Faktor yang Mempengaruhi Work Engagement


Bakker dan Demerouti (sebagaimana dikutip dalam Schaufeli dan Bakker
(2023), work engagement dipengaruhi oleh tiga faktor, diantaranya :
a. Job Resources
Sumber daya pekerjaan seperti dukungan sosial dari rekan kerja serta
atasan, masukan kinerja, dan kesempatan belajar memiliki hubungan yang
positif dengan work engagement dimana adanya ketersediaan sumber daya
pekerjaan berkaitan dengan kondisi kesehatan yang baik serta performa
kerja yang baik (Schaufeli & Bakker, 2023). Job resources ini memiliki
beberapa tingkat, diantaranya adalah tingkat organisasi seperti gaji,
kesempatan kerja, dan job security, tingkat hubungan sosial dan
interpersonal seperti dengan atasan serta rekan kerja, tingkat organisasi
kerja seperti peran yang jelas dan partisipasi dalam pengambilan keputusan,
dan tingkat tugas seperti feedback kinerja, variasi kemampuan, dan otonomi.
Adapun beberapa penelitian yang meneliti terkait bagaimana sumber
daya pekerjaan ini dapat berpengaruh terhadap work engagement seorang
karyawan, diantaranya :

  • Perceived Organizational Support
    Penelitian Imran et al. (2020) menunjukkan bahwa POS memiliki
    pengaruh yang positif terhadap WE. Penelitian lainnya yang
    dilakukan di Indonesia dari Maulana et al. (2023) serta Rahmawati
    dan Hapsari, (2025) juga menunjukkan bahwa POS berkorelasi
    secara positif dengan WE. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan
    dari organisasi yang dapat dirasakan oleh karyawan dapat membuat
    karyawan dapat merasa terikat dengan pekerjaannya.
  • Workplace Wellbeing
    Penelitian dari Siswantoro dan Putri (2025) menunjukkan bahwa
    workplace well-being berkaitan dengan tingginya WE karyawan. Hal
    ini menunjukkan bahwa tempat kerja yang menjunjung tinggi
    kesejahteraan karyawan dapat meningkatkan rasa keterikatan kerja
    karyawan tersebut.
  • Job Autonomy
    Penelitian Jang dan Kim (2025) menunjukkan bahwa karyawan yang
    memiliki job autonomy, akan mengalami peningkatan pada vigor,
    dedication dan terjadinya absorption di tingkat yang tinggi. Hal ini
    menunjukkan bahwa karyawan yang memiliki otonomi pada saat
    melakukan pekerjaannya dapat berdampak pada work
    engagementnya.
    b. Personal Resources
    Sumber daya pribadi merupakan salah satu bentuk resiliensi yang
    memfasilitasi work engagement yang mengindikasikan bahwa pekerja yang
    terlibat (engaged) akan menjadi lebih efektif dalam beradaptasi dengan
    lingkungan yang berubah-ubah, sehingga menandakan bahwa pekerja yang
    terlibat (engaged) memiliki sumber daya pribadi (Schaufeli & Bakker, 2023).
    Adapun beberapa penelitian yang meneliti tentang bagaimana sumber
    daya yang dimiliki oleh individu secara pribadi dapat berdampak pada work
    engagement mereka, diantaranya :
  • Resilience
    Penelitian Siliyah dan Hadi (2021) menunjukkan bahwa tingkat
    resiliensi seseorang secara signifikan berpengaruh terhadap WE
    yang dimiliki. Artinya, seseorang dengan resiliensi tinggi, terutama
    ketika bekerja dapat berdampak kepada rasa keterikatan kerja
    mereka.
  • Psychological Capital
    Penelitian Trijayanti dan Arif Wibowo (2025) menunjukkan pengaruh
    dari psychological capital yang signifikan pada WE. Artinya,
    seseorang dengan kualitas seperti self-efficacy, hope, optimism, dan
    resilience dalam dirinya dapat berdampak kepada rasa keterikatan
    mereka dengan pekerjaannya.
  • Work-Life Balance
    Penelitian Wulandari (2024) menunjukkan bahwa work-life balance
    dapat berdampak kepada work engagement seseorang. Hal ini
    berarti seseorang yang mampu menyeimbangkan kehidupan pribadi
    dengan kehidupan pekerjaannya dapat berdampak pada rasa
    keterikatan kerjanya saat melakukan pekerjaannya.
  • Calling for Work
    Penelitian Anggraini et al. (2025) menunjukkan bahwa calling for work
    dapat berdampak kepada work engagement seseorang. Hal ini
    berarti adanya perasaan terpanggil dalam pekerjaan yang
    membuatnya memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang
    bermakna dan memiliki tujuan tinggi sebagai bagian dari identitas
    serta moral diri mereka dapat berdampak pada rasa keterikatan
    mereka terhadap pekerjaannya.
