Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Kegiatan pengelolaan sumber daya manusia haruslah dilakukan
dengan memerhatikan proses, karena dengan mengikuti proses
pengelolaan yang benar maka, tujuan perusahaan akan mudah dicapai.
Kasmir (2016:14-19) menyatakan bahwa proses pengelolaan tersebut
dikenal dengan fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia,
fungsi-fungsi tersebut terdiri dari:
a. Analisis Jabatan (Job Analysis), merupakan kegiatan dalam
merancang uraian tugas-tugas, memberikan wewenang dan
tanggung jawab masing-masing jabatan yang harus dijalankan
seorang karyawan.
b. Penarikan Pegawai (Recruitment), merupakan kegiatan
memperoleh dan memiliki sumber daya manusia yang
berkualitas dan loyal terhadap perusahaan sesuai dengan jumlah
tenaga kerja yang dibutuhkan berikut kualifikasinya.
c. Seleksi (Selection), merupakan kegiatan pemilihan karyawan
yang sebelumnya telah direkrut, dengan tujuan untuk memilih
tenaga kerja yang dibutuhkan dengan kualifikasi yang telah
ditetapkan.
d. Pelatihan dan Pengembangan (Training and Development),
merupakan masa orientasi dan pendidikan bagi karyawan baru
sebelum ditempatkan untuk bekerja dengan tujuan untuk
membiasakan karyawan dalam lingkungan baru sekaligus
menambah dan mengasah kemampuan yang belum dimilikinya.
Pelatihan merupakan kegiatan pengembangan diri bagi
karyawan lama baik melalui pendidikan, promosi dan rotasi
pekerjaan dengan tujuan untuk menambah kemampuan dibidang
kerja yang lain guna meningkatkan kinerja karyawan.
e. Evaluasi Kinerja (Performance Evaluation), merupakan proses
penilaian kinerja melalui hasil kerja atau perilaku karyawan
untuk mengetahui apakah kerja karyawan yang bersangkutan
telah memenuhi standar yang ditetapkan perusahaan atau belum.
f. Kompensasi (Compensation),merupakan balas jasa yang
diperoleh seseorang atas pekerjaan yang sudah dilakukannya.
g. Jenjang Karier (Career Path), merupakan perjalanan kerja
seseorang selama dia bekerja. Karier karyawan diberikan
melalui perencanaan karier bagi seluruh karyawan yang
dilakukan secara transparan dan jelas.
h. Keselamatan dan Kesehatan (Safety and Health),merupakan
keadaan yang menunjuk kepada kondisi-kondisi fisik dan mental
karyawan yang diakibatkan oleh lingkungan kerja.
i. Hubungan Industrial (Industrial Relation), merupakan hubungan
antara pihak karyawan yang diwakili oleh serikat pekerja
dengan manajemen dipihak yang lain, untuk menjembatani
kepentingan dan keingian kedua belah pihak supaya seimbang
antara hak dan kewajiban masing-masing pihak.
j. Pemutusan Hubungan Kerja (Separation), merupakan
pemutusan hubungan kerja antara perusahaan dengan karyawan
yang disebabkan oleh berbagai alasan seperti tibanya masa
pensiun, permintaan pengunduran diri karena alasan pribadi dan
pemecatan karena melakukan kesalahan

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam
suatu perusahaan. Keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan
tergantung kepada kegiatan sumber daya manusia dialamnya.
Kasmir (2016:6) menyatakan “manajemen sumber daya manusia
adalah proses pengelolaan manusia melalui perencanaan, rekrutmen, seleksi,
pelatihan, pengembangan, pemberian kompensasi, karier, keselamatan dan
kesehatan serta menjaga hubungan industrial sampai pemutusan hubungan
kerja guna mencapai tujuan perusahaan dan peningkatan kesejahteraan
stakeholder.”
Noe dalam Kasmir (2016:6) menyatakan “menajemen sumber daya
manusia merupakan bagaimana memengaruhi perilaku, sikap dan kinerja
karyawan melalui kebijakan dan sistem yang dimiliki oleh perusahaan.”
Dessler dalam Kasmir (2016:7) menyatakan “manajemen sumber daya
manusia merupakan proses mendapatkan karyawan melalui pelatihan,
penilaian, kompensasi, hubungan kerja, kesehatan dan keamanan secara
adil.”

Upaya Pengembangan Sumber Daya Manusia


Pengembangan sumber daya manusia, Latham, Wexley,
dan Pursell mengatakan bahwa program pelatihan dan
pengembangan memiliki satu atau lebih tujuan-tujuan berikut ini
pertama meningkatkan kesadaran diri individu, Kedua
meningkatkan keterampilan individu dalam satu bidang keahlian
atau lebih dan ketiga meningkatkan motivasi individu untuk
melaksanakan tugas atau pekerjaannya secara memuaskan. Dari
teori tersebut penelitian menyimpulkan tiga indicator
pengembangan sumber daya manusia, seperti :
a. Motivasi
Motivasi adalah dorongan hati atau jiwa yang
menjadi dasaratau alasan untuk melakukan suatu
kegiatan pekerjaan. Dalam Pengkajian ini motivasi
diukur dengan menggunakan konsep yang
dikembangkan oleh Mc Clelland.
b. Kepribadian
Mencakup kebiasaan, sikap, sifat, yang dimilki
seseorang yang berkembang ketika seseorang
berhubungan dengan orang lain. Kepribadian sangat
17
kaitannya dengan nilai dan norma, dan perilaku.
Kepribadian merupakan konsep luas yang sehingga
pengertian kepribadian banyak ditanggapi berbeda-
beda oleh para ahli.
c. Keterampilan
Cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan
cekatan. Keterampilan adalah kecakapan yang
disyaratkan. Dalam pengertian luas, jelas bahwa
setiap cara yang digunakan untuk membangkan
manusia, bermutu dan memiliki pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan sebagaimana
diisyaratkan

Peranan Manajemen Sumber daya manusia


Menurut Hasibuan (2017.14) yaitu

  1. Menetapkan jumlah, Kualitas dan penempatan, tenaga
    kerja yang efektiv dan sesuai dengan kebutuhan organisasi
    berdasarkan deskripsi, spesifikasi, persyaratan, dan evaluasi
    pekerjaan.
  2. Menetapkan penarikan, seleksi dan penempatan pegawai
    berdasarkan orang yang tepat di tempat yang tepat dan
    orang yang tepat di pekerjaan yang tepat.
  3. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan,
    promosi, dan pemberhentian pegawai.
  4. Menawarkan sumber daya manusi pada masa yang akan
    datang
  5. Memperkirakan keadaan perkantoran dan perkembangan
    organisasi.
  6. Mengawasi dengan cermat undang-undang kepegawaian
    dan keebijaknsanaan
  7. Mengawasi kemajuna teknik dan perkembangan pegawai
  8. Melaksakan pendidkan, latihan, dan penilain pegawai
  9. Mengatur mutasu pegawai, baik fertikal maupun
    horizontal
  10. Mengatur pensiun tanpa pemberhentian dan
    pesangonnya.

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen SDM merupakan bagian dari disiplin manajemen yang
menerapkan berbagai fungsi, fungsi manajemen dapat diimplemetasikan
dalam MSDM. Yaitu Perencanaan, staffing, pengembangan sdm,
kompensasi benefit, keamanan dan kesehatan, pegawai dan relasi kerja,
dan riset sdm.

  1. Perencanaan
    Seluruh aktivitas organisasi manusia sesungguhnya diawali dengan
    perencanaan. Meskipun rencana yang dilakukan sering tidak disadarinya.
    Terdapat berbagai definisi perencanaan sdm, bagaimana melakukannya,
    dan kapan dilakukan.Secara umum istilah perencanaan sdm mengacu pada
    usaha organisasi mengidentifikasikan implikasi sdm pada perubahan
    organisasi. Selain merencanakan besaran pegawai, tentu saja akan
    direncakan bagaimana memperoleh SDM yang dibutuhkan.
  2. Staffing
    Proses ketika organisasi memastikan bahwa jumlah pekerja dengan
    skill semestinya dalam pekerjaan yang benar, pada waktu yang benar,
    untuk mencapai tujuan organisasi. Staffing melibatkan analisis kerja,
    perencanaan SDM, rekrutmen, dan analisis, dan seleksi.Penyelesaian yang
    sukses dari tiga tugas tersebut adalah penting jika organisasi ingin secara
    efektif.
  3. Pengembangan Sumber daya manusia
    Utama yang terdiri tidak hanya pelatihan dan pengembangan, tetapi
    juga perencanaan karir individu dan aktivitas organisasi pengembangan.
    Organisasi yang menekankan pelatihan dan pengembangan, pelatihan
    dirancang untuk memberi peserta belajar dengan pengetahuan dan
    keterampilan yang di butuhkan untuk kerja sekarang dan di masa
    mendatang. Pengembangan melibatkan pembelajaran yang berjalan
    melebihi kerja hari ini.
  4. Kompensasi dan Benefit
    Sistem kompensasi yang bijak memberikan pegawai dengan reward
    memadai dan berkeadilan bagi kontribusi mereka memenuhi tujuan
    organisasional.
  5. Keamanan dan kesehatan
    Keamanan atau keselamatan meliputi perlindungan pegawai dan
    kecelakaan yang diakibatkan pelaksanaan pekerjaan. Kesehatan menunjuk
    pada kebebasan pegawai dari sakit fisik atau emosional.
  6. Pegawai dan relasi kerja
    Mengacu pada hubungan atau koneksi antara individu atau koneksi antara
    individu atau entitas yang terlibat dalam lingkungan kerja.
  7. Riset sumber daya manusia
    Riset Sumber daya manusia adalah penelitian sistematik
    sdm untuk memaksimalkan tujuan organisasi

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Masram dan Mu’ah (2017) terdapat 4 macam tujuan
kantor yaitu :

  1. Organisasional
    Ditunujukan untuk dapat mengenali keberadaan manajemen
    sdm dalam memberikan konstribusi pada pencapaian
    efektivitas kantor. Walaupun secara formal suatu bagian
    sumber daya manusia diciptakan untuk dapat membantu
    para manajer agar tetap bertanggung jawab terhadap kinerja
    pegawai. Bagian sdm membantu para manajer dalam
    menangani hal-hal yang berhubungan dengan sumber daya
    manusia.
  2. Tujuan Fungsional
    Ditunjukan untuk mempertahankan kontribusi departemen
    pada tingkat yang sesuia dengan kebutuhan perkantoran .
    Sumber daya manusia menjadi tidak berharga jika manajemen sdm tersebut memilki kriterian yang lebih
    rendah dari tingkat pada perkantoran
  3. Tujuan Sosial
    Ditunjukan secara etis dan sosial terhadap kebutuhan dan
    tantangan masyarakat melalui tindakan memimalisir
    pengaruh buruk terhadap kantor. Kegagalan kantor dalam
    menggunakan sdm yang digunakan untuk keuntungan
    masyarakat dapat menyebabkan kerugian.
  4. Tujuan personal
    Ditujukan untuk membantu pegawai dalam pencapaian
    tujuan yang dapat mempertinggi kontribusi indifidual
    terhadap organisasi. Tujuan personal pegawai harus di
    prtimbangkan jika para pegawai harus dipertahankan,
    dipensiunkan, atau di motivasi. Jika tujuan tersebut tidak
    dipertimbangkan maka kinerja ddan kepuasan pegawai
    akan menurun da pegawai juga dapat meningglka
    organisasi tersebut.

Pengaruh Pelatihan terhadap Kinerja Karyawan


Menurut Rivai dan Sagala (2009), pelatihan adalah proses yang sistematis
mengubah tingkah laku pegawai untuk mencapai tujuan organisasi, yang berkaitan
dengan keahlian dan kemampuan pegawai untuk melaksanakan pekerjaan saat ini.
Pelatihan memiliki orientasi saat ini dan membantu pegawai untuk mencapai
keahlian dan kemampuan tertentu agar berhasil dalam melaksanakan pekerjaannya.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian (Pratama & Kudus, 2018), pelatihan kerja
terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan CV
MUM Indonesia. Hal ini juga dikuatkan dengan penelitian (Tanjung, 2018), hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa secara parsial variabel Pelatihan
mempengaruhi kinerja pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Kabupaten Deli Serdang. Jadi dapat disimpulkan bahwa pelatihan terbukti
mempengaruhi kinerja karyawan.

Pengaruh Komunikasi terhadap Kinerja Karyawan


Menurut Wibowo (2015, hal.166), mengatakan bahwa komunikasi adalah
merupakan proses penyampaian informasi dari satu pihak baik individu, kelompok
atau organisasi sebagai sender kepada pihak lain sebagai receiver untuk memahami
dan terbuka peluang memberikan respon balik kepada sender.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian (Kristiana, 2017), yang menunjukkan
bahwa komunikasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan Koperasi
Mekkar PDAM Surakarta. Apabila komunikasi antar karyawan maupun dengan
atasan baik, maka akan meningkatkan kinerja karyawan. Hal ini juga dikuatkan
dengan penelitian (Nisa et al., 2019) yang menunjukkan bahwa komunikasi
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan PT. PLN Area
Malang Rayon Malang Kota. Jadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi terbukti
mempengaruhi kinerja karyawan.

Indikator Lingkungan Kerja


Adapun indikator dalam lingkungan kerja menurut Sunyoto (2012:44)
(Sembiring, 2020) sebagai berikut:
1) Suasana kerja
Suasana kerja merupakan kondisi disekitar karyawan yang sedang
dilakukannya pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan itu sendiri.
2) Hubungan dengan rekan kerja
Hubungan dengan rekan kerja artinya hubungan dengan rekan kerja harmonis
dan tanpa ada saling intrik diantara sesama rekan kerja.
3) Tersedianya fasilitas kerja
Hal ini dimaksudkan bahwa peralatan yang digunakan untuk mendukung
kelancaran kerja lengkap atau sesuai. Tersedianya fasilitas kerja yang lengkap,
walaupun tidak baru mendapatkan salah satu penunjang proses dalam bekerja

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja


Sedarmayanti (2011:28), faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan
kerja sebagai berikut:
1) Penerangan atau Cahaya ditempat kerja.
Cahaya atau penerangan ditempat kerja sangat besar manfaatnya bagi pegawai
guna mendapatkan keselamatan dan kelancaran kerja. Oleh sebab itu, perlu
diperhatikan adanya penerangan (cahaya) yang terang tapi tidak menyilaukan.
2) Temperature ditempat kerja.
Dalam keadaan normal tiap anggota tubuh manusia mempunyai temparatur
yang berbeda. Tubuh manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keadaan
normal, dengan suatu sistem tubuh yang sempurna sehingga dapat
menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi diluar tubuh.
3) Kelembaban ditempat kerja.
Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandu g dalam udara, biasnya
dinyatakan dalam persentase. Kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi
oleh temparatur udara dan secara bersama-sama antara temparatur,
kelembaban, kecepatan udara bergerak dan radiasi dari udara tersebut akan
mempengaruhi keadaan tubuh manusia saat menerima atau melepaska panas
dari tubuhnya.
4) Sirkulasi udara ditempat kerja.
Oksigen merupakan gas yang dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk menjaga
kelangsungan hidup, yaituuntuk proses metabolism. Udara disekitar kantor
dikatakan kotor apabila kadar oksigen dalam udara tersebut telah berkurang
dan telah bercampur dengan gas atau bau-bauan yang berbahaya bagi kesehatan
tubuh. Sumber utama adanya udara segar adalah adanya tanaman disekitar
tempat kerja.
5) Kebisingan ditempat kerja.
Salah satu polusi yang yang cukup menyibukkan pakar untuk mengatasinya
adalah kebisingan, yaitu bunyi yang tidak dikehendaki oleh telinga. Tidak
dikehendaki karena terutama dalam jangka panjang bunyi-bunyi tersebut dapat
mengganggu ketenangan bekerja, merusak pendengaran dan menimbulkan
kesalahan komunikasi.
6) Getar yang ditimbulkan oleh mekanis ditempat bekerja.
Getaran mekanis artinya getaran yang ditimbulkan oleh alat mekanis, yang
sebagian dari getaran ini sampai ketubuh pegawai dan dapat menimbulkan
akibat yang tidak diinginkan.
7) Aroma bau tidak sedap ditempat kerja.
Adanya bau-bauan disekitar tempat kerja dapat dianggap sebagai pencemaran
karena dapat mengganggu konsentrasi bekerja, dan bau-bauan yang terjadi
terusmenerus dapat mempengaruhi kepekaan penciuman.
8) Tata warna ditempat kerja.
Menata warna ditempat kerja perlu dipelajari dan direncanakan dengan
sebaikbaiknya. Sifat dan pengaruh warna kadang-kadang menimbulkan rasa
senang, sedih, dll karena dalam sifat warna dapat merangsang perasaan
manusia.
9) Dekorasi ditempat kerja.
Dekorasi ada hubungannya dengan tata warna yang baik, karena itu dekorasi
tidak hanya berkaitan dengan hisasan ruang kerja saja tetapi berkaitan juga
dengan cara mengatur tata letak, tata warna, perlengkapan, dan lain-lain untuk
bekerja.
10) Musik ditempat kerja.
Menentukan para pakar musik, musik yang nadanya sesuai dengan suasana
waktu dan tempat dapat membangkitkan dan merangsang pegawai untuk
bekerja.
11) Keamanan ditempat kerja.
Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam keadaan aman
maka perlu diperhatikan adanya keaaman dlam bekerja. Oleh karena itu, faktor
keamanan perlu diwujudkan keberadaannya. Salah satu upaya untuk menjaga
keamanan ditempat kerja dpat memanfaatkan tenaga satuan petuga keamanan
(satpam).

Indikator Komunikasi


Adapun indikator komunikasi menurut Mangkunegara (2017), sebagai
berikut:
1) Keterampilan
Keterampilan menjadi suatu kelebihan ataupun kecakapan yang dipunyai
seseorang yang menjadikannya mampu untuk menggunakan akal pikiran, ide,
dan juga sisi kreatifitasnya dalam berkomunikasi.
2) Sikap
Sikap merupakan suatu ekspresi perasaan seseorang terhadap suatu objek disaat
berkomunikasi.
3) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan fakta, kebenaran atau informasi yang diperoleh
melalui pengalaman atau pembelajaran disebut posteriori atau melalui
introspeksi disebut priori. Pengetahuan ialah informasi yang diketahui atau
disadari oleh seseorang.
4) Media
Media merupakan suatu saluran komunikasi yang digunakan untuk
menyebarkan informasi, berita, pendidikan, hiburan, data atau pesan promosi.
E. Lingkungan Kerja

  1. Pengertian Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja juga dapat mempengaruhi kinerja karyawan dalam
    sebuah organisasi. Oleh sebab itu, setiap organisasi akan menciptakan lingkungan
    kerja yang baik dan menyenangkan untuk karyawannya. Kenyamanan karyawan
    dalam bekerja juga menjadi salah satu faktor penting yang dapat mendorong
    karyawan untuk bekerja dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan yang
    diinginkan organisasi. Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada didalam
    ruang lingkup lingkungan tempat pegawai bekerja, maka dari itu pihak instansi
    harus menyediakan lingkungan kerja yang memadai seperti tata ruang kantor yang
    nyaman, lingkungan yang bersih, pertukaran udara yang baik, penerangan yang
    cukup, maupun hubungan sosial atau pola komunikasi antar sesama pegawai.
    Lingkungan kerja yang baik dapat mendukung pelaksanaan kerja sehingga pegawai
    semangat bekerja dan meningkatkan kinerja pegawai.
    Menurut Sunyoto (2015:38), Lingkungan kerja merupakan bagian yang
    sangat penting ketika pegawai melakukan kegiatan bekerja. Jika lingkungan kerja
    baik dan nyaman, maka akan membuat pegawai menjadi termotivasi untuk bekerja
    secara maksimal. Lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan
    yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, metode kerjanya,
    serta peraturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok
    (Sedarmayanti, 2009: 26). Secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi
    menjadi dua yaitu lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik.
    Lingkungan kerja fisik yaitu semua kedaaan berbentuk fisik yang terdapat disekitar
    tempat kerja dimana dapat mempengaruhi karyawan, baik secara langsung maupun
    tidak langsung. Sedangkan, lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang
    terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik dengan atasan maupun dengan
    sesama rekan kerja, ataupun dengan bawahan. Menurut Nitisemito (2016),
    lingkungan kerja adalah segala yang ada disekitar para pekerja yang dapat
    mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan. Berdasarkan
    pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja adalah semua
    aspek fisik kerja, psikologis kerja dan peraturan kerja yang dapat mempengaruhi
    kinerja dan tercapai produktivitas

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi


Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi menurut Handoko (2012,
hal. 275), sebagai berikut:
1) Perkembangan
Menurut Handoko (2012, hal. 275), Perkembangan usia komunikasian sangat
mempengaruhi proses berpikir serta perkembangan bahasa yang dipahami.
Cara berkomunikasi dengan balita, remaja, atau orang dewasa berbeda-beda.
Oleh karena itu, komunikator harus menyesuaikan cara penyampaian serta
bahasa (termasuk pemilihan kata) yang digunakan dengan komunikan.
2) Persepsi
Persepsi merupakan pandangan pribadi seseorang mengenai sesuatu yang
dibentuk dari harapan dan pengalamannya. Perbedaan persepsi bisa
menyebabkan terhambatnya komunikasi.
c) Nilai
Nilai merupakan standar yang dimiliki seseorang yang akan mempengaruhi
prilakunya terhadap sesuatu. Kominikator perlu mengetahui nilai komunikan
agar dapat membuat keputusan dari interaksi yang tepat dengan komunikan.
Dalam hal ini, komunikator jangan terpengaruhi oleh nilai pribadinya.
d) Latar Belakang Sosial Budaya
Faktor budaya sangat mempengaruhi bahasa dan gaya komunikasi yang
digunakan komunikator. Budaya akan membatasi cara bertindak dan
berkomunikasi. Misalnya perbedaaan budaya akan mempengaruhi logat bicara
dan gaya bahasa seseorang.
e) Emosi
Emosi merupakan perasaan subyektif seseorang. Komunikator perlu mengkaji
emosi komunikan juga dirinya sendiri agar komunikan bisa menerima pesan
atau informan dengan baik salah tafsir dan mau mendengarkan pesan yang
disampaikan

Fungsi Komunikasi


Menurut Sutrisno (2010, hal. 43) fungsi komunikasi, sebagai berikut:
1) Pertumbuhan individu, melalui komunikasi dengan lingkungan makin banyak
pengalaman yang diperoleh untuk mendapatkan wawasan yang luas.
2) Belajar, dalam hubungan ini belajar berarti pengumpulan sumber informasi
sedangkan pertumbuhan mencakup kepribadian secara keseluruhan.
3) Kesadaran diri, seorang pegawai harus sadar diri terutama cara berkomunikasi.
Kita mendapatkan informasi dari orang lain (langsung atau tidak langsung)
tentang diri kita.
4) Integrasi dengan lingkungan, seorang pegawai harus mengubah pikiran dan
tingkah laku kita terus-menerus untuk menambah kepercayaan diri dalam
berkomunikasi. Dan memungkinkan tercpitanya kerja sama yang harmonis
antara atasan dan bawahan.

