Indikator Brand Awareness


Setiap kegiatan pemasaran selalu berupaya untuk memperoleh tingkat
kesadaran merek yang lebih tinggi sebagai top of mind. Jika suatu merek tidak
berada dalam benak konsumen, merek tersebut tidak dipertimbangkan di benak
konsumen. Biasanya merek-merek yang disimpan dalam ingatan konsumen adalah
merek yang disukai atau merek yang dibenci oleh konsumen (Durianto dalam sari
dkk, 2017: 205)
Menurut Keller (dalam Winadi, 2017: 3), ada empat indikator yang dapat
digunakan untuk mengetahui seberapa jauh konsumen aware terhadap sebuah
brand, yaitu :

  1. Recall, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika ditanya merek
    apa saja yang diingatnya. Nama merek yang sederhana, mudah diingat, mudah
    diucapkan, dan memiliki arti yang jelas membuat suatu merek mudah muncul
    dalam ingatan konsumen.
  2. Recognition, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali merek tersebut
    termasuk kedalam kategori produk tertentu.
  3. Purchase, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali merek tersebut
    termasuk pilihan ketika akan membeli sebuah produk.
  4. Consumption, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali suatu merek
    ketika sedang menggunakan merek pesaing.

Pengertian Brand Awareness


Menurut Durianto, dkk ( 2017 : 54 ) Brand awareness adalah kesanggupan
seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali suatu merek
sebagai bagian dari suatu kategori produk tertentu. Konsumen lebih cenderung
menyukai atau membeli merek yang sudah dikenal karena konsumen merasa aman
dengan sesuatu yang dikenal. Kebanyakan konsumen berasumsi bahwa sebuah
merek yang sudah dikenal mempunyai kemungkinan bisa diandalkan, kemantapan
dalam bisnis, dan kualitas yang bisa dipertanggung jawabkan.
Kemudian menurut Husnawati (2017) Brand awareness merupakan salah
satu dimensi dasar dari ekuitas suatu merek yang sering dianggap sebagai salah satu
persyaratan dari keputusan pembelian seorang konsumen, karena merupakan faktor
penting dalam pertimbangan suatu merek. Faktor kesadaran penting dalam konteks
dimana merek selalu diutamakan dalam suatu rangkaian pertimbangan dalam
keputusan pembelian.
Selain itu menurut (Tariq et al., 2017) hubungan antara brand awareness
terhadap keputusan pembelian adalah suatu gambaran yang dimiliki konsumen
untuk mengenali merek dalam kategori produk dan dapat mempengaruhi konsumen
untuk dapat membuat keputusan pembelian.
Dalam sebuah perusahaan pasti menginginkan agar merek dari produk
tersebut dapat dikenal dan diterima oleh konsumen, dan bukan berarti perusahaan
yang sudah menjalankan bisnisnya sejak lama dapat tenang menghadapi situasi
bisnis yang penuh dengan persaingan dan tantangan. Menurut Aaker (2018 : 105)
brand awareness dapat diraih, dipelihara dan ditingkatkan dengan beberapa cara,
yaitu :

  1. Menjadi Berbeda dan Dikenang
    Suatu pesan kesadaran seharusnya memberikan suatu alasan untuk diperhatikan
    dan seharusnya itu bisa dikenang, ada banyak cara yang dapat dilakukan namun
    yang paling umum adalah menjadi berbedaan dan istimewa dari kelas produk
    tertentu.
  2. Melibatkan Sebuah Slogan atau Jingle
    Sebuah slogan atau jingle lagu bisa menimbulkan pengaruh yang besar. Kaitan
    pada slogan tersebut bisa menjadi lebih kuat apabila karakteristik produk
    divisualkan dan sebuah jingle lagu bisa menjadi alat yang jitu dalam
    menciptakan kesadaran.
  3. Penampakan Simbol
    Jika sebuah simbol telah terbentuk atau bisa dikembangkan yang berkaitan erat
    dengan sebuah merek, maka simbol itu akan memainkan peran yang besar
    dalam menciptakan dan memelihara kesadaran. Sebuah simbol mengandung
    pencitraan visual yang jauh lebih mudah diketahui dan diingat kembali dari
    pada sebuah kata atau frase.
  4. Publisitas
    Periklanan sangat cocok dalam meningkatkan kesadaran karena periklanan
    memungkinkan pesan dan audiens mengalami kedekatan. Pada umumnya iklan
    merupakan suatu cara efisien untuk memberikan penampakan.
  5. Sponsor Kegiatan
    Peran utama dari sebagian besar sponsor kegiatan adalah menciptakan atau
    memelihara kesadaran. Oleh karena itu seseorang dapat mengenali suatu merek
    secara langsung di televisi, dan dari orang lain yang melihat langsung dari suatu
    kegiatan.
  6. Pertimbangan Perluasan Merek
    Salah satu cara untuk mendapatkan pengingatan kembali merek adalah dengan
    meletakkan merek tersebut pada merek lain.
  7. Menggunakan Tanda-Tanda / Isyarat (Cues)
    Kampanye atau iklan pada brand awareness kadang bisa membantu dengan
    memberi tanda-tanda pada produk tersebut, merek atau keduanya untuk
    memberi tanda yang mengarahkan pada suatu kampanye atau iklan

Pengaruh Brand Image dan Celebrity endorser Terhadap Keputusan Pembelian


Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa
keyakianan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki
citra yang positif terhadap suatu merek akan lebih memungkinkan untuk
melakukan pembelian (Setiadi, 2003 dalam Evelina dkk). Citra yang melekat
pada suatu produk dapat diingat dengan baik oleh konsumen ketika mereka
memutuskan untuk memilih suatu produk yang dibutuhkannya. Selanjutnya,
Celebrity endorser adalah setiap individu yang menikmati pengakuan ini atas
nama barang-barang konsumsi dengan tampil bersamanya dalam suatu iklan
(Carrol, 2009 dalam Kurniawan dan Kunto). Sehingga penggunaan bintang
iklan diharapkan dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap suatu
produk untuk membuat keputusan pembelian. Hasil penelitian Parengkuan dkk
(2014) menyebutkan bahwa brand image dan Celebrity endorser berpengaruh
secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen.

Pengaruh Celebrity endorser Terhadap Keputusan Pembelian


Celebrity endorser merupakan pendukung dari suatu produk yang
berperan sebagai penyampai pesan untuk memperkuat citra suatu merek.
Memilih Celebrity endorser yang tepat dan sesuai dengan karakteristik produk
dapat meyakinkan konsumen dalam membuat keputusan pembelian pada suatu
produk. Menurut Kotler dan Keller (2009) Celebrity endorser merupakan
penggunaan narasumber sebagai figur yang menarik atau populer dalam iklan,
sehingga dapat memperkuat citra dari suatu merek dalam pikiran pelanggan.
Penelitian Parengkuan (2014) menunjukkan celebrity endorsement
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen

Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian


Brand image merupakan seperangkat keyakinan konsumen yang didapat
melalui pengetahuan dan pengalamannya saat menggunakan suatu produk.
Menurut Kotler dan Keller (2009), brand image merupakan gambaran mental
atau konsep tentang sesuatu. Image terhadap suatu produk berasal dari nilainilai yang diberikan oleh produsen maupun suatu akumulasi persepsi
konsumen yang membentuk suatu opini atas kesamaan tingkat kepuasannya.
Penelitian Parengkuan (2014) menunjukkan brand image secara parsial tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen

Indikator minat beli


Adapun indikator-indikator minat beli konsumen menurut Ferdinand,
yaitu sebagai berikut :

  1. Minat transaksional yaitu keinginan individu atau organisasi dalam membeli
    barang atau jasa.
  2. Minat refrensial adalah kecenderungan seseorang untuk membeli suatu produk
    karena rekomendasi orang lain.
  3. Minat preferensial ialah kecenderungan individu atau organisasai untuk
    mengutamakan produk tersebut dibanding produk atau merek lain.
  4. Minat eksploratif yakni kecenderungan individu dalam membeli produk karena
    informasi yang berasal dari pemasar

Faktor-faktor yang membentuk minat beli


Menurut Kotler dan Keller (2016), beberapa faktor yang membentuk
minat beli, yaitu:
a. Sikap orang lain
Sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang disukai seseorang
akan bergantung pada dua hal yaitu, intensitas sifat negatif orang lain terhadap
alternatif yang disukai konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti
keinginan orang lain.
b. Faktor situasi yang tidak terantisipasi
Faktor ini nantinya akan dapat mengubah pendirian konsumen dalam
melakukan pembelian. Hal tersebut tergantung dari pemikiran konsumen
sendiri, apakah dia percaya diri dalam memutuskan akan membeli suatu barang
atau tidak.

Pengertian minat beli


Minat beli adalah kecendrungan sikap konsumen yang tertarik terhadap
suatu barang atau jasa kemudian mengambil tindakan atau keputusan yang
berhubungan dengan pembelian melalui berbagai tahapan dan tingkat
kemungkinan sampai dengan kemampuan untuk membeli suatu produk atau
jasa. Menurut Kotler dan Amstrong (2012) minat beli adalah sesuatu yang
timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya, lalu muncul
keinginan untuk membeli dan memilikinya. Adapun pendapat lain menurut
Schiffman dan Kanuk (2009) minat beli adalah sesuatu kekuatan psikologis
yang ada di dalam individu, yang berdampak pada sebuah tindakan. Minat beli
dianggap sebagai pengukuran kemungkinan konsumen membeli produk
tertentu dimana tingginya minat beli berdampak pada kemungkinan yang cukup
besar dalam terjadinya keputusan pembelian.
Minat beli menciptakan suatu motivasi yang akan terus terekam dalam
pikiran konsumen dan menjadi suatu keinginan yang sangat kuat yang pada
akhirnya ketika akan memenuhi kebutuhannya mereka akan merealisasikan apa
yang ada dalam pikiraannya. Menurut Schiffman dan Kanuk (2009) bahwa
motivasi sebagai kekuatan dorongan dari dalam diri individu yang memaksa
mereka untuk melakukan tindakan. Jika seseorang mempunyai motivasi yang
tinggi terhadap obyek tertentu, maka dia akan terdorong untuk berperilaku
menguasai produk tersebut. Sebaliknya jika motivasinya rendah, maka dia akan
mencoba untuk menghindari obyek tersebut

Proses keputusan pembelian


Proses pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen sangat
bervariasi ada yang sederhana ada pula yang kompleks. Menurut Tjiptono
(2011:203) membagi proses pengambilan keputusan dalam tiga jenis, antara
lain :

  1. Proses pengambilan keputusan bersifat kebiasaan (Habitual decision making)
    merupakan proses pengambilan keputusan paling sederhana yaitu konsumen
    mengenali suatu masalah kemudian langsung mengambil keputusan untuk
    membeli merek favorit atau kegemaran tanpa adanya evaluasi.
  2. Proses pengambilan keputusan terbatas (limited decision making), dimana
    konsumen mengenali masalah kemudian mengevaluasi beberapa merek produk
    berdasarkan pengetahuan tanpa mencari informasi baru.
  3. Proses pengambilan keputusan luas merupakan jenis keputusan yang paling
    lengkap dimulai dengan pemgenalan masalah melalui pembelian produk,
    konsumen mencari informasi produk atau merek tertentu dan dicari pemecahan
    masalahnya, evaluasi tersebut mengarah pada keputusan pembelian, dimana
    pada akhirnya konsumen akan mengevaluasi hasil keputusan tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian


Menurut Philip Kotler (2013:214) ada empat faktor yang dapat mempengaruhi
keputusan pembelian, yaitu:

  1. Faktor Budaya
    Budaya, sub budaya, dan kelas sosial merupakan hal yang sangat penting dalam
    terbentuknya perilaku pembelian. Budaya merupakan salah satu faktor penentu
    keinginan dan perilaku konsumen yang paling dasar.
  2. Faktor Sosial
    a. Kelompok acuan
    Kelompok acuan dalam perilaku pembelian konsumen dapat diartikan sebagai
    kelompok yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap sikap
    atau perilaku seseorang.
    b. Keluarga
    Keluarga dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu keluarga orientas yang terdiri dari
    orang tua dan saudara kandung seseorang yang dapat memberikan orientasi
    agama, politik, dan ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri, dan cinta.
    Selanjutnya itu ada keluarga prokreasi yang terdiri dari pasangan dan jumlah
    anak.
  3. Pribadi
    a. Usia dan siklus hidup keluarga
    Orang membeli barang dan jasa tentunya mempunyai kebutuhan yang berbedabeda sepanjang hidupnya dimana kegiatan konsumsi ini dipengaruhi oleh faktor
    usia dan siklus hidup keluarga.
    b. Pekerjaan dan lingkungan ekonomi
    Pekerjaan dan lingkungan ekonomi seseorang dapat mempengaruhi
    kebutuhannya. Biasanya pemilihan produk juga dipertimbangkan berdasarkan
    keadaan ekonomi seseorang seperti besarnya penghasilan yang dimiliki, jumlah
    tabungan, utang dan sikap terhadap belanja atau menabung.
    c. Gaya hidup
    Gaya hidup dapat diartikan sebagai sebuah pola hidup seseorang yang terungkap
    dalam aktivitas, minat dan opininya yang terbentuk melalui kelas sosial dan
    pekerjaan. Melihat hal ini sebagai peluang dalam kegiatan pemasaran, banyak
    pemasar atau produsen yang mengarahkan merek mereka pada gaya hidup
    seseorang.
    d. Kepribadian
    Kepribadian merupakan ciri bawaan psikologis manusia yang berbeda yang
    menghasilkan tanggapan relatif konsisten dan tahan lama terhadap rangsangan
    lingkungannya. Kepribadian dapat menjadi variabel yang sangat berguna dalam
    menganalisis pilihan merek konsumen. Hal ini disebabkan karena beberapa
    kalangan konsumen akan memilih merek yang cocok dengan kepribadiannya.
    e. Psikologis
    Faktor psikologis ini dipengaruhi oleh empat faktor utama diantaranya motivasi,
    persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap.
  4. Peran dan Status
    Semakin tinggi peran seseorang dalam organisasi maka semakin tinggi pula
    status seseorang dalam organisasi tersebut dan secara langsung dapat berdampak
    pada perilaku pembeliannya.

Pengertian keputusan pembelian


Keputusan pembelian merupakan serangkaian proses yang berawal dari
konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi tentang produk atau merek
tertentu dan mengevaluasi produk atau merek tersebut seberapa baik masingmasing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian
serangkaian proses tersebut mengarah kepada keputusan pembelian (Tjiptono,
2014:21).
Menurut Swastha dan Irawan (2008:118) keputusan pembelian adalah
Pemahaman konsumen tentang keinginan dan kebutuhan akan suatu produk
dengan menilai dari sumber-sumber yang ada dengan menetapkan tujuan
pembelian serta mengidentifikasi alternatif sehingga pengambil keputusan untuk
membeli yang disertai dengan perilaku setelah melakukan pembelian.
Selanjutnya Kotler dan Keller (2012:227) menambahkan bahwa, proses
keputusan pembelian adalah proses lima tahap yang dilewati konsumen, dimulai
dari pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternative yang dapat
memecahkan masalahnya, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian,
yang dimulai jauh sebelum pembelian yang sesungguhnya dilakukan oleh
konsumen dan memiliki dampak yang lama setelah itu.

Indikator Celebrity endorser


Menurut Royan, indikator Celebrity endorser terdiri dari 4 unsur, yaitu:

  1. Visibility
    Visibility memiliki dimensi seberapa jauh popularitas selebriti
  2. Credibility
    Credibility berhubungan dengan pengetahuan produk yang diketahui selebriti.
  3. Attraction
    Attraction lebih menitik beratkan pada daya tarik sang bintang
  4. Power
    Power adalah kemampuan selebriti dalam menarik konsumen untuk membeli
    suatu produk.

