Pengertian Beban Kerja


Menurut Koesomowidjojo (2017;21) mengemukakan bahwa beban kerja
merupakan segala bentuk pekerjaan yang diberikan kepada para karyawan untuk
segera diselesaikan dalam kurun waktu tertentu.
Menurut Budiasa (2021;30) beban kerja adalah presepsi dari karyawan
mengenai kegiatan yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu serta upaya
dalam menghadapi permasalahan dalam pekerjaan. Beban kerja dapat diukur dari
total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Menurut Mahawati, dkk (2021;4) beban kerja adalah volume pekerjaan
yang dibebankan kepada tenaga kerja baik berupa fisik maupun mental dan menjadi
tanggung jawabnya.
Menurut Prima dan Windy (2017) beban kerja dapat didefinisikan sebagai
perbedaan antara kemampuan karyawan dengan tuntutan pekerjaannya. Apabila
kemampuan karyawan lebih tinggi daripada tuntutan pekerjaan, akan muncul
prasaan bosan atau jenuh pada karyawan. Sebaliknya, jika kemampuan karyawan
lebih rendah daripada tuntutan pekerjaan, maka akan muncul kelelahan yang
berlebihan.
Berdasarkan berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa beban kerja
ialah frekuensi rata-rata dari setiap jenis pekerjaan yang diberikan dalam jangka
waktu tertentu, atau dengan kata lain berat atau ringannya suatu pekerjaan yang
dirasakan oleh para karyawan yang dipengaruhi oleh pembagian kerja, waktu kerja
atau jam kerja, dan ukuran kemampuan karyawan dalam bekerja. Untuk itu, beban
kerja yang dialami karyawan harys sesuai dengan kapasitas karyawan tersebut,
apabila beban kerja tidak seimbang maka dapat menimbulkan berbagai dampak
negatif baik terhadap hasil pekerjaan maupun kondisi para karyawan

Indikator Disiplin Kerja


Menurut Dewi dan Harjoyo (2019;97) beberapa indikator kedisiplinan diantaranya
adalah :

  1. Disiplin terhadap aturan waktu
    Disiplin terhadap aturan waktu dapat dilihat dari jam masuk bekerja, jam
    istirahat, dan jam pulang kantor sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.
  2. Disiplin terhadap peraturan
    Disiplin terhadap peraturan dasar dapat dilihat dari bagaimana cara karawan
    berpakaian dan bertingkah laku dalam bekerja.
  3. Disiplin terhadap tanggung jawab atau prosedur operasional standar (SOP)
    Disiplin terhadap SOP dapat dilihat dari karyawan yang melakukan tugas-
    tugasnya yang sesuai dengan tanggung jawabnya.
  4. Taat terhadap peraturan lainnya
    Aturan yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh karyawan dalam
    perusahaan

Pendekatan-pendekatan Disiplin Kerja


Terdapat tiga pendekatan disiplin kerja menurut Tsauri (2013:143-144) yaitu
sebagai berikut :

  1. Pendekatan disiplin secara modern
    Pendekatan disiplin modern yaitu mempertemukan sejumlah keperluan atau
    kebutuhan baru diluar hukuman. Pendekatan ini beramsumsi:
    a. Disiplin modern merupakan suatu cara untuk menghindari bentuk
    hukuman secara fisik.
    b. Melindungi tuduhan yang benar untuk diteruskan pada proses hukum yang
    berlaku.
  2. Pendekatan disiplin secara tradisi
    Pendekatan disiplin ini dengan memberikan hukuman. Pendekatan ini
    berasumsi:
    a. Disiplin dilakukan oleh atasan kepada bawahan, dan tidak pernah ada
    peninjauan kembali bila telah diputuskan.
    b. Disiplin adalah hukuman untuk pelanggaran, pelaksanaannya harus
    disesuaikan dengan tingkat pelanggarannya.
    c. Hukuman diberikan untuk memberikan pelajaran kepada pelanggar.
    d. Pemberian hukuman kepada karyawan yang melanggar untuk kedua
    kalinya harus diberikan hukuman yang lebih berat.
  3. Pendekatan disiplin bertujuan
    Pendekatan disiplin bertujuan berasumsi bahwa:
    a. Disiplin kerja harus dapat diterima dan dipahami oleh semua karyawan
    perusahaan.
    b. Disiplin bukanlah suatu hukuman, tetapi merupakan pembentukan
    perilaku karyawan.
    c. Disiplin ditujukan untuk perubahan perilaku karyawan yang jauh lebih
    baik.
    d. Disiplin karyawan bertujuan agar karyawan bertanggung jawab terhadap
    suatu perbuatannya

Sanksi-sanksi Disiplin Kerja


Adanya sanksi yang diberikan bagi karyawan yang melanggar disiplin kerja adalah
untuk memperbaiki dan mendidik para karyawan yang melakukan pelanggaran.
Menurut Sinambela (2016;354) terdapat beberapa tingkat sanksi yang umumnya
berlaku dalam suatu orgainasi yang meliputi sanksi disiplin ringan, sanksi disiplin
sedang, sanksi disiplin berat, yaitu :

  1. Sanksi disiplin ringan
    a. Teguran lisan
    b. Teguran tertulis
    c. Pernyataan tidak puas secara tertulis
  2. Sanksi disiplin sedang
    a. Penundaan kenaikan gaji
    b. Penundaan kenaikan jabatan
    c. Penurunan pangkat
  3. Sanksi disiplin berat
    a. Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama tiga tahun
    b. Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah
    c. Pembebasan dari jabatan
    d. Pemberhentian secara tidak hormat

Tujuan Disiplin Kerja


Menurut Farida, Hartono (2015;43-44) secara tujuan disiplin kerja karyawan,
diantaranya :

  1. Untuk mencapai suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan
    peraturan dan ketentuan yang berlaku dan berinisiatif untuk melakukan
    tingdakan yang perlu seandainya belum ada perintah dari pimpinan.
  2. Untuk mengurus atau mengarahkan tingkah laku pada relasi yang harmonis dan
    sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
  3. Untuk memastikan bahwa tindakan-tindakat karyawan konsisten dengan
    aturan yang ditetapkan oleh perusahaan.
  4. Untuk menciptakan atau mempertahankan rasa hormat dan saling percaya
    diantara pimpinan dan bawahannya.
  5. Karyawan mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi sesuai dengan
    harapan organisasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan


Menurut Dewi dan Harjoyo (2019;96) faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin
kerja antara lain :

  1. Besar kecilnya pemberian kompensasi
    Besar kecilnya pemberian kompensasi juga dapat mempengaruhi tegaknya
    disiplin kerja karyawan, para karyawan akan mematuhi peraturan yang berlaku
    jika mereka merasa mendapatkan balas jasa yang sesuai dengan jerih payah
    mereka dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan yang telah diberikan kepada
    dirinya.
  2. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan
    Keteladanan pimpinan tentunya sangat penting sekali dalam perusahaan,
    dikarenakan dalam lingkungan perusahaan semuai karyawan tentunya akan
    selalu memperhatikan bagaimana pimpinan menegakkan disiplin dan
    bagaimana dapat mengendalikan dirinya baik melalui ucapan, sikap, dan
    tindakan yang dapat merugikan aturan disiplin yang sudah ditetapkan.
  3. Ada tidaknya aturan yang pasti yang dapat dijadikan pegangan
    Disiplin kerja pada perusahaan tidak akan terlaksana, bila tidak ada aturan
    tertulis yang pasti untuk bisa dijadikan peggangan bersama. Disiplin tidak
    mungkin dapat ditegakkan bila peraturan yang dibuat berdasarkan instruksi
    lisan yang dapat berubah-ubah atau tidak tetap. Oleh karena itu pihak
    perusahaan harus membuat aturan tertulis yang pasti, dengan demikian para
    karyawan akan mendapatkan suatu kepastian bahwa siapa saja yang melanggar
    peraturan akan dikenakan sanksi dengan tegas tanpa adanya pandang bulu.
  4. Keberanian pimpinan dalam mengambil keputusan
    Keberanian seorang pemimpin untuk mengambil suatu keputusan atau
    tindakan yang sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dikerjakan oleh para
    karyawan di lingkungan perusahaan, dengan hal tersebut adanya tindakan
    terhadap pelanggaran disiplin sesuai dengan sanksi yang ada, maka karyawan
    merasa tidak akan berbuat kesalahan yang serupa. Melainkan jika tidak ada
    keberanian pemimpin dalam memberikan hukuman, maka banyak kayawan
    yang akan melanggar disiplin kerja karena tidak diberikannya sanksi.
  5. Ada tidaknya pengawasan pimpinan
    Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan perlu ada pengawasan
    dari seorang atasan, pengawasan ini dapat mengarahkan para karyawan agar
    dapat melaksanakan pekerjaan yang telah ditetapkan. Dengan adanya
    pengawasan ini, maka sedikit banyak para karyawan akan terbiasa melakukan
    disiplin kerja.
  6. Ada tidaknya perhatian kepada karyawan
    Pimpinan yang berhasil memberi perhatian yang besar kepada para karyawan
    akan dapat menciptakan disiplin kerja yang baik, karena karyawan tidak hanya
    puas dengan penerimaan kompensasi yang tinggi saja, tetapi mereka juga
    membutuhkan perhatian yang besar dari pemimpinnya.
  7. Diciptakannya kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegakknya disiplin.
    Kebiasaan -kebiasaan tersebut antara lain :
    a. Saling menghormati antar karyawan dalam lingkungan pekerjaan.
    b. Melontarkan pujian, sehingga karyawan akan turut merasa bangga dengan
    pujian tersebut.
    c. Sering mengikut sertakan karyawan dalam pertemuan-pertemuan, apalagi
    pertemuan yang berkaitan dengan karir dan pekerjaan mereka.

Pengertian Kedisiplinan


Menurut Hasibuan (2016:163) menyatakan, bahwa kedisiplinan merupakan
kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku di sekitarnya.
Menurut Sinambela (2016;335) disiplin kerja adalah kesadaran atau
kesediaan karyawan dalam menaati segala peraturan dan norma-norma sosial yang
berlaku. Dengan demikian disiplin kerja merupakan suatau alat yang digunakan
pimpinan untuk berkomunikasi dengan para karyawan agar mereka bersedia untuk
merubah perilaku mereka mengikuti aturan yang berlaku. Kedisiplinan harus
ditegakkan dalam suatu perusahaan, yang artinya, tanpa dukungan disiplin kerja
karyawan yang baik, sulit bagi perusahaan tersebut untuk mewujudkan tujuannya.
Untuk itu, kedisiplinan merupakan kunci keberhasilan suatu perusahaan dalam
mencapai tujuannya.
Menurut Yulia dan Andini (2019) disiplin kerja adalah suatu sikap,
perilaku yang dilakukan secara sukarela dan penuh kesadaran serta keadaan untuk
mengikuti peraturan yang telah ditetapkan perusahaan baik tertulis maupun tidak
tertulis. Kedisiplinan juga merupakan salah satu fungsi operatif dari manajer karena
semakin disiplin karyawan maka semakin tinggi prestasi dan produktivitas kerja
yang dapat dicapainya dan akan menciptakan karyawan yang berkualitas.
Menurut Farida dan Hartono (2015;43) disiplin kerja mencakup berbagai
aturan yang disusun oleh perusahaan yang merupakan tuntunan untuk mencapai
tujuan perusahaan, pada saat aturan dilanggar, kinerja perusahaan akan berkurang
sampai pada tingkat tertentu, tergantung pada besar kecilnya pelanggaran.
Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa disiplin
kerja adalah sikap, tingkah laku, dan perbuatan karyawan yang sesuai dengan
peraturan perusahaan sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan kesediaan
seseorang agar tidak melakukan keteledoran, kelalaian, penyimpangan dalam
melakukan pekerjaan

Indikator Lingkungan Kerja


Menurut Budiasa (2021;43) indikator lingkungan kerja adalah sebagai berikut :

  1. Suasana kerja
    Kondisi yang ada disekitar karyawan yang menciptakan suasana serta
    mempengaruhi pelaksanaan didalam pekerjaan tersebut.
  2. Hubungan dengan rekan kerja
    Hubungan dengan rekan kerja dapat dilihat dari keharmonisan tanpa saling
    menjatuhkan satu sama lain. Didalam hubungan pekerjaan yang harmonis
    karyawan akan bertahan didalam perusahaan dan tetunya akan mempengaruhi
    kinerja karyawan.
  3. Tersedianya fasilitas atau perlengkapan kerja
    Merupakan peralatan untuk mendukung kelancaran kerja. Tersedianya fasilitas
    kerja yang lengkap menjadi penunjang yang penting didalam pelaksanaan kerja
    guna meningkatkan kinerja karyawan.

Aspek Lingkungan Kerja Non-Fisik


Menurut Budiasa (2021:41) ada beberapa aspek lingkungan kerja non fisik yang
bisa mempengaruhi perilaku karyawan, yaitu:

  1. Lingkungan sosial, yaitu latar belakang keluarga, jumlah keluarga, tingkat
    kesejahtergaan dan lain-lain sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan.
  2. Status soaial, yaitu semakin tinggi jabatan karyawan dalam perusahaan maka
    semakin tinggi kewenangan dan keleluasaan dalam mengambil keputusan.
  3. Hubungan kerja dalam perusshaan, yaitu hubungan kerja antar karyawan atau
    hubungan antar karyawan dengan atasan.
  4. Kelancaran komunikasi atau sistem informasi, yaitu sejauh mana karyawan
    merasakan adanya komunikasi yang baik, terbuka, dan lancar, baik antara
    teman sekerja ataupun dengan pimpinan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja


Menurut Panjaitan (2017) menjelaskan faktor lingkungan kerja merupakan salah
satu yang harus dipertimbangkan dalam sebuah perusahaan yang sedang beroprasi.
Faktor-faktor lingkungan kerja meliputi :

  1. Hubungan karyawan
    Dalam hubungan karyawan ini terdapat dua hubungan yaitu hubungan sebagai
    individu dan hubungan sebagai kelompok.
  2. Tingkat kebisingan lingkungan kerja
    Lingkungan kerja yang tidak tenang atau bising akan dapat menimbulkan
    pengaruh yang kurang baik yaitu adanya ketidaktenangan dalam bekerja.
  3. Peraturan kerja
    Peraturan kerja yang baik dan jelas dapt memberikan pengaruh yang baik
    terhadap produktivitas dan kinerja para karyawan untuk mengambangkan karir
    dalam perusahaan tersebut.
  4. Penerangan
    Dalam hal ini, penerangan bukanlah sebatas pada penerangan listrik, tetapi juga
    termasuk penerangan matahari.
  5. Sirkulasi udara
    Sirkulasi atau pertukaran udara yang cukup, makadari itu harus dilakukan
    pengadaan ventilasi.
  6. Keamanan
    Lingkungan kerja dengan rasa aman akan menimbulkan ketengan dan
    kenyamanan bagi karyawan, dimana hal ini akan dapat memberikan dorongan
    semangat karyawan untuk bekerja

Jenis-Jenis Lingkungan Kerja


Menurut Widiana (2015:27) terdapat dua jenis lingkungan kerja yaitu lingkungan
kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik :

  1. Lingkungan Kerja Fisik yaitu lingkungan atau kondisi tempat kerja yang dapat
    memperngaruhi atau meningkatkan efesiensi kerja.
  2. Lingkungan Kerja Non Fisik yaitu semua keadaan yang terjadi yang berkaitan
    dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan
    dengan bawahan sesama rekan kerja ataupun hubungan dengan bawahan

Faktor Lingkungan Kerja


Menurut Afandi (2021:66-67) terdapat beberapa faktor dari lingkungan kerja :

  1. Kenyamanan karyawan, Kenyamanan didalam bekerja akan berdampak
    terhadap kualitas kerja pada diri seseorang. Maka dari itu dengan lingkungan
    kerja yang mendukung dapat membuat pegawai bekerja secara maksimal.
  2. Perilaku karyawan, adalah dimana orang yang bekerja di tempat kerja dapat
    menempatkan dirinya bekerja secara lebih baik. Dengan adanya lingkungan
    yang mendukung,nyaman,bersih maka pegawai bisa bekerja secara lebih baik.
  3. Kinerja karyawan, yaitu jika kondisi di lingkungan kerja terjamin maka kinerja
    pegawai akan naik. Dan jika fasilitas di tempat kerja menurun maka tingkat
    kinerja pegawai akan ikut menurun.
  4. Tingkat Stres karyawan yaitu lingkungan yang tidak kondusif dapat
    menyebabkan tingkat stres pegawai.