Pengertian Komunikasi


Komunikasi merupakan salah satu konsep yang paling sering dibahas
karena peranan komunikasi yang efektif merupakan persyarat bagi pencapaian
tujuan-tujuan organisasi. Menurut Wibowo (2015, hal.166), mengatakan bahwa
komunikasi adalah merupakan proses penyampaian informasi dari satu pihak baik
individu, kelompok atau organisasi sebagai sender kepada pihak lain sebagai
receiver untuk memahami dan terbuka peluang memberikan respon balik kepada
sender. Sedangkan, menurut Mangkunegara (2017, hal. 145) Komunikasi dapat
diartikan sebagai proses pemindahan suatu informasi, ide, pengertian dari
seseorang kepada orang lain dengan harapan orang lain tersebut dapat
menginterprestasikan sesuai dengan tujuan yang dimaksud.
Menurut Handoko (2012, hal. 272) komunikasi adalah proses pemindahan
pengertian dalam bentuk gagasan atau informasi dari seseorang ke orang lain.
Selanjutnya, menurut Hamali (2016, hal.224), mengatakan bahwa komunikasi kerja
adalah suatu proses penyampaian ide-ide dan informasi berupa perintah dan
petunjuk kerja dari seorang pimpinan kepada karyawan atau para bawahannya
untuk melaksanakan tugas-tugas kerja dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses
penyampaian informasi dari ide-ide dari satu pihak ke pihak lain, baik dari individu
maupun kelompok untuk dapat menginterprestasikan yang dimaksud dan
melaksanakan tugas-tugas dengan sebaik-baiknya. Melalui komunikasi maka dapat
memberikan keterangan tentang pekerjaan yang membuat pegawai dapt bertindak
dengan rasa tanggung jawab pada diri sendiri yang pada waktu bersamaan dapat
mengembangkan semangat kerja para pegawa

Indikator Pelatihan


Adapun indikator-indikator pelatihan menurut Mangkunegara (2017),
sebagai berikut:
1) Instruktur
Mengingat pelatihan umumnya berorientasi pada peningkatan skill, maka para
pelatih yang dipilih untuk memberikan materi pelatihan harus benar benar
memiliki kualifikasi yang memadai sesuai bidangnya, personal dan kompeten.
Selain itu, pendidikan instruktur harus benar-benar baik untuk melakukan
pelatihan.
2) Peserta
Peserta pelatihan tentunnya harus diseleksi berdasarkan persyaratan tertentu
dan kualifikasi yang sesuai. Selain itu, peserta pelatihan juga harus memiliki
semangat yang tinggi untuk mengikuti pelatihan.
3) Materi
Pelatihan sumber daya manusia (SDM) merupakan materi atau kurikulum yang
sesuai dengan tujuan pelatihan SDM yang hendak dicapai oleh perusahaan dan
materi pelatihan harus update agar peserta dapat memahami masalah yang
terjadi pada kondisi yang sekarang.
4) Metode
Metode pelatihan akan lebih menjamin berlangsungnya kegiatan pelatihan
SDM yang efektif apabila sesuai dengan jenis materi dan komponen peserta
pelatihan.
5) Tujuan
Pelatihan merupakan tujuan yang ditentukan, khususnya terkait dengan
penyusunan rencana aksi (Action play) dan penetapan sasaran, serta hasil yang
diharapkan dari pelatihan yang akan diselenggarakan. Selain itu, pelatihan
harus disosialisasikan sebelumnya pada para peserta agar peserta dapat
memahami pelatihan tersebut.

Tujuan Pelatihan


Tujuan pelatihan yang dilakukan oleh perusahaan menurut Widodo (2015),
yaitu:
1) Untuk meningkatkan produktivitas.
2) Untuk meningkatkan kualitas mendukung perencanaan sumber daya manusia.
3) Untuk meningkatkan moral anggota.
4) Memberikan kompensasi yang tidak langsung.
5) Untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja.
6) Mencegah kadaluarsa kemampuan dan pengetahuan personel.
7) Untuk meningkatkan perkembangan kemampuan dan keahlian

Indikator Kinerja


Mangkunegara, (2012) indikator kinerja merupakan suatu yang akan
dihitung dan diukur (Tanjung, 2018). Hal-hal yang direncanakan akan menjadi
kinerja suatu organisasi akan diukur keberhasilan pencapaiannya dengan
menggunakan indikator kinerja. Adapun indikator kinerja karyawan sebagai
berikut:
1) Kualitas kerja yaitu kemampuan menghasilkan sesuai dengan kualitas standar
yang ditetapkan perusahaan.
2) Kuantitas kerja yaitu kemampuan menghasilkan sesuai dengan jumlah standar
yang ditetapkan perusahaan.
3) Keandalan kerja terdiri dari pelaksanaan dalam mengikuti instruksi, inisiatif,
hati-hati, kerajinan dalam melaksanakan pekerjaan.
4) Sikap yaitu pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa.
C. Pelatihan

Pengertian Pelatihan


Pelatihan berkaitan dengan keahlian dan kemampuan pegawai untuk
melaksanakan pekerjaan saat ini. Pelatihan memiliki orientasi saat ini dan
membantu pegawai untuk mencapai keahlian dan kemampuan tertentu agar berhasil
dalam melaksanakan pekerjaannya. Pada umumnya setiap organisasi sering terjadi
kesenjangan antara kebutuhan akan promosi tenaga kerja yang diharapkan oleh
organisai dengan kemampuan tenaga kerja dalam merespon kebutuhan, organisasi
perlu melakukan suatu upaya untuk menjembatani kesenjangan ini. Salah satu cara
yang dapat dilakukan perusahaan atau organisasi yaitu dengan pelatihan. Melalui
program pelatihan diharapkan seluruh potensi yang dimiliki dapat ditingkatkan
sesuai dengan kebutuhan dan keinginan perusahaan atau setidaknya mendekati apa
yang diharapkan oleh perusahaan. Oleh sebab itu, pelatihan didefinisikan sebagai
suatu proses pendidikan jangka pendek dengan menggunakan prosedur yang
sistematis dan terorganisir sehingga karyawan operasional belajar pengetahuan
teknik pengerjaan dan keahlian untuk tujuan tertentu, (Hasibuan, 2012) (Marjaya
& Pasaribu, 2019).
Sesungguhnya, pelatihan bukan hanya dikhususkan untuk pegawai yang
baru saja, melainkan juga pegawai lama yang akan dipromosikan ke posisi tertentu.
Menurut Rivai dan Sagala (2009), pelatihan adalah proses yang sistematis
mengubah tingkah laku pegawai untuk mencapai tujuan organisasi, yang berkaitan
dengan keahlian dan kemampuan pegawai untuk melaksanakan pekerjaan saat ini.
Pelatihan memiliki orientasi saat ini dan membantu pegawai untuk mencapai
keahlian dan kemampuan tertentu agar berhasil dalam melaksanakan pekerjaannya.
Sedangkan, Pelatihan menurut Kasmir (2016) merupakan proses untuk membentuk
dan membekali karyawan dengan menambah keahlian, kemampuan, pengetahuan,
dan perilakunya (Pratama & Kudus, 2018). Menurut Mangkunegara, (2012)
pelatihan adalah sebuah proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu
serta sikap agar karyawan semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung
jawab dengan semakin baik, sesuai dengan standar. Penekanan dalam suatu
pelatihan adalah pada tugas yang akan dilaksanakan (job orientation). Disamping
itu, pelatihan pada umumnya menekankan pada kemampuan psikomotor, meskipun
didasari pengetahuan dan sikap. Sehingga dapat disimpulkan dari pendapat para
ahli diatas bahwa pelatihan kerja adalah sebuah proses untuk meningkatkan
kompetensi karyawan dan dapat melatih kemampuan, keterampilan, keahlian dan
pengertahuan karyawan guna melaksanakan pekerjaan secara efektif dan efisien
untuk mencapai tujuan disuatu perusahaan.

Manfaat Penilaian Kinerja


Bagi pihak manaiemen perusahaan ada banyak manfaat dengan
dilakukannya penilaian kinerja (Ekonomi et al., 2019). Penilaian kinerja
dimanfaatkan oleh manajemen untuk:
1) Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian
karyawan secara maksimum.
2) Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan,
seperti: promosi, transfer, dan pemberhentian.
3) Mengidentifikasikan kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan
untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.
4) Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka
menilai kinerja mereka.
5) Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Banyak sekali yang mempengaruhi sumber daya manusia dalam
menjalankan kinerjanya. Ada baiknya seseorang pemimpin harus terlebih dahulu
mengkaji factor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Adapun
beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja sebagai berikut:
1) Kemampuan dan Keahlian
Menurut Kasmir (2016, hal.189). kemampuan dan keahlian merupakan
kemampuan atau skill yang dimiliki seseorang dalam melakukan sesuatu
pekerjaan. Semakin memiliki kemampuan dan keahlian maka akan dapat
menyelesaikan pekerjaannya secara benar, sesuai dengan yang telah ditetapkan.
2) Pengetahuan
Pengetahuan maksudnya adalah pengetahuan tentang pekerjaan. Seseorang
yang memiliki pengatahuan tentang pekerjaan secara baik akan memberikan
hasil pekerjaan yang baik, demikian pula sebaliknya.
3) Kepribadian
Kepribadian seseorang atau karakter yang dimiliki seseorang setiap orang
memiliki kepribadian atau karakter yang berbeda satu sama lainnya. Seseorang
13
yang memiliki kepribadian atau karakter yang sungguh-sungguh penuh
tanggung jawab sehingga hasil pekerjaannya juga baik.
4) Motivasi Kerja
Motivasi kerja merupakan dorongan bagi seseorang untuk melakukan
pekerjaan. Jika karyawan memiliki dorongan yang kuat dari dalam dirinya atau
dorongan dari luar dirinya (misalnya dari pihak perusahaan), maka karyawan
akan terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik.
5) Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan perilaku seorang pemimpin dalam mengatur,
mengelola dan memerintah bawahannya untuk mengerjakan sesuatu tugas dan
tanggung jawab yang diberikannya.
6) Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan merupakan gaya atau sikap seseorang pemimpin dalam
menghadapi atau memerintahkan bawahannya. Sebagai contoh gaya atau sikap
seorang pemimpin yang demokratis tertentu berbeda dengan gaya
kepemimpinan yang otoriter. Dalam praktiknya gaya kepemimpinan ini dapat
diterapkan sesuai dengan kondisi organisasinya, misalnya untuk organisasi
tertentu dibutuhkan gaya otoriter atau demokratis, dengan alasan tertentu pula.
7) Budaya Organisasi
Budaya organisasi merupakan kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma yang
berlaku dan dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan. Kebiasaan-
kebiasaan atau norma-norma ini mengatur hal-hal yang berlaku dan diterima
secara umum serta harus dipatuhi oleh segenap anggota suatu perusahaan atau
organisasi.
8) Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan perasaan senang atau gembira, atau perasaan suka
seseorang sebelum dan setelah melakukan suatu pekerjaan. Jika karyawan
merasa senang atau gembira atau suka untuk bekerja, maka hasil pekerjaannya
pun akan berhasil baik.
9) Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja merupakan suasana atau kondisi disekitar lokasi tempat
bekerja. Lingkungan kerja dapat berupa ruangan layout, sarana dan prasarana,
serta hubungan kerjasama dengan sesama rekan kerja. Jika lingkungan kerja
dapat membuat suasana nyaman dan memberikan ketenangan maka akan
membuat suasana kerja menjadi kondusif, sehingga dapat meningkatkan hasil
kerja seseorang menjadi lebih baik karena tanpa gangguan.
10) Loyalitas
Loyalitas merupakan kesetiaan karyawan untuk tetap bekerja dan membela
perusahaan dimana tempatnya bekerja. Kesetian ini ditunjukan dengan terus
bekerja sungguh-sungguh sekalipun perusahaannya dalam kondisi yang kurang
baik.
11) Komitmen
Komitmen merupakan kepatuhan karyawan untuk menjalankan kebijakan atau
peraturan perusahaan dalam bekerja. Komitmen juga diartikan kepatuhan
karyawan kepada janji-janji yang telah dibuatnya.
12) Disiplin Kerja
Disiplin kerja merupakan usaha karyawan untuk menjalankan aktivitas kerjanya
secara sungguh-sungguh. Disiplin kerja dalam hal ini dapat berupa waktu,
misalnya masuk kerja selalu tepat waktu. Sulaksono (2015, hal.104),
komunikasi para karyawan dan manajer harus senantiasa menciptakan
komunikasi yang harmonis dan baik. Dengan adanya komunikasi yang baik
maka akan mempermudah dalam menjalankan tugas perusahaan.

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen SDM merupakan bagian dari disiplin manajemen yang
menerapkan berbagai fungsi, fungsi-fungsi manajemen dimaksud dapat
diimplementasikan dalam MSDM. Secara umum, manajemen SDM
mengembangkan dan bekerja melalui sistem HRM terpadu melaluilima area
fungsional, yakni perencanaan, staffing, pengembangan HR, kompensasi dan
benefit, safety dan kesehatan, serta pegawai dan relasi buruh. Berikut disampaikan
uraiannya:
a. Perencanaan
Seluruh aktivitas organisasi manusia sesungguhnya diawali dengan
perencanaan, meskipun rencana yang dilakukan sering tidak disadarinya.
Meskipun demikian, terdapat berbagai definisi perencanaan SDM, perencanaan
SDM diartikan sebagai suatu aktivitas yang menelaah apa yang akan dilakukan
oleh SDM, bagaimana melakukannya, dan kapan dilakukan. Secara umum,
istilah perencanaan SDM mengacu pada usaha organisasi mengidentifikasi
implikasi SDM pada perubahan organisasional dan pada isu bisnis utama supaya
menggabungkan SDM dengan kebutuhan yang dihasilkan dari perubahan dan
isu tersebut.
b. Staffing
Staffing adalah proses ketika organisasi memastikan bahwa jumlah pekerja
dengan skill semestinya dalam pekerjaan yang benar, pada waktu yang benar,
untuk mencapai tujuan organisasi. Staffing melibatkan analisis kerja,
perencanaan SDM, rekrutmen, dan seleksi.
c. Pengembangan Sumber Daya Manusia
Human Resource Development (HRD) adalah fungsi MSDM yang utama yang
terdiri tidak hanya pelatihan dan pengembangan, tetapi juga perencanaan karier
individual dan aktivitas organisasi pengembangan, pengembangan organisasi,
dan penilaian kinerja, organisasi yang menekankan kebutuhan pelatihan dan
pengembangan.
d. Kompensasi dan Benefit
Sistem kompensasi yang bijak memberi pegawai dengan reward memadai dan
berkeadilan (equitable) bagi kontribusi mereka memenuhi tujuan organisasional.
e. Keamanan dan Kesehatan
Keamanan atau keselamatan meliputi perlindungan pegawai dari kecelakaan
yang diakibatkan pelaksanaan pekerjaan. Kesehatan menunjuk pada kebebasan
pegawai dari sakit fisik atau emosional. Aspek kerja tersebut adalah penting
karena pegawai yang bekerja dalam lingkungan aman dan menikmati kesehatan
11
yang baik adalah lebih mungkin untuk produktif dan menghasilkan benefit
jangka Panjang bagi organisasi.
f. Pegawai dan Relasi Kerja
Organisasi bisnis dituntut oleh hukum untuk mengakui serikat kerja dan tawar
menawar dengan mereka secara jujur jika karyawan organisasi ingin serikat
merepresentasikan mereka. Pada saat ini kebanyakan organisasi lebih suka
lingkungan organisasi yang bebas-serikat kerja.
g. Riset Sumber Daya Manusia
Walaupun riset HR tidak berbeda dengan fungsi HRM berbeda, ini menyangkut
semua are fungsional, dan laboratorium peneliti adalah keseluruhan lingkungan
kerja. Riset HR adalah kunci penting bagi mengembangkan angkatan kerja
seproduktif dan sepuas mungkin.
B. Kinerja Karyawan

  1. Pengertian Kinerja
    Kinerja merupakan suatu hal yang sangat penting dalam upaya instansi
    untuk mencapai tujuannya. Untuk itu, diperlukan penentuan kriteria yang jelas dan
    terukur, serta ditetapkan secara bersama-sama untuk dijadikan sebagai acuan.
    Kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi
    kerja yang dihasilkan oleh pegawai sesuai perannya dalam instansi. Lijan Poltak
    Sinambela, dkk., (2011), mengemukakan bahwa kinerja pegawai didefinisikan
    sebagai kemampuan pegawai dalam melakukan sesuatu keahlian tertentu. Menurut
    Mangkunegara (2017, hal. 67) Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan
    kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai
    tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Sedangkan, menurut Priansa (2018, hal.
    269) Kinerja adalah tingkat keberhasilan pegawai dalam menyelesaikan
    pekerjaannya.
    Menurut Robbin dalam Kasmir (2018, hal. 183) Kinerja merupakan fungsi
    dari kemampuan, motivasi, dan kesempatan. Sedangkan, menurut Irianto dalam
    Sutrisno (2011, hal. 171) Kinerja adalah prestasi yang diperoleh seseorang dalam
    melakukan tugas. Dan keberhasilan organisasi tergantung pada kinerja para pelaku
    organisasi bersangkutan. Ini menjelaskan bahwa kinerja adalah tingkat
    keberhasilan seseorang atau lembaga dalam melaksanakan pekerjaannya. Menurut
    Rivai dan Basri, (2005), kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang
    atau ke seluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan
    dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau
    kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. Untuk
    meningkatkan kinerja yang optimal perlu ditetapkan standar yang jelas, yang dapat
    menjadi acuan bagi seluruh pegawai. Kinerja pegawai akan tercipta jika pegawai
    dapat melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Untuk meningkatkan kinerja
    ini perlu dibuat standar pencapaian melalui penulisan pernyataan-pernyataan
    tentang berbagai kondisi yang diharapkan ketika pekerjaan akan dilakukan. Dari
    beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan suatu
    proses dalam melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepada pegawai sesuai
    dengan pekerjaan dan kemampuannya untuk mencapai hasil kerja dan prestasi yang
    di perolehnya dengan maksimal dalam organisas

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Marniati, Prof. Adjunct (2020) berpandangan terdiri dari 4 tujuan, yaitu
tujuan organisasional, tujuan fungsional, tujuan sosial, dan tujuan personal.
Berikut disampaikan uraiannya:
a. Tujuan Organisasional
Ditujukan untuk dapat mengenali keberadaan manajemen sumber daya manusia
(MSDM) dalam memberikan konstribusi pada pencapaian efektivitas organisasi.
Walaupun secara formal suatu departemen sumber daya manusia diciptakan
untuk membantu para manajer, namun demikian para manajer tetap bertanggung
jawab terhadap kinerja karyawan. Bidang sumber daya manusia membantu para
manajer dalam menangani hal-hal yang berhubungan dengan sumber daya
manusia.
b. Tujuan Fungsional
Ditujukan untuk mempertahankan konstribusi departemen pada tingkat yang
sesuai dengan kebutuhan organisasi. Sumber daya manusia menjadi tidak
berharga jika manajemen sumber daya manusia memiliki kriteria yang lebih
rendah dari tingkat kebutuhan organisasi.
c. Tujuan Sosial
Ditujukan secara etis dan sosial merespon terhadap kebutuhan-kebutuhan dan
tantangan-tantangan masyarakat melalui tindakan menimasi dampak negatif
terhadap organisasi. Kegagalan organisasi dalam menggunakan sumber dayanya
bagi keuntungan masyarakat dapat menyebabkan hambatan-hambatan.
d. Tujuan Personal
Ditujukan untuk membantu karyawan dalam pencapaian tujuannya, minimal
tujuan-tujuan yang dapat mempertinggi konstribusi individual terhadap
organisasi. Tujuan personal karyawan harus dipertimbangkan jika para
karyawan harus dipertahankan, dipensiunkan atau dimotivasi. Jika tujuan
personal tidak dipertimbangkan, kinerja dan kepuasan karyawan dapat
menurunkan dan karyawan juga dapat meninggalkan organisasi

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Pada hakikatnya, manajemen sumber daya manusia (MSDM) merupakan
gerakan pengakuan terhadap pentingnya unsur manusia sebagai sumber daya yang
cukup potensial dan sangat dominan pada setiap organisasi. Oleh sebab itu,
manajemen sumber daya manusia adalah penggunaan sumber daya manusia dalam
organisasi. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan kompensasi dan kesejahteraan,
keselamatan dan kesehatan kerja, rekrutmen dan seleksi, pengembangan sumber
daya manusia, perencanaan dan pengembangan karir, serta hubungan industrial
(Adamy, 2016). Manajemen SDM dapat didefinisikan sebagai suatu pengelolaan
dan pendayagunaan sumber daya yang ada pada individu.
Selanjutnya, dikemukakan bahwa manajemen sumber daya manusia sebagai
ilmu dan seni mengelola hubungan dan fungsi tenaga kerja secara efisien dan efektif
sehingga dapat memenuhi tujuan organisasi, karyawan, dan masyarakat (Afandi,
2018). Marwansyah (2010:3), mendefinisikan manajemen sumber daya manusia
adalah sebagai pendayagunaan sumber daya manusia di dalam organisasi, yang
dilakukan melalui fungsi-fungsi perencanaan sumber daya manusia, rekrutmen dan
seleksi, pengembangan sumber daya manusia, perencanaan dan pengembangan
karir, pemberian kompensasi dan kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan kerja,
dan hubungan industrial (Bolung et al., 2018). Berdasarkan pemahaman dari uraian
diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia ialah
pengelolaan sumber daya manusia sebagai sumber daya atau asset yang utama,
melalui penerapan fungsi manajemen maupun fungsi operasional sehingga tujuan
organisasi yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik

Faktor Yang Mempengaruhi Gaya Kepemimpinan


Menurut Rivai (2016:125) faktor yang mempengaruhi gayakepemimpinan
dalah sebagai berikut:

  1. Tuntutan Tugas.
  2. Harapan dan Tingkah Laku rekan setingkat.
  3. Karakteristik , harapan dan tingkah laku karyawan.
  4. Budaya Organisasi dan kebijakan.
    H. Joseph Reitz dalam Indah Dwi Rahayu (2017:2), faktor-faktor yang
    mempengaruhi gaya kepemimpinan, yaitu:
  5. Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan
    pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya
    akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan. 2. Harapan dan
    perilaku atasan
  6. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap
    apa gaya kepemimpinan.
  7. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya
    pemimpin.
  8. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku
    bawahan.
  9. Harapan dan perilaku rekan

Jenis- Jenis Gaya Kepempimpinan


Menurut Feriyanto (2015:95) Gaya Kepemimpinan ada 4 yaitu

  1. Kepemimpinan Otoriter
    Kepemimpinan Otoriter adala jika kekuasaan atau wewenang,sebagian
    besar multak tetap berada pada pimpinan atau kalau pimpinanitu menganut
    sistem sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dankebijakan hanya
    ditetapkan sendiri oleh pimpinan, bawahan tidak ikutsertakan untuk
    memberikan saran, ide dan pertimbangan dalam prosespemgambilan
    keputusan.Falsafah kepemimpinan ialah “bawahan adalah
    untukpimpinan/atasan”. Bawahan hanya bertugas sebagai pelaksana
    keputusanyang telah di tetapkan pimpinan.
  2. Kepemimpinan Partisipasif
    Kepemimpinan Partisipasif adalah apabila kepemimpiaannyadilakukan
    dengan cara persuasive, menciptakan kerja sama serasi,menumbuhkan
    loyalitas,dan partisipasi para bawahan. Pimimpinmemotivasi bawahan agar
    merasa ikut memilih perusahaan
  3. Kepemimpinan Deleglatif
    Kepemimpinan delegatif apabila seseorang pemimpinmendegelasikan
    wewenang kepada bawahan dengan agak lengkap.Dengan demikian,
    bawahan dapat mengambil keputusan dan kebijakandengan atau leluasa
    dalam menjalankan pekerjaannya. Pemimpin tidakpeduli cara bawahannya
    mengambil keputusan dan pekerjaanya,sepenuhnya diserahkan kepada
    bawahaan .
  4. Kepemimpinan situasional
    Menurut kepemimpinan situasional tidak ada satu puncara yangbaik untuk
    mempengaruhi orang lain. Gaya kepemimpinan mana yangharus digunakan
    terhadap individu tergantung pada tingkat kesiapan yangakan di pengaruhi.
    Menurut teori Path Goal (2016) jenis-jenis gaya kepemimpinan dibagi
    menjadi empat yaitu :
  5. Kepemimpinan direktif
    Tipe gaya kepemimpinan ini sama dengan model kepemimpinan otokratis
    bahwa pendekatan yang dilakukan melalui tekanan.
  6. Kepemimpinan supportif
    Gaya kepemimpinan ini mempunyai kesediaan untuk menjelaskan sendiri,
    bersahabat, mudah didekati, dan mempunyai perhatian kemanusiaan yang
    murni terhadap para bawahannya.
  7. Kepemimpinan partisipatif
    Pada gaya kepemimpinan ini pemimpin berusaha meminta dan
    menggunakan saran atau ide dari para bawahannya. Namun pengambilan
    keputusan masih tetap berada padanya.
  8. Kepemimpinan berorientasi pada prestasi
    Gaya kepemimpinan ini menetapkan serangkaian tujuan yang menantang
    anggotanya untuk berprestasi dan menjadi lebih baik. Pemimpin juga
    memberikan keyakinan kepada mereka bahwa mereka mampu
    melaksanakan tugas pekerjaan mencapai tujuan secara baik.

Pengertian Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan oleh
seseorangpemimpin dalam mempengaruhi perilaku orang lain. Dari gaya ini
dapat di ambilmanfaatnya untuk digunakan sebagai pemimpindalam
memimpin bawahannyaatau para pengikutnya. Gaya kepemimpinan
merupakan norma perilaku yang dipergunakan oleh seorang pemimpin pada
saat mencoba mempengaruhi perilakuorang lain atau bawahaanya (Hasibuan,
2014).
Gaya Kepemimpinan merupakan suatu cara yang dimiliki seorang
pimpinan yang menunjukkan suatu sikap yang menjadi ciri khas tertentu
untukmempengaruhi pegawainya dalam mencapai tujuan organisasi (Mulyadi,
2015:150).
Menurut Rivai (2010: 42) gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari
tindakan seorang pemimpin, baik yang tampak maupun yang tidak
tampakoleh bawahannya.
Menurut pengertian lainnya mengemukakan bahwa gaya
kepemimpinanadalah suatu cara bagaimana seorang pemimpin mampu
memengaruhi parapengikut agar dengan sukrela mau melakukan berbagai
tindakan bersama yangdiperintahkan oleh pimpinan tanpa merasa bahwa
dirinya ditekan dalam rangkamencapai tujuan organisasi (Busro, 2018:226).
Gaya kepemimpinan mengambarkan kombinasi yang konsistendari
falsafah, keterampilan, sifat, dan sikap yang mendasari perilaku
seseorang.Gaya kepemimpinan yang menunjukan, secara langsung atau
tidaknya tentangkeyakinan seorang pemimpin terhadap kemampuan
bawahannya (Sopiah,2017).

Tujuan Punishment


Punishment merupakan tindakan konsekuensi yang dilakukan perusahaan
dari perilaku yang negatif dari karyawan, tujuan pemberian punishment ini
bermacam-macam, salah satunya adalah teori tujuan pemberian punishment
(Purwanto, 2013:238), sebagai berikut:

  1. Teori Pembalasan
    Hukuman diadakan sebagai pembalasan terhadap kelalaian dan pelanggran
    yang telah dilakukan seseorang (pegawai).
  2. Teori Perbaikan
    Hukuman diberikan untuk membasmi kejahatan, untuk memperbaiki si
    pelanggar agar tidak berbuat kesalahan itu lagi.
  3. Teori Perlindungan
    Hukuman diadakan untuk melindungi masyarakat dari perbuatan-perbuatan
    yang tidak wajar. Dengan adanya hukuman ini, masyarakat dapat
    dilindungi dari kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan oleh si pelanggar.
  4. Teori Ganti Rugi
    Hukuman diadakan untuk mengganti kerugian-kerugian yang telah diderita
    perusahaan akibat dari kejahatan-kejahatan atau pelanggaran-pelanggaran
    yang dilakukan oleh karyawan.
  5. Teori Menakut-nakuti
    Hukuman diadakan untuk menimbulkan perasaan takut kepada si pelanggar
    akibat perbuatannya yang melanggar itu sehingga selalu takut melakukan
    perbuatan itu dan mau meninggalkannya.
    Menurut Soekanto (2013:67), punishment dalam sebuah organisasi
    tidak kalah penting karena akan ada keteraturan dalam membentuk sebuah
    organisasi dengan displin yang kuat dan tanggung jawab yang tinggi untuk
    menciptakan kepribadian yang baik pula pada setiap anggota organisasi
    tersebut adalah tujuan punishment. Tujuan penting dari punishment yang
    berperan besar bagi pembentukan tingkah laku yang diharapkan ialah
    membatasi perilaku. Punishment menghalangi terjadinya pengulangan
    tingkah laku yang tidak diharapkan, bersifat mendidik dan memperkuat
    motuvasi untuk menghindarkan diri dari tingkah laku yang tidak
    diharapkan.

Fungsi Punishment


Punishment dalam sebuah organisasi pun tidak kalah penting karena akan
ada keteraturan dalam membentuk sebuah organisasi dengan disiplin yang
kuat dan tanggung jawab yang tinggi untuk menciptakan kepribadian yang
baik pula pada setiap anggota organisasi tersebut adalah fungsi punishment.
(Soekanto, 2012:76) Ada tiga fungsi penting dari punishment, yaitu:

  1. Membatasi perilaku yang tidak diharapkan.
  2. Bersifat mendidik.
  3. Memotivasi untuk menghindari dari tingkah laku yang tidak diharapkan.
    Menurut Wiyani (2013), fungsi punishment adalah sebagai berikut :
  4. Hukuman adalah menghalangi.
  5. Hukuman adalah mendidik.
  6. Memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima
    oleh masyarakat

Tipe Reward


Komponen utama sistem reward terdiri atas elemen-elemen (Mahmudi 2013:
181), sebagai berikut:

  1. Gaji dan Bonus
    Gaji merupakan komponen reward yang sangat penting bagi pegawai gaji
    dalam hal ini meliputi gaji pokok dan tambahan kompensasi keuangan
    berupa bonus dan pemberian saham (stock option atau stock grant).
    Reward terhadap kinerja yang tinggi dapa diberikan dalam bentuk kenaikan
    gaji, pemberian bonus atau pemberian saham. Paket gaji yang ditawarkan
    sebagai reward meliputi komponen sebagai berikut:
    a) Kenaikan gaji pokok
    b) Tambahan honor
    c) Insentif jangka pendek
    d) Insentif jangka panjang
  2. Kesejahteraan
    Kesejahteraan dapat diukur nilainya. Berbagai program kesejahteraan
    pegawai yang ditawarkan organisasi sebagai bentuk pemberian reward atas
    presentasi kerja, misalnya:
    a. Tunjangan, meliputi tunjangan jabatan, tunjangan struktural, tunjangan
    kesehatan, tunjungan pendidikan anak, dan tunjangan hari tua.
    b. Fasilitas kerja, misalnya kendaraan dinas, dan sopir pribadi.
    c. Kesejahteraan rohani, misalnya rekreasi, liburan, paket ibadah, dan
    sebagainya.
  3. Pengembangan Karier
    Pengembangan karir merupakan prospek kinerja di masa yang akan datang.
    pengembangan karir ini penting diberikan bagi pegawai yang memiliki
    prestasi kerja yang memuaskan agar nilai pegawai itu lebih tinggi sehingga
    mampu memberikan kinerja yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
    Pengembangan karier memberikan kesempatan kepada pegawai yang
    berprestasi untuk belajar dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan
    keahliannya. Pemberian reward melalui pengembangan karier dapat
    berbentuk:
    a. Penugasan untuk studi lanjut.
    b. Penugasan untuk mengikuti program pelatihan, kursus, seminar.
    c. Penugasan untuk magang atau studi banding.
  4. Penghargaan psikologis dan sosial
    Penghargaan psikologis dan sosial lebih sulit diukur nilai finansialnya,
    namun nilai penghargaan ini penting bagi pegawai. Beberapa penghargaan
    psikologis dan sosial tersebut misalnya:
    a. Promosi jabatan
    b. Pemberian kepercayaan
    c. Peningkatan tanggung jawab
    d. Penempatan lokasi kerja yang lebih baik
    e. Pengakuan
    f. Pujian.
    Tipe-tipe reward atau insentif (Winardi 2015:67), dapat diklasifikasikan
    sebagai berikut:
  5. Material berupa gaji/upah.
    Kenaikan gaji/upah, rencana-rencana bonus.
  6. Imbalan di luar gaji.
    Berupa istrahat kerja, dan bonus.
  7. Penghargaan sosial.
    Berupa reward informal, pujian, senyum, umpan balik evaluatif, isyarat-
    isyarat nonverbal, tepukan di bahu, meminta saran, undangan minum kopi
    bersama atau makan bersama, penghargaan formal, dan plakat dinding dan
    sebagainya.
  8. Tugas itu sendiri.
    Seperti perasaan berprestasi, pekerjaan dengan tanggung jawab lebih besar
    rotasi kerja, dan sebagainya.
  9. Diterapkan sendiri.
    Berupa reward terhadap diri sendiri, pujian untuk diri sendiri, ucapan
    selamat untuk diri sendiri.

Norma Reward


Hubungan antara pekerja dan majikan dapat dikatakan sebagai pertukaran.
Pekerja menukarkan waktu dan bakatnya untuk mendapatkan reward
(Wibowo 2017:310). Secara ideal ada empat norma dalam setiap reward yang
berbeda, yaitu:

  1. Profit maximization (memaksimumkan keuntungan)
    Perusahaan yang mencari keuntungan maksimum membayar upah rendah
    untuk usaha maksimum. Sebaliknya, pekerja yang mencari keuntungan
    maksimum akan mencari reward maksimum.
  2. Equity (keadilan)
    Memberikan penghargaan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek
    keadilan. Reward harus dialokasikan secara proporsional sesuai dengan
    kontribusinya.
  3. Equality (kesamaan)
    Setiap orang harus mendapat reward yang sama. Tanpa memandang
    perbandingan kontribusi.
  4. Need (kebutuhan)
    Reward didistribusikan menurut kebutuhan pekerja, tanpa memandang
    kontribusinya.
    Menurut Mahsun (2012:112) terdapat empat alternatif pemberian
    reward agar dapat digunakan untuk memicu kinerja dan produktifitas
    pegawai, yaitu :
  5. Goal Congruence kesesuaian tujuan. Setiap organisasi publik pasti
    mempunyai tujuan yang hendak dicapai
  6. Equity keadilan. Reward harus dialokasikan secara proporsional
    dengan mempertimbangkan besarnya kontribusi setiap individu dan
    kelompok
  7. Equility kemerataan. Reward juga harus didistribusikan secara
    merata bagi semua pihak individu atau kelompok yang telah
    menyumbangkan sumberdayanya untuk tercapainya produktivitas.
  8. Kebutuhan. Alokasi reward kepada pegawai seharusnya
    mempertimbangkan tingkat kebutuhan utama dari pegawai.
    Jadi menurut pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa reward yang
    baik dapat memotivasi orang serta memuaskan mereka sehingga dapat
    menumbuhkan komitmen dan loyalitas terhadap organisasi. Diantaranya
    profit maximization, goal congruance, equity, equility, dan kebutuhan
    merupakan hal yang harus diperhatikan oleh setiap organisasi atau
    perusahaan bila ingin tujuan organisasi dan individu karyawannya ingin
    tercapai.

Tujuan Reward


Dalam lingkup luas, sistem penghargaan organisasional adalah semua
yang dihargai dan diinginkan sumber daya manusia yang mampu dan mau
diberikan perusahaan sebagai ganti atas kontribusi yang diberikan sumber
daya manusia tersebut. Di dalamnya terbagi lagi menjadi berbagai
penghargaan finansial dan non-finansial. Meskipun uang adalah alat yang
sangat besar pengaruhnya bagi pegawai dan kinerja mereka, dampak dari
penghargaan non-finansial juga sama berartinya bagi karyawan.
Menurut Ivancevich,(2014:226) tujuan utama dari program reward
adalah:

  1. Menarik orang yang memiliki kualifikasi untuk bergabung organisasi.
  2. Mempertahankan karyawan agar terus datang untuk bekerja.
  3. Mendorong karyawan untuk mencapai tingkat kinerja yang tinggi.
    Penghargaan dapat menjembatani gap antara tujuan perusahaan dengan
    harapan dan aspirasi individual (Sedamaryanti, 2016:83). Untuk dapat
    efektif, sistem penghargaan organisasional harus menyediakan 4 hal, yaitu:
  4. Tingkat penghargaan untuk memenuhi kebutuhan dasar perusahaan.
  5. Kesamaan dengan pasar tenaga kerja eksternal.
  6. Kesamaan di dalam organisasi.
  7. Perlakuan yang berdasarkan kebutuhan individual terhadap anggota.
    Secara luas Reward diciptakan untuk menarik, menahan, dan
    meningkatkan kinerja pegawai pada perusahaan. Namun, tujuan yang lebih
    penting di dalamnya adalah keadilan atas persamaan yang bisa dicapai
    dengan tiga dimensi berikut:
  8. Kesamaan Internal: berdasarkan kualitas dari apa yang diberikan
    karyawan bagi perusahaan.
  9. Kesamaan Eksternal: disesuaikan dengan pembayaran rata-rata
    perusahaan lainnya.
  10. Kesamaan Individual: pembayaran yang adil sesama individu yang
    melakukan pekerjaan yang sama atau serupa.
    Pegawai menginginkan penghargaan yang setimpal dengan apa yang
    diberikannya kepada perusahaan dan sama dengan yang diterima pegawai
    lain dengan pekerjaan serupa. Jika pegawai tidak memperolehnya, maka
    cenderung akan mengurangi sumbangsih mereka atau bahkan keluar dari
    perusahaan

Definisi Reward


Atas pelaksanaan pekerjaan yang diberikan manajer dan hasil yang
diperoleh, pekerja mendapat upah atau gaji. Sementara itu, untuk
meningkatkan kinerja, manajer menyediakan insentif bagi pekerja yang dapat
memberikanprestasi kerja melebihi standar kinerja yang diharapkan. Di luar
upah, gaji, dan insentif sering kali pemimpin memberikan tambahan
penerimaan yang lain sebagai upaya lebih menghargai kinerja pekerjanya.
Beberapa ahli menjelaskan tentang definisi Reward, di antaranya adalah:
“All that are appreciated and desired sourceshuman powerable and
willing to be given by the company instead of a given contribution human
resources”. Memiliki arti bahwa semua yang dihargai dan diinginkan sumber
daya manusia yang mampu dan diberikan perusahaan sebagai ganti atas
kontribusi yang diberikan sumber daya manusia tersebut. (Gibson 2014:3)
Reward merupakan sebagai bentuk apresiasi usaha untuk mendapatkan
tenaga kerja yang profesional sesuai dengan tuntutan jabatan diperlukan suatu
pembinaan yang berkeseimbangan, yaitu suatu kegiatan perencanaan,
pengorganisasian penggunaan, dan pemeliharaan tenaga kerja agar mampu
melaksanakan tugas dengan efektif dan efisien dalam mencapai tujuan
organisasi (Handoko, 2013: 66).
Insentif yang mengaitkan bayaran atas dasar untuk dapat meningkatkan
produktivitas para karyawan guna mencapai keunggulan dan tujuan yang
kompetitif.” (Simamora, 2011:514)
Reward adalah sesuatu yang kita berikan kepada seseorang karena dia
melakukan sesuatu. Sebagai apresiasi dan sebagai ungkapan terima kasih dan
perhatian kita(Wijarnako, 2014: 30)

Dimensi Produktivitas Kerja


Organisasi dapat mengetahui hasil produktivitas kerja darikaryawan.
Produktivitas kerja karyawan dapat diketahui melaluipengukuran. Menurut
Bilson (2011) menyatakan bahwaprodukivitas kerja dapat diukur
menggunakan indikator sebagaiberikut:

  1. Kuantitas kerja adalah merupakan suatu hasil yang dicapai olehkaryawan
    dalam jumlah tertentu dengan perbandingan standartyang ada atau
    ditetapkan oleh perusahaan.
  2. Kualitas kerja adalah merupakan suatu standar hasil yangberkaitan dengan
    mutu dari suatu produk yang dihasilkan olehkaryawan dalam hal ini
    merupakan suatu kemampuan karyawandalam menyelesaikan pekerjaannya
    secara teknis denganperbandingan standart yang ditetapkan oleh
    perusahaan.
  3. Ketepatan waktu merupakan tingkat suatu aktivitas diselesaikanpada awal
    waktu yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasidengan hasil output
    serta memaksimalkan waktu yang tersediauntuk aktivitas lain. Ketepatan
    waktu diukur dari persepsikaryawan terhadap suatu aktivitas yang
    diselesaikan diawalwaktu sampai menjadi output

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja


Untuk meningkatkan produktivitas kerja yang tinggi, pimpinan
perusahaan harus memiliki sikap mental yang berorientasi produktif dan
selalu menggunakan potensi yang maksimal, optimis, tekun, dan berusaha
sungguh-sungguh dalam menghadapi tantangan pembangunan.
Menurut Wibowo (2017) produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh
berbagai faktor, baik yang berhubungan dengan tenaga kerja itu sendiri
maupun faktor lain seperti pendidikan, keterampilan, displin sikap, dan etika
kerja, motivasi ,gizi, dan kesehatan, tingkat penghasilan, jaminan sosial,
lingkungan dan iklim kerja teknologi, sarana produktivitas, manejemen dan
kesempatan berprestasi. Beberapa faktor umum yang sering digunakan oleh
seorang manajer untukmempertimbangkan dalam peningkatan produktivitas
kerja karyawan, antara lain :
a. Faktor usia atau umur
Dalam rangka menempatkan karyawan, faktor usia pada diri karyawan
yang lulus dalam seleksi perlu mendapatkan pertimbangan. Hal tersebut
dimaksudkan untuk menghindarirendahnya produktivitas yang dihasilkan
oleh karyawan yang bersangkutan..
b. Faktor prestasi akademis atau tingkat pendidikan.
Prestasi akademis yang telah dicapai oleh karyawan yang bersangkutan
selama mengikuti jenjang pendidikan harus mendapatkan pertimbangan.
Dengan mempertimbangkan faktor prestasi akademis, maka dapat
ditetapkan dimana karyawan yang bersangkutan akan ditempatkan sesuai
dengan prestasi akademisnya. Pendidikan yang minim mengakibatkan
kurangnya pengetahuan dalam memanfaatkan sumber sumber alam yang
tersedia.
c. Faktor status perkawinan (jumlah tangunggan)
Mengenai status perkawinan karyawan adalah merupakan hal yang sangat
penting. Selain untuk kepentingan ketenagakerjaan juga sebagai bahan
pertimbangan dalam penempatan karyawan. Jumlah tanggungan semakin
banyak menekankan akan adanya lahan tanaman yang luas untuk
membiayai kebutuhan keluarganya. Jumlah tanggungan semakin tinggi
dan rendahnya penddidikan disektor pertanian dapat mengakibatkan
tingkat pendapatan yang rendah dan pengembangan pertanian akan
terlambat, hal ini mengakibatkan tabungan rendah, investasi
pengembangan rendah, sulit memperoleh modal pinjaman.
d. Faktor pengalaman
Pengalaman bekerja pada pekerjaan yang sejenis yang telah dialami
sebelumnya perlu mendapatkan pertimbangan dalam rangka penempatan
karyawan tersebut. Hal tersebut berdasarkan pada kenyataan yang
menunjukkan bahwa makin lama bekerja maka makin banyak
pengalaman yang dimiliki oleh karyawan yang bersangkutan. Banyaknya
pengalaman bekerja memberikan kecenderungan bahwa karyawan yang
bersangkutan memiliki keahlian dan pengalaman yang relatif tinggi.
Pengalaman seseorang dalam berusaha berpengaruh pula dalam
menerima inovasi dari luar

