Tujuan pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh puskesmas adalah
mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yaitu
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi orang yang
bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya
Definisi Puskesmas (skripsi dan tesis)
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya
promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya di wilayah kerjanya
Pelayanan Rawat Jalan (skripsi dan tesis)
Salah satu bentuk dari pelayanan kedokteran adalah pelayanan rawat jalan.
Secara sederhana, pelayanan rawat jalan dapat didefinisikan sebagai pelayanan
kedokteran yang disediakan untuk pasien tidak dalam bentuk rawat inap meliputi
prosedur terapeutik dan diagnostik serta pengobatan. Organisasi perawatan
terpadu mendefinisikan rawat jalan sebagai pengobatan yang memerlukan tidak
lebih dari 24 jam tanpa menghiraukan apakah protokol meliputi acara bermalam
satu malam di tempat tidur pasien rawat inap atau di perawatan pemulihan.
Unit rawat jalan adalah suatu bagian yang merupakan pintu atau media
pertama untuk kontak dan berinteraksi dengan pengguna jasa atau pasien. Tujuan pelayanan rawat jalan adalah untuk memberikan konsultasi kepada pasien yang memerlukan pendapat dari seorang dokter, dengan tindakan pengobatan atau tidak serta untuk menyediakan tindak lanjut bagi pasien rawat inap yang sudah
diijinkan pulang tetapi masih harus dikontrol kondisi kesehatannya.
Tenaga pelayanan di rawat jalan adalah tenaga yang langsung
berhubungan dengan berhubungan dengan pasien yaitu tenaga administrasi (non medis) yang memberikan pelayanan penerimaan pendaftaran dan pembayaran, tenaga keperawatan (paramedis) sebagai mitra dokter dalam memberikan pelayanan pemeriksaan/pengobatan, dan tenaga dokter (medis) pada masingmasing poliklinik yang ada
Pasien (skripsi dan tesis)
Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah
kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik
secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter atau dokter gigi.42
Berdasarkan UU No. 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran pasal 52, pasien,
dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:42
1) Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis
2) Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain
3) Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis
4) Menolak tindakan medis
5) Mendapatkan isi rekam medis
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, juga
mempunyai kewajiban yang diatur dalam pasal 53 yaitu42
1) Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya
2) Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi
3) Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan
4) Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima
Beck Anxiety Inventory (BAI) (skripsi dan tesis)
Beck Anxiety Inventory (BAI) merupakan alat ukur kecemasan untuk
dewasa dan remaja yang dapat digunakan untuk keperluan klinis dan penelitian
BAI dibuat oleh Aaron T. Beck, MD dan rekannya berisi 21 item berfokus pada
gejala somatik kecemasan yang mengukur keparahan dari kecemasan dan sebagai
alat ukur untuk membedakan kecemasan dan depresi.39,40 Setiap item pada BAI
merupakan gambaran dari gejala kecemasan dalam empat aspek yaitu subjektif,
neurofisiologis, otonom, dan yang berhubungan dengan panik.39
BAI dapat diselesaikan dalam waktu 5 – 10 menit menggunakan metode
kertas dan pensil. Responden diminta melaporkan keluhan dari setiap gejala
selama satu minggu terakhir.39,40 Respon dari tiap item diukur dalam empat
tingkatan yaitu tidak sama sekali (0), ringan (1), sedang (2), dan berat (3). Total
skor BAI berjumlah 0 – 63 dengan interpretasi skor: 0 – 21, kecemasan ringan; 22– 35, kecemasan sedang; lebih dari 35, kecemasan berat.41
BAI dapat digunakan untuk menilai dan menetapkan basis tingkat
kecemasan, sebagai alat bantu diagnostik, untuk mendeteksi efektivitas dari terapi,
dan sebagai alat ukur hasil setelah terapi. BAI juga mempunyai beberapa
kelebihan yaitu cepat dan mudah dikerjakan, dapat diulang, dapat membedakan
gejala kecemasan dan depresi, telah digunakan dalam berbagai bahasa, kultur, dan
usia
Tingkat Kecemasan (skripsi dan tesis)
Menurut Videbeck, kecemasan dapat dibagi menjadi empat tingkatan
yaitu
1) Kecemasan ringan
Individu dengan kecemasan ringan merasakan bahwa ada sesuatu
yang berbeda dari kesehariannya dan memerlukan perhatian khusus.
Stimulasi sensori meningkat dan membantu individu memfokuskan
perhatian untuk belajar, menyelesaikan masalah, berpikir, bertindak,
merasakan dan melindungi diri sendiri. Kecemasan ringan sering
memotivasi untuk membuat perubahan atau untuk melakukan kegiatan
yang mengarah pada suatu sasaran terntentu.
2) Kecemasan sedang
Kecemasan sedang pada individu berupa perasaan yang
mengganggu bahwa ada hal yang salah menyebabkan individu gugup atau
gelisah. Pada kecemasan sedang, individu masih dapat memproses
informasi, menyelesaikan masalah, dan mempelajari hal-hal baru dengan
bantuan dari orang lain. Individu kesulitan untuk berkonsentrasi secara
mandiri tetapi dapat diarahkan.
3) Kecemasan berat
Kecemasan berat ditandai dengan lapang pandang yang berkurang.
Individu cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta
tidak berpikir tentang hal lain. Semua perilaku diarahkan pada
pengurangan kecemasan dan memerlukan banyak arahan untuk berfokus
pada area lain. Pada tahap ini individu mulai merasakan kecemasan
sebagai suatu ancaman terhadap dirinya.
4) Panik
Panik berhubungan dengan kehilangan kendali, detail perhatian
menjadi hilang, terperangah, ketakutan dan teror serta tidak mampu
melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik mencakup diorganisasi
kepribadian dan dapat mengancam kehidupan. Gejala panik yang dapat
dialami individu berupa meningkatnya aktivitas motorik, menurunnya
kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang
menyimpang, dan kehilangan pikiran rasional.
Gejala Kecemasan (skripsi dan tesis)
Terdapat dua komponen dari pengalaman kecemasan yaitu kesadaran akan
sensasi fisiologis (seperti palpitasi dan berkeringat) dan kesadaran bahwa ia gugup
atau ketakutan. Pengaruh viseral dan motorik dari kecemasan dapat bermanifestasi
dalam bentuk:37
1) Diare
2) Pusing, kepala terasa ringan
3) Hiperhidrosis
4) Hiperrefleksia
5) Hipertensi
6) Palpitasi
7) Midriasis pupil
8) Gelisah
9) Sinkop
10) Takikardia
11) Kesemutan di ekstremitas
12) Tremor
13) Gangguan perut
14) Frekuensi, hesitansi, dan urgensi uri
Selain itu, kecemasan juga memengaruhi pikiran, persepsi, dan
pembelajaran. Pengaruh dari kecemasan cenderung menimbulkan kebingungan
dan distorsi persepsi yaitu persepsi waktu, ruang, orang, dan arti peristiwa.
Distorsi ini menyebabkan gangguan proses pembelajaran dengan menurunkan
konsentrasi, mengurangi daya ingat, dan mengganggu kemampuan
menghubungkan satu hal dengan hal lain.
Dalam aspek emosi, kecemasan memberikan efek pada selektivitas
perhatian. Perhatian orang yang mengalami kecemasan cenderung tertuju pada hal
tertentu di lingkungan dan mengabaikan hal lain untuk membuktikan bahwa
mereka dibenarkan untuk menanggapi situasi tersebut menakutkan. Jika hal ini
tidak berhasil, orang tersebut akan meningkatkan kecemasannya dengan respon
selektif. Hal ini akan membentuk lingkaran setan kecemasan dengan persepsi
yang mengalami distorsi dan kecemasan yang meningkat
Faktor Resiko Kecemasan (skripsi dan tesis)
beberapa faktor risiko yang dapat memengaruhi terjadinya gangguan kecemasan yaitu
Etiologi Kecemasan (skripsi dan tesis)
Definisi Kecemasan (skripsi dan tesis)
Definisi Kecemasan adalah respon individu terhadap ancaman atau stresor yang akan datang baik dari dalam individu sendiri maupun dari lingkungannya. Respon emosional ini timbul dari penyebab yang tidak spesifik sehingga individu merasa tidak nyaman dan terancam. Kecemasan dapat merupakan suatu respon yang normal atau patologis, hal ini bergantung pada intensitas dan durasi kecemasan tersebut serta kemampuan koping individu. Dalam kehidupan sehari-hari, kecemasan yang normal diperlukan untuk mencapai kepuasan dan kenikmatan tertentu dalam pekerjaan (performance) tetapi kecemasan yang berlebihan akan mengganggu performance dan perlu ditangani. Kecemasan yang berlebihan ini dapat berupa kecemasan yang tidak terikat pada bentuk ide, hal, maupun keadaan tertentu yang disebabkan oleh berbagai aspek kehidupan seperti pada gangguan kecemasan menyeluruh, atau berupa kecemasan yang terkait dengan kondisi atau situasi tertentu seperti pada kecemasan fobik, fobia sosial, gangguan obsesif kompulsif, dan kecemasan lainnya
Hubungan antara Kecemasan dengan Dukungan Teman Sebaya (skripsi dan tesis)
Skripsi merupakan pengerjaan tugas akhir yang dilakukan oleh para
mahasiswa yang mengikuti perkuliahan dalam jenjang S1 (strata 1).
Kecemasan dapat terjadi pada siapapun, tak terkecuali pada mahasiswa
yang sedang mengerjakan skripsi. Masa pengerjaan skripsi setiap individu
pun berbeda-beda, dengan adanya perbedaan masa pengerjaan ini membuat
beberapa mahasiswa yang mengalami keterlambatan dalam
penyelesaiannya sering memunculkan kecemasan.
Kecemasan pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi
memiliki beberapa faktor menurut Sarason (Wuryani, 2002) keyakinan diri,
dukungan sosial, dan modelling. Hal ini menunjukkan dukungan sosial juga
memiliki peran dalam terjadinya kecemasan pada diri seseorang. Menurut
Goldberger & Breznitz (Apollo, 2007) sumber-sumber dukungan sosial
adalah orang tua, saudara kandung, anak-anak, kerabat dekat, pasangan
hidup, sahabat atau rekan sekerja, dan juga dari tetangga. Hal ini
menunjukkan bahwa dukungan sahabat atau teman sebaya mempengaruhi
kecemasan seseorang.
Cowie dan Wallace (2000) menjelaskan dukungan teman sebaya
adalah untuk memenuhi kebutuhan emosional, memperoleh dukungan dari
teman sebaya merupakan suatu bantuan untuk meningkatkan pembelajaran
dalam pendidikan yang memberikan mahasiswa kesempatan untuk belajar
bersama. Hal ini juga dijelaskan pada dua aspek yang disebutkan oleh
Cowie & Wallace (2000) yaitu aspek yang pertama adalah emotional
support. Emotional support adalah dukungan emosional dalam sebuah
pertemanan. Menurut House (Setyaningsih, Makmuroch, & Andayani,
2011) dukungan emosional meliputi empati, perhatian, rasa cinta dan
penghargaan. Mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi akan
mengerjakan skripsinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Tidak adanya
dukungan emosional dari teman sebaya akan membuat mahasiswa yang
sedang mengerjakan skripsi merasa cemas. Hal ini diperkuat oleh
pernyataan Suhesti (Bulkhaini, 2015) bahwa kasih sayang dapat
menumbuhkan kepercayaan diri seseorang sehingga dapat membantu
menurunkan kecemasan. Ketika mahasiswa yang sedang mengerjakan
skripsi mendapatkan emotional support yang tinggi dari teman sebayanya
maka dapat menurunkan kecemasannya.
Aspek kedua yaitu emphatized education and information-give yang
artinya kepedulian untuk membantu dalam bimbingan edukasi dan
pemberian informasi dari teman sebaya. Pada aspek ini menunjukkan bahwa
jika seseorang mendapatkan dukungan berupa bimbingan edukasi serta
informasi terkait skripsi dari teman sebayanya maka dapat mengurangi
kecemasannya. Hal ini didukung oleh pernyataan Santrock (2007) teman
sebaya bertindak sebagai orang kepercayaan yang penting, karena dapat
membantu seseorang dalam memecahkan masalah. Mahasiswa yang sedang
mengerjakan skripsi sering mendapatkan bantuan berupa informasi dan
pengetahuan edukasi dari teman sebaya. Hal ini menunjukkan mahasiwa
yang sedang mengerjakan skripsi membutuhkan dukungan teman sebaya
yang tinggi agar dapat mengurangi rasa cemas
Aspek Dukungan Teman Sebaya (skripsi dan tesis)
Aspek dukungan teman sebaya menurut Cowie dan Wallace (2000)
yaitu:
a. Emotional support
Dukungan ini memberikan rasa empati dan perhatian terhadap
individu sehingga membuat individu merasa nyaman dan
diperhatikan oleh sumber dukungan. Resolusi konflik dalam
pertemanan serta adanya pendekatan dalam sebuah kelompok.
b. Emphasize education and information-give
Dukungan ini melibatkan pemberian informasi ataupun saran
tentang situasi dan kondisi pada individu. Kepedulian untuk
membantu dalam bimbingan edukasi dan pemberian informasi
dari teman sebaya.
Definisi Dukungan Teman Sebaya (skripsi dan tesis)
Menurut Sarafino (2004) dukungan sosial mengacu pada
kenyamanan, kepedulian, penghargaan, atau bantuan yang tersedia
untuk seseorang dari orang atau kelompok lain. Cowie dan Wallace
(2000) mengatakan bahwa dukungan sosial teman sebaya adalah
dukungan yang dirasakan seorang mahasiswa dan dibangun bersumber
dari teman sebaya, dengan cara spontan menawarkan bantuan kepada
sesama mahasiswa, dan hal tersebut dapat terjadi dimana saja dan di
kelompok sebaya manapun, serta akan memberi dukungan di saat kawan
lainnya dalam kesulitan.
Solomon (2004) menjelasakan dukungan teman sebaya merupakan
dukungan sosial emosional, dukungan instrumental, dan saling berbagi
dalam berbagai kondisi untuk membawa perubahan dalam sosial atau
pribadi yang diinginkan. Salmivalli (1999) berpendapat bahwa kekuatan
kelompok atau teman sebaya akan mudah melakukan sesuatu secara
bersamaan dan mampu diarahkan ke arah yang positif. Briggs (Cowie
dan Wallace, 2000) lebih jauh menemukan bahwa pentingnya hubungan
antar teman sebaya dalam lebih memotivasi untuk saling membantu
Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan (skripsi dan tesis)
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kecemasan menurut
Sarason (Djiwandono, 2002), yaitu:
a. Keyakinan diri
Tingkat keyakinan diri akan mempengaruhi kecemasan pada
setiap individu.
b. Dukungan sosial
Meliputi dukungan yang diberikan dari orang terdekat. Hal
tersebut membuat individu merasa diperhatikan, dicintai dan
berharga sehingga akan mempengaruhi individu.
c. Modelling
Modelling dapat mengubah perilaku seseorang dengan
melihat cara orang lain melakukan sesuatu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kecemasan menurut
Nevid, Rathus & Greene (2005), yaitu:
a. Faktor Sosial Lingkungan
Meliputi pemaparan dari peristiwa yang mengancam dan
membuat traumatis seseorang, mengamati respon orang lain
terhadap ketakutan, dan kurang mendapatkan dukungan sosisal
b. Faktor Biologis
Meliputi predisposisi genetis, ireguaritas dalam fungsi dari
neurotransmitter, serta abnormalitas dalam otak yang memberi
sinyal bahaya atau menghambat tingkah laku repretitif.
c. Faktor Perilaku
Meliputi pemasangan stimuli aversif dan stimuli yang
sebelumnya netral, kelegaan dari kecemasan karena melakukan
suatu kegiatan yang kompulsif atau menghindari stimuli fobik, dan
kurangnya kesempatan untuk pemunahan karena penghindaran
terhadap objek atau situasi yang ditakuti.
d. Faktor Kognitif dan Emosional
Meliputi konflik psikologis yang tidak terselesaikan serta
prediksi berlebihan tentang ketakutan, keyakinan yang irasional,
ensitive dengan adanya ancaman dan kecemasan, salah atribusi
dari sinyal tubuh, dan self-efficacy yang rendah
Aspek Kecemasan (skripsi dan tesis)
Menurut Taylor (1953) terdapat dua aspek kecemasan, yaitu:
a. Fisiologis
Suatu reaksi yang ditunjukkan dari tubuh seseorang seperti
gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat.
b. Psikologis
Suatu reaksi yang dirasakan oleh seseorang seperti rasa tegang,
bingung, tidak bisa berkonsentrasi.
Dalam Beck Anxiety Inventory yang dikembangkan oleh Beck
dan kerabat lainnya, terdapat empat aspek kecemasan (Grant, 1990;
Wardani, 2016) antara lain:
a. Subjective
Perasaan takut, tidak nyaman, merasa tidak mampu rileks, dan
tidak siap untuk menangani secara efektif saat ini (langsung) atau
diantisipasi.
b. Neuriphysiologic
Kecemasan yang dialami hingga mati rasa atau kesemutan,
peningkatan respons kejut dan kesulitan berkonsentrasi.
c. Autonomic
Kecemasan yang dialami hingga munculnya perasaan panas,
keluar keringat, denyut jantung meningkat, wajah kosong, dll.
d. Panic Related
Kecemasan terkait.
Berdasarkan paparan dua ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
peneliti akan menggunakan aspek-aspek kecemasan Taylor (1953) yang
terdiri dari aspek fisiologis dan psikologis. Pertimbangan peneliti
memilih aspek ini adalah karena kedua aspek ini dapat mengungkapkan
gambaran kecemasan yang dimiliki oleh mahasiswa
Definisi Kecemasan (skripsi dan tesis)
Definisi kecemasan menurut Taylor (1953) yaitu perasaan tegang
dan gelisah dengan tidak adanya kemampuan mengatasi suatu masalah
atau merasa tidak aman. Perasaan yang tidak menentu ini umumnya
tidak menyenangkan dan menimbulkan perubahan pada fisiologis dan
psikologis. Seseorang akan merasa cemas ketika dirinya tidak siap
dalam menghadapi ancaman atau tekanan.
Nevid, Rathus & Greene (2005) menjelaskan kecemasan adalah
suatu keadaan emosional yang berciri-cirikan keterangsangan terhadap
fisiologis, perasaan yang tidak menyenangkan berupa tegang, dan
perasaan aprehensif yang diartikan bahwa kejadian yang buruk akan
terjadi.
Menurut Spielberger (2004) kecemasan adalah tanda dari datangnya
bahaya dalam diri individu yang akan diikuti oleh proses untuk mampu
menyeimbangkan kondisi luar lingkungan dari individu. Spielberger
(2004) juga mendefinisikan “state anxiety” sebagai kecemasan yang
bersifat sementara dalam emosi seseorang yang terdiri dari perasaan
respondentif ketegangan, kecemasan, gugup, khawatir, dan rangsangan
dari sistem saraf otonom. Sebaliknya, “trait anxiety” didefinisikan
sebagai perbedaan individu yang relatif stabil untuk kecenderungan
dalam menganggap situasi stres sebagai hal yang berbahaya dan
mengancam.
Mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Taylor (1953), dapat
disimpulkan bahwa kecemasan adalah sebuah tanda dari datangnya
bahaya yang diikuti dengan terjadinya sebuah proses perubahan dari
dalam diri individu untuk menyeimbangkan kondisi dalam diri individu
tersebut
Terapi dan Perawatan bagi WanitaPremenopause (skripsi dan tesis)
Respon setiap wanita terhadap premenopause tergantung
kepriadian dan gaya hidup wanita tersebut. Wanita dalam menghadapi
premenopause perlu beberapa terapi dan perawatan untuk menjalani
masa premenopause terkait akan ada gejala yang terjadi pada saat
premenopause, berikut beberapa cara agar wanita bisa menghindari
gejala yang kurang nyaman :
1) Terapi Sulih Hormon
Terapi sulih hormon atau biasa juga disebut dengan TSH
adalah pemberian kombinasi estrogen dan progestin (sintesis)
kepada wanita premenopause yang masih memiliki rahim.Tujuan
utama yaitu untuk mencegah penebalan dinding rahim (Waluyo,
2010).
2) Mengkonsumsi makanan yang bergizi
Gizi seimbang adalah memenuhi kebutuhan gizi perhari
dengan asupan zat-zat gizi makanan yang mengandung
karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Termasuk
mengkonsumsi makanan yang fitoestrogen seperti makanan olahan
sari tempe, tahu, brokoli, dan wortel. Bahan pangan lain sumber
vitamin dan mineral makanan laut, daging sapi yang rendah lemak,
biji-bijian, susu dan olahannya, buah-buahan serta sayuran hijau
(Prasetyono, 2009).
3) Fitoestrogen
Fitoestrogen adalah kelompok kimia yang ditemukan dalam
tanaman yang dapat bekerja seperti hormon estrogen, estrogen
penting bagi masa memiliki anak dan dapat mempengaruhi
kesehatan tulang dan jantung pada wanita. Fitoestrogen sebagian
besar berasal dari tiga kelas kimia isofalvon, lignin, dan koumestan
(Tagliaferry, 2007).