  • Personality Traits
    Studi Schaufeli dan Bakker (2023) menunjukkan adanya dampak
    jenis kepribadian atau personality traits terhadap tinggi rendahnya
    rasa work engagement seseorang. Jenis kepribadian tersebut
    mengacu kepada beberapa hal sebagai berikut :
  • Positive Affectivity
    Analisis menunjukkan bahwa positive afectivity dapat
    mempengaruhi work engagement. Hal ini berarti tinggi rendahnya
    kemampuan seseorang untuk menangkap emosi positif dapat
    berdampak pada rasa keterikatan mereka terhadap
    pekerjaannya.
  • Proactive Personality
    Analisis menunjukkan bahwa proactive personality dapat
    mempengaruhi work engagement. Hal ini berarti tinggi rendahnya
    kepribadian seseorang untuk berperilaku proaktif dapat
    berdampak pada rasa keterikatan kerja mereka.
  • Big Five Traits
    Analisis menunjukkan bahwa kepribadian consicentiousness dan
    extraversion yang tinggi dapat berdampak pada rasa work
    engagement seseorang, sedangkan sifat big five lainnya tidak
    tidak terlalu dapat mempengaruhi. Artinya, seseorang dengan
    conscientiousness dan extraversion yang tinggi pada tes
    kepribadian big five dapat berdampak pada rasa keterikatan kerja
    mereka.
  • Social Support
    Penelitian Kusumawati dan Suyasa (2023) menunjukkan bahwa
    social support dapat mempengaruhi work engagement. Hal ini berarti
    tinggi rendahnya dukungan sosial yang dirasakan seseorang dapat
    berdampak pada rasa keterikatan kerja seorang karyawan.
    c. Job Demands
    Tuntutan pekerjaan memiliki hubungan yang negatif dengan work
    engagement dimana tuntutan pekerjaan yang tinggi cenderung memiliki
    dampak yang melemahkan WE seperti menurunnya kesehatan dan
    performa pekerja (Schaufeli & Bakker, 2023).
    Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan apabila tuntutan yang
    didapatkan dari pekerjaan cenderung tinggi dapat berdampak terhadap
    menurunnya work engagement seseorang, diantaranya :
  • Work-Family Conflict
    Penelitian (Mutiara Azahra Dahlia & Damayanti Djamhoer, 2025)
    menunjukkan bahwa dampak dari work-family conflict adalah
    menurunnya tingkat WE. Hal ini berarti apabila terdapat kesenjangan
    peran seseorang sebagai pekerja dan anggota keluarga dapat
    berdampak pada menurunnya rasa keterikatan kerja seseorang.
  • Work Stress
    Penelitian Rizki dan Prabowo (2023) menunjukkan bahwa adanya
    work stress dapat berdampak pada work engagement seseorang.
    Hal ini berarti adanya stres yang terjadi di tempat kerja dapat
    berdampak pada rasa keterikatan kerja seseorang.
    d. Usia
    Usia seseorang saat ini dapat berdampak pada rasa keterikatan
    kerjanya saat ini. Penelitian dari Wilis et al. (2023) menunjukkan bahwa
    seseorang yang berada di usia 40-49 tahun memiliki rasa keterikatan kerja
    yang tinggi dibandingkan kelompok usia lain, namun jika digambarkan
    berdasarkan dimensi, karyawan dengan rentang usia 30-39 memiliki rasa
    absorption yang paling tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa usia dapat menjadi
    faktor yang menentukan tinggi rendahnya work engagement seorang
    karyawan.
    e. Jenis Kelamin
    Penelitian Wilis et al. (2023) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
    rasa keterikatan kerja antara pria dan wanita. Ditunjukkan hasil penelitian
    dimana pria memiliki rasa keterikatan kerja yang lebih tinggi dari wanita. Hal
    ini menunjukkan bahwa jenis kelamin juga memiliki peran dalam
    menentukan tinggi rendahnya work engagement seorang karyawan.
    f. Masa Bekerja
    Penelitian Wilis et al. (2023) menunjukkan adanya perbedaan work
    engagement berdasarkan masa bekerja seorang karyawan, terutama pada
    dimensi tertentu seperti vigor dan dedication dengan absorption. Hasil
    penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang sudah bekerja selama lebih
    dari 20 tahun memiliki rasa keterikatan kerja yang paling tinggi secara
    keseluruhan dan juga pada dimensi vigor dan dedication. Namun, pekerja
    yang sudah bekerja selama 11-15 tahun memiliki absorption yang lebih tinggi
    dibandingkan kelompok durasi bekerja lainnya. Hal ini menunjukkan adanya
    peran masa bekerja dalam menentukan tinggi rendahnya work engagement
    seorang karyawan.