Pengertian Produktivitas


Perhatian terhadap produktivitas dimulai pada saat manusia melepaskan
diri dari kemiskinan. Produktivitas lahir dengan adanya pengembangan
industri dan dapat dikatakan produktivitas adalah saudara kembar dari
industri. Produktivitas menurut Harianto (2016), mempunyai berbagai
pengertian antara lain yang terpenting adalah sebagai berikut:
a. Produktivitas tidak lain rasio dari apa yang dihasilkan (output) terhadap
keseluruhan faktor produksi yang digunakan (input).
b. Produktivitas mengikut sertakan pendayagunaan secara terpadu sumber
daya manusia dan ketrampilan barang modal, teknologi, manajemen,
informasi, energi dan sumber-sumber lain menuju kepada pengembangan
dan peningkatan standar hidup untuk seluruh masyarakat melalui konsep
produktivitas semesta atau total.
c. Produktivitas adalah kekuatan pendorong (driving force) untuk mewujudkan
kualitas hidup, pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial yang pada
hakekatnya sasaran pembangunan nasional kita. Dengan perkataan lain
produktivitas mendorong pertumbuhan, dan pertumbuhan adalah kemajuan.
Untuk suatu negara ukurannya adalah Gross Domestik Bruto (GDB)
sedangkan untuk perorangan diukur dengan input per man hour.
Produktivitas kerja juga diartikan sebagai hasil pengukuran mengenai apa
yang telah diperoleh dari apa yang telah diberikan oleh karyawan dalam
5
melaksanakan pekerjaan yang telah dibebankan pada kurun waktu tertentu.
Produktivitas melibatkan peran aktif tenaga kerja untuk menghasilkan hasil
maksimal dengan melihat kualitas dan kuantitas pekerjaan mereka. Pimpinan
suatu perusahaan atau lembaga hendaknya selalu memotivasi karyawan untuk
berprestasi lebih baik. Sebab motivasi merupakan hal yang sangat
pentinguntuk diperhatikan dalam rangka meningkatkan produktivitas kinerja
karyawan (Kartono,2017).
Payaman Simanjuntak (2015) juga mengemukakan bahwa Secara filosofis,
produktivitas mengandung pandangan hidup dan sikap mental yang selalu
berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan. Keadaan hari ini harus lebih
baik dari kemarin, dan mutu kehidupan besok harus lebih baik dari hari ini.
Pandangan hidup dan sikap mental yang demikian akan mendorong manusia
untuk tidak cepat merasa puas, akan tetapi terus mengembangkan diri untuk
meningkatkan kemampuan sehingga akan dihasilkan produktivitas yang
tinggi

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Sudah merupakan tugas manajer SDM untuk mengelola manusia sebaik
mungkin agar diperoleh suatu satuan SDM yang merasa puas dan
memuaskan. Manajemen SDM merupakan bagian dari manajemen umum
yang memfokuskan diri dari SDM.
Fungsi-fungsi manajemen SDM menurut (Rivai 2016),dibagi menjadi dua
yaitu fungsi manajerial dan fungsi operasional, sebagai berikut:

  1. Fungsi manajerial
    a. Perencanaan
    Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja secara efektif serta
    efesien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam membantu
    terwujudnya tujuan.
    b. Pengorganisasian
    Kegiatan untuk mengorganisasi semua karyawan dengan menetapkan
    pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi, dan
    koordinasi dalam bagan organisasisuatu proses penyelesaian masalah
    yang terdiri dari menganalisa atau pengenalan kebutuhan dan
    keinginan, pencarian informasi, penilaian sumber-sumber seleksi
    terhadap alternatif pembelian, keputusan pembelian, dan perilaku
    setelah pembelian.
    c. Pengarahan
    Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan, agar mau
    bekerja sama dan bekerja efektif serta efesien dalam membantu
    tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
    d. Pengendalian
    Pengendalian adalah kegiatan mengendalikan semua karyawan, agar
    mentaati peraturan-peraturan perusahaan dan bekerja sesuai dengan
    rencana.
  2. Fungsi Operasional
    a. Pengadaan
    Pengadaan adalah penarikan, seleksi, penempatan, orientasi dan
    induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan.
    b. Pengembangan
    Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis,
    konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
    c. Kompensasi
    Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung dan tidak langsung,
    uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang
    diberikan sesuai dengan prestasi kerja.
    d. Pengintegrasian.
    Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
    perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerjasama yang
    serasi dan saling menguntungkan.
    e. Pemeliharaan.
    Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan
    kondisi fisik, mental, dan loyalitas karyawan. Agar mereka tetap mau
    bekerjasama sampai pensiun.
    f. Kedisiplinan.
    Kedisiplinan adalah merupakan fungsi MSDM yang terpenting dan
    kunci terwujudnya tujuan. Karena tanpa disiplin yang baik sulit
    terwujud tujuan yang maksimal.
    g. Pemberhentian.
    Pemberhentian adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari
    perusahaan. Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan karyawan,
    keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun dan sebab –
    sebab lainnya. Pelepasan ini diatur oleh undang – undang No. 12
    Tahun 1964

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Adapun pengertian sumber daya manusia, penulis kutip dari beberapa para
ahli sebagai berikut :

  1. MSDM adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga
    kerja dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan,
    dan masyarakat (Hasibuan,2017)
  2. Proses pencapaian tujuan organisasi melalui mendapatkan,
    mempertahankan, memberhentikan, pengembangkan, dan menggunakan
    atau memanfaatkan sumber daya manusia dalam suatu organisasi dengan
    sebaik-baiknya(Moekijat,2016).
  3. Rancangan dari berbagai sistem formal pada sebuah organisasi dengan
    tujuan memastikan penggunaan keahlian manusia secara efektif serta
    efisien untuk mencapai tujuan organisasi / perusahaan sesuai dengan
    keinginan (Mathis & Jackson,2016:3)
    Jadi, MSDM merupakan perencanaan,
    pengorganisasian,pengkoordinasian, pelaksanaan dan pengawasan terhadap
    pengadaan,pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian,
    pemeliharaan, danpemisahan tenagakerja dalam rangka mencapai tujuan
    organisasi

Manajemen Sumber Daya Manusia


Setiap organisasi tentunya mempunyai berbagai tujuan yang hendak dicapai.
Tujuan tersebut diraih dengan mendayagunakan sumber-sumber dayanya yang
ada. Sumber daya manusia merupakan aset organisasi paling penting yang
harus dimiliki oleh perusahaan dan sangat diperhatikan oleh manajemen

Prinsip Pelayanan Publik


Tujuan dari pelayanan publik adalah untuk memberikan kepuasan
berdasarkan kebutuhan masyarakat dan namun dalam memperoleh hal itu hal
tersebut dibutuhkan kualitas pelayanan yang tepat dengan keperluan serta
kebutuhan masyarakat. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara No. 63 Tahun 2004 tentang Pendayagunaan Pelayanan
Publik yang mengandung prinsip yaitu:
a. Kesederhanaan
Kesederhanaan dalam hal ini ada dua bentuk baik melalui prosedur
yaitu keadaan pada bagian-bagian pelayanan diberikan kepada
masyarakat yang tidak berbelit-belit dan kesederhanaan melalui
persyaratan teknis dan administrasi, diinginkan dalam memperoleh
pelayanan tepat dengan jenis pelayanannya.
b. Kejelasan
Kejelasan yang menyangkut petugas tentang keberadaan dan
kepastian petugas yang memberikan pelayanan (nama, jabatan, serta
kewenangan dan tanggungjawab).
c. Akurasi pelayanan
Akurasi pelayanan yakni suatu hal yang diperoleh masyarakat
dalam memenuhi permohanan atau kebutuhannya dengan benar dan
terhindari dari kesalahan-kesalahan.
d. Kecepatan pelayanan
Kecepatan pelayanan adalah waktu yang telah ditentukan untuk
memberikan dan menyelesaikan permohonan dari masyarakat yang
memiliki kebutuhan. Hal dapat dilihat dari bagaimana individu yang
mengambil peran penting dalam sebuah organisasi untuk melakukan
pekerjaannya dengan memperhatikan waktu yang telah ditetapkan.
e. Keadilan
Keadilan menyangkut tentang penyelenggaraan pelayanan kepada
orang yang mempunyai kebutuhan dengan tidak melihat atau
membeda-bedakan baik golongan, status masyarakat yang dilayani.
f. Kenyamanan
Kenyamanan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah orang yang
memiliki suatu kebutuhan bisa mendapatkan pelayanan kemudian
yang berhubungan dengan lokasi, ruang, tempat pelayanan,
kemudahan terjangkau, tempat parkir kendaraan, ketersediaan
informasi, petunjuk.
g. Tanggung jawab
Prinsip tanggung jawab merupakan suatu hal yang berperan
penting di dalam kinerja pegawai sebab pegawai yang betul-betul
bertanggung jawab atas tugas dan pekerjaannya mesti dia akan
memperhatikan kinerjanya sebagai pegawai. Pegawai yang memiliki
tanggung jawab akan diselesaikan tugasnya dan memberikan
pelayanan dengan sebaik-baiknya dan sesuai waktunya.
h. Kelengkapan saran dan prasana
Kelengkapan saran dan prasana yaitu ketersediaan peralatan kerja,
tenaga kerja dan pendukung lainnya yang butuhkan untuk melakukan
pekerjaannya kelompok dalam membantu terwujudnya tujuan dengan
baik.
i. Kedisiplinan
Kedisiplinan adalah suatu sikap atau perilaku diperlihatkan oleh
individu yang terlibat dalam organisasi tersebut kepada orang-orang
yang akan dijumpai misalnya dalam hal kesopanan dan keramahaman,
waktu, ketertiban dan keteraturan dan lainnya yang dapat memberikan
semangat bagi yang datang mengurus apa yang dikeperlukan

Pengertian Pelayanan publik


Dalam KBBI pelayanan adalah upaya dalam memberi kebutuhan orang
lain. Asal kata dari pelayanan yaitu “Layan” yang berarti membantu serta
mempersiapkan segala dibutuhkan orang lain untuk perbuatan melayani.
Adapun pengertian pelayanan publik menurut para ahli sebagai berikut:
a. Menurut Kumiawan (2005), bahwa pelayanan publik adalah
sebagai pemberi layanan (melayani) kebutuhan orang atau
masyarakat yang memiliki keperluan pada organisasi sesuai dengan
aturan pokok tata cara yang sudah ditentukan.
b. Sinambela (2005), pelayanan publik merupakan pemenuhan
keinginan dan keperluan masyarakat oleh penyelenggara negara

Faktor yang dapat Mempengaruhi Kinerja


Untuk mendukung suatu kelancaran aktivitas yang dilakukan terlebih pada
pencapaian tujuan yang baik tentu dengan mempersiapkan segala kebutuhan
dan melakukan persyaratan dalam organisasi tersebut. Dengan demikian jika
tidak dipersiapkan dan dilakukan hal itu maka akan berpengaruh terhadap
kinerja.
Berikut terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja
yakni.
a. Ketidaktersediaan Peralatan dan Barang
Ketidaktersediaan suatu peralatan yang digunakan untuk mendukung
sebuah pelaksanaan pekerjaan dapat berpengaruh pencapaian tujuan yang
maksimal. Peralatan dan barang adalah alat-alat yang dipakai untuk
mendukung kelancaran pelaksanaan pekerjaan. Peralatan dan barang yang
dimaksudkan yaitu, kertas, pulpen, stempel dan bantalannya, komputer,
jaringan, printer, penjepit kertas, rak, lemari, map, gunting, kalender,
pelubang kertas.
b. Lingkungan Keija
Kondisi lingkungan keija yang kurang tepat menjadi faktor terhadap
pencapaian kinerja yang baik. Misalnya keadaan ruang kerja yaitu,
penerangan, suhu udara, warna ruangan, kebersihan, hubungan dengan
teman keija.
c. TanggungJawab
Berbicara tentang suatu tanggung jawab dalam organisasi dapat dilihat
dalam dua bentuk yaitu, hak dan kewajiban jika keduanya tidak dilakukan
secara benar maka juga akan berpengaruh bagi kineija. Hak dan kewajiban
yang dimaksudkan adalah hal penting dan layak untuk didapatkan setelah
karyawan melaksanakan tugasnya misalnya penghasilan (gaji). Sedangkan
kewajiban adalah hal yang bersifat apa yang harus dikerjakan yaitu,
melaksanakan tupoksi atau tugas utama dengan baik. Seorang pegawai
yang merasa memiliki tanggung jawab yang benar mereka akan sungguh-
sungguh dengan tidak dengan menunda-nunda waktu melakukan
pekerjaannya.
d. Visi dan Misi
Visi adalah suatu hal hendak diperoleh diwaktu mendatang. Misi
adalah program-program yang akan diselenggarakan dalam mencapai visi
itu. Jika keduanya diketahui maka arah organisasipun tidak jelas dan
orang-orang tidak tahu bagaimana bertindak dan tentu akan berpengaruh
terhadap kinerja.
e. Sistem Komunikasi dan cara Keija Pemimpin
Sistem komunikasi dan cara keija dari pemimpin akan menjadi
pengaruh terhadap kinerja apabila kedua hal tersebut tidak dilakukan.
Dengan adanya komunikasi yang dilakukan maka para karyawan
mengetahui sesuatu misalnya aturan yang berlaku, tugas, informasi yang
baru dan juga pemimpin mengetahui keadaannya para karyawaan. Cara
keija pemimpin sangat penting dalam sebuah organisasi misalnya dalam
mengambil keputusan, menentukan prosedur.

Indikator Kinerja


Ketika melihat tentang suatu organisasi, baik itu di lingkup Pemerintahan
juga dalam lingkup Swasta, dari kedua organisasi tersebut selalunya terdapat
sekelompok orang yang akan menggerakannya untuk mencapai tujuan. Kedua
gambaran yang telah uraikan diatas dapat memperlihatkan bahwa dalam
organisasi baik dilingkup pemerintahan dan swasta kedua organisasi itu
selalunya membutuhkan sekelompok orang yang menjadi penentu dari
keberhasilan organisasi itu dengan memanfaatkan apa yang ada.
Indikator yang digunakan untuk menilai kineija Pegawai Negeri Sipil di
Indonesia sesuai Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 mengenai perubahan
atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekegaan (DP-3).
Berikut elemen-elemen dinilai dalam pelaksanaan pekeijaan DP3 yaitu:

  1. Kesetiaan
    Kesetiaan merupakan suatu sikap dan kemampuan mengikuti
    dan menaati ketika menyelenggarakan pekeijaan yang ditekuni
    dengan memiliki banyak kesabaran serta tanggungjawab. Hal yang
    akan dilihat dari sikap yang pertama ini adalah perilaku dan
    perbuatan sehari-hari para pegawai dalam melaksanakan
    wewenangnya dan mampu menanggung dampak dari setiap
    keputusan yang diambil.
  2. Prestasi Keija
    Prestasi keija merupakan gambaran yang diperoleh setiap
    individu maupun kelompok setelah melakukan tupoksi berdasarkan
    waktu yang telah ditetapkan,
  3. Tanggungjawab
    Tanggungjawab merupakan suatu kemampuan setiap individu
    ketika menyelesaikan pekeijaannnya dengan sebaik mungkin serta
    dapat sesuai pada batas yang sudah ditentukan dan mampu
    menanggung dampak dari tindakan yang ditentukan.
  4. Ketaatan
    Ketaatan adalah kemampuan setiap individu dalam menaati
    peraturan perundang-Undangan dan peraturan kedinasan
    sebagaimana yang diberlakukan dalam organisasi tersebut.
  5. Kejujuran
    Kejujuran merupakan sebuah kesungguhan dari seorang
    pegawai dalam melakukan pekeijaannya dengan mempergunakan
    salah tentang tugas yang diberikannya.
  6. Keijasama
    Kerjasama adalah suatu upaya pegawai dengan sesama rekan
    keija dalam mewujudkan sesuatu hal untuk mencapai tujuan yang
    telah ditargetkan.
  7. Prakarsa
    Prakarsa ialah suatu sikap pegawai dalam mengambil keputusan
    untuk melaksanakan tugas utama tanpa menanti perintah dari kepala
    atau pimpinan.
  8. Kepemimpinan
    Kepemimpinan merupakan proses memberikan pengaruh kepada
    individu atau kelompok dalam lingkup organisasi untuk mewujudkan
    tujuan.

Fungsi Manajemen SDM


Dalam mewujudkan tujuan dengan optimal tentu dengan melakukan fungsi
dari manajemen sumber daya manusia tersebut sebagai berikut:
a. Perencanaan
Perencanaan adalah upaya untuk mengumpulkan orang yang akan
bekeija (tenaga keija) dengan benar sesuai kebutuhan organisasi
menetapkan atau mempersiapkan langkah-langkah yang akan
dilaksanakan kedepannya untuk menolong tercapainnya sasaran dari
organisasi tersebut.
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian ialah upaya dalam mengelompokkan seluruh
karyawan kemudian menentukan pembagian keija berdasarkan
keahlian yang ada pada setiap karyawan berdasarkan koordinasi
dalam bagan organisasi. c. Pengarahan
Dari kedua fungsi yang telah dilakukan maka pada fungsi
pengarahan ini adalah usaha dalam mengarahkan semua karyawan
supaya mau bekerjasama secara dengan tepat dalam menolong dalam
memberikan arahan bagi karyawan supaya dapat memberi diri untuk
bekeijasama secara tepat dalam menolong mengapai target untuk
organisasi dan pelangan. Fungsi ini merupakan salah satu tugas
dilaksanakan oleh pemimpin yang memberi tugas kepada bawahan
supaya melakukan segala pekerjaannya dengan benar.
d. Pengendalian
Fungsi pengendalian adalah proses untuk menyadarkan karyawan
supaya mematuhi aturan-aturan organisasi berdasarkan ketentuan.
Kegunaan dari pengendalian ini adalah apabila teijadi kesalahan maka
akan diadakan suatu tindakan perbaikan untuk penyempurnaan
ketetapan. Hal yang akan dinilai dari fungsi ini yaitu kehadiran,
kedisiplinan, perilaku, kerjasama, pelaksanaan tugas, dan memelihara
keadaan lingkungan pekeijaan.
e. Pengadaan
Pengadaan merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan
dalam penerimaan tenaga pelamar pekeija, seleksi, penempatan untuk
memperoleh karyawan tepat pada kebutuhan organisasi. Apabila hal
ini dilakukan dengan benar akan membantu tercapainya tujuan yang
baik pula.
f. Pengembangan
Fungsi pengembangan merupakan proses mengembangkan
kemampuan teknis, konseptual dan moral karyawan tepat dengan
keperluan pegawai melalui pendidikan dan pelatihan.
g. Kompensasi
Kompensasi ialah suatu pemberian upah yang dilakukan dalam dua
bentuk pertama secara langsung yaitu upah diberikan sesuai dengan
waktu yang ditentukan dan tidak langsung yaitu upah keberuntungan
yang diperoleh karyawan diluar gaji, biasa bentuk uang atau barang.
h. Pengintegrasian
Integrasi yaitu usaha yang dilakukan dengan menyesuaikan suatu
keinginan karyawan dengan kebutuhan organisasi dan masyarakat.
i. Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah usaha untuk mempertahankan karyawan
sebagai anggota memiliki kesetian yang meningkat. Setiap bawahan
yang mempunyai semangat tinggi memiliki tanggung jawab untuk
tugasnya, dan juga memiliki kinerja yang baik.
j. Kedisiplinan
Kedisplinan adalah suatu disikap mencerminkan manusia yang
bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pekeijaannya. Displin
merupakan hal yang mendukung untuk mendapatkan tujuan baik

Pengertian Manajemen SDM


Asal kata dari manajemen yaitu manus berarti tangan jadi manajemen
diartikan sebagai cara manusia dalam menangani suatu tugas. Adapun
beberapa unsur dari manajemen itu sendiri yaitu manusia, uang, material,
peralatan, metode, dan pasar. Dari keenam unsur manajemen tersebut dikatakan
bahwa ketersediaan manusia yang sangat penting untuk memanfaatkan unsur
manajemen lainnya. Manajemen sumber daya adalah unsur dari manajemen
dipakai untuk mengamati bagaimana hubungan manusia yang terlibat dalam
lingkup organisasi.
Adapun beberapa para ahli yang telah mengemukkan tentang manajemen
sumber daya manusia dalam bukunya Marwansyah yaitu:
a. Menurut Flippo (2014) manajemen sumber daya manusia adalah
usaha melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengawasan atas fungsi pengadaan, pengembangan, pemberian
balasan jasa, pemeliharaan agar tujuan-tujuan dari individu,
organisasi, dan masyarakat hendak dicapai.
b. Mondy dan Neo (2010) menyatakan bahwa manajemen sumber
daya manusia merupakan usaha sumber daya manusia untuk
mencapai tujuan organisasi.
c. Ivancevich (2015) mengemukakan bahwa manajemen sumber daya
manusia adalah sebuah fungsi yang dijalankan dalam organisasi
dengan tujuan memperlengkapi pendayagunaan manusia atau
karyawan dengan tepat untuk mewujudkan sasaran organisasi dan
individu.

