Jenis-Jenis Motivasi Kerja


Menurut Hasibuan (2020:150) motivasi memiliki jenis-jenis sebagai
berikut:

  1. Motivasi Positif, merupakan usaha atasan untuk mempengaruhi
    bawahannya supaya termotivasi atau bersemangat dalam bekerja dengan
    cara memberikan hadiah, karena dengan pemberian hadiah tersebut
    semangat bekerja bawahan akan meningkat.
  2. Motivasi Negatif, merupakan usaha atasan untuk mempengaruhi
    bawahannya dengan pemberian hukuman yang standar. Dengan ini
    semangat bekerja bawahan dalam jangka waktu yang pendek dapat
    meningkat karena mereka takut akan hukumannya, akan tetapi jika dalam
    jangka waktu yang panjang dapat berakibat fatal

Faktor Yang mempengaruhi Motivasi Kerja


Menurut Afandi (2021:24) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
motivasi kerja yaitu :

  1. Kebutuhan Hidup Kebutuhan untuk dapat mempertahankan hidup, seperti
    makanan, minuman, tempat tinggal, dan sebagainya. Adanya keinginan ini
    membuat seseorang lebih giat dalam bekerja.
  2. Kebutuhan Masa Depan Kebutuhan akan masa depan yang cerah serta baik
    hingga tercipta hal yang harmonis dan tenang.
    27
  3. Kebutuhan Harga Diri Kebutuhan akan penghargaan dalam diri seseorang
    serta pengakuan dari masyarakat lingkungannya. Hal ini dapat membuat
    seseorang termotivasi untuk dapat dihargai.
  4. Kebutuhan Pengakuan Prestasi Kerja Kebutuhan atas prestasi kerja yang
    dibutuhkan seseorang dicapai dengan menggunakan kemampuan,
    keterampilan, serta potensi yang optimal untuk dapat mencapai prestasi
    kerja yang sangat memuaskan

Tujuan Pemberian Motivasi


Tujuan Pemberian Motivasi Menurut (Syarief dkk, 2022) tujuan
pemberian motivasi kepada para pegawai yaitu:

  1. Mengubah perilaku pegawai sesuai dengan keinginan organisasi;
  2. Meningkatkan gairah dan semangat kerja;
  3. Meningkatkan disiplin kerja;
  4. Meningkatkan prestasi kerja;
  5. Mempertinggi moral kerja pegawai;
  6. Meningkatkan rasa tanggung jawab;
  7. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi;
  8. Menumbuhkan loyalitas pegawai pada organisasi.
    Sedangkan menurut Sedarmayanti (dalam Adhari, 2021) bahwa tujuan
    adanya pemberian motivasi kerja terhadap pegawai yaitu:
  9. Mengubah perilaku pegawai sesuai keinginan organisasi;
  10. Meningkatkan semangat dan semangat kerja;
  11. Meningkatkan disiplin kerja;
  12. Meningkatkan prestasi kerja;
  13. Meningkatkan rasa tanggung jawab;
  14. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi;
  15. Menumbuhkan loyalitas pegawai pada organisasi

Pengertian Motivasi


Menurut Wardan (2020:109) Motivasi adalah usaha atau kegiatan manajer
untuk dapat menimbulkan atau meningkatkan semangat dan kegairahan kerja dari
para pekerja-pekerja atau karyawan-karyawannya.
Sedangkan menurut Mohtar (2019:20) Motivasi adalah dorongan kerja
yang timbul pada diri seseorang untuk berperilaku dalam mencapai tujuan yang
telah ditentukan.
Begitupun Afandi (2021:23) yang menyatakan bahwa motivasi merupakan
suatu keinginan yang muncul pada diri seseorang atau individu karena seseorang
itu terinspirasi, tersemangati, dan terdorong untuk mengerjakan aktivitas dengan
ikhlas, perasaan senang, dan bersungguh-sungguh sehingga hasil dari aktivitas
yang dilakukan mendapatkan hasil yang baik serta berkualitas.
Menurut (Hasibuan, 2021:143), motivasi merupakan daya penggerak yang
memunculkan aksi gairah bekerja seseorang untuk dapat bekerja sama secara
tersturktur dan efisien. Perusahaan tidak hanya menginginkan karyawan yang
cakap, terampil, pintar, dan sebagainya, yang penting juga disongkongi dengan
kerja keras yang tinggi dan kerja giat yang tinggi untuk mencapai tujuan bersama.
Hal yang sama di sampaikan Syarief,et al, (2022) Motivasi kerja
merupakan suatu proses dimana kebutuhan mendorong seseorang untuk
melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah ke tercapainya tujuan tertentu
dan tujuan organisasi dan untuk memenuhi beberapa kebutuhan

Indikator Kompensasi


Kompensasi memiliki pengukuran dalam pemberiannya. Indikator dalam
pemberian kompensasi oleh organisasi untuk pegawai tentu berbeda-beda.
Menurut (Hasibuan, 2021) indikator kompensasi terbagi menjadi dua yaitu:
kompensasi langsung (direct compensation) berupa gaji, upah, dan upah insentif;
kompensasi tidak langsung (indirect compensation atau employee welfare) atau
kesejahteraan pegawai). Berikut ini penjelasannya:

  1. Gaji adalah balas jasa yang dibayar secara periodik kepada pegawai tetap
    serta mempunyai jaminan yang pasti. Maksudnya, gaji akan tetap
    dibayarkan walupun pekerja tersebut tidak masuk kerja.
  2. Upah adalah balas jasa yang dibayarkan kepada pekerja harian dengan
    berpedoman atas perjanjian yang disepakati membayarnya.
  3. Upah insentif adalah tambahan balas jasa yang diberikan kepada pegawai
    tertentu yang prestasinya di atas prestasi standar. Upah insentif ini
    merupakan alat yang dipergunakan pendukung prinsip adil dalam
    pemberian kompensasi.
  4. Benefit dan Service Benefit dan Service adalah kompensasi tambahan
    (finansial atau nonfinansial) yang diberikan berdasarkan kebijaksanaan
    organisasi terhadap semua pegawai dalam usaha untuk meningkatkan
    kesejahteraan mereka. Seperti tunjangan hari raya, uang pensiun, pakaian
    dinas, kafetaria, mushala, olahraga, dan darmawisata.
    Menurut Affandi (2018:194) mengemukakan, secara umum ada beberapa
    indikator kompensasi, yaitu :
  5. Upah dan gaji Upah biasanya berhubungan dengan tarif gaji perjam. Upah
    merupakan basis bayaran yang seringkali digunakan bagi pekerja produksi
    dan pemeliharaan. Gaji umumnya berlaku untuk tarif bayaran mingguan,
    bulanan atau tahunan.
  6. Insentif, adalah tambahan kompensasi diatas atau diluar gaji yang
    diberikan oleh perusahaan.
  7. Tunjangan, merupakan bayaran atau jasa yang diberikan perusahaan
    sebagai pelengkap gaji pokok.
  8. Fasilitas Contoh fasilitas adalah kenikmatan/fasilitas seperti mobil
    perusahaan, tempat parkir khusus, atau akses perusahaan yang diperoleh
    karyawan

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kompensasi


Menurut Hasibuan (2020:127) faktor-faktor yang mempengaruhi
kompensasi yaitu :

  1. Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja. Dalam hal ini jika penawaran
    yang ada itu lebih besar dari lowongan pekerjaan maka tingkat kompensasi
    relatif kecil, begitupun sebaliknya jika terdapat penawaran lebih kecil
    sedangkan lowongan pekerjaan itu lebih besar maka kompensasi yang
    ditawarkan akan relatif lebih besar.
  2. Kemampuan dan Kesediaan Perusahaan. Dalam hal ini apabila jika
    perusahaan atau suatu organisasi tersebut mampu dan bersedia
    memberikan kompensasi dengan baik maka tingkat kompensasi semakin
    besar, begitupun sebaliknya apabila perusahaan atau suatu organisasi
    tersebut hanya mampu memberikan kompensasi rendah maka tingkat
    kompensasi pun rendah.
  3. Produktivitas Kerja Pegawai atau Karyawan. Dalam hal ini jika
    produktivitas kerja yang dilakukan pegawai atau karyawan tersebut baik,
    maka tingkat kompensasi yang akan didapatkan akan semakin besar,
    begitupun sebaliknya jika produktivitas yang dilakukan pegawai atau
    karyawan buruk, maka kompensasi yang akan didapatkan pun rendah.
  4. Biaya Hidup Dalam hal ini biaya hidup dapat menentukan tinggi
    rendahnya tingkat kompensasi. Yang dimana jika biaya hidup di daerah
    tersebut tinggi maka tingkat pendapatan kompensasi juga akan tinggi
    begitupun dengan sebaliknya.
  5. Kondisi Perekonomian Nasional Dalam hal ini tinggi atau rendahnya
    tingkat pemberian kompensasi yang dilakukan perusahaan kepada pegawai
    juga dapat disebabkan oleh kondisi perekonomian saat itu. Jika
    perekonomian sedang tinggi maka kompensasi yang akan diberikan pun
    akan tinggi, sebaliknya jika perekonomian sedang merosot maka
    kompensasi yang akan diberikan pun akan rendah

Tujuan Kompensasi


Menurut Hasibuan (2020:121) tujuan pemberian kompensasi antara lain
yaitu sebagai ikatan kerja sama, kepuasan kerja, motivasi, stabilitas karyawan, dan
disiplin. Berikut penjelasannnya :

  1. Ikatan Kerja Sama. Dengan adanya pemberian kompensasi kepada
    karyawan dapat menciptakan suatu ikatan kerja sama antara bos dengan
    karyawan. dalam hal ini karyawan harus mengerjakan tugas-tugasnya
    dengan baik, sedangkan bos atau pengusaha wajib membayarkan
    kompensasi sesuai dengan yang sudah disepakati.
  2. Kepuasan Kerja. Dengan adanya balas jasa, karyawan akan dapat
    memenuhi kebutuhan fisiknya, status sosial, dan egoistiknnya sehingga
    memperoleh kepuasan kerja.
  3. Motivasi. Dengan pemberian balas jasa yang diberikan cukup besar,
    karyawan akan sangat termotivasi dalam bekerja.
  4. Stabilitas Karyawan. Dengan pemberian kompensasi dengan prinsip adil
    dan layak maka stabilitas karyawan akan lebih terjamin.
  5. Disiplin. Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin
    karyawan akan semakin baik. Para karyawan akan menyadari akan
    tanggung jawabnya serta menaati peraturan-peraturan yang berlaku.
    Sejalan dengan hal tersebut, Martoyo (1994) dalam Akbar, et al.,
    (2021:127) berpendapat bahwa tujuan kompensasi adalah:
  6. Pemenuhan kebutuhan ekonomi pegawai atau sebagai jaminan economic
    security bagi pegawai.
  7. Mendorong agar pegawai lebih baik dan lebih giat.
  8. Menunjukkan bahwa organisasi mengalami kemajuan.
  9. Menunjukkan penghargaan dan perlakuan adil organisasi terhadap
    pegawainya (adanya keseimbangan antara input yang diberikan pegawai
    terhadap organisasi dan output atau besarnya imbalan yang diberikan
    organisasi kepada pegawai).
    Menurut Priyono dan Marmis (dalam Suryani dan FoEh, 2019)
    mengungkapkan bahwa tujuan dari pemberian kompensasi umumnya
    diperuntukan untuk kepentingan organisasi, pegawai, pemerintah dan masyarakat.
    Secara lebih rinci diuraikan tujuan program kompensasi meliputi:
  10. Ikatan kerjasama Dengan adanya pemberian kompensasi maka terjalinlah
    ikatan kerja sama formal antara organisasi dan pegawai, dimana pegawai
    harus mengerjakan tugasnya dengan baik sedangkan organisasi wajib
    membayar kompensasi yang telah disepakati.
  11. Kepuasan kerja Dengan pemberian balas jasa, pegawai dapat memenuhi
    kebutuhannya sehingga diperoleh kepuasan kerja dari jabatan yang
    diembannya.
  12. Motivasi Dengan kompensasi yang memadai, manajer merasa lebih mudah
    untuk memotivasi pegawai, yang pada gilirannya berarti berdampak pada
    peningkatan produktivitas.
  13. Stabilitas pegawai dengan program kompensasi yang berdasarkan prinsip
    adil dan wajar, stabilitas pegawai lebih terjamin karena turnover yang
    relatif rendah.
  14. Peningkatan disiplin Kompensasi yang sesuai prosedur memiliki dampak
    meningkatkan disiplin pegawai

Pengertian Kompensasi


Menurut Mari Maryati (2019) Kompensasi yang baik dapat menarik
karyawan yang memiliki kualifikasi yang baik, menjadikan karyawan loyal, puas
dengan pekerjaannya dan menginspirasi untuk lebih beprestasi.
Adapun menurut Cahya (2021) Kompensasi adalah semua pendapatan
yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang di terima
karyawan sebagai imbalan atas jasa yang di berikan kepada perusahaan tidak
hanya faktor pemberian kompensasi saja yang perlu diperhatikan oleh perusahaan
guna meningkatkan kepuasan kerja karyawan, akan tetapi perusahaan harus
memperhatikan faktor motivasi.
Menurut Hasibuan (2019:119), kompensasi adalah semua pendapatan
berupa uang tunai, barang, baik langsung maupun tidak langsung yang diterima
oleh seorang karyawan atas pemberian jasanya kepada perusahaan.
Pendapat yang sama di sampaikan Affandi (2018:191) mengatakan bahwa
Semua pendapatan yang berbentuk langsung atau tidak langsung yang diterima
karyawan sebagai imbalan atau jasa yang diberikan kepada perusahaan
Hal yang sama di sampaikan Akbar, et al.,(2021:125) kompensasi adalah
semua bentuk pengembalian (return) finansial dan tunjangan-tunjangan yang
diperoleh pegawai sebagai bagian dari sebuah hubungan kepegawaian

Indikator Servant Leadership


Menurut Widodo dalam (Suryati 2021) Indikator Servant Leadership
Sebagai berikut:

  1. Kasih sayang (love) Karakteristik pertama dalam Servant
    Leadershipadalah kepemimpinan yang mengasihi berdasarkan kasih
    sayang. Kasih sayang (love) mengacu pada bahasa Yunani yaitu cinta
    moral. Cinta berarti melakukan hal benar pada waktu yang tepatuntuk
    alasan yang benar.
  2. Pemberdayaan (empowerment) Pemberdayaan menempatkan penekanan
    pada kerjasama yaitu mempercayakan kekuasaan kepada orang lain, dan
    mendengarkan saran dari follower.
  3. Visi (vision) Visi merupakan arah kemana organisasi dan orang-orang
    yang dipimpin akan dibawa oleh seorang ,dan membantu membentuk
    masa depan, pengaruhnya lebih kuat terhadap orangorang yang bekerja
    untuk kepentingan organisasi.
  4. Kerendahan hati (humality) Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang
    menjaga kerendahan hati dengan menunjukkan rasa hormat terhadap
    karyawan serta mengakui kontribusi karyawan terhadap tim.
  5. Kepercayaan (trust) Servant Leadership adalah orang-orang pilihan
    diantara sejumlah orang lain dan pilihan itu didasarkan pada beberapa
    kelebihan tertentu yang menyebabkan Servant Leadership tersebut
    mendapatkan kepercayaan untuk menjadi pemimpin

Karakteristik Servant Leadership


Menurut Ken Blanchard (2018) menjelaskan tentang karakteristik yang
penting dari Servant Leadership yaitu:

  1. Listening (Mendengarkan). Dalam kepemimpinan yang melayani maka
    seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan komunikasi untuk
    mangambil suatu keputusan, sehingga pemimpin mudah mengidentifikasi
    pengambilan keputusannya melalui pendengaran dari bawahannya.
  2. Empathy (Empati). Seorang pemimpin yang melayani berusaha untuk
    memahami dan berempati dengan orang lain, sehingga seorang pekerja
    dapat diperlakukan tidak hanya sebagai pekerja biasa melainkan juga
    sebagai seseorang yang membutuhkan rasa hormat dan penghargaan.
  3. Healing (Penyembuhan). Sebuah kekuatan besar dari seorang
    kepemimpinan yang melayani adalah memiliki kemampuan untuk
    menyembuhkan orang lain dan dirinya sendiri. Seorang pemimpin yang
    melayani mencoba untuk membantu bawahannya dalam memecahkan
    masalah dan konflik yang sedang terjadi, karena pemimpin ingin
    mengembangkan kemampuan masing-masing individu. Hal tersebut
    mengarah kepada pembentukan budaya bisnis perusahaan.
  4. Persuasion (Persuasi). Seorang pemimpin yang melayani tidak akan
    mengambil keuntungan dari kekuatan statusnya dengan memaksakan
    bawahannya untuk patuh, tetapi mencoba lebih untuk meyakinkan
    bawahannya dalam melakukan sesuatu hal. Dapat di lihat salah satu hal
    kepemimpinan yang paling membedakan antara model Servant Leadership
    dengan otoriter tradisional.
  5. Conceptualization (Konseptualisasi). Seorang kepemimpinan yang
    melayani harus mempunyai pemikiran yang jauh melebihi realitas sehari-
    hari. Berarti pemimpin tersebut mempunyai kemampuan melihat untuk
    melampaui batas dalam mengkonsepkan bisnis operasinya dan fokus
    terhadap tujuan waktu jangka panjang perusahaan

Pengertian Kepemimpinan Melayani (Servant Leadership)


Menurut (Septiadi & Adnyani, 2019) Servant Leadership merupakan salah
satu model pendekatan leadership dimana pemimpin mengutamakan orang lain
atau karyawan daripada dirinya sendiri.
Menurut (Dumatubun, 2018) Servant Leadership yaitu suatu Kesetaraan
dan keadilan yang merupakaan nilai utama dari Servant Leadership karena hal
tersebut mendorong serta mendukung suatu perlakuan yang adil terhadap setiap 3
karyawan nilai tersebut bisa mempengaruhi persepsi karyawan untuk
meningkatakn loyalitas dan komitmen organisasi.
Menurut Saputra dan Anindita, (2021) Servant Leadership yaitu perilaku
memimpin orang lain dari sudut pandang penempatan kebutuhan organisasi,
tujuan organisasi dan kebutuhan orang-orang diatas kebutuhan dan keinginan
pemimpin sendiri.
Hal sama disampaikan oleh Pohan (2021) Servant Leadership diartikan
sebagai jenis kepemimpinan yang membahas masalah etika, menciptakan
organisasi dengan unik dan nyaman, pengalaman terhadap pelanggan dan
menganggap bawahan atau karyawan sebuah aset penting bagi perusahaan,.
Menurut Widodo dalam Suryati (2021) menjelaskan bahwa Servant
Leadership atau pemimpin yang melayani yaitu mempunyai kecenderungan lebih
mengutamakan kebutuhan, kepentingan dan aspirasi orang orang yang di
pimpinnya di atas dirinya

Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


Motivasi kerja adalah semangat atau hasrat dalam melakukan suatu
pekerjaan. Kinerja merupakan suatu ukuran hasil dalam menentukan
keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan yang sudah
ditentukan sebelumnya.
Didukung pada penelitian yang dilakukan Nila Hotiana (2018)
dengan hasil motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja. Penelitian lain yang dilakukan oleh Djafar (2018) juga
diperoleh hasil bahwa motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja.

Pengaruh Servant Leadership Terhadap Motivasi Kerja


Servant leadership adalah suatu bentuk kepemimpinan yang secara
langsung terlibat dalam setiap pekerjaan karyawannya, penuh tanggung
jawab, dan selalu mementingkan organisasi terlebih dahulu. Motivasi
kerja adalah suatu yang menciptakan dorongan atau semangat untuk
melakukan suatu pekerjaan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Aprilliansya et al. (2018)
yang menunjukkan hasil bahwa servant leadership berpengaruh positif
dan signifikan terhadap motivasi karyawan. Penelitian lain yang
dilakukan oleh Dewi dan Riana (2019) menunjukkan servant
leadership berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja

Pengaruh Servant Leadership Terhadap Kinerja


Servant leadership yaitu gaya kepemimpinan yang melayani berasal
dari hati untuk melayani, servant leadership mampu memicu semangat
kerja pada para karyawan, diakibatkan dari rasa perhatian yang
diberikan oleh atasan pada setiap karyawannya sehingga tercipta
semangat kerja pada karyawan tersebut (Neuschel, 2008). Kinerja
adalah hasil dari apa yang telah dilakukan oleh karyawan berdasar pada
tujuan dari organisasi.
Didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan
(2019) yang menunjukkan hasil bahwa servant leadership berpengaruh
positif signifikan terhadap kinerja karyawan

Indikator Motivasi


Indikator motivasi menurut Noermijati (2013) adalah sebagai
berikut :

  1. Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja yang menyenangkan akan meningkatkan
    semangat serta motivasi kerja pada karyawan.
  2. Gaya Kepemimpinan
    Gaya kepemimpinan yang tepat dalam organisasi dapat
    meningkatkan semangat dan motivasi karyawan.
  3. Kenyamanan dalam Bekerja
    Karyawan yang memiliki motivasi kerja tinggi dapat ditimbulkan
    dari rasa nyaman dalam melakukan pekerjaannya
  4. Kesempatan untuk Belajar
    Kesempatan untuk belajar yang sama dalam sebuah organisasi
    dapat memberikan motivasi lebih untuk peningkatan kinerja
    karyawan

Tori Herzberg


Dalam teori motivasi Herzberg motivasi bertumpu pada kajian
Motivation Factors dan Hygiene Factors. Motivation Factors
yaitu faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja disasarkan
pada pemenuhan kebutuhan seperti penghargaan, pencapaian,
tanggung jawab, serta peluang untuk tumbuh. Sedangkan
Hygiene Factors ditinjau dari bagaimana kondisi kerja,
lingkungan kerja, serta hal sejenisnya yang berpengaruh dalam
mendorong seseorang atau karyawan untuk memiliki semangat
kerja yang tinggi

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow


Dalam teori ini dijelaskan bahwa terdapat lima tingkatan
kebutuhan manusia yaitu FAKHA (Fisiologis, Aman, Kasih
sayang, Harga diri, dan Aktualisasi diri).

  1. Fisiologis
    Faktor fisiologis yaitu kebutuhan fisik seperti makanan,
    tempat tinggal, pakaian dan lain-lain.
  2. Rasa Aman
    Rasa aman yaitu keamanan serta perlindungan dari berbagai
    bahaya baik secara fisik maupun emosional.
  3. Sosial
    Kebutuhan sosial dapat meliputi kasih sayang, persahabatan,
    rasa memiliki, serta penerimaan.
  4. Penghargaan
    Penghargaan meliputi faktor-faktor internal seperti
    pencapaian, kemandirian, harga diri, faktor-faktor secara
    eksternal antara lain yaitu pengakuan, status, serta perhatian.
  5. Aktualisasi Diri
    Aktualisasi diri yaitu dorongan yang dapat membentuk
    seseorang untuk menjadi apa, hal ini meliputi pengembangan
    diri, pertumbuhan, serta pemenuhan diri.

Pengertian Motivasi


Motivasi kerja menurut Apriliansyah (2018) merupakan
kondisi yang dapat mendorong seseorang atau karyawan untuk
melakukan pekerjaannya guna mewujudkan tujuan dari organisasi
yang sudah ditetapkan. Motivasi kerja adalah kondisi yang
mempengaruhi dalam membangkitkan semangat seseorang atau
karyawan dalam mencapai tujuan organisasi (Iskandar dan
Yuhansyah, 2018). Hasibuan (2014) mengatakan bahwa, motivasi
menjadi faktor pendorong karyawan dalam meningkatkan kinerja
karyawan.
Motivasi kerja dapat meningkatkan semangat dan memiliki
energi lebih banyak untuk menghasilkan kinerja yang baik (Joseph,
2015). Karakteristik motivasi memiliki 3 macam yaitu :

  1. Usaha merujuk pada usaha karyawan dalam bekerja dan
    berusaha lebih giat daripada karyawan lain.
  2. Kemauan yang kuat merupakan pertanda bahwa karyawan
    memiliki motivasi kerja tinggi.
  3. Arah dan tujuan hidup membuat karyawan termotivasi dan
    memiliki semangat cukup tinggi dalam bekerja

Indikator Servant Leadership


Indikator dalam pengukuran servant leadership menurut
Sendjaya (2015) adalah sebagai berikut :

  1. Love (Kasih sayang)
    Memperlihatkan bagaimana pemimpin dapat menganggap
    orang lain sebagai alat dalam mencapai tujuan, namun
    dengan memperlakukan orang tersebut sebagaimana
    mestinya.
  2. Empowerment (pemberdayaan)
    Seorang pemimpin mempercayakan kekuasaannya pada
    orang lain serta memperhatikan saran dari karyawan
    sehingga tercipta kerjasama yang baik.
  3. Vision (visi)
    Memperlihatkan pada arah tujuan yang akan diambil oleh
    seorang pemimpin, hal ini dapat menginspirasi setiap
    tindakan dan membentuk arah yang lebih baik.
  4. Humality (kerendahan hati)
    Memperlihatkan pemimpin dalam menunjukkan rasa saling
    menghormati dan mengakui kontribusi dari hasil kerja
    setiap karyawannya.
  5. Trust (kepercayaan)
    Memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin adalah
    orang yang dipilih berdasarkan pada kemampuan, serta
    kelebihan dalam memperoleh kepercayaan tersebut.