4) Olahraga yang teratur
Banyak cara yang dilakukan wanita premenopause agar
dapat menjaga dirinya tetap sehatantara lain menjaga pola makan,
kelola stres, tetap aktif tetapi sesuai dengan usia dan kondisi
fisiknya. Olahraga dan pola makan tidak bisa dipisahkan keduanya
harus dilaksanakan atau dilakukan agar mendapat kesehatan prima
di usia senja. Olahraga baik dan benar mampu menstimulasi aliran
oksigen keseluruh sistem tubuh mengisi kembali oksigen kedalam
jaringan otot (Waluyo, 2010).
5) Banyak beribadah
Berdoa, beribadah dan berdzikir dengan menyebut lafaz
Allahbagi wanita muslim ternyata mampu membantu untuk
meringankan kecemasan dan lebih tenang dan pasrah dalam
menghadapi masa premenopause (Waluyo, 2010)
Proses Terjadinya Premenopause (skripsi dan tesis)
Premenopause terjadi secara fisiologis akibat hilang atau
berkurangnya sensitivitas ovarium terhadap stimulasi gonadotropin,
yang berhubungan langsung dengan penurunan dan disfungsi folikuler.
Oosit di dalam ovarium akan mengalami atresia ketika siklus
reproduksi wanita. Folikel mengalami penurunan kualitas dan
kuantitas folikel secara kritis setelah 20-25 tahun sesudah menarche.
Disebabkan pada fase perimenopause dapat terjadi siklus menstruasi
yang ireguler. Selain itu iregularitas menstruasi juga terjadi akibat fase
folikuler pada fase siklus menstruasi yang juga memendek
(Proverawati, 2010).
Kondisi premenopause produksi hormon estrogen menjadi
berkurang. Meskipun perubahan juga terjadi pada hormon lainnya,
seperti progesteron, tetapi perubahan yang mempengaruhi langsung
kondisi fisik tubuh maupun organ reproduksi, juga psikis adalah akibat
perubahan hormon estrogen (Lestary, 2010).
Walaupun reproduksi tidak menjadi tujuan utama, hormonhormon reproduksi tetap memegang peran penting untuk dapat
meningkatkan kesehatan. Estrogen dan androgen penting untuk
mempertahankan tulang agar kuat, sehat, dan jaringan vagina saluran
kencing yang lentur serta untuk kesehatan kulit (Lestary, 2010)
Tanda dan Gejala Premenopause (skripsi dan tesis)
Menurut Proverawati (2010), gejala premenopause adalah
sebagai berikut :
1) Hot flush (perasaan panas dari dada hingga wajah)
Wajah dan leher menjadi berkeringat.Kulit menjadi
kemerahan muncul di dada dan lengan terasa panas dapat terjadi
beberapa bulan atau beberapa tahun sebelum dan sesudah
berhentinya menstruasi. Perasaan panas akibat terjadi peningkatan
aliran darah ke wajah, leher, dada, dan punggung.
2) Night sweat (keringat di malam hari)
Keringat dingin dan gemetar juga dapat terjadi selama 30
detik sampai dengan 5 menit.
3) Dryness vaginal (kekeringan pada vagina)
Area genital yang kering dan biasa sebagai bahan
perubahan kadar estrogen. Kekeringan ini dapat membuat area
genital mudah mengalami infeksi.
4) Penurunan daya ingat dan mudah tersinggung
Produksi endorfin pada masa premenopause mengalami
penurunan/hal ini terjadi karena penurunan kadar endorfin,
dopamin dan serotonin tersebut mengakibatkan gangguan yang
berupa penurunan daya ingat dan suasana hati sering berubah atau
mudah tersinggung.
5) Insomnia ( susah tidur )
Susah tidur disebabkan karena keringat dimalam hari,
wajah merah dan perubahan lainnya. Kesulitan tidur dipengaruhi
dengan rendahnya kadar serotonin pada masa premenopause.
Kadar serotonin dipengaruhi oleh kadar endorfin.
6) Gejala akibat kelainan metabolik
Meliputi kelainan metabolisme lemak di hati. Penurunan
kadar estrogen menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol LDL
(low density lipoprotein) dan menurunnya kadar kolestrol HDL
(high density lipoprotein).
7) Depresi (rasa cemas)
Depresi atau stres sering terjadi pada wanita ketika
memasuki masa premenopause. Hal ini terkait dengan penuruan
hormon estrogen sehingga menyebabkan wanita mengalami stres
ataupun depresi.
8) Fatigue (mudah lelah)
Rasa lelah sering kali muncul ketika menjelang masa
premenopause karena sering terjadi perubahan homonal pada
wanita yaitu terutama perubahan hormon estrogen.
9) Penurunan libido
Faktor-faktor yang berkaitan dengan penurunan libido pada
wanita usia pertengahan begitu kompleks, termasuk depresi,
gangguan tidur, dan keringat dimalam hari. Keringat malam hari
dapat menganggu tidur dan kekurangan tidur mengurangi energi
untuk yang lain, termasuk aktifvitas seks. Hal tersebut terjadi
karenaadanya perubahan pada vagina, seperti kekeringan yang
membuat area genital sakit dan selain itu terjadi perubahan
hormonal sehingga dapat menurunkan gairah seks.
10) Dyspareunia (rasa sakit ketika berhubungan seksual)
Hal ini terjadi karena vagina menjadi pendek, menyempit,
hilang elastisitas, epitelnya tipis dan mudah trauma karena kurang
lubrikasi.
11) Ketidakteraturan siklus haid
Gangguan siklus haid seperti polymenorrhoea,
olygomenorrhoea, amenorrhea dan mitaragia, hal ini terjadi
karena kadar estrogen menurun saat premenopause.
12) Gejala kelainan metabolisme mineral
Mudah terjadi fraktur pada tulang, akibat
ketidakseimbangan absorbsi dan reabsorbsi mineral terutama
kalsium. Bila hal ini berlangsung lama dapat menyebabkan
osteoporosis.
Definisi premenopause (skripsi dan tesis)
Premenopause adalah suatu kondisi fisiologis wanita yang telah
memasuki masa penuaan (aging) yang ditandai dengan menurunnya
kadar hormonal estrogen ovarium yang sangat berperan dalam
reproduksi seksualitas. Premenopause sering menimpa wanita yang
berusia menjelang 40 tahun ke atas. Fase premenopause adalah sebagai
permulaan transisi klimakterik, yang dimulai 4-5 tahun sebelum
premenopause. Keluhan klimakterium sudah mulai muncul dan
hormon estrogen masih dibentuk oleh tubuh, Bila kadarestrogen turun
maka akan terjadi perdarahan yang tidak teratur (Proverawati, 2010).
Wanita yang menjalani fase premenopause akan mengalami
kekacauan dalam pola menstruasi, terjadi perubahan
psikologis/kejiwaan, perubahan fisik, dan sekitar 40-80% dari semua
wanita klimakterium mempunyai keluhan baik fisik maupun psikologis
(Manuaba, 2009)
Tanda dan Gejala Kecemasan (skripsi dan tesis)
Gejala-gejala psikologis adanya kecemasan bila ditinjau dari
beberapa aspek antara lain pikiran, dimana keadaan pikiran yang tidak
menentu, seperti khawatir, sukar konsentrasi, pikiran kosong,
memandang diri sebagai sangat sensitif, dan merasa tidak
berdaya.Reaksi biologis yang tidak dapat dikendalikan, seperti
berkeringat, gemetar, pusing, jantung berdebar-debar, mual, dan mulut
kering. Perilaku gelisah, keadaan diri yang tidak terkendali seperti
gugup, kewaspadaan diri yang berlebihan, serta sangat sensitif.
Motivasi yaitu dorongan untuk mencapai situasi, rasa ketergantungan
yang tinggi, ingin melarikan diri, lari dari kenyataan (Mulyani, 2013).
Menurut Hawari (2011) seorang akan mengalami gangguan
cemas manakala seseorang tidak mampu mengatasi stressor psikososial
yang dihadapinya. Secara klinis selain gejala cemas yang biasa,
disertai dengan kecemasan yang menyeluruh dan menetap (paling
sedikit berlangsung selama 1 bulan) dengan 2 kategori gejala sebagai
berikut :
a) Rasa khawatir berlebihan tentang hal-hal yang akan datang
(apprehensive expectasion) adalah cemas, khawatir, takut, berfikir
berulang (rumination), membayangkan akan datangnya
kemalangan pada dirinya maupun orang lain.
b) Kewaspadaan berlebihan yaitu mengamati lingkungan secara
berlebihan sehingga mengakibatkan perhatian mudah teralih, sukar
konsentrasi, sukar tidur, mudah tersinggung dan tidak sabar.
Faktor Predisposisi (skripsi dan tesis)
Menurut Stuart (2007), berbagai teori telah dikembangkan
untuk menjelaskan faktor-faktor yang dapat menimbulkan kecemasan
yang terdiri dari dari 4 faktor yaitu faktor pertama adalah faktor
psikoanalitis yang merupakan bagian dari salah satu faktor psikologis
yaitu cemas yang merupakan suatu konflik emosional yang terjadi
antara dua elemen kepribadian yaitu identitas dan superego. Identitas
mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego
mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma budaya. Ego
berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentang
tersebut, dan fungsi cemas adalah mengingatkan ego bahwa ada
bahaya.
Faktor kedua adalah interpersonal yaitu suatu kecemasan yang
timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan
interpersonal. Cemas juga berhubungan dengan perkembangan trauma,
seperti perpisahan dan kehilangan yang menimbulkan kerentanan
tertentu. Individu dengan harga diri rendah rentan mengalami cemas
berat.
Faktor ketiga adalah keluarga yaitu suatu keadaan atau kondisi
yang dapat menimbulkan cemas yang terjadi dalam keluarga. Cemas
juga tumpang tindih antara gangguan cemas dengan depresi. Faktor
keempat yaitu faktor biologis yang merupakan suatu kajian biologis
yang menunjukan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk
benzodiazepine, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator
inhibisi asam gamat-aminobutirat (GAMA), yang berperan penting
terhadap mekanisme biologis yang berhubungan dengan cemas.
Kesehatan umum individu dan riwayat cemas pada keluarga memiliki
efek nyata sebagai faktor penyebab cemas.
e. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart (2007), beberapa faktor pencetus yang dapat
menyebabkan terjadinya kecemasan adalah ancaman terhadap
integritas fisik meliputi disabilitas fisiologi yang akan terjadi atau
penurunan untuk melakukan kemampuan aktivitas sehari-hari yang
meliputi dua hal yaitu dari sumber internal meliputi kegagalan
mekanisme fisiologi normal. Sumber eksternal meliputi paparan
melalui infeksi virus dan bakteri, polutan lingkungan, kecelakaan,
kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal.
Ancaman terhadap sistem diri yang dapat membahayakan
identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi pada diri
individu dari sumber internaladalah kesulitan dalam berhubungan
interpersonal dirumah dan tempat kerja, penyesuaian terhadap peran
baru. Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat
mengancam harga diri, sedangkan dari sumber eksternal adalah
kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan status
pekerjaan, tekanan kelompok dan sosial budaya.
Tingkat Kecemasan (skripsi dan tesis)
Menurut Stuart (2007), tingkat kecemasan sebagai berikut :
1) Kecemasan ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan seharihari. Kekecewaan ini menyebabkan individu menjadi waspada dan
meningkatkan lapang persepsinya. Kecemasan ini dapat
memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta
kreatifitas.
2) Kecemasan sedang
Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang
penting dan mengesampingkan yang lain. Kecemasan ini
mempersempit lapang persepsi individu dengan demikian individu
tidak mengalami perhatian yang selektif namun dapat berfokus
pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.
3) Kecemasan berat
Sangat mempengaruhi lapang persepsi individu. Individu
cenderung berfokus pada suatu yang rinci dan spesifik serta tidak
berfikir pada hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi
ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk
berfokus pada area lain.
4) Tingkat panik
Ketakutan yang berhubungan dengan terperangah, takut,
dan teror. Hal yang rinci terhadap proposinya karena mengalami
hilang kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu
melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik merupakan
disorganisasi dan menimbulkan peningkatan aktifitas motorik,
menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain,
persepsi yang menyimpan dan kehilangan pemikiran yang rasional,
tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan, jika
berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan
dan kematian.
Definisi Kecemasan (skripsi dan tesis)
Kecemasan adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak
didukung oleh situasi (Viedesbeck, 2008). Menurut Nanda (2012),
kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang disertai
oleh respon autonom (penyebab sering tidak spesifik atau tidak
diketahui pada setiap individu) perasaan cemas tersebut timbul akibat
dari antisipasi diri terhadap bahaya. Keadaan ini juga dapat diartikan
sebagai tanda-tanda perubahan yang memberikan peringatan akan
adanya bahaya pada diri individu.
Kecemasan adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas
sebabnya. Kecemasan juga merupakan kekuatan yang besar dalam
menggerakan tingkah laku, baik tingkah laku yang menyimpang
ataupun yang terganggu. Kedua-duanya merupakan pernyataan dan
penampilan dari pertahanan terhadap kecemasan tersebut (Gunarsa,
2008). Menurut Hawari (2011), secara klinis gejala kecemasan dibagi
dalam beberapa kelompok yaitu gangguan cemas (anxiety disorder),
gangguan cemas menyeluruh (generalized anxiety disorder/GAD),
gangguan panik (panic disorder), gangguan pobik (phobic disorder ),
gangguan obsesif-kompulsif (obsessive- compulsive disorder).
Manfaat Pendidikan Kesehatan Pre Operasi (skripsi dan tesis)
Program intruksi berupa pendidikan kesehatan telah dikenal sejak lama.
Setiap pasien diajarkan sebagai seorang individu, dengan
mempertimbangkan segala keunikan ansietas, kebutuhan dan harapanharapannya. Idealnya, pendidikan kesehatan dibagi dalam beberapa
periode waktu untuk memungkinkan pasien mengasimilasi informasi dan
untuk mengajukan pertanyaan ketika timbul pertanyaan. Pada
kenyataannya, perawat harus membuat penilaian tentang seberapa banyak
yang pasien ingin dan harus ketahui. Pada beberapa contoh, terlalu rinci
malah meningkatkan tingkat kecemasan pasien (Smeltzer & Bare, 2002).
Pendidikan kesehatan preoperatif memiliki manfaat yang sangat positif
untuk pasien, baik dalam mempersiapkan mental sebelum dilakukannya
pembedahan itu sendiri ataupun mempersiapkan pasien pada post operasi.
Pendidikan (penyuluhan) kesehatan pre operasi tentang perilaku yang
diharapkan dilakukan oleh pasien pada pascaoperatif, yang diberikan
melalui format yang sistematik dan terstruktur sesuai dengan prinsipprinsip belajar mengajar, mempunyai pengaruh yang positif bagi
pemulihan pasien. Menurut Potter dan Perry (2006), pendidikan kesehatan
preoperatif yang terstruktur dapat mempengaruhi beberapa faktor
pascaoperatif, antara lain:
a. Kapasitas fungsi fisik, pendidikan kesehatan meningkatkan
kemampuan klien melakukan aktivitas sehari-hari secara lebih awal
b. Perasaan sehat, klien yang telah dipersiapkan untuk menjalani
pembedahan memiliki kecemasan yang lebih rendah dan menyatakan
rasa sehat secara psikologis yang lebih besar
c. Lama rawat inap di rumah sakit, pendidikan kesehatan preoperatif
secara terstuktur dapat mempersingkat waktu rawat inap klien di
rumah sakit
Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan (skripsi dan tesis)
Ruang lingkup pendidikan kesehatan menurut Fitriani (2011), dapat
dilihat dari berbagai dimensi yaitu:
a. Dimensi sasaran, ruang lingkup pendidikan kesehatan dibagi menjadi
3 kelompok yaitu:
1) Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu
2) Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok
3) Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas
b. Dimensi tempat pelaksanaanya, pendidikan kesehatan dapat
berlangsung di berbagai tempat yang dengan sendirinya sasaran
berbeda pula yaitu:
1) Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran murid
2) Pendidikan kesehatan di puskesmas atau rumah sakit dengan
sasaran pasien dan keluarga pasien.
c. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat
dilakukan berdasarkan 5 tingkat pencegahan dari Leavel dan Clark.
1) Promosi kesehatan
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan sangat diperlukan seperti:
peningkatan gizi, perbaikan kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi
lingkungan serta hiegine perorangan.
2) Perlindungan khusus
Program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus
sangat dibutuhkan terutama di negara berkembang. Hal ini juga
sebagai akibat dari kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang
imunisasi sebagai perlindungan terhadap penyakit pada dirinya
maupun anak-anak masih rendah.
3) Diagnosis dini dan pengobatan segera
Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarkat terhadap
kesehatan dan penyakit maka sering kesulitan mendeteksi penyakit
yang terjadi pada masyarakat, bahkan masyarakat sulit atau tidak
mau diperiksa dan diobati sehingga masyarakat tidak memperoleh
pelayanan kesehatan yang layak.
4) Pembatasan kecacatan
Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang
penyakit sehingga masyarakat tidak melanjutkan pengobatan
sampai tuntas. Dengan kata lain pengobatan dan pemeriksaan yang
tidak sempurna mengakibatkan orang tersebut mengalami
kecacatan.
5) Rehabilitasi
Untuk memulihkan kecacatan kadang-kadang diperlukan latihan
tertentu. Karena kurangnya pengetahuan masyarakat enggan
melakukan latihan yang dianjurkan. Kecacatan juga
mengakibatkan perasaan malu untuk kembali ke masyarakat.
Kadang masyarakat pun kadang-kadang tidak mau menerima
mereka sebagai anggotan masyarakat yang normal.
Tujuan Pendidikan Kesehatan (skripsi dan tesis)
Adapun tujuan pendidikan kesehatan menurut Fitriani (2011), dibagi
menjadi 2 yaitu:
a. Tujuan pendidikan kesehatan untuk mengubah perilaku individu atau
masyarakat dari perilaku yang tidak sehat atau belum sehat menjadi
perilaku sehat.
b. Mengubah perilaku yang kaitannya dengan budaya. Sikap dan perilaku
merupakan bagian dari budaya. Kebudayaan adalah kebiasaan, adat
istiadat, tata nilai atau norma.
Klasifikasi operasi (skripsi dan tesis)
Smeltzer & Bare (2002) mengkategorikan operasi berdasarkan
urgensinya menjadi lima, yaitu:
1) Kedaruratan, yaitu pasien membutuhkan tindakan segera karena
mengancam jiwa. Sebagai contoh perdarahan hebat, obtruksi
kandung kemih, fraktur tulang tengkorak, luka tembak, luka tusuk.
2) Urgen, yaitu pasien membutuhkan perhatian segera dengan jeda
waktu 24-30 jam. Contoh pada kasus infeksi kandung kemih akut,
batu ginjal atau batu pada uretra.
3) Diperlukan, yaitu pasien harus menjalani pembedahan dalam
tempo bias beberapa minggu atau bulan ke depan. Contoh katarak,
hyperplasia prostat, gangguan tiroid.
4) Elektif, yaitu pasien harus dioperasi bila diperlukan apabila tidak
dilakukan pembedahan tidak berbahaya, contoh vaginoplasti dan
herniotomy.
5) Pilihan, yaitu keputusan terletak pada keinginan pasien, contoh
operasi plastik
Fase pre operasi (skripsi dan tesis)
Fase preoperasi dimulai ketika keputusan untuk menjalani intervensi
bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi
(Smeltzer & Bare, 2002). Persiapan pre operasi sangat penting sekali
untuk mengurangi faktor resiko karena hasil akhir suatu pembedahan
sangat bergantung pada penilaian keadaan pasien. Dalam persiapan
inilah ditentukan adanya kontraindikasi operasi, toleransi pasien
terhadap tindakan bedah, dan ditetapkan waktu yang tepat untuk
melaksanakan pembedahan (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).
Penatalaksanaan (skripsi dan tesis)
Penatalaksanaan hernia menurut Jitowiyono & Kristiyanasari (2010)
adalah dengan dilakukan operasi. Indikasi operasi sudah ada begitu
diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah herniorapy,
yang terdiri dari herniotomy dan hernioplasty.
1) Herniotomy
Pada herniotomy dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke
lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada
perlengketan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit, ikat
setinggi mungkin lalu dipotong.
2) Hernioplasty
Pada hernioplasty dilakukan tindakan memperkecil annulus
inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis
inguinalis. Hernioplasty lebih penting artinya dalam mencegah
terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomy. Dikenal
berbagai metode hernioplasty seperti memperkecil annulus
inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan
memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan
muskulus tranversus internus abdominis dan muskulus oblikus
internus abdominis yang dikenal dangan nama conjoint tendon ke
ligamentum inguinale menurut metode Bassini, atau menjahitkan
fasia tranversa muskulus transversus abdominis, muskulus oblikus
internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay.
Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan
pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau
marleks untuk menutup defek.