Manajemen Sumber Daya Manusia


Setiap organisasi atau perusahaan memerlukan sumber daya
untuk mencapai tujuannya. Sumber daya merupakan sumber energy,
tenaga, atau kekuatan yang diperlukan untuk menciptakan daya,
gerakan, aktivitas, kegiatan, dan tindakan. Sumber daya tersebut
antara lain terdiri atas sumber daya alam, sumber daya finansial,
sumber daya manusia, sumber daya ilmu pengethuan, dan sumber
daya teknologi. Diantara sumber tersebut sumber daya manusia yang
terpenting. SDM merupakan sumber daya yang digunakan untuk
menggerakkan dan menyinergikan sumber daya lainnya untuk
mencapai tujuan organisasi. Tanpa SDM, sumber daya lainnya
menganggur dan kurang bermanfaat dalam mencapai tujuan
organisasi.
Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses
menangani berbagai masalah pada ruang lingkup pegawai, pegawai,
buruh, manajer, dan tenaga kerja lainnya untuk menunjang aktivitas
organisasi demi mencapai tujuan yang telah ditentukan. Manajemen
sdm suatu prosedur yang berkelanjutan yang bertujuan untuk
memasok suatu organisasi atau organisasi dengan orang-orang yang
tepat untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat
organisasi memerlukannya (A.F Stoner dalam buku Msdm Sutrisno
Edy 2014) Manajemen sumber daya manusia adalah bagian dari
disiplin manajemen yang menerapkan berbagai fungsi,fungsi-fungsi
yang dimaksud dapat dimplementasikan dalam Msdm (Sinambela
2016). Mendefinisikan sumber daya manusia sebagai sebuah keahlian
terpadu yang mana berasal dari daya pikir serta fisik yang dilakukan
oleh setiap orang. Agar keahlian bisa mencapai prestasi kerja perlu
dimotivasi oleh sebuah keinginan untuk mencapainya (Hasibuan,
2003).

Indikator Kinerja


Terdapat indikator menurut Edison dkk 2016, menyatakan bahwa indikator terbagi
menjadi 4, yaitu:
1) Target.
Target merupakan indikator terhadap pemenuhan jumlah barang, pekerjaan atau jumlah
uang yang dihasilkan dan yang telah ditentukan.
2) Kualitas.
Kualitas adalah elemen penting, karena kualitas yang dihasilkan menjadi kunci dalam
mempertahankan loyalitas pelanggan.
3) Waktu penyelesaian. Penyelesaian secara tepat waktu membuat kepercayaan semakin
tinggi karena bisa diandalkan.
4) Taat asas.
Tidak saja harus memenuhi target, kualitas dan tepat waktu tapi juga harus dilakukan
dengan cara yang benar, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Upaya Pengembangan Sumber Daya Manusia


Pengembangan sumber daya manusia, Latham, Wexley,
dan Pursell mengatakan bahwa program pelatihan dan
pengembangan memiliki satu atau lebih tujuan-tujuan berikut ini
pertama meningkatkan kesadaran diri individu, Kedua
meningkatkan keterampilan individu dalam satu bidang keahlian
atau lebih dan ketiga meningkatkan motivasi individu untuk
melaksanakan tugas atau pekerjaannya secara memuaskan. Dari
teori tersebut penelitian menyimpulkan tiga indicator
pengembangan sumber daya manusia, seperti :
a. Motivasi
Motivasi adalah dorongan hati atau jiwa yang
menjadi dasaratau alasan untuk melakukan suatu
kegiatan pekerjaan. Dalam Pengkajian ini motivasi
diukur dengan menggunakan konsep yang
dikembangkan oleh Mc Clelland.
b. Kepribadian
Mencakup kebiasaan, sikap, sifat, yang dimilki
seseorang yang berkembang ketika seseorang
berhubungan dengan orang lain. Kepribadian sangat
kaitannya dengan nilai dan norma, dan perilaku.
Kepribadian merupakan konsep luas yang sehingga
pengertian kepribadian banyak ditanggapi berbeda-
beda oleh para ahli.
c. Keterampilan
Cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan
cekatan. Keterampilan adalah kecakapan yang
disyaratkan. Dalam pengertian luas, jelas bahwa
setiap cara yang digunakan untuk membangkan
manusia, bermutu dan memiliki pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan sebagaimana
diisyaratkan.

Peranan Manajemen Sumber daya manusia


Menurut Hasibuan (2017.14) yaitu

  1. Menetapkan jumlah, Kualitas dan penempatan, tenaga
    kerja yang efektiv dan sesuai dengan kebutuhan organisasi
    berdasarkan deskripsi, spesifikasi, persyaratan, dan evaluasi
    pekerjaan.
  2. Menetapkan penarikan, seleksi dan penempatan pegawai
    berdasarkan orang yang tepat di tempat yang tepat dan
    orang yang tepat di pekerjaan yang tepat.
  3. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan,
    promosi, dan pemberhentian pegawai.
  4. Menawarkan sumber daya manusi pada masa yang akan
    datang
  5. Memperkirakan keadaan perkantoran dan perkembangan
    organisasi.
  6. Mengawasi dengan cermat undang-undang kepegawaian
    dan keebijaknsanaan
  7. Mengawasi kemajuna teknik dan perkembangan pegawai
  8. Melaksakan pendidkan, latihan, dan penilain pegawai
  9. Mengatur mutasu pegawai, baik fertikal maupun
    horizontal
  10. Mengatur pensiun tanpa pemberhentian dan
    pesangonnya.

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen SDM merupakan bagian dari disiplin manajemen yang
menerapkan berbagai fungsi, fungsi manajemen dapat diimplemetasikan
dalam MSDM. Yaitu Perencanaan, staffing, pengembangan sdm,
kompensasi benefit, keamanan dan kesehatan, pegawai dan relasi kerja,
dan riset sdm.

  1. Perencanaan
    Seluruh aktivitas organisasi manusia sesungguhnya diawali dengan
    perencanaan. Meskipun rencana yang dilakukan sering tidak disadarinya.
    Terdapat berbagai definisi perencanaan sdm, bagaimana melakukannya,
    dan kapan dilakukan.Secara umum istilah perencanaan sdm mengacu pada
    usaha organisasi mengidentifikasikan implikasi sdm pada perubahan
    organisasi. Selain merencanakan besaran pegawai, tentu saja akan
    direncakan bagaimana memperoleh SDM yang dibutuhkan.
  2. Staffing
    Proses ketika organisasi memastikan bahwa jumlah pekerja dengan
    skill semestinya dalam pekerjaan yang benar, pada waktu yang benar,
    untuk mencapai tujuan organisasi. Staffing melibatkan analisis kerja,
    perencanaan SDM, rekrutmen, dan analisis, dan seleksi.Penyelesaian yang
    sukses dari tiga tugas tersebut adalah penting jika organisasi ingin secara
    efektif.
  3. Pengembangan Sumber daya manusia
    Utama yang terdiri tidak hanya pelatihan dan pengembangan, tetapi
    juga perencanaan karir individu dan aktivitas organisasi pengembangan.
    Organisasi yang menekankan pelatihan dan pengembangan, pelatihan
    dirancang untuk memberi peserta belajar dengan pengetahuan dan
    keterampilan yang di butuhkan untuk kerja sekarang dan di masa
    mendatang. Pengembangan melibatkan pembelajaran yang berjalan
    melebihi kerja hari ini.
  4. Kompensasi dan Benefit
    Sistem kompensasi yang bijak memberikan pegawai dengan reward
    memadai dan berkeadilan bagi kontribusi mereka memenuhi tujuan
    organisasional.
  5. Keamanan dan kesehatan
    Keamanan atau keselamatan meliputi perlindungan pegawai dan
    kecelakaan yang diakibatkan pelaksanaan pekerjaan. Kesehatan menunjuk
    pada kebebasan pegawai dari sakit fisik atau emosional.
  6. Pegawai dan relasi kerja
    Mengacu pada hubungan atau koneksi antara individu atau koneksi antara
    individu atau entitas yang terlibat dalam lingkungan kerja.
  7. Riset sumber daya manusia
    Riset Sumber daya manusia adalah penelitian sistematik
    sdm untuk memaksimalkan tujuan organisasi

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Masram dan Mu’ah (2017) terdapat 4 macam tujuan
kantor yaitu :

  1. Organisasional
    Ditunujukan untuk dapat mengenali keberadaan manajemen
    sdm dalam memberikan konstribusi pada pencapaian
    efektivitas kantor. Walaupun secara formal suatu bagian
    sumber daya manusia diciptakan untuk dapat membantu
    para manajer agar tetap bertanggung jawab terhadap kinerja
    pegawai. Bagian sdm membantu para manajer dalam
    menangani hal-hal yang berhubungan dengan sumber daya
    manusia.
  2. Tujuan Fungsional
    Ditunjukan untuk mempertahankan kontribusi departemen
    pada tingkat yang sesuia dengan kebutuhan perkantoran .
    Sumber daya manusia menjadi tidak berharga jika
    manajemen sdm tersebut memilki kriterian yang lebih
    rendah dari tingkat pada perkantoran
  3. Tujuan Sosial
    Ditunjukan secara etis dan sosial terhadap kebutuhan dan
    tantangan masyarakat melalui tindakan memimalisir
    pengaruh buruk terhadap kantor. Kegagalan kantor dalam
    menggunakan sdm yang digunakan untuk keuntungan
    masyarakat dapat menyebabkan kerugian.
  4. Tujuan personal
    Ditujukan untuk membantu pegawai dalam pencapaian
    tujuan yang dapat mempertinggi kontribusi indifidual
    terhadap organisasi. Tujuan personal pegawai harus di
    prtimbangkan jika para pegawai harus dipertahankan,
    dipensiunkan, atau di motivasi. Jika tujuan tersebut tidak
    dipertimbangkan maka kinerja ddan kepuasan pegawai
    akan menurun da pegawai juga dapat meningglka
    organisasi tersebu

Manajemen Pada Organisasi Publik


Suatu Bidang manajemen yang secara khusus mempelajari
hubungan dan peranan manusia dalam organisasi publik, dimana
manusia yang merupakan tenaga kerja di dalamnya yang menjadi
unsur utamanya. Manajemen sumber daya manusia diakui sebagai
satu isu global dan integral dari daya saing di arena globalisasi.
Manajemen organisasi publik setiap organisasi mengharapkan agar
mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang
kompetitif. Manajemen di organisasi publik untuk meningkatkan
sdm secara optimal guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Manajemen pada organisasi public merupakan bagian dari
manajmen berfokus pada unsur sdm dalam meningkatkan kualitas
dan produktivitas organisasi publik.

Manajemen Sumber Daya Manusia


Setiap organisasi atau perusahaan memerlukan sumber daya
untuk mencapai tujuannya. Sumber daya merupakan sumber energy,
tenaga, atau kekuatan yang diperlukan untuk menciptakan daya,
gerakan, aktivitas, kegiatan, dan tindakan. Sumber daya tersebut
antara lain terdiri atas sumber daya alam, sumber daya finansial,
sumber daya manusia, sumber daya ilmu pengethuan, dan sumber
daya teknologi. Diantara sumber tersebut sumber daya manusia yang
terpenting. SDM merupakan sumber daya yang digunakan untuk
menggerakkan dan menyinergikan sumber daya lainnya untuk
mencapai tujuan organisasi. Tanpa SDM, sumber daya lainnya
menganggur dan kurang bermanfaat dalam mencapai tujuan
organisasi.
Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses
menangani berbagai masalah pada ruang lingkup pegawai, pegawai,
buruh, manajer, dan tenaga kerja lainnya untuk menunjang aktivitas
organisasi demi mencapai tujuan yang telah ditentukan. Manajemen
sdm suatu prosedur yang berkelanjutan yang bertujuan untuk
memasok suatu organisasi atau organisasi dengan orang-orang yang
tepat untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat
10
organisasi memerlukannya (A.F Stoner dalam buku Msdm Sutrisno
Edy 2014) Manajemen sumber daya manusia adalah bagian dari
disiplin manajemen yang menerapkan berbagai fungsi,fungsi-fungsi
yang dimaksud dapat dimplementasikan dalam Msdm (Sinambela
2016). Mendefinisikan sumber daya manusia sebagai sebuah keahlian
terpadu yang mana berasal dari daya pikir serta fisik yang dilakukan
oleh setiap orang. Agar keahlian bisa mencapai prestasi kerja perlu
dimotivasi oleh sebuah keinginan untuk mencapainya (Hasibuan,
2003).

Indikator Pelatihan


Menurut Mangkunegara (2009:47), mengemukakan bahwa terdapat
beberapa indikator dalam pelatihan:
a. Instruktur
Mengingat pelatih umumnya brorientasi pada peningkatan skill, maka para
pelatih yang dipilih untuk memberikan materi benar-benar meiliki
kualifikasi yang memadai sesuai bidangnya, personal dan kompeten.
Selain itu, pendidikan instruktur pun harus benar-benar baik untuk
melakukan pelatihan.
b. Peserta
Peserta pelatihan tentunya harus diseleksi berdasarkan persyaratan tertentu
dan kualifikasi yang sesuai, selain itu peserta juga harus memiliki
semangat yang tinggi untuk mengikuti pelatihan.
c. Materi
Pelatihan sumberdaya manusia merupakan materi atau kurikulum yang
sesuai dengan tujuan pelatihan sumber daya manusia yang hendak dicaai
oleh perusahaan dan materi pelatihan pun harus update agar peserta dapat
memahami masalah yang terjadi pada kondisi sekarang.
d. Metode
Metode pelatihan akan lebih menjamin berlangsungnya kegiatan pelatihan
sumber daya manusia yang efektif apabila sesuai dengan jenis dan
komponen peserta pelatihan.
e. Tujuan
Pelatihan merupakan tujuan yang ditentukan, khususnya terkait dengan
penyusunan rencana aksi (action plan) dan petetapan sasaran

Implementasi Program Pelatihan


Setelah Analisis Kebutuhan Spesifik Pelatihan telah tersusun sesuai dengan
kebutuhan perusahaan, kebutuhan kerja, ataupun kebutuhan karyawan itu sendiri.
Perusahaan harus mendesain pelatihan apa yang efektif untuk diadakan sesuai
dengan analisis kebutuhan pelatihan. Darsono dan Siswandoko (2011 : 196),
Efektifitas merupakan hubungan antara hasil nyata dengan hasil yang diharapkan.
Efektifitas pelatihan merupakan gambaran sejauh mana karyawan mampu
menerapkan keterampilan, dan ilmu baru yang yang diperoleh untuk kebutuhan
pekerjaannya saat ini.

Menetapkan Tujuan dan Manfaat Pelatihan


Menurut Sunarto & Sahedy dalam Sunyoto (2012) tujuan pelatihan
adalah sebagai berikut :
a. Memperbaiki kinerja
Calon utama dalam kegiatan pelatihan adalah karyawan bekerja dengan
hasil yang tidak memuaskan akibat kurangnya keterampilan sehingga
dibutuhkan proses pemberian informasi dan melatih karyawan dalam
melakukan pekerjaan.
b. Memaksimalkan keahlian para karyawan
Kemajuan teknologi menuntut setiap karyawan untuk dapat beradaptasi
dalam mengimplementasi teknologi-teknologi yang dapat mendukung
kinerja karyawan di suatu organisasi. Dalam memaksimalkan kinerja
karyawan dapat dilakukan dengan pelatihan yang membuat pekerjaan
menjadi lebih efektif dan efisien.
c. Mengurangi waktu belajar
Dalam proses seleksi karyawan tidak ada hasil yang akurat yang dapat
digunakan untuk memprediksi kesuksesaan dan kegagalan karyawan.
Pelatihan dilakukan untuk mengisi gap antara kinerja karyawan yang
diprediksi dengan kinerja aktualnya.
d. Memecahkan permasalahan operasional
Pelatihan merupakan salah satu cara yang dianggap penting untuk
memecahkan berbagai masalah atau dilema yang harus dihadapi
manajer.

Pengertian Pelatihan


Sunyoto (2012) menjelaskan definisi pelatihan :
“Setiap usaha untuk memperbaiki performa pekerja pada suatu
pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya atau satu
pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaan”.
Deasler (2011 : 89) menjelaskan bahwa :
“Training means giving new or current employees the skills they need to
perform their jobs.”- (Pelatihan berarti memberikan keterampilan yang
dibutuhkan bagi karyawan baru atau karyawan yang sudah ada untuk
menyelenggarakan pekerjaannya)

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia merupakan bagian dari manajemen yang
menitikberatkan aktivitasnya dalam mengelola manusia sebagai sumber daya
perusahaan. Berikut ini adalah definisi tentang manajemen sumber daya manusia
menurut para ahli, antara lain :
Menurut Marwansyah (2011:13) menyatakan bahwa :
“Manajemen sumber daya manusia dapat diartikan sebagai
pendayagunaan sumber daya manusia di dalam organisasi, yang
dilakukan melalui fungsi-fungsi perencanaan sumber daya manusia,
perencanaan dan pengembangan karir, pemberian kompensasi dan
kesejahteraan, dan hubungan industrial”
Menurut Bohlander dan Snell (2010:4) menyatakan bahwa :
“Manajemen sumber daya manusia adalah suatu ilmu yang
mempelajari bagaimana memberdayakan karyawan dalam perusahaan,
membuat pekerjaan, kelompok kerja, mengembangkan para karyawan
yang mempunyai kemampuan, mengidentifikasi suatu pendekatan untuk
dapat mengembangkan kinerja karyawan dan memberikan imbalan
kepad mereka atas usahanya dan bekeja”.

Pengertian Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam kemajuan sebuah
perusahaan karena merekalah yang menjadi penggerak roda perusahaaan dalam
mencapai dan mewujudkan tujuan. Oleh sebab itu sumber daya manusia harus
mendapat perhatian lebih dari sumber daya lainnya karena sumber daya manusia
memiliki pemikiran, perasaan dan perilaku yang dapat mempengaruhi
keberlangsungan perusahaan. Berikut ini adalah definisi tentang sumber daya
manusia menurut para ahli, antara lain :
Menurut Hariandja (2013:2) menyatakan bahwa :
“Sumber daya manusia adalah salah satu faktor yang sangat penting
dalam suatu perusahaan disamping faktor lain seperti modal. Oleh
karena itu SDM harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan
efektivitas dan efisiensi organisasi.
Sedangkan menurut Rivai (2013:6) menyatakan bahwa :
“Sumber daya manusia adalah seorang yang siap, mau dan mampu
memberi sumbangan usaha pencapaian tujuan organisasi. Selain itu
sumber daya manusia merupakan salah satu unsur masukan (input)
yang bersama unsur lainnya seperti modal, bahan, mesin dan
metode/teknologi diubah menjadi proses manajemen menjadi keluaran
(output) berupa barang atau jasa dalam usaha mencapai tujuan
perusahaan”.

Hubungan antara Motivasi dengan Kepuasan Kerja


Motivasi merupakan salah satu hal yang dapat meningkatkan kepuasan.
Dengan adanya motivasi atau dorongan dalam diri karyawan akan menghasilkan
kerja yang baik. Hal tersebut merupakan suatu yang ingin dicapai oleh
perusahaan. Perusahaan dapat memilih cara memotivasi karyawan yang tepat dan
sesuai dengan situasi dan kondisi perusahaan. A.A Anwar Prabu
Mangkunegara (2017:117) karyawan akan merasa puas dalam bekerja apabila
aspek-aspek pekerjaan dan aspek-aspek dirinya menyokong (mendorong) dan
sebaliknya jika aspek-aspek tersebut tidak menyokong, karyawan akan merasa
tidak puas.

Unsur-unsur Kepuasan Kerja


Menurut Moekijat (2000:64), kepuasan kerja dapat diukur melalui
presentase karyawan di tempat kerja, tanggung jawab terhadap pekerjaan
disiplin kerja, kerjasama dengan pimpinan atau temap sejawat dalam
organisasi serta tingkat produktivitas kerja. Adapun unsur-unsur kepuasan
kerja berikut diuraikan penjelasan masing-masing unsur, yaitu :

  1. Presensi
    Yaitu kehadiran karyawan yang berkenaan dengan tugas dan
    kewajibannya. Presensi atau kehadiran karyawan dapat diukur
    melalui :
    a. Kehadiran karyawan di tempat kerja.
    b. Ketepatan karyawan datang dan pulang kerja.
    c. Kehadiran karyawan apabila mendapat undangan untuk
    mengikuti kegiatan atau secara dalam instansi.
  2. Disiplin kerja
    Yaitu suatu sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat
    terhadap peraturan-peraturan yang berlaku, baik yang tertulis
    maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak
    mengelak menerima sanksi-sanksinya apabila ia melanggar tugas
    dan wewenang yang diberikan kepadanya. Tingkat kedisiplinan
    kerja karyawan dapat diukur melalui :
    a. Kepatuhan karyawan terhadap peraturan dan tata tertib di
    perusahaan.
    b. Kepatuhan karyawan terhadap instruksi yang datang dari
    atasan.
    c. Memakai pakaian seragam sesuai dengan ketentuan yang
    berlaku.
    d. Menggunakan dan memelihara peralatan dengan baik.
  3. Kerjasama
    Yaitu keinginan individu dalam melakukan kerjasam di dalam
    pekerjaan maupun di luar pekerjaan. Pengukuran tingkat kerjasama
    dapat menggunakan kriteria sebagai berikut :
    a. Kesadaran karyawan untuk bekerjasama dengan atasan, teman
    sejawat, maupun bawahan.
    b. Adanya kemauan untuk membanu teman yang mengalami
    kesulitan dalam melaksanakan pekerjaan.
    c. Adanya kemauan untuk memberi dan menerima kritik serta
    saran dari oranglain.
    d. Bagaimana tindakan seseorang apabila mengalami kesulitan
    dalam melaksanakan pekerjaannya.