Karakteristik Servant Leadership


Menurut Spears (2010) terdapat 10 karakter Servant
Leadership antara lain sebagai berikut:

  1. Listening (Mendengarkan)
    Kepemimpinan yang melayani diharuskan memperkuat
    keterampilan mendengarkan dengan berkomitmen
    mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian.
    Kepemimpinan pelayan berusaha mengidentifikasi keinginan
    kelompok, Mendengarkan juga mencakup dengan suara hati
    seseorang dan berusaha untuk memahami apa yang
    dikomunikasikan tubuh, jiwa, dan pikiran seseorang.
  2. Empathy (Empati)
    Pemimpin pelayan berusaha untuk berempati dengan orang lain,
    karena setiap orang memerlukan untuk dihargai dan diterima
    atas semangat khusus dan unik mereka. Seorang pemimpin
    pelayan akan sukses bila mereka terampil sebagai seorang
    pendengar yang empati.
  3. Healing (Penyembuhan)
    Kekuatan dalam Kepemimpinan pelayan alah satunya adalah
    potensi untuk menyembuhkan diri sendiri maupun orang lain.
  4. Awareness (Kesadaran)
    Kesadaran dapat membantu pemimpin untuk berkomitmen
    dalam menumbuhkan kesadaran pada setiap karyawannya,
    memahami masalah yang berhubungan dengan etika,
    kekuasaan, dan nilai-nilai.
  5. Persuasion (Bujukan)
    Pemimpin pelayan dapat mengandalkan persuasi, bukan otoritas
    posisi dalam pembuatan keputusan. Karakter ini menjadikan
    pemimpin pelayan berusaha untuk meyakinkan orang lain
    bukan melalui paksaan.
  6. Conceptualization (Konseptual)
    Kemampuan pemimpin pelayan dalam melihat suatu masalah
    atau organisasi dari perspektif konseptualisasi berarti seseorang
    diharuskan untuk berpikir diluar kenyataan sehari-hari.
  7. Foresight (Tinjauan ke masa depan)
    Karakteristik pemimpin pelayan dalam memahami pelajaran di
    masa lalu, realita saat ini, serta kemungkinan dan konsekuensi
    dari keputusan yang diambil untuk masa depan.
  8. Stewardship (Penata layanan)
    Kepemimpinan pelayan memainkan peran yang cukup penting
    dalam kepercayaan untuk kebaikan masyarakat yang lebih
    besar, yakni seperti penata layanan yang melayani kebutuhan
    orang lain.
  9. Commitment to the growth of people (Komitmen terhadap
    pertumbuhan orang)
    Pemimpin pelayan memiliki tanggung jawab dalam upaya
    peningkatan pertumbuhan profesional karyawan dan organisasi.
    Dengan menyediakan dana untuk pengembangan pribadi
    maupun profesional, mendorong minat, memastikan setiap
    karyawan ikut andil dalam pengambilan keputusan, dan secara
    aktif membantu setiap karyawan.
  10. Building Community (Membangun Komunitas)
    Membangun komunitas berarti menganalisis strategi dalam
    pembangunan komunitas, membangun komunitas mencakup
    membangun komunitas antar karyawan, pemimpin serta
    bawahan, antara masyarakat dan pelanggan

Pengertian Servant Leadership


Servant Leadership atau Kepemimpinan Pelayan
merupakan model kepemimpinan yang diperkenalkan Robert K.
Greenleaf pada tahun 1970. Suprianto (2016) menyebutkan
Servant Leadership atau biasa disebut kepemimpinan pelayan
adalah kepemimpinan yang mengembangkan karyawan,
memberdayakan karyawan, bertanggung jawab, dan tidak
mementingkan diri sendiri. Pemimpin yang berprinsip melayani
karyawan tanpa adanya imbalan adalah bentuk gaya
kepemimpinan servant leadership, Sendjaya (2015).

Indikator Kinerja


Indikator kinerja karyawan yang diutarakan Mangkunegara
(2016) adalah sebagai berikut :

  1. Kualitas kerja merupakan seberapa baik kinerja yang telah
    dilakukan oleh karyawan
  2. Kuantitas kerja merupakan penilaian kinerja yang dilakukan
    karyawan dalam melakukan pekerjaannya dalam sehari.
    Kuantitas dapat dinila dari kecepatan kerja yang dilakukan
    masing-masing pegawai.
  3. Pelaksanaan tugas merupakan seberapa baik karyawan dalam
    melakukan pekerjaan secara akurat.
  4. Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran pada
    kewajiban karyawan dalam melaksanakan pekerjaan yang
    diberikan.
    Sedangkan indikator kinerja yang diungkapkan oleh
    Sudarmanto (2015) sebagai berikut :
  5. Quality, berkaitan dengan proses dan hasil yang ideal dalam
    memenuhi tujuan.
  6. Quantity, berkaitan dengan jumlah yang dihasilkan.
  7. Timeliness, berkaitan dengan waktu yang diperlukan untuk
    menyelesaikan tugas yang diberikan.
  8. Cost Effectiveness, berkaitan dengan tingkat penggunaan
    sumber daya dalam organisasi (orang, materi, uang,
    teknologi) untuk memperoleh hasil dalam penggunaan
    sumber-sumber organisasi.
  9. Need For Supervision, berkaitan dengan kemampuan setiap
    individu dalam penyelesaian tugas tanpa perlunya
    pengawasan dari pimpinan.
  10. Interpersonal Impact, berkaitan dengan kemampuan
    individu dalam peningkatan kemampuan diri, serta kerja
    sama antar sesama karyawan

Faktor-faktor Kinerja


Faktor-faktor kinerja dipengaruhi oleh tiga faktor
(Mangkunegara, 2016) yaitu :

  1. Faktor Individual
    Faktor individual terdiri atas kemampuan dan keterampilan,
    latar belakang serta demografi.
  2. Faktor Psikologis
    8
    Faktor Psikologis terdiri atas personality, attitude, motivasi,
    dan pembelajaran.
  3. Faktor Organisasi
    Faktor organisasi terdiri atas kepemimpinan, sumber daya,
    serta penghargaan

Dimensi Kinerja


Dimensi Kinerja menurut Edison et, al. (2016) sebagai
berikut :

  1. Target
    Merupakan sebuah indikator dalam pemenuhan jumlah
    kegiatan, atau jumlah pekerjaan yang dihasilkan.
  2. Kualitas
    Kualitas diukur dari bagaimana kualitas pekerjaan yang
    dicapai serta kesempurnaan, keterampilan, dan kemampuan
    setiap karyawan. Hasil pekerjaan diharapkan mendekati
    sempurna atau memenuhi tujuan dari pekerjaan tersebut.
  3. Ketepatan Waktu
    Ketepatan waktu diukur berdasarkan tingkat ketepatan
    terhadap suatu pekerjaan yang terselesaikan yakni dari awal
    pemberian pekerjaan hingga menjadi output. Menyelesakan
    dalam waktu yang ditentukan serta pemanfaatan waktu
    semaksimal mungkin untuk aktivitas lain.
  4. Tata Asas
    Dalam melakukan diperlukan pemenuhan target, kualitas,
    dan ketepatan waktu namun harus dilakukan dengan benar,
    transparan, dan dapat dipertanggung jawabkan dapat menjadi
    salah satu penentu kinerja karyawan

Pengertian Kinerja Karyawan


Kinerja Karyawan yaitu suatu hasil kerja yang diperoleh oleh
seseorang dalam penyelesaian tugas yang dibebankan
kepadanya dan didasarkan pada pengalaman, kecakapan, dan
kesungguhan (Hasibuan, 2013). Menurut Robbins dan Judge
(2016) kinerja merupakan sebuah hasil yang diraih oleh
karyawan pada pekerjaannya dengan kriteria tertentu yang
berlaku dalam setiap pekerjaan. Sari (2015) mendefinisikan
kinerja karyawan merupakan hasil kerja yang diraih oleh
seseorang atau kelompok berdasarkan pada tanggung jawab
karyawan dalam periode tertentu. Kinerja adalah suatu fungsi
kemampuan karyawan dalam menerima pekerjaan, pencapaian
atas pekerjaan yang diberikan, serta interaksi dari tujuan dan
kemampuan kinerja (Nawawi, 2011).

Pengukuran kepuasan pelanggan yang dikemukakan oleh Philip Kotler dan
Susanto (Kotler & Susanto, 2000 ) mencakup empat metode, yaitu:
1) Sistem keluhan dan saran
Perusahaan yang berfokus pada pelanggan pasti akan mempermudah
pelanggannya untuk memberikan masukan atau pendapat serta keluhan yang
mereka katakan. Media atau alat yang di gunakan dalam sistem keluhan dan
saran meliputi kotak saran, kartu komentar, saluran telepon khusus dan lain
sebagainya. Akan tetapi, karena metode ini cenderung pasifmaka sulit akan
sulit mendapatkan gambaran lengkap mengenai kepuasan dan jugaketidak
kepuasan pelanggan. Pelanggan yang tidak puas belum tentuakan
menyampaikan keluhan yang dirasakannya, bisa sajamereka langsung beralih
ke perusahaan atau merek lain dan memutuskan untuk tidak lagi menjadi
pelanggan perusahaan tersebut.
2) Survei kepuasan pelanggan
Survei mengenai kepuasan pelanggan telah banyak dilakukan oleh
perusahaan atau bahkan peneliti. Survei kepuasan pelanggan ini dapat
dilakukan dengan menggunakan media seperti surat pos, telepon maupun
wawancara pribadi. Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini
dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :
a) Direct Reported Satisfaction
Pengukuran survei dilakukan secara langsung melalui berbagai
pertanyaan.
b) Derived Dissatisfaction
Pertanyaan yang di ajukan menyangkut 2 hal utama, yaitu besarnya
harapan pelanggan terhadap atribut tertentu dan besarnyakinerja yang
telah mereka rasakan atau terima.
c) Problem Analysis
Responden yang mana ialah pelangganperusahaan, diminta untuk
mengungkapkan dua hal pokok, yaitu : masalah-masalah yang mereka
hadapi berkaitan dengan penawaran dari pihak perusahaan serta
saransaran perbaikan bagi pihak perusahaan.
d) Importance-Performance Analysis
Pada teknik ini, responden diminta meranking berbagai elemen dari
penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen tersebut.
Selain itu, responden diminta merangking seberapa baik kinerja
perusahaan
dalam masing-masing elemen tersebut.
3) Belanja siluman (Ghost shopping)
Metode ini dilaksanakan dengan cara memperkerjakan beberapa orang (ghost
shopper) untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan potensial produk
perusahaan dan pesaing. Lalu ghost shopper tersebut menyampaikan temuan-
temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan pesaing
berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.
Selain itu para ghost shopper juga datang melihat langsung bagaimana
karyawan berinteraksi dan memperlakukan para pelanggannya.
Tentunya karyawan tidak boleh tahu kalau atasannya baru melakukan
penilaian akan menjadi bias.
4) Analisis pelanggan yang hilang (Lost customer analysis)
Pihak perusahaan berusaha mencari tau masalah pelanggan dengan cara
menghubungi para pelanggannya yang sudah berhenti menjadi pelanggan
atau beralih ke perusahaan lain. Harapkan memperoleh informasi tersebut
10
bagi perusahaan ialah untuk mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka
meningkatkan kepuasan serta loyalitas pelanggan

Customer Satisfaction


Pada dasarnya kepuasan palanggan mencakup perbedaan antara tingkat
kepentingan dan kinerja atau hasil yang dirasakan (Rangkuty, 2002). Terciptanya
kepuasan pelanggan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya hubungan antara
perusahaan dan pelanggan menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi
konsumen untuk melakukan pembelian ulang dan terciptanya loyalitas pelanggan, dan
membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan bagi
perusahaan (Tjiptono, 2004).
Kepuasan adalah tingkat perasaan dimana seseorang menyatakan hasil
perbandingan atas kinerja produk/jasa yang diterima/yang diharapkan (Fatona, 2010).
Jika dirasakan sama atau lebih baik dari yang diharapkan, pelanggan kita katakan puas
(satisfaction). Jika dirasakan lebih rendah dari yang diharapkan, pelanggan dikatakan
tidak puas(Hartono & Wahyono, 2015). Sedangkan menurut Mowen (2001) kepuasan
pelanggan adalah keseluruhan sikap yang ditunjukkan oleh konsumen atas barang dan
jasa setelah mereka memperoleh dan menggunakannya.
Dari beberapa definisi oleh para ahli tersebut, dapat diambil garis besar bahwa
kepuasan pelanggan adalah perasaan seseorang yang menyatakan bahwa nilai yang ia
dapatkan sesuai dengan kebutuhan dan harapannya. Definisi kepuasan pelanggan dapat
diterapkan dalam penilaian kepuasan atau ketidakpuasan terhadap suatu perusahaan
tertentu karena keduanya berkaitan erat dengan konsep kepuasan pelanggan sebagaimana
yang dikemukakan oleh Engel dan Pawitra (1993) dalam Rangkuty (2002)

kunci membangun kepercayaan

Pendekatan yang juga perlu dilakukan untuk membentuk kepercayaan dan
hubungan adalah dengan mendengarkan, yang merupakan kunci membangun
kepercayaan karena tiga faktor penting (Griffin, 2003):
a. Pelanggan lebih cenderung mempercayai seseorang yang menunjukkan rasa
hormat dan apa yang dikatakannya.
b. Pelanggan cenderung lebih mempercayai perusahaan bila perusahaan
mendengarkan dan membantu masalah-masalahnya.
c. Semakin banyak pelanggan memberitahu maksudnya, semakin besar rasa
kepercayaannya.
Menurut Mowen (2002) menyatakan ada tiga jenis kepercayaan yaitu:
a. Kepercayaan Atribut Objek Pengetahuan tentang sebuah objek memiliki atribut
khusus yang disebut kepercayaan atribut objek. Kepercayaan atribut objek
menghubungkan sebuah atribut dengan objek, seperti seseorang, barang atau jasa,
melalui kepercayaan atribut objek, konsumen menyatakan apa yang diketahui
tentang sesuatu hal variasi atributnya.
b. Kepercayaan Manfaat Atribut Seseorang mencari produk dan jasa yang akan
menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhannya dengan kata lain memiliki
atribut yang akan memberikan manfaat yang dapat dikenal. Hubungan antara
atribut dan manfaat ini menggambarkan jenis kepercayaan kedua. Kepercayaan
atribut manfaat merupakan persepsi konsumen tentang seberapa jauh atribut
tertentu menghasilkan, atau memberikan manfaat tertentu.
c. Kepercayaan Manfaat Objek Jenis kepercayaan ketiga dibentuk dengan
menghubungkan objek dan manfaatnya. Kepercayaan manfaat objek merupakan
persepsi konsumen tentang seberapa jauh produk, orang atau jasa tertentu yang
akan memberikan manfaat tertentu

Customer Trust


Kepercayaan telah menjadi hal yang penting di dalam keputusan bisnis yang
melibatkan sebuah ketidakpastian dan juga ketergantungan. Bagi seorang konsumen,
untuk membangun kepercayaan dengan retailers informasi tentang sebuah produk harus
diungkapkan dengan benar (Chinomona & Dubihlela, 2014).
Menurut (Salim et al., 2015) Trust (kepercayaan) didefinisikan sebagai dimensi
dari sebuah hubungan yang menentukan suatu tingkat di manasebuah pihak merasa dapat
mempercayai integritas dari janji yang ditawarkan oleh pihak yang lainnya. Kepercayaan
juga timbul dari pengharapan positif terhadap niat atau perilaku partner dimana
keyakinan bahwa partner akan bertanggung jawab dan tidak akan melukai partnernya
(Soleh et al. 2018).
Menurut Mawey Thalia Claudia et al.(2018) Kepercayaan merupakan kesediaan
pelanggan mempercayai atau mengandalkan merek dalam situasi risiko karena adanya
harapan bahwa merek tersebut memberikan hasil positif. Konsumen yang percaya
terhadap suatu perusahaan berarti telah memiliki keyakinan yang tinggi kepada
perusahaan yang pada akhirnya akan membuat konsumen mempertahankan hubungannya
dan tetap menjalin ikatan emosional yang kuat kepada perusahaan.
Kepercayaan memiliki perasn yang penting dalam pemasaran industri. Dinamika
lingkungan bisnis yang cepat memaksa pemasaran perusahaan untuk mencari cara lebih
kreatif dan fleksibel untuk beradaptasi. Untuk tetap bertahan dalam situasi tersebut,
perusahaan akan mencari cara yang kreatif melalui pembentukan hubungan yang
kolaboratif dengan pelanggan (Lau dan Lee, 1999). Kepercayaan dianggap sebagai cara
yang paling penting dalam membangun dan memelihara hubungan dengan pelanggan
dalam jangka panjang.

Kategori experience

Terdapat beberapa kategori pada Customer Experience menurut Robinnete
dan Brand dalam Salim dkk. (2014) yang membagi experience kedalam beberapa
kategori, yaitu:
1) Experience in Product
Experience product merupakan pengalaman yang dirasakan konsumen terhadap
produk atau jasa. Pengalaman merupakan salah satu kekuatan dari produk. Hal ini
mengindikasikan bahwa jika perusahaan memberikan produk atau layanan yang
maksimal kepada konsumen, maka konsumen akan memperoleh pengalaman yang
baik terhadap produk atau jasa yang dikonsumsi.
2) Experience in Environment
Experience in environment merupakan kemampuan perusahaan dalam
memberikan pengalaman keseluruhan terhadap konsumen. Lingkungan usaha
merupakan faktor penting dalam menciptakan pengalaman konsumen. Hal ini
disebabkan karena lingkungan atau tempat usaha adalah sebuah alat untuk
memperkenalkan konsumen kepada keseluruhan pengalaman yang akan dirasakan,
dan juga merupakan pertukaran yang paling mudah untuk dilihat (visible) serta
pertukaran yang interaktif.
3) Experience in Loyalty Communication
Kesempatan terbaik untuk menyenangkan konsumen adalah ketika konsumen
memperoleh pelayanan.
4) Experience in Customer Service and Social Exchanged Experience
merupakan gabungan antara pelayanan yang diberikan perusahaan dengan
harapan konsumen. Karyawan merupkan faktor penting dalam menentukan
pelayanan konsumen, karena karyawan yang berhubngan langsung dengan
konsumen.
5) Experience in Event
Acara-acara yang diadakan perusahaan mampu memberikan pengalaman terhadap
konsumen. Perusahaan dapat mengajak masyarakat berpartisispasi dalam acara
sehingga informasi tentang persuhaan dapat disampaikan jelas kepada konsumen

Customer Experience


Pengalaman memberikan memori atau kenangan tersendiri bagi
konsumen. Kenangan yang positif akan memberikan keuntungan bagi perusahaan,
selain itu konsumen akan menceritakan pengalaman tersebut kepada orang lain
sehingga menarik untuk ikut mengkonsumsi produk atau jasa tersebut
(Prastyaningsih, 2014) Oleh karena itu, menurut (Dirbawanto & Sutrasmawati,
2016) customer experience di sebuah perusahaan tidak hanya melulu tentang para
Pelangganyang sekedar ingin membeli sebuah produk tetapi juga berkaitandengan
suasana di dalam maupun diluar perusahaan atau ritel, kasir, dan bahkan
pelanggan lain.
Menurut Fajarsunarimo & Sumarsono (2014) pengalaman (experience)
yaitu peristiwa pribadi yang terjadi atas respon terhadap beberapa rangsangan.
Menggabungkan lebih dari sekadar pembelian dan konsumsi, serta memengaruhi
pengguna lebih dalam (Fisk, 2007). Sedangkan menurut (Pramudita & Japarianto,
2013) customer experience didefinisikan berasal dari satu set interaksi antara
pelanggan dan produk, perusahaan, atau bagian dari organisasi, yang
menimbulkan reaksi. Pengalaman ini benar-benar pribadi dan menyiratkan
keterlibatan pelanggan pada tingkat yang berbeda (baik secara rasional,
emosional, sensorik, fisik, dan spiritual). Pada dasarnya, customer experience
adalah penciptaan kepuasaan konsumen melalui pengalaman (Salim, Catherine, &
Andreani, 2015). Menurut Fisk (2007) Pengalaman pelanggan (customer
experience) dapat dilihat dari beberapa perspektif. Paling mendasar adalah
pengalaman de facto yang diperoleh pelanggan dari perusahaan atau merek
berdasarkan totalitas interaksi mereka

mengimplementasikan strategi pemecahan masalah dalam customerengagement

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih dan
mengimplementasikan strategi pemecahan masalah dalam customer
engagement :
a. Make it convenient
Usaha pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan
berbagai akses atau chanel yang beragam untuk menambah
kenyamanan customer dalam menyampaikan masalahnya. Dengan
semakin banyak tools atau channel yang ditawarkan oleh
perusahaan atau organisasi, maka semakin mudah bagi customer
untuk menyampaikan complain atau mencari penyelesaian bagi
masalahnya.
a. Make it comfortable
Memperluas keterlibatan customer di dalam memperluas strategi
customer relations dapat dilakukan dengan memberi komunikasi 2
arah dengan menampilkan tambahan audio-visual ketika customer
merasakan atau berinteraksi langsung dengan produk. Dengan
menambah kenyamanan customer ketika mereka berinteraksi
dengan produk/ jasa/ organisasi secara langsung, maka akan
mendorong munculnya perasaan percaya bahwa memang customer
diperlakukan secara layak dan sepatutnya.
b. Make it consistant
Salah satu hal yang dapat mempengaruhi keterlibatan pelanggan
adalah konsistensi dari organisasi atau perusahaan dalam
menyampaikan pesannya dalam implementasi yang diterima dari
pelanggan. Jika perusahaan misalnya telah menjanjikan layanan
servis pelanggan selama 24 jam melalui call center, maka wajib
bagi perusahaan untuk memberikan layanan call center 24 jam
sehingga pelanggan merasa benar-benar diperhatikan oleh sebuah
organisasi atau perusahaan.
c. Make it customized
Di dalam persaingan pasar yang semakin ketat, setiap informasi
mengenai produk yang diterima oleh pelanggan sebaiknya
disesuaikan dengan situasi yang benar-benar sedang dirasakan oleh
pelanggan. Identifikasi kebutuhan pelanggan membawa perusahaan
pada peluang baru untuk memenangkan preferensi pelanggan
terhadap produk atau jasa yang mereka tawarkan. Identifikasi
kapan dan apa yang pelanggan butuhkan, bagaimana cara
berinteraksi yang tepat dengan mereka, servis apa yang biasa
mereka gunakan, dan bagaimana mereka menginginkan informasi
untuk diperoleh melalui pendekatan individual namun dengan
konteks pesan yang tinggi dan relevan.

Customer Engagement


Sashi (2012) menyebutkan bahwa customer engagement (keterikatan
pelanggan) berfokus pada pemuasan pelanggan dengan memberikan nilai
lebih yang unggul daripada pesaing untuk membangun kepercayaan dan
komitmen dalam hubungan jangka panjang.
Customer engagement merupakan suatu bentuk hubungan antara
pelanggan dengan sebuah produk atau jasa. Dengan memiliki engagement
yang baik terhadap produk atau jasa maka pelanggan akan memiliki
sebuah rasa pengakuan terhadap produk atau jasa tersebut, sehingga dapat
menciptakan suatu keunggulan kompetitif karena sebuah keunggulan
harus diakui oleh pelanggan agar bisa benar-benar menjadi sebuah
keunggulan (Andi & Darmayanti, 2016). Customer engagement juga
diartikan sebagai segala usaha untuk melibatkan customer (pelanggan) di
dalam interaksi emosional antara perusahaan dan pelanggannya (Novianti
& Mulyana, 2018) sedangkan menurut (Brodie et al., 2011) customer
engagement adalah keadaan psikologis yang terjadi berdasarkan interaktif,
pengalaman pelanggan terhadap agen/objek (misalkan merek) yang
berfokus dalam hubungan pelayanan.
Brodie (2011) mengidentifikasikan pemicu yang memotivasi
pelanggan untuk berinteraksi dengan sebuah perusahaan akan
mempengaruhi sub-proses dari customer engagement yang terdiri dari (1)
Learning , dikarakteristikkan sebagai kompetensi kognitif yang
mempengaruhi pengambilan keputusan pembelian dan konsumsi, (2)
Sharing, informasi, pengalaman, atau pengetahuan individual di dalam
proses kontribusi aktif pelanggan, (3) Advocating, rekomendasi yang
diberikan oleh pelanggan kepada pihak lain mengenai suatu merek atau
jasa tertentu, (4) Socializing, interaksi antara 2 arah antar pelanggan
dimana mereka memperoleh atau mengembangkan sikap, atensi, sudut
pandang pada sebuah organisasi, dan yang terakhir, (5) Co-Developing,
yang merupakan proses dimana pelanggan berkontribusi di dalam
performance perusahaan atau organisasi dengan membantu dalam
pengembangan produk, jasa, merek, dan arti merek. Bila pelanggan sudah
benar-benar dilibatkan secara aktif, bagaimanapun telah menjadi pondasi
atau dasar bagi hubungan perusahaan dengan pelanggan berdasarkan
kepercayaan dan kesetiaan. Karena pengelolaan akan kepercayaan dan
kesetiaan dapat dilakukan bila pelanggan telah merasa bahwa servis atau
layanan telah memberikan good value kepada mereka terutama dalam
pemecahan masalah yang dihadapi oleh pelanggan. Serta bila pelanggan
telah merasakan pemulihan atau perubahan pelayanan yang buruk
sehingga akhirnya akan meningkatkan komitmen pelanggan yang
membawa pada kepercayaan dan loyalitas (Rangkuti, 2002).