Bagian dan jenis hernia (skripsi dan tesis)
Bagian-bagian dari hernia menurut Jitowiyono&Kristiyanasari (2010):
1) Kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis
2) Isi hernia
Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia,
misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum)
3) Pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resitance yang dilalui kantong
hernia
4) Leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia.
Menurut sifat dan keadaannya hernia dibedakan menjadi:
1) Hernia reponibel: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar
jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi bila berbaring atau
didorong masuk perut, tidak ada keluhan nyeri atau gejala
obstruksi usus (Nicks, 2008).
2) Hernia ireponibel: Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali
ke dalam rongga perut. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi
kantong pada peritoneum kantong hernia (Nicks, 2008).
3) Hernia inkarserata atau strangulata: bila isinya terjepit oleh cincin
hernia sehingga isi kantong terperangkap dan tidak dapat kembali
ke dalam rongga perut. Akibatnya, terjadi gangguan vaskularisasi.
Reseksi usus perlu segera dilakukan untuk menghilangkan bagian
yang mungkin nekrosis (Sherwinter, 2009).
Menurut Erickson (2009) dalam Muttaqin 2011, ada beberapa
klasifikasi hernia yang dibagi berdasarkan regionya, yaitu: hernia
inguinalis, hernia femoralis, hernia umbilikalis, dan hernia skrotalis.
1) Hernia Inguinalis, yaitu: kondisi prostrusi (penonjolan) organ
intestinal masuk ke rongga melalui defek atau bagian dinding yang
tipis atau lemah dari cincin inguinalis. Materi yang masuk lebih
sering adalah usus halus, tetapi bisa juga merupakan suatu jaringan
lemak atau omentum. Predisposisi terjadinya hernia inguinalis
adalah terdapat defek atau kelainan berupa sebagian dinding
rongga lemah. Penyebab pasti hernia inguinalis terletak pada
lemahnya dinding, akibat perubahan struktur fisik dari dinding
rongga (usia lanjut), peningkatan tekanan intraabdomen
(kegemukan, batuk yang kuat dan kronis, mengedan akibat
sembelit, dll).
2) Hernia Femoralis, yaitu: suatu penonjolan organ intestinal yang
masuk melalui kanalis femoralis yang berbentuk corong dan keluar
pada fosa ovalis di lipat paha. Penyebab hernia femoralis sama
seperti hernia inguinalis.
3) Hernia Umbilikus, yaitu: suatu penonjolan (prostrusi) ketika isi
suatu organ abdominal masuk melalui kanal anterior yang dibatasi
oleh linea alba, posterior oleh fasia umbilicus, dan rektus lateral.
Hernia ini terjadi ketika jaringan fasia dari dinding abdomen di
area umbilicus mengalami kelemahan.
4) Hernia Skrotalis, yaitu: hernia inguinalis lateralis yang isinya
masuk ke dalam skrotum secara lengkap. Hernia ini harus cermat
dibedakan dengan hidrokel atau elevantiasis skrotum
Etiologi hernia (skripsi dan tesis)
Etiologi hernia menurut Jitowiyono dan Kristiyanasari (2010), ialah:
1) Lemahnya dinding rongga perut (dapat ada seak lahir atau didapat)
2) Akibat dari pembedahan sebelumnya
3) Kongenital
4) Aquisial, adalah hernia yang bukan disebabkan oleh adanya defek
bawaan tetapi disebabkan oleh faktor lain yang dialami seseorang
selama hidupnya, antara lain:
a) Tekanan abdominal yang tinggi, banyak dialami oleh pasien
yang sering mengejan baik saat buang air besar maupun buang
air kecil.
b) Konstitusi tubuh, orang kurus cenderung terkena hernia karena
jaringan ikatnya sedikit. Sedangkan pada orang gemuk dapat
terkena hernia karena banyaknya jaringan lemak dalam
tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong
pada LMR.
c) Distensi abdomen
d) Sikatrik
e) Penyakit yang melemahkan dinding perut
f) Merokok
Konsep hernia (skripsi dan tesis)
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Definisi lain menyatakan hernia adalah penonjolan viskus atau sebagian dari viskus melalui celah abnormal pada selubungnya (Grace & Borley, 2007). Menurut Hinchcliff dalam Jitowiyono (2010), hernia adalah protusio (penonjolan) abnormal suatu organ atau bagian 18 suatu organ melalui lubang (apertura) pada struktur disekitarnya, umumnya celah dari dinding abdomen
Alat ukur tingkat kecemasan (skripsi dan tesis)
Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah
ringan, sedang, berat atau panik dapat menggunakan beberapa alat ukur
(instrumen), yaitu:
a. Alat ukur kecemasan yang dikutip dari Hawari (2008) menggunakan
HRS-A (Hamilton Rating Scale for Anxiety), yang terdiri atas 14
komponen gejala, yaitu:
1) Perasaan cemas (ansietas), meliputi: cemas, firasat buruk, takut
akan pikiran sendiri, mudah tersinggung
2) Ketegangan, meliputi: merasa tegang, lesu, tidak bisa istirahat
tenang, mudah terkejut, mudah menangis, gemetar, gelisah
3) Ketakutan, meliputi: pada gelap, pada orang asing, ditinggal
sendiri, pada binatang besar, pada keramaian lalu lintas, pada
kerumunan orang banyak
4) Gangguan tidur, meliputi: sukar masuk tidur, terbangun malam
hari, tidur tidak nyenyak, bangun dengan lesu, banyak mimpimimpi, mimpi buruk, mimpi menakutkan
5) Gangguan kecerdasan, meliputi: sukar konsentrasi, daya ingat
menurun, daya ingat buruk
6) Perasaan depresi (murung), meliputi: hilangnya minat,
berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih, bangun dini hari,
perasaan berubah-berubah sepanjang hari
7) Gejala somatik/fisik (otot), meliputi: sakit dan nyeri otot-otot,
kaku, kedutan otot, gigi gemerutuk, suara tidak stabil
8) Gejala somatik/fisik (sensorik), meliputi: tinnitus (telinga
berdenging), penglihatan kabur, muka merah atau pucat, merasa
lemas, perasaan ditusuk-tusuk
9) Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), meliputi,
takikardia, berdebar-debar, nyeri di dada, denyut nadi mengeras,
rasa lemas seperti mau pingsan, detak jantung berhenti sekejap
10)Gejala respiratori (pernafasan), meliputi: rasa tertekan atau sempit
di dada, rasa tercekik, sering menarik nafas, nafas pendek/sesak
11)Gejala gastrointestinal (pencernaan), meliputi: sulit menelan, perut
melilit, gangguan pencernaan, nyeri sebelum dan sesudah makan,
perasaan terbakar di perut, rasa penuh atau kembung, mual,
muntah, buang air besar lembek, konstipasi, kehilangan berat
badan
12)Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin), meliputi: sering
buang air kecil, tidak dapat menahan air kencing, tidak datang
bulan, darah haid amat sedikit, masa haid berkepanjangan, masa
haid amat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, menjadi
dingin, ejakulasi dini, ereksi ilmiah, ereksi hilang, impotensi
13)Gejala autonom, meliputi: mulut kering, muka merah, mudah
berkeringat, kepala pusing, kepala terasa berat, kepala terasa sakit,
bulu-bulu berdiri
14)Tingkah laku (sikap) pada wawancara, meliputi: gelisah, tidak
tenang, jari gemetar, kerut kening, muka tegang, otot tegang /
mengeras, nafas pendek dan cepat, muka merah
Cara penilaian HRS-A dengan sistem skoring, yaitu: skor 0 = tidak
ada gejala, skor 1 = ringan (satu gejala), skor 2 = sedang (dua
gejala), skor 3 = berat (lebih dari dua gejala), skor 4 = sangat berat
(semua gejala). Bila skor < 14 = tidak kecemasan, skor 14-20 =
cemas ringan, skor 21-27 = cemas sedang, skor 28-41 = cemas
berat, skor 42-56 = panik.
b. Skala analog visual (Visual analog scale, VAS)
Suatu garis lurus yang mewakili tingkatan kecemasan dan
pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi pasien
kebebasan penuh untuk mengidentifikasi kategori cemas yang
dirasakan. VAS dapat merupakan pengukuran tingkat kecemasan yang
cukup sensitif karena pasien dapat mengidentifikasi setiap titik pada
rangkaian, dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka.
Pengukuran dengan VAS pada nilai nol dikatakan tidak ada
kecemasan,nilai 10-30 dikatakan sebagai cemas ringan, nilai antara
40-60 cemas sedang, diantara 70-90 cemas berat, dan 100 dianggap
panik
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan (skripsi dan tesis)
Stuart & Laraia (2005) menyatakan ada beberapa teori yang telah
dikembangkan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
kecemasan, diantaranya faktor predisposisi dan presipitasi:
a. Faktor predisposisi Kecemasan
1) Dalam pandangan psikoanalitis, kecemasan adalah konflik
emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian id dan
superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitive,
sedangkan superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan
oleh norma budaya. Ego atau Aku, berfungsi menengahi tuntutan
dari dua elemen yang bertentangan itu, dan fungsi cemas adalah
mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2) Menurut pandangan interpersonal, kecemasan timbul dari perasaan
takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal.
Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma,
seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan
tertentu. Individu dengan haraga diri rendah rentan mengalami
kecemasan yang berat.
3) Menurut pandangan perilaku, kecemasan merupakan produk
frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan
individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ahli teori
perilaku lain menganggap kecemasan sebagai suatu dorongan yang
dipelajari berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk
menghindari kepedihan. Ahli teori konflik memandang kecemasan
sebagai pertentangan antara dua kepentingan yang berlawanan.
Mereka meyakini adanya hubungan timbal balik antara konflik dan
kecemasan. Konflik menimbulkan kecemasan, dan kecemasan
menimbulkan perasaan tidak berdaya, yang pada gilirannya
meningkatkan konflik yang dirasakan.
4) Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan
biasanya terjadi dalam keluarga. Gangguan kecemasan juga
tumpang tindih antara gangguan kecemasan dengan depresi.
5) Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor
khusus untuk benzodiasepin, obat-obatan yang meningkatkan
neuroregulator inhibisi asam gama-aminobutirat (GABA), yang
berperan penting dalam mekanisme biologis yang berhubungan
dengan kecemasan. Kecemasan mungkin disertai dengan gangguan
fisik dan selanjutnya menurunkan kemampuan individu untuk
mengatasi stressor.
b. Faktor presipitasi kecemasan
Menurut Stuart & Laraia (2005) kategori faktor pencetus kecemasan
dapat dikelompokkan menjadi dua faktor:
1) Faktor eksternal:
a) Ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas fisiologis
yang akan terjadi atau penurunan kemampuan untuk
melakukan aktivitas hidup sehari-hari (penyakit, trauma fisik,
pembedahan yang akan dilakukan).
b) Ancaman terhadap sistem diri dapat membahayakan identitas,
harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi pada individu.
2) Faktor internal:
a) Usia, seseorang yang mempunyai usia lebih muda ternyata
lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada
seseorang yang lebih tua usianya.
b) Jenis kelamin, gangguan ini lebih sering dialami oleh wanita
daripada pria. Wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih
tinggi dibandingkan subjek berjenis kelamin laki-laki.
Dikarenakan bahwa perempuan lebih peka dengan emosinya,
yang pada akhirnya peka juga terhadap perasaan cemasnya.
c) Tingkat Pengetahuan, dengan pengetahuan yang dimiliki,
seseorang akan dapat menurunkan perasaan cemas yang
dialami dalam mempersepsikan suatu hal. Pengetahuan ini
sendiri biasanya diperoleh dari informasi yang didapat dan
pengalaman yang pernah dilewati individu.
d) Tipe kepribadian, orang yang berkepribadian A lebih mudah
mengalami gangguan kecemasan daripada orang dengan
kepribadian B. Adapun ciri-ciri orang dengan kepribadian A
adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius, dan ingin serba
sempurna.
e) Lingkungan dan situasi, seseorang yang berada di lingkungan
asing ternyata lebih mudah mengalami kecemasan dibanding
bila dia berada di lingkungan yang biasa dia tempati
Tingkat Kecemasan (skripsi dan tesis)
Cemas sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kondisi dialami secara subjektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Cemas berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi tingkat cemas yang parah tidak sejalan dengan kehidupan. Rentang respon kecemasan menggambarkan suatu derajat perjalanan cemas yang dialami individu Tingkat Kecemasan adalah suatu rentang respon yang membagi individu
apakah termasuk cemas ringan, sedang, berat atau bahkan panik. Beberapa
kategori kecemasan menurut Stuart (2007):
a. Kecemasan ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan yang
menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang
persepsinya. Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan
menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.
b. Kecemasan sedang
Kecemasan ini memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang
penting dan mengesampingkan yang lain. Kecemasan sedang ini
mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian, individu
mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat berfokus pada
lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.
c. Kecemasan berat
Pada tingkat kecemasan ini sangat mengurangi lapang persepsi
individu. Individu cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan
spesifik serta tidak berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan
untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak
arahan untuk berfokus pada area lain.
d. Tingkat Panik pada Kecemasan
Tingkat paling atas ini berhubungan dengan terperangah, ketakutan,
dan teror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya. Karena mengalami
kehilangan kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu
melalukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik mencakup
disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas
motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang
lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang
rasional. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan, jika
berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan
kematian.
Serangan panik merupakan periode tersendiri dari kecemasan yang
intens, seseorang dikatakan panik bila memilki sedikitnya empat
gejala berikut yang berkembang cepat dan mencapai puncaknya dalam
10 menit (Stuart, 2007). Terdapat banyak gejala yang menandai
serangan panik yang terjadi pada individu, seperti: Palpitasi, jantung
berdenyut keras dengan frekuensi cepat, dapat pula terjadi keluar
keringat yang berlebihan, gemetar, sesak nafas atau seperti tercekik.
Gejala lain yang dapat terjadi ialah merasa tersedak, nyeri dada, mual
atau distress abdomen, pusing dan ingin pingsan, derealisasi (merasa
tidak nyata) atau depersonalisasi (merasa terasing dari diri sendiri),
takut kehilangan kendali atau menjadi gila, takut mati, parestesia.
Pengertian Kecemasan (skripsi dan tesis)
Pengertian Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kecemasan dialami secara subjektif dan dikomunikasikan secara personal. Kecemasan adalah respon emosional dan merupakan penilaian intelektual terhadap suatu bahaya (Stuart, 2007). Definisi lain menjelaskan kecemasan merupakan respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara sujektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan yang tidak menentu dan tidak berdaya (Suliswati, 2005). Sementara itu Stuart & Laraia (2005) mengartikan kecemasan sebagai kekhawatiran yang tidak jelas menyebar di alam pikiran dan terkait dengan perasaan ketidakpastian dan ketidakberdayaan, tidak ada objek yang dapat diidentifikasi sebagai stimulus kecemasan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Expressive Writing (skripsi dan tesis)
Faktor yang mempengaruhi expressive writing dibagi menjadi dua, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal yang sangat mempengaruhi
individu seperti pola asuh dan lingkungan karena pemberian konseling expressive
writing dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang sulit untuk dikendalikan.
Kemudian dengan memberikan pujian kepada para subyek penelitian agar mereka
terus fokus dalam mengikuti instruksi, serta mempertimbangkan tingkat
keparahan masalah subyek.
Faktor internal yang mempengaruhi yaitu motivasi. Semakin besar
motivasi seseorang dalam melakukan suatu hal, dalam hal ini adalah kemampuan
menulis maka diharapkan hal tersebut dapat meningkatkan pula kemauannya
dalam mencari pekerjaan. Dengan menulis, mahasiswa fresh graduate akan
menuangkan segala perasaan, pikiran, dan emosinya yang kurang mampu ia
utarakan.
Tahapan Terapi (skripsi dan tesis)
Hynes dan Thompson (dalam Purnamarini, Setiawan, & Hidayat, 2016)
membagi terapi menulis ke dalam tahapan yakni:
a. Recognation/Initial writing
Tahapan ini merupakan tahapan awal untuk menuju sesi menulis. Tahap
ini bertujuan untuk memfokuskan pikiran, membuka imajinasi, merelaksasi
dan menghilangkan pikiran negatif yang mungkin muncul pada diri klien,
serta mengevaluasi kondisi mood atau konsentrasi klien. Pertama, klien
diberikan kesempatan untuk menulis secara bebas kata-kata, frase, atau
mengungkapkan hal lain yang muncul dalam pikiran tanpa sebuah
perencanaan dan arahan. Selain menulis, sesi ini juga dapat dimulai dengan
pemanasan, menggambar bentuk sederhana, gerakan sederhana, atau
mendengarkan instrumen. Tahap ini berlangsung 6 menit.
b. Examination/writing exercise
Tujuan tahap ini yaitu untuk mengetahui lebih dalam reaksi klien terhadap
suatu situasi tertentu. Proses terapi menulis dilakukan pada tahap ini. Tidak
ada instruksi yang baku pada tahap ini, sehingga instruksi yang diberikan
dapat disesuaikan dengan usia dan pemahaman klien. Tahap ini memakan
waktu sekitar 10-20 menit dalam satu sesi dan dapat dilakukan dalam 3-5 sesi.
Pada sesi ini, menulis yang dilakukan klien sudah terarah. Diawali dengan
peristiwa emosional yang umum sampai dengan peristiwa spesifik yang
mengganggu klien, seperti ketika didiagnosis mengalami suatu penyakit,
kehilangan pekerjaan, atau kecemasan ketika menghadapi suatu peristiwa.
Dalam sesi ini bukan hanya penggalian tentang masa lalu klien, tetapi juga
untuk menghadapi situasi yang sedang maupun yang akan dihadapi di masa
depan.
c. Juxtaposition/Feedback
Pada tahap ini, klien didorong agar memperoleh persepsi baru dalam
memandang suatu permasalahan, sehingga dapat memberikan inspirasi baru
terhadap perilaku, sikap, penilaian dan pemahaman yang lebih pada dirinya.
Hal pokok pada tahap ini yaitu mengetahui bagaimana persaan klien pada saat
menulis ekspresif, setelah menulis dan pada saat membacanya kembali.
d. Application to the self
Pada tahap terakhir ini klien didorong untuk mengaplikasikan pengetahuan
barunya ke dalam dunia nyata. Konselor atau terapis membantu klien
mengintegrasikan apa yang telah dipelajari selama sesi menulis dengan
merefleksikan kembali apa saja yang mesti diubah atau diperbaiki dan mana
yang perlu dipertahankan.
Selain itu juga dilakukan refleksi tentang manfaat menulis bagi klien.
Konselor juga perlu menanyakan apakah klien mengalami ketidaknyamanan
atau bantuan tambahan untuk mengatasi masalah sebagai akibat dari proses
menulis yang mereka ikuti.
Pengertian Expressive Writing (skripsi dan tesis)
Dalam kegiatan sehari-hari, kita tidak diharuskan menceritakan
permasalahan yang kita hadapi kepada orang lain. Meski demikian, perasaan dan
pikiran yang tidak mampu kita ungkapkan harus disalurkan. Salah satu cara
penyaluran emosi dengan menggunakan tulisan. Menerjemahkan perasaan dan
pikiran kedalam kata-kata yang ditulis pada sebuah kertas ataupun media lain
dapat menguntungkan secara fisik maupun psikologis.
Seseorang yang menyimpan traumanya sendiri akan merugikan kesehatan
baik fisik maupun psikologisnya. Menurut Pannebaker, seseorang yang memiliki
trauma dalam hidupnya sebaiknya mempunyai seseorang yang dapat
membantunya melepaskan trauma-trauma yang dialaminya, namun apabila
seseorang tidak mampu mengutarakan perasaan yang dialaminya maka dapat
melakukan pelepasan perasaan melalui menulis sehingga dapat terhindar dari
stress (Pennebaker, 2017).
Menurut Pennebaker, expressive writing adalah kegiatan menuliskan
perasaan dan pikiran terdalam terhadap suatu peristiwa traumatis atau pengalaman
emosi yang pernah dimiliki. Salah satu keunggulan dari terapi expressive writing
ialah membebaskan para konseli menuangkan segala bentuk rasa kecemasaannya
dalam tulisan mereka tanpa harus memperhatikan susunan kata baku atau
penulisan bahasa yang baik dan benar (Purnamawini, Setiawan, & Hidayat, 2016).
Menulis ekspresif adalah suatu proses yang melibatkan pikiran, afeksi dan
motorik. Ketika seseorang menulis ekspresif, maka ia akan kembali merasakan
peristiwa yang terjadi, membuat suatu penilaian pada kejadian tersebut sehingga
memunculkan persepsi baru terhadap peristiwa tersebut (Ida, et al., 2016).
Expressive writing melibatkan perasaan dan pikiran terdalam dalam diri
seseorang tentang suatu peristiwa tertentu, intervensi ini termasuk sederhana,
tetapi dapat mengungkapkan emosi-emosi yang terpendam dalam diri seseorang
seperti dapat menurunkan stress, menurunkan migraine, menurunkan kecemasan,
dll (Schroder, Moran, & Moser, 2017).