Teori Kepuasan Kerja


Menurut Sedarmayanti (2017:166), dalam kepuasan kerja dikenal
tiga teori, yaitu sebagai berikut :

  1. Discrepancy Theory (Teori Ketidaksesuaian)
    Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung
    selisih antara sesuatu yang seharusnya dan kenyataan yang
    dirasakan. Sehingga apabila kepuasannya diperoleh melebihi dari
    yang diinginkan, maka orang akan lebih puas sehingga terdapat
    discrepancy, tetapi merupakan discrepancy positif. Kepuasan kerja
    seseorang bergantung pada selisih antara sesuatu yang dianggap
    akan didapatkan dengan apa yang dicapai.
  2. Equity Theory (Teori Keadilan)
    Teori ini mengemukakan orang akan merasa puas/tidak puas,
    bergantung pada ada/tidakya keadilan (equity) dalam situasi,
    khususnya situasi kerja. Menurut teori ini, komponen utama dalam
    teori keadilan adalah input, hasil, keadilan, dan ketidakadilan.
  3. Two Factor Theory (Teori Dua Faktor)
    Menurut teori ini, kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja
    merupakan hal berbeda. Kepuasan dan ketidakpuasan terhadap
    pekerjaan bukan variabel kontinu. Karakteristik pekerjaan menurut
    teori dua faktor:
    a. Statisfies/motivator : faktor/situasi yang dibutuhkan sebagai
    sumber kepuasan kerja, terdiri atas pekerjaan menarik penuh
    tantangan, ada kesempatan berprestasi, serta kesempatan
    memperoleh penghargaan dan promosi. Terpenuhinya faktor
    ini tidak selalu mengakibatkan ketidakpuasan.
    b. Dissatisfies (Hygiene Factors): faktor yang menjadi sumber
    ketidakpuasan, terdiri atas gaji/upah, pengawasan, hubungan
    antar pribadi, kondisi kerja, dan status. Faktor ini diperlukan
    untuk memenuhi dorongan biologis dan kebutuhan dasar
    karyawan. Jika tidak terpenuhi faktor ini, karyawan tidak puas.
    Namun, jika besarnya faktor ini memadai untuk memenuhi
    kebutuhan, karyawan tidak akan kecewa meski belum puas

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Dalam buku A.A Anwar Prabu Mangkunegara (2017:120) ada dua
faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu yang ada pada diri karyawan
dan faktor pekerjaannya.
a. Faktor karyawan, yaitu kecerdasan (IQ), kecakapan khusus, umur,
jenis kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa
kerja, kepribadian, emosi, cara berpikir, persepsi, dan sikap kerja.
b. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi, pengkat
(golongan), kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial,
kesempatan promosi jabatan, interaksi sosial, dan hubungan kerja.

Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja merupakan suatu sikap dan perasaan yang dirasakan oleh
karyawan terhadap pekerjaan mereka. Kepuasan kerja akan di dapat jika adanya
suatu dorongan terutama dalam suatu pekerjaan yang dijalankan, jika dorongan
tersebut mempengaruhi karyawan dengan baik maka akan menghasilkan kinerja
yang baik dan karyawan tersebut akan memiliki kepuasan tersendiri. Menurut
Gibson, Ivancevich, Donnelly (2006:106) yang dikutip oleh Wibowo (2017:415)
menyatakan kepuasan kerja sebagai sikap yang dimiliki pekerjaan tentang
pekerjaan mereka. Hal tersebut merupakan hasil dari persepsi mereka tentang
pekerjaan.
Menurut Keith Davis yang dikutip oleh A.A Anwar Prabu
Mangkunegara (2017:117) mengemukakan bahwa kepuasan kerja adalah
kepuasan kerja adalah perasaan menyokong atau tidak menyokong yang dialami
karyawan dalam bekerja. Menurut Wexley dan Yuki yang dikutip oleh A.A
Anwar Prabu Mangkunegara (2017:117) mendefinisikan kepuasan kerja adalah
cara karyawan merasakan dirinya atau pekerjaannya.
Dari pendapat Keith Davis, Wexley, dan Yuki tersebut diatas, kepuasan
kerja adalah suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong diri karyawan
yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya.
Dengan meninjau beberapa pengertian dari pendapat para ahli, dapat dilihat
bahwa kepuasan kerja merupakan cara pandang karyawan terhadap pekerjaan
yang dihadapinya. Kepuasan kerja juga dapat disebut suatu persepsi terhadap pekerjaan tersebut atau suatu perasaan yang dirasakan oleh karyawan tersebut
terhadap pekerjaan yang dilakukannya

Teknik Motivasi Kerja Karyawan


Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham Maslow yang
dikutip oleh A.A Anwar Prabu Mangkunegara (2017:101) bahwa ada
beberapa teknik memotivasi kerja karyawan, antara lain sebagai berikut.

  1. Teknik pemenuhan kebutuhan karyawan
    Pemenuhan kebutuhan karyawan merupakan fundamen yang
    Abraham Maslow mengemukakan bahwa hierarki kebutuhan karyawan
    adalah sebagai berikut :
  2. Kebutuhan Fisiologis
    Yaitu kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik,
    bernafas, sexual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat
    terendah atau disebut pula sebagai kebutuhan yang paling
    mendasar. Dalam hubungan kebutuhan ini pemimpin perlu
    memberikan gaji yang layak pada karyawan.
  3. Kebutuhan Rasa Aman
    Yaitu kebutuhan akan perlindungan dari ancaman, bahaya,
    pertentangan, dan lingkungan hidup. Dalam hubungan dengan
    kebutuhan ini, pemimpin perlu memberikan tunjangan
    kesehatan, asuransi kecelakaan, perumahan, dan dana pensiun.
  4. Kebutuhan Untuk Merasa Memiliki
    Yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi,
    berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai.
    Dalam hubungan dengan kebutuhan ini, pemimpin perlu
    menerima eksistensi/keberadaan karyawan sebagai anggota
    kelompok kerja, melakukan interaksi kerja dengan baik, dan
    hubungan kerja yang harmonis.
  5. Kebutuhan Akan Harga Diri
    Yaitu kebutuhan untuk dihormati, dan dihargai oleh orang lain.
    Dalam hubungan dengan kebutuhan ini, pemimpin tidak boleh
    sewenang-wenang memperlakukan karyawan karena meraka
    perlu dihormati, diberi penghargaan terhadap prestasi
    kerjanya.
  6. Kebutuhan Untuk Mengaktualisasi Diri
    Yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill, dan
    potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan
    ide-ide memberi pernilaian dan kritik terhadap sesuatu. Dalam
    hubungan dengan kebutuhan ini, pemimpin perlu memberi
    kesempatan kepada karyawan bawahan agar mereka dapt
    mengaktualisasikan diri secara baik dan wajar di perusahaan

Berbagai Pandangan Motivasi dalam Organisasi


Menurut Sedarmayanti (2017:165) ia mengemukakan
pandangan motivasi dalam organisasi, antara lain sebagai berikut :

  1. Model Tradisional
    Model motivasi tradisional dihubungkan dengan tokoh Fedrick Taylor
    dan aliran manajemen ilmiah. Sesuai aliran ini, aspek penting pekerjaan
    manajer adalah bagaimana membuat karyawan bisa menjalankan
    pekerjaan mereka membosankan dan berulang dengan cara paling efisien.
  2. Model Hubungan Manusiawi
    Ketika tampak pendekatan tradisional tidak lagi tepat, ahli manajemen
    mulai mencari penjelasan perilaku karyawan. Elton Mayo dan peneliti
    hubungan manusiawi lainnya menemukan kontak sosial yang dialami
    mereka, dan kebosanan serta rutinitas pekerjaan merupakan hal
    mengurangi motivasi mereka dalam bekerja.
  3. Model SDM
    Sebagian besar individu sduah mempunyai dorongan menyelesaikan
    pekerjaan sebagai hal tidak menyenangkan. Bahkan umumnya, karyawan
    akan memperoleh kepuasan karena prestasi tinngi. Jadi, karyawan bisa
    memperoleh tanggung jawab lebih luas mengambil keputusan dan
    melaksanakan tugas mereka karena mereka punya dorongan bekerja baik
    dan kemungkinan bisa mencapai tujuan organisasi dengan cara mereka
    sendiri

Teori Kebutuhan


Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau
pertentangan yang dialami antara suatu kenyataan dengan dorongan
yang ada dalam diri.
Apabila karyawan kebutuhannya tidak terpenuhi maka karyawan
tersebut akan menunjukan perilaku kecewa. Sebaliknya, jika
kebutuhannya terpenuhi maka karyawan tersebut akan
memperlihatkan gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya.
Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari perilaku
karyawan. kita tidak mungkin memahami perilaku karyawan tanpa
mengerti kebutuhannya

    Pengertian Motivasi


    Dalam suatu perusahaan karyawan merupakan salah satu unsur yang
    dapat mempengaruhi keberhasilan perusahaan. Perusahaan perlu
    memberikan dorongan atau memotivasi karyawan untuk membangun
    keinginan bekerja. Namun demikian, memberikan motivasi bukanlah hal
    yang mudah. Motivasi mewakili proses psikologikal yang mendorong
    timbulnya tindakan berupa sikap dan perilaku. Motivasi kerja tidak dapat
    diamati atau diukur secara langsung, namun dapat disimpulkan dari sikap
    dan perilaku yang nampak dan ditampilkan oleh pegawai dalam
    mengembangkan pekerjaannya.
    Menurut George R. Terry yang dikutip oleh Sedarmayanti
    (2017:257) motivasi adalah keinginan yang terdapat pada seorang individu
    yang merangsangnya melakukan tindakan. Menurut Heller (1998:6) yang
    dikutip oleh Wibowo (2017:322) yang menyatakan bahwa motivasi adalah
    keinginan untuk bertindak. Menurut Kreitner dan Kinicki (2001) yang
    dikutip oleh Wibowo (2017:322) motivasi merupakan perilaku pada
    pencapaian tujuan atau goal-directed behavior.
    Motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakan diri
    karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi A.A
    Anwar Prabu Mangkunegara ( 2017:61). Menurut Fillmore H. Stanford
    yang dikutip oleh A.A. Anwar Prabu Mangkunegara (2017:93)
    menyatakan motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakan manusia ke
    arah suatu tujuan tertentu

    Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)


    Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia (Malayu Hasibuan,
    2016:21) sebagai berikut :
    a. Perencanaan (Planning)
    Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja yang efektif dan
    efisien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam membantu
    mewujudkan tujuan. Perencanaan dilakukan dengan meletakan
    program kepegawaian.
    b. Pengorganisasian(Organizing)
    Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasaikan semua
    karyawan dengan menetapkan pembagian dan hubungan kerja,
    delegasi wewenang, integrasi, dan koordinasi dalam bagan
    organisasi. Hal ini sangat penting untuk meminimalisir adanya
    tumpang tindih dalam kewajiban pekerja.
    c. Pengarahan(Directing)
    Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan, agar
    mau bekerjasama dan bekerja efektif dan efisien dalam membantu
    tercapainya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
    d. Pengendalian(Controlling)
    Pengendalian merupakan kegiatan yang mengendalikan semua
    karyawan agar mentaati peraturan-peraturan perusahaan dan
    bekerja sesuai rencana. Jika terjadi penyimpangan, maka harus ada
    tindakan perbaikan dan penyempurnaan rencana.
    e. Pengadaan(Procurement)
    Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penepatan, orietasi, dan
    induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan
    kebutuhan perusahaan.
    f. Pengembangan(Development)
    Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknis,
    teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan
    pelatihan. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan harus sesuai
    dengan kebutuhan pekerjaan masa kini maupun masa depan.
    g. Kompensasi(Compensation)
    Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung (direct) dan tidak
    langsung (indirect), berupa uang atau barang kepada karyawan
    sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan. Bentuk
    reward yang diberikan perusahaan kepada karyawannya.
    h. Pengintergrasian(Integration)
    Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
    perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerjasama yang
    serasi dan saling menguntungkan. Perusahaan memeproleh laba,
    karyawan dapat memenuhi kebutuhan dari hasik pekerjaannya.
    Menyamakan inteprestasi karyawan dan perusahaan.
    i. Pemeliharaan(Maintenance)
    Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan
    kondisi fisik, mental, loyalitas karyawan, agar mereka tetap mau
    bekerjasama sampai pensiun. Hal ini oenting untuk
    mempertahankan karyawan supaya mau menetap di perusahaan
    tersebut hingga ia pensiun.
    j. Kedisiplinan kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran untuk mentaati
    peraturan-peraturan perusahaan dan norma-norma sosial.
    k. Pemberhentian(Separation)
    Pemberhentian adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari
    suatu perusahaan. Ini disebabkan oleh keinginan karyawan,
    keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun dan sebab
    lainnya.

    Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)


    Manajemen kepegawaian dan sumber daya manusia sangat penting
    bagi perusahaan dalam mengelola, mengatur, dan memanfaatkan karyawan
    sehingga dapat berfungsi secara produktif untuk tercapainya tujuan
    perusahaan.
    Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan suatu perencanaan,
    pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengadaan,
    pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan, dan
    pemisahan tenaga kerja dalam rangka mencapai tujuan organisasi, A.A
    Anwar Prabu Mangkunegara (2017:2).
    Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) merupakan suatu
    proses pemanfaatan SDM secara efektif dan efisien melalui kegiatan
    perencanaan, penggerakan, dan pengendalian semua nilai yang menjadi
    kekuatan manusia untuk mencapai tujuan, Sedarmayanti (2017:3).
    Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan pendayagunaan
    manusia sebagai tenaga kerja secara manusiawi agar potensi fisik dan
    psikis yang dimilikinya berfungsi maksimal bagi pencapaian tujuan
    organisasi/perusahaan, Sedarmayanti (2017:31)

    Penilaian Kinerja


    Untuk mengukur kinerja seseorang atau kelompok karyawan, perusahaan atau
    organisasi telah menetapkan standar atau kriteria keberhasilan, dan kinerja dapat diukur dan
    diketahui jika individu atau sekelompok pegawai telah mempunyai kriteria atau standart
    keberhasilan yang dijadikan sebagai tolak ukur yang telah di tetapkan oleh perusahaan atau
    organisasi. Jika perusahaan atau organisasi tidak menetapkan tujuan dan target untuk
    pengukuran keberhasilan, kinerja pegawai atau organisasi tidak dapat diukur dan diketahui.
    Proses untuk mengevaluasi seberapa baik seorang karyawan melakukan tugas mereka jika
    dibandingkan dengan standar tertentu dan kemudian menyampaikan hasil evaluasi tersebut
    kepada karyawan.
    Penilaian kinerja dapat berupa peringatan untuk karyawan, evaluasi karyawan, tinjauan
    karyawan, evaluasi kinerja, dan penilaian hasil. Penilaian ini juga memberikan umpan balik
    kinerja dan menentukan kekuatan dan kelemahan setiap pegawai. Dan sebagian besar penilaian
    tidak konsisten, hanya bersifat jangka pendek, subjektif, dan berguna untuk mengidentifikasi
    pekerja yang bekerja sangat baik atau sangat buruk. Meskipun penilaian yang tidak memadai
    akan menghasilkan hasil yang mengecewakan bagi semua pihak yang terlibat, tanpa penilaian
    kinerja yang resmi, pemberi kerja tidak akan memiliki banyak pilihan selain menghukum atau
    memecat karyawan.
    Untuk mengevaluasi kinerja seorang pekerja, tidak hanya melihat hasil fisik, tetapi juga
    bagaimana mereka melakukan pekerjaan mereka secara keseluruhan. Ini mencakup hal-hal
    seperti kemampuan kerja, kerajinan, kedisiplinan, hubungan kerja, atau hal-hal khusus sesuai
    dengan bidang dan tingkat pekerjaan mereka. Menurut Dessler (2015), ada lima faktor dalam
    penilaian kinerja yang populer, yaitu:
    a) Prestasi pekerjaan, meliputi: akurasi, ketelitian, keterampilan, dan penerimaan
    keluaran
    b) Kuantitas pekerjaan, meliputi: volume keluaran dan kontribusi
    c) Kepemimpinan yang diperlukan, meliputi: membutuhkan saran, arahan atau
    perbaikan
    d) Kedisiplinan, meliputi: kehadiran, sanksi, warkat, regulasi, dapat dipercaya
    diandalkan dan ketepatan waktu
    e) Cooperative Penilaian responden tentang kesediaan untuk bekerja sama dengan
    orang lain (sesama anggota organisasi)..
    f) Inisiative Penilaian responden tentang semangat untuk melaksanakan tugas- tugas
    baru dan dalam memperbesar tanggung jawabnya.
    g) Personal quality. Penilaian responden tentang kepribadian, keramahtamahan dan
    integritas pribadi

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja


    Menurut teori ahli, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seorang
    pekerja. Faktor-faktor ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok: kompensasi individu pekerja,
    dukungan organisasi, dan dukungan manajemen..
    Menurut Kasmir (2016), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah sebagai
    berikut :

    1. Kemampuan dan keahlian
    2. Pengetahuan
    3. Rancangan kerja
    4. Kepribadian
    5. Motivasi kerja
    6. Kepemimpinan
    7. Gaya kepemimpinan
    8. Budaya organisasi
    9. Kepuasan kerja
    10. Lingkungan kerja
    11. Loyalitas
    12. Komitmen
    13. Displin kerja.
      Menurut Amstrong dan Baron dalam Wibowo (2017) mengatakan beberapa faktor yang
      mempengaruhi kinerja:
      1) Personal Factors, yaitu oleh tingkat keterampilan, kompetensi yang dimiliki, motivasi
      dan komitmen individu.
      2) Leadership Factor, yaitu oleh kualitas dorongan, bimbingan, dan dukungan yang
      dilakukan manajer dan team leader.
      3) Team Factors, yaitu oleh kualitas dukungan yang diberikan oleh rekan sekerja.
      4) System Factor, yaitu oleh adanya sistem kerja dan fasilitas yang diberikan organisasi.
      5) Contextual Situational, yaitu oleh tingginya tingkat tekanan dan perubahan lingkungan
      internal dan eksternal

    Pengertian Kinerja


    Menurut Sinambela (2016), kinerja pegawai didefinisikan sebagai kemampuan
    pegawai dalam melakukan sesuatu keahlian tertentu. Kinerja pegawai sangatlah perlu, sebab
    dengan kinerja ini akan diketahui seberapa jauh kemampuan pegawai dalam melaksanakan
    tugas yang dibebankan kepadanya.” Menurut Hasibuan (2016), kinerja adalah hasil kerja
    seseorang dalam menyelesaikan tugas yang diberikan berdasarkan pengetahuan, pengalaman,
    kesungguhan, dan waktu. Menurut Mangkunegara (2017) mengemukakan bahwa Kinerja
    adalah hasil kualitas dan kuantitas kerja seorang pegawai dalam menyelesaikan tugas sesuai
    dengan tugas yang dibebankan kepadanya”.
    Menurut Gito dan Jhon (2023) kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
    yang oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
    diberikan kepadanya. Sedangkan menurut Prasadja (2018) adalah suatu gambaran tentang
    tingkat capaian pelaksaan suatu program kegiatan atau kebijakan untuk mewujudkan target
    sasaran yang meliputi tujuan visi dan misi organisasi tersebut yang diatur dalam rencana
    strategis suatu organisasi.
    Menurut Afandi (2018), kinerja adalah hasil yang dicapai oleh individu atau kelompok
    orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing
    dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Kinerja ini tidak melanggar hukum, tidak melanggar
    moral, atau tidak bertentangan dengan etika.. Selain itu, kinerja menurut Masram dan Mu’ah
    (2017), didefinisikan sebagai hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan
    selama periode tertentu dalam menyelesaikan tugas, dibandingkan dengan berbagai
    kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran, dan kriteria yang telah disepakati
    bersama sebelumnya..