Pengertian Lingkungan Kerja


Menurut Budiasa (2021;39), lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada
disekitar pegawai pada saat bekerja baik berbentuk fisik atau non fisik, langsung
atau tidak langsung, yang dapat mempengaruhi diri dan pekerjaan karyawan saat
bekerja.
Menurut Afandi (2021:66) lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada di
lingkungan para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan
tugas seperti temperatur, kelembaban, ventilasi, penerangan, kegaduhan,
kebersihan tempat kerja dan memadai tidaknya alat – alat perlengkapan kerja.
Lingkungan kerja dapat diartikan sebagai keseluruhan alat perkakas yang dihadapi,
lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, sebagai
pengaruh kerjanya baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok.
Menurut Widiana (2015;26), lingkungan kerja merupakan segala sesuatu
yang ada disekitar para karyawan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas-tugas yang dibebankan baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Menurut Kamaroellah (2014;22) Lingkungan kerja merupakan keadaan
tempat kerja seorang karyawan yang meliputi lingkungan kerja fisik maupun
lingkungan kerja non fisik. Lingkungan kerja fisik merupakan suatu keadaan
berbentuk fisik yang berada di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi
karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja non fisik
merupakan semua keadaan yang terjadi berkaitan dengan hubungan kerja, baik
hubungan dengan atasan maupun hubungan antar rekan kerja. Dari beberapa
pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja merupakan
kondisi atau suasana ditempat karryawan bekerja yang meliputi fasilitas-fasilitas
yang diberikan guna menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan mendukung
berjalannya operasional perusahaan yang baik dan maksimal

Indikator Kinerja


Silaen, dkk (2020;40) indikator yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah
sebagai berikut :

  1. Kualitas kerja
    Kualitas kerja merupakan seberapa baik seorang karyawan mengerjakan tugas-
    tugas yang dibebankan.
  2. Kuantitas
    Kuantitas kerja merupakan seberapa lama seorang karyawan bekerja dalam
    satu harinya, kuantitas kerja dapat dilihat dari kecepatan dan ketepatan
    karyawan dalam bekerja.
  3. Pemanfaatan waktu
    Yaitu penggunaan masa kerja yang disesuaikan dengan kebijaksanaan
    perusahaan.
  4. Tingkat kehadiran
    Jika kehadiran karyawan dibawah standar kerja yang ditetapkan maka
    karyawan tersebut tidak akan mampu memberikan kontribusi yang optimal
    bagi perusahaan.
  5. Kerjasama
    Karyawan mampu bekerjasama dengan rekan kerjanya dalam menyelesaikan
    pekerjaan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Adamy (2016;96) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi pencapaian
kinerja adalah sebagai berikut:

  1. Faktor Kemampuan
    Secara psikologis, kemampuan (Ability) terdiri dari kemampuan potensi (IQ)
    dan kemampuan reality (knowledge + skill). Artinya, pegawai yang memiliki
    IQ di atas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk
    jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia
    akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan.
  2. Faktor Motivasi
    Motivasi terbentuk dari sikap (Attitude) seorang karyawan dalam menghadapi
    situasi (Situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakan diri
    karyawan yang terarah untuk mencapai tujuan perusahaan.
  3. Faktor Situasi
    Meliputi sejumlah karakteristik organisasi yang mempengaruhi kinerja baik
    positif maupun negatif.
    Menurut Indrasari (2017;54) mengatakan bahwa ada dua faktor yang
    mempengaruhi kinerja, yaitu:
  4. Faktor individu
    a. Usaha (Effort) yang menunjukkan sejumlah sinergi fisik dan mental yang
    digunakan dalam menyelenggarakan gerakan tugas.
    b. Abilities, yaitu sifat-sifat personal yang diperlukan untuk melaksanakan
    suatu tugas
  5. Faktor situasi lingkungan
    a. Kondisi fisik
    b. Peralatan
    c. Waktu
    d. Material
    e. Pendidikan
    f. Supervisi
    g. Desain Organisas

Pengertian Kinerja


Menurut Sodikin (2017;130) kinerja adalah performance yang merupakan hasil
kerja secara total dan berkualitas yang dicapai seorang karyawan dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Sedangkan menurut Indrasari (2017;50) kinerja keryawan diartikan sebagai hasil
usaha seseorang yang dicapai dengan kemampuan dan perbuatan dalam situasi
tertentu.
Menurut Adamy (2016;91) kinerja merupakan seberapa banyak karyawan
memberikan kontribusi kepada perusahaan yang antara lain termasuk kuantitas
output, kualitas output, jangka waktu output, kehadiran ditempat kerja dan sikap
kooperatif. Sedangkan Widiana (2015;39) kinerja adalah catatan hasil-hasil yang
diperoleh dari pekerjaan yang dilakukan yang digunakan sebagai dasar penilaian
atau evaluasi bagi perusahaan.
Budiasa (2021;15) menyatakan bahwa kinerja adalah kemampuan
seseorang dalam memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki untuk mencapai hasil
pekerjaan baik secara kualitas maupun kuantitas, kinerja yang baik adalah kinerja
yang mengikuti tatacara atau prosedur sesuai standar yang telah ditetapkan. Dari
berbagai pendapat para ahli diatas peneliti menyimpulkan bahwa kinerja adalah
hasil kerja yang telah dicapai seorang karyawan dari tingkah laku kerjanya dalam
melaksanakan ativitas pekerjaan sebagai upaya untuk mencapai tujuan perusahaan
secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun gambaran
mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program atau kegiatan sesuai
dengan tujuan, visi dan misi perusahaan

Pengertian Motivasi Kerja


Menurut Hasibuan (2003:141) dalam Wijaya (2012:5)
menjelaskan motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti
dorongan atau menggerakkan. Motivasi dalam manajemen hanya
ditujukkan pada sumber daya manusia umumnya adalah
bawahan/karyawan. Motivasi sendiri mempersoalkan bagaimana
caranya mengarahkan sumber daya dan potensi bawahan agar mau
bekerja sama secara produktif, berhasil mencapai dan memwujudkan
tujuan yang telah ditentukan. Motivasi merupakan suatu keahlian
dalam mengarahkan karyawan dan organisasi agar mau bekerja
secara berhasil, sehingga keinginan para karyawan dsn tujuan
organisasi sekaligus tercapai. Motif dapat diartikan sebagai daya
pendorong atau tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk
bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia yang
menyebabkan manusia bertindak.
Menurut Ardana, dkk (2012:193) yang menyatakan bahwa
“motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang untuk
melakukan suatu tindakan secara internal dan eksternal yang dapat
berupa motivasi positif atau negatif untuk mengarahkannya sangat
bergantung kepada ketangguhan pimpinan”. Menurut Sutrisno
(2013:109) “motivasi adalah faktor yang mendorong seseorang
untuk melakukan suatu aktivitas tertentu, motivasi sering kali
diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang”. Oleh
sebab itu motivasi merupakan salah satu aspek yang penting dalam
menentukan perilaku seseorang termasuk perilaku kerja.
Menurut Hasibuan (2003:95) mengatakan bahwa “motivasi
kerja merupakan pemberian daya penggerak yang menciptakan
kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja
efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk
mencapai kepuasan. Faktor pendorong penting yang menyebabkan
manusia bekerja adalah adanya kebutuhan yang harus di penuhi

Lingkungan Kerja Non Fisik


Menurut Sedarmayanti (2009) lingkungan kerja non fisik
adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan
hubungan kerja, baik dengan atasan maupun dengan sesama rekan
kerja, ataupun dengan bawahan.
Sedangkan menurut Nitisemito (2000) lingkungan kerja
non fisik juga mencerminkan kondisi yang mendukung kerjasama
antara tingkat atasan dengan bawahan maupun sesama rekan kerja
yang memiliki status jabatan sama di perusahaan. Kondisi yang
diciptakan perusahaan terkait dengan lingkungan kerja non fisik
meliputi suasana kekeluargaan, komunikasi yang baik antara atasan
dengan bawahan dan pengendalian diri.
Menurut Ahyari (2001) faktor lain dalam lingkungan kerja
non fisik yang tidak boleh diabaikan adalah hubungan karyawan di
dalam perusahaan yang bersangkutan tersebut.
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa
lingkungan kerja non fisik adalah kondisi lain dari lingkungan
kerja fisik yang berkaitan dengan hubungan kerja karyawan yang
dapat mempengaruhi produktivitasnya.
Berikut ini penjelasan mengenai indikator lingkungan kerja
non fisik dalam Sedarmayanti (2009) :
a. Hubungan Atasan dengan Bawahan
Hubungan atasan dengan bawahan terjadi saat atasan memberikan
tugas-tugas untuk dikerjakan bawahannya. Menurut Hariandja
(2002) penyampaian informasi dari pimpinan ke bawahan bisa
meliputi banyak hal seperti tugas-tugas yang harus dilakukan
bawahan, kebijakan organisasi, tujuan-tujuan yang ingin dicapai
dan adanya perubahan-perubahan kebijakan. Hubungan atau
interaksi antara atasan dengan bawahan harus di jaga dengan
harmonis dan saling menjaga etika serta menghargai satu sama
lain agar terciptanya lingkungan kerja yang nyaman. Lingkungan
kerja yang nyaman akan membuat kedua belah pihak antara atasan
dan bawahan dapat saling meningkatkan kinerjanya.
b. Hubungan antar Karyawan
Hubungan antar karyawan dalam lingkungan kerja dalam
perusahaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan sebab
yang mana akan menimbulkan tingkat kepuasan kinerja karyawan.
11
situasi lingkungan dalam menyelesaikan pekerjaan dan interaksi
antar karyawan demi untuk menciptakan kelancaran kerja.
Menurut Hariandja (2002) hubungan antar karyawan adalah
hubungan kesamping antara karyawan dengan tingkat yang sama
dalam organisasi tetapi mereka mempunyai tugas yang berbeda.
Menjalin hubungan yang baik dan harmonis sesama karyawan
merupakan sarana untuk dapat lebih meningkatkan produktivitas
dan kinerja karyawan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam
menciptakan suasana lingkungan kerja yang baik dengan
karyawan lainnya, maka pekerjaan akan lebih cepat selesai dan
menghasilkan kinerja yang lebih baik, karena setiap kesalahan
yang terjadi dapat di evaluasi oleh karyawan yang lain

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja


Untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik ada beberapa hal
yang harus diperhatikan menurut Siagian (2006) yaitu :

  1. Bangunan tempat kerja
  2. Ruang kerja yang lega
  3. Ventilasi pertukaran udara
  4. Tersedianya tempat-tempat ibadah keagamaan
  5. Tersedianya sarana angkutan khusus maupun umum untuk
    karyawan nyaman dan mudah
    Menurut Sedarmayanti dalam Wulan (2011) menyatakan bahwa
    secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua faktor yaitu
    faktor lingkungan kerja fisik dan faktor lingkungan kerja non fisik.
  6. Faktor Lingkungan Kerja Fisik:
    a. Pewarnaan
    b. Penerangan
    c. Udara
    d. Suara bising
    e. Ruang gerak
    f. Keamanan
    g. Kebersihan
  7. Faktor Lingkungan Kerja Non Fisik
    a. Struktur kerja
    b. Tanggung jawab kerja
    c. Perhatian dan dukungan pemimpin
    d. Kerja sama antar kelompok
    e. Kelancaran komunikasi
    Menurut (Suwatno dan Priansa, 2011:163) secara umum
    lingkungan kerja terdiri dari lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja
    psikis

Pengertian Lingkungan Internal Kerja


Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan sangat penting untuk
diperhatikan manajemen. Meskipun lingkungan kerja tidak melaksanakan
proses produksi dalam suatu perusahaan,namun lingkungan kerja
mempunyai pengaruh lansung terhadap para karyawan yang
melaksanakan proses produksi tersebut.
Lingkungan kerja adalah suasana dimana karyawan melakukan
aktivitas setiap harinya. Lingkungan kerja yang kondusif memberikan
rasa aman dan memungkinkan karyawan untuk dapat bekerja optimal.
Jika karyawan menyenagi lingkungan kerja dimana dia bekerja, maka
karyawan tersebut akan betah ditempat kerjanya, melakukan aktivitasnya
sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif. Sebaliknya lingkungan
kerja yang tidak memadai akan dapat menurunkan kinerja karyawan.
Beberapa ahli mendifinisikan lingkungan kerja antara lain sebagai
berikut:
Menurut Nitisemito dalam Nuraini (2013) linkungan kerja adalah
segala sesuatu yang ada disekitar karyawan dan dapat mempengaruhi
dalam menjalankan tugas yang diembankan kepadanya misalnya dengan
adanya air conditioner (AC), penerangan yang memadai dan sebagainya.
Menurut Isyandi (2004) Lingkungan kerja adalah sesuatu yang
ada di lingkungan para pekerja yang dapat mempegaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas seperti temperatur, kelembapan, ventilasi, penerangan,
kegaduhan, kebersihan tempat kerja dan memadai tidaknya alat-alat
perlengkapan kerja
Menurut Simanjuntak (2003) lingkungan kerja dapat diartikan
sebagai keseluruhan alat perkakas yang dihadapi, lingkungan sekitarnya
dimana seorang bekerja, metode kerjanya, sebagai pengaruh kerjanya
baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok.
Sedangkan menurut Mardiana (2005) lingkungan kerja adalah
lingkungan dimana pegawai melakukan pekerjaannya sehari-hari. Dari
beberapa defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja
adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja/karyawan yang
dapat mempengaruhi kepuasan kerja karywan dalam melaksanakan
pekerjaannya sehingga akan diperoleh hasil kerja yang maksimal, dimana
dalam lingkungan kerja tersebut terdapat fasilitas kerja yang mendukung
karyawan dalam penyelesaian tugas yang bebankan kepada karyawan
guna meningkatkan kerja karyawan dalam suatu perusahaan

Indikator Kinerja Karyawan


Menurut Robbins (2006:260) indikator untuk mengukur
kinerja karyawan secara individu ada enam indikator, yaitu sebagai
berikut:

  1. Kualitas, yaitu berkaitan dengan baik tidaknya mutu yang
    dihasilkan. Pengukuran kualitatif keluaran mencerminkan
    pengukuran “tingkat kepuasan” yaitu seberapa baik
    penyelesaiannya.
  2. Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai.
    Pengukuran kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari
    proses atau pelaksanaan kegiatan, ini berkaitan dengan jumlah
    keluaran yang dihasilkan.
  3. Ketepatan waktu, yaitu sesuai tidaknya dengan waktu yang
    direncanakan. Ketepatan waktu merupakan jenis khusus dari
    pengukuran kuantitatif yang menentukan ketepatan waktu
    penyelesaian suatu kegiatan.
  4. Efektivitas, yaitu tingkat penggunaan sumber daya manusia
    (tenaga, uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan
    maksud menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan
    sumber daya.
  5. Kemandirian, yaitu tingkat dimana seorang karyawan yang
    nantinya akan dapat menjalankan fungsi kerjanya tanpa meminta
    bantuan atau bimbingan dari orang lain, diukur dari persepsi
    karyawan dalam melakukan fungsi kerjanya masing-masing
    sesuai dengan tanggung jawabnya.
  6. Komitmen kerja, yaitu tingkat dimana karyawan mempunyai
    komitmen kerja dengan organisasi dan tanggung jawab karyawan
    terhadap organisasi

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Menurut Mathis dan Jackson (2001:82) mengemukakan
bahwa dalam mengetahui tingkat kinerja seorang karyawan dalam
suatu perusahaan, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya,
antara lain:

  1. Faktor-faktor yang pendukung kinerja
    a. Kemampuan yang baik
    Secara psikologis kemampuan atau ability karyawan
    terdiri atas, kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita.
    b. Motivasi yang tinggi
    Motivasi terbentuk dari sikap seorang karyawan dalm
    mengahdapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang
    menggerakkan diri karyawan untuk mencapai tujuan kerja.
    Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong
    seseorang untuk beusaha mencapai potensi kerja secara
    maksimal.
    c. Dukungan yang diterima
    Dukungan yang diterima oleh lingkungan sekitar seperti
    keluarga, saudara, dan teman ikut memberikan pengaruh yang
    baik bagi peningkatan kinerja karyawan tersebut.
  2. Faktor-faktor penghambat kinerja
    a. Keberadaan pekerjaan yang dilakukan yang tidak sesuai
    Faktor yang dapat menghambat kinerja karyawan adalah
    keberadaan pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan tersebut.
    b. Hubungan dengan organisasi yang kurang baik
    Faktor lainnya yang dapat menghambat kinerja karyawan
    adalah hubungan karyawan tersebut dengan organisasi seperti
    hubungan yang tdak baik kepada karyawan lainnya, atasannya,
    bahkan dengan bawahannya