Bauran Promosi (Promotion mix)


Menurut Terence A. Shimp, (2003) Bauran promosi merupakan program
komunikasi permasaran total sebuah perusahaan yang terdiri dari iklan, penjualan
pribadi, promosi penjualan, pemasaran langsung dan hubungan masyarakat yang
dipergunakan perusahaan untuk mencapai tujuan iklan dan pemasarannya.
Dengan melihat dan mengamati keadaan konsumen di pasaran, maka perusahaan
akan berlomba-lomba untuk mengatur strategi yang efektif dalam hal untuk
memasarkan produk yang dimilikinya. Promosi merupakan salah satu kunci umum
dalam strategi pemasaran secara menyeluruh serta dalam upaya memasarkan
produknya melalui saluran yang terdapat pada pemasaran. Dengan demikian
dalam hal aktivitas pemasaran dapat lebih mudah menjalin komunikasi terhadap
calon konsumen yang menjadi targetnya melalui para perantara guna untuk
memperbesar kemungkinan dalam tahap-tahap penjualan yang di rencanakan
secara optimal dapat mencapai tujuan yang dinginkan.
Demi meraih tujuan yang ingin dicapai, maka perusahaan akan melakukan
berbagai tindakan promosi. Adapun menurut Kotler dan Keller 2013 di jalaskan
bahwa bauran promosi memiliki 5 unsur, yaitu :
a. Periklanan (Advertising)
Iklan adalah setiap bentuk presentasi yang bukan dilakukan orang dan
berupa promosi gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor yang telah ditentukan.
Menurut J. Paul Peter dan Jerry C Olson iklan adalah segala sajian informasi
nonpersonal berbayar perihal produk, merek, perusahaan atau toko. Biasanya
iklan memiliki sponsor yang sudah dikenal. Iklan dimaksudkan untuk memengaruhi
afeksi dan kognisi, konsumen evaluasi, perasaan, pengetahuan, makna,
kepercayaan, sikap dan citra konsumen menyangkut produk dan merek.
Menurut Shimp (2003), periklanan didefinisikan sebagai bentuk komunikasi
yang dibayar dan tidak personal, yang digunakan oleh perusahaan untuk
mempromosikan produk, jasa, atau ide melalui media massa seperti televisi, radio,
majalah, surat kabar, dan internet. Tujuan utama dari periklanan adalah untuk
membangun kesadaran merek, menginformasikan target pasar, membujuk
konsumen untuk mencoba produk, dan mengingatkan mereka akan keberadaan
merek. Periklanan merupakan alat yang efektif untuk menjangkau audiens yang
luas dan membangun citra merek yang kuat, meskipun sifatnya yang satu arah
membuat interaksi dengan konsumen menjadi terbatas.
Dalam kegiatan periklanan ini terdapat dua keputusan penting yang harus
diambil yait menentukan iklan yang harus disampaikan kepada pasar yang dituju
dan memilih media yang paling sesuai (Terence A. Shimp, 2003). Periklanan
memiliki lima fungsi utama yaitu:
1) Memberikan informasi (Informing), iklan membuat konsumen sadar (awere)
akan merek-merek baru, mendidik mereka tentang berbagai fitur dan manfaat
merek, serta memfasilitasi pencitraan brand image yang pasif.
2) Mempengaruhi atau membujuk (Persuading), periklanan tidak hanya bersifat
memberi tahu saja, tetapi juga bersifat membujuk terutama kepada pembeli
pembeli potensial, dengan menyatakan bahwa suatu produk adalah lebih baik
darinya. Advertising yang efektif akan mampu membujuk pelanggan untuk
mencoba produk dan jasa yang diiklankan.
3) Menciptakan kesan (Image), sebuah iklan akan mempunyai suatu kesan
tertentu tentang apa yang diiklankannya. Dalam hal ini pemasangan iklan
selalu berusaha untuk menciptakan iklan yang sebaik-baiknya, misalnya
dengan menggunakan warna, ilustrasi, bentuk, dan suasana yang menarik.
Terkadang pembelian sebuah barang tidak dilakukan secara rasional atau
memperhatiakn nilai ekonomisnya, tetapi lebih mendorong untuk
mempertahankan atau meningkatkan gengsi, seperti pembelian mobil, toko,
rumah yang megah dan sebagainya.
4) Memberikan nilai tambah (Adding value), terdapat tiga cara mendasar di mana
perusahaan bisa memberi nilai tambah bagi penawaran-penawaran mereka,
yaitu inovasi, penyempurnaan kualitas, atau mengubah persepsi konsumen.
Advertising memberi nilai tambah pada merek dengan mempengaruhi
persepsi konsumen. Advertising yang efektif menyebabkan merek dipandang
lebih elegan, lebih bergaya, lebih bergengsi, dan lebih bisa unggul dari
tawaran pesaing.
5) Mendampingi (Assisting), upaya-upaya lain dari perusahaan menegani
pemaparan di atas sudah sangat jelas, bahwa keberadaan Advertising
sangatlah penting dalam sebuah perusahaan. Dengan adanya Advertising,
konsumen akan dapat mengidentifikasi kemasan-kemasan produk di toko dan
mengenali nilai produk dengan lebih mudah setelah melihatnya diiklankan di
televisi, koran, majalah, internet, jejaring sosial, kalender, katalog dan
billboard.
b. Promosi penjualan (Sales Promotion)
Promosi penjualan adalah insentif jangka pendek yang dirancang untuk
mendorong tindakan pembelian yang cepat dan langsung. Shimp (2003)
menjelaskan bahwa promosi penjualan mencakup berbagai teknik, seperti kupon,
diskon, sampel produk gratis, kontes, undian, dan program loyalitas. Tujuan dari
promosi penjualan adalah untuk merangsang permintaan secara langsung,
meningkatkan volume penjualan dalam waktu singkat, dan mendorong konsumen
untuk melakukan pembelian secara impulsif.
c. Penjualan Personal (Personal Selling)
Personal selling adalah komunikasi tatap muka antara perwakilan
perusahaan dengan satu atau lebih calon pembeli. Shimp (2003) menekankan
bahwa elemen ini memungkinkan interaksi dua arah yang fleksibel, di mana
penjual dapat langsung menyesuaikan pesan mereka sesuai dengan kebutuhan
dan tanggapan dari pembeli. Keunggulan dari personal selling terletak pada
kemampuannya untuk membangun hubungan jangka panjang, mengatasi
keberatan calon pembeli, dan menutup penjualan secara efektif.
d. Pemasaran Langsung (Direct Marketing)
Pemasaran langsung adalah sistem pemasaran interaktif yang
menggunakan satu atau lebih media iklan untuk menghasilkan respons atau
transaksi yang terukur di lokasi manapun. Menurut Shimp (2003), pemasaran
langsung mencakup telemarketing, direct mail, email marketing, dan online
marketing. Tujuannya adalah untuk menjangkau pelanggan secara individu dan
membangun hubungan yang lebih personal, sering kali dengan menggunakan
basis data pelanggan untuk personalisasi pesan.
Sistem marketing dimana perusahaan berkomunikasi secara langsung
dengan target customer untuk menghasilkan respon atau transaksi. Respon yang
dihasilkan bisa berupa inquiry, pembelian, atau bahkan dukungan. Pemasaran
langsung meliputi penggunaan surat, telepon, faksimil, e-mail, atau internet, untuk
berkomunikasi langsung atau meminta tanggapan atau berdialog dengan
pelanggan tertentu dan calon pelanggan.
e. Hubungan Masyarakat (Public Relations)
Public relations atau hubungan masyarakat adalah upaya untuk membangun
hubungan yang baik dengan berbagai publik perusahaan (stakeholder) melalui
publisitas yang menguntungkan, membangun citra korporat yang baik, dan
menangani atau meliput berita yang tidak menyenangkan. Shimp (2003)
menyatakan bahwa Public relations memiliki kredibilitas yang tinggi di mata publik
karena pesan yang disampaikan sering kali dianggap sebagai berita yang objektif,
bukan iklan yang berbayar. Kegiatan Public relations bisa mencakup konferensi
pers, rilis berita, sponsor acara, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial.
Hubungan masyarakat melibatkan lebih dari sekedar kegiatan yang
dirancang untuk menjual suatu produk atau jasa dan pada saat yang sama
mempengaruhi keputusan pembelian di antara konsumen. Lebih jauh lagi,
program hubungan masyarakat dapat melibatkan beberapa elemen program
promosi tetapi digunakan dengan cara yang berbeda.
Kadangkala publisitas dapat lebih efektif dari iklan karena konsumen dapat
dikatakan telah siap untuk menerima pesan yang disampaikan. Public relations
adalah bentuk-bentuk komunikasi dan informasi tentang perusahaan, produk, atau
merk pemasar yang tidak membutuhkan pembayaran. Publisitas yaitu suatu
bentuk promosi non personal mengenai, pelayanan atau kesatuan usaha tertentu
dengan jalan mengulas informasi/berita tentangnya (pada umumnya bersifat
ilmiah).

  1. Video Promosi
    Kata video berasal dari kata latin, yang berarti ‘saya lihat’. Video adalah
    teknologi pemprosesan sinyal elektronik yang mewakilkan gambar bergerak.
    Aplikasi umum dari teknologi video adalah televisi. Video juga dapat digunakan
    dalam aplikasi teknik, keilmuan, produksi dan keamanan. Istilah video juga
    digunakan sebagai singkatan videotape, perekam video dan pemutar video. Saat
    ini ada dua kategori video, yaitu video analog dan video digital (Hidayat,
    Wandanaya, dan Fadriansyah 2016). Video sendiri dapat terdiri dari berbagai
    macam jenis, ada video animasi, video dokumenter, video pembelajaran dan
    lainnya. Namun terdapat kendala dalam membuat branding menarik dengan video
    yaitu kemampuan dalam mengambil video (shooting) yang tepat, kemampuan
    memisahkan gambar video dengan suara dari video, kemampuan mengemas
    video yang menarik seperti melakukan editing suara dan gambar, melakukan
    dubbing serta menambahkan teks. Kendala lain yang dihadapi adalah teknik
    membuat alur cerita yang menarik sehingga pesan dari branding dapat mudah
    diterima oleh masyarakat luas (Eka Sari et al. 2021).
    Menurut Terence (2003) Video Promosi adalah bentuk penayangan
    informasi yang bersifat audio visual sehingga menjadi kunci mengenai suatu
    merek atau membagikan informasi kepada pelanggan dan konsumen akhir. Jadi
    dapat disimpulkan bahwa video promosi adalah penyampaian informasi yang
    menarik menggunakan media audio visual dengan cara ini kita bisa memberi
    tahukan membujuk dan mempengaruhi pemustaka untuk mengunjungi
    perpustakaan (Astuti Danisa Puji and Desriyeni 2018). Dalam buku (Cahyadi Dian
    dan Tangsi 2023) menjelaskan bahwa Secara umum, video promosi dapat
    diartikan sebagai sebuah bentuk konten pemasaran yang menggunakan media
    video untuk mempromosikan produk atau layanan kepada konsumen dengan cara
    yang efektif dan menarik. Definisi ini sejalan dengan perkembangan teknologi dan
    tren pemasaran yang semakin canggih dan beragam. Video promosi juga
    merupakan salah satu bentuk komunikasi pemasaran yang memanfaatkan media
    audio-visual dalam format video. Tujuannya adalah memperkenalkan produk atau
    jasa kepada konsumen secara menarik dan efisien. Umumnya, video promosi
    dibuat menggunakan teknologi produksi video, lalu disebarkan melalui platform
    digital atau media sosial guna menjangkau audiens yang lebih luas. Adapun
    tahapan perencanaan Video promosi, sebagai berikut:
    Menurut Kotler dan Keller (2016, 559), tahapan perencanaan video promosi
    harus dimulai dengan pemahaman yang mendalam tentang produk atau layanan
    yang ditawarkan, target pasar, dan tujuan kampanye pemasaran. Selanjutnya,
    tahapan perencanaan yang perlu dilakukan antara lain pemilihan pesan yang ingin
    disampaikan, pemilihan jenis dan gaya video, serta menentukan budget dan
    jadwal produksi (Cahyadi Dian dan Tangsi 2023).
    a. Pra Produksi
    Tahapan awal sebelum dilaksanakannya produksi video. Tahapan ini
    merupakan tahap yang sangat penting karena tahapan ini semua langkah-langkah
    perencanaan untuk produksi video dilakukan. Dalam tahapan pra produksi ini yang
    harus dilakukan, yaitu:
    1) Menentukan pesan utama atau konsep dalam video yang akan dibuat.
    2) Membuat Storyline yang sesuai dengan metode yang digunakan dan
    menyusun naskah narasi dangan skenario yang jelas dan lengkap.
    3) Membuat ilustrasi visual per adegan untuk memberikan gambaran teknis
    kepada tim produksi (kamera, suara, grafis, dll).
    4) Menentukan lokasi pengambilan gambar dan menentukan jadwal syuting dan
    timeline produksi secara keseluruhan.
    b. Produksi
    Tahap produksi merupakan pelaksanaan dari seluruh perencanaan yang
    telah disusun pada tahap pra-produksi, dimulai setelah naskah dan Storyline siap
    untuk dijadikan bentuk audio visual. Seluruh kru produksi berkumpul untuk
    melakukan persiapan, di mana sutradara mengarahkan jalannya sesuai adegan
    dan alur produksi, kameramen menyiapkan peralatan kamera serta menentukan
    angle pengambilan gambar, penata lighting mengatur pencahayaan sesuai
    32
    kebutuhan visual, dan penata audio menyiapkan perangkat perekam suara agar
    narasi dan dialog terdengar jelas. Seluruh visual dan audio direkam secara optimal
    dengan konsep video promosi.
    c. Pasca produksi
    Tahap pasca produksi merupakan proses akhir dari pembuatan video
    promosi yang berfokus pada pengolahan seluruh hasil rekaman dari tahap
    produksi agar menjadi tayangan yang utuh, menarik, dan sesuai tujuan promosi.
    Pada tahap ini, dilakukan pemilihan (Footage) terbaik untuk disusun sesuai alur
    narasi yang telah dirancang, serta dilakukan penyuntingan video meliputi
    pemotongan gambar, penambahan transisi, efek visual, teks informatif, dan
    identitas brand seperti logo dan warna khas Marlin Frozen Food. Selain itu, audio
    juga disesuaikan dengan memasukkan narasi, musik latar, serta sound effect
    untuk memperkuat suasana dan memperjelas pesan yang ingin disampaikan.
    Setelah semua elemen visual dan audio berhasil digabungkan secara selaras,
    video kemudian dirender ke dalam berbagai format dan durasi yang sesuai, agar
    bisa diunggah dan dibagikan melalui platform Instagram sebagai media utama
    promosi

Promosi


Philip Kotler (2014;20) mengemukakan promosi sebagai berikut: “Promosi
adalah kegiatan yang menunjuk kepada berbagai aktivitas yang dilakukan oleh
perusahaan untuk mengkomunikasikan kebaikan produknya dan membujuk
beberapa para konsumen sasaran untuk membeli”. Promosi memberitahukan
pembeli atas produk dan jasa yang bersangkutan di pasar, serta meyakinkan
mereka bahwa barang atau jasa tersebut dapat memberikan kepuasan kepada
konsumen sesuai dengan yang mereka inginkan. Karena itu promosi mempunyai
peranan penting dalam manajemen pemasaran guna meningkatkan hasil
penjualan karena tanpa adanya promosi sangatlah sulit untuk dapat meyakinkan
pembeli (Sendianto 2016).
Menurut Sigit (2002: 53) dalam (Farih, Jauhari, dan Widodo 2019) promosi
adalah setiap bentuk komunikasi yang digunakan oleh perusahaan (pemasar)
untuk memberi tahu (informasi), membujuk, atau mengingatkan orang mengenai
produk, jasa, bayangan (image), gagasan (idea) atau keterlibatan perusahaan dan
masyarakat dengan maksud agar orang dapat menerimanya dan melakukan
perbuatan sebagaimana seperti keinginan perusahaan (pemasar). Strategi
promosi menurut Kotler dan Armstrong (2008:74) adalah kreativitas
mengkomunikasikan keunggulan produk serta membujuk pasar sasaran. Dalam
sektor pariwisata strategi promosi ini penting dilakukan karena sektor pariwisata
merupakan industri yang kompetitif. Dalam industri pariwisata yang berkembang
pesat, persaingan menjadi semakin tinggi, sehingga strategi promosi destinasi
wisata semakin penting peranannya.
Menurut Unonongo, Warouw, dan Tulung (2015) menjelaskan bahwa
promosi berfungsi untuk mendapatkan perhatian calon pembeli, maksudnya
perhatian dari calon pembeli harus di peroleh, karena merukapakan titik awal
proses pengambilan keputusan didalam membeli suatu barang atau
menggunakan suatu jasa. Selain itu, menciptakan dan menumbuhkan interest
pada diri calon pembeli. Perhatian yang sudah diberikan oleh seseorang mungkin
akan dilanjutkan pada tahap berikutnya atau berhenti. Maksud dari pernyataan
tahap berikut ini adalah timbulnya rasa tertarik dan rasa tertarik ini yang menjadi
fungsi utama dari kegiatan promosi.
Menurut Listyawati, Manajemen, dan Ypk (2016) Tujuan utama dari promosi
adalah menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk, serta mengingantkan
pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Secara rinci
ketiga tujuan promosi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut (Tjiptono, 1996):
a. Menginformasikan
Menginformasikan pasar mengenaik produk baru, memperkenalkan cara
pemakaian yang baru dari produk, menyampaikan perubahan harga kepada
pasar, menjelaskan cara kerja produk, menginformasikan jasa-jasa yang
disediakan, meluruskan kesan yang salah, mengurangi ketakutan atau
kekhawatiran pembeli, membangun citra perusahaan.
b. Membujuk pelanggan sasaran
Membentuk pilihan merek, mengalihkan pilihan ke merek lain, mengubah
persepsi pelanggan terhadap atribut produk, mendorong pembeli untuk
belanja saat itu juga, mendorong pembeli untuk menerima kunjungan
salesman.
c. Mengingatkan
Mengingatkan pembeli bahwa produk yang bersangkutan dibutuhkan dalam
waktu dekat, mengingatkan pembeli akan tempat-tempat yang menjual produk
perusahaan, membuat pembeli tetap ingat walaupun tidak ada kampanye
iklan, menjaga agar ingatan pertama pembeli jatuh pada produk perusahaan.
Promosi merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan
untuk memperkenalkan produk atau jasa kepada konsumen dengan tujuan
membentuk pemahaman, menumbuhkan ketertarikan, serta mendorong terjadinya
perubahan sikap positif terhadap produk tersebut. Melalui promosi yang efektif,
konsumen tidak hanya dikenalkan pada keberadaan produk, tetapi juga diarahkan
untuk memahami manfaat dan keunggulannya. Proses ini secara bertahap
diharapkan dapat membangkitkan minat, menciptakan rasa suka, menumbuhkan
keyakinan terhadap kualitas produk, hingga akhirnya mendorong keputusan
pembelian

Indikator Customer Engagement


Dalam implementasinya, menurut Tinggi dkk. (2021) ada lima dimensi untuk
mengukur indikator customer engagement, yaitu :
1) Enthusiasm (Antusiasme)
Yakni menggambarkan tingkat dari kegembiraan serta ketertarikan pelanggan
pada sebuah merek.
2) Attention (Perhatian)
Yakni tingkat antusias pelanggan pada sebuah merek.
3) Absorption (Penyerapan)
Yakni mencerminkan suatu kondisi membuat pelanggan senang dengan
menuangkan ketertarikannya pada sebuah merek.
4) Interaction (Interaksi)
Yakni menggambarkan hubungan antara pelanggan dengan sebuah merek
ataupun dengan pelanggan yang lain serta.
5) Identification (identifikasi)
Menggambarkan rasa kesatuan dari pelanggan terhadap sebuah merek.

Dimensi Customer engagement


Menurut Brodie dkk., (2013) ada 3 dimensi Customer Engagement yaitu
sebagai berikut:
1) Kognitif
Keterlibatan kognitif tidak sekadar terbatas pada kesadaran (awareness),
melainkan mencakup proses mental yang lebih dalam dan terstruktur. Ini adalah
tahap di mana konsumen secara aktif memproses informasi yang mereka terima
dari suatu merek. Keterlibatan ini ditunjukkan ketika konsumen menaruh perhatian
penuh pada pesan merek, berupaya memahami konten yang disajikan, dan
membentuk persepsi atau pengetahuan baru berdasarkan informasi tersebut.
Dalam konteks pemasaran digital, aspek kognitif dapat dilihat dari seberapa
intensif konsumen mencari detail produk, membandingkan informasi dengan
sumber lain, dan mencerna pesan inti yang ingin disampaikan oleh merek. Hasil
dari proses ini adalah terbentuknya pemahaman yang lebih akurat dan terperinci
mengenai identitas, keunggulan, atau nilai yang ditawarkan oleh suatu merek. Sifat
konsumen yang terlibat secara aktif, serta mengalami proses kognitif yang
berkelanjutan. Konsumen juga menaruh perhatian serta terlarut dalam suatu
brand.
2) Emosional
Keterlibatan emosional adalah fondasi dari hubungan jangka panjang antara
konsumen dan merek. Dimensi ini lebih dari sekadar perasaan senang, tetapi
mencakup ikatan afektif yang kuat seperti rasa percaya, kebanggaan, dan koneksi
pribadi. Ketika konsumen merasakan keterlibatan emosional, mereka cenderung
mengembangkan loyalitas dan komitmen yang lebih dalam, yang membuat
mereka menjadi kurang sensitif terhadap harga atau tawaran dari pesaing. Dalam
konteks komunikasi visual seperti video, aspek ini sangat dipengaruhi oleh
elemen-elemen kreatif seperti narasi cerita, musik, visual, dan nada yang
digunakan, yang mampu membangkitkan empati, nostalgia, atau perasaan positif
lainnya, sehingga menciptakan resonansi emosional yang kuat. Konsumen yang
mengalami kebahagiaan secara intrinsik, mereka antusias dan bergairah dalam
menanggapi suatu perilaku dari merek atau perusahaan.
3) Perilaku
Aspek perilaku adalah manifestasi paling nyata dari dua dimensi
sebelumnya. Ini mengacu pada tindakan fisik dan interaksi yang dilakukan
konsumen sebagai respons terhadap merek. Keterlibatan ini mencakup spektrum
yang luas, mulai dari tindakan sederhana hingga tindakan yang lebih signifikan.
Contohnya termasuk interaksi di media sosial (seperti likes, shares, dan
komentar), mengunjungi situs web, mencari ulasan produk, hingga tindakan krusial
seperti melakukan pembelian, pembelian berulang, dan merekomendasikan
produk (word-of-mouth) kepada orang lain. Keterlibatan perilaku menunjukkan
bahwa konsumen tidak hanya pasif menerima pesan, tetapi juga menjadi
partisipan aktif yang berkontribusi pada visibilitas dan pertumbuhan merek.
Partisipasi dari konsumen, sifat konsumen yang bersemangat menanggapi suatu
brand atau perusahaan serta terjadinya brand activation.
Dari dimensi-dimensi tersebut, customer engagement mencakup aspek
kognitif, emosional, dan perilaku yang saling berkaitan dalam membentuk
keterlibatan konsumen terhadap suatu merek. Secara kognitif, konsumen secara
aktif memproses informasi dan menunjukkan perhatian yang tinggi terhadap
brand. Secara emosional, konsumen merasakan keterikatan secara intrinsik
melalui perasaan antusias, senang, dan gairah terhadap interaksi dengan brand.
Sementara itu, secara perilaku (behavioral), keterlibatan tercermin dari partisipasi
aktif konsumen dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan brand, termasuk
brand activation. Ketiga dimensi ini menunjukkan bahwa customer engagement
tidak hanya melibatkan pikiran dan perasaan, tetapi juga tindakan nyata dari
konsumen.