Menulis ekspresif adalah sebuah proses terapi yang menggunakan metode
menulis ekspresif tentang bagaimana pengalaman perasaan yang pernah dialami
klien. Klien diberi waktu tertentu untuk menuangkan segala ekspresi tersebut ke
dalam sebuah tulisan. Terapi ini berfokus pada proses yang terapi tersebut
dilaksanakan, bukan pada hasil yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan menulis
merupakan aktivitas yang personal, artinya menulis tersebut membebaskan
seseorang dalam menuangkan gagasan, saran maupun kritiknya dengan bentuk
tulisan.
Expressive Writing bertujuan untuk pencerahan jiwa melalui pelepasan
atau kegiatan menulis. Siapa saja berhak melakukannya tanpa pandang bulu.
Menulis ekspresif merupakan bentuk tulisan untuk melepaskan dan
mengeksplorasi emosi dan pikiran yang terdalam paling traumatis yang membuat
penderitanya merasa luka batin (Pranoto, 2015).
Konsep dasar dalam expressive writing adalah ketika orang mengubah
perasaan dan pikiran mereka mengenai hal yang bersifat pribadi dan pengalaman
menjengkelkan yang dituangmelalui tulisan. Expressive writing bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman diri sendiri, oranglain mapupun lingkungan,
meningkatkan kreatifitas, mengekspresikan emosi, dll. Expressive writing juga
membantu individu untuk memahami dirinya dengan lebih baik, dan menghadapi
depresi, distress, kecemasan, adiksi, ketakutan terhadap penyakit, kehilangan dan
perubahan dalam kehidupannya (Susanti & Supriyantini, 2013).
Beberapa keuntungan menulis, seperti mengklarifikasi pikiran-pikiran dan
perasaan-perasaan mengetahui diri sendiri dengan lebih baik, menurunkan
tekanan karena menulis mengenai kemarahan, kesedihan dan emosi lain yang
menyakitkan, serta membantu melepaskan intensitas perasaan-perasaan tersebut,
memecahkan masalah dengan lebih efektif karena umumnya masalah dapat
dipecahkan melalui otak kiri, tetapi kadang-kadang hanya dapat ditemukan
dengan menggunakan otak kanan yang bersifat kreatif dan intuitif (Saifudin &
Kholidin, 2015).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan (skripsi dan tesis)
Blacburn & Davidson (dalam Annisa dan Ifdil, 2016) menyebutkan
beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan, seperti pengetahuan yang
dimiliki dalam menyikapi suatu situasi yang mengancam serta mampu
mengetahui kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi kecemasan
tersebut.
Kemudian Adler dan Rodman (dalam Annisa & Ifdil, 2016) menyatakan
terdapat dua faktor yang dapat menimbulkan kecemasan, yaitu:
a. Pengalaman negatif pada masa lalu
Penyebab utama munculnya kecemasan yaitu adanya pengalaman
traumatis yang terjadi pada masa kanak-kanak. Peristiwa tersebut mempunyai
pengaruh pada masa yang akan datang. Ketika individu menghadapi peristiwa
yang sama, maka ia akan merasakan ketegangan sehingga menimbulkan
ketidaknyamanan. Sebagai contoh yaitu ketika individu pernah gagal dalam
menghadapi suatu tes, maka pada tes berikutnya ia akan merasa tidak nyaman
sehingga muncul rasa cemas pada dirinya.
b. Pikiran yang tidak rasional
Pikiran yang tidak rasional terbagi dalam empat bentuk, yaitu.
1) Kegagalan ketastropik, individu beranggapan bahwa sesuatu yang buruk
akan terjadi dan menimpa dirinya sehingga individu tidak mampu
mengatasi permasalahannya.
2) Kesempurnaan, individu mempunyai standar tertentu yang harus dicapai
pada dirinya sendiri sehingga menuntut kesempurnaan dan tidak ada
kecacatan dalam berperilaku.
3) Persetujuan
4) Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang berlebihan, ini
terjadi pada orang yang memiliki sedikit pengalaman.
Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan kecemasan. Menurut Iyus
(dalam Saifudin & Kholidin, 2015) menyebutkan beberapa faktor yang
mempengaruhi kecemasan seseorang meliputi
a. Usia dan tahap perkembangan, faktor ini memegang peran yang penting pada
setiap individu karena berbeda usia maka berbeda pula tahap
perkembangannya, hal tersebut dapat mempengaruhi dinamika kecemasan
pada seseorang.
b. Lingkungan, yaitu kondisi yang ada disekitar manusia. Faktor lingkungan
dapat mempengaruhi perilaku baik dari faktor internal maupun eksternal.
Terciptanya lingkungan yang cukup kondusif akan menurunkan resiko
kecemasan pada seseorang.
c. Pengetahuan dan pengalaman, dengan pengetahuan dan pengalaman seorang
individu dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah psikis, termasuk
kecemasan.
d. Peran keluarga, keluarga yang memberikan tekanan berlebih pada anaknya
yang belum mendapat pekerjaan menjadikan individu tersebut tertekan dan
mengalami kecemasan selama masa pencarian pekerjaan.
Jenis Kecemasan (skripsi dan tesis)
Kecemasan dibagi menjadi beberapa jenis. Menurut Spilberger (dalam
Triantoro Safaria & Nofrans Eka Saputra, 2012) menjelaskan kecemasan dalam dua bentuk, yaitu:
a. Trait anxiety
Setiap individu mempunyai intensitas rasa cemas tersendiri. Trait anxiety
adalah suatu respon terhadap situasi yang mempengaruhi tingkat
kecemasannya. Individu yang memiliki trait anxiety tinggi, maka ia akan lebih
cemas dibandingkan dengan individu yang trait anxietynya rendah.
b. State anxiety
Kondisi emosional setiap dalam merespon suatu peristiwa berbeda. State
anxiety adalah respon individu terhadap suatu situasi yang secara sadar
menimbulkan efek tegang dan khawatir yang bersifat subjektif.
Menurut Freud (dalam Nida, 2014), kecemasan mempunyai tiga bentuk:
a. Kecemasan neurosis
Kecemasan neurosis dipengaruhi oleh tekanan id. Kecemasan ini muncul
karena pengalaman pada suatu objek yang menurutnya berbahaya sehingga
menimbulkan bayangan-bayangan yang membuatnya merasa terancam.
b. Kecemasan moral
Moral anxiety adalah kecemasan yang disebabkan adanya konflik antara
ego dan superego. Moral anxiety mucul ketika individu merasa bersalah, yaitu
ketika ia melanggar norma moral ataupun tidak sesuai dengan nilai moral
yang ada sehingga ia mendaptkan hukuman dari superego.
c. Kecemasan realistik
Kecemasan ini dikenal sebagai kecemasan yang objektif sebagai reaksi
dari ego yang terjadi setelah ia mengalami situasi yang membahayakan.
Kecemasan realistik merupakan rasa takut akan adanya bahaya-bahaya nyata
yang berasal dari dunia luar
Ciri-ciri Kecemasan (skripsi dan tesis)
Menurut Jeffrey S. Nevid, dkk kecemasan mempunyai ciri-ciri tersendiri,
diantaranya:
a. Ciri fisik dari kecemasan meliputi kegelisahan, kegugupan, tangan atau
anggota tubuh lain yang bergetar atau gemetar, sensasi dari pita ketat yang
mengikat disekitar dahi, banyak berkeringat, pening atau pingsan, sulit
berbicara, sulit bernapas, jari-jari atau anggota tubuh lain jadi dingin, panas
dingin, dll
b. Ciri behavioral dari kecemasan meliputi perilaku menghindar, perilaku
melekat dan dependen dan perilaku terguncang.
c. Ciri kognitif dari kecemasan meliputi khawatir tentang sesuatu, perasaan
terganggu akan ketakutan atau apprehensi terhadap sesuatu yang terjadi di
masa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi tanpa ada
penjelasan yang jelas, merasa terancam oleh orang ayau peristiwa yang
normalnya haya sedikit atau tidak mendapat perhatian, ketakutan akan
ketidakmampuan untuk mengatasi masalah.
Aspek-aspek dalam Kecemasan (skripsi dan tesis)
Gail W. Stuart (dalam Annisa & Ifdil, 2016) membagi kecemasan
(anxiety) dalam respon perilaku, kognitif, dan afektif, diantaranya.
a. Perilaku, berupa gelisah, tremor, berbicara cepat, kurang koordinasi,
menghindar, lari dari masalah, waspada, ketegangan fisik, dll.
b. Kognitif, berupa konsentrasi terganggu, kurang perhatian, mudah lupa,
kreativitas menurun, produktivitas menurun, bingung, sangat waspada, takut
kehilangan kendali, mengalami mumpi buruk, dll.
c. Afektif, berupa tidak sabar, tegang, gelisah, tidak nyaman, gugup, waspada,
ketakutan, waspada, kekhawatiran, mati rasa, merassa bersalah, malu, dll.
Menurut Vye (dalam Purnamarini, Setiawan, & Hidayat, 2016)
mengungkapkan bahwa gejala kecemasan dapat diidentifikasikan melalui dalam
tiga komponen yaitu:
a. Komponen koginitif:
Cara individu memandang keadaan yaitu mereka berfikir bahwa terdapat
kemungkinan-kemungkinan buruk yang siap mengintainya sehingga
menimbulan rasa ragu, khawatir dan ketakutan yang berlebih ketika hal
tersebut terjadi. Mereka juga menganggap dirinya tidak mampu, sehingga
mereka tidak percaya diri dan menganggap situasi tersebut sebagai suatu
ancaman yang sulit dan kurangmampu untuk diatasi.
b. Komponen Fisik:
Pada komponen fisik berupa gejala yang dapat dirasakan langsung oleh
fisik atau biasa disebut dengan sensasi fisioligis. Gejala yang dapat terjadu
seperti sesak napas, detak jantung yang lebih cepat, sakit kepada, sakit perut
dan ketegangan otot. Gejala ini merupakan respon alami yang terjadi pada
tubuh saat individu merasa terancam atau mengalami situasi yang berbahaya.
Terkadang juga menimbulkan rasa takut pada saat sensasi fisologis tersebut
terjadi.
c. Komponen Perilaku:
Pada komponen perilaku melibatkan perilaku atau tindakan seseorang
yang overcontrolling.
Greenberger dan Padesky (dalam Fenn & Byrne, 2013) menjabarkan
bahwa ada empat aspek kecemasan yaitu:
a. Physical symptoms atau reaksi fisik yang terjadi pada orang yang cemas,
seperti telapak tangan yang berkeringat, otot tegang, jantung berdebar, sulit
bernafas, pusing ketika individu menghadapi kecemasan.
b. Thought, yaitu pemikiran negatif dan irasional individu berupa perasaan tidak
mampu, tidak siap, dan merasa tidak memiliki keahlian, seperti tidak siap
dalam menghadapi wawancara kerja, tidak yakin dengan kemampuannya
sendiri. Pemikiran ini cenderung akan menetap pada individu, jika individu
tidak merubah pemikiran menjadi sesuatu yang lebih positif.
c. Behavior, individu dengan kecemasan akan cenderung menghindari situasi
penyebab kecemasan tersebut dikarenakan individu merasa dirinya terganggu
dan tidak nyaman seperti keringat dingin, mual, sakit kepala, leher kaku, dan
juga gangguan tidur saat memikirkan dunia kerja kelak. Perilaku yang muncul
seperti kesulitan tidur saat memikirkan pekerjaan.
d. Feelings, yaitu susana hati individu dengan kecemasan cenderung meliputi
perasaan marah, panik, gugup yang dapat memunculkan kesulitan untuk
memutuskan sesuatu seperti perasaan gugup saat ada perbincangan dunia
kerja.
Jadi aspek-aspek dari kecemasan yaitu respon reaksi fisik, pemikiran,
perilaku dan suasana hati.
Pengertian Kecemasan (skripsi dan tesis)
Setiap individu mempunyai kecemasannya sendiri. Banyak hal yang
dicemaskan oleh setiap individu, misalnya pada kesehatan, relasi sosial, ujian,
karir, kondisi lingkungan adalah beberapa hal yang dapat menjadi sumber
kecemasan seseorang. Hal tersebut dianggap normal apabila seorang individu
sedikit cemas dengan aspek-aspek hidup tersebut. Kecemasan tersebut dapat
bermanfaat apabila mendorong individu agar melakukan pemeriksaan medis
ataupun memotivasi diri untuk melakukan hal yang positif (Nevid, Rathus, &
Greene, 2006).
Kecemasan adalah suatu kejadian yang mudah terjadi pada seseorang
karena suatu faktor tertentu tidak spesifik (Sari & Batubara, 2017).
Anxietas/kecemasan adalah suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang
mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan merupakan
respon yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan dapat menjadi abnormal
apabila tingkatannya tidak sesuai dengan porsi ancamannya ataupun datang tanpa
adanya sebab tertentu (Nevid, Rathus, & Greene, 2006).
Syamsu Yusuf menyatakan anxiety (cemas) yaitu ketidakmampuan
neurotic, merasa terganggu, tidak matang dan ketidakberdayaan dalam
menghadapi kenyataan yang ada (lingkungan), kesulitan dan tekanan kehidupan
sehari-hari. Sependapat dengan pernyataan tersebut, Kartini Kartono menjelaskan
bahwa kecemasan adalah suatu bentuk ketakutan dan kerisauan dengan hal-hal
tertentu tanpa kejelasan yang pasti. Dikuatkan oleh Sarlito Wirawan bahwa
kecemasan merupakan ketakutan yang tidak jelas pada suatu objek dan tidak
memiliki suatu alasan tertentu (Annisa & Ifdil, 2016).
Spielberger (1971) mendefinisikan kecemasan sebagai suatu bentuk emosi
yang berdasarkan oleh simbol-simbol, kewaspadaan, dan unsur-unsur yang tidak
pasti. Selanjutnya dijelaskan bahwa konsep ancaman yaitu penilaian dari orang
lain yang bersifat negatif sehingga mengancam diri individu tersebut. Kecemasan
juga merupakan keadaan yang mana pola tingkah laku direpresentasikan dengan
keadaan emosional yang dihasilkan dari pikiran-pikiran dan perasaan yang tidak
menyenangkan (Purnamarini, Setiawan & Hidayat, 2016)
Setelah dipaparkan definisi kecemasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
kecemasan adalah suatu bentuk emosi yang tidak dapat dikontrol oleh diri
individu sehingga membuat individu tersebut tidak nyaman, meruakan
pengalaman yang samar dan merasa memiliki ketidakmampuan yang irasional
Kelebihan dan kekurangan general anestesi (skripsi dan tesis)
Menurut Press (2013) seorang penyedia anestesi bertanggungjawab
untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi kondisi medis pasien
dan memilih teknik anestesi yang optimal sesuai atribut general anestesi,
meliputi:
1) Kelebihan
a) Mengurangi kesadaran dan ingatan intra operatif pasien
b) Memungkinkan relaksasi otot yang diperlukan untuk jangka
waktu yang lama
c) Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan nafas, pernafasan dan
sirkulasi
d) Dapat digunakan dalam kasus – kasus kepekaan terhadap agen
anestesi lokal
e) Dapat diberikan tanpa memindahkan pasien dari posisi terlentang
f) Dapat disesuaikan dengan mudah dengan durasi prosedur yang tak
terduga
g) Dapat diberikan dengan cepat dan bersifat reversible
2) Kekurangan
a) Membutuhkan peningkatan kompleksitas perawatan dan biaya
terkait
b) Membutuhkan beberapa derajat persiapan pasien sebelum operasi
c) Dapat menyebabkan fluktuasi fisiologis yang memerlukan
intervensi aktif
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
d) Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual,
muntah, sakit tenggorokan, sakit kepala, mengigil (hipotermi) dan
tertunda kembali ke fungsi mental yang normal
Fase anestesi (skripsi dan tesis)
Menurut Mangku & Senapathi (2010), ada 3 fase anestesi, meliputi:
1) Fase pre anestesi
Pada tahap pre anestesi, seorang perawat akan menyiapkan hal – hal
yang dibutukan selama operasi. Contoh: pre visite pasien yang akan
melakukan operasi, persiapan pasien, pasien mencukur area yang
akan dilakukan operasi, persiapan catatan rekam medik, persiapan
obat premedikasi yang harus diberikan kepada pasien.
2) Fase intra anestesi
Pada fase intra anestesi, seorang perawat anestesi akan melakukan
monitoring keadaan pasien. Perawat anestesi akan melihat
hemodinamik dan keadaan klinis pasien yang menjalani operasi.
3) Fase pasca anestesi
Pada tahap ini, perawat anestesi membantu pasien dalam menangani
respon – respon yang muncul setelah tindakan anestesi. Respon
tersebut berupa nyeri, mual muntah, hipotermi bahkan sampai
menggigil
Definisi General anestesi (skripsi dan tesis)
Salah satu konsep pelayanan kesehatan modern yang berkembang
saat ini adalah bentuk pelayanan di bidang medis, yang mempunyai
kaitan erat dengan penggunaan peralatan dan pemanfaatan teknologi
dalam pelaksanaannya, seperti misalnya anestesi, akan mengalami
perkembangan teknologi peralatan yang digunakan (Soenarjo & Jatmiko,
2013). Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa
sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang
menimbulkan rasa sakit pada tubuh dan salah satu yang sangat penting
dalam anestesi adalah penentuan klasifikasi ASA (Majid, Judha &
Istianah, 2011). General anestesi adalah keadaan fisiologis yang berubah
ditandai dengan hilangnya kesadaran reversible, analgesia dari seluruh
tubuh, amnesia, dan beberapa derajat relaksasi otot (Morgan & Mikhail,
2013). Ketidaksadaran tersebut yang memungkinkan pasien untuk
mentolerir prosedur bedah yang akan menimbulkan rasa sakit tak
tertahankan. Selama anestesi, pasien tidak sadar tetapi tidak dalam
keadaan tidur yang alami (Press, 2013).
Pre anestesi (skripsi dan tesis)
Anestesi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari
tatalaksana untuk menghilangkan rasa, baik rasa nyeri, takut dan rasa tidak
nyaman sehingga pasien merasa lebih nyaman. Untuk mendapatkan hasil
yang optimal selama operasi dan anestesi maka diperlukan tindakan pre
anestesi yang baik. Tindakan pre anestesi tersebut merupakan langkah lanjut
dari hasil evaluasi pre operasi khususnya anestesi untuk mempersiapkan
kondisi pasien, baik psikis maupun fisik pasien agar pasien siap dan optimal
untuk menjalani prosedur anestesi dan diagnostik atau pembedahan yang
akan direncanakan (Mangku, 2010).
Tujuan dari pre anestesi menurut Mangku (2010) adalah :
a. Mengetahui status fisik klien pre operatif
b. Mengetahui dan menganalisa jenis operasi
c. Memilih jenis / teknik anestesi yang sesuai
d. Mengetahui kemungkinan penyulit yang mungkin akan terjadi selama
pembedahan dan atau pasca bedah
e. Mempersiapkan obat / alat guna menanggulangi penyulit yang
dimungkinkan
Pada kasus bedah elektif, evaluasi pre anestesi dilakukan sehari
sebelum pembedahan. Kemudian evaluasi ulang dilakukan di kamar
persiapan instalasi bedah sentral (IBS) untuk menentukan status fisik
berdasarkan ASA (American Society of Anesthesiologist). Pada kasus bedah
darurat, evaluasi dilakukan pada saat itu juga di ruang persiapan operasi
instalasi rawat darurat (IRD), karena waktu yang tersedia untuk evaluasi
sangat terbatas, sehingga sering kali informasi tentang penyakit yang di
derita kurang akurat. Menurut Mangku (2010) persiapan pre anestesi di
rumah sakit meliputi :
a. Persiapan psikologis
1) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarganya agar mengerti
perihal rencana anestesi dan pembedahan yang dijalankan, sehingga
dengan demikian diharapkan pasien dan keluarga bisa tenang.
2) Berikan obat sedatif pada klien yang mengalami kecemasan
berlebihan atau klien tidak kooperatif misalnya pada klien pediatrik
(kolaborasi).
3) Pemberian obat sedatif dapat dilakukan secara oral pada malam hari
menjelang tidur dan pada pagi hari 60 – 90 menit sebelum operasi,
rektal khusus untuk klien pediatrik pada pagi hari sebelum masuk
IBS (kolaborasi).
b. Persiapan fisik
1) Hentikan kebiasaan seperti merokok, minum – minuman keras dan
obat – obatan tertentu minimal dua minggu sebelum anestesi.
2) Tidak memakai protesis atau aksesoris.
3) Tidak mempergunakan cat kuku atau cat bibir.
4) Program puasa untuk pengosongan lambung, dapat dilakukan sesuai
dengan aturan.
5) Klien dimandikan pagi hari menjelang ke kamar bedah, pakaian
diganti dengan pakaian khusus kamar bedah dan kalau perlu klien
diberi label.
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pasien yang akan dilakukan operasi dan anestesi
adalah sebagai berikut :
1) Pemeriksaan atau pengukuran status present : kesadaran, frekuensi
napas, tekanan darah, nadi, suhu tubuh, berat badan dan tinggi badan
untuk menilai status gizi pasien.
2) Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan status :
(a) Psikologis : gelisah, cemas, takut, atau kesakitan
(b) Syaraf (otak, medulla spinalis, dan syaraf tepi)
(c) Respirasi
(d) Hemodinamik
(e) Penyakit darah
(f) Gastrointestinal
(g) Hepato – billier
(h) Urogenital dan saluran kencing
(i) Metabolik dan endokrin
(j) Otot rangka
(k) Integumen
d. Membuat surat persetujuan tindakan medik
Pada klien dewasa dan sadar bisa dibuat sendiri dengan
menandatangani lembaran formulir yang sudah tersedia pada catatan
medik dan disaksikan kepala ruangan tempat klien dirawat, sedangkan
pada klien bayi / anak – anak / orangtua atau klien tidak sadar
ditandatangani oleh salah satu keluarganya yang bertanggung jawab dan
juga disaksikan oleh kepala ruangan.
e. Persiapan lain yang bersifat khusus pre anestesi
Apabila dipandang perlu dapat dilakukan koreksi terhadap kelainan
sistemik yang dijumpai pada saat evaluasi pre anestesi misalnya :
transfusi, dialisa, fisioterapi, dan lainnya sesuai dengan prosedur tetap
tatalaksana masing – masing penyakit yang diderita klien
Hal – hal yang dapat mengurangi / menurunkan kecemasan (skripsi dan tesis)
1) Penatalaksanaan farmakologi
Pengobatan untuk anti kecemasan terutama benzodiazepine, obat ini
digunakan untuk jangka pendek, dan tidak dianjurkan untuk jangka
panjang karena pengobatan ini menyebabkan toleransi dan
ketergantungan. Obat anti kecemasan nonbenzodiazepine, seperti
buspiron (Busppar) dan berbagai antidepresan juga digunakan
(Isaacs, 2005).
2) Penatalaksanaan non farmakologi
Banyak pilihan terapi non farmakologi yang merupakan tindakan
mandiri perawat dengan berbagai keuntungan diantaranya tidak
menimbulkan efek samping, simple dan tidak berbiaya mahal
(Roasdalh & Kawalski, 2015). Perawat dapat melakukan terapi –
terapi seperti terapi relaksasi, distraksi, meditasi, imajinasi. Terapi
relaksasi adalah tehnik yang didasarkan kepada keyakinan bahwa
tubuh berespon pada ansietas yang merangsang pikiran karena nyeri
atau kondisi penyakitnya. Teknik relaksasi dapat menurunkan
ketegangan fisiologis (Asmadi, 2009). Terapi relaksasi memiliki
berbagai macam yaitu latihan nafas dalam, masase, relaksasi
progresif, imajinasi, biofeedback, yoga, meditasi, sentuhan
terapeutik, terapi musik, serta humor dan tawa (Kozier, Erb,
Berman, & Snyder, 2010)
Alat ukur kecemasan (skripsi dan tesis)
Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang
apakah ringan, sedang, berat atau berat sekali menggunakan alat ukur
(instrument) yang dikenal dengan :
1) Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS – A).
Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok, dengan gejala masing masing
kelompok dirinci lagi dengan gejala – gejala yang lebih spesifik.
Petunjuk penggunaan alat ukur HRS – A adalah : penilaian 0 = tidak
ada (tidak ada gejala sama sekali); 1 = ringan (satu gejala dari pilihan
yang ada); 2 = sedang (separuh dari gejala yang ada); 3 = berat (lebih
dari separuh dari gejala yang ada); 4 = sangat berat (semua gejala yang
ada). Penilaian kecemasan skor < 6 = tidak ada kecemasan, skor 7 –
14 = kecemasan ringan, skor 15 – 27 = kecemasan sedang, skor > 27
= kecemasan berat (Hawari, 2008).
2) The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale
(APAIS).
Menurut Firdaus (2014) The Amsterdam Preoperative Anxiety and
Information Scale (APAIS) merupakan salah satu instrument yang
digunakan untuk mengukur kecemasan pre operatif yang telah
divalidasi, diterima dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di
dunia. Instrument APAIS dibuat pertama kali oleh Moerman pada
tahun 1995 di Belanda. Uji validitas dan reliabilitas instrument APAIS
versi Indonesia didapatkan hasil yang valid dan reliabel untuk
mengukur kecemasan pre operatif pada populasi Indonesia dengan
hasil 70,79% dan nilai Cronbach Alpha komponen kecemasan adalah
0,825 dan 0,863. Isi pertanyaan dari Skala APAIS tersebut terdiri dari
enam item pertanyaan, yaitu :
1) Saya cemas di bius (1, 2, 3, 4, 5)
2) Saya terus menerus memikirkan tentang pembiusan (1, 2, 3, 4,
5)
3) Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang pembiusan (1, 2, 3,
4, 5)
4) Saya cemas di operasi (1, 2, 3, 4, 5)
5) Saya terus menerus memikirkan tentang operasi (1, 2, 3, 4, 5)
6) Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang operasi (1, 2, 3, 4, 5)
Dari kuesioner tersebut, untuk setiap item mempunyai nilai 1 – 5
dari setiap jawaban yaitu : 1 = sama sekali tidak; 2 = tidak terlalu; 3
= sedikit; 4 = agak; 5 = sangat. Jadi dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
a) 6 : tidak ada kecemasan
b) 7 – 12 : kecemasan ringan
c) 13 – 18 : kecemasan sedang
d) 19 – 24 : kecemasan berat
e) 25 – 30 : kecemasan berat sekali/panik
Pada penelitian ini peneliti lebih memilih menggunakan alat ukur
APAIS karena alat ukur APAIS dirancang khusus untuk mengukur
kecemasan pasien pre anestesi dan pre operasi.
Rentang respon kecemasan (skripsi dan tesis)
1) Respon adaptif
Komunikasi terapeutik (skripsi dan tesis)
Komunikasi sangat dibutuhkan baik bagi perawat maupun pasien. Terlebih bagi pasien yang akan menjalani proses anestesi. Hampir sebagian besar pasien yang menjalani anestesi mengalami kecemasan. Pasien sangat membutuhkan penjelasan yang baik dari perawat. Komunikasi yang baik diantara mereka akan menentukan tahap anestesi selanjutnya. Pasien yang cemas saat akan menjalani tindakan anestesi kemungkinan mengalami efek yang tidak menyenangkan bahkan akan membahayakan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kecemasan (skripsi dan tesis)
Menurut Muttaqin dan Sari (2009) faktor – faktor yang dapat
menyebabkan kecemasan pasien pre operasi adalah takut terhadap nyeri,
kematian, ketidaktahuan, takut tentang deformitas dan ancaman lain
terhadap citra tubuh. Sedangkan faktor – faktor yang mempengaruhi
kecemasan menurut Kaplan dan Sadock (2010) adalah :
1) Faktor – faktor intrinsik antara lain :
a) Usia pasien
Gangguan kecemasan dapat terjadi pada semua usia, lebih
sering pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita. Sebagian
besar kecemasan terjadi pada usia 21 – 45 tahun. Feist (2009)
mengungkapkan bahwa semakin bertambahnya usia, kematangan
psikologi individu semakin baik, artinya semakin matang
psikologi seseorang maka akan semakin baik pula adaptasi
terhadap kecemasan.
b) Pengalaman pasien menjalani pengobatan (operasi)
Pengalaman awal pasien dalam pengobatan merupakan
pengalaman – pengalaman yang sangat berharga yang terjadi
pada individu terutama untuk masa – masa yang akan datang.
Pengalaman awal ini sebagai bagian penting dan bahkan sangat
menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari.
Apabila pengalaman individu tentang anestesi kurang, maka
cenderung mempengaruhi peningkatan kecemasan saat
menghadapi tindakan anestesi.
c) Konsep diri dan peran
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan
pendirian yang diketahui individu terhadap dirinya dan
mempengaruhi individu berhubungan dengan orang lain.
2) Faktor – faktor ekstrinsik antara lain :
a) Kondisi medis (diagnosis penyakit)
Terjadinya gejala kecemasan yang berhubungan dengan
kondisi medis sering ditemukan walaupun insidensi gangguan
bervariasi untuk masing – masing kondisi medis, misalnya : pada
pasien sesuai hasil pemeriksaan akan mendapatkan diagnosa
pembedahan, hal ini akan mempengaruhi tingkat kecemasan
pasien. Sebaliknya pada pasien dengan diagnosa baik tidak terlalu
mempengaruhi tingkat kecemasan.
b) Tingkat pendidikan
Pendidikan bagi setiap orang memiliki arti masing – masing.
Pendidikan pada umumnya berguna dalam merubah pola pikir,
pola bertingkah laku dan pola pengambilan keputusan. Tingkat
pendidikan yang cukup akan lebih mudah dalam mengidentifikasi
stresor dalam diri sendiri maupun dari luar dirinya. Tingkat
pendidikan juga mempengaruhi kesadaran dan pemahaman
terhadap stimulus.
c) Akses informasi
Akses informasi adalah pemberitahuan tentang sesuatu agar
orang membentuk pendapatnya berdasarkan sesuatu yang
diketahuinya. Informasi adalah segala penjelasan yang
didapatkan pasien sebelum pelaksanaan tindakan anestesi terdiri
dari tujuan anestesi, proses anestesi, resiko dan komplikasi serta
alternatif tindakan yang tersedia, serta proses administrasi.
d) Proses adaptasi
Tingkat adaptasi manusia dipengaruhi oleh stimulus internal
dan eksternal yang dihadapi individu dan membutuhkan respon
perilaku yang terus menerus. Proses adaptasi sering menstimulasi
individu untuk mendapatkan bantuan dari sumber – sumber di
lingkungan dimana dia berada. Perawat merupakan sumber daya
yang tersedia di lingkungan rumah sakit yang mempunyai
pengetahuan dan keterampilan untuk membantu pasien
mengembalikan atau mencapai keseimbangan diri dalam
menghadapi lingkungan yang baru.
e) Tingkat sosial ekonomi
Status sosial ekonomi juga berkaitan dengan pola gangguan
psikiatrik.
Tingkat kecemasan (skripsi dan tesis)
Teori – teori kecemasan (skripsi dan tesis)
Konsep kecemasan berkembangnya dari zaman dahulu sampai
sekarang. Masing – masing model mengembangkan beberapa teori
tertentu dari fenomena kecemasan. Teori-teori ini saling diperlukan
untuk memahami kecemasan secara komprehensif. Berikut beberapa
teori kecemasan menurut (Kaplan dan Sadock, 2010) yaitu :
1) Teori genetik
Pada sebagian manusia yang menunjukkan kecemasan, riwayat hidup
dan riwayat keluarga merupakan predisposisi untuk berperilaku
cemas. Sejak kanak – kanak mereka merasa risau, takut dan merasa
tidak pasti tentang sesuatu yang bersifat sehari – hari. Penelitian
riwayat keluarga dan anak kembar menunjukkan faktor genetik ikut
berperan dalam gangguan kecemasan.
2) Teori katekolamin
Situasi – situasi yang ditandai oleh sesuatu yang baru, ketidakpastian
perubahan lingkungan, biasanya menimbulkan peningkatan sekresi
adrenalin (epinefrin) yang berkaitan dengan intensitas reaksi – reaksi
yang subjektif, yang ditimbulkan oleh kondisi yang
merangsangnya. Teori ini menyatakan bahwa reaksi cemas berkaitan
dengan peningkatan kadar katekolamin yang beredar dalam badan.
3) Teori James – Lange
Kecemasan adalah jawaban terhadap rangsangan fisik perifer, seperti
peningkatan denyut jantung dan pernapasan.
4) Teori psikoanalisa
Kecemasan berasal dari impulse anxiety, ketakutan berpisah
(separation anxiety), kecemasan kastrisi (castriation anxiety) dan
ketakutan terhadap perasaan berdosa yang menyiksa (superego
anxiety).
5) Teori perilaku atau teori belajar
Teori ini menyatakan bahwa kecemasan dapat dipandang sebagai
sesuatu yang dikondisikan oleh ketakutan terhadap rangsangan
lingkungan yang spesifik. Jadi kecemasan disini dipandang sebagai
suatu respon yang terkondisi atau respon yang diperoleh melalui
proses belajar.
6) Teori perilaku kognitif
Kecemasan adalah bentuk penderitaan yang berasal dari pola pikir
maladaptif.
7) Teori belajar sosial
Kecemasan dapat dibentuk oleh pengaruh tokoh – tokoh penting masa
kanak – kanak.
8) Teori sosial
Kecemasan sebagai suatu respon terhadap stessor lingkungan, seperti
pengalaman – pengalaman hidup yang penuh dengan ketegangan.
9) Teori eksistensi
Kecemasan sebagai suatu ketakutan terhadap ketidakberdayaan
dirinya dan respon terhadap kehidupan yang hampa dan tidak berarti
Pengertian Kecemasan (skripsi dan tesis)
Menurut Stuart dan Sundeen (2016) kecemasan adalah keadaan emosi tanpa objek tertentu. Kecemasan dipicu oleh hal yang tidak diketahui dan menyertai semua pengalaman baru, seperti masuk sekolah, memulai pekerjaan baru atau melahirkan anak. Karakteristik kecemasan ini yang membedakan dari rasa takut. Menurut Kaplan, Saddock, dan Grebb (2010) kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam dan merupakan hal normal yang terjadi yang disertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru, serta dalam menemukan identitas diri dan hidup. Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan perubahan fisiologis dan psikologis. Kecemasan dalam pandangan kesehatan juga merupakan suatu keadaan yang menggoncang karena adanya ancaman terhadap kesehatan. Menurut Zakariah (2015) kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak menyenangkan yang digambarkan dengan kegelisahan atau ketegangan dan tanda – tanda hemodinamik yang abnormal sebagai konsekuensi dari stimulasi simpatik, parasimpatik dan endokrin. Kecemasan ini terjadi segera setelah prosedur bedah direncanakan. Menurut Rachmad (2009) kecemasan timbul karena adanya sesuatu yang tidak jelas atau tidak diketahui sehingga muncul perasaan yang tidak tenang, rasa khawatir, atau ketakutan. Menurut Ratih (2012) kecemasan merupakan perwujudan tingkah laku psikologis dan berbagai pola perilaku yang timbul dari perasaan kekhawatiran subjektif dan ketegangan
Pengobatan pasca pencabutan gigi dengan infiltrasi anastesi (skripsi dan tesis)
Dokter gigi harus memastikan bahwa setelah melakukan pencabutan gigi, periode pascaoperatif tindakan dapat bebas dari rasa sakit dan sedapat mungkin tidak menimbulkan komplikasi. Obatobatan analgesik yang perlu diresepkan ialah aspirin dan paracetamol yang bebas aspirin. Dokter gigi juga dapat meresepkan obat antibiotik (Ramadhan, 2010).
Komplikasi setelah pencabutan gigi (skripsi dan tesis)
Komplikasi yang dapat terjadi setelah pencabutan gigi geligi diantaranya ialah kegagalan anastesi atau kegagalan mencabut gigi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta dengan tang atau elevator, fraktur dari mahkota gigi yang akan dicabut, dislokasi dari gigi sebelahnya, perdarahan berlebihan, kerusakan gusi atau bibir, serta lidah dan dasar mulut, rasa sakit pascaoperasi, pembengkakan pascaoperasi seperti edema atau terbentuknya hematoma dan infeksi (Hongini, 2012).
Instruksi setelah pencabutan gigi (skripsi dan tesis)
Menurut Ramadhan (2010), instruksi pasca pencabutan ialah menggigit tampon selama satu jam agar perdarahan cepat berhenti. Kompres dingin selama 15 menit pada bagian luar pipi dekat daerah bekas pencabutan apabila merasakan sakit atau terjadi pembengkakan pada pipi. Apabila rahang terasa sakit dan kaku setelah dikompres menggunakan kompres dingin, gantilah kompres dengan kompres yang hangat. Minumlah obat yang diberikan sesuai anjuran dokter gigi
Prosedur pencabutan gigi (skripsi dan tesis)
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 284 / MENKES / SK / IV / 2006, prosedur pencabutan gigi dapat dikembangkan mulai dari pasien mendaftar pada loket dan menunggu antrian pelayanan kesehatan, operator dan pasien menggunakan alat pelindung diri, asisten melakukan anamnesa terhadap pasien, asisten menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan. Menurut Hongini (2012), sebelum melakukan pencabutan gigi perlu dilakukan pemeriksaan GDS pada pasien yang dicurigai DM, melakukan pengukuran tekanan darah (TD), meminta pasien mengisi formulir persetujuan pasien (informed consent), asisten memasang celemek pada bagian atas tubuh pasien dan mempersiapkan alat diagnostik serta alat dan bahan pencabutan gigi geligi, melakukan pemeriksaan intra oral terhadap tingkat keparahan karies dan vitalitas gigi dengan menggunakan alat diagnostik, asisten membantu dengan mengarahkan lampu dental dan suction jika diperlukan, mengolesi bahan anti septik pada bagian mukosa / gusi yang akan dinjeksi, operator melakukan anastesi. Asisten dapat melakukan komunikasi terapeutik terhadap pasien untuk menenangkan pasien, melakukan pengecekan sonde, apakah anastesi sudah berjalan, memasang check retraktor jika pasien sulit menahan mulut tetap terbuka, meluksasi gigi dan melepaskan gigi dari socket alveolar dengan elevator, melakukan pencabutan dengan menggunakan tang forceps, mengecek sisa akar gigi yang mungkin masih tertinggal dengan menggunakan sonde atau explorer, jika ada tulang yang tajam, gunakan knabel tang untuk memotong dan bone file untuk menghaluskan ujung tulang, melakukan pembersihan luka bekas pencabutan dari serpihan gigi dan tulang dengan menggunakan excavator, tutup jaringan yang terbuka dengan tampon yang telah diberi povidoniodin, memberikan instruksi dan memberikan resep obat (Afif, 2017)
Alat dan bahan pencabutan gigi (skripsi dan tesis)
Pencabutan gigi dengan infiltrasi anastesi menggunakan beberapa macam alat dan bahan diantaranya yaitu alat diagnostik (sonde, kaca mulut, excavator dan pinset), syringe, cartridge, jarum, tang ekstraksi, bein/elevator, knabel tang, bone file, check retraktor bengkok, dan bahan yang digunakan ialah tampon dan cotton rol serta larutan antiseptik seperti povidoniodine / iod gliserin
Pencabutan gigi (skripsi dan tesis)
Pencabutan gigi geligi adalah mengeluarkan gigi dari socketnya. Pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi sehingga bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik pascaoperasi di masa mendatang (Ramadhan, 2010). Pencabutan gigi dilakukan dengan berbagai alasan penyebab diantaranya yaitu karena gigi berlubang atau patah yang kerusakannya tersebut sudah sangat luas dan tidak bisa dirawat kembali (Hongini, 2012). Pencabutan gigi dengan infiltrasi anastesi adalah suatu tindakan mengeluarkan gigi dari socketnya dengan menggunakan metode injeksi infiltrasi. Infiltrasi anastesi adalah salah satu metode anastesi yang dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit dalam waktu sementara pada satu bagian tubuh dengan cara suntikan tanpa menghilangkan kesadaran. Injeksi infiltrasi digunakan untuk gigi rahang atas, insisif bawah dan molar bawah (Mitchell, 2014).
Tingkat kecemasan dental (skripsi dan tesis)
Tingkatan kecemasan dapat dikelompokkan dalam beberapa tingkatan diantaranya yaitu kecemasan ringan (Mild anxiety), kecemasan sedang (Moderate anxiety) dan kecemasan berat (Severe anxiety) (Soetjiningsih, 2017). Menurut Hurclock (2013), tingkat kecemasan ringan dihubungkan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari yang menyebabkan seseorang lebih waspada serta meningkatkan ruang persepsinya. Tingkat kecemasan sedang menjadikan seseorang untuk terfokus pada hal yang dirasakan penting dengan mengesampingkan aspek hal yang lain, sehingga seseorang masuk dalam kondisi perhatian yang selektif tetapi tetap dapat melakukan suatu hal tertentu dengan lebih terarah. Tingkatan kecemasan berat dapat menyebabkan seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang lebih terperinci, spesifik serta tidak dapat berpikir tentang perihal lain serta akan memerlukan banyak pengarahan agar dapat memusatkan perhatian pada suatu objek yang lain
Gejala Kecemasan (skripsi dan tesis)
Menurut Sutejo (2018), tanda dan gejala pasien dengan ansietas adalah cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri serta mudah tersinggung, pasien merasa tegang, tidak tenang, gelisah dan mudah terkejut, pasien mengatakan takut bila sendiri atau pada keramaian dan banyak orang, mengalami gangguan pola tidur dan disertai mimpi yang menegangkan
Macam – macam kecemasan (skripsi dan tesis)
Pengertian Kecemasan Dental (skripsi dan tesis)
Menurut kamus Kedokteran Dorland, kata kecemasan atau
disebut dengan anxiety adalah keadaan emosional yang tidak
menyenangkan, berupa respon-respon psikofisiologis yang timbul
sebagai antisipasi bahaya yang tidak nyata atau khayalan, tampaknya
disebabkan oleh konflik intrapsikis yang tidak disadari secara
langsung (Dorland, 2010).