Penilaian Kerja


Menurut Mathis & Jackson (2006) dalam rivai (2015:406)
“penilaian kinerja (performance appraisal) merupakan proses
mengevaluasi seberapa baik karyawan melakukan pekerjaan mereka
jika dibandingkan dengan seperangkat standar, dan kemudian
mengkomunikasikan informasi tersebut kepada karyawan”.
Sedangkan menurut Simamora (2006:338) “penilaian kinerja adalah
proses yang dipakai oleh organisasi untuk mengevaluasi pelaksanaan
kerja individu karyawan maupun kelompok”.
Menurut Sinambela (2016:519) “kinerja karyawan
berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan organisasi untuk
mengetahui kinerja pegawai perlu dilakukan penilaian kinerja yang
teratur dan sistematis”.
Dari pendapat para ahli yang telah dipaparkan diatas, maka
penilaian kinerja menjadi penting karena sebagai perbandingan
standarr perusahaan dalam menilai dan mengevaluasi kinerja
karyawan. Penilaian ini penting bagi setiap karyawan agar mereka
mampu bekerja sesuai standar atau juga sebagai tolak ukur standar
kinerja yang mereka hasilkan untuk meningkatkan prestasi kerjanya.
Apabila penilaian kinerja dilakukan dengan benar maka dapat
meningkatkan loyalitas kerja karyawan dan organisasi

Pengertian Kinerja Karyawan


Kinerja sering diartikan sebagai pencapaian tugas seseorang
dalam bekerja. Pencapaian tersebut harus sesuai dengan kriteria kerja
yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Pencapaian setiap individu berbeda tergantung kepada kemampuan
masing-masing individu. Menurut Simanjuntak (2015) dalam Rivai
(2015:406) “kinerja merupakan tingkat pencapaian hasil atas
pelaksanaan tugas tertentu”.
Menurut Mangkunegara (2013:67) “kinerja merupakan hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang
karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung
jawab yang diberikan kepadanya”. Sedangkan menurut
Sedarmayanti (2010:176) menyatakan bahwa “kinerja adalah hasil
kerja seorang pekerja, sebuah proses manajemen atau suatu
organisasi secara keseluruhan dimana hasil kerja tersebut harus dapat
ditunjukkan buktinya secara konkrit dan dapat diukur atau
dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan”

Manfaat Penilaian Kinerja


o Penyesuaian-penyesuaian kompensasi
o Perbaikan kinerja
o Kebutuhan latihan dan pengembangan
o Pengambilan keputusan dalam hal penempatan promosi, mutasi,
pemecatan, pemberhentian dan perencanaan tenaga kerja.
o Untuk kepentingan penelitian pegawai

Tujuan Penilaian Kinerja


o Bersifat evaluasi
 Hasil penilaian digunakan sebagai dasar pemberian
kompensasi
 Hasil penilaian digunakan sebagai staffing decision
 Hasil penilaian digunakan sebagai dasar meengevaluasi sistem
seleksi.
o Bersifat development
 Prestasi riil yang dicapai individu
 Kelemahan- kelemahan individu yang menghambat kinerja
 Prestasi- pestasi yang dikembangkan

Penilaian Kinerja


Penilaian kinerja pada dasarnya merupakan faktor kunci guna
mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien, karena
adanya kebijakan atau program yang lebih baik atas sumber daya
manusia yang ada dalam organisasi. Penilaian kinerja individu sangat
bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara keseluruhan,
melalui penilaian tersebut maka dapat diketahui kondisi sebenarnya
tentang bagaimana kinerja karyawan.
Menurut Bernardin dan Russel ( 1993 : 379 ) “ A way of
measuring the contribution of individuals to their organization “.
Penilaian kinerja adalah cara mengukur konstribusi individu (
karyawan) kepada organisasi tempat mereka bekerja.
Menurut Cascio ( 1992 : 267 ) “penilaian kinerja adalah sebuah
gambaran atau deskripsi yang sistematis tentang kekuatan dan
kelemahan yang terkait dari seseorang atau suatu kelompok”.
Menurut Bambang Wahyudi ( 2002 : 101 ) “penilaian kinerja
adalah suatu evaluasi yang dilakukan secara periodik dan sistematis
tentang prestasi kerja / jabatan seorang tenaga kerja, termasuk potensi
pengembangannya”.
Menurut Henry Simamora ( 338 : 2004 ) “ penilaian kinerja
adalah proses yang dipakai oleh organisasi untuk mengevaluasi
pelaksanaan kerja individu karyawan”.

Pengertian Kinerja


Kinerja dalam organisasi ,merupakan jawaban dari berhasil
atau tidaknya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Para atasan
atau manajer sering tidak memperhatikan kecuali sudah sangat buruk
atau segala sesuatu jadi serba salah. Terlalu sering manajer tidak
mengetahui betapa buruknya kinerja telah merosot
sehingga perusahaan / instansi menghadapi krisis yang serius.
Kesan – kesan buruk organisasi yang mendalam berakibat dan
mengabaikan tanda – tanda peringatan adanya kinerja yang merosot.
Kinerja menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2000 : 67).
“Kinerja ( prestasi kerja ) adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.
Kemudian menurut Ambar Teguh Sulistiyani (2003 : 223)
“Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan
kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya”.
Menurut John Whitmore (1997 : 104) “Kinerja adalah
pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seseorang,kinerja adalah
suatu perbuatan, suatu prestasi, suatu pameran umum ketrampikan”.
Menurut Barry Cushway (2002 : 1998) “Kinerja adalah menilai
bagaimana seseorang telah bekerja dibandingkan dengan target yang
telah ditentukan”.
Menurut Veizal Rivai ( 2004 : 309) mengemukakan kinerja
adalah : “ merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap
orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai
dengan perannya dalam perusahaan”.
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson Terjamahaan
Jimmy Sadeli dan Bayu Prawira (2001 : 78), “menyatakan bahwa
kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan
karyawan”.
Menurut John Witmore dalam Coaching for Perfomance
(1997 : 104) “kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut
dari seorang atau suatu perbuatan, suatu prestasi, suatu pameran umum
keterampilan”

Macam – Macam Kompensasi

o Imbalan Ektrinsik
Imbalan ektrinsik yang berbentuk uang antara lain misalnya :

  • gaji
  • upah
  • honor
  • bonus
  • komisi
  • insentif
  • upah, dll
    Imbalan ektrinsik yang bentuknya sebagai benefit /
    tunjangan pelengkap contohnya seperti :
  • uang cuti
  • uang makan
  • uang transportasi / antar jemput
  • asuransi
  • jamsostek / jaminan sosial tenaga kerja
  • uang pensiun
  • rekreasi
  • beasiswa melanjutkan kuliah, dsb

Efek Positif Kompensasi


o Mendapatkan karyawan berkualitas baik
o Memacu pekerja untuk bekerja lebih giat dan meraih prestasi
gemilang
o Memikat pelamar kerja berkualitas dari lowongan kerja yang ada
o Mudah dalam pelaksanaan dalam administrasi maupun aspek
hukumnya
o Memiliki keunggulan lebih dari pesaing / kompetitor

Pengertian Kompensasi


Kompensasi adalah seluruh imbalan yang diterima karyawan
atas hasil kerja karyawan tersebut pada organisasi. Kompensasi bisa
berupa fisik maupun non fisik dan harus dihitung dan diberikan kepada
karyawan sesuai dengan pengorbanan yang telah diberikannya kepada
organisasi / perusahaan tempat ia bekerja.
Perusahaan dalam memberikan kompensasi kepada para
pekerja terlebih dahulu melakukan penghitungan kinerja dengan
membuat sistem penilaian kinerja yang adil. Sistem tersebut umumnya
berisi kriteria penilaian setiap pegawai yang ada misalnya mulai dari
jumlah pekerjaan yang bisa diselesaikan, kecepatan kerja, komunikasi
dengan pekerja lain, perilaku, pengetahuan atas pekerjaan, dan lain
sebainya.
Para karyawan mungkin akan menghitung-hitung kinerja dan
pengorbanan dirinya dengan kompensasi yang diterima. Apabila
karyawan merasa tidak puas dengan kompensasi yang didapat, maka
dia dapat mencoba mencari pekerjaan lain yang memberi kompensasi
lebih baik.

Manfaat Lingkungan Kerja


Menurut Ishak dan Tanjung (2003), manfaat lingkungan kerja
adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas dan prestasi
kerja meningkat.
Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan
orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat terselesaikan
dengan tepat, yang artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang
benar dan dalam skala waktu yagn ditentukan. Prestasi kerjanya akan
dipantau oleh individu yang bersangkutan, dan tidak akan
menimbulkan terlalu banyak pengawasan serta semangat juangnya
akan tinggi

Pengertian Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja adalah kehidupan sosial, psikologi, dan fisik
dalam perusahaan yang berpengaruh terhadap pekerja dalam
melaksanakan tugasnya. Kehidupan manusia tidak terlepas dari
berbagai keadaan lingkungan sekitarnya, antara manusia dan
lingkungan terdapat hubungan yang sangat erat. Dalam hal ini,
manusia akan selalu berusaha untuk beradaptasi dengan berbagai
keadaan lingkungan sekitarnya. Demikian pula halnya ketika
melakukan pekerjaan, karyawan sebagai manusia tidak dapat
dipisahkan dari berbagai keadaan disekitar tempat mereka bekerja,
yaitu lingkungan kerja. Selama melakukan pekerjaan, setiap pegawai
akan berinteraksi dengan berbagai kondisi yang terdapat dalam
lingkungan kerja.
Lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada disekitar para
pekerja dan yang mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-
tugas yang dibebankan (Nitisemito, 1992:25). Selanjutnya menurut
Sedarmayati (2001:1) lingkungan kerja merupakan kseluruhan alat
perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana
seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik
sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok.
Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik atau sesuai apabila
manusia dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan
nyaman.
Kesesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam
jangka waktu yang lama lebih jauh lagi lingkungan-lingkungan kerja
yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja dan waktu yang lebih
banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja
yang efisien (Sedarmayanti, 2001:12).
Menurut Bambang (1991:122), lingkungan kerja merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja seorang pegawai.
Seorang pegawai yang bekerja di lingkungan kerja yang mendukung
dia untuk bekerja secara optimal akan menghasilkan kinerja yang baik,
sebaliknya jika seorang pegawai bekerja dalam lingkungan kerja yang
tidak memadai dan tidak mendukung untuk bekerja secara optimal
akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi malas, cepat lelah
sehingga kinerja pegawai tersebut akan rendah

Hubungan Pembagian Kerja dengan Efektivitas Kerja


Dalam pembagian kerja didasarkan pada latar belakang pendidikan,
pengalaman kerja, keterampilan, jenis kelamin dan sebagainya akan memberikan
jaminan terhadap kestabilan, kelancaran, dan efektivitas kerja. Dengan demikian,
pembagian kerja dengan penempatan kerja, beban kerja, serta spesialisasi
pekerjaan yang baik akan meningkatkan efektivitas kerja.
Menurut Hasibuan (2010), Pembagian kerja adalah informasi tertulis yang
menguraikan tugas serta tanggung jawab, kondisi pekerjaan, hubungan pekerjaan
serta aspek-aspek pekerjaan pada suatu jabatan tertentu dalam organisasi

Hubungan Lingkungan Kerja Non Fisik dengan Efektivitas Kerja


Lingkungan kerja non fisik ialah sesuatu disekitar pekerjaan yang dapat
membantu kelancaran karyawan di dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawab yang diberikan, situasi yang kondusif dapat membuat karyawan betah serta
merasa nyaman melaksanakan beban kerja yang diberikan sehingga tugas serta
pekerjaannya mencapai hasil yang baik. Lingkungan kerja menjadi suatu hal yang
penting untuk diperhatikan oleh perusahaan. Lingkungan kerja yang tidak
memadai dapat menurunkan kinerja karyawan, dan sebaliknya lingkungan kerja
yang baik dapat meningkatkan kinerja karyawan.
Efektivitas kerja karyawan yang baik tidak lepas dari lingkungan kerja yang
dimiliki perusahaan. Karyawan yang ditempatkan dalam lingkungan kerja yang
nyaman, aman serta sesuai dapat meningkatkan efektivitas kinerja sehingga
mempermudah untuk mencapai tujuan

Indikator Pembagian Kerja


Untuk mengukur pembagian kerja digunakan indikator-indikator sebagai
berikut (Sutarto, 2012) :

  1. Penempatan karyawan, Penempatan karyawan yaitu setiap karyawan
    ditempatkan sesuai kemampuan, keahlian serta pendidikan yang dimiliki
    karena ketidak tepatan dalam menetapkan posisi karyawan akan membuat
    pekerjaan menjadi kurang lancar serta tidak maksimal.
  2. Beban kerja, Beban kerja merupakan tugas pekerjaan yang dipercayakan
    oleh satuan organisasi atau seorang karyawan tertentu. Beban kerja harus
    dilaksanakan karyawan dengan merata, sehingga dapat dihindarkan adanya
    karyawan yang mempunyai beban kerja terlalu banyak atau terlalu sedikit.
    Namun demikian beban kerja yang merata ini tidak berarti bahwa setiap
    karyawan di perusahan tersebut harus tetap sama beban kerjanya.
  3. Spesialisasi pekerjaan, Spesialisasi pekerjan adalah pembagian kerja
    berdasarkan oleh keahlian atau ketrampilan khusus

Manfaat Pembagian Kerja


Adapun manfaat pembagian kerja bagi suatu organisasi menurut (Sutarto,
2012) menyebutkan bahwa :

  1. Untuk mengatur pekerjaan.
  2. Untuk menggabungkan tugas atau peralatan kerja.
  3. Untuk membagi tugas secara merata.
  4. Untuk menentukan kebutuhan jumlah pegawai.
  5. Untuk menemukan letak suatu hambatan kerja.
  6. Untuk mendorong minat kerja

Pengertian Pembagian Kerja


Menurut Hasibuan (2014), Pembagian kerja yaitu informasi tertulis yang
mengurain tugas dan tanggung jawab, kondisi pekerjaan, hubungan pekerjaan, dan
aspek-aspek pekerjaan pada suatu jabatan tertentu dalm organisasi.
Menurut Robbins (2012), Pembagian kerja digunakan untuk menggambarkan
sejauh mana berbagai kegiatan dalam organisasi dibagi-bagi menjadi beberapa
pekerjaan tersendiri yaitu pekerjaan dipecah-pecah menjadi sejumlah tahap, yang
masing-masing tahap diselesaikan oleh seorang individu.
Menurut Sutarto (2012), Pembagian kerja merupakan Rincian serta
pengelompokkan aktivitas-aktivitas yang semacam atau serta hubungannya satu
sama lain yang dilakukan oleh satuan organisasi

Indikator Lingkungan Kerja Non Fisik


Sedarmayanti (2012), menguraikan indikator lingkungan kerja non fisik,
sebagai berikut ;

  1. Hubungan Kerja antar Karyawan, Hubungan Kerja antar Karyawan
    merupajan Keadaan yang terjadi antar sesama rekan kerja.
  2. Hubungan Kerja antar Atasan dengan Bawahan, Hubungan Kerja antar
    Atasan dengan Bawahan merupakan Keadaan yang terjadi antara atasan
    dengan bawahan.
  3. Suasana Kerja, Suasana kerja merupakan kondisi bekerja yang kondusif
    seperti suasana yang nyaman atau tidak.

Jenis-Jenis Lingkungan Kerja


Menurut Sedarmayanti (2012), jenis lingkungan kerja dibagi menjadi 2 yaitu
lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik.

  1. Lingkungan Kerja Fisik
    Sedarmayanti (2012), menyatakan “lingkungan kerja non fisik
    merupakan semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan
    kerja, baik dengan atasan maupun sesama rekan kerja ataupun dengan
    hubungan bawahan”. Lingkungan kerja fisik merupakan semua keadaan
    berbentuk fisik yang terdapat disekitar lingkungan tempat kerja.
    Lingkungan kerja fisik dapat dibagi menjadi dua yaitu, lingkungan yang
    berhubungn langsung serta lingkungan perantara. Lingkungan yang
    berhubungan langsung dengan karyawan (seperti: pusat kerja, kursi,
    meja, dsb). Sedangkan, lingkungan perantara dapat juga disebut
    lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya:
    temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, bau
    tidak sedap, tata warna dan lain-lainnya.
  2. Lingkungan Kerja Non Fisik
    Menurut Wursanto (2012), menyatakan lingkungan kerja non fisik
    ialah semua keadaan yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik
    hubungan dengan atasan maupun hubungan sesama rekan kerja, ataupun
    hubungan dengan bawahan. Menurut Nitisemito (2011) menjelaskan
    bahwa: “Perusahaan hendaknya dapat mencerminkan kondisi yang
    mendukung kerja sama antara tingkat atasan, bawahan maupun yang
    memiliki status jabatan yang sama di perusahaan”.