Definisi Customer Engagement


Customer Engagement merupakan upaya untuk menciptakan, membangun,
dan meningkatkan hubungan dengan pelanggan yang merupakan strategi penting
dalam mempertahankan performa bisnis di masa depan (Brodie dkk. 2013).
Customer Engagement berfokus pada pelanggan dan kebutuhan mereka sesuai
dengan konsep pemasaran. Dengan adanya customer engagement, suatu
perusahaan fokus kepada kepuasan pelanggan dengan memberikan mereka nilai
lebih dari pesaing untuk membangun kepercayaan dan komitmen pada hubungan
jangka panjang (Sashi 2012).
Customer Engagement adalah konstruksi perilaku yang berjalan di luar
perilaku pembelian dan dapat juga dikatakan sebagai manifestasi perilaku
pelanggan terhadap merek yang dihasilkan dari motivasi seperti aktivitas dari
mulut ke mulut, rekomendasi, membantu pelanggan lain, blogging dan menulis
ulasan (van Doorn et al., 2010). Customer Engagement adalah keadaan motivasi
yang terjadi berdasarkan co-creative, interaktif, pengalaman pelanggan dengan
agen / objek fokus (misalnya merek) dalam fokus hubungan layanan (Brodie et al.,
2011) Dalam definisinya ini Customer Engagement terjadi di bawah serangkaian
kondisi yang bergantung pada konteks tertentu yang menghasilkan tingkat
Customer engagement yang berbeda dan ada proses pertukaran relasional yang
dinamis dan berulang yang bersama-sama menciptakan nilai. (Ashari dan Sitorus
2023)

Instagram


Instagram adalah sebuah aplikasi untuk berbagi foto dan video yang dapat
dilihat oleh Followers dari pengunggah foto tersebut dan dapat saling memberikan
komentar antara sesamanya. Nama Instagram sendiri berasal dari insta dan gram,
“insta” yang berasal dari kata instant dan “gram” yang berasal dari telegram, dapat
disimpulkan dari namanya yang berarti menginformasikan atau membagikan foto
kepada orang lain dengan cepat. Salah satu yang unik dari Instagram adalah foto
yang berbentuk persegi, ini terlihat seperti kamera Polaroid dan kodak Instamatic
bukan seperti foto umumnya yang menggunakan rasio 4:3.Instagram dapat
diartikan menampilkan dan menyampaikan informasi berupa foto, gambar atau
video secara cepat lewat aplikasi yang dapat diakses oleh orang lain (Kertamukti
Rama 2015).
Instagram merupakan salah satu media digital yang memiliki fungsi untuk
pengambilan foto guna berbgai informasi terhadap pengguna. Banyak orang yang
memanfaatkan instagram sebagai sarana untuk melakukan bisnis dengan
memasarkan produk melalui efek gambar yang dapat menarik pembeli.
Menurut (Antasari dan Pratiwi 2022) Instagram memiliki fitur-fitur yang akan
mempermudah dalam menggunakan aplikasi tersebut, sebagai berikut:
a. Profil dan Bio
Instagram kembali melakukan update design. Update ini yang mengubah
tampilan profile dan bio di Instagram. Instagram kini makin fokus pada followers
dan following dan mempersingkat bio, padahal dulu tampilan Instagram lebih fokus
ke informasi di bio profile. Bahkan sekarang kita juga diuntungkan dengan bio
profile yang lebih simple.
b. Unggah foto dan video
Filter untuk foto dan video memungkinkan pengguna untuk mengunggah foto
maupun video yang kemudian akan muncul ke halaman utama pengikut/followers.
Pada fitur unggah foto dan video pengguna Instagram dapat memilih foto atau
video yang akan diunggah dari galeri atau album yang terdapat pada
smarthphone, atau dapat langsung menggunakan camera yang tersedia pada fitur
tersebut.
c. Fitur Instagram Stories
Fitur Instagram Stories di Indonesia, fitur Instagram terbaru ini memang
menjadi fitur favorit untuk promosi. Menurut Instagram, ada 400 juta Instagram
Stories yang diunggah. Indonesia pun disebut sebagai Instagram Stories creator
terbesar di dunia. Pelaku usaha biasanya akan membuat konten stories semenarik
mungkin dan memanfaatkan data yang masuk dalam Instagram Insight.
d. Caption
Caption adalah tulisan atau keterangan yang berkaitan dengan foto atau
video yang diunggah. Jika pengguna menulis keterangan foto yang menarik,
pengguna akan dapat menarik minat followers untuk membaca keseluruhan isi
keterangan atau caption tersebut.
e. Komentar
Fitur komentar terletak di bawah foto atau video, tepatnya bagian tengah.
Fungsinya adalah tentu saja untuk mengomentari postingan atau unggahan foto
atau video yang dirasa menarik. Pengguna juga dapat menggunakan fitur aerobba
atau tanda (@) dan memasukkan nama pengguna yang dimaksud dalam
komentar tersebut, agar komentar tersebut dapat dibaca oleh penggunatersebut.
f. Hastags
Hashtag merupakan simbol tanda pagar yang digunakan di Instagram untuk
membantu mengelompokkan foto atau video yang diunggah, sehingga
memudahkan pengguna lain dalam menemukan konten berdasarkan tema atau
topik tertentu. Dalam kegiatan pemasaran produk, penggunaan hashtag pada
setiap unggahan berfungsi agar konten tersebut tergabung dengan postingan lain
yang memiliki topik serupa, sehingga jangkauan dan visibilitas terhadap audiens
yang lebih luas dapat meningkat.
g. Like
Suatu fitur Instagram yang bertujuan untuk memberi like atau tanda suka
apabila followers teratrik dengan unggahan foto atau video pengguna dengan
menekan emoticon berbentuk love yang berada di kanan bawah foto atau video.
Selain itu, juga men-tap dua kali pada foto atau video yang di unggah pengguna.
h. Activity
Satu lagi fitur Instagram juga yang keren adalah your activity, fitur ini yang
berisi informasi durasi penggunaan anda ketika mengakses aplikasi Instagram,
dengan fitur Activity, pengguna jadi tahu berapa lama waktu yang dihabiskan untuk
bermain Instagram.
i. Direct Message (DM)
Fitur Direct Message merupakan suatu fitur yang memungkinkan pengguna
untuk mengirim pesan, foto, atau video kepada satu orang ataupun beberapa
orang.
j. Geotagging (Tag Lokasi)
Geotagging adalah memasukkan lokasi foto yang diunggah ke halaman
utama. Sehingga followers dapat mengetahui lokasi di mana foto tersebut diambil.
k. Story Archive
Instagram sebelumnya telah memperkenalkan fitur Archive di mana
postingan yang sudah sempat di upload bisa disimpan ke dalam sebuah arsip
pribadi. Dengan fitur tersebut anda bisa secara non-permanen menghapus foto
atau video ke dalam arsip pribadi dan bisa sewaktu-waktu mengembalikannya lagi
seperti semula

Strategi Promosi


Strategi adalah bagian yang penting dalam sebuah perusahaan untuk
mencapai tujuan yang efektif. Suatu perusahaan harus mampu mengatasi
masalah atau hambatan yang timbul dari dalam maupun luar perusahaan. Menurut
A. Halim (2015) Strategi adalah suatu cara dimana sebuah lembaga dan
organisasi mencapai suatu tujuannya sesuai dengan peluang serta ancaman pada
lingkungan eksternal yang akan dihadapi serta kemampuan dan sumber daya
(Soekarman dan Veronica 2021). Adapun manfaat strategi yaitu, sebagai sarana
untuk mengkomunikasikan tujuan organisasi dan menentukan jalan mana yang
harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Dalam penjelasan diatas dapat dikatakan
suatu perusahaan atau organisasi dalam membuat strategi pasti memiliki manfaat
yang berdampak signifikan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan seperti,
bagaimana organisasi tersebut berjalan, perusahaan agar tetap bertahan,
menganalisis dan mengatasi permasalahan, serta tetap unggul dari para
kompetitor. Karena untuk meningkatkan keuntungan perusahaan bukan hanya
menerapkan strategi dengan cepat tetapi strategi tersebut harus dipikirkan dan
direncanakan dengan matang (Zidhan Nurul dkk. 2024).
Menurut Mintzberg (Mundir Abdillah 2017), konsep strategi itu sekurang-
kurangnya mencakup lima arti yang saling terkait, dimana strategi adalah suatu:
a. Perencanaan untuk semakin memperjelas arah yang ditempuh organisasi
secara rasional dalam mewujudkan tujuan-tujuan jangka panjang.
b. Acuan yang berkenaan dengan penilaian konsisten ataupun inkonsistensi
perilaku serta tindakan yang dilakukan oleh organisasi.
c. Sudut yang diposisikan oleh organisasi saat memunculkan aktivitasnya.
d. Suatu perspektif yang menyangkut visi yang teritegritasi antar organisasi
dengan lingkungannya yang menjadi btas bagi aktivitasnya.
e. Rincian langkah taktis organisasi yang berisi informasi untuk mengelabui para
pesaing.
Dalam rangka mewujudkan sasaran, tujuan dan misi organisasi maka suatu
organisasi menggunakan bentuk atau tipe strategi tertentu. Menurut Koten dalam
(Salusu, 2008) tipe-tipe strategi meliputi:
a. Corporate Strategy (strategi organisasi)
Strategi ini berkaitan dengan perumusan misi, tujuan, nilai- nilai, dan inisiatif-
inisiatif strategis yang baru.
b. Program Strategy (strategi program)
Strategi ini lebih memberi perhatian pada implikasi-implikasi strategis dari
suatu program tertentu.
c. Resource Support Strategy (strategi pendukung sumber daya)
Strategi ini memusatkan perhatian pada memaksimalkan pemanfaatan
sumber-sumber daya esensial yang tersedia guna meningkatkan kualitas
kinerja organisasi.
d. Institutional Strategy (strategi kelembagaan)
Fokus dari strategi institusional ialah mengembangkan kemampuan
organisasi untuk melaksanakan inisiatif-inisiatif strategi
Seluruh partisipan dalam analisis dan pemilihan strategi harus memiliki
informasi audit eksternal dan internal di hadapan mereka. Informan ini, ditambah
dengan pernyataan misi instansi, akan membantu para partisipan mengkristalisasi
di dalam benak mereka sendiri berbagai strategi yang mereka yakini paling
bermanfaat bagi instansi. Kreativitas seharusnya didorong dalan proses pemikiran
ini. Strategi-strategi alternatif yang diajukan oleh partisipan harus dipertimbangkan
dan didiskusikan dalam satu atau serangkaian rapat. Berbagai strategi tersebut
dapat disusun dalam bentuk tertulis. Ketika semua strategi yang masuk akal yang
diindentifikasikan oleh partisipan telah disampaikan dan dimengerti, strategi –
strategi tersebut hendaknya diperingkat berdasarkan daya tarik masing- masing
partisipan, proses ini akan menghasilkan sebuah daftar prioritas strategi terbaik
yang mencerminkan pemikiran seluruh anggota kelompok (David, 2010: 323).
Strategi promosi adalah rencana untuk penggunaan yang optimal dari
elemen-elemen promosi: periklanan, hubungan masyarakat, penjualan pribadi,
dan promosi penjualan (Hedynata dan Radianto 2016). Strategi promosi bertujuan
dalam peningkatan volume penjualan. Kesesuaian minat konsumen dengan
konten promosi yang dijalankan akan menimbulkan permintaan terhadap suatu
produk. Peningkatan permintaan inilah yang akan mendorong proses produksi
yang diakibatkan adanya kenaikan penjualan (Khairani dan Pratiwi 2018)

Kualitas hubungan berpengaruh pada keterikatan pelanggan


Pelanggan yang merasakan hubungan yang positif dan kuat dengan
penyedia jasa akan memberikan kontribusi terhadap upaya penjualan dan
pemasaran perusahaan melalui kebiasaan untuk tetap berpegang pada perusahaan
yang dituju oleh Romero (2017:5). Selama Kualitas hubungan menjadi mediasi
yang penting dalam membentuk Keterikatan, Sangat sulit untuk menerima bahwa
terdapat kelonggaran atas ikatan kuat antara kedua pelaku bisnis dan sejatinya
perusahaan tidak akan bisa memposisikan Keterikatan. Dalam penelitian yang
dilakukan oleh Kim and Han (2008) dalam Itani et al. (2019:5) menyatakan bahwa
Relationship Quality berpengaruh positif pada Customer Engagement. Sebab sulit
untuk menerima bahwa tanpa adanya hubungan yang kuat antara pelanggan dan
perusahaan, karena hal itu mampu menciptakan adanya keterikan pelanggan

Kepuasan Pelanggan berpengaruh terhadap Keterikatan Pelanggan


Kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan adalah dua hasil perilaku
penting yang berusaha dicapai oleh setiap organisasi jasa. Banyak penelitian
menunjukkan bahwa memberikan nilai superior yang diperoleh dari pengalaman
lengkap dengan layanan adalah salah satu cara paling penting untuk menghasilkan
kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan (Cronin dkk; Yang dan Peterson;
Gallarza dan Saura; Kesari, dan Atulkar, 2016) dalam El-Adly (2019:2) Dengan
kata lain, Kepuasan pelanggan merupakan mekanisme penting dari keterikatan
pelanggan adanya kepuasan pelanggan akan mampu menekankan niat perilaku
penting dari keterikatan pelanggan. Selain itu, keterikatan pelanggan berdampak
pada kinerja perusahaan menjadi semakin positif atau tidaknya, karena dalam
pemberian jasa kepuasan dan pengalaman menjadi alasan mengapa pelanggan
merasa puas atas pengalaman yang didapatkan. Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Busalim et al, (2020) Darwin Dhasan and Mayuree Aryupong (2019) dan
Itania et al, (2019) Customer Satisfaction berpengaruh positif terhadap Customer
Engagement

Nilai yang Dirasakan Pelanggan berpengaruh terhadap KeterikatanPelanggan


Nilai yang Dirasakan Pelanggan merupakan opini atau identifikasi seorang
pelanggan dalam hal penilaian atas manfaat produk yang telah digunakan, penilaian
ini dapat berupa sifat subjektif maupun multidimensi hal ini selaras denga napa
yang dikatakan dalam penelitian sebelumnya. Menurut El-Adly (2019:2) Nilai yang
Dirasakan Pelanggan merupakan penilai yang mengidentifikasi sifat subjektif dan
multidimensi dari nilai yang dirasakan pelanggan. Berdasarkan definisi ini,
mengkonseptualisasikan nilai yang dirasakan pelanggan dalam konteks hotel
sebagai konstruksi multidimensi yang terdiri dari lebih banyak dimensi daripada
sekadar harga dan kualitas (yaitu, dimensi kognitif). Selain itu Nilai yang Dirasakan
Pelanggan juga mencakup dimensi afektif seperti kepuasan diri, kesenangan
estetika, prestise, transaksi, dan hedonisme. Hal ini sejalan dengan keterikatan
pelanggan karena Keterikatan dianggap sebagai salah satu aspek dari bagaimana
hubungan pelanggan-perusahaan berkembang, selain itu keterikatan pelanggan
secara langsung juga berkontribusi pada perfoma perusahaan. Serta, mengikat
pelanggan secara tidak langsung bisa berkontribusi pada kesuksesan bisnis melalui
refensi antar pelanggan, aktifitas yang dipengaruhi oleh sosial, pengetahuan dan
timbal balik yang dikembalikan lagi ke perusahaan Kumar et al. (2017:2). Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Busalim et al, (2020) Dhasan & Aryupong, (2019)
dan Itania et al, (2019) Customer Preceived Value berpengaruh positif terhadap
Customer Engagement

Indikator Keterikatan Pelanggan

Adapun Indikator menurut Gallup dalam jurnal Itani et al. (2019:2) dapat
diukur pada konteks strategi perolehan Keterikatan Pelanggan pada adalah sebagai
berikut:
a. Pembelian pelanggan adalah jenis interaksi transaksional yang memiliki efek
langsung pada penjualan dan keuntungan bisnis Baik melalui pembelian
pelanggan atau aktivitas tidak langsung lainnya, pelanggan yang terlibat
sangat penting untuk kinerja dan pertumbuhan perusahaan di masa depan
b. Rujukan pelanggan adalah dapat meningkatkan hasil pemasaran dan
penjualan perusahaan dan mengarah ke basis pelanggan yang lebih puas
karena beberapa manfaat yang ditargetkan untuk pelanggan saat ini yang
berpartisipasi dalam program tersebut
c. Pengaruh sosial pelanggan adalah strategi influence-marketing yang
berfokus terutama pada persuasi dan kepatuhan dalam lingkungan sosial.
Pelanggan berbeda dalam cara berbagi pengalaman, informasi, dan
pengetahuan tentang penawaran perusahaan untuk mempengaruhi perilaku
orang lain melalui saluran online dan offline.
d. Berbagi pengetahuan pelanggan adalah membuat aktivitas berbagi informasi
dan umpan balik menjadi lebih mudah dengan memberikan umpan balik
Dan berikut merupakan Indikator-indikator Keterikatan Pelanggan menurut Van
Tonder & Petzer (2018:6)
a. Identifikasi: mengacu pada sejauh mana pelanggan akan berhubungan
dengan objek perikatan, penelitian ini mungkin menyangkut penyedia
asuransi jangka pendek. Pelanggan yang mengidentifikasi dengan penyedia
layanan dapat melihat kritik dari penyedia sebagai penghinaan pribadi
kepada pelanggan dan memandang diri mereka sebagai bagian dari
perusahaan. Konsumen ini juga cenderung mengidentifikasi diri mereka
dengan kesuksesan
b. Antusiasme: menyangkut sejauh mana konsumen bersemangat tentang
fokus keterikatan. Diyakini bahwa konsumen yang antusias tertarik dan
bersemangat tentang penyedia
c. Perhatian: mengukur tingkat fokus pelanggan terhadap objek keterikatan.
Pelanggan yang berfokuspada penyedia mungkin ingin mempelajari lebih
lanjut tentangnyamemperhatikan aspek apa pun yang terkait dengannya,
dan berkonsentrasi secara ekstensif pada penyedia
d. Penyerapan dianggap sebagai keadaan perhatian yang lebih progresif.
Pelanggan yang asyik dengan penyedia layanan akan melupakan hal lain
saat berinteraksi dengan pelanggaan, mungkin terbawa oleh suasana dan
merasa waktu berlalu dengan cepat ketika berurusan dengan penyedia
mungkin sangat terlibat dengan penyedia layanan dan merasa bahwa akan
sulit untuk menjauh dari pelanggan

Keterikatan Pelanggan


Menurut Kumar et al. (2016:505) dalam Itani et al., (2019:2) Customer
Engagement adalah sebuah konsep abstrak dan didefinisikan sebagai konstruksi
atas pembelian Kembali (Repurcasing) yang terdiri dari empat dimensi,
diantaranya: Customer Purchases, Customer References, Customer Influence dan
Customer Knowledge/ Feedback. Kumar (2008) dalam Itani et al. (2019:2)
berpendapat bahwa akan sangat menentukan reputasi perusahaan akan diunggulkan
ataupun diremehkan oleh pelanggan, jika Keterikatan Pelanggan tidak
diperhitungkan. Melalui laporan aktual maupun peramalan pembelanjaan dimasa
depan, Keterikatan pelanggan secara langsung berkontribusi pada performa
perusahaan. Serta, mengikat pelanggan secara tidak langsung bisa berkontribusi
pada kesuksesan bisnis melalui refensi antar pelanggan, aktifitas yang dipengaruhi
oleh sosial, pengetahuan dan timbal balik yang dikembalikan lagi ke perusahaan
Kumar et al. (2017:2).
Berdasarkan pada respon pelanggan atas item yang didapatkan , Gallup dalam
Itani et al. (2019:1) pada penelitiannya menjelaskan bahwa Keterikatan Pelanggan
dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Fully Engaged, yang artinya pelanggan terikat secara emosional dan loyal
    secara rasional, Pelanggan tersebut akan berusaha keras untuk menemukan
    produk yang disukai oleh mereka bahkan pelanggan tersebut tidak menerima
    produk penggantinya. Dapat dikatakan seperti duta merek tersebut dan dapat
    dikatakan sebagai pelanggan yang bernilai dalam konteks bisnis.
  2. Indiffrent, dapat diartikan sebagai pelanggan yang secara emosional dan
    rasional berada di posisi netral, pelanggan ini menyikapi penawaran apapun
    dengan cara ambil atau tinggalkan tanpa memperhitungkan apapun terhadap
    produk maupun layanan.
  3. Actively Disagaged, diartikan sebagai pelanggan yang terlepas secara
    emosional terhadap produk maupun layanan yang ditawarkan perusahaan.
    Pelanggan pada tipe ini akan dengan mudah berganti merek, berperilaku
    antagonis pada penawaran yang diberikan bahkan mereka sangat peka terhadap
    kekurangan produk atau layanan yang ditawarkan.
    Pada sektor hospitality, pelanggan hotel dengan kategori fully engaged
    menyumbang lebih dari 40% per tahun dibandingkan pelanggan dari kategori
    actively disengaged.
    Penelitian terdahulu mensugesti bahwa Keterikatan Pelanggan memegang
    pengaruh yang cukup disukai dalam hasil dari kunci. Demikian, Keterikatan
    Pelanggan menjelaskan bahwa untuk mendorong reputasi jangka panjang Verhoef
    et al. (2010) dalam (Itani et al., 2019:2) dan membantu menurunkan pengurangan
    pelanggan Chathoth et al. (2016), Hollebeek (2011) dalam Itani et al. (2019:2)
    Restaurant, Café, dan Hotel sangat membutuhkan dorongan Keterikatan Pelanggan.
    Romero (2017) dalam jurnal Itani et al. (2019:2) untuk keuntungan yang dipegang
    atas mengoperasikan kegiatan pada sektor pelayanan. So et al. (2014) dalam Itani
    et al. (2019:2).
    Kumar et al. (2017:2) mendefinisikan Customer Enggagement sebagai
    mekanisme penambahan nilai pelanggan ke perusahaan, baik melalui kontribusi
    langsung maupun tidak langsung, sedangkan menurut sumber Van Doorn et al.
    (2010:253) dalam jurnal Itani et al., (2019) berpendapat bahwa Keterikatan
    Pelanggan adalah manifestasi perilaku pelanggan terhadap merek atau perusahaan,
    di luar pembelian, yang dihasilkan dari penggerak motivasi.
    Hasil Keterikatan pelanggan dari penggerak motivasi dan dimanifestasikan dalam
    perilaku yang diambil pelanggan terhadap perusahaan Van Doorn et al. (2010).
    Perilaku keterikatan termasuk retensi pelanggan, pembaruan, dan pembelian
    35
    berulang seperti yang disarankan oleh 63% pemasar yang disurvei oleh Marketo.
    Enam Teori keterikatan memberikan konseptualisasi multidimensi Customer
    Engagement untuk menangkap kompleksitas yang terkait dengan konstruksi
    tersebut Kumar et al.(2017). Konseptualisasi ini mencakup: Pembelian Pelanggan,
    Rujukan Pelanggan, Pengaruh Sosial Pelanggan, dan Penyebaran Pengetahuan
    Pelanggan, sejalan dengan teori sebelumnya yang menyetujui konseptualisasi
    multidimensi dari konstruksi Customer Engagement misalnya, Brodie et al. (2011),
    So et al. (2014). CE mencakup non-transaksional pelanggan (relasional) dan
    interaksi transaksional dengan perusahaan, pelanggan lain, dan atau prospek Kumar
    et al. (2017:2)

Kualitas Hubungan


Kualitas Hubungan adalah tingkat evaluasi keseluruhan pelanggan pada
kekuatan hubungan antara pelanggan dan penyedia layanan (TP Liang et al.,
2011:74) dalam Busalim et al., (2020:12)
Menurut Kumar dan Pansari (2016) dalam Itani et al. (2019:4) teori keterikatan,
mediator relasional diantaranya adalah kepercayaan, komitmen, dan kepuasan
disarankan untuk mendorong tingkat Keterikatan Pelanggan yang lebih tinggi.
Dalam hal ini, Kualitas Hubungan dapat mendorong pelanggan untuk terlibat
dengan perusahaan. Kepuasan didefinisikan sebagai “tingkat kepuasan yang
menyenangkan dari pemenuhan yang berhubungan dengan konsumsi” Oliver
(1997:13) dalam Itani et al. (2019:4) sedangkan kepercayaan adalah keyakinan
pelanggan bahwa penyedia layanan online baik hati dan jujur dalam Busalim et al.,
(2020:12) Janji terjadi ketika pembeli dan penjual saling percaya untuk
menyelesaikan transaksi, dan penting untuk melakukan upaya terbaik dalam
mempertahankan transaksi.” Morgan dan Hunt (1994: 23) dalam Itani et al.
(2019:4) Pelanggan banyak cenderung mengerahkan upaya dan terlibat dalam
kegiatan yang mendukung perusahaan jika mereka tidak memiliki hubungan yang
berkualitas. Pansari dan Kumar (2017) dalam Itani et al. (2019:4) berpendapat
bahwa “pelanggan menjadi terlibat dengan perusahaan saat menjalin hubungan
berdasarkan kepercayaan dan komitmen memuaskan dan memiliki ikatan
emosional.” Meskipun efek Kualitas Hubungan mungkin memiliki pada
Keterikatan Pelanggan, tinjauan literatur ekstensif Hollebeek (2011) dalam Itani et
al. (2019:4) tidak menemukan studi yang relevan yang memeriksa kemungkinan
hubungan antara kedua konstruksi

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan adalah dua hasil perilaku
penting yang berusaha dicapai oleh setiap organisasi jasa. Banyak penelitian
menunjukkan bahwa memberikan nilai superior yang diperoleh dari pengalaman
lengkap dengan layanan adalah salah satu cara paling penting untuk menghasilkan
kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan (Cronin dkk; Yang dan Peterson;
Gallarza dan Saura; Kesari, dan Atulkar, 2016) dalam El-Adly (2019:2)
Kepuasan pelanggan umumnya telah dipelajari dalam penelitian sebelumnya
sebagai konstruk unidimensi yang mengukur kepuasan secara keseluruhan
organisasi layanan sebagai hasil dari penilaian keseluruhan dari semua interaksi dan
titik kontak dengan organisasi layanan Yang & Peterson (2004) Chen & Tsai (2008)
dalam El-Adly (2019:2)

Nilai yang Dirasakan Pelanggan


Nilai yang Dirasakan Pelanggan diidentifikasi sebagai penilaian
keseluruhan atas manfaat produk, yang dibatasi oleh presepsi atas apa yang diterima
dan apa yang diberikan. Zeithaml dikutip dalam Itani et al., (2019:3)
Definisi ini mengidentifikasi sifat subjektif dan multidimensi dari nilai yang
dirasakan pelanggan. Berdasarkan definisi ini, mengkonseptualisasikan nilai yang
dirasakan pelanggan dalam konteks hotel sebagai konstruksi multidimensi yang
terdiri dari lebih banyak dimensi daripada sekadar harga dan kualitas (yaitu,
dimensi kognitif). Ini juga mencakup dimensi afektif seperti kepuasan diri,
kesenangan estetika, prestise, transaksi, dan hedonisme. Memang, menempatkan
konstruksi multidimensi lebih mencerminkan pengalaman perhotelan lengkap yang
dapat diperoleh tamu selama mereka tinggal di hotel dan karenanya memprediksi
hasil perilaku mereka seperti kepuasan dan loyalitas pelanggan daripada konstruksi
unidimensi yang hanya berfokus pada nilai uang atau kualitas. Dalam penelitian ini,
nilai kepuasan diri hotel didefinisikan sebagai peningkatan suasana hati tamu hotel
dan kemampuan untuk bersantai dengan berkurangnya ketegangan dan stres akibat
berada di hotel dan menggunakan fasilitasnya El-Adly (2019:2)
Mirip dengan pemasaran hubungan lainnya faktor yang diselidiki dalam penelitian
ini, bahwa Nilai yang dirasakan pelanggan juga dapat membantu dalam
memberikan kontribusi untuk keunggulan kompetitif yang berkelanjutan untuk
perusahaan jasa Dootson et al. (2016:13). Penelitian menunjukkan bahwa emosi
positif secara langsung mempengaruhi keterikatan pelanggan tetapi tidak
memfasilitasi hubungan dari kepercayaan dan komitmen. Dengan demikian,
efeknya tampaknya tidak tergantung pada faktor lain.dan direkomendasikan agar
manajer mengalokasikan sumber daya ke titik kontak yang lebih memuaskan dan
menyenangkan dengan pelanggan sebagai cara untuk meningkatkan keterikatan
pelanggan. Sementara keterikatan pelanggan (sebagai indikator kinerja utama itu
sendiri) dapat membenarkan pengeluaran sumber daya tersebut, seperti yang kita
lihat dalam hasil, hal itu terkait dengan aspek lain dari kinerja perusahaan

Indikator Cinta terhadap Pekerjaan


Cinta pekerjaan sering kali menjadi sumber utama semangat kerja
seseorang. Ketika seseorang mencintai pekerjaannya, mereka cenderung memiliki
energi positif, antusiasme, dan motivasi intrinsik yang tinggi, hal tersebut
merupakan elemen kunci dari semangat kerja. Semangat kerja yang tinggi bisa
memperkuat dan memelihara perasaan cinta terhadap pekerjaan, menciptakan
siklus positif yang saling menguatkan. Menurut Purwanto (dalam Adha, 2022),
indikator untuk mengukur semangat kerja yakni:

  1. Antusiasme, merujuk pada tingkat energi dan motivasi yang ditunjukkan
    individu dalam melaksanakan tugas. Karyawan yang antusias biasanya
    lebih aktif, bersemangat, dan memiliki sikap positif terhadap pekerjaan dan
    lingkungan kerja. Orang yang mencintai pekerjaannya cenderung
    memperlihatkan antusiasme yang tinggi.
  2. Partisipasi, memperlihatkan sejauh mana karyawan terlibat dalam kegiatan
    atau proses di tempat kerja. Ini mencakup kontribusi dalam diskusi, proyek
    tim, dan inisiatif organisasi. Karyawan yang tinggi partisipasinya cenderung
    lebih terhubung dengan tim dan tujuan perusahaan. Cinta terhadap
    pekerjaan sering kali mendorong seseorang untuk berpartisipasi aktif dalam
    pekerjaannya.
  3. Inisiatif, mengacu pada kemampuan karyawan untuk mengambil tindakan
    proaktif tanpa perlu disuruh. Karyawan yang memiliki inisiatif seringkali
    mencari cara untuk memperbaiki proses, menyelesaikan masalah, dan
    berkontribusi lebih dari sekadar tugas yang diberikan. Kecintaan terhadap
    pekerjaan bisa memotivasi seseorang untuk mengambil inisiatif dalam
    pekerjaannya.
  4. Kreativitas, memperlihatkan kemampuan untuk berpikir di luar batasan dan
    menghasilkan ide-ide baru. Karyawan yang kreatif bisa memberikan solusi
    inovatif untuk masalah dan berkontribusi pada pengembangan produk atau
    layanan yang lebih baik. Mencintai pekerjaan sering kali mendorong
    seseorang untuk berpikir kreatif dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
  5. Loyalitas, mencakup komitmen dan kesetiaan karyawan terhadap perusahaan.
    Karyawan yang loyal tidak hanya memperlihatkan dedikasi yang tinggi tetapi juga
    berusaha untuk mencapai tujuan jangka panjang perusahaan dan seringkali
    mempertahankan hubungan baik dengan rekan kerja. Cinta terhadap pekerjaan
    biasanya berkorelasi dengan tingkat loyalitas yang tinggi terhadap pekerjaan dan
    organisasi.

