PEMANTAUAN KADAR OBAT DALAM DARAH (skripsi dan tesis)

  

Menurut Usman (2007), pemantauan kadar obat di dalam darah adalah suatu teknik yang digunakan klinisi untuk mengoptimalkan dosis obat dengan memberikan dosis yang ditetapkan berdasarkan konsentrasi target (C target) dengan cara mengukur kadar obat dalam darah dan bila perlu melakukan penyesuaian dosis. Pemantauan kadar obat dalam darah ini bertujuan untuk mem-bantu meningkatkan penggunaan obat yang lebih rasional baik keamanan dan efektifitas dosis pada individu penderita.

          Keberhasilan suatu terapi dengan obat terletak pada pendekatan sejauh mana optimalisasi keseimbangan antara efek terapeutik yang diinginkan dengan efek samping atau efek toksik yang tidak diinginkan dapat dicapai. Untuk men-capai hasil terapi yang optimal, pemilihan obat dan rancangan regimen dosis yang tepat perlu dilakukan. Rancangan regimen dosis yang diberikan dokter pada penderita adalah berdasarkan tujuan untuk pengo-batan individu, di mana dosis yang dibe-rikan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penderita. Cara penentuan dosis ini di kenal dengan “individualisasi dosis”. Di dalam pemberian regimen dosis akan melibatkan tiga pertanyaan yang saling berkaitan, Berapa banyak obat yang diberikan ?. Berapa kali per hari obat diberikan ?. Berapa lama obat diberikan?.  Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini agar tujuan dan sasaran terapeutik dapat dicapai.

Adanya variabilitas individu baik intra maupun inter individu pada pen-derita, menyebabkan pengaturan dosis yang sesuai dengan penderita diperlukan, terutama untuk obat dengan indek terapi sempit. Pada dasarnya obat-obat yang perlu dilakukan TDM mempunyai kriteria atau kondisi klinik antara lain (Usman (2007).

  1. Obat yang mempunyai batas keamanan (margin of safety) yang sempit
  2. Efek toksis sukar diamati atau dipasti-kan secara klinis
  3. Efek terapinya sukar di pantau secara klinis
  4. Kadar obat dalam plasma bervariasi antar individu
  5. Penderita mempunyai gangguan pada salah satu organ ekskresi
  6. Penderita yang sudah diberi dosis tetapi memperlihatkan tanda toksik atau tidak memperlihatkan efek terapi yang diha-rapkan
  7. Terjadinya interaksi obat akibat polifar-masi
  8. Untuk menilai kepatuhan penderita makan obat secara teratur

Salah satu cara pemantauan kadar obat dalam darah adalah dengan menggunakan metode farmakokinetika. Farmakokinetika yaitu suatu cara untuk melakukan pengukuran kuan-titatif keberadaan obat dalam tubuh sebagai suatu sistem yang dinamik, di mana obat berubah setiap saat oleh proses ADME (Absorbsi, Distribusi, Metabolisme dan Ekresi). Bila konsep farmakokinetika ini digunakan untuk tujuan keamanan dan efektifitas terapi pada penderita di klinik, di sebut Farmakokinetika Klinik. Dari perubahan kadar obat setiap saat dalam darah (dc/dt) dapat ditentukan parameter kinetik yaitu besarnya absorbsi (Ka), kadar puncak (Cmaks), kadar tunak (Css), klirens, volume distribusi (Vd), waktu paruh (t1/2) dan bioavailabiltas. Dari parameter kinetik diciptakan model farmakokinetik. Model adalah salah satu alat dasar dari ilmu pengetahuan yang sifatnya tiruan dan merupakan sistim riil yang sederhana. Model kompartemen dalam ilmu faal dan ilmu farmakokinetika sering digunakan untuk mengambarkan perilaku zat-zat endo-gen atau eksogen termasuk obat.

Model farmakokinetik ini bertujuan untuk mendapatkan metode yang sesuai dalam menggambarkan dan menginterprestasikan satu data atau beberapa set data yang di peroleh dari percobaan. Model ini me-ngarah kepada pembuatan konsep mate-matika yang disebut model kompartemen. Prinsip dari model kompartemen ini menganggap tubuh terdiri dari bagian-bagian atau kompartemen yang satu dengan yang lain saling berhubungan, di mana distribusi obat di dalam tubuh tidaklah sama, hal ini disebabkan perbe-daan anatomi, faal organ, media cairan tubuh serta proses difusi yang terjadi. Penggunaan model matematika ini dengan parameter farmakokinetik, dapat meng-gambarkan dan meramalkan hubungan antara waktu dan perubahan kadar obat dalam darah setiap saat sebagai fungsi dari dosis serta cara dan frekuensi pemberiaan obat.

atalaksana terapi pada pasien yang menjalani hemodialisis memerlukan perhatian pada manajemenstatus cairan/volume ekstra vaskuler dan penyesuaian terapianti (National Kidney Foundation, 2005). Penyesuaian terapi diperlukan karena adanya jenis obat yang terdialisis serta adanya abnormalitas respon tubuh terhadap hemodialisis. Kadar obat yang terdialisis mengakibat-kan penurunan efektifitas obat atau under dose (Bochler et al, 1999 ; Chen etal, 2006) yang berakibat tidak ter-kontrolnya tekanan darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantungdan pembuluh (Agarwal,1999). Oleh karenanya, kadangkala pasien mem-butuhkankan adanya supplemental dose dari obat yang digunakan setelah dialysis untuk mempertahankan konsentrasi obatdi dalam darah (Quan dan Aweeka,2005; Bochler et al, 1999 ; Keller et al,1999 ). Bahkan berkurangnya kadar obatdi dalam darah dapat berakibat fatal pada pasien dengan kondisi kritis (Keller et al,1999)

Frekuensi hemodialisis (skripsi dan tesis)

Perdede (dalam RS PGI Cikini, 2007) menyatakan bahwa jumlah jam hemodialisis per minggu untuk mencapai adekuasi yaitu 10-15 jam. Adapun jadwal hemodialisis sebagai berikut:

  1. 2 x 5 jam/ minggu
  2. 3 x 4 jam/ minggu
  3. 4 x 3 jam/ minggu
  4. 5 x 3 jam/ minggu
  5. Setiap hari selama 2 jam

Untuk pasien baru terapi hemodialisis dapat dilakukan dengan jadwal sebagai berikut :

  1. Minggu I : 2-3 jam per hemodialisis atau semampu pasien. Hemodialisis dilakukan setiap hari atau setiap 2-3 hari.
  2. Minggu II : 3-4 jam per hemodialisis → 3-4 jam per minggu.
  3. Minggu III : 3-4 jam per hemodialisis → 3-4 jam per minggu.
  4. Minggu IV : 3-5 jam per hemodialisis → 2-3 jam per minggu. Minggu berikutnya diprogramkan kembali sesuai dengan indikasi medik

komplikasi hemodialisis (skripsi dan tesis)

 Menurut Smeltzer (2002) komplikasi hemodialisis mencakup hal-hal sebagai berikut :

  1. Hipotensi dapat terjadi selama terapi dialisis ketika cairan dikeluarkan.
  2. Emboli udara merupakan komplikasi yang jarang tetapi dapat saja terjadi jika udara memasuki sistem vaskuler pasien.
  3. Nyeri dada dapat terjadi karena pCO2 menurun bersamaan dengan terjadinya sirkulasi darah di luar tubuh.
  4. Pruritus dapat terjadi selama terapi dialisis ketika produk akhir metabolisme meninggalkan kulit.
  5. Gangguan keseimbangan dialisis terjadi karena perpindahan cairan serebral dan muncul sebagai serangan kejang. Komplikasi ini memungkinkan terjadinya lebih besar jika terdapat gejala uremia yang berat.
  6. Kram otot yang nyeri terjadi ketika cairan dan elektrolit dengan cepat meninggalkan ruang ekstrasel.
  7. Mual dan muntah merupakan peristiwa yang sering terjadi.
  8. Komplikasi hemodialisis menurut Situmorang (dalam RS PGI Cikini, 2007) meliput:
  9. Jangka Pendek

1)     Komplikasi yang sering adalah hipotensi 20-30%, kram 5-20%, mual/ muntah 5-15%, sakit kepala 5%, nyeri dada 2-3%, nyeri punggung 2-5%

2)     Kurang sering tapi serius Sindrom disekuilibrium, reaksi hipersensitivitas, aritmia, cardiac tamponade, hemolysis, reaksi dialisis, perdarahan intracainial, emboli udara.

  1. Jangka Panjang

Terjadi resiko kardiovaskular meningkat,osteodistrofi renal, neuropati uremik, amyloidosis disease, kegagalan akses.

Kelemahan hemodialisis (skripsi dan tesis)

     Kelemahan hemodialisis menurut Nuryandari (1999) sebagai berikut:

  1. Tergantung mesin
  2. Sering terjadi hipotensi, kram otot, disequilibrium sindrom
  3. Terjadi activasi: complemen, sitokines, mungkin menimbulkan amyloidosis
  4. Vasculer access: infeksi, trombosis
  5. Sisa fungsi ginjal cepat menurun, dibandingkan peritoneal dialisis.

Keunggulan hemodialisis (skripsi dan tesis)

  1. Keunggulan hemodialisis menurut Nuryandari (1999) sebagai berikut :
  2. Produk sampah nitrogen molekul kecil cepat dapat dibersihkan
  3. Waktu dialisis cepat

Dialiser akan mengeluarkan melekul dengan berat sedang dengan laju yang lebih cepat dan melakukan ultrafiltrasi dengan kecepatan tinggi hal ini di perkirakan akan memperkecil kemungkinan komplikasi dari hemodialisis misalnya emboli udara dan ultrafiltrasi yang tidak kuat atau berlebihan (hipotensi, kram otot, muntah).

  1. Resiko kesalahan teknik kecil
  2. Adequasy dapat ditetapkan sesegera, underdialisis segera dapat dibenarkan

Adequasy hemodialisis atau kecukupan hemodialisis segera dapat ditetapkan dengan melihat tanda-tanda tercapainya berat badan kering/tidak ada oedema, pasien tampak baik, aktif, tensi terkendali dengan baik, hb >10 gr% demikian juga bila terjadi keluhan-keluhan tersebut berarti tidak terpenuhinya kecukupan dialisis sehinnga dapat di benarkan terjadi underdialisis.

Pengobatan Gagal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis)

Terdapat 2 jenis terapi pengganti ginjal yaitu : dialisis dan transplantasi ginjal

  1. Dialisis yang terdiri dari hemodialisis, dialis peritoneal dan hemofiltrasi

Cuci darah apabila fungsi ginjal untuk membuang zat-zat metabolik yang beracun dan kelebihan cairan dari tubuh sudah sangat menurun (lebih dari 90%) sehingga tidak mampu lagi menjaga kelangsungan hidup penderita gagal ginjal, maka harus dilakukan dialisis (cuci darah) sebagai terapi pengganti fungsi ginjal. Ada dua jenis dialisis yaitu:

1)      Hemodialisis (cuci darah dengan mesin dialiser)

Cara yang umum dilakukan di Indonesia adalah dengan menggunakan mesin cuci darah (dialiser) yang berfungsi sebagai ginjal buatan. Darah dipompa keluar dari tubuh, masuk ke dalam mesin dialiser untuk dibersihkan melalui proses difusi dan ultrafiltrasi dengan dialisat (cairan khusus untuk dialisis), kemudian dialirkan kembali ke dalam tubuh.

Agar prosedur hemodialisis dapat berlangsung, perlu dibuatkan akses untuk keluar masuknya darah dari tubuh. Akses tersebut dapat bersifat sementara (temporer) Akses temporer berupa kateter yang dipasang pada pembuluh darah balik (vena) di daerah leher. Sedangkan akses permanen biasanya dibuat dengan akses fistula, yaitu menghubungkan salah satu pembuluh darah balik dengan pembuluh darah nadi (arteri) pada lengan bawah, yang dikenal dengan nama cimino. Untuk memastikan aliran darah pada cimino tetap lancar, secara berkala perlu adanya getaran yang  ditimbulkan oleh aliran darah pada cimino tersebut.

2)      Dialisis peritonial (cuci darah melalui perut).

Adalah metode cuci darah dengan bantuan membran selaput rongga perut (peritoneum), sehingga darah tidak perlu lagi dikeluarkan dari tubuh untuk dibersihkan seperti yang terjadi pada mesin dialisis. Dapat dilakukan pada di rumah pada malam hari sewaktu tidur dengan bantuan mesin khusus yang sudah diprogram terlebih dahulu. Sedangkan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) tidak membutuhkan mesin khusus tersebut, sehingga dapat dikatakan sebagai cara dialisis mandiri yang dapat dilakukan sendiri di rumah atau di kantor (Pernefri, 2003)

  1. Transplantasi ginjal yang dapat berasal dari donor hidup atau donor jenazah (cadaver).

Cangkok atau transplantasi ginjal adalah terapi yang paling ideal mengatasi gagal ginjal terminal. Ginjal yang dicangkokkan berasal dari dua sumber, yaitu donor hidup atau donor yang baru saja meninggal (donor kadaver). Akan lebih baik bila donor tersebut dari anggota keluarga yang hubungannya dekat, karena lebih besar kemungkinan cocok, sehingga diterima oleh tubuh pasien. Selain kemungkinan penolakan, pasien penerima donor ginjal harus minum obat seumur hidup. Juga pasien operasi ginjal lebih rentan terhadap penyakit dan infeksi, kemungkinan mengalami efek samping obat dan resiko lain yang berhubungan dengan operasi (Alam & Hadibroto, 2008).

Terapi hemodialisis adalah pengobatan dengan menggunakan hemodialisis yang berasal dari kata hemo yang berarti darah dan dialisis yang berarti memisahkan darah dari bagian yang lain. Jadi hemodialisis yaitu memisahkan sampah nitrogen dan sampah yang lain dari dalam darah melalui membran semipermiabel. Hemodialisis tidak mampu menggantikan seluruh fungsi ginjal, namun dengan hemodialisis kronis pada penderita gagal ginjal kronis dapat bertahan hidup bertahun-tahun. (Nuryandari, 1999).

Indikasi hemodialisis yaitu BUN (> 100 mg/dl), kreatinin (> 10 mg/dl), hiperkalemia, acidosis metabolik. Secara klinis meliputi (1) Anoreksi, nausea, muntah; (2) Ensepalopati ureikum; (3) Odema paru; (4) Pericarditis uremikum; (5) Pendarahan uremik (Nuryandari, 1999).

Komplikasi Gagal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis)

Komplikasi yang sering ditemukan pada penderita penyakit gagal ginjal kronik menurut Alam & Hadibroto (2008) antara lain :

  1. Anemia

Terjadinya anemia karena gangguan pada produksi hormon eritropoietin yang bertugas mematangkan sel darah, agar tubuh dapat menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Akibat dari gangguan tersebut, tubuh kekurangan energi karena sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh dan jaringan tidak mencukupi. Gejala dari gangguan sirkulasi darah adalah kesemutan, kurang energi, cepat lelah, luka lebih lambat sembuh, kehilangan rasa (baal) pada kaki dan tangan.

  1. Osteodistofi ginjal

Kelainan tulang karena tulang kehilangan kalsium akibat gangguan metabolisme mineral. Jika kadar kalsium dan fosfat dalam darah sangat tinggi, akan terjadi pengendapan garam dalam kalsium fosfat di berbagai jaringan lunak (klasifikasi metastatik) berupa nyeri persendian (artritis), batu ginjal (nefrolaksonosis), pengerasan dan penyumbatan pembuluh darah, gangguan irama jantung, dan gangguan penglihatan.

  1. Gagal jantung

Jantung kehilangan kemampuan memompa darah dalam jumlah yang memadai ke seluruh tubuh. Jantung tetap bekerja, tetapi kekuatan memompa atau daya tampungnya berkurang. Gagal jantung pada penderita gagal ginjal kronis dimulai dari anemia yang mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras, sehingga terjadi pelebaran bilik jantung kiri (left venticular hypertrophy/ LVH). Lama-kelamaan otot jantung akan melemah dan tidak mampu lagi memompa darah sebagaimana mestinya (sindrom kardiorenal).

  1. Disfungsi ereksi

Ketidakmampuan seorang pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang diperlukan untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Selain akibat gangguan sistem endokrin (yang memproduksi hormon testeron) untuk merangsang hasrat seksual (libido), secara emosional penderita gagal ginjal kronis menderita perubahan emosi (depresi) yang menguras energi. Namun, penyebab utama gangguan kemampuan pria penderita gagal ginjal kronis adalah suplai darah yang tidak cukup ke penis yang berhubungan langsung dengan ginjal.

Komplikasi Gagal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis)

Komplikasi yang sering ditemukan pada penderita penyakit gagal ginjal kronik menurut Alam & Hadibroto (2008) antara lain :

  1. Anemia

Terjadinya anemia karena gangguan pada produksi hormon eritropoietin yang bertugas mematangkan sel darah, agar tubuh dapat menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Akibat dari gangguan tersebut, tubuh kekurangan energi karena sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh dan jaringan tidak mencukupi. Gejala dari gangguan sirkulasi darah adalah kesemutan, kurang energi, cepat lelah, luka lebih lambat sembuh, kehilangan rasa (baal) pada kaki dan tangan.

  1. Osteodistofi ginjal

Kelainan tulang karena tulang kehilangan kalsium akibat gangguan metabolisme mineral. Jika kadar kalsium dan fosfat dalam darah sangat tinggi, akan terjadi pengendapan garam dalam kalsium fosfat di berbagai jaringan lunak (klasifikasi metastatik) berupa nyeri persendian (artritis), batu ginjal (nefrolaksonosis), pengerasan dan penyumbatan pembuluh darah, gangguan irama jantung, dan gangguan penglihatan.

Gagal ginjal kronik (cronic renal failure) (skripsi dan tesis)

Gagal ginjal kronik (cronic renal failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan di tandai dengan uremia(urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisis atau tansplantasi ginjal) (Nursalam, 2002).

Gagal ginjal kronik dapat disebabkan oleh penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, glomerulonefretis kronis, pielonefretis, hipertensi yang tidak dapat dikontrol, obstuksi traktus urinarius, lesi heriditer, lingkungan dan agen berbahaya yang mempengaruhi gagal ginjal kronis seperti timah, kadmium, merkuri, dan kromium. Dialisis atau transplantasi ginjal kadang-kadang diperlukan untuk kelangsungan hidup pasien (Smeltzer, 2002).

Pengertian Evaluasi (skripsi dan tesis)

 

Evaluasi adalah serangkaian prosedur untuk menilai suatu program dan memperoleh informasi tentang keberhasilan pencapaian tujuan, kegiatan, hasil dan dampak serta biayanya. Fokus utama dari evaluasi adalah mencapai perkiraan yang sistematis dari dampak program (Anonim, 2002).

Evaluasi bermanfaat untuk (Anonim, 2002) :

  1. Menetapkan kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam program yang sedang berjalan.
  2. Meramalkan kegunaan dari pengembangan usaha-usaha dan memperbaikinya.
  3. Mengukur kegunaan program-program yang inovatif
  4. Meningkatkan efektifitas program, manajemen dan administrasi
  5. Kesesuaian tuntutan tanggung jawab.

     Proses evaluasi akan memberikan lima langkah umpan balik sebagaimana yang diungkapkan oleh Hunger and Wheelen (2000). Kelima langkah umpan balik tersebut adalah :

  1. Menentukan apa yang diukur
  2. Menetapkan standar kerja
  3. Mengukur kinerja aktual
  4. Membandingkan kinerja aktual standar yang telah ditetapkan
  5. Mengambil tindakan perbaikan

Tujuan diadakan evaluasi adalah untuk memperbaiki pelaksanaan dan perencanaan program sehubungan dengan perlu adanya kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain: untuk mengecek relevansi dari program dalam hal perubahan -perubahan kecil yang terus-menerus mengukur kemajuan terhadap target yang direncanakan menentukan sebab dan faktor di dalam maupun di luar yang mempengaruhi pelaksanaan program (Subarsono,2005).

ndikator-indikator pengadaan obat Kabupaten/Kota (skripsi dan tesis)

Menurut Departemen Kesehatan RI (Anonim, 2002) melaui penelaahan konsep pada Pedoman Supervisi Dan Evaluasi Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, maka diukur indikator-indikator pengadaan obat Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:

  1. Alokasi dana pengadaan obat

Ketersediaan dana pengadaan obat yang sesuai dengan kebutuhan obat untuk populasi merupakan prasyarat terlaksananya penggunaan obat yang rasional yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dengan indikator ini dapat dilihat komitmen Kabupaten/Kota dalam penyediaan dana pengadan obat sesuai kebutuhannya. Dana pengadaan obat adalah besarnya dana pengadaan obat yang disediakan/dialokasikan oleh pemerintah Kabupaten/Kota untuk memenuhi kebutuhan obat pelayanan kesehatan diwilayah tersebut. Yang dilihat pada indikator ini adalah jumlah dana anggaran pengadaan obat yang disediakan pemerintah daerah Kabupaten/Kota dibandingkan dengan jumlah kebutuhan dana untuk pengadaan obat yang sesuai dengan kebutuhan populasi. Angka ideal dana pengadaan obat yang disediakan apabila sangat mendekati dengan kebutuhan sebenarnya.

  1. Persentase alokasi dana pengadaan obat

Obat merupakan pendukung utama untuk hampir semua program kesehatan di unit pelayanan kesehatan. Untuk itu ketersediaan dana pengadaan obat harus proposional dengan anggaran kesehatan secara keseluruhan. Dana pengadaan obat adalah besarnya dana pengadaan obat yang disediakan/dialokasikan oleh pemerintah daerah Kabupaten/Kota untuk mendukung program kesehatan di daerahnya dibandingkan dengan jumlah alokasi dana untuk bidang kesehatan. Angka ideal dana pengadaan obat harus proposional dengan anggaran kesehatan secara keseluruhan.

  1. Biaya obat perpenduduk

Ketersediaan dana pengadaan obat yang sesuai kebutuhan populasi bervariasi untuk masing-masing Kabupaten/Kota untuk itu perlu diketahui besarnya dana yang disediakan oleh Kabupaten/Kota apakah telah memasukkan parameter jumlah penduduk dalam pengalokasian dananya.

tujuan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan (skripsi dan tesis)

Menurut Departemen Kesehatan RI (Anonim, 2008) tujuan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan adalah :

  1. Tersedianya obat dan perbekalan kesehatan dengan jenis dan jumlah yang cukup sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan.
  2. Mutu obat dan perbekalan kesehatan terjamin.
  3. Obat dan perbekalan kesehatan dapat diperoleh pada saat diperlukan.

metode pengadaan obat (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa metode pengadaan menurut WHO (2002) ,yaitu:

  1. Tender terbuka

Tender terbuka adalah metode penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan pengumuman secara luas mealui media massa dan  pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. Untuk pelaksanaan sistem tender terbuka ini perlu dipersiapkan beberapa hal yang mencakup jadwal lelang, pengumuman lelang, persyaratan peserta, periode lelang, seleksi dan penetapan peserta lelang. Dalam tender terbuka akan banyak penawar yang mengajukan penawaran, untuk mengevaluasi penawar memerlukan waktu yang lama dan terkadang tidak dapat dilakukan sesuai dengan jadwal proses lelang yang berakibat pada terhambatnya proses pengadaan.

  1. Tender tertutup

Tender hanya dilakukan pada rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan mempunyai riwayat yang baik. Tender terbuka biasanya didahului dengan prakualifikasi supplier, tetapi secara keseluruhan beban kerja tender tertutup lebih ringan daripada tender terbuka. Penetapan metode ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pengadaan obat dengan kualitas produk yang akan diperoleh tetap akan terjamin walaupun dengan supplier terbatas.

  1. Pemilihan langsung

Pemilihan langsung dilaksanakan apabila metode tender terbuka dan tertutup dinilai tidak efisien dari segi biaya tender. Pemilihan dilaksanakan dengan membandingkan sekurang-kurangnya 3 penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun harga serta diumumkan melaui pengumuman resmi. Pengadaan langsung memungkinkan terjadinya penawaran secara rinci kepada pemasok, baik meliputi jumlah, jenis, dan harga. Negosiasi umumnya dilakukan kepada beberapa pemasok terpilih untuk mendapatkan harga yang layak. Keuntungan pemilihan langsung adalah obat dapat segera terpenuhi tanpa harus melaui proses tender yang berkepanjangan.

  1. Pengadaan langsung,

Pengadaan langsung dilakukan dalam jumlah kecil untuk jenis obat yang harus segera tersedia. Metode pengadaan langsung yang dikombinasikan dengan kontrak negosiasi, akan memberikan keuntungan yang lebih besar  karena harga dapat disepakati dengan harga yang lebih murah.

Pengelolaan obat (skripsi dan tesis)

Menurut Quick et al (1997) siklus pengelolaan obat meliputi seleksi, pengadaan, distribusi, serta penggunaan yang didukung oleh struktur organisasi, keuangan, dan sistem informasi manajemen yang layak serta staf yag termotivasi.

Tujuan pengelolaan obat adalah terjaminnya ketersediaan obat yang bermutu baik, secara tepat jenis, tepat jumlah dan tepat waktu serta digunakan secara rasional dan supaya dana yang tersedia dapat digunakan dengan sebaik-baiknya dan berkesinambungan guna memenuhi kepentingan masyarakat yang berobat ke Unit Pelayanan Kesehatan Dasar (Puskesmas) (Anonim,2002). Agar tujuan tersebut dapat terlaksana dengan baik, maka pada Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten dalam pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan sebaiknya ada pembagian tugas dan peran seperti di bawah ini :

  1. Perencanaan kebutuhan obat untuk pelayanan kesehatan dasar disusun oleh tim perencanaan obat terpadu berdasarkan system “bottom up”
  2. Perhitungan rencana kebutuhan obat untuk satu tahun anggaran disusun dengan menggunakan pola konsumsi dan atau epidemiologi.
  3. Mengkoordinasikan perencanaan kebutuhan obat dari beberapa sumber dana, agar jenis dan jumlah obat yang disediakan sesuai dengan kebutuhan dan tidak tumpang tindih.
  4. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan rencana kebutuhan obat kepada Pemerintah Kabupaten/Kota, Pusat, Provinsi dan sumber lainnya.
  5. Melakukan Pelatihan Petugas Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk Puskesmas
  6. Melakukan Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan ke Puskesmas.
  7. Melaksanakan Advokasi Penyediaan Anggaran Kepada Pemerintah Kabupaten/Kota
  8. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggungjawab terhadap pen-distribusian obat kepada unit pelayanan kesehatan dasar.
  9. Dinas Kesehatan Kab/Kota bertanggungjawab terhadap penanganan obat dan perbekalan kesehatan yang rusak dan kadaluwarsa.
  10. Dinas Kesehatan Kab/Kota bertanggungjawab terhadap jaminan mutu obat yang ada di Instalasi Farmasi dan Unit Pelayanan Kesehatan Dasar.