Pengertian Lingkungan Kerja


Dalam suatu organisasi, mulai dari yang organisasi kecil sampai besar akan
membentuk sebuah lingkungan kerja. Lingkungan kerja tersebut terbentuk akibat
adanya sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
Lingkungan pada suatu organisasi bisa berbeda-beda, perbedaan ini disebabkan
oleh ciri dari karakteristik kegiatan yang berlangsung didalamnya. Sedarmayanti
(2014) Lingkungan kerja ialah suatu tempat dimana pegawai melaksanakan tugas
sehari-hari, lingkungan kerja merupakan pengaturan penerangan tempat kerja,
pengontrolan terhadap suara gaduh dalam pabrik, pengontrolan terhadap udara,
pengaturan kebersihan tempat kerja, dan pengaturan tentang keamanan tempat
kerja.
Menurut sofyan (2013), menyebutkan bahwa lingkungan kerja adalah faktor-
faktor diluar manusia baik fisik maupun non fisik dalam suatu organisasi.
Sedangkan menurut Nitisemito (2011), yang disebutkan lingkungan kerja
merupakan sesuatu yang ada disekitar karyawan dan yang dapat mempengaruhi
dirinya dalam menjalankan pekerjaan yang dibebankan.
Menurut Luthans (2015), Lingkungan kerja adalah lingkungan dimana
karyawan melakukan pekerjaannya sehari-hari. Lingkungan yang kondusif bisa
tercapai jika terjalin komunikasi yang baik dalam lingkungan tersebut, interaksi
yang baik antar karyawan, motivasi kerja tinggi, tidak ada saling curiga serta
memberikan kontribusi menjadi orientasi karyawan (Kisworo, 2012). Lingkungan
kerja dapat mempengaruhi emosi karyawan, jika karyawan menyenangi
lingkungan kerja, maka karyawan tersebut akan betah ditempat kerjanya untuk
melakukan aktivitas sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif .

Indikator Pengukuran Efektivitas Kerja


Menurut Suwarto (2012) indikator efektivitas kerja adalah sebagai berikut :

  1. Kemampuan
    Suatu kemampuan yang di dapat melalui proses pembelajaran
    karyawan atau latar belakang pendidikan.
  2. Keterampilan
    Ketrampilan karyawan berhubungan dengan pendidikan yang di dapat
    saat proses pembelajaran seperti ketrampilan melakukan transaksi
    penjualan, ketepatan dan kecepatana dalam melaksanakan transaksi
    penjualan, ketepatan mengatasi komplain.
  3. Pengetahuan
    Pengetahuan yang didapat seorang dalam proses edukasi maupun
    pengalaman saat bekerja yang di alami atas suatu objek.
  4. Sikap
    Pernyataan evaluatif terhadap objek orang atau peristiwa
    (mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu).

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas

:
Menurut Saleh (2010), terdapat empat faktor yang mempengaruhi efektivitas
kerja yaitu :

  1. Karakteristik Organisasi/Perusahaan
    Karakteristik organisasi tersusun atas struktur dan teknologi
    organisasi. Struktur merupakan hubungan yang relatif tetap sifatnya,
    seperti dalam organisasi. Struktur terdiri atas bagaimana cara organisasi
    mengelompokan orang-orang didalam menyelesaiakan pekerjaan.
    Sedangkan teknologi ialah mekanisme perusahaan untuk mengubah bahan
    baku menjadi barang jadi. Dengan teknologi yang tepat akan membantu
    kelancaran organisasi di dalam mencapai tujuan , disamping itu juga
    dituntut adanya penempatan orang yang tepat pada tempat yang tepat pula.
  2. Karakteristik Lingkungan
    Terdiri dari lingkungan luar dan lingkungan dalam. Kedua lingkungan
    tersebut dinyatakan berpengaruh terhadap efektivitas kerja, keberhasilan
    hubungan perusahaan lingkungan tampaknya sangat bergantung pada
    tingkat variabel kunci yaitu tingkat keterdugaan keaadaan lingkungan,
    ketepatan persepsi keadaan lingkungan, tingkat rasionalisme organisasi.
  3. Karakteristik Pekerja
    Pada kenyataannya sumber daya manusia merupakan faktor pengaruh
    yang paling penting karena perilaku merekalah yang dalam jangka panjang
    akan memperlancar dan mempermudah tercapainya tujuan organisasi.
  4. Karakteristik dan Praktek Manajemen
    Dengan semakin berkembangnya teknologi serta makin rumit dan
    kejamnya lingkungan, peranan manajemen dalam mengkoordinasi sumber
    daya manusia dan proses demi keberhasilan organisasi semakin sulit.

Pengertian Efektivitas Kerja


Efektivitas menurut Suwarto, (2010) definisi efektivitas berkaitan dengan
pendekatan umum. Efektivitas berasal dari kata efektif yang artinya:

  1. Ada efeknya (pengaruhnya, akibatnya, kesannya).
  2. Penggunaan metode/cara,sarana/alat dalam melaksanakan aktifitas
    sehingga berhasil guna (mencapai, hasil yang optimal).
    Efektivitas kerja yaitu suatu keadaan dimana aktifitas jasmani dan rohani yang
    dilakukan oleh manusia mampu mencapai hasil akhir sesuai yang dikehendaki
    (Sutarto, 2012). Aktifitas jasmani yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi
    ketepatan bekerja sedangkan rohani meliputi nilai diri seperti kejujuran dan etika
    dalam bekerja.
    Efektivitas merupakan kemampuan melaksanakan tugas, fungsi dari pada
    suatu organisasi atau sejenisnya yang tidak terdapat tekanan atau ketegangan saat
    melaksanakan (Kurniawan, 2015). Menurut Siagian (2012) efektivitas merupakan
    pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu secara
    sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa
    kegiatan yang dijalankan.

Tujuan penilaian kinerja karyawan


Penilaian kinerja dapat memperbaiki keputusan-keputusan personalia dan
memberikan umpan balik kepada karyawan tentang pelaksanaan kerja mereka.
Oleh karena itu kegunaan penilaian prestasi kerja dapat dirinci sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui tingkat prestasi karyawan selama ini.
2) Pemberian imbalan yang serasi, misalnya untuk pemberian kenaikan
gaji berkala, gaji pokok, kenaikan gaji istimewa, insentif.
3) Mendorong pertanggung jawaban karyawan.
4) Untuk pembeda antar karyawan yang satu dengan yang lain.
5) Pengembangan SDM yang masih dapat dibedakan lagi ke dalam:
a) Penugasan kembali, seperti diadakannya mutasi atau transfer
rotasi pekerjaan.
b) Promosi, kenaikan jabatan.
c) Training atau latihan.
6) Meningkatkan motivasi kerja
7) Meningkatkan etos kerja
8) Memperkuat hubungan antara karyawan dengan supervisor melalui
diskusi tentang kemajuan kerja mereka.
9) Sebagai alat untuk memperoleh umpan balik dari karyawan untuk
memperbaiki desain pekerjaan, lingkungan kerja, dan rencana karir
selanjutnya.
10) Riset seleksi sebagai kriteria keberhasilan/efektivitas.
11) Sebagai salah satu sumber informasi untuk perencanaan SDM, karir
dan keputusan perencanaan suksesi.
12) Membantu menempatkan karyawan dengan pekerjaan yang sesuai
untuk mencapai hasil yang baik secara menyeluruh.
13) Sebagai sumber informasi untuk pengambilan keputusan yang
berkaitan dengan gaji, upah, insentif, kompensasi dan berbagai
imbalan lainnya.
14) Sebagai penyaluran keluhan yang berkaitan dengan masalah pribadi
maupun pekerjaan.
15) Sebagai alat untuk menjaga tingkat kinerja.
16) Sebagai alat untuk membantu dan mendorong karyawan untuk
mengambil inisiatif dalam rangka memperbaki kinerja.
17) Untuk mengetahui efektivitas kebijakan SDM, seperti seleksi
rekrutmen, pelatihan, dan analisi pekerjaan sebagi komponen yang
saling ketergantungan diantara fungsi-fungsi SDM.
18) Mengidentifikasi dan menghilangkan hambatan-hambatan agar
kinerja menjadi baik.
19) Mengembangkan dan menetapkan kompensasi pekerjaan.
20) Pemutusan hubungan kerja, pemberian sanksi ataupun hadiah.
(Rivai dan Sagala,2011:552)

Penilaian kinerja karyawan

Ukuran keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan bisa dilihat dari kinerja
karyawannya. Karena itulah sangatlah penting jika seorang pimpinan melakukan
evaluasi/penilaian kinerja karyawannya demi tercapainya tujuan organisasi.
Penilaian prestasi kerja adalah suatu proses yang digunakan pimpinan untuk
menentukan apakah seorang karyawan melakukan pekerjaannya sesuai tugas dan
tanggung jawabnya (Mengginson dalam Mangkunegara,2014:10).
Menurut Umar dalam Mangkunegara, 2014:18 Indikator atau aspek-aspek
yang dinilai dalan penilaian kinerja antara lain mutu kerja, kejujuran karyawan,
inisiatif, kehadiran, sikap, kerjasama, keandalan, pengetahuan tentang pekerjaan,
tanggung jawab dan pemanfaatan waktu kerja.
Sedangkan indikator kinerja karyawan menurut pendapat lainnya antara lain:
1) Quantity of work: jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode yang
ditentukan.
2) Quality of work: kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat
kesesuaian dan kesiapannya.
3) Job knowledge: luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilannya.
4) Creativenes: keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan timbul.
5) Cooperation: kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain atau sesama
anggota organisasi.
6) Dependability: kesadaran untuk dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan
penyelesaian kerja.
7) Initiative: semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam
memperbesar tanggung jawabnya.
8) Personal qualities: hal ini menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah-
tamahan dan integritas pribadi.
(Jansen dalam Titisari,2014:78

Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja karyawan


Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan
(ability) yang meliputi kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality
(knowledge+skill) serta faktor motivasi (motivation) yaitu suatu sikap pimpinan
dan karyawan terhadap situasi di lingkungan organisasinya
(Mangkunegara,2014:13).
Faktor lain yang mempengaruhi kinerja karyawan antara lain:
1) Faktor individu, antara lain :
a) Usaha (effort) yang menunjukkan sejumlah sinergi fisik dan mental
yang digunakan dalam menyelenggarakan gerakan tugas.
b) Abilities, yaitu sifat-sifat personal yang diperlukan untuk melaksanakan
suatu tugas.
c) Role/task perception, yaitu segala aktivitas yang dirasa perlu oleh
individu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
2) Faktor lingkungan menurut Byar dan Rue dalam Sutrisno, 2009:151 antara
lain kondisi fisik, peralatan, waktu,material, desain organisasi,pelatihan
dan keberuntungan.
Pendapat lainnya mengatakan bahwa kinerja karyawan dipengaruhi oleh :
1) Faktor internal, yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat
seseorang. Maksudnya adalah jika seseorang memiliki sifat pekerja keras
maka kinerjanya juga tinggi dan sebaliknya.
2) Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang
berasal dari lingkungan. Seperti perilaku, sikap dan tindakan-tindakan
rekan kerja, bawaan atau pimpinan, fasilitas kerja dan iklim organisasi
(Timpe dalam Mangkunegara,2014:15)
Sama halnya dengan lingkungan kerja dan stres kerja, kinerja karyawan juga
sangat dipengaruhi oleh banyak hal, tidak hanya faktor eksternal saja yaitu
lingkungan kerja atau lingkungan dirumah, faktor internalpun yang sangat
berhubungan dengan kemampuan kerja seseorang sangat berpengaruh pada
kinerja seorang karyawan

Pengertian Kinerja


Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan Rivai dan
Sagala (2011:548). Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara,2013:67)
Tingginya performa dari sebuah perusahan dapat dilihat dari kinerja
karyawan. Kinerja karyawan didefinisikan sebagai kemampuan pegawai dalam
melakukan sesuatu keahlian tertentu (Sinambela,dkk dalam Manggiasih dan
Sunardi,2014:23).
Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi
organisasi yang tertuang dalam perumusan skema strategis suatu organisasi
(Titisari,2014:74)
Performa perusahaan yang baik hanya bisa dicapai dengan adanya kinerja
karyawan yang baik pula. Sangat penting bagi perusahaan untuk memperhatikan
faktor-faktor apa saja yang mampu mempengaruhi kinerja karyawan, sehingga
perusahaan dapat mencapai tujuannya

Pendekatan Stres kerja


Pendekatan stres kerja dapat dilakukan dengan cara :

  1. Pendekatan individu, meliputi :
    b) Meningkatkan keimanan
    c) Melakukan meditasi dan pernapasan
    d) Melakukan kegiatan olah raga
    e) Melakukan relaksasi
    f) Dukungan sosial dari teman-teman dan keluarga
    g) Menghindari kebiasaan rutin yang membosankan
  2. Pendekatan perusahaan, meliputi :
    a) Melakukan perbaikan iklim organisasi
    b) Melakukan perbaikan terhadap lingungan fisik
    c) Menyediakan sarana olah raga
    d) Melakukan analisis dan kejelasan tugas
    e) Meningkatkan partisipasi dalam pengambilan keputusan
    f) Melakukan restrukturasi tugas
    g) Menerapkan konsep manajemen berdasarkan sasaran
    (Rivai dan Sagala,2011:1008)

Dampak stres kerja


1) Dampak Negatif stres
Stres dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu. Dampak tersebut
bisa merupakan gejala fisik maupun psikis dan akan menimbulkan gejala-gejala
tertentu. Reaksi dari stres bagi individu dapat digolongkan menjadi beberapa
gejala yaitu sebagai berikut :
a) Gejala fisiologis, berupa keluhan seperti sakit kepala, sembelit, diare,
sakit pinggang, urat tegang pada tengkuk, tekanan darah tinggi, kelelahan,
sakit perut, maag, berubah selera makan, susah tidur, dan kehilangan
semangat.
b) Gejala emosional, berupa keluhan seperti gelisah, cemas, mudah marah,
gugup, takut, mudah tersinggung, sedih dan depresi.
c) Gejala kognitif, berupa keluhan seperti susah berkonsentrasi, sulit
membuat keputusan, mudah lupa, melamun secara berlebihan, dan pikiran
kacau.
d) Gejala interpersonal, berupa sikap acuh tak acuh pada lingkungan, apatis,
agresif, minder, kehilangan kepercayaan pada orang lain, dan mudah
mempersalahkan orang lain.
e) Gejala organisasional, berupa meningkatnya keabsenan dalam kerja/
kuliah, menurunnya produktivitas, ketegangan dengan rekan kerja,
ketidakpuasan kerja dan menurunnya dorongan untuk berprestasi.
(Rice dalam Safaria dan Nofrans,2009:30)
Banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan apabila seseorang
mengalami stres, pada awal stres seseorang akan mengalami pusing atau penat
serta malas melakukan kegiatan sehari-hari, apabila gejala ini dibiarkan saja tanpa
ada usaha dalam mengatasinya, maka akan seseorang akan mengalami banyak
penyakit yang berhubungan dengan syaraf,serta penyakit lainnya.
2) Dampak positif stres
Stres sendiri dapat bersifat mendorong ke arah kemajuan dapat pula
menghambat performa. Sedikit stres berarti tidak ada tantangan di dalam
pekerjaan anda. Hal ini akan menyebabkan seseorang kehilangan semangat untuk
bekerja secara optimal (Rice dalam Safaria dan Nofrans,2009:30)
Beberapa dampak positif stres antara lain :
a) Dapat membantu seseorang menjadi lebih kreatif.
b) Baik untuk system ketahanan tubuh seseorang.
c) Membuat seseorang lebih sehat
d) Menjaga orang-orang terkasih seperti anak-anak.
e) Menjadi lebih termotivasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja


Banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya stres kerja,
mulai dari masalah pribadi hingga semua hal yang berhubungan kemampuan
kerja seseorang. Menurut Mangkunegara, 2013:157 Penyebab stres kerja,
antara lain beban kerja yang dirasakan terlalu berat, waktu kerja yang
mendesak, kualitas pengawasan kerja yang rendah, iklim kerja yang tidak
sehat, otoritas kerja yang tidak memadai yang berhubungan dengan tanggung
jawab, konflik kerja, perbedaan nilai antara karyawan dengan pemimpin yang
frustasi dalam kerja.
Ada dua kategori penyebab stres, yaitu on-the-job dan off-the-job
Sejumlah kondisi kerja yang menyebabkan stres bagi para karyawan,
diantaranya adalah :
1) Beban kerja yang berlebihan
2) Tekanan atau desakan waktu
3) Kualitas supervise yang jelek
4) Iklim politis yang tidak aman
5) Umpan balik tentang pelaksanaan kerja yang tidak memadai
6) Kemenduaan peranan
7) Frustasi
8) Konflik antar pribadi dan antar kelompok
9) Perbedaan antara nilai-nilai perusahaan dan karyawan
10) Berbagi bentuk perusahaan.
Sedangkan faktor off-the-job antara lain:
1) Kekuatiran finasial
2) Masalah-masalah phisik
3) Masalah-masalah perkawinan
4) Perubahan-perubahan yang terjadi di tempat tinggal
5) Masalah-masalah pribadi lainnya, seperti kematian sanak saudara
(Handoko,2012:201)

