Salah satu tugas perusahaan adalah menciptakan merek yang positif
dimata pelanggan dimana merek merupakan salah satu hal yang harus di
perhatikan oleh perusahaan untuk keberlangsungan usahanya dimasa yang
akan datang.
Menurut Kertajaya (2010:63), merek disebut sebagai value indicator
karena brand mampu menciptakan dan menambahkan value kepada produk,
perusahaan, orang atau bahkan Negara, oleh karena itu brand menjadi
indicator value yang ditawarkan kepada pelanggan internal, eksternal, dan
investor. Selain itu merek mengindikasikan value dari produk, sehingga akan
membuat perusahaan mampu menghindar dari jebakan komoditas.
Salah satu hal yang memegang peranan penting dalam pemasaran
adalah merek. Terdapat beberapa perbedaan antara produk dengan merek.
Produk merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh pabrik dan mudah ditiru oleh
para pesaing. Sedangkan merek merupakan sesuatu yang dibeli oleh kosumen,
memiliki nilai dan identitas atau ciri tertentu yang dilindungi secara hukum
sehingga tidak dapat ditiru oleh pesaing. Merek mempengaruhi persepsi
pelanggan terhadap produk yang akan dibeli maka persaingan antar perusahaan
adalah persaingan persepsi bukan produk (Tjiptono 2011:34).
Menurut undang-undang Merek no 15 tahun 2001 pasal 1 ayat 1 dalam
Fandy Tjiptono (2011:3), menyatakan bahwa “Merek adalah tanda yang berupa
gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi
dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam
kegiatan perdagangan barang atau jasa”. Menurut Kotler dan Armstrong
(2013:230) merek adalah “Brand is a name, term, symbol, design, or a
combination of these, that identifies the products or services of one seller or
group seller and differentiates them from those of competitors”.
Berdasarkan definisi dari beberapa ahli tentang merek, dapat
disimpulkan bahwa merek merupakan suatu bentuk identitas dari suatu produk
yang ditawarkan ke pelanggan yang dapat membedakan produk perusahaan
dari produkpesaing yang berbentuk suatu nama, kata, tanda, simbol, desain,
atau kombinasi dari semua hal tersebut.
Terdapat enam level pengertian merek menurut Kotler dan Keller
(2012:460). Tingkatannya meliputi:
- Atribut, merek mengingatkan pada atribut-atribut tertentu, Contoh:
Ferrari memberikan kesan mobil mahal dan bergengsi. - Manfaat, atribut perlu diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan
emosional. - Nilai, merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen.
- Budaya, merek mewakili budaya tertentu yang dianut.
- Kepribadian, merek mencerminkan atau memproyeksikan suatu
kepribadian tertentu. - Pemakai, merek memperhatikan jenis pelanggan yang menggunakan
atau membeli produk tertentu
