaan
beroperasi dan melangsungkan kegitan bisnisnya.
2) Citra Produk
Merupakan suatu persepsi konsumen terhadap suatu produk
yang dapat berdampak positif maupun negatif yang berkaitan
dengan kebutuhan, keinginan, dan harapan konsumen. Image
dari produk dapat mendukung terciptanya sebuah citra merek
yang dapat dilihat dari beberapa hal yaitu :
a) Kualitas atau mutu, baik atau buruknya suatu produk atau
jasa yang dihasilkan suatu perusahaan dimata konsumen.
b) Harga, suatu nilai yang harus diukur oleh konsumen untuk
mendapatkan produk yang dihasilkan suatu perusahaan.
c) Jenis jasa dan manfaat, keragaman jasa yang dimiliki
perusahaan atau model-model jasa yang diberikan
memberikan kepuasan.
3) Citra Pemakai
Citra pemakai dapat dibentuk langsung dari pengalaman dan
kontak dengan pengguna merek tersebut. Manfaatnya adalah
nilai pribadi konsumen yang diletakkan terhadap atribut dari
produk atau layanan yaitu apa yang konsumen pikir akan mereka
dapatkan dari produk atau layanan tersebut. Citra pemakai dapat
ditujukan oleh:
a) Umur, kalangan seperti yang menjadi konsumen dalam suatu
perusahaan.
b) Kelas sosial, konsumen yang memiliki kelas sosial rendah,
menengah atau atas.
c) Pekerjaan, konsumen yang memiliki pekerjaan atau yang
biasanya melakukan pembelian pada suatu perusahaan.
Manfaat Brand Image
Adapun manfaat citra merek bagi konsumen maupun perusahaan
menurut Wardhana, et al. (2021) sebagai berikut:
1) Konsumen dengan citra yang positif terhadap suatu merek, lebih
memungkinkan untuk melakukan pembelian.
2) Perusahaan dapat mengembangkan lini produk dengan
memanfaatkan citra positif yang telah terbentuk terhadap merek
produk lama
Pengukuran Brand Image (citra merek)
Pengukuran citra adalah subjektif, artinya tidak ada ketentuan baku
untuk pengukuran citra merek (brand image). Bahwa pengukuran
citra merek dapat dilakukan berdasarkan pada aspek sebuah merek
yaitu :
1) Strengthness (Kekuatan)
Keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh merek yang bersifat
fisik dan tidak ditemukan pada merek lainnya. Keunggulan
merek ini mengacu pada atribut-atribut fisik atas merek tersebut
sehingga biasa dianggap sebagai sebuah kelebihan dibandingkan
dengan merek lain, yang termasuk pada kelompok. Strengthness
ini antara lain : fisik produk, keberfungsian semua fasilitas
produk, harga produk, maupun penampilan fasilitas pendukung
dari produk tersebut.
2) Uniqueness (Keunikan)
Kemampuan untuk membedakan sebuah merek diantara merekmerek lainnya. Kesan unik ini muncul dari atribut produk,
menjadi kesan unik berarti terdapat diferensiasi antara produk
satu dengan produk lainnya. Termasuk dalam kelompok unik ini
antara lain: variasi layanan yang biasa diberikan sebuah produk,
variasi harga produk-produk yang bersangkutan maupun
diferensiasi dan penampilan fisik sebuah produk.
3) Favorable (Kesukaan)
Mengarah pada kemampuan merek tersebut agar mudah diingat
oleh konsumen, yang termasuk dalam kelompok. Favorable ini
antara lain: kemudahan merek tersebut diucapkan, kemampuan
merek untuk tetap diingat oleh pelanggan, maupun kesesuaian
antara kesan merek dibenak pelanggan dengan citra yang
diinginkan perusahaan atas merek yang bersangkutan.
Ciri – Ciri Brand Image (citra merek)
Merek merupakan hal penting bagi sebuah perusahaan. Karena
dengan merek yang bernilai positif, para konsumen dapat
menyimpan informasi yang unik didalam memori mereka sehingga
ketika disebutkan sebuah kategori produk, muncul merek tertentu
untuk di tarik kembali dalam ingatan individu. Merek juga menjadi
pembeda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang
lainnya. Menurut sebuah biro riset terdapat beberapa ciri dari Brand
Image (citra merek) yang terdiri dari tiga komponen, yakni:
1) Brand Association
Merupakan tindakan dari konsumen untuk membuat asosiasi
tentang merek tertentu berdasarkan informasi atau pengetahuan
mereka, baik pengetahuan yang sifatnya faktual maupun
berdasar pada pengalaman dan emosi.
2) Brand Value
Merupakan tindakan konsumen dalam memilih merek, tindakan
konsumen tersebut lebih mengarah pada alasan persepsi mereka
terhadap karakteristik merek dengan menghubungkannya
dengan nilai-nilai yang diyakini mereka.
3) Brand Positioning
Merupakan persepsi konsumen tentang kualitas merek, dimana
mereka akan menggunakannya pada saat memilih berbagai
alternative pilihan yang ada.
Penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa brand association,
brand value, dan brand positioning merupakan ciri dari citra
merek yang mempunyai hubungan dengan keputusan membeli
produk oleh konsumen
Brand Image (Citra Merek)
Brand image (citra merek) merupakan gambaran atau kesan yang
ditimbulkan oleh suatu merek dalam benak konsumen. Penempatan citra
merek dibenak konsumen harus dilakukan secara terus-menerus agar
citra merek yang tercipta tetap kuat dan dapat diterima secara positif.
Ketika sebuah merek memiliki citra yang kuat dan positif di benak
konsumen maka merek tersebut akan selalu diingat dan kemungkinan
konsumen untuk membeli merek yang bersangkutan sangat besar.
Menurut Sofjan (2015:206) dalam (Dyah Ayu Lestari, Idan Nurnida,
2017) menyatakan bahwa merek merupakan bagian dari analisis sebuah
produk dimana merek dapat memberikan identifikasi terhadap suatu
produk, sehingga konsumen mengenal merek yang berbeda dari produk
lainnya.
Citra merek dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi yang muncul di
benak konsumen saat mengingat suatu merek pada suatu produk
tertentu. (Firmansyah, 2020:60).
Brand Image adalah apa yang diinginkan konsumen bereaksi terhadap
brand tersebut, bagaimana persepsi konsumen terhadap produk kita.
Maksud dibalik brand image adalah bagaimana konsumen tidak hanya
membeli produk atau menggunakan jasa kita, tetapi juga brand image
yang terikat dengan produk itu. Brand image harus unik, positif dan
mudah dipahami. Brand image bisa diperkuat dengan menggunakan
brand komunikasi seperti iklan, packaging, brosur, dan media
marketing lainnya. Brand Image adalah usaha kita bagaimana market
memberikan persepsi kepada produk kita.
Indikator Keputusan Pembelian
Kotler dan Keller (2016:227) proses keputusan pembelian adalah
proses lima tahap yang dilewati konsumen, dimulai dari pengenalan
masalah, pencarian informasi, evaluasi alternative yang dapat memecahkan
masalahnya, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian, yang
dimulai jauh sebelum pembelian yang sesungguhnya dilakukan oleh
konsumen dan memiliki dampak yang lama setelah itu. Ada tiga indikator
dalam menentukan keputusan pembelian Kotler, (2017:112), yaitu:
a. Kemantapan pada sebuah produk
Pada saat melakukan pembalian, konsumen memilih salah satu dari
beberapa alternatif. Pilihan yang ada didasarkan pada mutu, kualitas dan
faktor lain yang memberikan kemantapan bagi konsumen untuk membeli
produk yang dibutuhkan. Kualitas produk yang baik akan membangun
semangat konsumen sehingga menjadi penunjang kepuasan konsumen.
b. Kebiasaan dalam membeli produk
Kebiasaan adalah pengulangan sesuatu secara terus-menerus dalam
melakukan pembelian produk yang sama. Ketika konsumen telah
melakukan keputusan pembelian dan mereka merasa produk sudah
melekat dibenaknya bahkan manfaat produk sudah dirasakan. Konsumen
akan merasa tidak nyaman jika membeli produk lain.
c. Kecepatan dalam membeli sebuah produk
Konsumen sering mengambil sebuah keputusan dengan menggunakan
aturan (heuristik) pilihan yang sederhana. Heuristik adalah sebuah proses
proses yang dilakukan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan
secara cepat, menggunakan sebuah pedoman umum dalam sebagian
informasi saja
Proses Keputusan Pembelian
Menurut Kotler (2016:215) terdapat lima tahapan yang dilewati
pembeli untuk mencapai keputusan pembelian, tahapan keputusan
pembelian digambarkan dalam sebuah model sebagai berikut:
a. Pengenalan masalah
Proses membeli dengan pengenalan masalah atau kebutuhan pembeli
menyadari suatu perbedaan antara keadaan yang sebenarnya dan keadaan
yang diinginkanya. Kebutuhan itu bisa digerakkan oleh rangsangan dari
dalam diri pembeli atau dari luar. Misalnya kebutuhan orang normal
yaitu haus dan lapar akan meningkat hingga mencapai suatu ambang
rangsang dan berubah menjadi suatu dorongan berdasarkan pengalaman
yang sudah ada.
b. Pencarian informasi
Konsumen mungkin tidak berusaha secara aktif dalam mencari informasi
yang berhubung dengan kebutuhannya. Seberapa jauh orang tersebut
mencari informasi tergantung pada kuat lemahnya dorongan kebutuhan,
banyaknya informasi yang dimiliki, kemudahan memperoleh informasi,
tambahan dan kepuasan yang diperoleh dari kegiatan mencari informasi.
Biasanya jumlah kegiatan mencari informasi meningkat tatkala
konsumen bergerak dari keputusan situasi pemecahan masalah yang
terbatas kepemecahan masalah yang maksimal.
c. Evaluasi alternatif
Informasi yang dicari calon pembeli digunakan untuk memperoleh
gambaran yang lebih jelas mengenai alternatif-alternatif yang
dihadapinya serta daya tarik masing-masing alternatif. Produsen harus
berusaha memahami cara konsumen mengenal informasi yang
diperolehnya dan sampai pada sikap tertentu mengenai produk merek dan
keputusan untuk membeli.
d. Keputusan pembelian
Produsen harus memahami bahwa konsumen mempunyai cara sendiri
dalam menangani informasi yang diperolehnya dengan membatasi
alternatif-alternatif yang harus dipilih atau dievaluasi untuk menentukan
produk mana yang akan dibeli.
e. Perilaku setelah pembelian
Apabila barang yang dibeli tidak memberikan kepuasan yang diharapkan,
maka pembeli akan merubah sikapnya terhadap merek barang tersebut
menjadi sikap negatif, bahkan mungkin akan menolak dari daftar pilihan.
