Gail W. Stuart (dalam Annisa & Ifdil, 2016) membagi kecemasan
(anxiety) dalam respon perilaku, kognitif, dan afektif, diantaranya.
a. Perilaku, berupa gelisah, tremor, berbicara cepat, kurang koordinasi,
menghindar, lari dari masalah, waspada, ketegangan fisik, dll.
b. Kognitif, berupa konsentrasi terganggu, kurang perhatian, mudah lupa,
kreativitas menurun, produktivitas menurun, bingung, sangat waspada, takut
kehilangan kendali, mengalami mumpi buruk, dll.
c. Afektif, berupa tidak sabar, tegang, gelisah, tidak nyaman, gugup, waspada,
ketakutan, waspada, kekhawatiran, mati rasa, merassa bersalah, malu, dll.
Menurut Vye (dalam Purnamarini, Setiawan, & Hidayat, 2016)
mengungkapkan bahwa gejala kecemasan dapat diidentifikasikan melalui dalam
tiga komponen yaitu:
a. Komponen koginitif:
Cara individu memandang keadaan yaitu mereka berfikir bahwa terdapat
kemungkinan-kemungkinan buruk yang siap mengintainya sehingga
menimbulan rasa ragu, khawatir dan ketakutan yang berlebih ketika hal
tersebut terjadi. Mereka juga menganggap dirinya tidak mampu, sehingga
mereka tidak percaya diri dan menganggap situasi tersebut sebagai suatu
ancaman yang sulit dan kurangmampu untuk diatasi.
b. Komponen Fisik:
Pada komponen fisik berupa gejala yang dapat dirasakan langsung oleh
fisik atau biasa disebut dengan sensasi fisioligis. Gejala yang dapat terjadu
seperti sesak napas, detak jantung yang lebih cepat, sakit kepada, sakit perut
dan ketegangan otot. Gejala ini merupakan respon alami yang terjadi pada
tubuh saat individu merasa terancam atau mengalami situasi yang berbahaya.
Terkadang juga menimbulkan rasa takut pada saat sensasi fisologis tersebut
terjadi.
c. Komponen Perilaku:
Pada komponen perilaku melibatkan perilaku atau tindakan seseorang
yang overcontrolling.
Greenberger dan Padesky (dalam Fenn & Byrne, 2013) menjabarkan
bahwa ada empat aspek kecemasan yaitu:
a. Physical symptoms atau reaksi fisik yang terjadi pada orang yang cemas,
seperti telapak tangan yang berkeringat, otot tegang, jantung berdebar, sulit
bernafas, pusing ketika individu menghadapi kecemasan.
b. Thought, yaitu pemikiran negatif dan irasional individu berupa perasaan tidak
mampu, tidak siap, dan merasa tidak memiliki keahlian, seperti tidak siap
dalam menghadapi wawancara kerja, tidak yakin dengan kemampuannya
sendiri. Pemikiran ini cenderung akan menetap pada individu, jika individu
tidak merubah pemikiran menjadi sesuatu yang lebih positif.
c. Behavior, individu dengan kecemasan akan cenderung menghindari situasi
penyebab kecemasan tersebut dikarenakan individu merasa dirinya terganggu
dan tidak nyaman seperti keringat dingin, mual, sakit kepala, leher kaku, dan
juga gangguan tidur saat memikirkan dunia kerja kelak. Perilaku yang muncul
seperti kesulitan tidur saat memikirkan pekerjaan.
d. Feelings, yaitu susana hati individu dengan kecemasan cenderung meliputi
perasaan marah, panik, gugup yang dapat memunculkan kesulitan untuk
memutuskan sesuatu seperti perasaan gugup saat ada perbincangan dunia
kerja.
Jadi aspek-aspek dari kecemasan yaitu respon reaksi fisik, pemikiran,
perilaku dan suasana hati.