Pengertian stres kerja


Stres merupakan hal yang melekat pada kehidupan. Siapa saja, dalam kadar
berat ringan yang berbeda dan dalam jangka panjang-pendek yang tidak sama,
pernah atau akan mengalaminya. Menurut Soewondo dalam Gaffar,2012:9 Tak
seorangpun bisa terhindar daripadanya stres kerja akan muncul bila terdapat
kesenjangan antara kemampuan individu dengan tuntutan-tuntutan dari
pekerjaannya
Stres kerja adalah suatu kondisi ketegangan yang menciptakan adanya
ketidakseimbangan fisik dan psikis yang mempengaruhi emosi, proses berpikir,
dan kondisi seorang karyawan. Stres yang terlalu besar dapat mengancam
kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan (Rivai dan
Sagala,2011:1008)
Stres adalah suatu reaksi fisik dan psikis terhadap setiap tuntutan yang
menyebabkan ketegangan dan mengganggu stabilitas kehidupan sehari-hari.
Menurut World Health Organization (2003), stres adalah reaksi/respon tubuh
terhadap stressor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan
(Priyoto,2014:2).
Stres dapat terjadi pada individu ketika terdapat ketidakseimbangan
antara situasi yang menuntut dengan perasaan individu atas kemampuannya
untuk bertemu dengan tuntutan-tuntutan tersebut (Kendall dan
Hammen,dalam Safaria dan Nofrans,2009:28). Stres menurut pendapat
Kartono dan Gulo dalam Safaria dan Nofrans (2009:28) adalah sebagai
berikut :
1) Suatu stimulus yang menegangkan kapasitas-kapasitas (daya) psikologis
atau fisiologis organisme.
2) Sejenis frustasi, dengan aktivitas yang terarah pada pencapaian tujuan
telah terganggu atau dipersukar, tetapi tidak terhalang-halangi, peristiwa
ini biasanya disertai oleh perasaan was-was khawatir dalam pencapaian
tujuan.
3) Kekuatan yang diterapkan pada suatu system, tekanan-tekanan fisik dan
psikologis yang dikenakan pada tubuh dan pribadi.
4) Suatu kondisi ketegangan fisik atau psikologis disebabkan oleh adanya
persepsi ketakutan dan kecemasan

Faktor – faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja


Kondisi lingkungan kerja pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, antara
lain :
1) Lingkungan fisik atau tempat kerja: ventilasi, penerangan, tata letak,
dan peralatan
2) Kondisi psikososial atau perlakuan yang diterima: Tempat kerja yang
memudahkan interaksi sosial yang tercipta tersebut dapat berpengaruh
positif terhadap prestasi kerja karyawan (Simamora dalam Husien dan
Hady,2012:36)
Tidak hanya lingkungan fisik saja lingkungan kerja juga terdiri dari
lingkungan non fisik yang sangat mempengaruhi seorang karyawan, karyawan
biasanya akan lebih bersemangat dan memiliki konsentrasi yang tinggi terhasad
pekerjaan apabila lingkungan kerjanya bersih serta tanpa adanya suara bising yang
mengganggu dan kerjasama yang baik dengan teman kerja

Pengertian lingkungan kerja


Lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada dilingkungan para pekerja
yang mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas seperti temperatur,
kelembaban, polusi, udara, ventilasi, penerangan, kegaduhan, kebisingan,
kebersihan tempat kerja dan memadai tidaknya alat dan perlengkapan kerja
(Nitisemo dalam Husien dan Hady,2012:35).
Lingkungan kerja merupakan bagian komponen yang sangat penting di
dalam karyawan melakukan aktivitas kerja (Sunyoto dalam Manggiasih dan
Sunardi,2014:23).
Lingkungan kerja yang tidak mendukung sangat berpengaruh besar
terhadap aktivitas karyawan, misalnya saja saat karyawan mendapatkan tugas
dari pimpinan yang harus segera diselesaikan, namun ada rekan kerja yang
berbuat gaduh atau berisik, maka secara tidak langsung konsentrasi karyawan
dalam melakukan tugas akan terpecah dan hasil pekerjaannya tentu tidak
maksimal karena adanya gangguan yang terjadi disekitar karyawan tersebut

Hubungan Lingkungan Kerja dengan Kinerja Perawat


Work envinronment sangat berpengaruh terhadap kinerja petugas
dalam mencapai tujuan organisasi. Lingkungan kerja juga dapat
mempengaruhi petugas dalam menjalankan segala aktivitas kerjanya.
Lingkungan kerja yang baik bagi petugas adalah suasana kerja yang dapat
memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka selama berada di lingkungan
kerjannya. Selain itu, lingkungan kerja merupakan elemen sistem sosial dalam
organisasi yang dapat mempengaruhi pembentukan secara alamiah perilaku
individu sehingga berpengaruh juga terhadap prestasi organisasi (Mawardi &
Yunita, 2022). Lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap semangat kerja
dimana perawat tidak mungkin dapat melakukan pekerjaan sebagaimana yang
diharapkan tanpa ditunjang lingkungan kerja yang mendukung kenyamanan
perawat di dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari (Sani, 2019)

Indikator Kinerja


Penelitian ini menggunakan indikator kinerja seperti yang digunakan oleh
penelitian (Suhaeni, 2016), yaitu:

  1. Kuantitas Kerja, yaitu meliputi jumlah pekerjaan yang dapat
    diselesaikan. Seberapa lama seorang pegawai bekerja dalam satu
    harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap
    pegawai itu masing-masing
  2. Kualitas Kerja, yaitu seberapa baik seorang pegawai mengerjakan apa
    yang seharusnya dikerjakan, ini berlaku sebagai standar proses
    pelaksanaan kegiatan rencana organisasi. Pengukuran kualitatif
    mencerminkan pengukuran tingkat “kepuasan”, yakni seberapa baik
    penyelesaiannya
  3. Ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan, yaitu pemenuhan kesesuaian
    waktu yang dibutuhkan atau diharapkan dalam pelaksanaan kegiatan,
    sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan. Pengukuran
    ketepatan waktu merupakan jenis khusus penyelesaian suatu kegiatan

Tujuan Penilaian Kinerja


Menurut (Masram & Mu’ah, 2017), tujuan penilaian kinerja antara lain:

  1. Meningkatkan pemahaman bersama perawat tentang persyaratan
    kinerja.
  2. Memperbaiki dan mengenali pekerjaan perawat sedemikian rupa
    sehingga termotivasi untuk berbuat lebih baik atau setidaknya
    mencapai prestasi yang sama dengan sebelumnya.
  3. Memberikan kesempatan kepada perawat untuk mendiskusikan
    keinginan dan aspirasi mereka serta meningkatkan kesadaran akan
    karir atau pekerjaan mereka.
  4. Mendefinisikan atau merumuskan kembali tujuan masa depan
    sehingga perawat termotivasi untuk mencapai potensi mereka.
  5. Memeriksa rencana pelaksanaan dan pengembangan sesuai dengan
    kebutuhan pelatihan, khususnya rencana pelatihan dan menyetujui
    rencana tersebut jika tidak ada perubahan

Penilaian Kinerja Perawat


Terdapat beberapa metode penilaian kinerja menurut (Syarief et al., 2022),
yaitu:

  1. Rating Scale. Dalam metode ini, penilai harus memberikan penilaian
    terhadap kinerja individu dalam skala numerik yang bervariasi dari
    kurang. di atas. baik
  2. Checklist. Dalam metode ini, pernyataan yang paling tepat untuk
    menggambarkan kinerja individu harus dipilih selama evaluasi
  3. Paired Comparison Method. Dalam metode ini, semua perawat
    dievaluasi bersama dengan rekan kerja lainnya berdasarkan kriteria
    tertentu.
  4. Alternation Ranking Method. Dalam evaluasi kinerja, metode ini
    menggunakan seluruh perawat dari yang berkinerja terbaik hingga
    yang tekurang.
  5. Critical Incidence Method. Dalam metode ini, perilaku yang dianggap
    tidak biasa dan buruk dicatat untuk kemudian diperiksa oleh staf pada
    waktu yang telah ditentukan.
  6. Narative Form. Metode Penilaian Pilihan memberikan penilaian
    dalam bentuk naratif atau esai tertulis.
  7. Behaviorally Anchored Rating Scale (BARS) Metode ini
    menggabungkan peringkat naratif dengan skala penilaian kuantitatif.
  8. Management by Objectives (MBO) Evaluasi diputuskan oleh perawat
    bersama dengan manajer untuk melakukan evaluasi bersama secara
    berkala.
  9. 360 Degree.
    Evaluasi hanya dilakukan oleh supervisor, jadi dalam metode ini
    evaluasi 360 derajat yaitu. dari semua pihak termasuk atasan, bawahan,
    rekan kerja, evaluasi diri, klien dan semua pihak yang terlibat dalam
    proses tersebut. proses kerjanya bersifat individual.
    Penilaian kinerja difasilitasi oleh beberapa pihak, antara lain
    perawat itu sendiri, rekan kerja, manajer langsung atau atasan, bawahan
    dan pelanggan. Pihak-pihak yang melakukan penilaian kinerja menurut
    (Adamy, 2016) adalah :
  10. Perawat itu sendiri, perawat sendiri dapat menilai apakah hasil
    kerjanya sudah mencapai standar kerja atau belum, berdasarkan hasil
    analisa kerja perawat dapat menilai sendiri kinerjanya.
  11. Rekan kerja, selain rekan kerja itu sendiri atau anggota tim, dapat
    mengevaluasi kinerja perawat, rekan kerja tahu banyak tentang
    kemampuan kerja perawat.
  12. Direksi atau atasan, manajer memiliki kendali atas kinerja perawatnya,
    seperti halnya bawahan, manajer atau atasannya memiliki kriteria
    tertentu untuk menilai perawat. .
  13. Bawahan sebagai evaluator Saat ini banyak perusahaan yang meminta
    bawahannya untuk mengevaluasi kinerja atasannya. Di masa lalu,
    tinjauan kinerja semacam itu sangat jarang, dan bahkan mungkin tidak
    ada perusahaan yang menerapkannya.
  14. Pelanggan sebagai evaluator, pihak lain di luar perusahaan dapat
    diminta untuk menilai kinerja perawat di perusahaan, karena
    pelanggan merupakan sumber informasi yang dapat digunakan untuk
    penilaian kinerja dari luar perusahaan.

Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Perawat


Menurut (Enny, 2019), kinerja dipengaruhi oleh:

  1. Kemampuan dan kompetensi
    Keahlian atau kemampuan yang dimiliki seseorang dalam
    pekerjaannya. Semakin banyak keterampilan dan keahlian yang pilih,
    semakin baik dapat menyelesaikan pekerjaan persis seperti yang
    diputuskan.
  2. Pengetahuan
    Informasi tentang pekerjaan, pengetahuan kerja yang baik memberikan
    hasil yang baik dan sebaliknya. Perawat yang berkompeten harus
    memiliki pengetahuan baik sehingga diharapkan mampu melaksanakan
    asuhan keperawatan dengan efektif dan efisien. Sehingga kinerja pun
    akan semakin baik (Admin et al., 2020).
  3. Rencana kerja
    Apabila pekerjaan direncanakan dengan baik, hal itu mendorong
    pelaksanaan pekerjaan yang benar dan lancar. Pada dasarnya
    penjadwalan pekerjaan digunakan untuk memudahkan perawat dalam
    bekerja.
  4. Personality
    Kepribadian atau watak yang dimiliki oleh seseorang, setiap orang
    memiliki kepribadian atau watak yang berbeda satu sama lain.
  5. Motivasi kerja
    Motivasi untuk bekerja merupakan kondisi ketika perawat mendapat
    motivasi yang kuat dari perusahaan dan dari dalam dirinya sendiri,
    maka perawat tersebut terdorong untuk melakukan pekerjaan dengan
    baik (Enny, 2019). Motivasi kerja berpengaruh positif sigifikan
    terhadap kinerja karyawan. Seorang karyawan mau berkerja karena
    memiliki motivasi kerja dalam dirinya. Motivasi yang menggerakan
    seorang karyawan untuk mau bekerja, berpengaruh terhadap kinerja
    yang dihasilkannya. Semakin baik motivasi kerja yang dimiliki,
    semakin baik pula kinerja karyawan yang dihasilkan (Prabaningtyas &
    Djastuti, 2019).
  6. Kepemimpinan
    Perilaku pemimpin dalam mengatur, memimpin dan mengangkat
    bawahannya untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang
    dibebankan kepadanya. Gaya kepemimpinan adalah gaya atau sikap
    pemimpin dalam menghadapi atau memerintah bawahannya. Dalam
    prakteknya, gaya manajemen ini dapat diterapkan sesuai dengan
    kondisi organisasi (Enny, 2019). Pemimpin yang menonjolkan gaya
    kepemimpinan otoritasnnya dengan memberikan instruksi tanpa
    memperhatikan ide dan pendapat bawahan seperti gaya kepemimpinan
    otoriter, tidak akan meningkatkan motivasi bawahan, karena
    cenderung terlalu mengatur. Demikian halnya bila pemimpin hanya
    tergantung pada bawahan, dimana setiap tindakan selalu selalu
    melibatkan bawahan seperti pada gaya kepemimpinan demokratis akan
    menyebabkan proses pengambilan keputusan menjadi lambat (Admin
    et al., 2020).
  7. Budaya organisasi
    Kebiasaan atau norma yang diterapkan dan dimiliki oleh organisasi
    atau perusahaan. Ini mengatur hal-hal yang diakui dan diterima secara
    umum dan harus diikuti oleh semua anggota perusahaan atau
    organisasi. saya.
  8. Kinerja
    Perasaan senang atau gembira, atau perasaan disukai oleh orang
    lain sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan. Demikian pula jika
    seseorang tidak senang atau bahagia dan tidak menyukai pekerjaannya,
    hal itu juga mempengaruhi kinerja perawat. Dengan demikian, kinerja
    dapat mempengaruhi kinerja. jam.
  9. Lingkungan kerja
    Lingkungan kerja adalah suasana atau kondisi tempat kerja.
    Lingkungan kerja dapat berupa lokasi, tata letak, sarana dan prasarana,
    tetapi juga dapat berupa hubungan kerja dengan rekan kerja.
  10. Loyalitas
    Loyalitas berarti kesetiaan perawat untuk terus bekerja dan melindungi
    perusahaan tempatnya bekerja. Loyalitas ini ditunjukkan dengan terus
    bekerja keras meski perusahaan sedang dalam kondisi buruk.
  11. Komitmen
    Komitmen berarti bahwa perawat mengikuti perusahaan atau aturan di
    tempat kerja. Komitmen juga berarti bahwa perawat menepati janjinya.
  12. Disiplin kerja
    Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui
    proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai
    ketaatan, kepatuhan, keteraturan, dan ketertiban. Karena sudah
    menyatu dengan dirinya, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan
    bukan lagi atau sama sekali tidak dirasakan sebagai beban, bahkan
    sebaliknya akan membebani dirinya bilamana ia tidak berbuat
    sebagaimana lazimnya (Yulizar, 2019)

Indikator Lingkungan Kerja


Indikator-indikator lingkungan kerja oleh Nitisemito dalam (Sari,
2022) yaitu sebagai berikut:

  1. Suasana Kerja
    Suasana kerja adalah kondisi yang ada disekitar perawat yang
    sedang melakukan pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan
    pekerjaan itu sendiri. Suasana kerja ini meliputi tempat kerja, fasilitas
    dan alat bantu pekerjaan, kebersihan, pencahayaan, ketenangan
    termasuk juga hubungan kerja antara orang-orang yang ada ditempat
    tersebut termasuk hubungan antara atasan dan bawahan.
  2. Hubungan dengan rekan kerja
    Hubungan dengan rekan kerja yaitu hubungan dengan rekan
    kerja harmonis dan tanpa ada saling intrik diantara sesama rekan
    sekerja. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perawat tetap
    tinggal dalam satu organisasi adalah adanya hubungan yang harmonis
    diantara rekan kerja (Rangkuti et al., 2021). Hubungan yang harmonis
    dan kekeluargaan merupakan salah satu faktor yang dapat
    mempengaruhi kinerja perawat. Mereka merasakan betapa bekerja di
    isntansi tersebut bukan seperti tempat kerja melainkan seperti berada
    di tengah-tengah orang yang dicintainya dan tidak ada kata
    membosankan, dan itu menjadi hal yang positif agar perawat dapat
    bekerja sebaik mungkin secara efektif dan efisien.
  3. Tersedianya fasilitas kerja
    Hal ini dimaksudkan bahwa peralatan yang digunakan untuk
    mendukung kelancaran kerja lengkap/mutakhir. Tersedianya fasilitas
    kerja yang lengkap, walaupun tidak baru merupakan salah satu
    penunjang proses dalam bekerja