Ansietas adalah suatu perasaan takut akan terjadinya sesuatu
yang disebabkan oleh antisipasi bahaya dan merupakan sinyal yang
membantu individu untuk bersiap mengambil tindakan menghadapi
ancaman. Pengaruh tuntutan, persaingan, serta bencana yang terjadi
dalam kehidupan dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik
dan psikologi. Salah satu dampak psikologis yaitu ansietas atau
kecemasan (Sutejo, 2018).
Kecemasan dental adalah suatu keadaan mengenai rasa
prihatin seseorang bahwa sesuatu hal yang mengerikan akan terjadi
yang sering dikorelasikan dengan aspek perawatan gigi atau aspek
tertentu dari perawatan gigi. Kecemasan dental merupakan suatu keadaan yang sangat ekstrim dan banyak orang memiliki tingkat
kecemasan dental terutama jika mereka tidak pernah mengalami atau
menjalani perawatan gigi sebelumnya (Klingberg, 2009).
Kebutuhan Lemak Perhari (skripsi dan tesis)
Kebutuhan lemak menurut WHO (1990) menganjurkan
konsumsi lemak sebanyak 20-30% kebutuhan energi total dianggap
baik untuk kesehatan. Jumlah ini memenuhi kebutuhan akan asam
lemak esensial dan untuk membantu penyerapan vitamin larut
lemak. Jenis lemak yang dikonsumsi sehari, dianjurkan paling
banyak 8% dari kebutuhan energi total berasal dari lemak jenuh dan
3-7% dari lemak tidak jenuh ganda. Sedangkan konsumsi kolesterol
yang dianjurkan adalah ≤300 mg sehari.
Fungsi Lemak (skripsi dan tesis)
1) Sumber Energi
Lemak dan minyak merupakan sumber energi paling padat, yang
menghasilkan 9 kilo kalori untuk setiap gram, yaitu 2 ½ kali besar
energi yang dihasilkan oleh karbohidrat dan protein dalam jumlah
yang sama.
2) Sumber Asam Lemak Esensial
Lemak merupakan sumber asam lemak esensial linoleat dan
linolenat.
3) Alat Angkut Vitamin Larut Lemak
Lemak mengandung vitamin larut lemak tertentu. Lemak susu
dan lemak ikan laut tertentu mengandung vitamin A dan D dalam
jumlah berarti. Hampir semua minyak nabati merupakan sumber
vitamin E. Minyak kelapa sawit mengandung banyak karotenoid
(provitamin A). Lemak membantu transportasi dan absorbsi vitamin
lemak yaitu A, D, E, K.
4) Menghemat Protein
Lemak menghemat penggunaan protein untuk sintesis protein
sehingga protein tidak digunakan sebagai sumber energi.
5) Memberi Rasa Kenyang dan Kelezatan
Lemak memperlambat sekresi asam lambung dan
memperlambat pengosongan lambung sehingga lemak memberi rasa
kenyang lebih lama. Selain itu lemak memberi tekstur yang disukai
dan memberi kelezatan khusus pada makanan.
6) Sebagai Pelumas
Lemak merupakan pelumas dan membantu pengeluaran sisa
pencernaan.
8
7) Memelihara Suhu Tubuh
Lapisan lemak di bawah kulit mengisolasi tubuh dan mencegah
kehilangan panas tubuh secara cepat.
8) Pelindung Organ Tubuh
Lapisan lemak yang mengandung organ-organ tubuh seperti
jantung, hati, dan ginjal membantu menahan organ-organ tersebut
tetap berada di tempatnya dan melindunginya terhadap benturan dan
bahaya lain.
9) Membangun Jaringan Tubuh
Sebagian lemak masuk ke dalam sel-sel tubuh untuk ikut serta
dalam membangun jaringan tubuh. Lemak menjadi bagian esensial
dari struktur sel tersebu
Pengertian Lemak (skripsi dan tesis)
Lemak merujuk pada sekelompok besar molekul-molekul alam yang terdiri atas unsur karbon, hidrogen, dan oksigen meliputi asam lemak, sterol, vitamin larut lemak (A, D, E, K), monogliserida, digliserida, fosfolipid, dan glikolipid (Susilowati dan Kuspriyanto, 2016). Lemak merupakan sumber energi yang dipadatkan. Lemak dan minyak terdiri atas gabungan gliserol dan asam lemak
Kebutuhan Kalium Perhari (skripsi dan tesis)
Kebutuhan harian minimum untuk kalium pada orang dewasa sehat (lebih dari 18 tahun) baik pada pria dan wanita diperkirakan sekitar 2.000 mg/hari (2 g = 50 mmol). Namun, asupan harian yang direkomendasikan untuk menghasilkan efek yang bermanfaat pada hipertensi atau penurunan risiko stroke adalah lebih tinggi-dalam rentang 3.500-4.500 mg/hari (meningkatkan konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran). 9
Fungsi Kalium Bersama natrium (skripsi dan tesis)
kalium memegang peranan dalam pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta keseimbangan asam basa. Bersama kalsium, kalium berperan dalam transmisi saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel, kalium berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologi terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan protein. Kalium berperan dalam pertumbuhan sel. Taraf kalium dalam otot berhubungan dengan massa otot dan simpanan glikogen, oleh karena itu bila otot berada dalam pembentukan dibutuhkan kalium dalam jumlah cukup. Tekanan darah normal memerlukan perbandingan antara natrium dan kalium yang sesuai di dalam tubuh
Pengertian Kalium (skripsi dan tesis)
Kalium (K) merupakan kation intraseluler utama di dalam sebagian besar jaringan tubuh. Sekitar 95% kalium total dalam tubuh terdapat secara intraseluler dengan konsentrasi 30 kali lipat dari 22 konsentrasi ekstraseluler. Konsentrasi kalium ekstraseluler merupakan penentu penting dalam eksitabilitas neuromuskular. Perbandingan natrium dan kalium di dalam cairan intraseluler adalah 1:10, sedangkan di dalam cairan ekstraseluler 28:1
Fungsi Natrium (skripsi dan tesis)
Natrium menjaga keseimbangan cairan karena sebagai kation utama dalam cairan ekstraseluler. Selain itu, natrium berperan besar dalam mengatur tekanan osmosis dan menjaga cairan tidak keluar dari darah dan masuk ke dalam sel-sel. Secara normal tubuh dapat menjaga keseimbangan natrium di luar sel. 8 Natrium menjaga keseimbangan asam basa di dalam tubuh dengan mengimbangi zat-zat yang membentuk asam. Natrium berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot. Natrium berperan pula dalam absorpsi glukosa dan sebagai alat angkut zat gizi lain melalui membran, terutama melalui dinding usus sebagai pompa natrium. Bila seseorang memakan terlalu banyak garam, kadar natrium darah akan meningkat. Rasa haus yang ditimbulkan akan menyebabkan minum banyak sehingga konsentrasi natrium dalam darah kembali normal. Ginjal kemudian akan mengeluarkan kelebihan cairan dan natrium tersebut dari tubuh. Hormon aldosteron menjaga agar konsentrasi natrium di dalam darah berada pada nilai normal. Apabila jumlah natrium di dalam sel meningkat 19 secara berlebihan, air akan masuk ke dalam sel dan mengakibatkan sel membengkak yang menyebabkan terjadinya pembengkakan atau oedema dalam jaringan tubuh. Air akan memasuki sel untuk mengencerkan natrium dalam sel. Cairan ekstraseluler akan menurun dan perubahan ini yang dapat menurunkan tekanan darah.
Pengertian Natrium (skripsi dan tesis)
.
Akibat Tekanan Darah Tinggi (skripsi dan tesis)
Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur (rutin), maka hal ini dapat membawa penderita ke dalam kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus menerus menyebabkan jantung seseorang bekerja keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadinya kerusakan pada pembuluh darah jantung, ginjal, otak, dan mata. Penyakit hipertensi ini merupakan penyebab umum terjadinya stroke dan serangan jantung (heart attack). Hipertensi tidak dapat secara langsung membunuh penderitanya, melaikna hipertensi memicu terjadinya penyakit lain yang tergolong keras berat alias mematikan. Tekanan darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal
Tanda dan Gejala Tekanan Darah Tinggi (skripsi dan tesis)
Sebagian besar penderita tekanan darah tinggi tidak menimbulkan gejala khusus. Meskipun secara tidak disengaja, beberapa gejala terjadi secara bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan hipertensi padahal sesungguhnya bukan hipertensi. Tahap awal umumnya kebanyakan pasien tidak memiliki keluhan. Namun lama kelamaan memiliki tanda dan gejala seperti berdebar-debar, rasa melayang (dizzy), dan impoten akibat dari peningkatan tekanan darah. Selain itu penderita hipertensi akan cepat merasa lelah, sesak napas, sakit dada, bahkan perdarahan pada retina. Gejala lain yang muncul seperti sakit kepala dan nyeri kepala bagian belakang, pandangan mata kabur, terjadi pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki, serta denyut jantung menguat tetapi tidak teratur
Faktor Penyebab Tekanan Darah Tinggi (skripsi dan tesis)
Hipertensi disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat
mempengaruhi satu sama lain. Kondisi masing-masing orang tidak
sama sehingga faktor penyebab tekanan darah tinggi pada setiap
orang sangat berlainan.
1) Faktor yang tidak dapat diubah
a) Genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan
menyebabkan keluarga tersebut mempunyai risiko menderita
hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi mempunyai
risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada
individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat
hipertensi.
b) Umur
Kepekaan terhadap hipertensi akan meningkat seiring
dengan bertambahnya umur seseorang. Individu yang berumur
di atas 60 tahun, 50-60% mempunyai tekanan darah lebih besar
atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh
degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya.
c) Jenis Kelamin
Hipertensi pada usia dewasa muda lebih banyak terjadi pada
pria. Usia 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah
wanita. Hal ini berkaitan dengan adanya hormon estrogen.
Wanita yang belum mengalami menopause, hormon estrogen
berperan meningkatkan High Density Lipoprotein (HDL) yang
melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Seiring
bertambahnya usia, hormon estrogen akan berkurang dan
menyebabkan wanita rentan mengalami hipertensi setelah
menopause.
d) Etnis
Setiap etnis memiliki kekhasan masing-masing yang
menjadi ciri khas dan pembeda satu dengan lainnya. Tekanan
darah tinggi banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada
yang berkulit putih. Belum diketahui secara pasti penyebabnya,
namun pada orang berkulit hitam ditemukan kadar renin yang
lebih rendah dan sensitivitas terhadap vasopressin yang besar.
2) Faktor yang dapat diubah
a) Stres
Stres merupakan respon tubuh yang bersifat non spesifik
terhadap tuntutan beban. Stres dapat berhubungan dengan
pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.
Stres akan meningkatkan curah jantung sehingga akan
menstimulasi aktifitas saraf simpatik. Stres yang dialami
seseorang akan membangkitkan saraf simpatik yang akan
memicu kerja jantung dan akan meningkatkan tekanan darah.
b) Kegemukan (Obesitas)
Kegemukan (obesitas) juga merupakan salah satu faktor
yang menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit berat
seperti hipertensi. Penderita obesitas berisiko hipertensi lima
kali lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki berat badan
normal. Kurangnya aktivitas dan terlalu banyak menerima
asupan kalori dapat menimbulkan obesitas. Penderita obesitas
akan mengalami kekurangan oksigen sehingga jantung harus
bekerja lebih keras.
c) Asupan Makan
Asupan makan yang menjadi penyebab terpenting dalam
terjadinya hipertensi adalah natrium. Asupan garam yang tinggi
dapat menimbulkan perubahan tekanan darah. Garam tersebut
didapat dari makanan-makanan asin atau gurih yang dimakan
setiap hari.
d) Merokok
Nikotin dalam rokok merangsang pelepasan adrenalin
sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah, denyut nadi,
dan tekanan kontraksi jantung. Selain itu merokok juga dapat
menyebabkan peningkatan kolesterol yang meningkatkan risiko
terjadinya hipertensi.
e) Alkohol
Penggunaan alkohol secara berlebihan juga akan memicu
tekanan darah seseorang. Selain tidak bagi tekanan darah,
alkohol juga membuat seseorang menjadi kecanduan yang akan
sangat menyulitkan untuk dilepas.
f) Kurang Olahraga
Zaman modern ini banyak kegiatan yang dapat dilakukan
secara cepat dan praktis. Manusia pun cenderung mencari segala
sesuatu yang mudah dan praktis sehingga tubuh tidak banyak
bergerak. Selain itu kesibukan yang luar biasa, membuat
seseorang merasa tidak mempunyai waktu untuk berolahraga.
Kondisi ini yang memicu kolesterol tinggi dan juga tekanan
darah yang terus menguat sehingga memicu hipertensi.
Selain
itu orang-orang yang kurang aktif cenderung memiliki detak
jantung lebih cepat yang membuat otot jantung harus bekerta
lebih keras pada setiap kontraks
Klasifikasi Tekanan Darah Tinggi (skripsi dan tesis)
Penyakit darah tinggi atau hipertensi dikenal dengan 2 tipe klasifikasi, yaitu : 1) Hipertensi Primary Hipertensi primary adalah suatu kondisi dimana terjadinya tekanan darah tinggi sebagai akibat dampak dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan. Seseorang yang pola makannya tidak terkontrol dan mengakibatkan kelebihan berat badan atau bahkan obesitas, merupakan pencetus awal untuk terkena penyakit tekanan darah tinggi. Begitu pula seseorang yang berada dalam lingkungan atau kondisi stress tinggi sangat mungkin terkena penyakit tekanan darah tinggi, termasuk orang-orang yang kurang olahraga pun bisa mengalami tekanan darah tinggi. 2) Hipertensi Secondary Hipertensi secondary adalah suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang mengalami atau menderita penyakit lainnya seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh
Pengertian Tekanan Darah Tinggi (skripsi dan tesis)
Penyakit darah tinggi atau hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya. 5 Penyakit darah tinggi merupakan suatu gangguan pada pembuluh darah dan jantung yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya. Nilai normal tekanan darah seseorang dengan tinggi badan, berat badan, tingkat aktifitas normal, dan kesehatan umum adalah 120/180 mmHg. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga
Pengukuran Tekanan Darah (skripsi dan tesis)
Tekanan darah umumnya diukur dengan alat yang disebut sphygmomanometer. Sphygmomanometer terdiri dari sebuah pompa, pengukur tekanan, dan sebuah manset dari karet. Alat ini mengukur tekanan darah dalam unit yang disebut millimeter air raksa (mmHg). 5 Manset ditaruh mengelilingi lengan atas dan dipompa dengan sebuah pompa udara sampai dengan tekanan yang menghalangi aliran darah di arteri utama (brachial artery) yang berjalan melalui lengan. Lengan kemudian ditaruh di samping badan pada ketinggian dari jantung, dan tekanan dari manset pada lengan dilepaskan secara berangsur-angsur. Ketika tekanan di dalam manset berkurang, seorang dokter mendengar dengan stetoskop melalui arteri pada bagian depan dari sikut. Tekanan pada mana dokter pertama kali mendengar denyutan dari arteri adalah tekanan sistolik (angka yang di atas). Ketika tekanan manset berkurang lebih jauh, tekanan pada mana denyutan akhirnya berhenti adalah tekanan diastolik (angka yang di bawah). 5 Angka yang di atas, tekanan darah sistolik berhubungan dengan tekanan di dalam arteri ketika jantung berkontraksi dan memompa darah maju ke dalam arteri-arteri. Angka yang di bawah, tekanan diastolik mewakili tekanan di dalam arteri-arteri ketika jantung istirahat (relax) setelah kontraksi. Tekanan diastolik 11 mencerminkan tekanan paling rendah yang dihadapkan pada arteriarteri. Suatu peningkatan dari tekanan darag sistolik dan/atau diastolik meningkatkan risiko komplikasi hipertensi
Pengertian Tekanan Darah (skripsi dan tesis)
Tekanan darah adalah tekanan dari darah yang dipompa oleh jantung terhadap dinding arteri. Tekanan darah seseorang meliputi tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik merupakan tekanan darah waktu jantung menguncup. Tekanan darah diastolik adalah tekanan darah saat jantung istirahat. Selain untuk diagnosis dan klasifikasi, tekanan darah diastolik memang lebih penting daripada sistolik
Fisiologi Senam Yoga Hatha terhadap Penurunan Tekanan Darah (skripsi dan tesis)
Tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat ditanggulangi dengan dua cara yaitu dengan cara farmakologi maupun non farmakologi. Penatalaksanaan secara farmakologi yaitu menggunakan obat-obatan kimiawi. Salah satu penanganan secara non farmakologis dalam mengatasi hipertensi adalah dengan latihan senam yoga (Ovianasari, 2015). Senam yoga memiliki manfaat yang baik bagi tubuh terutama untuk menurunkan tekanan darah, maka yoga sangat direkomendasikan pada penderita tekanan darah tinggi. Yoga memiliki efek fisiologis pada kekuatan otot, peningkatan beberapa asanas (posisi tubuh) yang mempengaruhi sistem saraf otonom dan kelenjar endokrin yang mengatur fungsi internal termasuk detak jantung dan produksi hormon. Senam yoga dapat membuat 25% dari pasien penderita tekanan darah tinggi berhenti mengkonsumsi obat penurun tekanan darah tinggi dan 35% lagi mulai menguranginya (Wiria, 2015). Senam yoga berperan menurunkan tekanan darah karena senam yoga menstimulasi pengeluaran hormon endorfin. Endorfin adalah neuropeptide yang dihasilkan tubuh pada saat relax/tenang. Hal ini sangat berkaitan dengan gerakan dalam senam yoga hatha yang dilakukan dengan gerakan-gerakan sederhana berfokus pada pengendalian sistem pernapasan. Gerakan-gerakan tersebut menstimulasi pengeluaran hormon endorfin. Endorfin dihasilkan di otak dan susunan syaraf tulang belakang. Hormon ini berfungsi sebagai obat penenang alami yang diproduksi oleh otak yang melahirkan rasa nyaman dan meningkatkan kadar endorfin dalam tubuh untuk mengurangi tekanan darah tinggi (Sindhu, 2006 dalam Johan, 2011). Penurunan tekanan darah disebabkan oleh menurunnya tahanan perifer, dengan olahraga lama 38 kelamaan akan melemaskan pembuluh darah sehingga pembuluh darah mengalami pelebaran dan relaksasi, serta dapat mengurangi resiko dari penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah sehingga menjaga elastisitas dari pembuluh darah (Hikmaharidha, 2011 dalam Suri, 2017). Menurut penelitian Putu (2009) dalam Maya (2018) ternyata senam yoga teratur selama 30-45 menit dan dilakukan 3-4 kali seminggu terbukti lebih efektif menurunkan tekanan darah (tekanan darah sistolik turun 4-8 mmHg).