Sebaliknya bila konsumen bisa memberi kepuasan dari barang yang
dibelinya maka keinginan untuk membeli terhadap merek barang tersebut
cenderung untuk menjadi lebih kuat. Produsen harus mengurangi
perasaan tidak senang atau perasaan negatif terhadap suatu produk
dengan cara membantu konsumen menemukan informasi yang
membenarkan pilihan konsumen melalui komunikasi yang diarahkan
pada orang-orang yang baru saja membeli produk.
Model ini beranggapan bahwa konsumen melakukan lima tahap dalam
melakukan pembelian. Namun kelima tahap diatas tidak selalu terjadi,
khususnya dalam pembelian yang tidak memerlukan keterlibatan yang
tinggi dalam pembelian. Para konsumen bisa melewati beberapa tahap
dan urutannya tidak sesuai.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian
menurut Philip Kotler (2016:224) dipengaruhi oleh empat faktor sebagai
berikut:
a. Faktor Budaya; budaya, sub budaya, dan kelas sosial merupakan hal yang
sangat penting dalam terbentuknya perilaku pembelian. Budaya
merupakan salah satu factor penentu keinginan dan perilaku konsumen
yang paling dasar.
b. Faktor Sosial
- Kelompok acuan; kelompok acuan dalam perilaku pembelian
konsumen dapat diartikan sebagai kelompok yang berpengaruh secara
langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. - Keluarga; keluarga dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu keluarga
orientas yang terdiri dari orang tua dan saudara kandung seseorang
yang dapat memberikan orientasi agama, politik, dan ekonomi serta
ambisi pribadi, harga diri, dan cinta. Selanjutnya itu ada keluarga
prokreasi yang terdiri dari pasangan dan jumlah anak.
c. Pribadi - Usia dan siklus hidup keluarga; orang membeli barang dan jasa
tentunya mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda sepanjang
hidupnya dimana kegiatan konsumsi ini dipengaruhi oleh faktor usia
dan siklus hidup keluarga. - Pekerjaan dan lingkungan ekonomi; pekerjaan dan lingkungan
ekonomi seseorang dapat mempengaruhi kebutuhannya. Biasanya
pemilihan produk juga dipertimbangkan berdasarkan keadaan
ekonomi seseorang seperti besarnya penghasilan yang dimiliki, jumlah
tabungan, utang dan sikap terhadap belanja atau menabung. - Gaya hidup; gaya hidup dapat diartikan sebagai sebuah pola hidup
seseorang yang terungkap dalam aktivitas, minat dan opininya yang
terbentuk melalui kelas sosial dan pekerjaan. Melihat hal ini sebagai
peluang dalam kegiatan pemasaran, banyak pemasar atau produsen
yang mengarahkan merek mereka pada gaya hidup seseorang. - Kepribadian; kepribadian merupakan ciri bawaan psikologis manusia
yang berbeda yang menghasilkan tanggapan relatif konsisten dan
tahan lama terhadap rangsangan lingkungannya. Kepribadian dapat
menjadi variabel yang sangat berguna dalam menganalisis pilihan
merek konsumen. Hal ini disebabkan karena beberapa kalangan
konsumen akan memilih merek yang cocok dengan kepribadiaannya. - Psikologis; faktor psikologis ini dipengaruhi oleh empat faktor utama
diantaranya motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan
sikap.
d. Peran dan Status; semakin tinggi peran seseorang dalam organisasi maka
semakin tinggi pula status seseorang dalam organisasi tersebut dan secara
langsung dapat berdampak pada perilaku pembeliannya
Keputusan pembelian
Keputusan pembelian merupakan serangkaian proses yang berawal dari
konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi tentang produk atau
merek tertentu dan mengevaluasi produk atau merek tersebut seberapa baik
masing-masing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang
kemudian serangkaian proses tersebut mengarah kepada keputusan pembelian
Tjiptono, (2016:21).
Selanjutnya Kotler dan Keller (2017:127) menambahkan bahwa, proses
keputusan pembelian adalah proses lima tahap yang dilewati konsumen,
dimulai dari pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternative
yang dapat memecahkan masalahnya, keputusan pembelian, dan perilaku pasca
pembelian, yang dimulai jauh sebelum pembelian yang sesungguhnya
dilakukan oleh konsumen dan memiliki dampak yang lama setelah itu
Indikator Harga
Kotler dan Armstrong (2017:522) menjelaskan, didalam variabel
harga ada beberapa unsur kegiatan utama harga yang meliputi daftar
harga, diskon, potongan harga, dan periode pembayaran. Menurut
Kotler dan Armstrong terjemahan Sabran (2017:270), ada empat
indikator harga yaitu :
a. Keterjangkauan harga.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
c. Daya saing harga.
d. Kesesuaian harga dengan manfaat
Tujuan Penetapan Harga
Tujuan penetapan harga perlu ditentukan terlebih dahulu, agar
tujuan perusahaan tercapai. Hal ini penting karena tujuan perusahaan
merupakan dasar atau pedoman bagi perusahaan dalam menjalankan
kegiatan pemasaran, termasuk kebijakan penetapan harga. Menurut
Assauri (2017: 227), ada beberapa tujuan penetapan harga yang
diambil yaitu:
a. Memperoleh laba yang maksimum
Salah satu tujuan yang paling lazim dalam penetapan harga adalah
memperoleh hasil laba jangka pendek yang maksimal. Pencapaian
tujuan ini dilakukan dengan cara menentukan tingkat harga yang
memperhatikan total hasil penerimaan penjualan (sales revenue)
dan total biaya, dalam hal ini perusahaan menetapkan harga untuk
memperoleh tingkat keuntungan yang maksimal paling
memuaskan.
b. Mendapatkan share pasar tertentu
Sebuah perusahaan dapat menetapkan tingkat harga untuk
mendapatkan atau meningkatkan share pasar, meskipun
mengurangi tingkat keuntungan pada masa itu. Srategi ini
dilakukan perusahaan karena perusahaan percaya bahwa jika share
pasar bertambah besar, maka tingkat keuntungan akan meningkat
pada masa depan.
c. Memerah pasar (market skimming)
Perusahaan mengambil manfaat memperoleh keuntungan dari
bersedianya pembeli membayar dengan harga yang lebih tinggi dari
pembeli yang lain, karena barang yang ditawarkan memberikan
nilai yang lebih tinggi bagi mereka. Jadi dalam hal ini perusahaan
menetapkan harga yang lebih tinggi, karena hendak menarik
manfaat dari sekelompok besar pembeli yang bersedia membayar
harga tinggi, yang disebabkan produk perusahaan tersebut
mempunyai nilai sekarang (present value) yang tinggi bagi mereka.
d. Mencapai tingkat hasil penerimaan penjualan maksimum pada
waktu itu
Perusahaan menetapkan harga untuk memaksimumkan penerimaan
penjualan pada masa itu. Tujuan itu hanya mungkin dapat dicapai
apabila terdapat kombinasi harga dan kuantitas produk yang dapat
menghasilkan tingkat pendapatan yang paling besar. Penetapan
harga dengan tujuan ini biasanya terdapat pada perusahaan yang
mungkin dalam keadaan kesulitan keuangan atau perusahaan yang
menganggap masa depannya suram atau tidak menentu.
e. Mencapai keuntungan yang ditargetkan
Perusahaan menetapkan harga tertentu untuk dapat mencapai tingkat
laba yang berupa rate of return yang memuaskan.
Strategi Penetapan Harga
Menurut Kotler dan Keller (2017:271), strategi pemasaran
melalui harga terbagi menjadi 6 strategi yaitu sebagai berikut:
a. Penetration Price
Yaitu strategi pendekatan pemasaran yang menetapkan harga jual
lebih rendah daripada harga normalnya dengan tujuan untuk
mempercepat penetrasi atau penerimaan pasar pada produk yang
ditawarkan. Artinya sebuah perusahaan atau unit bisnis
memfokuskan pada peningkatan pangsa pasar dengan menetapkan
harga barang lebih rendah daripada harga normal. Strategi jangka
panjangnya adalah untuk mempercepat penerimaan pasar atau
meningkatkan pangsa pasar yang sudah ada.
b. Skimming Price
Berbanding terbalik dengan penetration price, skimming price
justru menetapkan harga pada tingkat yang tinggi dalam waktu
tertentu. Strategi ini mengasumsikan konsumen tertentu akan
membayar pada harga, produk, baik barang maupun jasa dengan
tingkat yang tinggi tersebut dengan menggangap produk tersebut
bernilai prestisius. Strategi pemasaran dengan menetapkan harga
tinggi dalam waktu terbatas ini, perlahan kemudian akan
diturunkan sampai dengan level yang kompetitif atau sesuai dengan
harga pasar.
c. Follow the Leader Price
Merupakan strategi penetapan harga menurut pemimpin pasar,
dengan menjadikan pesaing sebagai model dalam menetapkan
harga barang atau jasa.
d. Variabel Price
Sebuah unit bisnis menetapkan strategi harga variabel untuk
menawarkan kelonggaran harga pada konsumen tertentu. Dalam
beberapa unit bisnis, banyak perusahaan yang menetapkan daftar
harga dalam dua bagian, yakni harga standar dan harga dengan
kelonggaran bagi pembeli tertentu. Pengertian mudahnya, variabel
price adalah pendekatan pemasaran dengan menetapkan lebih dari
satu harga produk atau jasa dengan tujuan menawarkan harga pada
konsumen.
e. Flexible Price
Pendekatan ini dapat digunakan jika jumlah barang dan jasa yang
ditawarkan oleh perusahaan sangat terbatas, sedangkan permintaan
pembeli cenderung berubah di kemudian hari sehingga strategi ini
menawarkan pendekatan pemasaran dengan penetapan harga yang
berbeda untuk mencerminkan perbedaan dalam permintaan
konsumen.
f. Price Linning
Price linning adalah pendekatan pemasaran dengan menetapkan
beberapa tingkat harga barang dagangan yang berbeda. Strategi ini
menentukan beberapa harga yang berbeda yang memiliki item
serupa dari barang dagangan eceran yang untuk dijual. Strategi
penetapan ini memiliki keuntungan untuk menyederhanakan
pilihan bagi konsumen dan mengurangi persediaan minimum yang
diperlukan.