Dimensi Cinta terhadap Pekerjaan


Karyawan yang mencintai pekerjaan mereka cenderung merasa lebih
bahagia di tempat kerja, dan kebahagiaan tersebut pada gilirannya memperkuat
perasaan cinta terhadap pekerjaan. Kombinasi dari keduanya bisa menciptakan
suasana kerja yang produktif, positif, dan memuaskan. Prasetyo et al. (2017)
menjelaskan kebahagiaan kerja bisa dilihat dalam dua hal, yakni pleasure yang
mengacu pada perasaan positif maupun negatif yang dialami seseorang di tempat
kerja. Ini mencerminkan bagaimana karyawan merasakan kepuasan, kebahagiaan,
atau ketidaknyamanan dalam lingkungan kerja mereka, dan activation yang
mengacu pada bagaimana energi atau tingkat aktivitas seseorang mempengaruhi
niat atau intensi mereka untuk bertindak. Ini mencerminkan seberapa aktif dan
energik seseorang merasa dalam melaksanakan tugas dan menghadapi tantangan di
tempat kerja. Karyawan yang mencintai pekerjaan juga cenderung bersemangat
dalam menjalani pekerjaannya dan membawa suasana positif pada perusahaan.
Menurut Alex S. Nitisemito (dalam Syafrizal, 2021) menyatakan bahwasanya
semangat kerja memiliki empat dimensi yakni naiknya produktivitas karyawan,
tingkat absensi rendah, labour turnover, berkurangnya kegelisahan.
Aulia et al. (2019) mengidentifikasi empat dimensi utama dalam konsep
cinta pekerjaan:

  1. Kegairahan (Zeal): Dimensi ini mencerminkan sikap positif terhadap
    pekerjaan, meliputi perasaan senang, kenikmatan dalam bekerja,
    penghayatan mendalam, kenyamanan, serta hasrat (passion) yang kuat
    terhadap pekerjaan. Kegairahan menggambarkan antusiasme dan semangat
    individu dalam menjalankan tugasnya.
  2. Kedekatan Emosi (Closeness): Aspek ini merujuk pada hubungan
    emosional yang erat antara individu dengan pekerjaannya, serta dengan
    lingkungan sosial di tempat kerja. Ini mencakup rasa keterikatan dan
    koneksi personal dengan tugas-tugas dan rekan kerja.
  3. Kesetiaan (Loyalty): Kesetiaan dalam konteks ini berkaitan dengan
    kepatuhan, komitmen, dan dedikasi terhadap pekerjaan. Ini memperlihatkan
    kesiapan individu untuk tetap setia pada pekerjaannya dan organisasinya,
    bahkan dalam situasi yang menantang.
  4. Ketulusikhlasan (Heartiness): Dimensi ini ditandai dengan sikap tidak
    mementingkan untung rugi secara berlebihan, kesabaran dalam menghadapi
    tantangan, dan kecenderungan untuk tidak mengeluh. Individu dengan
    ketulusikhlasan tinggi cenderung memberikan lebih dari yang dituntut dan
    memprioritaskan pekerjaan di atas kepentingan pribadi lainnya

Pengertian Cinta terhadap Pekerjaan


Menurut Bygrave (2020), cinta terhadap pekerjaan merupakan suatu proses
keterikatan antara pekerja dengan pekerjaannya. Seseorang yang bekerja dengan
rasa cinta terhadap pekerjaan akan lebih bersemangat dan tidak akan merasa
terbebani selama mengerjakan tugasnya. Rasa cinta yang dimiliki seseorang
terhadap pekerjaannya bisa menghasilkan energi yang tinggi, merangsang
keinginan untuk menghasilkan karya-karya baru, serta senantiasa meningkatkan
kualitas pekerjaan dan prestasi kerja.
Kecintaan pada pekerjaan yakni faktor krusial yang mempengaruhi tingkat
keterikatan kerja seseorang terhadap pekerjaannya. Cinta sendiri merupakan
hubungan emosional timbal balik yang positif antara pekerja dan pekerjaannya,
mempunyai makna yang dalam, dan bercirikan pengorbanan yang ikhlas dalam
melaksanakan pekerjaan (Perwira et al., 2021). Menurut Aulia et al. (2019),
kecintaan terhadap kerja mempunyai korelasi yang kuat dengan keterikatan kerja.
Kecintaan seseorang terhadap pekerjaan akan memberikan energi yang luar biasa,
kerinduan untuk berkreasi baru, dan motivasi untuk meningkatkan kualitas kerja
secara terus menerus. Oleh karena itu, semakin intens hubungan seseorang dengan
pekerjaan, maka semakin tinggi keterikatan kerja yang dimiliki individu tersebut

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Robbin & Judge (dalam Zahrudin et al., 2023), ada lima indikator
kepuasan kerja mencakup berbagai aspek yang penting untuk mempengaruhi
kepuasan kerja karyawan terhadap pekerjaannya, antara lain:

  1. Work itself (pekerjaan itu sendiri), mengacu pada sejauh mana pekerjaan itu
    sendiri menarik, menantang, dan memberikan kesempatan untuk belajar dan
    berkembang. Ini juga meliputi variasi tugas yang dimiliki karyawan dalam
    melakukan pekerjaannya.
  2. Pay (upah), berkaitan dengan jumlah kompensasi finansial yang diterima
    karyawan dan sejauh mana hal ini dianggap adil dibandingkan dengan
    pekerjaan yang dilakukan. Ini juga mencakup tunjangan dan manfaat lain
    yang diterima.
  3. Promotion (promosi), merujuk pada kesempatan untuk kemajuan karir
    dalam organisasi. Ini meliputi kejelasan jalur karir, keadilan dalam proses
    promosi, dan frekuensi promosi yang tersedia.
  4. Supervision (pengawasan), berhubungan dengan kualitas pengawasan yang
    diterima karyawan dari atasan langsung mereka. Ini mencakup kompetensi
    teknis supervisor, dukungan, dan gaya kepemimpinan.
  5. Co-Workers (rekan kerja), mengacu pada tingkat kepuasan karyawan
    dengan rekan kerja mereka. Ini meliputi hubungan interpersonal, kerja sama
    tim, dan atmosfer sosial di tempat kerja

Dimensi Kepuasan Kerja


Menurut Sutrisno (dalam Ramadhan & Marinda (2019) menyatakan
kepuasan kerja dipengaruhi oleh berbagai elemen dan dimensi yang terkait.
Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap kepuasan kerja meliputi:

  1. Aspek psikologis mencakup berbagai elemen yang berkaitan dengan
    kondisi mental dan kejiwaan pegawai. Hal ini meliputi tingkat ketertarikan
    terhadap pekerjaan, rasa nyaman dalam menjalankan tugas, cara pandang
    terhadap tanggung jawab kerja, serta potensi dan kemampuan yang dimiliki
    oleh setiap karyawan.
  2. Dimensi sosial berkaitan dengan kualitas hubungan dan komunikasi yang
    terjalin dalam lingkungan kerja. Hal ini mencakup dinamika interaksi antar
    sesama rekan kerja, serta pola komunikasi antara bawahan dengan pimpinan
    dalam struktur organisasi perusahaan.
  3. Faktor fisik mengacu pada berbagai aspek yang berhubungan dengan
    kondisi material dan kesehatan karyawan. Ini mencakup karakteristik
    pekerjaan, manajemen waktu kerja dan istirahat, ketersediaan peralatan
    kerja, kondisi lingkungan kerja seperti tata ruang, temperatur, pencahayaan,
    dan sirkulasi udara, serta faktor-faktor personal seperti status kesehatan dan
    usia karyawan.
  4. Komponen finansial terkait dengan sistem penghargaan dan jaminan
    kesejahteraan yang diberikan kepada karyawan. Aspek ini mencakup
    struktur dan besaran gaji, program jaminan sosial, berbagai bentuk
    tunjangan, fasilitas penunjang, serta kesempatan pengembangan karir
    melalui sistem promosi yang diterapkan perusahaan

Pengertian Kepuasan Kerja


Ramadhan & Marinda (2019) menyatakan bahwasanya kepuasan kerja
ialah indikator penting yang mengukur seberapa efektif organisasi dalam memberi
feedback pada karyawan yang telah mencapai tujuan organisasi. Pranindhita &
Wibowo (2020), mendefinisikan kepuasan kerja sebagai persepsi individu tentang
pencapaian kepuasan dalam dan luar pekerjaan, serta kemampuan menerima nilai-
nilai dalam pekerjaan. Faktor yang mempengaruhinya meliputi pemenuhan
kebutuhan dan pencapaian harapan dalam pekerjaan. Adapun Mora et al. (2020),
Kepuasan kerja dilihat sebagai pandangan umum terhadap pekerjaan,
mencerminkan sejauh mana harapan dan penghargaan yang diterima sesuai.
Kepuasan kerja dianggap mampu meningkatkan komitmen karyawan terhadap
pekerjaannya. Secara keseluruhan, kepuasan kerja merupakan konsep multidimensi
yang mencerminkan kesesuaian antara harapan, pengalaman, dan penghargaan
dalam konteks pekerjaan, dengan implikasi signifikan terhadap kinerja dan
komitmen karyawan.

Indikator Work Life Balance


Puryana & Ramdani (2022) menyatakan work life balance sebagai
keseimbangan tanggung jawab kerja dan aspek kehidupan personal. Menutip
McDonald dan Bradley (dalam Puryana & Ramdani, 2022) indikator utama work
life balance ada tiga, yaitu:

  1. Time balance, mencerminkan alokasi waktu yang memadai untuk pekerjaan
    dan keluarga.
  2. Involvement balance, menunjukkan keterlibatan psikologis dan komitmen
    yang seimbang antara keluarga dan juga pekerjaan.
  3. Satisfaction balance, merujuk pada tingkatan kepuasan yang seimbang
    dalam aktivitas pekerjaan dan keluarga

Dimensi Work Life Balance


Fisher, Bulger, dan Smith (dalam Pranindhita & Wibowo, 2020)
mengidentifikasi empat dimensi:

  1. Work Interference with Personal Life (WIPL), mengukur besarnya
    pekerjaan mempengaruhi personal kehidupan.
  2. Personal Life Interference with Work (PLIW), menilai bagaimana
    kehidupan personal berdampak pada performa kerja.
  3. Personal Life Enhancement of Work (PLEW), mengevaluasi cara kehidupan
    personal yang positif meningkatkan kinerja kerja.
  4. Work Enhancement of Personal Life (WEPL), menganalisis bagaimana
    pekerjaan dapat memperbaiki kualitas hidup personal.

Pengertian Work Life Balance


Menurut Lumunon et al. (2019) work life balance yakni kemampuan
karyawan dalan pengelolaan waktu antara tanggung jawab kerja dan kebutuhan
pribadi. Ini yakni kondisi di mana karyawan bisa menyeimbangkan dengan baik
antara pekerjaan dan aspek kehidupan pribadi, termasuk keluarga. Karyawan yang
berhasil mencapai keseimbangan ini biasanya memperlihatkan produktivitas dan
performa yang lebih tinggi. Mereka juga cenderung merasa lebih puas, bahagia, dan
kreatif, berkat dukungan dari lingkungan sosial mereka seperti keluarga dan teman,
serta dukungan dari manajemen perusahaan.
Menurut Rifadha (2019), merujuk pada kemampuan seseorang ketika
menjalankan pekerjaan dan kehidupan pribadi secara seimbang, yang berkontribusi
pada kebahagiaan mereka. Konsep ini menghubungkan aspek pekerjaan dengan
rasa bahagia, waktu luang, kehidupan keluarga, dan perkembangan spiritual.
Wijaya (2020) memperluas definisi ini, membuktikan bahwasanya work life
balance mencakup tingkat keterlibatan dan kepuasan individu dalam hal waktu
serta keterkaitan psikologis, baik dalam peran kerja maupun kehidupan pribadi
(termasuk hubungan dengan pasangan, keluarga, teman, dan masyarakat), tanpa
adanya konflik antara kedua peran tersebut

Indikator Komitmen Kerja Karyawan


Menurut Lincoln & Kalleberg (dalam Kurniawan & Prasetyo, 2022)
terdapat tiga indikator komitmen organisasional, yakni:

  1. Kesetiaan karyawan, mengacu pada tingkat loyalitas dan dedikasi yang
    ditunjukkan oleh karyawan terhadap organisasi. Ini mencerminkan
    keinginan pekerja menjadi bagian organisasi untuk waktu panjang.
    Kesetiaan bisa ditunjukkan melalui:
    a. Keinginan untuk tetap bekerja di organisasi meskipun ada tawaran
    pekerjaan lain,
    b. Kesediaan untuk mendukung tujuan dan nilai-nilai organisasi,
    c. Konsistensi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab,
    d. Kemauan untuk membela organisasi dari kritik eksternal.
  2. Keterlibatan karyawan, merujuk pada sejauh mana karyawan berpartisipasi
    aktif dalam kegiatan organisasi dan kontribusi mereka terhadap pencapaian
    tujuan organisasi, mencakup:
    a. Partisipasi aktif dalam pengambilan keputusan,
    b. Inisiatif dalam mengusulkan ide-ide baru untuk perbaikan,
    c. Kesediaan untuk bekerja melebihi ekspektasi normal,
    d. Keterlibatan dalam kegiatan sukarela atau proyek tambahan yang
    menguntungkan organisasi,
    e. Kolaborasi efektif dengan rekan kerja dan tim.
  3. Kebanggaan karyawan pada organisasi, mencerminkan perasaan positif dan
    rasa hormat yang dimiliki karyawan terhadap organisasi mereka. Ini
    memperlihatkan sejauh mana karyawan mengidentifikasi diri mereka
    dengan organisasi dan merasa bangga menjadi bagian darinya. Indikator ini
    bisa dilihat melalui:
    a. Kemauan untuk merekomendasikan organisasi sebagai tempat kerja
    yang baik kepada orang lain,
    b. Berbicara positif tentang organisasi kepada pihak eksternal,
    c. Perasaan bangga ketika menyebutkan tempat kerja mereka,
    d. Antusiasme dalam mempromosikan produk atau layanan organisasi,
    e. Identifikasi diri yang kuat dengan misi dan nilai-nilai organisa

Dimensi Komitmen Kerja Karyawan


Meyer & Allen (dalam Farla et al., 2019) menjelaskan terdapat tiga dimensi
organisasional commitment:

  1. Komitmen afektif muncul ketika seorang pekerja merasakan ikatan
    emosional yang kuat dan keinginan untuk terus menjadi anggota organisasi.
    Ini memperlihatkan bahwasanya karyawan memilih untuk bertahan di
    organisasi karena mereka merasa nilai dan tujuan organisasi tepat pada diri
    mereka sendiri. Tingkat keterlibatan individu dalam organisasi sering
    dijadikan sebagai indikator komitmen afektif.
  2. Komitmen kontinuan berkaitan dengan loyalitas karyawan terhadap
    organisasi yang didasari oleh pertimbangan kerugian jika meninggalkan
    organisasi. Karyawan yang berkomitmen kontinuan yang tinggi cenderung
    berkeinginan kuat agar tetap menjadi bagian dari organisasi, karena mereka
    merasa akan mengalami kerugian signifikan jika memutuskan untuk keluar.
  3. Komitmen normatif bersumber dari nilai dan tujuan internal karyawan.
    Kesadaran akan pentingnya komitmen terhadap organisasi menjadi
    pendorong utama bagi karyawan untuk bertahan. Komitmen ini menyatakan
    perasaan kewajiban moral agar selalu bekerja dalam organisasi. Karyawan
    dengan komitmen normatif yang kuat merasa bertanggung jawab terhadap
    organisasi merujuk dari norma dan nilai yang mereka anut, bukan semata-
    mata karena keuntungan pribadi

Pengertian Komitmen Kerja Karyawan


Menurut Farla et al. (2019), komitmen kerja menggambarkan kondisi
individu yang mempunyai tekad dan kemauan yang kuat guna mempertahankan
keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Hal ini mencerminkan kebanggaan
karyawan terhadap pekerjaan mereka serta keinginan untuk menjadi bagian dari
organisasi. Karyawan yang berkomitmen akan memberikan kontribusi terbaik dan
memperlihatkan dedikasi tinggi dalam melaksanakan tugas mereka, karena mereka
merasa terhubung secara emosional dan terlibat dengan organisasi.
Suhardi et al. (2021) menjelaskan komitmen merupakan ikatan emosional
antara pekerja terhadap pekerjaannya yang berkembang dari rasa percaya dan
kemauan untuk mencapai tujuan bersama, serta keinginan untuk tetap menjadi
bagian dari Perusahaan, meskipun menghadapi tantangan atau situasi yang tidak
menyenangkan, memperlihatkan ketahanan dan loyalitas mereka. Adapun menurut
Mora et al. (2020), komitmen kerja merupakan dimensi perilaku yang
mencerminkan kecenderungan karyawan untuk mendukung dan terlibat dalam
organisasi. Komitmen kerja terdiri dari dua komponen utama, yakni sikap dan
keinginan untuk bertindak. Sikap meliputi identifikasi, keterlibatan, dan loyalitas
terhadap organisasi, sedangkan keinginan untuk bertindak berhubungan dengan
kesiapan karyawan untuk berusaha dan berperilaku tepat pada tuntutan organisasi.
Karyawan yang berkomitmen kerja yang kuat akan memperlihatkan kesetiaan dan
dedikasi, berusaha keras untuk memenuhi tuntutan organisasi

Work Engagement Theory


Peneliti ini mempergunakan teori keterikatan kerja (work engagement
theory) yang pada awalnya dijelaskan oleh William Kahn pada tahun 1990, namun
kemudian mengalami pengembangan signifikan oleh Schaufeli dan Bakker. Kahn
(1990) mendefinisikan keterikatan kerja sebagai kondisi di mana anggota
organisasi menjalankan peran mereka secara fisik, kognitif, dan emosional.
Schaufeli dan Bakker (2004) memperluas konsep ini, menggambarkannya sebagai
keadaan pikiran positif yang memungkinkan ekspresi diri dalam pekerjaan (Sugito
& Setiabudhi, 2017).
Teori ini berasumsi bahwasanya karyawan yang terikat secara positif
dengan pekerjaannya akan memperlihatkan performa yang optimal, berdedikasi,
lebih produktif, dan lebih berkomitmen pada organisasi. Schaufeli dan Bakker
(dalam Anggraini & Mulyana, 2022), menguraikan keterikatan kerja melalui tiga
dimensi utama: Vigor (semangat), dimensi ini mencerminkan tingkat energi yang
tinggi dan semangat selama bekerja. Karyawan yang memiliki vigor tinggi
memperlihatkan kegigihan dan mental yang kuat dalam menghadapi tantangan, dan
kemauan untuk menginvestasikan usaha ekstra dalam pekerjaan mereka. Mereka
memiliki stamina emosional dan kognitif yang memungkinkan mereka untuk
bertahan dalam situasi kerja yang kompleks. Dedication (dedikasi), mencerminkan
keterlibatan psikologis yang mendalam dengan pekerjaan. Karyawan yang
memiliki dedikasi tinggi memperlihatkan rasa bermakna yang kuat dalam peran
mereka, antusiasme terhadap tugas mereka, dan kebanggaan yang mendalam
terhadap kontribusi mereka. Dedikasi juga mencakup perasaan terinspirasi oleh
pekerjaan dan tantangan yang dihadapi. Absorption (keterlibatan), merujuk pada
keadaan konsentrasi penuh dan fokus mendalam dalam pekerjaan. Karyawan yang
mengalami absorption tinggi seringkali memperlihatkan tingkat fokus yang intens,
seolah-olah “tenggelam” dalam aktivitas kerja mereka.
14
Teori ini muncul sebagai respons terhadap fokus Wilmar Schaufeli dkk
mengenai job burnout yang berdampak terhadap disengagement dengan
mengemukakan konsep dasar keterikatan kerja, disaat bersamaan Arnold Bakker
dkk mengembangkan model Job Demand-Resources atau tuntutan pekerjaan (job
demands) dan sumber daya pekerjaan (job resources) yang menjelaskan faktor-
faktor yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan dan kinerja. Selanjutnya
Schaufeli dan Bakker mengembangkan sebuah instrument yang dikenal dengan
nama UWES (Utrecht Work Engagement Scale) yang mengukur keterlibatan kerja
dalam tiga dimensi yakni vigor, dedication, dan absorption (Manurung et al.,
2021).
Merujuk dari uraian, peneliti mempergunakan teori keterikatan kerja
menurut Schaufeli & Bakker (2004). Teori ini mendasari hubungan antara individu
dan pekerjaannya, dimana karyawan dengan tingkat keterikatan kerja tinggi
cenderung superior dalam performa kerja, produktivitas yang meningkat, dan
komitmen organisasional yang kuat. Mereka juga cenderung mengalami kepuasan
kerja lebih tinggi yang bisa meningkatkan rasa cinta karyawan terhadap
pekerjaannya serta mengalami keseimbangan dalam kehidupan pekerjaan maupun
pribadi sehingga mendapatkan kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Teori keterikatan kerja Schaufeli & Bakker (2004) memiliki relevansi dan
hubungan yang signifikan dengan berbagai konsep penting dalam psikologi
organisasi dan manajemen sumber daya manusia:

  1. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan personal adalah faktor
    penting yang memengaruhi kesejahteraan karyawan. Karyawan yang
    memiliki keterikatan kuat dengan pekerjaannya biasanya lebih efektif dalam
    mengelola waktu dan energi, yang berkontribusi pada peningkatan kualitas
    hidup di luar lingkungan kerja sehingga mereka seringkali menghadapi
    konflik peran yang lebih sedikit antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan
    pribadi.
  2. Kepuasan kerja adalah hasil langsung dari keterlibatan kerja. Karyawan
    yang merasa bersemangat, terdedikasi, dan terlibat penuh dalam pekerjaan
    mereka cenderung merasa lebih puas dengan pekerjaan tersebut.
    Keterikatan kerja yang tinggi membawa dampak positif terhadap rasa
    kepuasan yang mereka rasakan dalam pekerjaan, baik itu dalam hal
    pengakuan, tantangan yang diberikan pekerjaan, atau pencapaian yang
    diperoleh.
  3. Rasa cinta terhadap pekerjaan sering kali muncul ketika seorang karyawan
    merasa berdedikasi dan terlibat dengan pekerjaan mereka. Ketika karyawan
    merasa bahwa pekerjaan mereka bermakna dan mereka memberikan
    kontribusi yang berarti, mereka akan mengembangkan rasa cinta terhadap
    pekerjaan tersebut.
  4. Keterikatan kerja yang tinggi berkorelasi positif dengan peningkatan
    komitmen. Keterikatan karyawan secara mendalam akan mengembangkan
    ikatan yang lebih kuat dengan organisasi. Mereka akan mengidentifikasi diri
    dengan nilai-nilai dan tujuan perusahaan, loyalitas tinggi, serta
    berkeinginan rendah untuk meninggalkan organisasi

Hubungan Budaya Organisasi dengan Keterikatan Kerja


Faktor yang dapat menumbuhkan engagement yaitu keselarasan
dengan nilai-nilai organisasi, lingkungan kerja yang kondusif , dan sistem
kompensasi dan reward yang berkeadilan. Dua faktor pertama merupakan
faktor-faktor yang lebih terkait dengan budaya, sedangkan faktor terakhir
lebih terkait dengan biaya. Kedua faktor pertama tersebut yang biasanya
tercakup dalam Budaya Organisasi suatu perusahaan (Hermala, 2009).
Penggerak engagement akan berbeda di tiap jenis pekerjaan dan organisasi.
Secara umum terdapat 3 (tiga) kluster utama yang menjadi penggerak
engagement, yaitu :