Pertimbangan dalam memilih Celebrity endorser


Menurut Royan menjelaskan bahwa terdapat beberapa pertimbangan dalam
memilih Celebrity endorser, diantaranya:

  1. Kepopuleran selebriti
    Selebriti memiliki karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu perusahaan
    harus memilih selebriti yang sesuai dengan karakter produk tersebut.
    Pemilihan selebriti dilakukan berdasarkan brand personality produk yang
    dikaitkan dengan segmen dan target pasar yang dituju.
  2. Kondisi finansial perusahaan
    Pemilihan selebriti sebgaai endorser tidaklah murah pada umumnya, bahkan
    memakan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu, sebaiknya perusahaan lebih
    berhati-hati dalam memilih Celebrity endorser. Hal ini berkaitan dengan risiko
    yang akan ditanggung oleh perusahaan bila iklan yang telah ditayangkan gagal
    mencapai tujuan periklanan

Peran Celebrity endorser


Menurut Schiffman dan Kanuk (2006: 65-74) peran selebriti sebagai
model iklan yang bisa digunakan perusahaan dalam sebuah iklan yaitu:

  1. Testimonial, jika secara personal selebriti menggunakan produk tersebut maka
    pihak dia bisa memberikan kesaksian tentang kualitas maupun keuntungan dari
    produk atau merek yang diiklankan tersebut.
  2. Endorsement, ada kalanya selebriti diminta untuk membintangi iklan produk
    dimana dia secara pribadi tidak ahli dalam bidang tersebut.
  3. Actor, selebriti diminta untuk mempromosikan suatu produk atau merek
    tertentu terkait dengan peran yang sedang ia bintangi dalam suatu program
    tayangan tertentu.
  4. Spokeperson, selebriti yang mempromosikan produk, merek atau suatu
    perusahaan dalam kurun waktu tertentu masuk dalam kelompok peran
    spokerperson. Penampilan mereka akan diasosiasikan dengan merek atau
    produk yang mereka wakili.

Pengertian Celebrity endorser


Celebrity endorser merupakan pendukung dari suatu produk yang
berperan sebagai penyampai pesan untuk memperkuat citra sebuah merek atau
produk. Endorser menurut Terence A. Shimp (2003) adalah pendukung iklan
atau yang dikenal juga sebagai bintang iklan dalam mendukung iklan
produknya. Shimp membagi endorser dalam 2 (dua) jenis, yaitu Typical Person Endorser yang merupakan orang-orang biasa yang tidak terkenal untuk
mengiklankan suatu produk, dan Celebrity endorser yang merupakan
penggunaan orang terkenal (Public Figure) dalam mendukung suatu iklan.
Kedua jenis endorser di atas memiliki atribut dan karakteristik yang sama tetapi
dibedakan hanya dalam penggunaan orang sebagai pendukungnya, apakah
tokoh yang digunakan seorang tokoh terkenal atau tidak. Pemakaian selebriti
dipilih terutama dari dunia showbiz dan amat disukai oleh para agen
periklanan.
Kemungkinan sebanyak 1/4 dari semua iklan menggunakan selebriti
(Shimp). Menurut Sumarwan (2004:258) pembelian produk dan jasa serta
pemilihan merek, para selebriti bisa memiliki pengaruh kuat kepada konsumen.
Selebriti bisa menjadi alat pemasaran suatu produk yang sangat penting, daya
tariknya yang luar biasa dan memiliki penggemar yang banyak bisa menjadi
hal yang tidak dimiliki orang lain.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2010), daya tarik selebriti digunakan
dengan sangat efektif oleh para pemasang iklan untuk berkomunikasi dengan
pasar-pasar mereka. Para selebriti dapat menjadi kekuatan yang berpengaruh
dalam menimbulkan minat atau tindakan yang berhubungan dengan pembelian
atau penggunaan barang-barang dan jasa-jasa yang dipilih. Identifikasi tersebut
didasarkan pada kekaguman (terhadap seorang atlet), aspirasi (seorang selebriti
atau terhadap suatu gaya hidup), empati (terhadap seseorang atau situasi), atau
pada pengakuan (terhadap seseorang sejati atau meniru-niru atau terhadap
suatu situasi).

Indikator brand image


Menurut Da Silva dan Alwi (2006) menyebutkan indikator citra merek antara
lain:

  1. The level of physical attributtes yaitu mengenal nama merek, logo atau
    lambang merek.
  2. The level of the Functional implication yaitu resiko atau manfaat yang akan
    diperoleh.
  3. The psychosocial implication yaitu perasaan senang dan nyaman ketika
    memakainya.

Indikator brand image


Menurut Da Silva dan Alwi (2006) menyebutkan indikator citra merek antara
lain:

  1. The level of physical attributtes yaitu mengenal nama merek, logo atau
    lambang merek.
  2. The level of the Functional implication yaitu resiko atau manfaat yang akan
    diperoleh.
  3. The psychosocial implication yaitu perasaan senang dan nyaman ketika
    memakainya.

Faktor pembentuk brand image


Alfian B, (2012: 26) mengemukakan faktor-faktor terbentuknya citra
merek atara lain:

  1. Keunggulan produk merupakan salah satu faktor pembentuk BrandImage,
    dimana produk tersebut unggul dalam persaingan. Karena keunggulan kualitas
    dan ciri khas itulah yang menyebabkan suatu produk mempunyai daya tarik
    tersendiri bagi konsumen. Favorability of brand association adalah asosiasi
    merek dimana konsumen percaya bahwa atribut dan manfaat yang diberikan
    oleh merek akan dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan dan keinginan
    mereka sehingga mereka membentuk sikap positif terhadap merek.
  2. Kekuatan merek merupakan asosiasi merek tergantung pada bagaimana
    informasi masuk kedalam ingatan konsumen dan bagaimana proses bertahan
    sebagai bagian dari citra merek. Kekuatan asosiasi merek ini merupakan fungsi
    dari jumlah pengolahan informasi yang diterima pada proses ecoding. Ketika
    seorang konsumen secara aktif menguraikan arti informasi suatu produk atau
    jasa maka akan tercipta asosiasi yang semakin kuat pada ingatan konsumen.
    Pentingnya asosiasi merek pada ingatan konsumen tergantung pada bagaimana
    suatu merek tersebut dipertimbangkan. Dalam membuat kekuatan asosiasi
    merek dapat melalui bauran promosi komunikasi pemasaran (promotion mix).
    Bauran promosi adalah kombinasi dari penjualan tatap muka, periklanan,
    promosi penjualan, publisitas dan hubungan yang membantu pencapaian
    tujuan penjualan.
  3. Keunikan merek adalah asosiasi terhadap suatu merek mau tidak mau harus
    terbagi dengan merek-merek lain. Oleh karena itu, harus diciptakan
    keunggulan bersaing yang dapat dijadikan alasan bagi konsumen untuk
    memilih suatu merek tertentu. Dengan memposisikan merek lebih mengarah
    kepada pengalaman atau keuntungan diri dari image produk tersebut. Dari
    perbedaan yang ada, baik dari produk, pelayanan, personil, dan saluran yang
    diharapkan memberikan perbedaan dari pesaingnya, yang dapat memberikan
    keuntungan bagi produsen dan konsumen

Komponen brand image


Menurut kotler dan Keller (2016) citra merek adalah persepsi konsumen
tentang suatu merek sebagai refleksi dari asosiasi yang ada pada pikiran
konsumen.
Brand image terdiri dari komponen-komponen:

  1. Product Attributes (Atribut Produk)
    Merupakan hal-hal yang berkaitan dengan merek tersebut sendiri seperti,
    kemasan, isi produk, harga, rasa, dll.
  2. Consumer Benefits (Keuntungan Konsumen)
    Merupakan kegunaan produk dari merek tersebut.
  3. Brand Personality (Kepribadian Merek)
    Merupakan asosiasi (presepsi) yang membayangkan mengenai kepribadian
    sebuah merek apabila merek tersebut seorang manusia.

Pengertian brand image


Sebelum menjelaskan pengertian brand image, maka terlebih dahulu
akan dijelaskan arti brand (merek). Setiap produk yang dijual di pasar tentu
memiliki merek, dimana merek tersebut sebagai pembeda antara satu produk
dengan produk yang lain. Menurut (Kotler 2009) merek adalah simbol, tanda,
rancangan ataupun sebuah kombinasi dari tiga hal tersebut yang ditujukan
sebagai identitas dari beberapa penjual untuk kemudian dijadikan sebagai
pembeda dengan pesaing yang ada di pasaran.
Secara umum image dapat dideskripsikan dengan karakteristikkarakteristik tertentu seperti manusia, semakin positif deskripsi tersebut
semakin kuat brand image dan semakin banyak kesempatan bagi pertumbuhan
merek itu (Davis, 2000). Menilai baik-tidaknya suatu merek dapat dilihat dari
kriteria-kriteria mengenai merek yang baik. Menurut (Setiawan, 2007) kriteria
merek yang baik diantaranya terlindung dengan baik, mudah diucapkan,
mudah diingat, mudah dikenali, menarik, menampilkan manfaat produk,
menonjolkan perbadaan produk dibanding pesaing.
Brand Image adalah representasi dari keseluruhan persepsi terhadap
merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merek
itu. Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan
dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki citra yang
positif terhadap suatu merek, akan lebih memungkinkan untuk melakukan
pembelian (Setiadi, 2003).
Brand image merupakan aspek yang sangat penting dari merek, citra
dapat didasarkan kepada kenyataan atau fiksi tergantung bagaimana konsumen
mempersepsikan. Brand image adalah persepsi tentang merek yang merupakan
refleksi memori konsumen akan asosiasinya pada merek tersebut (Ferrinadewi,
2008:165). Dengan menciptakan brand image yang tepat, maka akan dapat
mempengaruhi penilaian konsumen bukan hanya untuk memenuhi
kebutuhannya tetapi juga dapat memberikan kepuasan yang maksimal bagi
konsumen.

Hubungan persepsi harga terhadap keputusan pembelian


Persepsi harga merupakan variabel yang dapat dikendalikan dan
menentukan diterima atau tidaknya suatu produk oleh pelanggan. Persepsi
harga semata-mata tergantung pada kebijakan perusahaan, tetapi tentu saja
dengan mempertimbangkan berbagai hal.
Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Nadiya dan
Wahyuningsih (2020) menyatakan bahwa variable persepsi harga
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian

Hubungan kualitas produk terhadap keputusan pembelian


Kualitas produk adalah karakter yang dimiliki sebuah produk yang
mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan pelanggan. (Kotler et al,
2014).
Hal ini di dukung penelitian yang di lakukan oleh Aufa Izzuddin
Baihaqi menyatakan bahwa variable kualitas produk berpengaruh positiif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Thomson dalam Veronica et all (2020), ada 4
indikator keputusan pembeliaan yaitu:
a. Sesuai Kebutuhan
Konsumen melakukan pembelian karena produk yang di
tawarkan sesuai yang di butuhkan dan mudah dalam mencari
barang yang di butuhkan.
b. Mempunyai Manfaat
Produk yang di beli konsumen sangat berarti dan bermanfaat
bagi kosumen.
c. Ketepatan Dalam Membeli Produk
Harga yang di tawarkan sesuai dengan kualitas produk dan
sesuai dengan keinginan konsumen.
d. Pembelian Berulang
Keadaan di mana konsumen merasa puas dengan transaksi
seblumnya sehingga berniat selalu melakukan transaksi di masa
yang akan dating

Faktor keputusan pembelian


Menurut Kotler dan Keller (2016) factor yang mempengaruhi
konsumen sampai di tahap keputusan pembeliaan yaitu:
a. Faktor Budaya
Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku pembentuk
paling dasar.
b. Faktor Sosial
Faktor sosial seperti kelompok referensi, keluarga serta peran
sosial dan status mempengaruhi perilaku pembeliaan.
c. Faktor Pribadi
Keputusan pembeliaan juga di pengaruhi oleh karakteristik
pribadi, penting bagi pemasar untuk mengikuti konsumen secara
seksama agar produk di tawarkan pemasar dapat diterima oleh
mereka.

Keputusan Pembelian


Keputusan Pembelian adalah bagian dari perilaku konsumen
yaitu studi tentang bagaimana individu, kelompok dan organisasi
memilih membeli menggunakan dan bagaimana barang, jasa, ide
atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan
mereka. (Kotler & Amstrong 2016).

Indikator Persepsi Harga


Menurut Asshiddieqi dan Mudiantono (2021) dalam jurnalnya
terdapat empat indikator persepsi harga diantaranya:

  1. Keterjangkauan harga
  2. Daya saing harga
  3. Harga sesuai kualitas
  4. Harga sesuai manfaat

Tujuan Penetapan Harga


Menurut Kotler dan Gerry (1997) menjelaskan ada empat
pendekatan dalam penetapan harga produk sebagai berikut:
a. Strategi harga premium, menghasilkan produk bermutu tinggi
dan memasang harga paling tinggi
b. Strategi ekonomis, menghasilkan produk bermutu rendah dan
memasang harga paling rendah
c. Strategi nilai baik, menghasilkan produk bermutu tinggi dengan
harga yang lebih rendah
d. Strategi pemasaran harga tinggi, menetapkan harga produk
tinggi sehubungan dengan produk tinggi, namun untuk jangka
Panjang, produk tersebut ditinggalkan oleh konsumen karena
keluhan terhadap produk tersebut.

Harga


Menurut Basu Swastha (2003) harga adalah sejumlah uang
yang harus dibayar oleh konsumen atau pembeli untuk
mendapatkan produk yang ditawarkan oleh penjual. Penetapan
harga jual harus disesuaikan dengan daya beli konsumen yang
dituju dan dengan mempertimbangkan faktor biaya, laba, pesaing,
dan perubahan keinginan pasar.

Indikator Kualitas Produk


Dalam mengembangkan suatu produk, suatu perusahaan harus
menentukan kualitas-kualitas yang mendukung posisi produk tersebut di
pasar. Menurut Sopiah (2018), kualitas produk memiliki beberapa indikator
antara lain:

  1. Kemudahan
  2. Daya tahan
  3. Keragaman desain
  4. Fitur lengkap

Tujuan kualitas


Menurut Kloter (2002) dalam Riyono et al (2016) tujuan kualitas
produk adalah sebagai berikut:
a. Mengusahakan agar barang hasil produksi dapat mencapai
standar yang telah di tetapkan
b. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil
mungkin
c. Mengusahakan agar biaya desain dari produksi tertentu menjadi
sekecil mungkin
d. Menguasahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah
mungkin

Dimensi Kualitas Produk


Dimensi Kualitas Produk Menurut (Tjiptono,2011) sebagai berikut:
a. Performance (kinerja)
Berhubungan dengan karakteristik dasar sebuah produk.
b. Durability (daya tahan)
Berapa la.ma atau umur produk yang bersangkutan sebelum
produk tersebut di ganti. Semakin lama pemakaian produk maka
semakin besar juga daya produk.
c. Conformance to specification
Yaitu tingkat kesesuaian produk dengan spesifikasi yang telah
di janjikan
d. Features (fitur)
Karakteristik produk yang di rancang untuk menyempurnakan
fungsi produk dan menambah keterikatan konsumen terhadap
produk
e. Reliability (reliabilitas)
Probabilitas produk memuaskan konsumen atau tidak dalam
periode tertentu dan semakin kecilnya kerusakan terhadap
produk.
f. Aesthetic (keindahan)
Menyangkut tampilan sebuah produk yang membuat kosumen
menyukai produk tersebut
g. Perceived quality (kesan kualitas)
Hasil dari penggunaan pengukuran yang di lakukan secara tidak
langsug karena konsumen tidak mengerti atau bahkan
kekurangan informasi mengenai produk.
h. Service ability
Yaittu kcepatan kompetensi, kenyamanan, kemudahan,
penanganan keluhan yang memuaskan dan keramahan staf
layanan yang ada

Kualitas Produk


Kualitas adalah konsep yang sangat penting dalam
menciptakan produk. Produk adalah pemahaman subyektif dari
produsen atas sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai usaha
mencapai tujuan perusahaan melalui pemenuhan kebutuhan dan
kegiatan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas
perusahaan serta daya beli pasar. Kualitas produk adalah
kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal
ini termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan,
pengoperasian dan reparasi produk, juga atribut produk lainnya
(Kloter et al, 2012).
Kualitas produk adalah karakter yang dimiliki sebuah produk
yang mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan pelanggan.
(Kotler et al, 2014)

Pengukuran Citra Merek (Brand Image)


Menurut (Nursaimatussaddiyah 2022) Bahwa pengukuran citra
merek dapat dilakukan berdasarkan pada aspek sebuah merek yaitu:
a. Kekuatan (Strengthness)
Adalah keunggulan yang dimiliki oleh merek yang bersifat fisik
dan di temukan pada merek lainya. Keunggulan merek ini
mengacu pada atribut-atribut fisik atas merek tersebut sehingga
bisa dianggap sebagai sebuah kelebihan di banding merek
lainya.
b. Keunikan (Uniqueness)
Adalah kemampuan untuk membedakan sebuah merek diantara
merek lainya. Kesan ini muncul dari atribut produk tersebut
yang menjadi bahan pembeda atau diferensiasi dengan produkproduklainya. Yang termasuk dalam kelompok unik ini adalah
variasi penampilan atau nama dari sebuah merek yang mudsh
diingat dan diucapkan serta fisik produk itu sendiri
c. Keunggulan (Favorable)
Kemudahan merek produk di ucapkan serta kemampuan merek
untuk tetap diingat oleh pelanggan yang membuatproduk
terkenal dan menjadi favorit di masyarakat maupun kesesuaian
antara kesan merek di benak pelanggan dengan citra yang
diinginkan perusahaan atas merek yang bersangkutan.