Penetapan harga
Strategi penetapan harga menjadi sesuatu yang perlu
diperhatikan dalam tiga situasi sebagai berikut :
a. Ketika harga suatu produk baru yang sedang ditetapkan.
b. Ketika sedang mempertimbangkan melakukan perubahan jangka
panjang bagi produk yang sudah mapan.
c. Ketika sedang mempertimbangkan melakukan perubahan jangka
pendek.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam penetapan harga,
yaitu :
a. Faktor internal, terdiri dari tujuan pemasaran perusahaan,
pertimbangan organisasi, sasaran pemasaran biaya, dan strategi
bauran pemasaran.
b. Faktor eksternal, yang terdiri dari; situasi dan permintaan pasar,
persaingan, harapan perantara, dan faktor lingkungan seperti
kondisi sosial ekonomi, kebijakan dan peratuan pemerintah,
budaya dan politik.
Pada dasarnya ada empat tujuan dari penetapan harga, sebagai
beikut:
a. Tujuan Berorientasi Pada Laba
Asumsi dari teori ekonomi klasik menyatakan bahwa setiap
perusahaan selalu memilih harga yang dapat menghasilkan laba
paling tinggi. Tujuan ini dikenal dengan maksimasi laba. Ada
39
perusahaan yang menggunakan laba sebagai target perusahaan,
yaitu laba yang sesuai atau yang diharapkan sebagai sasaran laba.
b. Tujuan berorientasi pada volume
Ada perusahaan yang menetapkan harganya berdasarkan tujuan
yang berorientasi pada volume tertentu atau yang biasa dikenal
dengan istilah volume pricing objectives, harga ditetapkan
sedemikian rupa agar dapat mencapai target penjualan volume
(dalam ton, kg, unit, dan lain-liannya) nilai penjualan (Rp) atau
pangsa pasar (absolute atau kreatif).
c. Tujuan berorientasi pada citra
Citra suatu perusahaan dapat dibentuk melalui strategi penetapan
harga. Perusahaan dapat menetapkan harga tertinggi untuk
membentuk atau mempertahankan citra prestisius. Sementara itu
harga rendah dapat digunakan untuk membentuk nilai tertentu
(image of value).
d. Tujuan stabilitas harga
Tujuan stabilitas dilakukan dengan jalan menetapkan harga untuk
mempertahankan hubungan yang stabil antara harga suatu
perusahaan dan pemimpin industri (industry leader). Dalam hal ini
industri barang dan jasa.
e. Tujuan lainnya
Harga dapat ditetapkan dengan tujuan untuk mencegah masuknya
pesaing, mempertahankan loyalitas pelanggan, mendukung
penjualan ulang, atau menghindari campur tangan dari pemerintah
Peranan Harga
Menurut Tjiptono, dkk., (2016:451), harga mempunyai peranan
penting yang terdiri dari:
a. Bagi Perekonomian
Harga produk mempengaruhi tingkat upah, sewa, bunga dan laba.
Harga merupakan dasar dalam sistem perekonomian, karena harga
berpengaruh terhadap alokasi faktor-faktor produksi seperti tenaga
kerja, tanah, modal, dan kewirausahaan. Tingkat upah yang tinggi
menarik tenaga kerja, tingkat bunga yang tinggi menjadi daya tarik
bagi investasi modal, dan seterusnya.
b. Bagi Konsumen
Dalam penjualan ritel, ada segmen pembeli yang sangat sensitif
terhadap faktor harga (menjadikan harga sebagai satu-satunya
pertimbangan membeli produk) dan ada pula yang tidak. Mayoritas
konsumen agak sensitif terhadap harga, namun juga
mempertimbangkan faktor lain (seperti citra merek, lokasi toko,
pelayanan, nilai (value) dan kualitas.
c. Bagi Perusahaan
Dibandingkan dengan bauran pemasaran lainnya (produk, distirbusi
dan promosi) yang membutuhkan pengeluaran dana dalam jumlah
besar, harga merupakan satu-satunya elemen bauran pemasaran
yang mendatangkan pendapatan. Harga mempengaruhi posisi
bersaing dan pangsa pasar perusahaan
Harga
Harga merupakan suatu nilai produk, karena akan berpengaruh terhadap
keuntungan produsen. Harga juga menjadi salah satu faktor yang menjadi
bahan pertimbangan konsumen dalam membeli suatu produk, sehingga perlu
pertimbangan khusus dalam menentukan harga tersebut. Harga merupakan
suatu nilai yang dijadikan patokan nilai suatu barang atau jasa.
Limaksrina dan Purba (2017;44), menjelaskan ; “Harga adalah sejumlah
uang yang diserahkan kepaa penjual untuk mendapatkan barang yang dibeli
akan tetapi juga meliputi hal-hal pengamanan diluar uang, seperti waktu, usaha
(pencarian), resiko psikologi (mobil bias tabrakan), tambahan pengeluaran
untuk jaminan (membayar asuransi)”
Sistem perusahaan akan menentukan harga dasar yang tepat bagi produk
atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan atau pemasar dan harus menentukan
strategi yang berkaitan dengan berbagai potongan harga, pembayaran biaya,
pengangkutan (transportasi), serta berbagai variable biaya lain yang terkait.
Harga semata-mata tergantung pada kebijakan perusahaan, tetapi tentu
saja dengan mempertimbangkan berbagai hal. Harga dikatakan mahal, murah,
atau biasa -biasa saja bagi setiap individu tidaklah harus sama, karena
tergantung dari individu yang dilatar belakangi oleh lingkungan kehidupan dan
kondisi individu.
Fandy Tjiptono (2017:56) menyatakan “bahwa harga merupakan satuan
moneter atau ukuran lainnya yang ditukarkan agar memperoleh hak
kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa”. Harga merupakan
komponen yang berpengaruh terhadap laba perusahaan.
Harga membutuhkan pertimbangan yang cermat, sehubungan dengan
sejumlah dimensi strategi harga :
1) Harga merupakan pernyataan nilai dari suatu produk, nilai adalah rasio atau
perbandingan antara persepsi terhadap manfaat dengan biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk mendapatkan produk.
2) Harga merupakan aspek yang tampak jelas bagi para konsumen, tidak jarang
harga dijadikan semacam indikator dalam keputusan pembelian konsumen.
3) Harga adalah determinan untuk permintaan, berdasarkan hukum permintaan,
besar kecilnya harga mempengaruhi kualitas produk yang dibeli oleh
konsumen. Semakin mahal harga, semakin dikit jumlah permintaan atas
produk yang bersangkutan dan sebaliknya jika harga murah maka
permintaan produk akan meningkat.
4) Harga berkaitan langsung dengan pendapatan dan laba. Harga adalah salah
satu unsur bauran pemasaran yang mendatangkan pemasukan bagi
perusahaan, yang pada gilirannya berpengaruh pada besar kecilnya laba dan
pangsa pasar yang diperoleh.
5) Harga bersifat fleksibel, artinya bisa disesuaikan dengan cepat. Dari empat
unsur bauran pemasaran tradisional, harga merupakan elemen yang paling
mudah diubah dan diadaptasikan dengan dinamika pasar.
6) Harga mempengaruhi citra dan positioning. Dalam pemasaran jasa persetius
yang mengutamakan citra kualitas dan ekslusivitas, herga menjadi unsur
penting. Harga yang mahal dipersepsikan mencerminkan kualitas yang
tinggi dan sebaliknya.
7) Harga merupakan masalah nomer satu yang dihadapi para manajer,
sebaliknya ini ditunjukan oleh empat level konflik potensial menyangkut
aspek harga, diantaranya :
a) Konflik internal perusahaan.
b) Konflik dalam saluran distribusi.
c) Konflik dengan pesaing.
d) Konflik dengan lembaga pemerintahan dan kebijakan publik.
Indikator Kualitas Produk
Menurut (Gito Sudarma 2018) mengungkapkan indikator yang dapat
digunakan untuk mengukur kualitas produk yaitu:
a. Berbagai macam variasi produk
b. Daya tahan produk
c. Kualitas produk sesuai dengan spesifikasi dari konsumen
d. Penampilan kemasan produk (estetika)
e. Salah satu merek yang terbaik di industrinya
Karateristik Kualitas produk
Pride dan Ferel (2010) mengatakan bahwa kualitas produk mengacu
pada keseluruhan karateristik dari sebua produk yang menggambarkan
peforma produk sesuai yang di harapkan oleh pelanggan dalam
memenuhi dan memuaskan keinginan pelanggan.terhadap dua dimensi
dalam kualitas produk menurut Pirde dan Ferrel (2010) yaitu :
a. Level of quality
yang merupakan jumlah kualitas yang dimiliki oleh suatu produk. Hal
ini menjelaskan bahwa kualitas suatu produk sulit untuk di jelaskan
kecuali produk tersebut di bandingan dengan produk lainya
b. Consistency of quality
Yang mengaju pada sejauh mana suatu produk memiliki kualitas
pada level yang sama dalam waktu yang lama. Konsisten berarti
memberikan konsumen kualitas yang mereka harapkan setiap Ketika
mereka membeli suatu produk.
c. Produk yang diharapkan merupakan sekumpulan atribut dan kondisi
yang di harapkan pada saat pelangan membeli.
d. Produk yang di tingkatkan, memberikan jasa dan manfaat tambahan
sehingga membedakan penawaran Perusahaan
e. Produk potensial, yaitu segala tambahan dan transformasi pada
produk yang mungkin akan dilakukan dimasa yang akan datang
Tingkat kualitas produk
Berdasarkan levelnya, menurut Khotler dan Keller (2012) produk
dapat di bagi menjadi lima tingkatan, yaitu:
a. Produk inti, yang menawarkan manfaat dan kegunaan utama yang di
butuhkan pelangan.
b. Produk dasar, mencerminkan fungsi dasar dari suatu produk.
c. Produk yang diharapkan merupakan sekumpulan atribut dan kondisi
yang diharapkan pada saat pelangan membeli
d. Produk yang di tingkatkan, memberikan jasa dan manfaat tambahan
sehingga membedakan penawaran perusahaan
e. Produk potensial, yaitu segala tambahan dan transformasi pada produk
yang mungkin akan dilakukan dimasa yang akan datang
Dimensi Kualitas produk
Dimensi kualitas produk menurut Fandy Tjiptono (2017) yaitu:
a. Performace (Kinerja)
Merupakan karateristik oprasi dan produk inti (core produck) yang di
beli misalnya kecepatan kemudahan dan kenyamanan dalam
penggunaan.
b. Durability (daya tahan)
Yang berati daya tahan menunjukan usia produk, yaitu jumbla
pemakaiyan suatu produk sebelum produk itu digantikan atau rusak.