    Teori-teori Motivasi Kerja


    Teori Motivasi menurut Hasibuan (2016) dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :
    1) Teori kepuasan , Teori ini memusatkan perhatian pada faktor dalam diri orang yang
    menguatkan, mengarahkan, mendukung, dan menghentikan perilakunya.
    2) Teori motivasi klasik , F.W.Taylor mengatakan teori ini merupakan teori motivasi
    kebutuhan tunggal. Manusia mau bekerja giat agar mendapatkan imbalan materi dari
    hasil pekerjaannya berbentuk uang atau barang.
    Menurut Abraham Maslow (2016) mengemukakan teori motivasi yang dinamakan Maslow’s
    Need Hierarchy Theory. Yaitu :
    a) Kebutuhan manusia tersusun dalam suatu jenjang /hierarki, yakni:
    i) Physiological needs ( Kebutuhan fisik dan biologis ) Physiological needs
    yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Yang termasuk ke dalam kebutuhan ini
    adalah makan, minum, perumahan, udara .
    ii) Safety and security needs ( kebutuhan keselamatan dan keamanan) Safety and
    security needs adalah keebutuhan akan kebebasan dari ancaman yakni merasa aman
    dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan.
    iii) Affiliation or acceptance needs orbelongingness (kebutuhan social) Affiliation or
    acceptance needs or belongingness adalah kebutuhan sosial, teman, afiliasi, interaksi,
    dicintai dan mencintai, serta diterima dalam pergaulan kelompok pekerja dan
    masyarakat lingkungannya.
    iv) Esteem or status needs ( kebutuhan akan penghargaan atas prestasi) Esteem or
    status needs adalah kebutuhan akan penghargaan diri dan pengakuan serta penghargaan
    prestasi bagi karyawan dan masyarakat lingkungannya.
    v) Self actualization ( aktualisasi diri) Self actualization adalah kebutuhan akan
    aktualisasi diri dengan menggunakan kemampuam, keterampilan, dan potensi optimal
    untuk mencapai prestasi kerja yang sangat memuaskan/luar biasa

    Indikator Motivasi Kerja


    Menurut Maslow (2014) Indikator yang digunakan untuk mengukur motivasi kerja
    sebagai berikut :
    1) Kebutuhan Fisiologis
    2) Kebutuhan Rasa Aman
    3) Kebutuhan Sosial
    4) Kebutuhan Penghargaan
    5) Kebutuhan Aktualisasi Diri.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi Motivasi


    Motivasi memiliki beberapa faktor yang bisa mempengaruhi, Menurut Lestari (2015)
    mengungkapkan bahwa motivasi dapat dipengaruhi oleh faktor- faktor sebagai berikut:
    a) . Faktor Fisik/ Ektrinsik
    Motivasi di dalam diri individu yang mendorong untuk bertindak dalam rangka memenuhi
    kebutuhan fisik seperti kebutuhan jasmani, raga, materi, benda, atau berkaitan dengan alam.
    Faktor fisik merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi lingkungan dan kondisi
    seseorang, meliputi kondisi fisik lingkungan, keadaan atau kondisi kesehatan, umur, dan
    sebagainya. Faktor ini juga dapat bersumber dari kondisi sosial, tekanan dan regulasi
    keorganisasian.
    b.) Faktor Herediter
    Motivasi dapat pula dipengaruhi oleh faktor herediter atau pembawaan dari keturunan individu
    c.) Faktor Intrinsik Seseorang
    Motivasi yang berasal dari dalam dirinya sendiri biasanya timbul dari perilaku yang dapat
    memenuhi kebutuhan dirinya, sehingga menimbulkan kepuasan dari apa yang sudah dilakukan.
    Faktor intrinsik dapat pula disebut sebagai akumulasi aspek-aspek internal individu, seperti
    kepribadian, intelegensi, ciri-ciri fisik, kebiasaan, kesadaran, minat, bakat, kemauan, spirit,
    antusiasme, dan sebagainya.
    d.) Fasilitas
    Motivasi yang timbul karena adanya kenyamanan dan segala yang memudahkan dengan
    tersedianya sarana-sarana yang dibutuhkan.
    Sedangkan menurut Bahri (2017) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi
    Motivasi kerja yaitu:
    1) Rasa aman dalam bekerja
    2) Mendapatkan gaji yang adil dan kompetitif
    3) Lingkungan kerja yang menyenangkan
    4) Perlakuan yang adil dari manajemen

    Pengertian Motivasi Kerja


    Proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu dalam
    mencapai tujuannya disebut motivasi. “Motivasi” berasal dari kata latin moreve, yang berarti
    dorongan dalam diri manusia untuk bertindak atau berperilaku tertentu.. Intensitas, arah, dan
    ketekunan adalah tiga komponen utama dalam penjelasan ini.
    Menurut Supriyono ( 2016) “Motivasi atau motif adalah suatu dorongan dari dalam diri
    seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna
    mencapai suatu tujuan. Menurut Afandi (2018) “Motivasi merupakan kekuatan, dorongan,
    kebutuhan, tekanan dan mekanisme psikologis dari akumulasi faktor-faktor internal dan
    eksternal”. Menurut Mathis dan Jackson (2015) motivasi merupakan keinginan dalam diri
    seseorang yang mendorong mereka untuk bertindak. Sedangkan Rivai (2015) mengemukakan
    bahwa motivasi adalah Seperangkat keyakinan dan sikap yang memotivasi orang untuk
    menyelesaikan tugas tertentu sesuai dengan tujuan mereka sendiri. Menurut Robbins P,
    Stephen and Judge A, (2017) Motivasi adalah kekuatan yang mendorong orang untuk
    mengeluarkan upaya yang tinggi untuk mencapai tujuan organisasi, selama tujuan tersebut
    selaras dengan kebutuhan individu.
    Menurut Makmum (2017), Motivasi menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya, atau
    suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah
    tujuan tertentu, baik disadari atau tidak disadari. Sedangkan Harahap (2020) mengemukakan
    bahwa motivasi adalah suatu keahlian dalam mengarahkan atau mengendalikan dan
    menggerakan seseorang untuk melakukan tindakan akan perilaku yang diinginkan berdasarkan
    sasaran-sasaran yang sudah ditetapkan untuk mencapai tujuan tertentu

    Pendekatan Manajemen Sumber Daya Manusia


    Pendekatan Manajemen Sumber Daya Manusia menurut Hasibuan (2017) yaitu:
    1) Pendekatan Mekanis
    Pendekatan Mekanis Mekanisasi, juga dikenal sebagai “otomatisasi”, yang berarti
    mengganti tugas tenaga kerja manusia dengan tenaga mesin. Penggantian ini
    didasarkan pada kemampuan, ekonomi, kemanusiaan, dan efektivitas yang lebih baik.
    Metode mekanis ini berfokus pada analisis spesialisasi, efektivitas, standarisasi, dan
    perlakuan karyawan seperti mesin. Perkembangan perusahaan dan kemajuan teknologi
    canggih menyebabkan spesialisasi dan pembagian kerja semakin mendalam. Seorang
    pekerja hanya melakukan satu jenis pekerjaan dalam hal ini. Keuntungan dari
    spesialisasi adalah karyawan yang lebih terampil dan produktif. Kelemahannya adalah
    pekerjaan akan membuat pekerja bosan, menghilangkan semangat mereka, dan
    mengurangi kepercayaan diri mereka dalam bekerja.
    2) Pendekatan Paternalis
    Pada pendekatan paternalis (pattern approach), manajer dalam mengalami kerugian
    dan kelangsungan hidupnya terancam. Hal ini mendorong timbulnya pendekatan sistem
    sosial.
    3) Pendekatan Sistem Sosial
    Pendekatan sistem sosial ini menganggap perusahaan sebagai suatu sistem yang
    kompleks yang berfungsi dalam lingkungan yang kompleks yang disebut sebagai
    sistem yang ada di luar. Ini menunjukkan bahwa manajer mengakui dan menyadari
    bahwa tujuan organisasi perusahaan baru dapat dicapai jika semua karyawan bekerja
    sama dengan baik, baik bawahan maupun atasan, dan jika semua orang berinteraksi
    baik satu sama lain. Pemikiran ini didasarkan pada fakta bahwa karyawan saling
    bergantung, berinteraksi, dan berkolaborasi satu sama lain

    Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia


    Sumber daya manusia (SDM) sangat memiliki kepentingan yaitu dimana Sumber Daya
    Manusia memiliki peran yang cukup mendominasi didalam terlaksananya kegiatan manajemen
    dalam sebuah organisasi atau perusahaan dimana peran dalam SDM itu akan menjadi acuan
    jalannya kegiatan manajemen dalam sebuah organisasi. Chairina (2019) mengatakan bahwa
    peranan manajemen sumber daya manusia adalah sebagai berikut:

    1. Perencanaan SDM
    2. Rekruitment & Seleksi
    3. Manajemen Prestasi
    4. Pelatihan & Pengembangan
    5. Manajemen Reward
    6. Career Development & Retention
    7. Kesehatan, Keselamatan & Kepuasan Kerja
    8. Motivasi, Komunikasi & Konsultasi
    9. Konflik Organisasi, Serikat Pekerja, UU Ketenagakerjaan.
      Sedangkan Menurut Hasibuan (2016) peranan Manajemen Sumber Daya Manusia adalah
      sebagai berikut:
    10. Menetapkan jumlah, kualitas, dan penempatan tenaga kerja yang efektif sesuai dengan
      kebutuhan perusahaan.
    11. Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan karyawan.
    12. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi, dan pemberhentian.
    13. Meramalkan penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa yang akan
      datang.
    14. Memperkirakan keadaan perekonomian pada umumnya dan perkembangan perusahaan
      pada khususnya.
    15. Memonitor dengan cermat undang-undang perubahan dan kebijaksanaan pemberian
      balas jasa perusahaan-perusahaan sejenis.
    16. Memonitor kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh.
    17. Melaksanakan pendidikan, latihan, dan penilaian prestasi karyawan.
    18. Mengatur mutasi karyawan baik vertikal maupun horizontal.
    19. Mengatur pensiun, pemberhentian, dan pesangonnya

    Tujuan Manejemen Sumber Daya Manusia


    Di setiap instansi / oragnisasi akan menentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam
    manajemen sumber daya yang tercantum sebagai sumber daya manusia. Tujuan atau target dari
    sumber daya manusia biasanya bermacam- macam serta tergantung pada penahapan
    pertumbuhan yang terjalin pada suatu organisasi. Menurut Sedarmayanti (2017) bahwa tujuan
    Manajemen Sumber Daya Manusia adalah sebagai berikut:
    1.) Memberikan rekomendasi manajemen tentang kebijakan SDM untuk memastikan
    organisasi atau perusahaan memiliki staf yang bermotivasi tinggi, berkinerja tinggi, dan
    siap menghadapi perubahan
    2.) Menjaga dan menerapkan kebijakan dan prosedur SDM untuk mencapai tujuan
    organisasi atau perusahaan.
    3.) Mengatasi krisis dan situasi sulit dalam hubungan karyawan agar pencapaian tujuan
    organisasi tidak terganggu..
    4.) Menawarkan cara untuk berkomunikasi antara karyawan dan manajemen organisasi.
    5.) Dengan mempertimbangkan aspek SDM, membantu perkembangan arah dan strategi
    perusahaan atau organisasi secara keseluruhan.
    6.) Memberikan dukungan dan menciptakan lingkungan yang membantu manajer lini
    mencapai tujuan mereka..
    Pendapat lain dikemukakan oleh Sinambela (2017) menjelaskan bahwa tujuan MSDM
    yaitu sasaran MSDM dan aktivitas MSDM yaitu:

    Aktivitas Pada Manajemen Sumber Daya Manusia
    Untuk mencapai tujuan dan sasaranya , Departemen SDM memberikan dukungan
    kepada pemimpin untuk memperoleh, mengembangkan, memanfaatkan,
    mengevaluasi, dan mempertahankan jumlah dan menjunjung tinggi kuantitas dan
    hak-hak dari para pekerja. Karna para pemimpin memiliki peran yang sangat
    penting dalam mengatur organisasi local maupun organisasi global. Maka dari itu
    terdapat dua macam aktivitas Manajemen Sumber Daya Manusia yaitu:
    a) Aktivitas SDM Penting:
    Tindakan yang diambil untuk memberikan dan mempertahankan kinerja kerja yang
    baik untuk organisasi adalah aktivitas SDM. Perencanaan SDM biasanya digunakan
    untuk memperkirakan kebutuhan sumber daya manusia di masa depan suatu organisasi.
    b) Tanggung jawab atas aktivitas SDM
    Manajemen sumber daya manusia (HRM) adalah istilah untuk pendayagunaan individu
    untuk mencapai tujuan organisasi. Ini berarti manajer di setiap tingkat harus
    memperhatikan HRM. Dengan kata lain, setiap manajer dapat mencapai sesuatu
    melalui upaya orang lain, yang berarti HRM efektif diperlukan. Orang yang menangani
    masalah sumber daya manusia menghadapi banyak masalah, seperti regulasi
    pemerintah dan angkatan kerja yang berubah secara teratu

    Sasaran Manajemen Sumber Daya Manusia
    Dalam sasaran ini terdapat empat target umum yang harus dicapai dan tantangan
    yang harus dihadapi sehingga terbentuk kerangka masalah yang sering ditemui
    dalam sebuah organisasi.
    a) Sasaran Organisasi
    Sasaran ini mengenali Manajemen SDM dalam rangka memberikan
    kontribusi atas efektivitas organisasi. Departemen SDM diciptakan untuk
    membantu para manajer dalam mencapai sasaran organisasi dan untuk
    membantu pimpinan yang menyangkut masalah SDM organisasi. Sasaran
    organisasi meliputi : perencanaan seleksi SDM, pelatihan, pengembangan,
    pengangkatan, penempatan, penilaian, dan hubungan pekerja.
    b) Sasaran Fungsional
    Sasaran ini untuk mempertahankan kontribusi departemen pada level yang
    cocok bagi berbagai kebutuhan organisasi. Sasaran fungsional antara lain
    meliputi : pengangkatan, penempatan, dan penilaian.
    c) Sasaran sosial
    Sasaran ini untuk selalu tanggap secara etis maupun sosial terhadap berbagai
    kebutuhan dan tuntutan masyarakat dengan terus meminimalkan dampak
    negatif atas tuntutan tersebut terhadap organisasi. Sasaran sosial meliputi :
    keuntungan organisasi, pemenuhan tuntutan hokum, dan hubungan
    manajemen dengan serikat pekerja.
    d) Sasaran pribadi pegawai
    Sasaran pribadi pegawai untuk membantu para pegawai mencapai tujuan-
    tujuan pribadi mereka, yang dapat meningkatkan kontribusi individu atas
    organisasi. Sasaran pribadi pegawai harus mampu ditemukan apabila
    mereka ingin dipertahankan dan dimotivasi. Akan tetapi, tidak setiap
    keputusan SDM bisa memenuhi sasaran-sasaran organisasi, fungsional,
    sosial, dan pribadi di sepanjang waktu . Sasaran pribadi pegawai meliputi :
    pelatihan dan pengembangan, penilaian, penempatan, kompensasi, serta
    penugasan

    Fungsi Manejemen Sumber Daya Manusia


    Apabila pegawai mampu melakukan tugas-tugas manajemen SDM dengan tepat dan
    menyeluruh, serta melakukannya dengan hati-hati dan presisi, operasi manajemen SDM akan
    berjalan lancer dan tepat. Adapun fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
    diantaranya:
    Menurut Hasibuan (2016) fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia adalah
    sebagai berikut:

    1. Perencanaan
      Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja secara efektif serta efisien agar sesuai
      dengan kebutuhan perusahaan dalam membantu terwujudnya tujuan.
    2. Pengorganisasian
      Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua karyawan dengan
      menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang,integrasi, dan
      koordinasi dalam bagan organisasi.
    3. Pengarahan
      Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan, agar mau bekerja sama dan
      bekerja efektif serta efisien dalam membantu tercapainya tujuan. perusahaan,
      karyawan, dan masyarakat.
    4. Pengendalian
      Pengendalian adalah kegiatan mengendalikan semua karyawan agar mentaati
      peraturan-peraturan perusahaan dan bekerja sesuai dengan rencana.
    5. Pengadaan
      Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan induksi untuk
      mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
    6. Pengembangan
      Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis, konseptual, dan
      moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
    7. Kompensasi
      Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung dan tidak langsung, uang atau
      barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan.
    8. Pengintregrasian
      Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan
      karyawan, agar tercipta kerja sama yang serasi dan saling menguntungkan.
    9. Pemeliharaan
      10
      Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik,
      mental, dan loyalitas karyawan, agar mereka tetap mau bekerja sama sampai pension.
    10. Kedisiplinan
      Kedisiplinan merupakan fungsi manajemen sumber daya manusia yang terpenting dan
      kunci terwujudnya tujuan karena tanpa disiplin yang baik sulit terwujud tujuan yang
      maksimal.
    11. Pemberhentian
      Pemberhentian adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu perusahaan.
      Fungsi-fungsi sumber daya manusia diatas sangat penting bagi karyawan dan
      perusahaan. Apabila motivasi dilaksanakan dengan baik maka kinerja karyawan pun
      akan meningkat, sehingga tujuan perusahaan akan tercapai

    Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


    Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan perpaduan dari dua pemikiran yang
    tidak sama, meskipun keduanya memiliki makna dan pemahaman yang berbeda tetapi mampu
    bersatu dalam menciptakan makna baru dalam sebuah kemajuan di dalam sebuah konsep ilmu
    pengetahuan yang berbentuk teori. Dua pemahaman yang termasuk didalamnya adalah
    Manajemen dan Konsep Sumber Daya Manusia yang berbeda namun saling terkait. Meskipun
    memiliki fokus yang berbeda, kedua konsep ini saling terhubung dan mendukung. Berdasarkan
    pendapat yang ada diatas maka dapat dijelaskan bahwa mewujudkan kesuksesan dan
    perkembangan sumber daya mansia memiliki peran yang krusial dalam mencapai tujuan dan
    kemajuan dalam sebuah organisasi, Tentu saja untuk mencapai tujuan organisasi yang baik
    maka sumber daya manusia yang memadai menjadi faktor utama dalam menghasilkan tenaga
    kerja yang berkualitas untuk mengelola serta mengoptimalkan potensi dan kinerja manusia
    dalam suatu organisasi.
    Menurut Afandy (2018) “ human resource management is the process of acquiring ,
    training , appraising health and safety, and fairness concern”. Sedangkan menurut Fahmi
    (2016) “Manajemen Sumber Daya Manusia adalah rangakaian aktivitas organisasi dan
    diarahkan untuk menarik, mengembangkan , dan mempertahankan tenaga kerja yang efektif”.
    Menurut (Segoro, 2017) Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses menangani
    berbagai masalah pada ruang lingkup pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk
    dapat menunjang aktifitas organisasi demi mencapai tujuan yang telah ditentukan. Menurut
    (Sutrisno , 2019) Manajemen sumber daya manusia mempunyai definisi sebagai suatu
    perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan atas pengadaan, pengembangan,
    kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan maksud
    untuk mencapai tujuan organisasi secara terpadu
    Menurut Dessler (2020) “Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan suatu system
    yang bertujuan untuk mempengaruhi sikap, perilaku, dan kinerja karyawan agar mampu
    memberikan kontribusi yang optimal dalam rangka mencapai sasaran-sasaran perusahaan”.
    Sedangkan menurut Hasibuan (2018) “Manajemen Sumber Daya Manusia adalah ilmu dan seni
    mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya
    tujuan perusahaan, karyawa, dan masyarakat”.Menurut Sedarmayanti (2017) ”Sumber daya
    manuasia merupakan seluruh kemampuan yang dimiliki oleh manusia yang dapat disalurkan
    atau diberikan kepada masyarakat untuk menghasilkan barang/jasa.namun ada beberapa unsur
    pendukung lainnya, salah satunya adalah sifat SDM organisasi. Sumber daya manusia,
    khususnya tenaga kerja atau pegawai yang berusaha keras untuk bekerja dan mencapai tujuan
    perusahaan”. Sedangkan Menurut Badriyah (2019), manajemen SDM adalah bagian dari ilmu
    manajemen yang berfokus pada bagaimana peran SDM diatur dalam sebuah perusahaan..
    Maka dari beberapa pendapat yang berasal dari teori para ahli, didapatkan kesimpulan
    bahwa manajemen sumber daya manusia sangatlah penting untuk sebuah organisasi atau
    perusahaan karna manajemen sumber daya manusia mampu mengatur atau menyusun
    hubungan kerja dan juga peran dari individu dalam sebuah organisasi secara lebih efektif dan
    efisien dan memiliki target atau tujuan untuk mencapai suatu kesuksesan dalam sebuah
    organisasi atau perusahaan dengan adanya kesepakatan yang ada.

    Meningkatkan Kinerja Karyawan


    Sutrisno (2010) mengutarakan adanya empat cara yang dapat dilakukan untuk
    meningkatkan kinerja setiap karyawan yaitu sebagai berikut:
    a. Diskriminasi seorang manajer seharusnya dapat menjelaskan perbedaan secara
    faktual antara mereka yang membagikan sumbangan dalam mencapai suatu
    tujuan organisasi dengan mereka yang tidak terdapat dalam konteks penilaian
    kinerja memang haruslah terdapat perbedaan dengan karyawan berprestasi dan
    karyawan yang kurang berprestasi. Sehingga dapat dibuat keputusan yang adil
    sesuai dengan bidangnya.
    b. Pengharapan dengan memikirkan bidang tersebut berharap dapat menaikkan
    kinerja karyawan. Karyawan yang mempunyai kinerja tertinggi mengharapkan
    adanya pengakuan dalam berbagai pengharapan yang diperolehnya didalam
    organisasi.
    c. Pengembangan bagi kinerjanya yang kurang maksimal. Skema ini ada untuk
    mereka yang mengikuti program pelatihan dan pengembangan, meskipun yang
    diatas standar dapat ditingkatkan kejabatan yang lebih tinggi.
    d. Komunikasi para manajer bertanggung jawab untuk memberikan evaluasi
    kinerja kepada para karyawan dengan secara akurat untuk memberikan penilaian
    yang dilakukannya. Untuk melakukannya secara tepat dan akurat, para manajer
    haruslah memahami apa saja kekurangan dan masalah yang dihadapi setiap
    karyawan dan bagaimana caranya untuk menyelesaikannya

    Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)


    Hasibuan (2019) mengatakan bahwa fungsi MSDM adalah meliputi
    perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, pengadaan,
    pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan dan
    pemberhentian. Umar (1999) menjelaskan bahwa fungsi manajemen sumber daya
    manusia dapat dikelompokkan atas tiga fungsi yaitu:
    a. Fungsi manajerial yaitu meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
    dan pengendalian.
    b. Fungsi operasional yaitu meliputi pengadaan, pengembangan, kompensasi,
    pengintegrasian, dan pemutusan hubungan kerja.
    c. Fungsi kedudukan manajemen sumber daya manusia dalam pencapaian tujuan
    organisasi perusahaan secara terpadu.