  1. Nilai-Nilai Organisasi
    Karyawan yang memiliki keselarasan nilai-nilai dengan
    perusahaan akan memiliki keterikatan yang tinggi pula, atau
    dengan kata lain semakin engaged dengan perusahaan. Itulah
    sebabnya Budaya Organisasi yang baik biasanya meletakkan
    dasar filosofi nilai-nilai ideologis atau humanis sebagai
    fondasinya.
    Membangun keselarasan nilai dengan filosofi semacam itu,
    perusahaan akan mampu secara signifikan membangun work
    engagement sehingga karyawan semakin merasa terikat dengan
    perusahaan. Namun, pada praktiknya, menyelaraskan nilai-nilai
    dasar perusahaan dengan individu karyawan bisa dibilang bukan
    pekerjaan yang mudah. Hal ini dikarenakan proses penanaman
    nilai-nilai dasar tersebut ibarat melakukan brainwashing terhadap
    mindset seluruh karyawan, apalagi bagi karyawan lama yang
    sudah bekerja bertahun-tahun sebelum nilai-nilai dasar ini
    dirumuskan. Kuncinya terletak pada kontinuitas dalam
    menanamkan nilai-nilai tersebut ke dalam diri karyawan.
    Hal-hal terkait organisasi yang dapat menjadi penggerak
    work engagement adalah budaya organisasi, visi dan nilai yang
    dianut, brand organisasi. Budaya organisasi yang dimaksud
    adalah budaya organisasi yang memiliki keterbukaan dan sikap
    supportive serta komunikasi yang baik antara rekan kerja.
    Keadilan dan kepercayaan sebagai nilai organisasi juga
    memberikan dampak positif bagi terciptanya work engagement.
    Hal-hal ini akan memberikan persepsi bagi karyawan bahwa
    mereka mendapat dukungan dari organisasi (Mc Bain, 2008,
    dalam Mujiasih, 2012).
  2. Manajemen Kepemimpinan
    Engagement dibangun melalui proses, butuh waktu yang
    panjang serta komitmen yang tinggi dari pemimpin. Untuk itu,
    dibutuhkan kekonsistenan pemimpin dalam mementoring
    karyawan Dalam menciptakan engagement, pimpinan organisasi
    diharapkan memiliki beberapa keterampilan. Beberapa
    diantaranya adalah teknik berkomunikasi, teknik memberikan
    feedback dan teknik penilaian kinerja (McBain, 2007, dalam
    Mujiasih, 2012). Hal-hal ini menjadi jalan bagi manajer untuk
    menciptakan engagement sehingga secara khusus hal-hal ini
    disebut sebagai penggerak employee engagement.
  3. Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja yang kondusif juga sangat berpengaruh
    terhadap engagement karyawan. Menciptakan lingkungan kerja
    yang kondusif berarti menciptakan suatu kondisi dimana
    karyawan merasa nyaman untuk bekerja. Dalam Budaya
    Organisasi, menciptakan lingkungan yang kondusif biasanya
    merupakan bagian dari nilai organisasi yang dikembangkan dari
    filosofi dasarnya.
    Nilai ini biasanya tertuang dalam salah satu prinsip atau
    asas yang mendasari pola interaksi antar sesama karyawan.
    Dengan prinsip-prinsip semacam itu, karyawan diharapkan akan
    menemukan lingkungan kerja yang kondusif. Kenyamanan
    digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id28
    kondisi lingkungan kerja menjadi pemicu terciptanya work
    engagement pada karyawan.
    Ada beberapa kondisi lingkungan kerja yang diharapkan
    dapat menciptakan engagement. Pertama, lingkungan kerja yang
    memiliki keadilan distributif dan prosedural. Hal ini terjadi
    karena karyawan yang memiliki persepsi bahwa ia mendapat
    keadilan distributif dan prosedural akan berlaku adil pada
    organisasi dengan cara membangun ikatan emosi yang lebih
    dalam pada organisasi. Kedua, lingkungan kerja yang melibatkan
    karyawan dalam pengambilan keputusan. Kondisi ini
    mempengaruhi karyawan secara psikologis, mereka menganggap
    bahwa mereka berharga bagi organisasi. Hal ini membuat
    karyawan akan semakin terikat dengan organisasi. Ketiga,
    organisasi yang memperhatikan keseimbangan kehidupan kerja
    dan keluarga karyawan (McBain, 2007, dalam Mujiasih, 2012)

Aspek dalam budaya organisasi


Tujuh hal yang menjadi aspek penting suatu budaya organisasi
menurut Robbins (2002, dalam Mujiasih, 2012) adalah:
a. Inovasi dan pengambilan resiko (Inovation and Risk Taking)
Tingkat daya pendorong karyawan untuk bersikap inovatif, berani
mengambil keputusan dan resiko.
b. Perhatian terhadap detail (Attention to Detail)
Tingkat tuntutan terhadap karyawan untuk mampu
memperlihatkan ketepatan, analisis dan perhatian terhadap detail.
c. Orientasi terhadap hasil (Outcome Orientation)
Tingkat tuntutan terhadap manajemen untuk lebih memusatkan
perhatian pada hasil dibandingkan perhatian pada teknik dan
proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
d. Orientasi terhadap individu (People Orientation)
Tingkat keputusan manajemen dalam mempertimbangkan efek
hasil terhadap individu yang ada dalam perusahaan.
e. Orientasi terhadap tim (Team Orientation)
Tingkat aktivitas pekerjaan yang diatur dalam tim, bukan secara
perorangan.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id25
f. Agresifitas (Aggresiveness)
Tingkat tuntutan terhadap individu agar berlaku agresif dan
bersaing (kompetitif), serta tidak bersikap santai.
g. Stabilitas (Stability)
Tingkat penekanan aktivitas perusahaan dalam mempertahankan
status quo berbanding pertumbuhan

Fungsi budaya organisasi


Robbins (2002), mengemukakan bahwa fungsi dari budaya organisasi
antara lain adalah:
a. Budaya organisasi memiliki suatu peran batas-batas penentu yaitu
budaya menciptakan perbedaan antara satu perusahaan dengan
perusahaan yang lain.
b. Budaya berfungsi untuk menyampaikan rasa identitas kepada
anggota-anggota perusahaan sehingga karyawan merasa bangga
menjadi anggota dari perusahaan tempatnya bekerja
c. Budaya mempermudah penerusan komitmen sampai mencapai
batasan yang lebih luas, melebihi batasan ketertarikan individu
sehingga mampu mencapai tujuan perusahaan
d. Budaya mendorong stabilitas sistem sosial. Budaya merupakan
suatu ikatan social yang membantu mengikat kebersamaan
perusahaan dengan menyediakan standar yang sesuai mengenai
apa yang harus dikatakan dan dilakukan karyawan.
e. Budaya mendorong stabilitas sosial. Budaya merupakan suatu
ikatan sosial yang membantu mengikat kebersamaam perusahaan
dengan menyediakan standar-standar yang sesuai mengenai apa
yang harus dikatakan dan dilakukan karyawan.
f. Budaya bertugas sebgai pembentuk rasa dan mekanisme
pengendalian yang memberikan panduan dan membentuk perilaku
serta sikap karyawan.

Dimensi budaya organisasi


Budaya mengimplementasikan adanya dimensi atau karakteristik
tertentu. Budaya organisasi harus mempunyai dimensi mencolok yang dapat
didefinisikan dan diukur. Robbins (2008) membagi menjadi 9 karakteristik
utama yang menjadi pembeda budaya organisasi satu dengan lainnya.
Karakteristik tersebut adalah:
a. Toleransi terhadap tindakan berisiko
Sejauh mana para karyawan dianjurkan untuk bertindak agresif,
inovatif, dan mengambil risiko dalam pekerjaan.
b. Arah
Sejauh mana organisasi menciptakan dengan jelas sasaran dan
harapan mengenai prestasi.
c. Integrasi
Tingkat sejauh mana unit-unit dalam organisasi didorong untuk
bekerja dengan cara yang terkoordinasi.
d. Dukungan dari manajemen
Tingkat sejauh mana para pimpinan memberi komunikasi yang
jelas, bantuan, serta dukungan terhadap bawahan mereka.
e. Kontrol
Jumlah peraturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk
mengawasi dan mengendalikan perilaku karyawan.
f. Identitas
Tingkat sejauh mana para anggota mengidentifikasi dirinya secara
keseluruhan dengan organisasinya ketimbang dengan kelompok
kerja tertentu atau dengan bidang keahlian profesional.
g. Sistem imbalan
Tingkat sejauh mana alokasi imbalan, seperti kenaikan
gaji/promosi didasarkan atas kriteria prestasi karyawan sebagai
kebalikan dari senioritas, sikap pilih kasih, dan sebagainya.
h. Toleransi terhadap konflik
Tingkat sejauh mana para karyawan didorong untuk
mengemukakan konflik dan ktitik secara terbuka.
i. Pola-pola komunikasi
Tingkat sejauh mana komunikasi organisasi dibatasi oleh hierarki
kewenangan yang formal.

Pengertian budaya organisasi


Menurut Schein (2002) merumuskan budaya organisasi sebagai
sebagai suatu pola dari asumsi-asumsi mendasar yang dipahami bersama
dalam sebuah organisasi, terutama dalam memecahkan masalah-masalah
yang dihadapi. Pola-pola tersebut menjadi sesuatu yang pasti dan
disosialisasikan kepada anggota baru dalam organisasi.
Sedangkan Susanto (2007) memberikan definisi budaya organisasi
sebagai nilai-nilai yang menjadi pedoman sumber daya manusia untuk
menghadapi permasalahan eksternal dan usaha penyesuaian integrasi ke
dalam perusahaan sehingga masing-masing anggota organisasi harus
memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana mereka harus bertindak atau
berperilaku.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id20
Salah satu teori penting mengenai budaya organisasi didapat dari
pernyataan Marshal (2005), ia menyatakan bahwa: setiap anggota di dalam
organisasi mempunyai impian dan harapan, mempunyai pokok persoalan dan
masalah. Mereka ingin berhasil dalam bekerja dan memberikan kontribusinya
kepada organisasi. Pemenuhan harapan, keinginan dan kesesuaian nilai akan
menciptakan energi, rasa bangga, kesetiaan dan gairah. Kesemuanya ini
memberikan warna yang kuat kepada budaya kerja, juga kepada budaya
organisasi.

Ciri-ciri keterikatan kerja


Karyawan yang memiliki work engagement terhadap organisasi/
perusahaan memiliki karakteristik tertentu. Berbagai pendapat mengenai
karakteristik karyawan yang memiliki work engagement yang tinggi banyak
dikemukakan dalam berbagai literatur, diantaranya Federman (2009)
mengemukakan bahwa karyawan yang memiliki work engagement yang
tinggi dicirikan sebagai berikut:
a. Fokus dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dan juga pada
pekerjaan yang berikutnya
b. Merasakan diri adalah bagian dari sebuah tim dan sesuatu yang
lebih besar daripada diri mereka sendiri
c. Merasa mampu dan tidak merasakan sebuah tekanan dalam
membuat sebuah lompatan dalam pekerjaan
d. Bekerja dengan perubahan dan mendekati tantangan dengan
tingkah laku yang dewasa
Karyawan yang memiliki work engagement yang tinggi akan bekerja
lebih dari kata “cukup baik”, mereka bekerja dengan berkomitmen pada
tujuan, menggunakan intelegensi untuk membuat pilihan bagaimana cara
terbaik untukmenyelesaikan suatu tugas, memonitor tingkah laku mereka
untuk memastikan apa yang mereka lakukan benar dan sesuai dengan tujuan
yang akan dicapai dan akan mengambil keputusan untuk mengkoreksi jika
diperlukan (Thomas, 2009)

Faktor yang memengaruhi keterikatan kerja


Menurut Federman (2009) bahwa employee engagement juga dapat
dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
a. Kebudayaan (Cultuure)
b. Indikator Sukses (Success Indikators)
c. Pengertian Prioritas (Priority Setting)
d. Komunikasi (Communication)
e. Inovasi (Innovation)
f. Penguasaan Bakat (Talent Acquisition)
g. Peningkatan Bakat (Talent Enhancement)
h. Insentif dan Pengakuan (Incentives and Acknowledgement)
i. Pelanggaran (Cusomer-Centered)
Menurut Thomas (2009) engagement dapat dipengaruhi oleh empat
intrinsic rewards, yaitu: Kebermaknaan (A Sense of Meaningfulness), Pilihan
(A Sense of Choice), Kemampuan (A Sense of Conpetence), dan Kemajuan (A
Sense of Progress).
Faktor pendorong work engagement yang dijabarkan oleh Perrins
(2003) meliputi 10 hal yang dijabarkan secara berurutan:
a. Senior Management yang memperhatikan keberadaan karyawan
b. Pekerjaan yang memberikan tantangan
c. Wewenang dalam mengambil keputusan
d. Perusahaan/ organisasi yang fokus pada kepuasan pelanggan
e. Memiliki kesempatan yang terbuka lebar untuk berkarier
f. Reputasi perusahaan
g. Tim kerja yang solid dan saling mendukung
h. Kepemilikan sumber yang dibutuhkan untuk dapat menunjukkan
performa kerja yang prima
i. Memiliki kesempatan untuk memberikan pendapat pada saat
pengambilan keputusan.
j. Penyampaian visi organisasi yang jelas oleh senior management
mengenai target jangka panjang organisasi.

Dimensi keterikatan kerja (work engagement)


Utrecht Work Engagement Scale (UWES) (Schaufeli et al, 2003;.
Schaufeli dan Bakker, 2004, Schaufeli, Taris dan Rhenen, 2008). Seorang
karyawan yang tergolong memiliki work engagement dengan kata lain dapat
didefinisikan dengan melakukan pekerjaan pikiran yang ditandai dengan
semangat, dedikasi, dan penyerapan dalam menyelesaikan semua
penugasannya.
Secara ringkas Schaufeli, Salanova, Gonzales-Roma, & Bakker,
(2002) menjelaskan mengenai dimensi yang terdapat dalam work
engagement, yaitu:
a. Vigor
Merupakan curahan energi dan mental yang kuat selama bekerja,
keberanian untuk berusaha sekuat tenaga dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan, dan tekun dalam menghadapi kesulitan kerja.
Juga kemauan untuk menginvestasikan segaala upaya dalam suatu
pekerjaan, dan tetap bertahan meskipun menghadapi kesulitan.
b. Dedication
Merasa terlibat sangat kuat dalam suatu pekerjaan dan mengalami
rasa kebermaknaan, antusiasme, kebanggaan, inspirasi dan
tantangan.
c. Absorption
Dalam bekerja karyawan selalu penuh konsentrasi dan serius
terhadap suatu pekerjaan. Dalam bekerja waktu terasa berlalu
begitu cepat dan menemukan kesulitan dalam memisahkan diri
dengan pekerjaan.
Menurut Macey, Schneider, Barbera & Young (dalam Mujiasih,
2012), work engagement mencakup 2 dimensi penting, yaitu:
a. Work engagement sebagai energi psikis
Dimana karyawan merasakan pengalaman puncak dengan berada
di dalam pekerjaan dan arus yang terdapat di dalam pekerjaan
tersebut. Keterikatan kerja merupakan tendangan fisik dari
perendaman diri dalam pekerjaan (immersion), perjuangan dalam
pekerjaan (striving), penyerapan (absorption), fokus (focus) dan
juga keterlibatan (involvement).
b. Work engagement sebagai energi tingkah laku
Bagaimana work engagement terlihat oleh orang lain. Keterikatan
kerja terlihat oleh orang lain dalam bentuk tingkah laku yang
berupa hasil.
Tingkah laku yang terlihat dalam pekerjaan berupa:
1) Karyawan akan berfikir dan bekerja secara proaktif, akan
mengantisipasi kesempatan untuk mengambil tindakan dan
akan mengambil tindakan dengan cara yang sesuai dengan
tujuan organisasi.
2) Karyawan yang engaged tidak terikat pada “job
description”, mereka focus pada tujuan dan mencoba untuk
mencapai secara konsisten mengenai kesuksesan organisasi.
3) Karyawan secara aktif mencari jalan untuk dapat
memperluas kemampuan yang dimiliki dengan jalan yang
sesuai dengan yang penting bagi visi dan misi perusahaan.
4) Karyawan pantang menyerah walau dihadapkan dengan
rintangan atau situasi yang membingungkan

Pengertian keterikatan kerja


Menurut Kahn (dalam May dkk, 2004) work engagement dalam
pekerjaan dikonsepsikan sebagai anggota organisasi yang melaksanakan
peran kerjanya, bekerja dan mengekspresikan dirinya secara fisik, kognitif
dan emosional selama bekerja. Keterikatan karyawan yang demikian itu
sangat diperlukan untuk mendorong timbulnya semangat kerja karyawan
(Hochschild, dalam May dkk, 2004).
Brown, (Robbins, 2003) memberikan definisi work engagement yaitu
dimana seorang karyawan dikatakan work engagement dalam pekerjaannya
apabila karyawan tersebut dapat mengidentifikasikan diri secara psikologis
dengan pekerjaannya, dan menganggap kinerjanya penting untuk dirinya,
selain untuk organisasi. Karyawan dengan work engagement yang tinggi
dengan kuat memihak pada jenis pekerjaan yang dilakukan dan benar-benar
peduli dengan jenis kerja itu .
Secara lebih spesifik Schaufeli, Salanova, Gonzalez-Roma dan Bakker
(2002) mendefinisikan work engagement sebagai positivitas, pemenuhan,
kerja dari pusat pikiran yang dikarakteristikkan (Schaufeli, dkk, 2008), Work
engagement merupakan sebuah motivasi dan pusat pikiran positif yang
berhubungan dengan pekerjaan yang dicirikan dengan vigor, dedication dan
absorption (Schaufeli, Salanova, Gonzales-Roma, & Bakker, 2002, dalam
Mujiasih, 2012).
Work engagement lebih daripada keadaan sesaat dan spesifik,
mengacu ke keadaan yang begerak tetap meliputi aspek kognitif dan afektif
yang tidak fokus pada objek, peristiwa, individu atau perilaku tertentu
(Schaufeli & Martinez, 2002). Schaufeli, Salanova, dan Bakker (dalam
Mujiasih, 2012) memberikan batasan mengenai work engagement sebagai
persetujuan yang kuat terhadap pelaksanaan pekerjaan dan hal-hal lain yang
berhubungan dengan pekerjaan.Schaufeli dan Bakker, Rothbard (dalam Saks,
2006) mendefinisikan engagement sebagai keterlibatan psikologis yang lebih
lanjut melibatkan dua komponen penting, yaitu attention dan absorption.
Attention mengacu pada ketersediaan kognitif dan total waktu yang
digunakan seorang karyawan dalam memikirkan dan menjalankan perannya,
sedangkan Absorption adalah memaknai peran dan mengacu pada intensitas
seorang karyawan fokus terhadap peran dalam organisasi.
Secara umum Thomas (2009) menggambarkan employee engagement
dengan istilah worker engagement, yang diartikan sebagai suatu tingkat bagi
seseorang yang secara aktif memiliki managemen diri dalam menjalankan
suatu pekerjaan. Sedangkan menurut Robbins dan Judge (2008) employee
engagement yaitu keterlibatan, kepuasan, dan antusiasme individual dengan
kerja yang mereka lakukan.
Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian teori di atas mengenai
work engagement merupakan sikap dan perilaku karyawan dalam bekerja
dengan mengekspresikan dirinya secara total baik secara fisik, kognitif,
afektif dan emosional. Karyawan menemukan arti dalam bekerja, kebanggaan
telah menjadi bagian dari organisasi tempat ia bekerja, bekerja untuk
mencapai visi dan misi keseluruhan sebuah organisasi. Karyawan akan
bekerja ekstra dan mengupayakan sesuatu untuk pekerjaan di atas apa yang
diharapkan baik dalam waktu dan energi

Karakteristik Dukungan Teman dan Keluarga


Menurut Lapierre et al. (2017), karakteristik dukungan teman dan keluarga
meliputi:

  1. Dukungan Emosional (Emotional Support)
    Dukungan emosional dari teman dan keluarga berupa empati, perhatian, dan
    kasih sayang yang diberikan saat individu menghadapi tekanan atau tantangan
    dalam pekerjaan. Kehadiran orang terdekat yang bersedia mendengarkan dan
    memberikan penguatan emosional dapat meningkatkan ketahanan psikologis dan
    mengurangi stres kerja.
  2. Dukungan Instrumental (Instrumental Support)
    Merupakan bantuan nyata yang diberikan oleh keluarga atau teman dalam
    bentuk tindakan langsung, seperti membantu menyelesaikan pekerjaan rumah
    tangga, mengurus anak, atau memberi tumpangan. Dukungan ini sangat penting
    untuk membantu individu mengelola peran kerja dan kehidupan pribadi secara
    seimbang.
  3. Dukungan Informasional (Informational Support)
    Dukungan ini berbentuk saran, masukan, atau informasi yang diberikan oleh
    teman dan keluarga untuk membantu individu mengambil keputusan atau
    menyelesaikan masalah, baik yang berkaitan dengan pekerjaan maupun kehidupan
    pribadi.
  4. Dukungan Penilaian (Appraisal Support)
    Dukungan penilaian ditunjukkan melalui pengakuan, pujian, atau umpan balik
    positif dari keluarga dan teman atas pencapaian atau usaha yang telah dilakukan
    individu. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri, motivasi, dan perasaan
    dihargai, yang berdampak positif terhadap kinerja dan kepuasan kerja

Definisi Efikasi Diri


Efikasi diri, menurut Bandura (2015), adalah keyakinan individu terhadap
kemampuannya untuk mengorganisasi dan melaksanakan tindakan yang diperlukan
untuk mencapai tujuan tertentu. Individu dengan efikasi diri yang tinggi percaya
bahwa mereka dapat mengatasi tantangan dan mencapai tujuan mereka, meskipun
menghadapi rintangan atau kesulitan. Dalam konteks pekerjaan, efikasi diri
berhubungan erat dengan keterlibatan kerja, karena karyawan yang merasa mampu
mengatasi tantangan pekerjaan akan lebih cenderung untuk terlibat dan
memberikan performa terbaik.
Stajkovic dan Luthans (2018) menemukan bahwa efikasi diri berperan
signifikan dalam meningkatkan performa kerja, karena individu yang memiliki rasa
percaya diri yang tinggi akan lebih mampu menunjukkan inisiatif, bertahan
menghadapi kegagalan, dan menjaga komitmen terhadap pekerjaan mereka. Dalam
lingkungan kerja yang penuh tekanan, seperti dalam situasi krisis atau perubahan
organisasi, efikasi diri dapat menjadi faktor yang sangat penting dalam membantu
karyawan untuk tetap terlibat dan beradaptasi dengan perubahan

Karakteristik Dukungan Supervisor


Menurut Hammer, Demsky, Kossek, & Johnson (2016) serta Afsar, Badir, &
Bin Saeed (2018), karakteristik dukungan supervisor meliputi:

  1. Dukungan emosional (Emotional Support)
    Dukungan ini ditunjukkan melalui empati, perhatian, dan kepedulian supervisor
    terhadap kondisi emosional karyawan. Supervisor yang memberikan dukungan
    emosional cenderung terbuka, mau mendengarkan, dan memahami kesulitan atau
    tekanan yang dihadapi bawahannya.
  2. Dukungan instrumental (Instrumental Support)
    Merupakan bantuan langsung yang diberikan oleh supervisor dalam bentuk
    sumber daya, bantuan teknis, atau kemudahan operasional untuk menyelesaikan
    pekerjaan. Dukungan ini sangat penting terutama saat karyawan menghadapi beban
    kerja tinggi atau keterbatasan sarana.
  3. Dukungan informasi (Informational Support)
    Dukungan ini meliputi pemberian arahan, panduan, atau informasi yang jelas
    dari supervisor agar karyawan dapat melaksanakan tugas dengan baik. Informasi
    yang tepat membantu mencegah kesalahpahaman dan memperlancar pelaksanaan
    pekerjaan.
  4. Dukungan penilaian (Appraisal Support)
    Supervisor memberikan umpan balik, pengakuan atas kinerja, serta dorongan
    untuk pengembangan diri. Dukungan ini mendorong motivasi dan meningkatkan
    rasa percaya diri karyawan terhadap kontribusi yang mereka berikan.

Definisi Dukungan Supervisor


Dukungan supervisor adalah salah satu sumber daya pekerjaan yang
memiliki dampak signifikan terhadap keterlibatan kerja. Menurut Kovjanic et al.
(2020), dukungan dari atasan, yang dalam konteks ini mencakup pemberian arahan
yang jelas, umpan balik yang konstruktif, serta dukungan emosional dan
instruksional, memainkan peran kunci dalam meningkatkan keterlibatan dan
motivasi kerja karyawan. Supervisor yang memberikan dukungan yang tepat dapat
menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, di mana karyawan merasa
dihargai dan diakui atas kontribusinya, yang pada gilirannya meningkatkan rasa
keterikatan mereka terhadap pekerjaan dan organisasi.
Selain dukungan yang bersifat instruksional dan emosional, supervisor yang
memberikan kebebasan kepada karyawan untuk mengatur pekerjaan mereka sendiri
(misalnya dalam hal otonomi) dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan
komitmen terhadap pekerjaan. Hal ini sangat penting bagi kedua generasi—baik
Generasi Z yang mencari fleksibilitas dalam pekerjaan maupun Milenial yang lebih
menghargai stabilitas dan kepastian.