Indikator Citra Merek


(Menurut Mohhammad 2011 dalam Nursaimatussaddiyah 2022)
ada tiga indicator citra merek yaitu:
a. Corporate image (citra pembuat)
Yaitu sekumpulan asosiasi yang di persepsikan konsumen
terhadap perusahaan yang membuat suatu barang atau jasa. Citra
pembuat meliputi: popularitas, kredibilitas, jaringan perusahaan,
serta pemakai itu sendiri/penggunanya.
b. User image (citra pemakai)
Yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa.
Meliputi: pemakai itu sendiri, serta status sosialnya
c. Product image (citra produk)
Yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap suatu barang atau jasa. Meliputi: atribut dari prosuk,
manfaat bagi konsumen, serta jaminan.

Citra Merek (Brand Image)


Brand Image (citra merek) adalah sekumpulan asosiasi merek yang
terbentuk dan melekat di benak konsumen. Konsumen yang
terbiasa menggunakan merek tertentu cenderung memiliki
konsistensi terhadap brand image. Citra merek ialah persepsi dan
keyakinan yang dilakukan oleh konsumen, seperti tercermin dalam
asosiasi yang terjadi dalam memori konsumen ( Nursaimatus
saddiya, 2022).

Merek


Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2016 merek dalah tanda
yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama,
kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk dua dimensi dan
tiga dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari dua atau lebih
unsur tersebut untuk membedakan barang atau jasa ara, hologram,
atau kombinasi dari dua atau lebih unsur tersebut untuk
membedakan barang atau jasa yang diproduksi oleh orang atau
badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang-barang atau jasa.
(Dewi, 2018)

Pengertian Citra Merek


Citra menurut Kotler dan keller (2009:406) adalah sejumlah
keyakinan,ide,dan kesan yang di pegang oleh seseorang tentang sebuah objek.
Sedangkan citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang di pegang oleh
konsumen, seperti yang di cerminkan asosiasi yang tertanam dalam ingatan
konsumen (Kotler dan keller 2009:403).
Citra menurut Kotler dan keller (2009:406) adalah sejumlah
keyakinan,ide,dan kesan yang di pegang oleh seseorang tentang sebuah objek.
Sedangkan citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang di pegang oleh
konsumen, seperti yang di cerminkan asosiasi yang tertanam dalam ingatan
konsumen (Kotler dan keller 2009:403).

Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian


Pentingnya pengembangan citra merek dalam keputusan pembelian. Citra merek yang
dikelola dengan baik akan menghasilkan konsekuensi yang positif. Penciptakan kesan
menjadi salah satu karateristik dasar dalam orientasi pemasaran modern yaitu lewat
pemberian perhatian lebih serta penciptaan merek yang kuat. Implikasi dari hal tersebut
menjadikan merek suatu produk menciptakan citra dari produk itu sendiri di benak pikiran
konsumen dan menjadikan motivasi dasar bagi konsumen dalam memilih suatu produk
(Aaker, 2009).

Pengaruh Desain Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Desain produk (product design) adalah fungsi dan corak produk yang merupakan proses
desain yang dikembangkan menjadi sebuah produk yang menarik, murah aman dan tidak
mahal untuk digunakan dan pelayanan. Desain yang berbeda pada dua buah produk akan
menimbulkan persepsi yang berbeda pula di mata konsumen. Untuk melakukan pembelian,
konsumen tidak terlepas dari karakteristik produk baik mengenai penampilan, gaya, mutu
dari produk tersebut. Penetapan desain produk dan promosi oleh penjual akan berpengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen

Brand Image (Citra Merek)


Berikut ini adalah berberapa pengertian citra merek dari beberapa sumber :

  1. Citra merek adalah seperangkat keyakinan konsumen mengenai merek tertentu (Kotler P. , 2011).
  2. “Brand image can be defined as a perception about brand as reflected by the brand
    association held in consumer memory”. Citra merek adalah persepsi tentang merek yang
    digambarkan oleh asosiasi merek yang ada dalam ingatan konsumen (Kotler & Keller,
    2016).

Desain Produk


Menurut Kotler dan Keller (2009) berpendapat “Desain produk adalah totalitas fitur
yang mempengaruhi tampilan, rasa, dan fungsi produk berdasarkan kebutuhan pelanggan”.
Definisi lain menurut Kotler dan Armstrong (2012) bahwa “Desain produk adalah konsep
yang lebih besar dari pada gaya. Gaya hanya menggambarkan penampilan produk. Gaya
bisa menarik atau membosankan. Gaya yang sensasional bisa menarik perhatian dan
menghasilkan estetika yang indah, tetapi gaya tersebut tidak benar-benar membuat kinerja
produk menjadi lebih baik. Tidak seperti gaya, desain tidak hanya sekedar kulit luar, desain
adalah jantung produk”.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa desain produk merupakan
sebuah tampilan dan kinerja produk yang unggul serta memiliki daya pikat tersendiri yang
dapat menarik minat konsumen. Strategi desain produk berkaitan dengan tingkatan
standarisasi produk, Menurut Tjiptono (2012), perusahaan memilki tiga strategi, yaitu:

  1. Produk standar untuk meningkatkan skala ekonomis perusahaan melalui produksi
    massa.
  2. Customized product untuk bersaing dengan produsen produksi massa (produk
    standar) melalui fleksibilitas desain produk.
  3. Produk standar dengan modifikasi untuk mengkombinasi manfaat dari dua strategi
    diatas.
    Ketiga strategi diatas akan berjalan dengan baik jika dilakukan analisis sebelumnya
    secara mendalam terhadap faktor produk, pasar, perubahan lingkungan dan teknologi.
    Indikator desain produk menurut Suswardji (2012) Indikator desain produk yaitu :
  4. Mengikuti perkembangan jaman
  5. Warna bervariasi
  6. Desain elegan
    Definisi yang diperoleh dalam kondisi lapangan sebagai berikut :
  7. Mengikuti perkembangan jaman
    Kelebihan yang dimiliki Xiaomi sekarang ini membuktikan bahwa Xiaomi saat ini
    berevolusi menjadi lebih baik dan mampu mengikuti perkembangan jaman saat ini.
  8. Warna bervariasi
    Xiaomi mempunyai dua warna varian yaitu Gold, White, red dan black
  9. Desain elegan
    Desain yang dimiliki oleh smartphone Xiaomi ini yaitu layar yang lebih luas dan full,
    serta layar yang dilindungi dengan Gorilla Glass yang dapat melindungi dari
    goresangoresan pada layar smartphone tersebu

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian (purchase decision) konsumen adalah tindakan dari konsumen
untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. (Kotler & Keller, 2016).
Secara umum konsumen memiliki 5 (lima) tahap untuk mencapai suatu keputusan
pembelian dan hasilnya yaitu (Kotler & Keller, 2016):

  1. Tahapan Pengenalan Masalah. Pada tahap ini konsumen mengenali sebuah
    kebutuhan, keinginan atau masalah. Kebutuhan pada dasarnya dapat di cetuskan oleh
    rangsangan internal atau eksternal. Perusahaan harus menentukan kebutuhan,
    keinginan atau masalah mana yang mendorong konsumen memulai proses membeli
    suatu produk.
  2. Tahapan Pencarian Informasi. Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan
    terdorong untuk mencari informasi- informasi yang lebih banyak. Sumber-sumber
    informasi konsumen terbagi dalam 4 (empat) kelompok yaitu:
    a. Sumber Pribadi. Sumber Pribadi ini di dapat konsumen melalui keluarga, teman,
    dan kenalan atau tetangga.
    b. Sumber Komersial. Sumber Komersial ini di dapat konsumen melalui iklan,
    wiraniaga, penyalur, kemasan, pajangan di toko.
    c. Sumber Publik. Sumber Publik ini di dapat konsumen melalui media masa,
    organisasi penentu peringkat konsumen atau lembaga konsumen.
    d. Sumber Pengalaman. Sumber Pengalaman ini di dapat konsumen melalui
    penanganan, pengkajian, dan pemakaian produk.
  3. Tahapan Evaluasi Alternatif atau pilihan. Setelah mengumpulkan informasi sebuah
    merek, konsumen akan melakukan evaluasi alternatif terhadap beberapa merek yang
    menghasilkan produk yang sama dan bagaimana konsumen memilih di antara produkproduk alternatif.
  4. Tahapan Keputusan Pembelian. Konsumen akan mengembangkan sebuah keyakinan
    atas merek dan tentang posisi tiap merek berdasarkan masing-masing atribut yang
    berujung pada pembentukan citra produk. Selain itu, pada evaluasi alternatif
    konsumen juga membentuk sebuah prefensi atas produk-produk yang ada dalam
    kumpulan pribadi dan konsumen juga akan membentuk niat untuk membeli merek
    yang paling di sukai dan berujung pada keputusan pembelian.
  5. Tahapan Perilaku Pasca Pembelian. Tugas perusahaan pada dasarnya tidak hanya
    berakhir setelah konsumen membeli produk yang di hasilkan saja, tetapi yang harus
    diperhatikan lebih lanjut adalah meneliti dan memonitor apakah konsumen akan
    mengalami tingkat kepuasan dan ketidakpuasan setelah menggunakan produk yang
    akan dibeli. Tugas tersebut merupakan tugas akhir setelah periode sesudah pembelian.

Proses Keputusan Pembelian


Proses keputusan pembelian dilakukan apabila konsumen
menyadari suatu masalah atau kebutuhan terhadap suatu produk yang
diinginkan. Proses pembelian menggambarkan alasan mengapa
seseorang lebih menyukai, memilih dan membeli suatu produk dengan
merek tertentu. Menurut Firmansyah (2018) tahapan proses
pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahapan, yaitu
diawali dengan tahapan pengenalan kebutuhan, kemudian ke tahapan
kedua pencarian informasi dan penilaian sumber-sumber, dilanjutkan
ke tahapan ketiga evaluasi alternatif, selanjutnya ke tahapan keempat
keputusan untuk membeli, dan tahapan kelima perilaku setelah
pembelian.
Penjelasan dari lima tahap atau proses keputusan pembelian:

  1. Pengenalan masalah merupakan tahap pertama proses keputusan
    pembelian, diamana konsumen menyadari suatu masalah atau
    kebutuhan.
  2. Pencarian informasi merupakan tahap proses keputusanpembelian
    dimana konsumen ingin mencari informasi lebih banyak,
    konsumen mungkin hanya memperbesar perhatian atau melakukan
    pencarian informasi secara aktif.
  3. Evaluasi alternatif merupakan tahap proses keputusan pembeli
    dimana konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi
    merek alternatif dalam sekolompok pilihan.
  4. Keputusan pembelian merupakan keputusan pembeli tentang
    merek mana yang paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada
    antara pembelian dan keputusan pembelian
  5. Perilaku pasca pembelian merupakan tahap proses keputusan
    pembeli dimana konsumen mengambil tindakan selanjutnya
    setelah pembelian, berdasarkan kepuasan atau ke tidak puasan
    mereka.

Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Tjiptono (2012) dalam Harsono (2018) faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan adalah ikatan
emosional yang terjalin antara pelanggan dan produsen setelah
pelanggan menggunakan produk dan jasa dari perusahaan dan
mendapati bahwa produk atau jasa tersebut memberi nilai tambah.
Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu:

  1. Nilai emosional, merupakan perasaan atau afektif atau emosi
    positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika
    konsumen mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat
    membeli atau menggunakan suatu merek, maka merek tersebut
    memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional
    berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang
    akan dialami konsumen pada saat membeli produk.
  2. Nilai sosial, merupakan utilitas yang didapat dari kemampuan
    produk untuk meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai
    sosial merupakan nilai yang dianut oleh suatu konsumen,
    mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk
    oleh konsumen.
  3. Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi
    biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang.
  4. Nilai fungsional, merupakan nilai yang diperoleh dari atribut
    produk yang memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada
    konsumen nilai ini berkaitan langsung dengan fungsi yang
    diberikan oleh produk atau layanan kepada konsumen.

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah sebuah pemikiran dimana individu
mengevaluasi dan memutuskan berbagai pilihan pada suatu ptoduk dari
banyak pilihan. Menurut Kotler & Amstrong (2014) keputusan pembeli
di nama kosumen benar-benar membeli.
Menurut Firmansyah (2018) keputusan pembelian merupakan
kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan individu dalam pemilihan
alternatif perilaku yang sesuai dari dua alternatif perilaku atau lebih
dan dianggap sebagai tindakan yang paling tepat dalam membeli
dengan terlebih dahulu melalui tahapan proses pengambilan keputusan.

Indikator Brand Image


Menurut Simamora (2011:33) ada 3 (tiga) indikator brand image,yaitu:

  1. Citra Pembuat (Corporate Image), yaitu sekumpulan asosiasiyang
    dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu
    barang atau jasa.
  2. Citra Pemakai (User Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
    dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan
    suatu barang atau jasa.
  3. Citra Produk (Product Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
    dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau jasa.

Dimensi Brand Image


Menurut Kotler dan Keller (2015:97) mengemukakan 5 dimensi
brand image yaitu:

  1. Brand indentify (Identitas merek)
    Berkaitan dengan merek atau produk simbol, warna,
    packaging, tempat, identitas perusahaan, motto, dan lain sebaginya
    sehingga memudahkan kosumen dalam menegnal dan
    membedakannyadengan produk pesaing.
  2. Brand Personality (Personalitas Merek )
    Berkaitan dengan ciri khas dari sesuatu merek yang
    membangun karakter khusus seperti halnya manusia, seperti
    karekter tegas, wibawa, kaku, hangat dinamis, kreatif, murah
    senyum, insipenden, penyayang, berjiwa sosial dan lain-lain.
  3. Brand Association (Asosiasi Merek )
    Yaitu perihal spesifik yang layak atau selalu di hubungkan
    denganmerek tertentu dapat berupa penwaran menarik, kegiatan
    rutin dan kosisten seperti sponsorship, CSR, isu-isu yang sangat
    kuat terkait merek, person, simbol-simbil, dan maksud tertentu
    yang sangat melekat kuat pada produk
  4. Brand Attitude and Behavior ( Sikap dan Prilaku Merek)
    Yaitu sikap atau prilaku komunikasi dan interaksi merek
    kepada kosumen dalam menawarkan manfaat-manfaat dan nilai
    yangdimilikinya. Sikap dan prilaku meliputi sikap dan prilaku
    kosumen. Kegiatan dan atribut yang melekat pada merek ketika
    berinterkasi dengan para kosumennya.
  5. Brand Benefit and Competence (Manfaat dan Keunggulan Merek)
    Yaitu nilai nilai serta kelebihan khususnya yang dihasilkan merek
    tertentu kepada kosumen yang membuat kosumen bisa menikmati
    manfaat karena kebutuhan, keinginan, harapan dan keingninanya
    terealisasi berkat penawaran tersebut.