Instalasi Farmasi di Provinsi/ Kabupaten/ Kota mempunyai tugas pokok melaksanakan semua aspek pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian penggunaan, pencatatan pelaporan, monitoring, supervisi dan evaluasi. Termasuk didalamnya pelatihan pengelolaan obat serta melakukan koordinasi dalam perencanaan dan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan.

Instalasi Farmasi di Provinsi/ Kabupaten/ Kota mempunyai fungsi antara lain :

  1. Melakukan seleksi obat publik dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar.
  2. Melakukan perhitungan kebutuhan obat publik dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar.
  3. Pro-aktif membantu perencanaan dan pelaksanaan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan di Kabupaten/ Kota.
  4. Melakukan penerimaan obat publik dan perbekalan kesehatan yang berasal dari berbagai sumber anggaran.
  5. Melakukan penyimpanan obat publik dan perbekalan kesehatan dari berbagai sumber anggaran.
  6. Melakukan pendistribusian obat publik dan perbekalan kesehatan yang berasal dari berbagai sumber anggaran sesuai dengan permintaan dari pemilik program atau permintaan unit pelayanan kesehatan.
  7. Melakukan pencatatan pelaporan obat publik dan perbekalan kesehatan serta obat program kesehatan yang menjadi tanggung jawabnya.
  8. Melakukan monitoring, supervisi dan evaluasi pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan pada unit pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya.
  9. Melaksanakan kegiatan pelatihan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan serta penggunaan obat rasional bagi tenaga kesehatan di unit pelayanan kesehatan dasar
  10. Melaksanakan kegiatan bimbingan teknis pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan serta pengendalian penggunaan obat di unit pelayanan kesehatan dasar
  11. Melaksanakan kegiatan administrasi unit pengelola obat publik dan perbekalan kesehatan

  A.1 Perencanaan

Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Berdasarkan Quick et al (1997), perencanaan obat merupakan suatu proses kegiatan pengelolaan obat yang memerlukan adanya dukungan sumber daya manusia dan kebijakan obat yang berkaitan erat dengan penyediaan obat sehingga untuk meningkatkan mutu pelayanan maka perencanaan obat harus dikelola secara efektif dan efisien. Dengan adanya efesiensi dalam perencanaan obat dapat menurunkan biaya belanja obat, sehingga dana tersebut dana tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi yang pada gilirannya dapat meningkatkan petumbuhan ekonomi negara (Chan,C.K, 2000).

Proses pemilihan obat sebaiknya mengikuti pedoman seleksi obat yang telah disusun oleh WHO (1993), yaitu: memilih obat yang telah terbukti efektif dan merupakan drug of choice, mencegah duplikasi obat, pemilihan obat yang seminimal untuk suatu jenis penyakit, melaksanakan evaluasi kontra indikasi dan efek samping secara cermat.

Salah satu cara untuk meningkatkan efesiensi penggunaan dana obat yang terbatas adalah dengan cara mengelompokkan obat berdasarkan kepada dampak tiap jenis obat pada kesehatan berdasarkan metode VEN. Semua jenis obat yang tercantum dalam daftar obat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok berikut:

  1. Kelompok V (Vital) adalah kelompok obat-obatan yang sangat esensial, yang termasuk dalam kelompok ini adalah obat-obatan penyelamat (life saving drugs), obat-obat untuk pelayanan kesehatan khusus (vaksin, dll), obat-obatan untuk mengatasi penyakit-penyakit penyebab kematian terbesar.
  2. Kelompok E (Esensial) adalah kelompok obat-obatan yang harus ada yang diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan, yang bekerja pada sumber penyakit.
  3. Kelompok N (Non Esensial) adalah merupakan obat-obat penunjang yaitu obat-obatan yang kerjanya ringan yang biasa digunakan untuk menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatas keluhan ringan contohnya vitamin (Quick et al, 1997)

Analisa perencanaan lain yang dapat digunakan adalah analisa ABC (Always Better Control) yaitu suatu metode pengelompokan obat berdasarkan kebutuhan dana, yaitu:

  1. Kelompok A adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 70 % dari jumlah dana obat keseluruhan
  2. Kelompok B adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 20%
  3. Kelompok C adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 10% dari jumlah dana keseluruhan.

   Untuk lebih akuratnya perencanaan obat dan untuk menyesuaikan rencana pengadaan obat dengan jumlah dana yang tersedia, maka dapat dilakukan analisa ABC-VEN

Beberapa macam metode yang digunakan dalam melakukan perencanaan, antara lain:

  1. Metode Epidemiologi

Perencanaan dengan metode ini dibuat berdasarkan pola penyebaran penyakit dan pola pengobatan penyakit yang terjadi dalam masyarakat sekitar. Juga dengan memperhatikan kemampuan dan sosio cultural masyarakat sekitar.

  1. Metode Konsusmsi

Perencanaa dengan metode ini dibuat berdasarkan data pengeluaran barang metode lalu.

  1. Metode kombinasi

Merupakan metode gabungan dari metode epidemiologi dan metode konsumsi

Berbagai kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan kebutuhan obat adalah sebagai berikut (Anonim,2002a):

  1. Tahapan pemilihan obat, tahap ini dimulai dengan tahap seleksi atau pemilihan obat bertujuan untuk menentukan apakah obat benar-benar diperlukan sesuai dengan jumlah penduduk dan pola penyakit di daerah.
  2. Tahap kompilasi pemakaian obat, berfungsi untuk mengetahui pemakaian bulanan masing-masing jenis obat di Puskesmas selama satu tahun sebagai pembanding stok optimum.
  3. Tahap perhitungan kebutuhan obat dapat menggunakan metode konsumsi, metode epidemiologi atau gabungan dari kedua metode tersebut.
  4. Tahap proyeksi kebutuhan obat, adalah perhitungan kebutuhan obat secara komprehensif dengan mempertimbangkan data pemakaian obat dan jumlah sisa stok pada periode yang masih berjalan dari berbagai sumber anggaran.
  5. Tahap penyesuaian rencana pengadaan obat, dengan melaksanakan penyesuaian rencana pengadaan obat dengan jumlah dana yang tersedia maka informasi yang didapat adalah jumlah rencana pengadaan, skala prioritas masing-masing jenis obat dan jumlah kemasan, untuk rencana pengadaan obat tahun yang akan datang.

Proses perencanaan obat diawali dengan seleksi obat untuk menentukan obat-obat yang diperlukan berdasarkan obat generik yang tercantum dalam DOEN yang masih berlaku. World Health Organization (WHO) merekomendasikan kriteria seleksi obat-obat esensial berdasarkan bahwa obat-obat tersebut dapat memberikan kepuasan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh mayoritas masyarakat, tersedia setiap saat dalam jumlah cukup dan dosis yang tepat. Pemilihan obat berdasarkan pola prevalensi penyakit di fasilitas pelayanan dengan personel yang berpengalaman dan terlatih. Obat yang dipilih mempunyai mutu yang terjamin, termasuk bioavailabilitas, stabil dalam penyimpanan dan dengan bahan aktif yang tunggal (Quick et al., 1997).

Tahap kompilasi pemakaian obat dilakukan dengan menentukan jumlah pemakaian obat setiap bulan dari masing-masing sub unit  menggunakan format Laporan Pemakain Dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) yang diajukan oleh Puskesmas dengan mengetahui kepala Puskesmas untuk ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota dan selanjutnya diproses oleh Instalasi Farmasi (IF) (Depkes, 2004). LPLPO merupakan sistem informasi obat yang digunakan Puskesmas untuk meminta dan melaporkan pemakaian obat ke IF. Kegunaan dari LPLPO adalah sebagai bukti penerimaan, pengeluaran dan penggunaan obat di Puskesmas. Informasi yang didapat di dalam LPLPO berupa sisa stok, jumlah pemakaian, jumlah obat yang diterima dan jumlah kunjungan resep tiap bulannya. Format ini juga digunakan sub-sub unit pelayanan untuk memperoleh obat ke Puskesmas (Depkes, 2005).

Menurut Departemen Kesehatan RI (Anonim, 2002) melaui penelaahan konsep pada Pedoman Supervisi Dan Evaluasi Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, maka diukur indikator-indikator perencanaan obat Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:

  1. Ketepatan perencanaan obat

Ketersediaan perencanaan obat adalah perencanaan kebutuhan nyata obat untuk Kabupaten/Kota dibagi dengan pemakaian obat pertahun. Ketepatan perencanaan kebutuhan obat Kabupaten/Kota merupakan awal dari fungsi pengelolaan obat yang strategis. Angka ideal dari perencanaan kebutuhn adalah 100% dari kebutuhan baik dalam jumlah dan jenis obat.

  1. Kesesuian item obat yang tersedia dengan DOEN

Obat esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan, mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan rehabilitasi yang diupayakan tersedia pada unit pelayanan kesehatan. Kesesuaian jenis obat dengan DOEN merupakan upaya untuk meningkatkan efektifitas dan efesiensi pemanfaatan dana pengadaan obat. Angka ideal kesesuaian jenis obat adalah 100% dari daftar DOEN. Kesesuaian item obat dengan DOEN adalah total obat yang masuk dalam DOEN dibagi dengan total jenis obat yang tersedia di gudang/instalasi pengelolaan obat.

  1. Rata-rata waktu kekosongan obat

Rata-rata waktu kekosongan obat menggambarkan kapasits sistem pengadaan dan distribusi dalam menjamin kesinambungan suplai obat dan merupakan salah satu faktor koreksi dalam perencanaan obat khususnya dalam penetapan pemakaian rata-rata per bulan. Angka ideal kekosongan obat adalah 0 (nol). Rata-rata waktu kekosongan obat didefinisikan sebagai jumlah hari obat kosong dalam waktu satu tahun.

  1. Tingkat ketersediaan obat

Ketersediaan kebutuhan obat adalah kondisi terpenuhinya jumlah obat-obatan yang diperlukan daerah dalam rangka pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kategori status ketersediaan obat adalah:

  1. a)Berlebih jika persediaan lebih dari 18 bulan pemakaian rata-rata
  2. b)Aman jika persediaan antara 12-18 bulan pemakaian rata-rata
  3. c)Kurang jika persediaan dibawah 12 bulan pemakaian rata-rata
  4. d)Stok kosong apabila persediaan kurang dari 1 bulan pemakaian rata-rata

Obat yang disediakan untuk tingkat pelayanan kesehatan di Puskesmas harus sesuai dengan kebutuhan populasi berarti jumlah (kuantum) obat yang tersedia minimal harus sama dengan stok selama waktu tunggu kedatangan obat. Kecukupan obat merupakan indikasi kesinambungan pelayanan obat untuk mendukung pelayanan kesehatan di Kabupaten/Kota.

  1. Persentase obat kadaluwarsa

Terjadinya obat kadaluwarsa mencerminkan ketidaktepatan perencanaan, kurang baik sistem distribusi, kurangnya pengamatan mutu dalam penyimpanan obat dan perubahan pola penyakit. Angka ideal persentase obat kadaluwarsa adalah 0%. Persentase obat kadaluwarsa didefinisikan sebagai jumlah jenis obat yang kadaluwarsa dibagi dengan total jenis penyakit.

A.2 Pengadaan

Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui melalui pembelian, baik secara langsung atau tender dari distributor, produksi/pembuatan sediaan farmasi baik steril maupun non steril, maupun bersasal dari sumbangan/hibah (Anonim, 2004).

Proses pengadaan barang/jasa pemerintah yang diatur dalam Keppres No. 80 tahun 2003 untuk proses pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan setelah tahun 2003 (sebelumnya proses pengadaan barang/jassa dilaksanakan sesuai Keppres No. 18 tahun 2000), bertujuan agar pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayi oleh APBN/APBD dilakukan secara efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel.

Kebijakan Terkait Tentang Produk Suplemen Penstimulasi Stamina (skripsi dan tesis)

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Dirjen POM) memberi
batasan mengenai suplemen sebagai produk yang digunakan untuk melengkapi
makanan dan mengandung satu atau lebih bahan-bahan seperti, vitamin, mineral,
asam amino, bahan yang digunakan untuk meningkatkan angka kecukupan gizi
dalam bentuk konsentrat, metabolit, ekstrak atau kombinasi dari bahan-bahan
sebelumnya (BPOM, 1996).
Pemerintah melalui Departemen Perindustrian cq. Dewan Standarisasi
Nasional telah melakukan standarisasi terhadap produk suplemen untuk menjaga
mutu produksi. Standar mutu produk atau yang dikenal dengan nama Standar
Nasional Indonesia (SNI) dibentuk pemerintah dengan pertimbangan melindungi
produsen, menunjang ekspor non migas, mendukung perkembangan agroindustri
dan melindungi konsumen.
Undang-undang Republik Indonesia No. 7 tahun 1996 tentang pangan pasal
38 meyatakan bahwa, setiap orang yang memasukkan pangan ke dalam wilayah
Indonesia untuk diedarkan harus bertanggungjawab atas keamanan, mutu, dan gizi
pangan (Syah et al. 2005). Keamanan pangan merupakan kondisi yang diperlukan
untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda
lain dalam penyelenggaraan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan,
pengangkutan, dan atau peredaran pangan demi kepentingan kesehatan manusia.
Mutu pangan dimaksud adalah jaminan yang wajib dilakukan oleh produsen,
sesuai dengan jenis pangan yang diproduksi. Sementara gizi pangan yang
dimaksud dalam ketentuan UU tersebut adalah setiap orang yang memproduksi
pangan olahan tertentu untuk diperdagangkan wajib menyelenggarakan tata cara
pengolahan pangan yang dapat menghambat proses penurunan atau kehilangan
kandungan gizi bahan baku pangan yang digunakan.
Dalam surat keputusan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
Nomor HK.00.023060 tahun 1996 tentang suplemen ditegaskan bahwa,
penandaan (label) tidak boleh mencantumkan (a) klaim efek produk terhadap
kesehatan dan pencegahan atau penyembuhan penyakit; (b) informasi yang tidak
benar dan menyesatkan; (c) perbandingan dengan produk lain; (d) promosi produk
suplemen tertentu; (e) informasi tentang bahan dalam bentuk stiker atau bentuk
lain yang belum disetujui. Penandaan dapat mencantumkan klaim fungsi gizi
dengan ketentuan hanya menjelaskan peran gizi dalam mekanisme tubuh seperti;
kalsium membantu perkembangan tulang gigi yang kuat (BPOM, 1996).
Terkait dengan iklan produk suplemen, dijelaskan dalam UU No. 8 Tahun
1999 tentang Hukum Perlindungan Konsumen bahwa (a) iklan harus sesuai
dengan indikasi jenis produk; (b) iklan tidak boleh menyatakan/memberi kesan
bahwa vitamin dan mineral selalu dibutuhkan untuk melengkapi makanan yang
sudah sempurna nilai gizinya; (c) iklan tidak boleh menyatakan memberi kesan
bahwa penggunaan vitamin/mineral adalah syarat mutlak bagi semua orang;
(d) iklan tidak boleh menyatakan bahwa kesehatan, kegairahan dan kecantikan
akan dapat diperoleh hanya dari menggunakan vitamin dan mineral; (e) iklan tidak
boleh mengandung pernyataan tentang peningkatan kemampuan sex secara
langsung atau tidak langsung (Widjaya dan Yani, 2000).

Mineral Untuk Tubuh (skripsi dan tesis)

Secara alamiah, air telah mengandung bermacam-macam mineral,
seperti fluor, kalsium, magnesium, iodium, natrium, kalium dan lain- lain.
Kadar mineral dalam air minum sangat bervariasi dan terbatas jumlahnya,
yang ditentukan oleh sumber air dan proses pengolahannya, sehingga
beralasan bahwa, mineral sangat penting ditambahkan ke dalam berbagai jenis
produk suplemen. Winarno (1982) mengemukakan bahwa, mineral dapat
dibagi atas mineral makro dan mikro.
Mineral mikro merupakan istilah yang digunakan bagi sisa mineral yang
secara tetap terdapat dalam sistem biologis dalam jumlah sedikit (Winzerling
and Law, 1997). Sementara Fessenden and Fessenden (1997) mengemukakan
bahwa, metabolisme tubuh cenderung memanfaatkan kembali mineral yang
ada di dalam tubuh daripada membuangnya.
Menurut Linder (1992), natrium, klor, kalsium, fosfor, magnesium dan
belerang yang terdapat dalam tubuh cukup besar. Natrium dan klorida
biasanya berhubungan erat, baik sebagai bahan makanan maupun fungsinya
dalam tubuh. Griffith (1988) mengatakan bahwa, natrium dan klorida
membantu mempertahankan tekanan osmotik sehingga cairan tidak keluar dari
darah dan masuk ke dalam sel, disamping membantu menjaga keseimbangan
asam dan basa dengan mengimbangi zat-zat yang membentuk asam, transmisi
syaraf, kontraksi otot dan absorpsi glukosa. Kalsium dalam sel tubuh
berbentuk ion yang berperan pada pembentukan tulang, transmisi impuls
syaraf, kontraksi otot, penggumpalan darah, proses penyerapan vitamin B12,
struktur dan pengaturan permeabilitas membran sel, serta keaktifan enzim
(Winarno, 1982).
Iodium merupakan komponen esensial tiroksin dan kelenjar tiroid
(Griffith, 1988). Ohtaki et al. (1985) mengungkapkan bahwa, tiroksin
mempunyai peran dalam meningkatkan laju oksidasi dalam sel-sel tubuh,
sehingga meningkatkan basal metabolic rate (BMR), menghambat proses
fosforilasi oksidatif, sehingga terbentuknya adenosin tripospat (ATP)
berkurang dan lebih banyak dihasilkan panas.
Kalsium berperan dalam aktivitas enzim, menurunkan permeabilitas
membran sel dan pembuluh kapiler, membantu proses pembekuan atau
koagulasi darah, transmisi impuls syaraf, kontraksi dan kekenyalan otot,
membantu fungsi jantung (Winarno, 1982). Sedangkan kalium berperan
sebagai kation utama dalam cairan intrasel, bergerak dari sel ke cairan
ekstraseluler, berkaitan dengan fungsi sel dan metabolisme, terutama
metabolisme karbohidrat dan penyimpanan glikogen, membantu sintesa
protein, membantu potensi transmembran, berperan terhadap kerja otot,
termasuk otot jantung, dan aktivator enzim.

Pemanis buatan (skrispi dan tesis)

Pemanis buatan yang ditambahkan ke dalam produk suplemen
merupakan pengganti gula, karena mempunyai kelebihan dibandingkan
dengan pemanis alami yaitu rasanya lebih manis, membantu mempertajam
penerimaan terhadap rasa manis, tidak mengandung kalori dan harga lebih
murah. Pemanis buatan yang paling umum digunakan dalam pengolahan
pangan di Indonesia adalah aspartam, sorbitol, sakarin dan siklamat yang
mempunyai tingkat kemanisan masing-masing 30-80 dan 300 kali gula alami
(Syah et al. 2005).
Menurut Permenkes 208/Menkes/Per/IV/85, pemanis buatan hanya
digunakan untuk penderita diabetes dan penderita yang memerlukan diet
rendah kalori, yaitu aspartam, sakarin dan sorbitol. Aspartam merupakan
molekul dipeptida dari asam amino L- fenilalanin sebagai metil ester dan Lasam
aspartat dengan tingkat kemanisan mencapai 160-220 kali sukrosa dan
stabil pada kisaran pH 3 hingga 5, serta titik isoelektriknya 5,2 (Brannen et al,
1990), sementara sakarin yang merupakan pemanis buatan tanpa energi (nonnutritive)
memiliki daya kemanisan 300 kali lipat lebih kuat dibanding gula
(Syah et al, 2005). Menurut Brannen et al, (1990), sorbitol merupakan gula
alkohol yang banyak digunakan sebagai pemanis buatan dalam produk diet
dan juga berguna sebagai humektan maupun penstabil, namun penggunaan
sorbitol dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan flatulensi dan diare,
(Syah et al, 2005) derajat kemanisannya berkisar 50-70% gula dan energi
yang dihasilkan 2,6 kalori per gr.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan Surat
Keputusan Kepala Badan POM No. HK.00.05.5.1.4547 tahun 2004 tentang
Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam
produk pangan. Surat keputusan ini merupakan panduan bagi produsen dalam
menambahkan pemanis buatan untuk produk yang dihasilkan, dan sebagai
rujukan konsumen untuk memilih dan menggunakan produk yang aman bagi
kesehatan.

Kafein (skripsi dan tesis)

Kafein merupakan derivate xantin berbentuk serbuk berwarna putih dan
sedikit rasa pahit yang dapat mempengaruhi sistem syaraf pusat dan otot
sehingga mencegah rasa mengantuk, menaikkan daya tangkap pancaindra,
mempercepat daya pikir dan mempengaruhi rasa lelah (Konarek et al. 1994),
mempengaruhi sistem pernapasan, sistem pembuluh darah dan jantung,
mempercepat laju sperma, serta mempertahankan ereksi, sering dimanfaatkan
untuk menciptakan efek penstimulasi stamina (Ashurst, 1998) dan
menumbuhkan kewaspadaan tingkat tinggi (Martindale, 1997). Oleh karena
itu, setiap mengkonsumsi kopi 85–200 mg atau 1-3 cangkir/hari stamina terasa
meningkat, bersemangat dan tidak mudah lelah atau mengantuk (Yunita,
1997).
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menetapkan kandungan
kafein dalam produk suplemen tidak boleh melebihi 50 mg. Jika dikonsumsi
melebihi dosis, dalam jangka panjang konsumen akan terkena penyakit
jantung, darah tinggi, ginjal dan penyakit gula serta efek kecanduan yang
diindikasikan dengan rasa lesu jika tidak mengkonsumsi produk suplemen
(BPOM, 1996). Hal senada dikemukakan Linder (1992) bahwa, konsumsi
kafein berlebih dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung,
pembengkakan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, peningkatan aktivitas
usus, pengeluaran asam lambung, gagal ginjal, (Martindale, 1997) rasa
gelisah, susah tidur, sering buang air kecil, nafsu makan turun dan iritasi pada
lambung sehingga produksi getah lambung meningkat.

Vitamin (skripsi dan tesis)

Vitamin dibagi atas kelarutannya, yaitu vitamin larut dalam air dan
vitamin larut dalam minyak (Linder, 1992). Sementara Winarno (1982)
mengemukakan bahwa, vitamin yang larut air mudah diserap ke dalam darah,
tidak melalui saluran lymphe dan tidak dapat ditimbun di dalam tubuh.
Vitamin yang ditambahkan ke dalam produk suplemen umumnya berupa
vitamin yang larut dalam air (Hidayat, 2002).
Produk suplemen sebagian besar mengandung multivitamin B dan zat
non gizi, stimulant dan flavouring. Jenis vitamin yang banyak digunakan
adalah vitamin B komplek, yaitu vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), niasin
(asam nikotinat, niasinamida), vitamin B6 (pyridoxine) asam pantotenat,
inositol dan vitamin B12 (Sianokobalamin).
emua bahan pangan baik hewani maupun nabati mengandung vitamin
B1 (tiamin) (Hendler, 2001). Menurut Winarno (1982), tiamin berperan
sebagai koenzim dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi dari
karbohidrat dan memindahkan energi membentuk senyawa kaya energi.
Kekurangan tiamin akan terjadi polyneuritis yang disebabkan terganggunya
transmisi syaraf atau jaringan syaraf menderita kekurangan energi. Hal yang
sama diungkapkan Tallaksen et al. (1997) bahwa, vitamin B1 dikenal esensial
bagi tubuh untuk fungsi pertumbuhan, menambah nafsu makan, memperbaiki
fungsi saluran pencernaan dan memelihara proses kehidupan sel-sel dalam
tubuh. Winarno (1982) mengatakan bahwa, vitamin B2 (riboflavin) larut
dalam air dan memberi warna fluoresens kuning-kehijauan merupakan
komponen suatu sistem enzim yang dikenal sebagai flavoprotein dan terlibat
dalam reaksi-reaksi metabolisme intermediet.
Niasin merupakan dua komponen koenzim, yaitu nicotinamide adenine
dinucleotide (NAD) dan nicotinamide adenine dinucleotide phosphate
(NADP) (Hendler and Rorvik, 2001) yang berfungsi sebagai katalis reaksireaksi
reduksi dan oksidasi guna menjaga sistem syaraf dan sistem
pencernaan, menurunkan kolesterol dan trigliserida dalam darah (Carpenter.
1981), serta menjaga agar suplai energi dalam jaringan tubuh berjalan normal
(Winarno, 1982).
Vitamin B6 (pyridoxine HCl) merupakan kelompok piridina dengan
keasaman tinggi (Winarno, 1982) yang terdiri dari piridoksin, piridoksal dan
piridoksamina (Hanna, 1997). Vitamin B6 berfungsi sebagai koenzim
piridoksal fosfat yang banyak berperan dalam reaksi enzim, terutama dalam
metabolisme asam amino, membantu fungsi otak, produksi energi (Tsuge,
1997), mencegah stress, memacu pembentukan sel darah merah, memelihara
keseimbangan cairan tubuh dan pengaturan eksresi air (Griffith, 1988).
Menurut Winarno (1982), vitamin B12 (sianokobalamin) merupakan senyawa
berbentuk kristal, berwarna merah yang berperan menjaga agar sel-sel
berfungsi normal, terutama sel-sel saluran pencernaan dan sistem syaraf .