Jenis Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja terbagi menjadi dua jenis, yaitu lingkungan kerja
fisik dan non fisik. Lingkungan kerja fisik adalah segala sesuatu yang
berwujud dan berada di lingkungan kerja yang secara langsung dan tidak
langsung mempengaruhi karyawan, sedangkan lingkungan kerja non fisik
adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan hubungan kerja dan
suasana kerja (Rahmadia et al., 2019). Berikut ini penjelasan tentang
lingkungan kerja fisik dan non fisik:

  1. Lingkungan Kerja Fisik
    Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik
    yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi
    pegawai baik secara langsung maupun secara tidak langsung (Santika
    & Antari, 2020). Lingkungan kerja fisik dapat dibagi dalam dua
    kategori menurut Sedarmayanti dalam Santika dan Antari (2020),
    yaitu:
    a. Lingkungan yang langsung berhubungan dengan pegawai, seperti:
    pusat kerja, kursi, meja, dan sebagainya
    b. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut
    lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya:
    temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan.
  2. Lingkungan kerja non fisik
    Lingkungan kerja non fisik bisa juga disebut lingkungan rekan kerja
    yang merupakan lingkungan yang berhubungan langsung dengan
    karyawan. Kinerja seorang karyawan selalu berkesinambungan dan
    berhubungan dengan rekan kerjanya. Semakin baik lingkungan rekan
    kerjanya, semakin baik pula kinerja yang dihasilkan karyawan
    (Prabaningtyas & Djastuti, 2019)

Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja

Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja menurut (Enny, 2019)
adalah:

  1. Faktor pribadi/individu meliputi: pengetahuan, keterampilan,
    kemampuan, kepercayaan diri, motivasi dan komitmen setiap orang.
  2. Faktor kepemimpinan meliputi: kualitas motivasi, semangat,
    bimbingan dan dukungan pimpinan.
  3. Faktor tim meliputi: kualitas dukungan dan semangat rekan tim,
    kepercayaan pada rekan kerja, kekompakan dan kedekatan antar
    anggota tim.
  4. Faktor sistem, meliputi: sistem kerja, ruang atau infrastruktur kerja
    yang disediakan organisasi, proses organisasi dan budaya kinerja
    dalam organisasi.
  5. Faktor kontekstual (situasi), meliputi: tekanan dan perubahan
    lingkungan eksternal dan internal

Manfaat Lingkungan Kerja

Manfaat lingkungan kerja menurut beberapa peneliti adalah:

  1. Pegawai dapat bekerja secara efektif dan efesien, karena lingkungan
    kerja dapat mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan tugas yang
    dibebankan baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat
    lingkungan kerja adalah menciptakan gairah kerja, sehingga
    produktivitas dan prestasi kerja meningkat (Sani, 2019).
  2. Lingkungan kerja menyediakan akses informasi, sumber, dukungan,
    dan kesempatan untuk belajar serta berkembang merupakan suatu
    pemberdayaan (empowerment) (Pashar & Dwiantoro, 2020).
  3. Semakin baik lingkungan kerja, maka para perawat akan merasa
    nyaman dengan tempatnya bekerja dan pada akhirnya berdampak pada
    kinerja perawat yang semakin membaik dan memberikan hasil kinerja
    yang maksimal (Yulizar, 2019).

Konsep Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja adalah segala sesuatu di sekitar karyawan yang
dapat mempengaruhi mereka dalam pelaksanaan tugas yang diberikan,
seperti kebersihan, musik, dan lain-lain (Sivagama et al., 2020).
Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang berada di sekitar karyawan
yang mempengaruhi dirinya dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas-
tugas yang diberikan kepadanya dalam suatu wilayah (Rahayu &
Rushadiyati, 2021).
Lingkungan kerja merupakan keadaan atau tempat di mana
seseorang melaksanakan tugas dan kewajibannya serta dapat
mempengaruhi pegawai dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan
(Rahayu & Rushadiyati, 2021). Lingkungan kerja mempunyai peranan
yang sangat penting dalam pelaksanaan tugas-tugas yang diberikan
bagi perawat, dengan adanya lingkungan kerja yang menyenangkan dan
memberi kepuasan serta rasa nyaman sehingga mempengaruhi
peningkatan kerja karyawan, lingkungan kerja sebagai sikap, nilai, norma
dan perasaan yang lazim dimiliki oleh karyawan sehubungan dengan
organisasi mereka (Sivagama et al., 2020).

Indikator Loyalitas Karyawan


Menurut Wibowo, (2013:6) menjelaskan indikator loyalitas karyawan,
yaitu:
a. Lama kerja
yaitu masa kerja yang telah ditempuh karyawan sehinggan karyawan tersebut
tidak berencana untuk mencari kerja ditempat lain.
b. Kepercayaan karyawan
yaitu kepastian kepercayaan yang diberikan karyawan tercipta dari
operasional dari perusahaan yang tidak lepas dari kepercayaan perusahaan
terhadap karyawan itu sendiri untuk melaksanakan pekerjaannya.
c. Peran serta karyawan
yaitu bentuk peran serta anggota organisasi dalam menggunakan tenaga dan
pikiran serta waktunya dalam mewujudkan tujuan organisasi pada perusahan
yang bersangkutan.
d. Kebanggaan karyawan
yaitu kebanggaan dalam diri dan akan tetap menjaga nama baik organisasi
dimata orang luar

Faktor – Faktor Loyalitas Karyawan


Adapun yang mempengaruhi faktor faktor dari loyalitas karyawan menurut
Onsardi, (2018) diantaranya yaitu :

  1. Kompensasi
    Segala bentuk imbalan yang diterima seorang karyawan atas hasil kerja
    karyawan terebut pada perusahaan. Kompensasi bisa berupa fisik maupun
    non fisik dan harus dihitung dan diberikan kepada karyawan sesuai dengan
    pengorbanan yang telah diberikannya kepada perusahaan.
  2. Pemberdayaan
    Suatu proses kegiatan usaha untuk lebih memberdayakan melalui perubahan
    dan pengembangan manusia itu sendiri, berupa kemampuan, kepercayaan
    wewenang dan tanggung jawab dalam rangka pelakasanaan kegiatan dalam
    meningkatkan kinerja.
  3. Kepuasan Karyawan
    Sikap menyenangkan atau tidak menyenangkan yang dirasakan karyawan
    yang muncul sebagai akibat dari pekerjaan yang dilakukan. Berhubungan
    dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaan itu sendiri, situasi kerja,
    kerjasama antara pemimpin dan sesama karyawan

Aspek – Aspek Loyalitas Karyawan


Aspek-aspek loyalitas kerja menurut Hasibuan, (2013:65), sebagai berikut :
ketaatan/kepatuhan pada peraturan perusahaan, rasa tanggung jawab yang tinggi,
pengabdian terhadap perusahaan dan kesanggupan karyawan dalam melaksanakan
kerja.

  1. Ketaatan atau kepatuhan
    yaitu seorang karyawan yang loyal akan selalu taat pada peraturan. Sesuai
    dengan pengertian loyalitas , ketaatan ini timbul dari kesadaran karyawan jika
    peraturan yang dibuat oleh perusahaan semata-mata disusun untuk
    memperlancar jalannya pelaksaan kerja perusahaan.
  2. Rasa tanggung jawab tinggi
    yaitu ketika seorang karyawan memiliki sikap sesuai dengan pengertian
    loyalitas, maka secara otomatis ia akan merasa memiliki tanggung jawab yang
    besar terhadap perusahaannya.
  3. Pengabdian terhadap perusahaan
    yaitu adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat
    karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap
    perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan sikap sesuai dengan
    pengertian loyalitas demi tercapainya tujuan perusahaan.
  4. Kesanggupan karyawan dalam melaksanakan kerja
    yaitu karyawan yang memiliki sikap sesuai dengan pengertian loyalitas, tidak
    segan untuk bekerja sama dengan karyawan lain.

Pengertian Loyalitas Karyawan


Loyalitas karyawan didefinisikan sebagai kesediaan karyawan menjaga dan
membela organisasi didalam maupun di luar pekerjaan dari rongrongan orang yang
tidak bertanggung jawab Hasibuan, (2016:60).
Menurut Jusuf, (2014:1), loyalitas merupakan suatu sikap yang timbul
sebagai akibat keinginan untuk setia dan berbakti, baik itu pada pekerjaanya dan
kelompok serta pada tempat kerjaanya yang menyebabkan seseorang karyawan rela
berkorban demi memuaskan pihak lain atau lembaga. Menurut Elita & Rini, (2020),
loyalitas karyawan adalah sikap kesetiaan kepada perusahaan serta menjaga nama
baik perusahaan.

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Afandi, (2021:82) indikator kepuasan kerja meliputi beberapa point
diantaranya yaitu :
a. Pekerjaan
Isi pekerjaan yang dilakukan karyawan apakah memiliki element yang
memuaskan.
b. Upah
Jumlah bayaran yang diterima karyawan sebagai akibat dari pelaksanaan kerja
apalah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan adil.
c. Promosi
Kemungkinan karyawan dapat berkembang melalui kenaikan jabatan.
d. Rekan kerja
Teman – teman kepada siapa karyawan senantiasa berinteraksi dalam
pelaksanaan pekerjaan.

Faktor – Faktor Kepuasan Kerja


Menurut Afandi, (2021:75) bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi
kepuasan kerja diantaranya yaitu :

  1. Pemenuhan Kebutuhan
    Ditentukan pada tingkatan kerakteristik pekerjaan memberikan kesempatan
    kepada karyawan untuk memenuhi kebutuhannya.
  2. Perbedaan
    Kepuasan merupakan hasil dari memenuhi harapan, pemenuhan harapan
    mecerminkan perbedaan antara yang diharapkan dan apa yang diperoleh
    karyawan dari pekerjaanya.
  3. Pencapaian Nilai
    Pencapaian merupakan hasil dari persepsi pekerjaan dan memberikan
    pemenuhan nilai kerja individual yang penting.
  4. Keadilan
    Merupakan kepuasan fungsi dari seberapa adil karyawan diperlakukan di
    tempat kerjanya.
  5. Budaya Oraganisasi
    Dalam sebuah organisasi harus terjalin sebuah budaya kerja yang baik dan
    harmonis maka karyawan akan merasa puas dalam bekerja dan berupaya
    bekerja dengan baik

Faktor – Faktor Kepuasan Kerja


Menurut Afandi, (2021:75) bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi
kepuasan kerja diantaranya yaitu :

  1. Pemenuhan Kebutuhan
    Ditentukan pada tingkatan kerakteristik pekerjaan memberikan kesempatan
    kepada karyawan untuk memenuhi kebutuhannya.
  2. Perbedaan
    Kepuasan merupakan hasil dari memenuhi harapan, pemenuhan harapan
    mecerminkan perbedaan antara yang diharapkan dan apa yang diperoleh
    karyawan dari pekerjaanya.
  3. Pencapaian Nilai
    Pencapaian merupakan hasil dari persepsi pekerjaan dan memberikan
    pemenuhan nilai kerja individual yang penting.
  4. Keadilan
    Merupakan kepuasan fungsi dari seberapa adil karyawan diperlakukan di
    tempat kerjanya.
  5. Budaya Oraganisasi
    Dalam sebuah organisasi harus terjalin sebuah budaya kerja yang baik dan
    harmonis maka karyawan akan merasa puas dalam bekerja dan berupaya
    bekerja dengan baik

Pengertian Kepuasan Kerja

Menurut Fattah, (2017:68) kepuasan kerja dapat diartikan untuk melihat
perasaan akan senang atau tidaknya terhadap pekerjaan yang dilakukan. Serta
sesuatu efektifitas yang dilakukan seorang karyawan dalam melakukan
pekerjaanya.
Menurut Handoko, (2020:193) kepuasan kerja adalah perilaku yang
menyenangkan atau tidak mengenai pekerjaannya terhadap pendapatan yang
diterimanya, hal ini terlihat dari perasaan dan perilaku baik karyawan terhadap hasil
pekerjaan dan semua hal yang dialami dalam lingkungan kerja.
Menurut Afandi, (2021:73) bahwa kepuasan kerja merupakan efektifitas
atau respons emosional terhadap aspek pekerjaan serta seperangkat prasaan
karyawan tentang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka.

Indikator Komunikasi


Komunikasi merupakan proses pemindahan suatu informasi, ide, pengertian
dari seorang kepada orang lain dengan harapan orang lain tersebut dapat mengerti
dengan penyampaian maksud tersebut. Menurut Afandi, (2021:64) yang menjadi
indikator dalam komunikasi ada dua yaitu :

  1. Penyampaian Tugas
    a. Bijaksana
    Pada dasarnya bijaksana merupakan suatu tindakan yang dilakukan
    seorang karyawan dalam menanggapi suatu pekerjaan terkait tugas dan
    arahan yang diberikan dengan pandai.
    b. Kesopanan
    Suatu tindakan seorang karyawan dalam menanggapi penyampaian
    informasi atau tugas yang diberikan dengan tutur kata yang baik dan
    benar.
    c. Kata yang tepat
    Dalam manggapi suatu perkejaan diperlukan penggunaan kata yang baik
    dalam berkomunikasi agar tidak terjadinya kesalahpahaman dalam
    berkomunikasi.
  2. Umpan Balik
    a. Penerimaan tanggapan dari pesan yang disampaikan
    Menerima masukan dari rekan kerja dengan baik dalam berdiskusi terkait
    pekerjaan maupun tugas yang diberikan atasan.
    b. Penerimaan kepastian tugas
    Menanyakan kembali suatu tugas yang diberikan atasan dengan tujuan
    memastikan agar tidak adanya kesalah pahaman.

Faktor – Faktor Komunikasi


Menurut Afandi, (2021:64) berdasarkan teori yang mempengaruhi
komunikasi dalam organisasi memiliki beberapa point diantaranya yaitu :
a. Keterbukaan
Peranan keterbukaan dalam meningkatkan kinerja karyawan tergantung
pada kemampuan karyawan itu sendiri. Seorang karyawan harus mampu
untuk berkomunikasi secara terbuka, untuk menciptakan suasana
keterbukaan pegawai harus akrab satu sama lain. Artinya karyawan harus
mengerti kesan bersahabat, paham dan simpati serta jauh dari kesan marah,
pimpinan hendaklah memberikan kebebasan pada bawahan untuk
mengemukakan perasaannya, pendapat, saran dan pertanyaan.
b. Empati
Empati pada umumnya kemampuan untuk mengetahui apa yang sedang
dialami orang lain. Mampu memahami kondisi orang lain sehingga bisa
menyesuaikan komunikasinya dengan kondisi orang yang ditemani
berkomunikasi.
c. Sikap Positif
Sikap positif dalam komunikasi adalah kemampuan untuk melihat secara
positif apa yang ada pada lawan bicara dan pada diri sendiri dimana sikap
positif ini bisa diwujudkan dalam bentuk dorongan. Sikap positif ini
dilakukan secara spontan.
d. Kedisiplinan
Disiplin merupakan kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan
suatu system yang mengharuskan seseorang mengikuti keputusan, perintah
dan peraturan yang berlaku.