Pengertian Brand Image


Menurut Fandy Tijiptono (2015:105) mengemukakan bahwa
image atau citra sebagai penjelasan mengenai asosiasi serta
kepercayaan kosumen mengenai suatu merek, sementara asosiasi yaitu
sifat yang melekat pada merek dan mempunyai tingkat kekuatan
tertentu. Brand image atau yang sering dikenal dengan citra merek
adalah hasil penelitian maupun pandangan baik buruknya suatu merek
oleh konsumen. sedangkan Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:328)
menjelaskan bahwasanya citra merek merupakan sekumpulan asosiasi
khusus yang hendak diwujudkan dan dijaga oleh penyedia jasa.
Asosiasi tersebut mengungkapkan merek yang sebenarnya dan apa
yang pemasar janjikan pada kosumennya. Menurut Levy dan Weitz
(2012:93) mendefinisikan citra merek (brand image) atau citra merek
merupakan sekumpulan kepercayaan, ide, dan persepsi yang dimiliki
seseorang pada merek tertentu yang bisa mempengaruhi keputusan
pembelian seseorang. Menurut Shafe, dkk (2014 :364) Brand image
atau citra merek merupakan sekumpulan persepsi mengenai merek yang
tergambar dari asosiasi merek yang terdapat pada memori konsumen.

Brand


Brand atau merek adalah suatu tanda atau simbol yang terdiri dari nama,
istilah, gambar, logo, lambang desain atau kombinasi dari semua itu yang
ditunjukan untuk mengindentifikasi, mendefinisikan atau memberi identitas
kepada suatu barang atau layanan (jasa) dari suatu penjual serta
membedakannya dari pesaing. Menurut UU No. 20 Tahun 2016 tentang merek
dan indikasi geografis, meyebutkan bahwa merek adalah tanda yang berupa
gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau
kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan
digunakan dalam kegiatan perdagangan dan jasa

Faktor-faktor Keputusan Penbelian.


Buchari Alma (2011) berpendapat bahwa keputusan pembelian sebagai suatu
keputusan konsumen yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

  1. Ekonomi keuangan
  2. Teknologi
  3. Politik
  4. Budaya
  5. Produk
  6. Harga
  7. Lokasi
  8. Promosi
  9. Physical evidence
  10. People dan process

Proses Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan pemikiran dimana individu mengevaluasi
berbagai pilihan dan memutuskan pilihan pada suatu produk dari sekian banyak
pilihan. Menurut Dewi et al., (2020) keputusan pembelian adalah ketika
konsumen melakukan pencarian informasi mengenai suatu produk atau merek
tertentu, dan mengevaluasi seberapa baik produk dapat menyelesaikan masalah
yang mengarah terhadap keputusan pembelian.
Pengambilan keputusan pembelian pada sebuah produk konsumen
memerlukan sebuah proses dimana suatu keputusan pembelian yang dipengaruhi
oleh adanya keinginan dan juga pengaruh dari lingkungan. Studi sebelumnya
menyatakan bahwa keputusan pembelian untuk produk yang relatif murah dan
frekuensi pembeliannya tinggi merupakan keputusan yang bersifat otomatis tanpa
banyak berpikir Sihotang & Ellyawati (2020). Pembeli cenderung tidak terlalu
berkomitmen pada sebuah merek. Pemasar yang memasarkan produk dengan
keterlibatan rendah dan dengan sedikit perbedaan merek sering menggunakan
promosi harga untuk mempromosikan penjualan.
Tahap-tahap proses keputusan pembelian:

  1. Problem Recognition (Pengenalan Masalah)
    Pada tahap ini konsumen mengetahui ada masalah atau kebutuhan yang
    harus diselelsaikan atau dipenuhi.
  2. Information Research (Pencarian Informasi)
    Pada tahap ini konsumen mencari sebanyak-banyaknya informasi atas
    alternatif-alternatif pilihan akan barang atau jasa yang dibutuhkan dan
    diinginkan.
  3. Evaluation of Alternatives (Evaluasi Alternatif)
    Konsumen akan mengevaluasi manfaat produk atau jasa yang akan dibeli
    tersebut dari berbagai alternatif yang tersedia.
  4. Purchase Decision (Keputusan Pembelian)
    Pada tahap ini konusmen telah menetapkan pilihan pada satu alternatif dan
    melakukan pembelian.
  5. Postpurchase Decision (Perilaku Pasca Pembelian)
    Pada tahap setelah pembelian, konsumen akan mengalami level kepuasan
    dan ketidakpuasan.

Indikator Keputusan Pembelian.


Dalam pembelian handphone merek VIVO brand image dan promosi online
merupakan penentu keputusan pembelian. Adapun beberapa indikator keputusan
pembelian sebagai berikut :

Keunggulan produk
Kelebihan suatu produk seperti pengemasan dan harganya. Konsumen
dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk melalui
beberapa keunggulan produk. Dalam hal ini perusahaan harus memberikan
informasi yang akurat tentang keunggulan produk

Model produk
Suatu produk, yang mana masing-masing merek menawarkan karakteristik
produk tertentu dalan proporsi yang tetap. Konsumen dapat mengambil
keputusan untuk memilih sebuah model produk yang akan dibeli. Dalam
hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada model produk
agar konsumen tertarik produk yang dipasarkan.

Pilihan warna
Bentuk pemilihan beberapa warna yang sesuai dengan keingin komsumen
agar dapat menentukan keputusan pembelian. Pembeli harus mengambil
keputusan warna apa yang akan dibeli.

Pilihan penyalur
Pembeli harus mengambil keputusan penyalur mana yang akan di kunjungi.
Setiap pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda dalam hal
menentukan pengalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang
murah, persediaan barang yang lengkap dan lain-lain

Harga produk
Nilai keseluruhan dari penawaran, termasuk nilai dari semua bahan mentah
dan jasa yang digunakan untuk membuat suatu penawaran. Konsumen
dapat mengambil keputusan tentang harga produk yang akan dibelinya.
Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan harga yang sesuai dengan
spesifiksi dan kempuan konsumen.

Pengertian Keputusan Pembelian.


Keputusan pembelian pada dasarnya merupakan suatu proses sehingga konsumen
menetapkan produk atau jasa yang akan dibeli. Analisis terhadap keputusan
pembelian konsumen akan memberikan informasi yang jelas terkait harapan
konsumen terhadap produk sehingga dapat memberikan jaminan bahwa produk
yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan harapan konsumen. Upaya ini dapat
terwujud dengan adanya penetapan secara tepat terkait dengan bauran promosi
yang akan dilakukan. Salah satu faktor penting pelanggan tertarik untuk
melakukan keputusan pembelian adalah harga. Konsumen sekarang ini sangat
sensitif terhadap harga suatu produk. Harga adalah jumlah keseluruhan nilai yang
diperuntukkan konsumen untuk manfaat yang didapatkan atau digunakannya atas
produk dan jasa Kotler & Armstrong (2001). Apabila harga yang ditetapkan oleh
perusahaan tepat dan sesuai dengan daya beli konsumen, maka pemilihan suatu
produk tertentu akan dijatuhkan pada produk tersebut Swastha & Irawan (2008).
Suatu produk akan lebih mudah diterima konsumen ketika harga produk tersebut
bisa dijangkau oleh konsumen. Dilihat dari faktor harga, banyak sekali toko-toko
online shop menetapkan beberapa strateginya, mulai dari diskon yang
dicantumkan pada produknya.(Jamaludin, 2015)

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Promosi


Campbell & Wright (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang terhadap
iklan dan promosi, yaitu :

  1. Personal Relevance
    Hubungan personal (Personal Relevance) dapat mempengaruhi perilaku
    seseorang terhadap iklan. Dari penelitian yang dilakukan, personal
    relevance berpengaruh terhadap perubahan perilaku seseorang dalam
    mengambil keputusan Claypool el al., (2004) dikutip dari Campbell &
    Wright (2008). Mereka menemukan bahwa personal relevance
    mempengaruhi terhadap proses pengambilan keputusan seorang individu.
  2. Online Interactivity
    Selain personal relevance, beberapa riset menunjukkan bahwa Interactivity
    sangat berpengaruh terhadap persepsi di iklan online Coyle & Thorson,
    (2001); Juang & Benbasat (2003); Liu & Shrum (2002) dikutip dari
    Campbell & Wright (2008).
  3. Message
    Faktor messsage atau pesan sangat penting dalam pembuatan sebuah iklan
    internet. Bahkan beberapa marketer berusaha sebaik mungkin untuk bisa
    membuat iklan internet yang bernilai entertainment agar dapat menarik
    perhatian konsumen. Gordon & De Lima (1997) menyatakan dalam riset
    mereka bahwa pesan dalam iklan komersial itu berfokus kepada
    penyampaian informasi. Perusahaan harus menyediakan informasi produk
    di dalam website mereka, bahkan survey pernah dilakukan kepada 500
    pengguna internet untuk masalah ini. Hasil survey adalah mereka lebih
    suka melihat iklan yang mengandung informasi dibandingkan hal-hal lucu
    ataupun games.
  4. Brand Familiarity
    Hasil study yang dilakukan oleh Bamba & Barnes (2007), mereka
    menemukan sebuah variabel penting yang berhubungan dengan pandangan
    konsumer terhadap sebuah iklan. Variabel itu adalah brand familiarity.
    Sebuah brand yang cukup dikenal pasti akan mendapatkan respon positif
    dibandingkan dengan brand baru.(Merek et al., 2017)

Indikator Promosi Online


Indikator dari promosi online menurut Samosir & Prayoga (2015) adalah :

  1. Iklan via online merupakan cara memperkenalkan produk dengan
    menggunakan media sosial seperti facebook, instagram, whatsapp dll.
  2. Diadakanya pelayanan aduan konsumen via online merupakan kegiatan
    mengkomunikasikan permasalahan baik berupa kritik dan saran melalui
    media sosial.
  3. Pemberian potongan harga merupakan tindakan mengurangi sejumlah
    harga atas suatu produk pada pembeli dari harga yang semestinya.
  4. Pemberian hadiah via online merupakan kegiatan memberikan sejumlah
    hadiah kepada pembeli melalui media sosial sebagai bentuk penghargaan
    karena telah membeli produk tertentu.(Jamaludin, 2015)

Pengertian Promosi Online


Promosi online merupakan proses kegiatan yang dilakukan oleh pihak
(perusahaan) dalam menawarkan produk barang atau jasa yang dikenalkan atau
diiklankan melalui media online (internet), sehingga tidak terjadi tatap muka
langsung antara pembeli dan penjual. Lai & Vinh (2013) media untuk melakukan
promosi online sangatlah luas, seperti youtube, instagram, facebook, dan media
lainnya yang sudah mencapai jutaan hingga ratusan juta pengguna dan memiliki
jutaan pengguna aktif setiap harinya. Oleh karena itu, banyak sekali produk yang
memanfaatkan media tersebut untuk mempromosikan produk mereka. Bahkan,
pekerjaan baru pun tercipta dari media tersebut seperti jasa endorse, influencer,
dan yang lainnya.Yulandi & Puspa (2021)
Bauran promosi online merupakan kombinasi stategi yang paling baik dari
variabel periklanan, personal selling, dan alat-alat promosi yang lain semuanya
direncanakan untuk mencapai tujuan. Perusahaan mengembangkan program
pemasaran melalui iklan, promosi penjualan dan hubungan masyarakat. Kegiatan
periklanan sangat diperlukan oleh setiap perusahaan karena persaingan yaang
semakin kompeten antar perusahaan, jumlah konsumen yang semakin meningkat
digunakan untuk peningkatan penjualan, internet yang saat ini sudah dikenal
banyak orang untuk kegiatan periklanan, dimana iklan merupakan salah satu
unsur dari bauran promosi.Jamaludin (2015)

Indikator Minat Beli


Menurut Ferdinand (2009:129) minat beli dapat diidentifikasi
melalui beberapa indikator yaitu:

  1. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk
    membeli produk.
  2. Minat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk
    merefrensikan produk kepada orang lain.
  3. Minat prefrensial, yaitu yang menggambarkan perilaku seseorang
    yang memiliki prefrensi utama pada produk tersebut. Prefrensi ini
    hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk
    prefrensinya.
  4. Minat eksploratif, yaitu minat ini menggambarkan perilaku
    seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang
    diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat
    positif dari produk tersebut.
    Tertarik untuk mencari informasi mengenai produk sebelum
    membeli konsumen harus tau bagaimana kualitas produk yang akan dibeli
    serta mempertimbangkan untuk membeli sebelum kita membeli kita harus
    mempertimbangkan, kualitas, harga, dan manfaat.
    Tertarik untuk mencoba membeli dan ingin mengetahui produk,
    konsumen mencari tau bagaimana kualitas produk melalui review para
    konsumen lain ataupun melalui endorsement

Motif-Motif Pembeli


Para pembeli memiliki motif-motif pembelian yang mendorong
mereka untuk melakukan pembelian, yaitu:
a. Primary buying motive, yaitu motif untuk membeli yang
sebenarnya, dengan kata lain pembeli berbelanja yang benar-benar
menjadi kebutuhannya saja.
b. Selective buying motive, yaitu pembelian terhadap barang dengan
berbagai timbangan, misalnya apakah ada keuntungannya, apakah
ada manfaatnya, dan lain-lain.
c. Patronage buying motive, ini membeli dengan mempertimbangkan
tempat pembeliannya, misalnya pada toko tertentu, hal ini bisa saja
timbul karena layanan memuaskan, tempatnya dekat, cukup
persediaan barang, dan lain sebagainya.
Keputusan pembelian (purchase decision), setelah konsumen
mengevaluasi beberapa alternatif strategis yang ada, konsumen akan
membuat keputusan pembeli. Terkadang waktu yang dibutuhkan antara
membuat keputusan pemadanya hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan.
Perilaku pasca pembelian (postpurchase evaluation), proses
evaluasi yang dilakukan konsumen tidak hanya berakhir pada tahap
pembuatan keputusan pembelian. Setelah melakukan membeli produk
tersebut, konsumen akan melakukan evaluasi apakah produk tersebut
sesuai dengan harapannya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli


Menurut Assael (2002:72) faktor-faktor yang mempengaruhi minat
beli konsumen diantaranya:
a. Lingkungan, lingkungan disekitar dapat mempengaruhi minat beli
konsumen dalam pemilihan suatu produk tertentu.
b. Stimulus Pemasaran, pemasaran berupaya menstimulus konsumen
sehingga dapat menarik minat beli konsumen.

Minat Beli


Menurut Ferdinan (2006) minat beli adalah pernyataan mental dari diri
konsumen yang merefleksikan rencana pembelian sejumlah produk dengan
merek tertentu. Sedangkan menurut Kotler (2005) minat beli adalah sesuatu
yang timbul setelah menerima rangsangan dari produk tersebut sampai pada
akhirnya timbul keinginan membeli agar dapat memilikinya.