Semakin lama dayatahannya tentu semakin awet, produk yang awet
akan di persepsikan lebih berkualitas dibanding produk yang cepa tabis
atau cepat diganti.
c. Conformance to specifocations (kesesuaian dengan spesifikasi )
Yaitu kesesuaian sejau mana karateristik desain dan operasi
memenuhi standar yang telah di tetapkan sebelimnya. Misalnya
pengawasan kualitas dan desain,standar karateristik oprasional adalah
kesesuaian kinerja produk dengan standar yang dinyatakan suatu
produk. Ini semacam “janji” yang harus di penuhi oleh produk. Produk
yang memiliki kualitas dari dimensi ini berartisesuai dengan standarnya.
d. Features (fitur)
e. Merupakan karateristik atau ciri ciri tambahan yang melengkapi
manfaat dasar suatu produk.fitur bersifat pilihan atau option bagi
konsumen.fitur bisa meningkatkan kualitas produk jika kompetitor
tidak mrmiliki fitur tersebut
f. Aesthetics (estetika)
Yaitu daya tarik produk terhadap panca indra, misalkan bentuk fisik,
model atau desain yang artistik, warnah dan sebagainya
Indikator Citra Merek
Menurut Kotler dan Keller (2016;347) indikator Citra Merek
(brand image) di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Keunggulan asosiasi merek,
Salah satu faktor pembentuk brand image adalah keunggulan produk,
di mana produk tersebut unggul dalam persaingan. Keunggulan
kualitas seperti model dan kenyamanan serta ciri khas itulah yang
menyebabkan suatu produk mempunyai daya tarik tersendiri bagi
konsumen.
Strategi Pengembangan Merek
Menurut Kotler dan Armstrong (2014: 272), terdapat empat strategi
dalam menentukan nama merek yang akan digunakan, yaitu:
a. Perusahaan Lini (Line Extentions) Strategi ini dilakukan dengan
cara perusahaan memperkenalkanberbagai jenis produk atau jasa
dalam sebuah kategori produk atau jasa yang ada di bawah nama
merek yang sama.
b. Perluasan Merek (Brand Extentions) Usaha yang dilakukan
perusahaan untuk menggunakan nama merek yang sudah berhasil
untuk meluncurkan produk baru atau produk yang dimodifikasi
dalam kategori yang baru.
c. Multi Merek (Multibrands) Perusahaan mengelola berbagai nama
merek dalam perusahaan pada kategori yang ada untuk
mengemukakan fungsi dan manfaat yang berbeda.
d. Merek Baru (New Brands) Perusahaan menciptakan sebuah nama
merek baru ketika memasuki kategori produk baru.
Peran Merek
Menurut Kotler dan Keller dalam Marketing Management (2016:322,
merek diidentifikasikan sumber atau pembuat produk dan memungkinkan
konsumen baik individual maupun organisasi untuk menetapkan tanggung
jawab pada distributor tertentu. Beberapa peran merek, yaitu:
a. Merek menunjukkan fungsi-fungsi yang bernilai bagi perusahaan.
b. Merek menyederhanakan penanganan atau penelusuran produk.
c. Merek menawarkan perlindungan hukum yang kuat untuk fitur atau
aspek produk yang unik.
d. Nama merek dapat dilindungi oleh paten, pengemasan dilindungi
melalui merek dagang yang terdaftar sedangkan proses manufacturing
dapat dilindingi oleh hak cipta dan rancangan.
e. Merek membantu untuk mengorganisasikan catatan inventori dan
catatan akunting
f. Melalui merek dapat dilakukan investasi secara aman dan
mempengaruhi keuntungan dari aset yang bernilai.
g. Merek dapat menandakan satu tingkat mutu tertentu sehingga pembeli
yang puas dapat lebih mudah memilih produk
Citra merek yang kuat
Perusahaan dapat mengambil beberapa upaya untuk membangun
citra merek yang kuat.
a. Menciptakan kepribadian merek, yaitu kesan apa yang ingin
disampaikan perusahaan melalui mereknya. Kepribadian menentukan
ikatan antara pelanggan dan merek.
b. Menciptakan kepribadian merek, atau kesan yang ingin disampaikan
perusahaan melalui mereknya. Kepribadian menentukan ikatan antara
pelanggan dan merek,
c. Mengembangkan merek yang mudah diingat. Ini adalah cara yang
bagus untuk membuat merek melekat di benak orang, memudahkan
mereka untuk mengaitkan nama merek dengan kepribadian merek dan
penawaran perusahaan. Ini akhirnya mendorong mereka untuk terlibat
lebih dalam.
d. Membuat proposisi penjualan yang unik. Ini membedakan merek
perusahaan dari merek pesaing dan itulah sebabnya pelanggan mau
membeli.
e. Memperkuat kesan merek melalui kampanye iklan atau bauran
promosi lainnya. Perusahaan memastikan pesan yang mereka
sampaikan konsisten di seluruh saluran promosi dan dengan citra
merek. Faktor biaya biasanya menjadi pertimbangan lain
f. Mempertahankan proposisi nilai kompetitif yang unik dari waktu ke
waktu. Ini menjadi tugas yang berat karena pasar dan persaingan yang
dinamis. Proposisi nilai perusahaan mungkin unik dan berbeda dari
pesaingnya. Namun, itu mungkin tidak lagi relevan dengan keinginan
konsumen. Atau, tidak kalah kompetitifnya karena para pesaing telah
berhasil menciptakan yang lebih baik.
Pentingnya Citra Merek dalam pemasaran
Citra merek sangat penting untuk pemasaran yang sukses dan
penjualan produk dan sumber keunggulan kompetitif. Jika perusahaan
memiliki citra merek positif yang kuat, pelanggan akan setia pada berbagai
lini produknya. Mereka bersedia membeli tanpa ragu. Dengan begitu, uang
pelanggan terus mengalir ke perusahaan.
Secara garis besar, citra merek yang kuat menguntungkan
perusahaan karena alasan berikut:
a. Kehadiran merek yang sukses dan terbukti menciptakan loyalitas
pelanggan. Kenaikan harga biasanya tidak mempengaruhi minat
pelanggan terhadap produk perusahaan. Dengan kata lain, akan terjadi
permintaan yang elastis.
b. Memberikan kesempatan untuk menawarkan harga premium. Meski
harganya lebih mahal, konsumen tetap menginginkannya. Ambil produk
wardah, misalnya. Saat meluncurkan varian baru, konsumen rela
membelinya bahkan mau membelinya meskipun harganya lebih mahal
dari produk Viva.
c. Ketika citra merek yang kuat dan reputasi kualitas memudahkan
perusahaan untuk menarik pelanggan baru. Upaya perusahaan untuk
menarik pelanggan baru mungkin lebih ringan. Pelanggan sering dengan
senang hati merekomendasikannya kepada teman atau anggota keluarga
mereka.
d. Citra merek yang kuat mengurangi biaya pemasaran untuk lini produk
baru. Jika seorang pelanggan memiliki koneksi yang kuat terhadap suatu
merek, mereka pasti akan menyukai produk lain dari merek tersebut.
Oleh karena itu, wardah atau produk lainya memanfaatkan kesuksesan
produk untuk mebuat produk barunya.
e. Citra merek pada akhirnya bertindak sebagai penghalang masuk.
Loyalitas yang tinggi meningkatkan biaya peralihan. Mereka ragu
untuk beralih ke merek pesaing, apalagi merek in-house baru.
Citra Merek (Brand Image)
Brand image adalah tanggapan konsumen akan suatu merek yang
didasarkan atas baik dan buruknya merek yang diingat konsumen Keller &
Swaminathan, (2020:3). Ingatan yang konsumen tersebut tentunya dibentuk
oleh pengalaman menggunakan produk tersebut atau persepsi dan pendapat
konsumen lain Seperti yang diungkapkan oleh Firmansyah (2019:60) bahwa
brand image adalah suatu persepsi yang muncul di benak konsumen ketika
mengingat suatu merek dari jajaran produk tertentu.
Selanjutnya pengalaman tersebut dilukiskan atau digambarkan pada
merek, sehingga menimbulkan citra merek positif atau negatif tergantung
pada berbagai pengalaman dan citra merek atau perusahaan sebelumnya.
Melanjutkan pendapat di atas, Setiadi (2016;109) mengungkapkan bahwa
brand Image adalah representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan
dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merek itu
sendiri. Dengan demikian segala informasi dan pengalaman masa lalu akan
menjadi suatu representasi yang akan menciptakan persepsi konsumen
terhadap merek.
Sementara itu menurut menurut Kotler & Keller (2016;315) brand
image adalah persepsi dan keyakinan konsumen yang tercermin dalam asosiasi
yang terjadi dalam ingatan konsumen. Asosiasi-asosiasi itu akan menyamakan
22
serta membedakan produk serupa dengan merek yang berbeda. Brand image
adalah citra pembeda yang dihasilkan serta digunakan sebagai pembanding
dalam asosiasi-asosiasi tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2016) Citra Merek adalah persepsi
konsumen tentang suatu merek sebagai refleksi dari asosiasi yang ada dalam
pikiran konsumen. Menurut Tjiptono (2015:49) Citra Merek adalah deskripsi
asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu. Citra Merek
merupakan petunjuk yang digunakan oleh konsumen untuk mengevaluasi
sebuah produk ketika tidak memiliki sebuah pengetahuan yang cukup
tentang suatu produk tersebut.
Brand Trust
Produsen dapat membangun dan mempertahankan hubungan emosional
yang positif dengan pelanggan mereka. Hubungan emosional yang positif ini harus
berlangsung lama dan berkelanjutan.