Produk Suplemen (skripsi dan tesis)

Produk suplemen pada dasarnya merupakan pangan olahan, karena dalam
Undang-undang Republik Indonesia No. 7 tahun 1996 tentang pangan dikatakan
bahwa, pangan olahan adalah makanan dan minuman hasil proses dengan cara
atau metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan (Syah et al. 2005).
Berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
(BPOM, 1996), minuman suplemen adalah salah satu bentuk produk makanan
suplemen yang mengandung satu atau lebih vitamin, mineral, tumbuhan atau
bahan yang berasal dari tumbuhan, asam amino, bahan yang digunakan untuk
meningkatkan angka kecukupan gizi, atau konsentrat, metabolit, konstituen,
ekstrak, atau kombinasi beberapa bahan tersebut.
Bisnis minuman di Indonesia sedikitnya telah mengalami lima periode
perkembangan. Periode pertama sekitar tahun 60-an ditandai dengan mulai
dipasarkannya jenis minuman soft drink. Sekitar tahun 70-an mulai dikenal
minuman yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya teh botol yang saat itu
sempat menguasai pasaran. Produk tersebut selanjutnya digantikan oleh air
mineral pada tahun 90-an. Periode 1990-1995 dikenal produk baru yang disebut
minuman sari buah (fruit juice) dan akhirnya pada tahun 1995, minuman
kesehatan (suplemen) mulai banyak diproduksi dan dipasarkan (Yunita, 1997).
Berbagai produk minuman baru yang oleh produsen sering disebut sebagai
minuman kesehatan (health drink), meliputi produk yang diklaim sebagai
minuman untuk meningkatkan kesehatan, minuman berenergi tinggi
(energy/stamina drink) atau minuman untuk olahragawan (sport drink), minuman
isotonik (isotonik drink) dan minuman kesehatan dari susu (milk base). Minuman
berenergi dibedakan menjadi dua, yaitu dengan dasar vitamin dan mineral
(vitamin base) dan minuman dengan dasar ginseng (ginseng base). Minuman
isotonik juga dibedakan menjadi dua, yaitu berflavor (flavour base) dan tidak
berflavour (non flavour base) (BPOM, 1996).
Trend produk suplemen telah merambah Indonesia yang ditandai beredarnya
produk Lipovitan produksi PT. Taisho Indonesia (TI). Produk Lipovitan dapat
dikatakan sebagai biangnya, karena sebelum merek-merek seperti Kratingdaeng,
Hemaviton dan Extra Joss, Lipovitan sudah menguasai pasar lebih dari 10 tahun.
Di tengah maraknya produk suplemen, merek Lipovitan yang menjadi pioner
dalam industri produk suplemen justru menurun, walaupun tetap melakukan
upaya pemasaran dan periklanan. Lipovitan tertinggal jauh dibanding produk
suplemen Kratingdaeng, Hemaviton dan Extra Joss. Lipovitan mulai goyah pada
awal 1990-an setelah hadirnya produk suplemen Kratingdaeng dengan
menawarkan cita rasa dan konsep pemasaran yang strategis pada tahun 1993
(Durianto et al, 2004a).
Sementara PT. Bintang Toejoe pada tahun 1994 meluncurkan langkah
spektakuler dengan produk suplemen Extra Joss dalam bentuk serbuk yang di
kemas sachet dengan harga jual murah (Hidayat, 2002). Tiga kekuatan produk
suplemen Extra Joss tersebut mendapat minat konsumen yang umumnya sering
mengkonsumsi produk suplemen dalam bentuk cair kemasan botol dan harga
relatif mahal. Permintaan dan prospek pasar menjanjikan ini, mendorong produsen
lain untuk mencari positioning baru yang berbeda dari produk terdahulu. Salah
satu kelebihan yang ditawarkan produsen adalah komposisi. Hemaviton Energy
Drink produksi PT. Tempo Scan Pacifik memposisikan diri sebagai produk
suplemen yang cenderung memiliki atribut seksualitas, seperti yang melekat pada
produk sebelumnya, Hemaviton kapsul. Tidak dapat dipungkiri (Yunita, 1997),
produk-produk suplemen sangat dekat dengan atribut seksual. Apalagi unsur
ginseng dan madu selain vitamin dijadikan kekuatan utama untuk menstimulasi
stamina. Oleh karena itu, konsumen semakin tertarik untuk mengkonsumsi produk
suplemen, sehingga pertumbuhan produk terus berkembang di Indonesia.
Perkembangan produk suplemen ternyata tidak selalu berjalan lancar. Pada
tahun 2001, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan menarik
empat jenis produk suplemen: Kratingdaeng, Kratingdaeng-S, Galian Bugar dan
M-150 dari peredaran, karena ketidakcocokan antara kandungan produk dengan
label yang tertera.

Komplikasi Diabetes Mellitus Tipe II (skripsi dan tesis)

 

DM tipe II bisa menimbulkan komplikasi. Komplikasi menahun DM merajalela ke mana-mana bagian tubuh. Selain rambut rontok, telinga berdenging atau tuli, sering berganti kacamata (dalam setahun beberapa kali ganti), katarak pada usia dini, dan terserang glaucoma (tekanan bola mata meninggi, dan bisa berakhir dengan kebutaan), kebutaan akibat retinopathy, melumpuhnya saraf mata terjadi setelah 10-15 tahun. Terjadi serangan jantung koroner, payah ginjal neuphropathy, saraf-saraf lumpuh, atau muncul gangrene pada tungkai dan kaki, serta serangan stroke.

Pasien DM tipe II mempunyai risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah otak 2 kali lebih besar, kematian akibat penyakit jantung 16,5% dan kejadian komplikasi ini terus meningkat. Kualitas pembuluh darah yang tidak baik ini pada penderita diabetes mellitus diakibatkan 20 faktor diantaranya stress, stress dapat merangsang hipotalamus dan hipofisis untuk peningkatan sekresi hormonhormon kontra insulin seperti ketokelamin, ACTH, GH, kortisol,dan lainlain. Akibatnya hal ini akan mempercepat terjadinya komplikasi yang buruk bagi penderita diabetes mellitus (Nadesul, 2002).

Faktor resiko Diabetes Mellitus Tipe II (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang diketahui dapat mempengaruhi DM tipe II (Smeltzer & Bare, 2002)  antara lain  kelainan genetik, usia,  gaya hidup stress, dan pola makan yang salah. Secara genetis diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap diabetes, karena gen yang mengakibatkan tubuh tak dapat menghasilkan insulin dengan baik. Berkaitan dengan usia umumnya penderita DM tipe II mengalami perubahan fisiologi yang secara drastis, DM tipe II sering muncul setelah usia 30 tahun ke atas dan pada mereka yang berat badannya berlebihan sehingga tubuhnya tidak peka terhadap insulin.

Gaya hidup stress cenderung membuat seseorang makan makanan yang manis-manis untuk meningkatkan kadar lemak seretonin otak. Seretonin ini mempunyai efek penenang sementara untuk meredakan stresnya. Tetapi gula dan lemak berbahaya bagj mereka yang beresiko mengidap penyakit DM tipe II. Hal ini bisa diperparah oleh pola makan yang salah, karena pada penderita DM tipe II terjadi obesitas (gemuk berlebihan) yang dapat mengakibatkan gangguan kerja insulin (resistensi insulin).Obesitas bukan karena makanan yang manis atau kaya lemak, tetapi lebih disebabkan jumlah konsumsi yang terlalu banyak, sehingga  cadangan gula darah yang disimpan didalam tubuh sangat berlebihan.  Sekitar 80% pasien DM tipe II adalah mereka yang tergolong gemuk

Terapi Farmakologi diabetes (skripsi dan tesis)

Terapi farmakologi dilakukan apabila penatalaksanaan terapi non farmakologi belum berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus. Menurut PERKENI (2006), terapi farmakologi bagi penderita diabetes mellitus dapat diberikan dalam 2 macam, yaitu:

  1. Obat hipoglikemik oral (OHO)

Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan:

1)      Pemicu sekresi insulin

  1. a)Sulfonilurea

Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pancreas dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang, namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang.

  1. b)Glinid

Glinid merupakan obat yang cara kerjanya dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: repaglinid (derivat asam benzoat) dan nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresikan secara cepat melalui hati.

2)      Penambah sensitivitas terhadap insulin

Tiazolidindion

Golongan tiazolidindion mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Pada pasien yang menggunakan golongan obat ini perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala.

3)      Penghambat glukoneogenesis

Metformin

Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin> 1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia.

4)      Penghambat glukosidase alfa (Acarbose)

Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan.

  1. Insulin

Berdasarkan lama kerja, insulin terbagi menjadi 4 jenis, yaitu:

1)      Insulin kerja cepat (rapid acting insulin)

2)      Insulin kerja pendek (short acting insulin)

3)      Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin)

4)      Insulin kerja panjang (long acting insulin)

Terapi Non Farmakologi Untuk Diabets (skripsi dan tesis)

Dalam penatalaksanaan penyakit diabetes mellitus, langkah pertama yang harus dilakukan adalah penatalaksanaan tanpa obat/terapi non farmakologi yang berupa pengaturan diet dan olah raga.

  1. Pengaturan diet

Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan penyakit diabetes mellitus. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak, sesuai dengan kecukupan gizi baik yaitu karbohidrat sebanyak 60-70%,  protein sebanyak 10-15%, dan lemak sebanyak 20-25%

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut dan kegiatan fisik yang pada dasarnya ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).

  1. Olah raga

Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah tetap normal. Prinsipnya tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan asal dilakukan secara teratur akan sangat baik pengaruhnya bagi kesehatan. Olah raga yang disarankan adalah yang bersifat CRIPE (Continuous, Rhytmical, Interval, Progressive, Endurence Training). Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-85% denyut nadi maksimal (220-umur), disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penderita. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan akktivitas reseptor insulin dalam tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).

Diagnosis Diabetss (skripsi dan tesis)

Kriteria diagnosis DM menurut Triplitt, et al. (2005):

  1. Gejala diabetes disertai kadar glukosa dalam plasma darah pada keadaan biasa≥200 mg/dL (11,1 mmol/L). Keadaan biasa ini maksudnya setiap waktu

sepanjang hari tanpa memperhatikan makan terakhir.

b.Kadar glukosa plasma puasa ≥126 mg/dL (7,0 mmol/L). Puasa artinya tidak ada masukan kalori selama minimal 8 jam.

c.Kadar glukosa dalam plasma selama 2 jam setelah pemberian glukosa ≥200 mg/dL ditetapkan dengan oral glucose tolerance test (OGTT). OGTT harus dilakukan dengan proses seperti yang diberikan WHO, yaitu menggunakan cairan glukosa yang setara dengan 75 g glukosa yang dilarutkan dalam air.

Tanda dan gejala (skripsi dan tesis)

Gejala yang khas pada DM yaitu polidipsi (banyak minum), poliphagia (banyak makan) dan poliuria (banyak kencing) disertai keluhan rasa lelah dan kelemahan otot akibat ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi (Corwin, 2007).

Terjadinya hiperosmolaritas yang parah dapat menyebabkan menurunnya tekanan intraokuler yang dapat menyebabkan bola mata dan lensa mata mengalami perubahan bentuk yang kemudian berakibat pada penurunan penglihatan menjadi buram (blurred vision) (Harris dan Greene, 2000).

Patofisiologi Diabetes (skripsi dan tesis)

Pengolahan bahan makanan dimulai dari mulut kemudian ke lambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan, makanan yang terdiri atas karbohidrat dipecah menjadi glukosa, protein dipecah menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan itu diedarkan ke seluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai bahan bakar. Supaya berfungsi sebagai bahan bakar zat makanan itu harus diolah, dimana glukosa dibakar melalui proses kimia yang menghasilkan energi yang disebut metabolisme (Misnadiarly,2006).

Dalam proses metabolisme, insulin memegang peranan penting yaitu memasukkan glukossa ke dalam sel yang digunakan sebagai bahan bakar. Insulin adalah suatu zat atau hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pankreas, bila insulin tidak ada maka glukosa tidak dapat masuk sel dengan akibat glukosa tetap berada di pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat (Misnadiarly,2006).

Pada Diabetes Melitus tipe 1, terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Pasien diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta pankreas. Respons autoimun dipacu oleh aktivitas limfosit, antibodi terhadap sel pulau langerhans dan terhadap insulin itu sendiri (Misnadiarly,2006).

Pada Diabetes Melitus tipe 2, jumlah insulin normal tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah menjadi meningkat (Misnadiarly,2006).

Epidemiologi Diabetes (skripsi dan tesis)

 DM tipe 2 lebih umum terjadi dibandingkan DM tipe 1 dimana lebih dari 75% dari seluruh pasien DM dari suatu populasi menderita DM tipe 2. Kejadian DM tipe 2 meningkat seiring dengan usia dan meningkatnya obesitas dimana DM tipe 2 biasanya terjadi pada pasien yang berusia lebih dari 45 tahun (Walker, 2003).

Prevalensi di Amerika Serikat 6% sampai 7% pada orang berusia 45 sampai 65 tahun dan 10% sampai 12% pada orang berusia lebih dari 65 tahun; sekitar 16 juta orang di Amerika serikat terdiagnosis diabetes, 90% di antara mereka menderita diabetes tipe II. Terdapat peningkatan epidemi diabetes melitus tipe II pada anak muda sesuai dengan peningkatan obesitas dan gaya hidup nyaman (kurang gerak) pada kelompok usia ini (Brashers, 2008).

Klasifikasi Diabetes (skripsi dan tesis)

 

 Beberapa klasifikasi diabetes mellitus, antara lain DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestasional dan DM tipe lain. DM tipe 1 terjadi karena adanya destrtuksi sel beta pankreas yang mengakibatkan terjadinya defisiensi insulin. Diabetes tipe 1 ini dapat muncul disegala usia. DM tipe 2 terjadi karena adanya resistensi insulin atau kekurangan sekresi insulin. DM gestasional merupakan DM yang terjadi karena intoleransi glukosa selama masa kehamilan. DM tipe lain disebabkan oleh kerusakan genetik fungsi sel benta pankreas, endokrinopati, induksi obat atau senyawa kimia, infeksi, atau karena sindrom genetik lainnya (Triplitt, et al., 2005)

Diabetes Mellitus (DM) Tipe II merupakan penyakit hiperglikemi akibat insensivitas sel terhadap insulin.  Kadar insulin mungkin sedikit menurun atau berada dalam rentang normal. Karena insulin tetap di hasilkan oleh sel-sel beta pankreas, maka diabetes mellitus tipe II dianggap sebagai non insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) (Corwin, 2007).

Pengertian Diabetes Mellitus (SKRIPSI DAN TESIS)

Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu kelompok gejala penyimpangan metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein sebagai akibat dari kurangnya insulin, sentitivitas tubuh terhadap insulin atau keduanya yang ditandai naiknya kadar gula dalam darah (Triplitt, Reasner, dan Isley, 2005).

Diabetes mellitus adalah sekelompok sindrom yang ditandai dengan hiperglikemia; perubahan metabolism lipid, karbohidrat dan protein; dan peningkatan kompplikasi penyakit kardiovaskular. (Goodman & Gilman, 2003)

Klasifikasi obat generik (skripsi dan tesis)

Obat generik dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu  obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkasiat yang dikandungnya (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010)  dan obat generik bermerek/bernama dagang adalah obat generik dengan nama dagang yang menggunakan nama milik produsen obat yang bersangkutan (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010).

Obat generik adalah obat yang sama dengan zat berkhasiat yang dikandungnya, sesuai nama resmi International Non Propietary Names yang telah di tetapkan dalam Farmakope Indonesia. Pengertian lain dari Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya (Wakidi, 2009)

Obat generik merupakan obat yang ketersediaannya dalam  jumlah banyak dan jenis yang cukup terjangkau oleh masyarakat serta terjamin mutu dan keamanannya. Obat generik tersebut perlu digerakkan dan didorong penggunaannya di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010).

            Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes /068/I/2010 memuat tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, menimbang :

  1. bahwa ketersediaan obat generik dalam jumlah dan jenis yang cukup, terjangkau oleh masyarakat serta terjamin mutu dan keamanannya, perlu digerakkan dan didorong penggunaannya di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah.
  2. bahwa agar penggunaan obat generik dapat berjalan efektif perlu mengatur kembali ketentuan Kewajiban Menuliskan Resep dan/atau Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah dengan Peraturan Menteri Kesehatan. (Anonim, 2010b)

Permenkes 2010 merupakan penegasan dari Permenkes 1989 yang memuat tentang Kewajiban Menuliskan Resep dan/atau Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Fakta yang ada, kewajiban ini sering diabaikan oleh tenaga kesehatan (dokter dan apoteker) dalam memberikan pelayanan pada pasien. Dokter dan apoteker tetap memberikan obat generik bermerek pada pasien, tanpa melihat daya beli pasien dan masyarakat pada umumnya (Anonim, 2010).

Harga Obat Generik (skripsi dan tesis)

Menurut Menkes, harga obat generik dikendalikan oleh pemerintah untuk menjamin akses masyarakat terhadap obat. (Depkes, 2004) Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) akan merasionalisasikan harga Obat Generik. Menurut Syamsul Arifin Sekretaris Jendral GP Farmasi, itu sudah merupakan kewenangan GP Farmasi untuk melakukan rasionalisasi agar masyarakat umum juga bisa menjangkaunya. (Anonim, 2006)

Produksi dan Distribusi Obat Generik (skripsi dan tesis)

Saat ini obat generik diproduksi oleh perusahaan milik negara, yaitu PT Kimia Farma, PT Indofarma, dan PT Phapros, serta beberapa perusahaan swasta sebanyak 20 perusahaan farmasi swasta yang telah ditunjuk pemerintah dan sudah mendapatkan sertifikat CPOB (Isnawati, 2008) Sebagai produsen obat generik utama, Indofarma dibangun pemerintah untuk melayani kebutuhan rakyat akan obat-obatan dengan harga semurah-murahnya, karena 90 % produknya adalah obat generik (Yanfar, 2006)

Kebijakan pemerintah mengenai obat generik (skripsi dan tesis)

Dalam pemasaran obat di Indonesia, masyarakat dapat memilih antaraobat paten atau obat generik. Namun untuk meningkatkan akses terapi bagi masyarakat yang kurang mampu, pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kebijakan Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah (Menkes,2010). Bila kebijakan penggunaan obat generik dapat diterapkan, maka banyak manfaat yang dapat diperoleh, antara lain dapat menghemat biaya obat.

Mutu obat generik (skripsi dan tesis)

Masyarakat umumnya berpendapat bahwa obat generik adalah obat kelas dua, artinya mutunya kurang bagus. Obat generik pun kerap dicap obat bagi kaum tak mampu karena harganya yang terbilang murah membuat masyarakat tidak percaya bahwa obat generik sama kualitasnya dengan obat bermerk. Kualitas obat generik tidak kalah dengan obat bermerk karena dalam memproduksinya perusahaan farmasi bersangkutan harus melengkapi persyaratan ketat dalam Cara-cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). (Arif,2004)

Para ahli farmasi menyatakan bahwa obat paten dan obat generik sama sekali tidak berbeda, kecuali pada nama dan harganya, harganya yang jauh lebih murah bukan berarti mutunya rendah, atau dibuat dari baku yang bermutu rendah, tetapi karena banyak factor-faktor biaya yang dapat dipangkas dalam produksi dan pemasaran misalnya pada biaya pengemasan dan juga biaya dalam periklanan, selain itu promosi obat ke dokter membuat obat paten mahal.

Pengertian tentang obat generik (skripsi dan tesis)

Ketika suatu industri farmasi mengembangkan obat baru, yang bersangkutan memiliki hak paten selama 15-20 tahun untuk memasarkan obat produknya tanpa diusik industri farmasi lain. Obat yang memiliki hak paten ini lazim disebut obat originator. Setelah masa paten terlewati, industri farmasi lain boleh memproduksi obat yang kandungan zat aktifnya sama. Ini yang disebut sebagai obat generik. Jika obat generik diberi logo, disebut obat generik berlogo (Dwiprahasto, 2010).

Menurut peraturan Menteri Kesehatan RI No. 085/Menkes/Per.1/ 1989 tanggal 28 Januari 1989, yang dimaksud dengan obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkasiat yang dikandungnya.

Pengertian Kesehatan (skripsi dan tesis)

Kesehatan sangat diperlukan oleh manusia untuk dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa ada gangguan yang menghalanginya. Setiap orang ingin selalu sehat itu merupakan hal yang wajar karena karena sempurna apapun keadaan seseorang, bila terkena sakit pasti tidak akan merasa senang dan tidak dapat memanfaatkan segala kemampuan yang dimilikinya tersebut.

Departemen kesehatan dengan bersumber pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa: Sehat adalah sejahtera jasmani, rohani dan sosial bukan hanya bebas dari penyakit, ataupun kelemahan.

Menurut batasan ilmiah dan teori kesehatan WHO, sehat atau kesehatan telah dirumuskan dalam Undang – Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 sebagai berikut : “Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi”. Notoatmodjo (2005:2) menjelaskan kesehatan yaitu:  ‘kesehatan adalah keadaan seseorang dalam kondisi tidak sakit, tidak ada keluhan, dapat menjalankan kegiatan sehari – hari, dan sebagainya.’ ‘Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari fisik, mental dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi’ (Poltekes Depkes 2010:64)

Kesehatan merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Kesehatan (sesuai dengan definisi pada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009) adalah keadaaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Hartini dan Sulasmono, 2010).

Rekam Medis (skripsi dan tesis)

 

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa rekam medis adalah kumpulan keterangan tentang identitas, hasil anamnesis, pemeriksaan, dan catatan kegiatan pelayanan kesehatan atas pasien dari waktu ke waktu. Catatan ini berupa tulisan atau gambar, dan belakangan ini dapat berupa pula rekaman elektronik, seperti komputer, mikrofilm,  dan rekaman suara (Tunggal 2010).

Bila ditelusuri lebih jauh, rekam medis mempunyai hukum kedisiplinan dan etik petugas kesehatan, kerahasiaan, keuangan, mutu mutu serta manajemen rumah sakit dan audit medis. Secara umum kegunaan rekam medis adalah sebagai berikut: (Tunggal 2010).

  1. Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ikut ambil bagian dalam memberi pelayanan, pengobatan dan perawatan pasien
  2. Sebagai dasar untuk perencanaan pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada pasien.
  3. Sebagai bukti tertulis berkunjung/dirawat dirumah sakit.
  4. Sebagai dasar analisa, studi, evaluasi terhadap mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien.
  5. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun dokter dan tenaga kesehatan lainnya.
  6. Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitian dan pendidikan.
  7. Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan medis pasien.
  8. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan.

Rumah Sakit (skripsi dan tesis)

Rumah sakit adalah institusi (atau fasilitas) yang menyediakan pelayanan pasien rawat inap, ditambah dengan beberapa penjelasan lain. Sementara itu, Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992 menyebutkan bahwa rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik, dan subspesialistik (Tunggal 2010).

            Fungsi rumah sakit berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 pasal 5 sebagai berikut :

  1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
  2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
  3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
  4. Penyelengaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

Peresepan Antibiotik Irasional (Rani 2010) (skripsi dan tesis)

Penggunaan obat yang tidak rasional (irasional) merupakan masalah yang kadang-kadang terjadi karena maksud baik dan perhatian dokter. Menurut departemen kesehatan peresepan irasional dapat dikelompokkan menjadi :

1).  Peresepan berlebih (over prescribing), yaitu jika memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan untuk penyakit yang bersangkutan, misalnya pemberian vitamin sementara pasien tidak menunjukkan gejala defisiensi  vitamin.

2). Peresepan kurang (under prescribing), yaitu jika pemberian obat kurang dari yang seharusnya diperlukan, baik dalam dosis jumlah maupun lama pemberian. Tidak diresepkan obat yang tidak diperlukan untuk penyakit yang diderita juga termasuk dalam ketegori ini.

3). Peresepan majemuk (multiple prescribing), yaitu mencakup pemberian beberapa obat untuk indikasi yang sama.

4). Peresepan salah (incorect prescribing), yaitu mencakup pemberian obat untuk indikasi yang keliru, pada kondisi yang sebenarnya kontra indikasi pemberian obat, memberikan kemungkinan resiko efek samping yang lebih, pemberian informasi yang keliru mengenai obat yang diberikan pada pasien dan sebagainya.

Konsep Penggunaan Obat Yang Rasional (Rational Drug Therapy/RDT (Priyanto 2009) (skripsi dan tesis)

  1.    

1). Pemilihan obat yang tepat yaitu : efektif, aman, dan dapat diterima dari segi mutu dan biaya serta diresepkan pada waktu yang tepat, dosis yang benar, cara pemakaian yang tepat, dan jangka waktu yang benar.

2).  Menurut WHO : penggunaan obat yang efektif, aman, murah, tidak polifarmasi, individualisasi, pemilihan obat atas dasar-dasar obat yang telah ditentukan bersama.

3).  Pemberian obat yang rasional adalah pemberian obat yang mencakup hal-hal sebagai berikut (Rani D 2010)

a). Tepat diagnosis

Penggunaan obat disebut rasional jika diberikan untuk diagnosis yang tepat.

b). Tepat indikasi

Setiap obat memiliki spectrum terapi yang spesifik. Antibiotik , misalnya diindikasikan untuk infeksi bakteri.

c). Tepat obat

Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis ditegakkan dengan benar. Dengan demikian obat yang dipilih haruslah yang memiliki efek terapi sesuai dengan spectrum penyakit.

d). Tepat dosis

Dosis yang tidak tepat dapat menyebabkan kegagalan terapi atau timbul efek berbahaya. Kesalahan dosis sering terjadi pada pasien anak-anak, lansia atau orang obesitas. Pada pasien tersebut paramedis harus mengerti cara mengkonversi dosis dari orang dewasa normal.

e).     Tepat rute

Jalur atau rute pemberian obat adalah jalur obat masuk kedalam tubuh. Jalur pemberian yang salah dapat berakibat fatal atau minimal obat-obat yang diberikan tidak efektif.

f). Tepat interval waktu pemberian

          Cara pemberian obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan praktis agar mudah ditaati oleh pasien.

g). Tepat lama pemberian

          Lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya masing-masing.

h).  Tepat dokumentasi

Aspek dokumentasi sangat penting dalam pemberian obat karena sebagai sarana untuk evaluasi. Dokumentasi pemberian obat yang harus dikerjakan meliputi nama obat, dosis, jalur pemberian, tempat pemberian, alasan kenapa obat di berikan, dan tandatangan yang memberikan.