Indikator Brand Image


Citra merek memiliki beberapa indikator-indikator yang
mencirikan citra merek tersebut. Menurut Freddy Rangkuti (2009:44)
bahwa terdapat beberapa indikator yang harus diperhatikan dalam
membentuk sebuah citra merek, yaitu:

  1. Recognition (Pengenalan), tingkat dikenalnya sebuah merek oleh
    konsumen.
  2. Reputation (Reputasi), tingkat atau status yang cukup tinggi bagi
    sebuah merek karena telah terbukti mempunyai “track record”
    yang baik.
  3. Affinity (Daya Tarik), semacam daya tarik yang mempunyai
    hubungan emosional dengan konsumennya.
  4. Brand Loyalty (Kesetiaan Merek), menyangkut ukuran dari
    kesetiaan pelanggan terhadap suatu merek yang bersangkutan

Tolak Ukur Brand Image


Faktor-faktor yang menjadi pendukung brand image Menurut
Aaker yang dialihbahasakan oleh Aris Ananda (2009:196) adalah:

  1. Product Attributes.
    Sebuah brand dapat memunculkan sejumlah atribut produk tertentu
    dalam fikiran pelanggan, yang mengingatkannya pada karateristik
    brand tersebut.
  2. Consumer Benefits
    Sebuah brand harus bisa memberikan suatu value tersendiri bagi
    konsistennya yang akan dilihat oleh pelanggan sebagai benefits yang
    diperolehnya ketika ia membeli atau mengkonsumsi produk
    tersebut. Consumer benefits terdiri dari:
    a) Functional benefits.
    Merupakan serangkaian benefits yang didapatkan karena
    produk dapat melaksanakan fungsi utamanya.
    b) Emotional benefits
    Merupakan serangkaian benefits yang didapatkan karena
    produk dapat memberikan perasaan yang positif kepada
    pelanggan.
    c) Self Expressive Benefits
    Merupakan serangkaian benefits yang didapatkan ketika sebuah
    brand dianggap bisa mewakili ekspresi pribadi seseorang.
    d) Brand Personality
    Brand Personality dapat didefinisikan sebagai perangkat
    karakter personal yang akan diasosiasikan oleh pelanggan
    terhadap sebuah brand tertentu.
    e) User Imagery.
    User imagery dapat didefinisikan sebagai serangkaian
    karakteristik manusia yang diasosiasikan dengan ciri-ciri tipikal
    dari pelanggan yang menggunakan atau mengkonsumsi brand
    ini.
    f) Organizational Associations.
    Pelanggan seringkali menghubungkan produk yang dibelinya
    dengan kredibilitas perusahaan yang membuatnya. Hal ini yang
    kemudian mempengaruhi persepsinya terhadap sebuah brand
    yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut.
    g) Brand Customer Relationship.
    Sebuah brand harus bisa menciptakan hubungan dengan
    pelanggannya. Hal ini dapat diukur dengan tujuh dimensi, yaitu:
    1) Behavior interdevendence, seperti: pelanggan merasa sangat
    tergantung dengan suatu brand.
    2) Personal commitmen, seperti: pelanggan merasa loyal
    dengan brand.
    3) Love and passion, seperti: pelanggan akan merasa kecewa
    jika brand tidak dapat menemukan ketika dia
    membutuhkannya.
    4) Nostalgic connection, yaitu mengingatkan pelanggan akan
    sesuatu hal atau pengalaman di masa lalu.
    5) Self concept, yaitu mengingatkan pelanggan tentang dirinya
    sendiri.
    6) Intimacy, yaitu pelanggan merasa familiar dengan brand.
    7) Partner quality, yaitu pelanggan merasa suatu brand dapat
    mengerti kebutuhan dan keinginannya

Brand Image


Perusahaan harus memiliki merek yang berbeda dengan pesaingnya,
begitu pula dengan citra merek yang tertanam di benak pelanggan. Karena citra
merek merupakan salah satu hal yang dilihat pertama kali oleh pelanggan
sebelum melakukan pembelian atau pemilihan produk. Menurut Kotler dan
Keller (2012:248) “Brand Imagery describes the extrinsic properties of the
product or service, including the ways in which the brand attempts to meet
customers psychological or social needs”. Brand Image menggambarkan sifat
ekstrinsik dari suatu produk atau jasa termasuk cara dimana merek berusaha
memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial pelanggan.
Citra merek merupakan pemahaman pelanggan mengenai merek secara
keseluruhan. Kepercayaan pelanggan terhadap suatu merek tertentu dan
bagaimana pelanggan memandang suatu merek. Citra merek yang positif akan
membuat pelanggan menyukai suatu produk dengan merek yang bersangkutan
dikemudian hari, sedangkan bagi produsen citra merek yang baik akan
menghambat kegiatan pemasaran pesaing. Kotler dan Armstrong (2013:233)
mengemukakan pengertian citra merek “The set of belief held about a
particular brand is known as brand image”. Yang artinya adalah sekumpulan
keyakinan terhadap suatu merek disebut citra merek. Kotler dan Keller
(2012:768) mendefinisikan brand image “Preception and beliefs held by
consumers. As reflected in the associations held in consumers memory”.
sebagai sekumpulan persepsi dan kepercayaan yang dimiliki oleh pelanggan
terhadap suatu brand yang direfleksikan melalui asosiasi-asosiasi yang ada
dalam ingatan pelanggan.
Ketika suatu brand image telah mampu untuk membangun karakter
produk dan memberikan value proposition, kemudian menyampaikan karakter
produk tersebut kepada pelanggannya secara unik, berarti brand tersebut telah
memberikan suatu kekuatan emosional lebih dari kekuatan rasional yang
dimiliki oleh produk tersebut. Hal ini akan membuat pelanggan
mengasosiasikan hal positif dalam pikirannya ketika mereka memikirkan brand
tersebut.
Keller dalam Alfian B (2012: 26) mengemukakan faktor-faktor
terbentuknya citra merek atara lain:

  1. Keunggulan produk merupakan salah satu faktor pembentuk Brand
    Image, dimana produk tersebut unggul dalam persaingan. Karena
    keunggulan kualitas (model dan kenyamanan) dan ciri khas itulah yang
    menyebabkan suatu produk mempunyai daya tarik tersendiri bagi
    pelanggan. Favorability of brand association adalah asosiasi merek
    dimana pelanggan percaya bahwa atribut dan manfaat yang diberikan
    oleh merek akan dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan dan
    keinginan mereka sehingga mereka membentuk sikap positif terhadap
    merek. Kekuatan merek merupakan asosiasi merek tergantung pada
    bagaimana informasi masuk kedalam ingatan pelanggan dan bagaimana
    proses bertahan sebagai bagian dari citra merek.
  2. Kekuatan asosiasi merek ini merupakan fungsi dari jumlah pengolahan
    informasi yang diterima pada proses ecoding. Ketika seorang pelanggan
    secara aktif menguraikan arti informasi suatu produk atau jasa maka
    akan tercipta asosiasi yang semakin kuat pada ingatan pelanggan.
    Pentingnya asosiasi merek pada ingatan pelanggan tergantung pada
    bagaimana suatu merek tersebut dipertimbangkan.
  3. Keunikan merek adalah asosiasi terhadap suatu merek mau tidak mau
    harus terbagi dengan merek-merek lain. Oleh karena itu, harus
    diciptakan keunggulan bersaing yang dapat dijadikan alasan bagi
    pelanggan untuk memilih suatu merek tertentu. Dengan memposisikan
    merek lebih mengarah kepada pengalaman atau keuntungan diri dari
    image produk tersebut. Dari perbedaan yang ada, baik dari produk,
    pelayanan, personil, dan saluran yang diharapkan memberikan
    perbedaan dari pesaingnya, yang dapat memberikan keuntungan bagi
    produsen dan pelanggan.

Manfaat dan Keuntungan Merek


Merek memiliki beberapa manfaat untuk perusahaan sehingga
merek dapat menjadi salah satu alasan keberhasilan suatu perusahaan
dimasa yang akan datang. Menurut Buchari Alma (2011:134), merek atau
brand akan memberikan manfaat kepada:

  1. Produsen atau penjual
    a. Memudahkan penjual dalam mengolah pesanan-pesanan dan
    menekan masalah.
    b. Nama merek dan tanda dagang secara hukum akan melindungi
    penjual dari pemalsuan ciri-ciri produk karena jika tidak
    demikian setiap pesaing akan meniru produk tersebut.
    c. Memberi peluang bagi penjual kesetiaan pelanggan pada
    produknya dengan menetapkan harga lebih tinggi.
    d. Membantu penjual dalam mengelompokkan pasar ke dalam
    segmen-segmen tertentu.
    e. Citra perusahaan dapat dibina dengan adanya merek yang baik.
    f. Memberikan pertahanan terhadap persaingan harga yang ganas.
  2. Pembeli atau pelanggan
    a. Dapat membedakan produk tanpa harus memeriksa secara teliti.
    b. Pelanggan mendapat informasi tentang produk.
    c. Meningkatkan efesiensi.

Merek


Salah satu tugas perusahaan adalah menciptakan merek yang positif
dimata pelanggan dimana merek merupakan salah satu hal yang harus di
perhatikan oleh perusahaan untuk keberlangsungan usahanya dimasa yang
akan datang.
Menurut Kertajaya (2010:63), merek disebut sebagai value indicator
karena brand mampu menciptakan dan menambahkan value kepada produk,
perusahaan, orang atau bahkan Negara, oleh karena itu brand menjadi
indicator value yang ditawarkan kepada pelanggan internal, eksternal, dan
investor. Selain itu merek mengindikasikan value dari produk, sehingga akan
membuat perusahaan mampu menghindar dari jebakan komoditas.
Salah satu hal yang memegang peranan penting dalam pemasaran
adalah merek. Terdapat beberapa perbedaan antara produk dengan merek.
Produk merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh pabrik dan mudah ditiru oleh
para pesaing. Sedangkan merek merupakan sesuatu yang dibeli oleh kosumen,
memiliki nilai dan identitas atau ciri tertentu yang dilindungi secara hukum
sehingga tidak dapat ditiru oleh pesaing. Merek mempengaruhi persepsi
pelanggan terhadap produk yang akan dibeli maka persaingan antar perusahaan
adalah persaingan persepsi bukan produk (Tjiptono 2011:34).
Menurut undang-undang Merek no 15 tahun 2001 pasal 1 ayat 1 dalam
Fandy Tjiptono (2011:3), menyatakan bahwa “Merek adalah tanda yang berupa
gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi
dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam
kegiatan perdagangan barang atau jasa”. Menurut Kotler dan Armstrong
(2013:230) merek adalah “Brand is a name, term, symbol, design, or a
combination of these, that identifies the products or services of one seller or
group seller and differentiates them from those of competitors”.

Pengertian Komunikasi Pemasaran


Komunikasi pemasaran memegang peranan sangat penting bagi
pemasar. Tanpa komunikasi, konsumen maupun masyarakat secara
keseluruhan tidak akan mengetahui keberadaan produk di pasar. Penentuan
siapa saja yang menjadi sasaran komunikasi akan sangat menentukan
keberhasilan komunikasi. Dengan penentuan sasaran yang tepat, proses
komunikasi akan berjalan efektif dan efisien (Sutisna, 2002:268).
Perusahaan menggunakan berbagai bentuk komunikasi pemasaran
untuk mempromosikan apa yang mereka tawarkan dan mencapai tujuan
finansial. Kegiatan pemasaran yang melibatkan aktivitas komunikasi meliputi
iklan, tenaga penjualan, papan nama toko, display di tempat pembelian,
kemasan produk, direct-mail, sampel produk gratis, kupon, publisitas, dan alatalat komunikasi lainnya (Shimp, 2003:4).
Menurut Kotler dan Keller (2012:498), komunikasi pemasaran adalah
sarana yang digunakan perusahaan dalam upaya untuk menginformasikan,
membujuk, dan mengingatkan konsumen baik secara langsung maupun tidak
langsung tentang produk dan merek yang mereka jual.

Pengertian Pemasaran


Inti dari pemasaran adalah mengidentifikasikan dan memenuhi
kebutuhan manusia dan sosial. Salah satu definisi yang baik dan singkat dari
pemasaran adalah “memenuhi kebutuhan dengan cara yang menguntungkan”.
Pengertian pemasaran menurut Kotler dan Keller (2013:50), adalah
“Marketing is an organizational function and a set of processes for creating,
communicating, and deliver in value to costumer relationship in ways that
benefit the organization and its stakeholders”, sedangkan pengertian
pemasaran menurut Kotler dan Amstrong (2014:27) yaitu : “Marketing as the
process by which companies create value for customers and build strong
customer relationship in order to capture value from customers in return”.
Definisi pemasaran berikutnya disampaikan oleh Kurtz (2012:7) yaitu
“Marketing is an organizational function and set of process for creating
communicating and delivering value to customers and for managing customers
relationship in that benefit the organization and stakeholders”.

Pengertian Tentang Komunikasi


Kata Komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris
berasal dari kata Latin comunicatio, yang bersumber dari kata communis
yang berarti sama. Dalam perspektif umum, kata sama yang dimaksudkan
di sini adalah sama makna. (Hikmat, 2011:68)
“Esensinya, menurut Santropoetro dalam Hikmat yaitu:
“Kesamaan pengertian di antara mereka yang berkomunikasi.
Suatu komunikasi dalam kegiatannya berlangsung melalui suatu
proses, yaitu jalan dan urutan kegiatan sehingga terjadi atau timbul
pengertian tentang suatu hal di antara unsur-unsur yang saling
berkomunikasi.” (Santropoetro dalam Hikmat, 2011:68).
Banyak definisi komunikasi diungkapkan oleh para ahli dan pakar
komunikasi seperti yang di ungkapkan oleh Carl. I. Hovland yang dikutip
oleh Effendy dalam buku “Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek”, yaitu:
“Ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk
merumuskan secara tegar asas-asas penyampain informasi serta
pembentukan pendapat dan sikap.” (Effendy, 2004:10).
Menurut Hovland, dikutip oleh Onong Uchjana Effendy dalam
buku “Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek” mendefinisikan komunikasi
sebagai proses mengubah perilaku orang lain. (communications is the
process to modify the behavior of other individuals). (Effendy, 2004:10).
Definisi diatas memberikan gambaran bahwa ketika ingin
mengubah perilaku seseorang yakni dengan melakukan komunikasi
dengan cara memberikan rangsangan berupa suatu lambang atau bahasa
yang dipahami oleh pemberi pesan dan penerima pesan. Perubahan yang
diinginkan tidak hanya bersifat perubahaan perilaku tapi juga perubahaan
cara berpikir (mindset) orang yang dituju. Reaksi perubahaan itu pun
bermacam-macam, ada yang langsung atau bahkan ada yang mengalami
proses penundaan sampai orang yang dituju benar-benar memahami
maksud dari aksi komunikasinya. Dari pengertian komunikasi yang telah
dikemukakan, jelas bahwa komunikasi hanya bisa terjadi, jika ada
seseorang yang menyampaikan pesan kalau didukung oleh adanya
sumber, pesan, media, penerimaan dan efek. (Cangara, 2008:22).

Pengaruh Kesadaran Merek terhadap Niat Beli


Dalam penelitian Mariam Tahira et al. (2011) menunjukkan adanya hubungan
yang signifikan antara kesadaran merek terhadap niat konsumen untuk membeli
suatu produk. Grewal, Monroe & Krishnan (1998) dalam Amir Gulzar et al.
(2011) berpendapat “high brand awareness can influence the retailer or reseller
purchase decision” yang artinya kesadaran merek yang tinggi akan memengaruhi
pengecer atau penjual ulang memutuskan untuk membeli. Peneliitian tersebut
menguji keterkaitan hubungan antara kesadaran merek, persepsi kualitas dan
loyalitas terhadap niat pembelian.