    Faktor Kinerja


    Menurut Robbins (2016: 260), faktor kinerja adalah alat untuk mengukur
    sejauh mana pencapaian kinerja karyawan. Adapun beberapa faktor kinerja
    menurut para ahli adalah sebagai berikut:
    a. Faktor kinerja menurut Sumamora dalam Mangkunegara (2013) mengatakan
    bahwa kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut:
    1) Faktor individual, meliputi kemampuan, skill, latar belakang, dan
    demografi.
    2) Faktor prikologis, meliputi persepsi, attitude, kepribadian, pembelajaran,
    dan motivasi.
    3) Faktor organisasi, meliputi sumber daya, kepemimpinan, penghargaan,
    struktur, dan desain kerja.
    b. Faktor kinerja menurut Mangkunegara (2007) mengatakan bahwa yang dapat
    mempengaruhi capaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) yang terdiri
    dari kemampuan (IQ) dan kemampuan reality (knowledge and skill

    Pengertian Kinerja


    Kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
    seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab
    yang diberikan kepadanya (Anwar Prabu Mangkunegara, 2014:67). Pendapat
    tersebut diperkuat dengan pendapat Nawawi (2006), ia mengatakan bahwa kinerja
    pada dasarnya dapat dari dua segi yaitu kinerja pegawai secara individu dan kinerja
    organisasi. Sedangkan, menurut Rivai (2005: 14) kinerja adalah hasil atau tingkat
    keberhasilan seseorang atau keseluruhan selama periode tertentu didalam
    melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar
    hasil kerja, target, atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu
    dan telah disepakati bersama.
    Kinerja dipengaruhi oleh variabel yang terkait dengan pekerjaan meliputi
    role-stress dan konflik kerja atau non-kerja (Babin & Boles, 1998). Mathis dan
    Jackson (2002) mengatakan bahwa kinerja karyawan memiliki beberapa elemen
    yaitu kuantitas, kualitas, kehadiran, kemampuan kerjasama, dan kesetiaan

    Proses Manajemen Strategi


    Suyanto (2007:10) menyebutkan bahwa proses manajemen strategi memiliki
    delapan langkah. Adapun delapan langkah tersebut adalah sebagai berikut:
    a. Mengidentifikasi visi, misi dan tanggung jawab sosial.
    b. Menganalisis faktor internal
    c. Menganalisis faktor eksternal
    d. Memilih tujuan dan sasaran
    e. Mengembangkan strategi bisnis
    f. Merinci rencana program
    g. Implementasi strategi
    h. Pengendalian strategi
    Namun, Wheelen dan Hunger (2012) menyebutkan bahwa proses manajemen
    strategi meliputi empat tahapan yaitu:
    a. Analisa lingkungan
    Melakukan pengamatan lingkungan menggunakan metode SWOT dimana
    organisasi mengamati lingkungan internal dan eksternal.
    b. Formulasi strategi
    Formulasi strategi terdiri dari pernyataan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan.
    c. Implementasi strategi
    Implementasi strategi adalah kelanjutan dari formulasi strategi dimana setelah
    itu organisasi akan mengimplementasikan kebijakan tersebut.
    d. Evaluasi dan pengendalian strategi
    Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana hasil dan umpan balik yang
    didapatkan oleh organisasi

    Pengertian Manajemen Strategi


    Manajemen strategi merupakan sekumpulan keputusan dan tindakan manajerial
    yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas serta capaian perusahaan dalam
    jangka waktu yang cenderung panjang (Rufaidah, 2012). Wheelen & Hunger
    (2012) juga mengatakan bahwa manajemen strategi adalah serangkaian langkah
    dari keputusan, tindakan, dan evaluasi untuk usaha dalam jangka waktu panjang.
    Murniati (2008: 74) menjelaskan bahwa manajemen strategi merupakan
    aktivitas yang mesti diselesaikan oleh manajemen puncak bersama anggota
    secara berkelanjutan, dan merupakan peredaran yang mampu membangkitkan
    keputusan untuk menyempurnakan hubungan antara kemauan organisasi dengan
    kemauan lingkungan.
    Viljoen dalam Heene dkk (2010: 76) mengutarakan sebuah penafsiran yang rinci
    dengan mengasumsikan bahwa manajemen strategi adalah proses
    pengidentifikasian, pemilihan, dan pengimplementasian aktivitas-aktivitas yang
    dapat memperbaiki kinerja jangka panjang dari organisasi, melalui penentuan
    arah disertai melanjutkan komitmen internal dengan sarana-sarana dari
    organisasi berikut pula dengan lingkungan yang berubah evolutif dimana
    organisasi itu beroperasi.

    Definisi Strategi


    Strategi merupakan hal penting bagi kelangsungan hidup dari suatu perusahan
    untuk mencapai sasaran atau tujuan perusahaan yang efektif dan efisien, perusahaan
    harus bisa menghadapi setiap masalah-masalah atau hambatan yang datang dari
    dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan.
    Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan, dalam pengembangannya
    konsep mengenai strategi harus terus memiliki perkembangan dan setiap orang
    mempunyai pendapat atau definisi yang berbeda mengenai strategi. Strategi dalam
    suatu dunia bisnis atau usaha sangatlah dibutuhkan untuk pencapaian visi dan misi
    yang sudah diterapkan oleh perusahaan, maupun untuk pencapaian sasaran atau
    tujuan, baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang.
    Menurut David (2011:18-19) Strategi adalah sarana bersama dengan tujuan
    jangka panjang yang hendak dicapai. Strategi bisnis mencakup ekspansi geografis,
    diversifikasi, akuisisi, pengembangan produk, penetrasi pasar, pengetatan,
    divestasi, likuidasi, dan usaha patungan atau joint venture. Strategi adalah aksi
    potensial yang membutuhkan keputusan manajemen puncak dan sumber daya
    perusahaan dalam jumlah besar. Jadi strategi adalah sebuah tindakan aksi atau
    kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau perusahaan untuk mencapai sasaran
    atau tujuan yang telah di tetapkan.
    Menurut Tjiptono (2006:3) istilah strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu
    strategia yang artinya seni atau ilmu untuk menjadi seorang jendral. Strategi juga
    bisa diartikan suatu rencana untuk pembagian dan penggunaan kekuatan militer
    pada daerah-daerah tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Menurut
    Menurut Pearce II dan Robinson (2008:2), strategi adalah rencana berskala besar,
    dengan orientasi masa depan, guna berinteraksi dengan kondisi persaingan untuk
    mencapai tujuan perusahaan. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa
    pengertian dari strategi adalah sebuah tindakan proses perencanaan untuk mencapai
    tujuan yang telah di tetapkan, dengan melalukan hal-hal yang besifat terus menerus
    sesuai keputusan bersama dan berdasarkan sudut pandang kebutuhan pelanggan.
    Rangkuti (2013:183) berpendapat bahwa strategi adalah perencanaan induk
    yang komprehensif, yang menjelaskan bagaimana perusahaan akan mencapai
    semua tujuan yang telah ditetapkan berdasarkan misi yang telah di tetapkan
    18
    sebelumnya. Menurut Stoner, Freeman, dan Gilbert. Jr (2005), konsep strategi dapat
    di definisikan berdasarkan dua perspektif yang berbeda yaitu : (1) dari perspektif
    apa suatu organisasi ingin dilakukan (intens to do), dan (2) dari perspektif apa yang
    organisasi akhirnya lakukan (eventually does

    Pengembangan Sumber Daya Manusia


    Pengembangan sumber daya manusia adalah suatu usaha dengan tujuan
    meningkatkan skill karyawan melalui pendidikan, pelatihan serta pengembangan
    karir guna menjalankan tugas sebagai karyawan dan memiliki siklus panjang
    (Robbert, 2002: 54). Kasmir (2016: 140) mengatakan bahwa pengembangan
    sumber daya manusia juga untuk menggali minat dan bakat karyawan yang
    sesungguhnya yang masih terpendam serta untuk mengubah perilaku karyawan
    seperti yang diinginkan perusahaan

    Pengertian Manejemen Sumber Daya Manusia (MSDM)


    Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) adalah ilmu dan seni yang
    mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu
    terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat (Hasibuan, 2019).
    Sedangkan menurut Dessler (2010), manajemen sumber daya manusia adalah
    sebagai kebijakan dan latihan untuk memenuhi kebutuhan karyawan atau aspek-
    aspek yang terdapat dalam sumber daya manusia seperti posisi manajemen,
    pengadaan karyawan atau rekrutmen, penyaringan, pelatihan, kompensasi, dan
    penilaian prestasi kerja karyawan. Dessler (2008:5) juga mengatakan bahwa
    manajemen sumber daya manusia merupakan proses memperoleh, melatih, menilai,
    dan memberikan kompensasi kepada karyawan, memperhatikan hubungan kerja
    mereka, kesehatan, keamanan, dan masalah keadilan. Manajemen Sumber Daya
    Manusia (MSDM) merupakan pemanfaatan sejumlah individu untuk mencapai
    tujuan-tujuan organisasi (Mondy, 2008: 4).

    1. Komponen Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
      Komponen MSDM terdiri dari pimpinan, pengusaha, dan karyawan (Kastra,
      2012). Hasibuan (2019) mengatakan bahwa komponen tenaga kerja manusia
      pada dasarnya dibedakan atas pengusaha, karyawan, dan pimpinan. Adapun dari
      komponen-komponen tersebut menurut Hasibuan (2019) dijelaskan sebagai
      berikut:
      a. Pengusaha
      Pengusaha adalah setiap orang yang menginvestasikan modalnya untuk
      memperoleh pendapatan dan besarnya pendapatan itu tidak menentu
      tergantung pada laba yang dicapai perusahaan tersebut.
      b. Karyawan
      Karyawan adalah penjual jasa dan dengan itu mendapat kompensasi yang
      besarnya telah ditetapkan sebelumnya dan telah disepakati. Karyawan wajib
      dan terikat untuk mengerjakan pekerjaan yang diberikan dan berhak
      mendapatkan balas jasa sesuai dengan perjanjian.
      c. Pimpinan
      Pimpinan adalah orang yang mempergunakan wewenang dan
      kepemimpinannya untuk mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab
      atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai suatu tujuan. Sedangkan
      kepemimpinan adalah gaya seorang pemimpin dan mempengaruhi
      bawahannya agar mau bekerja sama dan bekerja secara efektif sesuai dengan
      apa yang diperintahkan.

    Pengertian Sumber Daya Manusia (SDM)


    Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan motor penggerak seluruh aktivitas
    (Kasmir, 2016:3). Menurut Sutrisno (2014:3), sumber daya manusia adalah satu-
    satunya sumber daya yang memiliki akan perasaan, keinginan, keterampilan,
    pengetahuan, dorongan, daya, dan karya yang semua potensi tersebut berpengaruh
    terhadap upaya organisasi dalam mencapai tujuan. Susan E (2019) mengatakan
    bahwa pengertian sumber daya manusia secara umum terdiri dari dua yaitu sebagai
    berikut:
    a. Sumber daya manusia makro
    Sumber daya manusia makro yaitu jumlah penduduk dalam usia produktif yang
    ada disebuah wilayah.
    b. Sumber daya manusia mikro
    Sumber daya manusia mikro dalam arti sempit yaitu yang bekerja pada sebuah
    institusi atau perusahaan

    Indikator Kepuasan Kerja


    Kepuasan kerja berhubungan dengan variabel-variabel seperti turnover,
    tingkat pekerjaan, dan ukuran organisasi perusahaan. Hal ini sesuai dengan
    pendapat Keith Davis dalam Mangkumanegara (2017: 117) yang mengemukakan
    bahwa “job satisfaction is related to a number of major employee variables, such
    as turnover, absences, age, occupation and size of the organization in wich an
    employee works”. Artinya kepuasan kerja terkait dengan sejumlah variabel utama
    karyawan, seperti pergantian, ketidakhadiran, usia, pekerjaan, dan ukuran
    organisasi tempat karyawan bekerja.

    1. Turnover.
      Kepuasan kerja lebih tinggi dihubungkan dengan turnover pegawai yang
      rendah. Sedangkan pegawai-pegawai yang kurang puas biasanya
      turnovernya lebih tinggi.
    2. Tingkat ketidakhadiran (absen) kerja.
      Pegawai-pegawai yang kurang puas cenderung tingkat ketidakhadirannya
      (absen) tinggi. Mereka sering tidak hadir kerja dengan alasan yang tidak
      logis dan subjektif. Hubungan kepuasan kerja dengan turnover dan absensi.
    3. Umur.
      Ada kecenderungan pegawai yang tua lebih merasa puas daripada pegawai
      yang berumur relatif muda. Hal ini diasumsikan bahwa pegawai yang tua
      lebih berpengalaman menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan.
      Sedangkan pegawai usia muda biasanya mempunyai harapan yang ideal
      tentang dunia kerjanya, sehingga apabila antara harapannya dengan realita
      kerja terdapat kesenjangan atau ketidakseimbangan dapat menyebabkan
      mereka menjadi tidak puas.
    4. Tingkat pekerjaan.
      Pegawai-pegawai yang menduduki tingkat pekerjaan yang lebih tinggi
      cenderung lebih puas daripada pegawai yang menduduki tingkat pekerjaan
      yang lebih rendah. Pegawai-pegawai yang tingkat pekerjaannya lebih tinggi
      menunjukkan kemampuan kerja yang baik dan aktif dalam mengemukakan
      ide-ide serta kreatif dalam bekerja.
    5. Ukuran organisasi perusahaan.
      Ukuran organisasi perusahaan dapat mempengaruhi kepuasan pegawai. Hal
      ini karena besar kecil suatu perusahaan berhubungan pula dengan kordinasi,
      komunikasi, dan partisipasi pegawai.

    Manfaat Dari Penilaian Kepuasan kerja


    Ada beberapa alasan mengapa perusahaan harus memperhatikan kepuasan
    kerja karyawan. Menurut Robbins (2015:113), manfaat pengukuran kepuasan kerja
    adalah sebagai berikut:

    1. Seorang karyawan yang memiliki tingkat kepuasan tinggi akan memiliki
      kinerja yang baik, dan ini akan berdampak terhadap kinerja organisasi.
    2. Untuk memberikan kesempatan kerja yang adil.
    3. Untuk mengetahui seberapa niat karyawan bekerja di perusahaan.
    4. Untuk mengetahui apakah karyawan cocok dengan penempatan bidang
      kerjanya.
    5. Umpan balik pelaksanaan kerja untuk memperbaiki produktivitas

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan


    Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, menurut Mangkunegara
    (2015:120) yaitu:

    1. Faktor pegawai, yaitu kecerdasan (IQ), kecakapan khusus, umur, jenis
      kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalam kerja, masa kerja,
      kepribadian, emosi, cara berfikir, persepsi, dan sikap kerja.
    2. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat
      (golongan), kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial,
      kesempatan.
      Sedangkan menurut Badriyah (2015:227) faktor-faktor yang mempengaruhi
      kepuasan kerja dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
    3. Faktor intrinsik, yaitu faktor dari dalam diri dan dibawa oleh setiap
      karyawan sejak bekerja ditempat pekerjaannya, yaitu institusi pendidikan
    4. Faktor ekstrinsik, yaitu faktor yang menyangkut hal-hal yang berasal dari
      luar diri karyawan, antara lain kondisi fisik lingkungan kerja, interaksi
      dengan karyawan lain, sistem penggajian dan sebagainya.

    Pengertian Kepuasan Kerja


    Menurut Priansa (2014:291) memiliki definisi bahwa kepuasan kerja
    merupakan perasaan pegawai terhadap pekerjaannya, apakah senang / suka atau
    tidak senang / tidak suka sebagai hasil interaksi pegawai dengan lingkungan
    pekerjaannya atau sebagai presepsi sikap mental, juga sebagai hasil penilaian
    pegawai terhadap pekerjaannya. Perasaan pegawai terhadap pekerjaannya
    mencerminkan sikap dan perilakunya dalam bekerja. Dari beberapa pendapat para
    ahli dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap dari individu-
    individu pegawai yang menunjukan perasaan senang atau tidak senang terhadap
    pekerjaan mereka.
    Menurut Robbins (2015: 170) disebutkan bahwa kepuasan kerja adalah suatu sikap
    umum terhadap pekerjaan seseorang sebagai perbedaan antara banyaknya ganjaran
    yang diterima pekerja dengan banyaknya ganjaran yang diyakini seharusnya
    diterima. Kepuasan kerja merupakan hal penting yang dimiliki individu di dalam
    bekerja. Setiap individu pekerja memiliki karakteristik yang berbeda – beda, maka
    tingkat kepuasan kerjanya pun berbeda – beda pula tinggi rendahnya kepuasan kerja
    tersebut dapat memberikan dampak yang tidak sama.
    Badriyah (2015:227) yang menyatakan bahwa kepuasan kerja merupakan salah satu
    faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal, ketika
    seseorang merasakan kepuasan dalam bekerja, maka ia akan berupaya semaksimal
    mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan
    pekerjaannya dan dapat meningkatkan kinerja karyawan tersebut.

    Indikator Promosi Jabatan


    Perusahan memliki pertimbangan yang berbeda-beda mengenai indikator-
    indikator yang diperhitungkan dalam proses promosi jabatan. Indikator-indikator
    umum yang diperhitungkan dalam proses promosi jabatan menurut Pandi Afandi
    (2016:24-25) sebagai berikut:

    1. Kepemimpinan
      Kepemimpinan adalah seseorang yang harus mampu membina dan
      memotivasi bawhannya untuk bekerja sama dan bekerja secara efektif
      dalam mencapai sasaran.
    2. Kinerja
      Kinerja adalah kesedian seseorang atau kelompok orang untuk melekukan
      kegiatan atau menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya
      dengan hasil seperti yang diharapkan.
    3. Loyalitas
      Loyalitas tenaga kerja terhadap perusahaan seringkali merupakan salah satu
      kriteria untuk kegiatan promosi. Hal ini dimaksudkan dengan tingkat
      loyalitas yang tinggi dapat diperoleh dampak tanggung jawab yang lebih
      besar

    Manfaat Promosi Jabatan


    Promosi jabatan memiliki manfaat baik bagi perusahaan maupun karyawan
    menurut Mahmudah Enny (2019:89), antara lain:

    1. Promosi dapat memungkinkan perusahaan memanfaatkan kemampuan
      karyawan untuk memperluas usahanya.
    2. Promosi dapat mendorong tercapainya kinerja karyawan yang baik.
      Karyawan umumnya berupaya melakukan pekerjaan sebaik mungkin jika
      mereka percaya bahwa kinerja tinggi mengarah pada adanya promosi.
    3. Terdapat korelasi signifikan antara kesempatan untuk kenaikan pangkat dan
      tingkat kepuasan kerja.

    Tujuan Promosi Jabatan


    Adapun tujuan dilaksanakannya promosi jabatan menurut Pandi Afandi
    (2016:19) yaitu:

    1. untuk memberikan pengakuan prestasi kerja yang tinggi.
    2. untuk kepuasan dan kebanggan pribadi, status sosial yang semakin tinggi,
      dan penghasilan yang semakin besar.
    3. untuk merangsang agar karyawan lebih bergairah bekerja, berdisiplin tinggi,
      dan memperbesar kinerjanya.
    4. kesempatan promosi dapat menimbulkan keuntungan berantai dalam
      perusahaan karena timbulnya lowongan berantai.
    5. memberikan kesempatam kepada karyawan untuk mengembangkan
      kreativitas dan inovasinya yang lebih baik demi keuntungan optimal
      perusahaan.
    6. untul menambah/memperluas pengetahuan serta pengalaman kerja para
      karyawan dan ini merupakan daya dorong bagi karywan lainnya.
    7. untuk mengisi kekosongan jabatan karena pejabatnya berhenti, agar jabatan
      itu tidak loeong maka dipromosikan karyawan lain.
    8. promosi akan memperbaiki status karyawan dari karyawan sementara
      menjadi karywan tetap.
      Ada beberapa tujuan promosi yang diungkapkan Yusuf (2015:201)
    9. Meningkatkan semangat kerja, perusahaan mempromosikan karyawan
      secara objektif dan terprogram, maka karyawan akan terdorong untuk
      bekerja lebih baik lagi.
      19
    10. Untuk memberikan pengakuan, jabatan dan imbalan jasa yang semakin
      besar kepada karyawan yang berprestasi kerja tinggi.
    11. Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan
      kreativitas dan inovasi kerjanya serta dapat memperluas pengetahuan
      dan pengalaman kerja.
    12. Untuk merangsang karyawan agar bergairah, berdisiplin tinggi dan
      memperbesar produktivitas kerja.
    13. Untuk mengisi kekosongan jabatan karena pejabatnya berhenti. Agar
      jabatan itu tidak lowong, maka dipromosikan karyawan lainnya

    Tujuan Rotasi Kerja


    Menurut Pandi Afandi (2016:28) tujuan rotasi kerja adalah memberikan
    karyawan variasi lebih dalam pekerjaanya. Rotasi pekerjaan memindahkan
    karyawan dari satu bidang ke bidang lainnya. Karyawan dilatih dan diberikan
    kesempatan unruk melakukan dua pekerjaan atau lebih dalam system rotasi.
    Tujuan khusus dari pelaksanaan rotasi pekerjaan Menurut Fahmi (2016: 81)
    adalah sebagai berikut:

    1. Membangun penguasaan ilmu yang lebih dalam pada setiap divisi
      perusahaan secara penuh.
    2. Membangun hubungan yang lebih akrab dengan setiap karyawan
      diberbagai divisi yang ikut merasakan rotasi pekerjaan tersebut.
    3. Membangun konsep kaderisasi pada calon pemimpin secara aplikatif dan
      terukur.
    4. Memberikan pembuktian kepada karyawan bahwa pemilihan pemimpin
      dilakukan dengan cara yang sangat adil tanpa ada faktor bersifat tiba-tiba
      akan tetapi melalui proses yang panjang dan yang bersangkutan telah
      menunjukkan kompetensinya pada saat ia ditugaskan diberbagai divisi.

    Jenis-Jenis Promosi Jabatan


    Perusahaan menerapkan jenis promosi yang berbeda-beda untuk para
    karyawannya. Hasibuan (2012:113) mengemukakan beberapa jenis promosi yang
    dikenal luas saat ini, yaitu:

    1. Promosi Sementara (Temporary Promotion)
      Seseorang karyawan dinaikan jabatannya untuk sementara karena adanya
      jabatan yang lowong yang harus segera diisi, seperti pejabat dekan.
    2. Promosi Tetap (Permanent Promotion)
      Seseorang karyawan dipromosikan dari suatu jabatan ke jabatan yang
      lebih tinggi karena karyawan tersebut telah memenuhi syarat untuk
      dipromosikan. Sifat promosi ini adalah tetap. Misalnya, seorang dosen
      dipromosikan menjadi dekan, wewenang, tanggung jawab, serta gajinya
      akan naik.
    3. Promosi Kecil (Small Scale Promotion)
      Menaikkan jabatan seseorang karyawan dari jabatan yang tidak sulit
      dipindahkan ke jabatan yang sulit yang meminta keterampilan tertentu.
      Tetapi tidak disertai dengan peningkatan wewenang, tanggung jawab,
      dan gaji.
    4. Promosi Kering (Dry Promotion)
      Seorang karyawan dinaikkan jabatannya ke jabatan yang lebih tinggi
      disertai dengan peningkatan pangkat, wewenang, dan tanggung jawab
      tetapi tidak disertai dengan kenaikan gaji atau upah