Pengukuran variabel brand trust menggunakan dua indikator (DelgadoBallester & Munuera-Alemán, 2005):
- Brand Reliability: kehandalan merek yang didasarkan pada kepercayaan
pelanggan, bahwa produk tersebut mampu memberikan dan memenuhi nilai
yang dijanjikan dan memberikan kepuasan. Sehingga konsumen merasa aman
dan tidak terancam jika menggunakan produk tersebut. - Brand Intention: motivasi merek yang didasarkan pada kepercayaan pelanggan,
yang menunjukkan bahwa produk tersebut mampu memenuhi kepentingan
konsumen saat masalah muncul tidak terduga atas apa yang dirasakan
konsumen. Hal ini menggambarkan aspek kepercayaan konsumen terhadap
seberapa besar merek yang digunakan dapat melindungi mereka dari situasi tak
terduga setelah menggunakan merek tersebut.
Faktor-Faktor Brand Trust
Brand trust, dipengaruhi oleh tiga faktor utama (Lau, G. & Lee, 1999),
yaitu:
- Brand Characteristic: Atribut merek yang terkait dengan kepercayaan merek
misalnya memainkan peran penting dalam keputusan konsumen tentang merek
mana yang akan mereka beli karena konsumen melakukan evaluasi sebelum
melakukan pembelian:
a. Brand Reputation: Reputasi merek menunjukkan kepada konsumen bahwa
merek tersebut baik dan dapat dipercayai. Merek yang memiliki reputasi
yang baik akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap merek
tersebut.
b. Brand Predictability: Pelanggan dapat memprediksi merek mana yang akan
mereka beli karena prediktabilitas merek dikaitkan dengan kualitas produk
yang konsisten. Ini dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap
merek tersebut.
c. Brand Competence: Merek yang kompeten dapat menangani masalah dan
memenuhi kebutuhan pelanggan. Pelanggan mengetahui tentang merek
melalui komunikasi langsung atau mouth to mouth, dan jika merek dapat
memenuhi kebutuhannya, pelanggan dapat mempercayainya. - Company Characteristics: Karakteristik perusahaan di balik suatu merek juga
dapat mempengaruhi sejauh mana pelanggan mempercayai merek tersebut.
Pengetahuan pelanggan tentang merek perusahaan kemungkinan besar akan
mempengaruhi sejauh mana mereka mempercayai merek tersebut. - Consumer-Brand Characteristics: Konsumen dan merek saling mempengaruhi
dalam hubungan mereka; oleh karena itu, atribut merek konsumen dapat
mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap merek tersebut.
Brand Trust
Penelitian sebelumnya mengatakan ,bahwa brand trust didefinisikan
sebagai sebuah perasaan aman yang muncul dari dalam diri seorang konsumen
terhadap interaksinya dengan sebuah merek tertentu (Huang, 2017). Brand trust
juga dapat didefinisikan sebagai tingginya tingkat kemauan konsumen untuk
mempercayai kemampuan suatu merek (Xie et al., 2017). Kepercayaan ini dapat
ditunjukkan dengan tingkat konsistensi konsumen yang percaya bahwa suatu
produk akan selalu mengedepankan kebutuhan dan manfaatnya (Song et al., 2019).
Brand trust memiliki peran mendasar dalam proses mempertahankan
hubungan jangka panjang yang bersifat positif antara pelanggan dengan merek
tertentu (Frasquet et al., 2017). Ketidakpastian seorang pelanggan terhadap kinerja
suatu merek dapat mengakibatkan terjadinya peluang kegagalan layanan.
Kegagalan layanan tersebut akan berujung pada munculnya persepsi negatif
konsumen terhadap performa suatu merek (Huang, 2017). Konsumen dengan
tingkat kepercayaan yang tinggi, percaya bahwa suatu merek akan berusaha
memperbaiki kinerjanya untuk melihat para pelanggannya puas (Xie et al., 2017).
Pengukuran Brand Image
Menurut (Keller & Swaminathan, 2020a) brand image diukur dari tiga
komponen berikut:
- Strength / kekuatan: Kualitas asosiasi merek bergantung pada jumlah atau
volume data yang diproses pada awalnya serta sifat atau kualitas data tersebut.
Pengetahuan merek yang lebih kuat dihasilkan oleh pemahaman yang lebih
mendalam tentang merek dan hubungannya dengan pengetahuan sebelumnya. - Favorability / kesenangan: Asosiasi merek yang disukai adalah yang diinginkan
pelanggan, didukung oleh program pemasaran, dan dikomunikasikan dengan
baik melalui produk. Hal ini dapat terkait dengan produk atau elemen tidak
berwujud yang tidak terkait dengan produk, seperti penggunaan foto. - Uniqueness / keunikan: Untuk menciptakan tanggapan berbeda oleh pelanggan,
pemasar harus menunjukkan perbedaan yang unik dan bermakna bertujuan
memberikan keunggulan kompetitif dan alasan mengapa konsumen harus
membelinya. Asosiasi merek berperan sebagai titik kesetaraan di mata
konsumen untuk menciptakan citra dan menghilangkan potensi perbedaan
dengan kompetitor. Dengan kata lain, tujuan mereka adalah untuk mencegah
orang memilih merek tertentu.
Faktor-Faktor Brand Image
Untuk menciptakan brand image yang positif, program pemasaran yang
saling menghubungkan asosiasi merek yang kuat, memberikan keuntungan, dan
memperkuat ingatan dan kesan yang ditimbulkan merupakan hal sangat penting.
Brand image yang dapat dilihat dari asosiasi merek yang dipengaruhi tiga faktor
(Keller & Swaminathan, 2020a):
- Strength of brand association: Hubungan merek seseorang semakin kuat ketika
seseorang mempertimbangkan detail produk dan mengaitkannya dengan
informasi merek lainnya. Sebuah asosiasi dengan merek tertentu tidak hanya
bergantung pada kekuatan asosiasi itu sendiri, tetapi juga pada relevansi pribadi
dan konsistensi penyampaian informasi dari waktu ke waktu. - Favourable of brand association: Dengan meyakinkan pelanggan bahwa merek
memiliki fitur dan manfaat yang memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka,
pemasar menciptakan asosiasi merek yang menguntungkan. Pelanggan tidak
menganggap semua asosiasi merek sama pentingnya, tidak memandang mereka
secara positif, dan tidak mengkritik mereka dengan cara yang sama ketika
mereka membeli atau menggunakan barang apa pun. - Uniqueness of brand association: Sebuah merek memiliki fitur khusus atau
keuntungan jangka panjang yang mendorong konsumen untuk membelinya.
Dengan membandingkannya dengan pesaing atau memperhatikan secara tidak
langsung, pemasar dapat menjelaskan perbedaan khusus ini. Afiliasi dapat
didasarkan pada apakah kinerja terkait dengan atribut atau keuntungan.
Evaluasi Brand Image
Kinerja (Performance), yang merupakan fitur utama produk,
serta fitur yang melengkapi kinerja dasar; keandalan (Reliability), yang
mengindikasikan probabilitas kegagalan dan frekuensi perbaikan (Reliability);
tingkat pemenuhan kriteria probabilitas kemudahan servis (Serviceability) seperti
kesesuaian produk, daya tahan (durability) yang mengindikasikan jangka waktu
penggunaan hingga kerusakan, kemudahan servis seperti kemudahan perbaikan,
dan keindahan (Aesthetics). Terakhir, adalah kualitas yang dipersepsikan
(Perceived Quality), yang mencakup hal-hal seperti brand image dan iklan.
Hipotesis ini adalah keyakinan bahwa kualitas terdiri dari delapan aspek yang
tercantum di atas (Garvin, 1987).
Dua bagian terakhir adalah yang paling subyektif, terdiri atas kualitas seperti
penampilan, kesan, suara, rasa, dan bau. Semua ini adalah masalah pendapat
pribadi; semua ini hanyalah cerminan selera pribadi. Ini ternyata merupakan konsep
yang sama dengan nilai emosional. Nobeoka mendefinisikan nilai fungsional
sebagai spesifikasi objektif dan daya tahan, desain subjektif dan pengalaman
pelanggan sebagai nilai emosional. Oleh karena itu, penekanannya ditempatkan
pada fakta bahwa ranah kompetitif saat ini telah beralih ke nilai emosional.
Dalam hal kualitas dan citra merek, telah ditunjukkan bahwa kualitas
layanan memiliki dampak yang baik terhadap brand image dan kepuasan pelanggan
(Kato & Tsuda, 2018).
Dimensi Brand Image
Brand image tidak terlepas dari dimensi-dimensi yang mempengaruhi
didalamnya. Menurut (Kotler et al., 2019) memiliki beberapa dimensi :
- Identitas merek (brand identity) merupakan komponen atau fitur yang terkait
dengan logo produk, identitas perusahaan, kombinasi warna, bentuk, label
kemasan, motto atau slogan, dan lainnya. Identitas merek membantu pelanggan
dan konsumen memahami merek dan membedakannya dengan merek lain. - Personalitas merek (brand personality) adalah atribut atau fitur khusus yang
digunakan oleh sebuah merek untuk memudahkan konsumen membedakannya
dari merek lain. Karakteristik personalitas merek ini memiliki sikap tegas,
senyuman yang tulus, kehangatan, rasa sayang, jiwa sosial, dinamis, kreatif, dan
mandiri. - Asosiasi merek (brand association) merupakan simbol dan makna yang sangat
kuat, serta berbagai hal yang berhubungan dengan merek. - Perilaku dan sikap merek (brand attitude and behaviour) terkait dengan sikap
dan perilaku komunikasi serta hubungan merek dengan pelanggannya dalam
memberikan nilai atau keuntungan produk. Termasuk dalam kategori ini adalah
persepsi dan perilaku konsumen, perilaku karyawan perusahaan yang memiliki
merek, perilaku pemilik merek, dan aktivitas serta atribut yang melekat pada
merek saat berinteraksi dengan pelanggan.