Pengaruh Citra Merek terhadap Niat Beli


Dalam penelitian Mohammad Reza Jalilvand dan Neda Samiei (2012) dijelaskan
bahwa citra merek dipengaruhi secara kuat oleh e-WOM yang kemudian sebagai
hasilnya akan mempengaruhi niat konsumen untuk membeli. Tujuan dari
penelitian tersebut adalah untuk mengetahui pengaruh secara langsung e-WOM
terhadap niat beli konsumen dan juga pengaruh secara langsung terhadap citra
merek yang juga akan mempengaruhi niat beli konsumen. Atribut adalah fitur
deskriptif yang menjadi ciri dari sebuah merek, seperti apa yang konsumen
pikirkan mengenai merek tersebut dan apa yang terlibat dengan pembelian

Pengaruh Penggunaan Selebriti dalam Iklan terhadap Niat Beli


Menurut Tatik Suryani (2013 : 171) menggunakan artis untuk mempromosikan
produk dipandang mempunyai pengaruh yang cukup kuat karena popularitas
mereka di masyarakat. Pemasar biasanya memilih artis yang sedang populer dan
dikagumi khalayak sasaran yang menjadi pasar sasarannya. Masih dalam
bukunya, Tatik Suryani menjelaskan bahwa kredibilitas selebriti mempunyai
peranan yang penting dalam menciptakan persepsi yang baik terhadap produk atau
merek yang diiklankan, sehingga berdampak pada niat beli pada suatu produk.
Berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan oleh Sushil Raturi dan Vikram
Parekh (2012) yaitu mengetahui pengaruh atribut merek nasional terhadap niat
beli konsumen. Penelitian kuantitatif ini terfokus pada pengaruh kualitas,
dukungan selebriti, harga, dan prestis merek nasional terhadap niat beli
konsumen. Hasil penelitian tersebut juga mengindikasikan bahwa penggunaan
dukungan selebriti dapat memengaruhi niat konsumen untuk membeli suatu
produk.

Niat Beli


Menurut (Kotler dalam Raturi & Parekh, 2012) “consumer behaviour occurs
when consumers are stimulated by eksternal factors and come to a purchase
decision based on their personal characteristic”s yang artinya perilaku konsumen
terjadi ketika konsumen dipengaruhi oleh faktor eksternal dan selanjutnya
keputusan pembelian berdasarkan karakteristik konsumen dan proses
pengambilan keputusan. Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian
termasuk pemilihan produk, merek, penjual, waktu dan jumlah.
Beberapa faktor yang membentuk niat beli dan keputusan pembelian konsumen
menurut Kotler dan Keller (2009 : 189) yaitu :

  1. Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif
    yang disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, sikap
    negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan
    motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain.
  2. Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat
    mengubah pendirian konsumen. Hal tersebut tergantung dari
    pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya diri dalam
    memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak.
    Menurut Khan, et al (2012) dalam penelitiannya, niat beli definisikan sebagai niat
    individu untuk membeli sebuah merek spesifik yang mana individu tersebut ingin
    membeli sebuah merek yang sudah terpilih untuk diri mereka sendiri setelah
    evaluasi. Ada beberapa variable yang bisa mempengaruhi niat beli untuk contoh
    dugaan merek yang diperuntukkan untuk pembelian dan dugaan pembelian merek
    di masa depan.

Kesadaran Merek


Menurut Aaker (2004 : 10) Kesadaran merek adalah kesanggupan seorang calon
pembeli untuk mengenali, mengingat kembali suatu merek sebagai bagian dari
suatu kategori produk tertentu. Peran kesadaran merek dalam ekuitas merek
tergantung pada tingkat akan pencapaian kesadaran dibenak konsumen. Menurut
Fandy Tjiptono (2011 : 97) Kesadaran Merek yaitu kemampuan konsumen untuk
mengenali atau mengingat bahwa sebuah merek merupakan anggota dari kategori
tertentu.
Menurut Erna Ferrinadewi (2008 : 174) merek yang sering dibeli oleh keluarga
biasanya akan membuat seluruh anggota keluarga memiliki kesadaran yang tinggi
akan keberadaan merek. Walaupun merek tersebut merek yang tidak terpikirkan
oleh konsumen, namun nama merek akan menetap dalam ingatan konsumen
karena tingginya frekuensi anggota keluarga melihat terpapar oleh merek yang
sama. Semakin sering merek tersebut dilihat dan digunakan oleh seluruh anggota
keluarga maka ingatan konsumen semakin kuat.
Masih menurut Erna Ferrinadewi (2008 : 174) Kesadaran terhadap merek
direfleksikan dalam kemampuan konsumen mengidentifikasi merek dalam
berbagai situasi yang berbeda. Kemempuan konsumen ditentukan juga oleh
derajat motivasinya. Ketika konsumen berada dalam siatuasi pembelian dengan
motivasi yang tinggi, maka konsumen akan membutuhkan lebih banyak waktu
dalam proses pengambilan keputusan agar mendapatkan lebih banyak waktu
untuk menjadi familiar pada merek. Misalkan pada pembelian produk seperti
mobil atau produk yang sifatnya tahan lama.

Citra Merek


Menurut Kotler dan Keller (2007 : 346) citra merek adalah persepsi dan
keyakinan yang dilakukan oleh konsumen, seperti tercermin dalam asosiasi yang
terjadi dalam memori konsumen Setiap produk yang di jual di pasar dipastikan
memiliki sebuah merek, sebagai pembeda produk yang satu dengan produk yang
lain. Merek adalah instrumen yang penting dalam sebuah strategi untuk
memasarkan produk. Para pembeli banyak beranggapan jika identitas dan merek
adalah satu kesatuan yang sama, ternyata hal itu adalah sesuatu yang berbeda.
Identitas terdiri dari berbagai cara yang dimaksudkan oleh perusahaan untuk
mengidentifikasikan atau memposisikan diri maupun produknya. Sedangkan citra
adalah cara masyarakat mempersepsikan perusahaan atau produk yang
dimilikinya (Kotler dan Keller, 2007).
Menurut Kotler dan Keller (2009 : 403) citra merek adalah persepsi dan
keyakinan yang dipegang oleh konsumen seperti yang dicerminkan dalam asosiasi
yang tertanam dalam ingatan konsumen.
Tatik Suryani (2013 : 85) menjelaskan, setelah dekade terakhir, perusahaan
mempunyai kejelasan terhadap kenaikan investasi dalam penciptaan dan
pengembangan merek. Penciptaan merek menyiratkan sebuah komunikasi citra
merek tertentu yang sedemikian rupa, sehingga target kelompok perusahaan
seperti perantara sebuah merek. Citra perusahaan mempunyai peran besar dalam
melakukan proses pengambilan keputusan konsumen. Ketika konsumen tidak
mempunyai informasi yang lengkap tentang produk dan merek, konsumen akan
menggunakan citra perusahaan sebagai dasar memilih produk yang ada.
Masyarakat kadang tidak menyukai produk karena citra yang melekat sudah
terlanjur buruk bagi masyarakat.
Menurut Tatik Suryani (2013 : 86) citra merek umumnya didefinisikan segala hal
yang terkait dengan merek yang ada di benak ingatan konsumen. Citra merek
yang merupakan persepsi konsumen terhadap merek secara menyeluruh ini
dibentuk oleh informasi yang diterima dan pengalaman konsumen atas merek
tersebut. Setiap perusahaan akan membangun citra merek produk yang dipasarkan
untuk mendapatkan tempat di hati konsumennya agar selalu mengingat produknya. Terbentuknya citra merek, citra perusahaan, dan citra produk
memerlukan waktu dan proses yang panjang karena terbentuk dari hasil persepsi
terhadap obyek dalam kurun waktu yang panjang.
Sebuah biro riset (www.benchmarkresearch.co.uk) dalam Erna Ferrinadewi
(2008) berpendapat bahwa konsep brand image, terdapat 3 komponen penting
yaitu brand association, brand values dan brand positioning.

  1. Brand Association : merupakan tindakan konsumen untuk membuat
    asosiasi berdasarkan pengetahuan mereka akan merek baik itu
    pengetahuan yang sifatnya factual maupun yang bersumber dari
    pengalaman dan emosi.
  2. Brand Values : tindakan konsumen dalam memilih merek. Sering kali
    tindakan konsumen ini lebih karena persepsi mereka pada karakteristik
    merek dikaitkan dengan nilai-nilai yang mereka yakini.
  3. Brand Positioning : merupakan persepsi konsumen akan kualitas
    merek yang nantinya persepsi ini akan digunakan oleh konsumen
    dalam evaluasi alternatif merek yang akan dipilih.
    Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Emari Hossein (2011) citra merek
    dapat diukur berdasarkan dua indikator, dan ke dua indikator tersebut adalah :
  4. Merek yang di beli berdasarkan kualitas merek
  5. Merek yang di beli untuk memenuhi keinginan
    Sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Davis et al., (2009) citra
    merek juga di ukur berdasarkan dua indikator, ke dua indikotar tersebut adalah :
  6. Kualitas produk
  7. Tampilan produk

Penggunaan Selebriti dalam Iklan


Kotler dan Keller (2007 : 244) mendefinisikan “iklan adalah segala bentuk
presentasi nonpribadi dan promosi gagasan barang, atau jasa oleh sponsor tertentu
yang harus dibayar”. Iklan dapat merupakan cara yang berbiaya efektif guna
menyebarkan pesan, entah untuk membangun preferensi merek atau untuk
mendidik orang. Tujuan iklan merupakan suatu tugas komunikasi tertentu dan
tingkat pencapaiannya harus diperoleh pada audiens tertentu dalam kurun waktu
tertentu.
Menurut Tatik Suryani (2013 : 170) bahwa di masyarakat Indonesia selebriti
seperti penyanyi, pemain musik, artis, pelawak, atlit, eksekutif, dan politikus,
merupakan orang-orang yang mempunyai popularitas tinggi dan pengaruh kuat
terhadap konsumen lain. Anak-anak menyukai pemain sinetron, dan penyanyi
anak-anak. Kaum remaja menyukai para artis pemain sinetron remaja, pemain
musik yang sedang naik daun, atlit muda olahraga. Demikian juga ibu-ibu
maupun bapak-bapak juga banyak diantara mereka yang mengidolakan selebriti
tertentu. Melihat kondisi ini, pasar berupaya memanfaatkannya terutama untuk
kepentingan promosi. Dalam mempromosikan produk atau jasa pemasar
menggunakan selebriti sebagai dukungan selebriti dengan berbagai peran dalam
komunikasi pemasaran.
Tatik Suryani (2013 : 171) mengemukakan bahwa menggunakan artis untuk
mempromosikan produk dipandang mempunyai pengaruh yang cukup kuat karena
popularitas mereka di masyarakat. Pemasar biasanya memilih artis yang sedang
populer dan dikagumi khalayak sasaran yang menjadi pasar sasarannya. Terdapat
empat peran yang dapat dilakukan oleh artis dalam mempromosikan produk atau
jasa, yakni:

  1. Memberikan kesaksian (testimonial)
    Dalam iklan sering kita temukan penggunaan selebriti untuk memberikan
    kesaksian keunggulan produk. Contoh : penggunaan Widyawati untuk
    iklan Vitamin Natur E. penggunaan artis terkenal untuk memberikan
    kesaksian manfaat ini banyak digunakan pada produk shampoo, fesyen,
    dan produk kecantikan.
  2. Memberikan penguatan atau dorongan (endorsement)
    Contoh penggunaan artis dalam komunikasi pemasaran yang berperan
    membangkitkan keinginan dan dorongan konsumen untuk menggunakan
    suatu produk. Misalnya: Sophia Latjuba digunakan sebagai endorser
    dalam iklan Tolak Angin.
  3. Berperan sebagai aktor dalam iklan
    Kebanyakan iklan menggunakan selebriti yang berperan sebagai dukungan
    selebriti, iklan sepeda motor dari berbagai merek yang ditayangkan di TV.
    Kebanyakan menggunakan aktor-aktor yang cukup popular di masyarakat.
    Penggunaan bintang film seperti Inul Daratista, Dedy Mizwar, Didi Petet,
    Tukul pada beberapa iklan produk merupakan contoh penggunaan selebriti
    sebagai aktor dalam iklan.
  4. Berperan sebagai juru bicara perusahaan
    Dalam hal ini perusahaan menggunakan artis tidak hanya sekedar untuk
    mengiklankan produknya sebagai aktor, tetapi menjadi juru bicara ketika
    perusahaan melakukan public relation dan media relation. Contoh para
    pemenang Puteri Indonesia dijadikan juru bicara untuk produk perusahaan.

Brand Image


Perusahaan harus memiliki merek yang berbeda dengan pesaingnya,
begitu pula dengan citra merek yang tertanam di benak pelanggan. Karena citra
merek merupakan salah satu hal yang dilihat pertama kali oleh pelanggan
sebelum melakukan pembelian atau pemilihan produk. Menurut Kotler dan
Keller (2012:248) “Brand Imagery describes the extrinsic properties of the
product or service, including the ways in which the brand attempts to meet
customers psychological or social needs”. Brand Image menggambarkan sifat
ekstrinsik dari suatu produk atau jasa termasuk cara dimana merek berusaha
memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial pelanggan.
Citra merek merupakan pemahaman pelanggan mengenai merek secara
keseluruhan. Kepercayaan pelanggan terhadap suatu merek tertentu dan
bagaimana pelanggan memandang suatu merek. Citra merek yang positif akan
membuat pelanggan menyukai suatu produk dengan merek yang bersangkutan
dikemudian hari, sedangkan bagi produsen citra merek yang baik akan
menghambat kegiatan pemasaran pesaing. Kotler dan Armstrong (2013:233)
mengemukakan pengertian citra merek “The set of belief held about a
particular brand is known as brand image”. Yang artinya adalah sekumpulan
keyakinan terhadap suatu merek disebut citra merek. Kotler dan Keller
(2012:768) mendefinisikan brand image “Preception and beliefs held by
consumers. As reflected in the associations held in consumers memory”.
sebagai sekumpulan persepsi dan kepercayaan yang dimiliki oleh pelanggan
terhadap suatu brand yang direfleksikan melalui asosiasi-asosiasi yang ada
dalam ingatan pelanggan.
Ketika suatu brand image telah mampu untuk membangun karakter
produk dan memberikan value proposition, kemudian menyampaikan karakter
produk tersebut kepada pelanggannya secara unik, berarti brand tersebut telah
memberikan suatu kekuatan emosional lebih dari kekuatan rasional yang
dimiliki oleh produk tersebut. Hal ini akan membuat pelanggan
mengasosiasikan hal positif dalam pikirannya ketika mereka memikirkan brand
tersebut.
Keller dalam Alfian B (2012: 26) mengemukakan faktor-faktor
terbentuknya citra merek atara lain:

  1. Keunggulan produk merupakan salah satu faktor pembentuk Brand
    Image, dimana produk tersebut unggul dalam persaingan. Karena
    keunggulan kualitas (model dan kenyamanan) dan ciri khas itulah yang
    menyebabkan suatu produk mempunyai daya tarik tersendiri bagi
    pelanggan. Favorability of brand association adalah asosiasi merek
    dimana pelanggan percaya bahwa atribut dan manfaat yang diberikan
    oleh merek akan dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan dan
    keinginan mereka sehingga mereka membentuk sikap positif terhadap
    merek. Kekuatan merek merupakan asosiasi merek tergantung pada
    bagaimana informasi masuk kedalam ingatan pelanggan dan bagaimana
    proses bertahan sebagai bagian dari citra merek.
  2. Kekuatan asosiasi merek ini merupakan fungsi dari jumlah pengolahan
    informasi yang diterima pada proses ecoding. Ketika seorang pelanggan
    secara aktif menguraikan arti informasi suatu produk atau jasa maka
    akan tercipta asosiasi yang semakin kuat pada ingatan pelanggan.
    Pentingnya asosiasi merek pada ingatan pelanggan tergantung pada
    bagaimana suatu merek tersebut dipertimbangkan.
  3. Keunikan merek adalah asosiasi terhadap suatu merek mau tidak mau
    harus terbagi dengan merek-merek lain. Oleh karena itu, harus
    diciptakan keunggulan bersaing yang dapat dijadikan alasan bagi
    pelanggan untuk memilih suatu merek tertentu. Dengan memposisikan
    merek lebih mengarah kepada pengalaman atau keuntungan diri dari
    image produk tersebut. Dari perbedaan yang ada, baik dari produk,
    pelayanan, personil, dan saluran yang diharapkan memberikan
    perbedaan dari pesaingnya, yang dapat memberikan keuntungan bagi
    produsen dan pelanggan

Manfaat dan Keuntungan Merek


Merek memiliki beberapa manfaat untuk perusahaan sehingga
merek dapat menjadi salah satu alasan keberhasilan suatu perusahaan
dimasa yang akan datang. Menurut Buchari Alma (2011:134), merek atau
brand akan memberikan manfaat kepada:

  1. Produsen atau penjual
    a. Memudahkan penjual dalam mengolah pesanan-pesanan dan
    menekan masalah.
    b. Nama merek dan tanda dagang secara hukum akan melindungi
    penjual dari pemalsuan ciri-ciri produk karena jika tidak
    demikian setiap pesaing akan meniru produk tersebut.
    c. Memberi peluang bagi penjual kesetiaan pelanggan pada
    produknya dengan menetapkan harga lebih tinggi.
    d. Membantu penjual dalam mengelompokkan pasar ke dalam
    segmen-segmen tertentu.
    e. Citra perusahaan dapat dibina dengan adanya merek yang baik.
    f. Memberikan pertahanan terhadap persaingan harga yang ganas.
  2. Pembeli atau pelanggan
    a. Dapat membedakan produk tanpa harus memeriksa secara teliti.
    b. Pelanggan mendapat informasi tentang produk.
    c. Meningkatkan efesiensi.