Karakteristik Ketahanan Kerja


Menurut Cooper, & Sarkar (2015) serta Kuntz, Malinen, & Näswall (2017)
karakteristik ketahanan kerja meliputi :

  1. Emotional regulation (Regulasi Emosi)
    Kemampuan individu untuk mengelola dan mengendalikan emosi secara efektif
    saat menghadapi tekanan atau situasi sulit di tempat kerja. Individu yang memiliki
    regulasi emosi yang baik tidak mudah terbawa stres atau panik, melainkan tetap
    tenang dan rasional dalam mengambil keputusan.
  2. Optimism (Optimisme)
    Optimisme ditandai dengan keyakinan bahwa situasi sulit dapat diatasi dan
    masa depan akan lebih baik. Karyawan yang resilien umumnya melihat tantangan
    sebagai peluang untuk belajar dan berkembang, bukan sebagai hambatan yang
    mematahkan semangat.
  3. Self-efficacy (Efikasi Diri)
    Efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam
    mengatasi tugas atau masalah yang dihadapi. Individu dengan efikasi diri yang
    tinggi cenderung lebih gigih dan percaya diri dalam menghadapi tekanan kerja.
  4. Adaptability (Adaptabilitas)
    Adaptabilitas merupakan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cepat
    terhadap perubahan lingkungan kerja, seperti perubahan kebijakan, peran, atau
    teknologi. Individu yang adaptif tidak hanya menerima perubahan, tetapi juga
    mampu menggunakannya untuk keuntungan pribadi dan organisasi.
  5. Perseverance (Ketekunan)
    Perseverance mengacu pada keteguhan dan semangat pantang menyerah saat
    menghadapi hambatan atau kegagalan. Karyawan yang memiliki ketekunan tetap
    berusaha hingga tujuan tercapai, meskipun menghadapi tekanan atau situasi sulit

Definisi Dukungan Supervisor


Dukungan supervisor adalah salah satu sumber daya pekerjaan yang
memiliki dampak signifikan terhadap keterlibatan kerja. Menurut Kovjanic et al.
(2020), dukungan dari atasan, yang dalam konteks ini mencakup pemberian arahan
yang jelas, umpan balik yang konstruktif, serta dukungan emosional dan
instruksional, memainkan peran kunci dalam meningkatkan keterlibatan dan
motivasi kerja karyawan. Supervisor yang memberikan dukungan yang tepat dapat
menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, di mana karyawan merasa
dihargai dan diakui atas kontribusinya, yang pada gilirannya meningkatkan rasa
keterikatan mereka terhadap pekerjaan dan organisasi.
Selain dukungan yang bersifat instruksional dan emosional, supervisor yang
memberikan kebebasan kepada karyawan untuk mengatur pekerjaan mereka sendiri
(misalnya dalam hal otonomi) dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan
komitmen terhadap pekerjaan. Hal ini sangat penting bagi kedua generasi—baik
Generasi Z yang mencari fleksibilitas dalam pekerjaan maupun Milenial yang lebih
menghargai stabilitas dan kepastian

Karakteristik Ketahanan Kerja


Menurut Cooper, & Sarkar (2015) serta Kuntz, Malinen, & Näswall (2017)
karakteristik ketahanan kerja meliputi :

  1. Emotional regulation (Regulasi Emosi)
    Kemampuan individu untuk mengelola dan mengendalikan emosi secara efektif
    saat menghadapi tekanan atau situasi sulit di tempat kerja. Individu yang memiliki
    regulasi emosi yang baik tidak mudah terbawa stres atau panik, melainkan tetap
    tenang dan rasional dalam mengambil keputusan.
  2. Optimism (Optimisme)
    Optimisme ditandai dengan keyakinan bahwa situasi sulit dapat diatasi dan
    masa depan akan lebih baik. Karyawan yang resilien umumnya melihat tantangan
    sebagai peluang untuk belajar dan berkembang, bukan sebagai hambatan yang
    mematahkan semangat.
  3. Self-efficacy (Efikasi Diri)
    Efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam
    mengatasi tugas atau masalah yang dihadapi. Individu dengan efikasi diri yang
    tinggi cenderung lebih gigih dan percaya diri dalam menghadapi tekanan kerja.
  4. Adaptability (Adaptabilitas)
    Adaptabilitas merupakan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cepat
    terhadap perubahan lingkungan kerja, seperti perubahan kebijakan, peran, atau
    teknologi. Individu yang adaptif tidak hanya menerima perubahan, tetapi juga
    mampu menggunakannya untuk keuntungan pribadi dan organisasi.
  5. Perseverance (Ketekunan)
    Perseverance mengacu pada keteguhan dan semangat pantang menyerah saat
    menghadapi hambatan atau kegagalan. Karyawan yang memiliki ketekunan tetap
    berusaha hingga tujuan tercapai, meskipun menghadapi tekanan atau situasi sulit

Definisi Ketahanan Kerja


Ketahanan kerja atau resilience merujuk pada kemampuan individu untuk
beradaptasi dan bangkit kembali setelah menghadapi tekanan, stres, atau kesulitan
di tempat kerja. Shatté et al. (2017) menjelaskan bahwa ketahanan kerja bukan
hanya sekadar kemampuan untuk bertahan, tetapi juga kemampuan untuk
berkembang dan belajar dari pengalaman sulit. Individu dengan tingkat ketahanan
yang tinggi cenderung mampu mengelola stres, mempertahankan motivasi, serta
menjaga keterlibatan meskipun menghadapi tantangan yang besar di tempat kerja.
Ketahanan kerja ini sangat penting dalam meningkatkan keterlibatan kerja, karena
individu yang resilient dapat memandang tantangan sebagai peluang untuk
berkembang dan tidak mudah menyerah pada kesulitan.
Penelitian oleh Monje Amor et al. (2021) menunjukkan bahwa individu
yang resilien lebih mampu mengelola tuntutan pekerjaan yang tinggi dan
menghadapi hambatan dengan lebih positif, sehingga dapat tetap terlibat secara
penuh dalam pekerjaan mereka. Ketahanan kerja juga berhubungan erat dengan
faktor psikologis lainnya, seperti efikasi diri dan dukungan sosial, yang semuanya
berperan dalam meningkatkan keterlibatan kerja. Dengan demikian, ketahanan
kerja menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung karyawan dalam menjaga
tingkat keterlibatannya, terutama dalam situasi yang penuh tantangan atau
ketidakpastian.

Karaktetistik Keterlibatan Kerja (Work Engagement)


Menurut Schaufeli (2017) karakteristik keterlibatan kerja meliputi:

  1. Vigor (Semangat)
    Vigor dicirikan oleh tingkat energi yang tinggi dan ketahanan mental saat
    bekerja. Individu yang memiliki vigor menunjukkan kemauan yang kuat untuk
    berinvestasi usaha dalam pekerjaannya serta mampu bertahan dan tetap semangat
    dalam menghadapi kesulitan. Semakin tinggi tingkat semangat yang dimiliki,
    semakin besar pula keterlibatan seseorang dalam pekerjaan.
  2. Dedication (Dedikasi)
    Dedikasi ditandai oleh rasa memiliki makna terhadap pekerjaan, antusiasme,
    inspirasi, kebanggaan, serta tantangan. Individu yang memiliki dedikasi
    cenderung menunjukkan komitmen emosional yang kuat terhadap pekerjaannya
    dan merasa bangga menjadi bagian dari organisasi tempat ia bekerja.
  3. Absorption (Terserap)
    Absorption mengacu pada keadaan di mana individu sepenuhnya tenggelam
    dalam pekerjaan yang dilakukan. Orang yang mengalami absorption biasanya
    merasa bahwa waktu berlalu dengan cepat saat bekerja dan sulit melepaskan diri
    dari pekerjaannya karena begitu terfokus dan menikmati aktivitas tersebut

Definisi Keterlibatan Kerja (Work Engagement)


Keterlibatan kerja (work engagement) merupakan suatu kondisi psikologis
positif yang ditandai dengan energi tinggi, komitmen terhadap pekerjaan, serta
keterlibatan penuh secara kognitif dan emosional. Menurut Schaufeli (2017),
keterlibatan kerja tetap didefinisikan melalui tiga dimensi utama yaitu vigor
(semangat dan ketahanan dalam menyelesaikan tugas), dedication (rasa bangga,
antusias, dan komitmen terhadap pekerjaan), serta absorption (keasyikan dalam
bekerja yang menyebabkan individu kehilangan rasa waktu). Karyawan yang
memiliki keterlibatan tinggi cenderung menunjukkan kinerja optimal, loyal
terhadap organisasi, dan lebih tahan terhadap tekanan kerja.
Dalam penelitian lanjutan oleh Bakker dan Albrecht (2018), keterlibatan
kerja dikaji dalam konteks model Job Demands–Resources (JD-R) yang telah
diperbarui. Mereka menjelaskan bahwa keterlibatan muncul ketika terdapat
keseimbangan antara tuntutan pekerjaan (job demands), seperti beban kerja atau
tekanan waktu, dan sumber daya kerja (job resources), seperti dukungan dari atasan,
kesempatan pengembangan diri, dan otonomi. Selain itu, sumber daya pribadi
seperti efikasi diri (self-efficacy), optimisme, dan daya tahan psikologis juga
memainkan peran penting dalam mendukung keterlibatan kerja

Dimensi Perceived Organizational Support


Eisenberger et al. (sebagaimana dikutip dalam Syahputra et al. (2022) dalam
membentuk konstruk perceived organizational support hanya terdapat satu
dimensi saja (unidimensional) dan mengukur persepsi dukungan karyawan secara
umum dan tidak terdapat dimensi internal yang terpisah. Unidimensional berarti
variabel hanya mengukur sebuah aspek pengukuran yang digambarkan menjadi
satu garis kontinu, yaitu nilai rendah hingga tinggi.

Definisi Perceived Organizational Support


POS adalah teori turunan dari social exchange theory (SET) yang
dikemukakan oleh Blau yang menyatakan “defined social exchanged as the
voluntary actions of individuals that are motivated by the returns they are expected
to bring and typically do in fact bring from others” (Wang et al. 2019, p.2). Definisi
dari teori ini menjelaskan tentang motivasi dari aksi seorang invidu berdasar pada
ekspektasi dimana mereka akan mendapatkan timbal balik seberat apa yang
mereka keluarkan kepada orang lain. Lalu, Eisenberger et al. mengembangkan
teori social exchange dalam konteks pekerjaan menjadi perceived organizational
support di tahun 1986 yang kemudian dikembangkan kembali sebagaimana
“employees’ perceptions concerning that the organization values their contributions
and cares about their well-being” (Eisenberger et al. 2020, p.102). Definisi ini
menggambarkan persepsi individu bahwa perusahaan memberikan pengakuan
terhadap kontribusi yang telah diberikan serta menunjukkan perhatian terhadap
kondisi dan kesejahteraan mereka. Setelah itu, Graen dan Uhl-Bien juga
mengembangkan teori yang berdasar pada SET yang berfokus pada hubungan
atasan dengan karyawan yang dikenal sebagai Leader-Member Exchange (LMX)
yang didefinisikan sebagai “The centroid concept of the theory is that effective
leadership processes occur when leaders and followers are able to develop mature
leadership relationships (partnerships) and thus gain access to the many benefits
these relationships bring” (Anisman-Razin et al. 2025, p.169). Definisi ini
menjelaskan bagaimana kepemimpinan yang efektif adalah ketika pemimpin yang
bersangkutan mampu membentuk hubungan kepemimpinan yang bersifat dewasa
dengan bawahannya agar dapat memunculkan keuntungan-keuntungan dari
hubungan tersebut.
Mengacu pada uraian teori sebelumnya, peneliti memutuskan untuk
berfokus pada teori dari Eisenberger et al. (2020) yaitu teori POS. Hal ini
dikarenakan teori POS merupakan turunan dari teori social exchange dari Blau
yang pada dasarnya menjelaskan tentang ekspektasi seseorang setelah mereka
mengeluarkan sebuah usaha untuk mencapai suatu tujuan. Namun, Eisenberger
et al. mengembangkan teori tersebut dalam konteks tempat bekerja/organisasi
dimana seorang karyawan memiliki kepercayaan bahwa kontribusi mereka
dihargai oleh organisasi dan kesejahteraan mereka dipedulikan sehingga konteks
penelitian ini lebih linear. Lalu, jika dibandingkan dengan teori LMX dari Graen dan
Uhl-Bien, yang juga merupakan turunan dari SET, mereka hanya memfokuskan
teori mereka kepada hubungan timbal balik antara karyawan dengan atasannya.
Sedangkan Eisenberger et al. (2020) menjelaskan tentang hubungan antara
karyawan dengan organisasinya secara keseluruhan, sehingga dapat lebih
menggambarkan persepsi dukungan yang dirasakan karyawan secara lebih luas.
Teori Eisenberger et al. juga telah dikutip sebanyak setidaknya 18.286 kali secara
global, bahkan penelitian Krismanto et al. (2025) yang dilakukan di Indonesia pun
menggunakan teori POS dari Eisenberger et al. (2020) yang cukup menunjukkan
relevansinya dengan masa sekarang dan budaya dari Indonesia

Faktor yang Mempengaruhi Work Engagement


Bakker dan Demerouti (sebagaimana dikutip dalam Schaufeli dan Bakker
(2023), work engagement dipengaruhi oleh tiga faktor, diantaranya :
a. Job Resources
Sumber daya pekerjaan seperti dukungan sosial dari rekan kerja serta
atasan, masukan kinerja, dan kesempatan belajar memiliki hubungan yang
positif dengan work engagement dimana adanya ketersediaan sumber daya
pekerjaan berkaitan dengan kondisi kesehatan yang baik serta performa
kerja yang baik (Schaufeli & Bakker, 2023). Job resources ini memiliki
beberapa tingkat, diantaranya adalah tingkat organisasi seperti gaji,
kesempatan kerja, dan job security, tingkat hubungan sosial dan
interpersonal seperti dengan atasan serta rekan kerja, tingkat organisasi
kerja seperti peran yang jelas dan partisipasi dalam pengambilan keputusan,
dan tingkat tugas seperti feedback kinerja, variasi kemampuan, dan otonomi.
Adapun beberapa penelitian yang meneliti terkait bagaimana sumber
daya pekerjaan ini dapat berpengaruh terhadap work engagement seorang
karyawan, diantaranya :

  • Perceived Organizational Support
    Penelitian Imran et al. (2020) menunjukkan bahwa POS memiliki
    pengaruh yang positif terhadap WE. Penelitian lainnya yang
    dilakukan di Indonesia dari Maulana et al. (2023) serta Rahmawati
    dan Hapsari, (2025) juga menunjukkan bahwa POS berkorelasi
    secara positif dengan WE. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan
    dari organisasi yang dapat dirasakan oleh karyawan dapat membuat
    karyawan dapat merasa terikat dengan pekerjaannya.
  • Workplace Wellbeing
    Penelitian dari Siswantoro dan Putri (2025) menunjukkan bahwa
    workplace well-being berkaitan dengan tingginya WE karyawan. Hal
    ini menunjukkan bahwa tempat kerja yang menjunjung tinggi
    kesejahteraan karyawan dapat meningkatkan rasa keterikatan kerja
    karyawan tersebut.
  • Job Autonomy
    Penelitian Jang dan Kim (2025) menunjukkan bahwa karyawan yang
    memiliki job autonomy, akan mengalami peningkatan pada vigor,
    dedication dan terjadinya absorption di tingkat yang tinggi. Hal ini
    menunjukkan bahwa karyawan yang memiliki otonomi pada saat
    melakukan pekerjaannya dapat berdampak pada work
    engagementnya.
    b. Personal Resources
    Sumber daya pribadi merupakan salah satu bentuk resiliensi yang
    memfasilitasi work engagement yang mengindikasikan bahwa pekerja yang
    terlibat (engaged) akan menjadi lebih efektif dalam beradaptasi dengan
    lingkungan yang berubah-ubah, sehingga menandakan bahwa pekerja yang
    terlibat (engaged) memiliki sumber daya pribadi (Schaufeli & Bakker, 2023).
    Adapun beberapa penelitian yang meneliti tentang bagaimana sumber
    daya yang dimiliki oleh individu secara pribadi dapat berdampak pada work
    engagement mereka, diantaranya :
  • Resilience
    Penelitian Siliyah dan Hadi (2021) menunjukkan bahwa tingkat
    resiliensi seseorang secara signifikan berpengaruh terhadap WE
    yang dimiliki. Artinya, seseorang dengan resiliensi tinggi, terutama
    ketika bekerja dapat berdampak kepada rasa keterikatan kerja
    mereka.
  • Psychological Capital
    Penelitian Trijayanti dan Arif Wibowo (2025) menunjukkan pengaruh
    dari psychological capital yang signifikan pada WE. Artinya,
    seseorang dengan kualitas seperti self-efficacy, hope, optimism, dan
    resilience dalam dirinya dapat berdampak kepada rasa keterikatan
    mereka dengan pekerjaannya.
  • Work-Life Balance
    Penelitian Wulandari (2024) menunjukkan bahwa work-life balance
    dapat berdampak kepada work engagement seseorang. Hal ini
    berarti seseorang yang mampu menyeimbangkan kehidupan pribadi
    dengan kehidupan pekerjaannya dapat berdampak pada rasa
    keterikatan kerjanya saat melakukan pekerjaannya.
  • Calling for Work
    Penelitian Anggraini et al. (2025) menunjukkan bahwa calling for work
    dapat berdampak kepada work engagement seseorang. Hal ini
    berarti adanya perasaan terpanggil dalam pekerjaan yang
    membuatnya memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang
    bermakna dan memiliki tujuan tinggi sebagai bagian dari identitas
    serta moral diri mereka dapat berdampak pada rasa keterikatan
    mereka terhadap pekerjaannya.
  • Personality Traits
    Studi Schaufeli dan Bakker (2023) menunjukkan adanya dampak
    jenis kepribadian atau personality traits terhadap tinggi rendahnya
    rasa work engagement seseorang. Jenis kepribadian tersebut
    mengacu kepada beberapa hal sebagai berikut :
  • Positive Affectivity
    Analisis menunjukkan bahwa positive afectivity dapat
    mempengaruhi work engagement. Hal ini berarti tinggi rendahnya
    kemampuan seseorang untuk menangkap emosi positif dapat
    berdampak pada rasa keterikatan mereka terhadap
    pekerjaannya.
  • Proactive Personality
    Analisis menunjukkan bahwa proactive personality dapat
    mempengaruhi work engagement. Hal ini berarti tinggi rendahnya
    kepribadian seseorang untuk berperilaku proaktif dapat
    berdampak pada rasa keterikatan kerja mereka.
  • Big Five Traits
    Analisis menunjukkan bahwa kepribadian consicentiousness dan
    extraversion yang tinggi dapat berdampak pada rasa work
    engagement seseorang, sedangkan sifat big five lainnya tidak
    tidak terlalu dapat mempengaruhi. Artinya, seseorang dengan
    conscientiousness dan extraversion yang tinggi pada tes
    kepribadian big five dapat berdampak pada rasa keterikatan kerja
    mereka.
  • Social Support
    Penelitian Kusumawati dan Suyasa (2023) menunjukkan bahwa
    social support dapat mempengaruhi work engagement. Hal ini berarti
    tinggi rendahnya dukungan sosial yang dirasakan seseorang dapat
    berdampak pada rasa keterikatan kerja seorang karyawan.
    c. Job Demands
    Tuntutan pekerjaan memiliki hubungan yang negatif dengan work
    engagement dimana tuntutan pekerjaan yang tinggi cenderung memiliki
    dampak yang melemahkan WE seperti menurunnya kesehatan dan
    performa pekerja (Schaufeli & Bakker, 2023).
    Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan apabila tuntutan yang
    didapatkan dari pekerjaan cenderung tinggi dapat berdampak terhadap
    menurunnya work engagement seseorang, diantaranya :
  • Work-Family Conflict
    Penelitian (Mutiara Azahra Dahlia & Damayanti Djamhoer, 2025)
    menunjukkan bahwa dampak dari work-family conflict adalah
    menurunnya tingkat WE. Hal ini berarti apabila terdapat kesenjangan
    peran seseorang sebagai pekerja dan anggota keluarga dapat
    berdampak pada menurunnya rasa keterikatan kerja seseorang.
  • Work Stress
    Penelitian Rizki dan Prabowo (2023) menunjukkan bahwa adanya
    work stress dapat berdampak pada work engagement seseorang.
    Hal ini berarti adanya stres yang terjadi di tempat kerja dapat
    berdampak pada rasa keterikatan kerja seseorang.
    d. Usia
    Usia seseorang saat ini dapat berdampak pada rasa keterikatan
    kerjanya saat ini. Penelitian dari Wilis et al. (2023) menunjukkan bahwa
    seseorang yang berada di usia 40-49 tahun memiliki rasa keterikatan kerja
    yang tinggi dibandingkan kelompok usia lain, namun jika digambarkan
    berdasarkan dimensi, karyawan dengan rentang usia 30-39 memiliki rasa
    absorption yang paling tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa usia dapat menjadi
    faktor yang menentukan tinggi rendahnya work engagement seorang
    karyawan.
    e. Jenis Kelamin
    Penelitian Wilis et al. (2023) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
    rasa keterikatan kerja antara pria dan wanita. Ditunjukkan hasil penelitian
    dimana pria memiliki rasa keterikatan kerja yang lebih tinggi dari wanita. Hal
    ini menunjukkan bahwa jenis kelamin juga memiliki peran dalam
    menentukan tinggi rendahnya work engagement seorang karyawan.
    f. Masa Bekerja
    Penelitian Wilis et al. (2023) menunjukkan adanya perbedaan work
    engagement berdasarkan masa bekerja seorang karyawan, terutama pada
    dimensi tertentu seperti vigor dan dedication dengan absorption. Hasil
    penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang sudah bekerja selama lebih
    dari 20 tahun memiliki rasa keterikatan kerja yang paling tinggi secara
    keseluruhan dan juga pada dimensi vigor dan dedication. Namun, pekerja
    yang sudah bekerja selama 11-15 tahun memiliki absorption yang lebih tinggi
    dibandingkan kelompok durasi bekerja lainnya. Hal ini menunjukkan adanya
    peran masa bekerja dalam menentukan tinggi rendahnya work engagement
    seorang karyawan.

Dimensi Work Engagement


Terdapat tiga dimensi dari WE yang dinyatakan oleh Schaufeli dan Bakker
(2023), yaitu sebagai berikut :
a. Vigor
Rasa semangat yang dicirikan dengan tingkat energi yang tinggi dan
resiliensi mental saat bekerja, keinginan untuk menginvestasikan usaha
dalam pekerjaannya, dan kegigihan bahkan ketika sedang menghadapi
kesulitan.
b. Dedication
Dedikasi yang dicirikan dengan perasaan terkait signifikansi,
antusiasme, inspirasi, kebanggaan, dan tantangan.
c. Absorption
Perasaan terserap yang dicirikan dengan menjadi terkonsentrasi secara
keseluruhan dan merasa sangat asyik dalam pekerjaannya sendiri,
dimana waktu terasa sangat cepat dan sangat sulit untuk melepaskan
diri dari pekerjaan yang dilakukan

Definisi Work Engagement


Kahn pertama kali membentuk konteks keterikatan yang terjadi di dunia kerja
yang ia sebut personal engagement, dimana ia menyatakan “I defined personal
engagement as the harnessing of organization members’ selves to their work roles;
in engagement, people employ and express themselves physically, cognitively, and
emotionally during role performances” (Saks, 2022, p.1). Definisi ini menjelaskan
bagaimana seorang karyawan mengerahkan berbagai aspek dirinya dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawab pekerjaannya, yang tercermin melalui
keterlibatan pada aspek fisik, pemikiran, serta emosi selama bekerja. Selanjutnya,
Christian et al. mengembangkan konsep engagement yang saat ini dikenal
sebagai employee engagement yang didefinisikan sebagai “A relatively enduring
state of mind referring to the simultaneous investment of personal energies in the
experience or performance of work” (Ubaidillah et al., 2018, p.120). Definisi ini
menjelaskan bagaimana seorang karyawan yang engaged dengan pekerjaannya
mengalami kondisi pikiran dimana ia menginvestasikan energi pribadinya ke dalam
pengalaman atau kinerjanya ketika sedang melakukan sebuah pekerjaan yang
relatif bertahan lama. Lalu, Schaufeli menjelaskan kembali konsep engagement
dalam konteks pekerjaan yang nantinya dikenal sebagai work engagement dimana
dia menjelaskan bahwa “engagement is defined as a positive, fulfilling, work-
related state of mind that is characterized by vigor, dedication, and absorption”
(Schaufeli & Bakker, 2023, p.275). Definisi ini mejelaskan bagaimana engagement
merupakan kondisi pikiran seorang karyawan yang cenderung dengan perasaan-
perasaan seperti rasa semangat, berdedikasi dalam pekerjaan, dan terserap
dalam pekerjaan yang dilakukan.
Berdasarkan pemaparan sebelumnya, teori yang akan digunakan oleh
peneliti adalah teori engagement yang dijelaskan oleh oleh Schaufeli dan Bakker
(2023) karena definisi tersebut menggambarkan secara konkrit seperti bagaimana
orang-orang yang memiliki engagement ditandai dengan adanya kondisi seperti
rasa semangat (vigor), dedikasi (dedication), dan perasaan terserap (absorption)
yang jika dibandingkan dengan teori Kahn maupun Christian et al., teori dari
Schaufeli dan Bakker (2023) lebih dapat menggambarkan seorang karyawan yang
memiliki engagement secara spesifik dibandingkan teori dari Kahn serta Christian
et al. yang masih bersifat abstrak. Teori dari Schaufeli dan Bakker (2023) juga
sudah cukup banyak digunakan dalam penelitian-penelitian yang mengangkat
tentang topik dari work engagement yang menandakan relevansinya hingga saat
ini, ditambahkan dengan teori utama dari Schaufeli et al. yang telah dikutip
sebanyak 20.659 kali secara global. Ditambahkan lagi dengan konsep dari
(Schaufeli & Bakker, 2023) yang masih digunakan sebagai acuan dari pengukuran
terkait engagement bahkan sampai saat ini, baik dalam skala internasional
maupun lokal seperti penelitian Cheung et al. (2024) dan penelitian Batmomolin et
al. 2022) yang memperkuat bukti relevansinya hingga saat ini

Happiness at Work memoderasi pengaruh Quality of Work Life (QWL) terhadapWork Engagement.


Kualitas kehidupan kerja (QWL) mencakup berbagai aspek yang menentukan
kesejahteraan karyawan di tempat kerja. Misalnya, keseimbangan kehidupan dan
pekerjaan, lingkungan kerja yang aman, dan kesempatan pengembangan profesional.
Keterlibatan kerja mengacu pada keterlibatan karyawan yang ditandai dengan
antusiasme, dedikasi, dan fokus pada pekerjaan (Soga et al., 2022).
Penelitian telah menunjukkan bahwa QWL yang tinggi mengarah pada
keterlibatan kerja yang lebih besar. Namun, efek ini mungkin dipengaruhi oleh
kepuasan karyawan di tempat kerja. Karyawan yang bahagia cenderung lebih
menanggapi inisiatif QWL dan, sebagai hasilnya, lebih terlibat dalam pekerjaan.
Sebaliknya, upaya untuk meningkatkan kualitas hidup saat kepuasan kerja rendah
belum tentu akan menghasilkan peningkatan signifikan dalam keterlibatan kerja (Soga
et al., 2022).
(Alserhan et al., 2020) menemukan bahwa kepuasan karyawan memainkan
peran mediasi dalam hubungan antara kualitas hidup dan niat berpindah. Meskipun
penelitian ini berfokus pada keinginan untuk pindah kerja, temuan ini mungkin
memiliki implikasi terhadap bagaimana kepuasan karyawan memengaruhi hasil kerja
lainnya, termasuk keterlibatan kerja

Happiness at Work memiliki pengaruh langsung positif terhadap WorkEngagement.