Prinsip – Prinsip Komunikasi


Menurut Afandi, (2021:54) terdapat beberapa prinsip dasar yang harus
diperhatikan dalam berkomunikasi diantaranya yaitu :
a. Respect
Merupakan sikap hormat dan mengahargai terhadap lawan bicara. Hal
tersebut belajar untuk berhenti sejenak agar tidak mementingkan diri kita
sendiri tetapi lebih mengutamakan kepentingan orang lain.
b. Empati
Empati kemampuan untuk menepatkan diri pada kondisi yang sedang
dihadapi orang lain. Hal ini berusaha untuk memahami sikap seseorang serta
ikut dalam kondisi yang sedang dialami orang lain

Pengertian Komunikasi


Menurut Afandi, (2021:47) komunikasi merupakan suatu proses dimana
sumber mentransmisikan pesan kepada penerima melalui bermacam macam
saluran. Dimana suatu proses yang mentransmisikan kepada penerima pesan
melalui media yang dilakukan komunikator dalam suatu tindakan komunikasi.
Menurut Busro, (2018:207) Komunikasi adalah pertukaran informasi atau
pesan secara dua arah antara komunikator dan komunikan, baik langsung maupun
tidak langsung, baik dengan menggunakan maupun tidak menggunakan media.
Menurut Sutrisno, (2015:43), komunikasi adalah suatu penyampaian dan
penerimaan suatu pesan/informasi. Pesan itu dapat berbentuk verbal maupun non
verbal. Menurut Khair, (2020) mengatakan bahwa komunikasi tidak hanya
terjadi antara atasan dan bawahan saja tetapi juga antara sesama rekan kerja, dengan
adanya komunikasi yang baik antar sesama rekan kerja diharapkan dapat
membangun hubungan yang harmonis dalam perusahaan.

Indikator Lingkungan Kerja


Suasana lingkungan kerja fisik dari suatu perusahaan atau organisasi harus
memiliki suasana yang nyaman serta menyenangkan agar dapat menciptakan hasil
yang baik. Indikator lingkungan kerja menurut Sedamaryanti, (2017:30) yaitu:

  1. Penerangan Cahaya
    Penerangan sangat besar manfaatnya bagi karyawan guna mendapat
    keselamatan dan kelancaran bekerja. Oleh sebab ituperlu diperhatikan adanya
    penerangan (cahaya) yangyang baik. Tidak terlalu terang karena akan
    menyilaukan mata para karyawan, ataupun cahaya yang kurang jelas (redup),
    sehingga pekerjaan akan lambat, banyak mengalami kesalahan, dan pada
    akhirnya menyebabkan kurang efisien dalam melaksanakan pekerjaan.
  2. Temperatur
    Temperatur di tempat kerja dalam keadaan normal, tiap anggota tubuh
    manusia mempunyai temperatur berbeda. Tubuh manusia selalu berusaha
    untuk mempertahankan keadaan normal, dengan suatu sistem tubuh yang
    sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri tersebut ada batasya, yaitu bahwa
    manusia masih dapat meyesuaikan dirinya dengan perubahan di luar tubuh.
  3. Kelembaban
    Kelembaban merupakan banyaknya air yang terkadung dalam udara, biasa
    dinyatakan dalam presentase. Kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi
    oleh temperatur udara, dan secara bersama – sama antara temperatur dan
    kelembaban mempengaruhi keadaan tubuh manusia pada saat menerima atau
    melepaskan panas dari tubuhnya.
  4. Sirkulasi Udara
    Sirkulasi udara oksigen merupakan gas yang dibutuhkan oleh makhluk hidup
    untuk menjaga kelangsungan hidup, yaitu untuk metabolisme. Udara disekitar
    dikatakan kotor apabila kadar oksigen, dalam udara tersebut telah berkurang
    dan telah bercampur dengan gas atau bau – buan yang berbahaya bagi
    kesehatan tubuh.
  5. Kebisingan
    Salah satu polusi yang cukup menyibukkan para pakar untuk mengatasi adalah
    kebisingan, yaitu yang tidak dikehendaki oleh telinga. Karena pekerjaan
    membutuhkan konsentrasi, maka suara bising hendaknya dihindarkan agar
    pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan dengan efisien sehingga produktivitas
    kerja meningkat.
  6. Getaran ditempat kerja
    Getaran yang ditimbulkan oleh alat mekanisme, yang sebagian dari getaran ini
    sampai ketubuh karyawan dan dapat menimbulkan akibat yang tidak
    diinginkan. Pada umumnya menggangu tubuh karena ketidakteraturannya.
  7. Bau – Bauan
    Adanya bau – bauan di sekitar tempat kerja dapat dianggap sebagai
    pencemaran, karena dapat menggangu konsentrasi bekerja, dan bau – bauan
    yang terjadi terus menerus dapat mempengaruhi kepekaan penciuman.
  8. Tata warna
    Pada kenyataanya tata warna tidak dapat dipisahkan dengan penataan
    dekorasi. Hal ini dapat dimaklumi karena warna mempunyai pangaruh besar
    terhadap perasaan.
  9. Dekorasi atau tata letak
    Berhubungan dengan tata warna yang baik, karena itu dekorasi tidak hanya
    berkaitan dengan hasil ruang kerja saja tetapi berkaitan dengan cara mengatur
    tata letak dan tata warna untuk bekerja.
  10. Musik
    Musik yang nadanya lembut sesuai dengan suasana watu dan tempat dapat
    membangkitkan dan merangsang karyawan untuk bekerja. Oleh karena itu
    lagu – lagu yang dipilih dengan selektif untuk didengarkan di tempat kerja.
  11. Keamanan
    Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja dalam keadaan aman
    maka perlu diperhatikan adanya keberadaan. Salah satu upaya untukmenjaga
    keamanan di tempat kerja, dapat memanfaatkan tenaga Satuan Petugas
    Keamanan

Faktor – Faktor Lingkungan Kerja


Menurut Afandi, (2018:66) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
lingkungan kerja terdiri dari lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja psikis,
antara lain:

  1. Faktor lingkungan kerja Fisik
    Faktor lingkungan fisik adalah lingkungan yang berada disekitar pekerja itu
    sendiri. Kondisi di lingkungan kerja dapat mempengaruhi kepuasan kerja
    karyawan yang meliputi:
    a. Rencana Ruang Kerja
    Meliputi kesesuaian pengaturan dan tata letak peralatan kerja, hal ini
    berpengaruh besar terhadap kenyamanan dan tampilan kerja karyawan.
    b. Rancangan Pekerjaan
    Meliputi peralatan kerja dan prosedur kerja atau metode kerja, peralatan
    kerja yang tidak sesuai dengan pekerjaannya akan mempengaruhi kesehatan
    hasil kerja karyawan.
    c. Kondisi Lingkungan Kerja
    Penerangan dan kebisingan sangat berhubungan dengan kenyamanan para
    pekerja dalam bekerja.
    Sirkulasi udara, suhu ruangan dan penerangan yang sesuai sangat
    mempengaruhi kondisi seseorang dalam menjalankan tugasnya.
    d. Tingkat Visual Pripacy dan Acoustical Privacy
    Dalam tingkat pekerjaan tertentu membutuhkan tempat kerja yang dapat
    memberi privasi bagi karyawannya. Yang dimaksud privasi disini adalah
    sebagai “keleluasan pribadi” terhadap hal-hal yang menyangkut dirinya dan
    kelompoknya. Sedangkan acoustical privasi berhubungan dengan
    pendengaran.
  2. Faktor Lingkungan Psikis
    Faktor lingkungan psikis adalah hal-hal yang menyangkut dengan hubungan
    sosial dan keorganisasian. Kondisi psikis yang mempengaruhi kepuasan kerja
    karyawan adalah:
    a. Pekerjaan Yang Berlebihan
    Pekerjaan yang berlebihan dengan waktu yang terbatas atau mendesak
    dalam penyelesaian suatu pekerjaan akan menimbulkan penekanan dan
    ketegangan terhadap karyawan, sehingga hasil yang didapat kurang
    maksimal.
    b. Sistem Pengawasan Yang Buruk
    Sistem pengawasan yang buruk dan tidak efisien dapat. menimbulkan
    ketidak puasaan lainnya, seperti ketidak stabilan suasana politik dan
    kurangnya umpan balik prestasi kerja.
    c. Frustasi
    Frustasi dapat berdampak pada terhambatnya usaha pencapaian tujuan,
    misalnya harapan perusahaan tida sesuai dengan harapan karyawan, apabila
    hal ini berlangsung terus menerus akan menimbulkan frustasi bagi
    karyawan

Pengertian Lingkungan Kerja


Menurut Sedamaryanti, (2017:25) lingkungan kerja merupakan keseluruhan
alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang
bekerja, metode kerjanya serta pengaturan kerjanya bagi sebagi perseorangan
maupun berkelompok.
Menurut Afandi, (2018:65) lingkungan kerja adalah adalah sesuatu yang ada
disekitar para karyawan yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan dalam
melaksanakan pekerjaannya sehingga akan diperoleh hasil kerja yang maksimal,
dimana dalam lingkungan kerja tersebut terdapat fasilitas kerja kerja yang
mendukung karyawan dalam penyelesaian tugas dalam menigkatkan kerja
karyawan dalam suatu perusahaan.
Menurut Anam, (2018:46) lingkungan kerja ialah sesuatu yang ada
disekeliling karyawan sehingga dapat mempengaruhi karyawan untuk
mendapatkan rasa aman, nyaman, serta rasa puas dalam melakukan dan
menuntaskan pekerjaan yang diberikan oleh atasan

Pengaruh Lingkungan Kerja, Motivasi dan Kompensasai terhadapKepuasan Kerja Karyawan


Kondisi lingkungan kerja dianggap baik dan sesuai apabila seseorang
mampu melakukan aktivitasnya secara optimal, sehat, aman dan nyaman. Dalam
jangka panjang, lingkungan kerja yang tepat dapat terlihat. Keadaan lingkungan
kerja memiliki dampak yang besar terhadap kepuasan kerja karyawan. Lingkungan
kerja adalah lingkungan di mana karyawan bekerja dan dapat mempengaruhi
karyawan untuk melakukan tugas yang diberikan.
Motivasi adalah dorongan seseorang untuk bertindak atas beberapa proses
perilaku manusia dengan mempertimbangkan arah, intensitas, dan ketekunan untuk
mencapai suatu tujuan. Motivasi adalah proses eksternal mempengaruhi atau
mendorong individu atau kelompok sehingga mereka ingin melakukan pekerjaan
atau tugas yang telah diidentifikasi sebelumnya. Motivasi atau dorongan ini
dimaksudkan sebagai dorongan alami untuk memuaskan dan mempertahankan
hidup.
Jumlah kompensasi ditentukan sebelumnya, sehingga karyawan tahu persis
berapa banyak yang akan mereka terima. Besarnya kompensasi yang diterima
mencerminkan status, pengakuan dan kepuasan atas kebutuhan yang dinikmati oleh
setiap karyawan dan keluarganya. Jika karyawan itu dibayar lebih, berarti posisinya
lebih tinggi dari sebelumnya, statusnya semakin baik dan kepuasan permintaan
yang akan dia nikmati akan meningkat. jadi, kepuasan kerja terhadap perusahaan
akan semakin membaik.

Pengaruh Kompensasi terhadap Kepuasan Kerja


Pemberian kompensasi merupakan salah satu bentuk balas jasa atas kontibusi
yang diberikan karyawan kepada perusahaan. Apabila dikelola dengan baik,
pemberian kompensasi akan membantu perusahaan untuk mencapai tujuan
organisasi. Menurut Rivai (2013:741) tujuan pemberian kompensasi adalah untuk
membantu perusahaan mencapai tujuan keberhasilan strategi perusahaan dan
menjamin terciptanya keadilan internal dan eksternal. Syaifullah dan Prasetyo,
(2018) mengemukakan bahwa salah satu cara manajemen untuk meningkatkan
prestasi kerja, memotivasi dan meningkatkan kepuasan kerja para karyawan adalah
melalui kompensasi. Ketika pihak perusahaan dapat menetapkan kompensasi yang
tepat, maka perusahaan akan memperoleh imbalan prestasi kerja (kinerja) yang
lebih besar dari karyawan.
Selain penjelasan diatas keterkaitan antara kompensasi terhadap kepuasan
kerja karyawan didukung oleh penelitian yang dilakukan Imam Tanthowi (2019),
Kumar (2016), Fatima dan Ali (2016); yang membuktikan bahwa kompensasi
berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan.

Pengaruh antara Motivasi Kerja terhadap Kepuasan Kerja


Menurut Mangkunegara, (2017:67) motivasi merupakan proses pemberian
dorongan, baik dari dalam diri sendiri maupun dari orang lain yang mampu
membangkitkan semangat seseorang agar mampu bekerja dengan semaksimal
mungkin dengan sepenuh hati bahkan meemberikan seluruh kemampuan serta
pengorbanan untuk mencapai tujuan perusahaan secara maksimal. Motivasi juga
memegang peranan penting bagi karyawan. Menurut Hasibuan, (2015:162),
motivasi adalah suatu kondisi atau energi yang menggerakkan individu yang terarah
dan terarah untuk mencapai tujuan organisasi

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Erlina, (2018) indikator kepuasan kerja adalah sebagai berikut:

  1. Perkerjaan
    Unsur-unsur yang memuaskan termasuk dalam pekerjaan yang menjadi
    tanggung jawab karyawan.
  2. Upah
    Menyesuaikan kompensasi yang diperlukan dengan cara yang layak dan adil
    berdasarkan kinerja pekerjaan.
  3. Promosi
    Karyawan memiliki kesempatan untuk memajukan karir mereka melalui
    promosi. Hal ini terkait dengan kemungkinan memperoleh pengembangan
    profesional di tempat kerja.
  4. Pengawas
    Pemberian perintah dan instruksi selalu datang dari orang-orang yang terlibat
    dalam pekerjaan.
  5. Rekan Kerja
    Hubungan karyawan saat mereka melaksanakan pekerjaannya. Rekan kerja
    yang menyenangkan atau tidak dirasakan oleh karyawan

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Menurut pendapat Indrasasi, (2017:44) mengemukakan jika kepuasan kerja
dapat dipengaruhi oleh sebagian faktor:

  1. Mentally Challenging
    Menunjukkan karyawan lebih suka membagikan kesempatan mereka
    menggunakan seluruh kemampuan secara leluasa untuk menuntaskan sesuatu
    pekerjaan yang diberikan.
  2. Equitable Rewards
    Karyawan berharap kebijakan organisasi dan peluang promosi pada sistem
    pembayaran adil serta sesuai dengan harapan. Jika upah dibayar dengan adil,
    yaitu sesuai dengan kondisi pekerjaan, sesuai dengan keahlian karyawan, serta
    sesuai dengan standar dapat terciptanya kepuasan kerja.
  3. Supportive Working Conditions
    Untuk mendapatkan rasa nyaman karyawan selalu memperhatikan lingkungan
    kerja. Karyawan tidak menyukai sarana kerja yang tidak menyenangkan serta
    berisiko untuk menjamin keselamatan jiwanya. Karyawan menginginkan
    suasana lingkungan kerja yang dekat dengan suasana di rumah.
  4. Supportive Colleagues
    Karyawan bekerja tidak selalu untuk uang ataupun imbalan materi. Sebagian
    besar karyawan, bekerja bertujuan penuhi kebutuhan komunikasi sosial.
    Dukungan aktif dari teman kerja akan memberikan kepuasan kerja. Sikap
    kepemimpinan juga pengaruhi kepuasan kerja karyawan.

Kepuasan Kerja Karyawan


Indrasari, (2017:45) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan
emosional karyawan, dalam hal ini apakah terdapat konvergensi antara batasan
pelayanan karyawan dan tingkat perbedaan antara jasa keuangan dan non-
keuangan. Menurut Hamali, (2016:203), kepuasan kerja adalah sikap seorang
karyawan terhadap pekerjaan, yang berkaitan dengan kondisi kerja, kerjasama antar
karyawan, kompensasi yang diterima di tempat kerja, dan hal-hal lain termasuk
faktor fisik dan psikologis.
Beberapa perspektif lain tentang kepuasan kerja, menurut Rozzaid et al
(2015), bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosional dimana karyawan merasa
senang ketika melihat pekerjaan yang mereka lakukan, dan kepuasan kerja
mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaan. Nabawi, (2019:174)
menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan dan penilaian seseorang tentang
pekerjaannya, terutama tentang kondisi pekerjaannya, dan terkait dengan apakah
pekerjaannya dapat memenuhi harapan, kebutuhan, dan keinginannya

Fungsi Pemberian Kompensasi


Menurut Enny (2019:39), kompensasi memiliki fungsi sebagai berikut:

  1. Alokasi sumber daya manusia yang efisien. Kompensasi yang tepat oleh
    perusahaan dapat merangsang semangat kerja karyawan, bekerja lebih baik dan
    meningkatkan efisiensi kerja. Memberdayakan karyawan untuk berprestasi di
    tempat kerja memungkinkan karyawan berkinerja tinggi untuk berpindah dari
    posisi bergaji rendah ke tempat kerja bergaji lebih tinggi.
  2. Penggunaan sumber daya manusia yang lebih efektif dan efisien. Dengan
    menawarkan kompensasi kepada karyawan, menunjukkan bahwa organisasi
    mampu menggunakan sumber daya manusia secara efektif. Dengan cara ini,
    suatu organisasi akan mendapatkan keuntungan yang maksimal. Dalam hal ini
    produktivitas pekerja sangat menentukan.
  3. Mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Dengan penggunaan sumber
    daya manusia yang efisien dan efektif di perusahaan yang bersangkutan,
    diharapkan sistem kompensasi dapat menstabilkan perekonomian perusahaan
    dan pertumbuhan ekonomi negara secara keseluruhan.