Merek


Salah satu tugas perusahaan adalah menciptakan merek yang positif
dimata pelanggan dimana merek merupakan salah satu hal yang harus di
perhatikan oleh perusahaan untuk keberlangsungan usahanya dimasa yang
akan datang.
Menurut Kertajaya (2010:63), merek disebut sebagai value indicator
karena brand mampu menciptakan dan menambahkan value kepada produk,
perusahaan, orang atau bahkan Negara, oleh karena itu brand menjadi
indicator value yang ditawarkan kepada pelanggan internal, eksternal, dan
investor. Selain itu merek mengindikasikan value dari produk, sehingga akan
membuat perusahaan mampu menghindar dari jebakan komoditas.
Salah satu hal yang memegang peranan penting dalam pemasaran
adalah merek. Terdapat beberapa perbedaan antara produk dengan merek.
Produk merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh pabrik dan mudah ditiru oleh
para pesaing. Sedangkan merek merupakan sesuatu yang dibeli oleh kosumen,
memiliki nilai dan identitas atau ciri tertentu yang dilindungi secara hukum
sehingga tidak dapat ditiru oleh pesaing. Merek mempengaruhi persepsi
pelanggan terhadap produk yang akan dibeli maka persaingan antar perusahaan
adalah persaingan persepsi bukan produk (Tjiptono 2011:34).
Menurut undang-undang Merek no 15 tahun 2001 pasal 1 ayat 1 dalam
Fandy Tjiptono (2011:3), menyatakan bahwa “Merek adalah tanda yang berupa
gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi
dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam
kegiatan perdagangan barang atau jasa”. Menurut Kotler dan Armstrong
(2013:230) merek adalah “Brand is a name, term, symbol, design, or a
combination of these, that identifies the products or services of one seller or
group seller and differentiates them from those of competitors”.
Berdasarkan definisi dari beberapa ahli tentang merek, dapat
disimpulkan bahwa merek merupakan suatu bentuk identitas dari suatu produk
yang ditawarkan ke pelanggan yang dapat membedakan produk perusahaan
dari produkpesaing yang berbentuk suatu nama, kata, tanda, simbol, desain,
atau kombinasi dari semua hal tersebut.
Terdapat enam level pengertian merek menurut Kotler dan Keller
(2012:460). Tingkatannya meliputi:

  1. Atribut, merek mengingatkan pada atribut-atribut tertentu, Contoh:
    Ferrari memberikan kesan mobil mahal dan bergengsi.
  2. Manfaat, atribut perlu diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan
    emosional.
  3. Nilai, merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen.
  4. Budaya, merek mewakili budaya tertentu yang dianut.
  5. Kepribadian, merek mencerminkan atau memproyeksikan suatu
    kepribadian tertentu.
  6. Pemakai, merek memperhatikan jenis pelanggan yang menggunakan
    atau membeli produk tertentu

Pengertian Komunikasi Pemasaran


Komunikasi pemasaran memegang peranan sangat penting bagi
pemasar. Tanpa komunikasi, konsumen maupun masyarakat secara
keseluruhan tidak akan mengetahui keberadaan produk di pasar. Penentuan
siapa saja yang menjadi sasaran komunikasi akan sangat menentukan
keberhasilan komunikasi. Dengan penentuan sasaran yang tepat, proses
komunikasi akan berjalan efektif dan efisien (Sutisna, 2002:268).
Perusahaan menggunakan berbagai bentuk komunikasi pemasaran
untuk mempromosikan apa yang mereka tawarkan dan mencapai tujuan
finansial. Kegiatan pemasaran yang melibatkan aktivitas komunikasi meliputi
iklan, tenaga penjualan, papan nama toko, display di tempat pembelian,
kemasan produk, direct-mail, sampel produk gratis, kupon, publisitas, dan alatalat komunikasi lainnya (Shimp, 2003:4).
Menurut Kotler dan Keller (2012:498), komunikasi pemasaran adalah
sarana yang digunakan perusahaan dalam upaya untuk menginformasikan,
membujuk, dan mengingatkan konsumen baik secara langsung maupun tidak
langsung tentang produk dan merek yang mereka jual.

Pengertian Pemasaran


Inti dari pemasaran adalah mengidentifikasikan dan memenuhi
kebutuhan manusia dan sosial. Salah satu definisi yang baik dan singkat dari
pemasaran adalah “memenuhi kebutuhan dengan cara yang menguntungkan”.
Pengertian pemasaran menurut Kotler dan Keller (2013:50), adalah
“Marketing is an organizational function and a set of processes for creating,
communicating, and deliver in value to costumer relationship in ways that
benefit the organization and its stakeholders”, sedangkan pengertian
pemasaran menurut Kotler dan Amstrong (2014:27) yaitu : “Marketing as the
process by which companies create value for customers and build strong
customer relationship in order to capture value from customers in return”.
Definisi pemasaran berikutnya disampaikan oleh Kurtz (2012:7) yaitu
“Marketing is an organizational function and set of process for creating
communicating and delivering value to customers and for managing customers
relationship in that benefit the organization and stakeholders”

Pengertian Tentang Komunikasi


Kata Komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris
berasal dari kata Latin comunicatio, yang bersumber dari kata communis
yang berarti sama. Dalam perspektif umum, kata sama yang dimaksudkan
di sini adalah sama makna. (Hikmat, 2011:68)
“Esensinya, menurut Santropoetro dalam Hikmat yaitu:
“Kesamaan pengertian di antara mereka yang berkomunikasi.
Suatu komunikasi dalam kegiatannya berlangsung melalui suatu
proses, yaitu jalan dan urutan kegiatan sehingga terjadi atau timbul
pengertian tentang suatu hal di antara unsur-unsur yang saling
berkomunikasi.” (Santropoetro dalam Hikmat, 2011:68).
Banyak definisi komunikasi diungkapkan oleh para ahli dan pakar
komunikasi seperti yang di ungkapkan oleh Carl. I. Hovland yang dikutip
oleh Effendy dalam buku “Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek”, yaitu:
“Ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk
merumuskan secara tegar asas-asas penyampain informasi serta
pembentukan pendapat dan sikap.” (Effendy, 2004:10).
Menurut Hovland, dikutip oleh Onong Uchjana Effendy dalam
buku “Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek” mendefinisikan komunikasi
sebagai proses mengubah perilaku orang lain. (communications is the
process to modify the behavior of other individuals). (Effendy, 2004:10).

Hubungan Brand Image dengan Media Sosial Pada Event


Hubungan brand image dengan media sosial pada event sangat
penting yaitu untuk membangun kesadaran merek dan memperluas
jangkauan pemasaran event. Brand image adalah citra dan persepsi yang
terbentuk tentang suatu merek atau event di benak pengunjung. Sementara
itu, media sosial menyediakan platform untuk membangun, memperkuat,
dan mengelola brand image tersebut terutama pada event. Brand
image yang berhasil dibangun di benak konsumen melalui media sosial
memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan penyelenggara event.
Hal ini dapat membentuk persepsi positif tentang responsivitas dan
keterlibatan dari penyelenggara event.
Media sosial menjadi platform utama untuk mempromosikan
event, ulasan dan testimoni audiens tentang event tersebut yang dibagikan
melalui media sosial, dapat membentuk brand image, serta bisa menjadi
bukti kuat tentang kualitas event tersebut. Penelitian ini sesuai dengan
dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Hapsawati, Djoko L,
Lesmana R, 2021) memiliki hasil penelitian yang menunjukkan bahwa
sosial media memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap brand
image. Hal ini menunjukkan bahwasanya penggunaan dan pemanfaatan
media sosial yang baik dapat memberikan pengaruh besar terhadap brand
image pada event melalui pembuatan konten, berbagi konten,
menghubungkan (relasi), dan membangun komunitas.

Manfaat Brand Image


Menurut Kotler dan Keller (2016, 349) terdapat manfaat dari brand image
yang baik bagi perusahaan atau produsen di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai alat identifikasi dalam penanganan dan penyederhanaan prosedur
    pengelolaan atau pemeriksaan produk. Terpenting dalam pencatatan
    akuntansi dan pengelolaan persediaan.
  2. Sebagai wujud pertahanan atau penjagaan hukum terhadap karakteristik
    yang unik, produsen yang akan berinvestasi bisa dengan tenang karena
    merek ini bisa memperoleh perlindungan kekayaan intelektual produsen
    akan berinvestasi dengan aman dan memperoleh keuntungan dari aset
    tersebut.
  3. Sebagai tanda peringkat kepuasan pelanggan, di mana pelanggan
    melakukan pembelian kembali dengan mudah. Hal ini menciptakan
    loyalitas terhadap merek sehingga bisa menyulitkan pesaing dalam
    memasuki pasar.
  4. Sebagai alat mewujudkan asosiasi dan arti unik yang membedakan barang
    atau jasa dari produsen lain.
  5. Sebagai substansi kelebihan bersaing, di mana yang tercipta dalam benak
    konsumen adalah proteksi hukum, kesetiaan dan kesan ekstrinsik.
  6. Sebagai substansi financial returns, terutama yang melibatkan penghasilan
    di masa mendatang

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Brand Image


Terdapat beberapa faktor-Faktor yang mempengaruhi Brand Image,
menurut Schiffman dan Kanuk (2007) menyebutkan bahwa faktor-faktor
pembentuk Brand Image yaitu:
a. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang yang
ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.
b. Dipercaya atau diandalkan. berkaitan dengan pendapat atau kesepakatan
yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk yang dikonsumsi.
c. Kegunaan atau manfaat yang terkait dengan fungsi dari suatu produk
barang yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
d. Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi
suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka panjang.
e. Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan,
kesepakatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk
tertentu
Sedangkan menurut Keller (dalam Alfian B, 2012: 26) mengemukakan
bahwa faktor-faktor terbentuknya citra merek yaitu :

  1. Keunggulan produk merupakan salah satu faktor pembentuk brand image,
    dimana produk tersebut unggul dalam persaingan. Karena keunggulan
    kualitas (model dan kenyamanan) dan ciri khas itulah yang menyebabkan
    suatu produk mempunyai daya tarik tersendiri bagi konsumen.
    Favorability of brand association adalah asosiasi merek dimana konsumen
    percaya bahwa atribut dan manfaat yang diberikan oleh merek akan dapat
    memenuhi atau memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka sehingga
    mereka membentuk sikap positif terhadap merek.
  2. Kekuatan merek merupakan asosiasi merek tergantung pada bagaimana
    informasi masuk kedalam ingatan konsumen dan bagaimana proses
    bertahan sebagai bagian dari citra merek. Kekuatan asosiasi merek ini
    merupakan fungsi dari jumlah pengolahan informasi yang diterima pada
    proses ecoding. Ketika seorang konsumen secara aktif menguraikan arti
    informasi suatu produk atau jasa maka akan tercipta asosiasi yang semakin
    kuat pada ingatan konsumen. Pentingnya asosiasi merek pada ingatan
    konsumen tergantung pada bagaimana suatu merek tersebut
    dipertimbangkan.
  3. Keunikan merek adalah asosiasi terhadap suatu merek mau tidak mau
    harus terbagi dengan merek-merek lain. Oleh karena itu, harus diciptakan
    keunggulan bersaing yang dapat dijadikan alasan bagi konsumen untuk
    memilih suatu merek tertentu. Dengan memposisikan merek lebih
    mengarah kepada pengalaman atau keuntungan diri dari image produk
    tersebut. Dari perbedaan yang ada, baik dari produk, pelayanan, personil,
    dan saluran yang diharapkan memberikan perbedaan dari pesaingnya,
    yang dapat memberikan keuntungan bagi produsen dan konsumen.

Indikator Brand Image


Menurut Kotler dan Keller (2016) indikator brand image diantaranya
adalah sebagai berikut :

  1. Keunggulan asosiasi merek
    Salah satu faktor pembentuk brand image adalah keunggulan produk, di
    mana produk tersebut unggul dalam persaingan. Keunggulan kualitas
    seperti model dan kenyamanan serta ciri khas itulah yang menyebabkan
    suatu produk mempunyai daya tarik tersendiri bagi konsumen.
  2. Kekuatan asosiasi merek
    Setiap merek yang berharga mempunyai jiwa, suatu kepribadian khusus
    adalah kewajiban mendasar bagi pemilik merek untuk dapat
    mengungkapkan, menyosialisasikan jiwa/kepribadian tersebut dalam satu
    bentuk iklan, ataupun bentuk kegiatan promosi dan pemasaran lainnya.
    Hal ini yang akan terus menerus menjadi penghubung antara
    produk/merek dengan pelanggan. dengan demikian merek tersebut akan
    cepat dikenal dan akan tetap terjaga di tengah-tengah maraknya
    persaingan. Membangun popularitas sebuah merek menjadi merek yang
    terkenal tidaklah mudah. Namun demikian, popularitas adalah salah satu
    kunci yang dapat membentuk brand image pada pelanggan.
  3. Keunikan asosiasi merek
    Keunikan-keunikan yang dimiliki oleh sebuah merek tersebut dapat
    menciptakan keuntungan yang akan membuat perbedaan dari produk
    lainnya sehingga konsumen tidak memiliki suatu alasan untuk berpindah
    ke merek lain.

Komponen Brand Image


Untuk membangun brand image yang kuat maka terdapat tiga hal yang
harus diperhatikan. Menurut Sutisna (2001: 80) menyatakan bahwa brand image
memiliki tiga komponen, yaitu:

  1. Citra Pembuat/ Perusahaan (Corporate Image) merupakan sekumpulan
    asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat
    suatu produk atau jasa.
  2. Citra Pemakai (User Image) merupakan sekumpulan asosiasi yang irasakan
    oleh calon pengguna terhadap pengguna yang sudah menggunakan produk
    atau jasa yang disediakan oleh sebuah perusahaan. Mulai dari gaya hidup,
    status sosial, pekerjaan, jenis kelamin, usia, dan lain sebagainya.
  3. Citra Produk (Product Image) merupakan kumpulan asosiasi yang dirasakan
    oleh pengguna terhadap suatu produk dan/atau jasa yang disediakan oleh
    sebuah perusahaan. Mulai dari atributnya, manfaat bagi pengguna,
    kegunaannya, jaminannya, dan hal lainnya yang berhubungan dengan produk
    dan/atau jasa yang disediakan tersebut.
    Sedangkan Aaker (1991: 139) berpendapat bahwa brand image terdiri dari
    tiga komponen pendukung yaitu:
  4. Product Attributes (Atribut Produk): yang merupakan hal-hal yang berkaitan
    dengan merek tersebut sendiri seperti, kemasan, isi produk, harga, rasa, dan
    lainnya
  5. Consumer Benefits (Keuntungan Konsumen): yang merupakan kegunaan
    produk dari merek tersebut.
  6. Brand Personality (Kepribadian Merek): merupakan asosiasi (presepsi) yang
    membayangkan mengenai kepribadian sebuah merek apabila merek tersebut
    seorang manusia.