Namun, menurut teori lain, ada dimensi kelima (5), yaitu kompetensi dan
manfaat merek. Kompetensi merek dan keuntungan (brand competence and
benefit) adalah nilai, keunggulan, dan kemampuan unik yang ditawarkan oleh
sebuah merek kepada konsumen untuk menyelesaikan masalah mereka. Nilai-nilai
ini memungkinkan konsumen untuk mendapatkan manfaat karena kebutuhan,
keinginan, impian, dan obsesi mereka diwujudkan dengan apa yang ditawarkan
oleh merek. Nilai dan keuntungan di sini dapat berfungsi (Keller, 1993). Manfaat,
keunggulan dan kompetensi khas dari sebuah merek akan mempengaruhi citra
merek dari produk, individu atau institusi dan perusahaan
Pengertian Brand Image
Beberapa perusahaan mengelola brand image sebagai aset dalam rangka
mencapai target suatu produk tertentu. Namun pada kenyataannya, beberapa
perusahaan tidak menguasai bagaimana menentukan brand image yang tepat
sasaran dan memiliki citra positif di masyarakat. Banyak perusahaan yang secara
tidak konsisten menciptakan brand image di mata pelanggan yang akhirnya
merugikan citra perusahaan itu sendiri. Sedikit yang memahami dimensi-dimensi
apa saja yang mempengaruhi brand image suatu perusahaan untuk menciptakan
persepsi yang “berkualitas”, dan diyakini dapat dipromosikan ke seluruh pelanggan
sehingga memperoleh kesan yang baik dari pengalaman yang dirasakan. Gambaran
merek, juga dikenal sebagai “brand image”, didasarkan pada informasi dan
pengalaman pelanggan sebelumnya dengan merek tertentu (Keller & Swaminathan,
2020).
Konsistensi dari pembentukan brand image adalah sesuatu yang sangat
penting. Menghadirkan brand image yang konsisten dengan produk dan promosi
dapat meningkatkan ketertarikan dan kepercayaan pelanggan. Selain itu, ada
keuntungan besar lainnya dalam strategi manajemen perusahaan. Bahkan jika
kinerja brand image memiliki reputasi dan konsistensi yang baik akan sangat susah
ditiru oleh pesaing. Tugas perusahaan adalah bagaimana membentuk brand image
yang memberi kesan pada pelanggan. Citra merek (brand image) sangat erat
berhubungan dengan sikap dan perilaku konsumen yang berupa preferensi terhadap
suatu merek (Espíndola, 2020).
Brand Image memiliki peranan sangat penting dalam mengembangkan
sebuah merek karena brand image sendiri memiliki keterkaitan dengan reputasi dan
kredibilitas perusahaan yang akan menjadi acuan untuk bagaimana pelanggan terus
mencoba dan membeli bahkan menggunakan sebuah produk atau jasa sehingga
dengan sendirinya menciptakan kesan dan persepsi yang berakhir dengan sebuah
pengalaman tertentu yang menentukan apakah keputusan pelanggan menjadi loyal
(loyalis) atau mudah berpindah ke produk tertentu (oportunis). Merek merupakanbagian penting dari hubungan bisnis dengan pelanggannya, lebih dari sekedar nama
atau simbol (Kotler et al., 2019). Jika konsumen memiliki kesan positif terhadap
suatu merek, konsumen cenderung membeli produk tersebut lagi. Sebaliknya, jika
citra merek bersifat negatif, konsumen cenderung tidak akan membeli produk
tersebut lagi (Mcpheron, 2021). Persepsi konsumen tentang sebuah merek yang
membentuk kepercayaan (brand trust) mereka terhadapnya disebut brand image.
Tiga komponen utama membentuk brand image: (1) Corporate image
adalah gambaran yang dimiliki pelanggan tentang perusahaan dengan produk
tertentu, seperti kredibilitas, popularitas, jaringan perusahaan, dan segmen
pasarnya. (2) User image adalah gambaran yang dimiliki pelanggan tentang
menggunakan produk, seperti gaya hidup dan status sosial. (3) Product image
adalah gambaran pelanggan tentang fitur produk (Caputo, 2021).
Brand image dipengaruhi oleh beberapa faktor, (1) Kesesuaian ekonomi
(Economic fit), yaitu kesesuaian antara merek dan harga yang ditawarkan, adalah
salah satu faktor yang mempengaruhi citra merek. (2) Kesesuaian simbolik
(Symbolic fit) adalah kesesuaian keuntungan simbolik yang dinikmati konsumen
ketika mereka ingin membeli barang dengan merek tersebut, seperti meningkatkan
prestise atau gengsi, mengidentifikasi ego atau kebanggaan saat menggunakan
merek tersebut, dan sebagainya. (3) Kesesuaian sensori (Sensory fit) meliputi
kesesuaian perasaan atau pengalaman dengan situasi ketika menggunakan produk
dari merek tersebut yang dapat memberikan kesan positif terhadap merek tersebut.
(4) Kesesuaian futuris (Futuristic fit) meliputi hal-hal yang terkait dengan masa
depan (Chernev, 2020).
Hubungaan Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian
Brand image memberikan pendorong untuk keputusan pembelian karena
menurut Firmansyah (2019) merek yang sangat kuat ditandai dengan dikenalnya
suatu merek oleh masyarakat dan tingginya asosiasi merek pada suatu produk
dan terbentuknya persepsi positif dari pasar. Citra merek perlu dijaga dan
dikembangkan agar memberikan pengaruh yang lebih menguntungkan bagi
perusahaan. Dari penjelasan tersebut, salah satu alasan yang mendorong
perusahaan memperkuat citra mereknya dimata konsumen adalah
kecenderungan konsumen melakukan keputusan pembelian terhadap merek
yang memiliki reputasi baik. Hal ini sesuai dengan penelitian Regie Ardiansa
dan Salim Siregar (2022) bahwa brand image memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap proses keputusan pembelian.
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) terdapat lima indikator
keputusan pembelian yaitu sebagai berikut :
- Pemilihan Produk
Konsumen memiliki pilihan untuk membelanjakan uangnya untuk hal
lain atau membeli suatu produk. Perusahaan harus memusatkan
perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah produk
dan alternatif yang mereka pertimbangkan. Indikator yang dapat ditarik
misalnya: kebutuhan suatu produk, keberagaman varian produk dan
kualitas produk. - Pemilihan merek
Pembeli dihadapkan pada pilihan tentang merek mana yang akan dibeli.
Setiap merek memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan
harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
Misalnya: kepercayaan dan popularitas suatu merek. - Pemilihan Penyalur
Pembeli harus memilih penyalur mana yang akan dikunjungi. Setiap
pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda dalam hal
menentukan penyalur bisa dikarenakan oleh faktor lokasi yang dekat,
harga terjangkau, persediaan produk yang lengkap dan lain-lain. - Waktu Pembelian
Waktu pengambilan keputusan pembelian konsumen mungkin bisa
berbeda-beda. Misalnya membeli sebulan sekali atau tiga bulan sekali. - Metode Pembayaran
Pembeli memiliki kebebasan untuk memilih cara pembayaran saat
mereka memutuskan untuk membeli suatu produk.
Tahapan Proses Keputusan Pembelian
Tahapan-tahapan dari suatu pembelian menurut Kotler (2005:224)
adalah sebagai berikut :
- Pengenalan Masalah, proses pembelian dimulai saat pembeli
menentukan kebutuhan dan kesulitan. Ada kemungkinan pemicu internal
atau eksternal menyebabkan persyaratan ini. - Pencarian Informasi, proses pengambilan keputusan pembeli dimana
konsumen tergerak untuk mencari informasi tambahan, konsumen
mungkin sekedar meningkatkan perhatian atau mungkin pula mencari
informasi secara aktif. - Evaluasi Alternatif, Setelah pencarian informasi, pelanggan akan
menghadapi berbagai pilihan mengenai produk yang sejenis. Pemilihan
alternatif ini melalui beberapa tahap suatu proses evaluasi tertentu. Yang
pertama adalah sifat-sifat produk, bahwa setiap konsumen melihat suatu
produk sebagai kumpulan dari sifat atau ciri tertentu dan disesuaikan
dengan kebutuhannya. - Keputusan Pembelian, dalam tahap evaluasi, konsumen menciptakan
preferensi antar merek dalam kumpulan pilihan. Konsumen juga
membuat rencana untuk membeli barang yang disukai. Dalam
melaksanakan maksud pembelian, konsumen dapat membentuk lima sub
keputusan: merek, penyalur, jumlah waktu dan metode pembayaran. - Perilaku Pasca Pembelian, Tingkat kemiripan kinerja produk yang
diraskan dan aktual menentukan kepuasan pelanggan. Jika kinerja tidak
memenuhi harapan, konsumen kecewa, jika memenuhi harapan maka
konsumen puas. Perasaan ini menentukan apakah pelanggan membeli
produk kembali dan menjadi pelanggan setia.
Pengertian Promosi
Salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran
yaitu promosi. Menurut Warren & Keegan (2017) menyatakan bahwa
promosi mengacu pada program komunikasi konsumen atau penjualan yang
dibayar dengan durasi terbatas yang meningkatkan nilai suatu produk atau
merek. Sedangkan menurut Maulana (Puspita, 2020) promosi yang
dilakukan melalui penjualan langsung merupakan cara yang efektif untuk
menarik pelanggan dengan tujuan yang tepat, yang dapat diukur dan dapat
membantu mempertahankan pelanggan melalui penjualan langsung dengan
memberikan notifikasi dan promosi secara langsung pada tiktokshop.agar
mereka bersedia membelinya dan tetap loyal terhadap perusahaan yang
bersangkutan.
Indikator Brand Image
Menurut Aaker & Biel (Keller dan Swaminathan, 2020:239) berikut
adalah beberapa indikator yang bisa digunakan untuk menilai dan mengukur
brand image :
- Citra perusahaan (corporate image) merupakan kumpulan asosiasi
yang ada dalam pemikiran pelanggan terhadap perusahaan yang
memiliki produk tertentu termasuk pelanggan, jaringan perushaan,
popularitas, dan kredibilitas. - Citra pemakai (user image) merupakan sekumpulan asosiasi yang
dipersepsikan dalam benak konsumen terhadap pengguna produk
tertentu seperti pemakai atau konsumen maupun pelanggan itu sendiri,
gaya hidup, maupun status sosial. - Citra produk (product image) merupakan serangkaian asosiasi yang
dipersepsikan konsumen terhadap suatu merek produk seperti kualitas
produk, atribut produk, harga, keunggulan, manfaat, serta garansi.
Faktor – Faktor Brand Image
Menurut Kotler, Keller, Brady, Goodman, Hansen (2019), Sahney
(2016), Aaker (2011), dimensi-dimensi utama yang mempengaruhi dan
membentuk brand image, yaitu:
- Identitas merek (brand identity) yaitu ciri atau karakteristik yang
berhubungan dengan identitas merek atau logo produk, skema, warna
kemasan, bentuk dan label, motto atau slogan dan lain sebagainya.