Senam Yoga pada Lanjut Usia (skripsi dan tesis)
Lansia cenderung mengalami masalah kesehatan yang disebabkan dari proses penurunan fungsi tubuh akibat penuaan. Penuaan merupakan proses yang mengakibatkan perubahan meliputi perubahan fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Pada perubahan fisiologis terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi gangguan dari dalam dan luar tubuh. Salah satu gangguan kesehatan yang paling banyak dihadapi oleh lansia adalah masalah pada sistem kardiovaskuler (Teguh, 2009 dalam Astari dkk, 2012). Seseorang yang makin tua akan memiliki resiko yang lebih besar terhadap penyakit hipertensi, yang diakibatkan metabolisme kalsium yang terganggu dan tidak memperhatikan diet rendah garam, serta terjadi pula penurunan fungsi organ sistem kardiovaskular dimana katup jantung terjadi penurunan 36 elastisitas aorta dan arteri besar lainnya. Kegiatan fisik berupa senam akan berpengaruh terhadap kerja paru dan jantung sekaligus mempertahankan serta meningkatkan komponen kebugaran. Senam juga dapat membuat jantung tetap terpelihara dengan baik dan dapat membuat tekanan darah terkontrol secara terintegrasi oleh baroreseptornya sehingga terjadi penahanan (pengontrolan) tekanan darah (Benny, 2016). Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin melakukan penelitian menggunakan senam yoga hatha yang didalamnya terdapat gerakan-gerakan sederhana agar tidak membebani fisik lansia, namun dengan gerakan tersebut lansia tetap bisa melakukan olahraga yang lama kelamaan akan melemaskan pembuluh darah sehingga pembuluh darah mengalami pelebaran dan relaksasi, serta dapat mengurangi resiko dari penumpukan lemak yang terdapat pada dinding pembuluh darah sehingga menjaga elastisitas pembuluh darah (Hikmaharidha, 2011 dalam Suri, 2017). Berbagai macam jenis yoga diantaranya adalah yoga vinyasa, yoga ashtanga, yoga iyengar dan yoga power biasanya keempat jenis yoga ini memiliki tempo yang lebih cepat dibandingan yoga hatha yang temponya cenderung lebih lambat (Sonnerstedt, 2017). Senam dengan tempo yang lambat sangat cocok dilakukan oleh lansia mengingat kondisi fisik lansia yang mulai mengalami kemunduran. Sindhu (2006) dalam Hardicar (2007) mengatakan Hatha Yoga memfokuskan pada teknik asana (postur), pranayama (olah nafas), bandha (kuncian), mudra (gesture) serta relaksasi yang mendalam. Berbagai macam gerakan yang disertai cara bernafas yang benar dapat meningkatkan kekuatan dan kelenturan, meredakan ketegangan serta memberikan energi baru pada tubuh
Manfaat Senam Yoga (skripsi dan tesis)
Yoga secara teratur dapat menstimulasi saraf tulang punggung. Menstabilkan fungsi kerja tubuh, meningkatkan rasa nyaman, tentram dan bebas stres, memperhalus perasaan, memperbaiki sikap dan perilaku, meningkatkan rasa percaya diri, pola pikir yang lebih positif dan penghargaan terhadap diri sendiri, memperlambat proses penuaan diri, meningkatkan daya ingat, fokus terhadap satu masalah dan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh (holistik), keseimbangan kondisi fisik dan kejiwaan seseorang (Muchtar, 2010 dalam Wiria, 2015). Selain dari penjelasan di atas, ada banyak sekali manfaat yang didapatkan dari yoga, beberapa diantaranya adalah: a. Memperbaiki postur tubuh, postur tubuh yang awalnya buruk menjadi lebih baik. Karena tubuh perlu keseimbangan pada tulang punggung dan otot-otot punggung sebagai penyangga tubuh (Stefanus, 2010 dalam Wiria, 2015). b. Mencegah osteoporosis, dengan melakukan pose downward atau upward facing dog dapat membantu untuk menguatkan tulang lengan yang rentan mengalami osteoporosis (Stefanus, 2010 dalam Wiria 2015). c. Latihan yoga memiliki manfaat yang baik bagi tubuh terutama dalam menurunkan tekanan darah, maka senam yoga sangat direkomendasikan pada penderita tekanan darah tinggi. Yoga memiliki efek fisiologis pada kekuatan otot, peningkatan beberapa asanas (posisi tubuh) yang dipercaya dapat mempengaruhi sistem saraf otonom dan kelenjar endokrin yang mengatur fungsi internal termasuk detak jantung dan produksi hormon (Windo, 2015). Ketika seseorang melakukan senam, maka endorphin akan keluar dan ditangkap oleh reseptor di dalam hipothalamus dan sistem limbik yang berfungsi untuk mengatur emosi. Peningkatan endorphin terbukti berhubungan erat dengan penurunan rasa nyeri, peningkatan daya ingat, memperbaiki nafsu makan, kemampuan seksual, tekanan darah dan pernafasan (Sindhu, 2006 dalam Wiria, 2015). d. Selain itu, senam yoga juga dapat melancarkan aliran oksigen di dalam tubuh (Johan, 2011)
Definisi Senam Yoga (skripsi dan tesis)
Senam yoga adalah aktivitas di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca indera dan tubuhnya secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan seseorang dapat mengendalikan, mengatur, dan berkonsentrasi untuk menyelaraskan tubuh, jiwa,dan pikiran. Selain itu, senam yoga juga dapat melancarkan aliran oksigen di dalam tubuh (Johan, 2011). Yoga merupakan suatu mekanisme penyatuan dari tubuh (body), pikiran (mind), dan jiwa (soul). Yoga mengkombinasikan antara teknik bernafas, relaksasi, meditasi dan latihan peregangan tubuh (Wiria, 2015).
Problematika pada Lanjut Usia (skripsi dan tesis)
Penuaan atau proses terjadinya tua adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan dalam memperbaiki diri atau
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
bertahan terhadap infeksi serta memperbaiki kerusakan yang di derita. Seiring
dengan proses menua, tubuh akan mengalami berbagai masalah kesehatan
atau yang biasa disebut dengan penyakit degeneratif (Maryam dkk, 2008
dalam Suri, 2017).
Problematika yang dihadapi orang-orang yang telah lanjut usia sangat
khas. Mereka mengalami penurunan kondisi fisik dan juga masalah
psikologis. Pada usia lanjut, seseorang tidak hanya perlu menjaga kesehatan
fisik tetapi juga menjaga agar kondisi mentalnya dapat menghadapi
perubahan yang akan mereka alami (Nugraheni, 2005 dalam Islamiyah,
2013). Masyarakat sekarang menganggap bahwa lansia itu hanya dapat
berada di dalam rumah, menikmati hari-harinya dengan hanya bersantai tanpa
melakukan aktifitas apapun padahal disisi lain kita dapat menemukan
fenomena-fenomena dimana lansia dalam menjalani masa-masanya dapat
tetap produktif dan berguna bagi orang lain. Usia tua dipandang sebagai masa
kemunduran, masa dimana para lansia merasakan penurunan penurunan yang
terjadi pada dirinya baik secara fisik dan psikologis. Sebagian lansia masih
memandang usia tua dengan sikap yang menunjukkan keputusasaan, pasif,
lemah dan tergantung dengan sanak saudara. Lansia tersebut kurang berusaha
untuk mengembangkan diri sehingga lansia semakin cepat mengalami
kemunduran baik jasmani maupun mental. Disisi lain pandangan ini tidak
berarti bahwa kelompok lansia adalah kelompok orang yang homogen.
(Indrasawari dkk, 2012 dalam Islamiyah, 2013).
Menurut Wahyunita & Fitrah (2010) dalam Suri (2017) Penyakit
degeneratif yang muncul pada lanjut usia diantaranya yaitu :
a. Osteoarthritis (OA)
Peradangan sendi atau yang sering disebut dengan istilah OA,
disebabkan karena adanya pengapuran atau tidak stabilnya sendi.
b. Osteoporosis
Osteoporosis atau sering disebut dengan istilah tulang keropos
biasa sering menyertai individu yang kurang asupan vitamin D
ataupun kurang beraktivitas ketika masa mudanya.
c. Tekanan Darah Tinggi
Kebanyakan lansia sering menderita penyakit tekanan
darah tinggi atau dikenal sebagai hipertensi yaitu kondisi dimana
tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan
tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg, yang terjadi karena
elastisitas arteri pada proses menua. Apabila penyakit ini tidak cepat
ditangani dapat menyebabkan gangguan pada jantung, ginjal dan
pembuluh darah.
d. Kencing Manis (Diabetes Mellitus)
Lansia biasanya menderita penyakit diabetes mellitus dikarenakan
sudah berkurangnya aktivitas tubuh, obesitas dan pola makan yang tidak
tepat.
e. Sering Lupa (Demensia)
Demensia atau yang sering disebut dengan istilah sering lupa
sebenarnya adalah masalah yang berkaitan dengan susunan saraf
pusat atau penyakit vaskular.
f. Penyakit Jantung
Penyakit kardio rentan sekali menyerang lansia. Penyakit jantung
yang biasa dikenal yaitu penyakit jantung koroner, serangan jantung dan
lainnya.
g. Kanker
Penyakit kanker disebabkan karena berubahnya struktur dan fungsi
sel sehingga tidak mampu melaksanakan fungsinya secara normal.
h. Kolesterol
Kadar kolesterol yang tinggi dapat memicu berbagai penyakit
dalam tubuh seperti tekanan darah tinggi, gagal jantung, stroke,
penyakit jantung koroner dan banyak penyakit yang lain.
2. Perubahan Kondisi Fisik
Meskipun perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh,
diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler,
sistem pengaturan tubuh, muskuluskletal, gastrointestinal, dan integument.
Masalah-masalah fisik sehari-hari yang sering ditemukan pada lansia menurut
Mubarak, 2006 dalam Wiria, 2015 adalah sebagai berikut:
a. Mudah jatuh
b. Mudah lelah
c. Kekacauan mental akut
d. Nyeri pada dada, berdebar debar
e. Sesak nafas pada saat melakukan aktifitas fisik
f. Pembengkakan pada kaki bawah
g. Nyeri pinggang atau punggung dan pada sendi panggul
h. Sulit tidur dan sering pusing
i. Berat badan menurun
j. Gangguan pada fungsi penglihatan, pendengaran, dan sukar menahan
air kencing
Menurut Wiria tahun 2015, perubahan fungsi organ yang terjadi akibat
proses penuaan, tidak sama diantara satu dengan yang lain, secara umum
dijumpai penurunan fungsi secara menyeluruh. Perubahan fungsi organ yang
terjadi pada lanjut usia adalah sebagai berikut :
a. Sistem integument
Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering dan
kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adipose,
kulit pucat dan terdapatnya bintik-bintik hitam akibat menurunnya aliran
darah ke kulit dan menurunnya sel-sel yang memproduksi pigmen kuku
pada jari tangan serta kaki menjadi tebal dan rapuh, rambut menipis dan
botak, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya (Ganong, 2002
dalam Wiria, 2015).
b. Temperatur tubuh
Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang
menurun, keterbatasan reflek, menggigil dan tidak dapat memproduksi
panas yang banyak diakibatkan oleh merendahnya aktifitas otot.
c. Sistem muskuloskletal
Kecepatan dan kekuatan otot skeletal berkurang, pengecilan otot
akibat menurunnya serabut otot.
d. Sistem penginderaan (pengecapan danpembau)
Menurunnya kemampuan untuk melakukan pengecapan dan
pembauan, sensitifitas terhadap empat rasa menurun setelah usia 50 tahun.
e. Sistem perkemihan
Ginjal mengecil, nefron menjadi atropi, aliran darah menurun sampai
50% fungsi tubulus berkurang yang berakibat kurang mampu memekatkan
urine, ambang ginjal terhadap glukosa meningkat, kandung kemih sulit
dikosongkan pada pria akibatnya retensi urine (Guyton, 2001 dalam Wiria,
2015).
f. Sistem pernapasan
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku,
menurunnya aktifitas selia, berkurangnya aktifitas paru, alveoli ukurannya
melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang, serta berkurangnya reflek
batuk.
g. Sistem gastrointestinal
Kehilangan gigi, indra pengecap menurun, esophagus melebar, rasa
lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan lambung
menurun, peristaltic melemah sehingga dapat mengakibatkan konstipasi,
kemampuan absorbsi menurun, hati mengecil, produksi saliva menurun,
produksi HCL dan juga pepsin menurun pada lambung.
h. Sistem penglihatan
Kornea lebih berbentuk selindris, spingter pupil timbul sclerosis dan
hilangnya respon terhadap sinar, lensa menjadi keruh serta meningkatnya
ambang penglihatan sinar (daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat,
susah melihat cahaya gelap).
i. Sistem pendengaran
Presbiakusis atau berkurangnya pendengaran pada usia lanjut,
membran timpani menjadi atropi yang menyebabkan etoklerosisi,
penumpukan serumen hingga mengeras karena peningkatan jumlah kratin,
berkurangnya persepsi nada tinggi (Darmojo, 2006 dalam Wiria 2015).
j. Sistem saraf
Berkurangnya berat otak hingga 10 sampai 20 %, berkurangnya sel
kortikal, reaksi menjadi lambat, kurang sensitive terhadap sentuhan,
berkurangnya aktifitas sel, bertambahnya waktu jawaban motorik,
hantaran neuron motorik melemah, dan mengalami kemunduran fungsi
saraf otonom (Darmojo, 2006 dalam Wiria 2015).
k. Sistem endokrin
Produksi hampir semua hormone menurun, fungsi paratiroid dan
sekresi tidak berubah, berkurangnya ACTH, TSF, FSH, LH, menurunnya
aktifitas tiroid akibatnya basal metabolisme menurun, menurunnya
produksi aldosteron, menurunnya sekresi hormon, progesteron, estrogen,
dan aldosteron serta bertambahnya insulin (Darmojo, 2006 dalam Wiria,
2015).
l. Sistem reproduksi
Selaput lendir vagina kering atau menurun, menciutnya ovarium dan
uterus, atropi payudara, testis masih dapat memproduksi, meskipun adanya
penurunan berangsur angsur dan dorongan seks menetap sampai diatas
usia 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik, penghentian produksi ovum
pada saat menopause (Darmojo, 2006 dalam Wiria, 2015).
m. Sistem kardiovaskuler
Perubahan yang terjadi pada sistem kardiovaskuler dapat dipahami
dari organ jantung dan pembuluh darah. Pada lansia jantung kirinya
mengalami pengecilan karena rendahnya beban kerja, terjadi penebalan
dan kekakuan atau penebalan katup jantung, serta terdapatnya jaringan ikat
pada sistem hantaran khusus jantung Hal ini mengakibatkan penurunan
kontraktilitas miokardium, lamanya waktu pompa ventrikel kiri, dan juga
perlambatan sistem hantaran jantung.
Definisi Lanjut Usia (skripsi dan tesis)
Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan proses alami yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap individu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO ) menggolongkan lanjut usia menjadi empat yaitu; usia pertengahan 45-59 tahun, lanjut usia 60-74 tahun, lalu lanjut usia tua 75- 90 tahun, dan usia sangat tua 90 tahun. Batasan lanjut usia yang tercantum dalam Undang- Undang No 4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan penghidupan orang jompo, bahwa yang berhak mendapatkan bantuan yaitu mereka yang berusia 56 tahun ke atas (Wiria, 2015). Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud dengan lanjut usia yaitu penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Diseluruh dunia penduduk lansia (usia lebih dari 60 tahun) tumbuh dengan sangat cepat bahkan tercepat dibandingkan kelompok usia lainnya. Diperkirakan mulai tahun 2010 terjadi ledakan jumlah penduduk lanjut usia. Mindset yang selama ini ada bahwa penduduk lanjut usia merupakan kelompok rentan yang hanya menjadi tanggungan keluarga, masyarakat dan negara, harus kita ubah. Kita harus menjadikan lanjut usia sebagai aset bangsa yang perlu terus diberdayakan (BPS,2009 dalam Islamiyah, 2013). Lanjut usia merupakan fase perkembangan manusia yang sangat menarik, ada beberapa alasan, yaitu : (1) fase usia lanjut kalau dibandingkan dengan fase-fase perkembangan manusia lainnya adalah sangat unik. Fase –fase yang lain berkembang secara progresif, sedangkan pada fase lanjut usia sebaliknya yaitu regresif dimana arah yang regresif ini ditandai dengan kemunduran secara fisik dan mental. (2) secara umum, untuk menghindari over generalisasi, kualitas kemampuan adaptasi orang lanjut usia terhadap perubahan-perubahan fisik dan mental yang bersifat regresif tersebut cukup buruk sehingga menyebabkan lanjut usia menjadi cukup rentan mengalami gangguan psikologis (Muis,2006 dalam Islamiyah, 2013). Data Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah warga lanjut usia bertambah dari tahun ke tahun. Tahun 2000 jumlah warga berusia 65-70 tahun meningkat menjadi 22,7 juta jiwa, maka di tahun 2020 diperkirakan jumlah tersebut menjadi 30,1 juta jiwa atau sekitar 10 % dari total penduduk Indonesia. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Bureau of the Cencus USA bahwa di Indonesia sejak tahun 1990-2025 (sekitar 35 tahun) mempunyai jumlah lansia sebesar 414 % dan hal tersebut merupakan suatu angka tertinggi di dunia. (BPS,2009 dalam Islamiyah, 2013).
Hipertensi Pada Lanjut Usia (skripsi dan tesis)
Tekanan darah tidak konstan di sepanjang daur hidup seseorang. Tekanan darah lebih rendah saat lahir dan akan meningkat secara bertahap dengan bertambahnya usia. Pada usia 16-18 tahun, tekanan darah mencapai kadar dewasa. Kemungkinan besar tekanan darah akan meningkat terus setelah usia 60 tahun. Di Indonesia penyakit tekanan darah tinggi menjadi pembunuh nomor tiga setelah diare dan saluran nafas, angka kematian akibat penyakit jantung pada usia lanjut dengan hipertensi adalah 3 kali lebih sering dibandingkan pada usia lanjut tanpa hipertensi di usia yang sama (Sudjaswandi dkk, 2003 dalam Wiria, 2015). Penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia pada tahun 2007 sebanyak 18.960.000 jiwa dan meningkat menjadi 20.547.541 jiwa pada tahun 2009 (Nyoman, 2013 dalam Bradley, 2015). Seiring dengan proses menua 24 tersebut, tubuh mengalami berbagai masalah kesehatan yang disebut penyakit degeneratif. Salah satu contohnya adalah penyakit darah tinggi yang merupakan faktor resiko utama dari perkembangan penyakit jantung dan stroke, dan disebut sebagai “the silent disease” karena tidak terdapat tanda atau gejala yang dapat dilihat dari luar (Junita, 2014). Proses penuaan adalah proses penurunan fungsi tubuh yang mengakibatkan perubahan-perubahan meliputi perubahan fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Pada perubahan fisiologis terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi gangguan dari dalam maupun luar tubuh. Salah satu gangguan kesehatan yang paling banyak dialami lansia adalah pada sistem kardiovaskuler (Teguh, 2009 dalam Astari, 2012). Secara alamiah lansia akan mengalami penurunan fungsi organ dan mengalami labilitas tekanan darah (Mubarak dkk, 2006 dalam Astari, 2012) Oleh sebab itu, lansia dianjurkan untuk selalu memeriksakan tekanan darah secara rutin agar dapat mencegah penyakit kardiovaskuler khususnya hipertensi (Martono & Pranaka, 2009 dalam Astari, 2012). Penelitian saya kali ini akan mengambil sample dari lansia yang memiliki riwayat hipertensi jangka panjang, yaitu lansia yang diketahui mengidap hipertensi lebih dari atau 2 sampai 4 minggu sebelum diberikan latihan senam yoga hatha
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hipertensi (skripsi dan tesis)
Beberapa faktor yang berkaitan dengan hipertensi diantaranya adalah
penebalan dinding arteri, yang mengurangi ukuran lumen arteri, dan
penurunan elastisitas arteri serta faktor gaya hidup seperti merokok,
obesitas, konsumsi alkohol yang berlebihan, kurang berolah raga,
peningkatan kadar kolestrol darah, dan stres berkepanjangan (Kozier, 2010
dalam Parlindungan, 2016).
Tekanan darah tinggi terkadang disebabkan oleh sesuatu yang spesifik
misalnya, hipertensi sekunder biasanya timbul akibat penyakit lain (seperti
penyakit ginjal atau gangguan pada penyakit adrenal) atau akibat
penggunaan obat (seperti pil KB kombinasi atau steroid). Tekanan darah
tinggi juga dapat meningkat pada masa kehamilan (Palmer & Williams,
2007 dalam Suri, 2015).
Menurut Sutanto (2010) Hipertensi tidak hanya di disebabkan oleh
satu faktor penyebab yang spesifik saja, meskipun hal tersebut mungkin saja
terjadi. Berikut penyebab hipertensi lainnya akan dibahas lebih lanjut pada
uraian di bawah ini :
a. Genetika
Apabila riwayat hipertensi didapat pada kedua orangtua maka
dugaan hipertensi primer pada seseorang akan cukup besar. Hal ini
terjadi karena pewarisan sifat melalui gen. Pengaruh genetika ini
terjadi pula pada anak kembar yang lahir dari satu sel telur. Jika salah
satu dari anak kembar adalah penderita hipertensi maka akan dialami
juga oleh anak kembar yang lain.
b. Obesitas
Obesitas atau kegemukan juga merupakan salah satu faktor resiko
timbulnya hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah
penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dibandingkan penderita
hipertensi yang tidak mengalami obesitas. Walaupun belum diketahui
secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti
bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita
obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan penderita
hipertensi dengan berat badannya normal.
c. Stres Lingkungan
Kondisi stres menimbulkan respons sel-sel saraf yang
mengakibatkan kelainan pengeluaran atau pengangkutan natrium.