Definisi Brand Image


Citra (image) merupakan persepsi publik terhadap perusahaan dan produk
atau jasanya. Image yang baik tentang produk akan menguntungkan perusahaan,
karena secara tidak sadar pengguna akan merekomendasikan produk tersebut
kepada orang lain. Di sisi lain, citra buruk tentang produk akan membuat
pengguna menyebarkan informasi buruk kepada orang lain. Menurut Kotler
(2001), citra atau image adalah seperangkat keyakinan, ide, dan kesan yang
dimiliki seseorang tentang suatu objek. Di sisi lain, Keller (1993)
menganggap brand image sebagai seperangkat persepsi tentang merek dalam
ingatan pengguna. Sebuah merek dapat dipersepsikan secara berbeda oleh
pengguna yang berbeda.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Citra Merek


Kualitas produk memegang peranan sentral dalam strategi pemasaran.
Proses merumuskan bauran pemasaran dimulai dengan menciptakan penawaran
yang dapat memenuhi kebutuhan serta keinginan dari pelanggan target. Pelanggan
akan menilai penawaran tersebut atas keistimewaan produk dan kualitas produk.
Apabila perusahaan ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam
pasar, perusahaan harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh
konsumen untuk membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan
produk pesaing. Menurut Gircela & Wati (2020b), kualitas produk berpengaruh
positif dan signifikan terhadap citra merek.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Pelanggan


Yulistria (2023) melalui penelitiannya mendapati kualitas produk
berhubungan positif dengan kepuasan pelanggan. Dengan kata lain, saat suatu
barang/produk menunjukkan quality yang baik, konsumen lebih cenderung merasa
puas dengan pengalaman menggunakan produk tersebut. Hasil ini
mengindikasikan bahwa kualitas produk memainkan peran krusial dalam
memengaruhi persepsi dan kepuasan konsumen terhadap merek atau perusahaan,
serta mampu memberikan kontribusi positif terhadap loyalitas pelanggan dan
kesuksesan jangka panjang perusahaan. D

Dimensi Kepuasan Pelanggan


Manihuruk (2023) menyatakan bahwa kepuasan konsumen dibentuk dari
beberapa aspek sebagai berikut :
a. Kesesuaian Harapan adalah sejauh mana kinerja jasa yang dirasakan oleh
konsumen sesuai dengan yang diharapkannya.
b. Minat Berkunjung Kembali menunjukkan sejauh mana konsumen bersedia
untuk kembali menggunakan jasa yang sama di masa mendatang.
Kesediaan untuk Merekomendasikan mengacu pada seberapa bersedia
konsumen untuk menyarankan layanan yang telah mereka nikmati kepada
kenalan, teman, atau anggota keluarga.

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan yaitu perasaan senang atau kecewa seseorang yang
muncul setelah membandingkan antara kinerja (hasil) produk yang diperkirakan
terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan (Rahmawati, 2020). Priharto (2020)
mengartikan kepuasan pelanggan sebagai tingkat kepuasan yang dirasakan
konsumen sesudah mengevaluasi produk atau layanan yang diterima sudah
memuaskan dan sesuai harapan. Kemudian Aulia et al., (2023) menambahkan
bahwa kepuasan pelanggan juga didefinisikan sebagai evaluasi yang dilakukan
oleh konsumen terhadap barang dan jasa yang digunakan dan kemudian mereka
bandingkan harapan dan pengalaman mereka sebelum menggunakannya.

Pengertian Citra Merek


Keyakinan konsumen dan pandangan yang tergambar lewat hubungan
dalam kenangan mereka adalah pengertian dari citra merek. Pelanggan sering kali
membeli produk yang sudah dikenal baik dari pengalamannya langsung atau
informasi dari berbagai sumber. Ini meliputi keyakinan dan pandangan konsumen
kepada suatu merek, yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Citra
terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi
terhadap suatu merek. Merek adalah representasi dari keseluruhan persepsi
terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap
merek itu (Amanda, 2022).

Dimensi Kualitas Produk


Menurut penelitian oleh Khusuma & Utomo (2021), kualitas produk dapat
dilihat dari 8 dimensi berbeda, yaitu :

  1. Kinerja merupakan salah satu aspek dari kualitas produk yang terkait dengan
    keunikan utama suatu produk.
  2. Fitur atribut tambahan yang mendukung atau melengkapi keunikan utama suatu
    produk.
  3. Kehandalan merupakan aspek dari kualitas produk yang terkait dengan
    kemungkinan produk dapat berfungsi secara memuaskan dalam waktu dan
    kondisi tertentu.
  4. Kesesuaian mengacu pada kesesuaian kinerja dan kualitas produk dengan
    standar yang diharapkan atau diinginkan.
  5. Ketahanan mengacu pada ketahanan suatu produk dan seberapa lama produk
    tersebut dapat bertahan sebelum perlu diganti.
  6. Kemampuan pelayanan mengacu pada layanan atau perbaikan produk jika
    diperlukan diberikan dengan mudah.
  7. Estetika/keindahan adalah aspek dari kualitas produk yang terkait dengan
    tampilan, suara, rasa, atau aroma produk tersebut.
  8. Kesan Kualitas mengacu pada persepsi tentang kualitas produk oleh konsumen

Pengertian Kualitas Produk


Melibatkan semua variabel dari sebuah barang atau jasa yang memenuhi
ekspektasi pelanggan disebut sebagai kualitas produk. Ketika sebuah perusahaan
berhasil menyediakan produk makanan yang berkualitas, ini dapat menghasilkan
kepuasan bagi konsumen. Pengalaman pembelian dan penggunaan produk sering
kali menjadi faktor penting dalam menciptakan kepuasan konsumen.
Kualitas produk adalah hasil dari kombinasi semua fitur produk atau
layanan yang diperoleh dari proses penjualan, teknik manufaktur, dan perawatan
yang memungkinkan penggunaannya sesuai dengan kebutuhan pengguna
(Widjaya & Hartono, 2021). Kualitas produk juga sangat terkait dengan
kenampuan produk untuk berfungsi dengan baik, termasuk kehandalan, akurasi,
kemudahan dalam penggunaan dan perbaikan, serta atribut lain yang memberikan
nilai tambah bagi pelanggan (Tamon et al., 2021). Menurut Islamiah et al., (2023),
fokus utama pada kualitas produk adalah kebijakan kunci untuk meningkatkan
kemampuan bersaing produk dengan tujuan memuaskan kebutuhan pelanggan..
Perusahaan harus bisa menawarkan produk yang memiliki atribut unik jika
dibandingkan dengan pesaingnya, meskipun keduanya sejenis (Putri et al., 2019).
Kualitas produk menjadi fokus utama dan kebijakan yang sangat penting dalam
meningkatkan daya saing untuk memenuhi kepuasan konsumen. Menurut Putri
(2021) kemampuan produk untuk berfungsi secara efektif, termasuk dalam hal
kehandalan, akurasi, kemudahan penggunaan, perbaikan, dan atribut lain yang
menambah nilai bagi pelanggan. Hal ini mencerminkan bahwa kualitas produk
mencakup semua aspek tersebut untuk memberikan manfaat optimal kepada
pelanggan. Produk dari suatu perusahaan perlu menunjukkan keunggulan
karakteristiknya untuk membedakan diri dari pesaingnya, meskipun produk
tersebut sejenis (Musyawarah & Idayanti, 2022).

Pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian


Citra merek merupakan sebuah kepercayaan masyarakat terhadap sebuah produk
berdasarkan pengalaman yang telah mereka alami, yang didalamnya terdapat
kelebihan dan kekurangan sebuah produk yang telah mereka gunakan. Dalam
pengambilan keputusan pembelian seorang konsumen akan dihadapkan dengan
berbagai pilihan seperti nama merek (brand), packaging, harga dan berbagai atribut
produk lainnya. Konsumen yang belum berpengalaman dalam membeli produk, pada
umumnya akan memilih membeli produk dengan merek (brand) yang lebih terkenal
dan memiliki citra yang positif. Hal tersebut dapat terjadi jika pemasar dapat
membentuk citra yang kuat pada benak konsumen, dengan harapan konsumen akan
loyal dan konsisten dalam pembelian produk. Menurut (Nurhalim, 2020), sebuah
brand image akan dibangun berdasarkan pengalaman dan informasi yang diterima
oleh konsumen selama memakai produk tersebut. Konsumen yang sudah memiliki
tingkat citra atau kesan yang tinggi pada suatu merek, cenderung akan lebih loyal
atau lebih setia pada merek tersebut, sehingga tidak memperdulikan merek lainnya.
(Salsabila & Pradana, 2023) brand image berpengaruh positif dan signifikan
keputusan pembelian.

Keputusan pembelian


Menurut (Novianti et al., 2023) pengertian keputusan pembelian merupakan
sebuah proses pengambilan keputusan yang dapat dipengaruhi oleh perilaku
konsumen atau pelanggan. Menurut (Astuti et al., 2023) pengertian keputusan
pembelian adalah perilaku yang dapat di tunjukkan oleh seorang yang unit
pengambilan keputusan dalam pembelian, maupun penggunaan barang atau jasa
tersebut. Menurut (Devi & Fadli, 2023) pengertian keputusan pembelian merupakan
suatu sikap yang dapat di pertimbangkan untuk membeli produk atau tidak pada suatu
barang dan jasa. Menurut (Fitrah & Fadhillah, 2023) pengertian keputusan pembelian
merupakan sebuah keputusan konsumen tentang apa yang akan dibeli, berapa banyak
yang akan dibeli dan bagaimana cara melakukan pembelian yang akan dilakukan.
Menurut (Mayangsari & Aminah, 2022) terdapat beberapa indikator dalam keputusan
pembelian sebagai berikut:

  1. adanya sebuah kemantapan produk, sebuah keputusan pembelian dapat juga
    dilakukan oleh konsumen dengan mencari sebuah informasi tersebut.
  2. terdapat kebiasaan membeli, mendapatkan rekomendasi dari supplier yang
    informasi penting, bahwa sebuah indikator keputusan pembelian sangat
    menarik.
  3. rekomendasi dari orang lain, dapat menyampaikan sebuah informasi dari
    orang lain agar dapat tertarik melakukan pembelian ini.
  4. adanya pembelian ulang, ini sangat penting dalam bisnis anda, maka adanya
    sebuah sebab kemudian konsumen juga melakukan pembelian ulang pada
    suatu produk.

Produk Knowledge


Menurut (Rachmahsari et al., 2021) produk knowledge sebuah informasi mengenai
produk baik dari fungsinya maupun bentuknya, pengetahuan produk yang didalamnya
terdapat kumpulan informasi yang diberikan mengenai suatu produk. Produk
knowledge dapat menjadi faktor penting bagi konsumen sebelum memberikan
keputusan pembelian. Produk knowledge adalah segala bentuk informasi yang
dimiliki oleh konsumen terhadap suatu produk sebelum memutuskan untuk
membelidan menggunakan produk tersebut (Ayuningsih & Maftukhah, 2020).
Menurut (Irawati et al., 2023) menerjemahkan Produk knowledge tergantung pada
kesadaran atau pemahaman konsumen tentang suatu produk. Yang merupakan
seluruh cakupan informasi yang akurat yang disimpan didalam memor konsumen,
yang nantinya informasi-informasi tersebut dapat membantu untuk sebagai bahan
petimbangan dalam menentukan tindakan selanjutnya. Indikator Produk Knowledge
Pengetahuan konsumen pada suatu produk yang baik biasanya memiliki pengetahuan
mengenai produk yang akan dibelinya. Menurut (Sanita et al., 2019) pengetahuan itu
terbagi atas tiga jenis, yaitu:

  1. Pengetahuan atribut produk Pengetahuan tentang karakteristik atau atribut
    produk. Sesuai dengan batas yang ditetapkan berdasarkan kemampuan
    produksi dan sumber keuangan, manajer pemasaran dapat menambah atribut
    baru terhadap suatu produk dan menghapus atribut lama, atau memodifikasi
    atribut yang sudah ada. Pemasar harus tahu atribut produk yang mana yang
    paling penting bagi konsumen, apa fungsi atribut tersebut bagi konsumen, dan
    bagaimana konsumen menggunakan pengetahuan ini dalam proses kognitif
    seperti saat pemahaman dan pengambilan keputusan.
  2. Pengetahuan manfaat produk Pengetahuan tentang manfaat produk
    konsekuensi positif atau keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh dari
    penggunaan produk. Pemasar juga mengetahui bahwa konsumen lebih sering
    berpikir tentang konsekuensi dari produk dan merek yang merek gunakan
    dibandingkan atributnya.
  3. Pengetahuan kepuasan yang diberikan produk Untuk mengetahui suatu
    kepuasan yang diberikan produk kepada konsumen adalah jika suatu produk
    akan memberikan kepuasan kepada konsumen jika produk tersebut telah
    digunakan atau dikonsumsi oleh konsumen. Agar produk tersebut bisa
    memberikan kepuasan yang maksimal dan kepuasan yang tinggi kepada
    konsumen

Brand image


(Sofiyatuzzahro et al.,2021) menemukan bahwa brand image merupakan
sekumpulan asumsi yang ada didalam benak konsumen terhadap suatu merek yang
terbentuk dari berbagai informasi dari berbagai sumber. Indikator yang digunakan
dalam mengukur brand image menurut (Azhari & Fachry, 2020), yakni Menurut
(Nurhalim, 2020) sebuah brand image akan dibangun berdasarkan pengalaman dan
informasi yang diterima oleh konsumen selama memakai produk tersebut. Konsumen
yang sudah memiliki tingkat citra atau kesan yang tinggi pada suatu merek,
cenderung akan lebih loyal atau:
1) Pengakuan (Recognition), tingkat dikenalnya sebuah merek oleh konsumen.
Jika sebuah merek tidak dikenal, maka produk dengan merek tersebut harus
dijual dengan mengandalkan harga yang murah (logo, atribut).
2) Reputasi (Reputation), tingkat atau status yang cukup tinggi bagi sebuah
mereka karena lebih terbukti memiliki track record yang baik.
3) Keunggulan produk (Affinity), suatu emosional relationship yang timbul antara
sebuah merek dengan konsumennya. Produk dengan merek yang disukai oleh
konsumen akan lebih mudah dijual dan produk dengan memiliki persepsi
kualitas yang tinggi akan memiliki reputasi yang baik.
4) Domain, menyangkut seberapa besar scope dari suatu produk yang mau
menggunakan merek yang bersangkutan. Domain ini mempunyai hubungan
yang erat dengan scale of scope.

Pengaruh Celebrity Endorser terhadap minat beli


Menurut Shimp (2014:212) Celebrity endorse adalah bintang televisi, aktor
film, atlet, politikus, orang yang terkenal, yang secara luas dituangkan pada
majalah, radio, dan iklan di televisi untuk mendukung suatu produk. Celebrity
endorse sangat penting dalam mempengaruhi minat beli karena banyak
perusahaan yang menggunakan jasa selebriti untuk memasarkan produk atau jasa
yang dipromosikan kepada konsumen karena strategi bisnis dalam memasarkan
produknya dengan menggunakan selebriti dinilai lebih efektif dan efisien.
celebrity endorse yang dipercaya dalam memasarkan produk yang dapat
meningkatkan minat beli dengan bantuan popularitas sang celebrity endorse. Pada
penelitian yang dilakukan oleh Lestari et al., (2020) dapat disimpulkan bahwa
celebrity endorser berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli.

Pengaruh Brand Trust terhadap minat beli


Menurut Suhardi & Irmayanti (2019) Kepercayaan merek (Brand Trust) adalah
kemampuan merek untuk dipercaya, yang bersumber pada keyakinan konsumen
bahwa produk tersebut mampu memenuhi nilai yang dijanjikan dan intensi baik
merek tersebut mampu mengutamakan kepentingan konsumen. Minat beli
memerlukan kepercayaan merek karena adanya kepercayaan dapat meningkatkan
keyakinan masyarakat, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi
kepercayaan merek masyarakat, semakin tinggi minat beli konsumen. Menurut
penelitian Laraswanti & Setyawati (2022) Brand trust memiliki pengaruh
signifikan terhadap minat beli konsumen.