Dosis Antibiotik Pada Anak (Priyanto 2009) (skripsi dan tesis)

Usia, berat badan, luas permukaan tubuh atau kombinasi faktor-faktor ini dapat digunakan untuk menghitung dosis anak dari dosis dewasa. Dari usia, berat badan (BB), luas permukaan tubuh (LPT), perhitungan dosis berdasarkan LPT adalah yang paling tepat. Kesulitan yang sering timbul dalam menghitung dosis berdasarkan LPT adalah menemukan tinggi badan dan berat badan secara akurat pada anak yang sedang sakit.Selain itu, kebanyakan informasi dosis dari industri untuk kebanyakan obat adalah berdasarkan berat badan.

Dalam menghitung LPT dapat berdasarkan nomogram west atau berdasarkan rumus berikut, yaitu berdasarkan akar hasil perkalian antara tinggi badan (TB) dengan berat badan (BB).

LPT = √TB (cm) x BB (kg)

                        3600

Selain itu juga dapat digunakan pedoman praktis seperti pada tabel berikut :

Tabel 2.  Dosis Neonatus dan Anak Berdasarkan Usia dan Berat Badan (BB)(Priyanto 2009)

Usia Berat badan (Kg) Dosis anak *

(% dosis dewasa)

Neonatus 3,4 <12,5
1 bulan 4,2 <14,5
3 bulan 5,6 18
6 bulan 7,7 22
1 tahun 10 25
3 tahun 14 33
5 tahun 18 40
7 tahun 23 50
12 tahun 37 75

*   Dihitung berdasarkan luas permukaan tubuh.

*   Untuk neonatus sampai 1 bulan gunakan dosis lebih rendah lagi, sesuai keadaan klinik pasien.

Antibiotik Untuk ISPA (skripsi dan tesis)

1).  Sefalosforin generasi III

Sefalosforin termasuk antibiotik beta-laktam dengan struktur, khasiat dan sifat yang banyak mirip dengan penisilin.Obat ini umumnya kurang efektif terhadap kuman gram positif dibandingkan sefalosforin generasi pertama, tetapi lebih aktif terhadap Enterobacteriaceaesp dan Pseudomonas aeruginosa (Sukandar 2008). Golongan sefalosforin generasi ketiga yang umum digunakan dalam terapi infeksi saluran pernafasan akut adalah :

  1. Sefiksim

          Sefiksim merupakan antibiotik golongan sefalosforin generasi ketiga yang diberikan secara oral.Obat ini biasa digunakan untuk terapi infeksi saluran kemih, otitis media, dan bronkhitis (Gunawan 2007).

  1. Seftriakson

Obat ini aktif terhadap kuman gram positif. Waktu paruhnya mencapai 8 jam (Gunawan 2007). Obat ini umum digunakan untuk infeksi saluran pernafasan akut (BPOM RI 2008).

  1. Sefotaksim

Sefotaksim bersifat anti pseudomonas sedang dan biasa digunakan untuk terapi infeksi karena kuman gram negatif (Tjay dan Kirana 2007). Obat ini umum digunakan untuk infeksi saluran pernafasan akut (Depkes 2005).

2).  Kotrimoksazol

Kotrimoksazol merupakan antibiotik golongan sulfonamida.Kombinasi ini dari sulfametoksazol dan trimetoprim bersifat bakterisid (Tjay dan Kirana 2007). Obat ini efektif terhadap bronkhitis, otitis media, dan sinusitis. Tetapi tidak dianjurkan untuk mengobati faringitis karena tidak dapat membasmi mikroba (Gunawan 2007).

3).  Klaritromisin

Klaritromisin adalah antibiotik golongan makrolida yang diindikasikan untuk infeksi saluran pernafasan (BPOM RI 2008). Efek samping berupa iritasi saluran pencernaan, lebih jarang dibandingkan eritromisin (Gunawan 2007).

4). Amoksisilin

Amoksisilin memiliki aktivitasyang sama dengan ampisilin. Obat ini diabsorbsi baik bila digunakan per oral dan tidak terganggu dengan adanya makanan, biasanya digunakan untuk penderita bronkhitis dan infeksi saluran kemih (Gunawan 2007).

5). Klindamisin

Clindamycin merupakan antibiotik makrolide yang termasuk ke dalam kelas lincosamide, dan Clindamycin seringkali digunakan untuk infeksi bakteri anaerob. Clindamycin bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri dengan menghambat translokasi ribosomal, Clindamycin dapat digunakan pada infeksi anaerob seperti abses, bisul/furuncle, infeksi pada gigi (pulpitis, abses periapikalis, gingivitis, dan paska operasi / pencabutan gigi), infeksi saluran nafas, infeksi jaringan lunak dan peritonitis. (Gunawan 2007).

Penggolongan Antibiotik (skripsi dan tesis)

Berdasarkan mekanisme kerjanya,antibiotik dibagi dalam lima kelompok yaitu :

  1. Menghambat metabolisme sel mikroba.

Antimikroba yang termasuk kelompok ini adalah sufonamid dan trimetoprim.

  1. Menghambat sintesis dinding sel mikroba

Obat yang termasuk kelompok ini ialah penisilin, sefalosforin dan basitrasin.

  1. Mengganggu permeabilitas membran sel mikroba

Obat yang termasuk kelompok ini ialah polimiksin dan golongan polien.

  1. Menghambat sintesis protein mikroba

Obat yang termasuk kelompok ini ialah golongan makrolid, tetrasiklin dan kloramfenikol.

  1. Menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba

Obat yang termasuk kelompok ini ialah golongan aminoglikosid, makrolid, tetrasiklin dan kloramfenikol (Gunawan 2007).

Pengertian Antibiotik (skripsi dan tesis)

Antibiotik (Anti = lawan, bios = hidup) adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi atau bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil (Tjay dan Kirana 2007).

Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia, ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif mungkin.Artinya, obat tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes (Gunawan 2007).

Terapi Antibiotik Untuk ISPA Anak (skripsi dan tesis)

Tabel 1. Terapi Antibiotik untuk Anak ISPA Menurut Dipiro (2009)

Penyakit Antimikroba
Bronkitis Amoksisilin 3×250 mg/kg/hari
Seftazidim 3x150mg/kg/hari
Faringitis Amoksisilin 40-50 mg/kg/hari (dalam 3 dosis)
Eritromisin 40mg/kg/hari (dalam 2 dosis)
Sefaleksin 25-50 mg/kg/hari (dalam 4 dosis)
Otitis media Amoksisilin 80-90 mg/kg/hari (dalam 2 dosis)
Klindamycin 30–40 mg/kg /hari (dalam 3 dosis)
Seftriakson 50mg/kg/hari
Pnemunia Klaritromisin 15mg/kg/hari
Seftazidim 150mg/kg/hari
Seftriakson 50-75mg/kg/hari
Sefotaksim 75mg/kg/hari
Sinusitis Amoksisilin 40-50 mg/kg/hari (dalam 3 dosis)
Kotrimoksazol 36-48mg/kg/hari ( dalam 2 dosis)
Klaritromisin 15mg/kg/hari (dalam 2 dosis)
Sefiksim 18mg/kg/hari (dalam 2 dosis)
Klindamycin 30–40 mg/kg /hari (dalam 3 dosis)

 

Pencegahan ISPA (Dini 2010)

Beberapa upaya untuk mencegah ISPA menurut Departemen Kesehatan (Depkes) tahun 2005 antara lain :

  1. Pemberian imunisasi, yaitu imunisasi campak pada usia 9bulan.
  2. Perbaikan gizi anak.
  3. Menjauhkan anak dari penderita ISPA.
  4. Menjaga agar lingkungan tempat tinggal tetap bersih dan menjaga kesehatan perorangan.

Penatalaksanaan ISPA (Hera 2010) (skripsi dan tesis)

   Menurut pedoman penatalaksanaan penyakit ISPA Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008, klasifikasi ISPA berdasarkan derajat keparahan penyakit, yaitu ISPA ringan, ISPA sedang dan ISPA berat.

1)      Infeksi Saluran Penafasan Akut ringan / non pneumonia :

Penatalaksanaannya cukup dilakukan di rumah tidak perlu dibawa kedokter atau puskesmas, cukup diberi obat yang dijual bebas di toko atau apotik.

2)      Infeksi Saluran Pernafasan Akut sedang :

Penatalaksanaannya memerlukan pengobatan dengan antimikroba, tetapi tidak dirawat. Tanda dan gejala : suhu lebih dari 39°C, pernafasan lebih dari 50 kali/menit, tenggorokan berwarna merah, pernafasan berbunyi seperti mendengkur atau mencuit-cuit dan telinga sakit.

3)      Infeksi Saluran Pernafasan Akut berat :

Penatalaksanaannya harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas karena perlu mendapat perawatan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan infus. Tandadan gejala : Bibir atau kulit membiru, tidak sadar atau kesadarannya menurun, pernafasan berbunyi mengorok dan tampak gelisah.

Etiologi ISPA (skripsi dan tesis)

Etiologi  ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan ricketsia. Bakteri penyebabnya adalah antara lain Streptococcus, Haemofilus, Bordetelia, dan Corynebacterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Miscovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, dan Herpesvirus (Kunoli 2013).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut Bawah (ISPAb) (skripsi dan tesis)

a). Bronkhitis

                   Inflamasi pada cabang trakheobronkial tidak termasuk alveoli.Tanda dan gejala dari bronkhitis akut adalah batuk, pilek, pusing, demam jarang hingga 390C. Batuk merupakan tanda utama dari bronkhitis, frekuensi batuk non produktif, tetapi berkepanjangan.Bronkhitis disebabkan oleh virus (Rhinovirus, Adenovirus) dan bakteri (Myoplasma pneumonia, Chlamydia pneumonia, Bordetella pertussis) (Sukandar dan Retnosari 2008). Diagnosis bronkhitis dilakukan dengan cara: Tes C-reactif protein (CRP) dengan sensitifitas sebesar 80-100%, namun hanya menunjukkan 60-70% spesifitas dalam mengidentifikasi infeksi bakteri. Metode lainnya adalah pemeriksaan sel darah putih (Depkes RI 2005).

  b). Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial. Walaupun banyak pihak yang sependapat bahwa pneumonia merupakan suatu keadaan inflamasi, namun sangat sulit untuk membuat suatu definisi tunggal yang universal. Pneumonia didefinisikan berdasarkan gejala dan tanda klinis, serta perjalanan penyakitnya. World Health Organization (WHO) mendefinisikan pneumonia hanya berdasarkan penemuan klinis yang didapat pada pemeriksaan inspeksi dan frekuensi pernapasan. Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah di berbagai negara terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Insidens pneumonia pada anak.

Gejala berupa demam meningkat, batuk produktif sputum berwarna atau berdarah, nyeri dada, dan takikardia. Diagnosis berupa tes thorax dan tes darah (leukositosis meningkat, gas darah O2 arteri rendah). Amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada anak <5 tahun. Antibiotik intravena yang danjurkan adalah: ampisilin dan kloramfenikol, co-amoxiclav, ceftriaxone, cefuroxime, dan cefotaxime (IDAI, 2009).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut atas (ISPA ) (skripsi dan tesis)

a). Sinusitis

Sinusitis adalah infeksi pada sinus yang disebabkan oleh streptococcus pneumonia 30-40% dan haemophilus influenza 20-30%.Gejala umum dari sinusitis yaitu, keluarnya cairan kental berwarna dari hidung, sumbatan di hidung, nyeri pada muka, sakit gigi, dan demam.Gejala tersebut dapat sembuh sendiri dalam 48 jam, bila tidak membaik maka dilakukan pemberian antibiotik dengan lama terapi 10-14 hari (Sukandar dan Retnosari 2008).Penegakan diagnosis adalah melalui pemeriksaan THT, dilanjutkan dengan kultur dan dijumpai lebih dari 104/ml koloni bakteri, pemeriksaan x-ray dan CT scan (Depkes RI 2005).

b). Faringitis

                  Faringitis adalah inflamasi faring dan jaringan sekitarnya akibat infeksi virusdanbakteri(streptococcus pyogenes).Gejala umum berupa sakit tenggorokan, disfagia (kesulitan menelan), dan demam (Sukandar dan Retnosari 2008). Didiagnosis dengan cara pemeriksaan tenggorokan, kultur swab tenggorokan, pemeriksaan kultur memiliki sensivitas 90-95% dari diagnosis, sehingga diandalkan sebagai penentu faringitis (Depkes RI 2005).

c). Otitis Media

Otitis media adalah peradangan telinga tengah yang gejala dan tanda-tandanya muncul cepat. Manifestasi klinik berupa lebih dari 1gejala: gangguan pendengaran, demam dan adanya cairan pada telinga bagian tengah. Bakteri penyebab berupa streptococcus pneumonia 35% dan haemophilus influenza 25% (Sukandar dan Retnosari 2008). Diagnosis dengan melihat membran timpani menggunakan otoscope.Teslainnya dengan mengukur kelenturan membran timpani dengan tympanometer

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (skripsi dan tesis)

    

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Kunoli 2013).

Menurut WHO, ISPA adalah suatu penyakit saluran pernafasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya dan lingkungan (WHO 2007).

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2007) istilah ISPA mengandung tiga unsur, yaitu infeksi, saluran pernafasan, dan akut. Batasan masing-masing unsur adalah sebagai berikut :

  1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
  2. Saluran pernafasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ sinus, rongga telinga tengah, dan pleura.

Infeksi akut adalah 

Prevalensi TB-HIV (skripsi dan tesis)

Pada daerah dengan angka prevalensi
HIV tinggi atau di populasi dengan
kemungkinan koinfeksi TB-HIV, konseling
dan pemeriksaan HIV diindikasikan untuk
seluruh penderita TB secara rutin. Pada
daerah dengan angka prevalensi HIV
rendah, konseling dan pemeriksaan HIV
hanya diindikasikan pada pasien TB dengan
keluhan dan tanda yang diduga
berhubungan dengan HIV dan pada pasien
TB dengan riwayat resiko tinggi terpajan
HIV. TB paru yang memerlukan uji HIV
yaitu : riwayat perilaku resiko tinggi
tertular HIV, hasil pengobatan OAT tidak
memuaskan, MDR TB / TB kronik.
Pemeriksaan minimal yang perlu
dilakukan untuk memastikan diagnosis TB
paru adalah pemeriksaan BTA sputum, foto
thorax dan bila memungkinkan pemeriksaan
CD4.
Diagnosis dibuat berdasarkan riwayat
penyakit, pemeriksaan langsung sputum 3
hari berturut-turut, faktor resiko HIV, foto
thorak terlihat pembesaran kelenjar hilus,
infiltrat di apek paru, efusi pleura, kavitas
paru atau gambaran TB milier. Sensitivitas
pemeriksaan sputum BTA pada penderita
HIV/ AIDS sekitar 50%, tes tuberkulin
positif pada 30 – 50% pasien HIV/AIDS
dengan TB.
Diagnosis presumtif ditegakkan
berdasarkan ditemukannya basil tahan asam
(BTA) pada spesimen dengan gejala sesuai
TB atau perbaikan gejala setelah terapi
OAT. Diagnosis definitif TB pada penderita
HIV/AIDS adalah dengan ditemukannya
MTB pada pembiakan spesimen

Manifestasi klinis TB pada HIV/AIDS (skripsi dan tesis)

Manifestasi klinis TB pada HIV/AIDS
menyerupai akibat infeksi lain, berupa
demam berkepanjangan (100%), penurunan
berat badan dramatis (74%), batuk (37%),
diare kronis (28%), meningitis (12%), sesak
nafas (5%), Hematochezia (3,5%), Obstruksi
saluran cerna (2,6%). Menurut WHO
manifestasi koinfeksi dapat ditinjau dari
keluhannya berupa infeksi menular seksual,
herpes zoster (sering disertai jaringan parut),
pneumonia (baru atau rekuren), infeksi
bakteri berat, baru masuk program terapi OAT, penurunan berat badan > 10% dari
berat badan basal, diare kronis > 1 bulan,
nyeri retrospinal saat menelan (curiga
kandidiasis esophageal), kaki terasa panas
akibat neuropati perifer sensorik. Sedangkan
gejala yang timbul berupa jaringan parut
akibat herpes zoster, rash kulit popular dan
gatal, sarkoma kaposi, limpadenopati
generalisata simetris, kandidiasis oris,
kheilitis angularis, gingivitis necrotizing,
ulserasi aphthous besar, ulserasi genital
dengan nyeri persisten.
Radiologis : Hasil pemeriksaan radiologi
paru sangat tergantung pada luas dan
beratnya kerusakan serta penyulitnya.
Laboratoris : Pada infeksi dini (CD4 >
200/mm3), sputum mikroskopis sering
positif dibandingkan pada infeksi lanjut
(CD4 < 200/mm3) yang sering negative,
keadaan mikrobakteremia dijumpai pada
infeksi lanjut.

HUBUNGAN TB DAN HIV (skripsi dan tesis)

MTB mempunyai komponen penting
yaitu Lipoarabinomannan (LAM) yang
memiliki kemampuan luas menghambat
pengaruh imunoregulator. LAM merupakan
kompleks heteropolisakarida yang tersusun
dari pospatidilinositol, berperan langsung
dalam pengendalian pengaruh sistem imun
sehingga MTB tetap mampu
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Dalam upaya mempertahankan
kehidupannya tersebut MTB juga menekan
proliferasi limfosit T, menghambat aktivitas
makrofag, dan menetralisasi pengaruh toksik
radikal bebas. Di sisi lain LAM
mempengaruhi makrofag dan sebagai
induktor transkripsi mRNA sehingga
mampu menginduksi produksi dan sekresi
sitokin termasuk TNF, granulocyte macrophage- CSF, IL-1α, IL-1β, IL-6, IL-8
dan IL-10. Pengaruh sitokin tersebut
menghambat peran antimikrobial, memicu
gejala demam, mengakibatkan nekrosis
jaringan. Tetapi LAM tidak menginduksi
transkripsi mRNA dari sitokin yang
mestinya diproduksi limfosit seperti
limfositokin, IFN-γ, IL-2, IL-3, IL-4.
Struktur yang lebih sederhana dari LAM
adalah Limpomannan (LM) dan
phosphatidylinositol mannosides (PIM). LM
tidak memiliki Arabian, sementara PIM
memiliki arabain dan residu mannan. LAM,
LM dan PIM menginduksi transkripsi
mRNA sitokin sehingga dapat memicu
munculnya manifestasi klinis tuberkulosis
seperti demam, penurunan berat badan,
nekrosis jaringan dan kakeksia. Ada tiga
mekanisme yang menyebabkan terjadinya
TB pada penderita HIV, yaitu reaktivasi,
adanya infeksi baru yang progresif serta
terinfeksi. Penurunan CD4 yang terjadi
dalam perjalanan penyakit infeksi HIV akan
mengakibatkan reaktivasi kuman TB yang
dorman. Data dari Rwanda dan Zaire
menunjukkan bahwa pengidap HIV yang
telah pernah terinfeksi TB (Mtx positif)
ternyata 20 kali lebih sering mendapat TB.
Pada penderita HIV jumlah serta
fungsi sel CD4 menurun secara progresif,
serta gangguan pada fungsi makrofag dan
monosit. CD4 dan makrofag merupakan
komponen yang memiliki peran utama
dalam pertahanan tubuh terhadap
mikobakterium. Salah satu aktivator
replikasi HIV di dalam sel limfosit TB
adalah tumor necrosis factor alfa. Sitokin ini
dihasilkan oleh makrofag yang aktif dan
dalam proses pembentukan jaringan
granuloma pada TB. Kadar bahan ini 3-10
kali lebih tinggi pada mereka yang terinfeksi
TB dengan HIV-AIDS dibandingkan dengan
yang terinfeksi HIV saja tanpa TB.
Tingginya kadar tumor necrosis factor alfa
ini menunjukkan bahwa aktivitas virus HIV
juga dapat meningkat, yang artinya
memperburuk perjalanan penyakit AIDS.
Pada penelitian lain dijumpai adanya
peningkatan kadar beta 2 mikroglobulin
pada penderita HIV/AIDS dengan TB.
Acquired immune deficiency
syndrome (AIDS) disebabkan oleh HIV
adalah virus sitopatik diklasifikasikan dalam
famili Retroviridae, subfamili Lentivirinae,
genus Lentivirus. Berdasarkan strukturnya
HIV termasuk famili retrovirus obligat
intraseluler dengan replikasi sepenuhnya di
dalam sel host, dan merupakan virus RNA
dengan berat molekul 9,7 kb (kilobase ).
Maifestasi TB pada HIV dapat berupa
TB paru atau infeksi di luar paru. TB ekstra
pulmonal lebih sering terjadi pada penderita
HIV sampai 70% dibanding populasi
umum, dapat berupa limfadenitis TB, infeksi
pada saluran genital, saluran kencing,
susunan saraf pusat dan sumsum tulang,
biasanya terjadi pada CD4 <400 sel /mm3.
Di negara maju resiko terinfeksi MTB pada
penderita HIV adalah 50% sedangkan orang
dengan HIV negatif hanya 5-10%. Di Asia
Tenggara, infeksi sekunder TB mencapai
40%, pada tahun 2005 di UPIPI RSU Dr
Soetomo men manifestasi AIDS akibat
infeksi sekunder TB paru mencapai 25-83%.

GAMBARAN RADIOLOGI TUBERCOLOSIS (skripsi dan tesis)

Tidak ada gambaran khas TB pada
paru, secara radiologis TB dapat memberi
gambaran bermacam-macam, dapat berupa :
a) Bayangan lesi di lapangan atas paru atau
segmen apical lobus bawah. b) Bayangan
berawan atau berbercak. c) Adanya kavitas
tunggal atau ganda. d) Bayangan bercak
milier. e) Bayangan efusi pleura umumya
unilateral. f) Destroyed lobe sampai
destroyed lung. g) Kalsifikasi. h) Schwarte
Luas proses yang tampak pada foto
thoraks dapat dinyatakan sbb : a) Lesi
minimal: bila proses mengenai sebagian
kecil dari satu atau dua paru dengan luas
tidak lebih dari volume paru yang terletak di
atas chondrosternal junction dari iga kedua
dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis
IV atau korpus vertebrs torakalis V dan tidak
dijumpai kavitas. b) Lesi sedang : proses
penyakit lebih luas dari minimal dan dapat
menyebar dengan densitas sedang, tetapi
luas proses tidak boleh lebih luas dari satu
paru, atau jumlah seluruh proses yang ada
paling banyak seluas satu paru atau bila
proses tuberculosis tadi mempunyai densitas
lebih padat, lebih tebal, maka luas proses
tidak boleh lebih dari sepertiga luas satu
paru dan proses ini dapat/tidak disertai
kavitas. Bila disertai kavitas, maka luas
semua kavitas (diameter) tidak boleh lebih
dari 4 cm. c) Lesi luas : kelainan lebih luas
dari lesi sedang.

PATOFISIOLOGI TUBERKULOSIS (skripsi dan tesis)

TB primer : Mikobakterium
Tuberkulosis (MTB) yang mengalami
inhalasi melalui saluran napas mencapai
permukaan alveoli, MTB tumbuh serta
berkembang biak dalam sitoplasma
makrofag dan membentuk sarang tuberkel
pneumonik yang disebut sarang primer atau
kompleks primer. Melalui aliran limfe MTB
mencapai kelenjar limfe hilus. Dari sarang
primer akan timbul peradangan saluran
getah bening menuju hilus (limfangitis
lokal) dan diikuti pembesaran kelenjar getah
bening hilus (limfadenitis regional). Sarang
primer ditambah limfangitis lokal ditambah
limfadenitis regional dikenal sebagai
kompleks primer.
Idea Nursing Journal Mulyadi,dkk
163
TB post primer : Infeksi MTB post
primer akan muncul beberapa bulan atau
tahun setelah terjadi infeksi primer karena
reaktivasi atau reinfeksi. Hal ini terjadi
akibat daya tahan tubuh yang lemah. Infeksi
tuberkulosis post primer dimulai dengan
sarang dini yang umumnya terdapat pada
segmen apikal lobus superior atau lobus
inferior dengan kerusakan paru yang luas
dan biasanya pada orang dewasa.
Patogenesis dan manifestasi patologi
tuberkulosis paru merupakan hasil respon
imun seluler dan reaksi hipersensitiviti tipe
lambat terhadap antigen kuman tuberkulosis,
perjalanan infeksi tuberkulosis terjadi
melalui 5 tahap.
Wallgreen membuat suatu skema fase
perjalanan dan penyebaran TB primer yang
mengikuti suatu pola tertentu yang meliputi
empat tahapan sebagai berikut :
Tahap pertama : terjadi rata-rata 3-8
minggu setelah masuknya kuman,
memberikan test tuberculin yang positif,
disertai demam dan pada fase ini terbentuk
komplek primer.
Tahap kedua : berlangasung ratarata
3 bulan (1-8 bulan) sejak pertama
kuman masuk. Pada fase ini sering
terjadi penyebaran milier atau terjadi
meningitis TB.
Tahap ketiga : terjadi rata-rata
dalam 3-7 bulan (1-12 bulan), pada fase ini
terjadi penyebaran infeksi ke pleura.
Tahap keempat : rata-rata dalam
waktu 3 tahun (1 – 6 tahun), terjadi setelah
komplek primer mereda, tahap ini
merupakan periode skeletal.
Penyebaran dan perkembangannya
tidak harus mengikuti tiap tahap, adakalanya
dengan cepat menuju tahap lanjut.

Studi kohort retrospektif (skripsi dan tesis)

Studi kohort retrospektif dilakukan dengan menggunakan dua kelompok yaitu kelompok studi (sekelompok orang yang terpajan pada faktor risiko) dan kelompok kontrol (sekelompok orang yang tidak terpajan faktor risiko). Kedua kelompok itu selanjutnya diikuti terus-menerus selama periode waktu tertentu untuk memastikan apakah individu yang terpajan atau tidak terpajan faktor risiko itu terjadi keluaran atau tidak. Kegunaan studi kohort adalah untuk memberikan informasi yang pasti mengenai faktor etiologi, terutama pada penyakit yang kronik, dan untuk mengukur asosiasi berbagai tingkatan faktor risiko dengan penyakit (Chandra, 2008).