Indikator Kompensasi


Berikut beberapa indikator kompensasi menurut Nawa dan Kempa (2017:33),
yaitu:

  1. Gaji dan upah diberikan secara adil sesuai beban kerja.
    Perusahaan harus memberikan kompensasi yang adil berupa upah dan gaji
    berdasarkan pekerjaan yang dilakukann oleh karyawan.
  2. Insentif yang sepadan dengan pengorbanan.
    Berikan penghargaan kepada karyawan berdasarkan kontribusi mereka kepada
    perusahaan. Insentif yang diberikan dapat berupa finansial yang dapat diberikan
    kepada karyawan jika karyawan tersebut melebihi target yang telah ditentukan.
  3. Tunjangan sesuai dengan harapan
    Tunjangan adalah kompensasi yang diberikan oleh perusahaan kepada
    karyawan atas jasa dan kontribusinya.
  4. Fasilitas
    Perusahaan harus menyediakan fasilitas pendukung bagi karyawan untuk
    meningkatkan produktivitas

Asas Kompensasi


Hasibuan, (2017:122) menjelaskan bahwa asas kompensasi harus sesuai
dengan asas layak dan keadilan serta menjaga hukum ketenagakerjaan yang
berlaku.

  1. Prinsip keadilan
    Artinya bahwa ketika memberikan kompensasi, perusahaan harus
    memperhitungkan tanggung jawab, prestasi kerja, jenis pekerjaan dan posisi.
  2. Prinsip layak
    Artinya, ketika meberikan kompensasi, kelayakannya harus dipertimbangkan.
    Oleh karena itu, dalam rangka pemberian kompensasi telah disesuaikan dengan
    peraturan pemerintah yang berlaku dan peraturan lainnya

Tujuan Pemberian Kompensasi


Menurut Fauzi, (2014:173) ada beberapa tujuan diadakannya kompensasi,
diantaranya:

  1. Mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas.
  2. Mempertahankan karyawan yang ada
  3. Menjamin keadilan
  4. Memberikan apresiasi terhadap perilaku yang diinginkan.
  5. Mengontrol biaya.
  6. Menaati aturan hukum yang berlaku.
  7. Memberikan fasilitas pengertian dan meningkatkan efisiensi administrasi.

Kompensasi


Untuk memotivasi karyawan, perusahaan sering menggunakan kompensasi
sebagai sarana untuk memotivasi karyawan, membentuk partisipasi aktif karyawan,
sehingga dapat lebih meningkatkan kinerja perusahaan. Kompensasi adalah
substansi yang diterima karyawan sebagai imbalan atas layanan atau kontribusi
untuk bekerja, dan juga berarti penghargaan atas keahlian, kesetiaan, dan pekerjaan
individu. Menurut Hasibuan (2017:182), Kompensasi adalah semua pendapatan
yang diperoleh seorang karyawan sebagai bentuk penghargaan atas jasa yang
diberikan kepada suatu perusahaan, baik dalam bentuk barang langsung/tidak
langsung, maupun dalam bentuk uang.
Mangkunegara, (2017:89) menyatakan bahwa kompensasi adalah sebuah
reward yang diberikan oleh perusahaan yang memberikan keuntungan untuk
seluruh anggota yang dibagikan sesuai dengan prosedur serta mekanisme yang telah
ditentukan. Dengan memberikan kompensasi, akan memacu semangat para
karyawan yang berkualitas untuk bergabung dengan organisai, dan melakukan
kegiatan yang diperlukan organisasi. Dengan kata lain, dengan adanya kompensasi
mampu mempengaruhi karyawan agar bekerja mencapai tujuan organisasi.
Tentunya apabila kompensasi dikelola dengan baik akan memberikan manfaat yang
lebih bagi karyawan dan perusahaan, sebaliknya jika terjadi penyimpangan dan
ketidakterbukaan antara pihak manajemen dengan karyawan pasti akan
menimbulkan kerugian bagi karyawan dan karyawan. para karyawan.

Indikator Motivasi


Indikator motivasi kerja menurut Ilham et al., (2019) antara lain sebagai
berikut::

  1. Responsibility, artinya seseorang harus memiliki rasa tanggung jawab
    terhadap pekerjaannya.
  2. Prestasi kerja, yaitu mengerjakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
  3. Kesempatan promosi, yaitu kesediaan untuk menerima upah yang sesuai
    dengan pekerjaannya.
  4. Pengakuan kinerja, yaitu keinginan untuk menerima lebih dari imbalan
    utama.
  5. Pekerjaan yang menantang, bekerja dengan keinginan untuk berlatih
    memahami bidang Anda

Jenis-Jenis Motivasi


Menurut Hasibuan (2017:121), jenis-jenis motivasi yang diberikan dapat
dibedakan menjadi:

  1. Motivasi Positif
    Jenis motivasi positif ini biasanya diberikan kepada karyawan oleh manajer
    dengan menginformasikan bahwa mereka yang dapat mencapai yang terbaik
    dan di atas rata-rata akan diberi penghargaan yang ditentukan oleh perusahaan.
  2. Motivasi negative
    Motivasi negatif biasanya berupa punishment atau hukuman bagi pegawai yang
    kinerjanya tidak sesuai dengan yang ditentukan atau di bawah rata-rata yang
    telah ditentukan. Dengan cara ini karyawan akan bekerja sekeras mungkin tanpa
    dihukum. Hal ini secara tidak langsung memotivasi karyawan untuk melakukan
    pekerjaannya dengan baik

Tujuan Motivasi


Menurut Hasibuan (2017:123), tujuan pemberian Motivasi adalah sebagai
berikut:

  1. Meningkatkan semangat kerja dan kepuasan kerja karyawan
    Pemberian motivasi diharapkan dapat meningkatkan semangat kerja dan
    kepuasan kerja bagi setiap orang karyawan yang terlibat dalam perusahaan.
  2. Meningkatkan produktivitas.
    Pemberian motivasi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas karyawan.
  3. Menjaga stabilitas karyawan perusahaan
    Memotivasi setiap karyawan diharapkan dapat menciptakan stabilitas
    karyawan, sehingga mengurangi terjadinya turnover karyawan.
  4. Meningkatkan kedisiplinan karyawan
    Pemberian insentif yang tepat dapat membangun kedisiplinan di antara
    karyawan, yang dapat berdampak positif bagi kepentingan perusahaan.
  5. Menyederhanakan pengadaan karyawan
    Memberikan motivasi dapat membantu perusahaan mendapatkan karyawan
    secara lebih efisien, memungkinkan perusahaan memperoleh karyawan yang
    benar-benar memenuhi syarat untuk pekerjaan itu.
  6. Membangun hubungan kerja yang baik
    Pemberian motivasi dapat mendorong hubungan kerja yang baik, seperti antara
    atasan dengan bawahan, dan dengan rekan kerja.
  7. Meningkatkan loyalitas, kreativitas, dan keterlibatan karyawan
    Pemberian insentif dapat mendorong terbentuknya loyalitas karyawan terhadap
    perusahaan. Selain itu, motivasi diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan
    keterlibatan karyawan dalam bekerja.
  8. Tingkatkan tunjangan karyawan
    Pemberian insentif dapat meningkatkan kesejahteraan setiap karyawan di
    perusahaan.
  9. Meningkatkan rasa tanggung jawab karyawan atas pekerjaan mereka sendiri
    Pemberian motivasi yang tepat akan menimbulkan rasa tanggung jawab pada
    setiap pegawai, yang nantinya mempengaruhi usaha pegawai tersebut untuk
    menyelesaikan tugasnya
  10. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat dan bahan baku
    Pemberian motivasi yang tepat akan mendorong perusahaan untuk
    menggunakan alat dan bahan baku secara efektif dalam menjalankan
    aktivitasnya.

Faktor – faktor yang mempengaruhi motivasi


Indah (2013:83), faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang
adalah sebagai berikut:

  1. Karakteristik individu, antara lain: minat, sikap terhadap diri sendiri, pekerjaan
    dan situasi pekerjaan, kebutuhan individual kemampuan atau kompetensi,
    pengetahuan tentang pekerjaan, emosi, suasana hati, perasaan keyakinan dan
    nilai-nilai
  2. Faktor – faktor pekerjaan, antara lain :
    a. Faktor lingkungan kerja, yaitu: upah, kebijakan sekolah, pengawasan,
    hubungan interpersonal, kondisi kerja, budaya organisasi
    b. Faktor-faktor dalam pekerjaan, yaitu: sifat pekerjaan, desain tugas atau
    pekerjaan, pengakuan pencapaian, tingkat atau besarnya tanggung jawab
    yang diberikan, perkembangan dan kemajuan pekerjaan, kepuasan kerja

Motivasi


Berfokus pada karyawan dalam suatu organisasi dalam bentuk motivasi kerja
sangat bermanfaat bagi kepentingan organisasi, terutama dalam hal dampaknya
terhadap kinerja setiap individu atau kelompok dalam organisasi. Menurut
Hasibuan (2017:92), motivasi didefinisikan sebagai segala sesuatu yang
mendorong, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia, sehingga
membuatnya mau bekerja keras dan bersemangat untuk mencapai hasil yang sebaik
mungkin. Sedangkan menurut Heriyana, (2018), motivasi diartikan sebagai proses
menjelaskan kekuatan, arah, dan ketekunan seseorang dalam mencapai suatu
tujuan”.

Indikator Lingkungan Kerja


Untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik bagi karyawan, tentunya
setiap bisnis harus fokus pada indikator lingkungan kerja yang dapat meningkatkan
kinerja karyawan. Menurut Sedarmayanti, (2019:22) indikator lingkungan kerja
adalah sebagai berikut:

  1. Penerangan
    Sertakan cahaya yang cukup masuk ke ruang kerja setiap karyawan, yang
    mempengaruhi kondisi kerja setiap karyawan.
  2. Suhu udara
    Suhu udara disini berkaitan dengan tingkat suhu udara di setiap ruang kerja
    karyawan. Pengaturan suhu udara di ruang kerja yang benar memberikan
    kenyamanan bagi karyawan dalam melakukan pekerjaannya.
  3. Kebisingan
    Sertakan seberapa sensitif karyawan terhadap suara di sekitar tempat kerja, yang
    dapat memengaruhi aktivitas mereka.
  4. Penggunaan warna
    Termasuk memilih warna yang tepat untuk setiap ruang kerja karyawan
  5. Ruang yang dibutuhkan
    Ruang adalah proses pengaturan posisi kerja antar karyawan, termasuk alat
    bantu kerja seperti meja dan kursi.
  6. Kemampuan untuk bekerja
    Workability meliputi kondisi yang memberikan rasa aman dan ketenangan
    kepada setiap karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya.
  7. Hubungan pegawai dengan pegawai lainnya
    Penciptaan hubungan yang harmonis antara pegawai satu dengan pegawai
    lainnya dapat membantu perusahaan dalam usaha pencapaian tujuan organisas

Faktor – Faktor yang mempengaruhi Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja suatu perusahaan dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu.
Menurut Darmawan (2019:43), faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja
adalah sebagai berikut:

  1. Pencahayaan tempat kerja
    Untuk keselamatan dan keamanan pekerja, pencahayaan perlu diperhatikan.
    Pencahayaan digunakan untuk menerangi tempat kerja sehingga karyawan
    dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Pencahayaan yang baik dapat
    membuat karyawan lebih produktif dalam bekerja dan sebaliknya.
  2. Suhu kerja
    Setiap karyawan memiliki suhu tubuh yang berbeda, dan tentunya setiap
    karyawan juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan suhu
    lingkungan yang berbeda. Oleh karena itu, pengaturan suhu yang tepat
    mempengaruhi kondisi karyawan di tempat kerja.
  3. Kelembaban di tempat kerja
    Kelembaban udara di tempat kerja menjadi salah satu faktor yang
    mempengaruhi lingkungan kerja. Kelembaban udara disini meliputi banyaknya
    air yang terkandung dalam udara yang nantinya akan mempengaruhi keadaan
    tubuh setiap karyawan.
  4. Sirkulasi udara di tempat kerja
    Sirkulasi udara merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi lingkungan
    kerja. Sirkulasi udara yang baik bermanfaat bagi kesehatan manusia karena
    sirkulasi yang baik mencegah munculnya gas atau bau yang dapat mengganggu
    dan membahayakan kesehatan karyawan. Sumber utama sirkulasi udara yang
    baik dalam suatu perusahaan dapat diperoleh dari tanaman di sekitar tempat
    kerja.
  5. Kebisingan kerja
    Kebisingan di tempat kerja dapat mengalihkan perhatian karyawan untuk
    menyelesaikan pekerjaan. Untuk meningkatkan kinerja dalam pekerjaan yang
    membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi, kebisingan di tempat kerja harus
    dihindari.
  6. Bau tidak sedap
    Adanya bau tidak sedap di sekitar lingkungan kerja dapat mengganggu kinerja
    karyawan dalam bekerja. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus mencari cara
    untuk menghilangkan bau tidak sedap yang dapat mengganggu lingkungan
    sekitar
  7. Dekorasi di tempat kerja
    Dekorasi, yang terdiri dari warna, peralatan, tata letak, dan lain-lain,
    mempengaruhi kinerja karyawan suatu perusahaan.
  8. Musik di tempat kerja
    Mendengarkan musik yang sesuai dan mendukung di tempat kerja dapat
    menginspirasi antusiasme karyawan untuk bekerja.
  9. Keselamatan Kerja
    Salah satu hal penting yang harus diperhatikan perusahaan adalah keamanan.
    Untuk menjaga dan menciptakan lingkungan kerja yang aman, perusahaan
    dapat menggunakan satuan satpam (satpam).

Pengaruh Motivasi kerja terhadap Produktivitas kerja


Motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu
untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu. Apabila motivasi
kerja tinggi maka produktivitas kerja akan optimal, sedangkan apabila motivasi
kerja rendah maka produktivitas kerja tidak optimal. Hal tersebut dikarenakan,
apabila karyawan mendapat motivasi, maka karyawan akan mendapatkan
dorongan mental untuk bekerja. Kebutuhan akan motivasi ini merupakan hal yang
harus juga diperhatikan. Kebutuhan karyawan seperti keselamatan, pengakuan atau
pujian atas pekerjaan, dan gaji haruslah disesuaikan dengan pengeluaran dari
karyawan, karena jika pengeluaran dari karyawan tidak terpenuhi maka motivasi
kerja dari karyawan akan menurun sehingga produktivitas kerja akan menurun

Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Produktivitas kerja


Lingkungan kerja juga mempengaruhi peningkatan produktivitas karyawan.
Dengan adanya lingkungan kerja yang mendukung seperti kebersihan di perusahan
membuat suasana kerja yang menyenangkan, hubungan dengan rekan kerja yang
harmonis, tersedianya fasilitas kerja yang memadai, bisa menunjang proses dalam
bekerja sehingga dapat meningatkan produktivitas karyawan

Indikator Produktivitas Kerja


Indikator untuk mengukur produktivitas kerja karyawan ada enam, diantaranya
yaitu: kemampuan, meningkatkan hasil yang dicapai, semangat kerja,
pengembangan diri, mutu, dan efisiensi.(Siswadi, 2017)
Indikator produktivitas kerja karyawan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
Kemampuan
Kemampuan seorang karyawan sangat bergantung pada ketrampilan yang
dimiliki serta profesionalisme mereka dalam bekerja. Ini memberikan daya untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang diembannya kepada mereka.
Meningkatkan Hasil yang Dicapai
Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil merupakan salah satu
yang dapat dirasakan baik oleh yang mengerjakan maupun yang menikmati hasil
pekerjaan tersebut.
Semangat Kerja
Semangat kerja merupakan usaha untuk lebih baik dari hari kemarin yang dapat
dilihat dari etos kerja dan hasil yang dicapainya.
Pengembangan Diri
Senantiasa mengembangkan diri untuk meningkatkan kemampuan kerja.
Pengembangan diri dapat dilakukan dengan melihat tantangan harapan apa yang
akan dihadapi.
Mutu
Mutu merupakan hasil pekerjaan yang dapat menunjukkan kualitas kerja seorang
pegawai. Meningkatkan mutu bertujuan untuk memberikan hasil yang terbaik
yang pada akhirnya akan sangat berguna bagi perusahaan dan dirinya sendiri.
Efisiensi
Masukan dan keluaran merupakan aspek produktivitas yang memberikan
pengaruh yang cukup signifikan bagi karyawan.