Kebahagiaan di tempat kerja mengacu pada pengalaman emosional positif yang
dialami karyawan saat menjalankan tugas pekerjaannya. Faktor – faktor seperti
lingkungan kerja yang mendukung, hubungan yang harmonis dengan rekan kerja, dan
pengakuan atas prestasi dapat menjamin kepuasan kerja. Penelitian menunjukkan
bahwa karyawan yang merasa senang di tempat kerja cenderung lebih termotivasi,
memiliki lebih banyak energi dan lebih terlibat dalam pekerjaan (Shelke & Shaikh,
2023).
Kebahagiaan menciptakan keadaan psikologis yang mendukung seperti
kepuasan, kepercayaan diri, dan optimisme yang memperkuat komitmen karyawan.
Seperti teori perluasan dan pengembangan yang dikembangkan oleh Fredrickson pada
tahun 2001 yang menyatakan bahwa emosi positif seperti kebahagiaan dapat
memperluas perspektif seseorang dan membangun sumber daya pribadi, termasuk
keterikatan kerja (Rusu & Colomeischi, 2020).

Kualitas kehidupan kerja` (quality of work life) berpengaruh positif signifikanterhadap keterikatan kerja (work engagament).


Kualitas kehidupan kerja (QWL) mengacu pada kualitas pengalaman kerja
sebagaimana yang dirasakan oleh karyawan. Hal ini termasuk dalam keseimbangan
kehidupan dan pekerjaan, lingkungan kerja yang aman, kesempatan untuk berkembang,
hubungan yang sehat, dan lainnya (Suharnomo, S. & Rahardjo, 2020).
Keterlibatan kerja didefinisikan sebagai keadaan afektif dan kognitif positif
terkait dengan pekerjaan dan mencakup tiga dimensi utama : motivasi, komitmen, dan
penyerapan. Ketika karyawan memiliki kualitas hidup yang baik, mereka cenderung
memiliki lebih banyak energi, lebih antusias terhadap pekerjaannya, dan lebih fokus
pada pekerjaannya. Lingkungan kerja yang mendukung menciptakan rasa penghargaan
dan memotivasi karyawan untuk bekerja sebaik-baiknya (Suharnomo, S. & Rahardjo,
2020).
(Akhirudin et al., 2024) menunjukkan bahwa kualitas hidup yang baik dapat
meningkatkan aspek psikologis seperti kepercayaan diri dan optimisme karyawan. Oleh
karena itu, QWL tidak hanya bertindak sebagai motivator ekstrinsik tetapi juga
memengaruhi aspek intrinsik yang mendorong komitmen karyawan. Maka,
peningkatan QWL merupakan strategi yang efektif bagi perusahaan untuk
meningkatkan keterlibatan

Aspek – aspek Happiness at Work atau Kebahagiaan di Tempat Kerja


Menurut (Maharani, Putri. Widyowati, 2023), kebahagiaan di tempat kerja memiliki
beberapa aspek, yaitu :
a. Affective Well-being (Kesejahteraan Afektif)
Aspek ini berkaitan dengan perasaan atau emosi positif yang dirasakan individu
saat bekerja. Emosi positif bisa berupa perasaan bahagia, senang, dan puas saat
menjalankan pekerjaan. Kesejahteraan afektif adalah elemen inti dari kebahagiaan
karena dapat mengukur bagaimana perasaan individu secara emosional selama bekerja.
b. Job Satisfaction (Kepuasan Kerja)
Kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang puas dan menikmati aspek-aspek
pekerjaan, seperti tugas yang dikerjakan, rekan kerja, manajer, dan lingkungan kerja
secara umum. Kepuasan kerja mencakup evaluasi karyawan tentang pekerjaan yang
dilakukan dan lingkungan kerja yang mendukung. Kepuasan kerja juga berperan
penting dalam mempertahankan loyalitas dan komitmen karyawan terhadap perusahaan.
c. Engagement (Keterlibatan)
Keterlibatan memperlihatkan seberapa besar karyawan merasa termotivasi dan
terikat dengan pekerjaannya. Karyawan yang terlibat cenderung lebih bersemangat,
merasa terhubung dengan pekerjaannya, dan memiliki keinginan yang kuat untuk
memberikan kontribusi terbaik. Keterlibatan merupakan salah satu faktor utama yang
membuat karyawan merasa bahagia dan produktif di tempat kerja.
Aspek – aspek tersebut saling terkait dan memengaruhi kesejahteraan karyawan secara
keseluruhan. Fisher menekankan bahwa kebahagiaan di tempat kerja tidak hanya terkait
dengan suasana hati tetapi juga mencakup kepuasan dan keterlibatan yang mendalam terhadap
pekerjaan dan organisasi.

  1. Faktor – faktor Happiness at Work atau Kebahagiaan di Tempat Kerja
    14
    Menurut (Hidayati, 2024) kebahagiaan di tempat kerja memiliki beberapa faktor yang
    dikutip berdasarkan berbagai literasi jurnal, seperti :
    a. Hubungan Positif dengan Orang Lain
    Hubungan atau interaksi yang baik antara karyawan dengan atasan, tim kerja,
    dan rekan kerja sangat memengaruhi untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik.
    Ketika hubungan dengan orang lain berjalan harmonis, karyawan akan merasa lebih
    didukung, dihargai, dan nyaman untuk melakukan kolaborasi. Hal tersebut dapat
    menciptakan rasa keterikatan emosional yang dapat meningkatkan semangat kerja,
    misalnya adanya budaya saling menghormati, mendukung, dan komunikasi yang
    terbuka dapat membuat karyawan merasa lebih puas dan termotivasi.
    b. Kompensasi dan Pengakuan atas Kinerja
    Kompensasi yang adil, baik dalam bentuk gaji, bonus, atau tunjangan lainnya
    menjadi salah satu faktor penting dalam kebahagiaan karyawan. Karyawan yang
    merasa kompensasinya sesuai dengan Upaya yang mereka lakukan akan lebih
    termotivasi untuk bekerja dengan baik. Selain kompensasi yang berupa finansial
    penting juga untuk pengakuan atas kinerja, seperti penghargaan Employee of the Month,
    pujian dari atasan, atau apresiasi dalam rapat.
    c. Lingkungan Kerja yang Mendukung
    Lingkungan kerja yang aman, bersih, dan nyaman secara tidak langsung
    berkontribusi terhadap kesejahteraan karyawan. Faktor-faktor seperti ergonomic tempat
    kerja, ketersediaan fasilitas pendukung, dan suasana kerja yang kondusif membantu
    karyawan untuk fokus dan mengurangi stress.

Pengertian Happiness at Work atau Kebahagiaan di Tempat Kerja


Dalam (Mahani et al., 2020) kebahagiaan adalah suatu pandangan atau persepsi seseorang
mengenai seberapa besar energi positif yang dimiliki oleh seseorang, baik secara internal
maupun eksternal. Kebahagiaan adalah kualitas hidup seseorang yang dikembangkan lebih
lanjut dalam berbagai aspek, yaitu kesehatan yang baik, kreativitas yang meningkat,
pendapatan yang tinggi, pekerjaan yang baik, dan lain-lain. Kebahagiaan di tempat kerja yaitu
ketika seorang karyawan memiliki perasaan antusias terhadap apa yang mereka lakukan di
tempat kerja mereka dan mereka memungkinkan untuk melakukan yang terbaik dari pekerjaan
mereka (Syarifi et al., 2019). Kebahagiaan di tempat kerja dapat didefinisikan sebagai kondisi
dimana emosi dan aktivitas yang bersifat positif, dirasakan oleh seseorang secara subjektif
tentang apakah mereka bahagia atau tidak dalam melakukan aktivitas yang berkaitan dengan
pekerjaan mereka (Tjiabrata et al., 2021).
Kebahagiaan di tempat bekerja merupakan sikap seseorang dalam memaksimalkan potensi
dan kinerja pribadinya. Bahagia di tempat kerja memiliki karakteristik seperti produktivitas
kerja yang tinggi, Tingkat ketidakhadiran atau absensi yang rendah, semangat kerja, dan
kepuasan kerja. Sikap bahagia di tempat kerja secara tidak langsung dapat meningkatkan
motivasi kerja yang tinggi sehingga dapat melakukan pekerjaan secara efektif dan efisien.
Kebahagiaan di tempat kerja dapat diukur dengan komitmen terhadap pekerjaan, kepuasan
kerja, dan komitmen terhadap organisasi yang efektif. Karyawan yang merasakan kebahagiaan
di tempat kerja akan memberikan potensi kerjanya 40% lebih banyak dibandingkan dengan
karyawan yang tidak merasakannya (Mustofa & Prasetyo, 2020)
Karyawan yang melakukan pekerjaannya tanpa merasa terpaksa dan menjadikan
pekerjaannya sebagai tanggung jawab dapat memberikan rasa puas dalam bekerja. Ketika
karyawan tidak memiliki rasa nyaman dalam bekerja, maka akan berdampak negatif tidak
hanya pada kinerja, melainkan pada karyawan yang lain. Karyawan harus merasakan
kebahagiaan dalam bekerja, karena jika tidak, maka akan mengganggu seluruh aktivitas selama
bekerja (Setyawan & Tobing, 2022). Kebahagiaan di tempat kerja pada karyawan sangat
penting, karena karyawan yang merasa bahagia di tempat kerja akan memiliki perasaan positif
yang membuatnya merasa puas, menjadi lebih produktif, dan memiliki tingkat turnover yang
relatif kecil sehingga dapat menciptakan kualitas sumber daya manusia yang baik

Aspek –Aspek Work Engagement atau Keterikatan Kerja


(Qurbani & Solihin, 2021) menyatakan bahwa ketika seseorang memilih untuk mengambil
sikap terlibat atau tidak dalam pekerjaannya, dapat diketahui dari 3 komponen aspek, yaitu :
a. Affection, merupakan komponen yang bersifat emosional dan merujuk pada ekspresi
perasaan atau sikap suka dan tidak terhadap obyek. Hal ini dapat dipandang dari cara
seseorang menunjukkan sikap semangat menghadapi pekerjaan dengan terus
mempertahankan energinya.
b. Behaviour, merupakan komponen yang memperlihatkan perilaku nyata terkait sikap
internal seseorang atau obyek. Hal ini terlihat ketika seseorang sepenuhnya terlibat
dalam perilaku yang didedikasikan dari dirinya sendiri. Saat menjalankan tugas di
tempat kerja, dia akan menggunakan semua kemampuannya dengan harapan mendapat
pengakuan untuk pengembangan diri.
c. Cognitive, merupakan bagian dari “gudang” yang terdiri dari informasi terkait obyek
sikap dan informasi terorganisir untuk merespons sikap. Pada komponen ini, kita bisa
melihat bahwa ketika seseorang terlibat dalam pekerjaannya, dia akan menggunakan
pola pikirnya untuk menghasilkan ide kreatif dan mencari inovasi. Hal ini bertujuan
untuk membuat pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan.

Dimensi Work Engagement atau Keterikatan Kerja


Seorang karyawan yang tergolong memiliki keterikatan kerja dengan kata lain dapat
didefinisikan dengan melakukan pekerjaan, didasari oleh pemikiran yang semangat, dedikasi,
dan absorsi dalam menyelesaikan semua pekerjaannya.
(Affia & Mulyana, 2024) Mengungkapkan bahwa keterikatan karyawan terdiri dari tiga
dimensi sebagai berikut :
a. Vigor
Yaitu dimensi utama dalam keterikatan kerja yang menggambarkan tingkat energi,
kekuatan, dan ketahanan individu dalam menghadapi pekerjaannya. Karyawan dengan
vigor tinggi akan menunjukkan antusiasme yang besar terhadap tugas bahkan Ketika
menghadapi tantangan atau tekanan.
b. Dedikasi
Yaitu menggambarkan sejauh mana seseorang merasa terhubung secara emosional
dengan pekerjaannya. Karyawan dengan dedikasi tinggi cenderung memiliki rasa bangga,
bermakna, dan tertarik pada pekerjaan mereka. Mereka melihat pekerjaan tidak sekedar
sebagai kewajiban tetapi sebagai bagian pentibng dari identitas diri.
c. Absorpsi (Keterikatan Mendalam)
Absorpsi merujuk pada keadaan dimana individu begitu terfokus pada pekerjaannya
sehingga mereka merasa sepenuhnya terlibat dan terlarut pada tugas yang dikerjakan.
Ketika seseorang mengalami absorpsi, mereka kehilangan rasa waktu dan merasa sulit
untuk melepaskan diri dari pekerjaannya. Biasanya absorpsi disebabkan oleh minat yang
mendalam terhadap tugas, kesesuaian antara kemampuan individu dan kompleksitas
pekerjaan, serta lingkungan kerja yang mendukung.

Pengertian Work Engagement atau Keterikatan Kerja


Orang yang terikat dengan aktivitas yang sedang dilakukan, maka akan merasa menyatu
dengan seluruh aspek-aspek aktivitas tersebut. Sebagai contoh, seorang karyawan yang benar-
benar terikat atau terlibat akan dengan senang hati mengorbankan pikiran, emosi, tenaga, dan
waktu untuk menyelesaikan tugas atau aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Oleh
karena itu selain terikat, yang bersangkutan akan tampak seolah-olah menyatu dengan
pekerjaan. Pekerjaan dan seluruh aspek yang meliputinya akan berfungsi sebagai pelarut atau
pengikat, sementara karyawan yang menjalaninya akan terikat kuat pada pekerjaan tersebut
(Ridho, 2023)
Terdapat beberapa faktor keterikatan kerja, yaitu sumber daya kerja (job resources), sumber
daya pribadi (personal resources), dan tuntutan pekerjaan (job demands) yang dikenal sebagai
model JD-R. Menurut model JD-R, sumber daya kerja atau job resources akan lebih menonjol
dan memiliki potensi disaat karyawan dihadapkan pada tuntutan kerja yang tinggi. Jika tuntutan
kerja yang tinggi diikuti oleh sumber daya kerja yang rendah, maka dapat menyebabkan
burnout pada karyawan. Selain itu, ada korelasi positif antara kelelahan emosial dan beban
kerja, tuntutan emosional, dan lingkungan tempat kerja (Rahmayuni & Ratnaningsih, 2020)

Aspek – aspek Quality of Work Life (QWL) atau Kualitas Kehidupan Kerja


(Reinaldo et al., 2024) mengemukakan beberapa aspek untuk menentukan kualitas
kehidupan kerja pada karyawan sebagai bagian dari kinerja manajemen oragnisasi atau
perusahaan yang meliputi :
a. Manajemen partisipatif (participatory of management)
Yakni memberikan kesempatan pada karyawan untuk berpartisipasi dalam organisasi
dan melakukan berbagai aktivitas di lingkungan perusahaan.
b. Lingkungan kerja yang baik, sehat dan aman (safety, health & work environment)
Karyawan yang merasa nyaman bekerja di lingkungan yang tidak termasuk kategori
sick environmental (building) meskipun dengan pekerjaan yang memiliki resiko tinggi,
karena perusahaan memberikan sarana dan jaminan, sehingga karyawan merasa aman
dalam menyelesaikan pekerjaannya.
c. Desain karyawanan
Pekerjaan dirancang sedemikian rupa sehinnga karyawan merasa senang dan tertarik
dengan pekerjannya. Rancangan pekerjaan memiliki spesifikasi, seperti ; Skill variety,
yaitu karyawan lebih ditekankan pada keahliannya, yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Task identity, yaitu karyawan melakukan pekerjaan
secara berkala sesuai dengan peraturan kerja. Task significance, yaitu pekerjaan
dipandang sebagai suatu hal yang penting bagi kehidupan pekerjaan orang lain.
Autonomy, yaitu karyawan memiliki kebebasan untuk dapat mempertanggungjawabkan
rancangan pekerjaan sampai pada hasil pekerjaan, dan Feedback, yaitu karyawan
memperoleh timbal balik informasi mengenai kinerjanya.
d. Kesempatan mengembangkan potensi diri (human resource development)
Yaitu partisipasi dalam pelatihan (training), pemahaman nilai (value) pekerjaan,
rancangan kerja sebagai pertimbangan untuk penyelesaian pekerjaan (reason for effort),
dan atribusi diri (internal locus of control).
e. Imbalan kerja (working reward)
Yakni karyawan diberi kesempatan untuk memperbaiki atau meningkatkan
kinerjanya sehingga berusaha menghindari kegagalan (failure), memnadang hal yang
lebih berharga (demonstrating one’s worth), dan dapat membandingkan pandangan
sosial (social comparison) untuk mencapai prestasi pekerjaan

Quality of Work Life


Quality of Work Life (QWL) atau kualitas kehidupan kerja adalah proses yang
menanggapi kebutuhan karyawan dan memberikan kesempatan penuh dalam membuat
keputusan dalam mempersiapkan kehidupan kerja mereka. Proses tersebut mencakup
bagaimana lebih baik bekerja sama, bagaimana memilih operasi pada individu karyawan,
mengubah dan meningkatkan apa yang dibutuhkan dan efektif untuk organisasi,
mengintegrasikan diri dalam organisasi, mengembangkan berbagai kemampuan manusia dan
memberikan peluang untuk pertumbuhan pada karyawan (Hariani & Anastasya Sinambela,
2021). Kualitas kehidupan kerja yang baik akan membuat sesorang merasa puas dengan
pekerjaannya sendiri dan memungkinkan karyawan menikmati pekerjaan yang mereka lakukan,
dan menunjukkan bahwa karyawan yang baik akan tetap terlibat karena keakraban pada
pekerjaanya (Qurbani & Solihin, 2021).
Terdapat dua pandangan terkait makna terhadap kualitas kehidupan kerja. Pandangan
pertama berpendapat bahwa kualitas kehidupan kerja bergantung pada serangkaian keadaan
dan implementasi tujuan organisasi. Misalnya, kesempatan kerja yang baik, pengawasan yang
demokratis, partisipasi pekerja, dan kondisi kerja yang aman. Sedangkan pandangan lain terkait
kualitas kehidupan kerja adalah orang yang didasari oleh persepsi pegawai yang ingin merasa
aman, orang yang merasa puas secara relatif, dan orang yang memiliki peluang untuk tumbuh
dan berkembang sebagai manusia.
(Putri et al., 2024) Menjelaskan bahwa Quality of Work Life (QWL) atau kualitas
kehidupan kerja terbagi menjadi 9 indikator yaitu keterlibatan karyawan (employee
participation), kompensasi yang seimbang (equitable compensation), rasa bangga terhadap
instansi (pride), rasa aman terhadap pekerjaan (job security), keselamatan lingkungan kerja
(save environment), kesejahteraan (wellness), pengembangan karir (career development),
penyelesaian masalah (conflict resolution), dan komunikasi (communication).

Happiness at Work memoderasi pengaruh Quality of Work Life (QWL) terhadapWork Engagement.


Kualitas kehidupan kerja (QWL) mencakup berbagai aspek yang menentukan
kesejahteraan karyawan di tempat kerja. Misalnya, keseimbangan kehidupan dan
pekerjaan, lingkungan kerja yang aman, dan kesempatan pengembangan profesional.
Keterlibatan kerja mengacu pada keterlibatan karyawan yang ditandai dengan
antusiasme, dedikasi, dan fokus pada pekerjaan (Soga et al., 2022).
Penelitian telah menunjukkan bahwa QWL yang tinggi mengarah pada
keterlibatan kerja yang lebih besar. Namun, efek ini mungkin dipengaruhi oleh
kepuasan karyawan di tempat kerja. Karyawan yang bahagia cenderung lebih
menanggapi inisiatif QWL dan, sebagai hasilnya, lebih terlibat dalam pekerjaan.
Sebaliknya, upaya untuk meningkatkan kualitas hidup saat kepuasan kerja rendah
belum tentu akan menghasilkan peningkatan signifikan dalam keterlibatan kerja (Soga
et al., 2022).
(Alserhan et al., 2020) menemukan bahwa kepuasan karyawan memainkan
peran mediasi dalam hubungan antara kualitas hidup dan niat berpindah. Meskipun
penelitian ini berfokus pada keinginan untuk pindah kerja, temuan ini mungkin
memiliki implikasi terhadap bagaimana kepuasan karyawan memengaruhi hasil kerja
lainnya, termasuk keterlibatan kerja

Happiness at Work memiliki pengaruh langsung positif terhadap WorkEngagement.


Kebahagiaan di tempat kerja mengacu pada pengalaman emosional positif yang
dialami karyawan saat menjalankan tugas pekerjaannya. Faktor – faktor seperti
lingkungan kerja yang mendukung, hubungan yang harmonis dengan rekan kerja, dan
pengakuan atas prestasi dapat menjamin kepuasan kerja. Penelitian menunjukkan
bahwa karyawan yang merasa senang di tempat kerja cenderung lebih termotivasi,
memiliki lebih banyak energi dan lebih terlibat dalam pekerjaan (Shelke & Shaikh,
2023).
Kebahagiaan menciptakan keadaan psikologis yang mendukung seperti
kepuasan, kepercayaan diri, dan optimisme yang memperkuat komitmen karyawan.
Seperti teori perluasan dan pengembangan yang dikembangkan oleh Fredrickson pada
tahun 2001 yang menyatakan bahwa emosi positif seperti kebahagiaan dapat
memperluas perspektif seseorang dan membangun sumber daya pribadi, termasuk
keterikatan kerja (Rusu & Colomeischi, 2020).

Kualitas kehidupan kerja` (quality of work life) berpengaruh positif signifikanterhadap keterikatan kerja (work engagament).


Kualitas kehidupan kerja (QWL) mengacu pada kualitas pengalaman kerja
sebagaimana yang dirasakan oleh karyawan. Hal ini termasuk dalam keseimbangan
kehidupan dan pekerjaan, lingkungan kerja yang aman, kesempatan untuk berkembang,
hubungan yang sehat, dan lainnya (Suharnomo, S. & Rahardjo, 2020).
Keterlibatan kerja didefinisikan sebagai keadaan afektif dan kognitif positif
terkait dengan pekerjaan dan mencakup tiga dimensi utama : motivasi, komitmen, dan
penyerapan. Ketika karyawan memiliki kualitas hidup yang baik, mereka cenderung
memiliki lebih banyak energi, lebih antusias terhadap pekerjaannya, dan lebih fokus
pada pekerjaannya. Lingkungan kerja yang mendukung menciptakan rasa penghargaan
dan memotivasi karyawan untuk bekerja sebaik-baiknya (Suharnomo, S. & Rahardjo,
2020)

Faktor – faktor Happiness at Work atau Kebahagiaan di Tempat Kerja


Menurut (Hidayati, 2024) kebahagiaan di tempat kerja memiliki beberapa faktor yang
dikutip berdasarkan berbagai literasi jurnal, seperti :
a. Hubungan Positif dengan Orang Lain
Hubungan atau interaksi yang baik antara karyawan dengan atasan, tim kerja,
dan rekan kerja sangat memengaruhi untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik.
Ketika hubungan dengan orang lain berjalan harmonis, karyawan akan merasa lebih
didukung, dihargai, dan nyaman untuk melakukan kolaborasi. Hal tersebut dapat
menciptakan rasa keterikatan emosional yang dapat meningkatkan semangat kerja,
misalnya adanya budaya saling menghormati, mendukung, dan komunikasi yang
terbuka dapat membuat karyawan merasa lebih puas dan termotivasi.
b. Kompensasi dan Pengakuan atas Kinerja
Kompensasi yang adil, baik dalam bentuk gaji, bonus, atau tunjangan lainnya
menjadi salah satu faktor penting dalam kebahagiaan karyawan. Karyawan yang
merasa kompensasinya sesuai dengan Upaya yang mereka lakukan akan lebih
termotivasi untuk bekerja dengan baik. Selain kompensasi yang berupa finansial
penting juga untuk pengakuan atas kinerja, seperti penghargaan Employee of the Month,
pujian dari atasan, atau apresiasi dalam rapat.
c. Lingkungan Kerja yang Mendukung
Lingkungan kerja yang aman, bersih, dan nyaman secara tidak langsung
berkontribusi terhadap kesejahteraan karyawan. Faktor-faktor seperti ergonomic tempat
kerja, ketersediaan fasilitas pendukung, dan suasana kerja yang kondusif membantu
karyawan untuk fokus dan mengurangi stress.

Aspek – aspek Happiness at Work atau Kebahagiaan di Tempat Kerja


Menurut (Maharani, Putri. Widyowati, 2023), kebahagiaan di tempat kerja memiliki
beberapa aspek, yaitu :
a. Affective Well-being (Kesejahteraan Afektif)
Aspek ini berkaitan dengan perasaan atau emosi positif yang dirasakan individu
saat bekerja. Emosi positif bisa berupa perasaan bahagia, senang, dan puas saat
menjalankan pekerjaan. Kesejahteraan afektif adalah elemen inti dari kebahagiaan
karena dapat mengukur bagaimana perasaan individu secara emosional selama bekerja.
b. Job Satisfaction (Kepuasan Kerja)
Kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang puas dan menikmati aspek-aspek
pekerjaan, seperti tugas yang dikerjakan, rekan kerja, manajer, dan lingkungan kerja
secara umum. Kepuasan kerja mencakup evaluasi karyawan tentang pekerjaan yang
dilakukan dan lingkungan kerja yang mendukung. Kepuasan kerja juga berperan
penting dalam mempertahankan loyalitas dan komitmen karyawan terhadap perusahaan.
c. Engagement (Keterlibatan)
Keterlibatan memperlihatkan seberapa besar karyawan merasa termotivasi dan
terikat dengan pekerjaannya. Karyawan yang terlibat cenderung lebih bersemangat,
merasa terhubung dengan pekerjaannya, dan memiliki keinginan yang kuat untuk
memberikan kontribusi terbaik. Keterlibatan merupakan salah satu faktor utama yang
membuat karyawan merasa bahagia dan produktif di tempat kerja.
Aspek – aspek tersebut saling terkait dan memengaruhi kesejahteraan karyawan secara
keseluruhan. Fisher menekankan bahwa kebahagiaan di tempat kerja tidak hanya terkait
dengan suasana hati tetapi juga mencakup kepuasan dan keterlibatan yang mendalam terhadap
pekerjaan dan organisasi