Faktor-faktor yang mempengaruhi outcome terapi. (skripsi dan tesis)

Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan baik di Indonesia ataupun di luar negeri didapatkan beberapa hasil.

  1. Faktor yang mempengaruhi outcome terapi CD4

1). Jenis kelamin

Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan dengan peningkatan jumlah CD4. Gandhi et al., (2006) di Italia melaporkan bahwa perempuan memiliki median jumlah CD4 yang meningkat sebesar 346 sell/mm 3 dibandingkan laki-laki dengan median jumlah CD4 yang meningkat hanya sebesar 282 sell/mm3 (p=0.02) pada minggu ke 144 terapi. Di Indonesia, Yuneti (2014) melaporkan bahwa perempuan lebih besar dalam peningkatan CD4>350 sell/mm3 dibandingkan dengan lakilaki (p=0,001). Sebaliknya Diego et al., (2008) di Peru melaporkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan peningkatan jumlah CD4.

2). Umur

Beberapa penelitian melaporkan bahwa usia yang lebih tua mempunyai peningkatan CD4 yang lebih baik dibandingkan usia yang lebih muda. Kaufman (2005) di Swiss melaporkan bahwa pasien dengan usia 36,5 tahun mempunyai hubungan yang mempengaruhi peningkatan jumlah CD4 >500 sel/mm3 selama 5 tahun pengobatan ARV. Prisilia (2012) di Depok melaporkan bahwa pasien dengan usia >30 tahun mengalami peningkatan CD4 lebih besar dibandingkan usia250 sel/mm3 .

3). Pendidikan

Pendidikan diduga mempengaruhi hasil pengobatan. Berdasarkan penelitian Alvarez (2012) di India melaporkan bahwa pendidikan rendah terkait dengan hasil akhir (peningkatan CD4) pada pasien yang melakukan pengobatan ARV. Yuneti (2014) melaporkan bahwa pendidikan rendah mengalami kenaikan jumlah CD4 lebih besar daripada pendidikan tinggi tapi tidak bermakna.

4). Jumlah CD4 awal

Jumlah CD4 awal yang tinggi pada pasien HIV dengan terapi ARV dihubungkan dengan kenaikan jumlah CD4 yang lebih besar. Boris (2012) di Afrika melaporkan bahwa pasien dengan jumlah  CD4 awal 200 sel/m3 dan 2x tidak mengalami peningkatan jumlah CD4 >500 sel/mm3 selama 12-30 bulan terapi ARV. Sebaliknya Muzah (2012) melaporkan bahwa selama 13 bulan terapi ARV, pasien dengan jumlah CD4 ≥200 sel/mm3 berhubungan dengan peningkatan CD4 lebih besar dibandingkan jumlah CD4 ≤200 sel/mm3 .

  1. Faktor yang mempengaruhi outcome terapi berat badan

HIV yang menyerang sel CD4 menyebabkan sel tersebut menurun secara terus menerus, sehingga jika tidak diobati maka akan terjadi imunocompromised dan mudah terkena infeksi lainnya. Tubuh berada pada kondisi yang sulit untuk mempertahankan metabolismenya karena infeksi itu sendiri, dan akhirnya tubuh kehilangan kalori dan berat badan menjadi turun. Sehingga dengan pengobatan ARV bisa menaikkan jumlah CD4, sel imunitasnya naik sehingga bisa mengurangi infeksi yang terjadi dan berat badan bisa naik kembali (Anonim, 2014). Oktaviani (2011) di Semarang melaporkan bahwa peningkatan berat badan setelah pengobatanARV dapat memperbaiki kondisi infeksi dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan asupan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.

 Faktor-faktor lain yang mempengaruhi outcome terapi berat badan:

1). Umur

Noor (2008) mengatakan bahwa umur merupakan karakteristik yang paling utama karena berhubungan dengan keterpaparan. Umur juga mempunyai hubungan dengan besarnya resiko terhadap penyakit tertentu.

2). Jenis kelamin

Perbedaan kejadian penyakit menurut jenis kelamin dapat timbul karena perbedaan bentuk anatomis, fisiologis, dan hormonal. Jenis kelamin juga mempunyai hubungan yang cukup erat dengan sifat keterpaparan dan tingkat kerentanan terhadap penyakit.

3). Pendidikan

Pendidikan merupakan sarana untuk medapatkan pengetahuan dan pengaruh perilaku. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pasien HIV/AIDS untuk menyerap informasi mengenai pola hidup sehat, cara pencegahan terhadap penularan penyakit, mampu mengembangkan sikap positif serta dapat mempengaruhi dalam mengambil keputusan untuk mencari pengobatan, dan kepatuhan dalam berobat.

Etiologi HIV/AIDS (skripsi dan tesis)

HIV adalah virus sitopatik yang diklasifikasikan dalam famili Retroviridae, subfamili Lentivirinae, genus Lentivirus. HIV termasuk virus ribonucleic acid (RNA) dengan berat molekul 9,7 kb (kilobases). Strukturnya terdiri dari lapisan luar atau envelop yang terdiri atas glikoprotein gp120 yang melekat pada glikoprotein gp4 dibagian dalam terdapat lapisan kedua yang terdiri dari protein p17. Setelah itu terdapat inti HIV yang dibentuk oleh protein p24. pada inti terdapat komponen penting berupa dua buah rantai RNA dan enzim reverse transcriptase. Bagian envelope yang terdiri atas glikoprotein, mempunyai peran penting pada terjadinya infeksi karena mempunyai afinitas yang tinggi terhadap reseptor spesifik CD4 dari sel host.Molekul RNA dikelilingi oleh kapsid berlapis dua dan suatu membran selubung yang mengandung protein (Nasronudin, 2007).

Jenis virus RNA dalam proses replikasinya harus membuat sebuah salinan deoxyribo nucleic acid (DNA) dari RNA yang ada di dalam virus. Gen DNA tersebut yang memungkinkan virus untuk bereplikasi. Seperti halnya virus yang lain, HIV hanya dapat bereplikasi di dalam sel induk. Di dalam inti virus, juga terdapat enzim-enzim yang digunakan untuk membuat salinan RNA yakni antara lain: reverse transcriptaseintegrase, dan protease. RNA diliputi oleh kapsul berbentuk kerucut terdiri atas sekitar 2000 kopi p24 protein virus. Jumlah limfosit T penting untuk menentukan progresifitas penyakit infeksi HIV ke AIDS. Sel T yang terinfeksi tidak akan berfungsi lagi dan akhirnya mati. Infeksi HIV ditandai dengan adanya penurunan drastis sel T dari darah tepi (Baratawidjaya, 2009).

Infeksi oportunistik (skripsi dan tesis)

                Infeksi oportunistik adalah infeksi yang terjadi karena penurunan imunitas tubuh. Infeksi ini terjadi ketika jumlah CD4 <500 sel/mm3. Infeksioportunistik terjadi akibat organisme non patogen (flora normal) maupun organisme patogen yang mengalami reaktivasi dalam tubuh.Ada beberapa jenis infeksi oportunistik yang sering terjadi pada penderita HIV (+), antara lain :

  1. Pneumonia pneumosistis karinii ( PPK )

Infeksi oportunistik jenis ini merupakan infeksi awal yang sering terjadi pada penderita AIDS. Hal ini terjadi karena organisme kecil (protozoa) penyebab infeksi ini, terdapat pada sebagian besar paru-paru seseorang (Crofton et al., 2001). Pada manusia sehat organisme ini tidak menimbulkan PPK. Hal ini di karenakan daya tahan tubuh yang baik dapat melawan organisme ini. Pada penderita AIDS, daya tahan tubuh rusak berat sehingga organisme ini dapat menimbulkan penyakit. Gejala awal PPK hampir menyerupai gejala umum AIDS, yaitu penurunan berat badan, keringat malam, pembesaran kelenjar getah bening, lelah, kehilangan nafsu makan, diare kronik dan sariawan yang hilang timbul. Terkadang gejala ini tidak ada, tetapi timbul gejala lain seperti batuk kering, demam dan sesak nafas, terutama bila jalan jauh atau naik tangga. Demam hampir selalu ada dengan suhu yangtidak terlalu tinggi, dan biasanya timbul pada sore hari. Gejala tersebut dapat timbul bertahap dan dalam jangka waktu 2-6 minggu menjadi berat. Pleuritis dengan gejala sakit dada dibagian tengah, pernafasan dangkal, dan tidak dapat menarik nafas juga sering dijumpai pada 30% pasien PPK.

PPK dapat diatasi dengan pengobatan yang efektif. Banyak kemajuan yang telah ditemukan mengenai diagnosis awal dan pengobatan penyakit ini. Sebagian besar pasien dapat disembuhkan, namun penyembuhan PPK ini tidak diikuti dengan kembalinya kekebalan tubuh pasien. Diagnosis penyakit ini dipastikan dengan menggunakan foto rontgen paru, analisa gas darah, dan sputum. Cara terbaik diagnosis penyakit ini adalah dengan menggunakan pemeriksaan bonkoskopi disertai dengan biopsi dan bilasan (Crofton et al.,2001).

  1. Kandidiasis

Kandidiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur candida dan sering menimbulkan masalah serius pada penderita AIDS ataupun penderita yang masih dalam tahap HIV. Infeksi ini biasanya terjadi di mulut dan tenggorokan. Kandisiasis mulut sering mendahului infeksi oportunistik lain seperti sarkoma kaposi, sedangkan kandidiasis esofagus sering ditemukan pada pasien AIDS  (Crofton et al.,2001).

  1. Sarkoma Kaposi

Gejala klinik sarkoma kaposi yaitu kelainan pada mulut dan kulit atau pembesaran kelenjar getah bening. Biasanya kelainan berawal dari daerah langit- langit mulut atau muka. Sarkoma kaposi dapat ditemukan juga di kaki, lengan dan badan. Kelainan di kulit bisa dilihat dari adanya palpasi, tetapi jarang menonjol dan berwarna ungu. Bentuk lesi penyakit ini adalah bulat lonjong, tetapi dapat juga berupa garis memanjang bila terletak di lipatan kulit. Pada tingkat awal penyakit tidak disertai rasa nyeri, tetapi pada tingkat lanjut dapat disertai nyeri terutama di kaki dan tungkai bawah. Sarkoma kaposi yang menyerang saluran pencernaan menunjukkan gejala ringan dan tidak ditemukan adanya perdarahan. Penyakit ini juga menyerang paru-paru dengan gejala yang lebih berat dan progresif, jika dibandingkan dengan serangan pada saluran cerna (Crofton et al.,2001).

  1. Tuberculosis

HIV merupakan faktor risiko yang paling potensial untuk terjadinya TB aktif. TB yang didapat pada penderita HIV bisa berasal dari infeksi laten maupun infeksi baru dan bisa juga terjadi di setiap perjalanan penyakit(Crofton et al.,2001). Penyakit TB ditimbulkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sepertiga dari penduduk dunia pernah terpajan oleh jenis bakteri ini. Risiko orang sehat untuk mengalami penyakit TB adalah sebesar 5-10%, sedangkan pada penderita HIV, risiko untuk mengalami TB adalah sebesar 50 % (Crofton et al.,2001).

Kategori pengobatan TB tidak dipengaruhi oleh status HIV pasien TB tetapi mengikuti Buku Pedoman Nasional Program Pengendalian TB (BPN PPTB). Pada prinsipnya pengobatan TB pada pasien ko-infeksi TB HIV harus diberikan segera. Pengobatan ARV baru dimulai setelah pengobatan TB dapat ditoleransi dengan baik, dianjurkan diberikan paling cepat 2 minggu dan paling lambat 8 minggu.

  1. Pengobatan TB pada ODHA yang belum dalam pengobatan ARV

Pasien yang belum dalam pengobatan ARV, maka pengobatan TB dapat segera dimulai. Jika pasien dalam pengobatan TB, maka pengobatan TB-nya diteruskan sampai dapat ditoleransi dan setelah itu diberi pengobatan ARV. Keputusan untuk memulai pengobatan ARV pada pasien dengan pengobatan TB sebaiknya dilakukan oleh dokter yang telah mendapat pelatihan  tata laksana pasien TB-HIV.

  1. Pengobatan TB pada ODHA yang sedang dalam pengobatan ARV

Pasien yang sedang dalam pengobatan ARV, sebaiknya memulai pengobatan TB di RS yang petugasnya telah dilatih TB-HIV. Ini bertujuan agar pengobatan yang diterima pasien sesuai dengan aturan medis untuk pengobatan ko-infeksi TB-HIV. Hal ini penting karena ada banyak kemungkinan masalah yang harus dipertimbangkan, antara lain: interaksi obat (Rifampisin dengan beberapa jenis obat ARV), kegagalan pengobatan ARV, immune reconstitution syndrome (IRIS) atau perlu substitusi obat ARV.

  1. Memulai pengobatan ARV pada pasien yang sedang dalam pengobatan TB Terapi ARV diberikan untuk semua ODHA yang menderita TB tanpa memandang jumlah CD4. Namun pengobatan TB tetap merupakan prioritas utama untuk pasien dan tidak boleh terganggu oleh terapi ARV. Seperti telah dijelaskan di atas, pengobatan ARV perlu dimulai meskipun pasien sedang dalam pengobatan TB. Perlu diingat, pengobatan TB di Indonesia selalu mengandung Rifampisin. Oleh karena itu pasien yang menjalani pengobatan TB dan mendapat obat ARV bisa mengalami masalah interaksi obat dan efek samping obat. Pengobatan ARV yang mengandung Efavirenz (EFV) perlu diberikan pada pasien yang sedang dalam pengobatan TB. Jadi, jumlah obat yang digunakan bertambah banyak sehingga diperlukan beberapa perubahan dalam paduan ARV. Setiap perubahan tersebut harus dijelaskan secara seksama kepada pasien dan pengawas menelan obat (PMO).

EFV tidak dapat digunakan pada trimester I kehamilan, sehingga penggunaan pada wanita usia subur (WUS) harus mendapat perhatian khusus. Jika seorang ibu hamil trimester ke-2 atau ke-3 sakit TB, paduan ART yang mengandung EFV dapat dipikirkan untuk diberikan. Paduan yang mengandung NVP dapat digunakan bersama dengan paduan OAT yang mengandung Rifampisin bila tidak ada alternatif lain. Pemberian NVP pada ODHA perempuan dengan jumlah CD4 >250 sel/mm3 harus hati-hati karena dapat menimbulkan gangguan fungsi hati yang lebih berat atau meningkatnya hipersensitifitas.

NVP dapat diberikan kembali setelah pengobatan dengan Rifampisin selesai. Waktu mengganti kembali (substitusi) dari EFV ke NVP tidak memerlukan loading dose (langsung dosis penuh). Mengingat hal tersebut di atas, rencana pengobatan ko-infeksi TB-HIV seharusnya dilakukan minimal oleh dokter di RS yang telah dilatih TB-HIV. Pasien yang akan mendapat pengobatan ko-infeksi TB-HIV perlu diberi pengetahuan tentang efek samping pengobatan baik ringan maupun berat dan tindakan yang harus dilakukan selanjutnya. Petugas kesehatan di Puskesmas dapat melanjutkan pengobatan ko-infeksi TB-HIV setelah paduan pengobatan yang diberikan oleh dokter di RS dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien.

Pasien HIV yang akan memulai pengobatan ARV perlu mendapatkan konseling tentang pengobatan ARV dan implikasinya. Pasien juga perlu difasilitasi untuk mendapatkan akses dukungan nutrisi dan psikososial dari keluarga dan kelompok dukungan sebaya (KDS). Hal ini penting untuk menjamin kesinambungan perawatan dan pengobatan  ARV(KemenKes RI, 2012).

Perkembangan Kognitif Remaja (skripsi dan tesis)

Piaget (Santrock, 2007) mengatakan bahwa individu secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif. Piaget mengatakan bahwa ada empat tahapan yang harus dilalui individu dalam memahami dunia yaitu tahap sensomotor, tahap praoperasional, tahap operasional kongkrit, tahap operasional formal. Pada empat tahapan tersebut maka remaja termasuk ke dalam tahapan ke empat yaitu tahap operasional formal yaitu tahap di mana remaja sudah mampu bernalar secara lebih abstrak, idealis, dan logis. Menurut Piaget (Santrock, 2007) remaja termotivasi untuk memahami dunianya karena hal ini merupakan bentuk adaptasi biologis. Secara aktif remaja mengkonstruksikan dunia kognitifnya sendiri dengan demikian informasi- informasi dari lingkungan tidak hanya sekedar tertuang dalam pikiran mereka. Agar remaja lebih mampu memahami dunia, remaja mengorganisasikan pengalaman- pengalaman yang mereka peroleh dan kemudian memisahkan gagasan- gagasan yang menurut mereka penting dan gagasan yang menurut mereka tidak penting yang kemudian akan digabungkan satu sama lain. Remaja juga akan mengadaptasikan pemikiran- pemikiran mereka yang melibatkan gagasan baru yang kemudian akan menambah pemahaman mereka.
Sedangkan Vigotsky (Santrock, 2007) memiliki pandangan tersendiri mengenai perkembangan kognitif remaja. Salah satu konsep Vigotsky adalah zone of proximal development (ZPD), yang merujuk pada rentang tugas- tugas yang terlalu sulit bagi individu untuk dikuasai sendiri namun dapat dipelajari melalui bimbingan dan bantuan dari orang dewasa atau anak-anak yang lebih terampil. Batas bawah dari ZPD adalah level keterampilan yang mampu diraih dengan bekerja sendiri. Sementara batas atas dari ZPD adalah tingkat tangung jawab tambahan yang dapat diterima dengan bantuan instruktur yang mampu. Penekanan Vigotsky terhadap ZPD memperlihatkan keyakinannya mengenai pentingnya pengaruh sosial terhadap perkembangan kognitif. Dalam pendekatan Vigotsky, sekolah formal merupakan salah satu agen budaya yang menentukan pertumbuhan seorang remaja. Para orang tua, teman sebaya, komunitas, dan orientasi teknologi budaya juga mempengaruhi pemikiran remaja. Sikap orang tua dan kawan- kawan terhadap kompetensi intelektual mempengaruhi motivasi mereka untuk memperoleh pengetahuan. Demikian pula sikap para guru dan orang- orang dewasa lainnya di dalam komunitas tersebut. Perubahan perkembangan dalam pemprosesan informasi dipengaruhi oleh meningkatnya kapasitas dan kecepatan pemprosesan (Frye dalam Santrock, 2007). Ke dua karakteristik ini dirujuk sebagai sumber daya kognitif (cognitive resource), yang berpengaruh penting terhadap memori dan pemecahan masalah. Selama masa remaja, individu secara bertahap mengembangkan potensi untuk mengelola dan menyebarkan sumber daya kognitifnya dalam cara- cara tertentu secara terkontrol dan bertujuan (Kuhn & Franklin dalam Santrock 2007).

Tugas Perkembangan Remaja (skripsi dan tesis)

Adapun tugas perkembangan remaja menurut Hurlock (1997) adalah: a. Mencapai hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita b. Mencapai peran sosial pria dan wanita c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertangung jawab e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang- orang dewasa lainnya f. Mempersiapkan karier ekonomi g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga h. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi

Pengertian Remaja (skripsi dan tesis)

Remaja berasal dari kata adolensence (remaja) masa perkembangan transisi antara anak- anak menjadi dewasa yang mencakup perubahan biolologis, kognitif, dan sosial emosional (Santrock, 2003). Sedangkan menurut Hurlock remaja adalah tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolesence mempunyai arti yang lebih luas mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1997). Kedua pandangan itu didukung oleh Piaget (Hurlock, 1997) yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi berintegrasi dengan masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang- kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat mempunyai banyak aspek efektif dan berhubungan dengan masa puberitas. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa.

Kematian dalam Perspektif Remaja (skripsi dan tesis)

 Salah satu peristiwa hidup yang dihadapi remaja adalah kematian anggota keluarga dicintai atau kematian sendiri yang akan datang kepada mereka yang mengancam jiwa. Kematian bukan masalah yang biasa bagi remaja. Sekitar 4% remaja di Amerika Serikat kehilangan orang tua karena kematian sebelum mereka mencapai usia 18, dan 1,5 juta remaja tinggal di keluarga orang tua tunggal karena kematian (US Biro Sensus, 1993). Koocher dan Gudas (1992) dengan tepat menyatakan bahwa asumsi remaja tentang kematian yakni tidak nyamannya remaja dengan kematian, bukan realitas kemampuan remaja untuk memahami dan mengatasi kematian. Sebagai akibatnya, remaja memiliki kekhawatiran ketika berpikir tentang kematian, dan kekhawatiran terhadap pertanyaan tentang kematian. Masa remaja, timbulnya pemikiran operasional formal, kematian dipahami sepenuhnya, dan ide-ide teologis yang abstrak dapat di masukkan dalam konsepsi remaja tentang kematian (Gudas & Koocher, 2001). Studi lain menunjukkan bahwa tidak semua remaja mampu memahami kematian akan tetapi peristiwa itu akan sangat terkait erat dengan masa perkembangan remaja terutama pada perkembangan kognitif (Koocher, 1973; Putih, Elsom, & Prawat, 1978).
Tidak mengherankan, remaja yang telah memiliki pengalaman tentang kematian tampaknya memiliki pemahaman yang lebih matang dari pada rekan-rekan mereka yang kurang berpengalaman (Schonfeld& Kappelman, 1990). Tidak adanya pengalaman tentang kematian membuat remaja kurang mampu dalam memahami konsep tentang kematian. Pengembangan konsep kematian tampaknya tergantung sampai batas tertentu pada perkembangan kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman remaja terhadap kematian bervariasi secara sistematis dengan usia (dan mungkin dengan tingkat perkembangan kognitif remaja). Namun, untuk remaja khususnya, pengalaman tentang kematian anggota keluarga tercinta dapat berfungsi untuk mempercepat pemahaman tentang kematian. Peristiwa hidup mungkin mampu memberikan informasi dan pemahaman tentang kematian yang kemudian akan mampu mempengaruhi karakteristik pola pikir dan aktivitas sehari-hari dan pengalaman remaja. Pengalaman ditinggal oleh orang- orang yang mereka sayangi akan memberikan dampak positif maupun dampak negatif bagi remaja. Dampak negatif dari pengalaman remaja tentang kematian akan membuat mereka takut untuk mengenang kematian dan merasa bahwa kematian itu sebagai hal yang menakutkan. Tapi jika melihat dari sisi positif pengalaman remaja tentang kematian maka remaja mampu memahami kematian dan lebih mengakui kebesaran Allah sebagai pemilik semesta alam dan lebih mendekatkan diri pada sang Khalik

Kematian dalam Persfektif Psikologi (skripsi dan tesis)

Psikologi sebagai sebuah ilmu yang mengkaji pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang melihat kematian sebagai suatu peristiwa dahsyat yang sesungguhnya sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Ada segolongan orang yang memandang kematian sebagai sebuah malapetaka. Namun ada pandangan yang sebaliknya bahwa hidup di dunia hanya sementara, dan ada kehidupan lain yang lebih mulia kelak, yaitu kehidupan di akhirat. Maut merupakan luka paling parah untuk narsisisme insani. Untuk menghadapi frustrasi terbesar ini, manusia bertindak religius (Dister, 1982). Masalah kematian sangat menggusarkan manusia. Mitos, filsafat juga ilmu pengetahuan tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Kekosongan batin akan semakin terasa ketika individu dihadapkan pada peristiwa- peristiwa kematian. Terutama jika dihadapkan pada kematian orang- orang terdekat dan yang paling dicintai. Rasa kehilangan bersifat individual, karena setiap individu tidak akan merasakan hal yang sama tentang kehilangan. Sebagian individu akan merasa kehilangan hal yang biasa dalam hidupnya dan dapat menerimanya dengan sabar. Individu yang tidak dapat menerima kehilangan orang yang disayang dalam hidupnya akan merasa sendiri dan berada dalam keterpurukan. Berbagai proses yang dilalui untuk kembali dari keterpurukan karena setiap orang akan mengalami hal- hal yang unik dan khusus, tergantung bagaimana cara dia ditinggalkan. Sebagian individu yang lebih memilih untuk tegar karena kesadaran utuk melanjutkan kehidupan. Perasaan kehilangan akan semakin berat dirasakan jika kadar rasa memiliki itu tinggi hal ini terjadi karena adanya kedekatan batin yang tinggi. Kematian juga disikapi manusia mengenai dirinya. Sadar bahwa suatu saat dirinya juga akan mengalami kematian. Masing- masing mulai menakar diri. Menginvetarisasi semua aktivitas dan lakon hidup. Mengingat kebaikan dan keburukan yang sudah pernah dilakukan. Khawatir akan balasan yang akan diterima dihari kebangkitan. Perasaan seperti ini sering dirasakan dan menghantui manusia yang terjadi semacam kecemasan batin. Sebagai suatu ilmu pengetahuan empiris psikologi terikat pada pengalaman dunia. Psikologi tidak melihat kehidupan manusia setelah mati, melainkan mempelajari bagaimana sikap dan pandangan manusia terhadap masalah kematian dan apa makna kematian bagi manusia itu sendiri (Boharudin, 2011)

Kematian dalam Persfektif Agama Islam (skripsi dan tesis)

Menurut persfektif Islam kematian dianggap sebagai peralihan kehidupan, dari dunia menuju kehidupan di alam lain. Kematian didefinisikan sebagai kehilangan permanen dari fungsi integratif manusia secara keseluruhan (Hasan, 2006). Al- qur’an merupakan media terbaik yang paling representatif dalam mengungkapkan perspektif Islam mengenai kematian dan pasca kematian. Al- qur’an memberikan perhatian yang cukup berpengaruh pada masalah ini dalam kehidupan individu dan masyarakat (bangsa). Bahkan al- qur’an sering menyandingkan antara keimanan pada Allah dalam keimanan pada hari akhir, sehingga sekali lagi, mengesankan bahwa keimanan pada Allah saja belum cukup bagi individu dalam mewujudkan kesempurnaan mental, ketenangan jiwa, dan kesalehan moral serta perilaku tanpa disertai keimanan pada hari akhir (Rasyid,2008). Menurut para ulama kematian bukan sekedar ketiadaan atau kebinasaan belaka, tetapi sebenarnya mati adalah terputusnya hubungan roh dengan tubuh, terhalangnya hubungan antara keduanya, dan bergantinya keadaan dari suatu alam ke alam lainnya (Al- Qurtubi, 2005).