Tujuan identitas merek guna untuk mempermudah konsumen dalam
mengenali produk dengan merek tertentu dan membedakan dengan
produk lain maupun merek pesaing. - Personalitas merek (brand personality) merupakan ciri khas atau
kualitas yang dimiliki sebuah merek guna mempermudah konsumen
maupun pelanggan dalam membedakannya dengan merek lain pada
kategori yang sama seperti karakter yang tegas, kemurahan senyuman,
kehangatan, rasa sayang, jiwa sosial, dinamis, kreatif, kemandirian, dan
lain sebagainya. - Asosiasi merek (brand association) merupakan sejumlah hal yang
terhubung dengan sebuah merek, termasuk penawaran produk khusus,
sponsorship dan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan, perhatian
terkait merek, simbol-simbol yang berbeda, dan makna yang terkait erat
dengan sebuah merek. - Sikap dan perilaku merek (brand attitude and behavior) yaitu seperti
halnya interaksi antara merek dengan pelanggannya dalam menawarkan
nilai atau manfaat produk, sikap dan perilaku merek berkaitan dengan
sikap atau perilaku komunikasi. Hal ini mencakup sikap dan perilaku
pelanggan, perilaku pemilik merek, perilaku karyawan perusahaan
pemilik merek, aktivitas dan atribut- atribut yang terkait dengan merek
saat berhubungan dengan pelanggan.
Pengertian Brand Image
Brand Image didefinisikan pembeli yang mempersepsikan citra
merek sebagai titik fokus suatu barang karena mencerminkan keyakinan,
ide, persepsi, dan sudut pandang individu maupun masyarakat terhadap
suatu merek (Huda, 2020). Citra merek berhubungan dengan sikap
konsumen yang berupa preferensi terhadap suatu merek. Menurut
Mcpheron (2021) dan Wardhana, et al. (2021) bahwa konsumen lebih
cenderung melakukan pembelian kembali suatu produk jika mereka
memiliki persepsi yang baik terhadap suatu merek tersebut. Namun
sebaliknya, jika citra pada suatu merek negatif, maka kemungkinan kecil
untuk terjadinya pembelian produk itu kembali. Citra merek merupakan
pemaknaan kembali dari seluruh kesan pelanggan terhadap suatu merek
yang didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman sebelumnya terhadap
merek tersebut (Coaker 2021).
Proses Keputusan Pembelian
Proses keputusan pembelian menurut (Kotler dan Armstrong, 2012) ada
5 tingkatan yang akan dilewati bagi pembeli dalam tahap keputusan
pembelian yitu:
- Pengenaalan Masalah (Problem Recoggnition) Pembeli mengawali
cara pembelian dikala mereka mengingat permasalahan ataupun
kebutuhan. Tujuan mengidentifikasi kebutuhan ini merupakan buat
membenarkan apakah terdapat kebutuhan serta kemauan yang
belum terpenuhi. - Pencarian Informasi (Information Search) Seseorang pembeli bisa
jadi terikat buat menekuni makin lanjut, namun bisa jadi pula tidak.
Data ada buat konsumen dari bermacam sumber, ialah:
a. Sumber Individu: Kerabat, teman, dan tetangga
b. Sumber Periklanan, broker, salesman, pengemasan dan
display adalah contoh sumber bisnis.
c. Organisasi yang memberikan umpan balik konsumen dan
media.
d. Penanganan produk, inspeksi, dan sumber pengalaman
aplikasi. - Evaluasi Alternatif (Evaluation of Alternatives)
Sesi keputusan pembeli di mana konsumen memakai data buat
mengevaluasi merk lain dalam serangkaian opsi diucap penilaian
alternatif. Pengaruh sumber energi yang dipunyai waktu, duit, serta
data dan resiko salah seleksi tidak lepas dari penilaian ini. - Keputusan Membeli (Purchase)
Selama fase evaluasi, pelanggan membentuk preferensi merek
dalam kumpulan pilihan. Karena loyalitas merek, pelanggan juga
dapat membentuk niat membeli. - Tingkah Laku Pasca Pembelian (Post Purchase Behavior)
Sesi cara keputusan pembelian dimana seseorang pembeli
mengumpulkan aksi bonus bersumber pada kepuasan sehabis
melaksanakan pembelian.
Keputusan Pembelian
Saat sebelum sikap pasca pembelian, keputusan pembelian ialah
tahapan dalam tata cara opsi pembelian. Pada sesi proses keputusan
pembelian sebelumnya, pelanggan dihadapkan pada sejumlah pilihan,
mendorong mereka untuk mengambil tindakan untuk melakukan pembelian
berdasarkan pilihan terbaik. Menurut (Ade Candra Gunawan, 2017)
Keputusan tentang apa yang akan dibeli sangat penting untuk pertumbuhan
perusahaan karena semakin banyak pelanggan yang dibutuhkan untuk
menjual barang atau jasa, semakin besar kemungkinan menghasilkan uang
dan membuat pelanggan datang kembali. Keputusan pembelian adalah pilihan
konsumen dalam menggabungkan informasi yang mengkombinasi untuk
memiliki pilihan dalam mengevaluasi setidaknya dua pilihan alternatif, dan
yang dapat digunakan untuk memilih salah satunya (Sangadji & Sopiah,
2013
Dimensi Kualitas Produk
Pelanggan sering menggunakan berbagai dimensi untuk mengevaluasi
kualitas produk. Dimelnsi kualitas produk terbagi menjadi delapan (Tjiptono,
2008), yaitu sebagai berikut:
- Hasil Produk (Perfomance) Pengoperasian karakter barang intgi
yangg digbeli dalam cara di mana suatu produk bekerja sehingga
pengguna dapat memanfaatkannya secara maksimal, sehingga
pengguna dapat memperoleh hasil maksimal dari produk yang
mereka gunakan. - Keistimewaan (Feature) Berdampingan dengan produk utama.
Fitur tambahan produk juga dapat digunakan untuk
membedakannya dari produk lain. Kepuasan pelanggan juga dapat
dipengaruhi oleh fitur yang diawetkan. - Keandalan (Realibility) Kepuasan konsumen terhadap suatu produk
ditentukan oleh rendahnya kemungkinan produk tidak terpakai atau
rusak serta resiko kerusakan produk. Tingkat kepuasan yang
dialami pelanggan menurun secara proporsional dengan tingkat
risiko yang mereka ambil sehubungan dengan produk tersebut. - Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to Specfication)
Mutu serta kinerrja barang penuhi persyaratan. Secara teori,
terdapat persyaratan ataupun standar buat tiap produk. ciri desain
operasional yang penuhi kriteria yang sudah didetetapkan. - Daya Tahan (Durability). Energi Tahan biasanya mengacu dalam
produk nan bisa disantap di masa era nan laama. - Kegunaan (Serviceability) Mencakup kelancaran, daya, keamanan,
gampang dirrparasi dan penindakan keluhkesah nan
menguntungkan. - Estetika (Aesthetics) Barang nan menarik bagi panca indera.
Pembeli terikat pada suatu barang saat mengetahui penampilan
awaal darii barang tersebuut. - Kualitas yang Dirasakan (Perceived Quality) kesan yang dialami
pembeli kepada mutu barang. Ukuran mutu ini berkaitan dengan
anggapan pembeli terhadap mutu barang ataupun merk.
Kualitas Produk
Kualitas barang merupakan salajh sadtu penentu pilihan pembelian
karena kualitas barang yang bagus akan membuat konsumen menjadi
pelanggan tetap (Fatmaningrum, 2020). Kualitas yang ada dalam pikiran
konsumen memiliki ruang lingkup sendiri, dan tidak seperti kualitas yang ada
dalam pikiran produsen ketika mengeluarkan produk, biasanya dikatakan
kualitas yang sebenarnya (Igir et al., 2018).
Bagi (Fetrizen & Aziz, 2019) Mutu benda yang baik ialah anggapan
pembeli yang wajib dipadati oleh industri, sebab mutu benda yang baik ialah
jalur mengarah pekembangan produktivitas industri. Sebagian riset
menampilkan kalau mutu produk ialah salah satu aspek yang mendesak atensi
pelanggan. Terus menjadi besar mutu produk, terus menjadi besar kemauan
pelanggan buat membeli (Salam, 2016).
Faktor Yang Mempengaruhi Brand Image
Berdasarkan (Keller, 2009) Dengan menggunakan aspek merek,
dimungkinkan untuk mengukur brand image. yaitu: strength of brand
association, favorability of brand association dan uniqueness of brand
association.
- Strengtth of braand assoociation: Semakin banyak orang akan
mendeskripsikan Informasi tentang produk dan koneksi ke
ekspansi merek yang ada memperkuat asosiasi merek. Strategi
komunikasi pemasaran yang dikembangkan merupakan strategi
komunikasi pemasaran jangka panjang yang konsisten yang
berpotensi meningkatkan persepsi publik terhadap merek. - Favorability of brand association: Sebuah produk berhasil
menyampaikan asosiasi yang menguntungkan melalui sarana
kampanye untuk komunikasi pemasaran yang mendukung merek
produk dan diharapkan oleh target audiens. Kapasitas merek untuk
mengingat klien dirujuk dalam ulasan positif. Bentuk yang
nyaman, produk yang dapat diandalkan, dan informasi yang dapat
disampaikan produk adalah beberapa asosiasi yang diantisipasi
pelanggan. - Uniqueness of brand association: Untuk meyakinkan pelanggan
untuk membeli produk, merek harus menawarkan manfaat jangka
panjang atau proposisi penjualan yang khas. Sejauh mana program
komunikasi pemasaran untuk asosiasi merek produk berbagi
elemen dengan program asosiasi merek barang lainnya, serta
sepanjang mana elemen komunikasi pemasaran berbeda dari merek
lain adalah dua aspek keunikan
Faktor-Faktor Pembentuk Brand Image
Menurut (Schiffman, 2012) Faktor Pendukung Berikut ini dapat
digunakan untuk menjelaskan bagaimana gambar merek terbentuk:
- Mutu atau kualitas mengacu pada kualitas barang yang dijual oleh
merek tersebut. - Dapat dipercaya, mengacu pada kesimpulan maupun kesepakatan
suatu produk dengan lingkungan sekitarnya. - Kegunaan atau manfaat, nan terikat atas peran dan kegunaan suatu
barang bagi pelanggan. - Pelayanan, yang berhubungan dengan kewajiban produsen untuk
membantu pelanggan - Resiko, yang didasarkan pada kemungkinan bahwa pelanggan akan
memperoleh atau kehilangan uang. - Harga, Jumlah yang dibelanjakan konsumen untuk suatu produk
disebut sebagai harga dalam konteks ini. Harga juga dapat
mempengaruhi reputasi dari waktu ke waktu. - Citra, yaitu dimiliki bagi keungguan itu sendiri serta disampaikan
melalui pendapat dan pengetahuan merek barang terpilih.