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktifitas saraf
simpatis (saraf yang bekerja ketika beraktifitas) dapat meningkatkan
tekanan darah secara bertahap.
d. Jenis Kelamin
Bila ditinjau dari segi perbandingan antara laki-laki dan
perempuan, secara umum perempuan lebih banyak menderita
hipertensi dibandingkan laki-laki. Hipertensi berdasarkan genre ini
dapat pula dipengaruhi oleh faktor fisiologis. Wanita seringkali
mengadopsi perilaku tidak sehat seperti merokok dan pola makan
yang tidak seimbang sehingga menyebabkan kelebihan berat badan,
depresi, dan juga rendahnya status pekerjaan.
e. Usia
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ternyata angka
kejadian hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Hilangnya
elastisitas jaringan dan arterisklerosis serta pelebaran pembuluh darah
adalah factor penyebab hipertensi pada usia tua. Berbagai penelitian
yang dilakukan di Indonesia menunjukan penduduk yang berusia
diatas 20 tahun sudah memiliki resiko menderita hipertensi.
f. Gaya Hidup Kurang Sehat
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan atau
kerusakan pada pembuluh darah ikut berperan terhadap menculnya
penyakit hipertensi. Faktor-faktor tersebut antara lain merokok,
asupan lemak jenuh dan tingginya kolesterol dalam darah.
g. Obat-Obatan
Obat pencegah kehamilan, steroid dan obat anti infeksi dapat
mengakibatkan tekanan darah. Beberapa jenis obat dapat menaikkan
kadar insulin. Kadar insulin yang tinggi dapat mengakibatkan tekanan
darah meningkat.
h. Akibat Penyakit Lain
Penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler maka sangat
berpotensi menderita hipertensi sekunder. Penyebabnya sudah cukup
jelas, antara lain ginjal yang tidak berfungsi, pemakaian kontasepsi
oral dan terganggunya keseimbangan hormon yang merupakan factor
pengatur tekanan darah dalam tubuh.
i. Kurang Gerak
Kurang gerak tentu memiliki efek buruk yang dapat memicu
terjadinya hipertensi, terutama bila gaya hidup pasif itu dimulai sejak
usia muda. Sebab, kurang gerak cenderung dapat meningkatkan risiko
penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah. Kondisi ini pada
akhirnya akan meningkatkan risiko darah tinggi. Karena itu sangat
dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik secara rutin agar pembuluh
darahnya normal
Patofisiologi Hipertensi (skripsi dan tesis)
Hipertensi terjadi karena adanya perubahan pada struktur dan fungsi sistem pembuluh darah perifer yang bertanggung jawab atas perubahan tekanan darah. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, yaitu suatu keadaan dimana hilangnya elastisitas jaringan ikat dan menurunnya relaksasi otot polos pembuluh darah sehingga mengakibatkan penurunan kemampuan daya regang dan distensi pembuluh darah. Hal ini menyebabkan aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi sistema darah yang dipompa jantung sehingga tekanan darah dan nadi istirahat menjadi tinggi (Smeltzer & Bare, 2002 dalam Dwi, 2015). Mekanisme pengaturan konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor pada sistem otak. Pusat vasomotor bermula pada saraf simpatis yang berlanjut ke arah bawah menuju korda spinalis dan keluar melalui kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis yang berada di toraks dan abdomen. Rangsangan dari pusat vasomotor bergerak ke bawah ganglia simpatis dalam bentuk impuls yang bergerak melalui saraf simpatis. Pada titik ini posisi neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dengan dilepaskannya norepinefrin bermanifestasi pada berkonstriksinya pembuluh darah. Respon pembuluh darah terhadap rangsangan vasokonstriktor dapat dipengaruhi oleh berbagai macam sistem seperti rasa cemas dan takut. Pada waktu yang bersamaan, respon rangsangan emosi menstimulasi sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah dan kelenjar adrenal yang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medula adrenal mensekresi epinefrin kemudian menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah, begitu juga dengan korteks adrenal yang mensekresi kortisol dan steroid yang memperkuat efek vasokonstriksi pada pembuluh darah (Handayani, 2014). Vasokonstriksi pembuluh darah menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal yang menyebabkan pelepasan renin. Renin kemudian merangsang pembentukan angiotensin I lalu diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II merupakan vasokonstriktor kuat yang merangsang sistem sekresi oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal menyebabkan peningkatan volume intravaskular. Keadaan diatas itulah yang cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Handayani, 2014). Jika ditinjau dari pertimbangan gerontologis, hipertensi dapat dihubungkan dengan perubahan struktur dan fungsional sistem pembuluh darah perifer yang bertanggung jawab atas perubahan tekanan darah pada lanjut usia. Perubahan tekanan darah pada lanjut usia dapat disebabkan karena aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan relaksasi otot polos pada pembuluh darah, keadaan ini menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Hal tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan arteri dan aorta dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung yang mengakibatkan terjadinya penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer & Bare, 2002 dalam Handayani, 2014).
Epidemiologi Hipertensi (skripsi dan tesis)
Prevalensi hipertensi diperkirakan terus meningkat, dan diprediksi pada
tahun 2025 sebanyak 29% orang dewasa diseluruh dunia menderita
hipertensi, sedangkan di Indonesia angkanya mencapai 31,7%. Hipertensi
dikenal juga dengan tekanan darah tinggi dan sering disebut sebagai “silent
killer” karena terjadi tanpa tanda dan gejala, sehingga penderita tidak
mengetahui jika dirinya terkena hipertensi. Hasil penelitian mengungkapkan
sebanyak 76,1% tidak mengetahui dirinya mengalami hipertensi
(KEMENKES, 2013 dalam Hermanto, 2014)
Definisi Hipertensi (skripsi dan tesis)
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi merupakan suatu gangguan pembuluh darah sehingga mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi terhambat untuk diedarkan dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan tekanan darah di arteri meningkat dan jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bila hal ini berlangsung lama dan menetap, maka timbullah gejala yang disebut dengan penyakit tekanan darah tinggi (Vita, 2004). Kondisi yang terjadi pada penderita hipertensi yaitu terjadinya peningkatan terus menerus tekanan darah melebihi batas normal (tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg). Tekanan darah normal adalah 110/90 mmHg. Tekanan sistolik dewasa 16 berkisar diantara 90-140 dan tekanan diastolik berkisar diantara 60-90 mmHg. Hipertensi merupakan produk resistensi perifer dan kardiak output (Devina, 2011 dalam Bradley, 2016). Tekanan darah lebih dari 180/100 mmHg beresiko untuk mengalami penyakit jantung koroner 5 kali lebih besar dibandingkan seseorang dengan tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg (Dwi, 2014). Hipertensi dapat dikendalikan dengan meningkatkan latihan fisik secara rutin. Maryam (2008) dalam Bradley (2016) menyatakan bahwa olahraga yang dilakukan secara rutin dapat menghasilkan suatu respon terhadap kardiovaskuler, yakni penurunan tekanan darah dan denyut nadi istirahat secara bermakna. Latihan fisik akan memberikan efek akut pada tubuh yang akan mempengaruhi sistem otot, sistem hormonal, sistem peredaran darah, sistem pernafasan, sistem pencernaan, metabolisme, serta sistem pembuangan ( Sebastianus, 2011 dalam Dwi, 2015 ).
Pengukuran Tekanan Darah (skripsi dan tesis)
a. Prosedur pengukuran tekanan darah menggunakan sphygmomanometer
manual (Susilo, 2013 dalam Suri, 2017) :
1) Responden duduk rileks dan tenang sekitar 5 menit.
2) Pemeriksa menjelaskan manfaat dari rileks, agar nilai tekanan darah
saat pengukuran tersebut dihasilkan nilai yang stabil.
3) Pasangkan manset pada salah satu lengan dengan jarak sisi manset
paling bawah 2,5 cm dari siku kemudian rekatkan dengan baik.
4) Tangan responden diposisikan di atas meja dengan posisi telapak
tangan terbuka keatas dan sejajar dengan jantung.
5) Lengan yang terpasang manset harus bebas dari lapisan apapun.
13
6) Raba nadi pada lipatan lengan, lalu pompa alat hingga denyut nadi
tidak teraba kemudian dipompa kembali sampai tekanan meningkat 30
mmHg.
7) Tempelkan stetoskop pada perabaan denyut nadi, lepaskan pemompa
perlahan-lahan dan dengarkan bunyi denyut nadi tersebut.
8) Catat tekanan darah sistolik yaitu nilai tekanan ketika denyut nadi
yang pertama kali terdengar dan tekanan darah diastolik ketika bunyi
denyut nadi sudah tidak terdengar.
9) Pengukuran sebaiknya dilakukan 2 kali dengan selang waktu 2 menit.
Jika terdapat perbedaan hasil pengukuran sebesar 10 mmHg atau lebih
lakukan pengukuran untuk ke 3 kalinya.
10) Apabila responden tidak mampu duduk, pengukuran dapat dilakukan
dengan posisi baring, kemudian catat kondisi tersebut di lembar
catatan.
a. Persiapan Sphygmomanometer Sebelum Digunakan
1) Pasang dengan rapat manset atau sabuk tensimeter pada lengan kiri atas
pasien.
2) Tempatkan stetoskop pada telinga terapis.
3) Pastikan kepala stetoskop dalam posisi terbuka (on).
4) Cara memastikannya dengan mengetuk secara perlahan-lahan pada area
sensor kepala stetoskop.
5) Jika terdengar bunyi, maka stetoskop dalam kondisi on.
6) Cari denyut nadi atau arteri brakhialis di bagian siku dalam lengan kiri
pasien.
7) Biarkan lengan nyaman, kemudian letakkan kepala stetoskop pada
denyut nadi atau arteri tadi (gunakan tangan kiri).
8) Pastikan katup kantung tekanan dalam keadaan tertutup (dengan
memutar skrup searah jarum jam sampai rapat).
b. Persiapan Pasien
Sebelum melakukan pemeriksaan tekanan darah, berikut beberapa
persiapan yang perlu dilakukan oleh pasien (Potter, 1994) :
1) Beritahu pasien untuk menghindari latihan dan merokok selama 30
menit sebelum pengukuran.
15
2) Jelaskan prosedur dan buatlah pasien istirahat sedikitnya 5 menit
sebelum pengukuran.
3) Pastikan bahwa ruangan hangat dan terang. Buatlah pasien dalam
kondisi duduk.
4) Tentukan sisi anatomik terbaik untuk pengukuran tekanan darah, seperti
hindari lengan di sisi dimana telah dilakukan operasi payudara atau
ketiak dan pengangkatan jaringan limfe.
5) Hindari lengan atau tangan yang mengalami trauma, penyakit atau ila
lengan bawah telah diamputasi atau tetutup gips atau balutan yang
keras
Fisiologi Tekanan Darah (skripsi dan tesis)
Darah mengambil oksigen dari dalam paru-paru. Darah yang mengandung oksigen memasuki jantung dan kemudian dipompakan ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah yang disebut arteri. Pembuluh darah yang lebih besar bercabang-cabang menjadi pembuluh-pembuluh darah lebih kecil hingga berukuran mikroskopik dan akhirnya membentuk jaringan yang terdiri dari pembuluh-pembuluh darah sangat kecil atau disebut dengan pembuluh kapiler. Jaringan ini mengalirkan darah ke sel tubuh dan menghantarkan oksigen untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan demi kelangsungan hidup. Kemudian darah yang sudah tidak beroksigen kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena, dan di pompa kembali ke paru-paru untuk mengambil oksigen lagi. Saat jantung berdetak, otot jantung berkontraksi untuk memompakan darah ke seluruh tubuh. Tekanan tertinggi berkontraksi dikenal dengan tekanan sistolik. Kemudian otot jantung rileks sebelum kontraksi berikutnya, dan tekanan ini paling rendah, yang dikenal sebagai tekanan diastolik. Tekanan sistolik dan diastolik ini diukur ketika seseorang memeriksakan tekanan darah (Beevers, 2002 dalam Jennie, 2007)
Definisi Tekanan (skripsi dan tesis)
Darah Tekanan darah adalah daya yang di perlukan agar darah dapat mengalir di dalam pembuluh darah dan beredar mencapai seluruh jaringan tubuh manusia. Darah dengan lancar beredar ke seluruh bagian tubuh berfungsi sebagai media pengangkut oksigen serta zat lain yang di perlukan untuk kehidupan sel-sel di dalam tubuh (Moniaga, 2012). Menurut Gunawan (2007) dalam Suri (2017) istilah “tekanan darah” berarti tekanan pada pembuluh nadi dari peredaran darah sistemik di dalam tubuh manusia. Tekanan darah di bedakan antara tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik adalah tekanan darah ketika menguncup (kontraksi) sedangkan, tekanan darah diastolik adalah tekanan darah ketika mengendor kembali (rileksasi). Tekanan darah tiap orang sangat bervariasi. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah lebih rendah dibandingkan usia dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana tekanan darah akan lebih tinggi ketika seseorang melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika sedang beristirahat (Sutanto, 2010)
Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)
Keputusan Pembelian Keputusan pembelian adalah tindakan konsumen untuk memilih produk dari beberapa alternatif yang akan digunakan oleh konsumen. Ini berarti bahwa keputusan pembelian adalah serangkaian pilihan yang dibuat oleh konsumen sebelum melakukan pembelian yang dimulai setelah konsumen menetapkan keinginan untuk membeli. Menurut Ruslim dan Tumewu (2015) keputusan pembelian konsumen merupakan sebagai seluruh proses yang dilalui konsumen untuk mendapatkan suatu produk dan layanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Definisi tentang keputusan pembelian dijelaskan juga menurut Schiffman dan Kanuk (2013) keputusan pembelian didefinisikan sebagai sebuah pilihan dari dua tahu lebih alternatif pilihan. Menurut Tjiptono (2014) keputusan pembelian adalah sebuah proses di mana konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi mengenai produk atau merek tertentu dan mengevaluasi secara baik masing-masing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian mengarah kepada keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Armstrong (2018) keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di mana konsumen benar-benar membeli produk (skripsi dan tesis) a. Pengenalan kebutuhan Merupakan tahap pertama proses keputusan pembeli, di mana konsumen menyadari suatu masalah atau kebutuhan. b. Pencarian informasi 17 Merupakan tahap proses keputusan pembeli di mana konsumen ingin mencari informasi lebih banyak; konsumen mungkin hanya memperbesar perhatian atau melakukan pencarian informasi secara aktif. c. Evaluasi alternatif Merupakan tahap proses keputusan pembeli di mana konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek alternatif dalam sekelompok pilihan. d. Keputusan pembelian Merupakan keputusan pembeli tentang merek mana yang paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan keputusan pembelian. e. Perilaku pasca pembelian Merupakan tahap proses keputusan pembeli di mana konsumen mengambil tindakan selanjutnya setelah pembelian, berdasarkan kepuasan atau ketidakpuasan mereka. Menurut Tjiptono (2014), faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan adalah ikatan emosional yang terjalin antara pelanggan dan produsen setelah pelanggan menggunakan produk dan jasa dari perusahaan dan mendapati bahwa produk atau jasa tersebut memberi nilai tambah. Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu: a. Nilai emosional, utilitas yang berasal dari perasaan atau afektif atau emosi positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika konsumen mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat membeli atau menggunakan suatu merek, maka merek tersebut memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang akan dialami konsumen pada saat membeli produk. b. Nilai sosial, utilitas yang didapat dari kemampuan produk untuk meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai sosial merupakan nilai yang dianut oleh suatu konsumen, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh konsumen. c. Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang. Nilai fungsional adalah nilai yang diperoleh dari atribut produk yang memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada konsumen nilai ini berkaitan langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk atau layanan kepada konsumen. Pengambilan keputusan konsumen beraneka ragam sesuai dengan keputusan pembelian. Perilaku pembelian konsumen sangat berbeda untuk setiap produk. Pembelian yang lebih banyak dan mahal biasanya melibatkan lebih banyak pertimbangan dan lebih banyak peserta pembelian. Jenis-jenis perilaku keputusan pembelian sangat bergantung kepada jenis barang yang akan dibeli, harga dari barang serta rutin atau tidak barang tersebut dibeli. Terdapat empat tipe perilaku pembelian konsumen berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan di antara merek. a. Perilaku Pembelian Kompleks Jenis perilaku pembelian yang paling kompleks dalam situasi yang ditentukan oleh keterlibatan tinggi dalam pembelian, biasanya diketemukan pada pembelian barang mahal dan pada umumnya barang yang jarang dibeli konsumen serta terdapat banyak perbedaan antar merek. Contoh: Laptop yang termasuk barang mahal dan jarang dibeli konsumen sehingga saat pembelian konsumen perlu mengetahui spesifikasi dan fitur produk yang terdapat di dalam laptop. b. Perilaku Pembelian Pengurangan Disonansi Jenis perilaku pembelian di mana situasi yang ditentukan oleh keterlibatan tinggi dalam pembelian tetapi konsumen tidak melihat 20 banyak perbedaan dalam merek. Contoh: Pembelian karpet merupakan keputusan yang mempunyai tingkat keterlibatan tinggi karena harga karpet yang relatif mahal dan termasuk barang yang jarang dibeli, tetapi pembeli menganggap kebanyakan merek karpet dalam kisaran harga adalah sama. c. Perilaku Pembelian Kebiasaan Jenis perilaku pembelian di mana situasi yang ditentukan oleh keterlibatan yang rendah dalam pembelian dan tidak ada perbedaan merek yang signifikan, biasanya diketemukan pada pembelian produk yang murah dan produk yang sering dibeli konsumen. Contoh: Pembelian mi instan, biasanya konsumen mempunyai keterlibatan yang rendah dalam kategori produk ini. d. Perilaku Pembelian Mencari Keragaman Jenis perilaku pembelian di mana situasi yang ditentukan oleh keterlibatan yang rendah tetapi anggapan perbedaan merek yang signifikan. Dalam hal ini, konsumen biasanya melakukan peralihan merek karena rasa bosan atau karena ingin mencoba rasa yang berbeda. Peralihan merek terjadi karena alasan untuk variasi dan bukan karena ketidakpuasan konsumen. Contoh: pembelian permen, biasanya konsumen memiliki sedikit keyakinan, memilih sebuah merek permen tanpa terlalu banyak mengevaluasi berbagai merek permen dan mengevaluasinya selama mengonsumsinya
Indikator Kualitas Produk (skripsi dan tesis)
Gaman dan Sherrington dalam Sugiarto (2014) mengemukakan bahwa secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas makanan adalah sebagai berikut: a. Warna, kombinasi warna sangat membantu dalam selera makan konsumen b. Penampilan, tampilan atau kemasan yang disajikan dari suatu jenis produk untuk menarik perhatian konsumen. c. Porsi, dalam setiap penyajian makanan sudah ditentukan porsi standarnya yang disebut standard portion size. d. Bentuk, bentuk yang berbeda dan memiliki keunikan tersendiri dari sebuah makanan menjadi peranan penting dalam daya tarik mata. e. Tekstur, tingkat tipis dan halus serta bentuk makanan dapat dirasakan lewat tekanan dan gerakan dari resptor di mulut. f. Aroma, aroma adalah ciri khas yang ditimbulkan oleh suatu makanan, yang akan mempengaruhi konsumen sebelum melakukan pembelian. g. Tingkat kematangan, tingkat kematangan makanan akan mempengaruhi tekstur dari makanan. h. Rasa, titik perasa dari lidah adalah kemampuan mendeteksi dasar yaitu manis, asam, asin, dan pahit.
Kualitas Produk (skripsi dan tesis)
Suatu nilai utama yang diharapkan pelanggan kepada penjual atau produsen agar dapat menjadi ciri khas atau daya tarik tertentu dengan yang lain, dan agar dapat memuaskan pelanggan. Menurut Kotler dan Armstrong (2012:283) kualitas produk adalah : Kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsiya, hal ini termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk, juga atribut produk lainnya Salah satu nilai utama yang diharapkan oleh pelanggan dari produsen adalah kualitas produk dan jasa yang tertinggi. Menurut American Society for Quality Contro (Kotler, Marketing Management, 11TH Edition. Prentice Hall Int’l, New Jersey, 2003, p.84), kualitas adalah keseluruhan ciri serta sifat suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. Untuk menentukan kualitas produk, menurut Kotler (2010:361) kualitas produk dapat dimasukkan ke dalam 9 dimensi, yaitu : 1. Bentuk (Form) Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan bentuk, ukuran, atau struktur fisik produk. 2. Ciri-ciri produk (Features) karakteristik sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah fungsi dasar yang berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya. 3. Kinerja (Performance) Berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakterisitik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut. 4. Ketepatan/kesesuaian (Conformance) Berkaitan dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. Kesesuaian merefleksikan derajat ketepatan antara karakteristik desain produk dengan karakteristik kualitas standar yang telah ditetapkan. 5. Ketahanan (durabillity) Berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan. 6. Kehandalan (reliabillity) Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu pula. 7. Kemudahan perbaikan (repairabillity) Berkaitan dengan kemudahan perbaikan atas produk jika rusak. Idealnya produk akan mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak. 8. Gaya (Style) Penampilan produk dan kesan konsumen terhadap produk. 9. Desain (design) Keseluruhan keistimewaan produk yang akan mempengaruhi penampilan dan fungsi produk terhadap keinginan konsumen.
Komponen Fisik Sistem Informasi (skripsi dan tesis)
a. Perangkat keras komputer : CPU, Storage, perangkat Input/Output, Terminal untuk interaksi, Media komunikasi data, b. Perangkat lunak komputer : perangkat lunak sistem (sistem operasi dan utilitinya), perangkat lunak umum aplikasi (bahasa pemrograman), perangkat lunak aplikasi (aplikasi sistem penggajian, dll), c. Basis data : penyimpanan data pada media penyimpan komputer, d. Prosedur : langkah-langkah penggunaan sistem, e. Personil untuk pengelolaan operasi (SDM), meliputi: 1) Clerical personnel : untuk menangani transaksi dan pemrosesan data dan melakukan (inquiry) operator, 2) First level manager : untuk mengelola pemrosesan data didukung dengan perencanaan, penjadwalan, identifikasi situasi out-ofcontrol dan pengambilan keputusan level menengah ke bawah, 3) Staff specialist : digunakan untuk analisis untuk perencanaan dan pelaporan, 4) Management : untuk pembuatan laporan berkala, permintaan khsus, analisis khusus, laporan khsusus, pendukung identifikasi masalah dan peluang, f. Aplikasi : yaitu pemrograman yang mengarah kepada prosedur pengoperasian.