Definisi Kematian (skripsi dan tesis)

Kematian merupakan fakta biologis, akan tetapi kematian juga memiliki dimensi sosial dan psikologis. Secara biologis kematian merupakan berhentinya proses aktivitas dalam tubuh biologis seorang individu yang ditandai dengan hilangnya fungsi otak, berhentinya detak jantung, berhentinya tekanan aliran darah dan berhentinya proses pernafasan. Dimensi sosial dari kematian berkaitan dengan perilaku dan perawatan sebelum kematian, tempat letak di mana proses sebelum dan sesudah bagi kematian si mati. Penawaran dan proses untuk memperlambat atau mempercepat kematian, tata aturan di seputar kematian, upacara ritual dan adat istiadat setelah kematian serta pengalihan kekayaan dan pengalihan peran sosial yang pernah menjadi tanggung jawab si mati (Hartini, 2007). Ismail (2009) mengatakan bahwa secara medis kematian dapat dideteksi yaitu ditandai dengan berhentinya detak jantung seseorang. Namun pengetahuan tentang kematian sampai abad moderen ini masih sangat terbatas. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan dia akan mati. Karena itu tidak sedikit pula yang merasa gelisah dan stress akibat sesuatu hal yang misterius ini. Dimensi psikologis dari kematian menekankan pada dinamika psikologi individu yang akan mati maupun orang- orang di sekitar si mati baik sebelum dan sesudah kematian (Hartini,2007). Sihab (2008) mengatakan bahwa kematian pemutusan segala kelezatan duniawi, dia adalah pemisah antara manusia dan pengaruh kenyamanan hidup orang- orang yang lalai. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al- Qur’an “Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi dan kokoh” (Annisa:4:78). Maut juga disebut sebagai pengancam hidup bagi manusia, sehingga kebanyakan dari individu takut akan kematian itu sendiri. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kematian terjadi ketika berhentinya proses aktivitas dalam tubuh biologis seorang individu yang ditandai dengan hilangnya fungsi otak, berhentinya detak jantung, berhentinya tekanan aliran darah dan berhentinya proses pernafasan serta terhentinya hubungan manusia dengan alam dunia.

Remaja (skripsi dan tesis)

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock, 2009: 206). Menurut Papalia, dkk (2008: 534) dalam masyarakat industrial modern, perjalanan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa ditandai oleh periode transasional panjang yang dikenal dengan masa remaja. Masa remaja dimulai pada usia 11 atau 12 sampai masa remaja akhir atau awal usia dua puluhan, dan masa tersebut membawa perubahan besar saling bertautan dalam semua ranah perkembangan.

Kematian (skripsi dan tesis)

Definisi kematian ialah saat dimana berakhirnya fungsi biologis tertentu, seperti pernafasan dan tekanan darah serta kakunya tubuh, hal tersebut telah dianggap cukup jelas menjadi tanda-tanda kematian (Santrock 2004: 263). Ann dan Lee (2001: 385) menjelaskan beberapa jenis kematian, yaitu:

a. Kematian yang diantisipasi Fenomena dukacita yang diantisipasi (anticipatory grief), dapat dipahami sebagai reaksi akan kesadaran terhadap kehilangan di waktu yang akan datang. Beberapa orang percaya bahwa kematian yang telah diketahui atau diantisipasi terlebih dahulu, seperti kasus penyakit yang kronis atau berkepanjangan, dapat memudahkan orang-orang untuk mengatasi rasa kehilangan daripada kematian yang tiba-tiba.

d. Kematian mendadak Kematian mendadak muncul dalam konteks tertentu, contohnya, perang mengakibatkan suatu keadaan tertentu yang melingkupi kematian, dan keadaan ini mempengaruhi bagiamana subjek berhadapan dengan kehilangan. Seseorang yang kehilangan karena kematian yang mendadak biasanya menginginkan informasi secepatnya dan biasanya yang detail mengenai penyebab kematian, guna membantu mereka mulai merasakan kehilangan tersebut.

b. Bunuh diri Orang-orang yang mengalami kehilangan orang yang disayangi karena bunuh diri seringkali merasa bingung. Dampak dari bunuh diri tersebut dapat meningktkan parasaan bermasalah pada subjek. Jika seseorang yang dekat dengan kita dalam keadaan terluka dan akhirnya mati karena bunuh diri. Disamping perasaan bersalah dan timbul petanyaanpertanyaan penyesalan, para survivor dapat memiliki perasaan marah yang kuat dan mempersalahkan orang yang mati karena bunuh diri.
 c. Pembunuhan Ketika seorang yang disayangi meninggal karena menjadi korban pembunuhan, mereka yang ditinggalkan dapat merasa bahwa dunia menjadi berbahaya, kejam, tidak aman, dan tidak adil. Berhubungan dengan kejahatan criminal dapat memperluas dukacita yang normal saat kasus itu berlanjut, karena tidak ada jaminan hasilnya nanti akan adil bagi subjek.
 d. Bencana Orang yang selamat dari bencana dimana orang lain tidak selamat (meninggal) menjadikan mereka disebut survivor dua kali, pertama mereka survivor dari bencana yang besar yang bisa saja mengakhiri hidup mereka, juga survivor dari kematian orang lain, baik teman maupun saudara. Dikarenakan para survivor merasa mereka tidak pantas untuk hidup sedangkan orang lain tidak (mati), maka perasaan bersalah yang mendalam dapat mengikuti dukacita dan kesedihan mereka yang mendalam.

Faktor Grief (skripsi dan tesis)

Faktor Grief tersebut dikemukakan oleh (Aiken, 1994: 164), yaitu:

 a. Hubungan individu dengan almarhum Yaitu reaksi-reaksi dan rentang waktu masa berduka yang dialami setiap individu akan berbeda tergantung dari hubungan individu dengan almarhum, dari beberapa kasus dapat dilihat hubungan yang sangat baik dengan orang yang telah meninggal diasosiasikan dengan proses grief yang sangat sulit.
 b. Kepribadian, usia, dan jenis kelamin orang yang ditinggalkan Merupakan perbedaan yang mencolok ialah jenis kelamin dan usia orang yang ditinggalkan. Secara umum grief lebih menimbulkan stress pada orang yang usianya lebih muda.
c. Proses kematian Cara dari seseorang meninggal juga dapat menimbulkan perbedaan reaksi yang dialami orang yang ditinggalkannya. Pada kematian yang mendadak kemampuan orang yang ditinggalkan akan lebih sulit untuk menghadapi kenyataan. Kurangnya dukungan dari orangorang terdekat dan lingkungan sekitar akan menimbulkan perasaan tidak berdaya dan tidak mempunyai kekuatan, hal tersebut dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatasi grief

Tahapan Grief (skripsi dan tesis)

Menurut Santrock (2002: 272) dukacita (grief) adalah kelumpuhan emosional, tidak percaya, kecemasan akan berpisah, putus asa, sedih, dan kesepian yang menyertai disaat kita kehilangan orang yang kita cintai. Sedangkan menurut Papalia, dkk (2008: 957) ialah kehilangan, karena kematian seseorang yang dirasakan dekat dengan yang sedang berduka dan proses penyesuaian diri kepada kehilangan.
 Glick, dkk (dalam Lemme, 1995: 201) membagi tahapan grief menjadi tiga tahap, yaitu: a. Tahap inisial respon, Tahap pertama ini dimulai ketika peristiwa kematian terjadi dan selama masa pemakaman dan ritualritual lain dalam melepas kematian orang yang disayangi. Reaksi awal terhadap kematian orang yang disayangi pada tahap ini meliputi shock atau kaget dan mengalami perasaan tidak percaya. Seseorang yang ditinggalakan akan merasa mati rasa, bingung, merasa kosong, hampa, dan mengalami disorientasi atau tidak dapat menentukan arah.
b. Tahap intermediate, Tahapan ini adalah lanjutan dari beberapa kondisi pada tahap sebelumnya dan timbul beberapa kondisi baru yang merupakan lanjutan atas reaksi kondisi sebelumnya. Kemarahan, perasaan bersalah, kerinduan, dan perasaan kesepian merupakan emosi-emosi yang umum terjadi pada tahapan ini.
c. Tahap recovery, Pada tahap ini, pola tidur dan makan sudah kembali normal dan orang yang ditinggalkan mulai dapat melihat masa depan dan bahkan sudah dapat memulai hubungan yang baru. Pada tahap ini perilaku yang muncul yaitu sudah dapat mengakui kehilangan yang terjadi, berusaha melalui kekacauan yang emosional, menyesuaikan dengan lingkungan tanpa kehadiran orang yang telah tiada dan melepaskan ikatan dengan orang yang telah tiada

Respon psikologis pasien stroke (skripsi dan tesis)

Shimberg (1998) menyatakan bahwa penyakit stroke dapat mempengaruhi psikologis pasien stroke, ada beberapa masalah psikologis yang dirasakan oleh pasien stroke yaitu :
1. Kemarahan
 Kebanyakan pasien stroke, mengekspresikan amarahnya adalah hal yang sulit bahkan seringkali merasa tidak mau patuh, melawan perawat, dokter dan ahli terapinya. Pasien juga bisa memaki-maki dengan kata-kata yang menyakitkan dan memukul secara fisik. Pasien juga sering memiliki amarah yang meledak-ledak.
2. Isolasi
Pasien kelumpuhan akibat stroke dapat mengakibatkan individu melakukan penarikan diri terhadap lingkungan, karena perasaan pasien sering terluka karena sering tidak diperdulikan oleh orang lain. Sering sekali temanteman pasien meninggalkan pasien sendirian karena tidak mengetahui bagaimana harus bereaksi dengan pasien kelumpuhan tersebut.
3. Kelabilan Emosi
 Pasien stroke memiliki reaksi-reaksi emosional yang membingungkan. Kelabilan emosi merupakan gejala yang aneh, terkadang pasien stroke tertawa atau menangis tanpa alasan yang jelas. Kecemasan yang berlebihan sebahagian pasien mungkin memperlihatkan rasa ketakutannya ketika keluar rumah, keadaan ini dinamakan agorafobia. Hal ini terjadi karena pasien merasa malu ketika bertemu dengan orang lain, sekalipun dengan teman lamanya. Perasaan malu ini mungkin timbul akibat adanya gangguan pada kemampuan bicara dan kelumpuhannya.
4. Depresi
 Depresi adalah perasaan marah yang berlangsung di dalam batin, beberapa depresi tidak hanya bersifat reaktif, tetapi pasien kelumpuhan akibat stroke akan bereaksi terhadap semua kehilangannya dan merasa putus asa. Gangguan depresi merupakan gangguan emosi yang paling sering dikaitkan dengan stroke. Berbagai reaksi yang dapat terjadi pada pasien kelumpuhan akibat stroke dapat mengakibatkan masalah psikologis bagi pasien. Peneliti memasukkan teori ini mengingat bahwa masalah psikologis yang dialami oleh pasien kelumpuhan akibat stroke dapat menyebabkan individu mengalami kehilangan sehingga dapat menimbulkan stres.

Respon berduka (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa teori mengenai respon berduka terhadap kehilangan. Teori yang dikemukan Kubler-Ross (1969 dalam Hidayat, 2009) mengenai tahapan berduka akibat kehilangan berorientasi pada perilaku dan menyangkut lima tahap, yaitu sebagai berikut:
.1. Fase penyangkalan (Denial)
Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya, atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi. Sebagai contoh, orang atau keluarga dari orang yang menerima diagnosis terminal akan terus berupaya mencari informasi tambahan. Reaksi fisik yang terjadi pada tahap ini adalah letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernapasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah, dan sering kali individu tidak tahu harus berbuat apa. Reaksi ini dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa tahun.
.2. Fase marah (Anger)
Pada fase ini individu menolak kehilangan. Kemarahan yang timbul sering diproyeksikan kepada orang lain atau dirinya sendiri. Orang yang mengalami kehilangan juga tidak jarang menunjukkan perilaku  agresif, berbicara kasar, menyerang orang lain, menolak pengobatan, bahkan menuduh dokter atau perawat tidak kompeten. Respon fisik yang sering terjadi, antara lain muka merah, deyut nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan menggepal, dan seterusnya.
.3. Fase tawar menawar (Bargaining)
Pada fase ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan dan dapat mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus atau terang-terangan seolah kehilangan tersebut dapat dicegah. Individu mungkin berupaya untuk melakukan tawar-menawar dengan memohon kemurahan Tuhan.
.4. Fase depresi (Depression)
Pada fase ini pasien sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang bersikap sangat penurut, tidak mau berbicara menyatakan keputusasaan, rasa tidak berharga, bahkan bisa muncul keinginan bunuh diri. Gejala fisik yang ditunjukkan, antara lain, menolak makan, susah tidur, letih, turunnya dorongan libido, dan lain-lain.
5. Fase penerimaan (Acceptance)
Pada fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan, pikiran yang selalu berpusat pada objek yang hilang mulai berkurang atau hilang. Individu telah menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya dan mulai memandang kedepan. Gambaran tentang objek yang hilang akan mulai dilepaskan secara bertahap. Perhatiannya akan beralih pada  objek yang baru. Apabila individu dapat memulai tahap tersebut dan menerima dengan perasaan damai, maka dia dapat mengakhiri proses berduka serta dapat mengatasi perasaan kehilangan secara tuntas. Kegagalan untuk masuk ke tahap penerimaan akan mempengaruhi kemampuan individu tersebut dalam mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya.
Bowlby (1980 dalam Videbeck, 2008) mendeskripsikan proses berduka akibat suatu kehilangan yang terdiri dari 4 fase yaitu, fase pertama mati rasa dan penyangkalan terhadap kehilangan, fase kedua kerinduan emosional akibat kehilangan orang yang dicintai dan memprotes kehilangan yang tetap ada, fase ketiga kekacauan kognitif dan keputusasaan emosional, mendapatkan dirinya sulit melakukan fungsi dalam kehidupan sehari-hari dan fase keempat reorganisasi dan reintegrasi kesadaran diri sehingga dapat mengembalikan hidupnya.
 John Harvey (1998 dalam Videbeck, 2008) mendeskripsikan fase berduka yaitu, fase pertama syok, menangis dengan keras, dan menyangkal, fase kedua intrusi pikiran, distraksi, dan meninjau kembali kehilangan secara obsesif dan fase ketiga menceritakan kepada orang lain sebagai cara meluapkan emosi dan secara kognitif menyusun kembali peristiwa kehilangan. Rodebaugh (1999 dalam Videbeck, 2008) memandang proses berduka sebagai suatu proses melalui empat tahap yaitu pertama terguncang (Reeling) klien mengalami syok, tidak percaya, atau menyangkal, kedua merasa (feeling) klien mengekspresikan penderitaan yang berat, rasa bersalah, kesedihan yang mendalam, kemarahan, kurang konsentrasi, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, ketidaknyamanan fisik yang umum, ketiga menghadapi (dealing) klien mulai beradaptasi terhadap kehilangan dengan melibatkan diri dalam kelompok pendukung, terapi dukacita, membaca, dan bimbingan spiritual, keempat pemulihan (healing), klien mengintegrasikan kehilangan sebagai bagian kehidupan dan penderitaan yang akut berkurang. Pemulihan tidak berarti bahwa kehilangan tersebut dilupakan atau diterima

Tanda dan gejala berduka (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa sumber yang menjelaskan mengenai tanda dan gejala yang sering terlihat pada individu yang sedang berduka. Buglass (2010) menyatakan bahwa tanda dan gejala berduka melibatkan empat jenis reaksi, meliputi:
.1. Reaksi perasaan, misalnya kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, kecemasan, menyalahkan diri sendiri, ketidakberdayaan, mati rasa, kerinduan.
2. Reaksi fisik, misalnya sesak, mual, hipersensitivitas terhadap suara dan cahaya, mulut kering, kelemahan.
3. Reaksi kognisi, misalnya ketidakpercayaan, kebingungan, mudah lupa, tidak sabar, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, ketidaktegasan.
.4. Reaksi perilaku, misalnya, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, penarikan sosial, mimpi buruk, hiperaktif, menangis.

Faktor penyebab berduka (skripsi dan tesis)

Banyak situasi yang dapat menimbulkan kehilangan dan dapat menimbulkan respon berduka pada diri seseorang (Carpenito, 2006). Situasi yang paling sering ditemui adalah sebagai berikut: Universitas
1. Patofisiologis Berhubungan dengan kehilangan fungsi atau kemandirian yang bersifat sekunder akibat kehilangan fungsi neurologis, kardiovaskuler, sensori, muskuloskeletal, digestif, pernapasan, ginjal dan trauma.
2. Terkait pengobatan Berhubungan dengan peristiwa kehilangan akibat dialisis dalam jangka waktu yang lama dan prosedur pembedahan (mastektomi, kolostomi, histerektomi).
3. Situasional (Personal, Lingkungan) Berhubungan dengan efek negatif serta peristiwa kehilangan sekunder akibat nyeri kronis, penyakit terminal, dan kematian; berhubungan dengan kehilangan gaya hidup akibat melahirkan, perkawinan, perpisahan, anak meninggalkan rumah, dan perceraian; dan berhubungan dengan kehilangan normalitas sekunder akibat keadaan cacat, bekas luka, dan penyakit.
.4. Maturasional Berhubungan dengan perubahan akibat penuaan seperti temanteman, pekerjaan, fungsi, dan rumah dan berhubungan dengan kehilangan harapan dan impian. Rasa berduka yang muncul pada setiap individu dipengaruhi oleh bagaimana cara individu merespon terhadap terjadinya peristiwa kehilangan. Miller (1999 dalam Carpenito, 2006) menyatakan bahwa dalam menghadapi kehilangan individu dipengaruhi oleh dukungan sosial (Support System), keyakinan religius yang kuat, kesehatan mental yang baik, dan banyaknya sumber yang tersedia terkait disfungsi fisik atau psikososial yang dialami.

Definisi berduka (skripsi dan tesis)

Berduka merupakan reaksi terhadap kehilangan yang merupakan respon emosional yang normal (Suliswati, 2005). Definisi lain menyebutkan bahwa berduka, dalam hal ini dukacita adalah proses kompleks yang normal yang mencakup respon dan perilaku emosi, fisik, spiritual, sosial, dan intelektual ketika individu, keluarga, dan komunitas menghadapi kehilangan aktual, kehilangan yang diantisipasi, atau persepsi kehilangan ke dalam kehidupan pasien sehari-hari (NANDA, 2011). Dari berbagai definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa berduka merupakan suatu reaksi psikologis sebagai respon kehilangan sesuatu yang dimiliki yang berpengaruh terhadap perilaku emosi, fisik, spiritual, sosial, maupun intelektual seseorang. Berduka sendiri merupakan respon yang normal yang dihadapi setiap orang dalam menghadapi kehilangan yang dirasakan.

Faktor presdisposisi yang mempengaruhi reaksi kehilangan (skripsi dan tesis)

Faktor predisposisi yang mempengaruhi reaksi kehilangan adalah genetik, kesehatan fisik, kesehatan jiwa, pengalaman masa lalu (Suliswati, 2005).

.1. Genetik Individu yang dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga yang mempunyai riwayat depresi biasanya sulit mengembangkan sikap  optimistik dalam menghadapi suatu permasalahan, termasuk menghadapi kehilangan.
2. Kesehatan fisik Individu dengan keadaan fisik sehat, cara hidup yang teratur, cenderung mempunyai kemampuan mengatasi stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang sedang mengalami gangguan fisik.
.3. Kesehatan jiwa/mental Individu yang mengalami gangguan jiwa terutama mempunyai riwayat depresi, yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya, pesimistik, selalu dibayangi oleh masa depan yang suram, biasanya sangat peka terhadap situasi kehilangan.
4. Pengalaman kehilangan di masa lalu Kehilangan atau perpisahan dengan orang yang bermakna di masa kanak-kanak akan mempengaruhi kemampuan individu dalam menghadapi kehilangan di masa dewasa.

Tipe Kehilangan (skripsi dan tesis)

 Potter dan Perry (2005) menyatakan kehilangan dapat dikelompokkan dalam 5 kategori: kehilangan objek eksternal, kehilangan lingkungan yang telah dikenal, kehilangan orang terdekat, kehilangan aspek diri, dan kehilangan hidup.
1. Kehilangan objek eksternal
 Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikan yang telah menjadi usang, berpindah tempat, dicuri, atau rusak karena bencana alam. Bagi seorang anak benda tersebut mungkin berupa boneka atau selimut, bagi seorang dewasa mungkin berupa perhiasan atau suatu aksesoris pakaian. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang tehadap benda yang hilang tergantung pada nilai yang dimiliki orang tersebut terhadap benda yang dimilikinya, dan kegunaan dari benda tersebut.
.2. Kehilangan lingkungan yang telah dikenal
Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah di kenal mencakup meninggalkan lingkungan yang telah dikenal selama periode tertentu atau kepindahan secara permanen. Contohnya, termasuk pindah ke kota baru, mendapat pekerjaan baru, atau perawatan di rumah sakit. Kehilangan melalui perpisahan dari lingkungan yang telah di kenal dan dapat terjadi melalui situasi maturasional, misalnya ketika seorang lansia pindah ke rumah perawatan, atau situasi  situasional, contohnya kehilangan rumah akibat bencana alam atau mengalami cedera atau penyakit. Perawatan dalam suatu institusi mengakibatkan isolasi dari kejadian rutin. Peraturan rumah sakit menimbulkan suatu lingkungan yang sering bersifat impersonal dan demoralisasi. Kesepian akibat lingkungan yang tidak dikenal dapat mengancam harga diri dan membuat berduka menjadi lebih sulit.
.3. Kehilangan orang terdekat
Orang terdekat mencakup orang tua, pasangan, anak-anak, saudara sekandung, guru, pendeta, teman, tetangga, dan rekan kerja. Artis atau atlet yang telah terkenal mungkin menjadi orang terdekat bagi orang muda. Riset telah menunjukkan bahwa banyak hewan peliharaan sebagai orang terdekat. Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan, pindah, melarikan diri, promosi di tempat kerja, dan kematian.
4. Kehilangan aspek diri
Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh, fungsi fisiologis, atau psikologis. Kehilangan bagian tubuh dapat mencakup anggota gerak, mata, rambut, gigi, atau payudara. Kehilangan fungsi fisiologis mencakup kehilangan kontrol kandung kemih atau usus, mobilitas, kekuatan, atau fungsi sensoris. Kehilangan fungsi psikologis termasuk kehilangan ingatan, rasa humor, harga diri, percaya diri, kekuatan, respek atau cinta. Kehilangan aspek diri ini dapat terjadi akibat penyakit, cedera, atau perubahan perkembangan atau situasi. Kehilangan seperti ini, dapat menurunkan kesejahteraan individu. Orang tersebut tidak hanya mengalami kedukaan akibat kehilangan tetapi juga dapat mengalami perubahan permanen dalam citra tubuh dan konsep diri.
5. Kehilangan hidup
Sesorang yang menghadapi kematian menjalani hidup, merasakan, berpikir, dan merespon terhadap kejadian dan orang sekitarnya sampai terjadinya kematian. Perhatian utama sering bukan pada kematian itu sendiri tetapi mengenai nyeri dan kehilangan kontrol. Meskipun sebagian besar orang takut tentang kematian dan gelisah mengenai kematian, masalah yang sama tidak akan pentingnya bagi setiap orang. Setiap orang berespon secara berbeda-beda terhadap kematian. orang yang telah hidup sendiri dan menderita penyakit kronis lama dapat mengalami kematian sebagai suatu perbedaan. Sebagian menganggap kematian sebagai jalan masuk ke dalam kehidupan setelah kematian yang akan mempersatukannya dengan orang yang kita cintai di surga. Sedangkan orang lain takut perpisahan, dilalaikan, kesepian, atau cedera. Ketakutan terhadap kematian sering menjadikan individu lebih bergantung. Maslow (1954 dalam Videback, 2008) tindakan manusia dimotivasi oleh hierarki kebutuhan, yang dimulai dengan kebutuhan fisiologis, (makanan, udara, air, dan tidur), kemudian kebutuhan keselamatan (tempat yang aman untuk tinggal dan bekerja), kemudian kebutuhan keamanan dan memiliki.  Apabila kebutuhan tersebut terpenuhi, individu dimotivasi oleh kebutuhan harga diri yang menimbulkan rasa percaya diri dan adekuat. Kebutuhan yang terakhir ialah aktualisasi diri, suatu upaya untuk mencapai potensi diri secara keseluruhan. Apabila kebutuhan manusia tersebut tidak terpenuhi atau diabaikan karena suatu alasan, individu mengalami suatu kehilangan.
Beberapa contoh kehilangan yang relevan dengan kebutuhan spesifik manusia yang diindentifikasi dalam hierarki Maslow antara lain:
1. Kehilangan fisiologis
 kehilangan pertukaran udara yang adekuat, kehilangan fungsi pankreas yang adekuat, kehilangan suatu ekstremitas, dan gejala atau kondisi somatik lain yang menandakan kehilangan fisiologis.
2. Kehilangan keselamatan
 kehilangan lingkungan yang aman, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan publik, dapat menjadi titik awal proses duka cita yang panjang misalnya, sindrom stres pasca trauma. Terungkapnya rahasia dalam hubungan profesional dapat dianggap sebagai suatu kehilangan keselamatan psikologis sekunder akibat hilangnya rasa percaya antara klien dan pemberi perawatan.
3. Kehilangan keamanan dan rasa memiliki
kehilangan terjadi ketika hubungan berubah akibat kelahiran, perkawinan, perceraian, sakit, dan kematian. Ketika makna suatu hubungan berubah, peran dalam keluarga atau kelompok dapat hilang. Kehilangan seseorang yang dicintai mempengaruhi kebutuhan untuk mencintai dan dicintai.
 4. Kehilangan harga diri
 kebutuhan harga diri terancam atau dianggap sebagai kehilangan setiap kali terjadi perubahan cara menghargai individu dalam pekerjaan dan perubahan hubungan. Rasa harga diri individu dapat tertantang atau dialami sebagai suatu kehilangan ketika persepsi tentang diri sendiri berubah. Kehilangan fungsi peran sehingga kehilangan persepsi dan harga diri karena keterkaitannya dengan peran tertentu, dapat terjadi bersamaan dengan kematian seseorang yang dicintai.
5. Kehilangan aktualisasi diri
 Tujuan pribadi dan potensi individu dapat terancam atau hilang seketika krisis internal atau eksternal menghambat upaya pencapaian tujuan dan potensi tersebut. Perubahan tujuan atau arah akan menimbulkan periode duka cita yang pasti ketika individu berhenti berpikir kreatif untuk memperoleh arah dan gagasan baru. Contoh kehilangan yang terkait dengan aktualisasi diri mencakup gagalnya rencana menyelesaikan pendidikan, kehilangan harapan untuk menikah dan berkeluarga, atau seseorang kehilangan penglihatan atau pendengaran ketika mengejar tujuan menjadi artis atau komposer.