Brand Image
Brand image merupakan persepsi konsumen terhadap suatu merek, yang
terbentuk melalui berbagai asosiasi dan pengalaman yang terkait dengan merek
tersebut. Menurut Aaker (1991), brand image adalah kumpulan asosiasi merek yang
tertanam dalam memori konsumen, mencakup atribut, manfaat, dan sikap yang
melekat pada merek. Asosiasi-asosiasi ini dapat bersifat fungsional, simbolik, atau
emosional, dan berperan penting dalam membentuk persepsi konsumen terhadap
merek. Dalam konteks ini, brand image tidak hanya mencerminkan karakteristik
produk atau layanan, tetapi juga nilai-nilai, kepribadian, dan citra yang ingin
disampaikan oleh merek kepada konsumen. Persepsi ini terbentuk melalui interaksi
konsumen dengan berbagai elemen komunikasi merek, seperti iklan, promosi,
pengalaman pengguna, dan interaksi sosial.
Brand image terdiri dari beberapa komponen utama yang saling terkait. Salah
satu komponen utama dalam pembentukan brand image adalah asosiasi merek.
Asosiasi ini mencakup semua hal yang terlintas dalam pikiran konsumen saat
mendengar atau melihat suatu merek, seperti nama, logo, warna, slogan, hingga
pengalaman masa lalu. Asosiasi ini bisa bersifat positif maupun negatif tergantung
pada pengalaman dan informasi yang dimiliki konsumen. Semakin kuat dan
10
konsisten asosiasi tersebut terbentuk, maka semakin mudah merek dikenali dan
diingat oleh konsumen (Suyono, 2025).
Komponen kedua adalah kualitas yang dirasakan (perceived quality), yaitu
bagaimana konsumen memandang mutu dari produk atau layanan yang ditawarkan
oleh merek tersebut. Persepsi ini tidak selalu sejalan dengan kualitas objektif,
melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi dan pengalaman pribadi
konsumen. Brand image yang kuat sering kali diasosiasikan dengan persepsi
kualitas tinggi, bahkan meskipun harga produk tergolong premium (Nadia, 2015).
Kepribadian merek (brand personality) juga menjadi bagian penting dari citra
merek. Ini merujuk pada karakteristik manusiawi yang diasosiasikan dengan merek,
seperti “inovatif,” “ramah,” “mewah,” atau “berjiwa muda.” Kepribadian merek
membantu konsumen membangun hubungan emosional dengan produk atau jasa,
sehingga memungkinkan konsumen merasa “nyambung” atau memiliki keterikatan
dengan merek tersebut. Hal ini sangat berguna dalam pasar yang kompetitif, karena
kepribadian yang unik dapat membedakan merek dari pesaingnya (Yunaida, 2017).
Terakhir, citra simbolik dari merek berkaitan dengan makna sosial dan nilai
simbolik yang melekat pada sebuah merek di mata konsumen. Citra simbolik bisa
mencerminkan gaya hidup, status sosial, atau identitas tertentu. Konsumen tidak
hanya membeli produk untuk fungsi praktis, tetapi juga karena merek tersebut
“bermakna” bagi mereka. Misalnya, merek seperti Apple atau Nike tidak hanya
menjual produk, tetapi juga gaya hidup dan filosofi tertentu yang diikuti konsumen
(Putri, 2020).
Pembentukan brand image bukanlah proses yang instan, melainkan melalui
serangkaian faktor yang saling berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain.
Faktor-faktor ini dapat mencakup aspek internal yang dikelola oleh perusahaan,
seperti identitas merek dan komunikasi merek, serta faktor eksternal yang datang
dari pengalaman konsumen dan komunikasi dari mulut ke mulut. Semua faktor ini
memiliki peran penting dalam membentuk bagaimana konsumen memandang dan
merespons sebuah merek. Beberapa faktor yang memengaruhi pembentukan brand
image antara lain:
- Identitas Merek (Brand Identity)
Identitas merek merupakan representasi visual dan konseptual dari
bagaimana sebuah merek ingin dilihat dan diingat oleh konsumennya.
Komponen identitas merek meliputi nama merek, logo, warna, tipografi, gaya
komunikasi, serta visi, misi, dan nilai-nilai inti perusahaan. Identitas ini tidak
hanya bersifat estetis, melainkan juga strategis karena menjadi dasar untuk
membangun persepsi di benak konsumen. Identitas yang kuat dan konsisten
memungkinkan merek lebih mudah dikenali dan dibedakan dari pesaingnya,
serta menjadi landasan dalam membentuk kepercayaan dan loyalitas
konsumen. Ketika identitas merek selaras dengan ekspektasi dan kebutuhan
konsumen, maka akan memperkuat brand image secara keseluruhan. - Komunikasi Merek (Brand Communication)
Komunikasi merek adalah proses penyampaian pesan dari perusahaan
kepada konsumen mengenai apa yang merek tersebut tawarkan, apa nilai
uniknya, dan bagaimana konsumen seharusnya memaknainya. Komunikasi
ini dapat dilakukan melalui berbagai media, baik tradisional seperti iklan
televisi, radio, dan cetak, maupun digital seperti media sosial, website, dan
email marketing. Selain itu, aktivitas seperti sponsorship, kampanye sosial,
dan hubungan masyarakat juga termasuk dalam strategi komunikasi merek.
Konsistensi dalam menyampaikan pesan yang selaras dengan identitas merek
sangat penting untuk menciptakan brand image yang kuat dan mudah diingat.
Jika komunikasi merek dilakukan dengan cara yang menarik, informatif, dan
relevan dengan kebutuhan konsumen, maka hal ini dapat meningkatkan
kesadaran merek sekaligus membangun citra positif. - Word of Mouth (WOM)
Word of Mouth atau komunikasi dari mulut ke mulut adalah salah satu
faktor paling berpengaruh dalam pembentukan citra merek. WOM mencakup
semua bentuk rekomendasi, testimoni, atau ulasan yang diberikan oleh
konsumen kepada orang lain, baik secara langsung maupun melalui media
digital. Karena berasal dari pengalaman pribadi, WOM sering kali dianggap
lebih jujur, kredibel, dan dapat dipercaya dibandingkan promosi yang
dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. Dalam era digital saat ini, WOM
bahkan lebih berdampak luas karena dapat tersebar melalui platform ulasan
online, media sosial, dan forum komunitas. WOM yang positif dapat
memperkuat brand image secara signifikan, sedangkan WOM negatif dapat
merusak reputasi merek jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. - Pengalaman Konsumen (Customer Experience)
Pengalaman konsumen adalah semua bentuk interaksi yang terjadi
antara konsumen dengan merek, mulai dari saat pertama kali mengenal merek
hingga setelah melakukan pembelian. Ini mencakup pengalaman fisik,
emosional, dan psikologis yang dirasakan konsumen dalam setiap titik
kontak, seperti kualitas produk, kemudahan transaksi, pelayanan pelanggan,
hingga pengalaman pasca pembelian. Pengalaman yang menyenangkan dan
memuaskan akan menciptakan asosiasi positif terhadap merek, sehingga
memperkuat brand image. Sebaliknya, pengalaman buruk akan menimbulkan
persepsi negatif yang sulit diubah. Oleh karena itu, perusahaan harus fokus
pada penciptaan pengalaman konsumen yang konsisten, relevan, dan
bermakna agar citra merek tetap kuat dan positif di benak konsumen
(Pandiangan et al., 2021).
Perilaku pasca pembelian
setelah membeli sebuah produk, konsumen mungkin akan mengalami kepuasan atau
ketidakpuasan atas produk yang dibelinya. Perilaku yang terjadi pada tahap ini adalah bila
konsumen merasa puas maka ia akan mempertimbangkan untuk membeli produk yang sama pada
kesempatan berikutnya. Sedangkan konsumen yang tidak puas akan berusaha mengurangi
ketidakpuasannya itu dengan cara meninggalkan produk tersebut, menyampaikan keluhan kepada
perusahaan atau mungkin tidak melakukan tindakan apapun juga.
Proses pembelian dimulai jauh sebelum pembelian yang sebenarnya dan akan terus
berlangsung saat setelah pembelian. Namun dalam pembelian yang sudah menjadi rutinitas
konsumen sering sekali melewatkan atau membalik beberapa tahapan proses pengambilan
keputusan dalam pembelian.
Indikator dari keputusan pembelian
Indikator dari keputusan pembelian (Soewito, 2013):
a. Kebutuhan yang dirasakan
Pada proses pertama pembeli dimulai ketika pembeli menyadari timbulnya suatu kebutuhan.
Kebutuhan seperti lapar, pakaian, pendidikan merupakan masalah yang harus diatasi oleh
konsumen. Ketika kebutuhan ini semakin meningkat, maka mereka mulai menyadari akan
munculnya sebuah masalah. Para pemasar perlu mengetahui apakah kebutuhan yang dirasakan
konsumen serta halhal apakah yang menyebabkan timbulnya kebutuhan ini.
b. Kegiatan sebelum membeli
Konsumen yang mulai menyadari akan timbulnya kebutuhan, akan berusaha mencari informasi
terhadap hal-hal yang dapat memuaskan kebutuhannya ini. Konsumen mungkin akan mencari
informasi yang lebih mendalam. Di sisi lain mereka mungkin tidak begitu tergerak untuk mencari
informasi terhadap hal-hal yang dapat memuaskan kebutuhannya. Biasanya konsumen akan
tergerak untuk mencari informasi yang mendalam karena akan membeli produk yang bernilai
mahal, sementara untuk produk dengan harga terjangkau, mereka tidak begitu tergerak untuk
mencari informasi.
c. perilaku waktu memakai
konsumen menentukan pilihan mereka atas berbagai macam alternatif yang tersedia. Seorang
konsumen yang memutuskan untuk membeli dan memakai suatu produk akan membuat lima
macam sub keputusan membeli, yaitu keputusan tentang merek, membeli dari siapa, jumlah yang
akan dibeli, waktu pembelian dan cara membayar.