Definisi kehilangan (skripsi dan tesis)

Kehilangan adalah suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu selama rentang kehidupan, sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda (Yosep, 2011). Kehilangan adalah situasi aktual atau potensial ketika sesuatu (orang atau objek) yang dihargai telah berubah, tidak ada lagi, atau menghilang. Seseorang dapat kehilangan citra tubuh, orang terdekat, perasaan sejahtera, pekerjaan, barang milik pribadi, keyakinan, atau sense of self baik sebagian ataupun keseluruhan. Peristiwa kehilangan dapat terjadi secara tiba-tiba atau bertahap sebagai sebuah pengalaman traumatik. Kehilangan sendiri dianggap sebagai kondisi krisis, baik krisis situasional ataupun krisis perkembangan (Mubarak & Chayatin, 2007) Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah Universitas Sumatera Utara 10 dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian ataupun seluruhnya.

Bentuk dzikir yang digunakan pada terapi dzikir (skripsi dan tesis)

Menurut Hawari (2003) dalam Surat al-Ra’d ayat 28, yang artinya : “Mengingat (dzkir) kepada Allah maka hati menjadi tenteram”. Dzikir sebagai metode mencapai ketenangan hati dilakukan dengan tata-cara tertentu. Dzikir dipahami dan di ajarkan dengan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah secara keras (dzikir jahr) maupun dengan suara yang lembur( dzikir shir). Pada penelitian ini dzikir yang digunakan menggunakan dzikir bentuk shir( suara halus ) wal Lisan sesuai dengan firman Allah surat Al – A’raf ayat 55 yang artinya “Serullah tuhanmu dengan tadharu dan khufyah , bahwasanya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas” . Lafat – lafat yang diucapkan dalam terapi dzikir menggunakan dzikir shir dengan bentuk lisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Tasbih (subhanallah) Tasbih yang bermakna Maha Suci Allah. Dalil khash yang menunjukkan manusia wajib bertasbih , mengakui kesucian Allah adalah dalam firmannya dalam surat Al Ahzab ayat 42 yang bebunyi “Wa sabbihuuhu bukrotaw wa ashilla” artinya dan bertasbihlah kepada- Nya pada waktu pagi dan petang. 2) Tahmid (alhamdulillah) Tahmid (alhamdulillah) yang bermakna segala puji bagi Allah. Tahmid adalah menyatakan pujian dan kesyukuran kita kepada Allah tuhan semesta alam. Sesuai dengan firman Allah surat An-Naml ayat 59 yang artinya “ Katakanlah (Muhammad), segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba –hambanya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik , ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)” 3) Tahlil (la illaha illallah) Tahlil yang bermakna tiada Tuhan selain Allah. Dalil yang menegaskan kewajiban bertahlil adalah sabda Rasulullah yang memiliki arti “Senantiasalah kamu memperbaharui imanmu dengan mengucapkan La illaha illalah”. Dengan bertahlil, manusia mengakui bahwa Allah, suci dari segala kekurangan, mengakui keesaan-Nya 4)Takbir (Allahu akbar) Takbir yang berarti Allah Maha Besar. Mengakui kebesaran Allah , Tuhan yang menciptakan segala yang ada di langit dan dibumi, dalil tentang kewajiban bertakbir tertuang didalam surat Al isra ayat 111 yang artinya” “Segala puji bagi Allah yang tidak memiliki anak dan tidak mempunyai sekutu dalam pemerintahan-Nya, tiada mempunyai penolong yang membantu-Nya untuk menolak suatu kehinaan, dan bertakbirlah Dia dengan sebenar- benarnya. 5)Hauqalah (la haula wala quwwata illa billah) Hauqallah yang bermakna tiada daya upaya dan kekuatan kecuali Allah. Hauqallah adalah mengakui bahwa tidak ada yang dapat memalingkan hamba dari maksiat selain Allah dan tidak ada kekuatan bagi hamba untuk melaksanakan taat melainkan dengan taufiqnya. Kalimat ini juga bermakna manusia menyerahkan diri atas segala yang terjadi kepada Allah . 6). Istighfar : Astaghfirullahal adzim yang bermakna saya memohon ampun kepada Allah yang maha agung. adalah tindakan memohon ampun kepada Allah yang dilakukan oleh hamba yang beriman . Tindakan ini secara harfiah dilakukan dengan mengulang – ulang perkataan dengan lafat يِالَّذَ اللهُ رِفْغَتْسَأ yang artinya aku memohon ampun kepada Allah yang maha Agung. Istigfar merupakan cermin akan kesadaran individu yang bertakwa tentang betapa banyak kesalahannya dan meminta ampun kepada Allah dan kembali kepada kebenaran sesuai dengan firman Allah surat Al imran ayat 135 yaitu “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. 7). Membaca surat Al Fatihah. Surat Al-Fatihah memiliki bermacam keistimewaan selain sebagai ummul qur’an. Didalam surat Al-Fatihah terkandung doa yang lengkap, mantera, serta obat (penyembuhan) (Shihab, 2005). Alfatihah mampu menyembuhkan segala macam penyakit pada diri manusia baik secara fisik maupun psikis, serta mencukupi manusia dalam mengatasi segala keresahan nya (Shihab, 2005). Keistimewaan tersendiri surat Al-Fatihah dibandingkan surat yang lain yaitu setiap ayat didalam surat Al-Fatihah yang dibaca akan dijawab langsung oleh Allah sehingga terdapat dialog langsung dari hamba dan Tuhan (Allah) (Makhdlori, 2008) . Dalam kondisi kepasrahan yang total maka suratul-Fatihah dapat digunakan sebagai dzikir dan pembuka dari segala sesuatu yang masih tertutup dan menghilangkan kesulitan dalam diri individu (shihab, 2005)

Tahapan terapi dzikir.(skripsi dan tesis)

Menurut Shiddieqy (2014), tahapan dalam terapi dzikir dibagi atas 3 tahap yaitu 1) Tahap persiapan Tahapan ini dimulai dengan niat, melaksanakan dengan keiklasan hanya mengharap ridho Allah, bersuci (wudhu), menghadap kiblat, duduk posisi yang nyaman , khusuk 2) Tahap pelaksaanaan Pada tahapan ini individu diajak untuk merendahkan diri dihadapan Allah dengan membaca istigfar (memohon ampunan Allah) sebanyak 3 kali . Dilanjutkan dengan membaca surat Alfatihah, dimana surat tersebut mampu menyembuhkan segala macam penyakit pada diri manusia baik secara fisik maupun psikis serta mencukupi manusia dalam mengatasi segala keresahannya, selanjutnya membaca kalimat thaibah ( tasbih, tahmid,tahlil serta takbir) yang memiliki makna pujian atas kebesaran Allah, setelah selesai membaca kalimat thaibah, dilanjutkan dengan membaca kalimat hauqalah yang memiliki makna meyerahkan diri bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk menolak qada dan qadarnya kecuali atas kehendak-Nya. Diakhiri dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 201 yang memiliki makna yang sangat dalam diantaranya meminta kebaikan dunia dan akhir dari Allah SWT. 3) Tahap penyelesaian Menarik nafas dengan berlahan dan berulang, berdiam diri sebentar setelah selesai dzikir, dilanjutkan dengan menahan minum pasca berdzikir sebentar dikarenakan akan timbul kehangatan didalam diri pasca dzikir, dikhawatirkan saat minum kehangatan itu akan hilang

Adab dalam berdzikir (skripsi dan tesis)

Menurut Shiddieqy (2014) adab dalam berdzikir dibagi atas 2 yaitu adab berdzikir secara batin dan adab berdzikir secara zhahir 1) Adab- adab berdzikir batin Seseorang yang berdzikir batin hendaknya menghadirkan hatinya, dan memahami makna yang diucapkanya 2) Adab – adab berdzikir dzahir i. Seseorang yang berdzikir hendaknya bersikap tertib, jika duduk hendaknya menghadapk kiblat dengan sikap khusuk, merendahkan diri kepada Allah, tenang dan menundukan kepala. ii. Tempat berdzikir suci, bersih, terlepas dari segala yang meragukannya. iii. Sebaiknya sebelum melakukan dzikir terlebih dahulu membersihkan mulut (berkumur atau gosok gigi). iv. Berdzikir dengan suara yang halus dan lembut

Esensi Dzikir (skripsi dan tesis)

Dzikir, didalamnya banyak terkandung esensi-esensi psikologis yaitu a. Dzikir sebagai media relaksasi Fokus dari relaksasi ini tidak pada pengendoran otot namun pada frase tertentu yang diucapkan berulang kali dengan ritme teratur disertai sikap pasrah terhadap objek transendensi yaitu Tuhan. Frase yang digunakan dapat berupa nama-nama Tuhan atau kata-kata yang memiliki makna menenangkan. Pengucapan lafadz dzikir disertai dengan keyakinan terhadap kasih sayang-Nya,perlindungan-Nya, dan sifat-sifat baik- Nya akan menimbulkan rasa tenang dan aman (Purwanto, 2006). b. Dzikir sebagai media katarsis Dzikir akan selalu berhubungan dengan doa serta memiliki ikatan yang kuat, terlebih dalam kaitannya sebagai pengobat hati, maka dzikir lebih utama disampaikan dengan doa yang tulus. (haq, 2011) c. Dzikir sebagai media pengharapan terhadap Tuhan Dzikir akan menimbulkan perasaaan optimis kepada Allah SWT, bahwa Allah senantiasa membantu individu yang menghadapi musibah yang sedang menimpa.(haq, 2011) sesuai dengan firman Allah surat Al Insyirah ayat 7 dan 8 yang artinya: “Maka apabila telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain nya, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. d. Dzikir dan doa sebagai media mengadu kepada Allah Dzikir dan doa memiliki hubungan yang sangat erat. Allah akan memuliakan umatnya yang berdoa semenjak mereka hidup hingga diakhirat. Memohonlah hanya kepada Allah disaat hati gundah maupun lapang. Doa yang baik tidak terlepas dari mengingat, memuji kebesaran serta keagungan-Nya (Haq,2011). e. Dzikir media untuk pasrah kepada Allah Berdzikir membuat seseorang terus ingat kepada Sang Khalik. Mereka akan senantiasa bahagia dan ridha terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya (Haq, 2011) f. Dzikir secara emosional dapat memunculkan emosi-emosi positif, seperti perasaan cinta, bahagia, dan nikmat (Subandi, 2009) g. Dzikir memberikan ketenangan , ketentraman , menurunkan rasa cemas, stres serta depresi (Haryanto, 2002) h. Dzikir secara fungsional dapat sebagai tempat menetramkan jiwa, obat penyakit hati serta mampu mendatangkan kebahagiaan bagi individu yang mengamalkannya ( Syukur, 2006 )

Bentuk –bentuk Dzikir (skripsi dan tesis)

Dzikir merupakan pengalaman ruhani yang dapat dinikmati oleh pelakunya, hal ini yang dimaksud oleh Allah sebagai penentram hati. Ata (2000), membagi dzikir atas tiga bagian: dzikir jali (dzikir jelas, nyata), dzikir khafi (dzikir samar-samar) dan dzikir haqiqi (zikir sebenar-benarnya) a. Dzikir jali Dzikir jali adalah suatu perbuatan mengingat Allah dalam bentuk ucapan lisan yang mengandung pujian, rasa syukur serta doa yang ditujukan kepada Allah, dengan menggunakan suara secara jelas sehingga mampu menggerakan hati untuk menyertai dzikir tersebut. b. Dzikir khafi Dzikir khafi adalah dzikir yang dilakukan secara khusuk oleh ingatan, hati disertai dzikir lisan maupun tidak. individu yang mampu melakukan dzikir ini akan merasa bahwa Allah selalu dekat di hati Individu tersebut selalu merasa kehadiran Allah di segala Aspek kehidupannya. c. Dzikir haqiqi Dzikir haqiqi adalah dzikir yang dilakukan dengan seluruh jiwa raga, lahir dan batin, kapan pun dan dimana pun, dengan menjaga seluruh jiwa raga dari larangan Allah serta mengerjakan apa yang diperintah-Nya. Untuk mencapai tingkat dzikir ini perlu dijalani latihan mulai tingkat dzikir jali dan tingkat dzikir khafi . Dzikir lisan menurut Hawari (2002) adalah dzikir yang dilafalkan secara lisan dengan suara yang jelas. Adapun bacaan –bacaan yang dianjurkan dalam dzikir lisan sebagai berikut a) Membaca tasbih (subhanallah) yang mempunyai arti Maha Suci Allah. b) Membaca tahmid (alhamdulillah) yang bermakna segala puji bagi Allah. c) Membaca tahlil (la illaha illallah) yang bermakna tiada Tuhan selain Allah. d) Membaca takbir (Allahu akbar) yang berarti Allah Maha Besar. e) Membaca Hauqalah (la haula wala quwwata illa billah) yang bermakna tiada daya upaya dan kekuatan kecuali Allah. f) Hasballah: Hasbiallahu wani’mal wakil yang berarti cukuplah Allah dan sebaik-baiknya pelindung. g) Istighfar : Astaghfirullahal adzim yang bermakna saya memohon ampun kepada Allah yang maha agung. h) Membaca lafadz baqiyatussalihah: subhanllah wal hamdulillah wala illaha illallah Allahu akbar yang bermakna maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. i) Membaca surat Alfatihah. Surat Alfatihah memiliki bermacam keistimewaan selain sebagai ummul qur’an. Didalam surat alfatihan terkandung doa yang lengkap , mantera, serta obat (penyembuhan) ( shihab, 2005). Al-Fatihah mampu menyembuhkan segala macam penyakit pada diri manusia baik secara fisik maupun psikis, serta mencukupi manusia dalam mengatasi segala keresahan nya. (shihab, 2005). Keistimewaan dari surat Al-Fatihah dibandingkan surat yang lain yaitu setiap ayat didalam surat Alfatihah yang dibaca akan dijawab langsung oleh Allah sehingga terdapat dialog langsung dari hamba dan Tuhan (Allah) (Makhdlori, 2008) . Dalam kondisi kepasrahan yang total maka suratul-fatiha dapat digunakan sebagai dzikir dan pembuka dari segala sesuatu yang masih tertutup dan menghilangkan kesulitan dalam diri individu (shihab, 2005) Menurut Syukur (2012), inti dari dzikir adalah perwujudan diri manusia sebagai hamba yang berkewajiban mengabdikan diri hanya kepada Allah. Sudah barang tentu pengabdian manusia ini tidak hanya ditunjukkan dengan ucapan saja melainkan ditunjukkan pula dalam keseluruhan gerak tubuh, sebagaimana kalangan sufi melukiskan dzikir 7 bagian tubuh yaitu: i. Dzikir dua mata dengan menangis sewaktu ingat dan menyebut nama Allah. ii. Dzikir dua telinga dengan mendengarkan ajaran-ajaran Allah penuh perhatian. iii. Dzikir lidah dengan sanjungan dan pujian kepada Allah. iv. Dzikir dua tangan dengan suka memberikan pertolongan kepada orang lain. v. Dzikir badan dengan kesetiaan dan pemenuhan kewajiban. vi. Dzikir hati dengan takut kepada Allah disertai harapan kepada-Nya. vii. Dzikir ruh dengan penyerahan sepenuhnya serta ridla kepada-Nya Bentuk-bentuk dzikir menurut sholeh (2010) adalah sebagai berikut: (1), Dzikir qauli atau jahr, yakni membaca lafal tasbih, tahmid, tahlil, dan sebagainya dengan suara jelas. Tujuannya agar dapat membimbing hati agar selalu ingat kepada-Nya. Lisan yang biasa berdzikir maka dengan sendirinya menguatkan ingatan yang bersangkutan kepada keberadaan Tuhan ; (2) ingat Tuhan dalam hati tanpa menyebut nama-Nya disebut dengan dzikir qalby atau sirr ; (3) Dzikru al-ruh yaitu dzikir dalam arti seluruh jiwa raga tertuju untuk selalu ingat kepada-Nya; (4) Dzikir fi’li (aktifitas sosial) yakni berdzikir dengan melakukan kegiatan praktis, amal shalih, dan menginfakan sebagian harta untuk kepentingan sosial, melakukan hal yang berguna bagi pembangunan bangsa serta agama

Tujuan Pemberian Terapi dzikir (skripsi dan tesis)

Tujuan pemberian terapi dzikir sebagai terapi yang memiliki tujuan pengobatan serta menumbuhkan rasa ikhlas sehingga individu mampu menerima peristiwa yang menyakitkan dan bangkit dari kondisi tersebut. Menurut Nashori (2007), ciri individu yang telah berada pada kondisi ikhlas adalah sebagai bagai berikut a) Kesadaran spiritual, yaitu kesadaran bahwa keadaan yang tidak menyenangkan merupakan ujian dari Allah , dan sesuai dengan firman Allah surat Al ankabut ayat 2 yang artinya “Apakah mereka mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan” kami telah beriman” dan meraka tidak di uji” . b) Kesiapan psikologi yaitu kesiapan untuk menerima stimulus yang tidak menyenangkan. Tahap ini kelanjutan dari tahap kesadaran spiritual setelah menyadari bahwa seseorang yang hebat harus melewati ujian, maka akan tumbuh didalam diri kesiapan untuk menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. c) Keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban yaitu meyakini bahwa kesulitan yang allah berikan tidak akan melebihi kapasitas yang mampu individu terima. d) Pertaubatan . melakukan permohonan ampun atas segala dosa kepada Allah. Individu menyadari bahwa sebagai manusia , banyak melakukan dosa sehingga adanya ujian sebagai akibat dari perbuatan manusia yang diberikan Allah kepada Hambanya. e) Pencarian hikmah, yaitu keyakinan bahwa ada hikmah dibalik peristiwa yang diberikan Allah sesuai denga firman Allah dalam Al- Qur’ an surat albaqarah ayat 16 yaitu : “Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk” f) Berfikir positif tentang masa depan. Ada keyakinan akan adanya perbaikan keadaaan setelah berlangsungnya peristirwa yang tidak menyenangkan.

Pengertian Terapi Dzikir (skripsi dan tesis)

Dzikir berasal dari bahasa Arab, adz-dzikr yang berarti mengingat, mengucap atau menyebut, dan berbuat baik. Jika kata dzikir dikaitkan dengan Islam, maka memiliki pengertian : a. Dzikir berarti mengingat dan menyebut asma Allah SWT. Misalnya dengan membaca: tahlil/tauhid, tasbih, istighfar, atau sholawat, dan juga berdoa kepada Allah SWT. Doa membuat manusia menyadari bahwa alam semesta dan seluruh isinya ini milik Allah SWT, oleh karena itu untuk mewujudkan segala keinginan, dan cita-citanya, manusia butuh pertolongan-Nya. b. Dzikir berarti berbuat baik (beramal saleh) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rosulullah SAW. Beberapa di antaranya adalah: berbakti kepada orangtua; berlaku jujur; objektif; dan adil; menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, sekalipun tidak mengenalnya dengan baik; serta mengajak kepada kebaikan, dan melarang terjadinya kemungkaran; c. Dzikir merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Sesuai dengan surat Al – Ahzab ayat 41-42 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama- Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. 33/Al-Ahzab: 41-42)” Menurut Al Munawir (2002), dzikir dari segi bahasa berasal dari kata “dzakara- yadzkurudzikran” yang berarti menyebut, mengingat dan memberi nasihat. Dalam arti umum, dzikrullah adalah perbuatan mengingat Allah dan keagungan-Nya yang meliputi hampir semua bentuk ibadah dan perbuatan baik seperti tasbih, tahmid, shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, melakukan perbuatan baik dan menghindarkan diri dari kejahatan. Dalam arti khusus, dzikrullah adalah menyebut nama Allah sebanyak- banyaknya dengan memenuhi tata tertib, metode, rukun dan syarat-syaratnya (Syafi’i, 2005). Dalam pernyataan Hawari (2002), maka dzikir adalah mengingat Allah dengan segala sifat-sifatNya, pengertian dzikir tidak terbatas pada bacaan dzikir itu sendiri (dalam arti sempit), melainkan meliputi segala bacaan, shalat, ataupun perilaku kebaikan lainnya sebagaimana yang diperintahkan dalam agama. Menurut Askat (2002), dzikir adalah segala sesuatu atau tindakan dalam rangka mengingat Allah SWT, mengagungkan asma-Nya dengan lafal-lafal tertentu, baik yang dilafalkan dengan lisan atau hanya diucapkan dalam hati saja yang dapat dilakukan di mana saja tidak terbatas pada ruang dan waktu. Djubair (2003) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dzikir itu adalah semua ketaatan yang diniatkan karena Allah SWT, hal ini berarti tidak terbatas masalah tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, tapi semua aktifitas manusia yang diniatkan kepada Allah SWT. Nawawi (2005), dalam kitab al- Adzkar berpendapat bahwa sesungguhnya keutamaan dzikir tidak terhingga, baik tasbih, tahmid, tahlil, takbir maupun kalimat yang lain, bahkan semua amal dalam rangka taat kepada Allah termasuk aktivitas dzikrullah. Haryanto (Sangkan,2010) menyatakan bahwa, dzikir sebenarnya merupakan salah satu bentuk meditasi transendental, ketika seseorang khusuk, objek pikir atau stimulasi tertuju pada Allah. Menurut Zohar (Sangkan, 2010) Transenden merupakan sesuatu yang membawa individu mengatasi masa kini, mengatasi rasa suka atau duka, bahkan mengatasi rasa diri individu saat ini. Dzikir ialah mengingat nikmat-nikmat Tuhan. Lebih jauh, berdzikir meliputi pengertian menyebut lafal-lafal dzikir dan mengingat Allah dalam setiap waktu, takut dan berharap hanya kepada-Nya, merasa yakin bahwa diri manusia selalu berada di bawah kehendak Allah dalam segala hal dan urusannya (Shiddieqy, 2014). Menurut Hawari (2003) dalam Surat al-Ra’d ayat 28, yang artinya “Mengingat (dzkir) kepada Allah maka hati menjadi tenteram”. Dzikir sebagai metode mencapai ketenangan hati dilakukan dengan tata-cara tertentu. Dzikir dipahami dan di ajarkan dengan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah secara keras (dzikir jahr) maupun dengan suara yang lembur( dzikir shir) , dan dengan kalimat-kalimat thayyibah yang memfokus, dari kalimat syahadat La ilaha illa Allah ke lafazh Allah dan sampai ke lafazh hu. Terapi dzikir adalah salah satu bentuk psikoterapi yang mengandung unsur spritual, kerohanian, keagamaan, yang dapat membangkitkan harapan, kepercayaan dalam diri hingga terciptanya kestabilan jiwa (Hawari, 2013). Kondisi spiritualitas dalam suatu kehidupan memiliki peranan penting dalam mengatasi kecemasan menghadapi tantangan hidup. Spiritualitas tidak selalu terikat dengan denominasi agama, tetapi digambarkan sebagai pencarian makna kepercayaan pada kekuatan yang maha besar, atau perasaan yang berhubungan dengan segala hal tentang cinta, kedamaian serta kenyamanan(Leasy,M.2016). Dengan berdzikir, manusia akan menyadari bahwa ada kekuasaan dari segala yang ada di dunia ini, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, dalam mewujudkan segala yang diinginkan dan diharapkan, manusia membutuhkan pertolongan-Nya. Dzikir dapat pula berarti berbuat baik atau beramal saleh guna mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rasullullah saw, misalnya dengan berbakti kepada orang tua, berlaku jujur, melakukan kebaikan dan menghindari kemungkaran. Kekuatan dzikir sangat dahsyat bagi kehidupan. Dzikir merupakan salah satu bentuk komitmen keberagamaan seseorang. Dzikir juga merupakan kunci ketenangan jiwa, karena menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan akan kembali pada Allah. Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dzikir merupakan suatu bentuk ibadah (sholat, doa, membaca Alqur’an) dan perbuatan baik yang diniatkan hanya kepada Allah, sedangkan terapi dzikir adalah salah satu psikoterapi yang mengandung unsur spiritual yang dapat membangkitkan harapan, kepercayaan dalam diri hingga terciptaanya kestabilan jiwa

Intervensi Penanggulangan Grief (skripsi dan tesis)

Berbagai intervensi dilakukan untuk mengatasi grief akibat kehilangan diantaranya menurut Leary (2016) 1. Support Group Terapy adalah suatu proses terapi pada suatu kelompok yang memiliki permasalahan yang sama untuk mengkondisikan dan memberi penguatan pada kelompok maupun perorangan dalam kelompok sesuai dengan permasalahannya. 2. Social Support adalah suatu kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan yang dirasakan individu dari orang-orang atau kelompok-kelompok lain. 3. Spirituality Therapy adalah pendekatan terhadap kepercayaan yang dianut oleh klien. Terapi spiritual lebih cenderung untuk menyentuh satu sisi spiritualitas manusia, dan mengembalikan ke sebuah kesadaran darimana berasal, alasan mengapa manusia diciptakan, tugas – tugas yang harus dilakukan manusia didunia, beberapa hal yang pantas dilakukan didunia, hal- hal yang tak pantas dilakukan didunia, mengembalikan manusia kekesucin. Spiritualitas berbeda dengan agama . Didalam islam terdapat salah satu bentuk terapi yang terdapat unsur spiritualitas terapi yaitu terapi dzikir. Terapi dzikir akan membawa individu untuk dapat menumbuhkan rasa iklas dalam diri terhadap peristiwa yang dialami . 4. Konseling adalah proses interaksi antara dua orang individu yang dilakukan dalam suasana yang profesional, bertujuan dan berfungsi sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien

Pengukuran tingkat Grief (skripsi dan tesis)

Berbagai pengukuran telah dkembangkan untuk melihat Grief pasca kematian. Berbagai pengukuran tersebut memuat mengenai kondisi yang berbeda sesuai dengan tujuan dari alat ukur itu sendiri. Lebih khusus lagi dalam pengukuran stres pada grief pasca perinatal loss, diantaranya terdapat Perinatal Bereavement Scale (PBS) yang memuat mengenai pikiran dan perasaan, termasuk kesedihan, rasa bersalah, kemarahan, dan keasyikan dengan kerugian (Theut, 1989). Pengukuran pasca kematian perinatal lainnya adalah menurut Toedter, Lasker, & Alhadeff (Sinaga, 2013 ) yang mengembangkan alat ukur grief bagi orang tua yang mengalami kematian anak yang disebut sebagai Perinatal Grief Scale (PGS) dimana dalam pengukuran tersebut mengemukakan tiga aspek dari perinatal grief scale yaitu active grief, difficulty coping, dan despair. Active grief menggambarkan perasaan sedih, merindukan bayi yang telah tiada, menangis untuk bayi yang telah tiada, dan secara umum menggambarkan ekspresi-ekspresi grief yang terlihat. Difficulty coping mengukur perilaku adaptif, dimana individu mengalami kesulitan dalam menghadapi rutinitas sehari-hari maupun orang lain. Despair menggambarkan perasaan tidak berharga, rasa bersalah, kerentanan, dan menunjukkan potensi terjadinya efek yang serius dan berkepanjangan dari kehilangan bayi yang dialami (sinaga, 2013). Pengukuran lain yang digunakan bagi orangtua yang mengalami kematian anak adalah Texas Revised Inventory of Grief-Present Scale (Wilson, 2006). Prinsip dari pengukuran Texas Revised Inventory of Grief-Present Scale adalah mengukur kecenderungan kesedihan patologis yang dimiliki seorang individu. Pengukuran ini memuat pertanyaan fenomena yang berhubungan dengan kesedihan, sehingga dapat digunakan untuk mengukur (1) kerugian non-penerimaan; (2) kerinduan/kehilangan almarhum; (3) perasaan menjadi marah / marah; dan (4) menangis / kesedihan. Individu akan menganggapinya dalam bentuk pernyataan memilih yaitu Sepenuhnya Salah/completely false, sebagian salah/Mostly False, salah dan benar/True dan False, sebagian benar/Mostly True , dan sepenuhnya benar/Completely True. Penelitian ini menggunakan Perinatal Grief Scale (PGS), dikarenakan kekhususan karakteristik subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu yang mengalami Perinatal loss

Aspek- Aspek Grief (skripsi dan tesis)

Turner & Helms (dalam Cahyasari, 2015), menyebutkan bahwa ada beberapa aspek dari grief secara umum, adalah sebagai berikut yaitu:
a. Denial Of Loss, pada fase ini orang yang ditinggalkan tidak percaya dan menyangkal kenyataan bahwa orang yang dicintai telah tiada. Reaksi yang biasanya muncul pada fase ini adalah “Tidak mungkin dia sudah meninggal.” b. Realization Of Loss, pada fase ini orang yang ditinggalkan secara emosional mulai menyadari bahwa orang yang dicintainya memang sudah meninggal. Umumnya reaksi yang muncul adalah “Ya Tuhan, hal ini memang terjadi, dia sudah pergi untuk selamanya.”
 c. Feeling of abandonment, alarm, and anxiety, pada fase ini orang yang ditinggalkan merasa khawatir dan gelisah. Karena telah ditinggalkan oleh orang yang dicintainya, reaksi yang biasanya muncul pada fase ini adalah “Tuhan, bagaimana saya menjalani semua ini sendirian?”
d. Despair, crying, physical numbness, mental confusion, indecisiveness pada fase ini orang yang ditinggalkan akan merasa putusasa, menangis, mati rasa, bingung dan bimbang akibat kematian orang yang dicintai.
e. Restlessness (a product of anxiety), insomnia, loss of appetite, irritability, loss of self control, wondering mind. Pada fase ini orang yang ditinggalkan akan mengalami keresahan (hasil dari kecemasan), insomnia, nafsu makan hilang, cepat marah, kontrol diri menurun, serta pikiran kacau.
f. Pining (the physical pain and agony of grieving) and search for some token remembrance of the lost love abject. Pada fase ini orang yang ditinggalkan akan merasa merana, timbulnya sakit fisik danenderitaan atas grief. Selain itu orang yang ditinggalkan akan mencari benda-benda sebagai kenang- kenangan yang mengingatkan pada orang yang telah meninggal.
Menurut Toedter & Lasker (2001), Grief pasca Perinatalloss berdasarkan Aspek terdiri atas 3 hal yaitu
a. Active grief yaitu kondisi kesedihan/rasa dukacita yang mengikuti stres serta ekspresi kondisi tersebut baik secara nampak maupun tak nampak. Contoh dari active grief, sering menangis, mudah murung, merasa tertekan
. b. Difficulty coping yaitu kesulitan dalam melakukan coping dari kondisi grief yang dialami individu, serta berpengaruh terhadap hubungan interaksi individu didalam lingkungan sosial.
c. Despair adalah kondisi keputusasaan yang dialami individu dalam merespon grief yang dihadapinya.

Tahapan -Tahapan Grief (skripsi dan tesis)

Ada beberapa teori mengenai tahap-tahap grief menurut para ahli: a) Menurut Kubler-Ross (Sari,2015) menetapkan lima tahap Grief yaitu: Penyangkalan (denial) adalah syok dan ketidakpercayaan tentang kehilangan; Kemarahan (anger) dapat diekspresikan kepada Tuhan, keluarga,teman atau diri sendiri; Tawar-menawar (bargaining) terjadi ketika individu menawar untuk mendapat lebih banyak waktu dalam upaya memperlama kehilangan yang tidak dapat dihindari; Depresi terjadi ketika kesadaran akan kehilangan menjadi akut; Penerimaan (accepted) terjadi ketika individu memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia menerima kematian/ kondisi yang terjadi. b) Bowlby (Sari, 2015) mendeskripsikan proses Grief akibat suatu kehilangan memiliki empat fase yaitu: Mati rasa dan penyangkalan terhadap kehilangan; Kerinduan emosional akibat kehilangan orang yang dicintai dan memprotes kehilangan yang tetap ada; Kekacauan kognitif dan keputusasaan emosional, mendapatkan dirinya sulit melakukan fungsi dalam kehidupan sehari-hari; Reorganisasi dan reintegrasi kesadaran diri sehingga dapat mengembalikan hidupnya. c) Menururt John Harvey (Sari, 2015) terdapat 3 tahap grief, yaitu: Syok, menangis dengan keras, dan menyangkal; Instruksi pikiran, distraksi dan meninjau kembali kehilangan secara obsesif; Menceritakan kepada orang lain sebagai cara meluapkan emosi dan secara kognitif menyusun kembali peristiwa kehilangan. d) Teori Rodebaugh (Sari, 2015) menjelaskan proses grief sebagai suatu proses yang melalui empat tahap, yaitu : Reeling : klien mengalami syok, tidak percaya, atau menyangkal; Merasa (feeling) : klien mengekspresikan penderitaan yang berat, rasa bersalah, kesedihan yang mendalam, kemarahan, kurang konsentrasi, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, dan ketidaknyamanan fisik yang umum; Menghadapi (dealing) : klien mulai beradaptasi terhadap kehilangan dengan melibatkan diri dalam kelompok pendukung, terapi dukacita, membaca dan bimbingan spiritual; Pemulihan (healing) : klien mengintegrasikan kehilangan sebagai bagian kehidupan dan penderitaan yang akut berkurang. Pemulihan tidak berarti bahwa kehilangan tersebut dilupakan atau diterima. e) Teori Sander (1998) tentang tahap grief terdiri atas 5 tahap yaitu Shock : subyek merasa tidak percaya, kebingungan,gelisah, rasa tidak berdaya, serta mengambil jarak psikologis dari diri sendiri; Awareness of loss : subyek mengalami konfliks emosional, stres yang berkepanjangan, sensitif yang berlebihan, kecemasan akan perpisahan, adanya rasa marah serta rasa bersalah. Tahap ini juga subyek mengalami disorganisasi emosional yang intens; Conservation / Withdrawal : menarik diri , sistem imun melemah, lelah, hibernasi; Healing : pada tahap ini subyek mulai mengambil kendali, mengakhiri peran yang lama, membentuk identitas baru, memaafkan dan melupakan , mencari makna serta menutup lingkaran peristiwa yang terjadi; Renewal pada tahap ini subyek mulai membangun kesadaran diri yang baru , belajar menerima tanggung jawab, belajar untuk hidup tanpa kehadiran orang yang telah tiada, berfokus pada kebutuhan dalam diri dan memperhatikan hal-hal diluar diri. Kesimpulan yang dapat diambil dari tahap–tahap proses grief menurut para ahli dimulai dengan tahap penyangkalan, dan diakhiri dengan tahap penerimaan atau pemulihan, sehingga terbentuklah cara pandang baru tentang kehidupan yang baru. Sementara tahap-tahap grief yang peneliti gunakan untuk penelitian ini merujuk pada tahap-tahap grief dari Sander (1998) karena mewakili kondisi yang dialami oleh orang tua yang kehilangan anak.

Pengertian Grief Pasca Perinatalloss (skripsi dan tesis)

Kematian perinatal (perinatal loss) adalah kematian janin dalam rahim pada usia kehamilan > 20 minggu dan berat janin > 500 gram (kamus kebidanan, 2014). Menurut Manuaba (2007) perinatal loss adalah kematian janin sejak berumur di atas 20 minggu dalam uterus, kematian bayi baru lahir serta kematian bayi yang berumur 7 hari di luar kandungan. Menurut American Academy of Family Physician (2007) mengemukakan bahwa perinatal loss merupakan kehamilan yang berakhir secara tiba-tiba ditandai dengan kematian fetus. Kematian perinatal (perinatal loss) dibagi atas 4 macam penyebab secara etiologi yaitu (a) Fetal, penyebabnya 25-40% seperti anomali atau malformasi kongenital mayor, kelainan kromosom, janin yang hiperaktif, serta adanya infeksi akibat virus maupun bakteri; (b) Placental, penyebabnya 25-35% seperti abruption, kerusakan tali pusat, infeksi plasenta serta selaput ketuban, plasenta previa, pendarahan janin ke ibu; (c) Maternal, penyebab 5-10%nya seperti diabetes melitus, hypertensi, ruptus uterus dan adanya trauma pada ibu, epelepsi, anemia berat; (d) Sekitar 10 % kematian janin tetap tidak dapat dijelaskan. Krakovsky (2006) mengemukan bahwa kehamilan tidak berhasil sampai ke persalinan hampir selalu menimbulkan shock. Peristiwa tersebut dapat menimbulkan trauma fisik maupun psikologis. Menurut Khon &Moffit (2002) , perinatal loss dapat membuat individu shock, denail, stres, cemas, grief serta depresi . Ibu dengan kasus perinatal loss akan mengalami fase grief. Grief merupakan istilah yang mengindikasikan reaksi alamiah yang terjadi pada individu akibat kehilangan (baik berupa primary losses/actual losses maupun secondary losses/symbolic losses) yang meliputi reaksi fisik, psikologis (emosi dan kognisi), perilaku, sosial dan spiritual (Harvey dalam Fahransha, 2008). Kondisi objektif individu yang mengalami kehilangan seseorang yang berharga bagi individu tersebut dikenal dengan istilah bereavement sedangkan mourning/grief work adalah respon kehilangan dan duka cita sebagai usaha mengatasinya dan respon untuk belajar hidup dengan apa yang telah terjadi (Nabe & Corr, 2009). Dalam pernyataan lain disebutkan bahwa grief atau rasa berduka cita merupakan reaksi terhadap kehilangan seseorang dimana individu tersebut mengalami penderitaan emosional akibat sesuatu atau seseorang yang dicintai atau memiliki harapan besar telah menghilang (Smith dalam Lim, 2013). Konsep grief telah seringkali dibahas pada berbagai literatur yang berhubungan dengan berbagai peristiwa kehilangan dalam hidup seseorang, seperti kematian dan pemutusan ikatan emosional yang penting. Menurut Santrock (2007), duka cita (grief) adalah kelumpuhan emosional, tidak percaya, kecemasan akan berpisah, putus asa, sedih, dan kesepian yang menyertai disaat individu kehilangan orang yang dicintai. Grief, menurut Papalia dkk (2008) ialah kehilangan, karena kematian seseorang yang dirasakan dekat dengan yang sedang berduka dan proses penyesuaian diri kepada kehilangan. Grief menurut Chaplin (2014) adalah suatu keadaan emosi yang tidak menyenangkan disertai rasa menderita, dikutin dengan sedu sedan serta tangisan

mekanisme koping (skripsi dan tesis)

Secara umum ada dua mekanisme koping yang umum digunakan dalam mengatasi kedukaan atau dapat juga dikatakan untuk mencapai penerimaan kognitif dan emosional, yaitu :  1) Avoiding Grief Individu yang mengalami kedukaan menarik diri dari lingkungan luar, lebih banyak tinggal di rumah, dan hanya berhubungan dengan orang-orang yang mereka percayai. Mereka menghindari segala bentuk situasi yang dapat mengingatkan mereka pada diskrepansi antara harapan mereka dengan kenyataan. Mereka kemungkinan mengisi hidup mereka dengan aktifitas yang membantu mereka untuk melupakan atau menghindar dari kenyataan mengenai kehilangan yang telah terjadi. Mekanisme seperti ini dapat melindungi seseorang dari rasa kehilangan yang terlalu menyakitkan dan kecemasan yang tidak terkendali, namun cara ini justru cenderung menunda proses menata ulang kehidupan mereka. 2) Getting Through Grief Mekanisme koping yang kedua ialah dengan mengingat, mengulang, dan berusaha melalui rasa duka  yang dialami. Hal ini membantu individu yang sedang berduka untuk merefleksikan segala aspek yang ada yang berkaitan dengan rasa kehilangan mereka, hingga mereka mampu menggabungkannya ke dalam pandangan yang baru mengenai realitas mereka. Jika mekanisme koping ini dilakukan, maka individu yang mengalami kehilangan terbantu untuk menyelesaikan rasa duka mereka sehingga tidak menjadi manifestasi yang mempengaruhi tahap kehidupan yang berikutnya.

Koping terhadap peristiwa kedukaan (skripsi dan tesis)

Pengalaman kehilangan yang begitu nyata terutama melibatkan kematian dari orang yang dikasihi pada waktu yang tidak diharapkan (untimely), menimbulkan gangguan dalam pola hidup sehari-hari. Kematian yang tidak diharapkan dari orang yang dikasihi dapat digolongkan sebagai non-normative life events yang merupakan sumber stress bagi orang yang mengalaminya.

 Rasa kehilangan membawa rasa sakit secara psikis, namun dukungan yang didapatkan pada masa kedukaan dan bagaimana seseorang menghadapi serta menyesuaikan diri terhadap kehilangan tersebut, merupakan bagian mendasar dari pertumbuhan sebagai individu. Oleh karena itu ada yang disebut sebagai proses koping terhadap rasa duka yang dialami akibat kematian orang yang dikasihi.\Koping yang dilakukan dalam menghadapi kedukaan tidak sekedar untuk mengatasi masalah yang ada, tetapi lebih untuk bagaimana melewati masa kedukaan dan kembali ke fungsi yang lebih efektif. Tujuan yang ingin dicapai ialah agar individu yang mengalami kedukaan bisa sampai pada tahap resolusi. Ada 3 proses untuk mencapai tahap resolusi, yakni : 1) Penerimaan kognitif Proses ini merupakan usaha dari individu yang berduka untuk mengembangkan penjelasan yang memuaskan\ mengenai penyebab dari kehilangan mereka. Penjelasan yang memuaskan ini lebih bersifat subyektif dan tidak harus bersifat objektif. Jika penjelasan yang memuaskan belum tercapai, maka kemungkinan besar individu yang berduka akan terus merasa cemas dan penasaran untuk mencari jawabannya. 2) Penerimaan emosional Dalam proses ini, individu yang berduka berusaha untuk mencapai netralisasi dari memori dan asosiasi sehingga kemunculan ingatan mengenai individu yang meninggal atau hal apapun yang diasosiasikan dengannya tidak lagi dirasa mengganggu. Salah satu cara untuk mencapai penerimaan emosional ialah dengan mengulang serangkaian skenario yang mungkin dapat mencegah kematian secara kompulsif. Serangkaian pemikiran “Seandainya….” Ini harus sedemikian rupa diusahakan untuk menjadi netral seiring juga dengan ingatan dan asosiasi yang menyakitkan. 3) Perubahan identitas Perubahan identitas merupakan hal yang penting bagi individu untuk mengembangkan citra diri mereka yang baru, sehingga keterikatan mereka terhadap individu yang sudah meninggal dapat dilihat sebagai bagian dari masa lalu. Jika tahap ini terselesaikan, maka individu yang bersangkutan harus mulai membuat komitmen untuk menjalin relasi yang baru, 4namun hal ini lebih mungkin terjadi bagi mereka yang mengalami kehilangan pasangan dan hampir tidak mungkin bagi mereka yang mengalami kematian anak

Strategi Koping (skripsi dan tesis)

Teori cognitive-appraisal model menjelaskan bahwa kebanyakan individu memilih strategi koping berdasarkan penilaian kognitif mereka terhadap suatu situasi. Strategi koping bisa bersifat problem-focused atau emotion-focused.   Problem-focused coping bertujuan untuk menghilangkan, mengendalikan, atau mengembangkan situasi yang menimbulkan stress.  Pada strategi ini hal yang dilakukan ialah menghadapi dan mencari pemecahan masalah.  Oleh sebab itu, strategi koping ini lebih difokuskan untuk mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi dan lebih banyak melibatkan proses kognitif. Emotion-focused coping ditujukan untuk mendapatkan “perasaan yang lebih baik,” yakni mengelola atau mengendalikan respon emosional terhadap situasi yang menekan untuk meredakan dampak fisik atau psikologis dari situasi tersebut. Contoh dari strategi ini antara lain dengan mengalihkan perhatian dari masalah, atau menyerah, atau menyangkal bahwa masalah tersebut ada

Definisi Koping (skripsi dan tesis)

Individu yang telah mengalami stressful life event atau peristiwa hidup yang menimbulkan tekanan, maka individu akan berusaha untuk mengembalikan dirinya ke keadaan normal. Usaha ini disebut sebagai koping, yakni ketika seseorang menentukan pilihan-pilihan apa saja yang tersedia untuk menghadapi tekanan yang ada. Koping didefinisikan sebagai upaya kognitif dan perilaku yang berubah secara konstan untuk mengelola tuntutan eksternal  dan/atau internal tertentu yang dinilai berat dan melebihi sumber daya (kekuatan) seseorang.

Respons Perilaku Terhadap Dukacita (skripsi dan tesis)

 

 Respons perilaku sering kali merupakan respons yang paling mudah diobservasi. Dengan mengenali perilaku yang umum saat berduka, perawat dapat memberi bimbingan pendukung untuk mengkaji keadaan emosional dan kognitif klien secara garis besar. Dengan mengamati individu yang berduka saat melakukan fungsi secara “otomatis” atau rutin tanpa banyak pemikiran dapat menunjukkan bahwa individu tersebut berada dalam fase mati rasa proses berduka ─ realitas kehilangan belum terjadi. Menangis terisak, menangis tidak terkontrol, sangat gelisah, dan perilaku mencari adalah tanda kerinduan dan pencarian figur yang hilang. Individu tersebut bahkan dapat berteriak memanggil orang yang meninggal dan mencermati ruangan untuk mencari orang yang meninggal. Iritabilitas dan sikap, bermusuhan terhadap orang lain memperlihatkan perasaan marah dan frustasi dalam proses tersebut. Berupaya mencari serta menghindari tempat atau aktivitas yang pernah dilakukan bersama orang yang telah meninggal, dan menyimpan benda berharga yang dimiliki atau digunakan bersama orang yang telah meninggal padahal ingin membuang benda tersebut menggambarkan emosi yang berfluktuasi dan persepsi tentang harapan untuk bertemu kembali dengan orang yang meninggal. Selama fase disorganisasi, tindakan kognitif mendefinisikan kembali identitas diri individu yang berduka, walaupun sulit, merupakan hal yang penting dalam menjalani   dukacita. Walaupun awalnya bersifat superfisial, upaya yang dilakukan dalam aktivitas sosial atau kerja adalah perilaku yang ditujukan untuk mendukung pergeseran emosional dan kognitif individu tersebut. Penyalahgunaan obat atau alkohol mengindikasikan respons perilaku maladaptif terhadap keputusasaan emosional dan spiritual. Upaya bunuh diri dan pembunuhan dapat menjadi respons yang ekstrem jika individu yang berduka tidak dapat menjalani proses berduka.19 Pada fase reorganisasi, individu yang berduka berpartisipasi dalam aktivitas dan refleksi yang berarti secara personal dan memuaskan

Respons Spiritual Terhadap Duka (skripsi dan tesis)

Ketika kehilangan terjadi, individu mungkin paling terhibur, tertantang, atau hancur dalam dimensi spiritual pengalaman manusia. Individu yang berduka dapat kecewa dan marah kepada Tuhan atau tokoh agama yang lain. Penderitaan karena ditinggalkan, kehilangan harapan, atau kehilangan makna merupakan penyebab penderitaan spiritual yang dalam.Oleh karena itu, memenuhi kebutuhan spiritual individu yang berduka merupakan aspek asuhan keperawatan yang sangat penting. Respons emosional dan spiritual klien saling terkait ketika klien mengalami penderitaan. Dengan kesadaran akan kemampuan mengkaji penderitaan klien, perawat dapat meningkatkan rasa sejahtera. Memberi klien kesempatan untuk menceritakan penderitaannya membantu transformasi psikospiritual (yang melibatkan baik aspek pengalaman psikologis maupun spiritual) yang sering kali berkembang dalam proses berduka. Dengan menemukan penjelasan dan makna melalui keyakinan spiritual atau agama, klien dapat mulai mengidentifikasi aspek positif dan mungkin aspek proses berduka yang menyenangkan

Respons Emosional Terhadap Dukacita (skripsi dan tesis)

Perasaan marah, sedih, dan cemas adalah pengalaman emosional yang dominan pada kehilangan. Kemarahan dan kebencian dapat ditujukan kepada individu yang meninggal dan praktik kesehatan yang dilakukannya, pada anggota keluarga, dan pemberi perawatan kesehatan atau institusi.Respons emosional terlihat pada semua fase proses dukacita menurut Bowlby. Selama fase mati rasa, respons awal yang umum terhadap kabar kehilangan ialah perasaan syok, seolah-olah tidak dapat menyadari realitas kehilangan. Pada fase  kedua, kerinduan dan pencarian, realitas mulai muncul dan individu yang berduka memperlihatkan kemarahan, penderitaan yang besar dan menangis. Dalam keadaan putus asa, tetapi memiliki keinginan kuat untuk mengembalikan ikatan dengan individu yang meninggal, mendorong individu yang berduka untuk memeriksa dan memulihkan dirinya. Suara, penglihatan, dan aroma yang terkait dengan individu yang meninggal diinterpretasikan sebagai tanda-tanda keberadaan orang yang meninggal dan kadang-kadang menghibur klien dan menimbulkan harapan untuk bertemu kembali. Selama fase disorganisasi dan keputusasaan, individu yang berduka mulai memahami bahwa kehilangan tetap ada. Pola pemikiran, perasaan dan tindakan yang terkait kehidupan dengan orang yang telah meninggal perlu diubah. Saat semua harapan kembalinya orang yang meninggal telah hilang, individu pasti mengalami waktu depresi, apatis atau putus asa. Pada fase reorganisasi akhir, individu yang berduka mulai membangun kembali rasa identitas personal, arah dan tujuan hidup, rasa mandiri dan percaya diri dirasakan. Dengan mencoba dan menjalankan peran dan fungsi yang baru ditetapkan, individu yang berduka menjadi kuat pribadinya. Pada fase ini, orang yang meninggal masih dirindukan, tetapi memikirkannya tidak lagi menimbulkan perasaan sedih

Respons Kognitif terhadap Dukacita (skripsi dan tesis)

Penderitaan saat berduka dalam beberapa hal merupakan akibat gangguan keyakinan. Asumsi dan keyakinan dasar tentang makna dan tujuan hidup terganggu, bahkan mungkin hancur. Berduka sering kali menyebabkan keyakinan individu tentang dirinya dan dunia berubah, misalnya persepsi individu tentang hal-hal yang baik di dunia, makna hidup ketika berhubungan dengan keadilan, dan makna takdir atau garis kehidupan. Perubahan lain dalam pemikiran dan sikap mencakup meninjau dan menetapkan peringkat nilai-nilai yang dimiliki, menjadi lebih bijaksana, menghilangkan ilusi tentang keabadian diri, memandang dunia secara lebih realistis, dan mengevaluasi kembali keyakinan agama atau keyakinan spiritual. Individu yang berduka perlu menemukan makna kehilangan. Ia akan melakukan pengkajian diri dan  mempertanyakan cara berpikir yang diterima. Asumsi lama tentang kehidupan ditantang atau dapat juga dengan mempertanyakan. Individu menyadari bahwa kehilangan dan kematian merupakan realitas kehidupan yang kita semua harus hadapi suatu hari.  Percaya pada kehidupan akhirat dan percaya bahwa orang yang meninggal menjadi pembimbing pribadi merupakan respons kognitif yang berfungsi mempertahankan keberadaan orang yang meninggal. Melakukan dialog internal dengan orang yang dicintai sambil melakukan aktivitas seperti tugas rumah tangga. Metode mempertahankan keberadaan orang yang meninggal ini membantu mengurangi dampak kehilangan ketika individu terus memahami realitas kehilangan